HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING TANGGUNG JAWAB OTORITAS JASA KEUANGAN DALAM MEMBERIKAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP INVESTOR DI BURSA EFEK INDONESIA

Gratis

0
0
86
1 month ago
Preview
Full text

TANGGUNG JAWAB OTORITAS JASA KEUANGAN DALAM MEMBERIKAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP INVESTOR DI BURSA EFEK INDONESIA SKRIPSI

TANGGUNG JAWAB OTORITAS JASA KEUANGAN DALAM MEMBERIKAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP INVESTOR DI BURSA EFEK INDONESIA SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratanUntuk mencapai derajat S-1 pada Program Studi Ilmu Hukum Oleh : LALU AHMAD RENDI PRADITIAD1A014164 FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MATARAM 2018 HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING TANGGUNG JAWAB OTORITAS JASA KEUANGAN DALAM MEMBERIKAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP INVESTOR DI BURSA EFEK INDONESIAOleh: Lalu Ahmad Rendi Praditia D1A014164 MenyutujuiPembimbing Pertama Pembimbing Kedua (Dr. Eduardus Bayo Sili, SH., MH) (I Gusti Agung WisudawanSH.,MH) SKRIPSI INI TELAH DITERIMA DAN DISAHKAN OLEH FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MATARAM PADA TANGGAL: .....................................................

NIP.19690210 199903 1002 NIP. 19830711 200812 1001

  SKRIPSI INI TELAH DITERIMA DAN DISAHKAN OLEH FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MATARAM PADA TANGGAL: ..................................................... Lalu Parman, S.

KATA PENGANTAR

  Assalamu‟alaikum Warahmatullahi WabarakatuhAlhamdulillah puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat, hidayah, ridho, nikmat, dan karunia-Nya serta kekuatan yang diberikan kepada penyusunsehingga dapat menyelesaikan skripsi ini dengan penuh perjuangan dan ikhtiar, yang berjudul “TANGGUNG JAWAB OTORITAS JASA KEUANGANDALAM MEMBERIKAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP INVESTOR DI BURSA EFEK INDONESIA ” . Hum selaku Dekan Fakultas HukumUniversitas Mataram sekaligus ketua penguji yang telah memberikan izin dalam penyusunan skripsi ini sebagai tugas akhir dalam perkuliahan dantelah memberikan bantuan dan masukan, saran serta kritikan dalam menyelesaikan skripsi ini.

2. Bapak Ari RH Budiawan F, SH.,M.Hum selaku Ketua Bagian Hukum

  Staf Akademik dan seluruh pihak yang ada di Fakultas Hukum UniversitasMataram yang telah mendukung dan bekerjasama dengan penyusun selama penyusun menunutut ilmu di Fakultas Hukum UniversitasMataram. Sahabat penyusun, Grup Muslim Billionaire, Asror, Iqbal, Bayu, Rozi,Zaky, Irvan, Deden, Mas adid, Iis, Ihsani, Era, Nadia, Juli, Putri, Titin, danTeman- teman seperjuangan iqro‟, Abrar, Kaspun, Emil, Lendra, Iwan, Anas, Kukuh, Teguh, Tamrin, Nia, dan Teman-teman KKN Padak guar squad dan masih banyak lagi yang tidak bisa disebutkan satu-persatu, yangselalu menghibur memberikan do‟a, dan membantu penyususn dalam menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

10. Semua pihak yang turut membentu sehingga dapat terselesainya skripsi ini

  Otoritas Jasa Keuangan menggantikan peran dan fungsi dari BAPEPAM (Badan Pengawas Pasar Modal) untuk melakukanpengawasan aktifitas di pasar modal.pembentukan lembaga jasa keuangan yang bernama Otoritas Jasa Keuangan melalui Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 TentangOtoritas Jasa Keuangan yang di singkat OJK. Otoritas Jasa Keuangan dalam memberikan perlindungan terhadapInvestor denga menggunkan perlindungan hukum preventif dan represif, perlindungan hukum preventif Otoritas Jasa Keuangan ini berupadikeluarkankannya beberapa peraturan Otoritas Jasa Keuangan, dan bentuk perlindungan hukum represif yaitu dengan pemberian sanksi, baiksanksi secara administrasi, sanksi secara perdata, dan sanksi secara pidana.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia adalah negara yang memiliki potensi ekonomi yang

  Olehkarena itu di dalam kehidupan masyarakat yang modern seperti sekarang ini, tidak lazim lagi orang menyimpan harta yang dimilikihanya tertanam di lahan investasi yang tidak memberikan return(penghasilan) yang tinggi atau yang tidak memadai. KewenanganBapepam sejak keluarnya Undang-Undang No 21 Tahun 2011 TentangOtoritas Jasa keuangan dilaksanakan oleh OJK yang bertujuan untuk mewujudkan kegiatan pasar modal yang teratur, wajar dan efisien, serta 32 melindungi kepentingan pasar modal dan masyarakat.

4 Ibid, hlm. 3

  Selanjutnya dengan adanya permasalahan lintas sektoral di sektor jasa keuangan yang meliputi tindakan moral hazard, belum optimalnyaperlindungan konsumen jasa keuangan dan terganggunya stabilitas sistem keuangan semakin mendorong diperlukannya pembentukan lembagapengawasan di sektor jasa keuangan yang terintegrasi. Sehubungan dengan hal di atas, perlu dilakukan penataan kembali struktur perorganisasianlembaga-lembaga yang melaksanakan tugas pengaturan dan pengawasan di kawasan sektor keuangan yang mencakup sektor perbankan, pasarmodal, perasuransian, dana pensiun, lembaga pembiayaan, dan lembaga jasa keuangan lainnya.

6 Indonesia, Undang-Indang No 21 Tahun 2011 Tentang Otoritas Jasa Keuangan, LN No

7 Modal

  Sebagai konsekuensi dari pelaksanaan fungsi dari pengawas kegiatan pasar modal, Bapepam diberikan kewenangan untuk melakukanpemeriksaan terhadap semua pihak yang diduga telah, sedang, dan atau mencoba melakukan sesuatu pelanggaran terhadap Undang-Undang Pasar Pertumbuhan ekonomi di Indonesia yang semakin meningkat dengan catatan penambahan kelas menengah nampaknya jugameningkatkan potensi kejahatan di bidang investasi. Otoritas Jasa Keuangan, yang selanjutnyadisebut dengan OJK, sebagai lembaga yang independen dan bebas dari campur tangan pihak lain yang mempunyai fungsi menyelenggarakansistem pengaturan dan pengawasan yang terintegrasi terhadap keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan di Indonesia, mempunyai perananyang penting dalam penanganan kasus dugaan investasi fiktif yang sedang berkembang saat ini di Indonesia.

7 Ivan Yustiavanda, Arman Nefi, Aspek Hukum Pasar Modal Indonesia, cet. 3. Kencana

  Dalam pasal tersebut tidak dijelaskan bentuk tanggung jawab OJK terhadap konsumen dalam hal iniinvestor. Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai Tanggung Jawab Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dalam Memberikan Perlindungan Hukum Terhadap Investor Di Bursa Efek Indonesia.

B. Rumusan Masalah 1

Apa tanggung jawab Otoritas Jasa Keuangan dalam memberikan perlindungan hukum terhadap Investor di Bursa Efek Indonesia ?

2. Apa bentuk perlindungan hukum yang diberikan oleh Otoritas Jasa

Keuangan terhadap Investor di Bursa Efek Indonesia?

C. Tujuan Dan Manfaat Penelitian

  Manfaat TeoritisBermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan secara umum dan ilmu hukum pada khususnya terutama hukum bisnis dan untukmemberikan gambaran yang jelas dan kaitannya dengan tanggung jawab otoritas jasa keuangan dalam memberikan perlindunganhukum terhadap investor di bursa efek indonesia. Adapun ruang lingkupnyamenitik beratkan pada tanggung jawab otoritas jasa keuangan dalam memberikan perlindungan terhadap investor di bursa efek indonesia danbentuk perlindungan hukum yang diberikan oleh otoritas jasa keuangan terhadap investor di bursa efek indonesia.

1. Abdurrahman Wijaya, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas

  Perbedaan penelitian inidengan yang penulis lakukan adalah terletak pada subjek hukum dan rumusan masalah yang di angkat, dimana pada penelitian ini yangmenjadi subyek hukumnya adalah konsumen jasa perbankan, sedangkan penulis yang menjadi subyek adalah investor di Bursa Efek Indonesia. Di dalam rumusan masalahnya penulis di atas mengkaji tentang perlindungan hukum OJK terhadap konsumen jasaperbankan dan sedangkan yang penelitian yang saya lebih meneliti bentuk perlindungan hukum OJK terhadap investor di BEI.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1. Tinjauan Umum Tentang Pasar Modal Dalam tatanan bahasa indonesia kata pasar modal mempunyai arti

  Sedangkan misi dari pasar modal yaitu untuk menciptakan pasar modal yang teratur, wajar dan efisien guna menunjang perekonomian nasional,menciptakan iklim kondusif bagi perusahaan dalam memperoleh pembiayaan bagi modal dalam melakukan alternatif investasi, danmewujudkan lembaga independen yang berkualitas internasional dan selalu memperbaharui dan mengembangkan diri. Selanjutnya di dalam pasar modal ada beberapa pihak yang terkait dalam melakukan transaksi, para pelaku utama dalam pasar modal adalahperusahaan yang kan melakukan penjualan saham (emiten) dan pembeli atau pemodal (investor) yang akan membeli instrumen yang ditawarkanoleh emiten.

1. Comon Stocks (Saham biasa) adalah tanda bukti

  Mutual Fund (Reksadana) adalah merupakan alternatif investasi para pemodal yang memiliki kemampuan dan waktu yang terbatas/khususnya pemodal kecil yang tidak mampumenghitung resiko atas investasinya. Orang-orang yang berkerja dibursa efek seperti BEI ataupun Wall Street biasanya memiliki kehidupan yang super sibuk, tetapi memiliki penghasilan yang luar biasa yang sulitdicapai dengan pekerjaan biasa.

2. Tinjauan Umum Tentang Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

  Secara orang perorangan Otoritas Jasa Keuangan memiliki kepastian masa jabatan yang tidak dapat diberhentikan kecuali memenuhialasan yang secara tegas diatur di dalam undang-undang yang mengatur tentang lembaga jasa keuangan yang meliputi mekanisme seleksitransparan, akuntabel dan melibatkan partisipasi publik melalui suatu 19 Indonesia, dan sektor jasa keuangan. Sebagaimana ditentukan dalam Bab XIII Pasal 55 ayat (1)Undang-Undang OJK bahwa sejak tanggal 31 Desember 2012, fungsi, tugas, dan wewenang pengaturan dan pengawasan kegiatan jasakeuangan di sektor pasar modal yang dilaksanakan oleh badan pengawas pasar modal (Bapepam) beralih kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

1. Terselenggara secara teratur, adil, transparan, dan akuntabel 2

  Mampu melindungi kepentingan konsumen dan masyarakat termasuk memberikan perlindungan terhadap pelanggan dankejahatan di sektor keuangan seperti manipulasi dan berbagai bentuk penggelapan dalam kegiatan jasa keuangan. Selain itu, OJK harus mampu menjaga kepentingan nasional, antara lain meliputi sumber dayamanusia, pengelolaan, pengendalian, dan kepemilikan di sektor jasa keuangan, dengan tetap mempertimbangkan aspek positif globalisasi.

3. Tinjauan Umum Tentang Tanggung Jawab Hukum

  Di luar ini maka pelaku tersebut dinyatakan bebas, ini dinamakan tanggungjawab kesalahan, di sini kesalahan diberi makna yang luas yang juga 25 mencakup sifat melanggar hukum perbuatan. Dengan demikian tanggung jawab hukum lebih ditekankan pada adanya kewajiban untuk menanggung yang dapat dikenakan sedangkanpertanggungjawaban pada adanya suatu yang harus dipertanggungjawabkan, akibat dari dilakukannya suatu perbuatan atautindakan tertentu.

1. Tanggung Gugat Atas Dasar Kesalahan (Based on Fault

  Liability), tanggung gugat atas dasar kesalahan ini di indonesia berdasarkan pada ketentuan pasal 1365 Kitab Undang-UndangHukum Perdata (KUHPerdata) atau kurang lebih dikenal dengan sebutan perbuatan melanggar hukum yangselengkapnya berbunyi sebagai berikut: “ Tiap perbuatan25 melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada orang lain, Sudiarto, Tanggung Gugat Pengangkut Tehadap Penumpang Dalam Kecelakaan Pesawat Udara Pada Penerbangan Domestik , cet. Pertama, Pustaka Bangsa, Mataram, 2012, hlm.

2. Tanggung Jawab Atas Dasar Praduga Tidak Bersalah

  Tanggung jawab praduga bersalah ini sebenarnya proses yang dilalui samadengan tangung gugat atas asar kesalahan, yang membedakan adalah terletak pada beban pembuktian berada di pihak tergugat, maka pada tanggung jawab praduga bersalah beban 26 pembuktian berada pada pihak tergugat. Secara sederhana, konsep tanggung jawab mutlak ini suatu konsep yang memandang kesalahan sebagai suatu yang tidakrelavan untuk dipermasalahkan apakah pada kenyataannya ada atau tidak, namun yang penting adalah bahwa seseorang yangmenderita kerugian atas perbuatan orang lain maka ia harus 27 bertanggung jawab.

BAB II I METODE PENELITIAN 1. Jenis Penelitian Berdasarkan rumusan masalah yang diangkat dalam

  permasalahan ini, maka dapat di kategorikan sebagai Penelitian HukumNormatif yaitu disebut juga sebagai Hukum Doktrinal yang mana pada penelitian Hukum Normatif selalu mengkonsepkan hukum sebagaiketentuan yang tertulis di dalam peraturan perundang-undangan atau hukum dikonsepkan sebagai kaidah atau norma yang merupakan 28 tindakan prilaku manusia yang dianggap pantas. Sehingga PenelitianHukum Normatif merupakan penelitian yang mengkaji dan menganalisis peraturan perundang-undangan, asas-asas hukum, dannorma-norma hukum yang akan di aplikasikan sebagai kaidah atau norma yang merupakan patokan berprilaku manusia yang sewajarnya,dengan mengkaji ketentuan hukum yang berlaku.

28 Amirudin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, Cet.1, PT Raja

  Pendekatan Konseptual (Conceptual Approach) yaitu pendekatan yang dilakukan dengan menelaah atau berpedoman denganliteratur-literatur dan pendapat para sarjana dan para ahli-ahli yang berhubungan dengan permasalahan yang dibahas. Bahan Hukum Sekunder yaitu bahan hukum yang diperoleh sebagai perlengkapan bahan hukum primer dan sudah tersusundalam bentuk dokumen berupa buku-buku, makalah-makalah, dan pendapat para ahli yang berkenaan dengan masalah pokokyang di bahas.

2. Teknik Dan Pengumpulan Bahan Hukum

3. Analisis Bahan Hukum

  Sesuai dengan jenis dan bahan hukum yang diperlukan dalam penelitian ini maka cara yang digunakan adalah melalui studidokumen atau literatur yang dalam penelitian ini penyususn mencari dari bahan kepustakaan baik berupa peraturan perundang-undangan,hasil penelitian hukum, buku-buku, makalah-makalah dan jurnal hukum maupun pendapat para sarjana. Bahan hukum yang telah diperoleh baik bahan hukum primer maupun bahan hukum sekunder akan diolah dengan analisisberdasarkan rumusan masalah yang telah di terapkan sehingga diharapkan dapat diperoleh gambaran yang jelas.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Bentuk Tanggung Jawab Otoritas Jasa Keuangan Dalam Memberikan Perlindungan Hukum Terhadap Investor Di Bursa Efek Indonesia Otoritas Jasa Keuangan selanjutnya di sebut OJK merupakan lembaga

  OJK juga dapat mengajukan gugatan untuk memperoleh kembali harta kekayaan milik-milik para pihak yang dirugikan, baik yang berada dipenguasaan pihak yang menyebabkan kerugian yang dimaksud di bawah penguasaan pihak laindengan iktikad baik dan/atau untuk memperoleh ganti kerugian dari pihak yang menyebabkan kerugian pada konsumen dan/atau lembaga jasa keuangansebagai akibat dari pelanggaran atas peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan. Tanggung jawab refresif Otoritas Jasa Keuangan yaitu melakukan pengawasan terhadap emiten, perusahaan publik, dan penunjang pasar modaluntuk melakukan pengawasan terhadap aktifitas mereka dalam hal ini untuk menghindari adanya perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan undang-undang yang dapat merugikan investor, baik itu berupa perbuatan penipuan, perdagangan orang dalam, dan tindak pidana pada pasar modal lainnya.

32 Keuangan sebagai berikut : 1

2. Tujuan, Fungsi, Tugas, Dan Wewenang Otoritas Jasa Keuangan

  Otoritas Jasa Keuangan dibentuk dengan tujuan agar keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan dapatterselenggara secara teratur, adil, transparan, dan akuntabel mampu mewujudkan sistem keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan,stabil dan mampu melindungi kepentingan konsumen dan masyarakat yang di wujudkan melalui adanya sistem pengaturandan pengawasan yang terintegrasi terhadap keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan. Prinsip ini berarti setiap tugas dan kewenangan yang dimiliki oleh Otoritas Jasa Keuangantetap pada campur tangan yang dilakukan pemerintah dalam hal pengangkatan dewan komisioner Otoritas Jasa Keuangan meskipunsecara kelembagaan Otoritas Jasa Keuangan memiliki kedudukan di luar33 pemerintah.

35 Keuangan adalah : a

  Secara langsung atau tidak langsung menipu atau mengelabui pihak lain dengan menggunakan sarana dan atau cara apapun:turut serta menipu atau mengelabui pihak lain dan memberi falta informasi tidak benar dengan maksud untukmenguntungkan atau menghindarkan kerugian untuk diri sendiri atau pihak lain atau dengan tujuan mempengaruhi pihaklain untuk membeli mensual efek (Pasal 90 UUPM) 2. Fungsi RegulasiFungsi ini tertuang dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 Tentang Otoritas Jasa Keuangan Pasal 5, Otoritas JasaKeuangan berfungsi menyelenggarakan sistem pengaturan dan pengawasan yang terintegrasi terhadap keseluruhan kegiatan didalam sektor jasa keuangan, di Pasal 6 dijelaskan Otoritas JasaKeuangan melaksanakan tugas pengaturan dan pengawasan terhadap:a.

3. Fungsi Monitoring Evaluasi

  Penggunaan informasi atau temuan dari monetoring dan evaluasi selama dan sesudah pelaksanaan program dapat dilihatsebagai hal pokok dari sistem pelaporan dan akuntabilitas dalam menunjukkan kinerja, dan atau untuk belajar daripengalaman untuk miningkatkan kerja di masa depan. 79 tahun 1952, TLN No 67 Menurut Undang-Undang Pasar Modal No 8 tahun 1995, baik terhadap pihak yang melakukan tindak pidana penipuan dan pengelabuandi pasar modal, maupun pihak yang ikut serta dalam penipuan dan pengelabuan, diancam dengan hukuman penjara maksimum 10 tahun dandenda maksimum Rp.

1. Menciptakan pasar modal yang semu, antara lain dengan jalan : a

  Melakukan dua atau lebih transaksi efek di bursa efek sehingga menyebabkan harga efek tetap, naik atau turun, dengan tujuanagar pihak lain terpengaruh untuk membeli, menjual atau menahan efek tersebuk. Membuat pernyataan atau membeli keterangan yang secara material tidak benar, yang dapat mempengaruhi harga efek atau 45 atau menjual efek.

B. Bentuk Perlindungan Hukum Otoritas Jasa Keuangan Terhadap Investor di Bursa Efek Indonesia

  Perlindungan Hukum adalah memberikan pengayoman kepada hak asasi manusia yang dirugikan oleh orang lain dan perlindungan tersebutdiberikan kepada masyarakat agar mereka dapat menikmati semua hak-hak yang diberikan oleh hukum atau dengan kata lain perlindungan hukum adalahberbagai upaya hukum yang diberikan oleh aparat penegak hukum untuk memberikan rasa aman, baik secara fikiran maupun fisik dari berbagai macamgangguan dari pihak lain. Dalam menjalankan dan memberikan perlindungan hukum dibutuhkannya suatu tempat atau wadah dalam pelaksanannya yang seringdisebut dengan sarana perlindungan hukum, sarana perlindungan hukum di bagi menjadi dua macam yang dapat di pahami sebagai berikut.

1. Sarana Perlindungan Hukum Preventif a

  Otoritas Jasa Keuangan merilis peraturan tentang perlindungan konsumen jasa keuangan, yaitu seperti tertera di atas PeraturanOtoritas jasa Keuangan Nomor 1/POJK.07/2013 yang akan menjadi pedoman bagi lembaga jasa keuangan dan masyarakat dalam hal iniinvestor. LitigasiBerdasarkan ketentuan pasal 2 Peraturan Otoritas JasaKeuangan Nomor 1/POJK.07/2014 Tentang Peyelesaian Pegaduan oleh Lembaga Jasa Keuangan wajib diselesaikan terlebih dahuluoleh lembaga jasa keuagan, yang apabila tidak terjadi kesepakatan dalam menyelesaikan atas pengaduan tersebut maka konsumen danlembaga jasa keuangan dapat menyelesaikan sengketa di luar pengadilan atau melalui pengadilanb.

1. Peringatan tertulis 2

  Disisi lain masyarakat memiliki pemahaman hak dan kewajiban dalam hubungan denganperusahaan jasa keuangan mengenai karakteristik, layanan, dan produk sehingga dalam jangka panjang industri jasa keuangan juga akanmendapatkan manfaat yang positif untuk memacu peningkatan efisiensi sebagai respon dari tuntutan pelayanan yang lebih prima terhadappelayanannya. Adanya ketaatan di dalam pasar modal ini dengan adanya aturanUndang-Undang dan peraturan di dalam undang-undang yang ada maka akan menciptakan pasar yang efisien dan wajar dan teratur sehingga akanmeningkatkan kepercayaan lepada investor juga investor akan menanamkan 52 adanya pelanggaran-pelanggaran yang terjadi pada investor.

1. Adanya sanksi Administratif 2

  Selain itu jugakewenangan melakukan penyidikan yang diberikan kepada Otoritas JasaKeuangan bertujuan agar setiap pelanggaran yang dilakukan di pasar modal dapat duketahui dan diatasi segera dan dengan adanya perlindunganhukum tersebut juga adanya penegakan hukum yang memberi kepastian hukum dapat melindungi investor dari emiten-emiten yang berniat jahat 53 yang dapat merugikan investor sebagai pemodal. Secara langsung atau tidak langsung menipu atau mengelabui pihak lain dengan menggunakan sarana dan atau cara apapun: turut sertamenipu atau mengelabui pihak lain dan memberi fakta informasi tidak benar dengan maksud untuk menguntungkan ataumenghindarkan kerugian untuk diri sendiri atau pihak lain atau dengan 54 tujuan mempengaruhi pihak lain untuk membeli mensual efek.

4. Dengan cara apapun membuat pernyataan atau memberikan

  54 keterangan yang secara material tidak benar atau menyesatkan,55 Indonesia, Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal Pasal 90 Indonesia, Undang-Undang No.

1. Komisaris, emiten, atau pegawai emiten atau perusahaan public 2

  Tindakan Otoritas Jasa Keuangan apabila terjadi suatu pelanggaran dilakukan oleh orang dalam maka Otoritas jasa Keuangan mempunyai hakuntuk mengadakan pemeriksaaan kepada setiap pihak yang diduga telah terlibat melakukan pelanggaran sebelumnya juga Otoritas Jasa Keuanganmeminta keterangan kepada emiten atau orang yang terlibat dalam pelanggaran juga memerintahkan kepada pihak yang diduga untuk tidak 58 melakukan kegiatan di pasar modal. Apabila terjadi delik tindak pidana di pasar modal, maka OtoritasJasa Keuangan dapat melakukan pemeriksaan dan penyidikan kepada Apabila terjadi pelanggaran administrasi dapat dikenakan Pasal 102 ayat (2) Undang-Undang Pasar Modal berupa adanya peringatantertulis, denda atau kewajiban membayar sejumlah uang tertentu, dan pembatasan kegiatan usaha dan pencabutan izin usaha dan pembatalanpendaftaran.

60 Munir Fuady, Op.Cit, hlm 134

  Sistem pertanggung jawaban khusus ini berlaku terhadap pelanggaran terhadapinformasi yang misleading, khususnya yang berhubungan dengan pernyataan pendaftaran dalam rangka penawaran umumdan/atau yang berhubungan dengan penawaran atau penjualan efek (dengan memakai prospektus atau tidak). Melainkan hanya menunjuk kepada setiap pelanggaran terhadap UndangUndang Pasar Modal Tersebut atau peraturan pelaksanan lainnya, yang jika timbul kerugian maka si pelanggar dapat dimintakan tanggung jawabperdatanya secara hukum, hal ini dimungkinkan dengan adanya Pasal 111 Undang-Undang No 8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal.

62 Dalam menjalankan perlindungan hukum kepada investor di Bursa

  Perihal perlindungan konsumen tercantum dalam Pasal 28, Pasal 29, dan Pasal 30 Undang-Undang Otoritas Jasa Keuangan yang merupakan ketentuan-ketentuan yang mengatur secara eksplisit perihal perlindungankonsumen dan masyarakat atas industri jasa keuangan. Bentuk perlindungan hukum yang dilakukan Otoritas JasaKeuangan terhadap konsumen bersifat pencegahan atau preventif dan 1.memberikan informasi dan edukasi kepada masyarakat atas karakteristik sektor jasa keuangan, layanan, dan produknya; 2.meminta Lembaga Jasa Keuangan untuk menghentikan kegiatannya apabila kegiatan tersebut berpotensi merugikan masyarakat; dan 3.tindakan lain yang dianggap perlu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan penelitian tentang “Tanggung Jawab Otoritas Jasa Keuangan Dalam Memberikan Perlindungan Hukum kepada investor Di Bursa Efek Indonesia” makan penulis menarik kesimpulan yaitu: 1. Otoritas Jasa Keuangan merupakan lembaga yang independen dalam

  OJK juga bertanggung jawab untuk melakukan investigasiatas pelanggaran-pelanggaran yang terjadi di pasar modal dan dapat mencabut izin usaha pada perusahaan-perusahaan yang melakukanpelanggaran sehingga dapat merugikan investor. Otoritas Jasa Keuangan juga memberikan perlindungan hukum kepada para investor, bentuk perlindungan hukum yang diberikan OtoritasJasa Keuangan berupada perlindungan hukum secara preventif dan perlindungan secara refresif.

3. Dalam Undang-undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa

  Keuangan, di dalam pasal-pasalnya tidak disebutkan bentuk tanggung jawab Otoritas Jasa keuangan. Maka seharusnya di dalam undang-unndang tersebut harus di catumkan kedalam pasal bentuk tanggung jawab dari otoritas Jasa keuangan itu, supaya tidak terjadi kekosongannorma.

Dokumen baru

Aktifitas terkini

Download (86 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

PERANAN PERWAKILAN DIPLOMATIK INDONESIA DI TURKI DALAM MEMBERIKAN PERLINDUNGAN TERHADAP WARGA NEGARA INDONESIA YANG DITAHAN OLEH OTORITAS TURKI.
0
2
14
PIHAK YANG MEMPUNYAI TANGGUNG JAWAB MEMBERIKAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP ISTRI YANG MENJADI KORBAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA OLEH SUAMI.
0
3
12
SKRIPSI PERANAN PERWAKILAN DIPLOMATIK INDONESIA DI TURKI DALAM MEMBERIKAN PERLINDUNGAN TERHADAP WARGA NEGARA INDONESIA YANG DITAHAN OLEH OTORITAS TURKI.
0
2
11
TANGGUNG JAWAB HUKUM PT ASURANSI JASA INDONESIA DALAM MENYELESAIKAN KLAIM ASURANSI PENGANGKUTAN BARANG DI LAUT.
0
1
16
TINJAUAN YURIDIS PERAN OTORITAS JASA KEUANGAN MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 21 TAHUN 2011 TENTANG OTORITAS JASA KEUANGAN DIHUBUNGKAN DENGAN PERLINDUNGAN TERHADAP INVESTOR PASAR MODAL.
0
3
10
EFEKTIVITAS FASILITAS PENYELESAIAN PENGADUAN OLEH OTORITAS JASA KEUANGAN (OJK) SEBAGAI ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA PERBANKAN DALAM MEMBERIKAN PERLINDUNGAN NASABAH.
0
0
16
PERLINDUNGAN HUKUM DAN TANGGUNG JAWAB TE
0
0
14
OTORITAS JASA KEUANGAN DI INDONESIA BERK
0
0
6
TANGGUNG JAWAB NEGARA INDONESIA DALAM PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP TENAGA KERJA ANAK
0
0
25
KEPASTIAN HUKUM OTORITAS JASA KEUANGAN DALAM PROSES KEPAILITAN PERUSAHAAN EFEK
0
0
6
EB-25 PENERAPAN PERLINDUNGAN HUKUM NASABAH BANK DALAM PERSPEKTIF UNDANG-UNDANG OTORITAS JASA KEUANGAN Ida Nurhayati
0
0
10
PENGARUH TANGGUNG JAWAB SOSIAL DAN LEVERAGE TERHADAP KINERJA KEUANGAN PADA PERUSAHAN MANUFAKTUR GO PUBLIC YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA
0
0
13
SKIRPSI PENGAWASAN OTORITAS JASA KEUANGAN DALAM RANGKA PERLINDUNGAN KONSUMEN PENGGUNA JASA PERBANKAN
0
0
15
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KONSUMEN LEMBAGA JASA KEUANGAN ATAS PELANGGARAN DALAM TRANSAKSI MELALUI TELEPON BERDASARKAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR. 1/POJK.07/2013 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN SEKTOR JASA KEUANGAN - repo unpas
0
0
36
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KONSUMEN LEMBAGA JASA KEUANGAN ATAS PELANGGARAN DALAM TRANSAKSI MELALUI TELEPON BERDASARKAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR. 1/POJK.07/2013 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN SEKTOR JASA KEUANGAN - repo unpas
0
0
27
Show more