Pembuatan dan evaluasi gel anti-ageing ekstrak tempe dengan gliserin sebagai chemical penetration enhancer - USD Repository

Gratis

0
0
94
3 weeks ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PEMBUATAN DAN EVALUASI GEL ANTI-AGEING EKSTRAK TEMPE DENGAN GLISERIN SEBAGAI CHEMICAL PENETRATION ENHANCER SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.) Program Studi Farmasi Oleh : Olivia Christie Anjalicca NIM : 108114040 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PEMBUATAN DAN EVALUASI GEL ANTI-AGEING EKSTRAK TEMPE DENGAN GLISERIN SEBAGAI CHEMICAL PENETRATION ENHANCER SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.) Program Studi Farmasi Oleh : Olivia Christie Anjalicca NIM : 108114040 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 ii

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iv

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Ikutilah kata hatimu dan bersikap tegaslah karena apa yang kamu pilih dan ambil akan menentukan jalanmu untuk ke depannya... Semuanya ini proses untuk mendapatkan yang terbaik dan semuanya akan indah pada waktunya... Bermimpilah, targetkanlah, usahalah untuk mencapai semuanya itu karena semuanya pasti akan ada jalannya... Kupersembahkan untuk : Keluargaku, Mamah, Papah, Vina, Ivan, Edwin Saudara, Sahabat, Teman dan Almamaterku v

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI vi

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI vii

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PRAKATA Puji syukur dan terima kasih penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas semua rahmat, kasih dan penyertaan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi “Pembuatan dan Evaluasi Gel Anti-Ageing Ekstrak Tempe dengan Gliserin sebagai Chemical Penetration Enhancer” sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.) di Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Selama perkuliahan, penelitian hingga proses penyusunan skripsi, penulis telah mendapatkan bantuandari berbagai pihak yang berupa dukungan sarana, bimbingan, nasihat, kritik dan saran. Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada : 1. Aris Widayati, M.Si., Apt., Ph.D., selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma. 2. Dr. Sri Hartati Yuliani, M.Si., Apt., selaku dosen pembimbing atas segala kesabaran untuk selalu mendukung, memotivasi, membimbing, dan memberi masukan kepada penulis dalam penyusunan skripsi ini. 3. Enade Perdana Istyastono, Ph.D., Apt., selaku dosen penguji atas ketersediaannya meluangkan waktu untuk menjadi dosen penguji, serta kritik dan saran yang diberikan kepada penulis. 4. Florentinus Dika Octa Riswanto, M.Sc., selaku dosen penguji atas ketersediaannya meluangkan waktu untuk menjadi dosen penguji sekaligus memberikan kritik dan saran kepada penulis. 5. Prof. Dr. Sri Noegrohati, Apt., atas diskusi, masukan dan saran dalam penyusunan skripsi. 6. Phebe Hendra, M.Si., selaku dosen pembimbing akademik yang telah memberikan kritik dan saran kepada penulis. 7. Semua dosen Fakultas Farmasi yang telah membagikan ilmunya kepada penulis selama penulis melaksanakan kuliah di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma. viii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8. Segenap laboran dan karyawan, Pak Musrifin, Pak Parlan, Mas Bimo, Mas Agung, Pak Wagiran, Pak Parjiman, Pak Heru, Mas Kayat, Mas Darto atas bantuan dan kerjasamanya selama penulis melakukan penelitian. 9. Papi, Mami, Vina, Ivan, dan Edwin atas dukungan, kasih sayang, cinta dan semangatnya. 10. Hendy atas dukungan, semangat, kasih sayang, cinta dan kebersamaannya. 11. Sita sebagai teman satu tim atas bantuan, kerjasama, canda tawa, keluh kesah dan dukungan selama penyusunan skripsi. 12. Juli, Liana, Angel, Yudhytha, Reri, Cilla Tuing, Cilla Ciun, Lulu, Ve, Odil, Didit, Fanny, Monic, Aries teman-teman Farmasi A 2010 dan FST 2010. Terimakasih telah menjadi teman yang luar biasa, bekerjasama, berbagi duka serta dukungan yang telah diberikan selama ini dan segala pengalaman yang tak terlupakan selama masa kuliah. 13. Mba Tyas, Mba Asti, Nadia, keluarga Wisma Surya terimakasih telah menjadi teman yang luar biasa selama di kos, berbagi canda tawa serta dukungan yang telah diberikan selama bersama-sama di kos Wisma Surya. 14. Seluruh pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah banyak memberikan andil hingga terselesaikannya skripsi ini. Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini masih banyak kekurangannya mengingat keterbatasan kemampuan dan pengalaman yang dimiliki. Oleh sebab itu kritik dan saran yang membangun sangat diperlukan oleh penulis demi kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Yogyakarta, Penulis ix

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ..................................................................................... ii HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ............................................ iii HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................ iv HALAMAN PERSEMBAHAN..................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ........................................................ vi LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI ..................................................... vii PRAKATA .................................................................................................... viii DAFTAR ISI .................................................................................................. x DAFTAR TABEL .......................................................................................... xiv DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... xv DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xvi INTISARI....................................................................................................... xviii ABSTRACT ..................................................................................................... xix BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1 A. Latar Belakang ................................................................................... 1 1. Perumusan Masalah .................................................................. 3 x

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. Keaslian Penelitian .................................................................. 4 3. Manfaat Penelitian ................................................................... 4 B. Tujuan Penelitian................................................................................ 5 BAB II PENELAAHAN PUSTAKA............................................................. 6 A. Isoflavon dan Tempe .......................................................................... 6 B. Kulit .................................................................................................... 7 C. Penuaan Kulit ..................................................................................... 10 D. Gel ...................................................................................................... 12 E. Sifat Fisik Gel ..................................................................................... 13 F. Penetration Enhancer ........................................................................ 14 G. Gliserin ............................................................................................... 16 H. Draize Test ......................................................................................... 17 I. Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) ....................................... 18 J. Landasan teori .................................................................................... 20 K. Hipotesis ............................................................................................. 21 BAB III METODOLOGI PENELITIAN....................................................... 22 A. Jenis dan Rancangan Penelitian ......................................................... 22 B. Variabel Penelitian ............................................................................. 22 C. Definisi Operasional ........................................................................... 22 D. Alat dan Bahan Penelitian .................................................................. 23 1. Alat penelitian ........................................................................... 23 2. Bahan penelitian ....................................................................... 24 E. Tata Cara Penelitian ........................................................................... 24 xi

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1. Ekstraksi isoflavon dari tempe .................................................. 24 2. Pembuatan larutan baku genistein yang digunakan untuk penentuan panjang gelombang pengamatan ............................. 25 3. Penetapan panjang gelombang maksimum ............................... 25 4. Pembuatan larutan baku genistein ............................................ 26 5. Penetapan kadar ekstrak tempe ................................................. 26 6. Pemilihan formula..................................................................... 27 7. Pembuatan sediaan gel anti-ageing ekstrak tempe ................... 28 8. Uji sifat fisis sediaan gel anti-ageing ekstrak tempe ................ 28 a. Uji Daya Sebar ................................................................... 28 b. Uji pH ................................................................................ 29 c. Uji Viskositas..................................................................... 29 9. Uji iritasi primer dengan metode Draize Test ........................... 29 10. Uji penetrasi sediaan gel dengan metode Franz Diffusion Cell 30 11. Analisis hasil ............................................................................. 31 a. Indeks Iritasi Primer .............................................................. 31 b. Jumlah Kumulatif Genistein ................................................. 31 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ....................................................... 33 A. Ekstraksi Isoflavon dari Tempe.......................................................... 33 B. Penetapan Kadar Ekstrak Isoflavon Tempe ....................................... 34 a. Penetapan Panjang Gelombang Maksimal .................................. 34 b. Pembuatan Kurva Baku Genistein .............................................. 35 c. Penetapan Kadar Isoflavon Ekstrak Tempe ................................ 36 xii

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI C. Pembuatan dan Uji Sifat Fisi Sediaan Gel Anti-ageing Ekstrak Isoflavon Tempe ................................................................................. 37 1. pH ................................................................................................ 38 2. Daya sebar ................................................................................... 38 3. Viskositas .................................................................................... 39 D. Uji Iritasi Primer dengan Metode Draize Test ................................... 40 E. Uji Penetrasi Sediaan Gel dengan Metode Franz Diffusion Cell ....... 41 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................... 45 A. Kesimpulan......................................................................................... 45 B. Saran ................................................................................................... 45 DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 46 LAMPIRAN ................................................................................................... 50 BIOGRAFI PENULIS ................................................................................... 75 xiii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Halaman Tabel I. Formula gel standar dan modifikasi ............................................ 27 Tabel II. Formula gel yang digunakan ....................................................... 28 Tabel III. Evaluasi Reaksi Iritasi Kulit ........................................................ 29 Tabel IV. Kriteria iritasi .............................................................................. 30 Tabel V. Data uji sifat fisik, Q3jam, dan Fluks.......................................... 40 Tabel VI. Hasil indeks iritasi primer ........................................................... 40 xiv

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1. Struktur Daidzein, Glycitein, dan Genistein ................................ 7 Gambar 2. Mekanisme hidrolisis Genistin menjadi Genistein....................... 7 Gambar 3. Struktur kulit ................................................................................ 8 Gambar 4. Komponen kulit ............................................................................ 10 Gambar 5. Mekanisme penangkapan radikal bebas oleh Genistein, (a) tahap inisiasi, (b) tahap elongasi, (c) tahap terminasi ................. 12 Gambar 6. Struktur Gliserin ........................................................................... 16 Gambar 7. Diagram blok sistem KCKT secara umum .................................. 19 Gambar 8. Spektra genistein dengan pelarut etanol ....................................... 34 Gambar 9. Spektra genistein dengan pelarut buffer ....................................... 34 Gambar 10. Kurva hubungan antara konsentrasi baku genistein dengan AUC menggunakan pelarut etanol ............................................ 35 Gambar 11. Kurva hubungan antara konsentrasi baku genistein dengan AUC menggunakan pelarut buffer ............................................ 36 Gambar 12. Gambar sediaan gel anti-ageing ekstrak tempe ......................... 37 Gambar 13. Kurva hubungan antara waktu dengan jumlah kumulatif .......... 43 xv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1. Data Penimbangan Ekstraksi ..................................................... 51 Lampiran 2. Data Penimbangan Ekstrak Bobot Tetap ................................... 51 Lampiran 3. Spektra panjang gelombang pengamatan genistein ................... 52 Lampiran 4. Data penimbangan baku dan perhitungan kadar larutan baku genistein .................................................................................... 53 Lampiran 5. Kromatogram dan data penentuan kurva baku genistein dengan pelarut etanol ................................................................ 54 Lampiran 6. Persamaan dan gambar kurva baku genistein dengan pelarut etanol............................................................................. 56 Lampiran 7. Kromatogram dan data penentuan kurva baku genistein dengan pelarut buffer ................................................................ 57 Lampiran 8. Persamaan dan gambar kurva baku genistein dengan pelarut buffer ......................................................................................... 59 Lampiran 9. Data penimbangan, kromatogram dan perhitungan kadar sampel ....................................................................................... 59 Lampiran 10. Data hasil pengukuran uji sifat fisik sediaan gel ..................... 62 Lampiran 11. Data dan foto uji iritasi primer ................................................ 63 xvi

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 12. Ethical Clearance .................................................................... 65 Lampiran 13. Kromatogram sampel dalam sediaan dengan uji Franz Cell Diffusion.................................................................................... 66 Lampiran 14. Kadar genistein setelah uji Franz Cell Diffusion pada setiap formula ........................................................................... 70 Lampiran 15. Foto gel anti-ageing ekstrak tempe ......................................... 72 Lampiran 16. Dokumentasi ............................................................................ 73 xvii

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI INTISARI Salah satu penyebab penuaan dini adalah radikal bebas. Isoflavon merupakan salah satu antioksidan yang dapat mencegah adanya radikal bebas. Isoflavon yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari ekstrak tempe. Chemical penetration enhancer dapat membantu masuknya isoflavon ke dalam kulit. Penelitian mengenai Pembuatan dan Evaluasi Gel Anti-Ageing Ekstrak Tempe dengan Gliserin sebagai Chemical Penetration Enhancer Chemical penetration enhancer bertujuan untuk mengetahui pengaruh penetrasi ekstrak isoflavon tempe dengan chemical penetration enhancer gliserin dengan konsentrasi FI 0%, FII 5%, FIII 10%, dan FIV 20%. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental murni. Evaluasi sediaan gel ekstrak isoflavon tempe ini dilihat berdasarkan parameter jumlah kumulatif dan fluks dengan menggunakan metode Franz Diffusion Cell secara in vitro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa FI mempunyai jumlah kumulatif dan fluks yang lebih tinggi daripada FII, FIII, dan FIV. Jumlah kumulatif FI, FII, FIII, dan FIV berturut-turut adalah 1,885±0,065; 0,953±0,028; 0,660±0,026; dan 0,572±0,015 µg/cm2. Nilai fluks FI, FII, FIII, dan FIV berturut-turut adalah 0,628; 0,318; 0,220; 0,191 µg/cm2/jam. Gliserin sebagai chemical penetration enhancer berpengaruh menurunkan penetrasi dengan meningkatnya konsentrasi. Kata kunci: Tempe, ekstrak tempe, isoflavon, chemical penetration enhancer, gliserin, gel xviii

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT One of the causes of aging is free radicals. Isoflavone is one of antioxidants which can scavenge free radical. Sources of isoflavones used in this study is derived from tempe extract. Chemical penetration enhancers are subtances which can help isoflavone penetrates into the skin. Research about Formulation and Evaluation of Gel Anti-Ageing of Extract Tempe with glycerin as Chemical Penetration Enhancer ait to observe the effect of penetration of isoflavone tempe extract by using chemical penetration enhancer glycerin at concentration F1 0%, FII 5%, FIII 10%, and FIV 20%. This research was a purely experimental study. Evaluation of this research was looking for the response of cumulative amount and flux by testing Franz Diffusion Cell in vitro. The result shown that FI has cumulative amount and flux was higher than FII, FIII, and FIV. The cumulaltive amount of FI, FII, FIII, and FIV were 1,885±0,065; 0,953±0,028; 0,660±0,026; and 0,572±0,015 µg/cm2. Flux of FI, FII, FIII, and FIV were 0,628; 0,318; 0,220; 0,191 µg/cm 2/hours. Glycerin as chemical penetration enhancer showed effect toward decrease penetration of isoflavone by increased a concentration of glycerin. Key word: Tempe, tempe extract, isoflavon, chemical penetration enhancer, glyserin, gel xix

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Penuaan merupakan proses alami yang terjadi pada setiap orang yang dapat dilihat di kulit. Meningkatnya usia, fungsi kulit ikut menurun, kulit akan kehilangan elastisitas sehingga mulai kendur dan berkeriput (Wahyono, 2011). Penuaan juga bisa disebabkan oleh faktor eksternal seperti sinar matahari, polusi udara, maupun nutrisi yang tidak seimbang. Radiasi sinar UV matahari menyebabkan foto oksidasi yang terjadi akibat pelepasan reactive oxygen species (ROS). Meningkatnya ROS sebagai akibat radikal bebas dapat menyebabkan naiknya peroksidasi lipid. Lipid yang seharusnya menjaga kulit agar tetap segar, berubah menjadi lipid peroksida karena bereaksi dengan radikal bebas sehingga mempercepat penuaan (Wahyono, 2011). Radikal bebas merupakan molekul yang mengandung satu atau lebih elektron tidak berpasangan pada orbital luarnya. Adanya elektron yang tidak berpasangan menyebabkan senyawa tersebut sangat reaktif mencari pasangan dengan menempel pada sel yang berpasangan. Radikal bebas bersumber dari polusi, asap rokok, sinar ultraviolet dimana akan menyebabkan penuaan dini seperti kerutan pada kulit, kulit kusam, dan kendur (Rohmatussolihat, 2009). Oleh karena itu untuk mencegah radikal bebas dapat digunakan antioksidan. Antioksidan dapat menangkap radikal bebas yang ada di dalam tubuh. Antioksidan bekerja 1

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 menghambat oksidasi dengan cara bereaksi dengan radikal bebas reaktif membentuk radikal bebas tak reaktif yang relatif stabil sehingga reaksi oksidasi berhenti (Hudson, 1990). Berdasarkan mekanisme kerjanya, maka dapat dikembangkan sediaan cosmeceuticals untuk menghambat penuaan dini yang disebabkan oleh radikal bebas. Isoflavon adalah salah satu senyawa yang berpotensi sebagai antioksidan. Isoflavon termasuk dalam golongan senyawa flavonoid dan merupakan senyawa polifenol. Kandungan isoflavon ini banyak terdapat di dalam kedelai dan produk olahannya (Hernawati, 2010). Isoflavon pada kedelai berbentuk glikosida yang terdiri dari 64% genistin, 24% daidzin, dan 13% glisitin; dan bentuk aglikon. Bentuk glikosida terdapat pada makanan kedelai yang tidak difermentasi, sedangkan yang difermentasi misalnya tempe, isoflavonnya dalam bentuk bebas (aglikon). Ketika bentuk glikosida didegradasi menjadi senyawa aglikon maka akan lebih mudah diserap oleh tubuh (Astuti, 2008). Isoflavon aglikon dapat dibuat dalam bentuk sediaan gel, lotion, dan cream. Pada penelitian kali ini, isoflavon akan dibuat dalam bentuk sediaan gel hidrofilik. Bentuk sediaan gel mempunyai beberapa kelebihan yaitu dapat memberikan rasa dingin di kulit dengan adanya kandungan air yang cukup tinggi sehingga nyaman digunakan, mudah dipakai, menyebar dengan baik dan memberikan kenyamanan pada penggunanya (Mitsui, 1997). Menurut penelitian Nan et al. (2014), genistein larut di dalam metanol, etil etanoat, sedikit larut di air, dan sukar

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 larut di dalam eter, kloroform dan petroleum eter. Genistein termasuk dalam isoflavon dimana sebagian larut dalam air sehingga bisa dibuat jadi gel. Chemical penetration enhancer diperlukan untuk meningkatkan masuknya zat aktif (isoflavon) ke dalam stratum corneum sehingga dapat mencapai lapisan dermis untuk mencegah penuaan kulit dengan menangkap radikal bebas. Zat peningkat penetrasi dapat bekerja melalui tiga mekanisme, yaitu: dengan cara mempengaruhi struktur stratum corneum, berinteraksi dengan protein intraseluler, dan memperbaiki partisi obat, coenhancer atau cosolvent ke dalam stratum corneum (Swarbrick dan Boylan, 1986). Bahan-bahan yang dapat digunakan sebagai peningkat penetrasi antara lain: air, sulfoksida, azone, pyrrolidones, asam-asam lemak, alkohol dan glikol, surfaktan, urea, minyak atsiri, terpen dan fosfolipid (Sukmawati dan Suprapto, 2010). Pada penelitian ini digunakan zat peningkat penetrasi yaitu gliserin. Gliserin dapat digunakan sebagai chemical penetration enhancer pada konsentrasi 0,1-20% (Stinchcomb dan Banks, 2010). Kecepatan penetrasi obat dengan menggunakan chemical penetration enhancer gliserin ke dalam kulit dapat dilakukan secara in vitro menggunakan Franz Diffusion Cell. 1. Perumusan Masalah : Bagaimana pengaruh gliserin sebagai chemical penetration enhancer terhadap penetrasi isoflavon ekstrak tempe ke dalam kulit?

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 2. Keaslian Penelitian Penelitian pengembangan isoflavon dalam pembuatan gel telah dilakukan oleh Lulu (2010) dalam penelitiannya yang berjudul “Optimasi Formula Gel Anti-Ageing Ekstrak Etil Asetat Isoflavon dengan Carbopol 940 Sebagai Gelling Agent dan Propilen Glikol Sebagai Humektan : Aplikasi Desain Faktorial”. Dalam penelitian tersebut digunakan isoflavon yang berasal dari ekstrak etil asetat tempe serta dilakukan optimasi formula gel. Berdasarkan penelitian diatas, “Pembuatan dan Evaluasi Gel Anti-Ageing Ekstrak Tempe dengan Gliserin sebagai Chemical Penetration Enhancer” belum pernah dilakukan. 3. Manfaat Penelitian a. Manfaat teoretis Menambah pengetahuan terutama dalam bidang farmasi mengenai penetrasi genistein ke dalam kulit pada sediaan gel dengan penetration enhancer gliserin. b. Manfaat metodologis Menambah informasi ilmu pengetahuan kefarmasian mengenai upaya pengembangan dan aplikasi formula gel ekstrak bahan alam dan penggunaan chemical penetration enhancer dalam formulasi gel ekstrak tempe.

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 c. Manfaat praktis Memberikan informasi kepada masyarakat maupun penelitian lebih lanjut mengenai chemical penetration enhacer dalam sediaan gel antiageing ekstrak tempe. B. TUJUAN PENELITIAN 1. Tujuan umum Membuat sediaan gel anti-ageing ekstrak tempe. 2. Tujuan khusus Mengetahui pengaruh gliserin sebagai chemical penetration enhancer terhadap penetrasi isoflavon tempe ke dalam kulit.

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II PENELAAHAN PUSTAKA A. Isoflavon dan Tempe Isoflavon merupakan senyawa yang termasuk dalam golongan flavonoid yang merupakan senyawa polifenolik. Senyawa isoflavon banyak ditemukan pada tanaman kacang-kacangan (Leguminosa) dan produk olahannya (Astuti, 2008). Salah satu tanaman kacang-kacangan yang mengandung isoflavon yaitu kedelai dan salah satu produk olahan yang mengandung isoflavon yaitu tempe (Hernawati, 2010). Tempe merupakan makanan tradisional yang dibuat dengan cara memfermentasikan kedelai tanpa kulit dengan jamur Rhizopus, sampai kedelai tertutup dengan miselium putih jamur dan mempunyai aroma khas jamur (Pramesti, 2007). Isoflavon pada kedelai terdiri dari aglikon (genistein, glisitein, dan daidzein), glikosida (daidzin, genistin, dan glisitin) (Pramesti, 2007). Kandungan isoflavon dalam 100 g kedelai berkisar 0,1-0,5 g (Cho et al., 2009). Di dalam kedelai, isoflavon yang banyak ditemukan sebagai β-glukosida yang dapat terhidrolisis menjadi bentuk aglikon menjadi daidzein, genistein, glisitein (CarraoPanizzi et al., 2002). Bentuk aglikon dari isoflavon lebih aktif daripada glikosida dimana pengaruh itu sebanding dengan peningkatan jumlah gugus hidroksil pada molekulnya (Pramesti, 2007). Genistin dan daidzin akan terhidrolisis menjadi bentuk aglikonnya (genistein dan daidzein) selama perendaman dalam air dan selama proses 6

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 fermentasi akibat aktivitas enzim β-glukosidase. Rhizopus oryzae dan Rhizopus oligosporus diketahui memproduksi enzim β-glukosidase yang menghidrolisis isoflavon glikosida menjadi isoflavon aglikon sehingga menyebabkan senyawa isoflavon aglikon lebih banyak pada tempe (Pramesti, 2007). Gambar 1. Struktur Daidzein, Glycitein, dan Genistein (Doerge et al.,1999). Gambar 2. Mekanisme hidrolisis Genistin menjadi Genistein B. Kulit Kulit merupakan organ terbesar pada tubuh dimana bobot kulit dapat mencapai 10% bobot individu dengan luas permukaan kulit pada orang dewasa mencapai 1,5-1,75 m2 (Walters et al., 2002). Kulit juga merupakan organ tubuh terluar yang bersifat elastik yang menjadi pelindung jaringan di bawahnya. Sifat

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 protektif ini menjadikan tubuh terhindar dari masuknya zat-zat asing (bakteri, virus, debu) yang dapat membahayakan tubuh (Nugroho, 2013). Menurut Walters et al. (2002), secara anatomi kulit terdiri dari empat lapisan jaringan yaitu stratum korneum, epidermis, dermis, dan subkutan (lapisan lemak dibawah kulit). Stratum korneum merupakan lapisan terluar kulit sebagai hasil pembelahan sel epidermis ke arah keluar yang membentuk lapisan-lapisan terluar epidermis (Nugroho, 2013) yang selnya telah kehilangan air, tidak berinti dan mati (Walters et al., 2002). Sel-sel ini akan mengalami keratinisasi menjadi struktur yang disebut korneosit (Nugroho, 2013). Gambar 3. Struktur kulit (Walters et al., 2002) Stratum korneum erat hubungannya dengan kosmetik karena dapat mencerminkan kondisi kulit. Lapisan ini berperan pada tahap penembusan sehingga menentukan konsentrasi senyawa aktif pada sel target. Membran tersebut memiliki ketahanan yang sangat baik terhadap berbagai senyawa kimia

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 dan biologis disebabkan oleh adanya jembatan disulfida (menyusun serat keratin α) dan ikatan kovalen antarmolekul. Ketebalan stratum korneum dapat dirangsang oleh paparan ulang senyawa kimia atau fisika. Respon ini melindungi epidermis dari rangsangan luar (Mitsui, 1997; Alache, Devissaguet, dan Hermann, 1993). Epidermis merupakan bagian kulit di bawah stratum korneum yang tersusun atas lapisan-lapisan sel seluler dan tipis dengan kandungan air yang mulai berkurang jika dibandingkan dengan jumlah air yang ada di dermis. Semakin ke atas kandungan air semakin menurun dan akhirnya sama sekali hilang di bagian stratum korneum (Nugroho, 2013). Tebal epidermis secara keseluruhan yaitu 74,9-96,4 µm (Sandby-Moller et al., 2003). Menurut umur lapisan selnya, lapisan epidermis dapat dibedakan menjadi stratum germinativum yang merupakan lapisan terdalam (usia termuda), stratum spinosum, stratum granulosum, dan stratum korneum di lapisan terluar (Barry, 1983). Dermis merupakan bagian di bawah epidermis berupa lapisan-lapisan sel aselular yang menjadi tempat sistem pembuluh darah, saraf, folikel rambut, kelenjar minyak, dan kelenjar keringat (Nugroho, 2013). Dermis mempunyai tebal sekitar 0,1-0,5 cm dan terdiri dari 70% kolagen dan jaringan elastin (Walters et al., 2002). Dermis dihubungkan dengan epidermis oleh papilla. Dermis tersusun dari materi nonselular yang mendukung keberadaan organ-organ pembuluh darah, pembuluh limfa, urat-urat saraf, dan komponen retikuloendotelia (Nugroho, 2013). Jaringan lemak subkutan terletak di bawah dermis yang berperan penting dalam menyerap panas, meredam tekanan atau beban yang menimpa kulit (Nugroho, 2013) dan sebagai tempat penyimpan energi (Walters et al., 2002).

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 Gambar 4. Komponen kulit (Walters et al., 2002) C. Penuaan Kulit Kulit berubah seiring dengan bertambahnya usia seseorang. Paparan sinar matahari dipercaya mempercepat proses perubahan kulit. Penuaan kulit dapat dipercepat lagi dengan adanya radikal bebas. Tanda-tanda penuaan kulit yang dapat terlihat yaitu kulit terlihat kasar, kering, kendur dan kehilangan elastisitasnya, terdapat noda hitam, keriput, timbul lipatan pada leher dan garis kerutan pada wajah (Tortora et al., 1990). Faktor yang dapat menyebabkan penuaan kulit salah satunya adalah adanya radikal bebas yang merupakan molekul dengan atom dimana orbit

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 terluarnya memiliki elektron yang tidak berpasangan sehingga elektron tersebut menjadi reaktif dan tidak stabil. Elektron akan mencari pasangan elektron yang lain dengan cara menariknya dari molekul lain. Pada kulit, radikal bebas akan merusak lemak dan membran sel sehingga menyebabkan kulit kehilangan kekencangan dan timbul keriput (Tortora et al., 1990). Senyawa bioaktif isoflavon yang mengandung gugus fenolik mempunyai kemampuan sebagai antioksidan dan mencegah kerusakan akibat radikal bebas melalui dua mekanisme, yaitu mendonorkan ion hidrogen dan bertindak sebagai scavenger radikal bebas secara langsung. Isoflavon mempunyai kemampuan untuk mencegah peroksidasi lipid karena berperan sebagai akseptor radikal bebas sehingga dapat menghambat reaksi rantai radikal bebas pada oksidasi lipid dan radikal bebas dapat diredam (Astuti, 2008). Senyawa flavonoid dapat mendonorkan hidrogen pada radikal bebas sehingga menghasilkan radikal stabil berenergi rendah yang berasal dari senyawa flavonoid yang kehilangan atom hidrogen. Radikal antioksidan yang terbentuk menjadi lebih stabil melalui proses resonansi struktur cincin aromatiknya sehingga tidak mudah untuk terlibat pada reaksi radikal lain (Astuti, 2008). Mekanisme penangkapan radikal bebas oleh genistein di dalam lapisan dermis meliputi tahap inisiasi, elongasi, dan terminasi. Tahap inisiasi merupakan tahap pembentukan radial, tahap elongasi merupakan tahap penyerangan radial, dan tahap terminasi merupakan tahap netralisasi radikal sisa oleh antioksidan.

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 Gambar 5. Mekanisme penangkapan radikal bebas oleh Genistein, (a) tahap inisiasi, (b) tahap elongasi, (c) tahap terminasi D. Gel Gel merupakan sediaan semisolid yang mengandung larutan bahan aktif tunggal maupun campuran dengan pembawa senyawa hidrofilik atau hidrofobik (Dirjen POM, 1995). Beberapa gel mempunyai tampilan jernih karena adanya tampilan dari air dan lainnya keruh yang disebabkan bahan-bahannya tidak terdispersi molekular atau membentuk agregat. Gel harus memiliki clarity dan kilau untuk menarik konsumen. (Allen dan Loyd, 2002). Gel dikategorikan menjadi gel inorganik, organik, hidrogel, dan organogel. Gel inorganik mempunyai sistem dua fase, sedangkan gel organik mempunyai sistem satu fase. Hidrogel mengandung bahan yang terdispersi seperti koloid atau terlarut pada air. Pada konsentrasi tinggi, koloid hidrofilik membentuk gel semisolid yang disebut jelly (Allen dan Loyd, 2002). Hidrogel komposisi utamanya tersusun dari 85-95% air atau campuran aqueous-alcoholi, humektan, dan gelling agent yang akan memberikan efek

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 mendinginkan (Buchmann dan Stephan, 2001). Humektan yang ditambahkan membuat sediaan ini menjadi lunak, memberikan kelembutan, daya sebar yang cukup, dan menghindari kemungkinan terjadinya pengeringan. Keuntungan gel tipe ini yaitu tidak berlemak, membentuk lapisan film tembus pandang elastis setelah kering dengan daya lekat tinggi, tidak menyumbat por-pori, dan mudah dicuci dengan air (Voight, 1994). E. Sifat Fisik Gel Sifat umum yang diinginkan dari sediaan gel yaitu dapat diterima oleh konsumen seperti mudah dikeluarkan dari wadah, sensasi dingin ketika kontak dengan kulit, kemampuan melekat pada tempat aplikasi selama waktu tertentu, residu yang tidak meninggalkan rasa lengket setelah diaplikasikan, dan efikasi klinis yang terkait pelepasan obat dan absoprsi. Hal ini terkait dengan daya sebar, dan viskositas sediaan sehingga perlu diperhatikan (Garg et al., 2002). Daya sebar berhubungan dengan sudut kontak tiap tetes cairan atau preparasi semisolid yang berhubungan langsung dengan koefisien friksi. Faktor yang mempengaruhi daya sebar adalah formulanya kaku atau tidak, kecepatan dan lama tekanan yang menghasilkan kelengketan, temperatur pada tempat aksi. Kecepatan penyebaran bergantung pada viskositas formula, kecepatan evaporasi pelarut, dan kecepatan peningkatan viskositas karena evaporasi (Garg et al., 2002). Viskositas adalah pernyataan tahanan dari suatu cairan untuk mengalir. Semakin tinggi viskositas maka semakin besar tahanannya (Martin et al., 1993). Peningkatan viskositas akan menaikkan waktu retensi pada tempat aksi tetapi

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 akan menurunkan daya sebar (Garg et al., 2002). Gel pada penggunaan topikal sebaiknya tidak terlalu lengket karena dapat menimbulkan rasa tidak nyaman. Konsentrasi gelling agent yang terlalu tinggi dengan bobot molekul yang terlalu besar akan menghasilkan gel yang sulit diaplikasikan (Zatz et al.,1996). F. Penetration Enhancer Penetration enhancer adalah senyawa-senyawa kimia tunggal maupun kombinasi yang mempunyai kemampuan meningkatkan permeabilitas (Nugroho, 2013) dan mengurangi impermeabilitas kulit secara temporal (sementara) sehingga dapat lebih mudah dilewati oleh bahan obat (Sinha dan Kaur, 2000). Idealnya, bahan yang digunakan sebagai penetration enhancer haruslah inert secara farmakologi, tidak toksik, tidak mengiritasi, tidak menyebabkan alergi (tidak bersifat alergenik), tidak berbau, tidak berwarna, tidak berasa, murah, serta kompatibel dengan zat aktif maupun eksipien yang digunakan (Sinha dan Kaur, 2000). Selain itu, penetration enhancer harus dapat membalikkan barrier pertahanan stratum korneum kepada struktur awal ketika konsentrasi enhancer telah habis tanpa menyebabkan kematian sel (Pathan et al., 2009). Mekanisme umum penetration enhancer yaitu dengan mengacaukan struktur lipid dari stratum korneum kemudian berinteraksi dengan protein interseluler dan terakhir meningkatkan partisi obat/zat aktif, coenhancer atau pelarut ke dalam stratum korneum (Pathan et al., 2009).

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 Beberapa senyawa yang bertindak sebagai penetration enhancer, yaitu: a. Golongan alkohol dan glikol Alkohol rantai pendek (C2-C5) dan senyawa golongan glikol dapat meningkatkan absorpsi, khususnya absorpsi molekul polar. Senyawa ini meningkatkan absorpsi dengan cara meningkatkan fluiditas dari lapisan lipid pada stratum korneum dengan berinteraksi dengan protein pada stratum korneum (Rosen, 2005). b. Asam lemak dan esternya Sejumlah besar asam lemak sudah secara luas diteliti untuk meningkatkan penetrasi sediaan trasndermal. Asam lemak tidak jenuh dilaporkan lebih aktif daripada asam lemak yang jenuh. Mekanisme aksi dari asam lemak adalah meningkatkan kelarutan dari obat, meningkatkan partisi obat, meningkatkan penetrasi pelarut dan mengubah struktur barrier kulit (Rosen, 2005). c. Terpene Terpene diketahui dapat meningkatkan permeasi perkutan dari obat hidrofilik maupun yang bersifat hidrofob. Terpene yang bersifat polar ternyata diketahui dapat meningkatkan permeasi dari senyawa polar dan sebaliknya (Rosen, 2005). d. Amina dan amida Senyawa yang termasuk golongan ini meliputi urea dan derivatnya, asam amino dan esternya, amida, seperti azone dan derivatnya. Azone secara spesfik didesain sebagai penetration

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 enhancer dan merupakan salah satu senyawa yang banyak diteliti karena dapat meningkatkan permeasi dari obat dalam spektrum luas (Rosen, 2005). G. Gliserin Gliserin merupakan cairan higroskopis yang tidak berwarna, tidak berbau, rasa manis. Gliserin dapat digunakan dalam formulasi seperti oral, optalmik, topikal maupun parenteral. Fungsi gliserin dapat digunakan sebagai humektan dan emolient dalam sediaan topikal. Dalam sediaan krim, emulsi, parenteral dapat berfungsi sebagai solvent maupun co-solvent. Sedangkan di dalam sediaan larutan oral dapat berfungsi sebagai pemanis, pengawet. Selain itu gliserin juga dapat digunakan sebagai plasticizer. Penggunaan yang berbeda fungsi ini dapat digunakan sesuai dengan konsentrasi yang diperbolehkan (Rowe et al., 2009). Gliserin merupakan bahan yang sudah terdaftar dalam Food and Drug Assosiation (FDA), dan aman digunakan dalam konsentrasi 0,2-65,7% (Smolinske, 1992). Gliserin juga bisa digunakan sebagai penetration enhancer dengan konsentrasi 0,1-20% (Stinchcomb dan Banks, 2010). Gambar 6. Struktur Gliserin (Rowe et al., 2009)

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 Gliserin bersifat sebagai penetration enhancer dan juga sebagai humektan yang kuat dan aman bagi kulit karena mempunyai kemampuan menyerap air yang hampir sama dengan natural moisturizing factor (NMF) yang merupakan pengikat alami dalam kulit (Pius, 2012). Gliserin termasuk dalam golongan glikol yang dapat memfasilitasi masuknya senyawa aktif dengan membentuk celah yang disebut microchannel pada stratum korneum dan memungkinkan senyawa aktif yang lebih polar berpenetrasi ke dalam kulit (Dayan, 2005). Humektan dapat membantu menjerat air dari udara yang kemudian dapat berpenetrasi ke dalam kulit, bila kelembaban relatif rendah. Tetapi humektan dapat juga menarik air dari bagian epidermis dan dermis yang dapat menyebabkan kulit menjadi kering. Mekanisme humektan yang menarik air untuk penetrasi ke dalam kulit, akan mengakibatkan pengembangan stratum korneum yang memberikan persepsi kulit halus dengan sedikit kerut (Johnson, 2002). H. Draize Test Draize test merupakan model uji in vivo yang biasa digunakan dalam uji iritasi dengan menggunakan kelinci albino. Uji ini menggunakan sistem scoring untuk menunjukkan index iritasi primer yang didapatkan dari perhitungan eritema dan edema yang dihasilkan (Maibach, 2001). Kelinci albino yang sudah dicukur bulunya diaplikasikan sediaan atau senyawa yang akan diukur indeks iritasi primernya pada waktu tertentu. Iritasi adalah kondisi pada kulit yang muncul akibat kontak berkepanjangan dengan zat

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 tertentu. Iritasi ini dapat terjadi jika suatu zat menempel pada kulit dan menyebabkan zat tersebut terpenetrasi masuk ke dalam kulit dan mengakibatkan dilatasi pembuluh darah pada daerah yang terkena. Jika zat tersebut mengiritasi maka akan menyebabkan iritasi pada kulit yang terkena zat tersebut dan sebaliknya (Irsan, dkk., 2013). Hasil eritema maupun edema diukur dengan menggunakan sistem scoring yang kemudian dihitung dengan rumus untuk mengetahui indeks iritasi primer yang didapatkan (Irsan, dkk., 2013). I. Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) merupakan salah satu metode kromatografi cair yang dilengkapi dengan sistem pompa bertekanan tinggi untuk mengalirkan fase gerak dan detektor yang sensitif sehingga pemisahan dapat berlangsung dengan cepat dan memiliki efisiensi yang tinggi. Salah satu keunggulan KCKT dibandingkan dengan kromatografi gas yaitu dapat untuk menganalisis senyawa yang tidak menguap atau tidak tahan panas tanpa peruraian atau tanpa perlunya derivat yang menguap (Dirjen POM, 1995). Instrumen KCKT terdiri dari delapan komponen pokok, yaitu wadah fase gerak, sistem penghantaran fase gerak, alat untuk memasukkan sampel, kolom, detektor, wadah penampung buangan fase gerak, tabung penghubung, dan suatu perekam/komputer (Rohman, 2007). Fase gerak biasanya terdiri dari campuran pelarut yang dapat bercampur yang secara keseluruhan berperan dalam daya elusi dan resolusi yang ditentukan

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 oleh polaritas keseluruhan pelarut, polaritas fase diam, dan sifat komponen sampel. Fase normal dimana fase diam lebih polar daripada fase gerak, kemampuan elusi meningkat dengan meningkatkan polaritas pelarut, sedangkan untuk fase terbalik dimana fase diam kurang polar daripada fase gerak, kemampuan elusi menurun dengan meningkatnya polaritas pelarut (Rohman, 2007). Fase diam yang digunakan berupa silika yang dimodifikasi secara kimiawi, silika yang tidak dimodifikasi, atau polimer-polimer stiren dan divinil benzen. Permukaan silika adalah polar dan sedikit asam karena adanya residu gugus silanol (SiOH). Oktadesil silika (ODS/C18) merupakan fase diam yang paling banyak digunakan karena mampu memisahkan senyawa-senyawa dengan kepolaran rendah, sedang, maupun tinggi (Rohman, 2007). Gambar 7. Diagram blok sistem KCKT secara umum (Rohman, 2007) Penelitian mengenai genistein dengan menggunakan KCKT telah dilakukan oleh Orhan et al. (2011) dengan penelitian analisis kandungan genistein dan daidzein dalam dua spesies Genista dengan metode KCKT fase terbalik

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 menggunakan fase diam C18, fase gerak metanol : air (70:30) dengan panjang gelombang 261 dan kecepatan alir 0,7ml/menit. J. Landasan Teori Penuaan kulit merupakan hal yang terjadi pada manusia dikarenakan bertambahnya usia, faktor radikal bebas, dan makanan. Isoflavon mempunyai daya antioksidan yang dapat menghambat penuaan kulit. Tempe merupakan salah satu sumber yang mengandung isoflavon, yang digunakan sebagai bahan aktif dalam sediaan anti-ageing untuk menghambat penuaan kulit di dermis (Astuti, 2008). Sediaan anti-ageing merupakan sediaan cosmeuticals yang dalam penelitian ini, akan dibuat dalam formulasi gel karena mempunyai sifat fisik dan stabilitas yang dapat diterima oleh masyarakat, mempunyai konsistensi yang lembut, serta memberikan rasa nyaman pada kulit saat penggunaan maupun pembersihannya yang mudah dicuci dengan air. Dalam sediaan gel ini diformulasikan pula penetration enhancer yang berfungsi untuk membawa bahan aktif serta meningkatkan penetrasi isoflavon, khususnya genistein ke dalam lapisan kulit untuk mencegah penuaan kulit di dermis. Penetration enhancer yang digunakan dalam formulasi sediaan ini adalah gliserin. Dalam penelitian ini akan dilihat kemampuan penetration enhacer gliserin dengan empat konsentrasi yang berbeda untuk mengetahui pengaruhnya dalam membawa dan meningkatkan bahan aktif ke dalam lapisan kulit tanpa mengiritasi kulit.

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 Gliserin bersifat sebagai penetration enhancer dan juga sebagai humektan yang mempunyai kemampuan menarik air untuk penetrasi ke dalam kulit, akan mengakibatkan pengembangan stratum korneum (Johnson, 2002). Gliserin termasuk dalam golongan glikol yang dapat memfasilitasi masuknya senyawa aktif dengan membentuk celah yang disebut microchannel pada stratum korneum dan memungkinkan senyawa aktif yang lebih polar berpenetrasi ke dalam kulit (Dayan, 2005). Salah satu isoflavon yaitu genistein yang mempunyai sifat semipolar yang diformulasikan ke dalam gel dengan penetration enhancer gliserin diharapkan dapat berpenetrasi ke dalam lapisan kulit dengan metode Franz Diffusion Cell dan perlu dilakukan penetapan kadar untuk mengetahui kadar genistein yang terpenetrasi. Penetapan kadar genistein dilakukan dengan metode KCKT fase terbalik detektor UV, karena KCKT memiliki sensitivitas dan selektivitas yang baik untuk analisis senyawa dalam campuran dengan kadar yang kecil serta genistein memiliki gugus kromofor yang dapat memberikan serapan pada daerah panjang gelombang UV. K. Hipotesis Gliserin dapat berfungsi sebagai chemical penetration enhancer terhadap penetrasi isoflavon tempe ke dalam kulit.

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan rancangan eksperimental murni. B. Variabel Penelitian 1. Variabel bebas Kadar gliserin yang digunakan sebagai chemical penetration enhancer. 2. Variabel tergantung Sifat fisik gel anti-ageing ekstrak isoflavon tempe yang meliputi daya sebar, viskositas gel dan pH sediaan serta kecepatan penetrasi zat aktif ke dalam kulit. 3. Variable pengacau terkendali Kecepatan putar dan waktu pengadukan dalam proses pembuatan sediaan gel, wadah penyimpanan, lama penyimpanan. 4. Variable pengacau tak terkendali Kelembaban, suhu ruangan saat pembuatan dan penyimpanan gel, kondisi patologis hewan uji, subyektifitas penulis dalam pengamatan. C. Definisi Operasional 1. Ekstrak tempe adalah cairan kental yang diperoleh dari hasil ekstraksi tempe dengan cara maserasi. 22

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 2. Gel anti-ageing ekstrak tempe adalah sediaan semi padat yang dibuat dari ekstrak tempe sesuai formula yang telah ditentukan. 3. Chemical penetration enhancer adalah substansi atau senyawa yang dapat memfasilitasi absorpsi penetrasi melalui kulit dengan mengurangi impermeabilitas dari kulit secara sementara, dalam hal ini adalah gliserin. 4. Sifat fisik gel anti-ageing adalah parameter untuk mengetahui kualitas fisik gel anti-ageing, dalam penelitian ini meliputi parameter daya sebar, pH, dan viskositas. 5. Draize Test adalah uji iritasi yang dilakukan pada hewan uji untuk mengetahui apakah sediaan gel anti-ageing ekstrak kedelai menyebabkan iritasi atau tidak. Hewan uji yang digunakan adalah kelinci albino. 6. Franz Cell Diffusion adalah suatu alat uji yang digunakan untuk mengukur jumlah obat yang terpenetrasi melalui kulit secara in vitro. D. Alat dan Bahan Penelitian 1. Alat penelitian Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah alat-alat gelas (Iwaki TE32 Pirex Japan Unmderli), alat maserasi (Innova 2100 platform shaker), Vaccum Rotary Evaporator (Janke-Kulken), mixer, blender, neraca analitik Mettler-Todelo AB204, Horizontal Double Plate, indikator pH universal Merck, pHmeter, Viskometer Rion VT-04, alat vakum, seperangkat alat KCKT dengan detektor ultraviolet (UV) merek Shimadzu LC-2010C, kolom C18 merek KNAUER column SN (XI 7) (No. column 25EE181KSJ part.

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 B115Y620), seperangkat komputer (merek Dell B6RDZ1S Connexant system RD01-D850 A03-0382 JP France S.A.S, printer HP Deskjet D2566 HP-024000 625730), UV/Vis Spectrophotometer SP-3000plus merek OPTIMA dengan deterktor silicon photo diode, millipore, alat ultrasonicator Refsch., Tipe : T460 (Schwing.1 PXE, FTZ-Nr. C-066/83, HF-Frequ.:35 kHz), mikropipet, dan kertas saring Whatman 0,45 μm. 2. Bahan penelitian Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tempe yang diperoleh dari SUPERINDO, Seturan, aquadest, gliserin, propilenglikol, carbopol 940, triethanolamin, metil paraben, natrium klorida dan ethanol kualitas farmasetis; ethanol, metanol p.a. (E. Merck), aquabidest hasil penyulingan di laboratorium Kimia Analisis Instrumental Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, dan baku pembanding genistein. E. Tata Cara Penelitian 1. Ekstraksi isoflavon dari tempe Tempe segar yang didapatkan dari SUPERINDO merek MUCHLAR, Seturan dipotong-potong kecil kemudian diblender hingga halus. Kemudian tempe yang sudah halus ditimbang sebanyak 150,0 gram ditambah petrolium eter (PE) sebanyak 300,0 mL (1:2), kemudian di maserasi selama sehari (±24 jam). Kemudian PE dibuang dan ditambahkan etanol sebanyak 300,0 mL kemudian di maserasi selama 3 hari. Hasil maserasi disaring sehingga didapatkan residu padat dan larutan kuning. Larutan dipekatkan dengan

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 menggunakan rotary evaporator hingga didapatkan ekstrak kental tempe. Ekstrak kental ini dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 50 °C selama 1 jam kemudian dikeluarkan dan ditimbang bobotnya. Kemudian dilakukan hal yang sama hingga didapatkan bobot tetap. 2. Pembuatan larutan baku genistein yang digunakan untuk penentuan panjang gelombang pengamatan Sejumlah lebih kurang 1,0 mg genistein ditimbang seksama dan dilarutkan dalam 1,0 mL etanol sehingga didapatkan konsentrasi sebesar 1000,0 µg/mL, kemudian dibuat larutan intermediet dengan mengambil sebanyak 0,5 mL dimasukkan ke dalam labu takar 5,0 mL kemudian diencerkan dengan etanol hingga tanda batas sehingga didapatkan konsentrasi sebesar 100,0 µg/mL. Larutan seri untuk pengamatan panjang gelombang menggunakan 2 konsentrasi yaitu 5,0 dan 10,0 µg/mL. Larutan seri dibuat dari larutan intermediet dengan mengambil masing-masing sejumlah 250,0 dan 500,0 µL dimasukkan ke dalam labu 5,0 mL kemudian diencerkan dengan etanol hingga tanda batas sehingga didapatkan konsentrasi sebesar 5 µg/mL, 10 µg/mL. 3. Penetapan panjang gelombang maksimum Masing-masing konsentrasi 5, 10 µg/mL larutan seri baku genistein diukur serapannya pada panjang gelombang 200-350 nm dengan

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 spektrofotometer UV-Vis. Spektrum yang dihasilkan akan menunjukkan panjang gelombang maksimum yang akan digunakan pada sistem KCKT. 4. Pembuatan larutan baku genistein Sejumlah lebih kurang 1,0 mg genistein ditimbang seksama dan dilarutkan dalam 1,0 mL etanol sehingga didapatkan konsentrasi sebesar 1000,0 µg/mL, kemudian dibuat larutan intermediet dengan mengambil sebanyak 0,5 mL dimasukkan ke dalam labu takar 5,0 mL kemudian diencerkan dengan etanol hingga tanda batas sehingga didapatkan konsentrasi sebesar 100,0 µg/mL. Pembuatan seri larutan baku dibuat dari larutan intermediet dengan mengambil masing-masing sejumlah 5,0; 25,0; 50,0; 250,0; 500,0 µL dimasukkan ke dalam labu ukur 5,0 mL secara beruturan dari volume kecil hingga besar kemudian diencerkan dengan etanol hingga tanda batas sehingga didapatkan konsentrasi sebesar 0,1; 0,5; 1,0; 5,0; dan 10,0 µg/mL. Larutan disaring dengan millipore dan didegassing dengan ultrasonicator selama 15 menit kemudian diinjeksikan ke dalam sistem KCKT fase terbalik. 5. Penetapan kadar ekstrak tempe Ekstrak tempe di timbang sebanyak 1,0 g kemudian dilarutkan ke dalam 15,0 mL aquadest dan 15,0 mL etil asetat kemudian dilakukan ekstraksi caircair. Fase atas larutan diambil (larutan A), kemudian fase bawah ditambahkan etil asetat sebanyak 10,0 mL kemudian dilakukan ekstraksi cair-cair berulang

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 hingga dua kali. Fase atas disatukan dengan larutan A. Larutan A kemudian diuapkan hingga didapatkan bobot tetap. Ekstrak yang telah bobot tetap dilarutkan dengan etanol secukupnya kemudian dimasukkan ke dalam labu takar 100,0 mL dan diencerkan dengan etanol hingga tanda batas. Larutan stok sampel diambil sebanyak 1 mL dimasukkan ke dalam labu takar 10,0 mL kemudian diencerkan dengan etanol hingga tanda batas. Larutan disaring dengan di milipore dan didegassing dengan ultrasonicator selama 15 menit, kemudian diinjeksikan ke dalam sistem KCKT fase terbalik detektor UV dengan fase diam C18, fase gerak metanol : air (70:30) dengan kecepatan alir fase gerak 0,7 mL/min sebanyak 20,0 µL. 6. Pemilihan formula Formula yang digunakan mengacu pada International Journals of Pharmaceutical Compounding dengan judul Gel Compounding. Formula yang digunakan adalah sebagai berikut : Tabel I. Formula gel standar dan modifikasi R/ Formula Standar Carbopol Triethanolamin Propilenglikol Gliserin Akuades ad 0,5 g 1,2 g 2,8 g 34,2 g 100 g R/ Formula Modifikasi Carbopol Triethanolamin Propilenglikol Gliserin Metil paraben Ekstrak isoflavon tempe 0,2%b/v Akuades ad 1% 2,4 g 5,6 g 0,1-20% 0,1% 10 mL 200 mL

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 Formula yang digunakan: Tabel II. Formula gel yang digunakan Bahan Carbopol TEA Propilenglikol Gliserin Metil Paraben Isoflavon 0,2%b/v Parfume Aquadest F1 2g 2,4 g 20 g 0g 0,2 g 10 mL q.s ad 200 g F2 2g 2,4 g 20 g 10 g 0,2 g 10 mL q.s ad 200 g F3 2g 2,4 g 20 g 20 g 0,2 g 10 mL q.s ad 200 g F4 2g 2,4 g 20 g 40 g 0,2 g 10 mL q.s ad 200 g 7. Pembuatan sedian gel anti ageing ekstrak tempe Campur gliserin dan ekstrak tempe menggunakan mixer skala kecepatan 1 hingga homogen, kemudian tambahkan propilenglikol campur homogen. Carbopol 940 ditambahkan ke dalam campuran kemudian mixer selama 2 menit, kemudian ditambahkan sisa aquadest, metil paraben ke dalam campuran dan mixer hingga homogen. TEA ditambahkan ke dalam campuran dan dicampur homogen menggunakan mixer skala kecepatan satu selama 2 menit. Sediaan gel ditambahkan pewangi apel sebanyak 5 tetes dan dimixer homogen. 8. Uji sifat fisis sediaan gel anti-ageing ekstrak tempe a. Uji Daya Sebar. Uji daya sebar dilakukan 48 jam setelah pembuatan dengan cara gel ditimbang seberat 1 gram dan diletakkan di tengah kaca bulat berskala, kemudian ditutup dengan kaca bulat yang lain. Diatas gel diberi beban dengan berat total 125 gram kemudian didiamkan selama 1 menit dan dicatat diameter penyebarannya.

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 b. Uji pH. Uji pH dilakukan sesaat setelah pembuatan gel menggunakan indikator pH universal. c. Uji Viskositas. Uji viskositas dilakukan dengan menggunakan alat viskosmeter dengan cara gel dimasukkan ke dalam wadah dan dipasang pada portable viscotester. Viskositas gel diketahui dengan mengamati gerakan jarum penunjuk viskositas. Uji ini dilakukan 48 jam setelah pembuatan gel. 9. Uji iritasi primer dengan metode Draize Test Evaluasi iritasi primer dilakukan dengan menggunakan hewan uji kelinci albino sebanyak 2 kelinci setiap formula. Dibuat area dengan ukuran 2,54 x 2,54 cm kemudian dioleskan 0,5 gram gel anti-ageing tiap area. Area uji ditutup dengan kasa/perban selama 4 jam pemejanan. Setelah 4 jam, kasa penutup dibuka. Reaksi yang timbul pada 24, 48 dan 72 jam setelah penutup dibuka (post exposure) diberikan skor sesuai Tabel III dan kriteria iritasi berdasarkan tabel IV. Tabel III. Evaluasi Reaksi Iritasi Kulit (Buchman dan Stephan, 2001) Jenis Iritasi Eritema Tanpa eritema Eritema hampir tidak tampak Eritema berbatas jelas Eritema moderat sampai berat Eritema berat (merah bit) sampai sedikit membentuk kerak Edema Tanpa edema Edema hampir tidak tampak Edema berbatas jelas Edema moderat (tepi naik ±1 cm) Edema berat (tepi naik lebih dari 1 mm dan meluas keluar daerah pejanan) Skor 0 1 2 3 4 0 1 2 3 4

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 Tabel IV. Kriteria iritasi (Buchman dan Stephan, 2001) Indeks Iritas 0 <2 2-5 >5 Kriteria Iritasi Senyawa Kimia Tidak mengiritasi Kurang merangsang Iritasi moderat Iritasi berat 10. Uji penetrasi sediaan gel dengan metode Franz Diffusion Cell Uji penetrasi menggunakan membran abdomen kulit mencit jantan galur Swiss usia 2-3 bulan. Mencit dibius dengan eter kemudian bulu pada bagian abdominal dicukur dan disayat serta lemak-lemak pada bagian subkutan yang menempel dihilangkan secara hati-hati. Sayatan direndam dalam larutan Na fisiologis steril dan disimpan pada suhu 4 °C. Kompartemen reseptor diisi dengan larutan dapat fosfat pH 7,4 sekitar 27,0 mL yang dijaga suhunya sekitar 37±0,5°C dan diaduk dengan pengaduk magnetik stirer dengan kecepatan 300rpm. Kulit abdomen diletakkan diantara kompartemen donor dan kompartemen reseptor dengan sisi dermal berhubungan langsung dengan medium reseptor. Sampel ditimbang seksama sebanyak ±1,0 gram kemudian diaplikasikan pada permukaan kulit. Kemudian sampel diambil pada jam ke0,5; 1; 2; dan 3 sebanyak 600,0 µL dari kompartemen reseptor dengan menggunakan syriringe dan larutan dapar fosfat pH 7,4 segera ditambahkan sejumlah volume yang sama dengan volume yang diambil. Kemudian sampel disaring dengan menggunakan milipore dan diinjekkan ke dalam sistem KCKT sebanyak 20,0 µL.

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 11. Analisis Hasil a. Indeks Iritasi Primer Indeks iritasi primer untuk sediaan juga dihitung dengan rumus sebagai berikut : Jumlah eritema Indeks iritasi primer = b. pada 24,48 ,72 jam 2 jumlah edema pada 24,48 ,72 jam 2 + jumlah hewan Jumlah Kumulatif Genistein Jumlah kumulatif genistein yang terpenetrasi per luas area difusi (µg/cm2) dapat dihitung dengan rumus : Q kumulatif = −1 𝐶𝑛.𝑉 +( 𝑛𝑖=1 𝐶.𝑆) A Keterangan : Q = Jumlah kumulatif isoflavon yang terpenetrasi per luas area difusi(µg/cm2) Cn = Konsentrasi isoflavon µg/mL pada sampling menit ke-n V = Volume sel difusi Franz 𝑛−1 𝐶 = Jumlah konsentrasi isoflavon (µg/mL) pada sampling pertama 𝑖=1 hingga sebelum menit ke-n S = Volume sampling (mL) A = Luas area membran (cm2) Kemudian dilakukan perhitungan fluks (kecepatan penetrasi tiap satuan waktu) obat berdasarkan hukum Fick I : 𝐽= M S×t Keterangan : J = Fluks (µg cm-2 jam-1) M = Jumlah kumulatif genistein yang melalui membran (µg) S = Luas area difusi (cm2) t = waktu (jam)

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kemudian dibuat grafik kumulatif genistein yang terpenetrasi (µ g) per luas area difusi (cm2) terhadap waktu (jam). 32

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Ektraksi Isoflavon dari Tempe Penelitian ini menggunakan tempe yang didapatkan dari SUPERINDO, Seturan dengan merek MUCHLAR sebanyak 3 kg untuk meminimalkan faktor pengacau. Tempe yang digunakan dipotong-potong terlebih dahulu kemudian di blender sampai halus untuk memperluas area kontak dengan cairan penyari sehingga proses maserasi lebih baik. Tempe yang digunakan untuk maserasi sebanyak 2655,80 g. Tempe dimaserasi menggunakan petroleum eter (PE) untuk menarik senyawa non polar seperti protein, lemak, dan pengotor non polar lainnya yang terdapat pada tempe. Kemudian PE dibuang dan dilakukan remaserasi menggunakan etanol untuk menarik flavonoid dari tempe. Selanjutnya dilakukan pemekatan hingga bobot tetap untuk menghilangkan kandungan etanol di dalam ekstrak. Hasil pemekatan berupa cairan kental berwarna coklat kehitaman berbau khas sebanyak 69,6132 g. Ekstrak tempe sebanyak 3,1884 g diekstraksi cair-cair menggunakan etil asetat dan akuades sehingga didapatkan fraksi isoflavon. Proses ini dilakukan untuk menarik aglikon isoflavon (Robinson dan Trevor, 1991). Selanjutnya fraksi etil asetat dipekatkan untuk menghilangkan etil asetat sehingga didapatkan cairan berwarna coklat kehitaman berbau khas sebanyak 1,3007 g. 33

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 B. Penetapan Kadar Ekstrak Isoflavon Tempe a. Penetapan panjang gelombang maksimal Penetapan panjang gelombang maksimal (λmaks) bertujuan untuk mencari panjang gelombang yang dapat memberikan serapan secara maksimal. Penetapan λmaks dilakukan dengan menggunakan larutan baku genistein dengan konsentrasi 5,035 µg/mL dan 10,07 µg/mL. Penetapan panjang gelombang dilakukan dengan menggunakan dua pelarut yaitu etanol dan buffer fosfat pH 7,4. Penetapan panjang gelombang menggunakan pelarut etanol digunakan untuk penetapan kadar ekstrak isoflavon tempe. Sedangkan penetapan panjang gelombang menggunakan pelarut buffer digunakan untuk penetapan kadar sediaan dari sel difusi Franz. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan pelarut maka panjang gelombang yang dihasilkan pun berbeda. 261 nm Gambar 8. Spektra baku genistein dengan pelarut etanol 269 nm Gambar 9. Spektra baku genistein dengan pelarut buffer fosfat pH 7,4

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 Dari hasil scanning panjang gelombang maksimal (Gambar 6 dan 7 ) diketahui bahwa λmaks genistein dengan pelarut etanol adalah 261 nm dan dengan pelarut buffer fosfat pH 7,4 adalah 269 nm. b. Pembuatan kurva baku genistein Kurva baku genistein dibuat dengan menggunakan senyawa standar genistein yang bertujuan untuk memperoleh persamaan regresi linear yang selanjutnya digunakan untuk menghitung kadar genistein dalam ekstrak isoflavon tempe. Penggunaan genistein sebagai standar karena genistein merupakan salah satu senyawa isoflavon yang terdapat di dalam tempe (Pramesti, 2007). Pengukuran seri baku genistein dilakukan pada panjang gelombang 261 nm dan 269 nm dengan menggunakan 5 seri konsentransi, yaitu 0,1007 µg/mL; 0,5035 µg/mL; 1,007 µg/mL; 5,035 µg/mL dan 10,07 µg/mL. 900000 800000 700000 AUC 600000 y = 214780,720x - 16242,695 R² = 0,99950 500000 400000 300000 200000 100000 0 0 2 4 6 8 10 12 Konsentrasi (µg/mL) Gambar 10. Kurva hubungan antara konsentrasi baku genistein dengan AUC menggunakan pelarut etanol

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 2000000 1800000 1600000 1400000 AUC 1200000 y = 172800,318x - 12453,734 R² = 0,9991 1000000 800000 600000 400000 200000 0 0 2 4 6 8 10 12 Konsentrasi (µg/mL) Gambar 11. Kurva hubungan antara konsentrasi baku genistein dengan AUC menggunakan pelarut buffer fosfat pH 7,4 Berdasarkan pengukuran tersebut, diperoleh persamaan kurva baku genistein dengan pelarut etanol yaitu y = 214780,720x – 16242,695 dengan nilai r sebesar 0,99950 yang akan digunakan dalam penetapan kadar isoflavon dalam ekstrak isoflavon tempe dan diperoleh persamaan kurva baku genistein dengan pelarut buffer fosfat pH 7,4 yaitu y = 172800,318x – 12453,734 dengan nilai r sebesar 0,9991 yang akan digunakan dalam penetapan kadar isoflavon dengan menggunakan sel difusi Franz. c. Penetapan kadar isoflavon ekstrak tempe Penetapan kadar isoflavon tempe dilakukan untuk mengetahui isoflavon di dalam ekstrak tempe. Ekstrak tempe yang telah dilakukan LLE (Liquid-Liquid Extraction) kemudian dilarutkan ke dalam etanol p.a di dalam labu ukur 100,0 mL. Larutan uji diperoleh dengan mengambil sebanyak 1,0 mL larutan stok yang kemudian diencerkan ke dalam labu 10,0 mL. Larutan uji inilah yang akan diukur

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 dengan KCKT pada panjang gelombang 261 nm. Isoflavon yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah semua kandungan isoflavon yang ada di dalam ekstrak kering tempe yang terhitung terhadap genistein karena senyawa baku yang digunakan adalah genistein. Dari hasil penetapan kadar genistein dalam ekstrak tempe diperoleh kadar sebesar 0,4506 % b/b. C. Pembuatan dan Uji Sifat Fisis Sediaan Gel Anti-ageing Esktrak Isoflavon Tempe Formula yang digunakan dalam penelitian ini yaitu carbopol 940 sebagai basis gel hidrofilik, TEA (Trietanolamin) sebagai pembasa atau netralisasi carbopol, gliserin sebagai chemical penetration enhancer, propilenglikol sebagai humektan, akuades sebagai pelarut, parfum, pengawet, dan ekstrak isoflavon tempe sebagai zat aktif. Carbopol 940 bersifat asam seingga dibutuhkan TEA untuk menaikkan pH karena kulit manusia mempunyai pH pada range 5,5-7. Hal ini untuk menghindari iritasi kulit apabila pH terlalu asam atau basa. Selain itu, pada pH netral, pada carbopol 940 terjadi proses tolak menolak antar ion pada gugus karboksil sehingga membuat gel menjadi lebih rigit (kaku) dan mengembang (Barry, 1983). Gambar 12. Gambar sediaan gel anti-ageing ekstrak tempe

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 Uji sifat fisis sediaan gel anti-ageing ekstrak isoflavon tempe dilakukan untuk mengetahui sediaan gel yang dihasilkan telah memiliki sifat fisis yang baik yaitu dapat diterima oleh masyarakat (acceptable). Sifat fisis yang diamati dalam penelitian ini adalah daya sebar, viskositas, dan pH. Uji sifat fisis sediaan, khususnya daya sebar dan viskositas dilakukan 48 jam setelah pembuatan gel dimana waktu 48 jam dianggap sudah tidak ada lagi pengaruh gaya atau energi yang diberikan dalam proses pembuatan sediaan yang dapat mempengaruhi hasil pengujian. 1. pH Uji pH dilakukan untuk mengetahui pH tiap formula yang dibuat, sesaat setelah pembuatan gel dengan menggunakan pH universal. Hasil uji pH menurut Tabel V, didapatkan bahwa semua sediaan mempunyai pH 6 yang masuk ke dalam range pH yang dingiinkan yaitu pH dengan range 5,5-7. 2. Daya sebar Pengujian daya sebar sediaan gel bertujuan untuk mengetahui kemampuan sediaan gel menyebar dan merata pada area yang diinginkan di permukaan kulit saat diaplikasikan. Daya sebar berbanding terbalik dengan viskositas, semakin kecil viskositas suatu sediaan semisolid maka kemampuan menyebarnya pada permukaan kulit akan semakin besar, begitu juga sebaliknya (Garg et al, 2002). Daya sebar yang optimum untuk sediaan semistiff adalah 3-5 cm.

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 Pengujian daya sebar dilakukan dengan menimbang 1 g sediaan kemudian ditimpa dengan kaca bundar dengan total berat 125 g, ditunggu selama satu menit, setelah itu diukur daya sebarnya. Berdasarkan data daya sebar pada Tabel V, semua sediaan masuk ke dalam range daya sebar yaitu 3-5 cm sehingga termasuk dalam sediaan semistiff. Daya sebar adalah karakteristik yang berguna untuk memperhitungkan kemudahan saat digunakan, pengeluaran dari wadah serta mempengaruhi penerimaan konsumen (Garg et al., 2002). Dilihat secara visual, sediaan gel ini tidak terlalu cair dan tidak terlalu kental sehingga dapat diaplikasikan di kulit dengan mudah dan dapat menyebar rata di kulit. 3. Viskositas Pengujian viskositas dilakukan untuk mengetahui tingkat kekentalan gel. Viskositas dapat diartikan sebagai tahanan untuk mengalir. Viskositas berbanding terbalik dengan kemampuan alir dimana semakin besar viskositas maka kemampuan untuk mengalir akan semakin kecil, begitu pula sebaliknya (Martin et. al, 1993). Pengujian viskositas dalam penelitian ini dilakukan 48 jam setelah pembuatan karena setelah 48 jam sediaan dianggap sudah melewati suatu fase yang tidak ada lagi energi mekanik (shearing) yang digunakan saat proses pencampuran sehingga viskositas yang terukur dianggap viskositas sistem gel yang sebenarnya, sehingga diharapkan struktur kerangka tiga dimensi gel telah tertata dengan baik. Pengukuran viskositas sediaan gel dilakukan menggunakan viscotester Rion seri VT dengan menggunakan rotor nomor 2. Berdasarkan data viskositas pada Tabel V, semua sediaan masuk ke dalam range viskositas yaitu

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 200-300 dPas, sehingga dapat dikatakan bahwa gel yang dibuat tidak terlalu kental maupun tidak terlalu encer. Formula F1 F2 F3 F4 Tabel V. Data Uji Sifat Fisik, Q3jam, dan Fluks pH Viskositas Daya sebar Q3jam Fluks 2 (d.Pas) (cm) (µg/cm ) (µg/cm2/jam) 6 225 4,083±0,113 1,885±0,065 0,628 6 240 3,767±0,052 0,953±0,028 0,318 6 240 3,617±0,076 0,660±0,026 0,220 6 250 3,542±0,072 0,572±0,015 0,191 D. Uji Iritasi Primer dengan Metode Draize Test Uji iritasi primer sediaan gel anti-ageing ekstrak tempe dilakukan untuk mengetahui efek dari sediaan dalam mengiritasi kulit. Sediaan yang mengiritasi kulit cenderung tidak dapat digunakan selama periode waktu tertentu karena adanya kecenderungan pemakai untuk menghentikan penggunaan bila terjadi reaksi iritasi. Sifat mengiritasi dapat berasal dari gesekan mekanis, pH sediaan, maupun sifat kimia dari bahan yang terkandung di dalam formula. Penelitian ini menggunakan kelinci albino sebagai hewan percobaan karena tidak memiliki pigmen sehingga lebih mudah dalam pengamatan efek iritasi. Iritasi yang timbul ditandai dengan adanya eritema dan edema pada area kulit yang telah diberi gel. Tabel VI. Hasil indeks iritasi primer Kelinci F1 F2 F3 F4 Indeks iritasi primer 0 0 0 0 Kriteria Tidak mengiritasi Tidak mengiritasi Tidak mengiritasi Tidak mengiritasi

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 Hasil uji iritasi primer gel anti-ageing ekstrak tempe menunjukkan bahwa pada semua formula memberikan nilai indeks iritasi primer 0. Hasil ini menunjukkan bahwa keempat formula tidak mengiritasi pada kulit sehingga aman digunakan. E. Uji Penetrasi Sediaan Gel dengan Metode Franz Diffusion Cell Uji penetrasi bertujuan untuk mengetahui banyaknya zat aktif (isoflavon) yang dapat menembus ke dalam kulit. Uji penetrasi ini dilakukan secara in vitro dengan metode Franz diffusion cell. Uji penetrasi ini juga bertujuan untuk mengetahui pengaruh gliserin sebagai chemical penetration enhancer dalam meningkatkan penetrasi obat melalui membran kulit mencit dari sediaan gel. Membran yang digunakan yaitu kulit bagian abdomen mencit jantan galur Swiss yang berumur 2-3 bulan dengan luas membran 4,867 cm2. Kulit mencit yang digunakan dalam uji ini mudah didapatkan dan mempunyai permeabilitas yang mirip dengan permeabilitas kulit manusia. Preparasi kulit mencit awalnya dicukur kemudian dihilangkan lemak subkutannya agar tidak mengganggu uji penetrasi. Setelah itu kulit dikondisikan dalam larutan Na fisiologis 0,9% selama maksimal 24 jam. Ketika kulit akan digunakan, kulit dikondisikan pada medium reseptor yaitu buffer fosfat pH 7,4 : etanol (7:3). Buffer fosfat pH 7,4 digunakan sebagai cairan reseptor karena simulasi kondisi pH cairan biologis manusia. Membran dipastikan telah kontak dengan cairan kompartemen reseptor agar sediaan yang diaplikasikan dapat berpenetrasi menembus kulit menuju cairan reseptor. Adanya gelembung udara harus dihindari karena menyebabkan celah

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 antara membran dengan cairan yang dapat menghalangi penetrasi zat aktif ke kompartemen reseptor. Pada kompartemen perlu dilakukan pengadukan menggunakan magnetik stirer yang berfungsi untuk homogenisasi. Setiap formula gel masing-masing diuji in vitro dengan menggunakan sel difusi selama 3 jam dengan 4 kali pencuplikan yaitu pada jam ke 0,5; 1; 2; dan 3. Lama pengujian selama 3 jam ini diasumsikan seperti lama menempelnya gel di kulit setelah diaplikasikan serta dengan waktu 3 jam ini, isoflavon dapat masuk ke dalam kulit. Sampel yang diambil sebanyak 0,6 mL dari kompartemen, kemudian segera tambahkan 0,6 mL cairan kompartemen baru ke dalam sel difusi untuk menjaga volume cairan tetap konstan selama percobaan berlangsung. Pengukuran sampel dilakukan menggunakan KCKT dengan fase gerak metanol : air (70:30) dengan flow rate 0,7 ml/menit (Orhan, et al., 2011) pada panjang gelombang 269 nm. Uji penetrasi secara in vitro memiliki dua parameter yaitu jumlah kumulatif zat yang terpenetrasi dan fluks (laju penetrasi). Hasil kumulatif penetrasi ekstrak isoflavon tempe melalui membran kulit mencit selama 3 jam dari sediaan gel dapat dilihat pada tabel V. Berdasarkan data pada tabel V didapatkan bahwa jumlah isoflavon yang terpenetrasi terbanyak yaitu pada sediaan formula 1 dengan konsentrasi gliserin 0. Hal ini disebabkan karena dengan penambahan gliserin yang semakin banyak maka viskositas sediaan pun bertambah, kecuali pada formula 2 dan 3, sehingga dimungkinkan zat aktif (ekstrak tempe) tidak dapat keluar dari sediaan.

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 Fluks diperoleh pada keadaan steady state dengan mengikuti kaidah hukum Fick. Jumlah kumulatif obat terpenetrasi melalui membran mencit diplotkan terhadap waktu dan dibuat persamaan regresi linear sehingga dapat ditentukan nilai fluks isoflavon tempe. Fluks ditentukan dari kemiringan grafik tersebut pada keadaan steady state dimana terlihat sebagai satu garis mendatar pada kurva fluks yang diplotkan terhadap satuan waktu. Nilai fluks yang diperoleh dapat dilihat pada Tabel V. Berdasarkan Tabel V didapatkan bahwa formula 1 memiliki nilai fluks lebih tinggi daripada formula yang lainnya selama 3 jam percobaan. Hal ini berarti bahwa formula 1 memiliki kecepatan penetrasi obat yang lebih tinggi. 2 1,8 Qkum (µg/mL) 1,6 1,4 1,2 Formula 1 1 0,8 Formula 2 0,6 Formula 3 0,4 Formula 4 0,2 0 0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 Jam (jam) Gambar 13. Kurva hubungan antara waktu dengan jumlah kumulatif Jumlah terpenetrasi yang lebih tinggi pada formula 1 yang tidak mengandung gliserin memiliki nilai viskositas yang lebih rendah dan mempunyai kandungan air yang lebih banyak di dalam sediaan. Hal ini menjadi faktor yang

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 mempengaruhi penetrasi ekstrak isoflavon tempe dimana dengan penambahan gliserin yang semakin banyak menyebabkan viskositas sediaan gel meningkat sehingga dapat menyebabkan zat aktif khususnya isoflavon terjebak di dalam sediaan dan sulit untuk keluar dari sediaan untuk masuk ke dalam kulit. Semakin tinggi viskositas atau kekentalan sediaan maka semakin sulit pelepasan zat aktif. Selain itu, karena kandungan air yang lebih banyak di dalam sediaan gel maka akan mempengaruhi proses hidrasi dan kelembapan kulit sehingga meningkatkan penetrasi ekstrak isoflavon tempe.

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN 1. Berdasarkan uji in vitro, semakin banyak jumlah gliserin sebagai chemical penetration enhancer yang ditambahkan maka jumlah isoflavon tempe yang terpenetrasi ke dalam kulit semakin menurun. B. SARAN 1. Perlu dilakukan optimasi dan validasi metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) pada penetapan kadar genistein yang terpenetrasi melalui kulit. 2. Perlu dilakukan optimasi dan pembuatan fermentasi kedelai dengan menggunakan enzim β-glukosidase atau menggunakan Rhizopus oryzae dan Rhizopus oligosporus. 3. Perlu dilakukan optimasi waktu penetrasi untuk mendapatkan jumlah penetrasi maksimum. 4. Perlu dilakukan perbandingan konsentrasi dan jenis chemical penetration enhancer dalam sediaan gel ekstrak isoflavon tempe. 45

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Daftar Pustaka Alache, J. M., Devissaguet, J., dan Hermann, A. M. G., 1993, Farmasetika 2 Biofarmasi, Edisi 2, Airlangga University Press, Surabaya Allen, Jr., dan Loyd, 2002, The Art, Science, and Technology of Pharmaceutical Compounding, Edisi 2, American Pharmaceutical Association, USA, hal. 301-315 Astuti, S., 2008, Isoflavon Kedelai dan Potensinya Sebagai Penangkap Radikal Bebas, Jurnal Teknologi Industri dan Hasil Pertanian, Volume 13, No. 2, hal. 126-128 Barry, B. W., 1983, Dermatological Formulation, Percutaneous Absorption, Volume 18, Marcell Dekker Inc., New York, hal. 52-53, 300-304 Buchman dan Stephan, 2001, Handbook of Cosmetic Science and Technology, Marcell Dekker Inc., New York, hal. 150-166 Carrao-Panizzi, M.C., Pedroso, S., dan Kikuchi, A., 2002, Extraction Time for Soybean Isoflavone Determination, Brazilian Archives of Biology and Technology, hal 515 Cho, S.Y., Lee, Y.N., dan Park, H.J., 2009, Optimization of Ethanol Extraction and Further Purification of Isolfavones from Soybean Sprout Cotyledon, Food Chemistry, hal. 312 Dayan, N., 2005, Pathways for Skin Penetration, Cosmetic & Toiletries Magazine, Vol. 120, No. 6, Paterson, New Jersey, USA, hal. 1-7 Dirjen POM, 1995, Farmakope Indonesia, Edisi IV, Departemen Kesehatan RI, Jakarta, hal. 712, 721 Doerge et al., 1999, Analysis of Soy Isoflavone Conugation In Vitro and in Human Blood Using Liquid Chromatography-Mass Spectrometry, National Center for Toxicological Research, Jefferson, Arkansas, hal. 299 Garg, A., Aggarwal, D., Garg, S., dan Singla, A.K., 2002, Spreading of Semisolid Formulation : An Update, Pharmaceutical Technology, diakses tanggal, hal. 84-105 Hernawati, 2010, Perbaikan Kinerja Reproduksi Akibat Pemberian Isoflavon dari Tanaman Kedelai, FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia, hal. 2 46

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 Hudson, B. J. F., 1990, Food Antioxidant, Elsevier Applied Science, London, hal. 8-9 Irsan, dkk., 2013, Uji Iritasi Krim Antioksidan Ekstrak Biji Lengkeng (Euphoria longana Stend) pada Kulit Kelinci (Oryctolagus cuniculus), Majalah Farmasi dan Farmakologi, Vol. 17, No. 2, hal. 55 Johnson, A.W., 2002, Skin Moisturization, Marcell Dekker Inc., New York, hal. 5 Maibach, H., dan Bashir, S. J., 2001, In Vivo Irritation, Handbook of Cosmetic Science and Technology, Marcel Dekker, New York, hal. 107-118 Martin, A., Swarbrick, J., dan Cammarata, A., 1993, Physical Pharmacy, Edisi 3, UI Press, Jakarta, hal. 1019-1053 Mitsui, T., 1997, New Cosmetic Science, Elsevier, Amsterdam, hal. 38-45 Nan et al.,2014, Dissociation Contants and Solubilities of Daidzein and Genistein in Different Solvent, J.Chem.Eng, ACS Publications, hal. 1304 Nugroho, K. N., 2013, Sediaan Transdermal : Solusi Masalah Terapi Obat, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, hal. 9-38 Orhan, et al., 2011, Quantification of Genistein and Daidzein in Two Endemic Genista Species and Their Antioxidant Activity, Journal of the Serbian Chemical Society, hal. 36 Pathan, I.B. dan Setty, C.M., 2009, Chemical Penetration Enhancers for Transdermal Drug Delivery Systems, Tropical Journal of Pharmaceutical Research, India, hal. 173-177 Pius, O.R., 2012, Prediksi Komposisi Optimum Gliserin dan Virgin Coconut Oil (VCO) sebagai Penetration Enhancer dalam Formula Emulsi A/M Tonik Rambut Ekstrak Etanol-Air Biji Kemiri (Aleurites moluccana (L.) Willd) : Aplikasi Desain Faktorial, Skripsi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, hal. 30 Pramesti, R., 2007, Pengaruh Aktivitas Antioksidatif Ekstrak Tempe Kedelai (Glycine max L.mer) terhadap Kualitas Daging Sapi Giling Selama Penyimpanan pada Kondisi yang Berbeda, Tesis, Universitas Sebelas Maret, Surakarta, hal. 91, 103-105 Robinson dan Trevor, 1991, The Organic Constituents of HigherPlants, Edisi 6, Penerbit ITB, Bandung, hal. 208

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 Rohman, A., 2007, Kimia Farmasi Analisis, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, hal.378386 Rohmatussolihat, 2009, Antioksidan, Penyelamat Sel-Sel Tubuh Manusia, Volume 4, BioTrends, hal. 5 Rosen, M. R., 2005, Delivery System Handbook for Personal Care and Cosmetic Product Technology, William Andrew Publishing, New York, hal. 80-90 Rowe, R.C., Sheskey, P.J., dan Quinn, M.E., 2009, Handbook of Pharmaceutical Excipients, Edisi 6, Pharmaceutical press, London, Chicago, hal. 283 Sandby-Moller et al., 2003, Epidermal Thickness at Different Body Sites, Acta Derm. Venereol, hal. 410-413 Sinha, V.R. dan Kaur, M.P., 2000, Permeation Enhancers for Transdermal Drug Delivery, Drug Development and Industrial Pharmacy, India, hal. 11301138 Smolinske, 1992, Handbook of Food, Drug and Cosmetics Excipients, CRC Press, USA, hal. 199-200 Stinchcomb, A.L., and Banks, S.L., 2010, Formulation of Cannabidiol and Prodrugs of Cannabidiol and Methods of Using The Same, Patens Application, Alltranz Inc., Lexington, KY, USA, hal. 5-30 Sukmawati, A., dan Suprapto, 2010, Efek Berbagai Peningkat Penetrasi Terhadap Penetrasi Perkutan Gel Natrium Diklofenak Secara In Vitro, Jurnal Penelitian Sains & Teknologi, Volume 11, No. 2, hal. 117-119 Swarbick, J., and Boylan, C.J., Editors, 1986, Encyclopedia of Pharmaceutical Technology, Volume 6, Marcell Dekker, New York, hal. 421, 432 Tortora, G. J., dan Angnostakos, N. P., 1990, Principles of Anatomy and Physiology, Edisi 6, Harper and Row Publisher, New York, hal. 120-133 Voight, R., 1994, Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, Edisi V, UGM Press, Yogyakarta, hal. 315 Wahyono, P., Soetjipto, Harjanto, dan Suhariningsih, 2011, Efek Jus Buah Tomat (Lycopersicum pyriforme) terhadap Pencegahan Fotoaging Kulit Akibat Iradiasi Sinar Ultraviolet-B, JBP, Volume 13, hal. 169-170 Walters, K.A., and Roberts, M.S., 2002, Dermatological and Transdermal Formulations, Marcel Dekker Inc., New York, hal. 99-102

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 Zatz, J. L., dan Kushla, G. P., 1996, Gels, in Lieberman, H. A., Lachman, L., Schwatz, J. B., (Eds.), Handbook of Cosmetic Science and Technology, Marcell Dekker, Inc., New York, hal. 399-415

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN 50

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 Lampiran 1. Data Penimbangan Ekstraksi Penimbangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Berat wadah (g) 200,29 200,34 200,36 200,44 200,38 200,44 200,37 200,53 200,50 200,63 200,44 200,57 200,66 200,63 200,77 327,26 157,12 157,20 157,16 327,42 Berat wadah+zat (g) 300,55 300,74 300,61 300,86 250,62 300,72 250,87 350,87 250,95 250,95 350,64 250,91 250,92 250,84 250,87 828,07 407,76 407,49 407,93 527,46 Berat Wadah+sisa (g) 200,35 100,20 200,40 100,34 200,38 100,23 200,44 100,42 200,40 50,22 200,50 100,22 200,44 50,43 200,61 150,26 200,57 50,38 200,66 50,29 200,54 150,10 200,63 50,28 200,70 50,22 200,67 50,17 200,80 50,07 327,54 500,53 157,22 250,54 157,26 250,23 157,22 250,71 327,50 199,96 Σ Berat zat 2655,80 Lampiran 2. Data Penimbangan Ekstrak Bobot Tetap Penimbangan Berta wadah+zat (g) Berat wadah (g) Berat zat (g) Σ Berat zat Berat zat (g) 1 2 3 4 89,4761 85,3928 72,1750 80,5356 68,6067 66,1650 57,3590 65,5356 20,8694 19,2278 14,816 14,7000 69,6132

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 Lampiran 3. Spektra panjang gelombang pengamatan baku genistein 261 nm Spectra baku genistein seri konsentrasi 5,035 µg/mL dengan pelarut etanol 261 nm spektra baku genistein seri konsentrasi 10,07 µg/mL dengan pelarut etanol 269 nm spektra baku genistein seri konsentrasi 5,035 ppm dengan pelarut buffer fosfat pH 7,4 269 nm spektra baku genistein seri konsentrasi 10,07 ppm dengan pelarut buffer buffer fosfat pH 7,4

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4. Data penimbangan baku dan perhitungan kadar larutan baku genistein Baku genistein untuk pembuatan kurva baku : Penimbangan Berat wadah+zat (mg) Berat wadah+sisa (mg) Berat zat (mg) Konsentrasi baku genistein dalam larutan stok = 1,3629 0,0538 1,3091 1,3091 mg 1,3 mL =1007µg/mL Konsentrasi intermediet baku genistein = V1 x C1 = V2 x C2 0,5 mL x 1007 μg/mL = 5,0 mL x C2 C2 = 100,7 μg/mL Konsentrasi seri larutan baku genistein = V1 x C1 = V2 x C2 5,0 µL x 100,7 μg/mL = 5000,0 µ L x C2 C2 = 0,1007 μg/mL Seri baku 1 2 3 4 5 V1 (µL) 5,0 25,0 50,0 250,0 500,0 V2 (µL) 5000,0 5000,0 5000,0 5000,0 5000,0 C1 (μg/mL) 100,7 100,7 100,7 100,7 100,7 C2 (μg/mL) 0,1007 0,5035 1,007 5,035 10,07 53

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 Lampiran 5. Kromatrogram dan data penentuan kurva baku genistein dengan pelarut etanol Seri 1 Genistein Seri 2 Genistein

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Seri 3 Genistein Seri 4 Genistein Seri 5 Genistein 55

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 C (μg/mL) AUC 0,1007 17665 0,5035 98868 1,007 206957 5,035 1015177 10,07 2170437 A = -16242,695 B = 214780,720 r = 0,99950 Keterangan: C AUC = konsentrasi seri baku genistein (μg/mL) = Area Under Curve Lampiran 6. Persamaan dan gambar kurva baku genistein dengan pelarut etanol Persamaan kurva baku genistein yang digunakan sebagai berikut : y = 214780,720x – 16242,695 Gambar kurva baku genistein 900000 800000 700000 AUC 600000 500000 400000 300000 200000 100000 0 0 2 4 6 Konsentrasi (µg/mL) 8 10 12

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 7. Kromatogram dan data penentuan kurva baku genistein dengan pelarut buffer fosfat pH 7,4 Seri 1 Genistein Seri 2 Genistein Seri 3 Genistein 57

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Seri 4 Genistein Seri 5 Genistein C (μg/mL) AUC 0,1007 37070 0,5035 78311 1,007 146508 5,035 813936 10,07 1750471 A = -12453,734 B = 172800,318 r = 0,9991 Keterangan: C AUC = konsentrasi seri baku genistein (μg/mL) = Area Under Curve 58

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 Lampiran 8. Persamaan dan gambar kurva baku genistein dengan pelarut buffer fosfat pH 7,4 Persamaan kurva baku genistein yang digunakan sebagai berikut : y = 172800,318x – 12453,734 Gambar kurva baku genistein 2000000 1800000 1600000 1400000 AUC 1200000 1000000 800000 600000 400000 200000 0 0 2 4 6 8 10 12 Konsentrasi (µg/mL) Lampiran 9. Data penimbangan, kromatogram dan perhitungan kadar sampel 1. Data penimbangan ekstrak untuk ekstraksi cair-cair Penimbangan Berta wadah+zat (g) Berat wadah (g) Berat zat (g) 1 20,9655 19,8702 1,0953 2 21,8816 20,8083 1,0733 3 21,2326 20,2128 1,0198

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. Data penimbangan ekstrak setelah ekstraksi cair-cair dan untuk diinjek ke sistem HPLC Penimbangan Berta wadah+zat (g) Berat wadah (g) Berat zat (g) 1 20,432 19,8702 0,5618 2 21,056 20,8083 0,2477 3. Kromatogram sampel ekstrak tempe Replikasi 1 Genistein Replikasi 2 Genistein 3 20,7490 20,2128 0,5362 60

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Replikasi 3 Sampel ekstrak tempe dan Adisi Genistein 4. Kadar genistein dalam ekstrak tempe Persamaan kurva baku y = 214780,720x – 16242,695 Konsentrasi genistein dalam ekstrak tempe = y = 214780,720x – 16242,695 686600 = 214780,720x – 16242,695 x = 3,272 µg/mL 61

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Konsentrasi genistein dalam labu 10 mL = 32,72 µg/mL Konsentrasi genistein dalam labu 100 mL = 3272 µg/100 mL Konsentrasi genistein dalam ekstrak = 3272 µg/100mL = 3,272 mg/g 1g Sampel R1 R2 R3 Adisi Konsentrasi Konsentrasi Rata-rata (µg/mL) (mg/g) (mg/g) 3,272 4,506±1,0705 686600 3,272 5,061 1070826 5,061 5,185 1097469 5,185 1117930 5,281 AUC Kadar genistein dalam ekstrak tempe = 0,4506%b/b Lampiran 10. Data hasil pengukuran uji sifat fisik sediaan gel 1. Uji pH Formula 1 2 3 4 1 6 6 6 6 Replikasi 2 6 6 6 6 3 6 6 6 6 2. Uji daya sebar dan Viskositas Formula 1 2 3 4 Daya Sebar R1 R2 4,2 4,075 3,725 3,75 3,7 3,6 3,625 3,5 R3 3,975 3,825 3,55 3,5 Viskositas Rata2 R1 R2 4,083 225 225 3,767 240 240 3,617 240 240 3,542 250 250 R3 225 240 240 250 Rata2 225 240 240 250 62

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 11. Data dan foto uji iritasi primer Formula 1 Kelinci Replikasi 1 Replikasi 2 Replikasi 3 Parameter Eritema Edema Eritema Edema Eritema Edema Skor evaluasi rekasi iritasi kulit dalam interval observasi 24 jam 0 0 0 0 0 0 48 jam 0 0 0 0 0 0 72 jam 0 0 0 0 0 0 Formula 2 Kelinci Replikasi 1 Replikasi 2 Replikasi 3 Parameter Eritema Edema Eritema Edema Eritema Edema Skor evaluasi rekasi iritasi kulit dalam interval observasi 24 jam 0 0 0 0 0 0 48 jam 0 0 0 0 0 0 72 jam 0 0 0 0 0 0 Formula 3 Kelinci Replikasi 1 Replikasi 2 Replikasi 3 Parameter Eritema Edema Eritema Edema Eritema Edema Skor evaluasi rekasi iritasi kulit dalam interval observasi 24 jam 0 0 0 0 0 0 48 jam 0 0 0 0 0 0 72 jam 0 0 0 0 0 0 63

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Formula 4 Kelinci Parameter Eritema Edema Eritema Edema Eritema Edema Replikasi 1 Replikasi 2 Replikasi 3 Skor evaluasi rekasi iritasi kulit dalam interval observasi 24 jam 0 0 0 0 0 0 48 jam 0 0 0 0 0 0 72 jam 0 0 0 0 0 0 1 1 2 2 3 3 Formula 1 1 Formula 2 1 2 2 3 3 Formula 3 Formula 4 64

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI kontrol negatif Lampiran 12. Ethical Clearance kontrol positif 65

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 13. Kromatogram sampel dalam sediaan dengan uji Franz Cell Diffusion 1. Formula 1 Pencuplikan pada jam ke-3 Genistein Pencuplikan sampel dan adisi Genistein 66

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. Formula 2 Pencuplikan pada jam ke-3 Genistein Pencuplikan sampel dan adisi Genistein 67

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3. Formula 3 Pencuplikan pada jam ke-3 Genistein Pencuplikan sampel dan adisi Genistein 68

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4. Formula 4 Pencuplikan pada jam ke-3 Genistein Pencuplikan sampel dan adisi Genistein 69

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 14. Kadar genistein setelah uji Franz Cell Diffusion pada setiap formula Persamaan kurva baku y = 172800,318x – 12453,734 Konsentrasi genistein setelah uji Franz Cell Diffusion = y = 214780,720x – 16242,695 12951 = 214780,720x – 16242,695 x = 0,147 µg/mL F1 F2 F3 F4 Jam ke- AUC 0,5 1 2 3 0,5 1 2 3 0,5 1 2 3 0,5 1 2 3 12951 14144 20164 46077 2588 4008 8955 15072 2350 3563 9504 16572 2343 3071 8015 16517 R1 Konsentrasi (µg/mL) 0,147 0,154 0,189 0,339 0,087 0,095 0,124 0,159 0,086 0,093 0,127 0,168 0,086 0,090 0,118 0,168 AUC 12632 14799 20260 42101 0 3008 3800 7403 0 3262 3801 6282 0 2460 3906 7680 R2 Konsentrasi (µg/mL) 0,145 0,158 0,189 0,316 0,072 0,089 0,094 0,115 0,072 0,091 0,094 0,108 0,072 0,086 0,117 0,139 Jumlah kumulatif setiap formula = Q kumulatif = −1 𝐶𝑛.𝑉 +( 𝑛𝑖=1 𝐶.𝑆) A volume Franz Cell Diffusion (V) = 27 mL volume sampling (S) = 0,6 mL luas membran (A) = 4,867 cm2 AUC 12542 16924 21106 44689 0 0 2613 4093 0 0 2312 4918 0 0 2258 4261 R3 Konsentrasi (µg/mL) 0,145 0,170 0,194 0,331 0,072 0,072 0,087 0,096 0,072 0,072 0,085 0,101 0,072 0,072 0,085 0,097 70

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Cn = konsentrasi isoflavon pada sampling menit ke-n = 0,189 µg/mL 𝑛−1 𝑖=1 𝐶 = jumlah konsentrasi isoflavon pada sampling pertama hingga sebelum menit ke-n = 0,147+0,154 = 0,301 µg/mL Q kumulatif = Jam ke- F1 F2 F3 F4 Jam ke0,5 1 2 3 0,5 1 2 3 0,5 1 2 3 0,5 1 2 3 0,5 1 2 3 g .0.6mL ) mL 0,189 µg /mL .27 mL +(0,301 µ 4,867 cm 2 Qkum (µg/cm2) R1 R2 R3 0,815 0,872 1,086 1,941 0,483 0,538 0,710 0,920 0,399 0,503 0,541 0,669 0,399 0,408 0,500 0,561 0,804 0,894 1,086 1,814 0,477 0,527 0,727 0,970 0,399 0,514 0,542 0,631 0,399 0,408 0,489 0,589 0,804 0,961 1,115 1,899 0,477 0,510 0,676 0,968 0,399 0,486 0,546 0,680 0,399 0,408 0,489 0,566 F1 (µg/cm2) 0,808±0,006 0,909±0,046 1,096±0,017 1,885±0,065 F2 (µg/cm2) 0,479±0,003 0,525±0,014 0,704±0,026 0,953±0,028 = 1,941 µg/cm2 Rata-rata Qkum (µg/cm2) 0,808±0,006 0,909±0,046 1,096±0,017 1,885±0,065 0,479±0,003 0,525±0,014 0,704±0,026 0,953±0,028 0,399±0 0,501±0,014 0,543±0,003 0,660±0,026 0,399±0 0,408±0 0,493±0,006 0,572±0,015 F3 (µg/cm2) F4 (µg/cm2) 0,399±0 0,399±0 0,501±0,014 0,408±0 0,543±0,003 0,493±0,006 0,660±0,026 0,572±0,015 Data Fluks 𝐽= M S×t M = Jumlah kumulatif genistein yang melalui membran = 1,885 µg/cm2 S = Luas area difusi = 4,867 cm2 t = waktu = 3 jam 71

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI F1 (µg cm-2 jam-1) 0,628 𝐽= 1,885 µg /cm 2 3 jam = 0,628 µg cm-2 jam-1 F2 (µg cm-2 jam-1) 0,318 F3 (µg cm-2 jam-1) 0,220 F4 (µg cm-2 jam-1) 0,191 2 1,8 Qkum (µg/mL) 1,6 1,4 1,2 Formula 1 1 0,8 Formula 2 0,6 Formula 3 0,4 Formula 4 0,2 0 0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 Jam (jam ) Lampiran 15. Foto gel anti-ageing ekstrak tempe Formula 1 replikasi 1 replikasi 2 replikasi 3 Formula 2 replikasi 1 replikasi 2 replikasi 3 72

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Formula 3 replikasi 1 replikasi 2 replikasi 3 Formula 4 replikasi 1 replikasi 2 replikasi 3 Lampiran 15. Dokumentasi tempe potongan tempe maserasi ekstrak tempe 73

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 ekstraksi cair-cair ekstrak tempe setelah ekstraksi cair-cair (kiri), setelah kering (kanan)

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 BIOGRAFI PENULIS Penulis skripsi yang berjudul “Pembuatan dan Evaluasi Sediaan Gel Anti-Ageing Ekstrak Tempe dengan Gliserin sebagai Chemical Penetration Enhancer” bernama lengkap Olivia Christie Anjalicca, lahir di Purbalingga pada tanggal 12 Juli 1992, merupakan anak pertama dari empat bersaudara pasangan Bapak Andianto dan Ibu Rebecca Tan, memiliki tiga orang adik yang bernama Devina Christie Anjalicca, Ivan Christian Andianto dan Edwin Christian Andianto. Penulis menempuh pendidikan formal di TK Santa Maria Purbalingga pada tahun 1995-1998, SD PIUS Purbalingga pada tahun 1998-2004, SMP Santo Borromeus Purbalingga pada tahun 2004-2007, dan SMA NEGERI 1 Purbalingga pada tahun 2007-2010. Pada tahun 2010 penulis melanjutkan studinya di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan menyelesaikannya sampai tahun 2014. Selama kuliah, penulis pernah menjadi asisten Praktikum Kimia Dasar (2013) dan Praktikum Farmasi Fisika (2014). Selain itu, penulis juga aktif dalam berbagai kepengurusan, kegiatan mahasiswa, dan kepanitiaan antara lain Kepengurusan Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas (DPMF) Farmasi (20112012), Panitia Kongres Mahasiswa Universitas Sanata Dharma (2012, 2013).

(95)

Dokumen baru

Download (94 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

Optimasi sodium carboxymethyl cellulose sebagai gelling agent dan gliserin sebagai humektan dalam sediaan gel anti-aging ekstrak spirulina platensis menggunakan aplikasi desain faktorial.
0
4
117
Pengaruh penambahan minyak peppermint sebagai penetration enhancer terhadap karakteristik dan sifat fisik sediaan gel ekstrak tempe.
2
0
105
Optimasi formula gel sunscreen ekstrak kering polifenol teh hitam dengan sorbitol dan peg 400 sebagai humectant - USD Repository
0
0
109
Optimasi formula gel sunscreen ekstrak kering polifenol teh hijau [Camellia sinensis L.] dengan carbopol sebagai gelling agent dan sorbitol sebagai humektan dengan metode desain faktorial - USD Repository
0
0
107
Optimasi formula gel antiacne ekstrak daun belimbing wuluh (averrhoa bilimbi, l) dengan carbopol 940 sebagai gelling agent dan propilen glikol sebagai humectant - USD Repository
0
0
95
Optimasi formula emulgel sunscreen ekstrak etil asetat isoflavon tempe dengan carbopol 940 sebagai gelling agent dan VCO sebagai fase minyak : apikasi desain faktorial - USD Repository
0
0
116
Optimasi formula gel anti ageing ekstrak etil asetat isoflavon tempe dengan carbopol sebagai gelling agent dan propilenglikol sebagai humectant : aplikasi desain faktorial - USD Repository
0
0
99
Optimasi formula krim anti ageing ekstrak etil asetat isoflavon tempe dengan cetil alcohol dan humektan gliserin : aplikasi desain faktorial - USD Repository
0
0
92
Efek penambahan tragakan sebagai binder dan gliserin sebagai humektan terhadap sifat fisis pasta gigi ekstrak air-alkohol daun sirih (Piper betle L.) - USD Repository
0
0
100
Prediksi komposisi optimum Virgin Coconut Oil (VCO) dan propilen glikol sebagai penetration enhancer dalam formula emulsi A/M tonik rambut ekstrak etanol-air biji kemiri (Aleutites moluccana(L.) Willd) : aplikasi desain faktorial - USD Repository
0
0
130
Pembuatan dan evaluasi gel anti-ageing ekstrak tempe dengan propilenglikol sebagai chemical penetration enhancer - USD Repository
0
0
147
HALAMAN JUDUL - Optimasi gelling agent carbomer dan humektan gliserin dalam gel sunscreen ekstrak etanol temulawak (curcuma xantorriza roxb.) : aplikasi desain faktorial - USD Repository
0
0
93
Formulasi sediaan emulgel ekstrak etanolik rimpang temu putih (curcuma zedoaria berg. roscoe) dengan gliserin sebagai penetration enhancer dan pengujian aktivitasnya sebagai antiinflamasi - USD Repository
0
0
95
Pembuatan dan evaluasi sediaan topikal gel antioksidan ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L.) dengan gliserin sebagai humectant - USD Repository
0
0
132
Pengaruh konsentrasi tween 80 sebagai penetration enhancer pada formulasi mikroemulsi ekstrak tempe dengan metode Franz Diffusion Cell - USD Repository
0
0
107
Show more