PENGARUH PENGGUNAAN JEJARING SOSIAL INSTAGRAM DALAM PEMBELAJARAN TERHADAP PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK SISWA KELAS XI SMK NEGERI 6 YOGYAKARTA

Gratis

0
0
140
1 month ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PENGARUH PENGGUNAAN JEJARING SOSIAL INSTAGRAM DALAM PEMBELAJARAN TERHADAP PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK SISWA KELAS XI SMK NEGERI 6 YOGYAKARTA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Agama Katolik Oleh : Anastasia Niken Ratih NIM : 141124022 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI SKRIPSI PENGARUH PENGGUNAAN JEJARING SOSIAL INSTAGRAM DALAM PEMBELAJARAN TERHADAP PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK SISWA KELAS XI SMK NEGERI 6 YOGYAKARTA 01eh Anastasia Niken Ratih N1M : 141124022 Telah disetujui o1eh : Pembimbing ~ tangga117 Desember 2018 F.X. Dapiyanta, SFK., M.Pd. 11

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI SKRIPSI PENGARUB PENGGUNAAN JEJARING SOSIAL INSTAGRAM DALAMPEMBELAJARANTERHADAPPRESTASIBELAJAR PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK SISWA KELAS XI SMKNEGERI6 YOGYAKARTA Dipersiapkan dan ditulis oleh Anastasia Niken Ratih NIM: 141124022 Telah dipertahankan di depan Panitia Penguji Pada tanggaI, 08 Januari 2019 Dan dinyatakan memenuhi syarat SUSUNAN PANITIA PENGUJI Tanda Tangan Nama Ketua : Dr. B. Agus Rukiyanto, SJ. Sekretaris : Y. Kristianto,SFK.,M.Pd. Anggota : 1. F. X. Dapiyanta, SFK., M.Pd 2. Cecilia Paulina S,S.Pd.,M.Si.,MM.Ed 3. Patrisius Mutiara Andalas,SJ Yogyakarta, 08 Januari 2019 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan 111 ~ ... ~~.:~ ~ 'Cilij' .-: .. ~1- . .. · ...... · 7 .... ...... :::--'

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERSEMBAHAN Skripsi ini saya persembahkan untuk : Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria Kedua orang tuaku Aloysius Sugiyono dan Ingrid Enduk Supriyanti untuk doa, cinta, kasih sayang, dan dukungan jasmani maupun rohani yang selalu diberikan. Kakak, adik, dan keluarga yang membantu, menyemangati dan mendoakan. Teman-teman dan sahabat yang selalu memberikan doa, semangat, dan pengorbanan selama menjalani kuliah ini Almamaterku Universitas Sanata Dharma. iv

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MOTTO “Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang” (Amsal 23:18) v

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak mem 'uat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, 08 Januari 2019 Penulis, Anastasia Niken Ratih VI

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Anastasia Niken Ratih No. Mahasiswa : 141124022 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang betjudul : PENGARUH PENGGUNAAN JEJARING SOSIAL INSTAGRAM DALAM PEMBELAJARAN TERHADAP PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK SISWA KELAS XI SMK NEGERI 6 YOGYAKARTA, beserta perangkat yang diperlukan. Dengan .demikian saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikan di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya Yogyakarta, 08 lanuari 2019 Yang menyatakan, (Anastasia Niken Ratih) VII

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK Judul skripsi PENGARUH PENGGUNAAN JEJARING SOSIAL INSTAGRAM DALAM PEMBELAJARAN TERHADAP PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK SISWA KELAS XI SMK NEGERI 6 YOGYAKARTA dipilih berdasarkan keingintahuan penulis akan sumbangan penggunaan jejaring sosial Instagram dalam kegiatan pembelajaran dalam Pendidikan Agama Katolik. Jejaring sosial Instagram merupakan media komunikasi berbasis online yang memungkinkan penggunanya dapat saling berbagi informasi baik dalam bentuk foto maupun video. Prestasi merupakan bukti usaha atau hasil belajar yang telah dicapai dalam suatu proses pembelajaran. Dalam dunia pendidikan media mempunyai peranan penting terhadap prestasi belajar siswa. Dengan pemanfaatan media dalam proses pembelajaran, siswa dimudahkan dalam belajarnya sehingga dapat menerima pelajaran dengan baik. Media juga mampu membuat siswa menjadi semakin termotivasi dan bersemangat dalam mengikuti pelajaran. Penelitian ini memiliki hipotesis, yaitu H0 : Tidak ada pengaruh penggunaan jejaring sosial Instagram dalam pembelajaran terhadap prestasi belajar PAK siswa kelas XI SMK Negeri 6 Yogyakarta dan H1 : Ada pengaruh penggunaan jejaring sosial Instagram dalam pembelajaran terhadap prestasi belajar PAK siswa kelas XI SMK Negeri 6 Yogyakarta. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain pra eksperimen. Populasi dari penelitian ini adalah siswa Katolik kelas XI SMK Negeri 6 Yogyakarta dengan jumlah 26 siswa dari jurusan Usaha Perjalanan Wisata, Kecantikan, Tata Busana, Administrasi Perkantoran, dan Kuliner. Teknik pengumpulan data yang digunakan yakni tes tertulis. Tes didukung dengan adanya instrumen atau alat yang digunakan dalam proses pembelajaran yakni Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan materi kelas XI yakni Hierarki Gereja Katolik. Teknik analisis data penelitian ini berupa deskripsi frekuentif dan deskripsi statistik, serta dilakukan juga analisis uji normalitas dan uji hipotesis. Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mean hasil belajar siswa sebelum adanya penggunaan Instagram sebesar 55,81. Setelah adanya perlakuan dengan menggunakan Instagram diperoleh mean sebesar 63,81. Dilihat dari reratanya artinya bahwa ada peningkatan prestasi setelah adanya penggunaan Instagram sebagai media pembelajaran Pendidikan Agama Katolik. Dari hasil uji normalitas menggunakan rumus Kolmogorov-Smirnov, diperoleh signifikansi pretest 0,200 yang berarti data normal sedangkan signifikansi posttest 0,015, yang artinya data tidak berdistribusi normal. Maka uji hipotesis yang dilakukan adalah Uji Mann Whitney dengan hasil Asymp.Sig.0,005. Sig.0,005 < 0,05 artinya H1 diterima dan H0 ditolak. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh dari penggunaan Instagram dalam pembelajaran terhadap prestasi belajar Pendidikan Agama Katolik siswa kelas XI SMK Negeri 6 Yogyakarta. viii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT The title EFFECT OF INSTAGRAM SOCIAL NETWORK USE IN LEARNING TOWARD LEARNING ACHIEVEMENT OF CATHOLIC RELIGIOUS EDUCATION STUDENTS OF CLASS XI SMK NEGERI 6 YOGYAKARTA was chosen based on the author’s curiosity about the contribution of using social networking instagram in learning activities in Catholic Education. Instagram social network is an online-based communication media that allows users to share information in the form of photos and videos. Achievement is proof of effort or learning outcomes that have been achieved in a learning process. In the world of media education has an important role in student learning achievement. With the use of media in the learning process, students are facilitated in their learning so they can receive lessons well. The media is also able to make students become more motivated and enthusiastic in taking lessons. This study has a hypothesis, namely H0: There is no effect on the use of Instagram social networking in learning on PAK learning achievement of class XI students of SMK Negeri 6 Yogyakarta and H1: There is an influence on the use of Instagram social networking in learning on PAK learning achievement of class XI students of SMK Negeri 6 Yogyakarta. This type of research is quantitative research with a pre-experimental design. The population of this study was the eleventh grade Catholic students of SMK Negeri 6 Yogyakarta with a total of 26 students from the Business Travel, Beauty, Clothing, Office Administration, and Culinary division. The data collection technique used is a written test. The test is supported by the presence of instruments or tools used in the learning process, namely the implementation of learning plans with class XI material namely the Catholic Church Hierarchy. The data analysis technique of this research is a description of the frequency and description of the frequency, as well as an analysis of the normality test and hypothesis testing. From the results of this study indicate that the mean student learning outcomes before the use of Instagram amounted to 55.81. After the treatment using Instagram, the mean was 63.81. Viewed from the mean it means that there is an increase in achievement after the use of Instagram as a learning media for Catholic Religious Education. From the results of the normality test using the Kolmogorov-Smirnov formula, the significance of pretest is 0.200 which means normal data while the significance of posttest is 0.015, which means that the data is not normally distributed. Then the hypothesis test performed is the Mann Whitney Test with the results of Asymp. Sig. 005. Sig.0,005 <0.05 means that H1 is accepted and H0 is rejected. From these results it can be concluded that there is an influence from Instagram usage in learning on the learning achievement of Catholic Religious Education of class XI students of SMK Negeri 6 Yogyakarta. ix

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji syukur penulis haturkan kepada Tuhan yang Maha Esa atas segala rahmat, kasih dan karunia-Nya yang selalu menyertai, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul PENGARUH PENGGUNAAN JEJARING SOSIAL INSTAGRAM DALAM PEMBELAJARAN TERHADAP PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK SISWA KELAS XI SMK NEGERI 6 YOGYAKARTA. Penulisan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana pendidikan Program Pendidikan Agama Katolik, Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Penulis menyadari bahwa skripsi ini dapat selesai berkat bantuan dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Untuk itu perkenankanlah penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada : 1. F.X. Dapiyanta, SFK.,M.Pd, selaku dosen pembimbing akademik sekaligus pembimbing skripsi, yang telah memberikan perhatian, kesabaran dan waktu dalam membimbing, mengarahkan dan memotivasi penulis selama pengerjaan skripsi ini sampai dengan selesai. 2. Cecilia Paulina Sianipar, S.Pd.,M.Si.,MM.Ed, selaku dosen penguji ke II, yang telah dengan sukarela membimbing penulis dalam meyelesaikan skripsi ini. x

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3. Patrisius Mutiara Andalas,SJ, selaku dosen penguji III, yang telah bersedia memberikan dukungan dan motivasi bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 4. Dr.B.Agus Rukiyanto SJ, selaku Ketua Program Studi PAK, yang telah memberikan izin bagi penulis untuk mengerjakan tugas akhir ini mulai dari awal penyusunan hingga selesai. 5. Kedua orang tua penulis, yang selalu memberikan doa, dukungan, cinta kasih dan pengorbanan hingga menghantar penulis hingga jenjang pendidikan S1. 6. Segenap staf dosen dan karyawan Prodi PAK dan Fakultas Ilmu Pendidikan , Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 7. Sahabat-sahabat yang selalu ada untuk mendukung, memotivasi, memberikan doa dan pengorbanan dalam penyelesaian skripsi ini. 8. Teman-teman seperjuangan, angkatan 2014 PAK yang selalu mendukung, menyemangati dan bekerja sama sampai pada penyelesaian skripsi ini. 9. Pihak sekolah, dan guru Agama Katolik SMK Negeri 6 Yogyakarta yang telah memperbolehkan penulis melakukan penelitian. 10. Siswa-siswi kelas XI agama Katolik di SMK Negeri 6 Yogyakarta yang telah bersedia dengan penuh kertulusan menjadi responden penelitian. 11. Semua pihak yang telah ikut mendukung dan membantu, yang tidak dapat disebutkan satu persatu. xi

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan. Oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran demi perbaikan ke depannya. Akhir kata, penulis berharap skripsi ini dapat memberi manfaat dan bagi semua pihak yang berkepentingan. Yogyakarta, 08 Januari 2019 Penulis, Anastasia Niken Ratih Xl]

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ............................................................................................ i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .................................................. ii HALAMAN PENGESAHAN .............................................................................. iii HALAMAN PERSEMBAHAN .......................................................................... iv MOTTO ............................................................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .............................................................. vi PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ........................................................................... vii ABSTRAK ........................................................................................................... viii ABSTRACK ........................................................................................................... ix KATA PENGANTAR ......................................................................................... x DAFTAR ISI ........................................................................................................ xiii DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ xvi DAFTAR TABEL ................................................................................................ xvii DAFTAR DIAGRAM .......................................................................................... xviii DAFTAR SINGKATAN ...................................................................................... xix BAB I. PENDAHULUAN ................................................................................... 1 A. Latar Belakang ........................................................................................ 1 B. Identifikasi Masalah ................................................................................ 7 C. Batasan Masalah ..................................................................................... 7 xiii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI D. Rumusan Masalah ................................................................................... 8 E. Tujuan Penelitian .................................................................................... 8 F. Manfaat Penulisan ................................................................................... 9 G. Metode Penulisan .................................................................................... 10 H. Sistematika Penulisan ............................................................................. 10 BAB II. KAJIAN TEORI ..................................................................................... 13 A. Kajian Teori ............................................................................................ 13 1. Pendidikan Agama Katolik ..................................................................... 13 a. Hakikat Pendidikan Agama Katolik di Sekolah ................................. 13 b. Tujuan Pendidikan Agama Katolik di Sekolah .................................. 17 c. Kurikulum Pendidikan Agama Katolik di Sekolah ............................ 21 2. Prestasi Belajar........................................................................................ 23 3. Jejaring Sosial Instagram ........................................................................ 29 a. Pengertian Jejaring Sosial .................................................................. 29 b. Pengertian Instagram ......................................................................... 33 c. Fitur-fitur Instagram .......................................................................... 34 d. Cara penggunaan Instagram .............................................................. 35 e. Kelebihan dan Kekurangan Instagram .............................................. 37 B. Hubungan Media dengan Prestasi Belajar .............................................. 38 C. Penelitian yang Relevan .......................................................................... 42 D. Kerangka Pikir ........................................................................................ 44 E. Hipotesis ................................................................................................. 45 BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ........................................................... 46 A. Jenis Penelitian........................................................................................ 46 B. Desain Penelitian .................................................................................... 47 C. Tempat dan Waktu Penelitian ................................................................. 48 D. Populasi dan Sampel Penelitian .............................................................. 48 E. Subjek dan Objek Penelitian ................................................................... 49 F. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data ............................................ 50 1. Variabel Penelitian .................................................................................. 50 a. Definisi Konseptual Variabel ............................................................. 51 xiv

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI b. Definisi Operasional Variabel ............................................................ 52 G. Teknik Pengumpulan Data ........................................................................ 59 H. Instrumen Penelitian.................................................................................. 60 I. Teknik Analisis Data ................................................................................. 65 1. Deskripsi Frekuentif Statistik.............................................................. 65 2. Uji Hipotesis ....................................................................................... 66 BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................................... 67 A. Deskripsi Hasil Penelitian ......................................................................... 67 1. Analisis Deskripsi Tes Awal (Pretest) ...................................................... 68 a. Deskripsi Frekuentif ............................................................................ 68 b. Deskripsi Statistik ............................................................................... 70 2. Deskripsi Data Tes Akhir (Posttest) ......................................................... 71 a. Deskripsi Frekuentif ............................................................................ 71 b. Deskripsi Statistik………….. ............................................................. 74 B. Analisis Hasil Penelitian ........................................................................... 75 1. Uji Normalitas ..................................................................................... 75 2. Uji Hipotesis ....................................................................................... 76 C. Pembahasan Hasil Penelitian .................................................................... 78 D. Refleksi Kateketis ..................................................................................... 80 E. Keterbatasan Penelitian ............................................................................ 84 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................... 86 A. Kesimpulan............................................................................................... 86 B. Saran ........................................................................................................ 87 DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 89 xv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Lampiran 1: Surat Permohonan Izin Penelitian .................................................... (1) Lampiran 2 : Data Keseluruhan Instrumen ........................................................... (2) Lampiran 3 : RPP Hierarki Gereja Katolik ........................................................... (3) Lampiran 4 : Kunci Jawaban Soal Essay .............................................................. (20) Lampiran 5 : Hasil Kerja Siswa ............................................................................ (23) xvi

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 3.1 Jumlah responden Penelitian .............................................................. 50 Tabel 3.2 Kisi-kisi dan KD ................................................................................ 56 Tabel 4.1 Deskripsi Frekuensi Pretest ............................................................... 68 Tabel 4.3 Statistik Pretest .................................................................................. 70 Tabel 4.4 Deskripsi Frekuentif Posttest ............................................................. 72 Tabel 4.6 Statistik Posttest ................................................................................. 74 Tabel 4.7 Uji Normalitas .................................................................................... 76 Tabel 4.8 Uji Hipotesis ..................................................................................... 77 xvii

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR DIAGRAM Diagram Batang 4.2 Histogram Frekuensi Pretest ........................................... 69 Diagram Batang 4.5 Histogram Frekuensi Posttest .......................................... 73 xviii

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR SINGKATAN A. Singkatan Kitab Suci Ykb : Yakobus Kej : Kejadian B. Singkatan dalam Penelitian H0 : Hipotesis Nol H1 : Hipotesis Alternatif Sig : Significant SPSS : Statistical Product and Service Sulutions Std : Standart C. Singkatan Lain KWI : Konferensi Wali Gereja Lih. : Lihat No : Nomor PAK : Pendidikan Agama Katolik SISDIKNAS : Sistem Pendidikan Nasional SMP : Sekolah Menengah Pertama USD : Universitas Sanata Dharma UU : Undang-Undang Wifi : Wireless Fidelity xix

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN Pada bab I ini, peneliti akan membahas latar belakang masalah, identifikasi masalah, batasan masalah, rumusan permasalahan, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode penulisan dan sistematika penulisan. A. Latar Belakang Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam suatu proses pembelajaran yang berlangsung di dalam kelas, salah satunya adalah siswa. Dalam mengikuti proses pembelajaran siswa menjadi salah satu faktor yang menentukan keberhasilan dalam suatu pelajaran. Situasi siswa yang mendukung biasanya akan menciptakan proses pembelajaran yang baik dan lancar, sementara situasi siswa yang kurang mendukung akan menciptakan proses dan hasil pembelajaran yang kurang maksimal. Dalam pengalaman penulis ketika mengajar di sekolah, penulis mengamati bahwa pembelajaran yang berlangsung di kelas masih seringkali kurang berjalan dengan kondusif. Siswa cenderung ribut, tidak memperhatikan pelajaran dan asyik melakukan hal-hal yang mereka senangi seperti mengobrol dengan teman sendiri, bermain, keluar kelas bahkan tidur. Hal-hal tersebut terjadi karena macam-macam faktor; metode mengajar guru, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa lain serta media belajar. Penggunaan media dalam pembelajaran

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 seringkali masih kurang dikelola dengan baik oleh guru, padahal media belajar yang dikemas secara menarik mampu meningkatkan keberhasilan guru maupun siswa dalam proses belajar mengajar. Ketika mengikuti pelajaran siswa akan cepat merasa bosan jika proses pembelajaran yang dikemas guru kurang menarik dan kreatif. Sebaliknya siswa akan merasa antusias jika pembelajaran yang berlangsung selama pelajaran memberi kesan dan membuat semangat belajar bagi mereka. Pembelajaran yang disajikan secara menarik dan disukai oleh siswa pasti akan membuat proses pembelajaran berhasil dan siswa akan merasa semangat untuk mengikuti pelajaran. Saat ini telah banyak ditemukan sarana dan prasarana baru, modern dan canggih yang mampu menunjang proses pembelajaran menjadi lebih menarik, kreatif dan menyenangkan. Pembelajaran yang menarik dengan menggunakan media yang cocok dapat dicapai salah satunya dengan pengunaan berbagai alatalat elektronik atau gadget jaman sekarang seperti laptop maupun smartphone yang kini sudah banyak digunakan oleh masyarakat mulai dari orang tua, kaum muda hingga anak-anak. Sarana tersebut dapat digunakan untuk mencari atau mengakses hal-hal yang menarik guna mendukung proses belajar menjadi lebih menyenangkan dan berkualitas. Maka dapat diketahui bahwa kaum pelajar di zaman sekarang lebih tertarik dan berminat akan sesuatu yang menyenangkan, tidak membosankan dan dapat membuat mereka semangat dalam belajar. Mereka membutuhkan dan mencari hal-hal yang menarik dan baru di jaman yang semakin canggih dan berkembang

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 ini karena mereka senang mengikuti trend yang selalu berganti. Kaum muda saat ini juga berusaha agar mereka dapat memiliki ataupun menggunakan apa yang menjadi hal baru saat ini. Seperti halnya pendapat Hofmann (2000), yang mengatakan bahwa kaum muda di zaman audio-visual mencari keindahan alam, seni, kegembiraan bersama. Kehadiran Tuhan dan kebahagiaan sejati dialami di situ. Iswarahadi (2003 : 24) mengatakan, kaum beriman baik awam, imam maupun kaum religius sudah masuk dalam zaman informasi yang cepat berubah. Jejaring sosial bisa dibilang fenomena baru yang ada dalam kehidupan kita saat ini terutama di kalangan anak-anak, kaum muda sampai dengan orang tua. Salah satu jejaring sosial yang masih trend dikalangan kaum muda dan anak-anak hingga saat ini adalah Instagram. Instagram merupakan sebuah aplikasi sosial media yang berbasis Android untuk smartphone, iOS, untuk iPhone, Blackberry, Windows Phone dan bahkan yang terbaru saat ini bisa dijalankan di komputer atau PC (https://www.nesabamedia.com/pengertian-instagram/ diakses pada Kamis, 8 Maret 2018, pukul 15.25 WIB). Melalui instagram, pengguna dapat melakukan aktivitas berbagi foto dan video yang memungkinkan pengguna mengambil foto, mengambil video, menerapkan filter digital, dan membagikannya ke berbagai layanan jejaring sosial. Kecenderungan siswa yang mayoritas senang mengakses Instagram dapat ditempatkan sebagai sarana atau media belajar bagi mereka dengan cara yang mereka sukai. Jejaring sosial Instagram yang siswa gunakan tersebut nantinya bukan hanya sekedar untuk mencari hiburan semata tapi juga dapat dimanfaatkan sebagai media yang sungguh-sungguh menghasilkan manfaat

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 bagi siswa terutama dalam meningkatkan prestasi mereka dalam suatu proses pembelajaran. Di kalangan peserta didik zaman ini, tentu Instagram sudah tidak asing didengar bahkan sebagian besar menggunakannya. Motivasi mereka menggunakan jejaring sosial Instagram juga beragam, mulai dari sekedar ingin eksis atau untuk menambah followers agar dapat menambah teman. Kenyataannya di sekolah Instagram seringkali masih memberikan dampak atau pengaruh yang negatif bagi peserta didik, misalnya siswa menjadi malas belajar. Siswa yang sudah memiliki ketergantungan dengan jejaring sosial juga menjadi kurang peduli dengan orang lain, hanya sibuk bermain dengan jejaring sosial, serta minat dan prestasi belajar menjadi terganggu bahkan menurun. Di samping memiliki dampak negatif, Instagram memiliki dampak positif juga, contohnya dapat digunakan sebagai media belajar dengan memanfaatkan pengetahuan atau ilmu yang ada di dalamnya. Dalam kaitannya di dunia pendidikan, Instagram juga memiliki manfaat diantaranya; menciptakan komunitas, melanjutkan pembahasan pelajaran, mengatur sumber pembelajaran, mendukung materi pembelajaran dan juga bertambahnya wawasan. Instagram juga menyajikan macam-macam fitur yang dapat diakses oleh penggunanya misalnya, pengguna dapat mengikuti atau following akun-akun yang menyediakan atau menyajikan hal-hal mengenai pengetahuan atau ilmu yang berkaitan dengan pendidikan. Selain itu pengguna Instagram juga dapat saling berbagi pengetahuan satu sama lain melalui fitur tag dan hastag. Jadi dampak baik maupun buruknya

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 penggunaan Instagram tergantung bagaimana masyarakat terutama kaum pelajar mampu bertanggungjawab terhadap penggunaan jejaring sosial tersebut. Peran orang tua dan para guru di sekolah juga diharapkan membantu peserta didik mampu menggunakan instagram secara bertanggungjawab dan mendorong peserta didik agar Instagram tidak hanya sekedar digunakan untuk hal-hal yang kurang penting tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk meningkatkan prestasi belajar mereka. Pendidikan Agama Katolik tentu memiliki tujuan yang hendak dicapai baik tujuan umum yang mencakup capaian pada tataran yang luas, berlaku secara nasional dan jangka panjang, maupun tujuan khusus yang menyangkut perubahan tingkah laku siswa sebagai hasil perilaku belajar pada topik atau pokok bahasan tertentu. Tujuan PAK pada tataran yang luas dapat dirumuskan untuk membantu peserta didik agar berkembang dalam dimensi religiusnya, membentuk pribadi yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang maha esa,dan menjadi pribadi yang matang dewasa dan bertanggungjawab, (http://www.academia.edu/26712688/SEJARAH_PEMBELAJARAN_PENDIDI KAN_AGAMA_KATOLIK_SEJAK_KURIKULUM_1075_HINGGA_KURIKU LUM_2013.rtf diakses pada Rabu, 7 Mei 2018, pukul 10.24 WIB ). Mata Pelajaran PAK merupakan salah satu mata pelajaran wajib yang harus diselenggarakan di setiap sekolah. Pendidikan Agama Katolik dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia serta peningkatan potensi

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 spiritual. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, dan moral sebagai perwujudan dari pendidikan Agama. Dengan berkembangnya berbagai teknologi dan budaya yang terus mengalami kemajuan saat ini, maka tidak ada salahnya jika pelajaran PAK dikemas dengan menggunakan sarana istagram sehingga dapat menciptakan pembelajaran yang menarik. Penulis melihat peluang dari berbagai teknologi yang ada saat ini dapat dimanfaatkan sebagai media belajar yang menarik bagi siswa terutama yang berada di daerah perkotaan, salah satunya dengan menggunakan jejaring sosial Instagram sebagai media belajar PAK. Instagram merupakan media yang dirasa cocok digunakan oleh penulis dalam melaksanakan pembelajaran PAK melihat situasi peserta didik yang senang menggunakannya. Dalam proses pembelajaran nanti, Instagram akan diolah menjadi media belajar bagi peserta didik yang menarik dan mampu diakses kapan saja maupun dimana saja, karena sebagian besar pelajar saat ini sudah memiliki dan menggunakan Instagram. Peserta didik yang tidak memiliki kuota internet yang cukup untuk mengakses Instagram juga dapat menggunakan fasilitas internet gratis atau wifi yang sudah disediakan oleh sekolah. Dengan Instagram inilah siswa dapat dimudahkan dalam belajarnya dengan cara yang menyenangkan sehingga dapat saling berbagi pengalaman dan berkomunikasi bahkan dapat saling berdiskusi. Dengan adanya latar belakang tersebut penulis ingin mencoba meneliti penggunaan Instagram sebagai sarana pengajaran PAK untuk siswa kelas XI dan melihat apakah Instagram berpengaruh bagi siswa terutama dalam meningkatkan

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 prestasi belajar mereka terhadap pelajaran PAK sesuai dengan materi yang diberikan. Dengan begitupula pelajaran PAK juga akan lebih mudah diakses dan dilakukan kapan maupun dimana saja, maka peneliti tertarik meneliti "Pengaruh penggunaan jejaring sosial Instagram dalam pembelajaran terhadap prestasi belajar Pendidikan Agama Katolik siswa kelas XI SMK Negeri 6 Yogyakarta”. B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, dapat diidentifikasi faktorfaktor sebagai berikut : 1. Siswa kurang semangat dalam mengikuti pelajaran. 2. Media kurang menarik bagi siswa. 3. Siswa kurang kondusif. 4. Guru kurang memiliki kreatifitas dalam mengolah pembelajaran yang menarik. 5. Pendidikan Agama Katolik belum memanfaatkan secara penuh peran media sosial dalam proses pembelajaran. C. Batasan Masalah Batasan masalah yang dipilih penulis lebih memfokuskan penelitian pada pengaruh dari penggunaan jejaring sosial Instagram dalam pembelajaran terhadap prestasi belajar dalam mata pelajaran pendidikan Agama Katolik untuk siswa

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8 Katolik kelas XI di SMK Negeri 6 Yogyakarta untuk jurusan Usaha Perjalanan Wisata, Kecantikan, Tata Busana, Administrasi Perkantoran, dan Kuliner. D. Rumusan Masalah Sesuai dengan latar belakang masalah, identifikasi masalah dan batasan masalah yang telah diuraikan sebelumnya maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana bentuk pembelajaran Pendidikan Agama Katolik dengan menggunakan Instagram bagi siswa kelas XI SMK Negeri 6 Yogyakarta? 2. Apakah jejaring sosial Instagram dapat berpengaruh dalam pembelajaran terhadap prestasi belajar Pendidikan Agama Katolik siswa kelas XI SMK Negeri 6 Yogyakarta? E. Tujuan Penelitian Dari rumusan masalah yang telah ditemukan, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah : 1. Untuk mengetahui bagaimana jejaring sosial Instagram dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk menunjang prestasi siswa dalam Pelajaran Agama Katolik. 2. Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh penggunaan jejaring sosial Instagram dalam pembelajaran terhadap mata pelajaran Pendidikan Agama katolik.

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9 F. Manfaat Penelitian Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi para Guru dan peserta didik dalam menggunakan jejaring sosial Instagram untuk sarana pembelajaran PAK, manfaatnya sebagai berikut: 1. Bagi peserta didik a. Instagram sebagai media untuk membantu siswa memiliki kemampuan beradaptasi dan berkomunikasi secara interaktif baik dengan teman maupun guru dalam proses pendidikan dan pengajaran. b. Instagram sebagai sarana pembekalan dan pelatihan terhadap pemanfaatan TIK. c. Jejaring sosial Instagram membantu memaksimalkan daya tangkap siswa, karena tidak hanya terpaku pada teks tetapi bisa berupa gambar, video yang lebih menarik dan menyenangkan. d. Instagram membantu mengoptimalkan proses belajar mengajar karena tidak lagi terikat oleh ruang dan waktu. 2. Bagi Guru a. Sebagai sarana unjuk kompetensi dan profesionalisme tenaga pengajar. b. Memberikan masukan guru untuk mengembangkan diri atau menemukan strategi mengajar guna meningkatkan wawasannya. c. Sebagai bentuk pemanfaatan TIK dalam pengembangan kegiatan belajar mengajar secara interaktif.

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 d. Mempermudah dalam pemantauan kegiatan belajar siswa. e. Pemanfaatan multimedia (gambar, foto, video untuk penganekaragaman dan pengayaan materi ajar). G. Metode Penulisan Metode yang digunakan oleh penulis dalam skripsi ini adalah deskripsi analitis. Deskripsi analitis adalah metode yang menggambarkan dan menganalisis data-data yang diperoleh berdasarkan studi pustaka dan diperkuat dengan adanya penelitian. Pengumpulan data yang digunakan penulis andalah dengan menyebar angket. Angket yang berisi pertanyaan tersebut ditujukan bagi para siswa-siswi kelas XI SMK Negeri 6 Yogyakarta. Jenis penelitian yang digunakan penulis dalam penulisan skripsi ini adalah penelitian kuantitatif dengan subyek yang menerima dan mengikuti proses pembelajaran Agama Katolik yakni siswa kelas XI. Artinya apa yang dinyatakan oleh subyek kepada peneliti adalah benar dan dapat dipercaya ( Hadi Sutrisno, 2004:79). H. Sistematika Penulisan Bab I : Pendahuluan Bagian ini terdiri atas latar belakang masalah, identifikasi masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan.

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11 Bab II : Kajian Teoritis dan Hipotesis Berisi uraian-uraian teori yang mendasari penyelesaian masalah berkaitan dengan judul skripsi, yaitu pengaruh penggunaan jejaring sosial Instagram dalam pembelajaran terhadap prestasi belajar Pendidikan Agama Katolik siswa kelas XI SMK Negeri 6 Yogyakarta. Penulis akan menguraikan dan membahas hal-hal yang berkaitan dengan judul skripsi yakni hakikat Pendidikan Agama Katolik, tujuan PAK serta kurikulum dan prestasi belajar Pendidikan Agama Katolik, kemudian berbicara mengenai Jejaring Sosial Instagram yang terdiri dari pengertian jejaring sosial Instagram, cara penggunaan jejaring sosial Instagram dan kelebihan serta kekurangan instagram dan juga bagaimana penggunaan jejaring sosial Instagram dapat digunakan bagi proses pembelajaran PAK. Bab III : Metode Penelitian Dalam bab ini penulis melakukan penelitian dengan membuat grup Instagram dengan menggunakan akun Instagram milik penulis, setelah itu mengumpulkan data-data dari angket yang telah disebar, dengan sasaran para responden adalah siswa-siswi kelas XI SMK Negeri 6 Yogyakarta. Bab ini berisi uraian tentang metode penelitian yang meliputi: jenis penelitian, desain penelitian, tempat dan waktu penelitian, populasi dan sampel, teknik dan instrumen pengumpulan data, dan teknik menganalisis data hasil penelitian.

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 BAB IV : Hasil Penelitian dan Pembahasan Pada bab ini penulis menyajikan hasil penelitian dan analisis data pengaruh penggunaan jejaring sosial Instagram terhadap prestasi belajar PAK yang meliputi deskripsi hasil penelitian, pengujian prasyarat analisis, uji hipotesis, pembahasan hasil penelitian, refleksi kateketis dan diakhiri dengan keterbatasan penelitian. BAB V : Penutup Bab ini menguraikan tentang kesimpulan dan usulan atau saran atas hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis sekaligus menjawab permasalahan dari judul yang telah dipilih penulis untuk mengakhiri kegiatan penulisan skripsi ini.

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS Pada bab II ini penulis akan membahas dan mendalami hal-hal yang berkaitan dengan judul skripsi, bagian pertama membahas mengenai Pendidikan Agama Katolik yang terdiri dari hakikat Pendidikan Agama Katolik, tujuan PAK serta kurikulum dan prestasi belajar Pendidikan Agama Katolik, bagian kedua berbicara mengenai Jejaring Sosial Instagram yang terdiri dari pengertian jejaring sosial Instagram, cara penggunaan jejaring sosial Instagram dan kelebihan serta kekurangan Instagram. Pada bab ini penulis memaparkan kajian pustaka yang didapat dari berbagai sumber yang berhubungan dengan Pendidikan Agama Katolik, jejaring sosial Instagram serta prestasi belajar siswa. A. Kajian Teoritis 1. Pendidikan Agama Katolik di Sekolah a. Hakikat Pendidikan Agama Katolik di Sekolah Hamalik (2007:2) mengutip dari UU R.I.No 2 Tahun 1989, Bab I, Pasal 1 menyampaikan bahwa pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang. Strategi pelaksanaan pendidikan yang diadakan di sekolah salah satunya dengan bentuk kegiatan pengajaran, yakni kegiatan interaksi dalam proses belajar dan mengajar antara guru dan peserta didik untuk mengembangkan perilaku sesuai dengan tujuan pendidikan. Pengembangan

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 pendidikan menengah sebagai lanjutan pendidikan dasar di sekolah ditingkatkan agar mampu membentuk pribadi manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang maha Esa dan berbudi pekerti luhur. Untuk meningkatkan setiap pribadi peserta didik supaya semakin dewasa dan takwa terhadap terhadap Tuhan Yang Maha Esa perlu adanya pendidikan iman. Pendidikan iman pertama-tama harus dimulai dan dilaksanakan di lingkungan keluarga, tempat dan lingkungan dimana anak mulai mengenal dan mengembangkan iman. Pendidikan iman yang dimulai di keluarga perlu diperkembangkan lebih lanjut dalam kebersamaan dengan jemaat yang lain. Perkembangan iman dilakukan pula dengan bantuan pastor, katekis dan guru agama. Salah satu bentuk dan pelaksanaan pendidikan iman adalah pendidikan iman yang dilaksanakan secara formal dalam konteks sekolah yang disebut pelajaran agama. Dalam konteks Agama Katolik, pelajaran agama di sekolah dinamakan Pendidikan Agama Katolik yang merupakan salah satu realisasi tugas dan perutusannya untuk menjadi pewarta dan saksi kabar gembira Yesus Kristus. Dapiyanta (2011:1), menyampaikan pandangan dari Gereja Katolik bahwa PAK merupakan salah satu bentuk dari katekese. Katekese dalam pandangan Kongregasi suci untuk para klerus merupakan salah satu bentuk pelayanan sabda dengan fungsi khas pendidikan iman. Pelayanan sabda merupakan salah satu tugas penggembalaan Gereja di samping tugas-tugas lain, yakni: membangun persekutuan, membangun pelayanan kepada masyarakat, membantu kehidupan doa. Yohanes Paulus II mengartikan katekese sebagai pendidikan anak-anak,

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 orang muda dan orang dewasa dalam iman dengan tujuannya, yakni dengan bantuan Allah mengembangkan iman yang masih berada pada tahap awal menuju kepada kematangan iman. Mengutip dari Ajaran dan pedoman Gereja tentang Pendidikan Katolik (1991), Dapiyanta (2011:4) mengemukakan bahwa Pendidikan Agama Katolik di sekolah merupakan sarana atau pelaksanaan pewartaan Kristus demi perubahan batin dan pembaharuan hidup secara langsung bagi kaum muda, baik di sekolah negeri maupun swasta Katolik. Secara langsung maksudnya di dalam PAK iman kepada Kristus dibicarakan dan diolah bersama. Di sekolah negeri PAK merupakan satu-satunya sarana pewartaan secara langsung bagi peserta didik yang percaya kepada Kristus. Mengutip dari Jacob (1992), Dapiyanta (2011:5) juga mengemukakan bahwa PAK di sekolah merupakan salah satu bentuk komunikasi iman yang meliputi unsur pengetahuan, pergumulan, dan penghayatan dalam pelbagai bentuk. Dengan komunikasi iman itu pengetahuan siswa diperluas, pergumulan siswa diteguhkan, dan penghayatan iman siswa diperkaya. Sementara itu, dalam Lokakarya mengenai tempat dan peranan PAK di sekolah yang diadakan oleh Komkat KWI di Malino (1981) mengemukakan bahwa PAK merupakan bagian dari katekese yang berusaha membantu siswa agar dapat menggumuli hidupnya dari segi pandang kristiani dengan demikian mudahmudahan menjadi manusia paripurna (beriman). Gagasan demikin dikemukakan dengan latar belakang keanekaan murid di dalam kelas, situasi sekolah, dan guru.

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 Sementara itu Heryatno (2008:15), menegaskan kembali pendapat Mangunwijaya (1994) yang menyatakan bahwa hakikat dasar PAK sebagai komunikasi iman bukan pengajaran agama. Ia membedakan antara beragama atau punya agama (having religion) dengan beriman (being religious). Agama merupakan jalan dan sarana menuju kepenuhan dan kesejahteraan hidup, jalan manusia menuju kesatuannya dengan Tuhan. Sebagai komunikasi iman, Heryatno (2008:16) mengungkapkan bahwa PAK perlu menekankan sifatnya yang praktis, artinya bermula dari pengalaman penghayatan iman, melalui refleksi dan komunikasi menuju kepada penghayatan iman, melalui refleksi dan komunikasi menuju kepada penghayatan iman baru yang lebih baik. Bersifat praktis juga berarti Pendidikan Agama Katolik lebih menekankan tindakan (kehidupan) daripada konsep atau teori. Dengan sifatnya yang praktis, Pendidikan Agama Katolik menjadi mediasi transformasi iman yang berlangsung secara terusmenerus. Yang ditekankan di dalam PAK bukan pengajaran agama tetapi proses perkembangan dan pendewasaan iman, peneguhan pengharapan dan perwujudan cinta kasih. Heryatno (2014:36) menyampaikan bahwa di dalam konteks pendidikan di sekolah, PAK juga perlu memperhatikan bahasa, dunia dan warna khas hidup peserta didik. Pendidikan Agama Katolik perlu sekali menyapa, mengangkat dunia dan permasalahan peserta didik, maka dari itu PAK perlu memilih metode dan menggunakan sarana yang betul-betul menyentuh hati peserta didik. Paus Paulus Yohanes II dalam pesannya, memperingatkan agar katekese atau pewartaan iman dapat disertai dengan penggunaan metode dan sarana baru yang

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 cocok, (misal: mass media, berbagai metode komunikasi, sarana lain seperti bacaan-bacaan katekese dan katekismus). Dan yang pokok, metode tentunya harus mampu menghormati cita rasa nilai budaya setempat, serta dapat menjawab permasalahan dan kebutuhan peserta didik. Oleh sebab itu penting jika Pendidikan Agama Katolik dapat dikemas sedemikian rupa dengan menggunakan sarana dan prasarana yang cocok dengan situasi peserta sehingga peserta didik makin bersemangat dalam mengikuti pelajaran dan pada akhirnya dapat sampai pada hasil dan tujuan dari pengajaran yang telah diselenggarakan. Melalui berbagai pendapat dari beberapa ahli di atas dapat disimpulkan bahwa hakikat PAK di sekolah yang sesungguhnya tidak hanya berhenti pada pengajaran agama semata. PAK di sekolah adalah bagian katekese/pewartaan yang merupakan salah satu bentuk dari pelayanan sabda yang dilakukan secara terus-menerus dan berkesinambungan. PAK di sekolah dilaksanakan melalui komunikasi iman yang berusaha membantu peserta didik mampu berinteraksi, memahami, menggumuli dan menghayati iman. Dengan komunikasi iman tersebut diharapkan iman peserta didik semakin diperkuat, diperteguh serta didewasakan sehingga dapat diwujudkan dalam tindakan cinta kasih terhadap sesamanya. b. Tujuan Pendidikan Agama Katolik di Sekolah Dapiyanta (2000:149) dalam Pendidikan Agama Katolik di sekolah pada era reformasi mengungkapkan bahwa arah PAK di sekolah dirumuskan secara luas dan sempit. Secara luas arah PAK ialah: memperluas pengetahuan, memperteguh

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 pergulatan iman, dan memperkaya penghayatan iman dalam pelbagai bentuk serta memperkembangkan dialog antar iman. Secara sempit arah PAK dirumuskan membantu anak menggulati hidupnya dari sudut pandang Kristen. Dengan itu ia memperkembangkan pengetahuan dan penghayatan iman. Sebagaimana dikemukakan John Paul II (Connel, 1996:384), secara hakiki tujuan katekese ialah agar umat baik kelompok maupun perorangan menyerupai Kristus (Dapiyanta, 2011: 3). Changed by the working of grace into new creature, the Christian thus gets himself to follow Christ and learns more and more within the Church to think like him,to act in conformity with his commandments,and to hope as he invites us to. Dalam konteks dunia ini tujuan katekese ialah menghantar orang sampai pada kedewasaan iman. Secara ringkas dapat dikemukakan bahwa katekese merupakan salah satu bentuk pelayanan sabda yang berupa komunikasi atau pendidikan dalam iman, bertitik tolak dari pertobatan melalui proses interaksi antara subjek, bahan, pendekatan, dan sarana menuju kedewasaan iman dalam seluruh dimensinya (pengetahuan, afeksi, dan tindakan). Daniel Stefanus (2010:49) menerjemahkan dari Groome menyampaikan bahwa tujuan Pendidikan Agama Katolik adalah untuk memampukan orang-orang hidup sebagai orang-orang Kristen, yakni hidup sesuai iman Kristiani. Pendidikan Agama Katolik (PAK) pada dasarnya bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan untuk membangun hidup yang semakin beriman. Membangun hidup beriman Kristiani berarti membangun kesetiaan pada Injil Yesus Kristus, yang

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 memiliki keprihatinan tunggal, yakni Kerajaan Allah. Kerajaan Allah merupakan situasi dan peristiwa penyelamatan: situasi dan perjuangan untuk perdamaian dan keadilan, kebahagiaan dan kesejahteraan, persaudaraan dan kesetiaan, kelestarian lingkungan hidup, yang dirindukan oleh setiap orang dari pelbagai agama dan kepercayaan. Di lain sisi, Heryatno (2008:23-34) menyatakan bahwa tujuan PAK harus bersifat holistik, menyeluruh dalam arti mencakup seluruh aspek hidup beriman naradidik. Bersifat holistik artinya sesuai dengan kepentingan hidup naradidik, tujuan PAK di sekolah harus mencakup segi kognitif, afeksi dan praksis. Ketiganya merupakan unsur-unsur pokok kehidupan orang beriman dewasa maka dari itu tidak dapat dipisah-pisahkan. Inilah pendidikan iman Kristiani yang bersifat konatif, yang berarti, tujuan pendidikan di dalam iman sudah diolah dan dipertimbangkan, sehingga mendorong semua pihak supaya semakin setia serta konsisten mewujudkannya di dalam kenyataan hidup sehari-hari. Terwujudnya kerajaan Allah merupakan visi dasar atau arah utama seluruh kegiatan pendidikan di dalam iman atau PAK. Kehidupan Kristiani dengan semangat pertobatan yang terus-menerus diperbaharui dan diwujudkan diharapkan menjadi tanggapan terhadap karya penyelamatan Allah. Terwujudnya nilai-nilai kerajaan Allah menjadi pusat referensi (sumber acuan) bagi kita untuk merumuskan arah, visi dan tujuan pendidikan di dalam iman untuk memberdayakan pendidik dan naradidik di dalam proses pendidikan.

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 Tujuan formal jangka panjang PAK yakni kedewasaan iman, diartikan sebagai iman yang berkembang semakin matang secara penuh dan bersifat holistik karena mencakup tindakan meyakini (believing), mempercayai (trusting) dan melakukan kehendak Allah (doing God's will). Pendidikan iman di sekolah sebagai pendewasaan iman diharapkan membantu memperkembangkan iman peserta didik secara seimbang dan integratif ketiga aspek iman tersebut. Selanjutnya iman yang dihayati itu juga harus bersifat membebaskan. Kebebasan merupakan kondisi utama bagi manusia untuk menghayati dan memperkembangkan imannya. Iman yang dewasa dapat diwujudkan hanya oleh orang-orang yang betul-betul bebas. Iman dan kebebasan memiliki hubungan simbiotik, saling mengandaikan, saling memberi dan menerima. Oleh karena itu kebebasan harus menjadi bagaian utuh dari tujuan PAK di sekolah. Dari pembahasan mengenai tujuan PAK di atas, dapat disimpulkan bahwa tujuan PAK yaitu untuk membantu dan membimbing peserta didik agar semakin mampu memperteguh iman terhadap Tuhan Yesus Kristus sesuai dengan agama Katolik dengan tetap memperhatikan dan mengusahakan penghormatan dan memperkembangkan dialog dengan agama dan kepercayaan lain. Membangun hidup beriman Kristiani berarti membangun kesetiaan pada Injil Yesus Kristus yang memiliki keprihatinan tunggal terwujudnya Kerajaan Allah dalam hidup manusia. Melalui PAK peserta didik juga semakin diperluas pengetahuannya sehingga memiliki kemampuan untuk terus membangun hidup yang semakin beriman serta mendorong peserta didik supaya semakin setia dan konsisten

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 mewujudkannya di dalam kenyataan hidup sehari-hari. Dengan demikianlah melalui PAK, peserta didik akan tumbuh dalam kedewasaan iman. c. Kurikulum PAK di Sekolah Ilmu pengetahuan selalu berubah dan berkembang, demikian juga bidang pendidikan. Perubahan dalam bidang pendidikan membawa pengaruh terhadap perubahan pandangan mengenai kurikulum. Kurikulum menjadi tidak terbatas pada mata pelajaran saja tetapi semua aspek yang mempengaruhi pribadi siswa. Kurikulum menjadi alat untuk mencapai tujuan pendidikan (Nana Sudjana, 1989:2). Beberapa kurikulum telah dilaksanakan, kurikulum yang banyak digunakan saat ini yakni kurikulum 2013. Fadlilah (2014:1) memahami bahwa kurikulum 2013 merupakan kurikulum baru yang mulai diterapkan pada tahun pelajaran 2013/2014. Kurikulum ini adalah pengembangan dari kurikulum yang telah ada sebelumnya, baik kurikulum Berbasis Kompetensi maupun kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Dapat dipahami bahwa Kurikulum 2013 adalah sebuah kurikulum yang dikembangkan untuk meningkatkan dan menyeimbangkan kemampuan soft skill dan hard skill yang berupa sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Mengingat pendidikan perlu diselenggarakan secara optimal untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas maka diupayakan untuk mewujudkan itu semua dengan mengembangkan kurikulum yakni dengan diberlakukannya kurikulum 2013.

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 Fadlilah (2014 : 24), mengungkapkan bahwa tujuan dan fungsi kurikulum secara spesifik mengacu pada Undang-Undang No.20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional. Dalam undang-undang Sisdiknas ini disebutkan bahwa fungsi kurikulum ialah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Tujuannya untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Pelajaran Agama Katolik menjadi salah satu pelajaran wajib yang dilaksanakan di sekolah-sekolah baik di swasta maupun negeri. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (2014) menyatakan bahwa pembelajaran agama diharapkan tak hanya menambah wawasan keagamaan, tapi juga mengasah keterampilan beragama dan mewujudkan sikap beragama siswa. Kurikulum 2013 dirancang agar tahapan pembelajaran memungkinkan peserta didik berkembang dari proses menyerap pengetahuan dan mengembangkan keterampilan hingga memekarkan sikap serta nilai-nilai luhur kemanusiaan. Sesuai dengan pendekatan yang dipergunakan dalam kurikulum 2013, peserta didik didorong untuk mempelajari agamanya melalui pengamatan terhadap sumber belajar yang tersedia dan terbentang luas di sekitarnya. Dalam pendidikan Agama Katolik, pendekatan pembelajaran lebih ditekankan pada pendekatan yang di dalamnya terkandung tiga proses, yaitu proses pemahaman, pergumulan yang diteguhkan dalam terang Kitab

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 Suci/ajaran Gereja dan pembaharuan hidup yang terwujud dalam penghayatan iman sehari-hari. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (2013) dalam pengantarnya di buku Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti kelas XI di SMA/SMK menyampaikan bahwa agama terutama bukanlah soal mengetahui mana yang benar atau yang salah. Tidak ada gunanya mengetahui tetapi tidak melakukannya, seperti dikatakan oleh Santo Yakobus : “Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati” (Ykb 2:26). Pembelajaran agama diharapkan tak hanya menambah wawasan keagamaan, tapi juga mengasah “keterampilan beragama” dan mewujudkan sikap beragama siswa. Tentu saja sikap, beragama yang utuh dan berimbang, mencakup hubungan manusia dengan pencipta-Nya dan hubungan manusia dengan sesama dan lingkungan sekitarnya. Pendidikan Agama Katolik secara khusus bertujuan membangun dan membimbing peserta didik agar tumbuh berkembang mencapai kepribadian utuh yang semakin mencerminkan diri mereka sebagai gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia” (Kej 1:27). 2. Prestasi belajar PAK di Sekolah Aunurrahman (2012:34) beranggapan bahwa belajar dapat saja terjadi tanpa pembelajaran, namun hasil belajar akan tampak jelas dari aktivitas pembelajaran. Pembelajaran yang efektif ditandai dengan terjadinya proses belajar dalam diri siswa. Dalam proses pembelajaran, hasil belajar atau prestasi siswa

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 dapat dilihat secara langsung. Douglas (1990 : 36) menyampaikan pendapatnya bahwa prestasi bermula dari mengamati dan mengenal kebutuhan, kemudian bertindak secara terencana untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Kebutuhan dirasakan bila terdapat kesenjangan antara stimulus yang baru muncul dengan stimulus yang telah tercapai. Pencapaian terjadi bila aksi yang diperlukan telah selesai dilaksanakan dengan baik. Prestasi tersebut tentu tidak lepas dari penilaian program pendidikan atau penilaian kurikulum menyangkut penilaian terhadap tujuan pendidikan, isi program, strategi pelaksanaan program, dan sarana pendidikan. Menurut Winkel (1996:52) prestasi adalah bukti usaha yang dapat dicapai. Hasil dari usaha pembelajaran perlu diukur secara langsung dengan menggunakan tes atau evaluasi, yang bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran. Winkel (1996:162) juga mengatakan bahwa prestasi belajar adalah suatu bukti keberhasilan atau kemampuan seorang siswa dalam melakukan kegiatan belajarnya sesuai bobot yang dicapainya. Prestasi belajar dalam Pendidikan Agama Katolik pada dasarnya merupakan hasil belajar yang telah dicapai dalam mata pelajaran PAK di sekolah, yang biasanya dinyatakan dalam bentuk angka maupun huruf. Hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku. Jadi dapat dipahami bahwa prestasi belajar merupakan suatu hasil yang telah dicapai oleh peserta didik terhadap suatu pembelajaran sesuai dengan kemampuannya. Hasil belajar siswa

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 dari proses secara umum idealnya meliputi tiga aspek yakni pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotorik). Nana Sudjana (1992:22) mengatakan bahwa dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan baik tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah, yakni ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotoris.. a. Ranah kognitif Menurut revisi Taksonomi Bloom ranah kognitif oleh Lorin Anderson Krathwohl (2001) yang menyampaikan bahwa ranah kognitif ini berkenaan dengan hasil belajar intektual yang terdiri dari enam aspek, yakni mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, menilai dan mencipta. 1) Mengingat, yakni kemampuan menyebutkan kembali informasi atau pengetahuan yang tersimpan dalam ingatan. Contoh : menyebutkan arti taksonomi. 2) Memahami, yakni kemampuan memahami instruksi atau makna idea tau konsep yang telah diajarkan baik dalam bentuk lisan tertulis, maupun grafik atau diagram. 3) Menerapkan yaitu kemampuan melakukan sesuatu dan mengaplikasikan konsep dalam situasi tertentu.

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 4) Menganalisis yaitu kemampuan memisahkan konsep ke dalam beberapa komponen dan menghubungkan satu sama lain untuk memperoleh pemahaman atas konsep tersebut secara utuh. 5) Menilai yaitu kemampuan menetapkan derajat sesuatu berdasarkan norma, kriteria atau patokan tertentu. 6) Mencipta yaitu kemampuan memadukan unsur-unsur menjadi sesuatu bentuk baru yang utuh dan orisinil. Mencipta disini mengarahkan peserta didik untuk dapat melaksanakan dan menghasilkan karya yang dapat dibuat oleh peserta didik. b. Ranah Afektif Mencakup segala sesuatu yang terkait dengan emosi, misalnya perasaan, nilai, penghargaan, semangat, minat, motivasi, dan sikap. 1) Penerimaan yaitu kemampuan suatu sadar, kemauan untuk menerima, perhatian terpilih. Contoh : Siswa mau mendengarkan pendapat orang lain, mengingat nama seseorang. 2) Responsif yaitu kemampuan berpartisipasi aktif dalam pembelajaran dan selalu termotivasi untuk segera bereaksi dan mengambil tindakan atas suatu kejadian. Contoh : berpartisipasi dalam diskusi kelas. 3) Nilai yang dianut (Nilai Diri) yaitu kemampuan menunjukkan nilai yang dianut untuk membedakan mana yang baik terhadap suatu kejadian/obyek, dan nilai tersebut diekspresikan dalam perilaku. Contoh : mengusulkan

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 kegiatan sosial sesuai dengan nilai yang berlaku dan komitmen perusahaan. 4) Organisasi yaitu kemampuan membentuk sistem nilai dan budaya organisasi dengan mengharmonisasikan perbedaan nilai. Contoh : menyepakati dan mentaati etika profesi, mengakui perlunya keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab. 5) Karakterisasi yaitu kemampuan mengendalikan perilaku berdasarkan nilai yang dianut dan memperbaiki hubungan intrapersonal, interpersonal dan sosial. Contoh : menunjukkan rasa percaya diri ketika bekerja sendiri, kooperatif dalam aktivitas kelompok. c. Ranah Psikomotoris Meliputi gerakan dan koordinasi jasmani, keterampilan motorik dan kemampuan fisik. Keterampilan ini dapat diasah jika sering melakukannya. Ada tujuh kategori dalam ranah psikomotorik yaitu : 1) Persepsi yaitu kemampuan menginterpretasikannya dalam menggunakan saraf memperkirakan sensori sesuatu. dalam Contoh: menurunkan suhu AC saat merasa suhu ruangan panas. 2) Kesiapan yaitu kemampuan untuk mempersiapkan diri, baik mental, fisik, dan emosi, dalam menghadapi sesuatu. Contoh: melakukan pekerjaan sesuai urutan, menerima kelebihan dan kekurangan seseorang.

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 3) Reaksi yang diarahkanya itu kemampuan untuk memulai ketrampilan yang kompleks dengan bantuan/bimbingan dengan meniru dan uji coba. Contoh: Mengikuti arahan dari instruktur. 4) Reaksi natural (mekanisme) yaitu kemampuan melakukan kegiatan pada tingkat ketrampilan tahap yang lebih sulit. Melalui tahap ini diharapkan siswa akan terbiasa melakukan tugas rutinnya. Contoh: menggunakan komputer. 5) Reaksi yang kompleks yaitu kemampuan untuk melakukan kemahirannya dalam melakukan sesuatu, dimana hal ini terlihat dari kecepatan, ketepatan, efsiensi dan efektivitasnya. Semua tindakan dilakukan secara spontan, lancar, cepat, tanpa ragu. Contoh: Keahlian bermain piano. 6) Adaptasi yaitu kemampuan mengembangkan keahlian, dan memodifikasi pola sesuai dengan yang dibutuhkan. Contoh: Melakukan perubahan secara cepat dan tepat terhadap kejadian tak terduga tanpa merusak pola yang ada. 7) Kreativitas yaitu kemampuan untuk menciptakan pola baru yang sesuai dengan kondisi/situasi tertentu dan juga kemampuan mengatasi masalah dengan mengeksplorasi kreativitas diri. Contoh: membuat formula baru, inovasi, produk baru. Ranah kognitif untuk menilai aspek intelektual seperti pengetahuan dan kemampuan berpikir sedangkan ranah afektif untuk menilai perilaku terkait dengan emosi, seperti nilai, minat, motivasi dan sikap. Aspek tersebut selaras dengan pelaksanaan kurikulum 2013 yang dirancang agar tahapan pembelajaran

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 memungkinkan peserta didik berkembang dari proses menyerap pengetahuan dan mengembangkan keterampilan hingga memekarkan sikap serta nilai-nilai luhur kemanusiaan. 3. Jejaring Sosial Instagram a. Pengertian Jejaring Sosial Saat ini pelaksanaan pendidikan di sekolah telah banyak mengalami perkembangan dan pembaharuan, terutama dalam pemanfaatan hasil teknologi yang digunakan dalam menyampaikan materi pembelajaran. Hal tersebut sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin hari semakin maju. Perkembangan teknologi yang demikian pesat, terutama teknologi komunikasi telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang, salah satunya bidang pendidikan dan pembelajaran. Jika waktu-waktu sebelumnya hubungan antara pendidik dan peserta didik hanya dapat berlangsung melalui kegiatan tatap muka, dibatasi oleh sekat ruang dan waktu, atau melalui media cetak, ternyata saat ini telah dapat dikembangkan melalui komunikasi maupun informasi online yang menembus sekat-sekat ruang dan waktu lewat media internet (network). Internet menjadi kebutuhan bagi dunia pendidikan. Di dunia pendidkan internet membantu konsep pembelajaran sehingga dapat digunakan sebagai media pembelajaran. Dengan internet proses pembelajaran menjadi lebih praktis karena siswa dapat mengakses secara online melalui smartphone yang mereka miliki,

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 sehingga siswa tidak lagi harus menggunakan buku atau bertatap muka dengan guru untuk belajar, namun siswa dapat belajar sekaligus mencari sumber-sumber informasi yang telah tersedia di internet. Akses internet secara online inilah yang sering dipergunakan sebagai layanan jejaring sosial. Nasrullah (2015:16), mengatakan bahwa kata jaringan (network) bisa dipahami dalam terminologi bidang teknologi seperti ilmu komputer yang berarti infrastruktur yang menghubungkan antara komputer maupun perangkat keras (hardware) lainnya. Koneksi ini diperlukan karena komunikasi bisa terjadi jika antar komputer terhubung, termasuk di dalamnya perpindahan data. Iswarahadi (2013:38) juga menyampaikan pendapatnya bahwa internet adalah seperangkat jaringan teknologi komunikasi elektronik tanpa batas. Sifatnya : komunikasi yang termediasi oleh komputer, individual, dan ketiadaan hierarki. Melalui internet terciptalah apa yang disebut sebagai “virtual community”atau dunia maya. Cecilia Paulina Sianipar (2015:4) berpendapat bahwa teknologi informasi dan komunikasi memunculkan salah satu fenomena revolusioner dalam ranah komunikasi pada beberpa dekade ini. Tidak dapat dihindari bahwa internet sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Media sosial sosial memiliki porsi yang besar dalam transformasi ini dengan menjadi sarana berkomunikasi baru yang muncul seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi tersebut. Media sosial memiliki karakter jaringan sosial. Media sosial terbangun dari struktur sosial yang terbentuk di dalam jaringan atau internet. Jaringan yang terbentuk antarpengguna (users) merupakan jaringan yang secara teknologi

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 dimediasi oleh perangkat teknologi, seperti komputer, telepon genggam, atau tablet. Karakter media sosial adalah membentuk jaringan di antara penggunanya. Nasrullah (2015:19), mengatakan bahwa di media sosial, informasi menjadi komoditas yang dikonsumsi oleh pengguna. Komoditas tersebut pada dasarnya merupakan komoditas yang diproduksi dan didistribusikan antarpengguna itu sendiri. Dari kegiatan konsumsi inilah pengguna dan pengguna lain membentuk sebuah jaringan yang pada akhirnya secara sadar atau tidak bermuara pada institusi masyarakat berjejaring (network society). Cecilia Paulina Sianipar (2015:4) mengungkapkan bahwa masih banyak masyarakat beranggapan bahwa proses pembelajaran di dunia pendidikan dan aktivitas media sosial adalah dua hal yang saling berseberangan. Karena sifatnya yang dinamis dan afektif, media sosial memililiki daya tarik yang kuat bagi para peserta didik. Oleh karena itu, media sosial dilihat cenderung mengalihkan perhatian peserta didik dari fokus pengembangan kompetensi yang disasar melalui proses pembelajaran. Beberapa refleksi dunia pendidikan dewasa ini sepakat bahwa hubungan antara proses pembelajaran dan aktivitas media sosial seharusnya tidak bertentangan. Sifat media sosial yang dinamis, aktual, dan afektif dapat dikaitkan dengan dunia pendidikan, misalnya para pendidik dapat menghubungkan proses pembelajaran dengan isu-isu riil yang terjadi di dunia, atau memnfaatkan dunia maya sebagai referensi yang kaya bagi materi pendidikan.

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 Sementara itu, Ega Rima Wati (2016:119) menyampaikan pendapatnya bahwa fungsi media pembelajaran internet di antaranya sebagai alat komunikasi, informasi, perpustakaan dalam bentuk jaringan komputer, tambahan pembelajaran, pelengkap materi pembelajaran siswa di kelas dan pengganti model pembelajaran tatap muka. Internet merupakan media komunikasi dan informasi yang melibatkan setiap pengguna dapat berpartisipasi dalam segala waktu, artinya internet dapat diakses kapan saja tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Internet juga mempermudah para pemakainya untuk mendapatkan informasi-informasi maupun pengetahuan secara cepat. Media internet dapat mendeskripsikan materi pembelajaran dengan semenarik mungkin. Deskripsi tersebut tentunya harus sesuai dengan konsep materi pembelajaran. Informasi mengenai materi pembelajaran yang dapat didengar dan dapat dilihat dapat ditampilkan melalui internet. Dengan demikian materi pembelajaran dapat ditangkap dengan baik oleh siswa. Nasrullah (2015:40) memahami bahwa social networking atau jaringan sosial merupakan medium yang paling populer dalam kategori media sosial. Medium ini merupakan sarana yang bisa digunakan pengguna untuk melakukan hubungan sosial, termasuk konsekuensi atau efek dari hubungan sosial tersebut. Rulli Nasrullah menyampaikan kembali pandangan Saxena (2014) yang mengatakan:

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 Situs jejaring sosial adalah media sosial yang paling populer. Media sosial tersebut memungkinkan anggota untuk berinteraksi satu sama lain. Interaksi terjadi tidak hanya pada pesan teks, tetapi juga termasuk foto dan video yang mungkin menarik perhatian pengguna lain. Semua posting (publikasi) merupakan real time, memungkinkan anggota untuk berbagi informasi seperti apa yang terjadi. Dari beberapa pendapat mengenai pengertian jejaring sosial di atas dapat disimpulkan bahwa jejaring sosial adalah akses internet yang digunakan secara online yang dapat menghubungkan antara komputer maupun perangkat keras (hardware) lainnya guna untuk berkomunikasi dan berbagi informasi melalui pesan teks, foto maupun video. b. Pengertian Instagram Instagram merupakan sebuah aplikasi dimana seseorang bisa untuk berbagi foto-foto yang memungkinkan untuk pengguna mengambil foto, menerapkan filter digital, dan membagi ke berbagai layanan jejaring sosial, termasuk milik Instagram sendiri. Nama Instagram sendiri berasal dari kata "insta" yang berarti "instan" dan “gram” yang mempunyai arti "telegram". Dari kedua kata tersebut, Instagram dapat diartikan menampilkan dan menyampaikan informasi berupa foto atau gambar secara cepat melalui aplikasi yang dapat diakses oleh orang lain (https://www.bitebrands.co/2015/01/sejarah-dan- perkembangan-media-sosial.html, diakses pada Kamis, 8 Maret 2018, pukul 15.25 WIB).

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 Instagram banyak disukai karena kemudahan dan kecepatannya dalam berbagi foto maupun video. Di kalangan peserta didik instagram merupakan salah satu media sosial yang telah banyak diakses dan semakin luas perkembangannya. Instagram juga memberikan cara baru berkomunikasi di jejaring sosial melalui foto. c. Fitur-fitur Instagram Fitur-fitur yang ada di Instagram diantaranya : 1) Kamera Instagram mempunyai sejumlah fitur-fitur unggulan yang membuatnya digemari oleh jutaan pengguna. Yang pertama adalah fitur kamera, dimana lewat Instagram pengguna tidak hanya bisa mengunggah foto dari galeri. Tetapi dapat juga langsung membidik atau merekam momen dari dalam aplikasi kemudian mengedit, memberi caption baru membagikannya. 2) Editor Kedua, Instagram punya tool editor yang menjadi tempat bagi para pengguna untuk memoles foto yang dijepret lewat kamera perangkatnya. Di sini akan dijumpai 10 tool editor tingkat lanjut untuk mengatur kembali pencahayaan, kontras dan saturasi semudah menggerakkan jemari tangan. Di update terbaru Instagram tidak lagi mengharuskan foto berwujud kotak, tapi sudah mendukung

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 pilihan portrait dan juga landscape. Memberikan keleluasaan kepada pengguna saat ingin membagikan foto dengan sudut tangkapan lensa yang lebih lebar. 3) Tag dan Hashtag Sebagaimana jejaring sosial pada umumnya, Instagram juga punya fitur tag dan hashtag yang fungsinya untuk menandai teman atau mengelompokkan foto dalam satu label. 4) Caption Caption berfungsi layaknya deskripsi, di sinilah pengguna bisa memberikan sepatah dua patah kata soal foto yang diunggah. Di samping tentunya menambahkan, hashtag (https://dailysocial.id diakses pada Kamis, 8 Maret 2018, pukul 18.54 WIB). d. Cara penggunaan Instagram Langkah-langkah penggunaan Instagram yakni sebagai berikut : 1) Instalasi Proses yang dilakukan pertama kali dalam langkah penggunaan Instagram adalah menginstal aplikasi Instagram di ponsel. Caranya dengan mengunduhnya di layanan katalog aplikasi yakni Google Play Store. Di Google Play Store inilah masyarakat dapat mengunduh berbagai aplikasi baik berbayar maupun gratis. Berikut langkah-langkah instal Instagram: Jalankan aplikasi play store yang

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 merupakan pusat untuk belanja aplikasi; pada kotak search atau pencarian ketik kata Instagram, kemudian tekan ikon search bertanda kaca pembesar; Tampil aplikasi Instagram, lalu pilih; setelah itu masuk bagian deskripsi aplikasi, tekan tombol instal; masuk ke halaman permission, tekan tombol Accep & Download; tunggu sampai selesai mengunduh dan menginstalnya hingga muncul dua menu, tekan tombol open; Instalasi selesai. 2) Registrasi Diperlukan sebuah akun yang merupakan identitas resmi sebagai pengguna Instagram. Proses pendaftaran cukup simpel : Masuk aplikasi Instagram; pilih dan tekan tombol Sign up untuk melakukan registrasi; isi pada formulir data-data yang diperlukan, yakni E-mail, username, dan password; pilih menu set profile picture, dapat dengan cara memotret langsung, mengambil dari gambar yang sudah ada; kembali ke halaman sign up, tekan tombol sign up untuk mendaftar; proses registrasi selesai 3) Antarmuka Setelah selesai registrasi dan memiliki akun Instagram, kita mulai bisa bereksplorasi dengan aplikasi ini. Ada lima menu utama semuanya terletak di bawah yaitu : Home Page , Populer, Take Photo, News feed, dan Profile.

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 e. Kelebihan dan kekurangan Instagram Media sosial Instagram mungkin sudah tidak asing lagi pada kalangan masyarakat Indonesia. Sejak diluncurkan pada tahun 2013, salah satu media sosial yang banyak diminati anak muda ini semakin berkembang pesat sampai saat ini. Instagram tidak hanya dijadikan media untuk sekedar having fun namun juga dapat dimanfaatkan oleh banyak orang untuk kebutuhan mereka masingmasing. Seperti halnya media sosial lainnya, Instagram juga memiliki kelebihan serta kekurangan. 1) Kelebihan : Banyak digunakan; mudah dipergunakan; memudahkan yang ditawarkan instagram menjadikannya media yang cepat menarik minat masyarakat untuk menggunakannya; memposting foto atau video, memfollow, mengomentari, memberi like, hingga searching sesuai hashtag pun bisa dilakukan dengan sangat praktis; mudah untuk promosi; koneksi menggunakan sosial media lain; bersifat privasi. Jika kita ingin orang lain tidak bisa melihat isi instagram kita, maka kita bisa mengunci instagram tersebut. Instagram memiliki beragam fitur untuk mengedit foto kita. Instagram menyantumkan Follower dan Following kita. Instagram bisa follow tanpa batas. 2) Kekurangan : Spamming. Kemudahan yang diberikan instagram dalam hal berinteraksi, membentuk sosial media ini sangat rawan spamming. Umumnya spamming banyak terlihat pada bagian komentar. Namun kita bisa menyiasatinya menggunakan memberlakukan private di akun anda supaya

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 tidak sembarang orang bisa berkomentar di postingan anda. Durasi video maksimal hanya 1 menit. Foto yang di share berukuran kecil, sehingga foto terlihat kurang jelas. Instagram tidak menampilkan cover picture, hanya menampilkan profile picture. Instagram juga dapat di update secara berkala sesuai dengan kebutuhan penggunanya. Itulah beberapa kelebihan dan kekurangan Instagram dibanding media sosial lainnya,(http://detik.in/uncategorized/kelebihan-dan-kekuranganinstagram/diakses pada Kamis, 15 Agustus 2018, pukul 20.04 WIB ) B. Hubungan Media dengan Prestasi belajar Nana Sudjana (1989 : 30) mengatakan bahwa tujuan dalam proses belajarmengajar merupakan komponen pertama yang harus ditetapkan dalam proses pengajaran yang berfungsi sebagai indikator keberhasilan pengajaran. Tujuan ini pada dasarnya merupakan rumusan tingkah laku dan kemampuan yang harus dicapai dan dimiliki siswa setelah ia menyelesaikan pengalaman dan kegiatan belajar dalam proses pengajaran. Isi tujuan pengajaran pada hakikatnya adalah hasil belajar yang diharapkan. Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yakni faktor dari dalam diri siswa itu dan faktor yang datang luar diri siswa atau faktor lingkungan. Faktor yang datang dari diri siswa terutama kemampuan yang dimiliknya. Faktor kemampuan siswa besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai. Clark (1981) mengemukakan bahwa hasil belajar siswa di

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 sekolah 70% dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30% dipengaruhi oleh lingkungan, (Nana Sudjana (1989:39). Lingkungan masih menjadi pengaruh terhadap hasil belajar yang diraih, artinya masih ada faktor-faktor yang berada di luar dirinya yang dapat menentukan atau mempengaruhi hasil yang dicapai. Hasil belajar pada hakikatnya tersirat dalam tujuan pengajaran. Oleh sebab itu hasil belajar siswa di sekolah dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan kualitas pengajaran. Pendapat ini sejalan dengan teori belajar di sekolah (Theory of School learning) dari Bloom) yang mengatakan ada tiga variabel utama dari teori belajar di sekolah, yakni karakteristik individu, kualitas pengajaran dan hasil belajar siswa. Kemampuan siswa dan kualitas pengajaran mempunyai hubungan berbanding lurus dengan hasil belajar siswa. Artinya, makin tinggi kemampuan siswa dan kualitas pengajaran, makin tinggi pula hasil belajar siswa. Jika dilukiskan seperti dalam diagram di bawah ini : tinggi A2 Y2 Kemampuan siswa A1 Y1 B1 rendah Kualitas pengajaran B2 tinggi

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 Nana Sudjana (1989 : 42) mengatakan bahwa di samping faktor guru, kualitas pengajaran dipengaruhi juga oleh karakteristik kelas, salah satunya yakni fasilitas dan sumber bahwa yang tersedia. Sering ditemui bahwa guru merupakan satu-satunya sumber belajar di kelas. Situasi ini akan kurang menunjang kualitas pengajaran, sehingga hasil belajar yang dicapai siswa kurang optimal. Kelas perlu menyedikan berbagai sumber belajar atau sarana belajar yang ikut berperan sebagai sumber belajar siswa. Sementara Yudi Munadi (2010: 32) juga menyampaikan pendapatnya bahwa hasil belajar dapat dipengaruhi oleh faktorfaktor instrumental yang berupa; kurikulum, sarana dan fasilitas, serta guru. Faktor-faktor tersebut besar pengaruhnya pada proses dan hasil belajar. Berikut bagan faktor-faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar : Faktor Internal P R Faktor Psikologis Faktor-faktor yang mempengaruhi Belajar E S Faktor Fisiologis Faktor Eksternal Faktor Lingkungan Sosial T A S I Alam Faktor Instrumental Kurikulum Sarana dan Fasilitas Guru

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41 Salah satu sumber belajar siswa berupa media pembelajaran. Sadiman, (2009:7) menyampaikan bahwa media mempunyai peranan penting bagi peserta didik terutama dalam proses pembelajaran yang berlangsung di sekolah. Dalam pendidikan media dianggap menjadi alat bantu mengajar Guru. Alat bantu yang dipakai adalah alat bantu visual, misalnya gambar,model objek dan alat-alat lain yang dapat memberikan pengalaman konkret, motivasi belajar serta mempertinggi daya serap dan retensi belajar siswa. Ega Rima Wati (2016:3) mengatakan bahwa proses pembelajaran merupakan suatu perpaduan yang tersusun rapi. Perpaduan tersebut meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi tercapainyanya tujuan pembelajaran. Pembelajaran juga merupakan proses, cara, dan tindakan yang mempengaruhi siswa untuk belajar. Dengan demikian, media pembelajaran merupakan alat dan teknik yang digunakan sebagai perantara komunikasi antara seorang guru dan siswa. Nana Sudjana (1989:33) mengatakan bahwa ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dalam menentukan komunikasi dalam proses pengajaran. Faktor tersebut adalah tujuan yang akan dicapai, sifat bahan pelajaran, sumber belajar yang tersedia, karakteristik kelas dan kemampuan guru itu sendiri. Media pembelajaran digunakan dalam rangka mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran di sekolah. B.F.Skinner dalam Sadiman (2009:9) menyampaikan pandangannya bahwa teori tingkah laku (behaviorism theory) mempengaruhi penggunaan media

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 dalam kegiatan pembelajaran. Teori ini mendorong orang untuk lebih memperhatikan siswa dalam proses belajar mengajar. Menurut teori ini, mendidik adalah mengubah tingkah laku siswa. Perubahan tersebut harus tertanam pada diri siswa sehingga menjadi kebiasaan. Supaya tingkah laku tersebut menjadi adat kebiasaan setiap ada perubahan tingkah laku positif ke arah tujuan yang dikehendaki, harus diberi penguatan, berupa pemberitahuan bahwa tingkah laku tersebut betul. Jadi dapat disimpulkan bahwa faktor eksternal dari proses belajar mengajar juga ikut mempengaruhi hasil atau prestasi belajar siswa, salah satunya melalui peran sarana atau media belajar. Media menjadi penting dan dirasa cukup efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dengan penggunaan media pembelajaran siswa dibantu belajarnya melalui proses komunikasi dan interaksi baik antar teman maupun guru. Selain itu media pembelajaran menyajikan hal-hal yang menarik, sehingga mampu memacu semangat belajar dan meningkatkan hasil atau prestasi belajar mereka. C. Penelitian yang Relevan Penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan: 1. Melani (2011) yang berjudul “Penggunaan aplikasi Instagram dalam upaya meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas VIII di SMP Pantekosta Magelang mengenai materi matematika tentang faktorisasi bentuk aljabar. Rumusan masalah yang ingin diteliti adalah bentuk/penerapan penggunaan

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43 Instagram dalam pembelajaran matematika dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar dengan cara memanfaatkan Instagram untuk berbagi foto yang diberikan sebelum pembelajaran berlangsung untuk memacu motivasi dan yang mempengaruhi hasil belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) dengan menggunakan aplikasi Instagram dalam pembelajaran aljabar, siswa mengalami peningkatan motivasi belajar terlihat dari rata-rata yaitu 55% pada siklus I menjadi 85% pada siklus II. (2) Hasil belajar ranah kognitif mengalami peningkatan dari 20% pada siklus I menjadi 80% pada siklus II. (3) Siswa mengalami peningkatan hasil belajar afektif dari 81,33% pada siklus I menjadi 90,67% pada siklus II. Dapat disimpulkan bahwa penerapan media Instagram dapat meningkatkan motivasi siswa pada materi aljabar dan dapat meningkatlkan hasil belajar siswa pada materi aljabar. 2. Kusumawardani (2015) yang berjudul “Hubungan Akses Media Sosial dengan Minat Baca, Intensitas Menonton Televisi dan Perilaku Konsumsi Siswa Muda Di Paroki Boro”. Penelitian ini dilakukan untuk melihat apakah ada hubungan akses media sosial dengan minat baca anak muda di Paroki Boro, apakah ada hubungan akses media sosial dengan intensitas menonton televisi anak muda di Paroki Boro dan apakah ada hubungan akses media sosial dengan perilaku konsumsi anak muda di Paroki Boro. Dari hasil penelitian diperoleh data bahwa terdapat hubungan akses media sosial dengan minat baca OMK St. Theresia Lisieux Boro. Hasil menunjukkan bahwa : (1) terdapat hubungan yang sigbifikan positif antara akses media sosial dan minat

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44 baca anak muda di Paroki Boro (ρ = 0,032 < α = 0,05); (2) terdapat hubungan yang signifikan positif akses media sosial dan intensitas menonton televise muda di Paroki Boro (ρ = 0,003 < α = 0,05; dan (3) terdapat hubungan yang signifikan positif akses media sosial dan perilaku konsumsi anak muda di Paroki Boro (ρ = 0,000 < α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara akses media sosial dengan minat baca semakin meningkat. Penelitian tersebut memiliki ruang lingkup dan sasaran yang hampir sama yaitu penggunaan media sosial dalam proses pembelajaran yang mampu digunakan guna meningkatkan hasil belajar siswa. D. Kerangka Pikir Belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Nana Sudjana (1989 : 39) mengutip dari Clark mengatakan bahwa hasil belajar siswa di sekolah 70% dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30% dipengaruhi oleh lingkungan. Kendati demikian lingkungan tetap saja masih menjadi faktor yang penting yang mempengaruhi keberhasilan belajar siswa. Supaya kegiatan pembelajaran dapat berjalan secara efektif dan efisien serta tujuan pendidikan tercapai, perlu adanya instrumen belajar. Salah satu bentuk dari instumen belajar adalah alat atau media belajar. Media pembelajaran dapat digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi dalam proses belajar

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 mengajar. Ega Rima Wati (2016:8) mengatakan bahwa penggunaan media pembelajaran dapat membangkitkan minat peserta didik mengikuti proses pembelajaran secara fokus. Media pembelajaran tidak hanya sekedar menjadi fasilitas saja tetapi juga menjadi sarana interaksi dan komunikasi guru dan siswa dalam proses belajar mengajar. Media pembelajaran juga dapat memberikan rangsangan dalam kegiatan belajar peserta didik. Dengan data menarik dan terpercaya yang disajikan melalui media pembelajaran, maka materi pembelajaran tersebut dapat membantu peserta didik meningkatkan pemahamannya yang dapat dilihat dari hasil atau prestasi belajar mereka. Pemanfaatan media dalam pembelajaran dapat memperjelas penyajian pesan, informasi dan dapat memperluas dan meningkatkan proses dan hasil belajar. Maka penting untuk memanfaatkan dan mengolah media dalam proses pembelajaran. E. Hipotesis Berdasarkan kerangka berpikir di atas, dapat dirumuskan hipotesis : H1 : Ada pengaruh penggunaan jejaring sosial Instagram dalam pembelajaran terhadap prestasi belajar PAK siswa kelas XI SMK Negeri 6 Yogyakarta. H0 : Tidak ada pengaruh penggunaan jejaring social dalam pembelajaran Instagram terhadap prestasi belajar PAK siswa kelas XI SMK Negeri 6 Yogyakarta.

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN Dalam bab ini penulis menguraikan metodologi penelitian yang digunakan dalam memperoleh data pengaruh penggunaan jejaring sosial Instagram terhadap prestasi belajar dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik kelas XI SMK Negeri 6 Yogyakarta yang meliputi desain penelitian, jenis penelitian, tempat dan waktu penelitian, populasi dan sampel, teknik dan instrumen pengumpulan data, teknik pengembangan instrumen dan teknik analisis data. A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang menggunakan kuantifikasi angka mulai dari pengumpulan data, pengolahan data yang diperoleh, sampai pada penyajian data. Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimen. Menurut (Nana Sudjana dan Ibrahim, 1989 : 19), metode eksperimen dapat mengungkap hubungan antara dua variabel atau lebih atau mencari pengaruh suatu variabel terhadap variabel lainnya. Dengan kata lain, eksperimen mempunyai sifat prediktif. Melalui metode penelitian seperti inilah peneliti dapat memperoleh data yang meyakinkan mengenai efek dari suatu variabel pada variabel lain. Dengan demikian, dalam eksperimen ada dua variabel yang menjadi perhatian utama, yakni variabel bebas dan variabel terikat.

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47 B. Desain Penelitian Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah praeksperimen. Desain ini belum merupakan eksperimen sungguh-sungguh karena masih terdapat variabel luar yang ikut berpengaruh terhadap terbentuknya variabel dependen, (Sugiyono, 2012 : 109). Desain pra-eksperimen yang dipilih dalam penelitian ini adalah One-Group Pretest-Posttest Design. Pada desain ini terdapat pretest, sebelum diberi perlakuan. Dengan demikian hasil perlakuan dapat diketahui lebih akurat, karena dapat membandingkan dengan keadaan sebelum diberi perlakuan, (Sugiyono, 2012:110). Desain ini dapat digambarkan sebagai berikut : Desain pra-eksperimen One-Group Pretest-Posttest Design melibatkan suatu kelompok yang diberi treatment/perlakuan dan selanjutnya diobservasi hasilnya. Treatment adalah sebagai variabel independen, dan hasil adalah sebagai variabel dependen. O1 X O2 Keterangan: O1 = Nilai Pretest (sebelum diberi perlakuan) O2 = Nilai Posttest ( setelah diberi perlakuan) Pengaruh perlakuan terhadap prestasi belajar siswa = (O1- O2)

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 C. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan di SMK Negeri 6 Yogyakarta yang terletak di Jl. Kenari No. 4 Yogyakarta 2. Waktu Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2018 D. Populasi dan Sampel Penelitian 1. Populasi Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2012: 117). Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah siswa Katolik kelas XI di SMK N 6 Yogyakarta tahun ajaran 2018/2019 sejumlah 26 orang siswa 2. Sampel Menurut Sugiyono (2012:118) sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu.

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49 3. Teknik Sampling Sugiyono (2012 : 118) menyampaikan bahwa teknik sampling merupakan teknik pengambilan sampel. Untuk menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian, terdapat berbagai teknik sampling yang digunakan. Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik sampling jenuh. Sugiyono (2012 : 124) mengartikan bahwa sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang, atau penelitian yang ingin membuat generalisasi dengan kesalahan yang sangat kecil. Istilah lain sampel jenuh adalah sensus, dimana semua anggota populasi dijadikan sampel. Maka dalam penelitian ini sampel yang digunakan sama dengan jumlah populasi yakni berjumlah 26 orang siswa. E. Subjek dan Objek Penelitian Subjek Penelitian ini adalah siswa Katolik kelas XI SMK Negeri 6 Yogyakarta yang terdiri dari jurusan Usaha Perjalanan Wisata, Kecantikan, Tata Busana, Administrasi Perkantoran, dan Kuliner tahun ajaran 2018/2019 dengan jumlah 26 orang siswa. Sedangkan objek penelitian ini adalah penggunaan aplikasi Instagram guna meningkatkan prestasi belajar siswa dalam Pelajaran Agama Katolik. Berikut adalah tabel jumlah siswa berdasarkan tiap jurusan yang ada :

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50 Tabel 3.1 Jumlah responden penelitian No Kelas Jumlah Siswa 1 XI Usaha Perjalanan Wisata 3 2 XI Kecantikan 3 3 XI Tata Busana 4 4 XI Administrasi Perkantoran 6 5 XI Kuliner 10 TOTAL 26 Siswa F. Teknik dan Instrumen Pengumpulan data 1. Variabel Penelitian Menurut Sugiyono (2012 : 60), variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas (independen) adalah variabel perlakuan yang akan dinilai efeknya dan mempengaruhi variabel terikat. Pada penelitian ini yang menjadi variabel bebas adalah jejaring sosial Instagram, yang dinyatakan dalam X. Variabel terikat (dependen) merupakan variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas. Pada penelitian ini yang menjadi variabel terikat adalah prestasi belajar PAK, yang dinyatakan dalam Y.

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 a. Definisi Konseptual Definisi konseptual merupakan batasan terhadap masalah-masalah variabel yang dijadikan pedoman dalam penelitian sehingga akan memudahkan dalam mengoperasionalkannya di lapangan. Maka akan ditentukan beberapa definisi konseptual yang berhubungan dengan yang akan diteliti yakni : 1) Jejaring sosial Instagram Instagram merupakan sebuah aplikasi berbasis online yang memungkinkan penggunanya dapat saling berkomunikasi dan berbagi informasi satu dengan yang lain. Cara mengakses media sosial Instagram dilakukan dengan terlebih dahulu menginstal aplikasi tersebut kemudian pengguna bisa melakukan aktivitas seperti posting/berbagi foto, video dan pesan pribadi. 2) Prestasi belajar PAK Prestasi merupakan bukti usaha atau hasil belajar yang telah dicapai dalam suatu pembelajaran. Hasil dari usaha pembelajaran tersebut biasanya diukur secara langsung dengan menggunakan tes ataupun evaluasi, yang bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran. Hasil dari tes belajar biasanya diwujudnyatakan dalam bentuk angka maupun huruf.

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 52 b. Definisi Operasional Definisi operasional merupakan petunjuk tentang bagaimana suatu variabel diukur. Dengan melihat definisi operasional suatu penelitian, maka seorang peneliti akan dapat mengetahui suatu variabel yang akan diteliti. 1) Jejaring Sosial Instagram Jejaring sosial Instagram dalam penelitian ini digunakan sebagai media pembelajaran PAK. Pembelajaran dilakukan dengan cara menyajikan materi PAK melalui fitur yang sudah disediakan di Instagram. Materi PAK diambil dari buku paket sekolah kelas XI dari Kementrian Pendidikan dan kebudayaan tahun 2013, yang kemudian di upload oleh peneliti menggunakan akun Instagram pribadi yang sudah dimiliki. Materi disajikan dalam bentuk foto powerpoint dan juga video singkat. Materi yang diberikan dalam penelitian ini yakni Hierarki dalam Gereja Katolik. Dalam pembelajaran ini siswa dapat saling memberi tanggapan melalui kolom komentar, dan tidak akan terganggu dengan akun lain yang tidak berkepentingan karena materi hanya dibagikan untuk grup kelas yang akan diteliti, yakni siswa Katolik kelas XI. Berikut adalah bentuk pembelajaran PAK dengan menggunakan Instagram :

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 Gambar 3.1

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 Gambar di atas merupakan beberapa contoh materi yang telah diupload melalui Instagram

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 Gambar 3.2 Gambar di atas merupakan grup teman yang beranggotakan siswa Katolik kelas XI yang berjumlah 26 siswa 2) Prestasi belajar PAK Prestasi belajar dalam Pendidikan Agama Katolik merupakan hasil belajar yang telah dicapai dalam mata pelajaran PAK di sekolah berdasarkan kompetensi dasar yang telah dibuat. Aspek yang dinilai yakni mencakup nilai sikap spiritual sosial, yang berisi pertanyaan berupa skala sikap mengenai penghayatan dan perilaku sopan santun terhadap fungsi dan peranan Hierarki Gereja. Nilai pengetahuan, berisi soal pertanyaan essay untuk memahami fungsi dan peranan

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 Hierarki Gereja Katolik, dan nilai keterampilan berisi tugas untuk melakukan aktivitas membuat refleksi berkaitan dengan peranan Hierarki Gereja Katolik. Penilaian dilakukan berdasarkan kriteria yang sudah ditentukan. Dalam penelitian ini prestasi belajar PAK merupakan hasil dari tes yang diberikan oleh siswa setelah pembelajaran PAK melalui aplikasi Instagram. Penelitian ini dilakukan guna mengukur seberapa berpengaruhnya penggunaan Instagram terhadap prestasi belajar dalam pelajaran PAK. Adapun kompetensi dasar yang ingin dicapai dalam materi ini yakni : Tabel 3.2 KISI-KISI KOMPETENSI KOMPETENSI BUTIR INTI DASAR SOAL ASPEK PENILAIAN 1 SIKAP SPIRITUAL Menghayati dan Menghayati fungsi 1-5 mengamalkan ajaran dan peranan hierarki agama yang dalam Gereja dianutnya 2 SIKAP SOSIAL Mengembangkan perilaku Berperilaku (jujur, pada disiplin, peranan tanggungjawab, Gereja peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta fungsi santun dan hierarki 1-5

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 damai, responsif dan pro-aktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. 3 PENGETAHUAN Memahami, menerapkan, Memahami fungsi dan dan peranan menjelaskan dalam Gereja Katolik pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif dalam ilmu pengetahuan, hierarki 1-4

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan, kemanusiaan kebangsaan, kenegaraan, peradaban dan terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik dengan sesuai bakat minatnya dan untuk memecahkan masalah. 4 KETERAMPILAN Mengolah, menalar, Bersaksi dan menyaji dalam fungsi tentang dan ranah konkret dan Hierarki ranah abstrak terkait melakukan peranan dengan aktivitas 1

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 59 dengan (misalnya menuliskan pengembangan dari refleksi/doa/puisi/ yang dipelajarinya di membuat rangkuman) sekolah mandiri, secara tentang fungsi dan bertindak peranan Hierarki serta secara efektif dan kaum awam dalam kreatif, serta mampu Gereja Katolik menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan. G. Teknik Pengumpulan Data 1. Kuisioner/Penyebaran angket Dalam penelitian ini jenis data yang dikumpulkan adalah data primer yang bersifat kuantitatif. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari peserta berupa jawaban terhadap pertanyaan dalam kuisioner/angket. Penyebaran angket angket merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawabnya, (Sugiyono 2012: 199). Penyebaran angket dilakukan dengan cara memberikan angket yang berisi pertanyaan setelah diadakannya pembelajaran PAK di kelas sesuai dengan materi yang telah ditentukan. Setelah angket selesai diisi oleh responden, kemudian angket dikembalikan lagi kepada peneliti.

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 2. Tes Tertulis Menurut Nana Sudjana (2016:35) tes adalah pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kepada siswa untuk mendapat jawaban dari siswa dalam bentuk lisan (tes lisan), dalam bentuk tulisan (tes tulisan), atau dalam bentuk perbuatan (tes tindakan). Tes digunakan untuk menilai dan mengukur hasil belajar siswa. Dalam penelitian ini perlakuan dilakukan dengan menggunakan instrumen berupa tes pretest, yaitu tes yang dilakukan sebelum adanya perlakuan. Sedangkan tes posttest adalah tes yang dilaksanakan sesudah adanya perlakuan/treatment. Dalam penelitian ini perlakuan yang dipakai adalah penggunaan jejaring sosial Instagram sebagai media pembelajaran Pendidikan Agama Katolik. H. Instrumen Penelitian Sugiyono (2012 : 148) menyampaikan bahwa instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati. Instrumen yang valid berarti instrumen tersebut dapat mengukur apa yang hendak diukur. Instrumen yang digunakan dalam penelitian eksperimen ini berupa tes pretest - posttest yang berisi butir-butir pertanyaan. Instrumen penelitian ini dimaksudkan untuk mengukur prestasi belajar belajar PAK. Nana Sudjana dan Ibrahim (1989 : 261) mengatakan bahwa dalam menilai hasil belajar, khususnya di bidang kognitif, alat penilaian yang paling banyak digunakan adalah tes tertulis. Dalam penilitian ini tes tertulis yang digunakan adalah soal-soal dalam bentuk uraian (essay). Adapun skala penilaian yang dibuat adalah:

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 a. Penilaian Sikap Spiritual (Melalui Penilaian diri) : Instrumen : Petunjuk : Nilailah dirimu sendiri: seberapa sering dirimu menyadari hal-hal berikut dalam kehidupanmu sehari-hari. 4= selalu 3= sering 2= kadang-kadang 1= tidak pernah Nilai Spiritual Nomor Pernyataan 1 1. Saya bangga menjadi bagian dari Gereja Katolik Saya bersyukur karena Tuhan menganugerahkan 2. pemimpin dalam Gereja Katolik Saya merasa bersyukur dan gembira karena para 3. pemimpin Gereja mampu membuat saya semakin kuat akan iman saya kepada Tuhan Saya bersyukur dapat semakin dekat dengan 4. Tuhan melalui perantara/kehadiran para pemimpin Gereja 5. Saya bersyukur karena saya dapat menemukan 2 3 4

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 Tuhan melalui doa-doa yang diajarkan oleh para pemimpin Gereja b. Sikap Sosial (Melalui relasi antar pribadi) : Instrumen: 4= selalu 3= sering 2= kadang-kadang 1= tidak pernah Nilai Nomor Pernyataan 1 2 1. 2. 3. Saya menghormati dan taat terhadap Hierarki yang telah ditetapkan dalam Gereja Katolik Saya mendukung fungsi maupun peran dari struktur hierarki dalam Gereja Katolik Saya bergaul dengan baik dengan para pemimpin Gereja di Paroki saya tinggal Saya turut bekerjasama dengan para pemimpin 4. Gereja dengan ambil bagian dalam tugas-tugas Gereja 5. Saya selalu siap melaksanakan tugas Gereja jika ditunjuk secara mendadak 3 4

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 Nilai : 10 = Kurang 11-20 = Cukup 21-30 = Baik 31-40 = c. Sangat Baik Penilaian Kompetensi Pengetahuan 1) Pendidik menilai kompetensi pengetahuan melalui tes tulis, tes lisan, dan penugasan. 2) Instrumen tes tulis berupa soal pilihan ganda, isian, jawaban singkat, benarsalah, menjodohkan, dan uraian. Instrumen uraian dilengkapi pedoman penskoran. 3) Instrumen tes lisan berupa daftar pertanyaan. 4) Instrumen penugasan berupa pekerjaan rumah dan/atau projek yang dikerjakan secara individu atau kelompok sesuai dengan karakteristik tugas. Tehnik : Tes tertulis Bentuk Instrumen : Pertanyaan Kisi-kisi : No Indikator 1. Menjelaskan pemahaman tentang Hirarki dalam Score 10 Gereja Katolik. 2. Merumuskan makna teks Yoh 21 : 15 – 19 berkaitan dengan Hirarki dalam Gereja 15

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 64 3. Menyebutkan pengertian, susunan, dan fungsi/peranan hira 15 dan pemuka agama dalam Gereja Katolik 4. Menjelaskan tanggungjawab umat beriman (kaum 10 awam) terhadap kaum hierarki dan pemuka agama Katolik. Total score : jumlah score x 4 2 d. Keterampilan 1) Tehnik : Membuat Karya Tertulis 2) Bentuk Instrumen` : Menyusun Refleksi 3) Kisi-kisi No Sikap/ nilai Butir Instrumen Menyusun refleksi untuk para pemimpin Gereja, 1 1. semoga mereka setia dalam panggilannya sebagai gembala umat.

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 65 Format penilaian Keterampilan : No. Unsur yang dinilai Score 1. Struktur jelas: ada fakta, kesan, 20 2. Refleksi sesuai dengan tema yang diberikan 10 3. Isi mengungkapkan refleksi untuk para pemimpin Gereja agar mereka setia dalam panggilannya 50 sebagai gembala umat 4. Bahasa, kata tepat, jelas dan bisa difahami Score total I. Teknik Analisis Data 1. Deskripsi (Frekuentif dan Statistik) 20 100 Deskripti penelitian ini menggunakan deskripsi frekuentif dan statistik. Deskripsi statistik digunakan untuk mendeskripsikan variabel penelitian yang diperoleh melalui hasil-hasil pengukuran (Nana Sudjana dan Ibrahim, 1989 :126). Deskripsi frekuensi merupakan statistik deskripsi yang menggambarkan data dalam bentuk kuantitatif yang tidak menyertakan pengambilan keputusan melalui hipotesis. Deskripsi frekuensi digunakan untuk mengetahui frekuensi setiap variabel data dan mengetahui distribusi respon dari setiap responden.

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 66 2. Uji Hipotesis Uji hipotesis penelitian ini menggunakan uji t. Uji t yang digunakan adalah Paired-sample t-Test yakni prosedur yang digunakan untuk membandingkan ratarata dari dua kumpulan data yang ada dimana kumpulan data tersebut berasal dari satu kelompok obyek/responden yang sama. Artinya analisis ini berguna untuk melakukan pengujian terhadap satu sampel yang mendapatkan suatu treatment yang kemudian akan dibandingkan rata-rata dari sampel tersebut antara sebelum dan sesudah treatment. Apabila suatu perlakuan tidak memberi pengaruh maka perbedaan rata-rata adalah nol. Dalam penelitian ini akan diteliti apakah ada pengaruh hasil dari penggunaan jejaring sosial Instagram dalam pembelajaran PAK sebelum dan sesudah menggunakan Instagram. Dari hasil tersebut dapat dilihat apakah penggunaan tersebut juga dapat meningkatkan prestasi belajar dalam PAK. Dalam pengujian hipotesis, kriteria penolakan atau penerimaan H0 adalah berdasarkan kriteria sebagai berikut : Jika nilai P-Value (Sig.) < α (biasanya 5%), maka H0 diterima. Dan Jika nilai t-hitung > t-tabel, maka H0 ditolak Jika nilai t-hitung < t-tabel maka H0 diterima Berdasarkan kriteria di atas akan diambil kesimpulan suatu data H0 diterima ataupun ditolak dengan α 0,05

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab ini berisi mengenai beberapa hal yang berkaitan dengan hasil penelitian beserta pembahasannya yang meliputi deskripsi hasil penelitian, pengujian hipotesis dan pembahasan hasil . Hasil analisis untuk instrumen yang telah dibuat dan diisi oleh responden guna penelitian “Pengaruh Penggunaan Jejaring sosial instagram dalam pembelajaran terhadap prestasi belajar Pendidikan Agama Katolik”, diperoleh berdasarkan hasil pengolahan data dalam program SPSS versi 16.0 for windows. Instrumen yang terisi secara lengkap sebagai data sebanyak 26 buah dari jumlah yang dibagikan kepada responden yakni 26 siswa. A. Deskripsi Hasil Penelitian Penelitian ini termasuk penelitian pra eksperimen. Data penelitian terdiri dari tes awal dan tes akhir tentang materi yang sudah ditentukan yakni “Hierarki Gereja Katolik”. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 19 November 2018, dan pemberian perlakuan dilaksanakan pada hari Rabu 9 Desember 2018. Dalam penelitian ini, peneliti memperoleh data dari hasil pretest dan posttest yang dilakukan pada kelas yang sama atau kelompok yang sama. Pretest merupakan tes kemampuan yang diberikan kepada siswa sebelum diberi perlakuan, sedangkan posttest dilakukan setelah siswa mendapatkan perlakuan. Kedua test ini berfungsi untuk mengukur hasil atau pestasi siswa sebelum dan sesudah diberi perlakuan/ treatment.

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 68 1. Analisis Deskripsi Tes Awal (Pretest) a. Deskripsi Frekuentif Pretest Analisis Frekuentif sangat berguna untuk memperoleh ringkasan suatu variabel individual. Deskripsi Frekuentif untuk data nominal memaparkan ringkasan tendensi sentral, disperse dan distribusi suatu variabel data skala. Distribusi frekuensi skor pretest dapat dilihat dari tabel berikut : Tabel 4.1 Deskripsi Frekuensi Pre-test pembelajaran PAK tanpa menggunakan instagram Frekuensi No Rentang Skor Kategori Skor N % 1. 73-100 SANGAT BAIK 1 4% 2. 65-72 BAIK 4 15 % 3. 57-64 CUKUP 7 27 % 4. 49-56 KURANG 7 27 % 5. 41-48 SANGAT 7 27 % KURANG Total 26 100 % Berdasarkan tabel distribusi frekuensi pretest dia atas dapat digambarkan dalam histogram frekuensi sebagai berikut :

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 69 Diagram Batang 4.2 Histogram Frekuensi Pre-test pembelajaran PAK tanpa menggunakan instagram 8 7 6 5 4 3 2 1 0 SANGAT BAIK BAIK CUKUP KURANG SANGAT KURANG Berdasarkan tabel serta histogram yang disajikan di atas, diketahui bahwa dari 26 siswa sebagai sampel penelitian, 1 siswa dengan presentase 4% memperoleh nilai atau prestasi pada mata pelajaran PAK di SMK Negeri 6 Yogyakarta berada pada kategori sangat baik; 4 siswa dengan presentase 15 % mendapatkan nilai baik; 7 siswa dengan persentase 27% mendapatkan nilai cukup; 7 siswa dengan persentase 27% mendapatkan nilai kurang , serta 7 siswa dengan persentase 27% mendapatkan nilai sangat kurang. Mayoritas siswa dengan persentase tertinggi (27%+27%+27%=81%) mendapatkan nilai cukup, kurang dan sangat kurang. Dengan demikian dilihat dari reratanya dapat dinyatakan bahwa pembelajaran PAK pada tes awal (pretest) tanpa menggunakan instagram di SMK Negeri 6 Yogyakarta berada pada kategori kurang .

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 70 b. Deskripsi Statistik Pretest Statistik deskriptif pada dasarnya memaparkan secara numerik ukuran tendensi sentral, dispersi dan distribusi suatu data. Tendensi sentral mengukur pemusatan data. Beberapa ukuran umum tendensi sentral yang digunakan diantaranya rata-rata (mean), yakni nilai rata-rata terukur suatu data, nilai tengah (median), yakni nilai tengah data setelah data tersebut diurutkan dari kecil ke besar; serta modus yakni nilai yang sering muncul dari suatu data. Berikut tabel statistik nilai pretest yang didapatkan dalam analisis data tes awal : Tabel 4.3 Deskripsi Statistik Pre-test pembelajaran PAK tanpa menggunakan instagram Statistics Pretest N Valid Missing 26 1 Mean 55.81 Median 53.50 Mode 68 Minimum 41 Maximum 76 Percentiles 25 48.00 50 53.50 75 63.50

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 Tabel Statistik di atas memaparkan nilai-nilai statistik yang telah dipilih; yakni N, merupakan jumlah data pengamatan siswa berjumlah 26 yang semuanya bernilai valid. Rata-rata nilai pretest yakni 55.81,nilai tengah data 53.50 dan nilai yang sering muncul yakni 68. Nilai minimum dari pretest yakni 41 dan maksimum 76. Dalam tabel ini juga dipaparkan mengenai persentil yakni ukuran yang digunakan dalam statistik yang menunjukkan nilai di bawah ini yang mana persentase tertentu dari pengamatan dalam kelompok pengamatan jatuh. Tabel di atas menunjukkan dimana persentil 25 ada pada tingkat nilai 25% siswa di bawah 48, sedangkan persentil 75 tingkat nilai 75% siswa di bawah 63.5, sementara 50% data terletak antara persentil 25%-75%. Oleh karena itu 50% tingkat nilai atau prestasi terlentak pada rentang 48-63,50. 2. Deskripsi Data Tes Akhir (Posttest) a. Deskripsi Frekuentif Posttest Analisis Frekuentif sangat berguna untuk memperoleh ringkasan suatu variabel individual. Deskripsi Frekuentif untuk data nominal memaparkan ringkasan tendensi sentral, disperse dan distribusi suatu variabel data skala. Distribusi frekuensi skor posttest dapat dilihat dari table berikut :

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 Tabel 4.4 Deskripsi Frekuensi Posttest pembelajaran PAK tanpa menggunakan instagram Frekuensi No Rentang Skor Kategori Skor N % 1. 73-100 SANGAT BAIK 3 11 % 2. 65-72 BAIK 8 31 % 3. 57-64 CUKUP 2 8% 4. 49-56 KURANG 8 31% 5. 41-48 SANGAT 5 19% KURANG Total 26 100 % Berdasarkan table distribusi frekuensi posttest di atas dapat digambarkan dalam histogram frekuensi sebagai berikut :

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 73 Tabel 4.5 Histogram Frekuensi Posttest pembelajaran PAK tanpa menggunakan Instagram 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 SANGAT BAIK BAIK CUKUP KURANG SANGAT KURANG Berdasarkan tabel serta histogram yang disajikan di atas, diketahui bahwa dari 26 siswa sebagai sampel penelitian, 3 siswa dengan presentase 11% memperoleh nilai atau prestasi pada mata pelajaran PAK di SMK Negeri 6 Yogyakarta berada pada kategori sangat baik; 8 siswa dengan presentase 31 % mendapatkan nilai baik; 2 siswa dengan persentase 8% mendapatkan nilai cukup; 8 siswa dengan persentase 31% mendapatkan nilai kurang baik, serta 5 siswa dengan persentase 19% mendapatkan nilai sangat kurang. Mayoritas siswa dengan persentase tertinggi (31%+31%= 62%) mendapatkan nilai baik dan kurang. Dengan demikian dilihat dari reratanya dapat dinyatakan bahwa pembelajaran PAK pada tes akhir (posttest) dengan menggunakan instagram di SMK Negeri 6 Yogyakarta berada pada kategori cukup.

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 74 b. Deskripsi Statistik Posttest Statistik deskriptif pada dasarnya memaparkan secara numerik ukuran tendensi sentral, dispersi dan distribusi suatu data. Tendensi sentral mengukur pemusatan data. Beberapa ukuran umum tendensi sentral yang digunakan diantaranya rata-rata (mean), yakni nilai rata-rata terukur suatu data, nilai tengah (median), yakni nilai tengah data setelah data tersebut diurutkan dari kecil ke besar; serta modus yakni nilai yang sering muncul dari suatu data. Berikut tabel statistik nilai posttest yang didapatkan dalam analisis data tes awal : Tabel 4.6 Deskripsi Statistik Posttest pembelajaran PAK dengan menggunakan instagram Statistics posttest N Valid Missing 26 1 Mean 63.81 Median 62.50 Mode 56 Minimum 46 Maximum 80 Percentiles 25 54.75 50 62.50 75 75.00

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 75 Tabel Statistik di atas memaparkan nilai-nilai statistik yang telah dipilih; yakni N, merupakan jumlah data pengamatan siswa berjumlah 26 yang semuanya bernilai valid. Rata-rata nilai posttest yakni 63.81, nilai tengah data 62.50 dan nilai yang sering muncul yakni 56. Nilai minimum dari posttest yakni 46 dan maksimum 80. Dalam tabel ini juga dipaparkan mengenai persentil yakni ukuran yang digunakan dalam statistik yang menunjukkan nilai di bawah ini yang mana persentase tertentu dari pengamatan dalam kelompok pengamatan jatuh. Tabel di atas menunjukkan dimana persentil 25 ada pada tingkat nilai 25% siswa di bawah 54.75, sedangkan persentil 75 tingkat nilai 75% siswa di bawah 75, sementara 50% data terletak antara persentil 25%-75%. Oleh karena itu 50% tingkat nilai atau prestasi terlentak pada rentang 54.75-75. B. Analisis Hasil Penelitian Pengujian prasyarat analisis dilakukan sebelum melakukan analisis data. Prasyarat yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji normalitas dan uji hipotesis. Hasil uji prasyaratan analisis disajikan sebagai berikut: 1. Uji Normalitas Uji normalitas dilakukan untuk menguji apakah semua variabel berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas menggunakan rumus KolmogorovSmirnov dalam perhitungan menggunakan program SPSS 16.00. Untuk mengetahui normal tidaknya adalah jika sig > 0,05 maka normal dan jika sig <

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 76 0,05 dapat dikatakan tidak normal. Hasil perhitungan yang diperoleh sebagai berikut: Tabel 4.7 Uji Normalitas Tests of Normality Kolmogorov-Smirnova Statistic df Shapiro-Wilk Sig. Statistic df Sig. pretest .118 26 .200* .959 26 .365 posttest .192 26 .015 .897 26 .013 a. Lilliefors Significance Correction *. This is a lower bound of the true significance. Ringkasan Uji Normalitas No kelompok sig . 1. Pre-test 0.200 2. Post-test 0.015 Kesimpulan Normal Tidak Normal Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa data pre-test dan post-test hasil belajar memiliki nilai sig > 0,05, maka dapat disimpulkan kelompok data pretes berdistribusi normal sementara kelompok data posttest tidak berdistribusi normal. 2. Uji Hipotesis Dikarenakan data tidak semuanya berdistribusi normal maka uji hipotesis tidak dapat menggunakan uji t, untuk itu uji yang digunakan yakni uji Mann Whitney. Uji Mann Whitney atau uji dua sampel yang tidak berpasangan merupakan salah satu bagian dari statistik non parametrik. Uji Mann Whitney menjadi alternatif ketika data tidak normal dalam uji independent sample t test.

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 77 Uji Mann Whitney dilakukan untuk mengetahui perbedaan dua sampel yang tidak berhubungan atau berpasangan satu sama lainnya. Dasar pengambilan keputusan dalam Uji Mann Whitney : 1. Jika nilai Asymp.Sig.(2-tailed) < 0,05, maka terdapat pengaruh penggunaan Instagram dalam pembelajaran terhadap prestasi belajar PAK. 2. Jika nilai Asymp.Sig.(2-tailed) > 0,05, maka tidak terdapat pengaruh penggunaan Instagram dalam pembelajaran terhadap prestasi belajar PAK. Berikut hasil yang diperoleh dari uji Mann Whitney: Tabel 4.8 Uji Mann Whitney Test Statisticsa Pretest Mann-Whitney U 199.500 Wilcoxon W 550.500 Z Asymp. Sig. (2-tailed) -2.537 .011 a. Grouping Variable: posttest Dari hasil output diketahui nilai Asymp.Sig.sebesar 0,011 ( 0,011 : 2 = 0,005) karena nilai Asymp.Sig.0,005 < 0,05, maka sesuai dengan dasar pengambilan keputusan dalam Uji Mann Whitney dapat disimpulkan bahwa H1 diterima. Penerimaan terhadap H1 mengandung pengertian bahwa terdapat perbedaan yang signifikan prestasi belajar PAK antara pretest dan posttest.

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 78 Artinya terdapat pengaruh penggunaan Instagram dalam pembelajaran terhadap prestasi belajar PAK siswa kelas XI SMK Negeri 6 Yogyakarta. C. Pembahasan Hasil Penelitian 1. Pembelajaran PAK siswa kelas XI SMK Negeri 6 Yogyakarta data awal (pretest) dan data akhir (posttest). Penelitian ini merupakan penelitain pra eksperimen dimana terdapat dua kali penelitian yakni pada tes awal (pretest) dengan tes akhir (posttest). Yang dimaksud dengan test pretest yakni tes yang dilakukan sebelum adanya perlakuan dengan menggunakan Instagram sebagai media pembelajaran. Pada hasil analisis deskriptif tes awal (lih tabel 4.3) diperoleh bahwa nilai hasil belajar siswa berdasarkan rata-ratanya adalah sebesar 55.81 dengan jumlah 26 siswa. Nilai median atau nilai tengah data sebesar 53.50. Nilai minimum dari pretest yakni 41 dan maksimum 76. Sementara pada tes akhir atau setelah adanya perlakuan dengan menggunakan Instagram sebagai media pembelajaran diperoleh rata-rata nilai posttest yakni 63.81, nilai tengah data 62.50. Nilai minimum dari pretest yakni 46 dan maksimum 80. Berdasarkan analisis deskriptif tersebut nampak bahwa nilai posttest setelah diberi perlakuan mengalami peningkatan. Pada uji Analisis frekuentif disajikan tabel serta histogram yang mengukur tingkat penilaian hasil belajar siswa yang dikelompokkan berdasarkan suatu kriteria dan presentase. Kriteria penilaian yakni sangat baik, baik, cukup, kurang dan sangat kurang. Pada analisis frekuensi pretest didapat hasil dari 26 siswa

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 79 yakni, 1 siswa dengan presentase 4% memperoleh kategori sangat baik; 4 siswa dengan presentase 15 % mendapatkan nilai baik; 7 siswa dengan persentase 27% mendapatkan nilai cukup; 7 siswa dengan persentase 27% mendapatkan nilai kurang , serta 7 siswa dengan persentase 27% mendapatkan nilai sangat kurang. Sehingga mayoritas siswa dengan persentase tertinggi yakni (27%+27%+27%= 81%) mendapatkan nilai cukup, kurang dan sangat kurang. Dengan demikian dilihat dari reratanya yakni 55,81, dapat dinyatakan bahwa pembelajaran PAK pada tes awal (pretest) tanpa menggunakan Instagram di SMK Negeri 6 Yogyakarta berada pada kategori kurang. Sedangkan pada analisis frekuensi posttest diperoleh 3 siswa dengan presentase 11% berada pada kategori sangat baik; 8 siswa dengan presentase 31 % mendapatkan nilai baik ; 2 siswa dengan persentase 8% mendapatkan nilai cukup; 8 siswa dengan persentase 31% mendapatkan nilai kurang baik, serta 5 siswa dengan persentase 19% mendapatkan nilai sangat kurang. Pada analisis ini mayoritas siswa dengan persentase tertinggi yakni (31%+31% = 62%) mendapatkan nilai baik dan kurang. Dengan demikian jika dilihat dari reratanya (83,81) dan kriteria nilai yang ditetapkan dapat dinyatakan bahwa pembelajaran PAK pada tes akhir (posttest) dengan menggunakan Instagram di SMK Negeri 6 Yogyakarta berada pada kategori cukup. Jadi melalui analisis frekuensi ini dapat dilihat bahwa nilai meningkat setelah menggunakan Instagram, itu artinya nilai posttest lebih tinggi daripada nilai pretest. Namun kedua hasil dari rata-rata pretest dan posttest belum mencapai nilai KKM yakni sebesar 73.

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 80 Dalam pengujian normalitas dengan Kolmogorov-Smirnov diperoleh data pretest 0,200 yang berarti data berdistribusi normal, sednagkan data posttest sebesar 0,015 yang artinya data tidak berdistribusi normal. Karena tidak semua data berdistribusi normal, maka hipotesis yang digunakan yakni uji Mann Whitney. Melalui uji Mann Whitney diperoleh bahwa nilai Asymp.Sig sebesar 0,005. Karena Asymp.Sig.0,005 < 0,05, maka sesuai dengan dasar pengambilan keputusan dalam Uji Mann Whitney dapat disimpulkan bahwa H1 diterima. Penerimaan terhadap H1 mengandung pengertian bahwa terdapat pengaruh penggunaan Instagram terhadap prestasi belajar PAK, yakni antara pretest dan posttest. D. Refleksi Kateketis Saat ini perkembangan zaman semakin mengalami kemajuan yang pesat salah satunya dalam bidang teknologi dan komunikasi. Banyak alat-alat berteknologi canggih dan selalu up to date yang menawarkan berbagai kemudahan-kemudahan dalam melakukan berbagai aktivitas. Tak hanya itu berbagai sarana teknologi tersebut juga dirancang sedemikian rupa sehingga semakin menarik konsumennya, ditambah lagi sarana tersebut dapat digunakan dengan mudah, nyaman, dan tentunya harga yang terjangkau. Salah satu teknologi dan komunikasi yang saat ini masih sering digunakan ada jejaring sosial. Ada banyak sekali berbagai jenis jejaring sosial, yang menawarkan berbagai fitur-fitur yang menarik yang dirancang dan dikembangkan

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 81 secara terus-menerus. Salah satunya yakni jejaring sosial yang masih banyak digunakan saat ini adalah Instagram. Instagram merupakan sarana untuk berkomunikasi dan mencari informasi. Di kalangan masyarakat saat ini instagram sudah menjadi salah satu kebutuhan mereka entah hanya sekedar untuk hiburan maupun juga bisnis online. Namun sebenarnya lebih dari itu Instagram dapat dimanfaatkan sebagai sarana belajar mengajar. Tentu dalam penggunaanya Instagram tidak selalu memiliki dampak yang positif saja, ada atau bahkan banyak dampak negatifnya juga, tergantung bagaimana setiap orang menggunakannya secara benar dan bertanggungjawab. Fitur-fitur yang disediakan oleh Instagram dapat dimanfaatkan sebagai media belajar peserta didik, dan kali ini penulis melakukan penelitian pra eksperimen dengan mencoba memanfaatkan Instagram sebagai media pembelajaran PAK untuk siswa kelas XI SMK N 6 Yogyakarta. Penulis mencoba melakukan penelitian ini sebab penulis merasa jejaring sosial seperti Instagram masih kurang dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran di sekolah-sekolah. Padahal pemanfaatan jejaring sosial sebagai pembelajaran yang diolah secara menarik tentu juga dapat memacu minat dan semangat belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran. Maka dari itu penulis merasa tertarik untuk mempelajari dan melakukan uji coba sederhana dengan membuat pembelajaran Agama Katolik menggunakan Instagram, dengan maksud untuk mengetahui perbedaan hasil antara yang menggunakan Instagram sebagai pembelajaran dengan yang tidak menggunakan. Penulis melakukan dua kali penelitian dengan

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 82 responden yang sama dengan jumlah 26 responden. Dari hasil penelitian yang telah terlaksana pada tes awal yakni tanpa menggunakan Instagram para siswa mendapatkan nilai yang beragam, tapi secara umum masih termasuk kriteria yang kurang baik sementara dari tes akhir dengan menggunakan Instagram rata-rata hasil belajar siswa menjadi naik dan berada pada kriteria cukup. Ketika melakukan penelitian tanpa menggunakan media Instagram, penulis melaksanakan proses pembelajaran dengan menggunakan metode ceramah, tanya jawab dibantu sarana buku paket yang disediakan oleh sekolah. Siswa juga menggunakan buku paket siswa yang sudah disediakan sekolah. Dalam pelaksanaan pembelajaran ini siswa cenderung merasa bosan dan kurang semangat dalam mengikuti pembelajaran. Penelitian ini membahas mengenai materi pelajaran Agama Katolik kelas XI yakni Hierarki Gereja Katolik. Materi ini membahas mengenai paham tentang hierarki dalam Gereja Katolik, dasar biblis hierarki dalam Gereja, pengertian dasar dan susunan hierarki dalam Gereja Katolik serta corak kepemimpinan dalam Gereja Katolik. Sementara dalam proses belajar menggunakan Instagram siswa diajak untuk belajar mengenai materi yang sudah ditentukan dengan mengakses melalui akun Instagram yang mereka miliki. Siswa diajak untuk mengeksplor sendiri apa yang sudah mereka dapatkan melalui informasi yang telah mereka dapat melalui Instagram berkaitan dengan materi Hierarki Gereja Katolik, kemudian mereka dapat saling berdiskusi, berpendapat, dan berbagi informasi melalui Instagram.

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 83 Dari pelaksanaan dua kali penelitian ini didapatkan peningkatan hasil belajar antara pretest dan posttest, meskipun jika dilihat dari nilai yang diperoleh oleh siswa belum memenuhi kriteria ketuntasan yakni sebesar 73. Dari uji coba Mann Whitney diperoleh hasil bahwa penggunaan jejaring sosial Instagram memberi pengaruh bagi prestasi belajar siswa dengan nilai Asymp.Sig sebesar 0,005. Dari hasil nilai pretest maupun posstest yang didapat, rata-rata siswa mendapat nilai yang rendah dan hanya beberapa saja yang mendapat nilai yang baik. Hasil tersebut diperoleh tentu dipengaruhi juga oleh keterbatasanketerbatasan yang ada. Pada penelitian ini penulis menemukan salah satu keterbatasan yang dialami yakni waktu penelitian tidak berada pada waktu yang tepat karena situasi siswa saat itu berada pada saat-saat dimana akan melaksanakan ujian akhir sekolah sehinggga pembelajaran yang sudah di upload penulis di Instagram kurang direspon oleh siswa, hanya beberapa siswa saja yang proaktif dan memberi respon dengan memberi like namun tidak ada yang menanggapi atau mengomentari. Maka penelitian semacam ini baik jika diterapkan kembali untuk siswa tetapi juga harus memperhatikan hal-hal yang ikut mempengaruhi hasil belajar siswa nantinya, misalnya berkaitan dengan waktu penelitian. Dari segi pastoral penulis beranggapan bahwa internet dan media sosial seharusnya dapat digunakan sebagai pelayanan dengan cara berkomunikasi, berbagi ilmu demi perkembangan iman satu sama lain. Tidak hanya sekedar untuk

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 84 bersenang-senang saja, media sosial dapat digunakan sebagai sarana pembelajaran untuk menggantikan proses belajar mengajar di kelas. Dengan cara teresebut pelaksanaan pembelajaran Agama Katolik dengan media online dirasa cukup efektif mengingat masyarakat banyak yang mengakses berbagai jenis media sosial yang ada. Harapannya media pembelajaran dengan menggunakan jejaring sosial Instagram ini juga mampu membantu pelajaran iman (PAK) yang ditujukan untuk siswa menjadi lebih mudah diterima. Siswa bisa lebih mudah menyerap atau menangkap apa yang disampaikan melalui Instagram sehingga iman mereka dapat semakin berkembang melalui cara-cara yang mereka senangi yakni melalui Instagram. E. Keterbatasan Hasil Penelitian Dari hasil penelitian ini memberikan kesimpulan bahwa penggunaan Instagram dalam pembelajaran memberikan pengaruh terhadap prestasi belajar PAK siswa kelas XI SMK Negeri 6 Yogyakarta. Dari hasil penelitian ini juga ditemukan beberapa keterbatasan yang dialami ketika menjalankan penelitian. Berikut keterbatasan-keterbatasan dari hasil penelitian ini : 1. Keterbatasan mengenai waktu penelitian yang kurang tepat dengan situasi siswa yang akan diteliti. 2. Keterbatasan dalam mencari sumber referensi atau buku-buku yang mendukung guna penyusunan penelitian.

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 85 3. Keterbatasan penulis yang kurang teliti dalam mengolah maupun menyusun hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan penelitian. 4. Keterbatasan penulis dalam memotivasi siswa agar mau secara proaktif menanggapi soal penelitian.

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Pada bagian ini penulis memaparkan kesimpulan dan saran berkaitan dengan skripsi dengan judul “Pengaruh penggunaan Jejaring Sosial Instagram dalam pembelajaran terhadap prestasi belajar Pendidikan Agama Katolik siswa kelas XI SMK Negeri 6 Yogyakarta”. Bagian kesimpulan berkaitan dengan rangkuman dari hasil penelitian dan pembahasan sebagai jawaban dari permasalahan yang ada. Selanjutnya bagian saran akan dibahas mengenai usulan yang berkaitan dengan penggunaan jejaring sosial Instagram dalam pembelajaran PAK. A. Kesimpulan Dari hasil penilitian yang diperoleh dan didukung dengan kajian pustaka, penulis dapat menyimpulkan beberapa hal berikut : 1. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata dari hasil tes awal (pretest) sebelum pembelajaran dengan menggunakan Instagram sebesar 55,81. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata masih berada pada kriteria kurang baik. 2. Hasil penelitian posttest menunjukkan nilai rata-rata dari tes akhir setelah adanya pembelajaran dengan menggunakan Instagram, yakni sebesar 63,81. Artinya mean atau nilai rata-rata kelas naik dari tes sebelumnya (prettest), yakni sebesar 8.

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 87 3. Dari hasil pengujian hipotesis dengan Uji Mann Whitney diperoleh Asymp.Sig sebesar 0.005 artinya bahwa Asymp.Sig.0,005 < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa ada pengaruh penggunaan Instagram dalam pembelajaran terhadap prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran PAK siswa kelas XI SMK Negeri 6 Yogyakarta. B. Saran Berdasarkan kesimpulan di atas, penulis memberikan beberapa saran yang diharapkan dapat berguna bagi sekolah di SMK Negeri 6 Yogyakarta, bagi guru dan juga mahasiswa-mahasiswi PAK-USD terutama dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa. 1. Bagi pihak Sekolah dan Guru SMK Negeri 6 Yogyakarta a. Melihat bahwa penggunaan jejaring sosial instagram dalam pembelajaran memiliki pengaruh dalam meningkatkan prestasi belajar siswa, maka ada baiknya jika guru juga bisa mencoba memanfaatkan aplikasi ini sebagai media pembelajaran sebagai pengganti pembelajaran di kelas. b. Guru mampu mengembangkan kemampuan profesionalnya melalui pemanfaatan TIK yang ada saat ini dan mengolahnya sedemikian rupa sehingga menjadi menarik dan mampu meningkatkan motivasi maupun prestasi belajar siswa. c. Guru maupun pihak sekolah mampu mengarahkan agar siswa mampu menggunakan jejaring sosial untuk memposting hal-hal yang bermanfaat dan

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 88 positif sehingga satu sama lain dapat saling berbagi ilmu untuk menambah wawasan yang lebih luas. 2. Bagi mahasiswa-mahasiswi PAK-USD a. Mampu memanfaatkan maupun mengolah media yang ada terlebih media sosial sekreatif mungkin untuk hal yang positif dan sekaligus memanfaatkannya sebagai sarana berkatekese dengan cara yang lebih menarik sehingga mampu memperkembangan iman satu sama lain. b. Kampus perlu mengembangkan penggunaan media sosial sebagai sarana pembelajaran dan penyampaian informasi. c. Mahasiswa dapat menggunakan media sosial untuk membangun pertemanan baik antar teman maupun dengan dosen, sehingga dapat menjalin persaudaraan yang semakin erat satu dengan yang lain.

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Aunurrahman. (2012). Belajar dan pembelajaran. Bandung : Alfabeta Cecilia Paulina Sianipar. (2015). Pendidikan dan Media Sosial. Bernas, Selasa 6 Januari, hal 4 Dapiyanta. (2011). Evaluasi Pembelajaran Pendidikan Agama Katolik di Sekolah. Diktat mata kuliah Evaluasi pembelajaran, Program Studi PAK, Universitas Sanata Dharma. Douglas, Mack R. (1990). Menuju Puncak Prestasi. Yogyakarta : Kanisius Ega Rima Wati. (2016). Ragam Media Pembelajaran. Yogyakarta : Kata Pena Fadlilah. (2014). Implementasi Kurikulum 2013 dalam pembelajaran SD/MI, SMP/MTs & SMA/MA. Yogyakarta : Ar-Razz Media Fahmi, Abu Bakar.(2011).Mencerna Situs Jejaring Sosial. Jakarta : PT Elex Media Komputindo. Groome, Thomas H. (2010). Christian Religious Education (Daniel Stefanus Penerjemah). Jakarta: Gunung Mulia Hamalik, Oemar. (2009). Psikologi belajar dan mengajar. Bandung : Sinar Baru Algensindo Hadi, Sutrisno. (2004). Metodologi Research.Yogyakarta: Andi Offset Heryatno Wono Wulung, F.X. (2008). Pokok-pokok Pendidikan Agama Katolik di Sekolah. Yogyakarta : Universitas Sanata Dharma. Iswarahadi, Y.I. (2003). Beriman dengan Bermedia. Yogyakarta : Kanisius Konferensi Waligereja Indonesia.(1996). Iman Katolik : Buku Informasi dan Refrensi. Yogyakarta : Kanisius Nana Sudjana. (1989). Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru. _______.(1990). Penilaian hasil proses belajar mengajar. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya _______.(1989). Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung : Sinar Baru Nasrullah, Rulli. (2017). Media Sosial. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya Sadiman,Arief S.(dkk).(2009) Media Pendidikan. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Pendidikan Bandung: Alfabeta, cetakan ke 11 Supriadi, Didi. (2012). Komunikasi Pembelajaran. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya Offset Winkel, W.S. (1987). Psikologi Pengajaran. Jakarta : PT. Gramedia Yudhi Munadi. (2010). Media Pembelajaran : Sebuah Pendekatan Baru. Jakarta : Gaung Persada Press.

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 90 Internet : http://www.academia.edu/26712688/SEJARAH_PEMBELAJARAN_PENDIDIK AN_AGAMA_KATOLIK_SEJAK_KURIKULUM_1075_HINGGA_KURIKUL UM_2013.rtf diakses pada Rabu, 7 Mei 2018, pukul 10.24 WIB. https://www.nesabamedia.com/pengertian-instagram/ diakses pada Kamis, 8 Maret 2018, pukul 15.25 WIB. https://www.bitebrands.co/2015/01/sejarah-dan-perkembangan-mediasosial.html, diakses pada Kamis, 8 Maret 2018, pukul 15.25 WIB. https://dailysocial.id diakses pada Kamis, 8 Maret 2018, pukul 18.54 WIB. http://detik.in/uncategorized/kelebihan-dan-kekuranganinstagram/ diakses pada Kamis, 15Agustus 2018, pukul 20.04 WIB http://www.idjoel.com, diakses pada Senin, 6 November 2017, pukul 20.20 WIB https://tekno.kompas.com diakses pada Kamis, 8 Maret 2018, pukul 15.40 WIB https://vinsenpatn.wordpress.com/2012/12/03/pendidikan-agama-katolik/,diakses pada Kamis, 8 Maret 2018, pukul 17.30 WIB

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LAMPIRAN

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (1)

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ANALISIS SOAL NO NAMA SPIRITUAL 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 2S 26 SeUa Angie Aprilia Bherlian Calarina Ceiga Anisa Erlangga Febti Dina Fransiska Hendra Gladys Monic Pusoarani Dea Tika Altar Clara Amanda David Sekar lndra Bayu Devi Gema 1 2 3 4 5 I 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 1 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 4 3 4 4 2 4 4 3 3 I 2 4 4 3 4 4 4 4 4 3 2 4 3 4 2 4 4 4 4 4 3 4 4 3 3 I 3 3 4 3 4 4 4 3 4 2 2 4 3 4 3 4 4 3 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 3 4 2 2 4 4 4 4 3 4 3 4 4 3 4 4 3 3 I 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 2 3 3 4 2 3 4 4 4 3 3 4 4 4 3 I 4 4 3 2 4 2 PRE-TEST PEL [ SOSIAL NILA PENGETAHUAN NlLA AMP TOla 2 4 4 3 5 1 2 1 3 4 4 4 4 4 4 4 4 2 3 3 4 2 3 4 3 4 4 3 4 4 4 3 2 4 3 2 3 3 2 4 3 4 I 2 3 3 1 2 3 2 3 2 2 2 3 2 2 2 3 4 2 1 4 3 2 1 3 2 2 3 2 2 2 3 4 3 2 2 4 3 3 2 2 2 3 I 2 I 3 4 4 4 3 4 4 2 4 2 1 1 2 2 2 3 2 3 3 2 3 3 3 2 2 33 3 34 10 37 10 36 10 38 5 35 5 40 10 31 10 22 10 36 5 32 10 34 5 22 2 31 10 35 5 30 4 37 8 33 3 29 5 36 8 38 10 33 2 30 10 16 8 32 5 29 8 1 10 10 0 25 30 44 15 10 5 10 12 5 10 15 10 8 5 8 8 5 8 0 5 5 5 5 5 46 30 20 30 33 23 28 30 30 25 30 60 75 70 59 52 41 47 57 68 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 67 4 15 5 5 8 5 8 10 10 15 8 10 5 2 8 5 4 10 7 5 10 10 5 10 10 10 10 15 12 4 5 10 5 10 15 5 5 0 5 5 4 0 5 5 5 0 5 5 5 5 4 5 5 4 5 30 25 25 33 20 27 30 35 40 33 32 19 14 33 20 22 38 17 30 60 30 55 30 30 30 30 50 60 30 50 65 50 75 30 70 70 (2) 49 63 48 65 46 48 53 51 59 68 49 54 53 60 68 43 76 63 SPIRlTUAL 4 2 3 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 4 3 4 3 4 4 4 3 4 3 2 4 3 4 3 4 4 4 3 2 4 4 4 2 4 4 3 4 3 3 3 4 4 4 2 4 4 3 4 4 4 3 4 2 2 4 4 4 3 4 4 3 4 3 4 3 4 4 4 4 4 3 3 3 POST· TEST PEL [ SOSIAL NILAI PENGETAHUAl\INILA 5 I 2 3 4 5 4 4 4 4 4 3 4 2 2 4 4 4 4 3 4 3 4 3 4 4 3 3 3 3 3 4 4 3 4 3 4 4 4 4 2 2 3 4 2 3 3 4 3 4 2 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 2 3 3 4 2 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 4 2 3 2 3 4 3 4 2 I 2 2 3 I 2 4 3 2 3 4 3 4 4 3 2 2 3 3 3 4 3 4 2 I 2 4 2 1 3 3 3 3 3 2 I 3 3 3 4 3 4 4 2 2 4 3 1 2 3 4 3 3 2 3 4 3 4 3 33 34 36 33 40 35 40 31 22 31 36 36 22 31 36 33 34 32 32 34 39 35 37 30 4 4 4 4 3 3 3 4 38 3 4 3 4 3 3 3 34 1 2 3 4 10 10 8 8 5 8 8 15 10 15 10 5 5 5 5 10 8 5 8 5 10 8 10 4 8 8 15 5 10 10 10 15 10 8 10 10 5 0 5 8 8 15 15 5 10 5 10 15 10 8 10 10 ro 5 0 5 5 8 10 10 8 15 5 5 10 15 10 5 5 5 10 15 10 10 8 15 5 5 8 8 10 8 10 10 10 10 15 15 15 8 8 10 10 8 5 8 8 5 15 8 15 15 10 15 38 30 36 33 26 32 36 35 35 38 36 30 35 33 26 40 40 30 26 48 50 39 45 41 36 40 RAMPIL 1total 1 40 60 30 30 70 30 30 40 30 30 70 40 50 50 75 70 30 70 30 70 50 75 60 70 75 70 58 65 54 51 n 51 56 56 46 52 75 56 56 60 72 75 55 69 46 80 73 78 75 74 76 78

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) A. Identitas Satuan Pendidikan : SMK NEGERI 6 YOGYAKARTA Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Katolik Dan Budi Pekerti Kelas/semester : XI/ Gasal Materi Pokok : Hierarki dalam Gereja Katolik. Alokasi Waktu : 3 JP (1 x pertemuan) B. Kompetensi Inti : (KI-1) Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya; (KI-2) Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan proaktif) dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia (KI-3) Memahami dan menerapkan pengetahuan faktual, konseptual, prosedural dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah; (KI-4) Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan. C. Kompetensi Dasar 1. Menghayati fungsi dan peranan hierarki 2. Berperilaku santun pada fungsi dan peranan hierarki 3. Memahami fungsi dan peranan Hierarki 4. Bersaksi tentang fungsi dan peranan Hierarki D. Indikator Pencapaian 1. Menjelaskan pemahaman tentang Hirarki dalam Gereja Katolik 2. Merumuskan makna teks Yoh 21 : 15 – 19 berkaitan dengan Hirarki dalam Gereja. 3. Menguraikan pengertian, susunan, dan fungsi/peranan hirarki dan pemuka agama dalam Gereja Katolik. 4. Menjelaskan tanggungjawab umat beriman (kaum awam) terhadap kaum hirarki dan pemuka agama Katolik.

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 E. Tujuan Pembelajaran 1. Melalui pembelajaran dengan menggunakan Instagram peserta didik dapat berkomunikasi, melakukan diskusi maupun Tanya jawab, baik terhadap guru maupun antar teman kapan saja dan dimana saja, tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. 2. Melalui pembelajaran menggunakan Instagram peserta didik mampu berbagi informasi baik berupa gambar maupun video dengan cepat, sehingga memudahkan peserta didik dalam belajar. 3. Melalui pembelajaran dengan menggunakan Instagram peserta didik mampu mengeksplorasi atau mencari informasi berkaitan dengan materi pelajaran di Instagram dengan mudah dengan cara following akun-akun yang berkaitan dengan materi pembelajaran maupun mencari informasi yang dibutuhkan dengan fitur hastag. F. Model dan Metode Pembelajaran: 1. Model pembelajaran yang digunakan yakni model Saintifik 2. Metode pembelajaran dilakukan dalam dua cara yakni di dalam kelas (pembelajaran biasa tanpa media) dan luar kelas (belajar melalui jejaring sosial instagram) dapat juga diartikan sebagai metode flip classroom atau kelas terbalik. Flip classroom merupakan pembalikan pembelajaran tradisional, dimana yang biasa dilakukan di kelas dalam pmbelajaran tradisional menjadi dilaasanakan di rumah, demikianpun sebaliknya. Kegiatan di dalam Kelas :

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6  Informasi/materi  Tanya jawab  Diskusi kelompok  Penugasan/Tes secara tertulis sebelum dan sesudah penggunaan instagram Kegiatan di Luar Kelas :  Berbagi informasi yang berkaitan dengan materi dalam bentuk foto maupun video yang diakses melalui Instagram  Dialog, tanya jawab maupun berdiskusi antar teman/guru secara online melalui Instagram.  Following maupun follback akun-akun yang berkaitan dengan materi.  Menonton video tentang hierarki Gereja Katolik melalui instagram.  Membuat atau mencatat pertanyaan atau poin penting yang berkaitan dengan materi. G. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran 1. Kegiatan Awal (dilakukan di kelas sebelum penggunaan instagram) Guru : a) Orientasi  Melakukan pembukaan dengan salam pembuka dan doa bersama serta mengajak peserta didik menyanyikan lagu Gereja Bagai Bahtera (PS.621)

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7  Memeriksa kehadiran peserta didik sebagai sikap disiplin b) Appersepsi:  Mengaitkan dilakukan materi/tema/kegiatan dengan pembelajaran pengalaman peserta yang didik akan dengan materi/tema/kegiatan sebelumnya.  Mengingat kembali materi prasyarat dengan bertanya.  Mengajukan pertanyaan yang ada keterkaitannya dengan pelajaran yang akan dilakukan. c) Motivasi :  Memberikan gambaran tentang manfaat mempelajari pelajaran yang akan dipelajari.  Menyampaikan tujuan pembelajaran pada pertemuan yang berlangsung d) Pemberian Acuan :  Memberikan informasi tentang KI, KD, dan Indikator pada pertemuan yang berlangsung  Menjelaskan mekanisme pelaksanaan pengalaman belajar sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran.

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8 1. Kegiatan Inti (dilakukan di dalam dan luar kelas) Dalam kegiatan inti, para peserta didik diminta melakukan beberapa kegiatan yakni : a) Mengamati : Di dalam Kelas :  Mengamati pemahaman tentang hierarki Gereja Katolik.  Mengamati gambar-gambar/ foto-foto para pemuka agama Katolik dalam buku paket sekolah. Di luar Kelas :  Mengamati/menonton pemahaman/materi tentang hierarki Gereja Katolik yang sudah diupload di instagram dalam bentuk foto-foto maupun video. Contoh gambar : GAMBAR STRUKTUR HIERARKI Bentuk Piramida HIERARKI AWAM Bentuk lingkaran PAGUYUBAN awam umat/ Umat hierarki b) Membaca : Di dalam kelas :  Peserta didik diminta membaca materi Hierarki Gereja Katolik melalui buku paket yang disediakan sekolah.

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9 Di Luar kelas :  Peserta didik dapat mencatat hal-hal maupun point-point penting dari video maupun gambar mengenai Hierarki Gereja Katolik yang sudah di upload oleh Guru melalui instagram. c) Menanya : Di dalam kelas : Guru menanyakan beberapa pertanyaan sehubungan dengan materi yang sudah dibahas, seperti:  Apa makna hierarki dalam Gereja Katolik?  Siapa saja yang termasuk dalam hierarki Gereja Katolik (susunan hierarki)?  Apa fungsi hierarki dalam Gereja Katolik?  Bagaimana corak kepemimpinan dalam Gereja? Di luar Kelas : Peserta didik dapat melakukan aktivitas seperti diskusi maupun tanya jawab secara online melalui Instagram berkaitan dengan materi yang sudah di upload dengan menuliskan pertanyaan dalam kolom komentar yang sudah disediakan dalam instagram.

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 d). Mengeksplorasi: Di dalam kelas :  Mencari informasi tentang Gereja Katolik yang ada di Indonesia dari sumber-sumber misalnya: pustaka/buku. Mencari ajaran Kitab Suci tentang hierarki Gereja (misalnya; Yoh 21:15-19 ).  Mendiskusikan bersama hal-hal penting mengenai Hierarki Gereja Katolik dalam ajaran KS (Yoh 21: 15-19).  Mencari ajaran Gereja tentang hierarki Gereja Katolik, (misalnya, LG. art. 18, 20,22,23,27, 29, 37. Berkaitan dengan makna hierarki, susunan hierarki, fungsi dan peranan hierarki serta corak kepemimpinan dalam Gereja Katolik. Di luar kelas :  Mencari informasi mengenai materi Hierarki Gereja Katolik yang ada di Instagram  Bertanya atau melakukan wawancara dengan para tokoh-tokoh Gereja mengenai Hierarki Gereja Katolik,  Mengupload hasil dari diskusi maupun hasil informasi materi yang didapat ke Instagram. e). Mengasosiasi: Di dalam kelas :  Menganalisis informasi tentang hierarki Gereja Katolik yang telah diperoleh dari berbagai sumber (internet,buku-buku, wawancara).

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11  Merumuskan ajaran Kitab Suci tentang hierarki Gereja. Di luar kelas :  Mencari informasi tentang hierarki Gereja Katolik yang telah diperoleh dari berbagai sumber yang ada di instagram, kemudian saling berbagi informasi yang didapat dengan menandai akun Instagram teman yang lain dengan fitur tag.  Menyimpulkan hasil diskusi tentang hierarki Gereja Katolik, dengan mengirimnya melalui Instagram. f). Mengkomunikasikan: Di dalam kelas :  Menuliskan refleksi tentang hierarki dalam Gereja Katolik.  Mengungkapkan niat untuk menghormati hierarki Gereja Katolik.  Mendoakan setiap hari bagi para pimpinan Gereja; Paus, Uskup Imam dan Diakon agar mereka setia menjalankan tugas panggilannya. Di luar kelas :  Membuat slide video atau foto/gambar sehubungan dengan Hierarki Gereja Katolik, lalu mengupload di Instagram. 2. Kegiatan Akhir / Penutup (dilakukan di kelas sebelum dan sesudah pembelajaran dengan menggunaan instagram)

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12  Tes/ evaluasi  Doa Penutup H. Bahan/Sumber Belajar • Pengalaman siswa dan guru • Hasil eksplorasi siswa di instagram • Kitab Suci; (Yoh 21: 15-19). • Gambar-gambar, foto-foto, para pemuka agama Katolik. • Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti kelas XI SMASMK/Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Jakarta , 2013. • Dokumen Konsili Vatikan II (LG art 18; 22; 23; 27; 29; 37 dan CD art 4-7). • Iman Katolik I. Media/alat pembelajaran 1. Aplikasi Instagram 2. Pengalaman hidup peserta 3. Kitab suci perjanjian baru 4. Laptop/ computer/smartphone J. Kriteria Penilaian 1.1 Sikap Spiritual a. Tehnik : Penilaian Diri b. Bentuk Instrumen : Lembar Penilaian Diri c. Kisi-kisi :

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 No Sikap/ nilai Butir Instrumen 1. Bangga terhadap para pemimpin Gereja 1 Syukur atas kehadiran para pemimpin 2. 2-5 Gereja Rentang nilai : 4= selalu 3= sering 2= kadang-kadang 1= tidak pernah 1.2 Sikap Sosial a. Tehnik : Observasi b. Bentuk Instrumen : lembar Observasi c. Kisi-kisi : No Sikap/ nilai Butir Instrumen 1. Hormat pada para pemimpin Gereja. 2. Mendukung fungsi dan peran 1 para 2 pemimpin Gereja 3. Bersosial dengan para pemimpin Gereja 4. Bekerja sama dengan para pemimpin 3 4-5 Gereja dalam tugas pelayanan 1.3. Pengetahuan (Tes Tertulis/lisan) Penilaian Kompetensi Pengetahuan a.  Pendidik menilai kompetensi pengetahuan melalui tes tertulis.  Instrumen tes tulis berupa daftar pertanyaan. Tehnik : Tertulis

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 b. Bentuk Instrumen : Pertanyaan c. Kisi-kisi : No Nomor Indikator Score Soal 1.Menjelaskan pemahaman tentang Hirarki 1 10 2 15 3 15 4 10 dalam Gereja Katolik. 2.Merumuskan makna teks Yoh 21 : 15 – 19 berkaitan dengan Hirarki dalam Gereja 3.Menguraikan pengertian, susunan, fungsi/peranan hirarki dan pemuka agama Gereja Katolik 4.Menjelaskan tanggungjawab umat beriman (kaum awam) terhadap kaum hierarki dan pemuka agama Katolik. Total score : jumlah score x 4 2 1.4 Keterampilan: a. Tehnik : Membuat Karya Refleksi b. Bentuk Instrumen` : Menyusun refleksi c. Kisi-kisi : No Sikap/ nilai Butir Instrumen Menyusun refleksi untuk para pemimpin 1. Gereja, dalam panggilannya sebagai gembala umat. 1

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 Format penilaian Keterampilan : No. Unsur yang dinilai Score 1. Struktur jelas: ada fakta, kesan, harapan/niat 30 2. Refleksi sesuai dengan tema yang diberikan 20 3. Isi mengungkapkan refleksi untuk para pemimpin Gereja agar mereka setia dalam 40 panggilannya sebagai gembala umat 4. Bahasa, kata tepat, jelas dan bisa difahami Score total 10 100 LAMPIRAN Materi Pembelajaran 1. Hierarki dalam Gereja Katolik a. Pengertian :  Hirarki berasal dari bahasa Yunani “hierarchy” yang berarti jabatan (hieros) suci (archos). Yang termasuk dalam hierarki adalah mereka yang mempunyai jabatan karena mendapat penyucian melalui tahbisan.  Secara umum hierarki diartikan sebagai tata susunan. Hieraki sebagai pejabat umat beriman kristiani dipanggil untuk menghadirkan Kristus yang tidak kelihatan sebagai tubuhNya, yaitu Gereja.

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 b. Struktur kepemimpinan (hirarki) dalam Gereja Secara struktural kepemimpinan dalam Gereja sekarang dapat diurutkan sebagai berikut:  Dewan Para Uskup dengan Paus sebagai Kepalanya. Dewan Para Uskup adalah pengganti Para Rasul. Yang menjadi pimpinan Gereja adalah Dewan Para Uskup. Sebagai lambang kolegial ini, tahbisan Uskup selalu dilakukan paling sedikit tiga uskup, sebab tahbisan Uskup berarti bahwa seorang anggota baru diterima ke dalam dewan Uskup.  Paus Paus adalah pengganti Petrus juga pemimpin para uskup. Paus adalah uskup Roma, dan sebagai Uskup Roma, ia adalah pengganti Petrus dengan tugas dan kuasa seperti Petrus. Tugas dan kuasa Petrus, menurut Perjanjian Baru, begitu istimewa (Mat 16:16-19; Yoh 21:15-19), Ia diakui sebagai pemimpin Gereja.  Uskup Tugas pokok uskup di tempatnya sendiri adalah pemersatu. Tugas ini dapat disebut tugas kepemimpinan dan para uskup dalam arti sesungguhnya disebut pembesar umat yang mereka bimbing. Tugas pemersatu ini selanjutnya dibagi menjadi tugas khusus menurut tiga bidang kehidupan gereja, yaitu pewartaan, perayaan, dan pelayanan, di mana dimungkinkan komunikasi iman dalam Gereja.  Pembantu Uskup: Imam dan Diakon

(127) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 Dalam mengemban tugas dan fungsinya, para uskup memerlukan “pembantu” dan rekan “kerja”, mereka adalah:  Para Imam: adalah wakil uskup . Tugas konkret para imam sama seperti uskup, yakni pertama-tama untuk mewartakan Injil dan menggembalakan umat.  Diakon: pelayan, hirarki tingkat yang lebih rendah. Mereka ini juga pembantu Uskup, tetapi tidak mewakili. Para diakon adalah pembantu Uskup dengan tugas terbatas, dengan kata lain diakon adalah pembantu khusus uskup, sedangkan imam adalah pembantu umum Uskup.  Kardinal : kardinal bukan jabatan hirarkis dan tidak termasuk struktur hirarkis. Kardinal adalah penasehat Paus dan membantu Paus dalam tugas reksa harian seluruh Gereja. Mereka membentuk suatu dewan Kardinal. Jumlah dewan yang berhak memilih Paus dibatasi 120 orang yang di bawah usia 80 tahun. Seorang Kardinal dipilih oleh Paus secara bebas. c. Fungsi Khusus Hierarki Berdasarkan keterangan yang telah diungkapkan di atas, fungsi khusus hirarki adalah:  Menjalankan tugas gerejani, yakni tugas-tugas yang langsung dan eksplisit menyangkut kehidupan beriman Gereja, seperti: pelayanan sakramen-sakramen, mengajar, dan sebagainya.

(128) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18  Menjalankan tugas kepemimpinan dalam komunikasi iman. Hirarki mempersatukan umat dalam iman dengan petunjuk, nasihat, dan teladan. d. Corak Kepemimpinan dalam Gereja  Kepemimpinan dalam Gereja merupakan suatu panggilan khusus di mana campur tangan Tuhan merupakan unsur yang dominan. Kepemimpinan Gereja tidak diangkat oleh manusia berdasarkan bakat, kecakapan, atau prestasi tertentu.  Kepemimpinan dalam Gereja bersifat mengabdi dan melayani dalam arti semurni-murninya. Kepemimpinan gerejani adalah kepemimpinan melayani, bukan untuk dilayani.  Kepemimpinan untuk menjadi yang terakhir, bukan yang pertama. Kepemimpinan dalam masyarakat diangkat untuk memerintah dalam arti sesungguhnya.  Kepemimpinan hirarki berasal dari Tuhan, maka tidak dapat dihapuskan oleh manusia.

(129) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 Yogyakarta, November 2018 Mengetahui, Dosen Pendamping Skripsi FX. Dapiyanta SFK, M.Pd Guru Mata Pelajaran Heronimus Galih Priambada,S.Pd Praktikan Anastasia Niken Ratih

(130) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 LAMPIRAN KUNCI JAWABAN SOAL SOAL URAIAN 1. Hierarki diartikan sebagai tata susunan. Yang termasuk dalam hierarki adalah mereka yang mempunyai jabatan karena mendapat penyucian melalui tahbisan. Hieraki sebagai pejabat umat beriman kristiani dipanggil untuk menghadirkan Kristus yang tidak kelihatan sebagai tubuh-Nya, yaitu Gereja. 2. Makna Teks Kitab Suci Yoh 21 :15 -19, berkaitan dengan hierarki yaitu bahwa Yesus telah memilih Petrus menjadi Gembala dan pemimpin kawanan-Nya, berdasarkan Kasih karunia Tuhan. Walaupun Petrus masih sering semaunya sendiri, tetapi ia dipilih Tuhan. Seorang pimpinan Gereja atau gembala dalam Gereja adalah ia yang sungguh mengasihi Yesus, mengandalkan Yesus dan bersedia menyediakan nyawanya untuk Yesus dan gembalanya. 3. Susunan/struktur Hierarki dalam Gereja Katolik beserta fungsi khususnya: a. Dewan Para Uskup dengan Paus sebagai kepalanya b. Paus c. Uskup

(131) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 d. Pembantu Uskup : Imam dan Diakon Fungsi khusus : a. Menjalankan tugas gerejani; yakni yang secara langsung dan eksplisit menyangkut kehidupan beriman Gereja, seperti : melayani sakramen-sakramen, mengajar agama, dsb. b. Menjalankan tugas kepemimpinan dalam komunikasi iman; hierarki mempersatukan umat dalam iman dengan petunjuk, nasihat, dan teladan 4. Tanggung jawab umat beriman (kaum awam) terhadap para pemimpin dalam Gereja Katolik Awam hendaknya turut berpartisipasi dalam tri tugas Gereja; a. Dalam tugas nabiah, pewartaan sabda. b. Dalam tugas imamiah, menguduskan. c. Dalam tugas Gerejani, memimpin dan melayani. d. Gereja adalah Umat Allah Tugas awam a. Kerasulan dalam tata dunia Berdasarkan panggilan khasnya (polisi, dokter, guru, dls) awam bertugas mencari Kerajaan Allah dengan

(132) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 mengusahakan hal-hal duniawi dan mengaturnya sesuai dengan kehendak Allah. Kaum awam melaksanakan pekerjaannya dengan sebaik mungkin. b. Kerasulan dalam Gereja Karena Gereja itu Umat Allah, maka Gereja harus sungguhsungguh menjadi Umat Allah. Kaum awam ambil bagian dalam tugas menggereja seperti menjadi ketua wilayah, memimpin ibadah, menjadi petugas perayaan Ekaristi, dls.

(133) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(134) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(135) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(136) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(137) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(138) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(139) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(140) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(141)

Dokumen baru

Download (140 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

PENGARUH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM KELUARGA TERHADAP PRESTASI BELAJAR PAI PADA SISWA SD NEGERI JETIS GUNUNGKIDUL
0
3
148
PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS INTERNET DAN KEMANDIRIAN BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS XI IPS SMA NEGERI 6 MEDAN TAHUN PEMBELAJARAN 2015/2016.
0
2
28
PENGARUH KOMPETENSI SOSIAL DAN KOMPETENSI KEPRIBADIAN GURU TERHADAP PRESTASI BELAJAR EKONOMI SISWA KELAS XI SMA NEGERI 6 MEDAN TAHUN PELAJARAN 2015/2016.
0
1
28
PENGARUH LINGKUNGAN BELAJAR DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR AKUNTANSI SISWA KELAS XI IPS SMA KATOLIK 1 KABANJAHE TAHUN PEMBELAJARAN 2016/2017.
0
2
24
PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN DAN MOTIVASI TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS X SMK PADA MATA PELAJARAN AKUNTANSI DI SMK NEGERI 6 MEDAN.
0
1
17
PENGARUH JEJARING SOSIAL FACEBOOK TERHADAP PRESTASI BELAJAR MAHASISWA.
0
1
21
PENGARUH MOTIVASI BERPRESTASI DAN KEMANDIRIAN BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR AKUNTANSI SISWA KELAS XI SMK NEGERI 6 SURAKARTA TAHUN AJARAN 2008/2009.
0
1
8
PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN DAN MINAT BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR SEJARAH SISWA KELAS XI MIA SMA NEGERI KEBAKKRAMAT TAHUN PELAJARAN 2014/2015.
0
0
17
CITRA DIRI DITINJAU DARI INTENSITAS PENGGUNAAN MEDIA JEJARING SOSIAL INSTAGRAM PADA SISWA KELAS XI SMA NEGERI 9 YOGYAKARTA.
13
44
177
MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS XI SMK NEGERI 7 YOGYAKARTA TERHADAP PELAJARAN KKPI.
0
0
133
EFEKTIVITAS PENGGUNAAN METODE PEMBELAJARAN SCL BERBASIS SITUS JEJARING SOSIAL GESCHOOL DALAM PEMBELAJARAN TIK UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS XI DI SMA NEGERI 1 DEPOK.
0
4
175
PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR MENGETIK MANUAL SISWA KELAS XI ADMINISTRASI PERKANTORAN DI SMK NEGERI 1 YOGYAKARTA.
0
0
144
PENGARUH PENGGUNAAN APLIKASI JEJARING SOSIAL TERHADAP KECERDASAN SOSIAL SISWA KELAS TINGGI SD NEGERI GEDONGKIWO YOGYAKARTA.
0
0
134
PENGARUH KEAKTIFAN SISWA DALAM JEJARING SOSIAL FACEBOOK TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA KOMPETENSI KEAHLIAN TEKNIK GAMBAR BANGUNAN KELAS XI DI SMK N 1 SEYEGAN.
0
0
93
PENGARUH KREATIVITAS GURU TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS X SMK NEGERI 6 PALU
0
0
6
Show more