HARIAN RAKJAT SEBAGAI ALAT KAMPANYE PKI DALAM PEMILU 1955

Gratis

0
1
125
3 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HARIAN RAKJAT SEBAGAI ALAT KAMPANYE PKI DALAM PEMILU 1955 SKRIPSI Disusun Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Program Studi Sejarah Oleh: Bimo Bagas Basworo NIM 144314006 PROGRAM STUDI SEJARAH FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SANATA DHARMA 2019 i

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI If you wanna make the world a better place Take a look at yourself and then make that change! (Man in the Mirror – Michael Jackson) v

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Skripsi ini saya persembahkan untuk seluruh keluarga, dosen, dan teman saya yang selama ini tidak pernah berhenti mendukung saya. vi

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK Bimo Bagas Basworo, Harian Rakjat Sebagai Alat Kampanye PKI Dalam Pemilu 1955. Skripsi. Yogyakarta: Program Studi Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma, 2019. Skripsi berjudul Harian Rakjat Sebagai Alat Kampanye PKI Dalam Pemilu 1955 bertujuan untuk meneliti peranan surat kabar Harian Rakjat untuk mengkampanyekan PKI pada pemilihan umum 1955. Penelitian ini akan menjawab tiga pertanyaan. Pertama, peranan apa yang dimainkan oleh Harian Rakjat pada kampanye PKI pada pemilu tersebut. Kedua, isu apa saja yang digunakan surat kabar tersebut pada kampanye ini. Ketiga, seberapa besar peranan Harian Rakjat bagi kesuksesan yang diraih PKI pada pemilu 1955. Penelitian ini menggunakan metode sejarah, yakni pengumpulan sumber, kritik sumber, interpretasi atau analisis data, dan penulisan atau historiografi. Sumber yang digunakan adalah arsip koran Harian Rakjat tahun 1954-1955 dan sumber sekunder terkait. Penelitian ini menggunakan teori pers komunis yang dikemukakan oleh Hachten. Hasil dari penelitian ini menunjukkan peranan besar Harian Rakjat pada keberhasilan yang diraih oleh PKI pada Pemilu 1955. Surat kabar ini aktif mendukung kampanye dan propaganda PKI melalui berbagai saluran, mulai dari artikel, karikatur, hingga cerita bergambar. Surat kabar ini juga berperan sebagai penyedia bahan-bahan propaganda dan latihan pemilu bagi anggota-anggota cabang PKI diberbagai PKI. Kata kunci: Harian Rakjat, Partai Komunis Indonesia, Pemilihan Umum 1955. viii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT Bimo Bagas Basworo, Harian Rakjat Sebagai Alat Kampanye PKI Dalam Pemilu 1955. An Undergraduate Thesis. Yogyakarta: Department of History, Faculty of Letters, Sanata Dharma University, 2019. This study entitled Harian Rakjat Sebagai Alat Kampanye PKI Dalam Pemilu 1955 is aimed to investigate the roles of a newspaper called Harian Rakjat to campaign Indonesian Communist Party (Partai Komunis Indonesia, PKI) in 1955 election. This research will answer three questions. They are (1) “What role does Harian Rakjat play in PKI campaign in the election?” (2) “What issue used in the newspaper for the campaign?” and (3) “How huge is Harian Rakjat role for the success of PKI in 1955 election?” This research used historical method, namely source gathering, source critics, data interpretation or analysis, and writings or historiography. The source used for this study was Harian Rakjat newspaper archives around 1954-1955 and related secondary source. This study used communist press theory stated by Hatchen. The result of this study shows the huge role of Harian Rakjat towards the success of PKI in 1955 election. This newspaper actively supported PKI campaigns and propagandas through many media, from articles, caricatures, until comics. This newspaper also played a role as propaganda media provider and election practice for members of PKI. Keywords: Harian Rakjat, Partai Komunis Indonesia, Pemilihan Umum 1955. ix

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Ucapan syukur dan terima kasih saya ucapkan kepada: 1. Dosen Ilmu Sejarah, Pak Rio, Pak Hery, Mas Heri, Mas Yerry, Romo Baskara, Romo Banar, Pak Purwanta, Pak Sandiwan, dan Bu Ning, yang telah banyak membimbing dan dan mendukung saya sejak awal masuk kuliah hingga saat ini. 2. Kedua Orang Tua saya, dan seluruh keluarga saya yang selama ini terus membantu, mendukung, dan memotivasi saya supaya tetap semangat untuk menyelesaikan skripsi ini. 3. Mas Doni sebagai Sekretaris Prodi Sejarah yang selama ini membantu saya mengurus administrasi kuliah 4. Teman-teman Sejarah Angkatan 2014, Fajar, Ara, Hendy, Rosma, Edut, Tiur, Omi, Vendy, Berang, Ageng, Gustan, Gerrard, dan Katon yang tidak pernah lelah menemani dan mendukung saya selama ini. 5. Teman-teman Jurusan Sejarah lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu yang selama ini telah menemani dan menghibur saya. 6. Teman-teman “De Kantiners”, Eko, Oom Irawan, Mas Deaz, Pitrus, dan lainnya, yang telah banyak membantu saya. 7. Semua staf Mikrofilm Perpustakaan Nasional yang sudah direpotkan dengan pesanan scan dari saya selama 2 bulan penelitian ini berlangsung. 8. Kepada teman-teman lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, yang telah membantu memberikan informasi dan mendukung saya selama mengerjakan skripsi ini. x

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Saya sadar bahwa masih banyak kekurangan dalam penelitian ini. Saya harap semoga skripsi ini dapat mendorong munculnya penelitian-penelitian lain yang akan melengkapi, ataupun menyanggah hasil dari penelitian ini. Yogyakarta, 4 Desember, 2018 Penulis xi

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ............................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ..................................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................... iii HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ........................................... iv MOTTO .................................................................................................................. v HALAMAN PERSEMBAHAN ............................................................................ vi LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN ..................................................... vii PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ......... vii ABSTRAK ........................................................................................................... viii ABSTRACT ........................................................................................................... ix KATA PENGANTAR ............................................................................................ x DAFTAR ISI ......................................................................................................... xii DAFTAR TABEL ................................................................................................ xiv DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ xv DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ xvi BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1 A. Latar Belakang Masalah............................................................................... 1 B. Pembatasan Masalah .................................................................................... 3 C. Rumusan Masalah ........................................................................................ 3 D. Tujuan Penelitian ......................................................................................... 4 E. Manfaat Penelitian ....................................................................................... 4 F. Kajian Pustaka ............................................................................................. 5 G. Landasan Teori ........................................................................................... 10 H. Metode Penelitian ...................................................................................... 12 I. Sistematika Penulisan ................................................................................ 12 BAB II PKI DAN HARIAN RAKJAT ................................................................. 14 A. Membangkitkan Kembali Partai ................................................................ 14 B. Sejarah Singkat Harian Rakjat .................................................................. 16 C. Njoto: Tokoh di Balik Harian Rakjat ........................................................ 22 BAB III KAMPANYE PEMILU 1955 DI HARIAN RAKJAT ............................. 26 A. Harian Rakjat dan Pemilu .......................................................................... 26 B. Masa Persiapan Kampanye ........................................................................ 27 1. Membela Kabinet, Menyerang Oposisi .................................................. 27 2. Masjumi, Darul Islam, dan Modal Asing ............................................... 28 3. Demonstrasi Masjumi dan BKOI ........................................................... 31 4. Pembentukan Panitia Pemilihan Indonesia ............................................ 35 5. Ceramah Umum dan Rapat Umum PKI ................................................. 37 C. Masa Awal Kampanye ............................................................................... 37 1. Demokrasi Rakyat .................................................................................. 39 2. Kampanye PKI ....................................................................................... 43 xii

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3. Pendidikan .............................................................................................. 47 4. Pengusaha Nasional ................................................................................ 48 5. Wanita .................................................................................................... 49 6. Agama .................................................................................................... 50 7. Tanda Gambar PKI................................................................................. 52 8. Menyerang Oposisi ................................................................................ 57 D. Masa Kampanye Pemilu Parlementer ........................................................ 60 1. Bubarnya Kabinet Ali dan Menjadi Oposisi .......................................... 60 2. Kampanye Harian Rakjat Menjelang Pemilihan Anggota Parlemen ... 69 3. Sosialisasi Menjelang Pemilihan Umum................................................ 74 E. Kampanye Pemilihan Anggota Konstituante ............................................. 77 BAB IV HASIL PEMILU 1955 ........................................................................... 82 A. Jalannya Pemilihan Umum ........................................................................ 82 B. Pengaruh Harian Rakjat Pada Pemilihan Umum 1955 ............................. 92 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................... 94 A. Kesimpulan ................................................................................................ 94 B. Saran .......................................................................................................... 96 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 98 LAMPIRAN ........................................................................................................ 102 xiii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 1. Tabel 2. Tabel 3. Hasil Perolehan Suara Pemilu Parlemen……………………......... 84 Jumlah Perolehan Suara Pemilihan Parlemen dan Konstituante.. 88 Perbandingan Perolehan Suara PKI Pada Pemilu Parlemen dan Konstituante di Berbagai Daerah………………………………. 90 xiv

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Gambar 2. Gambar 3. Gambar 4. Gambar 5. Gambar 6. Gambar 7. Gambar 8. Gambar 9. Gambar 10. Gambar 11. Gambar 12. Gambar 13. Gambar 14. Gambar 15. Kolom Ruangan Wanita Harian Rakjat……………………… Seruan Untuk Mengumpulkan Donasi Kampanye PKI di Harian Rakjat……………………………………………........ Pengumuman Daftar Calon PKI Dalam Harian Rakjat……… Karikatur Yang Menyindir Tingginya Harga Beras Masa Pemerintahan Burhanuddin Harahap…………………………. Kolom “Sumbangan Kepada Propaganda Masjumi”…………. Contoh Biografi Singkat Calon PKI yang Terbit Di Harian Rakjat…………………………………………………………. Contoh Iklan Kampanye PKI di Harian Rakjat Untuk Kaum Tani…………………………………………………………… Contoh Iklan Kampanye PKI di Harian Rakjat Untuk Pengusaha Nasional…………………………………………... Iklan Kampanye PKI di Harian Rakjat………………………. Contoh Komik Srip Pemilu Di Harian Rakjat……………….. Instruksi Menjelang Pemilu dari Harian Rakjat……………… Contoh Kolom “Kalau saudara memilih Masjumi”…………... Contoh Kolom “Memilih Masjumi Berarti Memilih DI”…….. Contoh Iklan Kampanye Pemilu Konstituante PKI…………... Karikatur Harian Rakjat yang Meledek Peroplehan Suara Masjumi – PSI………………………………………………… xv 19 46 56 64 68 70 71 71 72 75 76 79 79 80 85

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Artikel “Pers dan Pemilihan Umum” Njoto………………… Lampiran 2. Foto Presidium Kongres dan Anggota CC PKI Pada Kongres Nasional Ke-V…………………………………...... Lampiran 3. Manifes Pemilihan Umum PKI yang Dimuat di Harian Rakjat……………………………………………………… Lampiran 4. Pengumuman Daftar Calon “PKI dan Orang Tak Berpartai” di Harian Rakjat…………………………………………….. Lampiran 5. Berita Tuduhan Kecurangan Masjumi Dalam Pemilu di Harian Rakjat…...................................................................... Lampiran 6. Kampanye PKI di Kolom “Ruangan Wanita” Harian Rakjat………………………………………………………... Lampiran 7. Pengumuman Rencana Acara Kampanye PKI…………........ Lampiran 8. Contoh Berita Perolehan Suara Pemilu di Harian Rakjat…... xvi 102 103 104 105 106 107 108 109

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Periode 1950-an adalah masa yang penting dalam sejarah politik bangsa Indonesia. Dinamika politik yang terjadi di masa Demokrasi Liberal itu banyak mempengaruhi kondisi Indonesia di masa setelahnya. Sayangnya, masih sedikit kajian mengenai periode ini. Bahkan Mc Vey menyebutnya sebagai dekade yang hilang (diseppearing decade)1. Pada masa ini, sistem demokrasi di Indonesia berkembang dengan pesat. Salah satu tandanya adalah keberhasilan pemerintah menyelenggarakan pemilihan umum (pemilu) nasional pertama di Indonesia. Pemilu ini diselenggarakan pada tahun 1955 dalam 2 tahap. Tahap pertama dilaksanakan pada 29 September 1955 yang bertujuan untuk memilih anggota Parlemen. Tahap kedua diselenggarakan pada tanggal 15 Desember 1955 dengan agenda pemilihan anggota Konstituante. Suksesnya penyelenggaraan pemilu ini adalah suatu prestasi yang besar bagi pemerintah. Tingginya tensi di antara partai-partai politik pada masa ini tidak menghalangi diselenggarakannya pesta demokrasi ini dengan aman. Selain itu, Adrian Vickers. “Mengapa Tahun 1950-an Penting Bagi Kajian Indonesia”. Dalam Henk Schulte Nordholt; Bambang Purwanto; dan Ratna Saptari (ed.). 2008. Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia. Jakarta: KITLV-Jakarta dan Yayasan Obor Indonesia. Hlm:68. 1

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 tingginya tingkat partisipasi masyarakat pada pemilu ini menandakan tingginya antusiasme dan kesadaran warga akan pentingnya kegiatan tersebut. Hasil dari pemilu nasional pertama ini di luar dugaan banyak orang. Salah satunya adalah prestasi gemilang yang diraih oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) pada ajang ini. Prestasi ini menakjubkan mengingat hasil ini diraih hanya sekitar 7 tahun pasca peristiwa Madiun yang membuat mereka kehilangan banyak pemimpin dan anggotanya dan sekaligus mencoreng reputasi partai. Untuk mencapai prestasi tersebut bukanlah perkara yang mudah bagi PKI. Mereka harus menghadapi berbagai rintangan, salah satunya adalah memperbaiki citra partai yang rusak di mata masyarakat setelah peristiwa Madiun 1948. Partai ini gencar berkampanye dengan menggunakan seluruh sumber daya yang mereka punya, salah satunya adalah media massa. Pada tahun 1953, PKI membeli surat kabar Harian Rakjat. Mereka kemudian menempatkannya di bawah Departemen Agitasi dan Propaganda partai. Sejak saat itu, harian tersebut menjadi corong propaganda partai, baik untuk menyebarkan program atau pernyataan resmi partai dan organisasi sayapnya, hingga menyerang musuh-musuh politik mereka. Pada saat masa kampanye Pemilu 1955, Harian Rakjat juga turut aktif dalam usaha memenangkan PKI dalam ajang tersebut. Berbagai peranan penting dijalankan oleh surat kabar ini, membuatnya sebagai salah satu tulang punggung partai pada masa kampanye. Melalui artikel-artikel yang dimuat, harian ini berusaha memperbaiki citra partai di masyarakat sekaligus menyebarkan isu-isu negatif yang menyerang musuh-musuh politiknya.

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 B. Pembatasan Masalah Penelitian ini akan membahas mengenai penggunaan surat kabar Harian Rakjat sebagai media kampanye PKI dalam pemilu nasional tahun 1955. Penelitian ini akan membatasi pembahasan pada artikel-artikel propaganda di surat kabar ini yang digunakan untuk menyerang musuh-musuh politik PKI dan menarik suara masyarakat dalam pemilu 1955. Periode penelitian mencakup tahun 1954 hingga 1955. Pada Maret 1954, PKI mengadakan Kongres Nasional ke-V yang salah satu pokok bahasannya adalah manifes pemilihan umum partai. Manifes ini menggambarkan garis besar kebijakan kampanye PKI untuk menghadapi Pemilu 1955. Kongres nasional tersebut juga menjadi tanda dimulainya masa kampanye PKI untuk pemilu 1955 yang akan datang. Tahun 1955 menjadi akhir dari periode penelitian karena pada tahun ini diadakan pemilu nasional pertama di Indonesia. Pemilu ini diadakan dalam dua tahap. Tahap pertama diadakan pada tanggal 29 September 1955 dengan agenda pemilihan anggota Dewan Legislatif. Pada pemilu tahap kedua yang diadakan tanggal 15 Desember 1955 diadakan pemilihan anggota Konstituante. C. Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1. Peran apa yang dimainkan oleh Harian Rakjat dalam kampanye PKI pada pemilu 1955?

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 2. Isu apa saja yang digunakan surat kabar ini untuk menggalang suara serta menyerang partai lainnya? 3. Seberapa pentingnya peranan Harian Rakjat atas prestasi yang diraih oleh PKI pada pemilihan umum tersebut? D. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk: 1. Menjelaskan bagaimana Harian Rakjat sebagai alat kampanye PKI pada Pemilu 1955. 2. Menjelaskan isu-isu yang digunakan kedua media untuk menggalang suara partai dan menjatuhkan partai lainnya pada pemilu tersebut. 3. Menjelaskan dampak dari kampanye Harian Rakjat atas kesuksesan PKI pada pemilu tersebut. E. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk memperluas pengetahuan masyarakat mengenai perkembangan demokrasi di Indonesia pada periode 1950an melalui sudut pandang pers. Penelitian ini juga diharapkan dapat mendorong para peneliti dan pemerhati sejarah Indonesia untuk meneliti lebih dalam sejarah Indonesia pada periode 1950-an yang selama ini masih jarang dibahas. Di samping itu, penelitian ini memberikan bahan refleksi pemilihan umum di masa kontemporer, khususnya tentang penggunaan media massa oleh partai politik untuk berpropaganda dan berkampanye.

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 F. Kajian Pustaka Buku berjudul “The Indonesian Elections of 1955” karya Herberth Feith membahas tentang Pemilu 1955 di Indonesia.2 Buku ini menyoroti persaingan partai-partai pada masa kampanye dan juga membahas hasil dari pemilihan umum tersebut. Hanya saja, buku ini tidak membahas secara detail mengenai penggunaan media massa sebagai alat kampanye partai politik pada pemilu tersebut. Penelitian lain terkait dengan perkembangan demokrasi dan politik di Indonesia pada periode 1950-an dilakukan oleh Tri Basuki.3 Ia meneliti terkait dengan dinamika politik di Yogyakarta dalam pemilu tahun 1955. Dalam penelitian ini, ia menyoroti persaingan dan konflik antara 4 partai besar (PNI, PKI, Masyumi, dan NU) selama pemilu tahun 1955 di Yogyakarta. Keempat partai tersebut saling bersaing untuk mendapatkan suara dengan “menjual” ideologi mereka. Akan tetapi dalam karayanya ini, Basuki justru kurang menyoroti contoh-contoh konkrit terkait dengan konflik-konflik antar partai di Yogyakarta selama masa kampanye untuk pemilu tahun 1955 tersebut. Ia lebih menyoroti pertentangan ideologi antara keempat partai tersebut ketimbang membahas contoh peristiwa yang konkrit. 2 Herbert Feith. 1971. The Indonesian Elections of 1955. Ithaca: Southeast Asia Program Cornell University. Tri Basuki. “Dinamika Persaingan Empat Partai Besar (PKI, PNI, Masyumi, dan NU) Dalam Pemilihan Umum 1955 Di Yogyakarta”. Yogyakarta: Mozaik, Sejarah Indonesia Vol 1 No. 2, 2016. 3

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 Tsabit Azinar Ahmad menulis tentang kampanye dan pertarungan politik di Jawa Tengah menjelang pemilu tahun 1955.4 Dalam penelitian ini ia juga menjelaskan perang wacana antar partai melalui surat kabar menjelang pemilu tahun 1955. Perang wacana melalui surat kabar ini dilakukan dalam rangka persaingan antar partai untuk menyebarkan ideologinya dan meraup suara sebesarbesarnya. Selanjutnya adalah skripsi karya Luh Putu Ayu Riska Widarmiati yang berjudul “Latar Belakang Suksesnya PKI Di Indonesia Tahun 1955-1962 Studi Kasus Di Balik Keberhasilan PKI Pada Pemilu 1955”.5 Dalam skripsi ini dibahas mengenai latar belakang dan strategi kesuksesan PKI untuk bangkit kembali pasca peristiwa Madiun tahun 1948. Keberhasilan PKI untuk bangkit kembali pada periode ini tercermin dalam keberhasilan mereka meraih peringkat keempat dalam pemilu tahun 1955. Penelitian ini menyoroti langkah-langkah dan strategi PKI untuk memperkuat kembali basis massa mereka dan meraih kemenangan. Penelitian Barep Rifaldi Chandra Perdana yang berjudul “Strategi Pemenangan Partai Komunis Indonesia Pada Pemilu Tahun 1955 Di Yogyakarta”6 membahas strategi dan cara-cara yang digunakan PKI untuk Tsabit Azinar Ahmad. “Kampanye Dan Pertarungan Politik Di Jawa Tengah Menjelang Pemilihan Umum 1955”. Semarang: Paramita Vol 26 No.1, 2016. E-ISSN: 2407-5825. 4 Luh Putu Ayu Riska Widarmiati. “Latar Belakang Suksesnya PKI Di Indonesia Tahun 1955-1962 Studi Kasus Di Balik Keberhasilan PKI Pada Pemilu 1955”. Skripsi. Yogyakarta: Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma, 2006. 5 Barep Rifaldi Chandra Perdana. “Strategi Pemenangan Partai Komunis Indonesia Pada Pemilu Tahun 1955 Di Yogyakarta”. Yogyakarta: Mozaik, Sejarah Indonesia Vol 2 No. 1, 2016. 6

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 membangkitkan kembali partai tersebut karena Peristiwa Madiun 1948. Sekilas tulisan ini memang mirip dengan Luh Putu Ayu Riska Widarmiati. Akan tetapi, setidaknya ada 2 perbedaan mendasar pada kedua tulisan tersebut. Perbedaan yang pertama adalah scope temporal keduanya. Karya Barep fokus pada strategi PKI untuk bangkit kembali pada pemilu tahun 1955. Karya Luh Putu Riska berokus pada strategi-strategi politik PKI untuk membangun kembali basis massa mereka pasca Peristiwa Madiun, dimulai dari usaha-usaha pembangunan kembali partai tersebut hingga periode awal Demokrasi Terpimpin. Perbedaan selanjutnya adalah scope spasial keduanya. Barep membatasi ruang lingkup tempatnya pada daerah Yogyakarta, sedangkan penelitian Riska memiliki ruang lingkup tempat yang lebih luas, yakni Indonesia. Penelitian berjudul “Partai Lokal Dalam Pemilu 1955 (Gerinda Dalam Pemilihan Umum 1955 di Yogyakarta)” karya Sawitri Tri Prabawati adalah suatu karya yang sangat menarik.7 Dalam karyanya ini, Sawitri menuliskan sepak terjang Partai Gerakan Rakyat Indonesia (Gerinda) dalam pemilu 1955. Partai Gerinda adalah sebuah partai lokal di Yogyakarta dan sekitarnya. Partai Gerinda ini berasal dari suatu organisasi bernama Pakempalan Kawulan Ngayogyakarta (PKN) yang didirikan pada tahun 1930. PKN kemudian berubah nama menjadi Perkumpulan Rakyat Jogjakarta (PRJ) pada tahun 1942. Perkumpulan ini 7 Sawitri Tri Prabawati. Partai Lokal Dalam Pemilu 1955 (Gerinda Dalam Pemilihan Umum 1955 di Yogyakarta). http://sejarah.fib.uns.ac.id/media/3.%20Bu%20Witri-editOK.pdf. Diakses pada 5 April 2017 pukul 17.17.

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8 kemudian dibubarkan pada masa penjajahan Jepang karena kebijakan Jepang yang melarang seluruh organisasi politik kecuali yang dibentuk oleh Jepang sendiri. Bekas anggota PKN dan PRJ yang masih setia kemudian mendirikan kembali organisasinya dengan nama Gerakan Rakyat Indonesia (Gerinda) sebagai salah satu partai politik lokal di Yogyakarta dan sekitarnya. Karya lain terkait dengan periode ini adalah Partai Nasional Indonesia Pada Pemilihan Umum Tahun 1955 Di Semarang karya Aryani Dewantarina.8 Karya ini membahas sepak terjang PNI selama pemilu tahun 1955 di Semarang. PNI yang berideologi Marhaenis berkeliling kota Semarang guna menyebarkan ideologinya dan program-program mereka untuk memperoleh suara masyarakat dalam pemilu tahun 1955. Tulisan berjudul Mobilisasi Massa Partai Melalui Seni Pertunjukan Reog Di Ponorogo Tahun 1950-1980 karya Sururil Mukarromah dan Sinta Devi I.S.R.9 membahas penggunaan kesenian Reog Ponorogo oleh partai-partai politik untuk menarik perhatian dan simpati masyarakat kepada mereka. Hal ini sudah dilakukan oleh partai-partai seperti PKI, NU, dan PNI. Penggunaan kesenian tersebut ternyata menjadi strategi efektif untuk meraih suara rakyat. Pada pemilu tahun 1955, PKI yang “menguasai” kesenian tersebut berhasil mengumpulkan Aryani Dewantarina. “Partai Nasional Indonesia Pada Pemilihan Umum Tahun 1955 Di Semarang”. Semarang: Journal of Indonesian History Vol 1 No. 2, 2012. 8 Sururil Mukarromah dan Sinta Devi I.S.R., “Mobilisasi Massa Partai Melalui Seni Pertunjukan Reog Di Ponorogo Tahun 1950-1980”. Surabaya: Verleden Vol. 1 No. 1, 2012. ISSN 2301-8127. 9

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9 suara terbanyak. Hal ini menandakan seberapa ampuhnya penggunaan kesenian dalam meraih suara masyarakat. Ria Sovi Revianti dan Muryadi dalam karyanya yang berjudul Partisipasi Politik GP Anshor Cabang Sidoarjo Dalam Pemilu Tahun 1953-1955 membahas sepak terjang GP Anshor, khususnya cabang Sidoarjo, selama pemilu tahun 1955.10 GP Anshor sebagai sebuah organisasi pemuda yang berafiliasi dengan NU tentu memiliki peranan penting dalam keberhasilan NU pada pemilu 1955. Mereka ikut membantu kampanye dalam rangka mencari dukungan masyarakat untuk memenangkan pemilu 1955. Buku karya Muhammad Zulfikar berjudul “Politik Surat Kabar Berebut Wacana Antara Harian Rakjat Dengan Abadi 1952-1955” membahas pertaruangan wacana antara Abadi dan Harian Rakjat. Buku ini membahas penggunaan kedua surat kabar tersebut oleh Masjumi dan PKI untuk berpropaganda dan saling menyerang satu dengan yang lain. Hanya saja, buku ini berfokus pada pertarungan wacana antara kedua surat kabar itu dan kurang membahas pada peranan kedua surat kabar tersebut pada kampanye pemilihan umum 1955 secara keseluruhan.11 Dari karya-karya tersebut, kebanyakan menyoroti masalah dinamika politik serta pertarungan antar partai politik selama periode 1950-an. Sedangkan penelitian mengenai pers lebih banyak meyoroti hubungan antara pers dan 10 Muryadi dan Ria Sovi Revianti. Partisipasi Politik GP Anshor Cabang Sidoarjo Dalam Pemilu Tahun 1953-1955. Surabaya: Verleden, Vol. 2 No. 2, 2016. ISSN 23018127. 11 Muhammad Zulkifar. 2018. Politik Surat Kabar: Berebut Wacana Harian Rakjat Dengan Abadi 1952-1955. Jakarta: Respublica Institute.

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 pemerintah. Karya I Wayan Artika cukup menarik karena membahas karya sastra yang digunakan sebagai sarana penyebaran ideologi politik kelompok tertentu. Berbeda dengan karya lainnya, penelitian ini berusaha untuk melihat bagaimana Harian Rakjat berperan sebagai media kampanye PKI untuk memenangkan Pemilu 1955. G. Landasan Teori Penelitian ini berusaha menganalisis kampanye Pemilu 1955 dari perspektif pers. Dalam arti sempit, pers berarti media cetak.12 Menurut KBBI, media cetak adalah sarana media massa yang dicetak dan diterbitkan secara berkala seperti surat kabar, majalah.13 Harian Rakjat adalah salah satu pers milik PKI. Sebagai organ pers milik partai komunis, surat kabar ini mengacu pada pers di negara-negara komunis lainnya, salah satunya adalah Uni Soviet. Menurut Hachten, pers komunis adalah media massa yang menjadi bagian dari pemerintah atau partai politik [komunis]. Menurutnya, tujuan dari pers komunis menekankan pada penyebaran pandangan dan kebijakan pejabat; serta memobilisasi dukungan untuk kemajuan nasional.14 Pemilu dan kampanye politik merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Menurut KBBI, kampanye dapat diartikan sebagai kegiatan yang I Gusti Ngurah Putra. “Demokrasi dan Kinerja Pers Indonesia”. Yogyakarta: Jurnal Komunikasi Vol. 3, No. 2, Juni 2004. ISSN: 2548-8643. Hlm: 131. 12 13 KBBI Edisi V versi luring. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Diakses pada 15 Januari 2019. 14 Hachten dalam Zainal Abidin Achmad. 2014. Perbandingan Sistem Pers dan Sistem Pers di Indonesia. Surabaya: Lutfansah. Hlm: 10.

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11 dilaksanakan oleh organisasi politik atau calon yang bersaing memperebutkan kedudukan dalam parlemen dan sebagainya untuk mendapat dukungan massa pemilih dalam suatu pemungutan suara.15 Pada pasal 1 ayat 35 Undang-Undang No. 7 Tahun 2017 Tentang Pemilihan Umum menyebutkan bahwa Kampanye Pemilu adalah kegiatan Peserta Pemilu atau pihak yang lain ditunjuk oleh Peserta Pemilu untuk meyakinkan Pemilih dengan menawarkan visi, misi, program dan/atau citra diri Peserta Pemilu.16 Menurut Arnold Steinberg, kampanye politik adalah suatu usaha yang terkelola, terorganisir untuk mengikhtiarkan orang dicalonkan, dipilih, atau dipilih kembali dalam suatu jabatan resmi.17 Pada dasarnya kampanye dibagi menjadi tiga, yakni kampanye positif, kampanye negatif, dan kampanye hitam. Kampanye positif adalah bentuk kampanye yang mengedepankan kata-kata hiperbolis yang bertujuan mengenalkan calon pemimpin atau presiden secara pribadi, baik program kerja dan visi misinya. Sedangkan kampanye negatif adalah kampanye yang memberikan informasiinformasi negatif mengenai kapabilitas, rekam jejak dari lawan politik berdasarkan fakta yang relevan. Kampanye hitam adalah model kampanye yang berisi kebohongan dan fitnah. 18 15 KBBI Daring. https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/kampanye. Diakses pada 20 Okt 2018 pukul : 14.32. 16 UU No. 7 Tahun 2017 Tentang Pemilihan Umum. https://rumahpemilu.org/wpcontent/uploads/2017/08/UU-No.7-Tahun-2017-tentang-Pemilu.pdf. Diakses pada 20 Okt 2018 pukul: 15.00. 17 Arnold Steinberg. 1981. Kampanye Politik Dalam Praktek. Penerjemah: M. Sidarto. Jakarta: PT Intermasa. Hlm: 2. 18 Bambang Arianto. 2017. Kampanye Politik Digital, Kampanye Kreatif, Media Sosial, Jasmev 2014, Demokrasi, Ekspektasi Politik. Tesis. Yogyakarta: S2 Politik dan

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 Dalam penelitian ini, peneliti hanya membagi jenis kampanye menjadi dua, yakni kampanye positif dan kampanye negatif. Kampanye hitam akan dimasukkan sebagai bagian dari kampanye negatif dengan pertimbangan bahwa keduanya sama-sama bertujuan untuk menjatuhkan musuh politik. H. Metode Penelitian Penelitian ini akan menggunakan metode penelitian sejarah. Metode penelitian sejarah dibagi ke dalam 4 tahapan, yakni (1) heuristik atau pengumpulan sumber, (2) kritik sumber, (3) interpretasi atau analisis, dan (4) historiografi atau penulisan sejarah. Data disajikan dalam bentuk kualitatif. Data yang digunakan berupa arsip koran Harian Rakjat tahun 1954-1955 yang ditemukan pada koleksi microfilm Perpustakaan Nasional Republik Indonesia disertai dengan sumber-sumber sekunder dan tersier untuk melengkapinya. Data kualitatif tetap dibutuhkan untuk melihat jumlah oplah surat kabar ini serta jumlah suara yang diraih oleh PKI pada Pemilu 1955. I. Sistematika Penulisan Skripsi ini dibagi menjadi 5 bab. Bab pertama membahas latar belakang penelitian, pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, landasan teori, kajian pustaka, metode penelitian, dan sistematika penulisan. Bab kedua membahas sejarah singkat PKI pasca Peristiwa Madiun 1948, sejarah Pemerintahan Universitas Gadjah Mada. http://etd.repository.ugm.ac.id/index.php?mod=penelitian_detail&sub=PenelitianDetail& act=view&typ=html&buku_id=106592&obyek_id=4. Diakses pada 8 Januari 2019. Pukul: 16.00.

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 singkat Harian Rakjat, dan Njoto, tokoh dibalik Harian Rakjat. Bab ketiga membahas tentang kampanye PKI di Harian Rakjat pada periode 1954-1955. Bab keempat membahas hasil pemilu yang diraih oleh PKI dan seberapa besarnya peranan Harian Rakjat pada kemenangan yang diraih oleh partai ini. Bab kelima berisi kesimpulan dan saran.

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II PKI DAN HARIAN RAKJAT A. Membangkitkan Kembali Partai Kekalahan PKI di Madiun tahun 1948 telah menghancurkan partai ini. Para pemimpinnya seperti Musso dan Amir Sjarifoeddin mati bersama dengan ribuan anggota lainnya. Sekitar 35.000 orang juga ditangkap karena terlibat peristiwa ini.1 Para pemimpin yang tersisa terpaksa melarikan diri dan bersembunyi dari kejaran apparat pemerintah. Revolusi Madiun 1948 ini tidak menyebabkan PKI dilarang oleh pemerintah. Pada September 1949, Alimin – salah seorang tokoh senior di PKI – berusaha membangun kembali partai dengan cara konsolidasi terbatas. Keputusan Pemerintah Republik Indonesia Serikat (RIS) untuk melegalkan PKI disambut dengan pengumuman susunan sekretariat CC PKI. Di bawah pimpinan Alimin, partai ini menjadi partai ekslusif.2 Disaat yang sama, Aidit, Lukman, Sudisman, dan Njoto juga berusaha membangun kembali partai ini di Jakarta. Pendekatan yang digunakan oleh tokohtokoh muda ini berbeda dengan Alimin. Mereka ingin membangun kembali PKI 1 M.C. Ricklefs. 2010. Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta. Hlm: 483. 2 Fadrik Aziz Firdausi. 2017. Njoto: Biografi Pemikiran 1951-1965. Tangerang Selatan: CV. Margin Kiri. Hlm: 27.

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 sebagai partai massa dan memposisikan diri sebagai pelantang konsepsi Jalan Baru Musso.3 Dualisme kepemimpinan partai ini berakhir pada tahun 1951, ketika Aidit dan tokoh-tokoh muda secara resmi mengambilalih kekuasaan politbiro dari golongan tua. Di bawah kepemimpinan kelompok muda, PKI menggunakan strategi bari : Front Persatuan Nasional untuk membangun partai yang berbasiskan massa. Strategi ini berarti PKI membuka diri untuk bekerjasama dengan partaipartai lain, terutama yang tidak secara prinsipiil atau tegas anti-komunis. PKI juga berusaha untuk memperluas basis masa mereka ke berbagai kelompok sosial dengan mendirikan berbagai organisasi massa, seperti SOBSI (buruh), BTI (petani), Gerwani (wanita), Pemuda Rakjat (pemuda), dan Lekra (seniman).4 Menurut Ricklefs, strategi baru yang dijalankan oleh PKI ini menyimpang dari teori Marxis-Leninis yang konvensional yang ia gambarkan sebagai berikut: “…. Strategi partai ini berselubung dalam terminologi Marxis-Leninis yang menyembunyikan penyimpangan dari teori Marxis-Leninis yang konvensional. Di dalam uraian-uraian Aidit, orientasi politiklah yang menjadi faktor penentu kelas sosial, bukannya kelas sosial itu sendiri yang menentukan orientasi politik. Jadi, dia menyatakan bahwa kaum komunis dapat bekerja sama dengan kaum borjuis kecil-kecilan dan kaum borjuis nasional melawan kelas borjuis komprador dan kelas feodal. Akan tetapi, partai politik utama yang didukung oleh kaum borjuis pribumi adalah Masyumi yang para pemimpinnya bersikap anti komunis. Oleh karena itu, Masyumi, bersama-sama dengan PSI, dicap sebagai partai kaum borjuis komprador. PNI, yang lebih bersifat birokratis (malah dalam beberapa hal “feodal”) daripada borjuis, ternyata lebih dapat menerima rayuan PKI dan, oleh karenanya, PMI diidentifikasikan oleh Aidit sebagai partai kaum borjuis nasional…”5 3 Ibid., hlm: 27-29. 4 G. Moedjanto. 1988. Indonesia Abad Ke-20 Jilid 2: Dari Perang Kemerdekaan Pertama Sampai Pelita III. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Hlm: 133-134. 5 M.C. Ricklefs, op. cit., hlm: 501-502.

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 Lebih lanjut lagi Ricklefs menyebut bahwa strategi PKI ini bersifat defensif. Usaha ini memang berhasil mempertahankan PKI selama hamper 15 tahun, tetapi strategi ini dinilai lebih mementingkan masa depan PKI sebagai organisasi, disbanding masa depan kelas buruh atau komunisme sebagai ideologi politik.6 Meskipun demikian, strategi yang dimainkan partai ini telah berhasil menjadikan PKI menjadi salah satu partai terbesar di Indonesia. B. Sejarah Singkat Harian Rakjat Pada Januari 1951, Siauw Giok Tjhan – seorang jurnalis senior dan pendiri Sunday Courier- menerbitkan majalah mingguan bernama Suara Rakjat. Pada bulan Juli, majalah ini berubah menjadi surat kabar dengan nama Harian Rakjat. Pada masa ini, Harian Rakjat belumlah menjadi organ propaganda dari PKI. Akan tetapi, keterlibatan Njoto – salah satu petinggi PKI – dalam dewan redaksi koran ini membuat berita-berita kegiatan PKI dimuat dalam koran ini.7 Harian Rakjat memiliki cakupan distribusi yang cukup luas di kota-kota besar di Jawa dan Sumatra. Akan tetapi, luasnya distribusi koran ini tidak dapat membuat keuntungan yang besar bagi koran tersebut. Di tengah masalah kesulitan pendanaan, Siauw Giok Tjhan mulai berpikir untuk menjual perusahaan penerbitan tersebut.8 6 Ibid., hlm:502. 7 Muhammad Zulkifar. 2018. Politik Surat Kabar: Berebut Wacana Harian Rakjat Dengan Abadi 1952-1955. Jakarta: Respublica Institute. Hlm: 25-26. 8 Fadrik Aziz Firdausi, op. cit., hlm: 37-38.

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 Niatan Siauw Giok Tjhan untuk menjual Harian Rakjat dilihat PKI sebagai sebuah kesempatan yang besar. PKI memang telah mengincar Harian Rakjat untuk dijadikan media propaganda partai. Kebutuhan PKI akan media massa sebagai alat agitasi partai tidak dapat terlepas dari strategi partai saat itu. Fadrik Aziz Firdausi menyebutkan: “… Pada dekade 1950an, PKI dibangun sebagai partai komunis berbasis massa. PKI memasifkan agitasi dan propagandanya kepada kaum proletar di kota dan kalangan petani miskin di daerah-daerah perkebunan. PKI juga membangun aliansi lebar yang menyatukan golongan buruh, petani, borjuasi kecil, dan borjuasi nasionalis. Dari komposisi yang demikian itu, aliansi ini jelas melebihi batas-batas partai dan ideologinya. Karena itu, dalam mengelola massa yang nisbi heterogen itu, diperlukan suatu media untuk diseminasi ideologi dan penerangan politik.”9 Penggunaan media cetak untuk memperkuat organisasi dan ideologi partai ini sebenarnya sudah dimulai dengan penerbitan kembali Bintang Merah pada 15 Agustus 1950. Bintang Merah merupakan sebuah majalah politik tempat para pimpinan PKI menuangkan gagasan ideologi mereka. Akan tetapi, Bintang Merah merupakan sebuah jurnal politik serius.10 PKI membutuhkan media massa lainnya untuk memperluas pengaruh mereka ke berbagai golongan. Surat kabar merupakan media yang tepat untuk tujuan PKI tersebut. PKI memanfaatkan kedekatan Njoto dan Siauw Giok Tjhan untuk memperlancar proses pembelian Harian Rakjat. Pada penghujung Oktober 1953, Harian Rakjat secara resmi diakuisisi oleh partai komunis tersebut.11 PKI 9 Ibid., hlm: 75. 10 Pembahasan mengenai Bintang Merah dapat dibaca di Rhoma Dwi Aria Yuliantri. “Bintang Merah: Dengan Jurnal Kembali Ke Atas Panggung”. Dalam Taufik Rahzen, et. al. 2007. Seabad Pers Kebangsaan. Jakarta: I:Boekoe. Hlm: 518-520. 11 Fadrik Aziz Firdausi, op. cit., hlm: 38.

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 menempatkan Harian Rakjat di bawah Departemen Agitasi dan Propaganda partai. Pasca akuisisi ini, Njoto dipilih untuk menggantikan Siauw Giok Tjhan untuk memimpin Harian Rakjat. Untuk menjalankan tugasnya mengelola surat kabar ini, Njoto dibantu oleh Naibaho dan Supeno. Fungsi utama Harian Rakjat bagi PKI adalah untuk membentuk opini publik supaya meyakini dan mempraktikkan ide revolusi berbasiskan perjuangan kelas.12 Sebagai alat propaganda partai, Harian Rakjat mengembangkan gaya jurnalisme yang bersifat agresif. Mereka tidak takut untuk menyerang dan memukul langsung lawan-lawan politiknya. Rhoma menyebut gaya jurnalisme Harian Rakjat sebagai “jurnalisme konfrontasi dengan bahasa yang meledak, tembak langsung, jambak, sikat, dan pukul di tempat”.13 Gaya jurnalisme dan bahasa yang digunakan oleh harian ini tidak terlepas dari target pembaca mereka. Surat kabar tersebut menargetkan pembacanya dari berbagai golongan, termasuk buruh dan petani yang tingkat pendidikannya cenderung rendah. Gaya bahasa yang lugas, tidak bertele-tele, dan terkadang cenderung kasar digunakan supaya para pembaca dapat dengan mudah memahami informasi yang hendak mereka sampaikan. Konten dalam surat kabar Harian Rakjat cukup beragam, meliputi berita nasional, berita daerah, berita internasional, editorial, kolom Komentar Ketjil, kolom Bisikan, kolom kebudayaan, HR Muda, Ruangan Wanita, dan berita 12 Kerry William Groves. 1983. Harian Rakjat, Daily Newspaper of the Communist Party of Indonesia – Its History and Role. Tesis. Faculty of Asian Studies, Australia National University. Hlm: 31. Rhoma Dwi Aria Yuliantri. “Harian Rakjat : Di Bawah Pukulan dan Sabetan Palu Arit”. Dalam Taufik Rahzen, et. al., op. cit., hlm: 700. 13

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 olahraga. Berita-berita yang disampaikan kebanyakan berupa berita politik dan berita pergerakan buruh dan tani. Harian Rakjat juga memuat berita-berita tentang kegiatan-kegiatan PKI maupun organisasi-organisasi yang berafiliasi dengan partai tersebut, seperti SOBSI dan Gerwani. Setiap hari Sabtu Harian Rakjat juga memuat kolom yang berisi rangkuman kejadian selama seminggu dalam bentuk karikatur yang dilengkapi dengan keterangan singkat di bawahnya. Tidak jarang kolom ini juga digunakan untuk propaganda dan menyindir musuhmusuh politik mereka. Gambar 1. Kolom Ruangan Wanita Harian Rakjat (Sumber: Harian Rakjat 29 Desember 1954)

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 Sirkulasi Harian Rakjat juga terus membaik. Pada tahun 1951, tiras Harian Rakjat sebanyak 2.000 perhari.14 Pada tahun 1954, oplah surat kabar ini berkembang menjadi 15.000 eksemplar.15 Akan tetapi, perkembangan oplah ini nampaknya masih jauh dari harapan. Dalam artikel berjudul “Berjuang Dalam Pers” Njoto mengungkapkan ketidakpuasannya terhadap oplah koran ini: “….15.000! Memang angka ini boleh dibilang besar. Tetapi, besar dibandingkan dengan mana! Dibandingkan dengan djumlah harian2lain, ja. Tetapi djika dibandingkan dengan Rakjat jang terorganisasi, belum apa2. Ambil sadjalah Sobsi. Anggotanja lebih dari 2.500.000. Djika tiap lima puluh anggota Sobsi berlengganan 1 lembar sadja Harian Rakjat, Harian Rakjat ini sudah harus beroplah 50.000! Kapan angka ini akan kita tjapai? Toh kita harus mentjapainja! Belum lagi terhitung anggota2 BTI, anggota2 Pemuda Rakjat, anggota2 organisasi2 demokratis lainnja, dan belum dihitung sama sekali orang2 jang tidak terorganisasi.”16 Oplah Harian Rakjat sebesar 15.000 tidak menunjukkan jumlah pembaca surat kabar tersebut. Menurut Njoto, setiap eksemplar Harian Rakjat dapat dibaca oleh 5-7 orang17, yang berarti setidaknya ada 75.000 pembaca surat kabar ini. Untuk meningkatkan jumlah pembaca dan oplah Harian Rakjat, surat kabar ini juga melibatkan massa. Pada tanggal 18 Oktober 1955, dimuat artikel pengalaman Herry – salah seorang pembaca – yang turut aktif dalam penyebaran informasi 14 Kerry William Groves, op. cit., hlm: 110. Njoto. “Berjuang Dalam Pers”. Harian Rakjat 25 Februari 1954 dalam Fadrik Aziz Firdausi, op.cit., hlm:158. 15 16 17 Ibid., hlm: 160. Ibid. Hlm: 159. Menurut Kerry William Groves berdasarkan pada pernyataan Naibaho tahun 1963 mengenai jumlah pembaca dan dibandingkan dengan perkiraan jumlah oplah Harian Rakjat waktu itu, maka setiap koran hanya dibaca sebanyak 3 orang. Lihat Kerry William Groves, op. cit., hlm: 117.

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 Harian Rakjat. Herry menuliskan pengalamannya membawa dan menitipkan Harian Rakjat miliknya ke kantin supaya koran itu dapat dibaca oleh orang lain.18 Contoh lain juga dapat dilihat dari tulisan Husin, seorang pelanggan Harian Rakjat di Tanah Abang, yang diterbitkan pada tanggal 20 Oktober 1955. Ia membawa Harian Rakjat ke tetangga-tetangganya supaya mereka dapat membaca informasi yang diberitakan harian ini. Para tetangganya tertarik karena ingin mengikuti info mengenai hasil pemilu, akan tetapi mereka kemudian mulai membeli Harian Rakjat, baik membelinya secara eceran maupun berlangganan. Menariknya, Husin juga bercerita bahwa: “Tetapi lama-kelamaan, merekaterus senang djuga membatja tulisan2 lainnja dalam Harian Rakjat. Mereka senang, ‘tjotjok buat hati saja’, kata mereka. Saja tidak tahu apa sebenarnja jang ditusuknja dalam pemungutan suara, sebab saja djuga tidak mau tanja. Tetapi, rupa2nja jang satu pilih Masjumi, jang satu lagi Partai Buruh, satu lagi PNI, dan menurut dugaan saja jang dua Palu Arit. Tetapi semuanja setiap sore ikut membatja Harian Rakjat”.19 Pernyataan Husin tersebut mengindikasikan bahwa pembaca Harian Rakjat tidak hanya terbatas pada kalangan anggota PKI atau simpatisan partai tersebut saja, melainkan juga simpatisan partai lainnya. Organisasi-organisasi yang dekat dengan PKI juga berperan penting dalam meningkatkan pembaca Harian Rakjat. Organisasi seperti Gerwani memiliki program untuk memberantas buta huruf di masyarakat. Harian Rakjat menjadi salah satu bahan bacaan yang digunakan dalam program ini.20 Pindjamkan HR Kita Kepada Orang2 JangTidak Berlangganan. Harian Rakjat 18 Oktober 1955. Hlm: 2. 18 19 Tetangga Saja Djuga Langganan HR. Harian Rakjat 20 Oktober 1955. Hlm: 2. 20 Muhammad Zulfikar, op.cit., hlm: 35.

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 C. Njoto: Tokoh di Balik Harian Rakjat Njoto lahir di Jember pada tanggal 17 Januari 1927. Ia adalah anak sulung dari pasangan Rustandar Sosrohartono dan Masalmah. Ayahnya adalah seorang pedagang batik dan jamu, tetapi ia juga aktif sebagai anggota PKI sejak tahun 1920-an. Toko miliknya –Yosobusono – di Bondowoso menjadi tempat berkumpul bagi para aktivis pejuang kemerdekaan, termasuk yang pernah dibuang ke Digul.21 Njoto sejak kecil telah bermimpi menjadi seorang jurnalis. Sabar Anantaguna – salah seorang teman sekelas Njoto di MULO – mengingatnya sebagai sesosok orang yang piawai menulis dan bergaul. Ia juga gemar bermain musik dan menciptakan lagu.22 Ketertarikan Njoto akan ideologi komunisme dipengaruhi oleh rekan-rekan ayahnya yang eks-digulis. Ia kemudian mengembangkan pengetahuannya mengenai ideologi tersebut melalui buku-buku “kiri” yang ia baca, seperti karya Karl Marx, Stalin, dan Lenin. Menurut Peter Edman, Njoto telah aktif dalam gerakan komunis sejak usia 14 tahun, ia turut andil dalam berbagai kegiatan bawah tanah di Jawa Timur selama masa pendudukan Jepang.23 Njoto juga turut serta dalam usaha perlucutan senjata Jepang di Surabaya, Jember, dan Bangil. Ia juga terpilih menjadi anggota 21 Arif Zulkifli, dkk. 2010. Njoto Peniup Saksofon di Tengah Prahara. Jakarta: Tempo dan Kepustakaan Populer Gramedia. Hlm: 10. 22 23 Ibid., Hlm: 7-8. Peter Edman dalam Julius Pour. 2011. Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan, & Petualang. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. Hlm: 443-444.

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) pada umur 16 tahun.24 Pada tahun 1948, Njoto bergabung dalam Komisi Penterjemah PKI; di sini ia bertemu dengan Aidit dan Lukman.25 Njoto memulai karirnya dalam dunia jurnalistik dengan menulis di dalam majalah teori Bintang Merah pada tahun 1947. Ia kemudian bergabung dalam redaksi harian Suara Ibu Kota yang dipimpin oleh Siauw Giok Tjhan.26 Di sinilah kedekatan antara Njoto dan Siauw mulai dijalin. Pasca peristiwa Madiun 1948, Njoto bersama dengan Aidit, Lukman, dan Peris Pardede membangkitkan kembali Bintang Merah yang terbit perdana pada tanggal 15 Agustus 1950. Ia juga bergabung ke dalam majalah mingguan Sunday Courier yang diterbitkan oleh Siauw Giok Tjhan.27 Ketika Siauw Giok Tjhan menerbitkan majalah mingguan Suara Rakjat yang kemudian berganti menjadi surat kabar Harian Rakjat, ia ikut mengajak Njoto sebagai salah satu pembantunya untuk mengurus penerbitan ini. Karena keterlibatan Njoto inilah berita-berita tentang PKI dapat masuk ke dalam Harian Rakjat.28 Pada tahun 1953, Harian Rakjat dibeli oleh PKI. Njoto ditunjuk oleh partai untuk menggantikan posisi Siauw Giok Tjhan dalam surat kabar ini. Ia kemudian menjadi otak dari propaganda PKI dalam Harian Rakjat. 24 Arif Zulkifi, dkk., op. cit., hlm: 13. Menurut Joesoef Isak, Njoto harus memalsukan umurnya lebih tua 2 tahun supaya dapat menjadi anggota KNIP. 25 Ibid., hlm: 15 26 Fadrik Aziz Firdausi, op. cit., hlm: 23. 27 Ibid., hlm: 28-29. 28 Ibid., hlm: 37.

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 Dalam mengelola Harian Rakjat ataupun penerbitan PKI lainnya, Njoto dipengaruhi pemikiran dari Lenin tentang peranan pers. Lenin menyebutkan bahwa pers berperan sebagai propagandis kolektif (collective propagandist), agitator kolektif (collective agitator), dan organisator kolektif (collective organizer). Menurut Groves, dengan mengadopsi tugas ini, pers bertugas untuk membantu perjuangan kelas untuk mendirikan negara sosialis.29 Pengaruh ide Lenin pada konsep pers Njoto ini dapat dilihat dari kutipan tulisan Njoto berikut: “Akhir2 ini sadja tidak sedikit pengalaman jang kita dapat, jaitu: bahwa sesuatu aksi massa, baik demonstrasi, atau pemogokan, atau kongres, atau lain2nja, berlangsung dengan efektif dan mentjapai sukses, djika ia dibantu oleh kampanje jang di baik didalam pers. Sebaiknja aksi2 massa jang dilakukan tidak dengan bantuan kampanje didalam pers, mengalami kegagalan, atau tidak mentjapai tudjuannja dengan sepenuhnja. Harian Rakjat adalah suatu harian jang tidak mempunjai tudjuan lain ketjuali mengabdi kepada Rakjat dan perdjuangannja. Sedang pers kaum reaksi, dari hari kesehari semakin banjak melakukan pemalsuan2, pemutarbalikan2, dan kebohongan2, pers Rakjat bertambah setia melakukan tugasnja: memberikan informasi jang benar, menelandjangi kepalsuan musuh2 Rakjat, membela segala sesuatu jang benar dan adil, memberi didikan politik kepada massa, dan memobilisasi massa agat massa lebih teguh membela hak2 dan kepentingan2nja.”30 Njoto juga memiliki pandangannya tersendiri mengenai objektivitas surat kabar. Menurut Njoto, objektif bukan berarti netral. Objektivitas pers harus memihak kepada kelas yang menindas atau pada kelas yang tertindas. Objektivitas ini hadir setelah jurnalis memilih di pihak mana dia berdiri, sehingga objektivitas dipraktikkan di dalam suatu sudut pandang pemberitaan tertentu, dalam keberpihakan. 29 Kerry William Groves., op. cit., hlm: 29-30. 30 Njoto, op.cit.

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 Pemikiran Njoto inilah yang mempengaruhi kebijakan pemberitaan surat kabar Harian Rakjat. Njoto menempatkan Harian Rakjat sebagai surat kabar yang membela rakyat atau kaum proletar, sehingga surat kabar ini banyak memberitakan gerakan-gerakan buruh maupun tani dan kelompok-kelompok kecil lainnya. Pemberitaan di Harian Rakjat juga membela kaum proletar dan anti terhadap kaum kapitalis, imperialis, fasis, dan antek-anteknya yang mereka anggap anti terhadap perjuangan rakyat.

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III KAMPANYE PEMILU 1955 DI HARIAN RAKJAT A. Harian Rakjat dan Pemilu Sebagai surat kabar milik partai, Harian Rakjat memiliki peranan besar dalam propaganda PKI. PKI aktif menggunakan media ini sebagai saluran agitasi, seperti menyebarkan program-program partai ataupun menyerang partai lawan. Saat kampanye untuk pemilihan umum tahun 1955, Harian Rakjat memegang peranan besar dalam kampanye partai ini. Mengenai peranan pers dalam kampanye, pada tanggal 12 september 1955 Harian Rakjat memuat pendapat Njoto mengenai pers dan pemilihan umum sebagai berikut: “Per-tama2 harus diingat, bahwa pekerdjaan agitasi dengan menggunakan pers tidak akan mentjapai hasil jang baik, selama soal ini hanja mendjadi soal agen2 harian Rakjat, soal Comite2 Partai dan soal kader2 tertentu dari gerakan revolusioner. Pekerdjaan ini hanja bisa berhasil baik, djika bukan hanja agen2 dan Comite2 dan sipolan dan sianu, tetapi semua anggota gerakan progresif ikut serta… …Disamping itu, pers harus digunakan setjaralebih efektif untuk membongkar kepalsuan2, kongkalikong, suap2an, dsb. jang dilakukan oleh partai2 reaksioner. Didalam keadaan mendesak seperti sekarang ini, mereka tidak mungkin mentjapai kemenangan sonder memakai djalan2 illegal. Waktu tinggal singkat sadja, tetapi laporkanlah pengalaman2mu kepada redaksi harianmu. Kebohongan2 apa jang diomongkosongkan oleh pemimpin2 Masjumi-PSI didalam pidato2 mereka, ketjurangan2 apa jang terdjadi, suap2an jang bagaimana jang dilakukan, semua ini harus dilaporkan setjara kongkrit. Djangan ada satupun pengalaman jang disimpan buat diri sendiri. Hal ini berlaku sampai hari2 sesudah pemungutan suara, jaitu disaat2 penghitungan suara. Untuk ini semua alat pengiriman meti digunakan: kawat pers, telpon interlokal, kurir, surat expres, dsb. Gunakanlah Harian Rakjat se-maximal2nja didalam semua pekerdjaan: untuk rapat2, tjeramah2, untuk andjangsana, untuk latihan2 mentjoblos Palu-Arit, untuk pertjakapan2, pendeknja untuk memenangkan demokrasi dalam pemilihan umum. Pekerdjaan ini bisa dan pasti membawa hasil jang besar. Tergantung sekarang dari kita sekalian.”1 1 Pers dan Pemilihan Umum. Harian Rakjat 12 September 1955. Hlm: 1.

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 Dari artikel tersebut, Harian Rakjat dalam kaitannya dengan kampanye pemilu 1955, tidak hanya berfungsi sebagai alat propaganda saja. Surat kabar ini juga menjalankan fungsi sebagai sarana komunikasi antara partai dengan para kader dan simpatisan, di mana PKI menggunakannya sebagai media untuk menyuarakan instruksi bagi para anggota-anggotanya. Harian Rakjat juga menjadi sarana penyebaran isu yang harus disebarkan oleh para kader dan simpatisan PKI kepada orang-orang di sekitarnya. Di samping itu, Harian Rakjat juga menjadi sarana bagi anggota partai ini untuk menyuarakan kecurangankecurangan partai lainnya pada pemilihan umum ini. B. Masa Persiapan Kampanye Bulan Januari 1954 hingga 15 Maret 1954 merupakan masa persiapan kampanye pemilihan umum bagi PKI. Pada masa ini, belum banyak artikel-artikel kampanye yang dimuat dalam Harian Rakjat. Pemberitaan di surat kabar ini masih banyak berkutat seputar pemberitaan-pemberitaan berbagai peristiwa yang terjadi di Indonesia maupun di dunia internasional. 1. Membela Kabinet, Menyerang Oposisi Pada masa ini, Harian Rakjat sudah mulai menyerang Masjumi dan PSI. Pada waktu itu, PKI mengambil kebijakan untuk mendukung pemerintahan Ali Sastroamidjojo yang juga didukung oleh PNI, NU, PSII dan berbagai partai lainnya. Sedangkan pada waktu itu, Masjumi dan PSI menjadi oposisi pemerintah. Pada tanggal 2 Januari 1954, Harian Rakjat menerbitkan artikel liputan dari kegiatan rapat umum PNI di Solo. Pada artikel ini, Harian Rakjat mengutip

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 pernyataan-pernyataan dari Sidik Djojosukarto – ketua PNI – yang menyebut bahwa oposisi terus berusaha menjatuhkan kebinet, baik dengan mengajukan mosi di parlemen maupun melakukan politik pecah belah. Harian Rakjat juga menanggapi pernyataan ini lewat kolom editorialnya. Melalui artikel tersebut, mereka menyatakan: “Penegasan dari Sidik akan watak jang sesungguhnja dari oposisi sekarang ini adalah suatu hal jang menggembirakan dan patut dihargai. Tetapi penegasan sadja barulah setengah pekerdjaan, jang setengah lainnja jalah tindakan tegas dan berani untuk menggagalkan usaha djahat dari mereka jang hendak mendjatuhkan pemerintahan Ali ini dan menggantikannja dengan suatu kabinet jang terang2an akan mengabdi pada kepentingan2 asing seperti jang telah kita kenal di zaman pemerintahan Masjumi-PSI pada waktu jang lewat.”2 Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Harian Rakjat menyetujui pernyataan Sidik mengenai sikap dari pihak oposisi yang hanya mencari-cari cara untuk menjatuhkan kabinet Ali Sastroamidjojo. Mereka juga menuduh oposisi sebagai kaki tangan dari modal asing. 2. Masjumi, Darul Islam, dan Modal Asing Pada masa persiapan kampanye ini, Harian Rakjat banyak menyoroti soal pemberontakan Darul Islam (DI). Pada tanggal 5 Januari 1954, Harian Rakjat memuat artikel yang meliput tuntutan dari 4 pemuka Aceh yang menyatakan adanya kaki tangan Daud Beureueh di pemerintahan. Pada artikel tersebut, dituliskan: “…bahwa orang2 jang turut dalam gerakan pengatjauan di Atjeh masih menduduki djabatan2 di Atjeh. Mereka itu bukan sadja menghambat usaha2 Pemerintah untuk memulihkan tetapi djuga terus mendjadi kaki-tangan kaum pengatjau dengan memberikan keterangan2 dan pengundjukan2 jang menjebabkan 2 Editorial: Bahajanja Oposisi Sekarang. Harian Rakjat 2 Januari 1954. Hlm: 1.

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 tidak sedikit orang2 jg. menjokong pemerintah ditjulik atau rumahnja dibakar oleh anggota2 gerombolan Daud Beureueh… …Selandjutnja diterangkannja bahwa merekapun akan meminta perhatian Pemerintah, bahwa sampai sekarang masih banjak rakjat Atjeh jang tidak bersalah belum dibebaskan dari tahanan. Sementara itu orang2 jang benar2 mendjadi kakitangan Daud Beurueuh telah dibebaskan kembali dari tahanannja, jaitu disebabkan karena orang2 itu mendapat pertolongan dari komplotan Daud Beureueh jang sampai sekarang masih menduduki djabatan2 penting didalam pemeritnahan.”3 Artikel tersebut dapat dilihat sebagai pembenaran akan tuduhan PKI mengenai Masjumi sebagai pendukung gerakan Darul Islam dan Daud Beureueh. Artikel itu juga menuduh orang-orang Masjumi yang duduk di pemerintahan telah menggunakan kekuasaan mereka untuk membantu Darul Islam dan menghalanghalangi usaha pemerintah untuk memberantas gerombolan tersebut. Harian Rakjat juga memuat berita-berita yang mengkaitkan anggotaanggota Masjumi dengan DI secara langsung. Pada tanggal 11 Februari 1954, surat kabar ini memberitakan penangkapan beberapa tokoh Masjumi oleh tentara. Dalam pemberitaan tersebut disebutkan: “EMPAT pemimpin Masjumi, Tjisaat, Sukabumi, diantaranja ketua Masjumi daerah tersebut, Satia, ditangkap pihak tentara, karena telah melakukan pemerasan kepada penduduk untuk perbekalan gerombolan terlarang TII.”4 Surat kabar ini juga memberitakan kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh DI. Pada tanggal 13 Maret 1954, Harian Rakjat memuat laporan tentang pembakaran Masdjid oleh “gerombolan” di Garut. Dalam berita tersebut disebutkan: “Menurut berita dari Garut. setelah gerombolan bersendjata jang terdiri atas l.k. 200 orang pada t.g. 9 Mrt. Telah melakukan pengatjauan didesa Panjindangan (ketjamatan Tjisompet, distrik Pameungpeuk) 36 Buah rumah dan 2 mesdjid telah dibakar sampai habis dan seorang pembunuh dibunuh oleh gerombolan itu…”5 Melalui pemberitaan-pemberitaan soal kekejaman DI, Harian Rakjat ingin membangkitkan amarah dan antipati rakyat Indonesia terhadap gerakan tersebut, 3 Banjak kaki tangan Daud Beurueuh jang masih duduk dalam pemerintahan. Harian Rakjat 5 Januari 1954. Hlm: 2. 4 Harian Rakjat 11 Februari 1954. Hlm: 2. 5 Harian Rakjat 13 Maret 1954. Hlm: 4.

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 Peberitaan mengenai pembakaran masjid di atas adalah salah satu bentuk upaya surat kabar ini untuk membangkitkan amarah umat Islam Indonesia,. Selain itu, pemberitaan ini juga ingin memperlihatkan kepada masyarakat bahwa DI bukanlah pembela umat Islam seperti yang mereka (DI) propagandakan . Harian Rakjat juga menuduh bahwa gerakan Darul Islam juga mendapat dukungan dari pihak asing. Pada awal Januari 1954, muncul berita penangkapan beberapa orang asing di Indonesia. Mereka diduga ditangkap karena memiliki hubungan dengan gerombolan bersenjata. Harian Rakjat tidak ketinggalan menyoroti peristiwa ini dan menjadikannya sebagai bahan propaganda untuk menyerang pihak oposisi. Dalam kolom editorialnya, menyatakan: “Penangkapan thd. orang2 Belanda itu sudah tentu akan menimbulkan reaksi jang hebat dikalangan kaum modal besar asing dan dikalangan golongan2 jang melihat keselamatannja dalam kemenangan Smit, Bosch, dan gerombolan teror Darul Islam.”6 Dengan mengutip laporan Merdeka, Harian Rakjat juga menuduh Belanda memiliki hubungan langsung dengan kejadian ini. Salah satu warga asing yang ditangkap – Smith – dilaporkan sering menggunakan mobil dengan plat CD (Corps Diplomatik) yang dimiliki oleh kedutaan Belanda. Selain itu, ia juga sering menggunakan seragam tentara Belanda, sehingga bisa melewati pos-pos penyelidikan tentara Indonesia.7 Dengan mengkaitkan Masjumi dengan gerakan Darul Islam, Harian Rakjat ingin membentuk opini masyarakat bahwa Masjumi melakukan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan,sekalipun dengan cara-cara yang melanggar hukum dan 6 Harian Rakjat 8 Januari 1954. Hlm: 1. 7 Ibid.

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 menyengsarakan rakyat. Selain itu, mereka juga ingin masyarakat menganggap Masjumi anti-Pancasila, anti-persatuan, dan anti-demokrasi karena mendukung gerakan yang bercita-cita untuk mendirikan negara Islam di Indonesia ini. Berita mengenai dukungan modal asing pada gerakan Darul Islam secara tidak langsung ingin memperlihatkan bahwa segala upaya yang dilakukan oleh Masjumi, baik secara legal maupun tidak legal, dilakukan demi membela kepentingan modal asing. 3. Demonstrasi Masjumi dan BKOI Pada Februari 1954, Masjumi mengadakan demonstrasi terkait pembentukan Panitia Pemilihan Jakarta. Harian Rakjat dalam artikel berjudul “NU, PSII, PERTI, dan 6 partai lainnja menentang demonstrasi Masjumi” yang terbit tanggal 12 Februari 1954, memuat pernyataan partai-partai dan organisasi-organisasi massa pro-pemerintah yang menolak rencana Masjumi tersebut karena dianggap sebagai usaha partai tersebut untuk menguasai seluruh Panitia Pemilihan Jakarta. Menariknya, meskipun PNI dan PKI termasuk di dalam partai-partai yang menolak rencana demonstrasi Masjumi, akan tetapi judul artikel tersebut menyoroti NU, PSII dan PERTI yang notabene merupakan partai-partai Islam. Hal ini dilakukan untuk memperlihatkan kepada masyarakat bahwa Masjumi bukanlah satu-satunya partai yang mewakili umat Islam di Indonesia, seperti yang dipropagandakan selama ini oleh mereka. Harian Rakjat ingin memperlihatkan bahwa partai-partai Islam lainnya mengambil posisi yang sama seperti PKI dan PNI, yaitu menentang rencana Masjumi tersebut.

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 Tidak hanya sampai disitu saja, Harian Rakjat juga memuat pernyataan bersama partai-partai dan organisasi-organisasi massa yang menentang rencana demonstrasi Masjumi tersebut. Dalam pernyataan tersebut, mereka mengatakan bahwa: “Untuk melantjarkan nafsu dan kemarahan mereka – golongan jang selalu tidak puas ini – maka mereka akan menempuh semua djalan baik jang sjah maupun tidak sjah, djudjur ataupun tidak djudjur benar ataupun salah asal sadja menguntungkan diri dan golongannja. Pengalaman menudjukkan kepada kita, bagaimana golongan ini jang dengan tidak segan2 dan tidak malu2 menggunakan ‘kenduri’ utk mengambil suatu resolusi mendjatuhkan kabinet,; menggunakan langgar dan mesdjid sebagai mimbar propaganda politiknja jg merugikan Rakjat dan demokrasi; mempergunakan nama Rakjat dan umat Muslimin / Muslimat untuk mempertahankan dan mentjahari kedudukannja dsb. Bagi golongan ini perkataan ‘demokratis’ hanja harus berarti semua tempat, kedudukan dan kekuasaan ditangan mereka sendiri! Adil bagi mereka berarti bahwa golongan lain – meskipun merupakan majoriteit – harus tunduk kepada kehendak mereka sendiri !”8 Pasca demonstrasi Masjumi dilakukan, Harian Rakjat kembali menyampaikan pendapatnya. Dalam editorial bertajuk “Menghilangkan Dongeng Tentang Masjumi”, Harian Rakjat meledek Masjumi yang hanya bisa mengerahkan 20.000 orang dalam demonstrasi yang mereka lakukan, walaupun sudah mendatangkan anggota-anggotanya dari wilayah lain. Selain itu, mereka juga meledek Masjumi dan PSI yang menurut mereka masih seumur jagung dibandingkan dengan partai-partai lain seperti PNI, NU, dan PSII yang sudah berumur belasan hingga puluhan tahun dan memiliki riwayat anti-kolonial.9 Harian Rakjat juga menuduh bahwa demonstrasi ini didukung oleh kaum modal asing. Mereka menyebut bahwa ada perusahaan-perusahaan asing yang 8 Harian Rakjat 13 Februari 1954. Hlm: 1. Hal lain yang menarik dari artikel ini adalah PKI menuduh Masjumi menggunakan rumah ibadah sebagai tempat propaganda mereka. 9 Harian Rakjat 15 Februari 1954. Hlm: 1.

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 menyuruh buruh-buruhnya untuk ikut serta dalam aksi unjuk rasa tersebut, dan upah mereka tetap dibayar meskipun mereka tidak bekerja. Untuk menentang politik Masjumi ini, partai-partai pro-pemerintah mengadakan demonstrasi tandingan pada tanggal 20 Februari 1954. Tak pelak demonstrasi ini mendapatkan perhatian besar dari Harian Rakjat. Selain menjadi headline berita di surat kabar ini tanggal 22 Februari 1954, pada hari yang sama surat kabar ini juga memuat editorial yang berisi tanggapan tentang aksi tersebut sekaligus mengejek Masjumi dan demo yang mereka lakukan sebelumnya. Pada pernyataannya, mereka mengatakan: “Demonstrasi jang pertama, jang hanja dipersiapkan dalam waktu kurang dari seminggu, telah mendemonstrasikan kekuatan tenaga2 demokratis diibukota. Satu dari tiap2 empat penduduk dewasa Djakarta turut didalam demonstrasi itu. Sungguh djawaban jang berat bagi Masjumi, jang minggu jang lalu dengan pengaruhnja jang kuranglebih 2% tjoba2 mau mempengaruhi suasana politik diibukota.”10 Pada tanggal 28 Februari 1954, Badan Kontak Organisasi Islam (BKOI) melakukan aksi di Jakarta. Aksi ini dilakukan untuk menuntuk kejaksaan untuk menuntut Hadi – anggota PNI – yang di dalam pidatonya di Sumatera Tengah dianggap telah menghina agama Islam. Akan tetapi, demo ini berakhir dengan kericuhan, karena peserta aksi melakukan perusakan dan mengeroyok seorang perwira tentara bernama Kapten Suparta hingga Tewas. Aksi tersebut menjadi sorotan Harian Rakjat yang menggunakannya sebagai alat untuk menyerang Masjumi. Pada pemberitaannya, mereka menceritakan betapa hebat dan biadabnya para demonstran ketika melakukan tindakan anarkis tersebut. Tidak hanya itu, surat kabar ini juga menuduh ada anggota-anggota DI 10 Harian Rakjat 22 Februari 1954. Hlm: 1.

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 yang menyusup di aksi ini, dan kericuhan serta pengeroyokan tersebut adalah tantangan mereka kepada tentara.11 Melalui kolom editorialnya, Harian Rakjat menuduh hasutan berbisa dari para petinggi Masjumi yang menyebabkan terjadinya kericuhan tersebut. Pada artikel tersebut, mereka menyatakan: “Dengan menggunakan alasan ‘agama’ itu. Rapat kemarin dikundjungi oleh massa jang lumajan djuga djumlahnja…. …Tiap2 rapat politik adalah baik, djika ia membitjarakan politik jang zakelijk. Tetapi hasutan2 jang kita dengar kemarin seperti djuga hasutan2 jang sudah lumrah di-hambur-hamburkan oleh Isa Anshary dan gembong2 Masjumi lainnja begitu tidak zakelijk, begitu tidak kenal batas, begitu tidak sopan, sampai2 perkataan2 penghinaan seperti ‘babi’ dll. dipakai. Apa akibatnja? Massa jang fanatik jang dibakar2 sentimennja itu me-luap2 semangatnja, sehingga mereka menimbulkan keonaran, melakukan kekatjauan dengan menjerbu rumah, membakar barang2nja , dan mengerojok serta menganiaja perwira TNI, sehingga seorang perwira, jaitu kapten Suparta, meninggal dunia.”12 Harian Rakjat kembali memanaskan situasi dengan menuduh bahwa kericuhan yang terjadi ketika demo BKOI tersebut sudah direncanakan. Di dalam sebuah artikel berjudul “Terror di djalan Banteng sudah diatur lebih dulu?” mereka menyebut: “Antara lain telah menarik perhatian bahwa batu2 jang dipakai untuk melempari rumah dan merusak djendela dsbnja adalah sematjam batu2 besar jang tidak terdapat disekitar rumah tsb, malahan djuga tidak ada dalam kota Djakarta. Batu2 ini diduga telah dengan sengadja dibawa dari luarkota, dgn. mengendarai truck2 dan kendaraan2 lainnja jang sedjak pagi itu memasuki kota Djakarta dari ber-bagai2 arah. Djuga dugaan bahwa dalam demonstrasi tsb. ikut orang2 Darul Islam dikuatkan oleh berbagai kalangan.”13 Harian Rakjat, melalui kolom editorialnya juga menuduh Masjumi dan PSI sebagai pihak dibalik rencana kericuhan tersebut. Menurut pendapat mereka, 11 Harian Rakjat 1 Maret 1954. 12 Ibid. 13 Harian Rakjat 4 Maret 1954. Hlm: 1.

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 kedua partai tersebut saling bekerjasama untuk menjatuhkan pemerintahan Ali yang mereka sebut-sebut didukung oleh rakyat, dan ingin mendirikan pemerintahan seperti pemerintah Sukiman atau Sjahrir yang disebut sebagai pemerintah pro-asing. Menurut pendapatnya, kerusuhan tersebut hanyalah cara oposisi untuk mengukur kekuatan pemerintah, karena untuk membuat kudeta baru terlalu besar resikonya.14 Harian Rakjat juga memuat pernyataan CC PKI mengenai kerusuhan demo BKOI-Masjumi tersebut. Dalam pernyataannya, PKI menuduh Masjumi ingin “lempar batu sembunyi tangan” karena para pimpinannya seperti Isa Anshary, Natsir, dan Sukiman tidak hadir dalam unjuk rasa tersebut. Selain itu, PKI juga memprotes kebijakan pemerintah yang melarang diadakannya demonstrasi. Menurut mereka, larangan untuk mengadakan aksi unjuk rasa cukup ditujukan kepada Masjumi-PSI. Mereka juga menuntut supaya Masjumi bertanggung jawab atas kerusuhan tersebut.15 4. Pembentukan Panitia Pemilihan Indonesia Pada masa ini, mulai dimbentuk panitia-panitia pemilihan pusat dan daerah. Anggota panitia pemilihan umum ini berasal dari partai-partai dan anggotaanggota organisasi massa. Tentu saja partai-partai saling berebut kursi keanggotaan panitia pemilihan ini. 14 Ibid. 15 Ibid.

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 PKI juga aktif untuk menuntut bagian dalam panitia pemilihan ini. Mereka juga aktif menggunakan Harian Rakjat untuk menyuarakan tuntutan mereka ini. Pada tanggal 21 Januari 1954, mereka memuat pernyataan dari Provinsi Comite PKI Jawa Timur yang mengkritik pembentukan panitia pemilihan diberbagai daerah di Jawa Timur yang dianggap tidak demokratis. Selanjutnya mereka menyarankan: “Putusan penindjauan kembali Panitia Pemilihan Kabupaten Kediri jang kemudian diikuti dengan pemilihan oleh wakil2 Partai2 dan organisasi2 massa dengan dasar pembagian menurur aliran2 Agama, Nasionalis dan Sosialis masing2 dua tempat. Adalah suatu tindakan jang bidjaksana dan perlu digunakan sebagai teladan dalam pembentukan Badan2 Penjelenggara Pemilihan dilain2 daerah.”16 Ketua CC PKI, D.N. Aidit, juga memprotes susunan panitia pemilihan diberbagai daerah. Dalam pernyataannya yang dikutip oleh Harian Rakjat, Aidit menyebut bahwa diberbagai tempat, pembentukan panitia pemilihan dilakukan secara serampangan karena adanya “korupsi politik” berbagai pihak. Dalam pernyataan ini, salah satu contoh yang ia ambil adalah Panitia Pemilihan Jawa Barat, yang menurutnya tidak adil jika Masjumi yang terlibat dalam DI memiliki wakil di panitia pemilihan ini sedangkan PKI yang terang-terangan melawan gerombolan tersebut tidak memiliki wakil sama sekali.17 Melalui Harian Rakjat, PKI sering menyampaikan protes terkait dengan pembentukan panitia pemilihan umum. Jika tidak ada wakil PKI ataupun organisasi-organisasi massa maka mereka akan menyebutnya sebagai tidak demokratis atau tidak mencerminkan aliran-aliran yang ada di dalam masyarakat. 16 Harian Rakjat 21 Januari 1954. Hlm: 2. 17 Harian Rakjat 8 Februari 1954. Hlm:1.

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 Meskipun sebenarnya sudah ada wakil sosialis lainnya, seperti PSI, mereka akan tetap memprotesnya. Harian Rakjat selalu menyebut jika PKI pantas mendapat tempat di setiap Panitia Pemilihan karena mereka merasa sebagai partai golongan sosialis terbesar di Indonesia. 5. Ceramah Umum dan Rapat Umum PKI Pada masa persiapan ini. PKI sudah mulai aktif melakukan kampanyekampanye kecil di berbagai daerah. Cabang-cabang partai di tingkat lokal sudah mulai aktif mengadakan ceramah-ceramah umum dan rapat umum di wilayahnya masing-masing. Pada acara-acara ini dibahas soal rencana program PKI. Harian Rakjat tidak ketinggalan untuk memuat liputan acara-acara tersebut. Biasanya surat kabar ini memuat liputan kecil acara-acara ceramah umum PKI di tingkatan lokal ini di dalam kolom kecil di Berita Daerah. Dari pemberitaanpemberitaan di surat kabar ini, dapat dilihat bahwa kampanye PKI dilakukan di wilayah Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Wilayah yang paling sering mengadakan kampanye adalah Jawa – terutama Jawa Tengah dan Jawa TImur -, Sumatera, dan Kalimantan. C. Masa Awal Kampanye Pada tanggal 16-20 Maret 1954, PKI mengadakan Kongres Nasional V di Jakarta. Harian Rakjat turut meramaikan suasana menjelang diadakannya kongres ini. Sejak 8 Maret 1954, setiap harinya surat kabar ini memuat seruan-seruan

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 berbunyi “Hidup Kongres Nasional ke-V Partai Komunis Indonesia”. Koran ini juga aktif mengabarkan liputan kegiatan PKI tersebut. Selama kongres nasional itu, dibahas berbagai macam persoalan, diantaranya adalah manifes pemilihan umum PKI. Dalam manifes ini dibahas mengenai isu dan strategi kampanye PKI untuk menghadapi pemilihan umum mendatang. Dalam manifes pemilu ini, PKI memaparkan pandangan mereka mengenai permasalahan yang dihadapi oleh Indonesia. Menurut mereka, perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB) yang disetujui oleh pemerintah Masjumi – PSI tidak membawa kemerdekaan bagi rakyat Indonesia. Dalam pandangan mereka, KMB justru memberikan kemerdekaan bagi bangsa asing untuk menjajah, menindas, dan mengeruk kekayaan bangsa Indonesia. Dalam manifes ini PKI juga mengkritik pemerintahan Ali Sastroamidjojo yang dianggap masih menindas kaum buruh dan tani. Menurut mereka, hal ini terjadi karena tidak ada wakil buruh yang duduk di dalam pemerintahan ini. Dalam pandangan PKI, untuk menyelesaikan masalah tersebut perlu dibentuk suatu pemerintahan Demokrasi Rakyat di Indonesia. Kongres Nasional ke-V PKI ini menjadi awal dari masa kampanye PKI untuk pemilihan umum 1955. Pasca kongres ini, PKI mulai membangun jaringan panitia kampanye dan semakin aktif mengadakan kampanye-kampanye di lapangan. Tidak hanya itu, PKI juga semakin aktif mempropagandakan ideologi dan rencana program kerja partai untuk menarik suara dalam pemilu tersebut.

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 1. Demokrasi Rakyat Membentuk pemerintahan Demokrasi Rakyat atau Diktator Rakyat adalah tujuan utama dari PKI. Menurut mereka, bentuk pemerintahan ini yang ideal bagi rakyat Indonesia untuk mencapai kemajuan. Dalam manifes pemilihan umum yang dimuat oleh Harian Rakjat, PKI menjabarkan bentuk pemerintahan ini sebagai berikut: “Diktatur Rakjat berarti kekuasaan kaum buruh, kaum tani, kaum inteligensia, kaum pengusaha ketjil dan pengusaha nasional, pendeknja kekuasaan semua tenaga nasional jang demokratis, terhadap kaum komprador, kaum tuan-tanah, dan golongan2 penghisap lainnja. Sonder diktatur Rakjat tidak mungkin mentjapai Indonesia jang merdeka penuh dan demokratis… …Pimpinan klas buruh berarti bahwa ideologi jang mendjadi pedoman negara haruslah ideologi klas buruh, dan bahwa pimpinan pemerintah ada ditangan siapa sadja, dari golongan manapun asalnja, tetapi jang menganut ideologi klas buruh dan jang sanggup djudjur dan setia akan mendjalankannja. Ini perlu sekali, sebab klas buruh adalah satu2nja klas jang anti segala penindasan, anti segala penghisapan dan satu2nja klas jang sudah terlatih dalam disiplin, dan oleh sebab itu ideologi klas buruh adalah satu2nja ideologi jang konsekwen. Ideologi klas buruh bukan untuk mendapatkan ke-enakan atau keuntungan buat beberapa orang sadja, ideologi klas buruh bukan untuk mendapat lisensi, prioritet, fasilitet, atau keuntungan2 lain jang mengutamakan diri sendiri atau klas sendiri. …Ideologi klas buruh adalah ideologi pembebasan semua klas dari penindasan kaum kapitalis dan tuantanah…”18 Dari pernyataan di atas, pemerintahan Diktator Rakyat atau Demokrasi Rakyat yang dimaksud oleh PKI adalah pemerintahan yang pro terhadap kelompok “tenaga nasional yang demokratis” dan anti terhadap golongan penghisap. Pemerintahan ini harus didirikan berlandaskan ideologi kelas buruh. Hanya saja, tidak dijelaskan lebih rinci mengenai bentuk pemerintahan dan ideologi tersebut. Dalam pandangan PKI, Demokrasi Rakyat tidak dapat dibentuk oleh para buruh dan tani saja. Pemerintahan ini hanya dapat didirikan dengan kerja sama 18 Harian Rakjat 22 Maret 1954. Hlm: 3.

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 semua golongan nasional, mulai dari buruh, tani, pedagang kecil, pengusaha nasional, hingga akademisi. Untuk itu PKI menyerukan supaya semua golongan ini bersatu melawan modal asing dan kolaboratornya. Untuk mencapai tujuan itu, mereka juga mengajak partai-partai lain bekerja sama dengan mereka. Mereka mencanangkan front demokrasi, atau persatuan partai-partai demokratis untuk melawan para kolaborator dan modal asing. Partaipartai yang masuk ke dalam golongan demokratis ini adalah partai-partai yang pro-pemerintahan Ali, seperti PNI, NU, dan PSII. Sedangkan tujuan dari koalisi ini adalah mengalahkan partai kolaborator, yakni Masjumi dan PSI. Persoalan ini juga dibahas dalam manifes pemilihan umum PKI. Menanggapi Manifes Pemilihan Umum PKI, Harian Rakjat menyatakan: “…. Jang sangat menarik dari manifes itu jalah sembojannja jang mengandjurkan supaja Rakjat memilih tidak hanja PKI, tetapi djuga partai2 demokratis lainnja. Dengan sembojan ini, PKI membuktikan ke-sungguh2annja bahwa diatas segala2nja usahanja sekarang ditudjukan untuk terbentuknja suatu pemerintah front persatuan, dengan mengisolasi PSI- Masjumi. Bahwa PSI-Masjumi itu tidak mungkin diberi tempat didalam front nasional, ini bukan hanja pendapat kita. “Sulindo” kemarin djuga membuktikan kepararelan PSIMasjumi dengan modal asing. Dan ini bukan hanja pendapat “Sulindo”, pendapat ini pendapat seluruh Rakjat, karena pendapat ini hanja mengkonstatir kenjataan jang paling kongkrit.”19 Dari pernyataan tersebut Harian Rakjat mengajak rakyat Indonesia untuk memenangkan partai-partai yang mereka sebut sebagai “Blok Demokratis”, yakni partai-partai yang saat itu mendukung pemerintahan Ali Sastroamidjojo, mulai dari PNI, NU, SKI, PSII, dan partai-partai lainnya. Menurut mereka, partai-partai Blok 19 Demokratis ini merupakan Harian Rakjat 23 Maret 1954. Hlm: 1. partai-partai yang mendukung dan

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41 memperjuangkan terbentuknya pemerintahan demokrasi rakyat yang juga memperjuangkan kepentuingan rakyat. Sedangkan, partai-partai lainnya, seperti Masjumi dan PSI dianggap sebagai partai yang memperjuangkan kepentingan kelompok mereka sendiri dan juga modal asing yang akan menyengsarakan rakyat. Manifes Pemilu PKI ini dilanjutkan dengan seruan Aidit supaya partai-partai demokratis di Indonesia bekerjasama untuk mengalahkan Masjumi dan PSI. Melalui artikel yang terbit di Harian Rakjat tanggal 19 Mei 1954, Aidit menyampaikan seruan sebagai berikut: “…Kepada partai2 demokratis jg tidak ragu2 tentang perlunja mengalahkan Masjumi-PSI dalam pemilihan umum jang akan datang PKI aktif mengadjak untuk mengadakan stembusaccoord ataupun persetudjuan tidak saling menjerang didalam kampanje pemilihan umum. Blok jang dibikin atas dasar stambusaccoord ataupun atas dasar persetudjuan tidak saling menjerang didalam kampanje dapat diadakan dipusat maupun di daerah2. Tentang ketentuan2 mengenai stambusaccoord dan persetudjuan tidak saling menjerang didalam kampanje dapat dirundingkan dan diputuskan antara partai2 jang bersangkutan.”20 Pembagian antara partai-partai demokratis dan non-demokratis oleh PKI ini merupakan isu utama dalam kampanye PKI untuk pemilu tahun 1955. Isu ini juga menegaskan pendekatan PKI yang lebih terbuka bekerja sama dengan partaipartai yang tidak secara tegas menolak PKI dan ajaran komunisme. Partai-partai seperti PNI dan NU dimasukkan oleh PKI ke golongan blok demokratis karena mereka masih mau terbuka bekerja sama dengan PKI. Sedangkan Masjumi dan PSI dimasukkan ke dalam golongan non-demokratis karena secara terangterangan menolak bekerjasama dengan partai ini. 20 Harian Rakjat 19 Mei 1954. Hlm: 1.

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 Lalu, apa untungnya PKI juga mendukung dan meminta rakyat untuk memilih partai lainnya asalkan bukan Masjumi dan PSI? PKI menggaungkan seruan ini karena mereka sadar bahwa mereka tidak mampu mengalhkan kedua partai itu sendirian. Mereka butuh untuk bekerjasama dengan partai lain untuk mengalahkan Masjumi dan PSI. Dengan seruan ini PKI juga ingin menampilkan citra bahwa mereka adalah partai yang sungguh-sungguh membela kepentingan rakyat, bahwa mereka adalah partai yang rela mengorbankan kepentingan kelompok mereka dan bekerjasama dengan partai lain untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Tidak seperti Masjumi dan PSI yang mereka gambarkan sebagai partai yang mementingkan kelompok mereka sendiri, bahkan rela bekerjasama dengan pihak asing meskipun menyengsarakan rakyat. Akan tetapi, PKI tidak menutup kemungkinan untuk bekerja sama dengan Masjumi. Dalam liputannya mengenai perjalanan Aidit di Sumatera, Harian Rakjat menulis sebagai berikut: “…Di-tiap2 rapat Aidit menanamkan kejakinan dan menjerukan kepada semua golongan jang tjinta tanahair, bahwa pada saat sekarang tidak ada jang lebih penting dari pada persatuan… …Mereka, anggota2 Masjumi, tidak terbikin dari batu, oleh karena itu mereka bisa berubah. Dan seandainja mereka terbikin dari batu, mereka djuga bisa berubah, sebagaimana batu bisa berubah karena tetesan air jang terusmenerus… …Menundjukkan perkataan kepada anggota2 Masjumi, Aidit berkata: kalau sdr2 belum mau bersatu sekarang, berbitjaralah dulu tentang persatuan dan hentikan pembitjaraan tentang permusuhan dan pertentangan antara orang2 Islam, Nasionalis, Komunis, Kristen, dsb…”21 Melalui pernyataan tersebut, PKI ingin menyampaikan bahwa mereka tidak menganggap Masjumi adalah musuh mereka. Pernyataan ini justru menyampaikan pesan bahwa PKI terus berusaha supaya Masjumi ikut “memperjuangkan 21 D.N. Aidit: Anggota-anggota Masjumi tidak dibikin dari batu. Harian Rakjat 11 Januari 1955. Hlm:1.

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43 persatuan”. Hanya saja, statement ini menempatkan Masjumi sebagai pihak yang menyebarkan permusuhan dan mengancam persatuan. 2. Kampanye PKI Pasca kongres nasional Maret 1954, PKI mulai menggencarkan kampanyenya di daerah-daerah. Kali ini, para pimpinan PKI sendiri, mulai dari Aidit, Lukman, Njoto, Sakirman, dan Sudisman juga turut ikut turun mengkampanyekan partai tersebut. Mereka ikut melakukan ceramah umum di daerah-daerah. Dalam mengabarkan berita kegiatan kampanye PKI, Harian Rakjat banyak menyoroti jumlah peserta dan suasana selama kegiatan tersebut. Contoh dari pemberitaan kampanye PKI adalah sebagai berikut: “Tjeramah di Solo dilangsungkan di gedung Sin Min dan dibuka tepat pada djam 19.00. 10.000 orang berdjedjal-djedjal didalam gedung, dihalaman, dan didjalan raja di depan gedung tersebut. Menurut taksiran jang berada di gedung 1500 orang, dihalaman 3000 orang dan didjalan raja 5500 orang. Tampak wakil2 pemerintah, partai, partai, organisasi massa, parapeladjar dan pengusaha nasional. Seperempat dari ruangan gedung diisi penuh oleh kaum wanita.”22 “Sebagai penutup perdjalanan kelilingnja di Djawa Tengah, wakil Sekdjen CC PKI, M.H.Lukman telah berbitjara dalam rapat umum di Purwokerto pada tanggal 1 Maret sore hari. Rapat umum PKI ini di Purwokerto adalah jang pertama kali dan jang terbesar diantara rapat2 jang pernah diadakan oleh partai2 lain. Tidak kurang dari 150 ribu orang dari kota Purwokerto dan sekitarnja menghadiri rapat umum ini.”23 Dengan menonjolkan jumlah hadirin pada kegiatan kampanye PKI, Harian Rakjat hendak memperlihatkan bahwa PKI adalah sebuah partai besar yang memiliki anggota dan simpatisan dalam jumlah yang banyak di berbagai daerah di 22 Rakjat Solo menjambut Aidit dan Aarons dengan Hangat. Harian Rakjat 27 Maret 1954. Hlm: 1. 23 M.H.Lukman: Pembatasan kampanje pem.umum berarti bantuan bagi Masjumi— PSI. Harian Rakjat 3 Maret 1955. Hlm: 1.

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44 Indonesia. Kalimat yang mengatakan bahwa para hadirin yang datang pada kampanye tersebut tidak hanya berasal dari daerah itu saja, tetapi juga berasal dari daerah-daerah sekitarnya ataupun para penonton berjejal-jejal hingga di luar gedung ingin menyampaikan pesan bahwa para hadirin sangat antusias dan semangat menyambut kampanye PKI ini. Dengan menyebutkan latar belakang kelompok para peserta kampanye ingin meyatakan bahwa PKI mendapat dukungan dari berbagai elemen masyarakat. Dalam kampanye di lapangan, PKI juga mempopulerkan konsep kampanye yang mereka sebut sebagai pesta Rakyat. Pesta Rakyat merupakan serangkaian acara kampanje PKI yang tidak hanya berisikan ceramah atau rapat umum saja, melainkan juga acara-acara lain seperti berbagai macam lomba. Harian Rakjat juga meliput maupun mengumumkan pesta rakyat yang akan maupun sudah diselenggarakan oleh PKI, seperti berikut: “Sebagai penutup pecan tjeramah pemilihan umum, Sekretariat Comite PKI kota Surabaja akan mengadakan pesta rakjat berturut-turut dari tgl. 30 Des. sampai 2 Djanuari. Diadakan perlombaan2 djua-djuli palu arit, dagelan, pentjak, sepakbola, volley-ball, dan tjatur. Pesta akan diachiri dengan rapat raksasa, dimana akan bitjara Njoto, wakil Sekretaris Djendral II PKI dari Djakarta.”24 Pesta Rakjat kembali digelar oleh PKI untuk menyambut ulang tahun ke-35 partai tersebut pada Mei 1955. Partai ini menyelenggarakan Pesta Rakjat selama seminggu penuh. Harian Rakjat melaporkan kegiatan ini sebagai berikut: “Untuk menjambut ulang tahun ke-35 PKI di Djakartatelah diadakan program satu minggu. Sedjak tanggal 22 Mei banjak gapura2 jang sudah berdiri dibikin oleh penduduk kampong setjara kolektif. Pada malam hari sedjak hari itu di-kampung2 kaum buruh banjak dipasang lampion2, dan pemasangan gapura dan lampion jang paling meriah jalah di Tandjung Priok, Sawah Besar, Utan Kaju, dan tempat2 dipinggir kota. 24 Pesta Rakjat oleh P.K.I. Harian Rakjat 21 Desember 1954. Hlm: 1.

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 Kabarnja di-tempat2 lain gapura2 masih banjak jang sedang dibikin. Atjara2 lain dari perajaan jalah resepsi2 dan rapat2 umum, perlombaan olahraga, gerak djalan, pesta air di Priok, dan Kali Tjiliwung, exposisi oleh kaum buruh, wanita, pemuda, dll., malam kesenian dan banjak lagi. Ulang tahun ke-35 PKI, telah membikin meriah suasana lebaran jang djuga djatuh pada tgl. 23 Mei…”25 Melalui pemberitaan ini, Harian Rakjat ingin menunjukkan antusiasme masyarakat menyambut perayaan ulang tahun ke-35 PKI tersebut. Bahkan disebut bahwa rakyat secara kolektif mendirikan gapura-gapura. Dengan hal tersebut, Harian Rakjat ingin menyampaikan pesan bahwa PKI diterima dan dicintai oleh warga masyarakat, meskipun patut dipertanyakan kebenaran cerita tersebut. Selain mengadakan pesta rakyat, PKI juga mengadakan pameran hasil karya maupun dokumentasi kegiatan PKI dan berbagai organisasi sayapnya, seperti SBKA, Pemuda Rakjat, dan Gerwani. Pameran ini diadakan juga dalam rangka peringatan ulang tahun ke-35 PKI. Dalam sambutannya pada pembukaan pameran, Aidit menyebutkan bahwa pameran ini diadakan untuk memperlihatkan perjuangan PKI selama 35 tahun.26 Selain kampanye-kempanye besar seperti di atas, cabang-cabang PKI di daerah-daerah juga masih melakukan kampanye kecil di daerahnya masingmasing. Harian Rakjat tetap aktif memberitakan kegiatan-kegiatan ini, salah satu contoh pemberitaan tersebut adalah sebagai berikut: “Selama 2 bulan ini komite PKI Langkat menjelenggarakan pekan manifes pemilihan umum PKI di desa2, perkebunan2, kota2 ketjamatan sebanjak 52 kali. 25 Ulangtahun ke-35 PKI di Djakarta dgn pesta rakjat dan resepsi. Harian Rakjat 26 Mei 1955. Hlm: 1. 26 Harian Rakjat 27 Mei 1955. Hlm: 1.

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46 Rakjat dimana2 menjambut hangat tjeramah2 tsb. dengan kesenian2 daerah hingga merupakan pekan Pesta Rakjat.”27 Melalui pemberitaan-pemberitaan di Harian Rakjat, dapat dilihat bahwa kegiatan kampanye PKI di lapangan begitu beragam bentuknya. PKI secara kreatif mengadakan berbagai macam acara dalam kampanyenya untuk menarik perhatian warga. Kegiatan maupun acara-acara hiburan seperti perlombaan ataupun panggung kesenian mampu menambah warna dalam kegiatan kampanye partai ini sehingga tidak monoton atau membosankan. Gambar 2. Seruan Untuk Mengumpulkan Donasi Kampanye PKI di Harian Rakjat (Sumber: Harian Rakjat 3 Januari 1955) Untuk mendanai kampanyenya, PKI mengajak masyarakat untuk berkontribusi menyumbangkan uangnya. PKI juga menggunakan Harian Rakjat untuk menyebarkan ajakan ini. Harian Rakjat menerbitkan seruan berbunyi “PKI Menang, Rakjat Menang! Sokonglah PKI dengan Wang!” untuk berusaha mengumpulkan dana kampanye. Melalui Harian Rakjat juga PKI melaporkan jumlah donasi kampanye yang mereka terima. 27 Harian Rakjat 28 Septermber 1954. Hlm: 2.

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47 3. Pendidikan Isu pendidikan cukup banyak dibahas oleh PKI pada kampanyenya. PKI aktif mengadakan kampanye-kampanye langsung dihadapan para pelajar untuk menarik suara para pelajar dan akademisi Indonesia. Permasalahan utama yang menjadi sorotan utama dari PKI adalah pelajar dan politik. Dalam kampanyekampanyenya, PKI mendorong para pemuda dan pelajar untuk ikut aktif berpolitik. Dalam pidatonya dihadapan para pelajar yang dikutip oleh oleh surat kabar Harian Rakjat, Aidit menyebut: “…’Pemuda dan peladjar harus berpolitik’, demikian Aidit, ‘tetapi dengan ini tidak berartibahwa saudara2 mesti masuk salah satu partai’. Sekurang2nja membatja dan mempertimbangkan isi dari rupa2 koran, dan ini menurut Aidit sudah berarti berpolitik… …Turuttjampurnja pemuda, peladjar, dan mahasiswa dalam politik adalah penting, kata Aidit selandjutnja, karena baik burunja haridepan jang akan mendjadi milik para pemuda sekarang adalah tergantung pada perdjuangan politik sekarang. Demikian pula, ilmu jang didapat haruslah diperuntukkan bagi kemanusiaan dan tidak untuk keperluan pendjajahan atau peperangan… …Tudjuan umum dari para pemuda, peladjar dan mahasiswa jg. sama dengan tudjuan umum daripada perdjuangan Rakjat: persatuan nasional, kemerdekaan nasional, demokrasi dan perdamaian dunia…”28 Pada pidato yang sama, Aidit juga menjelaskan majunya bidang pendidikan di negeri-negeri sosialis lainnya, terutama di Soviet. Aidit menggambarkan bagaimana Soviet memajukan pendidikan dengan membangun sarana-sarana pendidikan dan memudahkan akses masyarakat ke sarana-sarana tersebut dengan menggratiskan sekolah-sekolah. Gambaran tersebut menjadi contoh kebijakan yang akan diterapkan PKI bila mereka memenangkan pemilu. Di samping itu, PKI juga berusaha mengkorelasikan isu pendidikan dengan masalah imperialisme dan kapitalisme. Dalam pidatonya dihadapan Ikatan 28 Harian Rakjat 29 September 1954. Hlm: 1.

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI), Sakirman mengatakan bahwa keuntungan yang dikeruk Belanda dari Indonesia jauh lebih besar dari jumlah anggaran pendidikan Indonesia setiap tahunnya. Menurutnya, dengan jumlah keuntungan yang didapatkan Belanda tersebut, dapat digunakan untuk membangun 500 sekolah lengkap dengan alatnya. Dengan demikian, ia mengajak seluruh rakyat Indonesia, termasuk para pelajar untuk melenyapkan kaum imperialis dan membatalkan perjanjian-perjanjian yang merugikan Indonesia.29 Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Sakirman berusaha menghubungkan isu pendidikan ke dalam isu imperialisme dan kapitalisme yang dijadikan musuh oleh PKI. 4. Pengusaha Nasional Dalam kampanyenya, PKI berusaha untuk merangkul para pengusaha nasional Indonesia. Hal ini sejalan dengan rencana PKI untuk memperluas basis dukungannya dengan merangkul semua kelompok di Indonesia.Untuk itu, PKI juga melakukan pidato pemaparan program dihadapan para pengusaha nasional. Usaha PKI untuk merangkul kelompok ini tidaklah mudah. Mereka harus menjawab isu yang mengatakan bahwa PKI anti-pengusaha. Pada 9 September 1954, Harian Rakjat memuat liputan pidato kampanye Aidit dihadapan para pengusaha nasional. Dalam pidatonya ini, Aidit berusaha untuk menjawab isu tersebut. Dalam pidato tersebut ia menyatakan: “…Untuk membangun ekonomi nasional setjara demikian itu, tidaklah mungkin, ketjuali dengan melikwidasi ekonomi djadjahan, memindahkan seluruh kekuasaan 29 Harian Rakjat 12 Oktober 1954. Hlm: 1.

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49 modal monopoli asing kepada negara dan kepada industrialis2 dan pedagang2 bangsa sendiri. Untuk melikwidasi ekonomi djadjahan itu, untuk mengalahkan kekuasaan modal monopoli asing itu, tidaklah mungkin ketjuali dengan kemenangan perdjuangan seluruh Rakjat, termasuk para industrialis dan pedagang2 bangsa kita jang kini tetap dirugikan modal monopoli asing jang masih meradjalela ditanah air kita ini, terutama modal monopoli Belanda. Inilah keterangannja, kenapa tidak mungkin dipisahkan perdjuangan kaum industrialis dan pedagang2 bangsa kita dengan perdjuangan politik untuk membebaskan diri sama sekali dari kekuasaan modal monopoli asing itu… Dalam pemerintahan Demokrasi Rakjat, kita hendak membangun, untuk itu memerlukan tenaga2 kaum industrialis dan pedagang2 jang berpengalaman. Karena itu tidaklah benar fitnah orang jang mengatakan kalau Pemerintahan Rakjat berdiri, kaum komunis katanja akan membasmi pengusaha2 Nasional kita… …Bantuan jang kini njata perlunja, tidak tjukup umpamanja hanja dikasih lisensi sadja, tetapi bersama dengan itu harus djuga diberikan crediet oleh Bank Nasional kita… baginja perlu crediet jang murah dan mudah didapatnja, djangan disamakan dengan sjarat2 jang dikehendaki sebagai pengusaha2 asing…. Disamping itu perlu fasilitet2 lainnja, umpamanja tidak diberati dengan pembajaran dimuka 100% bagi para importeurs kita, pemberian devisen dan kemungkinan2 penutupan contract setjara istimewa untuk memungkinkanja bertanding dengan modal2 besar asing, keringanan dalam sjarat2 lainnja, keringanan beban padjak, bantuan perumahan, kantor, dan lain2….”30 Dalam pidato tersebut, Aidit berusaha membalikkan isu “PKI antipengusaha”. Aidit berusaha untuk memperlihatkan bahwa pengusaha nasional memiliki tempat yang penting dalam rencana PKI, terutama dalam sektor ekonomi. Tidak hanya itu, ia juga menjanjikan berbagai program kerja mereka yang menguntungkan para pengusaha nasional. 5. Wanita Kaum wanita menjadi salah satu kelompok yang aktif disasar oleh PKI. Besarnya perhatian PKI terhadap perempuan terlihat dari pemberitaanpemberitaan Harian Rakjat. Surat kabar milik partai komunis ini aktif D.N. Aidit: “Membangun Ekonomi Nasional Tidak Mungkin, Ketjuali dengan melikwidasi ekonomi djadjahan”. Harian Rakjat 9 September 1954. Hlm: 1. 30

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50 memberitakan dan mendukung gerakan wanita di Indonesia. Tidak hanya itu, mereka juga menyediakan kolo kusus wanita. Kolom “Ruangan Wanita” Harian Rakjat juga menjadi wadah kampanye PKI. Pada tanggal 12 Mei 1954, Kolom ini memuat artikel bertajuk “Wanita dan Pemilihan Umum”. Dalam artikel tersebut disebutkan: “Seluruh kaum wanita seharusnya (…) bahwa pemilihan umum itu betul2 akan menentukan nasibnja, jaitu TERUS MENDERITA SEPERTI SEKARANG ATAU BAHAGIA. Sebab sudah djelas, kalau dalam pemilihan umum nanti, terpilih orang2 jang tidak memperhatikan terhadap kepentingan wanita, umpamanja P.P. 19 jang tidak ada keadilan bagi wanita didalamnja, pertjeraian sewenang2, Undang2 Perkawinan jg. bisa mendjamin keadilan djuga bagi wanita, djaminan sosial bagi buruh wanita, tani dan anak2, sudah barang tentu nasib wanita akan lebih sengsara. Djuga deradjat wanita akan makin merosot…”31 Dengan artikel itu, Harian Rakjat ingin menumbuhkan kesadaran politik bagi perempuan Indonesia. Mereka berusaha untuk memperlihatkan arti penting pemilihan umum bagi kaum wanita, yakni sebagai kesempatan bagi mereka untuk memperjuangkan hak-haknya. Dari artikel ini juga dapat dilihat bahwa isu utama bagi perempuan adalah undang-undang perkawinan dan jaminan sosial. 6. Agama Salah satu bentuk serangan yang diterima PKI dari lawan-lawan politiknya adalah isu bahwa PKI anti-Tuhan atau atheis. Serangan ini paling banyak dilancarkan oleh Masjumi untuk mencegah masyarakat mendukung PKI. Salah satu contoh serangan ini adalah pernyataan Jusuf Wibisono yang dikutip oleh surat kabar Abadi sebagai berikut: 31 Wanita dan Pemilihan Umum. Harian Rakjat 12 Mei 1954. Hlm: 3.

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 “…Akan tetapi, tjita2 mulia itu oleh kaum komunis hendak diwudjudkan melalui revolusi komunis dan diktatur jang tidak kenal perikemanusiaan, melalui adjaran antike Tuhanan…”32 Guna menyabut hari raya Idul Fitri tahun 1954, Harian Rakjat memuat Editorial berjudul “Idulfitri dan Soal Kemerdekaan Beragama” pada tangggal 1 Juni 1954. Melalui kolom editorial ini, redaksi Harian Rakjat berusaha mengcounter wacana negatif tersebut seperti berikut: “Untuk kepentingan persatuanlah, maka kesempatan ini kita gunakan untuk mendjelaskan serba sedikit tentang satu soal, jang selama masih sadja merintangi atau sedikit merintangi persatuan antara kaum agama, kaum komunis dan kaum nasionalis. Jaitu : soal kemerdekaan beragama. Kita menganggap perlu menyinggung soal ini, karena kaum reaksi, terutama pemimpin2 Masjumi, dan pemuka2 Katolik, terlalu sering menggunakan soal kemerdekaan beragama itu untuk mempertahankan tidak adanja kemerdekaan beragama! Bagaimana ini mungkin?... ….Andjing menggonggong kafilah lalu, kata pepatah. Biarlah pemimpin2 Masjumi dan pemuka2 Katolik itu ramai2 tentang ‘komunisme musuh agama’, tetapi soal agama di-negeri2 Sosialis dan negeri2 Demokrasi Rakjat adalah suatu kenjataan, dan karena ia suatu kenjataan, tidak mungkin ia dihapus ataupun dihapus oleh pernjataan2, apalagi oleh fitnahan2…. ….Mereka mendjadi saksi bahwa kemerdekaan beragama terdjamin benar dinegeri2 itu. Bahkan, diantara pengundjung2 itu ada jang mengatakan bahwa dibawah Demokrasi Rakjat atau Sosialisme itu agama ‘berkembang’. Seorang diantara mereka malahan lebih djauh lagi : ‘adjaran2 agama terlaksana dalam bentuk Republik Rakjat’...”33 Pernyataan Harian Rakjat tersebut berusaha menunjukkan bahwa komunisme tidak anti-agama. Menurut pendapat mereka, negara-negara sosialis justru menjamin kemerdekaan beragama dan hal tersebut adalah suatu kenyataan yang tidak bisa dibantah. Mereka menggunakan pernyataan orang-orang yang mengunjungi negara sosialis untuk membenarkan pendapat mereka tersebut. Pada 22 Januari 1955, Harian Rakjat memuat Headline berjudul “Presiden Sukarno: Islam dgn toleransi dan Komuni dgn adjaran Stalin mentjiptakan front 3232 33 Tjita2nja memang mulia, tapi tjara2nja tidak. Abadi 15 Februari 1955. Hlm: 1. Editorial: Idulfitri dan Kemerdakaan Beragaa. Harian Rakjat 1 Juni 1954. Hlm: 1.

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 52 persatuan nasional”. Berita ini merupakan liputan dari acara penutupan Konferensi PPI antar Indonesia, di mana Soekarno menyampaikan pidato. Dalam pidato tersebut, Soekarno mengatakan pentingnya terbentuk front persatuan nasional oleh orang-orang Islam yang toleran dengan kaum sosialis dan komunis. Menjadikan berita ini sebagai headline, Harian Rakjat ingin menunjukkan bahwa ide PKI mengenai kerjasama kelompok Agama, Nasionalis, dan Komunis mendapat dukungan dari presiden, sekaligus menyindir lawan-lawan politik mereka yang mengkritisi ide tersebut. 7. Tanda Gambar PKI Pengenalan tanda gambar atau logo partai adalah salah satu hal yang penting dalam kampanye pemilu tahun 1955. Untuk pemilu 1955 ini, PKI mendaftarkan tanda gambar Palu-Arit disertai dengan jargon PKI dan orang tak berpartai. Jargon ini dipilih karena kebijakan PKI yang juga menerima orang-orang diluar partai mereka untuk ikut sebagai calon anggota legislatif dan konstituante PKI asalkan mereka setuju dengan program partai. Menilik editorial bertajuk “Tjalon2 PKI dan Orang Takberpartai” yang terbit di Harian Rakjat tanggal 21 Desember 1954, pemilihan tanda gambar tersebut setidaknya memiliki dua arti khusus, yakni: “…Wakil2 terbaik dari dunia intelektuil kita misalnja, seperti ir. Purbodiningrat, dr. Tjokronegoro, Affandi, Basuki Reksobowo, dll., jang kesemuanja tidak berpartai, akan tidak mungkin turut tjampur dalam kemudi Republik kita, sekiranja PKI tidak membuka kesempatan untuk ikutsertanja orang2 takberpartai didalam daftarnja… …Arti chusus selandjutnja dari daftar PKI dan orang takberpartai ini jalah, bahwa PKI ternjata ber-sungguh2 di dalam usahanja menggalang usatu Pemerintah Rakjat, jang bukan setjara tidak langsung, tetapi setjara langsung

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 mewakili, memperhatikan, membela, dan sudah tentu djuga memenuhi kepentingan2 berbagai golongan jang hidup didalam masjarakat kita…”34 Dari kutipan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa daftar calon PKI dan Orang Tak berpartai dibuat untuk menampilkan citra bahwa PKI membuka kesempatan bagi masyarakat yang tidak berpartai untuk ikut mencalonkan diri dalam pemilu dan ikut secara langsung dalam kegiatan pengelolaan negara. Akan tetapi, orang-orang yang tidak berpartai yang ikut dalam daftar ini harus memiliki persamaan visi dengan PKI. Maka dari itu, kebanyakan dari mereka merupakan anggota-anggota organisasi yang memiliki kedekatan secara ideologi dengan partai ini, seperti SOBSI dan Gerwani. Selain itu, daftar calon ini juga dibuat untuk mencitrakan PKI sebagai partai yang mewakili semua golongan masyarakat Indonesia. Strategi PKI ini banyak diprotes oleh berbagai pihak. Dengan kebijakan tersebut, PKI dianggap menciderai kebebasan orang-orang tak berpartai dan “mendefaktokan” orang-orang tak berpartai ke dalam satu golongan.35 Protes ini tidak hanya berasal dari pihak lawan saja, tetapi juga berasal dari kawan politik PKI, yakni NU. Untuk menyelesaikan permasalahan ini, diadakan pertemuan segitiga antara PKI – NU – dan Panitia Pemilihan Indonesia (PPI). Sebuah mosi diajukan oleh salah satu anggota parlemen, Ameltz, sebagai salah satu bentuk protes terkait dengan permasalahan ini. 34 Editorial: Tjalon2 PKI dan Orang Takberpartai. Harian Rakjat 21 Desember 1954. Hlm: 1. D.N. Aidit: Nama daftar “PKI dan orang tak berpartai” adalah demokratis dan menurut undang-undang. Harian Rakjat 12 Juni 1954. Hlm: 1. 35

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 Dalam pembelaannya terhadap serangan-serangan dari partai lainnya, PKI berdalih bahwa slogan “PKI dan Orang Tak Berpartai” tidak melanggar aturan dan demokratis. Aidit menyebut bahwa “Dalam keterangan mengenai daftarkumpulan tidak ada keterangan mengenai larangan anggota2 partai mengadjukan satu daftar-kumpulan ber-sama2 dengan orang2 tak berpartai. Oleh karena itu, djelas sekali bahwa undang2 memungkinkan adanja daftar-kumpulan daripada anggota2 suatu Partai dengan dengan orang2 tak berpartai, djadi djuga memungkinkan daftar kumpulan, ‘PKI dan orang tak berpartai’.”36 Selain itu, Aidit juga menyebut bahwa tanda gambar tersebut juga tidak memperkosa kebebasan orang-orang tak berpartai, karena menurutnya mereka tidak hanya melihat dan memilih dari tanda gambar partai tertentu melainkan juga melihat program dan calon-calon dari partai tersebut. Aidit berpendapat bahwa banyak partai lain yang melakukan hal seperti itu, contoh saja PNI dengan slogan “Front Marhaenis” ataupun Murba dengan slogan “Murba pembela demokrasi”.37 Harian Rakjat juga ikut membela kebijakan PKI ini. Dalam kolom editorialnya, mereka menyatakan bahwa penolakan tersebut hanyalah akal-akalan PSI-Masjumi yang bertujuan untuk menghalang-halangi pengesahan daftar calon PKI. Menurut pendapatnya, secara formil kebijakan ini tidak melanggar aturan apapun. Mereka justru mengajukan tantangan: “kalau mau mengalahkan kaum Komunis, tjobalah menghadapi pemilihan umum j.a.d. menjusun daftar tjalon 36 Ibid. 37 Ibid.

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 jang lebih baik dan lebih representatif daripada daftar PKI dan orang takberpartai ini.”38 Pertemuan segitiga antara PPI – PKI – NU menghasilkan kesepakatan bahwa PKI tidak lagi menggunakan daftar nama PKI dan Orang Tak Berpartai. Pada editorial bertajuk Toleransi NU-PKI, Harian Rakjat menyebutkan bahwa mereka bersedia menerima tuntutan NU demi memelihara kerjasama antara partai-partai demokratis. Akan tetapi, selanjutnya mereka menyatakan: “Putusan ini sedikitpun tidak merubah daftar tjalon2 PKI dan orang takberpartai, sebagaimana ditegaskan didalam komunike bersama PPI-NU-PKI. Putusan ini djuga tidak mengenai (…) propaganda PKI seperti poster2, spanduk2, papan2, dll., karena sebagaimana ditegaskan didalam komunike itu jang diubah hanja namadaftar didalam surat2 resmi.”39 Pernyataan ini kemudian memancing keributan baru. Surat kabar Abadi milik Masjumi dalam tajuk rencananya menyerang PKI sebagai berikut: “Oleh karena itu, berhubung dengan adanja sekarang interpretasi sendiri dari fihak PKI jang pada hakekatnja dapat diartikan sebagai tindakan – untuk memakai kata2 sangat lunak – membohongi N.U., maka dengan sendirinja mendjadi pertanjaan, bagaimanakan sikap NU. selandjutnja dalam hal ini. Hal inilah jang dinanti2kan oleh masjarakat ramai. Dalam pada itu, setelah adanja kedjadian ini, maka kiranja N.U. akan lebih insjaf lagi, bagaimana sebenarnja tabiat dan sifat PKI jang sebetul 2nja. Dengan tindakannja sekarang terhadap hasil keputusan pertemuan segi-tiga itu PKI telah menundjukkan bulunja jang asli. Buat kita, bulu itu sudah lama kita kenal. Tetapi bagaimana buat N.U. sekarang…….?”40 Melalui pernyataan partai yang dimuat di dalam Harian Rakjat tanggal 3 Februari 1955, PKI akhirnya menyetujui saran dari PPI untuk tidak menggunakan frasa dan orang tak berpartai dalam semua bentuk, mulai dari surat resmi hingga spanduk. PKI menyebut bahwa tindakan ini dilakukan untuk memelihara 38 Harian Rakjat 21 Desember 1954. Loc. Cit. 39 Editorial:Toleransi NU-PKI. Harian Rakjat 25 Januari 1955. Hlm: 1. 40 Tadjuk Rentjana: PKI Tundjukkan bulunja. Abadi 25 Januari 1955. Hlm: 2.

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 persatuan dan menyelamatkan pemilihan umum. Akan tetapi, PKI meminta partai lain juga melakukan hal yang sama dengan mereka.41 Sebagai media partai, Harian Rakjat turut aktif menyebarluaskan daftar calon-calon yang dajukan PKI. Contohnya pada tanggal 20 Desember 1954, Harian Rakjat memuat daftar calon PKI dan Orang Tak Berpartai”untuk beberapa daerah pemilihan, mulai dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jakarta Raya, dan Sumatera. Bahkan untuk sosialisasi ini memakan tempat hampir 1 halaman penuh. Gambar 3. Pengumuman Daftar Calon PKI di dalam Harian Rakjat (Sumber: Harian Rakjat 20 Desember 1954.) 41 PKI melaksanakan putusan Panitya Pemilihan Indonesia (PPI). Harian Rakjat 3 Februari 1955. Hlm: 1.

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 8. Menyerang Oposisi Memasuki masa kampanye, PKI mulai banyak menyerang pihak oposisi. Pada dasarnya, isu yang digunakan untuk menyerang musuh mereka masih sama dengan masa sebelumnya. Hanya saja, kasus yang digunakan berbeda. Isu keterkaitan antara Masjumi dan Darul Islam masih terus digaungkan oleh surat kabar ini. Pada tanggal 17 Oktober 1954, Harian Rakjat memuat pemberitaan sidang kabinet yang membahas mosi terkait dengan tindakan pemerintah terhadap pemberontakan di Aceh. Dalam liputan tersebut disampaikan: “…bahwa pemberontakan itu sengadja direntjanakan untuk menggulingkan Pemerintah Republik, bahwa kaum pemberontak adalah kaum tuantanah jang bersekongkol dengan modal onderneming asing… …Z.A.Achmad dari Masjumi, jg terang2ang membela kaum pemberontak antiRepublik dengan menjatakan se-olah2 pemberontakan itu memang timbul karena “tidak ada otonomi” dan se-olah2 kaum pemberontak itu adalah pahlawan2 kemerdekaan. Dengan uraian Z.H. Achmad ini Masjumi tidak lagi ber-sembunji2, tetapi terang-terangan menjatukan dirinja dengan pemberontakan anti-Republik di Atjeh.”42 Isu mengenai modal asing juga masih menjadi salah satu amunisi Harian Rakjat untuk menyerang Masjumi dan PSI. Pada tanggal 13 Desember 1954, Harian Rakjat memuat artikel berjudul “Masjumi pemelihara dan pelindung modal Asing”. Di dalam artikel tersebut, surat kabar ini menyatakan: “…Mr. Moh. Rum mengatakan, bahwa sepandjang djalan jang dilaluinja dari Medan menudju Serbolawan banjak dilihatnja perkebunan2 bangsa asing. Kata Rum selandjutnja, modal asing ini harus kita pelihara se-baik2nja dan harus kita lindungi…”43 42 Harian Rakjat 17 Oktober 1954. Hlm: 1. 43 Harian Rakjat 13 Desember 1954. Hlm: 1.

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 Sebelumnya, pada tanggal 13 Mei 1954, Harian Rakjat juga menuduh Jusuf Wibisono – salah seorang tokoh Masjumi – telah menunjukkan kesetiaannya terhadap penjajah. Dengan mengutip wawancara Jusuf Wibisono dengan Antara mereka menyatakan: “Jusuf Wibisono tidak setudju dengan pembatalan uni setjara satufihak (unilateral), karena ini, menurut pemuka Masjumi itu ‘akan mengakibatkan tidak adanja simpatinja dunia luaran terhadap Indonesia’… …maka itu dalam keterangannja jang diberikan kepada Antara ituia menegaskan betul2 supaja ‘kepentingan2 materiil dari fihak Nederland di Indonesia didjamin…”44 Isu modal asing kembali gencar ketika muncul rencana pemerintah menasionalisasi tambang minyak yang dimiliki oleh N.V. Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM). Harian Rakjat menuduh SKBM – yang merupakan salah satu anggota dari Kongres Buruh Seluruh Indonesia (KBSI yang didirikan PSI – sebagai alat bayaran kaum modal asing. Dalam editorialnya yang berjudul “Tambangminjak”, surat kabar tersebut menyatakan tanggapannya sebagai berikut: “Djelaslah, bahwa dalam kebentjian mereka terhadap Perbumi dan SOBSI,, baik KBSI maupun SBII berdiri difihak BPM, untuk, kalaupun tambang2 minjak itu tidak bisa dikembalikan kepada BPM, se-kurang2nja bisa mempertahankan status jang tidak berketentuan sekarang ini, hal mana memungkinkan dan memudahkan korupsi dan sabotase.” Pernyataan Harian Rakjat di atas menuduh bahwa tindakan kedua serikat buruh yang dimiliki PSI dan Masjumi menentang nasionalisasi tambang minyak karena mereka mengambil keuntungan dari korupsi di tambang tersebut. Harian Rakjat juga ingin memperlihatkan bahwa kedua organisasi buruh ini membenci 44 Harian Rakjat 13 Mei 1954. Hlm: 1.

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 59 Perbumi dan SOBSI yang didukung oleh PKI karena telah membela kepentingan nasional. Harian Rakjat juga turut menyebarkan pernyataan Aidit kepada Antara terkait dengan tanggapannya atas pernyataan Sumitro (PSI) yang mengatakan bahwa PSI mendapatkan tantangan dari PKI dalam usahanya menyokong buruh dan pegawai kecil. Aidit menyebutkan bahwa hal tersebut hanyalah khayalan Sumitro saja karena PSI tidak pernah menyokong gerakan buruh. Ia juga menyebut bahwa isu perjuangan buruh yang dilontarkan oleh PSI hanyalah topeng yang digunakan mereka untuk kepentingan politik reaksionernya saja.45 Untuk menyerang Masjumi dan PSI, Harian Rakjat sering menuduh kedua partai tersebut membuat ricuh kampanye-kampanye PKI. Dalam pemberitaanpemberitaan kampanye PKI di Harian Rakjat, sering muncul isu-isu provokasi ataupun pengacauan dari pihak luar. Mereka menuding kaum reaksi atau oposisi sebagai dalang dibalik provokasi tersebut. Menurut mereka, Masjumi dan PSI merasa takut pada PKI dan berusaha menghalang-halangi kampanye partai ini. Salah satu kasus pengacauan kampanye PKI terbesar terjadi ketika Aidit melakukan kampanye di Malang pada 28 Maret 1954. Pada saat itu Hasan Aidit dan anak buahnya memprovokasi rapat umum ini yang berjumlah kurang lebih 100 orang. Mereka berteriak-teriak memprovokasi massa dan pada selesainya rapat, Hasan Aidid naik ke panggung dan berbicara tanpa seizin panitia.46 45 Harian Rakjat 20 Mei 1955. Hlm: 1. 46 Harian Rakjat 30 Maret 1954. Hlm: 1.

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 Harian Rakjat sebagai media partai turut menanggapi kasus ini. Dalam kolom editorialnya, surat kabar ini menyatakan: “PKI bukan partai sematjam Masjumi. Ini terang benderang seperti siang. PKI bukanlah partai jang suka meng-hasut2, mem-bakar2, me-ngobar2kan nafsu, dan fanatisme… PKI bukan partai jang tidak bisa mengatur anggota2 ataupun massanja jang berdjuta2 itu… PKI djuga bisa mengadjak massa maju, tetapi djuga bisa mengadjak massa mundur. Tidak seperti Masjumi jang sekali membakar anggota2 dan pengikut2nja terus tidak tahu lagi dimana mesti berhenti dan tidak bisa mengendalikannja, dan kalau orang2 jang dibakarnja itu bertindak mengatjau terus pura2 tjutjitangan…”47 Sebagai reaksi atas kericuhan ini, Aidit mengeluarkan pernyataan yang dimuat dalam surat kabar Harian Rakjat. Dalam pernyataan tersebut, Aidit menyatakan bahwa kampanye tidak dapat tidak membahas kebijakan partai politik lain, hanya saja harus berdasarkan pada fakta bukan hanya caci maki saja. Selain itu, ia menginstruksikan supaya para anggota PKI tidak mengacau kampanye partai lainnya.48 D. Masa Kampanye Pemilu Parlementer 1. Bubarnya Kabinet Ali dan Menjadi Oposisi Pada akhir bulan Juli 1955, kabinet Ali mengundurkan diri dari jabatannya. Pengunduran diri ini disebabkan oleh karena terjadinya intrik di Angkatan Darat, di mana Kolonel Zulkifli Lubis yang menentang pengangkatan Kolonel Bambang Utoyo sebagai Kepala Staf Angkatan Darat. Pertentangan di dalam tubuh Angkatan Darat ini membuat serangan kepada pemerintah semakin gencar. 47 Ibid. 48 Harian Rakjat 2 April 1954. Hlm: 1.

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 Dalam kolom editorialnya pada tanggal 25 Juli 1955, Harian Rakjat menerima pengunduran diri Kabinet Ali ini. Menurut mereka, Kabinet Ali mengundurkan diri karena tidak mau melanggar asas demokrasi parlementer. Lebih lanjut lagi, surat kabar ini sepakat dengan pernyataan Mr. Sartono jika pembentukan kabinet yang baru harus diserahkan kepada partai pendukung pemerintah. Merekapun mengajak rakyat untuk menggagalkan semua usaha untuk menggagalkan asas tersebut.49 Dengan kata lain, mereka menentang jika pihak oposisi masuk ke dalam pemerintahan yang baru. Harian Rakjat juga menyerang oposisi dan Moh. Hatta dengan menuduh mereka ingin membentuk kabinet presidensil. Menurut mereka, tindakan tersebut melanggar UUDS 1950 yang saat itu berlaku. Dalam editorialnya pada tanggal 26 Juli 1955, surat kabar tersebut menyebut bahwa usaha oposisi untuk membubarkan parlemen dan membentuk kabinet presidensil karena mereka merasa bahwa parlemen tidak lagi menguntungkan. Harian Rakjat menyebut tindakan oposisi ini sebagai tindakan yang anti-demokrasi dan harus dilawan oleh rakyat. Ketika Hatta mengumumkan Kabinet baru yang dipimpin oleh Burhanuddin Harahap, Harian Rakjat dengan mengutip pernyataan Dr. Diapari dari SKI menyebut kabinet ini sebagai “kabinet asal jadi”. Mereka juga menyebut kabinet ini sebagai kabinet berkualitas rendah jika ditilik dari tokoh-tokoh yang menjabat. Selain itu mereka juga menyebut bahwa dimasukkannya persoalan pemilihan umum, Irian, dan kerjasama Asia – Afrika ke dalam program kabinet adalah 49 Harian Rakjat 25 Juli 1955. Hlm: 1.

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 bentuk kemenangan blok demokratis, hingga Masjumipun harus mengakuinya dan memasukkannya ke dalam program kabinet mereka.50 Pada masa pemerintahan Burhanuddin Harahap, PKI mengambil posisi sebagai oposisi dari pemerintahan ini. Mereka sering melancarkan berbagai serangan kepada pemerintah dengan berbagai cara, termasuk dengan menggunakan Harian Rakjat. Surat kabar milik partai komunis ini berkali-kali mengkritisi dan menyerang pemerintah. Mereka menyebut bahwa kelompok modal asing senang dengan terbentuknya kabinet ini. Pada tanggal 3 September 1955, Harian Rakjat menyebut bahwa kebijakan ekonomi kabinet Burhanuddin Harahap: “…djelas bertujuan untuk mengembalikan kekuasaan modal dan perusahaan asing dengan mengikat dan melumpuhkan golongan ekonomis rendah dengan peraturan yang baru ini.”51 Pada tanggal 27 Agustus 1955, Harian Rakjat dengan mengutip pendapatpendapat surat kabar luar negeri mengenai Kabinet Burhanuddin Harahap menyatakan: “Koran2 kolonialis jang lain, jaitu koran Inggeris ‘The Economist’ mejatakan kegembiraannja bahwa didalam kabinet jang baru ini’tidak duduk golongan progresif’, sedang harian Belanda ‘Trouw’ gembira bahwa kabinet ini terdiri dari ‘partai2 konservatif’ dan dalam partai2 konservatif ini dimasukkannja Masjumi, PSI, ‘PIR’ Hazairin, dan Fraksi Demokrat.”52 Artikel tersebut ingin menunjukkan betapa gembiranya para modal asing atas terbentuknya kabinet Burhanuddin Harahap. Mereka bergembira karena kabinet ini diisi oleh golongan konservatif yang dianggap dapat diajak bekerjasama. 50 Harian Rakjat 12 Agustus 1955. Hlm: 1. 51 Harian Rakjat 3 September 1955. Hlm: 1. 52 Harian Rakjat 27 Agustus 1955. Hlm: 1.

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 Harian Rakjat juga menyerang kebijakan impor baru yang diterapkan oleh Sumitro. Mereka memuat pernyataan I.R. Sakirman yang menyebut bahwa kebijakan tersebut mempermudah importir asing dan memberatkan importir nasional. Ia juga berpendapat bahwa kebijakan ini tidak hanya menguntungkan modal asing, tetapi juga menguntungkan bagi kaum koruptor dan komprador.53 Dalam Editorial bertajuk “Pembenaran”, Harian Rakjat mendukung pendapat Sakirman tersebut. Menurut mereka, kebijakan ini membuktikan peringatan yang telah diberikan oleh surat kabar ini sebelumnya. Menurut koran komunis tersebut, mereka telah memperingatkan bahwa kebijakan ekonomi yang akan diterapkan oleh kabinet Burhanuddin Harahap akan mendorong korupsi yang lebih besar karena sumber korupsi, yakni modal asing, justru diberi keleluasaan. Selain itu mereka juga menuduh kabinet ini secara diam-diam “menggunting uang” rakyat dengan kebijakan devaluasi mata uang yang mereka terapkan. Mereka juga berpendapat bahwa tindakan ini memperlihatkan kepada rakyat watak mereka dan akan membantu blok demokratis dalam pemilihan umum yang akan datang.54 Masih dalam bidang ekonomi, Harian Rakjat juga menyoroti tingginya harga-harga barang kebutuhan hidup. Pada tanggal 10 September 1955, surat kabar ini memuat pernyataan CC PKI mengenai harga barang kebutuhan pokok. Dalam pernyataan tersebut mereka menyatakan bahwa tingginya harga kebutuhan pokok telah membuat rakyat menderita. Mereka mengajak masyarakat melakukan 53 Harian Rakjat 5 September 1955. Hlm: 1. 54 Ibid.

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 64 gerakan untuk mendesak pemerintah supaya menurunkan harga sebelum pemilihan umum diadakan. Menurut mereka, hal ini penting untuk menjamin ketenangan hati masyarakat saat hari pemungutan suara.55 Gambar 4. Karikatur yang Menyindir Tingginya Harga Beras Pada Masa Pemerintahan Burhanuddin Harahap (Sumber: Harian Rakjat 27 Agustus 1955) Melalui Editorialnya pada tanggal 27 Agustus 1955, Harian Rakjat juga membahas krisis ekonomi yang terjadi di masa kabinet ini. Mereka memaparkan bagaimana kabinet Ali berhasil meningkatkan produksi beras pada tahun 1954, sedangkan kabinet Burhanuddin berencana mengimpor 100.000 ton beras untuk mengatasi krisis ekonomi. Selain itu, ia juga menyerang Sumitro yang mereka anggap tidak mengetahui cara untuk mengatasi krisis tersebut. Mereka 55 Harian Rakjat 10 September 1955. Hlm: 1.

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 65 berpendapat bahwa kebijakan devaluasi yang akan diterapkan oleh Sumitro hanya akan menambah beban masyarakat.56 Harian Rakjat juga menyerang kebijakan anti-korupsi yang dilakukan oleh kabinet Burhanuddin Harahap. Permasalahan diawali dengan penangkapan Mr. Djody Gondokusumo – mantan menteri kehakiman Kabinet Ali – karena alasan korupsi. Pada tanggal 22 Agustus 1955, Harian Rakjat memuat pernyataan Ir. Sakirman mengenai kasus tersebut yang menyatakan bahwa ia mencurigai penangkapan Djody. Menurutnya, kecurigaan ini muncul bukan karena PKI mendukung korupsi, akan tetapi ia berpendapat bahwa selama Djody menjabat sebagai menteri kehakiman ia bertindak benar dengan memberantas “agen-agen reaksioner” di dalam kejaksaan agung. Ia juga memprotes Jaksa Agung yang mengeluarkan perintah penahanan bukan sebagai Jaksa Agung biasa (sipil) melainkan sebagai Jaksa Agung Tentara. Selain itu, ia juga berpendapat supaya pemerintah fokus memberantas akar korupsi, yakni modal asing yang memiliki kekuasaan dan uang untuk menyuap para pejabat di negeri ini.57 Harian Rakjat juga menanggapi penahanan Djody tersebut melalui kolom editorialnya pada tanggal 23 Agustus 1955. Dalam artikel tersebut, mereka menyebut bahwa kebijakan pemberantasan korupsi yang diterapkan oleh kabinet ini tidak bisa dipercaya, karena: “Pertama, menteri2 didalam kabinet Burhanuddin ini sendiri ada jang namanja tersangkut dengan berbagai skandal (a.l. Sumitro dan Djanu Ismadi), jang sampai sekarang belum diusut, apa lagi diadili. Bagaimana kabinet jang dirinja mengandung elemen2 jang se-kurang2nja di-ragu2kan kebersihannja mau mengadakan 56 Harian Rakjat 27 Agustus 1955. Hlm: 1. 57 Harian Rakjat 22 Agustus 1955. Hlm: 1.

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 66 pembersihan korupsi? Kedua, tidak bisa dihilangkan kesan ja, bahkan kesimpulan – sebagaimana pernah ditulis oleh ‘Merdeka’ – bahwa tindakan2 penangkapan sekarang ini bersifat politik. Perkataan ‘tak pandang bulu’ boleh diobral sebanjak2nja, tetapi kenjataanja, tindakan2 itu sekarang tertudju kepada pemimpin2 didalam Pemerintah Ali-Arifin, sehingga sukar diartikan lain ketjuali bahwa tindakan2 itu – sebagaimana diinginkan ‘Manchester Guardian’ – ditudjukan untuk meniadakan hasil2 positif kabinet Ali-Arifin”58 Harian Rakjat juga menuduh Kabinet Buerhanuddin ingin menunda pelaksanaan pemilihan umum. Pada tanggal 23 Agustus 1955, Harian Rakjat menyerang pernyataan Burhanuddin Harahap dalam waawancaranya dengan Antara. Dalam wawancara tersebut, ia mengatakan bahwa pemilihan umum diadakan tepat pada waktunya tergantung pada selesai atau tidaknya persiapan. Menurut Harian Rakjat, pernyataan Burhanuddin ini memperlihatkan bahwa pemerintah mempersiapkan tameng untuk menyembunyikan rencana oenundaan tersebut.59 Pada tanggal 26 Agustus 1955, surat kabar ini memuat pernyataan Sakirman di hadapan parlemen yang menaggapi persoalan tersebut. Dalam keterangan tersebut, ia mengatakan: “Tetapi sekalipun demikijan, kenjataan menundjukkan adanja bahaja jang sangat besar bagi pelaksanaan pemungutan suara 29 Septermber itu. Dan bahaja ini djustru datangnja dari pemerintah sendiri. Jaitu pemerintah BH jang pada hakekatnja berkedudukan sebagai kabinet demisioner karena belum mendapat votum dari parlemen, dank arena baru akan memberikan keterangannja sesudah parlemen sekarang demisioner.”60 Pada akhirnya, semua pihak menyetujui jika pemungutan suara tetap diadakan pada tanggal 29 September 1955. Dalam pidato M.H. Lukman yang 58 Harian Rakjat 23 Agustus 1955. Hlm: 1. 59 Ibid. 60 Harian Rakjat 26 Agustus 1955. Hlm: 1.

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 dikutip oleh Harian Rakjat tanggal 9 September 1955, disebutkan bahwa gagalnya percobaan penundaan pemilihan umum merupakan awal dari kemenangan blok demokrasi.61 Isu Darul Islam juga masih menjadi salah satu alat propaganda PKI untuk menyerang Masjumi dan kabinet Burhanuddin. Pada tanggal tanggal 13 Agustus 1955, Harian Rakjat dalam artikel berjudul “Sesudah Kabinet BH Dilantik: D.I. Dimintakan Amnesti Umum” menyebutkan: “Berdirinja kabinet Burhanuddin Harahap ternjata disambut kontan oleh salah satu organisasi onderbouw Masjumi, jaitu organisasi bekas pedjuang Islam, jang menuntut supaja diberikan amnesti atau pengampunan umum, kepada apa jang disebutnja ‘perdjuangan2 kemerdekaan’, tetapi jang terang benar tidak mungkin diartikan lain selain orang2 jang kini mendjadi musuh negara, jaitu gerombolan teroris DI-TII.”62 Selain itu, mereka juga masih memberitakan keterlibatan anggota-anggota Masjumi di dalam DI. Seperti artikel pada tanggal 26 Agustus 1955 yang membahas persidangan salah satu anggota Majelis Syuro Masjumi Jawa Barat, Kiai Achmad Rivai. Ia disidang atas tuduhan menjadi Jaksa Tinggi DI yang memerintahkan pembunuhan orang-orang.63 Menjelang pemilihan umum, Harian Rakjat semakin menggencarkan serangan kepada lawan politiknya, terutama Masjumi. Mereka bahkan membuat satu kolom khusus untuk kebutuhan ini. Kolom tersebut terbit pada akhir Agustus hingga awal September 1955. Pada awalnya, mereka menamai kolom itu dengan “Sumbangan Kepada Propaganda Masjumi”. Ketika kolom ini muncul pertama kali pada tanggal 31 Agustus 1955, Harian Rakjat mengatakan: “Sedjak 27 Djuni j.l. setiap hari suratkabar Masjumi ‘Abadi’ ‘Memperkenalkan Tokoh2 Masjumi Dalam pemilihan umum’, dimulai dari Mohammad Natsir, Dr. H. Sukiman Wirjosendjojo, Mr. R.H. Kasman Singodimedjo, Mr. Mohd. Roem, Sjafruddin Prawiranegara, dll. Sajang bahwa jang ‘diperkenalkan’ oleh ‘Abadi’ itu singkat2 sekali. Untuk menambah bahan2 tentang tokoh2 Masjumi itu sebagai 61 Harian Rakjat 9 September 1955. Hlm: 1. 62 Harian Rakjat 13 Agustus 1955. Hlm: 1. 63 Harian Rakjat 26 Agustus 1955. Hlm: 1.

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 68 sumbangan terhadap propaganda Masjumi, ber-turut2 kita muat fakta2 mengenai tokoh2 Masjumi itu…”64 Perkataan tersebut menjelaskan bahwa kolom tersebut merupakan bentuk kontra wacana dari kampanye Masjumi di harian Abadi. Kolom bernada satir tersebut membahas kejelekan-kejelekan dari para pimpinan Masjumi. Isu yang digunakan pada kolom ini sebenarnya masih sama, yakni pro-asing, propemberontak, anti-demokrasi, anti-buruh, dan sebagainya. Gambar 5. Kolom “Sumbangan Kepada Propaganda Masjumi” (Sumber: Harian Rakjat 31 Agustus 1955) 64 Harian Rakjat 31 Agustus 1955. Hlm: 1.

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 69 Mendekati hari pemungutan surara, mulai bermunculan kolom-kolom lain yang menyerang Masjumi dan PSI. Salah satunya adalah kolom “Varia Masjumi” dan PSI yang dimuat pada tanggal 28 September 1955. Kolom tersebut berisi cerita-cerita ringan bernada satir mengenai PSI dan Masjumi, seperti cerita Sutan Sjahrir yang ditanyai mengenai mengapa PSI tidak menyanyikan lagu Indonesia Raya di dalam rapat-rapat dan ceramah umumnnya, ataupun cerita mengenai latihan mencoblos yang dilakukan oleh Masjumi diberbagai tempat di mana banyak orang yang berpartisipasi justru mencoblos “Palu Arit” (PKI) atau “Banteng” (PNI).65 2. Kampanye Harian Rakjat Menjelang Pemilihan Anggota Parlemen Mendekati hari pemilihan anggota parlemen, PKI menggalakkan kampanyenya di Harian Rakjat. Berita-berita mengenai kampanye PKI di daerahdaerah masih terus bermunculan di surat kabar ini. Pada tanggal 2 September 1955, Harian Rakjat memuat instruksi Njono – ketua SOBSI dan juga salah satu calon dari PKI – supaya mengencarkan latihan-latihan pemungutan suara diberbagai daerah untuk menghadapi pemilihan umum yang akan datang.66 Memasuki bulan September, Harian Rakjat mulai memuat kolom khusus yang berisi biografi-biografi singkat para calon yang diajukan oleh partai ini secara berkala. Penerbitan biografi singkat ini dibagi berdasarkan latar belakang dari para calon, mulai dari para pimpinan PKI, pimpinan cabang-cabang partai, 65 Harian Rakjat 28 September 1955. Hlm: 1. 66 Harian Rakjat 2 September 1955. Hlm: 1.

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 70 para pemimpin buruh, tani, wanita, agama, dan sebagainya. Hal ini dilakukan oleh Harian Rakjat tidak hanya karena PKI menerima pencalonan dari orang-orang yang bukan anggota partai, melainkan juga ingin memperlihatkan bahwa daftar calon yang mereka buat ini benar-benar merepresentasikan seluruh kelompok yang ada di dalam masyarakat Indonesia, tidak hanya mewakili golongangolongan tertentu saja. Gambar 6. Contoh Biografi Singkat Calon PKI Yang Terbit Di Harian Rakjat (Sumber: Harian Rakjat 22 Septerber 1955) Pada bulan September, Harian Rakjat juga aktif memuat iklan-iklan kampanye PKI. Poster kampanye ini biasa muncul pada halaman kedua. iklan ini bergambarkan tangan yang mencoblos tanda gambar “Palu Arit” pada kertas suara dilengkapi dengan seruan di bagian bawahnya. Hal yang menarik dari iklan ini adalah bagaiamana bunyi seruan kampanye tersebut berubah setiap harinya. Pada awalnya, seruan tersebut menyasar kelompok tertentu seperti buruh, tani, wanita,

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 atau pengusaha, dilengkapi dengan keuntungan yang setiap kelompok tersebut dapatkan bila memilih PKI. Gambar 7. Contoh Poster Kampanye PKI Di Harian Rakjat Untuk Kaum Tani (Sumber: Harian Rakjat 9 September 1955) Gambar 8. Contoh Poster Kampanye PKI Di Harian Rakjat Untuk Pengusaha Nasional (Sumber: Harian Rakjat 13 Septermber 1955)

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 Pada perkembangannya, seruan iklan ini lebih bersifat umum, tidak menyasar kelompok khusus. Contohnya adalah “Mentjoblos Palu Arit berarti pendemokrasian pemerintahan daerah dan desa”67 atau “Mentjoblos Palu Arit berarti menempuh djalan kemadjuan bagi Indonesia”68. Pada tanggal 28 September 1955, Harian Rakjat kembali memuat sebuah iklan kampanye yang isinya merupakan rangkuman seruan-seruan tersebut. Iklan ini memakan lebih dari setengah halaman pertama surat kabar tersebut. Gambar 9. Iklan Kampaye PKI di Harian Rakjat (Sumber: Harian Rakjat 28 September 1955) 67 Harian Rakjat 16 September 1955. Hlm: 2. 68 Harian Rakjat 17 September 1955. Hlm; 2.

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 73 Mendekati tanggal 29 September 1955, Harian Rakjat rajin memuat testimoni-testimoni mengenai PKI dari berbagai orang. Salah satunya adalah Kjai Achmad Dasuki, salah satu anggota dan calon yang diajukan oleh PKI. Dalam pernyataannya, ia mengatakan: “Setelah saja mempeladjari teori komunisme jang dibentangkan oleh kawan Karl Marx maka saja dapat mengakui bahwa kawan Marx adalah satu2nja sardjana besar jang dapat mengupas segala sesuatu keadaan dengan petundjuk2nja jang terang dan djelas, jang seolah-olah ia dapat mengupas petundjuk Qur’an dan Hadis setjara mendetail, sedang kawan Lenin sebagai pelaksana Marx dan dapat menjesuaikan dengan keadaan waktu dan tempatnja…”69 Pernyataan Kjai Achmad Dasuki tersebut dimuat dengan maksud menghilangkan stigma bahwa komunisme dan agama saling bertentangan. Harian Rakjat ingin menunjukkan bahwa Islam dan Komunisme sejalan dan dapat bekerja sama. Selain Achmad Dasuki, tokoh yang dimuat testimoninya adalah Nj. Amir Sjarifuddin.70 Di dalam testimoni tersebut ia menyatakan bahwa ia mau dicalonkan oleh PKI bukan karena suaminya, Mr. Amir Sjarifuddin adalah PKI. Akan tetapi, ia mau dicalonkan karena menurutnya PKI karena suka dengan programnya, dan menurutnya PKI benar-benar teguh dan konsekuen dalam membela buruh, tani, terutama perempuan. 69 70 Harian Rakjat 12 September 1955. Hlm: 1. Harian Rakjat 28 September 1955. Hlm: 2. Ny. Amir Sjarifuddin adalah istri dari almarhum Amir Sjarifuddin, mantan Perdana Menteri Indonesia dan juga salah satu pemimpin sayap kiri Indonesia pada masa penjajahan Jepang yang mati karena terlibat pada peristiwa Madiun 1948.

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 74 3. Sosialisasi Menjelang Pemilihan Umum Pada masa ini, Harian Rakjat tidak hanya fokus mengkampanyekan PKI saja. Mereka juga aktif memberikan informasi mengenai apa yang harus dilakukan pada hari pemungutan suara. Informasi ini tidak hanya disajikan dalam bentuk teks, melainkan juga dalam bentuk visual. Pada tanggal 30 Agustus 1955, Harian Rakjat mulai menerbitkan komik strip berseri tentang pemilihan umum. Komik ini menceritakan seorang tokoh bernama Achmad, seorang kader PKI di desa, dan Aminah, seorang anggota Gerwani. Di dalam komik ini diceritakan mengenai apa saja yang harus dilakukan oleh para kader PKI dan organisasi lainnya untuk menghadapi pemilihan umum, mulai dari mengecek warga yang belum mendapatkan surat undangan dari panitia pemilihan, mengadakan latihan mencoblos, mengorganisir massa untuk menuju Tempat Pemungutan Suara (TPS), langkah-langkah yang harus dilakukan, hingga prosedur penghitungan suara di TPS.Pada tanggal 25 September 1955, koran ini kembali menerbitkan seluruh edisi komik ini hingga memakan 3 halaman sekaligus. Tindakan Harian Rakjat yang progresif dan kreatif ini berguna untuk memudahkan penyampaian pesan kepada masyarakat yang tingkat buta hurufnya masih tinggi pada saat itu.

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 75 Gambar 10. Contoh Komik Strip Pemilu Di Harian Rakjat (Sumber: Harian Rakjat 31 Agustus 1955) Hal yang menarik dari komik tersebut adalah perhatian Harian Rakjat terhadap perempuan dan anak. Pada kolom keenam komik ini menceritakan tentang Aminah dan anggota Gerwani yang meyelenggarakan penitipan anak, bantuan minuman dan pengobatan. Hal tersebut menandakan bahwa Harian Rakjat memperhatikan kebutuhan para ibu pada saat hari pemungutan suara. Pada tanggal 28 September 1955, Harian Rakjat memuat satu kolom berisi instruksi kepada masyarakat mengenai apa yang harus mereka lakukan pada hari pemungutan suara. Instruksi ini hanya berisikan hal-hal yang remeh temeh, mulai dari bangun, membuat makanan dan minuman untuk keluarga, membersihkan rumah, membagi tugas dengan para pemuda untuk menjaga keamanan, hingga menuju ke TPS untuk mencoblos dan menyaksikan penghitungan suara.

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 76 Gambar 11. Instruksi Menjelang Pemiliu Dari Harian Rakjat (Sumber: Harian Rakjat 28 September 1955) Harian Rakjat juga menggunakan kolom “Ruangan Wanita” untuk mengajak perempuan turut aktif ikut serta dalam pemilihan umum yang akan datang. Pada tanggal 28 September 1955, di dalam kolom ini dimuat ssebuah artikel berjudul “Bersatu menudju kekotak suara untuk memenangkan Palu-Arit dan golongan demokratis lainnja” yang ditulis oleh Ny. Kartinah. Artikel ini menyatakan: “Pada hakekatnja perdjuangan tersebut tidak bisa dilepaskan dari perdjuangan antara dua kekuatan. Antara kekuatan demokratis dan kekuatan anti-demokratis. Antara kekuatan jang pro-hak wanita dan anti-hak wanita, antara kekuatan jang prodimadu dan anti-dimadu”71 71 Harian Rakjat 28 September 1955. Hlm: 3.

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 77 Lebih lanjut lagi, Kartinah menyarankan supaya wanita menyambut hari pemungutan suara dengan gembira, karena wanita dapat ikut menjadi hakim rakyat. Ia juga memberikan saran-saran apa saja yang butuh dilakukan dan diketahui pada untuk menyambut hari pemilihan. E. Kampanye Pemilihan Anggota Konstituante Jangka waktu untuk kampanye pemilihan anggota Konstituante tidak terlalu panjang. Bulan Oktober 1955 dapat dikatakan sebagai masa jeda kampanye di Harian Rakjat. Pada masa ini, surat kabar tersebut lebih berfokus pada berita perkembangan penghitungan suara dari berbagai daerah di Indonesia. Di samping itu, mereka juga banyak mengabarkan kecurangan-kecurangan yang terjadi selama pemilihan umum berlangsung. Salah satu kolom baru yang muncul pasca pemungutan suara tanggal 29 September 1955 adalah kolom Varia Pemilihan Umum. Kolom ini membahas serba-serbi dan peristiwa-peristiwa kecil yang terjadi seputar pemilihan umum yang telah berlangsung. Cerita yang dimuat banyak berisikan tentang bagaimana seseorang secara antusias memilih PKI, seperti kisah mengenai satu orang tua dengan penglihatan dan tenaga yang sudah kurang meminta tolong kepada petugas untuk dicobloskan “Palu Arit”.72 Di samping itu, mereka juga menggunakan kolom ini untuk menjelek-jelekkan musuh politik mereka, seperti 72 Harian Rakjat 19 November 1955. Hlm: 2.

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 78 kisah tentang sorang nenek yang marah-marah karena disebut sebagai kafir oleh anggota Masjumi setelah mencoblos PKI.73 Kampanye PKI di Harian Rakjat baru mulai aktif kembali pada bulan November 1955, dan pada bulan Desember, usaha tersebut semakin gencar dilakukan. Secara garis besar isu yang digunakan pada masa kampanye ini masih sama dengan masa sebelumnya, seperti isu modal asing dan Darul Islam. Akan tetapi, isu yang menjadi fokus utama pada masa ini adalah isu Negara Islam dan Darul Islam. Seperti yang dinyatakan oleh Aidit dalam pidatonya di sidang pleno CC PKI dan dimuat oleh Harian Rakjat pada tanggal 10 November 1955, disebutkan bahwa: “Sedjak sekarang sudah dapat kita bajangkan, bahwa kampanye pemilihan untuk Konstituante akan banjak dipersoalkan orang apakah Konstituante nanti akan melahirkan ‘Negara Pantjasila’ atau ‘Negara Islam’…”74 Pernyataan tersebut menggambarkan garis besar kebijakan kampanye PKI dalam berbagai bidang, termasuk Harian Rakjat. Surat kabar ini membuat sebuah kolom baru pada akhir November 1955 yang bernama “Kalau saudara memilih Masjumi…..”. Kolom ini berisikan sindiran, yang memperlihatkan kejelekankejelekan para pimpinan Masjumi. Pada bulan Desember, kolom ini berubah menjadi “Memilih Masjumi berarti memilih DI”. Isi kolom ini membahas tentang hubungan Masjumi dan Darul Islam untuk mengatakan bahwa kalau masyarakat memilih Masjumi, secara tidak langsung ia memilih Darul Islam yang bertujuan untuk mendirikan Negara Islam di Indonesia. 73 Harian Rakjat 31 Oktober 1955. Hlm: 2. 74 Harian Rakjat 10 November 1955. Hlm: 4.

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 79 Gambar 12. Contoh Kolom “Kalau saudara memilih Masjumi….” (Sumber: Harian Rakjat 24 November 1955) Gambar 13. Contoh Kolom “Memilih Masjumi berarti Memilih DI” (Sumber: Harian Rakjat 8 Desember 1955) Untuk kepentingan kampanye, Harian Rakjat juga memuat iklan kampanye PKI. Berbeda dengan iklan sebelumnya, kali ini hanya berbentuk logo “Palu Arit” disertai dengan janji-janji PKI. Seruan-seruan pada poster kebanyakan bertema

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 80 mempertahankan Indonesia, seperti “Memilih Palu-Arit berarti menjelamatkan Republik Proklamasi”75 atau “Memilih Palu-Arit berarti menjelamatkan bendera kebangsaan Merah-Putih dan lagu kebangsaan Indonesia Raja”76. Seruan-seruan tersebut bertujuan untuk memperlihatkan posisi PKI yang tetap setia pada Republik Indonesia dan Pancasila. Gambar 14. Contoh Iklan Kampanye Konstituante PKI (Sumber: Harian Rakjat 19 November 1955) Untuk memperjelas posisi tersebut, Departemen Agitasi dan Propaganda (Depagitprop) PKI menyampaikan pernyataan yang dimuat dalam Harian Rakjat tanggal 2 Desember 1955. Dalam pernyataan tersebut, mereka menyatakan bahwa PKI tidak memiliki tujuan untuk membentuk negara komunis di Indonesia. Mereka secara tegas menyatakan bahwa PKI tetap ingin mempertahankan Republik Proklamasi 1945 (Republik Indonesia).77 75 Harian Rakjat 19 November 1955. Hlm: 1. 76 Harian Rakjat 9 Desember 1955. Hlm: 1. 77 Harian Rakjat 2 Desember 1955. Hlm: 3.

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 81 Harian Rakjat juga masih aktif memberikan himbauan-himbauan maupun informasi-informasi terkait dengan pemilihan umum. Salah satunya adalah himbauan supaya warga mengecek daftar pemilih. Mereka juga menghimbau rakyat akan adanya potensi provokasi yang menimbulkan rasa apati atau masyarakat akan pemilihan anggota Konstituante. Hanya saja, surat kabar ini tidak lagi menerbitkan komik pemilihan umum. Nampaknya mereka percaya bahwa warga telah memahami proses pemungutan suara dalam pemilu.

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV HASIL PEMILU 1955 A. Jalannya Pemilihan Umum “Pagi ini saya keluar rumah, persis saat dibukanya pemungutan suara. Surabaya sudah dililit kesenyapan yang larut dan aneh yang amat mewarnai hari pemilihan. Berjalan di Tunjungan, hanya kami yang melenggang di jalan besar yang biasanya bising dan hiruk pikuk oleh lalu-lintas pada jam delapan. Hari ini tidak ada becak, tiada mobil, tiada orang-orang yang beraktivitas. Toko-toko tutup dan ditinggalkan pemiliknya.”1 Seperti itu gambaran yang disampaikan oleh Boyd R. Compton mengenai keadaan kota Surabaya pada hari pemungutan suara tanggal 29 September 1955. Kota Surabaya yang biasanya ramai berubah menjadi sepi. Begitupula di Tempat Pemungutan Suara (TPS), orang-orang berbaris tertib dalam diam. “Sebuah kerumunan Indonesia yang tak lazim” menurut Compton.2 Nampaknya ada kecemasan yang melanda masyarakat akan terjadinya kerusuhan pada hari itu. Dari cerita Compton mengunjungi beberapa TPS di berbagai tempat, nampaknya ada kesenjangan antara tps di perkotaan dan di desa-desa. Jika jalannya pemungutan suara di TPS di perkotaan berjalan dengan cepat dan lancar. Sedangkan di pedesaan, pemungutan suara berjalan lebih lambat. Di desa, 1 Boyd R. Compton. 1992. Kemelut Demokrasi Liberal Surat-surat Rahasia Boyd R. Compton. Penj: Hamid Basyaib. Jakarta: LP3ES. Hlm: 257. 2 Ibid., hlm: 257-258.

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 83 masyarakat harus berulang kali kembali ke bilik suara karena warga yang tegang berkali-kali salah melipat kertas suara.3 Ada beberapa hal yang dipuji oleh Compton mengenai pemilihan umum ini. Pertama adalah ketertiban, keamanan, dan kelancaran pemungutan suara. Kedua adalah tingginya tingkat partisipasi masyarakat, terutama di daerah Surabaya yang tingkat partisipasinya mencapai lebih dari 90%. Ketiga adalah sistem kontrol sosial yang berlaku sehingga kerahasiaan dalam pemungutan suara tetap terjamin.4 Hal senada juga disampaikan oleh Herberth Feith. Ia menyebut bahwa berbagai rumor dan kecemasan sudah menyeber di Jawa sejak beberapa hari sebelum hari pemungutan suara. Akan tetapi, menurutnya kecemasan tersebut langsung pudar setelah mereka memberikan suaranya, diganti dengan rasa senang dan bangga karena telah berpartisipasi dalam peristiwa penting tersebut.5 Feith menyebut sekitar 91,5% masyarakat ikut serta dalam pemilihan umum ini. Ia berpendapat bahwa tingginya partisipasi warga tidak terlepas dari berbagai rumor dan ketakutan masyarakat. Ada rumor yang beredar di masyarakat bahwa orang yang tidak ikut memilih akan dijatuhi sangsi atau hukuman. Warga juga takut akan kemarahan dari para petinggi partai jika mereka tidak ikut memilih.6 3 Ibid., hlm: 257-256. 4 Ibid. Terkait dengan sistem kontrol sosial, Compton membahasnya dalam konteks suatu kasus yang dilihatnya ketika seorang Ketua Panitia di sebuah TPS mencegah anggota panitia lainnya yang ingin membantu seorang wanita untuk melipat kertas suara. 5 Herbert Feith, op.cit., hlm: 48-49. 6 Ibid., hlm: 51.

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 84 Hasil dari pemungutan suara untuk pemilihan parlemen ini mengejutkan banyak orang. Memang banyak yang sudah menduga jika PNI, Masjumi, N.U., dan PKI akan menjadi empat besar pemenang pemilu tersebut. Akan tetapi, mereka tidak menduga persaingan diantara keempatnya akan sebegitu ketatnya.7 PNI dan Masjumi yang diprediksi akan memenangkan pemilihan ini dengan telak ternyata perolehan suaranya dapat ditempel oleh N.U. dan PKI, sedangkan partaipartai lainnya tertingal jauh dari keempat partai tersebut. Tabel 1. Perolehan Suara Pemilihan Parlemen (Sumber: Herbert Feith. The Indonesia Election of 1955.) No. Partai Jumlah Suara Persentase Jumlah Kursi 1. Partai Nasionalis 8.434.653 22,3% 57 Indonesia (PNI) 2. Masjumi 7.903.886 20,9% 57 3. Nahdlatul Ulama (N.U.) 6.955.141 18,4% 45 4. Partai Komunis Indonesia 6.176.914 16,4% 39 5. Partai Sarekat Islam 1.091.160 2,9% 8 1.003.325 2,6% 8 Indonesia (P.S.I.I.) 6. Parkindo 7. Partai Katolik 770.740 2,0% 6 8. Partai Sosialis Indonesia 753.191 2,0% 5 (PSI) 9. I.P.K.I. 541.306 1,4% 4 10. Perti 483.000 1,3% 4 11. P.R.N. 242.125 0,6% 2 12. Partai Buruh 224.167 0,6% 2 13. G.P.P.S. 219.000 0,6% 2 7 Ibid., hlm: 57.

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 85 14. P.R.I. 206.000 0,5% 2 15. P.P.P.R.I. 200.419 0,5% 2 16. Partai Murba 199.588 0,5% 2 17. Baperki 178.887 0,5% 1 18. P.I.R. – Wongsonegoro 178.481 0,5% 1 19. Gerinda 154.792 0,4% 1 20. Permai 149.287 0,4% 1 21. Partai Persatuan Dayak 146.054 0,4% 1 22. P.I.R. Hazairin 114.644 0,3% 1 23. P.P.T.I. 85.131 0,2% 1 24. A.K..U.I. 81.454 0,2% 1 25. P.R.D. 77.919 0,2% 1 26. P.R.I.M. 72.523 0,2% 1 27. Acoma 64.514 0,2% 1 28. R. Soedjono 53.305 0,1% 1 1.022.433 2,7% 0 37.785.299 100% 257 Prawirosoedarso dan rekan-rekan 29. Partai, organisasi, dan kandidat individu lainnya Total

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 86 Gambar 15. Karikatur Harian Rakjat yang Meledek Perolehan Suara Masjumi-PSI (Sumber: Harian Rakjat 8 Oktober 1955) Harian Rakjat menyambut hasil Pemilu ini dengan gembira. Dalam pemberitaannya mengenai penghitungan suara, mereka banyak menonjolkan kemenangan PKI dan partai-partai front demokrasi lainnya atas lawan politiknya, yakni Masjumi dan PSI. Dengan judul-judul berita seperti “Kombinasi PKI-PNI tetap mengalahkan kombinasi Masjumi – PSI”8 atau “Di Sumatera Blok Demokratis tetap unggul”9 bertebaran di surat kabar ini untuk menunjukkan kesuksesan mereka mengalahkan partai reaksioner tersebut. Berita-berita ini ramai menghiasi Harian Rakjat hingga pertengahan bulan Oktober 1955. Harian Rakjat banyak menyuarakan kecurigaannya atas kecurangankecurangan yang terjadi di berbagai daerah. Dalam kolom editorialnya pada tanggal 4 Oktober 1955, surat kabar ini memprotes bilik suara di TPS-TPS tidak 8 Harian Rakjat 4 Oktober 1955. Hlm: 2. 9 Harian Rakjat 5 Okober 1955. Hlm: 2.

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 87 cukup untuk menjaga kerahasiaan pemilih. Mereka menganjurkan supaya dipasang tirai di depan bilik TPS untuk menjamin kerahasiaan pemilih. Mereka juga menuduh adanya pejabat-pejabat yang marah-marah dan melakukan intimidasi karena di TPS-nya banyak yang memilih PNI atau PKI.10 Harian Rakjat juga menuduh Masjumi mencuri suara. Pada tanggal 12 Oktober 1955, surat kabar ini menerbitkan artikel berjudul “Dari mana Masjumi sunglap suara 1.000.000?”. Pada artikel tersebut, mereka menyebutkan: “Seperti diketahui menurut Masjumi angka jang mereka tjapai [di Jawa Tengah (penulis)] adalah lebih dari 1,7 djuta suara. Banjak orang merasa heran dari mana Masjumi menjunglap suara sedjuta itu, sebab menurut perhitungan, Masjumi tidak akan mendapat lebih dari sedjuta.”11 Tidak banyak gambaran terkait dengan pelaksanaan pemilihan anggota Konstituante tanggal 15 Desember 1955. Feith hanya menyebut bahwa perbedaan mencolok diantara keduanya adalah suasana. Pada pemilihan Konstituante, suasana lebih cair, tidak ada rumor-rumor maupun intimidasi yang mencemaskan warga. Selain itu ia juga menyebut bahwa tingkat kecurangan dan pemilihan ulang lebih kecil daripada pemilihan yang pertama. Terakhir, ia juga menyebut bahwa tingkat partisipasi warga pada pemilihan kedua ini 89,33%, atau turun sekitar 2, 10 11 Harian Rakjat. 4 Oktober 1955. Hlm: 1. Harian Rakjat 12 Oktober 1955. Hlm: 1. Kecurigaan tentang perolehan suara Masjumi di Jawa Tengah tidak hanya berasal dari PKI dan Harian Rakjat saja. Menurut Boys R. Compton, PNI juga mencurigai perolehan suara ini karena menurut pendapat mereka, suara Masjumi harusnya di bawah 500.000. Akan tetapi, hasil tersebut bukanlah hasil yang resmi yang dikeluarkan oleh panitia pemilihan. Lihat Boyd R. Compton. Op. Cit. Hlm: 270-271.

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 88 21%. Menurut Feith, ada sebagian orang yang ikut dalam pemilihan pertama, tetapi tidak mengikuti lagi pemilihan yang kedua ini.12 Tabel 2. Perbandingan Suara Pemilu Parlemen dan Pemilu Konstituante (Sumber: Herbert Feith. The Indonesian Election of 1955) No. 1. Partai Partai Suara Suara Parlemen Konstituante 8.434.653 9.070.218 +635.000 Nasionalis Perbedaan Indonesia (PNI) 2. Masjumi 7.903.886 7.786.619 -114.267 3. Nahdlatul Ulama (N.U.) 6.955.000 6.989.333 +34.192 4. Partai 6.176.914 6.232.512 +55.000 1.091.160 1.059.922 -31.238 1.003.325 988.810 -14.515 Komunis Indonesia (PKI) 5. Partai Sarekat Islam Indonesia (P.S.I.I.) 6. Parkindo 7. Partai Katolik 770.740 748.591 -22.149 8. Partai Sosialis Indonesia 753.191 695.932 -57.259 (PSI) 9. I.P.K.I. 539.824 544.803 +4.979 10. Perti 483.014 465.359 -17.655 11. G.P.S.S. 219.985 152.892 -67.093 12. P.R.N. 242.145 220.625 -21.473 13. P.P.P.R.I. 200.419 179.346 -21.073 14. Partai Murba 199.588 248.633 +49.045 15. Partai Buruh 224.000 332.047 +107.880 16. P.R.I. 206.261 134.011 -72.250 17. P.I.R. Wongsonegoro 178.481 162.420 -16.601 18. P.I.R. Hazairin 114.644 101.509 -13.135 12 Herbert Feith. Op. Cit . Hlm: 54-55.

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 89 19. Permai 149.287 164.286 +15.099 20. Baperki 178.481 160.456 -18.431 21. Gerinda 154.792 157.976 +3.184 22. Partai Persatuan Dayak 146.054 157.976 +23.168 23. P.R.I.M. 72.532 143.907 +71.375 24. A.K.U.I. 81.454 84.862 +3.408 25. Acoma 64.514 55.844 -8.670 26. P.P.T.I. 85.131 74.913 -10.218 27. P.R.D. 77.919 39.278 -38.641 28. R. 53.305 38.356 -14.949 Soedjono Prawirosoedarso dan rekan-rekan Sama seperti pemilihan sebelumnya, Harian Rakjat menyambut hasil ini sebagai kemenangan PKI dan front demokrasinya atas Masjumi dan PSI. Mereka turut aktif memantau penghitungan suara di seluruh daerah pemilihan. Sejak 16 Desember 1955 hingga akhir bulan tersebut, surat kabar ini dipenuhi dengan informasi-informasi seputar penghitungan suara. Mereka juga banyak mengabarkan dugaan mereka atas kecurangan-kecurangan Masjumi pada pemilihan Konstituante ini. Melihat dari hasil-hasil tersebut, PKI meraih kesuksesan yang besar dalam Pemilu 1955 ini. Keberhasilan mereka mengumpulkan lebih dari 6 juta suara atau lebih dari 16,4% suara merupakan suatu prestasi yang luar biasa, mengingat betapa sempitnya waktu yang mereka punya untuk membangun kembali dan memperbaiki citra partai di mata masyarakat. Lumbung suara terbesar dari PKI adalah di Jawa Tengah dan di Jawa Timur, khususnya di daerah Madiun,

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 90 Surakarta dan, Semarang. Jawa Tengah dan Jawa Timur menyumbang sekitar 74,89% dari total suara yang diraih PKI pada pemilihan umum parlementer. Menurut Compton, strategi PKI yang selalu mengumandangkan persatuan nasional dan perdamaian lebih dapat diterima oleh masyarakat ketimbang isu antikomunis yang di gaungkan oleh Masjumi dan front anti-komunisnya karena rakyat merasa sudah lelah berkonflik.13 Dengan kata lain, strategi front demokrasi yang digunakan PKI dalam kampanye kali ini berhasil memperbaiki citra partai di masyarakat. Tabel 3. Perbandingan Suara yang Diraih Oleh PKI DI Berbagai Daerah Pada Pemilu Parlemen dan Pemilu Konstituante (Sumber: Herbert Feith. The Indonesian Election of 1955) No. 1. Jawa Timur Pamilihan Parlemen 2.299.000 2. Jawa Tengah 2.236.108 2.305.041 -21.067 3. Jawa Barat 755.643 827.858 +72.212 4. Jakarta Raya 96.363 89.612 -6.751 5. Sumatra Selatan 176.900 168.095 -8.805 6. Sumatra Tengah 90.513 98.583 +8.070 7. Sumatra Utara 258.875 277.546 +18.671 8. Kalimantan Barat 8.526 8.680 +154 9. Kalimantan Selatan 17.210 20.092 +2.882 10. Kalimantan Timur 8.209 8.762 +553 11. Sulawesi Utara 33.204 37.541 +4.337 13 Daerah Boyd R. Compton. Op. Cit. Hlm: 282. Pemilihan Konstituante 2.266.801 Selisih -31.801

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 91 12. Sulawesi Selatan 17.831 23.402 +5.511 13. Maluku 4.792 4.934 +142 14. Nusa Tenggara Timur 5.008 6.626 +1.618 15. Nusa Tenggara Barat 66.067 78.363 +12.296 Hasil Pemilu Konstituante menunjukkan suatu fenomena yang menarik. Suara yang diraih oleh PKI di Jawa Tengah dan Jawa Timur berkurang sebanyak 1,4% dan 0,9%. Akan tetapi, penurunan suara tersebut tidak sebesar dibanding kenaikan perolehan suara yang mereka raih di Jawa Barat yang sebesar 9,5%. Berkurangnya suara PKI di Jawa Tengah dan Jawa Timur bisa disebabkan oleh berkurangnya partisipasi masyarakat pada Pemilu Konstituante. Di samping itu, penurunan suara ini juga dapat disebabkan oleh kurangnya kepercayaan masyarakat atas komitmen PKI untuk tidak mendirikan negara Komunis di Indonesia. Kenaikan suara yang mereka peroleh di Jawa Barat bisa disebabkan oleh keberhasilan kampanye negative mereka terhadap Masjumi yang mengkaitkannya dengan Darul Islam (DI). Masyarakat Jawa Barat yang terkena dampak langsung dari pemberontakan DI nampaknya sudah letih dengan konflik yang terjadi di daerah tersebut. Kampanye Harian Rakjat yang terus menerus menyerang Masjumi dan DI berhasil mempengaruhi masyarakat Jawa Barat, dilihat dari adanya kenaikan suara yang diperoleh PKI maupun PNI dan NU di wilayah ini, sedangkan suara yang diperoleh Masjumi justru mengalami penurunan.

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 92 B. Pengaruh Harian Rakjat Pada Pemilihan Umum 1955 Untuk mengukur dengan pasti seberapa besar pengaruh pemberitaan dan kampanye PKI di Harian Rakjat sangatlah sulit. Seperti yang sudah dibahas di bab sebelumnya, Njoto menyebut bahwa sirkulasi Harian Rakjat sebesar 15.000 eksemplar per harinya. Akan tetapi, Groves mengatakan bahwa oplah surat kabar ini melonjak menjadi 58.000 eksemplar pada Maret 1956.14 Artinya ada kenaikan oplah harian sebesar hampir 4 kali lipat hanya dalam jangka waktu sekitar 2 tahun. Jika jumlah kenaikan oplah setiap tahunnya sama besarnya, maka diperkirakan oplah surat kabar ini berada dikisaran 36.500 eksemplar, jumlah yang masih sangat kecil ketimbang seluruh jumlah masyarakat Indonesia. Angka di atas bukan berarti bahwa Harian Rakjat hanya dibaca oleh 36.500 orang saja. Masih ada kebiasaan langganan atau membaca kolektif, di mana satu koran dibaca oleh beberapa orang. Njoto menyebutkan bahwa setiap eksemplar Harian Rakjat setidaknya dibaca oleh 5 atau 7 orang.15 Itu berarti bahwa Harian Rakjat setidaknya dibaca oleh sekitar 180.000 orang. Jika dibandingkan dengan jumlah suara yang didapatkan oleh PKI pada pemilihan anggota Konstituante, maka jumlah pembaca hanyalah sekitar 2,9% saja. Meskipun jumlah pembaca cukup kecil, akan tetapi Harian Rakjat memiliki peranan yang vital dalam kampanye PKI pada pemilihan umum ini. Groves menyebut bahwa mayoritas pembaca Harian Rakjat adalah anggota partai dan 14 Kerry William Groves. Op. Cit. Hlm: 110. 15 Harian Rakjat 25 Februari 1954. Hlm: 3.

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 93 kandidat anggotanya16. Jika melihat bahwa cabang-cabang PKI sangat aktif mengadakan kampanye dan ceramah umum di daerahnya masing-masing, maka dapat diduga bahwa isu-isu yang ada di Harian Rakjat menjadi salah satu bahan propaganda pada acara-acara tersebut. Hal ini sejalan dengan instruksi Njoto pada artikel “Pers dan Pemilihan Umum” yakni: “Gunakanlah Harian Rakjat se-maxsimal2nja didalam semua pekerdjaan: untuk rapat2, tjeramah2, untuk andjangsana, untuk latihan2 mencoblos Palu-Arit, untuk pertjakapan2, pendeknja untuk memenangkan demokrasi dalam pemilihan umum.”17 Peranan penting Harian Rakjat pada kampanye PKI juga dibahas oleh Groves. Menurutnya, PKI pada pemilihan umum ini berhasil merebut 30% suara dari tentara yang membuat para pimpinan tentara melarang anggotanya untuk membaca surat kabar tersebut.18 Jika hal ini benar, maka Harian Rakjat punya peranan yang vital dalam kesuksesan tersebut. 16 Kerry William Groves. Op. Cit. Hlm: 113. 17 Harian Rakjat 12 September 1955. Hlm: 1. 18 Kerry William Groves. Op. Cit. Hlm: 113-114.

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Periode 1950-an dalam sejarah Indonesia dikenal sebagai masa demokrasi liberal. Pada masa ini, pemerintah fokus menerapkan sistem demokrasi di Indonesia. Untuk menjamin terbentuknya pemerintahan yang demokratis, pemerintah berusaha untuk mengadakan pemilihan umum nasional pertama di Indonesia. Meskipun pada awalnya banyak ketidakpastian yang meliputi, titik terang mulai muncul ketika undang-undang pemilu pertama disahkan oleh parlemen pada awal 1953. Pada saat yang sama, PKI di bawah kepemimpinan Aidit berusaha untuk bangkit kembali. Menurut konsepsi Aidit, ia ingin membangun kembali PKI sebagai partai berbasis massa. Ide Aidit nampaknya muncul karena ia menyadari jalan termudah bagi PKI untuk kembali mendekat pada kekuasaan adalah dengan memanfaatkan sistem yang berlaku saat itu. Meski pelaksanaan pemilihan umum pada waktu itu masih hanya sekedar isu, PKI melihatnya sebagai sebuah kesempatan untuk meraih kekuasaan. Di dalam sistem pemilihan umum, semakin banyak suara masyarakat yang diraih oleh sebuah partai, maka semakin besar pula kekuasaan yang didapatkan. Oleh karena itu, PKI berusaha menyebarkan pengaruhnya ke berbagai kelompok untuk meraih suara sebanyak-banyaknya. Untuk membangun partai berbasiskan massa, PKI membutuhkan media yang dapat menjangkau banyak kelompok untuk menyebarkan ide dan

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 95 menyatukan pandangan. Media yang dapat memenuhi tugas tersebut adalah surat kabar. Hanya saja, pada saat itu PKI tidak memiliki surat kabar. Mereka hanya memiliki Bintang Merah yang merupakan sebuah jurnal teori partai tersebut. Kebutuhan PKI untuk memiliki surat kabar semakin mendesak setelah undangundang pemilihan umum pertama disahkan oleh parlemen awal 1953. Beruntung, di saat yang bersamaan, Siaw Giok Tjhan berniat menjual Harian Rakjat. PKI kemudian memanfaatkan posisi Njoto di Harian Rakjat dan kedekatannya dengan Siaw untuk membeli surat kabar tersebut pada Oktober 1953. Sejak dibeli oleh PKI, Harian Rakjat menjadi senjata utama partai tersebut untuk menyebarkan ide dan menyerang musuh-musuh politiknya. Ketika PKI memulai kampanye untuk pemilihan umum pada tahun 1954, surat kabar ini turut aktif membantu usaha tersebut. Harian Rakjat aktif mengkampanyekan PKI dalam berbagai bentuk, mulai dari rubrik, karikatur, slogan, hingga iklan. Selain itu, mereka juga aktif mensosialisasikan berbagai hal terkait dengan pemilihan umum. Isu utama yang digunakan oleh Harian Rakjat untuk berkampanye sejalan dengan manifes pemilihan umum PKI yang dibahas pada Kongres Nasional V PKI Maret 1954. Demokrasi Rakjat, Front Demokrasi, dan Persatuan Nasional menjadi tema utama kampanye tersebut. Kampanye di Harian Rakjat juga tidak lepas dari kampanye negatif maupun kampanye hitam. Mereka banyak menyerang Masjumi dan PSI melalui berbagai isu, baik yang berdasarkan fakta maupun yang hanya sekedar gossip belaka.

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 96 Menilik pemberitaan-pemberitaan yang terkait dengan kampanye di Harian Rakjat, surat kabar ini ingin mempolarisasi politik Indonesia melalui isu Front Demokrasi. Front Demokrasi adalah partai-partai yang mau bekerja sama dengan PKI, seperti PNI dan NU. Partai-partai yang tergabung di dalam front tersebut digambarkan sebagai pihak yang “baik”, seperti pro-demokrasi, pro-rakyat, antiimperialisme dan sebagainya. Sedangkan partai-partai yang enggan bekerjasama dengan mereka, seperti Masjumi dan PSI, digambarkan sebagai partai yang “buruk”, seperti anti-demokrasi, anti-rakyat, pro-modal asing, dan sebagainya. Polarisasi ini menggambarkan pengaruh pandangan komunis dan Perang Dingin dalam kampanye Pemilu 1955. Terlepas dari sedikitnya oplah harian dan jumlah pembaca bila dibandingkan dengan jumlah pemilih PKI pada Pemilu 1955, Harian Rakjat tetap memegang peranan penting pada prestasi yang diraih oleh PKI pada pemilu tersebut. Surat kabar ini berperan sebagai panduan untuk propaganda dan kampanye bagi anggota-anggota PKI dan organisasi-organisasi sayapnya. B. Saran Pemilihan Umum tahun 1955 menandakan awal dari perkembangan demokrasi di Indonesia. Penyelenggaraan pemilu ini merupakan bukti bahwa Pemerintah Indonesia tetap berusaha untuk membangun pemerintahan yang demokratis meskipun ada banyak rintangan yang harus diatasi, seperti pemberontakan yang terjadi di berbagai daerah. Pemilu ini semakin istimewa karena tingginya antusiasme dan partisipasi dari masyarakat dan partai politik untuk menyukseskan kegiatan tersebut.

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 97 Sayangnya, masih sedikit perhatian peneliti mengenai peristiwa ini. Padahal banyak hal penting yang dapat dipelajari dari pemilu tersebut, salah satunya adalah pemanfaatan media massa untuk kegiatan kampanye partai politik. Penelitian ini bertujuan untuk menyumbangkan informasi mengenai hal tersebut. Di samping itu, penelitian ini diharapkan untuk memicu munculnya penelitianpenelitian lain, seperti kampanye Pemilu 1955 di surat kabar milik partai politik lain; tanggapan surat kabar lain atas kampanye PKI di Harian Rakjat; ataupun mengkomparasikannya dengan penggunaan pers untuk kampanye di era kontemporer.

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Surat Kabar Abadi 25 Januari 1955. Abadi 15 Februari 1955. Harian Rakjat 2 Januari 1954. Harian Rakjat 5 Januari 1954. Harian Rakjat 8 Januari 1954. Harian Rakjat 21 Januari 1954. Harian Rakjat 8 Februari 1954. Harian Rakjat 11 Februari 1954. Harian Rakjat 13 Februari 1954. Harian Rakjat 15 Februari 1954. Harian Rakjat 22 Februari 1954. Harian Rakjat 25 Februari 1954. Harian Rakjat 1 Maret 1954. Harian Rakjat 4 Maret 1954. Harian Rakjat 13 Maret 1954. Harian Rakjat 22 Maret 1954. Harian Rakjat 23 Maret 1954. Harian Rakjat 27 Maret 1954. Harian Rakjat 30 Maret 1954. Harian Rakjat 2 April 1954. Harian Rakjat 12 Mei 1954. Harian Rakjat 13 Mei 1954. Harian Rakjat 19 Mei 1954. Harian Rakjat 1 Juni 1954. Harian Rakjat 12 Juni 1954. Harian Rakjat 9 September 1954. Harian Rakjat 28 Septermber 1954. Harian Rakjat 29 September 1954. Harian Rakjat 12 Oktober 1954. Harian Rakjat 17 Oktober 1954. Harian Rakjat 13 Desember 1954. Harian Rakjat 21 Desember 1954. Harian Rakjat 11 Januari 1955. Harian Rakjat 25 Januari 1955. Harian Rakjat 3 Februari 1955. Harian Rakjat 3 Maret 1955. Harian Rakjat 20 Mei 1955. Harian Rakjat 26 Mei 1955. Harian Rakjat 27 Mei 1955. Harian Rakjat 25 Juli 1955. Harian Rakjat 12 Agustus 1955.

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 99 Harian Rakjat 13 Agustus 1955. Harian Rakjat 22 Agustus 1955. Harian Rakjat 23 Agustus 1955. Harian Rakjat 26 Agustus 1955. Harian Rakjat 27 Agustus 1955. Harian Rakjat 31 Agustus 1955. Harian Rakjat 2 September 1955. Harian Rakjat 3 September 1955. Harian Rakjat 5 September 1955. Harian Rakjat 9 September 1955. Harian Rakjat 10 September 1955. Harian Rakjat 12 September 1955. Harian Rakjat 16 September 1955. Harian Rakjat 17 September 1955. Harian Rakjat 28 September 1955. Harian Rakjat 4 Oktober 1955. Harian Rakjat 5 Oktober 1955. Harian Rakjat 12 Oktober 1955. Harian Rakjat 18 Oktober 1955. Harian Rakjat 20 Oktober 1955. Harian Rakjat 31 Oktober 1955. Harian Rakjat 10 November 1955. Harian Rakjat 19 November 1955. Harian Rakjat 2 Desember 1955. Harian Rakjat 9 Desember 1955. Buku Arif Zulkifli, et. al. 2010. Njoto Peniup Saksofon di Tengah Prahara. Jakarta: Tempo dan Kepustakaan Populer Gramedia. Compton, Boyd R. 1992. Kemelut Demokrasi Liberal Surat-surat Rahasia Boyd R. Compton. Penj: Hamid Basyaib. Jakarta: LP3ES. Fadrik Aziz Firdausi. 2017. Njoto: Biografi Pemikiran 1951-1965. Tangerang Selatan: CV. Margin Kiri. Feith, Herbert. 1971. The Indonesian Elections of 1955. Ithaca: Southeast Asia Program Cornell University. Kuntowijoyo. 2013. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana. Moedjanto, G. 1988. Indonesia Abad Ke-20 Jilid 2: Dari Perang Kemerdekaan Pertama Sampai Pelita III. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Muhammad Zulkifar. 2018. Politik Surat Kabar: Berebut Wacana Harian Rakjat Dengan Abadi 1952-1955. Jakarta: Respublica Institute.

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 100 Nordholt, Henk Schulte; Bambang Purwanto; dan Ratna Saptari (ed.). 2008. Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia. Jakarta: KITLV-Jakarta dan Yayasan Obor Indonesia. Pour, Julius. 2011. Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan, & Petualang. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. Ricklefs, M.C. 2010. Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta. Steinberg, Arnold. 1981. Kampanye Politik Dalam Praktek. Penerjemah: M. Sidarto. Jakarta: PT Intermasa. Taufik Rahzen, et. al. 2007. Seabad Pers Kebangsaan. Jakarta: I:Boekoe. Zainal Abidin Achmad. 2014. Perbandingan Sistem Pers dan Sistem Pers di Indonesia. Surabaya: Lutfansah. Skripsi dan Tesis Bambang Arianto. “Kampanye Politik Digital, Kampanye Kreatif, Media Sosial, Jasmev 2014, Demokrasi, Ekspektasi Politik”. Tesis. Yogyakarta: S2 Politik dan Pemerintahan Universitas Gadjah Mada, 2017. Groves, Kerry William. “Harian Rakjat, Daily Newspaper of the Communist Party of Indonesia – Its History and Role”. Tesis. Faculty of Asian Studies, Australia National University. 1983 Luh Putu Ayu Riska Widarmiati. “Latar Belakang Suksesnya PKI Di Indonesia Tahun 1955-1962 Studi Kasus Di Balik Keberhasilan PKI Pada Pemilu 1955.” Skripsi. Yogyakarta: Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma, 2006. Jurnal Aryani Dewantarina. “Partai Nasional Indonesia Pada Pemilihan Umum Tahun 1955 Di Semarang”. Semarang: Journal of Indonesian History Vol 1 No. 2, 2012. Barep Rifaldi Chandra Perdana. “Strategi Pemenangan Partai Komunis Indonesia Pada Pemilu Tahun 1955 Di Yogyakarta”. Yogyakarta: Mozaik, Sejarah Indonesia Vol 2 No. 1, 2016. Muryadi dan Ria Sovi Revianti. “Partisipasi Politik GP Anshor Cabang Sidoarjo Dalam Pemilu Tahun 1953-1955”. Surabaya: Verleden, Vol. 2 No. 2, 2016. ISSN 2301-8127.

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 101 Sawitri Tri Prabawati. “Partai Lokal Dalam Pemilu 1955 (Gerinda Dalam Pemilihan Umum 1955 di Yogyakarta)”. http://sejarah.fib.uns.ac.id/media/3.%20Bu%20Witri-edit-OK.pdf. Diunduh pada 5 April 2017 pukul 17.17. Sururil Mukarromah dan Sinta Devi I.S.R., “Mobilisasi Massa Partai Melalui Seni Pertunjukan Reog Di Ponorogo Tahun 1950-1980”. Surabaya: Verleden Vol. 1 No. 1, 2012. ISSN 2301-8127. Tri Basuki. “Dinamika Persaingan Empat Partai Besar (PKI, PNI, Masyumi, dan NU) Dalam Pemilihan Umum 1955 Di Yogyakarta”. Yogyakarta: Mozaik, Sejarah Indonesia Vol 1 No. 2, 2016. Tsabit Azinar Ahmad. “Kampanye Dan Pertarungan Politik Di Jawa Tengah Menjelang Pemilihan Umum 1955”. Semarang: Paramita Vol 26 No.1, 2016. E-ISSN: 2407-5825. Online KBBI Daring. https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/kampanye. Diakses pada 20 Okt 2018 pukul : 14.32. UU No. 7 Tahun 2017 Tentang Pemilihan Umum. https://rumahpemilu.org/wpcontent/uploads/2017/08/UU-No.7-Tahun-2017-tentang-Pemilu.pdf. Diakses pada 20 Okt 2018 pukul: 15.00.

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LAMPIRAN Lampiran 1. Artikel “Pers dan Pemilihan Umum” Njoto (Sumber: Harian Rakjat 12 September 1955)

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 103 Lampiran 2. Foto Presidium Kongres dan Anggota CC PKI Pada Kongres Nasional Ke-V. (Sumber: Harian Rakjat 19 Maret 1954)

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 104 Lampiran 3. Manifes Pemilihan Umum PKI yang Dimuat di Harian Rakjat (Sumber: Harian Rakjat 22 Maret 1953)

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 105 Lampiran 4. Pengumuman Daftar Calon “PKI dan Orang Tak Berpartai” di Harian Rakjat (Sumber; Harian Rakjat 23 Februari 1955)

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 106 Lampiran 5. Berita Tuduhan Kecurangan Masjumi Dalam Pemilu di Harian Rakjat (Sumber: Harian Rakjat 12 Oktober 1955)

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 107 Lampiran 6. Kampanye PKI di Kolom “Ruangan Wanita” Harian Rakjat (Sumber: Harian Rakjat 2 November 1955)

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 108 Lampiran 7. Pengumuman Rencana Acara Kampanye PKI (Sumber: Harian Rakjat `10 September 1955)

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 109 Lampiran 8. Contoh Berita Perolehan Suara Pemilu di Harian Rakjat (Sumber: Harian Rakjat 2 Oktober 1955)

(126)

Dokumen baru