Evaluasi penggunaan antibiotika pada pasien demam tifoid kelompok pediatrik di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta periode Januari-Desember 2010 - USD Repository

Gratis

0
3
153
11 months ago
Preview
Full text

  

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA

PADA PASIEN DEMAM TIFOID KELOMPOK PEDIATRIK

DI INSTALASI RAWAT INAP

RUMAH SAKIT PANTI RAPIH YOGYAKARTA

PERIODE JANUARI-DESEMBER 2010

Skripsi

  

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm)

Program Studi Farmasi

  

Oleh :

Cornelius Danan Rufaldi

NIM : 078114100

  

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA

PADA PASIEN DEMAM TIFOID KELOMPOK PEDIATRIK

DI INSTALASI RAWAT INAP

RUMAH SAKIT PANTI RAPIH YOGYAKARTA

PERIODE JANUARI-DESEMBER 2010

Skripsi

  Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm)

  Program Studi Farmasi Oleh :

  Cornelius Danan Rufaldi NIM : 078114100

  

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA

  

PADA PASIEN DEMAM TIFOID KELOMPOK PEDIATRIK

DI INSTALASI RAWAT INAP

RUMAH SAKIT PANTI RAPIH YOGYAKARTA

PERIODE JANUARI-DESEMBER 2010

  Skripsi yang diajukan oleh : Cornelius Danan Rufaldi

  NIM : 07811410 telah disetujui oleh : Pembimbing Utama (Drs. Mulyono, Apt.) Tanggal 4 Juli 2011

  

Pengesahan Skripsi Berjudul

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA

PADA PASIEN DEMAM TIFOID KELOMPOK UMUR PEDIATRIK

DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT PANTI RAPIH

YOGYAKARTA PERIODE JANUARI-DESEMBER 2010

  Oleh : Cornelius Danan Rufaldi

  NIM : 078114100 Dipertahankan di hadapan Panitia Penguji Skripsi

  Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma pada tanggal :

  8 Agustus 2011 Mengetahui

  Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma

  Dekan Ipang Djunarko, M.Si., Apt.

  Pembimbing Drs. Mulyono, Apt.

  Panitia Penguji Tanda Tangan 1. Drs. Mulyono, Apt.

  ..................... 2. dr. Fenty, M.Kes., Sp. PK. .....................

  3. Maria Wisnu Donowati, M.Si., Apt. .....................

HALAMAN PERSEMBAHAN

  Wh e n w e a c c e p t t o u gh j o b s a s a c h a ll e n ge a n d w a d e i n t o t h e m w i t h j o y a n d e n t h u s i a s m , m i r a c le s c a n h a p p e n .

  A r l a n d Gi l ber t - Th e c h a lle n ge i s n o t t o m a n a ge t i m e , b u t t o m a n a ge o u r s e lv e s .

  St ev en Cov ey - Ex p e r i e n c e i s a h a r d t e a c h e r b e c a u s e s h e gi v e s t h e t e s t fi r s t , t h e le s s o n a ft e r w a r d s

  • Kupersembahkan karya ini bagi:

  V er n on L a w

  T u h a n Y esu s K r i st u s-k u B a p a k d a n I bu t esa y a n g T erima kasih atas segala doa dan dukungan kalian........

  

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH

UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

  Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma : Nama : Cornelius Danan Rufaldi NIM : 078114100

  Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul :

  

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA PADA PASIEN DEMAM

TIFOID KELOMPOK UMUR PEDIATRIK DI INSTALASI RAWAT INAP

RUMAH SAKIT PANTI RAPIH YOGYAKARTA PERIODE JANUARI-

DESEMBER 2010

  Beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet maupun media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

  Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal 8 Agustus 2011 Yang menyatakan Cornelius Danan Rufaldi

  

PRAKATA

  Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas pencerahan, bimbingan, penyertaan, dan kekuatan yang diberikan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Evaluasi Penggunaan Antibiotika Pada Pasien Demam Tifoid Kelompok Pediatrik di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta Periode Desember-Januari 2010”. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Strata Satu Program Studi Ilmu Farmasi (S.Farm.).

  Penulis mengucapkan terima kasih kepada banyak pihak yang telah membantu secara material maupun secara moral, memberikan motivasi, semangat, dorongan, kritik, maupun saran hingga dapat terselesaikannya skripsi ini, terutama kepada :

  1. Tuhan Yang Maha Esa atas segala restu dan bimbinganNya selama penulisan skripsi.

  2. Direktur Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta yang memberikan ijin penelitian kepada penulis.

  3. Kepala Instalasi Rekam Medik Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta atas kerjasama dan kemudahan yang diberikan pada saat pengambilan data-data untuk penelitian.

  4. Ipang Djunarko, M.Sc., Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma.

  5. Drs. Mulyono, Apt., selaku dosen pembimbing skripsi atas bimbingan, motivasi, kritik, maupun saran yang selalu diberikan agar skripsi dapat selesai tepat pada waktunya.

  6. Dokter Fenty, M.Kes., Sp.PK., selaku dosen penguji atas masukan, kritik dan bimbingan yang telah diberikan kepada penulis.

  7. Maria Wisnu Donowati M.Si., Apt., selaku dosen penguji atas saran maupun kritik serta bimbingan yang telah diberikan kepada penulis.

  8. Semua dosen Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang telah memberikan ilmu dan softskill sebagai bekal praktik kefarmasian kelak.

  9. Robertus Heru Saptono dan Vincentia Sedyarningsih, selaku kedua orang tuaku yang senantiasa dengan sabar memberikan dukungan motivasi, doa, materi, dan nasihat hingga terselesaikannya skripsi ini.

  10. Clarissa Resty Prabaniswari atas motivasi, doa, waktu, dan kasih sayang demi kelancaran dan keberhasilan penyusunan skripsi ini.

  11. Rosanna Olivia Hartono, sahabat berbagi keceriaan baik dalam suka maupun duka serta kawan diskusi saat menghadapi permasalahan dalam penyelesaian skripsi.

  12. Staff Sekretariat Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma atas segala bantuan demi kelancaran dalam pengurusan ijin.

  13. Mahendra Agil Kusuma, Yeyen Kristiyana, dan Prima Mustika, atas motivasi yang telah diberikan kepada penulis.

  14. Teman-teman angkatan 2007 khususnya kelas C dan FKK B atas hari-hari yang indah dan menyenangkan selama kuliah.

  15. Semua bagian dari perjalanan hidup penulis yang mampu menjadi inspirasi.

  Penulis menyadari bahwa penelitian ini belum sempurna. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran agar skripsi ini dapat menjadi lebih baik. Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat untuk menambah pengetahuan bagi yang membutuhkan.

  Yogyakarta, 7 Juli 2011 Penulis

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

  Apabila di kemudian hari ditemukan indikasi plagiarisme dalam naskah ini, maka saya bersedia menanggung segala sanksi sesuai peraturan perundang- undangan yang berlaku.

  Yogyakarta, 7 Juli 2011 Penulis Cornelius Danan Rufaldi

  DAFTAR ISI Hal.

  HALAMAN JUDUL............................................................................................i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .................................................ii HALAMAN PENGESAHAN............................................................................iii HALAMAN PERSEMBAHAN ........................................................................iv HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI...................................................... v PRAKATA.........................................................................................................vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ............................................................ix DAFTAR ISI....................................................................................................... x DAFTAR TABEL.............................................................................................xii DAFTAR GAMBAR .......................................................................................xiii DAFTAR LAMPIRAN....................................................................................xiv

  INTISARI.......................................................................................................... xv

  

ABSTRACT....................................................................................................... xvi

  BAB I. PENGANTAR ........................................................................................ 1 A. Latar Belakang........................................................................................... 1

  1. Perumusan Masalah ............................................................................. 3

  2. Keaslian Penelitian .............................................................................. 4

  3. Manfaat Penelitian ............................................................................... 6

  B. Tujuan Penelitian ....................................................................................... 7

  2. Tujuan Khusus ..................................................................................... 7

  BAB II. PENELAAHAN PUSTAKA................................................................. 8 A. Antibiotika .............................................................................................. 8 B. Resistensi Bakteri ................................................................................. 12 C. Demam Tifoid ....................................................................................... 14 BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ........................................................ 26 A. Jenis Penelitian...................................................................................... 26 B. Definisi Operasional.............................................................................. 27 C. Subjek Penelitian................................................................................... 28 D. Bahan Penelitian.................................................................................... 29 E. Tata Cara Penelitian .............................................................................. 29 F. Tata Cara Analisis Hasil........................................................................ 30 BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ......................................................... 33 A. Profil Pasien .......................................................................................... 34 B. Identifikasi dan Diagnosis Pasien ......................................................... 38 C. Pola Penggunaan Antibiotika................................................................ 42 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN........................................................... 56 A. Kesimpulan ........................................................................................... 56 B. Saran...................................................................................................... 57 DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 58 LAMPIRAN...................................................................................................... 62 BIOGRAFI PENULIS .................................................................................... 137

  

DAFTAR TABEL

  Tabel I Penggolongan antibiotika berdasarkan sifat ............................ 9 Tabel II Terapi yang direkomendasi WHO untuk demam tifoid ......... 22 Tabel III Gejala klinis yang dialami pasien demam tifoid di RS. Panti

  Rapih Yogyakarta periode Januari-Desember 2010 ............... 39 Tabel IV Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan pasien demam tifoid di RS. Panti Rapih Yogyakarta periode Januari – Desember

  2010 ....................................................................................... 40 Tabel V Dosis dan Frekuensi Pemakaian Antibiotika Pada Pasien

  Demam Tifoid Kelompok Umur Pediatrik di Instalasi Rawat Inap RS. Panti Rapih Yogyakarta selama periode 2010......... 46

  Tabel VI Durasi Penggunaan Antibiotika Kombinasi ........................... 49 Tabel VII Durasi Penggunaan Antibiotika Tunggal................................ 50 Tabel VIII Kategori Ketepatan Penggunaan Antibiotika menurut Kurrin dan

  Gyssens ................................................................................... 53

  

DAFTAR GAMBAR

  Gambar 1 Mekanisme kerja antibiotika sebagai bakteriosida dan bakteriostatik .......................................................................... 9 Gambar 2 Mekanisme kerja antibiotika ....................................................... 11 Gambar 3 Struktur kimia Penicilin .............................................................. 11 Gambar 4 Struktur kimia Kloramfenikol ..................................................... 11 Gambar 5 Struktur kimia Sefalosporin ........................................................ 12 Gambar 6 Diagram patofisiologi demam tifoid ........................................... 15 Gambar 7 Persentasi jumlah pasien pria dan wanita penderita penyakit demam tifoid di RS. Panti Rapih Yogyakarta periode 2010....... 35 Gambar 8 Persentasi kasus demam tifoid di RS. Panti Rapih Yogyakarta periode 2010 berdasarkan umur pasien....................................... 36 Gambar 9 Frekuensi kejadian pasien demam tifoid di RS. Panti Rapih

  Yogyakarta periode 2010 ........................................................... 37 Gambar 10 Profil penggunaan terapi antibiotika tunggal dan kombinasi di RS.

  Panti Rapih Yogyakarta periode 2010 ........................................ 43 Gambar 11 Jenis antibiotika untuk pengobatan demam tifoid di RS. Panti

  Rapih Yogyakarta periode 2010.................................................. 44 Gambar 12 Profil rute pemberian antibiotika untuk pasien demam tifoid di RS.

  Panti Rapih Yogyakarta periode 2010 ........................................ 51 Gambar 13 Profil kategori ketepatan penggunaan antibiotika pada pasien demam tifoid di RS. Panti Rapih Yogyakarta periode 2010....... 54

  

DAFTAR LAMPIRAN

  Lampiran 1 Daftar diagnosis pasien terkait demam tifoid.............................. 62 Lampiran 2 Guideline dosis antibiotika untuk pengobatan demam tifoid...... 65 Lampiran 3 Daftar antibiotika yang digunakan pasien demam tifoid di

  RS. Panti Rapih tahun 2010 ....................................................... 66 Lampiran 4 Data dan evaluasi penggunaan antibiotika kombinasi pasien demam tifoid di RS. Panti Rapih tahun 2010 .................. 67 Lampiran 5 Data dan evaluasi penggunaan antibiotika tunggal pasien demam tifoid di RS. Panti Rapih tahun 2010 .................. 70 Lampiran 6 Data pemeriksaan laboratorium dan terapi antibiotika pasien........................................................................................... 75 Lampiran 7 Surat Izin Penelitian RS. Panti Rapih Yogyakarta.................... 136

  

INTISARI

  Penyakit infeksi menjadi salah satu penyebab utama kematian di Indonesia. Menurut survey tahun 2005 pada beberapa rumah sakit di Indonesia, kejadian demam tifoid menduduki tempat kedua dari 10 penyakit dan sebagian besar menyerang anak-anak. Pengobatan demam tifoid dilakukan dengan menggunakan antibiotika, namun penggunaan antibiotika juga beresiko memicu timbulnya resistensi bakteri apabila tidak digunakan secara tepat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi penggunaan antibiotika pasien demam tifoid kelompok pediatrik di RS. Panti Rapih Yogyakarta periode 2010.

  Penelitian ini termasuk jenis penelitian non eksperimental dengan rancangan deskriptif-evaluatif yang bersifat retrospektif. Kriteria inklusi penelitian ini ialah pasien pria dan wanita berumur 0-12 tahun, dirawat di Rumah Sakit Panti Rapih pada periode 2010, terdiagnosa demam tifoid tanpa adanya komplikasi dan mendapatkan terapi menggunakan antibiotika.

  Dari hasil penelitian terdapat 62 pasien (58.1% pria dan 41.9% wanita). Pasien terbanyak pada kelompok 6-12 tahun (42.9%). Berdasarkan kategori ketepatan penggunaan antibiotika menurut Kurin dan Grysens, dari 62 kasus yang memenuhi konsep rasional (kategori I) sebesar 16.13%, kategori IIA sebesar 70.98%, kategori IIB sebesar 48.39%, kategori IIIB sebesar 25.81%, dan kategori

  IVA sebesar 1.61%. Berdasarkan Behrman (1992), Roespandi dan Nurhamzah (2009), dan Kass (1990), disimpulkan bahwa penggunaan antibiotika di RS.Panti Rapih Yogyakarta kurang tepat.

  Kata kunci : demam tifoid, evaluasi, antibiotika, pediatrik

  ABSTRACT

  Infectious diseases become one of the leading causes of death in Indonesia. According to the survey in 2005 at several hospitals in Indonesia, the incidence of typhoid fever occupies the second place of 10 diseases and mostly affects children. Treatment of typhoid fever is done by using antibiotics. However, the use of antibiotics lead to bacterial resistance are at risk if not used properly. The purpose of this study was to evaluate the use of antibiotics of typhoid fever patients on pediatric group in Panti Rapih Yogyakarta period of 2010.

  This study included type of non-experimental research with descriptive- evaluative designs that are retrospective. Inclusion criteria of this study is that male and female patients aged 0-12 years, hospitalized in the period 2010 Panti Rapih, diagnosed with typhoid fever without complications and get therapy using antibiotics.

  From the results of the study there were 62 patients (58.1% men and 41.9% women). Most patients in groups 6-12 years (42.9%). Based on the correct use of antibiotics according to category and Grysens Kurin, from 62 cases that meet the rational concepts (category I) amounting to 16.13%, category IIA of 70.98%, 48.39% for category IIB, category IIIB of 25.81% and category IVA of 1.61%. According to Behrman (1992), Roespandi and Nurhamzah (2009), and Kass (1990) as a guide, it was concluded that the use of antibiotics in RS.Panti Rapih Yogyakarta less precise.

  Keywords: typhoid fever, evaluation, antibiotics, pediatric

BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Infeksi ataupun penyakit yang disebabkan akibat adanya suatu infeksi

  merupakan salah satu kategori penyebab kesakitan dan kematian yang tinggi di dunia. Menurut data Surkesnas (Survey Kesehatan Nasional) pada tahun 2001, berbagai penyakit infeksi seperti tuberkulosis, pneumonia, diare, dan demam tifoid tercatat dalam 10 penyebab utama kematian di Indonesia (Widodo, 2010).

  Demam tifoid adalah suatu penyakit infeksi yang menyerang saluran pencernaan dan disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi yang masih dijumpai secara luas di berbagai negara berkembang terutama yang terletak di daerah tropis dan subtropis (Judarwanto, 2009). Kejadian demam tifoid banyak dijumpai di negara-negara berkembang seperti di Indonesia dan kebanyakan menyerang anak- anak. Prevalensi demam tifoid di Indonesia menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 sebesar 1.6% dan sebesar 4.3% terjadi pada anak-anak. Data survey mortalitas yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Depkes RI) pada tahun 2005 di 10 provinsi menyatakan bahwa angka kematian bayi yang diakibatkan demam tifoid berada pada peringkat kesembilan (1.2%) sedangkan angka kematian balita yang disebabkan oleh demam tifoid berdasarkan data terakhir pada tahun 2002-2003 yaitu 46 per 1000 kelahiran hidup (Herawati dan Ghani, 2009). tersebut adalah Evaluasi Penggunaan Antibiotika pada Pasien Demam Tifoid Kelompok Pediatrik di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta periode 2010.

  Lokasi yang dipilih untuk melakukan penelitian adalah Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta. Lokasi tersebut dipilih karena merupakan salah satu rumah sakit swasta besar di Yogyakarta yang berdiri sejak tahun 1940-an dan menerima pelayanan asuransi kesehatan baik dari pemerintah maupun swasta.

  Evaluasi yang dimaksud adalah menjabarkan profil pasien demam tifoid yang menggunakan antibiotika meliputi umur, jenis kelamin, frekuensi kejadian, dan beberapa pemeriksaan penunjang diagnosis yang dilakukan serta menjabarkan profil penggunaan antibiotika yang meliputi jenis, dosis, frekuensi, durasi, dan rute pemberian antibiotika. Penggunaan antibiotika tersebut dibandingkan dengan pustaka yang telah dijadikan acuan untuk mengetahui kriteria ketepatan penggunaannya dan kemudian hasilnya dinyatakan dalam persen (%). Hal ini perlu dilakukan dengan tujuan untuk menghindari bertambahnya jumlah bakteri yang resisten terhadap antibiotika.

1. Permasalahan

  Berdasarkan latar belakang tersebut, beberapa permasalahan yang ditemukan antara lain : a. Bagaimana karakteristik pasien demam tifoid kelompok umur pediatrik yang menggunakan antibiotika di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rapih

  Yogyakarta periode Januari-Desember 2010? b. Berapa persentasi penggunaan antibiotik yang rasional pada pasien demam tifoid kelompok umur pediatrik di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta periode Januari-Desember 2010?

2. Keaslian Penelitian

  Berdasarkan hasil penelusuran pustaka yang dilakukan, beberapa penelitian yang berhubungan dengan evaluasi penggunaan antibiotika pada pasien demam tifoid yang pernah dilakukan sebelumnya, antara lain :

  a. Kajian Rasionalitas Penggunaan Antibiotika Pada Kasus Demam Tifoid Yang Dirawat Pada Bangsal Penyakit Dalam di RSUP. dr. Kariadi Semarang tahun 2008 (Santoso, 2009). Hasilnya, konsep rasionalitas terhadap 137 terapi antibiotika, yang termasuk kategori VI (data tidak lengkap) sebesar 14 terapi antibiotika, kategori V sebesar 1 terapi antibiotika, kategori IVA sebesar 15 terapi antibiotika, kategori IVC sebesar 92 terapi antibiotika dan kategori IVD sebesar 4 terapi antibiotika. Sedangkan yang masuk dalam kategori I (memenuhi konsep rasional) hanya sebesar 11 terapi.

  b. Pola Pemberian Antibiotika Pengobatan Demam Tifoid Anak Di Rumah Sakit Fatmawati Jakarta Tahun 2001-2002 (Musnelina et al., 2004). Hasilnya, ditemukan 182 kasus demam tifoid, sebanyak 120 kasus (74.6%) kriteria inklusi dan 62 kasus (25.4%) kriteria ekslusi. Sebanyak 97 kasus (53.5%) menggunakan kloramfenikol dan sebanyak 49 kasus (29.6%) menggunakan seftriaksone sebagai terapi antibiotika. Perbedaan : sampel, lokasi, periode, poin evaluasi c. Evaluasi Penggunaan Antibiotika Pada Pasien Anak Penderita DemamTifoid di Instalasi Rawat Inap RSUD dr. Agoesdjam Ketapang Periode Juni 2008- Juni 2009 (Pratiwi, 2010). Hasilnya ditemukan 40 kasus. Penggunaan antibiotika selama rawat inap yaitu sefalosporin generasi I (2.9%), golongan sefalosporin generasi III (31.9%), dan golongan kloramfenikol (65.2%).

  Outcome terapi pasien, lama rawat inap terbanyak pada lama perawatan 1-3

  hari (52.5%), keadaan pasien keluar rumah sakit sebanyak 39 kasus (97%) keluar rumah sakit dengan keadaan membaik dan sebanyak 1 kasus (3%) dengan keadaan sembuh. Identifikasi DRPs penggunaan antibiotika diperoleh 3 kasus, yang terdiri dari 4 dalam kasus dosis kurang (10%), 2 dalam kasus dosis berlebih (5%), dan 2 dalam kasus efek obat yang tidak diinginkan (5%).

  d. Evaluasi Drug Therapy Problems Pada Pengobatan Kasus Demam Tifoid di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Kalasan Sleman Periode Juni 2007-Juni2008 (Sari, 2009). Hasilnya jumlah kasus yang diteliti sebanyak 45 kasus. Kelas terapi terbanyak adalah obat antiinfeksi golongan antibakteri (Tiamfenikol) dan obat gizi dan darah (100%). Jenis DTPs yang terjadi adalah dosis terlalu rendah sebanyak 10 kasus dan potensial interaksi obat sebanyak 28 kasus. Outcome kasus tifoid yaitu sembuh 9 kasus (20%), membaik 34 kasus (76%) dan belum sembuh 2 kasus (4%).

  e. Kajian Penggunaan Obat Demam Tifoid Bagi Pasien Anak di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta Periode Januari 2000-Desember 2001 (Triana, 2003). Hasilnya golongan obat yang paling banyak digunakan adalah kotrimoksazol (44.32%). Cara pemberian obat peroral dengan bentuk sediaan tablet merupakan jumlah yang paling banyak digunakan. Ada 4 obat yang menyebabkan terjadinya efek samping dan 9 kasus terjadi interaksi obat. Dari penelitian ini ditemukan ada 39 kasus yang tepat indikasi sedangkan 16 kasus kurang tepat indikasi, rata-rata lama perawatan anak demam tifoid adalah 4-10 hari.

3. Manfaat Penelitian

  Manfaat Praktis

  a. Bagi Pasien 1) Membantu pasien memahami penggunaan antibiotika untuk penyakit demam tifoid secara tepat, sehingga pengobatan penyakit pada kejadian rawat jalan dapat berjalan secara efisien.

  b. Bagi Tenaga Kesehatan (dokter dan apoteker) 1) Suatu sarana evaluasi ataupun refleksi bagi dokter maupun apoteker bahwa dalam melaksanakan pelayanan kesehatan juga dibutuhkan sikap yang bijaksana, serta menggunakan hati nurani, tidak hanya mengutamakan keuntungan sepihak, namun merugikan pasien.

  2) Suatu sarana untuk memacu para dokter dan apoteker untuk menggunakan antibiotika pada kasus demam tifoid secara rasional berdasarkan dasar-dasar ilmiah yang sudah ada.

  c. Bagi Peneliti 1) Menambah pengetahuan peneliti mengenai penggunaan antibiotika

  2) Sarana evaluasi dan bahan untuk refleksi bahwa dalam menjalankan tugas melayani pasien haruslah mempertimbangkan banyak hal tidak semata-mata hanya kesembuhan pasien, tetapi juga harus mempertimbangkan daya beli pasien.

  Manfaat Teoritis Menambah pengetahuan baik untuk masyarakat umum maupun untuk tenaga kesehatan mengenai antibiotika untuk penatalaksanaan penyakit demam tifoid serta penggunaannya secara rasional.

B. Tujuan Penelitian

  1. Tujuan Umum Melihat rasionalitas penggunaan antibiotika sebagai obat anti infeksi.

  2. Tujuan Khusus

  Penelitian ini secara khusus dimaksudkan untuk :

  a. Melihat karakteristik pasien demam tifoid pada kelompok umur pediatrik di RS. Panti Rapih Yogyakarta pada periode Januari sampai dengan Desember 2010.

  b. Mengevaluasi rasionalitas peresepan antibiotika pada pasien rawat inap pasien demam tifoid di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta berdasarkan pedoman pengobatan yang ada.

BAB II PENELAAHAN PUSTAKA A. Antibiotika Pada awal ditemukan, definisi antibiotika adalah suatu jenis obat yang

  dihasilkan oleh mikroorganisme yang dapat menghambat pertumbuhan atau dapat membunuh mikroorganisme lain (Ganiswara, 1995). Seiring dengan berkembangnya teknologi, definisi antibiotika mengalami pergeseran. Antibiotika pada prinsipnya adalah suatu zat atau senyawa obat alami maupun sintesis yang digunakan untuk membunuh kuman penyakit dalam tubuh manusia dengan berbagai mekanisme sehinga manusia terbebas dari infeksi bakteri (Katzung, 2008).

  Istilah “antibiotika” awalnya dikenal sebagai senyawa alami yang dihasilkan oleh jamur atau mikroorganisme lain yang digunakan untuk membunuh bakteri penyebab penyakit pada manusia atau hewan. Secara teknis istilah “agen anti bakteri” mengacu kepada kedua senyawa alami dan buatan tersebut baik sintesis maupun semi sintesis. Saat ini banyak orang beranggapan dan menggunakan kata antibiotika untuk merujuk kepada suatu senyawa yang digunakan untuk membunuh bakteri baik yang dihasilkan langsung oleh jamur atau mikroorganisme maupun yang dihasilkan dari proses sintesis atau semi sintesis yang strukturnya mirip dengan yang dihasilkan pada jamur atau . mikroorganisme Antibiotika yang akan digunakan untuk membasmi mikroba mungkin terhadap mikroorganisme. Artinya, antibiotika yang digunakan harus memiliki sifat toksisitas selektif yang tinggi (Katzung, 2008). Berdasarkan sifat ini, ada antibiotika yang bersifat bakteriostatik ada juga yang bersifat bakterisida.

  Gambar 1. Mekanisme kerja bakteriosida dan bakteriostatik pada antibiotika (Lullmann et al., 2000)

  Tabel I. Penggolongan antibiotika berdasarkan sifat beserta contohnya

  

Bakteriostatik Bakterisida

  Kloramfenikol Tetrasiklin

  Eritromisin Linkomisin

  Klindamisin Rifampisin

  Sulfonamid Trimetoprim

  Spektinomisin Metenamin Mandelat

  Asam Nalidiksid Asam Oksolinik

  Nitrofurantoin Penisilin

  Sefalosporin Aminoglikosid

  Polimiksin Vankomisin

  Basitrasin Sikloserin

  (Katzung, 2008) Antibiotika dan kemoterapetika merupakan jenis obat yang paling banyak digunakan dalam klinik. Hal ini tidak lepas dari tingginya angka kejadian infeksi dalam populasi dibandingkan dengan penyakit-penyakit lain. Perkembangan ilmu kedokteran dan farmasi dalam beberapa dekade terakhir ini telah memungkinkan ditemukannya berbagai jenis obat baru termasuk antibiotika (Ganiswara, 1995).

  Perkembangan ini jelas sangat menggembirakan karena kasus-kasus infeksi yang dahulu tidak dapat disembuhkan oleh beberapa jenis antibiotika saat ini seiring dengan banyak ditemukannya antibiotika baru dapat teratasi. Banyaknya penemuan antibiotika baru juga dapat memicu timbulnya masalah seperti sulitnya untuk menentukan pilihan dan pemakaian yang sesuai (Ganiswara, 1995).

  Ada beberapa macam penggolongan antibiotika, antara lain penggolongan antibiotika berdasarkan sifat, mekanisme kerja serta berdasarkan aktifitasnya (Katzung, 2008).

  Berdasarkan mekanisme kerjanya, antibiotika dibagi dalam 5 kelompok, yaitu :

  1. Mengganggu metabolisme sel mikroba.

  2. Menghambat sintesis dinding sel mikroba.

  3. Merusak keutuhan membran sel mikroba.

  4. Menghambat sintesis protein sel mikroba.

  5. Menghambat sintesis atau merusak asam nukleat sel mikroba.

  Gambar 2. Mekanisme kerja antibiotika (Lullmann et al., 2000) Berdasarkan aktifitasnya, antibiotika dapat digolongkan menjadi 2 yaitu : 1. Antibiotika berspektrum sempit.

  2. Antibiotika berspektrum luas.

  (Ganiswara, 1995) Gambar 3. Struktur Penicillin Gambar 4. Struktur Kloramfenikol

  (Craig and Stitzel, 2005) (Connor, 1992)

  Gambar 5. Struktur Sefalosporin (Craig dan Stitzel, 2005)

B. Resistensi Bakteri terhadap Antibiotika

  Penggunaan antibiotika yang tidak rasional dapat berakibat pada timbulnya resistensi terhadap antibiotika. Terdapat empat jalur mekanisme terjadinya resistensi antibiotika yaitu penurunan permeabilitas terhadap antibiotika, adanya proses enzimatik, modifikasi letak reseptor obat, dan peningkatan sintesis metabolit antagonis terhadap antibiotika (Shulman, 1992).

  1. Perubahan permeabilitas Antibiotika tidak dapat mencapai lokasi target yang dikehendaki.

  Keadaan ini berhubungan dengan penurunan permeabilitas dinding mikroorganisme terhadap antibiotika. Perubahan permeabilitas berhubungan dengan perubahan reseptor permukaan sel sehingga antibiotika kehilangan kemampuan untuk melakukan transportasi aktif guna melewati membran sel, dan akhirnya terjadi perubahan struktur dinding sel yang tidak spesifik. Sebagai contoh mekanisme ini terjadi pada Gram negatif. Bakteri Gram negatif terdiri dari protein porin yang berbentuk saluran, penuh berisi air. Perubahan yang terjadi pada porin akan menyebabkan penurunan permeabilitas terhadap antibiotika tertentu, misalnya golongan beta laktam (Shulman, 1992).

  2. Proses inaktifasi oleh enzim Organisme patogen memacu terjadinya mekanisme biokimia, melalui proses enzimatik yang berperan mengurangi atau mengeliminasi antibiotika.

  Mikroorganisme yang telah mengalami mutasi mengalami peningkatan aktifitas enzim atau terjadi mekanisme baru sehingga obat menjadi tidak aktif, seperti contohnya adalah adanya beta-laktamase menyebabkan penisilin dan sefalosporin menjadi inaktif. Modifikasi biokimia antibiotika oleh enzim bakteri merupakan suatu masalah yang sangat serius dalam pengobatan antibiotika dan kemoterapi (Shulman, 1992).

  3. Modifikasi lokasi reseptor sel target Melalui mekanisme biokimiawi yang menyebabkan ikatan antara antibiotika dengan mikroorganisme tidak berlangsung lama, interaksi antara obat dengan sel target tidak terjadi. Pada mikroorganisme yang telah mengalami mutasi, perubahan biokimiawi ini terjadi selama fase pengobatan pasien, seperti pada contoh resistensi yang terjadi pada pengobatan menggunakan eritromisin, klindamisin, dan streptomisin (Shulman, 1992).

  4. Peningkatan sintesis metabolit yang bersifat antagonis Peningkatan kemampuan mikroba untuk membuat zat metabolit esensial yang bersifat antagonis terhadap antibiotika, dapat memutuskan kerja antibiotika.

  Sebagai contoh terjadinya resistensi terhadap kloramifenikol, trimetropim dibantu diperantarai oleh plasmid (Shulman, 1992).

C. Demam Tifoid (Typhoid Fever)

  1. Definisi

  Demam tifoid adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri

  

Salmonella typhi atau Salmonella paratyphii (Crump et al., 2005). Bakteri

  penyebab penyakit demam tifoid tersebut merupakan suatu bakteri Gram negatif (Anonim, 2003) yang masuk menembus ke dalam saluran gastrointestinal, berkembang biak dan menyebar melalui pembuluh darah serta menyebabkan inflamasi pada dinding usus (Crump et al., 2005).

  2. Epidemiologi

  Penyebaran demam tifoid sangat luas, khususnya di negara-negara berkembang dengan keadaan sanitasi yang buruk. Demam tifoid endemik di Asia, Afrika, Amerika Latin, Kepulauan Karibia, dan Oceania (Brusch, 2010). Diantara beberapa wilayah tersebut, demam tifoid paling banyak terjadi pada negara-negara berkembang ataupun pada negara terbelakang. Demam tifoid menginfeksi kurang lebih 21.6 juta orang (angka kejadian 3.6 per 1000 populasi) dan diperkirakan membunuh 200.000 orang setiap tahun (Brusch, 2010).

  3. Patofisiologi

  Masuknya kuman Salmonella typhii ke dalam tubuh manusia terjadi melalui makanan yang terkontaminasi. Sebagian kuman dimusnahkan di lambung patogen yang masuk suk diselubungi oleh sel-sel fagosit (Brusch, 2010) 2010), namun sel fagosit tersebut tidak dak dapat merusak bakteri dengan segera sehingga hingga bakteri bisa menembus dan masuk suk dalam lamina propria usus (Behrman, 1992) 1992). Kuman dapat hidup dan berkemban bangbiak di dalam makrofag (Parry et al., 2002) ., 2002) kemudian masuk dalam sirkula kulasi darah dan menyebar hingga mencapai pai hati dan limpa (Behrman, 1992). Pada ada saat berada dalam organ retikuloendotelia lial, bakteri keluar dari sel fagosit dan be berkembang biak. Melalui kapiler hati, bakteri eri dapat mencapai empedu dan kemudian udian larut disana menyebabkan terjadinya bakter kterimia (Soedarto, 1996).

  Gambar 6 : Di Diagram patofisiologi Demam Tifoid (Soedarto, darto, 1996)

  Kuman yang terdapay dalam empedu kemudian diekskresikan secara bersama cairan empedu ke dalam lumen usus dan dikeluarkan dalam bentuk feses (Soedarto, 1996). Tidak semua kuman tersebut diekskresi, sebagian ada yang masuk dan kembali menembus usus sehingga proses yang sama terulang kembali.

  Makrofag yang telah teraktivasi kemudian melakukan upaya pertahanan diri dengan membebaskan suatu zat endotoksin, yaitu lipopolisakarida (LPS) yang bertanggung jawab terhadap beberapa tanda dan gejala infeksi (Behrman, 1992).

4. Manifestasi Klinis

  Masa tunas penyakit demam tifoid berlangsung 10 sampai 14 hari (Parry

  

et al ., 2002). Keluhan dan gejala demam tifoid tidak khas, dan bervariasi dari

  gejala seperti flu ringan sampai tampilan sakit berat dan fatal yang mengenai banyak sistem organ. Gejala yang timbul amat bervariasi. Gambaran penyakit bervariasi dari penyakit ringan yang tidak terdiagnosis, sampai gambaran penyakit yang khas dengan komplikasi dan kematian (Brusch, 2010).

  Secara klinis gambaran penyakit demam tifoid berupa demam berkepanjangan, gangguan fungsi usus, dan keluhan sistem saraf pusat. Panas lebih dari 7 hari, biasanya makin hari makin meninggi, sehingga pada minggu ke 2 panas tinggi secara terus menerus. Demam biasanya dialami pada malam hari.

  Gejala gangguan saluran gastrointestinal dapat berupa obstipasi, diare, mual, muntah, dan kembung (Soedarto, 1996).

  Dalam minggu pertama penyakit, keluhan dan gejala serupa dengan penyakit infeksi akut. Pada umumnya timbul gejala seperti demam,nyeri kepala, pusing, nyeri otot, tidak nafsu makan, mual, muntah, perut kembung dan perasaan tidak enak diperut, sedangkan diare dan sembelit silih berganti. Pada akhir minggu pertama diare lebih sering terjadi. Pemeriksaan fisik hanya ditemukan suhu badan meningkat. Dalam minggu kedua gejala-gejala menjadi lebih jelas berupa demam, denyut jantung relatif lambat, lidah yang khas (kotoran ditengah, tepi dan ujung merah, tremor/bergetar, hati membesar, limpa membesar, gangguan mental) (Ali, 2006).

  Pada minggu ketiga suhu tubuh berangsur-angsur turun, dan normal kembali di akhir minggu. Hal itu terjadi jika tanpa komplikasi atau berhasil diobati. Bila keadaan membaik, gejala-gejala akan berkurang dan temperatur mulai turun. Meskipun demikian justru pada saat ini komplikasi perdarahan dan perforasi cenderung untuk terjadi, akibat lepasnya kerak dari ulkus. Jika denyut nadi sangat meningkat disertai oleh peritonitis lokal maupun umum, maka hal ini menunjukkan telah terjadinya perforasi usus sedangkan keringat dingin, gelisah, sukar bernapas, dan kolaps dari nadi yang teraba denyutnya memberi gambaran adanya perdarahan. Degenerasi miokardial toksik merupakan penyebab umum dari terjadinya kematian penderita demam tifoid pada minggu ketiga (Ali, 2006).

  Minggu keempat merupakan stadium penyembuhan meskipun pada awal minggu ini dapat dijumpai adanya pneumonia lobar atau tromboflebitis vena femoralis. Pada mereka yang mendapatkan infeksi ringan dengan demikian juga berlangsung dalam waktu yang pendek. Kekambuhan dapat lebih ringan dari serangan primer tetapi dapat menimbulkan gejala lebih berat daripada infeksi primer tersebut. Sepuluh persen dari demam tifoid yang tidak diobati akan mengakibatkan timbulnya relaps (Brusch, 2010).

5. Diagnosis

  Gambaran klinis penyakit demam tifoid sangat bervariasi dari hanya sebagai penyakit ringan yang tidak terdiagnosis, sampai gambaran penyakit yang khas dengan komplikasi dan dapat mengakibatkan kematian (Behrman, 1992). Penegakan diagnosis harus dilakukan sedini mungkin agar bisa diberikan terapi yang tepat serta meminimalkan terjadinya komplikasi. Pengetahuan mengenai gambaran klinis penyakit ini sangat penting untuk membantu mendeteksi secara dini walaupun pada kasus tertentu dibutuhkan pemeriksaan tambahan untuk membantu menegakkan diagnosis (Brusch, 2010).

  Penegakan diagnosis penyakit demam tifoid ini masih kurang lengkap apabila belum ditunjang dengan hasil pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan laboratorium secara konvensional dapat dilakukan melalui identifikasi adanya antigen/antibodi sampel (darah) dan melalui kultur mikroorganisme (Brusch, 2010)

  a. Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan laboratorium meliputi pemeriksaan hematologi, urinalisis, kimia klinik, imunoserologi, dan mikrobiologi.

  1) Hematologi Kadar hemoglobin dapat menurun ataupun normal apabila terdapat pendarahan usus atau perforasi. Jumlah lekosit sering rendah (lekopenia) tetapi dapat juga normal atau tinggi. Jumlah trombosit sering menurun (trombositopenia) ataupun normal (Kass dan Platt, 1990).

  2) Urinalisis Adanya protein di dalam urine bervariasi dari negatif sampai dengan positif (akibat demam). Jumlah lekosit dan eritrosit normal, apabila terjadi peningkatan maka kemungkinan terjadi pendarahan (Brusch, 2010). 3) Kimia Klinik

  Enzim hati (SGPT dan SGOT) akan meningkat dengan gambaran adanya komplikasi pada fungsi hati (mulai dari peradangan hingga hepatitis akut) (Brusch, 2010). 4) Imunoserologi

  Pemeriksaan serologi Widal ditujukan untuk mendeteksi adanya antibodi (dalam darah) terhadap antigen kuman Salmonella typhi / paratyphi (reagen). Uji ini merupakan test kuno yang masih amat popular dan paling sering diminta terutama di negara dimana penyakit ini endemis seperti di Indonesia. Sebagai uji cepat (rapid test) hasilnya dapat segera diketahui. Hasil positif dinyatakan dengan adanya aglutinasi. Karena itu antibodi jenis ini dikenal sebagai febrile agglutinin. (Brusch, 2010).

  Reaksi Widal adalah suatu reaksi pengendapan antara antigen dan penyakit tifus. Reaksi Widal bertujuan untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum penderita yang disangka menderita penyakit tifus (Judarwanto, 2009).

  Hasil uji Widal dipengaruhi oleh banyak faktor sehingga dapat memberikan hasil positif palsu atau negatif palsu. Hasil positif palsu dapat disebabkan oleh faktor-faktor, antara lain pernah mendapatkan vaksinasi, reaksi silang dengan spesies lain (Enterobacteriaceae sp), reaksi anamnestik (pernah sakit), dan adanya faktor rheumatoid (RF). Hasil negatif palsu dapat disebabkan oleh karena antara lain penderita sudah mendapatkan terapi antibiotika, waktu pengambilan darah kurang dari 1 minggu sakit, keadaan umum pasien yang buruk, dan adanya penyakit imunologik lain (Sherwal et al., 2004).

  Pemeriksaan tes Typhidot merupakan uji imunologik yang lebih baru, yang dianggap lebih sensitif dan spesifik dibandingkan uji Widal untuk mendeteksi Demam Tifoid/Paratifoid. Sebagai tes cepat (rapid test) hasilnya juga dapat segera di ketahui (Sherwal et al., 2004).

  5) Mikrobiologi Uji kultur merupakan standar baku untuk pemeriksaan demam tifoid.

  Apabila hasil biakan positif maka diagnosis pasti untuk demam tifoid. Apabila hasil negatif, maka belum tentu bukan demam tifoid karena hasil biakan negatif palsu dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain jumlah darah terlalu sedikit, adanya kesalahan pada saat preparasi, sudah mendapat terapi antibiotika atau sudah mendapat vaksinasi demam tifoid (WHO, 2003).

6. Penatalaksanaan

  Sampai saat ini masih dianut trilogi penatalaksanaan demam tifoid, yaitu istirahat dan perawatan, diet dan terapi penunjang (simptomatik dan suportif), serta pemberian terapi farmakologi. Tatalaksana pengobatan demam tifoid antara lain adalah dengan pemberian antibiotika. Antibiotika yang biasa diberikan antara lain adalah kloramfenikol, amoksisilin, ampisilin serta golongan sefalosporin generasi ketiga seperti cefixime, cefotaxime dan ceftriaxone (Shah et al., 2009).

  Selain dengan terapi antibiotik, terapi lain juga perlu dilakukan untuk pengobatan demam tifoid seperti pemberian oral/intravena cairan tubuh, pemberian antipiretik serta asupan nutrisi yang cukup ke dalam tubuh (WHO, 2003).

  Kloramfenikol merupakan salah satu obat pilihan utama dalam pengobatan demam tifoid. Kloramfenikol biasanya diberikan secara oral kepada pasien, namun tidak menutup kemungkinan juga apabila kloramfenikol diberikan melalui saluran intravena dengan tujuan untuk mempercepat kerja obat apabila pasien sudah benar-benar membutuhkan pertolongan. Kloramfenikol mempunyai ketersediaan biologik 80% pada pemberian iv. Waktu paruh plasmanya 3 jam pada bayi baru lahir, dan bila terjadi sirosis hepatis diperpanjang sampai dengan 6 jam. Pada anak berumur 6-12 tahun diberikan dosis sebesar 40-50 mg/kg/hari sedangkan pada anak berumur 1-3 tahun membutuhkan dosis 50-100 mg/kg/hari. Kloramfenikol apabila diberikan secara intravena, dosis untuk anak berumur 7-12 tahun sebesar 50-80 mg/kg/hari, dan 50-100 mg/kg/hari untuk anak berumur 2-6 tahun (Lacy et al., 2006).

  Ampisilin dan amoksisilin memiliki kemampuan untuk menurunkan demam lebih rendah dibandingkan dengan kloramfenikol. Obat ini mempunyai ketersediaan biologik sebesar 60%. Waktu paruh plasmanya 1.5 jam (bayi baru lahir: 3,5 jam). Dosis untuk pemberian per oral dalam lambung yang kosong dibagi dalam pemberian setiap 6-8 jam sekitar setengah jam sebelum makan. Dosis yang dianjurkan diberikan pada anak adalah 100-200 mg/kg/hari (Lacy et al ., 2006).

  Antibiotika lain yang bisa digunakan untuk pengobatan demam tifoid selain menggunakan kloramfenikol dan amoksilin adalah antibiotika golongan quinolon dan sefalosporin (WHO, 2003). Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan penggunaan antibiotika golongan quinolon dan sefalosporin untuk pengobatan demam tifoid, namun dalam prakteknya penggunaan quinolon tidak dianjurkan pada anak-anak karena dapat menyebabkan toksisitas pada tulang yang berakibat terhambatnya pertumbuhan anak (Shah et al., 2006).

  Tabel II. Terapi yang direkomendasi WHO untuk demam tifoid (WHO, 2003) Antibiotika golongan sefalosporin generasi ketiga yang dapat menjadi pilihan untuk pengobatan demam tifoid antara lain adalah cefixime, cefotaxime, dan ceftriaxone. Cefixime bisa dijadikan sebagai pilihan pertama pengobatan demam tifoid. Cefixime memiliki ketersediaan biologik sebesar 40-50%, waktu paruh eliminasi antara 3 sampai 4 jam serta membutuhkan waktu sekitar 2 sampai dengan 6 jam untuk mencapai konsentrasi maksimum. Dosis yang biasa digunakan pada anak-anak adalah 15-20 mg/kg/hari selama 10 sampai 14 hari (Lacy et al., 2006).

  Cefotaxime dan ceftriaxone merupakan alternatif antibiotika yang dapat digunakan untuk pengobatan demam tifoid yang disertai dengan beberapa komplikasi dengan penyakit lain. Cefotaxime maupun ceftriaxone digunakan sebagai pilihan pertama apabila ditemukan adanya riwayat resistensi suatu bakteri terhadap antibiotika golongan quinolon (WHO, 2003). Dosis cefotaxime untuk anak berumur > 12 tahun adalah 1-2 g setiap 4-12 jam dan untuk anak berumur < 12 tahun dengan berat badan < 50 kg adalah 50-200 mg/kg (Lacy et al., 2006). Dosis ceftriaxone untuk anak-anak adalah 50-100 mg/kg dengan interval 1-2 kali perhari dan dosis maksimum yang masih diperkenankan adalah 4 g/hari (Lacy et

  al ., 2006) .

c. Landasan Teori

  Pengobatan penyakit infeksi selama ini dilakukan dengan pemberian agen-agen antimikroba seperti salah satu contohnya dengan pemberian obat-obat antibiotika, begitu pula dengan pengobatan demam tifoid.

  Antibiotika sebaiknya digunakan secara rasional untuk mengurangi kemungkinan timbulnya bahaya resistensi.. Menurut WHO, kriteria penggunaan obat yang rasional meliputi tepat pasien, tepat obat, tepat indikasi, tepat dosis, dan waspada efek samping (WHO, 2003), begitu pula dengan pengobatan menggunakan antibiotika haruslah meliputi kelima aspek tersebut. Kurrin dan Gyssens menggolongkan ketepatan penggunaan antibiotika dalam enam kategori dimana kategori I adalah penggunaan antibiotika secara tepat atau rasional.

  Kategori II adalah ketidaktepatan penggunaan antibiotika karena adanya dosis yang tidak sesuai, interval pemberian maupun rute pemberian yang tidak sesuai.

  Kategori III adalah ketidaktepatan yang diakibatkan penggunaan antibiotika terlalu lama maupun terlalu singkat. Kategori IV adalah ketidaktepatan penggunaan antibiotika diakibatkan karena ada pilihan antibiotika lainnya yang lebih efektif maupun lebih aman. Kategori V diakibatkan karena antibiotika yang digunakan tidak memiliki indikasi untuk penyakit tertentu dan kategori VI adalah penggunaan antibiotika tidak dapat dievaluasi karena tidak ada data (Benin dan Dowel, 2001).

  Selama ini antibiotika yang digunakan untuk pengobatan demam tifoid adalah kloramfenikol dengan dosis 50-100 mg/kg BB selama 5 sampai 14 hari.

  Namun pada perkembangannya antibiotika lainnya dari golongan sefalosporin generasi ketiga seperti cefixime juga dapat digunakan dalam pengobatan demam tifoid mengingat banyaknya kasus resistensi bakteri terhadap kloramfenikol yang dilaporkan akhir-akhir ini (Lacy et al., 2006).

d. Keterangan Empiris

  Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai penggunaan antibiotika untuk pengobatan demam tifoid pada kelompok pediatrik di RS. Panti Rapih Yogyakarta serta evaluasinya yang bisa bermanfaat untuk mengurangi timbulnya resistensi bakteri terhadap antibiotika dan meningkatkan efisiensi pengobatan pada pasien demam tifoid kelompok pediatrik di RS. Panti Rapih Yogyakarta.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian mengenai Evaluasi Penggunaan Antibiotika pada Pasien Demam Tifoid Kelompok Pediatrik di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta periode 2010 merupakan jenis penelitian non eksperimental dengan rancangan deskriptif evaluatif yang bersifat retrospektif. Penelitian ini merupakan jenis penelitian non eksperimental karena tidak

  ada perlakuan pada subjek uji. Rancangan penelitian deskriptif evaluatif karena data yang diperoleh dari catatan rekam medik kemudian dievaluasi berdasarkan studi pustaka, dan dideskripsikan terhadap fenomena yang terjadi, kemudian disajikan dalam bentuk tabel dan atau gambar. Selain itu, rancangan penelitian deskriptif evaluatif karena tujuan penelitian yaitu memberikan gambaran dan evaluasi mengenai penggunaan obat antibiotika pada pasien demam tifoid kelompok pediatrik.

  Penelitian bersifat retrospektif, karena data diambil dengan menggunakan penelusuran terhadap dokumen yang terdahulu yaitu berupa kartu rekam medik pasien demam tifoid kelompok pediatrik di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta periode 2010.

B. Variabel dan Definisi Operasional

  1. Variabel utama

  a. Variable bebas Jenis, dosis, frekuensi, dan durasi penggunaan antibiotika

  b. Variable terikat Kondisi pasien pada saat proses pengobatan

  2. Variabel terkendali

  a. Usia

  b. Jenis kelamin

  3. Variabel tak terkendali

  a. Berat badan

  4. Definisi Operasional

  a. Pasien pediatrik adalah pasien dengan berumur 0-12 tahun (Izenberg, 2000) pria maupun wanita yang terdiagnosa demam tifoid tanpa adanya komplikasi (ditunjang dengan hasil laboratorium), dirawat di RS. Panti Rapih Yogyakarta pada periode Januari-Desember 2010, mendapatkan terapi antibiotika dan menyelesaikan pengobatan di RS. Panti Rapih Yogyakarta sampai sembuh atau dinyatakan sembuh oleh dokter.

  b. Antibiotika adalah suatu jenis obat yang dihasilkan oleh mikroorganisme maupun yang dihasilkan melalui proses sintesis atau semi sintesis yang strukturnya menyerupai zat yang dihasilkan oleh mikroorganisme tersebut yang dapat membunuh ataupun menghambat pertumbuhan c. Evaluasi penggunaan antibiotika adalah evaluasi mengenai kerasionalitasan penggunaan antibiotika dalam penatalaksanaan penyakit demam tifoid. Evaluasi yang dilakukan meliputi ketepatan dosis, frekuensi, durasi, dan rute pemberian antibiotika.

  d. Terapi antibiotika kombinasi adalah terapi menggunakan antibiotika baik yang digunakan bersamaan maupun yang sifatnya penggantian antibiotika.

  e. Lembar atau kartu rekam medis adalah lembar catatan yang berisi data klinis pasien demam tifoid yang menjalani terapi di RS. Panti Rapih Yogyakarta.

C. Subjek Penelitian

  Subjek penelitian ini adalah semua pasien pediatrik demam tifoid yang menerima terapi antibiotika dan dirawat di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta periode Januari 2010 sampai dengan Desember 2010 kemudian diambil sesuai dengan kriteria inklusi yaitu semua pasien berumur 0-12 tahun baik pria maupun wanita yang didiagnosis positif menderita demam tifoid tanpa adanya penyakit penyerta, menerima terapi antibiotika hingga selesai di RS. Panti Rapih Yogyakarta dan dinyatakan sembuh oleh dokter, serta dengan kriteria eksklusi yaitu pasien peditarik yang terdiagnosis positif menderita demam tifoid dengan beberapa penyakit penyerta.

D. Bahan Penelitian

  Bahan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar rekam medis pasien demam tifoid yang ada di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta periode 2010.

E. Tata Cara Penelitian

  1. Analisis Situasi

  Analisis situasi dengan melihat data laboratorium dan obat antibiotika yang digunakan pasien pediatrik demam tifoid yang diperoleh dari Instalasi Rekam Medik Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta pada bulan Januari 2010 sampai bulan Desember 2010.

  2. Pengambilan Data

  Data pasien yang diperoleh dari lembar rekam medik dipilih sesuai dengan kriteria inklusi yang sudah ditetapkan oleh penulis. Tahap pengambilan data meliputi beberapa proses sebagai berikut :

  a. Penelusuran data, dilakukan dengan menelusuri data menggunakan komputer di Instalasi Rekam Medik mengenai jumlah pasien yang didiagnosis menderita demam tifoid kelompok pediatrik, nomor rekam medis, umur pasien kelompok pediatrik, serta lama pengobatan di Rumah Sakit.

  b. Pengumpulan data, pada tahap ini dilakukan pencarian pasien pediatrik sesuai dengan definisi operasional yang sudah ditetapkan sebelumnya c. Pencatatan data, dilakukan dengan mencatat data pasien pediatrik yang menjalani rawat inap di rumah sakit serta melakukan pemeriksaan laboratorium dan mendapat terapi antibiotika. Data yang dikumpulkan meliputi nomor rekam medis, nama pasien, usia pasien, lama pasien dirawat di rumah sakit, data pemeriksaan laboratorium serta terapi yang didapatkan pasien selama pasien dirawat.

3. Pengolahan Data

  Data yang sudah didapat kemudian dievaluasi apakah antibiotika yang diresepkan oleh dokter rasional atau tidak rasional pada penatalaksanaan demam tifoid pada kelompok pediatrik. Data kemudian disajikan dalam bentuk tabel maupun diagram.

  Evaluasi penggunaan antibiotika dilakukan dengan membandingan terapi antibiotika yang diterima pasien dengan literatur yang diacu. Pustaka yang digunakan sebagai acuan yaitu Drug Information Handbook (Lacy et al., 2006),

  

Textbook of Pediatrics (Behrman, 1992), Current Therapy of Infectious Disease

  (Kass dan Plat, 1990), Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit (Roespandi dan Nurhamzah, 2009).

F. Tata Cara Analisis Hasil

  Data kualitatif yang diperoleh dibahas dalam bentuk uraian secara deskriptif dalam bentuk tabel maupun gambar. Evaluasi dilakukan dengan melakukan analisis ketepatan penggunaan antibiotika yang diresepkan untuk melakukan analisis dari hasil rekam medis yang didapatkan adalah sebagai berikut:

  1. Persentasi pasien demam tifoid yang telah menerima terapi antibiotika berdasarkan frekuensi kejadian di RS dengan menghitung jumlah pasien yang sesuai kriteria per bulan dibagi total kasus dikali 100%.

  2. Persentasi pasien demam tifoid yang telah menerima terapi antibiotika berdasarkan usia dengan menghitung jumlah pasien dibagi total kasus dikali 100%.

  3. Persentasi pasien demam tifoid yang telah menerima terapi antibiotika berdasarkan jenis kelamin dengan menghitung jumlah pasien laki-laki dan perempuan dibagi total kasus dikali 100%.

  4. Persentasi pasien demam tifoid yang telah menerima terapi antibiotika berdasarkan pemeriksaan laboratorium yang dilakukan dengan menghitung jumlah pasien tiap pemeriksaan dibagi total kasus dikali 100%.

  5. Persentasi penggunaan antibiotika berdasarkan jenisnya (nama generik) yang dilakukan dengan menghitung jumlah antibiotika dibagi total kasus dikali 100%.

  6. Persentasi penggunaan antibiotika berdasarkan dosis dan frekuensinya yang dilakukan dengan menghitung jumlah antibiotika dibagi total kasus dikali 100%.

  7. Persentasi penggunaan antibiotika berdasarkan durasi yang dilakukan dengan menghitung jumlah antibiotika dibagi total kasus dikali 100%.

  8. Persentasi penggunaan antibiotika berdasarkan rute pemberiannya yang dilakukan dengan menghitung jumlah antibiotika tiap rute dibagi total kasus dikali 100%.

  9. Persentasi pasien demam tifoid yang telah menerima terapi antibiotika berdasarkan kriteria ketepatan penggunaan antibiotika dengan menghitung jumlah pasien dengan penggunaan antibiotika yang tepat (jenis, dosis, frekuensi, rute dan cara pemberian, dan durasi) dibagi total kasus dikali 100%.

  10. Persentasi pasien demam tifoid yang telah menerima terapi antibiotika berdasarkan kriteria ketepatan penggunaan antibiotika dengan menghitung jumlah pasien dengan penggunaan antibiotika yang tidak tepat (jenis, dosis, frekuensi, rute dan cara pemberian, dan durasi) dibagi total kasus dikali 100%.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan gambaran

  mengenai profil pasien demam tifoid pada kelompok umur pediatrik yang terjadi di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta serta untuk melihat ketepatan penggunaan antibiotika yang digunakan dalam pengobatan demam tifoid khususnya pada kelompok umur pediatrik. Data mengenai antibiotika yang sudah didapatkan kemudian dianalisis ketepatannya meliputi ketepatan dosis, frekuensi, rute pemberian serta durasi pemakaian antibiotika. Data yang sudah didapatkan tersebut kemudian dibandingkan dengan pedoman pengobatan yang telah ditentukan. Pedoman pengobatan yang digunakan sebagai acuan dalam penelitian ini adalah Current Therapy in Infectious Disease (Kass dan Platt, 1990), Textbook of Pediatrics (Behrman, 1992), Drug Information Handbook (Lacy et al., 2006), The Diagnosis, Treatment and Prevention of Typhoid Fever (WHO, 2003), dan Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit (Depkes RI, 2009).

  Subyek dari penelitian ini adalah pasien pada kelompok umur pediatrik, baik pria maupun wanita dengan diagnosis demam tifoid tanpa adanya penyakit penyerta, mendapatkan terapi antibiotika, serta dinyatakan sembuh atau membaik oleh dokter pada saat keluar dari Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta. Hasil penelitian disajikan dalam tiga bagian yaitu profil pasien demam tifoid,

A. Profil Pasien

  Pada penelitian ini, gambaran profil pasien yang dibahas meliputi jenis kelamin, umur, serta gejala klinis yang dialami. Data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari kartu rekam medis pasien yang ada di RS. Panti Rapih Yogyakarta. Langkah pertama yang dilakukan adalah menentukan kriteria inklusi maupun kriteria eksklusi dari subjek penelitian. Langkah selanjutnya adalah melakukan penelusuran kartu rekam medis pasien sesuai dengan kriteria inklusi maupun ekslusi yang sudah ditetapkan sebelumnya dan kemudian melakukan analisis masing-masing kasus kemudian menyajikan data-data yang sudah didapat dalam bentuk tabel maupun grafik.

  Persentase dihitung dari jumlah pasien menurut jenis kelamin, umur serta gejala klinis yang dialami pasien pada tahun 2010 dibagi jumlah keseluruhan pasien demam tifoid di RS. Panti Rapih Yogyakarta selama periode 2010 kemudian dikalikan 100%.

1. Jenis Kelamin

  Berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, jumlah pasien yang didapatkan sebagai subyek penelitian sebesar 62 pasien. Dari total pasien sejumlah 62 pasien, 36 diantaranya adalah pria dan 26 sisanya adalah wanita. Penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan di Rumah Sakit Fatmawati Jakarta oleh Musnelina, Afdhal, Gani, dan Andayani (2004) juga menemukan pasien pria lebih banyak daripada pasien demam tifoid yang berjenis kelamin wanita. Menurut Hook (cit., diluar rumah yang lebi lebih banyak daripada perempuan. Hal ini mem emungkinkan anak laki-laki untuk memil miliki resiko lebih besar terserang demam tifoi ifoid dibandingkan dengan anak perempua puan.

  

Karakteristik Pasien

be berdasarkan Jenis Kelamin

  Pria Wanita

  58,1% 41,9%

  Gambar 7. Pe Persentasi jumlah pasien pria dan wanita pende nderita penyakit dema mam tifoid di RS. Panti Rapih Yogyakarta perio riode 2010 Dari gambar bar diatas, dapat dilihat bahwa sebesar 58.1% 58.1% pasien demam tifoid adalah pria dan an sebesar 41.9% pasien demam tifoid adalah w wanita.

2. Umur

  Subjek pene penelitian ini adalah pasien pada kelompok pok pediatrik yang menderita demam tifoi tifoid. Kelompok pediatrik dapat dibagi menjadi njadi 3 bagian yaitu kelompok neonatus ( dan kelompok usia

  ≤ ≤ 1 tahun), kelompok balita (>1-5 tahun), dan anak-anak (>5-12 tahun tahun). Hasil penelitian mendapatkan bahwa hwa kasus demam tifoid di RS. Panti Ra Rapih Yogyakarta paling banyak terjadi pada da kelompok usia anak-anak yaitu pada da rentang umur 6-12 tahun sebesar 42.9%. Hasi Hasil penelitian ini Ochiai et al. . (2008) mendapatkan hasil bahwa anak pada da rentang usia 6-12 tahun memiliki ki resiko terserang demam tifoid lebih besar. r. Hasil penelitian Ochiai et al. (2008) m 2008) menunjukkan bahwa dari total sebanyak 131 131 kasus demam tifoid yang terjadi pa pada kelompok pediatrik, sebesar 58 kasus ( sus (44.27%) terjadi pada rentang usia 6- -12 tahun. Hal tersebut dikarenakan karena na pada saat usia tersebut anak-anak m masih sangat menyukai membeli makanan se n sembarangan di lingkungan sekitar yan yang higienitasnya tidak dapat dijamin. Lingkun kungan, dalam hal ini salah satu contohn ontohnya adalah faktor higienitas, merupakan sa salah satu faktor pendukung untuk me mengurangi atau menambah luas penyebaran ran demam tifoid (Castillo cit., Musneli nelina et al., 2004).

  

Profil rofil Pasien berdasarkan Umur

  30

  25 s su

  20 a K h

  15 la m

10 Ju

  5 ≤ 1 tahun > 1-5 tahun > 5-12 tahun

  Gambar 8. Pers ersentasi kasus demam tifoid di RS. Panti Rapih pih Yogyakarta periode 2010 berdasarkan umur pasien Hal tersebut but mendukung penelitian sebelumnya yan ang juga pernah dilakukan di India pa pada tahun 1995. Sinha et al. (1999) men enyatakan bahwa anak berusia 5-12 tahun. pada usia dibawah 5 t

  Berdasarkan didiagnosis menderita Rapih Yogyakarta ada pada kelompok umur Yogyakarta adalah seba

  Gambar 9. Freku Berdasarkan

  2010

  RS. Panti Rapih apih Yogyakarta ung Pandang pada

  sebesar 27.3 terjadi nha et al., 1999). umlah pasien yang diatrik di RS. Panti sus demam tifoid

  Frekuensi Kejadian Demam Tifoid i RS. Panti Rapih Yogyakarta periode 2010

  an kriteria inklusi maupun kriteria eksklusi, jum rita demam tifoid pada kelompok umur pediat adalah sebanyak 62 pasien, sedangkan kasus umur pediatrik selama periode 2010 di R sebanyak 63 kasus. ekuensi kejadian demam tifoid di RS. Panti Rapi periode 2010 an hasil penelitian yang dilakukan di Ujung

  adian

  ahun. Laju insidensi demam tifoid di India sebe 5 tahun per 1000 orang dalam satu tahun (Sinha

3. Frekuensi Kejadian

14 Ju

  m la h K a su s di RS dan akan memasuki musim kering/kemarau (Valema et al., 1997). Hal tersebut bertolak belakang dengan hasil penelitian yang didapatkan di RS. Panti Rapih Yogyakarta. Kasus demam tifoid pada tahun 2010 di RS. Panti Rapih Yogyakarta paling banyak terdiagnosis pada bulan Maret (22.2%) dan pada bulan November (11.1%). Kejadian tersebut kemungkinan disebabkan akibat adanya pergeseran musim akibat pemanasan global.

  12

  10

  8

  6

  4

  2

B. Identifikasi dan Diagnosa

  Data-data yang akan digunakan untuk mengidentifikasi masalah dan penegakan diagnosis pasien dapat dilihat pada kartu rekam medis pasien. Data yang diperoleh antara lain berupa gejala yang dialami pasien serta pemeriksaan laboratorium yang digunakan sebagai penunjang dalam penegakan diagnosa.

  Pada penelitian, beberapa data ini dikelompokkan kemudian ditampilkan dalam bentuk persentase. Persentasi dihitung berdasarkan jumlah kasus menurut banyaknya gejala klinis dan pemeriksaan laboratorium yang dialami pasien demam tifoid dibagi jumlah keseluruhan kasus demam tifoid pada kelompok umur pediatrik di RS. Panti Rapih Yogyakarta selama periode Januari 2010 sampai Desember 2010.

  Kasus dihitung berdasarkan kunjungan pasien ke RS. Panti Rapih Yogyakarta dengan diagnosis demam tifoid serta menerima terapi menggunakan antibiotika. Dari 62 pasien yang termasuk kriteria inklusi maupun kriteria eksklusi, ditemukan sebanyak 63 kasus demam tifoid pada periode Januari 2010

1. Gejala yang dialami pasien

  Secara klinis, infeksi yang dialami oleh pasien dapat bermanifestasi menjadi gejala umum. Gejala umum demam tifoid antara lain adalah demam, mual, muntah, flu ringan, perut kembung, konstipasi, dan diare (Brusch, 2010). Keluhan ataupun gejala awal yang dialami pasien demam tifoid tidak khas, karena hal itulah perlu dilakukan pemeriksaan penunjang yaitu dengan melakukan pemeriksaan laboratorium. Gejala klinis yang dialami oleh pasien demam tifoid kelompok umur pediatrik di Instalasi Rawat Inap RS. Panti Rapih Yogyakarta disajikan dalam tabel berikut ini :

  Tabel III. Gejala klinis yang dialami pasien demam tifoid di RS. Panti Rapih Yogyakarta periode 2010

  

No. Gejala Jumlah Persentasi

Kasus (%)

  1. Demam

  63 100,0

  2. Mual dan muntah

  60 95,2

  3. Flu

  23 36,5

  4. Batuk

  10 15,9

  5. Diare

  7 11,1

  6. Konstipasi (susah BAB)*

  20 31,7

  7. Sesak nafas

  15 23,8

  • BAB = Buang Air Besar Dalam penelitian ditemukan bahwa gejala klinis yang paling sering dijumpai pada pasien demam tifoid kelomok umur pediatrik adalah demam yang biasanya disertai dengan mual dan muntah. Sebanyak 63 pasien (100%) mengalami gejala demam. Gejala lain yang sering dijumpai adalah mual dan muntah yaitu sekitar 95.2%. Gejala demam tifoid yang paling sering dijumpai
Sebagian besar infeksi meningkatkan denyut nadi dan suhu tubuh. Hal tersebut dapat dijumpai pada beberapa kasus penyakit infeksi seperti demam tifoid, demam berdarah dengue (Tunkel, 2009)

2. Pemeriksaan laboratorium

  Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan pada pasien demam tifoid antara lain adalah pemeriksaan hematologi, urinalisis, dan immunoserologi.

  Pemeriksaan immunoserologi dengan reaksi Widal merupakan salah satu cara penunjang diagnosa demam tifoid yang masih cukup populer sampai saat ini.

  Reaksi Widal adalah suatu reaksi pengendapan antara antigen dengan antibodi (aglutinin) (Judarwanto, 2009). Aglutinin yang spesifik terdapat pada serum penderita demam tifoid. Hasil positif ditandai dengan adanya peristiwa aglutinasi.

  Gambaran pemeriksaan laboratorium pada pasien demam tifoid dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel IV. Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan pasien demam tifoid di RS. Panti Rapih Yogyakarta 2010

  

No. Pemeriksaan Jumlah Persentasi

Laboratorium Pasien (%)

  1. Hematologi

  63 100,0

  2. Typhidot test

  46 73,0 Widal Test 12 19,0 3.

  4. Urinalisis

  35 55,6

  5. Kimia klinik

  5 7,9 Dari 63 pasien, masing masing pasien tidak hanya mendapat satu jenis pemeriksaan laboratorium saja. Pemeriksaan laboratorium yang digunakan sebagai penunjang penegakan diagnosa demam tifoid yang paling sering adalah pasien semuanya mendapat pemeriksaan hematologi (100%). Pemeriksaan penunjang selanjutnya yang sering dilakukan untuk membantu penegakan diagnosa demam tifoid adalah pemeriksaan immunoserologi. Pemeriksaan immunoserologi yang sering dilakukan saat ini adalah dengan menggunakan pemeriksaan Typhidot tes. Metode ini sekarang lebih sering dilakukan karena memiliki sensitifitas dan spesifitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan uji Widal. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Sherwal (2004), didapatkan nilai sensitifitas dan spesifitas dari dua metode yang biasa digunakan sebagai pemeriksaan penunjang demam tifoid yaitu tes Widal, dan tes Typhidot. Nilai sensitifitas dan spesifitas tes widal yang didapatkan dari penelitian tersebut sebesar 57% dan 83% sedangkan nilai sensitifitas dan spesifitas tes Typhidot sebesar 92% dan 87.5% (Sherwal et al., 2004). Berdasarkan penelitian tersebut, tes Widal saat ini sudah mulai ditinggalkan, begitu juga di RS. Panti Rapih Yogyakarta. Pemeriksaan penunjang untuk penegakan diagnosis demam tifoid saat ini sudah menggunakan tes Typhidot. Sebanyak 46 pasien (73%) melakukan pemeriksaan penunjang dengan tes Typhidot, sedangkan pasien yang menggunakan tes Widal sejumlah 12 pasien (19%). Tes Typhidot memiliki beberapa kelebihan seperti sensitifitas dan spesifitas yang tinggi, cepat, mudah digunakan dan reliabel (Sherwal et al., 2004).

C. Pola Penggunaan Antibiotika

  Keberhasilan suatu pengobatan tidak semata-mata bergantung dari kandungan atau zat aktif dari obat tersebut namun juga perlu diperhatikan mengenai dosis, frekuensi pemberian, rute, dan durasi pengobatan.

  Analisis mengenai profil dan ketepatan penggunaan antibiotika dalam terapi mengacu pada Kategori Ketepatan Penggunaan Antibiotika menurut Kurin dan Gyssens (Benin dan Dowell, 2001). Pembahasan akan dimulai dengan memaparkan jenis antibiotika, dosis, rute pemberian, frekuensi, serta durasi penggunaan antibiotika di RS. Panti Rapih Yogyakarta untuk terapi demam tifoid pada kelompok umur pediatrik. Setelah itu baru kemudian akan dianalisis mengenai ketepatan penggunaan antibiotika pada masing-masing kasus mengacu pada kategori ketepatan penggunaan antibiotika menurut Kurrin dan Gyssens.

1. Jenis Antibiotika

  Hasil penelitian berkaitan dengan jumlah serta persentasi jenis antibiotika yang diresepkan dalam penatalaksanaan terapi demam tifoid. Hal ini bertujuan untuk mengetahui jenis antibiotika apa saja yang diresepkan dokter kepada pasien demam tifoid di RS. Panti Rapih Yogyakarta. Berdasarkan data dari rekam medik, antibiotika yang digunakan untuk pasien demam tifoid terdiri dari 9 jenis yaitu kloramfenikol, cefixime, amoxicillin, meropenem, cefotaxime, ceftriaxone, cephadrine, tiamfenikol, serta kombinasi imipenem dan silastatin.

  Pada beberapa kejadian, pasien menerima terapi lebih dari satu jenis antibiotika. Tujuan pemberian antibiotika lebih dari satu jenis ini dimaksudkan antibiotika pengganti nti (ceftriaxone diganti dengan cefixime). Seba ebanyak 44 pasien (69.8%) menerima te terapi antibiotika tunggal dan sebanyak 19 19 pasien (30.2%) menerima terapi antibi ntibiotika kombinasi. Terapi antibiotika kombi binasi digunakan pada kasus-kasus khusu khusus dan digunakan untuk beberapa tujuan uan tertentu seperti untuk mencegah ada danya resistensi bakteri terhadap antibiotika ika yang sifatnya mendadak, dan untuk untuk mendapatkan manfaat dari dua atau lebih a h antibiotika yang mekanisme kerjanya sa a saling bersinergi (Murray et al., 2009).

  Penggunaan Antibiotika Pada Pe ada Pasien Demam Tifoid 30.2% Tunggal Tun

  69.8% Kom Kombinasi

  Gambar 10. Prof Profil penggunaan terapi antibiotika tunggal dan dan kombinasi pada pe pengobatan demam tifoid kelompok umur pedi pediatrik di RS. Panti Rapih Yogyakarta 2010

  Berdasarkan an hasil dari penelitian ini, terdata seba banyak 88 jenis antibiotika yang digun gunakan dari 62 pasien demam tifoid pada periode periode 2010 di RS.

  Panti Rapih Yogyak akarta. Penggunaan antibiotika yang paling ing tinggi adalah kloramfenikol yaitu u sebanyak 38% kemudian disusul dengan n Cefixime yaitu

  Kloramfenikol nikol dan cefixime merupakan dua contoh obat obat yang digunakan sebagai first line therap herapy demam tifoid. Cefixime yang merupaka upakan bagian dari golongan sefalosporin osporin generasi ketiga terbukti dapat menjadi pil pilihan antibiotika setelah pada bebera berapa penelitian ditemukannya resistensi ba bakteri terhadap kloramfenikol (Shah h et al., 2006).

  

Jenis An is Antibiotika yang digunakan di RS. Pant anti

Rapih Yogyakarta Periode 2010

2% 3% 2% 1% 2%

  Kloramfenik enikol 10% Cefixime 38% 5%

  Amoxicilin ilin 8% Meropenem nem Cefotaxime xime Ceftriaxone xone 31% Tiamfenikol ikol Imipenem + m + Cilastatin

  Gambar 11. Jenis nis antibiotika yang digunakan untuk pengobatan atan demam tifoid pada kelompok umur pediatrik di RS. Panti Rapih Yogyakarta periode 2010 di

  Menurut pedom pedoman WHO terkait penatalaksanaan terapi api demam tifoid, antibiotika yang dianj dianjurkan sebagai first line therapy adalah a antibiotika yang berasal dari golongan ongan quinolon seperti ciproploxacin, ofloxacin se serta yang berasal dari golongan sefal falosporin generasi ketiga yaitu cefixime e (WHO, 2003).

  Golongan Quinolon on digunakan sebagai pilihan pertama karena na pada beberapa dan kombinasi trimethoprim-sulfamethoxazole (Anonim, 2003). Antibiotika golongan Quinolon memiliki kekuatan penetrasi untuk menembus dinding sel bakteri lebih besar dibandingkan dengan antibiotik pendahulunya seperti amoxicilin, kloramfenikol, maupun ampicilin (WHO, 2003). Namun permasalahannya adalah antibiotika golongan Quinolon memiliki resiko yang cukup berbahaya apabila diberikan kepada anak berusia dibawah 18 tahun.

  Menurut beberapa penelitian pada hewan uji, penggunaan antibiotika golongan Quinolon dapat meningkatkan resiko terjadinya ruptur tendon (Baker et al., 2009).

  Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit (2009) menyatakan bahwa antibiotika pertama yang dianjurkan dalam pengobatan demam tifoid adalah kloramfenikol. Apabila tidak memungkinkan untuk memberi kloramfenikol dapat dganti dengan pemberian amoxicillin sebagai pilihan kedua.

  Pilihan antibiotika ketiga yang dianjurkan adalah antibiotika golongan sefalosporin generasi ketiga seperti ceftriaxone ataupun cefixime. Pemberian antibiotika golongan sefalosporin dilakukan apabila setelah pemberian kloramfenikol ataupun amoxicillin, pasien tidak menunjukkan adanya perbaikan gejala klinis.

  Saat ini, penggunaan ceftriaxone dan cefixime yang biasa digunakan sebagai pilihan ketiga terapi demam tifoid mulai bergeser. Ditemukannya beberapa kasus mengenai resistensi bakteri terhadap kloramfenikol mendorong para peneliti untuk mencari alternatif antimikroba lain untuk melawan penyakit demam tifoid. Beberapa daerah endemik demam tifoid tidak lagi menggunakan golongan sefalosporin seperti cefixime dan ceftriaxone. Hal tersebut didukung dengan adanya penelitian yang dilakukan oleh Santillan, Benavente, dan Garcia (2000). Penelitian menggunakan metode Uji Susceptibiltas. Isolat yang digunakan adalah isolat S.typhii dan antibiotika yang digunakan adalah kloramfenikol, ampicillin, trimetoprim, dan cefixime. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa dari 24 isolat, 22 isolat sensitif terhadap ampicilin, 96% sensitif terhadap kloramfenikol dan kombinasi trimetoprim-sulfametoxazole serta 24 isolat (100%) sensitif terhadap cefixime (Santillan et al., 2000).

2. Dosis dan Frekuensi Penggunaan Antibiotika

  2

  2

  2

  2 60 mg

  2

  1 50 mg

  2

  2 44 mg

  2

  1 40 mg

  2

  1 38 mg

  2

  1 34 mg

  Tabel V. Dosis dan Frekuensi Penggunaan Antibiotika No. Antibiotika Dosis Frekuensi

  Jumlah kasus

  1

  3

  1 500 mg

  3

  1 333 mg

  1

  1 200 mg

  3

  2 150 mg

  3

  1 125 mg

  1

  1. Amoxicillin 62.5 mg

  2. Cefixime 32 mg

  Tabel V. (lanjutan) Berdasarkan tabel V, antibiotika yang paling sering digunakan dalam

  5 333 mg

  3

  7. Kloramfenikol 30 mg

  3

  1 100 mg

  3

  1 150 mg

  3

  5 200 mg

  3

  3 200 mg

  4

  2 250 mg

  3

  3

  6 Imipenem + Cilastatin 300 mg

  5 400 mg

  3

  1 500 mg

  3

  10

  8. Meropenem 72 mg

  1

  1 333 mg

  3

  2 500 mg

  3

  1

  9. Tiamfenikol 250 mg

  3

  3

  1

  No. Antibiotika Dosis Frekuensi Jumlah kasus

  2

  2. Cefixime 70 mg

  2

  1 72 mg

  2

  1 72 mg

  1

  1 100 mg

  2

  11 150 mg

  2

  3

  3. Cefotaxime 75 mg

  2

  1 200 mg

  1 250 mg

  2

  2

  1 400 mg

  2

  1 500 mg

  2

  2 500 mg

  3

  3

  4. Ceftriaxone 500 mg

  2

  1

  5. Cephradine 500 mg

  3

  1 400 mg

  2 tiga kali per hari (10 kasus) dan cefixime dosis 100 mg dengan frekuensi dua kali sehari (11 kasus).

  Dosis antibiotika yang digunakan haruslah sesuai dengan diagnosis penyakit, tingkat keparahan infeksi, mekanisme kerja obat, serta efek samping dari obat tersebut. Penetapan dosis pada pasien kelompok umur pediatrik haruslah diperhatikan. Organ-organ yang digunakan untuk melakukan metabolisme obat (ginjal dan hati) belum sempurna perkembangannya pada anak-anak. Apabila pemberian dosis pada anak tidak tepat, bisa jadi obat tersebut akan menjadi racun di dalam tubuh anak.

  Frekuensi penggunaan antibiotika dipengaruhi oleh sifat farmakokinetika obat serta kondisi pasien itu sendiri. Hal yang perlu diperhatikan dalam suatu farmakokinetika obat adalah t½ eliminasi. Definisi t½ eliminasi adalah waktu yang dibutuhkan oleh obat untuk mencapai penurunan konsentrasi obat sebesar 50% dari konsentrasi sebelumnya di dalam plasma. Nilai t½ eliminasi bervariasi untuk masing-masing obat. Tujuan adanya interval pemberian obat adalah untuk menjaga konsentrasi obat dalam cairan plasma agar selalu berada pada konsentrasi terapetik minimal sehingga obat dapat bekerja dan memberikan efek. Kondisi ginjal dan hati sebagai organ ekskresi utama juga mempengaruhi frekuensi pemberian obat. Jika organ ekskresi mengalami gangguan, maka proses eliminasi obat akan berjalan lebih lambat.

3. Durasi Penggunaan Antibiotika

  6

  6

  1

  7

  3

  8

  1

  9

  1

  9. Kloramfenikol + Cefotaxime

  1

  1

  8

  1

  9

  1

  10. Kloramfenikol + Meropenem + Cefotaxime

  10

  1

  11. Meropenem + Imipenem

  12

  1 Durasi ataupun lama penggunaan antibiotik untuk pasien demam tifoid tidak sama untuk setiap golongan antibiotika. Menurut Behrman, durasi pengobatan demam tifoid menggunakan kloramfenikol adalah 3 sampai dengan 7 hari, sedangkan durasi pengobatan demam tifoid menggunakan antibiotika golongan Penisilin seperti amoxicillin adalah sekitar 7 sampai dengan 14 hari (Behrman, 1992). Menurut Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit, durasi pengobatan demam tifoid menggunakan antibiotika golongan Sefalosporin generasi ketiga seperti cefixime dan ceftriaxone adalah selama 8-10 hari untuk penggunaan cefixime serta 5-7 hari untuk penggunaan ceftriaxone

  8. Kloramfenikol + Cefixime

  Tabel VI. Durasi Pemakaian Antibiotika Kombinasi No. Antibiotika

  Durasi (hari)

  1

  Jumlah kasus

  1. Amoxicillin + Cefixime

  7

  1

  2. Amoxicillin + Meropenem

  8

  1

  3. Cefotaxime + Cefixime

  6

  4. Ceftriaxone + Cefotaxime

  1

  6

  1

  5. Cephradine + Cefixime

  8

  1

  6. Kloramfenikol + Amoxicillin + Cefixime

  8

  1

  7. Kloramfenikol + Amoxicillin

  6

  8 Tabel VII. Durasi Pemakaian Antibiotika Tunggal No. Antibiotika Durasi (hari) Jumlah Kasus

  1. Amoxicillin

  11

  5. Imipenem + Cilastatin

  7

  1

  8

  1

  6. Kloramfenikol

  5

  1

  6

  2

  7

  8

  7

  1

  9

  3

  7. Meropenem

  6

  1

  8. Tiamfenikol

  6

  1

  7

  1 Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa durasi penggunaan antibiotika tunggal untuk demam tifoid paling sering digunakan adalah kloramfenikol selama 7 hari yaitu sebanyak 11 kasus, sedangkan pada penggunaan antibiotika kombinasi yang paling sering adalah penggunaan kombinasi antara kloramfenikol dan cefixime selama 7 hari.

  1

  4. Cephradine

  6

  3

  1

  9

  1

  2. Cefixime

  5

  1

  6

  5

  7

  1

  8

  9

  1

  1

  10

  2

  11

  1

  3. Cefotaxime

  5

  1

  7

  1

  8

  Durasi pemberian antibiotika berkaitan dengan proses pembunuhan bakteri untuk pengobatan demam tifoid apabila digunakan selam lama 7-14 hari. Kloramfenikol diasum sumsikan mampu membunuh bakteri penyeba bab demam tifoid dalam waktu 7-14 h hari. Apabila durasi pengobatan ditambah, e h, efek yang akan dihasilkan tidak jauh uh berbeda dengan durasi optimal bahkan bisa bisa meningkatkan resiko resistensi bakt kteri apabila penggunaan antibiotika melebihi bihi waktu optimal (Islam et al., 1993).

4. Rute Pemberian A an Antibiotika Rute Pemberian Antibiotika di RS. Panti Rapih Yogyakarta periode 2010

  10

  52

  36 intravena peroral

  Gambar 12. Prof Profil rute pemberian antibiotika untuk pasien de n demam tifoid kelompok um pok umur pediatrik di RS. Panti Rapih Yogyakarta karta periode 2010 Diagram pie pie diatas menunjukkan profil rute pember berian antibiotika kepada pasien. Dapat pat kita lihat bahwa rute yang paling sering di digunakan adalah secara intravena. Da Dari 88 jenis antibiotika yang diresepkan pkan, sebanyak 52 antibiotika (59.1%) di diberikan secara parenteral melalui intravena da na dan sebanyak 36 antibiotika (40.9%) di diberikan kepada pasien secara perenteral. demam tifoid. Antibiotika yang digunakan bisa diberikan melalui intravena, peroral, maupun melalui intramuskular. Rute pemberian antibiotika untuk pasien demam tifoid dalam hal ini secara umum terbagi menjadi dua yaitu secara intravena secara peroral. Pemberian antibiotika secara intravena maupun secara peroral dilakukan dengan berbagai maksud dan tujuan. Pemberian antibiotika secara intravena dilakukan agar obat dapat lebih cepat masuk ke dalam tubuh dan memberikan efek (Cunha, 2007). Pemberian obat secara intravena juga memiliki beberapa keuntungan seperti menghindari first pass effect dan mencegah obat terdegradasi oleh asam lambung (Cunha, 2007).

5. Analisis Rasionalitas Penggunaan Antibiotika

  Pengobatan yang rasional menurut kriteria WHO adalah menyangkut ketepatan indikasi, ketepatan penderita, ketepatan obat, ketepatan dosis dan cara pemberian serta waspada terhadap adanya efek samping. Penelitian ini memfokuskan pada analisis ketepatan penggunaan antibiotika pada pasien demam tifoid kelompok umur pediatrik di Instalasi Rawat Inap RS. Panti Rapih Yogyakarta periode 2010. Analisis mengenai ketepatan penggunaan antibiotika mengacu pada kategori ketepatan penggunaan antibiotika menurut Kurin dan Gyssens (Benin dan Dowell, 2001). Tabel VIII. Kategori Ketepatan Penggunaan Antibiotika (Kurrin dan Gyssens)

  Kategori Penjelasan

  Tepat atau rasional-antibiotika optimal

  I a

  Tidak tepat, karena kesalahan dosis atau interval

  II b c

  pemberian atau cara dan rute pemberian

  a

  Tidak tepat, karena pemberian terlalu lama atau terlalu

  III b

  pendek Tidak tepat, karena tersedianya antibiotika alternatif

  a b c

  yang lebih efektif atau kurang toksik atau lebih murah

  IV d

  atau antibiotika dengan spektrum lebih sempit Antibiotika tidak ada indikasi

  V Tidak ada data atau tidak dapat dievaluasi

  VI

  (Benin dan Dowell, 2001) Keterangan:

  a

  II : tidak tepat, karena kesalahan dosis

  b

  II : tidak tepat, karena kesalahan interval/ frekuensi pemberian

  c

  II : tidak tepat, karena kesalahan cara dan rute pemberian

  a

  III : tidak tepat, karena durasi pemberian terlalu lama

  b

  III : tidak tepat, karena durasi pemberian terlalu pendek

  a

  IV : tidak tepat, karena tersedianya antibiotika alternatif yang lebih efektif

  b

  IV : tidak tepat, karena tersedianya antibiotika alternatif yang kurang toksik

  c

  IV : tidak tepat, karena tersedianya antibiotika alternatif yang lebih murah

  d

  IV : tidak tepat, karena tersedianya antibiotika alternatif dengan spektrum lebih sempit Menurut kriteria WHO, penggunaan obat yang rasional didasarkan pada ketepatan indikasi, ketepatan pasien, ketepatan pemilihan obat, ketepatan dosis dan rute pemberian serta waspada akan adanya efek samping obat. Dalam penelitian ini akan dianalisis mengenai ketepatan penggunaan antibiotika pada

45 I

  I IIA

  untuk pengobatan Rapih Yogyakarta ntibiotika trik tahui bahwa kasus sus (70.98%). Pada erdapat 16 kasus gori IVA sebesar1 pat dan rasional.

  IVA Tifoid

  I terdapat 10 kasus (16.13%) dan pada katego berarti antibiotika digunakan secara tepa

  13. Profil kategori ketepatan penggunaan antibi pasien demam tifoid kelompok umur pediatrik di RS. Panti Rapih Yogyakarta periode 2010 an dari diagram batang tersebut, dapat diketahui pada kategori IIA yaitu sebesar 44 kasus apat 30 kasus (48.39%), kategori IIIB terd

  ode 2010, total antibiotika yang diresepkan unt da kelompok umur pediatrik di RS.Panti Rapi jenis antibiotika pada 62 pasien.

  

Profil Ketepatan Penggunaan

tibiotika pada Pasien Demam Tifo

  IVA Kategori Ketepatan

  IIIB

  IIB

  5

  10

  Berdasarkan terbanyak terdapat pa kategori IIB terdapa (25,81%), kategori I kasus (1.61%).

  Gambar 13 pada pa di R

  Pada periode demam tifoid pada adalah sebanyak 88 je

  Ju m la h K a su s Pro Antibio

  40

  35

  30

  25

  20

  15

  Kategori I antibiotika belum tepat dalam hal pemberian dosis. Dosis yang diberikan bisa terlalu kecil sehingga tidak mencapai konsentrasi terapi minimum atau bahkan berlebihan sehingga mendekati konsentrasi toksik minimum. Kategori IIB berarti antibiotika yang digunakan belum tepat dalam hal pemberian frekuensi. Pemilihan frekuensi pemberian berkaitan dengan tujuan agar tetap terjaganya konsentrasi suatu obat di dalam plasma agar selalu berada pada jendela terapi sehingga bisa memberikan efek. Kategori IIIB artinya penggunaan antibiotika belum tepat yang disebabkan karena ketidaktepatan durasi penggunaan. Durasi penggunaan berkaitan dengan kemampuan antibiotika dalam membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri. Apabila durasi terlalu pendek dikhawatirkan bakteri belum mati sepenuhnya sehingga masih dapat menginfeksi kembali.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat ditarik kesimpulan :

  1. Profil pasien Demam Tifoid yang menjalani rawat inap di RS. Panti Rapih Yogyakarta pada periode Januari-Desember 2010, terdiri dari 36 pasien pria (58.1%) dan 26 pasien wanita (41.9%). Pasien terbanyak berumur 6-12 tahun yaitu sebesar 27 pasien (42.9%), 1-5 tahun sebanyak 22 pasien (34.9%), dan ≤ 1 tahun (neonatus) 14 pasien (22.2%).

2. Kriteria ketepatan penggunaan antibiotika pada pasien demam tifoid di

  Instalasi Rawat Inap RS. Panti Rapih Yogyakarta periode 2010 adalah kategori I sebesar 16.13%, kategori IIA sebesar 70.98%, kategori IIB sebesar 48.39%, kategori IIIB sebesar 25.81% dan kategori IVA sebesar 1.61%.

B. Saran

  Saran yang bisa diberikan dari hasil penelitian ini agar penelitian selanjutnya dapat lebih baik adalah :

  1. Perlu ada penelitian selanjutnya mengenai evaluasi penggunaan antibiotika dengan menggunakan metode prospektif agar dapat melihat efek antara penggunaan antibiotika lanjutan setelah tidak dirawat inap di rumah sakit dengan kondisi kesehatan pasien.

  2. Pengisian catatan medis pasien sebaiknya diusahakan lebih lengkap lagi agar bisa dipergunakan untuk membantu pengobatan agar bisa lebih efisien dan optimal seperti adanya pencatatan berat badan pasien, tekanan darah pasien, dan rute pemberian obat sehingga kesalahan pemberian dosis dan frekuensi dapat diminimalkan.

  

DAFTAR PUSTAKA

Ali, S., 2006, Typhoid Fever, pp. 25-43, Gildeprints, Netherlands.

  Baker, D., 2009, Current FDA-Related Drug Information, Hospital Pharmacy, vol.44, pp 701-707, Wolters Kluwer Health, Inc. Behrman, R.E., 1992, Textbook of Pediatrics, pp. 731-734, WB. Saunders Company, Philadelphia. Benin, A.L. and Dowell, S.F., 2001, Antibiotic Resistance and Implications for

  The Appropriate Use of Antimicrobial Agents. Dalam Mainous AG, Pomeroy C (eds) . Management of Antimicrobial in Infectious Disease.

  Impact of Antibiotics Resistance , pp.3-25, New Jersey: Humana Press Inc.

  Brusch, J., 2010, Typhoid Fever : Treatment & Medication,

  ,

  http://emedicine.medscape.com/article/231135 diakses tanggal 14 April 2011. Chin, J., 2011, Typhoid “Enteric” Fever , http://www.doh.wa.gov/notify /guidelines/pdf/typhoid.pdf, diakses tanggal 18 Juni 2011. Craig, C.L. and Stitzel, R.E., Modern Pharmacology with Clinical Applications,

  th 5 edition, p.49, Lippincott, USA.

  Crump, J.A., Stephen, P., Luby, E.D., and Mintz, 2005, The Global Burden of

  Typhoid Fever . Bulletin of the World Health Organization (BLT), World Health Organization , http://www.who.int /bulletin/volumes/82/5/en , /346.pdf diakses tanggal 10 Mei 2011.

  Cunha, B.A., 2007, Drugs; Administration and Kinetic of Drugs , http://www.merckmanuals.com /home /sec02 /ch011/ch011b.html, diakses

  8 Juni 2011. Ganiswara, 1995, Farmakologi dan Terapi, hal.25-38, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

  Herawati, M.H., dan Ghani, L., 2009, Hubungan Faktor Determinan dengan Kejadian Tifoid di Indonesia Tahun 2007, Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan vol. XIX No.4., hal.165-173.

  Islam, A., Butler T., Kabir I., and Alam H., 1993, Treatment of Typhoid Fever with Ceftriaxone for 5 Days or Chloramphenicol for 14 Days: a nd

  Izenberg, N., 2000, Handbook of Pediatric Drug Therapy, 2 edition,pp. 1525- 1527, Springhouse Corporation, USA. Judarwanto, W., 2009, Demam Tifus, Koran Indonesia Sehat, Yudhasmara Publisher, Jakarta.

  th

  Katzung, B., 2008, Basic and Clinical Pharmacology, 10 edition, pp. 1007-1012, Mc Graw-Hill, USA. Kass, E.H., and Platt, R., 1990, Current Therapy of Infectious Disease-3, pp.105- 116, BC Pecker Inc., Philadelphia. Lacy, C.F., Armstrong, L.L., and Goldman, M.P., 2006, Drug Information

  Handbook: A Comprehensive Resource for All Clinicians and Healthcare Professionals , pp.149-1089, Lexi-Comp. Inc., USA.

  Lullmann, H., Mohr, K., Ziegler, A., and Bieger, D., 2000, Colour Atlas of

  nd Pharmacology, 2 edition, p.152, Thieme, New York. th

  Murray, P.R., Rosenthal, K.R., and Pfaller, M.A., Medical Microbiology 6 edition, pp.235-247, Elsevier Inc., USA. Musnelina, L., Afdhal, A.F., Ghani, A., dan Andayani, P., 2004, Pola Pemberian

  Antibiotika Pengobatan Demam Tifoid Anak Di Rumah Sakit Fatmawati Jakarta Tahun 2001-2002, Makara Kesehatan vol.8 No.1, hal. 27-31. Ochiai, R., Camilo, J., Carolina, M., Dong, B., Sujit, K., and Magdarina, D.,

  2008, A Study of Typhoid Fever in Five Asian Countries: Disease Burden and Implications for Controls, Buletin of The World Health Organization,

  , World Health, http://www.who.int/bulletin/volumes/862/4/en/268.pdf diakses tanggal 10 Mei 2011.

  Parry, C.M., Hien, T.T., Dougan, G., White, N.J., and Farrar, J.J., 2002, Typhoid Fever, The New England Journal of Medicine vol.347 No.22, pp.1770- 1782.

  Pratiwi, E.P., 2010, Evaluasi Penggunaan Antibiotika Pada Pasien Anak Penderita DemamTifoid di Instalasi Rawat Inap RSUD dr. Agoesdjam Ketapang Periode Juni 2008-Juni 2009, Skripsi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

  Prayitno, A., Aslam, M., dan Tan, C.K., 2003, Farmasi Klinis (Clinical Pharmacy) , hal.58-64, PT Elex Media Komputindo, Jakarta.

  Roespandi, H., dan Nurhamzah, W., 2007, Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak

  di Rumah Sakit, hal. 167-168, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

  Santillan, R.M., Garcia, G.R., Benavente, I.H., and Garcia, E.M., 2000, Efficacy of Cefixime in the Therapy of Typhoid Fever, West Pharmacology Society, pp.65-66. Santoso, H., 2009, Kajian Rasionalitas Penggunaan Antibiotik Pada Kasus Demam Tifoid Yang Dirawat Pada Bangsal Penyakit Dalam di RSUP. dr.

  Kariadi Semarang tahun 2008, Skripsi, Universitas Diponegoro, Semarang. Sari, L.M., 2009, Evaluasi Drug Therapy Problems Pada Pengobatan Kasus

  Demam Tifoid di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Kalasan Sleman Periode Juni 2007-Juni2008, Skripsi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

  Shah, R., Kundu, R., Ganguly, N., Ghosh, T., Yewale, V., and Shah, N, 2006, IAP Task Force Report: Management of Enteric Fever in Children, Indian Pediatric , vol. 43, pp. 884-887.

  Sherwal, B.L., Dhamija, R.K., Randhawa, V.S., Jais, M., Kaintura, A., and Kumar, M., 2004, A Comparative Study of Typhidot and Widal Test in Patients of Typhoid Fever, Journal Indian Academy of Clinical Medicine, Vol. 5, No. 3, pp.244-246.

  th

  Shulman, 1992, The Biology and Clinical Basisof Infectious Diseases, 4 edition, in Sommers (Ed.), pp.134-146, WB. Saunders Company, Philadelphia. Sinha, A., Sazawal, S., Kumar, R., Sood, S., Reddaiah, V.P., and Singh, B., 1999,

  Typhoid Fever in Children Aged Less Than 5 Years, Indian Council for

  Medical Research , Advanced Centre for Diarrhoeal Disease Research, Division of Paediatric Gastroenterology, New Delhi, pp.645-647.

  Soedarto, 1996, Penyakit-Penyakit Infeksi di Indonesia, hal.42-49, Widya Medika, Jakarta. Triana, M., 2003, Kajian Penggunaan Obat Demam Tifoid Bagi Pasien Anak di

  Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta Periode Januari 2000-Desember 2001, Skripsi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Tunkel,

  D., 2009, Biology of Infectious Disease; Infectious Disease , http://www.merckmanuals.com/professional /sec14/ch167/ch167d.html, Valema, J.P., Wijnen, G., Bult, P., Naerssen, T., and Jota., S., 1997, Typhoid fever in Ujung Pandang, Indonesia – high-risk groups and high-risk behaviours, Tropical Medicine and International Health, vol.2 No.11, pp.1088-1094.

  Widodo, D., 2010, Kebijakan Penggunaan Antibiotika Bertujuan Meningkatkan Kualitas Pelayanan Pasien dan Mencegah Peningkatan Resistensi Kuman,

  Cermin Dunia Kedokteran (CDK) , vol.37 no.1, pp.7 – 10

  World Health Organization, 2003, Background Document : The Diagnosis,

  Treatment, and Prevention of Typhoid Fever, World Health Organization, ,

  http://whqlibdoc.who.int/hq /2003 /WHO_V%26B_03.07.pdf diakses tanggal 10 Juni 2011.

  Lampiran 1. Daftar Diagnosis Pasien Demam Tifoid di RS. Panti Rapih Tahun 2010 No. Nomor RM Diagnosis Umur (tahun)

  3 30. 547970 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  5 23. 496744 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  4 24. 505050 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  4 25. 510020 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  5 26. 512903 Demam Tifoid komplikasi Bronchitis

  4 27. 529242 Demam Tifoid komplikasi ISPA

  3 28. 539764 Demam Tifoid komplikasi ISPA

  4 29. 543020 Demam Tifoid komplikasi ISPA

  4 31. 559617 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  5 21. 458861 Demam Tifoid komplikasi ISPA

  8 32. 560340 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  3 33. 564402 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  3 34. 567273 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  4 35. 567737 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  3 36. 571242 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  2 37. 589375 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  4 38. 590349 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  5 22. 459348 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  5 20. 436790 Demam Tifoid komplikasi ISPA

  1. 024330 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  9 9. 251728 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  11 2. 177529 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  10 3. 182977 Demam Tifoid komplikasi ISPA

  10 4. 184447 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  9 5. 209004 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  9 6. 237776 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  8 7. 241376 Demam Tifoid komplikasi ISPA

  9 8. 246499 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  9 10. 255128 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  10 19. 435228 Demam Tifoid komplikasi ISPA

  8 11. 269300 Demam Tifoid komplikasi ISK

  12 12. 274233 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  8 13. 286606 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  7 14. 293621 Suspect Demam Tifoid

  8 15. 371026 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  6 16. 411859 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  10 17. 421144 Suspect Demam Tifoid

  10 18. 424208 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  2 Lampiran 1. (lanjutan) No. Nomor RM Diagnosis Umur (tahun)

  40. 593672 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  2 69. 699297 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  8 63. 696354 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  1 64. 696693 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  12 65. 697156 Suspect Demam Tifoid

  7 66. 697593 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  3 67. 698022 Suspect Demam Tifoid

  3 68. 699035 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  1 70. 699674 Typhus abdominalis

  1 60. 677615 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  12 71. 701125 Demam Tyfoid tanpa komplikasi 72. 702457 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  6 73. 705633 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  12 74. 708440 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  10 75. 714433 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  11 76. 718554 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  1 77. 720228 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  1 61. 691792 Demam Tyfoid tanpa komplikasi 62. 692767 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  1 59. 675035 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  12 41. 596180 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  2 48. 628698 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  5 42. 598413 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  4 43. 599059 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  2 44. 605158 Demam Tifoid komplikasi ISPA

  4 45. 616821 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  12 46. 617977 Suspect Demam Tifoid

  4 47. 624686 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  1 49. 628838 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  7 58. 673476 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  2 50. 630243 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  6 51. 631440 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  1 52. 637914 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  1 53. 639270 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  8 54. 660967 Demam Tyfoid tanpa komplikasi 55. 669805 Demam Tyfoid tanpa komplikasi 56. 670914 Demam Tifoid komplikasi ISPA

  8 57. 672825 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  4 Lampiran 1. (lanjutan) No. Nomor RM Diagnosis Umur (tahun)

  80. 722954 Demam Tifoid komplikasi ISPA

  5 81. 724459 Demam Tifoid komplikasi ISPA

  8 82. 726798 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  3 83. 728434 Demam Tyfoid tanpa komplikasi

  5 84. 729810 Demam Tifoid komplikasi ISK

  5 85. 731035 Demam Tyfoid tanpa komplikasi Lampiran 2. Guideline Dosis Antibiotika untuk Demam Tifoid pada Kelompok Pediatrik Drug Name Dose Duration

  Chloramphenicol 50-100 mg/kg/day q6h 5-7 days Ampicillin 100-200mg/kg/day q6h 10-14 days Amoxicillin 100 mg/kg/day q6h 10-14 days Cotrimoxazole 185 mg/m

  2

  /day q8h (TMP) 10 days 925 mg/m

  2

  /day q8h (SMZ) (Behrman, 1992)

  Chloramphenicol 50 mg/kg/day q6h 7-14 days Amoxicillin 100 mg/kg/day q6h 10-14 days

  (Kass dan Platt, 1990) Cefixime 20 mg/kg/day q12h 8-14 days Meropenem 60 mg/kg/day q8h Cefotaxime 50-200 mg/kg/day q8h Ceftriaxone 50-100 mg/kg/day q12h Imipenem+Cilastatin 15-25 mg/kg/day q6h Cephradine 50-100 mg/kg/day q6h

  (Lacy et al., 2006) Chloramphenicol 50-75 mg/kg/day 14-21 days Amoxicillin 75-100 mg/kg/day 14 days Cefixime 15-20 mg/kg/day 7-14 days

  (WHO, 2003) Chloramphenicol 50-100 mg/kg/day q6h 7-14 days Amoxicillin 100 mg/kg/day 10 days Cotrimoxazole 48 mg/kg/day q12h 10 days Ceftriaxone 80 mg/kg/day 5-7 days Cefixime 20 mg/kg/day q12h 10 days

  (Roespandi dan Nurhamzah, 2009) Lampiran 3. Daftar Antibiotika yang Digunakan oleh Pasien Kelompok Pediatrik di RS. Panti Rapih Yogyakarta Tahun 2010 Jumlah

  No. Antibiotika Pemakaian 1.

  Golongan Karbapenem Meropenem

  4 2. Golongan Sefalosporin Cefixime

  27 Cefotaxime

  9 Ceftriaxone

  1 Cephradine

  2

  3. Golongan Penisilin Amoxicillin

  7 4. Antibiotika Golongan lain Tiamfenikol

  2 Kloramfenikol

  33

  5. Antibiotika Kombinasi Imipenem + Cilastatin

  3 Lampiran 4. Data dan Evaluasi Penggunaan Antibiotika Pasien Demam Tifoid di RS. Panti Rapih Tahun 2010

  No RM No.

  IIA IIB Cefixime p.o

  4 15 ganti obat Ceftriaxone i.v 500 2 2 1000 750-1125

  I Cefotaxime i.v

  75

  2 1 150 600-1200 624686

  23.

  2 20 ganti obat Kloramfenikol i.v 250

  3 4 750 1000-2000

  50

  IIB IIIB Kloramfenikol i.v 333 3 3 999 875-1750 589375

  2 1 100 300-400 598413

  25.

  4 19 ganti obat Kloramfenikol i.v 333 3 2 999 950-1900

  IIA IIB Meropenem i.v 400

  3 4 1200 1140 Cefixime p.o

  72

  1

  20.

  4 17.5 ganti obat Cefotaxime i.v 500 3 1 1500 700-1400

  Kasus Usia (tahun) BB

  4 15 ganti obat Amoxicillin i.v 200 3 1 600 1500

  (kg) Keterangan Generik Rute Dosis (mg)

  Frekuensi (x/hari) Durasi (hari)

  Total Dosis (mg/hari) Literatur

  (mg) Kategori 593672 1.

  12 47 kombinasi Kloramfenikol i.v 500 3 4 1500 2350-4700

  IIA IIB Cefixime p.o 100 2 3 200 705-940 567273

  4.

  I Meropenem i.v 300

  15.

  3 4 900 900 596180

  8.

  5 19 ganti obat Cefotaxime i.v 500 3 4 1500 760-1520

  I Kloramfenikol i.v 333

  3 3 999 950-1900 547960

  12.

  4 20 kombinasi Kloramfenikol p.o 250 3 3 750 1000-2000

  IIA IIB Amoxicillin p.o 62,5 1 2 62,5 2000 505050

  1 72 285-380 Lampiran 4. (lanjutan) No.

  RM No.

  I Cefotaxime i.v 500

  3 4 450 365-730 Cefixime p.o

  38

  2

  3 76 109.5-146 677615

  37.

  1 10 kombinasi Kloramfenikol i.v 250 3 6 750 500-1000

  2 5 1000 400-800 628838

  2 64 109.5-146

  38.

  2 17 ganti obat Cefotaxime i.v 500 3 3 1500 680-1360

  IIA IIB IIIB Kloramfenikol p.o 400 3 2 1200 850-1700 699035

  45.

  2 12 kombinasi Kloramfenikol i.v 200 3 3 600 600-1200

  I Cefixime p.o

  50

  I Kloramfenikol i.v 150

  2

  Kasus Umur (tahun) BB

  2 15 ganti obat Cephradine i.v 400 2 4 800 750-1500

  (kg) Keterangan Antibiotika Rute Dosis (mg)

  Frekuensi (x/hari) Durasi (hari)

  Total Dosis (mg/hari) Literatur

  (mg) Kategori 616821 28.

  12 37 ganti obat Kloramfenikol i.v 500 3 4 1500 1850-3700

  IIA IIB Cefixime p.o 150 2 3 300 555-740 599059

  30.

  I Cefixime p.o

  32

  50

  2 1 100 225-300 675025

  34.

  1 10 ganti obat Meropenem i.v 333 3 5 999 600

  IIA IIB IVA Imipenem & Cilastatin i.v 333 3 4 999 150-250 669805

  36.

  7 bulan 7.3 kombinasi Cefixime p.o

  2 3 100 180-240 Lampiran 4. (lanjutan) No.

  RM No.

  2 80 225-300 731035

  8 20 kombinasi Amoxicillin i.v 333 3 5 999 2000

  75.

  3 68 121.5-162 255128

  2

  34

  I Cefixime p.o

  2 3 500 324-648

  11 bulan 8.1 kombinasi Cefotaxime i.v 250

  65.

  2

  Kasus Umur (tahun) BB

  40

  IIA IIB IIIB Cefixime p.o

  4 15 ganti obat Amoxicillin p.o 125 3 2 375 1500

  57.

  IIA IIB Amoxicillin i.v 500 3 3 1500 4400 Cefixime p.o 150 2 3 300 660-880 720228

  12 44 kombinasi Kloramfenikol i.v 500 3 5 1500 2200-4400

  (mg) Kategori 699674 49.

  Total Dosis (mg/hari) Literatur

  Frekuensi (x/hari) Durasi (hari)

  (kg) Keterangan Antibiotika Rute Dosis (mg)

  IIA IIB Kloramfenikol i.v 333 3 4 999 1000-2000 Lampiran 5 Data dan Evaluasi Penggunaan Antibiotika Tunggal Pasien Demam Tifoid di RS. Panti Rapih Tahun 2010 No.

  RM Umur (tahun) BB

  3 3 750 420-700

  5

  30

  14. Cefixime p.o 100

  2 4 200 450-750

  IIA IIIB 459348

  5

  20

  19. Cefixime p.o

  

74

  2 3 148 300-500

  IIA 630243

  6

  14

  24. Tiamfenikol p.o 250

  IIA 628698

  2 3 200 247.5-412.5

  2

  10

  26. Kloramfenikol i.v 150

  3 4 450 500-1000

  IIA IIB 631440

  1

  11.7

  29. Kloramfenikol i.v 333

  3 2 999 585-1170

  IIB 672825

  7

  29

  32. Cefixime p.o 100

  2 6 200 435-725

  IIA IIIB 510020

  9. Cefixime p.o 100

  (kg) No.

  IIA IIIB 564402

  Kasus Generik Rute

Dosis

(mg)

  Frekuensi (x/hari) Durasi (hari)

  Total Dosis (mg/hari) Literatur

  (mg) Kategori 590349

  3

  16.5

  2. Cefixime p.o

  

66

  2 3 132 247.5-412.5

  IIA IIIB 567737

  3

  17

  3. Amoxicillin p.o 125

  3 6 375 1700

  3

  16.5

  IIA IIB 559617

  3

  IIA IIB 590349

  3 2 1500 2350-4700

  7. Kloramfenikol i.v 500

  47

  8

  3 5 999 270-450

  10

  Imipenem & Cilastatin i.v 333

  18 6.

  3

  IIB 560340

  3 3 999 500-1000

  5. Kloramfenikol i.v 333

  IIA Lampiran 5 (lanjutan)

  No.RM Umur (tahun) BB

  3 3 750 800

  IIB 722588

  3 3 600 400-800

  47. Kloramfenikol i.v 200

  8

  1

  IIA IIB IIIB 696354

  46. Amoxicillin i.v 250

  46

  8

  IIB 691792 11 bulan

  3 3 750 750-1500

  44. Kloramfenikol i.v 250

  15

  3

  IIA IIB 697593

  10

  51. Cefixime i.v 150

  43 Kloramfenikol i.v 500

  53. Cefotaxime i.v 500

  2 3 150 330-440

  75

  54. Cefixime p.o

  22

  6

  IIA IIIB 702457

  2 2 1000 400-800

  10

  2 5 300 690-1150

  1

  IIA IIB 718554

  3 3 1500 2100-4200

  52. Kloramfenikol i.v 500

  42

  10

  IIA 708440

  3 3 1500 1550-3100

  31

  (kg) No.kasus Antibiotika Rute Dosis (mg)

  1

  11

  1

  IIB 637914

  3 3 600 500-1000

  35. Kloramfenikol i.v 200

  10

  IIA IIB 673476

  3 3 450 550-1100

  3 6 450 475-950

  33. Kloramfenikol i.v 150

  9.5

  11 bulan

  (mg) Kategori 660967

  Total Dosis (mg/hari) Literatur

  Frekuensi (x/hari) Durasi (hari)

  39. Kloramfenikol i.v 150

  IIA IIB 639270

  12

  IIA 699297

  IIA IIIB 696693

  2 88 150-250

  2

  44

  42. Cefixime p.o

  10

  1

  2 7 200 360-600

  12

  41. Cefixime i.v 100

  24

  8

  IIA IIB 692767

  3 3 750 850-1700

  40. Kloramfenikol i.v 250

  17

IIA IIIB

  Lampiran 5 (lanjutan)

  2 4 200 750-1250

  11

  53

  66. Tiamfenikol p.o 250

  3 3 750 1590-2650

  IIA IIB 177529

  10

  34

  67. Meropenem i.v 500

  3 3 1500 2040

  IIA 209004

  9

  50

  69. Cefixime p.o 100

  IIA 184447

  4 3 1000 1025-2050

  9

  35

  70. Cefixime p.o 100

  2 8 200 525-875

  IIA 237776

  8

  34

  71. Kloramfenikol i.v 500

  3 6 1500 1700-3400

  IIA IIB 246499

  9

  20

  73. Kloramfenikol p.o 250

  4 4 1000 1000-2000

  IIA 024330

  63. Kloramfenikol p.o 250

  No.RM Umur (tahun) BB

  8.5

  (kg) No.

  Kasus Antibiotika Rute

Dosis

(mg)

  Frekuensi (x/hari) Durasi (hari)

  Total Dosis (mg/hari) Literatur

  (mg) Kategori 705633

  12

  53

  55. Kloramfenikol i.v 500

  3 4 1500 2650-5300

  IIA IIB 701125 7 bulan

  7.1

  56. Cefotaxime i.v 200

  2 4 400 284-568

  I 720375 9 bulan

  58. Cefotaxime i.v 400

  20.5

  2 4 800 340-680

  IIA IIIB 714433

  11

  25

  59. Cefixime p.o 100

  2 3 200 375-500

  IIA IIIB 726798

  3

  16.5

  62. Cefixime p.o

  

72

  2 3 144 247.5-330

  IIA IIIB 728434

  5

  I Lampiran 5 (lanjutan)

  No.RM Umur (tahun) BB

  41.5

  6

  26

  80. Kloramfenikol i.v 500

  3 3 1500 1300-2600

  IIB 424208

  10

  81. Cefixime i.v 100

  2 7 200 435-725

  2 4 200 622.5- 1037.5

  IIA 411859

  10

  23 85.

  Imipenem & Cilastatin i.v 333

  3 3 999 345-575

  IIA 371026

  78. Cefixime i.v 100

  (kg) No.

  74. Kloramfenikol i.v 500

  Kasus Antibiotika Rute

Dosis

(mg)

  Frekuensi (x/hari) Durasi (hari)

  Total Dosis (mg/hari) Literatur

  (mg) Kategori 251728

  9

  30

  3 4 1500 1500-3000

  29

  IIB 274233

  8

  28

  77. Cephradine i.v 500

  3 4 1500 1400-2800

  IIB 286606

  7

IIA IIB

  Lampiran 6. Data Pemeriksaan Laboratorium dan Terapi Antibiotika Pasien

  

Kasus 1

  Nomor RM : 593672 Dirawat tanggal : 11-15 Maret 2010

  Informasi Pasien

  Pria, berumur 12 tahun, BB 47 kg. Keluhan utama : demam, mual, muntah, batuk, diare. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan Parameter Nilai Normal

  (11 Maret 2010) Hematologi Hemoglobin 13.2 (12.0-14.0) g% 3

  10 /µL

  Lekosit 13.4 (4.0-11.0) 6

  10 /µL

  Eritrosit 5.50 (4.10-5.50) Hematokrit 36.6 (36.0-44.0) % 3

  10 /µL

  Trombosit 277 (150-450) Eosinofil 1.1 (0.0-9.5) % Basofil 0.8 (0.0-2.5) % Neutrofil 66.1 (35.0-88.7) % Limfosit 23.1 (12.0-44.0) % Monosit 8.6 (0.0-11.2) %

  Immunoserologi Test Widal

  S.typhii H negatif negatif S.typhii O + 1/160 negatif

  AH negatif negatif

  S.paratyphii S.paratyphii AO negatif negatif S.paratyphii BH + 1/160 negatif S.paratyphii BO negatif negatif S.paratyphii CH negatif negatif

  CO negatif negatif

  S.paratyphii Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian

  ®

  Injeksi Colsancetine 3x500 mg 11,12,13,14,15

  ®

  Sporetic 2x1 cth 12,13,14,15

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 2

  Nomr RM :590349 Dirawat tanggal : 23-26 November 2010

  Informasi Pasien

  Pria, berumur 3 tahun, BB 16.5 kg. Keluhan utama ; demam, susah buang air besar, mual dan muntah tiap pagi hari. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan Parameter Nilai Normal

  (23 November 2010) Hematologi Hemoglobin 12.8 (12.0-14.0) g% 3 Lekosit 8.3 (4.0-11.0)

  10 /µL 6 Eritrosit

  5.01 (4.10-5.50)

  10 /µL

  Hematokrit 37.4 (36.0-44.0) % 3 Trombosit 318 (150-450)

  10 /µL

  Eosinofil 0.6 (0.0-9.5) % Basofil 1.1 (0.0-2.5) % Neutrofil 43.3 (35.0-88.7) % Limfosit 39.6 (12.0-44.0) % Monosit 15.4 (0.0-11.2) % Immunoserologi

  ≤ 2 = negatif Ig M antibodi S.typhii 4 3 = grayzone

  4-5 = indikasi Typhoid ≥ 6 = indikasi kuat

  Typhoid

  Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian

  ®

  Sporetic 2x3.3 cc 23, 24, 25

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 3

  Nomor RM : 567737 Dirawat tanggal : 1-7 Januari 2010

  Informasi Pasien

Pria, berumur 3 tahun, BB 17 kg. Keluhan : demam disertai dengan mual dan

muntah, diare. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

Tanggal Pemeriksaan (Januari 2010)

Parameter

  Nilai Normal

  1

  2

  3

  4

  5

  7 Hematologi (12.0-14.0) Hemoglobin

  10.2 g% (4.0-11.0)

  14.8

  10.7 3 Lekosit

  14.6 10 /µL (4.10-5.50) 6 Eritrosit

  4.02 10 /µL (36.0-44.0)

  Hematokrit

  30.4

  29.0

  29.6 % (150-450) Trombosit 122 133 166 296 3 10 /µL

  Eosinofil

  0.2 (0.0-9.5) % Basofil

  0.1 (0.0-2.5) % (35.0-88.7)

  Neutrofil

  83.3 % (12.0-44.0)

  Limfosit

  10.9 % Monosit

  5.5 (0.0-11.2) %

Immunoserologi

  ≤ 2 = negatif 3 = grayzone 4-5 = IgM antibodi

  4 indikasi

  S.typhii Typhoid ≥ 6 = indikasi kuat Typhoid

  Terapi Antibiotika

Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian

®

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 4

  Nomor RM : 567273 Dirawat tanggal : 27-31Oktober 2010

  Informasi Pasien

  Wanita, berumur 4 tahun, BB 15 kg. Keluhan utama : susah buang air besar, muntah, demam. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien pada saat keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan Parameter (Oktober2010) Nilai Normal

  27

  31 Hemoglobin

  11.3 11.3 (12.0-14.0) g% 3

  10 /µL

  Lekosit

  19.2 11.7 (4.0-11.0) 6

  10 /µL

  Eritrosit

  4.36 4.26 (4.10-5.50) Hematokrit

  33.6 34.0 (36.0-44.0) % 3 Trombosit 332 346 (150-450)

  10 /µL

  Eosinofil

  0.2 1.4 (0.0-9.5) % Basofil

  1.0 3.3 (0.0-2.5) % Neutrofil

  71.6 68.7 (35.0-88.7) % Limfosit

  14.3 18.6 (12.0-44.0) % Monosit

  12.8 8.0 (0.0-11.2) % Immunoserologi

  ≤ 2 = negatif 3 = grayzone IgM antibodi 4 4-5 = indikasi

  S.typhii

  Typhoid ≥ 6 = indikasi kuat

  Typhoid

  Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian

  ®

  Injeksi Amoxan 3x200 mg

  28

  ®

  Injeksi Merofen 3x 28,29,30,31 ⅓ gram

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 5

  Nomor RM : 564402 Dirawat tanggal : 21-25 Maret 2010

  Informasi Pasien Wanita, berumur 3 tahun, BB 10 kg. Keluhan utama : demam, batuk, diare.

  Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien pada saat keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan Parameter (Maret 2010) Nilai Normal

  22 Hemoglobin 11.3 (12.0-14.0) g% 3

  10 /µL

  Lekosit 19.2 (4.0-11.0) 6 Eritrosit 4.36 (4.10-5.50)

  10 /µL

  Hematokrit 33.6 (36.0-44.0) % 3

  10 /µL

  Trombosit 332 (150-450) Eosinofil 0.2 (0.0-9.5) % Basofil 1.0 (0.0-2.5) % Neutrofil 71.6 (35.0-88.7) % Limfosit 14.3 (12.0-44.0) % Monosit 12.8 (0.0-11.2) % Immunoserologi

  ≤ 2 = negatif 3 = grayzone 4 4-5 = indikasi

  IgM antibodi S.typhii Typhoid

  ≥ 6 = indikasi kuat Typhoid

  Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian

  ®

  Injeksi Colsancetine 3x 22,23,24 ⅓ gram

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 6

  Nomor RM : 560340 Dirawat tanggal : 28 Juli-2Agustus 2010

  Informasi Pasien

  Pria, berumur 3 tahun, BB 18 kg. Keluhan utama : demam disertai mual dan muntah, diare. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan (Juli-Agustus 2010)

  Parameter Nilai Normal

  28

  29

  30

  31

  2 Hemoglobin

  11.1

  11.3

  11.3

  11.2 11.1 (12.0-14.0) g% 3 Lekosit 7.5 (4.0-11.0)

  10 /µL 6 Eritrosit

  4.32 (4.10-5.50)

  10 /µL

  Hematokrit

  31.4

  31.6

  32.1

  31.5 31.2 (36.0-44.0) % 3 Trombosit 139 155 173 158 283 (150-450)

  10 /µL

  Eosinofil 0.3 (0.0-9.5) % Basofil 0.3 (0.0-2.5) % Neutrofil 56.0 (35.0-88.7) % Limfosit 33.7 (12.0-44.0) % Monosit 9.7 (0.0-11.2) %

  Immunoserologi ≤ 2 = negatif 3 = grayzone

  IgM antibodi 4 4-5 = indikasi

  S.typhii

  Typhoid ≥ 6 = indikasi kuat

  Typhoid

  Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian

  ®

  Injeksi Pelastine 3x 28,29,30,31,1,2 ⅓ gram

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 7

  Nomor RM : 559617 Dirawat tanggal : 25-28 Maret 2010

  Informasi Pasien

  Pria, berumur 8 tahun, BB 47 kg. Keluhan utama : mual, demam, diare, batuk selama 2 hari. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar: sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan (Maret 2010)

  Parameter Nilai Normal

  25

  26

  27

  28 Hemoglobin

  12.2

  13.0

  14.0 14.0 (12.0-14.0) g% 3 Lekosit 2.5 (4.0-11.0)

  10 /µL 6 10 /µL

  Eritrosit

  4.88 5.40 (4.10-5.50) Hematokrit

  35.6 39.5 42,8 42.4 (36.0-44.0) % 3 Trombosit 179 133 118 121 (150-450)

  10 /µL

  Eosinofil

  2.1 0.6 (0.0-9.5) % Basofil

  0.3 2.5 (0.0-2.5) % Neutrofil

  61.7 50.8 (35.0-88.7) % Limfosit

  26.3 36.1 (12.0-44.0) % Monosit

  9.6 10.0 (0.0-11.2) % Immunoserologi

  ≤ 2 = negatif 3 = grayzone IgM antibodi

  4-5 = indikasi

  4 S.typhii Typhoid

  ≥ 6 = indikasi kuat Typhoid

  Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian

  ®

  Injeksi Colsancetine 3x500 mg 27,28

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 8

  Nomor RM : 596180 Dirawat tanggal : 4-11 Juni 2010

  Informasi Pasien

  Pria, berumur 5 tahun, BB 19 kg. Keluhan utama :demam disertai dengan mual dan muntah, batuk dan flu. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan (Juni 2010) Parameter

  Nilai Normal

  4

  7

  8 Hemoglobin

  12.0

  12.8 12.1 (12.0-14.0) g% 3 Lekosit

  13.5 5.8 (4.0-11.0)

  10 /µL 6 Eritrosit

  4.86 5.29 (4.10-5.50)

  10 /µL

  Hematokrit

  36.0

  38.8 36.7 (36.0-44.0) % 3 Trombosit 246 283 256 (150-450)

  10 /µL

  Eosinofil

  0.4 0.2 (0.0-9.5) % Basofil

  0.2 0.3 (0.0-2.5) % Neutrofil

  80.8 34.9 (35.0-88.7) % Limfosit

  10.9 57.9 (12.0-44.0) % Monosit

  7.7 6.7 (0.0-11.2) % Immunoserologi

  ≤ 2 = negatif 3 = grayzone IgM antibodi

  4-5 = indikasi

  4 S.typhii Typhoid

  ≥ 6 = indikasi kuat Typhoid

  Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian Injeksi Cefotaxime 3x500 mg 4,5,6,7,8

  ®

  Injeksi Colsancetine 3x 8,9,10,11 ⅓ gram

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 9

  Nomor RM : 590349 Dirawat tanggal : 3-6 Mei 2010

  Informasi Pasien

  Pria, berumur 2 tahun, BB 13 kg. Keluhan utama : demam,tidak nafsu makan, flu. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan Parameter (Mei 2010) Nilai Normal

  3

  4 Hemoglobin

  12.8 13.4 (12.0-14.0) g% 3 Lekosit 6.0 (4.0-11.0)

  10 /µL 6 10 /µL

  Eritrosit 5.01 (4.10-5.50) Hematokrit

  37.8 39.0 (36.0-44.0) % 3 Trombosit 288 309 (150-450)

  10 /µL

  Eosinofil (0.0-9.5) %

  Basofil (0.0-2.5) %

  Neutrofil 52 (35.0-88.7) % Limfosit 29 (12.0-44.0) % Monosit 9.0 (0.0-11.2) %

  Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian Cefixime 2x1 cth 4,5,6

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 10

  Nomor RM : 547970 Dirawat tanggal : 8-11 Maret 2010

  Informasi Pasien

  Wanita, berumur 4 tahun, BB 20 kg. Keluhan utama : muntah tiap pagi hari, flu, demam. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan Parameter (Maret 2010) Nilai Normal

  8

  9 Hemoglobin

  11.6 12.2 (12.0-14.0) g% 3 Lekosit 5.5 (4.0-11.0)

  10 /µL 6 Eritrosit

  4.19 (4.10-5.50)

  10 /µL

  Hematokrit

  32.5 36.0 (36.0-44.0) % 3 Trombosit 289 311 (150-450)

  10 /µL

  Eosinofil 0.7 (0.0-9.5) % Basofil 0.3 (0.0-2.5) % Neutrofil 48.6 (35.0-88.7) % Limfosit 43.2 (12.0-44.0) % Monosit 6.8 (0.0-11.2) %

  Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian

  ®

  Colsancetine 3x2 cth 8,9,10,11

  ®

  Amoxan 1x½ cth 8,10

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 11

  Nomor RM : 510020 Dirawat tanggal : 4-8 April 2010

  Informasi Pasien

  Wanita, berumur 5 tahun, BB 30 kg. Keluhan utama : demam tiap pagi dan sore hari selama 3 hari, mual dan muntah, diare. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan (April 2010)

  Parameter Nilai Normal

  4

  5

  6 Hemoglobin

  10.9

  10.6 10.4 (12.0-14.0) g% 3 Lekosit 19.8 (4.0-11.0)

  10 /µL 6 Eritrosit

  4.68 (4.10-5.50)

  10 /µL

  Hematokrit

  32.5

  31.5 31.9 (36.0-44.0) % 3 Trombosit 346 274 261 (150-450)

  10 /µL

  Eosinofil 0.6 (0.0-9.5) % Basofil 0.2 (0.0-2.5) % Neutrofil 72.1 (35.0-88.7) % Limfosit 16.5 (12.0-44.0) % Monosit 10.7 (0.0-11.2) %

  Immunoserologi ≤ 2 = negatif 3 = grayzone

  IgM antibodi 4-5 = indikasi

  6 S.typhii

  5 Typhoid ≥ 6 = indikasi kuat

  Typhoid

  Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian

  ®

  Sporetic 2x5.7 cc 5,6,7,8

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 12

  Nomor RM : 505050 Dirawat tanggal : 14-17 Februari 2010

  Informasi Pasien Pria, berumur 4 tahun, BB 17.5 kg. Keluhan utama : batuk pilek, demam.

  Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan (Februari 2010)

  Parameter Nilai Normal

  14

  15 Hemoglobin

  11.2 10.6 (12.0-14.0) g% 3 Lekosit 9.3 (4.0-11.0)

  10 /µL 6 10 /µL

  Eritrosit 4.99 (4.10-5.50) Hematokrit

  34.8 34.3 (36.0-44.0) % 3 Trombosit 366 308 (150-450)

  10 /µL

  Eosinofil 2.3 (0.0-9.5) % Basofil 0.5 (0.0-2.5) % Neutrofil 60.4 (35.0-88.7) % Limfosit 28.8 (12.0-44.0) % Monosit 6.0 (0.0-11.2) %

  Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian

  ®

  Injeksi Colsancetine 3x 14,15,16,17 ⅓ gram

  Cefotaxime 3x500 mg

  14 Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 13

  Nomor RM : 459348 Dirawat tanggal : 19-21 November 2010

  Informasi Pasien

  Wanita, berumur 5 tahun, BB 20 kg. Keluhan Utama : demam, flu, mual dan muntah, susah buang air besar. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan Parameter (November 2010) Nilai Normal

  19

  21 Hemoglobin

  11.0 11.8 (12.0-14.0) g% 3

  10 /µL

  Lekosit

  7.8 5.3 (4.0-11.0) 6 Eritrosit

  4.19 4.41 (4.10-5.50)

  10 /µL

  Hematokrit

  33.1 34.9 (36.0-44.0) % 3

  10 /µL

  Trombosit 405 379 (150-450) Eosinofil

  2.7 4.1 (0.0-9.5) % Basofil

  0.6 0.9 (0.0-2.5) % Neutrofil

  44.5 34.2 (35.0-88.7) % Limfosit

  46.9 53.3 (12.0-44.0) % Monosit

  5.3 7.5 (0.0-11.2) % Immunoserologi

  ≤ 2 = negatif 3 = grayzone Ig M antibodi 4-5 = indikasi

  4 S.typhii Typhoid

  ≥ 6 = indikasi kuat Typhoid

  Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian

  ®

  Sporetic 2x3.7 cc 19,20,21

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 14

  Nomor RM : 589375 Dirawat tanggal : 19-23 Oktober 2010

  Informasi Pasien Pria, berumur 4 tahun, BB 15 kg. Keluhan utama : mual dan muntah, serta diare. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan (Oktober 2010)

  Parameter Nilai Normal

  19

  20

  21 Hemoglobin

  13.5

  12.3 11.9 (12.0-14.0) g% 3 Lekosit 6.8 (4.0-11.0)

  10 /µL 6 Eritrosit

  5.65 (4.10-5.50)

  10 /µL

  Hematokrit

  40.1

  36.6 36.6 (36.0-44.0) % 3 Trombosit 357 285 257 (150-450)

  10 /µL

  Eosinofil 0.1 (0.0-9.5) % Basofil 0.6 (0.0-2.5) % Neutrofil 42,5 (35.0-88.7) % Limfosit 45.3 (12.0-44.0) % Monosit 11.6 (0.0-11.2) %

  Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian Ceftriaxone 2x500 mg 21,22

  Cefotaxime 2x75 mg

  23 Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 15

  Nomor RM : 624686 Dirawat tanggal : 23-27 Oktober 2010

  Informasi Pasien

  Pria, berumur 2 tahun, BB 20 kg. Keluhan Utama : mual disertai muntah setiap pagi dan sore hari, demam tinggi, kadang mengalami sesak nafas. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan (Oktober 2010)

  Parameter Nilai Normal

  23 Hemoglobin 11.3 (12.0-14.0) g% 3 Lekosit 4.9 (4.0-11.0)

  10 /µL 6 10 /µL

  Eritrosit 4.06 (4.10-5.50) Hematokrit 31.5 (36.0-44.0) % 3 Trombosit 218 (150-450)

  10 /µL

  Eosinofil 0.6 (0.0-9.5) % Basofil 0.1 (0.0-2.5) % Neutrofil 61.9 (35.0-88.7) % Limfosit 26.1 (12.0-44.0) % Monosit 11.3 (0.0-11.2) %

  Immunoserologi Test Widal

  S.typhii H negatif negatif S.typhii O negatif negatif S.paratyphii AH negatif negatif S.paratyphii AO negatif negatif S.paratyphii BH +1/160 negatif S.paratyphii BO negatif negatif S.paratyphii CH negatif negatif S.paratyphii CO negatif negatif Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian

  ®

  Injeksi Colsancetine 3x250 mg 23,24,25,26,27

  ®

  Cefspan 2x½ cth

  27 Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 16

  Nomor RM : 630243 Dirawat tanggal : 25-29 Januari 2010

  Informasi Pasien

  Wanita, berumur 6 tahun, BB 14 kg. Keluhan Utama :demam tinggi selama 3 hari, dsertai mual dan muntah serta sesak nafas di malam hari. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan Parameter (Januari 2010) Nilai Normal

  25

  26 Hemoglobin 11.8 (12.0-14.0) g% 3

  10 /µL

  Lekosit 4.4 (4.0-11.0) 6 Eritrosit 4.66 (4.10-5.50)

  10 /µL

  Hematokrit 37.3 (36.0-44.0) % 3

  10 /µL

  Trombosit 204 (150-450) Eosinofil 0.0 (0.0-9.5) % Basofil 0.7 (0.0-2.5) % Neutrofil 54.7 (35.0-88.7) % Limfosit 35.7 (12.0-44.0) % Monosit 8.9 (0.0-11.2) %

  Immunoserologi ≤ 2 = negatif 3 = grayzone

  Ig M antibodi S.typhii 4-5 = indikasi

  4 Typhoid ≥ 6 = indikasi kuat Typhoid

  Urinalisis Lekosit esterase 7.5 negatif Bacteria 111.7 0.0-100.0

  Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian

  ®

  Biothicol 3x2 cth 26,27,28,29

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 17

  Nomor RM : 598413 Dirawat tanggal : 19-23 September 2010

  Informasi Pasien

  Wanita, berumur 4 tahun, BB 19 kg. Keluhan Utama : demam tinggi, flu disertai batuk. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan Parameter (September 2010) Nilai Normal

  18 Hemoglobin 12.0 (12.0-14.0) g% 3

  10 /µL

  Lekosit 6.6 (4.0-11.0) 6 Eritrosit 4.47 (4.10-5.50)

  10 /µL

  Hematokrit 33.2 (36.0-44.0) % 3

  10 /µL

  Trombosit 229 (150-450) Eosinofil 0.3 (0.0-9.5) % Basofil 0.3 (0.0-2.5) % Neutrofil 71.5 (35.0-88.7) % Limfosit 22.2 (12.0-44.0) % Monosit 5.7 (0.0-11.2) %

  Immunoserologi ≤ 2 = negatif 3 = grayzone

  Ig M antibodi S.typhii 4-5 = indikasi

  5 Typhoid ≥ 6 = indikasi kuat

  Typhoid

  Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian

  ®

  Injeksi Colsancetine 3x 19,20 ⅓ gram

  ®

  Sporetik 1x3.6 ml

  19

  ®

  Injeksi Merosan 3x400 mg 20,21,22,23

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 18

  Nomor RM : 628698 Dirawat tanggal : 17-21 Maret 2010

  Informasi Pasien

  Pria, berumur 2 tahun, BB 10 kg. Keluhan Utama : diare, demam tinggi selama 2 hariDiagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan Parameter (Maret 2010) Nilai Normal

  17 Hemoglobin 13.0 (12.0-14.0) g% 3 Lekosit 7.6 (4.0-11.0)

  10 /µL 6 Eritrosit

  5.11 (4.10-5.50)

  10 /µL

  Hematokrit 38.1 (36.0-44.0) % 3 Trombosit 284 (150-450)

  10 /µL

  Eosinofil 0.1 (0.0-9.5) % Basofil 0.9 (0.0-2.5) % Neutrofil 17.7 (35.0-88.7) % Limfosit 67,5 (12.0-44.0) % Monosit 13.8 (0.0-11.2) %

  Immunoserologi ≤ 2 = negatif 3 = grayzone

  Ig M antibodi S.typhii 4-5 = indikasi

  5 Typhoid ≥ 6 = indikasi kuat

  Typhoid

  Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian

  ®

  Injeksi Colsancetine 3x150 mg 17,18,19,20,21

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 19

  Nomor RM : 616821 Dirawat tanggal : 2-7 Februari 2010

  Informasi Pasien

  Wanita, berumur 12 tahun, BB 37 kg. Keluhan Utama : mual dan muntah, demam tinggi selama 2 hari, susah buang air besar, nafsu makan menurun. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan (Februari 2010)

  Parameter Nilai Normal

  1

  2 Hemoglobin 12.1 (12.0-14.0) g% 3 Lekosit 6.1 (4.0-11.0)

  10 /µL 6 10 /µL

  Eritrosit 4.66 (4.10-5.50) Hematokrit 37.0 (36.0-44.0) % 3 Trombosit 236 (150-450)

  10 /µL

  Eosinofil 0.2 (0.0-9.5) % Basofil 0.6 (0.0-2.5) % Neutrofil 64.2 (35.0-88.7) % Limfosit 26.8 (12.0-44.0) % Monosit 8.3 (0.0-11.2) %

  Immunoserologi ≤ 2 = negatif 3 = grayzone

  Ig M antibodi S.typhii 4-5 = indikasi

  6 Typhoid ≥ 6 = indikasi kuat

  Typhoid Test Widal

  S.typhii H +1/320 negatif S.typhii O +1/80 negatif

  AH negatif negatif

  S.paratyphii S.paratyphii AO negatif negatif S.paratyphii BH +1/80 negatif S.paratyphii BO +1/160 negatif S.paratyphii CH negatif negatif

  CO +1/320 negatif

  S.paratyphii

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 20

  Nomor RM : 631440 Dirawat tanggal : 12-13 September 2010

  Informasi Pasien

  Wanita, berumur 1 tahun, BB 11.7 kg. Keluhan Utama : demam tinggi, muntah dan mual. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan (September 2010)

  Parameter Nilai Normal

  12 Hemoglobin 12.1 (12.0-14.0) g% 3 Lekosit 4.1 (4.0-11.0)

  10 /µL 6 Eritrosit

  4.52 (4.10-5.50)

  10 /µL

  Hematokrit 36.3 (36.0-44.0) % 3 Trombosit 282 (150-450)

  10 /µL

  Eosinofil 0.7 (0.0-9.5) % Basofil 0.7 (0.0-2.5) % Neutrofil 25.1 (35.0-88.7) % Limfosit 55.7 (12.0-44.0) % Monosit 17.8 (0.0-11.2) %

  Immunoserologi ≤ 2 = negatif 3 = grayzone

  Ig M antibodi S.typhii 4-5 = indikasi

  5 Typhoid ≥ 6 = indikasi kuat

  Typhoid

  Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian

  ®

  Colsancetine 3x 12,13 ⅓ cth

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 21

  Nomor RM : 599059 Dirawat tanggal : 7-17 Juli 2010

  Informasi Pria, berumur 2 tahun, BB 15 kg. Keluhan Utama : demam dan mual serta muntah. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan Parameter (Juli 2010) Nilai Normal

  5

  7

  8 Hemoglobin

  11.8 12.5 (12.0-14.0) g% 3 Lekosit

  6.9 6.5 (4.0-11.0)

  10 /µL 6 10 /µL

  Eritrosit

  4.47 4.68 (4.10-5.50) Hematokrit

  35.2 35.1 (36.0-44.0) % 3 Trombosit 231 176 (150-450)

  10 /µL

  Eosinofil

  0.5 0.0 (0.0-9.5) % Basofil

  0.5 1.6 (0.0-2.5) % Neutrofil

  53.1 31.3 (35.0-88.7) % Limfosit

  35.3 47.9 (12.0-44.0) % Monosit

  10.6 19.2 (0.0-11.2) % Immunoserologi

  ≤ 2 = negatif 3 = grayzone Ig M antibodi

  4-5 = indikasi

  S.typhii

  5 Typhoid ≥ 6 = indikasi kuat

  Typhoid

  Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian

  ®

  Injeksi Dynacef 2x400 mg 7,8,9,10,11

  ®

  Sporetic 2x½ cth

  10 Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 22

  Nomor RM : 672825 Dirawat tanggal : 7-13 Februari 2010

  Infprmasi Pasien

  Pria, berumur 7 tahun, BB 29 kg. Keluhan Utama : demam selama 4 hari, ada rasa tidak enak di perut (semacam mual). Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan (Februari 2010) Parameter

  Nilai Normal

  6

  7

  8

  9

  10

  13 Hemoglobin

  11.6

  10.7

  10.3

  10.4

  11.0 10.8 (12.0-14.0) g% (4.0-11.0)

  Lekosit

  4.8

  5.5 3

  10 /µL

  (4.10-5.50) 6 Eritrosit

  4.56

  4.07

  10 /µL

  Hematokrit

  34.3

  30.3

  31.3

  31.1

  32.9 32.7 (36.0-44.0) % (150-450)

  Trombosit 149 138 115 118 155 357 3

  10 /µL

  Eosinofil

  1.1 0.2 (0.0-9.5) % Basofil

  0.4 0.5 (0.0-2.5) % Neutrofil

  64.8 76.7 (35.0-88.7) % Limfosit

  25.5 14.8 (12.0-44.0) % Monosit

  8.2 7.9 (0.0-11.2) % Immunoserologi

  ≤ 2 = negatif Ig M

  3 = grayzone antibodi 4-5 = indikasi

  5

  5 S.typhii Typhoid

  ≥ 6 = indikasi kuat Typhoid

  Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian Cefixime 2x1 7,8,9,10,11,12,13

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 23

  Nomor RM : 660967 Dirawat tanggal : 15-20 April 2010

  Informasi Pasien

  Balita berjenis kelamin pria, berumur 11 bulan, BB 9.5 kg. Keluhan Utama : demam tinggi. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan (April 2010)

  Parameter Nilai Normal

  16

  19 Hemoglobin

  11.5 11.3 (12.0-14.0) g% 3 Lekosit

  16.8 9.1 (4.0-11.0)

  10 /µL 6 10 /µL

  Eritrosit

  4.57 4.53 (4.10-5.50) Hematokrit

  33.8 36.4 (36.0-44.0) % 3 Trombosit 164 288 (150-450)

  10 /µL

  Eosinofil

  1.7 5.5 (0.0-9.5) % Basofil

  0.3 0.6 (0.0-2.5) % Neutrofil

  63.1 22.3 (35.0-88.7) % Limfosit

  26.0 61.4 (12.0-44.0) % Monosit

  9.0 10.1 (0.0-11.2) % Immunoserologi

  ≤ 2 = negatif Ig M antibodi 3 = grayzone

  S.typhii

  5 4-5 = indikasi Typhoid ≥ 6 = indikasi kuat

  Typhoid

  Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian

  ®

  Injeksi Colsancetine 3x150 mg 15,16,17,18

  ®

  Colsancetine oral 3x150 mg 18,19,20

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 24

  Nomor RM : 675035 Dirawat tanggal : 27 November-6 Desember 2010

  Informasi Pasien

  Pria, berumur 1 tahun, BB 10 kg. Keluhan Utama : tidak nafsu makan, susah buang air besar, demam, mual dan muntah. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan (November-Desember 2010)

  Parameter Nilai Normal

  26

  30

  6 Hemoglobin

  9.8

  9.7 11.0 (12.0-14.0) g% 3 Lekosit

  20.4

  22.6 17.2 (4.0-11.0)

  10 /µL 6 10 /µL

  Eritrosit

  3.65

  3.58 4.13 (4.10-5.50) Hematokrit

  29.3

  29.0 33.6 (36.0-44.0) % 3 Trombosit 926 841 673 (150-450)

  10 /µL

  Eosinofil

  0.9

  1.6 2.5 (0.0-9.5) % Basofil

  0.5

  0.3 0.4 (0.0-2.5) % Neutrofil

  59.4

  65.9 59.4 (35.0-88.7) % Limfosit

  33.2

  25.4 32.0 (12.0-44.0) % Monosit

  6.0

  6.8 5.7 (0.0-11.2) % Immunoserologi

  ≤ 2 = negatif 3 = grayzone Ig M antibodi

  4-5 = indikasi

  S.typhii

  4 Typhoid ≥ 6 = indikasi kuat

  Typhoid

  Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian

  ®

  Injeksi Pelastine 3x 27,28,29,30,1 ⅓ gram

  ®

  Injeksi Merosan 3x 1,2,3,4,5,6 ⅓ gram

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 25

  Nomor RM : 673476 Dirawat tanggal : 17-19 Februari 2010

  Informasi Pasien

  Pria, 1 tahun, BB 10 kg. Keluhan Utama : demam dan perut merasa tidak enak (mual). Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan Parameter (Februari 2010) Nilai Normal

  17 Hemoglobin 11.4 (12.0-14.0) g% 3

  10 /µL

  Lekosit 10.0 (4.0-11.0) 6

  10 /µL

  Eritrosit 4.63 (4.10-5.50) Hematokrit 32.1 (36.0-44.0) % 3 Trombosit 298 (150-450)

  10 /µL

  Eosinofil 1.2 (0.0-9.5) % Basofil 3.7 (0.0-2.5) % Neutrofil 34.3 (35.0-88.7) % Limfosit 44.9 (12.0-44.0) % Monosit 15.8 (0.0-11.2) %

  Immunoserologi ≤ 2 = negatif 3 = grayzone

  Ig M antibodi S.typhii 4-5 = indikasi

  5 Typhoid ≥ 6 = indikasi kuat

  Typhoid

  Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian

  ®

  Injeksi Colsancetine 3x200 mg 17,18,19

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 26

  Nomor RM : 669805 Dirawat tanggal : 16-20 Maret 2010

  Informasi Pasien

  Pria, 7 bulan, BB 7.3 kg. Keluhan Utama : demam tinggi, kesulitan untuk bernafasDiagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan Parameter (Maret 2010) Nilai Normal

  15

  17

  20 Hemoglobin

  9.4

  9.7 9.1 (12.0-14.0) g% 3

  10 /µL

  Lekosit

  10.4 8.6 (4.0-11.0) 6 Eritrosit

  3.90 3.69 (4.10-5.50)

  10 /µL

  Hematokrit

  28.8

  31.2 29.0 (36.0-44.0) % 3

  10 /µL

  Trombosit 709 684 753 (150-450) Eosinofil

  2.3 3.8 (0.0-9.5) % Basofil

  0.7 0.5 (0.0-2.5) % Neutrofil

  69.0 35.0 (35.0-88.7) % Limfosit

  69.3 80.9 (12.0-44.0) % Monosit

  20.7 11.2 (0.0-11.2) % Immunoserologi

  ≤ 2 = negatif 3 = grayzone Ig M antibodi

  4-5 = indikasi

  S.typhii

  4 Typhoid ≥ 6 = indikasi kuat

  Typhoid

  Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian

  ®

  Sporetic 2x1.6 cc 16,17

  ®

  Injeksi Colsancetine 3x150 mg 16,17,18,19,20

  ®

  Sporetic 2x1.9 cc 17,18,19,20

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 27

  Nomor RM : 677615 Dirawat tanggal : 26 April-1 Mei 2010

  Informasi Pasien Pria, 1 tahun, BB 10 kg. Keluhan Utama : demam tinggi selama 3 hari.

  Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan Parameter (April 2010) Nilai Normal

  26

  29 Hemoglobin

  8.8 8.5 (12.0-14.0) g% 3 Lekosit 21.6 (4.0-11.0)

  10 /µL 6 Eritrosit

  3.97 (4.10-5.50)

  10 /µL

  Hematokrit

  26.6 26.0 (36.0-44.0) % 3 Trombosit 606 642 (150-450)

  10 /µL

  Eosinofil 0.1 (0.0-9.5) % Basofil 0.4 (0.0-2.5) % Neutrofil 51.0 (35.0-88.7) % Limfosit 36.5 (12.0-44.0) % Monosit 12.0 (0.0-11.2) %

  Immunoserologi ≤ 2 = negatif 3 = grayzone

  Ig M antibodi 4-5 = indikasi

  S.typhii

  7 Typhoid ≥ 6 = indikasi kuat

  Typhoid

  Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian

  ®

  Colsancetine 3x250 mg 26,27,28,29,30,1

  ®

  Injeksi Clacef 2x500 mg 26,27,28,29,30,1

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 28

  Nomor RM : 628838 Dirawat tanggal : 4-10 Desember 2010

  Informasi Pasien

  Pria, 2 tahun, BB 17 kg. Keluhan Utama : turunnya nafsu makan, susah buang air besar, demam tinggi. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan Parameter (Desember 2010) Nilai Normal

  4

  5

  6

  8 Hemoglobin

  13.0

  13.0 12.2 (12.0-14.0) g% 3 Lekosit 11.8 (4.0-11.0)

  10 /µL 6 10 /µL

  Eritrosit 5.0 (4.10-5.50) Hematokrit

  37.8 36.1 351 (36.0-44.0) % 3 Trombosit 147 150 157 (150-450)

  10 /µL

  Eosinofil 0.8 (0.0-9.5) % Basofil 3.0 (0.0-2.5) % Neutrofil 30.9 (35.0-88.7) % Limfosit 61.9 (12.0-44.0) % Monosit 3.4 (0.0-11.2) %

  Immunoserologi Test Widal

  S.typhii H negatif negatif S.typhii O negatif negatif S.paratyphii AH negatif negatif S.paratyphii AO negatif negatif S.paratyphii BH +1/80 negatif S.paratyphii BO negatif negatif S.paratyphii CH negatif negatif S.paratyphii CO +1/160 negatif Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian Cefotaxime 3x500 mg 6,7,8

  Chloramphenicol 3x400 mg 8,9,10

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 29

  Nomor RM : 637914 Dirawat tanggal : 13-17 Maret 2010

  Informasi Pasien

  Wanita, 1 tahun, BB 11 kg. Keluhan utama : demam tinggi. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan Parameter (Maret 2010) Nilai Normal

  13

  15 Hemoglobin

  11.9 12.8 (12.0-14.0) g% 3 Lekosit

  17.8 16.9 (4.0-11.0)

  10 /µL 6 10 /µL

  Eritrosit

  4.82 5.21 (4.10-5.50) Hematokrit

  37.0 40.5 (36.0-44.0) % 3 Trombosit 42.8 610 (150-450)

  10 /µL

  Eosinofil

  0.0 1.5 (0.0-9.5) % Basofil

  0.3 1.0 (0.0-2.5) % Neutrofil 66,1 49.7 (35.0-88.7) % Limfosit 21,6 42.1 (12.0-44.0) % Monosit

  12.0 5.7 (0.0-11.2) % Immunoserologi

  ≤ 2 = negatif IgM antibodi 3 = grayzone

  S.typhii

  4 4-5 = indikasi Typhoid ≥ 6 = indikasi kuat

  Typhoid

  Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian

  ®

  Injeksi Colsancetine 3x150 mg 15,16,17

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 30

  Nomor RM : 639270 Dirawat tanggal : 3-6 Februari 2010

  Informasi Pasien

  Wanita, 12 tahun, BB 17 kg. Keluhan Utama : demam tinggi, mual dan muntah, susah buang air besar. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan Parameter (Februari 2010) Nilai Normal

  3

  4

  5

  6 Hemoglobin

  12.4

  12.5

  12.4 12.2 (12.0-14.0) g% 3

  10 /µL

  Lekosit 5.7 (4.0-11.0) 6 Eritrosit 5.0 (4.10-5.50)

  10 /µL

  Hematokrit

  36.8

  39.2

  39.4 39.6 (36.0-44.0) % 3

  10 /µL

  Trombosit 210 150 185 181 (150-450) Eosinofil 0.0 (0.0-9.5) % Basofil 0.3 (0.0-2.5) % Neutrofil 76.3 (35.0-88.7) % Limfosit 15.8 (12.0-44.0) % Monosit 7.6 (0.0-11.2) %

  Immunoserologi ≤ 2 = negatif 3 = grayzone

  IgM antibodi 4-5 = indikasi

  S.typhii

  4 Typhoid ≥ 6 = indikasi kuat

  Typhoid

  Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian

  ®

  Injeksi Colsancetine 3x250 mg 3,4,5

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 31

  Nomor RM : 692767 Dirawat tanggal : 1-9 Februari 2010

  Informasi Pasien

  Pria, 8 tahun, BB 24 kg. Keluhan Utama : demam tinggi, mual dan muntah, susah buang air besar. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan (Februari 2010)

  Parameter Nilai Normal

  1

  2 Hemoglobin 14.1 (12.0-14.0) g% 3 Lekosit 5.5 (4.0-11.0)

  10 /µL 6 10 /µL

  Eritrosit 5.90 (4.10-5.50) Hematokrit

  40.5 38.6 (36.0-44.0) % 3 Trombosit 150 165 (150-450)

  10 /µL

  Eosinofil 0.7 (0.0-9.5) % Basofil 0.7 (0.0-2.5) % Neutrofil 60.5 (35.0-88.7) % Limfosit 31.1 (12.0-44.0) % Monosit 7.0 (0.0-11.2) %

  Immunoserologi ≤ 2 = negatif 3 = grayzone

  IgM antibodi 4-5 = indikasi

  S.typhii

  5 Typhoid ≥ 6 = indikasi kuat

  Typhoid

  Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian

  ®

  Starcef 2x100 mg 2,3,4,5,6,7,8,9

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 32

  Nomor RM : 699297 Dirawat tanggal : 18-23 April 2010

  Informasi Pasien Pria, 1 tahun, BB 10 kg. Keluhan Utama : demam tinggi, flu, batuk.

  Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan (April 2010) Parameter

  Nilai Normal

  18

  20

  21

  22 Hemoglobin

  11.8

  12.4

  12.1 11.9 (12.0-14.0) g% 3 Lekosit 9.8 (4.0-11.0)

  10 /µL 6 10 /µL

  Eritrosit 5.11 (4.10-5.50) Hematokrit

  37.9

  38.6

  37.6 37.0 (36.0-44.0) % 3 Trombosit 253 165 177 190 (150-450)

  10 /µL

  Eosinofil 0.9 (0.0-9.5) % Basofil 0.5 (0.0-2.5) % Neutrofil 54.9 (35.0-88.7) % Limfosit 29.4 (12.0-44.0) % Monosit 14.2 (0.0-11.2) %

  Immunoserologi ≤ 2 = negatif 3 = grayzone

  IgM antibodi 4-5 = indikasi

  S.typhii

  5 Typhoid ≥ 6 = indikasi kuat

  Typhoid

  Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian

  ®

  Sporetic 2x2.2 cc 22,23

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 33

  Nomor RM : 696693 Dirawat tanggal : 22-25 Maret 2010

  Informasi Pasien

  Pria, 12 tahun, BB 31 kg. Keluhan Utama : flu dan batuk selama seminggu, demam tinggi tiap pagi dan sore hari selama 3 hari, mual dan muntah setiap selesai makan. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan (Maret 2010)

  Parameter Nilai Normal

  22 Hemoglobin 12.4 (12.0-14.0) g% 3 Lekosit 8.0 (4.0-11.0)

  10 /µL 6 10 /µL

  Eritrosit 4.34 (4.10-5.50) Hematokrit 34.8 (36.0-44.0) % 3 Trombosit 390 (150-450)

  10 /µL

  Eosinofil 6.1 (0.0-9.5) % Basofil 0.2 (0.0-2.5) % Neutrofil 56.0 (35.0-88.7) % Limfosit 30.2 (12.0-44.0) % Monosit 7.4 (0.0-11.2) %

  Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian

  ®

  Injeksi Colsancetine 3x500 mg 22,23,24

  ®

  Colsancetine oral 3x500 mg 24,25

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 34

  Nomor RM : 697593 Dirawat tanggal : 15-19 Maret 2010

  Informasi Pasien

  Pria, 3 tahun, BB 15 kg. Keluhan Utama : demam tinggi serta muntah- muntah setiap pagi dan sore hari. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan Parameter (Maret 2010) Nilai Normal

  16

  17 Hemoglobin 12.1 (12.0-14.0) g% 3 Lekosit 5.4 (4.0-11.0)

  10 /µL 6 10 /µL

  Eritrosit 4.89 (4.10-5.50) Hematokrit 36.1 (36.0-44.0) % 3 Trombosit 177 (150-450)

  10 /µL

  Eosinofil 4.1 (0.0-9.5) % Basofil 1.7 (0.0-2.5) % Neutrofil 40.0 (35.0-88.7) % Limfosit 43.5 (12.0-44.0) % Monosit 10.7 (0.0-11.2) %

  Immunoserologi ≤ 2 = negatif 3 = grayzone

  IgM antibodi S.typhii 4-5 = indikasi

  5 Typhoid ≥ 6 = indikasi kuat

  Typhoid

  Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian

  ®

  Injeksi Colsancetine 3x250 mg 17,18,19

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 35

  Nomor RM : 699035 Dirawat tanggal : 25-28 Maret 2010

  Informasi Pasien

  Pria, 2 tahun, BB 12 kg. Keluhan Utama : mual dan muntah, diare, batuk, demam tinggi. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan Parameter (Maret 2010) Nilai Normal

  25 Hemoglobin 11.7 (12.0-14.0) g% 3

  10 /µL

  Lekosit 7.3 (4.0-11.0) 6 Eritrosit 4.45 (4.10-5.50)

  10 /µL

  Hematokrit 35.2 (36.0-44.0) % 3 Trombosit 211 (150-450)

  10 /µL

  Eosinofil 0.1 (0.0-9.5) % Basofil 0.3 (0.0-2.5) % Neutrofil 54.5 (35.0-88.7) % Limfosit 37.1 (12.0-44.0) % Monosit 8.0 (0.0-11.2) %

  Immunoserologi ≤ 2 = negatif 3 = grayzone

  IgM antibodi S.typhii 4-5 = indikasi

  4 Typhoid ≥ 6 = indikasi kuat

  Typhoid

  Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian

  ®

  Injeksi Colsancetine 3x200 mg 26,27,28

  ®

  Spretic 2x½ cth 26,27,28

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 36

  Nomor RM : 691792 Dirawat tanggal : 24-27 Januari 2010

  Informasi Pasien

  Pria, balita berusia 11 bulan, BB 8 kg. Keluhan Utama : demam tinggi selama lebih dari 1 hari. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan (Januari 2010)

  Parameter Nilai Normal

  23

  25

  26 Hemoglobin

  12.2

  12.0 12.5 (12.0-14.0) g% 3 Lekosit

  13.04

  5.1 2.9 (4.0-11.0)

  10 /µL 6 10 /µL

  Eritrosit

  3.6

  4.56 4.72 (4.10-5.50) Hematokrit

  36.6

  37.8 39.6 (36.0-44.0) % 3 Trombosit 239 160 167 (150-450)

  10 /µL

  Eosinofil

  0.0

  0.0 0.0 (0.0-9.5) % Basofil

  0.0

  0.6 0.3 (0.0-2.5) % Neutrofil

  45

  41.4 31.5 (35.0-88.7) % Limfosit

  38

  37.7 49.3 (12.0-44.0) % Monosit

  17

  20.3 18.9 (0.0-11.2) % Immunoserologi

  ≤ 2 = negatif 3 = grayzone IgM antibodi

  4-5 = indikasi

  S.typhii

  4 Typhoid ≥ 6 = indikasi kuat Typhoid

  Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian

  ®

  Amoxan 3x150 mg 25,26,27

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 37

  Nomor RM :696354 Dirawat tanggal : 5-7 Maret 2010

  Informasi Pasien Pria, 1 tahun, BB 8 kg. Keluhan Utama : demam tinggi, mual serta muntah.

  Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan Parameter (Maret 2010) Nilai Normal

  4

  5 Hemoglobin

  12.6 12.2 (12.0-14.0) g% 3

  10 /µL

  Lekosit

  13.1 10.7 (4.0-11.0) 6 Eritrosit

  4.78 4.65 (4.10-5.50)

  10 /µL

  Hematokrit

  38.0 35.6 (36.0-44.0) % 3 Trombosit 359 376 (150-450)

  10 /µL

  Eosinofil 0.1 (0.0-9.5) % Basofil 1.0 (0.0-2.5) % Neutrofil 28.6 (35.0-88.7) % Limfosit

  65.0 37.0 (12.0-44.0) % Monosit

  10.0 13.3 (0.0-11.2) % Immunoserologi

  Test Widal

  S.typhii H +1/640 negatif S.typhii O +1/640 negatif S.paratyphii AH +1/80 negatif S.paratyphii AO Negatif negatif S.paratyphii BH Negatif negatif S.paratyphii BO Negatif negatif S.paratyphii CH Negatif negatif S.paratyphii CO Negatif negatif Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian

  ®

  Injeksi Colsancetine 3x200 mg 5,6,7

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 38

  Nomor RM :699674 Dirawat tanggal : 30 Maret-6 April 2010

  Identifikasi Pasien

  Pria, 12 tahun, BB 44 kg. Keluhan utama : demam tinggi, mual dan muntah serta diare. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan (Maret-April 2010)

  Parameter Nilai Normal

  30

  1 Hemoglobin 15.9 (12.0-14.0) g% 3 Lekosit (4.0-11.0)

  10 /µL 6 10 /µL

  Eritrosit (4.10-5.50)

  Hematokrit 44.9 (36.0-44.0) % 3 Trombosit 266 (150-450)

  10 /µL

  Eosinofil (0.0-9.5) %

  Basofil (0.0-2.5) %

  Neutrofil (35.0-88.7) %

  Limfosit (12.0-44.0) %

  Monosit (0.0-11.2) %

  Immunoserologi ≤ 2 = negatif 3 = grayzone

  4-5 = indikasi IgM antibodi S.typhii

  6 Typhoid ≥ 6 = indikasi kuat

  Typhoid

  Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian

  ®

  Injeksi Colsancetine 3x500 mg 31,1,2,3,4,5 Injeksi Amoxicillin 3x500 mg 31,1,2,3

  ®

  Sporetic 2x1½ cth 3,4,5,6

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 39

  Nomor RM :722588 Dirawat tanggal : 27 September-2 Oktober 2010

  Identifikasi Pasien

  Wanita, 10 tahun, BB 46 kg. Keluhan utama : demam tinggi selama 3 hari, nafsu makan hilang, sulit buang air besar. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan (Sep-Okt 2010)

  Parameter Nilai Normal

  27

  28

  29

  30

  1 Hemoglobin

  14.6

  13.3

  12.6

  12.3 13.1 (12.0-14.0) g% 3 Lekosit 5.1 (4.0-11.0)

  10 /µL 6 10 /µL

  Eritrosit 5.51 (4.10-5.50)

  %

  Hematokrit

  41.7

  38.6

  35.8

  35.6 37.9 (36.0-44.0) 3 Trombosit 174 176 189 215 260 (150-450)

  10 /µL

  Eosinofil 0.2 (0.0-9.5) % Basofil 0.6 (0.0-2.5) % Neutrofil 58.4 (35.0-88.7) % Limfosit 31.1 (12.0-44.0) % Monosit 9.8 (0.0-11.2) %

  Immunoserologi ≤ 2 = negatif 3 = grayzone

  IgM antibodi 4-5 = indikasi

  5 S.typhii Typhoid

  ≥ 6 = indikasi kuat Typhoid

  Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian Cefixime 2x150 mg 27,28,29,30,31,1,2

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 40

  Nomor RM :708440 Dirawat tanggal : 1-3 September 2010

  Identifikasi Pasien

  Wanita, 10 tahun, BB 42 kg. Keluhan utama : demam tinggi yang tidak kunjung hilang selama 2 hari, perasaan tidak nyaman di perut (mual). Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan Parameter (September 2010) Nilai Normal

  1

  2

  g%

  Hemoglobin 12.7 (12.0-14.0) 3 Lekosit (4.0-11.0)

  10 /µL 6 Eritrosit

  (4.10-5.50)

  10 /µL %

  Hematokrit

  35.0 37.9 (36.0-44.0) 3 Trombosit 222 225 (150-450)

  10 /µL

  Eosinofil (0.0-9.5) %

  Basofil (0.0-2.5) %

  Neutrofil (35.0-88.7) %

  Limfosit (12.0-44.0) %

  Monosit (0.0-11.2) %

  Immunoserologi Tes Widal

  S.typhii H +1/80 negatif S.typhii O +1/80 negatif S.paratyphii AH negatif negatif S.paratyphii AO negatif negatif S.paratyphii BH +1/160 negatif S.paratyphii BO +1/80 negatif S.paratyphii CH negatif negatif S.paratyphii CO negatif negatif Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian

  ®

  Colsancetine 3x500 mg 1,2,3

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 41

  Nomor RM :718554 Dirawat tanggal : 26-28 Agustus 2010

  Identifikasi Pasien

  Pria, 1 tahun, BB 10 kg. Keluhan utama : demam tinggi, susah buang air besar, sering muntah tiap pagi dan sore hari. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan Parameter (Agustus 2010) Nilai Normal

  26

  28

  g%

  Hemoglobin

  11.3 11.4 (12.0-14.0) 3

  10 /µL

  Lekosit

  20.5 8.5 (4.0-11.0) 6 Eritrosit

  5.28 5.38 (4.10-5.50)

  10 /µL

  Hematokrit

  35.0 35.4 (36.0-44.0) % 3

  10 /µL

  Trombosit 491 506 (150-450) Eosinofil

  1.0 8.3 (0.0-9.5) % Basofil

  0.4 0.4 (0.0-2.5) % Neutrofil

  15.3 24.4 (35.0-88.7) % Limfosit

  63.6 52.5 (12.0-44.0) % Monosit

  19.7 14.4 (0.0-11.2) % Immunoserologi

  ≤ 2 = negatif 3 = grayzone 4-5 = indikasi

  IgM antibodi S.typhii

  3 Typhoid ≥ 6 = indikasi kuat

  Typhoid

  Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian Cefotaxime 2x500 mg 26,27

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 42

  Nomor RM :702457 Dirawat tanggal : 19-21 April 2010

  Identifikasi Pasien

  Pria, 1 tahun, BB 10 kg. Keluhan utama : susah buang air besar, demam selama 2 hari. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan Parameter (April 2010) Nilai Normal

  19 Hemoglobin 12.7 g% (12.0-14.0) 3 Lekosit

  7.6 (4.0-11.0)

  10 /µL 6 Eritrosit

  4.82

  10 /µL

  (4.10-5.50) Hematokrit

  39.6 (36.0-44.0) % 3 Trombosit 259

  10 /µL

  (150-450) Eosinofil

  0.2 (0.0-9.5) %

  Basofil

  1.0 (0.0-2.5) %

  Neutrofil

  40.1 (35.0-88.7) %

  Limfosit

  51.5 (12.0-44.0) %

  Monosit

  7.3 (0.0-11.2) %

  Immunoserologi ≤ 2 = negatif 3 = grayzone

  Ig M antibodi S.typhii 3 4-5 = indikasi Typhoid ≥ 6 = indikasi kuat

  Typhoid

  Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian

  ®

  Sporetic 2x¾ cth 19,20,21

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 43

  Nomor RM :705633 Dirawat tanggal :28 Mei-1 Juni 2010

  Identifikasi Pasien Pria, 12 tahun, BB 53 kg. Keluhan utama : demam tinggi yang tidak kunjung sembuh, diare. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan Parameter (Mei-Juni 2010) Nilai Normal

  28

  31

  1 14,5 14.1 g%

  Hemoglobin 13.4 (12.0-14.0) 3 Lekosit 8.3 (4.0-11.0)

  10 /µL 6 10 /µL

  Eritrosit 5.01 (4.10-5.50)

  42.4

  41.1 Hematokrit 38.8 (36.0-44.0) % 3 180 205

  10 /µL

  Trombosit 273 (150-450) Eosinofil 4.9 (0.0-9.5) % Basofil 0.2 (0.0-2.5) % Neutrofil 78.4 (35.0-88.7) % Limfosit 10.6 (12.0-44.0) % Monosit 5.8 (0.0-11.2) %

  Immunoserologi ≤ 2 = negatif 3 = grayzone

  Ig M antibodi 4-5 = indikasi

  5 S.typhii Typhoid

  ≥ 6 = indikasi kuat Typhoid

  Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian Chloramphenicol 3x500 mg 28,29,30,31,1

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 44

  Nomor RM :705633 Dirawat tanggal :28 Mei-1 Juni 2010

  Identifikasi Pasien Pria, 7 bulan, BB 7.1 kg. Keluhan utama : demam tinggi. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan Parameter (Mei-Juni 2010) Nilai Normal

  17

  18

  19

  20

  21

  9.6

  9.7

  10.4

  g%

  Hemoglobin

  11.0 10.3 (12.0-14.0) 3 Lekosit

  11.0 22.4 (4.0-11.0)

  10 /µL 6 10 /µL

  Eritrosit

  11.03 3.86 (4.10-5.50)

  28.1

  29.0

  30.9 Hematokrit

  31.7 30.7 (36.0-44.0) % 3 175 219 235

  10 /µL

  Trombosit 177 227 (150-450) Eosinofil

  3.5 0.6 (0.0-9.5) % Basofil

  0.6 1.0 (0.0-2.5) % Neutrofil

  38.4 49.5 (35.0-88.7) % Limfosit

  47.3 38.5 (12.0-44.0) % Monosit

  10.2 10.4 (0.0-11.2) % Immunoserologi

  ≤ 2 = negatif 3 = grayzone Ig M

  4-5 = indikasi antibodi

  6 Typhoid

  S.typhii

  ≥ 6 = indikasi kuat Typhoid

  Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian

  ®

  Claforan 2x250 mg 21,22,23,24,25

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 45

  Nomr RM :720228 Dirawat tanggal : 19-23 September 2010

  Identifikasi Pasien

  Pria, 4 tahun, BB 15 kg. Keluhan utama : demam tinggi, diare, sesak nafas pada malam hari. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan Parameter (September2010) Nilai Normal

  9 Hemoglobin

  11.5

  g%

  (12.0-14.0) 3 Lekosit

  7.45 (4.0-11.0)

  10 /µL 6 Eritrosit

  4.4

  10 /µL

  (4.10-5.50) Hematokrit

  33.5 (36.0-44.0) % 3 Trombosit 305

  10 /µL

  (150-450) Eosinofil

  0.5 (0.0-9.5) %

  Basofil

  0.4 (0.0-2.5) %

  Neutrofil

  62.3 (35.0-88.7) %

  Limfosit

  30.1 (12.0-44.0) %

  Monosit

  9.8 (0.0-11.2) %

  Immunoserologi ≤ 2 = negatif 3 = grayzone

  Ig M antibodi S.typhii 5 4-5 = indikasi Typhoid ≥ 6 = indikasi kuat

  Typhoid

  Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian

  ®

  Amoxan 3x1 cth 10,11

  ®

  Starcef 2x40 mg 11,12

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 46

  Nomr RM :720375 Dirawat tanggal : 11-18 September 2010

  Identifikasi Pasien

  Pria, 9 bulan, BB 8.5 kg. Keluhan utama : demam tinggi. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan (Sept 2010) Parameter

  Nilai Normal

  11

  14

  15

  16

  17

  18

  12.9

  12.8

  12.9

  12.4 Hemoglobin

  12.4 12.3 (12.0-14.0) g% (4.0-11.0)

  Lekosit

  13.2

  6.0 3

  10 /µL

  (4.10-5.50) 6 Eritrosit

  4.75

  4.74

  10 /µL

  38.4

  37.7

  37.8

  36.8 Hematokrit

  35.4 36.8 (36.0-44.0) % (150-450)

  Trombosit 343 180 118

  93

  84

  91 3

  10 /µL

  Eosinofil

  0.6 0.2 (0.0-9.5) % Basofil

  0.2 0.7 (0.0-2.5) % Neutrofil

  50.7 18.5 (35.0-88.7) % Limfosit

  37.6 64.8 (12.0-44.0) % Monosit

  10.9 15.8 (0.0-11.2) %

  Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian Injeksi Cefotaxime 2x400 mg 11,12,13,14,15

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 47

  Nomr RM :714433 Dirawat tanggal : 25-27 Juli 2010

  Identifikasi Pasien

  Pasien : pria, 11 tahun, BB 25 kg. Keluhan utama : demam tinggi, susah buang air besar, mual dan muntah. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan Parameter (Juli 2010) Nilai Normal

  25 Hemoglobin

  12.2 (12.0-14.0) g% 3 Lekosit

  13.5 (4.0-11.0)

  10 /µL 6 Eritrosit

  4.27 (4.10-5.50)

  10 /µL

  Hematokrit

  36.0 (36.0-44.0) % 3 Trombosit 361

  (150-450)

  10 /µL

  Eosinofil

  0.2 (0.0-9.5) %

  Basofil

  0.4 (0.0-2.5) %

  Neutrofil

  73.6 (35.0-88.7) %

  Limfosit

  16.3 (12.0-44.0) %

  Monosit

  9.5 (0.0-11.2) %

  Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian

  ®

  Cefspan 2x5 cc 25,26,27

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 48

  Nomor RM :726798 Dirawat tanggal : 28-30 Oktober 2010

  Identifikasi Pasien

  Pria, 3 tahun, BB 16.5 kg. Keluhan utama : diare, muntah setiap pagi hari selam 2 hari, demam tinggi. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan Parameter (Oktober 2010) Nilai Normal

  28

  30

  g%

  Hemoglobin

  12.4 11.8 (12.0-14.0) 3 Lekosit

  25.6 11.5 (4.0-11.0)

  10 /µL 6 10 /µL

  Eritrosit

  5.17 4.94 (4.10-5.50) Hematokrit

  35.5 34.4 (36.0-44.0) % 3

  10 /µL

  Trombosit 393 451 (150-450) Eosinofil

  1.3 5.9 (0.0-9.5) % Basofil

  0.3 0.7 (0.0-2.5) % Neutrofil

  62.0 31.3 (35.0-88.7) % Limfosit

  24.2 51.6 (12.0-44.0) % Monosit

  12.2 10.5 (0.0-11.2) % Immunoserologi

  ≤ 2 = negatif 3 = grayzone 4-5 = indikasi

  IgM antibodi S.typhii

  4 Typhoid ≥ 6 = indikasi kuat

  Typhoid

  Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian

  ®

  Sporetic 2x3.6 cc 28,29,30

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 49

  Nomor RM :728434 Dirawat tanggal : 9-11 November 2010

  Identifikasi Pasien

  Wanita, 5 tahun, BB 20.5 kg. Keluhan utama : demam tinggi, mual dan muntah, diare. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : membaik.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan Parameter ( November 2010) Nilai Normal

  9 Hemoglobin

  14.6

  g%

  (12.0-14.0) 3 Lekosit

  2.1 (4.0-11.0)

  10 /µL 6 Eritrosit

  5.83

  10 /µL

  (4.10-5.50) Hematokrit

  43.4 (36.0-44.0) % 3 Trombosit 205

  10 /µL

  (150-450) Eosinofil

  0.5 (0.0-9.5) %

  Basofil

  1.3 (0.0-2.5) %

  Neutrofil 195 (35.0-88.7) %

  Limfosit

  68.9 (12.0-44.0) %

  Monosit

  9.8 (0.0-11.2) %

  Immunoserologi Tes Widal

  H negatif negatif

  S.typhii S.typhii O negatif negatif S.paratyphii AH negatif negatif S.paratyphii AO negatif negatif S.paratyphii BH +1/160 negatif

  BO negatif negatif

  S.paratyphii S.paratyphii CH negatif negatif S.paratyphii CO +1/80 negatif Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian

  ®

  Colsancetine 4x2 cth 9,10,11

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 50

  Nomr RM :731035 Dirawat tanggal : 29 November-2 Desember 2010

  Identifikasi Pasien

  Wanita, 11 bulan, BB 8.1 kg. Keluhan : demam tinggi. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : membaik.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan Parameter (Nov-Des 2010) Nilai Normal

  29 Hemoglobin

  11.9 (12.0-14.0) g% 3 Lekosit

  20.3 (4.0-11.0)

  10 /µL 6 Eritrosit

  4.86 (4.10-5.50)

  10 /µL

  Hematokrit

  35.6 (36.0-44.0) % 3 Trombosit 374

  (150-450)

  10 /µL

  Eosinofil

  0.3 (0.0-9.5) %

  Basofil

  0.7 (0.0-2.5) %

  Neutrofil

  45.4 (35.0-88.7) %

  Limfosit

  43.1 (12.0-44.0) %

  Monosit

  10.4 (0.0-11.2) %

  Immunoserologi ≤ 2 = negatif 3 = grayzone

  4-5 = indikasi Ig M antibodi S.typhii

  4 Typhoid ≥ 6 = indikasi kuat

  Typhoid

  Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian Injeksi Cefotaxime 2x250 mg 29,30,1

  ®

  Sporetic 2x1.7 cc 29,30,1,2

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 51

  Nomr RM :024330 Dirawat tanggal : 23-27 Januari 2010

  Identifikasi Pasien

  Pria, 11 tahun, BB 53 kg kg. Keluhan utama : demam tinggi, mual dan muntah serta susah buang air besar. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : membaik.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan Parameter (Januari 2010) Nilai Normal

  23

  24

  25

  26

  27 Hemoglobin 12.6 (12.0-14.0) g% 3

  2.4

  2.6

  11

  10.4

  10 /µL

  Lekosit 3.37 (4.0-11.0) 6 Eritrosit 4.97 (4.10-5.50)

  10 /µL

  36.9

  39.4

  36.9 39.7 % Hematokrit 37.6 (36.0-44.0) 3 173 149 142 144

  Trombosit 388 (150-450)

  10 /µL

  Eosinofil 0.0 (0.0-9.5) % Basofil 0.0 (0.0-2.5) % Neutrofil 73.5 (35.0-88.7) % Limfosit 19.6 (12.0-44.0) % Monosit 6.8 (0.0-11.2) %

  Immunoserologi Tes Widal

  S.typhii H negatif negatif S.typhii O negatif negatif S.paratyphii AH negatif negatif S.paratyphii AO negatif negatif S.paratyphii BH +1/80 negatif S.paratyphii BO +1/320 negatif S.paratyphii CH negatif negatif S.paratyphii CO +1/80 negatif Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian

  ®

  Biothicol 3x2 cth 25,26,27

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 52

  Nomr RM :177529 Dirawat tanggal : 4-7 November 2010

  Identifikasi Pasien

  Wanita, 10 tahun, BB 34 kg kg. Keluhan utama : demam tinggi sejak 2 hari, disertai mual dan muntah serta susah buang air besar. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan (November 2010)

  Parameter Nilai Normal

  4

  5

  6

  7

  13.5

  13.7

  13.7 Hemoglobin 14.1 (12.0-14.0) g% 3

  10 /µL

  Lekosit 1.4 (4.0-11.0) 6 Eritrosit 5.94 (4.10-5.50)

  10 /µL

  39.9

  40.2

  40.2

  %

  Hematokrit 40.2 (36.0-44.0) 3

  97 95 145 Trombosit 122 (150-450)

  10 /µL

  Eosinofil 0.0 (0.0-9.5) % Basofil 5.1 (0.0-2.5) % Neutrofil 25.3 (35.0-88.7) % Limfosit 46.4 (12.0-44.0) % Monosit 23.2 (0.0-11.2) %

  Immunoserologi ≤ 2 = negatif 3 = grayzone

  IgM antibodi 4-5 = indikasi

  4 S.typhii Typhoid

  ≥ 6 = indikasi kuat Typhoid

  Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian

  ®

  Injeksi Merosan 3x500 mg 5,6,7

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 53

  Nomr RM :184447 Dirawat tanggal : 19-28 Januari 2010

  Identifikasi Pasien

  Pria, 9 tahun, BB 35 kg. Keluhan utama : demam tinggi, flu disertai batuk serta diare. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan Parameter (Januari 2010) Nilai Normal

  19

  20

  21

  23

  g% Hemoglobin 12.3 (12.0-14.0) 3 Lekosit 6.3 (4.0-11.0) 10 /µL 6 10 /µL

  Eritrosit 4.74 (4.10-5.50)

  38.4 Hematokrit

  38.7 37.7 (36.0-44.0) % 3

  109

  10 /µL Trombosit 131 101 122 (150-450) Eosinofil 0.5 (0.0-9.5) % Basofil

  0.8 (0.0-2.5) % Neutrofil 51.9 (35.0-88.7) % Limfosit 39.6 (12.0-44.0) % Monosit

  7.2 (0.0-11.2) %

  Immunoserologi ≤ 2 = negatif 3 = grayzone

  IgM antibodi 4-5 = indikasi

  7 S.typhii

  Typhoid ≥ 6 = indikasi kuat

  Typhoid Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian

  ®

  Starcef 2x100 mg 22,23,24,25,26,27,28,29

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 54

  Nomor RM : 237776 Dirawat tanggal : 15-20 Maret 2010

  Identifikasi Pasien Pria, 8 tahun, BB 34 kg. Keluhan utama : demam tinggi, flu, diare.

  Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemerksaan Parameter (Maret 2010) Nilai Normal

  15

  17

  18

  13 Hemoglobin 12.8 14,4 (12.0-14.0) g% 3 Lekosit 8.5 (4.0-11.0)

  10 /µL 6 Eritrosit

  4.94 (4.10-5.50)

  10 /µL

  40.2 Hematokrit

  37.8 43 (36.0-44.0) % 3 195

  Trombosit 207 173 (150-450)

  10 /µL

  Eosinofil 0.2 (0.0-9.5) % Basofil 0.4 (0.0-2.5) % Neutrofil 52.4 (35.0-88.7) % Limfosit 38.2 (12.0-44.0) % Monosit 8.2 (0.0-11.2) %

  Immunoserologi Tes Widal

  S.typhii H negatif negatif S.typhii O negatif negatif S.paratyphii AH negatif negatif S.paratyphii AO +1/80 negatif S.paratyphii BH negatif negatif S.paratyphii BO +1/160 negatif S.paratyphii CH negatif negatif S.paratyphii CO +1/160 negatif Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian

  ®

  Injeksi Colsancetine 3x500 mg 15,16,17,18,19,20

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 55

  Nomor RM :246499 Dirawat tanggal : 26-29 November 2010

  Identifikasi Pasien

  Wanita, 9 tahun, BB 20 kg. Keluhan utama : mual dan muntah, susah buang air besar, demam tinggi. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan Parameter (November 2010) Nilai Normal

  25

  26 Hemoglobin

  12.7 13.1 (12.0-14.0) g% 3 Lekosit

  8.8 9.0 (4.0-11.0)

  10 /µL 6 Eritrosit

  4.69 4.82 (4.10-5.50)

  10 /µL

  Hematokrit

  37.0 38.1 (36.0-44.0) % 3 Trombosit 334 354 (150-450)

  10 /µL

  Eosinofil

  2.9 0.3 (0.0-9.5) % Basofil

  0.8 0.4 (0.0-2.5) % Neutrofil

  46.1 72.9 (35.0-88.7) % Limfosit

  40.0 13.1 (12.0-44.0) % Monosit

  10.1 9.0 (0.0-11.2) % Immunoserologi

  ≤ 2 = negatif 3 = grayzone IgM antibodi 4-5 = indikasi

  5 S.typhii Typhoid

  ≥ 6 = indikasi kuat Typhoid

  Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian

  ®

  Colsancetine 4x2 cth 27,28,29

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 56

  Nomor RM : 251728 Dirawat tanggal :26-29 Juli 2010

  Identifikasi Pasien

  Wanita, 9 tahun, BB 30 kg. Keluhan utama :demam tinggi, disertai mual dan muntah, nafas sesak jka malam hari. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan (Juli 2010)

  Parameter Nilai Normal

  26

  28 Hemoglobin

  13.9 13.3 (12.0-14.0) g% 3

  10 /µL

  Lekosit 7.7 (4.0-11.0) 6 Eritrosit 5.24 (4.10-5.50)

  10 /µL %

  Hematokrit

  41.9 38.4 (36.0-44.0) 3 Trombosit 381 304 (150-450)

  10 /µL

  Eosinofil 1.1 (0.0-9.5) % Basofil 0.4 (0.0-2.5) % Neutrofil 67.7 (35.0-88.7) % Limfosit 22.7 (12.0-44.0) % Monosit 7.9 (0.0-11.2) %

  Immunoserologi Tes Widal

  S.typhii H negatif negatif S.typhii O +1/160 negatif S.paratyphii AH negatif negatif S.paratyphii AO negatif negatif S.paratyphii BH +1/160 negatif S.paratyphii BO +1/80 negatif S.paratyphii CH negatif negatif S.paratyphii CO negatif negatif Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian

  ®

  Injeksi Colsancetine 3x500 mg 26,27,28,29

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 57

  Nomor RM : 255128 Dirawat tanggal : 1-8 Januari 2010

  Identifikasi Pasien

Wanita, 8 tahun, BB 20 kg. Keluhan utama : demam tinggi, flu, nafas menjadi

sesak pada malam hari, mual. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar :

sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium Tanggal Pemeriksaan Parameter (Januari 2010) Nilai Normal

  1

  2

  3

  4

  6

  10.5

  11

  11.1 Hemoglobin

  16.6 11.1 (12.0-14.0) g% 3 Lekosit 4.9 (4.0-11.0) 10 /µL 6 Eritrosit 4.15 (4.10-5.50) 10 /µL

  31.4

  32.5

  33.7 Hematokrit

  31.2 31.9 (36.0-44.0) % 3 149 173 189 Trombosit 137 134 (150-450) 10 /µL Eosinofil

  1.6 (0.0-9.5) % Basofil 0.4 (0.0-2.5) % Neutrofil

  68.6 (35.0-88.7) % Limfosit 19.1 (12.0-44.0) % Monosit 10.3 (0.0-11.2) % Immunoserologi

  ≤ 2 = negatif 3 = grayzone IgM antibodi

  4-5 = indikasi

3 S.typhii

  Typhoid ≥ 6 = indikasi kuat Typhoid

Tes Widal

  

H +1/80 negatif

S.typhii S.typhii O negatif negatif S.paratyphii AH +1/320 negatif

  AO negatif negatif S.paratyphii S.paratyphii BH +1/80 negatif S.paratyphii BO negatif negatif S.paratyphii CH +1/160 negatif S.paratyphii CO negatif negatif Terapi Antibiotika

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 58

  Nomor RM : 274233 Dirawat tanggal : 23-26 April 2010

  Identifikasi Pasien

  Wanita, 8 tahun, BB 28 kg. Keluhan utama : demam, mual muntah, nafsu makan menurun. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan (April 2010)

  Parameter Nilai Normal

  23

  24

  25

  13.7 Hemoglobin

  12.9 13.1 (12.0-14.0) g% 3

  10 /µL

  Lekosit 2.3 (4.0-11.0) 6 Eritrosit 4.51 (4.10-5.50)

  10 /µL

  42.1

  %

  Hematokrit

  38.5 39.6 (36.0-44.0) 3 120

  Trombosit 175 133 (150-450)

  10 /µL

  Eosinofil 1.2 (0.0-9.5) % Basofil 0.4 (0.0-2.5) % Neutrofil 50.3 (35.0-88.7) % Limfosit 41.6 (12.0-44.0) % Monosit 6.5 (0.0-11.2) % Immunoserologi

  ≤ 2 = negatif 3 = grayzone IgM antibodi

  4-5 = indikasi

  4 S.typhii Typhoid

  ≥ 6 = indikasi kuat Typhoid

  Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian

  ®

  Injeksi Dynacef 3x500 mg 23,24,25,26

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 59

  Nomor RM : 286606 Dirawat tanggal : 19-25 Januari 2010

  Identifikasi Pasien

  Pria, 7 tahun, BB 29 kg. Keluhan utama : mual dan muntah, diare, demam tinggi. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan

  Parameter Nilai Normal (Januari 2010)

  19 Hemoglobin (12.0-14.0) g% 3

  10 /µL

  Lekosit (4.0-11.0) 6 Eritrosit

  (4.10-5.50)

  10 /µL %

  Hematokrit (36.0-44.0) 3 Trombosit 259 (150-450)

  10 /µL

  Eosinofil (0.0-9.5) %

  Basofil (0.0-2.5) %

  Neutrofil (35.0-88.7) %

  Limfosit (12.0-44.0) %

  Monosit (0.0-11.2) %

  Immunoserologi ≤ 2 = negatif 3 = grayzone

  IgM antibodi S.typhii 5 4-5 = indikasi Typhoid ≥ 6 = indikasi kuat

  Typhoid

  Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian

  ®

  Starcef 2x100 mg 19,20,21,22,23,24,25

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 60

  Nomor RM : 371026 Dirawat tanggal :26-29 Maret 2010

  Identifikasi Pasien

  Wanita, 6 tahun, BB 26 kg. Keluhan utama : demam dan susah buang air besar. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan Parameter (Maret 2010) Nilai Normal

  26

  27

  12.4 Hemoglobin 11.8 (12.0-14.0) g% 3

  10 /µL

  Lekosit 10.2 (4.0-11.0) 6 Eritrosit 4.48 (4.10-5.50)

  10 /µL

  37.8

  %

  Hematokrit 34.9 (36.0-44.0) 3 223

  Trombosit 249 (150-450)

  10 /µL

  Eosinofil 0.0 (0.0-9.5) % Basofil 0.3 (0.0-2.5) % Neutrofil 73.5 (35.0-88.7) % Limfosit 16.0 (12.0-44.0) % Monosit 10.2 (0.0-11.2) %

  Immunoserologi ≤ 2 = negatif 3 = grayzone

  4-5 = indikasi IgM antibodi S.typhii

  4 Typhoid ≥ 6 = indikasi kuat

  Typhoid

  Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian

  ®

  Injeksi Colsancetine 3x500 mg 26,27,28

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 61

  Nomor RM : 424208 Dirawat tanggal :21-24 Juli 2010

  Identifikasi Pasien

  Pria, 10 tahun, BB 41.5 kg. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan Parameter (Juli 2010) Nilai Normal

  21

  22

  23

  24

  g%

  Hemoglobin 13.6 (12.0-14.0) 3 Lekosit 1.6 (4.0-11.0)

  10 /µL 6 10 /µL

  Eritrosit 5.7 (4.10-5.50)

  37.2

  35.7

  35.1 Hematokrit 42.6 (36.0-44.0) % 3 92 110 114

  10 /µL

  Trombosit 114 (150-450) Eosinofil 0.5 (0.0-9.5) % Basofil 1.5 (0.0-2.5) % Neutrofil 33.2 (35.0-88.7) % Limfosit 49.4 (12.0-44.0) % Monosit 15.4 (0.0-11.2) %

  Immunoserologi ≤ 2 = negatif 3 = grayzone

  IgM antibodi 4-5 = indikasi

  4 S.typhii Typhoid

  ≥ 6 = indikasi kuat Typhoid

  Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian

  ®

  Sporetic 2x100 mg 21,22,23,24

  Lampiran 6 (lanjutan)

  

Kasus 62

  Nomor RM : 411859 Dirawat tanggal :19-22 Juni 2010

  Identifikasi Pasien

  Wanita, 10 tahun, BB 23 kg. Keluhan utama : demam selama 2 hari, mual dan muntah, susah buang air besar, nafas sesak di malam hari. Diagnosis : demam tifoid. Keadaan pasien keluar : sembuh.

  Pemeriksaan Laboratorium

  Tanggal Pemeriksaan

  Parameter Nilai Normal (Juni 2010)

  20

  g%

  Hemoglobin 11.0 (12.0-14.0) 3 Lekosit 8.2 (4.0-11.0)

  10 /µL 6 10 /µL

  Eritrosit 4.89 (4.10-5.50) Hematokrit 31.7 (36.0-44.0) % 3

  10 /µL

  Trombosit 277 (150-450) Eosinofil 0.7 (0.0-9.5) % Basofil 1.0 (0.0-2.5) % Neutrofil 50.3 (35.0-88.7) % Limfosit 38.6 (12.0-44.0) % Monosit 9.4 (0.0-11.2) %

  Immunoserologi ≤ 2 = negatif 3 = grayzone

  IgM antibodi S.typhii 3 4-5 = indikasi Typhoid ≥ 6 = indikasi kuat

  Typhoid

  Terapi Antibiotika

  Nama Obat Dosis Tanggal Pemberian

  ®

  Injeksi Pelastin 3x 20,21,22 ⅓ gram Lampiran 7. Surat Izin Penelitian Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta

BIOGRAFI PENULIS

  : Cornelius Danan Rufaldi  Nama lengkap  Nama panggilan : Danan  Tempat / tanggal lahir : Cilacap / 1 Mei 1989  Agama : Katholik  Nama Ayah : Robertus Heru Saptono Nama Ibu : Vincentia Sedyarningsih Riwayat Pendidikan  1992-1995 : TK Pius Cilacap : SD Pius Cilacap  1995-2001

   2001-2004 : SLTP Pius Cilacap  2004-2007 : SMA Pangudi Luhur Vanlith Muntilan  2007-2011 : Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Kegiatan Bidang Akademik :

  1. Sebagai asisten praktikum Botani Dasar pada tahun 2011 Kegiatan Bidang kemahasiswaan :

  1. Anggota Unit Kegiatan Fakultas (UKF) Bola Basket pada tahun 2007- 2011

  2. Panitia peringatan Hari Pendidikan Nasional kerjasama Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dengan Satu Atap Advertising pada tahun 2007

  3. Panitia Tiga Hari Temu Akrab Farmasi (Titrasi) sebagai seksi Publikasi, Dekorasi, dan Dokumentasi (Pubdekdok) pada tahun 2008

  4. Panitia Pharmacy Performance and Event Cup (PpnEC) sebagai seksi Keamanan pada tahun 2008

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Evaluasi interaksi obat pada pasien pediatrik demam tifoid di Rumah Sakit Umum Sari Mutiara Medan periode Januari 2014 - Desember 2014
3
67
100
Evaluasi DRPs penggunaan antibiotik pasien demam tifoid kelompok pediatrik di Instalasi Rawat Inap RSUD Sleman Yogyakarta periode 2016.
0
4
78
Evaluasi kerasionalan penggunaan antibiotika pada pasien anak dengan demam tifoid berdasarkan kriteria Gyssens di Instalasi Rawat Inap Rsud Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta periode Januari-Desember 2013.
2
8
201
Evaluasi DRPs penggunaan antibiotik pasien demam tifoid kelompok pediatrik di Instalasi Rawat Inap RSUD Sleman Yogyakarta periode 2016
0
2
77
Evaluasi penggunaan antibiotika pada penyakit infeksi saluran pernafasan akut kelompok pediatri di instalasi rawat inap Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta periode Juli-September 2013.
2
8
90
Evaluasi Drug Related Problems (DRPs) penggunaan antibiotika pada pasien demam tifoid kelompok pediatrik di Rumah Sakit Emanuel Purwareja Klampok Banjarnegara pada tahun 2013.
0
1
119
Evaluasi penggunaan antibiotika selama kemoterapi pada pasien kanker payudara periode Januari 2010-Januari 2012 di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta.
1
2
180
Evaluasi penggunaan antibiotika pada pasien ulkus diabetes mellitus di instalansi rawat inap Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta periode 2005.
1
7
116
Evaluasi interaksi obat pada pasien pediatrik demam tifoid di Rumah Sakit Umum Sari Mutiara Medan periode Januari 2014 - Desember 2014
0
0
8
Evaluasi drug therapy problems pada pengobatan kasus tifoid di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Kalasan Sleman periode Juli 2007-Juni 2008 - USD Repository
0
0
134
Evaluasi penggunaan antibiotika pada pasien anak penderita demam tifoid di Instalasi Rawat Inap RSUD DR. Agoesdjam Ketapang periode Juni 2008-Juni 2009 - USD Repository
0
0
169
Evalusi penatalaksanaan terapi pasien diabetes melitus komplikasi Ischemic Heart Diasease di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta periode Januari 2008-Mei 2009 - USD Repository
0
0
110
Evaluasi Drug Related Problems (DRPs) pada pasien asma bronkial di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta Bulan Januari-Desember 2009 - USD Repository
0
0
145
Evaluasi drug related problems pada pengobatan pasien hipertensi dengan komplikasi stroke di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta periode Juli 2008- Juni 2009 - USD Repository
0
0
137
Evaluasi penatalaksanaan terapi pasien diabetes melitus komplikasi hipertensi di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta periode Mei 2008- Mei 2009 - USD Repository
0
1
115
Show more