Pergulatan Identitas Kejawaan Gereja Kristen Jawa

Gratis

0
0
126
1 month ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pergulatan Identitas Kejawaan Gereja Kristen Jawa Tesis Untuk Memenuhi Persyaratan Mendapat Gelar Magister Humaniora(M.Hum) di Program Magister Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma Yogyakarta DisusunOleh : Resi Pramudita 156322004 ProgramMagister Ilmu ReligidanBudaya Universitas SanataDharma Yogyakarta 2019 i

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pergulatan Identitas Kejawaan Gereja Kristen Jawa Tesis UntukMemenuhi Persyaratan Mendapat Gelar MagisterHumaniora(M.Hum) di ProgramMagisterIlmuReligi dan Budaya UniversitasSanataDharma Yogyakarta DisusunOleh : Resi Pramudita 156322004 ProgramMagister Ilmu ReligidanBudaya Universitas SanataDharma Yogyakarta 2019 ii

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Halaman Persetujuan Pembimbing iii

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Halaman Pengesahan iv

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pernyataan Keaslian Karya Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis dengan judul “Pergulatan Identitas Kejawaan Gereja Kristen Jawa” merupakan hasil karya dan penelitian saya pribadi. Di dalam tesis ini tidak terdapat karya peneliti lain yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar akademis di suatu perguruan tinggi lain. Pemakaian dan peminjaman karya dari peniliti lain adalah semata-mata untuk keperluan ilmiah sebagaimana diacu secara tertulis dalam catatan kaki dan daftar pustaka. Yogyakarta, 8 Februari 2019 Yang membuat pernyataan, Resi Pramudita v

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pernyataan Persetujuan Publikasi Karya Ilmiah Untuk Kepentingan Akademis Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Sanata Dharma Yogyakarta Nama : Resi Pramudita No Mahasiswa : 156322004 Demi Pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma, karya ilmiah saya yang berjudul : Pergulatan Identitas Kejawaan Gereja Kristen Jawa Beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikanya di internet atau media lain demi kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin kepada saya maupun memberikan royalti kepada saya selama mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta 8 Februari 2019 Yang menyatakan, Resi Pramudita vi

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kata Pengantar Melihat kejawaan pada Gereja Kristen Jawa adalah hal yang menarik bagi diri saya. Poin ini sudah saya kerjakan setidaknya dalam dua kesempatan, yang pertama yaitu skripsi saya di fakultas teologi, dan yang kedua saya kerjakan dalam tesis ini. Ada hal yang sangat berbeda di antara kedua peneilitian tersebut. Hal tersebut mungkin terjadi karena sudut pandangan interdisipliner yang diajarkan dalam Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma. Terselesaikannya tesis ini bisa terwujud karena pengajaran dari segenap dosen Ilmu Religi dan Budaya. Pertama kepada Romo Banar sebagai pembimbing tesis, yang selanjutnya kepada mbak Katrin, Pak Tri, Pak Pratik, Bu Devi, Romo Baskara, Romo Budi, atas segala bimbingannya. Tidak lupa terima kasih juga saya sampaikan kepada Mbak Dita dan Mbak Desi yang senantiasa membantu proses saya belajar di IRB. Ungkapan syukur juga saya ucapkan kepada teman-teman di IRB sebagai kawan seperjalanan. Bertemu kalian semua adalah berkah bagi saya. Terima kasih juga saya haturkan kepada kedua pasang orang tua saya. Saya tahu betul betapa bapak ibu saya sudah mendukung saya dengan segenap tenaga dengan berbagai wujud dukungannya. Ucapan terimakasih juga saya sampaikan kepada Maria Theofani, yang juga mendukung saya dengan berbagai caranya. Terakhir, saya ucapkan terimakasih bagi Gereja Kristen Jawa. Semoga tesis ini dapat diterima sebagai wujud cinta dari salah seorang anggotanya. Semoga GKJ terus berbenah dan dapat mereformasi diri menjadi semakin baik lagi. vii

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pergulatan Identitas Kejawaan Gereja Kristen Jawa Abstrak Bagi Gereja Kristen Jawa (GKJ) pergulatan mengenai identitas kejawaan merupakan sesuatu yang menarik untuk diamati. Ada aspek-aspek kejawaan yang dahulu tidak diperkenankan dipakai di dalam kehidupan gerejawi kini tampak begitu kuat. Bahkan GKJ memerankan diri seolah berada di garda terdepan apabila berbicara tentang kejawaan. Di sisi lain, upaya melestarikan kejawaan ini juga diiringi dengan tudingan pada orang muda telah meninggalkan kejawaan tersebut. Hal-hal tersebut nampak dalam penggunaan bahasa. seni dan tradisi yang coba dilestarikan oleh GKJ. Tesis ini membedah hal-hal yang terjadi di dalam diri GKJ tersebut dengan menggunakan pikiran Baudrilaard perihal simulasi. Pembahasan tesis ini dimulai dengan mengaji upaya GKJ menghadirkan kejawaan dalam kehidupan bergerejanya dalam logika simulasi. Melihat tanggapan dan pengalaman orang muda terlibat dalam upaya membangun identitas kejawaan. Selanjutnya melihat bagaimana Tuhan ditempatkan dalam pembicaraan mengenai identitas kejawaan . Hal yang tidak kalah penting adalah melihat alasan GKJ membangun identitas ini. Setelah itu juga hendak melihat kesempatan GKJ dalam membangun identitas dalam logika simulasi. viii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI The Struggle of Javaneseness Identity of Javanese Christian Church Abstract In the perspective of Gereja Kristen Jawa (GKJ), the struggle for keeping the Javanese identity is an interesting topic to be observed. There are Javanese aspects which are not permitted to be used in church life in the past, now it is strongly applied. In fact, GKJ had taken a role as the vanguard in dealing with the javaneseness disscusion. However, the act of GKJ preserving the javaneseness somehow is accompanied by the accusation to the youth. They are accused of neglecting their javeneseness. The act of neglection might observed from the use of the javanese language, traditional art, and custom which GKJ try to preserve. Therefore, this thesis will breaking down the phenomena through the view of Baudrilaard regarding simulation. The writer will begin the discussion by researching the act of GKJ in presenting javaneseness in church life through the logic of simulacra. The writer also take into account the youth responds and their experiences after participating in building the javaneseness identity. After that, the writer will observe how God is positioned in the discussion of Javaneseness identity. As important as other, The writer will look into GKJ concern in building this identity. Last but not least, the writer will observe the opportunity that GKJ have in building the identity in the logic of simulation. ix

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Daftar Isi Halaman Judul ...............................................................................................................................................i Halaman Persetujuan Pembimbing .................................................................................................... iii Halaman Pengesahan ............................................................................................................................... iv Pernyataan Keaslian Karya ..................................................................................................................... v Pernyataan Persetujuan Publikasi Karya Ilmiah untuk Kepentingan Akademis.............. vi Kata Pengantar .......................................................................................................................................... vii Pergulatan Identitas Gereja Kristen Jawa: Abstrak ................................................................... viii The Struggle of Javaneseness Identity of Javanese Christian Church: Abstract ................ ix Daftar Isi ......................................................................................................................................................... 1 Bab 1 Pendahuluan .................................................................................................................................... 3 1. Latar Belakang ............................................................................................................................. 3 2. Rumusan Masalah ...................................................................................................................... 9 3. Tujuan Peneilitian ...................................................................................................................... 9 4. Manfaat Penelitian ....................................................................................................................... 9 5. Kajian Pustaka ...........................................................................................................................10 A. Membicarakan Agama sebagai Lokus Penelitian Kajian Budaya .....................10 B. Persoalan Kebudayaan dan Antar Generasi di Gereja ..........................................12 C. Kekhasan Relasi antara Kekristenan dan Kejawaan .............................................16 D. Upaya Menempatkan Kejawaan dalam Penelitian ........................................... 19 6. Kajian Teori.................................................................................................................................23 7. Metode Penelitian ......................................................................................................................26 8. Sistematika Penulisan ............................................................................................................27 Bab2 : Gereja-Kristen-Jawa: Kaitkelindan Identitas ...................................................................29 Pengantar............................................................................................................................................29 1. Gereja : Sekilas Tentang Terbentuknya Gereja Kristen Jawa ..................................29 2. Kristen :Calvinis Pietis ............................................................................................................34 3. Jawa : Jawa Kristen a la Sadrach ........................................................................................40 4. GKJ Berhadapan dengan Kejawaan ...................................................................................45 5. Catatan ..........................................................................................................................................51 Bab 3 : GKJ Membangun Identitas Kejawaan .................................................................................53 1

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pengantar .............................................................................................................................................53 1. Upaya-upaya membangun identitas kejawaan dalam bahasa, seni dan tradisi 53 A. Membangun Penanda-Penanda Identitas..................................................................54 B. Orang Muda dalam Penanda Identitas ........................................................................64 2. Upaya Membangun Identitas Kejawaan dalam ranah Biblis .....................................77 3. Upaya Membangun Kejawaan dalam Konteks Pluralitas ...........................................82 4. Catatan ............................................................................................................................................85 Bab 4 : Pergulatan Identitas Kejawaan Gereja Kristen Jawa dalam Logika Simulasi .....86 Pengantar .............................................................................................................................................86 1. Agama dalam Pusaran Simulasi ............................................................................................86 2. Bahasa, Seni, Tradisi..................................................................................................................88 3. Tuhan dalam Logika Simulasi; Upaya Membangun Identitas dalam Ranah Biblis ...........................................................................................................................................................97 4. Upaya Membangun Identitas Kejawaan dalam Konteks Pluralitas .................... 103 5. Kekosongan sebagai Harapan bagi Gereja..................................................................... 106 Bab 5: Kesimpulan dan Penutup...................................................................................................... 109 Lampiran 1 ............................................................................................................................................... 114 Daftar Pustaka......................................................................................................................................... 115 2

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Bab1 Pendahuluan 1. Latar belakang “GKJ adalah singkatan dari gereja kurang jelas”, begitu kelakar yang pernah penulis dengar bila membicarakan perihal identitas GKJ. Kelakar itu tentulah tidak muncul begitu saja. Pembicaraan yang lain ketika menyinggung persoalan identittas GKJ yang muncul adalah keprihatinan bahkan kekuatiran pada generasi muda yang dianggap tidak tertarik pada kejawaan. Para generasi muda ini dianggap lebih tertarik pada budaya “Barat”. Hal ini rupanya menjadi masalah karena GKJ merupakan gereja yang berbasis kesukuan Jawa. “Barat” vs “Timur” menjadi perbincangan yang tidak dapat dielakkan ketika membicarakan kata kunci dari tulisan ini, yaitu pergulatan identitas kejawaan, yang dialami oleh Gereja Kristen Jawa. Dalam kaitannya dengan identitas kejawaan peneliti melihat kecenderungan bahwasanya orang muda selalu menjadi pihak yang disoroti. Untuk merunut persoalan yang telah disebutkan di atas jejak awal yang bisa ditelusuri adalah pergumulan antara Kristen dan Jawa, sebagai aspek pembentuk GKJ. Kristen yang dibawa oleh zending bernuansa “Barat” yang bertemu dengan orang Jawa menghasilkan pergumulan tersendiri. Atau bila melihat pergumulan di atas, bisa dianalogikan Kristen adalah “Barat” sedangkan “Jawa” dianggap mewakili “Timur”. Lalu bagaimana dengan Gereja Kristen Jawa?Keresahan semacam ini bisa dilihat dalam tulisan Sukoco yang menunjukan permasalahan dua kelompok dalam kaitannya 3

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dengan sikap terhadap kejawaan di GKJ.1 Kelompok pertama ialah kelompok yang mengatakan bahwa tidak ada gunanya membicarakan kejawaan di jaman sekarang ini dengan alasan sudah ketinggalan jaman. Alasan yang lain ialah bahwasanya warga GKJ sendiri sudah tidak njawani.2 Salah satu indikatornya ialah sedikitnya orang yang beribadah di ibadah Minggu yang menggunakan bahasa pengantar bahasa jawa. Oleh karena itu, menurut Sukoco, kelompok pertama mengatakan bahwa membicarakan kejawaan merupakan hal yang sudah tidak relevan dan merupakan hal yang sia-sia. Sementara kelompok yang kedua adalah kelompok yang setuju pada upaya untuk mencari akar budaya kejawaan. Hal ini dilakukan dengan dasar bahwa 80% gereja GKJ terdapat di pedesaaan3. Selain bahasa jawa mestinya ada juga perhatian terhadap unsur-unsur yang lain, misalnya tradisi, kesenian, simbol, kesenian dan nilai filsafati. Tulisan Sukocodipinjam dalam latar belakang ini hendak menunjukan ketegangan bahwasanya ada dua gambaran kelompok, yang pertama adalah kelompok yang merasa pembicaraan tentang kejawaan merupakan hal yang sia-sia, sementara kelompok yang lain merasa bahwa harus mencari akar. Ada bagian kelompok yang merasa perlu untuk mencari bagaimana “Jawa” yang “Timur” sekaligus Kristen yang “Barat”. Penelitian ini juga tidak akan bergerak untuk mendukung kedua kelompok di atas. Bagi penulis, kelompok-kelompok di atas, bukan satu-satunya kemungkinan yang terjadi dalam menggeluti identitas kejawaan pada era sekarang ini. Kejawaan 1 Lukas Eko Sukoco, “Teologi Lokal Jawa Perlukah?, Pergumulan-pergumulan Teologis Seorang Pendeta Gereja Kristen Jawa” dalam Ponco Rahardjo (ed), Sang Penjaga &Pengawal Budaya Jawa : Bunga Rampai Tulisan Tentang Budaya Jawa: Suatu Penghargaan Emiritasi untuk Prof.Dr.Dr. W.e. Soetomo Siswokaro, M.Pd. (Yogyakarta: Taman Pustaka Kristen, 2007) hal 124-134. 2 Ibid hal 124. 3 Ibid hal 125. 4

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI yang tidak bisa digenggam semakin membuka kemungkinan. Artinya tidak hanya ada satu realitas saja. Ada berbagai macam hal yang bisa direproduksi sebagai “Jawa”. Bagian dari reproduksi kejawaan yang dilakukan oleh GKJ ialah dengan mengadakan Temu Budayawan Sinode.4Dalam pertemuan tersebut dipaparkan sebuah makalah yang berisiseruan perihalcultural homeless (kemudian diartikan sebagai gelandangan budaya).Seruan tersebutmenjadi peringatan yang muncul pada saat temu budayawan sinode Gereja Kristen Jawa di Salatiga pada tahun 2015. 5 Seruan tentang menjadi gelandangan budaya mengingatkan bahwa sekarang orang sudah tidak lagi menganggap tradisi “Jawa” sebagai identitas yang perlu dilihat karena dianggap terlalu rumit, sementara budaya “Barat” dianggap lebih baik. Maka para gelandangan budaya tersebut meninggalkan rumah budayanya (Jawa) dan kemudian tertarik pada budaya barat. Peringatan itu juga menyebutkan bahwa para gelandangan budaya tersebut sebetulnya tidak dapat memasuki budaya barat yang baru itu. Peringatan ini oleh pembicara juga dialamatkan pada GKJ, supaya GKJ jangan sampai menjadi gelandangan budaya. Terlebih yang menjadi sorotan adalah orangorang mudanya. Orang muda (GKJ) jangan sampai menjadi gelandangan budaya. Hal 4 Pada tahun 2006 di GKJ Purworejo Sinode Gereja-gereja Kristen Jawa (GKJ) membentuk Lembaga Kajian Budaya Jawa (Lemkabuja), salah satu program kerja dari Lemkabuja adalah mengadakan acara “Temu Budayawan”. 5 Konsep gelandangan budaya ini di dapatkan dari makalah yang dituliskan oleh Prof DR Sri Hartanto sebagai pemateri temu budayawan sinode yang menyebutkan bahwa ada orang-orang yang tidak tercukup terididik dalam budaya Jawa, kemudian enggan mempelajari malah menuduh budaya sebagai sesuatu yang rumit. Namun mereka kemudian merasa silau dengan budaya barat sebagai budaya baru yang ditawarkan dan lebih modern, tapi tidak bisa masuk ke sana. Mereka yang sudah tidak berada dalam kejawaan dan tidak bisa masuk dalam budaya barat inilah yang disebut sebagai gelandangan budaya. Lih Sri Hastanto ,pemikiran tentang Desain dan Strategi Kebudayaan untuk GKJ (Salatiga: tidak diterbitkan,2015) hal 3, selain itu juga dari web http://www.gkj.or.id/?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=1142diunduh pada 8 Januari 2016 pukul 12:53. 5

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ini terlihat jelas manakala dalam rapat kecil “Temu Budayawan” di Purworejo pada tahun 2017, seorang bapak bertanya : “Apa yang terjadi di GKJ seandainya generasi kita sudah tidak ada ?” Gambaran ini jelas menyatakan bahwa dalam benak bapak tersebut bahwa orang muda tidak mengerti sama sekali tentang kejawaan sehingga muncul ekspresi ketakutan semacam ini. Atau setidaknya ada anggapan pula bahwa kejawaan yang dimengerti oleh sebuah generasi merupakan sebuah kebenaran tunggal. Sayangnya sampai di sini eksistensi orang muda belum dilihat, apalagi secara utuh. Seruan ini menarik diperhatikan dalam penulisan tesis ini karena pada awalnya manakala gereja masih dibina oleh zending, warga gereja dituntut untuk menjauhkan diri dari tradisi lama.Tradisi lama ialah segala sesuatu yang dilakukan sebelum memeluk agama Kristen, yang berkaitan dengan sistem kepercayaan.6 Namun sekarang penulis melihat fenomena yang terjadi pada gereja justru sebaliknya, sekarang gereja menjadi pihak yang paling getol untuk memerhatikan budaya Jawa. Perubahan ini adalah hal tersendiri yang perlu dilihat dalam kaitanya dengan kekuatiran orang tua terhadap fenomena orang muda yang dianggap tidak tertarik pada budaya Jawa. Pada tahun 2014 GKJ secara sinodal melalui Lembaga Kajian Budaya Jawa (Lemkabuja) melakukan suatu upaya untuk mencari akar identitas budaya Jawa, 6 Sebagai sebuah contoh ada aturan-aturan yang dikeluarkan Emde untuk mengatur orang-orang Jawa yang memeluk agama Kristen: Potonglah rambutmu pendek-pendek; Jangan memakai ikat kepala di gereja; Jangan mendengarkan gamelan; Jangan menonton wayang; Jangan melakukan khitanan; Jangan menyelanggarakan selamatan; Jangan menyanyikan tembang; Jangan merawat pekuburan; Jangan menaburkan bunga di makam; Jangan membiarkan anakmu bermain-main. Lih C.Guillot, Kiai Sadrach: Riwayat Kristenisasi di Jawa, terj Grafiti Press (Jakarta : Grafiti Press, 1985) hal 25. 6

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dengan cara memberi perhatian pada aspek adat, bahasa dan kesenian7. Tiga hal tersebut menurut Lemkabuja merupakan hal-hal yang dirasa perlu diperhatikan oleh GKJ. Adat, bahasa dan kesenian dianggap layak diperhatikan karena hal-hal tersebut yang tampak dalam kehidupan bergereja. Selain itu, ketiga hal tersebut termasuk aspek-aspek yang dianggap tidak dikuasai oleh orang muda. Misalnya dari sisi bahasa acara ibadah yang menggunakan bahasa pengantar bahasa Jawa kurang diminati orang muda 8. Selain itu, dari sisi kesenian tradisional (misalnya gamelan) orang muda yang mau belajar hanya sedikit, selain itu orang muda tidak paham terhadap tradisi-tradisi yang sudah diserap dalam kehidupan bergereja. GKJ sendiri telah menaruh perhatian pada tiga hal yang dianggap merisaukan tersebut misalnya ibadah-ibadah yang dilayangkan dalam rangka syukuran kehamilan (mitoni), pernikahan bahkan juga kematian. Dalam gambaran di atas, apa yang digeluti oleh GKJ sebenarnya adalah kejawaan yang terbatas pada ranah liturgis. Pemilihan penggunaan seni, bahasa, dan tradisi yang hanya bisa masuk dalam ibadah di gereja. Artinya seni dikerucutkan sebagai kesenian yang bisa diterima dan digunakan sebagai penunjang liturgi, demikian juga dengan bahasa. Sementara tradisi adalah upacara adat yang sudah bisa diterima di gereja. Pembicaraan mengenai identitas di atas, diwarnai dengan sisi-sisi yang beraneka ragam. Sisi sejarah yang tidak bisa dilepaskan. Sementara itu juga sisi pendapat orang tua juga merupakan hal yang penting. Terlebih apa yang sudah dipaparkan di atas, diperjumpakan dengan sudut pandang kajian budaya dalam tulisan ini. Sebagaimana 7 http://www.gkj.or.id/?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=1142diunduh pada 8 Januari 2016 pukul 12:53. Indikator yang biasanya digunakan adalah jumlah orang muda yang datang dalam ibadah berbahasa Jawa. 8 7

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI semangat kajian budaya yang dipaparkan oleh Saukko, bahwa salah satu semangat kajian budaya adalah menghadirkan keberagaman suara (polivokalitas)9. Banyaknya suara yang muncul dimaksudkan agar tidak ada suara tunggal yang mendominasi suara yang lain. Bila hanya terdengar suatu suara saja niscaya terjadi penindasan. Oleh karena itu urgensi dari tulisan ini adalah mengangkat suara yang lain, yaitu dari para orang muda. Mengangkat polivokalitas adalah hal yang sangat penting karena pasti tidak ada realitas tunggal. Mengangkat polivokalitas ini bertujuan untuk membuka suara yang berbeda dari kelompok yang lain. Penelitian ini memanfaatkan tiga ranah yang diperhatikan oleh GKJ yaitu bahasa,tradisi dan kesenian sebagai lingkup untuk melihat ekspresi-ekspresi yang digunakan oleh orang muda dalam menggeluti kejawaanya. Suara orang muda yang kemudian akan diperlihatkan dalam ekspresi-ekspresi sebagaimana disinggung di atas patut diperjuangkan, karena kejawaan sendiri, dengan meminjam pikiran Baudrilaard, adalah sebuah simulasi. Jawa sudah tidak bisa dicari mana kejawaan yang asli dan mana Jawa yang merupakan bayangan dari yang asli. Tidak pernah bisa lagi kejawaan dicari karena kejawaan kini merupakan sebuah simulasi, kejawaan sudah tidak bisa dipisahkan lagi antara asli dan refleksinnya. Kejawaan yang dikuatirkan hilang adalah sebuah simulasi, artinya kejawaan yang demikian pula adalah merupakan hasil refleksi yang direproduksi. Terlebih kekuatiran yang dihadirkan oleh orang tua ini merupakan gejala yang tidak terjadi begitu saja, ada narasi yang lebih besar terkait dengan sejarah dan konteks lain ketika 9 Paulla Saukko, Doing research ini cultural Studies : An Introduction to Clasical and New Metdhological Approaches. (California, sage Publications:2003) hal 65. 8

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI membicarakan hal tersebut. Hal-hal tersebutlah yang akan dibahas dalam penelitian ini. 2. Rumusan Permasalahan A. Bagaimana warga GKJ membicarakan dan membangun identitas kejawaan? B. Bagaimana pergulatan identitas GKJ itu ditanggapi oleh orang muda? C. Bagaimana menempatkan pergulatan identitas GKJ di dalam konteks kajian budaya? 3. Tujuan Penelitian A. Melihat pola pikir warga GKJ perihal kekuatiran pada fenomena orang muda yang dianggap tidak tertarik pada budaya kejawaan, dan bagaimana dampak fenomena tersebut pada GKJ sebagai gereja dengan latar belakang budaya Jawa. B. Memperdengarkan suara orang muda perihal pemaknaan dan pandangan tentang kejawaan sebagai bagian dari GKJ. C. Memperlihatkan bagaimana sebuah upaya membangun identitas dari lembaga agama ditinjau dari segi kajian budaya. 4. Manfaat Penelitian A. Manfaat penelitian ini bagi ilmu sosial, untuk menampakan gejala sosial, di mana terjadi kekuatiran perihal identitas, kekuatiran ini juga disertai usaha-usaha untuk membangun dan menjaga identitas tersebut.. B. Manfaat penelitian ini bagi gereja-gereja berlatar belakang kesukuan, memberikan gambaran mengenai pembentukan identitas kesukuan 9

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5. Kajian Pustaka A. Membicarakan Agama sebagai Lokus Penelitian Kajian Budaya Membicarakan agama (Kristen) dalam konteks kajian budaya di Indonesia memiliki beragam dimensi yang mesti diperhitungkan. Dimensi pertama yang mesti dilihat dalam agama ialah dimensi sui generis, yaitu keadaan di mana agama merupakan sebuah kategori pokok atas dirinya sendiri.10 Pandangan yang semacam ini melihat agama tidak mungkin direduksi. Oleh karena itu sebagai lokus kajian budaya di sini agama tidak dipandang dengan cara yang demikian. Agama dilihat dalam perannya sebagai disiplin ilmu beserta segala perkembanganya. Perlu dicatat sebelumnya bahwa ketika agama didekati dan dipelajari, ada usahausaha untuk medefinisikannya. Akan tetapi King mencatat bahwa hal ini tidak lepas dari dampak dikotomi pasca-pencerahan, yaitu ruang publik dan ruang privat.11 Hal inilah yang membuat agama sendiri tereduksi dalam ruang privat yang seolah terpisah dari ranah yang lain (poilitik misalnya). Dalam membahas hal ini King memberi contoh dengan apa yang terjadi pada mistisisme. Mistisme kerap dipandang sebagai sesuatu yang misterius dan tak dapat diindrai. Mistik dimasukkan ke dalam ranah privat sehingga takada kaitanya dengan dunia akademis. Malah lebih jauh kerap mistik dihadap-hadapkan dengan filsafat. Seolah-olah sedang menghadapkan antara yang rasional dan yang tidak. Lalu membangun narasi bahwa mistik itu milik Asia 10 Richard King. Agama,Orientalisme dan Poskolonialisme; Sebuah Kajian tentang Pertelingkahan antara Rasionalitas dan Mistik. Terj Agung Prihantoro. (Yogyakarta :Qalam Press, 1999) hal 22. 11 Ibid hal 24. 10

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI sedang filsafat milik Eropa.12 Hal-hal semacam inilah contoh yang dilakukan King untuk menunjukkan bahwa dalam pendekatan dan pendefinisian pada agama, sarat dengan aspek kekuasaan. Agama bukan soal sui gerenis (semata-mata), namun juga soal perjuangan dan aspek-aspek yang lebih luas, misalnya etika, isu sosial dan politik. Dalam perkembangan kesejarahannya, agama (religio) menurut Cicero setidaknya berasal dari relegere yang berarti melacak kembali atau membaca ulang.13 Hal ini mementingkan tradisi-tradisi nenek moyang dan tidak perlu mempertanyakannya. Hal ini berisi pengajaran dari generasi ke generasi (traditio). Sebagai contoh kasus, orang-orang yang mempraktekkan konsep agama yang semacam ini adalah orangorang Romawi. Orang-orang Romawi percaya pada dewa-dewa nenek moyang, bahkan juga menghormati dewa-dewa orang lain. Sedangkan orang Kristen awal tidak demikian. Orang Kristen awal tidak mau menghormati dewa-dewa orang Romawi. Hal ini karena Orang-orang Kristen menghayati agamanya dengan memaknai religo dengan konsep dari Lactantius yaitu re-ligare yang dapat diartikan dengan mengikat kebersamaan.14 Hal ini berkaitan dengan alasan-alasan seseorang memeluk suatu agama. Ada sebuah kebenaran yang diyakini secara bersama-sama. Oleh karena itu pendekatan semacam ini tidak ada hubunganya sama sekali dengan leluhur. Meskipun demikian King melihat dalam kekristenan kedua hal di atas masih bisa dijumpai. Buktinya tokoh-tokoh dalam masa lalu tetaplah penting. Hal yang patut dicatat ialah bahwa klausul tentang alasan, tentang kebenaran menjadi sesuatu yang pokok dalam 12 Ibid hal 58. Ibid hal 68. 14 Ibid hal 69. 13 11

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI perkembangan studi agama. Hal ini juga berkaitan dengan sekularisme yang terjadi sehingga pendekatan-pendekatan ilmu agama didekati juga dengan pendekatan ilmu alam. Ada berbagai pendekatan yang diajukan oleh King yang dalam perjalanannya bisa digunakan untuk mendekati agama. Namun sebuah catatan yang penting diajukan King adalah bahwa peran studi keagamaan dalam konteks kajian budaya ialah meletakkan keragaman pada posisi yang lebih kuat ketika melakukan penelitian yang open-ended terhadap perspektif dan pandangan dunia nantinya.15 Maka hal yang penting bagi pendekatan agama dalam kajian budaya adalah menghadirkan polivokalitas pada keragaman realitas yang terjadi. Sekalipun demikian King menempatkan agama dalam penelitian yang lebih luas sebagaimana yang telah diajukkan oleh tesis ini, namun tesis ini berupaya melangkah lebih jauh. Tidak hanya menempatkan agama sebagai sebuah lembaga yang bisa diteliti tanpa takut pada dimensi sui generis. Tesis ini hendak melihat bahwa ada pula aspek-aspek yang nampaknya sui generis namun ternyata digunakan sebagai klaim untuk mendukung kepentingan tertentu. B. Persoalan Kebudayaan dan Antar Generasi di Gereja Bagian ini membahas pengalaman orang Ukraina yang sempat mendapatkan penganiayaan oleh orang-orang Rusia pada abad ke-13 dan mesti pergi dari tanah leluhurnya dan tinggal di Kanada sebagai imigran.16 Konteks yang demikian ini justru menjadi masalah tersendiri ketika berbicara di ranah agama. Gereja di Kanada, baik 15 Ibid hal 103. Amanda Eve Wigglesworth, “The Role of Language in Religion and Ethnic Identity A Study of Liturgical Language Use in the Ukrainian Orthodox Church of Canada” dalam The Canadian Journal of Orthodox Christianity, Volume III, No 2, Summer 2008 hal 33. 16 12

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI itu Katolik maupun Ortodoks mempromosikan dua bahasa, yaitu bahasa Inggris dan Perancis. Hal ini menjadi masalah bagi orang-orang Ukraina yang bergereja di Gereja Ortodoks Ukraina. Hal ini juga terkait lekat dengan bahasa apa yang akan dipakai di dalam gereja. Sementara di sisi lain, kebutuhan mempertahankan keukrainaan lekat juga dengan impian bahwa suatu saat nanti akan pulang ke Ukraina yang bebas. Untuk membahas persoalan ini Wigglesworth memberikan dua perbandingan. Yang pertama adalah pengalaman religius orang Palestina pada abad pertama. Sekalipun kitab orang-orang Yahudi berbahasa Ibrani, namun pengikutnya memiliki bahasa yang beraneka ragam, ada yang berbahasa Aram, ada pula yang berbahasa Koptik dan Yunani. Tradisi penggunaan bahasa Ibrani sebagai tradisi untuk membaca Torah tetap dipertahankan, namun penjelasan atas Torah itu disesuaikan dengan bahasa umat, supaya dapat dimengerti. Wigglesworth melihat adanya perbedaan antara pengalaman religius orang Palestina dengan gereja ortodoks Ukraina di Kanada. Bila umat yahudi di Palestina terlihat bisa mengapresiasi penggunaan yang berbeda-beda, gereja di Ukraina justru hendak menegaskan penggunaan bahasa Ukraina di dalam ibadah. Sementara di sisi lain ada realitas bahwa kemampuan bahasa Ukraina memang sudah berkurang. Oleh karena itu pilihannya adalah menambah ibadah berbahasa Inggris, atau membuat orang-orang Ukraina belajar lagi tentang bahasa Ukraina. Perbandingan yang lain adalah dengan orang-orang suku Aborigin di Amerika. Sebagai korban atas orang-orang Amerika dari sisi bahasa rupanya juga ada resiko akan punah. Penggunaan bahasa Inggris adalah usaha dari orang tua untuk 13

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menyiapkan anaknya bisa sukses di dunia sekarang karena menjadi bagian dari mayoritas bisa menjanjikan. Bagaimanapun kehilangan bahasa hampir pasti tidak bisa dipulihkan lagi. Dengan dua perbandingan di atas Wigglesworth melihat studi kasus di jemaat. Memang ada banyak faktor mengapa bahasa Ukraina mesti dipertimbangkan penggunaanya. Salah satunya ialah orang-orang muda yang pergi ke kota untuk bersekolah atau mencari pekerjaan memang lebih dekat dengan bahasa Inggris.Selain bahasa Inggris memang menjadi tuntutan bagi pendidikan atau pekerjaan. Hal ini merupakan realitas yang tidak dapat dipungkiri lagi sekalipun pada awal masa kepindahan warga Ukraina di Kanada. Untuk melihat realitas ini lebih dekat, Wigglesworth mengadakan penelitian di sebuah gereja ortodoks Ukraina dari September 2006 sampai Juni 2007, dengan menyebar 100 kuesioner, mewawancarai 20 sumber, dan melihat literatur yang ada. 17 Hasil dari penelitian itu melihat ada banyak faktor mengapa bahasa Inggris diinginkan dalam ibadah gereja ortodoks Ukraina. Pertama, bahwa semakin tidak diinginkanya bahasa Ukraina karena memang orang muda lebih paham bahasa Inggris daripada bahasa Ukraina. Selain itu pernikahan dengan orang yang tidak beretnis Ukraina juga menyebabkan bahasa Inggris lebih diminati, demikian juga dengan anak-anak hasil pernikahan ini. Penggunaan bahasa Inggris ini juga digunakan untuk menyasar orangorang muda yang tidak mengerti bahasa Ukraina dan memilih gereja lain, mau datang kembali ke gereja ortodoks ini. Namun di sisi lain peneilitian itu juga menunjukan 17 Ibid hal 39. 14

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI transmisi religius yang mengatakan bahwa apa yang dipercayai oleh gereja rupanya juga melekat pada budaya Ukraina. Maka implikasi dari penelitian tersebut adalah tetap menggunakan dua bahasa secara seimbang, mengingat ada dua pihak yang berada di sana yang sama-sama menginginkan bahasa Ukraina dan bahasa Inggris dipakai dengan segala kepentinganya. Namun diskusi diantara keduanya tetap harus dijaga sebagai sebuah kesatuan jemaat. Membuat salinan dari musik Inggris supaya dapat dimasukan dalam gereja untuk memperkenalkan transmisi religius kepada golongan yang menginginkan budaya Ukraina. Selanjutnya pendidikan tentang bahasa Ukraina juga bisa diberikan pada istri maupun anak yang bukan orang Ukraina. Penelitian di atas menunjukan sesuatu yang mirip dengan apa yang akan saya soroti dalam tesis ini. Persoalan budaya seringkali diiringi munculnya persoalan dalam ranah bahasa. Wiggelsworth memaparkan bagaimana komunitas Kristen Ukraina yang berpindah ke Kanada, sehingga bahasa Ukraina mesti bersaing dengan bahasa Inggris dan Perancis.Sementara itu dalam penelitian ini bahasa Jawa juga dilihat bersaing dengan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Wigglesworth juga memaparkan orang tua dan orang muda yang memiliki sisi yang berbeda. Orang tua hendak mempertahankan bahasa Ukraina, sementara orang muda hendak memakai bahasa Inggris. Ada perubahan yang dipotret di sini, perubahan itu tidak mungkin dinafikkan di satu sisi, sementara di sisi lain Wigglesworth juga melihat bahayanya kehilangan bahasa seperti orang-orang suku Aborigin. Ketegangan ini pula, menurut pra paham penulis, ada dalam penelitian ini. 15

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI C. Perjumpaan antara Kekristenan (Protestan) dan Kejawaan Guna melihat lebih jauh tentang persinggungan antara Kekristenan dan Kejawaan maka penting juga untuk melihat penelitian yang menyoroti tentang purifikasi (yang melingkupi faktor pembentuk, tujuan ) di GKJ sehingga muncul anggapan bahwa Kristen yang baik adalah Kristen yang tidak tercampuri oleh kepercayaan lama (dalam hal ini slametan dan sunatan). Pertanyaan yang dimunculkan terkait purifikasi ini mengupas sisi lain dari apa yang akan diteliti. Bahwa dalam tubuh GKJ rupanya ada berbagai suara, dan setidaknya melalui tulisan Nugroho ditunjukkan bahwa ada pendapat yang menolak budaya tradisional Jawa, dan ada pula kekuatiran bahwa GKJ akan menjadi kehilangan identitasnya sebagai gereja yang berlatar belakang budaya Jawa. Fenomena purifikasi ini berasal dari pengalaman Nugroho berada di dua tempat yaitu di Ngampel dan Kasimpar yang ia kunjungi pada tahun 2003. Nugroho dikejutkan dengan sebuah pernyataan yang menyiratkan kebanggan bahwa orang Kristen (terutama di Kasimpar) sudah tidak mempraktekan slametan (selamatan) dan sunatan (khitanan) dengan anggapan bahwa dua hal tersebut bertentangan dengan iman Kristen. Di dua tempat itu terjadi permasalahan pada praktek slametan dan sunatan. Hal tersebut dikarenakan persoalan identitas Kristen yang hendak ditegaskan oleh Pendeta. Agaknya Pendeta ini menjadi bagian dari “Salatiga Zending” yang 16

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI mengutamakan purifikasi.18Akibatnya, di desa terjadi ketegangan antar pemeluk agama karena orang Kristen diharapkan oleh Pendeta tidak melakukan selamatan lagi. namun pada prakteknya warga masih menjalankan praktek tersebut. Permasalahan ini menjadi hal yang dibahas manakala “Keristenan” pada awal perjumpaanya dengan “Kejawaan”. Bagaimana menjadi “Kristen” yang baik adalah menjadi seperti Belanda. Hal ini karena “Kristen” yang dimaksudkan Zending ialah plantatio ecclesiae19, sehingga gereja yang ada di Jawa merupakan cangkokan dari yang ada di Belanda. Akan tetapi konsep dari Zending ini gagal hal ini bisa dilihat dalam tulisan Nugroho ini dipaparkan juga bahwa proses purifikasi ditentukan oleh para elit desa yang memegang peranan penting.20 Karena mereka yang membawa Kekristenan ke desa mereka, sekaligus nanti tetap mempertahankan praktek selamatan. Pada akhirnya praktek selamatan tetap dijalankan sekalipun mungkin dengan cara pandang yang berbeda. Pada bagian akhir Nugroho menjelaskan kejadian di dua tempat yang sudah di atas sebagai sebuah relasi antara orang-orang Kristen Jawa dan juga orang Kristen Belanda dengan sudut pandang relasi kuasa. Gereja cangkokan yang hendak diwujudkan oleh Salatiga Zending melalui pendeta, bukan hanya soal sumber ajaran yang berasal dari gereja Belanda namun lebih kepada segala sesuatu yang dibutuhkan pendeta dicukupi oleh zending. 18 Singgih Nugroho, “Tiyang Kristen ing Mriki Sampun Sae Agamanipun . Pendeta, Bekel dan Upaya membangun Identitas Agama” di Jawa dalam Retorik, vol 2 no 4, Oktober 2003, hal 175 19 Ibid hal 183. 20 Ibid hal 176-180. 17

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Sebagaimana dituliskan di atas, tulisan Nugroho di sini dipaparkan dalam rangka melihat penelitian tentang ”Kejawaan” yang ada di GKJ. Meskipun pada tulisan Nugroho memang membahas tentang relasi kuasa, namun di sisi lain ada aspek “Barat” dan “Timur”. Bahwa isu tentang GKJ yang berhadapan dengan gereja Belanda sebagai pengandaian “Barat” lawan “Timur” agaknya masih dihidupi hingga kini. Penulis menduga pemikiran yang semacam ini yang mendasari ketakutan pada orang muda yang dianggap tidak tertarik lagi pada “Jawa”. Hal ini sekaligus juga menunjukkan ketakutan generasi tua pada “Barat”. Lalu generasi ini merasa gagal untuk membentuk orang muda, dan mewariskan “Jawa” yang mereka kehendaki. Apalagi realitas yang menunjukan bahwa GKJ pernah berjarak dengan kejawaan bersamaan dengan konsep plantatio ecclesiae agaknya menjadikan “Barat” sebagai hal yang terus diwaspadai. Apalagi dengan perkembangan jaman (terutama dalam wilayah bahasa) orang muda dianggap lebih tertarik pada bahasa Inggris daripada kepada bahasa Jawa. Pertentangan “Barat” dan “Timur” bila dibicarakan terus menerus hanya akan menghasilkan ketakutan. ketakutan menjadi “Barat” dan ketakutan sudah tidak “Timur”. Lalu orang berlomba-lomba mencari-cari “Timur” sedemikian rupa dan ada usaha mengeliminasi “Barat”. Dalam tesis ini penulis tidak akan menyajikan pertentangan semacam itu, namun akan membingkai pertentangan-pertentangan yang terjadi baik dalam penolakan ataupun usaha mendefiniskan diri dengan pendekatan-pendekatan kajian budaya. 18

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI D. Upaya Menempatkan Kejawaan dalam Penelitian Tidak begitu mudah untuk melihat apakah kejawaan itu?, bagaiamanakah yang dimaksud dengan kejawaan itu? Ada berbagai aspek yang mesti dilihat. Akan tetapi yang menjadi sebuah titik pijak di sini adalah bahwa penghayatan soal kejawaan itu tidak diam. Kesulitan perihal menangkap apa itu Jawa, terkhusus siapa orang Jawa tersebut terlontar juga di dalam penelitian Frans Magniz Suseno dalam bukunya “Etika Jawa”.21 Ia lebih jauh mengatakan bahwasanya tidak ada ciri-ciri khusus yang bisa ditangkap oleh dirinya yang bisa mendefinisikan secara ideologis siapakah orang Jawa itu. Hal ini pulalah yang membuatnya mendasarkan argumennya pada kejawaan berdasarkan konstruksi teoretisnya sebagai seorang penulis.22 Hal ini dengan jelas dipilih oleh Suseno dengan segala konsekuensinya. Keuntungannya ia memang tidak perlu menjelaskan referensi Jawa yang ia maksudkan, baik itu soal waktu, tempat dan karakter. Namun kekurangannya akan ada jarak dengan realitas sosial-empiris.23 Lebih jauh, setlah memberikan gambaran mengenai bagaimana “Jawa” dalam berbagai seginya Suseno menjelaskan tentang kaidah kehidupan masyarakat di Jawa. Beliau menekankan perihal dua nilai, yaitu rukun dan hormat. 24 Kedua nilai inilah yang dipakai dalam kehidupan orang Jawa. Sebagaimana judul buku yang ia tulis ia menempatkan kejawaan dalam sisi filosofis. 21 Franz Magnis-Suseno, Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. (Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama:1996) hal 3 22 Ibid hal 4. 23 Ibid hal 4. 24 Ibid hal 38-68. 19

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tesis ini mencoba menyoroti lokus yang serupa, yaitu kejawaan. Di sisi-sisinya juga memiliki kemiripan dengan apa yang dialami oleh Suseno. Hal ini dapat dilihat dalam sulitnya menenentukan apa, bagaimana, dan siapa Jawa itu? Referensi kejawaan yang sudah begitu sulit dirunut apalagi jika hendak menampilkan kekhasannya. Apa yang terjadi terhadap GKJ dalam tesis ini juga demikian. Ada upaya menghadirkan kejawaan namun tidak ada refernsi yang jelas. Oleh karena itu dalam tesis ini tidak akan menyajikan kejawaan dalam referensi waktu maupun lokasi tertentu namun melihatnya sebagai sesuatu yang dikonstruksi. Hanya saja tesis ini tidak akan membawa konstruksi itu ke ranah filsosfis namun ke arah kajian budaya. Maka akan memperlihatkan gejolak konstruksi kejawaan itu beserta perlawananperlawanan yang muncul dalam pergulatan tersebut. Sub bab ini juga meminjam tulisan G. Budi Subanar terutama dalam memotret perubahan penghayatan dari keluarga keraton dalam memaknai kejawaan.25 Keraton begitu penting untuk disoroti karena keraton acapkali dipandang sebagai pusat kejawaan. Ada dua tokoh yang dihadap-hadapkan yang pertama adalah Sultan Hamengku Buwono IX dan Sultan Hamengku Buwono X. Sisi yang hendak dilihat adalah bagaimana keduanya, yang notabene adalah raja dan di dalamnya juga terdapat citra kejawaan dalam memutuskan sebuah kebijakan.Sultan HB IX merupakan sosok yang dilihat sebagai pembaharu dalam dunia keraton. Hal ini 25 G.Budi Subanar, “Manunggaling Kawula Gusti dalam Transisi : Potret Dunia Jawa dari Yogyakarta” dalam Sesudah Filsafat; Esai-esai untuk Franz Magnis Suseno, I Wibowo B Herry Priyono, ed. (Yogyakarta Kanisius:2006) hal 59-85. 20

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dikarenakan selain seorang sultan, Sultan HB IX adalah seorang pelaku bisnis.26 Sultan tidak hanya memberi kebijakan pembangunan selokan mataram untuk melindungi rakyatnya dari kerja paksa yang diwajibkan oleh Jepang. Sultan HB IX juga membangun instrumen ekonomi. Hal ini terlihat dari pembangunan pabrik gula Madukismo dan juga pembangunan Hotel Ambarukmo. Pada pabrik gula tersebut Sultan HB IX memiliki 75% saham, sementara sisanya dimiliki pemerintah Indonesia. Beliau juga menduduki posisi sebagai presiden komisaris. Sementara Hotel Ambarukma didirikan demi pengelolaan terhadap sendratari ramayana.27 Subanar melihat apa yang dilakukan oleh Sultan HB IX dalam mendirikan pabrik gula dan juga mendirikan Hotel Ambarukma yang diasosiasikan dengan sendratari ramayana merupakan sebuah upaya mempertemukan dunia petani dan juga aspek kebudayaan yang dimasukkan dalam bisnis modern. Hal ini juga merupakan sebuah perwujudan kejawaan Sultan HB IX.28 Setelah membahas bagaimana HB IX berkiprah, maka kini pembahasan diarahkan pada Sultan HB X. Sultan HB X adalah juga sultan yang bergerak di aras bisnis, sebagaimana sultan sebelumnya. Kendati demikian ada orientasi ekonomi yang berubah. Contohnya adalah penggusuran SD yang berada di sekitar Hotel Ambarukma, perusakan situs bangunan lama keraton dan yang paling kentara adalah pembangunan hypermarket. Semula Hotel Ambarukma dibangun sebagai instrumen ekonomi yang memberi kesempatan bagi masyarakat di sekitarnya, namun kini yang 26 Ibid hal 70. Ibid hal 71. 28 Ibid hal 72. 27 21

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ada hanyalah pusat perbelanjaan besar yang pasti tidak dimiliki oleh penduduk sekitar. Orientasi pemimpin keraton yang acapkali menjadi simbol kejawaan ini mau tak mau mesti dilihat dalam arus globaliasi dan kapitaliasi. Tidak dapat dielakkan bahwa ada perubahan orientasi, yang tadinya menghiraukan sisi pertanian dan juga kebudayaan kini berubah menjadi bisnis semata dengan segala alasan praktis pragmatis. Ada sebuah kemungkinan bahwa penghayatan kejawaan yang menghiraukan kepentingan bersama telah bergeser. Ada sebuah kemungkinan juga bahwa konsep manunggalingkawula gusti telah bergeser menjadi manunggaling kawula ing pasar.29 Keraton yang kerap dianggap sebagai pusat juga rupanya memiliki dinamika dalam menggumulkan apa itu kejawaan. Di satu sisi kejawaan dimaknai dengan keberpihakan pada rakyat sementara yang lain kejawaan adalah sebuah komoditas semata yang disetir oleh kepentingan pasar. Citra pusat memang menarik bila diperbincangkan apalagi bagi GKJ (sebagai objek penelitian dalam tesis ini) Yogyakarta adalah salah satu pusatnya. Akan tetapi dalam tesis ini hendak menampakkan bahwa klaim-klaim terhadap pusat nantinya juga merupakan sesuatu yang kososng. Sebuah upaya menghadirkan referensi yang demikian sia-sia. Untuk itulah kejawaan dalam sebuah konstruksi, namun tanpa referensi akan semakin menarik dibicarakan 29 Ibid hal 85. 22

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6. Kajian Teori Gereja Kristen Jawa nampak telah begitu tertarik dengan identitas kejawaan. Hal itu nampak pada aspek-aspek seni budaya dan tradisi yang coba terus dibangun. Bahkan dalam upaya membangun identitas kejawaan itu muncul sebuah kekuatiran pada orang muda. Seolah-olah ada hal-hal yang sangat mendesak yang perlu segera dilakukan. Di sisi lain, gereja terlihat bingung menentukan “Jawa” seperti apa yang mesti diuri-uri (dilestarikan). Hal inilah yang akan coba dilihat dengan bantuan Baudrilaard dan akan dikaitkan dengan teologi yang dalam hal menjadi ideologi penggerak gereja. Aspek yang akan dilihat di sini ialah perihal simulasi. Ketika menjelaskan hal ini Baudrilaard menjelaskan dengan contoh sebuah kerajaan yang membuat sebuah Peta. Peta itu begitu detailnya sehingga sekalipun kerajaan itu telah hancur peta itu tetap dapat menghadirkan keindahan dari kerajaan tersebut. Peristiwa di mana keindahan kerajaan itu tetap dapat dihadirkan oleh peta tersebut sekalipun kerajaan itu telah hilang adalah gambaran dari simulasi. Simulasi adalah sebuah model dimana ada sesuatu yang real tanpa realitas itu sendiri.Di sana tercipta hiperrealitas.30 Peta itu ada bukan karena adanya wilayah dari kerajaan itu, namun petalah yang mengadakan kerajaan tersebut. Peta menjadi lebih real daripada wilayah kerajaan itu sendiri. Dalam kondisi yang demikian itu simulasi dari peta berada dalam dimensi hiperreral. Ketika memasuki dimensi hiperrealitas Baudrilaard menjelaskan bahwa di sana akan muncul hal-hal yang artifisial dari tanda. Kemunculan ini untuk menggantikan 30 Mark Poster(ed). Jean Baudrilaard; Selected Writing.(Stanford University Press, Stanford: 1988). 23

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI tanda-tanda yang nyata dengan yang nyata itu sendiri.31 Sebagaimana Peta yang tadi sudah disinggung di atas telah muncul dan menggantikan wilayah dari kerajaan. Tanda-tanda yang artifisial itu akan mencegah yang real itu bereproduksi karena hiperealitas memastikan tanda-tanda yang dangkal ini bereproduksi dalam simulasi. Ada hal yang perlu diingat ketika membicarakan tentang simulasi, yaitu bahwa simulasi bukanlah pura-pura. Simulasi sudah tidak membicarakan benar-salah, ataupun yang nyata-imajiner. Sekalipun dalam simulasi tidak ada referensi, yang ada dalam simulasi adalah gejala (symptom) yang benar.32 Simulasi juga bukan merupakan sebuah representasi. Apabila representasi mengandaikan ada kesetaraan antara yang nyata dan yang direpresentasikan, apabila simulasi tidak mengandaikan ada yang nyata. Ia menyerap yang nyata itu dalam dirinya dalam sebuah simulakrum.33 Sebagaimana sudah disinggung di atas, konsep ini hendak digunakan untuk mengkaji salah satu fenomena dalam sebuah organisasi agama. Konsep simulasi ini hendak menunjukkan bahwa segala sesuatu bisa menjadi simulasi. Bahkan Tuhan sendiri bisa menjadi simulakrum.34 Sebagaimana yang telah dijelaskan, konsep simulasi ini menghilangkan referensi. Maka Tuhan bisa menjadi simulasi bahkan yang mahakuasa (omnipotence). Dalam kemahakuasaan itulah simulasinya menjadi sangat luar biasa pengaruhnya. Tuhan tidak digantikan, namun menjadi sebuah simulakrum. 31 Ibid. Ibid. 33 Ibid. 34 Ibid. 32 24

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Hal itu sangat mungkin dilakukan oleh lembaga agama. Dengan simulasi (yang maha kuasa) tersebut, lembaga agama bisa menimbulkan dampak yang besar. Di sisi lain, ketika membicarakan sesuatu yang lampau atau yang menjadi asal-usul (di sini ketika Baudrilaard mebicarakan mumi Ramses35) menghadirkan aspek yang menarik. Rupanya hal yang penting juga untuk membicarakan hal-hal yang masa lalu atau soal asal-usul. Ada usaha untuk mencitrakan bahwa ada sesuatu yang asli. Alihalih menjaga keasliannya, yang muncul juga merupakan simulasinya. Manakala identitas dibicarakan oleh lembaga agama dalam konteks simulasi maka di sana akan nampak tidak adanya referensi. Ada hal-hal pula yang muncul sebagai tanda artifisial. Hal-hal tersbut muncul sebagai respon atas berbubahnya relasi agama di dalam konteks simulasi. Di dalam tesis ini teori tentang simulasi ini digunakan untuk melihat tentang kejawaan yang dibangun oleh sebuah lembaga keagamaan (GKJ). Kejawaan yang kini sudah demikian larut dibicarakan dengan begitu saja tanpa perlu merujuk pada kejawaan apapun. Sekalipun tanpa referensi namun ada juga klaim-klaim yang dibangun untuk membenarkan argumentasi tentang perlunya membangun identitas kejawaan. Argumentasi inilah yang dilihat dalam logika simulasi sebagai menguatnya tanda-tanda yang artifisial. Hal-hal artifisial yang menguat dalam ranah-ranah visual. 35 Ibid. 25

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7. Metode Penelitian Dalam hal metode penelitian ini hendak memakai dua cara. Pertama dengan studi literatur,hal ini digunakan untuk melihat sejarah dan konteks GKJ. Sementara metode yang kedua adalah dengan wawancara. Pihak yang diwawancara dalam tesis ini adalah generasi tua dan orang muda perihal kejawaan. Orang tua diwawancarai berkenaan dengan bagaimana kekuatiran tersebut ada di GKJ. Wawancara juga ditujukan pada orang muda dengan maksud menangkap ekspresi-ekspresi orang muda dalam menjalankan kejawaanya. GKJ yang dipilih sebagai yang akan diteliti adalah GKJ Purworejo. Hal ini karena dilihat sebagai gereja yang representatif untuk penelitian ini. Pemilihan ini didasarkan pada tercatatnya GKJ Purworejo sebagai salah satu gereja tertua (diresmikan pada tahun 1900).36 Di gereja ini pula seorang tokoh bernama Kiai Sadrach juga pernah mengasuh jemaat ini. Sekalipun dalam perkembanganya kemudian lebih banyak berkiprah di Karangjoso (berada di kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo). Pengaruh Sadrach sebagai model beragama “Kristen-Jawa” juga coba disusuri lagi di GKJ Purworejo. Selain dari aspek kesejarahan dan juga pengaruh ketokohan, GKJ Purworejo juga dipilih karena banyak peristiwa yang terkait dengan sinode dalam sikapnya terhadap budaya yang terjadi di Purworejo. Misalnya berdirinya Lemkabuja (Lembaga Kajian Budaya Jawa) Sinode GKJ pada 13 Mei 2006 di Pendopo Kabupaten Purworejo. Kegiatan yang baru saja dilaksanakan di GKJ Purworejo berkaitan dengan Lemkabuja adalah “Temu Budayawan 3”, yang diadakan pada tanggal 21-22 36 M Suprihadi Sastrusupono dan Hadi Purnomo, (ed). Gereja-gereja Kristen Jawa; GKJ; Benih yang Tumbuh dan Berkembang di Tanah Jawa. (Yogyakarta: Taman Pustaka Kristen,1988).hal 39. 26

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI September 2017. Selain itu GKJ Purworejo juga mengadakan ibadah dengan memasukkan wayang sebagai sarana khotbah demikian juga dengan kethoprak dan juga iringan liturgi gamelan remaja. 8. Sistematika Penulisan A. Bab 1 Pada bagian ini berisi beberapa hal. Pertama ialahlatar belakang masalah, yaitu merupakan bagian penting yang mendasari tesis ini. Bagian yang kedua ialah pertanyaan penelitian, sebuah bagian untuk membangun arah bagi tesis ini. Setelah pertanyaan penelitian bab 1 juga berisi tujuan dan manfaat penelitian. Selain itu batasan masalah, juga penting untuk melihat cakupan pekerjaan tesis ini. Pada bagian berikutnya terdapat sub bab kajian pustaka guna menenmpatkan tesis ini pada pekerjaan dengan tema serupa. Sub bab kajian teori juga terdapat dalam bab ini guna melihat teori yang hendak dipakai. Hal yang tidak kalah pentingnya ialah metode penelitian dan yang terakhir adalah sistematika penulisan. B. Bab 2 Bab ini akan berisi konteks sejarah GKJ secara umum. Serta perkembangan pemikiran mengenai kejawaan dalam konteks sejarah tersebut C. Bab 3 Menampilkan hasil pengamatan dan wawancara terkait dengan pergulatan identitas GKJ. Bagaimana cara membangun identitas dan alasan-alasan dibangunnya identitas. 27

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI D. Bab 4 Pada bab ini memperlihatkan analisis terhadap pergulatan identitas GKj E. Bab 5 Bab ini akan berisi kesimpulan dan penutup dari proses yang telah dilakukan di dalam bab-bab yang sebelumnya. 28

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Bab 2 Gereja-Kristen-Jawa : Kaitkelindan Identitas Pengantar Pada bab ini hendak menunjukkan bagian-bagian dari Gereja Kristen Jawa yang berkaitan dengan konteks sejarah. Aspek tersebut dipaparkan dalam tesis ini guna memberi gambaran singkat tentang GKJ serta latar belakangnya secara singkat. Sekalipun berkaitan dengan aspek kesejarahan, bab ini tidak bermaksud menyajikan sejarah yang kronikal. Aspek yang ditunjukkan di sini adalah bagaimana GKJ terbentuk dan pengaruh apa saja yang berdampak pada GKJ. Kekristenan (teologi) macam apa yang berkembang di GKJ. Di sini wilayah teologi dibahas sejauh melihat pengaruhnya terhadap kejawaan. Dinamika menjadi “Kristen” dan sekaligus menjadi “Kristen Jawa” seolah seperti kutub-kutub pada pendulum, sedangkan GKJ adalah pendulum yang bergerak ke kanan dan kiri. Menjadi gereja Kristen Jawa berarti mesti mendialogkan antara Kristen yang notabene berasal dari zending37 dan konteks masyarakat Jawa. 1. Gereja : Sekilas tentang terbentuknya Gereja Kristen Jawa 37 Gereja-gereja Kristen Jawa (GKJ) tidak saja tumbuh dan berkembang di dalam suatu masyarakat yang berlatar belakang sosial tertentu, yaitu masyarakat Jawa; bukan pula hanya tumbuh dan berkembang di dalam konteks sejarah tertentu (kolonial-nasional) atau sejarah gereja tertentu saja (gereja-gereja Belanda atau Jerman, juga tidak hanya dari sejarah badan zending tertentu (zending-zending-zending Belanda ataupun barat), melainkan merupakan “buah” pekerjaan badan zending, “Zending” berasal dari bahasa Belanda yang artinya utusan, secara teologis kata ini mengacu pada Injil Matius 24: 14 tentang penyebaran Injil, yang kemudian dimaknai dengan menyebarkan agama Kristen ke berbagai penjuru dunia terutama dalam hal ini kepada daerah jajahan Belanda. Lih J.D Wolterbeek, Babad Zending di Pulau Jawa, (Yogyakarta: Taman Pustaka Kristen, 1995) hal 1-3. 29

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Gereja Barat, kaum awam asing maupun pribumi (asli) Jawa, dan juga “buah” dari pekerjaan Gereja-gereja Jawa sendiri (dengan atau tanpa kerja sama dengan gereja lain).38 Kutipan tersebut di atas hendak menunjukan bahwa terbentuknya GKJ yang kini berkembang merupakan hasil andil dari berbagai pihak dan dalam situasi yang beraneka ragam. Setidaknya ada 3 aspek yang berperan dalam proses yang berlangsung, badan zending (utusan dari gereja Belanda), orang awam (bukan rohaniwan), dan juga komunitas orang-orang Jawa yang bergama Kristen dalam GKJ. Menurut S.H Soekotjo ada tiga jalur yang bisa digunakan untuk mengerti kutipan di atas.39 Pertama yaitu jalur Utara yang berasal dari asuhan Salatiga zending, kedua dari tradisi “Golongane Wong Kristen Kang Mardika” dengan pengaruh dari Sadrach, dan yang ketiga ialah dari zending NGZV (Gereformeed). Sebagaimana sudah disinggung di atas, bahwa sebetulnya keberadaan GKJ cukup berwarna dengan pertemuan antara GKJTS dan GKJTU. Oleh karena itu jalur yang ditelusuri bukan hanya Selatan, namun juga Utara.40 GKJ merupakan gabungan dari penyebaran agama Kristen dari wilayah Jawa Tengah Utara dan Jawa Tengah bagian Selatan. Pada jalur Utara ada komunitas Kristen yang telah diasuh oleh Salatiga zending, yaitu sebuah lembaga yang berusaha memelihara komunitas Kristen dengan latar belakang teologis yang bermacam-macam. Jadi sebenarnya Salatiga zending ini tidak berdasar pada satu tradisi gereja saja. Sementara itu, penyebar agama Kristen 38 M Suprihadi Sastrusupono dan Hadi Purnomo, (ed). op.cit hal 13. S.H Soekotjo, Sejarah Gereja-gereja Kristen Jawa Jilid 1 : Di bawah bayang-bayang zending 1858-1948, (Yogyakarta : Taman Pustakla Kristen, 2009) hal.117. 40 Perihal mengalirnya tradisi Utara dan Selatan menjadi hal yang penting untuk disoroti juga karena selama ini yang lebih banyak diceritakan adalah tradisi dari Selatan. Bahkan yang dianggap ulang tahun GKJ adalah sidang sinode pada tahun 1931 yang merupakan sidang sinode Pasamoewan Gereformeerd Jawi Tengah.Ibid hal 393. 39 30

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (penginjil awam)41 “pribumi” sebenarnya juga ada di jalur Utara, beliau adalah Kiai Tunggul Wulung. S.H Soekotjo mengatakan bahwa Kiai Tunggul Wulung kurang atau bahkan tidak dikenal di lingkungan GKJ. Bahkan Soekotjo menggambarkan dengan ekspresi : “.... sepertinya Kyai ini merupakan makhluk asing dari planet lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan GKJ”42 Padahal Kiai Tunggul Wulung telah menyebarkan agama Kristen dengan cakupan yang luas, yaitu Jawa Timur (daerah Gunung Kelud), ke Jawa Tengah daerah (Jepara) dan Jawa Barat. Meski kemudian beliau menetap di sekitar Gunung Muria di daerah Jepara, namun peran Kiai tunggul Wulung dicatat cukup besar bagi perkembangan komunitas Kristen di Banyumas dan Bagelen. Tidak berlebihan disebut demikian karena Kiai Tunggul Wulung adalah salah satu pihak (selain zending) yang dimintai pertolongan oleh Ny. Phillips ketika pengikutnya di Purworejo sudah semakin banyak. Salah satu di antara murid yang diutus oleh Kiai Tunggul Wulung adalah Kiai Sadrach, yang akan dibahas dalam bagian berikutnya. Pada jalur Selatan, setidaknya ada dua pihak yang penting dibicarakan dalam terbentuknya GKJ.Pertama adalah peran awam yang menyebarkan agama Kristen. Selanjutnya setelah banyak anggotanya diserahkan kepada zending dan yang kedua adalah peran dari Jemaat Sadrach dalam usahanya untuk membentuk Golongane Wong Kristen kang Mardika. Peran dari awam, terutama di Jawa Tengah Selatan cukup besar pengaruhnya. Setidaknya ada nama Ny. Van Oostrom Philips dan Ny. 41 Apa yang dimakasud awam di sini adalah tidak memiliki latar belakang pendidikan teologi, atau bukan atas utusan lembaga apapun. 42 S.H Soekotjo, op.cit hal 124. 31

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Christina Petronela yang masing-masing berada di Banyumas dan Purworejo.43 Kedua orang di kedua kota ini dianggap sebagai jalur utama, setidaknya demikian menurut Soekotjo. Meskipun tidak banyak yang mengulas dengan lengkap tentang dua tokoh awam di atas44, namun keduanya cukup memiliki banyak peran. Keduanya hanya diceritakan secara singkat bahwa mereka adalah tokoh yang menyebarkan agama Kristen dengan menjelaskan Kekristenan sejauh mereka pahami kepada para pembantu (orang Jawa) di rumahnya. Jika Ny. Oostrom menyebarkan agama Kristen kepada orang-orang yang membantunya berdagang batik; Ny Christina Petronella menyebarkan agama Kristen di Purworejo pada para pembantunya. Awal dari peristiwa inilah kemudian komunitas Kristen yang beranggotakan orang-orang Jawa mulai semakin banyak anggotanya lalu diserahkan pengelolaannya pada zending. Dalam komunitas Kristen yang disebarkan oleh kedua wanita tadi, terutama yang di Purworejo tidak hanya mendapat perhatian dari satu pihak saja. Setidaknya ada gereja Protestan Purworejo (Gereformeerd) yang meneruskan kiprah NGZV, dan juga jaringan dari Tunggul Wulung, terutama dari gereja-gereja di Jawa Timur yang berarti berasal dari zending NZG. Tokoh lain yang tidak bisa diabaikan keberadaanya selain kedua tokoh wanita tersebut ialah Sadrach. Sadrach merupakan utusan dari Kiai Tunggul Wulung untuk membantu Ny Chrsitina Petronella. Ia juga menjadi tokoh yang cukup penting karena 43 ibid, hal 116. Bisa dilihat dalam Woltrerbeek, Babad Zending di Pulau Jawa hal 34-36. Bandingkan dengan Guillot yang berpendapat bahwa kedua tokoh ini tidak bisa dikatakan sebagai tokoh penting dalam penyebaran agama Kristen di Jawa. C.Guillot. .Kiai Sadrach: Riwayat Kristenisasi di Jawa. terj Grafiti Press.(Jakarta : Grafiti Press,1985)hal 26-28. 44 32

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI keberanianya bersitegang dengan zending. Meski Sadrach sebetulnya tidak lama berada di kediaman Ny. Christina Petronella. Guillot mencatat setahun setelah kedatanganya (1870), Sadrach pindah ke Karangjoso.45 Namun bukan berarti pengaruhnya di Bagelen (Purworejo) hilang, karena setelah kematian Ny Christina, ia bertanggung Jawab penuh pada orang-orang yang tadinya beribadah di rumah Ny Christina. Sadrach adalah seorang tokoh penting di GKJ berkenaan dengan cara beragamanya yang unik.Guillot mencatat bahwa Sadrach mempertahankan posisinya sebagai orang Jawa, namun lebih jauh ia berusaha mengristenkan upacara-upacara adat.46 Alasan ini pulalah yang menjadikanSadrach model bagi GKJ ketika berbicara terkait relasi antara “Kristen” dan “Kristen-Jawa”. Selain itu, ada pihak yang tidak bisa diabaikan baik itu dari jalur Utara maupun jalur Selatan yaitu pihak zending.Pada jalur Utara ada Salatiga Zending, yaitu lembaga yang didirikan dengan latar belakang dari berbagai macam gereja (interdenominasi gereja) oleh karena itu ajaran yang disampaikan bukanlah merupakan ajaran gereja tertentu, namun pietisme sebagai semangat bersama yang menjadi gelombang pada saat itu. Selain Salatiga Zending, lembaga yang juga berkarya di Jawa Tengah Utara adalah Het Genootschaap voor In-en Uitwendige Zending yang didirikan di Jakarta. Kelompok ini juga menganut pietisme dan tidak berasal dari gereja tertentu. Zending yang berperan di Jawa Tengah Selatan dan terutama berhubungan dengan wilayah Bagelen (Purworejo) ialah NGZV. Saat itu anggota yang beribadah di rumah 45 ibid hal 28. Ibidhal 199. 46 33

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Ny Christina Petronella semakin banyak, sedangkan sebagai seorang yang tidak berjabatan gerejawi (bukan pendeta), Ny Christina Petronella tidak diperkenankan mengadakan sakramen perjamuan kudus dan baptisan. Oleh karena itu, beliau meminta pertolongan seorang pendeta yang merupakan utusan zending NGZV. Pendeta dari NGZV (Pdt Bieger yang diutus ke Bagelen pada tahun 1878) ini pulalah yang bersitegang dengan Sadrach karena Pdt Bieger merasa lebih berkompeten dan memaksa semua orang Jawa tunduk padanya. 2. Kristen :Calvinis Pietis Sebagaimana telah disinggung di atas, GKJ sebagai gereja Kristen menerima Kekristenannya dari tradisi Belanda. Hal tersebut memberikan konsekuensi tertentu terkait pemahaman ajaran-ajaran yang diterima oleh GKJ. Salah satu ajaran tersebut adalah Calvinis. Pembahasan ini tidak akan membahas sejarah Cavinisme secara umum, namun hanya yang berkaitan dengan GKJ yaitu menyebarnya Calvinisme di Indonesia.Pembahasan Calvinis-Pietis ini perlu dilakukan di sini karena meski ini sebuah pikiran teologis, sementara pekerjaan tesis ini bukanlah pekerjaan teologis, namun pandangan ini menentukan sikap, terutama sikap lembaga GKJ khususnya terhadap kejawaan. Datangnya pengaruh Calvinisme di Indonesia bermula dari orang-orang Belanda yang berdagang di Indonesia dan kemudian membentuk Verenidge Oostindische Compagnie (VOC) pada tahun 1602.47 VOC bisa menjadi penyebar pengaruh Calvinisme karena manakala organisasi ini diberikan wewenang sebagaimana 47 Christian de Jonge, Apa itu Calvinisme ?, ( Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2015) hal 30. 34

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI wewenang negara, mereka juga melakukan sesuai dengan pengakuan iman Belanda pasal 36 : melindungi gereja dan memajukan agama yang benar, yaitu agama Gereformeerd.48 Maka VOC bukan semata-mata usaha perdagangan, namun di dalam usahanya mereka juga mempraktekkan bahkan kemudian menyebarkan Calvinisme melalui Gereja Gereformeerd. Bahkan dalam prakteknya orang-orang yang sudah memeluk Agama Kristen dipaksa menjadi anggota Gereformeerd. Tidak hanya sampai di situ, para misionaris Katolik diusir dengan anggapan bahwa mereka adalah matamata Spanyol dan Portugis.49 Bila melihat keterangan de Jonge tersebut, maka bisa dilihat dalam pelaksanaan pasal 36 di atas berwarna represif. Hal tersebut diperparah dengan anggapan gereja Gereformeerd di Indonesia merupakan tiruan dari Gereja di Belanda. Jika di Belanda masih bisa melawan negara dengan dukungan rakyat; di Indonesia hal tersebut tidak bisa dilakukan karena pengawasan negara pada agama sungguh begitu ketat. Ikatan itu semakin diperjelas dengan ikatan pemberi dana dari pemerintah Belanda melalui gereja di Belanda kepada gereja di Indonesia. Dengan segala yang terjadi maka sudah jelas segala seluk beluk yang ada di Indonesia dari pakaian ibadah hingga sistem pemerintahan gereja seluruhnya sama dengan yang dipakai di Belanda.50 Mengingat hal di atas, maka tidak bisa dipisahkan antara gereja yang ada di Indonesia dengan dinamika gereja yang ada di Belanda. Sebagaimana Gereja 48 Ibid hal 31. Ibid hal 31. 50 Salah satu yang bisa ditarik benang merahnya ialah Katekismus Heidelberg, yaitu buku ajar yang digunakan untuk proses pendidikan warga gereja yang hendak mengaku dewasa, sebelum GKJ merumuskan Pokok-Pokok Ajaranya. 49 35

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Hervomdsetidaknya sepanjang abad-19 di Belanda diatur oleh negara, maka gereja di Indonesia juga gereja yang sepenuhnya diatur oleh negara (Belanda).51Ada dua konsekuensi dari pengaturan negara terhadap agama. Pertama, penyebaran agama Kristen yang ada di Indonesia tidak dilakukan oleh lembaga namun oleh pribadipribadi.52 Sedangkan yang kedua, apa yang dimaksud Calvinisme tidak bisa serta merta dianggap “murni” pikiran-pikiran Calvin yang diajarkan, namun merupakan Calvinisme sejauh dipahami dan dipraktekan oleh pemerintah Belanda di Indonesia. Selain itu gereja yang di Indonesia juga bukan merupakan gereja yang merdeka, melainkan senantiasa diawasi oleh Negara dan juga di dalamanya terdapat penggolongan-penggolongan. Hal itu berlangsung sejalan dengan dibentuknya GPI (Gereja Protestan Indonesia) pada tahun 1844. GPI bukanlah sebuah nama organisasi gereja melainkan sebuah perkumpulan dengan pengakuan yang sama53. Tujuan utamanya bukanlah mencari anggota baru, namun lebih kepada membina yang telah menjadi anggota, meskipun tidak juga menolak jika ada “pribumi” yang hendak menjadi anggota. Itu semua kebijakan tentang negara sebagai pengontrol agama tidak bisa diterima di negeri Belanda. Setelah gereja dan negara sudah terpisah urusan administrasinya persekutuanpersekutuan yang ada di gereja Belanda mulai memiliki keinginan untuk menyebarkan agama ke Indonesia. Keinginan tersebut didorong dengan semakin 51 Christian de Jonge, op.cit hal 34 Dalam konteks GKJ hal ini bisa dilihat dengan munculnya nama Ny Van Oostrom-Phillips dan Ny. Christina Petronella Phillips lih S.H Soekotjo,op.cit hal 147- 159 53 Christian de Jonge,op.cit, hal 36 52 36

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kuatnya arus pietisme.54 Gerakan ini muncul sebagai kritik atas pertikaian sesama Kristen yang berdebat tentang ajaran. Orang-orang atau yang kemudian berbentuk komunitas maupun lembaga yang pergi ke daerah lain, hendak menyebarkan agama Kristen (biasanya dari Eropa) memang disebut kritis pada kebiasaaan-kebiasaanya sendiri dan menerapkan kesalehan total, namun hal itu tidak berarti mereka bisa menghargai budaya lokal di mana mereka menyebarkan agama. Mereka menjadikan dirinya sebagai contoh, yang artinya juga menjadikan budayanya (Eropa) seolah menjadi lebih tinggi.55 Alih-alih mereka kritis pada budayanya sendiri, para penyebar agama ini masih berakar pada paternalisme dan memantapkan kolonialisme. Sebagaimana disebutkan di atas, yang pergi untuk menyebarkan agama Kristen dengan semangat pietisme bukan hanya perseorangan namun juga lembaga. Soekotjo mencatat setidaknya ada 7 badan zending yang terlibat penyebaran agama Kristen di Jawa56. Pertama adalah NZG (Nederlands Zendelinggenootschap), meskipun sempat juga menyebarkan Injil di Jawa Tengah (Semarang), namun karena ada kendala, lembaga ini berpindah ke Jawa Timur. Kedua adalah Java Comitee juga menyebarkan agama di Jawa Timur, terlebih di Madura. NZG dan Java Comitee menjadi bagian dari terbentuknya Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW). Ketiga ialah DZV (Doopsggezinde Zendingsvereneging) yaitu lembaga yang beraliran Mennonite yang menyebarkan agama Kristen di Jawa Tengah bagian Utara. Lembaga ini menjadi bagian atas terbentuknya gereja Gereja Kristen Muria di Indonesia (GKMI) dan Gereja Injili di 54 Pietisme adalah sebuah gerakan yang menekankan kesalehan pribadi dan penghayatan secara perseorangan pada keselamatan. Lih ibid hal 38. 55 Ibid hal 39. 56 Ibid hal 106-120. 37

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tanah Jawa (GITJ). Keempat ialah Salatiga Zending menyebarkan agama Kristen dari Salatiga Timur sampai Blora. Lembaga ini menjadi bagian atas terbentuknya Gereja Kristen Jawa Tengah Utara (GKJTU). Kelima adalah NZV (Nederlandsche Zendingsvereeniging) yang menyebarkan agama di Pasundan dan menjadi bagian dari terbentuknya gereja GKP. Keenam adalah GIUZ (Het Genootschap voor In-en Uitwendige Zending) lembaga yang didirikan di Jakarta dan bertujuan memelihara anggota yang keluar dari gereja. Ketujuh adalah NGZV (Nederladnsche gereformeede Zendingvereeniging) lembaga ini yang meneruskan penyebaran agama yang dilakukan oleh GIUZ di Jawa Tengah. Lembaga ini yang banyak bergerak di Jawa Tengah bagian Selatan dan menjadi bagian atas terbentuknya GKJ. Pada masa yang selanjutnya, penyebaran yang dilakukan oleh NGZV kemudian mesti diteruskan oleh GKN (Gereformeede Kerken in Nederland).57 Lembaga-lembaga di atas semuanya memiliki tradisi Pietisme. Sehingga jelas bahwa calvinisme yang dimaksudkan di sini bukanlah semata-mata pikiran-pikiran Calvin namun calvinisme yang bersamaan dengan semangat pietisme.58 Sebagaimana lembaga yang membawa Kekristenan dan menjadi akar GKJ adalah Calvinis yang sekaligus pietis maka ajaran yang ada di GKJ juga memiliki akar Calvinis dan pietis. Tidak hanya ajaran, bahkan nama Gereformeed sempat akan digunakan sebagai nama GKJ, namun karena dirasa gereja di Jawa Tengah bagian Selatan itu belum pernah “reform” Maka disarankan menggunakan nama Pasamoewan Kristen Djawi ing Djawi Tengah sisih Kidoel (Gereja Kristen Jawa 57 Gereja ini merupakan pecahan dari gereja Hervormd, yang karena revolusi Perancis membuat Hervormd diatur oleh negara. Maka Gereformeed memisahkan diri dengan tetap menekankan pietisme dan ajaran Calvinis yang ortodoksi, ibid hal 121. 58 Christian de Jonge, op.cit hal 40. 38

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tengah Selatan). Sekali lagi, kata “gereformeed” menjadi bagian penting dari akar sejarah GKJ. Kata itu juga yang menyatukan antara pietisme dan calvinisme sebagaimana dituliskan di atas. Kata ini menimbulkan konsekuensi, salah satunya ialah sikap terhadap budaya kejawaan. Sesungguhnya sisi Calvinisme dalam diri orang Kristen Jawa tidak terlalu dipermasalahkan. Hal ini terlihat dalam sebuah artikel yang menyebutkan tentang betapa seseorang tidak terganggu, ketika pindah ke Jawa Timur dia berada di gereja yang tidak menerapkan sistem presbiterial. Contoh yang lain, orang yang pindah ke Pati, lalu mengikuti gereja yang beraliran Mennonite dan beranggapan bahwa baptisan anak itu salah, kemudain pindah ke Yogya dan membaptiskan anaknya di GKJ, dan ketika dia kembali ke Pati gerejanya juga tidak mendisiplinkan.59 Apa yang disampaikan ini sesungguhnya menampilkan realitas sesungguhnya aliran gereja tidak terlalu dipermasalahkan. Justru yang paling kuat ialah aspek pietismenya. Guna memperjelas hal ini, Daldjoeni kembali menegaskan bahwa ada peringatan dari zending yang diingat oleh pendeta Darmohatmojo pada tahun 1930 (satu tahun sebelum GKJ berdiri sebagai sinode) bahwa gereja nantinya harus bisa mengatur diri sebagai gereja dewasa, jangan sampai kemasukan pengaruh nasionalis, ajaran komunis dan jangan sampai terpengaruh sinkretisme Sadrach.60 Peringatan tersebut ditindaklanjuti dalam didikan pendeta utusan zending dalam isolasionisme.61 GKJ dididik untuk murni, tidak terpengaruh dari ajaran sebagaimana telah disebutkan di 59 N. Daldjoeni, Profil Perkembangan GKJ, (Salatiga: Lembaga Studi Pengembangan,1995), hal 5. Ibid, hal 3. 61 Ibid hal 11 60 39

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI atas, yaitu nasionalisme, komunisme dan sinkretisme a la Sadrach. Orang kristen harus menkhususkan diri sebagai sebuah komunitas yang terpisah dari masyarakat. Hal ini betul-betul dijalani dengan membuat lapangan pekerjaan berupa juru rawat dan guru sekolah. Jikalau ada lapangan pekerjaan yang lain bisa dipastikan induknya pasti dari rumah sakit dan sekolahan Kristen. Pietisme yang kemudian dipraktekkan dalam paham isolasinisme menjadi hal yang sangat kuat diingat oleh orang Kristen Jawa. Hal ini bisa dilihat dalam sikap-sikap Gereja Kristen Jawa terhadap budaya Jawa apapun itu bentuknya. 3. Jawa : Jawa Kristen a la Sadrach Sebagaimana sudah disinggung di atas, berbicara tentang GKJ tidak bisa dilepaskan dari Sadrcah. Sadrach adalah sebuah model bagaimana beragama Kristen tanpa menjiplak begitu saja kekristenan “barat”. Meskipun demikian Sadrach bukan menjadi rujukan ketika beragama di GKJ, bahkan di GKJ Purworejo. Sebuah jemaat di mana Sadrach juga turut menjadi bagian di dalamnya. Bagian ini hendak secara singkat menyoroti siapa Sadrach dan bagaimana kiprahnya terutama berkaitan dengan GKJ, dan khusunya GKJ Purworejo. Sadrach, lahir di Jepara pada tahun 1835 dengan nama kecilnya adalah Radin62. Pada masa mudanya, ia suka mengembara ngelmu dan sebagaimana pemuda masa itu ia juga suka mencari ilmu kejawen pada Sis Kanoman,namun kemudian ia memasuki dunia Islam dengan masuk pondok pesantren di Jombang. Ajaran yang paling disukai oleh 62 Akhiran “in” dalam namanya menunjukan bahwa ia adalah seorang yang berasal dari desa. Lih.Soetarman Soedirman Partonadi. Komunitas Sadrach dan Akar Kontekstualnya.(Yogyakarta: Taman Pustaka Kristen.2001), hal 60. 40

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Sadrach adalah ilmu tassawuf ( ilmu yang bersifat mistik). Ia juga suka mempelajari ramalan–ramalan Jayabaya terutama tentang datangnya Ratu Adil. Saat di Jombang jugalah Sadrach melakukan kontak dengan agama Kristen, namun hal ini belum membuatnya tertarik dengan agama Kristen. Ia kemudian meneruskan ngelmu ke daerah Ponorogo. Setelah dari Ponorogo kemudian Ia bergaul dengan para haji di Semarang lalu menambah namanya menjadi Radin Abas. Di sana jugalah ia bertemu dengan mantan gurunya yaitu Sis Kanoman, yang telah memeluk agama Kristen pengikut Tunggul Wulung. Radin Abas terkesan pada cara Tunggul Wulung dalam menjelaskan kekristenan pada Sis Kanoman tersebut. Setelah proses itulah Radin Abas mulai melakukan kontak dengan pendeta– pendeta Belanda, namun Ia ternyata lebih cocok menjadi orang Kristen gaya Tunggul Wulung daripada menjadi orang Kristen gaya Belanda. Pada Tahun 1865 Radin Abas diajak Kyai Tunggul Wulung ke Batavia. Di Batavia inilah Radin Abas mulai belajar bahasa Melayu. Saat di kota ini Radin Abas menerima baptis di Gereja Portugis (sekarang GPIB Sion) oleh Pdt. Ader, dan Radin memilih nama babtis Sadrach63. Pada pertengahan tahun 1967 Sadrach kembali ke Semarang dengan jalan kaki sambil menyebarkan agama Kristen. Selanjutnya bersama Sis Kanoman, ia membangun desa Kristen di Bondo, Jepara. Namun karena ada kekurangcocokan, pada 1869 ia pergi ke Purworejo untuk membantu Ny. Philips. Ternyata selain dibantu oleh Sadrach dan pengikut lain, Ny. Philips juga meminta bantuan dari NGZV. Perkumpulan inilah yang menjadi cikal bakal GKJ Purworejo. 63 Nama ini dipilih bukan karena kebetulan belaka, Sadrach mengidentikkan dirinya dengan bangsa Israel pada Kitab Daniel 4. C. Guillot.Op.cit hal. 63. 41

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Sadrach kemudian muncul sebagai sosok yang besar dan dihargai di mata para jemaat. Tentu hal ini tidak disukai oleh NGZV, bahkan ada seorang pendeta yang bernama Pdt. Bieger menganggap Sadrach adalah seorang guru ngelmu yang sesat dan akan membahayakan kehidupan Kekristenan, maka ia harus disingkirkan. Akan tetapi Pdt Bieger juga tidak bisa melakukan apapun karena Sadrach menjadi tokoh masyarakat dan tidak ada yang bisa dijadikan alasan untuk menundukkannya. J.D Wolterbeek, penulis buku “Babad Zending ing Tanah Djawi”, menuliskan hal menarik perihal pendapat pendeta Bieger terhadap Sadrach: “Kyai Sadrach tidak menyadari bahwa ia masih kurang sekali pengetahuanya tentang Kitab Suci dan tidak menyadari pula bahwa agama Kristen yang diajarkanya itu tercampur dengan ngelmu Jawa yang bertentangan dengan Kitab Suci”64 Ketidakmauan Sadrach tunduk karena ketidaktahuan Sadrach akan kemampuannya. Bahwa Sadrach merasa sudah bisa dan merasa tidak ada yang salah dengan yang diajarkan, dengan demikian merasa tidak perlu tunduk kepada Pdt Bieger. Keinginannya untuk mewujudkan “golongane wong Kristen kang Mardika” masih sedemikian kuat. Namun bukan berarti Sadrach menjadi anti “barat”.Hal ini dibuktikan dengan relasinya dengan para penyebar agama Kristen utusan zending yang cukup baik.Soekotjo mencatat bahwa Sadrach belajar agama Kristen dari orang Barat 65. Sadrach belajar dari Jellesma (seorang utusan NZG) di Mojowarno. Begitu pula saat ia tiba di Semarang ia belajar dari Hoezoo. Sadrach juga memiliki rekan yang sedemikian 64 J.D Wolterbeek, Babad Zending di Pulau Jawa, terj. Edi Trimodoroempoko (Yogyakarta :Taman Pustaka Kristen,1995) hal 76. 65 S.H Soekotjo. op.cit hal 183. 42

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI akrab di Batavia yaitu Mr. Anthing. Bahkan Partonadi mengungkapkan bahwa semangat pietistik Anthing inilah yang dinilai membekas dan mempengaruhi Sadrach.66 Tak semua utusan zending memandang Sadrach dengan sebelah mata. Ada seorang pendeta (Pdt. Wilhlem) yang malah membantu Sadrach, misalnya dalam menyiapkan buku katekisasi dan melayani sakramen. Namun karena adanya laporan yang simpang siur, pimpinan NGZV akhirnya mengirim utusan ke Jawa Tengah yaitu Pdt. Lion Cachet. Akhirnya Pdt. Wilhem dan Pdt. Vermeer disalahkan karena telah membantu Sadrach yang diputuskan sesat. Oleh karena itu, Sadrach dan pengikut– pengikutnya harus lepas dari NGZV. Pada tanggal 31 Mei 1894 NGZV menyerahkan pekerjaan zending di Jawa Tengah Selatan pada Gereja Gereformeed di negeri Belanda. Hanya sedikit umat yang memilih tinggal, sedangkan sebagian besar mengikuti jejak Sadrach. Pada tahun 1899 Sadrach menggabungkan diri dengan gereja Kerasulan. Ia kemudian ditahbiskan sebagai Rasul Jawa pada salah satu Gereja di Batavia. Pada saat itu sekitar 70 kelompok dengan 7000 warga menyatakan bergabung dengan Sadrach. Sementara itu jemaat Purworejo dengan 37 orang warga dan di jemaat Temon dengan 32 warga tetap di bawah asuhan NGZV. Jadi komunitas Kristen di Purworejo tetap berada di bawah zending setelah kepergian Sadrach. Lalu tanggal 28 Januari 1900 Pdt. L. Adriaanse dalam kebaktian Minggu di Pastori Plaosan mengumumkan dan menetapkan Jemaat Purworejo sebagai jemaat 66 Soetarman Partonadi.op.cit hal 261. 43

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI yang mandiri di bawah asuhan gereja Gereformeed, maka pendetanya juga berasal dari Belanda. Kemudian pada hari Kamis, 1 Februari 1900 ia mengundang Timotius Reksadimurti, Yakobus Sapin, dan Hakim untuk membentuk majelis gereja. Majelis Gereja tersebut diteguhkan dalam kebaktian Minggu pada tanggal 4 Februari 1900 yang juga ditetapkan sebagai hari lahir GKJ Purworejo. Sadrach dijauhi justru karena memang tidak mau bergantung pada penginjil utusan zending. Ia berusaha membentuk sebuah komunitas Kristen yang sesuai dengan konteks jaman saat itu. Oleh karena itu ia berusaha membentuk komunitas yang mirip dengan sistem paguron atau pesantren. Terutama yang tidak tunduk pada cara beragama dengan gaya zending, sebuah komunitas Kristen yang merdeka. Hal ini pulalah yang menjadikan dirinya berselisih paham dengan para utusan terutama dari NGZV. Para zending, tentu saja mendukung setiap komunitas Kristen dipengaruhi dengan ideologi Gereformeerd. Sadrach memilih mandiri, baik dari segi ideologi maupun secara dana. Sebagaimana yang sudah disiggung di atas, yang terkenal dari gaya Sadrach adalah mengristenkan setiap upacara, baik itu Jawa maupun Islam. Oleh karena itu ia menggubah kebiasaan-kebiasaan mengucapkan mantra di Jawa dengan mengucapkan doa-doa yang berupa tembang. Misalnya “Dasa Titah” dalam sekar kinanthi, “Pengakuan Iman Rasuli” dalam sekar sinom, “Doa Bapa Kami” dalam sekar pocung, doa sebelum menerima ajaran dalam sekar dhandhangula dan masih banyak tembang yang lain yang digubah oleh Sadrach.67 67 ibid hal 296-302. 44

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pada sisi lain, meskipun Sadrach demikian memperhatikan konteks, tetaplah Sadrach tidak bisa lepas dari ambivalensi. Sadrach tetap tidak mengijinkan pagelaran wayang kulit.68 Hal ini karena Sadrach juga terpengaruh pietisme yang umum mengalir dalam Kekristenan kala itu. Pada saat tertentu Sadrach bisa menggabungkan segala yang ia pelajari dan mengajarkannya dalam kerangka Kekristenan, namun di sisi lain dia juga menolak bagian dari kesenian dan berpendapat bahwa kesenian tersebut bagian dari kepercayaan lama yang tidak boleh dilakukan. Seperti yang dituliskan di atas, setidaknya ada catatan bahwa Sadrach terpengaruh oleh pietisme Anthing. Meskipun demikian, ia berusaha mencari sendiri formulasi dari yang ia pelajari. Sadrach masih berusaha untuk beragama tanpa harus tunduk pada dominasi zending.Apa yang dilakukan Sadrach ini mewarnai sebagian ingatan yang ada di GKJ, meskipun dalam perkembanganya GKJ lebih banyak diwarnai oleh warna Gereformeerd69. 4. GKJ berhadapan dengan kejawaan Gereja Kristen Jawa sebagai sebuah gereja yang terbentuk dalam konteks seperti yang dijelaskan di atas, punya dinamika yang patut diperhatikan ketika berhadapan dengan kejawaan. Ini menjadi aspek yang perlu diperhatikan sebelum lebih jauh masuk ke dalam tesis. Hal tersebut dapat menjadi gambaran apa yang terjadi pada GKJ dalam perjalanan sejarah. 68 Ibid hal 182. S.H Soekotjo Sejarah Gereja-gereja Kristen Jawa Jilid 2 : Merajut Usaha Kemandirian 19501985(Yogyakarta :Taman Pustaka Kristen,2010) hal 29. 69 45

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pada sidang yang kedua Gereja Gereformeerd (GKJTS) pada tahun 1932, utusan dari gereja Purbalingga menanyakan hal yang menarik, yaitu tentang sikap terhadap orang Kristen yang nanggap wayang. Sidang pada saat itu sulit untuk memutuskan, hal itu pula yang membuat pertanyaan ini tidak mendapat Jawaban yang jelas. Hanya dikatakan tidak melarang, namun juga tidak mengizinkan, keputusan yang digarisbawahi adalah jangan sampai jadi “sandungan” (kendala).70 Sikap terhadap kejawaan di GKJ nampak dalam sikap terhadap setidaknya seni, tradisi dan bahasa. Sebagaimana dijelaskan di atas, permasalahan gereja adalah bagaimana sebuah seni ini dipergumulkan oleh orang-orang yang sudah memeluk agama Kristen. Pertanyaan yang hingga kini didengar peneliti ialah, “Jika melakukan a atau b apakah boleh?” Orang-orang kejawaan yang memeluk agama Kristen ini seperti berada di ambang pintu.Dia dengan takut-takut bolak-balik dari Kristen di satu sisi dan Jawa di sisi yang lain. Dalam takut-takutnya tersebut orang-orang Jawa yang memeluk agama Kristen (GKJ) ini makin diperparah dengan tudingan sinkretis dari lembaga agama (orang-orang yang memiliki jabatan di gereja terutama pendeta dari Belanda). Meminjam istilah dari Sastrokasmojo, umat menjadi blero (sumbang) dalam melihat kejawaan.71 Lebih lanjut Sastrokasmojo juga menjelaskan bahwa suara blero itu terjadi karena ada perjunpaan yang baru antara Kristen dan kejawaan. Orang-orang 70 Pradjarta Dirjosanjoto, Sumber-sumber tentang Sejarah Gereja Kristen Jawa 1896-1980, (Salatiga: Pusat Arsip Sinode GKJ,2008) hal 35. 71 Sastrokasmojo menjelaskan dengan gambaran Gendhing (Nyanyian Jawa), relasi antara gereja dengan budaya tidak jarang dinyanyikan dengan blero (tidak pas). Lih Padmono Sastrokasmojo, Gendhing Gerejawi: Perjumpaan Kekristenan dengan agama Islam dan Budaya Jawa (Yogyakarta: Duta Wacana University Press,2017) hal 27. 46

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (pendeta) Belanda yang datang untuk menyebarkan agama Kristen dari Belanda juga baru bertemu orang-orang Jawa yang hendak memeluk agama Kristen, sementara orang Jawa baru berjumpa dengan agama Kristen yang dibawa oleh orang-orang Belanda. Proses perjumpaan itu tidak selalu berjalan mulus sehingga muncul gesekan. Bahkan persoalanya bukan hanya persoalan teologis namun juga politis karena ada anggapan orang-orang Jawa yang hendak dibaptis menginginkan posisi yang setara dengan orang Belanda. Hal tersebut yang membuat kekristenan yang diajarkan kian menjadi rumit. Soekotjo dengan nada ironi menuliskan : “Perlu diberi acungan jempol kepada para pendeta-utusan zending yang telah sukses menjadi anti budaya bangsa sendiri, sekaligus sukses memisahkan gereja Jawa dari budaya bangsanya sendiri.72 Pada awal pertumbuhan gereja GKJTS (sebagai salah satu jalur terbentuknya GKJ), terutama gereja-gereja yang diasuh oleh Gereja Gerreformeerd Belanda ini sempat merasa kebingungan perihal sikap terhadap budaya ini. Bahkan setelah sidang sinode 1 pada tahun 1931, persoalan ini belum juga mendapatkan titik terang. Bahkan pada sidang sinode ke-V pada tahun 1936, masih terdapat larangan untuk memainkan gamelan di Gereja. Untuk memainkan gamelan di Gereja perlu dibuat terlebih dahulu gendhing yang Kristen.73 Persoalan mengenai singgungan terhadap budaya ini baru dibahas lagi pada tahun 1967. Hal tersebut berisi laporan dari Komisi Studi Kemasyarakatan bahwa telah mempelajari dua diantaranya adalah upacara pernikahan secara Kejawen dan 72 lih S.H Soekotjo, op.cit hal 393. Ibid hal 393. 73 47

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI juga meninjau kebudayaan.74 Laporan itu berisi tentang penelitian terhadap tata cara Jawa yang terdidi atas 38 lembar folio di mana halaman 16-34 berisi tentang tinjauan terhadap tata cara pernikahan Jawa. Dalam laporan tersebut dikatakan bahwa pernikahan Jawa berlatar belakang masyrakat agraris, sehingga memang cocok di pedesaan. Sementara di perkotaan “lambang harapan” belaka dan sudah luntur artinya.75 Selain itu, dalam laporan tersebut mengatakan bahwa umat Kristen sudah mulai menggunakan budaya asli untuk memuliakan nama Tuhan.76 Sastrokasmojo menjelaskan apa yang dituliskan dalam data di atas, dengan menggunakan contoh kasus dalam upacara midodareni. Rupanya ada orang Kristen yang memodifikasi midodareni dalam tata cara pernikahan Jawa menjadi bidstonan. Sekalipun untuk melakukan karawitan ataupun menggelar pertunjukan wayang kulit masih takut karena dianggap dosa oleh gereja. Bukan hanya wayangan dan karawitan, larangan juga muncul untuk menyelenggarakan maupun mengikuti kenduri. Apa yang disarankan oleh gereja begitu memisahkan orang yang memeluk Kristen ini dari kehidupan keseharianya. Soekotjo melihat hal ini terjadi karena zending menganggap apa yang disebut sebagai budaya Kristen adalah budaya “Barat”, sehingga apa yang bukan “Barat” dipandang sebagai bukan Kristen, dan yang bukan Kristen tidak dibenarkan dipraktekan oleh Jemaat.77 Apa yang dikatakan oleh Soekotjo rasanya memang tidak berlebihan, karena pertanyaan boleh atau tidak boleh masih ditanyakan hingga sekarang ini. Ada ketakutan yang sedemikian besar dari warga 74 Pradjarta Dirdjosanjoto, op.cithal 280. Ibid hal 280. 76 Ibid hal 280. 77 S.H Soekotjo, op.cithal 372. 75 48

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI gereja untuk menyentuh hal-hal yang berbau kejawaan. Sementara itu buku yang lain menyebutkan bahwa sikap Gereja-gereja Kristen Jawa memiliki sikap yang mendua.78 Ada yang pro dan ada yang kontra terhadap kesenian daerah. Bagi mereka yang kontra, alasanya kurang lebih seperti yang dijelaskan oleh Soekotjo di atas, kesenian masih memiliki sisa-sisa penghayatan kepercayaan lama. Sementara bagi mereka yang setuju menganggap kesenian sebagai sebuah kesenian saja sehingga mungkin digunakan untuk sarana “pekabaran Injil”. Dari sisi yang pro, ada upaya untuk “mengristenkan” kesenian daerah tersebut. Upaya ini diwujudkan dengan mendirikan Komisi Komunikasi Massa (Kokomas). Tujuan dibuatnya Kokomas adalah mengadakan pelatihan dalang Kristen, sinden Kristen dan kethoprak Kristen. Sebagaimana gereja selalu dalam ketegangan antara Jawa dan Kristen, pro kontra ini juga masih berlangsung hingga kini. Sedangkan dari sisi bahasa, bahasa Jawa digunakan sebagai bahasa resmi GKJ setidaknya hingga tahun 1962.Akta sidang sinode VIII masih menggunkan bahasa Jawa79. Bahkan dicatat bahwa khotbah juga menggunakan bahasa Jawa. Sekalipun bahasa Jawa yang digunakan mengalami pergantian. Pergantian ini terkait dengan tingkatan-tingkatan dalam bahasa Jawa. Penggunaan bahasa ngoko dengan berasosiasi dengan posisi pengkhotbah yang dianggap lebih tinggi dari umat, setelah itu digunakan bahasa krama madya, dengan pengandaian bahwa pengkhotbah setara dengan umat, lalu setelah itu digunakan bahasa pedhalangan untuk khotbah. Bahasa 78 M Suprihadi Sastrosupono dan Hadi Purnomo, (ed).op.cit hal 142 ibid hal 141. 79 49

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI inilah yang menjadi standar dan bahkan dipakai hingga saat ini. Hal tersebut nampak dalam sebuah kutipan: “Agaknya bahasa inilah yang paling memenuhi syarat untuk terus dilanjutkan dan dipakai sebagai standar dan syarat mutlak, baik di daerah maupun di pusat, di desa mapun di kota, bagi siapapun yang mau menjadi pendeta di GKJ harus menguasai bahasa tingkat ini, terutama dalam berkhotbah. Tidak hanya di pusat budaya Jawa (Yogyakarta-Surakarta) tetapi juga di wilayah ngapakpun dipakailah bahasa krama madya dengan gaya pedhalangan hingga hari ini.”80 Kutipan di atas menunjukan sebetulnya bahasa yang digunakan dalam khotbah bukanlah bahasa Jawa yang digunakan untuk keseharian. Bahasa tersebut mengadopsi gaya pedhalangan. Bahasa yang rumit dengan kesusastraan yang memang tidak bisa dimengerti oleh sembarang orang. Sementara itu pusat yang dibayangkan adalah Yogya dan Surakarta. Pada kedua tempat tersebut terdapat keraton yang dibayangkan sebagai pusat bahasa Jawa. Akan tetapi bahasa yang demikian ini pula yang menimbulkan kesenjangan antara generasi muda dan generasi tua. Kesenjangan ini terjadi karena orang tua beranggapan bahasa Jawa dengan “pusat” di Yogya dan Solo ini sebagai sesuatu yang tak terbayangkan bisa terganti. Sementara orang muda lebih menguasai bahasa Jawa sehari-hari atau bahasa Jawa ngoko. Kesenjangan itu pula yang membuat bahasa Indonesia dipakai dalam peribadatan. Bahasa Indonesia seolah-olah muncul sebagai solusi untuk meredakan kesenjangan antara generasi muda dan generasi tua.81 80 81 Ibid hal 142. Ibid hal 142. 50

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pada sisi lain, menurut penuturan Daldjoeni setelah penggabungan Utara dan Selatan, huruf “J” dalam GKJ dimaknai dalam artian gereja yang menggunakan bahasa Jawa dalam khotbah.82 Dalam arti lain, ketika bahasa Indonesia juga dipakai dalam khotbah, maka J memiliki arti lain yaitu arti kultural.83 Arti kultural yang dimaksud di sini tetaplah dalam peristiwa liturgis, berada dalam rangkaian ibadah. Misalnya penyebutan Gusti bagi Yesus dan Allah. Selain itu mempersembahkan “persembahan” dengan tangan kanan. 5. Catatan Pergulatan agaknya menjadi kata yang tepat bagi GKJ. Gereja Kristen Jawa, dalam tegangannya menjadi sebuah gereja yang menerima Kekristenan dari tradisi Barat dan juga masyarakat Jawa sebagai konteksnya. Warna calvinis-pietis yang dibawa oleh Gereformeed tidak bisa dinafikan dalam GKJ. Pada sisi lain kehadiran Sadrach memberikan warna lain yang juga menjadi acuan manakala GKJ berhadapan dengan kejawaan. GKJ merasa perlu untuk memproduksi identitas kejawaanya, namun di saat yang sama GKJ juga berusaha mereproduksi kekristenannya. Pergulatan ini diharapkandapat memberi gambaran bahwa perhatian GKJ terhadap keJawan, termasuk yang muncul dalam kekuatiran terhadap orang muda bukanlah merupakan sebuah hal yang terjadi begitu saja. Ada sebuah latar belakang bahwa warga GKJ begitu dijauhkan dari kebiasaan sehari-harinya. Di sisi lain GKJ juga bergumul 82 83 untuk membubuhkan aspek-aspek kejawaan dalam kehidupan Daljoeni,op.cit hal 6. Ibid hal 6. 51

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI beragamanya. Maka GKJ berusaha memproduksi keJawan begitu rupa dalam khasanah seni, bahasa dan tradisi. Hal ini tidak lepas dari masa lalu GKJ. Proses reproduksi itu tidak berhenti pada masa lalu. Reproduksi kejawaan dalam kehidupan GKJ masih berlanjut hingga kini. Hal inilah yang akan dilihat lebih jauh pada bab selanjutnya. Bagaimana reproduksi perihal kejawaan itu berlangsung, apa yang dianggap penghalang bagi reproduksi itu beserta alasan mengapa reproduksi itu mesti dilakukan oleh GKJ. 52

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Bab 3 GKJ membangun Identitas Kejawaan Pengantar Kristen dan Jawa yang bertemu dalam Gereja Kristen Jawa menghadirkan pengalaman sejarah yang sedemikian menarik. Dalam perjalanan sejarahnya GKJ pernah begitu sumbang dalam menanggapi kejawaan. Ada larangan-larangan dan serangkaian norma yang mengatur sebatas apa orang kristen Jawa boleh menghayati kejawaanya sebagaimana telah dijelaskan pada bab 2. Namun di sisi lain, ada pula arus yang berusaha menegaskan kembali kejawaan. Pada bab ini hendak dilihat bagaimana kejawaan masih dibangun dan dibicarakan hingga saat ini. Oleh karena itu bab 2 hendak menyajikan data terkait hal tersebut. Diawali dengan disajikannya hasil pengamatan yang hendak menyoroti bagaimana identitas kejawaan itu dibangun dan melihat instrumen-instrumen apa yang ada di dalamnya. Sementara hasil wawancara akan melengkapi proses pengamatan beserta alasan mengapa membangun identitas itu dilakukan. Selain itu, bab ini juga akan menyajikan tanggapan orang muda terhadap membangun identitas kejawaan tersebut. 1. Upaya-upaya membangun identitas kejawaan dalam bahasa, seni dan tradisi Sebagaimana yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa dalam perjumpaan antara Kristen dan Jawa kerap muncul konflik beserta penyebabnya. Oleh karena itu apa yang hendak disampaikan dalam bab ini seyogyanya dimengerti dalam konteks tersebut. Selain itu, sub bab ini juga hendak menyuguhkan bagaimana GKJ 53

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menghadirkan hal-hal yang membuat bangunan identitas kejawaan GKJ menjadi tanda yang kuat. Hal-hal itu ada dalam kesenian, bahasa, dan tradisi. Tanda itu coba dibangun dalam relasi antara kekristenan dan kejawaan. Dalam melihat hal ini akan diawali dengan pengamatan guna memperoleh gambaran, kemudian diperdalam dengan wawancara terutama dengan terhadap orang muda yang ada di GKJ Purworejo. A. Membangun penanda-penanda identitas Upaya menjalin keterkaitan antara kekristenan dan kejawaan di GKJ Purworejo nampak pada sidang sinode di GKJ Purworejo pada tahun 1990. Pada momen tersebut GKJ Purworejo membuat ibadah pembukaan sidang dengan menggunakan gamelan sebagai pengiringnya, serta kotbah diganti dengan seni drama dan tari (sendratari). Pada saat itulah kelompok gamelan juga kembali berdiri dan menjadi awal mula melihat pentingnya identitas kejawaan pada sebuah komunitas Kristen yang memiliki latar belakang kesukuan. Hal tersebut semakin menguat manakala penokohan Kyai Sadrach kembali dipaparkan dalam gereja, yaitu bahwasanya kekristenan mestinya tidak terpisahkan dengan kejawaan. Ini terbukti dengan menggunakan hari Selasa Kliwon84 sebagai hari sarasehan, sebagaimana kebiasaan Kyai Sadrach mengumpulkan muridnya. Dalam sarasehan ini pulalah muncul perbincangan mengenai menguatnya kebutuhan untuk membangun identitas. Setidaknya bisa dicatat bahwa Lemkabuja (Lembaga Kesenian Budaya Jawa) yang telah disinggung pula dalam bab sebelumnya menjadi mungkin 84 Berdasarkan wawancara dgn LES, Pendeta di GKJ Purworejo pada tanggal 22 Januari 2018. 54

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI diresmikan di Purworejo. Arus gerakan kesadaran tentang pentingnya kejawaan di Purworejo menjadi kian besar. Pertemuan-pertemuan Lemkabuja juga menjadi bagian penting dalam kebijakan terkait kejawaan di GKJ Purworejo. Meskipun dua institusi ini berlainan, namun karena orang-orang dari Lemkabuja dan Majelis GKJ Purworejo ada yang sama oleh karena itu isu-isu di Lemkabuja bisa diangkat dalam kemajelisan. Hal ini bisa dilihat dalam penggunaan bahasa, seni (kesenian), juga tradisi sebagai poin penting dalam membangun identitas. Tiga hal ini kemudian sangat berpengaruh dan membawa perubahan dalam kegiatan bergereja. Misalnya dalam penggunaan bahasa pada jam ibadah anak dan remaja di GKJ. Semula ibadah anak dan remaja dilakukan pagi hari menggunakan pengantar bahasa Indonesia, diubah pelaksanaannya menjadi sore hari dengan menggunakan pengantar bahasa Jawa dengan harapan anak dan remaja bisa mempelajari bahasa Jawa. Bahasa Jawa yang digunakan dalam ibadah pun bukan bahasa Jawa keseharian, namun bahasa Jawa krama madya pedalangan yang dianggap sebagai hal yang penting. Selain hal bahasa, dalam penggunaan kesenian di gereja pun juga mengalami perubahan. Awal mula tercipta kelompok karawitan pada tahun 1990, kemudian pada tahun 2014 semakin berkembang dengan mulai ditemani oleh grup remaja dan pada tahun 2018 bertambah pula grup anak-anak. Di samping itu, muncul grup kesenian yang lain yaitu keroncong remaja. Kelompok-kelompok ini semakin didorong oleh gereja terkait pentingya anggapan bahwa orang muda mesti menguasai kesenian tradisional sebagai wujud keanggotaan identitas kejawaan. 55

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Berikutnya ialah tradisi, atau upacara adat yang ditarik menjadi bagian dari ibadah gereja. Ada perubahan yang terjadi pada praktik perayaan unduh-unduh sebagai tradisi yang coba dibangun oleh gereja (akan dijelaskan lebih lanjut pada bagian selanjutnya). Pada poin tradisi ini, tampak bahwa segala sesuatu dibangun dengan dikaitkan pada berbagai hal yang dianggap Jawa.Pada ranah bahasa, sebagaimana sudah disinggung di atas, yang menjadi pergumulan sebenarnya adalah penggunaan bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar ibadah. Setidaknya, bila ada persoalan yang menyinggung tentang anak muda dalam kaitanya dengan bahasa Jawa maka bahasa yang dimaksud adalah bahasa pengantar ibadah. GKJ Purworejo menggunakan dua bahasa pengantar ibadah, yang pertama ialah bahasa Indonesia, yang kedua adalah bahasa Jawa. Bahasa Indonesia digunakan satu kali yaitu pada pukul 07.00 WIB. Sedangkan bahasa Jawa digunakan dua kali, yaitu pada ibadah pukul 09.00 WIB dan pada pukul 16.00 WIB. Dalam pengamatan tampak bahwa ibadah pada pukul 07.00 dengan bahasa pengantar ibadah bahasa Indonesia lebih ramai dan sebagian besar orang muda mendatangi ibadah tersebut. Sedangkan orang-orang yang beribadah siang dan sore dengan menggunakan bahasa pengantar ibadah bahasa Jawa lebih sedikit dan mayoritas adalah orang-orang tua. Kemudian ada perubahan sejak 2016, dikarenakan putusan majelis mengubah jadwal ibadah anak dan remaja. Ibadah anak dibuat menjadi satu dengan ibadah jam 09.00 WIB. Sedangkan ibadah remaja disatukan dengan ibadah pada pukul 16.00 WIB. Perubahan yang dilakukan ini semakin mempertegas bahwa bahasa Jawa menjadi 56

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI aspek yang demikian penting, bahkan orang muda diberi jatah beribadah dengan bahasa pengantar bahasa Jawa. Rupanya di GKJ persoalan bahasa menjadi hal yang paling kentara. Sayangnya di kemudian hari ada kecenderungan bahwa yang dimaksudkan budaya adalah bahasa saja. Persoalan ini menjadi hal yang menarik, sebab bila berbicara tentang sejarah (sebagaimana telah disinggung dalam bab 2), persoalan bahasa selalu saja menempati tempat yang begitu penting. Bahkan bahasa sudah menjadi tolak ukur apakah seseorang itu mengerti tentang kejawaan atau tidak. Bila ada orang muda yang tidak bisa bahasa Jawa dengan baik dan benar (misalnya mestinya menggunakan basa Jawa krama) maka orang itu akan ditegur. Teguran itu tidak jarang disampaikan langsung di depan umum. Peristiwa ini yang dipandang oleh narasumber sebagai kendala berkembangnya budaya karena anak muda yang trauma akan menjadi enggan untuk mendekatkan diri dan belajar pada seni tradisi dan bahasa. Kekuatiran generasi tua ini semakin dipersempit pada ranah bahasa, khususnya pada bahasa Jawa dan dipersempit lagi pada bahasa Jawa krama. Dalam bab 2 bahasa yang dipakai ini disebut sebagai krama madya gaya pedhalangan (bahasa krama madya dengan gaya yang dipakai oleh dalang wayang kulit). Gaya bahasa yang digunakan dalam pementasan wayang kulit bukanlah bahasa Jawa yang digunakan dalam perbincangan sehari-hari. Bahasa yang tidak digunakan sebagai bahasa pergaulan sehari-hari dipakai sebagai bahasa pengantar ibadah dan bahkan menjadi standar tanda bagi generasi tua. Absennya orang muda dalam ibadah yang menggunakan bahasa pengantar bahasa Jawa tentu saja dianggap bermasalah. 57

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pada ranah kesenian GKJ Purworejo mengalami dinamika pula.Misalnya penggunaan gamelan dalam gereja. Sebelum tahun 1990 tidak lazim gamelan digunakan untuk mengiringi peribadatan di gereja. Demikian pula di GKJ Purworejo, iringan ibadah Minggu menggunakan Gamelan pertama-tama sulit diterima. Tercatat pertama kali gamelan dipakai dalam ibadah pada tahun 1990 pada saat sidang sinode di Purworejo, bersamaan dengan itu muncul sebuah kelompok karawitan bernama “Widodo Laras”. Latihan kelompok ini biasanya bekerja sama dengan kelompok karawitan dari sekolah Pembangunan Negara 2 (kelompok Gulambang) karena belum memiliki gamelan sendiri. Beberapa pemainnyapun berasal dari kelompok Gulambang. Kelompok ini dalam perjalananya bertugas untuk mengiringi ibadah, baik ibadah menggunakan wayang, ketoprak maupun iringan untuk nyanyian umat. Namun saat ini GKJ Purworejo memiliki beberapa tim gamelan, diantaranya adalah tim gamelan remaja dan tahun ini memiliki dua tim gamelan anak-anak. Tentu hal ini patut dicermati, yang tadinya berkeberatan dengan adanya iringan gamelan di dalam gereja namun kini malah memiliki beberapa tim gamelan diantaranya anakanak dan remaja. Hal lain yang berkaitan dengan memunculkan identitas kejawaan yaitu pada format-format khotbah yang tadinya dengan gaya ceramah sejak tahun 2000 bisa diganti dengan adanya wayang kulit ataupun ketoprak sebagai pengganti khotbah. Padahal dalam perjalanannya sempat ada larangan bagi orang Kristen untuk menonton wayang, namun kini wayang sudah diterima di dalam liturgi menjadi bagian dalam peribadatan. 58

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tegangan untuk menjadi Kristen dan menjadi Jawa rupanya muncul dan bergantiganti setiap waktunya. Bila gamelan dan wayang kini tidak menjadi persoalan, lain lagi dengan tari jaranan. Rupanya tidak semua tari bisa ditarikan dalam ibadah, tari jaranan misalnya. Jangankan di dalam ibadah, di dalam komplek gereja saja ada warga yang protes kepada majelis. Anggapan bahwa orang yang menarikan jaran kepang bisa mendem dan kerasukan setan cukup mengganggu warga jemaat. Bagaimana mungkin seseorang bisa kerasukan, sedangkan ia berada di komplek gereja? Pertanyaan lain apakah bedanya warga yang beragama Kristen dengan orang yang beragama lain jika masih mempercayai kekuatan selain kekuatan Tuhan? Ketegangan-ketegangan tersebut terus menggelayut dan menjadi pergumulan GKJ. Ketegangan itu muncul makin jelas dalam sebuah upacara yang disebut unduhunduh. Unduh-unduh biasanya dirayakan bersamaan dengan hari raya Pentakosta (terutama dalam kebiasaan GKJ) dan biasa diperingati sebagai hari raya panen. Pada perayaan tersebut jemaat membawa barang untuk diserahkan (dipersembahkan) kepada gereja dan nantinya akan dilelang. Sebagaimana sistem lelang, hasil panen (bisa berupa buah maupun sayuran dan juga hewan ternak) dibuka dengan harga tertentu, kemudian warga gereja akan berlomba-lomba menaikan harga hingga tercapai harga tertinggi. Hasil lelangan tadi juga diberikan pada gereja. Ibadah dilakukan dalam gereja demikian juga dengan lelanganya dan diikuti oleh warga gereja. Sejak tahun 2012 Gereja Kristen Jawa Purworejo mengadakan ibadah unduhunduh dengan cara yang berbeda. Perbedaan yang pertama adalah dari waktu 59

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pelaksanaan. Tadinya diadakan bertepatan dengan ibadah Pentakosta, sementara unduh-unduh di GKJ Purworejo dilaksanakan pada bulan Agustus mendekati momen perayaan hari kemerdekaan. Arak-arakan ini selain diadakan di bulan Agustus, bentuk yang dipakai juga sangat mirip dengan karnaval yang rutin diadakan di Kabupaten Purworejo. Arak-arakan ini mengubah cara unduh-unduh dirayakan. Jika tadinya hanya diadakan di gereja, kini diarak dari sebuah sekolah di dekat alun-alun menuju ke gereja. Arak-arakan ini juga melibatkan pertunjukan, misalnya kesenian Rampag Buta, Jaran Kepang, Drumband. Kesenian ini nantinya akan tampil satu-satu di depan gereja secara bergantian. Selain itu warga gereja yang ikut dalam perarakan ini menggunakan pakaian surjan, ibu-ibu memakai kebaya, ada juga yang berpakaian seperti petani. Perbedaan lainnya ialah menggantikan sistem lelang dengan menjual hasil panen (dengan lebih murah dari harga pasar) kepada masyarakat umum di sekitar gereja. Sebenarnya bukan merupakan rahasia bila unduh-unduh diidentikan dengan pencarian dana. Hal ini terlihat dengan dipakainya sistem lelang, misalnya satu butir kelapa yang biasa dijual lima ribu rupiah bisa terjual dengan harga berkali lipat. Memang dengan sistem ini, uang yang masuk ke gereja menjadi banyak. Selain itu, sistem lelang ini akan memberi kebanggaan tersendiri bagi yang mengikutinya. Akan tetapi dalam perjalananya, GKJ Purworejo mendapati masalah akibat sistem lelang ini. Tidak semua orang dapat mengikuti dan merayakan unduh-unduh terutama mereka yang tidak mampu secara ekonomi. Oleh karena itu kemudian sistem lelang ini digantikan dengan sistem lain. Sistem yang membuat semua orang tetap bisa 60

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI mengikuti, yaitu dengan menjualnya kepada warga umum (bukan warga gereja saja) dengan harga sama atau bahkan lebih murah dibandingkan harga pasar. Berpijak dari realitas di atas, ditemukan hal-hal yang bisa diangkat kemudian dimaknai untuk melihat unduh-unduh tidak sebatas gereja yang nguri-uri budaya Jawa. GKJ Purworejo dalam unduh-unduh ini hendak menampilkan gereja yang sedemikian rupa nJawani. Hal ini tentu menjadi menarik untuk diperhatikan, mulai dari pengunaan kesenian yang dihadirkan untuk membangun suasana lokal Jawa, pakaian-pakaiaan yang dianggap merepresentasikan petani hingga persembahan yang dibeli dan dibentuk seperti gunungan semakin menampakkan kesan nJawani yang hendak ditimbulkan. Selain itu, yang patut untuk diperhatikan adalah penggunaan arak-arakan. Bila dulu ibadah hanya dilakukan di dalam gedung gereja, namun dengan arak-arakan ibadah dilakukan di luar gedung gereja dan melibatkan orang lain (yang bukan anggota gereja), meskipun keterlibatanya hanya menjadi penonton. Bentuk arakarakannya pun sangat mirip dengan pawai yang diadakan oleh Kabupaten Purworejo setiap bulan Agustus. Arak-arakan dalam upacara unduh-unduh ini membuat kedatangan warga gereja menjadi lebih ramai daripada ibadah-ibadah biasa. Bahkan bukan hanya anggota GKJ Purworejo saja yang datang ke dalam upacara unduh-unduh, namun juga dari gereja lain. Unduh-unduh juga dilakukan rutin setahun sekali, dengan pola yang kurang lebih sama, menggunakan arak-arakan yang disertai nuansa budaya lokal kejawaan. Selama 61

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI mengikuti upacara ini, selalu ada orang dari luar daerah Purworejo yang juga ikut untuk melihat. Cukup unik bahwasanya unduh-undhuh diambil alih sebagai salah satu tradisi yang dirayakan. Hari raya panen yang dirayakan oleh orang-orang yang sebagian besar bukan petani. Bahkan menurut survei yang dilakukan oleh GKJ Purworejo pada tahun 2009 profesi petani merupakan bagian dari 13% dari profesi lain-lain.85 Sementara itu pada prakteknya, pada hari raya panen tidak sedikit pula yang membeli sayur , buah dan atau barang apa saja yang diperlukan dan bisa “dipersembahkan”, baru kemudian dibawa ke gereja. Bila dilihat di atas ada beberapa hal yang bisa digarisbawahi dalam sub bab ini. Pertama perihal Kyai Sadrach. Ia digunakan sebagai tanda bahwa GKJ mestinya bisa mengolah Jawa dan Kristen. Untuk itu titik berat yang diceritakan adalah kisah hidup Sadrach yang berupaya melakukan penyeimbangan itu. Penokohan Sadrach menjadi penting untuk memberikan gambaran bahwa sesungguhnya GKJ Purworejo sebagai gereja yang pernah menjadi bagian dari jemaat Sadrach pernah juga melakukan pengolahan terhadap Kristen dan Jawa. Maka hal itu menimbulkan kesan bagi GKJ Purworejo untuk menjadi Jawa sekaligus Kristen adalah keniscayaan. Perhatian berikutnya bisa dilihat dalam ranah bahasa, kesenian dan tradisi. Baik itu bahasa, kesenian, maupun tradisi yang menjadi perhatian GKJ merupakan hal-hal yang bisa dengan mudah “dimasukkan” dalam ibadah di GKJ. Sebagaimana yang telah disinggung pula di atas, ranah-ranah inilah yang rupanya diambil oleh GKJ sebagai 85 Lihat Lampiran 1. 62

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI upaya tetap menjadi Kristen sekaligus menjadi Jawa. Di mana hal ini sebelumnya dipandang sebagai sesuatu yang sulit dibayangkan untuk dilakukan. Dari segi bahasa muncul kesan bahwa penting untuk memperdengarkan bahasa Jawa dalam ibadah bagi anak dan remaja, sebab ketidakhadiran orang muda dalam ibadah berbahasa Jawa cukup menjadi indikator keprihatinan. Maka ada upaya penyejajaran antara bahasa Jawa yang dilakukan dalam khotbah dengan bahasa sehari-hari dalam pemindahan jam ibadah bagi anak dan remaja. Rupanya sebagai upaya untuk membangun Jawa agaknya mendapat tekanan yang penting, sekalipun ada perbedaan antara bahasa yang diapakai dalam ibadah dan bahasa perbincangan sehari-hari. Dari segi kesenian dan tradisi yang sering dipertemukan dalam ibadah, GKJ Purworejo juga acapkali menempatkan gamelan sebagai iringan dan juga kethoprak dan wayang sebagai hal-hal yang mewakili Jawa dan ditempatkan sebagai khotbah. Sementara khotbah sendiri merupakan sesuatu yang sangat penting terutama bagi tradisi gereja Protestan. GKJ agaknya juga mau menunjukkan bahwa aspek-aspek yang mewakili Jawa tadi tidak bertentangan dengan kekristenan. Hal ini semakin jauh juga dibuktikan dengan adanya kesenian-kesenian tradisional yang bahkan ada momen kesurupan sebagai bagian dari pertunjukan dipentaskan dalam rangkaian ibadah unduh-unduh. Membenturkan batas antara identitas Jawa serta kekristenan menjadi langkah untuk menegaskan bahwa Kristen dan Jawa itu bisa dinegosiasikan. Bahkan langkah ini seperti hendak menegasi sejarah bahwa kekristenan pernah begitu berjarak dengan kejawaan. Sebagaimana sudah dijelaskan dalam bab 2 bahwa 63

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Hal lain yang menarik dalam peristiwa unduh-unduh bahwa pernak-pernik yang dimaksudkan untuk berperan sebagai petani dan juga mencitrakan diri sebagai Jawa. Petani beserta tanaman yang dibawanya berarti merupakan imajinasi yang muncul dalam benak warga ketika membayangkan tentang Jawa. B. Orang Muda dalam Penanda Identitas Sebagaimana sudah disinggung di atas, persoalan bahasa Jawa merupakan salah satu hal yang dibangun menjadi salah satu penanda oleh GKJ, terutama ditujukan untuk “orang muda”. Pada bagian ini dipaparkan hasil wawancara terhadap narasumber yang dituliskan dalam inisial-inisial. Inisial-inisial ini adalah nama-nama narasumber. Keseluruhan narasumber merupakan warga GKJ Purworejo dalam jenjang SMA dan aktif dalam kegitan berkesenian di GKJ Purworejo. Bagian pertama dalam sub bab ini disajikan tanggapan orang muda terhadap bahasa Jawa, bagaimana mereka menggunakan bahasa Jawa sehari-hari, juga bahasa yang dipakai dalam peribadatan berbahasa Jawa. Hal tersebut nampak dalam petikan wawancara dengan salah satu narasumber : Dulu ketika di desa aku itu bahasa Jawanya bagus, tapi ketika aku ada di kota, karena lingkunganya nggak berbahasa ibu, terus lama-lama aku juga lupa. Di situ juga ada rasa sedihnya, karena jadi malu. Soalnya itu berhubungan ketika aku berkecimpung di dunia seni itu di sana orangorangnya dewasa-dewasa, dan di sana itu orang Jawa di mana aku harus sopan sama mereka di mana aku harus bicara sama mereka jadinya aku malu. Tapi di situ kan lama-lama aku belajar bahasanya gini-gini, terus sopan santunya gini-gini. Selama ini sih masih belajar, selama ini masih pakai bahasa Indonesia kalau ngomong. Selama ini juga pernah ditegur sih, tapi kalau jaga amannya sih pakai bahasa Indonesia. Bahasa Jawa itu dulu gak penting karena bergaulnya dengan teman-teman sebaya tapi kan semakin gede tambahan pergaulanya kan kita semakin mengenal orang-orang dewasa. Lalu orang Jawa itu mesti dikenal tata santunnya nah tata santunnya kalau ngomong sama orang yang lebih 64

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI tua ya pakai bahasa Jawa yang krama yang baik dan benar. Akhirnya bergaul sama orang yang lebih besar.(P)86 Dari petikan wawancara di atas, narasumber merasa bahwa lingkunganlah yang membentuknya. Setidaknya ia membedakan antara dua lingkungan, yaitu yang ia sebut desa dan kota. Apa yang dinamai kota dan desa rupanya merupakan faktor dalam penggunaan bahasa atau dalam hal ini membangun identitas melalui bahasa. Bahasa Jawa yang bertingkat menimbulkan kekikukkan karena di sana terdapat aturan-aturan bagaimana mestinya berbicara dengan orang lain. Pada contoh di atas yaitu bagaimana berbicara dengan orang yang lebih tua. Oleh karena itu narasumber memilih untuk berbicara dengan bahasa Indonesia untuk menghindari kekikukkan tersebut. Kekikukkan tersebut terjadi karena sebetulnya bahasa tersebut jarang digunakan sebagaimana tergambar dalam petikan wawancara: Dari teman-teman sebaya saya sebenarnya ada banyak yang tidak bisa bahasa Jawa. Akibatnya semisal sama orang tua ditanyain kromo terus jawabnya bahasa Indonesia dengernya kan kurang enak. Kalau ngomong sama orang tua kan sebaiknya ya pakai kromo. (I)87 Bagi narasumber persoalan bahasa ini menimbulkan sikap yang kikuk dan kebingungan. Hal tersebut rupanya juga merupakan sesuatu yang lazim bagi generasi mereka. Akan tetapi baginya yang ideal tetaplah menggunakan basa krama. Hal ini muncul dalam petikan wawancara dengan narasumber yang lain: Aku tuh masih mikir dan nggak bisa bedain mana krama mana ngoko, asal ngomong aja. Yuk kalau pelajaran bahasa Jawa tuh susah banget. Tapi sebenernya aku pengin belajar karena aku kan kalau ngomong sama orang tua yang hidup di Jawa, kalau sama orang tua kan sebaiknya basa. Kalau basa (krama) kan biar sopan. Dan itu sangat mengganggu 86 Wawancara dengan P pada tanggal 21 Januari 2018. Wawancara dengan I, pada tanggal 21 Januari 2018. 87 65

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kalau papasan sama orang itu bingung pake bahasa Indonesia apa bahasa Jawa akhirnya cuman senyum aja. (AM)88 Tidak peduli bagaimana mereka berada dalam kikuknya bahasa. Hal yang lagi-lagi perlu mendapat perhatian adalah kemauan untuk belajar. Seperti yang sudah diungkapkan sebenarnya realitas bahwa orang muda kesulitan menggunakan bahasa krama adalah sesuatu yang lazim namun masih ada upaya untuk belajar. Maka sesungguhnya orang muda sendiri mengonsumsi pemahaman bahwa mereka harus bisa seideal mungkin dalam berbahasa. Selain pengalaman orang muda berbahasa Jawa dalam kesehariannya, peneliti menanyakan juga bagaimana pengalaman mereka membaca Alkitab berbahasa Jawa. Sebagaimana telah dijelaskan di atas, ibadah untuk mereka yang menginjak usia SMP dan SMA yang tadinya diletakkan dalam ibadah bahasa Indonesia diubah dalam ibadah yang berbahasa Jawa. Maka pengalaman membaca Alkitab bahasa Jawa merupakan hal yang menarik untuk ditanyakan: Selama ini kalau membaca Alkitab bahasa Jawa ya masih kesulitan karena ada kata-kata yang asing. Mungkin bahasa Jawanya di Alkitab gak perlu diterjemahkan ulang, kitanya aja yang perlu mempelajari. Soalnya kita perlu belajar aja. Supaya bisa tahu. Kan jadi tahu ternyata bahasa Jawa ternyata ini. Dan menurut saya khotbah bahasa Jawa itu penting untuk mengenalkan sama anak muda tentang budaya Jawa ini. (I)89 Hal serupa yang dikatakan narasumber di atas bisa dilihat keinginan untuk mempelajari bagaimana bahasa Jawa, sekalipun nampak ada kendala-kendala. Kesulitan ini juga dialami oleh seluruh narasumber. Pengalamannya ada berbagai 88 Wawancara dengan AM, pada tanggal 21 Januari 2018. Wawancara dengan I pada tanggal 21 Januari 2018. 89 66

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI macam, sebagaimana yang sudah dituliskan di atas, di antaranya karena kosa katanya asing bagi mereka. Orang muda tidak pernah memakai kata itu di dalam kesehariannya. Sementara narasumber yang lain mengatakan : “Kalau baca kitab suci bahasa Jawa ya tau artinya tapi gak bisa mengungkapkanya”(Wi).90 Sementara narasumber (Wu)91 mengatakan bahwa kalau membaca kitab suci itu kesan yang ditimbulkan itu lelet; membacanya harus dengan intonasi yang berat dan lambat. Lebih lanjut peneliti menanyakan bagaimana tanggapan terhadap bahasa Jawa ini, ada dari mereka yang berpendapat bahwa yang ada di Alkitab tidak perlu diganti. Tapi pendapat yang lain mengatakan perlu diganti : “Harus ada terjemahan Alkitab baru, karena aku nggak mudheng sementara teman sendiri juga nggak ngerti. (P)”. Perbedaan yang muncul hanya ada pada sikap antara perlunya terjemahan baru dan tidak. Sementara esensinya adalah mempelajari bahasa Jawa. Pada sisi lain ditanyakan pula bagaimana pengalaman orang muda dalam bernyanyi dengan lagu-lagu berbahasa Jawa. Bagi narasumber lagu-lagu yang dinyanyikan manakala ibadah berbahasa Jawa sebetulnya asyik, tapi kesannya lelet. Lagu-lagu itu bagi narasumber terasa tidak semnagat karena lambat dan mendayudayu, mestinya penggarapan lagu ini melibatkan orang muda sehingga lagunya tidak lelet. Hal yang serupa juga muncul dari (I)92 “ Kalau lagu-lagunya asik soalnya nambah kosa kata. Tapi kadang bingung sama maknanya. Kadang merasa kurang semangat”. Hal ini pulalah yang membuat I bertekad untuk membuat lagu-lagu ibadah bahasa 90 Wawancara dengan Wi pada tanggal 21 Januari 2018. Wawancara dengan Wu pada tanggal 21 Januari 2018. 92 Wawancara dengan I pada tanggal 21 Januari 2018. 91 67

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Jawa yang semangat “Kepikiran juga buat lagu yang baru yang lebih semangat, buat lagu rohani anak muda yang bahasa Jawa.(I)93” Adanya keinginan untuk membuat lagu beserta apa yang sudah dipaparkan sebelumnya merupakan bukti bahwa memang dalam hal ini para narasumber masih tertarik terhadap kejawaan dan membangun identitas menggunakan penanda-penanda tersebut. Bahkan sebagai orang muda ia bahkan juga merasa perlu untuk dikenalkan. Ada upaya untuk meraih kejawaan dengan belajar bahasa Jawa. Hal yang tidak kalah pentingnya, ialah pengalaman orang muda mendengarkan khotbah dalam bahasa Jawa. Hal ini penting karena sebagaimana telah dijelaskan di atas, tujuan jam ibadah orang muda diletakkan dalam ibadah berbahasa Jawa supaya orang muda terbiasa dengan itu. Mendengarkan khotbah bahasa Jawa rupanya juga menghadirkan pengalaman yang kurang lebih mirip dengan pengalaman membaca Kitab suci berbahasa Jawa: Kalau di gereja ibadah bahasa Jawa sih sedikit-sedikit paham. Ada katakata tertentu yang tidak paham. Tapi ibadah bahasa Jawa itu harus tetap ada supaya aku belajar bahasa Jawa. Kalau nggak tahu ya tanya teman sebelah, kalau teman sebelah nggak tahu, ya udah nggak ngerti. Di ibadah basa Jawa itu biar ngerti ya sebaiknya ada bahasa Indonesianya. Tapi kalau ibadah ya lebih baik pakai bahasa ngoko kan biar terlihat Jawanya ya pakai ngoko. (AM)94 Pengalaman narasumber dalam mendengarkan khotbah bahasa Jawa rupanya juga mengalami kesulitan. Ia juga mengharapkan ibadah bahasa Jawa ini tetap ada supaya ia tetap bisa belajar. Selain itu hal yang perlu diperhatikan terkait anggapanya bahwa ibadah berbahasa Jawa terutama yang melibatkan orang muda mestinya 93 Ibid. Wawancara dengan AM pada tanggal 21 Januari 2018. 94 68

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menggunakan bahasa ngoko. Bahasa ngoko lebih baik digunakan sebagai bahasa pengantar supaya “rasa” Jawanya tetap bisa dirasakan dan di sisi lain orang muda tetap bisa mengerti. Dalam hal ini ngoko lebih mewakili kejawaan baginya. Pengalaman yang senada juga dapat dicermati dalam petikan wawancara: Ibadah basa Jawa aku ngerti sedikit-sedikit. Kalau mendengar itu ngerti tapi nggak bisa menjawab. Bahasa Jawanya itu ada ada kata-kata yang tidak umum diperbincangkan masyarakat. Kalau pendeta ngobrol biasa masih mudheng tapi kalau lagu dan nyanyi kadang bingung. Menurutku sebaiknya ya kalau baca ayat pakai bahasa Jawa terus ditranslatekan ke bahasa Indonesia. Tapi kan nggak semua pendeta kayak gitu, biasanya kan ya lempeng-lempeng aja kalau bahasa Jawa ya semua bahasa Jawa. Ada pendeta juga yang menjelaskan pake bahasa Indonesia juga. Kalau khotbah sih sebaiknya ya dicampur bahasa Indonesia, karena nggak enak kalau pakai ngoko. Tapi ibadah bahasa Jawa tetap penting, karena awalnya kan yang pemuda ibadahanya tidak ditaruh di bahasa Jawa kan nah pertama kali kita ikut tuh oh “Puji mring Allah Pangeran” tuh “Sungguh Kerajaan Allah” atau ohh ohh... kan lama-lama bisa belajar dan menafsirkan sendiri. Saya mau belajar itu ya soal identitas, kan gimana,masak ibadah pakai bahasa sendiri masak bingung. (P)95 Pengalaman narasumber dalam mendengarkan khotbah dalam bahasa Jawa tidak jauh seperti membaca Kitab Suci. Ada bagian-bagian yang bisa dimengerti namun ada juga yang tidak. Hal itu dirasakan karena bahasanya bukan merupakan bahasa Jawa yang digunakan sehari-hari. Dengan pengalaman yang demikian narasumber berharap khotbah mestinya dicampur bahasa Indonesia karena menurutnya tidak baik kalau khotbah dilaksanakan dengan menggunakan bahasa Jawa ngoko. Alasan yang serupa disampaikan (Wi) juga terlihat dalam petikan wawancara : Kalau khotbah di gereja itu ada yang tau ada yang nggak. Nah kalau firman kan bukan bahasa Jawa sehari-hari. Kalau di gereja khotbah itu kan bahasa Jawa nah langsung dicampur bahasa Indonesia. Lebih baik dicampur bahasa Indonesia daripada ngoko karena biar lebih sopan. 95 Wawancara dengan P pada tanggal 21 Januari 2018. 69

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kalau ngoko kan ada yang kasar juga, jadi lebih sopan pakai bahasa Indonesia. (Wi) Pencampuran yang dilakukan ini dimaksudkan supaya apabila dalam bahasa Jawa ngoko ada kata-kata yang dirasa kasar bisa diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sehingga kesan kasar bisa terhindarkan. Hal serupa disampaikan (I) “Khotbah bahasa Jawa sebaiknya dicampur bahasa Indonesia karena ada banyak anak Jawa yang tidak tau bahasa ngoko”. Sekalipun pendapatnya mirip, namun alasanya berbeda, bagi (I) ada banyak orang muda yang sama sekali tidak tahu bahasa Jawa termasuk bahasa Jawa ngoko. Meskipun demikian dalam petikan wawancara dengan narasumber (P) bisa terlihat kalau orang muda bisa melihat perbedaan antara bahasa Jawa dan bahasa Indonesia lalu membandingkannya. Seperti ketika ia mencontohkan sebuah lagu. Ada lagu yang melodinya sama persis hanya ada dua versi bahasa (ketika P mengatakan kesamaan antara lagu “Sungguh Kerajaan Allah” dan lagu Puji Mring Allah Pangeran). Lalu di akhir petikan wawancara di atas (P) juga menambahkan persoalan identitas. Bahwa bahasa sebagai salah satu penanda identitas merupakan salah satu hal yang penting. Apa yang sudah diperlihatkan dalam pemaparan di atas merupakan sebuah upaya yang dilakukan oleh gereja guna membangun sebuah identitas. Upaya-upaya di atas dilakukan oleh warga gereja yang mayoritas merupakan generasi tua. Acapkali dalam upaya membangun identitas tersebut tudingan terhadap generasi muda mencuat. Ada anggapan bahwa orang muda sudah meninggalkan identitas kejawaan dengan indikator bahwa mereka sudah tidak bisa berbahasa Jawa, meninggalkan kesenian dan juga tradisi kejawaan. Oleh karena itu tesis ini juga mengangkat pendapat mereka 70

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI tentang hal tersebut. Hasil wawancara terkait keterlibatan mereka terutama dalam aras kesenian, bahasa dan tradisi. Bagi orang muda pertama-tama keterlibatan teman sebaya merupakan hal yang penting. Mereka mau melakukan dan terlibat dalam reproduksi identitas terutama dalam hal ini mengikuti kegiatan gamelan karena ajakan dari teman. Hal ini muncul dalam proses wawancara: Aku ikut karawitan di gereja tapi yang di sekolah aku nggak ikut. Aku gak tertarik di sekolah. Kalau di sekolah tuh susah aja. Aku susah si kalau nggak sama teman dekat. Soalnya di karawitan gak punya teman. Waktu pertama kali ikut waktu di Mas Win tuh aku cuma nyanyi, gak berani main. Tapi waktu lihat teman-teman main, kepo terus ikut main. Sekarang di gereja jadi ikut main. Sebenernya sihpengen lebih berkembang malahan sekarang aku pengin ikut di sekolah. Sedih banget, pengin ikut, tapi aku uda ada (ekstrakurikuler) yang lain di paduan suara barang. Terus yang di gereja aja. Sebenernya tertarik sama kesenian tradisional ya cuma tertarik aja. Nggak mikir itu tradisional atau modern atau apa. (AM96) Relasi pertemanan merupakan langkah awal keterlibatan orang muda. Hal ini begitu jelas terlihat dalam petikan wawancara di atas. Bahkan yang patut menjadi perhatian ada dalam kalimat terakhir di atas. Keterlibatan orang muda dalam kegiatan berkesenian bukan serta merta merupakan upaya untuk meneguhkan identitas kejawaan. Narasumber tidak memperhatikan apakah itu modern atau tradisional. Namun apabila lingkaran pertemanannya ada di sana maka iapun berada di sana. Pendapat ini senada dengan petikan wawancara dengan narasumber yang lain : Pertamaneki (Pertamanya) memang karena diajak dan memang pure (murni) karena asik yuk akhire (lalu akhirnya) semakin ke sini terus ngerti tembang-tembang, terus ngerti semakin jeru (dalam) yuk (lalu) 96 Wawancara dengan AM pada tanggal 21 Januari 2018. 71

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI eh iya mosok aku ra iso (tidak bisa). Baru setelah ndelok dari sekian banyak orang ora kabeh wong isa (tidak semua orang bisa). (A)97 Langkah awal yang sama dijelaskan di atas, yaitu ajakan dari teman. Namun setelah masuk dan belajar dalam berkesenian gamelan rasa ingin tahu menjadi semakin besar. Dari rasa ingin tahu yang besar itu membuatnya memiliki kemampuan yang lebih dari teman sebayanya. Kemampuan tersebutlah yang membawanya pada kesadaran rupanya keahlian yang ia kuasai ini menjadi pembeda bagi dirinya. Ketika main gamelan itu tradisi itu kan di anak-anak muda kayak kita kan justru malah jarang. Padahal kita sendiri orang Jawa. Bahkan satu kelas itu yang bisa cuma berdua, aku sama Anin. Tapi mereka pun kalau lihat kami tuh juga kepingin kayak kami. Ih keren deh kalian bisa main alat musik Jawa. Mereka juga merasa bahwa aku orang Jawa kok aku gak bisa, tapi entah gak ada kesempatan dan gak ada wadahnya. Di sekolah ada tapi kan cuma diperkenalkan sekilas jadi nggak sampai bener-bener bisa. Kalau aku sih beruntung karena ada fasilitatornya, jadi ketika pengen maka sekarang aku iso. Aku bertahan karena tidak akan merasa puas, selalu ada yang lebih dan selalu ingin untuk dipelajari. Dan aku lihat temen-temenku ada rasa kepingin kayak aku, dalam hatiku aku juga pengin ngajari mereka, supaya mereka bisa tahu. Tapi kapasitasku belum bisa ngajari mereka. Dan aku masih belajar. Aku nggak cuma belajar gamelan aja sebenernya tapi belajar yang lain juga. Cuma kalau gamelan kan ada sisi uniknya. Karena anak seusiaku kan banyak yang nggak bisa. Dan memang gamelan kan semacam kayak kalah pamor daripada Korea atau yang lain.(P)98 Pembeda yang sudah diulas oleh narasumber sebelumnya rupanya juga dirasakan oleh narasumber P. Dalam petikan wawancara di atas narasumber tergabung dalam kelompok tersendiri sementara teman-temannya yang tidak bisa bermain gamelan menjadi kelompok tersendiri pula. Manakala bisa memainkan gamelan, narasumber ini rupanya sudah menjadi anggota dari sesuatu yang ia sebut sebagai Jawa. Hal 97 Wawancara dengan A pada tanggal 21 Januari 2018. Wawancara dengan P pada tanggal 21 Januari 2018. 98 72

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI tersebut membanggakan karena Jawa ini dianggap sebagai identitasnya. Pada momen ini rupanya bermain gamelan bukan hanya sekedar sebuah kegiatan dalam lingkaran pertemanan, bukan juga sekedar kemampuan dalam memainkan alat musik tradisional namun sudah berkelindan dengan upaya untuk membangun identitas kejawaan. Hal ini pula yang menimbulkan kebanggaan sekalipun dengan sadar narasumber mengatakan gamelan itu kalah pamor dengan musik Kpop. Ternyata meskipun cuma kaya ngono (seperti itu) sih berguna. Aku melayani nganggo karawitan (pakai karawitan/gamelan), mungkin nek nganggo sing durung ndemek (bagi yang belum memainkan gamelan) mungkin ora penting, tapi nggo aku sing wes ndemek (yang sudah memainkan) ternyata ki penting karena selain aku iso (bisa), dan ini lho aku masih bisa melestarikan budaya Jawa dan puji Tuhan aku pakai itu dipelayanan. (A)99 Narasumber tidak hanya bisa memainkan gamelan saja, namun hal itu semakin bermakna dan menjadi kebanggaan ketika narasumber melakukannya demi sesuatu yang religius. Ruang untuk memupuk kebanggaan itu adalah gereja (GKJ). Kalau di GKJ sendiri bagusnya adalah khususnya untuk karawitan itu sudah lestari. Ada angkatanku SMA dan SMP, terus sekarang ada SD. Jadi ada penerusnya dan harapannya ada ketertarikan akan kesenian khususnya gamelan akan tetep besar. Seringnya dipakai di kebaktiankebaktian kan orang tuanya juga seneng. Terus nanti kalau ada orang tua lain kan minta anaknya diajari. Bahkan ibu-ibunya juga pengin bisa. Harapanku ini karena ya sebagai hal yang paling sederhana, wong ya Gereja Kristen Jawa mosok tidak melestarikan karawitan. (P)100 Dalam petikan-petikan wawancara di atas tergambarkan bahwa yang tadinya hanya sekedar pengisi waktu luang, kegiatan berkesenian gamelan kian berkembang. Setelah dikonsumsi lebih jauh kemampuan bermain gamelan menghadirkan pembedaan. Ada 99 Wawancara dengan A pada tanggal 21 Januari 2018. Wawancara dengan P pada tanggal 21 Januari 2018. 100 73

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kelompok yang bisa dan yang tidak bisa memainkan gamelan. Pada kelompok yang bisa, ia menjadi bagian pada upaya membangun identitas kejawaan. Pada saat yang bersamaan hal itulah yang juga dibangun oleh GKJ. Pada titik ini orang muda memiliki pendapat yang senada dengan yang dibuat oleh GKJ. Gereja dalam upayanya membangun identitas kejawaan mencoba membawa tradisi Jawa ke dalam ranah ibadah. Oleh karenanya peneliti di sini mencoba menanyakan beberapa pertanyaan pada orang muda terkait bagaimana pengalaman mereka mengenal tradisi Jawa, baik itu dalam gereja maupun di luar gereja. Setelah itu bagaimana pemaknaan mereka terhadap kejawaan itu sendiri. Dalam kehidupan sehari-hari apa yang dimaksud tradisi langsung dikaitkan dengan upacara-upacara adat. Oleh karena itu sub bab ini akan banyak bersinggungan dengan tanggapan orang muda terhadap upacara adat yang mereka mengerti. Upacara adat mungkin tedhak siten101 ya, manten kalau tradisi kejawen saya tidak begitu tahu. Dan tahunya dari pelajaran sekolah. Detailnya dari sekolahan garis besarnya dari TV dan masyarakat. Soal makna upacara itu ya saya tahu dari sekolah, terutama yang tedhak siten. Soalnya masyarakat di sekitar sendiri jarang yang melakukan. Bahkan anak-anak di sekitar rumah saya juga tidak mengerti.(K)102 Seperti yang telah disinggung di atas, tradisi yang dimengerti oleh narasumber lebih dekat kepada upacara adat. Pengetahuan itupun diperoleh narasumber dari sekolah, TV dan masyarakat. Artinya ia mengetahui sejauh masyarakat melaksanakan dan sejauh televisi menampilkan upacara adat semacam itu. Dalam kehidupan keseharian, apa yang diketahui orang muda ditentukan juga oleh sekitarnya. Pada ranah bahasa 101 http://www.jogjasiana.net/index.php/site/adat_tradisi/custom_tradition-3, diunduh pada 3 januari pukul 13.00. 102 Wawancara dengan K pada tanggal 21 Januari 2018. 74

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI hal ini rupanya telah disinggung juga manakala narasumber mengatakan bahwa dirinya lebih bisa berbahasa Jawa di lingkungan yang ia sebut desa, dan kemampuanya berbahasa Jawa berkurang manakala ia datang ke Purworejo ‘kota’. Melalui narasumber bisa dilihat bahwa sesungguhnya lingkunganpun sudah tidak melaksanakan upacara adat itu sendiri. Dalam keadaan yang seperti itu, berbeda dengan ranah kesenian (gamelan) dan juga bahasa di mana gereja hadir memberi ruang dan membangun identitas lewat hal tersebut. Pada ranah tradisi gereja tidak hadir dengan mengajarkan tradisi-tradisi tedhak siten dan semacamnya. Gereja justru hadir dengan membuat sebuah tradisi yaitu unduh-unduh. Dalam hal tampak bahwa gereja justru tidak hadir dan mengajarkan kejawaan dalam ranah siklus hidup. Namun lebih tertarik untuk membuat sebuah upacara yang mencoba menarik aspek-aspek alam, khususnya pertanian. Maka terlihat bahwa unduh-unduh dengan segala aspek pertaniannya merupakan model yang penting bagi GKJ. Pada bagian ini hendak melihat tanggapan dari orang muda : Kalau tradisi di gereja unduh-unduh adalah ucapan syukur kita pada hasil panen yang sudah diberikan. Ucapan syukur dari berkat masingmasing. Tapi saya tidak tahu siapa petani di gereja kita. Ya kayak gitu ya masalah sih. Masak kita merayakan hasil panen tapi kita tidak tahu siapa petani di gereja kita. Usulan terhadap unduh-unduh saya pikir sudah meriah sih. Bisa berdampak ke masyarakat. Upaya gereja yang dilakuan itu menurut saya efektif sih, tapi kalau unduh-unduh masih kurang tertarik karena anggapanya itu cuma arak-arakan dan isinya orang-orang tua. Menurut saya faktor utamanya karena gak ada yang membuat mereka tertarik, kan itu arak-arakan, dan prosesinya gitu, jadi mereka itu oh yaa cuma gitu. Kemarin kan sempet anak-anak muda terlibat dan membuat tampilan. Nah kemarin itu lumayan rame, kemarin banyak yang ikut. Dan di jalanan juga jadi pusat perhatian. Tapi 75

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI sebenarnya masih kurang partisipasi juga. Kalau unduh-unduh gak ada pasti sepi. (I)103 Upaya gereja menanamkan bahwa tradisi unduh-unduh ini sebagai sebuah ejawantah dari rasa syukur agaknya berhasil. Namun tidak dengan proses pembentukkannya. Narasumber tidak bisa menangkap bagaimana bisa unduh-unduh bisa dirayakan sebagai rasa syukur. Bahkan perpindahan yang tadinya diadakan di hari besar Kristen (Pentakosta) menjadi berdekatan dengan hari kemerdekaan Republik Indonesia juga tidak disadari. Namun sepertinya tanpa tahu proses pembentukkan unduh-unduh menjadi sebuah upacara yang dirayakan gereja sudah cukup dicitrakan sebagai tradisi. Hal itu dikonsumsi oleh orang muda juga dalam semangat untuk mempertahankan budaya Jawa. Bahwa memang ada orang-orang yang kurang memahami budaya Jawa. Ada sisi dalam diri saya sepakat bahwa ada orang yang memang meninggalkan dan di sisi lain, kita harus belajar gamelan batik dan lainlain. Harus pintar-pintar menggunakan globalisasi ini, seperti rapper yang dari Yogya yang ngerap pakai bahasa Jawa. Dan itu adalah inovasi baru. Sebagai orang muda saya suka dampak globalisasi seperti IT dan pengetahuan baru, dan kalau ada yang berdampak negatif harus mempertahankan budaya Jawa. Tapi jangan ketinggalan globalisasi. Tidak harus menekuni sekolah bahasa atau gamelan tapi setidaknya tahu dan menurunkan ke generasi selanjutnya. (K)104 Globalisasi menjadi sesuatu yang membuat segala kesulitan yang dialami orang muda yang menjadi narasumber tetap mau berkecimpung dalam penanda-penanda kejawaan. Bahkan kalau diamati dalam beberapa petikan wawancara di atas, narasumber juga meggunakan bahasa Jawa dalam menjelaskan argumennya. Orang muda sadar bahwa ada dampak yang menurut narasumber negatif. Hal-hal negatif itu 103 Wawancara dengan I pada tanggal 21 Januari 2018. Wawancara dengan K pada tanggal 21 Januari 2018. 104 76

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI bisa ditanggulangi dengan membangun kejawaan meskipun tampilannya berbeda dari yang sudah ada. Yogya Hiphop Foundation yang memadukan antara rap dan bahasa Jawa sebagai contoh bagi narasumber bahwa ia selalu bisa menemukan cara bernegosiasi dengan globalisasi sembari waspada jika saja ada hal yang negatif. 2. Upaya Membangun Identitas Kejawaan dalam Ranah Biblis Hal-hal yang dilakukan di atas sebagai upaya untuk membangun kejawaan tidak akan berhasil jika tidak dilandasi dengan dasar-dasar ideologis. Dalam gereja ranahranah ideologis memakai ayat dan mengutip Tuhan dalam penjelasannya. Memakai ayat Alkitab serta menyebut nama Tuhan untuk mengajukan argumentasi merupakan hal yang tidak bisa dielakkan di dalam perbincangan di wilayah gereja. Demikian juga untuk menekankan bahwa gereja perlu memperhatikan identitas akar budayanya maupun menolak hal tersebut. Pada bab 2 gerakan pietisme merupakan sebuah paham teologi dan ia juga berangkat dari ayat-ayat Alkitab. Gerakan tersebut rupanya juga menjadi semakin kuat manakala didasari oleh ayat Alkitab. Petikan wawancara di bawah ini juga menunjukkan hal tersebut. Mungkin masih ada orang-orang tua yang berpikiran kolot karena sudah dididik zending begitu lama. Tapi mari kita kembali kepada ajaran Alkitab. Kita melihat pada Yesus. Yesus tidak meniadakan satupun dari hukum taurat. Yesus tidak menolak dan menentang tapi menyempurnakan. Begitu pula dengan kita, budaya Jawa sudah ada sebelum zending datang, maka sebaiknya kita mengikuti apa yang dilakukan Yesus. Dan kita punya tokoh yang berakar dengan budaya yaitu Tunggul Wulung dan Sadrach. Mereka membuat penghayatan bagi orang Jawa yang Kristen dan orang Kristen yang nJawani (MasLeg)105 105 Wawancara dengan Masleg, seorang Majelis di GKJ Purworejo pada tanggal 16 Oktober 2018 77

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Dalam petikan wawancara di atas, bisa dilihat bahwa pertama-tama ada sebuah anggapan ketika pemahaman Alkitab yang dipakai dalam mengaji hubungan antara gereja dan budaya adalah sudut pandang yang dipakai dan diajarkan oleh zending akan terjadi benturan antara gereja dan budaya. Dalam pemahaman ini sesungguhnya nampak usaha membangun identitas kejawaan bukan hanya dalam ranah seni, bahasa dan tradisi, namun juga dalam aspek ideologis. Oleh karena itu secara implisit narasumber menunjukkan perbedaan dengan pemahaman Alkitab yang diwariskan oleh zending, sedangkan perilaku membangun identitas kejawaan merupakan perilaku yang sudah dilakukan oleh para tokoh terdahulu yaitu Sadrach dan Tunggul Wulung. Penyebutan Sadrach dan Tunggul Wulung sekalipun tidak dimengerti secara keseluruhan bagaimana pengajarannya namun ia menjadi penanda dari bagaimana GKJ mesti menghiraukan kejawaan, bukan hanya kekristenan. Sementara Tunggul Wulung adalah tokoh yang relatif baru disebut. Pada bab 2 disebutkan bahwa tokoh ini sebelumnya tidak dikenal oleh GKJ. Namun sekarang ia merupakan tokoh yang penting, yaitu memerankan tanda yang sama dengan Sadrach. Hal yang lebih penting daripada itu perilaku ini senada dengan yang dilakukan oleh Yesus. Pada posisi ini Yesus tak ubahnya Sadrach dan Tunggul Wulung, yakni digunakan pula sebagai tanda. Hal senada juga muncul dari narasumber yang lain: Termasuk yang namanya tradisi kenduri itu ditolak, kenapa kenduri di Pituruh mau dihidupkan? Saya berguru pada Yesus yang setiap berkumpul selalu memecah-mecah roti lalu dibagikan. Kalau di sana kan adanya roti dan anggur. Jadi yang digunakan ya itu. Di sini ada berkatan, dan nasi kan jadi pakainya ya itu. Sudah dua tahun ini kenduri dipimpin oleh pemuka agama Islam, karena masyarakat banyak muslim supaya sah maka harus dipimpin oleh kyai. Dan kami nyaman-nyaman. Tapi kalau 78

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kita sendiri tidak berani. Kalau bicara soal tradisi budaya adat, Yesus tidak pernah mengubah, namun menyempurnakan.(KiAA)106 Proses membangun identitas yang tercermin dalam petikan wawancara di atas memberikan sebuah fenomena yang menarik. Gereja (GKJ) menarik peristiwa makan yang diadakan oleh Yesus (merujuk pada perjamuan terakhir) dirayakan oleh gereja (GKJ) sebagai sebuah upacara agama (merujuk: Lukas 22:19-20) ditafsirkan dengan lebih luas dengan peristiwa kenduri. Di sini adanya penyejajaran antara peristiwa perjamuan yang dilakukan Yesus dan kenduri yang dilakukan dalam hidup keseharian masyarakat. Proses penyejajaran ini penting guna membangun identitas Jawa menjadi semakin sahih untuk dilakukan. Hal menarik lainnya yang perlu dicatat ialah bahwa sekalipun disebut juga Sadrach, namun tidak serta merta apa yang dilakukan narasumber berniat menarik orang-orang lain ke dalam agama Kristen. Yang saya takutkan itu justru dilihat dari pelayanan Yesus. Pertanyaannya begini : para leluhur itu belajar dari Yesus atau Yesus yang belajar dari para leluhur? Karena hampir semua karyanya ada kesamaan, tapi bukan hanya di Jawa, namun di setiap suku. Karena kita lahir di Jawa ya itu yang menjadi dasar. Lahir di Jawa itu kan bukan kebetulan. Tetapi memang kehendak Allah. Kalau Allah punya kehendak berarti kita ya harus bertanggung jawab terhadap Jawa. Itu ada hubungannya dengan “mengucap syukurlah dengan segala hal”. Nah, halnya itu apa? Kalau saya halnya itu ya tradisi, budaya, bahasa. Nah itu semacam begitu. (KiAA)107 Di sini narasumber memandang bahwa Yesus saja belajar dari para leluhurnya, mestinya GKJ juga demikian. Kalimat ini hendak menegaskan bahwa jika GKJ masih berkiblat pada Yesus ya mestinya GKJ sudah seharusnya menautkan diri dan belajar dari leluhurnya dan itu merupakan kejawaan. Maka memembangun kejawaan 106 Wawancara dengan KiAA seorang pendeta di wilayah Klasis Purworejo pada tanggal 18 Oktober 2018. Ibid. 107 79

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI merupakan sesuatu yang begitu penting dan mestinya tidak bisa ditinggalkan, karena Yesus pun belajar dari leluhurnya. Alasan kedua mengapa kejawaan mesti dibangun oleh GKJ ialah bahwa ada keyakinan bahwa Tuhan telah menempatkan seseorang untuk lahir di Jawa. Bahwa kemudian orang tersebut memeluk agama Kristen dan tergabung dalam komunitas Kristen GKJ. Hal tersebut semestinya tidak menghalangi seseorang untuk tetap mempelajari atau dalam hal ini membangun Jawa. Hal tersebut terjadi karena menjadi kejawaan itu ketetapan Tuhan. Maka mau tidak mau orang Kristen yang tergabung dalam komunitas Kristen GKJ mestinya mempelajarinya. Hal senada juga disampaikan oleh narasumber yang lain : Yang ditakutkan apabila Jawa hilang di GKJ itu penting atau tidak itu sebenarnya seberapa penting atau tidak Jawa bagi GKJ. Bagi saya sendiri Jawa bukan bahasa tetapi lebih kepada budaya lebih kepada filosofi. Jadi bagi saya orang Jawa memang sudah sepantasnya hidup tumbuh dan berakar dengan budayanya sendiri sehingga ibarat pohon, dia bisa tumbuh dengan baik karena tumbuh di habitatnya. Seandainya tidak, kita bisa melihat bahwa sebuah benda memang harus melekat dengan sumbernya. Apabila kita mencabut pohon dari tanah maka tidak usah dibunuh dia akan mati sendiri. Keluarkan ikan dari air, tidak usah dibunuh biarkan saja lambat laun mesti mati. Demikian juga ketika kita melupakan akar budaya kita maka kita akar budaya inilah yang menghidupi kita. Karena hidup di Jawa ini bukan pilihan namun sebagai kodrat. Tugas kita adalah hadir dengan potensi yang ada.(MasLeg)108 Analaogi-analogi yang berbeda-beda digunakan untuk menjelaskan betapa penting untuk memembangun kejawaan sebagaimana telah disinggung di atas. Apa yang disampaikan oleh narasumber ini memiliki kemiripan dengan narasumber yang sebelumnya. Hanya saja penyampaian analoginya yang berbeda. Bagi narasumber 108 Wawancara dengan Masleg seorang Majelis Jemaat GKJ Purworejo pada tanggal 16 Oktober 2018. 80

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kejawaan dilihat sebagai habitat sedangkan orang-orang (terutama GKJ) adalah orang yang dikodratkan untuk hidup di sana. Orang Jawa (khususnya GKJ) mesti menghidupi kodrat itu dengan berbagai potensi yang ada. Dengan demikian niscaya orang Jawa mesti memembangun kejawaan. Selain dari keniscayaan dan kodrat. Membangun kejawaan adalah sebuah bentuk rasa syukur. Karena itu adalah anugerah Tuhan, identitas itu, maka sebagai orang yang bersyukur kepada Tuhan. Kita kan tidak milih sebagai orang Jawa. Nah kami menghayati nek identitas itu hilang kami tidak merawat anugerah Tuhan, itu permasalahan teologisnya. (LES)109 Sebagaimana telah dijelaskan di atas, bahwasanya kejawaan merupakan anugerah bahkan menjadi kodrat. Maka orang-orang Jawa (GKJ) ini mesti menerima. Tapi rupanya bukan hanya menerima, namun membangun kejawaan itu. Petikan wawancara di atas menyiratkan bahwa membangun identitas itu merupakan wujud rasa syukur. Sebuah ungkapan terima kasih kepada Tuhan. Narasumber yang lain menjelaskan bahwasanya kejawaan itu sesungguhnya sudah ada di GKJ. Hal tersebut khususnya sudah ada dalam simbol GKJ. GKJ merumuskan tidak menggunakan salib karena simbol yang dipakai adalah burung dara turun, itu kasih karunia Allah, lalu di atas ada tangan orang berdoa, itu jawab kita pada Allah, itu urusan vertikal, lalu ada gunungan itu khas Jawa itu aspek horisontal. Jadi orang Jawa GKJ merumuskan kehidupan bergerejanya sebagai salib tapi ora ketok melok. Vertikal dan horisontal. Itu ketok banget dan masih bisa dirasakan kalau kita masih pakai identitas Jawa. Dan itu menjadi berkat buat orang lain. Orang tidak akan tersinggung kalau kita pakai pin itu. Kalau kita pakai pin salib meskipun dari emas orang bisa tersinggung karena membuat batas. Tapi kalau kita memakai pin itu, simbol itu (simbol GKJ) orang lain akan damai-damai saja. Hal ini karena lihat gunungan itu malah seneng itu. Jadi 109 Wawancarad dengan LES seorang Pendeta di GKJ Purworejo pada tanggal 2 Oktober 2018. 81

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI persoalan sosialnya itu muncul nanti identitas yang hilang membuat kita tidak hanya kehilangan identitas secara personal tapi kita juga kehilangan relasi. (LES)110 Bagi orang Kristen, salib adalah simbol yang penting. Namun GKJ tidak menggunakan simbol tersebut secara terang-terangan. Menurut narasumber salib yang ada dimaknai dalam hubungan vertikal dan horisontal sebagaimana telah dituliskan dalam petikan wawancara di atas. Simbol-simbol yang ada di atas dianggap sudah mewakili keberadaan GKJ tanpa menebalkan garis batas di antara GKJ dengan konteks keberagaman yang ada di masyarakat. Dalam proses wawancara itu juga disebutkan bahwa Jawa itu inklusif. Dengan demikian diharapkan GKJ tidak menebalkan batas identitas sekaligus mau merangkul perbedaan yang ada di masyarakat. 3. Upaya Membangun Kejawaan dalam Konteks Pluralitas Alasan dibangunnya identitas yang muncul dari ketiga narasumber adalah dengan kejawaanlah orang-orang Kristen bisa membina relasi dengan lingkungan sekitarnya apalagi dihadapkan dengan konteks pluralitas yang ada di pulau Jawa. Pada saat peneliti menanyakan mengapa kejawaan mesti dibangun. Salah satu aspek yang tercatat di sini kejawaan bisa meredam aksi radikalisme. NekJawane itu asli bisa. Nek carane ajaran, Jawane iku lagi ning tataran syariat, iku gegeran. Nah sing dimaksud njenengan sampai di sana itu di makrifat. Itu terjadi entah itu Jawa, entah itu Kristen entah itu muslim gegeran itu di syariat. Terus biasane sing dienggo dasar, lha biasane, pokoke nek ora ngene kuwi biasane. Itu karena tatarane di syariat. Nah boro-boro di makrifat tataran tarekate weae durung. Ya setahu saya “J” (pada GKJ) ki“Jawa” bukan sebatas lokasi bukan sebatas nama. Nah 110 Ibid. 82

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kalau sekarang di GKJ masih di syariat. Nah itu bisa menimbulkan perpecahan. Tapi untuk mengubah hal itu bukan hal yang mudah, karena untuk mengubah hal yang mendarah daging semacam itu memang susah. Nah contoh konkret. Kenapa kula(saya) dan gereja begitu diterima di lingkungan ? Menange ning Jawane mas (menang di Jawanya mas). Nek kami tetep kekeh dengan teologi yang saya pelajari mungkin gegerane wis wingi-wingi (sejak lama kami sudah bertengkar). Lha saiki kok ngasi pedukuhan njaluk aku ngisi suronan? (Sekarang kok bisa pedukuhan meminta saya mengisi di acara malam satu sura?) Aku ra ngerti masalah suronan (saya tidak tahu masalah suronan) kok pas satu suro disuruh membawakan renungan. Dan mereka semua tahu kalau saya Kristen , kalau saya pendeta (KiAA).111 Petikan wawancara di atas menggambarkan bahwa ada sebuah manfaat dari membangun kejawaan. Hal itu adalah mereduksi radikalisme, terutama dalam kekristenan. Pendapat ini bisa dilihat dari diksi yang dipakai oleh narasumber. Di sini dipakai diksi dalam ranah agama Islam, bahkan tanpa penjelasan, mengandaikan ini merupakan sebuah pengetahuan umum. Diksi tersebut juga ditujukan pada pendengar yang beragama Kristen. Maka jelas diksi ini dipakai bukan untuk mengajak orang berkonversi ke agama Kristen. Hal tersebut digambarkan oleh narasumber bahwa kejawaan yang dibangun GKJ mesti meninggalkan tataran syariat. Dalam pengertian yang lain yang juga muncul dalam perbincangan, kejawaan yang ada mestinya sudah melampaui aturan-aturan dan sudah berada dalam tataran filosofis. Menurut narasumber jikalau kejawaan yang dikembangan dan dibangun oleh GKJ hanya pada tataran aturan-aturan maka hal tersebut justru bisa menghadirkan perpecahan dan tidak memberi dampak apapun terhadap radikalisme. 111 Wawancara dengan KiAA seorang pendeta di wilayah Klasis Purworejo pada tanggal 18 Oktober 2018. 83

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Narasumber juga mengatakan bahwa kejawaan dan juga kekristenan yang dikembangkan pada tataran filosofis akan bisa digunakan untuk menjalin relasi dengan masyarakat dalam konteks keberagaman. Contoh yang diberikan ialah pada saat narasumber diminta oleh pedukuhan menjadi pembicara pada acara peringatan satu suro (tahun baru Jawa). Bagi narasumber hal ini dimungkinkan karena ia dan gereja mengembangkan kejawaan. Padahal masyarakat padukuhan juga mengetahui kalau ia merupakan seorang pendeta. Penulis menanyakan pertanyaan serupa terhadap narasumber yang lain. Baginya kejawaan justru bisa dimasukkan ke dalam ranah peribadatan di gereja. Sehingga peribadatan bisa dilakukan sebagaimana telah dilakukan oleh Sadrach, yaitu dengan menggunakan model pengajaran sebagaimana guru mengajar murid di padepokan. Hal ini dimaksudkan untuk memangkas jarak yang tercipta sebagai dampak peribadatan seperti yang dilakukan sekarang. Jarak yang terpangkas tersebut menciptakan kedekatan ke dalam. Kedekatan ke dalam itu juga akan dimiliki oleh pendeta : Kalau kita sudah membiasakan diri dengan situasi yang dekat, maka dengan diluar pun bisa mendekatkan diri dengan sesama. Tidak menganggap diri eksklusif. Kita lihat saja selama ini pendeta itu berbaur dengan masyarakatnya kurang. Di manapun ia berada itu seperti eksklusif Dan itu ditiru oleh jemaatnya. Entah merasa minoritas atau apa, padahal di mana kita ada, kita harus hadir kan ? (MasLeg)112 Bagi narasumber membangun kejawaan bisa membuat pendeta bahkan orang Kristen tidak eksklusif. Pendeta mestinya bisa berbaur dengan masyarakat. Salah satunya menggunakan kejawaan yang dibangun tersebut. 112 Wawancara dengan MasLeg seorang pendeta di wilayah Klasis Purworejo pada tanggal 16 Oktober 2018. 84

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Catatan Ada sebuah gelombang yang dilawan oleh GKJ yaitu radikalisme. Hal itulah yang coba ditangkal melalui kejawaan yang dihadirkan. Akan tetapi rupanya GKJ (Purworejo) kesulitan untuk mencari referensi pada Jawa yang akan digunakan. Oleh karena itulah Jawa dihadirkan dalam penanda-penanda, baik itu berupa bahasa, seni dan tradisi, maupun juga dalam tokoh-tokoh seperti Sadrach, Tunggul Wulung bahkan Yesus sendiri. Itu semua diperlukan guna membangun Jawa yang ramah terhadap konteks pluralitas. GKJ hendak membangun diri sebagai gereja yang menjunjung diri pluralitas. Sebagai gereja yang menghendaki diri tidak eksklusif, GKJ menaruh perhatian pada kehidupan orang muda. Perhatian ini kadang juga berupa kekuatiran bahwa GKJ akan meninggalkan kejawaan. Atau dalam bahasa yang lain, orang muda akan meninggalkan kehidupan yang pluralis dan menuju kehidupan yang ekslusif. Namun dari hasil wawancara di atas dapat dilihat pula bahwa orang muda juga menyadari ada gelombang globalisasi dengan berbagai konsekuensinya. Oleh karena itulah orang muda mau bersusah payah untuk mempelajari kejawaan dengan segala penanda yang dihadirkan oleh gereja. 85

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Bab 4 Pergulatan Identitas Kejawaan Gereja Kristen Jawa dalam Logika Simulasi Pengantar Pada bab ini berisi analisis pada data-data yang telah ditunjukkan oleh bab 3. Teori yang digunakan sebagai kacamata pada bab ini ialah tulisan-tulisan dari Baudrilaard, terutama mengenai simulasi. Pada bagian pertama hendak melihat bagaimana agama di dalam simulasi beserta segala kompleksitasnya. Pada bagian yang kedua kejawaan yang dihadirkan melalui bahasa, seni dan tradisi. Bagaimana usaha-usaha menghadirkan kejawaan dibangun sedemikian rupa, beserta tanggapan dari orang muda terhadap hal tersebut. Pada bagian ketiga akan dikaji perihal upayaupaya di dalam gereja untuk membangun identitas kejawaan dalam ranah biblis. Pada bagian keempat akan dihadirkan alasan dari upaya membangun identitas ini, yaitu menghadirkan kekristanan yang menghiraukan konteks pluralitas. Pada bagian terakhir akan disajikan peluang-peluang yang bisa didapatkan gereja ketika melakukan simulasi identitas kejawaan ini. 1. Agama di Dalam Pusaran Simulasi Unable tocopewith thechallenges ofacomplex and profoundlysecularized society,many seeksolace inidealized, nostalgicabstractions ofreligiousidentityandhavesoughttoundo reformsthat areperceivedtohavecompromisedauthenticfaith.113 Pembicaraan perihal identititas ini dibangun sedemikian rupa, maka bab ini hendak melihat bagaimana sebenarnya pembicaraaan mengenai identitas ini menjadi 113 James Walter, op.cit. hal 84. 86

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI sesuatu yang begitu pentingnya bagi GKJ. Bahkan dengan konteks sejarah yang pernah berbenturan dengan kejawaan. Kini GKJ seperti berada pada garda terdepan pelestarian kejawaan. Apalagi kini GKJ masuk dalam konteks global, di mana pola relasi dalam agama sendiri berubah. Dalam konteks yang semacam ini GKJ tidak bisa berlindung pada aspek agama yang terberi. Hal ini perlu dilakukan karena pada konteknya kini kekristenan yang dialami dan dijalani oleh GKJ adalah keristenan yang terpengaruh konteks globalisasi.Sebuah konteks di mana bukan hanya proses ekonomi yang berubah, yaitu pasar yang lebih besar; akses ekspor yang lebih besar, impor yang lebih murah dan arus kapital yang lebih mudah dijumpai.114 Perubahan bukan hanya persoalan perekonomian namun globalisasi sudah merembes ke arah pola relasi, juga dalam beragama. Pengaruh yang paling nampak ialah ketika membicarakan tentang sistem pertukaran. Logika pertukaran pasar membuat relasi menjadi begitu transaksional dan relasi-relasi dikomodifikasi. Hal yang demikian inilah yang membuat pemaknaan pada agama menjadi berubah.115 Ada pendangkalan pada aspek-aspek agama ketika yang semula bermakna nilai-guna (use value) berubah menjadi nilai tanda (sign value). Di bawah arus kapitalisme yang dibawa oleh globalisasi ini segala sesuatu menjadi tanda, dan nantinya tanda-tanda itu nantinya akan jatuh menjadi simulasi.116 Pada sisi yang lain, konservatisme agama bangkit dan semakin mempertegas identitasnya. Hal ini terjadi karena dalam logika simulasi manusia telah kehilangan 114 Jennifer Reid (ed). Religion, Postcolonialism, and Globalization; A Sourcebook. Bloomsbury Academic (London: 2015) hal 2. 115 Ibid hal 7 116 James Walter,op.cit. hal 27 87

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kematian. Baudrilaard menjelaskan bahwa dalam logika simulasi hubungan manusia telah berubah ke arah yang serba terbuka. Hal ini dapat terjadi karena relasi manusia telah menjadi digital, bahkan waktu dan ruang menjadi tidak berarti lagi. Ada begitu banyak informasi yang diterima dalam dunia digital, ini membuat jalannya sejarah menjadi begitu cepat.117 Di sisi lain sejarah membutuhkan sebuah perjalanan yang lambat guna mengristalisasi segala sesuatu yang terjadi di dalamnya. Manusia dibombardir berita yang tak kunjung habis, dan setiap beritanya seolah memiliki urgensi untuk diperhatikan.118 Sekalipun ada juga inersia di dalam perlambatan sejarah itu. Namun yang perlu dicatat adalah sejarah tidak akan pernah berakhir dan di titik itu ada sebuah penyangkalan bagi finalitas manusia. Pada konteks munculnya gerakan konservatif dan fundamentalisme ini, terorisme hadir sebagai sebuah solusi untuk mengakhiri sejarah.119 2. Bahasa, seni dan tradisi We are still in the same boat: no society knows how to mourn the real, power, the social itself, which is implicated in the same loss.And it is through an artificial revitalization of all this that we try to escape this fact120 Bahasa, seni dan tradisi adalah aspek-aspek bagi Gereja Kristen Jawa membangun dirinya sebagai lembaga yang menjaga budaya “Jawa”. Ketiga aspek ini digunakan untuk mewakili Jawa. Kemampuan tiga aspek ini mewakili kejawaan karena kejawaan telah menjadi dangkal dalam simulasi. Tapi di sisi lain ketiga aspek ini sebagai yang 117 Ibid hal 82. Ibid hal 83 119 Ibid hal 87 120 Mark Poster, op.cit 118 88

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI artifisial ditujukan untuk menghindarkan kesedihan akibat hilangnya yang real. Pengoperasian ketiga aspek tersebut nampak dalam perubahan-perubahan yang dihadirkan GKJ. Perubahan yang semula menghadirkan kisah-kisah pelarangan penggunaan segala sesuatu yang bernuansa budaya Jawa. Kini berusaha menghadirkan dalam kehidupan bergerejanya. Kini bahasa, seni dan tradisi dimainkan dalam logika komoditas, guna menghadirkan keuntungan bagi GKJ.121 Orang muda yang menjadi narasumber menceritakan pengalaman mereka baik dalam kehidupan bergereja maupun keseharian secara umum dalam ranah seni, bahasa dan tradisi. Dalam ketiga aspek ini muncul keterasingan, sebagai dampak atas beroperasinya nilai tanda.122 Keterasingan muncul karena memang ketiga aspek ini hadir bukan sebagai yang real namun sebagai yang artifisial. Selain daripada keterasingan, nilai tanda juga hadir untuk membentuk pembeda.123 Hal tersebut bisa dilihat secara detail pada proses wawancara di atas. Pada sisi bahasa hendak diperhadapkan antara kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh gereja dengan pengalaman orang muda. Pada sisi tersebut dibagi menjadi dua bagian besar dalam berbahasa. Satu bagian menghadirkan pengalaman berbahasa dalam keseharian dan bagian kedua menghadirkan pengalaman berbahasa dalam kehidupan bergereja. Narasumber mengatakan bahwa dalam kehidupan keseharian mereka sekarang sudah jarang menggunakan bahasa Jawa. Entah itu yang disebut sebagai bagian perpindahan dari desa ke kota maupun obrolan dengan teman 121 Ibid. Ibid. 123 Haryatmoko. Membongkar Rezim Kepastian ; Pemikiran Kritis Post-Strukturalis. Kanisius (Yogyakarta : 2016) hal 66. 122 89

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI sebaya. Mereka begitu canggung menggunakan bahasa Jawa. Terutama bila berurusan dengan bahasa yang bertingkat, setidaknya antara yang krama alus dan ngoko. Dalam petikan wawancara disebutkan cara mengatasi keterasingan itu adalah dengan menggunakan bahasa Indonesia, bahkan dengan tersenyum saja ketika bicara. Namun pada sisi lain, mereka tetap memproduksi pengetahuan bahwa sebagai orang “Jawa” sebaiknya bisa bahasa Jawa yang bertingkat itu. Dalam titik inilah bahasa Jawa sebagai sebuah tanda mereka mainkan dalam kehidupan keseharian. Pada pengalaman berbahasa di gereja mereka dihadapkan pada kebijakan gereja yang membuat mereka beribadah dengan pengantar bahasa Jawa. Peristiwa ini menghadirkan kejadian yang juga hampir serupa dengan apa yang orang muda hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Ada kesulitan manakala mereka membaca Kitab Suci, menyanyikan nyanyian bahasa Jawa, maupun dalam mendengar khotbah. Pada bagian ini ada tanggapan yang berlainan dalam membaca Kitab Suci berbahasa Jawa. Ada yang merasa kesulitan dan mengharapkan supaya ada terjemahan yang baru yang lebih mudah dipahami. Namun ada juga yang mengatakan bahwa terjemahan itu tidak perlu diubah, biarkan orang muda saja yang mempelajari dan menyesuaikan. Tanggapan juga beragam ketika mendengarkan khotbah. Ada yang mengatakan bahwa khotbah semestinya dicampur dengan bahasa Indonesia karena banyak juga orang muda yang tidak mengerti bahasa Jawa, bahkan yang ngoko. Menurut pengalaman narasumber, jika ada kata-kata yang sulit yang didengarkan dalam bahasa Jawa,mereka akan bertanya pada teman di sebelahnya. Tapi apabila teman di sebelahnya tidak tahu, mereka akan berhenti bertanya. Tidak mencari tahu lebih jauh 90

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI lagi. Pada sisi yang lain, ada pendapat bahwa ibadah itu mestinya menggunakan bahasa ngoko supaya sekalipun kasar tapi masih dalam koridor bahasa Jawa. Tidak mencampurnya dengan bahasa Indonesia. Pada titik ini terlihat bahwa kesan Jawa menjadi lebih penting ketimbang bahasa Jawa itu sendiri. Hal ini juga menunjukkan bahwa simulasi Jawa juga dimainkan di sini. Ada sisi yang sesungguhnya tidak terlalu mendesak bagi orang muda namun demi identitas kejawaan hal itu direproduksi dan hadir sebagai sebuah simulasi. Misalnya saja saat muncul pengalaman merasakan keterasingan, mereka bertanya pada teman di sebelah jika tidak mengerti, namun berhenti mencari saat tidak mendapatkan jawabannya. Meski bahasa Jawa dirasa bukan menjadi sesuatu yang mendesak bagi mereka, namun ada upaya untuk tetap mempelajarinya. Bahkan didukung oleh pendapat mereka yang menyebutkan bahasa Jawa tidak perlu berubah, yang perlu belajar adalah orang muda. Upaya-upaya menghadirkan kejawaan selanjutnya bisa dilihat dalam aspek keseniaan. Sebagaimana sudah disinggung juga di atas, bahwa kata seni yang dimaksudkan oleh GKJ dimengerti dalam kesenian dan dalam hal ini tampak pada karawitan atau gamelan.Penyempitan ini bisa dilihat bahwa gamelan atau kesenian sejenisnya sudah bisa mewakili yang diklasifkasikan sebagai seni dalam menghadirkan kejawaan bagi GKJ. Penggunaan gamelan di GKJ pada tahun 1990 sesungguhnya bukan sesuatu yang lazim dipakai. Ini juga sebagai contoh bahwasanya gamelan dan kehidupan peribadahan di GKJ cukup berjarak pada saat itu. Penggunaan gamelan pada 91

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI peribadatan pada masa itu sangatlah dibatasi. Namun seiring berjalannya waktu, gamelan memegang peranan penting bagi hadirnya kejawaan dalam diri GKJ. Malahan GKJ (Purworejo) sudah memiliki beberapa tim gamelan yang bergantian mengiringi ibadah di gereja. Bisa dilihat bahwa gamelan ataupun karawitan di GKJ (Purworejo) bukanlah sesuatu yang sudah lama dipakai. Tentulah gamelan ini direproduksi kembali karena sebuah alasan: menghadirkan kejawaan dalam kehidupan bergereja di GKJ. Pertama-tama alasan yang membuat orang muda yang menjadi narasumber mau bergabung justru karena ajakan teman. Bahkan dalam data wawancara disebutkan salah satu narasumber hanya ingin berada bersama teman-temannya. Tidak ada pikiran dia akan memainkan alat musik tradisional atau modern. Memainkan gamelan pertama-tama bukanlah sebuah kebutuhan bagi orang muda, apalagi demi memproduksi identitas kejawaan. Mereka ada dalam lingkungan kesenian semata karena lingkaran teman sepermainan. Perbedaan baru terjadi ketika orang muda menguasai cara memainkan gamelan. Ketika mereka mengonsumsi gamelan, ada sebuah operasi nilai tanda yang terjadi, yaitu sebagai pembeda. Ketika gamelan belum dikonsumsi tidak ada dampak bagi orang muda. Namun setelah dikonsumsi mereka jadi tergabung dalam kelompok tertentu. Mereka kini seolah menjadi lebih “Jawa” ketimbang teman-temannya. Kini bukan lagi pertemanan alasan mereka dalam lingkaran kesenian, tapi isu soal identitas. Keahlian bermain gamelan menjadi sesuatu yang membanggakan karena hal itu menghadirkan identitas Jawa bagi dirinya. Narasumber seolah kini berada dalam kelompok yang bisa disebut “Jawa”. Pikiran 92

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI yang semacam ini rupanya bukan hanya dimiliki oleh narasumber melainkan juga oleh teman-temanya. Ada yang merasa dirinya sebagai orang Jawa tapi tidak bisa memainkan gamelan. Lalu apa yang dilakukan oleh narasumber menjadi sebuah perilaku yang ideal bagi “orang Jawa”. Bahkan perilaku belajar dan memiliki keahlian dalam memainkan gamelan juga merupakan sesuatu yang membanggakan sekalipun menurut narasumber hal itu kalah pamor dari musik-musik Korea. Ada sisi yang patut dicermati di sini dalam posisi gamelan kalah pamor dengan musik Korea, namun hal itu tetap saja membanggakan. Fungsi pembeda dalam nilai tanda inilah yang membuat mereka bangga pada kemampuan mereka. Ruang yang semacam inilah yang diciptakan oleh GKJ (Purworejo). GKJ Purworejo menciptakan ruang bagi orang muda supaya dapat menguasai gamelan. Sekalipun pada awalnya mengandalkan relasi pertemanan namun setelah gamelan dikuasai, ada keahlian yang membedakan orang muda (diferensiasi) dalam upaya membangun kejawaan. Itu semua dilakukan dalam rangka membangun identitas kejawaan. Ruang itu juga dijaga lewat dipakainya gamelan dalam ibadah. Rupanya dipakainya gamelan dalam ibadah menambah kebanggaan bagi narasumber. Narasumber kini bukan hanya berada dalam sebuah kelompok “Jawa”, tapi juga “gereja Jawa”. Ruang yang diciptakan oleh GKJ bukan hanya berdampak bagi narasumber tapi bagi gereja juga. Fungsi pembeda bukan hanya berlaku bagi orang muda, namun bagi GKJ juga. GKJ sebagai gereja yang mampu mereproduksi gamelan sebagai salah satu tanda dalam menghadirkan kejawaan. GKJ menjadi seolah sahih dalam memberikan makna bahwa dirinya adalah gereja dengan kebudayaan Jawa yang melekat. 93

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Dalam membangun identitas kejawaan, GKJ juga menekankan pentingnya tradisi. Tradisi yang dimaksud juga tidak mengacu pada tradisi secara umum namun lebih pada upacara adat. Bila yang dimaksud GKJ ialah tradisi yang dilakukan komunitas Kristen Jawa sebagaimana yang dilakukan Sadrach, hal itu hanya bisa ditunjukkan dengan penggunaan hari yang sama untuk sarasehan (pada hari Selasa Kliwon). Di satu sisi ada penekanan bahwa salah satu instrumen untuk membangun kejawaan bagi GKJ adalah tradisi, di sisi lain tak ada penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan tradisi itu sendiri. Pada titik ini jelas bahwa kejawaan yang dibangun adalah sebuah kejawaan tanpa referensi. Tidak ada “Jawa” secara khusus yang dijadikan acuan. Memang hal tersebutlah yang menjadi ciri dari sebuah simulasi. Dengan keadaan yang demikian, di sini akan dimulai dengan apa yang dipahami orang muda perihal tradisi. Tradisi bagi narasumber lebih dekat kepada upacaraupacara adat. Upacara adat yang terlintas bagi narasumber adalah tedhak siten, yaitu sebuah upacara di mana bayi menginjak tanah pertama kali dan kemudian ada serangkaian upacara yang mengikutinya. Upacara inipun diketahui narasumber dari pelajaran bahasa Jawa di sekolah. Narasumber menegaskan bahwa apa yang ia ketahui tentang upacara adat detailnya justru didapat dari sekolah, sementara garis besarnya dari masyarakat. Ini terjadi karena menurut narasumber, masyarakat sendiri sudah tidak melakukan upacara adat ini. Bila yang dimaksud sebagai tradisi adalah upacara adat, maka terlihat bahwa masyarakat sendiri sudah jarang yang melakukannya, sehingga wajar bila orang muda bila tidak mengetahui perihal upacara adat yang diasosiasikan dengan tradisi. 94

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Berbeda dari aspek bahasa dan kesenian di mana gereja memberikan ruang untuk orang muda belajar, gereja tidak mengajarkan tradisi Jawa. Agaknya bahasa dan kesenian lebih bisa dimasukkan dalam konsep peribadahan dalam gereja. Ada peristiwa-peristiwa tertentu yang merupakan bagian dari upacara adat yang bisadimasukkan dalam peribadahan misalnya upacara kematian, pernikahan maupun kehamilan. Namun Gereja juga tidak mengajarkan tentang bagaimana ibadah yang menyangkut upacara adat, misalnya pernikahan dan tedhak siten. Bila ada peribadahan yang menyinggung upacara adat biasanya hanya berbentuk doa syukur; bentuk ibadah yang sama sekalipun berbeda kepentingannya. GKJ (Purworejo) memilih untuk membangun sebuah upacara adat sendiri yang disebut unduh-unduh. Sebagaimana yang telah dipaparkan dalam bab sebelumnya upacara ini mengalami perubahan. Perubahannya dari sisi pelaksanaan; jika yang tadinya upacara unduh-unduh hanya dilaksanakan di dalam gereja dan menggunakan sistem lelang. Kini pelaksanaan unduh-unduh menggunakan arak-arakan serta sudah meninggalkan sistem lelang, diganti dengan menjual barang di bawah harga pasar bagi masyarakat umum. Perubahan ini didasarkan pada alasan supaya pelaksanaan unduh-unduh lebih berkeadilan. Pada sisi yang lain dalam perubahan sistem arak-arakan yang perlu menjadi sorotan selain dari bahasa dan kesenian yaitu pada pakaian. Ada upaya menghadirkan model (simulasi) kejawaan melalui pakaian. Ada yang menggunakan busana tradisional Jawa (Yogya) yaitu baju surjan dengan jarik lengkap beserta kerisnya. Sedangkan yang lain banyak juga yang mengenakan caping, mengenakan kebaya 95

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dengan ditalikan di depan membawa keranjang bambu yang berisi buah, sayur atau umbi-umbian bagi yang perempuan. Sementara bagi yang laki-laki tetap memakai surjan lurik tanpa dikancingkan, celana panjang hitam dan memakai caping. Dalam unduh-unduh ada sebuah model yang coba ditampilkan, selain daripada kejawaan yang merujuk pada Yogyakarta, model lain adalah petani. Ada usaha untuk menghadirkan kejawaan dalam unduh-unduh itu sendiri maupun dalam pernik-pernik di dalamnya. Kejawaan dihadirkan melalui pakaian, baik yang berbuasana surjan maupun yang berbusana petani. Namun itu semua kosong karena memang apa yang real dari Jawa sudah tidak bisa ditemukan lagi dalam dunia hiperreal. Bagi orang muda upaya-upaya yang dilakukan gereja dalam membangun kejawaan dengan upacara undhuh-undhuh ini diikuti. Ide dasarnya bahwa upacara ini diadakan sebagai rasa syukur juga dipahami oleh orang muda. Namun rupanya proses pembentukan upacara adat yang dibuat oleh gereja (unduh-unduh) ini tidak diketahui. Itu semua tertutup sebuah paham perihal mempertahankan kejawaan. Apalagi salah satu narasumber juga menyebutkan bahwa upaya untuk mempertahankan identitas ini tepat terutama di era globalisasi. Ada dampak negatif dari globalisasi yang membuat gereja harus mempertahankan itu, sekalipun tidak perlu menolak globalisasi secara mentah-mentah. Orang muda mestinya bersiasat dalam globalisasi seperti yang dilakukan oleh grup musik Jogja Hiphop Foundation, yang mampu memadukan musik rap dengan bahasa Jawa. Dari ketiga aspek di atas, melalui bahasa, kesenian dan tradisi yang coba dilakukan gereja, ketiganya menampilkan upaya-upaya untuk menghadirkan 96

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kejawaan di dalam GKJ. Proses ini berjalan seolah tanpa diperlukan referensi Jawa macam apa yang digunakan. Apa yang coba dihadirkan GKJ adalah upaya menghadirkan hal-hal yang artifisial. Itu semua dilakukan karena di dalam simulasi yang real telah hilang. Kejawaan yang dihadirkan tanpa referensi. Orang muda merupakan awak di dalam kapal yang sama yaitu GKJ, sehingga sekalipun ada banyak perbedaan pada detail-detail dalam menghadirkan kejawaan, mereka ada dalam keprihatinan bersama. Representasi kejawaan kini hilang digantikan dengan simulasi, tanda-tanda itu bertumpuk menjadi simulakra dan bisa bermakna ketika saling berkaitan antara tanda yang satu dengan tanda yang lain.124Hal ini pula yang bisa menjelaskan mengapa dalam seni (kesenian), bahasa dan tradisi kejawaan coba dibangun. Ada berbagai tanda yang meskipun artifisal dan seolah tidak berhubungan satu dengan yang lain, namun ketika dikaitkan dalam satu payung simulakra kejawaan, maka seni, bahasa dan tradisi akan terhubung. 3. Tuhan dalam logika simulasi; Upaya Membangun Identitas dalam Ranah Biblis This is precisely because they predicted this omnipotence of simulacra, the faculty simulacra have of effacing God fromthe conscience of man, and the destructive, annihilating truth that they allow to appear - that deep down God never existed, that only the simulacrumever existed, even that God himself was never anything but his own simulacrum- fromthis came their urge to destroy the images.125 Logika simulasi ini rupanya juga tidak bisa dilepaskan dalam melihat klaim-klaim dalam agama. Proses pertukaran nilai tanda telah merembes ke dalam agama dan membuat pemaknaan menjadi berbeda. Tuhan bisa juga berada dalam posisi menjadi 124 125 James walter, opcithal 29. Mark Poster, op.cit. 97

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI simulakrum. Terdapat sebuah kemungkinan bahwa Tuhan akan digantikan dengan simulakrumnya. Tuhan yang kini dilihat oleh orang-orang beragama adalah Tuhan tanpa referensi. Hanya saja simulakra yang dihasilkan adalah simulakra yang mahakuasa.126 Ketika gereja membicarakan tentang identitas, gereja biasa menggunakan ayat-ayat ataupun mencari sosok-sosok religius yang bisa digunakan untuk mendukung pendapatnya. Namun hal itu bisa membuat yang dihadirkan adalah simulakra Tuhan. Pada sisi lain kepercayaan yang telah dipengaruhi oleh logika simulasi juga mengalami pendangkalan.127 Kehidupan beragamanya lebih mementingkan sesuatu yang artifisial. Misalnya dalam kekristenan orang akan lebih mementingkan penggunaan simbol salib di tempat-tempat umum sebagai sebuah identitas. Sekalipun pada masa sebelumnya tidak diperlukan untuk menunjukkan identitas keagamaan semacam itu. Pemaknaan itu akan dilihat satu per satu di dalam proses wawancara yang telah dilakukan. Pada proses tersebut tampak bahwa agama menghadirkan Tuhan sebagai sebuah simulasi. Narasumber mengatakan bahwa gereja mestinya melihat kepada Yesus, namun Yesus hanya dilihat sejauh itu mendukungnya dalam mereproduksi identitas kejawaan. Di dalam petikan wawancara bab 3 perihal membangun identitas dalam ranah ideologis, narasumber menjelaskan bahwa ketika membicarakan identitas pertamatama melihat dari tokoh-tokoh lokal yaitu Sadrach dan Tunggul Wulung. Padahal 126 James walterop,cit hal37. Ibid hal 39. 127 98

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tunggul Wulung cukup asing bagi sejarah GKJ, karena ia lebih banyak berkarya di Jawa sebelah Utara. Sementara Sadrach dilihat sebagai sosok yang mampu memadukan antara kekristenan dan kejawaan dalam kehidupan beragamanya. Sementara apa yang mereka ajarkan sesungguhnya tidak pernah dipelajari atau bahkan diajarkan dalam gereja GKJ (di Purworejo). Referensi bagi Sadrach maupun Tunggul Wulung menjadi tidak penting lagi selama kedua tokoh ini bisa menjadi model bagi kebutuhan GKJ dalam membangun identitas kejawaan. Simulasi terhadap Sadrach dan Tunggul Wulung lebih penting ketimbang sosok dan ajaran kedua tokoh ini. Apa yang terjadi pada Tunggul Wulung dan Sadrach ini rupanya bisa juga terjadi pada sosok Yesus. Memang sepertinya nampak wajar saja menyebut ayat Kitab Suci maupun menyebut sosok Yesus sebagai sebuah rujukan. Namun bukankah di dalam proses simulasi, Yesus dihadirkan sebagai sebuah model yang hanya dicuplik berdasar kebutuhan tertentu. Yesus direduksi sedemikian rupa sehingga yang hadir di sana adalah model simulasinya. Hal itu juga membuat sistem pertukaran nilai tanda di dalamnya menjadi berbeda. Ada pembedaaan dalam kehadiran simulasi Yesus di dalam tubuh GKJ. Ada usaha membedakan diri (diferensiasi) dengan kelompok yang lain. Hal ini tergambar jelas ketika narasumber mengatakan bahwa kekristenan GKJ mestinya berbeda dengan kekristenan yang diajarkan oleh zending. Narasumber menghadirkan simulasi Yesus untuk menunjukkan perbedaan dirinya sebagai warga GKJ memiliki pandangan dan tergabung dengan kelompok yang berbeda dengan GKJ waktu dibina oleh zending. 99

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Misalnya ketika Yesus disebutkan bahwa ia tidak mengubah apapun dalam hukum Taurat (merujuk pada Matius 5:18). Yesus sendiri sedang ditempatkan sebagai simulasi untuk mendukung bahwa Yesus saja masih mempertahankan keyahudiannya, masakan GKJ hendak menghilangkan kejawaannya? Pada titik ini sekalipun digunakan sebagai rujukan ayat, tidak menghilangkan posisinya sebagai sebuah model. Tidak hanya sosok Yesus yang dijadikan simulasi namun juga Allah sendiri. Dalam penjelasan narasumber alasannya untuk menghadirkan identitas kejawaan bagi GKJ ialah bahwa Allah sendiri telah menciptakannya sebagai orang Jawa. Maka ia seolah tidak memiliki pilihan lain untuk tetap menjadi orang Jawa. Bahkan simulasi ini berlanjut bahwasanya sumber atau pokok bagi GKJ adalah kejawaan, maka ketika kejawaan dilepaskan dari GKJ adalah seperti pohon yang tidak menempel pada tanah, dan hal ini membuat GKJ menjadi mati. Allah yang dihadirkan pada simulasi sebelumnya, merupakan Allah yang dihadirkan tanpa referensi. Bagaimana real Allah yang sesungguhnya bukan merupakan sesuatu yang penting lagi. Akan tetapi posisi simulasi Allah menempati posisi sebagai simulakra yang mahakuasa (omnipotence of simulacra). Dengan posisinya yang demikian ini penggunaan simulasi Allah dapat membuat dampak seolah-olah tidak memiliki pilihan lain. Membuat orang mesti berpikir bahwa dirinya tidak mengindahkan apa yang digariskan oleh Allah maka dirinya melawan Allah. Maka di satu titik dapat dilihat bahwa ada usaha untuk menghadirkan suasana bahwa 100

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI membangun identitas kejawaan adalah satu-satunya pilihan yang sesuai dengan kehendak Allah. Dampak dari logika simulasi Allah ada pada sebuah pendapat bahwa membangun identitas kejawaan merupakan sebuah rasa syukur. Atau yang kemudian termaktub dalam usaha melestarikan seni, bahasa, dan tradisi di atas adalah wujud rasa syukur kepada Allah karena ia telah menciptakan GKJ di “Jawa”. Logika simulasi ini semakin jelas bahwa arah yang dituju adalah terbentuknya paham yang melihat bahwa membangun identitas kejawaan merupakan sebuah keniscayaan. Pada bagian berikutnya narasumber menunjuk pada sebuah simbol GKJ. Sebetulnya apa yang ditunjuk sebagai simbol adalah logo GKJ.128 Logo yang tidak terdapat gambar salib. Padahal salib merupakan gambar yang sangat penting bagi pemeluk agama Kristen. Gambar salib juga terbiasa terdapat pada logo gereja-gereja, namun tidak dengan logo GKJ. GKJ rupanya memilih gambar-gambar yang lain seperti yang disinggung oleh narasumber. Gambar burung dara yang melambangkan kasih Tuhan. Gambar tangan menyembah sebagai wujud respon manusia pada Tuhan. Kedua gambar itu dimaknai sebagai sisi vertikal. Sementara gambar gunungan dimaknai sebagai sisi horisontal yang melambangkan GKJ yang hidup dalam segala kejawaannya. Ketika berbagai gambar ini disatukan sebagai logo GKJ maka logo ini sudah menunjukkan sisi vertikal dan horisontal yang ada pada salib. Maka menurut narasumber logo GKJ adalah salib. 128 logo/lo·go/ n huruf atau lambang yang mengandung makna, terdiri atas satu kata atau lebih sebagai lambang atau nama perusahaan dan sebagainya. https://kbbi.web.id/logo diunduh pada 29 Desember 2018 pukul 14:29 WIB. 101

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Logo ini hendak dihadirkan sebagai sarana membangun identitas kejawaan yang ramah terhadap konteks Indonesia yang plural. Narasumber mengatakan jika logo ini dijadikan pin/bros tidak akan membuat orang lain terganggu. Berbeda jika mengenakan pin/bros salib. Pin salib itu membuat batas identitas yang jelas dan ini dirasakan sebagai hal yang buruk bagi relasi antar umat beragama dalam konteks plural. Dampak penggunaan pin salib dan gunungan berbeda. Menurut narasumber mengenakan pin gunungan justru menegaskan aspek kejawaan yang tidak akan mengganggu orang lain. Maka logo ini dipertahankan dan dihadirkan bukan hanya untuk menegaskan identitas kejawaan namun juga menjaga relasi. Dalam tataran simulasi segala sesuatu direduksi menjadi sesuatu yang artifisial. Logo GKJ juga bisa berada di sana hanya dipakai sebagai tanda yang berfungsi sebagai pembeda. Tapi di sisi lain narasumber telah menyebutkan bahwa logo itu adalah simbol. Walter menjelaskan prinsip Baudrilaard bahwa memang ada bedanya antara tanda dan simbol. Contohnya adalah cincin, ada perbedaan antara cincin perhiasan dengan cincin kawin. Cincin perhiasan hanya akan menghasilkan nilai tanda. Misalnya yang mengenakan tergolong dalam strata sosial seperti apa. Sedangkan cincin kawin adalah sebuah ekspresi dari komitmen yang melibatkan seluruh perasaan untuk mengikat sebuah hubungan.129 Logopun bisa digunakan sebagai simbol bagi GKJ untuk menghadirkan kejawaan yang menghiraukan konteks pluralitas. Ada hal yang perlu diperhatikan sebagai dampak atas dijadikannya Tuhan dan Kitab Suci sebagai simulakrum. Sebagaimana telah dijelaskan dalam kutipan paling 129 James Walter, op.cit hal 69. 102

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI atas dalam sub bab ini, bahwa ada kemungkinan tersingkir dari kehidupan manusia yang beragama dan yang tinggal hanyalah simulakrumnya. Ketika itu terjadi kehidupan agama hanya akan menjadi klaim-klaim kosong dengan penanda simulakrum yang mahakuasa. Dengan demikian simulakrum ini menjadi rentan sekali untuk disalahgunakan, apalagi Baudrilaard memberi gelar mahakuasa (omnipotence). Maka sekalipun klaim-klaim yang ada dalam wawancara berpotensi menjadikan Tuhan sebagai simulakrum kiranya GKJ juga memperhatikan dan menempatkan klaim-klaim tersebut bukan sebagai tanda, namun sebagai simbol. 4. Upaya Membangun Identitas Kejawaan dalam Konteks Pluralitas Kecenderungan konteks agama yang semakin lama semakin dangkal serta semakin fundamental rupanya dirasakan pula oleh GKJ. Ketika membicarakan alasan membangun identitas sebagai sebuah upaya untuk menangkal radikalisme narasumber merujuk pada Jawa yang asli. Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, bila merujuk pada Jawa “asli” dalam logika simulasi mustahil ditemukan karena sudah tidak ada lagi referensi terhadap realitas.130 Maka kemudian narasumber dalam logika simulasi menghadirkan Jawa yang tidak lagi berada dalam tataran syariat. Penggunaan diksi syariat, tarekat dan makrifat cukup menarik perhatian. Diksi-diksi tersebut digunakan dalam perbincangan diantara orang beragama Kristen dan untuk menjelaskan posisi kejawaan di dalam gereja (GKJ). Diksi-diksi tersebut juga tidak digunakan untuk mengristenkan orang beragama lain. Namun upaya untuk membangun identitas dalam konteks plural rupanya bukan hanya menggunakan 130 ibid hal 29. 103

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI penanda Jawa tetapi juga diksi dari agama Islam. Menurut narasumber tataran syariat merujuk pada kejawaan yang berada di tataran pertama yang mementingkan aturanaturan yang baku. Sementara itu tarekat dimaknai narasumber telah sampai pada tataran menghormati jalan-jalan yang selain yang diyakini. Makrifat dimaknai narasumber dalam tataran filosofis. Narasumber mengharapkan Jawa dalam logika simulasi yang dibangun bukan pada tataran yang syariat, yaitu yang terikat pada aturan-aturan baku. Jika kejawaan yang ditampilkan dalam simulasi adalah kejawaan yang syariat akan menimbulkan perpecahan. Narasumber merasa bahwa saat ini simulasi kejawaan yang dihadirkan GKJ berada dalam tataran syariat. Ini terkait dorongan logika pertukaran tanda dalam simulasi. Segala sesuatu yang disimulasikan bukan hanya terlepas dari yang real, namun akan menjadi artifisial. Salah satu penyebabnya adalah dorongan supaya identitas jelas dalam ranah visual. Latar belakang yang semacam itu membuat narasumber juga tahu untuk mengubah kebiasaan sesuatu yang syariat, menjadi kejawaan dalam tataran makrifat, apalagi pada konteks simulasi bukan sesuatu yang mudah. Narasumber memberi contoh bahwa dirinya pada tahun 2018 ini diminta untuk mengisi acara “Malam Satu Suro”. Sebuah upacara yang bermaksud mengadakan perayaan tahun baru Jawa yang biasanya diasosiasikan juga dengan tahun baru Islam. Sebuah acara tahun baru Jawa (biasanya bersamaan dengan tahun baru Hijriyah) ini justru meminta pendeta sebagai penceramah. Hal ini membuat narasumber bingung sekaligus berefleksi. Itu semua bisa terjadi kalau kejawaan yang ditampilkan bukanlah 104

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kejawaan dalam tataran syariat, namun dalam tataran makrifat. Ada sebuah kajian filosofis yang bisa dimaknai bersama tanpa harus tersekat pada agama tertentu. Simulasi yang diusulkan supaya dipakai GKJ adalah model padepokan pengajaran Sadrach yang juga diletakkan pada logika simulasi. Tidak ada penjelasan bagaimana Sadrach melakukan pengajaran agama Kristen. Namun seolah-olah memang Sadrach melakukan dengan berdiskusi sebagaimana dihadirkan narasumber dalam simulasi. Hal ini digunakan untuk mengusulkan sebuah model ibadah yang baru yang mestinya dicoba oleh GKJ dalam simulasi identitas kejawaan. Narasumber merasa bahwa dengan gaya pengajaran Sadarch akan membangun kedekatan. Bukan hanya diantara para warga jemaat namun juga warga jemaat dan pendeta. Kedekatan semacam ini dinilai narasumber bisa mempengaruhi kedekatan antara GKJ dengan lingkungannya (termasuk di dalamnya relasi dengan orang beragama lain). Narasumber mengatakan bahwa pola relasi semacam itu bisa menghindarkan orang Kristen (GKJ) dari rasa eksklusif dan berperan bagi lingkungan sekitarnya. Dimulai dengan relasi pendeta dengan lingkungannya sebagai teladan pada warga jemaat. Menghadirkan Sadrach dalam logika simulasi sebagai sebuah model kejawaan bagi kekristenan GKJ adalah sebuah upaya membangun identitas dalam konteks pluralitas. Simulasi identitas bisa digunakan untuk menghadirkan kejawaan yang membuat GKJ menjadi lebih inklusif, baik itu pendetanya maupun warga jemaatnya. Dari sub bab ini para narasumber hendak mengaskan bahwa ada sebuah konteks yang perlu disadari, yaitu pluralitas. Para narasumber memperlihatkan upaya menggunakan kejawaan dalam menyikapi konteks tersebut. Entah itu namanya Jawa 105

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI yang tidak syariat, sampaiKristen yang tidak terang-terangan dipakai dalam rangka menghadapi konteks tersebut. Jawa di sini juga dijadikan pembeda dengan segala penandanya. Bahwa GKJ merupakan gereja yang hendak mempertahankan hubungan baik dengan umat beragama lain dengan kejawaan yang diusung. Ketika kejawaan dimainkan sebagai sebuah simbol sebagaimana telah disinggung dalam sub bab sebelumnya, 5. Kekosongan sebagai Harapan bagi Gereja But one of the core arguments of this book is that Baudrillard’s nihilism frequently takes on an apophatic character that makes room for a new kind of believing, a new kind of excess.131 Kekristenan telah sejak lama tertarik pada soal kepercayaan yang menekankan kepatuhan pada doktrin sebagai indikasi ketaatan dan teks suci sebagai rujukan benar salah bagi pemeluknya.132 Kecenderungan semacam ini juga ada di dalam tubuh GKJ dan dampaknya ada pelarangan-pelarangan dalam mempraktekkan hal-hal yang berkaitan dengan kejawaan. Hal inilah yang membuat kedatangan agama Kristen ke Jawa dan bersinggungan dengan kejawaan menimbulkan banyak gesekan. Adanya aturan-aturan yang melarang secara jelas terhadap perilaku yang berkaitan dengan kejawaan. Bahkan kebingungan itu masih berlangsung sampai sekarang lewat pertanyaan “boleh-tidak boleh”. Pada sisi lain, kini segala sesuatu terserap dalam sistem operasi simulasi, agama kian bergerak ke arah artifisial. Manusia beragama hanya demi menegaskan identitas 131 132 Ibid hal 79. Richard King. Agama , op.cithal 74. 106

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI beragamanya secara visual. Sedangkan agama yang semakin artifisial ini justru menampakkan kecenderungan semakin fundamental. Demikian juga kekristenan tidak luput dari arus tersebut. GKJ sebagai salah satu bagian dalam kekristenan mereproduksi sebuah identitas kejawaan dalam dua konteks di atas. Tradisi ortodoksi yang menuntut kepatuhan sedemikian kuat serta dorongan penegasan identitas agama yang semakin dangkal dalam logika simulasi. Upaya-upaya untuk mereproduksi identitas kejawaan menjadi begitu menghadirkan keterasingan. Keterasingan itu dalam tulisan ini diwakili oleh pengalaman orang muda, baik dalam segi bahasa, seni maupun tradisi. Keterasingan sebagai dampak dari simulasi di mana kejawaan yang dihadirkan di GKJ merupakan sebuah model. Kejawaan yang dihadirkan di GKJ adalah kejawaan tanpa refensi. Secara historis GKJ memang telah terpisah begitu lama sebagai dampak dari pendidikan kekristenan yang dilakukan Belanda. Sementara dalam logika simulasi, yang real itu memang sudah tidak dapat dijumpai kembali digantikan dengan simulasi. Keterasingan itu semakin hilang manakala segala sesuatu yang dihadirkan dalam nilai tanda bukan hanya membuat artifisial bahasa, seni dan tradisi namun juga menghadirkan diferensiasi. GKJ yang berusaha membedakan diri dari gereja bahkan kekristenan yang lain. Ada sebuah perjuangan dalam simulasi kejawaan ini yang mencoba melawan tarikan agama yang semakin fundamental. Hal inilah yang membuat simulasi kejawaan GKJ bukan hanya menghadirkan kejawaan, namun juga sebuah perlawanan pada fundamentalisme dan bahkan juga 107

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pada terorisme. Seperti yang ada dalam kutipan di awal sub bab ini, simulasi dalam nihilisme Baudrilaard justru menjadi kesempatan bagi GKJ untuk bisa membuat kekristenan jenis baru yang tidak tunduk pada ortodoksi lama, apalagi dalam konteks kolonial. GKJ bisa dengan bebas memainkan model-model untuk bereaksi kepada tantangan jaman. Akan tetapi hal ini bisa dilakukan jika menggunakan logika simulasi dengan sadar dan tidak terhisap di dalamnya. Artinya logika ini memang dipilih menjadi sebuah strategi guna memerdekakan diri dari segala kungkungan ortodoksi yang membuat manusia beragama secara buta. Simulasi bisa membawa manusia dalam aras fundamentalisme yang semakin kuat namun bisa membawa manusia dalam praktek beragama yang baru yang lebih memerdekakan manusia. Dalam logika simulasi ini GKJ dimungkinkan untuk membentuk sebuah kejawaan baru yang melawan segala praktik beragama yang kian artifisial dan fundamental. GKJ tidak memerlukan referensi darimana kejawaan yang dipakai dalam gereja. GKJ bisa membentuk dan membuat strategi untuk GKJ yang sadar pada perkembangan dan sadar bagaimana mesti melawan. 108

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Bab 5 Kesimpulan dan Penutup Gereja Kristen Jawa, seolah wajar saja apabila lembaga ini membicarakan tentang identitasnya sebagai orang Jawa. Seolah menjadi tanpa masalah juga apabila “Jawa” lalu dibicarakan dalam bingkai tertentu oleh GKJ. Namun dalam pembicaraan terhadap kejawaan itu muncul hal-hal yang perlu ditelusuri lebih lanjut. Seperti yang sudah dijelaskan dalam bab sebelumnya, GKJ sebagai gereja punya pergumulan sendiri tentang unsur kekristenannya. Kekristenan GKJ didapatnya dari lembaga penyebar agam Kristen (zending) yang berasal dari Belanda. Kekristenan yang di dalamnya dipenuhi semangat pietisme, sebuah paham yang menuntut pengikutnya mementingkan kesalehan pribadi dan juga kemurnian diri (puritanisme). Dalam pemahaman yang semacam ini tidak ada tempat bagi budaya lokal (kejawaan). Bahkan dengan jelas ada sebuah larangan untuk melakukan praktik-praktik yang dianggap masih berkaitan dengan kepercayaan sebelum memeluk agama Kristen. Sementara di sisi lain sekalipun kejawaan ditolak dalam tataran ortopraksi namun nyatanya itu tidak bisa dilepaskan. Hal itu pula yang membuat GKJ mengarahkan pandangan pada Sadrach sebagai sosok yang menghadirkan kejawaan di aras ortodoksi. Tarik-menarik antara keduanya berpotensi terjatuh pada dualitas menjadi Kristen atau menjadi Jawa. Sementara keduanya bukanlah sesuatu yang bisa utuh digenggam. Upaya untuk menggenggam Jawa dilakukan sedemikian rupa sebagaimana tergambar dalam wawancara. Ada upaya dari gereja untuk menggenggam kejawaan dengan menggunakan aspek kesenian, bahasa dan juga 109

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI tradisi. Aspek-aspek tersebut diarahkan pada orang muda. Perhatian tersebut diarahkan dengan cara mengubah jam ibadah, memberi ruang bagi orang muda belajar bahasa dan kesenian. Tidak jarang perhatian itu juga berupa kekuatiran, bahwa orang muda akan meninggalkan kejawaan dan beralih pada hal lain, pada kekristenan jenis lain yang tidak melibatkan kejawaan di sana. Oleh karena itu pendapat orang muda juga mendapat porsi dalam proses wawancara. Bukan hanya untuk mengetahui bagaimana pendeta dan majelis beserta orang tua membicarakan soal identittas ini, namun suara orang muda juga diperdengarkan sebagai sebuah polivokalitas. Suara orang muda rupanya sering luput dalam penentuan langkah strategis gereja. Orang muda juga punya pendapatnya dalam kesadaran akan pergulatan identitas kejawaan bagi dirinya selaku warga Gereja Kristen Jawa. Bahkan dari suara orang mudalah nampak bahwa ada banyak keterasingan yang terjadi di dalam reproduksi identitas kejawaan. Keterasingan yang membuktikan bahwa segala yang dilakukan oleh GKJ selama ini adalah sebuah simulasi. Aspek-aspek yang dihadirkan di dalamnya termasuk kejawaan itu sendiri adalah sebuah model. Model yang juga memiliki sisi dimensi diferensiasi bagi GKJ. Pada bagian lain, bagi kekristenan menempatkan klaim tentang Tuhan dan ayatayat kitab suci memiliki dampak yang kuat sekali. Apalagi bagi kekristenan yang memang menuntut pengikutnya taat pada doktrin yang merujuk pada ayat-ayat suci. Penggunaan ayat suci dan penggunaan klaim tentang Yesus bisa memiliki ekses politik. Oleh karena itu pendekatan logika simulasi dari Baudrilaard ini bisa membantu untuk melihat bahwa sisi-sisi berketuhanan memang bisa dijadikan model. 110

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Bahkan Tuhan sendiri adalah sebuah simulakrum. Pendekatan semacam ini bisa menjadi peluang bagi agama (terutama bagi GKJ) untuk waspada pada ketaatan buta terhadap siapa saja yang bisa menggunakan klaim ayat dan mengutip Tuhan di dalam pendapatnya. Klaim-klaim yang dapat dilihat dalam wawancara bukan hanya bentuk kewaspadaan terhadap ketaatan buta, namun juga untuk membangun perlawanan. Kecenderungan sifat agama yang dimunculkan oleh logika simulasi adalah fundamentalisme. Bentuk lain dari fundamentalisme bisa dilihat dalam terorisme. Fundamentalisme dan terorisme sebagai dampak simulasi ini dilawan oleh GKJ menggunakan simulasi kejawaan. Perlawanan ini bisa dilihat dalam hasil wawancara. Dalam ranah kejawaan, bahasa, seni dan tradisi dipraktikkan begitu rupa di dalam gereja guna memperjuangkan kehidupan beragama yang menghiraukan pluralitas. Lalu mengapa orang muda yang menjadi perhatian? Atau dalam ekspresi GKJ diperlihatkan dalam kekuatiran? Hal ini karena orang muda yang akan banyak bersinggungan dengan fundamentalisme sebagaimana yang telah disinggung di atas. Di ranah ideologis usaha-usaha untuk melawan fundamentatalisme dihadirkan dalam memaknai kejawaan dengan lebih filsosofis. Narasumber menandaskan bahwa untuk melawan fundamentalisme dan lebih menghargai pluralitas perlu mengembangkan kejawaan dalam tataran makrifat. Bila kejawaan yang semacam ini yang dikembangkan niscaya kerukunan akan terjadi. Hal ini dicontohkan dengan dijadikannya pendeta sebagai penceramah di dalam acara malam satu suro. 111

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Menghadirkan simulasi pengajaran Sadrach juga usaha untuk melawan fundamentalisme. Bayangan kehidupan pengajaran di padepokan yang bahkan belum tentu dialami oleh narasumber menjadi usulan sistem peribadahan di GKJ. Dengan kedekatan (tidak eksklusif) yang dibangun dalam sistem padepokan tersebut dapat dilakukan baik ke dalam warga gereja maupun ke luar dengan umat beragama lain. Logo GKJ juga diberi pemaknaan sedemikian rupa untuk melawan fundamentalisme. Logo GKJ yang tidak menggunakan gambar salib dimaknai sudah menyiratkan salib secara lebih ideologis. Logo itu bila digunakan sebagai pin maupun dalam bentuk yang lain yang tidak akan membuat batasan dengan orang beragama lain. Diharapkan sekalipun ada sisi identitas pada diri GKJ namun tidak membangun batas-batas yang mengarahkan pada fundamentalisme. Simulasi merupakan kesempatan bagi GKJ dalam upayanya membangun identitas adalah guna memperjuangkan lembaga agama yang menghargai konteks pluralitas. Simulasi ini jugalah yang membuat GKJ bisa terus memainkan model-model kejawaan dengan luwes dan sesuai kebutuhan. Simulasi ini pulalah yang memberi kesempatan bagi GKJ untuk tidak terikat doktrin dan juga tidak menjadikan model-model yang diciptakan dalam perlawanannya menjadi doktrin yang kaku dalam versi baru. Akan tetapi simulasi bisa menjadi strategi apabila ada kesadaran dalam menggunakannya. Hal inilah yang menjadi harapan di tengah citra Baudrilaard yang nihilistik. Sekalipun dalam logika simulasi segala kesadaran seolah terserap, dan menjadi tanda yang artifisial, ternyata tidak begitu yang terjadi di GKJ. Ada upaya dari GKJ dalam simulasinya untuk meraih sesuatu yang lebih filosofis, ada 112

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI upaya menjadikan tanda-tanda pada satu sisi,meskipun pada sisi lain kecenderungan menjadi artifisial terjadi juga. Oleh karena itulah penulis masih memiliki optimisme sekalipun dalam logika simulasi, bahwaada kemungkinan dalam simulasi digunakan untuk melakukan perlawanan bagi simulasi yang lain. 113

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 1 HASIL BERDASARKAN PEKERJAAN Pekerjaan PNS TNI / POLRI Pegawai Swasta Wiraswasta / Pedagang Pensiunan Lain – lain Tidak Bekerja Jumlah 101 14 111 74 103 62 13 Prosentase Berdasarkan Pekerjaan Jumlah; Tidak Bekerja; 13; 3% Jumlah; Lain lain; 62; 13% Pensiunan 22% Jumlah; Wiraswasta / Pedagang; 74; 15% Jumlah; PNS; 101; 21% Jumlah; TNI / POLRI; 14; 3% Jumlah; Pegawai Swasta; 111; 23% 114

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Daftar Pustaka Daldjoeni,N. 1995. Profil Perkembangan GKJ. Salatiga: Lembaga Studi Pengembangan. De Jonge,Christian. 2015. Apa itu Calvinisme ?, Jakarta : BPK Gunung Mulia. Dirjosanjoto,Pradjarta. 2008. Sumber-sumber tentang Sejarah Gereja Kristen Jawa 18961980. Salatiga: Pusat Arsip Sinode GKJ. Guillot, C.1985. Kiai Sadrach: Riwayat Kristenisasi di Jawa. terj Grafiti Press. Jakarta : Grafiti Press. Haryatmoko.2016. Membongkar Rezim Kepastian ; Pemikiran Kritis Post-Strukturalis. Kanisius: Yogyakarta Hastanto,Sri. 2015. Pemikiran tentang Desain dan Strategi Kebudayaan untuk GKJ. Salatiga: Tidak Diterbitkan. Jennifer Reid (ed). 2015. Religion, Postcolonialism, and Globalization; A Sourcebook. Bloomsbury Academic. London: Bloomsburry. King,Richard. 1999. Agama,Orientalisme dan Poskolonialisme; Sebuah Kajian tentang Pertelingkahan antara Rasionalitas dan Mistik. Terj Agung Prihantoro. Yogyakarta :Qalam Press. Nugroho, Singgih. 2003. Tiyang Kristen ing Mriki Sampun Sae Agamanipun ; Pendeta, Bekel dan Upaya membangun Identitas Agama di Jawa, Retorik, vol 2 no 4, Oktober. Yogyakarta: Program Pasca Sarjana Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma. Partonadi, Soetarman S. 2001. Komunitas Sadrach dan Akar Kontekstualnya .Yogyakarta: Taman Pustaka Kristen. Poster, Mark, ed. 1988. Jean Baudrilaard; Selected Writing. Stanford University Press: Stanford. Saukko, Paulla. 2003. Doing Research ini Cultural Studies : An Introduction to Clasical and New Metdhological Approaches. California:Sage Publications. Sastrokasmojo, Padmono. 2017. Gendhing Gerejawi: Perjumpaan Kekristenan dengan agama Islam dan Budaya Jawa. Yogyakarta: Duta Wacana University Press. 115

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Sastrosupono, M Suprihadi dan Hadi Purnomo, ed. 1988. Gereja-gereja Kristen Jawa; GKJ; Benih yang Tumbuh dan Berkembang di Tanah Jawa. Yogyakarta: Taman Pustaka Kristen. Soekotjo,S.H. 2009. Sejarah Gereja-gereja Kristen Jawa Jilid 1 : Di Bawah Bayang-bayang Zending 1858-1948. Yogyakarta : Taman Pustaka Kristen ______________. 2010. Sejarah Gereja-gereja Kristen Jawa Jilid 2 : Merajut Usaha Kemandirian 1950-1985. Yogyakarta :Taman Pustaka Kristen. Subanar, G. Budi. 2006. “Manunggaling Kawula Gusti dalam Transisi : Potret Dunia Jawa dari Yogyakarta” dalam Sesudah Filsafat; Esai-esai untuk Franz Magnis Suseno, I Wibowo B Herry Priyono, ed. Yogyakarta :Kanisius Sukoco,Lukas Eko. 2007.Teologi Lokal Jawa Perlukah?, Pergumulan-pergumulan Teologis Seorang Pendeta Gereja Kristen Jawa, Sang Penjaga &Pengawal Budaya Jawa dalam Bunga Rampai Tulisan Tentang Budaya Jawa: Suatu Penghargaan Emiritasi untuk Prof.Dr.Dr. W.e. Soetomo Siswokaro, M.Pd,Ponco Raharjo.ed.Yogyakarta: Taman Pustaka Kristen. Walter,James.2012. Baudrilaard and Theology. London:T&T Clark. Wigglesworth,Amanda Eve. 2008. The Role of Language in Religion and Ethnic Identity A Study of Liturgical Language Use in the Ukrainian Orthodox Church of Canada,dalam The Canadian Journal of Orthodox Christianity, Volume III, No 2, Summer.Manitoba: St Arseny Orthodox Christian Theological InstituteWinnipeg. Wolterbeek,J.D.1995. Babad Zending di Pulau Jawa,terj Edi Trimodoroempoko.Yogyakarta: Taman Pustaka Kristen. 116

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Sumber Daring : https://kbbi.web.id/logo diunduh pada 29 Desember 2018 pukul 14:29 WIB http://www.gkj.or.id/?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=1142 diunduh pada 8 Januari 2016 pukul 12:53 http://www.jogjasiana.net/index.php/site/adat_tradisi/custom_tradition 117

(127)

Dokumen baru

Download (126 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

Sejarah Gereja Kristen Jawa Ambarukmo 1964-2010.
6
153
124
Sejarah Gereja Kristen Jawa Gondokusuman Yogyakarta dari tahun 1913-1942 : suatu kajian historis.
1
5
113
Kejawaan dan kekristenan : negosiasi identitas orang Kristen Jawa dalam persoalan di sekitar tradisi ziarah kubur.
0
14
157
Kejawaan dan kekristenan negosiasi identitas orang Kristen Jawa dalam persoalan di sekitar tradisi ziarah kubur
3
19
155
Sejarah Gereja Kristen Jawa Gondokusuman Yogyakarta dari tahun 1913 1942 suatu kajian historis
6
51
111
Penerapan Akuntansi, Akuntabilitas dan Pengendalian Internal Pada Gereja Kristen Jawa Wedi.
0
0
17
Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Tanggapan Jemaat Gereja Kristen Jawa Ungaran terhadap Kehadiran Gereja Saksi-Saksi Yehuwa
0
0
12
Redesain Gereja Kristen Jawa Salatiga - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)
0
1
1
Redesain Gereja Kristen Jawa Salatiga - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)
0
0
5
Redesain Gereja Kristen Jawa Salatiga - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)
0
0
1
Redesain Gereja Kristen Jawa Salatiga - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)
0
0
7
Redesain Gereja Kristen Jawa Salatiga - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)
0
1
3
Islam Priangan Pergulatan Identitas dan
0
1
20
Pengaruh Pola Asuh Autoritatif Terhadap Religiositas Remaja Gereja Kristen Jawa Se-Klasis Surakarta
0
0
18
Yesus Kristus Juru Ruwat Manusia: Sebuah Pendekatan Semiotika dalam Gereja Kristen Jawa
0
0
17
Show more