PENGEMBANGAN PROTOTIPE NASKAH SOSIODRAMA BERBASIS PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP DALAM PEMBELAJARAN TEMATIK KELAS V SD TEMA 3 SUBTEMA 2

Gratis

0
0
139
3 weeks ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PENGEMBANGAN PROTOTIPE NASKAH SOSIODRAMA BERBASIS PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP DALAM PEMBELAJARAN TEMATIK KELAS V SD TEMA 3 SUBTEMA 2 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Oleh: Kristophorus Divinanto Adi Yudono NIM: 151134019 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI i

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ii

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERSEMBAHAN Skripsi ini peneliti persembahkan untuk: 1. Kedua orang tua, Johanes Haryo Yudono dan Maria Roseline Endah Lestari Widi Sumiwi, yang selalu menjadi alasan di balik seluruh proses perjuangan dan penggalian diri untuk terus menjadi manusia yang baik bagi diri sendiri, keluarga dan sesama. 2. Ketiga adik, almarhum Maria Lidwina Putri Yudono, Katharina Dwinta Putri Yudono dan almarhum Marcellus Denta Putra Yudono, yang selalu menjadi sumber motivasi untuk terus gigih dan pengingat agar tidak mudah menyerah dalam proses belajar. 3. Sahabat-sahabat jurusan Bahasa SMA Bruderan Purworejo tahun 2013, yang memberikan banyak pelajaran tentang kehidupan mulai dari soal persahabatan, saling menjaga perasaan sampai arti jarak dan merindukan. 4. Rekan-rekan seperjuangan di program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar angkatan 2015, terutama dari kelas D, yang selama tiga tahun lebih menjadi kawan berproses dan menjalani segala kesan perkuliahan. iii

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MOTTO “Ketika kamu mengalami kesulitan untuk melakukan sesuatu, bukan berarti kamu tidak bisa melakukannya sama sekali.” (Kristophorus Divinanto Adi Yudono) “Seberapa indah mimpi jika tetap mimpi?” (Seno Gumira Ajidarma, dalam Kitab Omong Kosong) “Jadilah manusia yang cerdas, dengan begitu kamu tidak akan mudah dibodohi.” (Johanes Haryo Yudono) “Guru adalah mereka yang selalu menjadi murid.” (M. Bayu Tejo Sampurno) “Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang” (Chairil Anwar, dalam puisi Aku) “Karya itu berangkat dari keresahan.” (Raditya Dika) iv

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian dari karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, 21 Januari 2019 Peneliti Kristophorus Divinanto Adi Yudono v

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma : Nama : Kristophorus Divinanto Adi Yudono Nomor Mahasiswa : 151134019 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul : “PENGEMBANGAN PROTOTIPE NASKAH SOSIODRAMA BERBASIS PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP DALAM PEMBELAJARAN TEMATIK KELAS V SD TEMA 3 SUBTEMA 2” Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di Internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai peneliti. Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal: 21 Januari 2019 Yang menyatakan Kristophorus Divinanto Adi Yudono vi

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK PENGEMBANGAN PROTOTIPE NASKAH SOSIODRAMA BERBASIS PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP DALAM PEMBELAJARAN TEMATIK KELAS V SD TEMA 3 SUBTEMA 2 Kristophorus Divinanto Universitas Sanata Dharma 2019 Menurut data FAO tahun 2017, Indonesia ada di peringkat kedua penghasil limbah makanan akibat kebiasaan menyisakan dan membuang makanan. Penumpukan limbah makanan merupakan salah satu bentuk pemicu kerusakan lingkungan. Permasalahan tersebut dibahas dalam Ensiklik Laudato Si’ nomor 22 dan ditegaskan Uskup Agung Semarang pada tahun 2018 melalui Surat Gembala Peringatan Hari Pangan Sedunia Ke-36. Pentingnya menghabiskan makanan sebagai sumber kesehatan tubuh menjadi materi pembelajaran tematik di kelas V tema 3, subtema 2. Berdasarkan hasil angket yang dibagikan kepada 25 peserta didik kelas V, peneliti mendapat data: 76% peserta didik memiliki kebiasaan menyisakan makanan. Dari angket yang diberikan kepada empat guru SD, ada tiga guru yang memerlukan sosiodrama untuk dijadikan metode pembelajaran tematik kelas V materi “Pentingnya Makanan Sehat Bagi Tubuh Manusia”. Data tersebut mendorong peneliti mengembangkan prototipe sosiodrama “Menghilangnya Sepiring Nasi” agar peserta didik memiliki kebiasaan menghabiskan makanan. Prosedur pengembangan prototipe menggunakan langkah penelitian menurut Borg & Gall (2003), 1) penggalian potensi dan masalah, 2) pengumpulan data, 3) desain produk, 4) validasi desain, 5) revisi desain, 6) uji coba produk. Tujuannya adalah mengetahui kualitas prototipe. Prototipe naskah sosiodrama dinilai oleh empat guru sekolah dasar dan seniman pertunjukan. Skor rata-rata hasil validasi 3.73 (rentang 1-4). Uji coba sosiodrama dilakukan di kelas V-B SDK Sang Timur Yogyakarta yang diikuti oleh 26 peserta didik. Hasil refleksi peserta didik terkait kebiasaan menghabiskan makanan yang menjadi salah satu cara untuk merawat lingkungan memperoleh skor rata-rata 3.84. Kata kunci : sosiodrama, pendidikan lingkungan hidup, pembelajaran tematik kelas V vii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT DEVELOPING THE PROTOTYPE OF SOSIO-DRAMA SCRIPT BASED ENVIROMENTAL EDUCATION FOR THEMATIC LEARNING CLASS V THEME 3 SUB THEME 2 Kristophorus Divinanto Sanata Dharma University 2019 According to FAO data the year 2017, Indonesia was the second producer of food waste due to habit leaves and discard food. The buildup of food waste is one form of trigger environmental damage. These problems are discussed in the Encyclical Laudato Si ' number 22 and confirmed the Archbishop of Semarang in the year 2018 through Shepherd's Letter Warning World Food Day To-36. The importance of food as a source of health spent body into thematic learning material in class V theme 3, subtema 2. Based on the results of the question form distributed to 25 students of class V, researchers got data: 76% of learners have a habit of leaving food. From the now given to four primary school teachers, there are three teachers who are requiring a script sosiodrama to be thematic learning method of class V materials "The Importance of Healthy Food for the Human Body". The data encourages researchers develop a prototype script sosiodrama "Menghilangnya Sepiring Nasi" in order that students have a habit of spending food. Procedure for the development of a prototype using the research according to Borg & Gall (2003), 1)extracting potential and problems, 2)data collection, 3) product design, 4)design validation, 5)design revision and 6) testing products. The aim is to know the quality of the prototypes. The sosiodrama prototype was assessed by four primary school teachers and performing artists. An average score of 3.73 validation results (range 1-4). Sosiodrama test is done in class V-B in Sang Timur Catholic Elementary School, followed by 26 students. The results of the reflection the learners spend habits related food becomes one of the ways to take care of the environment obtained an average score of 3.84. Key words: socio-drama, environmental education, thematic learning class V viii

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji syukur dan ucapan terima kasih peneliti panjatkan kepada Tuhan Yesus, yang telah memberikan berkat penyertaan serta kekuatan sehingga skripsi berjudul “PENGEMBANGAN PROTOTIPE NASKAH SOSIODRAMA BERBASIS PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP DALAM PEMBELAJARAN TEMATIK KELAS V SD TEMA 3 SUBTEMA 2” ini dapat diselesaikan dengan baik dan maksimal. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Peneliti menyadari bahwa skripsi ini telah selesai karena bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dengan kerendahan hati dan penuh cinta, peneliti hendak mengucapkan terimakasih kepada semua pihak secara langsung maupun tidak langsung dalam proses penelitian dan penyusunan skripsi. Ucapan terimakasih peneliti panjatkan kepada: 1. Dr. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. 2. Christiyanti Aprinastusi, S.Si., M.Pd., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. 3. Kintan Limiansih, S.Pd., M.Pd., selaku Wakil Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. 4. Dra. Ignatia Esti Sumarah, M.Hum., selaku dosen pembimbing skripsi yang telah membimbing, memberi motivasi dan dukungan kepada peneliti dalam proses pengerjaan penelitian dan skripsi ini. 5. Kelima validator yang membantu peneliti menilai kualitas prototipe sosiodrama “Menghilangnya Sepiring Nasi”. 6. Sr. Beatta Maria PIJ, selaku Kepala Sekolah SDK Sang Timur Yogyakarta yang telah memberikan izin untuk melaksanakan penelitian. 7. Bapak Robertus Indarto, S.Pd., selaku wali kelas V-B SDK Sang Timur Yogyakarta yang telah memberikan izin untuk melaksanakan penelitian bersama peserta didik kelas V-B. ix

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8. Peserta didik kelas V-B SDK Sang Timur Yogyakarta tahun ajaran 2018/2019 yang terlibat dalam penelitian. 9. Sekretariat Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar yang membantu dalam proses perizinan pelaksanaan skripsi. 10. Kedua orangtua, Johanes Haryo Yudono dan Maria Roseline Endah Lestari Widi Sumiwi, yang selalu memberikan kesempatan, kepercayaan, pelajaran, cinta, saran, motivasi, teguran, doa dan semangat, sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi dengan baik. 11. Ketiga adik kandung, almarhum Maria Lidwina Putri Yudono, Katharina Dwinta Putri Yudono dan almarhum Marcellus Denta Putra Yudono, yang selalu menjadi sumber semangat peneliti untuk terus belajar. 12. Rekan seperjuangan, Daniel Pandu Christian, yang selalu menjadi teman bertukar pikiran dan diskusi dalam proses pengerjaan skripsi. 13. Margareth Jenny S, B.A., selaku pelukis gambar ilustrasi pada sampul naskah sosiodrama dan Andreas Sotya Priatmaka Pribadi yang membantu dokumentasi selama penelitian. 14. Sahabat yang tinggal bersama dalam satu kos selama di Yogyakarta, Yustinus Edo dan Yohanes Benny, yang selalu memberi dukungan dengan menciptakan suasana yang kondusif ketika proses belajar di kos. Peneliti menyadari bahwa penyusunan skripsi ini masih memiliki banyak kekurangan. Peneliti meminta maaf apabila ditemukan kesalahan baik dalam sistematika penulisan, isi, penyajian data dan kesalahan lainnya. Akhir kata, peneliti berharap semoga skripsi ini dapat bermanfat bagi pembaca. Yogyakarta, 21 Januari 2019 Peneliti Kristophorus Divinanto Adi Y x

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL .................................................................................. - HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ........................................ i HALAMAN PENGESAHAN .................................................................... ii HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................. iii HALAMAN MOTTO ................................................................................ iv PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ..................................................... v LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS.................................................... vi ABSTRAK .................................................................................................. vii ABSTRACT ................................................................................................. viii KATA PENGANTAR ................................................................................ ix DAFTAR ISI .............................................................................................. xi DAFTAR TABEL ...................................................................................... xiv DAFTAR BAGAN ...................................................................................... xv DAFTAR GAMBAR .................................................................................. xvi DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................. xvii BAB I PENDAHULUAN ........................................................................... 1 1.1 Latar Belakang Masalah .................................................................... 1 1.2 Rumusan Masalah ............................................................................. 4 1.3 Tujuan Penelitian ............................................................................... 4 1.4 Manfaat Penelitian ............................................................................. 5 1.5 Definisi Operasional .......................................................................... 5 1.6 Spesifikasi Produk ............................................................................. 6 BAB II LANDASAN TEORI ..................................................................... 7 2.1 Kajian Pustaka ................................................................................... 7 2.1.1 Keprihatinan Gereja Tentang Kerusakan Lingkungan Hidup ......... 7 2.1.1.1 Ensiklik Laudato Si’ ................................................................ 7 2.1.1.2 Surat Gembala Peringatan Hari Pangan ................................... 9 2.1.2 Pendidikan Lingkungan Hidup ..................................................... 11 2.1.2.1 Pengertian Pendidikan Lingkungan Hidup ............................... 11 xi

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.1.2.2 Etika Lingkungan Hidup ......................................................... 12 2.1.2.3 Tujuan Pendidikan Lingkungan Hidup .................................... 15 2.1.2.4 Target Pelaksanaan Pendidikan Lingkungan Hidup ................. 16 2.1.2.5 PLH Dalam Pemebelajaran Tematik SD .................................. 18 2.1.3 Pembelajaran Tematik Kelas V ..................................................... 21 2.1.3.1 Pengertian Pembelajaran Tematik ........................................... 21 2.1.3.2 Materi Pembelajaran Tematik Kelas V Tema 3 Subtema 2 ...... 22 2.1.4 Sosiodrama ................................................................................... 26 2.1.4.1 Pengertian Sosiodrama & Bibliodrama ..................................... 27 2.1.4.2 Tujuan Sosiodrama .................................................................. 29 2.1.4.3 Unsur-Unsur Sosiodrama ........................................................ 29 2.1.4.4 Jenis Naskah & Dramaturgi ...................................................... 31 2.1.4.5 Langkah Pelaksanaan Sosiodrama ........................................... 33 2.1.4.6 Kelebihan dan Kelemahan Sosiodrama .................................... 34 2.1.5 Karakteristik Perkembangan Peserta Didik Kelas V ...................... 37 2.2 Penelitian Yang Relevan .................................................................... 39 2.3 Kerangka Berpikir ............................................................................. 41 2.4 Pertanyaan Penelitian ........................................................................ 42 BAB III METODE PENELITIAN ............................................................ 43 3.1 Jenis Penelitian .................................................................................. 43 3.2 Setting Penelitian ............................................................................... 43 3.2.1 Lokasi Penelitian ..................................................................... 43 3.2.2 Subyek Penelitian .................................................................... 44 3.2.3 Obyek Penelitian ...................................................................... 44 3.2.4 Waktu Penelitian ...................................................................... 45 3.3 Prosedur Pengembangan Penelitian ................................................... 45 3.3.1 Penggalian Potensi & Masalah .................................................. 46 3.3.2 Pengumpulan Data ................................................................... 46 3.3.3 Desain Produk ......................................................................... 48 3.3.4 Validasi Desain ........................................................................ 49 3.3.5 Revisi Desain ........................................................................... 49 3.3.6 Uji Coba Produk ...................................................................... 50 xii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.4 Teknik Pengumpulan Data ................................................................. 50 3.4.1 Kuisioner ................................................................................. 50 3.4.2 Wawancara .............................................................................. 51 3.5 Instrumen Penelitian .......................................................................... 51 3.5.1 Instrumen Analisis Kebutuhan ................................................. 51 3.5.1.1 Pedoman Wawancara .......................................................... 52 3.5.1.2 Pedoman Kuisioner ............................................................. 53 3.5.2 Instrumen Validasi Produk ....................................................... 53 3.5.3 Instrumen Penilaian Uji Coba Terbatas .................................... 54 3.6 Teknik Analisis Data ......................................................................... 54 3.6.1 Analisis Data Kualitatif ................................................................. 55 3.6.2 Analisis Data Kuantitatif ............................................................... 55 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ............................ 58 4.1 Hasil Penelitian ................................................................................. 58 4.1.1 Prosedur Pengembangan ................................................................ 58 4.1.1.1 Penggalian Potensi dan Masalah ............................................. 58 4.1.1.2 Pengumpulan Data .................................................................. 59 4.1.1.3 Desain Produk ........................................................................ 64 4.1.1.4 Validasi Desain Produk ........................................................... 67 4.1.1.5 Revisi Desain Produk .............................................................. 69 4.1.1.6 Uji Coba Produk ..................................................................... 73 4.1.2 Kualitas Produk ............................................................................. 79 4.2 Pembahasan ....................................................................................... 80 4.3 Kelebihan dan Kekurangan Produk .................................................... 83 4.3.1 Kelebihan Produk .......................................................................... 83 4.3.2 Kelemahan Produk ........................................................................ 84 BAB V PENUTUP ..................................................................................... 85 5.1 Kesimpulan ....................................................................................... 85 5.2 Keterbatasan Penelitian ..................................................................... 86 5.3 Saran Penelitian ................................................................................. 86 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 87 LAMPIRAN ............................................................................................... 91 xiii

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 2.1 PLH Dalam Pembelajaran Tematik SD ......................................... 18 Tabel 2.2 Tahap Pelaksanaan Sosiodrama .................................................... 33 Tabel 2.3 Kelebihan dan Kelemahan Sosiodrama ......................................... 34 Tabel 3.1 Kisi-Kisi Prototipe Sosiodrama .................................................... 48 Tabel 3.2 Kisi-Kisi Wawancara Guru ........................................................... 52 Tabel 3.3 Kisi-Kisi Kuisioner Peserta Didik Kelas V ................................... 53 Tabel 3.4 Kisi-Kisi Validasi Produk ............................................................. 54 Tabel 3.5 Aspek Penilaian Uji Coba Terbatas .............................................. 54 Tabel 3.6 Konversi Data Kuantitatif ke Kualitatif ........................................ 56 Tabel 4.1 Rangkuman Hasil Wawancara Guru ............................................. 60 Tabel 4.2 Rangkuman Hasil Kuisioner ......................................................... 63 Tabel 4.3 Kisi-Kisi Pembuatan Prototipe Sosiodrama .................................. 64 Tabel 4.4 Hasil Validasi Desain Produk ....................................................... 68 Tabel 4.5 Rangkuman Saran Revisi .............................................................. 69 Tabel 4.7 Rekap Hasil Uji Coba Produk ....................................................... 77 xiv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR BAGAN Bagan 2.1 Penelitian yang Relevan .............................................................. 41 Bagan 3.1 Langkah Penelitian dan Pengembangan Borg & Gall ................... 45 Bagan 3.2 Langkah Penelitian dan Pengembangan yang Dilakukan Peneliti.. 47 xv

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Ilustrasi isi Ensiklik Laudato Si’ ................................................ 8 Gambar 2.2 Porsi Makanan Seimbang ‘Empat Sempurna’ ........................... 24 Gambar 4.1 Sampul Prototipe Naskah Sosiodrama........................................ 66 Gambar 4.2 Pelaksanaan Uji Coba-1 Adegan “Warung Nyai Jinawi” ........... 73 Gambar 4.3 Pelaksanaan Uji Coba-2 Adegan “Penyiar Berita” ..................... 74 Gambar 4.4 Pelaksanaan Uji Coba-2 Adegan “Adi & Bunda” ....................... 75 Gambar 4.5 Pelaksanaan Uji Coba-2 Adegan “Mimpi Adi” .......................... 75 Gambar 4.6 Pelaksaan Uji Coba-2 Adegan “Warung Nyai Jinawi” ............... 75 Gambar 4.7 Pelaksanaan Uji Coba-2 Adegan “Adi Terbangun” .................... 76 Gambar 4.8 Pelaksanaan Uji Coba-2 “Peserta Didik Menulis Refleksi” ........ 76 xvi

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 : Instrumen Analisis Kebutuhan Lampiran 1.1 Rekap Lembar Hasil Wawancara Guru SD .............................. 91 Lampiran 1.2 Lembar Hasil Wawancara Guru SD 1 ...................................... 93 Lampiran 1.3 Lembar Hasil Wawancara Guru SD 2 ...................................... 94 Lampiran 1.4 Rekap Lembar Kuisioner Peserta Didik .................................. 95 Lampiran 2 : Validasi Produk Lampiran 2.1 Lembar Hasil Validasi Produk Guru Kelas V.1 ...................... 96 Lampiran 2.2 Lembar Hasil Validasi Produk Guru Kelas V.2 ...................... 99 Lampiran 2.3 Lembar Hasil Validasi Produk Guru Kelas V.3 ....................... 102 Lampiran 2.4 Lembar Hasil Validasi Produk Guru Kelas V.4 ....................... 105 Lampiran 2.5 Lembar Hasil Validasi Produk Seniman Pertunjukan............... 108 Lampiran 3 : Uji Coba Produk Lampiran 3.1 Kriteria Penilaian Jawaban Refleksi Uji Coba ......................... 111 Lampiran 3.2 Rekap Jawaban Hasil Refleksi Peserta Didik ........................... 113 Lampiran 3.3 Hasil Refleksi Uji Coba Peserta Didik 1 ................................. 116 Lampiran 3.4 Hasil Refleksi Uji Coba Peserta Didik 2 ................................. 117 Lampiran 4 Surat Penelitian Lampiran 4.1 Surat Izin Pelaksanaan Penelitian ............................................ 118 Lampiran 4.2 Surat Keterangan Pelaksanaan Penelitian ................................ 119 Lampiran 5 Biodata Penulis ....................................................................... 120 Lampiran 6 Produk yang Dikembangkan ................................................. 121 xvii

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN Uraian dalam bab ini terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, spesifikasi produk, dan definisi operasional. 1.1 Latar Belakang Masalah Keberadaan lingkungan hidup sangat penting bagi kehidupan manusia. Salah satunya adalah lingkungan berperan sebagai sumber bahan makanan. Apabila terjadi kerusakan lingkungan hidup, kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya dipastikan akan terganggu. Namun dewasa ini permasalahan lingkungan hidup bukan menjadi sebuah permasalahan yang asing. Kegelisahan tentang masalah lingkungan hidup disampaikan melalui Ensiklik Laudato Si’ (LS) yang diterbitkan di tahun 2015 dan ditulis oleh Paus Fransiskus. Salah satu keprihatinan yang dituliskan oleh Bapa Paus Fransiskus adalah bahwa bumi telah menjadi tempat pembuangan sampah raksasa (LS, no. 21). Penggambaran ini dikarenakan banyaknya sampah yang sulit untuk didaur ulang seperti plastik, alat kosmetik, alat-alat medis dan berbagai bentuk jenis kebiasaan membuang lainnya, salah satunya adalah kebiasaan membuang makanan. Kebiasaan membuang makanan yang telah mewarnai kebudayaan manusia juga menjadi salah satu bentuk polusi lingkungan (LS, no. 22). Keprihatinan tentang kebiasaan membuang makanan juga diangkat dalam Surat Gembala Peringatan Hari Pangan Sedunia Ke-36 Keuskupan Agung Semarang. Di dalam Surat Gembala, Mgr. Rubi selaku uskup Keuskupan Agung Semarang menegaskan setiap manusia perlu menanamkan sikap ngopeni atau merawat makanan yang telah menjadi pemberian alam, dengan cara tidak membuang atau menyisakan makanan yang disediakan (Rubiyatmoko, 2018: alinea 10). Bahkan Bapa Uskup juga menegaskan tentang: 1) pentingnya berterima kasih kepada para petani, peternak, nelayan, dan semua orang yang dengan tekun dan sabar telah mengupayakan ketersediaan bahan makanan, 2) membangun habitus/kebiasaan yang baik terkait dengan makanan dengan cara membiasakan diri untuk berdoa sebelum dan sesudah makan dan mengusahakan pola makan makanan yang sehat. 1

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Amsyari (2012: 10-11) menyatakan jika Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) perlu ditanamkan sejak usia dini atau di bangku sekolah dasar karena pembiasaan manusia hidup untuk menghormati dan menjaga lingkungan ditentukan dari pembelajaran yang diterimanya sejak mengenyam pendidikan awal yaitu di masa sekolah dasar. Berdasarkan beberapa hal tersebut, peneliti tertarik mengembangkan sebuah prototipe naskah sosiodrama yang terkandung isi tentang perlunya memiliki kebiasan tidak menyisakan dan membuang makanan di dalam naskah tersebut. Prototipe naskah ditujukan kepada peserta didik kelas V. Selain berangkat dari kegelisahan tentang kerusakan lingkungan yang ada di Laudato Si’, ajakan habitus baik di Surat Gembala dan pembelajaran PLH untuk sekolah dasar, kebiasaan untuk menghabiskan makanan sesuai dengan pembelajaran tematik kelas V tema 3 “Makanan Sehat” Subtema 2 “Pentingnya Makanan Sehat Bagi Manusia”. Hal ini ditambah dengan berdasarkan penelitian tentang kebiasaan makan anak yang dilakukan Judarwanto di tahun 2017, ia menyatakan jumlah anak yang menghabiskan makanan hanya mencapai jumlah 27.5%. Untuk mengetahui kebenaran tersebut di tingkat sekolah dasar, peneliti kemudian memberikan angket kepada 25 peserta didik kelas V-B di SDK Sang Timur Yogyakarta. Dari angket tersebut, peneliti mendapatkan data bahwa 76% peserta didik di kelas V-B memiliki kebiasaan tidak menghabiskan makanan. Data ini menunjukkan kebiasaan menyisakan dan membuang makanan masih sering terjadi dan dilakukan oleh peserta didik. Kebiasaan ini berlawanan dengan isi Laudato Si’ dan ajakan dalam Surat Gembala, sebab membuang makanan akan menyebabkan penumpukan sampah limbah pangan yang berdampak pada kerusakan lingkungan dan pencemaran alam. Berdasarkan informasi tersebut, peneliti terdorong untuk melakukan penelitian dan pengembangan (Research & Development). Peneliti mengembangkan prototipe sosiodrama berjudul “Menghilangnya Sepiring Nasi” yang disusun berdasarkan materi tematik kelas V Tema 3 “Makanan Sehat” Subtema 2 “Pentingnya Makanan Sehat” dan pembelajaran Pendidikan 2

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lingkungan Hidup (PLH). Pendidikan Lingkungan Hidup merupakan pengetahuan, muatan pelajaran dan kompetensi ajar yang mengandung cara – cara penanganan permasalahan lingkungan yang ditujukan kepada peserta didik Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (Lansh, 2016: 2). Pendidikan lingkungan hidup mempunyai tiga target ketercapaian pembelajaran yaitu, 1) sukses kognitif, 2) sukses afektif, dan 3) sukses psikomotor (Suaedi, 2016: 50). Ketiga tujuan ini relevan dengan tujuan pembelajaran pendidikan karakter yang termuat dalam pembelajaran tematik kurikulum 2013. PLH juga memiliki tujuan untuk membentuk peserta didik memiliki etika lingkungan hidup. Tujuan dan etika pendidikan lingkungan hidup menjadi acuan peneliti dalam mengembangkan prototipe sosiodrama dalam penelitian. Peneliti memberikan instrumen wawancara kepada empat guru kelas V SD, yang terdiri dari dua guru dari regional Yogyakarta dan dua guru dari regional Jawa Tengah. Angket wawancara diberikan dengan tujuan menanyakan pendapat tentang pengemasan pembelajaran tematik tema 3 subtema 2 dalam bentuk sosiodrama. Dari hasil wawancara guru, tiga (3) dari empat (4) guru mengatakan pembelajaran tematik dapat dikemas dengan metode sosiodrama karena akan memunculkan ketertarikan pada peserta didik dan guru juga membutuhkan naskah untuk melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan metode sosiodrama. Roestiyah (2001: 90) menyatakan, sosiodrama adalah sebuah proses bermain peran yang mendramatisasikan tingkah laku, gerak-gerik ataupun ekspresi wajah berkaitan dengan kehidupan sosial sehari-hari. Selain sebagai metode pembelajaran di dunia pendidikan, drama juga digunakan gereja sebagai pengenalan dan pendalaman Kitab Suci yang dikenal dengan Bibliodrama. Bibliodrama adalah sebuah pendalaman tentang ajaran Kitab Suci yang dikemas secara kreatif dengan mengadaptasi dari seni pertunjukan. Dalam hal ini, terdapat dua persamaan di dalam lingkup pendidikan dan gereja yaitu keduanya sama-sama menggunakan drama atau permainan peran sebagai cara untuk menanamkan kesadaran untuk menanggapi suatu permasalahan atau peristiwa (Pitzele, 1998: 2). Hal ini semakin mendorong peneliti untuk mengembangkan prototipe naskah 3

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI sosiodrama dalam penelitian dan pengembangan yang dapat digunakan dalam pembelajaran tematik SD kelas V dan berisi pesan untuk memiliki kebiasaan baik yaitu menghabiskan makanan. Peneliti terinspirasi oleh penelitian sebelumnya yang dilakukann Mardiyatun (2011), yang berjudul “Metode Sosiodrama Dalam Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar Kelas IV”. Penelitian Mardiyatun mengembangkan metode sosiodrama dalam muatan pembelajaran IPS kelas IV. Perbedaannya dengan penelitian yang dilakukan peneliti adalah, peneliti melakukan sosiodrama dalam pembelajaran tematik kelas V pada tema 3 subtema 2. Hasil penelitian Mardiyatun menunjukkan bahwa metode sosiodrama yang diterapkan dengan langkah-langkah yang benar dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, keaktifan peserta didik, keterampilan proses, serta pemahaman peserta didik terhadap materi yang dipelajari. Dengan adanya prototipe naskah sosiodrama, guru memiliki pengetahuan memberikan pembelajaran tematik dengan menggunakan metode sosiodrama dan peserta didik memiliki pengalaman bermain peran dalam proses pembelajaran. 1.2 Rumusan Masalah 1.2.1 Bagaimana mengembangkan sosiodrama berbasis Pendidikan Lingkungan Hidup sebagai metode pembelajaran tematik kelas V Tema 3 “Makanan Sehat” Subtema 2 “Pentingnya Makanan Sehat Bagi Tubuh”? 1.2.2 Bagaimana kualitas sosiodrama berbasis Pendidikan Lingkungan Hidup sebagai metode pembelajaran tematik kelas V Tema 3 “Makanan Sehat” Subtema 2 “Pentingnya Makanan Sehat Bagi Tubuh”? 1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Mengembangkan sosiodrama berbasis Pendidikan Lingkungan Hidup sebagai metode pembelajaran tematik kelas V Tema 3 “Makanan Sehat” Subtema 2 “Pentingnya Makan Sehat Bagi Tubuh”. 4

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1.3.2 Mengetahui kualitas sosiodrama berbasis Pendidikan Lingkungan Hidup sebagai metode pembelajaran tematik kelas V Tema 3 “Makanan Sehat” Subtema 2 “Pentingnya Makan Sehat Bagi Tubuh”. 1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi Peneliti Peneliti memperoleh pengetahuan serta pengalaman dalam mengembangkan metode sosiodrama berbasis Pendidikan Lingkungan Hidup yang ditulis berdasarkan materi tematik kelas V dan digunakan sebagai metode pembelajaran. 1.4.2 Bagi Guru Guru memperoleh pengetahuan tentang metode sosiodrama yang dapat diterapkan dalam pembelajaran tematik kelas V Tema 3 “Makanan Sehat” Subtema 2 “Pentingnya Makanan Sehat Bagi Tubuh”. 1.4.3 Bagi Peserta Didik Peserta didik memiliki kebiasaan menghabiskan makanan sebagai salah satu cara untuk menjaga lingkungan. 1.5 Definisi Operasional 1.5.1 Prototipe adalah bentuk awal atau rancangan sebuah produk sebelum disempurnakan. 1.5.2 Sosiodrama adalah proses belajar kelompok atau individu dengan memberikan sebuah alur cerita yang berkaitan dengan materi pembelajaran untuk diperankan. 1.5.3 Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) adalah sebuah pendidikan yang bertujuan untuk menanamkan kesadaran pentingnya menjaga dan merawat lingkungan. 1.5.4 Tematik Tema 3 “Makanan Sehat” Subtema 2 “Pentingnya Makanan Sehat Bagi Tubuh” adalah salah satu materi tematik yang terdapat di kelas V semester ganjil yang mengandung muatan pembelajaran IPS, PKn, Bahasa Indonesia, IPA dan SBdP. 5

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1.6 Spesifikasi Produk Produk yang dikembangkan adalah sosiodrama berbasis Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) yang disusun berdasarkan materi tematik kelas V Tema 3 Subtema 2. Prototipe naskah ini dapat digunakan dalam pembelajaran di kelas maupun pengembangan diri dalam lomba atau acara khusus bertajuk kesenian yang diadakan oleh. Adapun spesifikasi produk sebagai berikut. 1.6.1 Sosiodrama dikembangkan berdasarkan materi tematik kelas V Tema 3 “Makanan Sehat” Subtema 2 “Pentingnya Makanan Sehat Bagi Tubuh” dan kegelisahan kerusakan lingkungan akibat kebiasaan menyisakan makanan yang dibahas dalam Laudato Si’ nomor 22 dan ditegaskan dalam Surat Gembala Peringatan Hari Pangan Sedunia Ke-36 tahun 2018. 1.6.2 Sampul naskah sosiodrama memuat judul “Menghilangnya Sepiring Nasi” dengan ilustrasi sampul berupa lukisan karya Margareth Jenny S, B.A yang berjudul “Maaf”. Lukisan diciptakan di tahun 2018 dan menggambarkan kedekatan seorang ibu dan anak sebagai penggambaran relasi manusia dengan alam. Halaman sampul dicetak menggunakan kertas Buffalo. 1.6.3 Naskah sosiodrama dilengkapi dengan desain latar tempat yang diharapkan dalam cerita. Kemudian berisi keterangan jumlah aktor dan aktris, penjelasan penokohan masing-masing karakter, dan peran kru di balik panggung. 1.6.4 Naskah sosiodrama berbentuk buku dengan ukuran 21,0 x 29,7 cm (A4). Jenis font yang digunakan adalah Times New Roman dengan ukuran font 12. 1.6.5 Naskah sosiodrama dilengkapi dengan satu CD berisikan instrumen dan suara yang digunakan sebagi pendukung sosiodrama “Menghilangnya Sepiring Nasi”. CD tersebut dapat digunakan guru sebagai pendukung pelaksanaan sosiodrama. 6

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II LANDASAN TEORI Uraian dalam bab ini terdiri dari kajian pustaka, penelitian yang relevan, dan kerangka berpikir. 2.1 Kajian Pustaka Uraian dalam bab ini menjelaskan beberapa teori yang digunakan sebagai pendukung dalam penelitian. Adapun beberapa teori tersebut ialah keprihatinan gereja tentang lingkungan hidup, pendidikan lingkungan hidup, pembelajaran tematik kelas V SD, sosiodrama dan karakteristik peserta didik kelas V. 2.1.1 Keprihatinan Gereja Tentang Kerusakan Lingkungan Hidup Uraian dalam subbab ini menjelaskan keprihatinan gereja sebagai wadah umat Kristiani, dalam menanggapi permasalahan-permasalahan lingkungan hidup melalui seruan dalam Ensiklik Laudato Si’ yang ditulis Paus Fransiskus dan Surat Gembala Peringatan Hari Pangan Sedunia Ke-36 yang ditulis Mgr. Rubiyatmoko. 2.1.1.1 Ensiklik Laudato Si’ Kerusakan lingkungan hidup yang terjadi di bumi sudah sangat mengkhawatirkan. Permasalahan ini telah mengundang perhatian semua kalangan untuk menemukan solusi dan pencegahan, salah satunya adalah gereja sebagai wadah umat Kristiani. Chang (2001: 62) menyatakan bahwa gereja selalu terlibat dalam memberikan perhatian kepada segala jenis bidang kehidupan seperti moral, perdamaian antar bangsa dan lain-lain. Gereja pun memiliki perhatian terhadap bidang lain yakni tentang lingkungan hidup. Salah satu tokoh gereja terdahulu yang sangat memperhatikan lingkungan hidup adalah Paus Paulus VI. Beliau merupakan paus pertama yang sungguh-sungguh mengangkat keprihatinan tentang lingkungan hidup dan ditulis ke dalam teks-teks penting gereja seperti dalam Ensiklik Populorum Progressio di tahun 1967 dan pesan pada Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia ke V yang diperingati di tahun yang sama. Keprihatinan tentang krisis lingkungan hidup terus 7

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menerus gereja angkat melalui ensiklik-ensiklik dan dokumen gereja sampai saat ini. Salah satunya adalah Ensiklik Laudato Si’ di tahun 2015. Ensiklik Laudato Si’ adalah ensiklik yang ditulis Paus Fransiskus dan diterbitkan pada 18 Juni 2015. Laudato Si’ mengangkat tentang perawatan rumah kita bersama sebagai tajuknya. Paus Fransiskus memberikan gambaran bumi telah menjadi tempat pembuangan sampah raksasa (LS: no. 21). Seruan dari Paus Fransiskus mengenai kerusakan lingkungan mengarisbawahi beberapa hal penting seperti polusi, limbah, budaya buang sampah, masalah air, kualitas hidup manusia, kemerosotan sosial, ketimpangan global, tanggapan-tanggapan yang lemah, dan keragaman pendapat. Isi dari Ensiklik Laudato Si’ yang ditulis oleh Paus Fransiskus secara garis besar digambarkan dalam gambar ilustrasi berikut. Gambar 2.1: Ilustrasi isi Ensiklik Laudato Si’ Berdasarkan ilustrasi yang dibuat oleh Divisi Lingkungan Hidup dari Komisi Keadilan Perdamaian Keuskupan Agung Jakarta, dari sekian permasalahan yang disoroti oleh LS, salah satu bentuk kerusakan 8

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI lingkungan adalah polusi pangan. Di dalam ilustrasi gambar, polusi pangan terdapat pada bagian dari permasalahan solidaritas pangan. Di dalam Ensiklik Laudato Si’, Paus Fransiskus menekankan polusi pangan yang terjadi akibat kebiasaan membuang makanan atau “throw away culture”. Polusi pangan akibat menumpuknya sisa makanan telah menjadi masalah yang serius. Hal ini dikatakan oleh Bapa Paus Fransiskus bahwa sepertiga makanan yang telah diproduksi di seluruh dunia terbuang percuma (LS: no. 50). Angka ini dikonfirmasi kebenarannya dan disebutkan pula oleh Badan Pangan PBB (Food and Agriculture Organization of The United Nations/FAO). Badan Pangan PBB mengutarakan bahwa makanan terbuang ini terjadi selama proses produksi, distribusi, dan karena perilaku konsumsi manusia. Meskipun terlihat sederhana, sampah makanan ini menyumbang 10% dari gas emisi yang dapat menyebabkan terjadinya efek rumah kaca. Efek rumah kaca sendiri berakibat pada perubahan iklim yang ekstrem, meningkatnya permukaan air laut dan meningkatnya suhu bumi yang mengakibatkan pemanasan global/global warning (FAO & FMH, 2017: 6-8). Mengingat berbahayanya dampak kebiasaan membuang makanan tersebut, Paus Fransiskus memberikan seruan sebagai antisipasi atau cara yang mengurangi dampak dari kerusakan lingkungan akibat polusi pangan adalah adalah dengan cara tidak menyisakan makanan. Keprihatinan tentang kebiasaan menyisakan makanan yang menjadi salah satu faktor penyebab kerusakan lingkungan, bukan hanya diungkapkan dalam Ensiklik Laudato Si’ saja, melainkan dipertegas kembali dan menjadi pembahasan yang lebih spesifik dalam Surat Gembala Peringatan Hari Pangan Sedunia ke-36 Keuskupan Agung Semarang di tahun 2018. 2.1.1.2 Surat Gembala Peringatan Hari Pangan Maraknya food waste atau terbuangnya makanan juga terjadi di Indonesia. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor Leste, Mark Smulders. Beliau mengungkapkan, di Indonesia sendiri sebanyak 13 juta metrik ton makanan terbuang di setiap 9

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI tahunnya. Mark Smulders menambahkan jika jumlah tersebut mampu memberi makan 11% populasi Indonesia atau sekitar 28 juta penduduk setiap tahunnya. Angka-angka ini menunjukkan betapa tingginya kebiasaan manusia dalam menyisakan makanan yang bersumber dari lingkungan. Keprihatinan pangan yang diungkapkan dalam Laudato Si’ kemudian diangkat oleh Keuskupan Agung Semarang dalam Surat Gembala Peringatan Hari Pangan Sedunia Ke-36. Surat Gembala ini ditulis oleh Mgr. Rubiyatmoko selaku uskup Keuskupan Agung Semarang. Surat ini dibacakan dalam perayaan ekaristi di seluruh Keuskupan Agung Semarang pada tanggal 27 September 2018. Di dalamnya, Mgr. Rubi mengajak umat sekalian untuk mensyukuri profesi petani, pelayan, peternak dan melihat profesi itu sebagai profesi yang sangat bermanfaat karena jasanya dalam penanam, pengolah dan perantara makanan yang berasal dari lingkungan. Tanpa profesi-profesi itu manusia tidak akan memenuhi kebutuhan makanan pokok. Kemudian ajakan selanjutnya adalah ajakan untuk menghargai profesi-profesi tersebut dengan cara tidak menyisakan dan membuang makanan. Perilaku ini merupakan ajakan yang diteruskan dari Ensiklik Laudato Si’ tentang kecenderungan throw-away culture atau “budaya membuang” yang sedang marak di dalam kehidupan sehari-hari yang memiliki dampak yang besar dalam kerusakan lingkungan hidup. Ajakan dalam Surat Gembala adalah membiasakan diri memiliki habitus (kebiasaan) yang baik, diantaranya: 1) membiasakan diri untuk berdoa sebelum dan sesudah makan sebagai wujud ucapan syukur atas makanan yang telah diberikan alam dan Tuhan, 2) mengusahakan pola makan yang sehat, 3) mengadakan gerakan mengkonsumsi makanan lokal, dan 4) membangun kebiasaan untuk tidak menyisakan dan membuang-buang makanan (Rubiyatmoko: alinea 10). Ensiklik Laudato Si’ dan Surat Gembala yang membahas tentang kebiasaan buruk menyisakan makanan sebagai bentuk perilaku tidak mencintai lingkungan, telah menunjukkan keprihatinan tentang kerusakan lingkungan hidup bukan lagi hanya sebuah keresahan segelintir orang saja, 10

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI melainkan oleh seluruh elemen masyarakat domestik maupun mancanegara. Diperlukan sebuah usaha untuk melakukan penanggulangan dan pencegahan mengenai kerusakan lingkungan hidup dari semua lini, mulai dari cara pandang, cara berpikir, kebijakan, gaya hidup, spiritualitas dan program pendidikan (LS: no. 111). Pendidikan menjadi salah satu cara alternatif untuk menumbuhkan kesadaran dan budaya menjaga lingkungan (LS: no. 209). Berdasarkan hal tersebut, munculah sebuah cabang ilmu baru yang mengandung ilmu perawatan lingkungan hidup yang dikenal sebagai Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH). 2.1.2 Pendidikan Lingkungan Hidup Uraian dalam subbab ini akan menjelaskan teori-teori yang digunakan dalam penelitian terkait dengan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH). Pembahasan dalam subbab ini terdiri dari pengertian pendidikan lingkungan hidup, etika lingkungan hidup, tujuan pendidikan lingkungan hidup, target ketercapaian pendidikan lingkungan hidup dan pendidikan lingkungan hidup dalam pembelajaran tematik SD. 2.1.2.1 Pengertian Pendidikan Lingkungan Hidup Akar kemunculan pendidikan lingkungan hidup berawal dari Konvensi UNESCO di Tbilisi pada tahun 1977 (Simbolon, 2010: 6) yang menyebutkan, bahwasanya pendidikan lingkungan hidup merupakan sebuah proses belajar yang membentuk suatu masyarakat yang peduli terhadap lingkungan kemudian memiliki kemampuan, keinginan dan pengetahuan guna mengatasi permasalahan lingkungan dan mencegah permasalahan lingkungan yang baru. Pengertian selanjutnya menyatakan bahwa pendidikan lingkungan hidup adalah upaya perubahan perilaku dan sikap yang dilakukan di berbagai elemen masyarakat tanpa mengenal elemen usia untuk menanamkan keterampilan, pengetahuan dan kesadaran tentang nilai-nilai lingkungan dan isu permasalahan lingkungan, yang nantinya akan mengarah pada gerakan pelestarian dan keselamatan lingkungan untuk 11

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kepentingan generasi sekarang dan yang akan datang (Tim PLH Uness, 2014: 4). Pengertian pendidikan lingkungan hidup dalam lingkup sekolah dasar berasal dari pernyataan Baharudin (2009: 11), yakni pendidikan yang menanamkan kesadaran, nilai-nilai, sikap, keterampilan dan tanggung jawab terhadap masalah lingkungan hidup sebagai keperihatinan bersama, dalam pembelajaran keseharian baik secara spesifik maupun integratif. Dari uraian pengertian yang telah disebutkan, dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan lingkungan hidup adalah sebuah proses pembelajaran yang menanamkan keprihatinan dan kepedulian terhadap lingkungan hidup melalui pengetahuan, perasaan dan keterampilan. Dalam penelitian ini, proses pembelajaran ditekankan untuk mengajak peserta didik untuk mencintai lingkungan dan menghargai alam sebagai penyedia bahan makanan mentah. Selain itu, menanamkan kesadaran kepada peserta didik tentang pentingnya menghabiskan makanan. Proses pembelajaran dari pendidikan lingkungan hidup diarahkan agar manusia menyadari dan kembali memiliki etika lingkungan hidup (Stanford, 2008: 3). 2.1.2.2 Etika Lingkungan Hidup Etika lingkungan hidup merupakan pedoman-pedoman yang digunakan sebagai dasar merumuskan tujuan pelaksanaan pendidikan lingkungan hidup (Stanford, 2008: 4). Etika lingkungan hidup mencakup pembahasan mengenai perilaku manusia dalam berelasi dengan alam, baik secara langsung maupun tindakan-tindakan yang berdampak pada alam. Keraf (2005: 143-159) menjabarkan empat (4) etika lingkungan hidup yang harus dimiliki setiap manusia sebagai individu yang terlibat secara langsung dengan alam. Empat etika lingkungan hidup itu antara lain: 1. Sikap Hormat terhadap Alam (Respect for Nature) Lingkungan memiliki hak untuk dihormati. Bukan hanya karena manusia membutuhkan alam, melainkan karena manusia sendiri merupakan bagian dari alam itu sendiri. Manusia sebagai makhluk yang mempunyai kedudukan paling tinggi, mempunyai kewajiban 12

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menghargai hak semua mahkluk hidup untuk berada, hidup, tumbuh, dan berkembang secara alamiah sesuai dengan tujuan penciptanya. Manusia menghormati lingkungan dengan memelihara, merawat, menjaga, melindungi, dan melestarikan lingkungan beserta seluruh isinya. Manusia tidak diperbolehkan merusak, menghancurkan, dan sejenisnya bagi lingkungan alam sekitar beserta seluruh isinya. Sikap hormat kepada alam ini pun dapat diwujudkan dalam bentuk karya seperti lukisan, patung, poster atau karya yang bercerita tentang lingkungan. Dengan adanya karya-kerya tersebut, manusia akan merasa dirinya dekat dan memiliki kecintaan pada alam itu sendiri yang diwujudkan dalam bentuk karya seni. Dalam kaitannya dengan pembelajaran, etika ini berkaitan dengan aspek kognitif/pengetahuan dan afektif/perasaan. 2. Tanggung Jawab kepada Alam (Responsibility for Nature) Tanggung jawab disini bukan hanya manusia sebagai individu, melainkan juga dalam sebuah kelompok. Setiap manusia perlu memiliki sikap bertanggung jawab kepada alam melalui rasa memiliki yang tinggi. Rasa memiliki pun bukan berarti seluruh alam bebas untuk dikuasai. Manusia perlu menyadari bahwa alam bukanlah milik individu atau segelintir orang terdekat, melainkan milik bersama. Melalui rasa memiliki inilah yang akan muncul dorongan untuk memelihara, merawat, melestarikan lingkungan yang menjadi rumah huni manusia bersama. Selain itu, sikap merawat, memelihara dan melestarikan akan membawa dampak baik kepada alam itu sendiri dan orang-orang sekitar yang bergantung pada alam sebagai alat pemenuhan kebutuhan. Sebagai contoh adalah petani. Menghabiskan makanan yang berasal dari jerih payah petani ketika menanam dan menjaganya menjadi salah salah satu bentuk sikap tanggung jawab manusia terhadap alam berdampak baik pada orang di sekitarnya. Dalam kaitannya dengan pembelajaran, etika ini berkaitan dengan aspek afektif/perasaan. 13

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3. Kepedulian kepada Alam (Caring for Nature) Keraf menyatakan peduli terhadap lingkungan menjadi sebuah prinsip moral yakni memberi apapun untuk pelestarian alam untuk kepentingan alam itu sendiri, bukan kepentingan pribadi. Ketika hendak mengambil keputusan yang berkaitan dengan alam, manusia perlu juga memikirkan dampak yang terjadi pada alam. Bukan hanya memikirkan kepentingan dan ambisi pribadi dalam pemenuhan kebutuhan. Manusia perlu menyadari tindakannya sehari-hari akan berpengaruh kepada alam. Contoh sederhana ialah ketika manusia memiliki kebiasaan membuang sampah sembarangan, sampah yang lambat laun menumpuk akan menimbulkan bau tidak sedap dan mengganggu manusia itu sendiri. Oleh sebab itu, manusia perlu memiliki kepedulian terhadap alam dengan berpikir secara matang sebelum bertindak terkait dengan dampak yang akan terjadi di alam. Dalam kaitannya dengan pembelajaran, etika ini berkaitan dengan aspek pengetahuan/kognitif dan perasaan/afektif. 4. Prinsip Hidup Selaras dengan Lingkungan (Living with Nature) Prinsip hidup terkait dengan kebiasaan, gaya hidup, kualitas hidup dan persepsi akan kehidupan itu sendiri. Prinsip hidup akan berpengaruh pada etika manusia menyikapi alam. Perilaku egois, budaya konsumtif dan berlebih akan cenderung merugikan alam dan lingkungan. Pola hidup konsumtif yang berlebihan akan berpengaruh pada budaya ‘membuang’ yang berlebihan pula. Sebagai contoh budaya konsumsi makanan berlebihan menyebabkan menumpuknya timbunan sisa-sisa makanan yang akhirnya terbuang percuma. Manusia perlu memiliki prinsip hidup yang tidak merugikan alam. Manusia juga perlu memiliki kesadaran bahwa dirinya merupakan individu bagian dari alam itu sendiri. Keraf menyatakan, kesadaran manusia yang hidup selaras dengan alam diwujudkan salah satunya dalam bentuk dinamisme dalam masyarakat, seperti adanya upacara melarung sesaji untuk menghormati laut di Cilacap dan tarian Dewi 14

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Sri yang menggambarkan pujian syukur para petani kepada dewi pelindung tanah pertanian. Etika lingkungan hidup menjadi acuan pedoman manusia dalam bertindak melestarikan dan menjaga alam melalui beragam cara, salah satunya dengan pendidikan. Etika lingkungan hidup pula menjadi dasar dalam penyusunan tujuan pendidikan lingkungan hidup yang menjadi salah satu program menjaga dan melestarikan lingkungan di ranah pendidikan (Keraf, 2005: 160). 2.1.2.3 Tujuan Pendidikan Lingkungan Hidup Pendidikan lingkungan hidup secara sederhana bertujuan untuk membentuk manusia yang bertanggung jawab memelihara, merawat dan melestarikan alam. Sejalan dengan Fien (1997: 7-8), yang menyatakan jika pendidikan lingkungan hidup memiliki tujuan memperbaiki upaya peningkatan, pemeliharaan, pelestarian alam dimulai dari dasar yaitu penanaman pola pikir (filosofis). Khoirunnisa merangkum tujuan pelaksanaan pendidikan lingkungan hidup sebagai berikut (2016: 16-22) : 1) Meningkatkan Kesadaran (Awareness) Pendidikan lingkungan hidup akan membentuk sikap dan perilaku sadar lingkungan. Pembentukan sikap dan perilaku inilah yang akan memicu kepekaan peserta didik untuk berpikir kritis terhadap setiap isu lingkungan, baik dalam mengurangi permasalahan lingkungan maupun melakukan pencegahan. Penelitian dan pengembangan sosiodrama ini juga bertujuan membantu peserta didik melihat dan memikirkan tentang salah satu permasalahan lingkungan berkaitan dengan adanya kebiasaan manusia menyisakan makanan sehingga terjadi pencemaran lingkungan. 2) Memantapkan Ilmu dan Wawasan (Science & Knowledge) Pendidikan lingkungan hidup bertujuan untuk meningkatkan dan mengembangkan ilmu lingkungan itu sendiri, meskipun dalam dalam bentuk yang masih sederhana. Hal ini akan menambah pengalaman peserta didik untuk mempelajari lingkungan secara utuh dan 15

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menyeluruh. Salah satu alasan kurangnya kepedulian dan kesadaran peserta didik tentang lingkungan disebabkan lantaran tidak tersedianya informasi tentang adanya dampak dari tindakan manusia terhadap lingkungan. Informasi yang peneliti sampaikan dalam sosiodrama adalah: a) manfaat makanan bagi kesehatan manusia, b) kebiasaan menyisakan makanan dapat menjadi limbah yang mencemari lingkungan 3) Pembentukan Keterampilan (Skill) Khoirunnisa (2016: 18) berpendapat keterampilan memecahkan masalah sangat ditekankan dalam Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH). Keterampilan memecahkan masalah bertujuan untuk mengatasi permasalahan serta mengetahui upaya pencegahan agar permasalahan tersebut tidak muncul kembali. Dalam sosiodrama ini, peneliti hendak membantu peserta didik memiliki kebiasaan untuk mengambil makanan secukupnya dan bertanggung jawab menghabiskan makanan tersebut. Dengan demikian, penumpukan sisa makanan tidak akan terjadi. 4) Memunculkan Partisipasi dan Kontribusi (Participation and Contribution) Pendidikan lingkungan hidup bertujuan untuk membentuk karakter peduli secara nyata, bukan hanya teoritis belaka. Hal ini diwujudkan dalam keterlibatan (partisipasi) peserta didik dalam mengikuti kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pemeliharaan lingkungan dan mengatasi masalah lingkungan. Sosiodrama ini menumbuhkan partisipasi peserta didik untuk menghargai semua profesi yang berkaitan dengan pangan. 2.1.2.4 Target Ketercapaian Pelaksanaan Pendidikan Lingkungan Hidup Etika lingkungan hidup telah membawa pendidikan lingkungan hidup untuk menyusun target ketercapaian pembelajarannya. Tiga target pencapaian yang menjadi tolak ukur ketercapaian pendidikan lingkungan hidup adalah sebagai berikut (Suaedi, 2016: 50) : 16

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1. Sukses kognitif; yang artinya peserta didik mampu mengetahui dan memahami berbagai permasalahan lingkungan hidup serta dampakdampaknya. Sebagai contoh, peserta didik mampu memahami kebiasaan menyisakan dan membuang makanan yang menjadi bentuk pencemaran lingkungan karena penumpukan makananan menjadi salah satu pemicu kerusakan alam. Selain itu, prototipe sosiodrama yang dikembangkan oleh peneliti memiliki tujuan untuk memberikan pengetahuan tentang kebiasaan menyisakan makanan sebagai bentuk tindakan yang tidak menghargai makanan, manfaat memiliki pola makan teratur bagi tubuh dan penyakit akibat gangguan pencernaan. 2. Sukses afektif, yaitu peserta didik dapat menumbuhkan kebiasaan dalam dirinya untuk memiliki kesadaran, sikap, dan perilaku, serta membangkitkan keinginan berpartisipasi aktif di dalam pemecahan permasalahan lingkungan hidup. Dalam sosiodrama yang dikembangkan, peserta didik akan memiliki kesadaran untuk menghargai jasa petani sebagai penanam dan penyedia bahan makanan mentah yang berasal dari alam dan merefleksikan kebiasaan tidak menghabiskan makanan melalui jalan cerita sosiodrama. 3. Sukses psikomotor; artinya peserta didik dapat memiliki keterampilan dalam upaya menanggapi permasalahan lingkungan hidup. Dengan memiliki pengetahuan (kognitif), kesadaran sikap dan perilaku (afektif), peserta didik akan bertindak untuk mengatasi atau mencegah permaslahan lingkugnan hidup yang ada di sekitarnya. Dalam prototipe sosiodrama, peserta didik dibentuk untuk memiliki tindakan yang selaras dengan alam melalui tindakan, seperti mengambil makanan secukupnya, menghabiskan makanan dan tidak memiliki kebiasaan menyisakan makanan. Ketercapaian dari pelaksanaan pendidikan lingkungan hidup ini sesuai dengan prinsip pendidikan karakter yang saat ini terkandung dalam 17

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kurikulum 2013 SD. Setiap unsur kognitif, afektif dan psikomotor kemudian dikelompokkan ke dalam empat kelompok kompetensi yang dikenal sebagai KI. Dimulai dari KI-1 spiritual, KI-2 sosial, KI-3 pengetahuan dan KI-4 keterampilan (Sutrisno, 2014: 28). Keseluruhan aspek ketercapaian pendidikan lingkungan hidup dan aspek pendidikan karakter dalam kurikulum 2013 saat ini terintegrasi dan diajarkan dalam pembelajaran tematik sekolah dasar. 2.1.2.5 PLH Dalam Pembelajaran Tematik SD Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) dapat diintegrasikan pada berbagai muatan pelajaran SD seperti IPS, Bahasa Indonesia, IPA, Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan (Penjasorkes), Seni Budaya dan Keterampilan (SBdP). Muatan pelajaran yang akan saling berkaitan satu sama lain dalam pembelajaran tersebut, memiliki ruang lingkup yang luas dan menguatkan antara materi satu muatan pembelajaran dengan muatan pembelajaran yang lain (Hamlah, 2013: 24-25). Barlia (2010: 12-16) menyatakan pendidikan lingkungan hidup telah terkandung dalam materi pembelajaran tematik SD di setiap jenjang dari kelas I sampai VI, baik semester ganjil maupun semester genap. Pendidikan lingkungan hidup terintegrasi bersama dengan muatan-muatan pelajaran yang lain dan bergabung ke dalam dalam tema-tema yang memiliki subtema di setiap judul temanya. Berikut adalah tabel rangkuman materi pembelajaran tematik edisi revisi 2017 yang terkandung muatan pendidikan lingkungan hidup di dalamnya. Kelas I Tabel 2.1: PLH dalam Pembelajaran Tematik SD Materi Pembelajaran Tentang Semester Tema Lingkungan Hidup Membuat sampul buku dengan memanfaatkan bahan-bahan yang Tema 2 “Kegemaranku” ada di alam seperti ranting pohon dan daun kering. Ganjil Membuat kerajinan dari biji-bijian, Tema 3 daun atau bahan alam yang ada di “Kegiatanku” lingkungan sekitar sekolah. Tema 6 Kegiatan kerja bakti dalam upaya “Lingkungan Genap membersihkan lingkungan agar Bersih, Sehat dan bersih, sehat dan asri. Asri” 18

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tema 7 “Benda, Hewan dan Tanaman Di Sekitarku” Tema 8 “Peristiwa Alam” Ganjil Tema 2 “Bermain Di Lingkunganku” Tema 4 “Hidup Bersih dan Sehat” II Genap Ganjil III Tema 6 “Merawat Hewan Dan Tumbuhan” Tema 1 “Pertumbuhan dan Perkembangan Mahluk Hidup” Tema 2 “Menyayangi Tumbuhan dan Hewan” Tema 7 “Energi dan Perubahannya” Genap Tema 8 “Bumi dan Alam Semesta” IV Ganjil Tema 2 “Berhemat Energi” Tema 3 “Peduli Mahluk Hidup” 19 Mengenali hewan dan tumbuhan sebagai mahluk hidup yang harus dijaga dan dipelihara dengan baik melalui kegiatan mewarnai, menggambar, berkunjung ke kebun binatang dan lain-lain. Mempelajari perilaku-perilaku yang berpengaruh pada peristiwa alam seperti membuang sampah mengakibatkan banjir, dan melakukan sikap-sikap yang sesuai dengan keadaan alam seperti tidak membuang-buang air ketika kemarau. Menggunakan bahan-bahan yang terdapat di alam sebagai media atau properti permainan Menciptakan kondisi lingkungan sekitar yang bersih dan tidak menimbulkan penyakit. Langkah-langkah menanam dan memberi pupuk pada tanaman agar tanaman tidak layu dan dapat dimanfaatkan untuk kehidupan sehari-hari, mengenal jenis-jenis hewan peliharaan dan cara merawatnya. Pertumbuhan tanaman (metamorfosis, anatomi tubuh tumbuhan), jenis-jenis tumbuhan dan daur hidup mahluk hidup. Cara-cara pelestarian tumbuhan melalui stek, mencangkok dan lainlain, permasalahan perburuan liar yang tidak menunjukkan sikap cinta hewan. Bacaan tentang mencairnya es di kutub akibat meningkatnya suhu bumi yang merupakan dampak dari pemanasan global. Bumi sebagai planet tempat tinggal manusia dari berbagai daerah, bermacam mahluk hidup dan sumber daya alam yang perlu dijaga bersama. Kebiasaan-kebiasaan sederhana menghemat energi, seperti mematikan lampu ketika tidak digunakan, yang berdampak baik bagi pengurangan efek rumah kaca. Mengurangi kebiasaan tergantung pada energi bumi dan mengubahnya menjadi energi alternatif. Mengenali sikap-sikap yang mencerminkan ketidakpedulian pada

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Genap Tema 8“Daerah Tempat Tinggalku” Tema 2 “Udara Bagi Kesehatan” Ganjil Tema 3 “Makanan Sehat” V Tema 5 “Ekosistem” Genap VI Ganjil Genap Tema 7 “Peristiwa dalam Kehidupan” Tema 8 “Lingkungan Sahabat Kita” Tema 1 “Selamatkan Mahluk Hidup” Tema 8 “Bumiku” mahluk hidup (hewan dan tumbuhan). Mengeksplorasi keunikan tempat tinggal masing-masing berkaitan dengan rumah adat, kebun, taman bunga atau kenampakan alam lain ya dan upaya-upaya menjaganya agar tetap bersih dan terawat. Kebakaran hutan di Kalimantan yang menimbulkan penyakit pernafasan sebagai salah satu bentuk polusi udara, gerakan menanam pohon yang menghasilkan oksigen untuk mengimbangi kadar karbondioksida di udara. Kebiasaan makan makanan yang bergizi dan memiliki pola makan teratur. Mempelajari tentang ragam ekosistem alami dan buatan. Mengenali peristiwa alam yang disebabkan perilaku dan kebiasaan manusia seperti menebang hutan yang menyebabkan banjir. Pemanfaatan lingkungan dalam kehidupan manusia. Upaya-upaya untuk mencegah kepunahan tumbuhan dan hewan. Jenis-jenis kenampakan alam. Berdasarkan paparan data tentang muatan materi PLH yang ada di pembelajaran tematik SD dari kelas I sampai kelas VI, dapat diketahui jika materi ajar tentang PLH yang ada di pembelajaran tematik memiliki keterkaitan dengan refleksi ekologis ajakan Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si’. Keterkaitan tersebut terletak pada capaian ajar yang hendak disampaikan kepada peserta didik. Sebagai salah satu contoh, di kelas atas terdapat pembelajaran tematik kelas IV tema 2 “Berhemat Energi” yang sesuai dengan ajakan Paus Fransiskus dalam Laudato Si’ untuk memiliki kebiasaan menyalakan lampu seperlunya dan mematikan lampu ketika tidak perlu untuk dinyalakan. Hal ini menunjukkan secara tidak langsung bahwa Laudato Si’ yang ditulis Paus Fransiskus, materi Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) dan materi pembelajaran tematik 20

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kurikulum 2013 telah memiliki keterkaitan dan memiliki tujuan yang sama yakni menumbuhkan kesadaran untuk bertanggungjawab merawat dan menjaga lingkungan demi masa depan yang lebih baik. Dalam pembelajaran tematik kelas V tema 3 subtema 2, peserta didik mempelajari tentang memiliki kebiasaan dan pola makan yang mencegah penyakit gangguan pencernaan. Pembelajaran ini sesuai dengan etika lingkungan hidup tentang keselarasan hidup manusia dengan alam. Hasil angket yang diberikan kepada peserta didik telah mendorong peneliti untuk memfokuskan pengembangan prototipe sosiodrama berdasarkan materi tematik kelas V Tema 3 “Makanan Sehat” Subtema 2 “Pentingnya Makanan Sehat Bagi Tubuh”. Hal ini dikarenakan masih banyaknya kebiasaan peserta didik yang memiliki kebiasaan membuang makanan dan tidak memiliki pola makan yang teratur dalam sehari. Selain memperhatikan unsur pangan, prototipe sosiodrama akan mencakup tentang muatan pembelajaran yang terintegrasi dalam tematik kelas V tema 3 subtema 2 ini antara lain IPA, IPS, PKn, SBdP dan Bahasa Indonesia. 2.1.3 Pembelajaran Tematik Kelas V Uraian dalam subbab ini akan menjelaskan teori-teori yang digunakan dalam penelitian terkait dengan Pembelajaran Tematik Kelas V. Pembahasan dalam subbab ini terdiri dari pengertian pembelajaran tematik dan materi pembelajaran tematik kelas V Tema 3 Subtema 2. 2.1.3.1 Pengertian Pembelajaran Tematik Rusman (2011: 254) berpendapat, pembelajaran tematik merupakan salah satu model pembelajaran yang memungkinkan peserta didik aktif menggali dan menemukan konsep-konsep keilmuan yang bermakna. Kebermaknaan dalam pembelajaran tematik juga disampaikan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud). Pembelajaran nomor 57 menyatakan. tematik merupakan salah satu model belajar yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga memberikan pengalaman yang bermakna bagi peserta 21

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI didik (Permendikbud, 2014: 220). Perpaduan dalam pembelajaran tematik disampaikan dalam pendapat Windiyana tentang pembelajaran tematik itu sendiri yaitu (2005: 1), pembelajaran tematik adalah sebuah pendekatan belajar yang memadukan beberapa pokok bahasan, sub-pokok bahasan, topik antar bidang studi yang dipadukan ke dalam sebuah tema pembelajaran. Berdasarkan pengertian beberapa ahli tentang pembelajaran tematik, disimpulkan bahwa pembelajaran tematik merupakan pembelajaran dengan memadukan beragam muatan pembelajaran ke dalam sebuah tema yang membuat pembelajaran menjadi bermakna bagi peserta didik. Tematema tersebut dijabarkan dalam pembelajaran tematik di setiap jenjang, salah satunya pembelajaran tematik kelas V tema 3 subtema 2. 2.1.3.2 Materi Pembelajaran Tematik Kelas V Tema 3 Subtema 2 Materi pembelajaran kelas V tema 3 subtema 2 terdiri atas 5 muatan pembelajaran yang terintegrasi dalam satu judul subtema “Pentingnya Makanan Sehat Bagi Tubuh”. Kelima muatan pembelajaran tersebut adalah IPA, IPS, PPKn, Bahasa Indonesia dan SBdP. Muatan pembelajaran, IPS mempelajari tentang bentuk interaksi manusia terhadap lingkungan, PPKn mengajarkan tentang keberagaman sosial dalam masyarakat, IPA mempelajari tentang gangguan organ pencernaan manusia dan cara memelihara kesehatan organ pencernaan manusia, Bahasa Indonesia yang mempelajari tentang iklan dan SBdP yang mempelajari tentang tari kreasi. Berikut adalah uraian materi ajar dalam setiap muatan pembelajaran yang menjadi isi sosiodrama yang dikembangkan: 1. Keberagaman Sosial dan Bentuk Interaksi Manusia Terhadap Lingkungan (IPS & PPKN). Materi pembelajaran IPS dan PPKn dalam subtema 2 menjadi penguat materi pembelajaran terkait dengan aspek afektif peserta didik. PPKn dan IPS disisipkan dalam pembelajaran 4 bersama materi iklan Bahasa Indonesia. Tidak ada materi spesifik seperti muatan pembelajaran lainnya untuk PPKn 22

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dan IPS dalam subtema 2. PPKn menekankan mengenai keberagaman sosial dalam kehidupan sehari-hari terkait dengan keberagaman bahasa, pekerjaan dan budaya. Sedangkan IPS menekankan pada sikap manusia yang berpengaruh dengan lingkungan dalam kegiatan interaksi sehari-hari. Muatan pembelajaran IPS ini nantinya akan menjadi jembatan penghubung dalam prototipe sosiodrama antara pembelajaran tematik dengan perilaku manusia terhadap makanan yang menjadi unsur pendidikan lingkungan hidup. 2. Maag Sebagai Salah Satu Penyakit Gangguan Pencernaan Akibat Pola Makan (IPA). Maag adalah penyakit yang menyerang lambung dikarenakan kelebihan kadar asam lambung hingga menyebabkan sakit, mulas dan perih pada perut serta perasaan terbakar pada ulu hati (Rehan, 2009: 4). Warmbrand menyebutkan (2000: 8), maag muncul akibat pola makan yang tidak sesuai dengan yang dianjurkan yaitu makan tiga kali sehari. Warmbrand menambahkan bahwa pola makan yang dianjurkan adalah dengan memulai sarapan pagi sebelum beraktifitas, makan siang sebelum ada rangsangan lapar dan makan malam sebelum tidur. Selain pola makan yang tidak teratur, maag juga dapat terjadi akibat kandungan gizi makanan yang dikonsumsi (Khasanah, 2012: 25). Auliana (2012: 30-33) mengungkapkan, anak usia sekolah membutuhkan makanan sehat yang mengandung gizi yang cukup. Hal ini dikarenakan anak tersebut sedang berada dalam masa perkembangan. Rio (2018: 8-9) mengungkapkan, jika gizi cukup tidak lagi dikenal dengan sebutan ‘empat sehat lima sempurna’, melainkan hanya ‘empat sehat’ saja. Kandungan makanan seimbang untuk peserta didik tersebut antara lain mengandung karbohidrat, protein, vitamin (yang ada di dalam buah dan sayur) dan lemak. Berikut merupakan ilustrasi dari program gizi makanan seimbang ‘empat sempurna’ yang dikenal dengan program “Isi Piringku”. 23

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Gambar 2.2 Porsi makanan seimbang ‘empat sempurna’ Berdasarkan ilustrasi tersebut, susu tidak lagi menjadi pelengkap dalam menu makanan sehari-hari. Empat sumber nutrisi yang seimbang dan baik untuk dikonsumsi peserta didik terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, sayur dan buah. 3. Iklan (Bahasa Indonesia). Kamus Besar Bahasa Indonesia (2016: 421) menyatakan, iklan didefinisikan sebagai: 1) berita pesanan untuk mendorong, membujuk khalayak ramai agar tertarik pada barang dan jasa yang ditawarkan, 2) pemberitahuan kepada khalayak mengenai barang atau jasa yang dijual, di media massa seperti koran, majalah, di media elektronik seperti televisi atau di tempat umum. Kasali (1992: 9) menyatakan bahasa dalam iklan sebagai penyampaian ide, pesan, dan maksud atau informasi dari pengiklan dalam rangka menarik dan meraih simpati pembaca menggunakan ragam bahasa persuasif atau yang bersifat ajakan. Unsur-unsur iklan dapat dilihat dari 2 segi, dari segi isi iklan dan segi bahasa iklan (Widyatama, 2007: 4). Berdasarkan segi isi iklan, iklan perlu memuat kejujuran, mudah dipahami, tidak menyinggung pihak lain dan menarik perhatian orang banyak. Sedangkan berdasarkan segi bahasa iklan, iklan perlu menggunakan bahasa yang sopan dan logis, menggunakan ungkapan yang mengajak dan menarik, menggambarkan produk atau sesuatu yang ditawarkan. 24

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Iklan yang digunakan dalam prototipe sosiodrama berjudul “Menghilangnya Sepiring Nasi” adalah iklan yang ditampilkan dalam tayangan televisi. Iklan memuat ajakan tentang pola makan teratur, penyakit maag dan penawaran tentang obat yang mengandung vitamin pengganti buah. Iklan dalam sosiodrama menjadi salah satu alternatif dan ajakan agar kebutuhan manusia terhadap vitamin senantiasa terpenuhi. 4. Tari Kreasi “Bondan Kendi” & “Dewi Sri” (SBdP). Tari kreasi adalah bentuk garapan/karya tari yang muncul setelah bentukbentuk tari tradisi telah lama berkembang di masyarakat (Soedarsono, 2012: 78). Jika R.M Soedarsono melihat tari kreasi melalui sudut perkembangannya, lain halnya dengan Setyowati yang melihat tari kreasi melalui proses penciptaannya. Setyowati (2007: 9) menyebutkan tari kreasi adalah tari ciptaan seseorang berdasarkan pengalaman berkeseniannya sendiri tanpa terikat pada pembakuan kaidah estetis tertentu tetapi tetap mempertahankan ciri khas kesenian tradisonal. Dalam prototipe sosiodrama yang disusun, tarian menjadi unsur visualisasi awal dan akhir dari mimpi yang dialami oleh Adi. Terdapat dua pilihan tarian yang ditawarkan yaitu tari Bondan Kendhi dan tari Dewi Sri. Pemilihan tari kreasi ini berdasarkan dua hal yaitu: 1) memperhatikan keterkaitan cerita yang terkandung dalam kedua tarian tersebut dan, 2) kedua tarian ini merupakan tari kreasi yang diajarkan kepada peserta didik dalam jenjang sekolah dasar (SD) terutama di sekolah yang terletak di lingkup Jogja dan Jawa Tengah (Setyowati, 2007: 15). Jika naskah digunakan di luar region Yogyakarta atau Jawa Tengah bahkan di luar Pulau Jawa, tarian dapat digantikan dengan tarian asal daerah masing-masing dengan tema serupa yaitu ungkapan syukur pada panen atau kisah kehidupan petani. 25

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tarian Dewi Sri merupakan tarian yang menceritakan seorang dewi yang menjadi simbol kelahiran dan kehidupan yang mengendalikan bahan makanan di bumi terutama padi. Dewi Sri juga disebut-sebut sebagai dewi kesuburan oleh masyarakat Sunda. (Sri, 2010: 47). Tarian selanjutnya adalah Tari Bondan Kendhi. Terdapat tiga jenis tarian Bondan Kendhi, yaitu Bondan Cindogo, Bondan Mardsiwi dan Bondan Pegunungan. (Sri, 2010: 41). Bondan Cindogo dan Bondan Mardsiwi memiliki kemiripan cerita yaitu tentang kasih sayang ibu kepada anaknya. Sedangkan tarian Bondan Pegunungan menceritakan keseharian seorang petani. Tarian yang digunakan dalam prototipe sosiodrama fokus pada tarian Bondan Pegunungan. Hal ini dikarenakan tarian Bondan Pegunungan yang menceritakan tentang kegiatan gadis desa yang menggarap ladang dan bertani. Tarian ini didukung dengan menggendong bayi, memakai caping atau payung, membawa kendi dan alat pertanian. Persamaan dari ketiga tari Bondan adalah gerakan menggendong anak. Pemilihan tarian Bondan Pegunungan dikarenakan tarian Bondan Pegunungan selalu digunakan oleh masyarakat Sunda terutama, untuk merayakan pembukaan dari masa panen (Sri, 2010: 50). Pemilihan Bondan Pegunungan menjadi bentuk dinamisme masyarakat Sunda yang berkaitan dengan etika lingkungan hidup tentang bentuk penggambaran keselarasan hidup manusia dengan alam. Makna kasih sayang ibu terhadap anak menjadi ilustrasi relasi manusia dengan alam di kehidupan sesungguhnya (Sri, 2010: 52). 2.1.4 Sosiodrama Uraian dalam subbab ini menguraikan tentang teori yang digunakan dalam penelitian terkait dengan sosiodrama. Teori-teori tersebut antara lain pengertian sosiodrama, sosiodrama dan bibiliodrama dalam ragam drama, tujuan sosiodrama, unsur-unsur sosiodrama, penyusunan naskah sosiodrama, 26

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI langkah pelaksanaan metode sosiodrama, kelebihan dan kelemahan penggunaan metode sosiodrama. 2.1.4.1 Pengertian Sosiodrama & Bibliodrama Metode sosiodrama pertama kali diperkenalkan oleh George Shaftel, dengan berasumsi bahwa pembelajaran dengan keterlibatan spontan melalui bermain peran dapat mendorong peserta didik untuk mengekspresikan perasaannya serta menumbuhkan empati sosial dan lingkungan (Uno, 2009: 25). Sosiodrama atau bermain peran merupakan sebuah metode yang melakukan penakanan pada unsur-unsur kenyataan/realistis dimana para peserta didik diikutsertakan dalam permainan peran dalam mendemonstrasikan permasalahan sosial. (Abu, 2005: 65). Pengertian lain datang dari Roestiyah (2001: 90), yang mengatakan bahwa sosiodrama ialah sebuah proses bermain peran yang mendramatisasikan tingkah laku, gerak-gerik ataupun ekspresi wajah berkaitan dengan kehidupan sosial sehari-hari. Berdasarkan beberapa pengertian dari ketiga ahli di atas, maka disimpulkan jika sosiodrama merupakan sebuah metode belajar melalui bermain peran yang melibatkan peserta didik untuk mengekspresikan permasalahan atau peristiwa sosial melalui gerak-gerik atau ekspresi wajah, dengan tujuan menumbuhkan empati sosial. Sosiodrama yang dikembangan oleh peneliti menumbuhkan empati sosial berkaitan dengan kebiasaan menghabiskan makanan sebagai wujud menghargai dan mencintai lingkungan. Wiyanto (2011: 32-33) menyebutkan, sosiodrama dan bermain peran atau drama merupakan sebuah kesamaan. Keduanya memiliki persamaan yaitu menggunakan penggambaran melalui permainan peran atau sering disebut dramatisasi. Dengan begitu, sosiodrama bisa dikatakan sama dengan metode role playing atau metode bermain peran. Istilah sosiodrama diciptakan dengan tujuan memberi spesifikasi tentang konten cerita yang akan dibawakan dalam dramatisasi, yaitu keterkaitan dan penghayatan tentang sosial. Penceritaan sosiodrama kemudian dikemas 27

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dengan ragam gaya drama (Efendi, 2005: 56), seperti drama komedi (drama yang dominan dengan unsur komedi yang mengundang gelak tawa penonton), opera (drama yang menekankan unsur musik dan biasanya dialog antar tokoh disampaikan dengan cara dinyanyikan), operet (drama yang dikemas seperti opera namun memiliki durasi waktu yang lebih pendek dan tidak semua dialog dinyanyikan), pantomim (drama yang ditampilkan dalam bentuk gerakan tubuh atau bahasa isyarat tanpa pembicaraan), wayang (drama yang ditampilkan dengan menggunakan wayang baik dalam bentuk boneka, wayang kulit maupun wayang orang), tablo (drama yang seperti pantomim hanya saja terdapat dialog tokoh yang diucapkan) dan passie (drama yang sangat dominan akan keterkaitannya dengan unsur religi). Pemilihan pengemasan sosiodrama disesuaikan dengan kebutuhan cerita dan nilai-nilai pendidikan yang disampaikan melalui sosiodrama Selain dunia pendidikan, gereja juga mengadaptasi metode bermain peran untuk menanamkan ajaran tentang kitab suci. Metode bermain peran yang dikembangkan gereja dikenal dengan nama Bibliodrama. Bibliodrama dikenalkan sebagai salah satu bentuk drama passie di tahun 1998 oleh Peter Pitzele, dengan pengertian bibiliodrama adalah sebuah cara atau metode mengeksplorasi isi dari Kitab Suci, dengan mengaplikasikan seni teater atau seni drama dan mengkaitkannya dengan nilai-nilai kehidupan sehari-hari (Peter, 1998: 3). Hal ini membuat bibliodrama menjadi drama passie karena mengandung nilai-nilai tentang religiusitas. Krondorfer, (1992: 12) menganggap gereja perlu memiliki inovasi dalam memperkenalkan ajaran Kitab Suci kepada orang-orang. Peter menambahkan, bibliodrama dapat disampaikan dengan menggunakan dua cara yaitu: 1) hanya membaca narasi, dan 2) membaca narasi dan penggambaran dengan dramatisasi. Drama yang digunakan baik di pendidikan, di kesenian dan di gereja sebagai pengenalan Kitab Suci menjadi alasan peneliti untuk mengembangkan sosiodrama dalam penelitian dan pengembangan ini. 28

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.1.4.2 Tujuan Sosiodrama Saifullah (2006: 88-82) menyatakan, tujuan-tujuan dari pelaksanaan metode sosiodrama dalam pembelajaran antara lain: 1) agar peserta didik dapat menghayati dan menghargai perasaan orang lain, 2) belajar mengambil keputusan dalam dinamika kelompok secara spontan, 3) belajar mengembangkan keterampilan-keterampilan reaktif dan interaktif melalui peran-peran yang diperoleh berdasarkan pembagiannya, 4) belajar untuk menirukan suatu objek atau seseorang sebagai salah satu proses mengamati lingkungan sekitar serta proses menempatkan diri sesuai dengan keadaan yang diharapkan, 5) peserta didik mampu mempelajari watak dan sikap orang lain melalui cara bergaul, cara mengobrol dan cara menjawab pertanyaan atau menyelesaikan masalah. Roestiyah (2012: 90) menambahkan tujuan pelaksanaan sosiodrama adalah agar peserta didik mengerti dan menerima pendapat orang lain. Dapat ditarik kesimpulan dari kedua ahli tersebut jika sosiodrama memiliki tujuan untuk mengembangkan bakat, minat dan kreatifitas peserta didik dengan cara menghayati perasaan orang lain atau peristiwa tertentu untuk dituangkan dalam sebuah permainan peran atau metode belajar sosiodrama. 2.1.4.3 Unsur-Unsur Sosiodrama Sebagai metode belajar yang mengadaptasi dari seni pertunjukan, sosiodrama pun tidak lepas dari unsur-unsur seni pertunjukan yang terkandung di dalamnya. Supriyadi (2006: 70-73) menjabarkan unsurunsur sosiodrama adalah sebagai berikut. 1. Tema Tema merupakan sebuah pondasi dalam sebuah cerita. Tema sering disebut juga dengan ide pokok. Ide pokok inilah yang nantinya akan dikembangkan menjadi satu cerita utuh dalam bentuk dialog-dialog antar tokoh dan narasi.Setiap dialog akan mencakup dalam setiap potongan-potongan adegan yang setiap potongan adegan dikumpulkan menjadi sebuah babak-babak yang membentuk keutuhan cerita dari 29

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI awal sampai akhir. Prototipe sosiodrama “Menghilangnya Sepiring Nasi” mengangkat tema tentang pencemaran lingkungan. Secara spesifik yaitu tentang polusi pangan tentang kebiasaan menyisakan dan membuang makanan. 2. Alur Alur merupakan rangkaian kisah dalam sebuah cerita yang dikemas secara sistematis untuk membangun dan menyelaraskan pola pikir pemain dan penonton. Alur merupakan lintasan dalam sebuah cerita, dimana sebuah cerita perlu memiliki alur yang konvensional dimulai dari pengenalan setiap tokoh dan karakter, asal-muasal masalah, konfliks klimaks dan penyelesaian masalah. Dalam pembagian umum, terdapat dua jenis alur; alur maju dan alur mundur. Alur yang digunakan dalam prototipe sosiodrama “Menghilangnya Sepiring Nasi” adalah alur maju, dimana setiap cerita diceritakan secara berurutan tanpa menceritakan kejadian yang telah terjadi atau peristiwa lampau. 3. Latar Latar merupakan unsur pendukung cerita yang berkaitan dengan artistik pada pelaksanaannya. Latar merupakan keterangan yang digunakan dalam cerita dengan tujuan agar cerita yang dibangun menjadi logis dan kontras sesuai dengan yang diharapkan. Terdapat tiga jenis latar yang sering digunakan yaitu latar tempat, latar waktu dan latar suasana. 4. Tokoh dan Penokohan Tokoh merupakan orang, binatang, tumbuhan ataupun benda mati yang akan menjadi pengisi dalam sebuah cerita. Pengisi cerita tergantung dengan apa yang akan diimajinasikan penulis cerita dan sesuai dengan kebutuhan cerita. Penokohan adalah sifat, karakteristik, keberpihakan atau cara berpikir yang akan dimainkan oleh para tokoh pelaku dalam cerita. Terdapat dua penokohan secara umum yaitu protagonis dan antagonis. Beberapa tokoh utama dalam sosiodrama 30

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI yang sedang dikembangkan adalah Adi, Bunda dan Nyai Jinawi. Tokoh protagonis dalam naskah ini adalah Ibu dan tokoh antagonisnya adalah Adi yang memiliki kebiasaan tidak menghabiskan makanannya. 5. Dialog Layaknya sebuah seni peran dalam seni pertunjukan, dialog ialah unsur sosiodrama yang bersifat mutlak. Dialog tidak selalu dalam lisan namun bisa dengan bahasa tubuh, melalui gerak-gerik, isyarat tangan atau air muka. Dialog merupakan unsur penting untuk menyampaikan ide dan jalan pikiran dalam cerita. Di dalam sosiodrama yang dikembangkan, dialog disertai dengan penggambaran eskpresi, mimik gestur tubuh sebagai penguat pengucapan dialog di setiap tokohnya. 6. Amanat Amanat adalah nilai-nilai kebaikan, peringatan, kegelisahan, saran perbuatan yang ingin disampaikan oleh penulis cerita melalui cerita yang diperagakan. Amanat dalam cerita “Menghilangnya Sepiring Nasi” adalah menanamkan kebiasaan untuk menghabiskan makanan dan menghargai makanan sebagai wujud sikap cinta lingkungan. Metode sosiodrama akan berjalan dengan baik apabila keenam unsur tersebut diperhatikan dan dipenuhi, untuk kemudian disusun ke dalam langkah-langkah pelaksanaan sosiodrama. 2.1.4.4 Penyusunan Naskah Berdasarkan Jenis Naskah dan Dramaturgi Sebelum tahap penyusunan naskah sebuah karya dimulai, Seno (2000: 12-13) menyatakan terdapat tiga kategori naskah yaitu: naskah substansial, naskah fungsional dan naskah gagal. Naskah substansial merupakan naskah yang disusun dengan tujuan untuk kepuasan batin dan estetika penulis naskah sebagai pencipta karya. Naskah substansial menekankan naskah sebagai wujud pengekspspresian diri seseorang tentang suatu hal yang diamatinya. Naskah substansial tidak bertujuan untuk disebarkan atau ditampilkan kepada orang banyak dan lebih banyak digunakan sebagai koleksi pribadi sebagai arsip kesenian. Naskah fungsional merupakan naskah yang disusun dengan tujuan untuk disebarkan dan 31

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dipertontonkan guna memperoleh keuntungan atau sebagai metode penyampaian informasi. Naskah fungsional biasanya disusun oleh penulis yang bekerja sebagai penulis naskah sehari-hari. Naskah fungsional akan digunakan sebagai alat pemenuhan kebutuhan dengan tujuan semua orang akan mengetahui dan menyaksikan naskah tersebut. Kemudian kategori selanjutnya adalah naskah gagal. Seno mengutarakan naskah gagal merupakan naskah yang dibuat dan tidak memiliki kedua unsur substansial maupun fungsional. Dengan begitu, naskah gagal merupakan naskah yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kegunaan dan nilai esensinya. Dalam penelitian ini, prototipe naskah sosiodrama “Menghilangnya Sepiring Nasi” merupakan jenis naskah fungsional. Hal ini disebabkan prototipe naskah diciptakan berdasarkan faktor kegunaannya yaitu sebagai metode pembelajaran tematik kelas V tema 3 subtema 2. Selain itu, fungsi naskah fungsional nampak dengan konten naskah yang berisikan amanat agar peserta didik memiliki kebiasaan menghabiskan makanan.Selain memperhatikan tujuan naskah sebagai karya seni, penyusunan prototipe naskah sosiodrama “Menghilangnya Sepiring Nasi” turut memperhatikan teori tentang dramaturgi yang digagas oleh Erving Goffman. Goffman (1955: 6) menyatakan, dramaturgi merupakan teori yang mempresentasikan kehidupan berdasarkan dua sudut pandang yakni sudut pandang panggung (front stage) dan sudut pandang di balik panggung (back stage). Sudut pandang di sini merupakan sudut pandang penulis sebagai orang yang hendak menuliskan cerita ke dalam sebuah naskah. Seorang penulis naskah perlu memperhatikan cerita yang ditulisnya dengan dua sudut pandang yaitu sebagai penonton dan sebagai pelaku drama (aktor/aktris). Penulis naskah perlu memperhatikan naskah berdasarkan sudut pandang penonton dengan menempatkan diri sebagai penonton yang menyaksikan cerita yang sedang ditulisnya. Penghayatan diri sebagai seorang penonton ini disebut dengan sudut pandang front stage. Sedangkan penghayatan back stage merupakan penempatan diri seorang penulis ketika menulis dengan mengandaikan dirinya sebagai 32

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pemain yang akan membawakan tokoh sebagai penentu jalannya cerita. Dengan melihat tulisan melalui dua sudut pandang, seorang penulis naskah akan mengetahui kualitas naskah dari sisi penonton yang menyaksikan pertunjukan dan dari sisi pemain yang memainkan pertunjukan. 2.1.4.5 Langkah Pelaksanaan Sosiodrama Keberhasilan metode sosiodrama sangat ditentukan kepada langkahlangkah dalam pelaksanaannya. Sanjaya (2006: 194-198), menyebutkan pelaksanaan sosiodrama dikategorikan dalam tiga tahap. Tahap-tahap tersebut yaitu, tahap persiapan, tahap pertunjukan dan tahap kesimpulan. Berikut merupakan penjelasan setiap tahap pelaksanaan sosiodrama yang digunakan dalam penelitian dan pengembangan ini. No. 1. 2. 3. Tabel 2.2: Langkah Pelaksanaan Sosiodrama Tahap Pelaksanaan Deskripsi Kegiatan Sosiodrama 1. Memberikan gambaran cerita dan situasi yang akan dibawakan. 2. Membagi peran dan tugas berkaitan dengan cerita. 3. Memberikan arahan setiap peran dan tugas yang Tahap Persiapan akan dibawakan 4. Memberikan kesempatan untuk bertanya tentang masing-masing peran dan tugas sebelum pertunjukan dimulai. 5. Memainkan peran sesuai dengan naskah dan melakukan tugas-tugas teknis seperti menata setting atau properti. 6. Peserta didik yang kesulitan dibantu oleh guru atau teman yang lain. 7. Ketika konflik memuncak, guru menghentikan Tahap Pertunjukan sosiodrama dengan memberikan pertanyaan lisan seputar konflik. Tujuannya untuk mendorong peserta didik berpikir tentang masalah yang terjadi dan menemukan cara untuk mengatasi permasalahan. 8. Pertunjukan dilanjutkan sampai akhir setelah peserta didik menjawab pertanyaan dari guru. 9. Guru mengajak peserta didik berkumpul dalam lingkaran untuk diskusi. 10. Diskusi membahas tentang hambatan, kesan-kesan atau kegagalan yang dialami selama jalannya cerita. Tahap Kesimpulan 11. Merumuskan kesimpulan dari cerita sosiodrama terkait dengan kehidupan peserta didik sehari-hari. 12. Merumuskan kesimpulan dari cerita sosiodrama terkait dengan pembelajaran. Langkah-langkah tersebut peneliti terapkan dalam pelaksanan penelitian dan pengembangan prototipe sosiodrama “Menghilangnya 33

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Sepiring Nasi”. Dalam tahap persiapan, peserta didik akan diberikan penjelasan terlebih dahulu tentang cerita yang akan dibawakan dalam sosiodrama terkait dan keterkaitannya dengan pembelajaran tematik. Peneliti menjelaskan pula jika sosiodrama akan menceritakan sebuah perbuatan kurang baik yang bisa berdampak pada kerusakan lingkungan. Setelah tahap persiapan dirasa cukup dan peserta didik sudah siap untuk bermain peran, sosiodrama dilanjutkan dengan setiap peserta didik memerankan dan mengekspresikan tokoh-tokoh yang diberikan di tahap pertunjukan. Setelah tahap pertunjukan berakhir, terdapat refleksi di tahap kesimpulan. Dengan bantuan guru, peserta didik merefleksikan tentang pengalaman, pendapat, kesan dan keterkaitan cerita sosiodrama dengan pembelajaran tematik dan peristiwa yang relevan dengan kehiduapan sehari-hari peserta didik. Peneliti tidak melakukan langkah refleksi dalam posisi melingkar yang dilakukan dalam tahap kesimpulan sosiodrama. Hal ini dilakukan mengingat keterbatasan ruang kelas yang digunakan untuk sosiodrama. Dalam praktik pelaksanaannya, sosiodrama sebagai metode pembelajaran juga memiliki kelebihan dan kelemahannya ketika digunakan dalam pembelajaran. 2.1.4.6 Kelebihan dan Kelemahan Sosiodrama Sama halnya dengan metode belajar lainnya, sosiodrama sebagai metode belajar pun memiliki kelebihan dan kelemahan. Berikut ini ialah kelebihan dan kelemahan sosiodrama menurut Syaiful (2010: 89-91), yang peneliti rangkum dalam bentuk tabel. No. 1. 2. Tabel 2.3 : Kelebihan dan Kelemahan Sosiodrama Kelebihan Sosiodrama Kelemahan Sosiodrama Membutuhkan waktu yang lama, baik Daya ingat peserta didik tajam dan waktu persiapan untuk memahami kuat karena peserta didik sebagai naskah dan materi yang akan pemain dan pelaku sosiodrama harus disampaikan, pembagian tokoh dan menghayati keseluruhan cerita serta pembentukan karakternya, serta waktu bahan materi yang akan pelaksanaan pertunjukan. didramatisasikan. Proses sosiodrama membentuk peserta didik menjadi inisiatif dan kreatif Memerlukan ruangan luas atau tempat karena setiap peserta didik diberi terbuka sebagai pelaksanaannya. kesempatan untuk menyampaikan sarannya berkaitan dengan pementasan. 34

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3. 4. 5. Membangun kerjasama dan kedekatan relasi antara satu peserta didik dengan peserta didik yang lain, baik dari satu angkatan ataupun antar angkatan yang berbeda. Pembiasaan dalam pembagian tugas, mengemban tanggung jawab dan bertukar pikiran dengan sesama pemain. Bahasa lisan peserta didik dapat dilatih agar mudah dipahami oleh orang lain serta membiasakan diri untuk berpikir terlebih dahulu sebelum berbicara. Kelebihan-kelebihan dari sosiodrama sesuai dengan aspek-aspek pendidikan lingkungan hidup yang akan memunculkan peserta didik memiliki etika lingkungan hidup. Keterkaitan kelebihan drama yang mendukung aspek Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) adalah sebagai berikut: 1. Daya ingat peserta didik yang kuat akan sesuai dengan tujuan PLH tentang memantapkan pengetahuan tentang lingkungan dan memenuhi aspek sukses kognitif PLH. 2. Pembentukan karakter peserta didik yang kreatif dalam sosiodrama akan mendukung munculnya ide kreatif dan inovasi dalam bertanggung jawab untuk menghargai dan menjaga lingkungan. 3. Kedekatan peserta didik antar kelas atau antar angkatan dalam proses sosiodrama seperti pembagian peran dan pembagian tugas, akan mendorong sikap menghargai pendapat satu sama lain dan mendukung sukses afektif di PLH dan pendidikan karakter dalam pembelajaran tematik. 4. Pembiasaan berpikir sebelum berbicara menjadi salah satu bentuk sukses psikomotor dan bermanfaat berkaitan dengan keselarasan hidup manusia dengan lingkungan Terdapat alternatif yang peneliti berikan untuk mengatasi kelemahankelemahan dari sosiodrama antara lain sebagai berikut: 35

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI  Kelemahan 1 : Pendeknya Waktu Persiapan Perlunya banyak waktu dalam persiapan dapat ditanggulangi dengan melakukan dramatic reading atau membaca naskah dengan memperhatikan eskpresi waja, intonasi suara dan lontaran emosi setiap karakternya. Dramatic reading sebenarnya adalah sebuah tahap latihan pra-pementasan namun saat ini berkembang sebagai salah satu jenis seni pertunjukan pula dengan membaca naskah di panggung untuk disaksikan oleh penikmat seni pertunjukan (Sapardi, 1983: 292). Alternatif yang diberikan ketika persiapan sosiodrama hanya memiliki waktu yang singkat adalah melakukan dramatic reading. Proses dramatic reading yaitu setiap peserta didik diberikan teks dan membaca bergiliran sesuai dengan urutan dialognya dengan sedikit peragaan yang tidak serumit drama ketika lepas teks.  Kelemahan 2 : Keterbatasan Ruangan Tidak dapat dipungkiri, metode sosiodrama yang mengadaptasi dari seni pertunjukan membutuhkan ruangan yang luas dan lapang untuk pelaksanaannya seperti lapangan atau aula. Namun bukan berarti sosiodrama tidak bisa dilakukan dalam ruang yang memiliki ukuran yang tidak seluas aula atau lapangan. Sosiodrama bisa dilakukan di dalam kelas sekalipun. Sosiodrama dapat dilakukan di kelas dengan mengkoordinasi peserta didik untuk meletakkan bangku dan kursi ke pinggir-pinggir kelas sehingga menciptakan ruang kosong di bagian tengah kelas. Selain itu, bagian kosong di depan kelas juga dapat digunakan sebagai panggung sehingga latar tempat selama cerita sosiodrama digunakan secara bergantian sesuai dengan urutan latar tempat dalam cerita sosiodrama. Selain memperhatikan tujuan, unsur-unsur, kelebihan, alternatif menanggulangi kelemahan sosiodrama dan isu tentang lingkungan hidup berkaitan dengan pangan sebagai dasar penyusunan prototipe sosiodrama, penyusunan sosiodrama juga memperhatikan karakteristik perkembangan peserta didik kelas V. 36

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.1.5 Karakteristik Perkembangan Peserta Didik Kelas V Setiap jenjang kehidupan manusia senantiasa mengalami sebuah perubahan, baik perubahan dalam hal fisik atau perubahan mental dan psikologis. Perubahan-perubahan itu terjadi karena proses pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi dalam diri manusia. Pertumbuhan dan perkembangan merupakan sebuah proses yang berbeda pengertiannya meskipun keduanya memiliki kesamaan dalam tahap perubahan manusia. Akbar (2002: 32) mengatakan pertumbuhan merupakan proses perubahan psikologis dari proses kematangan secara perubahan fisik maupun psikis seperti berat badan dan tinggi badan, sedangkan perkembangan merupakan proses perubahan yang mengacu pada penyempurnaan fungsi psikologis. Perubahan-perubahan dalam diri manusia saling terikat dan berkesinambungan antara perubahan satu ke perubahan lainnya. Santrock (dalam Akbar, 2002: 36) menyatakan terdapat tiga periode perkembangan, anak (childhood), remaja (adolescence) dan dewasa (adulthood). Setiap tahap memiliki perannya sendiri terutama dalam perkembangan intelektual anak. Piaget (dalam Nurgiyantoro, 2005: 50) mengelompokkan perkembangan intelektual anak dalam empat tahap. Empat tahap perkembangan tersebut antara lain. 1. Tahap Sensorimotor Tahap ini terjadi dalam rentan usia 0-2 tahun. Tahap ini merupakan langkah awal dalam perkembangan kognitif anak. Tahap sensorimotor terjadi berdasarkan proses penggalian pengetahuan melalui indera (sense) dan bodi atau tubuh (motor). Anak menyukai aktivitas atau permainan bunyi yang mengandung pengulangan ritmis. Permainan bunyi disini dimaksudkan salah satu contohnya adalah nyanyian (Nurgiyantoro, 2005: 50). 2. Tahap Praoperasional Tahap ini terjadi dalam periode usia 2-7 tahun. Karakteristik dari tahap ini adalah anak mulai belajar dengan bermain, menggambar, mencorat-coret di kertas. Anak pun mulai berkomunikasi melalui 37

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI gerakan-gerakan dan akan beranjak ke bahasa dalam pembicaraan. Selain itu anak masih melihat segala sesuatu berdasarkan sudut pandangnya tanpa mempertimbangkan atau mencoba menempatkan diri dalam sudut pandang orang lain. Hal ini dikarenakan jalan pikiran anak masih bersifat egosentris, yakni anak masih menganggap dirinya sebagai pusat perhatian. (Nurgiyantoro, 2005: 51). 3. Tahap Operasional Konkret Tahap ini terjadi pada periode usia 7-11 tahun. Karakteristik dalam tahap ini ialah anak mulai memahami logika secara stabil yang memicu anak untuk mampu membuat klarifikasi sederhana seperti membedakan warna. Anak juga mampu untuk mengurutkan angka dan abjad. Dalam perkembangan pola pikir, anak mampu mengidentifikasi sebuah permasalahan atau persoalan berdasarkan sudut pandang lain dan menggunakan imajinasinya. Anak juga mampu memberikan argumen dan memecahkan permasalahan sederhana. Namun, dalam tahap ini anak belum mampu berpikir atau memecahkan sesuatu berkaitan dengan hal-hal abstrak karena pikirannya masih terbatas pada hal-hal nyata/konkret (Nurgiyantoro, 2005: 52). 4. Tahap Operasi Formal Tahap ini terjadi pada periode usia 11-12 tahun ke atas. Karakteristik dalam tahap ini adalah anak telah mampu berpikir dan memecahkan masalah berkaitan dengan hal-hal abstrak. Selain itu, anak telah mampu berpikir secara ilmiah, teoritis, berargumentasi dan menguji hipotesis yang mengutamakan kemampuan berpikir. Pemecahan masalah pun dilakukan secara logis dengan melibatkan berbagai masalah-masalah yang terkait melalui sudut pandang yang berbeda (Nurgiyantoro, 2005: 53). Peserta didik kelas V SD berusia sekitar 10-11 tahun yang berdasarkan tahap perkembangan berada dalam fase transisi dua tahap antara operasional konkret dan operasi formal. Transisi ini menyebabkan anak telah mampu membuat klarifikasi, argumen serta berimajinasi. Ditambah 38

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI anak mampu berpikir secara abstrak, yaitu mengimajinasikan peristiwa tentang menghilangnya nasi sebagai kebutuhan pangan manusia seharihari dan memecahkan masalah secara logis, yaitu melakukan kebiasaan untuk selalu menghabiskan makanan yang disediakan. Hal ini mendukung pelaksanaan sosiodrama dalam pembelajaran sebagai sebuah pembelajaran dengan melakukan penghayatan terkait lingkungan dan peristiwa sosial. 2.2 Penelitian Yang Relevan Uraian dalam subbab ini terdiri dari beberapa penelitian terdahulu yang relevan dan bersangkutan dengan penelitian tentang penggunaan sosiodrama dan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) dalam pembelajaran tematik. Penelitian-penelitian itu adalah sebagai berikut. 2.2.1 Penelitian tentang Penggunaan Sosiodrama Penelitian tentang sosiodrama yang peneliti jadikan refrensi penelitian adalah penelitian yang dilakukan Mardiyatun (2011) yang berjudul “Metode Sosiodrama Dalam Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar Kelas IV”. Penelitian ini mengembangkan metode sosiodrama dalam muatan pembelajaran IPS kelas IV. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam tiga siklus, masingmasing siklus mencakup tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode sosiodrama yang diterapkan dengan langkah-langkah yang benar dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, keaktifan peserta didik, keterampilan proses, serta pemahaman peserta didik terhadap materi yang dipelajari, yaitu materi permasalahan sosial. Berdasarkan hasil penelitian, peneliti dapat mengemukakan saransaran agar sosiodrama dapat diterapkan dengan baik dan benar, yaitu: hendaknya guru mempertimbangkan materi dan mata pelajaran apa yang cocok disampaikan melalui sosiodrama, hendaknya guru memahami secara tepat langkah-langkah penggunaan metode sosiodrama serta tidak terlalu sering ataupun terus menerus menggunakan metode sosiodrama karena dapat memunculkan kebosanan pada diri peserta didik. 39

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.2.2 Penelitian tentang Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) di SD Penelitian yang digunakan sebagai acuan dalam penelitian tentang Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) adalah penelitian Kusuma Wisangnuari, Secundina (2017), yang berjudul “Pengembangan Buku Cerita Bergambar Berbasis Pendidikan Lingkungan Hidup Untuk Pembelajaran Membaca Siswa Kelas III SD Kanisius Kumendaman Yogyakarta”. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan (Research & Development). Hasil penelitian yang diperoleh dalam penelitian ini adalah validasi keseluruhan memperoleh skor rata-rata 4.15 dengan kategori ‘sangat baik’. Hal ini menunjukkan buku cerita bergambar yang disusun telah menggambarkan isi cerita yang memberikan pengenalan tentang menjaga kebersihan lingkungan hidup agar tetap terasa nyaman dan sebagai cara untuk menjaga kehidupan di masa yang akan datang. Materi Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) yang dikembangkan dalam buku cerita bergambar Secundina menekankan pada ajakan kepada peserta didik untuk merawat lingkungan dengan cara menjaga kebersihan. Berdasarkan literatur penelitian relevan di atas, peneliti belum menemukan penelitian yang berkaitan dengan pengembangan prototipe sosiodrama dengan kandungan materi tentang Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) yang digunakan untuk pembelajaran tematik kelas V tema 3 subtema 2. Peneliti juga belum menemukan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) yang diajarkan kepada peserta didik yakni tentang kesadaran tentang pentingnya menghabiskan makanan. Penelitian di atas masih terbatas pada penggunaan PLH untuk menciptakan buku cerita bergambar dan metode sosiodrama yang digunakan untuk meningkatkan satu muatan pelajaran saja. Peneliti belum menemukan sebuah produk sosiodrama yang bisa digunakan untuk mempelajari materi pembelajaran tematik yang mencakup dan terangkum materi ajar dari satu subtema sekaligus. Oleh karena itu, peneliti akan mengembangkan prototipe sosiodrama berbasis Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) tentang kesadaran untuk menghabiskan makanan sebagai salah satu cara untuk menjaga lingkungan yang digunakan dalam pembelajaran 40

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI tematik kelas V tema 3 subtema 2. Inspirasi peneliti melakukan penelitian dan pengembangan berdasarkan penelitian yang relevan sebelumnya tentang sosiodrama dan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH), disajikan dalam bagan berikut. Penelitian Mardiyatun (2011) “Metode Sosiodrama Dalam Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar Kelas IV”. Penelitian Secundina (2017) “Pengembangan Buku Cerita Bergambar Berbasis Pendidikan Lingkungan Hidup Untuk Pembelajaran Membaca Siswa Kelas III SD Kanisius Kumendaman Yogyakarta”. Peneliti terinspirasi dari penelitian Mardiyatun tentang pengembangan metode sosiodrama Peneliti terinspirasi dari penelitian Secundina tentang pengajaran Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) kepada peserta didik. Pengembangan Prototipe Sosiodrama Berbasis Pendidikan Lingkungan Hidup dan Pembelajaran Tematik Kelas V Tema 3 Subtema 2. Bagan 2.1 Penelitian yang Relevan 2.3 Kerangka Berpikir Penelitian yang dilakukan oleh peneliti merupakan hal baru karena sebelumnya belum ada yang melakukan penelitian dan pengembangan prototipe sosiodrama tentang pendidikan lingkungan hidup dan pendidikan tematik kelas V pada Tema 3 Subtema 2. Berdasarkan hasil angket pernyataan, 76% peserta didik memiliki kebiasaan tidak menghabiskan makanan ketika makan. Hal ini menunjukkan anak-anak sekolah dasar masih memiliki kecenderungan tidak mencintai lingkungan karena kebiasaan 41

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI membuang makanan merupakan salah satu bentuk polusi lingkungan (LS: no. 22). Berdasarkan permasalahan yang terjadi di lapangan, peneliti termotivasi untuk mengembangkan prototipe sosiodrama dengan judul “Menghilangnya Sepiring Nasi”. Prototipe sosiodrama ini mengandung materi pendidikan lingkungan hidup dengan ajakan untuk tidak menyisakan makanan dan pembelajaran tematik kelas V tema 3 subtema 2 tentang membentuk pola makan teratur sebagai pencegahan gangguan organ pencernaan. Selain itu, dalam prototipe naskah juga mengandung muatan pembelajaran lain antara lain Bahasa Indonesia dan SBdP. Guru dapat menggunakan prototipe sosiodrama ini dalam pembelajaran tematik kelas V tema 3 subtema 2 atau digunakan dalam kegiatan ekstrakurikuler seni pertunjukan di sekolah sebagai program pengembangan diri peserta didik. 2.4 Pertanyaan Penelitian 2.4.1 Bagaimana prosedur pengembangan prototipe sosiodrama prototipe sosiodrama “Menghilangnya Sepiring Nasi”? 2.4.2 Bagaimana kualitas pengembangan “Menghilangnya Sepiring Nasi” menurut validator? 2.4.3 Apa amanat yang peserta didik peroleh setelah melakukan aktivitas bermain peran menggunakan “Menghilangnya Sepiring Nasi”? 42 prototipe naskah sosiodrama

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN Uraian dalam bab ini terdiri dari jenis penelitian, setting penelitian, prosedur pengembangan penelitian, teknik pengumpulan data, instrumen penelitian dan teknik analisis data. 3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah penelitian dan pengembangan atau dikenal dengan research and development (R&D). Borg & Gall (2003: 3-5) menjelaskan penelitian dan pengembangan dalam pendidikan adalah model pengembangan berbasis industri berupa hasil penelitian yang kemudian digunakan untuk merancang produk pembelajaran. Produk pembelajaran dikembangkan kemudian diujicobakan di lapangan, dievaluasi dan disempurnakan sampai menghasilkan produk yang yang efektif, efisien dan berkualitas. Borg and Gall dalam Sugiyono (2012: 298) menyatakan ada sepuluh (10) langkah penelitian dan pengembangan sebagai berikut: 1) penggalian potensi dan masalah, 2) pengumpulan data, 3) desain produk, 4) validasi desain produk, 5) revisi desain produk, 6) uji coba produk, 7) revisi produk, 8) uji coba pemakaian, 9) revisi produk, dan 10) produksi masal. Peneliti mengembangkan penelitian dan pengembangan karena peneliti menghasilkan dan mengembangkan suatu ptoduk berupa prototipe sosiodrama berbasis pendidikan lingkungan hidup dan pembelajaran tematik kelas V SD (tema 3 subtema 2). Peneliti akan menguji keefektifan produk tersebut di sekolah dasar. 3.2 Setting Penelitian Setting penilaian akan menguraikan tentang lokasi penelitian, subyek penelitian, obyek penelitian dan waktu penelitian yang dilaksanakan dalam proses mengembangkan prototipe sosiodrama. 3.2.1 Lokasi Penelitian Pengambilan data yang digunakan untuk penelitian dilakukan di SDK Sang Timur Yogyakarta, yang terletak di Jalan Batikan No.7 Pandeyan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta. Peneliti memilih SDK Sang Timur Yogyakarta 43

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI sebagai lokasi uji coba terbatas berdasarkan beberapa alasan yaitu, 1) SDK Sang Timur telah menggunakan kurikulum 2013 dalam proses pembelajaran, 2) SDK Sang Timur merupakan salah satu sekolah Adiwiyata. Sekolah Adiwiyata yaitu program untuk membentuk sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan melalui kurikulum, kegiatan dan sarana prasarana (Barlia, 2010: 28-32), 3) SDK Sang Timur memiliki tim Adiwiyata sekolah yang bertugas untuk menyelenggarakan kegiatan-kegiatan tentang pendidikan lingkungan hidup seperti pemilahan sampah organik dan non-organik, penanaman apotek hidup, pembuatan pupuk organik, pembuatan tanaman gantung, penanaman tanaman pembersih udara, membuat pot dari bahan bekas, dan 4) SDK Sang Timur memiliki kegiatan ekstrakurikuler tentang pengembangan bakat seni pertunjukan dengan nama “Harmoni Budaya”. Harmoni Budaya diikuti oleh peserta didik kelas 3,4 dan 5 dan dilatih oleh guru dari SDK Sang Timur. Selain alasan-alasan tersebut, terkait hal teknis, SDK Sang Timur letaknya mudah dijangkau oleh peneliti. 3.2.2 Subyek Penelitian Subyek dari penelitian ini adalah 1 guru kelas V-B dan 26 peserta didik kelas V-B SDK Sang Timur Yogyakarta. Guru dipilih karena guru kelas V-B menjadi bagian dari tim Adiwiyata SDK Sang Timur dan menganggap bahwa sosiodrama menjadi metode menarik dalam pembelajaran lingkungan hidup dan dapat diintegrasikan ke dalam tematik kelas V tema 3 subtema 2. Peneliti memilih guru tersebut berdasarkan rekomendasi kepala sekolah dan guru bidang kurikulum. Selain itu terdapat 3 guru sekolah dasar lainnya yang menjadi narasumber tentang ketertarikan dan kebutuhan naskah sosiodrama dalam metode pembelajaran tematik dalam tahap pengumpulan data. 3.2.3 Obyek Penelitian Obyek dari penelitian ini adalah produk berupa prototipe naskah sosiodrama berjudul “Menghilangnya Sepiring Nasi”. Sosiodrama tersebut dikembangkan berdasarkan kegelisahan kebiasaan membuang makanan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai pembelajaran lingkungan hidup dan pembelajaran tematik kelas V tema 3 subtema 2. 44

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.2.4 Waktu Penelitian Penelitian dan pengembangan ini dilakukan pada bulan Agustus 2018 sampai Januari 2018. Secara keseluruhan, penelitian dan pengembangan prototipe sosiodrama ini dilakukan selama kurang lebih enam bulan. 3.3 Prosedur Pengembangan Penelitian Prosedur yang digunakan peneliti dalam penelitian dan pengembangan prototipe sosiodrama adalah tahapan menurut Borg & Gall dalam Sugiono (2012:298), yang mencakup sepuluh (10) langkah yaitu: 1) penggalian potensi dan masalah, 2) pengumpulan data, 3) desain produk, 4) validasi desain produk, 5) revisi desain produk, 6) uji coba produk, 7) revisi produk, 8) uji coba pemakaian, 9) revisi produk, dan 10) produksi masal. Berikut adalah ilustrasi gambar tahap pelaksanaan penelitan dan pengembangan menurut Borg & Gall. Penggalian Potensi dan Masalah Pengumpulan Data Desain Produk Validasi Desain Produk Revisi Desain Uji Coba Produk Uji Coba Pemakaian Revisi Desain Produk Revisi Produk Produksi Masal Bagan 3.1 : Langkah Penelitian dan Pengembangan Borg & Gall Penelitian ini hanya akan menggunakan enam langkah yaitu: 1) penggalian potensi dan masalah, 2) pengumpulan data, 3) desain produk, 4) validasi desain produk, 5) revisi desain produk, 6) uji coba pemakaian. Langkahlangkah ini akan peneliti gunakan untuk mengembangkan prototipe sosiodrama “Menghilangnya Sepiring Nasi”. Langkah-langkah pelaksanaan 45

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI penelitian pengembangan yang dilakukan peneliti berdasarkan teori Borg & Gall akan diilustrasikan dalam bagan 3.2. Berikut adalah pembahasan pada setiap tahap yang dilakukan untuk mengembangkan prototipe sosiodrama 3.3.1 Langkah Pertama: Penggalian Potensi & Masalah Penelitian ini diawali dengan adanya penggalian atau pencarian potensi dan masalah terlebih dahulu. Peneliti melakukan studi pustaka dengan membaca dan mengumpulkan banyak informasi tentang bentuk-bentuk kerusakan lingkungan. Permasalahan lingkungan hidup telah menjadi keperihatinan seluruh elemen masyarakat dan perlu adanya sebuah solusi pencegahan dan pemecahan. Salah satu sumber yang memuat berbagai macam kerusakan lingkungan hidup, seperti polusi, krisis pangan, kerusakan alam, terangkum dalam Ensiklik Laudato Si’ yang ditulis oleh Paus Fransiskus di tahun 2015. Salah satu bentuk kerusakan lingkungan yang dibahas adalah kebiasaan menyisakan dan membuang makanan. Limbah sisa makanan telah menjadi salah satu aspek penyumbang dalam kerusakan lingkungan dan perlu memperoleh perhatian secara khusus. Oleh sebab itu, pembentukan kesadaran menjaga lingkungan melalui kebiasaan tidak menyisakan makanan perlu ditanamkan sejak dini. Hal ini sesuai dengan ajakan Paus Fransiskus dalam isi Laudato Si’ nomor 209 yang menyatakan pendidikan sebagai salah satu perantara menanamkan kesadaran untuk menjaga dan merawat lingkungan. Penanaman kesadaran untuk menjaga dan merawat lingkungan bukan hanya terdapat di dalam ensiklik Laudato Si’ saja melainkan terdapat pula dalam capaian ajar pembelajaran tematik di setiap jenjangnya dan Surat Gembala Peringatan Hari Pangan Ke-36 yang ditulis oleh Mgr. Rubiyatmoko selaku Uskup Keuskupan Agung Semarang. 3.3.2 Langkah Kedua: Pengumpulan Data Peneliti melakukan wawancara kepada empat guru kelas V yang berasal dari sekolah yang berbeda. Dua guru dari daerah Yogyakarta dan dua guru dari Jawa Tengah. Peneliti juga membagikan angket kepada 25 peserta didik kelas V-B dari SDK Sang Timur Yogyakarta. Pengumpulan data bertujuan untuk mengetahui kebiasaan makan peserta didik dan ketertarikan penggunaan 46

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI sosiodrama baik di peserta didik itu sendiri dan guru, dalam mengemas pembelajaran dengan sosiodrama. Dengan demikian sosiodrama bisa sesuai dan digunakan dalam pembelajaran tematik atau digunakan dalam kegiatan bertajuk kesenian di sekolah. Pengembangan Prototipe Sosiodrama Berbasis Pendidikan Lingkungan Hidup dan Pembelajaran Tematik Kelas V Tema 3 Subtema 2 Langkah 1: Penggalian Potensi dan Masalah  Langkah 2: Pengumpulan Data    Potensi : manusia memiliki kewajiban untuk menjaga dan menghargai alam. salah satunya adalah menghabiskan makanan. Masalah : masih banyak peserta didik yang memiliki kebiasaan tidak menghabiskan makanan yang disediakan. Wawancara dengan empat guru kelas V. Pembagian angket pernyataan kepada 25 peserta didik kelas V. Langkah 3: Desain Produk Membuat kisi-kisi prototipe naskah sosiodrama yang mengandung muatan pendidikan lingkungan hidup dan pembelajaran tematik kelas V SD tema 3 subtema 2. Langkah 4: Validasi Desain Prototipe naskah sosiodrama telah disusun dan divalidasi oleh guru kelas V, ahli teater dan bahasa dan tim Adiwiyata sekolah. Langkah 5: Revisi Desain Revisi naskah sosiodrama yang telah disusun berdasarkan kritik, saran dan masukan dari para validator ahli. Langkah 6: Uji Coba Pemakaian Uji coba terbatas prototipe sosiodrama sosiodrama. Bagan 3.2 : Langkah Penelitian dan Pengembangan yang Dilakukan Peneliti 47

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.3.3 Langkah Ketiga: Desain Produk Peneliti menyusun produk berupa prototipe sosiodrama dengan judul “Menghilangnya Sepiring Nasi” dengan mengkolaborasikan muatan pendidikan lingkungan hidup (PLH) dan pembelajaran tematik kelas V tema 3 subtema 2. Prototipe sosiodrama mengisahkan tentang seorang anak bernama Adi yang memiliki kebiasaan menyisakan makanan dan hanya makan makanan yang menurutnya enak. Suatu ketika Adi dihadapkan dengan keadaan bahwa beras sangat sulit diperoleh bahkan menghilang dari peredaran. Peristiwa ini berdampak pada pola makan Adi yang tidak teratur. Adi hanya berkeingingan untuk makan nasi. Meskipun menghilangnya nasi dari kehidupan ini adalah mimpi yang dialami Adi ketika tidur siang, dampak yang ditimbulkan sangatlah bermanfaat. Adi menyesali perbuatannya yang sering menyisakan makanan dan berjanji tidak akan melakukannya lagi. Di dalam cerita disisipkan sebuah tari kreasi anak yang mengisahkan tentang relasi antara manusia dengan alam lingkungannya. Pendidikan lingkungan hidup (PLH) yang termuat dalam konten ceritanya adalah tentang menghargai dan mencintai alam melalui kebiasaan tidak menyisakan makanan. Materi pembelajaran tematik kelas V yang terintegrasi dalam sosiodrama antara lain: interaksi manusia dengan lingkungan, makanan sehat, penyakit gangguan organ pencernaan, toleransi perbedaan sosial dan budaya, iklan dan tari kreasi. Berikut adalah tabel kisi-kisi pembuatan prototipe sosiodrama “Menghilangnya Sepiring Nasi.” Bagian Sosiodrama Sampul Naskah - 1 2 - Tabel 3.1: Kisi-kisi prototipe sosiodrama Keterangan atau konten isi (dalam bentuk narasi, ilustrasi atau dialog) Berisi judul, gambar ilustrasi dan nama penulis naskah. Ilustrasi naskah menggambarkan tentang adanya keterkaitan antara manusia dengan alam (LS, nomor.15) Latar belakang pembuatan sosiodrama : Laudato Si’ nomor 22, Data FAO tahun 2017, Surat Gembala Uskup Semarang tentang Hari Pangan Sedunia Ke-36 tahun 2018, pembelajaran tematik “Makanan Sehat”. Sinopsis sosiodrama : memberikan penjelasan pendidikan lingkungan hidup dalam lingkup mengembangkan kesadaran menjaga lingkungan dalam aspek pengetahuan, perasaan dan keterampilan. Sukses kognitif PLH dan pendidikan berbasis karakter. Penjelasan tentang etika lingkungan hidup. Keterangan tokoh, penokohan dan kru pementasan. Sukses psikomor PLH dan pendidikan berbasis karakter 48

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 4 5 6 7 8 9 10 11 - Tematik Kelas V Tema 3 Makanan Sehat Subtema 2: PKn. Data FAO tentang banyaknya jumlah limbah makanan di Indonesia. Tematik Kelas V Tema 3 Makanan Sehat Subtema 2: Bahasa Indonesia & IPS - Etika lingkungan hidup tentang pentingnya memelihara lingkungan dengan tidak membuang makanan. - Ensiklik Laudarto Si’ nomor 22 : ajakan untuk mencegah budaya membuang makanan. - Tematik Kelas V Tema 3 Makanan Sehat Subtema 2: SBdP. - Etika lingkungan hidup tentang hidup selaras dengan lingkungan. - Sukses kognitif PLH dan pendidikan berbasis karakter. Cerita tentang Adi yang memasuki dunia dalam mimpi. - Tematik Kelas V Tema 3 Makanan Sehat Subtema 2: IPA & Bahasa Indonesia. - Tematik Kelas V Tema 3 Makanan Sehat Subtema 2: IPS & PKn. - Etika lingkungan hidup tentang menghargai, memperhatikan dan dengan tidak membuang makanan. - Sukses afektif PLH dan pendidikan berbasis karakter: tidak membuang makanan. - Isi Surat Gembala Peringatan Hari Pangan Sedunia Ke-36 Keuskupan Agung Semarang : membangun kebiasaan untuk tidak menyisakan dan membuang-buang makanan. - Jenis-jenis makanan sehat yang berasal dari alam/lingkungan sekitar. - Tematik Kelas V Tema 3 Makanan Sehat Subtema 2: SBdP. - Tematik Kelas V Tema 3 Makanan Sehat Subtema 2: IPA & IPS. 3.3.4 Langkah Keempat: Validasi Desain Desain produk prototipe sosiodrama “Menghilangnya Sepiring Nasi” yang telah dibuat akan divalidasi terlebih dahulu oleh lima validator sebelum diujicobakan. Para validator yang memberikan validasi produk prototipe sosiodrama dalam penelitian ini terdiri dari dua guru kelas V SD, dua guru SD pengampu ekstrakurikuler kesenian (gamelan dan drama) dan satu pegiat drama yang memiliki rekam jejak dalam dunia seni pertunjukan dan sekaligus menjadi penilai aspek kebahasaan. Validasi desain bertujuan memperoleh kritik, saran serta penilaian produk yang sedang dikembangkan oleh peneliti. Penilaian yang diberikan melalui validasi akan bermanfaat untuk mengetahui aspek yang dirasa masih kurang tepat dan perlu ditambahkan dalam sosiodrama yang sedang dikembangkan. 3.3.5 Langkah Kelima: Revisi Desain Revisi desain merupakan perbaikan ulang yang dilakukan untuk mendapatkan desain produk yang lebih baik dan layak. Revisi dilakukan berdasarkan kritik dan saran yang disampaikan oleh kelima validator yang 49

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menilai prototipe sosiodrama “Menghilangnya Sepiring Nasi”. Dengan proses revisi atau perbaikan ini, diharapkan prototipe yang sedang dikembangkan menjadi lebih menarik, bermakna daan mudah dipahami oleh guru dan peserta didik ketika hendak dipraktikkan dalam pembelajaran atau dalam pementasan acara kesenian di sekolah. 3.3.6 Langkah Keenam: Uji Coba Produk Uji coba produk dilakukan setelah prototipe sosiodrama “Menghilangnya Sepiring Nasi” telah melalui proses revisi atau perbaikan. Uji coba produk bertujuan untuk mengetahui kebermaknaan dan fungsi naskah sebagai metode pembelajaran tematik serta menciptakan kesadaran untuk menghabiskan makanan. Uji coba produk membuat produk yang dikembangkan oleh peneliti benar-benar teruji secara empiris. Teruji secara empiris dimaksudkan teruji melalui indera manusia sehingga dapat diketahui dan diamati oleh orang lain, bukan hanya melalui data berupa angka (Sugiyono, 2013: 12). Uji coba produk dilakukan di SDK Sang Timur Yogyakarta dan diikuti oleh peserta didik kelas V. 3.4 Teknik Pengumpulan Data Diandaikan sebuah rumah, pengumpulan data merupakan sebuah pondasi dari rumah itu sendiri. Sugiyono (2015: 200) mengatakan, pengumpulan data merupakan hal paling utama dalam sebuah penelitian karena tujuan dalam sebuah penelitian itu sendiri ialah untuk memperoleh data. Pengumpulan data dibutuhkan untuk menentukan valid atau tidaknya sebuah penelitian yang dilakukan. Penelitian dan pengembangan yang dilakukan peneliti menggunakan dua teknik pengumpulan data yaitu kuisioner dan wawancara. 3.4.1 Kuisioner Kuisioner adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan memberikan beberapa pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden (Sugiyono, 2009: 142). Kuisioner yang digunakan peneliti dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rutinitas peserta didik terkait kebiasaan menyisakan makanan, makan makanan bergizi, pola makan bergizi dan lainlain. Kuisioner analisis kebutuhan diberikan kepada 25 peserta didik kelas V50

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI B di SDK Sang Timur Yogyakarta dan kuisioner validasi untuk menguji kelayakan produk prototipe sosiodrama diberikan kepada 4 guru SD dan 1 seniman pertunjukan dan ahli dalam bidang bahasa. 3.4.2 Wawancara Arifin (2011: 233) menyatakan, wawancara adalah sebuah teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui tanya jawab dengan cara langsung atau tidak langsung untuk memperoleh sebuah informasi tertentu. Dalam sebuah penelitian, wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin merumuskan sebuah permasalahan yang akan diteliti dan apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal yang mendalam melalui jumlah responden yang sedikit (Sugiyono, 2009: 137). Peneliti melakukan wawancara kepada empat guru kelas V yang berasal dari sekolah yang berbeda. Dua guru dari daerah Yogyakarta dan dua guru dari region Jawa Tengah. Peneliti juga membagikan angket kepada 25 peserta didik kelas V-B dari SDK Sang Timur Yogyakarta. Pengumpulan data bertujuan untuk mengetahui kebiasaan makan peserta didik dan ketertarikan guru dalam mengemas pembelajaran dengan sosiodrama. Dengan demikian sosiodrama bisa sesuai dan digunakan dalam pembelajaran tematik atau dipentaskan dalam pentas seni sekolah. 3.5 Instrumen Penelitian Penelitian pengembangan yang dilakukan peneliti dalam mengembangkan prototipe sosiodrama “Menghilangnya Sepiring Nasi”, menggunakan beberapa instrumen diantaranya instrumen analisis kebutuhan dan instrumen validasi produk. 3.5.1 Intrumen Analisis Kebutuhan Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan kisi-kisi kuisioner dan wawancara dalam analisis kebutuhan. Setiap teknik pengumpulan data memiliki kisi-kisi untuk menyusun tiap item soal dan pernyataan yang diberikan kepada peserta didik dan guru. 51

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.5.1.1 Pedoman Wawancara Wawancara dilakukan kepada empat guru SD kelas V dalam tahap penggalian potensi dan masalah. Pedoman wawancara berisikan garis besar topik yang akan ditanyakan kepada narasumber. Kisi-kisi wawancara yang dilakukan dengan guru SD kelas V terdapat dalam tabel berikut. Tabel 3.2: Kisi-kisi wawancara guru No. 1 2 3 Topik Wawancara Ensiklik Laudato Si’ Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) Sosiodrama Pertanyaan Wawancara Ensiklik Laodato Si yang dikeluarkan oleh Paus Fransiskus pada tahun 2015 menegaskan tentang pentingnya Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) agar peserta didik dapat memiliki kesadaran akan pelestarian lingkungan dan merawat bumi sebagai rumah kita bersama. Menurut pendapat Bapak/Ibu sendiri, apakah Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) itu sendiri? Jelaskan menurut Bapak/Ibu, mengenai keterkaitan materi tematik kelas V Tema 3 “Makanan Sehat” Subtema 2 “Pentingnya Makanan Sehat Bagi Tubuh”, dengan salah satu usaha menjaga dan melestarikan Pendidikan Lingkungan Hidup serta memiliki intisari tentang ketergantungan manusia kepada alam berkaitan dengan kebutuhan pangan ! Jelaskan berdasarkan pengalaman Bapak/Ibu guru, tentang proses, cara atau metode dalam mengajarkan materi tematik kelas V Tema 3 “Makanan Sehat” Subtema 2 “Pentingnya Makanan Sehat Bagi Tubuh” ! Menurut Bapak/Ibu guru, dapatkah pembelajaran tematik kelas V Tema 3 “Makanan Sehat” Subtema 2 “Pentingnya Makanan Sehat Bagi Tubuh”, dikemas dan disajikan dalam bentuk sosiodrama? Mengapa demikian? Apakah Bapak/Ibu guru membutuhkan naskah drama untuk mengajarkan pembelajaran tematik kelas V Tema 3 “Makanan Sehat” Subtema 2 “Pentingnya Makanan Sehat Bagi Tubuh” pada Pembelajaran, ketika mengajarkannya menggunakan metode sosiodrama? 52 Nomor Item 1 2 3 4 5

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.5.1.2 Pedoman Kuisioner Kuisioner analisis kebutuhan diberikan kepada 25 peserta didik kelas V-B di SDK Sang Timur Yogyakarta untuk mengetahui rutinitas peserta didik terkait kebiasaan menyisakan makanan, makan makanan bergizi, pola makan bergizi dan lain-lain. Kisi-kisi kuisioner terdapat dalam tabel berikut. Tabel 3.3: Kisi-kisi kuisioner peserta didik kelas V Nomor Item No. Kisi-Kisi Kuisioner 1. Kebiasaan menghargai alam dengan menghabiskan makanan yang disediakan. 2. Kebiasaan makan makanan sehat (sayur mayur) peserta didik. 2 3. Pengalaman mengalami sakit perut akibat pola makan tidak teratur dan memahami maag sebagai salah satu penyakit akibat gangguan organ pencernaan manusia. 3,4 4. Pengetahuan tentang iklan. 5. Pengalaman dan ketertarikan peserta didik dalam melakukan pembelajaran tematik dengan kesenian tari atau drama. 1 5 6,7 3.5.2 Intrumen Validasi Produk Instrumen validasi produk yang disusun peneliti dalam penelitian dan pengembangan prototipe sosiodrama “Menghilangnya Sepiring Nasi” berupa kuisioner, dengan pilihan jawaban berskala Linkert. Rentang skala yang disediakan yaitu 1-4 dengan keterangan setiap skala yaitu: (1) tidak baik, (2) kurang baik, (3) baik, (4) sangat baik. Validasi produk dilakukan oleh 2 guru SD kelas V yang merupakan bagian dari tim Adiwiyata sekolah, 2 guru SD yang mengampu ekstrakurikuler seni pertunjukan dan 1 pegiat drama sekaligus ahli kebahasaan. Kuisioner berisi 21 butir pernyataan. Aspek validasi produk prototipe sosiodrama “Menghilangnya Sepiring Nasi” dapat dilihat dalam tabel 3.4 berikut. 53

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No. 1. 2. 3. 4. Tabel 3.4: Kisi-kisi Validasi Produk Aspek Validasi Prototipe Sosiodrama “Menghilangnya Sepiring Nasi” Halaman Sampul Penggunaan Bahasa Isi Sosiodrama - Tema - Alur - Latar / Setting - Tokoh dan Penokohan - Dialog - Amanat Kesesuaian isi sosiodrama dengan pembelajaran tematik SD kelas V Tema 3 “Makanan Sehat” - IPS - PKn - Bahasa Indonesia - IPA - SBdP Nomor Soal 1,2,3 4,5,6 7,8,9,10, 11,12 13,14,15 ,16,17 3.5.3 Instrumen Penilaian Uji Coba Terbatas Penilaian uji coba terbatas dilakukan oleh pengamat untuk mengetahui prototipe sosiodrama dilaksanakan sesuai langkah-langkah atau tidak. Kuisioner terdiri dari enam (6) pertanyaan isian tentang cerita sosiodrama yang berkaitan dengan muatan pembelajaran yang terdapat dalam tematik tema 3 dan subtema 2. Aspek-aspek yang dinilai dalam penilaian uji coba terbatas terangkum dalam tabel berikut ini. Tabel 3.5: Aspek Penilaian Uji Coba Terbatas No. Aspek Penilaian Uji Coba Terbatas 1. Tematik Kelas V Muatan Pembelajaran PKn & Surat Gembala Peringatan Hari Pangan Ke-36 Keuskupan Agung Semarang. 2. Tematik Kelas V Muatan Pembelajaran IPS & Laudato Si’ nomor 22. 3. 4. Tematik Kelas V Muatan Pembelajaran SBdP & IPA. Tematik Kelas V Muatan Pembelajaran IPS. 5. Tematik Kelas V Muatan Pembelajaran Bahasa Indonesia & IPA. 6. Refleksi tentang sosiodrama “Menghilangnya Sepiring Nasi” 3.6 Teknik Analisis Data Data yang diperoleh dalam penelitian ini terdiri dari dua jenis data, yaitu: data kualitatif dan data kuantitatif. Sugiyono (2010: 16), menyatakan data kualitatif adalah data yang tersaji dalam bentuk kata-kata sedangkan data 54

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kuantitatif adalah data yang terjadi dalam bentuk angka. Dalam penelitian pengembangan ini, data kualitatif berasal dari hasil wawancara guru, komentar, kritik dan saran dari validator. Data kuantitatif berasal dari skor penilaian yang diberikan ketika melakukan validasi. Berikut adalah pembahasan dari masing-masing teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian dan pengembangan ini. 3.6.1 Analisis Data Kualitatif Data kualitatif berupa rangkuman jawaban oleh peneliti berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan empat guru kelas V SD untuk mengetahui keterkaitan antara pendidikan lingkungan hidup dengan pembelajaran tematik kelas V tema 3 subtema 2. Data kualitatif hasil validasi pun menjadi catatan bagi peneliti untuk memperbaiki dan menambahkan sesuatu yang masih kurang dari prototipe sosiodrama guna memperbaiki kualitas serta mengetahui kelayakan produk ketika diuji coba kepada peserta didik. 3.6.2 Analisis Data Kuantitatif Data kuantitatif yang diperoleh dari penelitian ini berasal dari hasil validasi produk oleh validator dan rangkuman data hasil uji coba terbatas yang dilakukan oleh pengamat. Analisis data validasi produk menggunakan skala penilaian Linkert kriteria 1-4. Setiap kriteria terdapat penjelasan agar validator tidak kesulitan dalam memberikan penilaian. Data validasi yang diperoleh dianalisis untuk mengetahui kelayakan produk yang dikembangkan oleh peneliti. Peneliti menggunakan pedoman penskoran skala 1-4. Penskoran skala 1-5 tidak digunakan dengan pertimbangan menghindari adanya jawaban dari responden pada angka 3, yaitu jawaban setengah-setengah atau jawaban mencari aman (Arikunto, 2010: 284). Penjelasan dari setiap skala penilaian adalah sebagai berikut, (1) tidak baik, (2) kurang baik, (3) baik, (4) sangat baik. Setelah validator memberikan penilaian, maka rerata skor diperoleh melalui rumus sebagai berikut. ℎ = 55 Jumlah item

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Skor yang diperoleh kemudian dikonversi menjadi data kualitatif berdasarkan tabel konversi skala 4 Likert. Konversi data kuantitatif ke kualitatif nilai skala 4 Likert yang digunakan dalam penelitian disajikan dalam tabel berikut ini (Widoyoko, 2014: 144). Interval Skor 3,26 - 4,00 2,51 – 3,25 1,76 – 2,50 1,00 – 1,75 Tabel 3.6: Konversi Data Kuantitatif ke Kualitatif Kategori Keterangan Instrumen Sangat Baik Keseluruhan instrumen sudah layak digunakan. Keseluruhan instrumen sudah layak digunakan namun Baik perlu perbaikan. Kurang Keseluruhan instrumen kurang layak digunakan. Sangat Kurang Keseluruhan instrumen tidak layak digunakan. Berdasarkan konversi data kuantitatif ke kualitatif di atas, penentuan rumus kualitatif pada validasi ditetapkan sebagai berikut. Jumlah skor maksimal yang diperoleh : 84 Skor maksimal ideal :4 Ditanyakan : Perhitungan rata-rata skor kategori “sangat baik” Jawab : Kategori sangat baik  3,26 – 4,00 = = = 4  Kategori “sangat baik” Di tahap uji coba produk, peneliti memperoleh data berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh pengamat. Terdapat lima (6) pertanyaan yang berkaitan dengan pembelajaran tematik tema 3 subtema 2 yang terkandung dalam alur cerita sosiodrama “Menghilangnya Sepiring Nasi”. Data dari pengamat kembali dilakukan penghitungan dengan rumus sebagai berikut: ℎ Jumlah item soal = 56

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Perhitungan data-data kuantitatif dihitung berdasarkan rumus-rumus di atas. Penentuan rumus kualitatif pada uji coba terbatas diterapkan sebagai berikut. Diketahui : Jumlah seluruh peserta didik Ditanyakan : 26 : Perhitungan skor rata-rata kategori “sangat baik” Jawab : Kategori sangat baik  3,26 - 4,00 = = = 4  Kategori “sangat baik” 57

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Uraian dalam bab ini akan menguraikan mengenai hasil penelitian, pembahasan serta kelebihan dan kekurangan produk yang dikembangkan dalam penelitian. 4.1 Hasil Penelitian Hasil penelitian akan menguraikan mengenai prosedur pengembangan dan kualitas produk prototipe sosiodrama. 4.1.1 Prosedur Pengembangan Terdapat enam (6) prosedur pengembangan yang digunakan peneliti, penggalian potensi dan masalah, pengumpulan data, desain produk, validasi desain, revisi desain dan uji coba produk. Penjelasan setiap prosedur dijabarkan berikut ini. 4.1.1.1 Penggalian Potensi dan Masalah Tahap pertama dalam penelitian Research & Development (R&D) adalah penggalian potensi dan masalah yang berkaitan dengan penelitian yang dilakukan dan produk yang akan dikembangkan. Di awal penelitian, peneliti melakukan studi literatur tentang bentuk-bentuk kerusakan lingkungan akibat perilaku manusia. Manusia yang seharusnya menjaga, merawat dan melestatikan lingkungan tidak lagi memiliki kesadaran seperti itu dengan perilakunya saat ini. Peneliti mengumpulkan berita, artikel, video tentang kerusakan lingkungan hidup yang menjadi keresahan masyarakat bersama. Dari proses studi literatur, peneliti menemukan berbagai macam ajakan kepada manusia untuk memperhatikan tentang kerusakan lingkungan hidup. Ajakan-ajakan itu muncul melalui poster, slogan, acara-acara instansi, buku dan salah satunya berada di dalam Ensiklik Laudato Si’. Ensiklik Laudato Si’ adalah surat yang ditulis Paus Fransiskus di tahun 2015 dan berbicara mengenai krisis lingkungan hidup, ajakan untuk memiliki kepekaan terhadap lingkungan, jenis-jenis pencemaran dan polusi. Salah satu yang dibahas dalam jenis-jenis polusi dalam ensiklik tersebut adalah polusi pangan atau 58

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI makanan. Polusi makanan muncul dalam bentuk kebiasaan manusia menyisakan makanan yang telah disediakan. Keprihatinan tentang kebiasaan membuang makanan ternyata muncul pula dalam Surat Gembala Peringatan Hari Pangan Sedunia Ke-36 Keuskupan Agung Semarang, yang ditulis oleh Mgr. Robertus Rubiyatmoko. Di dalam Surat Gembala tersebut, Mgr. Rubi mengajak manusia untuk menghargai alam dengan cara tidak menyisakan makanan yang telah alam sediakan. Dunia pendidikan juga telah merespon dan menyikapi kerusakan lingkungan hidup dengan melahirkan pembelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH). Pendidikan Lingkungan Hidup terintegrasi dalam pembelajaran di sekolah sejak 2006. Setelah membaca keseluruhan materi tematik kelas IVI SD, peneliti menemukan materi pembelajaran yang berkaitan dengan pangan dan lingkungan hidup terdapat dalam pembelajaran tematik kelas V SD Tema 3 Subtema 2. Pendidikan Lingkungan Hidup itu sendiri merupakan materi ajar yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang mencintai alam dan lingkungan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Laudato Si’ artikel nomor 209 yang menyatakan pendidikan merupakan salah satu alternatif penyampaian pendidikan lingkungan hidup mulai dari usia dasar melalui pembelajaran-pembelajaran. Salah satu cara dalam proses pembelajaran adalah sosiodrama. Sosiodrama memiliki manfaat dalam pembelajaran terutama membangun penghayatan dan memaknai materi pembelajaran. Peneliti memutuskan untuk menciptakan sosiodrama yang memuat materi pembelajaran tematik dan pendidikan lingkungan hidup dalam konten ceritanya. Peneliti membagikan instrumen wawancara kepada guru kelas V dan kuisioner pernyataan kepada peserta didik kelas V. 4.1.1.2 Pengumpulan Data Subbab ini akan menampilkan dan membahas data-data yang diperoleh peneliti sebagai pendukung penelitian dan pengembangan. Data penelitian diperoleh dari wawancara guru dan kuisioner yang dibagikan kepada peserta didik. 59

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1. Wawancara Data yang diperoleh berasal dari melakukan wawancara kepada empat (4) guru kelas V. Dua (2) guru berada di region Yogyakarta dan dua (2) guru lainnya berada di region Jawa Tengah. Guru pertama yang menjadi narasumber peneliti adalah Pak Indarto, beliau adalah guru kelas V-B di SDK Sang Timur Yogyakarta. Selain guru kelas V-B, Pak Indarto merangkap sebagai bagian dari tim Adiwiyata SDK Sang Timur Yogyakarta dan guru pengampu ekstrakurikuler Pengelolaan Tanaman Hidup. Guru kedua yang menjadi narasumber adalah Pak Ongko, beliau adalah guru kelas V dan VI di SD Pangen Gudang Purworejo. Guru ketiga bernama Ibu Angel yang merupakan guru bantu kelas atas (kelas 4,5 dan 6) di SD Maria Immaculata Cilacap dan guru keempat bernama Ibu Nurul, guru kelas V dan VI di SD Muhammadiyah Kronggahan. Selain itu, Ibu Nurul sedang menjalani studi magister di Universitas Sarjana Wiyata. Wawancara dilakukan untuk mengetahui pengetahuan guru SD tentang Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH), keterkaitan antara pembelajaran tematik kelas V tema 3 subtema 2 dengan lingkungan atau alam, cara guru dalam mengemas pembelajaran tematik kelas V tema 3 subtema 2, pendapat guru jika pengemasan pembelajaran tematik kelas V tema 3 subtema 2 disampaikan dengan sosiodrama dan perlunya naskah yang berisi materi pembelajaran terkait untuk menerapkan metode sosiodrama. Rangkuman hasil wawancara akan ditampilkan dalam bentuk tabel berikut ini. Item Soal Menurut pendapat Bapak/Ibu sendiri, apakah Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) itu? Tabel 4.1: Rangkuman hasil wawancara guru SDK Sang SD SD Maria Timur Muhhammadiyah Immaculata Yogyakarta Kronggahan Cilacap Sebuah Pembelajaran PLH adalah pembelajaran membentuk anak bentuk yang yang peduli, cinta, pembelajaran menekankan menghargai dan kepadada anak tentang nilaimenjaga didik yang nilai lingkungan. memberi bekal lingkungan agar anak didik hidup dan mempunyai memuat kepekaan untuk ajakan-ajakan lebih mencintai untuk lingkungan memiliki hidupnya 60 SD Pangen Gudang Purworejo Pendidikan tentang lingkngan hidup sekitar berkaitan dengan cara merawat, menanam dan menggunakan dengan bijak serta bertanggungjawab agar tetap seimbang.

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI keprihatinan dan kepedulian lebih terhadap alam beserta permasalahan nya, sehingga mampu bersikap baik dan bertindak untuk melestarikan lingkungan hidup/ Jelaskan menurut Bapak/Ibu, mengenai keterkaitan materi tematik kelas V Tema 3 “Makanan Sehat” Subtema 2 “Pentingnya Makanan Sehat Bagi Tubuh”, dengan salah satu usaha menjaga dan melestarikan berkaitan dengan kebutuhan pangan ! Jelaskan berdasarkan pengalaman Bapak/Ibu guru, tentang proses, cara atau metode dalam mengajarkan materi tematik kelas V Tema 3 “Makanan Sehat” Subtema 2 “Pentingnya Makanan Sehat Bagi Tubuh”! Menurut Bapak/Ibu Kita dapat menyadarkan anak akan pentingnya lingkungan hidup sebagai sumber kehidupan manusia terutama pangan. Oleh sebab itu, kita dituntut untuk bersikap dan bertindak lebih memperhatikan lingkungan kita, kalau lingkungan kita rusak maka ketersediaan pangan juga terancam. Pembelajaran tematik tema 3 dan subtema 2 memiliki keterkaitan soal pangan terutama tentang sumber makanan sehat. Makanan sehat yang masuk ke dalam tubuh akan bisa menjadi nutrisi dan membantu tumbuh kembang anak jika bahan alam pun sehat. Jika alam terkontaminasi seperti penggunaan pupuk kimia berlebihan, maka nutrisi jahat akan masuk dan menjadi penyakit dalam tubuh kita. Jelas sekali jika makanan yang kita makan tidak lepas dari alam sebagai sumber utamanya. Jadi kita tidak dapat makan makanan yang sehat jika tidak ada alam. Makanan yang dimakan seharihari oleh anakanak berasal dari alam, ketika alam sebagai penyedia bahan mentah musnah kebutuhan pangan tidak terpenuhi dan mekanan sehat tidak akan dirasakan. Sebagai guru, saya belum menemukan pengemasan pembelajaran yang menarik. Saya hanya melakukan berdasarkan Buku Pegangan Guru. Saya perlihatkan video tentang proses pembuatan makanan dari alam sampai tersedia di meja makan (video tentang membuat lotek). Meminta siswa membawa makanan 4 sehat 5 sempurna ke kelas dan makan bersamasama. Membawa sayur mayur segar ke kelas agar siswa memahami dan mensyukuri sayuran yang masih segar sebelum diolah, membawa makanan 4 sehat 5 sempurna untuk makan bersamasama. Sangat bagus dan menari. Pada dasarnya semua materi dapat Sebenarnya akan menarik Sangat bisa. Karena drama 61

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI guru, dapatkah pembelajara n tematik kelas V Tema 3 “Makanan Sehat” Subtema 2 “Pentingnya Makanan Sehat Bagi Tubuh”, dikemas dan disajikan dalam bentuk sosiodrama? Mengapa demikian? Apakah Bapak/Ibu guru membutuhka n naskah drama untuk mengajarkan pembelajara n tematik kelas V Tema 3 “Makanan Sehat” Subtema 2 “Pentingnya Makanan Sehat Bagi Tubuh”, ketika mengajarkan nya menggunaka n metode sosiodrama? Model pembelajaran ini akan membuat anak didik semakin mendalami materi pembelajaran dan tentunya akan lebih menarik serta berkesan. dipelajari dengan metode drama dengan membuatnya ke dalam narasi dengan dialogdialog pada setiap tokoh. Bulan lalu saya menerapkan drama dalam pelajaran IPS. bagi siswa, namun sepertinya pembelajaran drama akan sulit diterapkan di sini karena keterbatasan waktu dan saya harus mengejar materi pembelajaran. adalah sebuah metode belajar yang menyenangkan dan menggugah siswa untuk terlibat penuh dalam pembelajaran.. Terima kasih banyak kalau bersedia memberi naskah drama, dengan tangan terbuka saya menerima. Sangat membutuhkan, karena jarang sekali saya menemukan naskah drama untuk anak dan untuk pembelajaran, atau bahkan belum pernah ada. Ketika itu diciptakan sepertinya akan bagus dan menarik karena metode drama jarang sekali digunakan dalam pembelajaran. Membutuhkan karena selama ini pengembangan model drama masih jarang dditemukan berikut dengan naskah dan propertinya. Berdasarkan hasil wawancara kepada empat guru tersebut, peneliti menarik kesimpulan guru kelas V telah mengetahui tentang Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) dan memahami adanya keterkaitan antara materi pembelajaran tematik SD kelas V Tema 3 subtema 3 dengan PLH. Keempat guru kelas V yang menjadi narasumber belum pernah menerapkan metode 62

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI sosiodrama dalam pembelajaran tematik. Tiga guru merasa metode sosiodrama dapat diterapkan dalam pembelajaran tematik karena dapat menarik peserta didik untuk terlibat secara aktif, namun Ibu Angel merasa penerapan sosiodrama tidak bisa berjalan dengan efektif mengingat keterbatasan waktu dan guru perlu mengejar materi pembelajaran. Keempat guru narasumber juga menyatakan jika naskah sosiodrama yang memuat pembelajaran tematik dibutuhkan untuk memperkaya pengemasan pembelajaran. 2. Kuisioner Peneliti membuat pernyataan yang ditujukan kepada peserta didik kelas V, dengan tujuan untuk mengetahui kebiasaan peserta didik dalam menghabiskan makanan, pola makan, jenis makanan yang dimakan dan pengetahuan tentang seni pertunjukan. Pernyataan ini berkaitan dengan muatan pembelajaran pada tematik kelas V tema 3 subtema 2. Kuisioner diisi oleh 25 peserta didik dan dirangkum dalam tabel berikut ini. No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Tabel 4.2: Rangkuman Hasil Kuisioner Kesimpulan Pernyataan 76% peserta didik memiliki kebiasaan tidak menghabiskan makanan. 60% peserta didik tidak rutin makan nasi dengan sayur mayur. 52% peserta didik tidak rutin makan tiga kali sehari. 92% peserta didik pernah mengalami sakit perut karena terlambat makan. 64% peserta didik belum pernah melihat iklan di koran dan televisi tentang obat untuk menyembuhkan penyakit maag atau penyakit lain yang berkaitan dengan gangguan pencernaan. 96% peserta didik belum pernah belajar dengan menonton atau mempraktikkan pelajaran dengan tarian atau drama dalam pembelajaran tematik bersama guru. 84% peserta didik peserta didik tertarik untuk belajar di kelas dalam pembelajaran tematik sambil melakukan sebuah tarian atau drama. Berdasarkan kuisioner yang dibagikan kepada peserta didik, dapat diketahui bahwa masih banyak peserta didik yang memiliki kebiasaan menyisakan makanan yang disediakan. Hal ini menunjukkan, kebiasaan menyisakan makanan yang menjadi salah satu bentuk polusi lingkungan dalam Laudato Si’ dan keprihatinan Surat Gembala Hari Pangan Sedunia Ke36 Keuskupan Agung Semarang telah merambah sampai usia sekolah dasar. Hanya sedikit peserta didik makan nasi dengan sayur mayur yang sangat 63

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI berseberangan dengan kandungan makanan sehat. Pola makan teratur tiga kali sehari hanya ditemui tidak lebih dari separuh jumlah peserta didik di dalam kelas tersebut. Masih banyak dari mereka yang tidak rutin makan tiga kali sehari dan menyebabkan sakit perut akibat terlambat makan. Di kelas tersebut pula, jarang melakuka pembelajaran dengan melakukan kesenian pertunjukan, sedangkan materi kesenian tersebut terdapat dalam tematik kelas V Tema 3 dan Subtema 2. Dari hasil pengumpulan data inilah yang menjadi acuan peneliti untuk menciptakan produk dalam penelitian dan pengembangan. Produk yang dikembangkan berupa prototipe sosiodramadrama berjudul “Menghilangnya Sepiring Nasi”. Penyusunan sosiodrama berdasarkan data yang diperoleh guru dan peserta didik, dengan tujuan agar sosiodrama yang diciptakan sesuai dengan pembelajaran tematik, dapat digunakan oleh guru dalam pembelajaran atau pengembangan diri peserta didik berkaitan dengan seni peran melalui kegiatan ekstrakurikuler, serta memberikan kesadaran kepada peserta didik untuk mencintai lingkungan dengan menghabiskan makanan yang telah disediakan. 4.1.1.3 Desain Produk Hasil wawancara guru dan kuisioner peserta didik menjadi catatancatatan peneliti dalam mendesain prototipe sosiodrama. Prototipe sosiodrama mengambil judul “Menghilangnya Sepiring Nasi”. Sebelum penyusunan prototipe sosiodrama, peneliti menciptakan kisi-kisi yang berisi kandungan materi yang akan disampaikan dalam narasi dan dialog pada alur cerita, gambar sampul dan bagian-bagian naskah secara umum. A. Kisi-Kisi Pembuatan Prototipe Sosiodrama Isi Sosiodrama Sampul Naskah - 1 - Tabel 4.3: Kisi-kisi pembuatan prototipe sosiodrama Keterangan atau konten isi (dalam bentuk narasi, ilustrasi atau dialog) Berisi judul, gambar ilustrasi dan nama penulis naskah. Ilustrasi pada sampul naskah sosiodrama menggambarkan tentang adanya keterkaitan antara manusia dengan alam (LS, nomor.15) Latar belakang pembuatan sosiodrama : Laudato Si’ nomor 22, Data FAO tahun 2017, Surat Gembala Uskup Semarang tentang Hari Pangan Sedunia Ke-36 tahun 2018, pembelajaran tematik “Makanan Sehat”. Sinopsis sosiodrama : memberikan penjelasan pendidikan lingkungan 64

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 hidup dalam lingkup mengembangkan kesadaran menjaga lingkungan dalam aspek pengetahuan, perasaan dan keterampilan. - Sukses kognitif PLH dan pendidikan berbasis karakter. - Penjelasan tentang etika lingkungan hidup. - Keterangan tokoh, penokohan dan kru pementasan. - Sukses psikomor PLH dan pendidikan berbasis karakter - Tematik Kelas V Tema 3 Makanan Sehat Subtema 2: PKn. - Data FAO tentang banyaknya jumlah limbah makanan di Indonesia. - Tematik Kelas V Tema 3 Makanan Sehat Subtema 2: Bahasa Indonesia & IPS - Etika lingkungan hidup tentang pentingnya memelihara lingkungan dengan tidak membuang makanan. - Ensiklik Laudarto Si’ nomor 22 : ajakan untuk mencegah budaya membuang makanan. - Tematik Kelas V Tema 3 Makanan Sehat Subtema 2: SBdP. - Etika lingkungan hidup tentang hidup selaras dengan lingkungan. Cerita tentang Adi yang memasuki dunia dalam mimpi. - Tematik Kelas V Tema 3 Makanan Sehat Subtema 2: IPA & Bahasa Indonesia. - Tematik Kelas V Tema 3 Makanan Sehat Subtema 2: IPS & PKn. - Etika lingkungan hidup tentang menghargai, memperhatikan dan dengan tidak membuang makanan. - Sukses afektif PLH dan pendidikan berbasis karakter: tidak membuang makanan. - Isi Surat Gembala Peringatan Hari Pangan Sedunia Ke-36 Keuskupan Agung Semarang : membangun kebiasaan untuk tidak menyisakan dan membuang-buang makanan. - Jenis-jenis makanan sehat yang berasal dari alam/lingkungan sekitar. - Tematik Kelas V Tema 3 Makanan Sehat Subtema 2: SBdP. - Tematik Kelas V Tema 3 Makanan Sehat Subtema 2: IPA & IPS. B. Sampul Prototipe Sosiodrama Sampul prototipe sosiodrama terdiri dari tiga bagian, judul sosiodrama, gambar sampul dan nama penulis sosiodrama. Judul sosiodrama ditulis menggunakan huruf kapital pada awal kata, berwarna putih dengan warna latar hitam untuk memperjelas penulisan judul, menggunakan font huruf Times New Roman dengan ukuran 40. Gambar sampul adalah lukisan karya Jenny Satri berjudul “Maaf” yang dibuat di tahun 2018. Lukisan ini menggambarkan kedekatan seorang ibu dan anak yang merupakan simbol relasi manusia dengan alam yang memiliki kedekatan dan saling memiliki keterkaitan. Pada bagian bawah terdapat nama penulis sosiodrama, Kristophorus Divinanto, dengan font huruf Cedarville berukuran 21. Secara keseluruhan, sampul naskah didesain oleh Jenny Satri berdasarkan arahan dari peneliti. Nama desainer sampul tidak dicantumkan dalam naskah 65

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI berdasarkan permintaan dan persetujuan desainer. Berikut adalah gambar prototipe sosiodrama “Menghilangnya Sepiring Nasi”. Gambar 4.1: Sampul prototipe sosiodrama C. Bagian-Bagian Naskah Sosiodrama Secara Umum Naskah ini memiliki lima (5) bagian secara umum yaitu, latar belakang pembuatan naskah, sinopsis naskah, keterangan tokoh dan penokohan, cerita dan catatan naskah. Penjelasan dari setiap bagian adalah sebagai berikut: a. Latar Belakang Pembuatan Naskah Bagian ini berisi penjelasan materi pembelajaran tematik dan pendidikan lingkungan hidup tentang menghargai makanan yang terkandung dalam naskah dan sebagai acuan dalam penyusunan naskah. Pada bagian ini juga terdapat keterangan penggunaan naskah yang bukan hanya bisa digunakan dalam pembelajaran saja, melainkan dapat digunakan dalam kegiatan pentas seni sekolah dan ekstrakurikuler drama. b. Sinopsis Naskah Bagian ini masih tergabung dalam satu halaman yang sama dengan latar belakang pembuatan naskah. Bagian sinopsis naskah menerangkan tentang garis besar keseluruhan alur cerita dari awal pengenalan tokoh-tokoh, pengenalan konflik, konflik memuncak dan tahap penyelesaian cerita. Dapat dikatakan bagian ini menceritakan 66

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI keseluruhan naskah dalam bentuk narasi atau cerita pendek tanpa dialog. c. Keterangan Tokoh dan Penokohan Bagian ini berisi penjelasan tokoh yang terlibat dalam sosiodrama dan penjelasan tentang pembawaan atau penokohan dari setiap tokoh yang akan diperankan oleh peserta didik. Bagian ini akan memudahkan sutradara cerita (baik itu guru atau peserta didik), ketika memberikan pengarahan kepada pemeran tokoh pada tahap persiapan sosiodrama. d. Cerita Keseluruhan alur cerita terdapat dalam naskah ada dalam bagian ini. Cerita dalam naskah terdiri dari narasi dan dialog. Narasi memuat keterangan suasana, keterangan tempat dan arahan-arahan pemain untuk berpindah tempat dan keluar-masuk panggung. Narasi ini memudahkan guru atau peserta didik yang menjadi sutradara atau pengarah cerita, dalam memberikan arahan ketika tahap persiapan. Dialog yang diucapkan para tokoh juga terdapat pada bagian ini, disertai penjelasan gestur, intonasi dan ekspresinya. e. Catatan Naskah Catatan naskah memiliki fungsi sebagai opsional pelaksanaan sosiodrama. Bagian ini memberikan pilihan dan kemungkinan lain ketika sosiodrama tidak dapat digunakan seutuhnya dan mengalami beberapa hambatan, seperti keterbatasan ruang dan kebebasan improvisasi dialog. Selain itu, pada catatan naskah dijelaskan bahwa naskah tidak hanya bisa digunakan dalam pembelajaran melainkan bisa dikembangkan dalam kegiatan ekstrakurikuler. 4.1.1.4 Validasi Desain Produk Setelah desain produk selesai dibuat, desain produk yang dikembangkan dalam penelitian ini diberikan kepada validator untuk divalidasi. Proses validasi bertujuan untuk mengetahui kualitas desain produk yang dibuat. Validasi yang dilakukan dalam penelitian ini ialah memberikan validator 67

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI berupa satu amplop berisikan sosiodrama dan instrumen validasi serta alat tulis. Terdapat beberapa aspek dalam penilaian validasi desain produk antara lain halaman sampul, penggunaan bahasa, isi sosiodrama dan kesesuaian naskah dengan pembelajaran tematik kelas V tema 3. Dalam penelitian ini, desain produk divalidasi oleh lima (5) orang yang terdiri dari empat (4) guru SD dan satu (1) orang pegiat seni pertunjukan dan ahli bahasa. Kelima validator tersebut adalah Agustinus Nugrahanto, S.Pd (guru kelas V SD Pangudi Utami Temanggung), Robertus Indarto, S.Pd (guru kelas V SDK Sang Timur Yogyakarta dan anggota tim Adiwiyata sekolah), Ni Ayu Nevita Monatara, S.S (pegiat seni pertunjukan dan ahli bahasa, yang saat ini bekerja di Titimangsa Foundation di bawah naungan Happy Salma dan anggota dari Teater Mandiri sejak tahun 2014 di bawah asuhan Putu Wijaya), Florentina Pradita Setyaningsih, S.Pd (guru kelas V di SD Krista Gracia Klaten) dan Yoseph Sumaryanto, S.Pd (guru kelas III dan pembimbing ekstrakurikuler seni pertunjukan di SDK Sang Timur Yogyakarta). Hasil validasi dari kelima validator terangkum dalam tabel sebagai berikut. Tabel 4.4: Hasil validasi desain produk Guru SD Skor Kategori Agustinus Nugrahanto, S.Pd. 3,90 “Sangat Baik” Robertus Indarto, S.Pd. 3,80 “Sangat Baik” Florentina Pradita Setyaningsih, S.Pd. 3,95 “Sangat Baik” Yoseph Sumaryanto, S.Pd. 3,38 “Sangat Baik” Rata-rata Guru 3.75 “Sangat Baik” Ahli Bahasa dan Seni Pertunjukan Ni Ayu Nevita Monatara, S.S. Total nilai rata-rata validator Skor 3.71 3.73 Kategori “Sangat Baik” “Sangat Baik” Berdasarkan rangkuman data dalam tabel di atas, skor rata-rata dari validasi guru adalah 3.75 artinya “Sangat Baik”. Beberapa saran juga diberikan guru untuk memperbaiki kualitas prototipe sosiodrama. Saran yang diberikan mengenai keseuaian isi sosiodrama dengan pembelajaran tematik antara lain 1) pada muatan pembelajaran IPS perlu menambahkan dialog tentang manfaat nasi dan sayuran yang dihasilkan dari petani, 2) pada muatan pembelajaran SBdP memberi keterangan nama tari kreasi Bondan Kendhi dan 68

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Dewi Sri yang digunakan dalam visualisasi Adi memasuki dunia mimpi serta keterangan bahwa Adi sedang bermimpi, 3) pada muatan pembelajaran IPA menambahkan dialog tentang efek dari maag dan cara mengobatinya. Selain guru, validasi dari ahli bahasa dan seni pertunjukan juga memberikan penilaian dengan skor 3.71 dengan kategori “Sangat Baik”. Saran yang diberikan antara lain, 1) untuk penulisan perlu diteliti kembali karena masih ditemukan beberapa kesalahan penulisan, 2) dialog disesuaikan dengan bahasa anak kelas V SD, 3) untuk amanat sosiodrama perlu memunculkan dialog yang berisi ungkapan syukur manusia kepada Tuhan atas karunia yang diberikan alam sebagai sumber makanan, 4) perlu memunculkan ciri khas kerja petani yang menghasilkan beras dan sayuran sebagai bahan makanan pokok. Nilai rata-rata dari validator ahli bahasa, seni pertunjukan dan guru SD adalah 3.73 yang artinya prototipe “Sangat Baik” dan bisa diuji setelah peneliti melakukan revisi sesuai dengan saran mereka. 4.1.1.5 Revisi Desain Produk Peneliti melakukan revisi desain produk prototipe sosiodrama “Menghilangnya Sepiring Nasi” berdasarkan saran yang diberikan empat guru dan satu ahli bahasa, seni pertunjukan sebagai validator. Beberapa saran dari kelima validator peneliti rangkum ke dalam tabel berikut. No. 1. 2. 3. No. 1. Tabel 4.5: Rangkuman Saran Revisi Saran Validator Guru SD Revisi Menambahkan dialog tentang manfaat nasi dan sayutan yang Perlu menambahkan dialog tentang manfaat dihasilkan oleh petani dalam adegan nasi dan sayuran yang dihasilkan dari petani. makan siang Bunda bersama Adi. Menambahkan keterangan nama tari Pada muatan pembelajaran SBdP memberi kreasi Bondan Kendhi dan Dewi Sri keterangan nama tari kreasi Bondan Kendhi yang digunakan dalam visualisasi dan Dewi Sri yang digunakan dalam Adi memasuki dunia mimpi, serta visualisasi Adi memasuki dunia mimpi serta keterangan Adi sedang bermimpi. keterangan bahwa Adi sedang bermimpi. Menambahkan dialog tentang efek Pada muatan pembelajaran IPA dari maag dan cara mengobatinya menambahkan dialog tentang efek dari maag dalam adegan berita yang dibacakan dan cara mengobatinya. di televisi. Saran Validator Ahli Bahasa & Seni Pertunjukan Dalam adegan Adi berdialog dengan Dewi, dialog disesuaikan dengan bahasa anak kelas V SD karena dirasa dialog dalam sosiodrama 69 Revisi Memperbaiki dialog agar sesuai dengan bahasa anak usia sekolah dasar sehari-hari.

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. 3. masih terlalu kaku dan formal untuk usia anak sekolah dasar. Dalam dialog perlu dimunculkan ungkapan syukur manusia kepada Tuhan atas karunia yang diberikan alam sebagai sumber makanan. Perlu memunculkan keluhan petani yang telah menghasilkan beras dan sayuran sebagai bahan makanan pokok, namun malah dijadikan bahan olok-olok di media sosial. Menambahkan dialog tentang ungkapan syukur manusia kepada Tuhan atas karunia yang diberikan alam sebagai sumber makanan. Menambahkan dialog tentang keluhan petani akibat dijadikan bahan olok-olok di media sosial, dalam berita yang dibacakan di televisi. Berdasarkan saran-saran dari para validator, peneliti melakukan proses revisi desain untuk memperbaiki kualitas ptototipe sosiodrama agar layak digunakan dalam pembelajaran. Pembetulan atau revisi keseluruhan sosiodrama peneliti rangkum dalam bentuk tabel dengan menampilkan ptototipe produk ketika belum melalui proses validasi dan setelah direvisi oleh peneliti. Berikut adalah tabel rangkuman revisi produk prototipe sosiodrama “Menghilangnya Sepiring Nasi” berdasarkan saran yang diberikan validator guru SD dan ahli bahasa, seni pertunjukan. Prototipe yang telah direvisi berdasarkan dengan saran validator ditandai dengan adanya teks yang diberi warna merah. Berikut adalah rekap revisi produk berdasarkan saran dari kelima validator : 1. Revisi Berdasarkan Saran Validator – 1 o Saran validator : Perlu menambahkan dialog tentang manfaat nasi dan sayuran yang dihasilkan dari petani. o Revisi : Menambahkan dialog dialog tentang manfaat nasi dan sayuran yang dihasilkan dari petani di halaman 5 dan menjadi dialog yang diucapkan oleh penyiar. 70

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. Revisi Berdasarkan Saran Validator - 2 o Saran validator : Perlu ditambahkan keterangan nama tarian kreasi di dalam naskah. o Revisi : Menambahkan keterangan tarian kreasi di dalam keterangan penata latar di dalam naskah halaman 7 3. Revisi Berdasarkan Saran Validator – 3 o Saran validator : Perlu memberi tambahan dialog atau keterangan tentang efek dari maag dan alternatif pengobatannya. o Revisi : Menambahkan keterangan efek dari maag dan alternatif pengobatannya pada dialog yang disampaikan oleh penyiar berita di naskah halaman 9. 4. Revisi Berdasarkan Saran Validator – 4 o Saran validator : Perlu ditambahkan dialog tentang ungkapan syukur manusia kepada Tuhan atas karunia yang diberikan alam sebagai sumber makanan. o Revisi : Menambahkan dialog ungkapan syukur manusia kepada Tuhan pada dialog yang diucapkan Dewi di halaman 11. 71

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5. Revisi Berdasarkan Saran Validator – 5 o Saran validator : Dialog antara Adi dan Dewi ketika di kelas perlu diperbaiki karena dirasa terlalu kaku untuk bahasa komunikasi anak SD. o Revisi : Memperbaiki dialog Adi dan Dewi ketika adegan berdialog di kelas pada naskah halaman 10. 6. Revisi Berdasarkan Saran Validator – 6 o Saran validator : Perlu memunculkan keluhan petani yang telah menghasilkan beras dan sayuran sebagai bahan makanan pokok, namun justru dijadikan bahan cemooh di media sosial. o Revisi : Memunculkan keluhan petani di dalam berita yang dibacakan oleh penyiar berita di dalam naskah halaman 4. 72

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.1.1.6 Uji Coba Produk Uji coba produk dilakukan setelah peneliti melakukan revisi desain prototipe sosiodrama sesuai dengan saran yang diberikan oleh validator. Peneliti melakukan uji coba produk di SDK Sang Timur Yogyakarta yang yang terletak di Jalan Batikan No.7 Pandeyan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta. Uji coba terbatas diikuti oleh 26 peserta didik dari kelas V-B yang terdiri dari 12 peserta didik laki-laki dan 14 peserta didik perempuan. Uji coba terbatas dilakukan dua kali di hari yang berbeda. Uji coba dilakukan dalam dua situasi berbeda yaitu dilakukan ketika kegiatan ekstrakurikuler di luar jam pembelajaran dan yang kedua dilakukan ketika kegiatan pembelajaran tematik. Peneliti menerapkan dua peraturan yang berbeda dalam melakukan uji coba, yaitu ketika uji coba di jam ekstrakurikuler, peserta didik diperbolehkan untuk berdialog dengan membawa naskah. Sedangkan ketika di dalam pembelajaran tematik, peserta didik perlu berdialog tanpa memegang teks. Uji coba pertama dilakukan ketika jam ekstrakurikuler di hari Kamis, 15 November 2018. Dari uji coba pertama, peneliti melihat peserta didik kurang menghayati cerita karena sibuk memegang teks. Dikarenakan fokus penelitian lebih ke penggunaannya di dalam pembelajaran tematik, maka peneliti tidak melakukan refleksi ketika uji coba pertama. Berikut merupakan dokumentasi ketika pelaksanaan uji coba pertama yaitu ketika kegiatan ekstrakurikuler Gambar 4.2 Pelaksanaan Uji Coba-1 Adegan “Warung Nyai Jinawi” 73

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Uji coba kedua dilakukan pada hari Senin, 19 November 2018. Tujuan dari uji coba produk adalah mengetahui keefektifan dan kualitas, berkaitan dengan produk sosiodrama dapat diterapkan dalam pembelajaran tematik kelas V tema 3 subtema 2 atau tidak. Pada awal uji coba, peneliti menjelaskan terlebih dahulu gambaran besar cerita sosiodrama berjudul “Menghilangnya Sepiring Nasi”. Peneliti menyampaikan garis besar alur berjalannya cerita dan peran-peran yang akan muncul dalam cerita. Setelah itu, peneliti membagi peran-peran tersebut kepada peserta didik. Beberapa peserta didik menawarkan diri untuk memainkan peran yang telah dijelaskan sebelumnya. Setelah peserta didik menerima perannya masing-masing, peneliti dan beberapa peserta didik mempersiapkan latar tempat dan properti yang digunakan dalam sosiodrama. Setelah pemain dan latar siap digunakan, pertunjukan sosiodrama dimulai. Setiap peserta didik memainkan peran sesuai dengan arahan dalam naskah, dengan menambahkan beberapa dialog improvisasi tambahan. Proses sosiodrama berjalan dengan lancar dan ceria. Berikut merupakan beberapa gambar pelaksanaan sosiodrama “Menghilangnya Sepiring Nasi” bersama peserta didik kelas V-B SDK Sang Timur Yogykarta. Gambar 4.3 Pelaksanaan Uji Coba-2 Adegan “Penyiar Berita” Adegan pembacaan berita oleh reporter, tentang ajakan untuk tetap memiliki pola makan teratur dan makan makanan yang sehat untuk mencegah gangguan organ pencernaan. 74

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Gambar 4.4 Pelaksanaan Uji Coba-2 Adegan “Adi dan Bunda” Adegan Bunda sedang mempersiapkan makan siang untuk Adi yang barusan pulang dari sekolah dan Bunda mengingatkan Adi untuk menghabiskan makanan yang telah disediakan. Gambar 4.5 Pelaksanaan Uji Coba-2 Adegan “Adi Masuk Dunia Mimpi” Adegan Adi yang memasuki dunia mimpi dengan visualisasi cuplikan gerakan tari kreasi Dewi Sri. Tarian tidak dilakukan secara utuh mengingat keterbatasan ruang dan waktu. Gambar 4.6 Pelaksanaan Uji Coba-2 Adegan “Adi Makan di Warung Nyai Jinawi” Adegan Adi menemukan warung yang menjual nasi bernama Warung Nyai Jinawi. Adi makan di sana dengan lahap dan Nyai Jinawi merasa senang karena Adi makan dengan lahap dan menghabiskan makanannya. 75

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Gambar 4.7 Pelaksanaan Uji Coba-2 Adegan “Adi Terbangun” Adegan Adi setelah terbangun dari tidurnya dan bercerita kepada Bunda tentang mimpi yang barusan dialaminya. Adi menyesal dan berjanji kepada Bunda untuk menghargai makanan dengan tidak memiliki kebiasaan menyisakan makanan yang disediakan. Setelah kedua kelompok selesai bermain peran, peneliti membagikan lembar refleksi yang berisi enam (6) buah pertanyaan berkaitan dengan muatan pembelajaran tematik yang terkandung dalam tema 3 subtema 2. Lima item soal bernilai 1 poin dan satu item soal bernilai 5 poin karena menceritakan tentang amanat dan pesan-pesan dalam sosiodrama berkaitan dengan pembelajaran tematik dan pendidikan lingkungan hidup. Gambar 4.8 Pelaksanaan Uji Coba-2 “Peserta Didik Menulis Refleksi” Peserta didik mengisi lembar refleksi secara mandiri berdasarkan kesan, pengalaman dan pemahaman tentang sosiodrama “Menghilangnya Sepiring Nasi”. Setelah seluruh peserta didik di kelas V-B menuliskan refleksi tentang proses pelaksanaan sosiodrama yang baru saja dilakukan, peneliti melakukan 76

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI rekap terhadap jawaban yang dituliskan peserta didik. Berikut merupakan hasil rekap refleksi dari proses uji coba prototipe sosiodrama. Tabel 4.7: Rekap Hasil Refleksi Uji Coba Prototipe Sosiodrama No 1. 2. 3. 4. Soal Sosiodrama berjudul “Menghilangnya Sepiring Nasi” mengingatkanmu untuk menghargai jasa para petani sebab …. Tokoh Adi memiliki kebiasaan tidak menghabiskan makanan yang disediakan Bundanya. Kebiasaan tersebut tidak baik karena ….. Adi bermimpi melihat tarian Dewi Sri. Tarian kreasi tersebut menceritakan tentang puji syukur para petani atas hasil bumi yang melimpah dan tentang pentingnya manusia untuk merawat lingkungan sebagai sumber ….. Salah satu bentuk merawat lingkungan adalah dengan cara menghabiskan makanan, karena …. Jumlah peserta didik dengan jawaban sejenis Skor Rerata skor tiap nomor 26 4 4 25 4 3.84 1 1 0.03 23 peserta didik menjawab lingkungan sebagai sumber makanan mentah yang akan dimakan manusia untuk makanan sehari-hari. 1 peserta didik menjawab lingkungan sebagai sumber makanan. 2 peserta didik menjawab lingkungan sumber penghasil makanan mentah. 26 4 4 21 peserta didik menjawab makanan yang berasal dari alam bermanfaat menyehatkan tubuh,. 3 peserta didik menjawab makanan dari alam berguna untuk tubuh kita agar tetap sehat. 25 4 3.84 Jawaban 23 peserta didik menjawab sebab petani bekerja sebagai penyedia dan penanam bahan makanan mentah. 3 peserta didik menjawab petani bekerja untuk menanam dan menyediakan makanan mentah. 25 peserta didik menjawab Adi tidak menghargai makanan, kebiasaan tersebut adalah kebiasaan menyia-nyiakan makanan dan tidak menghargai Bunda 1 peserta didik menjawab kebiasaan Adi tidak dapat ditiru. 77

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1 peserta didik menjawab karena membuang makanan adalah perbuatan yang mencemari lingkungan. 5. 6. Dalam cerita sosiodrama, kebiasaan tidak menghabiskan makanan dan tidak memiliki pola makan teratur dapat mengakibatkan … Pesan yang kamu tangkap setelah memainkan/memb acakan/menonton sosiodrama berjudul “Menghilangnya Sepiring Nasi” adalah …. 1 peserta didik menjawab makanan sulit didapat. 10 peserta didik menjawab tidak memiliki pola makan teratur bisa menyebabkan sakit maag. 9 peserta didik menjawab sakit gangguan pencernaan salah satunya adalah maag. 4 peserta didik menjawab memiliki pola makan tidak teratur menyebabkan gangguan organ pencernaan. 2 peserta didik menjawab tidak makan teratur menyebabkan sakit perut. 1 peserta didik menjawab kemarahan orang tua. 26 peserta didik menjawab menghargai makanan, menghabiskan makanan, tidak membuang makanan, menghargai Bunda, memiliki pola makan teratur, menghargai petani, jika kita membuang makanan sama saja dengan merusak lingkungan, tidak menghargai alam yang sudah menyediakan makanan dan tidak menghormati orang tua yang sudah bekerja keras menyediakan makanan. Setiap peserta didik bisa menyebutkan lima sampai enam amanat setelah melakukan dan menyaksikan sosiodrama. Jumlah Rata-rata uji coba = 1 1 0.03 25 4 3.84 1 1 0.03 26 4 4 23.6 3.93 Refleksi uji coba terbatas terdiri dari enam (6) pertanyaan dengan masing-masing skor. Berdasarkan hasil rekap refleksi uji coba prototipe 78

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI sosiodrama yang diikuti oleh 26 peserta didik kelas di V-B di SDK Sang Timur, diketahui bahwa prototipe sosiodrama “Menghilangnya Sepiring Nasi” yang digunakan dalam pembelajaran tematik kelas V tema 3 subtema 2 membantu peserta didik untuk: 1. Memiliki kesadaran untuk menghabiskan makanan sebagai salah satu bentuk upaya untuk tidak menambah perilaku buruk membuang makanan seperti yang tercantum dalam Ensiklik Laudato Si’ nomor 22. 2. Menghargai petani sebagai penanam dan penyedia bahan makanan mentah yang sesuai dengan ajakan Mgr. Rubiyatmoko dalam Surat Gembala Peringatan Hari Pangan Ke-36. 3. Mensyukuri pekerjaan para petani sebagai penanam bahan makanan mentah yang berperan penting dalam ketersediaan makanan yang merupakan wujud dari toleransi tentang keberagaman pekerjaan yang ada di lingkungan sekitar. 4. Memiliki kesadaran tentang manfaat penting untuk merawat lingkungan yang merupakan salah satu etika lingkungan hidup sebab semua sumber makanan berasal dari lingkungan. 5. Memahami materi dalam muatan pembelajaran tematik tema 3 subtema 2 yaitu mengetahui salah satu penyakit gangguan pencernaan akibat tidak memiliki pola makan yang teratur, mengetahui iklan yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari dan memahami tari kreasi Dewi Sri yang merupakan tarian tentang kisah para petani dan ungkapan syukur para petani. 4.1.2 Kualitas Produk Sosiodrama telah divalidasi oleh empat orang guru SD dan satu orang ahli bahasa serta pegiat seni pertunjukan. Empat guru SD tersebut adalah Pak Agus, Bu Dita, Pak Yoseph dan Pak Indarto. Validator ahli bahasa dan seni pertunjukan adalah Nevita. Hasil dari masing-masing validator guru SD adalah, Pak Agus dengan nilai 3.90, Bu Dita dengan nilai 3.95, Pak Yoseph dengan nilai 3.38 dan Pak Indarto dengan nilai 3.80. Keseluruhan nilai dari validator guru berada dalam kategori “Sangat baik” dengan rata-rata validasi 79

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI guru yaitu 3.75. Angka tersebut menunjukkan validasi guru tentang sosiodramaberada dalam kategori “Sangat Baik”. Sedangkan Nevita memberikan nilai 3.71 dengan kategori “Sangat Baik”. Secara keseluruhan, skor rata-rata dari kelima validator adalah 3.73 dengan kategori “Sangat Baik”. Setelah melakukan proses revisi desain produk, prototipe sosiodrama diujicobakan secara terbatas kepada 26 peserta didik kelas V di SDK Sang Timur Yogyakarta. Perolehan skor pelaksanaan uji coba prototipe sosiodrama adalah 3.93 yaitu masuk kategori “sangat baik”, dengan catatan terdapat tiga peserta didik yang masih belum bisa memahami materi pembelajaran iklan dan memahami kebiasaan membuang makanan menjadi salah satu bentuk polusi lingkungan. 4.2 Pembahasan Berdasarkan hasil validitas produk yang dilakukan oleh kelima validator, nilai rata-rata validasi produk prototipe sosiodrama adalah 3.73 dengan kategori sangat baik sehingga prototipe sosiodrama layak untuk diujicobakan kepada peserta didik. Uji coba dilakukan di SDK Sang Timur Yogyakarta pada tanggal 19 November 2018 bersama 26 peserta didik kelas V-B sebagai peserta pelaksanaan sosiodrama. Setelah melakukan uji coba, prototipe memperoleh skor 3.93 yang masuk dalam kategori sangat baik yang berarti peserta didik memahami isi dari sosiodrama “Menghilangnya Sepiring Nasi” yang memuat materi Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) tentang kesadaran menghabiskan makanan yang menjadi ajakan Paus Fransiskus dalam Laudato Si’ dan dipertegas dalam Surat Gembala Peringatan Hari Pangan Ke-36 yang ditulis oleh Mgr. Rubiyatmoko selaku Uskup Keuskupan Agung Semarang. Prototipe sosiodrama dinilai baik sehingga dapat digunakan guru sebagai metode belajar di SD sebab naskah sosiodrama disusun dengan: a. Disusun sesuai dengan tujuan naskah fungsional dan memperhatikan toeri dramaturgi Naskah fungsional menurut Seno merupakan naskah yang disusun dengan tujuan untuk disebarkan dan dipertontonkan guna memperoleh 80

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI keuntungan atau sebagai metode penyampaian informasi. Prototipe naskah sosiodrama “Menghilangnya Sepiring Nasi” merupakan naskah fungsional yang disusun untuk mengajarkan kepada peserta didik untuk memiliki kebiasaan menghabiskan makanan. Selain itu, prototipe sosiodrama menjadi sebuah metode untuk melakukan pembelajaran tematik kelas V tema 3 subtema 2. Selain memperhatikan tujuan penyusunan naskah, prototipe naskah sosiodrama “Menghilangnya Sepiring Nasi” disusun berdasarkan teori dramaturgi Goffman yang menekankan penulis naskah perlu menulis naskahnya dengan melihat dari dua sudut pandang yaitu sudut pandang penonton dan sudut pandang pemain. Di dalam prototipe naskah “Menghilangnya Sepiring Nasi”, teori dramaturgi diterapkan pada keterangan tentang penataan latar tempat yang berkaitan dengan titik para pemain menempatkan diri dan arah pemain bergerak. Hal ini dilakukan agar penonton dapat memahami jalannya cerita dan memudahkan para pemain untuk berpindah tempat. b. Memuat pembelajaran tematik kelas V tema 3 “Makanan Sehat” subtema 2 “Pentingnya Makanan Sehat Bagi Tubuh” Muatan-muatan pelajaran dalam tematik kelas V tema 3 subtema 2 antara lain adalah IPA, Bahasa Indonesia, SBdP, PKn dan IPS. Muatan pelajaran IPA mempelajari gangguan organ pencernaan dan makanan sehat, IPS tentang interaksi manusia dengan lingkungan, PKn mempelajari keberagaman sosial terkait pekerjaan atau budaya dan muatan pelajaran Bahasa Indonesia tentang muatan iklan dan SBdP tentang tari kreasi. Naskah sosiodrama yang dijadikan metode belajar membantu untuk memunculkan kesadaran pada setiap peserta didik untuk memiliki pola makan teratur yang menjadi salah satu cara untuk menghindari penyakit akibat gangguan organ pencernaan seperti yang diajarkan pada muatan pembelajaran IPA. Di dalam sosiodrama, adegan ini terlihat pada teguran Dewi kepada Adi agar tetap makan dengan teratur meskipun tidak 81

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ada nasi. Materi pemahaman tentang iklan di muatan pembelajaran Bahasa Indonesia terdapat dalam adegan penyiar berita yang membacakan iklan tentang produk pengganti vitamin sehari-hari. Melalui adegan tersebut, peserta didik akan belajar tentang unsur-unsur yang ada di dalam sebuah iklan. Peserta didik yang memiliki kesadaran untuk memiliki pola makan yang teratur dan tidak menyisakan makanannya menjadi sebuah bentuk ungkapan syukur dan memberi penghargaan kepada profesi petani yang ada di sekitar mereka. Keberagaman pekerjaan dan sikap menghargai yang terkandung dalam sosiodrama, merupakan capaian pembelajaran pada muatan pembelajaran IPS dan PKn dalam pembelajaran tematik tentang sikap toleransi tentang keberagaman profesi dan bentuk interaksi manusia kepada lingkungan sekitar. Salah satu adegan dalam sosiodrama menceritakan tentang masuknya Adi ke dunia mimpi ditandai dengan tarian Dewi Sri/Bondan Kendhi yang merupakan contoh dari tari kreasi yang menjadi materi dalam muatan SBdP yang ada dalam materi tematik yang sedang diajarkan. Muatan pelajaran yang ada di dalam tema 3 subtema 2 digambarkan dalam sosidorama dan memiliki perannya sendiri sebagai sebuah metode pembelajaran tematik untuk kelas V. c. Memuat pesan ensiklik Laudato Si’ dan ajakan dalam Surat Gembala Peringatan Hari Pangan Ke-36 Keuskupan Agung Semarang tentang ajakan untuk mengurangi kebiasaan membuang makanan / throw away culture Ensiklik Laudato Si’ adalah ensiklik yang ditulis Paus Fransiskus dan diterbitkan pada 18 Juni 2015. Di dalam ensiklik Laudato Si’, Paus Fransiskus menekankan polusi pangan yang terjadi akibat kebiasaan membuang makanan atau “throw away culture”. Polusi pangan akibat menumpuknya sisa makanan telah menjadi masalah yang serius. Hal ini dikatakan oleh Bapa Paus Fransiskus bahwa sepertiga makanan yang telah diproduksi di seluruh dunia terbuang percuma. Tokoh Adi dalam sosiodrama “Menghilangnya Sepiring Nasi” merupakan penggambaran 82

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI sikap manusia saat ini yang memiliki kebiasaan menyisakan dan membuang makanan yang menjadi cerminan kebiasaan buruk manusia yang menjadi keprihatinan Paus Fransiskus dalam Laudato Si’. Di dalam Laudato Si’, Paus Fransiskus mengajak seluruh umat manusia untuk melakukan refleksi ekologis tentang beragam krisis lingkungan hidup salah satunya refleksi tentang polusi pangan. Di dalam krisis polusi pangan akibat maraknya kebiasaan membuang makanan yang menjadi salah satu faktor penyebab kerusakan lingkungan, Paus Fransiskus mengajak untuk setiap manusia memakan makanan yang disediakan sampai habis tanpa ada sisa. Ajakan ini kemudian menjadi esensi Mgr. Rubiyatmoko menulis ajakan serupa dalam Surat Gembala Peringatan Hari Pangan Ke-36. Surat ini dibacakan dalam perayaan ekaristi di seluruh Keuskupan Agung Semarang pada tanggal 27 September 2018. Di dalamnya, Mgr. Rubi mengajak umat sekalian untuk membiasakan diri memiliki habitus (kebiasaan) yang baik salah satunya adalah membangun kebiasaan untuk tidak menyisakan dan membuang-buang makanan.Di dalam sosiodrama “Menghilangnya Sepiring Nasi”, amanat ini ditemukan di dalam dialog Bunda yang meminta Adi untuk menghabiskan makanannya sebagai salah satu cara untuk menghargai dan merawat lingkungan. 4.3 Kelebihan dan Kekurangan Produk Data yang diperoleh peneliti dari validasi produk membantu peneliti untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan produk prototipe sosiodrama “Menghilangnya Sepiring Nasi” yang disusun oleh peneliti. Kelebihan dan kekurangan produk akan dijelaskan sebagai berikut. 4.3.1 Kelebihan Produk Prototipe sosiodrama “Menghilangnya Sepiring Nasi” memiliki beberapa kelebihan antara lain, 1) dikembangkan berdasarkan muatan pembelajaran tematik SD kelas V tema 3 subtema 2 sehingga dapat digunakan sebagai metode pembelajaran sebagai variasi kegiatan belajar mengajar, 2) sesuai dengan aspek dalam etika lingkungan hidup yang 83

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI mendukung keselarasan hidup manusia dengan lingkungan sekitar, 3) membahas salah satu kegelisahan tentang permasalahan lingkungan hidup yang tertulis di Laudato Si’ secara khusus persoalan polusi pangan akibat kebiasaan manusia menyisakan makanan yang menjadi salah satu penyebab kerusakan lingkungan, dan 4) mendukung dan menerapkan ajakan Mgr. Rubiyatmoko selaku Uskup Keuskupan Agung Semarang agar setiap orang memiliki habitus baik terhadap pangan salah satunya mengajak untuk tidak menyisakan makanan, dan 5) dikembangkan berdasarkan teori tujuan penulisan naskah dan teori dramaturgi 4.3.2 Kekurangan Produk Prototipe sosiodrama “Menghilangnya Sepiring Nasi” memiliki beberapa kekurangan antara lain: 1) prototipe naskah hanya diujicobakan di satu sekolah saja yaitu hanya di SDK Sang Timur Yogyakarta, 2) prototipe sosiodrama hanya sesuai untuk digunakan untuk pembelajaran kelas atas terutama kelas V, dan 3) naskah prototipe sosiodrama “Menghilangnya Sepiring Nasi” disusun berdasarkan kebudayaan lingkungan di sekitar peneliti yang kental dengan kultur budaya Jawa. Hal ini menyebabkan beberapa unsur di dalam naskah merupakan penggambaran masyarakat Jawa itu sendiri. Beberapa unsur naskah yang kental dengan budaya Jawa antara lain seperti karakteristik Bunda Adi, jenis makanan yang dimakan dan tindakan Bunda mengambilkan makanan untuk Adi. 84

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V PENUTUP Uraian dalam bab ini terdiri dari kesimpulan, keterbatasan penelitian dan saran penelitian. 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang terdapat dalam keseluruhan penelitian, kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 5.1.1 Prosedur pengembangan prototipe sosiodrama “Menghilangnya Sepiring Nasi” menggunakan enam langkah penelitian pengembangan menurut Borg & Gall yaitu: 1) mempelajari dampak dari kebiasaan menyisakan makanan yang merupakan wujud dari tindakan yang merusak lingkungan, 2) memberikan kuisioner kepada peserta didik berkaitan dengan kebiasaan menghabiskan makanan dan instrumen wawancara kepada empat guru sekolah dasar untuk mengetahui minat guru menggunakan sosiodrama sebagai metode pembelajaran tematik, 3) menyusun prototipe naskah berdasarkan kisi-kisi yang telah disusun, 4) naskah divalidasi oleh 4 guru SD dan 1 seniman pertunjukan, 5) merevisi prototipe naskah berdasarkan saran dari validator, dan 6) melakukan uji coba produk bersama peserta didik kelas V-B di SDK Sang Timur Yogyakarta. 5.1.2 Dari hasil validasi yang dilakukan oleh empat guru sekolah dasar dan seorang seniman pertunjukan, prototipe sosiodrama mendapatkan skor rata-rata 3.73 yang artinya “sangat baik” serta para validator memberikan beberapa catatan revisi untuk menyempurnakan prototipe. Hasil refleksi yang dilakukan oleh 26 peserta didik kelas V SDK Sang Timur Yogyakarta, prototipe mendapatkan skor 3.84 ketika melakukan refleksi tentang kesadaran peserta didik untuk menghabiskan makanan yang disediakan. Dengan perolehan skor yang diperoleh berdasarkan hasil refleksi setelah pelaksanaan sosiodrama tersebut, prototipe naskah sosiodrama masuk dalam kategori “sangat baik” 85

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5.2 Keterbatasan Penelitian Prototipe sosiodrama yang dikembangkan peneliti dalam penelitian dan pengembangan ini mempunyai keterbatasan, yakni: 5.2.1 Prototipe yang dikembangkan hanya bisa digunakan untuk peserta didik SD kelas V. 5.2.2 Prototipe hanya diujicobakan hanya pada satu sekolah saja. 5.2.3 Prototipe naskah sosiodrama dikembangkan dengan latar belakang peneliti yang ada di tengah kultur budaya Jawa sehingga cerita dalam prototipe naskah kurang sesuai dengan kebudayaan di luar kebudayan Jawa. 5.3 Saran Penelitian Berdasarkan keterbatasan penelitian, saran yang diberikan kepada peneliti selanjutnya yang akan mengembangkan produk Prototipe Sosiodrama Berbasis Pendidikan Lingkungan Hidup dan Pembelajaran Tematik Kelas V Tema 3 Subtema 2 antara lain: 5.3.1 Mengembangkan prototipe naskah agar bisa digunakan untuk peserta didik kelas atas lainnya dan peserta didik kelas bawah. 5.3.2 Melakukan uji coba naskah di lebih dari satu sekolah. 5.3.3 Mengembangkan prototipe naskah sosiodrama dengan latar belakang yang lebih umum secara latar belakang kultur budaya agar dapat digunakan dan dipahami oleh peserta didik di luar kebudayaan Jawa. 86

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Ahmadi, Abu. (2005). Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka Setia. Akbar, R. (2002). Psikologi Perkembangan Anak. Jakarta: PT Grasindo. Amsyari, F. (2012). Dasar-Dasar dan Metode Perencanaan Lingkungan Hidup Dalam Pembangunan Nasional. Jakarta: Widya Medika. Arifin, A. (2011). Penelitian Pendidikan Metode dan Paradigma Baru. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Arikunto, Suharsimi. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT Rineka Cipta. Auliana, R. (2012). Gizi Seimbang untuk Anak. Yogyakarta: UNY Press. Baharudin Supardi. (2009). Berbakti untuk Bumi. Bandung: Rosadkarya. Bahri Djamarah, Saifullah. (2006). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta. Barlia, Lily. (2008). Teori Pembelajaran Lingkungan Hidup di Sekolah Dasar. Subang: Royyan Press. Barlia, Lily. (2010). Mengajar dengan Pendekatan Lingkungan Alam Sekitar. Bandung: Royyan Press. Clark, N. (1990). Nutrition Guide Book: Eating and Full Your Active Lifestyle. USA: Leesure Press. Damayanti, D. (2011). Makanan Anak Usia Sekolah. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Djoko Damono, Sapardi. (1983). Sastra Lisan Indonesia. Jakarta: ASEAN Committee on Culture and Information. Efendi, Joko Santoso Anwar. (2005). Aku Mampu Berbahasa dan Bersastra Indonesia. SMA XI. Surabaya: SIC. Erving, Goffman. (1995). The Presentation of Self in Everyday Life. New Jersey: Upper Sadle River. Fien, John. (1997). Education for the Environment. Victoria: Deakin University. Fransiskus. (2015). Ensiklik Laudato Si’. Jakarta: Obor. Gumira Ajidarma, Seno. (2000). Layar Kata. Jakarta: Bentang. Hamlah, Syukri. (2013). Seklumit Wawasan Pengantar Pendidikan Lingkungan. Bandung: Refika Aditama. Hamzah B, Uno. (2009). Teori Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta: Bumi Aksara. Jati Kusuma, Rio. (2018). Empat Sehat, Lima Tak Lagi Sempurna. Yogyakarta: UGM Press. 87

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Judarwanto, W. (2017). Mengatasi Kesulitan Makan pada Anak. Jakarta: Puspa Swara. Kasali, Rhenald. (1992). Manajemen Periklanan: Konsep dan Aplikasinya di Indonesia. Jakarta: Pustaka Utama Grafity. Keraf, A Sonny. (2005). Etika Lingkungan Hidup. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara. Khasanah, Nur. (2012). Waspadai Beragam Penyakit Degeneratif Akibat Pola Makan. Yogyakarta: Laksana. Krondorfer, Bjorn. (1992). Body & Bible. Austria: Trinity Press. Kusuma Wisangnuari, Secundina. (2017). “Pengembangan Buku Cerita Bergambar Berbasis Pendidikan Lingkungan Hidup Untuk Pembelajaran Membaca Siswa Kelas III SD Kanisius Kumendaman Yogyakarta”. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Margareta, Windayana. (2005). Pembelajaran Tematik Terpadu. Jakarta: Balai Pustaka. Nisa, Mardiyatun. (2013). “Metode Sosiodrama Dalam Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar Kelas IV”. Kebumen: Universitas Negeri Surakarta. Nurgiyantoro, B. (2005). Sastra Anak Pengantar Pemahaman Dunia Anak. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 57 Tahun 2014 Tentang Kurikulum 2013 Lampiran 3. Pitzele, Peter. (1998). Scripture Windows: Towards a Practice of Bibliodrama. Los Angeles: Alef Design Group. Rehan. (2009). Penyakit Maag. Bandung: Pioneer Jaya. Rejeki Merdekawaty, Sri. (2010). Tari Kreasi Baru Nusantara. Bogor: Horizon. Roestiyah. (2001). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta. Rubiyatmoko. Robertus. (2018). Keluarga Sebagai Komunitas Berbagi Pangan. Surat Gembala: Peringatan Hari Pangan Sedunia Ke-36 Keuskupan Agung Semarang. Rusman (2011). Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Setyowati. (2007). Perkembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Kencana. Simbolon, Bintang Rumondang. (2010). Paket Materi Pembelajaran Inkuiri dalam Pendidikan Lingkungan Hidup untuk Meningkatkan Perilaku Berwawasan Lingkungan Siswa SD di Jakarta. Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembangunan Berkelanjutan. Volume XI Nomor 02. Soedarsono. (2012). Metode Pengembangan Fisik . Jakarta: Universitas Terbuka. 88

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Stanford, Encyclopedia of Psychology. (2008). Environmental Ethics. Standford Education: Plato. Suaedi, Tantu. (2016). Pembelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup. Bogor: IPB Press. Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta. Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta. Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta. Sugiyono. (2015). Metode Penelitian Research & Development (R&D). Bandung: Alfabeta. Sutrisno. (2014). Tematik Berbasis PLH, PLH Berbasis Tematik. Sidoarjo: Grafura. Supriyadi. (2006). Pembelajaran Sastra yang Apresiasif dan Integratif di Sekolah Dasar. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Tim MKU PLH Unnes. (2014). Buku Ajar Pendidikan Lingkungan Hidup. Semarang: Universitas Negeri Semarang. Warmbrand. (2000). Public Health. Bandung: Pioneer Jaya. Widyatama, Rendra. (2007). Pengantar Periklanan. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher. Widoyoko. (2014). Teknik Penyusunan Instrumen Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Wina, Sanjaya. (2006). Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Wiyanto, Asul. (2011). Terampil Bermain Drama. Jakarta: Grasindo. Zain, Aswan, Syaiful Bahri Djamarah. (2010). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta. Sumber internet: Divisi Lingkungan Hidup, Keuskupan Agung Jakarta (KAJ). (2016). http://www.kaj.or.id/read/2016/04/19/9429/mereka-menerapkan-laudato-si.php diakses pada tanggal 8 Desember 2018 pukul 23:12 WIB. Food and Agriculture Organization of The United Nations/FAO. (2018). https://finance.detik.com/wawancara-khusus/d-3317570/13-juta-ton-makananterbuang-percuma-di-ri-setiap-tahun diakses pada tanggal 25 Oktober 2018 pukul 00:08 WIB. 89

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Judio, Khal G. (2011). Time To Eat Healthy Food. http://www.gracejudio.com/?p=446 diakses pada tanggal 24 September 2018 pukul 23:16 WIB. Khoirunnisa, R. (2016). Ilmu Lingkungan dan Pendidikan Lingkungan. https://www.academia.edu/19809601/ILMU_LINGKUNGAN_DAN_PENDIDI KAN_LINGKUN GAN, diakses pada 25 Agustus 2018 pukul 03:12 WIB. Lansh. (2016). Pendidikan Lingkungan Hidup dan Aplikasinya dalam Pembelajaran bagi Siswa Sekolah Dasar. uap.unnes.ac.id/pkm-bidikmisi/511536863.doc diakses pada 24 Agustus 2018 pukul 18:35 WIB. Tim Penyusun KBBI (2016). Kamus Besar Bahasa Indonesia[Online] http://kbbi.web.id/pusat diakses pada tanggal 8 Agustus 2018 pukul 00:14 WIB. 90

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 1 : Instrumen Analisis Kebutuhan Lampiran 1.1 Rekap Lembar Hasil Wawancara Guru SD Item Soal SDK Sang Timur Yogyakarta SD Muhhammadiyah Kronggahan Pembelajaran membentuk anak yang peduli, cinta, menghargai dan menjaga lingkungan. Menurut pendapat Bapak/Ibu sendiri, apakah Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) itu? PLH adalah bentuk pembelajaran kepadada anak didik yang memberi bekal agar anak didik mempunyai kepekaan untuk lebih mencintai lingkungan hidupnya sehingga mampu bersikap baik dan bertindak untuk melestarikan lingkungan hidup/ Jelaskan menurut Bapak/Ibu, mengenai keterkaitan materi tematik kelas V Tema 3 “Makanan Sehat” Subtema 2 “Pentingnya Makanan Sehat Bagi Tubuh”, dengan salah satu usaha menjaga dan melestarika n berkaitan dengan kebutuhan pangan ! Jelaskan berdasarkan pengalaman Bapak/Ibu guru, tentang proses, cara atau metode dalam mengajarka n materi tematik kelas V Tema 3 “Makanan Sehat” Kita dapat menyadarkan anak akan pentingnya lingkungan hidup sebagai sumber kehidupan manusia terutama pangan. Oleh sebab itu, kita dituntut untuk bersikap dan bertindak lebih memperhatikan lingkungan kita, kalau lingkungan kita rusak maka ketersediaan pangan juga terancam. Pembelajaran tematik tema 3 dan subtema 2 memiliki keterkaitan soal pangan terutama tentang sumber makanan sehat. Makanan sehat yang masuk ke dalam tubuh akan bisa menjadi nutrisi dan membantu tumbuh kembang anak jika bahan alam pun sehat. Jika alam terkontaminasi seperti penggunaan pupuk kimia berlebihan, maka nutrisi jahat akan masuk dan menjadi penyakit dalam tubuh kita. Sebagai guru, saya belum menemukan pengemasan pembelajaran yang menarik. Saya hanya melakukan berdasarkan Buku Pegangan Guru. Saya perlihatkan video tentang proses pembuatan makanan dari alam sampai tersedia di meja makan (video tentang membuat lotek). 91 SD Maria Immaculata Cilacap Sebuah pembelajaran yang menekankan tentang nilai-nilai lingkungan hidup dan memuat ajakan-ajakan untuk memiliki keprihatinan dan kepedulian lebih terhadap alam beserta permasalahanpermasalahannya. Jelas sekali jika makanan yang kita makan tidak lepas dari alam sebagai sumber utamanya. Jadi kita tidak dapat makan makanan yang sehat jika tidak ada alam. Meminta siswa membawa makanan 4 sehat 5 sempurna ke kelas dan makan bersama-sama. SD Pangen Gudang Purworejo Pendidikan tentang lingkngan hidup sekitar berkaitan dengan cara merawat, menanam dan menggunakan dengan bijak serta bertanggungjawab agar tetap seimbang. Makanan yang dimakan sehari-hari oleh anak-anak berasal dari alam, ketika alam sebagai penyedia bahan mentah musnah kebutuhan pangan tidak terpenuhi dan mekanan sehat tidak akan dirasakan. Membawa sayur mayur segar ke kelas agar siswa memahami dan mensyukuri sayuran yang masih segar sebelum diolah, membawa makanan 4 sehat 5 sempurna untuk makan bersama-sama.

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Subtema 2 “Pentingnya Makanan Sehat Bagi Tubuh”! Menurut Bapak/Ibu guru, dapatkah pembelajara n tematik kelas V Tema 3 “Makanan Sehat” Subtema 2 “Pentingnya Makanan Sehat Bagi Tubuh”, dikemas dan disajikan dalam bentuk sosiodrama? Mengapa demikian? Apakah Bapak/Ibu guru membutuhk an naskah drama untuk mengajarka n pembelajara n tematik kelas V Tema 3 “Makanan Sehat” Subtema 2 “Pentingnya Makanan Sehat Bagi Tubuh”, ketika mengajarka nnya menggunak an metode sosiodrama? Sangat bagus dan menari. Model pembelajaran ini akan membuat anak didik semakin mendalami materi pembelajaran dan tentunya akan lebih menarik serta berkesan. Pada dasarnya semua materi dapat dipelajari dengan metode drama dengan membuatnya ke dalam narasi dengan dialog-dialog pada setiap tokoh. Bulan lalu saya menerapkan drama dalam pelajaran IPS. Sebenarnya akan menarik bagi siswa, namun sepertinya pembelajaran drama akan sulit diterapkan di sini karena keterbatasan waktu dan saya harus mengejar materi pembelajaran. Sangat bisa. Karena drama adalah sebuah metode belajar yang menyenangkan dan menggugah siswa untuk terlibat penuh dalam pembelajaran.. Terima kasih banyak kalau bersedia memberi naskah drama, dengan tangan terbuka saya menerima. Sangat membutuhkan, karena jarang sekali saya menemukan naskah drama untuk anak dan untuk pembelajaran, atau bahkan belum pernah ada. Ketika itu diciptakan sepertinya akan bagus dan menarik karena metode drama jarang sekali digunakan dalam pembelajaran. Membutuhkan karena selama ini pengembangan model drama masih jarang dditemukan berikut dengan naskah dan propertinya. 92

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 1.2 Lembar Hasil Wawancara Guru SD 1 93

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 1.3 Lembar Hasil Wawancara Guru SD 2 94

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 1.4 Rekap Hasil Pengisian Angket Peserta Didik No. 1. Pernyataan Setiap kali saya makan, saya menghabiskan makanan yang disediakan tanpa menyisakannya sedikitpun. 2. Selalu ada sayur mayur di dalam makanan yang saya makan seharihari. 3. Saya selalu makan teratur tiga kali dalam satu hari. 4. Saya pernah mengalami sakit perut ketika terlambat makan. 5. Saya pernah melihat iklan di koran dan televisi tentang obat untuk menyembuhkan penyakit maag atau penyakit yang berkaitan dengan gangguan pencernaan. 6. Saya pernah belajar di kelas bersama guru dalam pelajaran tematik sambil menonton video tarian / drama atau saya pernah belajar di kelas bersama guru dalam pembelajaran tematik sambil pertunjukan drama atau tari. 7. Saya tertarik untuk belajar di kelas dalam pembelajaran tematik sambil melakukan sebuah tarian atau drama. Jawaban Dari 25 peserta didik, 19 peserta didik menjawab tidak pernah menghabiskan makanan yang disediakan. Dari 25 peserta didik, 15 peserta didik menjawab makanan yang mereka makan tidak pernah ada sayur mayur. Dari 25 peserta didik, 13 peserta didik tidak makan teratur tiga kali dalam satu hari. Dari 25 peserta didik, 23 peserta didik pernah mengalami sakit perut ketika terlambat makan. Dari 25 peserta didik, 16 peserta didik belum pernah melihat iklan di koran dan televisi tentang obat untuk menyembuhkan penyakit maag atau penyakit lain yang berkaitan dengan gangguan pencernaan. Dari 25 peserta didik, 24 peserta didik belum pernah belajar dengan menonton atau mempraktikkan pelajaran dengan tarian atau drama dalam pembelajaran tematik bersama guru. Dari 25 peserta didik, 21 peserta didik tertarik untuk belajar di kelas dalam pembelajaran tematik sambil melakukan sebuah tarian atau drama. 95 Persentase 76% 60% 52% 92% 64% 96% 84%

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2 : Validasi Produk Lampiran 2.1 Lembar Hasil Validasi Produk Guru Kelas V.1 96

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 97

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 98

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2.2 Lembar Hasil Validasi Produk Guru Kelas V.2 99

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 100

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 101

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2.3 Lembar Hasil Validasi Produk Guru Kelas V.3 102

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 103

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 104

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2.4 Lembar Hasil Validasi Produk Guru Kelas V 105

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 106

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 107

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2.5 Lembar Hasil Validasi Produk Seniman Pertunjukan 108

(127) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 109

(128) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 110

(129) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3 : Uji Coba Produk Lampiran 3.1 Kriteria Penilaian Jawaban Refleksi Uji Coba No. 1. 2. 3. 4. Pertanyaan dan Jawaban Pertanyaan: Sosiodrama berjudul “Menghilangnya Sepiring Nasi” mengingatkanmu untuk menghargai jasa para petani sebab …. Jawaban: Petani bekerja sebagai penyedia dan penanam bahan makanan mentah. Kriteria Jawaban Jawaban dituliskan dengan lengkap dan jelas. Jawaban dituliskan dengan lengkap namun tidak jelas. Jawaban kurang lengkap dan tidak jelas. Jawaban tidak jelas dan tidak lengkap. Pertanyaan: Tokoh Adi memiliki kebiasaan tidak menghabiskan makanan yang disediakan Bundanya. Kebiasaan tersebut tidak baik karena ….. Jawaban: Tidak menghargai makananan, tidak menghargai Bunda yang sudah menyiapkan makanan. Kriteria Jawaban Jawaban dituliskan dengan lengkap dan jelas. Jawaban dituliskan dengan lengkap namun tidak jelas. Jawaban kurang lengkap dan tidak jelas. Jawaban tidak jelas dan tidak lengkap. Pertanyaan: Adi bermimpi melihat tarian Dewi Sri. Tarian kreasi tersebut menceritakan tentang puji syukur para petani atas hasil bumi yang melimpah dan tentang pentingnya manusia untuk merawat lingkungan sebagai sumber ….. Jawaban: Alam/lingkungan sebagai sumber bahan makanan. Kriteria Jawaban Jawaban dituliskan dengan lengkap dan jelas. Jawaban dituliskan dengan lengkap namun tidak jelas. Jawaban kurang lengkap dan tidak jelas. Jawaban tidak jelas dan tidak lengkap. Pertanyaan: Salah satu bentuk merawat lingkungan adalah dengan cara menghabiskan makanan, karena …. Jawaban: Makanan menyehatkan tubuh, bermanfaat bagi tubuh, makanan berasal dari alam, membuang makanan berarti mencemari lingkungan, menghabiskan makanan merupakan cara menghargai alam. Kriteria Jawaban 111 Skor 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1

(130) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5. 6. Jawaban dituliskan dengan lengkap dan jelas. Jawaban dituliskan dengan lengkap namun tidak jelas. Jawaban kurang lengkap dan tidak jelas. Jawaban tidak jelas dan tidak lengkap. Pertanyaan: Dalam cerita sosiodrama, kebiasaan tidak menghabiskan makanan dan tidak memiliki pola makan teratur dapat mengakibatkan … Jawaban: Merusak lingkungan, tidak menghargai petani, tidak memiliki pola makan teratur bisa menyebabkan penyakit gangguan pencernaan seperti maag. Kriteria Jawaban Jawaban dituliskan dengan lengkap dan jelas. Jawaban dituliskan dengan lengkap namun tidak jelas. Jawaban kurang lengkap dan tidak jelas. Jawaban tidak jelas dan tidak lengkap. Pertanyaan: Pesan yang kamu tangkap setelah memainkan/membacakan/menonton sosiodrama berjudul “Menghilangnya Sepiring Nasi” adalah …. Jawaban: Menghargai makanan, menghabiskan makanan, tidak membuang makanan, menghargai Bunda, memiliki pola makan teratur, menghargai petani, jika kita membuang makanan sama saja dengan merusak lingkungan, tidak menghargai alam yang sudah menyediakan makanan dan tidak menghormati orang tua yang sudah bekerja keras menyediakan makanan. Kriteria Jawaban Jawaban dituliskan dengan lengkap dan jelas. Jawaban dituliskan dengan lengkap namun tidak jelas. Jawaban kurang lengkap dan tidak jelas. Jawaban tidak jelas dan tidak lengkap. 112 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1

(131) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3.2 Rekap Jawaban Hasil Refleksi Peserta Didik No 1. 2. 3. Soal Jawaban 23 peserta didik menjawab sebab petani Sosiodrama bekerja sebagai berjudul penyedia dan penanam “Menghilangnya bahan makanan mentah. Sepiring Nasi” 3 peserta didik mengingatkanmu untuk menghargai menjawab petani jasa para petani bekerja untuk menanam sebab …. dan menyediakan makanan mentah. 25 peserta didik menjawab Adi tidak Tokoh Adi menghargai makanan, memiliki kebiasaan tidak menghabiskan kebiasaan tersebut adalah kebiasaan makanan yang menyia-nyiakan disediakan Bundanya. makanan dan tidak Kebiasaan tersebut menghargai Bunda tidak baik karena 1 peserta didik ….. menjawab kebiasaan Adi tidak dapat ditiru. 23 peserta didik menjawab lingkungan Adi bermimpi melihat tarian Dewi sebagai sumber makanan mentah yang Sri. Tarian kreasi akan dimakan manusia tersebut menceritakan untuk makanan seharitentang puji syukur hari. para petani atas 1 peserta didik hasil bumi yang menjawab lingkungan melimpah dan tentang pentingnya sebagai sumber makanan. manusia untuk merawat 2 peserta didik lingkungan sebagai menjawab lingkungan sumber ….. sumber penghasil makanan mentah. 113 Jumlah peserta didik dengan jawaban sejenis Skor Rerata skor tiap nomor 26 4 4 25 4 3.84 1 1 0.03 26 4 4

(132) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4. Salah satu bentuk merawat lingkungan adalah dengan cara menghabiskan makanan, karena …. 5. Dalam cerita sosiodrama, kebiasaan tidak menghabiskan makanan dan tidak memiliki pola makan teratur dapat mengakibatkan … 21 peserta didik menjawab makanan yang berasal dari alam bermanfaat menyehatkan tubuh,. 3 peserta didik menjawab makanan dari alam berguna untuk tubuh kita agar tetap sehat. 1 peserta didik menjawab membuang makanan perbuatan tidak baik karena bisa merusak lingkungan sekitar kita. 1 peserta didik menjawab karena membuang makanan adalah perbuatan yang mencemari lingkungan. 10 peserta didik menjawab tidak memiliki pola makan teratur bisa menyebabkan sakit maag. 9 peserta didik menjawab sakit gangguan pencernaan salah satunya adalah maag. 4 peserta didik menjawab memiliki pola makan tidak teratur menyebabkan gangguan organ pencernaan. 2 peserta didik menjawab tidak makan teratur menyebabkan sakit perut. 1 peserta didik menjawab kemarahan orang tua. 114 26 4 4 25 4 3.84 1 1 0.03

(133) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6. Pesan yang kamu tangkap setelah memainkan/memba cakan/menonton sosiodrama berjudul “Menghilangnya Sepiring Nasi” adalah …. 26 peserta didik menjawab menghargai makanan, menghabiskan makanan, tidak membuang makanan, menghargai Bunda, memiliki pola makan teratur, menghargai petani, jika kita membuang makanan sama saja dengan merusak lingkungan, tidak menghargai alam yang sudah menyediakan makanan dan tidak menghormati orang tua yang sudah bekerja keras menyediakan makanan. Setiap peserta didik bisa menyebutkan lima sampai enam amanat setelah melakukan dan menyaksikan sosiodrama. Jumlah Rata-rata uji coba = 26 4 4 23.7 3.93 115

(134) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3.3 Hasil Refleksi Uji Coba Peserta Didik 1 116

(135) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3.4 Hasil Refleksi Uji Coba Peserta Didik 2 117

(136) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4 Surat Penelitian Lampiran 4.1 Surat Izin Pelaksanaan Penelitian 118

(137) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.2 Surat Keterangan Pelaksanaan Penelitian 119

(138) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 5 Biodata Penulis BIODATA PENELITI Kristophorus Divinanto Adi Yudono lahir di Cilacap, 18 Maret 1997. Anak pertama dari empat bersaudara. Pendidikan dasar ditempuh di SD Pius Bakti Utama Kutoarjo hingga lulus di tahun 2009. Dilanjutkan dengan pendidikan menengah di SMP Pius Bakti Utama Kutoarjo dan lulus tahun 2012. Pendidikan menengah atas diambil di SMA Bruderan Purworejo dengan mengambil fokus studi jurusan bahasa, sastra dan seni sampai lulus di tahun 2015. Di tahun 2015 melanjutkan studi di perguruan tinggi di Universitas Sanata Dharma, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Selama menjalani masa studi di perguruan tinggi, peneliti pernah menjadi pembicara dalam seminar internasional International Music & Performance Arts Conference yang diadakan pada 13-15 November 2018, di Universiti Pendidikan Sultan Idris, Malaysia. Dalam konferensi tersebut, peneliti berbicara tentang penelitiannya yang berjudul “The Tarra Trees in Toraja-Indonesia as Eco-Theatre for Children’s Ecology Education”. Peneliti juga terlibat dalam kepanitiaan di dalam kampus antara lain, Dampok Parade Gamelan Anak 2015, Divisi Acara Malam Kreatifitas PGSD 2016, Koordinator Acara Inisiasi FKIP (INFISA) 2016, Ketua Umum Malam Kreatifitas PGSD 2017, Dampok Insisiasi FKIP (INFISA) 2017, dan Master of Ceremony (MC) English Contest PGSD 2017. Peneliti juga pernah terlibat dalam kegiatan kepanitiaan yang diselenggarakan di luar kampus yaitu Festival Kesenian Yogyakarta (FKY), Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF), Parade Teater Nusantara, Kampung Buku Jogja (KBJ) dan Artjog. Beberapa cerita pendek karya peneliti pernah meraih penghargaan dalam lomba menulis cerita pendek antara lain “Kisah Hujan Di Hari Minggu” (2018) dan “Tidak Ada Matahari di Sekolah Ini” (2016). Peneliti juga aktif menulis naskah teater. Di tahun 2018 menjadi penulis naskah dan sutradara pementasan “Pesawat Kertas” yang diperankan oleh mahasiswa dan mahasiswi PGSD Sanata Dharma. 120

(139) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 6 Produk yang Dikembangkan (Produk lengkap prototipe Naskah Sosiodrama Dicetak Terpisah) 6.1 Halaman sampul prototipe sosiodrama “Menghilangnya Sepiring Nasi 121

(140)

Dokumen baru

Download (139 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN MENGGUNAKAN PREZI PADA PEMBELAJARAN TEMATIK TEMA BENDA-BENDA DI LINGKUNGAN SEKITAR SISWA KELAS V SD
9
62
25
ANALISIS PEMANFAATAN SUMBER BELAJAR BERBASIS LINGKUNGAN DALAM PEMBELAJARAN TEMATIK TEMA 8 (EKOSISTEM) KELAS V SDN MOJOLANGU 5 MALANG
0
11
22
PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA (LKS) BERORIENTASI PADA PENDEKATAN KONTEKSTUAL UNTUK MENUNJANG PEMBELAJARAN TEMATIK KELAS 2 TEMA 7 SUBTEMA 3 DI SD NEGERI PUNTEN 01 KOTA BATU
1
34
27
PENGEMBANGAN MEDIA INTERAKTIF KURARU BERBASIS AUGMENTED REALITY DALAM PEMBELAJARAN TEMATIK TEMA ORGAN TUBUH MANUSIA DAN HEWAN KELAS V SEKOLAH DASAR
2
27
23
RPP TEMATIK KELAS 4 TEMA 1 SUBTEMA 3 PEM
2
32
10
MEDIA PEMBELAJARAN INTERAKTIF TEMA LINGKUNGAN HIDUP UNTUK SD KELAS III.
0
2
10
BG TEMA 2 SUBTEMA 3 KELAS 2 TUNAGRAHITA (1)
0
4
43
PENGEMBANGAN MULTIMEDIA PEMBELAJARAN INTERAKTIF SUBTEMA USAHA PELESTARIAN LINGKUNGAN UNTUK SISWA KELAS V SD NEGERI LEMPUYANGWANGI.
1
12
210
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR CETAK BERBASIS KOMUNIKASI VISUAL BERMUATAN LOKAL PADA TEMA PEDULI TERHADAP MAKHLUK HIDUP SUBTEMA AYO CINTAI LINGKUNGAN UNTUK SD KELAS IV.
119
444
238
RPP KELAS 2 TEMA 1 SUBTEMA 1 PB 3
0
1
14
RPP KELAS 3 TEMA 1 SUBTEMA 2 PEMBELAJARA
1
9
21
RPP KELAS IV TEMA 3 SUBTEMA 2 PEMBELAJAR
0
0
24
RPP TEMATIK KELAS 3 TEMA 8 SUBTEMA 3 PEM
0
0
13
BUKU TEMATIK KELAS 1 TEMA 2 SD (1)
0
2
209
PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD) TEMATIK BERBASIS SCIENTIFIC TEMA KAYANYA NEGERIKU SUBTEMA 2 PEMBELAJARAN 1 DI SD NEGERI MANDIRANCAN
0
4
17
Show more