Hubungan antara kepuasan seksual dengan fungsi seksual pada wanita - USD Repository

Gratis

0
0
154
2 weeks ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HUBUNGAN ANTARA KEPUASAN SEKSUAL DENGAN FUNGSI SEKSUAL PADA WANITA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Disusun oleh: Betsyeba Irene Augustina Roest Tahalele 139114143 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DR\HARMA YOGYAKARTA 2018

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MOTTO DAN PERSEMBAHAN “Every year on your birthday, you get a chance to start a new” – Mom “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” – 1 Korintus 10:13 “What doesn’t kill you makes you stronger” Kelly Clarkson – Stronger Dipersembahkan untuk: Tuhan Yesus Orangtuaku Keluarga Elisama Sahabat-sahabat Teman-teman Psikologi iv

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HUBUNGAN ANTARA KEPUASAN SEKSUAL DAN FUNGSI SEKSUAL PADA WANITA Betsyeba Irene Augustina Roest Tahalele ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kepuasan seksual dan disfungsi seksual pada wanita. Hipotesis pada penelitian ini adalah terdapat hubungan yang signifikan antara kepuasan seksual dan disfungsi seksual pada wanita. Subjek pada penelitian ini berjumlah 111 orang wanita berusia 17 hingga 40 tahun yang sudah pernah berhubungan seksual. Instrument penelitian ini menggunakan skala NSSS (New Sexual Satisfaction Scale ) dan skala FSFI (Female Sexual Function Index) yang diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia dan terdiri dari 20 item dan 19 item dengan reliabilitas koefesien Alpha Cronbach (α) masing-masing sebesar 0,975 dan 0,944. Teknik analisis data menggunakan uji beda Product Moment Pearson pada program SPSS for windows 23. Hasil analisis data diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,539 (p<0,05) yang artinya terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kepuasan seksual dan fungsi seksual pada wanita (r = 0,539: p = 0,000). Kata kunci: kepuasan seksual, fungsi seksual, disfungsi seksual, wanita vi

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI CORRELATION BETWEEN SEXUAL SATISFACTION AND SEXUAL FUNCTION AMONG WOMEN Betsyeba Irene Augustina Roest Tahalele ABSTRACT This research aimed to know the relation between sexual satisfaction and sexual dysfunction among women. The hypothesis in this research is there is a significant correlation between sexual satisfaction and sexual function in women. The participants of this research is 111 women aged 17 – 40 years old with sexual experiences and have ever did sexual intercourse. The instrument of this research was NSSS (New Sexual Satisfaction Scale) and FSFI (Female Sexual Function Index) which adapted to Bahasa Indonesia and consist of 20 items and 19 items with each coefficient Alpha Cronbach reliability (α) 0,975 and 0,944. The analysis technique used in this research is Product Moment Pearson for windows 23. The result showed a significant number as 0,539 (p<0,05) which means there are a significant correlation between sexual satisfaction and sexual function in women (r = 0,539: p = 0,000). Keywords: sexual satisfaction, sexual function, vii sexual dysfunction, women.

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji Syukur saya panjatkan untuk berkat yang luar biasa dan penyertaan serta tuntunan dari Tuhan Yesus Kristus sepanjang hidup saya. Berkat Dia, saya mampu menjalankan studi dan menyelesaikan semua yang menjadi tanggung jawab saya. Tanpa Tuhan, saya mungkin akan berakhir pada kata menyerah. Terima kasih karena telah menjawab segala doa dan harapanku. Terima kasih karena selalu menjawab doa-doaku dengan cara-Mu yang terbaik. Jadikanlah hasil karyaku ini berkenan bagi-Mu dan dapat menjadi berkat bagi semua orang yang membaca dan membutuhkannya, amin. Secara spesial, rasa terima kasih saya berikan sebesar-besarnya kepada keluarga saya. Kepada mama, papa, dan keluarga Elisama. Terutama untuk mama, terimakasih karena telah mendukung dan selalu ada tanpa lelah dan mengerahkan semua doa,saran, serta usaha yang terbaik demi kelancaran studi anak perempuanmu ini. I will still ask for the prays, please stay ‘till I make you proud. Ik hou van je, mam. Terimakasih karena tidak bosan-bosan memberi nasihat dan saran agar saya menjadi pribadi yang lebih baik. Terimakasih atas segala lelah dan peluhmu. Terima kasih untuk papa karena telah mendukungku dari jauh. Terimakasih atas doa dan saran yang selalu diberikan untuk jadi pertimbanganku. I owe you both. Kepada seluruh keluarga Elisama karena turut mendukung perjalanan studi saya hingga saat ini. Tanpa kalian semua saya hanya akan berkahir menjadi perempuan yang “biasa saja”. Saya tidak dapat membalas kebaikan kalian, but He will. Jesus bless you and I love you so much. ix

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Terima kasih sebanyak-banyaknya untuk Bapak C. Siswa Widyatmoko M.Psi., Psi. selaku dosen pembimbing. Terima kasih untuk segala bimbingan, masukan, saran, perdebatan, dan semua pengalaman yang diberikan kepada saya. Terima kasih karena bersedia menerima saya menjadi mahasiswa bimbingan Bapak dan bersedia menjadi tempat curahan hati saya sewaktu-waktu meskipun tidak ada hubungannya dengan skripsi/ perkuliahan. Tanpa bantuan bapak, saya mungkin tidak bisa merasakan bagaimana stress dan menyenangkannya penelitian di skripsi ini. Tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada Dosen Pembimbing Akademik saya, Bapak R. Landung Eko Prihatmoko, M.Psi., yang selalu memberikan arahan dan sarat di setiap pergantian semester. Terima kasih juga kepada Bapak Wahyudi yang telah bertugas menggantikan Dosen Pembimbing Akademik sebelumnya. Terima kasih kepada Riya, sahabat sejatiku yang tidak pernah lelah menyayangi dan “menamparku” di saat-saat yang paling dibutuhkan. You know me very well. Terimakasih sahabat “ikan”ku untuk semua waktu, doa, kritik, saran, dan semua perdebatan yang berujung peluk. Terima kasih karena sejauh ini menjadi orang terdekat kedua setelah ibuku bahkan menemaniku dalam berproses selama kuliah hingga pengerjaan skripsi bersama. We did fight, of course. But here we are. Sukses untuk semua yang jadi doamu. Terima kasih juga untuk Papi dan Mami riya yang bersedia menjadikan saya anak keduanya. Tuhan memberkati. Juga untuk Monic, meskipun tidak selalu bertemu tetapi aku selalu berdoa yang terbaik untukmu. Semoga apa yang menjadi doa dan harapanmu juga segera tercapai. x

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Terima kasih untuk Brandan, karena telah menemani dan menjaga selama beberapa tahun ini. Terima kasih untuk setiap tawa dan pertengkaran yang sudah dilalui. Terimakasih karena telah menjadi partner yang sudah menemani meski di tengah-tengah pertengkaran yang paling memusingkan kepala. Semoga semakin hari semua hal berjalan baik dan sesuai dengan harapan. Hallo Michael Sihite, Thomas, Vee, Mas Chandra sahabat-sahabat dunia besi yang sudah bersedia meluangkan waktu menemani dan mendengarkan semua keluh kesahku bahkan untuk umur pertemanan yang masih belia ini..terimakasih ya! Spesial untuk Mike si tukang tidurku, I hope you will always stay there. I owe you many things, love. Teruntuk sahabat-sahabatku yang lain, Yunita, Intan, dan Vania. Terima kasih karena meski tanpa komunikasi, kita masih saling mendukung. Selamat menggapai citacita meski jarak sungguh memusingkan jadwal pertemuan kita. Terima kasih untuk teman-teman lain yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu. Selamat menggapai mimpi hingga ke ujung dunia. Tuhan xi memberkati kita semua!

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ………………………………………………………..……...… i HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING…………….………..…….. ii HALAMAN PENGESAHAN……………………………………………………..… iii HALAMAN MOTTO……………………………………….………..……………… iv HALAMAN PERSEMBAHAN……………………………….……...…….…………iv HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA……………....………..………. v ABSTRAK………………………………………………….…….…...………..……. vi ABSTRACT…………………………………………………………..………………………… vii HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ILMIAH……………...……………… viii KATA PENGANTAR………………………………………….………………….…. ix DAFTAR ISI…………………………………………….....………………………… xii DAFTAR TABEL…………………………………………………………………… xvi DAFTAR LAMPIRAN………………………………….………………………….. xvii BAB I. PENDAHULUAN……………………………..……………………………… 1 A. Latar Belakang……………………….…….……………………….………. 1 B. Rumusan Masalah………….……….…………………………………….… 9 C. Tujuan Penelitian…………….………….……………………………….…. 9 D. Manfaat Penelitian ………………….…………………………………..….. 9 1. Manfaat Teoritis…………..………………………………………….…. 9 2. Manfaat Praktis…………..………………………………………….….. 9 BAB II. LANDASAN TEORI…………………...………..………………………….. 11 xii

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI A. Kepuasan Seksual………………………..……………………………….. 11 1. Definisi Kepuasan Seksual………………………………………….. 11 2. Aspek-aspek Kepuasan Seksual…………………………………….. 13 3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Seksual……….………16 4. Pengukuran Kepuasan Seksual……………………………....……… 21 B. Disfungsi Seksual………………………………….……………….……. 23 1. Definisi Disfungsi Seksual……………….……………………….…. 24 2. Aspek-aspek Disfungsi Seksual…………….…………………….…. 26 3. Faktor yang Mempengaruhi Disfungsi Seksual…………….…….…. 30 4. Dampak Disfungsi Seksual………………………………..………… 39 5. Bentuk-bentuk Gangguan Fungsi Seksual…………..………………. 42 6. Pengukuran Fungsi Seksual………………………….……………… 45 C. Dinamika Psikologis Hubungan Kepuasan Seksual dengan Disfungsi Seksual pada …………………………………………………………..….. 48 D. Hipotesis…...……………………………………………………………… 53 E. Kerangka Berpikir………...…………………….………………………… 54 BAB III. METODE PENELITIAN……………………...……………………………. 55 A. Jenis Penelitian…………………………….…………………….……… 55 B. Identifikasi Variabel Penelitian…………….…………………………… 55 C. Definisi Operasional……………………………………………………… 56 1. Kepuasan Seksual…………….……………………………..…….….. 56 2. Disfungsi Seksual…………….…………………………..…….…..… 56 xiii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI D. Subjek Penelitian…………………….…………………………………… 57 E. Prosedur Penelitian…………………….…………………………………. 58 F. Metode dan Alat Pengumpulan Data………….…………………….……. 60 1. Metode dan Alat Pengumpulan Data……………………………..…. 60 2. Alat Pengumpulan Data……………………………………….…….. 62 G. Validitas dan Reliabilitas……………………………………………..….. 63 1. Validitas………………………………………………………….….. 63 2. Reliabilitas……………………………………………………….….. 68 H. Metode Analisis Data……………………………………………….…… 70 1. Uji Asumsi…………………………………………………………….. 70 a. Uji Normalitas…………….…………………………………….. 71 b. Uji Linearitas…………………………………………………… 71 2. Uji Hipotesis………………..………………………………………… 72 BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN……...……………..……….. 73 A. Persiapan dan Pelaksanaan Penelitian…………………………………… 73 B. Deskripsi Subjek Penelitian………………….………...…………...…… 74 C. Deskripsi Data Penelitian…………………....……………………...…… 76 D. Hasil Penelitian……………………………..…..……………………….. 79 1. Uji Asumsi…………………………………………………………….. 79 a. Uji Normalitas…………………….…………………………….. 79 b. Uji Linearitas…………………………………………………… 81 2. Uji Hipotesis…………………..……………………………………… 82 xiv

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI E. Pembahasan……………………………………………………………… 83 F. Keterbatasan Penelitian……………….…………………………………. 90 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN……………………………………………… 92 A. Kesimpulan…………………………….………………………………….. 92 B. Saran………………………….…………………………………………… 93 1. Bagi Subjek Penelitian……………………………………………….. 93 2. Bagi Praktisi………………………………………………………….. 94 3. Bagi Penelitian Selanjutnya………………………………………….. 94 DAFTAR PUSTAKA……………………………….………………………………. 94 LAMPIRAN…………………………………………...……..……..……………… 111 xv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL+ DAFTAR GAMBAR Tabel 1.1…………………………………..…………………………………………… 2 Tabel 1.2…………….…….……………………………………………………………. 3 Tabel 1.3……………………..…………………………………………………………. 7 Tabel 2.1………………………………………………………………………………. 21 Tabel 2.2……………………….……………………………………………………… 46 Tabel 3.1………………………….…………………………………………………… 69 Tabel 3.2………………………….…………………………………………………… 70 Tabel 4.1…….………………………………………………………………………… 74 Tabel 4.2……….……………………………………………………………………… 76 Tabel 4.3…….………………………………………………………………………… 77 Tabel 4.4………………………..………………………...…………………………… 78 Tabel 4.5……………………..…………………………………………...…………… 78 Tabel 4.6……………………….……………………………………………………… 80 Tabel 4.7……………………….……………………………………………………… 80 Tabel 4.8…………………………….………………………………………………… 81 Tabel 4.9……………………………….……………………………………………… 82 xvi

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Uji Reliabilitas Item………………………………………………….. 118 Lampiran 2. Uji Normalitas……………………………………………………….. 122 Lampiran 3. Uji Linearitas…………………………………………………………. 123 Lampiran 4. Uji Korelasi Product Moment Pearson………………………………….. 124 Lampiran 5. Skala Kepuasan Seksual……………………………………………… 125 Lampiran 6. Skala Fungsi Seksual…………………………………………………. 127 Lampiran 7. Identitas Subjek………………………………………………………. 134 xvii

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Seks merupakan suatu kebutuhan sekaligus dorongan dasar yang dimiliki manusia sama seperti pada dasarnya manusia membutuhkan makan dan minum (Maslow dalam Feist & Feist, 2008). Hubungan seks yang positif mampu meningkatkan kesadaran seksual yang terbuka dan tanpa batas serta membuat individu memiliki kesadaran diri yang besar pada respon emosi dan seksual. Orang dengan hubungan seksual yang positif merasa bebas dalam menikmati kontak fisik, kegembiraan, dan hasrat seksual yang mereka alami (Firestone, Firestone, & Catlett, 2006). Telah diketahui pula hubungan seks tidak sekedar ditunjukkan untuk reproduksi melainkan juga untuk memenuhi kebutuhan fisiologis manusiadan jika terpenuhi manusia akan merasa senang (pleasure), puas, bahagia, nyaman, tentram, dan mengalirkan energi baru pada tubuh (Prawiroharjo, 2009). Rosen dan Bachman (2008)mengatakan bahwa individu yang aktif dan puas terhadap hubungan seksualnya menunjukkan kepuasan emosional, kepuasan relasi yang tinggi dan konsisten, kepuasan hidup, serta kesejahteraan psikologis. Hubungan seks dalam aktivitas seksual tidak hanya mengakibatkan efek kesenangan semata. Hubungan seks juga dapat menimbulkan rasa kekecewaan 1

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 atau ketidakpuasan. Hasil penelitian Renaud, Byers, dan Pan (1997) menunjukkan bahwa ketidakpuasan seksual atau kepuasan seksual yang rendah mengakibatkan kecemasan yang tinggi dan munculnya masalah perilaku seksual seperti kehilangan nafsu seksual, kehilangan kemampuan koitus, dan takut akan kehilangan rasa cinta pasangan yang dapat mengakibatkan pencarian cinta yang baru. Khususnya, di Indonesia, masalah ketidakpuasan seksual masyarakat menjadi hal yang patut disoroti dan diberi perhatian lebih. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Lauman dkk (2006) menyatakan bahwa Indonesia termasuk salah satu negara pada kelompok yang memiliki tingkat kepuasan terendah dibandingkan negara-negara yang lain. Oleh karena itu, kepuasan seksual di Indonesia menjadi sebuah pembahasan yang penting untuk dibicarakan. Hasil penelitian Lauman dkk (2006) ditunjukkan dalam tabel berikut: Tabel 1.1 Persentase Perbandingan Mean Kepuasan Seksual 3 Kelompok Negara Ditinjau dari 3 Aspek Kepuasan Kesenangan Fisik Kesenangan terhadap fungsi (Physical emosi (Emotional seksual Negara (Satisfaction with pleasure) pleasure) sexual function) Pria Wanita Pria Wanita Pria Wanita Kelompok 1* Kelompok 2** Kelompok 3*** 67,3% 59,9% 71,2% 62,8% 83,9% 77,6% 45,1% 36,3% 52,1% 40,9% 75,2% 60,3% 24,9% 19,8% 29,9% 23,3% 66,1% 50,0% *Australia, Austria, Belgium, Canada, France, Mexico, New Zealand, South Africa, Spain, Sweden, Germany, United Kingdom, USA **Algeria, Brazil, Egypt, Israel, Italy, Korea, Malaysia, Morocco, Philippines, Singapore, Turkey ***China, Indonesia, Japan, Taiwan, Thailand

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 Berdasarkan tabel di atas, Indonesia termasuk ke dalam bagian dari kelompok 3 selain Cina, Jepang, Taiwan, dan Thailand yang memiliki tingkat kepuasan seksual yang rendah. Pada tabel tersebut menunjukkan bahwa dari total 27.500 subjek pada pria dan wanita, persentase kesenangan fisik (24,9%; 19,8%), kesenangan emosi (29,9%; 23,3%) dan kepuasan terhadap fungsi seksual (66,1%; 50,0%) merupakan yang paling rendah dibandingkan dengan dua kelompok yang lainnya. Sedangkan, bila ditinjau lebih jauh hasil persentase perbandingan kepuasan seksual pada kelompok 3 dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 1.2 Persentase Perbandingan Kepuasan Seksual Kelompok 3 Ditinjau dari 3 Aspek Kepuasan Kesenangan terhadap fungsi Kesenangan emosi seksual Fisik (Physical (Emotional (Satisfaction Negara pleasure) pleasure) with sexual function) Pria Wanita Pria Wanita Pria Wanita Cina 25,2% 24,4% 36,0% 32,8% 68,7% 45,5% Indonesia 22,0% 24,7% 18,5% 19,9% 73,8% 61,0% Jepang 17,6% 9,8% 23,6% 15,5% 60,3% 39,7% Taiwan 21,5% 19,4% 28,7% 25,4% 60,0% 42,3% Thailand 38,1% 19,8% 42,6% 22,8% 67,6% 61,3% Berdasarkan tabel di atas, kesenangan emosi yang dirasakan pria dan wanita di Indonesia memiliki persentase terendah dibanding empat negara

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 lainnya yaitu masing-masing sebesar 18,5% dan 19,9%. Meskipun tidak berada pada tingkat paling rendah, tetapi Indonesia termasuk dalam 5 negara dengan tingkat kepuasan seksual terendah. Kepuasan seksual menurut Byers dan Demmon (1999) merupakan suatu bentuk kedekatan seksual yang dirasakan oleh sebuah pasangan dalam wilayah interpersonal yang intim, yaitu dalam kualitas komunikasi seksual, penyingkapan hubungan seksual dan keseimbangan hubungan seksual. Kepuasan seksual juga merupakan suatu bentuk perasaan pasangan atas kualitas hubungan seksual mereka yang berupa sentuhan fisik dan psikis (Byers da Demmon, 1999).Selain itu, Offman dan Matheson (2005) menyatakan bahwa kepuasan seksual adalah suatu bentuk respon afektif yang muncul dari penilaian seorang pria atau wanita mengenai relasi seksualnya, yang mencakup persepsi bahwa kebutuhan seksualnya telah terpenuhi serta keseluruhan penilaian positif terhadap suatu hubungan seksual.Kepuasan seksual merupakan suatu aspek yang penting dalam hubungan intim, bahkan menjadi faktor yang menentukan suatu hubungan akan berhasil atau gagal (Barrientos & Paez, 2006). Kepuasan seksual dapat diukur berdasarkan beberapa aspek. Stulhofer, Busko, dan Brouillard (2010) memaparkan 3 aspek yang dapat mengukur kepuasan seksual seseorang. Aspek pertama merupakan aspek individual yang terdiri dari sensasi seksual (sexual sensation) dan kesadaran seksual (sexual presence/awareness). Aspek kedua merupakan aspek interpersonal yang terdiri dari pertukaran/timbal balik seksual (sexual exchange) dan kedekatan emosional

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 (emotional closeness). Sedangkan aspek ketiga merupakan aspek behavioral yang terdiri dari aktivitas seksual (sexual activity). Selanjutnya, SanchezFuentez dkk (2014) menyatakan bahwa kepuasan seksual dapat dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal seperti faktor demografi (Hurlock, 2002), kepuasan relasi (New & Bentler, 1983 dalam Young, Denny, Luquis, & Young, 2000), dukungan sosial (Ojalatva dkk, 2005), relijiusitas (Sanchez-Fuentez dkk, 2013; Purcell, 1984), citra diri (Patricia Berthalow, Phyllis Kernoff Mansfield, Debra Thurau, & Molly Carey, 2005; Fooken, 1994; Sansone, 2001; Holt & Lyness, 2007), citra diri genital (Braun & Wilkinson, 2001; Braun, 2005; Fahs, 2014; Fudge & Byers, 2016), dan fungsi seksual (Smith dkk, 2012). Karena kepuasan seksual merupakan hal yang penting bagi pasangan (Byers & Demmon, 1999), membuat banyak individu khawatir dengan kualitas dari hubungan seksual yang dimiliki termasuk khawatir terhadap kepuasan seksual diri dan pasangannya. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tinggi rendahnya kepuasan seksual adalah kondisi kesehatan fisik dan mental yang disebut juga dengan fungsi seksual seseorang. Fungsi seksual menurut SanchezFuentez dkk (2014) secara positif memiliki hubungan dengan kepuasan seksual baik bagi pria maupun wanita. Fungsi seksual mencakup kondisi fisik dan mental, hasrat seksual, keterangsangan seksual, orgasme, rasa puas, perlendiran genital, dan rasa nyaman/ sakit yang dialami seseorang saat berhubungan seks (Rosen dkk, 2000). Menurut WHO (ICD-10) fungsi seksual merupakan bermacam-macam cara yang ditempuh oleh seseorang untuk berpartisipasi

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 dalam hubungan seksual yang mereka harapkan. Ketidakmampuan individu dalam memenuhi kondisi-kondisi tersebut disebut dengan disfungsi seksual. Disfungsi seksual merupakan hal-hal yang menyangkut masalah mental dan fisik yang dapat dilihat dari adanya masalah kesehatan reproduksi yang dapat terjadi pada individu dan didefinisikan sebagai gangguan fungsi seksual yang sering muncul dan persisten (Nicolosi dkk, 2004) Disfungsi seksual yang terjadi pada wanita berarti individu terhambat untuk merasakan hasrat/ dorongan seksual, keterangsangan seksual, sulit mencapai orgasme, serta merasa sakit pada saat berhubungan seks (Bason, Wierman, Lankveld, & Brotto, 2010). Wanita yang mengalami disfungsi seksual biasanya akan cenderung lebih sering mengalami gangguan psikologis berupa rendahnya hasrat seksual dan keterangsangan seksual serta mengalami kondisi yang tidak nyaman saat berhubungan seks dengan pasangannya (Basson dkk, 2003). Frank, Anderson, dan Kupfer (1976) menyatakan bahwa sebanyak 25 pasangan yang melakukan konseling dan terapi di Klinik dan Institusi Psikiatri Pittsburgh untuk menyelesaikan permasalahan seksual dan disfungsi seksual yang mereka alami. Nicolosi dkk (2005) mendukung nhasil tersebut dengan menyatakan bahwa sebanyak 20% hingga 30% individu dari total subjek sebanyak 6.700 subjek di beberapa negara di Asia seperti Cina, Taiwan, Korea Selatan, Jepang, Thailand, Singapore, Malaysia, dan Indonesia mengeluh mengalami disfungsi seksual seperti ejakulasi dini, gangguan ereksi pada pria,

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 wanita yang merasa tidak tertarik terhadap hubungan seksual, kesulitan dalam lubrikasi, dan kesulitan untuk mencapai orgasme. Menurut Smith dkk (2012) kurangnya hasrat seksual, ketidakmampuan dalam mencapai orgasme, dan pengalaman merasakan sakit saat berhubungan seks berkaitan dengan rendahnya kepuasan seksual. Dengan kata lain, wanita yang memiliki fungsi seksual yang baik mampu berpartisipasi secara baik dalam hubungan seksual dan mewujudkan harapannya untuk mencapai kepuasan seksual. Ketika seseorang mampu meningkatkan kualitas fungsi seksual yang dimiliki dan mampu mencapai kepuasan seksual, maka besar kemungkinan seseorang terhindar dari dampak ketidakpuasan seksual seperti meningkatnya kecemasan, kehilangan kemampuan koitus, kehilangan nafsu seksual (Renaud, Byers, & Pan, 1997). Menurut Geer dan Fuhr, 1976 (dalam Cuntim dan Nobre, 2011), dampak yang ditimbulkan oleh disfungsi seksual dapat berupa distraksi kognitif dan ketidakmampuan berimajinasi seksual. Distraksi kognitif berkaitan dengan atensi seseorang, yaitu semakin individu mengalami distraksi maka semakin rendah atensi yang diberikan saat beraktivitas seksual. Hal ini dapat dipengaruhi oleh tingkat orgasme dan keterangsangan seksual seseorang (Cuntim dan Nobre, 2011; Adams III, Haynes, dan Brayer, 1985). Selain itu, kemampuan berimajinasi seksual pada wanita yang mengalami disfungsi cenderung rendah (Wiegel, Scepkowski, dan Barlow, 2006 dalam Meston, Goldstein, Davis, dan Traish, 2005) dan mengakibatkan pada penurunan hasrat seksual. Bila dilihat

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8 lebih jauh, distraksi kognitif dan kemampuan berimajinasi merupakan hal penting dalam kepuasan seksual sebagai aspek kesadaran seksual. Kurangnya monitor diri saat melakukan hubungan seksual (Zilbergerld, 1992 dalam Stulhofer, 2010) atau tingginya tingkat distraksi (heiman, & LoPiccolo, 1998 dalam Stulhofer, 2010) akan membuat kesadaran seksual individu menurun dan akan berakibat pada kepuasan seksual individu tersebut. Broto dkk (2016) menyatakan bahwa disfungsi seksual dapat dikendalikan dengan memperhatikan beberapa faktor yang menjadi pengaruh bagi fungsi seksual. Contohnya, seseorang dapat meningkatkan kualitas keintiman emosional dan seksualnya dengan pasangan (Meston & Buss, 2007; Bois, Bergeron, Rosen, McDuff, & Gregoire, 2013), lebih fokus dan tidak mudah terdistraksi secara kognitif (Adams, Hayness, & Brayer, 1985; Elliot, O‘donohue, 1997; Meston, Goldstein, Davis, & Traish, 2005), serta pengurangan konsumsi obat atau substansi tertentu seperti alkohol dan nikotin (Covington dan Kohen, 1984; George & Stoner, 2000; Harte & Meston, 2008). Banyak penelitian yang telah membuktikan bahwa terdapat hubungan antara fungsi seksual dan kepuasan seksual. Seperti yang dinyatakan Hurlbert dkk (1993) bahwa hasrat seksual, keterangsangan seksual, dan orgasme memiliki hubungan dengan tingginya kepuasan seksual. Pada DSM-IV, kategori gangguan kepuasan seksual menjadi diagnosa tambahan dalam kaitannya dengan fungsi seksual (Dundon & Rellini, 2010). Lebih jelasnya, Smith dkk (2012) menyatakan bahwa rendahnya hasrat seksual, disfungsi ereksi, ejakulasi

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9 dini, ketidakmampuan mencapai orgasme, dan rasa tidak nyaman saat berhubungan seksual memiliki hubungan dengan rendahnya kepuasan seksual. Hal ini menunjukkan bahwa fungsi seksual memiliki peranan dalam mempengaruhi tinggi rendahnya kepuasan seksual pada seseorang. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dundon & Rellini pada tahun 2010 menyatakan bahwa kepuasan seksual berkorelasi secara positif dan signifikan dengan fungsi seksual. Hal tersebut ditunjukkan pada tabel berikut ini: Tabel 1.3 Perbandingan korelasi pearson r terhadap variabel kepuasan seksual Variabel Fungsi Puas terhadap Puas Puas terhadap Seksual kedekatan terhadap kehidupan emosional saat hubungan seksual secara berhubungan seksual menyeluruh seks Hasrat 0,428*** 0,545*** 0,686*** Keterangsangan 0,645*** 0,676*** 0,804*** Perlendiran 0,551*** 0,500*** 0,666*** Orgasme 0,514*** 0,492*** 0,636*** Pain 0,553*** 0,367*** 0,470*** ***) p<0,0001 Pada tabel di atas, hasil penelitian Dundon dan Rellini tahun 2010 menyatakan adanya korelasi yang antara kepuasan seksual secara menyeluruh dengan fungsi seksual baik yang dilihat dari segi hasrat seksual, keterangsangan seksual, lubrikasi/ perlendiran, orgasme, dan rasa sakit dengan nilai signifikansi masing-masing di atas 0,05. Tidak hanya itu, terdapat juga korelasi yang signifikan antara kedekatan emosional saat berhubungan seks dan kepuasan

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 terhadap hubungan seksual. Hal ini membuktikan bahwa kepuasan seksual dan fungsi seksual memiliki hubungan dan keterkaitan satu sama lain. Tetapi, sejauh ini penelitian tentang kepuasan seksual lebih sering dikaitkan hanya dengan salah satu bagian dari fungsi seksual. Penelitian Fahs (2011) dan Barrientoz & Paez (2006) hanya meneliti kepuasan seksual dengan aktivitas seksual yang ditinjau dari aspek orgasme saja. Kemudian, penelitian yang meninjau kepuasan seksual dan fungsi seksual secara keseluruhan masih sedikit dilakukan (Dundon & Rellini, 2010). Meskipun banyak penelitian yang memberi perhatian pada masalah disfungsi seksual dan permasalahan seksual yang lainnya, pengembangan penelitian tentang bagaimana meningkatkan kepuasan seksual masih sangat sedikit dilakukan (Cooper & Stoltenburg, 1987 dalam Byers & Demmon, 1999). Terlebih lagi, disfungsi seksual pada wanita sebagian besar diabaikan karena adanya kesulitan dalam mendefinisikan dan mengevaluasi melalui parameter yang objektif (Duncan & Bateman, 1993). Sejauh ini, penelitian tentang kepuasan seksual dan fungsi seksual lebih banyak dilakukan secara medis pada subjek-subjek yang menjadi pasien rumah sakit (Rosen, Taylor, Leiblum, & Bachman, 1993). Terlebih lagi, konsep kepuasan seksual secara umum sering tidak konsisten satu sama lain (Dundon & Rellini, 2010). Oleh karena beberapa penjelasan di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti kepuasan seksual pada wanita dengan latar belakang budaya Indonesia dan kaitannya dengan fungsi seksual.

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11 B. Rumusan Masalah Pertanyaan penelitian dalam penelitian ini adalah apakah terdapat hubungan antara kepuasan seksual dengan fungsi seksual pada wanita? C. Tujuan Penelitian Penelitian ini memiliki tujuan untuk menguji hubungan antara kepuasan seksual dengan fungsi seksual pada wanita. D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis Penelitian ini memberikan sumbangan informasi dan pengetahuan di bidang psikologi klinis khususnya psikologi seksual mengenai kepuasan seksual dan fungsi seksual. Melalui penelitian ini pula memberikan tambahan pemahaman mengenai hubungan kepuasan seksual dengan fungsi seksual khususnya pada wanita. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dan menambah pengetahuan bagi peneliti-peneliti selanjutnya yang ingin meneliti kepuasan seksual dan atau fungsi seksual dengan variabel-variabel lain.

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 2. Manfaat Praktis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi para wanita mengenai seksualitas yakni kaitannya dengan fungsi seksual dan kepuasan seksual. Selain itu, penelitian ini memberikan informasi tentang peran seksualitas dalam membuat kehidupan individu semakin bahagia sehingga diharapkan mampu meningkatkan kesadaran wanita terhadap fungsi seksualnya. Melalui penelitian ini juga diharapkan dapat menambah wawasan dan pengalaman peneliti dalam melaksanakan penelitian dan mengembangkan penelitian lanjutan.

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II LANDASAN TEORI A. Kepuasan seksual 1. Definisi kepuasan seksual Kepuasan seksual menurut Byers dan Demmon (1999) adalah suatu bentuk kedekatan seksual yang dirasakan oleh pasangan suami atau istri dalam wilayah interpersonal, yaitu dalam kualitas komunikasi seksual, penyingkapan hubungan seksual dan keseimbangan hubungan seksual serta merupakan suatu bentuk perasaan pasangan atas kualitas hubungan seksual mereka yang dapat berupa sentuhan fisik dan psikis. Opperman, Braun, Clarke, & Rogers(2013)dalam jurnalnya mengatakan bahwa kepuasan seksual merupakan serangkaian proses yang dilalui pasangan ketika melakukan hubungan seksual (senggama). Kepuasan seksual dapat dicapai ketika individu merasakan adanya kesenangan pribadi (pleasure) saat melakukan hubungan seksual. Adanya aktivitas seksual mengantarkan individu pada pencapaian orgasme sehingga kemudian individu merasakan adanya kesenangan. Ketika perasaan senang tersebut muncul, maka dapat dikatakan bahwa kepuasan seksual telah tercapai. Sedangkan menurut Putu (dalam Zulaikah, 2008) kepuasan seksual tidak hanya mengenai hubungan intim 13 antar pasangan, tetapi juga

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 meliputi kedekatan secara emosional, komunikasi atas keterbukaan akan seks, dan kualitas hubungan. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Walgito (2010) bahwa hubungan seksual tidak semata-mata diartikan dari aspek biologisnya saja. Hubungan seksual juga menyangkut aspek psikologis antara seorang pria dengan seorang wanita yang menyangkut berbagai macam bentuk perasaan hati yang dinyatakan dan dicurahkan pada saat berhubungan seksual (Walgito, 2010).Kepuasan seksual adalah perasaan senang atau puas yang dirasakan individu mengenai sensasi seksual, kesadaran secara seksual;, pertukaran seksual, kedekatan emosional dan aktivitas seksual (Stulhofer, Busko, & Brouillard, 2010). Walster, Walster, dan Bersheid (1978) menyatakan kepuasan seksual secara kognitif merupakan evaluasi dari hal-hal positif dan negatif dari sebuah relasi, dimana hal tersebut disesuaikan dengan apa yang diharapkan. Lebih rinci lagi, Lawrance dan Byers (1995) menyatakan kepuasan seksual merupakan suatu respon afektif yang menimbulkan evaluasi subjektif seseorang yang bersifat positif dan negatif berkaitan dengan hubungan seksual seseorang. Kepuasan seksual juga diartikan sebagai sebuah rasa nyaman atau puas terhadap kehidupan seksualnya. Perasaan tersebut secara personal berhubungan dengan pengalaman seksual, harapan-harapan dan aspirasi-aspirasi ke depan terkait dengan hubungan seksualnya (Davidson, 1995). Rosen dan Bachman, 2008 mengatakan bahwa wanita yang aktif dan puas terhadap hubungan seksualnya menunjukkan kepuasan emosional,

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 kepuasan relasi yang tinggi dan konsisten, kepuasan hidup, serta kesejahteraan psikologis. Menurut Offman dan Mattheson (2005) kepuasan seksual dibatasi sebagai respon afektif yang muncul dari evaluasi subjektif, baik positif maupun negatif terkait dengan hubungan seksual pada seseorang termasuk persepsi tentang kebutuhan seksual, pemenuhan kebutuhan diri sendiri, ekspektasi terhadap pasangan, serta evaluasi positif tentang hubungan seksual secara menyeluruh. Tetapi kepuasan seksual bersifat multidimensional yang meliputi pikiran, perasaan, dan faktor biologis yang menyebabkan konsep tentang kepuasan seksual pada setiap individu menjadi berbeda. Berdasarkan beberapa definisi dari para ahli, peneliti menyimpulkan bahwa kepuasan seksual adalah suatu bentuk respon afeksi yang muncul dari evaluasi subjektif individu dan di dalamnya terdapat pengalaman positif maupun negatif terkait dengan pikiran dan perasaan seseorang terhadap pasangannya dalam hal pemenuhan harapan dan kualitas hubungan seksual dengan pasangannya. 2. Aspek-aspek kepuasan seksual Stulhofer, Busko dan Brouillard (2011) memaparkan bahwa terdapat 3 aspek yang membentuk kepuasan. Aspek-aspek tersebut yaitu: a. Aspek Individual

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 1) Sensasi seksual (Sexual sensations) Sensasi seksual terkait dengan ranah seksual yang menyenangkan atau kesenangan seksual atau sexual pleasure. Sensasi seksual yang menyenangkan merupakan fondasi dari ‗trance‘ seksual dan juga merupakan motivasi utama dalam pengulangan kontak seksual (Hurbert, & Apt, 1994; Carpenter et al., 2009 dalam Stulhofer, 2010).Kesenangan akan membawa pada seks yang lebih dan seks yang lebih akan membawa kesenangan yang lebih pula, hal ini disebut dengan virtuos circle. 2) Kesadaran seksual (Sexual presence/awareness) Kesadaran seksual merupakan kemampuan untuk fokus pada sensasi erotis dan seksual. Secara klinis, kesadaran seksual merupakan esensi dari sensasi seksual untuk menjadi kesenangan seksual (pleasure). Kurangnya monitor diri saat melakukan hubungan seksual (Zilbergeld, 1992 dalam Sulhofer, 2010) atau tingginya tingkat distraksi (Heiman, & LoPiccolo, 1998 dalam Stulhofer, 2010) akan membuat kesadaran seksual individu menurun. b. Aspek Interpersonal 1) Pertukaran/Timbal-balik seksual (Sexual exchange) Dimensi ini menekankan pada pentingnya hubungan timbal balik dalam kontak seksual. Ketidaksesuaian antara

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 pemberian dan penerimaan dalam perhatian/atensi seksual serta kesenangan seksual dapat mengakibatkan ketidakpuasan seksual(Stulhofer, 2010). 2) Kedekatan emosional (Emotional closeness) Kedekatan emosional berkaitan dengan kepuasan seksual karena ikatan emosional dan keintiman yang kuat akan menghasilkan ketertarikan seksual yang bersifat jangka panjang. Dalam mencapai kepuasan seksual, kontak emosional sangat penting bagi perempuan (Heiman, & LoPiccolo, 1998 dalam Stulhofer, 2010) dan juga sangat penting bagi laki-laki (Byers, 2005; Carpenter et al., 2009; Stulhofer et al., 2004 dalam Stulhofer, 2010) c. Aspek behavioral 1) Aktivitas seksual (Sexual activity) Aktivitas seksual merupakan dimensi yang mencakup frekuensi, durasi, variasi, dan intensitas dari aktivitas seksual untuk mendapatkan kepuasan seksual bagi pria dan wanita. Meskipun kualitas seksual dievaluasi menjadi hal yang lebih penting dibandingkan kuantitas seksual, tetapi nyatanya frekuensi sebagai bentuk kuantitas juga memiliki asosiasi dengan hubungan seksual (Stulhofer, 2010)

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 3. Faktor yang mempengaruhi kepuasan seksual Sanchez-Fuentez, Santo Iglesias, dan Sierra (2014) menyatakan bahwa kepuasan seksual dapat dipengaruhi baik oleh karakteristik individu maupun karakteristik yang berhubungan dengan pihak eksternal termasuk variabelvariabel terkait dukungan sosial dan agama. Variabel-variabel tersebut dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu Mikrosistem, Mesosistem, Eksosistem, dan Makrosistem. Berdasarkan anggapan ini, perkembangan individu dipengaruhi oleh interaksi antara karakteristik individu serta karakteristik lingkungan dan kondisi sosial. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan seksual dapat disederhanakan sebagai berikut: a. Demografik (Eksosistem) Individu dengan status pendidikan dan ekonomi yang tinggi memiliki tingkat kepuasan seksual yang lebih tinggi dibandingkan dengan individu dengan status pendidikan yang rendah. Hal ini dikarenakan individu dengan status pendidikan yang tinggi dianggap memiliki pengetahuan yang luas tentang seksualitas. Menurut teori Green, 1980 (dalam Widyastuti 2013) perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dibandingkan perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Selain itu, umur juga merupakan salah satu pengaruh penting dalam kepuasan seksual pada wanita.Seiring dengan bertambahnya usia, maka akan muncul pula tugas-tugas baru seperti pekerjaan, kewajiban mengurus anak dan berbagai tanggung

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 jawab lain dalam keluarga serta kelompok komunitas lain (Hurlock, 2002).Hal ini dapat berpengaruh pada kualitas hubungan seksual dengan pasangan. b. Interpersonal 1) Kepuasan relasi (Mesosistem) New & bentler, 1983 (dalam Young, Denny, Luquis & Young 2000) mengatakan bahwa terdapat hubungan yang positif antara kepuasan seksual dengan kualitas hubungan. Hal ini didukung oleh Haavio-mannila & Kontula (1997) yang menyatakan komunikasi yang efektif dengan pasangan memiliki asosiasi dengan hubungan seksual yang lebih efektif. Komunikasi yang efektif dapat membuat pasangan saling mengetahui kebutuhan seksual masing-masing sehingga pasangan dapat mencapai kepuasan seksual yang lebih tinggi. 2) Dukungan sosial (Eksosistem) Menurut Ojanlatva., et al., (2005) individu yang mendapat dukungan sosial yang cukup memiliki kepuasan seksual yang lebih baik dibandingkan dengan individu yang tidak mendapatkan dukungan sosual yang cukup. Lingkungan sosial yang suportif berperan dalam menciptakan persepsi penerimaan sosial tanpa

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 syarat dan mampu memelihara rasa perhatian dalam lingkungan sosial. c. Intrapersonal 1) Relijiusitas (Makrosistem) Relijiusitas dan spiritualisas merupakan faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan seksual (Sanchez-Fuentes dkk, 2014; Barrientoz & Paez, 2006) Menurut Purcell (1984) relijiusitas yang kaku berhubungan dengan fungsi seksual yang lemah dalam pernikahan, seperti rasa bersalah, rasa menahan diri, dan level ketertarikan seksual yang rendah, aktivitas, dan kemampuan bereaksi individu terhadap sesuatu. 2) Citra diri (Mikrosistem) Penelitian yang dilakukan oleh Patricia Berthalow, Phyllis Kernoff Mansfield, Debra Thurau, dan Molly Carey (2005) mengatakan bahwa semakin positif pandangan individu terhadap dirinya, maka individu tersebut akan lebih mudah merasa puas dalam hal seksual. Survei yang dilakukan pada wanita berusia 1474 tahun mengatakan bahwa semakin puas individu tersebut terhadap body image nya maka semakin tinggi pula tingkat inisiasi, aktivitas, eksperimentasi, dan orgasme yang dirasakan dibanding dengan mereka yang tidak. Penelitian kualitatif yang dilakukan oleh Fooken (1994) menemukan bahwa wanita yang

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 berada di usia 50 tahun sampai 80 tahun yang membangun body image positif atau menerima kondisi mereka yang secara biologis mengalami penuaan, membantu mereka dalam mempertahankan kehidupan seksual mereka. Wanita dengan body image positif menjadi lebih liberal dalam menyikapi hal-hal seksual dan dilaporkan bahwa mereka memiliki ketertarikan seksual yang lebih tinggi, serta rasa senang yang lebih tinggi dibandingkan wanita dengan body image yang negatif. Secara keseluruhan, body image negatif dapat membuat individu sulit untuk mengekspresikan diri secara seksual. Menurut Wiederman (2001), wanita yang memiliki pandangan negatif terhadap dirinya akan memiliki rasa takut terhadap evaluasi terhadap dirinya. Hal tersebut akan menyebabkan terpisahnya perasaan dalam diri individu untuk mencapai kepuasan seksual dalam situasi seksual yang dialami. Mereka akan lebih fokus pada anggapan-anggapan negatif terhadap dirinya dibandingkan dengan fokus terhadap hasrat, rasa aman, dan rasa senang. Seseorang yang memiliki pandangan/citra tubuh yang negatif terhadap dirinya seperti tidak menarik akan cenderung menarik diri dari hubungan seksual dengan pasangannya. Hal ini akan menyebabkan kurangnya hasrat seksual dan akan berdampak pada menurunnya gairah seksual

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 (Holt & Lyness, 2007). Kurangnya hasrat seksual akan berdampak pada intensitas berhubungan seksual. Stulhofer (2010) menyatakan bahwa intensitas hubungan seks yang cukup dan terpenuhi bermanfaat untuk mendapatkan kepuasan seksual bagi pria dan wanita. 3) Citra Diri Genital (Mikrosistem) Citra diri genital merupakan salah satu faktor yang dapat memprediksi kepuasan seksual seseorang. Wanita yang memiliki citra diri genital yang negatif cenderung memandang bentuk genitalnya buruk (Braun & Wilkinson, 2001; Braun, 2005; Fahs, 2014; Fudge & Byers, 2016). Hal ini didukung oleh Braun dan Wilkinson (2001); Braun (2005); Fahs (2014); Fudge dan Byers (2016) yang menyatakan bahwa wanita memiliki persepsi negatif tentang penampilan genitalnya. Citra diri genital yang negatif akan mempengaruhi citra diri, fungsi seksual, penerimaan diri, kualitas hidup, dan kepuasan hidup seseorang secara keseluruhan. 4) Fungsi Seksual Fungsi seksual secara positif memiliki hubungan dengan kepuasan seksual baik bagi pria maupun wanita (Smith dkk, 2012). Fungsi seksual mencakup kondisi fisik dan mental seseorang sebagai upaya pemenuhan harapan dalam mencapai kepuasan seksual (Rosen dkk, 2000; WHO, ICD-10). Seseorang

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 dengan fungsi seksual yang baik lebih terhindar dari hambatan dalam mencapai kepuasan seksual seperti gangguan hasrat seksual, keterangsangan seksual, dan kondisi sakit pada vagina saat berhubungan seks (Smith dkk, 2012), dan terhindar dari dampak ketidakpuasan seksual seperti kecemasan, kehilangan kemampuan koitus, dan kehilangan nafsu seksual (Renaud, Byers & Pan, 1997). 4. Pengukuran dalam kepuasan seksual Penelitian ini mengadaptasi skala NSSS (New Sexual Satisfaction Scale) yang dikembangkan oleh Alexander Stulhofer, Vesna Busko, danPamela Brouillard (2010). Selain skala NSSS terdapat beberapa skala kepuasan seksual diantaranya Snell, IEMSS (Interpersonal Exchange Model of Sexual Satisfaction), GRISS (Golombok-Rust Inventory of Sexual Satisfaction), dan SSS-W (Sexual Satisfaction Scale for Women). Namun skala-skala tersebut kurang mengembangkan pengukuran gabungan yang bersifat menyeluruh. Berikut tabel perbandingan beberapa skala kepuasan seksual di atas: Tabel 2.1 Perbandingan skala kepuasan seksual Skala Deskripsi Snell Berisi pernyataan-pernyataan yang homogen

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 IEMSS -Pengukuran yang lebih spesifik dan fokus pada kepuasan seksual pada pasangan yang berkomitmen (Byers & Lawrence, 2005) -Memiliki 4 dimensi yang berdasar pada exchange theory (Spreecher, 1998) GRISS Tidak mengukur tingkat kepuasan seksual, tetapi mengukur tingkat kurangnya kepuasan seksual pada sebuah pasangan (Rust & Golombok, 1986) SSS-W -Skala yang mencoba untuk mengukur kepuasan seksual dan distress (Meston & Trapnell, 2005) -Memiliki 5 subskala yaitu skala kepuasan, komunikasi, kesesuaian, personal distress, dan relationship related distress. NSSS -Terdiri dari 5 dimensi dalam 2 subskala -Skala NSSS mengukur pengukuran gabungan menyeluruh yang mewakili orientasi, gender, atau latar belakang budaya. Peneliti memilih menggunakan skala NSSS karena telah terbukti mampu mengukur kepuasan seksual pada budaya dan gender yang berbeda. Selain itu, tujuan dari skala NSSS ini adalah untuk mengembangkan pengukuran gabungan menyeluruh dari kepuasan seksual dengan konsep penyokong yang jelas dan tidak dibatasi oleh faktor-faktor atau kelas-kelas individual

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 tertentu seperti orientasi, gender, atau latar belakang budaya. Oleh karena itu skala ini mampu mengukur subjek dengan orientasi, gender, latar belakang budaya, dan status hubungan yang bervariasi. Sedangkan, penelitian terhadap aktivitas seksual dan kepuasan seksual kebanyakan dilakukan hanya dengan satu atau dua item pertanyaan seperti ―Seberapa puaskah Anda dengan kehidupan seks Anda?‖ dan dua item indikator seperti kepuasan fisik dan emosional terhadap relasi seksual subjek (Stulhofer, 2010). Skala NSSS merupakan skala yang berdasarkan pada 5 dimensi model konseptual yang menekankan pada kepentingan beberapa domain dari perilaku seksual diantaranya sensasi seksual, kesadaran seksual/fokus seksual sebagai aspek individual. Seksual timbal balik dan kedekatan emosional sebagai aspek interpersonal, serta aktivitas seksual sebagai aspek behavioral. B. Fungsi Seksual 1. Definisi disfungsi seksual Perilaku seksual manusia bergantung pada dua faktor prinsip yaitu libido atau hasrat seksual dan kondisi fisiologis. Libido dipengaruhi oleh hormon reproduksi, kesehatan fisik dan mental individu, ketersediaan dan ketertarikan dari seseorang sebagai pasangan seksual (Korenman, 1983, dalam Duncan & Bateman, 1993). Sedangkan mekanisme fisiologis

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 mencakup normalnya fungsi seksual yang mencakup neurogenik, psikogenik, vaskular, skeletal, muskular, dan faktor hormon. Kedua faktor tersebut merupakan dua hal yang melatarbelakangi apakah seseorang dapat berfungsi seksual dengan baik (Korenman, 1983, dalam Duncan & Bateman, 1993). Fungsi seksual merupakan kemampuan fisik dan mental yang berkaitan dengan kemampuan atau performa tubuh pada saat melakukan hubungan seksual(McCall-Hosenfeld, et al., 2008). Menurut WHO (ICD-10) fungsi seksual merupakan bermacam-macam cara yang ditempuh oleh seseorang untuk berpartisipasi dalam hubungan seksual yang mereka harapkan. Ketidakmampuan individu dalam memenuhi kondisi-kondisi tersebut disebut dengan disfungsi seksual. Lewis dan Fugl-Meyer (2004) menjelaskan bahwa disfungsi seksual didefinisikan berdasarkan dua teori dasar yaitu ditinjau dari aspek medis oleh WHO (World Health Organization) dalam ICD-10 dan aspek psikologis/ psikiatris oleh APA (American Psychiatric Association) dalam DSM-IV. Fungsi seksual pada ICD-10 lebih fokus pada permasalahan fisik atau somatis, sedangkan fungsi seksual pada DSM-IV fokus pada permasalahan psikis. Kedua definisi fungsi seksual yang diajukan dirangkum menjadi permasalahan psikologis dan respon genital beserta gejalagejalannya yang mengganggu proses hubungan seks atau koitus (Masters dan Johnson, 1966 dalam Lewis & Fugl-Meyer, 2004). Disfungsi seksual

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 juga merupakan suatu kondisi dimana seseorang terhalang untuk merespon secara seksual dan mencapai kepuasan saat melakukan aktivitas seksual sehingga individu tidak mampu berfungsi seksual dengan baik (Basson, Wierman, Lankveld, Brotto, 2010; Henderson, Lehavoit & Simoni, 2009). Masalah-masalah yang mengganggu proses hubungan seks diantaranya penurunan ketertarikan pada ikatan seksual, kesulitan dalam mencapai keterangsangan seksual dan orgasme serta tidak merasa nyaman atau sakit selama melakukan hubungan seksual (Basson, Wierman, Lankveld, Brotto, 2010; Basson dkk, 2004). Laumann, Paik, dan Rosen (1999) mendefinisikan disfungsi seksual sebagai bermacam-macam bentuk gangguan atau permasalahan pada hasrat seksual dalam perubahan psikis dan fisiologis yang berkaitan dengan respon seksual pada wanita dan pria. Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa disfungsi seksual merupakan bermacam-macam gangguan dan permasalahan fisik dan mental yang dialami individu serta membuat respon seksual individu terganggu sehingga individu menjadi tidak mampu berpartisipasi dalam hubungan seksual yang mereka harapkan sedangkan fungsi seksual merupakan kondisi fisik dan mental yang baik yang dimiliki individu dalam keterkaitannya dengan hasrat seksual, keterangsangan seksual, orgasme, perlendiran, rasa puas, dan ketiadaan rasa sakit saat melakukan aktivitas seksual.

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 2. Aspek fungsi seksual a. Sexual desire/ hasrat seksual Fungsi merupakan seksual kemampuan menurut individu Lewis untuk dan Fugl-Meyer merasakan (2004) hasrat atau ketertarikan seksual, pemikiran atau fantasi-fantasi seksual, dan memiliki hasrat seksual yang responsif. Hasrat seksual seringkali juga disebut dengan libido baik pada wanita maupun pria (Lewis & FuglMeyer,2004). Menurut Kaplan (dalam DeLamater & Morgan Sill, 2005) hasrat seksual adalah keinginan yang besar (appetite) atau dorongan yang memotivasi kita untuk berperilaku seksual. Peneliti lain memilih mendefinisikan hasrat seksual bukan sebagai dorongan biologis tetapi sebagai kognitif atau pengalaman emosional seperti kerinduan (longing), dan harapan (wishing) (Everaerd, Schriner-engel, Schiavi, White, dan Ghizzani, dalam DeLamater & Morgan Sill, 2005). Wincze dan Carey, 1991 (dalamHolt, 2007) menyatakan bahwa kurangnya hasrat seksual biasanya disebabkan karena faktor medis (seperti diabetes atau menopause), psikologis (seperti depresi, kecemasan, citra diri, dan rasa takut akan ditolak), dan sosial (seperti agama, komunikasi yang tidak baik, kualitas hubungan). b. Sexual arousal/ keterangsangan seksual Keterangsangan seksual merupakan sesuatu yang dirasakan seseorang karena adanya dorongan seksual (Ariely, 2005). Menurut

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 American Psychiatric Association/ APA, 2000 (dalam Frohlich dan Meston, 2002), keterangsangan seksual merupakan kemampuan individu untuk mencapai atau mempertahankan respon seksual melalui perlendiran alat kelamin sampai dengan proses aktivitas seksual berakhir. Keterangsangan seksual dapat dirasakan berbeda oleh laki-laki dan perempuan baik heteroseksual maupun homoseksual. Laki-laki merasa terangsang secara subjektif dan karena alasan genital lebih tinggi dibandingkan perempuan. Keterangsangan seksual yang dirasakan perempuan lebih fleksibel dan didasarkan pada perilaku, sikap, dan kemampuan bereaksi pasangannya (Chivers, Rieger, Latty, & Bailey, 2004). Menurut Ariely (2005) keterangsangan seksual dapat berdampak pada 3 area pengambilan keputusan dan perilaku secara umum. 3 area pengambilan keputusan tersebut berupa (1) preferensi yang luas terhadap stimulus dan aktivitas seksual, (2) kemauan untuk terikat pada sesuatu perilaku dengan tujuan memperoleh gratifikasi seksual sesuai dengan moral yang ada, dan (3) kemauan untuk berhadapan dengan seks yang tidak aman ketika merasa terangsang. Berdasarkan hal di atas dapat disimpulkan bahwa keterangsangan seksual juga memiliki peran bagi individu dalam berfungsi secara seksual. c. Orgasme Orgasme merupakan tujuan dari kebanyakan aktivitas seksual, dan merupakan sarana yang potensial untuk mencapai sexual

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 pleasure(rasa senang)dan pemenuhan seksual(Opperman, Braun, Clarke, & Rogers 2013). Opperman, Braun, Clarke, dan Rogers (2013) mendeskripsikan orgasme sebagai sebuah pengalaman tambahan yang diasosiasikan dengan kesenangan (pleasure) fisik dan fisiologis. Orgasme merupakan sesuatu yang didesain oleh tubuh kita untuk sebuah pengalaman dan merupakan sebuah ―tujuan‖ dari beberapa aktivitas seksual. Orgasme juga merupakan sarana untuk merasakan kesenangan dan pemenuhan seksual. Hal tersebut didukung olehReich, 1973 (dalam Opperman, Braun, Clarke, & Rogers 2013) yang menyatakan bahwa orgasme berdiri sebagai jalan bagi individu untuk mencapai sexual pleasure. Wanita yang mengalami orgasme saat waktu yang bersamaan atau sebelum pasangan mereka menunjukkan kepuasan seksual yang lebih tinggi (Sprecher & Mckinney, 1997). Fahs (2011)mengatakan bahwa orgasme merupakan indikator/elemen dari kehidupan seksual dan hubungan seksual yang sehat. Emily Opperman, Braun, Clarke, dan Rogers (2013) mengatakan bahwa orgasme merupakan sebuah proses yang harus dilalui individu untuk mencapai kepuasan seksual. Emily menambahkan dari hasil penelitiannya, para wanita mengungkapkan bahwa orgasme membuat mereka merasa tenang/ santai dan juga merasa puas. MenurutOpperman, Braun, Clarke, dan Rogers (2013), orgasme memberi 3 dampak utama yaitu wanita merasa dicintai, tingkat keintiman dan kelekatannya dengan

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 pasangan meningkat, dan keintiman yang telah ada semakin menguat dan mendalam. d. Satisfaction/ Rasa puas Rasa puasberkaitan dengan adanya aktivitas seksual dan orgasme. Rasa puasseringkali disebut sebagai suatu hal yang berdampingan dengan orgasme. Hasil penelitian dari Opperman, Braun, Clarke, dan Rogers (2013) menyatakan bahwa ketika individu mencapai orgasme dan selama aktivitas seksualnya dengan pasangan menyenangkan maka individu tersebut tetap merasa senang (pleasure) dan puas. e. Pain/ rasa sakit atau tidak nyaman Rasa sakit atau tidak nyaman berkaitan dengan kemampuan fisik untuk merespon stimulus tanpa rasa tidak nyaman (Whipple, 2002). Rasa sakit yang dirasakan dapat mengganggu berlangsungnya aktivitas seksual pada wanita. Tingginya intensitas rasa sakit saat berhubungan seksual berhubungan dengan rendahnya kemampuan lubrikasi pada wanita (Binik, 2005, dalam Farmer & Meston, 2007). Ketika wanita sulit mengalami lubrikasi, maka akan berpengaruh pada pencapaian hubungan seksual yang menyenangkan. Dengan demikian, wanita sulit mencapai kepuasan seksual (Smith dkk, 2012). Rasa sakit tersebut dapat digolongkan menjadi dua jenis yaitu dyspareunia dan vaginismus (Lewis & Fugl-Meyer, 2004; Basson dkk, 2003).

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 3. Faktor yang mempengaruhi disfungsi seksual a. Individual Secara biologis, faktor bawaan berperan secara konstitusional dalam mempengaruhi disfungsi seksual. Orang-orang dengan gangguan perkembangan seksual cenderung mengalami masalah-masalah seskual dibanding orang yang tidak memiliki gangguan perkembangan seksual. Selain itu, faktor gangguan perkembangan lainnya juga dapat menumbulkan beberapa masalah seksual bagi wanita (Brotto dkk, 2016). Gangguan tersebut dapat muncul karena adanya pengalaman diperlakukan dengan kasar saat masa kanak-kanak (Childhood Sexual Abuse). Wanita dengan sejarah pengalaman kekerasan seksual cenderung melakukan perilaku seksual yang beresiko, mengalami permasalahan seksual, dan melakukan tindakan kekerasan berulang pada masa dewasa (Brotto dkk, 2016). Barthelot dkk (2014) menyatakan bahwa lebih dari setengah wanita yang mendatangi klinik mengalami masalah seksual karena pernah mengalami kekerasan seksual saat kanak-kanak. Di Swedia, sebanyak 12% wanita yang berusia 18-74 tahun pernah mengalami kekerasan seksual dalam hidupnya (Oberg, 2002, dalam Lewis & FuglMeyer, 2004). Selain itu, masa pubertas dan pengalaman-pengalaman terkait aktivitas seksual juga turut mempengaruhi fungsi seksual seseorang. Menurut Shulman dan Horne (2003), masturbasi pada masa

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 remaja dan dewasa awal berhubungan dengan peningkatan kepuasan dan pengalaman seksual, citra diri, dan harga diri yang baik. Pengalaman positif tersebut memberi kontribusi bagi individu dalam mengurangi kesulitan atau permasalahan seksual di kemudian hari (Elmerstig, Wijma, & Swahnberg, 2009; Rapsey, 2014). Hal ini membuktikan bahwa pengalaman masa kecil mempengaruhi wanita dalam berfungsi secara seksual. b. Sifat atau karakter (trait) 1) Trait secara umum Penelitian Gomes dan Nobre (2011), serta Crisp, Vaccaro, Fellner, Kleeman, & Pauls (2015), menunjukkan bahwa individu dengan karakter ekstrovert memiliki hubungan dengan fungsi seksual dan kepuasan seksual yang tinggi baik pada pria maupun wanita. Wanita dengan disfungsi seksual cenderung memiliki sifat yang negatif dan tingkat kontrol diri yang rendah (Oliveira & Nobre, 2013). Sedangkan orang dengan permasalahan seksual memiliki skor yang tinggi terhadap sifat neurotik (Peixoto & Nobre, 2014). Penemuan-penemuan ini menunjukkan bahwa sifat individu dapat mempengaruhi peningkatan disfungsi seksual pada individu. 2) Sifat Spesifik Seksual (spesific sexual trait)

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 Sifat spesifik seksual meliputi rintangan seksual (sexual inhibition), dan keyakinan seksual (sexual beliefs) Penelitian menunjukkan bahwa rintangan seksual memiliki hubungan positif dengan tingginya permasalahan seksual (Bloemendaal & Laan, 2015; Sanders, Graham, & Milhausen, 2008). Hal ini disebabkan karena adanya hambatan atau rintangan tersebut membuat respon seksual individu menjadi tidak seimbang (Janssen & Bancroft, 2007; Bancroft, Graham, Janssen, & Sanders, 2009). Sedangkan pada keyakinan seksual (sexual beliefs), penelitian menemukan bahwa semakin tinggi keyakinan yang dimiliki individu maka akan semakin rendah resiko individu mengalami disfungsi seksual. Hal ini disebabkan karena keyakinan tersebut memiliki peran dalam memberi pengaruh dan mempertahankan kondisi fungsi seksual seseorang (Brotto dkk, 2016). c. Life stage dan Kesehatan Mental 1) Tingkat stress Banyaknya stress atau tekanan yang dihadapi individu dapat mempengaruhi fungsi seksual dan kepuasan seksual termasuk meningkatkan depresi, penyakit fisik, dan disabilitas (Deng dkk, 2012; Hallstrom & Samuelsson, 1990; Lee dkk, 2010; Pastiszak, Badhiwala, Liohsultz, & Khera, 2013). Tekanan ini banyak dipicu oleh sindrom postparfum pada wanita yang baru saja melahirkan,

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 faktor penuaan, dan menopause (Gracia, Freeman, Sammel, Lin, & Mogul, 2007). Penurunan fungsi seksual sering terjadi pada wanita yang sudah menopause karena berkaitan dengan kualitas hubungan (Cawood & Bancroft, 1996; Avis dkk, 2008), fungsi fisiologis (Gracia, Freeman, Sammel, Lin, & Mogul, 2007; Bancroft, Loftus, & Long, 2003), ketersediaan pasangan (Gracia, Freeman, Sammel, Lin, & Mogul, 2007), kesehatan (Bancroft, Loftus, & Long, 2003; Hunter, 1990), dan sistem hormon (Brotto dkk, 2016). Hal ini disebabkan karena wanita yang sudah menopause cenderung menghadapi perubahan dalam aktivitas seksual dan kesulitan dalam melakukan senggama (Brotto dkk, 2016). Tingkat stress juga dapat menjadi dampak bagi wanita yang mengalami disfungsi seksual. 2) Depresi Pola paling umum yang berkaitan dengan penurunan ketertarikan seksual dan/ atau keterangsangan seksual ialah depresi (Hayers dkk, 2008). Wanita yang mengalami depresi memiliki fungsi seksual yang lebih rendah dibandingkan dengan wanita yang tidak mengalami depresi (Clayton dkk, 2012). Hal ini disebabkan oleh kurangnya kemungkinan bagi seseorang yang depresi untuk berada pada kondisi fungsi seksual yang baik (Schreiner-Engel & Schiavi, 1986). Frohlich dan Meston (2002) melakukan studi eksploratori pada dua kelompok 47 wanita di perguruan tinggi. Hasil penelitiannya

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 menemukan bahwa wanita pada kelompok yang memiliki simptom depresi lebih tertarik pada aktivitas seksual mandiri seperti masturbasi. Kelompok wanita yang depresi dilaporkan memiliki frekuensi yang tinggi terhadap permasalahan seksual seperti keterangsangan seksual, orgasme dan rasa sakit, rendahnya kepuasan, dan rendahnya rasa senang (pleasure). Menurut Frohlich & Meston (2002) wanita yang depresi tidak mampu mencapai orgasme dan merefleksikan harapannya dalam mencapai dan mewujudkan kesenangan seksual melalui masturbasi. Wanita yang depresi diperkirakan memiliki kepuasan yang rendah pada hubungan seksual yang dimiliki (Frohlich & Meston, 2002). 3) Kecemasan dan gangguan kecemasan Wanita yang sering cemas atau mengalami gangguan kecemasan cenderung memiliki hasrat seksual yang rendah. Contohnya, seseorang dengan gangguan phobia sosial berhubungan dengan gangguan hasrat seksual dan dyspareunia secara bersamaan (Bodinger dkk, 2002). Kemudian, wanita dengan gangguan panic serta gangguan obsessive compulsive disorder memiliki hasrat seksual yang rendah. Kaplan, 1988 (dalam Lewis & Fugl-Meyer, 2004) menyatakan bahwa kecemasan merupakan elemen kritis dalam penghindaran aktivitas seksual. Menurutnya, beberapa wanita

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 ―sexaphobic‖ didiagnosis mengalami gangguan panic dan memiliki hasrat seksual yang rendah. 4) Penggunaan obat/ substansi tertentu Alkohol bisa dikaitkan dengan penurunan fungsi seksual karena dapat mempengaruhi respon genital (Covington & Kohen, 1984; George & Stoner, 2000). Penelitian menemukan bahwa wanita yang memiliki kecanduan berat terhadap alkohol dan mengakibatkan menurunnya keterangsangan seksual dan orgasme (Witting dkk, 2008). Sedangkan, pada studi laboratorium yang dilakukan oleh Harte & Meston (2008) menunjukkan bahwa kelompok wanita yang diberikan nikotin menunjukkan penurunan respon genital dibandingkan dengan kelompok wanita yang tidak diberikan nikotin. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan obat atau substansi tertentu dapat mempengaruhi fungsi seksual wanita. Penggunaan obat seperti anti-hipertensif dapat mengganggu proses hormonal dalam tubuh wanita dan menyebabkan terinterupsinya kinerja hormon LH (luteinizing hormone) dan FSH (follicle-stimulating hormone) sehingga menyebabkan siklus menstruasi, suasana hati, kondisi fisik yang terganggu, serta menghalangi reseptor menerima rangsangan dopamin (Duncan & Bateman, 1993). d. Psikologis

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 1) Distraksi kognitif Menurut Elliot dan O‘donohue (1997) menurunnya keterangsangan seksual subjektif dan genital dapat dipicu oleh distraksi kognitif saat seseorang menerima stimulus erotis. Sebaliknya, ketika seseorang wanita mengalami disfungsi seksual dan kehilangan keterangsangan seksual, maka akan memicu munculnya distraksi kognitif pada saat aktivitas seksual. Dampaknya, seseorang menjadi tidak fokus dan teralihkan pikirannya karena kondisi fisik dan mental secara seksual yang terganggu. 2) Kognisi seksual dan pikiran otomatis Pria dan wanita dengan disfungsi seksual dilaporkan memiliki lebih banyak pemikiran negatif saat melakukan aktivitas seksual (Morton & Gorzalka, 2013; Nobre & Pinto-Gouveia, 2008) serta kurangnya pikiran-pikiran erotis. Kurangnya kemampuan untuk berpikir erotis membuat penurunan pada hasrat seksual seseorang. Biasanya, wanita yang mengalami ketidakmampuan berpikir erotis adalah wanita yang sebelumnya telah memiliki permasalahan seksual seperti masalah orgasme atau vaginismus (Carvalho & Nobre, 2010; Nobre & Pinto-Gouveia, 2008; Neff & Karney, 2010). 3) Kondisi emosi

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 Studi eksperimen terdahulu pada pria dan wanita menunjukkan bahwa status emosi terutama rasa cemas mampu memprediksi tinggi rendahnya respon genital seseorang (Beck, Barlow, Sakhiem, & Abrahamson, 1987). Penelitian menunjukkan bahwa kecemasan dapat mempengaruhi munculnya permasalahan seksual seperti respon seksual pada genital (Meston & Gorzalka, 1996). Permasalahan emosional dapat menjadi predktor rendahnya hasrat seksual dan gangguan keterangsangan seksual serta gangguan rasa sakit seksual pada wanita (Lauman, Paik, & Rosen, 1999). e. Fisiologis Beberapa faktor fisiologis yang berkaitan dengan kesehatan fisik dapat menjadi faktor beresiko yang mempengaruhi fungsi seksual seperti diabetes dan penyakit kardiovaskular. Kadri dkk, 2002 (dalam Lewis & Fugl-Meyer, 2004) menyatakan bahwa terdapat hubungan antara diabetes dengan ketidakmampuan orgasme, dyspareunia, dan keengganan dalam berpartisipasi secara seksual. Wanita yang memiliki penyakit diabetes cenderung memiliki hasrat seksual, lubrikasi, dan tingkat orgasme yang rendah. Selanjutnya, penelitian Duncan dkk, 2001 (dalam Lewis & Fugl-Meyer, 2004) menyatakan bahwa hipertensi memiliki hubungan dengan rendahnya fungsi perlendiran dan disfungsi orgasme pada wanita. Hanon dkk, 2002 (dalam Lewis & Fugl-Meyer, 2004) menemukan sebanyak 41% wanita dengan penyakit hipertensi

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 mengalami penurunan ketertarikan seksual. Semakin kompleks permasalahan fisik yang dimiliki wanita dapat mempengaruhi tingginya ketidakmampuan seksual. f. Interpersonal 1) Keintiman dan kepuasan hubungan Salah satu motivasi penting dalam aktivitas seksual ialah meningkatkan keintiman emosional dengan pasangan (Meston & Buss, 2007). Survei yang dilakukan pada wanita dengan masalah kronis di bagian vulvar atau pelvis menunjukkan bahwa wanita yang memiliki keintiman emosional yang baik menunjukkan kondisi rendahnya rasa sakit yang lebih rendah pada hubungan seksual yang dimiliki (Blair, Pukall, Smoth, & Cappbell, 2015). Selain itu, keintiman seksual juga penting pengaruhnya bagi fungsi seksual wanita. Wanita dengan penyakit vestibulodynia menunjukkan tingkat kepuasan seksual yang lebih tinggi dan juga tingginya keintiman seksual yang dimiliki (Bois, Bergeron, Rosen, Mcduff, & Gregoire, 2013). Selanjutnya, penelitian yang dilakukan oleh Sanchez, MossRacusin, Phelan, dan Crocker (2011) pada wanita homoseksual dan heteroseksual menyatakan bahwa keintiman yang dimiliki sebuah pasangan berhubungan dengan kepuasan seksual yang lebih baik dibandingkan dengan hubungan seks yang dilakukan hanya untuk

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41 menyenangkan pasangan. Kemudian, individu dengan tingkat kepuasan hubungan yang tinggi diasosiasikan dengan hasrat seksual yang tinggi pula (Gershenson dkk, 2007). 4. Dampak disfungsi seksual Melihat betapa pentingnya fungsi seksual bagi kehidupan seksual, khususnya pada wanita, tentu saja penting juga untuk mengetahui dampak yang akan ditimbulkan dari adanya disfungsi seksual untuk memberikan pemahaman bahwa fungsi seksual merupakan sesuatu yang perlu diberi perhatian. Bila ditinjau lebih lanjut, dampak yang ditimbulkan oleh disfungsi seksual dapat berupa distraksi kognitif dan ketidakmampuan berimajinasi seksual (Geer & Fuhr, 1976, dalam Cuntim & Nobre, 2011). Menurutnya, distraksi pada proses kognitif terhadap hal-hal erotis mempunyai peran penting dalam munculnya permasalahan seksual atau disfungsi seksual. Distraksi berkaitan dengan atensi seseorang, yaitu semakin individu mengalami distraksi maka semakin rendah atensi yang diberikan saat beraktivitas seksual (Geer & Fuhr, 1976, dalam Cuntim & Nobre, 2011). Cuntim dan Nobre (2011) menyatakan bahwa wanita dengan gangguan orgasme menunjukkan tingginya tingkat distraksi kognitif dibandingkan dengan wanita yang tidak mengalami gangguan orgasme. Hal ini didukung oleh Adams III, Haynes, & Brayer (1985) yang menyatakan bahwa rendahnya tingkat orgasme pada wanita berhubungan dengan meningkatnya

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 distraksi saat mendapatkan respon seksual. Distraksi kognitif juga dapat dipengaruhi oleh rendahnya keterangsangan seksual (Adams III, Haynes, & Brayer, 1985). Hal ini berarti, ketika wanita mengalami disfungsi seksual dan kehilangan keterangsangan seksual, maka akan memicu munculnya distraksi kognitif pada saat aktivitas seksual.Disfungsi seksual juga berdampak pada kemampuan seseorang dalam berimajinasi seksual serta memiliki pikiran-pikiran otomatis tentang hal-hal seksual(Wiegel, Scepkowski, & Barlow, 2006 dalam Meston, Goldstein, Davis, & Traish, 2005). Ketika seorang wanita mengalami disfungsi seksual dan kehilangan kemampuan untuk berimajinasi, maka dirinya akan cenderung mengalami penurunan hasrat seksual (Brotto dkk, 2016). Dengan kata lain, permasalahan seksual yang dialami seorang wanita juga akan berdampak pada kemampuannya dalam mengimajinasikan hal-hal seksual. Payne, Binik, Amsel, dan Khalife, 2004 (dalam Farmer & Meston, 2007) menyatakan bahwa wanita sangat mungkin mengalami respon kognitif dan respon emosional negatif yang pada akhirnya menjadi pemicu munculnya rasa sakit. Kedua respon tersebut membuat wanita memiliki pemikiranpemikiran negatif yang kemudian menyebabkan timbulnya rasa sakit fisik berupa tegangnya otot-otot pelvis genitalserta timbulnya rasa takut dan cemas(Payne, Binik, Amsel, & Khalife, 2004, dalam Farmer & Meston, 2007). Tegangnya otot-otot pelvis genital, rasa takut, dan rasa cemas tersebut dapat menimbulkan respon fisiologis berupa rasa sakit yang semakin parah

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43 (Meagher, Arnau, & Rhudy, 2007, dalam Farmer & Meston, 2007).Semakin tinggi rasa sakit dan cemas yang dialami, maka akan semakin menghambat respon seksual yang baik (Dove & Wiederman, 2000 dalam Farmer & Meston, 2007; Wolpe, 1958 dalam Cranston-Cuebas, M. A dan Barlow, 1990). Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan intensitas rasa sakit pada wanita berasosiasi dengan semakin meningkatnya disfungsi, yang secara spesifik berdampak pada perlendiran vagina (Farmer & Meston, 2007). Menurut Wiegel, Meston, dan Rosen (2005) disfungsi seksual menyebabkan peningkatan rasa sakit pada wanita yang mengalami gangguan dyspareunia dan berujung pada kesulitan perlendiran pada vagina. Rendahnya kemampuan lubrikasi tersebut merupakan konsekuensi dari hubungan seks yang tidak menyenangkan (Binik, 2005, dalam Farmer &Meston, 2007). Beberapa hal di atas merupakan pengalaman-pengalaman negatif yang pada akhirnya diwujudkan dalam bentuk perilaku menghindari aktivitas seksual (Wiegel, Scepkowski, & Barlow, dalamMeston,Goldstein, Davis, & Traish, 2005). Hal ini didukung oleh penelitian Farmer & Meston (2007) yang menyatakan bahwa subjek penelitian dari kelompok wanita yang mengalami rasa sakit menunjukkan rendahnya ketertarikan pada aktivitas seksual dengan pasangan dan cenderung memilih untuk melakukan masturbasi. Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat dikatakan bahwa terjadinya distraksi kognitif dan rendahnya kemampuan berimajinasi seksual akan menghantarkan wanita pada pemikiran-pemikiran negatif seperti rasa

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44 takut dan rasa cemas serta perasaan tegang dan tidak nyaman yang muncul dalam bentuk rasa sakit pada seputar alat kelamin wanita. Hal ini dapat menyebabkan wanita kesulitan mengalami perlendiran vagina yang baik saat berhubungan seks. Pengalaman-pengalaman negatif tersebut pada akhirnya akan cenderung membuat wanita menghindari aktivitas seksual dan memilih untuk tidak terlibat dalam hubungan seks atau senggama dengan pasangan (Wiegel, Scepkowski, & Barlow, dalamMeston,Goldstein, Davis, & Traish, 2005). 5. Bentuk-bentuk gangguan disfungsi seksual pada wanita a. Gangguan hasrat seksual (Hypoactive Sexual Desire Disorder) Gangguan hasrat seksual menurut Bason, Wierman, Lankveld, danBrotto (2010) merupakan kurangnya atau hilangnya rasa ketertarikan terhadap aktivitas seksual, hilangnya fantasi dan pemikiran seksual, dan kurangnya hasrat seksual yang responsif. Gangguan ini juga merupakan hilangnya motivasi untuk menjadi terangsang secara seksual. Pengalaman terhadap hasrat seksual pada wanita yang baik biasanya muncul selama awal usia relasi romantis dengan pasangan. b. Gangguan keterangsangan seksual (Arousal disorder) Gangguan ini dapat merujuk pada empat sub gangguan yaitu gangguan yang terjadi pada respon subjektif, respon genital , kombinasi gangguan subjektif dan respon genital, dan gangguan keterangsangan

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 persisten atau terus menerus (Bason, Wierman, Lankveld, &Brotto, 2010). 1) Gangguan Keterangsangan Seksual Subjektif Gangguan ini biasanya terjadi karena ketidakmampuan subjektif individu dalam merespon stimulus seksual. Pertama, gangguan pada respon subjektif merupakan hilangnya rasa terangsang seseorang terhadap beberapa stimulus seksual tanpa hilangnya perlendiran atau lubrikasi pada vagina. 2) Gangguan Keterangsangan Seksual Genital Gangguan keterangsangan pada respon genital merupakan kondisi hilangnya kemampuan perlendiran pada vagina terhadap stimulus seksual tanpa mengurangi keterangsangan subjektif individu. Hal ini merupakan kondisi dimana seseorang masih mampu terangsang secara subjektif tetapi genital mereka tidak mampu menghasilkan perlendiran yang baik. 3) Kombinasi Gangguan Keterangsangan Seksual Subjektif dan Genital Kombinasi dari gangguan keduanya merupakan hilangnya keterangsangan subjektif dan respon genital seseorang. Pada gangguan ini, individu tidak mampu merespon stimulus seksual dan tidak mampu menghasilkan perlendiran pada alat kelamin. 4) Gangguan Keterangsangan Seksual Persisten

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46 Gangguan keterangsangan persisten merupakan keadaan dimana seorang wanita mengalami keterangsangan pada stimulus seksual secara spontan dan terus menerus. Biasanya wanita akan merasa geli, berdebar, dan bergetar bahkan saat tidak mengalami rangsangan seksual. Perasaan terangsang tersebut tidak dapat hilang secara langsung dan dapat terjadi selama beberapa jam atau hari. c. Gangguan orgasme (Women’s orgasmic disorder) Gangguan orgasme pada wanita merupakan kurangnya intensitas dari sensasi orgasme atau respon yang tertunda terhadap stimulus atau rangsangan seksual. Menurut DSM-IV, biasanya wanita dengan gangguan orgasme juga mengalami gangguan keterangsangan yang cukup tinggi sehinga kedua hal ini sering diakitkan sebagai gangguan yang berdampingan (Bason, Wierman, Lankveld, Brotto, 2010; Basson dkk, 2003) d. Gangguan Rasa Sakit Seksual (Sexual Pain Disorder) Menurut Bason, Wierman, Lankveld,dan Brotto, 2010; Basson dkk, 2003, rasa sakit (pain) dapat dikelompokkan sebagai berikut: 1) Dsypareunia

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47 Dyspaerunia merupakan timbulnya rasa sakit yang dirasakan oleh wanita secara terus menerus saat berhubungan seks. Gangguan ini juga merupakan pengalaman yang dirasakan oleh wanita karena tidak mampu menoleransi masuknya penis ke dalam vagina saat bersenggama. Rasa sakit yang dirasakan wanita dapat berbeda-beda tergantung dari batas toleransi yang dimiliki masing-masing (Basson dkk, 2003). 2) Vaginismus Vaginismus merupakan kondisi dimana otot pelvis di sekitar vagina mengencang dengan sendirinya saat melakukan penetrasi. Vaginismus dapat menyebabkan rasa sakit, kesulitan, dan mengakibatkan rasa tidak puas saat berhubungan seksual (Broto dkk, 2003). 6. Pengukuran dalam Fungsi Seksual Penelitian ini mengadaptasi skala FSFI (Female Sexual Function Index) yang dikembangkan oleh Rosen dkk (2000). FSFI merupakan skala multidimensional untuk mengukur fungsi seksual pada wanita. Selain skala FSFI, terdapat juga skala lain yang mengukur fungsi seksual yaitu DSFI (Derogatis Sexual Functioning Inventory) dan BISF-W (Brief Index of Sexual Function for Women) dan CSFQ (Changes In Sexual Functioning Questionnaire). Berikut merupakan perbandingan beberapa skala tersebut

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 (Meston & Derogatis, 2002; Omotosho & Rogers, 2009; Keller, McGarvey, dan Clayton, 2006; Derogatis & Melisaratos, 1979; Mazer, Leiblum, & Rosen, 2000): Tabel 2.2 Perbandingan skala fungsi seksual DSFI (Derogatis - Skala yang berisi 10 subtes yang mengukur fungsi Sexual seksual pada pria dan wanita - Functioning Hanya fokus kepada target yang sesuai dengan tujuan skala dibuat (jenis kelamin, memiliki Inventory) pasangan, orientasi seksual) BISF-W (Brief - Skala yang berisi 7 dimensi konseptual yang Index of Sexual mengukur fungsi dan disfungsi seksual pada Function wanita for Women) - Divalidasi pada 225 wanita sehat (22-55 tahun) dan 104 (21-55 tahun) wanita menopause dan memiliki fungsi seksual yang lemah CSFQ (Changes - Skala yang berisi 5 dimensi konseptual yang In mengukur fungsi seksual pada laki-laki dan Sexual Functioning Questionnaire) perempuan - Divalidasi pada 122 pria dan wanita dari sekolah

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49 medis dan 35 orang residen. FSFI (Female - Sexual Function Index) Skala yang berisi 5 dimensi konseptual yang mengukur fungsi seksual pada wanita - Satu-satunya skala yang memiliki korelasi tinggi pada domain kepuasan - Divalidasi pada 131 wanita normal (21-68 tahun) dan 128 wanita dengan FSAD, FOD, dan HSDD (21-69 tahun). Peneliti menggunakan skala FSFI karena telah terbukti mampu mengukur fungsi seksual secara menyeluruh mengingat aspek-aspek dalam fungsi seksual pada wanita seperti hasrat seksual dan keterangsangan seksual merupakan dimensi yang sulit dijelaskan. Skala ini juga tekah dievaluasi secara psikometris dan telah melalui serangkaian proses perhitungan seperti reliabilitas, validitas divergen, validitas konstruk, dan validitas diskriminan dengan hasil yang baik. Selain itu, skala ini merupakan skala yang paling sering digunakan dan menunjukkan hasil yang paling tinggi dalam mengobservasi domain kepuasan pada FSFI. FSFI merupakan skala yang berisi 19 item dan berdasarkan pada 6 domain konseptual yaitu hasrat seksual, keterangsangan seksual, perlendiran atau lubrikasi, orgasme, kepuasan, dan rasa sakit atau tidak nyaman. Selain itu skala ini juga

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50 divalidasi pada lebih dari 500 subjek baik dari kelompok dengan disfungsi seksual maupun yang tidak. Oleh karena itu skala ini mampu mengukur fungsi seksual pada wanita dengan baik dan menyeluruh. C. Dinamika Psikologis Hubungan Kepuasan Seksual dengan Fungsi Seksual pada Wanita Kepuasan seksual merupakan respon afektif yang muncul dari evaluasi subjektif, baik positif maupun negatif terkait dengan hubungan seksualseseorang termasuk persepsi tentang kebutuhan seksual, pemenuhan kebutuhan diri sendiri, ekspektasi terhadap pasangan, serta evaluasi positif tentang hubungan seksual secara menyeluruh (Offman & Mattheson, 2005). Menurut Renaud, Byers, & Pan (1997), ketidakpuasan seksual atau kepuasan seksual yang rendah dapat mengakibatkan kecemasan yang tinggi dan berdampak pada munculnya perilaku seksual seperti kehilangan nafsu seksual, kehilangan kemampuan koitus, dan takut akan kehilangan rasa cinta pasangan yang dapat mengakibatkan pencarian cinta yang baru. Sebaliknya, hubungan seks yang positif akan melahirkan kepuasan seksual yang mampu membuat individu merasa senang, nyaman, dan tentram dari sisi psikologis (Prawiroharjo, 2009). Kepuasan seksual menjadi hal yang penting karena kepuasan seksual dapat mempengaruhi kualitas hidup seseorang dinilai dari kesehatan psikologis dan kesejahteraan seseorang secara keseluruhan (Scott dkk, 2012 dalam Sanchez-Fuentes, Santo Iglesias, & Carlos Sierra, 2013) serta dapat menjadi faktor yang menentukan suatu hubungan akan

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 berhasil atau gagal (Barrientos & Paez, 2006; Litzinger & Gordon; Santtila dkk, dalam Ashdown, Hackatorn, dan Clark, 2011). Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan seksual diantaranya kepuasan relasi (New dan Bentler, 1983 dalam Young, Denny, Luquis, & Young, 2000; Haavio-mannila & Kontula, 1997), dukungan sosial (Ojalatva dkk, 2005), citra diri (Patricia Berthalow, Phyllis Kernoff Mansfield, Debra Thurau, & Molly Carey, 2005); Holt & Lyness, 2007), relijiusitas (SanchezFuentes dkk, 2013; Barrientoz & Paez, 2006), citra diri genital (Braun & Wilkinson, 2001; Braun, 2005; Fahs, 2014; Fudge & Byers, 2016) dan juga fungsi seksual (Smith, 2012; Dundon & Rellini, 2010). Fungsi seksual menjadi salah satu faktor yang penting karena selain menyangkut hal-hal mental, fungsi seksual juga mencakup kondisi fisik seseorang dalam mencapai hubungan seksual yang baik. Kondisi fisik dan mental tersebut berupa hasrat seksual, keterangsangan seksual, orgasme, rasa puas, perlendiran genital, dan rasa nyaman/ sakit yang dialami seseorang saat berhubungan seksual (Rosen dkk, 2000). Ketika seseorang memiliki fungsi seksual yang baik, maka dirinya lebih mampu terhindar dari masalah-masalah seksual, tidak mudah terdistraksi saat berhubungan seks, dan mampu memenuhi harapan-harapan seksual yang diinginkan sehingga dengan demikian individu lebih mampu mencapai hubungan seks yang positif dan mencapai kepuasan seksual (Brotto, 2016; WHO, ICD-10; Smith, 2012).

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 52 Sebaliknya, disfungsi seksual merupakan masalah kesehatan reproduksi yang terjadi pada individu dan didefinisikan sebagai gangguan fungsi seksual yang sering muncul dan persisten (Nicolosi dkk, 2004). Disfungsi seksual yang terjadi pada wanita berarti individu terhambat untuk merasakan hasrat/ dorongan seksual, keterangsangan seksual, sulit mencapai orgasme, serta merasa sakit pada saat berhubungan seks (Bason, Wierman, Lankveld, & Brotto, 2010). Wanita yang mengalami disfungsi seksual biasanya akan cenderung lebih sering mengalami gangguan psikologis berupa rendahnya hasrat seksual dan keterangsangan seksual serta mengalami kondisi yang tidak nyaman saat berhubungan seks dengan pasangannya (Basson dkk, 2003). Hal tersebut tentu akan menghambat pencapaian kepuasan dalam hubungan seksual dan menghambat evaluasi subjektif terhadap pengalaman aktivitas seksual wanita sehingga akhirnya wanita menjadi kurang puas secara seksual (Brotto dkk, 2016). Ketika seorang wanita mengalami disfungsi seksual, maka dirinya akan sulit memenuhi kondisi fisik dan mental dalam memenuhi hubungan seksual yang baik, terganggunya proses-proses dalam aktivitas seksual, serta kesadaran seksual yang menurun. Sebagaimana yang dikatakan oleh Stulhofer, Busko, & Brouillard (2011), kesadaran seksual (sexual awareness) dan aktivitas seksual (sexual ativity) merupakan dua aspek dalam kepuasan seksual. Aktivitas seksual, khususnya, sangat berhubungan kuat pada kepuasan seksual (Rosen & Bachman, 2008). Dengan demikian, proses mencapai kepuasan seksual akan terganggu

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 karena rendahnya tingkat fungsi seksual (Smith, 2012). Sebaliknya, wanita yang mampu meningkatkan kualitas fungsi seksual yang dimiliki dan mampu mencapai kepuasan seksual, maka besar kemungkinan seseorang terhindar dari dampak ketidakpuasan seksual seperti meningkatnya kecemasan, kehilangan kemampuan koitus, dan kehilangan nafsu seksual. Sedangkan, wanita yang memiliki hubungan seksual yang positif mampu menunjukkan kepuasan emosional, kepuasan hidup, dan kesejahteraan psikologis (Rosen & Bachman, 2008). Menurut Geer dan Fuhr, 1976 (dalam Cuntim & Nobre, 2011), dampak yang ditimbulkan oleh disfungsi seksual dapat berupa distraksi kognitif dan ketidakmampuan berimajinasi seksual. Menurutnya, distraksi berkaitan dengan atensi seseorang, yaitu semakin individu mengalami distraksi maka semakin rendah atensi yang diberikan saat beraktivitas seksual. Wanita dengan gangguan orgasme menunjukkan tingginya tingkat distraksi kognitif dibandingkan dengan wanita yang tidak mengalami gangguan orgasme (Cuntim & Nobre, 2011; Adams III, Haynes, & Brayer, 1985). Distraksi kognitif juga dapat dipengaruhi oleh rendahnya keterangsangan seksual (Adams III, Haynes, & Brayer, 1985). Hal ini berarti, ketika wanita mengalami disfungsi seksual dan kehilangan keterangsangan seksual, maka akan memicu munculnya distraksi kognitif pada saat aktivitas seksual. Selain itu, kemampuan berimajinasi seksual pada wanita yang mengalami disfungsi cenderung rendah (Wiegel, Scepkowski, & Barlow,

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 2006 dalam Meston,Goldstein, Davis, & Traish, 2005) dan mengakibatkan pada penurunan hasrat seksual (Broto dkk, 2016). Distraksi kognitif dapat menimbulkan pemikiran negatif yang kemudian menyebabkan timbulnya rasa sakit fisik berupa tegangnya otot-otot pelvis genitalserta timbulnya rasa takut dan cemas(Payne, Binik, Amsel, & Khalife, 2004, dalam Farmer & Meston, 2007). Tegangnya otot-otot pelvis genital, rasa takut, dan rasa cemas tersebut dapat menimbulkan respon fisiologis berupa rasa sakit yang semakin parah (Meagher, Arnau, & Rhudy, 2007, dalam Farmer & Meston, 2007).Semakin tinggi rasa sakit dan cemas yang dialami, maka akan semakin menghambat respon seksual yang baik (Dove & Wiederman, 2000, dalam Farmer & Meston, 2007; Wolpe, 1958 dalam Cranston-Cuebas, M. A & Barlow, 1990).Hal ini menunjukkan bahwa makin tinggi intensitas rasa sakit pada wanita, maka semakin meningkat pula disfungsi seksual yang dialami (Farmer & Meston, 2007). Secara spesifik, disfungsi seksual tersebut berdampak pada terganggunya perlendiran vagina (Binik, 2005, dalam Farmer & Meston, 2007). Beberapa penjelasan di atas memaparkan bahwa fungsi seksual memiliki hubungan satu sama lain dengan kepuasan seksual. Hubungan yang terjadi di antara keduanya dapat muncul karena adanya faktor emosi yang dirasakan oleh individu. Memori dari fakta-fakta dan pengalaman-pengalaman akan berkembang ketika fakta dan pengalaman tersebut berhubungan dengan emosi (Cahill et al., 1995; Roozendaal et al., 1996 dalam Bechara, 2000). Antonio

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 Damasio (1994 dalam Prinz, 2004) menyatakan bahwa emosi dapat membentuk suatu perubahan pada faktor-faktor kimia di otak, seperti perubahan hormon yang disebabkan oleh sistem endokrin pada tubuh manusia. Damasio mengatakan pengalaman atau objek yang signifikan secara emosional terjadi akan memunculkan sebuah persepsi terhadap pengalaman atau objek tersebut dan kemudian akan menimbulkan perubahan kondisi pada sistem biologis manusia dan pada akhirnya menghasilkan sebuah perasaan yang disebut dengan emosi. Emosi-emosi yang muncul dapat berupa rasa sedih, cemas, senang, bahagia, dan lain-lain yang dimanifestasikan oleh tubuh seperti meningkatnya detak jantung, kontraksi paru-paru, kontraksi otot, maupun keringat. Damasio menyebut manifestasi tubuh ini sebagai somatic feeling. Hal ini didukung oleh Schachler dan Singer‘s (1962 dalam Prinz, 2004) yang menyatakan bahwa emosi merupakan interpretasi dari kondisi tubuh manusia atau bodily states. Singkatnya, pengalaman-pengalaman yang dirasakan individu dari adanya hasrat seksual, keterangsangan seksual, maupun orgasme sebagai dampak positif dari fungsi seksual yang baik akan memunculkan sebuah persepsi positif dan ditunjukkan dalam bentuk respon-respon tubuh tertentu dan kemudian membuat individu merasakan adanya sebuah emosi positif pula. Misalnya, ketika seseorang merasakan orgasme dan mempersepsikan rasa tersebut sebagai sebuah hal yang positif maka tubuhnya secara biologis akan mengalami perubahan keadaan serta membentuk suatu emosi yang positif seperti

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 rasa senang, puas, maupun bahagia. Ketika seseorang mengalami emosi positif tersebut, maka dirinya akan semakin memaknai pengalaman-pengalamannya secara positif sebagai sebuah reward yang akan membuat individu tersebut ingin mengulangi kembali pengalaman yang sama. Dalam kaitannya dengan emosi, hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Skinner dalam teori perilaku tentang reward dan punishment yakni emosiemosi yang muncul pada diri seseorang berfungsi untuk mengklasifikasikan perilaku yang akan muncul sesuai dengan pengalaman yang telah dialami seseorang sebelumnya (Skinner, 1953 dalam Prinz, 2004). Dengan kata lain, apabila individu merasakan emosi yang positif dan memaknainya sebagai sebuah reward, maka individu tersebut cenderung akan mengulangi kembali pengalaman positif yang sama yang membuatnya merasa senang. Sebaliknya, apabila individu merasakan emosi yang negatif dan memaknainya sebagai sebuah punishment, maka individu tersebut cenderung akan menghindari bahkan berhenti melakukan hal-hal yang memunculkan pengalaman negatif tersebut. Berdasarkan seluruh penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa ketika seseorang mengalami disfungsi seksual, maka dirinya akan terhambat untuk memenuhi harapan pada hubungan seksual yang baik, cenderung menganggap bahwa pengalaman-pengalaman yang dirasakan didominasi oleh pengalaman yang negatif. Pengalaman-pengalaman negatif tersebut pada akhirnya akan cenderung membuat wanita menghindari aktivitas seksual dan memilih untuk tidak terlibat dalam hubungan seks atau senggama dengan pasangan (Wiegel,

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 Scepkowski, & Barlow, 2006 dalamMeston,Goldstein, Davis, & Traish, 2005). Pada akhirnya, wanita memiliki kepuasan seksual yang rendah karena mengevaluasi keseluruhan pengalaman seksualnya secara negatif. D. Hipotesis Berdasarkan uraian yang telah dijabarkan, hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan yang signifikan antara kepuasan seksual dan fungsi seksual pada wanita.

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 F. Kerangka Berpikir Emosi FUNGSI SEKSUAL KEPUASAN SEKSUAL 1. Hasrat seksual 2. Keterangsangan Seksual 3. Orgasme 4. Lubrikasi baik 1. Rasa senang/ pleasure 2. Nyaman 3. Rasa puas terhadap kehidupan seksual dan puas terhadap relasi 4. Sejahtera dari sisi psikologis Emosi

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODOLOGI A. JENIS PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif merupakan penelitian yang menggunakan data numerik yang akan diolah menggunakan perhitungan statistik (Creswell, 2014). Creswell (2014) mengatakan penelitian kuantitatif mengobservasi dan mengukur informasi secara numerik (angka-angka).Penelitian kuantitatif bertujuan untuk menguji teori secara objektif dengan cara memeriksa atau meneliti hubungan antar variable-variabel (Supratiknya, 2015). Penelitian ini menggunakan jenis penelitian korelasi untuk mencari apakah ada hubungan atau kaitan antara dua variabel (Suparno, 2011). Dalam penelitian ini, peneliti ingin mengetahui hubungan antara kepuasan seksual dan disfungsi seksual pada wanita. B. IDENTIFIKASI VARIABEL PENELITIAN 1. Variabel pertama : Fungsi Seksual 2. Variabel kedua : Kepuasan Seksual 59

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 C. DEFINISI OPERASIONAL 1. Kepuasan Seksual Kepuasan seksual adalah perasaan senang atau puas yang dirasakan individu mengenai sensasi seksual, kesadaran secara seksual, pertukaran seksual, kedekatan emosional dan aktivitas seksual (Stulhofer, Busko, & Brouillard, 2010). Penelitian ini menggunakan skala NSSS (New Sexual Satisfaction Scale) untuk mengukur kepuasan seksual. Semakin tinggi skor pada skala NSSS, maka semakin tinggi kepuasan seksual seseorang (Stulhofer, Busko, Brouillard, 2010). 2. Fungsi Seksual Fungsi seksual merupakan kemampuan fisik dan mental yang berkaitan dengan kemampuan atau performa tubuh pada saat melakukan hubungan seksual (McCall-Hosenfeld, et al., 2008). Ketidakmampuan individu dalam memenuhi kondisi-kondisi tersebut disebut dengan disfungsi seksual. Penelitian ini menggunakan skala FSFI (Female Sexual Function Index) untuk mengukur fungsi seksual pada wanita yang ditinjau dari aspek hasrat seksual, keterangsangan seksual, lubrikasi/ perlendiran vagina, kepuasan, dan rasa sakit saat berhubungan seksual (Rosen dkk, 2000). Semakin tinggi skor pada skala

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 FSFI, maka semakin tinggi fungsi seksual seseorang atau dengan kata lain memiliki skor disfungsi seksual yang rendah (Rosen dkk, 2000). D. SUBJEK PENELITIAN Subjek penelitian adalah orang-orang yang menjadi sumber data dari sebuah penelitian. Subjek penelitian memiliki karakteristik yang sesuai dengan variabel penelitian dan akan dikenai kesimpulan dari hasil penelitian(Azwar, 2017). Subjek dalam penelitian ini adalah wanita dengan rentang usia 17 tahun hingga 40 tahun yang sudah pernah melakukan hubungan seksual. Wanita pada usia 17 tahun (remaja) dan diasumsikan sudah memiliki hak secara hukum untuk menikah dan wanita pada usia usia 40 tahun (dewasa awal) diasumsikan merupakan usia yang masih aktif melakukan hubungan seksual dengan pasangannya. Selain itu, pada rentang usia ini juga secara biologis merupakan usia-usia yang belum memasuki masa menopause. Amanda A. Deeks dan Marita P. McCabe (2001) menyatakan bahwa biasanya wanita memasuki fase menopause pada usia 50 tahun, namun menopause juga dialami wanita pada rentang usia 40-55 tahun (William dkk, 2007; DeLamater & Friedrich, 2002). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa usia seseorang mengalami menopause sangat bervariatif. Jika diambil rata-ratanya, seseorang akan mengalami menopause sekitar usia 45-55 tahun. Oleh karena itu peneliti menentukan rentang usia yang memungkinkan seorang wanita masih aktif

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 secara seksual dan belum mengalami menopause. Ditambah lagi, belum ada penelitian tentang kepuasan seksual dan fungsi seksual yang mengambil subjek dari rentang usia tersebut dengan pertimbangan wanita pada masa remaja sedang berada pada perubahan terkait pubertas, sedangkan wanita pada masa dewasa awal sedang mengalami perubahan dinamika aktivitas seksual (DeLamater & Friedrich, 2002). Oleh karena itu peneliti menentukan rentang usia yang memungkinkan seorang wanita masih aktif secara seksual, belum mengalami menopause, dan merupakan subjek yang belum banyak diteliti. Subjek pada penelitian ini ditentukan dengan teknik convenience sample, yaitu pemilihan subjek berdasarkan kemudahan atau ketersediaan untuk mengakses (Supratiknya, 2015). E. PROSEDUR PENELTIAN Penelitian ini menggunakan skala yang disebarkan di beberapa kota. Peneliti membagikan angket yang disiapkan di dalam amplop termasuk beberapa skala penelitian, kuisioner berisi data demografi pribadi sebagai gambaran tentang profil responden dan pengalaman responden yang pernah melakukan hubungan seksual. Selain itu, terdapat surat pengantar yang disediakan dan dikemas di dalam amplop. Kemudian peneliti menjelaskan bahwa dalam penelitian ini terdapat informed consent sebagai tanda persetujuan untuk menjadi subjek penelitian. Lalu peneliti menjelaskan instruksi pengerjaan angket secara pribadi pada subjek yang ada.

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 Angket yang telah diisi akan dimasukkan kembali ke dalam amplop yang telah disediakan lalu ditutup dengan rapat untuk menjaga kerahasiaan data. Kuesioner/ angket tersebut juga disebarkan key person yang bekerja di sebuah rumah sakit. Key person menyebarkan angket ke rekan-rekannya yang bertempat tinggal atau bekerja di wilayah Solo. Angket diserahkan kepada key person menggunakan amplop. Peneliti menjelaskan bahwa di dalam amplop tersebut terdapat informed consent sebagai tanda persetujuan. Kemudian peneliti menjelaskan instruksi pengerjaan angket kepada key person. Angket yang telah diisi akan diserahkan kembali menggunakan amplop yang ditutup rapat untuk menjaga kerahasiaan data. Penyebaran kuesioner/ angket juga dilakukan oleh key person yang lain di Bali. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan jumlah subjek yang lebih besar. Proses penyerahan skala dilakukan dengan cara yang sama dengan penyebaran angket di Solo. Angket diserahkan di dalam amplop tertutup dan diberikan langsung kepada subjek. Peneliti menjelaskan instruksi pengerjaan angket dan menginformasikan bahwa data yang akan diberikan pada peneliti bersifat rahasia yang disertakan dengan informed consent. Angket yang telah diisi juga dikembalikan kembali dalam amplop tertutup untuk menjaga kerahasiaan data. Selain itu, peneliti juga menggunakan surveionline. Peneliti mengunggah skala penelitian ke dalam salah satu situs surveionline di internet lalu

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 64 menyebarluaskan melalui berbagai media sosial yang ada di internet seperti Line, WhatsApp,Twitter, Facebook, Path, Instagram, dan media sosial lainnya. Subjek diperkenankan mengisi skala tersebut baik menggunakan perangkat komputer maupun smartphone yang dimiliki dan dapat dikerjakan di mana saja dan kapan saja tanpa perlu menyertakan data yang bersifat pribadi sehingga informasi tersebut tetap bersifat rahasia. Apresiasi bagi subjek berupa pulsa handphone dengan jumlah Rp. 20.000 dan akan diundi secara acak untuk kemudian dikirimkan secara langsung kepada subjek. Pemberian kompensasi berupa pulsa juga tidak menyalahi aturan dalam etika penelitian karena nilai pulsa tersebut tidak sangat besar sehingga tidak mempengaruhi kesukarelaan responden. F. METODE DAN ALAT PENGUMPULAN DATA 1. Metode Metode pengumpulan data menggunakan metode skala. Skala adalah alat ukur psikologis yang berbentuk pernyataan-pernyataan atau pertanyaanpertanyaan yang dirancang untuk mendapatkan respon seseorang terhadap suatu konsep yang diukur sehingga dapat diberi penilaian serta dapat diinterpretasikan (Azwar, 2017). Peneliti menyebarkan skala langsung ke tempat-tempat yang

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 65 sudah ditentukan oleh peneliti dengan tujuan penelitian ini ingin menyasar berbagai aspek demografi tertentu. 2. Alat Pengumpulan Data a. Skala Kepuasan Seksual Penelitian ini mengadaptasi skala NSSS (New Sexual Satisfaction Scale) yang dikembangkan oleh Alexander Stulhofer, Vesna Busko, danPamela Brouillard (2010). Peneliti memilih menggunakan skala NSSS karena telah terbukti mampu mengukur kepuasan seksual pada budaya dan gender yang berbeda. Selain itu, tujuan dari skala NSSS ini adalah untuk mengembangkan pengukuran gabungan menyeluruh dari kepuasan seksual dengan konsep penyokong yang jelas dan tidak dibatasi oleh faktor-faktor atau kelas-kelas individual tertentu seperti orientasi, gender, atau latar belakang budaya. Oleh karena itu skala ini mampu mengukur subjek dengan orientasi, gender, latar belakang budaya, dan status hubungan yang bervariasi. Skala ini terdiri dari dua sub-skala, yaitu ego-centered subscale yang mengukur kepuasan seksual yang berasal dari pengalaman atau sensasi personal,dan partner/sexual activity yang mengukur kepuasan seksual yang berasal dari perilaku atau reaksi seksual pasangan serta perbedaan dan/atau frekuensi dan aktivitas seksual. Skala NSSS merupakan skala yang

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 66 berdasarkan pada 5 dimensi model konseptual yang menekankan pada kepentingan beberapa domain dari perilaku seksual diantaranya sensasi seksual, kesadaran seksual/focus seksual sebagai aspek individual. Seksual timbal balik dan kedekatan emosional sebagai aspek interpersonal, serta aktivitas seksual sebagai aspek behavioral. Skala NSSS merupakan skala Likert yang berjumlah 20 item. Rentang jawaban dimulai dari sama sekali tidak puas, sedikit puas, cukup puas, sangat puas, hingga amat sangat puas. Skala ini dinilai dengan method of summated rating. Berikut adalah skor untuk aitem pada skala NSSS: Sama Sekali Tidak Puas =1 Sedikit Puas =2 Cukup Puas =3 Sangat Puas =4 Amat Sangat Puas =5 b. Skala Fungsi Seksual Penelitian ini mengadaptasi skala FSFI (Female Sexual Function Index) yang dikembangkan oleh Rosen dkk (2000). FSFI merupakan skala multidimensional untuk mengukur fungsi seksual pada wanita. Peneliti memilih menggunakan skala FSFI karena telah terbukti mampu mengukur

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 fungsi seksual secara menyeluruh dan juga telah dievaluasi secara psikometris dan telah melalui serangkaian proses perhitungan seperti reliabilitas, validitas divergen, validitas konstruk, dan validitas diskriminan dengan hasil yang baik. FSFI merupakan skala likert yang berisi 19 item. Skala ini berisi 5 domain yaitu hasrat (desire), keterangsangan (arousal), perlendiran/ lubrikasi (lubrication), kepuasan (satisfaction), dan rasa sakit (pain). Skala FSFI memiliki rentang jawaban yang beragam yang dinilai dengan method of summated rating. Berikut adalah beberapa skor untuk aitem pada skala FSFI: Hampir tidak pernah atau tidak pernah =1 Jarang (kurang dari separuh waktu) =2 Kadang-kadang (sekitar separuh waktu) =3 Sering (lebih dari separuh waktu) =4 Hampir selalu atau selalu =5 G. VALIDITAS DAN REALIBILITAS 1. Validitas Alat Ukur Validasi merupakan suatu proses pengujian yang diperlukan untuk mengetahui apakah suatu skala mampu menghasilkan data yang akurat sesuai

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 68 dengan tujuan ukurnya (Azwar, 2015). Validitas merupakan taraf sejauh mana penafsiran terhadap hasil suatu tes sungguh-sungguh dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan tujuan yang dimasudkan oleh tes tersebut (Supratiknya, 2014). Validitas adalah karakteristik yang penting dimiliki setiap skala supaya suatu skala dapat dipastikan mengukur apa yang seharusnya diukur (Nunnaly, 1970). a. Skala NSSS(New Sexual Satisfaction Scale) Pada penelitian sebelumnya, skala NSSS divalidasi dengan metode validitas konstruk (Stulhofer, Busko, & Brouillard, 2010). Validitas konstruk merupakan tipe validitas yang menunjukkan sejauh mana tes mengungkap trait atau konstrak teoritik yang hendak diukurnya (Allen & Yen, 1979, dalam Azwar, 2007). Pengukuran tersebut dilakukan dengan menggunakan analisis korelasi zero-order. Korelasi zero-order antara NSSS dan pengukuran konstruk berhubungan dengan kepuasan seksual yang dianalisis. Skala NSSS memiliki hubungan yang positif signifikan dengan pengukuran kepuasan hidup secara umum (Stulhofer, Busko, Brouillard, 2011). Sebaliknya, skala NSSS memiliki korelasi yang negatif signifikan dengan kebosanan seksual dan korelasi positif signifikan dengan keintiman sebuah hubungan, komunikasi seksual dengan pasangan, serta status relasi pada pria dan wanita pada sampel pelajar di Kroasia dan United State. Skala

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 69 NSSS juga ditunjang dengan uji validitas konvergen yang menunjukkan asosiasi signifikan antara pengukuran kepuasan seksual secara umum dengan skor NSSS pada kedua sampel (r=0.44 – 0.67). b. Skala FSFI (Female Sexual Function Index) Pada penelitian sebelumnya, skala FSFI divalidasi dengan metode validitas konstruk, validitas divergen, dan validitas diskriminan (Rosen dkk, 2000; Meston, 2003). Validitas konstruk merupakan tipe validitas yang menunjukkan sejauh mana tes mengungkap trait atau konstrak teoritik yang hendak diukurnya (Allen & Yen, 1979, dalam Azwar, 2007). Pengukuran validitas konstruk pada skala FSFI dilakukan dengan analisis faktor dengan hasil eigenvalues > 1.0 Sedangkan validitas divergen pada skala FSFI dilakukan dengan mencari korelasi antara FSFI dengan konstruk lain yang masih berkaitan, misalnya kepuasan pernikahan. Validitas divergen skala FSFI menggunakan tenik Pearson product-moment correlations pada 219 subjek (kelompok FSAD dan kelompok kontrol). Hasil validitas divergen menunjukkan skor total pada kedua grup masing-masing sebesar r=0,53; r=0,22. Validitas diskriminan pada skala FSFI dilakukan untuk mengetahui kemampuan skala tersebut dalam membedakan populasi klinis dan bukan klinis. Validitas ini

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 70 dilakukan dengan membandingkan mean antara kelompok subjek FSAD dengan kelompok kontrol dan mendapatkan perbedaan yang signifikan dengan total skor mean sebesar 30,5. Pada penelitian ini, skala NSSS dan FSFI diuji dengan uji validitas isi. Validitas isi adalah kesesuaian antara isi tes dan konstruk yang diukur oleh skala yang bersangkutan (Supratiknya, 2014). Pada penelitian ini, kesesuaian isi dan konstruk skala dikaji dengan professional judgement yang dilakukan oleh dosen pembimbing sebagai ahli dalam ranah penelitian ini. Proses ini dilakukan agar skala adaptasi memiliki maksud dan tujuan yang sama dengan skala asli untuk mengukur kepuasan seksual. Sebelum melakukan professional judgement, skala ini diadaptasi ke Bahasa Indonesia. Proses penerjemahan dilakukan oleh dosen pembimbing, kelompok peneliti, dan juga kelompok ahli Bahasa Inggris. Proses adaptasi menggunakan metode dari komite AAOS (American Association of Orthopaedic Surgeons) yang mengkoordinasi proses penerjemahan skala. Proses penerjemahan dilakukan dalam 4 tahap. Tahap-tahap tersebut dijelaskan sebagai berikut (Beaton, Bombardier, Guillemin, Verraz, 2000): a) Tahap pertama yaitu Penerjemahan. Pada tahap ini dilakukan proses penerjemahan umum skala dari bahasa asli skala (Bahasa Inggris) ke

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 dalam Bahasa Indonesia. Proses penerjemahan ini dilakukan oleh dua pihak yakni pihak yang memiliki informasi/pengetahuan tentang konten dalam skala yang diterjemahkan, dan pihak yang tidak memiliki informasi/pengetahuan tentang konten skala yang diterjemahkan. b) Tahap kedua yaitu Sintesis. Pada tahap ini, hasil terjemahan dari kedua pihak (pada tahap pertama) akan disintesis atau dibandingkan oleh kelompok peneliti dan kedua pihak penerjemah untuk mendapatkan hasil yang lebih mewakili maksud dan tujuan dari skala asli. Tujuan dari proses ini adalah untuk mencari ketidaksesuaian dan memutuskan secara bersama hasil terjemahan yang akan digunakan dalam skala Bahasa Indonesia. c) Tahap ketiga yaitu Penerjemahan Kembali (Back Translation). Pada tahap ini, penerjemahan kembali dilakukan oleh beberapa pihak yaitu pihak yang terdiri dari dua orang yang fasih berbahasa inggris, pihak yang terlibat pada tahap pertama dan kedua sekaligus sebagai pihak yang memiliki pengetahuan tentang skala yang diterjemahkan, serta kelompok peneliti. Tahap ini bertujuan untuk membandingkan dan mencocokkan kesesuaian hasil penerjemahan kembali dengan bahasa pada skala asli yang digunakan.

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 d) Tahap keempat yaitu Peninjauan dari Pakar/ Ahli. Pada tahap ini, peninjauan dilakukan oleh seorang pakar/ ahli yang memiliki pengetahuan di bidang seksualitas. Pada penelitian ini peninjauan dilakukan oleh dosen pembimbing sebagai ahli dalam ranah penelitian. 2. Reliabilitas Alat Ukur Reliabel merupakan salah satu ciri instrument alat ukur yang berkualitas baik. Reliabilitas merupakan ketepatan pengukuran tanpa menghiraukan atribut apa yang diukur (Nunnaly dalam Supratiknya, 2014). Reliabilitas mengacu pada tingkat kepercayaan atau konsistensi hasil pengukuran atau seberapa cermat pengukuran tersebut (Azwar, 2015). Sehingga apabila hasil pengukuran menunjukkan hasil yang konsisten atau relatif sama ketika mengukur hal yang sama dalam kondisi yang sama pula, maka hasil pengukuran tersebut dapat dipercaya (Nunally, 1970). a. Skala NSSS Uji reliabilitas skala NSSS dilakukan dengan menggunakan testretest reliability dan internal reliability. Skala NSSS ini diuji selama 4 minggu dengan teknik test-retest reliability pada 219 murid di Kroasia, yaitu yang terdiri dari 116 murid perempuan dan 103 murid laki-laki. Hasil korelasi test-retest reliability adalah 0,76 yang dapat dikategorikan

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 73 dalam reliabilitas baik (Stulhofer, Busko, Brouillard, 2011). Disamping itu, reliabilitas internal skala NSSS diukur melalui koefesien alpha Cronbach (a) mendapatkan skor 0.87 sampai 0.96. selain itu, pengukuran skala NSSS sebelumnya pada sampel penelitian mahasiswa Kroasia dan Amerika Serikat yang diukur melalui koefesien alpha Cronbach (a) menunjukkan hasil sebesar 0.94 – 0.96 (Stulhofer, Busko, & Brouillard, 2011). Hasil ini menunjukkan bahwa reliabilitas internal pada skala ini tergolong baik. Pada penelitian ini, penguji kembali melakukan uji reliabilitas berdasarkan analisis yang dibantu dengan program SPSS for windows 23. Koefesien reliabilitas yang diperoleh sebesar 0.975. Hasil ini menunjukkan bahwa skala ini memiliki reliabilitas yang baik. Tabel 3.1 Statistik Reliabilitas Cronbach's Alpha N of Items .975 20 b. Skala FSFI Uji reliabilitas skala FSFI dilakukan dengan test-retest dan internal consistency reliability. Skala NSSS diuji dengan menggunakan testretest reliability dengan mengukur koefesien stabilitas (Pearson

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 74 product-moment correlation). Hasil korelasi test-retest reliability adalah sebesar 0,88. Selain itu, pengukuran skala FSFI juga diukur dengan internal consistency melalui koefesien alpha Cronbach (a) dan mendapatkan skor 0,82 sampai 0,97. Hal ini menunjukkan bahwa reliabilitas pada skala ini tergolong baik. Pada penelitian ini, penguji kembali melakukan uji reliabilitas berdasarkan analisis yang dibantu dengan program SPSS for windows 23. Koefesien reliabilitas yang diperoleh sebesar 0.944. Hasil ini menunjukkan bahwa skala ini memiliki reliabilitas yang baik. Tabel 3.2 Statistik Reliabilitas Cronbach's Alpha N of Items .944 19 H. METODE ANALISIS DATA 1. Uji asumsi Uji asumsi digunakan untuk mengetahui jenis metode statistik yang akan digunakan untuk melakukan uji hipotesis. Beberapa uji asumsi yang akan dilakukan dalam penelitian ini, yaitu:

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 75 a. Uji Normalitas Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data penelitian yang diambil berasal dari populasi yang sebarannya normal (Nisfiannoor, 2009). Hal ini perlu dilakukan untuk memenuhi perhitungan statistik parametrik yang mengasumsikan bahwa data yang akan dianalisis berasal dari populasi yang sebarannya normal. Pengujian dilakukan dengan menggunakan analisis Kolmogrov-Smirnov pada IBM SPSS Statistics versi 23. b. Uji Linearitas Uji linearitas dilakukan untuk mengetahui apakah hubungan antara variabel independen dan variabel dependen bersifat liner (garis lurus). Uji ini dilakukan sebagai prasyarat dalam analisis independet samplet-test. Sebagai syarat pengujian, jika nilai signifikansi lebih dari 0,05, maka dapat dikatakan bahwa varians dari dua atau lebih kelompok data adalah sama. Sebaliknya, jika nilai signifikansi kurang dari 0,05, maka dapat dikatakan bahwa varians dari dua atau lebih kelompok data adalah tidak sama.

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 76 2. Uji Hipotesis Pengujian hipotesis pada penelitian ini menggunakan teknik korelasi Pearson Product Moment dengan menggunakan SPSS versi 23.0. Tujuan dari pengujian hipotesis ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara dua variabel dan untuk mengetahui arah hubungan yang terjadi (Priyatno, 2008). Nilai korelasi (r) berkisar antara 1 sampai -1, nilai semakin mendekati 1 atau -1 berarti hubungan antara dua variabel semakin dekat, sebaliknya nilai mendekati 0 berarti hubungan antara dua variabel semakin lemah (Priyatno, 2008). Nilai positif menunjukkan hubungan searah dan nilai negatif menunjukkan hubungan terbalik atau berlawanan.

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Persiapan dan Pelaksanaan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian payung yang dilakukan oleh dua orang peneliti serta dosen yang memiliki ketertarikan di bidang Psikologi Klinis khususnya psikologi seksual. Penelitian ini disusun oleh seorang dosen, peneliti sendiri, dan satu orang peneliti lainnya. Sebelum melaksanakan penelitian, ada beberapa hal yang disiapkan oleh peneliti demi mendukung terlaksananya proses penelitian. Hal-hal yang disiapkan oleh peneliti seperti proses adaptasi skala dan proses penyebaran skala. Pertama-tama peneliti meminta izin kepada peneliti yang menyusun skala NSSS untuk diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia. Kemudian peneliti melakukan proses adaptasi dengan menggunakan metode dari komite AAOS (American Association of Orthopaedic Surgeons)(Beaton, Bombardier, Guillemin, Verraz, 2000). Peneliti didampingi oleh dosen sebagai professional judgmenet dalam proses adaptasi skala ini. Setelah proses adaptasi skala selesai, peneliti mulai mempersiapkan surat izin agar dapat menyebarkan skala di beberapa tempat yang membutuhkan surat izin. Selain itu, peneliti juga mempersiapkan sebuah kotak untuk menyimpan 77

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 78 skala yang sudah diisi dan secara khusus untuk menjaga kerahasiaan dari jawaban subjek. Setelah proses persiapan penelitian selesai, peneliti melanjutkan ke proses pelaksanaan. Proses pelaksanaan penelitian dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama dilakukan pada bulan November 2017. Sedangkan tahap kedua dilakukan pada bulan Maret hingga Juni 2018. Peneliti menyebarkan skala di beberapa daerah melalui survei online dan kuesioner penelitian di berbagai tempat seperti Universitas, Rumah Sakit, Instansi/ Kantor di Yogyakarta, Solo, Bali, dan lain-lain. B. Deskripsi Subjek Penelitian Subjek yang terdapat pada penelitian ini berjumlah 111subjek wanita dewasa yang sudah pernah berhubungan seksual. Rentang usia subjek berkisar antara 21 tahun hingga 40 tahun. Perhitungan data demografis subjek dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui sebaran data subjek penelitian berdasarkan kelompok usia, usia perkawinan, pendidikan, dan suku. Berdasarkan data demografik subjek diperoleh hasil sebagai berikut: Tabel 4.1 Data Demografik Subjek Penelitian Kategori 21 – 25 tahun Rentang Usia 26 – 30 tahun 31 – 35 tahun 36 – 40 tahun TD* Total Jumlah 11 17 38 44 1 111 Persentase 10% 15,32% 34,23% 39,64% 0,9% 100%

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 79 Tingkat Pendidikan SMP 2 SMA – SMK D1- D3 D4 – S1 S2 24 43 39 2 1 111 88 10 2 1 5 5 111 Total Suku Frekuensi Berhubungan Seks Jawa Bali Sunda Batak Campuran Tidak Diketahui Total Tidak pernah 1x sebulan 2-3x sebulan 1x seminggu 2-3x seminggu 4-5x seminggu 5-6x seminggu 1x sehari/ lebih Tidak Diketahui Total 0 4 14 19 66 4 2 0 2 111 1,8% 21,62% 38,74% 35,13% 1,8% 0,90% 100% 79,28% 9,01% 1,8% 0,9% 4,50% 4,50% 100% 0% 3,60% 12,61% 17,18% 59,46% 3,60% 1,8% 0% 1,8% 100% Berdasarkan data di atas, respon subjek pada penelitian ini didominasi oleh subjek dengan rentang usia 36 – 40 tahun dengan persentase sebesar 39,64% dan usia 31 – 35 tahun dengan persentase sebesar 34,23%. Selanjutnya, respon subjek pada penelitian ini didominasi oleh subjek dengan tingkat pendidikan D1 – S1 dengan total responden sebanyak 82 orang dan persentase sebesar 73,87%. Responden terbesar pada penelitian ini merupakan responden yang berasal dari suku Jawa dengan persentase sebesar 79,28%, sedangkan

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 80 hanya 1 orang yang berasal dari suku Batak atau sebesar 0,9%. Pada penelitian ini, mayoritas subjek melakukan hubungan seks sebanyak 2-3 kali dalam seminggu dengan jumlah 66 orang dan persentase sebesar 59,46%. C. Deskripsi Data Penelitian Pada penelitian ini, peneliti menyajikan data tingkatan kepuasan seksual subjek yaitu mean, median, modus, dan standar deviasi standar kepuasan seksual yang ditinjau pengalaman berhubungan seksual pada wanita. Hasil tingkat kepuasan seksual subjek dapat dilihat pada tabel: Tabel 4.2 Tingkat Kepuasan Seksual Subjek Kepuasan Seksual Fungsi Seksual 76,01 74,51 Median 78 75 Modus 60 70 13,14 11,05 Mean SD Berdasarkan tabel 4.4, dapat dilihat bahwa seluruh subjek yang pernah berhubungan seksual memiliki rata-rata kepuasan seksual sebesar 76,01 dan rata-rata fungsi seksual sebesar 74,51. Berdasarkan seluruh data yang telah peneliti dapatkan, peneliti mencoba membandingkan antara nilai rata-rata teoritis dengan nilai rata-rata empiris dari

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 81 seluruh respons data penelitian yang telah didapatkan. Hasil rata-rata tersebut ditunjukan dalam tabel berikut: Tabel 4.3 Deskripsi Rata-rata Data Penelitian Pengukuran Kepuasan Seksual Fungsi Seksual Teoritis Empiris Min Max Mean Min Max Mean SD 20 100 60 31 100 76,01 14,13 19 95 57 4 95 74,51 11,05 Kategori Tinggi Skala kepuasan seksual terdiri dari 20 item dengan rentang skor 1 sampai 5. Oleh karena itu, diketahui bahwa skor terendah skala adalah 1 x 20 = 20, sedangkan skor tertinggi adalah 5 x 20 = 100. Dengan demikian rentang skor dimulai dari 35 hingga 100. Skala fungsi seksual terdiri dari 19 item dengan rentang skor 1 sampai 5. Oleh karena itu, diketahui bahwa skor terendah skala adalah 1 x 19 = 19, sedangkan skor tertinggi adalah 5 x 19 = 95. Dengan demikian rentang skor dimulai dengan 19 hingga 95.Mean teoritis diperoleh dari yaitu seksual, sedangkan untuk skala kepuasan untuk skala fungsi seksual, dan mean empiris masing- masing sebesar sebesar 75,37 dan 73,35. Hasil tersebut menunjukkan bahwa nilai rerata empiris lebih besar dari pada rerata teoretis (76,01> 60;

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 82 74,51> 57). Jika mean empiris lebih besar dari mean teoritis, maka dapat dikatakan bahwa subjek dalam penelitian ini memiliki kepuasan seksual dan fungsi seksual yang tinggi. Tabel 4.4 Hasil Perhitungan Mean Teoretis berdasarkan One Sample t-test Test Value = 60 & 57 t Sig. (2- Mean tailed) Difference df Kepuasan Seksual 60,908 110 0,000 76.00901 Fungsi Seksual 71,023 110 0,000 74.51351 Berdasarkan hasil uji t pada skala kepuasan seksual dan skala fungsi seksual, masing-masing memperoleh skor yaitu t (110) = 60,908; t (110) = 71,023, (p=0,000; p=0,000), dapat disimpulkan bahwa rerata empiris memiliki perbedaan yang signifikan dengan rerata teoritis karena memiliki signifikansi < 0,05 atau p=0,000. Tabel 4.5 Kategorisasi Tingkat Kepuasan Seksual Variabel N Kategori Ketentuan Jumlah Persentase (n) Kepuasan 111 Tinggi x >/ 60* 107 96,4% Rendah x/< 60* 4 3,6% Tinggi x >/ 57* 106 95,5% Seksual Fungsi 111

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 83 Seksual Rendah x/< 57* 5 4,5% *nilai persebaran data Persentase tingkat kepuasan seksual dihitung berdasarkan persebaran data kelompok. Hasil persentase sebesar 96,4% pada subjek penelitian menunjukkan hasil kepuasan seksual yang tinggi, sementara persentase 3,6% termasuk dalam kategori rendah. Sedangkan hasil persentase tingkat fungsi seksual sebesar 95,5% pada subjek penelitian menunjukkan hasil fungsi seksual yang tinggi, sementara persentase sebesar 4,5% termasuk pada kategori rendah. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas subjek penelitian memiliki tingkat kepuasan seksual dan fungsi seksual yang tergolong tinggi. D. Hasil Penelitian 1. Uji Asumsi a. Uji Normalitas Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui kondisi sebaran data yang ada, apakah data penelitian yang diambil terdistribusi secara normal atau tidak (Nisfiannoor, 2009). Teknik analisis yang digunakan adalah Kolmogrov-Smirnov pada IBM SPSS Statistics versi 23.Data terdistribusi normal apabila memiliki nilai signifikansi (p) lebih besar dari 0,05 (p

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 84 >0,05). Berdasarkan hasil uji normalitas yang telah dilakukan, terdapat hasil yang ditunjukkan pada tabel sebagai berikut: Tabel 4.6 Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnova Statistic df Sig. Kepuasan Seksual .083 111 .059 Fungsi Seksual .143 111 .000 a. Lilliefors Significance Correction Hasil uji normalitas yang terlihat pada tabel menunjukkan bahwa nilai signifikansi dari wanita pada kedua skala masing-masing sebesar 0,083 dan 0,143 (p>0,05) Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa data subjek pada penelitian ini tergolong normal. Tabel 4.7 Data Tambahan Uji Normalitas Kepuasan N Mean SD Sig. (2-tailed) 111 76,01 14.13 0,059 111 74,51 11,05 0,000 Seksual Fungsi Seksual

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 85 b. Uji Linearitas Uji linearitas dilakukan untuk mengetahui apakah hubungan antara variabel independen dan variabel dependen bersifat liner (garis lurus). Pengukuran linearitas menggunakan Anova test of linearitypada IBM Statistics versi 23. Data dikatakan linear apabila signifikansi (p) lebih kecil dari 0,05 (p < 0,05). Berdasarkan hasil uji homogenitas yang telah dilakukan, terdapat hasil yang ditunjukkan pada tabel sebagai berikut: Tabel 4.8 Tabel ANOVA df Kepuasan Seksual * Fungsi Seksual Between Groups (Combined) Linearity Deviation from Linearity Within Groups Total F Sig. 35 4.013 .000 1 62.610 .000 34 2.290 .000 75 110 Berdasarkan hasil uji linearitas pada tabel 4.8 diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,000 (p<0,05). Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antar variabel bersifat linear.

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 86 2. Uji Hipotesis Pengujian hipotesis pada penelitian ini menggunakan uji korelasi Product Moment Pearson.Teknik uji Product Moment Pearson dilakukan dengan bantuan program IBM SPSS Statistics versi 23 dan bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antar variabel pada subjek penelitian. Selain melakukan perhitungan statistik uji hipotesis, peneliti juga melakukan uji analisis tambahan untuk memastikan bahwa skala fungsi seksual dan kepuasan seksual tidak saling tumpang tindih. Uji analisis tambahan menggunakan uji korelasi Product Moment Pearson.Teknik uji Product Moment Pearson dilakukan dengan bantuan program IBM SPSS Statistics versi 23. Pada uji analisis korelasi ini, peneliti melakukan pengukuran tanpa mengikutsertakan aitem pada aspek rasa puas pada skala fungsi seksual. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah tetap terdapat hubungan antar variabel pada subjek penelitian, sehingga asumsi ada atau tidaknya kemiripan aitem pada skala dapat teruji secara statistik. Berikut ini hasil uji hipotesis dengan menggunakan Product Moment Pearson: Tabel 4.9 Hasil uji korelasi antar variabel sebelum dan sesudah aitem dari aspek rasa puas dihilangkan Pearson Correlation Sebelum Sesudah .539** .512**

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 87 N 111 111 df 110 110 **Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed) Berdasarkan hasil pengujian Product Moment Pearson diperoleh hasil signifikansi (sig. 2-tailed) sebesar r = 0,539 dan p < 0,05 (p = 0,000). Hal tersebut menunjukkan terdapat hubungan yang positif signifikan antara kepuasan seksual dengan fungsi seksual pada wanita. Berdasarkan nilai r = 0,539 menunjukkan tingkat korelasi dan kekuatan hubungan variabel berada dalam kategori cukup. Hasil = 0,29 menunjukkan bahwa fungsi seksual memberikan kontribusi sebesar 29% terhadap kepuasan seksual. Selain itu, hasil yang signifikan juga ditemukan setelah aitem pada aspek rasa puas dihilangkan. Hasil signifikansi (sig. 2-tailed) sebesar r = 0,512 dan p < 0,05 (p = 0,000). Hal tersebut menunjukkan terdapat hubungan yang positif signifikan antara kepuasan seksual dengan fungsi seksual pada wanita. Hal ini berarti, meskipun aitem aspek rasa puas dalam skala fungsi seksual dihilangkan, hasil uji korelasi tetap menunjukkan adanya hubungan antar variabel sehingga dapat dikatakan bahwa tidak ada ketumpang-tindihan antar item pada masingmasing skala.

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 88 E. Pembahasan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan yang signifikan antara kepuasan seksual dan disfungsi seksual pada wanita. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data Product Moment Pearson dan diperoleh nilai signifikansi (2-tailed) sebesar r = 0,539 dan p = 0,000 (p < 0,05). Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kepuasan seksual dan fungsi seksual pada wanita. Hal ini berarti semakin tinggi fungsi seksual pada wanita maka akan semakin tinggi pula tingkat kepuasan seksual yang dimiliki. Dengan demikian, hipotesis pada penelitian ini yang menyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kepuasan seksual dan disfungsi seksual pada wanita diterima. Bila ditinjau lebih jauh, hasil mean empirik tingkat kepuasan seksual dan disfungsi seksual pada wanita masing-masing sebesar 76,01 dan 74,51. Jika dibandingkan dengan mean teoritis kepuasan seksual dan disfungsi seksual masing-masing yaitu 60 dan 57, maka nilai mean empirik lebih besar dari mean teoritis. Hal ini berarti tingkat kepuasan seksual dan fungsi seksual pada wanita cenderung tinggi. Kedua hasil perhitungan di atas menunjukkan kesesuaian antara teori dan fakta yang terjadi pada subjek penelitian. Dengan kata lain, hasil penelitian ini mendukung penelitian-penelitian yang sudah ada yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara kepuasan seksual dengan fungsi seksual (Sanchez-Fuentez, 2014; Dundon & Rellini, 2010; Smith dkk, 2012).

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 89 Sangat penting untuk mengetahui hubungan antara disfungsi seksual dengan kepuasan seksual. Pada sampel penelitian ini, disfungsi seksual memiliki korelasi dengan kepuasan seksual. Menurut Smith dkk (2012), secara keseluruhan permasalahan atau disfungsi seksual berhubungan dengan rendahnya tingkat kepuasan seksual. Hal ini disebabkan karena kurangnya hasrat seksual, ketidakmampuan dalam mencapai orgasme, dan pengalaman merasakan sakit saat berhubungan seks berkaitan dengan rendahnya kepuasan seksual. Dengan kata lain, wanita yang memiliki fungsi seksual yang baik mampu berpartisipasi secara baik dalam hubungan seksual dan mewujudkan harapannya untuk mencapai kepuasan seksual. Selain itu, penelitian Sanchez-Fuentez (2014) juga menyatakan bahwa fungsi seksual merupakan salah satu variabel yang berhubungan dengan kepuasan seksual. Hal ini didukung oleh penelitian Hurlbert dkk (1993) yang menyatakan bahwa hasrat seksual, keterangsangan seksual, dan orgasme yang baik dan konsisten berhubungan dengan tingginya kepuasan seksual. Hal ini berarti semakin baik fungsi seksual atau rendahnya disfungsi seksual berhubungan dengan tingginya tingkat kepuasan seksual seseorang. Penelitian Dundon dan Rellini juga mengatakan hal serupa, yaitu kepuasan seksual berkorelasi secara positif dan signifikan dengan fungsi seksual. Penelitiannya menunjukkan bahwa disfungsi seksual berhubungan dengan kepuasan seksual baik dari sisi kedekatan emosional saat berhubungan seks hingga kehidupan seksual secara menyeluruh. Selaras dengan penelitian

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 90 Smith (2012) yang menyatakan bahwa permasalahan seksual yang dialami oleh seseorang berdampak pada rendahnya kepuasan seksual yang dimiliki. Lebih jauh lagi, fungsi seksual yang berkaitan dengan frekuensi seks dalam aktivitas seksual juga berkaitan dengan peningkatan kepuasan seksual (Haavio-Manilla & Kontula, 1997; Hurlbert, 1993). Kepuasan seksual merupakan respon afektif yang muncul dari evaluasi subjektif, baik positif maupun negatif terkait dengan hubungan seksual pada seseorang termasuk persepsi tentang kebutuhan seksual, pemenuhan kebutuhan diri sendiri, ekspektasi terhadap pasangan, serta evaluasi positif tentang hubungan seksual secara menyeluruh (Offman & Mattheson, 2005). Kemudian, fungsi seksual menurut WHO (ICD-10) merupakan berbagai bentuk cara yang ditempuh oleh seseorang untuk berpartisipasi dalam hubungan seksual yang mereka harapkan. Fungsi seksual menjadi salah satu faktor yang penting karena selain menyangkut hal-hal mental, fungsi seksual juga mencakup kondisi fisik seseorang dalam mencapai hubungan seksual yang baik. Dengan kata lain, ketidakmampuan individu dalam mewujudkan kondisi-kondisi tersebut disebut dengan disfungsi seksual. Disfungsi seksual merupakan masalah kesehatan reproduksi yang dapat terjadi pada individu dan didefinisikan sebagai gangguan fungsi seksual yang sering muncul dan persisten (Nicolosi dkk, 2004). Gangguan-gangguan tersebut berarti individu terhambat untuk merasakan hasrat/ dorongan seksual, merasakan keterangsangan seksual, sulit orgasme, bahkan mengalami sakit saat

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 91 bersenggama (Basson, Wierman, Lankveld, & Brotto, 2010; Basson dkk, 2003). Ketika seseorang mengalami disfungsi seksual, maka dirinya akan terhambat untuk memenuhi harapan pada hubungan seksual yang baik, cenderung menganggap bahwa pengalaman-pengalaman yang dirasakan didominasi oleh pengalaman yang negatif. Pengalaman-pengalaman negatif tersebut pada akhirnya akan cenderung membuat wanita mengevaluasi pengalaman seksualnya secara negatif sehingga akhirnya menghindari aktivitas seksual dan memilih untuk tidak terlibat dalam hubungan seks atau senggama dengan pasangan (Wiegel, Scepkowski, & Barlow, 2006 dalamMeston,Goldstein, Davis, & Traish, 2005). Sebaliknya, ketika seseorang memiliki fungsi seksual yang baik, maka dirinya lebih mampu terhindar dari masalah-masalah seksual, tidak mudah terdistraksi saat berhubungan seks, dan mampu memenuhi harapan-harapan seksual yang diinginkan sehingga dengan demikian individu lebih mampu mencapai hubungan seks yang positif dan mencapai kepuasan seksual (Brotto, 2016; WHO, ICD-10; Smith, 2012). Sebagaimana yang dikatakan oleh Stulhofer, Busko, dan Brouillard (2011), kesadaran seksual (sexual awareness) dan aktivitas seksual (sexual ativity) merupakan dua aspek dalam kepuasan seksual dan aktivitas seksual, khususnya, sangat berhubungan kuat pada kepuasan seksual (Rosen dan Bachman, 2008). Dengan demikian, proses mencapai kepuasan seksual akan terganggu karena rendahnya tingkat fungsi seksual (Smith, 2010). Sebaliknya, wanita yang mampu meningkatkan kualitas fungsi seksual yang dimiliki dan

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 92 mampu mencapai kepuasan seksual, maka besar kemungkinan seseorang terhindar dari dampak ketidakpuasan seksual seperti meningkatnya kecemasan, kehilangan kemampuan koitus, dan kehilangan nafsu seksual. Sedangkan, wanita yang memiliki hubungan seksual yang positif mampu menunjukkan kepuasan emosional, kepuasan hidup, dan kesejahteraan psikologis (Rosen & Bachman, 2008). Keterkaitan antara kepuasan seksual dan fungsi seksual dapat dijembatani dengan mengaitkan beberapa faktor yang mempengaruhi kepuasan seksual dan disfungsi seksual. Untuk memiliki fungsi seksual yang baik dapat dilakukan dengan cara meningkatkan faktor-faktor seperti kualitas keintiman emosional dan seksual dengan pasangan (Meston & Buss, 2007; Bois, Bergeron, Rosen, McDuff, & Gregoire, 2013), kualitas dan kepuasan hubungan (Carvalho & Nobre, 2010; Brezsnyak & Whisman, 2004; Gershenson dkk, 2007), lebih fokus dan tidak mudah terdistraksi secara kognitif (Adams, Hayness, & Brayer, 1985; Elliot, O‘donohue, 1997; Meston, Goldstein, Davis, & Traish, 2005), pengurangan konsumsi obat atau substansi tertentu seperti alkohol dan nikotin (Covington & Kohen, 1984; George &Stoner, 2000; Harte & Meston, 2008). Kualitas hubungan tidak hanya mampu mempengaruhi fungsi seksual, tetapi juga merupakan salah satu faktor yang secara langsung mempengaruhi kepuasan seksual dan terbukti memiliki hubungan yang positf dengan kepuasan seksual (New & Bentler, 1983 dalam Young, Denny, Luquis, & Young, 2000). Dengan kata lain, apabila seseorang meningkatkan kualitas fungsi seksual yang dimiliki

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 93 melalui beberapa faktor tersebut maka secara tidak langsung juga akan mempengaruhi tingkat kepuasan seksual yang dimiliki. Karena keterkaitan di antara keduanya serta adanya sejumlah data penelitian yang mendukung, maka kepuasan seksual dan fungsi seksual secara ilmiah memiliki hubungan yang signifikan satu sama lain. Meskipun terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara disfungsi seksual dengan kepuasan seksual pada penelitian ini, tentu saja terdapat beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan. Subjek pada penelitian ini masih tergolong sedikit dan belum merata dilihat dari segi usia dan tingkat pendidikan. Kepuasan seksual pada setiap tahap perkembangan wanita tentu saja berbedabeda (DeLamater & Friedrich, 2002). Perbedaan-perbedaan tersebut berkaitan dengan banyak hal seperti perubahan fisiologis, status hubungan, dan pengalaman-pengalaman lain yang berkaitan dengan hubungan seksual (DeLamater & Friedrich, 2002). Hal ini patut dipertimbangkan karena pengalaman kepuasan seksual juga dapat dievaluasi secara berbeda pada setiap wanita di tiap tahap perkembangan seksual. Selain itu, penelitian ini hanya menghitung sampel pada wanita dan tidak menghitung kepuasan seksual dan fungsi seksual pada laki-laki. Oleh karena itu, peneliti selanjutnya diharapkan mampu memiliki sampel yang luas dan mewakili setiap tahap perkembangan seksual wanita. Selain itu, melihat adanya penelitian tentang peran mekanisme kognitif-afektif dalam memahami psikopatologis dan fungsi seksual seseorang (Zvolensky & Otto, 2007; Wiegel, Scepkowski,

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 94 &Barlow, dalam Meston, Goldstein, Davis, & Traish, 2005), maka mungkin perlu juga untuk memperhatikan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi fungsi seksual tersebut bisa jadi pertimbangan untuk memudahkan pemahaman tentang kepuasan seksual dan ketidakpuasan seksual secara lebih menyeluruh. Penelitian-penelitian mendatang tentang peran mekanisme kognitif-afeksi seperti toleransi distress dan disregulasi emosi pada kesejahteraan psikologis dan kepuasan serta fungsi seksual mungkin dapat menjelaskan faktor-faktor yang lebih relevan dalam memprediksi kepuasan seksual dengan lebih baik. Kelebihan dari penelitian ini adalah penelitian ini mampu memberikan gambaran disfungsi seksual dan kepuasan seksual pada subjek yang berasal dari Indonesia. Dari segi budaya, penelitian tentang seksualitas di Indonesia masih sangat sedikit dilakukan karena seks merupakan hal yang dianggap tabu. Adanya penelitian ini dapat menjadi suatu gambaran tentang kondisi seksualitas khususnya kepuasan seksual dan fungsi seksual dalam budaya Indonesa. Kemudian, penelitian ini juga mengukur fungsi seksual berdasarkan banyak aspek dengan alat ukur yang baik sehingga diperoleh hasil pengukuran yang baik pula. Selain itu, penjelasan teoritis pada penelitian ini memberikan gambaran beberapa gangguan disfungsi seksual dan beberapa alternatif cara untuk mengendalikan atau meningkatkan fungsi seksual sehingga para pembaca khususnya wanita akan lebih sadar akan kondisi seksualnya dan lebih mampu mencapai harapan dalam mewujudkan kepuasan seksualnya dengan pasangan.

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 95 Kesimpulannya, penilaian tentang kepuasan seksual pada wanita harus mencakup penilaian kepuasan seksual yang ditinjau dari aspek-aspek seksualitas pada sebuah hubungan hingga kehidupan seksual secara menyeluruh. Selain itu, tritmen yang mengarah pada ketidakpuasan seksual dan kehidupan seksual secara menyeluruh mungkin juga akan memberi keuntungan pada pemfokusan terhadap simptom psikologis dan medis lebih dari faktor-faktor yang hanya berkaitan dengan relasi. F. Keterbatasan Penelitian Peneliti menyadari bahwa penelitian ini tidak sempurna dan memiliki keterbatasan. Keterbatasan-keterbatasan tersebut antara lain: 1. Subjek yang didapatkan peneliti masih tergolong sedikit. Hal ini dilihat dari data demografik pada perbandingan jumlah subjek penelitian tiap kategori yang tidak sebanding. Peneliti merasa kesulitan mendapatkan subjek karena topik yang diteliti adalah seksualitas. Hal ini menyebabkan adanya kecenderungan faking pada data yang diberikan subjek. 2. Penelitian ini tidak menjabarkan hasil perhitungan dan hasil analisis berdasarkan masing-masing kategori pada data demografi, sehingga hasil penelitian kurang mampu menjelaskan dinamika pada tiap kategori demografi yang ada.

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 96 3. Penelitian ini hanya mengukur kepuasan seksual dan kaitannya dengan variabel disfungsi seksual saja. Peneliti selanjutnya diharapkan dapat meneliti beberapa variabel lain yang juga penting bagi kepuasan seksual. 4. Penelitian ini kurang mampu mengantisipasi adanya kesulitan pemahaman subjek atas aitem-aitem pada skala-skala yang digunakan. Meskipun peneliti telah memberikan penjelasan tentang definisi beberapa istilah, tetapi masih terdapat kemungkinan adanya kesulitan bagi subjek untuk memahami maksud dari tiap-tiap aitem. Oleh karena itu pada penelitian selanjutnya, peneliti menyarankan untuk melakukan uji coba tentang pemahaman aitem terlebih dahulu terhadap beberapa orang agar peneliti dan subjek memiliki pemahaman yang sama terhadap setiap aitem pada skala yang digunakan.

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kepuasan seksual dengan fungsi seksual. Hal ini berarti, semakin tinggi kepuasan seksual individu maka semakin tinggi pula fungsi seksualnya atau dengan kata lain semakin rendah tingkat disfungsi seksual individu. Hal tersebut dapat diketahui melalui uji Product Moment Pearson dan diperoleh nilai signifikansi (2-tailed) sebesar r = 0,539 dan p = 0,000 (p < 0,05). Hasil mean empirik tingkat kepuasan seksual dan fungsi seksual pada wanita masing-masing sebesar 76,01 dan 74,51. Jika dibandingkan dengan mean teoritis kepuasan seksual dan fungsi seksual masingmasing yaitu 60 dan 57, maka nilai mean empirik lebih besar dari mean teoritis. Sesuai dengan hasil uji beda mean (one sample t-test) antara mean empirik dan mean teoritik juga menunjukkan bahwa mean keduanya berbeda secara signifikan (p = 0,000 > 0,05) yang berarti terdapat perbedaan mean empirik dan mean teoritik. Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kepuasan seksual dengan fungsi seksual pada wanita. 97

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 98 B. Saran 1. Bagi Subjek Penelitian a. Hasil menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kepuasan seksual dengan fungsi seksual pada wanita. Oleh karena itu, para wanita diharapkan dapat meningkatkan kepuasan seksual melalui fungsi seksual yang lebih baik hingga mampu mencapai kualitas hubungan yang sesuai dengan harapan.Peningkatan fungsi seksual dapat dilakukan dengan cara memperhatikan beberapa hal penting yang dapat mempengaruhi tingkat fungsi seksual yaitu menjaga kondisi fisik dan emosi, tingkat stress, maupun kontrol terhadap penggunaan obat atau substansi-substansi tertentu. 2. Bagi Praktisi a. Memberikan informasi ilmiah bahwa kepuasan seksual dapat memberikan kebahagiaan bagi individu dan merupakan hal kompleks yang dapat dicapai melalui berbagai hal dari dalam maupun luar diri individu salah satunya melalui peningkatan fungsi seksual. 3. Bagi Penelitian Selanjutnya Penelitian ini membuktikan bahwa hubungan yang positif dan signifikan antara kepuasan seksual dengan fungsi seksual pada wanita. Peneliti selanjutnya disarankan untuk dapat meneliti faktor-faktor kepuasan lainnya yang dapat menambah wawasan mengenai kepuasan seksual. Selain itu,

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 99 peneliti selanjutkan diharapkan dapat meningkatkan jumlah subjek dan menyeimbangkan jumlah subjek ditinjau dari berbagai aspek demografi agar penelitian memiliki data yang tersebar secara merata.

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Daftar Pustaka Adams III, A. E., Haynes, S. N., & Brayer, M. A. (1985). Cognitive distraction in female sexual arousal. Psychophysiology, 22(6), 689-696. Ariely, D., & Loewenstein, G. (2006). The heat of the moment: The effect of sexual arousal on sexual decision making. Journal of Behavioral Decision Making, 19(2), 8798. Avis, N. E., Legault, C., Coeytaux, R. R., Pian-Smith, M., Shifren, J. L., Chen, W., & Valaskatgis, P. (2008). A randomized, controlled pilot study of acupuncture treatment for menopausal hot flashes. Menopause, 15(6), 1070-1078. Azwar, S. (2015). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Azwar, S. (2017). Metode Penelitian Psikologi. Edisi II. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Bancroft, J., Graham, C. A., Janssen, E., & Sanders, S. A. (2009). The dual control model: Current status and future directions. Journal of Sex Research, 46(2-3), 121-142. Bancroft, J., Loftus, J., & Long, J. S. (2003). Distress about sex: A national survey of women in heterosexual relationships. Archives of sexual behavior, 32(3), 193208. 100

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 101 Barrientos, J. E., & Páez, D. (2006). Psychosocial variables of sexual satisfaction in Chile. Journal of sex & marital therapy, 32(5), 351-368. Basson, R., Leiblum, S., Brotto, L., Derogatis, L., Fourcroy, J., Fugl-Meyer, K., ... & Schover, L. (2003). Definitions of women's sexual dysfunction reconsidered: advocating expansion and revision. Journal of Psychosomatic Obstetrics & Gynecology, 24(4), 221-229. Basson, R., Wierman, M. E., Van Lankveld, J., & Brotto, L. (2010). Summary of the recommendations on sexual dysfunctions in women. The journal of sexual medicine, 7(1pt2), 314-326. Beaton, D. E., Bombardier, C., Guillemin, F., & Ferraz, M. B. (2000). Guidelines for the process of cross-cultural adaptation of self-report measures. Spine, 25(24), 3186-3191. Bechara, A., Damasio, H., & Damasio, A. R. (2000). Emotion, decision making and the orbitofrontal cortex. Cerebral cortex, 10(3), 295-307. Beck, J. G., Barlow, D. H., Sakheim, D. K., & Abrahamson, D. J. (1987). Shock threat and sexual arousal: The role of selective attention, thought content, and affective states. Psychophysiology, 24(2), 165-172. Berthelot, N., Godbout, N., Hébert, M., Goulet, M., & Bergeron, S. (2014). Prevalence and correlates of childhood sexual abuse in adults consulting for sexual problems. Journal of Sex & Marital Therapy, 40(5), 434-443.

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 102 Blair, K. L., Pukall, C. F., Smith, K. B., & Cappell, J. (2015). Differential associations of communication and love in heterosexual, lesbian, and bisexual women's perceptions and experiences of chronic vulvar and pelvic pain. Journal of sex & marital therapy, 41(5), 498-524. Bloemendaal, L. B., & Laan, E. T. (2015). The psychometric properties of the Sexual Excitation/Sexual Inhibition Inventory for Women (SESII-W) within a Dutch population. The Journal of Sex Research, 52(1), 69-82. Bodinger L, Hermesh H, Aizenberg D, et al. Sexual function and behavior in social phobia. J Clin Psychiatry 2002; 63:874-879 Bois, K., Bergeron, S., Rosen, N. O., McDuff, P., & Grégoire, C. (2013). Sexual and relationship intimacy among women with provoked vestibulodynia and their partners: Associations with sexual satisfaction, sexual function, and pain self‐ efficacy. The journal of sexual medicine, 10(8), 2024-2035. Braun, V. (2005). In search of (better) sexual pleasure: female genital ‗cosmetic‘surgery. Sexualities, 8(4), 407-424. Braun, V., & Wilkinson, S. (2001). Socio-cultural representations of the vagina. Journal of Reproductive and Infant Psychology, 19(1), 17-32. Brotto, L., Atallah, S., Johnson-Agbakwu, C., Rosenbaum, T., Abdo, C., Byers, E. S., ... & Wylie, K. (2016). Psychological and interpersonal dimensions of sexual function and dysfunction. The journal of sexual medicine, 13(4), 538-571.

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 103 Byers, E. S. (1999). The Interpersonal Exchange Model of Sexual Satisfaction: Implications for Sex Therapy with Couples. Canadian Journal of Counselling, 33(2), 95-111. Carvalho, J., & Nobre, P. (2010). PSYCHOLOGY: Sexual Desire in Women: An Integrative Approach Regarding Psychological, Medical, and Relationship Dimensions. The journal of sexual medicine, 7(5), 1807-1815. Cawood, E. H., & Bancroft, J. (1996). Steroid hormones, the menopause, sexuality and well-being of women. Psychological Medicine, 26(5), 925-936. Chivers, M. L., Rieger, G., Latty, E., & Bailey, J. M. (2004). A sex difference in the specificity of sexual arousal. Psychological Science, 15(11), 736-744. Clayton, A. H., Maserejian, N. N., Connor, M. K., Huang, L., Heiman, J. R., & Rosen, R. C. (2012). Depression in premenopausal women with HSDD: baseline findings from the HSDD Registry for Women. Psychosomatic medicine, 74(3), 305-311. Covington, S. S., & Kohen, J. (1984). Women, alkohol, and sexuality. Advances in Alkohol & Substance Abuse, 4(1), 41-56. Cranston-Cuebas, M. A., & Barlow, D. H. (1990). Cognitive and affective contributions to sexual functioning. Annual review of sex research, 1(1), 119-161. Cresswell, J. W. (2014). Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed. Edisi Ketiga, Yogyakarta: Pustaka Pelajar

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 104 Crisp, C., Vaccaro, C., Fellner, A., Kleeman, S., & Pauls, R. (2015). The influence of personality and coping on female sexual function: a population survey. The journal of sexual medicine, 12(1), 109-115. Cuntim, M., & Nobre, P. (2011). The role of cognitive distraction on female orgasm. Sexologies, 20(4), 212-214. Davidson, J. K., Darling, C. A., & Norton, L. (1995). Religiosity and the sexuality of women: Sexual behavior and sexual satisfaction revisited. Journal of Sex Research, 32(3), 235-243. Deeks, A. A., & McCabe, M. P. (2001). Menopausal stage and age and perceptions of body image. Psychology and Health, 16(3), 367-379. DeLamater, J. D., & Friedrich, W. N. (2002). Human Sexual Development. Journal of Sex Research, 39(1). 10-14. Deng, J., Lian, Y., Shen, C., Chen, Y., Zhang, M., Wang, Y. J., & Zhou, H. D. (2012). Adverse life event and risk of cognitive impairment: a 5‐ year prospective longitudinal study in Chongqing, China. European journal of neurology, 19(4), 631-637. Duncan, L., & Bateman, D. N. (1993). Sexual function in women. Drug safety, 8(3), 225-234.

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 105 Dundon, C. M., & Rellini, A. H. (2010). More than sexual function: Predictors of sexual satisfaction in a sample of women age 40–70. The journal of sexual medicine, 7(2), 896-904. Elliott, A. N., & O'donohue, W. T. (1997). The effects of anxiety and distraction on sexual arousal in a nonclinical sample of heterosexual women. Archives of Sexual Behavior, 26(6), 607-624. Elmerstig, E., Wijma, B., & Swahnberg, K. (2009). Young Swedish women's experience of pain and discomfort during sexual intercourse. Acta obstetricia et gynecologica Scandinavica, 88(1), 98-103. Fahs, B. (2014). Genital panics: Constructing the vagina in women's qualitative narratives about pubic hair, menstrual sex, and vaginal self-image. Body image, 11(3), 210-218. Fahs, B., & Swank, E. (2011). Social identities as predictors of women‘s sexual satisfaction and sexual activity. Archives of Sexual Behavior, 40(5), 903-914. Farmer, M. A., & Meston, C. M. (2007). Predictors of genital pain in young women. Archives of sexual behavior, 36(6), 831-843. Feist, J., & Feist, G.J. 2(008). Theories of Personality, In Edisi Keenam. Pustaka Pelajar Firestone, R. W., Firestone L. A., Catlett, J. (2006). Sex and Love in Intimate Relationship.

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 106 Fooken, I. (1994). Sexuality in the later years—the impact of health and body-image in a sample of older women. Patient Education and Counseling, 23(3), 227-233. Frank, E., Anderson, C., & Kupfer, D. J. (1976). Profiles of couples seeking sex therapy and marital therapy. The American journal of psychiatry. Frohlich, P., & Meston, C. (2002). Sexual functioning and self‐ reported depressive symptoms among college women. Journal of sex research, 39(4), 321-325. Fudge, M. C., & Byers, E. S. (2017). ―I Have a Nice Gross Vagina‖: Understanding Young Women‘s Genital Self-Perceptions. The Journal of Sex Research, 54(3), 351-361. George, W. H., & Stoner, S. A. (2000). Understanding acute alkohol effects on sexual behavior. Annual review of sex research, 11(1), 92-124. Gershenson, D. M., Miller, A. M., Champion, V. L., Monahan, P. O., Zhao, Q., Cella, D., & Williams, S. D. (2007). Reproductive and sexual function after platinum-based chemotherapy in long-term ovarian germ cell tumor survivors: a Gynecologic Oncology Group Study. Journal of Clinical Oncology, 25(19), 2792-2797. Gomes, A. L. Q., & Nobre, P. (2011). Personality traits and psychopathology on male sexual dysfunction: An empirical study. The journal of sexual medicine, 8(2), 461-469.

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 107 Gracia, C. R., Freeman, E. W., Sammel, M. D., Lin, H., & Mogul, M. (2007). Hormones and sexuality during transition to menopause. Obstetrics & Gynecology, 109(4), 831-840. Haavio-Mannila, E., & Kontula, O. (1997). Correlates of increased sexual satisfaction. Archives of sexual behavior, 26(4), 399-419. Hällström, T., & Samuelsson, S. (1990). Changes in women's sexual desire in middle life: the longitudinal study of women in Gothenburg. Archives of Sexual Behavior, 19(3), 259-268. Harte, C. B., & Meston, C. M. (2008). Are the inhibitory effects of nicotine on erectile response in nonsmokers generalizable to long‐ term smokers? A reply. The journal of sexual medicine, 5(8), 2003-2004. Hayes RD, Dennerstein L, Bernett CM, et al. Risk factors for female sexual dysfunction in the general population: exploring factors associated with low sexual function and sexual distress. J Sex Med 2008;5:1681-1693 Henderson, A. W., Lehavot, K., & Simoni, J. M. (2009). Ecological models of sexual satisfaction among lesbian/bisexual and heterosexual women. Archives of sexual behavior, 38(1), 50-65. Holt, A., & Lyness, K. P. (2007). Body image and sexual satisfaction: Implications for couple therapy. Journal of Couple & Relationship Therapy, 6(3), 45-68.

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 108 Hunter, M. S. (1990). Psychological and somatic experience of the menopause: a prospective study [corrected]. Psychosomatic Medicine, 52(3), 357-367. Hurlbert, D. F., Apt, C., & Rabehl, S. M. (1993). Key variables to understanding female sexual satisfaction: An examination of women in nondistressed marriages. Journal of sex & marital therapy, 19(2), 154-165. Hurlock. (2002). In Psikologi perkembangan 5th edition. Jakarta: Erlangga Janssen, E., & Bancroft, J. (2007). The dual-control model: The role of sexual inhibition and excitation in sexual arousal and behavior. The psychophysiology of sex, 15, 197-222. Koch, P. B., Mansfield, P. K., Thurau, D., & Carey, M. (2005). ―Feeling frumpy‖: The relationships between body image and sexual response changes in midlife women. Journal of Sex Research, 42(3), 215-223. Laumann, E. O., Paik, A., & Rosen, R. C. (1999). Sexual dysfunction in the United States: prevalence and predictors. Jama, 281(6), 537-544. Laumann, E. O., Paik, A., Glasser, D. B., Kang, J. H., Wang, T., Levinson, B., ... & Gingell, C. (2006). A cross-national study of subjective sexual well-being among older women and men: findings from the Global Study of Sexual Attitudes and Behaviors. Archives of sexual behavior, 35(2), 143-159.

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 109 LAWRANCE, K. A., & Byers, E. S. (1995). Sexual satisfaction in long‐ term heterosexual relationships: The interpersonal exchange model of sexual satisfaction. Personal Relationships, 2(4), 267-285. Lee, A. M., Chu, L. W., Chong, C. Y., Chan, S. Y., Tam, S., Lam, K. L., & Lam, T. P. (2010). Relationship between symptoms of androgen deficiency and psychological factors and quality of life among Chinese men. International journal of andrology, 33(5), 755-763. Lewis, R. W. (2004). Definition, classification, and epidemiology of sexual dysfunction. Sexual dysfunction, 3-37. McCall-Hosenfeld, J. S., Jaramillo, S. A., Legault, C., Freund, K. M., Cochrane, B. B., Manson, J. E., ... & Bonds, D. (2008). Correlates of sexual satisfaction among sexually active postmenopausal women in the Women‘s Health InitiativeObservational Study. Journal of general internal medicine, 23(12), 20002009. Meston, C. M. (2003). Validation of the Female Sexual Function Index (FSFI) in women with female orgasmic disorder and in women with hypoactive sexual desire disorder. Journal of Sex &Marital Therapy, 29(1), 39-46. Meston, C. M., & Buss, D. M. (2007). Why humans have sex. Archives of sexual behavior, 36(4), 477-507.

(127) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 110 Meston, C. M., & Gorzalka, B. B. (1996). The effects of immediate, delayed, and residual sympathetic activation on sexual arousal in women. Behaviour Research and Therapy, 34(2), 143-148. Meston, C. M., Goldstein, I., Davis, S., & Traish, A. (2005). Women's sexual function and dysfunction: study, diagnosis and treatment. CRC Press. Meston, C., & Trapnell, P. (2005). OUTCOMES ASSESSMENT: Development and Validation of a Five‐ Factor Sexual Satisfaction and Distress Scale for Women: The Sexual Satisfaction Scale for Women (SSS‐ W). The Journal of Sexual Medicine, 2(1), 66-81. Morton, H., & Gorzalka, B. B. (2013). Cognitive aspects of sexual functioning: Differences between East Asian-Canadian and Euro-Canadian women. Archives of sexual behavior, 42(8), 1615-1625. Neff, L. A., & Karney, B. R. (2004). How does context affect intimate relationships? Linking external stress and cognitive processes within marriage. Personality and Social Psychology Bulletin, 30(2), 134-148. Nicolosi, A., Laumann, E. O., Glasser, D. B., Moreira Jr, E. D., Paik, A., & Gingell, C. (2004). Sexual behavior and sexual dysfunctions after age 40: the global study of sexual attitudes and behaviors. Urology, 64(5), 991-997. Nicolosi, A., Glasser, D. B., Kim, S. C., Marumo, K., Laumann, E. O., & GSSAB Investigators‘ Group. (2005). Sexual behaviour and dysfunction and

(128) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 111 help‐ seeking patterns in adults aged 40–80 years in the urban population of Asian countries. BJU international, 95(4), 609-614. Nisfiannoor, M. (2009). Pendekatan statististika Modern untuk Ilmu Sosial. Penerbit Salemba. Nobre, P. J., & Pinto-Gouveia, J. (2008). Differences in automatic thoughts presented during sexual activity between sexually functional and dysfunctional men and women. Cognitive Therapy and Research, 32(1), 37-49. Nunnally Jr, J. C. (1970). Introduction to psychological measurement. Tokyo: Kogakusha Company Offman, A., & Matheson, K. (2005). Sexual compatibility and sexual functioning in intimate relationships. The Canadian Journal of Human Sexuality, 14(1/2), 31. Ojanlatva, A., Rautava, P., Helenius, H., Korkeila, K., Sundell, J., Kivimäki, M., ... & Koskenvuo, M. (2005). Associations of social support and sex life–the HeSSup Study. Patient education and counseling, 58(1), 71-81. Oliveira, C., & Nobre, P. J. (2013). The role of trait-affect, depression, and anxiety in women with sexual dysfunction: A pilot study. Journal of sex & marital therapy, 39(5), 436-452.

(129) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 112 Opperman, E., Braun, V., Clarke, V., & Rogers, C. (2014). ―It feels so good it almost hurts‖: Young adults' experiences of orgasm and sexual pleasure. The Journal of Sex Research, 51(5), 503-515. Pastuszak, A. W., Badhiwala, N., Lipshultz, L. I., & Khera, M. (2013). Depression is correlated with the psychological and physical aspects of sexual dysfunction in men. International Journal of Impotence Research, 25(5), 194. Peixoto, M. M., & Nobre, P. (2014). Dysfunctional sexual beliefs: a comparative study of heterosexual men and women, gay men, and lesbian women with and without sexual problems. The journal of sexual medicine, 11(11), 2690-2700. Penyunting, D., & Pelaksana, (2013). P. Public Health and Preventive Medicine Archive. Prinz, J. J. (2004). Gut reactions: A perceptual theory of emotion. Oxford University Press. Priyatno, Duwi. (2008). Mandiri belajar SPSS (Statistical Product and Service Solution) untuk analisis data dan uji statistik. Yogyakarta: Mediakom Purcell, S. L. (1984). An empirical study of the relationship between religious orthodoxy (defined as religious rigidity and religious closed-mindedness) and marital sexual functioning. Rapsey, C. M. (2014). Age, quality, and context of first sex: associations with sexual difficulties. The journal of sexual medicine, 11(12), 2873-2881.

(130) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 113 Renaud, C., Byers, E. S., & Pan, S. (1997). Sexual and relationship satisfaction in mainland China. Journal of Sex Research, 34(4), 399-410. Rosen, C. Brown, J. Heiman, S. Leiblum, C. Meston, R. Shabsigh, D. Ferguson, R. D'Agostino, R. (2000). The Female Sexual Function Index (FSFI): a multidimensional self-report instrument for the assessment of female sexual function. Journal of Sex &Marital Therapy, 26(2), 191-208. Rosen, R. C., & Bachmann, G. A. (2008). Sexual well-being, happiness, and satisfaction, in women: The case for a new conceptual paradigm. Journal of sex & marital therapy, 34(4), 291-297. Rosen, R. C., Taylor, J. F., Leiblum, S. R., & Bachmann, G. A. (1993). Prevalence of sexual dysfunction in women: results of a survey study of 329 women in an outpatient gynecological clinic. Journal of Sex & Marital Therapy, 19(3), 171-188. Rust, J., & Golombok, S. (1986). The GRISS: a psychometric instrument for the assessment of sexual dysfunction. Archives of Sexual Behavior, 15(2), 157165. Sanchez, D. T., Moss-Racusin, C. A., Phelan, J. E., & Crocker, J. (2011). Relationship contingency and sexual motivation in women: Implications for sexual satisfaction. Archives of Sexual Behavior, 40(1), 99-110.

(131) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 114 Sánchez-Fuentes, M. D. M., Santos-Iglesias, P., & Sierra, J. C. (2014). A systematic review of sexual satisfaction. International Journal of Clinical and Health Psychology, 14(1). Sanders, S. A., Graham, C. A., & Milhausen, R. R. (2008). Predicting sexual problems in women: The relevance of sexual excitation and sexual inhibition. Archives of Sexual Behavior, 37(2), 241-251. Sansone, R. A., Wiederman, M. W., & Monteith, D. (2001). Obesity, borderline personality symptomatology, and body image among women in a psychiatric outpatient setting. International Journal of Eating Disorders, 29(1), 76-79. Schreiner-Engel, P., & Schiavi, R. C. (1986). Lifetime psychopathology in individuals with low sexual desire. Journal of Nervous and Mental Disease. Shulman, J. L., & Horne, S. G. (2003). The use of self-pleasure: Masturbation and body image among African American and European American women. Psychology of Women Quarterly, 27(3), 262-269. Smith, A. M. A., Patrick, K., Heywood, W., Pitts, M. K., Richters, J., Shelley, J. M., ... & Ryall, R. (2012). Body mass index, sexual difficulties and sexual satisfaction among people in regular heterosexual relationships: a population‐ based study. Internal medicine journal, 42(6), 641-651.

(132) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 115 Sprecher, S., Regan, P. C., McKinney, K., Maxwell, K., & Wazienski, R. (1997). Preferred level of sexual experience in a date or mate: The merger of two methodologies. Journal of Sex Research, 34(4), 327-337. Štulhofer, A., Buško, V., & Brouillard, P. (2010). Development and bicultural validation of the new sexual satisfaction scale. Journal of sex research, 47(4), 257-268. Štulhofer, A., Buško, V., & Brouillard, P. (2011). The new sexual satisfaction scale and its short form. Handbook of sexuality-related measures, 530-532. Suparno, Paul. (2011). Pengantar statistika untuk pendidikan dan psikologi. Yogyakarta. Penerbit Universitas Sanata Dharma. Supratiknya, A. (2014). Pengukuran Psikologis. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma Supratiknya, A. (2015). Metodelogi penelitian kuantitatif & kualitatif. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma Walgito, B. (2010). Bimbingan dan Konseling Perkawinan. Yogyakarta: Andi Offset Walster, E., Walster, G. W., & Traupmann, J. (1978). Equity and premarital sex. Journal of Personality and Social Psychology, 36(1), 82. Whipple, B. (2002). Women's sexual pleasure and satisfaction: A new view of female sexual function. Female Patient, 27(8), 44.

(133) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 116 Wiegel, M., Meston, C., & Rosen, R. (2005). The female sexual function index (FSFI): cross-validation and development of clinical cutoff scores. Journal of sex & marital therapy, 31(1), 1-20. Williams, R. E., Kalilani, L., DiBenedetti, D. B., Zhou, X., Fehnel, S. E., & Clark, R. V. (2007). Healthcare seeking and treatment for menopausal symptoms in the United States. Maturitas, 58(4), 348-358. Witting, K., Santtila, P., Varjonen, M., Jern, P., Johansson, A., Von Der Pahlen, B., & Sandnabba, K. (2008). COUPLES'SEXUAL DYSFUNCTIONS: Female Sexual Dysfunction, Sexual Distress, and Compatibility with Partner. The journal of sexual medicine, 5(11), 2587-2599. Young, M., Denny, G., Young, T., & Luquis, R. (2000). Sexual satisfaction among married women. American Journal of Health Studies, 16(2), 73-84. Zulaikah, N. (2008). Hubungan Antara Kepuasan Seksual dengan Kepuasan Pernikahan (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Surakarta). Zvolensky, M. J., & Otto, M. W. (2007). Affective intolerance, sensitivity, and processing: Advances in clinical science introduction. Behavior Therapy.

(134) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LAMPIRAN

(135) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LAMPIRAN LAMPIRAN 1: Uji Reliabilitas Item A. Hasil Reliabilitas Item 1. Skala NSSS Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items .975 20 Item Statistics Mean Std. Deviation N NSSS1 3.6216 .72681 111 NSSS2 3.7387 .74726 111 NSSS3 3.8378 .72036 111 NSSS4 3.5856 .63915 111 NSSS5 3.8649 .75663 111 NSSS6 3.9189 .78781 111 NSSS7 3.8468 .82239 111 NSSS8 3.7748 .87058 111 NSSS9 4.0000 .76277 111 NSSS10 3.9279 .83896 111 NSSS11 3.9279 .79443 111 NSSS12 3.8919 .83504 111 NSSS13 3.9369 .75413 111 NSSS14 3.7207 .94553 111 NSSS15 3.7207 .76481 111 NSSS16 3.6486 .91103 111 NSSS17 3.8108 .82587 111 118

(136) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI NSSS18 3.6757 .82199 111 NSSS19 3.7117 .83544 111 NSSS20 3.8468 .76513 111 Item-Total Statistics Corrected Item- Cronbach's Scale Mean if Scale Variance Total Alpha if Item Item Deleted if Item Deleted Correlation Deleted NSSS1 72.3874 157.312 .824 .973 NSSS2 72.2703 157.690 .779 .974 NSSS3 72.1712 157.307 .832 .973 NSSS4 72.4234 159.374 .811 .974 NSSS5 72.1441 156.852 .815 .973 NSSS6 72.0901 156.374 .805 .974 NSSS7 72.1622 154.192 .881 .973 NSSS8 72.2342 153.272 .874 .973 NSSS9 72.0090 157.009 .799 .974 NSSS10 72.0811 155.602 .791 .974 NSSS11 72.0811 156.112 .812 .973 NSSS12 72.1171 156.813 .734 .974 NSSS13 72.0721 157.740 .768 .974 NSSS14 72.2883 154.025 .765 .974 NSSS15 72.2883 156.134 .845 .973 NSSS16 72.3604 154.560 .771 .974 NSSS17 72.1982 155.215 .824 .973 NSSS18 72.3333 155.461 .816 .973 NSSS19 72.2973 155.556 .797 .974 NSSS20 72.1622 157.719 .758 .974 2. Skala FSFI 119

(137) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items .944 19 Item Statistics Mean Std. Deviation N FSFI1 3.3333 .73030 111 FSFI2 3.2703 .63168 111 FSFI3 3.5495 .90190 111 FSFI4 3.4414 .86007 111 FSFI5 3.4595 .73588 111 FSFI6 3.7297 .76213 111 FSFI7 3.7297 1.24277 111 FSFI8 4.6396 .76030 111 FSFI9 3.6396 .82894 111 FSFI10 4.5856 .84712 111 FSFI11 3.8018 .93244 111 FSFI12 4.5495 .73533 111 FSFI13 3.9730 .84702 111 FSFI14 3.9730 .75630 111 FSFI15 3.9910 .70705 111 FSFI16 4.0811 .67602 111 FSFI17 4.2703 .87330 111 FSFI18 4.4054 .81328 111 FSFI19 4.0901 .81519 111 Item-Total Statistics Corrected Item- Cronbach's Scale Mean if Scale Variance Total Alpha if Item Item Deleted if Item Deleted Correlation Deleted FSFI1 71.1802 112.167 .613 .942 FSFI2 71.2432 112.858 .665 .942 120

(138) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI FSFI3 70.9640 108.817 .667 .941 FSFI4 71.0721 108.122 .745 .940 FSFI5 71.0541 110.415 .726 .941 FSFI6 70.7838 108.862 .801 .939 FSFI7 70.7838 109.226 .439 .949 FSFI8 69.8739 110.620 .687 .941 FSFI9 70.8739 110.729 .617 .942 FSFI10 69.9279 109.577 .670 .941 FSFI11 70.7117 108.025 .685 .941 FSFI12 69.9640 111.217 .672 .941 FSFI13 70.5405 108.996 .705 .941 FSFI14 70.5405 109.542 .762 .940 FSFI15 70.5225 110.615 .744 .940 FSFI16 70.4324 110.975 .755 .940 FSFI17 70.2432 109.968 .625 .942 FSFI18 70.1081 109.079 .732 .940 FSFI19 70.4234 110.119 .666 .941 B. Mean Teoretis Berdasarkan One Sample Test One-Sample Statistics N Mean Std. Deviation Std. Error Mean TOTAL_NSSS 111 76.0090 13.14776 1.24793 TOTALFSFI 111 74.5135 11.05348 1.04915 One-Sample Test Test Value = 60 & 57 95% Confidence Interval of the Difference Mean t df Sig. (2-tailed) Difference Lower Upper TOTAL_NSSS 60.908 110 .000 76.00901 73.5359 78.4821 TOTALFSFI 71.023 110 .000 74.51351 72.4343 76.5927 121

(139) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LAMPIRAN 2: Uji Normalitas A. Uji Normalitas Skala NSSS Tests of Normality a Kolmogorov-Smirnov Statistic TOTAL_NSSS df .083 Shapiro-Wilk Sig. 111 .059 Statistic df .967 Sig. 111 .007 a. Lilliefors Significance Correction B. Uji Normalitas Skala FSFI Tests of Normality a Kolmogorov-Smirnov Statistic TOTALFSFI .143 df Shapiro-Wilk Sig. 111 .000 122 Statistic .812 df Sig. 111 .000

(140) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI a. Lilliefors Significance Correction LAMPIRAN 3: Uji Linearitas ANOVA Table Mean Sum of Squares TOTAL_ Between (Combined) NSSS * Groups Linearity TOTALF SFI Deviation from Linearity Within Groups Total 12396.065 5525.489 df Square 35 354.173 1 5525.489 6870.576 34 202.076 6618.926 75 88.252 19014.991 110 123 F Sig. 4.013 62.61 0 2.290 .000 .000 .001

(141) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LAMPIRAN 4: Hasil Uji Korelasi Product Moment Pearson Correlations Kepuasan Pearson Correlation Seksual Sig. (2-tailed) Kepuasan Fungsi Seksual Seksual 1 ** .000 N Fungsi Seksual .539 Pearson Correlation 111 111 ** 1 .539 Sig. (2-tailed) .000 N 111 111 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Hasil Uji Korelasi Setelah aitem pada aspek Rasa Puas dalam skala FSFI dihilangkan Correlations Kepuasan Pearson Correlation Seksual Sig. (2-tailed) Kepuasan Fungsi Seksual Seksual .512 ** .000 N Fungsi Seksual 1 Pearson Correlation 111 111 ** 1 .512 Sig. (2-tailed) .000 N 111 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). 124 111

(142) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LAMPIRAN 5: Skala Kepuasan Seksual Skala Kepuasan Seksual Kepuasan Seksual Bagian ini menanyakan tentang reaksi dan perasaan seksual Anda. Sebelum menjawab, mohon perhatikan beberapa hal berikut: Kontak seksual merupakan segala bentuk tindakan yang berkaitan dengan sentuhan seksual Aktivitas seksual merupakan segala bentuk sikap dan tindakan yang berkaitan dengan interaksi seksual Sanggama/ hubungan seks merupakankegiatan seksual yang dilakukan oleh pria dan wanita dengan memasukkan alat kelamin pria ke dalam alat kelamin wanita Berilah tanda silang (X) pada salah satu angka yang mewakili jawaban Anda. No Pernyataan 1. Dalamnya rasa terangsang yang saya rasakan Kualitas orgasme yang saya alami Rasa lepas dan pasrah pada kenikmatan seksual yang saya alami Terpusatnya perhatian saya selama aktivitas seksual Respon seksual saya pada 2. 3. 4. 5. 1 Sama sekali tidak puas 125 2 Sedikit puas 3 Cukup puas 4 Sangat puas 5 Amat sangat puas

(143) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. pasangan Keseimbangan antara apa yang saya berikan dan saya peroleh dalam aktivitas seksual Keterbukaan/kejujuran pasangan saya selama aktivitas seksual Sikap dan tindakan pasangan saya saat memulai aktivitas seksual Kemampuan pasangan saya untuk mencapai orgasme Rasa lepas dan pasrah pada kenikmatan seksual yang dialami pasangan saya Cara pasangan saya memperhatikan dan menanggapi kebutuhan seksual saya Kreativitas seksual pasangan saya Kesediaan pasangan saya untuk berhubungan seksual Variasi aktivitas seksual Kemampuan saya untuk bergairah, terangsang, dan menikmati seks Keterbukaan/kejujuran perasaan saya selama aktivitas seksual Suasana hati saya setelah aktivitas seksual Frekuensi aktivitas seksual Frekuensi saya mengalami orgasme Kenikmatan yang saya berikan pada pasangan 126

(144) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LAMPIRAN 6: Skala Fungsi Seksual Skala Fungsi Seksual Fungsi Seksual Bagian ini menanyakan tentang reaksi dan perasaan seksual Anda. Sebelum menjawab, mohon perhatikan beberapa hal berikut: Aktivitas seksual bisa meliputi belaian, cumbuan, masturbasi, dan hubungan seks. Hubungan seks adalah masuknya penis ke dalam vagina. Rangsangan seksual meliputi situasi-situasi seperti cumbuan dengan pasangan, perangsangan terhadap diri sendiri (masturbasi), atau fantasi seksual. Hasrat seksual atau gairah seksual adalah suatu perasaan yang meliputi keinginan untuk mendapatkan pengalaman seksual, perasaan mau menerima cumbuan pasangan, dan berpikir atau berkhayal tentang hubungan seks. Berilah tanda silang (X) pada salah satu angka yang mewakili jawaban Anda. 1. Selama empat minggu terakhir ini, seberapa sering Anda merasakan keinginan/hasrat/gairah seksual? 1 2 3 4 5 127

(145) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Hampir tidak pernah atau tidak pernah Jarang (kurang dari separuh waktu) Kadangkadang (sekitar separuh waktu) Sering (lebih dari separuh waktu) Hampir selalu atau selalu 2. Selama empat minggu terakhir ini, menurut Anda seberapa tinggi keinginan/hasrat/gairah seksual Anda? 1 2 3 4 5 Sangat rendah atau tidak ada sama sekali Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi 3. Selama empat minggu terakhir ini, seberapa sering Anda merasa terangsang secara seksual selama aktivitas seksual atau sanggama? 0 1 2 3 4 5 Tidak ada aktivitas seksual Hampir Jarang tidak (kurang dari pernah separuh atau tidak waktu) pernah Kadangkadang (sekitar separuh waktu) Sering (lebih dari separuh waktu) Hampir selalu atau selalu 4. Selama empat minggu terakhir ini, bagaimana Anda menilai tingkat keterangsangan seksual Anda selama aktivitas seksual atau sanggama? 0 1 2 3 4 5 Tidak ada aktivitas seksual Sangat rendah atau tidak ada sama sekali Rendah Sedang 128 Tinggi Sangat Tinggi

(146) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5. Selama empat minggu terakhir ini, seberapa yakin Anda bisa terangsang secara seksual selama aktivitas seksual atau sanggama? 0 1 2 3 4 5 Tidak ada aktivitas seksual Sangat tidak yakin Tidak yakin 129 Cukup Yakin Yakin Sangat yakin

(147) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6. Selama empat minggu terakhir ini, seberapa sering Anda puas dengan keterangsangan atau gairah seksual yang Anda rasakan selama aktivitas seksual atau sanggama? 0 1 2 3 4 5 Tidak ada aktivitas seksual Hampir tidak pernah atau tidak pernah Jarang (kurang dari separuh waktu) Kadangkadang (sekitar separuh waktu) Sering (lebih dari separuh waktu) Hampir selalu atau selalu 7. Selama empat minggu terakhir ini, seberapa sering Anda mengalami perlendiran vagina (“basah”) selama aktivitas seksual atau sanggama? 0 1 2 3 4 5 Tidak ada aktivitas seksual Hampir tidak pernah atau tidak pernah Jarang (kurang dari separuh waktu) Kadangkadang (sekitar separuh waktu) Sering (lebih dari separuh waktu) Hampir selalu atau selalu 8. Selama empat minggu terakhir ini, seberapa sulit Anda mengalami perlendiran vagina (“basah”) selama aktivitas seksual atau sanggama? 0 1 2 3 4 5 Tidak ada aktivitas seksual Amat Sangat Sulit atau Tidak Mungkin Sangat Sulit 130 Sulit Agak Sulit Tidak Sulit

(148) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9. Selama empat minggu terakhir ini, seberapa sering Anda dapat mempertahankan perlendiran vagina (“basah”) sampai aktivitas seksual atau sanggama selesai? 0 1 2 3 4 5 Tidak ada aktivitas seksual Hampir tidak pernah atau tidak pernah Jarang (kurang dari separuh waktu) Kadangkadang (sekitar separuh waktu) Sering (lebih dari separuh waktu) Hampir selalu atau selalu 10. Selama empat minggu terakhir ini, seberapa sulit Anda dapat mempertahankan perlendiran vagina (“basah”) sampai aktivitas seksual atau sanggama selesai? 0 1 2 3 4 5 Tidak ada aktivitas seksual Amat Sangat Sulit atau Tidak Mungkin Sangat Sulit Sulit Agak Sulit Tidak Sulit 11.Selama empat minggu terakhir ini, ketika Anda mendapat rangsangan seksual atau bersanggama, seberapa sering Anda mencapai orgasme (puncak kenikmatan)? 0 1 2 3 4 5 Tidak ada aktivitas Hampir tidak pernah Jarang (kurang dari Kadangkadang (sekitar 131 Sering (lebih dari separuh Hampir selalu atau selalu

(149) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI seksual atau tidak pernah separuh waktu) separuh waktu) waktu) 12.Selama empat minggu terakhir ini, ketika Anda mendapat rangsangan seksual atau bersanggama, seberapa sulit Anda mencapai orgasme (puncak kenikmatan)? 0 1 2 3 4 5 Tidak ada aktivitas seksual Amat Sangat Sulit atau Tidak Mungkin Sangat Sulit Sulit Agak Sulit Tidak Sulit 13.Selama empat minggu terakhir ini, seberapa puaskah Anda dengan kemampuan Anda untuk mencapai orgasme (puncak kenikmatan) selama aktivitas seksual atau sanggama? 0 1 2 3 4 5 Tidak ada aktivitas seksual Sangat tidak puas Tidak puas Kurang lebih seimbang antara puas dan tidak puas Puas Sangat Puas 14.Selama empat minggu terakhir ini, seberapa puaskah Anda dengan kedekatan perasaan antara Anda dan pasangan Anda selama aktivitas seksual? 0 1 2 3 4 5 Tidak ada aktivitas seksual Sangat tidak puas Tidak puas Kurang lebih seimbang antara puas dan tidak puas 132 Puas Sangat Puas

(150) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15.Selama empat minggu terakhir ini, seberapa puaskah Anda dengan relasi seksual Anda dengan pasangan Anda? 1 2 3 4 5 Sangat tidak puas Tidak puas Kurang lebih seimbang antara puas dan tidak puas Puas Sangat Puas 16.Selama empat minggu terakhir ini, seberapa puaskah Anda dengan kehidupan seksual Anda secara keseluruhan? 1 2 3 4 5 Sangat tidak puas Tidak puas Kurang lebih seimbang antara puas dan tidak puas Puas Sangat Puas 17.Selama empat minggu terakhir ini, seberapa sering Anda mengalami ketidaknyamanan atau sakit selama sanggama? 0 1 2 3 4 5 Tidak ada aktivitas seksual Hampir selalu atau selalu Sering (lebih dari separuh waktu) Kadangkadang (sekitar separuh waktu) Jarang (kurang dari separuh waktu) Hampir tidak pernah atau tidak pernah 18.Selama empat minggu terakhir ini, seberapa sering Anda mengalami ketidaknyamanan atau sakit setelah sanggama? 0 1 2 3 4 5 133

(151) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tidak ada aktivitas seksual Hampir selalu atau selalu Sering (lebih dari separuh waktu) Kadangkadang (sekitar separuh waktu) Jarang (kurang dari separuh waktu) Hampir tidak pernah atau tidak pernah 19.Selama empat minggu terakhir ini, seberapa besar rasa sakit atau tidak nyaman yang Anda alami selama atau setelah sanggama? 0 1 2 3 4 5 Tidak ada aktivitas seksual Sangat tidak nyaman / sakit Tidak nyaman / sakit Antara sakit dan tidak sakit Nyaman / tidak sakit Sangat nyaman / tidak sakit sama sekali LAMPIRAN 7 Identitas Subjek Informasi Diri 1. Usia : 2. Jenis kelamin : Wanita Terlahir sebagai pria, tetapi saat ini menjadi wanita karena operasi medis 3. Selama ini Anda merasa tertarik secara romantis dan seksual dengan: Pria 134

(152) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Wanita Pria dan wanita 4. Tinggi badan : 5. Berat badan : 6. Agama/ kepercayaan : 7. Suku : 8. Kota/ Kabupaten tempat tinggal : 9. Pendidikan saat ini/ pendidikan terakhir jika Anda tidak sedang studi: SD S1/D4 SMP S2 SMA/SMK S3 D1-D3 10. Status pekawinan : Menikah Belum/ tidak menikah (silakan menjawab pertanyaan di bawah sesuai dengan status perkawinan Anda saat ini) Menikah a. Sudah berapa lama Anda menikah? (sebutkan tahun dan bulan) ………………………………………………………………… b. Seberapa sering Anda berhubungan seksual? Tidak pernah/ sangat jarang 1x (sekali) dalam sebulan 2-3x dalam sebulan 1x (sekali) dalam seminggu 2-3x dalam seminggu 5-6x dalam seminggu 135

(153) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1x (sekali) dalam sehari atau lebih c. Alat kontrasepsi apa yang Anda gunakan? Pil KB Suntik IUD (Spiral) Susuk Tubektomi/ vasektomi Diafragma KB alami/ Kalender Kondom Lainnya ............................................................................ d. Dalam 6 (enam) bulan ini, apakah Anda berhubungan seksual dengan lebih dari 1 (satu) orang? YA TIDAK e. Apakah suami Anda disunat? YA TIDAK f. Apakah Anda sudah pernah melahirkan? Belum pernah melahirkan Pernah melahirkan …… kali. Normal……. kali Cecar……… kali Belum / tidak menikah a. Apakah Anda berhubungan seksual? YA TIDAK (Jika Anda menjawab YA, silakan lanjutkan ke pertanyaan di bawah ini. Jika Anda menjawab TIDAK, silakan lanjut ke halaman selanjutnya) b. Seberapa sering Anda berhubungan seksual? 136

(154) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tidak pernah/ sangat jarang 1x (sekali) dalam sebulan 2-3x dalam sebulan 1x (sekali) dalam seminggu 2-3x dalam seminggu 5-6x dalam seminggu 1x (sekali) dalam sehari atau lebih c. Dalam 6 (enam) bulan ini, apakah Anda berhubungan seksual dengan lebih dari 1 (satu) orang? YA TIDAK d. Apakah pasangan seksual Anda disunat? YA TIDAK 137

(155)

Dokumen baru

Download (154 Halaman)
Gratis

Tags