Hubungan Antara Optimisme dan Problem Focused Coping pada Mahasiswa

Gratis

0
0
104
4 months ago
Preview
Full text

  

Hubungan Antara Optimisme dan Problem Focused Coping

pada Mahasiswa

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

  

Program Studi Psikologi

Disusun Oleh:

Widuri Listiana

  

NIM : 03 9114 033

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  

2009

 

  Hidup itu perlu DIPERJUANGKAN….

  Hidup bagaikan untaian benang yang tergulung, Benang yang terurai tak akan mungkin tergulung seperti sedia kala…

TETAP SEMANGAT! HIDUP ITU KERAS!

  

karya ini khusus kupersembahkan untuk:

Jesus Christ

  

IBU & MOMO

Juga Teman – Temanku

  

ABSTRAK

HUBUNGAN ANTARA OPTIMISME DAN PROBLEM FOCUSED

COPING PADA MAHASISWA

  Widuri Listiana Universitas Sanata Dharma

  Yogyakarta 2008

  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan yang positif antara optimisme dan problem focused coping pada mahasiswa. Subyek dalam

  laki-laki dan perempuan sejumlah 150 orang, yang

  penelitian ini adalah mahasiswa

  

berusia 18 – 22 tahun; berada pada semester tiga (angkatan 2007), semester 5 (angkatan

2006), dan semester 7 (angkatan 2005). Hipotesis yang diajukan adalah ada hubungan

yang positif antara optimisme dan problem focused coping pada mahasiswa. Data

penelitian diungkap dengan skala optimisme yang mempunyai reliabilitas 0.924 dan skala

problem focused coping yang memiliki reliabilitas 0.909. Analisis data dilakukan dengan

korelasi Product Moment dari Pearson. Hasil penelitian menunjukkan korelasi

  sebesar 0.692 (p=0.000; p<0.01), yang berarti ada hubungan positif yang signifikan antara optimisme dan problem focused coping pada mahasiswa.

  Kata kunci : optimisme, problem focused coping

  

ABSTRACT

THE RELATIONSHIP BETWEEN OPTIMISM AND PROBLEM

FOCUSED COPING ON UNIVERSITY STUDENTS

  Widuri Listiana Sanata Dharma University

  Yogyakarta 2008

  Current research was conducted to investigate if there is a positive relationship between optimism and problem focused coping on college students. The subjects studied in the research were 150 students, whose age were between

  rd th th

  18 – 22 years old. They were also in the 3 , 5 , and 7 semester. The proposed hypothesis was there is a positive relationship between optimism and problem focused coping on the students. The research used optimism scale with the reliability of 0.924 and problem focused coping scale with the reliability of 0.909. The data analysis was conducted with the correlation of Pearson’s Product Moment. The result of the research showed the correlation of 0.692 (p=0.000; p<0.01), which means that the positive relationship exists significantly between optimism and problem focused coping on the students.

  Keyword: optimism, problem focused coping

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas berkat, karunia, bimbingan, dan segala yang Ia berikan serta rencanakan untuk penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulis juga menyadari bahwa skripsi ini dapat terselesaikan karena adanya kerelaan hati, semangat, dan cinta yang tulus dari orang-orang terdekat yang selalu membantu dan membimbing penulis baik dalam menyelesaikan skripsi ini maupun dalam hidup penulis. Dengan segala kerendahan hati, penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada:

  1. Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Bapak P. Eddy Suhartanto, S.Psi., M.Si. yang telah memberikan ijin dan dukungan dalam menyelesaikan skripsi ini.

  2. Bapak V. Didik Suryo H., S.Psi., M.Si., selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang selalu sabar dalam memberikan arahan, masukan, dan dorongan untuk penulis agar segera menyelesaikan skripsinya. Terimakasih banyak pak atas waktu dan tenaga yang sudah disisihkan untuk saya. Tuhan memberkati Bapak sekeluarga.

  3. Bapak Dr. T. Priyo Widiyanto, M.Si., selaku Dosen Pembimbing Akademik.

  4. Bapak Y. Heri Widodo, M.Psi atas waktu, masukan dan motivasinya baik dalam menyelesaikan skripsi.

  5. YB. Cahya Widiyanto, S.Psi., M.Si., selaku Dosen Penguji.

  6. Agung Santoso, S.Psi., MA. selaku Dosen Penguji.

  7. Segenap dosen Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, terimakasih atas bimbingannya dan seluruh bekal ilmu pengetahuan yang telah diberikan.

  8. Mba Nanik, Mas Gandung, dan Pak Gie, terimakasih atas semua bantuan dan kesabaran dalam melayani kepentingan akademik.

  9. Mas Mudji selaku laboran yang selalu direpotkan ketika praktikum.

  Terimakasih atas bantuan, kepercayaan, dan dukungan yang membuat penulis lebih maju.

  10. Mas Doni atas bantuannya selama kuliah dan skripsi, serta kesabarannya ketika penulis berisik di Ruang Baca.

  11. Beberapa teman-teman mahasiswa Angkatan 2005, 2006, dan 2007 yang merelakan waktunya untuk mengisi skala penelitianku.

  12. Ibu Waltini Endrani, terimakasih yang teramat besar atas tenaga, waktu, kasih sayang, kemarahan, kesedihan, kepercayaan, kebahagiaan, dukungan, dan segalanya yang engkau berikan untukku selama duapuluh tiga tahun ini. Bagiku, Ibu adalah Ibu yang paling HEBAT. Aku banyak belajar dari asam garam hidupmu dalam menyikapi kehidupan ini. Tuhan Yesus selalu memberkatimu Bu. Maaf, aku selalu merepotkan dan membuatmu sedih. Aku selalu mencintaimu.

  13. Eko Widhi Martanto, orang kedua yang terpenting dalam kehidupanku setelah Ibuku. Terimakasih banyak atas waktu, tenaga, kemarahan, kebahagiaan, kepercayaan, kesetiaan, dukungan, dan segalanya yang kamu berikan untukku agar aku bisa lebih maju dan lebih baik lagi. Maafkan aku yang suka lemot, sensitif, moody, dan sering bingung sendiri. JBU. ILU.

  14. Didi’03, Nana’03, Nonie’03, Sarie’03, Otic’03, dan Poke’03, terimakasih sudah mewarnai hidupku dengan pertemanan kita.

  15. Gothe’03, makasih selalu mengingatkanku untuk segera menyelesaikan skripsiku dan untuk dukungannya. Maaf ya kalau sering membuatmu bingung the. Tetap Semangat! Kehidupan Keras!

  16. Ajeng’03, wah, ternyata aku salah menilaimu…hehehe. Makasih untuk dukungannya, aku cukup banyak belajar darimu dan Gothe. Kalian menyenangkan. Ayo kapan kita pergi bertiga lagi!

  17. Sutaboy, tetap semangat boy! Ayo, segera selesaikan kuliahmu!

  18. Seluruh teman-teman angkatan 2003 yang tidak dapat aku sebutkan satu persatu, terimakasih buat semuanya.

  19. Teman-teman asisten P2TKP: Mas Desta, Otic, Abe, Gothe, Srie, Rondang, Astin, Vania, Atiek, Betty, Wulan, Lia, Tinul, Weni, Mitha, Baday, Budi, makasih banyak untuk dukungan dan kebersamaannya selama ini; asisten-

  20. Teman-Teman di Aswangga, TETAP SEMANGAT! KEHIDUPAN KERAS!

  21. Alit-TulAlit, wah rajin banget bimbingannya. Ayo, segera selesaikan skripsimu. Tetap Semangat! Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, terimakasih atas doa dan dukungannya, serta masukannya dalam proses penyelesaian skripsi ini.

  Yogyakarta, April 2009 Penulis

  

DAFTAR ISI

  HALAMAN JUDUL……………………………………………………. i HALAMAN PENGESAHAN DOSEN PEMBIMBING…………........ ii HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI……………………………… iii HALAMAN MOTTO…………………………………………………... iv HALAMAN PERSEMBAHAN……………………………………….. v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA……………………………….. vi ABSTRAK ……………………………………………………………... vii ABSTRACT…………………………………………………………….. viii PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI…………………….... ix KATA PENGANTAR………………………………………………….. x DAFTAR ISI……………………………………………………………. xiii DAFTAR TABEL………………………………………………………. xvi DAFTAR GRAFIK...…………………………………………………… xvii DAFTAR LAMPIRAN…………………………………………………. xviii BAB I PENDAHULUAN……………………………………………….

  1 A. Latar Belakang Masalah…………………………………………. 1

  B. Rumusan Masalah……………………………………………….. 6

  C. Tujuan Penelitian………………………………………………… 6 D. Manfaat Penelitian……………………………………………….

  7 BAB II LANDASAN TEORI..……………………………..…………..

  8 A. Mahasiswa…..……………………………………………………

  8 B. Problem-Focused Coping (PFC)..…………...…………………...

  10

  1. Pengertian PFC………………………………………………. 10

  2. Fungsi PFC…………………………………………………… 14

  3. Aspek-Aspek PFC…………………………………………… 15

  4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi PFC……………………. 16

  C. Optimisme……..…………………………………………………

  18

  1. Pengertian Optimisme……………………………………….. 18

  3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Optimisme……………... 22

  3. Reliabilitas……………………………………………………

  49 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN...……………………………...

  47 C. Pembahasan……………………………………………………...

  2. Pengujian Hipotesis Penelitian………………………………

  47

  a. Uji Normalitas…………………………………………… 45 b. Uji Linearitas…………………………………………….

  45

  B. Hasil Penelitian………………………………………………….. 44 1. Uji Asumsi Data Penelitian………………………………….

  2. Deskripsi Data Penelitian……………………………………. 44

  43

  1. Deskripsi Subyek Penelitian…………………………………

  43 A. Deskripsi Hasil Penelitian……………………………………….. 43

  BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN………………

  41 H. Analisis Data…………………………………………………….. 42

  2. Seleksi Aitem………………………………………………… 38

  4. Dampak dari Optimisme…………………………………….. 23

  37

  1. Validitas………………………………………………………

  G. Pertanggungjawaban Alat Ukur…………………………………. 37

  F. Prosedur Penelitian………………………………………………. 36

  E. Alat Pengumpulan Data…………………………………………. 32

  31 D. Subyek Penelitian………………………………………………… 31

  30 2. Problem-Focused Coping (PFC)……………………………..

  1. Optimisme……………………………………………………

  C. Definisi Operasional……………………………………………… 30

  B. Identifikasi Variabel……………………………………………... 30

  30 A. Jenis Penelitian…………………………………………………... 30

  29 BAB III METODE PENELITIAN……………………………………...

  D. Hubungan Antara Optimisme dan Problem-Focused Coping pada Mahasiswa.………………………………………………… 24 E. Hipotesis………………………………………………………….

  52

  B. Keterbatasan Penelitian………………………………………….

  52 C. Saran …………………………………………………………….

  53

  1. Saran kepada Mahasiswa……………………………………

  53 2. Saran kepada Dosen Pengajar……………………………….

  54 3. Saran kepada Penelitian Selanjutnya………………………..

  55 DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………..

  56

  

DAFTAR TABEL

  Halaman Tabel 1. Distribusi Aitem Skala Optimisme…………………………….

  35 Tabel 2. Distribusi Aitem Skala Problem-Focused Coping…………….

  36 Tabel 3. Bentuk Final Skala Optimisme ……………………………….

  40 Tabel 4. Bentuk Final Skala Problem-Focused Coping …..……………

  41 Tabel 5. Deskripsi Subyek Penelitian…………………………………… 43 Tabel 6. Deskripsi Data Penelitian………………………………………

  44 Tabel 7. Hasil Uji Normalitas…………………………………………… 45 Tabel 8. Hasil Uji Linearitas…………………………………………….

  47

                               

  

DAFTAR   GRAFIK  

  Halaman Grafik 1. Sebaran Data Variabel Optimisme……………………………. 46 Grafik 2. Sebaran Data Variabel PFC.…………………………………..

  46 Grafik 3. Arah Hubungan Variabel Penelitian…………………………..

  48

                                     

DAFTAR LAMPIRAN

  Lampiran A: Skala Try-Out Optimisme dan Problem-Focused Coping (PFC)

  Reliabilitas Skala Optimisme dan Problem-Focused Coping (PFC) Skala Penelitian Optimisme dan Problem-Focused Coping (PFC)

  Lampiran

  B: Deskriptif Data Optimisme dan Problem-Focused Coping (PFC) Hasil Analisis One Sample T-test

  Lampiran

  C: Hasil Analisis Uji Normalitas Hasil Analisis Uji Linearitas Hasil Analisis Korelasi Pearson Product Moment

   

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sebagai kaum muda, mahasiswa mulai menentukan arah dan

  perjalanan hidupnya yang menyangkut masa depan. Mereka akan dihadapkan pada berbagai permasalahan untuk mencapai apa yang mereka tuju. Mereka dituntut untuk lebih bertanggung jawab dalam memutuskan sesuatu, berbeda dengan masa remaja yang terdahulu yang bisa bertindak “semau gue”, saat ini mereka diharapkan ketika menyelesaikan suatu masalah, tidak hanya menggunakan emosi semata tetapi lebih dipikirkan secara matang dalam memutuskan sesuatu.

  Dalam menghadapi segala permasalahan kehidupan, mahasiswa akan menggunakan mekanisme perilaku koping untuk melindungi dirinya dari tekanan-tekanan psikologis yang dialami. Secara umum bentuk perilaku koping dapat dibedakan menjadi dua tipe (Baron & Byrne, 2005), yaitu koping yang berpusat pada emosi (emotion-focused coping) yang berarti usaha untuk mengurangi respon-respon emosional negatif yang muncul akibat dari suatu ancaman dan untuk meningkatkan afek-afek positif. Tipe yang kedua adalah koping yang berpusat pada masalah (problem-focused coping), yaitu usaha untuk mengatasi ancaman itu sendiri dan untuk memperoleh kontrol terhadap situasi.

  2 Mahasiswa dapat menghadapi tekanan-tekanan yang muncul dari perubahan situasi ini dengan cara yang positif, misalnya, melakukan perencanaan kuliah, menyelesaikan kuliah sesuai dengan target waktu, mengerjakan tugas tepat waktu, mempersiapkan dan mempelajari materi ujian beberapa hari sebelum ujian dilaksanakan, mengikuti kegiatan-kegiatan akademik maupun non-akademik untuk mengembangkan diri, dan berusaha meraih prestasi akademik maupun non-akademik. Hal tersebut menunjukkan bahwa ada juga mahasiswa yang mengatasi permasalahan yang ada dengan berfokus pada sumber masalah.

  Namun, ada juga yang kurang siap menghadapi tantangan ataupun tuntutan yang muncul sehingga mereka cenderung lari dari masalah-masalah yang mereka hadapi. Beberapa mahasiswa yang merasa kurang mampu mengatasi masalahnya akan menggunakan cara yang kurang matang ketika menghadapi suatu masalah, misalnya, mencontek, memalsukan tanda tangan, membolos kuliah, menunda pengumpulan tugas kuliah, mengabaikan studinya, minum minuman beralkohol, menggunakan narkoba, dan sebagainya. Cara ini digunakan untuk menghilangkan perasaan negatif yang muncul dari suatu peristiwa yang tidak nyaman.

  Mahasiswa sebagai remaja akhir yang beranjak dewasa mulai mampu berpikir tentang segala kemungkinan yang dapat terjadi dan dapat dilakukannya. Ketika menemui suatu permasalahan, mereka juga sudah mulai mampu menyusun berbagai rencana untuk menyelesaikan masalah tersebut.

  Walaupun mereka mendapatkan tekanan untuk mencapai prestasi akademis

  3 maupun non-akademis yang tinggi, mereka dapat mengatasinya dan merasa tertantang untuk lebih mandiri dan bertanggung jawab terhadap tugas-tugas yang akan diselesaikannya.

  Ketika mahasiswa mampu untuk membayangkan hal-hal yang dapat terjadi dan dapat dilakukan untuk mewujudkan harapan mereka, maka akan memotivasi mereka dalam mencapai harapan-harapan mereka dengan melihat kemampuan yang dimiliki oleh diri sendiri, sehingga mereka memiliki keyakinan pada diri mereka sendiri. Keyakinan akan diri sendiri akan mempengaruhi diri untuk tetap bertahan dan terus berjuang dalam mengatasi masalah hidup dan menjadikan individu sebagai orang yang optimis. Seseorang yang memiliki optimisme tidak takut menghadapi kegagalan dan berusaha untuk mengetahui apa yag menjadi penyebab kegagalannya.

  Optimisme berarti memiliki pengharapan dan keyakinan bahwa segala sesuatu dalam kehidupan akan berhasil atau dapat dijalani. Cara individu memandang situasi yang sedang terjadi dapat menunjukkan apakah orang tersebut merupakan orang optimis atau pesimis. Cara pandang yang positif terhadap suatu peristiwa akan menimbulkan rasa mampu menghadapi peristiwa tersebut. Sedangkan cara pandang yang negatif akan menimbulkan rasa tidak mampu dan tidak berdaya pada individu tersebut.

  Orang-orang yang optimis cenderung menafsirkan permasalahan mereka sebagai hal yang sementara, terkendali, dan hanya khusus pada satu situasi. Sedangkan orang pesimis adalah sebaliknya, yaitu meyakini bahwa permasalahan mereka berlangsung selamanya, menghancurkan segala yang

  4 sudah dilakukan, dan tidak terkendali (Abramson, dalam Atkinson et al., 1996; Bourne & Russo, 1998; Gerrig & Zimbardo, 2008). Cara pandang individu terhadap suatu peristiwa atau masalah akan berpengaruh pada motivasi, suasana hati dan perilaku mereka dalam menghadapi masalah tersebut. Individu yang optimis cenderung memiliki motivasi yang tinggi dan suasana hati yang positif dalam memandang masalah mereka, hal ini berpengaruh pada perilaku mereka dalam mengatasi masalah yang cenderung fokus pada penyelesaian di sumber masalah.

  Menurut Scheier dan Carver (dalam Baron, 1998; Bourne & Russo, 1998), orang yang optimis dan pesimis menggunakan strategi koping yang berbeda dalam menghadapi stres. Orang yang optimis fokus pada penyelesaian permasalahan, seperti membuat dan menetapkan rencana dalam mengatasi sumber stres, serta mencari dan mendapatkan dukungan sosial dalam mengatasi stress. Sedangkan orang yang pesimis cenderung menggunakan strategi yang berbeda, seperti merasa putus asa dalam mencapai tujuan atau keinginannya, menyangkal bahwa ia mengalami stres dan lebih menggunakan emosi dalam mengatasi permasalahan.

  Penelitian Seligman (2005), selama dua dekade terakhir ini, menunjukkan bahwa orang-orang yang pesimis memiliki delapan kali kemungkinan menjadi depresi ketika mengalami peristiwa yang buruk, sehingga berakibat pada prestasi sekolah yang buruk, pekerjaan yang tidak bisa diselesaikan, kesehatan fisik yang lebih buruk, dan usia mereka yang menjadi lebih pendek, serta mereka memiliki hubungan yang kurang lancar

  5 dengan orang lain. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa optimisme berpengaruh pada bagaimana orang berprilaku dan kesehatan seseorang.

  Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang yang optimis memiliki penyesuaian diri yang baik, mengalami kecemasan dan depresi yang rendah, memiliki pengontrolan diri, koping yang efektif, sistem imun yang tinggi, kesehatan fisik yang baik, dan suasana hati yang baik saat menghadapi situasi hidup penuh stress (Scheier, et al., 2002; Passer & Smith, 2007; Scheier & Carver, dalam Myers, 2003; Segerstrom, et al., 1998; Chang, 1998).

  Sebagai mahasiswa sangatlah penting untuk memiliki pandangan yang optimis. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Brissette, Scheier, dan Carver (2002) pada mahasiswa semester pertama, menunjukkan bahwa mahasiswa yang optimis memiliki penyesuaian diri yang baik terhadap peristiwa yang penuh stres. Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan bahwa mahasiswa yang optimis menggunakan koping aktif dan perencanaan dalam menghadapi situasi penuh stres, serta menunjukkan rendahnya penyangkalan dan tindakan yang merugikan ketika menghadapi kondisi yang penuh stres.

  Peneliti ingin melihat apakah hal tersebut juga terjadi di Indonesia, khususnya hubungan antara optimisme dan problem-focused coping pada mahasiswa. Mahasiswa di Indonesia cenderung lebih santai dalam menjalankan studinya maupun menyelesaikan tugas-tugas mereka dibandingkan dengan mahasiswa dari Negara bagian barat. Ketika seseorang tidak berusaha dengan sungguh-sungguh dalam mewujudkan harapannya atau tujuannya maka ia tidak akan mendapatkan apa yang diharapkan. Orang-orang

  6 di Negara bagian barat lebih fokus dalam mewujudkan harapan-harapan mereka sehingga mereka bisa lebih maju dibanding orang-orang di Indonesia. Ketika seseorang yakin dalam menetapkan tujuan dan harapannya maka orang tersebut akan memiliki motivasi yang tinggi dalam mewujudkannya, hal ini juga diikuti oleh perilaku orang tersebut yang berusaha untuk mewujudkan harapannya atau tujuannya.

  Dari penelitian-penelitian di atas menunjukkan pentingnya optimisme pada individu dalam menghadapi situasi yang penuh stres. Sebagai mahasiswa yang memiliki optimisme tinggi maka ia akan mampu menyesuaikan diri dengan baik, dengan cara penanganan masalah yang berfokus pada sumber masalah. Sedangkan pada mahasiswa yang memiliki optimisme yang rendah atau pesimis dalam menghadapi hidup, ia cenderung melarikan diri dari masalah dan kurang mampu mengatasi masalah dengan baik sehingga tidak mampu menyesuaikan diri dengan perubahan dan tuntutan yang dihadapi.

B. Rumusan Masalah

  Berdasarkan uraian di atas maka permasalahan penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut: apakah sikap optimis memiliki hubungan yang positif dengan problem-focused coping pada mahasiswa? C.

   Tujuan

  Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui adakah hubungan yang positif antara sikap optimis dengan problem-focused coping pada mahasiswa.

  7 D.

   Manfaat Penelitian

  1. Manfaat Teoritis

  a. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan pengetahuan di bidang ilmu psikologi kognitif mengenai hubungan antara optimisme dan problem-focused coping pada mahasiswa.

  2. Manfaat Praktis

  a. Memberikan wawasan kepada pembaca mengenai pentingnya peran optimisme dalam hubungannya dengan problem-focused coping ketika mengatasi suatu masalah, karena optimisme berpengaruh pada motivasi, mood, dan perilaku ketika menghadapi masalah.

BAB II LANDASAN TEORI A. Mahasiswa Mahasiswa merupakan individu yang melanjutkan sekolahnya ke

  jenjang perguruan tinggi. Mahasiswa tergolong pada masa remaja akhir, dan juga berada pada peralihan menuju masa dewasa. Masa remaja akhir berada pada usia 15 tahun ke atas sampai usia 18 – 22 tahun (Santrock, 2003). Pada usia ini, minat pada karir, prestasi, pacaran, dan eksplorasi tentang diri lebih menonjol. Pada usia remaja akhir, mereka dituntut agar mampu mengambil keputusan secara luas tentang karir, nilai-nilai, keluarga dan hubungan sosial, serta tentang gaya hidup (Santrock, 2002).

  Tugas-tugas perkembangan pada remaja menurut Havighurst (dalam Sarwono, 2004) adalah: 1. Menerima kondisi fisiknya dan memanfaatkan tubuhnya secara efektif.

  2. Menerima hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya dari jenis kelamin yang mana pun.

  3. Menerima peran jenis kelamin masing-masing (laki-laki atau perempuan).

  4. Berusaha melepaskan diri dari ketergantungan emosi terhadap orang tua dan dewasa lainnya.

  5. Mempersiapkan karir ekonomi.

  6. Mempersiapkan perkawinan dan kehidupan berkeluarga.

  7. Merencanakan tingkah laku sosial yang bertanggung jawab.

  9 8. Mencapai sistem nilai dan etika tertentu sebagai pedoman tingkah laku.

  Cara berpikir pada masa remaja lebih maju, efisien, dan efektif dibanding saat masa anak-anak. Hal ini dapat dilihat melalui lima perubahan kognitif pada masa remaja menurut Keating (dalam Steinberg, 2002): 1.

  Selama masa remaja, individu lebih mampu berpikir tentang hal-hal yang mungkin terjadi.

  2. Remaja menjadi lebih mampu berpikir secara abstrak.

  3. Selama masa remaja, individu mulai sering memikirkan tentang proses berpikir itu sendiri.

  

4. Remaja mulai berpikir secara multidimensi dan tidak terbatas pada satu hal

saja.

  

5. Remaja memandang suatu hal secara lebih relatif dan bukan sesuatu yang

mutlak.

  Menurut Piaget (Santrock, 2003), remaja masuk dalam tahap operasional formal, tahap ini muncul atau dimulai pada usia 11 atau 15 tahun sampai pada masa dewasa. Pada tahap ini remaja mampu berpikir secara:

  1. Abstrak, remaja mampu membayangkan situasi rekaan, kejadian yang semata-mata berupa kemungkinan hipotesis, dan mencoba mengolahnya dengan pemikiran yang logis.

  2. Idealis, munculnya pemikiran-pemikiran yang penuh idealisme dan berpikir tentang kemungkinan hal-hal yang dapat terjadi.

  3. Logis, remaja mulai menyusun berbagai rencana untuk memecahkan masalah, dan secara sistematis menguji cara pemecahan yang terpikirkan.

  Piaget menyebut cara berpikir ini sebagai penalaran hipotetis-deduktif.

  10 Sebagai mahasiswa, tekanan yang mereka hadapi bertambah berat, seperti bertambahnya tekanan untuk mencapai prestasi, unjuk kerja, dan nilai- nilai ujian yang baik (Santrock, 2003). Bayangan mengenai hari depan yang masih dianggap kabur, seperti mengenai pekerjaan yang belum jelas yang akan dilakukan setelah menamatkan sekolah merupakan masalah yang dihadapi oleh mahasiswa. Rasa takut akan kegagalan di dunia yang berorientasi pada keberhasilan sering menjadi alasan penyebab stres dan depresi bagi mahasiswa (Santrock, 2003). Namun, mahasiswa mampu merencanakan masa depannya dengan memproses pengalaman-pengalaman di masa lalunya, kemudian melihat apa yang mampu ia lakukan saat ini untuk mewujudkan rencana masa depannya.

B. Problem-Focused Coping

1. Pengertian Problem-Focused Coping (PFC)

  Adanya tuntutan untuk memecahkan masalah dan situasi yang menekan (stressor) merupakan pemicu munculnya sekumpulan cara dari individu untuk menghadapinya. Cara-cara individu menghadapi situasi yang menekan ini disebut sebagai proses coping. Lazarus & Folkman (dalam Folkman, 1984; Gerig & Zimbardo, 2008; Hockenbury & Hockenbury, 2003; Huffman et al., 2000) mengatakan bahwa coping adalah usaha individu secara kognitif dan perilaku untuk mengatasi tuntutan-tuntutan internal maupun eksternal yang dirasa mengancam atau

  11 melebihi kemampuan individu, sehingga situasi stres tersebut menjadi berkurang atau hilang.

  Secara umum coping merupakan proses dalam menghadapi situasi yang dirasa mengancam atau tidak nyaman dengan melakukan penyelesaian masalah, mengatasi efek emosional dari masalah atau stresor tersebut, atau mencari dukungan sosial dalam mengurangi situasi yang tidak nyaman tersebut (Santrock, 2005; Atkinson et al., 1996; Carver et al., 1989). Coping juga merupakan proses yang dinamis dan terus berjalan dalam menghadapi situasi penuh stres (Hockenbury & Hockenbury, 2003).

  Setiap individu akan memberikan respon yang berbeda walaupun menghadapi permasalahan yang sama. Perbedaan respon atau cara tersebut menyebabkan ada individu yang berhasil mengatasi masalahnya, ada pula yang gagal. Respon atau cara individu menggunakan coping ini dibedakan menjadi dua golongan (Lazarus & Folkman dalam Hockenbury & Hockenbury, 2003; Chang, 1998; Baron & Byrne, 2006), yaitu:

  a. Problem-Focused Coping yang selanjutnya ditulis PFC, merupakan strategi individu dalam mengatasi atau mengurangi stresor yang dianggap mengancam atau berbahaya bagi dirinya dan untuk memperoleh kontrol terhadap situasi.

  b. Emotion-Focused Coping yang selanjutnya ditulis EFC, merupakan strategi individu dalam mengatasi dampak emosional dari situasi yang penuh stres atau mengancam sehingga memperoleh rasa nyaman dan memperkecil tekanan yang dirasakan. Bahkan ketika ancaman tersebut

  12 masih ada, individu lebih memilih untuk merasa tidak terlalu cemas atau marah, dan berusaha untuk meningkatkan perasaan-perasaan positif. EFC digunakan saat individu merasa tidak mampu mengatasi masalah dan tujuannya untuk memberikan rasa nyaman pada individu bersangkutan.

  Folkman dan Lazarus (1986) menyebutkan bahwa perbedaan antara PFC dan EFC terletak pada cara yang digunakan untuk menghadapi stres. Pemecahan masalah dalam PFC adalah dengan membuat rencana dan melakukan tindakan langsung terhadap sumber masalah sehingga mendapatkan hasil yang diinginkan. Pemecahan masalah dalam EFC dilakukan individu dengan mengarahkan perilakunya pada pengontrolan emosi yang tidak menyenangkan melalui usaha mencari sisi baik dari masalah yang dihadapi, mencari simpati dan pengertian orang lain, atau dengan cara menghindarinya untuk melupakan semua permasalahan yang dihadapi. PFC digunakan oleh individu untuk menyelesaikan masalah hingga benar-benar terbebas dari masalah yang dihadapi. Sedangkan penyelesaian masalah dengan cara EFC bersifat sementara, dalam arti masalah yang sesungguhnya belum terselesaikan karena yang dilakukan hanyalah meredakan emosi yang ditimbulkan oleh sumber stres.

  Lazarus dan Folkman (dalam Hockenbury & Hockenbury, 2003; Chang, 1998; Santrock, 2005; Halonen & Santrock, 1999) menyatakan PFC adalah usaha individu dalam mengatasi stresor yang dianggap mengancam atau berbahaya bagi dirinya. Hockenbury & Hockenbury

  13 (2003) mengatakan strategi PFC adalah usaha individu dalam mengatasi sumber stres (stresor) dengan tujuan mengubah atau mengurangi sumber stres tersebut. Menurut Baron dan Byrne (2005) PFC adalah usaha untuk mengatasi sumber stres yang dianggap sebagai ancaman itu sendiri, dan untuk memperoleh kontrol terhadap situasi.

  Strategi PFC merupakan usaha untuk mengatasi masalah atau usaha dalam melakukan sesuatu untuk menangani sumber stres (Carver et al., 1989; Baron et el., 2006). Strategi ini cenderung digunakan saat individu merasa mampu melakukan sesuatu untuk mengatasi masalahnya (Carver et al., 1989; Gazzaniga & Heatherton 2003). Dalam PFC terdapat beberapa tindakan-tindakan yang bertujuan untuk mengubah situasi yang penuh stress menjadi lebih nyaman, antara lain: perencanaan (planning), melakukan tindakan secara langsung pada sumber masalah (taking direct

  

action ), mencari bantuan berupa informasi (seeking assistance), mencoba

  alternatif lain dalam mengatasi masalah, dan menunggu waktu yang tepat sebelum bertindak (Carver et al., 1989; Baron et al.,2006).

  PFC digunakan untuk mengontrol masalah yang muncul dari konflik antara kebutuhan individu dan tuntutan lingkungan dengan menggunakan pemecahan masalah (problem solving), membuat keputusan, dan tindakan secara langsung (Folkman 1984; Gazzaniga & Heatherton 2003).

  Dalam strategi PFC, individu berusaha untuk mencari sumber masalah, mengembangkan alternatif pemecahan masalah, menentukan

  14 pemecahan masalah yang menguntungkan bagi dirinya, dan juga menyiapkan alternatif lain jika pemecahan masalah kurang berhasil dilakukan (Atkinson et al., 1996; Huffman et al., 2000; Gazzaniga & Heatherton 2003). Menurut Billings dan Moos (dalam Atkinson et al., 1996) individu yang menggunakan PFC dalam mengatasi masalahnya menunjukkan tingkat depresi yang rendah, baik saat menghadapi stress maupun sesudahnya.

2. Fungsi PFC

  Menurut Folkman (1984), fungsi utama koping ada dua yaitu menyelesaikan masalah yang dihadapi hingga tuntas sehingga menghambat munculnya masalah lain (PFC) dan mengatur respon emosi terhadap situasi yang penuh stres (EFC).

  Penelitian yang dilakukan oleh Folkman dan Lazarus (dalam Folkman, 1984) menunjukkan bahwa baik PFC maupun EFC digunakan individu untuk menghadapi setiap situasi yang penuh stres. Penggunaan PFC meningkat pada situasi yang dinilai dapat diubah menjadi lebih baik. Sedangkan penggunaan EFC meningkat pada situasi yang dinilai tidak memungkinkan untuk diubah. Sebuah hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa-siswa yang menilai stressor akademik sebagai situasi yang menantang dan terkontrol akan lebih menggunakan PFC dan pikiran positif (positive thinking) dibandingkan siswa-siswa yang menilai stressor akademik sebagai situasi yang mengancam (dalam Pestonjee, 1992).

  15 Berdasarkan beberapa penelitian pengaruh koping terhadap proses penyesuaian diri, Holahan dan Moos (1987) menyatakan beberapa kelebihan PFC dibandingkan EFC, antara lain:

  a. PFC memiliki hubungan dengan menurunnya tingkat depresi, sedangkan EFC berhubungan positif dengan munculnya stres psikologis.

  b. Pada kalangan praktisi hukum, semakin sering mereka menggunakan EFC untuk mengatasi masalah, semakin meningkat ketegangan fisik maupun psikisnya.

  c. Usaha untuk mengatasi perasaan-perasaan tidak menyenangkan dengan jalan menarik diri secara aktual justru akan meningkatkan stres dan menguatkan munculnya problem baru di masa datang.

  Berdasarkan uraian di atas tampak bahwa PFC pada dasarnya bertujuan untuk menyelesaikan masalah hingga tuntas dan bagaimana mengatasi situasi penuh stres dengan efektif agar dampak buruk stres terhadap kesehatan mental individu dapat dihindarkan, serta dapat menghambat munculnya masalah yang lainnya.

3. Aspek - Aspek PFC

  Tiga aspek dari koping yang berorientasi pada pemecahan masalah (Aldwin & Revenson, 1987) adalah: 1) Cautiousness (kehati-hatian)

  16 Individu merencanakan sesuatu dengan baik sebelum melakukan sesuatu hal. Dalam hal ini, individu bertindak dengan hati-hati dalam membuat keputusan untuk memecahkan masalah, mempertimbangkan beberapa alternatif pemecahan masalah yang mungkin dilakukan, mengevaluasi strategi-strategi yang sudah pernah dilakukan sebelumnya, dan meminta pendapat dari orang lain.

  2) Instrumental action (tindakan instrumental) Usaha-usaha secara langsung yang dilakukan untuk mengatasi masalah. individu membuat perencanaan penyelesaian masalah secara logis, melakukan penyusunan rencana, dan melakukannya sesuai dengan yang telah direncanakan.

  3) Negotiation (negosiasi) Usaha yang memusatkan perhatian pada penyelesaian masalah dengan pendekatan-pendekatan yang dilakukan pada orang lain atau sumber masalah untuk ikut menyelesaikan permasalahan.

4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi PFC

  a. Perbedaan individual dalam memandang situasi penuh stress (cognitive

  appraisal )

  Perbedaan individu dalam mengatasi stres tergantung dari cara mereka memandang situasi stres tersebut sehingga mereka akan menentukan dan memilih koping yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Suatu situasi akan dipersepsi menimbulkan stres atau tidak tergantung pada

  17 penilaian kognitif individu. Perbedaan ini muncul karena masing- masing individu memiliki kemampuan, potensi, dan berbagai pertimbangan lainnya sehingga akhirnya akan memunculkan kualitas koping tertentu yang berbeda-beda pada setiap individu (Folkman & Lazarus 1986). Individu cenderung menggunakan PFC ketika ia percaya bahwa sumber-sumber dalam dirinya mampu mengatasi masalah yang ada atau yakin bahwa situasi penuh stres dapat diubah. Sebaliknya individu yang kurang yakin bahwa ia dapat melakukan sesuatu untuk mengubah situasi stres tersebut, ia akan cenderung menghindari masalah dengan minum minuman beralkohol, mengkonsumsi obat-obatan, serta makan dan tidur secara berlebihan untuk menghindari masalah (Lazarus 1976; Gerig & Zimbardo, 2008).

  b. Dukungan Sosial, dukungan sosial yang positif berhubungan dengan berkurangnya kecemasan dan depresi (Hufman et al., 2000; Hockenbury & Hockenbury, 2003).

  c. Perbedaan budaya juga akan berpengaruh dalam pemilihan dan penggunaan strategi koping individu (Passer & Smith, 2007; Hockenbury & Hockenbury, 2003).

  d. Jenis Kelamin; dari penelitian yang dilakukan oleh Tamres, Janicki, dan Helgeson (dalam Baron et al., 2006) menunjukkan bahwa pria dan wanita memiliki perbedaan cara dalam mengatasi stres. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa wanita menggunakan area strategi koping yang luas, baik dengan strategi problem-focused (antara

  18 lain, perencanaan dan koping secara aktif) maupun emotion-focused (antara lain, mencari dukungan sosial, perenungan kembali, dan penilaian ulang secara positif) dibandingkan dengan pria. Para peneliti tersebut menemukan bahwa wanita lebih banyak menghadapi stresor dibanding dengan pria. Hal ini berpengaruh pada penggunaan area strategi koping yang luas, termasuk pencarian dukungan sosial dalam menghadapi stres yang dilakukan oleh wanita.

C. Optimisme

1. Pengertian Optimisme

  Menurut Seligman (dalam Carver & Scheier, 2003), pandangan terhadap masa depan berasal dari pandangan individu tentang penyebab suatu peristiwa di masa lalu. Ketika pandangan individu terhadap kegagalan di masa lalu bersifat stabil, maka pada situasi yang sama kedepannya, ia akan yakin bahwa ia tidak akan berhasil. Kegagalan dipandang sebagai sesuatu yang cenderung permanen dan sulit untuk diubah. Namun, ketika pandangan individu terhadap kegagalan bersifat sementara, maka pada situasi yang hampir sama kedepannya, ia yakin bahwa ia akan berhasil dan penyebab dari kegagalan tersebut dapat diatasi. Individu yang optimis akan belajar dari pengalaman ketika mengalami situasi yang sulit.

  Seligman (dalam Carver & Scheier, 2003) juga mengatakan bahwa ketika individu melihat kegagalan sebagai sesuatu yang berpengaruh

  19 dalam segala aktivitas (global), maka kedepannya ia memiliki keyakinan bahwa ia tidak akan berhasil dalam melakukan segala hal. Namun, ketika individu melihat kegagalan secara spesifik (tidak berpengaruh pada segala aktivitas), maka kedepannya ia yakin bahwa ia akan berhasil pada hal-hal yang lain.

  Dalam menghadapi sesuatu hal, seseorang dapat menyikapinya secara optimis maupun pesimis. Seligman (dalam Franken, 2002; 2005), menyatakan bahwa optimisme merupakan keyakinan bahwa peristiwa yang buruk dipandang sebagai sesuatu yang bersifat sementara, tidak mempengaruhi seluruh aktivitas yang ada, dan bukan secara mutlak disebabkan oleh dirinya sendiri tetapi bisa situasi atau orang lain. Individu yang optimis menggunakan cara pandang yang positif ketika menghadapi suatu masalah. Sedangkan ketika mengalami peristiwa yang menyenangkan, individu yang optimis yakin bahwa peristiwa tersebut akan berlangsung lama, dapat terjadi dalam situasi yang berbeda-beda, dan disebabkan oleh diri sendiri.

  Optimisme merupakan keyakinan bahwa hal-hal baik akan terjadi di masa depan walaupun mengalami situasi yang kurang menyenangkan.

  Orang yang optimis terbuka pada pengalaman baru dan berusaha mewujudkan tujuan yang ingin dicapainya, mereka memandang masalah sebagai sesuatu hal yang dapat diselesaikan dengan baik. Sedangkan orang yang pesimis cenderung menarik diri ketika berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya (Franken, 2002; Carver & Scheier, 2003).

  20

2. Explanatory Style (Gaya Penjelasan)

  Explanatory style merupakan cara individu dalam memandang dan menjelaskan penyebab dari suatu peristiwa (Bourne & Russo, 1998).

  Dalam memandang suatu peristiwa, seseorang dapat menyikapinya secara optimis maupun pesimis dan hal ini akan berpengaruh juga pada cara mereka dalam menghadapi masalah (Seligman, 2005).

  Teori mengenai gaya penjelasan pada dasarnya adalah pengembangan dari teori atribusi, oleh karena itu berikut ini akan diuraikan pula beberapa pandangan dalam atribusi yang mendasari teori tentang gaya penjelasan. Teori atribusi menekankan pada bagaimana seseorang mencoba menjelaskan penyebab dari suatu kejadian di lingkungan sekitarnya (Astuti, 1999). Buck (dalam Astuti, 1999) mengatakan bahwa atribusi merupakan proses dalam menjelaskan atau memberi arti dari peristiwa yang terjadi di luar maupun di dalam individu.

  Menurut Myers (dalam Astuti, 1999), atribusi merupakan proses menerangkan penyebab tingkah laku manusia, baik orang lain maupun dirinya sendiri. Dari teori atribusi inilah kemudian dikembangkan menjadi teori gaya penjelasan.

  21 Menurut Seligman (dalam Hockenbury & Hockenbury, 2003; Gerrig & Zimbardo, 2008; Bourne & Russo, 1998), explanatory style (gaya penjelasan) terdiri dari dua macam tipe :

  a. Optimistic explanatory style, individu dalam memandang peristiwa buruk atau kegagalan cenderung sebagai sesuatu yang eksternal, sementara, dan spesifik.

  b. Pessimistic explanatory style, individu dalam memandang peristiwa buruk atau kegagalan cenderung sebagai sesuatu yang internal, stabil, dan global. Individu yang pesimis meyakini bahwa apapun usaha mereka tidak akan mengubah situasi menjadi lebih baik.

  Menurut Seligman (2005), ada tiga dimensi dalam gaya penjelasan untuk melihat optimisme seseorang, yaitu: a. Permanent (stabil-sementara)

  Penjelasan atau cara pandang tentang situasi yang baik maupun buruk yang berkaitan dengan masalah waktu. Ketika menghadapi situasi yang tidak menyenangkan, individu yang optimis akan memandang situasi tersebut bersifat sementara. Pada situasi ke depan yang hampir sama, ia yakin bahwa ia akan berhasil dan penyebab dari situasi tersebut dapat diatasi. Sebaliknya, peristiwa yang menyenangkan dipandang akan bertahan lama.

  b. Pervasiveness (spesifik-global) Penjelasan tentang bagaimana pengaruh peristiwa yang dialami terhadap situasi yang berbeda dalam hidup. Individu yang optimis akan

  22 memandang situasi yang tidak menyenangkan sebagai sesuatu yang spesifik atau terjadi pada kondisi tersebut saja dan tidak mempengaruhi segala aktivitas. Pada situasi ke depan, ia yakin bahwa ia akan berhasil pada hal-hal yang lain. Sedangkan pada situasi yang menyenangkan, individu yang optimis akan memandangnya sebagai sesuatu yang menyeluruh dan dapat terjadi pada segala situasi.

  c. Personalisasi (internal-eksternal) Penjelasan tentang siapa yang menjadi penyebab suatu peristiwa, baik negatif maupun positif. Dalam menghadapi situasi yang tidak menyenangkan, individu yang optimis akan memandang peristiwa tersebut bukan secara mutlak disebabkan oleh dirinya. Sedangkan ketika menghadapi situasi yang menyenangkan, individu yang optimis akan memandang bahwa hal tersebut terjadi karena usahanya.

  Namun Seligman (dalam Carver & Scheier, 2003) lebih menekankan pada dua dimensi gaya penjelasan, yaitu permanent dan pervasiveness.

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Optimisme

  a. Kontrol Diri Kontrol diri diperlukan individu untuk tetap berada pada realitas atau kenyataan sehingga individu lebih dapat menguasai dirinya dalam menghadapi sesuatu dan memiliki optimisme yang realistis (Schneider, 2001).

  b. Semangat

  23 Semangat akan menyebabkan individu lebih merasa yakin bahwa segala sesuatu akan berakhir dengan baik dan lebih optimis (Peale, 1995). Individu yang memiliki semangat yang tinggi akan lebih berhasil ketika menghadapi masalah karena mereka bersungguh- sungguh dalam menyelesaikannya.

  c. Akumulasi Pengalaman Sukses Akumulasi pengalaman sukses dapat menimbulkan optimisme ketika menghadapi situasi sulit di kemudian hari, sebaliknya pengalaman- pengalaman ketidakberdayaan dapat membuat individu bersangkutan menjadi kurang optimis dalam menghadapi suatu masalah. Salah satu alasan individu menyerah dalam menghadapi kesulitan atau situasi yang penuh stres karena memiliki pengalaman-pengalaman kegagalan yang berpengaruh pada cara individu dalam menghadapi masalah selanjutnya (dalam Franken, 2002).

  d. Dukungan Sosial Semakin banyak dukungan sosial yang diterima oleh individu ketika menghadapi masalah atau situasi yang menantang akan berpengaruh pada keyakinan akan kemampuannya dalam menghadapi masalah dan individu tersebut semakin optimis dalam menghadapi kesulitannya tersebut (Brissete et al., 2002).

4. Dampak dari Optimisme

  24 Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang yang optimis memiliki penyesuaian diri yang baik, mengalami kecemasan dan depresi yang rendah, memiliki pengontrolan diri, koping yang efektif, sistem imun yang tinggi, kesehatan fisik yang baik, dan suasana hati yang baik saat menghadapi situasi hidup penuh stress (Passer & Smith, 2007; Scheier & Carver, dalam Myers, 2003; Segerstrom, et al., 1998; Chang, 1998).

  Brissette, Scheier, & Carver (2002) melakukan penelitian pada mahasiswa tentang peran optimisme pada perkembangan relasi sosial, koping, dan penyesuaian diri selama masa transisi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa optimisme yang tinggi berhubungan dengan penggunaan active coping, planning, dan positive reinterpretation and

  growth (PRG) yang tinggi, dan penggunaan denial atau penyangkalan yang rendah.

D. Hubungan Antara Optimisme dan Problem-Focused Coping pada Mahasiswa

  Mahasiswa termasuk dalam remaja akhir yang akan beranjak dewasa, mereka dituntut untuk lebih dewasa dalam bersikap dan bertanggungjawab ketika memutuskan sesuatu. Mereka dituntut agar mampu mengambil keputusan secara luas tentang karir, nilai-nilai, keluarga dan hubungan sosial, serta tentang gaya hidup (Santrock, 2002).

  Tekanan yang mereka hadapi juga bertambah berat, seperti bertambahnya tekanan untuk mencapai prestasi, unjuk kerja, dan nilai-nilai

  25 ujian yang baik (Santrock, 2003). Mahasiswa selalu berusaha untuk mencapai suatu keberhasilan atau kesuksesan agar memperoleh masa depan yang baik. Tekanan-tekanan yang muncul dapat menimbulkan suatu situasi yang tidak menyenangkan jika tidak diatasi dengan baik. Mahasiswa diharapkan ketika menyelesaikan suatu masalah menggunakan pikirannya dan fokus pada sumber masalah. Mereka tidak bisa menggunakan emosi semata untuk menyelesaikan masalah yang mereka alami karena hal tersebut tidak akan menyelesaikan masalah sama sekali.

  Di sisi lain, menurut Piaget (dalam Santrock, 2003) mereka memiliki kemampuan untuk berpikir abstrak, yaitu mampu membayangkan situasi rekaan, kejadian yang semata-mata berupa kemungkinan hipotesis, dan mencoba mengolahnya dengan pemikiran yang logis; berpikir idealis, yaitu munculnya pemikiran-pemikiran yang penuh idealisme dan berpikir tentang kemungkinan hal-hal yang dapat terjadi; dan berpikir logis, yaitu mulai menyusun berbagai rencana untuk memecahkan masalah, dan secara sistematis menguji cara pemecahan yang terpikirkan. Hal ini menunjukkan bahwa para mahasiswa yang tergolong dalam remaja akhir memiliki kemampuan untuk melihat hal-hal ke depan dan mampu menganalisa suatu masalah, serta mencari pemecahan masalah yang sedang dihadapinya.

  Mahasiswa yang optimismenya tinggi memiliki keyakinan bahwa adanya kesuksesan di masa depannya dan berusaha untuk menghadapi segala rintangan sebagai tantangannya untuk mencapai apa yang diinginkannya. Sedangkan mahasiswa yang optimismenya rendah, ia tidak begitu yakin akan

  26 kesuksesan di masa depannya dan kurang mau untuk berusaha mengatasi rintangan yang muncul (Carver & Scheier, 2003).

  Orang yang optimis terbuka pada pengalaman baru dan berusaha mewujudkan tujuan yang ingin dicapainya, mereka memandang masalah sebagai sesuatu hal yang dapat diselesaikan dengan baik. Sedangkan orang yang pesimis cenderung menarik diri ketika berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya (Franken, 2002; Carver & Scheier, 2003).

  Menurut Seligman (2005), optimisme merupakan keyakinan bahwa hal-hal baik akan terjadi di masa depan walaupun mengalami situasi yang kurang menyenangkan. Cara individu memandang situasi yang sedang terjadi dapat menunjukkan apakah orang tersebut merupakan orang optimis atau pesimis. Cara pandang yang positif terhadap suatu peristiwa akan menimbulkan rasa mampu menghadapi peristiwa tersebut. Sedangkan cara pandang yang negatif akan menimbulkan rasa tidak mampu dan tidak berdaya pada individu tersebut. Cara pandang seseorang dalam menghadapi masalah akan berpengaruh pada motivasi, mood, dan perilaku mereka (Gerrig & Zimbardo, 2008).

  Menurut Scheier dan Carver (dalam Baron, 1998; Bourne & Russo, 1998), orang yang optimis dan pesimis menggunakan strategi koping yang berbeda dalam menghadapi stres. Orang yang optimis fokus pada penyelesaian permasalahan, seperti membuat dan menetapkan rencana dalam mengatasi sumber stres, serta mencari dan mendapatkan dukungan sosial dalam mengatasi stress. Sedangkan orang yang pesimis cenderung menggunakan

  27 strategi yang berbeda, seperti merasa putus asa dalam mencapai tujuan atau keinginannya, menyangkal bahwa ia mengalami stres dan lebih menggunakan emosi dalam mengatasi permasalahan.

  Hubungan antara optimisme dan problem-focused coping akan lebih dijelaskan melalui pengembangan teori ABC milik Ellis yang dilakukan oleh Seligman (dalam Franken, 2002). Adapun yang dimaksud dengan teori ABC adalah:

  1. Adversity (A) Berupa suatu peristiwa atau suatu masalah, seperti ujian semester, kegagalan dalam melakukan sesuatu, kendala-kendala dalam kuliah, dan sebagainya.

  2. Belief (B)

  Belief adalah keyakinan dan interpretasi tentang suatu peristiwa (A) yang

  menimbulkan akibat. Dalam hal ini, optimisme berada dalam kawasan

  belief ini. Mahasiswa yang memiliki optimisme (B) tinggi akan lebih

  mampu mengatasi masalah atau suatu peristiwa (A) dibandingkan dengan mahasiswa yang optimismenya (B) rendah. Menurut Seligman (2005; Bourne & Russo, 1998; Hockenbury & Hockenbury, 2003), optimisme (B) merupakan keyakinan individu bahwa kegagalan (A) hanya bersifat sementara, tidak berpengaruh pada seluruh aktivitas, dan bukan secara mutlak disebabkan oleh diri sendiri. Sedangkan ketika mengalami peristiwa yang menyenangkan (A), individu yang optimis akan

  28 berkeyakinan bahwa peristiwa tersebut akan berlangsung lama, bisa terjadi pada segala situasi, dan disebabkan oleh usaha diri sendiri. Cara pandang seseorang yang positif (B) dalam mengatasi masalah atau peristiwa (A) akan berpengaruh pada motivasi yang tinggi, suasana hati yang positif, dan perilaku orang tersebut yang cenderung fokus dalam mengatasi masalahnya (C). Hal ini menunjukkan bahwa cara pandang seseorang terhadap suatu masalah atau peristiwa merupakan hal yang penting dalam menentukan bagaimana seseorang berprilaku dalam mengatasi masalahnya (Gerrig & Zimbardo, 2008).

  3. Consequences (C) Yaitu bagaimana perasaan dan perilaku yang mengikuti peristiwa (A).

  Individu yang memiliki keyakinan yang positif (B) dalam menghadapi suatu peristiwa atau masalah (A) cenderung lebih menggunakan penyelesaian masalah secara langsung atau active coping (C), karena memandang bahwa masalah (A) sebagai tantangan yang dapat diselesaikan, dibandingkan dengan yang memiliki keyakinan yang negatif (B).

  Hubungan antara Optimisme dan PFC yang dijelaskan melalui teori ABC milik Ellis yang dikembangkan oleh Seligman (dalam Franken,2002) menunjukkan bahwa faktor belief (B) meerupakan hal yang penting dan menentukan bagaimana seseorang berperilaku. Keyakinan (B) seseorang dalam memandang suatu peristiwa atau masalah (A) akan berpengaruh pada motivasi, suasana hati, dan perilaku mereka dalam mengatasi masalah tersebut

  29 (C) (Gerrig & Zimbardo, 2008). Ketika seseorang memiliki belief optimis yang tinggi maka kecenderungan untuk melakukan PFC akan lebih tinggi dibandingkan dengan seseorang yang memiliki belief optimis yang rendah. Menurut Scheier dan Carver (dalam Bourne & Russo, 1998), individu yang memiliki keyakinan dan cara berpikir yang positif dalam memandang suatu masalah lebih banyak menggunakan koping secara aktif ketika menyelesaikannya.

  Hal di atas menunjukkan pentingnya optimisme pada individu dalam menghadapi situasi yang penuh stres. Sebagai mahasiswa yang memiliki optimisme tinggi maka ia akan mampu menyesuaikan diri dengan baik, dengan cara penanganan masalah yang berfokus pada sumber masalah.

  Sedangkan pada mahasiswa yang memiliki optimisme yang rendah atau pesimis dalam menghadapi hidup, ia cenderung melarikan diri dari masalah dan kurang mampu mengatasi masalah dengan baik sehingga tidak mampu menyesuaikan diri dengan perubahan dan tuntutan yang dihadapi.

E. Hipotesis

  Hipotesis dalam penelitian ini adalah “ada hubungan yang positif antara optimisme dengan problem-focused coping pada mahasiswa”.

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian korelasional yang bertujuan untuk

  mengetahui kaitan antara variasi pada suatu variabel dengan variasi pada satu atau lebih variabel yang lain berdasarkan koefisien korelasinya (Azwar, 1999; Coolican, 1995; Elmes et al., 2003). Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah ada hubungan positif antara optimisme dengan problem-focused

  coping pada mahasiswa.

  B. Identifikasi Variabel

  Variabel yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari 2 macam, yaitu variabel bebas dan variabel tergantung.

  1. Variabel bebas: Optimisme 2.

  Variabel Tergantung: Problem-Focused Coping

  C. Definisi Operasional

1. Optimisme

  Optimisme merupakan keyakinan bahwa peristiwa yang buruk dipandang sementara, tidak mempengaruhi seluruh aktivitas yang ada, dan bukan secara mutlak disebabkan oleh dirinya sendiri. Sedangkan peristiwa situasi yang berbeda-beda, dan disebabkan oleh diri sendiri. Variabel tersebut akan diukur melalui skala Optimisme berdasarkan tiga gaya penjelasan, yaitu, permanen (stabil-sementara), pervasif (spesifik-global), dan personalisasi (internal-eksternal).

2. Problem-Focused Coping (PFC)

  PFC adalah strategi dimana individu berusaha mengatasi sumber stres dengan melakukan pemecahan masalah. Aspek yang digunakan peneliti untuk mengukur PFC adalah cautiousness, instrumental action, dan negotiation. Variabel tersebut akan diukur menggunakan skala

  . Skor total yang diperoleh pada skala Problem-

  Problem-Focused Coping Focused Coping menunjukkan tinggi rendahnya PFC yang dilakukan

  ketika mengatasi masalah.

D. Subyek Penelitian

  Subyek penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah mahasiswa dan mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang berusia 18 – 22 tahun, berada pada semester tiga, semester lima, dan semester tujuh. Pada usia tersebut, mereka dituntut agar mampu mengambil keputusan secara luas tentang karir, nilai-nilai, keluarga dan hubungan sosial, serta tentang gaya hidup (Santrock, 2002). Tekanan untuk berhasil di perguruan tinggi, mendapatkan pekerjaan yang baik, dan pada cara mahasiswa dalam menghadapi segala situasi yang terjadi pada mereka.

  Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling, yaitu cara pengambilan sampel yang didasarkan pada ciri-ciri tertentu yang dipandang mempunyai sangkut paut erat dengan ciri-ciri atau sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya (Hadi, 1991).

E. Alat Pengumpulan Data

  Dalam penelitian ini pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner berskala. Pengumpulan data menggunakan dua skala, yaitu Skala Optimisme dan skala Problem-Focused Coping. Metode penskalaan yang digunakan adalah metode summated rating dengan menggunakan format skala likert 4 kategori jawaban, yaitu Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS).

  Jawaban Ragu-Ragu (R) yang berada pada kategori netral atau tengah tidak diberikan untuk menghindari kecenderungan subyek untuk memilih jawaban tengah (central tendency effect), terutama bagi mereka yang ragu- ragu atas kecenderungan arah jawabannya. Selain itu juga bisa diartikan bahwa subyek belum dapat memutuskan (Hadi, 1991). Kategori jawaban SS- S-TS-STS dimaksudkan untuk melihat kecenderungan pendapat responden ke arah setuju atau tidak setuju. Pada setiap pernyataan, subyek diharuskan untuk menilai setiap pernyataan dengan disesuaikan dengan keadaan diri mereka.

  Dalam proses penyekoran, untuk aitem favorabel jawaban Sangat Setuju (SS) mempunyai skor 4, Setuju (S) mempunyai skor 3, Tidak Setuju (TS) mempunyai skor 2, dan Sangat Tidak Setuju (STS) mempunyai skor 1.

  Sedangkan untuk aitem unfavorabel Sangat Setuju (SS) mempunyai skor 1, Setuju (S) mempunyai skor 2, Tidak Setuju (TS) mempunyai skor 3, dan Sangat Tidak Setuju (STS) mempunyai skor 4.

  Dalam meminimalisir kemungkinan faking yang dapat dilakukan oleh subyek penelitian, peneliti melakukan langkah-langkah berikut:

1. Peneliti tidak meminta nama subyek penelitian sebagai identitas di dalam skala penelitian.

  2. Di dalam instruksi tes diberitahukan bahwa tidak ada jawaban yang dianggap salah, semua jawaban adalah benar, dan subyek penelitian diminta untuk menjawab setiap pertanyaan dengan sejujur-jujurnya. Selain itu, peneliti juga menjamin kerahasiaan data tersebut.

  Pada penelitian ini terdapat dua skala yang digunakan, yaitu:

  1. Skala Optimisme Skala Optimisme terdiri dari 50 aitem yang disusun berdasarkan tiga dimensi dalam gaya penjelasan (explanatory style) yang dikemukakan oleh Seligman (2005; Bourne & Russo, 1998; Hockenbury & Hockenbury, 2003), yaitu permanen (stabil-sementara), pervasif (spesifik-global), personalisasi (internal-eksternal). Pendasaran pada teori ini dimaksudkan penelitian, yaitu mengungkap optimisme individu. Awalnya peneliti 50 aitem favorabel, kemudian setengah dari jumlah aitem tiap aspek diubah menjadi aitem unfavorabel. Di bawah ini disajikan tabel distribusi aitem.

  Tabel 1. Distribusi Aitem Skala Optimisme Aitem No Dimensi Favorabel Unfavorabel Jumlah (Bobot)

  Peristiwa tidak menyenangkan dipandang global (1,11,25,33,46,47)

  14 (33.33%)

  Peristiwa menyenangkan berasal dari eksternal (21,37,43)

  3. Personalisasi Eksternal Peristiwa tidak menyenangkan berasal dari eksternal (5,24,38,44)

  Peristiwa tidak menyenangkan berasal dari internal (18,20,34,49)

  Internal Peristiwa menyenangkan berasal dari internal (4,35,36)

  18 (33.33%)

  2. Pervasiveness Global Peristiwa menyenangkan dipandang global (13,14,41,42)

  Stabil Peristiwa menyenangkan dipandang stabil (9,10,15,16,29)

  Peristiwa menyenangkan dipandang spesifik (26,12,39)

  Spesifik Peristiwa tidak menyenangkan dipandang spesifik (6,22,23,30,50)

  18 (33.33%)

  Peristiwa menyenangkan dipandang sementara (2,31,40)

  1. Permanent Sementara Peristiwa tidak menyenangkan dipandang sementara (3,17,45,48)

  Peristiwa tidak menyenangkan dipandang stabil (7,8,19,27,28,32)

  

Total Jumlah 25 25 50 (100%)

2. Skala Problem-Focused Coping (PFC)

  Skala PFC terdiri dari 54 aitem yang disusun berdasarkan aspek-aspek PFC yang dikemukakan oleh Aldwin dan Revenson (1987), yaitu cautiousness (kehati-hatian), instrumental action (tindakan instrumental), dan negotiation (negosiasi). Pendasaran pada teori ini dimaksudkan untuk meningkatkan ketepatan dan kesesuaian alat ukur dengan tujuan penelitian, yaitu mengungkap penggunaan PFC pada individu ketika mengatasi masalah. Awalnya peneliti membuat 54 aitem favorabel, kemudian setengah dari jumlah aitem tiap aspek diubah menjadi aitem unfavorabel. Di bawah ini disajikan tabel distribusi aitem.

  Tabel 2. Distribusi Aitem Skala Problem-Focused Coping Aitem Jumlah No Aspek (Bobot) Favorabel Unfavorabel

  1. Cautiousness 1,15,16,26,27, 3,4,7,19,20,31, 18 (33.33%)

  30,36,43,52 35,47,48

  2. Instrumental 2,9,17,21,28,41, 8,13,14,18,29, 18 (33.33%)

  Action 46,51,54 32,37,39,44

  3. Negotiation 5,6,11,12,22,38, 10,23,24,25,33, 18 (33.33%)

  45,50,53 34,40,42,49 Total Jumlah 27 27 54 (100%)

F. Prosedur Penelitian

  Prosedur atau langkah-langkah yang diambil dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Membuat skala PFC dan skala Optimisme dengan menyusun aitem-aitem favorabel per aspek terlebih dahulu, kemudian setengah dari jumlah aitem- aitem favorabel per aspek diubah menjadi aitem unfavorabel.

  2. Melakukan uji coba pada sekelompok subyek yang memiliki karakteristik sama dengan subyek penelitian. Data yang diperoleh dipergunakan untuk seleksi aitem.

  3. Menyeleksi aitem-aitem yang memiliki fungsi ukur sesuai dengan fungsi ukur tes berdasarkan data empiris uji coba dengan menghitung koefisien korelasi aitem total dari tiap butir aitem sehingga mendapatkan aitem yang sahih.

4. Membuat skala PFC dan skala Optimisme dengan menggunakan aitem- aitem yang telah diseleksi dan diuji reliabilitasnya.

  5. Menentukan subyek penelitian yang sesuai kriteria, yaitu mahasiswa laki- laki dan perempuan berusia 18 – 22 tahun. Kemudian, melakukan penelitian dengan menggunakan skala PFC dan skala Optimisme yang aitemnya sudah diseleksi dan diuji reliabilitasnya.

  6. Menganalisis data dengan uji statistik.

  7. Membuat kesimpulan penelitian.

G. Pertanggungjawaban Alat Ukur

1. Validitas

  Validitas merupakan sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu dikatakan memiliki validitas yang tinggi jika alat tersebut mampu menjalankan fungsi ukurnya atau mampu memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dan tujuan dilakukannya pengukuran.

  Jenis validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi (content validity) yang bertujuan untuk mengetahui sejauh mana isi alat ukur mencakup data yang komprehensif dan relevan dengan tujuan penelitian. Validitas isi merupakan validitas yang dinilai melalui pengujian terhadap isi tes dengan analisis rasional atau melalui professional

  judgement yang berdasarkan atas kepatutan akal (common sense). Tujuan

  dari pengujian validitas ini untuk melihat sejauh mana aitem-aitem dalam tes mencakup keseluruhan kawasan isi obyek atau ciri-ciri atribut yang hendak diukur. Dalam penelitian ini professional judgement dilakukan oleh dosen pembimbing.

2. Seleksi Aitem

  Seleksi aitem ditujukan untuk mendapatkan aitem dengan kualitas yang baik. Azwar (2005) mengatakan bahwa kualitas skala psikologi sangat ditentukan oleh kualitas aitem-aitem di dalamnya. Data dari uji coba digunakan untuk memilih aitem yang berkualitas baik. Dalam tahap ini dilakukan seleksi aitem berdasarkan daya diskriminasinya. Parameter daya beda aitem atau diskriminasi aitem yang berupa koefisien korelasi aitem total (r ix ) memperlihatkan kesesuaian fungsi aitem dengan fungsi

  2005). Koefisien korelasi aitem total ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam menyeleksi aitem. Batasan yang biasanya digunakan sebagai kriteria dalam menyeleksi aitem berdasarkan korelasi aitem total adalah r ix ≥ 0.30 sehingga aitem yang memiliki korelasi aitem total minimal 0.30 dianggap memiliki daya beda yang memuaskan dan dapat dijadikan sebuah aitem penelitian (Coolican, 1995; Azwar, 2005). Jika dengan batasan tersebut jumlah aitem belum mencukupi jumlah yang diinginkan, maka dapat mempertimbangkan untuk menurunkan sedikit batas kriteria sehingga jumlah aitem yang diinginkan dapat tercapai (Azwar, 1999).

  Penghitungan daya beda aitem dilakukan dengan komputasi melalui teknik analisis aitem pada program SPSS for Windows versi 13.

  Subyek uji coba berjumlah 59 orang. Masing-masing subyek diberikan 2 jenis skala, yaitu skala skala Optimisme dan PFC.

  Hasil seleksi aitem untuk skala Optimisme terdapat 17 aitem gugur dari jumlah keseluruhan aitem sebanyak 50 aitem. Jumlah aitem yang lolos sebanyak 33 aitem, dimana 16 butir untuk aitem favorabel dan 17 butir untuk aitem unfavorabel. Nilai korelasi aitemn total berkisar antara 0.325 sampai 0.708.

  

Tabel 3. Bentuk Final Skala Optimisme

Aitem No Dimensi Jumlah Favorabel Unfavorabel

  1. Permanent Stabil 12(29),16(9), 10(28),19(27),

  17(15),22(10), 20(7),25(19), 31(16) 28(32),30(8)

  15 Sementara 9(17),14(45),

  3(2) 27(3)

  2. Pervasiveness Spesifik 6(22),26(30) 4(12),11(39) Global

  11

  1(14),5(41), 2(33),7(47),32 8(13) (11),33(25)

  3. Personalisasi Internal 23(4) 13(18),

  18(20),24(49)

  7 Eksternal 15(5),29(44) 21(43) 16 17

  33 Total Jumlah Keterangan: ( ) adalah no item di skala try out

  Hasil dari seleksi aitem untuk skala PFC menunjukkan sebanyak 18 aitem gugur dari jumlah keseluruhan sebanyak 54 aitem. Sedangkan yang lolos dari seleksi aitem sebanyak 36 aitem, dimana terdapat 18 butir untuk aitem favorabel dan unfavorabel. Korelasi item total berkisar antara 0.298 sampai 0.692.

  

Tabel 4. Bentuk Final Skala Problem-Focused Coping

Aitem No Aspek Jumlah Favorabel Unfavorabel

  1. Cautiousness 1(15),5(1),6(30), 3(47),12(35),

  13

  

24(16),25(43), 30(4),32(31),

35(36) 34(7),36(19)

  2. Instrumental 7(2),11(28),13(21), 2(37),4(18),

  Action

16(9),17(17), 10(44),14(14),

  14

  

20(54),33(51) 18(39),21(8),

31(29)

  3. Negotiation 9(5),19(50), 8(42),15(34),

  9

  

22(22),28(53) 23(24),26(40),

27(25)

  18 18

  36 Total Jumlah Keterangan: ( ) adalah no item di skala try out

3. Reliabilitas

  Reliabilitas mengacu pada konsistensi atau keterpercayaan hasil ukur, yang mengandung kecermatan pengukuran (Azwar, 1999).

  Pengukuran yang memiliki reliabilitas tinggi adalah pengukuran yang dapat menghasilkan data yang reliabel. Penilaian reliabilitas alat ukur dalam penelitian ini ditempuh dengan pendekatan konsistensi internal melalui teknik Cronbach. Pendekatan ini memiliki nilai praktis dan

  α

  efisiensi tinggi karena hanya didasarkan pada pengukuran satu kali dari sekelompok individu sebagai subyek atau single trial administration

  (Azwar, 2004). Prinsip metode pengujian tunggal adalah pengujian konsistensi di antara komponen-komponen yang membentuk tes secara keseluruhan (Azwar, 2004).

  Berdasarkan hasil penghitungan statistik menggunakan program

  SPSS for Windows versi 13, untuk skala PFC menghasilkan koefisien

  alpha sebesar 0.909 dan untuk skala Optimisme menghasilkan koefisien alpha sebesar 0.924. Hasil koefisien tersebut dinyatakan reliabel karena mendekati koefisien 1.00 sehingga dapat diandalkan untuk tujuan pengambilan data penelitian.

H. Analisis Data

  Metode analisis statistik yang digunakan untuk menganalisa data atau menguji hipotesis dari penelitian ini adalah model korelasional. Teknik yang digunakan adalah korelasi Product Moment dari Pearson dengan menggunakan program SPSS for Windows versi 13.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Hasil Penelitian

1. Deskripsi Subyek Penelitian

  Subyek penelitian adalah mahasiswa laki-laki dan perempuan yang berusia 18 – 22 tahun yang berada pada semester tiga (angkatan 2007), semester 5 (angkatan 2006), dan semester 7 (angkatan 2005).

  Tabel 5. Deskripsi Subyek Penelitian

  Mahasiswa 2005 2006 2007 Jumlah Laki-laki 9 11 9 29 Perempuan 41 39 41 121 Jumlah 50 50 50 150

  Usia Jumlah Rerata (tahun) (tahun) 18 5 19 43 20 47 20.0933 21 43 22 12

  Peneliti menyebarkan skala penelitian sebanyak 170 skala, namun

2. Deskripsi Data Penelitian

  Deskripsi data penelitian dilakukan untuk mengetahui deskripsi umum setiap variabel penelitian dengan melakukan pembandingan antara keadaan hipotetik (kemungkinan terjadi) dan keadaan empirik (data penelitian). Peneliti membedakan rerata empirik dan hipotetik dengan menggunakan one sample t test untuk menunjukkan perbedaan yang signifikan antara rerata empirik dan hipotetik.

  Table 6. Deskripsi Data Penelitian Skor Hipotetik Skor Empiris Mean Variabel t p

  X X

  X X Rerata Rerata Difference min max min max

Optimisme 33 132 82.25 86 123 102.77 37.262 0.000 20.523

PFC 36 144 90 86 131 107.38 25.740 0.000 17.380

  Pada variabel optimisme didapatkan hasil analisis one sample T

  test dengan nilai p = 0.000 (p<0.01), yang berarti optimisme subyek secara

  umum signifikan tinggi. Sedangkan pada variabel PFC menunjukkan nilai p = 0.000 (p<0.01), hal ini berarti secara umum subyek penelitian melakukan PFC yang signifikan tinggi dalam mengatasi masalah.

B. Hasil Penelitian

  Sebelum melakukan uji hipotesis penelitian, terlebih dahulu dilakukan uji linearitas hubungan antar variabel penelitian sebagai prasyarat untuk melakukan teknik analisis data.

1. Uji Asumsi Data Penelitian

  a. Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah sebaran variabel bebas dan variabel tergantung dalam penelitian ini berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas dilakukan melalui One-Sample Kolmogorov-

  Smirnov Test (uji K-S) pada program SPSS for Windows versi 13. Jika

  p>0.05 berarti distribusi data penelitian berdistribusi normal, sebaliknya jika p<0.05 berarti data penelitian memiliki distribusi yang tidak normal. Hasil uji normalitas pada variabel Optimisme menunjukkan nilai Kolmogorov Smirnov = 0.947 dengan p = 0.331 (p>0.05). Sedangkan variabel PFC menunjukkan nilai Kolmogorov Smirnov = 0.940 dengan p = 0.339 (p>0.05). Hal ini menunjukkan bahwa variabel Optimisme dan PFC berdistribusi normal.

  Tabel 7. Hasil Uji Normalitas Variabel Nilai K-S Z p>0.05 Keterangan Optimisme 0.947 0.331 Normal PFC 0.940 0.339 Normal Selanjutnya, sebaran variabel Optimisme dan variabel PFC dapat dilihat pada grafik histogram di bawah ini:

  

Grafik 1. Sebaran Data Variabel Optimisme

Sebaran Data Variabel Optimisme

  120 100 80 optimisme 30 25 20 15 10 5 Fr e qu e nc y

  Mean =102.77 Std. Dev. =6.746 N =150

Grafik 2. Sebaran Data Variabel PFC

   Sebaran Data Variabel PFC 100 110 120 140 130 90 80 PFC 25 20 15 10 5 F requency Mean =107.38 Std. Dev. =8. 27 N =150 b. Uji Linearitas Uji linearitas dilakukan untuk mengetahui apakah hubungan antara variabel optimisme dan PFC merupakan garis lurus atau tidak.

  Hubungan dinyatakan linear apabila memenuhi nilai taraf signifikansi lebih kecil dari 0.05 (p<0.05). Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan test for linearity dari program SPSS for Windows versi

  13 . Hasil uji linearitas antara optimisme dan PFC menunjukkan nilai F

  = 134.955 dengan p = 0.000 (p<0.05), hal ini berarti hubungan antara keduanya bersifat linear.

  Tabel 8. Hasil Uji Linearitas Variabel F P P Keterangan Optimisme*PFC 134.955 0.000 <0.05 Linear

2. Pengujian Hipotesis Penelitian

  Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik korelasi

  Product-Moment dari Pearson melalui program SPSS for Windows versi 13 . Analisis data ini dilakukan untuk menguji hipotesis penelitian yang

  telah ditentukan sebelumnya, yaitu ada hubungan positif antara optimisme dan PFC. Hasil uji hipotesis (1 ekor) menunjukan nilai r sebesar 0.692 dan p = 0.000 (p<0.01) sehingga korelasi dinyatakan signifikan untuk taraf signifikansi 1%. Analisis data ini membuktikan bahwa ada hubungan yang signifikan dan positif antara optimisme dan PFC pada mahasiswa. Hal ini berarti semakin tinggi optimisme mahasiswa, semakin tinggi pula penggunaan PFC mahasiswa.

  Grafik 3. Arah Hubungan Variabel Penelitian 90 100 110 120 optimisme 130 120 110 90 100 PFC

A

A A A A A A A A A A A A A A A

A

A A A A A A A

A

A A A A A A

A

A A A A A A A A A A A A A A A A A A A

A

A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A

A A

A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A

A

A

A A A A A A A A A A A A

  Pada penelitian ini nilai koefisien determinasi (r

  2

  ) dalam hubungan antara variabel-variabel penelitian di atas juga diperhitungkan.

  Sumbangan optimisme terhadap PFC pada mahasiswa dapat dilihat dari koefisien determinasinya (r

  2

  ), yaitu sebesar 0.478. hal ini berarti optimisme mahasiswa memberikan sumbangan efektif sebesar 47.8% terhadap penggunaan PFC pada mahasiswa. Sedangkan sumbangan sebesar 52.2% terhadap penggunaan PFC pada mahasiswa diperoleh dari faktor lain.

C. Pembahasan

  Berdasarkan hasil uji hipotesis menggunakan teknik korelasi

  Product-Moment dari Pearson melalui program SPSS for Windows versi 13,

  didapatkan koefisien korelasi sebesar 0.692 dan p = 0.000 (p<0.01) sehingga korelasi dinyatakan signifikan untuk taraf signifikansi 1%. Analisis data ini membuktikan bahwa ada hubungan yang signifikan dan positif antara optimisme dan PFC pada mahasiswa. Hal ini berarti semakin tinggi optimisme mahasiswa, semakin tinggi pula penggunaan PFC mahasiswa.

  Hasil penelitian tersebut menunjukkan adanya kesesuaian antara hasil di lapangan dengan teori ABC. Subyek penelitian rata-rata memandang suatu masalah atau peristiwa (A) dengan tingkat optimisme (B) yang signifikan tinggi, dan diikuti dengan penggunaan PFC (C) yang signifikan tinggi ketika menghadapi suatu masalah. Dalam hal ini menunjukkan bahwa

  Belief (B) merupakan hal yang penting dalam menentukan bagaimana seseorang berprilaku (C) dalam menghadapi suatu masalah atau peristiwa (A).

  Ketika seseorang yakin akan mampu mencapai apa yang diinginkannya maka hal tersebut akan diikuti oleh perilaku-perilaku untuk mewujudkannya.

  Hasil penelitian ini didukung oleh Scheier dan Carver (dalam Baron, 1998; Bourne & Russo, 1998) yang menyatakan bahwa individu yang optimis dan pesimis menggunakan strategi koping yang berbeda dalam menghadapi masalah. Individu yang optimis lebih menggunakan PFC ketika mengatasi masalah, seperti membuat dan menetapkan rencana dalam mengatasi sumber stres, serta mencari dan mendapatkan dukungan sosial dalam mengatasi masalah yang dihadapi. Sedangkan individu yang pesimis lebih menggunakan EFC ketika mengatasi masalah. Individu yang pesimis sering merasa putus asa dalam mencapai keinginannya, menyangkal bahwa ia mengalami stres dan menggunakan emosi dalam mengatasi permasalahan.

  Pada hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tingkat optimisme dan PFC mahasiswa secara umum signifikan tinggi. Hal ini ditunjukkan dari hasil analisis one sample T test dimana variabel optimisme memperoleh rerata empiris sebesar 102.77 dengan beda rerata sebanyak 20.523 (p = 0.000; p<0.01). Sedangkan variabel PFC memperoleh rerata empiris sebesar107.38 dengan beda rerata sebanyak 17.380 (p = 0.000; p<0.01).

  2 Nilai koefisien determinasi (r ) hubungan antara optimisme dan PFC

  pada mahasiswa adalah 0.478. Hal ini berarti optimisme mahasiswa memberikan sumbangan efektif sebesar 47.8% terhadap penggunaan PFC pada mahasiswa. Sedangkan sumbangan sebesar 52.2% terhadap penggunaan PFC pada mahasiswa diperoleh dari faktor lain. Faktor lain yang dapat berpengaruh pada penggunaan PFC adalah perbedaan individual dalam memandang situasi penuh stress (cognitive appraisal), karakteristik kepribadian, pengalaman sebelumnya, dan dukungan sosial.

  Seseorang yang optimis akan terbuka pada pengalaman baru, tidak takut gagal, berusaha mewujudkan tujuan yang ingin dicapainya, serta memandang masalah sebagai sesuatu hal yang dapat diselesaikan dengan baik (Franken, 2002; Carver & Scheier, 2003). Hal tersebut terbukti pada penelitian ini dimana optimisme mahasiswa yang tinggi diikuti oleh penggunaan PFC yang tinggi ketika menghadapi suatu masalah. Selain itu, beberapa penelitian menunjukkan bahwa seseorang yang memiliki optimisme mempunyai penyesuaian diri yang baik, mengalami kecemasan dan depresi yang rendah, memiliki pengontrolan diri, sistem imun yang tinggi, kesehatan fisik yang baik, dan suasana hati yang baik saat menghadapi situasi hidup penuh stress (Passer & Smith, 2007; Scheier & Carver, dalam Myers, 2003; Segerstrom, et al., 1998; Chang, 1998; Brissette, Scheier, & Carver, 2002).

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Ada hubungan positif yang signifikan antara optimisme dan PFC pada mahasiswa sebesar 0.692 pada taraf signifikansi 1%, p = 0.000 (p<0.01). Hal ini berarti semakin tinggi optimisme mahasiswa, semakin tinggi pula

  penggunaan PFC mahasiswa. Optimisme memberikan sumbangan efektif sebesar 47.8% terhadap penggunaan PFC pada mahasiswa. Sedangkan sumbangan sebesar 52.2% terhadap penggunaan PFC pada mahasiswa diperoleh dari faktor-faktor lain.

B. Keterbatasan Penelitian

  Penelitian yang sudah dilakukan memiliki keterbatasan, yaitu peneliti tidak mengungkap data mengenai IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) yang diperoleh oleh subyek. Data mengenai IPK yang diperoleh subyek dapat menjadi salah satu indikator obyektif penggunaan PFC. Selain itu, dalam penelitian ini peneliti tidak membedakan jumlah subyek perempuan dan laki- laki, subyek perempuan (121 orang) lebih banyak dibanding jumlah subyek laki-laki (29 orang). Maka hasil penelitian ini tidak bisa digeneralisasikan pada kepada seluruh mahasiswa secara umum khususnya mahasiswa laki-laki.

C. Saran

  1. Saran kepada Mahasiswa

  Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara optimisme dan penggunaan PFC pada mahasiswa.

  Mahasiswa disarankan untuk tetap meningkatkan optimisme mereka ketika menghadapi sesuatu karena semakin tinggi optimisme mahasiswa, semakin tinggi pula penggunaan PFC ketika mengatasi masalah atau tantangan. Ketika penggunaan PFC meningkat, maka mahasiswa bisa menyelesaikan masalahnya secara langsung sehingga masalah yang sedang dihadapinya tidak menjadi berlarut-larut dan dapat segera terselesaikan.

  Mahasiswa dapat meningkatkan optimisme mereka dengan cara menentukan tujuan atau standar prestasi yang benar-benar ingin diraihnya, tingkatkan keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri, mengikuti pelatihan-pelatihan tentang optimisme, dan tetap realistis dalam berpengharapan. Selain itu, mahasiswa juga dapat mencari dukungan positif baik dari keluarga maupun teman dekat untuk meningkatkan optimisme yang mereka punyai sehingga mereka dapat menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi.

  2. Saran kepada Dosen Pengajar

  Penelitian ini memperlihatkan bahwa tingkat optimisme mahasiswa yang tinggi diikuti oleh penggunaan PFC yang tinggi pula dalam menghadapi masalah atau suatu peristiwa. Dalam hal ini, mahasiswa yang menggunakan PFC yang tinggi akan meningkatkan performansi mahasiswa dalam proses perkuliahan. Mahasiswa mampu menyelesaikan tugas kuliah dengan tepat waktu, berusaha mengerjakan tugas dengan sebaik-baiknya, aktif dalam proses belajar, berusaha mendapatkan nilai ujian yang lebih baik, dan berusaha menyelesaikan kuliahnya sesuai target yang sudah ditentukan oleh dirinya sendiri.

  Para dosen pengajar hendaknya membantu membangun situasi yang memunculkan rasa optimis pada diri mahasiswa dalam proses belajar. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan materi kuliah secara bertahap, memberikan tugas yang tidak melampaui dari materi yang diberikan, dan memberikan ujian sesuai dengan materi yang sudah diajarkan dan disesuaikan oleh kemampuan mahasiswa.

3. Saran kepada Penelitian Selanjutnya

  Dengan adanya penelitian ini, maka diharapkan penelitian selanjutnya dapat memperhatikan kelemahan-kelemahan yang terdapat pada penelitian ini. Di antaranya dengan memperhatikan faktor lain yang bisa dijadikan data pendukung, seperti data IPK yang dapat dijadikan indikator obyektif variabel PFC. Pengambilan subyek penelitian hendaknya juga tidak terbatas pada satu fakultas saja, melainkan juga pada mahasiswa-mahasiswa dengan bermacam-macam fakultas. Selain itu, sebaiknya penelitian selanjutnya membedakan jumlah subyek laki-laki dan perempuan sehingga juga bisa melihat perbedaannya. Hal tersebut akan membuat hasil penelitian lebih bervariasi dan dapat digeneralisasikan untuk kepentingan yang lebih luas.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

  Aldwin &amp; Revenson. (1987). Does Coping Help? A Reexamination of The Relation Between Coping and Mental Health. Journal of Personality and Social Psychology, 63, 989 – 1003.

  th Aronson, E., Wilson, T.D., &amp; Akert, R.M. (2005). Social Psychology (5 ed.).

  New Jersey: Pearson Education, Inc. Astuti, Y.D. (1999). Hubungan Antara Religiusitas dengan Gaya Penjelasan pada Mahasiswa Muslim. Jurnal Psikologika, 8 (IV), 39 – 52.

  Atkinson, R.L, Atkinson, R.C., Smith, E.E., Bem, D.J., &amp; Nolen-Hoeksema, S.

  th

  (1996). Introduction to Psychology (11 ed.). Florida: Harcourt Brace &amp; Company. Azwar, S. (1999). Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Azwar, S. (2005). Penyusunan Skala Psikologis. Edisi ke 1, cetakan 7.

  Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset. Azwar, S. (2004). Reliabilitas dan Validitas. Edisi ke 3, cetakan 5. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.

  th Baron, R.A. (1998). Psychology (4 ed.). Boston: Allyn &amp; Bacon. th Baron, R.A., Byrne, D., &amp; Branscombe, N.R. (2006). Psychology Social (11 ed.).

  Boston: Pearson Education, Inc. Bourne, L.E., Jr., &amp; Russo, N.F. (1998). Psychology: “Behavior in Context”. New York: W.W. Norton &amp; Company, Inc.

  Brissette, I., Carver, C.S., &amp; Scheier, M.F. (2002). The Role of Optimism in Social Network Development, Coping, and Psychological Adjustment During a Life Transition. Journal of Personality and Social Psychology, 82, 102 – 111.

  Carver, C.S., Weintraub, J.K., &amp; Scheier, M.F. (1989). Assessing Coping Strategies: A Theoretically Based Approach. Journal of Personality and Social Psychology 56, 267 - 283.

  Carver, C.S., &amp; Scheier, M.F. (2003). Optimism. In S.J. Lopez and C.R. Snyder.

  Positive Psychological Assessment: A Handbook of Models and Measures (pp. 75 – 89). Washington, DC: American Psychologist

  Association. Chang, E.C. (1998). Dispositional Optimism and Primary and Secondary

  Appraisal of a Stressor: Controlling for Confounding Influences and Relations to Coping and Psychological and Physical Adjustment.

  Journal of Personality and Social Psychology, 74, 1109 – 1120. nd Coolican, H. (1995). Research Methods and Statistic in Psychology (2 ed.).

  London: Hodder &amp; Stoughton Educational. Folkman, S. (1984). Personal Control and Stress and Coping Processes: A

  Theoretical Analysis. Journal of Personality and Social Psychology, 46, 839 - 852. Folkman, S. &amp; Lazarus, R. (1986). Appraisal, Coping, Health Status, and

  Psychology Symptoms. Journal of Personality and Social Psychology, 50, 571 - 579.

  th

  Franken, R.E. (2002). Human Motivation (5 ed.). California: Wadsworth / Thomson Learning. Gazzaniga, &amp; Heatherton. (2003). Psychological Science, Mind, Brain and Behavior . New York: W.W. Norton and Company.

  th

  Gerrig, R.J., &amp; Zimbardo, P.G. (2008). Psychology and Life (18 ed.). Boston: Pearson Education, Inc. Hadi, S. (1991). Analisis Butir untuk Instrument. Yogyakarta: Andi Offset.

  rd

  Hockenbury &amp; Hockenbury. (2003). Psychology (3 ed.). New York: Worth Publishers.

  th Huffman, K., Vernoy, M., &amp; Vernoy, J. (2000). Psychology in Action (5 ed.).

  New York: John Wiley &amp; Sons, Inc.

  rd

  Lazarus, R. (1976). Pattern of Adjustment (3 ed.). New York: McGraw Hill Companies, Inc. Passer, M.W., &amp; Smith, R.E. (2007). Psychology the Science of Mind and

  rd

Behavior (3 ed.). New York: McGraw Hill Companies, Inc.

  Peale, N.V. (1995). Membangkitkan Kepercayaan Diri untuk Meraih Kesuksesan.

  Santrock, J.W. (2002). Life-Span Development: Perkembangan Masa Hidup (edisi 5, jilid 2). Terjemahan. Chusairi, A., &amp; Damanik, J. (penerjemah).

  Jakarta: Penerbit Erlangga. Santrock, J.W. (2003). Adolescence: Perkembangan Remaja. Terjemahan. Adelar, S.B., &amp; Saragih, S. (penerjemah). Jakarta: Penerbit Erlangga.

  th

  Santrock, J.W. (2005). Psychology (7 ed.). New York: McGraw Hill Companies, Inc. Schneider, S.L. (2001). In Search of Realistic Optimism. American Psychologist, 56, 250 – 263. Segerstrom, S.C., Taylor, S.E., Kemeny, M.E., &amp; Fahey, J.L. (1998). Optimism Is

  Associated With Mood, Coping, and Immune Change in Response to Stress. Journal of Personality and Social Psychology, 74, 1646 – 1655. Seligman, M.E.P. (2005). Authentic Happiness. Terjemahan. Nukman, E.Y.

  (penerjemah). Bandung: PT Mizan Pustaka.

  th Steinberg

  , L. (2002). Adolescence (6 ed.). New York: McGraw-Hill Companies, Inc.

  LAMPIRAN A

  ™ Skala Try-Out Optimisme dan Problem-Focused Coping (PFC)

  ™ Reliabilitas Skala Optimisme dan Problem-Focused

  Coping (PFC)

  ™ Skala Penelitian Optimisme dan Problem-Focused Coping (PFC)

  ™ Skala Try-Out Optimisme dan Problem-Focused Coping (PFC)

  KUESIONER Umur : Jenis kelamin : Angkatan Akademik :

PETUNJUK UMUM

  Berikut ini terdapat sejumlah pernyataan yang berkaitan dengan diri Anda. Secara keseluruhan pernyataan tersusun menjadi 2 (dua) bagian daftar pernyataan. Bacalah setiap pernyataan dengan seksama dan pahami dengan baik. Kemudian

  

berilah tanda (X) pada pilihan jawaban yang tersedia untuk setiap

pernyataan yang benar-benar sesuai dengan keadaan diri Anda sebenarnya.

  Tidak ada jawaban yang dianggap SALAH, semua jawaban adalah BENAR oleh karena itu jawablah setiap pernyataan dengan sejujurnya. Jawaban yang telah Anda berikan dijamin kerahasiaannya.

  Pilihan Jawaban atas pernyataan-pernyataan yang ada, antara lain :

  STS : SANGAT TIDAK SESUAI TS : TIDAK SESUAI S : SESUAI SS : SANGAT SESUAI

  Atas kerja sama dan kesediaannya untuk mengisi angket ini, saya ucapkan terimakasih.

BAGIAN PERTAMA

1 Ketika   mengalami  situasi  yang  sulit,  saya 

  tidak   mampu  menyelesaikan  tugas‐tugas  kuliah  yang ada.  STS   TS   S  SS 

  STS   TS   S  SS 

  13 Saya  rasa hidup saya menyenangkan.  STS   TS   S  SS 

  14 Keberhasilan  yang saya alami membuat saya  yakin  dengan kemampuan diri saya sendiri. 

  STS   TS   S  SS 

  15 Saya  memiliki bakat dan prestasi yang baik.  STS   TS   S  SS 

  16 Saya   bertindak  dengan  penuh  keyakinan  diri  tanpa  dikuasai oleh perasaan cemas. 

  STS   TS   S  SS 

  17 Meskipun  saya gagal hari ini, saya akan terus  berusaha  di kesempatan yang lain. 

  12 Saya   ragu  pada  kemampuan  saya  dalam  mengerjakan  berbagai tugas. 

  18 Saya   merasa  segala  sesuatu  yang  saya  lakukan   hanya  sia‐sia  dan  tidak  membawa  arti  di hidup saya. 

  STS   TS   S  SS 

  19 Saya   tidak  yakin  dengan  kemampuan  yang  saya  miliki. 

  STS   TS   S  SS 

  saya  harapkan walaupun sudah berusaha.  STS   TS   S  SS 

  STS   TS   S  SS 

  STS   TS   S  SS 

  2 Saya   tidak  terlalu  yakin  bisa  mendapatkan  nilai  yang baik di matakuliah tertentu. 

  6 Saya   sadar  bahwa  terkadang  tidak  dapat  mencapai  target yang sudah saya buat. 

  STS   TS   S  SS 

  3 Saya   berusaha  melakukan  yang  terbaik  bagi  diri  saya. 

  STS   TS   S  SS 

  4 Jika  saya diterima bekerja, itu adalah karena  kemampuan  yang saya miliki. 

  STS   TS   S  SS 

  5 Ketidakberhasilan   dalam  mengerjakan  tugas  kelompok  bukan kesalahan saya sepenuhnya. 

  STS   TS   S  SS 

  STS   TS   S  SS 

  11 Saya   merasa  tidak  mampu  menyelesaikan  tugas ‐tugas yang diberikan pada saya dengan  baik.  

  7 Saya  mudah putus asa ketika harus beberapa  kali  mengerjakan revisi laporan praktikum. 

  STS   TS   S  SS 

  8 Saya   selalu  merasa  tertekan  ketika  menghadapi  suatu masalah. 

  STS   TS   S  SS 

  9 Saya   selalu  dapat  mengerjakan  tugas  dari  dosen  dengan baik. 

  STS   TS   S  SS 

  10 Saya  optimis dengan masa depan saya.  STS   TS   S  SS 

20 Saya   sering  gagal  dalam  meraih  apa  yang 

  22 Saya   tetap  bersemangat  mengerjakan  tugas  walaupun  sedang menghadapi masalah. 

31 Saya   selalu  melakukan  sesuatu  berdasarkan 

  37 Saya  dapat menyelesaikan tugas‐tugas kuliah  karena  bantuan dari teman‐teman. 

  34 Kegagalan   yang  saya  alami  sepenuhnya  karena  kesalahan saya. 

  STS   TS   S  SS 

  35 Saya   berhasil  mendapatkan  IP  yang  tinggi  karena  usaha sendiri. 

  STS   TS   S  SS 

  36 Keberhasilan   saya  tergantung  pada  diri  saya  sendiri.  

  STS   TS   S  SS 

  38 Saya  gagal mengumpulkan tugas tepat waktu  karena  data yang saya simpan hilang. 

  STS   TS   S  SS 

  33 Saya  tidak bisa menjalankan aktivitas seperti  biasanya   ketika  mengalami  permasalahan  yang  berat. 

  STS   TS   S  SS 

  39 Saya  tidak yakin dapat meraih apa yang saya  harapkan.  

  STS   TS   S  SS 

  40 Saya     yakin  bahwa  saya  akan  tetap  mendapatkan   nilai  yang  sama  ketika  mengulang  suatu matakuliah. 

  STS   TS   S  SS 

  hal  baik akan terjadi pada saya.  STS   TS   S  SS 

  STS   TS   S  SS 

  32 Saya  merasa masa depan saya suram.  STS   TS   S  SS 

  STS   TS   S  SS 

  STS   TS   S  SS 

  23 Saya   tetap  mampu  berpikir  jernih  meskipun  sedang  mengalami suatu permasalahan yang  berat.  

  STS   TS   S  SS 

  24 Terkadang   apa  yang  saya  harapkan  tidak  berjalan  dengan lancar walaupun saya sudah  berusaha.  

  STS   TS   S  SS 

  25 Saya   tidak  yakin  dapat  menyelesaikan  kesulitan ‐kesulitan yang saya hadapi. 

  STS   TS   S  SS 

  26 Orang   lain  memiliki  kemampuan  yang  lebih  baik  dari saya. 

  27 Saya   merasa  apa  yang  saya  lakukan  selalu  gagal.  

  suasana  hati saya.  STS   TS   S  SS 

  STS   TS   S  SS 

  28 Saya   bukanlah  orang  yang  dapat  diandalkan  dalam  mengerjakan suatu hal. 

  STS   TS   S  SS 

  29 Saya   merasa  bahwa  saya  adalah  orang  yang  sukses.  

  STS   TS   S  SS 

  30 Bagi   saya,  dunia  tidak  akan  hancur  hanya  karena  putus dengan pacar. 

  STS   TS   S  SS 

41 Secara  keseluruhan, saya mengharapkan hal‐

  Keberhasilan   yang  saya  capai  lebih  banyak  STS   TS   S  SS 

  43 berasal   dari  usaha  orang  lain,  seperti  orang  tua  atau teman.    Menurut   saya,  banyak  faktor  eksternal  yang  STS TS

  44     S  SS  berpengaruh   pada  kegagalan  yang  saya  alami.   Peristiwa   yang  sulit  membuat  saya  banyak  STS   TS   S  SS 

  45 belajar  untuk berusaha lebih baik.  Saya  merasa banyak teman‐teman di kampus  STS   TS   S  SS 

  46 yang  tidak menyukai saya.  Saya   tidak  mampu  melakukan  sesuatu  STS   TS   S  SS 

  47 dengan  baik.  Ketika   tidak  lolos  seleksi  kerja,  saya  akan  STS   TS   S  SS 

  48 terus  mencoba sampai saya diterima.  Saya   selalu  mendapatkan  nilai  yang  buruk  STS   TS   S  SS 

  49 dalam  ujian.  Teman   saya  tidak  menegur  saya  karena  dia  STS   TS   S  SS 

  50 sedang  ada masalah 

BAGIAN KEDUA

  Saya   memikirkan  dahulu  apa  yang  akan  saya  STS   TS   S  SS 

  1 lakukan  atau katakan.  Saya   sangat  terbantu  dengan  target  waktu  STS   TS   S  SS 

  2 pengerjaan   tugas‐tugas  kuliah  yang  sudah  disusun  sebelumnya.  Saya   tidak  memerlukan  waktu  yang  lama  STS TS

      S  SS 

  3 untuk   mencari  solusi  yang  tepat  ketika  mengatasi  suatu masalah.  Saya   mengambil   keputusan   tanpa   STS   TS   S  SS 

  4 pertimbangan   yang   panjang   dalam   menyelesaikan  masalah.  Saya   akan  mengatakan  secara  terus  terang  STS   TS   S  SS 

  5 atas   perlakuan  teman  yang  membuat  saya  tidak  nyaman.   Saya  bersedia untuk berkompromi.  STS   TS   S  SS 

6 Saya   merasa  terganggu  dengan  nasehat  yang  STS   TS   S  SS 

  7 diberikan  oleh teman.  Saya   terbiasa  menyusun  jadwal  untuk  STS TS

      S  SS 

  8

  Saya   menggunakan  kemampuan  saya  secara  STS   TS   S  SS 

  9 konsisten  untuk belajar atau bekerja.  Saya   tidak  mampu  membuat  orang  lain  STS   TS   S  SS 

  10 mengikuti  cara berpikir saya.  Ketika   menghadapi  situasi  yang  sulit,  saya  STS   TS   S  SS 

  11 bertanya   pada  seseorang  yang  memiliki  pengalaman  yang hampir sama. 

STS TS

  Saya   berbicara  pada  seseorang  untuk      S  SS 

  12 mendapatkan   lebih  banyak  informasi  tentang  masalah  yang sedang saya alami.  Ketika   ada  waktu  luang,  saya  gunakan  untuk  STS   TS   S  SS 

  13 bersantai ‐santai saja.  Saya   sering  tidak  bisa  menepati  apa  yang  STS   TS   S  SS 

  14 sudah  saya rencanakan sebelumnya.  Saya   berusaha  mencari  solusi  yang  terbaik  STS   TS   S  SS 

  15 untuk   mengatasi  kesulitan  yang  sedang  saya  hadapi.   Kegagalan   yang  saya  alami  membuat  saya  STS   TS   S  SS 

  16 belajar  tentang sesuatu.  Saya   berpikir  tentang  bagaimana  cara  terbaik  STS TS

      S  SS 

  17 yang  harus dilakukan ketika menghadapi suatu  masalah.   Saya   sering  tidak  menyelesaikan  tugas  yang  STS   TS   S  SS 

  18 diberikan  oleh dosen.  Saya  tidak pernah memikirkan akibat dari apa  STS   TS   S  SS 

  19 yang  saya lakukan.  Saya   merasa  tidak  perlu  memperbaiki  cara  STS   TS   S  SS 

  20 belajar  saya agar meraih IP yang lebih baik.  Saya  mencoba memanfaatkan waktu yang ada  STS   TS   S  SS 

  21 dengan  mengerjakan tugas kuliah sedikit demi  sedikit.   Menurut  saya, hasil diskusi dengan orang lain  STS TS

      S  SS 

  22 akan   berpengaruh  pada  pekerjaan  yang  saya  lakukan.   Ketika  mendapat tugas dari dosen, saya tidak  STS   TS   S  SS 

  23 langsung  mengerjakannya.  Saya  menghindari pendapat teman atau orang  STS   TS   S  SS 

  24 terdekat   berkaitan  dengan  pemecahan  masalah  dari masalah yang saya alami.  Saya   jarang  pergi  ke  perpustakaan  untuk  STS   TS   S  SS 

  25 mengerjakan  tugas‐tugas kuliah.  Saya   sering  membayangkan  suatu  masalah  STS   TS   S  SS 

  26 terus  menerus untuk mencari solusinya. 

  Saya   berusaha  dengan  keras  agar  rencana  STS   TS   S  SS 

  28 yang  sudah saya buat dapat terlaksana dengan  baik.   Saya   tidak  pernah  membuat  perencanaan  STS   TS   S  SS 

  29 tentang  masa depan saya.  Melihat   kelebihan  dan  kekurangan  dari  STS   TS   S  SS 

  30 beberapa   solusi  yang  sudah  saya  buat  akan  membantu  saya ketika mengatasi masalah.   Saya   merasa  sering  terburu‐buru  dalam  STS   TS   S  SS 

  31 memutuskan  suatu hal.  Saya   sering  kekurangan  waktu  dalam  STS   TS   S  SS 

  32 menyelesaikan  tugas sehari‐hari.  Saya   akan  tetap  mempertahankan  pendapat  STS   TS   S  SS 

  33 saya  ketika berselisih paham dengan teman.  Ketika   mendapat   tugas   kuliah   yang   STS   TS   S  SS 

  34 membingungkan,  saya tidak berusaha mencari  informasi  untuk memperjelas tugas tersebut.  Menurut   saya,  membuat  beberapa  alternatif  STS   TS   S  SS 

  35 solusi   ketika  mengatasi  suatu  masalah  hanya  membuang  waktu saja. 

STS TS

  Saya   biasanya  membayangkan  kembali  akibat      S  SS 

  36 dari   tindakan‐tindakan  yang  saya  lakukan  ketika  mengatasi suatu masalah.  Tugas   dikerjakan   semampunya   tanpa   STS   TS   S  SS 

  37 menentukan  target waktu penyelesaian.  Ketika   berbeda  pendapat,  saya  berusaha  STS   TS   S  SS 

  38 membuat   orang  lain  memiliki  pemahaman  yang  sama dengan saya.  Bagi  saya, menyusun beberapa rencana dalam  STS   TS   S  SS 

  39 mengatasi   suatu  masalah  hanya  akan  membuang  waktu saja.  Saya   sering  tidak  fokus  dalam  mengerjakan  STS   TS   S  SS 

  40 tugas ‐tugas kuliah. 

STS TS

  Sebelum   menerima  suatu  pekerjaan,  saya      S  SS 

  41 akan   memperhitungkan  kemampuan  saya  untuk  melakukannya.  Berdiskusi   dengan  teman  untuk  membantu  STS   TS   S  SS 

  42 menyelesaikan   masalah  justru  menambah  beban  pikiran.  Saya   berusaha  untuk  lebih  baik  dari  STS   TS   S  SS 

  43 sebelumnya  dalam segala hal.  Saya  hanya belajar ketika akan ujian saja.  STS   TS   S  SS 

44 Ketika   berselisih  paham  dengan  teman,  saya  STS   TS   S  SS 

  45

  Saya   berpikir  sangat  keras  tentang  hal‐hal  STS   TS   S  SS 

  46 yang  harus saya lakukan.  Saya   sering  melakukan  kesalahan  yang  sama  STS   TS   S  SS 

  47 dalam  memutuskan sesuatu.   Saya   tidak  memerlukan  saran  dari  orang  lain  STS   TS   S  SS 

  48 dalam  memutuskan sesuatu. 

STS TS

  Saya   akan  berusaha  menyelesaikan  masalah      S  SS 

  49 sendiri  tanpa bantuan orang lain.    Saya   biasanya  akan  bertanya  pada  seorang  STS   TS   S  SS 

  50 yang  lebih ahli ketika menemui masalah yang  sulit.   Saya  melakukan sesuatu secara bertahap.  STS   TS   S  SS 

51 Saya   biasanya  meminta  pendapat  orang  lain  STS   TS   S  SS 

  52 atas  kinerja yang telah saya lakukan.  Saya   sering  berdiskusi  dengan  dosen  tentang  STS   TS   S  SS 

  53 materi  kuliah yang kurang saya mengerti.  Saya   selalu  terlibat  dalam  pengerjaan  tugas  STS TS

  54     S  SS  kelompok   yang   sudah   direncanakan   sebelumnya.  

     

  • Terima Kasih Atas Bantuan dan Kerja Sama Anda **

  

Reliabilitas Skala Optimisme

  • Reliabilitas dengan jumlah aitem 50 buah

  Case Processing Summary N % Cases Valid

  59 100.0 Excluded(a) .0 Total

  59 100.0 a Listwise deletion based on all variables in the procedure.

   Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items

  .885

  50 Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted Scale

  Variance if Item Deleted Corrected Item-Total

  Correlation Cronbach's Alpha if Item Deleted item1 150.80 141.372 .045 .888 item2 151.53 137.495 .345 .883 item3 150.53 136.736 .485 .881 item4 150.64 134.750 .615 .879 item5 150.81 133.396 .551 .879 item6 150.81 143.775 -.101 .889 item7 151.27 134.201 .423 .881 item8 151.46 134.459 .481 .880 item9 151.46 138.011 .334 .883 item10 150.66 135.193 .490 .880 item11 150.93 135.133 .564 .880 item12 150.98 132.776 .620 .878 item13 150.61 136.863 .439 .881 item14 150.78 135.795 .426 .881 item15 150.93 134.271 .633 .879 item16 151.64 137.681 .331 .883 item17 150.59 134.245 .653 .879 item18 150.46 135.494 .502 .880 item19 150.88 132.348 .647 .878 item20 150.78 134.520 .597 .879 item21 151.22 137.933 .255 .884 item23 150.86 139.464 .138 .887 item24 151.05 141.359 .115 .885 item25 151.03 135.033 .522 .880 item26 151.78 140.933 .085 .886 item27 150.95 132.842 .500 .880 item28 150.90 136.507 .464 .881 item29 151.17 137.798 .342 .883 item30 150.49 136.530 .333 .883 item31 151.59 139.039 .198 .885 item32 150.44 135.320 .588 .880 item33 150.83 133.557 .596 .879 item34 151.17 140.316 .133 .886 item35 151.32 141.050 .072 .887 item36 150.86 140.740 .082 .887 item37 151.90 144.058 -.122 .889 item38 152.24 146.253 -.292 .891 item39 150.81 137.603 .393 .882 item40 150.88 140.658 .121 .886 item41 150.51 136.737 .454 .881 item42 151.36 138.992 .196 .885 item43 151.20 135.820 .448 .881 item44 150.73 132.787 .592 .879 item45 150.47 138.081 .349 .883 item46 150.80 138.889 .282 .883 item47 150.78 135.451 .558 .880 item48 150.71 138.036 .295 .883 item49 150.75 135.331 .555 .880 item50 151.54 144.011 -.123 .889

   Scale Statistics Mean Variance Std. Deviation N of Items 154.08 142.665 11.944

  50

  • Reliabilitas dengan jumlah aitem 33 buah

  Case Processing Summary N % Cases Valid

  59 100.0 Excluded( .0

  a) Total 59 100.0 a Listwise deletion based on all variables in the procedure.

   Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items

  .924

  33

   Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted

  Scale Variance if Item Deleted Corrected

  Item-Total Correlation Cronbach's Alpha if Item

  Deleted item2 102.98 111.810 .344 .924 item3 101.98 111.155 .482 .922 item4 102.10 109.231 .625 .921 item5 102.27 107.408 .601 .921 item7 102.73 109.305 .393 .924 item8 102.92 108.975 .487 .922 item9 102.92 111.631 .389 .923 item10 102.12 110.003 .468 .923 item11 102.39 109.139 .612 .921 item12 102.44 107.216 .645 .920 item13 102.07 110.582 .498 .922 item14 102.24 109.839 .457 .923 item15 102.39 108.070 .708 .920 item16 103.10 111.369 .380 .924 item17 102.05 108.911 .650 .920 item18 101.92 110.389 .469 .922 item19 102.34 106.469 .700 .919 item20 102.24 108.977 .610 .921 item22 102.69 111.388 .388 .923 item25 102.49 109.530 .526 .922 item27 102.41 107.728 .491 .923 item28 102.36 110.475 .504 .922 item29 102.63 112.272 .325 .924 item30 101.95 110.808 .340 .925 item32 101.90 109.955 .578 .921 item33 102.29 107.450 .659 .920 item39 102.27 112.373 .349 .924 item41 101.97 111.206 .446 .923 item43 102.66 110.504 .431 .923 item44 102.19 107.327 .609 .921 item45 101.93 112.788 .307 .924 item47 102.24 109.805 .573 .921 item49 102.20 109.303 .605 .921

   Scale Statistics Mean Variance Std. Deviation N of Items 105.54 116.494 10.793

  33

  

Reliabilitas Skala PFC

  • Reliabilitas dengan jumlah aitem 54 buah

  Case Processing Summary N % Valid

  59 100.0 Excluded( a) .0

  Cases Total 59 100.0 a Listwise deletion based on all variables in the procedure.

   Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items

  .887

  54 Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted Scale

  Variance if Item Deleted Corrected Item-Total

  Correlation Cronbach's Alpha if Item Deleted item1 159.47 145.150 .379 .885 item2 159.44 141.665 .592 .882 item3 160.00 148.241 .111 .888 item4 159.41 144.694 .340 .885 item5 159.81 143.603 .417 .884 item6 159.27 147.891 .145 .888 item7 159.20 143.475 .371 .885 item8 159.97 142.240 .497 .883 item9 159.73 144.856 .381 .885 item10 159.78 148.968 .083 .888 item11 159.37 147.583 .174 .887 item12 159.32 146.498 .240 .886 item13 160.25 146.434 .163 .888 item14 159.93 142.926 .418 .884 item15 159.12 143.348 .561 .883 item16 159.00 144.897 .429 .884 item17 159.07 143.340 .520 .883 item18 159.44 142.906 .453 .883 item19 159.32 143.636 .498 .883 item22 159.37 145.514 .440 .884 item23 160.14 146.326 .207 .887 item24 159.25 145.538 .309 .885 item25 159.51 144.944 .300 .886 item26 159.64 149.992 -.004 .890 item27 159.25 147.158 .207 .887 item28 159.24 142.081 .551 .882 item29 159.24 140.977 .600 .881 item30 159.20 144.441 .486 .884 item31 159.97 144.688 .352 .885 item32 160.24 147.322 .139 .888 item33 159.90 148.541 .103 .888 item34 159.41 145.521 .338 .885 item35 159.31 142.181 .645 .882 item36 159.41 145.314 .378 .885 item37 159.68 145.257 .314 .885 item38 160.07 150.099 -.009 .890 item39 159.32 141.912 .680 .881 item40 159.83 143.660 .408 .884 item41 159.51 148.944 .091 .888 item42 159.53 144.323 .380 .885 item43 159.08 143.803 .519 .883 item44 160.32 144.532 .327 .885 item45 159.69 145.595 .248 .887 item46 159.78 146.520 .242 .886 item47 159.76 144.460 .396 .884 item48 159.32 146.498 .227 .887 item49 159.61 149.690 .008 .890 item50 159.17 143.350 .446 .884 item51 159.47 143.598 .538 .883 item52 159.44 144.492 .510 .884 item53 160.07 141.478 .519 .882 item54 159.27 144.822 .386 .885

   Scale Statistics Mean Variance Std. Deviation N of Items 162.56 150.320 12.260

  54

  • Reliabilitas dengan jumlah aitem 36 buah

  Case Processing Summary N % Cases Valid

  59 100.0 Excluded( .0

  a) Total 59 100.0 a Listwise deletion based on all variables in the procedure.

   Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items

  .909

  36

  

Item-Total Statistics

Scale Mean if Item Deleted

  Scale Variance if Item Deleted Corrected

  Item-Total Correlation Cronbach's Alpha if Item

  Deleted item1 107.78 101.899 .396 .908 item2 107.75 98.986 .608 .905 item4 107.71 101.760 .334 .909 item5 108.12 100.555 .434 .907 item7 107.51 101.254 .327 .909 item8 108.27 99.684 .493 .906 item9 108.03 101.654 .397 .908 item14 108.24 100.357 .406 .908 item15 107.42 100.938 .524 .906 item16 107.31 102.112 .405 .907 item17 107.37 100.962 .483 .906 item18 107.75 99.779 .486 .906 item19 107.63 100.686 .510 .906 item21 107.81 100.258 .462 .907 item22 107.68 102.774 .397 .908 item24 107.56 102.354 .312 .909 item25 107.81 101.913 .298 .909 item28 107.54 100.356 .478 .906 item29 107.54 98.287 .625 .904 item30 107.51 101.496 .487 .907 item31 108.27 101.236 .389 .908 item34 107.71 102.071 .367 .908 item35 107.61 99.345 .672 .904 item36 107.71 102.519 .350 .908 item37 107.98 101.500 .368 .908 item39 107.63 99.272 .692 .904 item40 108.14 100.430 .440 .907 item42 107.83 101.178 .397 .908 item43 107.39 101.311 .483 .907 item44 108.63 101.169 .354 .908 item47 108.07 101.582 .388 .908 item50 107.47 100.392 .461 .907 item51 107.78 100.554 .563 .906 item52 107.75 101.296 .538 .906 item53 108.37 98.893 .526 .906 item54 107.58 101.317 .430 .907

   Scale Statistics Mean Variance Std. Deviation N of Items

  ™ Skala Penelitian Optimisme dan Problem-Focused Coping (PFC)

  KUESIONER Umur : Jenis

   kelamin : Angkatan

   Akademik :

  PETUNJUK  UMUM

  Berikut  ini terdapat sejumlah pernyataan yang berkaitan dengan diri Anda. Secara  keseluruhan

   pernyataan tersusun menjadi 2 (dua) bagian daftar pernyataan. Bacalah

    setiap  pernyataan  dengan  seksama  dan  pahami  dengan  baik.  Kemudian 

  berilah   tanda  (X)  pada  pilihan  jawaban  yang  tersedia  untuk  setiap  pernyataan  yang  benar‐benar sesuai dengan keadaan diri Anda sebenarnya. 

  Tidak   ada  jawaban  yang  dianggap  SALAH,  semua  jawaban  adalah  BENAR  oleh  karena   itu  jawablah  setiap  pernyataan  dengan  sejujurnya.  Jawaban  yang  telah 

  Anda  berikan dijamin kerahasiaannya.

  Pilihan  Jawaban atas pernyataan‐pernyataan yang ada, antara lain :

  STS :    SANGAT TIDAK SESUAI TS :    TIDAK SESUAI : S  SESUAI :  SANGAT SESUAI SS

  Atas   kerja  sama  dan  kesediaannya  untuk  mengisi  angket  ini,  saya  ucapkan  terimakasih.

BAGIAN PERTAMA

1 Keberhasilan  yang saya alami membuat saya 

  yakin  dengan kemampuan diri saya sendiri.  STS   TS   S  SS 

10 Saya   bukanlah  orang  yang  dapat  diandalkan 

11 Saya  tidak yakin dapat meraih apa yang saya 

  STS   TS   S  SS 

  14 Peristiwa   yang  sulit  membuat  saya  banyak  belajar  untuk berusaha lebih baik. 

  STS   TS   S  SS 

  15 Ketidakberhasilan   dalam  mengerjakan  tugas  kelompok  bukan kesalahan saya sepenuhnya. 

  STS   TS   S  SS 

  16 Saya   selalu  dapat  mengerjakan  tugas  dari  dosen  dengan baik. 

  STS   TS   S  SS 

  17 Saya  memiliki bakat dan prestasi yang baik.  STS   TS   S  SS 

  18 Saya   sering  gagal  dalam  meraih  apa  yang  saya  harapkan walaupun sudah berusaha. 

  13 Saya   merasa  segala  sesuatu  yang  saya  lakukan   hanya  sia‐sia  dan  tidak  membawa  arti  di hidup saya. 

  19 Saya   merasa  apa  yang  saya  lakukan  selalu  gagal.  

  STS   TS   S  SS 

  kali  mengerjakan revisi laporan praktikum.  STS   TS   S  SS 

  STS   TS   S  SS 

  STS   TS   S  SS 

  2 Saya  tidak bisa menjalankan aktivitas seperti  biasanya   ketika  mengalami  permasalahan  yang  berat. 

  6 Saya   tetap  bersemangat  mengerjakan  tugas  walaupun  sedang menghadapi masalah. 

  STS   TS   S  SS 

  3 Saya   tidak  terlalu  yakin  bisa  mendapatkan  nilai  yang baik di matakuliah tertentu. 

  STS   TS   S  SS 

  4 Saya   ragu  pada  kemampuan  saya  dalam  mengerjakan  berbagai tugas. 

  STS   TS   S  SS 

  5 Secara  keseluruhan, saya mengharapkan hal‐ hal  baik akan terjadi pada saya. 

  STS   TS   S  SS 

  STS   TS   S  SS 

  12 Saya   merasa  bahwa  saya  adalah  orang  yang  sukses.  

  7 Saya   tidak  mampu  melakukan  sesuatu  dengan  baik. 

  STS   TS   S  SS 

  8 Saya  rasa hidup saya menyenangkan.  STS   TS   S  SS 

  9 Meskipun  saya gagal hari ini, saya akan terus  berusaha  di kesempatan yang lain. 

  STS   TS   S  SS 

  dalam  mengerjakan suatu hal.  STS   TS   S  SS 

  harapkan.   STS   TS   S  SS 

20 Saya  mudah putus asa ketika harus beberapa 

  tua  atau teman.  Saya  optimis dengan masa depan saya.  STS   TS   S  SS 

22 Jika  saya diterima bekerja, itu adalah karena  STS   TS   S  SS 

  23 kemampuan  yang saya miliki.  Saya   selalu  mendapatkan  nilai  yang  buruk  STS TS

      S  SS 

  24 dalam  ujian.  Saya   tidak  yakin  dengan  kemampuan  yang  STS   TS   S  SS 

  25 saya  miliki. 

STS TS

  Bagi   saya,  dunia  tidak  akan  hancur  hanya      S  SS 

  26 karena  putus dengan pacar.  Saya   berusaha  melakukan  yang  terbaik  bagi  STS   TS   S  SS 

  27 diri  saya.  Saya  merasa masa depan saya suram.  STS   TS   S  SS 

28 Menurut   saya,  banyak  faktor  eksternal  yang  STS   TS   S  SS 

  29 berpengaruh   pada  kegagalan  yang  saya  alami.   Saya   selalu  merasa  tertekan  ketika  STS   TS   S  SS 

  30 menghadapi  suatu masalah.  Saya   bertindak  dengan  penuh  keyakinan  diri  STS TS

      S  SS 

  31 tanpa  dikuasai oleh perasaan cemas.  Saya   merasa  tidak  mampu  menyelesaikan  STS   TS   S  SS 

  32 tugas ‐tugas yang diberikan pada saya dengan  baik.   Saya   tidak  yakin  dapat  menyelesaikan  STS   TS   S  SS 

  33 kesulitan ‐kesulitan yang saya hadapi. 

BAGIAN KEDUA

  Saya   berusaha  mencari  solusi  yang  terbaik  STS   TS   S  SS 

  1 untuk   mengatasi  kesulitan  yang  sedang  saya  hadapi.   Tugas   dikerjakan   semampunya   tanpa   STS   TS   S  SS 

  2 menentukan  target waktu penyelesaian.  Saya   sering  melakukan  kesalahan  yang  sama  STS   TS   S  SS 

  3 dalam  memutuskan sesuatu.   Saya   sering  tidak  menyelesaikan  tugas  yang  STS   TS   S  SS 

  4 diberikan  oleh dosen.  Saya   memikirkan  dahulu  apa  yang  akan  saya  STS   TS   S  SS 

  5 lakukan  atau katakan.  Melihat   kelebihan  dan  kekurangan  dari  STS   TS   S  SS 

  6

  Saya   sangat  terbantu  dengan  target  waktu  STS   TS   S  SS 

  7 pengerjaan   tugas‐tugas  kuliah  yang  sudah  disusun  sebelumnya.  Berdiskusi   dengan  teman  untuk  membantu  STS   TS   S  SS 

  8 menyelesaikan   masalah  justru  menambah  beban  pikiran.  Saya   akan  mengatakan  secara  terus  terang  STS   TS   S  SS 

  9 atas   perlakuan  teman  yang  membuat  saya  tidak  nyaman.   Saya  hanya belajar ketika akan ujian saja.  STS   TS   S  SS 

10 Saya   berusaha  dengan  keras  agar  rencana  STS   TS   S  SS 

  11 yang  sudah saya buat dapat terlaksana dengan  baik.   Menurut   saya,  membuat  beberapa  alternatif  STS   TS   S  SS 

  12 solusi   ketika  mengatasi  suatu  masalah  hanya  membuang  waktu saja.  Saya  mencoba memanfaatkan waktu yang ada  STS   TS   S  SS 

  13 dengan  mengerjakan tugas kuliah sedikit demi  sedikit.   Saya   sering  tidak  bisa  menepati  apa  yang  STS   TS   S  SS 

  14 sudah  saya rencanakan sebelumnya. 

STS TS

  Ketika   mendapat   tugas   kuliah   yang       S  SS 

  15 membingungkan,  saya tidak berusaha mencari  informasi  untuk memperjelas tugas tersebut.  Saya   menggunakan  kemampuan  saya  secara  STS   TS   S  SS 

  16 konsisten  untuk belajar atau bekerja.  Saya   berpikir  tentang  bagaimana  cara  terbaik  STS   TS   S  SS 

  17 yang  harus dilakukan ketika menghadapi suatu  masalah.   Bagi  saya, menyusun beberapa rencana dalam  STS   TS   S  SS 

  18 mengatasi   suatu  masalah  hanya  akan  membuang  waktu saja.  Saya   biasanya  akan  bertanya  pada  seorang  STS   TS   S  SS 

  19 yang  lebih ahli ketika menemui masalah yang  sulit.   Saya   selalu  terlibat  dalam  pengerjaan  tugas  STS   TS   S  SS 

  20 kelompok   yang   sudah   direncanakan   sebelumnya.   Saya   terbiasa  menyusun  jadwal  untuk  STS   TS   S  SS 

  21 menyelesaikan   tugas‐tugas  kuliah  yang  diberikan  oleh dosen.  Menurut  saya, hasil diskusi dengan orang lain  STS   TS   S  SS 

  22 akan   berpengaruh  pada  pekerjaan  yang  saya  terdekat   berkaitan  dengan  pemecahan  masalah  dari masalah yang saya alami.  Kegagalan   yang  saya  alami  membuat  saya  STS   TS   S  SS 

  24 belajar  tentang sesuatu.  Saya   berusaha  untuk  lebih  baik  dari  STS   TS   S  SS 

  25 sebelumnya  dalam segala hal. 

STS TS

  Saya   sering  tidak  fokus  dalam  mengerjakan      S  SS 

  26 tugas ‐tugas kuliah.  Saya   jarang  pergi  ke  perpustakaan  untuk  STS   TS   S  SS 

  27 mengerjakan  tugas‐tugas kuliah.  Saya   sering  berdiskusi  dengan  dosen  tentang  STS   TS   S  SS 

  28 materi  kuliah yang kurang saya mengerti.  Saya   biasanya  meminta  pendapat  orang  lain  STS   TS   S  SS 

  29 atas  kinerja yang telah saya lakukan.  Saya   mengambil   keputusan   tanpa   STS   TS   S  SS 

  30 pertimbangan   yang   panjang   dalam   menyelesaikan  masalah.  Saya   tidak  pernah  membuat  perencanaan  STS TS

  31     S  SS  tentang  masa depan saya.  Saya   merasa  sering  terburu‐buru  dalam  STS   TS   S  SS 

  32 memutuskan  suatu hal.  Saya  melakukan sesuatu secara bertahap.  STS   TS   S  SS 

33 Saya   merasa  terganggu  dengan  nasehat  yang  STS   TS   S  SS 

  34 diberikan  oleh teman.  Saya  biasanya membayangkan kembali akibat  STS   TS   S  SS 

  35   dari  tindakan‐tindakan yang saya lakukan 

    ketika  mengatasi suatu masalah.

  Saya  tidak pernah memikirkan akibat dari apa  STS   TS   S  SS 

  36 yang  saya lakukan. 

     

  • Terima Kasih Atas Bantuan dan Kerja Sama Anda **

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

PENDAHULUAN Hubungan Antara Alienasi Diri dengan Optimisme Masa Depan pada Waria.
0
1
9
Hubungan antara Kecerdasan Emosional dengan Kecenderungan Problem Focused Coping pada Mahasiswa Manajemen Angkatan 2009 Universitas Kristen Maranatha.
0
0
24
Rancangan Program Pelatihan Problem Focused Coping Pada Siswi Kelas VIIX.
0
0
9
Peran Pola Asuh Autoritatif dan Kecerdasan Emosional terhadap Problem Focused Coping pada Remaja Akhir di Program Studi Pendidikan Dokter FK UNUD.
0
0
40
Hubungan Antara Optimisme dan Kesejahteraan Psikologis pada Mahasiswa yang Sedang Menyusun Skripsi - Ubaya Repository
0
0
1
Hubungan Antara Optimisme Dan Dukungan S
0
1
5
Konseling Pancawaskita untuk Membentuk Problem Focused Coping
0
0
9
A-1 Skala Problem Focused Coping
0
0
47
LAMPIRAN A A-1 Skala Problem Focused Coping A-2 Skala Stres Menghadapi Sidang PAA
0
0
48
Hubungan Efikasi Diri dan Problem Focused Coping (PFC) dengan Kepatuhan Diet pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 - Unika Repository
0
0
13
A. Identifikasi Variabel Penelitian - Hubungan Efikasi Diri dan Problem Focused Coping (PFC) dengan Kepatuhan Diet pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 - Unika Repository
0
0
8
BAB IV LAPORAN PENELITIAN A. Orientasi Kancah Penelitian - Hubungan Efikasi Diri dan Problem Focused Coping (PFC) dengan Kepatuhan Diet pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 - Unika Repository
0
0
14
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan - Hubungan Efikasi Diri dan Problem Focused Coping (PFC) dengan Kepatuhan Diet pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 - Unika Repository
0
0
8
A-1 Skala Penelitian Problem Focused Coping A-2 Skala Penelitian Self Efficacy
0
0
39
Problem Focused Coping Pada Ibu Primipara Ditinjau dari Self-Efficacy
0
0
13
Show more