Media pembelajaran komik untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa kelas VII SMP Kanisius Gayam Yogyakarta dalam pokok bahasan wujud zat - USD Repository

141 

Full text

(1)

i

i

MEDIA PEMBELAJARAN KOMIK UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP SISWA KELAS VII SMP KANISIUS GAYAM YOGYAKARTA

DALAM POKOK BAHASAN WUJUD ZAT

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Fisika

oleh:

Anton Dedy Kurniawan

(061424002)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITA SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2011

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(2)

ii

ii

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(3)

iii

iii

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(4)

iv

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN

Karya ini kupersembahkan untuk :

Yesus Kristus yang selalu membimbingku

Bapak dan I buk

Adik-adikku dan kakak-kakakku yang di rumah yang selalu

mendoakan.

Terimakasih atas D oa, D ukungan yang telah diberikan

Teman-teman Pendidikan F isika

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(5)

v

v

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(6)

vi

vi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(7)

vii

vii

ABSTRAK

Kurniawan, Aton Dedy 2011. Media Pembelajaran Komik Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Siswa Kelas VII SMP Kanisius Gayam Yogyakarta Dalam Pokok Bahasan Wujud Zat. Program Studi Pendidikan Fisika, Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Tujuan dari Penelitian ini adalah: (1) Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh media pembelajaran komik dalam pembelajaran fisika pada pokok bahasan wujud zat untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa (2) Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh media pembelajaran komik terhadap minat belajar siswa pada pelajaran fisika.

Penelitian dilaksanakan pada tanggal 4-15 Oktober 2011 di SMP Kanisius Gayam Yogyakarta. Sampel penelitian adalah siswa kelas VII A dan VII B yang masing-masing berjumlah 27 orang dan 25 orang. Dengan kelas VII B yang menjadi kelas kontrol dengan menggunakan media ceramah. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dalam lima tahap, yaitu: Pretes, Pembelajaran menggunakan media komik, Postes, mengisi angket, dan wawancara.

Tes tertulis (Pretes dan Postes) yang diberikan berupa tes esay yang terdiri dari 6 soal. Pengisian angket berhubungan dengan minat siswa terhadap pembelajaran yang telah digunakan pada mata pelajaran fisika selama proses pembelajaran. Wawancara terhadap siswa berhubungan dengan tanggapan mereka terhadap penerapan metode pembelajaran komik yang telah dilakukan dan tanggapan siswa pada kelas ceramah.

Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa: (1) Penerapan metode pembelajaran komik meningkatkan pemahaman konsep siswa pada kelas VII A dan juga pada kelas VII

B yang menggunakan metode ceramah berdasarkan perhitungan statistik p = 0.000 < α = 0.05 (signifikan) dan p = 0.045 < α = 0.05 (signifikan), (2) Kelas dengan metode

pembelajaran komik lebih baik dibandingkan dengan kelas dengan metode ceramah

berdasarkan perhitungan statistik p = 0.000 < α = 0.05 dan p = 0.045 < = 0.05 (signifikan). Minat siswa terhadap kedua pembelajaran tidak jauh berbeda terlihat dari

hasil statistik yang menunjukkan p = 0.371 > α = 0.05 (tidak significan), tetapi jika dikaji

dengan interval skor yang didapat, media pembelajaran komik masuk dalam kategori minat, sedangkan media ceramah masuk dalam kategori cukup berminat.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(8)

viii

viii

ABSTRACT

Kurniawan, Anton Dedy 2011. Comic Learning Media to Improve the Concept Understanding for 7th grade students of Kanisius Gayam Yogyakarta Junior High School to the Shape of Matter as the Main Topic. Physic Education Study Program, Department of Mathematics and Science Education, Faculty of Teachers Training and Education, Sanata Dharma University Yogyakarta. The aims of this research are (1) to identify how deep the influences of comic learning media for the shape of matter as the main topic in physic learning to improve the concept understanding of the students (2) To identify how deep the influences of comic learning media for the students’ interest in physic learning.

The research was done on October 4th – 15th, 2011 in Kanisius Gayam Yogyakarta Junior High School Yogyakarta. The samples of this research are 27 students of the 7th A grade students and 25 students of the 7th B grade students. The 7th B grade class is as the controlled class by using communicative media. The data collecting in this research was done in five steps, such as: Pre test, Learning process by Using Comic Media, Post Test, Filling the questionnaires, and interviewing.

The written test (Pre test and Post test) which was provided is an essay test that consists of 6 questions. The questionnaire filling is related to the students’ interest to the learning process which has been used in physic subject course during teaching learning process. Interviewing to the students is related to their responses to the application of the comic learning method which has been done and the students’ responses in communicative class.

The result of this research reveals that (1) The application of the comic learning method to improve the concept understanding of the 7th A and B grade students that used the

communicative method based on the statistic counting p = 0.000 < α = 0.05 (significant) and p = 0.045 < α = 0.05 (significant), (2) The class with comic learning method is better

than the class with communicative method based on the statistic counting p = 0.000 < α =

0.05 and p = 0.045 < = 0.05 (significant). The students’ interest to both learning

method is not too different, it seems from the statistic result that reveals p = 0.371 > α =

0.05 (insignificant), but if it is counted by a score interval which is gained from comic leaning media includes on interest category, while communicative media includes on interest enough category.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(9)

ix

ix

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus. Terimakasih atas penyertaanmu selama ini, dan semua yang telah Engkau berikan kepadaku. Semua ini karena begitu besar melimpahkan rahmat, kasih, dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini disusun untuk memenuhi prasyarat guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Fisika, Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Skripsi ini berjudul

MEDIA PEMBELAJARAN KOMIK UNTUK MENINGKATKAN

PEMAHAMAN KONSEP SISWA KELAS VII SMP KANISIUS GAYAM

YOGYAKARTA DALAM POKOK BAHASAN WUJUD ZAT

Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak dapat berjalan dengan dengan baik tanpa proses panjang dan dukungan dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Maka pada kesempatan yang berbahagia ini, penulis secara khusus mengucapkan terima kasih, kepada :

1. Romo Prof. Dr. Paulus Suparno, S. J., MST. yang selalu memberikan senyum walaupun terkadang saya tau romo kelihatan lelah. Terima kasih atas bimbingan dan perhatiannya selama membimbing saya.

2. Dosen penguji, terima kasih atas segala saran-saran dan kritik yang telah disampaikan selama pendadaran.

3. Ibu Maria Hartini, S. Pd. selaku kepala sekolah SMP Kanisius Gayam Yogyakarta yang telah memberikan waktu dan kesempatan kepada saya untuk melakukan penelitian.

4. Ibu Ika, S. Pd. selaku guru mata pelajaran fisika yang telah memberi waktu, ruang, dan kesempatan kepada saya sehingga siswa-siswi kelas VII dapat saya jadikan sebagai subyek penelitian.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(10)

x

x

5. Seluruh dosen dan karyawan JPMIPA yang telah membantu penulis dalam memberikan bimbingan dan pengarahan selama masa perkuliahan.

6. Siswa-siswi SMP Kanisius Gayam Yogyakarta yang telah memberikan dukungan dalam perolehan data penelitian.

7. Bapak dan Mamak (Bapak Riswanto dan mamak Endang), yang telah memberikan dukungan, semangat, kasih sayang, dan doa sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini.

8. Adik, Mbakku, Mas Dan Saudaraku : Mbak lia & mbak Dwi, Santi & Doni, Riski yang manja, Mas Eko dan Lek Edi yang telah memberikan dukungan, semangat, dan doa sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini. 9. Terimakasih buat F4 (fisika 4, Gagan, Bendhot, Dion), Era dan Ambar,

Fajar dan Hendrikus, Lusi Dan Suster Afia yang yang selalu memberikan dukungan lebih.

10.Terimakasih buat Gagan, Hendrikus yang ikut membantu dalam penelitian.

11.Buat teman-teman P.Fis angkatan 2006 : Ambar, Fajar, Gagan, Benny, Dion, Hendrikus, Lusi, Mella, Nurma, Ari, Suster Yuliant, Rudy, Miranda, Desi, Lia, Ratna, Enita, Nani, Nana.

12.Teman-teman: Era (P. Fis), Wisnu (P. Fis), Eko (P. Fis), Melly (P. Fis), game 3Ko terutama pak Ajhi dan yang lain dalam 1 Guild, PPL, KKN dan semua teman-temanku selama kuliah. Terima kasih atas bantuan dan dukungannya selama kuliah.

13.Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah memberikan bantuan, doa, saran, kritik, dan dukungan selama kuliah sampai penulisan skripsi ini.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(11)

xi

xi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(12)

xii

xii BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Seiring perkembangan zaman, dunia pendidikan juga dituntut untuk mampu mengimbangi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Peserta didik sebagai subjek pendidikan harus dikembangkan agar mampu menggunakan seluruh potensinya untuk mempersiapkan diri menghadapi semua tantangan tersebut. Guna mempersiapkan peserta didik diperlukan program pendidikan yang berkualitas, yang menyediakan berbagai pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai yang luhur, sehingga menghasilkan sumber daya manusia yang tangguh, mandiri, tanggung jawab dalam menghadapi tantangan di masa depan.

Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan nasional, pemerintah khususnya melalui Depdiknas terus menerus berupaya melakukan berbagai perubahan dan pembaharuan sistem pendidikan kita. Salah satu upaya yang sudah dan sedang dilakukan, yaitu berkaitan dengan faktor guru. Lahirnya Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Peraturan Pemerintah No.19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, pada dasarnya merupakan kebijakan pemerintah yang di dalamnya memuat usaha pemerintah untuk menata dan memperbaiki mutu guru di Indonesia. Michael 1

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(13)

xiii

xiii

G.Fullan yang dikutip oleh Suyanto dan Djihad Hisyam dalam Hary (2011) mengemukakan bahwa “educational change depends on what teachers do and think…”. Pendapat tersebut mengisyaratkan bahwa perubahan dan pembaharuan system pendidikan sangat bergantung pada “what teachers do and think “, atau dengan kata lain bergantung pada penguasaan kompetensi Guru.

Tugas dan tanggung jawab guru sebagai pendidik adalah membantu dan membimbing siswa untuk mencapai kedewasaan seluruh ranah kejiwaan sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Untuk dapat menjalankan tugas dan tanggung jawabnya itu, guru berkewajiban merealisasikan segenap upaya yang mengarah pada pengertian membantu dan membimbing siswa dalam melapangkan jalan menuju perubahan positif seluruh ranah kejiwaannya.

Tercapainya tujuan pembelajaran bukan hanya semata-mata tugas dan tanggung jawab guru saja, peran siswa juga sangat berpengaruh penting dalam tercapainya tujuan dari pembelajaran itu sendiri. Saat ini masih banyak siswa yang mengalami kesulitan belajar, terlebih lagi jika menyangkut bidang studi fisika. Kesan sulit sudah melekat pada bidang studi fisika. Tugas guru di sini membantu dan membimbing siswa agar dapat menemukan cara belajar yang cocok. Karena setiap siswa memiliki cara belajar sendiri untuk mengerti, maka penting bagi setiap siswa mengerti kekhasannya, juga keunggulan dan kelemahannya dalam mengerti sesuatu. Setiap siswa mempunyai cara yang cocok untuk mengkonstruksikan pengetahuannya yang sangat berbeda dengan teman-teman yang lain. Dalam kerangka ini, sangat penting bahwa siswa di 2

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(14)

xiv

xiv

kenalkan bermacam-macam cara belajar yang cocok. Artinya guru dianjurkan mencoba metode-metode belajar yang cocok untuk siswanya.

Dunia pendidikan khususnya proses belajar mengajar sebenarnya sudah memiliki banyak sarana dan materi yang secara representatif dapat membantu guru dalam tercapainya tujuan belajar dalam bidang studi. Berbagai pengajaran dapat dipergunakan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas untuk setiap tingkatan di setiap jenjang pendidikan. Salah satunya adalah media pembelajaran komik untuk pembelajaran Fisika.

Alasan mendasar dipilihnya media pembelajaran komik, karena pengalaman yang didapatkan oleh peneliti. Peneliti adalah seorang pecinta komik atau penggemar komik, dari setiap jalan cerita yang telah dibaca, peneliti sangat mengingatnya dan diharapkan ini terjadi juga pada siswa-siswi disekolah, tentunya komik dalam hal ini adalah komik pembelajaran fisika. Diharapkan penampilan dari komik yang menarik dengan rangkaian gambar yang tersusun menjadi sebuah cerita, akan membangkitkan minat baca dari para siswa yang selama ini masih sangat kurang, terlebih jika menyangkut pelajaran Fisika. Media komik juga dapat membantu siswa menghilangkan kesan susah pada pelajaran Fisika.

Alasan lain dipilihnya media pembelajaran komik adalah, masih sangat minimnya penelitian tentang pembelajaran dengan menggunakan media komik di Indonesia. Berbeda halnya dengan Indonesia, di luar negeri khususnya Amerika, telah lama menggunakan media komik untuk

3

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(15)

xv

xv

pembelajaran disekolah. Seperti yang di lakukan oleh pendidik Kay Haugaard (1973) dan Constance Alongi (1974) merekomendasikan komik bagi siswa yang tidak suka membaca; dan Bruce Brocka dalam Hary (2011) menganjurkan komik sebagai benteng pertahanan terhadap alat yang mengancam budaya membaca seperti Televisi. Namun kebanyakan penelitian-penelitian yang dilakukan, di tujukan pada siswa-siswi Sekolah Dasar dan peneliti ingin menujukan pada siswa yang berada satu tingkat di atasnya (SMP).

Penelitian ini dilakukan pada siswa SMP, karena peneliti ingin membuktikan seberapa besar pengaruh media pembelajaran komik pada siswa SMP, selain itu pada masa ini merupakan masa peralihan menuju remaja. Menurut Hamalik dalam Nur Marianah (2005) periode masa remaja yaitu periode masa permulaan pubertas dengan kedewasaan yang secara kasar antara usia 14-25 tahun untuk laki-laki dan antara usia 12-21 tahun untuk anak perempuan. Pada masa SMP tersebut memerlukan suatu media untuk membangkitkan minat baca. Sudjana dan Rivai dalam Nur Marianah (2005) menyatakan bahwa buku-buku komik dapat dipergunakan secara efektif oleh guru-guru dalam usaha membangkitkan minat, mengembangkan pembendaharaan kata-kata dan keterampilan membaca dan memperluas minat baca, oleh karena itu peneliti menggunakan siswa SMP untuk sampel penelitian. Berdasarkan uraian diatas dapat dijelaskan bahwa melalui media komik dapat menunjang pemahaman konsep dan prestasi belajar siswa pada umumnya dan terutama siswa yang mengalami kesulitan belajar pada 4

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(16)

xvi

xvi

khususnya. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk mengkaji permasalahan tersebut dengan judul : “Media Pembelajaran Komik Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Siswa Dalam Pokok Bahasan Wujud Zat”.

B. Perumusan Masalah

Berkaitan dengan pemanfaatan media pembelajaran komik dalam pembelajaran fisika di sekolah, ada beberapa masalah yang akan diungkap dalam penelitian ini, antara lain:

1. Seberapa besarkah pengaruh media pembelajaran komik dalam pembelajaran fisika pokok bahasan wujud zat untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa.

2. Seberapa besar pengaruh media komik terhadap minat belajar siswa pada pelajaran fisika.

C. Tujuan Penelitian

Dalam penelitian ini tujuan yang ingin dicapai adalah :

1. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh media pembelajaran komik dalam pembelajaran fisika pada pokok bahasan wujud zat untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa

2. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh media pembelajaran komik terhadap minat belajar siswa pada pelajaran fisika

5

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(17)

xvii

xvii D. Perumusan Hipotesis

Dalam penelitian ini dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

1. Hipotesis nol (H0)

Tidak terdapat pengaruh media pembelajaran komik terhadap pemahaman konsep, dan minat siswa pada pembelajaran fisika pokok bahasan wujud zat.

2. Hipotesis satu (H1)

Terdapat pengaruh yang signifikan antara pemahaman konsep, dan minat siswa terhadap media pembelajaran komik pada pembelajaran fisika pokok bahasan wujud zat. Terdapat pengaruh yang signifikan terhadap media pembelajaran komik karena siswa akan lebih tertarik dan bermiat melihat rangkaian gambar yang tersusun menjadi sebuah cerita dan belajarpun terasa menyenangkan. Dengan demikian siswa akan lebih mudah memahami konsep fisika yang akan di jelaskan dan pembelajaran fisika dengan sendirinya menjadi lebih baik.

6

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(18)

xviii

xviii E. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah :

1. Secara teoritis, penelitian ini dapat digunakan sebagai tambahan referensi pada bidang pendidikan, khususnya media pembelajaran pada proses belajar mengajar.

2. Sebagai masukan untuk alternatif lain dalam mengajar fisika bagi guru dan calon guru.

7

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(19)

xix

xix BAB II

LANDASAN TEORI

A. Pengertian Belajar

Winkel dalam Nita Mujayanti (2010) mengemukakan bahwa belajar adalah suatu aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi yang aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan sikap. Dengan demikian hasil dan kegiatan belajar adalah berupa perubahan tingkah laku yang relatif permanen pada diri orang yang belajar.

Hamalik dalam Nur Marianah (2005) menjelaskan bahwa belajar merupakan aspek dari perkembangan yang menunjuk kepada perubahan (modifikasi) perilaku sebagai hasil dari praktik dan pengalaman. Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada diri setiap orang sepanjang hidupnya (Arsyad dalam Nur Marianah, 2005). Belajar dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Pertanda bahwa seseorang itu telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku pada diri orang itu yang mungkin disebabkan oleh terjadinya perubahan pada tingkat pengetahuan, keterampilan, atau sikapnya.

Belajar tidak hanya meliputi mata pelajaran, tetapi juga penguasaan, kebiasaan, persepsi, kesenangan, minat, penyesuaian social, bermacam-macam keterampilan, dan cita-cita. Menurut Hamalik dalam Nur Marianah (2005) 8

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(20)

xx

xx

belajar mengandung pengertian terjadinya perubahan dari persepsi dan perilaku, termasuk juga perbaikan perilaku, misalnya pemuasan kebutuhan masyarakat dan pribadi secara lebih lengkap. Tidak semua perubahan perilaku berarti belajar, orang yang tangannya patah karena kecelakaan mengubah tingkah lakunya, tetapi kehilangan tangan itu sendiri bukanlah belajar. Orang itu melakukan perbuatan belajar untuk mengimbangi tangannya yang hilang satu dengan mempelajari keterampilan-keterampilan yang baru.

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang dikemukakan di atas, Hilgard dan Brower mendefinisikan belajar sebagai perubahan dalam perbuatan melalui aktivitas, praktek, dan pengalaman. Ada berbagai teori belajar (Hamalik dalam Nur Marianah, 2005) yaitu antara lain:

1. Simple conditioning atau teori contiguity menekankan bahwa belajar terdiri atas pembangkitan respons dengan stimulus yang pada mulanya bersifat netral atau tidak memadai untuk menimbulkan respon, akhirnya mampu menimbulkan respon.

2. Connectionism, stimulus-respons atau teori reinforcement yang dijelaskan oleh E.L. Thorndike menekankan bahwa belajar terdiri atas pembentukan ikatan atau hubungan-hubungan antara stimulus-respons yang dibentuk melalui pengulangan.

3. Field theory dirumuskan sebagai reaksi terhadap teori conditioning dan

reinforcement yang dipandang bersifat atomistis. Field theory

9

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(21)

xxi

xxi

menekankan keseluruhan daripada bagian-bagian, bahwa bagian-bagian itu erat sekali berhubungan dan saling bergantung satu sama lain.

4. Psikologi Fenomenologis dan Humanistis, menaruh perhatian besar terhadap kondisi-kondisi di dalam diri individu.

5. Definisi S-R (Secara Relatif), ide ini dilandasi oleh konsep hukum sebab akibat yang dipergunakan dalam ilmu pengetahuan alam perilaku mekanistis. Perilaku manusia merupakan akibat pengaruh dari luar tanpa mengasumsikan adanya faktor dinamis dalam tingkah laku manusia itu. Perilaku manusia merupakan moral behavior dan keseluruhan perilaku terhadap stimulus.

Kegiatan belajar mengajar merupakan kondisi yang dengan sengaja diciptakan. Gurulah yang menciptakannnya guna membelajarkan anak didik. Guru yang mengajar dan anak didik yang belajar. Perpaduan dari kedua unsur manusiawi ini lahirlah interaksi edukatif dengan memanfaatkan bahan sebagai mediumnya. Selain proses belajar mengajar, metode pengajaran juga penting dalam pembelajaran.

B. Pengertian Mengajar

Arifin dalam Nuruddin (2011) mendefinisikan bahwa mengajar adalah suatu rangkaian kegiatan penyampaian materi ajar kepada siswa agar dapat menerima, menanggapi, menguasai, dan mengembangkan bahan pelajaran itu. Tyson dan Caroll dalam Nuruddin (2011) mengemukakan bahwa mengajar adalah “A way working with students…a process of interaction, the teacher

10

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(22)

xxii

xxii

does something to student, the students do something in return”, Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa mengajar merupakan suatu cara dan sebuah proses hubungan timbal balik antara siswa dan guru yang sama-sama aktif melakukan kegiatan. Nasution dalam Nuruddin (2011) berpendapat bahwa mengajar adalah suatu aktivitas mengorganisir atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak, sehingga terjadi proses belajar.

Tardif dalam Nuruddin (2011) mendefinisikan mengajar sebagai tindakan yang dilakukan seseorang pendidik dengan tujuan membantu atau memudahkan orang lain (peserta didik) melakukan kegiatan belajar. Biggs dalam Nuruddin (2011), seorang ahli psikologi membagi konsep mengajar menjadi tiga macam pengertian yaitu:

1. Kuantitatif

Mengajar diartikan sebagai transmission of knowledge, yakni penyebaran pengetahuan. Dalam hal ini, guru hanya perlu menguasai pengetahuan bidang studinya dan menyampaikan kepada peserta didik dengan sebaik-baiknya. Masalah berhasil atau tidaknya peserta didik bukan tanggung jawab pendidik.

2. Institusional

Mengajar adalah penataan segala kemampuan mengajar secara efisien. Dalam hal ini, pendidik dituntut untuk selalu siap 11

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(23)

xxiii

xxiii

menyesuaikan berbagai teknik mengajar terhadap peserta didik yang memiliki berbagai macam tipe belajar, bakat, kemampuan, dan kebutuhan

3. Kualitatif

Mengajar adalah upaya memfasilitasi pembelajaran (facilitation of learning), yaitu upaya membantu memudahkan kegiatan belajar peserta didik mencari makna dan pemahamannya sendiri.

Dari beberapa teori di atas, terlihat pentingnya metode mengajar dalam tercapainya tujuan dari metode pembelajaran itu sendiri. Agar metode pembelajaran yang dipilih oleh guru dapat berjalan dengan baik, guru dapat menggunakan media pembelajaran sebagai penunjang dari pembelajaran yang digunakan.

C. Media Pembelajaran

1. Pengertian Media Pembelajaran

Kata “media” berasal dari kata medium yang secara harfiah artinya perantara atau pengantar. Banyak pakar tentang media pembelajaran yang memberikan batasan tentang pengertian media. Menurut EACT yang dikutip oleh Rohani dalam Sirajuddin (2010) “media adalah segala bentuk yang dipergunakan untuk proses penyaluran informasi”. Sedangkan pengertian media menurut Djamarah dalam Sirajuddin (2010) adalah “alat bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai Tujuan pembelajaran”.

12

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(24)

xxiv

xxiv

Selanjutnya ditegaskan oleh Purnamawati dan Eldarni dalam Sirajuddin (2010) bahwa : media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa sedemikian rupa sehingga terjadi proses belajar”.

Pembelajaran lebih menggambarkan usaha guru untuk membuat belajar para siswanya. Schramm (Latuheru dalam Nurul, 2011) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Sementara itu, Briggs (Latuheru dalam Nurul, 2011) berpendapat bahwa media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi atau materi pembelajaran seperti : buku, film, video dan sebagainya. Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik.

2. Manfaat Media Pembelajaran

Edgar Dale (Latuheru dalam Nurul, 2011) mengatakan bahwa bila media pembelajaran digunakan dengan baik dalam suatu proses belajar mengajar, maka manfaatnya adalah sebagai berikut: (1) perhatian anak didik terhadap materi pengajaran akan lebih tinggi, (2) anak didik mendapatkan 13

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(25)

xxv

xxv

pengalaman yang konkret, (3) mendorong anak didik untuk berani bekerja secara mandiri atau self activity, (4) hasil yang diperoleh atau dipelajari oleh anak didik sulit dilupakan.

McKnown yang dikutip Latuheru dalam Nurul (2011) mengatakan bahwa: (1) pada umumnya media pembelajaran itu merupakan sesuatu yang baru bagi anak didik sehingga menarik perhatian mereka, sekaligus perhatiannya tertuju pada materi pengajaran yang disajikan, (2) dengan menggunakan media pembelajaran dalam suatu proses belajar mengajar anak didik mendapatkan kebebasan yang lebih besar, (3) materi pengajaran yang disajikan dengan memanfaatkan media mudah dipahami karena lebih konkret, (4) dengan menggunakan media pembelajaran, rasa ingin tahu dari anak didik dapat ditingkatkan.

Dari uraian manfaat media oleh para ahli dapat disimpulkan bahwa (1) media pembelajaran menarik dan memperbesar perhatian anak didik terhadap materi pengajaran yang disajikan, (2) media pembelajaran membantu memberikan pengalaman belajar yang sulit diperoleh dengan cara yang lain, (3) media pembelajaran dapat mengatasi batas-batas ruang dan waktu, misalnya benda atau sesuatu yang diajarkan itu terlalu besar untuk dibawa ke dalam kelas, maka dapat saja menggunakan model, foto, atau gambar dari benda tersebut, (4) media pembelajaran memungkinkan terjadinya kontak langsung antara anak didik dengan guru, dengan masyarakat, maupun dengan lingkungan alam di sekitar mereka (Lataheru dalam Nurul, 2011)

14

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(26)

xxvi

xxvi 3. Jenis-jenis media pembelajaran

a. Media Visual

Media visual adalah media yang hanya mengandalkan indera penglihatan. Contohnya grafik, diagram, chart, bagan, poster, kartun, komik

b. Media Audiovisual

Media audiovisual adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Contohnya, televisi, video, film.

Media audiovisual dapat dibedakan menjadi :

1. Audiovisual diam

Audiovisual diam adalah media yang menampilkan suara dan gambar diam (tidak bergerak).

2. Audiovisual gerak

Audiovisual gerak adalah media yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yang bergerak. Contohnya, film suara dan video kaset.

15

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(27)

xxvii

xxvii c. Media yang Diproyeksikan

Media yang termasuk media yang diproyeksikan :

1. Overhead transparansi (OHT)

OHT merupakan media yang paling banyak digunakan karena relatif mudah dalam penyediaan materinya, karena hanya dibutuhkan bahan transparansi dan alat tulis.

2. Slide

Slide adalah media visual yang penggunaannya diproyeksikan ke layar lebar, dengan menggunakan slide gambar yang disampaikan sangat realistis. Hal itu disebabkan materi atau bahan slide adalah film fotografi yang berbentuk transparan.

d. Media Video

Media video adalah Media yang menggunakan teknologi pemrosesan sinyal elektronik yang meliputi gambar gerak dan suara.

video dapat digunakan sebagai alat bantu mengajar pada berbagai bidang studi. Media ini dapat memberikan gambaran kepada peserta didik tentang dunia luar.

16

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(28)

xxviii

xxviii e. Media Berbasis Komputer

Media berbasis komputer adalah media yang mapu memuat dan mengintegrasikan berbagai macam media baik itu gambar maupun grafik, selain itu komputer juga mampu mencetak informasi dan juga member reaksi terhadap tanggapan siswa yang diketik lewat keyboard.

Media komputer saat ini sudah sangat luas dimanfaatkan oleh dunia pendidikan.

Media komputer mampu menampilkan unsur audio-visual yang bermanfaat untuk meningkatkan minat belajar siswa, atau yang dikenal dengan program multimedia. Media komputer pun dapat memberi umpan balik bagi respon siswa dengan segera setelah diberi materi.

D. Media Pembelajaran Komik

1. Pengertian Media Komik

Shadely dalam Nur Mariyanah (2005) mengartikan media komik sebagai berikut: komik merupakan rangkaian gambar-gambar yang keseluruhannya membentuk rentetan suatu cerita. Ada kalanya disertai narasi sebagai penjelasan.

2. Bentuk Media Komik

Secara garis besar menurut Trimo dalam Nur Mariyanah (2005) media komik dapat dibedakan menjadi 2 yaitu strip komik (comic strip)

dan buku komik (comic book). Strip komik adalah suatu bentuk komik 17

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(29)

xxix

xxix

yang terdiri dari beberapa lembar bingkai kolom yang dimuat dalam suatu harian atau majalah, biasanya disambung ceritanya, sedangkan yang dimaksud buku komik adalah komik yang berbentuk buku. Penelitian ini menggunakan bentuk strip komik karena lebih sederhana, waktu yang digunakan lebih efektif dan akan lebih cepat dipahami siswa.

3. Komik Pembelajaran Materi Wujud Zat

Komik ini berisi tentang meteri wujud zat diantaranya :

a. Perubahan Zat : percakapan antara seorang profesor dan murid tentang perubahan wujud zat.

b. Teori Partikel Zat : kisah Nobita yang sedang kesulitan dan bertanya pada Doraemon tentang materi teori partikel zat.

c. Kohesi dan Adhesi : Percakapan antara Doraemon dan Nobita. Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada lampiran (hal. 95). 4. Kelebihan Media Komik

Sebagai salah satu media visual media komik tentunya memiliki kelebihan tersendiri jika di manfaatkan dalam kegiatan belajar mengajar.

Menurut Gene Yang dalam Eko Wurianto (2009) komik memiliki lima kelebihan jika dipakai dalam pembelajaran. Kelebihan itu adalah:

a. Memotivasi

Hutchinson dalam Eko Wurianto (2009) menemukan bahwa 74% guru yang disurvei menganggap bahwa komik membantu memotivasi, 18

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(30)

xxx

xxx

sedangkan 79% mengatakan komik meningkatkan partisipasi individu. Satu guru mengatakan bahwa komik membuat pembelajaran menjadi pembelajaran yang sangat mudah. DC Comics, Thorndike, dan Downes juga menemukan bahwa komik mampu memotivasi siswa ketika mereka memperkenalkan buku latihan bahasa Superman ke kelasnya. Mereka menemukan bahwa siswa memiliki ketertarikan yang tak biasa dan, komik mampu membuat siswa menyelesaikan tugas yang seharusnya diselesaikan dalam satu minggu menjadi satu hari saja (Sones, dalam Eko Wurianto, 2009). Hasil eksperimen di atas menunjukkan kepada kita bahwa komik benar – benar mampu memotivasi siswa selama proses belajar mengaja.

b. Visual

Komik terdiri dari gambar-gambar yang merupakan media visual. Sones dalam Eko Wurianto (2009) menyimpulkan bahwa kualitas gambar komik dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Sones membagi empat ratus siswa kelas enam sampai kelas sembilan kedalam dua kelompok. Masing-masing kelompok seimbang dalam pembagian kelas dan kecakapannya. Kelompok pertama disuguhi pembelajaran cerita dengan menggunakan komik dan yang kedua hanya menggunakan teks saja. Setelah itu, mereka dites untuk mengetahui isi dari pembelajaran cerita itu. Setelah seminggu, prosesnya diubah, kelompok pertama disuguhi teks saja sedang yang 19

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(31)

xxxi

xxxi

kedua diberikan komik. Kemudian kedua grup dites lagi. Akhirnya, Sones dalam Eko Wurianto (2009) berkesimpulan bahwa pengaruh gambar terlihat dalam hasil tes. Tes pertama menunujukkan bahwa kelompok pertama mendapatkan nilai jauh lebih tinggi daripada kelompok kedua. Di tes kedua kelompok kedua mendapatkan nilai jauh lebih tinggi daripada kelompok pertama.

c. Permanen

Menggunakan komik sebagai media pembelajaran jauh berbeda dengan menggunakan film atau animasi. Meskipun film dan animasi juga merupakan media visual, mereka hanya dapat dilihat tanpa bisa mengulanginya sekehendak kita. Komik, berbeda dengannya, merupakan media yang permanen. Jika siswa tidak memahami suatu adegan film atau animasi, mereka tidak bisa mengulanginya. Tetapi dengan komik, mereka bisa mengulangi sesuka hati mereka.

d. Perantara

Karl Koenke dalam Eko Wurianto (2009) mengatakan bahwa komik bisa mengarahkan siswa untuk disiplin membaca khususnya mereka yang tidak suka membaca atau yang memiliki kekhawatiran akan kesalahan. Komik bisa menjadi jembatan untuk membaca buku yang lebih serius. Haugaard dalam Eko Wurianto (2009) mengatakan bahwa komik bisa mengubah siswanya yang tidak suka membaca menjadi siswa penyuka buku Jules Verne and Ray Bradbury.

20

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(32)

xxxii

xxxii e. Populer

Kita bisa mengatakan bahwa siswa kita saat ini berada dalam budaya populer. Timothy Morrison, Gregory Bryan, and George Chilcoat dalam Eko Wurianto (2009) mengatakan bahwa dengan memasukkan budaya populer kedalam kurikulum bisa menjembatani kesenjangan perasaan siswa ketika di dalam dan luar sekolah. Komik adalah bagian dari budaya populer. Kita tahu bahwa Spiderman and Batman adalah film yang diambil dari komik. Ini akan berpengaruh terhadap keberhasilan siswa dalam belajar.

5. Kelemahan Media Komik

Media komik disamping mempunyai kelebihan juga memiliki kelemahan dan keterbatasan kemampuan dalam hal-hal tertentu. Menurut Trimo dalam Eko Wurianto (2009) kelemahan media komik antara lain:

1. Kemudahan orang membaca komik membuat malas membaca sehingga menyebabkan penolakan-penolakan atas buku-buku yang tidak bergambar

2. Ditinjau dari segi bahasa beberapa komik banyak menggunakan kata-kata yang kurang baik ataupun kalimat-kalimat yang kurang dapat dipertanggungjawabkan dalam pembelajaran

3. Banyak aksi-aksi yang menonjolkan kekerasan ataupun tingkah laku yang sinting(perverted)

21

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(33)

xxxiii

xxxiii

4. Banyak adegan percintaan yang menonjol.

Media komik dalam penelitian ini tidak menggunakan kata-kata yang kurang baik atau tidak layak digunakan untuk pendidikan, tetapi menggunakan kata-kata yang mengandung pesan-pesan pengetahuan. 6. Peranan Media Komik dalam Pembelajaran

Nilai edukatif media komik dalam proses belajar mengajar tidak diragukan lagi. Menurut Sudjana dan Rivai dalam Nur Marianah (2005) media komik dalam proses belajar mengajar menciptakan minat para peserta didik, mengefektifkan proses belajar mengajar, dapat meningkatkan minat belajar dan menimbulkan minat apresiasi.

E. Pemahaman Konsep

Menurut Kartika Budi (1993) dalam artikelnya yang berjudul “Pemahaman Konsep Gaya dan Beberapa Salah Konsepsi yang Terjadi”, fisika pada hakekatnya merupakan akumulasi hasil keilmuan berupa konsep-konsep fisis, prinsip, hukum, dan teori yang diperoleh melalui keilmuan, dan sikap keilmuan. Sehingga memfasilitasi siswa, dapat diartikan sebagai proses siswa membangun konsep, hukum, dan teori. Bila hal ini dilakukan, maka tujuan yang harus dicapai dalam belajar fisika supaya dapat memahami konsep adalah dengan melakukan proses dan teori yang bersangkutan.

Kartika Budi (1987) dalam artikelnya yang berjudul “Konsep: Pembentukan dan Penanamannya” menyatakan bahwa pemahaman konsep 22

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(34)

xxxiv

xxxiv

memegang peranan penting dalam kegiatan belajar mengajar dapat dimengerti sejauh tidak mengabaikan aspek-aspek lain.

Menurut Kartika Budi (1992), untuk dapat memutuskan apakah siswa memahami konsep atau tidak, diperlukan kriteria atau indikator-indikator yang dapat menunjukkan pemahaman tersebut. Beberapa indikator yang menunjukkan pemahaman siswa akan suatu konsep, antara lain:

a. Dapat menyatakan pengertian konsep dalam bentuk definisi menggunakan kalimat sendiri.

b. Dapat menjelaskan makna dari konsep bersangkutan kepada orang lain.

c. Dapat menganalisis hubungan antara konsep dalam suatu hukum. d. Dapat menerapkan konsep untuk (1) menganalisis gejala-gejala

alam, (2) untuk memecahkan masalah fisika baik secara teoritis maupun secara praktis, (3) memprediksi kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi pada suatu sistem bila kondisi tertentu dipenuhi. e. Dapat mempelajari konsep lain yang berkaitan dengan lebih cepat. f. Dapat membedakan konsep yang satu dengan konsep lain yang

saling berkaitan.

g. Dapat membedakan konsepsi yang benar dengan konsepsi yang salah, dan dapat membuat peta konsep dari konsep-konsep yang ada dalam suatu pokok bahasan

23

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(35)

xxxv

xxxv F.Minat Belajar Siswa

1. Pengertian Minat Belajar

Minat berperan sangat penting dalam kehidupan peserta didik dan mempunyai dampak yang besar terhadap sikap dan perilaku. Siswa yang berminat terhadap kegiatan belajar akan berusaha lebih keras dibandingkan siswa yang kurang berminat.

Hilgard dalam Hsalma (2011) memberi rumusan pengertian tentang minat sebagai berikut: “Interest is persisting tendency to pay attention to and enjoy some activity or content” yang berarti minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan terus-menerus yang disertai dengan rasa senang dan diperoleh suatu kepuasan.

Menurut Slameto dalam Hsalma (2011) minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati siswa, diperhatikan terus-menerus yang disertai rasa senang dan diperoleh rasa kepuasan. Lebih lanjut dijelaskan minat adalah suatu rasa suka dan ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh.

Minat adalah kecenderungan dalam diri individu untuk tertarik pada sesuatu objek atau menyenangi sesuatu objek (Sumadi Suryabrata dalam Hsalma, 2011). Minat adalah sesuatu pemusatan perhatian yang tidak 24

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(36)

xxxvi

xxxvi

disengaja yang terlahir dengan penuh kemauannya dan yang tergantung dari bakat dan lingkungan.

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa minat adalah kecenderungan tertarik pada sesuatu yang relatif tetap untuk lebih memperhatikan dan mengingat secara terus-menerus yang diikuti rasa senang untuk memperoleh suatu kepuasan dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Dalam belajar diperlukan suatu pemusatan perhatian agar apa yang dipelajari dapat dipahami. Dengan demikian siswa dapat melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak dapat dilakukan. Terjadilah suatu perubahan kelakuan. Perubahan kelakuan ini meliputi seluruh pribadi siswa; baik kognitip, psikomotor maupun afektif.

Sedangkan yang penulis maksudkan dengan minat belajar di sini adalah suatu kemampuan pengetahuan pelajaran fisika yang dimiliki siswa untuk mencapai hasil belajar yang optimal yang dapat ditunjukkan dengan kegiatan belajar yang efektif dan juga kesenangan dalam membaca buku fisika setelah menerima pembelajaran dengan menggunakan media komik.

2. Ciri-ciri Siswa Berminat dalam Belajar

Menurut Slameto dalam Hsalma (2011) siswa yang berminat dalam belajar mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

25

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(37)

xxxvii

xxxvii

 Mempunyai kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang sesuatu yang dipelajari secara terus menerus.

 Ada rasa suka dan senang pada sesuatu yang diminati.

 Memperoleh suatu kebanggaan dan kepuasan pada sesuatu yang diminati. Ada rasa keterikatan pada sesuatu aktivitas-aktivitas yang diminati.

 Lebih menyukai suatu hal yang menjadi minatnya daripada yang lainnya.

 Dimanifestasikan melalui partisipasi pada aktivitas dan kegiatan. G.Persiapan Pembelajaran

Persiapan mengajar pada hakekatnya merupakan perencanaan jangka pendek untuk memperkirakan atau memproyeksikan tentang apa yang dilakukan. Dengan demikian, persiapan mengajar merupakan upaya untuk memperkirakan tindakan yang akan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran, terutama berkaitan dengan pembentukan kompetensi. Dalam mengembangan persiapan mengajar, terlebih dahulu harus menguasai secara teoritis dan praktis unsur-unsur yang terdapat dalam persiapan mengajar. Kemampuan membuat persiapan mengajar merupakan langkah awal yang harus dimiliki guru dan sebagai muara dari segala pengetahuan teori, keterampilan dasar, dan pemahaman yang mendalam tentang objek belajar dan situasi pembelajaran.

Dalam persiapan mengajar harus jelas kompetensi dasar yang akan dikuasai peserta didik, apa yang harus dilakukan, apa yang harus dipelajari,

26

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(38)

xxxviii

xxxviii

bagaimana mempelajarinya, serta bagaimana guru mengetahui bahwa peserta didik telah menguasai kompetensi tertentu. Aspek-aspek tersebut merupakan unsur utama yang secara minimal harus ada dalam setiap persiapan mengajar sebagai pedoman guru dalam melaksanakan pembelajaran dan membentuk kompetensi peserta didik.

Terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam pengembangan persiapan mengajar, di antaranya :

1. Kompetensi yang dirumuskan dalam persiapan mengajar harus jelas, makin konkrit kompetensi makin mudah diamati, dan makin tepat kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan untuk membentuk kompetensi tersebut.

2. Persiapan mengajar harus sederhana dan fleksibel serta dapat dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran dan pembentukan kompetensi peserta didik.

3. Kegiatan-kegiatan yang disusun dan dikembangkan dalam persiapan mengajar harus menunjang dan sesuai dengan kompetensi dasar yang telah ditetapkan.

4. Persiapan mengajar yang dikembangkan harus utuh dan menyeluruh serta jelas pencapaiannya.

27

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(39)

xxxix

xxxix

5. Harus ada koordinasi antar komponen pelaksana program di sekolah, terutama apabila pembelajaran dilaksakan secara tim (team teaching) atau moving class.

Mulyasa dalam Ahmad Sudrajad (2008) menyebutkan bahwa guru profesional harus mampu mengembangkan persiapan mengajar yang baik, logis dan sistematis, karena disamping untuk kepentingan pelaksanaan pembelajaran, persiapan mengajar merupakan bentuk dari “profesional accoutability”. Dengan mengutip pemikiran Cythia, Mulyasa dalam Ahmad Sudrajad (2008) mengemukakan bahwa persiapan mengajar akan membantu guru dalam mengorganisasikan materi standar, serta mengantisipasi peserta didik dan masalah-masalah yang mungkin timbul dalam pembelajaran.

H.Materi Pembelajaran Wujud Zat

Materi ini di rangkum dari (Prof.Yohanes Surya, Ph.D. : 2006 : 96-112, IPA Fisika gasing untuk smp, Teguh Sugiarto, Eny Ismawati : 2008 : 117-120,

Ilmu Pengetahuan Alam) 1. Wujud Zat

a. Zat

Zat adalah sesuatu yang menempati ruang dan memiliki massa. Di alam ini ada 3 macam zat, yaitu padat, cair, dan gas. Di sekitar kita terdapat benda-benda yang dapat dikelompokkan kedalam 3 wujud zat. Contoh, air dan minyak dapat dikelompokan kedalam zat cair, gas

28

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(40)

xl

xl

elpiji dapat dikelompokan menjadi zat gas, dan kayu dan besi dapat digolongkan menjadi zat padat.

b. Perubahan Wujud Zat

Perubahan wujud zat digolongkan menjadi 6 peristiwa diantaranya adalah:

1. Membeku. Membeku adalah perubahan wujud dari cair menjadi padat.

2. Mencair. Mencair adalah perubahan wujud dari padat menjadi cair

3. Menguap. Menguap adalah perubahan wujud dari cair menjadi gas.

4. Mengembun. Mengembun adalah perubahan wujud dari gas menjadi cair.

5. Menyublim. Menyublim adalah perubahan wujud dari zat padat menjadi gas.

6. Mengkristal. Mengkristal adalah perubahan wujud dari gas menjadi padat.

2. Teori Partikel Zat

Molekul adalah bagian terkecil dari suatu zat yang masih memiliki sifat zat itu. Sedangkan atom adalah partikel yang sangat kecil penyusun suatu benda. Partikel suatu zat dapat bergerak, sebagai pembuktian adalah jika kita menyemprotkan minyak wangi, sebelum disemprotkan kita tidak dapat mencium harumnya, tetapi setelah disemprotkan harumnya akan tercium.

29

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(41)

xli

xli

a. Susunan Dan Gerak Partikel Pada Berbagai Wujud Zat 1. Zat padat

Zat padat memiliki sifat bentuk dan volumenya tetap. Bentuknya tetap karena partikel-partikel pada zat padat saling berdekatan, tersususn teratur dan memiliki daya ikat antar partikel yang sangat kuat. Volumenya tetap karena partikel pada zat padat dapat bergerak dan berputar hanya hanya pada kedudukannya saja.

2. Zat Cair

Zat cair memiliki sifat bentuk berubah-ubah dan volumenya tetap. Bentuknya berubah-ubah karena partikel-partikel pada zat cair berdekatan tetapi renggang, tersusun teratur, gaya antar partikel agak lemah. Volumenya tetap karena partikel pada zaat cair mudah berpindah tetpi tidak dapat meninggalkan kelompoknya.

3. Zat Gas

Zat gas mempunyai sifat dan bentuk berubah-ubah dan volumenya juga berubah-ubah. Bentuknya berubah-ubah dikarenakan partikel-partikel pada zat gas berjauhan, tersusun tidak teratur, gaya tarik antar partikel sangat lemah. Volumenya berubah-ubah dikarenakan partikel pada zat gas dapat ergerak bebas meninggalkan kelompoknya.

30

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(42)

xlii

xlii 3. Kohesi Dan Adhesi

Kohesi adalah gaya tarik menarik antara partikel zat sejenis. Sedangkan adhesi adalah gaya tarik menarik antara partikel yang tidak sejenis. Contohnya adalah apabila setetes air raksa dituangkan pada permukaan kaca, air raksa tidak menyebar, melainkan mengumpul dan membentuk gumpalan, itu artinya gaya kohesi air raksa lebih besar dari pada gaya adhesi air raksa dengan permukaan kaca.

I. Kaitan Teori Dengan Penelitian

Teori-teori yang telah dijelaskan di atas sangat berkaitan dengan penelitian yang akan dilakukan, diantaranya adalah teori tentang minat belajar siswa yang menjadi dasar dari instrumen wawancara yang akan dibuat dalam pengambilan data. Pembahasan-pembahasan materi yang akan diajarkan sangat berpengaruh besar pada instrumen pretest. Metode dan media pembelajaran komik sangat berpengaruh pada proses belajar mengajar sebagai treatmen.

Secara keseluruhan, teori-teori yang telah dijelaskan menjadi dasar atau tuntunan peneliti dalam melakukan penelitian.

31

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(43)

xliii

xliii BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif dan kualitatif. Termasuk dalam penelitian kuantitatif karena dalam penelitian ini menggunakan statistik deskriptif untuk mengetahui prestasi belajar siswa dan pemahaman konsep siswa menggunakan media komik. Termasuk dalam penelitian kualitatif karena dalam penelitian ini, minat siswa pada pembelajaran fisika menggunakan media komik diteliti secara kualitatif.

B. Waktu dan Tempat

Penelitian akan dilakukan pada pertengahan bulan Oktober 2011 di SMP Kanisius Gayam Yogyakarta.

C. Subyek Penelitian

Subyek penelitian adalah siswa kelas VII SMP Kanisius Gayam Yogyakarta.

D. Treatment

Treatment yang digunakan dalam penelitian ini adalah kegiatan pembelajaran dengan menggunakan media Komik.

32

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(44)

xliv

xliv

1. Pembelajaran Pada Kelas Esperimen (Menggunakan Media Komik)

a. Pembukaan

1). Peneliti memperkenalkan diri dan menjelaskan tentang metode pembelajaran dengan menggunakan media komik

2). Peneliti menjelaskan tujuan dari pembelajaran.

b. Kegiatan Inti

1). Siswa diminta untuk mengerjakan pretest. Soal yang di berikan mengenai materi wujud zat.

2). Peneliti menjelaskan pengetahuan awal tentang wujud zat dan materi yang akan di pelajari.

3). Peneliti membagikan materi berupa komik strip, sebagai pedoman.

4). Peneliti membagi siswa menjadi beberapa kelompok. Pengelompokan ini berdasarkan sifat heterogenitas, yaitu setiap kelompok memiliki kemampuan akademik yang berbeda dan juga jenis kelamin. Pengelompokan siswa ini sudah dirancang peneliti terlebih dahulu, dengan meminta data dari sekolah.

5). Peneliti meminta setiap kelompok melalui perwakilannya untuk maju kedepan dan membacakan dialog cerita dalam komik, selama dialog berlangsung, siswa-siswa yang lain menyimpulkan isi dialog. Setelah itu, peneliti membahasnya secara bersama-sama, 33

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(45)

xlv

xlv

bagi yang kurang paham boleh bertanya pada teman kelompoknya yang lebih mengerti atau bertanya langsung pada peneliti.

6). Sebagai latihan, peneliti memberikan beberapa soal untuk di kerjakan dalam kelompok dengan waktu tang telah ditentukan.

7). Setelah waktu yang di tentukan habis, peneliti meminta salah satu kelompok melalui perwakilannya untuk maju dan mengerjakan soal di depan kelas.

8). Jika jawaban yang di kerjakan masih salah, peneliti membahasnya secara bersama-sama dan mencari jawaban yang benar dan memberikan semangat bagi kelompok tersebut.

9). Bagi kelompok yang telah maju, diberikan keistimewaan untuk memilih kelompok lain untuk mengerjakan soal yang lain.

c. Penutup

1). Peneliti memberikan kesimpulan dari pembelajaran, bersama-sama dengan siswa.

2). Peneliti memberikan postest untuk di kerjakan oleh siswa, soal yang di berikan sama dengan postest, untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa tentang materi yang telah diajarkan.

34

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(46)

xlvi

xlvi

2. Pembelajaran Pada Kelas Kontrol (Metode Ceramah)

a. Pembuka

1). Peneliti menjelaskan materi yang akan di ajarkan. 2). Peneliti menjelaskan tujuan dari pembelajaran. b. Kegiatan inti

1). Peneliti memberikan pretest untuk di kerjakan oleh siswa.

2). Peneliti memberikan penjelasan tentang materi dengan menggunakan metode ceramah, disertai dengan tanya jawab. 3). Siswa diminta untuk mengerjakan soal latihan yang diberikan

secara individual.

4). Peneliti membahas latihan soal secara bersama-sama dengan siswa. Jika ada yang belum jelas siswa, siswa diberikan kesempatan untuk bertanya.

c. Penutup

1). Peneliti menarik kesimpulan tentang apa apa yang sudah dipelajari bersama-sama dengan siswa.

2). Peneliti memberikan postest untuk dikerjakan oleh siswa.

Sebagai pedoman siswa, peneliti membuat RPP seperti dalam lampiran.

E. Instrumen Penelitian

Penelitian ini menggunakan tiga instrumen, yaitu tes tertulis berupa pretest-posttest, kuesioner/angket, dan yang ketiga adalah wawancara. Tes tertulis digunakan peneliti sebagai alat untuk mengukur seberapa jauhkah 35

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(47)

xlvii

xlvii

keberhasilan media pembelajaran komik dalam meningkatkan pemahaman konsep siswa. Instrumen kuesioner/angket digunakan untuk melihat minat pada pelajaran fisika, terutama dalam membaca buku fisika, dan instrumen wawancara digunakan untuk mengetahui ketertarikan siswa terhadap pembelajaran dengan menggunakan media komik.

1. Tes Tertulis

Peneliti membagi tes tertulis ini menjadi 2 yaitu :

a. Pretest

Pretest (tes awal) diberikan dengan tujuan untuk mengetahui pengetahuan awal siswa sebelum menerima pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran komik pada pokok bahasan kalor. Pertanyaan yang di gunakan menyangkut tentang materi yang akan di ajarkan yaitu tentang kalor.

b. Posttest

Posttest (tes ahir) diberikan dengan tujuan untuk mengetahui pemahaman konsep siswa setelah menerima pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran komik. Soal-soal yang diberikan sama dengan pretest, hal ini bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh perkembangan pemahaman konsep siswa.

36

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(48)

xlviii

xlviii

Tabel 1. Kisi-kisi pembuatan pretest dan posttest.

Materi pokok

Inti materi Soal

wujud zat 1. Macam-macam zat

2. Perubahan wujud zat

1. Ada berapa macam perubahan wujud

benda?sebutkan. (skor 1 ) 2.Apa yang dimaksud dengan

menyublim?berikan

1. Mengapa bentuk dan volume zat padat tetap? (skor 2)

2. gas mempunyai sifat mudah dimampatkan daripada zat padat ataupun zat cair. Apa sebabnya? (skor 2)

Kohesi dan Adhesi

1. istilah

2. contoh peristiwa

kohesi dan

adhesi dalam kehidupan sehari-hari

1. Apa yang dimaksud dengan kohesi dan adhesi?(skor 2)

2. Tinta dapat melekat dan menyebar pada buku tulis hal ini menunjukkan peristiwa apa saja? (skor 1)

Pretest dan posttest lengkap dapat dilihat pada lampiran (hal. 78). Validitas pretest dan posttest di atas adalah validitas isi, yaitu mengacu pada isi materi yang akan diajarkan.

37

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(49)

xlix

xlix 2. Kuisioner/Angket Minat

Kuisioner Minat digunakan untuk mengetahui seberapa besar minat siswa terhdap pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran komik dan ceramah. Untuk membandingkan pembelajaran metode apa yang diminati siswa.

Table 2. Distribusi soal kuesioner sikap berdasarkan indikator

Komponen Minat Indikator Nomor

soal Memperhatikan dan

mengingat terus

Memperhatikan dan mengingat terus-menerus apa yang diajarkan dengan media pembelajaran komik/ceramah

1, 6

Perasaan suka Suka terhadap media pembelajaran komik/ceramah

2, 10

Kebanggaan dan kepuasan

Bangga telah mengikuti pembelajaran dengan media komik/ ceramah

3, 8

Pilihan Lebih memilih media pembelajaran

komik/ceramah dari pada media pembelajaran lain

4, 5

Keikutsertaan Ikut serta dalam kegiatan media pembelajaran komik/ceramah

7, 9

Kuesioner lengkap dapat dilihat pada lampiran (hal.81).

38

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(50)

l

l 3. Wawancara

Peneliti melakukan wawancara untuk mengetahui bagaimana tanggapan siswa, tentang metode pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran komik. Wawancara dilakukan dengan semi terstruktur. Daftar pertanyaan dapat dilihat pada lampiran. Wawancara dilakukan pada beberapa siswa.

F. Metode Analisis Data

1. Pretest dan Posttest

Pretest dan posttest dianalisis melalui beberapa tahap sebagai berikut:

a. Peneliti menggunakan soal berbentuk esay pada soal pretest dan posttest, dengan harapan, siswa dapat mengeluarkan semua pemahaman yang telah didapatkan setelah pembelajaran menggunakan media pembelajaran komik. Setiap soal memiliki skor yang berbeda, tergantung pada tingkat kesulitan dari soal itu sendiri. Peneliti memberikan 5 soal pada siswa, dengan jumlah skor keseluruhan adalah 10. Soal yang diberikan saat pretest sama dengan soal posttest. Cara penilaian hasil pretest dan posttest adalah dengan membagi skor yang dicapai siswa dengan skor maksimal

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(51)

li

li

Pengelompokan skor dibagi menjadi 5 kelompok dengan interval sebagai berikut:

Table 3. Pengelompokan/kualifikasi skor dan interval pretest dan

postest

interval kualifikasi

76-100 Sangat baik

66-75 baik

56-65 cukup

50-55 kurang

1-49 Kurang baik

b. Untuk mengetahui apakah metode pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran komik mampu meningkatkan pemahaman konsep siswa, peneliti menggunakan analisis uji Test-T pada kelompok dependen. Dependen adalah kelompok yang saling tergantung atau bahkan sama (Suparno; 2006), dengan rumus

t

=

( ̅ ̅ )

perhitungan Test-T dengan menggunakan program SPSS. Setelah hasil muncul, kita dapat menyimpulkan :

 Apabila p < α = 0.05 maka signifikan

 Apabila p > α = 0.05 maka tidak signifikan

40

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(52)

lii

lii

Yang artinya bila signifikan adalah terjadi peningkatan pemahaman konsep pada siswa setelah menerima pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran komik. Dan jika tidak signifikan artinya adalah tidak terjadi peningkatan pemahaman konsep sebelum dan sesudah menerima pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran komik. Dan cara yang sama juga dilakukan pada kelas kontrol (metode ceramah).

c. Menggunakan Test-T untuk 2 kelompok yang independen. Analisis ini digunakan untuk mengetahui apakah metode pembelajaran dengan media komik lebih baik dalam meningkatkan pemahaman konsep siswa dari pada metode ceramah.

Dengan menggunakan tahapan analisis di atas dapat di tarik kesimpulan apakah terdapat perbedaan antara pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran komik dan ceramah, dan apakah metode pembelajaran komik lebih meningkatkan.

1) Dilakukan uji t-test independen antara skor pretest media pembelajatan komik dan pembelajaran ceramah, untuk mengetahui apakah kedua kelompok tersebut setaraf.

2) Dilakukan uji t-test independen untuk nilai skor posttest media pembelajaran komik dan metode ceramah, untuk melihat nilai yang lebih baik.

41

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(53)

liii

liii 2. Kuesioner/Angket Minat

Untuk mengetahui seberapa besar minat siswa terhadap pembelajaran fisika dengan menggunakan media komik pada pokok bahasan wujud zat, maka peneliti menggunakan kuesioner/Angket. Angket/Koesioner dibrikan setelah posttest.

Kuesioner/Angket yang diberikan terdiri dari 10 soal. Maksimal skor yang diberikan untuk 1 soal adalah 5, maka jumlah keseluruhan total skor adalah 50.

1. Untuk jawaban A diberi skor 5 2. Untuk jawaban B diberi skor 4 3. Untuk jawaban C diberi skor 3 4. Untuk jawaban D diberi skor 2 5. Untuk jawaban E diberi skor 1

Cara penilaian untuk hasil kuesioner/angket adalah dengan membagi skor yang diperoleh siswa dengan skor total, lalu dikalikan

Setelah diketahui hasilnya, maka dapat dilihat seberapa besar minat siswa terhadap pembelajaran menggunakan media pembelajaran komik pada kelas eksperimen. Dengan cara memberikan kriteria skor, pada tiap interval skor yang didapat siswa seperti pada tabel 4.

42

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(54)

liv

liv Tabel 4. Kriteria skor pada kuesioner

interval kriteria

46-50 Sangat berminat

36-45 berminat

26-35 Cukup berminat

16-25 Kurang berminat

10-15 Tidak berminat

3. Wawancara

Peneliti menggunakan wawancara untuk mengetahui tanggapan siswa tentang metode pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran komik terhadap minat dan pemahaman konsep siswa. Cara penilaian hasil angket adalah dengan cara peneliti mendeskripsikan hasil jawaban siswa. Wawancara dilakukan pada beberapa siswa, dengan cara mengajukan pertanyan-pertanyaan.

43

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(55)

lv

lv BAB IV

DATA DAN ANALISIS DATA

A. Deskripsi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMP Kanisius Gayam Yogyakarta, dari tanggal 4 Oktober 2011 hingga tanggal 15 Oktober 2011.

Proses pengambilan data yang dilakukan, tidak berjalan 100 persen sesuai dengan perencanaan pembelajaran. Ada beberapa hal yang menghambat proses pengambilan data, diantaranya adalah :

1. Pengurangan jam pelajaran dan libur yang dilakukan pihak sekolah ketika pengambilan data dilakukan. Pengurangan dilakukan karena diadakan rapat para guru dan staff pada saat sepulang sekolah. Hal ini juga berpengaruh terhadap proses pengambilan data, yang seharusnya berjalan 2 kali pertemuan menjadi 5 kali pertemuan. 2. Ketidak hadiran siswa pada uji pretest dan posttest menyebabkan

pencoretan jumlah siswa yang menjadi sampel. Sehingga yang seharusnya terdapat 27 siswa menjadi 25 siswa pada kelas VII B dan pada kelas VII A seharusnya terdapat 28 siswa menjadi 27 siswa.

3. Minat siswa terhadap mata pelajaran fisika yang kurang, membuat peneliti harus bekerja keras dalam mengelola kelas.

44

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(56)

lvi

lvi

4. Terjadi perubahan pada metode pembelajaran dengan menggunakan media komik. Pada perencanaan, peneliti telah membagi siswa kedalam kelompok-kelompok yang sudah ditentukan, namun hal ini malah membuat siswa menjadi kurang kondusif. Meskipun sebagian siswa ada yang senang dengan pembagian kelompok ini. Tetapi peneliti merasa hal ini kurang efektif. Melihat siswa yang sudah terbiasa dengan kebiasaan yang diberikan oleh guru di sekolah, yaitu mereka boleh ribut, asal mencatat apa yang diminta oleh guru. Hal ini diketahui setelah peneliti bertanya pada siswa. Meskipun tidak semua guru bertindak demikian, namun kebiasaan ini terlihat seperti sudah biasa dilakukan oleh siswa. Untuk lebih mengkondusifkan siswa, peneliti membubarkan kelompok yang telah di bentuk dan meminta atau menunjuk siswa untuk menjelaskan dialog di dalam komik. Hal ini cukup membantu dalam usaha penertipan siswa, meskipun tidak 100 persen berhasil, tetapi cukup membantu dalam pengelolaan kelas.

Setelah melewati beberapa hambatan tersebut peneliti memperoleh data berupa hasil pretest dan posttest, kuesioner minat, dan hasil wawancara beberapa siswa kelas VII A dan B.

Berikut ini adalah jadwal dan proses pengambilan data metode ceramah dan media pembelajaran komik yang dilakukan di kelas VII A, dan VII B SMP Kanisius Gayam Yogyakarta.

45

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(57)

lvii

lvii

Tabel 5: Pembagian metode pada masing-masing kelas

No. Kelas Metode

1. VII A Media pembelajaran komik

2. VII B Ceramah

Tabel 6:Jadwal waktu pelaksanaan penelitian

No. Hari/Tanggal Pukul Kelas Kegiatan

1. Selasa, 4-10-2011 9.15-10.15 VII B Pretest, pembelajaran metode ceramah materi perubahan wujud zat dan

teori partikel zat 2. Kamis, 6-10-2011 9.15-10.15 VII A Pretest, pembelajaran

komik materi perubahan wujud zat. 3. Selasa,

11-10-2011

9.15-10.15 VII B Melanjutkan materi teori partikel zat, dan materi

kohesi, adhesi 4. Kamis,

13-10-2011

9.15-10.15 VII A Pembelajaran komik materi teori partikel zat

dan kohesi, adhesi 5. Jumat,

14-10-2011

7.00-7.40 VII B Posttest, dan kuesioner 46

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(58)

lviii

lviii 6. Jumat,

14-10-2011

9.15-9.55 VII A Posttest, dan kuesioner

7. Selasa, 18-10-2011

9.55-10.15 VII B wawancara

8. Kamis, 20-10-2011

9.55-1020 VIIA wawancara

B. Data Penelitian

Peneliti mendapatkan data berupa hasil pretest dan posttest kelas VII A dan VII B, hasil kuesioner minat, dan hasil wawancara yang dilakukan pada enam siswa dari tiap kelas. Berikut adalah penjabarannya.

1. Hasil pretest dan posttest siswa kelas VII A dapat dilihat pada tabel 7.

Tabel 7: Hasil pretest dan posttest kelas VII A

No. Siswa Pretest Posttest

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(59)

lix

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(60)

lx

lx

2. Hasil pretest dan posttest siswa kelas VII B dapat dilihat pada tabel 8.

Tabel 8: Hasil pretest dan posttest kelas VII B

No. Siswa Pretest Posttest

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Gambar

gambar yang disampaikan sangat realistis. Hal itu disebabkan
Hal itu disebabkan . View in document p.27
gambar komik dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Sones
Sones . View in document p.30
gambar terlihat dalam hasil tes. Tes pertama menunujukkan bahwa
Tes pertama menunujukkan bahwa . View in document p.31
Tabel 1. Kisi-kisi pembuatan pretest dan posttest.
Tabel 1 Kisi kisi pembuatan pretest dan posttest . View in document p.48
Table 2. Distribusi  soal kuesioner sikap berdasarkan indikator

Table 2.

Distribusi soal kuesioner sikap berdasarkan indikator . View in document p.49
Table 3. Pengelompokan/kualifikasi skor dan interval pretest dan

Table 3.

Pengelompokan kualifikasi skor dan interval pretest dan . View in document p.51
Tabel 4. Kriteria skor pada kuesioner
Tabel 4 Kriteria skor pada kuesioner . View in document p.54
Tabel 6:Jadwal waktu pelaksanaan penelitian
Tabel 6 Jadwal waktu pelaksanaan penelitian . View in document p.57
Tabel 7: Hasil pretest dan posttest kelas VII A
Tabel 7 Hasil pretest dan posttest kelas VII A . View in document p.58
Tabel 8: Hasil pretest dan posttest kelas VII B
Tabel 8 Hasil pretest dan posttest kelas VII B . View in document p.60
Tabel 9: Data kuesioner kelas VII A yang menggunakan metode
Tabel 9 Data kuesioner kelas VII A yang menggunakan metode . View in document p.62
Tabel 10: Data kuesioner kelas VII B yang menggunakan
Tabel 10 Data kuesioner kelas VII B yang menggunakan . View in document p.63
Tabel 11: Hasil wawancara pada kelas VII A.
Tabel 11 Hasil wawancara pada kelas VII A . View in document p.64
Tabel 12: Hasil wawancara pada kelas VII B.
Tabel 12 Hasil wawancara pada kelas VII B . View in document p.65
Tabel 13: Analisis pretest kelas eksperimen dan kelas kontrol
Tabel 13 Analisis pretest kelas eksperimen dan kelas kontrol . View in document p.67
Tabel 14: Analisis pretest dan posttest pada kelas eksperimen
Tabel 14 Analisis pretest dan posttest pada kelas eksperimen . View in document p.69
Tabel 15: Analisis pretest dan posttest pada kelas kontrol.
Tabel 15 Analisis pretest dan posttest pada kelas kontrol . View in document p.70
Tabel 16: Analisis posttest pada kelas kontrol dan kelas eksperimen.
Tabel 16 Analisis posttest pada kelas kontrol dan kelas eksperimen . View in document p.72
Tabel 17: Analisis kuesioner pada kelas kontrol dan kelas eksperimen.
Tabel 17 Analisis kuesioner pada kelas kontrol dan kelas eksperimen . View in document p.74

Referensi

Memperbarui...

Download now (141 pages)