Hubungan antara inteligensi, dukungan sosial orang tua, dan konsep diri terhadap prestasi belajar anak - USD Repository

Gratis

0
0
101
8 months ago
Preview
Full text

  

HUBUNGAN ANTARA INTELIGENSI, DUKUNGAN SOSIAL ORANG TUA,

DAN KONSEP DIRI TERHADAP PRESTASI BELAJAR ANAK

  Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

  Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi

  Oleh :

Shiella Saraswati

079114119

  

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2011

  "People t ake dif f erent roads seeking f ulf illment and happiness. Just because t hey're not on your road, doesn't mean t hey've got t en lost ." (D alai L ama)

  "You can have it all. You just can't have it all at once." (Oprah Winfrey) Hadirat-Mu yang menguatkan aku di dalam pengharapan, membuat hidupku menjadi indah.

  Skripsi ini kupersembahkan untuk : Papa, Mama, dan adikku tercinta sebagai ungkapan cinta dan terima kasihku atas kasih dan dukungannya yang tiada berkesudahan

  

HUBUNGAN ANTARA INTELIGENSI, DUKUNGAN SOSIAL ORANG TUA,

DAN KONSEP DIRI TERHADAP PRESTASI BELAJAR ANAK

Shiella Saraswati

  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara intelegensi, dukungan sosial orang

tua, dan konsep diri terhadap prestasi belajar anak. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 133 siswa/i

kelas 2 SD. Untuk Skala Dukungan Sosial uji coba reliabilitas menunjukan koefisien korelasi sebesar

0.725 dan untuk Skala Konsep Diri sebesar 0.803. Taraf signifikansi yang diperoleh (dengan p < 0.05)

dari variabel intelegensi sebesar 0.000 sehingga hipotesis intelegensi berkorelasi positif dengan

prestasi belajar diterima. Untuk dukungan sosial diperoleh taraf signifikansi sebesar 0.177 sehingga

hipotesis dukungan sosial berkorelasi positif dengan prestasi belajar ditolak. Sedangkan untuk konsep

diri diperoleh taraf signifikansi sebesar 0.463 sehingga hipotesis konsep diri berkorelasi positif dengan

prestasi belajar ditolak. Kata Kunci : prestasi belajar, inteligensi, dukungan sosial orang tua, konsep diri, anak.

  

CORRELATION BETWEEN INTELLIGENCE, PARENTS SOCIAL

SUPPORT, AND SELF-CONCEPT TOWARD CHILDREN’S LEARNING

ACHIEVEMENT

  

Shiella Saraswati

ABSTRACT

  

The purpose of this research is to investigate whether there is a correlation between intelligence,

parents social support, and self-concept toward children’s learning achievement. Subjects of the

nd

reasearch were 133 2 grade primary student. The reliability coefficient for parents social support

scale was 0.725 and Self-concept scale was 0.803. The significance level for intelligence is 0.000 ( p <

0.05), it means that the hypothesis of a positive correlation between intelligence and children’s

learning achievement is accepted. As for parents social support, the level of significance is 0.177, it

means the hypothesis of a positive correlation between parents social support and children’s learning

achievement is denied. The significance level of self-concept is 0.463 it means the hypothesis of a

positive correlation between self-concept and children’s learning achievement was denied.

  Keywords : learning achievement.,intelligence, parents social support, self-concept, children.

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah Bapa Yang Maha Kasih, karena berkat dan kuasa serta kasih-Nya skripsi ini berhasil diselesaikan. Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Psikologi di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  Proses pembuatan skripsi ini, dari awal hingga akhir, telah melibatkan banyak pribadi yang dengan tangan terbuka memberikan bantuannya. Untuk itu pada kesempatan ini penulis ingin menghaturkan ungkapan rasa terima kasih yang tulus kepada :

  1. Allah Bapa, Tuhan Yesus ,dan malaikat pelindungku yang selalu menjagaku setiap hari. Terima kasih karna kasih dan segala berkat-Nya dalam hidupku.

  2. Mommy dan Daddy untuk semua perhatian, omelan, semangat dan segala dukungan yang diberikan, love u both. ^.^

  3. Dede tercinta, buat semua dukungannya, dan usahanya tuk selalu membuatku tersenyum saat mengerjakan skripsi ini...

  4. Seluruh keluarga besarku yang tersebar dimana-mana dan telah mendukungku untuk terus maju dan menyelesaikan skripsi ini..

  5. PS. Roy Kartiko,, makasih buat doa dan semangatnya om. dan terima kasih buat firmannya yang menguatkan.

  6. MK Elsadai II Shekina II makasih buat dukungan doanya guys,, Gbu all

  7. Temen-temen tambourin, makasih udah ngertiin aku waktu aku tidak bisa ikut latihan dan dukungannya yang selalu mengalir.

  8. My beib, makasih udah menjadi orang yang sabar banget saat aku sensi karena skripsi ini, perhatiannya, dan semua dukungannya buat aku.. >,<

  9. Daniel, untuk jurnal-jurnal yang amat berguna buat penelitian ini.

  10. Dr.Ch.Siwi Handayani, M.Si., selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma, yang telah memberikan ijin penelitian untuk skripsi ini.

  11. Agung Santoso,S.Psi.,M.A., selaku Dosen Pembimbing yang telah membimbing, mengarahkan, menyediakan waktu dan banyak memberi masukan berharga dari awal hingga akhir pembuatan skripsi ini.

  12. A.Tanti Arini, M.Si selaku dosen pembimbing akademik, yang telah memotivasi agar aku tetap focus dalam mengerjakan skripsi

  13. Seluruh dosen Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma, Mas Muji, Mas Gandung, dan Pak Gie, yang telah membantu kelancaran selama penulis menjalankan studi di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma

  14. Flori, akhirnya selesai juga skripsi ini, makasih buat bantuan,saran, dan kerjasamanya ya.. buat Misha teman yang gokil abis ( pengalaman “gila” kita di Psycompilation Maranatha tak kan pernah kulupakan... Im glad to know u

  guys ^-*)

  15. Kristin, makasih buat cerita-cerita dan dukungannya ya say.. Semua Teman- teman angkatan 2007 Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma, makasih ya untuk semua yang telah kita lalui bersama.

  16. Skolastika ,Luci, dan Ebi yang sudah menjadi asisten yang sigap dalam memasukan data penelitian, kalian sangat meringankan pekerjaanku.

  17. Kepala sekolah, guru, dan murid-murid SD Kanisius Demangan, Sorowajan, dan Condong Catur yang sudah bersedia membantu proses pengambilan data penelitian.

  Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu, dengan rendah hati penulis terbuka menerima kritik dan saran demi kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat berguna bagi semua pihak yang membacanya. Terima kasih.

  Yogyakarta, 19 Mei 2011 Shiella Saraswati

  

DAFTAR ISI

  Halaman HALAMAN JUDUL.................................................................................. i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING........................................ ii HALAMAN PENGESAHAN................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN................................................................ iv PERNYATAAN KEASLIAN KARYA.................................................... v ABSTRAK................................................................................................. vi ABSTRACT.............................................................................................. vii HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ILMIAH............................. viii KATA PENGANTAR.............................................................................. ix DAFTAR ISI............................................................................................ xii DAFTAR TABEL.................................................................................... xv BAB I PENDAHULUAN.......................................................................

  1 A. Latar Belakang....................................................................................

  1 B. Rumusan Masalah...............................................................................

  5 C. Tujuan Penelitian.................................................................................

  5 D. Manfaat Penelitian...............................................................................

  5 BAB II LANDASAN TEORI..................................................................

  7 A. Anak....................................................................................................

  7 1. Pengertian anak.............................................................................

  7 2. Perkembangan pada akhir masa anak-anak..................................

  7 a. Perkembangan anak menurut Hurlock...................................

  8 b. Perkembangan anak menurut Santrock..................................

  8 c. Perkembangan anak menurut Erikson....................................

  9 B. Prestasi Belajar...................................................................................

  10

  1. Pengertian prestasi belajar........................................................... 10 2. Pengukuran prestasi belajar.........................................................

  11 3. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar.....................

  11

  b. Faktor eksternal siswa...........................................................

  27

  D. Subjek penelitian.............................................................................. 42

  C. Definisi Operasional......................................................................... 40

  B. Identifikasi Variabel......................................................................... 40

  40 A. Jenis penelitian.................................................................................. 40

  G. Hipotesis........................................................................................... 39 BAB III METODOLOGI PENELITIAN...............................................

  34 F. Dinamika antar variabel.................................................................... 37

  33 7. Faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri...........................

  31 6. Konsep Diri ideal........................................................................

  30 5. Pembentukan Konsep diri............................................................

  29 b. Konsep diri positif..................................................................

  4. Konsep diri positif dan konsep diri negatif.................................. 29 a. Konsep diri negatif.................................................................

  c. Penilaian................................................................................. 28

  26 b. Harapan..................................................................................

  14 C. Inteligensi..........................................................................................

  25 a. Pengetahuan...........................................................................

  24 3. Dimensi konsep diri.....................................................................

  1. Pengertian konsep diri.................................................................. 23 2. Konsep diri anak..........................................................................

  23

  3. Bentuk dukungan orangtua......................................................... 22 E. Konsep Diri.........................................................................................

  2. Dukungan sosial orangtua............................................................ 21

  1. Pengertian dukungan sosial......................................................... 20

  20

  27 D. Dukungan Sosial................................................................................

  18 3. Pengukuran Inteligensi................................................................

  18 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi inteligensi............................

  15 1. Pengertian Inteligensi..................................................................

  E. Metode pengumpulan data............................................................... 42

  G. Analisis Data....................................................................................

  56 2. Uji Hipotesis..............................................................................

  63 LAMPIRAN..........................................................................................

  61 DAFTAR PUSTAKA...........................................................................

  61 B. Saran................................................................................................

  61 A. Kesimpulan......................................................................................

  60 BAB V PENUTUP................................................................................

  57 F. Kelemahan Penelitian......................................................................

  56 E. Pembahasan.....................................................................................

  55 c. Uji Homogenitas residu.......................................................

  49 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN....................... 50

  54 b. Uji Linearitas.......................................................................

  54 a. Uji Asumsi normalitas residu..............................................

  54 1. Uji Asumsi.................................................................................

  C. Deskripsi data penelitian.................................................................. 53 D. Hasil Penelitian................................................................................

  B. Pelaksanaan penelitian..................................................................... 51

  2. Uji coba alat ukur....................................................................... 50

  1. Izin penelitian............................................................................. 50

  A. Persiapan penelitian......................................................................... 50

  66

  DAFTAR TABEL

  Tabel Halaman Tabel 1 Bentuk akhir skala dukungan sosial........................................

  46 Tabel 2 Bentuk akhir skala konsep diri................................................

  47 Tabel 3 Deskripsi data penelitian.........................................................

  53 Tabel 4 Uji t dan signifikans................................................................

  57

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pendidikan memegang peranan yang penting dalam upaya meningkatkan

  sumber daya manusia yang berkualitas. Pendidikan di harapkan dapat mengembangkan kemampuan masyarakat yang akhirnya dapat meningkatkan kualitas sumber daya bangsa. Peningkatan mutu pendidikan dapat dilakukan dengan perbaikan, perubahan, dan pembaharuan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pendidikan.

  Pendidikan sangat erat kaitannya dengan peserta didik atau siswa. Kualitas seorang siswa bisa dilihat dari hasil akademis yang diperolehnya. Prestasi belajar merupakan hasil yang diperoleh atau dicapai siswa setelah mengikuti proses belajar disekolah melalui tes/evaluasi yang diwujudkan dalam bentuk angka atau huruf. Dengan mengetahui prestasi belajar anak, orangtua maupun guru dapat mengarahkan anak untuk terus mengasah potensi yang ada dalam dirinya sehingga mereka dapat menjadi orang yang berhasil.

  Prestasi belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor, yang dapat digolongkan menjadi tiga, yakni faktor pendekatan belajar, eksternal, dan internal. (Syah, 2004). Faktor pendekatan belajar, yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran. Dalam pendekatan ini guru memegang peranan penting untuk memotivasi siswa sehingga siswa merasa mampu untuk menyelesaikan kompetensi belajarnya. Faktor eksternal merupakan faktor-faktor yang berada di luar diri siswa. Lingkungan sekolah merupakan salah satu faktor eksternal, antara lain kompetensi guru, lingkungan sosial, faktor media massa, dan aktivitas anak di masyarakat. Selain itu dukungan orang tua, turut menentukan prestasi belajar siswa. Dukungan orang tua meliputi perhatian orang tua, keadaan ekonomi orang tua, dan hubungan antara anggota keluarga. Penelitian tentang dukungan sosial dan prestasi belajar pernah dilakukan oleh Widyawati (2005) Ia berhasil membuktikan adanya hubungan positif antara dukungan sosial dan prestasi belajar. Anak yang mendapatkan dukungan material yang cukup dari orangtua akan menjalankan kegiatan belajarnya dengan baik karena pemenuhan kebutuhan yang membantu kelancaran proses belajar mengajar. Begitupun dengan pemenuhan kebutuhan emosional dalam bentuk cinta, perhatian, penghargaan, dengan ini anak menjadi lebih termotivasi lagi untuk mengasah potensi yang ada pada dirinya yang akan berdampak pada prestasi belajarnya.

  Faktor internal adalah faktor-faktor yang berada di dalam diri siswa, baik fisiologis maupun psikologis; seperti konsep diri, termasuk di dalamnya self image, kesadaran diri , motivasi. Semua hal tersebut memerlukan harmonisasi dalam proses pembelajaran yang akan mendukung hasil belajar (Wahyuni,2007). Salah satu faktor internal yang penting bagi prestasi belajar adalah intelegensi. Menurut David Weschler (1982) intelegensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah,berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungan secara efektif. Karena itu makin tinggi intelegensi seseorang maka makin tinggi pula prestasi belajarnya. Penelitian Ekowati

  (2006) mengatakan terdapat kontribusi positif antara intelegensi dan hasil belajar siswa.

  Faktor internal lain yang mempengaruhi prestasi belajar adalah konsep diri. Konsep diri adalah semua persepsi, kepercayaan, perilaku dan nilai-nilai yang digunakan diri seseorang untuk mendeskripsikan dirinya sendiri. (Perkins, 1958). Konsep diri seorang anak berubah seiring dengan cara pandang dirinya pada suatu periode waktu konsep diri mulai berkembang sejak masa bayi dan akan terus berkembang sejalan dengan perkembangan individu itu sendiri. Menurut Hurlock (1994) pembentukan konsep diri dalam setiap orang berlangsung dalam beberapa tahap.

  Seseorang dengan konsep diri positif akan mempunyai kemampuan interpersonal dan intrapersonal yang baik pula, yang memungkinkan untuk melakukan evaluasi secara obyektif terhadap dirinya sendiri. Selain itu konsep diri merupakan kunci untuk membangun komunikasi terbuka antara guru dan murid sehingga menciptakan partisipasi aktif antara keduanya dalam kegiatan belajar mengajar. Konsep diri positif akan meminimalkan munculnya kesulitan belajar dalam diri siswa. Berkurangnya kesulitan belajar inilah yang pada akhirnya memungkinkan siswa untuk mendapatkan penguasaan akademik yang lebih baik.

  Penelitian konsep diri yang berhubungan dengan prestasi belajar pernah dilakukan oleh beberapa peneliti. Banyak penelitian yang membuktikan adanya hubungan positif yang kuat antara konsep diri dengan prestasi belajar di sekolah. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Fink (dalam Burns, 1982) menunjukan adanya perbedaan konsep diri antara siswa yang tergolong dan underachiever. Penelitian yang dilakukan oleh Naam (2007)

  overachiever

  dan Anita (2001) menunjukan hubungan yang bermakna antara prestasi belajar dan konsep diri positif.

  Penelitian-penelitian yang dilakukan sebelumnya memiliki beberapa perbedaan dengan penelitian yang dilakukan saat ini. Perbedaan dapat dilihat dari subjek penelitian juga variabel yang disertakan dalam penelitian. Penelitian ini berupaya untuk mengetahui hubungan antara prestasi belajar dengan intelegensi, dukungan sosial yang diberikan orangtua, dan konsep diri pada siswa kelas 2 SD. Pada tingkat ini siswa memiliki interaksi yang lebih banyak dengan orang di sekitarnya dibandingkan sebelumnya, sehingga memungkinkan berkembangnya kemampuan interpersonal yang membentuk konsep diri.

  Selama ini penelitian yang dilakukan mengunakan remaja sebagai subjek penelitian, sedangkan anak memiliki konsep diri yang berbeda mekanismenya dengan remaja ataupun orang dewasa. Konsep diri ideal pada anak masih berorientasi pada hal-hal yang kurang nyata, tetapi remaja dan orang dewasa memiliki konsep diri ideal yang mengarah pada hal-hal yang nyata.

  Begitu pun untuk inteligensi dan dukungan sosial orangtua, penelitian yang menunjukan hubungan positif antara intelegensi dan dukungan sosial orangtua terhadap prestasi belajar anak dilakukan puluhan tahun yang lalu dimana keadaan saat itu berbeda dengan saat ini. Saat ini orangtua memiliki kesibukan yang lebih padat karena banyaknya pasangan suami istri yang bekerja, sehingga kurang memberikan dukungan sosial yang cukup pada anaknya.

  B. RUMUSAN MASALAH

  Apakah ada hubungan antara prestasi belajar dengan intelegensi, dukungan sosial orang tua, dan konsep diri anak?

  C. TUJUAN PENELITIAN

  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada hubungan antara intelegensi, dukungan sosial orang tua, dan konsep diri terhadap prestasi belajar anak?

  D. MANFAAT PENELITIAN

  Manfaat penelitian secara garis besar terbagi menjadi dua, yaitu manfaat teoritis dan manfaat praktis.

  1. Manfaat Teoritis

  Secara teoritis, manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah memberikan referensi teoritis mengenai hubungan antara kondisi psikologis anak, khususnya konsep diri, dukungan sosial dengan prestasi belajar.

  2. Manfaat Praktis

  Secara praktis, manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah memberikan sumbangan informasi mengenai keterkaitan intelegensi, dukungan sosial yang diberikan orangtua, dan konsep diri anak pada prestasi belajar.

BAB II LANDASAN TEORI A. Anak

  1. Pengertian anak

  Anak merupakan seorang lelaki atau perempuan yang belum dewasa atau belum mengalami masa pubertas, yang biasa berusia 0-12 tahun. (Junaidi, 2009).

  John Locked ( dalam Santrock 1995) berpendapat anak merupakan individu yang bagaikan selembar kertas kosong. Locked yakin pengalaman masa kanak-kanak penting dalam menentukan karakteristik saat mereka dewasa.

  Sedangkan menurut Jean Rousseau (dalam Santrock 1995). anak adalah individu yang meskipun dapat berkembang secara alamiah, perlu dipantau serta dibimbing oleh orangtua. Dari definisi di atas dapat disimpulkan anak adalah seorang individu yang belum mengalami masa pubertas dan membutuhkan orang yang lebih dewasa untuk berkembang sehingga dapat memiliki karakteristik yang baik saat dewasa.

  2. Perkembangan Akhir Masa Anak-anak

  Periode ini dimulai ketika anak mulai memasuki Sekolah Dasar dan berakhir ketika anak mengalami kematangan seksual. Periode ini juga disebut sebagai periode anak usia Sekolah Dasar, karena pada masa ini anak mulai memasuki sekolah formal.

  a. Karakteristik perkembangan pada masa akhir anak-anak menurut Hurlock sebagai berikut : 1). Masa berkelompok dimana perhatian utama anak-anak tertuju pada keinginan diterima kelompoknya 2). Proses penyesuaian diri dengan standar yang disetujui kelompoknya 3). Usia kreatif, menunjukkan bahwa anak ketika tidak dihalangi oleh rintangan-rintangan lingkungan, kritik, cemoohan dari orang dewasa maka anak akan mengerahkan tenaganya dalam kegiatan-kegiatan yang kreatif.

  4). Usia bermain karena luasnya minat anak

  b. Perkembangan pada masa akhir anak-anak menurut Santrock 1). Perubahan fisik (tubuh) pada anak. Diantara aspek-aspek penting perubahan tubuh di dalam periode perkembangan adalah sistem rangka, sistem otot, dan ketrampilan motorik

  2). Kemampuan menganalisis kata, misalnya anak ketika mendengar kata “anjing”, anak dapat mengaitkan kata ‘anjing” dengan suatu kata yang menunjukkan penampilannya (hitam, besar). 3). Memiliki kreativitas 4). Menjalin relasi dengan teman sebayanya c. Perkembangan kognisi pada masa akhir anak-anak menurut Piaget Menurut Piaget akhir masa anak-anak berada pada tahap konkrit operasional dengan ciri : 1). Berpikir dengan lebih terorganisasi, memikirkan alasan logis tentang informasi yang konkrit.

  2). Menguasai konservasi Piaget, pembagian kelas, masalah-masalah bersambung termasuk pengambilan kesimpulan.

  3). Memperlihatkan spasial reasoning dengan lebih efektif seperti diperlihatkan pada penguasaan konservasi, kemampuan memberikan arahan yang jelas, peta kognitif yang lebih terorganisasi dengan baik.

  c. Teori Psikososial Erickson Menurut Erickson akhir masa anak-anak berada pada tahap Industry

  versus inferiority , dengan ciri :

  1). Pada tahap ini interaksi sosial anak mulai mengembangkan perasaan bangga terhadap keberhasilan dan kemampuan mereka.

  2). Anak yang didukung dan diarahkan oleh orang tua dan guru membangun peasaan kompeten dan percaya dengan ketrampilan yang dimilikinya. 3). Anak yang menerima sedikit atau tidak sama sekali dukungan dari orang tua, guru, atau teman sebaya akan merasa ragu akan kemampuannya untuk berhasil.

  4). Prakarsa yang dicapai sebelumnya memotivasi mereka untuk terlibat dengan pengalaman baru.

  5). Ketika beralih ke masa pertengahan dan akhir kanak-kanak, mereka mengarahkan energi mereka menuju penguasaan pengetahuan dan keterampilan intelektual. 6). Permasalahan yang dapat timbul pada tahun sekolah dasar adalah berkembangnya rasa rendah diri, perasaan tidak berkompeten dan tidak produktif.

B. Prestasi Belajar

1. Pengertian prestasi belajar

  Prestasi belajar ialah tingkat pencapaian atau penguasaan siswa terhadap materi pelajaran yang telah diajarkan dalam kurun waktu tertentu dalam suatu program pengajaran ( Saronson, 1964).

  Keberhasilan siswa dalam proses belajarnya dapat dilihat dari prestasi yang dicapai dalam kurun waktu tertentu. Dalam hal ini dapat dilihat dari nilai yang dibukukan dalam bentuk buku laporan pendidikan atau raport. Nilai-nilai yang tertera dalam buku tersebut merupakan penjumlahan nilai dari seluruh mata pelajaran yang diperoleh siswa dalam satu semester. Dengan demikian besar kecilnya nilai yang diperoleh menunjukkan besar kecilnya prestasi yang dicapai. Dari definisi diatas dapat disimpulkan prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai dari yang telah dilakukan atau dikerjakan oleh anak didik dalam kurun waktu tertentu.

  2. Pengukuran prestasi belajar Keberhasilan seseorang dalam belajar dapat dilihat dari prestasi belajarnya.

  Prestasi belajar sendiri dapat diketahui melalui evaluasi belajar. Evaluasi belajar dapat dilakukan dengan pengukuran yang dibuat dalam bentuk ujian tertulis, lisan, maupun praktik. Penilaian dibuat berdasar norma yang dipergunakan. Hasilnya diwujudkan dalam suatu simbol yang biasa menggunakan angka atau huruf sebagai indeks prestasi. Ada yang menggunakan rentan 1-10 atau 10-100 ada juga yang mengunakan huruf A- F (Tirtonegoro,1984).

  3. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar

  M. Alisuf Sabri ( 1996) mengatakan ada berbagai faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa yang secara garis besar dibagi menjadi dua,yaitu faktor internal dan faktor eksternal siswa.

  a. Faktor internal siswa 1) Kesehatan jasmani dan rohani

  Orang yang belajar membutuhkan kondisi badan yang sehat. Orang yang badannya sakit akibat penyakit-penyakit kelelahan tidak akan dapat belajar dengan efektif. Cacat fisik juga mengganggu hal belajar.

  Demikian pula gangguan serta cacat-cacat mental pada seseorang sangat menggangu hal belajar yang bersangkutan.

  2) Intelegensi Intelegensi pada umumnya diartikan dengan kecerdasan. Dalam proses belajar tingkat intelegensi siswa sangat berpengaruh terhadap prestasi siswa. Hal ini berarti semakin tinggi tingkat kecerdasan siswa, semakin besar peluang siswa berhasil dalam proses pelajarannya.

  3) Bakat Bakat adalah potensi atau kemampuan. Orang tua kadang-kadang tidak memperhatikan faktor bakat ini. Sering anak diarahkan sesuai dengan kemampuan orang tuanya. Seorang anak yang tidak berbakat teknik tetapi karena keinginan orang tuanya, anak itu disekolahkan pada jurusan teknik, akibatnya bagi anak sekolah dirasakan sebagai suatu beban, tekanan, dan nilai-nilai yang didapat anak buruk serta tidak ada kemauan lagi untuk belajar. 4)Minat

  Minat adalah suatu gejala psikis yang berkaitan dengan objek atau aktivitas yang menstimulus perasaan senang pada individu. Seorang yang menaruh minat pada suatu bidang akan mudah mempelajari bidang itu.

  5) Motivasi Motivasi yang berhubungan dengan kebutuhan, motif , dan tujuan, sangat mempengaruhi kegiatan dan hasil belajar. Motivasi penting bagi proses belajar, karena motivasi menggerakkan organisme, mengarahkan tindakan, serta memilih tujuan belajar yang dirasa paling berguna bagi kehidupan individu. 6)Cara belajar

  Anak yang menunggu saat hampir ulangan baru belajar, sehingga bahan-bahan pelajaran menumpuk, tentu nilainya tidak baik. Anak sebaiknya dibiasakan belajar sedikit demi sedikit setiap hari secara teratur, meskipun hanya sebentar.

  7)Konsep diri Sejumlah ahli psikologi dan pendidikan berkeyakinan bahwa konsep diri dan prestasi belajar mempunyai hubungan yang erat. Nylon (1972) misalnya, mengemukakan bahwa banyak penelitian yang membuktikan hubungan positif yang kuat antara konsep diri dengan prestasi belajar di sekolah. Siswa yang memiliki konsep diri positif, memperlihatkan prestasi yang baik di sekolah, atau siswa yang berprestasi tinggi di sekolah memiliki penilaian diri yang tinggi, serta menunjukkan hubungan antarpribadi yang positif pula. Mereka menentukan target prestasi belajar yang realistis dan mengarahkan kecemasan akademis dengan belajar keras dan tekun, serta aktivitas-aktivitas mereka selalu diarahkan pada kegiatan akademis. b. Faktor eksternal 1) Faktor lingkungan siswa.

  Faktor ini terbagi dua, yaitu pertama faktor lingkungan alam atau non sosial seperti keadaan suhu, kelembaban udara, waktu (pagi, siang, malam), letak sekolah, dan sebagainya. Kedua faktor lingkungan sosial dan budayanya.

  2) Faktor instrumental Antara lain gedung, media pengajaran, guru ,kurikulum atau materi pelajaran, serta strategi belajar mengajar.

  3) Dukungan dari orangtua Dukungan terpenting berasal dari keluarga, karena itu pemenuhan dukungan berupa perhatian dan material sangat penting untuk memotivasi anak mencapai prestasi belajar yang baik. 4) Ekonomi keluarga

  Faktor ekonomi sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan rumah tangga. Keharmonisan hubungan antara orang tua dan anak kadang-kadang tidak dapat terlepas dari faktor ekonomi. Begitu pula faktor keberhasilan seseorang pada keluarga yang ekonominya kurang mungkin dapat menyebabkan anak kekurangan gizi, kebutuhan- kebutuhan belajar anak mungkin tidak dapat terpenuhi. Selain itu ekonomi yang kurang menyebabkan suasana rumah menjadi muram dan gairah untuk belajar tidak ada. Namun kesulitan ekonomi bisa juga menjadi pendorong anak untuk lebih berhasil. Sebaliknya bukan berarti pula ekonomi yang berlebihan tidak akan menyebabkan kesulitan belajar. Pada ekonomi yang berlebihan anak mungkin akan selalu dipenuhi semua kebutuhannya, sehingga perhatian anak terhadap pelajaran-pelajaran sekolah akan berkurang karena anak terlalu banyak bersenang-senang, misalnya dengan permainan yang beraneka ragam atau pergi ke tempat-tempat hiburan dan lain-lain.

C. Intelegensi

1. Pengertian Intelegensi

  Menurut David Weschsler (1982) inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu.

  Charles Spearman (1904),penemu teori dua faktor berpendapat bahwa inteligensi meliputi kemampuan umum yang diberi kode “g” (general factors), dan kemampuan khusus yang diberi kode “s” (specific

  factors ). Faktor G, mencakup semua kegiatan intelektual yang dimiliki oleh

  setiap orang dalam berbagai derajad tertentu. Faktor G merupakan kemampuan umum yang dibawa sejak lahir juga bersifat konstan.

  Jumlah faktor G setiap individu berbeda. Semakin besar jumlah G yang ada dalam diri seseorang, maka makin besar kemungkinan kesuksesan hidupnya Sedangkan Faktor S mencakup berbagai faktor khusus yang relevan dengan tugas tertentu. Specific factor dipelajari dan diperoleh dari lingkungan, contohnya kemampuan verbal, kemampuan numerik, dan kemampuan mekanik.

  Menurut Spearman, faktor G lebih banyak mewakili segi genetis dan faktor S lebih banyak diperoleh melalui latihan dan pendidikan. Kedua faktor diatas sangat penting untuk melihat kemampuan individu saat berpindah dari situasi satu ke situasi yang lainnya.

  Berdasarkan Teori Dua Faktor, J.C Raven menciptakan tes Progessive

  Matrices (PM) guna mengukur intelegensi umum. Soal-soal tes PM terdiri

  dari suatu set matriks, pada setiap soal terdapat suatu bagian yang dihilangkan pada ujung kanan bawah dari desain tersebut. Tugas subjek adalah memilih dari sekian alternative jawaban untuk mengisi bagian yang hilang. Soal yang mudah menuntut ketepatan diskriminatif, sedangkan yang lebih susah melibatkan kemampuan analogi dan berpikir logis.

  Tes PM mengukur kemampuan orang untuk berpikir non-verbal dalam bentuk simbol-simbol abstrak, mengukur kemampuan spasial, penalaran induktif, dan faktor lain yang mempengaruhi performance. Pengembangan Tes PM :

  a. Colour Progessive Matrices Memiliki norma persentil bagi anak berusia 5-11 tahun, juga terdapat norma tambahan bagi lansia 60-89 tahun, dan yang memiliki keterbelakangan mental. CPM terdiri dari 3 set yaitu A, B, dan AB yang harus dikerjakan selama 25 menit.

  b. Standard Progessive Matrices Diperuntukan untuk anak 11-16 tahun dan terdiri dari 5 set yaitu A,B,C,D,dan E. SPM memiliki waktu pengerjaan selama 25 menit.

  c. Advance Progessive Matrices Diperuntukan bagi remaja / dewasa yang diperkirakan memiliki kemampuan di atas rata-rata. APM terdiri dari 2 set, set 1 terdiri dari 12 soal dengan waktu pengerjaan 5 menit, dan set 2 terdiri dari 36 soal dengan waktu pengerjaan 25 menit. Dalam APM set 1 hanya diberikan untuk latihan dan tidak dinilai. Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa intelegensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional yang dipengaruhi faktor genetik dan lingkungan.

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi intelegensi

  1. Faktor bawaan atau keturunan Penelitian Salzmann membuktikan bahwa korelasi nilai tes IQ dari satu keluarga sekitar 0,50. Sedangkan di antara 2 anak kembar, korelasi nilai tes IQnya sangat tinggi, sekitar 0,90.

  Bukti lainnya adalah pada anak yang diadopsi. IQ mereka berkorelasi sekitar 0,40 – 0,50 dengan ayah dan ibu yang sebenarnya, dan hanya 0,10 – 0,20 dengan ayah dan ibu angkatnya. Selanjutnya bukti pada anak kembar yang dibesarkan secara terpisah, IQ mereka tetap berkorelasi sangat tinggi, walaupun mungkin mereka tidak pernah saling kenal.

  2.Faktor lingkungan Walaupun ada ciri-ciri yang pada dasarnya sudah dibawa sejak lahir, ternyata lingkungan sanggup menimbulkan perubahan-perubahan yang berarti. Inteligensi tentunya tidak bisa terlepas dari otak. Perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi. Selain gizi, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang amat penting.

3. Pengukuran Intelegensi

  Pada tahun 1904, Alfred Binet dan Theodor Simon, 2 orang psikolog asal Perancis merancang suatu alat evaluasi yang dapat dipakai untuk mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan kelas-kelas khusus (anak-anak yang kurang pandai). Alat tes itu dinamakan Tes Binet-Simon.

  Tes ini kemudian direvisi pada tahun 1911.

  Tahun 1916, Lewis Terman, seorang psikolog dari Amerika mengadakan banyak perbaikan dari tes Binet-Simon. Sumbangan utamanya adalah menetapkan indeks numerik yang menyatakan kecerdasan sebagai rasio (perbandingan) antara mental age dan chronological age. Hasil perbaikan ini disebut Tes Stanford Binet. Indeks seperti ini sebetulnya telah diperkenalkan oleh seorang psikolog Jerman yang bernama William Stern, yang kemudian dikenal dengan Intelligence Quotient atau IQ. Tes Stanford- Binet ini banyak digunakan untuk mengukur kecerdasan anak-anak sampai usia 13 tahun.

  Salah satu reaksi atas tes Binet-Simon atau tes Stanford-Binet adalah bahwa tes itu terlalu umum. Seorang tokoh dalam bidang ini, Charles Sperrman mengemukakan bahwa inteligensi tidak hanya terdiri dari satu faktor yang umum saja (general factor), tetapi juga terdiri dari faktor-faktor yang lebih spesifik. Teori ini disebut Teori Faktor (Factor Theory of Intelligence). Alat tes yang dikembangkan menurut teori faktor ini adalah WAIS ( Wechsler Adult Intelligence Scale) untuk orang dewasa, dan WISC ( Wechsler Intelligence Scale for Children) untuk anak-anak.

  Raven (1927) membuat alat tes untuk mengukur IQ anak, yakni Colour Progessive Matrices (CPM).Bentuk tes CPM ada dua macam yaitu berbentuk cetakan buku dan yang lainnya berbentuk papan dan gambar- gambarnya tidak berbeda dengan yang di buku cetak. Materi tes terdiri dari 36 item/gambar. Item ini dikelompokkan menjadi 3 kelompok atau 3 set yaitu set A, set Ab dan set B. item disusun bertingkat dari item yang mudah ke item yang sukar. Tiap item terdiri dari sebuah gambar besar yang berlubang dan dibawahnya terdapat 6 gambar penutup. Tugas subjek adalah memilih salah satu diantara gambar ini yang tepat untuk menutupi kekosongan pada gambar besar. Pada dasarnya kedua bentuk tersebut dalam pelaksanaan tes memberikan hasil yang sama. (Raven, 1974). Aspek yang diukur :

a. Berpikir logis

  b. Kecakapan pengamatan ruang

  c. Kemampuan untuk mencari dan mengerti hubungan antara keseluruhan dan bagian-bagian, jadi termasuk kemampuan analisa dan kemampuan integrasi.

  d. Kemampuan berpikir secara analogi.

  Tes CPM dapat digunakan untuk mengungkap taraf kecerdasan bagi anak-anak berusia 5 sampai 11 tahun. Di samping itu juga dapat digunakan unuk orang-orang yang lanjut usia dan yuntuk anak-anak defective.

D. Dukungan Sosial

1. Pengertian Dukungan Sosial

  Saronson (1991) menerangkan bahwa dukungan sosial dapat dianggap sebagai sesuatu keadaan yang bermanfaat bagi individu yang diperoleh dari orang lain yang dapat dipercaya. Dari keadaan tersebut individu akan mengetahui bahwa orang lain memperhatikan, menghargai, dan mencintainya.

  Menurut Gonollen dan Bloney (As’ari, 2005), dukungan sosial adalah derajat dukungan yang diberikan kepada individu khususnya sewaktu dibutuhkan oleh orang-orang yang memiliki hubungan emosional yang dekat dengan orang tersebut. Katc dan Kahn (2000) berpendapat, dukungan sosial adalah perasaan positif, menyukai, kepercayaan, dan perhatian dari orang lain yaitu orang yang berarti dalam kehidupan individu yang bersangkutan, pengakuan, kepercayaan seseorang dan bantuan langsung dalam bentuk tertentu. Dukungan sosial merupakan transaksi interpersonal yang mencakup afeksi positif, dan penegasan.

  Dukungan sosial pada umumnya menggambarkan mengenai peranan atau pengaruh yang dapat ditimbulkan oleh orang lain yang berarti seperti anggota keluarga, teman, saudara, dan rekan kerja. Johnson and Johnson berpendapat bahwa dukungan sosial adalah pemberian bantuan seperti materi, emosi, dan informasi yang berpengaruh terhadap kesejahteraan manusia. Dukungan sosial jugs dimaksudkan sebagai keberadaan dan kesediaan orang-orang yang berarti, yang dapat dipercaya untuk membantu, mendorong, menerima, dan menjaga individu.

  Berdasarkan teori-teori diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa Dukungan Sosial adalah bentuk pertolongan yang dapat berupa materi, emosi, dan informasi yang diberikan oleh orang-orang yang memiliki arti seperti keluarga, sahabat, teman, saudara, rekan kerja atupun atasan atau orang yang dicintai oleh individu yang bersangkutan. Bantuan atau pertolongan ini diberikan dengan tujuan individu yang mengalami masalah merasa diperhatikan, mendapat dukungan, dihargai dan dicintai.

2. Dukungan sosial orangtua

  Dukungan sosial dapat diperoleh dari pasangan suami, istri, anak, anggota keluarga lain, teman, komunitas, atau masyarakat. Rodin dan Salovey (dalam Smet, 1994) mengatakan dukungan sosial terpenting berasal dari keluarga. Orang tua sebagai bagian dalam keluarga merupakan individu dewasa yang paling dekat dengan anak. Santrock (2002) menjelaskan bahwa orang tua sebagai tokoh penting dengan siapa anak menjalin hubungan dan merupakan sebuah sistem dukungan ketika anak menjajaki dunia sosial yang lebih luas dan kompleks. Dukungan sosial yang diberikan orang tua memainkan peranan penting terhadap penyesuaian psikologis anak (Malecki,2003).

3. Bentuk dukungan sosial orangtua

  a. Dukungan Instrumental Menurut Hause (Newman, 1987), dukungan instrumental adalah merupakan tindakan atau materi yang diberikan oleh orang lain yang memungkinkan pemenuhan tanggung jawab yang dapat membantu untuk mengatur situasi yang menekan.

  b. Dukungan Informasi Menurut Hause (Newman, 1987), dukungan informasi adalah komunikasi tentang opini atau kenyataan yang relevan tentang kesulitan-kesulitan pada saat ini, misalnya nasehat dan informasi- informasi yang dapat menjadikan individu lebih mampu untuk mengatasi sesuatu

  c. Dukungan Penghargaan Dukungan penghargaan adalah dukungan yang terjadi bila ada ekspresi penilaian yang positif terhadap individu. Orford (1992) berpendapat bahwa dukungan ini dapat ditunjukan dengan cara menghargai , mendorong seseorang mengungkap ide, menyetujui ide, menghargai gagasan atau kemampuan yang dimiliki seseorang. Harga diri seseorang dapat ditingkatkan dengan mengkomunikasikan padanya bahwa ia bernilai dan diterima meskipun ada kesalahan

  d. Dukungan Emosi Menurut Cabb (Nindra, 2003), dukungan sosial emosional merupakan pernyataan tentang cinta, perhatian, penghargaan, simpati dan menjadi bagian dari kelompok yang berfungsi untuk memperbaiki perasaan negatif yang khususnya disebabkan oleh stress.

  e. Dukungan Integrasi Sosial Dukungan Integrasi Sosial adalah perasaan individu sebagai bagian dari kelompok. Cohen dan Wills (dalam Orford,1992) menyatakan bahwa dukungan ini dapat berupa menghabiskan waktu bersama-sama dalam aktivitas, juga melakukan rekreasi di waktu sengang. Barren dan Ainlaiy (dalam Orford,1992) juga menambahkan bahwa dukungan ini dapat meliputi membuat lelucon, membicarakan minat, melakukan kegiatan yang mendatangkan kesenangan.

E. Konsep Diri

1. Pengertian Konsep Diri

  Sebagai sebuah konstruk psikologi , konsep diri didefenisikan secara berbeda oleh para ahli. Hurlock (1992), misalnya, mendefiniskan konsep diri sebagai pengertian, harapan, dan penilaian seseorang mengenai bagaimana diri yang dicita-citakan dan dirinya dalam realita yang sesungguhnya secara fisik maupun psikologis.

  Santrock (1996) menggunakan istilah konsep diri mengacu pada evaluasi bidang tertentu dari diri sendiri. Sementara itu, Atwater (1987) menyebutkan bahwa konsep diri adalah keseluruhan gambaran diri, yang meliputi persepsi seseorang tentang diri, perasaan, keyakinan, dan nilai- nilai yang berhubungan dengan dirinya. Selanjutnya, Atwater mengidentifikasi konsep diri atas tiga bentuk. Pertama, body image, kesadaran tentang tubuhnya, yaitu bagaimana seseorang melihat dirinya sendiri. Kedua, ideal self, yaitu bagaimana cita-cita dan harapan-harapan seseorang mengenai dirinya. Ketiga, social self, yaitu bagaimana orang lain melihat dirinya.

  Dari definisi diatas dapat disimpulkan konsep diri adalah pandangan individu tentang diri sendiri yang meliputi 3 dimensi yaitu; pengetahuan, harapan, dan penilaian.

2. Konsep Diri Anak

  Konsep-diri pada anak-anak antara lain diperoleh dari penilaian orang lain atau lingkungannya. Karena itu, teori pendidikannya mengatakan, sebagian besar cara belajar anak-anak itu adalah imitasi, mengkopi dan merefleksikan rangsangan atau stimuli dari luar (pengalaman indrawi). Dorothy Law Nolte (1985) mengatakan jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki, jika anak dibesarkan dengan ketakutan, ia belajar gelisah, jika anak dibesarkan dengan pengakuan, ia belajar mengenali tujuan, jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar memiliki kepercayaan diri yang tinggi.

  Menurut Cooley (1991), pendapat dan penilaian dari luar itu berperan penting dalam proses pembentukan konsep diri, baik bagi orang dewasa terlebih bagi anak-anak. Pendapat orang lain berperan membentuk persepsi seseorang atas dirinya. Penilaian atau kritik orang lain berperan membentuk persepsi seseorang atas dirinya. Keadaan atau situasi berperan membentuk persepsi seseorang atas dirinya. Konsep-diri yang terbentuk dalam masa kanak-kanak umumnya sulit untuk diubah. Ia menjadi semacam apa yang kita sebut bawaan, watak, sifat, atau culture.

3. Dimensi Konsep Diri

  Para ahli psikologi juga berbeda pendapat dalam menetapkan dimensi- dimensi konsep diri. Namun, secara umum sejumlah ahli menyebutkan 3 dimensi konsep diri, meskipun dengan menggunakan istilah yang berbeda- beda. Calhoun dan Acocella (1990) misalnya, menyebutkan 3 dimensi utama dari konsep diri, yaitu: dimensi pengetahuan, dimensi pengharapan, dan dimensi penilaian. Paul J. Centi (1993) menyebutkan ketiga dimensi konsep diri dengan istilah: dimensi gambaran diri (self¬image), dimensi penilaian diri (self-evaluation), dan dimensi cita-cita diri (self-idea).

  Sebagian ahli lain menyebutnya dengan istilah: citra diri, harga diri, dan diri ideal.

  Maka dapat disimpulkan, dimensi konsep diri meliputi : a.Pengetahuan

  Dimensi pertama dari konsep diri adalah apa yang kita ketahui tentang diri sendiri atau penjelasan dari "siapa saya" yang akan memberi gambaran tentang diri saya. Gambaran diri tersebut pada gilirannya akan membentuk citra diri. Gambaran diri tersebut merupakan kesimpulan dari pandangan kita dalam berbagai peran yang kita pegang, seperti sebagai orangtua, suami atau istri, karyawan, pelajar, dan seterusnya; pandangan kita tentang watak kepribadian yang kita rasakan ada pada diri kita, seperti jujur, setia, gembira, bersahabat, aktif, dan seterusnya; pandangan kita tentang sikap yang ada pada diri kita; kemampuan yang kita miliki, kecakapan yang kita kuasai, dan berbagai karakteristik lainnya yang kita lihat melekat pada diri kita. Singkatnya, dimensi pengetahuan (kognitif) dari konsep diri mencakup segala sesuatu yang kita pikirkan tentang diri kita sebagai pribadi, seperti "saya pintar", "saya cantik", "saya anak baik", dan seterusnya.

  Persepsi kita tentang diri kita seringkali tidak sama dengan kenyataan adanya diri yang sebenarnya. Penglihatan tentang diri kita hanyalah merupakan rumusan, definisi atau versi subjektif pribadi kita tentang diri kita sendiri. Penglihatan itu dapat sesuai atau tidak sesuai diri yang kita miliki tentang diri kita seringkali tidak sesuai dengan gambaran orang lain atau masyarakat tentang diri kita. Sebab, dihadapan orang lain atau masyarakat kita seringkali berusaha menyembunyikan atau menutupi segi-segi tertentu dari diri kita untuk menciptakan kesan yang lebih baik. Akibatnya, di mata orang lain atau masyarakat kita kerap tidak tampak sebagaimana kita melihat diri sendiri (Centi, 1993).

  Gambaran yang kita berikan tentang diri kita juga tidak bersifat permanen, terutama gambaran yang menyangkut kualitas diri kita dan membandingkannya dengan kualitas diri anggota kelompok . Bayangkan bila kita memberi gambaran tentang diri sebagai "anak yang pandai" karena memiliki nilai tertinggi ketika lulus dari suatu SMA. Namun, ketika memasuki perguruan tinggi yang sangat sarat dengan persaingan dan merasakan kita dikelilingi oleh siswa-siswa dari sejumlah SMA lain yang lebih pandai, maka tiba-tiba kita mungkin merubah gambaran diri sebagai "mahasiswa yang tidak begitu pandai". b.Harapan .

  Dimensi kedua dari konsep diri adalah dimensi harapan atau diri yang dicita-citakan dimasa depan. Ketika kita mempunyai sejumlah pandangan tentang siapa kita sebenarnya, pada saat yang sama kita juga mempunyai sejumlah pandangan lain tentang kemungkinan menjadi apa diri kita di masa mendatang. Pengharapan ini merupakan diri-ideal (self-ideal) atau diri yang dicita- citakan.

  Cita-cita diri (self-ideal) terdiri atas dambaan, aspirasi, harapan, keinginan bagi diri kita, atau menjadi manusia seperti apa yang kita inginkan. Tetapi, perlu diingat bahwa cita-cita diri belum tentu sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya dimiliki seseorang. Meskipun demikian, cita-cita diri akan menentukan konsep diri dan menjadi faktor paling penting dalam menentukan perilaku individu. Apapun standar diri ideal yang kita tetapkan, sadar atau tidak kita akan senantiasa berusaha untuk dapat memenuhinya.

  Oleh sebab itu, dalam menetapkan standar diri ideal haruslah lebih realistis, sesuai dengan potensi atau kemampuan diri yang dimiliki, tidak terlalu tinggi dan tidak pula terlalu rendah.

  c. Penilaian Dimensi ketiga konsep diri adalah penilaian kita terhadap diri kita sendiri. Penilaian diri sendiri merupakan pandangan kita tentang harga atau kewajaran kita sebagai pribadi. Menurut Calhoun dan Acocella, setiap hari kita berperan sebagai penilai tentang diri kita sendiri, menilai apakah kita bertentangan dengan : 1) pengharapan bagi diri kita sendiri (saya dapat menjadi apa), 2) standar yang kita tetapkan bagi diri kita sendiri (saya seharusnya menjadi apa). Hasil dari penilaian tersebut membentuk apa yang disebut dengan rasa harga diri, yaitu seberapa besar kita menyukai diri sendiri. Semakin besar ketidak sesuaian antara gambaran kita tentang siapa kita dan tentang seharusnya kita menjadi atau dapat menjadi apa, akan semakin rendah rasa harga diri kita (Rogers, 1959).

  Konsep diri kita memang tidak pernah terumuskan secara jelas dan stabil. Pemahaman diri selalu berubah-ubah, mengikuti perubahan pengalaman yang terjadi hampir setiap saat. Seorang siswa yang memiliki harga diri tinggi tiba-tiba dapat berubah menjadi rendah diri ketika gagal ujian dalam suatu mata pelajaran penting. Sebaliknya, ada siswa yang kurang berprestasi dalam studi dan dihinggapi rasa rendah diri, tiba-tiba merasa memiliki harga diri tinggi ketika ia berhasil memenangkan suatu lomba seni atau olah raga.

4. Konsep diri positif dan konsep diri negatif

  Dimensi-dimensi yang dikatakan di atas dalam perkembangannya dapat membentuk konsep diri individu baik positif maupun negatif (Calhoun,1995). Menurut Hurlock (1992) konsep diri merupakan pengertian, harapan, penilainan individu mengenai dirinya sendiri. Oleh karena itu, konsep diri baik positif maupun negatif akan tampak dalam harapan, pengertian , dan penilaian tersebut.

  a. Konsep diri negatif Menurut Calhoun & Acocella individu dengan konsep diri negatif memiliki pengetahuan yang kurang akan dirinya sendiri. Ia tidak memiliki kestabilan dan keutuhan diri. Ia benar-benar tidak tahu siapa dirinya dan kelemahannya.

  Harapan individu yang memiliki konsep diri negatif tidak realistis. Individu ini memiliki keinginan yang sedemikian rupa sehingga pada kenyataannya ia tidak mencapai apapun yang berharga. Bila ia mengalami kegagalan, maka kegagalan tersebut akan merusak dirinya.

  Individu dengan konsep diri negatif memiliki pandangan negatif terhadap dirinya. Apapun keadaan dirinya tidak pernah cukup baik.

  Mereka juga memiliki pengertian tidak tepat tentang dirinya, pengharapan yang tidak realistis, dan harga diri yang rendah. Individu memandang dirinya tidak memiliki potensi, memiliki motivasi yang rendah untuk belajar, mudah cemas dan putus asa, serta tidak mampu mengaktualisasikan potensinya.

  Individu dengan konsep diri negatif mengganggap suatu keberhasilan diperoleh bukan karena kemampuan melainkan kebetulan (Beane & Lipka 1986).

  b. Konsep diri positif

  Menurut Hurlock (1978:238), konsep diri yang positif akan berkembang jika seseorang mengembangkan sifat-sifat yang berkaitan dengan ‘good self esteem’, ‘good self confidence’, dan kemampuan melihat diri secara realistik.

  Sifat-sifat ini memungkinkan seseorang untuk berhubungan dengan orang lain secara akurat dan mengarah pada penyesuaian diri yang baik. Seseorang dengan konsep diri yang positif akan terlihat optimis, penuh percaya diri dan selalu bersikap positif terhadap segala sesuatu.

  Dasar konsep diri positif adalah penerimaan diri.

5. Pembentukan Konsep Diri

  Konsep diri terbentuk karena suatu proses umpan-balik dari individu lain. Artinya konsep diri terbentuk dari pengalaman individu dalam membangun relasi dengan orang lain. Dalam berinteraksi ini, seiap individu akan menerima tanggapan. Tanggapan yang diberikan tersebut akan menjadikan cermin bagi individu untuk menilai dan memandang dirinya sendiri. Dengan demikian, konsep diri seseorang sebenarnya terbentuk karena hasil belajar atau karena dipelajari.

  Menurut Hurlock (1994) pembentukan konsep diri setiap orang berlangsung dalam beberapa tahap, yakni masa bayi (0-2 tahun), awal

  kanak-kanak (2-6 tahun), akhir masa kanak-kanak (6-10 tahun), masa puber (10-13 tahun), dan masa remaja (13-18 tahun).

  Pertama, masa bayi. Pada masa ini konsep diri individu dipengaruhi oleh orangtua terutama ibunya. Lingkungan individu terbatas yakni hanya pada rumah, dan ibu bagi bayi merupakan teman paling dekat. Maka kepribadian ibu dalam kaitan dengan hubungan ibu-bayi akan sangat mempengaruhi pola konsep diri sang bayi. Masa bayi merupakan masa peletakan dasar kepribadian dimana struktur kepribadian dewasa akan dibangun.

  Kedua, awal masa kanak-kanak. Pola konsep diri yang dasarnya telah diletakan pada bayi mulai terbentuk pada awal masa kanak-kanak.

  Orangtua, saudara kandung dan sanak saudara merupakan dunia sosial bagi anak-anak. Karena itu, penerimaan dan perlakuan terhadap diri mereka merupakan faktor yang penting dalam pembentukan konsep diri. Pada masa ini konsep diri anak dipengaruhi oleh sikap dan cara teman-teman memperlakukannya. Sikap awal teman-teman dan keluarga berperan penting karena dasar konsep diri yang telah diletakan pada awal agak sulit diubah.

  Ketiga, Ketika anak-anak masuk sekolah, maka cakrawala sosialnya semakin meluas. Faktor-faktor baru mulai mempengaruhi perkembangan kepribadiannya. Akibatnya, anak harus seringkali memperbaiki konsep diri. Pada masa ini anak mulai mengangumi tokoh-tokoh dalam sejarah, cerita khayal dalam film, tokoh olahraga, atau tokoh nasional. Anak-anak kemudian membentuk konsep diri yang ideal. Konsep diri anak pada akhir masa kanak-kanak mengalami perubahan dari konsep diri mengikuti pola yang digariskan orangtua, guru, dan teman menjadi konsep diri mengikuti pola dari tokoh-tokoh yang dibaca dan didengar.

  Keempat, masa puber yakni suatu tahap perkembangan dimana terjadi kematangan organ-organ seksual dan tercapai kemampuan reproduksi.

  Masa ini ditandai dengan perubahan fisik yang pesat. Perubahan pesat yang terjadi pada masa puber menimbulkan keraguan, perasaan tidak mampu dan tidak aman.

  Kelima, masa remaja yakni dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa. Masa remaja adalah masa dimana anak secara seksual menjadi matang. Pada masa ini anak membentuk kelompok dan konsep diri anak dipengaruhi oleh kelompoknya. Banyak remaja menggunakan standar kelompok sebagai dasar konsep mereka menilai dirinya sendiri. Remaja mempunyai penilaian yang realistis mengenai kekuatan dan kelemahan. Hal ini memberi perasaan kesinambungan dan memungkinkan remaja tidak memandang diri hari ini berbeda dengan hari lain. Konsep diri bertambah stabil dalam masa remaja dan hanya sedikit perubahan. Dengan bertambahnya usia, memang ada perubahan tetapi perubahan ini bersifat kuantitatif, dalam arti bahwa sifat-sifat yang diinginkan akan diperkuat dan sifat-sifat yang tidak diinginkan akan diperlemah. Dengan kata lain, pada masa remaja konsep diri telah kokoh bentuknya.

6. Konsep Diri Ideal

  Konsep diri ideal adalah aspirasi anak tentang sosok dan kepribadian yang didambakannya dan bukan apa yang ingin dicapainya (Hurlock,1994).

  Namun ada kalanya konsep diri ideal seorang anak berubah, hal tersebut disebabkan oleh :

a. Anak mengidentifikasi diri dengan berbagai model. Model berganti maka konsep diri pun berubah.

  b. Dengan bertambahnya usia anak, konsep diri ideal menjadi kurang

  spesifik. Anak lebih sadar akan nilai sosial dan lebih terampil dalam menilai seseorang, mereka sulit untuk menganggap satu orang sebagai teladan sehingga memilih karakteristik dari berbagai model dan digabungkan.

7. Faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri

  Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan dan perkembangan konsep diri, antara lain: a. Usia

  Konsep diri terbentuk seiring dengan bertambahnya usia, dimana perbedaan ini lebih banyak berhubungan dengan tugas-tugas perkembangan. Pada masa kanak-kanak, konsep diri seseorang menyangkut hal-hal disekitar diri dan keluarganya. Pada masa remaja, konsep diri sangat dipengaruhi oleh teman sebaya dan orang yang dipujanya.

  Sedangkan remaja yang kematangannya terlambat, yang diperlakukan seperti anak-anak, merasa tidak dipahami sehingga cenderung berperilaku kurang dapat menyesuaikan diri. Sedangkan masa dewasa konsep dirinya sangat dipengaruhi oleh status sosial dan pekerjaan, dan pada usia tua konsep dirinya lebih banyak dipengaruhi oleh keadaan fisik, perubahan mental maupun sosial (Syaiful, 2008).

  b. Inteligensi Inteligensi mempengaruhi penyesuaian diri seseorang terhadap lingkungannya, orang lain dan dirinya sendiri. Semakin tinggi taraf intreligensinya semakain baik penyesuaian dirinya dan lebih mampu bereaksi terhadap rangsangan lingkungan atau orang lain dengan cara yang dapat diterima. Hal ini jelas akan meningkatkan konsep dirinya, demikian pula sebaliknya (Syaiful, 2008).

  c. Pendidikan Seseorang yang mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi akan meningkatkan prestisenya. Jika prestisenya meningkat maka konsep dirinya akan berubah (Syaiful, 2008).

  d. Status Sosial Ekonomi Status sosial seseorang mempengaruhi bagaimana penerimaan orang lain terhadap dirinya. Penerimaan lingkungan dapat mempengaruhi konsep diri seseorang. Penerimaan lingkungan terhadap seseorang cenderung didasarkan pada status sosial ekonominya. Maka dapat dikatakan individu yang status sosialnya tinggi akan mempunyai konsep diri yang lebih positif dibandingkan individu yang status sosialnya rendah.

  Hal ini didukung oleh penelitian Rosenberg terhadap anak-anak dari ekonomi sosial tinggi menunjukkan bahwa mereka memiliki konsep diri yang tinggi dibandingkan dengan anak-anak yang berasal dari status ekonomi rendah. Hasilnya adalah 51 % anak dari ekonomi tinggi mempunyai konsep diri yang tinggi. Dan hanya 38 % anak dari tingkat ekonomi rendah memiliki tingkat konsep diri yang tinggi (dalam Skripsi e. Hubungan Keluarga Seseorang yang mempunyai hubungan yang erat dengan orang tua juga salah satu anggota keluarga akan mengidentifikasikan diri dengan orang lain dan ingin mengembangkan pola kepribadian yang sama. Bila tokoh ini sesama jenis, maka akan tergolong untuk mengembangkan konsep diri yang layak untuk jenis seksnya.

  f. Orang Lain Kita mengenal diri kita dengan mengenal orang lain terlebih dahulu.

  Bagaimana orang lain mengenal kita, akan membentuk konsep diri. Sullivan (dalam Rakhmat, 2005:101) menjelaskan bahwa individu yang diterima orang lain, dihormati dan disenangi karena keadaan dirinya, akan cenderung bersikap menghormati dan menerima dirinya.

  Sebaliknya, bila orang lain selalu meremehkan dirinya, menyalahkan dan menolaknya, ia akan cenderung kurang menyukai dirinya. Miyamoto dan Dornbusch (dalam Rakhmat, 2005:101) mencoba mengkorelasikan penilaian orang lain terhadap dirinya sendiri dengan skala lima angka dari yang palin jelek sampai yang paling baik. Yang dinilai adalah kecerdasan, kepercayaan diri, daya tarik fisik, dan kesukaan orang lain terhadap dirinya. Dengan skala yang sama mereka juga menilai orang lain. Ternyata, orang-orang yang dinilai baik oleh orang lain, cenderung memberikan skor yang tinggi juga dalam menilai dirinya. Artinya, harga diri sesuai dengan penilaian orang lain terhadap dirinya.

F. Dinamika antar variabel

  Tingkat keberhasilan seseorang dalam belajar dapat dilihat dari prestasi belajar yang diraihnya. Prestasi belajar sendiri diketahui dari evaluasi belajar yang dilakukan dengan pengukuran yang dibuat dan biasanya dirangkum dalam sebuah buku raport.

  Prestasi belajar dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal dan internal dalam diri siswa. Faktor internal adalah faktor-faktor yang bersumber dalam diri siswa. Salah satu faktor internal yang mempengaruhi prestasi belajar adalah intelegensi anak. Tingkat intelegensi sangat menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa ( Syah, 2006). Semakin tinggi tingkat intelegensi siswa, semakin besar peluangnya untuk mencapai keberhasilan. Hal yang sama juga diungkap oleh Ekowati (2006) yang mengatakan bahwa terdapat kontribusi positif antara intelegensi dan hasil belajar siswa.

  Faktor internal lainnya yang mempengaruhi prestasi belajar anak ialah konsep diri. Sejumlah ahli psikologi dan pendidikan berkeyakinan bahwa konsep diri dan prestasi belajar mempunyai hubungan yang erat. Siswa yang memiliki konsep diri positif, memperlihatkan prestasi yang baik di sekolah, atau siswa yang berprestasi tinggi di sekolah memiliki penilaian diri yang tinggi, serta menunjukkan hubungan antarpribadi yang positif pula. Mereka menentukan target prestasi belajar yang realistis dan mengarahkan kecemasan akademis dengan belajar keras dan tekun, serta aktivitas-aktivitas mereka selalu diarahkan pada kegiatan akademis.

  Coopersmith (1967) juga membuktikan ada hubungan yang erat antara konsep diri dan prestasi belajar siswa. Siswa yang mengalami dyslexia menunjukan konsep diri yang rendah. Hal itu berkaitan mengenai self- efficacy- nya, yaitu keyakinan akan kompetensi pribadi dalam situasi yang khusus.

  Seorang yang memiliki konsep diripositif maka self-efficacy-nya akan tinggi. Siswa yang menganggap self-efficacy-nya rendah cenderung menghubungkan kegagalan dengan kurangnya kemampuan. Siswa yang berpegang teguh pada rasa self-efficacy yang rendah akan menghancurkan motivasinya jika kegagalan dihubungkan dengan kurangnya kemampuan (Bandura dalam Woolfolk,1995).

  Pada umumnya hasil penelitian menunjukan adanya perbedaan sikap siswa yang berprestasi tinggi dalam memandang dirinya. Siswa yang berprestasi kurang akan memandang dirinya sebagai orang yang tidak memiliki kemampuan dan kurang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya.

  Adanya perbedaan pandangan dalam memandang diri menyebabkan perbedaan dalam memandang keberhasilan yang dicapai. Siswa yang memandang dirinya negatif akan memandang keberhasilan sebagai suatu kebetulan saja, sedangkan siswa yang memandang dirinya positif akan menganggap keberhasilan sebagai adanya kemampuan. Pandangan inilah yang mendorong siswa untuk lebih giat dalam belajar sehingga mencapai prestasi belajar yang lebih baik.

  Faktor eksternal yang mempengaruhi prestasi belajar ialah dukungan sosial yang diterima anak. Rodin dan Salovey (dalam Smet, 1994) menyatakan dukungan sosial terpenting berasal dari keluarga. Orangtua sebagai bagian dalam keluarga merupakan individu dewasa yang paling dekat dengan anak dan salah satu sumber dukungan sosial bagi anak dari keluarga. Orford (1992) mengemukakan bahwa dukungan sosial orangtua sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar anak. Dukungan yang biasa diberikan orangtua terhadap anaknya ialah dukungan instrumental dan emosional. Menurut Cabb (dalam Nindra, 2003) dukungan instrumental yang diberikan orang tua membuat anak menjalankan kegiatan belajarnya dengan baik karena pemenuhan kebutuhan sekolahnya sehingga membantu kelancaran proses belajar mengajar. Begitupun dengan pemenuhan kebutuhan emosional dalam bentuk cinta, perhatian, penghargaan, dukungan yang diberikan orangtua mengajarkan anak bagaimana menilai dirinya sendiri yang akhirnya membantunya untuk mencapai cita-cita juga prestasi yang baik serta membentuk perkembangan kepribadian yang positif bagi anak (Calhoun dan Acocella, 1990).

G. Hipotesis

  Berdasar teori-teori di atas maka hipotesis penelitian ini berbunyi : Ada hubungan positif antara prestasi belajar dengan intelegensi, konsep diri, dan dukungan sosial yang diberikan orang tua. Makin tinggi intelegensi, konsep diri, dan dukungan sosial yang diberikan orang tua terhadap anak, ,maka makin tinggi pula prestasi belajar anak.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini termasuk jenis penelitian korelasional karena ada hubungan antara variable independen terhadap variabel dependen. B. Identifikasi Variabel

  1. Variable Dependen Variable Dependen adalah variable yang dianggap dipengaruhi oleh variabel lain. Dalam penelitian ini yang termasuk variable dependen adalah Prestasi Belajar.

  2. Variable Independen Variable Independen adalah variable yang dianggap mempengaruhi variabel lain. Dalam penelitian ini yang termasuk variable independen adalah variable Intelegensi, Konsep Diri, dan Dukungan Sosial.

C. Definisi Operasional

  1. Inteligensi Suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional yang dipengaruhi faktor genetik dan lingkungan.

  Dalam penelitian ini, intelegensi siswa akan diukur mengunakan alat tes CPM. Semakin tinggi nilai yang diperoleh subjek, maka makin tinggi tingkat intelegensi subjek.

  1. Dukungan Sosial Bentuk pertolongan yang dapat berupa materi, emosi, dan informasi yang diberikan oleh orang-orang yang memiliki arti seperti keluarga, sahabat, teman, saudara, rekan kerja atupun atasan atau orang yang dicintai oleh individu yang bersangkutan dengan tujuan individu yang mengalami masalah merasa diperhatikan, mendapat dukungan, dihargai dan dicintai. Dalam penelitian ini peneliti membuat skala dukungan sosial orangtua yang akan diisi oleh para subjek Semakin tinggi nilai yang diperoleh subjek, maka semakin besar dukungan sosial yang diterima dari orangtua.

  3. Konsep diri Pandangan individu tentang diri sendiri yang memiliki 3 dimensi, yaitu; pengetahuan, harapan , dan penilaian.

  Dalam penelitian ini peneliti membuat skala konsep diri yang akan diisi oleh para subjek.

  Semakin tinggi nilai yang diperoleh subjek, maka semakin positif konsep diri subjek.

  2. Prestasi Belajar Prestasi belajar adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dilakukan, diciptakan baik dilakukan secara pribadi maupun kelompok.

  Dalam penelitian ini pengukuran prestasi belajar dilakukan dengan mendata nilai pelajaran Matematika, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia yang terangkum Dalam nilai raport pada saat subjek kelas 1.

  D. Subjek Penelitian

  Subjek penelitian ini adalah siswa kelas dua Sekolah Dasar dari SD Kanisius Demangan Baru, Kanisius Sorowajan, dan Kanisius Condong Catur tahun ajaran 2010/ 2011 yang berjumlah 133 anak.

  E. Metode Pengumpulan Data

  1. Intelegensi Metode pengetesan digunakan untuk mengumpulkan data berupa hasil IQ siswa. Metode pengetesan ini menggunakan alat tes IQ CPM.

  CPM atau Colour Progessive Matrices adalah sebuah alat tes yang dibuat oleh Raven yang terdiri dari 36 item.

  CPM dikelompokkan menjadi 3 kelompok atau 3 set yaitu set A, set Ab

  dan set B. item disusun bertingkat dari item yang mudah ke item yang sukar. Tiap item terdiri dari sebuah gambar besar yang berlubang dan dibawahnya terdapat 6 gambar penutup. Tugas subjek adalah memilih salah satu diantara gambar ini yang tepat untuk menutupi kekosongan pada gambar besar.

  2. Dukungan Sosial orangtua Metode yang digunakan untuk mengukur dukungan sosial orangtua ialah skala. Peneliti membuat skala Dukungan Sosial yang terdiri dari 15 item. Awalnya peneliti membuat 20 item untuk skala Dukungan Sosial, namun setelah melalui proses tryout, item berkurang menjadi 15.

  Dalam skala dukungan sosial dapat dilihat seberapa besar anak menerima dukungan sosial dari orang tua. Subjek diminta untuk memberikan tanda pada dua kemungkinan jawaban yang tersedia sesuai dengan keadaan diri subjek. Pilihan jawaban itu ialah “Sering” dan “Jarang”. Dengan memberikan dua pilihan jawaban anak akan lebih mudah untuk memilih jawaban yang sesuai dengan dirinya dibandingkan bila diberi beberapa variasi jawaban lain. Hal tersebut dikarenakan anak-anak belum dapat membedakan maksud dari variasi pilihan jawaban yang disediakan. Skala ini terdiri dari dua bagian, bagian pertama memuat identitas subjek yang meliputi nama lengkap,kelas, no absen, jenis kelamin, dan umur subjek. Sementara bagian kedua berupa sejumlah pertanyaan seputar Dukungan Sosial subjek.

  3. Konsep Diri Metode yang digunakan untuk mengukur konsep diri subjek ialah skala.

  Skala Konsep Diri terdiri dari 23 item. Awalnya peneliti membuat 24 item yang akhirnya berkurang menjadi 23 setelah proses tryout. Dalam Skala

  Konsep Diri dapat dilihat seberapa besar pengertian dan penilainan anak tentang dirinya sendiri. Subjek diminta untuk memberikan tanda pada dua kemungkinan jawaban yang tersedia sesuai dengan keadaan diri subjek. Pilihan jawaban itu ialah “Sesuai” dan “Tidak Sesuai”. Dengan memberikan dua pilihan jawaban anak akan lebih mudah untuk memilih jawaban yang sesuai dengan dirinya dibandingkan bila diberi beberapa variasi jawaban lain. Hal tersebut dikarenakan anak-anak belum dapat membedakan maksud dari variasi pilihan jawaban yang disediakan. Pertanyaan yang digunakan dalam skala ini merupakan pertanyaan favorable untuk mengarahkan anak pada pembentukan konsep diri positif.

  Skala ini terdiri dari dua bagian, bagian pertama memuat identitas subjek yang meliputi nama lengkap,kelas, no absen, jenis kelamin, dan umur subjek. Sementara bagian kedua berupa sejumlah pertanyaan seputar konsep diri subjek.

  4. Prestasi Belajar Untuk melihat hasil prestasi belajar subjek, peneliti mengumpulkan data siswa berupa nilai raport Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika pada kelas I semester 2. Peneliti meminta data tersebut pada wali kelas II.

F. Validitas dan Realibilitas Instumen

  1. Validitas Validitas tes adalah tingkat suatu tes mampu mengukur apa yang hendak diukur (Arikunta,2003). Suatu alat ukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila dapat menjalani fungsi ukur atau dapat memberikan hasil ukur yang tepat dan akurat sesuai dengan maksud pengukurannya (Azwar,1999).

  Validitas yang digunakan dalam menguji Skala Dukungan Sosial dan Konsep Diri dalam penelitian ini adalah validitas isi yang menunjuk pada sejauh mana item-item dalam alat ukur mencakup keseluruhan kawasan isi objek yang hendak diukur (Azwar,2004).

  Validitas isi diestimasi melalui pengujian isi tes oleh professional

  judgement atau proses penilaian oleh orang yang dianggap ahli dalam

  menilai apakah item-item tersebut benar-benar mewakili mengukur seluruh aspek yang hendak diukur (Azwar,2004).Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan professional judgment, yaitu penilaian dosen pembimbing.

  2. Seleksi Item Item yang tidak memperlihatkan kualitas yang baik harus disingkirkan atau direvisi terlebih dahulu sebelum menjadi bagian dari skala. Hanya item yang mempunyai kualitas yang baik yang boleh digunakan dalam skala. Kualitas yang dimaksud adalah konsistensi antara item dengan tes secara keseluruhan atau sering disebut sebagai korelasi item total.

  Bila korelasinya rendah atau mendekati nol berarti item tersebut tidak cocok dengan fungsi ukur tes dan daya bedanya tidak baik. Sedangkan korelasi yang bernilai negative berarti terdapat cacat serius pada item yang bersangkutan (Azwar,2004). Proses perhitungan daya beda item menggunakan program SPSS 16.0 for Windows.

  a. Skala Dukungan Sosial Berdasar data hasil uji coba terhadap 49 subjek, diperoleh hasil seleksi item tentang seberapa besar dukungan sosial orangtua yang diterima anak dengan korelasi antara (-0.004 – 0.596). Dari 20 item diperoleh 15 item yang dipakai yang akhirnya menghasilkan korelasi antara (0.027-0.616).

  Item yang gugur ialah item nomor 3, 5, 13, 18, dan 19. Item-item tersebut digugurkan untuk mendukung reliabilitas alat tes.

  Tabel 1 Bentuk Akhir Skala Dukungan Sosial Orang Tua

  No Aspek Item Jumlah

  1 Dukungan Instrumental 1,2,4

  3

  2 Dukungan Informasional 6,7,8

  3

  3 Dukungan Penghargaan 9,10,11

  3

  4 Dukungan Emosi 12,14,15 3

  5 Dukungan Integrasi Sosial 16,17,20 3 Total

  15 b. Skala Konsep Diri Berdasar data hasil uji coba terhadap 75 subjek, diperoleh hasil seleksi item tentang seberapa besar pengertian dan penilainan anak tentang dirinya sendiri dengan korelasi antara ( 0.033-0.0535) Dari 24 item diperoleh 23 item yang dipakai, yang akhirnya menghasilkan korelasi antara (0.141 – 0.540). Item yang di gugurkan ialah item nomor 15. Dengan mengugurkan item ini, reliabilitas alat tes pun meningkat.

  Tabel 2 Bentuk Akhir Skala Konsep Diri

  No Dimensi Item Jumlah Fisik 1,2

  2 Mental 3,4

  2

  1 Pengetahuan Sosial 5,6

  2 moral 7,8

  2

  2 Pengharapan 9,10,11,12,13,14,16

  7

  3 Penilaian 17,18,19,20,21,22,23,24

  8 Total

  23 c.Colour Progressive Matrices

  Penelitian tentang kesahihan dan keandalan CPM dilakukan oleh Wulan (dalam Manual CPM 1981) di Yogyakarta dengan mengkorelasikan hasil tes CPM dengan WISC terhadap murid-murid SD Serayu sebanyak 100 anak. Dari penelitian itu didapat korelasi antara (0.151 – 0.0447).

  3. Reliabilitas Reliabilitas menunjukan sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. Reliabilitas ditunjukan dengan angka atau koefisien korelasi yang berkisar antara 0-1. Semakin tinggi koefisien korelasi mendekati 1, berarti alat tes tersebut semakin reliabel.

  a. Skala Dukungan Sosial Hasil perhitungan reliabilitas menggunakan SPSS 16.0 for Windows menunjukan koefisien korelasi pada tryout skala dukungan sosial orang tua. Sebelum seleksi item, Koefisien korelasi sebesar 0.691 dan setelah seleksi item didapat peningkatan menjadi 0.742. Hal ini berarti bahwa skala dukungan sosial orang tua dapat dikatakan reliabel karena koefisien korelasi mendekati 1. b.Skala Konsep Diri

  Hasil perhitungan reliabilitas menggunakan SPSS 16.0 for Windows menunjukan koefisien korelasi pada tryout skala konsep diri. Sebelum seleksi item, koefisien korelasi sebesar 0.803 dan setelah seleksi item didapat peningkatan menjadi 0.805. Hal ini berarti bahwa skala konsep diri dapat dikatakan reliabel karena koefisien korelasi mendekati 1. c.Colour Progressive Matrices Pengujian reliabilitas dalam penelitian yang dilakukan oleh Wulan (dalam manual CPM 1981) di Yogyakarta dengan tes ulang menghasilkan koefisien korelasi sebesar 0.513 dan setelah dilakukan seleksi item di dapat peningkatan menjadi 0.604. Hal ini menunjukan bahwa Tes CPM reliabel dalam mengukur tingkat inteligensi anak.

G. Analisis Data Dalam penelitian ini, analisis data yang digunakan adalah analisis regresi.

  Analisis regresi dipilih karena peneliti ingin melihat hubungan lebih dari satu variabel independen ( intelegensi, dukungan sosial, dan konsep diri) dengan satu variabel dependen yang bersifat kontinum.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Persiapan Penelitian

  1. Izin Penelitian Pengambilan data penelitian dilakukan di tiga Sekolah Dasar

  Kanisius di Yogyakarta, yakni SD Kanisius Demangan, SD Kanisius Sorowajan, dan SD Kanisius Condong Catur. Proses permohonan izin pada awalnya dilakukan secara informal kepada kepala sekolah SD Kanisius Demangan, SD Kanisius Sorowajan, dan SD Kanisius Condong Catur dengan menyertakan proposal penelitian. Peneliti pun diizinkan untuk melakukan penelitian pada waktu yang sudah disepakati bersama dengan pihak sekolah.

  Pada tanggal 15 November 2010, peneliti mengajukan surat permohonan ijin penelitian yang telah ditandatangani oleh Dekan Fakultas Psikologi Sanata Dharma kepada kepala sekolah SD Kanisius Demangan, SD Kanisius Sorowajan, dan SD Kanisius Condong Catur.

  2. Uji Coba Alat Ukur Uji coba alat ukur dilakukan untuk melihat kualitas item-item dalam skala yang akan digunakandalam penelitian.

  a. Skala dukungan sosial Skala dukungan sosial orang tua diuji cobakan pada 29 siswa-siswi yang duduk di kelas II A SD Kanisius Sorowajan pada tanggal 17 November 2010 dan 25 siswa-siswi yang duduk di kelas II A SD Kanisius Demangan pada tanggal 18 November 2010.

  Pengerjaan instrumen tersebut dilakukan di dalam kelas dan membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit. Keseluruhan subjek yang mengisi instrumen penelitian pada uji coba alat ukur berjumlah 54 orang namun terdapat 5 orang yang tidak mengisi skala dengan lengkap dan dinyatakan gugur, sehingga keseluruhan subjek yang diikutsertakan dalam uji coba berjumlah 49 orang.

  b. Skala konsep diri Skala konsep diri diuji cobakan pada 75 siswa-siswi yang duduk di kelas II A, B, dan C SD Kanisius Demangan pada tanggal 17 Januari

  2011.

  Pengerjaan instrumen tersebut dilakukan di dalam kelas dan membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit. Keseluruhan subjek yang mengisi instrumen penelitian pada uji coba alat ukur berjumlah 75 orang dan mengisi skala dengan lengkap sehingga tidak ada yang dinyatakan gugur.

B. Pelaksanaan Penelitian

  Penelitian di SD Kanisius Demangan melibatkan siswa-siswi kelas II A yang berjumlah 26 orang, II B yang berjumlah 26 orang, dan II C yang berjumlah 27 orang. Pada tangal 22 November 2010, subjek di tes intelegensi dengan menggunakan CPM yang membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit. Peneliti menjelaskan bagaimana cara mengisi CPM dan meminta subjek untuk memeriksa ulang setelah selesai mengerjakan agar tidak ada yang terlewat.

  Peneliti meminta dokumentasi nilai raport kelas I semester II mata pelajaran Matematika, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia kepada wali kelas II sebagai data prestasi belajar dalam penelitian ini. Pada tanggal 26 November 2010, subjek diminta untuk mengisi skala dukungan sosial yang dilakukan secara klasikal dan dikumpulkan saat itu juga. Pengisisan skala dukungan sosial membutuhkan waktu sekitar 15 menit. Pada tanggal 21 Januari 2011, subjek mengisi skala dukungan sosial secara klasikal sekitar 15 menit dan langsung dikumpulkan pada saat itu juga.

  Penelitian di SD Kanisius Sorowajan melibatkan siswa-siswi kelas II A dan kelas II B yang masing-masing berjumlah 30 orang. Peneliti meminta dokumentasi nilai raport kelas I semester II mata pelajaran Matematika, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia kepada wali kelas II sebagai data prestasi belajar pada tanggal 23 November 2010. Pada tanggal 26 November 2010 peneliti melakukan pengetesan intelegensi dengan CPM selama kurang lebih 30 menit. Peneliti menjelaskan bagaimana cara mengisi CPM dan meminta subjek untuk memeriksa ulang setelah selesai mengerjakan agar tidak ada yang terlewat. Pengambilan data dukungan sosial dilakukan pada tanggal 29 November 2010 di kelas selama 15 menit secara klasikal yang dikumpulkan saat itu juga, sedangkan pengisian skala konsep diri dilakukan pada tanggal 24 Januari 2011.

  Penelitian di SD Kanisius Condong Catur melibatkan kelas II yang berjumlah 31 orang. Peneliti meminta dokumentasi nilai raport kelas I semester

  II mata pelajaran Matematika, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia kepada wali kelas II sebagai data prestasi belajar dalam penelitian ini pada tanggal 24 November 2010. Pada hari yang sama pengetesan intelegensi pun dilakukan dengan menggunakan alat ukur CPM. Pengetesan berlangsung selama kurang lebih 30 menit. Peneliti menjelaskan bagaimana cara mengisi CPM dan meminta subjek untuk memeriksa ulang setelah selesai mengerjakan agar tidak ada yang terlewat. Pengambilan data dukungan sosial dilakukan pada tanggal

  26 November 2010 di kelas selama 15 menit secara klasikal yang dikumpulkan saat itu juga, sedangkan pengisian skala konsep diri dilakukan pada tanggal 26 Januari 2011.

C. Deskripsi Data Penelitian

   Tabel 3 Deskripsi data penelitian Mean Min Max empirik Mean teoritik Uji t p

  CPMtotal

  8

  36

  26.2 22 9.057 0.000 DStotal 0.000

  2

  23

  10.15 12.5 -8.009 rerata 0.000

  66

  94

  83.08 80 5.119 KDtotal 0.000

  33

  46

  41.84 39.5 7.279

  Untuk mengetahui tingkat kecerdasan , dukungan sosial,konsep diri, dan prestasi belajar subjek, peneliti menguji signifikansi perbedaan mean empiris dan mean teoritis. Dengan cara ini peneliti tidak menetapkan lebih dulu kriteria kategorisasinya melainkan menguji apakah mean kelompok subjek penelitian berada secara signifikan dari mean teoritis (Azwar,1993).

  Mean teoritik adalah rata-rata skor data penelitian. Mean teoritik diperoleh dari angka yang menjadi titik tengah alat ukur penelitian. Mean empirik adalah rata-rata data hasil penelitian.

  Dari hasil penelitian, mean empirik dari slope intelegensi lebih tinggi dari mean teoritik dengan t = 9.057 dan p = 0.000 (p < 0.05). Maka dapat disimpulkan bahwa subjek memiliki tingkat intelegensi yang tinggi.

  Untuk slope dukungan sosial, mean empirik lebih kecil dari mean teoritik dengan t= -8.009 dan p = 0.000 (p < 0.05). Maka dapat disimpulkan bahwa subjek memiliki dukungan sosial yang rendah dari orangtua.

  Untuk slope konsep diri, mean empirik lebih tinggi dari mean teoritik dengan t = 7.279 dan p = 0.000 (p < 0.05). Maka dapat disimpulkan bahwa subjek memiliki konsep diri yang positif.

  Sedangkan untuk slope prestasi belajar, mean empirik lebih tinggi dari mean teoritik dengan t = 5.119 dan p = 0.000 (p < 0.05). Maka dapat disimpulkan bahwa subjek memiliki prestasi belajar yang tinggi.

D. Hasil Penelitian

  1. Uji Asumsi

  a. Uji asumsi normalitas residu Uji normalitas dilakukan untuk memeriksa apakah data penelitian berasal dari populasi yang sebarannya normal. Dalam penelitian ini, uji normalitas dilakukan dengan melihat grafik. Jika titik-titik memiliki jarak yang relatif dekat dengan garis normal maka data dianggap normal. Pada grafik Normal P-P Plot dalam penelitian, grafik menunjukan adanya jarak yang relatif dekat antara garis normal dan data, maka dapat disimpulkan bahwa grafik tersebut menunjukan distribusi data penelitian normal.

  Gambar 1. P.P plot untuk melihat uji normalitas residu analisis regresi

  b. Uji Linearitas Uji linearitas dimaksudkan untuk melihat apakah hubungan antar variabel yang hendak dianalisis itu mengikuti garis lurus atau tidak.

  Peningkatan atau penurunan kuantitas di satu variabel akan diikuti secara linear oleh peningkatan atau penurunan kuantitas di variabel lainnya. Uji Linearitas dalam penelitian ini dilakukan dengan melihat pola pada grafik Scatterplot. Pada gambar grafik menunjukan titik-titik

  Hasil uji t untuk slope intelegensi menunjukan hasil yang signifikan (t= 4.993, p = 0.000) sehingga hipotesis intelegensi berkorelasi positif dengan prestasi belajar diterima.

  Hasil uji t untuk slope dukungan sosial menunjukan hasil yang tidak signifikan. (t = 1.359, p = 0.177) sehingga hipotesis dukungan sosial berkorelasi positif dengan prestasi belajar ditolak

  Hasil uji t untuk slope konsep diri menunjukan hasil yang tidak signifikan. (t= 0.735, p= 0.463) sehingga hipotesis konsep diri berkorelasi positif dengan prestasi belajar ditolak.

  Tabel 4 Uji t dan signifikansi t Sig (intercept) 9.728 .000

  CPMtotal 4.993 .000 DStotal 1.359 .177 KDtotal .735 .463

E. Pembahasan

  Dalam penelitan ini didapat koefisien korelasi secara umum sebesar 0.499

  2

  dan F sebesar 10.841. Koefisien determinasi (R ) menggambarkan variasi perubahan yang mampu dijelaskan oleh variabel independent terhadap variabel dependen (Widarjono, 2005). Dari tabel di atas dapat diketahui koefisien

  2

  determinasi (R ) yang didapat sebesar 0.201. Artinya sumbangan yang diberikan oleh variabel independen ( intelegensi,dukungan sosial, dan konsep diri ) terhadap prestasi belajar adalah 20.1%.

  Prestasi belajar dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan faktor-faktor yang bersumber dalam diri siswa. Salah satu faktor internal adalah intelegensi. Hasil uji regresi diperoleh taraf signifikansi sebesar 0.000 sehingga hipotesis intelegensi berkorelasi positif dengan prestasi belajar diterima. Hal ini berarti semakin tinggi intelegensi semakin tinggi pula prestasi belajar yang diperoleh.Hasil penelitian ini sesuai dengan teori sebelumnya, yakni tingkat kecerdasan (IQ) siswa sangat menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa. Semakin tinggi kemampuan intelegensi seorang siswa, maka semakin besar peluangnya untuk meraih sukses (Syah, 2006). Hal yang sama juga diungkap oleh Ekowati (2006) yang mengatakan bahwa terdapat kontribusi positif antara intelegensi dan hasil belajar siswa. Sumbangan yang diberikan intelegensi pada prestasi belajar dalam penelitian ini sebesar 16.1%.

  Faktor internal lain yang mempengaruhi prestasi belajar adalah konsep diri. Hasil uji regresi diperoleh taraf signifikansi sebesar 0.463 sehingga hipotesis konsep diri berkorelasi positif dengan prestasi belajar ditolak. Hasil penelitian ini bertolak belakangan dengan hasil penelitian sebelumnya. Nylon (1972) membuktikan adanya hubungan positif antara konsep diri dan prestasi belajar.

  Siswa yang memiliki konsep diri yang positif memperlihatkan prestasi belajar yang baik pula. Mereka menentukan target prestasi belajar yang realistis dan mengarahkan diri pada kegiatan akademis.

  Hasil penelitian yang tidak signifikan mungkin dikarenakan adanya perbedaan subjek antara penelitian sebelumnya dan penelitian saat ini. Pada penelitian sebelumnya peneliti menggunakan remaja sebagai subjek penelitian. Sedangkan penelitian saat ini menggunakan subjek yang berada pada tahapan akhir masa kanak-kanak (6-10 tahun). Pada masa ini anak mengagumi tokoh- tokoh dalam sejarah, cerita-cerita khayalan dalam sandiwara, film, atau tokoh- tokoh nasional. Anak-anak kemudian membentuk konsep diri yang ideal. Pada masa ini konsep diri ideal anak masih seputar bagaimana ia dapat menjadi serupa dengan model yang ia tiru atau hal-hal yang kurang realistis, sehingga hal nyata seperti pencapaian prestasi belajar yang tinggi belum benar-benar ada dalam tahapan ini. Saat memasuki tahap remaja (13-18 tahun) remaja akan membentuk konsep diri ideal yang berorientasi pada pencapaian hal nyata seperti pencapaian prestasi, keberadaan sosial, dan penilaian kelompok (Ginzberg, dalam Monks 1984). Hal tersebut yang mungkin menyebabkan konsep diri tidak berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar.

  Selain faktor internal, ada juga faktor ekternal yang mempengaruhi prestasi belajar, yaitu dukungan sosial orang tua yang diterima anak. Hasil uji regresi diperoleh taraf signifikansi sebesar 0.177 sehingga hipotesis dukungan sosial berkorelasi positif dengan prestasi belajar ditolak. Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan teori sebelumnya. Dalam teori sebelumnya dikatakan bahwa dukungan instrumental yang diberikan orang tua membuat anak menjalankan kegiatan belajarnya dengan baik karena pemenuhan kebutuhan sekolahnya sehingga membantu kelancaran proses belajar mengajar. Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa sebagian besar subjek mendapatkan dukungan sosial yang sangat rendah dari orangtuanya, hal ini mengakibatkan dukungan sosial tidak berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar.

  Dukungan sosial yang rendah dimungkinkan karena kesibukan orangtua, dimana saat ini semakin banyak pasangan suami istri yang sama-sama bekerja, baik karena alasan ekonomi maupun kesempatan pendidikan dan lapangan kerja bagi wanita yang semakin baik sehingga istri berkarir sudah merupakan kelaziman. Hal tersebut membuat minimnya perhatian yang diberikan orangtua terhadap anaknya. Mereka mungkin hanya dapat menghabiskan waktu di akhir minggu dengan anak-anaknya. Berbeda dengan keadaan saat penelitian terdahulu dilakukan, dimana suamilah yang menjadi tulang punggung keluarga dan istri mengurus anak di rumah sehingga anak masih mendapat dukungan sosial yang cukup dari ibu.

F. Kelemahan Penelitian

  Peneliti menyadari adanya kekurangan selama penelitian ini. Hal tersebut adalah :

  1.Subjek yang digunakan terlalu kecil sehingga konsep diri idealnya masih berorientasi pada hal yang kurang realistis.

  2.Ketidakmampuan mengungkap kesesuaian antara hasil yang dicapai lewat pengisian skala dengan kehidupan sehari-hari. Kemungkinan besar subjek memilih jawaban yamg paling baik menurut pendapat sosial yang sebenarnya bukan keadaan sesungguhnya dari diri subjek.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Kesimpulan penelitian ini adalah ada hubungan positif antara prestasi

  belajar dan intelegensi. Makin tinggi intelegensi anak maka makin tinggi prestasi belajarnya. Hal ini ditunjukan dengan taraf signifikansi sebesar 0.000 atau p < 0.05. Selain itu hasil penelitian juga menunjukan bahwa tidak ada hubungan yang positif antara prestasi belajar dengan dukungan sosial. Hal ini ditunjukan dengan taraf signifikansi yang didapat dari hasil uji regresi sebesar 0.177 atau p > 0.05. Begitu juga dengan konsep diri, hasil uji regresi menunjukan taraf signifikansi sebesar 0.463 atau p > 0.05 sehingga hipotesis bahwa ada hubungan positif antara konsep diri dan prestasi belajar ditolak.

  Sumbangan efektif yang diberikan variabel intelegensi, dukungan sosial, dan konsep diri kepada prestasi belajar adalah sebesar 20.1%. Berarti terdapat 79.9% variabel lain yang memberikan sumbangan untuk prestasi belajar.

B. Saran

  Berdasar kesimpulan penelitian ini, maka saran yang dapat diberikan peneliti adalah :

  1. Bagi peneliti selanjutnya a. Karena belum terungkapnya variabel-variabel lain yang memberikan sumbangan pada prestasi belajar, maka peneliti menyarankan bagi peneliti yang tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut sebaiknya memperhatikan atau mencari variabel lain yang memberikan sumbangan kepada prestasi belajar. Karena dalam penelitian ini variabel independen hanya memberikan sumbangan sebesar 20.1% kepada prestasi belajar.

  b. Peneliti menyarankan bagi peneliti lain supaya lebih memperhatikan kelemahan yang terdapat pada skala yang akan digunakan dalam penelitian sehingga dapat melakukan antisipasi sedini mungkin untuk mengurangi pengaruh kelemahan alat tes pada hasil penelitian nantinya.

  2. Bagi orangtua Meskipun dalam penelitian ini dukungan sosial dari orangtua tidak memiliki pengaruh positif terhadap prestasi belajar namun tetap diupayakan agar orangtua terus memberikan dukungan sosial terhadap anaknya. Karena minimnya dukungan yang diterima anak dapat menyebabkan perkembangan kepribadian anak menjadi negatif yang nantinya akan mempengaruhi pembentukan konsep dirinya.

DAFTAR PUSTAKA

  Anita,S. 1999. Hubungan antara Konsep diri dan Prestasi Belajar siswa kelas II SMU Negen Skanda. Naskah yang tidak diterbitkan

  Azwar, S. 1986. Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta. Fakultas Psikologi UGM Azwar, S. 1999. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

  th

  Bandura.(1995). Dalam Woolfolk, A (1995). Educational Psychology. 4 ed . Boston : Allyn and Bacon

  Baron, R.A.,dan Byrne. D.2002. Psikologi Sosial Jilid I. Penerjemah : Ratna Juwita Jakarta. Erlangga

  Burns. 1979. The Self-Concept. New York. Longman Inc Burns. 1982. Konsep Diri, Teori Pengukuran, Perkembangan dan Prilaku. London Lt

  Ltg Calhoun dan Acocella. 1950. Psikologi tentang Penyesuaian dan Hubungan Kemanusiaan, edisi ketiga . Semarang : IKIP Semarang Press.

  Chaplin,J.P. 2002. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta. PT Raja Grafindo Persada Coopersmith.1967. Psychological Concept in Classroom. New York: Harper and

  Row Press Ekowati. 2006. Kontribusi Intelegensi dan Kemandirian Belajar Terhadap Hasil

  Belajar Pendidikan Kewarganegaraan dan Sejarah. Semarang Epstein, S.1973. The Self Concept Revisited. American Psychologist, 404-415 Fitts, W.1972. The Self Concept and Performance. Nasville Tennessee : Dede

  Wallace Center. Monograph No 3 Hurlock, E B. 1980. Psikologi Perkembangan. Erlangga.Jakarta.

  Hurlock, E. 1978. Perkembangan Anak Jilid I. Erlangga. Jakarta Hurlock, E. 1978. Perkembangan Anak Jilid II. Erlangga. Jakarta

  Kuntioro, Z.S. 2002. Dukungan Sosial pada Lansia. diakses di . pada 12 Oktober 2010 Malecki, C dan Demardu. K. 2003. Social Support as a Buffer : Running Hedd.

  Northern Illinoss University Marsh. H. 1989. Age and Sex Effects in Multiple Dimensions of Self-Concept:

  Preadolescence to Early Adulthood. Journal of Educational Psychology No 3, 417-430 . Sydney : University of Sydney. Monks, F.J.1984. Psikologi Perkembangan :Pengantar dalam Berbagai Bagiannya.

  Yogyakarta.UGM Press Mounts, N.S.2005. Shyness. Sociability and parental Support for College Transition.

  Journal of Youth and Adolesence , Vol 35.No 1,71-80

  Mudzakir dan Sutrisno.1997. Psikologi Pendidikan. Jakarta. Rineka Cipta Neuman. (1987). The Role of Parent involvement in Children’s Academic

  Achievment. The School Community Journal, Vol 3 No 2, 31-41 Nylon. 1972. Self Concept and Academic Achievment of American Adolescents.

  Journal for Education, 137-150

  Orford, J.1992. Community P : Theory and Practice .London : John wiley and Sons Purwanto, N.1990. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya Rakmat, D. 2005.Hubungan Konsep diri dalam kemampuan berkomunikasi remaja.

  Skripsi. Fakultas Psikologi UGM Reksoatmodjo, T. N. 2007. Statistik untuk Psikologi dan Pendidikan. Refika Aditama Roger, C. 1959. On Becoming a Person. Boston. Hougton Mifflin Sabri, A. (1996). Psikologi Pendidikan. Jakarta : Pedoman Ilmu Jaya Salim, P. 1991. Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer (ed. ke-1) .

  Semarang :Grivindo Salzmaan, G.C. 1987. Kresbuchleim. New York : Mcrawl Hill Inc Santosa, A. (2008). Analisis Varian. ogspot.com. 29 April 2011

  Santosa, A. (2009). Korelasi dan Regresi ,blogspot.com. 22 April 2011

  Santosa,A. (2009). Uji Asumsi Statistik. ,blogspot.com.18 April 2011

  Santoso, A. 2005. “Perlukah Mengecek Asumsi Analisis Statistik : Tanggapan Terhadap “ Aplikasi Ilmu Statistika di Fakultas Psikologi (Hadi, 2005)”.

  2009, Vol 24,No 4,326-333

  Anima

  Santrok, J.W. 1995. Perkembangan Masa Hidup Jilid I. Erlangga. Jakarta Santrok, J.W. 1995. Perkembangan Masa Hidup Jilid II. Erlangga. Jakarta Schultz, D. 1977. Psikologi Pertumbuhan : Model-model kepribadian Sehat.

  Yogyakarta : Kanisius Smet, B.1994. Psikologi Kesehatan. Jakarta : PT Brasindo Sorenson, 1964. Psychology in Education. New York : McGraw Hill Inc Supratiknya, A. 2000. Statistik Psikologi. Grasindo. Jakarta Supratiknya, A. 2007. Merujuk Sumber Acuan dalam Penulisan Karya Ilmiah.

  Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Syah, M. 1995. Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru. Bandung : Remaja

  Rosdakarva Syah, M.2004. Psikologi Belajar. Jakarta. Raja Grifindo Persada Wahyuni, A. 2007. Kegiatan Belajar terhadap prestasi yang dicapai. diakses di

  www.achievement.com . pada 12 November 2010

  Widarjono, R. (2005) Pengantar Statistika Edisi ke-3. Jakarta :Gramedia Pustaka Utama

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Pengaruh konsep diri dan dukungan sosial terhadap motivasi belajar remaja panti sosial
5
22
131
Pengaruh dukungan sosial, konsep diri, dan strategi pengaturan diri dalam belajar terhadap prestasi akademik siswa smp
0
4
39
Hubungan kedisiplinan belajar, status sosial ekonomi orang tua, dan fasilitas belajar di rumah dengan prestasi belajar siswa.
0
0
156
Hubungan antara status sosial ekonomi orang tua, faktor lingkungan belajar dan prestasi belajar dengan minat berwirausaha pada mahasiswa.
1
4
188
Hubungan bimbingan orang tua, motivasi belajar siswa, dan status sosial ekonomi keluarga dengan prestasi belajar siswa di sekolah.
0
5
176
Hubungan antara status sosial ekonomi orang tua, prestasi belajar dan motivasi belajar dengan minat siswa melanjutkan studi ke perguruan tinggi.
0
3
152
Hubungan antara tingkat pendidikan orang tua, pendapatan orang tua, lingkungan sosial, dan prestasi belajar siswa dengan minat siswa melanjutkan studi ke perguruan tinggi.
0
1
139
Hubungan antara status sosial ekonomi orang tua, aktor lingkungan belajar, dan prestasi belajar dengan minat melanjutkan studi ke perguruan tinggi.
0
0
188
Hubungan kedisiplinan belajar, status sosial ekonomi orang tua, dan fasilitas belajar di rumah dengan prestasi belajar siswa
0
1
154
Pengaruh dukungan sosial keluarga dan kemandirian belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa cover
0
0
12
Hubungan antara status sosial ekonomi orang tua, aktor lingkungan belajar, dan prestasi belajar dengan minat melanjutkan studi ke perguruan tinggi - USD Repository
0
0
186
Hubungan antara efikasi diri dan prestasi akademik - USD Repository
0
1
115
Hubungan antara kedisiplinan belajar, dukungan teman, dan bimbingan guru dengan prestasi belajar ilmu pengetahuan sosial - USD Repository
0
0
157
Hubungan bimbingan orang tua, motivasi belajar siswa, dan status sosial ekonomi keluarga dengan prestasi belajar siswa di sekolah - USD Repository
0
0
174
Hubungan antara dukungan sosial yang dipersepsikan dan harga diri remaja - USD Repository
0
0
84
Show more