TINGKAT KESULITAN BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VIII SMP PANGUDI LUHUR 2 YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 20082009 SKRIPSI

Gratis

0
1
96
8 months ago
Preview
Full text

  

TINGKAT KESULITAN BELAJAR MATEMATIKA SISWA

KELAS VIII SMP PANGUDI LUHUR 2 YOGYAKARTA

TAHUN AJARAN 2008/2009

SKRIPSI

  

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Bimbingan dan Konseling

  

Disusun Oleh:

MARIA DWI NARIS WARI

021114012

  

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2009

  

“Dalam segala hal, aku selalu mengucap syukur pada-Mu

Tuhan, diwaktu aku senang maupun susah, diwaktu aku sehat

maupun sakit, diwaktu aku sukses maupun gagal, karena

melalui semuanya itu aku semakin dekat dengan-Mu,

  

Engkaulah Sumber Kehidupanku”

“ Ia membuat segala sesuatu indah tepat pada waktunya,

bahkan ia memberikan kekuatan dalam hati mereka”

  

(Pengkotbah 3:11)

Skripsi ini Kupersembahkan untuk :

  Kedua orang tuaku Kakakku Endang Lestari B. Didi Permadi

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini

tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan

dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

  Yogyakarta, 28 Februari 2009 Penulis Maria Dwi Naris Wari

ABSTRAK TINGKAT KESULITAN BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VIII SMP PANGUDI LUHUR 2 YOGYAKARTA

  

TAHUN AJARAN 2008/2009

Maria Dwi Naris Wari

Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta

  

2009

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif bidang bimbingan belajar dengan

menggunakan metode survey. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran

mengenai kesulitan belajar matematika siswa kelas VIII SMP Pangudi Luhur 2

Yogyakarta 2 tahun ajaran 2008/2009. Masalah penelitian ini adalah bagaimana

tingkat kesulitan belajar matematika siswa kelas VIII SMP Pangudi Luhur 2

Yogyakarta tahun ajaran 2008/2009.

  Subyek penelitian adalah siswa kelas VIII SMP Pangudi Luhur 2 Yogyakarta

dengan populasi penelitian berjumlah 118 siswa. Instrument yang digunakan adalah

kuesioner tingkat kesulitan belajar matematika yang disusun oleh peneliti. Kuesioner

terdiri dari 72 item sebagai penjabaran dari 2 aspek kesulitan belajar. Aspek tersebut

adalah aspek intern atau di dalam pribadi siswa dan aspek ekstern atau di luar pribadi

siswa.

  Teknik pengolahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik

statistik dengan dasar kategorisasi dan tabulasi skor-skor dalam kuesioner tingkat

kesulitan belajar belajar matematika.

  Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesulitan belajar matematika siswa kelas

  

VIII SMP Pangudi Luhur 2 Yogyakarta tahun ajaran 2008/2009 adalah jumlah siswa

yang mengalami tingkat kesulitan belajar rendah dalam mata pelajaran matematika

lebih banyak 61 (52%) dari pada jumlah yang mengalami tingkat kesulitan belajar

tinggi 57 (48%) dalam mata pelajaran matematika. Aspek penyebab kesulitan belajar

matematika yang banyak dialami siswa yaitu aspek psikologis (66,55%) yang

meliputi: minat, motivasi, intelegensi dan bakat.

  

ABSTRACT

THE DIFFICULTIES LEVEL IN LEARNING MATHEMATICS

EIGHTH GRADE STUDENTS OF

SMP PANGUDI LUHUR 2 YOGYAKARTA

  

IN THE ACADEMIC YEAR 2008/2009

Maria Dwi Naris Wari

Sanata Dharma University

Yogyakarta

  

2009

This research was a descriptive research on guidance using survey method.

  

This research was aimed to obtain the description about the difficulties in learning

mathematics among the eighth grade students of SMP Pangudi Luhur 2 Yogyakarta

in the academic year 2008/2009. The problem in this research was what is the

difficulties level among the eighth grade students of SMP Pangudi Luhur 2

Yogyakarta in the academic year 2008/2009.

  The subjects of this research were the eighth grade students of SMP Pangudi

Luhur 2 Yogyakarta in the academic year 2008/2009 with the research population in

the amount of 118 students. The questionnaire about the difficulties level in learning

mathematics which was composed by the researcher was the instrument used. The

questionnaire was consisting of 72 items as the clarification from 2 aspects of study

difficulty. The aspects were the intern aspect or in the student’s personality and

extern aspects or out from the student’s personality.

  The data processing used in this research was statistic technique with the

category and scores tabulation as the basic in the difficulties level in learning

mathematics questionnaire.

  The result of this research showed that the difficulties level in learning

mathematics among the eighth grade students of SMP Pangudi Luhur 2 Yogyakarta

in the academic year 2008/2009 was, the amount of students who had the low

difficulties level in mathematics were 61 (52%) more than the amount of those who

had the high difficulties level 57 (48%) in mathematics. The cause aspect of

difficulties in learning mathematics experienced by the students was psychology

aspect (66,55%) including: interest, motivation, intelligence and talent.

  

LEMBAR PERNYATAAN PUBLIKASI

Yang bertandatangan dibawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Maria Dwi Naris Wari NIM : 021114012

  Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada

perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul: Tingkat

Kesulitan Belajar Matematika Siswa Kelas VIII SMP Pangudi Luhur 2

Yogyakarta Tahun Ajaran 2008/2009 beserta perangkat yang diperlukan (bila ada).

Dengan demikian saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma

hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam

bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di

internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari

saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama

saya sebagai penulis.

  Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal 28 Februari 2009 Yang menyatakan Maria Dwi Naris Wari

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Mahabaik, yang selalu menyertai dan

menuntun penulis sehingga penulis skripsi ini dapat selesai dengan baik. Begitu besar

kasih-Nya kepada setiap orang yang berharap kepada_nya sehingga Ia selalu

menopang dan meneguhkan setiap usaha dan karya penulis. Ia mencurahkan segala

rahmat dan berkat-Nya untuk menolong penulis dalam menyelesaikan skripsi melalui

dosen dan teman-teman yang berada di sekitar penulis.

  Oleh karena itu pantas dan layaklah penulis mengucapkan terima kasih

sebesar-besarnya kepada mereka yang secara langsung telah memotivasi dan

mendukung penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

  1. Dra. Ign Esti Sumarah, M.Hum dosen pembimbing yang dengan penuh kesabaran dan ketulusan hati membimbing, menuntun, dan mendampingi peneliti selama penulisan skripsi hingga akhirnya skripsi ini selesai dengan baik.

  2. Dr. M.M. Sri Hastuti, M.Si Kaprodi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma yang telah membimbing dan mendukung peneliti dalam menyelesaikan penulisan skripsi.

  3. Romo, Suster, Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang telah mencurahkan ilmunya

dengan sepenuh hati sehingga berguna untuk bekal hidup di masa depan.

  4. Dra. Bekti Susilowati, Kepala Sekolah SMP Pangudi Luhur 2 yang berkenan menerima dan memberikan kesempatan kepada peneliti untuk melaksanakan penelitian.

  5. Ibu Sherly yohnatan, S.Pd. dan Ibu Sisca selaku Staff Bimbingan Konseling SMP Pangudi Luhur 2 Yogyakarta yang berkenan menerima, mendampingi dan memberikan kesempatan kepada peneliti untuk mengisi jam mata pelajaran BK selama peneliti melaksanakan penelitian.

  6. Siswa-siswi Kelas VIII SMP Pangudi Luhur 2 Yogyakarta tahun ajaran 2008/2009, yang telah bersedia menjadi responden dalam penelitian.

  7. Orang tua yang tak pernah berhenti untuk selalu berdoa dan mendukung peneliti sampai saat ini.

  8. M. Endang Lestari dan Y. Subagyo yang selalu mendukung dan menanyakan perkembangan skripsi ini, sehingga peneliti terdorong untuk menyelesaikan skripsi ini 9. B.Didi Permadi yang selalu memotivasi dan mendukung dari jauh. Terima kasih untuk semua perhatian dan kasih sayangnya selama ini.

  10. Romo YB. Sujanto.Pr dan Romo Joe Gordon.Pr yang selalu membantu dan memberikan dukungan serta doa bagi peneliti untuk tetap bersemangat dalam menyesaikan skripsi.

  12. Teman-teman seperjuanganku di Prodi Bimbingan dan Konseling: Sari, Tuti, Esti, Ina, Uning, Nadia, Yala, Sherly, Sr. Noren, Sr. Vero, Br. Edy, Fr. Paul, Yunar, Andre, Nana, Nena, Petrus, Arya, Bertus, Yasinta dan Ayu yang telah memberikan kenangan tak terlupakan, terimakasih atas dukungan dan bantuannya selama ini. Semoga segala sesuatu yang telah mereka berikan kepada peneliti mendapat

berkat dari Tuhan. Peneliti menyadari bahwa dalam skripsi ini masih banyak

kekurangan. Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang membangun demi

penyempurnaan skripsi ini akan peneliti terima dengan senang hati.

  Peneliti

DAFTAR ISI

  HALAMAN JUDUL ................................................................................................i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ........................................................ii

HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................................iii

HALAMAN MOTO DAN PERSEMBAHAN ........................................................iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ...................................................................v

ABSTRAK ................................................................................................................vi

ABSTRACT ................................................................................................................vii

LEMBAR PERNYATAAN PUBLIKASI ................................................................viii

KATA PENGANTAR ..............................................................................................ix

DAFTAR ISI .............................................................................................................xii

DAFTAR TABEL .....................................................................................................xv

DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................... xvii

  BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ................................................................................1 B. Rumusan Masalah .........................................................................................6 C. Tujuan Penelitian ..........................................................................................6 D. Manfaat Penelitian ........................................................................................6 E. Definisi Operasional .....................................................................................7

  BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Mata Pelajaran Matematika ............................................................................8 1. Pengertian Matematika ………………………………………………........8 2. Matematika Dalam Kurikulum SMP ………………………….……..........9 3. Daya Serap Siswa Kelas VIII SMP Pangudi Luhur Terhadap

Mata pelajaran Matematika ……………………………………………. .12

B. Pentingnya Belajar Matematika Bagi Siswa Kelas VIII di SMP Pangudi Luhur 2 Yogyakarta Tahun Ajaran 2008/2009 ...............................13 1. Arti Belajar Matematika …………………………………………………13 2. Pengertian Kesulitan Belajar dan Gejala-gejalanya ………………..……14 3. Faktor Penyebab Kesulitan Belajar Matematika ………………………...17 C. Bimbingan Belajar Matematika ....................................................................25 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian...............................................................................................28 B. Alat Pengumpulan Data ................................................................................29 1. Kuesioner ………………………………………………………………...29 2. Penentuan Kategori …………………………………………...…………31 3. Validitas dan Reliabilitas ………………………………………………. 32 a. Validitas Kuesioner …………………………………………………..32 b. Reliabilitas ……………………………………………………………33 c. Populasi dan Sampel ………………………………………….……...34

  d.

  Prosedur Pengumpulan Data …………………………………………35 e. Teknik Analisis Data …………………………………………………36

  

1. Perhitungan Reliabilitas Kesulitan Belajar Matematika ………….36

  2. Perhitungan Validitas Kesulitan Belajar Matematika ……………..37

  3. Perhitungan Mean ………………………………………………....37

  BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian .............................................................................................38 B. Pembahasan ………………………………………………………………....39 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ...................................................................................................44 B. Saran .............................................................................................................45

DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................................46

LAMPIRAN ..............................................................................................................48

DAFTAR TABEL

  Tabel 1 Indikator Kuesioner Tingkat Kesulitan Belajar Matematika Siswa Kelas VIII SMP Pangudi Luhur 2 Yogyakarta

Tahun Ajaran 2008/2009 ………………………………………….. 30

Tabel 2 Hasil Perhitungan Koefisien Reliabilitas dan Validitas

  Kuesioner Tingkat Kesulitan Belajar Matematika ............................33 Tabel 3 Kualifikasi Koefisien Reliabilitas dan Validitas Suatu Alat Ukur ................................................................................34

Tabel 4 Data Populasi dan Sampel ................................................................35

  

Tabel 5 Jadwal Pengumpulan Data Penelitian ............................................. . 36

Tabel 6 Tingkat Kesulitan Belajar Matematika .............................................39

Tabel 7 Persentase Keseluruhan Aspek-aspek Dalam Aspek Intern dan Aspek Ekstern Tingkat

  Kesulitan Belajar Matematika ………………………………...……41 Tabel 8 Kuesioner Tingkat Kesulitan Belajar Matematika ………………………………...……48 Tabel 9 Hasil Tabulasi Data Tingkat Kesulitan Belajar Matematika ………………………………...……58

  Tabel 10 Perhitungan Aspek-Aspek Tingkat Kesulitan Belajar Matematika Siswa Kelas VIII SMP Pangudi Luhur 2 Yogyakarta Tahun Ajaran 2008/2009……………………………….............……64

  Tabel 11 Data Hasil Kuesioner Tingkat Kesulitan Belajar Matematika ………………………………...……69

Tabel 12 Perhitungan Validitas dan Reliabilitas ………………………………72

Tabel 13 Kategori Skor-Skor Hasil PKesulitan Belajar Matematika ................74

Tabel 14 Surat Ijin Penelitian............................................................................77

Tabel 15 Surat Keterangan Penelitian...............................................................78

DAFTAR LAMPIRAN

  

Lampiran 1 Kuesioner Kesulitan Belajar Matematika ……….................... 48

Lampiran 2 Hasil Tabulasi Data Penelitian Kuesioner Tingkat Kesulitan Belajar Matematika Siswa Kelas VIII SMP Pangudi Luhur 2 Yogyakarta

Tahun Ajaran 2008/2009 .........................................................58

Lampiran 3 Perhitungan Aspek-Aspek Tingkat Kesulitan Belajar Matematika Siswa Kelas VIII SMP Pangudi Luhur 2

Yogyakarta Tahun Ajaran 2008/2009……………………...….64

  Lampiran 4 Data Hasil Kuesioner Tingkat Kesulitan Belajar Matematika Siswa Kelas VIII SMP Pangudi Luhur 2 Yogyakarta

Tahun Ajaran 2008/2009 .........................................................70

  Lampiran 5 Perhitungan Validitas dan Reliabilitas ......................................73 Lampiran 6 Kategori Skor-skor Hasil Kuesioner Tingkat Kesulitan Belajar ……………………………………..75

Lampiran 7 Surat Ijin Ujicoba/ Penelitian ……………………….….……...78

  Lampiran 8 Surat Keterangan Penelitian ……………………………......….79

BAB I PENDAHULUAN Dalam bab ini diuraikan latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian dan definisi operasional. A. Latar Belakang Masalah Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan keadaan sosial budaya yang berlangsung pesat telah membawa banyak perubahan pada setiap

  individu. Penyesuaian diri terhadap perubahan menuntut individu untuk terus belajar. Menurut Slameto (2003:2) belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Belajar dapat terjadi kapan saja dan di mana saja, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Dengan belajar siswa dapat mengalami perubahan tingkah laku melalui pengalaman dan latihan. Belajar di sekolah supaya efektif membutuhkan bimbingan.

  Winkel (1997:79) bimbingan adalah sebagai proses membantu seseorang dalam memahami dirinya sendiri dan lingkungan hidupnya. Salah satu bimbingan adalah bimbingan belajar yang artinya bimbingan dalam hal menggunakan cara belajar yang tepat dalam mengatasi kesulitan-kesulitan yang berhubungan dengan masalah belajar, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Tujuan dari bimbingan belajar ini ialah siswa belajar lebih baik. Dengan bimbingan belajar diharapkan setiap siswa dapat belajar dengan sebaik mungkin, sesuai dengan kemampuan yang ada pada dirinya.

  Ada siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar dan ada siswa yang tidak mengalami kesulitan belajar. Siswa yang mengalami kesulitan maupun siswa yang tidak mengalami kesulitan belajar berharap akan memperoleh pengetahuan baru, keterampilan baru, dan sikap baru. Banyak siswa berkesulitan belajar matematika karena kurang kesiapan siswa itu sendiri untuk mempelajari mata pelajaran matematika. Diperlukan banyak waktu dan tenaga untuk membangun kesiapan belajar agar anak tidak mengalami kesulitan dalam mempelajari mata pelajaran metematika, misalnya membangun kesadaran mereka untuk giat berlatih soal-soal matematika tanpa kenal putus asa.

  Banyak hal di sekitar kita yang selalu berhubungan dengan matematika misalnya saja mencari nomor rumah seseorang, telepon, jual beli barang, menukar uang, mengukur jarak dan waktu. Hitungan dasar yang melibatkan penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian harus dikuasai dengan sempurna. Setiap orang pasti bersentuhan dengan salah satu konsep dasar matematika dalam kesehariannya. Jadi matematika bukan cuma berhitung atau hanya memasukkan rumus-rumus. Belajar matematika juga membutuhkan kemampuan bahasa, untuk bisa mengerti soal atau mengerti logika, juga imajinasi dan kreativitas (Ariesandi Setyono, 2005: 1).

  Banyak siswa kelas VIII SMP Pangudi Luhur 2 Yogyakarta mengeluh ketika mempelajari matematika di sekolah. Hal ini mungkin disebabkan karena kurangnya minat dan motivasi belajar siswa terhadap mata pelajaran matematika karena matematika terasa sulit sebab rumus-rumusnya demikian kompleks. Oleh karena itu metode mengajar guru harus disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik siswa yang sulit memahami rumus. Selain itu dari pihak siswa perlu adanya minat dan motivasi untuk mempelajari matematika. Hudoyo (1980:12) mengatakan matematika berkenaan dengan ide-ide, struktur-struktur dan hubungan-hubungannya yang diatur menurut urutan yang logis dan konsep-konsep abstrak.

  Menurut Hallahan Kauffman, dan Lloyd (1985:14) kesulitan belajar adalah suatu gangguan dalam satu atau lebih dari proses psikologis dasar yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa atau tulisan. Gangguan tersebut mungkin menampakkan diri dalam bentuk kesulitan mendengarkan, berpikir, berbicara, membaca, menulis, mengeja, atau berhitung.

  Menurut Ahmadi dan Widodo ada dua aspek yang menjadi penyebab siswa mengalami kesulitan belajar, yaitu meliputi aspek intern dan aspek ekstern. Aspek intern yaitu yang terdapat dalam diri siswa, antara lain : kesulitan belajar faktor psikologis seperti inteligensi, bakat, minat, dan motivasi, faktor kesehatan. Aspek ekstern yaitu yang terletak di luar diri siswa, yaitu orang tua yang kurang memperhatikan pendidikan anak-anaknya, mungkin acuh tak acuh, suasana rumah/keluarga yang sangat ramai tidak mungkin anak dapat belajar dengan baik, keadaan ekonomi keluarga merupakan faktor yang sangat penting karena belajar dan kelangsungannya sangat memerlukan biaya, misalnya membeli alat-alat sekolah, uang sekolah dan biaya-biaya yang lain. Faktor sekolah juga mempengaruhi kesulitan dalam belajar khusunya guru yang menuntut standar pelajaran di atas kemampuan siswa. Faktor alat yang kurang lengkap, kondisi gedung yang tidak nyaman akan banyak menimbulkan kesulitan dalam belajar.

  Berdasarkan uraian di atas peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian mengenai tingkat kesulitan belajar matematika siswa kelas VIII SMP Pangudi Luhur 2 Yogyakarta. Ada dua alasan mengapa peneliti tertarik untuk mempelajari kesulitan belajar matematika siswa. Pertama, peneliti pernah melaksanakan PPL (Program Pengalaman Lapangan) di SMP tersebut. Selama ber-PPL peneliti memperoleh pengalaman bahwa siswa sering mengeluh mengenai kesulitan belajar matematika. Kedua, dari pembicaraan dengan guru pembimbing, peneliti memperoleh informasi bahwa kurang minat siswa terhadap matematika sehingga pihak sekolah ingin mengetahui penyebab kesulitan belajar matematika siswa dengan lebih jelas.

  Peneliti ingin mengetahui bagaimana tingkat kesulitan belajar siswa dalam mata pelajaran matematika. Dengan demikian peneliti dapat memberikan masukan ke guru Bimbingan dan Konseling bahwa pembimbing di sekolah juga perlu mengadakan layanan bimbingan bagi siswa yang benar- benar membutuhkan layanan bimbingan individu dan layanan bimbingan kelompok untuk mengatasi kesulitan belajar siswa. Menurut Singgih D.

  Gunarsa (1981:25) bimbingan belajar sangat dibutuhkan bagi siswa agar siswa dapat cepat tanggap dalam penguasaan materi di sekolah, selain itu juga siswa diharuskan cekatan dan tangkas dalam mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh guru. Selain memberikan layanan bimbingan belajar, guru pembimbing juga dapat memberikan layanan bimbingan individu untuk memberikan bantuan secara pribadi berdasarkan ungkapan informasi dari siswa. Guru pembimbing membantu siswa berupa pemberian informasi dan pemberian alternatif penyelesaian masalah yang sesuai dengan diri siswa.

  Melalui bimbingan belajar, baik yang bersifat pencegahan, pengembangan, ataupun penyembuhan, diharapkan siswa akan semakin memiliki kegiatan belajar yang baik. Dengan memiliki kegiatan belajar yang baik, yang dilakukan terus-menerus selama belajar di sekolah tersebut, diharapkan siswa akan memperoleh hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan kemampuannya. Siswa yang sudah mengetahui penyebab kesulitan belajar yang dialaminya diharapkan dapat mengembangkan ketrampilan belajar matematika. B.

  Perumusan Masalah Bagaimana tingkat kesulitan belajar siswa kelas VIII SMP Pangudi Luhur 2

  Yogyakarta tahun ajaran 2008/2009 dalam mata pelajaran matematika ? C. Tujuan Penelitian :

  Tujuan penelitian ini adalah memperoleh gambaran mengenai tingkat kesulitan belajar siswa kelas VIII SMP Pangudi Luhur 2 Yogyakarta tahun ajaran 2008/2009 dalam mata pelajaran matematika.

  D.

  Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi : 1.

  Guru Pembimbing Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi guru pembimbing dalam menyusun program bimbingan belajar untuk siswa kelas VIII SMP Pangudi Luhur 2 Yogyakarta tahun ajaran 2008/2009 dalam mata pelajaran matematika.

  2. Guru mata pelajaran matematika Hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai dasar pertimbangan dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas dan menemukan cara yang tepat dalam memajukan prestasi belajar siswa.

  3. Peneliti lain Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi peneliti lain yang akan meneliti tentang hal yang sama. E.

  Definisi Operasional 1.

  Tingkat kesulitan belajar siswa dalam mata pelajaran matematika adalah taraf kesukaran yang dialami siswa dalam mata pelajaran matematika, yang mencakup aspek intern dan aspek ekstern.

BAB II KAJIAN PUSTAKA Bab ini memuat tinjauan pustaka mengenai topik-topik yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti. A. Mata pelajaran Matematika 1. Pengertian Matematika Matematika adalah salah satu ilmu yang sangat penting untuk setiap orang. Mata pelajaran matematika merupakan ilmu terstruktur

  yang penuh dengan simbol-simbol. Dalam mempelajari mata pelajaran matematika, siswa berlatih membaca uraian-uraian atau kalimat-kalimat yang dinyatakan dalam simbol-simbol bilangan, gambar, dan grafik sehingga dapat memahami makna yang terkandung di dalamnya.

  Pemahaman akan simbol matematika nampak pada penyusunan kembali dalam bahasa siswa sendiri. Menurut H.W. Fowler dalam Pandoyo (1997:1) matematika merupakan mata pelajaran yang bersifat abstrak, sehingga dituntut kemampuan guru untuk dapat mengupayakan metode yang tepat sesuai dengan tingkat perkembangan mental siswa. Untuk itu diperlukan model dan media pembelajaran yang dapat membantu siswa untuk mencapai kompetensi dasar dan indikator pembelajaran.

  Menurut Palling (1982:2), ide manusia tentang matematika berbeda-beda, tergantung pada pengalaman dan pengetahuan masing- masing. Ada yang mengatakan bahwa matematika hanya perhitungan yang mencakup tambah, kurang, kali, dan bagi; tetapi ada pula yang melibatkan topik-topik seperti aljabar, geometri, dan trigonometri.

  Banyak pula yang beranggapan bahwa matematika mencakup segala sesuatu yang berkaitan dengan berpikir logis. Selanjutnya, Palling mengemukakan bahwa matematika adalah suatu cara untuk menemukan jawaban terhadap masalah yang dihadapi manusia; suatu cara menggunakan informasi; menggunakan pengetahuan tentang bentuk dan ukuran, menggunakan pengetahuan tentang menghitung, dan yang paling penting adalah memikirkan dalam diri manusia itu sendiri dalam melihat dan menggunakan hubungan-hubungan.

  Ada banyak alasan tentang perlunya siswa belajar matematika. Cornelius (1982:38) mengemukakan lima alasan perlunya belajar matematika karena matematika merupakan (1) sarana berpikir yang jelas dan logis, (2) sarana untuk memecahkan masalah kehidupan sehari-hari, (3) sarana mengenal pola-pola hubungan dan generalisasi pengalaman, (4) sarana untuk mengembangkan kreativitas, dan (5) sarana untuk meningkatkan kesadaran terhadap perkembangan budaya.

  Kurikulum Berbasis Kompetensi Kurikulum 2004 untuk Sekolah Menengah Pertama (Depdiknas,2003:8) menyatakan bahwa potensi siswa harus dapat dikembangkan secara optimal. Di dalam proses belajar matematika siswa dituntut untuk mampu mengembangkan kreatifitas dengan imajinasi, intuisi dan penemuannya, mampu melakukan kegiatan pemecahan masalah dalam soal-soal matematika, mampu mengkomunikasikan pemikiran matematisnya kepada orang lain. Untuk mencapai kemampuan tersebut perlu dikembangkannya proses belajar matematika yang menyenangkan, memperhatikan keinginan siswa, membangun pengetahuan dari apa yang diketahui siswa, menciptakan suasana kelas yang mendukung kegiatan belajar, memberikan kegiatan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran, memberikan kegiatan yang menantang, memberikan kegiatan yang memberi harapan keberhasilan, menghargai setiap pencapaian siswa (Depdiknas, 2003:6).

  Dalam kurikulum 2004 pada jenjang pendidikan menengah mengatakan bahwa guru dalam melakukan pembelajaran matematika harus bisa membuat situasi yang menyenangkan, memberikan alternatif penggunaan alat peraga atau media pembelajaran yang bisa digunakan pada berbagai tempat dan keadaan, baik di sekolah maupun di rumah. Dalam kurikulum 2004 pembelajaran matematika mempunyai beberapa tujuan khusus antara lain :

  1. Melatih cara berfikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan, misalnya melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi, eksperimen, menunjukkan kesamaan, perbedaan, konsistensi dan inkonsistensi

  2. Mengembangkan aktifitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi, dan penemuan dengan mengembangkan divergen, orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan, serta mencoba-coba.

Mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi atau mengkomunikasikan gagasan antara lain melalui pembicaraan

  lisan, catatan, grafik, diagram, dalam menjelaskan gagasan.

  Materi pokok matematika adalah materi yang dipelajari oleh siswa, sebagai sarana untuk memperoleh kompentensi dasar. Berikut materi pokok pembelajaran matematika Siswa Kelas VIII di SMP Pangudi Luhur 2 yang sudah disesuaikan dengan kompetensi dasar dan standar kompetensi.

  Materi pokok mata pelajaran Matematika SMP Kelas VIII semester I meliputi :

  a) Faktorisasi suku aljabar

  b) Fungsi

  c) Persamaan garis lurus

  d) Sistem persamaan linear 2.

  Geometri dan pengukuran

  a) Sistem persamaan linear dua variabel

  b) Dalil Pythagoras

  c) Garis-garis pada segitiga lingkaran

  d) Garis singgung lingkaran Pelajaran Matematika Kesulitan belajar siswa menunjuk pada suatu keadaan yang menandakan siswa tidak lancar dalam kegiatan belajar. Belajar matematika dikatakan sulit oleh siswa karena siswa kurang sering mengerjakan latihan-latihan yang diberikan guru dan tidak mempelajari ulang bahan yang telah diterima di sekolah. Seorang siswa gagal dalam mempelajari matematika karena tidak dirasakan masalah dalam hidupnya di mana matematika sungguh-sungguh diperlukan dan dibutuhkan untuk memecahkan masalahnya, matematika disajikan sedemikian rupa sehingga siswa tidak melihat hubungan di dalam keseluruhan pelajaran itu.

  Proses belajar akan menjadi lancar jika belajar itu sendiri dilakukan secara kontinyu dan banyak latihan soal. Latihan soal metematika baik jumlah soal, maupun variasi bentuk soal sehingga akan memperluas pandangan terhadap berbagai masalah matematika. Semakin banyak bentuk soal dan jenis soal matematika yang pernah diselesaikan semakin mudah jika sewaktu-waktu menghadapi soal-soal yang serupa.

  Matematika dianggap sebagai suatu pelajaran yang sukar, dibandingkan dengan mata pelajaran yang lain. Kesulitan bahan pelajaran matematika mempengaruhi siswa dalam belajar. Makin sulit pelajaran matematika makin lambat siswa mempelajarinya. Bahan yang sulit memerlukan aktifitas belajar yang lebih intensif.

  Menurut (L. Sugeng Tri H, guru mata pelajaran matematika kelas

  VII), salah satu yang dapat menunjukkan kesulitan belajar siswa kelas

  VIII SMP Pangudi luhur 2 Yogyakarta ialah nilai rapor pada kelas VII akhir semester I untuk mata pelajaran matematika: nilai rata-rata hanya 6 atau bahkan kurang yaitu 5. Keadaan ini sangat memprihatinkan jika siswa tidak merubah cara belajarnya, karena secara tidak langsung akan berpengaruh pada hasil belajar siswa dalam mata pelajaran matematika pada akhir semester II yang akan mengakibatkan siswa tidak naik ke kelas VIII.

  B.

  Pentingnya Belajar Matematika Bagi Siswa Kelas VIII di SMP Pangudi Luhur 2 1.

Arti Belajar Matematika

  Ada beberapa definisi tentang belajar. Berikut ini dikemukakan beberapa definisi belajar. Menurut Winkel (1996:53) mendefinisikan belajar sebagai “suatu aktivitas mental psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan sikap”. Menurut Slameto (2003:2) mendefinisikan belajar adalah “suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.

  Dalam konteks belajar matematika, siswa SMP Pangudi Luhur 2 Yogyakarta, maka pemahaman siswa sewaktu mempelajari rumus-rumus matematika dan memahami bentuk aljabar dalam pemecahan masalah diharapkan siswa mempunyai ketrampilan supaya dapat menyelesaikan masalah-masalah matematika dengan mengerjakan latihan-latihan soal dan pekerjaan rumah. Hal ini merupakan tingkat lebih tinggi dari pada hanya sekedar ingat prosesnya melibatkan berpikir kritis dan pemecahan masalah. Motivasi terbaik sehingga belajar bisa efektif seperti apabila siswa aktif, tidak pasif sebagai penerima saja.

  Menurut Ahmadi dan Widodo (2003:77) menyebutkan pengertian kesulitan belajar adalah “keadaan yang dialami anak didik atau siswa yang tidak dapat belajar sebagaimana mestinya”. Banyak siswa berkesulitan belajar matematika disebabkan kurangnya kesiapan siswa untuk mempelajari mata pelajaran matematika. Maka diperlukan banyak keterampilan dalam belajar matematika. Keterampilan dalam membaca soal, menulis rumus dan menghitung. Apabila siswa tidak mempunyai keterampilan untuk memahami setiap materi yang diberikan guru maka siswa akan mengalami kesulitan dalam belajar sehingga siswa gagal dan prestasinya menjadi rendah. Siswa yang mengalami kesulitan belajar memiliki hambatan-hambatan sehingga menampakkan gejala-gejala yang bisa diamati oleh orang lain yaitu guru dan pembimbing.

  Menurut Ahmadi dan Widodo (2003:94) ada lima gejala sebagai pertanda adanya kesulitan belajar, misalnya : a.

Menunjukkan prestasi di bawah rata-rata yang dicapai oleh kelompok kelas

  Menurut keterangan dari guru mata pelajaran matematika di SMP Pangudi Luhur 2 untuk kelas VII banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam mata pelajaran matematika karena kurangnya kesiapan belajar siswa terhadap mata pelajaran tersebut sehingga nilai rata-rata yang mereka dapat hanya 6 dan bahkan kurang yaitu 5.

  b.

Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan. Ia sudah berusaha keras tetapi nilainya selalu kurang

  Siswa dalam belajar matematika hanya menghafal dan tidak dipahami penuh oleh siswa. Sedangkan siswa sudah belajar keras untuk dapat menghafal. Belajar dengan menghafal berarti bahwa belajar dikerjakan dengan cara mekanis, sekedar suatu latihan mengingat tanpa siswa akan menjumpai kesulitan. Jika matematika dipelajari dengan hafalan, maka siswa akan menjumpai kesulitan, sebab bahan pelajaran yang diperoleh dengan hafalan belum siap pakai. Untuk menyelesaikan masalah bahkan juga dalam situasi-situasi yang mirip dengan bahan yang dipelajari. Maka siswa tidak mendapat hasil belajar yang baik, karena sistem belajar yang ia terapkan tidak tepat. c.

Lambat dalam melakukan tugas-tugas belajar. Ia selalu tertinggal dengan kawan-kawannya dalam semua hal, misalnya

  dalam mengerjakan soal-soal dalam menyelesaikan tugas-tugas.

  Siswa lambat dalam melakukan tugas-tugas belajar disebabkan kurangnya konsentrasi siswa dalam belajar. Siswa yang mengalami kesulitan konsentrasi ini disebabkan karena kurang berminat terhadap mata pelajaran tersebut, bosan terhadap pelajaran tersebut dan kurangnya kesiapan untuk mempelajari bidang studi tertentu sehingga siswa tidak pernah memperhatikan atau bertanya bila ia mengalami kesulitan untuk memahami materi tersebut. Sehingga ia akan tertinggal dengan teman-temannya yang ikut bepartisipasi aktif dalam pelajaran.

  d.

  Menunjukkan sikap yang kurang wajar.

  Siswa yang kurang senang dengan mata pelajaran matematika akan bersikap kurang baik ketika berada di kelas.

  Ketika guru sedang menerangkan di kelas siswa akan mengalihkan perhatiannya pada kegiatan lain. Misalnya berbicara dengan teman atau asik bermain pena.

  e.

Menunjukkan tingkah laku yang berlainan

  Sejak awal siswa yang kurang menyukai mata pelajaran matematika akan merasa tidak nyaman bila mengikuti pelajaran tersebut sehingga siswa akan menunjukkan perilaku yang negatif misalnya siswa akan membolos ketika pelajaran matematika, tidak mengerjakan PR, dan juga sering datang terlambat. Ini menunjukkan bahwa siswa tidak tertarik dalam mata pelajaran tersebut sehingga siswa selalu menghindar.

  Dari gejala-gejala yang tampak dari siswa maka siswa kelas

  VIII SMP Pangudi Luhur 2 Yogyakarta mengalami kesulitan belajar dalam mata pelajaran matematika. Ini terjadi karena cara belajar siswa yang salah dan ada pula faktor penyebab kegagalan siswa dalam kegiatan belajar. Itu terjadi di dalam diri siswa sendiri atau di luar diri siswa.

  Kesulitan belajar siswa menunjuk pada suatu keadaan yang menandakan siswa tidak lancar dalam kegiatan belajar. Ketidak lancaran kegiatan belajar siswa dalam mata pelajaran dapat dipengaruhi oleh beberapa Aspek, yaitu aspek intern dan ekstern, yaitu :

  1). Aspek Intern adalah faktor dari dalam diri manusia itu sendiri, yang meliputi: a. Kesehatan

  Siswa yang sakit dan kurang sehat akan mengalami kelemahan fisiknya, sehingga saraf sensoris dan motorisnya lemah.

  Akibatnya rangsangan yang diterima melalui indranya tidak dapat diteruskan ke otak sehingga siswa menjadi tidak dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Dalam konteks mata pelajaran siswa sangat membutuhkan konsentrasi yang tinggi karena menyangkut rumus-rumus dan hitungan.Bila kondisinya lemah maka siswa tidak dapat mengikuti pelajaran dengan baik maka siswa akan mengalami kesulitan dalam belajar.

  b.

  Psikologis 1)

Intelegensi

  Intelegensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. Siswa yang IQ-nya tinggi (110- 140) dapat menyelesaikan segala persoalan yang dihadapi dan digolongkan cerdas. Siswa yang memiliki IQ 140 ke atas digolongkan genius. Siswa yang IQ-nya normal (90-110) dapat menamatkan SD tepat pada waktunya. Siswa yang mempunyai IQ kurang dari 90 tergolong lemah mental (Ahmadi dan Widodo, 2003:81). Menurut Howard Gardner (2003:24:47) ada 9 intelegensi yang dimiliki oleh manusia yaitu intelegensi: linguistik, matematis-logis, ruang, kinestetik-badani, musical, interpersonal, intrapersonal, lingkungan/naturalis, eksistensial. Dalam konteks matematika berkaitan dengan intelegensi matematis-logis. Intelegensi matematis-logis adalah kemampuan dalam penggunaan bilangan dan logika secara efektif. Siswa dengan IQ yang tinggi secara matematis pasti cepat dan lancar untuk menyelesaikan soal-soal matematika, mampu menjelaskan masalah secara logis, menghitung dengan cepat di luar kepala, menggunakan angka-angka dan rumus. Siswa dengan

  IQ normal kemungkinan juga dapat mengerjakan soal-soal matematika dengan baik. Sedangkan siswa dengan IQ rendah kemungkinan besar mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal matematika. Selain itu kemampuann-nya dalam belajar matematika terutama mengenal simbol angka, memahami rumus-rumus dan berhitung dapat menyebabkan prestasi siswa menjadi rendah dalam mata pelajaran matematika.

  2)

Bakat

  Bakat adalah kemampuan bawaan yang merupakan potensi yang masih perlu dikembangkan atau dilatih untuk mencapai suatu kecakapan, pengetahuan dan ketrampilan khusus (Semiawan, 1984). Siswa yang memiliki kemampuan bawaan matematis maka dengan mudah belajar berhitung, bermain angka, menggunakan rumus-rumus dan menghitung luas bangun ruang menggunakan rumus itu. Dengan banyak berlatih akan mengembangkan kemampuannya dalam bidang/bakat matematika itu. Kelak kemudian hari akan memiliki ketrampilan matematis.

  3)

Minat

  Minat adalah aktivitas yang membangkitkan perasaan ingin tahu, perhatian, dan memberi kesenangan dan kenikmatan. Minat menjadi daya pendorong bagi siswa untuk melakukan apa yang siswa inginkan. Dalam konteks pelajaran matematika, siswa yang memiliki intelegensi dan bakat dalam bidang matematika akan terbangkitkan perasan ingin tahu dan perhatian pada hal-hal yang berkaitan dengan matematika. Siswa pun tidak mudah putus-asa dalam mengerjakan soal-soal matematika yang cenderung sulit. Bahkan saat dapat menyelesaikan soal yang rumit, siswa merasa senang dan bangga. Minat akan timbul apabila siswa menaruh perhatian terhadap mata pelajaran matematika. Minat dapat dipengaruhi dari faktor luar yaitu orang tua dan guru. Salah satu contoh : guru saat menerangkan mata pelajaran matematika dibuat dengan menarik sehingga menyebabkan siswa berminat untuk berperan aktif menjawab dan menanggapinya (Julaeha, 1999:183). 4)

Motivasi

  Motivasi adalah dorongan dari dalam untuk berbuat atau mengerjakan sesuatu (Permadi, 2000: 72). Menurut Ahmadi dan Widodo (2003:83) motivasi sebagai faktor inner (batin) berfungsi menimbulkan, mendasari, mengarahkan perbuatan belajar. Sedangkan motivasi terbagi menjadi dua, yaitu: a) motivasi intrinsik merupakan motivasi yang timbul dari dalam diri siswa itu sendiri, seperti harapan, minat, cita- cita; dan b) motivasi ekstrinsik merupakan motivasi yang muncul dari luar diri siswa, seperti kondisi lingkungan sekolah dan keadaan guru. Dalam konteks matematika, siswa yang memiliki intelegensi, bakat dan minat dalam bidang matematika maka akan memiliki hasrat/dorongan untuk belajar dan mengerjakan soal-soal matematika. Misalnya dengan menjawab soal latihan matematika, giat membaca buku-buku untuk meningkatkan prestasinya untuk memecahkan masalah matematika. Sebaliknya mereka yang motivasinya lemah untuk mempelajari matematika, tampak acuh tak acuh, mudah putus asa, perhatiannya tidak tertuju pada pelajaran matematika, akibatnya siswa banyak mengalami kesulitan belajar.

  2). Aspek Ekstern adalah faktor yang terletak di luar diri siswa, antara lain: a.

  Orang tua 1)

  Cara mendidik anak Orang tua yang kurang memperhatikan pendidikan anak- anaknya, mungkin acuh tak acuh, tidak memperhatikan kemajuan belajar anak-anaknya, akan menjadi penyebab kesulitan belajarnya. Orang tua yang bersifat kejam, otoriter, akan menimbulkan mental yang tidak sehat bagi anak. Hal ini akan berakibat anak tidak dapat nyaman di rumah. Sedangkan orang tua yang lemah, suka memanjakan anak, ia tidak rela anaknya bersusah payah belajar, menderita, berusaha keras, akibatnya anak tidak mempunyai kemampuan dan kemauan, bahkan sangat tergantung pada orang tua, hingga malas berusaha, malas menyelesaikan tugas-tugas sekolah hingga prestasinya menurun. Orang tua seperti itu tidak memberikan dorongan kepada anaknya, sampai anak menyukai belajar, bahkan karena sikap orang tuanya yang salah anak bisa benci belajar. Orang tua yang perhatian akan kegiatan belajar anaknya, ketika belajar orang tua akan mendampingi anaknya dalam belajar sehingga ketika anak mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas rumah yang diberikan di sekolah maka anak akan berusaha untuk bertanya kepada orang tuanya apa yang tidak ia mengerti sehingga anak akan merasa tertolong dan merasa nyaman bila dalam belajar didampingi orang tuanya.

  2) Hubungan orang tua dan anak

  Kasih sayang dari orang tua, perhatian atau penghargaan kepada anak menimbulkan mental yang sehat bagi anak, dan kurangnya kasih sayang akan menimbulkan gangguan emosional. Demikian juga sikap keras, kejam, acuh tak acuh.

  Seorang anak akan mengalami kesulitan belajar karena faktor tersebut. Kasih sayang di sini dimaksudkan orang tua selalu meluangkan waktu untuk anaknya, ketika anak butuh pendampingan saat belajar karena anak perlu dorongan dan pengertian orang tua. Kadang anak mengalami lemah semangat maka orang tua wajib memberi pengertian dan mendorongnya, membantu sedapat mungkin kesulitan yang dialami anak di sekolah.

  3)

Keadaan ekonomi keluarga

  Faktor biaya merupakan faktor yang sangat penting karena belajar dan kelangsungannya sangat memerlukan biaya, misalnya membeli alat-alat sekolah, uang sekolah dan biaya-biaya yang lain. Apabila anak kesulitan dalam belajar matematika biasanya anak memerlukan bimbingan belajar, anak tidak hanya belajar di sekolah melainkan dapat belajar di luar sekolah dengan mengikuti kursus. Tetapi karena keadaan ekonomi yang tidak memungkinkan maka ini akan menghambat kemajuan belajar anak. b.

Sekolah

  Lingkungan sekolah yang baik adalah lingkungan yang membantu siswa agar melaksanakan kegiatan belajar yang baik.

  Selama di sekolah siswa melakukan kegiatan belajar dengan tuntutan guru. Dalam kegiatan belajar matematika siswa diharapkan lebih aktif dan dapat bekerjasama dengan pihak guru. Siswa dapat mengerjakan latihan-latihan matematika yang diberikan guru dan menanyakan materi-materi yang serasa sangat sulit. Siswa yang tidak aktif, malas mengerjakan latihan-latihan, malu bertanya akan mengalami kesulitan dalam belajar matematika.

  c.

Kurikulum

  Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Pemilihan dan pengorganisasian bahan-bahan harus relevan dengan tujuan dan sesuai dengan tingkat kemampuan siswa. Di dalam pemilihan bahan-bahan, perlu diperhatikan pula arah perkembangan matematika. Materi pelajaran matematika harus sesuai dengan kebutuhan siswa. Kurikulum matematika harus disusun menurut kesatuan yang utuh. Apabila materi terlalu tinggi akan membawa kesulitan belajar bagi siswa. Sebaliknya kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan anak, akan membawa kesuksesan dalam belajar.

  C.

Bimbingan Belajar Matematika

  Bimbingan belajar sering disebut bimbingan akademik, yaitu “Bimbingan dalam hal menemukan cara belajar yang tepat, dapat memilih program studi yang sesuai dan dalam mengatasi kesukaran yang timbul berkaitan dengan tuntutan belajar disuatu institusi pendidikan” (Winkel dan Sri Hastuti, 2004:116). Belajar merupakan inti dari kegiatan pengajaran di sekolah, maka wajiblah siswa dibimbing agar tercapai tujuan belajarnya.

  Dalam proses belajar mengajar tidak jarang timbul persoalan antara materi pelajaran dan tujuannya dengan ciri-ciri pribadi siswa. Dalam hal ini kerjasama atau bantuan guru pembimbing sangat diperlukan guru (Andi Mappiare, 1984:160).

  Guru pembimbing juga memiliki pengetahuan yang luas tentang belajar. Meskipun guru pembimbing tidak secara langsung mengajar di depan kelas seperti guru bidang studi, namun perannya dalam membantu siswa dalam memperoleh hasil belajar yang maksimal sangat besar.

  Kegiatan-kegiatan bimbingan bersifat menemukan, menyadarkan, dan memecahkan masalah-masalah yang dihadapi siswa yang berkaitan dengan belajarnya. Proses selanjutnya guru pembimbing dapat melihat perkembangan belajar para siswa untuk kemudian menentukan materi bimbingan belajar yang dibutuhkan siswa secara tepat. Semakin tinggi kelas siswa, tuntutan belajar yang dihadapinya juga semakin berat.

  Dalam proses belajar di SMP Pangudi Luhur 2 Yogyakarta, terdapat siswa yang mengalami masalah dalam belajarnya khususnya dalam mata pelajaran matematika yang dianggapnya sangat sulit, hal ini mungkin disebabkan kurangnya minat dan motivasi siswa terhadap mata pelajaran matematika. Belajar yang tidak ada minatnya mungkin tidak sesuai dengan bakatnya, dan tidak sesuai dengan kebutuhan. Motivasi belajar dapat meningkat apabila guru membangkitkan minat siswa, memelihara rasa ingin tahu mereka, menggunakan berbagai macam strategi pengajaran, dan kemudian memberikan umpan balik.

  Pembelajaran matematika pada siswa, terutama pada saat SD sangat berpengaruh terhadap keseluruhan proses mempelajari matematika di tahun-tahun berikutnya. Jika konsep dasar yang diletakkan kurang kuat atau siswa mendapatkan kesan buruk pada perkenalan pertamanya dengan matematika, maka tahap berikutnya akan menjadi masa-masa sulit dan penuh perjuangan. Karena itu pelajaran matematika pun tidak pernah terjadi proses dalam otak, akibatnya daya serap siswa terhadap mata pelajaran matematika sangat kurang. Siswa yang menghadapi masalah dalam kegiatan belajarnya secara individu dapat diberikan layanan bimbingan belajar yang bersifat pribadi sesuai dengan masalah yang saat itu sedang dihadapinya, atau bila ada beberapa siswa mengalami masalah belajar hampir senada, guru pembimbing dapat memberikan layanan bimbingan belajar secara kelompok sesuai dengan masalah yang sedang mereka hadapi.

  Bimbingan individu dilaksanakan apabila jumlah siswa yang dibimbing sedikit atau bersifat pribadi. Guru pembimbing langsung memberikan bantuan berdasarkan ungkapan informasi dari siswa, berupa pemberian informasi dan pemberian alternatif penyelesaian yang sesuai dengan diri siswa. Sedangkan bimbingan kelompok dilaksanakan apabila siswa yang dibimbing jumlahnya banyak. Dengan memberikan layanan bimbingan belajar secara individu atau kelompok kepada siswa yang bermasalah dalam belajar, diharapkan siswa akan segera dapat mengatasi masalah belajarnya.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif dengan metode survei. Menurut Furchan (1982:415) penelitian deskriptif dirancang untuk memperoleh informasi tentang status gejala pada suatu penelitian dilakukan. Sukardi

  (2003:157) mengartikan penelitian deskriptif sebagai “metode penelitian yang berusaha menggambarkan dan menginterpretasikan objek sesuai dengan apa adanya”.

  Menurut Rahmat (1989) penelitian deskriptif bertujuan:(1) mengumpulkan informasi aktual secara rinci yang melukiskan gejala yang ada, (2) mengidentifikasikan masalah atau memeriksa kondisi dan praktek yang dilakukan orang lain dalam menghadapi masalah yang sama dan belajar dari pengalaman mereka untuk menetapkan rencana dan keputusan pada waktu yang akan dating. Penelitian deskriptif dirancang untuk mengetahui sikap, pendapat, informasi, keadaan dan prosedur.

  Penelitian ini bertujuan memperoleh gambaran mengenai bagaimana tingkat kesulitan belajar matematika siswa kelas VIII SMP Pangudi Luhur 2 Yogyakarta tahun ajaran 2008/2009 dan menentukan aspek kesulitan belajar matematika manakah yang paling tinggi menurut siswa kelas VIII SMP Pangudi Luhur 2 Yogyakarta Tahun ajaran 2008/2009. B.

  Alat Pengumpul Data 1.

Kuesioner

  Alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuesioner tingkat kesulitan belajar matematika yang disusun sendiri oleh peneliti. Kuesioner adalah sekumpulan daftar pertanyaan tertulis yang diberikan kepada subjek penelitian (Furchan, 1982:249). Jenis kuesioner yang digunakan adalah kuesioner langsung tertutup, artinya responden menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan dirinya dan sudah disediakan jawabannya, sehingga responden tinggal memilih jawaban yang tersedia dan sesuai dengan dirinya dangan memberikan tanda check ( ) (Arikunto, 2002:129). Instrument tingkat kesulitan belajar berisi 72 item pertanyaan terbagi menjadi dua faktor penyebab kesulitan belajar, yaitu item nomor 1 sampai 42 berisi faktor intern atau faktor di dalam pribadi siswa dan nomor item 43 sampai 72 berisi faktor ekstern atau faktor di luar pribadi siswa.

  Kuesioner terdiri dari beberapa bagian yaitu : pertama berisi identitas dan petunjuk pengisian, bagian kedua berisi tentang pernyataan.

  Kuesioner kegiatan belajar matematika siswa merupakan penjabaran dari teori yang tersaji dalam bab II digambar pada tabel 1. Tabel 1. Indikator Kuesioner Tingkat Kesulitan Belajar Matematika Siswa Kelas VIII SMP Pangudi Luhur 2 Yogyakarta Tahun Ajaran 2007/2008

  No Aspek Indikator Nomor Item Jumlah

  1 Intern:

  a. 1,2,,3,4,5,6,7

  7 Faktor Kesehatan Di dalam diri b.

  Faktor Psikologis siswa 1) 8,9,10,11,12,

  9 Intelegensi 13,14,15,16

  2) 17,18,19,20,21,

  8 Bakat 22,23,24

  3) 25,26,272,28,29,30

  10 Minat 31,32,33,34

  4) 35,36,37,38,39,40,

  9 Motivasi 4142,43

  2 Ekstern: a.

  Faktor Orang Tua Di luar diri 1) 44,45,46,47,48,49,

  7 Cara mendidik anak siswa 2) Orang

  50

  7 Hubungan Tua dan Anak 51,52,53,54,55,56,

  3)

  57

  5 Keadaan ekonomi keluarga b. 58,59,60,61,62

  5 Faktor Sekolah

  c. 63,64,65,66,67

  5 Kurikulum 68,69,70,71,72 Total Item

  72 Kuesioner ini memakai skala Likert. Skala Likert adalah suatu instrument pengukuran sikap yang terdiri daftar pernyataan (Hamalik, 2003:150). Skala ini memiliki alternatif jawaban masing-masing yaitu, Selalu, sering kali, kadang-kadang, tidak pernah. Untuk memberi skor pada skala Likert, jawaban diberi bobot disamakan dengan nilai kuantitatif 4,3,2,1 untuk empat jawaban positif dan 1,2,3,4 untuk pernyataan negatif (Sukardi, 2003:147). Skor untuk alternatif jawaban selalu memperoleh skor 4 ; untuk jawaban sering kali memperoleh skor 3; untuk jawaban kadang-kadang memperoleh skor 2; untuk jawaban tidak pernah mendapat skor 1. Skoring untuk peryataan negatif alternatif jawaban selalu memperoleh skor 1; untuk jawaban sering kali memperoleh skor 2; untuk jawaban kadang-kadang memperoleh skor 3; untuk jawaban tidak pernah memperoleh skor 4. Ada 10 pernyataan negatif yaitu nomor 1,5,8,9,13, 18,28,36,69,71,72.

  Penentuan kategori rendah dan kategori tinggi berdasarkan Mean, dikarenakan Mean mempunyai stabilitas yang terbesar (Hadi, 2004: 59).

  Skor Mean termasuk kategori tinggi. Skor < Mean termasuk kategori rendah. Mean adalah jumlah semua nilai dalam suatu sebaran dibagi dengan jumlah kasus (Furchan, 2005 : 158). Menghitung Mean menggunakan rumus:

  Σ

  X M = N

  :

  Keterangan

  M = Mean Σ X = jumlah semua skor N = jumlah siswa a. Validitas Kuesioner Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya.

  Suatu tes atau instrumen pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila alat tersebut menjalankan fungsi ukurnya, atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran. Suatu alat ukur yang valid, tidak sekedar mampu mengungkapkan data dengan tepat akan tetapi juga harus memberikan gambaran yang cermat mengenai data tersebut (Azwar, 1997:5).

  Validitas yang digunakan adalah validitas isi. Validitas yang dipakai dalam penelitian ini adalah validitas isi (content validity), sebab item- item dari kuesioner tingkat kesulitan belajar matematika merupakan penjabaran dari teori yang tersaji dalam bab II yang mencakup faktor intern dan faktor ekstern. Hal ini dilakukan untuk menyusun validitas kuesioner.

  Validitas isi (content validity) menunjuk pada sejauh mana instrumen tersebut mencerminkan isi yang dikehendaki (Furchan, 2005:295). Dalam pelaksanaannya peneliti meminta pendapat dan mengkonsultasikan kuesioner kesulitan belajar matematika siswa kelas

  VIII kepada dosen pembimbing untuk memeriksa setiap butir item pernyataan kuesioner, supaya setiap item pernyataan yang dibuat tepat aspek ekstern, dan sesuai dengan tujuan penelitian tingkat kesulitan belajar matematika siswa kelas VIII SMP Pangudi Luhur 2 Yogyakarta tahun ajaran 2008/2009.

  b. Reliabilitas Reliabilitas adalah taraf sampai di mana suatu alat ukur menunjukkan konsistensi hasil pengukurannya. Untuk mencari taraf reliabilitas digunakan metode belah dua (Split-half method). Metode ini mempergunakan satu kali pelaksanaan (satu kali pengukuran).

  Oleh karena itulah metode ini lebih efisien. Pendekatan yang digunakan untuk memeriksa reliabilitas kuesioner adalah teknik belah dua gasal-genap (Split Half Method). Bagian pertama berupa item- item yang bernomor gasal (36 item), dan bagian kedua berupa item- item yang bernomor genap (36 item).

  Hasil penghitungan koefisien reliabilitas dan validitas kuesioner disajikan pada tabel berikut.

  Tabel 2. Hasil Penghitungan Koefisien Reliabilitas dan Validitas Tingkat Kesulitan Belajar matematika

  Koefisien Siswa Reliabilitas 0,87 Validitas 0,93 Garrett (1967: 176) mengemukakan suatu deskripsi tentang penafsiran koefisien korelasi sebagai berikut.

  Tabel 3. Kualifikasi Koefisien Reliabilitas dan Validitas Suatu Alat Ukur

  Koefisien Korelasi Kualifikasi 0,70 − ± 1,00 Tinggi atau sangat tinggi

  ± 0,40 − ± 0,70 Cukup

  ± ± 0,20 − ± 0,40 Rendah

  0,00 − ± 0,20 Tidak ada atau sangat rendah Berdasarkan tabel kualifikasi di atas disimpulkan bahwa koefisien reliabilitas dan koefisien validitas kuesioner termasuk sangat tinggi jadi dapat dikatakan bahwa alat ukur yang digunakan dalam penelitian adalah reliabel.

  C.

Populasi dan Sampel

  Populasi penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Pangudi Luhur 2 Yogyakarta tahun ajaran 2008/2009 yang berjumlah 122 siswa. Peneliti memilih kelas VIII sebagai subjek penelitian dengan pertimbangan bahwa siswa kelas VIII sudah mempunyai pengalamaan belajar yang cukup lama di SMP Pangudi Luhur 2, sehingga siswa dianggap mampu menyadari dan merefleksikan kesulitan-kesulitan belajar yang dialaminya. Populasi penelitian adalah populasi terbatas, menurut rencana ada 122 siswa yang terlibat dalam penelitian namun karena ada siswa yang tidak masuk pada saat penelitian, maka siswa yang terlibat dalam penelitian menjadi 118 siswa. Jadi sampel penelitian dengan jumlah 118 siswa disajikan dalam tabel berikut. Tabel 4. Data populasi dan sampel SMP Pangudi Luhur 2 Yogyakarta tahun ajaran 2008/2009

  Kelas Jumlah Populasi Jumlah Sampel

  VIII A

  31

  30 VIII B

  31

  30 VIII C

  30

  29 VIII D

  30

  29 Total 122 118 D.

  Prosedur Pengumpulan Data 1.

  Tahap Persiapan a.

  Meminta ijin kepala sekolah SMP Psngudi Luhur 2 Yogyakarta untuk melakukan penelitian.

  b.

  Menemui koordinator bimbingan untuk meminta jadwal bimbingan klasikal untuk dijadikan jadwal penelitian. Tabel 5. Jadwal pengumpulan data penelitian Kelas Tanggal Pengisian Waktu Jumlah Siswa

  Data Pengumpulan Data Yang Hadir

  VIII A

  20 September 2008 09.00-09.40

  30 VIII B

  19 September 2008 09.55-10-35

  30 VIII C

  19 September 2008 10.35-11.00

  29 VIII D

  20 September 2008 09.40-10.20

  29 E. Teknik Analisis Data 1.

  Perhitungan Reliabilitas Kuesioner Tingkat Kesulitan Belajar Matematika Langkah a: Menghitung koefisien korelasi skor item gasal dan skor item genap menggunakan Product Moment dari Pearson dengan rumus:

  N

  XY _ (

X )( Y )

r = XY 2 2 2 2 N X

  

X N YY

{ ( ) } { ( ) }

  :

  Keterangan r = korelasi skor-skor belahan gasal dan genap XY N = jumlah subyek X = skor item belahan gasal Y = skor item belahan genap

  XY = hasil perkalian antara skor X dan skor Y

  Langkah b: Menghitung koefisien reliabilitas kuesioner Tingkat Kesulitan Belajar Matematika dengan menggunakan rumus Spearman-Brown:

  • × =

  ∞ t r = koefisien validitas tt r = koefisien reliabilitas 3.

  : M = Mean Σ

  Keterangan

  Σ =

  X M

  N

  Perhitungan Mean Menghitung Mean menggunakan rumus:

  ∞ Keterangan :

  gg gg tt r r r

  tt t r r =

  Perhitungan Validitas Kuesioner Tingkat Kesulitan Belajar Matematika Menghitung koefisien validitas kuesioner Tingkat Kesulitan Belajar Matematika dengan menggunakan rumus (Guilford, 1965: 443):

  r koefisien gasal-genap 2.

  = gg

  r koefisien reliabilitas

  = tt

  1

  X = jumlah semua skor N = jumlah siswa

  BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pada bagian ini berisi tentang hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian. Pembahasan dimulai dari rumus masalah, yaitu bagaimana tingkat kesulitan belajar matematika siswa kelas VIII SMP Pangudi Luhur 2 Yogyakarta Tahun ajaran 2008/2009? A.

Hasil Penelitian

  Tingkat kesulitan belajar matematika digolongkan dalam dua kategori yaitu kategori tinggi (T) dan kategori rendah (R). Siswa yang memperoleh skor kuesioner tingkat kesulitan belajar matematika sama atau diatas mean (skor M). Sedangkan siswa yang termasuk tingkat kesulitan kategori rendah (R) adalah para siswa yang memperoleh skor kuesioner tingkat kesulitan belajar di bawah mean (skor < M).

  Nilai rata-rata hitung tingkat kesulitan belajar matematika sebesar 188. Skor 188 ke atas termasuk kategori kesulitan belajar lebih tinggi dalam mata pelajaran matematika dan skor di bawah 188 termasuk kategori kesulitan belajar rendah dalam mata pelajaran matematika. jumlah siswa yang mengalami tingkat kesulitan belajar matematika disajikan dalam tabel berikut:

  Tabel 6. Tingkat kesulitan belajar matematika siswa kelas VIII SMP Pangudi Luhur 2 Yogyakarta tahun ajaran 2008/2009.

  Tingkat Kesulitan Belajar Matematika Total

  Rendah Tinggi 61 (52%) 57 (48%) N =118 (100%) Berdasarkan data ini disimpulkan bahwa jumlah siswa yang mengalami kesulitan rendah dalam mata pelajaran matematika lebih banyak dari pada jumlah siswa yang mengalami kesulitan belajar tinggi dalam mata pelajaran matematika.

  B.

Pembahasan

  Hasil penelitian ini adalah jumlah siswa yang mengalami tingkat kesulitan belajar rendah dalam mata pelajaran matematika lebih banyak yaitu 61 (52%) dari pada jumlah siswa yang mengalami kesulitan belajar tinggi dalam mata pelajaran matematika. Hal ini kemungkinan disebabkan karena siswa mengalami kesulitan belajar matematika dari aspek intern maupun ekstern. Dari aspek intern, (a) siswa kurang mempunyai minat dalam belajar matematika sebab siswa menganggap matematika sulit untuk dipelajari; (b) siswa juga kurang mempunyai motivasi untuk dapat berperan aktif di dalam kelas maupun di luar kelas dengan bertanya ketika siswa sulit memahami materi dan tugas. (c) siswa tidak mengikuti mata pelajaran matematika dengan penuh perhatian sehingga sulit untuk menerima dan mengingat materi yang diberikan guru; (d) siswa kurang berlatih dan mendiskusikan dengan teman ketika belum mengerti materi yang sudah diajarkan guru; (e) siswa juga kesulitan belajar jika menghadapi bahan pelajaran matematika yang terlalu banyak. Sedangkan dari aspek ekstern, (a) metode mengajar guru kurang jelas dan menarik bagi siswa; (b) kurangnya perlengkapan belajar siswa seperti buku wajib, buku penunjang, alat-alat tulis, dan kalkulator; (c) keadaan orang tua yang kurang memperhatikan anak saat belajar matematika di rumah; (d) siswa merasa kesulitan dengan bahan pelajaran yang terlalu banyak.

  Siswa yang mengalami kesulitan belajar lebih tinggi sedikit jumlahnya yaitu 57 (48%). Hal ini kemungkinan disebabkan dari aspek intern dan ekstern: dari aspek intern (a) siswa dengan cepat mempunyai keberanian mengerjakan soal-soal matematika yang diberikan oleh guru di papan tulis; (b) siswa juga teliti dan cermat dalam mengerjakan soal-soal matematika; (c) siswa berperan aktif di dalam kelas dan mau bertanya kepada guru ketika sulit memahami tugas matematika yang diberikan; (d) siswa mendengarkan penuh perhatian petunjuk untuk mengerjakan tugas metematika yang diberikan guru di kelas. Sedangkan dari aspek ekstern, siswa dapat menerima materi yang diberikan guru matematika dengan jelas sehingga siswa dapat mengikuti pelajaran matematika dengan baik.

  Kesulitan belajar siswa dalam mata pelajaran matematika dapat dilihat dari aspek-aspek kesulitan belajar yang lebih banyak dialami siswa, yaitu: Tabel 7. Persentase Keseluruhan Aspek-aspek dalam Aspek Intern dan

  Aspek Ekstern Tingkat Kesulitan Belajar dalam Mata Pelajaran Matematika

  No Aspek-aspek Skor yang diperoleh Skor yang seharusnya diperoleh

  Persentase

  1 Psikologis 10995 16520 66,55%

  2 Kurikulum 1827 2832 64,51%

  3 Sekolah 1515 2360 64,19%

  4 Orang Tua 5632 8968 62,80%

  5 Kesehatan 2068 3304 62,59% Dari tabel di atas menjelaskan bahwa aspek kesulitan belajar dalam mata pelajaran matematika yang banyak dialami siswa kelas VIII SMP

  Pangudi Luhur 2 Yogyakarta tahun ajaran 2008/2009 adalah aspek psikologis.

  Aspek kesulitan belajar matematika yang banyak dialami siswa adalah aspek intern yaitu faktor psikologis dengan persentase 66,55% yang termasuk di dalamnya intelegensi (22%), bakat (22%), minat (28%) dan motivasi (25%) ini membuktikan bahwa siswa mengalami kesulitan belajar matematika.

  Kesulitan belajar matematika di segi minat dipengaruhi oleh aspek intern dan aspek ekstern. Dari aspek intern, seperti: hilangnya dorongan belajar siswa untuk mengikuti pelajaran matematika. Dari aspek ekstern, seperti: kurangnya perhatian dari orang tua untuk mendukung kegiatan belajar siswa, penyajian materi oleh guru matematika yang dirasakan oleh siswa kurang menarik dan kurang bervariasi sehingga siswa kurang terdorong untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran.

  Kesulitan belajar matematika di segi motivasi dapat dipengaruhi dari aspek intern dan aspek ekstern. Dari aspek intern, seperti: kurangnya semangat untuk belajar di kelas sehingga siswa selalu timbul rasa bosan terhadap pelajaran matematika. Kurangnya kesiapan dan kemauan siswa untuk mempelajari mata pelajaran matematika. Sedangkan dari aspek ekstern, siswa kurang memperhatikan guru dan siswa takut bertanya bila mengalami kesulitan dalam memahami materi tersebut sehingga siswa akan tertinggal dengan teman-temannya yang ikut bepartisipasi aktif dalam pelajaran.

  Keadaan ini akan membuat siswa merasa tidak mempunyai motivasi untuk mencapai tujuan dalam hidupnya di kemudian hari.

  Kesulitan belajar matematika di segi intelegensi. Dalam bidang matematika siswa mempunyai kemampuan yang cukup. Hal ini membuktikan bahwa ada siswa yang bisa menguasai materi dan ada yang kurang menguasai pelajaran matematika. Siswa yang mengalami kesulitan untuk mengingat materi pelajaran matematika ini membutuhkan waktu lama dalam mengerjakan soal-soal matematika. Siswa juga tidak dengan mudah dapat mengerjakan soal-soal matematika yang terdapat dalam buku mata pelajaran matematika.

  Kesulitan belajar matematika di segi bakat disebabkan kurangnya siswa untuk berlatih dalam memecahkan soal-soal matematika. Mata pelajaran matematika perlu usaha yang tinggi dari siswa untuk berlatih menggunakan rumus-rumus dalam menghitung, berlatih menggambar bangun ruang, dan berlatih menghitung luas bangun ruang dengan menggunakan rumus. Siswa yang mempunyai bakat dalam mata pelajaran matematika akan menggunakan teknik-teknik tertentu untuk memecahkan soal matematika. Untuk bisa terealisasi bakatnya maka harus ditunjang dengan minat, pengetahuan, pengalaman dan perlengkapan belajar yang memadai agar bakat tersebut dapat berhasil dengan baik.

  BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Hasil penelitian mengenai tingkat kesulitan belajar matematika siswa kelas VIII SMP Pangudi Luhur 2 Yogyakarta tahun ajaran 2008/2009 adalah sebagai berikut: 1.

  Jumlah siswa yang mengalami tingkat kesulitan belajar rendah dalam mata pelajaran matematika lebih banyak daripada siswa yang mengalami kesulitan belajar tinggi dalam mata pelajaran matematika.

  Pangudi Luhur 2 Yogyakarta Tahun Ajaran 2008/2009 yang banyak dialami siswa adalah aspek psikologis (66,55%), yang meliputi; minat, motivasi, intelegensi dan bakat.

  B.

  Saran Dari hasil penelitian yang diperoleh, maka peneliti memberikan saran sebagai berikut:

  1. Siswa diharapkan untuk terus meningkatkan minat dan motivasi belajar matematika secara kontinyu dan banyak latihan soal matematika sehingga akan memperluas pandangan terhadap berbagai masalah matematika. Sebab matematika penting untuk dipelajari.

  2. Guru mata pelajaran matematika perlu membangkitkan minat dan motivasi siswa untuk belajar matematika dengan melibatkan siswa secara langsung dalam proses belajar mengajar sehingga dapat menumbuhkan dorongan untuk belajar.

  3. Guru mata pelajaran matematika hendaknya lebih meningkatkan metode pengajaran yang lebih bervariasi sehingga dapat membangkitkan belajar siswa di kelas.

  4. Guru pembimbing dapat memberikan layanan bimbingan belajar secara individual maupun kelompok bagi siswa yang mengalami kesulitan belajar matematika dengan menggunakan topik-topik yang sesuai dengan kebutuhan siswa, seperti cara-cara belajar yang efesien dan efektif, cara tepat memahami bahan pelajaran matematika, cara meningkatkan semangat belajar matematika dan cara mengikuti pelajaran yang baik.

  5. Guru pembimbing dapat menjalankan fungsi pelayanan bimbingan preventif dan kuratif untuk membantu siswa dalam mengatasi masalah belajarnya.

  DAFTAR PUSTAKA Ahmadi, H. Abu Widodo.(2003). Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta.

  Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Inteligensi, Bakat dan ”Tes IQ” . Gaya Favorit Press, 1986

  Furchan, Arief.(1982). Pengantar Penelitian dan Pendidikan. Surabaya : Usaha Nasional. Mapiare, Andi.(1984). Pengantar Bimbingan dan Konseling di Sekolah.

  Surabaya: Usaha Nasional. Hudoyo, Herman.(1979). Pengembangan Kurikulum Matematika dan Pelaksanaannya di Depan Kelas. Surabaya :Usaha Nosional.

  Hudoyo, Herman.(1980). Teori Dasar Belajar Mengajar Matematika: Proyek

  Pengembangan Pendidikan Guru (P3G). Depdikbud. Jakarta Ketut Sukardi, Ketut.(1983). Bimbingan dan Penyuluhan Belajar di Sekolah.

  Surabaya : Usaha Nasional. Kurikulum SMP.(2004). Pedoman Khusus Pengembangan Sistem Penilaian

  Berbasis Kompetensi Sekolah Menengah Pertama (SMP) Mata Pelajaran Matematika.

  Masidjo.(1995). Penilaian Pencapaian Hasil belajar Siswa di Sekolah.

  Yogyakarta : Kanisius. Mulyono, Abdurahman, Dr.(2003). Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar.

  Jakarta : Rineka Cipta. Oemar, Hamalik.(1983). Metode Belajar dan Kesulitan Belajar. Bandung. Pandoyo. 1992. Strategi Belajar Mengajar. Semarang:IKIP Semarang Press. Ruseffendi, E.T. 1988. Pengantar Kepada Membantu Guru Mengembangkan

  Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA . Bandung: Tarsito.

  Sujono. 1988. Pengajaran Matematika untuk Sekolah Menengah. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

  Semiawan, C ; Munandar, A.S.; Munandar, S.C.U. (1984). Memupuk Bakat dan Kreativitas siswa sekolah menengah . Jakarta: PT Gramedia. Slameto, Drs. (1988). Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta

  : Bina Aksara Sudjana dan Ibrahim. (1989). Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung Sinar Baru.

  Sukardi. (2003). Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta : Bumiaksara. Syah, Muhibbin. (2003). Psikologi Belajar. Jakarta : Rajawali Press. The Liang Gie. (1994). Cara Belajar yang Efektif I. Yogyakarta : Liberty. Winkel, W. S & Sri Hastuti, M.M. (2004). Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Yogyakarta : Media Abadi. Lampiran 1 Tabel 8. KUESIONER KESULITAN BELAJAR MATEMATIKA Para siswa yang terkasih, Pada kesempatan ini saya meminta kesediaan anda untuk mengisi kuesioner ini.

  Adapun tujuan kuesioner ini adalah mengumpulkan informasi dari anda berkaitan dengan kesulitan belajar delam mata pelajaran matematika selama semester ini. Jawaban yang anda berikan tidak akan mempengaruhi nilai rapor anda. Oleh karena itu, kami mengharapkan anda bersedia menjawab kuesioner ini sesuai dengan yang benar-benar anda alami.

  Terimakasih atas kesediaan anda mengisi kuesioner ini dengan baik. Identitas diri : Kelas : ………………..

  Jenis kelamin : L/P Petunjuk : 1.

Jawablah tiap pernyataan dengan cara berilah tanda cek ( ) pada kolom yang sesuai dengan keadaan anda

  Maksud tiap pertanyaan : Selalu : Selalu Anda alami Sering kali : Berkali-kali Anda alami Kadang-kadang : Sekali-kali Anda alami Tidak pernah : Tidak Pernah Anda alami 2. Pernyataan hendaknya dijawab semua. No Pernyataan Selalu Sering Kadang- Tidak kali kadang pernah

  1 Saya merasa kurang sehat sehingga saya tidak dapat masuk sekolah dan mengikuti pelajaran matematika di kelas

  2 Saya menjaga kondisi fisik dalam menghadapi pergantian musim

  3 Saya memanfatkan indra sebanyak mungkin dan membuat seluruh tubuh/pikiran terlibat dalam proses pembelajaran matematika

  4 Saya mengoptimalkan indra penglihatan saat mengikuti mata pelajaran matematika

  5 Saya mengalami kesulitan mengatasi rasa kantuk yang muncul pada saat mengikuti pelajaran matematika

  6 Saya mendengarkan penuh perhatian petunjuk untuk mengerjakan tugas matematika yang diberikan guru di kelas

  7 Saya selalu teliti dan cermat dalam mengerjakan soal-soal matematika

  8 Saya merasa kurang menguasai pelajaran matematika

  9 Saya mengalami kesulitan untuk mengingat kembali materi pelajaran yang memerlukan ketrampilan menghitung

  No Pernyataan Selalu Sering Kadang- Tidak kali kadang pernah

  10 Saya mengandalkan pikiran dan bukan hafalan saat menghadapi ujian matematika

  11 Saya dengan mudah mengerjakan soal-soal matematika yang terdapat dalam buku mata pelajaran matematika

  12 Saya memahami maksud tabel, grafik dan gambar pada soal-soal matematika di buku wajib pelajaran matematika

  13 Saya merasa matematika adalah mata pelajaran yang sulit dipelajari

  14 Nilai-nilai saya dalam mata pelajaran matematika cukup memuaskan

  15 Saya dengan cepat dapat mengerjakan soal- soal matematika yang diberikan guru

  16 Saya berani tampil untuk mengerjakan soal- soal matematika yang diberikan oleh guru di papan tulis

  17 Saya menggunakan teknik-teknik tertentu untuk memecahkan soal-soal matematika

  18 Saya dengan mudah dapat mengulang kembali rumus-rumus matematika yang sudah dijelaskan guru

  No Pernyataan Selalu Sering Kadang- Tidak kali kadang pernah

  19 Saya dengan cepat dapat menghitung tanpa bantuan kalkulator

  20 Saya dapat membantu teman-teman yang mengalami kesulitan mengerjakan matematika

  21 Matematika membantu saya untuk dapat berpikir secara logis dan sistematis

  22 Mata pelajaran matematika membuat saya semakin kreatif dalam memecahkan setiap soal-soal matematika

  23 Saya senang dengan pelajaran hitung menghitung, khususnya matematika

  24 Saya selalu meluangkan waktu untuk memecahkan soal-soal matematika di rumah

  25 Saya mengikuti mata pelajaran matematika dengan penuh perhatian

  26 Saya membaca berbagai buku matematika lain untuk memperluas kemampuan saya dalam mata pelajaran matematika

  27 Saya kehilangan keinginan untuk belajar matematika karena matematika saya anggap sulit

  No Pernyataan Selalu Sering Kadang- Tidak kali kadang pernah

  28 Saya membaca terlebih dahulu pokok bahasan tertentu dalam buku pelajaran matematika sebelum diterangkan oleh guru di kelas

  29 Saya membuat catatan pelajaran matematika secara teratur dan rapi

  30 Saya menjawab secara cepat setiap pertanyaan yang diberikan guru pelajaran matematika

  31 Saya selalu berlatih untuk mengerjakan soal- soal matematika di rumah

  32 Guru mata pelajaran matematika menerangkan setiap materi pelajaran dengan jelas

  33 Saya senang dengan metode mengajar guru mata pelajaran matematika yang bervariasi

  34 Saya mengikuti mata pelajaran matematika di kelas dengan penuh semangat

  35 Saya mengerjakan PR matematika dengan senang hati

  36 Saya berperan aktif dalam diskusi kelompok untuk mengerjakan latihan soal matematika yang diberikan guru di kelas

  No Pernyataan Selalu Sering Kadang- Tidak kali kadang pernah

  37 Saya selalu mendiskusikan dengan teman- teman tentang hal-hal yang belum saya mengerti dalam pelajaran matematika

  38 Jika ada teman yang mendapat nilai lebih tinggi dari nilai saya dalam mata pelajaran matematika saya terdorong untuk belajar matematika lebih giat lagi

  39 Saya mempersiapkan diri menghadapi ulangan matematika dengan mengerjakan soal-soal latihan dari buku wajib matematika maupun buku lain

  40 Saya bertanya kepada guru di kelas ketika sulit memahami tugas matematika yang diberikan

  41 Saya berusaha menyukai setiap materi pelajaran matematika yang sudah diterangkan guru

  42 Saya selalu mengulang kembali materi-materi pelajaran matematika yang sudah diterangkan guru

  43 Orang tua mendidik saya untuk tekun dalam belajar matematika

  No Pernyataan Selalu Sering Kadang- Tidak kali kadang pernah

  44 Orang tua mendukung kegiatan saya untuk mengikuti les mata pelajaran matematika

  45 Orang tua mempertanyakan keseriusan belajar saya apabila nilai matematika saya tidak baik

  46 Orang tua memberikan pengarahan bila saya melakukan kekeliruan dalam cara belajar matematika

  47 Orang tua selalu memperhatikan pendidikan akademik saya, khususnya untuk mata pelajaran matematika yang di ujikan dalam Ujian Nasional

  48 Orang tua melarang saya menyontek pada waktu ujian matematika maupun pelajaran lain

  49 Orang tua mengingatkan saya untuk belajar lebih serius saat menghadapi ujian, khususnya ujian matematika

  50 Orang tua selalu mengingatkan saya untuk tidak mudah putus asa dalam mengerjakan setiap soal matematika

  51 Orang tua selalu memberi hadiah bila nilai matematika saya maupun mata pelajaran lainnya bagus

  No Pernyataan Selalu Sering Kadang- Tidak kali kadang pernah

  52 Saya selalu memberi tahu orang tua setiap ada PR matematika maupun PR mata pelajaran lain

  53 Saya dibantu orang tua dalam mengerjakan PR matematika

  54 Bersama orang tua saya selalu berbincang- bincang mengenai pelajaran matematika maupun pelajaran yang lain

  55 Saya membeli buku wajib yang ditawarkan oleh guru matematika

  56 Sebelum belajar matematika saya selalu menyiapkan terlebih dulu peralatan belajar matematika

  57 Saya mengikuti les matematika di luar sekolah

  58 Fasilitas belajar di rumah memungkinkan saya untuk dapat belajar matematika dengan tenang

  59 Saya mengalami kesulitan untuk memiliki buku-buku sumber yang diperlukan untuk memperdalam matematika

  No Pernyataan Selalu Sering Kadang- Tidak kali kadang pernah

  60 Saya selalu membeli peralatan sekolah yang dibutuhkan untuk mengerjakan matematika (pensil, buku pelajaran, kalkulator, jangka dan penggaris)

  61 Saya belajar matematika di rumah dengan bantuan lampu belajar

  62 Saya mengalami kesulitan untuk belajar matematika pada siang hari

  63 Saya belajar di ruang kelas yang bersih sehingga saya dapat mengikuti pelajaran matematika dengan nyaman

  64 Saya senang dengan guru mata pelajaran matematika yang selalu menghargai setiap jawaban saya

  65 Saya merasa kurang puas dengan jawaban matematika yang diberikan guru kepada siswa yang bertanya

  66 Guru mata pelajaran matematika selalu memberikan kegiatan belajar yang bervariasi yang sifatnya individu maupun kelompok

  67 Guru mata pelajaran matematika mempunyai sifat yang penyabar saat menerangkan materi pelajaran

  No Pernyataan Selalu Sering Kadang- Tidak kali kadang pernah

  68 Saya merasa terbebani dengan standar kompetensi mata pelajaran matematika yang terlalu padat

  69 Saya merasa kesulitan menghadapi bahan pelajaran matematika yang terlalu banyak

  70 Materi yang dipakai dalam mata pelajaran matematika sesuai dengan kebutuhan saya

  71 Saya mengalami kesulitan karena setiap tahun sekolah selalu mengganti buku paket mata pelajaran matematika

  72 Pembelajaran matematika selalu mengembangkan kemampuan saya dalam memecahkan soal-soal matematika

  58 Lampiran 2

  59

  60

  61

  62

  63

  64 Lampiran 3

  65

  66

  67

  68

  69

  70

  94 95 8836 9025 8930

  23 L

  90 94 8100 8836 8460

  24 L

  89 99 7921 9801 8811

  25 L

  93 78 8649 6084 7254

  26 L

  86 95 7396 9025 8170

  27 L

  80 77 6400 5929 6160

  28 L

  80 86 6400 7396 6880

  29 L

  30 L 108 121 11664 14641 13068

  89 91 7921 8281 8099

  31 L

  78 78 6084 6084 6084

  32 L 99 103 9801 10609 10197

  33 L

  77 79 5929 6241 6083

  34 L 100 89 10000 7921 8900

  35 L 98 106 9604 11236 10388

  36 L

  79 73 6241 5329 5767

  37 L

  72 88 5184 7744 6336

  38 L

  93 90 8649 8100 8370

  39 L

  22 L 98 104 9604 10816 10192

  21 L

  Lampiran 4

Tabel 11. Data Hasil Penelitian Kuesioner Tingkat KesulitanBelajar Matematika

Siswa Kelas VIII SMP Pangudi Luhur 2 Yogyakarta Tahun Ajaran 2008/2009

  11 L 100 107 10000 11449 10700

  Subjek Jenis kelamin X (Belahan

  Ganjil)

Y

(Belahan

Genap)

x 2 y 2 XY

  1 L 99 106 9801 11236 10494

  2 L 118 118 13924 13924 13924

  3 L 103 91 10609 8281 9373

  4 L 86 101 7396 10201 8686

  5 L

  95 99 9025 9801 9405

  6 L 104 113 10816 12769 11752

  7 L 124 109 15376 11881 13516

  8 L 94 116 8836 13456 10904

  9 L

  89 94 7921 8836 8366

  10 L 102 105 10404 11025 10710

  12 L 108 97 11664 9409 10476

  91 92 8281 8464 8372

  13 L

  95 96 9025 9216 9120

  14 L

  84 89 7056 7921 7476

  15 L

  94 98 8836 9604 9212

  16 L

  92 91 8464 8281 8372

  17 L

  86 81 7396 6561 6966

  18 L 100 101 10000 10201 10100

  19 L

  80 82 6400 6724 6560

  20 L

  87 81 7569 6561 7047

  71

  69 L

  73 L 108 106 11664 11236 11448

  89 84 7921 7056 7476

  72 L

  81 83 6561 6889 6723

  71 L

  75 87 5625 7569 6525

  70 L

  91 97 8281 9409 8827

  84 80 7056 6400 6720

  75 P

  68 L

  86 88 7396 7744 7568

  67 L

  80 92 6400 8464 7360

  66 L

  86 84 7396 7056 7224

  65 L

  93 95 8649 9025 8835

  74 P 93 101 8649 10201 9393

  85 89 7225 7921 7565

  81 80 6561 6400 6480

  84 P

  88 P

  93 92 8649 8464 8556

  87 P

  85 97 7225 9409 8245

  86 P

  86 89 7396 7921 7654

  85 P

  86 93 7396 8649 7998

  83 P 113 116 12769 13456 13108

  76 P

  82 P 115 112 13225 12544 12880

  93 93 8649 8649 8649

  81 P

  80 P 115 111 13225 12321 12765

  79 P 100 99 10000 9801 9900

  78 P 103 99 10609 9801 10197

  97 86 9409 7396 8342

  77 P

  87 88 7569 7744 7656

  64 L

  63 L

  41 L

  46 L

  50 L

  90 89 8100 7921 8010

  49 L

  80 85 6400 7225 6800

  48 L

  99 98 9801 9604 9702

  47 L

  80 82 6400 6724 6560

  84 85 7056 7225 7140

  51 L

  45 L

  85 87 7225 7569 7395

  44 L

  87 86 7569 7396 7482

  43 L

  94 94 8836 8836 8836

  42 L

  93 95 8649 9025 8835

  87 77 7569 5929 6699

  75 73 5625 5329 5475

  81 82 6561 6724 6642

  70 76 4900 5776 5320

  62 L

  80 81 6400 6561 6480

  61 L

  83 96 6889 9216 7968

  60 L

  77 87 5929 7569 6699

  59 L

  58 L 102 106 10404 11236 10812

  57 L

  52 L

  87 89 7569 7921 7743

  56 L

  68 69 4624 4761 4692

  55 L

  94 91 8836 8281 8554

  54 L

  85 88 7225 7744 7480

  53 L

  79 85 6241 7225 6715

  78 93 6084 8649 7254

  72

  98 111 9604 12321 10878

  90 P 101 103 10201 10609 10403

  91 P 89 111 7921 12321 9879

  92 P 102 103 10404 10609 10506

  93 P 109 105 11881 11025 11445

  94 P 103 104 10609 10816 10712

  95 P

  88 87 7744 7569 7656

  96 P

  89 88 7921 7744 7832

  97 P 86 100 7396 10000 8600

  98 P 95 100 9025 10000 9500

  99 P 97 103 9409 10609 9991 100 P 101 P

  99 90 9801 8100 8910 103 107 10609 11449 11021 102 P

  95 93 9025 8649 8835 103 P 101 109 10201 11881 11009 104 P 105 108 11025 11664 11340 105 P

  90 97 8100 9409 8730 106 P 107 P

  98 96 9604 9216 9408 96 106 9216 11236 10176 108 P 100 120 10000 14400 12000 109 P 80 101 6400 10201 8080 110 P

  98 88 9604 7744 8624 111 P 89 89 7921 7921 7921 112 P

  100 108 10000 11664 10800 113 P 114 P

  94 99 8836 9801 9306 94 100 8836 10000 9400 115 P 103 106 10609 11236 10918 116 P 97 104 9409 10816 10088 117 P 100 112 10000 12544 11200 118 P 10859 11178 1011675 1072988 1038879

  Total

  73

  Lampiran 5

Tabel 12. Hasil perhitungan Reliabilitas dan Validitas Data Penelitian Tingkat Kesulitan

Belajar Mata Pelajaran Matematika Siswa Kelas VIII Pangudi Luhur 2 Yogyakarta Tahun Ajaran 2008/2009

  1. Koesfisien Korelasi Skor Item Ganjil dan Genap Dengan Rumus Product Moment dari Pearson

  N

  X Y − ( X )( Y )

  rxy = 2 2 2 2 N

  X − ( X ) N Y − ( Y )

  [ ] [ ]

  118 x 1038879 − ( 10859 )( 11178 ) = 2 2 118 x 1011675 − ( 10859 ) 118 x 1072988 − ( 11178 )

  [ ] [ ]

  122587722 − 121381902 = 119377650 − 117917881 126612584 − 124947684

  [ ][ ]

  1205820 =

  [ 1459769 ][ 1664900 ]

  1205820 = 2 , 430369408

  1205820 = 1558964 ,

  21

  rxy =

  , 773475101 =

  rxy ,

  80

  74

  2. Koefisisen Reliabilitas Dengan Rumus Spearman And Brown

  2 r tt

  rtt

  = 1 + r tt 2 , 773475101 x

  =

  • 1 , 773475101 1 , 546950202

  = 1 , 773475101

  rtt = 0,872270606 rtt = 0,87

  3. Koefisien Validitas r = r t ∞ tt

  = r t ∞ , 872270606

  0,933954284 = 4.

Perhitungan Mean

  Σ

  X M = N

  22037 =

  118

  = 187

  75 Lampiran 6 Tabel 13. Kategori Skor-Skor Hasil Penelitian Kesulitan Belajar Matematika Siswa

  T

  166

  28 L

  R

  157

  27 L

  R

  181

  26 L

  R

  171

  25 L

  188

  29 L

  24 L

  R

  184

  23 L

  T

  202

  22 L

  R

  180

  21 L

  R

  183

  R

  189

  R

  189

  183

  38 L

  R

  160

  37 L

  R

  152

  36 L

  T

  204

  35 L

  T

  34 L

  T

  R

  156

  33 L

  T

  202

  32 L

  R

  156

  31 L

  T

  229

  30 L

  20 L

  162

  Kelas VIII SMP Pangudi Luhur 2 Yogyakarta Tahun ajaran 2008/2009 Kategori Subjek Jenis Kelamin Jumlah Skor

  5 L

  T

  210

  8 L

  T

  233

  7 L

  T

  217

  6 L

  T

  194

  T

  183

  187

  4 L

  T

  194

  3 L

  T

  236

  2 L

  T

  205

  1 L

  Total Tinggi Rendah

  9 L

  R

  19 L

  R

  T

  201

  18 L

  R

  167

  17 L

  R

  183

  16 L

  T

  192

  15 L

  173

  10 L

  14 L

  T

  191

  13 L

  T

  205

  12 L

  T

  207

  11 L

  T

  207

  R

  76

  T

  194

  74 P

  T

  214

  73 P

  R

  173

  72 L

  R

  164

  71 L

  R

  162

  70 L

  188

  75 P

  172

  188

  T

  65 L

  170

  R

  66 L

  R

  69 L

  67 L

  174

  R

  68 L

  164

  R

  T

  174

  R

  84 P

  82 P

  227

  T

  83 P

  229

  T

  179

  186

  R

  85 P

  175

  R

  86 P

  182

  R

  81 P

  R

  78 P

  76 P

  175

  R

  77 P

  183

  R

  202

  T

  T

  79 P

  199

  T

  80 P

  226

  64 L

  161

  40 L

  165

  162

  R

  47 L

  197

  T

  48 L

  R

  R

  49 L

  179

  R

  50 L

  164

  R

  46 L

  169

  148

  188

  186

  R

  41 L

  188

  T

  42 L

  T

  45 L

  43 L

  173

  R

  44 L

  172

  R

  51 L

  R

  63 L

  179

  208

  T

  59 L

  164

  R

  60 L

  R

  R

  61 L

  161

  R

  62 L

  163

  R

  58 L

  146

  52 L

  185

  164

  R

  53 L

  173

  R

  54 L

  R

  57 L

  55 L

  137

  R

  56 L

  176

  R

  R

  77

  T 107 P

  181

  T 110 P

  220

  T 109 P

  202

  T 108 P

  194

  187

  186

  T 106 P

  213

  T 105 P

  210

  T 104 P

  188

  T 103 P

  R 111 P

  R 112 P

  T 102 P

  T 117 P

  R

  = 57

  22037 T

  T Jumlah

  212

  T 118 P

  201

  209

  178

  T 116 P

  194

  T 115 P

  193

  T 114 P

  208

  R 113 P

  210

  189

  88 P

  91 P

  205

  93 P

  T

  200

  92 P

  T

  204

  T

  94 P

  209

  90 P

  R

  179

  89 P

  R

  171

  T

  214

  T 101 P

  R

  200

  T 100 P

  195

  99 P

  R

  186

  98 P

  177

  T

  97 P

  R

  175

  96 P

  T

  207

  95 P

  = 61 Mean 187

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

PENGARUH KEMANDIRIAN BELAJAR DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 2 KARTASURA TAHUN AJARAN 2008/2009.
0
1
7
PADA MATERI TEOREMA PYTHAGORAS DITINJAU DARI AKTIVITAS BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VIII SMP MUHAMMADIYAH 2 SURAKARTA TAHUN AJARAN 20172018
0
0
20
ANALISIS KESULITAN BELAJAR MATEMATIKA PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 2 DELANGGU TAHUN PELAJARAN 2017/2018 - UNWIDHA Repository
0
3
29
PENGARUH KEBIASAAN BELAJAR DAN LINGKUNGAN BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VII A DAN VII B SMP PANGUDI LUHUR WEDI TAHUN AJARAN 20172018
1
1
152
TINGKAT KESULITAN KEGIATAN BELAJAR DALAM MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA BERDASARKAN JENIS KELAMIN SISWA KELAS II SMU BOPKRI II YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 20032004 SKRIPSI
0
0
54
POLA PENGASUHAN ORANGTUA MENURUT SISWA KELAS VIII SMP PANGUDI LUHUR I YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2007-2008 SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling
0
0
118
CIRI-CIRI KEPRIBADIAN GURU PEMBIMBING MENURUT PERSEPSI SISWA KELAS II SMP PANGUDI LUHUR I YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 20062007
0
2
120
KEMAMPUAN MENGUBAH TEKS WAWANCARA MENJADI KARANGAN NARASI SISWA KELAS VIII SMP PANGUDI LUHUR 2 GONDOKUSUMAN, YOGYAKARTA, TAHUN AJARAN 20062007 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan B
0
1
119
DESKRIPSI KONSEP DIRI PARA SISWA KELAS XI SMA PANGUDI LUHUR SEDAYU YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 20082009 DAN IMPLIKASINYA TERHADAP USULAN TOPIK-TOPIK BIMBINGAN
0
0
170
KEGUNAAN KEGIATAN BIMBINGAN BELAJAR MENURUT SISWA-SISWI KELAS VIII SMP PANGUDI LUHUR I YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 20082009
0
0
80
TINGKAT KETEKUNAN PARA SISWA PUTERA DAN PUTERI DALAM MEMPELAJARI BAHAN PELAJARAN MATEMATIKA PARA SISWA KELAS X SMA PANGUDI LUHUR SEDAYU TAHUN AJARAN 20082009
0
0
64
MANFAAT PEMBELAJARAN DRAMA SEBAGAI LIFE SKILLS SISWA SMP PANGUDI LUHUR 1 KLATEN, JAWA TENGAH TAHUN AJARAN 20072008
0
1
151
KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN DESKRIPSI SISWA KELAS X SMA PANGUDI LUHUR SEDAYU TAHUN AJARAN 20082009 SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah
0
0
113
ANALISIS KESALAHAN STRUKTUR KALIMAT DALAM KARANGAN NARASI EKSPOSITORIS SISWA KELAS VIII SMP PANGUDI LUHUR SRUMBUNG TAHUN AJARAN 20082009
0
0
122
PERBEDAAN KEMAMPUAN MENGGUNAKAN KONJUNGSI ANTARA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 3, MENDOYO, BALI DAN SISWA KELAS VIII SMP BUDYA WACANA, YOGYAKARTA, TAHUN AJARAN 20082009
0
1
126
Show more