Campur kode Bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia pada tuturan tokoh Pariyem dalam novel Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG - USD Repository

Gratis

0
0
103
4 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI CAMPUR KODE BAHASA JAWA KE DALAM BAHASA INDONESIA PADA TUTURAN TOKOH PARIYEM DALAM NOVEL PENGAKUAN PARIYEM KARYA LINUS SURYADI AG Tugas Akhir Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Indonesia Program Studi Sastra Indonesia Oleh Ayu Primasandi NIM: 074114009 PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA JURUSAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA JULI 2011 i

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ii

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iv

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI v

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tulisan ini saya persembahkan untuk: Bapak dan Ibuku tercinta, terima kasih atas cinta dan hidup yang kalian bagi padaku vi

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRAK Primasandi, Ayu. 2011. “Campur Kode Bahasa Jawa ke dalam Bahasa Indonesia pada Tuturan Tokoh Pariyem dalam Novel Pengakuan Pariyem Karya Linus Suryadi Ag”. Skripsi Strata 1 (S-1). Program Studi Sastra Indonesia, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra. Universitas Sanata Dharma. Penelitian tentang campur kode pada tuturan tokoh Pariyem dalam Novel Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi Ag ini memiliki dua tujuan sebagai berikut. Pertama, mendeskripsikan satuan lingual apa saja campur kode terjadi dalam Novel Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi Ag. Kedua, mendeskripsikan latar belakang sebab-sebab terjadinya campur kode dalam novel Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi Ag. Penelitian ini dilakukan melalui tiga tahapan strategis, yaitu tahap pengumpulan data, tahap analisis data, dan tahap penyajian hasil analisis data. Data diperoleh dengan metode simak, yaitu campur kode pada tuturan tokoh Pariyem dalam novel Pengakuan Pariyem. Teknik lanjutan dari metode simak tersebut adalah teknik simak bebas libat cakap, yaitu peneliti berperan sebagai pengamat dan tidak terlibat dalam peristiwa tuturan yang bahasanya sedang diteliti. Teknik simak bebas libat cakap ini dilaksanakan dengan teknik catat, yaitu mencatat data pada kartu data. Analisis data dilakukan dengan metode padan referensial, metode padan pragmatik, dan metode padan translasional. Teknik yang digunakan pada metode ini adalah teknik hubung banding menyamakan hal pokok. Teknik hubung banding menyamakan hal pokok ini digunakan untuk menemukan campur kode yang digunakan dalam novel Pengakuan Pariyem. Data yang sudah dianalisis disajikan dengan metode informal, yaitu penyajian hasil analisis data dengan menggunakan kata-kata biasa yang apabila dibaca dapat langsung dipahami. Hasil penelitian tentang campur kode pada tuturan tokoh Pariyem dalam novel Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi Ag ini adalah sebagai berikut. Pertama, campur kode meliputi satuan lingual kata, frasa, baster, bentuk ulang, dan peribahasa. Campur kode berupa kata meliputi kata benda (nomina), kata kerja (verba), kata sifat (adjektiva), dan kata tugas. Campur kode yang berupa kata benda meliputi kata benda yang menyatakan sapaan, kata benda yang menyatakan nama benda, dan kata benda yang menyatakan pelaku atau orang yang melakukan pekerjaan. Campur kode berupa kata kerja terjadi pada kata kerja yang menyatakan aksi atau perbuatan dan kata kerja yang menyatakan keadaan. Campur kode berupa kata sifat terjadi pada kata sifat yang menyatakan penilaian, kata sifat yang menyatakan perasaan batin, dan kata sifat yang menyatakan warna. Campur kode berupa kata tugas hanya ditemukan yang berupa artikel yaitu, ta, lho, ha, lha, dan ya. Campur kode berupa frasa meliputi frasa nomina, frasa verba, frasa preposisional, dan frasa adverbia. Campur kode berupa baster terjadi pada pola awalan + kata, kata + akhiran, dan frasa + akhiran. Campur kode berupa bentuk vii

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ulang meliputi bentuk dasar, bentuk berimbuhan, bentuk berubah bunyi, dan bentuk semu. Campur kode berupa peribahasa meliputi pepatah, perumpamaan, dan ungkapan. Kedua, campur kode dalam novel Pengakuan Pariyem dilatarbelakangi oleh dua faktor, yaitu faktor kebahasaan dan faktor non-kebahasaan. Faktor kebahasaan meliputi faktor low frequency of word dan faktor oversight. Faktor nonkebahasaan meliputi faktor need for synonim, faktor social value, faktor situasi formal, dan faktor kebiasaan. Selain itu karena adanya tingkat tutur bahasa Jawa, yaitu tingkat tutur krama inggil, tingkat tutur krama, dan tingkat tutur ngoko. viii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT Primasandi, Ayu. 2011. “Code Mixing of Javanesse language to the Indonesian Language of the Speech Acts of Pariyem in Linus Suryadi Ag’s Novel Pengakuan Pariyem”. An Undergraduate Thesis. Indonesian Letters Study Programme, Department of Indonesian Letters, Faculty of Letters. Sanata Dharma University. This research on code mixing of the speech acts of Pariyem as the main character in Linus Suryadi Ag’s novel Pengakuan Pariyem has two aims as follows. First, to describe on what lingual units code mixing appears in Linus Suryadi Ag’s Pengakuan Pariyem. Second, to describe the backgrounds of the code mixing appearances in Linus Suryadi Ag’s Pengakuan Pariyem. This research uses three strategic steps, which are: the data collection step, the data analysis step, and the presentation on the data analysis results step. On the data collection step, the data are collected through scrutinizing method, which is by scrutinizing the uses of language and code mixing of Pariyem’s speech acts in Pengakuan Pariyem. The advanced technique of scrutinizing method is conversation-free scrutinizing technique, on which the writer only has the role of an observer and is not involved in the speech acts that are being scrutinized. Conversation-free scrutinizing technique uses note-taking technique to take notes of the data using data cards. The analysis on the data is done by using equal referential method. Equal-related technique is used to find the code mixing appeared in the novel Pengakuan Pariyem. The data that have been analyzed are presented using informal method, which is by presenting the data analysis results through common words that can be directly understood to read. The results of this research on code mixing of the speech acts of Pariyem as the main character in Linus Suryadi Ag’s novel Pengakuan Pariyem are found as follows. First, code mixing includes words lingual units, phrases, basters, repetitions, and proverbs. Code mixing as words includes nouns, verbs, adjectives, and adverbs. Code mixing as nouns includes nouns showing greetings, nouns showing names of things, and nouns showing the doers or the people doing actions. Code mixing as verbs includes verbs showing actions and verbs showing states. Code mixing as adjectives includes adjectives showing judgments, adjectives showing feelings, and adjectives showing colours. Code mixing as adverbs are only found in articles, such as ta, lho, ha, lha, and ya. Code mixing as phrases includes noun phrases, verb phrases, prepositional phrases, and adverbial phrases. Code mixing as basters happens on the patterns as follows: prefix + word, word + suffix, and phrase + suffix. Code mixing as repetitions includes basic repetitions, affixed repetitions, sound change quasirepetitions, and quasi-repetitions. Code mixing as proverbs includes aphorisms, parables, and idioms. Second, code mixing in the novel Pengakuan Pariyem happens because of two factors, linguistic and non-linguistic factors. Linguistic factors cover low frequency of word factors and oversight factors. Non-linguistic factors include ix

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI need for synonim factors, social value factors, formal situation factors, and habitual factors. x

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KATA PENGANTAR Tiada kata yang dapat penulis ucapkan selain terima kasih dan puji syukur yang teramat besar pada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan bimbinganNya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini. Selain dukungan yang istimewa dari Yang Maha Punya, tugas akhir ini tidak akan selesai tanpa bantuan dan dukungan berbagai pihak yang dengan setia dan penuh doa menyemangati penulis. Oleh karena itu, banyak terima kasih penulis ucapkan kepada: 1. Drs. Hery Antono, M.Hum., selaku pembimbing I yang dengan sabar menerima keluh kesah penulis dan menjadi pemberi solusi yang baik bagi penulis selama penulisan tugas akhir, 2. Dr. I. Praptomo Baryadi, M.Hum., selaku pembimbing II yang dengan sabar memberi masukan dan motivasi bagi penulis, 3. Bapak dan Ibu dosen Sastra Indonesia, Drs. B. Rahmanto, M.Hum., S.E. Peni Adji, S.S., M.Hum., Dra. F. Tjandrasih, M.Hum., Drs. F.X. Santosa, M.S., Drs. P. Ari Subagyo, M.Hum., dan Drs. Yoseph Yapi Taum, M.Hum., terima kasih atas kesempatan berbagi ilmu dan pengalaman selama penulis menjalani studi di Program Studi Sastra Indonesia, 4. Staf Sekretariat Fakultas Sastra yang membantu penulis dalam kelancaran mencari informasi akademik selama penulis kuliah, 5. Perpustakaan Universitas Sanata Dharma, tempat menemukan referensi tambahan yang mendukung penulisan tugas akhir, xi

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6. Keluarga tercinta, Bapak Mathias Sugeng Riyadi dan Ibu Anastasia Kris Riyani, yang selalu berdoa, sabar, penuh cinta, dan percaya atas pilihan minat studi penulis, serta adik yang baik, Adita Primasti Putri, 7. Yohanes Carol & Theresia Denty, sahabat terbaik dan saudara seperjuangan yang tak henti-hentinya membagi kasih dan kerelaan bagi penulis kemarin, saat ini, dan seterusnya, 8. Teman-teman angkatan 2007, Fitri Nganthi Wani, Maria Vinora, Rosa Sekar Mangalandum, Petrus Sepi Kogoya, Bitbit Pakarisa, Elisabet Adinda, dan lain-lain yang dalam suka dan duka tetap kompak dan saling mendukung, 9. Teman-teman Kos Legi 1 terutama Florentina Noviani, Irene Ossi, Sylvia Puput, dan Cyrilla Sarah atas hari-hari bersama-sama mengerjakan skripsi, dan 10. Semua pihak yang belum dapat disebutkan satu persatu. Penulis menyadari bahwa meski diselesaikan dengan usaha terbaik dari penulis, tugas akhir ini masih belum sempurna. Segala kekurangan, ketidaktelitian, dan kekekeliruan dalam tugas akhir ini menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya. Dengan rendah hati, penulis menerima saran dan kritik. Yogyakarta, 30 Juni 2011 Penulis xii

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL.................................................................................................. i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING........................................................ ii HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI.................................................................. iii PERNYATAAN KEASLIAN KARYA.................................................................... iv LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI................................................................. v HALAMAN PERSEMBAHAN................................................................................. vi ABSTRAK................................................................................................................. vii ABSTRACT................................................................................................................. ix KATA PENGANTAR............................................................................................... xi DAFTAR ISI.............................................................................................................. xiii BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................... 1 1.1 Latar Belakang............................................................................................ 1 1.2 Rumusan Masalah....................................................................................... 6 1.3 Tujuan Penelitian........................................................................................ 6 1.4 Manfaat Penelitian...................................................................................... 6 1.5 Tinjauan Pustaka......................................................................................... 7 1.6 Landasan Teori........................................................................................... 10 1.6.1 Pengertian Bilingualisme............................................................... 10 1.6.2 Pengertian Campur Kode dan Alih Kode...................................... 11 1.6.3 Jenis Campur Kode berdasarkan Satuan Lingual........................... 12 1.6.4 Faktor-Faktor Penyebab terjadinya Campur Kode......................... 13 1.7 Metode Penelitian....................................................................................... 17 1.7.1 Tahap Pengumpulan Data.............................................................. 17 xiii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1.7.2 Tahap Analisis Data....................................................................... 18 1.7.3 Tahap Penyajian Analisis Data...................................................... 20 1.8 Sistematika Penyajian................................................................................ 20 BAB II CAMPUR KODE BERDASARKAN SATUAN LINGUAL DALAM NOVEL PENGAKUAN PARIYEM..................................... 22 2.1 Pengantar............................................................................................ 22 2.2 Kuantitas Penggunaan Campur Kode di dalam Novel Pengakuan Pariyem............................................................................................. 22 2.3 Bentuk Campur Kode dalam Novel Pengakuan Pariyem berdasarkan Satuan Lingualnya........................................................ 24 2.3.1 Campur Kode berupa Kata.................................................... 24 2.3.2 Campur Kode berupa Frasa................................................... 34 2.3.3 Campur Kode berupa Baster................................................. 38 2.3.4 Campur Kode berupa Bentuk Ulang..................................... 40 2.3.5 Campur Kode berupa Peribahasa.......................................... 42 BAB III LATAR BELAKANG PEMBENTUKAN CAMPUR KODE DALAM NOVEL PENGAKUAN PARIYEM.......................................................... 45 3.1 Pengantar.................................................................................................... 45 3.2 Faktor Kebahasaan...................................................................................... 45 3.2.1 Low Frequency of Word................................................................... 46 3.2.2 Oversight.......................................................................................... 48 3.3 Faktor Non-Kebahasaan............................................................................. 50 3.3.1 Need For Synonim............................................................................ 50 3.3.2 Social Value...................................................................................... 51 xiv

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3.3.3 Adanya Situasi Formal..................................................................... 52 3.3.4 Faktor Kebiasaan.............................................................................. 53 BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN................................................................... 56 4.1 Kesimpulan................................................................................................. 56 4.2 Saran........................................................................................................... 57 DAFTAR PUSTAKA................................................................................................ 59 LAMPIRAN I ............................................................................................................ 62 LAMPIRAN II........................................................................................................... 72 TENTANG PENULIS............................................................................................... 86 xv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahasa dalam penggunaannya merupakan modal utama demi terjalinnya sebuah komunikasi. Bahasa dalam penggunaannya juga sudah melekat dalam diri penutur. Hal ini sesuai dengan pendapat Lyons (1995:2) bahwa bahasa adalah sesuatu yang cenderung kita anggap sudah benar dan semestinya; sesuatu yang sudah kita kenal sejak kecil dengan mempraktikkannya dan tanpa memikirkannya. Ditinjau dari media atau sarana yang digunakan untuk menghasilkan bahasa, penggunaan bahasa dapat dibedakan dalam dua ragam bahasa, yaitu bahasa lisan dan bahasa tulis (Sugono, 2002: 14). Penggunaan bahasa Indonesia lisan dan tulis saat ini diakui telah mendapat pengaruh dari bahasa nusantara dan bahasa asing. Namun, selama pemasukan unsur bahasa daerah Nusantara atau bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia mengisi kekosongan atau memperkaya kesinoniman dalam kosa kata atau bangun kalimat, maka gejala itu dianggap wajar (Tim Depdikbud, 1997:8). Pemasukan unsur bahasa daerah Nusantara atau bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia tanpa ada sesuatu dalam situasi berbahasa itu yang menuntut terjadinya percampuran bahasa tersebut disebut campur kode (Nababan, 1991:32). Di dalam campur kode ada sebuah kode utama atau kode dasar yang digunakan dan memiliki fungsi dan keotonomiannya, sedangkan kode-kode lain yang terlibat dalam suatu peristiwa tutur hanyalah berupa serpihan-serpihan.

(17) 2 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Campur kode (code-mixing) terjadi apabila seorang penutur menggunakan suatu bahasa secara dominan mendukung suatu tuturan, disisipi dengan unsur bahasa lainnya. Hal ini biasanya berhubungan dengan karakteristik penutur, seperti latar belakang sosial, tingkat pendidikan, dan rasa keagamaan. Biasanya, ciri menonjolnya berupa kesantaian atau situasi informal. Namun bisa terjadi karena keterbatasan bahasa, ungkapan dalam bahasa tersebut tidak ada padanannya, sehingga ada keterpaksaan menggunakan bahasa lain, walaupun hanya mendukung satu fungsi. Fenomena bahasa berupa campur kode dalam ragam bahasa tulis tersebut terdapat pada novel Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi Ag. Novel ini mengisahkan seorang tokoh bernama Pariyem, seorang pembantu sebuah keluarga kaya di Yogyakarta. Tokoh Pariyem secara berulang-ulang menceritakan latar belakang asalnya, di mana dan kapan dia dilahirkan, bahkan penggambaran situasi ketika dia dilahirkan. Novel ini mengangkat latar cerita dengan budaya Jawa yang terlihat dari penggambaran latar belakang tokoh, penggambaran latar situasi tempat dan waktu, serta tuturan-tuturan dalam penceritaan. Novel ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1981. Novel ini merupakan karya sastra yang unik karena berupa prosa lirik. Linus Suryadi, sang pengarang, begitu banyak memasukkan unsur Jawa ke dalamnya. Novel ini pertama kali diterbitkan dalam bahasa Belanda dengan judul De Bekentenis van Pariyem pada tahun 1985 yang diterjemahkan oleh Maria Thermorshuizen. Linus Suryadi Ag sebagai pengarang novel Pengakuan Pariyem memulai karyanya pada sekitar tahun 1970-an dengan 400 buah puisi. Beliau sendiri

(18) 3 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI menulis di bawah pengaruh tulisan-tulisan Goenawan Moehamad, Sapardi Djoko Damono, dan Taufik Ismail. Akhirnya beliau mengambil ciri khas tulisannya sendiri yang tampak dari karya-karyanya yang sarat akan suasana kejawaan. Bahkan menurut Ashadi Siregar dalam bagian akhir novel Pengakuan Pariyem (2002:313), bagi Linus, aspek kebudayaan Jawa merupakan sesuatu yang sangat besar untuk dimaksimalkan penggunaannya bagi karya sastranya. Novel Pengakuan Pariyem merupakan karya sastra yang masterpiece pada sekitar tahun 80-an. Karena menjadi idola pada tahunnya, prosa lirik ini diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa seperti, bahasa Belanda dengan judul De Bekentenis van Pariyem oleh Maria Thermorhuizen, bahasa Inggris dengan judul Pariyem‟s Confession oleh Jennifer Mary Lindsay, dan dalam bahasa Perancis yang diterjemahkan oleh Henri Chambert-Loir atas dukungan UNESCO menjadi Les Confession de Pariyem. Beberapa paragraf terjemahan karya ini terdapat di Menagerie, no.1, Lontar Foundation, Jakarta, 1992. Karya ini menjadi salah satu karya yang terkenal dan fenomenal pada waktu itu karena karya ini berupa prosa lirik dan mempelopori munculnya banyak karya sastra yang bersifat kedaerahan. Linus Suryadi secara dominan menuangkan khas kedaerahan Jawa pada karyakaryanya, tidak hanya dalam novel Pengakuan Pariyem yang berupa prosa lirik, namun juga dalam beberapa esai seperti Regol Megal-Megol, Nafas Budaya Yogya, Dari Pujangga ke Penulis Jawa, dan Tirta Kamandanu. Linus Suryadi, selaku pengarang, memiliki latar belakang Jawa. Beliau lahir dan besar di Dusun Kadisobo, Sleman, 15 kilometer dari Yogyakarta. Kedua orang tuanya adalah petani Jawa. Tidak heran jika Pengakuan Pariyem menjadi

(19) 4 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI sebagian dari hidup Linus selaku pengarang. Di dalam novel tersebut, Linus bercerita dengan bahasa Indonesia yang dicampur dengan bahasa Jawa. Contoh campur kode dalam novel Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi Ag adalah sebagai berikut (1) O, manakah iman, manakah wewaler Tuhan Bila nyawa tak punya lagi tempat aman? (hal 17) (2) O, Allah, Gusti nyuwun ngapura di pinggir sumur saya nembang (hal 19) Pada contoh (1) terdapat kata wewaler ‗larangan, pamali, pantangan‘ berasal dari kata bahasa Jawa. Pada contoh (2) terdapat kata Gusti nyuwun ngapura ‗Tuhan, mohon ampun‘ berasal dari klausa bahasa Jawa. Pada contoh ini juga terdapat kata nembang ‗menyanyikan lagu‘ yang berasal dari kata bahasa Jawa. Alasan pertama dalam pemilihan topik campur kode pada tuturan tokoh Pariyem dalam novel Pengakuan Pariyem ini yaitu karena penulis ingin mengetahui pada satuan lingual apa saja campur kode dalam novel ini terjadi. Berikut contoh tuturan Pariyem dalam novel Pengakuan Pariyem, (3) Saya tak tahu apa jawabannya, Tapi coba, sampeyan permalukan di tengah-tengah banyak orang. (hal 56) (4) Saya sudah punya ngelmu krasan, kok ngelmu hidup yang sudah ditinggalkan. (hal 54) (5) Sikap congkak dan sombong diri tanda orang itu kurang pekerti “Wani ngalah luhur wekasanipun” (hal 49) Pada contoh (3) terdapat kata bahasa Jawa berupa kata dasar sampeyan ‗anda‘. Pada contoh (4) terdapat ungkapan ngelmu krasan ‗ilmu untuk bertahan (beradaptasi) di lingkungan baru‘ dari bahasa Jawa. Pada contoh (5) terdapat

(20) 5 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI perumpamaan wani ngalah luhur wekasanipun „orang yang rendah hati dan mengalah akan dimuliakan‟. Alasan Kedua dari pemilihan topik tentang campur kode pada tuturan tokoh Pariyem dalam novel Pengakuan Pariyem adalah penulis ingin mengetahui latar belakang penggunaan campur kode dalam novel Pengakuan Pariyem ini. Berikut contohnya: (6) Fajar telah terbit di timur Sejak subuh hari para tamu pun pulang Begitupun nDoro Kanjeng dan nDoro Ayu esuk uthuk-uthuk turun ke Ngayogyakarta. (hal 210) (7) Betapa senangnya hati saya nDoro Putri tidur seamben dengan saya Dia betah dan krasan tinggal di desa dan, O, makan dan jajan apa adanya Tak pernah mencacat, dia nrima saja betapa senangnya hati saya (hal 211) Pada contoh (6) pengarang menggunakan istilah esuk uthuk-uthuk ‗pagi-pagi buta‘ untuk menggambarkan keadaan pagi pada latar penceritaan yang tidak terlalu subuh namun juga belum terlalu pagi. Penjelasan latar situasi penceritaan ini lebih memilih menggunakan bahasa Jawa karena merupakan kebiasaan untuk menceritakan situasi pagi hari yang digambarkan dalam cerita. Pada contoh (7) pengarang menggunakan istilah seamben ‗seranjang‘, krasan ‗betah‘, dan nrima ‗menerima‘ karena ingin menunjukkan bahwa penutur yang merupakan seorang pembantu memiliki kesantaian dalam berbicara.

(21) 6 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut 1.2.1 Dalam satuan lingual apa sajakah campur kode terjadi dalam novel Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi Ag? 1.2.2 Mengapa terjadi campur kode dalam novel Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi Ag? 1.3 Tujuan Penelitian Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas, penelitian ini bertujuan umum untuk menganalisis fenomena campur kode penggunaan bahasa Indoenesia, dalam hal ini akan diteliti terjadinya penggunaan bahasa Indonesia yang menggunakan unsur bahasa Jawa. Secara khusus, tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut. 1.3.1 Mendeskripsikan satuan lingual apa saja campur kode terjadi dalam novel Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi Ag 1.3.2 Mendeskripsikan sebab-sebab terjadinya campur kode dalam novel Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi Ag. 1.4 Manfaat Hasil Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat secara teoretis dan praktis. Secara teoretis manfaat yang didapat adalah mempertegas kajian

(22) 7 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI sosiolingustik dan stilistika. Pada penegasan kajian sosiolinguistik, penelitian ini diharapkan dapat menguatkan bahwa latar belakang seseorang penutur dapat mempengaruhi tuturan yang digunakannya. Dalam hal ini, latar belakang budaya, sosial, agama, lingkungan tempat tinggal, dan pendidikan memperkuat bagaimana seseorang bertutur. Selain itu, penelitian ini bermanfaat untuk pengembangan kajian stilistika, yakni bahwa dengan penggunaan bahasa daerah, yang secara khusus tampak dalam penelitian ini adalah bahasa Jawa, dapat memunculkan keindahan dan sopan santun dalam bertutur. Penggunaan campur kode ini juga menunjukkan adanya keinginan untuk mengungkapkan makna dengan lebih tepat. Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan referensi untuk membaca tindak campur kode yang muncul pada karya sastra lain selain novel Pengakuan Pariyem. Selain itu, pembaca juga bisa memiliki pemahaman mengapa terkadang dalam komunikasi terjadi tindak campur kode. 1.5 Tinjauan Pustaka Campur kode pernah diteliti sebelumnya oleh Ekayanti (2004) dalam skripsinya yang berjudul ―Campur Kode dalam Novel Belantik karya Ahmad Tohari‖ yang meneliti beberapa permasalahan, yakni, (1) jenis-jenis campur kode apa yang terdapat dalam Novel Belantik karya Ahmad Tohari berdasarkan satuan lingualnya, (2) jenis-jenis campur kode apa yang terdapat dalam Novel Belantik karya Ahmad Tohari berdasarkan bahasanya, (3) makna satuan lingual yang tercampur, dan (4) faktor penyebab terjadinya campur kode.

(23) 8 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Hendriawan (2009) dalam skripsinya yang berjudul ―Campur Kode pada Penulisan Blog www.seleb.tv‖ menulis bahwa campur kode terjadi bila seorang penutur menggunakan suatu bahasa secara dominan yang mendukung suatu tuturan disisipi oleh unsur bahasa lainnya. Permasalahanan yang dibahas dalam skripsinya, yakni (1) apa sajakah jenis campur kode, (2) apa sajakah wujud campur kode, dan (3) faktor apakah yang melatarbelakangi terjadinya campur kode. Yuniawan dalam jurnal Humaniora, Volume 17 No.1 (2005: 89-99) menulis tentang ―Campur Kode pada Masyarakat Etnik Jawa-Sunda: Kajian Sosiolinguistik dalam Ranah Pemerintahan di Kabupaten Brebes‖. Pada penelitian ini, Yuniawan menemukan wujud campur kode masyarakat etnik Jawa-Sunda yang berada dalam ranah pemerintahan, yang terdiri dari (1) campur kode BJw-dB dalam BI, (2) campur kode BS-dB dalam BI, (3) campur kode BJw-dB dalam BSdB, (4) campur kode BS-dB dalam BJw-dB, (5) campur kode BJw-Ng dalam BI, dan (6) campur kode BJw-Kr dalam BI. Setyawati dalam jurnal Jalabahasa, Volume 6, No.1 (2010:63-72) menulis tentang ―Campur Kode dalam Rubrik „Ah... Tenane‟ pada Harian Solopos Edisi 29-30 Januari dan 1 Februari 2010‖. Permasalahan yang diteliti oleh Setyawati adalah bentuk-bentuk campur kode dalam rubrik „Ah... Tenane‟ pada harian Solopos edisi 29-30 Januari 2010 dan 1 Februari 2010. Dari analisis yang dilakukan, diperoleh bahwa bentuk-bentuk campur kode adalah berupa penyisipan bahasa Jawa berupa kata, penyisipan berupa frasa, dan penyisipan berupa klausa ke dalam bahasa Indonesia.

(24) 9 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Ciptini (2003) dalam tesisnya meneliti tentang ―Jenis dan Alasan Penggunaan Campur Kode dalam Komunikasi Hubungan Kerja Rektor Universitas Negeri Semarang‖. Permasalahan yang dibahas dalam tesis tersebut yaitu jenis dan alasan apa saja yang menyebabkan digunakannya campur kode dalam komunikasi hubungan kerja rektor Universitas Negeri Semarang. Ada dua macam campur kode yang digunakan oleh rektor Universitas Negeri Semarang dalam komunikasi formal, yaitu (1) campur kode serumpun, dan (2) campur kode tak serumpun. Penggunaan campur kode tersebut terjadi pada penyisipan berupa kata, frasa, baster, dan idiom. Alasan penggunaan campur kode adalah untuk menunjukkan wawasan penutur yang luas, rasa kedaerahan, perasaan senang dan tidak senang, menghormati seseorang, dan keinginan untuk menjelaskan atau menafsirkan. Dalam skripsi ini dibahas campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia pada tuturan tokoh Pariyem dalam novel Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi Ag. Permasalahan yang diangkat adalah campur kode pada tuturan tokoh Pariyem yang terdapat pada novel Pengakuan Pariyem terjadi dalam satuan lingual apa saja dan sebab-sebab terjadinya campur kode dalam novel Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi Ag. Meskipun penelitian ini tidak mengembangkan hasil penelitian yang sudah ada mengenai jenis-jenis campur kode berdasarkan satuan lingualnya dan sebab-sebab terjadinya campur kode, penulis mengambil kelebihan dari penelitian ini, yakni karena novel Pengakuan Pariyem merupakan prosa lirik sehingga membuat novel ini memiliki perbedaan spesifik dengan novel-novel yang lain.

(25) 10 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1.6 Landasan Teori Landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini meliputi, (1) pengertian bilingualisme, (2) pengertian alih kode dan campur kode, (3) jenis campur kode berdasarkan satuan lingualnya, (4) faktor-faktor penyebab terjadinya campur kode. 1.6.1 Pengertian Bilingualisme Istilah bilingualisme dalam bahasa Indonesia disebut juga kedwibahasaan. Secara harafiah, yang dimaksud dengan bilingualisme, yaitu berkenaan dengan penggunaan dua bahasa atau dua kode bahasa. Secara sosiolinguistik, secara umum, bilingualisme diartikan sebagai penggunaan dua bahasa oleh seorang penutur dalam pergaulannya dengan orang lain secara bergantian (Mackey 1962:12, Fishman 1975:73 dalam Chaer 2004:84). Bloomfield dalam Chaer (2004:85) mengatakan bahwa bilingualisme adalah kemampuan seorang penutur untuk menggunakan dua bahasa dengan sama baiknya. Haugen (1961) mendukung pernyataan Bloomfield tentang bilingualisme dengan definisinya, yaitu tahu akan dua bahasa atau lebih berarti bilingual. Namun, menurut Haugen selanjutnya, seorang bilingual tidak secara aktif menggunakan kedua bahasa itu, tetapi cukup kalau bisa memahaminya saja. 1.6.2 Pengertian Campur Kode dan Alih Kode Appel dalam Chaer (2004:107) mendefinisikan alih kode sebagai, ―gejala peralihan pemakaian bahasa karena berubahnya situasi‖. Berbeda dengan Appel,

(26) 11 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Hymes (1875:103) menyatakan alih kode itu bukan hanya terjadi antarbahasa, tetapi dapat juga terjadi antara ragam-ragam atau gaya-gaya yang terdapat dalam satu bahasa. Pengalihan kode ini, dalam berbagai kepustakaan linguistik secara umum disebabkan oleh (1) pembicara atau penutur, (2) pendengar atau lawan tutur, (3) perubahan situasi dengan hadirnya orang ketiga, (4) perubahan dari formal ke informal atau sebaliknya, dan (5) perubahan topik pembicara (Chaer, 2004:108). Pembicaraan mengenai alih kode tidak terlepas dari pembahasan tentang campur kode. Kedua peristiwa yang lazim terjadi dalam masyarakat bilingual ini mempunyai kesamaan yang besar, sehingga seringkali sukar dibedakan. Hall dan Hill dalam Chaer (2004:114) dalam penelitian mereka mengenai masyarakat bilingual bahasa Spanyol dan Nahuali di kelompok Indian Meksiko, mengatakan bahwa tidak ada harapan untuk membedakan antara alih kode dan campur kode. Kesamaan antara alih kode dan campur kode adalah penggunaan dua bahasa atau lebih, atau dua varian dari sebuah bahasa dalam satu masyarakat tutur. Dalam alih kode setiap bahasa yang digunakan masih menduduki fungsi otonominya sendiri, sedangkan dalam campur kode, kode utama atau dasar masih menduduki fungsi otonomnya, sedangkan kode lain yang terlibat hanya berupa serpihan. Campur kode ialah fenomena pencampuran bahasa kedua ke dalam bahasa pertama, pencampuran bahasa asing ke dalam struktur bahasa ibu. Berdasarkan definisi sederhana ini, fenomena campur kode sebenarnya tidak melulu melibatkan bahasa asing. Bisa juga melibatkan bahasa daerah dengan bahasa nasional (http://indonesiasaram.wordpress.com/2007/01/06/campur-kode/).

(27) 12 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Campur kode adalah bilamana orang mencampur dua (atau lebih) bahasa atau ragam bahasa dalam suatu tindak bahasa (speech act atau discourse) tanpa ada sesuatu dalam situasi berbahasa itu yang menuntut pencampuran bahasa itu (Nababan, 1984:32). Fasold dalam Chaer (2004:115) berpendapat bahwa campur kode ialah fenomena yang lebih lembut daripada fenomena alih kode. Dalam campur kode terdapat serpihan-serpihan yaitu bahasa yang digunakan oleh seorang penutur, tetapi pada dasarnya dia menggunakan satu bahasa yang tertentu. Serpihan di sini dapat berbentuk kata, frasa, atau unit bahasa yang lebih besar. Terdapat dua tipe campur kode menurut Soewito (1985) yaitu campur kode intern (inner code-mixing) dan campur kode ekstern (outer code-mixing). Campur kode intern yaitu campur kode yang bersumber dari bahasa daerah. Campur kode ekstern (outer code-mixing) yaitu campur kode yang bersumber dari bahasa asing di luar bahasa penutur. 1.6.3 Jenis Campur Kode berdasarkan Satuan Lingual Bahasa bersifat abstrak. Bahasa itu adanya hanya dalam pemakaian (Sudaryanto, 1983:162). Bahasa dapat dikenali lewat wujud konkretnya. Wujud konkret bahasa itu adalah satuan-satuan lingual atau satuan-satuan kebahasaan. Satuan lingual adalah satuan yang mengandung arti, baik arti leksikal maupun gramatikal (lih, Ramlan, 2001:27). Satuan Lingual merupakan satuan dalam struktur bahasa (Kridalaksana, 1982:148). Satuan lingual antara lain berwujud kata, frasa, dan kalimat.

(28) 13 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Berdasarkan unsur-unsur kebahasaan yang terlibat di dalamnya, Suwito (1985:78) membedakan campur kode menjadi beberapa macam, antara lain: 1. Penyisipan unsur-unsur yang berwujud kata 2. Penyisipan unsur-unsur yang berwujud frasa 3. Penyisipan unsur-unsur yang berwujud baster 4. Penyisipan unsur-unsur yang berwujud perulangan kata 5. Penyisipan unsur-unsur yang berwujud ungkapan 6. Penyisipan unsur-unsur yang berwujud klausa 1.6.4 Faktor-Faktor Penyebab terjadinya Campur Kode 1.6.4.1 Menurut Dell Hymes Faktor penyebab campur kode menggunakan teori Dell Hymes (1972). Dell Hymes menggambarkan komponen tutur dalam suatu akronim bahasa Inggris yang terdolong dalam delapan unsur, sehingga menghasilkan akronim speaking, dengan huruf-huruf pertamanya sebagai berikut (Sumarsono, 2002:326-335). a. S(etting and scene) Latar mengacu pada waktu dan tempat terjadinya tindak tutur dan biasanya mengacu kepada keadaan fisik. Suasana mengacu kepada ―latar psikologis‖ atau batasan budaya tentang suatu kejadian sebagai suatu jenis suasana tertentu. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang dalam latar yang sama mungkin mengubah suasana, misalnya, dari formal menjadi informal, dari serius menjadi santai, dan sebagainya.

(29) 14 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI b. P(articipants) Partisipan adalah orang-orang yang terlibat dalam pertuturan. Beberapa kaidah wicara di beberapa etnik tertentu menuntut spesifikasi tiga partisipan, yaitu pengirim, penerima, pendengar, atau sumber bicara, juru bicara, dan penerima. c. E(nds) Menurut Hymes, tujuan suatu peristiwa dari sudut pandang guyup tidak perlu serupa dengan tujuan mereka yang terkait dalam guyup itu. Strategi para partisipan merupakan faktor yang menentukan dalam pembentukan peristiwa tutur. d. A(ct sequences) Act sequence (urutan tindakan) mencakup dua hal yakni bentuk pesan dan isi pesan. Bentuk pesan merupakan hal yang mendasar dan merupakan salah satu pusat tindak tutur, di samping isi pesan. Bentuk pesan menyangkut cara bagaimana sesuatu (topik) dikatakan atau diberitakan. Isi pesan berkaitan dengan persoalan apa yang dikatakan, menyangkut topik dan perubahan topik. Bentuk dan isi pesan itu merupakan keterampilan komunikatif yang bervariasi dari budaya yang satu ke budaya yang lain. Tiap penutur harus mengetahui bagaimana merumuskan peristiwa tutur dan tindak tutur yang menurut budaya guyupnya dinilai baik.

(30) 15 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI e. K(ey) (tone or spirit of act) Kunci mengacu kepada cara, nada, atau jiwa (semangat) tindak tutur dilakukan. Kunci itu serupa dengan modalitas dalam kategori gramatika. Tindak tutur bisa berbeda karena kunci, misalnya antara serius dan santai, hormat dan tak hormat, sederhana dan angkuh atau sombong, dan sebagainya. Pentingnya kunci terlihat jika ada konflik antara kunci dengan isi tindak tutur; kunci akan mengalahkan isi. f. I(nstrumentalities) Instrumentalitis mengacu kepada medium penyampaian tutur: lisan, tertulis, telegram, telepon, dan sebagainya. Dalam hal ini, orang harus membedakan cara menggunakannya. g. N(orms of interaction and interpretation) Semua kaidah yang mengatur pertuturan bersifat imperatif (memerintah). Maksudnya adalah perilaku khas dan sopan santun tutur yang mengikat yang berlaku dalam guyup. Interpretasi memiliki norma dan menurut Hymes mengimplikasikan sistem kepercayaan dari guyup. h. G(enres) Tentang ―genre‖ dimaksudkan kategori-kategori seperti puisi, mite, dongeng, peribahasa, teka-teki, cacian (kutukan), doa, orasi, kuliah, perdagangan, surat edaran, editorial, dan sebagainya. Pengertian genre

(31) 16 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI mengimplikasikan kemungkinan pengidentifikasian ciri-ciri formal (bentuk) yang secara tradisi sudah dikenal oleh warga guyup. Richards dkk (1985) mengemukakan, di dalam analisis wacana, genre adalah sekelompok peristiwa tutur yang oleh guyup tutur dianggap mempunyai tipe yang sama. Hymes menambahkan, genre sering terjadi bersama-sama dengan peristiwa tutur, tetapi harus tetap diperlakukan berbeda dari peristiwa tutur. 1.6.4.2 Menurut Weinreich Selain itu, Weinreich (1953) menjelaskan mengapa seseorang harus meminjam kata-kata dari bahasa lain. Hal ini pada dasarnya memiliki dua faktor, yaitu faktor internal (kebahasaan) dan faktor eksternal (non-kebahasaan). a. Faktor Internal (Kebahasaan) Latar belakang kebahasaan yang menyebabkan orang menggunakan campur kode adalah sebagai berikut. 1. Low frequency of word, yaitu kata-kata bahasa asing digunakan karena lebih mudah diingat dan lebih stabil maknanya. 2. Pernicious homonimy, yaitu jika penutur menggunakan kata dari bahasanya sendiri maka kata tersebut dapat menimbulkan masalah homonim yaitu makna ambigu. 3. End (purpose and goal), yaitu akibat atau hasil yang dikehendaki. End meliputi membujuk, menyarankan, dan menerangkan.

(32) 17 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI b. Faktor Eksternal (Non-Kebahasaan) Latar belakang non-kebahasaan yang menyebabkan orang menggunakan campur kode adalah. 1. Need for synonim, yaitu penutur menggunakan bahasa lain untuk memperhalus maksud tuturan. 2. Social value, yaitu penutur sengaja mengambil kata dari bahasa lain dengan mempertimbangkan faktor sosial 3. Perkembangan dan perkenalan dengan budaya baru 1.7 Metode Penelitian Penelitian ini dilakukan melalui tiga tahap strategis, yaitu: tahap pengumpulan data, tahap analisis data, dan tahap penyajian hasil analisis data. Berikut diuraikan masing-masing tahap penelitian tersebut. 1.7.1 Tahap Pengumpulan Data Data berupa teks diperoleh dari novel Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi Ag. Pemerolehan data dilakukan dengan metode simak. Metode penyediaan data ini diberi nama metode simak karena penjaringan data dilakukan dengan menyimak penggunaan bahasa (Kesuma, 2007:43). Dalam penelitian ini dilakukan penyimakan terhadap campur kode dalam tuturan Pariyem dalam novel Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi Ag. Teknik lanjutan dari metode simak dalam penelitian ini yaitu teknik simak bebas libat cakap.

(33) 18 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Teknik simak bebas libat cakap adalah penjaringan data yang dilakukan dengan menyimak penggunaan bahasa tanpa ikut berpartisipasi dalam proses pembicaraan. Dalam teknik ini, peneliti tidak dilibatkan langsung untuk ikut menentukan pembentukan dan pemunculan calon data kecuali hanya sebagai pemerhati (Kesuma, 2007:44. Lih. Sudaryanto, 1988:4). Dalam teknik simak bebas libat cakap digunakan teknik lanjutan yaitu teknik catat. Teknik catat adalah teknik menjaring data dengan mencatat hasil penyimakan data pada kartu data (Kesuma, 2007:45). Teknik catat ini merupakan upaya transkripsi yang merupakan akhir dari pengumpulan data. Selain transkripsi, tahap akhir dari pengumpulan data adalah pengklasifikasian data. Data diklasifikasikan berdasarkan satuan lingualnya. 1.7.2 Tahap Analisis Data Tahapan analisis data adalah langkah yang dilakukan peneliti setelah data terkumpul sebagai upaya untuk menangani masalah yang ada dalam data. Analisis data untuk penelitian ini menggunakan metode padan. Metode padan, yang disebut pula metode identitas, adalah metode analisis data yang alat penentunya berada di luar, terlepas, dan tidak menjadi bagian dari bahasa (langue) yang bersangkutan atau diteliti (Sudaryanto, 1993:13). Metode padan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode padan referensial, metode padan pragmatis, dan metode padan translasional. Metode padan referensial adalah metode padan yang alat penentunya berupa referen bahasa (Kesuma, 2007:48). Metode padan referensial ini untuk

(34) 19 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI mengidentifikasi satuan kebahasaan dari data yang ditunjuk. Contoh penerapannya sebagi berikut. (8) Saya lebih patut sebagai biyung emban (Suryadi, 2002:23) Kalimat (8) menunjukkan kata biyung emban ‗ibu pengasuh‘ merupakan satuan lingual berupa frasa. Penentuan satuan lingual pada kalimat tersebutlah yang merupakan penentuan identitas berupa metode padan referensial. Metode padan pragmatis adalah metode padan yang alat penentunya lawan atau mitra bicara. Metode ini digunakan untuk mengidentifikasi, misalnya, satuan kebahasaan menurut reaksi atau akibat yang terjadi atau timbul pada lawan atau mitra wicaranya ketika satuan kebahasaan itu dituturkan oleh pembicara (Kesuma, 2007:49). Contoh penerapannya adalah sebagai berikut. (9) Dasar perempuan suka celelekan Diberi tahu malah ngikik ketawa (Suryadi, 2002:120) Contoh (9) menekankan pada penggunaan kata celelekan ‗tidak bisa bersungguhsungguh‘ untuk menunjukkan bahwa penggunaan kata bahasa Jawa lebih mendukung pada maksud yang ingin disampaikan penutur tentang sifat lawan bicaranya yang tidak bisa diajak serius. Metode padan translasional adalah metode padan yang alat penentunya bahasa lain (Kesuma, 2007:49). Contoh penerapan metode padan translasional adalah sebagai berikut. (10) Hasrat mangku wanodya bangkit –mana tahan— (Suryadi, 2002:25) Contoh (10) menggunakan kata bahasa Jawa wanodya. Dalam bahasa Indonesia kata tersebut memiliki arti ‗wanita atau perempuan‘. Pada contoh (10) kata

(35) 20 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI wanodya dalam bahasa Jawa merujuk pada maksud yang sama dengan kata wanita dalam bahasa Indonesia. Teknik lanjutan yang digunakan dalam metode ini adalah teknik hubung banding menyamakan hal pokok. Teknik hubung banding menyamakan hal pokok adalah teknik analisis data yang alat penentunya berupa daya banding menyamakan hal pokok di antara satuan-satuan kebahasaan yang ditentukan identitasnya (Kesuma, 2007: 54). 1.7.3 Tahap Penyajian Hasil Analisis Data Hasil analisis data disajikan dengan metode informal. Penyajian hasil analisis data secara informal adalah penyajian hasil analisis data dengan menggunakan kata-kata biasa sehingga apabila dibaca langsung dapat dipahami (Kesuma, 2007: 71). 1.8 Sistematika Penyajian Laporan hasil penelitian ini terdiri dari empat bab. Bab I berisi pendahuluan. Dalam bab ini diuraikan perihal latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metode penelitian, dan sistematika penyajian. Bab II berisi uraian mengenai jenis-jenis campur kode berdasarkan satuan lingualnya yang ada dalam novel Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi Ag. Berdasarkan satuan lingualnya, campur kode terbagi atas beberapa jenis yaitu, campur kode berupa kata, campur kode berupa frasa, campur kode berupa bentuk

(36) 21 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ulang, campur kode berupa baster, campur kode berupa klausa, dan campur kode berupa ungkapan. Bab III berisi uraian mengenai sebab-sebab terjadinya campur kode dalam novel Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi Ag. Alasan penutur menggunakan campur kode ada dua, yaitu adanya faktor internal (kebahasaan) dan faktor eksternal (non-kebahasaan). Bab IV berisi kesimpulan dan saran. Kesimpulan yang dimaksud adalah kesimpulan tentang jenis-jenis campur kode berdasarkan satuan lingualnya dan sebab-sebab terjadinya campur kode dalam novel Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi Ag. Saran yang dimaksud adalah saran kepada peneliti lain yang tertarik untuk mengkaji novel Pengakuan Pariyem dengan tinjauan yang berbeda atau mengkaji campur kode dalam konteks yang lain.

(37) 22 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II CAMPUR KODE BERDASARKAN SATUAN LINGUAL DALAM NOVEL PENGAKUAN PARIYEM 2.1 Pengantar Ada dua tipe campur kode, menurut Soewito (1985), yaitu campur kode intern yaitu campur kode yang bersumber dari bahasa daerah dan campur kode ekstern yaitu campur kode yang bersumber dari bahasa asing di luar bahasa penutur. Sesuai dengan latar belakang penulis dan latar belakang situasi penulisan karya, campur kode yang terjadi dalam novel Pengakuan Pariyem cenderung mengarah pada tipe pertama, yakni campur kode intern. Campur kode yang terjadi dalam novel Pengakuan Pariyem merupakan campur kode intern yang terjadi dari bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia. Campur kode tidak hanya terjadi dalam tataran kata, melainkan juga dalam satuan lingual lainnya seperti frasa, kalimat, dan klausa. Pada bagian ini akan diungkapkan campur kode yang terjadi dalam novel Pengakuan Pariyem berdasarkan satuan lingualnya 2.2 Kuantitas Penggunaan Campur Kode di dalam Novel Pengakuan Pariyem Wujud campur kode, menurut Soewito (1985), terbagi atas beberapa satuan lingual, yaitu campur kode berupa kata, baster, perulangan kata, frasa, dan ungkapan. Berikut ini tabel jumlah campur kode yang terjadi dalam novel Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi Ag (lihat lampiran 2).

(38) 23 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Wujud Campur Kode Jumlah Kata 167 Frasa 15 Baster 18 Bentuk Ulang 25 Peribahasa 19 Total 244 Tabel 1.1 kuantitas penggunaan campur kode Dari tabel 1.1, dapat dilihat seringnya penggunaan campur kode berupa kata dan peribahasa dalam tuturan pada novel Pengakuan Pariyem. Peristiwa campur kode tersebut sering digunakan oleh tokoh Pariyem dalam komunikasi sehariharinya dengan orang di sekitarnya. Penggunaan campur kode berupa kata, frasa, baster, dan peribahasa tersebut mewakili latar belakang tokoh untuk mengungkapkan sesuatu kepada lawan bicaranya. Peristiwa campur kode berupa percampuran dari bahasa Jawa ini terjadi karena penutur1 memiliki latar belakang budaya Jawa yang kental. Selain itu, dalam suatu komunikasi, penutur ingin mengungkapkan maksud tuturan dengan lebih sopan ataupun lebih kasar yang berarti ‗menegaskan‘. Dalam hal ini, bentuk tutur bahasa Jawa secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua, yakni bentuk hormat dan bentuk biasa. 1 Pariyem

(39) 24 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Rahardi (2001:59-60) mengungkapkan tingkat tutur bahasa Jawa menjadi tiga, yaitu tingkat tutur ngoko yang memiliki makna rasa yang tak berjarak antara orang pertama atau penutur dengan orang kedua atau mitra tutur, tingkat tutur krama yang memancarkan arti penuh sopan-santun antara sang penutur dengan mitra tutur, dan tingkat tutur madya yang berada di antara tingkat tutur krama dan tingkat tutur ngoko yang menunjukkan perasaan sopan tetapi tingkatnya tidak terlalu tinggi dan juga tidak terlalu rendah. Berdasarkan kuantitas penggunaan campur kode dalam novel Pengakuan Pariyem, berikut dipaparkan bentuk campur kode berdasarkan satuan lingualnya yang terdapat dalam novel Pengakuan Pariyem. 2.3 Bentuk Campur Kode dalam Novel Pengakuan Pariyem berdasarkan Satuan Lingualnya Berdasarkan satuan lingualnya, campur kode yang ditemukan dalam Novel Pengakuan Pariyem adalah sebagai berikut. 2.3.1 Campur Kode berupa Kata Kata adalah satuan bebas yang paling kecil yang dapat berdiri sendiri dan mempunyai arti. Gorys Keraf dalam Kridalaksana (1990:25) membagi kata atas empat bagian, yaitu kata benda (nomina), kata kerja (verba), kata sifat (adjektiva), dan kata tugas. Berikut campur kode berupa kata yang ditemukan dalam novel Pengakuan Pariyem.

(40) 25 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2.3.1.1 Campur Kode Berupa Kata Benda ( Nomina ) Kata benda (nomina) adalah kata yang mengacu pada manusia, binatang, benda, dan konsep atau pengertian (Hasan Alwi, 2003:213). Campur kode berupa kata benda yang terdapat dalam novel Pengakuan Pariyem adalah sebagai berikut. 2.3.1.1.1 Kata Benda yang Menyatakan Sapaan Kata benda yang menyatakan sapaan dalam bahasa Jawa sama dengan kata benda berupa yang menyatakan sapaan dalam bahasa Indonesia. Contoh kata benda yang menyatakan sapaan dalam novel Pengakuan Pariyem adalah sebagai berikut. (11) ―Jangan sampeyan bertanya ‗Kenapa dua adik saya tak bernama Bambang dan Endang saja?‘ (Suryadi, 2002:5) (12) Sedangkan pada hari siang ketimbang ngrasani para tetangga dan bergunjing perkara bendoronya ongkang-ongkang di amben dapur sinambe kalaning nganggur (Suryadi, 2002:21) (13) Demikian pun bapak dan simbok saya tanpa rasa sesal dan rasa curiga (Suryadi, 2002:26) Campur kode berupa kata benda yang menyatakan sapaan tampak dalam contoh (11) kata sampeyan ‗Anda‘, contoh (12) kata bendoro ‗Tuan‘, dan contoh (13) kata simbok ‗Ibu‘. 2.3.1.1.2 Kata Benda yang Menyatakan Nama Benda Contoh campur kode berupa kata benda yang menyatakan nama benda adalah sebagai berikut.

(41) 26 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (14) Ongkang-ongkang di amben dapur Sinambi kalaning nganggur (Suryadi, 2002:21) (15) Hasrat mangku wanodya bangkit –mana tahan- (Suryadi, 2002:25) (16) Saya songkokkan di dada sebagai kutang menyongkok penthil (Suryadi, 2002:28) (17) Waktu prabu Ajisaka menggelar iketnya prabu Dewata Cengkar sampai terjungkal (Suryadi, 2002:44) (18) Suatu hari wong bule datang (Suryadi, 2002:110) (19) Yang dekat Alun-alun Lor jalan kaki yang jauh dari luar kota naik colt (Suryadi, 2002:121) (20) Dengan rasa bangga dan lega –pulanglahNumpak andhong ditarik dua jaran (Suryadi, 2002:125) Campur kode yang berupa kata benda yang menyatakan nama benda tampak pada contoh (14) kata amben ‗balai-balai‘, contoh (15) kata wanodya ‗wanita‘, contoh (16) kata kuthang ‗pakaian dalam wanita (BH)‘ dan kata penthil ‗puting susu‘, contoh (17) kata iket ‗ikat kepala‘, contoh (18) kata wong ‗orang‘, contoh (19) kata colt ‗merk angkutan umum‘, dan contoh (20) kata jaran ‗kuda‘. 2.3.1.1.3 Kata Benda yang Menyatakan Pelaku atau Orang yang Sedang Melakukan Pekerjaan Contoh campur kode berupa kata benda yang menyatakan pelaku atau orang yang sedang melakukan pekerjaan adalah sebagai berikut. (21) ―Sedang simbok saya jadi ledhek Parjinah nama kecilnya (Suryadi, 2002:24) (22) ―Iyem‖ panggilan sehari-harinya dari Wonosari Gunung Kidul Sebagai babu nDoro Kanjeng Cokro Sentono (Suryadi, 2002:34)

(42) 27 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (23) nDoro Kanjeng langka absen, lho menghadiri sarasehan para sindhen (Suryadi, 2002:70) Campur kode berupa kata benda yang menyatakan pelaku atau orang yang sedang melakukan pekerjaan tampak pada contoh (21) kata ledhek yang memiliki arti penandak; penari (perempuan) dalam kethoprak, contoh (22) kata babu ‗pembantu‘, dan contoh (23) kata sindhen ‗penyanyi yang diiringi dengan musik gamelan‘. 2.3.1.2 Berupa Kata Kerja (Verba) Kata kerja atau verba adalah kata yang menggambarkan proses, perbuatan (aksi), atau keadaan yang bukan sifat atau kualitas. Verba, khususnya yang bermakna keadaan, tidak dapat diberi prefix ter- yang berarti paling. Verba juga tidak dapat bergabung dengan kata-kata yang menyatakan makna kesangatan (Alwi, 2003:87). Secara umum verba dapat diidentifikasi dan dibedakan dari kelas kata yang lain, terutama dari adjektiva, karena cirinya sebagai berikut (Depdikbud, 1988:76). a. Verba berfungsi utama sebagai predikat atau sebagai inti predikat dalam kalimat walaupun dapat juga mempunyai fungsi lain. b. Verba mengandung makna dasar perbuatan (aksi), proses, atau keadaan yang bukan sifat atau kualitas. c. Verba, khususnya yang bermakna keadaan, tidak dapat diberi prefiks ter- yang berarti ‗paling‘.

(43) 28 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Campur kode berupa verba yang ditemukan dalam novel Pengakuan Pariyem adalah sebagai berikut. 2.3.1.2.1 Kata Kerja yang Menyatakan Aksi atau Perbuatan Contoh campur kode berupa kata kerja yang menyatakan aksi atau perbuatan adalah sebagai berikut. (24) Saya sudah membereskan meja makan Cuci pakaian, asah-asah, setlika sudah saya kerjakan dengan setia kini saya berhak tidur –ngaso- (Suryadi, 2002:30) (25) Karsa mrentul di dalam sanubari sebagai puting susu disedot lelaki Muncul ke luar ia membutuhkan papan sebagai ludah insan cipokan merembus ke luar tak terkendalikan (Suryadi, 2002:32) (26) ―Saya ingat hari terjadinya Dan saya ingat hari pasarannya Kamis Pahing persisnya jatuh pada bulan purnama Dan sejak itu, tiap kali kangen dia terus mengajak sare sama saya (Suryadi, 2002:40) (27) ―Ah ya, Raden Bagus Ario Atmojo Begitu bila nDoro Ayu bercerita pada para tamu yang sowan ke ndalemnya Dia kuliah di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (Suryadi, 2002:41) (28) ―nDoro Kanjeng wong wicaksono, lho Sering benar diminta kasih wejangan Dalam upacara ngundhuh pengantin upacara tetesan dan supitan Dalam upacara layat kematian dan dalam upacara ruwatan (Suryadi, 2002:65) (29) Ki dalang Kimpul dari Sleman melakonkan Alap-alapan Sukesi Dan simbok nyindhen sampai pagi terang, pulangnya diantar seorang lelaki

(44) 29 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Sedang bapak ngetoprak di Tempel pulangnya saban seminggu sekali (Suryadi, 2002:81) (30) ―Sekadar mencari angin malam Makan nasi goreng pada bu Luntur di Alun-alun Lor Ngayogyakarta Minum teh nas-gi-thel bergula batu di pojok wetan Paku Alaman Makan nasi gudeg dan teh jahe di depan pasar gede Beringharjo Sehabis nonton gambar hidup di gedung Ratih atau Indra Atau nonton seni pertunjukan di Senisono atau Purna Budaya Atau mirsani pagelaran wayang di Alun-alun Kidul Ngayogyakarta (Suryadi, 2002:97) (31) Ah, ya betapa lucu mereka pertengkaran mulut sebagai buahnya Lalu masing-masing pada wadul kepada Romo dan Ibunya (Suryadi, 2002:144) Adapun verba yang menyatakan aksi atau perbuatan dalam contoh (24) sampai contoh (31) adalah, ngaso ‗beristirahat‘, cipokan ‗ciuman‘, sare ‗tidur‘, sowan ‗berkunjung‘, ngundhuh ‗memetik; menjemput pengantin dari rumah pengantin perempuan‘, ngetoprak ‗bermain ketoprak‘, mirsani ‗menyaksikan‘, dan wadul ‗mengadu‘. 2.3.1.2.2 Kata Kerja yang Menyatakan Keadaan Contoh campur kode berupa kata kerja yang menyatakan keadaan adalah sebagai berikut. (32) Apabila saya menyapa Den Baguse bayang matanya penuh alam mimpi Dia menelan ludah berkali-kali Anunya lalu ngaceng, lho (Suryadi, 2002:35) (33) Dari Wonosari Gunung Kidul

(45) 30 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI saya pun menggelinding –turunmBeboro mencari tumpangan raga Sebagai babu nDoro Kanjeng Cokro Sentono di nDalem Suryomentaraman Ngayogyakarta Tapi dengan putra sulungnya main asmara dan kini meteng sebagai buahnya (Suryadi, 2002:181) Campur kode berupa kata kerja yang menyatakan keadaan tampak pada contoh (32) kata ngaceng yang berarti tegang atau ereksi, dan contoh (33) kata meteng yang berarti hamil. 2.3.1.3 Berupa Kata Sifat (Adjektiva) Kata sifat atau adjektiva adalah kata yang memberikan keterangan yang lebih khusus tentang sesuatu yang dinyatakan oleh nomina dalam suatu kalimat. Adjektiva dapat diikuti kata keterangan sekali, serta dapat dibentuk menjadi kata ulang berimbuhan gabung se-nya (Hasan Alwi, 2003:171). Ciri-ciri adjektiva adalah sebagai berikut (Depdikbud, 1988:209). a. Adjektiva dapat diberi keterangan pembanding seperti lebih, kurang, dan paling: lebih besar, kurang baik, paling mahal. b. Adjektiva dapat diberi keterangan penguat seperti sangat, amat, benar, sekali, dan terlalu: sangat indah, amat tinggi, pandai benar, murah sekali, terlalu murah. c. Adjektiva dapat diingkari dengan kata ingkar tidak: tidak bodoh, tidak salah, tidak benar. d. Adjektiva dapat diulang dengan awalan se- dan akhiran –nya: sebaikbaiknya, serendah-rendahnya, sejelek-jeleknya. e. Adjektiva pada kata tertentu dapat berakhir antara lain dengan -er,

(46) 31 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI -(w)i, -iah, -if, -al, dan –ik: honorer, duniawi, ilmiah, negatif, formal. Campur kode berupa kata kerja yang ditemukan dalam novel Pengakuan Pariyem adalah sebagai berikut. 2.3.1.3.1 Adjektiva yang Menyatakan Penilaian Contoh campur kode berupa kata sifat yang mengatakan penilaian adalah sebagai berikut. (34) Bapak saya biasa berperan bambangan banyak benar wanita kepencut sama bapak saya Apalagi bila dia sudah gandrung – ura-urapara penonton terharu hilang kata (Suryadi, 2002:24) (35) Perasaannya peka sepeka pita kaset Dan rangkulannya jembar sejembar pergaulannya (Suryadi, 2002:65) (36) Ibarat minyak dan air tak bisa lebur tak bisa akur selalu kerah –congkrah- (Suryadi, 2002:76) (37) Agar jejeg imannya dan landhep batinnya (Suryadi, 2002:105) (38) Dasar perempuan suka celelekan diberi tahu malah ngikik ketawa (Suryadi, 2002:120) Campur kode berupa adjektiva yang menyatakan penilaian tampak pada contoh (34) sampai (38) diatas yaitu, gandrung ‗kasmaran, tergila-gila‘, jembar ‗lebar‘, kerah ‗berkelahi‘, ‗seenaknya sendiri‘. serta jejeg ‗tegak lurus‘, landhep ‗tajam‘ dan celelekan

(47) 32 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2.3.1.3.2 Adjektiva yang Menyatakan Perasaan Batin Contoh campur kode yang berupa adjektiva yang menyatakan perasaan batin adalah sebagai berikut. (39) Tapi saya juga pasang gaya: Melepas setagen berganti kain cobot kebaya ganti yang lain Wuah, wuah, dia pasti terus merajuk tidak jarang dia pun ngamuk-ngamuk Bilangnya, dia tresna banget sama saya (Suryadi, 2002:47) (40) Dan hanya kepada sampeyan, lho, mas lelakon semua ini saya ceritakan Tak saya sidhem, tak saya dekam saya krasan yang serba tentram (Suryadi, 2002:63) (41) Begitupun Nyai Kondhang kuning Dari Kricak Lor Ngayogyakarta Suaranya anyles bikin gemes (Suryadi, 2002:71) (42) Dalam kantuk yang menggandhul Hati saya sumeleh, bersyukur (Suryadi, 2002:77) (43) Apakah karena terbawa oleh naluri Lelaki itu karem banget kekuasaan (Suryadi, 2002:152) Campur kode berupa adjektiva yang menyatakan perasaan batin tampak pada contoh (39) kata tresna ‗cinta‘, contoh (40) kata krasan ‗betah‘, contoh (41) kata anyles ‗sejuk sekali‘, contoh (42) kata sumeleh ‗tawakal‘, dan contoh (43) kata karem ‗suka sekali akan; sudah menjadi kegemaran‘. 2.3.1.3.3 Adjektiva yang Menyatakan Warna Contoh campur kode berupa adjektiva yang menyatakan warna adalah sebagai berikut. (44) Membeli telur godhog sunduk Yang diborehi warna abang (Suryadi, 2002:119)

(48) 33 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Campur kode berupa adjektiva yang menyatakan warna dalam novel Pengakuan Pariyem hanya ditemukan satu data yakni contoh (44) kata abang ‗merah‘. 2.3.1.4 Berupa Kata Tugas Kata tugas hanya mempunyai arti gramatikal, tetapi tidak memiliki arti leksikal. Ini berarti bahwa arti suatu kata tugas ditentukan bukan oleh kata itu secara lepas, tetapi oleh kaitannya dengan kata lain dalam frasa atau kalimat. Kata seperti dan, ke, karena, dan dari termasuk dalam kelas kata tugas (Alwi, 2003:287). Ciri lain dari kata tugas adalah bahwa hampir semua kata tugas tidak dapat mengalami perubahan bentuk. Berdasarkan peranannya dalam frasa atau kalimat, kata tugas dibagi menjadi lima kelompok, yaitu preposisi (kata depan), konjungsi (kata sambung), interjeksi (kata seru), artikula (kata sandang), dan partikel penegas. Dalam novel Pengakuan Pariyem, jenis kata tugas yang ditemukan berupa partikel, sebagaimana terlihat pada contoh berikut. (45) Kalau memang sudah nasib saya Sebagai babu, apa ta, repotnya? Gusti Allah Maha Adil, kok Saya nrima ing pandum (Suryadi, 2002:29) (46) Dan saya langka mencaci orang, lho kecuali orangnya memang sontoloyo (Suryadi, 2002:34) (47) ―Ketlingsut ke mana kamu, yu Iyem? Sudah 5 tahun di Yogya kok hilang Kepencut sama wong lanang apa, ha?‖ (Suryadi, 2002:120) (48) Dalam gelora hasrat yang berkobar apabila derita sudah terlupakan Lha, ya, jangan meleh-melehake, mas bila suatu hari nanti saya meteng

(49) 34 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dan kudu melahirkan bayi kembali – Lha, ya, mau bagaimana lagi, ta enak, kok kepenak (Suryadi, 2002:218) Kata tugas berupa partikel yang ditemukan dalam novel Pengakuan Pariyem pada contoh (45) sampai contoh (48) adalah ta, lho, ha, lha, dan ya. 2.3.2 Campur Kode berupa Frasa Frasa adalah satuan gramatikal yang terdiri dari dua atau lebih dari dua kata yang tidak berciri klausa dan yang pada umumnya menjadi pembentuk klausa (Kentjono, 1984:57). Sama halnya dengan kata, frasa dapat berdiri sendiri. Pada umumnya frasa dapat diperluas. Contoh penyisipan kata pada frasa merupakan bentuk perluasan frasa. Dalam bahasa Indonesia, kata terakhir dalam frasa umumnya mempunyai tekanan yang lebih keras dari kata lain dalam frasa itu (Kentjono, 1984:58). Dalam novel Pengakuan Pariyem, campur kode yang terjadi pada satuan lingual frasa adalah sebagai berikut. 2.3.2.1 Campur Kode Berupa Frasa Nomina Menurut Ramlan (1995:167), frasa nomina adalah frasa yang memiliki distribusi yang sama dengan kata nominal. Menurut Wijana (2009:29), frasa nomina adalah kelompok kata yang unsur pusatnya nomina. Unsur pusatnya tidak selalu monomorfemik, tetapi mungkin pula polimorfemik. Berikut contoh campur kode berupa frasa nomina yang terjadi dalam tuturan pada novel Pengakuan Pariyem:

(50) 35 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (49) O, Allah, Gusti nyuwun ngapura Saya lebih patut sebagai biyung emban (Suryadi, 2002:23) (50) Gusti Allah, Maha Adil, kok (Suryadi, 2002:29) (51) Tapinya kosong melompong buahnya kanthong bolong (Suryadi, 2002:59) (52) Hatinya longgar selonggar kathok kolor (Suryadi, 2002:65) (53) Pikirannya tajam setajam keris warangan (Suryadi, 2002:65) (54) ―Sejak siang hujan riwis-riwis Jatuh di jagad Ngayogyakarta (Suryadi, 2002:41) Campur kode berupa frasa nomina dalam novel Pengakuan Pariyem tampak pada contoh (49) frasa biyung emban ‗ibu pengasuh‘, contoh (50) frasa gusti allah ‗Tuhan Allah‘, contoh (51) frasa kanthong bolong ‗kantung berlubang‘, contoh (52) frasa kathok kolor ‗celana longgar‘, contoh (53) frasa keris warangan ‗keris yang dilumuri arsenicum, digunakan supaya keris tidak lekas berkarat‘, dan contoh (54) frasa hujan riwis-riwis ‗hujan rintik-rintik‘. 2.3.2.2 Campur Kode Berupa Frasa Verbal Frasa verba adalah frasa yang berdistribusi yang sama dengan kata verba (Ramlan, 1995:168). Menurut Wijana (2009:48), frasa verbal adalah kelompok kata yang unsur pusatnya verbal. Contoh campur kode berupa frasa verbal dalam novel Pengakuan Pariyem adalah sebagai berikut: (55) Tapi tongseng dan nasi goreng, ojo takon - karemnya luar biasa, tak ketulungan (Suryadi, 2002:41)

(51) 36 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (56) Dengan berpokrol bambu, waton mangap Bergaya atos pula: akhirnya uanglah Yang menjadi kunci kepribadiannya (Suryadi, 2002:134) Campur kode berupa frasa verbal dalam novel Pengakuan Pariyem tampak pada contoh (55) frasa ojo takon ‗jangan bertanya‘ dan contoh (56) frasa waton mangap ‗asal buka mulut; asal bicara‘. 2.3.2.3 Campur Kode Berupa Frasa Adjektival Frasa adjektival adalah frasa yang memiliki distribusi yang sama dengan kata adjektival (Ramlan, 1995:176). Campur kode berupa frasa adjektival dalam novel Pengakuan Pariyem adalah sebagai berikut: (57) Dia punya katuranggan raden Gatotkaca : gantheng tapi lembut Kalem tapi pun sembodo Guwayanya suntrut dan pasuryannya bercahaya (Suryadi, 2002:43) (58) Bagaikan iket kepala Sala-Ngayogya dijereng jembar, dipakai pun longgar (Suryadi, 2002:44) (59) Saya tak ayem tentrem karenanya saya tak krasan ketemu siapa saja (Suryadi, 2002:60) (60) Tapi juga di Pendhopo Kecamatan, Kabupaten Pendhopo Kalurahan dan rumah gedheg kampung Lha, ya, jangan heran saya hafal nama-nama nDoro Putri demen banget cerita sama saya (Suryadi, 2002:154) Campur kode berupa frasa adjektival dalam novel Pengakuan Pariyem tampak pada contoh (57) sampai contoh (60), yaitu frasa guwayanya suntrut ‗airmukanya muram‘, frasa dijereng jembar ‗dibentang lebar‘, frasa ayem tentrem ‗tenang, tenteram‘, dan frasa demen banget ‗suka sekali‘.

(52) 37 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2.3.2.4 Campur Kode Berupa Frasa Preposisional Frasa preposisional adalah frasa yang mempunyai distribusi yang sama dengan preposisi. Campur kode berupa frasa preposisional yang terdapat dalam novel Pengakuan Pariyem adalah sebagai berikut: (61) ketimbang ngrasani para tetangga dan bergunjing para bendoronya ongkang-ongkang di amben dapur (Suryadi, 2002:21) (62) O, bapak, O, simbok anakmu kungkum di sendhang menanggung beban sendirian (Suryadi, 2002:87) Campur kode berupa frasa preposisional dalam novel Pengakuan Pariyem tampak pada contoh (61) frasa di amben ‗di balai-balai‘, dan contoh (62) frasa di sendhang ‗di mata air‘. 2.3.2.5 Campur Kode Berupa Frasa Adverbial Frasa adverbial atau keterangan adalah frasa yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata keterangan (Ramlan, 1995:177). Campur kode frasa adverbial yang ditemukan pada novel Pengakuan Pariyem adalah sebagai berikut: (63) ―Sejak esuk uthuk-uthuk saya memasang gendang telinga (Suryadi, 2002:hal36) (64) Begitupun nDoro Kanjeng dan nDoro Ayu esuk uthuk-uthuk turun ke Ngayogyakarta (Suryadi, 2002:210) Campur kode berupa frasa adverbial dalam novel Pengakuan Pariyem ditemukan dua dan sama, yakni pada contoh (63) dan contoh (64) frasa esuk uthuk-uthuk ‗pagi-pagi sekali‘.

(53) 38 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2.3.3 Campur Kode Berupa Baster Campur kode berupa baster dalam hal ini terjadi dalam pembentukan bentuk dasar dari bahasa asing maupun bahasa daerah ke dalam proses afiksasi. Berdasarkan data yang telah diperoleh, bentuk baster yang terdapat pada novel Pengakuan Pariyem dibagi atas pola berikut. a. Awalan + kata b. Kata + akhiran c. Frasa + akhiran 2.3.3.1 Campur Kode Berupa Baster dengan Pola Awalan + Kata Contoh campur kode berupa baster dengan pola awalan + kata adalah sebagai berikut. (65) ya, ya, Raden Bagus Ario Atmojo namanya Kalau sudah merah matanya seolah jagad gelap gulita Hasratnya tak bisa dipenggak, ditunda biar dengan bujuk rayu dan janji segala (Suryadi, 2002:47) (66) Tanpa kehilangan rasa gembira keindahan terbabar bersama jua Dan hidup mengalir penuh citra: Rasanya intim, rasanya jenaka kesahajaan pun ada di dalamnya (Suryadi, 2002:78) (67) Ah, ya, kang Kliwon pintar, kok habis bantingan saya diongklok (Suryadi, 2002:96) Campur kode berupa baster dengan pola awalan + kata dalam novel Pengakuan Pariyem, tampak pada contoh (65) di- + penggak ‗dicegah, dihalang, dirintang‘, contoh (66) ter- + babar ‗terkembang, terbuka, terpapar, terurai‘, dan contoh (67) di- + ongklok ‗diangkat dan diturunkan dengan cepat‘.

(54) 39 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2.3.3.2 Campur Kode Berupa Baster dengan Pola Kata + Akhiran Contoh campur kode berupa baster dengan pola kata + akhiran adalah sebagai berikut. (68) Saya bayangkan dan saya kenangkan: Banyak sindhen kawentar berkumpul gelungan munthil-munthil dan bengesan Dengan berkebaya dan jarikan lurik (Suryadi, 2002:70) (69) Demikianpun kami perempuan bertiga: nDoro Ayu, nDoro Putri, dan saya ada dalam uyuk-uyukan berebutan (Suryadi, 2002:125) (70) ―Oh, adhuh! Ini anak saya‖ Saya pun berpura-pura: ―Sakit benar gronjolannya!‖ Saya pun merintih kesakitan (Suryadi, 2002:125) Campur kode berupa baster dengan pola kata + akhiran dalam novel Pengakuan Pariyem tampak pada contoh (68) benges + -an ‗berhias‘ dan jarik + -an ‗berkain sarung (untuk wanita)‘, contoh (69) uyuk-uyuk + -an ‗berdesakan‘, dan contoh (70) gronjolan + -nya ‗rontaannya‘. 2.3.3.3 Campur Kode Berupa Baster dengan Pola Frasa + Akhiran Contoh campur kode berupa baster dengan pola frasa + akhiran adalah sebagai berikut. (71) Lha, kalau numpak sepeda motor Yamaha ngebut banternya luar biasa (Suryadi, 2002:42) Campur kode berupa baster dengan pola frasa + akhiran dalam novel Pengakuan Pariyem tampak pada contoh (71) ngebut banter + -nya ‗ngebut kencangnya‘.

(55) 40 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2.3.4 Campur Kode Berupa Bentuk Ulang Campur kode berupa bentuk ulang dalam novel Pengakuan Pariyem berupa bentuk ulang kata bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia. Berikut campur kode berupa bentuk ulang yang ditemukan dalam novel Pengakuan Pariyem. 2.3.4.1 Campur Kode Berupa Bentuk Ulang Dasar Bentuk ulang dasar ialah kata ulang yang terjadi dari pengulangan seluruh bentuk dasar kata. Kata ulang dasar disebut dwilingga. Campur kode berupa bentuk ulang dasar yang terdapat dalam novel Pengakuan Pariyem adalah sebagai berikut. (72) Hidup yang prasojo saja tak usah yang aeng-aeng (Suryadi, 2002:hal 28) (73) O, Allah, Gusti nyuwun ngapura badan saya jentol-jentol semua (Suryadi, 2002:85) (74) Sampai kelon yang terakhir saya tidak meteng-meteng lho (Suryadi, 2002:96) Campur kode berupa bentuk ulang dasar dalam novel Pengakuan Pariyem tampak pada contoh (72) kata aeng-aeng ‗aneh-aneh‘, contoh (73) kata jentoljentol ‗bentol-bentol‘, dan contoh (74) kata meteng-meteng ‗hamil-hamil‘. 2.3.4.2 Campur Kode Berupa Bentuk Ulang Berimbuhan Bentuk ulang berimbuhan ialah kata ulang yang dalam proses perulangannya mendapatkan imbuhan. Contoh campur kode berupa bentuk ulang berimbuhan pada novel Pengakuan Pariyem adalah sebagai berikut. (75) ―Tapi dia sangat grapyak,

(56) 41 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kata wong Jawa –micaraniSahabat karibnya banyak sekali tapi dia masih mbok-mboken, lho (Suryadi, 2002:138) (76) Kenapa hati saya kelara-lara Terjaring dalam kegelapan (Suryadi, 2002:86) Campur kode berupa bentuk ulang berimbuhan pada novel Pengakuan Pariyem tampak pada contoh (75) kata mbok-mboken ‗masih bergantung kepada ibu‘ dan contoh (76) kata kelara-lara ‗sangat sedih‘. 2.3.4.3 Campur Kode Berupa Bentuk Ulang Berubah Bunyi Bentuk ulang berubah bunyi ialah kata ulang yang dalam proses perulangannya terjadi perubahan bunyi atau variasi vokal. Contoh campur kode berupa bentuk ulang berubah bunyi dalam novel Pengakuan Pariyem adalah sebagai berikut. (77) Di kamarnya, penuh buku-buku asing yang mosak-masik dan apek bau tembakau (Suryadi, 2002:41) (78) Mulut mangap centha-centhe – santai- (Suryadi, 2002:76) (79) sedang mulutnya sibuk pula berbicara Hanya, tampaknya saja klemar-klemer (Suryadi, 2002:114) (80) Sejumlah pemuda mesam-mesem menyaksikan adegan kami pula (Suryadi, 2002:120) (81) diambilnya rokok kretek dan geretan Kempas-kempus mulutnya nyedot kebul (Suryadi, 2002:138) Campur kode berupa bentuk ulang berubah bunyi dalam novel Pengakuan Pariyem tampak pada contoh (77) kata mosak-masik ‗berserak-serak‘, contoh (78) kata centha-centhe ‗bersuara atau bernyanyi dengan nyaring‘, contoh (79) kata klemar-klemer ‗lamban gerak-gerik dan pekerjaannya‘, contoh (80) kata mesam-

(57) 42 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI mesem ‗tersenyum-senyum‘, dan contoh (81) kata kempas-kempus ‗meniup berulang-ulang‘. 2.3.4.4 Campur Kode Berupa Bentuk Ulang Semu Bentuk ulang semu ialah kata yang seolah-olah diulang bentuknya tetapi sebenarnya tidak diulang. Contoh campur kode berupa bentuk ulang semu dalam novel Pengakuan Pariyem adalah sebagai berikut. (82) Mending muter radio amatir yang menyiarkan uyon-uyon Manasuka (Suryadi, 2002:21) (83) Saya sudah membereskan meja makan cuci pakaian, asah-asah, setlika (Suryadi, 2002:30) (84) Di dalam hati yang melang-melang -sengsara Akan rontok jagad yang tua (Suryadi, 2002:60) (85) Dalam upacara layat kematian dan dalam upacara ruwatan Dia sering diminta kasih ular-ular (Suryadi, 2002:65) Campur kode berupa bentuk ulang semu dalam novel Pengakuan Pariyem tampak pada contoh (82) kata uyon-uyon ‗gendhing gamelan dengan tidak memakai tarian‘, contoh (83) kata asah-asah ‗mencuci alat dapur dan alat makan‘, contoh (84) kata melang-melang ‗was-was; khawatir‘, dan contoh (85) kata ular-ular ‗kata pengantar; pidato pendahuluan‘. 2.3.5 Campur Kode Berupa Peribahasa Bukan pada orang suku Melayu saja yang sering berperibahasa, melainkan boleh dikatakan pada segala golongan suku bangsa Indonesia peribahasa itu mendapat bagian yang terbesar dalam percakapan (Pamuntjak, 1983:6).

(58) 43 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Peribahasa adalah kalimat atau kelompok perkataan yang tetap susunannya dan biasanya mengiaskan sesuatu maksud yang tentu (Poerwadarminta dalam Tarigan, 1985:156). Peribahasa dibagi atas tiga jenis, yaitu pepatah, perumpamaan, dan ungkapan. Pepatah adalah sejenis peribahasa yang mengandung nasihat atau ajaran yang berasal dari orang tua-tua. Perumpaan adalah ibarat, amsal; persamaan (perbandingan); peribahasa yang berupa perbandingan. Ungkapan adalah perkataan atau kelompok kata yang khusus untuk menyatakan sesuatu maksud dengan arti kiasan (Poerwadarminta dalam Tarigan, 1985:157-164). Campur kode berupa peribahasa yaitu penyelipan suatu peribahasa dalam bentuk pepatah, perumpamaan, dan ungkapan dari suatu bahasa ke dalam bahasa inti yang dimasukinya. Dalam novel Pengakuan Pariyem, campur kode berupa peribahasa ditemukan pada contoh berikut: 2.3.5.1 Campur Kode Berupa Pepatah (86) Lantas nDoro Ayu pun angkat suara: “Kacang mangsa ninggala lanjaran” (Suryadi, 2002:191) (87) Dan nDoro Ayu tersenyum, berperibahasa: ―Betapapun, anak polah bapa kepradhah‖ (Suryadi, 2002:194) Campur kode berupa pepatah tampak pada contoh (86) kacang mangsa ninggala lanjaran ‗kacang tidak akan meninggalkan kulitnya; anak tidak akan menyimpang dari watak bapaknya‘, dan contoh (87) anak polah bapa kepradhah ‗ayah memikul tanggung jawab atas kenakalan anaknya‘.

(59) 44 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2.3.5.2 Campur Kode Berupa Perumpamaan (88) Ibarat idu geni, kata-katanya masah (Suryadi, 2002:66) (89) O, betapa tak pantas saya bayangkan Ibarat kere munggah bale (Suryadi, 2002:200) Campur kode berupa perumpamaan tampak pada contoh (88) idu geni ‗katakatanya bertuah‘, dan contoh (89) Ibarat kere munggah bale ‗orang miskin yang naik derajat‘. 2.3.5.3 Campur Kode Berupa Ungkapan (90) saya sudah punya ngelmu krasan, kok Ngelmu hidup yang sudah ditinggalkan (Suryadi, 2002:54) Campur kode berupa ungkapan tampak pada contoh (90) ngelmu krasan ‗kemampuan untuk bertahan (beradaptasi) dalam lingkungan baru‘.

(60) 45 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III LATAR BELAKANG PEMBENTUKAN CAMPUR KODE DALAM NOVEL PENGAKUAN PARIYEM 3.1 Pengantar Campur kode adalah tindakan sengaja mencampurkan dua bahasa tanpa perubahan topik yang sedang dibicarakan (Wardhaugh, 1992:108). Kesengajaan penggunaan pencampuran dua bahasa tersebut dilatarbelakangi oleh dua faktor utama yaitu faktor kebahasaan dan faktor non-kebahasaan (Weinreich, 1953). Latar belakang penyebab terjadinya campur kode berdasarkan faktor kebahasaan terdiri atas, (1) low frequency of word dan (2) oversight. Latar belakang penyebab terjadinya campur kode berdasarkan faktor non-kebahasaan terdiri atas, (1) need for synonim, (2) social value, (3) adanya situasi formal, dan (4) faktor kebiasaan. Berikut ini dipaparkan uraian tentang latar belakang penggunaan campur kode dalam novel Pengakuan Pariyem. 3.2 Faktor Kebahasaan Latar belakang kebahasaan yang menyebabkan penutur menggunakan campur kode dalam novel Pengakuan Pariyem adalah sebagai berikut.

(61) 46 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3.2.1 Low Frequency of Word Faktor low frequency of word adalah penggunaan kata-kata dalam bahasa asing karena kata-kata tersebut lebih mudah diingat dan lebih stabil maknanya. Contoh penggunaan campur kode pada novel Pengakuan Pariyem yang pembentukannya dilatarbelakangi oleh faktor low frequency of word adalah sebagai berikut. (91) Dia menelan ludah berkali-kali Anunya lalu ngaceng, lho membikin dia cegukan (Suryadi, 2002:35) (92) Dia meteng tapi tak ada pria Yang mau mengakui pokalnya (Suryadi, 2002:51) (93) Sambil cengengesan, tangannya usil pinggul simbol kebagian cethotan (Suryadi, 2002:74) (94) O, Allah, Gusti nyuwun ngapura badan saya jentol-jentol semua O. kami kelon di sarang semut (Suryadi, 2002:85) Campur kode tampak pada contoh (91) yaitu kata ngaceng ‗tegang, ereksi‘(Suryadi, 2002:270). Kata ngaceng dalam bahasa Jawa dan kata tegang dalam bahasa Indonesia mengandung arti yang sama yaitu keadaan tegang karena terisi darah ketika timbul nafsu birahi, terjadi pada penis dan klitoris yang terdiri atas jaringan yang mengandung banyak pembuluh darah (Departemen Pendidikan Nasional, 2001:307). Dalam hal ini, penutur sengaja memilih kata ngaceng untuk menggambarkan keadaan birahi lawan bicaranya karena kata tersebut dirasa lebih santai dan mudah diingat dalam penggambaran maksud penutur. Hal ini terkait pada gaya (style) penutur yang bersifat santai, lebih estetik, dan lebih berseni (Junus, 1989:14). Selain itu, pemilihan kata tersebut menjadi lebih mudah

(62) 47 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dipahami dalam tuturan di lingkungan bahasa Jawa, dibandingkan jika penutur menggunakan bahasa Indonesia yang nilai rasanya menjadi lebih formal dan cenderung ilmiah. Contoh (92) menggunakan kata meteng dan pokal secara berurutan berarti ‗hamil‘ dan ‗ulah‘(Suryadi, 2002:276). Pada dasarnya pada contoh ini, yang ditekankan oleh penutur adalah keadaan hamil. Kata meteng dalam tingkat tutur bahasa Jawa berada pada tingkat ngoko. Pemakaian bahasa Jawa tingkat ngoko terutama jika jelas-jelas penutur tidak perlu menghormati latar belakang lawan bicara (Pudjosumarmo, 1979:13). Oleh karena itu, pembentukan campur kode berupa kata meteng lebih stabil maknanya bagi lawan tutur yang memiliki derajat yang sama dengan penutur. Pada contoh (93) pembentukan campur kode tampak pada kata cengengesan ‗tertawa-tawa, tidak mau bersungguh-sungguh‘(Suryadi, 2002:244) dan kata cethotan ‗cubitan di paha atau di pantat‘(Suryadi, 2002:245). Penggunaan kata dalam bahasa Jawa dalam tuturan dengan lawan bicara dianggap penutur bernilai rasa santai dan lebih akrab. Selain itu, dengan menggunakan bahasa Jawa untuk menggambarkan situasi cerita yang lucu, pemilihan kata tersebut menjadi tepat dan tidak bertele-tele. Campur kode pada contoh (94) tampak pada kata jentol-jentol ‗bentolbentol‘ (Suryadi, 2002:256) dan kata kelon ‗tidur berpelukan‘(Suryadi, 2002:260). Kata kelon secara harafiah merujuk pada keadaan tidur berpelukan biasanya dilakukan seorang ibu kepada anaknya. Dalam teks di atas, kata kelon memiliki makna kias yaitu tidur bersama untuk bersetubuh antara laki-laki dengan

(63) 48 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI perempuan. Penutur memilih menggunakan kata tersebut agar mudah menggambarkan situasi teks dan karena kata tersebut bernilai rasa lebih tepat dan stabil maknanya untuk dituturkan oleh penutur mengenai pengalamannya dengan kekasihnya. 3.2.3 Oversight Oversight ialah latar belakang penggunaan campur kode akibat adanya keterbatasan kata-kata yang dimiliki oleh bahasa penutur. Penggunaan campur kode dalam novel Pengakuan Pariyem yang dilatarbelakangi oleh faktor oversight adalah sebagai berikut. (95) Sampai kelon yang terakhir Saya tidak meteng-meteng, lho Saya rada khawatir juga Ah, ya, kang Kliwon pintar, kok Habis bantingan saya, diongklok (Suryadi, 2002:96) (96) Dasar, perempuan suka celelekan diberi tahu malah ngikik ketawa Cengar-cengir bibir dan hidungnya (Suryadi, 2002:120) (97) Sahabat karibnya banyak sekali tapi dia masih mbok-mboken, lho rada gembeng, gampang menangis (Suryadi, 2002:138) (98) Lha, belum lagi dia mencuci muka diambilnya rokok kretek dan geretan Kempas-kempus mulutnya nyedot kebul (Suryadi, 2002:138) Pada contoh (95) campur kode tampak pada kata kelon ‗tidur bersama‘(Suryadi, 2002:260) dan diongklok ‗diangkat dan diturunkan dengan cepat‘(Suryadi, 2002:247). Kata kelon memiliki makna tidur bersama yang biasanya dilakukan seorang ibu pada anaknya. Namun, dalam konteks tuturan tokoh, makna kelon

(64) 49 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI bergeser menjadi suatu tindakan tidur bersama untuk melakukan hubungan intim (bersetubuh). Makna kedua dalam bahasa Jawa ini digunakan akibat tidak adanya istilah dalam bahasa Indonesia yang tepat untuk menggambarkan situasi yang ingin diungkapkan oleh penutur. Begitu pula dengan kata diongklok dalam bahasa Jawa, untuk menggambarkan situasi bahwa penutur dan lawan bicara setelah melakukan hubungan suami istri, si lelaki mengangkat si perempuan lalu diangkat naik turun dengan cepat sebagai tindakan pencegahan kehamilan. Pada contoh (96) campur kode tampak pada kata celelekan ‗main-main, tidak mau bersungguh-sungguh‘(Suryadi, 2002:244). Penutur menggunakan kata dari bahasa Jawa karena ingin menggambarkan situasi lawan bicaranya yang memiliki sifat tidak bisa serius dalam situasi apapun. Penggunaan kata celelekan dirasa penutur lebih menggambarkan situasi yang dimaksud, terutama juga karena tidak ada istilah yang tepat untuk menggambarkannya. Pada contoh (97) campur kode tampak pada kata mbok-mboken ‗masih bergantung kepada Ibu‘(Suryadi, 2002:266). Kata ini menggambarkan sifat seorang anak yang sangat manja kepada orangtuanya. Biasanya tidak hanya manja kepada ibu, namun bisa juga terhadap ayahnya. Istilah mbok-mboken ini dalam bahasa Indonesia ragam tidak baku biasa disebut anak mami. Namun dalam ragam baku belum ada istilah yang sepadan untuk menggambarkan sifat seperti di atas. Pada contoh (98) campur kode tampak pada kata kempas-kempus ‗menyedot berulang-ulang‘(Suryadi, 2002:260). Kata ini biasanya digunakan untuk menyebut seorang perokok. Biasanya untuk menyebut perokok berat karena tindakan merokok yang dilakukan berulang-ulang. Dalam bahasa Indonesia tidak

(65) 50 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ada padanan istilah untuk menggambarkan makna kata kempas-kempus dalam bahasa Jawa. 3.3 Faktor Non-Kebahasaan Latar belakang non-kebahasaan yang menyebabkan penutur menggunakan campur kode dalam novel Pengakuan Pariyem adalah sebagai berikut. 3.3.1 Need for Synonim Need for synonim adalah penggunaan bahasa lain untuk memperhalus maksud tuturan. Contoh campur kode dalam novel Pengakuan Pariyem yang dilatarbelakangi oleh faktor need for synonim adalah sebagai berikut. (99) Sebagai babu nDoro Kanjeng Cokro Sentono di nDalem Suryomentaraman Ngayogyakarta Saya sudah terima, kok (Suryadi, 2002:29) (100) Sore saya sudah bersiap Mipis jamu kunir cabe puyung Untuk nDoro Ayu dan nDoro Putri (Suryadi, 2002:118) Pada contoh (99) dan (100) campur kode tampak pada frase nDoro Kanjeng Cokro Sentono, nDoro Ayu, dan nDoro Putri. Frase-frase tersebut berarti ‗Tuan dan Nyonya‘. Frase nDoro Kanjeng, nDoro Ayu, dan nDoro Putri adalah bentuk sebutan dari seorang bawahan kepada atasannya, terutama jika status sosial atasannya tinggi dan termasuk dalam kelas bangsawan. Sebutan ini menurut penutur lebih pantas diucapkan dengan bahasa Jawa dibanding dengan bahasa Indonesia karena penggunaan sapaan dalam bahasa Jawa memiliki nilai rasa yang

(66) 51 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI lebih menghormati lawan bicaranya dan menunjukkan rasa sopan penutur kepada lawan tuturnya. 3.3.2 Social Value Social value adalah penggunaan campur kode karena penutur sengaja mengambil kata dari bahasa lain dengan mempertimbangkan faktor sosial. Contoh penggunaan campur kode dalam novel Pengakuan Pariyem yang dilatarbelakangi oleh social value adalah sebagai berikut. (101) ―Sedang simbok saya jadi ledhek Parjinah nama kecilnya (Suryadi, 2002:24) (102) ―Ya, ya, kang Kliwon namanya Dia lahir di hari pasaran Kliwon (Suryadi, 2002:87) (103) ―Ah, sampeyan tahulah sekarang Air mata adalah lambang derita (Suryadi, 2002:142) (104) ―E, yu Pariyem, sudah mau pulang? Hari ini belanja apa saja sampeyan? (Suryadi, 2002:147) (105) ―Jadi, yu, sekarang yu Pariyem meteng?! Dengan siapa kowe melakukannya?!‖ (Suryadi, 2002:173) Pada contoh (101) campur kode tampak pada kata simbok yang berarti ‗Ibu‘. Karena penutur memiliki latar belakang sosial dan budaya Jawa yang kental, maka untuk mengungkapkan rasa akrab dan kedekatan dengan orang tua, penutur memilih menggunakan bahasa Jawa sebagai sapaan sehari-hari untuk ibunya. Contoh (102) campur kode tampak pada kata kang ‗panggilan untuk kakak atau laki-laki yang lebih tua (mas)‘. Dalam hal ini penutur menggunakan bahasa Jawa untuk memanggil teman laki-lakinya dengan sebutan kang sebagai bentuk keakraban. Meskipun panggilan kang dalam bahasa Jawa dan mas dalam

(67) 52 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI bahasa Indonesia merujuk pada makna yang sama, namun sebutan kang mengusung nilai rasa yang menunjuk pada hubungan sosial yang lebih akrab. Demikian pula dengan contoh (103) yakni kata sampeyan ‗Anda‘. Penggunaan kata ini dirasa penutur lebih akrab dan tidak berjarak terutama bagi orang yang memiliki latar belakang sosial dan budaya Jawa yang kental. Contoh (104) dan (105) sama-sama mengandung campur kode yu yang merupakan singkatan dari frasa mbak ayu atau mbakyu ‗kakak perempuan‘. Penggunaan kata yu dalam bahasa Jawa untuk menyebut kakak perempuan memiliki makna yang lebih khusus, dibanding jika hanya menyebut dengan kata kakak yang maknanya lebih umum karena bisa berarti kakak laki-laki dan kakak perempuan. Selain itu, karena kata yu, dirasa lebih akrab dan sopan. Begitu pula, untuk penyebutan kata sampeyan dan kowe yang berarti ‗Anda dan kamu‘. 3.3.3 Adanya Situasi Formal Campur kode pada novel Pengakuan Pariyem yang dilatarbelakangi oleh adanya situasi formal dimaksudkan penulis untuk menunjukkan adanya hubungan antar sesama manusia yang memiliki makna merendahkan, penghormatan, bahkan situasi keakraban. Hal ini terlihat pada hubungan antara tokoh Pariyem (pembantu) pada tokoh nDoro Kanjeng (Tuan), tokoh nDoro Ayu (Nyonya), tokoh nDoro Putri (anak perempuan), dan tokoh Raden Bagus Aria Atmaja (anak lakilaki).

(68) 53 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Campur kode pada novel Pengakuan Pariyem yang pembentukannya dilatarbelakangi oleh faktor adanya situasi formal dapat ditunjukkan pada contohcontoh berikut : (106) Sebagaimana beberapa tahun yang silam Kang Kliwon sungkem di muka simbah - Ujung kata orang Jawa Penuh rasa hormat, penuh rasa sopan kang Kliwon tangannya ngapurancang Berpakaian sarung, surjan, dan blangkon (Suryadi, 2002:88) Campur kode dalam novel Pengakuan Pariyem pada contoh (106) tampak pada kata sungkem ‗sembah sujud‘ dan kata ngapurancang ‗duduk sambil merangkapkan kedua telapak tangan sebagai tanda sangat menghormat‘. Penggunaan kata sungkem ini berfungsi untuk menjelaskan tindakan yang benarbenar menghormati suatu kegiatan ataupun seseorang. Kata ngapurancang pun demikian, penggunaan campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia dapat terjadi dalam situasi formal yang menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar karena terkadang istilah yang ingin disampaikan (dalam bahasa Indonesia) terlalu panjang dan sulit diasosiasikan oleh pendengar atau lawan bicara. Pada contoh (106) ini campur kode terjadi untuk menunjukkan adanya hubungan antar manusia yang ingin mengungkapkan rasa hormat saat situasi formal pada lawan bicara dan situasi bicara. 3.3.4 Faktor Kebiasaan Meski novel Pengakuan Pariyem merupakan novel bernuansa kedaerahan (Indonesia kejawa-jawaan), novel Pengakuan Pariyem tidak secara utuh

(69) 54 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI menggunakan bahasa Jawa untuk menyampaikan cerita. Namun, ada beberapa bagian, dimana penutur sering bahkan berulang-ulang menyebut suatu kata bahkan frase dalam tuturan bahasa Jawa. Hal inilah yang penulis maksud sebagai kebiasaan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2001:146), kebiasaan didefinisikan sebagai pola untuk melakukan tanggapan terhadap situasi tertentu yang dipelajari oleh seorang individu dan yang dilakukannya secara berulang untuk hal yang sama. Berdasarkan pemahaman penulis pada definisi kebiasaan, berikut contoh penggunaan campur kode pada novel Pengakuan Pariyem yang pembentukannya dilatarbelakangi oleh faktor kebiasaan. (107) O, Allah, Gusti nyuwun ngapura Apabila saya menyapa Den Baguse Bayang matanya penuh alam mimpi (Suryadi, 2002:35) (108) Sejak esuk uthuk-uthuk Saya memasang gendang telinga Radio amatir yang gembar-gembor (Suryadi, 2002:36) (109) lha, saya sudah puas, kok Saya lega-lila (Suryadi, 2002:46) Campur kode pada contoh (107) dan (109) tampak pada klausa Gusti nyuwun ngapura ‗Tuhan mohon ampun‘ dan kata lega-lila ‗rela, sukarela‘. Penutur merupakan orang Jawa yang memiliki rasa kepasrahan, terutama kepada Tuhan. Melalui teks, penutur diceritakan sebagai pribadi yang sederhana dan memiliki iman yang kuat kepada Tuhan dan agama yang dianutnya. Penutur terbiasa untuk menyebut kata Tuhan menggunakan bahasa Jawa terlebih karena penutur menganggap bahwa penyebutan menggunakan bahasa Jawa dirasa lebih memiliki nilai hormat yang tinggi. Penggunaan kata lega-lila juga terbiasa diungkapkan

(70) 55 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI penutur untuk menggambarkan kesederhanaan dan kepasrahan penutur ketika menanggapi suatu peristiwa yang menimpa kehidupannya. Contoh (108) mengandung campur kode pada frasa esuk uthuk-uthuk ‗pagi-pagi buta‘. Seperti yang disampaikan di bagian sebelumnya tentang status sosial penutur sebagai pembantu sebuah keluarga kaya, maka tentu saja bisa dianggap bahwa penutur memiliki kebiasaan untuk bangun lebih awal dari penghuni rumah yang lain. Atas kebiasaannya bangun lebih pagi tersebut, penutur merasa lebih tepat dan terbiasa menggunakan frasa esuk uthuk-uthuk untuk menggambarkan latar waktu peristiwa dalam cerita.

(71) 56 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV KESIMPULAN 4.1 Kesimpulan Berdasarkan analisis campur kode pada tuturan tokoh Pariyem dalam novel Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi Ag, penulis menarik kesimpulan sebagai berikut. Campur kode dalam novel Pengakuan Pariyem terjadi pada satuan lingual berupa kata, frasa, baster, bentuk ulang, dan peribahasa. Campur kode berupa kata mencakup pada kata benda (nomina), kata kerja (verba), kata sifat (adjektiva), dan kata tugas. Pada kata benda, campur kode terjadi pada kata benda yang menyatakan sapaan, kata benda yang menyatakan nama benda, dan kata benda yang menyatakan pelaku atau orang yang melakukan pekerjaan. Campur kode berupa kata kerja terjadi pada kata kerja yang menyatakan aksi atau perbuatan dan kata kerja yang menyatakan keadaan. Campur kode berupa kata sifat terjadi pada kata sifat yang menyatakan penilaian, kata sifat yang menyatakan perasaan batin, dan kata sifat yang menyatakan warna. Campur kode berupa kata tugas dalam novel Pengakuan Pariyem hanya ditemukan berupa partikel yaitu ta, lho, ha, lha, dan ya. Campur kode berupa frasa mencakup frasa nominal, frasa verbal, frasa preporsisional, dan frasa adverbial. Campur kode berupa baster mencakup bentuk baster pola awalan + kata, bentuk baster pola kata + akhiran, dan bentuk baster pola frase + akhiran. Campur kode berupa bentuk ulang mencakup bentuk ulang dasar, bentuk ulang berimbuhan, bentuk ulang berubah bunyi, dan bentuk ulang

(72) 57 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI semu. Campur kode berupa peribahasa mencakup pepatah, perumpamaan, dan ungkapan. Campur kode dalam novel Pengakuan Pariyem dilatarbelakangi oleh dua faktor, yaitu faktor kebahasaan dan faktor non-kebahasaan. Faktor kebahasaan yang melatarbelakangi campur kode dalam novel Pengakuan Pariyem terdiri atas faktor low frequency of word dan faktor oversight. Faktor non-kebahasaan yang melatarbelakangi campur kode dalam novel Pengakuan Pariyem adalah faktor need for synonim, faktor social value, faktor situasi formal, dan faktor kebiasaan. Selain faktor-faktor di atas, campur kode dalam tuturan tokoh Pariyem dalam novel Pengakuan Pariyem disebabkan oleh adanya tingkat tutur bahasa Jawa, yakni tingkat tutur krama inggil, tingkat tutur krama, dan tingkat tutur ngoko. 4.2 Saran Penelitian ini kurang mendalam karena meskipun sudah menjawab permasalahan, ada permasalahan baru yang muncul yakni apa perbedaan antara campur kode dan alih kode. Hal ini menjadi permasalahan karena campur kode dan alih kode terkadang masih dianggap mirip. Saran penulis, akan lebih baik jika selain menemukan bentuk-bentuk campur kode dan latar belakang pembentukannya, penelitian selanjutnya dibahas lebih dalam tentang perbedaan antara fenomena campur kode dan fenomena alih kode. Selain itu, penelitian campur kode dapat mengkaji objek yang lebih beragam, yang dapat menambah wawasan baru tentang bahasa Indonesia yang

(73) 58 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI diharapkan semakin mendukung variasi bahasa dan menambah kayanya kajian linguistik.

(74) 59 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR PUSTAKA 1. Sumber Pustaka Alwi, Hasan, dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka. Chaer, Abdul. 1988. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta: Bhatara Karya. _____. 2008. Morfologi Bahasa Jakarta:Rineka Cipta. Indonesia (Pendekatan Proses). Chaer, Abdul & Leonie Agustina . 1995. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta:Rineka Cipta. Ciptini, Udi. 2003. ―Jenis dan Alasan Penggunaan Campur Kode dalam Komunikasi Hubungan Kerja Rektor Universitas Negeri Semarang. Tesis. Semarang: Universitas Negeri Semarang. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Departemen Pendidikan Nasional. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Ketiga. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. _____. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Ekayanti, Vincincia Nur. 2004. ―Campur Kode dalam Novel Belantik Karya Ahmad Tohari‖. Skripsi. Yogyakarta: Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma. Hendriawan, M. Chandra. 2009. ―Campur Kode pada Penulisan Blog www.seleb.tv‖. Skripsi. Malang: Universitas Negeri Malang. Kesuma, Tri Mastoyo Jati. 2007. Pengantar Metode Penelitian Bahasa. Yogyakarta: Penerbit Carasvatibooks. Lyons, Jhon. 1995. Pengantar Teori Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Mahsun, M.S. 2005. Metode Penelitian Bahasa. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Munsyi, Alif Danya. 9 Dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

(75) 60 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Nababan, P.W.J. 1984. Sosiolinguistik: Suatu Pengantar. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Pateda, Mansoer. 1990. Sosiolinguistik. Bandung: Angkasa. Purwadi. 2004. Kamus Jawa-Indonesia Populer. Yogyakarta: Media Abadi. _____. 2006. Kamus Jawa-Indonesia Indonesia-Jawa. Yogyakarta: Bina Media. Rahardi, R. Kunjana, M.Hum. 2001. Sosiolinguistik, Kode, dan Alih Kode. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Ratna, Nyoman Kutha. 2009. Stilistika Kajian Puitika Bahasa, Sastra, dan Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Redaksi Lima Adi Sekawan. 2007. EYD Plus. Jakarta: Limas. Setyawati, Rukni. 2010. Campur Kode dalam Rubrik „Ah... Tenane‟ pada Harian Solopos Edisi 29-30 Januari 2010 dan 1 Februari 2010. Jalabahasa, Volume 6 No. 1, Mei. Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa: Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan secara Linguistis. Yogyakarta: Duta Wacana University Press. Sumarsono & Paina Partana. 2002. Sosiolinguistik. Yogyakarta: Sabda. Suryadi, Linus Ag. 2002. Pengakuan Pariyem. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Tarigan, Henry Guntur. 1985. Pengajaran Semantik. Bandung: Angkasa. Verhaar, J.W.M. 1983. Pengantar Linguistik Jilid Pertama. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. _____ . 1996. Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Waridah, Ernawati. 2009. EYD & Seputar Kebahasa-Indonesiaan. Jakarta: Kawan Pustaka. Wardaugh, Ronald. 1992. An Introduction to Sociolinguistics. Cambridge: Blackwell. Yuniawan, Tommi. 2005. Campur Kode pada Masyarakat Etnik JawaSunda: Kajian Sosiolinguistik dalam Ranah Pemerintahan di Kabupaten Brebes. Humaniora Volume 17 No. 1, Februari.

(76) 61 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. Sumber Online http://anaksastra.blogspot.com/2009/02/alih-kode-dan-campur-kode.html http://adiel87.blogspot.com/2009/11/alih-kode-campur-kode-daninterferensi.html. Indonesiasaram.wordpress.com/2007/01/06/campur-kode/ Indonesiasaram.wordpress.com/2007/04/22/tentang-campur-kode-lagi/ www.tamanismailmarzuki.com/tokoh/linus.html bintangtenggara.multiply.com/reviews.item14

(77) 62 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN I (11) O, manakah iman, manakah wewaler Tuhan Bila nyawa tak punya lagi tempat aman? (Suryadi, 2002:17) (12) O, Allah, Gusti nyuwun ngapura di pinggir sumur saya nembang (Suryadi, 2002:19) (13) Saya tak tahu apa jawabannya, Tapi coba, sampeyan permalukan di tengah-tengah banyak orang. (Suryadi, 2002:56) (14) Saya sudah punya ngelmu krasan, kok ngelmu hidup yang sudah ditinggalkan. (Suryadi, 2002:54) (15) Sikap congkak dan sombong diri tanda orang itu kurang pekerti “Wani ngalah luhur wekasanipun” (Suryadi, 2002:49) (16) Fajar telah terbit di timur Sejak subuh hari para tamu pun pulang Begitupun nDoro Kanjeng dan nDoro Ayu esuk uthuk-uthuk turun ke Ngayogyakarta. (Suryadi, 2002:210) (17) Betapa senangnya hati saya nDoro Putri tidur seamben dengan saya Dia betah dan krasan tinggal di desa dan, O, makan dan jajan apa adanya Tak pernah mencacat, dia nrima saja betapa senangnya hati saya (Suryadi, 2002:211) (18) Saya lebih patut sebagai biyung emban (Suryadi, 2002:23) (19) Dasar perempuan suka celelekan Diberi tahu malah ngikik ketawa (Suryadi, 2002:120) (20) Hasrat mangku wanodya bangkit –mana tahan— (Suryadi, 2002:25) (21) ―Jangan sampeyan bertanya ‗Kenapa dua adik saya tak bernama Bambang dan Endang saja?‘ (Suryadi, 2002:5)

(78) 63 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (22) Sedangkan pada hari siang ketimbang ngrasani para tetangga dan bergunjing perkara bendoronya ongkang-ongkang di amben dapur sinambe kalaning nganggur (Suryadi, 2002:21) (23) Demikian pun bapak dan simbok saya tanpa rasa sesal dan rasa curiga (Suryadi, 2002:26) (24) Ongkang-ongkang di amben dapur Sinambi kalaning nganggur (Suryadi, 2002:21) (25) Hasrat mangku wanodya bangkit –mana tahan- (Suryadi, 2002:25) (26) Saya songkokkan di dada sebagai kutang menyongkok penthil (Suryadi, 2002:28) (27) Waktu prabu Ajisaka menggelar iketnya prabu Dewata Cengkar sampai terjungkal (Suryadi, 2002:44) (28) Suatu hari wong bule datang (Suryadi, 2002:110) (29) Yang dekat Alun-alun Lor jalan kaki yang jauh dari luar kota naik colt (Suryadi, 2002:121) (30) Dengan rasa bangga dan lega –pulanglahNumpak andhong ditarik dua jaran (Suryadi, 2002:125) (31) ―Sedang simbok saya jadi ledhek Parjinah nama kecilnya (Suryadi, 2002:24) (32) ―Iyem‖ panggilan sehari-harinya dari Wonosari Gunung Kidul Sebagai babu nDoro Kanjeng Cokro Sentono (Suryadi, 2002:34) (33) nDoro Kanjeng langka absen, lho menghadiri sarasehan para sindhen (Suryadi, 2002:70) (34) Saya sudah membereskan meja makan Cuci pakaian, asah-asah, setlika sudah saya kerjakan dengan setia kini saya berhak tidur –ngaso- (Suryadi, 2002:30)

(79) 64 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (35) Karsa mrentul di dalam sanubari sebagai puting susu disedot lelaki Muncul ke luar ia membutuhkan papan sebagai ludah insan cipokan merembus ke luar tak terkendalikan (Suryadi, 2002:32) (36) ―Saya ingat hari terjadinya Dan saya ingat hari pasarannya Kamis Pahing persisnya jatuh pada bulan purnama Dan sejak itu, tiap kali kangen dia terus mengajak sare sama saya (Suryadi, 2002:40) (37) ―Ah ya, Raden Bagus Ario Atmojo Begitu bila nDoro Ayu bercerita pada para tamu yang sowan ke ndalemnya Dia kuliah di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (Suryadi, 2002:41) (38) ―nDoro Kanjeng wong wicaksono, lho Sering benar diminta kasih wejangan Dalam upacara ngundhuh pengantin upacara tetesan dan supitan Dalam upacara layat kematian dan dalam upacara ruwatan (Suryadi, 2002:65) (39) Ki dalang Kimpul dari Sleman melakonkan Alap-alapan Sukesi Dan simbok nyindhen sampai pagi terang, pulangnya diantar seorang lelaki Sedang bapak ngetoprak di Tempel pulangnya saban seminggu sekali (Suryadi, 2002:81) (40) ―Sekadar mencari angin malam Makan nasi goreng pada bu Luntur di Alun-alun Lor Ngayogyakarta Minum teh nas-gi-thel bergula batu di pojok wetan Paku Alaman Makan nasi gudeg dan teh jahe di depan pasar gede Beringharjo Sehabis nonton gambar hidup di gedung Ratih atau Indra Atau nonton seni pertunjukan di Senisono atau Purna Budaya Atau mirsani pagelaran wayang

(80) 65 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI di Alun-alun Kidul Ngayogyakarta (Suryadi, 2002:97) (41) Ah, ya betapa lucu mereka pertengkaran mulut sebagai buahnya Lalu masing-masing pada wadul kepada Romo dan Ibunya (Suryadi, 2002:144) (42) Apabila saya menyapa Den Baguse bayang matanya penuh alam mimpi Dia menelan ludah berkali-kali Anunya lalu ngaceng, lho (Suryadi, 2002:35) (43) Dari Wonosari Gunung Kidul saya pun menggelinding –turunmBeboro mencari tumpangan raga Sebagai babu nDoro Kanjeng Cokro Sentono di nDalem Suryomentaraman Ngayogyakarta Tapi dengan putra sulungnya main asmara dan kini meteng sebagai buahnya (Suryadi, 2002:181) (44) Bapak saya biasa berperan bambangan banyak benar wanita kepencut sama bapak saya Apalagi bila dia sudah gandrung – ura-urapara penonton terharu hilang kata (Suryadi, 2002:24) (45) Perasaannya peka sepeka pita kaset Dan rangkulannya jembar sejembar pergaulannya (Suryadi, 2002:65) (46) Ibarat minyak dan air tak bisa lebur tak bisa akur selalu kerah –congkrah- (Suryadi, 2002:76) (47) Agar jejeg imannya dan landhep batinnya (Suryadi, 2002:105) (48) Dasar perempuan suka celelekan diberi tahu malah ngikik ketawa (Suryadi, 2002:120) (49) Tapi saya juga pasang gaya: Melepas setagen berganti kain cobot kebaya ganti yang lain

(81) 66 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Wuah, wuah, dia pasti terus merajuk tidak jarang dia pun ngamuk-ngamuk Bilangnya, dia tresna banget sama saya (Suryadi, 2002:47) (50) Dan hanya kepada sampeyan, lho, mas lelakon semua ini saya ceritakan Tak saya sidhem, tak saya dekam saya krasan yang serba tentram (Suryadi, 2002:63) (51) Begitupun Nyai Kondhang kuning Dari Kricak Lor Ngayogyakarta Suaranya anyles bikin gemes (Suryadi, 2002:71) (52) Dalam kantuk yang menggandhul Hati saya sumeleh, bersyukur (Suryadi, 2002:77) (53) Apakah karena terbawa oleh naluri Lelaki itu karem banget kekuasaan (Suryadi, 2002:152) (54) Membeli telur godhog sunduk Yang diborehi warna abang (Suryadi, 2002:119) (55) Kalau memang sudah nasib saya Sebagai babu, apa ta, repotnya? Gusti Allah Maha Adil, kok Saya nrima ing pandum (Suryadi, 2002:29) (56) Dan saya langka mencaci orang, lho kecuali orangnya memang sontoloyo (Suryadi, 2002:34) (57) ―Ketlingsut ke mana kamu, yu Iyem? Sudah 5 tahun di Yogya kok hilang Kepencut sama wong lanang apa, ha?‖ (Suryadi, 2002:120) (58) Dalam gelora hasrat yang berkobar apabila derita sudah terlupakan Lha, ya, jangan meleh-melehake, mas bila suatu hari nanti saya meteng dan kudu melahirkan bayi kembali – Lha, ya, mau bagaimana lagi, ta enak, kok kepenak (Suryadi, 2002:218) (59) O, Allah, Gusti nyuwun ngapura Saya lebih patut sebagai biyung emban (Suryadi, 2002: 23)

(82) 67 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (60) Gusti Allah, Maha Adil, kok (Suryadi, 2002:29) (61) Tapinya kosong melompong buahnya kanthong bolong (Suryadi, 2002:59) (62) Hatinya longgar selonggar kathok kolor (Suryadi, 2002:65) (63) Pikirannya tajam setajam keris warangan (Suryadi, 2002:65) (64) ―Sejak siang hujan riwis-riwis Jatuh di jagad Ngayogyakarta (Suryadi, 2002:41) (65) Tapi tongseng dan nasi goreng, ojo takon - karemnya luar biasa, tak ketulungan (Suryadi, 2002:41) (66) Dengan berpokrol bambu, waton mangap Bergaya atos pula: akhirnya uanglah Yang menjadi kunci kepribadiannya (Suryadi, 2002:134) (67) Dia punya katuranggan raden Gatotkaca : gantheng tapi lembut Kalem tapi pun sembodo Guwayanya suntrut dan pasuryannya bercahaya (Suryadi, 2002:43) (68) Bagaikan iket kepala Sala-Ngayogya dijereng jembar, dipakai pun longgar (Suryadi, 2002:44) (69) Saya tak ayem tentrem karenanya saya tak krasan ketemu siapa saja (Suryadi, 2002:60) (70) Tapi juga di Pendhopo Kecamatan, Kabupaten Pendhopo Kalurahan dan rumah gedheg kampung Lha, ya, jangan heran saya hafal nama-nama nDoro Putri demen banget cerita sama saya (Suryadi, 2002:154) (71) ketimbang ngrasani para tetangga dan bergunjing para bendoronya ongkang-ongkang di amben dapur (Suryadi, 2002:21) (72) O, bapak, O, simbok anakmu kungkum di sendhang menanggung beban sendirian (Suryadi, 2002:87)

(83) 68 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (73) ―Sejak esuk uthuk-uthuk saya memasang gendang telinga (Suryadi, 2002:36) (74) Begitupun nDoro Kanjeng dan nDoro Ayu esuk uthuk-uthuk turun ke Ngayogyakarta (Suryadi, 2002:210) (75) ya, ya, Raden Bagus Ario Atmojo namanya Kalau sudah merah matanya seolah jagad gelap gulita Hasratnya tak bisa dipenggak, ditunda biar dengan bujuk rayu dan janji segala (Suryadi, 2002:47) (76) Tanpa kehilangan rasa gembira keindahan terbabar bersama jua Dan hidup mengalir penuh citra: Rasanya intim, rasanya jenaka kesahajaan pun ada di dalamnya (Suryadi, 2002:78) (77) Ah, ya, kang Kliwon pintar, kok habis bantingan saya diongklok (Suryadi, 2002:96) (78) Saya bayangkan dan saya kenangkan: Banyak sindhen kawentar berkumpul gelungan munthil-munthil dan bengesan Dengan berkebaya dan jarikan lurik (Suryadi, 2002:70) (79) Demikianpun kami perempuan bertiga: nDoro Ayu, nDoro Putri, dan saya ada dalam uyuk-uyukan berebutan (Suryadi, 2002:125) (80) ―Oh, adhuh! Ini anak saya‖ Saya pun berpura-pura: ―Sakit benar gronjolannya!‖ Saya pun merintih kesakitan (Suryadi, 2002:125) (81) Lha, kalau numpak sepeda motor Yamaha ngebut banternya luar biasa (Suryadi, 2002:42) (82) Hidup yang prasojo saja tak usah yang aeng-aeng (Suryadi, 2002:28) (83) O, Allah, Gusti nyuwun ngapura badan saya jentol-jentol semua (Suryadi, 2002:85)

(84) 69 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (84) Sampai kelon yang terakhir saya tidak meteng-meteng lho (Suryadi, 2002:96) (85) ―Tapi dia sangat grapyak, Kata wong Jawa –micaraniSahabat karibya banyak sekali tapi dia masih mbok-mboken, lho (Suryadi, 2002:138) (86) Kenapa hati saya kelara-lara Terjaring dalam kegelapan (Suryadi, 2002:86) (87) Di kamarnya, penuh buku-buku asing yang mosak-masik dan apek bau tembakau (Suryadi, 2002:41) (88) Mulut mangap centha-centhe – santai- (Suryadi, 2002:76) (89) sedang mulutnya sibuk pula berbicara Hanya, tampaknya saja klemar-klemer (Suryadi, 2002:114) (90) Sejumlah pemuda mesam-mesem menyaksikan adegan kami pula (Suryadi, 2002:120) (91) diambilnya rokok kretek dan geretan Kempas-kempus mulutnya nyedot kebul (Suryadi, 2002:138) (92) Mending muter radio amatir yang menyiarkan uyon-uyon Manasuka (Suryadi, 2002:21) (93) Saya sudah membereskan meja makan cuci pakaian, asah-asah, setlika (Suryadi, 2002:30) (94) Di dalam hati yang melang-melang -sengsara Akan rontok jagad yang tua (Suryadi, 2002:60) (95) Dalam upacara layat kematian dan dalam upacara ruwatan Dia sering diminta kasih ular-ular (Suryadi, 2002:65) (96) Lantas nDoro Ayu pun angkat suara: “Kacang mangsa ninggala lanjaran” (Suryadi, 2002:191) (97) Dan nDoro Ayu tersenyum, berperibahasa: ―Betapapun, anak polah bapa kepradhah‖ Suryadi, 2002:194) (98) Ibarat idu geni, kata-katanya masah (Suryadi, 2002:66)

(85) 70 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (99) O, betapa tak pantas saya bayangkan Ibarat kere munggah bale (Suryadi, 2002:200) (100) saya sudah punya ngelmu krasan, kok Ngelmu hidup yang sudah ditinggalkan (Suryadi, 2002:54) (101) Dia menelan ludah berkali-kali Anunya lalu ngaceng, lho membikin dia cegukan (Suryadi, 2002:35) (102) Dia meteng tapi tak ada pria Yang mau mengakui pokalnya (Suryadi, 2002:51) (93) Sambil cengengesan, tangannya usil pinggul simbol kebagian cethotan (Suryadi, 2002:74) (94) O, Allah, Gusti nyuwun ngapura badan saya jentol-jentol semua O. kami kelon di sarang semut (Suryadi, 2002:85) (95) sampai kelon yang terakhir Saya tidak meteng-meteng, lho Saya rada khawatir juga Ah, ya, kang Kliwong pintar, kok Habis bantingan saya, diongklok (Suryadi, 2002:96) (96) Dasar, perempuan suka celelekan diberi tahu malah ngikik ketawa Cengar-cengir bibir dan hidungnya (Suryadi, 2002:120) (97) Sahabat karibnya banyak sekali tapi dia masih mbok-mboken, lho rada gembeng, gampang menangis (Suryadi, 2002:138) (98) Lha, belum lagi dia mencuci muka diambilnya rokok kretek dan geretan Kempas-kempus mulutnya nyedot kebul (Suryadi, 2002:138) (99) Sebagai babu nDoro Kanjeng Cokro Sentono di nDalem Suryomentaraman Ngayogyakarta Saya sudah terima, kok (Suryadi, 2002:29) (100) Sore saya sudah bersiap Mipis jamu kunir cabe puyung Untuk nDoro Ayu dan nDoro Putri (Suryadi, 2002:118)

(86) 71 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (101) ―Sedang simbok saya jadi ledhek Parjinah nama kecilnya (Suryadi, 2002:24) (102) ―Ya, ya, kang Kliwon namanya Dia lahir di hari pasaran Kliwon (Suryadi, 2002: 87) (103) ―Ah, sampeyan tahulah sekarang Air mata adalah lambang derita (Suryadi, 2002:142) (104) ―E, yu Pariyem, sudah mau pulang? Hari ini belanja apa saja sampeyan? (Suryadi, 2002:147) (105) ―Jadi, yu, sekarang yu Pariyem meteng?! Dengan siapa kowe melakukannya?!‖ (Suryadi, 2002:173) (106) Sebagaimana beberapa tahun yang silam Kang Kliwon sungkem di muka simbah Ujung kata orang Jawa Penuh rasa hormat, penuh rasa sopan kang Kliwon tangannya ngapurancang Berpakaian sarung, surjan, dan blangkon (Suryadi, 2002:88) (107) O, Allah, Gusti nyuwun ngapura Apabila saya menyapa Den Baguse Bayang matanya penuh alam mimpi (Suryadi, 2002:35) (108) Sejak esuk uthuk-uthuk Saya memasang gendang telinga Radio amatir yang gembar-gembor (Suryadi, 2002:36) (109) lha, saya sudah puas, kok Saya lega-lila (Suryadi, 2002:46)

(87) 72 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN II A. Campur Kode Berupa Kata (1) O, manakah iman, manakah wewaler Tuhan Bila nyawa tak lagi punya tempat aman? (hal 17) (2) Saya suka serba luwes –lembutBagaikan putri kraton Ngayogyakarta (hal 20) (3) ―Wayang kulit dan ketoprak Tontonan kegemaran saya Ditambah sandiwara RRI Nusantara II Ngayogyakarta Hadiningrat Saban Minggu malamnya (hal 21) (4) Sedangkan pada hari siang Ketimbang ngrasani para tetangga Dan bergunjing perkara bendoronya Ongkang-ongkang di amben dapur (hal 21) (5) Mending muter radio amatir Yang menyiarkan uyon-uyon manasuka (hal 21) (6) Saya lebih patut sebagai biyung emban Saya lebih patut sebagai limbuk (hal 23) (7) Banyak benar wanita kepencut sama bapak saya (hal 24) (8) Apalagi bila dia sudah gandrung –ura-ura Para penonton terharu hilang kata (hal 24) (9) Sedang simbok saya jadi ledhek Parjinah nama kecilnya (hal 25) (10) Bila sudah ngibing, mas –wuahpak Lurah, pak Mantri, pak Camat bahkan pak Wedana dan pak Bupati (hal 25) (11) Naik turun kala-menjingnya Hasrat mangku wanodya bangkit –mana tahan- (hal 25) (12) Atas kuasa Sang Hyang Murbeng Jagad

(88) 73 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Mereka berdua sama-sama dipertemukan Dewa Kama dan Dewi Ratih angslup (hal 26) (13) Hidup yang prasojo saya Tak usah yang aeng-aeng (hal 28) (14) Kabegjan masing-masing kita punya Sudah kita bawa sejak lahir (hal 28) (15) Saya songkokkan di dada Sebagai kutang menyongkok penthil (hal 28) (16) Saya sudah trima, kok Saya lega lila (hal 29) (17) Kalau memang sudah nasib saya Sebagai babu, apa ta repotnya? (hal 29) (18) Saya sudah membereskan meja makan Cuci pakaian, asah-asah, setlika (hal 30) (19) Kini saya berhak tidur –ngaso- (hal 30) (20) Dalam tetes keringat dan lumer raga Saya serahkan milik yang saya punya Ya, ya, pada mulanya adalah karsa Karsa mrentul di dalam sanubari Sebagai puting susu disedot lelaki (hal 31) (21) Sebagai ludah insan sedang cipokan (hal 32) (22) Saya ngomong tak pernah gadhog Laras, tapi penuh irama khas (hal 33) (23) Dan saya langka mencaci orang, lho Kecuali orangnya memang sontoloyo (hal 34) (24) Dan makian ―lonthe‖ bagi wanita Jawa Ialah makian paling kasar dan kotor (hal 34) (25) Di dalam jagad pasrawungan (hal 34) (26) Dia menelan ludah berkali-kali Anunya lalu ngaceng, lho Membikin dia cegukan (hal 35)

(89) 74 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (27) Sejak esuk uthuk-uthuk Saya memasang gendang telinga (hal 36) (28) Memang dia clingus banget, kok tapi, sorot matanya tak bisa menipu (hal 38) (29) Sekujur tubuh saya digerayanginya Pipi, bibir, penthil saya dingok pula (hal 39) (30) Wouw, dia amat kesusu Dia masih terlalu kaku (hal 39) (31) Saya raba dadanya dheg-dhegan, lho (hal 39) (32) Dan sejak itu, tiap kali kangen Dia terus mengajak sare sama saya (hal 40) (33) Pandai bermain pula Saya biasa keok dulu dibuatnya (hal 41) (34) Begitu bila nDoro Ayu bercerita Pada para tamu yang sowan ke ndalemnya (hal 41) (35) Di kamarnya, penuh buku-buku asing Yang mosak-masik dan apek bau tembakau (hal 41) (36) Tapi dia tak karem makan bakmi dan bakso Tapi tongseng dan nasi goreng, ojo takon (hal 41) (37) Lha, kalau numpak sepeda motor Yamaha Ngebut banternya luar biasa (hal 42) (38) Kebulnya memenuhi jalan raya (hal 42) (39) Dan tugas-tugas yang dia sandang –tatasTak pernah mogol di tengah jalan (hal 42) (40) Dia punya katuranggan raden Gatotkaca :ganteng tapi lembut Kalem tapi sembodo (hal 43) (41) Rambutnya ikal, ngandan-andhan (hal 43) (42) Kalau sudah mandeng Sorot mataya bersinar mencereng ( hal 43)

(90) 75 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (43) Saya pun bangun, nggodhog wedang Dan nggebyur air halaman depan (hal 46) (44) Bilangnya, dia tresna banget sama saya (hal 47) (45) Hasratnya tak bisa dipenggak, ditunda Biar dengan bujuk rayu dan janji segala (hal 47) (46) Saya dibopongnya, diambunginya Saya dibaringkan di atas amben (hal 48) (47) Anunya gede banget, lho Saya marem meladeninya (hal 48) (48) Kemudian saya pamit –mbeboroDari Wonosari Gunung Kidul (hal 50) (49) Bahkan kakak perempuannya Yang bahenol dan taberi sinau (hal 51) (50) Dia meteng tapi tak ada pria Yang mengakui pokalnya (hal 51) (51) Saya tak takut bayang-bayang gelap Saya tak tunduk gobang yang tajam (hal 52) (52) Habis manis saya ditinggal Yang dia minta saya berikan Sesudah taneg, saya kapiran (hal 59) (53) Dan hanya kepada sampeyan, lho, mas Lelakon semua ini saya ceritakan Tak saya sidhem, tak saya dekam Saya krasan yang serba tentram (hal 63) (54) Dan rangkulannya jembar Sejembar pergaulannya (hal 65) (55) Sering benar diminta kasih wejangan Dalam upacara ngundhuh pengantin Upacara tetesan dan supitan (hal 65) (56) Dia sering diminta kasih ular-ular (hal 65) (57) Ya, ini jam 5.00 pagi –repet-repet Keremangan melayah ditinggal bulan (hal 67)

(91) 76 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (58) Banyak dalang yang tenggelam Banyak dalang yang terlantar Hanya satu-dua yang ketriman (hal 70) (59) Begitupun Nyai Kondhang Kuning Dari Kricak Lor Ngayogyakarta Suaranya anyles bikin gemes (hal 71) (60) Simbok mengajar saya Tayuban Ya, alon-alon, diulang-ulang (hal 73) (61) Bila pria sudah kedhanan pesindhen Ke mana pun nyindhen dibuntutinya (hal 75) (62) Tujuannya, untuk memelet kaum lelaki Dan sebagai jimat penglarisan sindhen (hal 75) (63) Sedang biasanya kelon malam-malam Jebul malah meladeni ki dalang (hal 76) (64) Ibarat kucing dan anjing Tak bisa rujuk tak bisa gathuk (hal 76) (65) Lalu saya menjuluk –mapan tidurDalam kantuk saya menggandhul Hati saya sumeleh, bersyukur (hal 77) (66) Kini jam dahar siang, telah usai Saya tinggal ongkang-ongkang (hal 77) (67) Tanpa kehilangan rasa gembira Keindahan terbabar bersama jua (hal 78) (68) Sedang bapak ngethoprak di Tempel Pulangnya saban seminggu sekali (hal 81) (69) Dan gamelan ditabuh seseg Keras, penuh, dan bergegas (hal 81) (70) Kami menempuh bulak, gliyak-gliyak (hal 81) (71) Hati kemrungsung meraung-raung (hal 82) (72) Bagaikan nembe makan kangkung Badan kami loyo tanpa kekuatan (hal 83)

(92) 77 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (73) Dalam rerawat menyayat gelap Bergelombang di alam lengang (hal 84) (74) Badan saya jentol-jentol semua O, kami kelon di sarang semut (hal 85) (75) Tapi saya mandi keramas –tujuh kaliDan kungkum di dalam sendhang (hal 85) (76) O, rasa dhemen dan rasa kangen Sebagai kang Kliwon di kejauhan (hal 86) (77) Kenapa hati saya nelangsa Kejeblos ke dalam jugangan Kenapa hati saya kelara-lara Terjaring ke dalam kegelapan (hal 86) (78) Tidak salah lagi, jemblong Anu saya sudah bolong (hal 87) (79) Saya duduk ndeleleg –dhelog -dhelog Memandang jauh tanpa tujuan (hal 87) (80) Kang Kliwon pun pulang ke Wonosari Menjenguk keluarga dan dusunnya Sungkem pada leluhur yang masih ada (hal 88) (81) Penuh rasa hormat, penuh rasa sopan Kang Kliwon tangannya ngapurancang (hal 88) (82) Selesai ngabekti, selesai ujung Lalu pada mundur beberapa langkah (hal 90) (83) Dia gentur benar puasanya, lho (hal 92) (84) Demikianpun bila kami punya karep Tak kenal sukar, tak kenal berat (hal 92) (85) Apalagi kalau sedang nglakoni, mas Sampai patigeni dia lakukan, lho (hal 92) (86) Tiap hari bekerja sebagai biasa Sambil rengeng-rengeng dan tetembangan (hal 92) (87) Di dalam diri gairah makantar-kantar (hal 93)

(93) 78 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (88) Sampai kelon yang terakhir Saya tidak meteng-meteng lho (hal 96) (89) Ah, ya, kang Kliwon pintar, kok Habis bantingan saya diongklok (hal 96) (90) Tiap pagi dan sore tiada kendhat Saya sapu bersih-bersih halaman (hal 99) (91) Jarinya asik metheti klangenannya (hal 101) (92) Rumah nDoro Kanjeng jembar Rumah joglo gede magrong-magrong (hal 101) (93) Bagaikan kilat kekuatan pun ngrasuk Wujudnya ular atau cahaya warna-warni (hal 103) (94) Dengan tapa brayatnya yang gentur Dengan olah batin yang sempurnya (hal 103) (95) Barang siapa melanggar, walatnya berat Kaum pria tak sedia bertanggung jawab (hal 104) (96) Dengan blencong mubyar-mubyar nyalanya Menerangi kegelapan (hal 109) (97) Masing-masing membawakan pesan Yang dijelenterehkan ki dalang (hal 109) (98) Suatu hari wong bule datang Tuan Amerika itu sinau wayang (hal 110) (99) Tapi nDoro ayu sungkan disembah-sembah Dia tak suka dihormati mundhuk-mundhuk (hal 112) (100) Saya pun menyat menuju dapur Nanak nasi dan masak sayuran (hal 113) (101) Sedang mulutnya sibuk pula berbicara Hanya, tampaknya saja klemar-klemer (hal 114) (102) Ibarat sekuntum bungan matahari Mengorakkan kembang-kembangnya Dan mekrok biji-bijinya (hal 115)

(94) 79 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (103) Kenapa dia nandhang rasa sakit? Barang gede lewat lobang sempit (hal 117) (104) Ketlingsut ke mana kamu, yu Iyem? Sudah 5 tahun di Yogya kok hilang Kepencut sama wong lanang apa, ha? (hal 120) (105) Lha, diambung sama siapa, ha? Pupurmu berlepotan tak rata (hal 120) (106) Dasar, perempuan suka celelekan Diberi tahu malah ngikik ketawa (hal 120) (107) Sejumlah pemuda mesam-mesem Menyaksikan adegan kami pula (hal 120) (108) Yang dekat Alun-alun Lor jalan kaki Yang jauh dari luar kota naik colt (hal 121) (109) Becak ngampyak di luar Alun-alun Mengantar dan menunggu penumpang (hal 121) (110) Suaranya kemlonthang bergema Mikropon yang mengedarkannya (hal 122) (111) Suara orang bagaikan tawon Yang mubal merubung tabon (hal 122) (112) Demikianpun kami perempuan bertiga: nDoro Ayu, nDoro Putri, dan saya ada dalam uyuk-uyukan berebutan (hal 125) (113) Dengan rasa bangga dan lega –pulanglahNumpak andhong ditarik dua jaran (hal 125) (114) Tubuhnya langsing alias cemerlang Matanya blalak-blalak alias cemerlang (hal 136) (115) Siap, wedang teh dan dahar siang Sudah saya susun rapih di atas meja (hal 138) (116) Tapi bila kecenthok sama siapa pun nDoro Putri kumat galaknya, lho (hal 138) (117) Diambilnya rokok kretek dan geretan Kempas-kempus mulutnya nyedot kebul (hal 138)

(95) 80 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (118) Tapi dia sangat grapyak, Kata wong Jawa –micarani- hal 138) (119) Sahabat karibnya banyak sekali Tapi dia masih mbok-mbokken, lho Rada gembeng, gampang menangis (hal 138) (120) Lha, baru diledek oleh Den Baguse Gara-gara dipacokke sama mitrane Wouw, wajahnya merah padam ! (hal 139) (121) Tak urung meleleh di pipinya nDoro Putri nangis sesenggukan (hal 139) (122) Pelupuk saya pun kembeng-kembeng Air mata tetes berlinangan (hal 139) (123) Lha, itu tidak teges namanya (hal 141) (124) Ah, ya, betapa lucu mereka Pertengkaran mulut sebagai buahnya Lalu masing-masing pada wadul (hal 144) (125) Saya mesti yang mandhegani Dan sayalah yang mengaku bersalah (hal 144) (126) Dia bangun sebelum fajar tiba Tak digrobyak oleh siapa pun (hal 144) (127) Teman-teman saya menjual palawija Sebelum saya ngenger sebagai babu (hal 147) (128) Tegur sapa selalu mampir waktu berjumpa Dengan lelagehan dan suara medhok pula (hal 147) (129) Dengan deretan abrag dan warung makan Dari dusun-dusun jauh; tumplek numpuk (hal 149) (130) Lha, opo tumon? Lha, opo memper? Buat blangkrah apa kulit diborong? (hal 150) (131) Sambil bilang, dia nggeblas naik bebek Pundaknya mencangklong tas kuliahnya (hal 150) (132) O, kayak orang memilih bakal jodo saya (hal 151) (133) O, rasa cemburu di dalam pergaulan

(96) 81 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Mengambil tampang edan-edanan (hal 152) (134) Apalagi, bila njoget Bedhaya Alangkah nlentheng dia –santai- (hal 155) (135) Waktu jaman saya masih bocah Saya kelon sama simbah wedok (hal 156) (136) Diselang-seling rengeng-rengeng Sebagai pengantar bobok saya (hal 157) (137) Walaupun giginya sudah ompong Dan ngomongnya sudah cedhal (hal 157) (138) Meskipun istrinya sudah cantik jelita Tapi dia pelihara gendhak menggairahkan (hal 161) (139) Saya cocok, klop Saya mathuk saja (hal 162) (140) Suatu hari saya ketemu dhemenan saya Kang Sokidi Kliwon mandi di sendhang (hal 166) (141) 3 hari kemudian saya terima surat Dia mengajak saya pegatan (hal 166) (142) Bukan karena bayi dalam kandungan Tapi karena trenyuh dalam pelukan (hal 176) (143) Pariyem, duduklah di kursi Jangan kowe duduk di lantai Ada yang wigati kita bicarakan (hal 185) (144) Saya pantas mendhadha apa adanya (hal 185) (145) Dan saya hanya bisa kethap-kethip Bagaikan kera kena tulup pemburu (hal 187) (146) Dengan segudang omong, selambung pidato Dan bertruk-truk percakapan dakik-dakik (hal 189) (147) Tapi benih kadhung tumbuh subur Keluarga tak hendak dipermalukan (hal 200) (148) Dalam musim-musim bedhidhing Saya kangen, saya dhemen ! (hal 201)

(97) 82 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (149) Namun saya pergi ke sendhang Mandi dan kramas sampai nruthuk (hal 201) (150) Kini perut saya pun sudah gede Apabila berjalan mesti edang-edong (hal 206) (151) Dia merengek, nangis njempling-njempling Apabila tak dapat keturutan karepnya (hal 206) (152) Lha, semalam baru saja mitoni (hal 207) (153) Ah, ya, saya pun duduk di atas dhingklik Hanya mengenakan sehelai kain basahan (hal 207) (154) Sehabis didongakan oleh mbah kaum Diikuti dan disertai rasa khidmat (hal 208) (155) Mereka yang bisa, setiap pejagong Akan memperoleh giliran nembang (hal 209) (156) Lha baru sepisan ini dia nembang Baru sepisan ini saya mendengarnya Sungguh mati! Cumengklung mempesona (hal 209) (157) Begitupun nDoro Kanjeng dan nDoro Ayu Esuk uthuk-uthuk turun ke Ngayogyakarta (hal 210) (158) nDoro Putri tidur seamben dengan saya dia betah dan krasan tinggal di desa (hal 211) (159) lha, nDoro Putri marah sekarang Den Baguse dicokot tangannya (hal 216) (160) lha, ya, mau bagaimana lagi, ta enak, kok kepenak (hal 218) (161) Dengan bibir, lidah, dan gusinya lembut Penthil saya dikenyut-kenyut (hal 219) (162) Kalau dia sudah ura-ura, mas Mengingatkan saya jaman dulu (hal 223) (163) Dan dengan lilingan seorang eyang nDoro Kanjeng pun mengudang-kudang (hal 224)

(98) 83 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI B. Campur Kode Berupa Frasa (1) Saya sudah trima, kok Saya lega lila (hal 28) (2) Tapi duduk bersila madhep wetan Dia menghirup udara bebas (hal 36) (3) Bagaikan iket kepala Sala-Ngayogya Dijereng jembar, dipakai pun longgar (hal 44) (4) Tapinya kosong melompong Buahnya kanthong bolong (hal 59) (5) Saya tak ayem tentrem karenanya Saya tak krasan ketemu siapa saja (hal 60) (6) Pikirannya tajam Setajam keris warangan (hal 65) (7) nDoro Putri demen banget cerita sama saya (hal 154) (8) Bagaikan para bidadara kahyangan Guwayanya suntrut membanggakan (hal 160) (9) Mikir wong lanang, ngerasa wong edan (hal 173) (10) Tanpa pandang siapa pun –O, yu Iyem – Asal bathuk klimis dimakan ! (hal 175) (11) Saya pun mbrebes mili lagi, menangis Berdua kami pun bertangis-tangisan (hal 176) (12) Sedang Den Baguse berkaos dan sarung Keringatnya pating dlewer di dahinya (hal 193) (13) Pakaian dan rambutnya awut-awutan Penampilannya nglomprot waton dandan (hal 202) (14) Sejak subuh hari para tamu pun pulang Begitupun nDoro Kanjeng dan nDoro Putri Esuk uthuk-uthuk turun ke Ngayogyakarta (hal 210) (15) Endang nanti saya dulang pisang

(99) 84 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Dan oleh-oleh simbok jenang lanang (hal 219) C. Campur Kode Berupa Baster (1) Naik turun kala-menjingnya Hasrat mangku wanodya bangkit –mana tahan- (hal 25) (2) Kabegjan masing-masing kita punya Sudah kita bawa sejak lahir (hal 28) (3) Sebagai ludah insan sedang cipokan (hal 32) (4) Saya raba dadanya dheg-dhegan, lho (hal 39) (5) Hasratnya tak bisa dipenggak, ditunda Biar dengan bujuk rayu dan janji segala (hal 47) (6) Saya dibopongnya, diambunginya Saya dibaringkan di atas amben (hal 48) (7) Sering bendar diminta kasih wejangan Dalam upacara ngundhuh pengantin Upacara tetesan dan supitan (hal 65) (8) Berpakaian baru, bibir digincu Dan rambut digelung munthil-munthil (hal 74) (9) Lalu saya menjuluk –mapan tidurDalam kantuk saya menggandhul Hati saya sumeleh, bersyukur (hal 77) (10) Tanpa kehilangan rasa gembira Keindahan terbabar bersama jua (hal 78) (11) Ah, ya, kang Kliwon pintar, kok Habis bantingan saya diongklok (hal 96) (12) Sahabat karibnya banyak sekali Tapi dia masih mbok-mbokken, lho Rada gembeng, gampang menangis (hal 138) (13) Lha, baru diledek oleh Den Baguse Gara-gara dipacokke sama mitrane Wouw, wajahnya merah padam ! (hal 139)

(100) 85 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (14) 3 hari kemudian saya terima surat Dia mengajak saya pegatan (hal 166) (15) Mereka yang bisa, setiap pejagong Akan memperoleh giliran nembang (hal 209) (16) lha, nDoro Putri marah sekarang Den Baguse dicokot tangannya (hal 216) (17) lha, ya, mau bagaimana lagi, ta enak, kok kepenak (hal 218) (18) Dengan bibir, lidah, dan gusinya lembut Penthil saya dikenyut-kenyut (hal 219) D. Campur Kode Berupa Bentuk Ulang (1) Rambutnya ikal, ngandan-andhan (hal 43) (2) Dia sering diminta kasih ular-ular (hal 65) (3) Simbok mengajar saya Tayuban Ya, alon-alon, diulang-ulang (hal 73) (4) Lha, baru munthup-munthup muncul Nama baru dirintis pe[r]lahan naik (hal 76) (5) Kini jam dahar siang, telah usai Saya tinggal ongkang-ongkang (hal 77) (6) Badan saya jentol-jentol semua O, kami kelon di sarang semut (hal 85) (7) Kenapa hati saya nelangsa Kejeblos ke dalam jugangan Kenapa hati saya kelara-lara Terjaring ke dalam kegelapan (hal 86) (8) Saya duduk ndeleleg –dhelog -dhelog Memandang jauh tanpa tujuan (hal 87) (9) Di dalam diri gairah makantar-kantar (hal 93)

(101) 86 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (10) Tapi nDoro ayu sungkan disembah-sembah Dia tak suka dihormati mundhuk-mundhuk (hal 112) (11) Sedang mulutnya sibuk pula berbicara Hanya, tampaknya saja klemar-klemer (hal 114) (12) Sejumlah pemuda mesam-mesem Menyaksikan adegan kami pula (hal 120) (13) Demikianpun kami perempuan bertiga: nDoro Ayu, nDoro Putri, dan saya ada dalam uyuk-uyukan berebutan (hal 125) (14) Sahabat karibnya banyak sekali Tapi dia masih mbok-mbokken, lho Rada gembeng, gampang menangis (hal 138) (15) Kini perut saya pun sudah gede Apabila berjalan mesti edang-edong (hal 206) (16) Dia merengek, nangis njempling-njempling Apabila tak dapat keturutan karepnya (hal 206) (17) Dengan bibir, lidah, dan gusinya lembut Penthil saya dikenyut-kenyut (hal 219) (18) Dan dengan lilingan seorang eyang nDoro Kanjeng pun mengudang-kudang (hal 224) (19) Kalau dia sudah ura-ura, mas Mengingatkan saya jaman dulu (hal 223) E. Campur Kode Berupa Peribahasa (1) Kadhung arang kranjang (hal 17) (2) Agama Agening Ati (hal 18) (3) Loro-loroning atunggal (hal 29) (4) Tanggap ing sasmita (hal 35) (5) Wani ngalah luhur wekasanipun (hal 49)

(102) 87 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (6) Keladuk wani kurang deduga (hal 51) (7) Alon-alon waton kelakon (hal 64) (8) Idu geni (hal 66) (9) Sembrana pari kena (hal 66) (10) Ibarat keris ligan manjing warangka (hal 83) (11) Ngangsu kawruh (hal 105) (12) Nandang papa cintraka (hal 135) (13) Gandhewa pinentang (hal 136) (14) Ati bungah bersahaja (hal 153) (15) Ngimpi iku sekare wong sare (hal 164) (16) Wening lan eling sajroning bating (hal 171) (17) Kacang mangsa ninggal lanjaran (hal 191) (18) Anak polah bapa kepradah (hal 194) (19) Ibarat kere munggah bale (hal 200)

(103) 88 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI TENTANG PENULIS Ayu Primasandi lahir di Tarakan, Kalimantan Timur pada 23 Januari 1990. Sejak tahun 2004 telah bermukim di Yogyakarta dalam rangka melanjutkan studi jenjang SMA. Primasandi gemar bermusik dan bernyanyi. Di bangku kuliah, Primasandi menyalurkan kegemarannya ini dengan membentuk kelompok bermusik bersama ketiga temannya, yaitu Sekar Mangalandum (biola), Andar Prabowo (jimbe), dan Yohanes Carol (gitar). Bersama kelompok bermusiknya ini, mereka sering diundang tampil dalam berbagai acara formal ataupun santai. Selain bermusik, Primasandi juga gemar menulis. Tulisan pertamanya berupa cerpen dimuat dalam majalah sekolah Mesra pada tahun 2004. Selama tahun 2004-2006, Primasandi aktif dalam kegiatan pers sekolah sebagai wartawan. Keaktifan dalam pers sekolah ini berlanjut pada tahun 2006-2007 ketika Primasandi terpilih menjadi pemimpin redaksi pers sekolah di SMA tempat Primasandi studi. Selain itu, Primasandi pernah mengikuti lomba penulisan karya ilmiah tingkat SMA bertema ―Character Building‖ yang diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Ilmu Sejarah Universitas Sanata Dharma pada tahun 2006. Di bangku kuliah, Primasandi aktif dalam bidang organisasi. Primasandi bergabung dalam Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma sebagai seksi kegiatan dalam (2008-2009) dan ketua HMJ (2009-2010). Kegiatan organisasi inilah yang mengantar Primasandi untuk mendapat pengalaman baru bersama teman-teman Jurusan Sastra se-Indonesia di Universitas Padjajaran Bandung Pada November 2008 dalam Kongres Ikatan Lembaga Ilmu Bahasa, Budaya, dan Sastra Indonesia (ILMIBSI) sebagai delegasi dari Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma. Selain itu, Primasandi pernah menjadi sekretaris dalam sebuah organisasi di bawah naungan Fakultas Sastra bernama Media Sastra pada tahun 2008-2009. Saat ini, Primasandi hanya aktif sebagai mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia Unversitas Sanata Dharma sambil menunggu gelar sarjana S1.

(104)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Campur kode bahasa Madura ke dalam bahasa Indonesia pada interaksi penjual koran di terminal Bondowoso
2
10
47
Campur kode bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia pada surat kabar Timor Express edisi Januari 2016.
0
3
102
Penggunaan unsur intralingual dan ekstralingual dalam daya bahasa dan nilai rasa bahasa pada prosa lirik Pengakuan Pariyem sebagai penanda kesantunan berkomunikasi.
0
0
315
Pengakuan Pariyem : analisis semiotic.
0
0
282
Kajian terjemahan penanda kohesi pada novel wings karya danielle steel ke dalam bahasa indonesia SUPANA
1
6
682
kepriyayian tokoh dalam novel
0
0
3
Pengakuan Pariyem Dunia Batin Seorang Wa
0
0
17
Penyebab dan tipe kenakalan tokoh nayla dalam novel nayla karya Djenar Maesa Ayu tinjauan psikologi sastra - USD Repository
0
0
85
Pengabdian tokoh kuntara terhadap keluarga dalam novel saksi mata karya Suparto Brata : suatu tinjauan sosiologi sastra - USD Repository
0
0
96
Kecemasan tokoh Suyono dalam novel sedimen senja karya S.N. Ratmana pendekatan psikologi sastra - USD Repository
0
0
90
Fungsi tuturan langsung dalam novel I feel bad about my neck karya Nora Ephron - USD Repository
0
0
6
Fungsi tuturan langsung dalam novel I feel bad about my neck karya Nora Ephron - USD Repository
0
0
104
Nilai feminis tokoh dalam novel trilogi Jendela-Jendela, Pintu dan Atap karya Fira Basuki - USD Repository
0
0
135
Kecemasan tokoh Aruni dalam novel Menolak Panggilan Pulang karya Ngarto Februana : pendekatan psikologi sastra - USD Repository
0
1
73
Campur kode Bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia pada tuturan tokoh Pariyem dalam novel Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG - USD Repository
0
0
15
Show more