Deskripsi gaya belajar mahasiswa angkatan 2012 Prodi Bimbingan Dan Konseling Universitas Sanata Dharma tahun akademik 2013/2014 dan implikasinya terhadap usulan topik-topik bimbingan belajar - USD Repository

99 

Full text

(1)

DESKRIPSI GAYA BELAJAR MAHASISWA ANGKATAN 2012

PRODI BIMBINGAN DAN KONSELING UNIVERSITAS SANATA

DHARMATAHUN AKADEMIK 2013/2014 DAN IMPLIKASINYA

TERHADAPUSULAN TOPIK-TOPIK BIMBINGAN BELAJAR

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling

Oleh : Krista Br Ginting

Nim: 101114005

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)

i

DESKRIPSI GAYA BELAJAR MAHASISWA ANGKATAN 2012

PRODI BIMBINGAN DAN KONSELING UNIVERSITAS SANATA

DHARMATAHUN AKADEMIK 2013/2014 DAN IMPLIKASINYA

TERHADAPUSULAN TOPIK-TOPIK BIMBINGAN BELAJAR

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling

Oleh : Krista Br Ginting

Nim: 101114005

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(3)
(4)
(5)

iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Motto:

Hendaklah Kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat

dan lakukanlah yang baik”

( Roma 12: 9)

Kupersembahkan karya ini untuk

:

 Tuhan Yesus yang selalu menjaga dan melindungiku dan memberiku kekuatan

 Bapak Ksatria Ginting & Mamak Arlin Br Taringan yang tercinta

 Kakak Paskawati Br Ginting & Kakak Asa Rehulina Br Ginting yang Tercinta

 Abangku Junedy Tarigan dan Surya Dinata Sinulingga yang Tercinta

 Adikku Desvina Br Ginting, Yedija Isakkar Ginting yang Tercinta

 Sahabat-sahabatku terkasih

(6)

v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah

Yogyakarta, 18 Agustus 2014 Penulis

(7)

vi

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta :

Nama : Krista Br Ginting NIM : 101114005

Demi perkembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, karya ilmiah saya yang berjudul: DESKRIPSI GAYA BELAJAR MAHASISWA ANGKATAN 2012 PRODI BIMBINGAN DAN KONSELING UNIVERSITAS SANATA DHARMA TAHUN AKADEMIK 2013/2014DAN IMPLIKASINYA TERHADAP USULAN TOPIK-TOPIK BIMBINGAN BELAJAR, beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian, saya memberikan kepada Universitas Sanata Dharma Yogyakarta hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengolahnya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk keperluan akademis tanpa perlu meminta ijin maupun memberi royalti kepada saya, selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di Yogyakarta

Pada tanggal : 18 Agustus 2014 Yang menyatakan,

(8)

vii ABSTRAK

DESKRIPSI GAYA BELAJAR MAHASISWA

ANGKATAN 2012 PRODI BIMBINGAN DAN KONSELING UNIVERSITAS SANATA DHARMA TAHUN AKADEMIK 2013/2014

DAN IMPLIKASINYA TERHADAP USULAN TOPIK-TOPIK BIMBINGAN BELAJAR

Krista Br Ginting Universitas Sanata Dharma

2014

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gaya belajar yang dimiliki mahasiswa angkatan 2012 Prodi Bimbingan dan Konseling Universitas Santa Dharma Tahun Akademik 2013/2014 dan usulan topik-topik bimbingan belajar yang sesuai untuk para mahasiswa ini.

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Subjek penelitian adalah mahasiswa angkatan 2012 Prodi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Tahun Akademik 2013/2014 yang berjumlah 66 orang. Alat pengumpul data yang digunakan adalah kuesioner gaya belajar yang disusun oleh Riechmann-Grasha yang diadaptasikan oleh peneliti. Kuesioner gaya belajar ini terdiri dari 60 item. Dimensi didalam penelitian gaya belajar ini adalah independent, avoidant, collaborative, dependent, competitive, dan participant. Teknik pengujian reliabilitas menggunakan rumus Alpha Cronbach dan diperoleh hasil koefisiensi reliabilitas adalah 0,785.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya belajar mahasiswa dalam kategori sangat tinggi adalah independent 53%, avoidant 12%, collaborative 62%, dependent

68%, competitive 23%,dan participant 67%. Gaya belajar mahasiswa dalam dalam kategori tinggi adalah independent 53%, avoidant 12%, collaborative 62%, penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa sebagian mahasiswa telah memiliki gaya belajar independent, collaborative, dependent, competitive, participant yang tinggi dan hanya sebagian kecil mahasiswa memiliki gaya belajar yang avoidant

(9)

viii ABTRACT

THE DESCRIPTION OFLEARNINGSTYLESOF 2012 STUDENTS GUIDANCEANDCOUNSELINGSTUDY PROGRAM

AT SANATA DHARMA UNIVERSITY2013/2014ACADEMIC YEAR ANDIMPLICATIONSTO THETOPICSOF STUDY GUIDANCE

Krista Br Ginting Sanata Dharma University

2014

This research aims to know the learning styles of 2012 students Guidance and Counselling studi program, at Santa Dharma University 2013/2014 academic Year and implikcations to the Topics Study Guidance in.

This research is descriptive quantitative research. The subject is 2012 students Guidance and Counselling study program at Sanata Dharma University 2013/2014 academic year consist of 66 people. The data collecting tool used is a learning style scale questionnaire compiled by Riechmann-Grasha adopted by researcher. This learning style questionnaire items consisted of 60 items. The dimensions in this learning style research is independent, dependent, avoidant, collaborative, competitive, and participant. The technique of reliability testing using Alpha Cronbach formula and results of reliability coefficient is 0.785.

The result shows that the learning style of students in the category of very high is independent 53%, avoidant 12%, collaborative 62%, dependent 68%, competitive 23%, and participant 67%. The learning style of students in the category of high is the independent 53%, avoidant 12%, collaborative 62%, dependent 68%, competitive 23%, and participant 67%. The learning style of students in the category of moderate is independant 28%, avoidant 50%, collaborative 8%, dependent 26%, competitive 39%, and participant 15%. The learning style of students in the category of low is independent 0%, avoidant 33%, collaborative 0%, dependent 0%, competitive24% and participant 0%. The learning style of students in the category of

(10)

ix

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur peneliti hanturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya yang selalu memberikan kekuatan, kesehatan, semangat, serta pendampingan yang luar biasa dalam penyelesaian penulisan skripsi ini, sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik dan lancar tanpa hambatan.

Skripsi ini ditulis dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk memproleh gelar sarjana pendidikan dari Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Santa Dharma.

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini tidak akan berjalan dengan baik tanpa ada bantuan, dukungan, dan dampingan dari banyak pihak. Oleh karena itu, dengan ketulusan hati penulis menyampaikan banyak terimakasih khususnya kepada: 1. Bapak Rohandi, Ph.D. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Santa Dharma.

2. Bapak Dr. Gendon Barus, M.Si., selaku Kepala Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Santa Dharma dan yang bersedia member ijin untuk melakukan penelitan.

3. Ibu A. Setyandari, S.Pd, S.Psi, M.A selaku dosen pembimbing yang selalu sabar meluangkan waktu, memberikan motivasi, mendampingin dan memberikan ide-ide kepada penulis dalam proses penulisan skripsi.

(11)

x

5. Mahasiswa angkatan 2012 Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Santa Dharma Tahun Akademik 2013/2014 atas bantuan dan kerjasamanya sebagai responden dalam melaksanakan penelitian.

6. Para dosen Program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma yang telah banyak memberi bantuan kepada penulis selama menempuh studi.

7. Bapak Ksatria Ginting dan Mamak Arlin Br Tariganyang selalu memberikan dukungan dan semangat kepada penulis selama menempuh studi.

8. Kakakku Paskawati Br Ginting, Asa Rehulina Br Ginting, abangku Junedy Tarigan dan abangku Surya Dinata Sinulingga yang telah memberikan dukungan, doa, materi, semangat dan kasih sayang.

9. Adik-adikku, Desvina Br Ginting dan Yedija Isakkar Ginting serta keponakan-keponakanku Yopita Gratia Br Tarigan, Gravilla Br Tarigan dan Alvaro Jevayona Sinulingga yang selalu memberikan semangat dalam menulis skripsi.

10.Kakakku Esma dan abangku Juliatar serta keponakanku Amsal, Juventus, Lita, dan Rikky yang memberikan semangat dan dukungan dalam menulis skripsi.

(12)

xi

12.Sahabat-sahabatku, Mika, Wina, Etha, Yuven, Rio dan Eva yang selalu setia menemani, membantu dan bertukar pikiran dalam menyelesaikan penyusunan skripsi.

13.Teman-teman di kost Amanda, Wila, Nina, Ririn, Bertha dan Tata.

14.Adikku Yehuda Asep Joko Widodo yang selalu memberi semangat, motivasi ketika peneliti mulai malas dan tidak bersemangat

15.Teman-teman Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma 2010 tanpa terkecuali.

16.Semua pihak yang telah membantu dalam proses penyusunan skripsi ini yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Akhirnya, penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca yang berminat terhadap Bimbingan dan Konseling.

(13)

xii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... iv

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... v

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... vi

(14)

xiii

D. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Gaya Belajar ... 22

E. Pentingnya Mengetahui Gaya Belajar Tiap Individu ... 23

F. Bimbingan Belajar ... 24

G. Mahasiswa Angkatan 2012 Prodi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma ... 26

1. Program Studi Bimbingan dan Konseling ... 26

2. Mahasiswa Angkatan 2012 ... 27

2. Komponen Grasha-Reichmann Student Learning Style Scale ... 30

D. Validitas dan Reliabilitas ... 31

1. Validitas ... 31

2. Reliabilitas kuesioner ... 33

E. Analisis Data ... 34

1. Menentukan skor dan pengolahan data ... 35

2. Menentukan kategori ... 35

3. Menentukan usulan topic-topik bimbingan belajar ... 36

F. Prosedur Pengumpulan Data ... 36

BAB IV HASIL PENELITIAN. PEMBAHASAN, DAN USULAN TOPIK- TOPIK BIMBINGAN BELAJAR A. Hasil Penelitian ... 38

B. PembahasanHasil Penelitian ... 42

(15)

xiv BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ... 52 B. Saran ... 53

(16)

xv

DAFTAR TABEL

Tabel 1: Komponen Grasha-Reichmann Student Learning Style Scale . 31 Tabel 2: Item-item yang tidak Direvisi dan Item-item yang Direvisi .... 33 Tabel 3: Kriteria Guilford ... 34 Tabel 4: Norma Kategorisasi Gaya Belajar ... 36 Tabel 5: Kategorisasi Gaya Belajar Mahasiswa Angkatan2012 ... 39 Tabel 6: Kategorisasi Skor Item Gaya Belajar Mahasiswa Angkatan

2012 ... 41 Tabel 7: Usulan Topik-topik Bimbingan Belajar Mahasiswa Angkatan

2012 Prodi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata

(17)

xvi

DAFTAR GRAFIK

Grafik 1: Kecenderungan Gaya Belajar Mahasiswa Angkatan 2012 Prodi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma

(18)

xvii DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1: Kuesioner Gaya Belajar Grasha-ReichmannStudent

Learning Style Scale ... 58

Lampiran 2 : Kuesioner Gaya Belajar ... 60

Lampiran 3 : Tabulasi Data Uji Coba Kuesioner ... 66

Lampiran 4 : Tabulasi Data Penelitian ... 69

Lampiran 5 : Hasil Perhitungan Validitas Kuesioner ... 75

Lampiran 6: Hasil Perhitungan Reliabilitas ... 81

(19)

1 BAB I PENDAHULUAN

Bab ini diuraikan secara berturut-turut latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, dan definisi operasional.

A. Latar Belakang Masalah

Tidak Semua orang punya kesempatan untuk menikmati bangku kuliah. Muhammad Nuh (menteri Pendidikan) pada tahun 2011, mengungkapkan bahwa sebesar 23 persen lulusan SLTA (Sekolah Lanjutan Atas) yang punya kesempatan untuk menikmati bangku kuliah sedangkan 77 persen lulusan SLTA (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas) belum punya kesempatan menikmati bangku kuliah. Hal ini tidak sebanding dengan jumlah penduduk Indonesia 250jiwa.

(20)

dimanfaatkan pengenalan rektorat, struktur organisasi mahasiswa (BEMU dan DPMU USD), menjalin keakraban bagi teman-teman se-mahasiswa baru, pendalaman pedagogis Santo Ignatius dan nilai-nilai Driyarkara dalam 3C (Competence, Conscience dan Compassion).

Mahasiswa walaupun sudah mengikuti perkuliahan sebagian terancam gagal melanjutkan kuliah. Mahasiswa terancam gagal melanjutkan perkuliahan karena mahasiswa belum mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan perkuliahan dan cara belajar di Perguruan Tinggi. Di Perguruan tinggi berbeda cara belajarnya dengan SMA. Di Perguruan Tinggi mahasiswa dituntut untuk aktif belajar.

Mahasiswa yang berada disemester 4 di Universitas Sanata Dharma akan menghadapi sisip program. Peraturan akademik Universitas Sanata Dharma pada tahun 2010 dituliskan bahwamahasiswa dapat melanjutkan studinya apabila pada akhir semester 4 dapat mencapai sekurang-kurangnya 50 satuan kredit dengan IPK sekurang-kurangnya 2,00 dan jumlah nilai D maksimal 15% dari 50 satuan kredit. Oleh karena itu mahasiswa harus meningkatkan prestasi belajarnya. Prestasibelajar mahasiswa dipengaruhi oleh cara belajar mahasiswa didalam memahami materi perkuliahan. Cara belajar mahasiswa inilah yang disebut dengan gaya belajar.

(21)

2012 Prodi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma untuk mempermudah mahasiswa didalam memahami materi kuliah dan meningkatkan prestasi belajarnya serta mampu berintraksi dengan mahasiswa lainnya di dalam belajar.

Oleh karena itu untuk meningkatkan prestasi belajar mahasiswa peneliti tertarik untuk mengkaji mengenai “Deskripsi Gaya Belajar Mahasiswa Angkatan

2012 Prodi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma dan Implikasinya terhadap Usulan Topik-topik Bimbingan Belajar”. Peneliti memilih mahasiswa angkatan 2012 dikarenakan mahasiswa angkatan 2012 akan menghadapi sisip program dimana setiap mahasiswa yang tidak memenuhi kriteria nilai akan di drop out. Hasil dari penelitian ini akan digunakan untuk mengusulkan topik-topik bimbingan belajar untuk mahasiswa angkatan 2012 Prodi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma. Topik-topik Bimbingan Ini akan membantu para mahasiswa untuk mengetahui gaya belajarnya dan mengembangkan gaya belajar yang paling efektif untuk meningkatkan prestasi belajarnya.

B. Rumusan Masalah

Berangkat dari latar belakang masalah tersebut, maka masalah penelitian dirumuskan sebagai berikut:

(22)

2. Usulan topik-topik bimbingan belajar apa yang sesuai untuk para mahasiswa angkatan 2012 Prodi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian bertujuan untuk:

1. Mendeskripsikan gaya belajar mahasiswaangkatan 2012 Prodi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma tahun akademik 2013/2014.

2. Menyusun usulan topik-topik bimbingan belajar bagi mahasiswa angkatan 2012 Prodi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Manfaat teoritis dari penelitian ini adalah untuk menambah wawasan dan kekayaan pengetahuan konseptual berkaitan dengan gaya belajar mahasiswa angkatan 2012 Prodi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma tahun akademik 2013/2014.

2. Manfaat Praktis

a. Manfaat praktis dari penelitian ini bagi dosen BK:

1) Membantu dosen prodi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma untuk membimbing mahasiswa dalam belajar

(23)

dosen mampu membantu mahasiswa dalam meningkatkan prestasi belajarnya.

b. Manfaat praktis dari penelitian ini bagi mahasiswa:

1) Mahasiswa angkatan 2012 Prodi Bimbingan dan konseling Universitas Sanata Dharma menyadari gaya belajarnya.

2) Mahasiswa angkatan 2012 Prodi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharmamampu meningkatkan prestasi belajarnya dengan menggunakan gaya belajar yang mereka miliki.

3) Mahasiswa angkatan 2012 Prodi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma mampu mengembangkan gaya belajarnya.

E. Definisi Operasional 1. Gaya belajar

Gaya belajar adalah cara yang sifatnya individual dalam memproleh dan menyerap informasi dari lingkungan belajar. Ada 6 dimensi gaya belajar, yaitu: independent, avoidant, collaborative, dependent, competitive, participant

2. Bimbingan belajar

(24)

kesukaran yang timbul berkaitan dengan tuntutan-tuntutan belajar di suatu institusi pendidikan.

(25)

7 BAB II

KAJIAN TEORITIS

Bab ini diuraikan secara berturut-turut gaya belajar, jenis-jenis gaya belajar, dimensi gaya belajar, faktor-faktor yang mempengaruhi gaya belajar, bimbingan belajar, dan mahasiswa angkatan 2012 Prodi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma.

A. Gaya Belajar

1. Pengertian belajar

Belajar merupakan proses yang terus menerus di dalam kehidupan manusia yang tidak pernah ada hentinya. Alsa (2005, dalam Ghufron & Risnawita, 2010) berpendapat bahwa belajar adalah perubahan perilaku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi individu dengan lingkungan. Menurut Ghufron dan Risnawita (2010), belajar merupakan suatu proses perubahan yang cenderung menetap dan merupakan hasil dari pengalaman, selain perubahan fisiologis, namun perubahan psikologis yang berupa perilaku dan respresentasi atau asosiasi mental.

(26)

a. Sebuah proses atau aktivitas yang menghasilkan perubahan pada diri orang yang belajar,

b. Perubahan yang terjadi selama proses belajar harus tampak setelah proses belajar,

c. Perubahan tersebut berlaku relatif lama atau permanen, d. Menghasilkan inovasi baru, dan

e. Perubahan tersebut terjadi karena usaha yang disengaja.

Jadi dari definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa belajar adalah proses perubahan prilaku yang terjadi pada diri individu yang cenderung menetap dan merupakan hasil dari pengalamannya. Mahasiswa yang belajar akan mendapatkan perubahan dalam dirinya. Perubahan yang dimaksud adalah perubahan pada kognisis, afeksi, dan psikomotor terhadap hal yang baru.

Ada empat faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar menurut Djamarah (2011), yaitu:

a. Faktor lingkungan.

(27)

1) Lingkungan alami

Keadaan suhu dan kelembaban udara terpengaruh terhadap belajar anak didik di sekolah. Anak didik akan lebih betah belajar kalau berada pada suhu udara yang sejuk, kelas yang tenang dan indah. 2) Lingkungan sosial budaya.

Sebagai makhluk sosial manusia tidak lepas dari ikatan sosial. Sistem sosial yang terbentuk mengikat perilaku anak didik untuk tunduk pada norma-norma sosial. Susila, dan hukum yang berlaku dalam masyarakat. Lingkungan sosial banyak hal yang menyebabkan anak didik kehilangan konsentrasi seperti suara bising dari kenalpotmotor dan mobil dan suara orang bercakap-cakap atau yang lainnya.

b. Faktor instrumental

(28)

c. Kondisi fisiologis

Kondisi fisiologis pada umumnya berpengaruh terhadap kemampuan belajar seseorang. Orang yang dalam keadaan segar jasmaninya akan berlainan belajarnya dari orang yang dalam keadaan kelelahan. Anak-anak yang kekurangan gizi ternyata kemampuan belajarnya dibawah anak-anak yang tidak kekurangan gizi; mereka lekas lelah, mudah ngantuk, dan sukar menerima pelajaran. Demikian pendapat Noehi Nasution, dkk (1993, dalam Djamarah.2011).

Selain itu menurut Noehi, hal yang tidak kalah pentingnya adalah kondisi panca indra (mata, hidung, pengecap, telinga, dan tubuh), terutama mata sebagai alat untuk melihat dan sebagai alat untuk mendengar. Sebagian besar yang dipelajari manusia (anak) yang belajar berlangsung dengan membaca, melihat contoh, atau model, melakukan observasi, mengamati hasil-hasil eksprimen, mendengarkan keterangan guru, mendengarkan ceramah, mendengarkan keterangan orang lain dalam diskusi dan sebagainya. Karena pentingnya peranan penglihatan dan pendengaran inilah maka lingkungan pendidikanformal orang melakukan penelitian untuk menemukan bentuk dan cara penggunaan alat peraga yang dapat dilihat dan didengar.

d. Kondisi psikologis

(29)

seseorang. Itu berarti belajar bukanlah berdiri sendiri, terlepas dari faktor lain seperti faktor dari luar dan faktor dari dalam. Faktor psikologis sebagai faktor dari dalam tentu saja merupakan hal yang utama dalam menentukan intensitas belajar seorang anak. Meski factor luar mendukung, tetapi faktor psikologis tidak mendukung, maka faktor luar itu akan kurang signifikan. Oleh karena itu, minat, kecerdasan, bakat, motivasi, dan kemampuan-kemampuan kognitif adalah faktor-faktor psikologis yang utama mempengaruhi proses dan hasil belajar anak didik. Demi jelasnya, kelima faktor ini akan diuraikan satu demi satu berikut ini:

1) Minat

Minatmenurut Slameto (1991, dalam Djamarah. 2011) adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minat.

2) Kecerdasan

(30)

3) Bakat

Bakat merupakan faktor yang besar pengaruhnya terhadap proses dan hasil belajar seseorang. Hampir tidak ada satu orang pun yang membantah, bahwa belajar pada bidang yang sesuai dengan bakat memperbesar kemungkinan berhasilnya usaha itu.

4) Motivasi

Menurut Noehi Nasution (1993, dalam Djamarah. 2011) motivasi adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Jadi motivasi belajar adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk belajar. Penemuan-penemuan penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar pada umumnya meningkat jika motivasi untuk belajar bertambah.

5) Kemampuan kognitif

(31)

2. Gaya belajar

Gaya belajar merupakan suatu hal yang penting di dalam belajar. Mahasiswa yang menggunakan gaya belajar yang sesuai lebih mudah didalam memahami materi perkuliahan. Menurut Gunawan (2007)gaya belajar adalah cara yang lebih kita sukai dalam melakukan kegiatan berpikir, memproses dan mengerti suatu informasi.

Gaya belajar merupakan cara yang sifatnya individual untuk memproleh dan menyerap informasi dari lingkungannya, termasuk lingkungan belajar (Gufron dan Risnawita,2010). Definisi lain dikemukakan oleh Kolb (Riding dan Rayner, 2002 dalam Gufron dan Risnawita, 2010) yang mengatakan bahwa gaya belajar merupakan metode yang dimiliki individu untuk mendapatkan informasi.

Jadi dapat disimpulkan bahwa gaya belajar merupakan suatu cara yang dimiliki oleh individu dalam menyerap dan menggolah informasi yang diterima.

B. Jenis-jenis Gaya Belajar

(32)

ada yang belajar dengan langsung melihat apa yang sedang dipelajari. Apapun cara belajar yang dipilih, perbedaan gaya belajar itu menunjukkan cara tercepat dan terbaik bagi setiap individu bisa menyerap sebuah informasi dari luar dirinya.

Banyak ahli yang mengungkapkan gaya belajar berdasarkan hasil penelitian mereka seperti Deporter dan Withkin. Adapun jenis jenis gaya belajar menurut Deporter (2010) adalah

1. Gaya Belajar Visual

Menurut Astuti (2010) orang yang memiliki gaya belajar ini memiliki daya melihat (ketajaman indera mata) lebih memudahkan dalam belajar, lebih nyaman belajar dengan warna warni, garis dan bentuk, lebih suka membaca daripada mendengarkan, mengingat dengan gambar, teratur menulis rumus-rumus dengan tinta warna-warni.

Individu yang mempunyai gaya belajar visual harus bisa melihat bahasa tubuh dan ekspresi muka gurunya untuk mengerti materi pelajaran, dan cenderung duduk di depan agar dapat melihat dengan jelas. Mereka berpikir menggunakan gambar-gambar di otak mereka dan belajar lebih cepat dengan menggunakan tampilan-tampilan visual seperti diagram, buku pelajaran bergambar, dan video.

(33)

memperhatikan penampilan, termasuk kerapian catatan buku, membutuhkan bantuan gambar dan membuat detail-detail secara lengkap.

Ciri-ciri orang-orang visual menurut Deporter (2010) adalah sebagai berikut. a. Rapi dan teratur

b. Berbicara dengan cepat

c. Perencana dan pengatur jangka panjang yang baik d. Teliti terhadap detail

e. Mementingkan penampilan, baik dalam hal pakaian maupun presentasi f. Pengeja yang baik dan dapat melihat kata-kata yang sebenaranya dalam

pikiran mereka

g. Mengingat apa yang dilihat, daripada yang didengar h. Mengingat dengan asosiasi visual

i. Biasanya tidak terganggu dengan keributan

j. Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis, dan sering kali minta bantuan orang untuk mengulanginya.

k. Pembaca cepat dan tekun

l. Lebih suka membaca daripada dibacakan

m.Membutuhkan pandangan dan tujuan yang menyeluruh dan bersikap waspada sebelum secara mental merasa pasti tentang suatu masalah atau proyek

(34)

o. Lupa menyampaikan pesan verbal kepada orang lain

p. Sering menjawab pertanyaan dengan jawaban singkat ya atau tidak q. Lebih suka melakukan demonstrasi daripada berpidato

r. Lebih suka seni daripada music

s. Sering kali mengetahui apa yang harus dikatakan, tetapi tidak pandai memilih kata-kata

t. Kadang-kadang kehilangan konsentrasi ketika mereka ingin memperhatikan.

2. Gaya Belajar Auditorial

Menurut Astuti (2010) siswa yang bertipe auditorial mengandalkan kesuksesan belajarnya melalui teliga (alat pendengarannya). Siswa auditorial dapat belajar lebih cepat dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan apa yang dikatakan guru. Siswa auditori dapat mencerna makna yang disampaikan melalui tone suara, pith (tinggi rendahnya), kecepatan berbicara, dan hal-hal auditori lainnya. Informasi tertulis kadang-kadang mempunyai makna yang minim bagi anak auditori. Individu seperti ini biasanya dapat menghafal lebih cepat dengan membaca teks dengan keras dan mendengarkan kaset, kurang suka membuat catatan-catatan, dan lebih senang mendengarkan temannya yang sedang belajar.

Ciri-ciri orang-orang auditorial menurut Deporter (2010) adalah sebagai berikut.

(35)

b. Mudah terganggu oleh keributan

c. Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca

d. Senang membaca dengan keras dan mendengarkan

e. Dapat mengulangi kembali dan meniru nada, berirama dan warna suara f. Merasa kesulitan untuk menulis, tetapi hebat dalam berbicara

g. Berbicara dalam irama yang terpola h. Biasanya pembicara yang pasif i. Lebih suka musik daripada seni

j. Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan daripada yang dilihat

k. Suka berbicara, suka berdiskusi, dan menjelaskan sesuatu panjang lebar l. Mempunyai masalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan

visualisasi, seperti memotong bagian-bagian hingga sesuai satu sama lain m.Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya

n. Lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik 3. Gaya Belajar Kinestetik

(36)

Ciri-ciri orang-orang kinestetik menurut Deporter (2010) adalah sebagai berikut.

a. Berbicara dengan perlahan b. Menanggapi perhatian fisik

c. Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka d. Berdiri dekat ketika berbicara dengan orang

e. Selalu berorientasi pada fisik dan banyak bergerak f. Mempunyai perkembangan awal otot-otot yang besar g. Belajar melalui memanipulasi dan praktik

h. Menghafal dengan cara berjalan dan melihat

i. Menggunakan jari sebagai petunjuk ketika membaca j. Banyak menggunakan isyarat tubuh

k. Tidak dapat duduk diam untuk waktu lama

l. Tidak dapat mengingat geografi, kecuali jika mereka memang telah pernah berada di tempat itu

m.Menggunakan kata-kata yang mengandung aksi

n. Menyukai buku-buku yang berorientasi pada plot―mereka mencerminkan aksi dengan gerakan tubuh saat membaca

o. Kemungkinan tulisannya jelek p. Ingin melakukan segala sesuatu

(37)

Selain itu Withkin (dalam Gufron dan Risnawati,2010) melakukan penelitian pada 1600 mahasiswa dan menghasilkan dua tipe gaya belajar yang ada pada individu yaitu, gaya belajar field dependence dan gaya belajar field independence. Gaya belajar field dependence adalah ketika individu mempersepsikan diri dikuasai oleh lingkungan. Adapun individu yang mempunyai gaya belajar field independence adalah apabila individu mempersepsikan diri bahwa sebagian besar prilaku tidak dipengaruhi oleh lingkungan.

C. Dimensi Gaya Belajar

Menurut Riechmann-Grasha (1983, dalam Gufron & Risnawita, 2012), dimensi gaya belajar di tingkat perguruan tinggi mencakup: (a) Independent, (b)

Avoidant, (c) Collaborative, (d) Dependent, (e) Competitive, (f) Participant. 1. Independent

Suka berpikir untuk diri sendiri, memilih untuk bekerja sendiri, tetapi mendengarkan ide orang lain, hanya mempelajari apa yang mereka anggap penting dan percaya diri dengan kemampuan mereka, lebih memilih kelas yang menganut student-centerd karena mereka suka membentuk pengetahuan mereka sendiri. Siswa dengan tingkat gaya belajar independent

(38)

sungguh-sungguh, dan hanya akan mempelajari serta mencari informasi bagi materi yang dianggap menarik, namun ia tetap berusaha mendengarkan pendapat dan penjelasan orang lain.

2. Avoidant

Orang yang memiliki gaya belajar avoidant ini tidak berminat atau tertarik pada pelajaran dalam kelas tradisional. Tidak ikut berpartisipasi dalam diskusi kelas dan menyukai evaluasi diri. Individu tipe ini juga tidak suka membaca maupun mengerjakan tugas serta bergantung pada interaksi guru-murid. Siswa dengan tingkat gaya belajar avoidant yang tinggi cenderung tidak memiliki keinginan untuk belajar karena ia menganggap bahwa apa yang ia pelajari tersebut tidak menarik, sehingga siswa dengan tingkat gaya belajar avoidant yang tinggi cenderung jarang mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.

3. Collaborative

Orang yang memiliki gaya belajar collaborative adalah mereka dapat belajar dengan berbagai ide dan kemampuan mereka dalam bekerja sama dengan para guru dan suka bekerja sama dengan orang lain dan suka berdiskusi di kelas dan tugas kelompok.

4. Dependent

(39)

menetapkan pedoman, serta suka menyelesaikan tugas sewaktu tenggang dan sesuai instruksi.

5. Competitive

Orang yang memiliki gaya belajar competitive ini mempelajari materi agar menjadi lebih baik dari yang lain, berkompetisi dengan siswa lain untuk mendapatkan reward (misal: nilai atau perhatian guru) dan menganggap kelas sebagai situasi menang-kalah, dimana mereka harus selalu menang. Siswa dengan tingkatgaya belajar competitive yang tinggi cenderung suka menarik perhatian dari guru dan teman-teman lainnya sebagai reward. Siswa dengan tingkat gaya belajar competitive yang tinggi akan berusaha menyelesaikan semua tugas dan ujian dengan lebih baik dari teman-temannya sehingga ia akan mendapatkan reward dari guru berupa nilai maupun ujian.

6. Participant

(40)

D. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Gaya Belajar

Kolb (dalam Ghufron & Risnawita, 2012) menyatakan bahwa setiap orang memiliki dan mengembangkan gaya belajar tersendiri yang dipengaruhi oleh tipe kepribadian, kebiasaaan atau habit, serta berkembang sejalan dengan waktu dan pengalaman. Pola atau gaya belajar tersebut dipengaruhi oleh jurusan atau bidang yang digeluti, yang selanjutnya akan turut mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam meraih prestasi yang diharapkan.Menurut Kolb (2005 dalam Ghufron & Risnawita, 2010) ada 5 (lima) hal yang mendasari seseorang memilih gaya belajar tertentu yaitu tipe kepribadian, jurusan yang dipilih, karier atau profesi yang digeluti, pekerjaan atau peran yang sedang dilakukan, dan adaptive competencies (kompetensi adaptif).

(41)

memerlukan lingkungan kerja yang teratur dan rapi, tetapi yang lain lagi lebih suka menggelar segala sesuatu supaya semua dapat dilihat.

E. Pentingnya Mengetahui Gaya Belajar

Penelitian yang dilakukan oleh Ningrum (2010) pada mahasiswa angkatan 2003 Psikologi Universitas Sanata Dharma dengan menggunakan gaya belajar versi David Kolb menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki gaya belajar diverger

artinya subyek menekankan pada pengalaman konkret dan observasi reflektif, mempunyai kemampuan imajinatif dan kesadaran akan arti dan nilai-nilai, dapat melihat situasi konkret dari berbagai macam perspektif sehingga mempunyai kelebihan dalam hal adaptasi dan observasi dan brainstorming. Individu pada gaya belajar diverger tertarik pada hal-hal yang berhubungan dengan sosial dan imajinatif namun berorientasi pada perasaan, mempunyai ketertarikan pada budaya terutama dalam hal seni. Prastiti (2009) yang meneliti gaya belajar mengungkapkan bahwa gaya belajar mahasiswa D-3 Akuntansi, S-1 Akuntansi dan S-1 Pendidikan Akuntansi Universitas Negeri Malang memiliki gaya belajar colaborative/social dan sensing.

(42)

1. Meningkatkan kesadaran individu tentang aktivitas belajar mana yang cocok atau tidak cocok dengan gaya belajar individu.

2. Membantu menemukan pilihan yang tepat dari sekian banyak aktivitas. Menghindarkan kita dari pengalaman belajar yang tidak tepat.

3. Individu dengan kemampuan belajar efektif yang kurang, dapat melakukan improvisasi.

4. Membantu individu untuk merencanakan tujuan dari belajarnya, serta menganalisis tingkat keberhasilan seseorang.

F. Bimbingan Belajar

Bimbingan belajar ialah bimbingan dalam hal menemukan cara belajar yang tepat, dalam memilih program studi yang sesuai, dan dalam mengatasi kesukaran yang timbul berkaitan dengan tuntutan-tuntutan belajar di suatu institusi pendidikan (Winkel & Sri Hastuti, 2010). Bimbingan belajar membantu individu untuk menemukan apa yang menjadi hal yang diminati siswa-siswi untuk meningkatkan prestasi belajar siswa di sekolah. Prestasi Belajar sangatlah penting bagi siswa, jika mereka gagal mereka cenderung mengalami depresi, frustasi dan menarik diri dari masyarakat.

(43)

kemampuan belajarnya. Secara lebih khusus Tohirin (2007) mengatakan bahwa tujuan bimbingan belajar adalah agar individu mampu menghadapi dan memecahkan masalah-masalah belajar. Dalam konteks kemandirian, tujuan bimbingan belajar adalah agar siswa mandiri dalam belajar.

Tujuan bimbingan belajar menurut Hamalik (2007) adalah sebagai berikut: 1. Agar siswa bertanggung jawab menilai kemampuannya sendiri dan

menggunakan pengetahuan mereka secara efektif bagi dirinya.

2. Agar siswa menjalani kehidupannya sekarang secara efektif dan menyiapkan dasar kehidupan masa depannya sendiri.

3. Agar semua potensi siswa berkembang secara optimal meliputu semua aspek pribadinya sebagai individu yang potensial.

Adapun fungsi bimbingan menurut Hamalik (2007) adalah

1. Membantu individu untuk memproleh gambaran yang objektif dan jelas tentang potensi, watak, minat, sikap, dan kebiasaannya agar ia dapat menghindari diri dari hal-hal yang tidak diinginkan

2. Membantu individu untuk mendapat pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan, bakat, minat, dan kemampuannya dan membantu individu untuk menentukan cara yang efektif dan efesien dalam menyelesaikan bidang pendidikan yang telah dipilihnya agar tercapai hasil yang diharapkan.

(44)

lapangan pekerjaan agar ia dapat melakukan pilihan yang tepat di antara lapangan pekerjaan tersebut. Di samping itu, membantu individu untuk mendapatkan kemajuan yang memuaskan dalam pekerjaannya sambil memberikan sumbangan secara maksimal terhadap masyarakatnya.

G. Mahasiswa Angkatan 2012 Prodi Bimbingan dan Konseling Universitas Santa Dharma

1. Program Studi Bimbingan dan Konseling

Program Studi Bimbingan dan konseling salah satu program studi yang ada di Universitas Sanata Dharma yang bergerak untuk memberikan pengalaman bagi mahasiswa untuk membimbing dan melakukan konseling kepada siswa SD, SMP, SMA, dan Komunitas. Program Studi Bimbingan dan konseling memiliki visi yaitu “ Pada tahun 2013 PS-BK menjadi program studi yang unggul dalam menghasilkan sarjana pendidikan bidang Bimbingan dan Konseling yang profesional, berkarakter tangguh, dan kompeten menyelenggarakan pelayanan Bimbingan dan Konseling yang bermartabat di sekolah, di luar sekolah, dan institusi rehabilitas sosial”.

Selain memiliki visi, Program bimbingan dan konseling juga memiliki misi, yaitu:

(45)

b. Meningkatkan jumlah dan kualitas produk penelitian di bidang pendidikan, psikologi, bimbingan dan konselingsebagai bentuk pengembangan kecendekiaan sivitas akademika untuk meningkatkan martabat manusia. c. Meningkatkan pelayanan dan pengabdian kepada masyarakat sebagai

penerapan pendidikandan penelitian yang humanis menuju masyarakat yang lebih bermartabat

d. Mengembangkan kerjasama dan membangunjejaring yang sinergis, fungsional, dan humanis di bidang pendidikandan pelayanan bimbingan dan konseling, baik pada tataran nasional maupun internasional.

Kegiatan perkuliahan di Program Studi Bimbingan dan Konseling biasanya adalah pemberian materi dengan menggunakan power point, diskusi kelompok, sesi tanya jawab, dan presentasi yang dilakukan oleh setiap kelompok. Mahasiswa di tuntut untuk aktif didalam kelas dan ikut berpartisipasi dalam setiap sesi perkuliahan.

2. Mahasiswa Angkatan 2012

(46)

28 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Bab ini akan diuraikan secara berturut-turut jenis penelitian, Subjek penelitian, instrumen penelitian, validitas dan reliabilitas kuesioner, analisis data, dan produser pengumpulan data.

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kuantitatif dengan metode survei.Penelitian deskriptif kuantitatif yaitu penelitian yang berusaha menuturkan pemecahan masalah yang ada sekarang berdasarkan data-data, jadi ia juga menyajikan data, menganalisis dan menginterpretasi (Narbuko & Achmad, 2009).

Menurut Whitney (1960), metode deskriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Sedangkan menurut Nazir (2005), metode deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu obyek, suatu kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Penelitian deskriptif bertujuan menggambarkan secara sistematik dan akurat fakta dan karakteristik mengenai populasi atau mengenai bidang tertentu (Azwar, 2012).

(47)

B. Subjek Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian populasi. Menurut Hadari Nawawi dalam Margono (2007) populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang terdiri dari manusia, benda-benda, hewan dan tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala, nilai tes, atau peristiwa-peristiwa sebagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu di dalam suatu penelitian.

Jadi dapat disimpulkan bahwa populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang berada di ruang lingkup yang sama. Penelitian ini termasuk penelitian populasi karena melibatkan seluruh mahasiswa angkatan 2012 Prodi Bimbingan dan Konseling dengan jumlah subjek 66.

.

C. Instrumen Penelitian 1. Kuesioner

Kuesioner merupakan alat pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya (Sugiyono, 2010). Pertanyaan atau penyataan di dalam kuesioner berhubungan erat dengan masalah penelitian yang hendak dipecahkan, disusun, dan disebarkan ke responden untuk memperoleh informasi dilapangan.

(48)

Indonesia.Kuesioner gaya belajar terdiri dari 6 dimensi gaya belajar yaitu

independent(suka berpikir sendiri dan memilih untuk bekerja sendiri), avoidant(tidak memiliki minat atau tertarik pada pelajaran tradisional), collaborative(belajar dengan berbagai ide dan bakat mereka bekerjasama dengan para guru, dan suka bekerja sama dengan orang lain), dependent(belajar apa yang dibutuhkan, melihat guru dan teman sebagai sumber struktur dan dukungan mencari figure otoritas untuk menetepkan pedoman), competitive

(mempelajari materi agar menjadi lebih baik dari orang lain)dan

participant(mengambil bagian dalam kegiatan perkuliahan sebanyak mungkin dan bersemangat untuk melakukan persyaratan yang diperlukan).

Alternatif jawaban mengacu pada prinsip-prinsip skala Likertyang terdiri dari lima alternatif jawaban. Peneliti memodifikasi alternative jawaban menjadi 4 alternatif jawaban yaitu Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS), Sangat Tidak setuju (STS). Penentuan skor untuk jawaban pada item adalah Sangat Setuju = 4, Setuju = 3, Tidak setuju = 2, dan Sangat Tidak Setuju = 1. Subjek diminta memilih satu dari empat alternatif jawaban yang disediakan pada setiap pernyataan, dengan memberikab tanda centang (√) pada kolom

altermatif jawaban.

2. Komponen Grasha-Reichmann Student Learning Style Scales

(49)

mahasiswa angkatan 2011. Uji coba ini dimaksud untuk mengetahui item-item mana yang sudah jelas dan yang belum jelas sehingga bisa diperbaiki dan digunakan untuk penelitian.Komponen Grasha-Reichmann Student Learning Style Scales dapat di lihat pada tabel 1.

Tabel.1

Komponen Grasha-Reichmann Student Learning Style Scales

NO Dimensi Item Total

1 Independent 1, 7, 13, 19, 25, 31, 37, 43, 49, 55 10 2 Avoidant 2, 8, 14, 20, 26, 32, 38, 44, 50, 56 10 3 Collaborative 3, 9, 15, 21, 27, 33, 39, 45, 51, 57 10 4 Dependent 4, 10, 16, 22, 28, 34, 40, 46, 52, 58 10 5 Competitive 5, 11, 17, 23, 29, 35, 41, 47, 53, 59 10 6 Participant 6, 12, 18, 24, 30, 36, 42, 48, 54, 60 10

Total Item 60

Table 1 menunjukkan bahwa dimensi Independent terdiri dari 10 item pernyataan, avoidant terdiri dari 10 item pernyataan, collaborative terdiri dari 10 item pernyataan, dependent terdiri dari 10 item pernyataan, competitive

terdiri dari 10 item pernyataan, participant terdiri dari 10 item pernyataan. Jumlah keseluruhan item pernyataan adalaha 60 item.

D. Validitas dan Reliabilitas Instrumen 1. Validitas kuesioner

(50)

dikatakan valid jika instrumen yang digunakan dapat mengukur apa yang hendak diukur.

Pengujian Validitas ini menggunakan pengujian validitas isi

(Content Validity). Sugiyono (2010) mengatakan bahwa untuk instrumen yang berbentuk teks, pengujian validitas isi dapat dilakukan dengan membandingkan isi instrumen dengan isi atau rancangan yang telah ditetapkan.

Pada setiap instrumen terdapat butir-butir (item) pernyataan. Pengujian validitas butir-butir instrumen lebih lanjut dikonsultasikan dengan ahli, selanjutnya diujicoba, dan dianalisis dengan analisis item. Analisis item dilakukan dengan menghitung korelasi antara tiap-tiap item dengan keseluruhan total item. Penghitungan korelasi item dengan total dilakukan dengan rumusproduct-momentdengan rumus sebagai berikut.

∑ (∑ )(∑ )

√* ∑ (∑ )+* ∑ (∑ ) +

Ket:

= Korelasi produk moment = Nilai setiap butir

= Nilai dari jumlah butir = Jumlah responden

(51)

Tabel 2.

Item-item yang tidak Direvisi dan Item-item yang Direvisi

No Dimensi Item yang Tidak Direvisi Total Item yang Direvisi direvisi, dependentada 2 item yang direvisi yaitu 10 dan 28, competititveada 2 item yang direvisi yaitu 53 dan 59, dan participant tidak ada item yang direvisi.

2. Reliabilitas kuesioner

Instrumen yang reliabel adalah instrumen yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur objek yang sama akan menghasilkan data yang sama (Sugiyono, 2010). Penelitian ini menggunakan teknik koefisien

AlphaCronbach (α). untuk menguji reliabilitas. Perhitungan koefisien Alpha Cronbach dilakukan dengan menggunakan program SPSS for windows versi 15.0. Adapun rumus koefisien reliabilitas AlphaCronbach (α) adalah

(52)

Keterangan rumus :

S12 dan S22 : varians skor belahan 1 dan varians skor belahan 2

Sx2 : varians skor skala

Hasil perhitungan indeks reliabilitas dikonsultasikan dengan kriteria Guilford (Masidjo, 1995). Kriteria Guilford ini digunakan untuk melihat reliabilitas kuesioner. Adapun kriteria Guilford dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 3 Kriteria Guilford

No Koefisien Korelasi Kualifikasi

1 ± 0,91 – 1,00 Sangat tinggi

2 ± 0,71 – 0,90 Tinggi

3 ± 0,41 – 0,70 Cukup

4 ± 0,21 – 0,40 Rendah

5 0 – 0,20 Sangat Rendah

Dari hasil analisis dengan menggunakanprogram SPSS for windows versi 15.0 di dapatkan hasil bahwa r = 0, 785. Jadi reliabilitas kuesioner gaya belajar termasuk dalam klasifikasi tinggi. Hal ini berarti alat yang digunakan dalam penelitian ini mengukur apa yang seharusnya diukur dan dapat dipercaya.

E. Analisis Data

(53)

rumusan masalah. Berikut merupakan langkah-langkah teknik analisis data yang ditempuh dalam penelitian ini:

1. Menentukan skor dan pengolahan data

Penentuan skor pada item kuesioner dilakukan dengan cara memberikan nilai dari angka 1 sampai 4 berdasarkan norma skoring yang berlaku, selanjutnya memasukkannya ke dalam tabulasi data dan menghitung total jumlah skor subjek serta jumlah skor item. Tahap selanjutnya adalah menganalisis data secara statistik menggunakan program aplikasi SPSS.

2. Menentukan kategori

Pengkategorian tingkat gaya belajarmahasiswa angkatan 2012 disusun berdasarkan model distribusi normal. Tujuan kategorisasi ini adalah menempatkan individu ke dalam kelompok-kelompok yang terpisah secara berjenjang menurut suatu kontinum berdasarkan atribut yang diukur (Azwar, 2009). Kontinum jenjang pada penelitian ini adalah dari sangat rendah sampai dengan sangat tinggi.

(54)

Tabel 4

Norma KategorisasiGaya belajar

Norma/Kriteria Skor Kategori X≤ µ -1,5σ Sangat Rendah µ - 1,5 σ <X≤ µ -0,5 σ Rendah µ -0,5 σ <X≤ µ +0,5 σ Sedang

µ +0,5 σ <X≤ µ +1,5 σ Tinggi

µ +1,5 σ <X Sangat Tinggi

Keterangan:

Skor maksimum teoritik: Skor tertinggi yang diperoleh subjek penelitian berdasarkan perhitungan skala Skor minimum teoritik : Skor terendah yang diperoleh subjek penelitian menurutperhitungan skala

Standar deviasi (σ / sd): Luas jarak rentangan yang dibagi dalam 6

satuan deviasi sebaran

µ (mea[n teoritik) : Rata-rata teoritis skor maksimum dan

minimum

3. Menentukan usulan topik-topik bimbingan belajar.

Usulan topik-topik bimbingan belajar disusun berdasarkan gaya belajar yang sesuai untuk mahasiswa Prodi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Tahun Akademik 2013/2014.

F. Prosedur Pengumpulan Data 1. Tahap Persiapan.

(55)

untuk melihat validitas isinya. Validitas isi dilakukan untuk melihat layak atau tidaknya kuesioner untuk mengukur gaya belajar mahasiswa.

b. Peneliti melakukan uji coba kuesioner untuk mendapatkan item-item yang tidak valid dan reliable. Uji coba dilakukan pada mahasiswa angkatan 2012 Prodi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma. Uji coba dilakukan pada tanggal 14 Mei 2014 dengan subjek berjumlah 30.

c. Konsultasi dengan Kaprodi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma untuk mendapatkan ijin penelitian.

2. Tahap Pelaksanaan

(56)

38 BAB IV

HASIL PENELITIAN, PEMBAHASAN,

DAN USULAN TOPIK-TOPIK BIMBINGAN BELAJAR

Bab ini memuat hasil penelitian,pembahasan dan usulan topik bimbingan belajar. Penyajian hasilpenelitian didasarkan pada rumusan masalah

A. Hasil Penelitian

1. Gaya belajar mahasiswa angkatan 2012 prodi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Tahun Akademik 2013/2014

Setiap subjek dilihat berdasarkan gaya belajar independent, avoidant, collaborative, dependent, competitive dan participant. Gaya belajar akan ditampilkan ke dalam tabel dan grafik.Kategori pada tabel 4 diterapkan sebagai patokan dalam pengelompokan tinggi rendah tingkat gaya belajarmahasiswa angkatan 2012 peraspek dengan jumlah item = 10 setiap aspeknya, diperoleh unsur perhitungan capaian skor subjek sebagai berikut:

Skor maksimum teoritik : 4 x 10 = 40 Skor minimum teoritik : 1 x 10 = 10

Luas jarak : 40-10 = 30

Standar deviasi (σ / sd) : 30 : 6 = 5 µ (mean teoritik) : (40+10) : 2 = 25

(57)

Tabel 5.

Kategorisasi Gaya Belajar Mahasiswa Angkatan 2012

Norma/Kriteria Skor Rentang Skor

Kategori Gaya Belajar

Independent Avoidant Collaborative Dependent Competitive Participant

Distribusi

Hasil penelitian mengena gaya Belajar mahasiswa angkatan 2012 Prodi Bimbingan dan Konseling disajikan juga dalam bentuk grafik yaitu grafik 1.

(58)

a. Gaya belajar mahasiswayang sangat tinggi adalah independent 5%,

avoidant 2%, collaborative 30%, dependent 6%, competitive 2%, dan

participant 18%.

b. Gaya belajar yang tinggi adalah independent 53%, avoidant 12%,

collaborative 62%, dependent 68%, competitive 23%,dan participant

67%.

c. Gaya belajar yang sedang adalah independant 28%, avoidant 50%,

collaborative 8%, dependent 26%, competitive 39%, dan participant

15%.

d. Gaya belajar yangrendah adalah independent 0%, avoidant 33%,

collaborative 0%, dependent 0%, competitive24% dan participant 0%. e. Gaya belajar yang sangat rendah adalah independent 0%, avoidant 3%,

(59)

angkatan 2012 Prodi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma dalam implikasinya untuk mengusulkan topik-topik bimbinganbelajar.

Kategori pada tabel 4 diterapkan sebagai patokan dalam pengelompokan tinggi rendah skor item gaya belajarpada mahasiswa angkatan 2012 Prodi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma dengan jumlah subjek = 66, diperoleh unsur perhitungan skor item sebagai

Kategorisasi Skor ItemGaya Belajar Mahasiswa Angkatan 2012

Norma Skor Rentang Skor

Kategori Nomor Item Gaya Belajar Jumlah

Independent Avoidant Collaborative Dependent Competitive Participant

(60)

a. Item gaya belajar dalam kategori sangat tinggi yaitu avoidant 1 item,

collaborative 2 item, dependent 2 item dan tidak ada item gaya belajar

independent, competitive dan participant dalam kategori sangat tinggi.

b. Item gaya belajar dalam kategori tinggi yaitu independent 7 item, avoidant 1 item, collaborative 8 item, dependent 5 item, competitive 4 item, dan

participant 5 item.

c. Item gaya belajar dalam kategori sedang yaitu independent 2 item, avoidant 5 item, dependent 2 item, competitive 3 item, participant 3 item dan tidak ada item gaya belajar collaborative dalam kategori sedang.

d. Item gaya belajar dalam kategori rendah yaitu independent 1 item, avoidant 3 item, dependent 1 item, competitive 2 item, dan tidak ada item gaya belajar

collaborative dan participant dalam kategori rendah. e. Tidaka ada item gaya belajar dalam kategori sangat rendah

Jadi item-item gaya belajar sebagian dalam kategori tinggi dan hanya sebagian yang dalam kategori sangat tinggi, sedang dan rendah.

B. Pembahasan Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan yang tergambar pada tabel 5 dan grafik 1, gaya belajar mahasiswa sangat tinggi adalah independent

53%, avoidant 12%, collaborative 62%, dependent 68%, competitive 23%,dan

(61)

participant 67%. Gaya belajar dalam kategori sedang adalah independant 28%,

avoidant 50%, collaborative 8%, dependent 26%, competitive 39%, dan

participant 15%. Gaya belajar dalam kategori rendah adalah independent 0%,

avoidant 33%, collaborative 0%, dependent 0%, competitive24% dan participant

0%. Gaya belajar dalam kategori sangat rendah adalah independent 0%, avoidant

3%, collaborative 0%, dependent 0%, competitive 0%, dan participant 0%. Berdasarkan paparan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa sebagian mahasiswa telah memiliki gaya belajar independent, collaborative, dependent, competitive, participant yang tinggi dan hanya sebagian kecil mahasiswa memiliki gaya belajar yang avoidant tinggi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya memiliki hanya satu gaya belajar. Mahasiswa menggunakan beberapa gaya belajar di dalam menerima, mengolah dan memproses materi perkuliahan. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni faktor fisik, emosional, sosiologis dan lingkungan. Selain faktor-faktor tersebut gaya belajar juga dipengaruhi oleh tipe kepribadian, kebiasaan atau habit, serta berkembang sejalan dengan waktu dan pengalaman.

Setiap gaya belajar akan mempengaruhi gaya belajar yang satunya yaitu

independent tinggi maka dependent rendah, Participant tinggi maka avoidant

(62)

mata kuliah yang menuntut mahasiswa independent dan dependent. Selain itu juga, ketidakseimbangan independent dan dependent juga dipengaruhi oleh pemilihan item-item kuesiner yang kurang sesuai dengan pengalamannya sendiri. Sedangkan gaya belajarparticipant danavoidant , collaborative dan competitivesaling mempengaruhi dimanaparticipant tinggi (67%) maka

avoidant rendah (12%),dan collaborative tinggi (62%) maka competitive(23%). Hasil tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa ketika menggunakan gaya belajar

participant ketika belajar maka gaya belajar avoidantnya akan menjadi rendah dan bila mahasiswa mahasiswa belajar menggunakan gaya belajar collaborative

maka gaya belajar competitivenya akan rendah.

Mahasiswa yang memiliki gaya belajar independent adalah orang yang suka berpikir untuk diri sendiri, memilih untuk bekerja sendiri, tetapi mendengarkan ide orang lain, hanya mempelajari apa yang mereka anggap penting dan percaya dengan kemampuan mereka, dan memilih kelas yang menganut student-centerd karena mereka suka membentuk pengetahuan mereka sendiri. Mahasiswa yang memiliki gaya belajar independent yang tinggi mengerjakan tugas-tugas dengan serius. Mahasiswa yang memiliki gaya belajar

(63)

berpartisipasi dalam diskusi kelas dan menyukai evaluasi diri. Mahasiswa yang memiliki gaya belajar ini tidak memiliki keinginan untuk belajar karena mereka menggangap bahwa apa yang dipelajari tidak menarik dan jarang mengerjakan tugas. Hal ini dipengaruhi motivasi belajar mahasiswa yang rendah hingga menyebabkan mahasiswa kurang berminat untuk mengikuti perkuliahan dan tidak mengerjakan tugas

Mahasiswa yang memiliki gaya belajarcollaborative adalahorang yangbelajar dengan berbagai ide dan bakat, bekerja sama dengan para dosen dan suka bekerja sama dengan orang lain dan suka berdiskusi di kelas dan kelompok proyek.Faktor-faktor yang mempengaruhi gaya belajar mahasiswa angkatan 2012 adalah Kebiasaan belajar mahasiswa 2014 yang dari semester I mengerjakan tugas kelompok. Dalam kelompok mahasiswa dituntut untuk mengungkapkan pendapat ataumasukan-masukan, dan mendengarkan pendapat orang lain agar mencapai tujuan yang di harapkan.

Mahasiswa yang memiliki gaya belajar dependent adalah individu yang rasa ingin tahu intelektualnya hanya sedikit, belajar hanya apa yang dibutuhkan, melihat guru dan teman sebaya sebagai sumber struktur daan dukungan figure otoritas untuk menetapkan pedoman, serta menyelesaikan tugas sewaktu tenggang dan sesuai instruksi. Mahasiswa yang memiliki gaya belajardependent

(64)

untuk mengerjakan tugas. Pemberian instruksi yang dilakukan secara berulang-ulang tersebut membuat mahasiswa mulai terbiasa belajar sesuai instruksi hingga akhirnya mereka tidak dapat belajar kalau tidak ada instruksi.

Mahasiswa yang memiliki gaya belajar competitive adalah individu yang mempelajari materi agar lebih baik dari orang lain, berkompetisi dengan mahasiswa lain untuk mendapatkan reward dan menggangap kelas sebagai situasi menang-kalah, dimana mereka yang harus menang. Mahasiswa yang tingkat gaya belajar competitive yang tinggi akan berusaha menyelesaikan semua tugas dan ujian dengan baik dari mahasiswa lainnya supaya mendapat reward

dari dosen berupa pujian maupun nilai. Mahasiswa memiliki gaya belajar

competitive dipengaruhi oleh faktor lingkungan keluarga yang menuntut mahasiswa untuk selalu menjadi yang terbaik. Hal ini membuat mahasiswa berusaha untuk menjadi yang terbaik di dalam kelas supaya menjadi kebanggan dalam keluarganya. Selain itu, gaya belajar competitive di pengaruhi oleh kebiasaan belajar yang dilakukan berulang-ulang untuk memotivasi mahasiswa di dalam belajar dan untuk mendapatkan prestasi.

Mahasiswa yang memiliki gaya belajar participant adalah warga kelas yang baik dan menikmati kelas, mengambil bagian dalam kegiatan kursus sebanyak mungkin dan bersemangat dalam melakukan persyaratan yang diperlukan dan opsional termotivasi. Mahasiswa yang memiliki gaya belajar

(65)

ini dipengaruhi oleh minat belajar mereka yang tinggi. Mahasiswa memiliki ketertarikan belajar di dalam kelas daripada harus berada dirumah.

Selain faktor-faktor yang telah di jelaskan pada setiap gaya belajar tersebut, mahasiswa memiliki banyak gaya belajar dipengaruhi juga oleh tuntutan setiap mata kuliah yang dipelajari. Mahasiswa dituntut untuk berkerja dalam kelompok, mengerjakan tugas individu, bersaing dalam mendapatkan poin di kelas, serta dituntut untuk mengikuti perkuliahan 70% setiap mata kuliah. Mahasiswa angkatan 2012 merupakan mahasiswa yang berada pada masa remaja akhir yang usianya rata-rata 18-21 tahun dan sebagian besar jauh dari orangtua dan tinggal di rumah kos. Hal ini juga mempengaruhi gaya belajar mahasiswa pada umumnya.

Jadi kalau dilihat secara keseluruhan bahwa mahasiswa menggunakan semua gaya belajar (independent, avoidant, collaborative, dependent, competitive

dan parcipant). Keenam gaya tersebut, adabeberapa gaya belajar kurang sesuai jika digunakan di Perguruan Tinggi. Gaya belajar yang kurang sesuai akan di jadikan usulan topik-topik bimbingan belajar.

C. Usulan Topik-topik Bimbingan Belajar

(66)

7 item, avoidant 1 item, collaborative 8 item, dependent 5 item, competitive 4 item, dan participant 5 item. Item gaya belajar dalam kategori sedang yaitu

independent 2 item, avoidant 5 item, dependent 2 item, competitive 3 item,

participant 3 item dan tidak ada item gaya belajar collaborative dalam kategori sedang. Item gaya belajar dalam kategori rendah yaitu independent 1 item,

avoidant 3 item, dependent 1 item, competitive 2 item, dan tidak ada item gaya belajar collaborative dan participant dalam kategori rendah. Tidak ada item gaya belajar dalam kategori sangat rendah. Jadi item-item gaya belajar sebagian dalam kategori tinggi dan hanya sebagian yang dalam kategori sangat tinggi, sedang dan rendah. Berdasarkan hasil pengukuran item-item gaya belajar disusun topik-topik bimbingan belajar.

Usulan topik-topik bimbingan belajar disusun berdasarkan item gaya belajar yang kurang ideal jika terlalu tinggi digunakan di perguruan tinggi. Mengingat bahwa proses belajar di Perguruan Tinggi bervariasi dan sering menggunakan berbagai metode perkuliahan maka keenam gaya belajar tersebut mau tidak mau perlu digunakan sesuai dengan tuntutan di Perguruan Tinggi.Item-item yang digunakan untuk usulan topik bimbingan belajar adalah itemdependent, item

competitive dan item avoidant.

(67)
(68)

Tabel 7.

Usulan Topik-topik Bimbingan Belajar Mahasiswa Angkatan 2012

Prodi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Tahun Akademik 2013/2014

No. Dimensi Gaya Belajar

No. Item Topik Bimbingan

Tujuan Indikator Metode Sumber

1. Dependent 4.Saya ingin tahu dengan

jelas harapan dosen

2. Competitive 41. sangat penting bagi saya

(69)

47. untuk menjadi yang terbaik di

Avoidant 56. selama di dalam kelas, saya

(70)

orang-52

Bab ini akan memuat kesimpulan dari hasil penelitian dan saran-saran bagi mahasiswa angkatan 2012 Prodi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma serta pihak-pihak yang terkait dengan manfaat penelitian.

A. KESIMPULAN

Hasil penelitian menunjukan bahwa mahasiswa angkatan 2012 Prodi Bimbingan dan Konseling Universitas Santa Dharma Tahun Akademik 2013/2014 memiliki gaya belajar independent, avoidant, collaborative, dependent, competitive, dan participant. Mahasiswa tidak hanya menggunakan satu atau dua gaya belajar saja tetapi mereka belajar dengan menggunakan gaya belajar yang sesuai dengan materi perkuliahan. Beberapa usulan topik bimbingan belajar yang diusulkan adalah kemandirian belajar, berpikir menang-menang dalam belajar, dan motivasi belajar.

B. SARAN

Berikut ini dikemukan beberapa saran yang sesuai dengan hasil penelitian untuk berbagai pihak:

1. Peneliti Lain

(71)

di dalam kelas.

b. Perlu dilakukan penelitian dengan model gaya belajar yang lainnya sebagai perbandingan seperti gaya belajar David Kolb, gaya belajar Dunn, gaya belajar Myers-Briggs.

2. Prodi Bimbingan dan Konseling

Prodi dapat memperhatikan gaya belajar guna perkembangan pendampingan mahasiswa

3. Mahasiswa

(72)

54

Ali,Mohammad & Mohammad Asrori. 2011. Psikologi Remaja; Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Bumi Aksara.

Astuti, Endang Sri .2010. Bahan Dasar untuk Pelayanan Konseling pada Satuan Pendidikan Menengah (Jilid I). Jakarta: Grasindo

Azwar, Saifudin. 2012. Metode Penelitian.Yogyakarta: Pustaka Pelajar ____________ 2009. Penyusunan Skala Psikologis. Yogyakarta: Pustaka

Pelajar.

Deporter, Bobbi & Mike Hernacki. 2010. Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Bandung: Kaifa.

Djamarah, Syaiful Bahri. 2011. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Grasha-Riehmann. Grasha-Reichmann Student Learning Style Scales Inventory. Dalam http://cft.uiowa.edu/files/cft.uiowa.edu/files/Grasha%20Reichmann %20 Student%20Learning%20Style%20Scales%20Inventory.pdf diunduh pada tanggal 14 April 2014 pada pukul 13.35WIB

_______Student Learning Style Scales. Dalam

http://web.cortland.edu/andersmd/learning/Grasha.htm. Diunduh pada tanggal 14 April 2014 pada pukul 12.34 WIB

_______ Learning Style Survey. Dalam http://academic.cuesta.edu/

wholehealth/disted/ls_invent.htm diunduh pada tanggal 15 April 2014 pada pukul 12.26 WIB

_______Student Learning Style Scales dalam

http://www.angelfire.com/ny3/toddsvballpage/Cognitive/GR.pdf diunduh pada tanggal 17 Januari 2014 pada pukul 08. 35WIB

Gunawan, Adi W. 2007. Genius Learning Strategy. Jakarta: Gramedia. Ghufron, Nur & Rini Risnawita. 2012. GayaBelajar: Kajian Teoritik.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Gambar

Tabel  1: Komponen Grasha-Reichmann Student Learning Style Scale .
Tabel 1 Komponen Grasha Reichmann Student Learning Style Scale . View in document p.16
Grafik 1: Kecenderungan Gaya Belajar Mahasiswa Angkatan 2012
Grafik 1 Kecenderungan Gaya Belajar Mahasiswa Angkatan 2012 . View in document p.17
Komponen Grasha-Reichmann Tabel.1 Student Learning Style Scales
Komponen Grasha Reichmann Tabel 1 Student Learning Style Scales . View in document p.49
tabel 2.
tabel 2. . View in document p.50
Tabel 2 Menunjukkan bahwa ada beberapa item yang direvisi yaitu
Tabel 2 Menunjukkan bahwa ada beberapa item yang direvisi yaitu . View in document p.51
Norma KategorisasiGaya belajarTabel 4
Norma KategorisasiGaya belajarTabel 4 . View in document p.54
Grafik1. Gaya Belajar
Grafik1 Gaya Belajar . View in document p.57
Tabel 6. Kategorisasi Skor ItemGaya Belajar Mahasiswa  Angkatan 2012
Tabel 6 Kategorisasi Skor ItemGaya Belajar Mahasiswa Angkatan 2012 . View in document p.59
tabel 5 dan grafik 1,  gaya belajar  mahasiswa sangat tinggi adalah  independent
tabel 5 dan grafik 1, gaya belajar mahasiswa sangat tinggi adalah independent. View in document p.60
Tabel 7.
Tabel 7 . View in document p.68

Referensi

Memperbarui...

Download now (99 pages)