DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA PADA PENDERITA KUSTA

Gratis

0
0
181
9 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA PADA PENDERITA KUSTA SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Disusun Oleh: Katarina Peni NIM : 099114002 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI SKRIPSI DUKT]NGAN SOSIAL KELUARGA PADA PENI}ERITA KUSTA Drs. H. Wahyudi, M.Si. ranggat d.5..AU0...illt

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI SKRIPSI DUKUNGAIT SOSIAL KELUARGA PAI}A PENDERITA KUSTA Dipersiepkan dan Ditulis Oleh ' : Katsrine Peni {ffiq Penguji I Penguji tr Penguji III P;rrrr,yoal M.sil 16 Juni 2014 dan angan J,; *O L,' Yoeyakarta, ... t.5.. A[I.q... .2.011 Sanata Dharma Dr. Tarsisius Priyo lYidiyanto M.Si. ilt

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI MOTO DAN PERSEMBAHAN Letakan Tanganmu dalam tangan-Nya, dan berjalanlah sendirian bersama-Nya. Berjalanlah ke depan, karena bila engkau melihat ke belakang engkau akan kembali” (Mother Teresa). Semua usaha ini saya persembahkan untuk TUHAN YESUS dan BUNDA MARIA yang senantiasa memberkati Kongregasiku dan melindungi tercinta, tempat berkembang dan berkarya, hidup saya saya, tumbuh, yang telah membiayai hidup dan perkuliahan saya, Para suster yang terkasih yang mendukung dan mendoakan saya dengan semangat cinta dan persaudaraan, kedua orang tua, kakak dan adik-adik saya yang dengan penuh cinta meneguhkan dan mendoakan saya. iv

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PPRI\TYATAAFI KEASLIAI{ I(ARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwq skripsi yang say& tulis ini tidak msmuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebut dalan kutipan dan daftar pustaka" sebagaiman layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, I Juni, 2014 Penilis. 4t Katariira Peni- '{ \.\i

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA PADA PENDERITA KUSTA ( STUDI KUALITATIF DESKRIPTIF) Katarina peni ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana dinamika psikologis penderita kusta dan sejauh mana dukungan keluarga dialami dan diterima oleh penderita kusta. Penelitian ini mempunyai tiga pertanyaan pokok. Pertanyaan pertama, bagaimana dinamika psikologis dari seorang yang menderita sakit kusta? Pertanyaan yang kedua Sejauh mana keluarga terlibat dalam memberika dukungan kepada subjek? Pertanyaan ketiga adalah bentuk-bentuk dukungan seperti apa yang diterima selama sakit. Pendekatan kualitatif deskriptif dipilih untuk menjawab pertanyan penelitian tersebut. Penelitian ini melibatkan 3 subjek penderita kusta yang sedang menjalani proses pengobatan dan rehabilitasi kusta di rumah rehabilitasi kusta Sani-kabupaten Pati. Data penelitian diambil dengan cara wawancara semi-terstruktur. Kredibilitas diperoleh dengan cara member checking, yaitu dengan mencocokkan kembali data hasil analisis pada subjek untuk mencapai kesesuaian data hasil analisis dengan pengalaman nyata dari subjek. Mengacu pada fokus penelitian maka hasil penelitian menunjukan bahwa penyakit kusta menyebabkan ketiga subjek menjadi cacat dan kehilangan pekerjaan serta merasa minder dan mengisolasi diri dari lingungan sekitarnya. Ada dua tipe yang ditemukan dari pengalaman subjek terkait dengan dukungan yang diterima dari keluarga. Tipe pertama ditemukan pada subjek 1 dan subjek 2. Kedua subjek mendapatkan dukungan sosial yang kuat dari keluarga yakni dukungan emosional, dukungan informasional serta dukungan instrumental dan dukungan penilaian. Dukungan yang diterima dari keluarga membuat subjek menjadi lebih optimis serta memiliki harapan untuk sembuh dari sakit. Persepsi subjek terhadap penyakit, keluarga dan diri sendiri menjadi lebih positif dibanding dengan kondisi subjek sebelumnya. Hal lain yang dirasakan adalah subjek mampu menerima kondisi diri yang sesungguhnya dan berani mengambil keputusan untuk keluar dari rumah rehabilitasi. Tipe yang kedua ditemukan pada subjek 3 adalah subjek yang kurang mendapatkan dukungan dari keluarga. Subjek menjadi pribadi yang minder dan kurang mampu bersosialisasi dengan orang lain. Subjek merasa takut untuk kembali kepada keluarga dan memilih untuk tetap tinggal di rumah rehabilitasi Kata kunci : Dukungan Sosial Keluarga Pada Penderita Kusta. vi

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI FAMILY SOCIAL SUPPORT ON LEPER Qualitative Descriptive Study Katarina peni Abstract This study aims to see how is psychological process of Leper and in what extent their family support is experienced and received by Leper. There is three main research questions in this study. First, how is the psychological process of Leper? Second, in what extent family involved in giving support to the subject? Third, the type of support they received so far. Qualitative descriptive approach chosen to answer these research question. The research involving three subjects who had Leprosy and on the process of recovery and rehabilitation in Leprosy Rehabilitation house Sani – Pati Regency Data was collected by semi-structured interview. Credibility achieved by member checking, by re - matching the analyzed data to subject to get suitability of research analysis with the real subject experience. Concern on the research focuses, so the research result showed that Leprosy caused the three subject disabled and lose their job, also feel lack of self-esteem and isolated themselves from their surroundings. There are two type of family support they received based on their experiences. First type was found in subject 1 and 2 Both subject received stron social support from their family such as emotional, informational and instrumental, also evaluation. Family support they received form make them become more optimistic and have hope to recover from the illness. Subject perception, family and their own self become more positive compare to their previous condition. Other things they feel is that subject able to accept their actual condition and brave to make decision to get out from the rehabilitation house. the second type found in the 3rd subject, who are received lack of family support. Subject become a low self-esteem person, and unable to socialize with other people. Subject become frightened to come back to the family, and chose to stay in the rehabilitation house. keywords : family social support on Leper vii

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawa ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma Nama : Katarina Peni. Nim : 099114002 Demi pengembangan ilmu pengetahuan saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul Dukungan Sosial Keluarga Pada Penderita Kusta Beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian, saya memberikan Kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pemyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal: I Juni, 2014. Yang menyatakan, vilt

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KATA PENGHANTAR. Limpah syukur dan terima kasih atas Rahmat dan penyertaan Tuhan dalam seluruh perjalanan hidup penliti hingga saat ini, secara khusus saat memulai menulis dan menyelesaikan skripsi dengan judul “ Dukungan Sosial Keluarga Pada Penderita Kusta , sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana dari Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Tugas akhir dalam bentuk Skripsi ini ditulis berdasarkan keprihatinan dalam diri peneliti terhadap kehidupan penderita kusta. Peneliti ingin melihat sejauh mana keterlibatan keluarga dalam memberi dukungan kepada penderita kusta. Dalam penulisan skripsi ini, peneliti mendapatkan bantuan dari berbagai pihak dengan caranya tersendiri, memberikan dukungan dan bantuan kepada peneliti sehingga karya ini bisa terselesaikan. Untuk itu peneliti menghaturkan limpah syukur dan terima kasih kepada : 1. Bapak Dr. T. Priyo Widiyanto, M.Si. selaku dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, beserta seluruh staff dosen, dan karyawan yang telah banyak memberikan ilmu, arahan, perhatian, dan dukungan kepada peneliti dalam proses belajar untuk meningkatkan Ilmu pengetahuan dan kualitas hidup yang akan menjadi bekal untuk hidup dan karya pelayanan peneliti. 2. Ibu Ratri Sunar Astuti, M.Si., selaku Kepala Program Studi Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. ix

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3. Bapak Drs. H. Wahyudi. M.Si. Terima kasih atas waktu, selaku dosem pembimbing skripsi. kesabaran, pemikiran serta arahan dan bimbingan yang diberikan dari awal penulisan hingga terselesainya skripsi ini. Trima kasih bapa, peneliti belajar kesederhanaan hidup dari bapa. 4. Ibu. Dr. Tjipto Susana, M.Si., selaku dosen pendamping akademik. Sosok perempuan berhati tangguh, cerdas dan berjiwa sederhana. Ibu, trima kasih, peneliti belajar banyak hal tentang ketegasan, kesederhanaan dan ketangguhan dalam berjuang. 5. Ketiga subjek yang telah membagikan pengalamannya untuk penelitian ini. 6. Br. Yunus. MTB. Kepala Rumah Rehabilitasi Kusta Sani- Kabupaten Pati. 7. Para suster Kongregasi Suster Santo Fransiskus Charitas, secara khusus komunitas Serafim –Yogyakarta, atas doa dan kasih, kepercayaan dan segala bentuk bantuan, baik bantuan secara material maupun spiritual. 8. Kedua orang tua kakak dan adik-adiku terkasih. Terima kasih atas doa dan cinta dari bapa dan mama, kakak dan adik-adik yang menjadi kekuatan tersendiri untuk peneliti. 9. Keluarga besar Rumah rehabilitasi kusta Sani, Bu Sri, Bu Warni, mbak Tursinah, Pak Gun, mbak Karsih, Rumain, Mas Rio, Pak Min, Mas Narno. Lia, Damar dan Ria. Terima kasih atas kebersamaan kita selama 1 minggu di Sani. x

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10. Jeanet Maurein Wola. S. Psi. Semua kisah menjadi berkat karena selalu ada keceriaan dan semangat. Itulah sosok Jeje. Teman seperjuangan penelili untuk saling mendukung dan berbagi. Terima kasih Jeje. Peneliti bangga dan tetap mengingat semua perhatian dan kasih dari Jeje untuk peneliti. Jeje adalah Teman sekaligus adik yang baik hati. 11. I Made Adi Mahardika. S. Psi. Sosok yang tekun , tegas dan murah hati. Terima kasih Adi, atas kesetian dan ketulusan dalam membantu peneliti dari awal hingga selesainya penulisan. 12. Teman-teman angkatan 2009 . Terimakasih atas canda tawa, suka duka, dan kebersamaan kita selama ini. Kenangan bersama kalian tidak akan terlupakan. 13. Semua pihak yang membantu hingga terelesainya skripsi ini. Peneliti menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyelesaian skripsi ini, sehingga segala kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan demi kelayakan karya tulis ini. Terima Kasih. Yogyakarta, 30 April 2014 Katarina Peni. xi

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL...............................................................................................i HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING..................................ii HALAMAN PENGESAHAN..............................................................................iii HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN.................................................iv HALAMAN PERNYATAAN HASIL KARYA.................................................v ABSTRAK.............................................................................................................vi ABSTRACT..........................................................................................................vii LEMBARAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH................viii KATA PENGANTAR..........................................................................................ix DAFTAR ISI.........................................................................................................xii DAFTAR TABEL...............................................................................................xiv DAFTAR LAMPIRAN.......................................................................................xiv BAB I. PENDAHULUAN.....................................................................................1 A. Latar Belakang.......................................................................................1 B. Rumusan Masalah..................................................................................7 C. Tujuan Penelitian...................................................................................7 D. Manfaat Penelitian.................................................................................8 BAB II. LANDASAN TEORI ............................................................................9 A. Dukungan Sosial Keluarga...................................................................9 1. Definisi tentang Dukungan Sosial Keluarga...................................9 2. Jenis-Jenis Dukungan Sosial Keluarga............................................8 xii

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3. Manfaat Dukungan Sosial Keluarga.............................................10 B. Keluarga..............................................................................................13 1. Definisi Tentang Keluarga............................................................13 2. Fungsi Keluarga..........................................................................14 C. Penyakit Kusta...................................................................................151 1. Definisi Tentang Penyakit Kusta............................................... ..15 2. Faktor-faktor Yang Menentukan Terjadinya Sakit Kusta.............16 3. Kondisi Psikologis Pada Penderita Kusta.....................................18 4. Dukungan Sosial Keluarga Dan Kesehatan..................................21 5. Dukungan Sosisal Keluarga Pada Penderita Kusta.......................22 D. Refiew Penelitian Terdahulu..............................................................22 E. Kerangka Penelitian...........................................................................26 F. Pertanyaan Penelitian........................................................................27 1. Sentral Question...........................................................................27 2. Sub Question...............................................................................27 BAB III. METODOLOGI PENELITIAN .......................................................28 A. Jenis Penelitian.....................................................................................28 B. Fokus Penelitian .................................................................................29 C. Subjek Penelitia...................................................................................29 D. Metode Pengambilan Data.......... ..................................................... ..31 E. Metode Analisis Data.......................................................................... 34 1. Organisasi Data.............................................................................34 2. Pengkodean Hasil Verbatim...........................................................35 3. Analisis Tematik............................................................................35 4. Rangkuman Tema-Tema Temuan Penelitian.................................36 F. Kredibilitas Penelitian..........................................................................36 BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.................................38 A. Pelaksanaan penelitian.........................................................................38 1. Persiapan Penelian.........................................................................38 2. Pelaksanaan Penelitian..................................................................39 B. Hasil Penelitian....................................................................................41 xiii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1. Subjek ..........................................................................................41 a. Identitas Subjek......................................................................41 b. Deskripsi Subjek......................................................................42 c. Riwayat Penyakit Kusta Pada Subjek......................................43 d. Deskripsi Tekstutal...................................................................44 e. Aspek Psikologis Pada Subjek................................................51 f. Dinamika Psikologis Pada Subjek..........................................52 g. Gambaran Tema-Tema Umum Subjek...................................56 h. Deskripsi Tematik Subjek.......................................................56 2. Subjek 2. .......................................................................................58 a. Identitas Subjek.......................................................................58 b. Deskripsi Subjek......................................................................58 c. Riwayat Penyakit Kusta Pada Subjek.....................................59 d. Deskripsi Tekstural..................................................................60 e. Aspek Psikologis Pada Subjek.................................................66 f. Dinamika Psikologis Subjek....................................................68 g. Gambaran Tema-Tema Umum Subjek ...................................71 h. 3. Deskripsi tematik Subjek ......................................................72 Subjek 3........................................................................................73 a. Identitas Subjek.......................................................................73 b. Deskripsi Subjek......................................................................73 c. Riwayat Penyakit Kusta Pada Subjek.....................................74 d. Deskripsi Tekstural..................................................................75 e. Aspek Psikologis Pada Subjek...............................................80 f. Dinamika Psikologis Subjek....................................................82 g. Gambaran Tema-Tema Umum Subjek ...................................83 h. Deskripsi tematik Subjek .......................................................83 4. Rangkuman Tema-Tema Temuan Dari Ketiga Subjek.................85 a. Dinamika Psikologis Subjek....................................................85 b. Dukungan Keluarga pada .......................................................88 c. Pembahasan.............................................................................99 xiv

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN..........................................................112 A. Kesimpulan....................................................................................... 112 B. Keterbatasan Penelitian......................................................................114 A. Saran........................................................................................................114 DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................115 LAMPIRAN.......................................................................................................117 DAFTAR TABEL Tabel 3.1. Subjek Penelitian...............................................................................30 Tabel 3.2. Panduan Pertanyaan Wawancara......................................................32 Tabel 4.1. Jadwal Wawancara............................................................................40 Tabel 4.2. Identitas Subjek 1..............................................................................41 Tabel 4.3. Aspek Psikologi Subjek 1.................................................................51 Tabel 4.4. Tema-Tema Umum Subjek 1.............................................................56 Tabel 4.5. Identitas Subjek 2...............................................................................58 Tabel 4.6. Aspek-Aspek Psikologis Subjek 2.....................................................66 Tabel 4.7. Tema-Tema Umum Subjek 2..............................................................71 Tabel 4.8. Identitas Subjek 3...............................................................................73 Tabel 4.9. Aspek Psikologis Subjek 3.................................................................80 Tabel 4.10. Tema-Tema Umum Subjek 3.............................................................83 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Keterangan Verbatim Untuk Semua Subjek Penelitian..................118 Lampiran 2. Protokol Wawancar.........................................................................119 Lampiran 3.Tema-tema Subjek 1.........................................................................121 Lampiran 4. Verbatim Subjek 1...........................................................................124 Lampiran 5 Tema-Tema Temuan Pada Subejk 2.................................................140 Lampiran 6 Verbatim Subjek 2............................................................................142 xv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 7. Tema-tema Temuan Pada Subejk 3.................................................153 Lampiran 8. Verbatim Subjek 3.........................................................................155 Lampiran 9. Surat pernyataan wawancara...........................................................163 xvi

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penyakit kusta atau lepra adalah sebuah penyakit infeksi menular kronis yang disebabkan oleh mycobakterium leprae. Kusta menular dari penderita yang tidak diobati ke orang lainnya melalui pernapasan dan kontak kulit. Hal ini yang memunculkan ketakutan pada manusia, bahkan dikatakan bahwa sampai dengan ditemukannya AIDS, kusta adalah penyakit yang paling menakutkan dari penyakit menular lainnya. (Ditjend PPM & PL, 2002). Dalam Departemen Kesehatan RI (2006) dikatakan bahwa penyakit ini menimbulkan kompleksitas persoalan dalam kehidupan manusia karena penyakit kusta bukan hanya masalah medis, tetapi meluas sampai masalah sosial, ekonomi, keamanan dan ketahanan nasional. Zulkifli, (2003) mengatakan bahwa masalah yang dihadapi penderita kusta bukan hanya dari medis saja, tetapi juga adanya masalah psikososial. Lauhenapessy, (1980) dalam hasil seminarnya mengatakan bahwa penderita kusta dengan kulit yang menebal kemerahan dan dengan anggota badan yang cacat biasanya berusaha menjauhkan diri dari masyarakat sekitarnya, karena penderita kusta merasa malu dan rendah diri. Hal senada dikatakan oleh Afical (2005) dimana penderita kusta cenderung mengisolasi diri dari masyarakat. Mereka mulai mengembangakan rasa benci terhadap diri, karena merasa bahwa kehadiran mereka hanya menjadi momok bagi masyarakat dan keluarga. 1

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 Ada beberapa faktor yang menyebabkan penderita kusta tetap merasa rendah diri antara lain, adanya stigma yang berkembang di masyarakat yang menganggap bahwa penyakit kusta sebagai kutukan Tuhan, (Afical, 2005). Ada ketakutan yang berlebihan terhadap penyakit kusta dan orang yang menderita kusta (leprophobia) dari masyarakat, keluarga dan sebagian petugas kesehatan. (Depkes, RI, 2006). Ketakutan ini muncul karena adanya resiko penularan yang disebabkan oleh penyakit tersebut. (Zukifly, 2003) Afical (2005) mengatakan bahwa meskipun penderita kusta telah sembuh secara medis, predikat kusta tetap melekat pada dirinya seumur hidup. Predikat inilah yang menjadi dasar permasalahan psikologis pada penderita yakni merasa takut, kecewa, tidak percaya diri, malu, merasa diri tidak berharga. Masih pada hal yang sama dalam WHO (2004) dikatakan bahwa, stigma dan diskriminasi sosial yang berkembang di masyarakat menyebabkan penderita kusta akan menyembunyikan kondisi mereka serta menarik diri dari kontak sosial yang normal. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Tinuk I, S & W, Laksono. (2009), terhadap 8 orang penderita kusta, untuk melihat persepsi subjek sebagai penderita terhadap penyakit kusta dan sikap subjek sebagai penderita terhadap masyarakat, melalui wawancara mendalam yang dilakukan terhadap ke 8 subjek tersebut, terungkap bahwa ke 8 subjek menarik diri atau membatasi diri dalam pergaulan dengan masyarakat. Hal ini dilakukan oleh subjek untuk mengurangi cap buruk atau stigma terhadap mereka. Selain itu, ke

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 8 subjek memiliki persepsi bahwa penyakit kusta adalah penyakit yang berbahaya dan menakutkan serta dapat menimbulkan kecacatan dan kematian. Hal senada juga terungkap dalam wawancara dengan subjek dibawah ini. Dari hasil wawancara dengan subjek terungkap bahwa, subjek menolak dan merasa sedih setelah terdiagnosa sebagai penderita kusta. Subjek mulai mengembangkan pikiran-pikiran negatif terhadap diri serta ketakutan akan resiko yang akan dihadapi sebagai penderita kusta. “ Pertama kali ya takut, takut, ya sedih begitu, ya percaya nda percaya, waktu itu, rasanya itu nda yakin, bingung, nangis malahan, pergulatanlah waktu mendengar itu, percaya nda percaya waktu itu. Pikiran saya itu ada bagian dari tubuh saya itu pasti hilang, pikiran saya itu, jari- jari saya itu pasti hilang, cemas, cemas ya gimna, Macem-macem pikiran saya, ya kehilanagn teman, keluarga ya pekerjaan.” (RO, wawancara, 26 September, 2013). Dalam Departemen Kesehatan RI, dikatakan bahwa dukungan sosial berupa pendampingan psikologis, merupakan bagian penting yang harus diberikan kepada penderita kusta (Dep Kes RI 2005 ). Penderita membutuhkan dukungan atau perhatian dari orang-orang dekat, secara khusus keluarga, karena keluarga merupakan unit paling kecil dan paling dekat dengan penderita yang mampu menjadi caregiver bagi penderita. Pendekatan dan dukungan yang diberikan kepada penderita kusta, mampu mengurangi rasa minder dan rasa rendah diri bagi penderita. Dengan demikian maka keluarga dapat memberikan ruang bagi mereka untuk diterima ditengah-tengah masyarakat. Friedman (2010) mengatakan sebagai tempat singgahnya kehangatan bahwa, keluarga harus berfungsi dukungan, cinta dan penerimaan. Keluarga menjalankan perannya untuk memberi perlindungan psikososial dan

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 dukungan terhadap anggotanya. Keluarga menyelesaikan tugas-tugas yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan anggotanya dengan memenuhi kebutuhan sosioemosional anggotanya. Keluarga merupakan bagian terdekat dari penderita yang berperan sebagai pembimbing sekaligus perantara untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh penderita. Keluarga juga mampu memberikan informasi-informasi penting tentang apa yang dibutuhkan oleh penderita. Terdapat sejumlah penelitian yang ditujukan untuk melihat dukungan sosial pada penderita kusta, diataranya adalah dukungan sosial keluarga dan persepsi penderita kusta terhadap penyakit kusta, yang dilakukan oleh Angelina. (2011). Penelitian ini merupakan penelitian kuatitatif deskriptif dengan desain cross sectional. Sampel yang diambil dalam penelitian ini berjumlah 42 orang dengan kriteria penderita kusta yang sedang menjalani pengobatan. Instrumen penelitian adalah quisioner dengan pengukuran menggunakan skala nominal. Hasil penelitian terhadap 42 responden penderita kusta tentang persepsi penderita tentang penyakit kusta dan dukungan keluarga terhadap penderita disimpulkan bahwa 78,6% memiliki persepsi baik tentang beratnya penyakit kusta, Sebagian besar penderita kusta memiliki persepsi yang baik tentang resiko dari penyakit kusta yakni sebesar 73.8%. 3. Hampir semua penderita kusta memiliki persepsi yang baik tentang konsekuensi tidak teratur berobat yakni sebesar 95.2%. 4. Sebagian besar penderita kusta memiliki persepsi yang baik tentang tindakan pencegahan kecacatan yakni sebesar

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 83.3%. 5. Sebagian besar penderita kusta memiliki persepsi yang baik tentang dukungan emosional yang diberikan oleh keluarga yakni sebesar 76.2%. 6. Sebagian besar penderita kusta memiliki persepsi yang baik tentang dukungan instrumental yang diberikan keluarga yakni sebesar 81%. 7. Sebagian besar penderita kusta memiliki persepsi yang baik tentang dukungan informasi dari keluarga yakni sebesar 83.3%. menerima dukungan dari keluarga yakni dukungan informasional, dukungan emosional dan dukungan instrumental. Ada pula penelitian yang dilakukan oleh Rahayu, (2011) dengan topik serupa, dimana sampel dari penelitian ini adalah keluarga dari penderita kusta yang sedang menjalani pengobatan. Hasil penelitian menunjukan bahwa mayororitas pemberi dukungan kepada penderita adalah keluarga inti dan hampir sebagian besar adalah perempuan. Dukungan psikososial caregiver penderita kusta, mencakup dukungan psikologis baik (73,8%), cukup (23,8%), dan kurang (2,4%), sedangkan dukungan sosial meliputi dukungan baik (73,8%) dan cukup (26,2%). Dengan demikian menunjukan bahwa keluarga memiliki kepedulian yang cukup baik, dalam memberikan dukungan kepada penderita. Hasil riset yang lain, yang dilakukan oleh Nurbaini, (2010) terhadap ODH, ditemukan bahwa dukungan sosial yang diberikan kepada penderita, akan meningkatkan mutu hidup bagi pasien dan mengurangi tingkat kesepian pada pasien. Saeed, T.,Mansur A, NN., Nas, F & Fatima, K. (2012), melihat tentang dampak antara dukungan sosial dan kualitas hidup bagi penderita diabetes. Keluarga dan significant others yang lain, mempunyai peran yang

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 cukup tinggi dalam memberikan dukungan kepada penderita. Dukungan sosial yang diberikan mampu mengurangi tingkat depresi pada penderita, peningkatan kualitas hidup, serta patuh terhadap pengobatan. Beberapa penelitian diatas memiliki fokus penelitian berbeda-beda. Penelitian yang dilakukan oleh Angelina, (201l), lebih difokuskan pada pemberian dukungan untuk mengubah persepsi penderita terhadap penyakit kusta. Peneliti lainnya yakni, Rahayu (2011), memfokuskan penelitiannya pada keterlibatan keluarga dalam memberikan dukungan kepada penderita dilihat dari sisi demografis keluarga. Penelitian lain dilakukan oleh Saeed, dkk (2012), memfokuskan penelitiannya pada dukungan sosial dan kualitas hidup pada penderita diabetes melitus. Ketiga penelitian tersebut diatas, menggunakan metode penelitian kuantitatif. Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya terkait dengan dukungan sosial terhadap penderita kusta, diketahui bahwa terdapat hubungan antara dukungan sosial dan perubahan persepsi pada penderita terhadap penyakit kusta, serta peningkatan kesehatan dan mutu hidup pada penderita. Hal ini memberikan peluang untuk dilakukannya penelitianpenelitian yang ditujukan untuk mengungkapkan secara lebih spesifik tentang bagaimana sebenarnya dukungan sosial keluarga mampu memberikan manfaat bagi penderita kusta. Sejauh mana dukungan tersebut memberikan perubahan pada penderita, baik itu persepsi, penerimaan diri maupun perubahan- perubahan psikologis lainnya pada penderita kusta.

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 Pada penelitian ini, peneliti menekankan pada pengalaman dari penderita kusta sebagai penerima suport dari keluarga. Peneliti juga melihat bagaimana dinamika psikologis dari penderita, sejauh mana keluarga berperan dalam memberikan dukungan kepada penderita kusta serta dampak dari dukungan keluarga dialami dan diterima oleh penderita kusta selama menjalani sakitnya. Penelitian yang dilakukan tentang pengalaman akan dukungan sosial keluarga pada penderita kusta akan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Peneliti merasa bahwa pendekatan kualitatif akan membantu dan memfasilitasi peneliti untuk memperoleh gambaran pengalaman penderita kusta akan peran dan dukungan keluarga didalam kehidupan penderita kusta. B. Perumusan Masalah. Permasalahan yang diteliti adalah. Bagaimana dinamika psikologis dari orang yang menderita sakit kusta? Bagaimana pengalaman subjek terhadap keterlibatan keluarga dalam memberikan perhatian dan dukungan kepada subjek. Bentuk-bentuk perhatian dan dukungan seperti apa yang diterima selama sakit. Sejauh mana dukungan keluarga berdampak pada penderita kusta. C. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian adalah untuk memberikan sebuah gambaran tentang bagaimana dinamika psikologis dari orang yang menderita sakit kusta serta dukungan keluarga yang diterima dan dirasakan oleh penderita terkait dengan kondisinya sebagai penderita kusta.

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 D. Manfaat Penelitian. 1. Manfaat teoritis Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat atau kontribusi dalam bidang psikologi khususnya psikologi kesehatan dan psikologi sosial. Dengan adanya penelitian ini orang akan mengetahui bahwa dukungan sosial keluarga untuk seorang yang menderita sakit, khususnya penderita penyakit kronis seperti kusta, dapat mengurangi tingkat stres pada penderita. Dukungan sosial keluarga juga mampu mengurangi rasa minder bagi penderita dan memampukan penderita untuk bisa bersosialisasi dengan lingkungan sosial. 2. Manfaat praktis. Secara praktis penelitian ini memberikan sumbangan informasi bagi keluarga, masyarakat atau yayasan-yayasan yang bergerak dalam penanganan orang-orang kusta, akan pentingnya peran keluarga dalam memberi dukungan kepada penderita. 3. Bagi keluarga penderita, menjadi sebuah sumbangan pembelajaran, sehingga keluarga mampu mengembangkan pola pendekatan yang membuat penderita sendiri merasa diterima dan diperhatikan sebagai bagian dari keluarga.

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II LANDASAN TEORI A. Dukungan Sosial Keluarga. 1. Definisi Tentang Dukungan Sosial Keluarga. Smet (1994) mengatakan bahwa dukungan sosial adalah pemberian rasa aman, perawatan ataupun penghargaan pada orang lain. Masih dalam lingkup yang sama, Gottlieb (Smet, 1994) mengatakan bahwa dukungan sosial terdiri dari informasi atau nasehat ferbal dan non verbal, bantuan nyata atau tindakan yang diberikan oleh keakraban sosial atau didapat karena kehadiran mereka dan mampu mempunyai manfaat emosiaonal bagi penerima. Cohen dan Wills (1985) mengatakan bahwa, dukungan sosial merupakan pertolongan dan dukungan yang diperoleh seseorang dari interaksinya dengan orang lain. Menurut Sarafino (2006), dukungan sosial didefinisikan sebagai perhatian, penghargaan atau bantuan yang diterima dari orang atau kelompok lain. Bantuan tersebut, mampu memberikan sebuah kenyamanan orang yang menerimanya. Dukungan sosial keluarga adalah sikap, tindakan dan penerimaan keluarga terhadap anggotanya. anggota keluarga memandang bahwa orang yang bersifat mendukung selalu siap memberikan bantuan dan pertolongan jika dibutuhkan (Friedman 1998). Masih dalam hal yang sama Kane dalam Friedman (1998) mendefinisikan dukungan sosial 9

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 keluarga sebagai sebuah proses hubungan antara keluarga dengan lingkungan sosial dengan melibatkan emosi dan kepercayaan dalam hubungan sosial tersebut. Menurut Gottlieb (1998) dalam Kuncoro (2002) dikatakan bahwa dukungan keluarga adalah komunikasi verbal dan non verbal, saran, bantuan yang nyata diberikan oleh orang-orang yang akrab dengan subjek didalam lingkungan sosialnya atau berupa kehadiran dan hal-hal yang dapat memberikan keuntungan emosional atau berpengaruh pada tingkah laku penerimanya. Dalam hal ini orang yang merasa memperoleh dukungan, secara emosional merasa legah karena diperhatikan, mendapatkan saran atau kesan yang menyenangkan pada dirinya. Dari beberapa defini diatas maka dapat disimpulkan bahwa dukungan sosial keluarga adalah sikap, tindakan dan penerimaan keluarga terhadap anggotanya. Dukungan tersebut berupa komunikasi verbal dan non verbal, saran, bantuan yang nyata, yang dapat memberikan keuntungan emosional atau berpengaruh pada tingkah laku penerimanya. Dalam hal ini orang yang merasa memperoleh dukungan, secara emosional merasa legah karena diperhatikan, mendapatkan saran atau kesan yang menyenangkan pada dirinya. 2. Jenis – Jenis Dukungan Sosial Keluarga. Keluarga sebagai unit terdekat, mempunyai peran dan tanggung jawab untuk memberikan dukungan kepada penderita. Dukungan yang

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 diberikan kepada seorang yang menderita penyakit kronis, seringkali membutuhkan sumber ekonomi, sosial dan psikologis yang kuat. Smet (1994) dan Caplan, (Friedman 2010) menjelaskan beberapa jenis dukungan keluarga, antara lain : 1. Dukungan informasional. Keluaraga berfungsi sebagai pencari dan penyebar informasi tentang dunia. Dalam hal ini keluarga berperan sebagai pemberi sugesti, saran, petunjuk, informasi serta umpan balik yang digunakan untuk mengungkapkan suatu masalah. 2. Dukungan penilaian. Keluarga bertindak sebagai sistem pembimbing umpan balik, membimbing serta sebagai perantara dalam pemecahan masalah. Dukungan ini terjadi melalui ekspresi penghargaan yang positif, dorongan yang semangat, atau persetujuan dengan ide atau perasaan yang dikemukakan individu serta perbandingan yang positif antara individu dengan orang lain 3. Dukungan Instrumental Keluarga merupakan sumber bantuan langsung dan praktis. Dalam hal ini keluarga berperan untuk memberikan bantuan langsung dalam hal ini, memperhatikan kesehatan penderita dalam hal kebutuhan dan minum, istirahat, serta membantu penderita dalam pemulihan kesehatannya. 4. Dukungan emosional

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 Mencakup ungkapan empati, kepedulian dan perhatian terhadap orang yang bersangkutan. Keluarga sebagai tempat yang aman dan damai untuk pemulihan dan istirahat dan membantu penguasaan emosi bagi penderita, serta mendorong penderita untuk mengkomunikasikan secara bebas mengenai kesulitan peribadi yang mereka alami. 3. Manfaat dukungan sosial keluarga. Wills dalam Friedman (2010) menyimpulkan bahwa dukungan sosial melindungi individu terhadap efek negatif dari stres dan secara langsung mempengaruhi akibat-akibat dari kesehatan. Masih dalam hal yang sama, Roth dalam Friedman( 2010) mengatakan bahwa dukungan sosial mampu mengurangi atau menyangga efek stres serta meningkatkan kesehatan mental individu atau keluarga. Kuncoro (2002), mengatakan bahwa dukungan keluarga mencakup jumlah sumber dukungan yang tersedia, mencakup persepsi individu terhadap sejumlah orang yang dapat berperan dan diandalkan saat individu membutuhkan bantuan. Cakupan lain dari dukungan keluarga adalah tingkat kepuasan akan dukungan yang diterima berkaitan dengan persepsi individu bahwa hal-hal yang dibutuhkan oleh individu tersebut akan terpenuhi.

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 B. Keluarga. 1. Definisi Tentang Keluarga. Smith (1995) mengatakan bahwa keluarga terdiri dari individu yang bergabung bersama oleh ikatan pernikahan, darah atau adopsi dan tinggal dalam satu rumah tangga yang sama. Bronfenbrenner, (dalam Friedman, 2010) mendefinisikan keluarga sebagai lembaga sosial yang memiliki pengaruh paling besar terhadap anggotanya dan mempengaruhi perkembangan individu, sehingga dapat menjadi penentu keberhasilan atau kegagalan hidup seseorang. Masih dalam hal yang sama, Friedman, (2010) mengatakan bahwa keluarga merupakan suatu kelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih, yang disatukan oleh kebersamaan dan kedekatan emosional serta yang mengidentifikasi dirinya sebagai bagian dari keluarga. Keluarga sebagai tempat terwujudnya rasa cinta dan kasih sayang antara anggota keluarga, antar kerabat, serta antar generasi yang merupakan dasar keluarga yang harmonis. Hubungan kasih sayang dalam keluarga merupakan suatu rumah tangga yang bahagia. Dalam kehidupan yang diwarnai oleh rasa kasih sayang maka semua pihak dituntut agar memiliki tanggung jawab, pengorbanan, saling tolong menolong, kejujuran, saling mempercayai, saling membina pengertian dan damai dalam rumah tangga. (Soetjiningsih 1995). Friedman (2010) membagi keluarga menjadi dua kategori yakni keluarga inti (Nuclear Family) dan extended family. Nuclear family

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 adalah keluarga yang terkait dengan pernikahan. Keluarga ini terbentuk karena adanya pernikahan, peran sebagai orang tua atau kelahiran. Keluarga ini terdiri atas suami, istri dan anak-anak, baik itu anak-anak biologis maupun anak-anak adopsi. Extended Fmily terdiri dari keluaga inti dan individu terkait lainnya oleh hubungan darah. Keluarga ini terdiri atas sanak saudara dapat mencakup nenek, kakek, bibi keponakan dan lain sebaginya. 2. Fungsi Kelurga. Singers, dkk ( dalam Friedman, 2010 ) menjelaskan ada 4 fungsi keluarga antara lain, 1. Fungsi afektif Keluarga sebagai sumber cinta, pengakuan dan dukungan primer, yang mampu memberikan perlindungan psikososial dan dukungan terhadap anggotanya, mengembangkan hubungan sosial yang positif, memberikan otonomi dan menjadi responsif terhadap kepentingan khusus dan kebutuhan anggota keluarga individu. Mampu menerima dan menghargai individualitas dan keunikan dari masing-masing anggota. 2. Fungsi sosialisasi Keluarga sebagai tempat belajar, dimana individu memulai proses pembelajaran sosial, disiplin, norma budaya dan prilaku sosial dalam fungsi sosialisasi, orang tua mengajarkan anak untuk mengemban peran orang dewasa dalam masyarakat.

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 3. Fungsi kesehatan Keluarga memberikan perawatan kesehatan, memberi promosi kesehatan, dan perawatan kesehatan preventif, serta berbagai perawatan bagi anggotanya yang sakit. Dalam hal ini keluarga memiliki tanggung jawab primer untuk memulai dan mengkoordinasi layanan yang diberikan oleh profesional kesehatan. 4. Fungsi Ekonomi Keluarga menyediakan kebutuhan fisik, seperti makanan, pakaian, hunian (sandang , pangan, papan). Keluarga memberikan jaminan kepada anggota keluarga untuk hidup sehat. Berdasarkan sejumlah definisi yang diutarakan oleh para ahli tentang keluarga, secara garis besar dapat diketahui bahwa keluarga adalah sekelompok individu yang terbentuk baik karena ikatan darah maupun perkawinan atau karena kedekatan emosional satu dengan yang lainnya, di mana masing-masing anggota memiliki peran untuk saling mengembangkan antara individu yang satu dengan individu yang lainnya. C. Penyakit kusta 1. Definisi Penyakit Kusta. Kata kusta berasal dari bahasa sansekerta, yakni kushtha yang berarti kumpulan gejala-gejala kulit secara umum. Penyakit kusta adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium leprae (M.leprae). Kuman golongan myco ini berbentuk batang yang tahan terhadap asam terutama asam alkohol dan oleh sebab itu disebut juga Basil

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 Tahan Asam (BTA). Penyakit ini bersifat kronis pada manusia, yang bisa menyerang saraf-saraf dan kulit. Bila dibiarkan begitu saja tanpa diobati, maka akan menyebabkan cacat-cacat jasmani yang berat. Namun, penularan penyakit kusta ke orang lain memerlukan waktu yang cukup lama tidak seperti penyakit menular lainnya. Masa inkubasinya adalah 2-5 tahun. Penyakit ini sering menyebabkan tekanan batin pada penderita dan keluarganya, bahkan sampai menggangu kehidupan sosial mereka. (Depkes RI, 2006, Health Kelly, Noel Bennet, 2009) Berdasarkan beberapa uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa penyakit kusta adalah penyakit menular yang menahun (kronis) disebabkan oleh kuman kusta (microbacterium leprae ) yang menyerang syaraf tepi, kulit dan jaringan tubuh lainnya, yang bisa menyebabkan kelumpuhan atau kececatan pada manusia,serta memiliki dampak sosial yang sangat luas bagi masyarakat. 2. Faktor-faktor Yang Menentukan Terjadinya Sakit Kusta. Menurut Departemen Kesehatan RI (2006), penyakit kusta dapat ditularkan dari penderita tipe multy bacillary ( MB ) ke orang lain dengan cara penularan langsung dan membutuhkan jangka waktu yang cukup lama, tergantung dari beberapa faktor antara lain a. Faktor penyebab. Penyebab penyakit kusta yaitu Mycobacterium leprae dimana untuk pertama kali ditemukan oleh G.H. Amuer Hansen pada tahun 1873. M. Leprae hidup intraseluler dan mempunyai afinitas yang

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 besar pada sel saraf ( schwan cell ). Dan sel dari sistem retikulo endotelial. Sumber penularan utama adalah Penderita kusta tipe MB, tetapi juga ditemukan bahwa kuman kusta dapat hidup pada hewan armadillo, simpanse, dan telapak kaki tikus putih. b. Sumber penularan. Hanya manusia satu-satunya sampai saat ini yang dianggap sebagai sumber penularan, walaupun kuman kusta armilado, simpanse dan pada telapak kaki tikus yang tidak mempunyai kelenjar thymus. c. Cara penularan. Kuman kusta mempunyai masa inkubasi selama 2- 3 tahun. Akan tetapi dapat juga bertahun-tahun. Penularan terjadi apabila M. Leparae yang utuh (hidup) keluar dari tubuh penderita dan masuk kedalam tubuh orang lain. Belum diketahui secara pasti bagaimana cara penularan penyakit kusta. Secara teoritis, penularan ini dapat terjadi dengan cara kontak yang lama dengan penderita. akan tetapi, penderita yang sudah minum obat sesuai regimen WHO, tidak menjadi sumber penularan kepada orang lain. Hanya sedikit orang yang akan terjangkit kusta setelah kontak dengan penderita, hal ini disebabkan karena adanya imunitas. Sebagian besar (95 %) manusia, kebal terhadap kusta. Hanya sebagian kecil dapat ditulari (5 %). Dari 5% yang tertular, sekitar 70% dapat sembuh sendiri dan hanya 30% yang menjadi sakit.

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 3. Kondisi Psikologis Pada Penderita Kusta. Carole,W & Carol, T., (2008) mengatakan bahwa kondisi psikologis adalah sebuah keadaan psikologis yang terjadi dalam diri seseorang yang berhubungan dengan prilaku dan berbagai proses mental serta bagaimana prilaku dan proses mental tersebut dipengaruhi oleh kondisi mental organisme dan lingkungan eksternal. Ketika subjek mengetahui bahwa dirinya menderita penyakit kusta, subjek tersebut merasa shock, malu, takut dan bingung. Secara perlahan subjek mulai mengasingkan diri dari keluarga dan orang-orang yang ada disekitarnya, sebaliknya subjek juga mulai dijauhi oleh kerabat, bahkan oleh keluarga sendiri. Semua ini dilatarbelakangi oleh ketidaktahuan subjek dan keluarga akan gejala penyakit sebelumnya serta stigma yang berkembang di masyarakat terhadap orang-orang yang menderita penyakit kusta. (wawancara personal, 29 April, 2013). Ada ketakutan akan resiko penularan, menyebabkan keluarga penderita merasa enggan dan bahkan merasa takut sehingga tidak berperan aktif dalam perawatan penderita kusta dan bahkan penderita diisolasikan atau dikucilkan dari tengah-tengah keluarga. (Depkes RI, 1996) Menderita penyakit kronis seperti kusta, merupakan salah satu pengalaman yang bersifat stressful bagi hampir semua penderita. Orang yang menderita penyakit kronis cenderung memiliki tingkat kecemasan yang tinggi dan cenderung mengembangkan perasaan hopelessness dan helplessness karena berbagai macam pengobatan tidak dapat

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 membantunya sembuh dari penyakit kronis. (Sarafino, 2006). Masalah lain yang dihadapi oleh penderita kronis adalah kehilangan pekerjaan dengan alasan emosional atau fisik yang menyebabkan pendapatannya berkurang Taylor (2003), menjelaskan tentang reaksi-reaksi yang muncul dari seseorang setelah terdiagnosa sebagai penderita penyakit kronis seperti kusta diawali dengan Shock, Denia, Anxiety/ kecemasan, Depresi. Shock adalah sebuah Perasaan bingung, terkejut dan takut. Reaksi ini biasanya muncul secara spontan dalm diri individu. Denia adalah sebuah mekanisme pertahanan diri yang dilakukan oleh individu untutk menghindari apa yang dialaminya. Individu akan menolak kenyataan bahwa, ia menderita suatu penyakit Anxiety/ kecemasan, individu merasa cemas ketika didiagnosa menderita penyaki kusta. Depresi akan muncul ketika terjadi proses denial dan anxiety. Hal ini terjadi karena banyaknya waktu yang habis untuk memahami kenyataan kondisi penderita. Radley (1994), menambahkan, bahwa penderita penyakit kronis seperti kusta, dapat mengalami tiga akibat dari penyakit yang dideritanya atau pengobatan yang dijalaninya, yang dapat mempengaruhi kehidupan penderita, yaitu : impairment, disability dan handicap. Impairment merupakan kondisi sementara atau permanen dari abnormalitas struktur tubuh atau fungsi, baik fungsi fisiologis maupun psikologis. Disability, merupakan keterbatasan atau kondisi berkurangnya suatu kemampuan untuk melakukan aktivitas secara layak sebagai akibat dari kondisi impairment. Akibat dari abnormalitas pada sebagian atau semua anggota

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 tubuh tertentu, menyebabkan seseorang mengalami kesulitan untuk melakukan aktivitas manusia normal, seperti : kesulitan bergerak, naik tangga, mandi, aktivitas kerja dan sebagainya. Handicap merupakan hasil dari penurunan yang dialami individu akibat kedisabilitasannya karena mengalami impairment ataupun disability, sehingga dapat membatasi atau mencegah pemenuhan sebuah peran. Selain itu Handicap juga merupakan kondisi dimana seseorang kehilangan atau keterbatasan kesempatan yang dimiliki untuk berpartisipasi dalam masyarkat. Lebih lanjut Charmaz (dalam Radley, 1994) menyatakan bahwa ada empat kondisi psikologis yang dapat dialami oleh orang yang hidup dengan penyakit kronis seperti kusta. Kehidupan yang terbatas (restricted life). Hal ini terjadi jika seseorang terpaksa “terpuruk” di rumah, baik karena sakit yang dirasakan maupun pengobatan yang sedang dijalani. Keterasingan sosial (social isolation). Adalah akibat dari penyakit seseorang atau pengobatannya sehingga penderita terpaksa tidak dapat melakukan interaksi sosial dengan orang lain atau dapat juga berasal dari perasaan penderita sendiri bahwa orang lain akan memperlakukan mereka berbeda. Ada pun hal lain yang dirasakan adalah definisi diri yang tidak baik (discrediting definition of self). Hal ini terjadi jika orang lain menunjukkan rasa ingin tahu yang berlebihan, sikap yang tidak bersahabat atau rasa tidak nyaman saat berhubungan dengan penderita. Selain itu dapat terjadi jika penderita tidak dapat lagi melakukan pekerjaan yang

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 sederhana seperti dulu. Keadaan-keadaan ini dapat menjadi sumber meningkatnya penilaian negatif terhadap diri sendiri. Penderita juga merasa menjadi beban bagi orang lain (becoming a burden on others). Hal ini terjadi bila seseorang menderita sakit yang berat sehingga tidak dapat lagi menjalankan tugasnya seperti dulu. Hal ini dapat menimbulkan perasaan tidak berguna, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. 4. Dukungan sosial keluarga dan kesehatan. Rott,1996 (dalam Friedman, 2010) mengatakan bahwa Individu yang berada dalam lingkungan sosial yang suportif umumnya memiliki kondisi yang lebih baik dibandingkan dengan individu tidak berada dalam kondisi lingkungan tersebut. Smet (1994) mengatakan bahwa dukungan sosial memiliki hubungan yang erat dengan kesehatan. Keberadaan dukungan sosial memberi keuntungan bagi kesehatan seseorang. Dukungan sosial dari keluarga adalah strategi koping penting yang harus ada dalam masa stres bagi keluarga. Bagi seorang yang menderita, dukungan sosial keluarga dianggap mampu menyangga efek stres dan meningkatkan kesehatan mental individu atau keluarga secara langsung. 5. Dukungan Sosial Keluarga Pada Penderita Kusta Keluarga sebagai sistem pendukung bagi penderita kusta diharapkan mampu memberi dukungan penuh dalam upaya perawatan penderita kusta, berkaitan dengan dampak yang akan dimunculkan oleh

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 penyakit kusta terhadap subjek maupun dampak-dampak psikososial lainnya akibat dari penyakit tersebut. (Zulkifli, 2003). Bagi seorang yang menderita penyakit kronis, dukungan dari orang-orang dekat sangatlah berarti. Seperti yang dikatakan dalam Departemen Kesehatan RI bahwa dukungan sosial berupa pendampingan psikologis merupakan bagian penting yang harus diberikan kepada penderita kusta (Dep kes RI 2005 ). Hal senada dikatakan oleh (Sarafino 2006). Taylor (2003) bahwa seseorang yang sedang menjalani penyembuhan suatu penyakit, memerlukan dukungan social, karena dukungan sosial dapat menurunkan kemungkinan penyakit, kecepatan untuk segerah pulih dari penyakit yang diderita, dan mengurangi resiko kematian yang disebabkan oleh penyakit tersebut D. Refiew Penelitian Terdahulu Tentang Dukungan Sosial Keluarga Pada Penderita Kusta. Terdapat beberapa penelitian terdahulu berkaitan dengan dukungan sosial keluarga pada penderita kusta. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Angelina. (2011) terhadap 42 orang penderita kusta yang sedang menjalani proses pengobatan. Subjek penelitian diminta untuk mengisi 18 pertanyaan terkait dengan persepsi penderita terhadap penyakit kusta. Adapun pokok pertanyaan tersebut adalah : a. Tanggapan penderita tentang berat atau tidaknya penyakit yang dialami. b. Tanggapan penderita akan resiko munculnya penyakit kusta di kemudian hari. c. Tanggapan penderita terhadap dampak positif dan negatif minum obat, dari awal

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 sampai selesai. d. Tanggapan penderita terhadap upaya-upaya yang dilakukan untuk mencegah terjadinya kecacatan. Subjek juga mengisi 17 pertanyaan terkait dengan dukungan yang diterima dari keluarga. Adapun pokok pertanyaan tersebut adalah : a. interaksi keluarga selama proses pengobatan. b. Interaksi keluarga terhadap penderita berupa penyediaan obat dan makanan. c. Interaksi keluarga dalam memberikan informasi kesehatan selama proses pengobatan. Hasil penelitianya menunjukan 78,6% memiliki persepsi baik tentang beratnya penyakit kusta, Sebagian besar penderita kusta memiliki persepsi yang baik tentang resiko dari penyakit kusta yakni sebesar 73.8%. 3. Hampir semua penderita kusta memiliki persepsi yang baik tentang konsekuensi tidak teratur berobat yakni sebesar 95.2%. 4. Sebagian besar penderita kusta memiliki persepsi yang baik tentang tindakan pencegahan kecacatan yakni sebesar 83.3%. 5. Sebagian besar penderita kusta memiliki persepsi yang baik tentang dukungan emosional yang diberikan oleh keluarga yakni sebesar 76.2%. 6. Sebagian besar penderita kusta memiliki persepsi yang baik tentang dukungan instrumental yang diberikan keluarga yakni sebesar 81%. 7. Sebagian besar penderita kusta memiliki persepsi yang baik tentang dukungan informasi dari keluarga yakni sebesar 83.3%. menerima dukungan dari keluarga yakni dukungan informasional, dukungan emosional dan dukungan instrumental.

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 Penelitian dengan topik yang sama dilakukan juga oleh Rahayu, (2011) penelitian difokuskan pada keluarga dari penderita kusta, untuk melihat bagaimana dukungan dari keluarga terhadap penderita kusta. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 42 orang dengan latar belakang berbeda-beda. Subjek penelitian diminta untuk mengisi kuesioner yang berisi instrumen tentang data demografis keluarga, antara lain, usia, jenis kelamin, penghasilan, hubungan dengan penderita, pendidikan, pekerjaan. Subjek juga diminta untuk mengisi kuesioner tentang dukungan psikosori keluarga. Hasil penelitian menunjukan bahwa dukungan psikososial caregiver penderita kusta, mencakup dukungan psikologis baik (73,8%), cukup (23,8%), dan kurang (2,4%), sedangkan dukungan sosial meliputi dukungan baik (73,8%) dan cukup (26,2%). Dukungan tersebut diberikan oleh caregiver yang mayoritas perempuan (73,8%), mayoritas merupakan keluarga inti (81%), mempunyai pendidikan menengah (52,4%) dan bekerja (71,4%) dengan rentang usia 20-58. Penelitian yang lain tentang dukungan sosial keluarga dilakukan oleh Nurbaini (2010), ditujukan kepada ODHA. (Orang dengan HIV/AIDS). Jumlah subjek dalam penelitian ini sebanyak 1 orang, dengan kriteria sebagai penderita HIV/ AIDS. Peneliti melakukan wawancara untuk mendapatkan data tentang gambaran dukungan sosial pada ODHA. Berdasarkan hasil penelitian, secara garis besar dapat dilihat gambaran dukungan sosial terhadap subjek yang merupakan ODHA,

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 cukup besar, dalam hal ini terlihat bahwa subjek mendapatkan dukungan sosial berupa emotional support, informational support, instrumental or tangible support, dan companionship support. Dukungan sosial yang diterima subjek tersebut ternyata berdampak positif terhadap aspek kesehatan, psikologis, sosial dan pekerjaan subjek, sehingga hal tersebut dapat membantu subjek dalam meningkatkan kesehatan, guna memerangi virus HIV. Dari beberapa penelitian terdahulu yang telah disebutkan diatas belum ada yang menggambarkan secara lebih spesifik tentang sejauh mana pengalaman subjek terkait dengan dukungan sosial yang diterima dari keluarga, sejauh mana subjek merasakan dampak dari masing-masing dukungan yang diterima, serta bagaimana dinamika psikologis dari subjek sebagai orang yang menderita sakit kusta. Hal-hal yang belum menjadi fokus penelitian pada penelitian terdahulu ini merupakan peluang bagi peneliti untuk meneliti tentang dukungan sosial pada penderita kusta, terkait dengan kedua fokus penelitian tersebut. 6. Kerangka penelitian : Dukungan sosial keluarga pada penderita kusta. Penyakit kusta membawa dampak luas bagi penderita. Secara fisik penderita menjadi cacat apabila tidak ada tindakan untuk melakukan penanganan dini. Ketika berada dalam lingkungan sosial penderita kusta dengan anggota badan yang cacat biasanya berusaha menjauhkan diri dari masyarakat sekitarnya, cenderung mengisolasi diri dari masyarakat dan mulai

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 mengembangakan rasa benci terhadap diri. Selain itu juga masih terdapat beberapa penolakan oleh masyarakat terhadap penderita kusta, antara lain dikeluarkan dari pekerjaan dan diceraikan pasangan, bahkan, tidak jarang diskriminasi ditunjukkan dalam bentuk keengganan petugas kesehatan melayani penderita kusta yang seharusnya justru memberikan pelayanan kepada penderita. Situasi dilematis yang dialami oleh penderita tentulah tidak terlepas dari keterlibatan orang-orang yang ada disekitar untuk membantu memberikan dukungan. Dukungan berupa pendampingan psikologis merupakan bagian penting yang harus diberikan kepada penderita kusta. Penderita membutuhkan dukungan atau perhatian dari orang-orang dekat secara khusus keluarga, karena keluarga merupakan unit paling kecil dan paling dekat dengan penderita yang mampu menjadi caregiver bagi penderita. Pendekatan dan dukungan yang diberikan kepada penderita kusta mampu mengurangi rasa minder dan rendah diri bagi penderita. Dengan demikian maka keluarga dapat memberikan ruang bagi mereka untuk diterima ditengah-tengah masyarakat. Keluarga menjalankan perannya untuk psikososial memberi perlindungan dan dukungan terhadap anggotanya. Keluarga menyelesaikan tugas-tugas yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan anggotanya dengan memenuhi kebutuhan sosioemosional anggotanya. Keluarga merupakan bagian terdekat dari penderita yang berperan sebagai pembimbing sekaligus perantara untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 penderita. Keluarga juga mampu memberikan informasi-informasi penting tentang apa yang dibutuhkan oleh penderita. 7. Pertanyaan penelitian a. Central Question Bagaimana pengalaman akan dukungan keluarga pada orang yang menderita sakit kusta? b. Subquestion adalah pertanyaan yang mengarah pada pertanyaan penelitian utama. Subquestion pada penelitian ini adalah : 1. Bentuk-bentuk dukungan seperti apa sajakah yang diterima dari keluarga? 2. Sejauh mana dukungan keluarga berdampak pada penderita?

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Denzin & lincoln, (dalam Moleong, 2013) menuliskan bahwa, penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan latar alamiah, dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan cara wawancara, pengamatan dan pemanfaatan dokumen. Melalui wawancara peneliti mendapatkan gambaran tentang dukungan sosial keluarga yang dialami dan diterima oleh penderita kusta selama menjalani sakitnya. Smith (2009) menegaskan bahwa analisis yang dilakukan dalam penelitian kualitatif, bersifat tekstural, di mana yang menjadi pokok bahasan adalah interpretasi terhadap maksud dari suatu teks. Jane Richie (dalam Moleong, 2013) menambahkan bahwa penelitian kualitatif adalah sebuah penelitian yang dilakukan dengan cara menyajikan dunia sosial dan perspektifnya di dalam dunia, dari segi konsep, prilaku, persepsi dan persoalan tentang manusia yang diteliti. Masih dalam hal yang sama, Smith, (2009) mengatakan bahwa dalam metode penelitian kualitatif, peneliti akan mengeksplorai, mendeskripsi dan menginterpretasi pengalaman personal dan sosial dari partisipan. Pada penelitian ini peneliti masuk kedalam dunia sosial dan dinamika kehidupan penderita kusta, sehinga peneliti mampu melihat bagaimana perspektif penderita terhadap 28

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 dunianya, bagaimana kehidupan penderita kusta dan sejauh mana dukungan keluarga dirasakan oleh penderita. B. Fokus Penelitian Ada dua bagian yang menjadi fokus dari penelitian ini antara lain, pertama adalah pengalaman subjek sendiri terkait dengan dukungan dari keluarga. Sejauh mana subjek merasakan dukungan dari keluarga selama subjek menjalani sakitnya sebagai seorang penderita kusta. Bagaimana keluarga memberi dukungan, serta apa dampak yang dirasakan oleh subjek. fokus penelitian yang kedua adalah bagaimana dinamika psikologis penderita, berkaitan dengan kondisi subjek sebagai penderita kusta. C. Subjek Penelitian. Dalam penelitian ini, subjek yang diambil adalah penderita kusta yang tinggal di wisma rehabilitasi kusta di yayasan Sani, Kabupaten Pati Jawa Tengah. Ada pun jumlah subjek yang diambil dalam penelitian ini adalah sebanyak 3 orang, dengan kriteria sebagai berikut : a. Ketiga subjek bisa berkomunikasi dengan baik. b. Ketiga subjek secara medis dinyatakan sebagai penderita kusta. c. Ketiga subjek belum dinyatakan sembuh 100% secara medis. d. Ketiga subjek sedang menjalani proses pengobatan dan rehabilitasi. Hisnawi (2001), mengatakan bahwa pengobatan penderita kusta ditujukan untuk mematikan kuman kusta, sehingga tidak berdaya merusak jaringan tubuh, dan tanda-tanda penyakit menjadi kurang aktif dan akhirnya

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 hilang. Dengan hancurnya kuman, maka sumber penularan dari penderita terutama tipe multi basiler (MB) keorang lain terputus. Usaha selanjutnya adalah menjalani proses rehabilitasi, melalui pendampingan dan pelatihan kerja, dengan tujuan mempersiapkan penderita, sehingga dapat hidup layak sebagai anggota masyarakat yang mandiri, (Dep Kes, 2006). Tabel Subjek Penelitian Tabel 3. 1 No Nama Alamat 1 RO Klaten Kondisi sebelum sakit - - 2 RM Sukolilo - 3 TA Brebes - Aktif bekerja sebagai distributor farmasi di Bekasi Memiliki kondisi fisik sehat. (tidak cacat) Mempunyai relasi soasial yang baik dengan temanteman dan rekan kerja. Optimis dan bertanggung jawab terhadap keluarga. Tekun dalam bekerja. Aktif bekerja sebagai buruh di Bekasi. Kondisi fisik Sehat, (tidak cacat). Akrab, memiliki relasi yang baik dengan teman-teman. Aktif bekerja sebagai buruh di Brebes. Memiliki kondisi fisik yang sehat (tidak cacat) Terlibat dalam kegiatankegiatan di desa dan masjid. Mudah bergaul, memiliki relasi sosial yang baik dengan teman-teman.

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 D. Metode Pengambilan data. Menurut Lofland (dalam Moleong, 2004) sumber utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan. Pencatatan sumber data utama dilakukan dengan cara wawancara dan observasi yang merupakan hasil gabungan dari kegiatan melihat mendengar dan bertanya. Benister (Paton, 2006) mengatakan bahwa wawancara kualitatif bertujuan untuk memperoleh pengetahuan tentang makna-makna subjektif yang dipahami oleh individu, berkenan dengan topik yang diteliti dan bermaksud melakukan eksplorasi terhadap isu tersebut. Smith, (2009), mengatakan bahwa dalam penelitian kualitatif, wawancara dilakukan untuk memperoleh pengetahuan tentang maknamakna subjektif yang dipahami individu, berkenaan dengan topik yang diteliti dan bermaksud melakukan eksplorasi terhadap isu tersebut. Dalam penelitian ini, peneliti memilih teknik wawancara semi struktural dengan alasan, melalui wawancara semi terstruktur, memungkinkan peneliti dan partisipan melakukan dialog, dan pertanyaan-pertanyaan yang disusun sebelumnya dapat dimodifikasi menurut respon partisipan. Peneliti akan lebih fleksibel untuk menanyakan hal-hal yang lebih detail sesuai dengan topik penelitian. Peneliti membuat panduan wawancara melalui beberapa pertanyaan untuk membantu peneliti memperoleh apa yang menjadi maksud dan tujuan dari penelitian. Pertanyaan-pertanyan tersebut, berkaitan

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 dengan bentuk-bentuk dukungan sosial serta dinamika psikologis yang dialami penderita di yayasan rehabilitasi kusta, Sani, kabupaten Pati. Tabel 3.2. Panduan pertanyaan. Panduan pertanyaan No 1 Bagaimana awal mulanya anda menderita sakit kusta ? 2. Apa yang anda rasakan setelah anda mengetahui bahwa anda menderita sakit kusta? 3 Apa yang pikirkan setelah anda mengetahui bahwa anda adalah penderita kusta? 4 Dampak fisiologis yang dirasakan?  Apa saja tanda – tanda atau gejalah yang muncul dari penyakit tersebut?  Pengaruh ke badan yang dirasakan seperti apa Dampak Psikologis yang anda rasakan setelah menderita sakit kusta?  Perasaan apa yang muncul saat berrelasi atau berjumpa dengan orang lain?  Apa yang anda rasakan terhadap lambannya proses penyembuhan dari penyakit tersebut?  Apa yang anda rasakan dengan munculnya reaksi kusta yang kadang-kadang tidak diketahui? 5 Sejauh mana dukungan yang anda terima dari keluarga?  Bagaimana tanggapan dari keluarga setelah mengetahui bahwa anda menderita sakit kusta?  Apakah keluarga terlibat dalam memberikan dukungan atau bantuan selama anda sakit? 6 Bentuk-bentuk dukungan atau perhatian seperti apa yang anda terima dari keluarga ?

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 6 Apa yang anda rasakan dengan dukungan yang anda terima dari keluarga? Berdasarkan metode pengambilan data dan langkah-langkah di atas, maka peneliti menetapkan proses wawancara sebagai berikut: 1. Melakukan observasi awal ke yayasan Sani, sebuah yayasan rehabilitasi kusta di kabupaten Pati- Jawa Tengah, dengan tujuan mencari subjek sebagai responden atau informan dalam penelitian. 2. Peneliti meminta ijin kepada pihak yayasan untuk melakukan penelitian selanjutnya. 3. Peneliti kembali menghubungi pihak yayasan untuk melanjutkan penelitian di tempat tersebut. 4. Peneliti mengajukan proposal penelitian kepada pihak yayasan Sani Kabupaten Pati, dan meminta persetujuan dari pihak yayasan, bahwa peneliti akan tinggal di tempat tersebut selama beberapa hari untuk melakukan penelitian terhadap subjek (penderita kusta) yang tinggal di Rumah Rehabilitasi Sani. 5. Peneliti meminta kepada pihak yayasan untuk menentukan subjek yang menurut diagnosa medis masih positif sebagi penderita kusta. 6. Penilitian diawali dengan perkenalan dengan subjek. Peneliti mengajak subjek untuk bercerita sejenak seputar aktifitas keseharian di Rumah Rehabilitasi tersebut setelah itu peneliti menyampaikan maksud dan tujuan peneliti berdialog dengan subjek.

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 7. Peneliti meminta ijin untuk merekam selama proses wawancara berlangsung, dengan menggunakan alat bantu rekam HP. 8. Membangun raport, dengan tujuan agar proses wawancara dapat berjalan dengan baik dan subjek tidak sungkan untuk berceritera. 9. Peneliti mendengarkan dengan baik dan merekam seluruh isi pembicaraan dengan informan, setelah itu peneliti membuat verba teamnya. E. Metode analisis data. Analisis data menurut Patton (dalam Moleong, 2013) menjelaskan bahwa analisis data adalah proses mengatur urutan data , mengorganisasikannya ke dalam satu pola, kategori dan satu uraian dasar. Masih dalam hal yang sama, Patton (dalam Purwandari, 2005) menyatakan bahwa ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengolahan dan analisis data yaitu peneliti harus melapotkan data secara jujur dan selengkap mungkin untuk itu peneliti harus memonitor dan melaporkan seluruh proses yang berlangsung. Berikut ini adalah langkah-langkah analisis data dalam penelitian ini. 1. Organisasi data. Proses organisasi data dimulai dengan memindahkan data hasil rekaman kedalam bentuk tulisan dan menghasilkan verbatim yang sudah dibuat dalam bentuk kolom. Data yang dipindahkan adalah hasil rekaman asli atau data mentah yang diperoleh dari wawancara dengan

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 subjek penelitian. Untuk menghindari terjadinya kehilangan data-data penting dari hasil wawancara maka proses ini segera dilakukan. 2. Pengkodean Hasil Verbatim ( coding ) Koding adalah proses membubuhkan kode-kode pada verbatim yang diperoleh. Proses awal dilakukan dengan penomeran pada data mentah yang sudah ditranskrip dalam verbatim. Tujuan dari penomeran ini adalah untuk mempermudah peneliti dalam proses analisis data selanjutnya. Peneliti kemudian melanjutkan dengan pemberian kode yang diletakan dibelakang jawaban subjek. tujuan dari pemberian kode adalah untuk mempermudah mengenali data yang menjadi fokus penelitian. Peneliti tetap mempertahankan esensi kalimat yang diucapkan oleh subjek. 3. Analisis tematik. Analisis tematik merupakan proses mengkode informasi yang dapat menghasilkan daftar tema. Tema-tema yang ditemukan dapat mendeskripsikan fenomena yang terjadi dan menginterpretasi fenomena tersebut. Pada penelitian ini peneliti menemukan tema-tema pada masing-masing subjek sesuai dengan topik penelitian. Tema-tema tersebut digunakan oleh peneliti sebagai acuan untuk membuat deskripsi tekstural pada masing-masing subjek. Pada tahap ini peneliti menyertakan kutipan verbatim untuk memperkuat tema-tema temuan tersebut. Kutipan verbatim ditulis dengan huruf miring dan diberi tanda kutip.

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 4. Membuat rangkuman temuan penelitian. Rangkuman temuan penelitian dibuat setelah peneliti melakukan deskripsi tekstural dari masing-masing subjek. Peneliti kemudian membuat rangkuman tema-tema temuan dalam penelitian secara keseluruhan dan mendeskripsikan kembali dalam bentuk yang lebih spesifik yang bisa merangkum keseluruhan pengalaman dari ketiga subjek. F. Kredibilitas Penelitian. Kredibilitas adalah istilah yang digunakan untuk mengganti konsep validitas dalam penelitian kuantitatif. Kredibilitas penelitian kualitatif terletak pada keberhasilan peneliti dalam mencapai maksud mengeksplorasi masalah atau mendeskripsikan setting, proses, kelompok sosial atau pola interaksi yang kompleks. (Purwandari, 2005) . Menurut Sartakos, (dalam Purwandarai, 2001), Untuk mencapai kredibilitas dalam penelitian ini, maka peneliti mengunakan teknik member checking, dimana peneliti menyerahkan hasil wawancara berupa verbatim kepada informan. Peneliti meminta informan untuk membaca dan menyimak kembali verbatim yang ada serta memberikan penilaian apakah verbatim tersebut sesuai dengan realita atau sesuai dengan apa yang dikatakan oleh informan. Teknik ini memungkinkan peneliti untuk memeriksa dan mengoreksi transkrip penelitian sehingga peneliti segera melakukan refisi apabila ada kesalahan yang dimunculkan. (Creswell, 2009) Apabila hasil verbatimnya tidak sesuai dan membuat subjek merasa

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 keberatan maka peneliti akan membuat kembali verbatim sesuai dengan apa yang diinginkan oleh subjek. Sebaliknya apabila subjek menyetujui verbatimnya maka peneliti akan melanjutkan penelitian ke tahapan yang baru.

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Penelitian 1. Persiapan penelitian. Penelitian dilakukan di rumah rehabilitasi kusta Sani, desa Muktiharjo, kecamatan Margorejo - kabupaten Pati. Sani merupakan klinik rehabilitasi kusta yang didirikan pada tahun 1956. Semula klinik tersebut berfokus pada pelayanan orang tua dan jompo, namun karena banyaknya orang kusta yang membutuhkan pelayanan, maka tahun 1974 diadakan penambahan unit untuk pengobatan orang-orang yang menderita kusta. Sebelum memulai penelitian, peneliti mencari informasi tentang subjek melalui kerabat yang sedang menjalani studi di Fakultas Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Sanata Dharma. Setelah mendapatkan informasi tentang subjek, peneliti melakukan observasi awal ke rumah rehabilitasi kusta Sani, kecamatan Muktiharjo, kabupaten Pati. Dalam observasi awal, peneliti mencari informasi tentang subjek, melalui pihak yayasan, dengan kriteria subjek dalam penelitian ini, adalah mereka yang belum sembuh total dari penyakit kusta, dan sedang dalam proses rehabilitasi. Peneliti menyampaikan ijin kepada pihak yayasan untuk melakukan wawancara dengan subjek sebagai langkah awal untuk melakukan penelitian lanjutan. Peneliti kemudian bertemu dengan subjek 38

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 dan menyampaikan maksud dan tujuan dari penelitian ini. Setelah mendapat persetujuan dari subjek dan dari pihak yayasan, maka peneliti membuat kesepakatan dengan kedua pihak tersebut untuk melakukan penelitian lanjutan dengan waktu yang berbeda, setelah menunggu persetujan proposal dari dosen pembimbing. Dalam waktu yang berbeda, setelah mendapat persetujuan dari dosen pembimbing, peneliti kembali ke tempat yang sama untuk melakukan penelitian lanjutan. Pada kesempatan ini, peneliti membawa dan menyerahkan proposal penelitian kepada pihak yayasan sebagai bukti bagi peneliti untuk melakukan penelitian disertai panduan pertanyaan untuk wawancara ( interview guide ). Mengingat metode yang digunakan dalam proses pengambilan data adalah wawancara, dengan demikian maka peneliti menyiapkan alat bantu pengambilan data berupa pertanyaan wawancara, buku catatan dan alat perekam. Peneliti menciptakan situasi yang kondusif dan akrab dengan subjek sehingga mempermudah subjek untuk bercerita, megungkapkan banyak hal tentang pengalaman dan pergumulan subjek sebagai penderita kusta serta bagaimana gambaran dukungan sosial dari keluarga yang diterima subjek. 2. Pelaksanaan Penelitian Penelitian berlangsung pada tanggal 26 September sampai tanggal 30 September 2013, dengan jadwal wawancara sebagai berikut.

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 Tabel 4. 1. Jadwal wawancara. Subjek Subjek 1. Subjek 2. Subjek 3. Hari/ tanggal Waktu Kamis. 26 Sept. 2013 10.00 -11. 15. Sabtu . 28 Sept. 2013 16.00 - 17.30. Jumat. 27 Sept. 2013 08.30 - 10.00. Minggu. 29 Sept. 2013 09. 15- 10.30 Jumat. 27. Sept. 2013 15.00- 15.45 Minggu. 29. Sept. 2013 11.00- 12.50 Wawancara dilakukan di rumah rehabilitasi kusta Sani, kecamatan Muktiharjo, kabupaten Pati, Jawa Tengah. Pada awal wawancara peneliti membangun rapport dengan menanyakan kabar subjek serta situasi dan kondisi subjek yang dialami saat itu. Situasi wawancara terkesan santai, hal ini sengaja diciptakan untuk membantu subjek sehingga bisa bercerita dengan santai, tanpa perasaan segan atau takut untuk bercerita. Meskipun situasi terkesan santai, tetapi peneliti tetap menggunakan panduan wawancara sebagai acuan sehingga bisa menuntun subjek untuk bercerita seputar pengalamannya sebagai penderita kusta dan peran keluarga dalam mendampingi atau memberi dukungan kepada subjek. Wawancara terhadap ketiga subjek, dilakukan pada tempat dan waktu yang berbeda-beda, disesuaikan dengan waktu senggang yang ada di rumah rehabilitasi. Wawancara pertama untuk subjek 1. Dilakukan pada hari

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI kamis, tanggal 26 september 2013, 41 pukul 10.00-11.15, WIB. Pada kesempatan ini, subjek bercerita tentang pekerjaannya yang terakhir sebelum menderita sakit kusta, sejarah munculnya penyakit kusta serta pergumulan atau pengalaman subjek dalam menghadapi penyakit tersebut. Subjek juga bercerita tentang situasi keluarga dan saudara-saudaranya. Dalam wawancara yang ke dua, komunikasi mulai terarah pada pengalaman subjek akan keterlibatan atau peran keluarga mendampingi subjek dalam menghadapi sakitnya, mulai dari awal sakit sampai dengan saat ini di rumah rehabilitasi. Dinamika yang sama terjadi pada subjek ke dua dan ke tiga B. Hasil Penelitian. 1. Subjek 1. a. Identitas diri subjek 1 Tabel 4. 2 Identitas subjek 1. Identitas Keterangan Nama Samaran RO. Jenis kelamin Laki-laki Usia 28 tahun Agama Katholik Status Belum menikah Pendidikan terakhir STM Pekerjaan ( sebelum sakit ) Distributor Farmasi Tahun munculnya gejala kusta 2005 Tahun diagnosa sakit 2009 Masuk panti rehabilitasi. Lamanya waktu tinggal di Panti. April 2013 15 bulan.

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 b. Deskripsi subjek Subjek pertama berinisial RO, seorang laki-laki berusia 28 tahun. RO memiliki perawakan yang cukup tinggi dengan warna kulit kecoklatan, sedikit mengalami kesulitan berjalan karena cacat ringan akibat dari penyakit kusta. RO adalah pribadi yang ramah dan rapih terlihat dari caranya berpakaian dan berbicara dengan orang lain. Penampilannya rapih sehingga tidak memberi kesan jorok kepada orang yang melihatnya. Setiap orang yang berbicara atau bertanya kepadanya, RO selalu menjawab dengan santun dan enak untuk didengar. Ketika berumur 12 tahun, ibu RO meninggal dunia, 5 tahun kemudian disusul oleh ayahnya. Situasi ini membuat keluarga RO terpencar-pencar. Ada yang memilih untuk tetap tinggal di Jakarta dan ada yang kembali ke Klaten. Tahun 2003, RO menyelesaikan pendidikannya di STM dan kembali ke Jakarta untuk bekerja di sana. RO sempat bekerja di beberapa perusahan antara lain, Sanyo, Unilever dan yang terakhir adalah sebagai distributor farmasi, di salah satu perusahan obat di Bekasi. Saat ini, RO bersama beberapa teman yang lain sedang menjalani proses rehabilitasi kusta di rumah rehabilitasi kusta, Sani, kabupaten PatiJawa Tengah. Aktifitas RO setiap hari adalah membantu merawat dan menjual tanaman hias, salah satu usaha mencari dana yang dikembangkan oleh yayasan Sani. RO terlihat semangat dalam menjalankan tugas tersebut, meskipun secara fisik, RO sedikit terhambat karena cacat pada

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 kaki, akibat dari penyakit kusta yang dideritanya. Saat ini sudah hampir satu bulan RO berada di rumah rehabilitasi, bersama beberap teman untuk menjalani rehabilitasi kusta di tempat tersebut. Pada perjumpaan pertama bulan April 2013, kondisi RO masih terlihat letih. RO belum bisa beraktifitas seperti teman-teman yang lain. Apabila berjalan, RO masih mengunakan tongkat sebagai alat bantu jalan.. Situasi ini tidak membuat RO putus asah. Ia masih terlihat senyum setiap kali ada teman yang datang untuk mengunjungi dan bercerita bersamanya. Pada perjumpaan yang ke dua, RO sudah terlihat sehat. Berbagai perubahan sudah dialami oleh RO, baik itu perubahan fisik maupun psikologis. RO mengalami perubahan fisik yang luar biasa. RO sudah berjalan normal tanpa menggunakan tongkat, bahkan saat bepergian agak jauh, seperti ke gereja, RO sudah mampu menggunakan sepeda. RO juga terlihat percaya diri saat berhadapan dengan pembeli yang datang membeli tanaman. Tidak ada kesan minder atau malu saat berbicara dengan orang lain. RO selalu luwes dalam berbicara sama halnya dengan orang-orang yang sehat pada umumnya. c. Riwayat Penyakit Kusta Pada Subjek RO terlahir dari seorang Ibu yang juga menderita sakit kusta. meskipun hal ini masih dalam praduga. RO melihat ada tanda-tanda fisik yang sama yang dialami oleh ibunya, seperti bercak-bercak pada badan dan luka serta pengecilan pada bagian kaki dan tangan. Meskipun RO dan anggota keluarga yang lain tidak pernah mengetahui bahwa ibunya

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 menderita sakit kusta, karena tidak pernah ada pengecekan secara medis, tetapi ada keyakinan kuat bahwa RO menderita sakit kusta karena mendapat penularan dari ibu. Munculnya penyakit kusta pada RO, ditandai dengan munculnya flek- flek hitam pada badan dan luka pada bagian kaki. RO seringkali sakit, panas dingin, “ gregesi “. Gejala ini muncul sejak tahun 2005. Akan tetapi ia sendiri tidak mengetahui bahwa gejala tersebut adalah gejala dari penyakit kusta. Setiap kali merasa sakit RO selalu berusaha untuk mengobatinya sendiri dengan membeli obat di warung atau di apotek terdekat. Upaya ini tidak bisa memberi hasil yang baik bagi RO, sampai akhirnya tahun 2009, RO mengalami sakit parah dan berobat ke salah satu Rumah Sakit di Jakarta. Hasil diagnosa medis menunjukan bahwa RO menderita sakit kusta. d. Deskripsi Tekstural Awal Ro mengalami sakit kusta, RO tidak mengerti bahwa tandatanda tersebut adalah gejala dari penyakit kusta. RO pun mengatasi gejala tersebut dengan mengonsumsi obat-obat yang diusahakannya “Kalau munculnya sekitar 2005, 2006, pikir saya itu ya ntah alergi ntah panu atau kurap semacam intulah, ya luka biasa. pikirnya ya sakit biasa, jadi Cuman beli obat di apotik aja, ada juga temen kerja yang nyariin obat herbal untuk saya, kadang sembuh, kadang ya muncul lagi ” (14,20-22,25-28) RO merasa tidak ada perubahan. RO pun memutuskan untuk berobat ke rumah sakit. Diagnosa dari rumah sakit menunjukan bahwa RO menderita kusta.

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 “ waktu itu saya sakitnya parah, itu sekitar tahun 2009, nda bisa jalanlah, lutut saya itu nda bisa saya tekuk, mati rasa. nah, saya itu berobat ke rumah sakit, periksa semuanya, terus dokter bilang sama saya, kalau saya sakit kusta, uda positif kustalah “ ( 46-48, 50-52 ) Reaksi penolakan pun muncul. Ro merasa ragu bahkan tidak percaya dengan hasil diagnosa tersebut. “ Pertama kalinya denger vonis seperti itu gitu? Pertama kali ya takut, takut, ya sedih begitu, ya percaya nda percaya, waktu itu, rasanya itu nda yakin, bingung, nangis malahan,” (58-61) Kondisi RO terkait dengan penyakit yang dideritanya adalah Ro menjadi cacat. RO mengalami kesulitan didalam beraktifitas dan tidak maksimal didalam bekerja. “ Badan saya itu sakit semua suster, nah kalo pas reaksi nemen sakitnya. tulang itu sakit, kulit itu pun ya sakit, terus nda punya napsu makan sama sekali, olehnya, e, lama kelamaan nda bisa apa pun , seperti itu. saya nda bisa ber, apa ya? kreatifitas sendiri khan nda bisa. nda bisa kerja, bangun dari tempat tidur pun saya nda kuat, waktu itu, waktu parah-parahnya itu. (87-93) Akibat dari penyakit kusta yang dialaminya, Ro pun berpikir bahwa ia akan ditingalkan oleh orang-orang dekat yang ada disekitar Ro. “ Pikiran saya itu organ tubuh saya itu hilang semua. Jari, jari saya itu pasti hilang, nangis malahan,cemas, cemas ya gimna, Macem-macem pikiran saya, ya kehilanagn teman, keluarga ya pekerjaan, ditinggalkan sama orang-orang deket, pikiran saya ya pasti seperti itu, akan ditingalkan” (67-71) RO menjadi sedih dan putus asah. RO merasa bahwa hidupnya menjadi tidak berarti karena hanya menjadi beban untuk orang lain.

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 “ Ya jenuh suster. , saya itu bener-bener putus asah, ya jenuh. Saya itu malah tersiksa, kesannya itu malah menjadi beban untuk banyak orang, tiap malam saya itu nda bisa tidur. (203-206) “ Rasanya itu hidup saya ya uda nda ada arti lagi, susah ya mau bilangnya gimana, nda taulah , ya kaya gitu saya bener-bener down saat itu” (72-75) Situasi ini membuat Ro membatasi diri dalam berelasi dengan orang lain. Dengan tanda-tanda fisik yang dialaminya, RO menjadi malu saat bertemu dengan orang lain. “Mau ketemu sama orang itu malu, mulai terasa watu saya nda bisa nutupi luka-luka saya, kulit saya mulai kelihatan kaya kebakar mau keluar entah jumpa sama orang, udah mikir duluan, malu” (78-81) Dampak lain yang dirasakan adalah semakin memburuknya kondisi fisik sehingga Ro harus memilih untuk berhenti dari pekerjaanya sebagi distributor farmasi. waktu itu kondisi saya ngedrop, ngedrop, itu beberapa kali, luka-luka itu terus muncul, bengkak-bengkak, nda bisa ke mana-mana, dikontrakan itu saya cuman dikamar, akhirnya ya saya berhenti kerja, akhir 2011.udah nda bisa, dipaksa kerja pun nda bisa. Saya mengundurkan diri, saya minta sama atasan untuk berhenti kerja. Mau maksa kerja uda unda bisa (103-107) Sadar akan situasi dirinya saat itu, maka RO akhirnya memutuskan untuk kembali ke keluarga. “Pertama-tamanya saya itu sadar, sadar akan kondisi saya. nda mungkin, saya nda mungkin bisa ngatasi kondis saya ini sendirian. Saya butuh orang lain, maka ya uda satu-satunya pilihan saya saat itu, saya kembali ke keluarga” (124-127)

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 “ Saya memutuskan untuk kembali ke Klatan, tempat keluarga saya di sana. Ada keluarga pakde saya, jadi pulangnya kesana, soalnya bapa sama ibu uda ninggal suster, uda nda ada” (119-122) Ketika di rumah kondisi RO semakin memburuk dan ia menjadi sangat tergantung dengan keluarga. “ Saya nda bisa mandi sendiri, boleh dibilang lumpuh, jalan nda bisa, semuanya nda bisa, saya tergantung banget sama keluarga, semua yang nolongin saya itu pakde dan budhe saya .(159-162) RO merasakan empati dan penerimaan positif dari keluarga. Hal terlihat dari sikap keluarga yang selalu pekah dengan kondisi Ro selama sakit. “ Saya dijemput sama pakde saya, saya kabarin sama mereka kalo saya sakit, terus dijemput di Jakarta, kami kembali ke Klaten. (129-131) Yang pertama ya sus, saya itu, awalnya datang di Klaten ngelihat kondisi saya kaya gitu, budhe sama adek saya itu ngerangkul saya sambil nangis. Nda ada rasa takut tertular gitu. ( 144-147) Rasa empati juga didapatkan dari adik RO. RO mengakui bahwa setiap hari adiknya selalu meluangkan waktu untuk bercerita dengan RO. Perhatian yang sama juga didapatkan dari kakak RO. “Adek saya yang di Klaten hari-harinya kalo uda pulang sekolah ya maen, nengok saya, ya cerita sama saya, deket banget sama saya.(154-156) “ kaka saya yang di Jakarta meskipun secara langsung ya mereka nda nunggu saya, tapi khan selalu ada kontak, ya nelpon, nanya-nanya kabar saya, perkembangan saya gimana, ya selalu ditanya “ (149152)

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 Ketika RO mengalami kejenuhan dan putus asah, keluarga hadir sebagai motivator bagi RO. Keluarga selalu memberi motivasi dan peneguhan-peneguhan bagi RO . “ Pakde ya ngomong sama saya, bilang sama saya, kalau sakit kaya saya ini bisa disembuhkan asal kita itu telaten dan sabar, nda mudah stres, nda mudah putus asah., ya harus punya harapanlah” (217-220) “ Pesannya itu, harus belajar gerak, kerana kalau gerak pori-pori bisa terbuka, bisa keluar keringat, penyakit itu akan keluar lewat keringat juga, bisa bantu juga untuk kesembuhan, bilang lagi sama saya, kalau nanti udah baik, udah sehat, pulanglah ke Klaten, jangan netep di Pati , keluarga tetep nerima kamu” (288-293) Ketika mengalami kesulitan biaya pengobatan, keluarga berperan membantu meringankan beban tersebut. “Kalau bantuan sih banyak, itu mulai dari soal biaya, saya juga pernah dibantu sama pakde saya. waktu sakit di Jakarta, pakde ya ikut bantu biaya rumah sakit, Kalau saudara kandung ya ada kadang juga ngirim uang bantuin saya”(146-148,150-153) RO merasakan perhatian dari keluarga melalui kesetiaan keluarga yang selalu menjaga dan merawatnya saat sakit. “semua yang nolongin saya itu pakde dan budhe saya, ya nyariin obat ya mandiin saya, badan saya, kaki saya, tangan saya itu bengkan- bengkak, luka,yang balutin luka, yang gantin ferban bersiin luka ya pakde gentenan sama budhe” (161-165) “ Kalo yang nunggu itu budhe saya yang nungguin saya, pakde yang balik ke klaten ada kerjaann juga di sana” (191-192) “ Yang nunggu ya pakde saya, kadang pulang, terus dateng lagi, nungguin saya, kalo hari minggu ya kadang budhe sama adek-adek dateng nengokin, beberapa jam

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 begitu, setelah itu pulang lagi, kalo selese jam besuk” (239-242) Perhatian dari keluarga juga terlihat lewat keterlibatan adik-adik RO. Adik-adik RO turut berperan menyiapkan kebutuhan-kebutuhan RO selama sakit. “ Adek-adek saya, mereka nganterin makan untuk saya. Ya cerita, ngobrol sama saya. kadang ya mereka rebuskan air untuk saya, untuk mandi memang saya harus pake air hanget, jadi kalo budhe nda sempet rebus, ya adek-adek saya yang ngurus. “ (245-248) Perhatian berkelanjutan, ketika di rumah rehabilitasi. RO tetap merasakan perhatian dari keluarga, karena keluarga selalu menelpon dan mengikuti perkembangan kesehatan RO. “ Pakde sama budhe saya selalu nelpon, kadang dua hari sekali, kadang ya seminggu, ya sesempatnya mereka nelpon, kadang gantian pakde sama budhe saya, ya mereka pasti nelpon, ya nanya kabar,ya kesehatan saya, keadaan saya, itu uda pasti gitu”( 312-316) RO merasa bahwa semua perasaan takut dan minder yang pernah dialaminya pada saat sakit, berubah menjadi sebuah harapan dan keberanian untuk menerima diri. “ Yang jelas hati saya lebih tenang untuk hadapin sakit, dulu itu saya mudah sekali putus asah, mudah ngeluh, tapi setelah dapat motivasi, peneguhan-peneguhan dan dukungan-dukungan dari keluarga, saya jadinya lebih tegar, lebih bisa nerimalah, semacam itu” (297-301) “ Oo, kalau itu uda nda, biasa suster, biasa aja. Sekarang ya, saya merasa lebih percaya diri, karena lingkungan juga ngajarin saya, ya disinilah, terus, kalo di klaten itu teman-teman saya ya bisa menerima saya, jadinya saya itu lebih merasa percaya diri”.( 406-410)

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 Pengalaman sakit bagi RO merupahkan hal yang mampu mengubahnya menjadi lebih mudah bersyukur dan dekat dengan keluarga. “ Kalo saya ya, sekarang ini, hal-hal kecil aja, misalnya dapet bingkisan atau apa, bisa gerak bisa jalan kaya gini aja, saya ya bersyukur, maturnuwun sama Gusti. Dulunya itu sebelum sakit, saya boleh dibilang jarang ya bersyukur, merasa semua bisa ya begitulah. . saya merasa bahwa doa saya dikabulkan, apa yang saya minta” ( 430-435) “ kalo ada apa-apa ya ngomongnya sama keluarga, ayemlah, saya sakit begini keluarga malah perhatiin saya. kalo uda jauh begini ya kadang rindu, mikirnya ya cepet sembuh biar bisa pulang ke keluarga. (459-463) RO memiliki kemauan yang tinggi untuk mandiri. RO mulai merintis keinginan-keinginanya untuk mandiri dengan mengembangkan usaha yang telah direncanakannya “ saya itu punya niat untuk mandiri, pertama ya untuk saya sendiri, ya untuk keluarga saya, saya kembangkan bantuan yang selama ini saya dapet dari temen-temen saya, ada subangan dari mereka. Rencananya saya akan kembali ke Klaten, saya akan ternak ayam, ya bisa untuk memandirikan saya sendiri aja dulu” (468-473) RO akan mengembangkan usaha dan rencananya setelah keluar dari rumah rehabilitasi. RO pun memutuskan untuk tidak menetap di rumah rehabilitasi tetapi kembali ke keluarga dan memulai usaha barunya sebagai seorang peternak ayam. “ Saya juga bisa ngontrol kesehatan saya ya suster, udah mantep gitu, bulan juli saya keluar, saya akan mulai usaha saya” (482-484)

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI e. Aspek Psikologis Pada Subjek. 1. Tabel 4. 3. Aspek Psikologis Subjek 1 Kondisi saat Dukungan awal sakit dari keluarga Aspek kognitif -Berpikir akan kehilangan keluarga, teman dan pekerjaan. -Berpikir akan kehilangan organ tubuh (tangan dan kaki) -Berpikir akan dikucilkan oleh keluarga. Aspek afektif -Merasa cemas, sedih dan takut saat terdiagnosa sebagai penderita kusta. -Merasa jenuh dan putus asah karena proses penyembuhan yang lamban. -Merasa menjadi beban bagi keluarga. -Minder, mengisolasi diri dari lingkungan. Mengundurka n diri dari lingkungan Aspek sosial -Mendapatkan afeksi positif dari keluarga, berupa penerimaan dan rasa empati dari keluarga. -Mendapatkan bantuan biaya pengobatan dari keluarga . - Dijemput keluarga saat sakit di jakarta untuk kembali menjalani pengobatan di Klaten. -Dirawat keluarga saat sakit di rumah. (mebersihkan luka mengganti ferban dan membalut luka subjek) -Dihantar keluarga untuk berobat ke rumah sakit.. - Keluarga memperhatika n kebutuhan subjek selama sakit. (makan minum, mandi) Mendapatkan informasi pengobatan dari keluarga. - Dijaga oleh keluarga Kondisi saat ini Harapan - Berpikir untuk mandiri. - Berani mengambil keputusan. - Mampu menerima kondisi diri yang sesungguhnya. - Menemukan harapan untuk sembuh dari sakit. - Terbuka pada keluarga. - Perubahan pola pikir, dari yang negatif menjadi positif. ( lebih positif melihat diri, keluarga dan penyakit yang diderita) - Optimis untuk sembuh dari sakit. - keinginan untuk mandiri. Keluar dari rumah rehabilitasi setelah sembuh dari sakit. - Lebih tertib dalam mengontrol kesehatan. - Mengembangkan keterampilan yang diperoleh selama di rumah rehabilitasi, yakni mengembangk an usaha peternakan untuk ekonomi mandiri. -Merasa kuat dan tegar terhadap tantangan. -Kerinduan untuk bertemu dengan keluarga. Merasa diterima sebagai bagian dari keluarga. -Tidak mudah putus asah. -Mampu bersosialisasi dengan orang lain. -Mengikuti aktifitas sosial di rumah rehabilitasi. -Mampu 51

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI kerja karena merasa tidak kondusif dalam bekerja. -Menarik diri dari lingkungan sosial, berpisah dari teman-teman. -Lumpuh. (cacat pada tangan dan kaki) -Luka pada kaki dan tangan , serta kulit badan bersisik dan hitam. Aspek fisik Aspek psikomo torik -Tidak mampu melakukan aktifitas harian secara sendiri. selama menjani perawatan di rumah sakit. -Keluarga melibatkan significant others yang lain untuk membantu subjek. Mendengarkan subjek ketika mengeluh. - Memotivasi subjek ketika putus asah. Mengunjungi subjek selama menjalani perawatan. - Membangun komunikasi yang baik dengan subjek. 52 berkomunikasi dengan orang lain. -Sudah bisa berjalan, tanpa alat bantu. -Cacat ringan pada kaki dan tangan. -Mampu menggerakan tangan dan kaki -Bisa melakukan pekerjaanpekerjaan ringan, seperti menyiram dan menyapu halaman. - Mandiri melakukan aktifitas pribadi. (makan, mandi, cuci) f. Dinamika Psikologis Subjek 1. Awal terdiagnosa sebagai penderita kusta, subjek merasa cemas dan takut. Ada penolakan dalam diri subjek terhadap realita yang dialaminya sebagai seorang penderita kusta. Penolakan itu terlihat dari ketidakpercayaan subjek terhadap hasil diagnosa medis dari rumah sakit, meskipun pada kenyataannya subjek terdiagnosa sebagai penderita kusta. Hal ini terlihat juga melalu tanda-tanda fisik dari penyakit kusta yang

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 dialami oleh subjek yakni luka-luka yang membengkak pada kaki dan tangan serta kulit badan bersisik dan hitam kemerah-merahan. Kondisi ini lambat laun membuat subjek menjadi lumpuh sehingga subjek tidak mampu melakukan aktifitas harian sebagaimana mestinya. Subjek akhirnya memilih untuk berhenti dari pekerjaannya sebagai distributor farmasi karena merasa tidak kondusif lagi dalam bekerja. Hal lain yang dirasakan oleh subjek adalah dengan kondisi fisik yang cacat dan penuh luka, membuat subjek menjadi minder dan menarik diri dari lingkungan sosial. Subjek berpikir bahwa dengan kondisi fisik demikian, keluarga dan teman-teman akan meninggalkan subjek. Ada ketakutan yang berlebihan dalam diri subjek. Subjek pun berpikir bahwa ia akan kehilangan organ tubuh, ( kaki dan tangan ) akibat dari penyakit kusta yang dialaminya. Kehadiran subjek sebagai penderita kusta, mendapat respon positif dari keluarga. Subjek mulai merasakan adanya perhatian dan dukungan dari keluarga, sejak dari awal sakit, sampai saat ini. Subjek merasakan adanya afeksi positif berupa kesediaan dan keterbukaan hati keluarga dalam menerima subjek. Hal ini terlihat dari sikap keluarga yang menjemput subjek ketika di Jakarta untuk kembali dan menjalani pengobatan di Klaten. keluarga terlibat langsung dalam merawat subjek. Ketika subjek mengalami kesulitan dalam biaya pengobatan, keluarga pun memberikan bantuan biaya pengobatan pada subjek. Perhatian dari

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 keluarga juga dirasakan oleh subjek ketika menjalani perawatan di rumah. Keluarga secara bergantian membersihkan luka, mengganti ferban dan membalut luka, membantu memandikan subjek, serta menyediakan kebutuhan makan, minum untuk subjek. Hal lain yang dirasakan oleh subjek adalah mendapatkan informasi-informasi dari keluarga terkait dengan pengobatan untuk subjek. Keluarga juga melibatkan significant others yang lain untuk membantu mencari solusi pengobatan bagi subjek, mengunjungi subjek selama menjalani perawatan. Subjek merasakan adanya dinamika komunikasi yang baik antara keluarga dan subjek. Pada kesempatan yang lain, ketika subjek merasa jenuh dan putus asah, mengeluh akan lambannya proses penyembuhan, keluarga terlibat sebagai pendengar dan memotivasi subjek untuk tetap semangat dalam menghadapi sakit. Dukungan dan perhatian dari keluarga yang diterima dan dirasakan oleh subjek membawa dampak positif pada subjek. Subjek kembali menemukan harapan untuk sembuh dari sakit. Subjek menjadi lebih terbuka dengan keluarga dan merasa tetap menjadi bagian dari keluarga meskipun menderita sakit kusta. Ada perubahan pola pikir pada subjek dari yang negatif terhadap keluarga, diri sendiri dan penyakit, menjadi lebih positif. Sisi positif yang muncul adalah pemahaman subjek tentang penyakit, yang mulanya dinyakini sebagai penyakit yang tidak bisa

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 disembuhkan dan mematikan, saat ini dilihat sebagai penyakit yang bisa disembuhkan. Dukungan dari keluarga berupa pengobatan yang diberikan kepada subjek, membawa perubahan kondisi fisik pada subjek. Kondisi fisik subjek perlahan membaik, meski tidak bisa mencapai 100% pemulihan. Subjek mulai bisa berjalan, tanpa alat bantu, mampu menggerakan tangan dan kaki, mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan ringan, seperti menyiram dan menyapu halaman serta mandiri melakukan aktifitas pribadi. (makan, mandi, cuci). Subjek pun mampu menerima kondisi diri yang sesungguhnya sebagai orang yang menderita sakit kusta dengan konsekuensi kecacatan yang dialami akibat dari penyakit tersebut. Subjek mulai membangun niat dan harapan-harapan dalam dirinya. Subjek mempunyai keinginan untuk mandiri dan keluar dari rumah rehabilitasi setelah sembuh dari sakit dan lebih tertib dalam mengontrol kesehatan. Subjek ingin mengembangkan keterampilan yang diperoleh selama di rumah rehabilitasi, yakni mengembangkan usaha peternakan untuk ekonomi mandiri.

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI g. Gambaran tema-tema umum subjek 1. Tabel 4. 4. Tema-tema umum subjek 1. Objek Penyakit kusta Keluarga Diri subjek. Tema. Dampak penyakit kusta terhadap subjek. 1. Merasa takut dan cemas. 2. Penyakit kusta menyebabkan subjek menjadi cacat. 3. Merasa akan ditinggalkan oleh orang-orang dekat. (keluarga dan teman) 4. Merasa tidak berguna dan akan menjadi beban bagi keluarga. 5. Merasa minder dan menarik diri dari lingkungan sosial 6. Penyakit kusta menyebabkan subjek kehilangan pekerjaan. Bentuk dukungan keluarga yang diterima oleh subjek. 1. Keluarga menerima dan memotivasi subjek selama sakit. 2. keluarga memfasilitasi dan terlibat dalam proses pengobatan subjek. Dampak dukungan keluarga yang dirasakan oleh subjek. 1. Mampu menerima kondisi diri yang sesungguhnya. 2. Optimis untuk mandiri dan mengembangkan usaha peternakan. h. Deskripsi Tematik Subjek 1. 56

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 Kondisi subjek terkait dengan penyakit kusta yang dideritanya adalah subjek menjadi cacat. Situasi ini membuat subjek berpikir bahwa keluarga dan orang-orang dekat akan meninggalkan subjek karena kehadiran subjek sebagai penderita kusta hanya menjadi beban bagi keluarga. Subjek pun menjadi minder dan menarik diri dari lingkungan disekitar subjek. Subjek kemudian memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya sebagai distributor farmasi dan kembali ke keluarga karena kondisi fisik tidak memungkinkan subjek untuk bekerja. Kehadiran subjek ditengah keluarga mendapat respon positif dari keluarga. Hal ini terlihat dari sikap keluarga dalam memberikan dukungan kepada subjek. Keluarga memfasilitasi subjek dengan menyediakan halhal yag dibutuhkan subjek, serta terlibat aktif dalam proses pengobatan yang dapat memberikan penyembuhan pada subjek. Subjek merasa bahwa motivasi dan dukungan berupa penerimaan positf dari keluarga, memampukan subjek untuk menerima kondisi diri yang sesungguhnya. Subjek pun merasa bahwa ia menjadi orang yang lebih optimis untuk mandiri. Subjek memilih untuk keluar dari rumah rehabilitasi dan mengembangkan usaha peternakan.

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 2. Subjek 2. Tabel 4. 5. Identitas Subjek 2. a. Identias subjek 2. Identitas Keterangan Nama Samaran RM Jenis kelamin Laki-laki Usia 25 tahun Agama Islam Status Belum menikah Pendidikan terakhir SD. Pekerjaan ( sebelum sakit ) Buruh pemotong tebu. Tahun munculnya gejala kusta. 2000 Tahun diagnosa sakit 2007 Type kusta. Basah. Masuk panti rehabilitasi Juli 2008 Lamanya waktu tinggal Panti 6 Tahun b. Deskripsi Subjek. Subjek ke dua dalam penelitian ini berinisial RM. RM adalah seorang pemuda berumur 25 tahun. Rm yang lahir di Sukolilo tanggal 26 Mei 1988 ini, memiliki postur tubuh yang kecil dengan tinggi badan 155 cm dan memiliki warna kulit sawo matang. RM selalau murung dan susah

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 untuk tersenyum. Hal ini terlihat dari setiap perjumpaan dengan orang lain, RM selalu pasif dan enggan untuk berbicara. RM merupakan anak pertama dari 5 bersaudara. Rm pernah bercita-cita untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, akan tetapi karena situasi ekonomi keluarga membuat RM harus mengurungkan niatnya. Setelah menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar, RM memilih untuk merantau, bekerja sebagai buruh di perkebunan tebu. Tahun 2007, RM terdiagnosa menderita sakit kusta, untuk itu RM harus berhenti bekerja sebagai buruh pada perusahan tersebut. RM sempat menjalani pengobatan di puskesmas dan saat ini RM bersama beberapa teman yang lain, sedang menjalani proses rahabilitasi kusta di rumah rehabilitasi kusta Sani, Kabupaten Pati. c. Riwayat Penyakit Kusta Pada Subjek. Sakit kusta pada RM diawali dengan gejala panas dingin dan rasa sakit pada seluruh badan. Kesibukan sebagai seorang buruh, membuat RM mengabaikan apa yang dirasakannya. Tidak ada penanganan serius terhadap apa yang dirasakan oleh RM. RM lebih memilih membeli obat di warung yang mudah terjangkau untuk menghilangkan rasa sakit yang dialaminya. Pada awalnya RM merasa cukup terbantu, karena setelah mengkonsumsi obat, RM merasa sehat dan bisa beraktifitas kembali. Akan tetapi lama-kelamaan rasa sakit tersebut tidak bisa terobati. Pada tahun 2007, RM berhenti bekerja sebagai buruh karena sakit. RM kembali ke rumah keluarga di Sokolio. Melihat kondisi RM yang sakit, keluarga RM (simbah) mengajak RM untuk berobta ke Puskesmas.

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 Hasil diagnosa dokter di puskesmas tersebut, menunujukan bahwa RM menderita sakit kusta. Berawal dari sinilah RM mulai menjalani pengobatan rutin sebagai penderita kusta, menjalani isolasi rumah dan therapi obat ( MDT ) selama 6 bulan. Usaha ini ternyata tidak memberikan hasil yang significan. Tidak ada proses penyembuhan yang dirasakan oleh RM. Atas usaha dan bantuan dari seorang teman mantan penderita kusta, akhirnya RM dibawa ke rumah rehabilitasi kusta Sani, kabupaten Pati untuk melanjutkan pengobatan dan rehabilitasi di tempat tersebut, d. Deskripsi Tekstural. Sebelum terdiagnosa sebagai penderita kusta, sudah ada gejalagejala fisik yang dirasakan, akan tetapi RM tidak mengetahui bahwa hal tersebut adalah gejala dari penyakit kusta. “ Em, sekitar 2004. Mulai terasa ya sekitar itu, cuman nda paham, kalau itu sakit Lepra” (13-14) Kesalahan persepsi terhadap gejala yang muncul, membuat kondisi RM semakin parah. “ awal-awalnya cuman sering panas aja, terus badan saya itu sakit semua, tapi nda berobat suster, saya nda berobat, orang saya itu mikir sakit biasa kok, pegel-pegel biasalah, lha, tapi kok lama-lama malah semakin parah, kok kaya gini?, uda nda bisa ngapa-ngapain,tangan saya, kaki saya itu kaku” (16-21) RM pun berobat ke rumah sakit. Diagnosa medis menujukan bahwa RM menderita sakit kusta. “ Persisnya itu tahun 2007, waktu itu saya pulang ke rumah simbok saya, heem, terus sama simbah saya

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 di’jak berobat ke puskesmas, periksa di sana, baru ketahuan sakitnya. Dokter ya bilang kalo saya itu sakit Lepra.” (24-28) RM menjadi shock dan kaget setelah terdiagnosa sebagai penderita kusta. RM pun berpikir bahwa penyakit kusta yang dideritanya akan mematikan hidupnya. “ Nda karuan, shock, bingung, ya sedih, wah bener-bener bingung, jengkel, kaget, kok sakit Lepra?, udah nda karuan mikirnya entah tanganku jadi buntung, kakiku buntung, dosaku opo yo, kok Tuhan kasih aku sakit Lepra?” (38-42) “Penyakit kusta itu, penyakit yang istilanya itu menjijikan, terus menakutkan Jeleklah. Kusta ki mateni uripku, ya sedih ( menangis ), kalo misale sakit yang laen, aku masih bisa, tapi koyo ngene yo ngenes.”(52-56) RM mengakui bahwa kondisi emosi pun menjadi sangat labil. RM menjadi orang yang mudah marah dan tersinggung. “kalo pas reaksi itu nda stabil, maunya itu marah aja, ntah ada masalah apa nda, pengennya itu marah, terus rasanya itu jenuh, situasinya itu kaya timbul tenggelam gitu, terus gampang tersinggung” (89-91) Akibat lain yang dirasakan adalah terhambatnya relasi sosial dengan orang lain. RM mengakui bahwa ia menjadi minder saat bertemu dengan orang lain. “ Waktu itu waktu awal-awalnya, pengennya pergi jauh nda usah ketemu sama orang lain, isin, lha koyo ngene? kusta? Isin ya sus” (42-44)

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 “ Ya nda sama kaya dulu, sejak terkena lepra saya lebih seneng sendiri aja, mau ngomong sama orang malu sus, makanya saya itu banyak di kamar, minder” (47-49) Secara perlahan aktifitas harian bahkan pekerjaan pun mulai terhambat. RM pun merasa diri sebagai orang yang tidak berguna karena penyakit yang dideritanya. “ Yo karna sakit, nda sanggup kerja suster, badan saya sakit semua, lha kerjaan saya itu khan tenaga harus kuat, harus motongin tebu tiap hari, nda sanggup lanjutin, kondisi saya uda nda bisa.” (8-11) “ lha saya itu nda bisa ngapa-ngapain selama sakit, sejak terkena kusta, hidup saya ya cuman kaya gini, kalu misale mau nyari kerja, opo yo diterima, nda bakalan” (61-64) ” eh tiba-tiba nda bisa jalan, tiba-tiba aja muncul tanda kusta, ndadak saya nda bisa apa-apa, mau kerja nda bisa, mau ngapain aja nda bisa, cuman tidur aja kaya gitu (109-112) RM merasa bahwa selama sakit, ia mendapatkan perhatian dari orang-orang yang ada disekitarnya yakni keluarga. RM merasakan empati dan penerimaan yang baik dari keluarga. “ Nek simbah saya orangnya nerima. Nda ada masalah, nda ada rasa jijik dengan saya. Malah simbah ki lebih sering ngopeni aku yo saat sakit kui.” (70-72) “ kadang kalau hati saya itu sesek, ya ngobrol, ngomong sama adik saya. didengerin aja hatinya bisa legah. Biasa kok suster, nda ada rasa takut atau jijik dengan saya, nda ada. Dia ya nerima saya, saya sakit kusta, nda jadi masalah untuk adik saya (139-143) Rasa empati dari keluarga kemudian memunculkan sikap tanggap dari keluarga untuk pekah melihat kebutuhan RM selama sakit.

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 “ kalo sakit kusta ini khan nda mesti, pikirnya orang itu sudah sehat, eh tiba-tiba nda bisa jalan, tiba-tiba aja muncul tanda kusta, ndadak saya nda bisa apa-apa, mau kerja nda bisa, mau ngapain aja nda bisa, cuman tidur aja kaya gitu jadi yang merhatiin semuanya, ya simbah sama ibu saya. semuanya sus, mulai dari nyiapin makan minum semuanya. (108-115) “ Simbah saya itu biasanya yang ingetin saya, ojo lalai le, obatte kui diombe, ben cepet mari. kalau dilihat obatnya belum diminum biasanya muring-muring, ya marah, biar saya itu nda telat. (121-126) Ketika RM menjalani pengobatan rutin di puskesmas, RM selalu dihantar dan ditemani oleh keluarga. Keluarga pun ikut membantu biaya pengobatan RM. “ Yo kui, nganterin berobat ke puskesmas. Waktu masih di rumah, kalau ke Puskesmas saya ya sama almarhum mbah saya, gentenan sama ibu saya. “ (86-88) “ Nek masalah biaya, keluarga tetep bantu. Tangan saya ini khan pernah operasi di Donorejo, biaya operasinya ya dibantu sama keluarga”(151-154) Keluarga pun sering mengunjungi RM selama RM tinggal di rumah rehabilitasi. “Yo pernah. Bapak sama simbok sering ke sini. Deket kok suster, sini sama Sokolilo yo deket numpa bis cuman sejam nda nyampe. Kadang ya sebulan sekali. Nda mesti, cuman ya sering mereka nengok saya. Kalau pas nda ada ongkos ya mereka nda dateng. Namanya orang susah sus.” (189-194) RM. merasakan dukungan dari keluarga, berupa peneguhan dan motivasi ketika ia merasa labil dalam hidupnya karena penyakit kusta yang dideritanya.

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 “ kalo pas reaski itu nda stabil, maunya itu marah aja, ntah ada masalah apa nda, pengennya itu marah, terus rasanya itu jenuh, situasinya itu kaya timbul tenggelam gitu,terus gampang tersinggung suster. lha simbah ki ngerti, terus dinasehati sama simbah saya, kon sabar, yakin, sakit saya itu bisa sembuh. Bilang sama saya, ada orang yang lebih susah, lebih parah sakitnya, nda usah grusah-grusuh, dilakoni wae, sambil usaha, pasti Yo sembuh,terus diingetin jangan sampe kamu itu ninggalin sholat. (88-97) Dengan peneguhan dan motivasi yang diterima RM menemukan cara untuk mengatasi situasi emosinya yang labil. “ Iya suster, nek saya itu udah sters kepikiran macemmacem, uda, saya ambil alquran baca ayat-ayat alquran, nah baru plong, jadi itu uda khas gitu terus sampe hari ini, sholat ya saya jalanin lima waktu, nah terus Inget sama yang laen, tangannya buntung, kakinya buntung, ya udah, semangat lagi untuk sembuh, saya khan istilanya itu belom parah gituloh sus, sama yang laen.” (100-106) RM pun akhirnya menjadi tekun menjalankan kewajiban agamanya dan memiliki optimisme untuk sembuh dari sakit kusta. “ Sekarang saya lebih rajin sholat suster, saya jalani sholat 5 waktu. Terus mikirnya itu ya optimis, saya nyadar suster, sakit saya ini emang sembunya dibanding Rio, sama yang laen-laen, tapi saya yakin ya punya semangat, suatu saat nanti yo pasti sembuh. itu aja keyakinan saya. (286291) Saat ini RM sedang menjalani proses rehabilitasi di rumah rehabilitasi kusta, Sani, kabupaten Pati. Kondisi Rm pun mulai membaik. “ Alhamdulilah, kondisi saya sekarang mulai membaik, kalo dulu itu sering reaksi, tetapi sekarang uda jarang. Cuman ya tangan saya itu nda bisa pulih, tetep aja kaya

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 gini, raiso lurus. kalau kaya gini ya kaya gini terus, nda luwes kalo kerja. Dadak ngene-ngeneloh” (243-246) “ Ngarit yo iso kok sus. iso nimba air untuk mandi, nyapu, nyiram tanaman, pokoknya uda bisa kerja” (251-252) RM pun sudah bisa bersosialisasi dengan orang lain. Rasa minder yang pernah dialaminya secara perlahan mulai berkurang. “ Sekarang uda mending, nda kaya dulu mau jumpa sama orang aja mikir ketemu nda, ketemu nda? Uda bedalah sama sekarang. Ke masjid udah nda malu kok suter, jumpa sama orang udah nda masalah” (277-281) Pemahaman tentang penyakit kusta pun mulai berubah. Setelah mengalami kesembuhan, RM bercita-cita untuk menjelaskan kepada orang lain, tentang penyakit kusta yang sesungguhnya. “ Lepra itu bisa disembuhkan. khan itu saya alami sendiri. Nah saya itu pengen ngomong sama orang-orang disana, di kampung saya kalau lepra itu bisa sembuh, soalnya orang-orang di sana itu malah termasuk beberapa keluarga saya, di kampung saya itu jijik banget dengan yang namanya sakit kusta, sangat jijik” (286-291) RM memiliki keinginan untuk mandiri, akan tetapi, ia memutuskan untuk tetap tinggal di rumah rehabilitasi untuk membantu dan bekerja di tempat tersebut. “ Maunya itu usaha sendiri sus, pengennya itu ternak lele, terus jual-jualan entok, cuman saya itu belum siap, nda punya apa-apa, belum ada modal, mau balik ke keluarga, disana saya malah bingung, ya untuk sekarang ya saya disini aja, ngikuitin semua dari bruder sama suster. Ntah kapan saya akan pulang, tapi saat ini saya disini aja dulu, belom siap untuk pulang. saya bantu suster sama buder aja dulu. kerja disini urus kebon sama ternak” (208-306)

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI e. Aspek-aspek psikologis pada subjek 2. Tabel 4. 6. Subjek 2. ( RM) Dukungan Kondisi saat dari ini keluarga -Mendapat- -Berpikir -Berpikir kan arahan positif tentang akan dari diri. mengalami keluarga - Berpikir kelumpuhan. untuk untuk mandiri -Berpikir mejalani dan membuat untuk pergi pengobatan rancangan jauh dari rutin. untuk masa keluarga. -Ditemani depan. - Berpikir oleh -Perubahan akan keluarga konsep mendapat saat berpikir penolakan menjalani tentang dari keluarga. pengobatan penyakit di rumah kusta.(penyakit sakit. yang bisa - Diteguhdisembuhkan) kan oleh -Optimis. keluarga mempunyai saat harapan untuk mengalami masa depan. putus asah. -Mendapat bantuan -Merasa takut biaya -Bersyukur pengobatan karena terhadap dari penyakit diterima oleh yang diderita. keluarga. keluarga. -Dikunjungi -Bersyukur - Merasa sedih karena keluarga karena adanya selama di menderita perubahan rumah sakit kusta. yang dialami. rehabilitasi. -Merasa -Merasa - Keluarga menjadi diterima oleh Kondisi awal sakit Aspek kognitif Aspek afektif Harapan -Kerinduan untuk sembuh dari penyakit kusta. - Memiliki cita-cita untuk mandiri, tidak tergantung pada orang lain dengan berusaha untuk mengemban gkan usaha peternakan. 66

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI beban bagi keluarga. -Pesimis terhadap kesembuhan. -Merasa diri sebagi orang berdosa dan mendapat hukuman dari Tuhan. -Merasa bahwa penyakit kusta adalah penyakit yang mematikan . Aspek sosial Aspek fisik -Merasa minder dan tidak mau bersosialisasi dengan orang lain. -Menarik diri dari lingkungan kerja. -Terpisah dari temanteman. -mengisolasi diri dari lingkungan sosial. (tinggal di rumah rehabilitasi) -Berhenti bekerja sebagi buruh tani. -Kulit badan bersisik dan retak. menyediaka n kebutuhan subjek selama sakit. (meyiapaka n makan dan minum yang dibutuhkan oleh subjek) -Mendapatkan informasi pengobatan dari significant others yang lain. Mendapatka n solusi untuk mengatasi stres dengan melakukan copping Rohani) keluarga. -Mampu menerima kondisi diri yang sesungguhnya. -Merasa dicintai oleh keluarga. -Peka melihat teman yang sakit. - Mampu mengikuti aktivitas keagamaan (mengikuti sholat jumat di masjid) -Tidak minder saat berkomunikasi dengan orang lain. -Mengikuti aktivitas harian di rumah rehabilitasi. -Menjadi volunter untuk teman-teman yang sakit. -Kondisi fisik berangsur pulih, meski 67

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI -Pergelangan tangan dan jari membengkak . -Luka pada kaki dan tangan. -Cacat ringan pada kaki dan tangan. 68 tidak seperti semula. -Cacat ringan pada kaki dan tangan. -Sulit Aspek psikomo mengerakan kaki dan torik tangan. - Terhambat dalam melakukan aktifitas harian. -Tidak mampu melakukan pekerjaan berat. -Sudah bisa mengerakan kaki dan tangan. - Mandiri, melakukan aktifitas pribadi (mandi, cuci , makan) -Mampu melakukan aktifitas – aktifitas ringan di rumah rehabilitasi. (menyapu, menyiram tanaman, ngarit) f. Dinamika Psikologis Subjek 2 Kondisi subjek terkait dengan penyakit kusta yang dialaminya adalah adanya tanda fisik atau gejala fisik yang terlihat pada subjek akibat dari penyakit tersebut. Tanda-tanda tersebut antara lain, kulit badan subjek menjadi bersisik dan retak-retak, terjadi pembengkakan pada kaki, tangan serta luka dan mati rasa pada kaki dan tangan. Kondisi ini menghambat subjek dalam menjalankan aktifitas setiap hari. Subjek pun

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 merasa tidak sanggup untuk bekerja sebagai buruh di Bekasi karena sakit fisik yang dialaminya. Kondisi fisik yang cacat dan luka membuat subjek menjadi minder. Subjek mulai menarik diri dari lingkungan sosial karena merasa malu saat bertemu dan berkomunikasi dengan orang lain. Ada sikap pesimis dalam diri subjek terhadap penyakit yang dialaminya. Subjek merasa bahwa penyakit kusta yang dialami subjek adalah penyakit yang tidak bisa disembuhkan dan penyakit yang mematikan kehidupan subjek, bahkan subjek sendiri merasa bahwa penyakit kusta yang dialami oleh subjek, merupakan kutukan dari Tuhan. Sebagai penderita kusta, subjek pun merasa bahwa kehadiran subjek ditengah keluarga adalah sebuah beban tersendiri untuk keluarga. Perasaan ini membuat subjek ingin pergi dari keluarga. Kehadiran subjek ditengah keluarga sebagai orang yang menderita sakit kusta, mendapat respon positif dari keluarga. Hal ini dirasakan oleh subjek melalui keterlibatan keluarga dalam memberikan dukungan kepada subjek. Subjek mendapatkan arahan dari keluarga untuk mejalani pengobatan rutin dan dihantar oleh keluarga saat menjalani pengobatan di rumah sakit. Keluarga peka melihat kebutuhan-kebutuhan subjek selama sakit, dan terlibat dalam membantu biaya pengobatan untuk subjek. Keluarga menyediakan kebutuhan subjek selama sakit. (menyiapakan makan dan minum yang dibutuhkan oleh subjek). Ketika subjek merasa jenuh dan putus asah, subjek mendapat peneguhan dari keluarga. Keluarga

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 pun sering mengunjungi subjek selama menjalani perawatan di rumah rehabilitasi. Dukungan dari keluarga yang diterima oleh subjek membawa perubahan positif dalam diri subjek. Proses pengobatan yang dilakukan membawa perubahan pada kondisi fisik subjek. Kondisi fisik subjek terlihat membaik, meskipun ada cacat permanen yang tidak bisa disembuhkan, yakni pengecilan pada jari kaki dan tangan, serta buta pada mata bagian kanan. Subjek pun sudah bisa malakukan aktifitas hariannya secara sendiri tanpa harus dibantu oleh orang lain, mulai malakukan aktifitas ringan, mencuci, menyapu dan menyiram tanaman serta dapat bersosialisasi dengan orang lain. Hal ini terlihat dari keterlibatan subjek dalam mengikuti kegiatan-kegiatan di rumah rehabilitasi dan kegiatankegiatan keagamaan. Hal lain yang dirasakan oleh subjek adalah, perubahan pola pikir pada subjek, dimana subjek menjadi lebih positif melihat diri dan penyakit yang dialaminya. Subjek mampu melihat hal-hal positif dalam dirinya dan mulai berpikir bahwa penyakit kusta yang diderita subjek adalah penyakit yang bisa disembuhkan. Peneguhan dan dukungan dari keluarga juga membuat subjek mampu menerima kondisi diri yang sesungguhnya sebagai orang yang menderita sakit kusta dengan segala konsekuensi kecacatan yang dialami akibat dari penyakit tersebut. Proses penerimaan diri dan perubahan pola pikir membawa harapan pada subjek. subjek pun berharap bawa ia akan mengalami kesembuhan secara

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 total dan bisa kembali menjalankan hidupnya ditengah-tengah lingkungan sosial sebagaimana mestinya. Subjek selalu menumbuhkan harapan dalam dirinya dan menjadi orang yang tidak pesimis. Subjek pun mempunyai keinginan untuk mandiri setelah sembuh dari sakit, serta mengembangkan keterampilan-keterampilan yang diperoleh selama di rumah rehabilitasi dengan mengembangkan usaha peternakan. Gambaran Umum Subjek 2 Tabel 4.7. Objek Penyakit kusta Keluarga Diri subjek. Tema. Dampak penyakit kusta terhadap subjek. 1. Subjek merasa takut dan sedih. 2. Melumpuhkan aktifitas subjek. 3. Mengisolasi subjek dari lingkungan sosial. 4. Menumbuhkan inferioritas dalam diri subjek. Bentuk dukungan keluarga yang diterima dan dialami oleh subjek. 1. Empati dengan subjek. 2. Memahami dan membantu penguasaan emosi pada subjek. 3. Membantu menyediakan kebutuhan subjek selama sakit. 4. Menghantar dan menami subjek selama proses pengobatan. Dampak dari dukungan keluarga yang dirasakan oleh subjek. 1. Menjadi semakin beriman dan mendekatkan diri pada Tuhan. 2. Lebih percaya diri dan mampu bersosialisasi dengan orang lain. 3. Memilih untuk tetap tinggal dan bekerja di rumah rehabilitasi.

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 g. Deskripsi Tematik Subjek 2. Panyakit kusta yang diderita RM menyebabkan RM harus memilih untuk berhenti dari pekerjaannya sebagai buruh. RM merasa bahwa penyakit yang dideritanya adalah penyakit yang mematikan hidup RM. RM menyadari bahwa kondisi fisiknya semakin melemah dan tidak memungkinkan RM untuk bekerja. Kondisi fisik terkait dengan penyakit tersebut membuat RM secara perlahan mengisolasi diri dengan lingkungan sosial. RM menjadi minder dan malu saat bertemu dengan orang lain, bahkan RM pernah berpikir untuk pergi meninggalkan keluaga dan temanteman. Situasi ini membuat RM lebih memilih untuk tinggal di dalam kamar dari pada bertemu dan bersosialisasi dengan orang lain. Kehadiran RM ditengah keluarga sebagai seorang penderita kusta, mendapat respon positif dari sebagian besar anggota keluarga. Keluarga memberi afeksi positif berupa sikap penerimaan terhadap subjek. Hal ini terlihat dari sikap simbah dan adik dari RM yang berusaha mendengarkan dan menemani RM, memahami situasi emosi RM disaat mengalami reaksi kusta. Keluarga pun membantu menyediakan hal-hal yang dibutuhkan RM selama sakit, seperti makan, minun serta menemani RM. dalam menjalani pengobatan dan membantu biaya pengobatan. Dengan dukungan yang diterima dari keluarga, akhirnya membantu proses penyembuhan pada RM. RM dimampukan untuk dapat menerima dirinya dan bersosialisasi

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 dengan orang lain, yang terlihat dari keberanian subjek untuk menjalankan sholat bersama di masjid. RM mempunyai keinginan untuk dapat hidup mandiri, tetapi terbentur dengan biaya sehingga RM lebih memilih untuk tetap menjadi pekerja sosial di rumah rehabilitasi. 3. Subjek 3 Tabel 4. 8 Identitas Subjek 3. a. Identias subjek 3. Identitas Nama Samaran Jenis kelamin Usia Agama Status Pendidikan terakhir Pekerjaan sebelum sakit Tahun gejala munculnya sakit kusta Tahun diagnosa sakit Type kusta. Masuk panti rehabilitasi dan pengobatan Lamanya waktu tinggal di rumah rehabilitasi Keterangan TA Perempuan 32 Tahun Islam Sudah menikah. SD. Buruh tani. 1991. 1998. Basah. Oktober 1999. 15 ahun. b. Deskripsi subjek. Subjek ketiga dalam penelitian ini adalah seorang ibu berumur 32 tahun, berinisial TA. TA lahir di Brebes tanggal 5 Mei 1981, memiliki postur tubuh tinggi dengan warna kulit sawo mateng. Pada awalnya TA adalah orang yang normal (bukan cacat fisik ) namun karena sakit kusta maka saat ini TA terlihat cacat pada bagian kaki dan tangan. TA sedikit

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 terhambat saat berjalan dan bekerja karena cacat pada bagian kaki dan tangan. TA adalah pribadi yang santun, ramah dan murah senyum . Hal ini terlihat dari tutur katanya ketika berbicara dengan orang lain. TA selalu menyapa dengan ramah dan mudah tersenyum ketika berjumpa dan berbicara dengan orang lain. Kerana kepribadian yang ramah, TA selalu menjadi teman yang baik bagi teman-teman yang ada di rumah rehabilitasi. Sejak tahun 1999, TA masuk rumah rehabilitasi karena sakit kusta. Setelah 4 tahun di rumah rehabilitasi TA, menikah dan memiliki dua orang anak. Anak pertama berumur 10 tahun dan anak yang ke dua berumur 2 tahun. Ketika anak kedua ber umur 1 minggu suami TA meninggal dunia. Sampai saat ini TA tetap memilih untuk tinggal di Rumah rehabilitasi, sembari menjalai proses rehabilitasi, TA juga menggantungkan harapan kedua anaknya kepada pihak Yayasan. c. Riwayat Sakit Kusta Pada Subjek. Kedekatan TA dengan simbah yang menderita sakit kusta menjadi salah satu faktor pemicu munculnya sakit kusta pada TA. Munculnya penyakit kusta pada TA, ditandai dengan gejala berupa panas dingin dan muncul bercak-bercak pada badan serta mati rasa pada bagian kaki dan tangan. Gejala-gejala tersebut muncul ketika TA masih duduk di bangku sekolah dasar. Akan tetapi TA tidak mengetahui bahwa hal tersebut adalah gejala dari penyakit kusta.

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 Sulitnya fasilitas kesehatan di desa tersebut, membuat TA tidak pernah menjalankan proses sehingga pengobatan secara medis secara rutin dengan demikian, gejala yang dirasakan terus berkembang sampai akhirnya TA mengalami cacat pada bagian kaki dan tangan. Pada tahun 1998, atas bantuan kaka ipar dan seorang teman mantan penderita kusta, TA dianjurkan untuk melakukan pengobatan ke Semarang. Pada tahun yang sama TA menjalani pengobatan di Semarang. Hasil diagnosa yang diperoleh saat itu menunjukan bahwa TA menderita sakit kusta. d. Deskripsi tekstural. TA mulai merasakan tanda-tanda kusta ketika berumur 11 tahun. Gejala itu muncul dalam tanda fisik yang dirasakan oleh TA. “Saya mulai sakit itu kelas 4 suster. waktu itu umur saya sekitar 11 tahun. Sudah ngerasa kok suster, uda ada . saya mulai sakit” (13-15) “Awal-awalnya itu saya itu sering sakit, badan saya rasanya yo panas dingin gituloh suster. itu dikiranin karena kehujanan badan saya nda kuat, terus ada flek, nda terasa ituloh.,” (18-20, 23) Akibat tidak tersedianya layanan kesehatan maka kondisi TA semakin memburuk, bahkan menjadi cacat. “ Dulu itu disana, itu di desa belum diadakan puskesmas, jadi nda tau, nda pernah berobat, saya itu sakit apa, nda tau sampe badan saya cacat semua, tangan saya, kaki saya, kalo jalan susah. harus pake tongkat. Wah susah bener saya sus. ituloh mata saya juga cacat, nda bisa lihat, yang kanan sampe sekarang nda bisa lihat. (23-29)

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 Situasi ini mendorong TA untuk berobat ke rumah sakit. TA pun dihantar oleh kakak untuk berobat ke Tugurejo. Dokter rumah sakit menyatakan bahwa TA menderita sakit kusta. “ kakak ipar saya bilang sama saya, kamu itu coba berobat, kayanya penyakitmu itu nda penyakit sembarangan, takutnya itu nular”(28-30) “Ya kakak saya, kakak saya hanter sampe Semarang” (84) “ Taunya itu setelah berobat ke dokter di Semarang, persisnya itu tahun 1997” ( 32-33) “Awal ketemu, lihat saya cacat, tangan ya kaki sama mata saya, dokter bilang sama kaka saya, kalau saya itu kena kusta. ya uda, sama dokter ya disuruh tinggal di Semarang, di Tugurejo ituloh. (37-40) Penyakit kusta yang diderita oleh TA, mengakibatkan TA menjadi cacat. TA pun mulai terhambat untuk melakukan aktifitas hariannya. “Tangan saya ini bengkak-bengkak terus kadang kempes, kalau kempes itu menkeret, nda langsung kempes nda, mengkeret dulu, muncul lagi luka kadang bengkak terus menkeret lagi,terus-terusan sampe kaki saya, tangan saya itu jadi cacat kaya gini, kalo jalan ya susah, dua-duanya kaki sama tangan saya cacat suster, mata saya juga cacat” . (61-67) Dengan kondisi fisiknya yang cacat itu pula, TA akhirnya menjadi minder bila bertemu dengan orang lain. “ uda cacat kaya gini, mau keluar ketemu sama orang aja, saya itu minder kok suster” (67-68) Akibat lain yang dirasakan adalah, keluarga melarang TA untuk melakukan aktifitas harian, karena takut akan resiko penularan dan rasa malu keluarga terhadap orang lain.

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 “ Lha saya itu mau nimba air untuk mandi aja nda boleh, nda boleh bener sama kaka saya, takutnya itu nular, jadi hariharinya itu saya yo sedih ya nangis. Mau nemeni ibu saya ikut arisan yo nda boleh. Katanya itu malu kalau dilihat orang. Saya itu di rumah malah susah kok suster” (133-137) Situasi ini membuat TA merasa tidak krasan dan ingin pergi dari rumah karena merasa bahwa kehadirannya hanya menjadi beban bagi keluarga. “ Pergi dari rumah. Jauh dari rumah. lha nda enak, jadi beban ya untuk keluarga saya kasihan ibuk uda tua, saya sakitnya kaya gini. kakak saya juga orangnya susah kaya gitu sama adiknya aja nda mau suster.(73-78) Kerinduan TA pun terpenuhi. TA merasa bahagia ketika dokter menganjurkan untuk tinggal di semarang dan menjalani rawat inap selama 6 bulan di rumah Sakit Donorejo. “Makanya waktu dokter suruh saya tinggal di Semarang, saya yo seneng. Nda bebani keluarga gituloh” (79-80) TA mengakui bahwa selama menjalani pengobatan di semarang, keluarga jarang mengunjunginya. “Jarang suster. Pernah sekali kaka saya itu dateng, dia nda mau masuk, di jalan itu saya diundah, dipanggil suruh keluar, biacaranya itu dijalan terus cepat-cepat pulang, dia nda mau bener masuk ke kamar saya, ketemunya itu ya di Jalan. Setelah itu nda pernah dateng lagi sampe saya kembali ke Brebes. (87-92) Akhirnya TA pun harus bergulat untuk kembali ke rumah setelah selesai masa pengobatan awal. “ Malah saya itu takut mau kembali ke rumah, kakak saya yo nerima saya pa nda?. Nambah lagi beban buat mereka. Ibaratnya saya itu disini uda ngurangi beban utuk keluarga, ee, terus balik lagi, hemm, dilema sus.” (105-109)

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78 TA merasa bahwa kehadirannya kembali ditengan keluarga, mendapat respon negatif dari keluarga. “ lha saya itu nyampe, kok tangan kamu masih kaya gini nda berubah, saya ya bilang, kalo tangan sudah cacat nda mungkin lagi normal, kadang dia itu nda mau ngomong sama saya. Hari-harinya itu ya diem aja gituloh suster, kadang pergi, nda mau pulang, nda mau pulang ke rumah” (118-122) “ Saya itu kembali ke rumah malah susah, sedih malah di rumah itu, yo pie ? kaka saya ya nda mau nerima saya, jadinya saya itu susah, ya sedih. Kalo inget lagi itu sedih suster., yo udalah wes lewat.” (128-131) “ Di rumah sendiri, saya itu ngerasa kaya orang asing, ya sedih, rasanya itu beda, beda sama saya di Semarang” (145-147) TA akhirnya memutuskan untuk tinggal di rumah rehabilitasi, atas anjuran seorang teman mantan penderita kusta. Mbak Safati suruh saya ke Sani, ya uda. Saya yo manut, , saya waktu itu dijemput sama mbak Safati. “(65-67) Selama di rumah rehabilitasi, TA pun jarang mendapat kunjungan dari keluarga,bahkan tidak ada komunikasi antara TA dan keluarga. “Jarang suster, jarang, bisa dihitung kok, jarang. Saya itu di sini sampe ibu saya ninggal yo saya nda tau, kaka saya itu yang di Jakarta ninggal saya nda tau, pakde saya ninggal yo saya nda tau, nda ada yang nyampein sama saya”(178-181) Sikap apatis dan penolaka dari keluarga, membuat TA merasa jengkel dan kecewa. “Jengkel suster, bener-bener saya itu kecewa. Kecewa sama keluarga saya.” (183-184) “Nek dituruti yo jengkel, kesel gituloh sama keluarga, tapi yo gimana” (190-191)

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79 Situasi ini membuat TA merasa enggan bahkan tidak mau kembali ke keluarga meskipun sudah sehat. TA merasa sendirian dan tidak ada keluarga yang akan membantu anak-anaknya. “ Nda ada suster, nda mau, saya nda mikir untuk kembali ke Brebes, di sana nda ada siapa-siapa. Nanti siapa yang ngurus Lia sama Damar. (225-227) “Saya itu gantungkan Lia sama Damar itu sama Suster sama Bruder di sini. Kalo kami pulang ke Brebes, nanti anak saya nda sekolah. Mamanya uda nda sekolah, jadi anaknya itu harus pinter” (230-233) TA meresa nyaman tinggal di rumah rehabilitasi. Ia memilih untuk bekerja di rumah rehabilitasi, membantu teman-teman yang sakit serta untuk masa depan kedua anaknya. “Iya suster, Saya di sini aja suster, di sini aja, saya kerja bantu bruder sama suster di sini. Kalo ada temen yang sakit ya saya bantu nolong mereka, saya disini aja. saya masak untuk teman-temen, untuk kami semua di Sani. Anak-anak saya disini, diperhatiin sama suster, sama bruder, saya uda matur sama buder juga, saya bantu di Sani ya Nyapu, ya masak, ya semampu saya lakuin di tempat ini, nolong teman-teman saya yang sakit. ya untuk masa depan anak-anak saya, saya nda mau mereka sakit.” (235-245) Hal lain yang dirasakan oleh TA adalah bahwa sampai saat ini ia masih merasa minder bila bertemu dengan orang lain. TA lebih memilih untuk melakukan aktifitas di dalam komunitas rumah rehabilitasi dari pada melakukan pekerjaan yang bersangkutan dengan orang luar. “ nek misalnya di Sani aja, yo nda apa-apa, sama-sama temen, sama-sama sakit,kita-kita aja nda jadi soal. Nda

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 minder gituloh. Mau ngomong sama mereka-mereka, ketemu sama suster, sama buder yo nda ada masalah, Cuma kalau keluar dari sini, misal itu jumpa sama orang di jalan ato orang dateng kunjung, rasa malu itu tetep, tetep ada. nda PD sus, kalau ketemu sama orang luar, tetep minder. (205-212) Kalau Sama buder disuruh belanja ke pasar, kadang yo saya suruh mbak Sri yang pergi. Mending saya itu masak aja di rumah , biar yang belanja, apa jualan kacang sama endok ke pasar ya bu Sri. Aku ta pilih masak wae sama bu Warni. (214-218) e. Aspek-aspek psikologis dari subjek 3. Tabel 4. 9. Aspek Psikologis subjek 3. Subjek 3. ( TA ) Aspekaspek Psikologis Aspek kognitif Aspek afektif Kondisi selama sakit Pengalaman akan Dukungan dari keluarga. -Kesalahan -Keluarga persepsi membatasi terhadap gejala ruang gerak yang dari subjek. dirasakan. - Keluarga Melarang - Berpikir subjek untuk untuk pergi terlibat dari keluarga dalam kegiatan -Keinginan sosial untuk - Tidak diterima. memperhatik - Keinginan an subjek untuk ketika sakit. diperhatikan. - Tidak - Merasa mengunjungi kecewa dan subjek jengkel selama terhadap tinggal di keluarga. - Merasa sedih rumah rehabilitasi. karena - Kurangnya diabaikan Kondisi saat ini. -Berpikir untuk masa depan anakanak. -Berpikir buruk terhadap keluarga. Harapan -Ingin sembuh dari sakit Kusta. -Menjadi Folunter di Rumah rehabilitasi. - Keinginan untuk -Merasa membahagi kecewa dan jengkel dengan akan anakkeluarga. anak. - Tidak berani mengambil keputusa untuk keluar dari rumah rehabilitasi. - Takut terhadap realita. -Takut untuk

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI keluarga. - Merasa malu dengan orang lain. - Merasa menjadi beban untuk keluarga. - Sedih dengan kondisi fisik yang terluka. -Sedih karena jarang dikunjungi keluarga ketika di rumah sakit. - Merasa tertekan tinggal bersama keluarga. Aspek sosial Aspek fisik -Menarik diri dari lingkungan sosial. - Mengisolasi diri dan tidak mau bersosialisasi dengan orang lain. Pembengkaka n pada kaki dan tangan. - Mengalami cacat pada kaki, tangan dan mata. - Kulit badan bersisik dan retak. komunikasi antara keluarga dan subjek. kembali ke keluarga. - Merasa bahagia tinggal di rumah rehabilitasi. -Terlibat dalam kegiatankegiatan di rumah rehabilitasi - Merasa minder saat bertemu dengan orang lain di luar komunitas rumah rehabilitasi - Membantu teman-teman yang sakit. - kondisi fiski (kulit badan, luka pada kaki dan tangan) berangsur pulih. - cacat permanen pada kaki, tangan dan 81

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI - Lumpuh., tidak bisa berjalan. Aspek psikomot orik -Motorik terhambat, karena mati rasa pada tangan. 82 mata. - Mampu berjalan tanpa alat bantu. -Aktif gerak motorik. - Mampu melakukan aktifitas harian, mencuci, masak, menyapu. f. Dinamika psikologis subjek 3. Penyakit kusta yang dialami oleh subjek, membuat subjek menjadi minder dan menarik diri dari lingkungan sosial. Seluruh aktifitas subjek baik itu aktifitas pribadi maupun aktifitas sosial menjadi terhambat, akibat dari penyakit tersebut. Ada perasaan malu saat bertemu dengan orang lain, karena luka fisik serta perubahan tekstur kulit pada subjek akibat dari penyakit yang dialami subjek. Semenjak menderita sakit kusta, subjek pun berpikir untuk pergi dari keluarga karena merasa menjadi beban bagi keluarga. Situasi keluarga yang pasif dan kurang memberi dukungan kepada subjek, semakin menumbuhkan keinginan dalam diri subjek untuk pergi dari keluarga. Kehadiran subjek sebagai orang yang menderita sakit kusta, kurang mendapat dukungan dari keluarga. Hal ini dirasakan oleh subjek sejak awal subjek menderita sakit, dimana keluarga membatasi ruang gerak dari subjek. Keluarga melarang subjek agar tidak terlibat dalam kegiatankegiatan sosial, serta beberapa aktifitas di keluarga seperti tidak boleh

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 menimbah air di sumur karena keluarga merasa takut akan tertular penyakit kusta. Hal lain yang dialami subjek adalah, selama menjalani pengobatan, baik itu selama di Semarang maupun di rumah rehabilitasi kusta, keluarga jarang mengunjungi subjek. Pengalaman akan kurangnya dukungan dari keluarga yang dirasakan oleh subjek, membuat subjek merasa takut untuk kembali kepada keluarga. Ada ketakutan dan rasa minder dalam diri subjek untuk bertemu dengan orang lain, serta kurang memiliki kemampuan untuk bersosialisasi dengan orang lain di luar komunitas rumah rehabilitasi. Subjek pun merasa jauh lebih nyaman untuk tinggal di rumah rehabilitasi dan memilih untuk menjadi Volunter di rumah rehabilitasi setelah sembuh dari sakit kusta. g. Gambaran tema-tema umum subjek 3. Tabel 4.11 Tema-tema Umum subjek 3. Objek Penyakit kusta Keluarga Tema Dampak penyakit kusta terhadap subjek. - Sedih dan cemas - Menjadi cacat pada kaki, tangan dan mata. - Menjadi minder dan mengisolasi diri dari lingkungan sosial. - Memisahkan subjek dengan keluarga. Keluarga yang kurang memberikan dukungan kepada subjek. - Melarang subjek untuk beraktifitas karena takut akan resiko penularan.

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 84 - Subjek Jarang mengunjungi subjek ketika sakit - Tidak ada komunikasi dengan subjek saat sakit. - Mengabaikan subjek ketika subjek kembali ke rumah. Dampak dari kurangnya dukungan dari keluarga pada subjek. - Merasa kesal dan kecewa dengan keluarga. - Menarik diri dari keluarga. - Merasa takut dan enggan untuk kembali ke rumah. - Merasa minder dan takut beretmu dengan orang lain di luar komunitas. - Merasa nyaman tinggal di rumah rehabilitasi. - Tetap tinggal dan bekerja di rumah rehabilitasi. h. Deskripsi Tematik Subjek 3 Penyakit kusta yang diderita TA menyebabkan TA menjadi cacat pada kaki , tangan dan Mata. TA pun menjadi sulit untuk melakukan aktifitas hariannya. Kondisi fisik demikian membuat TA menjadi minder dan tidak mau bertemu dengan orang lain. Melihat situasi demikian keluarga menganjurkan dan menghantar TA untuk berobat ke rumah sakit. Sebagai seorang yang menderita sakit kusta, TA kurang mendapatkan dukungan dari keluarga. Keluarga cenderung mengabaikan dan bersikap apatis terhadap TA, bahkan membatasi ruang gerak TA dengan melarang TA untuk melakukan beberapa aktivitas harian, dengan alasan takut akan penularan. Keluarga jarang mengunjungi TA, selama menjalani pengobatan awal di rumah sakit Tugurejo bahkan selama 15

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 85 tahun di rumah rehabilitasi kusta Sani, keluarga jarang mengunjungi TA. Akibatnya ketika ibu dan beberapa keluarga dari TA meninggal dunia, TA tidak mengetahui hal tersebut. Situasi penolakan yang dialami TA membuat TA menjadi kecewa dan jengkel terhadap keluarga. TA mengakui bahwa tidak ada anggota keluarga yang membantu untuk memperhatikan kehidupan mereka. Hal ini membuat TA merasa enggan bahkan tidak mau kembali ke keluarga. TA merasa nyaman tinggal di rumah rehabilitasi, kondisi ini didukung oleh ketidakberanian TA dalam bersosialisasi dengan orang lain di luar komunitas rumah rehabilitasi. TA pun akhirnya memilih untuk tinggal dan bekerja di rumah rehabilitasi, dengan misi membantu teman-teman yang sakit serta berjuang untuk masa depan kedua anaknya. 4. Deskripsi Tema-Tema Temuan. Berdasarkan hasil analisis data yang sudah dilakukan pada ketiga subjek, ditemukan tema-tema pokok terkait dengan fokus penelitian yakni, Sejauh mana subjek merasakan dukungan dari keluarga selama subjek menjalani sakitnya sebagai seorang penderita kusta. Bagaimana keluarga memberi dukungan, serta apa dampak yang dirasakan oleh subjek, bagaimana dinamika psikologis penderita, berkaitan dengan penyakit yang dideritanya. Berikut ini akan dijelaskan secara lebih detil tentang tematema tersebut secara keseluruhan, terkait dengan fokus penelitian. 1. Dinamika Psikologis subjek.

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86 Analisis data dari keseluruhan subjek ditemukan ada 4 kondisi psikologis yang dialami oleh ketiga subjek terkait dengan penyakit kusta yang dialami. Keempat kondisi psikologis tersebut adalah : kehidupan yang terbatas (restricted life). Keterasingan sosial (social isolation), definisi diri yang tidak baik (discrediting definition of self), merasa menjadi beban bagi orang lain (becoming a burden on others). a. Kehidupan yang terbatas, (restricted life). Cacat fisik akibat dari penyakit kusta, membatasi ruang gerak dari ketiga subjek. Penyakit kusta menyebabkan cacat fisik pada ketiga subjek. Akibat dari kecacatan fisik yang dialami, subjek harus kehilangan pekerjaan yang merupakan mata pencaharian subjek setiap hari. Ada keterbatasan dalam menjalankan peran baik itu secara sosial maupun pribadi. Ketiga subjek kemudian tidak bisa melakukan aktifitas hariannya secara sendirian karena terjadi disfungsi anatomi dan fisiologis pada subjek. Hal ini terungkap dalam wawancara subjek berikut ini. ( Subjek 1, RO ) “ Badan saya itu sakit semua suster, nah kalo pas reaksi nemen sakitnya. tulang itu sakit, kulit itu pun ya sakit, terus nda punya napsu makan sama sekali, olehnya, e, lama kelamaan nda bisa apa pun , seperti itu. Saya nda bisa ber, apa ya? kreatifitas sendiri khan nda bisa. Nda bisa kerja, . Bangun dari tempat tidur pun saya nda kuat, waktu itu, waktu parah-parahnya itu” ( 87-93 ) b. Rasa minder dan mengisolasi diri dari lingkungan sosial.

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87 Cacat fisik yang dialami ketiga subjek sebagai akibat dari penyakit kusta, tidak hanya menghambat aktifitas subjek, tetapi juga membuat ketiga subjek merasa minder dan mengisolasi diri dari lingkungan sosial. Subjek memilih untuk mengurung diri di dalam kamar dan tidak mau bertemu dengan orang lain karena luka fisik serta stigma sosial dari masyarkakat terhadap penyakit kusta yang diderita oleh ketiga subjek. Pengalaman akan sikap subjek yang mengisolasi diri dari lingkungan sosial, terungkap dalam wawancara berikut. ( Subjek 1, RO) “ Mau ketemu sama orang itu malu, mulai terasa watu saya nda bisa nutupi luka-luka saya, kulit saya mulai kelihatan kaya kebakar mau keluar entah jumpa sama orang, udah mikir duluan, malu” (78-81) ( Subjek 2, RM ) “Ya nda sama kaya dulu, sejak terkena lepra saya lebih seneng sendiri aja, mau ngomong sama orang malu sus, makanya saya itu banyak di kamar, minder. ( 47-49) ( Subjek 3, TA ) “ kaki sama tangan saya cacat suster, mata saya juga cacat. heem, uda cacat kaya gini, mau keluar ketemu sama orang aja, saya itu minder kok suster” ( 66-69) c. Merasa menjadi beban bagi orang lain. (becoming a burden on others). Ketiga subjek merasa bahwa kehadiran mereka sebagai orang yang menderita sakit kusta menjadi beban tersendiri bagi keluarga. Perasaan ini kemudian memunculkan keinginan dalam diri subjek untuk pergi dari keluarga. Ketiga subjek merasa bahwa

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI kehadiran mereka 88 sebagai penderita kusta di tengah-tengah keluarga, menjadi beban bagi keluarga. hal ini terungkap dalam wawancara berikut. ( Subjek1, RO ) Saya sempet ngedrop waktu itu, saya itu bener-bener putus asah, ya jenuh. Saya itu malah tersiksa, kesannya itu malah menjadi beban untuk banyak orang, terutama ya untuk keluarga gituloh. (203-206) ( Subjek 3,TA ) “ terus aja mikirnya kaya gitu. Jauh dari rumah. lha nda enak, jadi beban ya untuk keluarga saya kasihan ibu uda tua, saya sakitnya kaya gini” ( 7578 ) d. Definisi diri yang tidak baik (discrediting definition of self) Subjek merasa bahwa dengan menderita sakit kusta, subjek menjadi orang yang tidak berguna, merasa menjadi orang yang mendapat hukuman atau kutukan dari Tuhan. Hal ini terungkap dalam wawancara berikut. ( Subjek 2, RM ) “ udah nda karuan mikirnya entah tanganku jadi buntung, kakiku buntung, dosaku opo yo, kok Tuhan kasih aku sakit Lepra. Kusta ki mateni uripku “ ( 39-42, 53-54 ) ( Subjek 3, TA ) Yo, kaya nda ada gunanya, hidup sama aja nda, buruklah, semuanya itu nda ada arti, hidup itu ya kosong, lha kui.. hem 2. Dukungan keluarga yang dirasakan oleh subjek selama menjalani sakitnya sebagai penderita kusta. Analisis data dari keseluruhan subjek, diketahui bahwa keempat dukungan sosial diterima oleh dua subjek, yakni subjek 1 dan

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 89 subjek 2, sedangkan subjek yang ke 3 adalah subjek yang kurang mendapatkan dukungan dari keluarga. 1. Pemberian afeksi positif berupa empati dan penerimaan dari keluarga sebagai bentuk dukungan emosional pada subjek. S1 (RO) dan S2 (RM) mendapatkan dukungan emosianal dari keluarga berupa pemberian afeksi positif. Afeksi positif ditunjukan dengan munculnya perhatian, empati dan kepedulihan yang ditunjukan dengan kesediaan keluarga untuk mendengarkan keluhan serta memahami situasi emosi subjek selama menjani sakitnya. Hal lain yang dirasakan adalah keluarga memiliki kepekaan akan hal-hal yang dibutuhkan oleh subjek sebagai seorang penderita kusta. Keluarga merawat subjek denga sepenuh hati, tanpa ada rasa jijik atau takut tertular. Pengalaman ini terungkap dalam hasil wawancara dengan subjek. ( Subjek 1, RO ) Yang pertama ya sus, saya itu, saya itu, awalnya datang di Klaten ngelihat kondisi saya kaya gitu, budhe sama adek saya itu ngerangkul saya sambil nangis. Nda ada rasa takut tertular gitu. ( 144-147) ( Subjek 3, RM ) “ kalau hati saya itu sesek, ya ngobrol, ngomong sama adik saya. Didengerin aja hatinya bisa legah, nda ada rasa takut atau jijik dengan saya, nda ada. Dia ya nerima saya, saya sakit kusta, nda jadi masalah untuk adik saya. ( 141-143, 144-145 ) 2. Membantu biaya pengobatan, menjaga dan merawat subjek, serta memperhatikan kebutuhan subjek selama sakit adalah bentuk dukungan instrumental. Dukungan instrumental diterima oleh

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 subjek 1 ( RO ) dan Subjek 2 ( RM). Dukungan instrumental yang diterima oleh subjek 1 (RO) dan subjek 2 ( RM) berupa bantuan biaya pengobatan serta merawat dan menjaga subjek selama sakit. Pada S1. (RO), Keluarga membantu membersihkan dan menganti ferban pada luka subjek serta menyediakan kebutuhan makanminum pada subjek. pengalaman ini terungkap dalam wawancara berikut. ( Subjek 1, RO ) “ ya mandiin saya, badan saya, kaki saya, tangan saya itu bengkan- bengkak, luka,yang balutin luka, yang gantin ferban bersiin luka ya pakde gentenan sama budhe. Nda ada rasa jijik sama sekali, nda ada sus. ( 168-172 ) ( Subjek 2, RM ) Tangan saya ini khan pernah operasi di Donorejo, biaya operasinya ya dibantu sama keluarga. (151- 153 ) 3. Pemberian motivasi dan peneguhan pada subjek, merupakan bentuk dukunagn penghargaan atau penilaian. penghargaan yang diberikan pada subjek berupa Dukungan pemberian semangat dan motivasi pada subjek untuk sabar dan tetap semangat dalam menghadapi sakit. Keluarga mendengarkan keluahan dan memotivasi subjek dengan memberi peneguhan, ketika subjek merasa jenuh dan putus asah karena lamanya proses pengobatan dan penyembuhan pada subjek. Subjek pun mengakui bahwa peneguhan yang diterimanya memampukan subjek untuk kembali

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91 menemukan semangat dan tetap optimis untuk sembuh dari sakit. Pengalaman ini terungkap dalam hasil wawancara berikut. ( Subjek 1, RO ) “ Pakde ya ngomong sama saya, bilang sama saya, kalau sakit kaya saya ini bisa disembuhkan asal kita itu telaten dan sabar, nda mudah sters, nda mudah putus asah., ya harus punya harapanlah. hati saya itu legah, plong ada kekuatan untuk hadapin sakit. kadang ya muncul lagi, tapi ya sering dibilangin, saya ya usahakan, ya sabar ya bisa nerima. (227-230, 236238) Hal lai yang dirasakan adalah pemberian dukungan penilaian berupa menghadirkan subjek pembanding. Keluarga membandingkan keadaan subjek dengan keadaan penderita lainnya,yang lebih buruk, memotivasi subjek untuk tidak pesimis dan kecil hati dalam menjalani sakitnya. ( Subjek 2, RM ) “ kon sabar, yakin, sakit saya itu bisa sembuh. Bilang sama saya, ada orang yang lebih susah, lebih parah sakitnya, nda usah grusah-grusuh, dilakoni wae, sambil usaha, pasti yo sembuh. ( 94-97 ) 4. Mencari informasi pengobatan serta melibatkan significan others yang lain dalam proses pengobatan merupakan bentuk dukungan informasional. Ketiga subjek , RO, RM dan TA mendapatkan dukungan informasional dari keluarga. keluarga terlibat aktif dalam mencari informasi pengobatan pada subjek. Pada S1 (RO) keluarga juga melibatkan significant others yang lain untuk membantu mencari informasi pengobatan yang akurat untuk

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 92 subjek. RO pun mendapatkan bantuan dari pihak gereja, sehinga RO bisa mendapatkan pengobatan dan perawatan di rumah sakit Panti Rapih. ( Subjek 1, RO ) “ Pakde saya, yang sregep nyari informasi, ya nanyananya sama orang, apa aja diusahain suster. Pernah saya dicarikan obat tadisional,terus ke alternatif, itu dapet dari temannya pakde, katanya itu suruh makan pisang ambon, ya diusahakan, sampe saya ya bisa makan, ya macem-macem suster, terus saya berobat ke Panti Rapih, keluarga sama orang gereja, yang nganjurin saya untuk ke sana, ada juga bruder yang bantu ya, sampe saya dapet rekomendasi dari bapa uskup untuk berobat ke Panti Rapih. ( 190-195, 241-245 ) Pada subjek 2 ( RM ) dan subjek 3, ( TA ) keluarga bersama signifant other yang lain, memberikan informasi tempat pengobatan untuk subjek. ( Subjek 2, RM ) “ Nah, saya itu dapet informasi itu dari orang mantan Sani juga, dulunya sakit lepra juga, tapi dia lebih parah dari saya, dia itu tangannya buntung, kakinya buntung, itu tetangga rumah di Sukolilo sana itu. dia itu dateng ke rumah terus nawarin saya untuk ke Sani “ (163-167) ( Subjek 3, TA ) “ Eh, waktu itu saya di Semarang, terus ada orang dari Sani, mbak Safati namanya, dia itu dulunya juga sakit seperti saya, nengok temannya di Semarang itu khan ada yang opnam. Terus saya dibilangin, bagaimana kalau kamu ikut saya ke Sani, saya nanya, Sani itu di mana to mbak? Katanya mbak itu Sani itu ya tempat kita-kita ini. ( 170-175 ) Pada S3 (TA) keluarga kurang memberi dukungan bahkan cenderung apatis terhadap subjek. Terkadang keluarga memberikan respon negatif terhadap subjek. Hal ini terlihat dari sikap keluarga

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 93 memperlakukan subjek selama sakit. Keluarga membatasi ruang gerak dari subjek dengan melarang subjek untuk melakukan aktivitas harian berupa larangan untuk menimba air di sumur karena takut akan resiko penularan. Pengalaman ini terungkap dalam hasil wawancara berikut. ( Subjek 3, TA ) “ Lha saya itu mau nimba air untuk mandi aja nda boleh, nda boleh bener sama kaka saya, takutnya itu nular, jadi hari-harinya itu saya yo sedih ya nangis. ( 149-150) TA pun dilarang untuk mengikuti kegiatan sosial seperti arisan karena akan menimbulkan rasa malu pada keluarga. Selama menjani pengobatan tahap awal selama 6 bulan pertama, TA jarang dikunjungi oleh keluarga bahka selama masa pengobatan lanjutan selama kurang lebih 15 tahun di rumah rehabilitasi, keluarga pun jarang mengunjungi subjek. Bentuk penolakan lain yang dirasakan oleh subjek adalah tidak adanya komunikasi dari keluarga pada saat ada anggota keluarga yang meninggal namun tidak diberitahukan pada subjek. Bentuk penolakan ini membuat subjek merasa jengkel dan kecewa dengan keluarga, dan mengakibatkan ketakutan pada subjek untuk kembali ke keluarga meskipun sudah sembuh dari sakit. TA merasa lebih nyaman tinggal di rumah rehabilitasi dan berkerja untuk teman-teman dan untuk masa depan kedua anaknya.

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 94 ( Subjek 3, TA ) “ Mau nemeni ibu saya ikut arisan yo nda boleh. Katanya itu malu kalau dilihat orang. Saya itu di rumah malah susah kok suster. (151-153) Jarang suster, jarang, bisa dihitung kok, jarang. Saya itu di sini sampe ibu saya ninggal yo saya nda tau, kaka saya itu yang di Jakarta ninggal saya nda tau, pakde saya ninggal yo saya nda tau, nda ada yang nyampein sama saya. ( 194197 ) 3. Dampak dari dukungan keluarga pada subjek. Ketiga subjek secara berbeda merasakan keterlibatan keluarga dalam memberikan dukungan kepada subjek. Subjek 1 dan 2, adalah subjek yang merasakan dukungan penuh dari keluarga, sejak awal sakit sampai saat ini. Adapun hal positif atau dampak yang dirasakan oleh subjek dengan adanya dukungan yang diterima dari keluarga adalah sebagai berikut : a. Dengan adanya informasi-informasi pengobatan yang diterima dari keluarga, subjek pun akhirnya bisa mendapatkan pengobatan di rumah sakit dan rumah rehabilitasi. ( Subjek 1, RO ) “ terus saya berobat ke Panti Rapih, keluarga sama orang gereja, yang nganjurin saya untuk ke sana, ada juga bruder yang bantu ya, sampe saya dapet rekomendasi dari bapa uskup untuk berobat ke Panti Rapih” .( 241-245 ) b. Penerimaan yang tulus dari keluarga serta kesetiaan keluarga dalam menjaga dan merawat subjek selama sakit, mengubah disposisi bathin subjek. Perubahan dari rasa putus asah menjadi

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 95 adanya harapan untuk sembuh dari sakit. Subjek pun merasa lebih tenang dalam menghadapi sakitnya. Hal lain yang dirasakan oleh subjek adalah, adanya perubahan konsep berpikir pada subjek dari yang negatif menjadi lebih positif terhadap keluarga. ( Subjek 1, RO ) “ yang saya rasakan lebih ke bathin saya. Waktu di rumah sakit Panti Rapih saya itu menemukan harapan untuk sembuh, saya ditunggu, dijaga sama keluarga. Saya merasa diperhatikan, saya malah , saya merasa nda ada beban. Hati saya itu lebih tenang di sana itu. nda canggung ya, . bisa semangat lagi ya kuat, bener-bener siap untuk ngadepi sakit. ( 265-267, 269-271, 275-276 ) “ awal-awal saya sakit itu ya, saya itu mikir keluarga itu ya jauh dari saya, nda mau dengerin saya, nda akan nerima saya, makanya saya itu nda berani ngomong ya kalo saya sakit kusta, sampe uda parah baru keluarga tau. Udah negatif duluan mikirnya itu “ (460-464) “ Meskipun saya sakitnya kaya gini, sulit, nda umum, keluarga tetep nerima saya sebage anggota keluarga, mereka nda ninggalin saya “ ( 453-455) ( Subjek 2, RM ) legah suster. tadinya itu misalnya mumet, stres,pusing, macem-macem rasa itu bisa hilang, to ada yang dengerin, jadinya bisa kuat, ada yang nopang gituloh” ( 147-149) c. Perawatan dan pengobatan intensif yang dilakukan baik itu selama di rumah sakit maupun di rumah rehabilitasi, membawah perubahan pada kondisi fisik subjek. Secara perlahan kondisi fisik subjek membaik, meskipun tidak bisa pulih 100 % karena adanya cacat permanen pada bagian-bagian tubuh subjek akibat dari penyakit kusta yang dialami oleh subjek.

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 96 ( Subjek 1, RO ) Kalo ke fisik, sekarang saya uda bisa jalan,ya jalan jauhlah, nda kaya beberapa bulan sebelumnya. Lha, tadi pagi saya bawa sepeda ke gereja untuk misa pagi. Uda hampir satu bulan ini, saya ya nyepeda ke gereja, kalo di tanjaan sedikit di depan itu, ta tuntun suster, soale kaki saya belom kuat” ( 367-371 ) ( Subjek 2, RM ) Alhamdulilah, banyak perubahannya. Jauh, jauh lebih sehat . Cuman ya tangan saya itu nda bisa pulih, tetep aja kaya gini, raiso lurus. Kalau kaya gini ya kaya gini terus, nda luwes kalo kerja. Dadak ngene-ngeneloh. ( 240-243) ( Subjek 3, TA ) Nah kalo dulu khan saya itu nda bisa jalan, lemas, lemas aja kaya gitu sus. misalnya kalo lagi reaksi kusta, saya nda bisa ngapa-ngapain, kaki sama tangan saya itu pecahpecah, itu berdarah suster, ngerih lihatnya, sekarang uda nda, reaksi sudah mulai jarang, nda ada luka lagi, saya juga uda bisa jalan, uda bisa kerja, bantu-bantu di dapur. Cuman ya teteap kaya gini, tangan yang namanya udah cacat ya nda bisa puli lagi, kaki saya juga, nda ada jarinya, khan nda bisa pulih sus. (243-251) . d. Penilain positif serta komunikasi dan peneguhan dari keluarga kepada subjek, menumbuhkan rasa percaya diri serta kemampuan pada subjek untuk mencari solusi ketika mengalami stres atau kejenuhan - kejenuhan dalam menjalankan hidupnya sebagai penderita kusta ( Subjek 1, RO ) “ Oo, kalau itu uda nda, biasa suster, biasa aja. Sekarang ya, saya merasa lebih percaya diri, karena lingkungan juga ngajarin saya, ya disinilah, terus, kalo di Klaten itu teman-teman saya ya bisa menerima saya, jadinya saya itu lebih merasa percaya diri” ( 416-420 ) ( Subjek 2, RM )

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 97 “ nek saya itu udah stres kepikiran macem-macem, uda, saya ambil alquran baca ayat-ayat alquran, nah baru plong, jadi itu uda khas gitu terus sampe hari ini, sholat ya saya jalanin lima waktu, nah terus Inget sama yang laen, tangannya buntung, kakinya buntung, ya udah, semangat lagi untuk sembuh, saya khan istilanya itu belom parah gituloh sus, sama yang laen” ( 101-107 ) Hal lain yang dirasakan oleh subjek dengan adanya dukungan dari keluarga adalah, tumbuhnya harapan dalam diri subjek untuk cita-cita dan masa depan subjek sendiri. Subjek mempunyai harapan agar setelah sembuh dari sakit, subjek akan keluar dari rumah rehabilitasi dan kembali ke keluarga, untuk memulai mengembangkan usaha dan keterampilan-keterampilan yang diperoleh selama di rumah rehabilitasi. Hal ini terungkap dalam hasil wawancara dengan subjek di bawa ini. ( Subjek 1, RO ) “ Ya, setelah saya apa ya, saya banyak pengalaman yang saya alami ini saya itu punya niat untuk mandiri, pertama ya untuk saya sendiri, ya untuk keluarga saya, saya kembangkan bantuan yang selama ini saya dapet dari temen-temen saya, ada subangan dari mereka. Rencananya saya akan kembali ke Klaten, saya akan ternak ayam, ya bisa untuk memandirikan saya sendiri aja dulu. Saya ya maunya sih mandiri. Saya juga bisa ngontrol kesehatan saya ya suster, udah mantep gitu, bulan juli saya keluar, saya akan mulai usaha saya. (477-484, 492-494) ( Subjek 2, RM ) Maunya itu usaha sendiri sus, pengennya itu ternak lele, terus jual-jualan entok, cuman saya itu belum siap, nda punya apa-apa, belum ada modal. ( 304306 )

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 98 Kurangnya dukungan dari keluarga juga membawa pengaruh tersendiri pada subjek. pengalaman penolakan dari keluarga yang dialami subjek, membuat subjek merasa takut untuk kembali kepada keluarga. subjek pun menjadi pribadi yang minder, kurang bisa bersosialisasi dengan orang lain, secara khusus dengan orang lain di luar komunitas rumah rehabilitasi. Subjek merasa bahwa kehidupan di rumah rehabilitasi lebih membuat subjek merasa bahagia, untuk itu subjek memilih untuk tetap tinggal di rumah rehabilitasi sekalipun nanti sudah sembuh dari sakit kusta. subjek memilih untuk menjadi volunter di rumah rehabilitasi, bekerja dan melayani orang-orang yang menderita sakit kusta. ( Subjek 3, TA ) “ Cuma kalau keluar dari sini, misal itu jumpa sama orang di jalan ato orang dateng kunjung, rasa malu itu tetep, tetep ada. Nda PD sus, kalau ketemu sama orang luar, tetep minder. Kalau Sama buder disuruh belanja ke pasar, kadang yo saya suruh mbak Sri yang pergi. Mending saya itu masak aja di rumah , bu Warni” ( 225231) “ Nda ada suster, nda mau, saya nda mikir untuk kembali ke Brebes, di sana nda ada siapa-siapa” . ( 256-257) “ Saya di sini aja suster, di sini aja, saya kerja bantu bruder sama suster di sini. Kalo ada temen yang sakit ya saya bantu nolong mereka, saya disini aja. saya masak untuk teman-temen, untuk kami semua di Sani” ( 262267 )

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 99 C. Pembahasan. 1. Temuan dari fokus penelitian. a. Dinamika Psikologis subjek sebagai orang yang menderita sakit kusta. Berdasarkan analisis data diketahui bahwa ada dinamika psikologis dari ketiga subjek terkait dengan kondisi subjek sebagai penderita kusta. Dinamika psikologis terlihat dalam empat kondisi psikologis yang dialami oleh ketiga subjek. Keempat kondisi psikologis tersebut adalah : kehidupan yang terbatas (restricted life). Keterasingan sosial (social isolation), definisi diri yang tidak baik (discrediting definition of self ), merasa menjadi beban bagi orang lain (becoming a burden on others). Keempat kondisi psikologis yang dialami oleh ketiga subjek ini, menegaskan empat kondisi psikologis pada penderita penyakit kronis yang sudah dijelaskan oleh Charmaz (dalam Radley, 1994). Meskipun demikian temuan dalam penelitian ini tentang dinamika psikologis pada penderita kusta, secara jelas terlihat dalam seluruh aspek kehidupan subjek melalui respon-respon yang muncul

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 100 dalam diri subjek, terkait dengan kondisi subjek sebagai orang yang menderita sakit kusta. Pada penelitian terdahulu, (Rahayu, 2011) tentang dukungan psikososial keluarga pada penderita kusta, hanya melihat bentuk-bentuk dukungan dan tinggi redahnya dukungan keluarga dilihat dari sisi demografis keluarga. Pada penelitian lain, (Angelina. 2011) tentang dukungan sosial dan persepsi penderita terhadap penyakit kusta, hanya melihat tentang bentuk-bentuk dukungan sosial dan persepsi penderita tentang penyakit kusta, meskipun sudah melibatkan subjek penderita kusta, tetapi tidak ditemukan adanya dinamika psikologis dari penderita kusta. Oleh karena itu, temuan penelitian ini, dinilai memberikan tambahan informasi tentang kondisi psikologis dari orang yang menderita penyakit kusta, bagaimana perjuangan hidup dari orang yang menderita sakit kusta, berhadapan dengan realita fisik yang luka yang mengakibatkan kecacatan fisik dan disfungsi sosial pada masyarakat, akibat dari penyakit yang dialaminya. Ada pun dinamika psikologis yang dialami oleh ketiga subjek tersebut adalah sebagai berikut : Ketiga subjek berada dalam kondisi kehidupan yang terbatas, baik itu keterbatasan fisik maupun keterbatasan menjalankan peran-peran pribadi dan sosial, dalam kehidupan bermasyarakat. Penyakit kusta menyebabkan cacat fisik pada ketiga subjek. Akibat

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 101 dari kecacatan fisik yang dialami, subjek harus kehilangan pekerjaan yang merupakan mata pencaharian subjek setiap hari. Keterbatasan fisik (luka dan cacat) akibat dari penyakit kusta yang dialami oleh subjek, menjadi hambatan utama bagi subjek untuk mejalankan perannya dengan baik. Ketiga subjek merasa bahwa kehadiran mereka sebagai orang yang menderita sakit kusta menjadi beban tersendiri bagi orang lain, secara khusus keluarga. Perasaan ini kemudian memunculkan keinginan dalam diri subjek untuk pergi dari keluarga. Ketiga subjek merasa bahwa kehadiran mereka sebagai penderita kusta di tengahtengah keluarga, menjadi beban bagi keluarga. Subjek merasa bahwa dengan menderita sakit kusta, subjek menjadi orang yang tidak berguna, merasa menjadi orang yang mendapat hukuman atau kutukan dari Tuhan. Ketiga subjek secara perlahan mengisolasi diri dari lingkungan sosial karena luka-luka fisik yang terlihat pada tubuh subjek akibat dari penyakit kusta yang dialami oleh subjek, serta adanya stigma sosial yang berkembang di masyarakat terhadap orang yang menderita sakit kusta. Pemahaman subjek sendiri terhadap penyakit kusta sebagai penyakit yang menakutkan dan mematikan serta penolakan dari keluarga, membuat subjek menjadi semakin merasa minder dan menarik diri dari lingkungan sosial. Pengalaman akan rasa minder pada ketiga subjek mempunyai latar belakang berbeda-beda. Pada RO, rasa minder lebih

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 102 diakibatkan karena cacat fisik yang dialaminya. Kondisi tubuh yang terluka dan perubahan pada kulit, menyebabkan RO menjadi malu saat bertemu dengan orang lain. Secara perlahan RO mulai mengisolasi diri dari lingkungan dan teman-teman yang ada disekitarnya. Pengalaman akan rasa minder pada RM bermula dari pikiran RM bahwa penyakit kusta adalah penyakit yang menakutkan dan mematikan hidupnya serta membawa aib dalam hidup RM. Pikiran inilah yang membuat RM merasa minder dengan orang lain. TA merasakan hal yang berbeda dari RO dan RM. Munculnya rasa minder pada TA, Akibat dari cacat dan luka fisik sera penolakan dari keluarga. sikap keluarga yang melarang subjek untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial maupun aktifitas harian di rumah membuat TA merasa minder dan semakin mengisolasi diri dari lingkungan sekitar. TA menjadi minder dan malu saat bertemu dengan orang lain. b. Dukungan keluarga yang dialami oleh subjek terkait dengan kondisi subjek sebagai penderita kusta. Berdasarkan temuan penelitian yang sudah dijelaskan sebelumnya diketahui ada dua pengalaman berbeda terkait dengan dukungan keluarga yang diterima oleh subjek. Subjek pertama dan kedua adalah subjek yang mendapat dukungan penuh dari keluarga. Sementara itu, subjek 3 adalah subjek yang kurang bahkan mendapat penolakan dari keluarga, terkait dengan kondisi subjek sebagai orang yang mendarita sakit kusta.

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 103 Pada subjek yang mendapat dukungan penuh dari keluarga, diketahui bahwa terdapat empat jenis dukungan sosial yang diterima oleh subjek. Keempat dukungan tersebut adalah, dukungan informasional, dukungan penilaian, dukungan instrumental dan dukungan emosional. Keempat jenis dukungan sosial tersebut menegaskan keempat dukungan sosial yang sudah dikemukakan para ahli terdahulu, (Smet, 1994; Taylor, Peplau, & Sears, 2000; Caplan dalam Friedman, 2010). Dalam penelitian ini, temuan tentang dukungan sosial pada penderita kusta tergambar secara jelas dan teraplikasi dalam seluruh ritme kehidupan penderita kusta. Temuan tentang dukungan sosial keluarga tidak hanya teori atau konsep atau dukungan sosial secara umum, tetapi secara detail dan spesifik, diuraikan dari setiap jenis dukungan yang dialami atau dirasakan oleh penderita, serta berdampak secara langsung pada subjek sebagai orang yang menderita sakit kusta. Pada penelitian terdahulu, (Rahayu, 2011) tentang dukungan psikososial keluarga pada penderita kusta, hanya melihat bentuk-bentuk dukungan dan tinggi redahnya dukungan keluarga dilihat dari sisi demografis keluarga. Peneliti hanya melihat bentukbentuk dukungan secara umum tampa uraian terperinci dari masingmasing dukungan. Pada penelitian lain, (Angelina. 2011) tentang dukungan sosial dan persepsi penderita terhadap penyakit kusta, hanya melihat tentang bentuk-bentuk dukungan sosial dan persepsi penderita

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 104 tentang penyakit kusta. Meskipun kedua penelitian diatas meneliti hal yang sama, tetapi penelitian tersebut belum menemukan secara spesifik tentang jenis dukungan yang mampu memberikan dampak atau perubahan secara langsung pada subjek. Oleh karena itu, temuan penelitian ini, dinilai memberikan tambahan informasi tentang bentuk dukungan sosial yang mampu memberikan perubahan pada penderita kusta, baik itu perubahan pada polah pikir tentang diri, keluarga dan penyakit dialaminya, penerimaan diri serta tumbuhnya harapanharapan pada subjek untuk sembuh dari penyakit kusta. Ada pun dukungan-dukungan tersebut yang diterima oleh subjek adalah sebagai berikut : Dukungan emosional berupa afeksi positif, empati, peneguhan dan penerimaan tulus dari keluarga, mengubah konsep penolakan dalam diri subjek. Subjek yang pernah berpikir bahwa keluarga akan menolaknya karena menderita sakit kusta, kembali merasa menjadi bagian dari kelurga dan menjadi lebih terbuka dengan keluarga. Penerimaan yang tulus dari keluarga serta kesetiaan keluarga dalam menjaga dan merawat subjek selama sakit, mengubah disposisi bathin subjek. Perubahan dari rasa putus asah menjadi adanya harapan untuk sembuh dari sakit. Subjek pun merasa lebih tenang dalam menghadapi sakitnya. Hal lain yang dirasakan oleh subjek adalah, adanya perubahan konsep berpikir pada subjek dari yang negatif menjadi lebih positif terhadap keluarga.

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 105 Dukungan instrumental berupa keterlibatan keluarga dalam memberikan bantuan atau dukungan berupa hal-hal dasar yang dibutuhkan oleh penderita. Pengalaman RO akan dukungan keluarga, dalam hal ini terkait dengan biaya pengobatan. Keluarga membantu mengatasi kesulitan biaya pengobatan yang pernah dialami RO selama sakit. Selama menjalani perawatan rumah, keluarga memberikan perhatian khusus kepada RO.Secara spesifik keluarga membantu memandikan RO membersihkan luka dan mengganti ferban pada lukaluka RO. Keluarga secara bergantian menghantar dan menjaga RO selama menjalani perawatan di rumah sakit. Selain itu juga kebutuhankebutuhan RO selama sakit seperti makan, minum serta hal-hal praktis lainnya menjadi priorotas pelayanan dari keluarga. Perawatan dan pengobatan intensif yang dilakukan baik itu selama di rumah sakit maupun di rumah rehabilitasi, membawa perubahan pada kondisi fisik subjek. Secara perlahan kondisi fisik subjek membaik, meskipun tidak pulih secara total karena adanya cacat permanen pada bagian-bagian tubuh subjek akibat dari penyakit kusta yang dialami oleh subjek. Kondisi fisik yang berangsur membaik, secara perlahan membantu subjek untuk bisa menjalankan aktivitas hariannya. Subjek mulai terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial dan mulai kembali bersosialisasi dengan orang lain. Dukungan lain yang dirasakan oleh subjek dalam penelitian ini adalah dukungan penghargaan atau penilaian. Smet (1994) dan

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 106 Caplan, (Friedman 2010) mengatakan bahwa keluarga bertindak sebagai sistim pembimbing umpan balik, membimbing serta sebagai perantara dalam pemecahan masalah. Dukungan ini terjadi melalui ekspresi penghargaan yang positif, dorongan yang semangat, atau persetujuan dengan ide atau perasaan yang dikemukakan individu serta perbandingan yang positif antara individu dengan orang lain. Dalam penelitian ini, pengalaman akan dukungan penilaian dari keluarga diterima oleh subjek 1 ( RO ) dan subjek 2 ( RM ). RO merasakan adanya komunikasi intensif dari keluarga, selama menjalani peroses rehabilitasi di rumah rahabilitasi kusta, Sani- kabupaten Pati. Keluarga membuat jawal tetap untuk memantau perkembangan kesehatan , ketika mengalami kejenuhan dan putus asah dalam menghadapi sakit karena proses penyembuhan yang lamban, keluarga mendengarkan keluhan dan memotivasinya dengan memberi peneguhan. RO mengakui bahwa peneguhan yang diterimanya memampukan RO untuk kembali menemukan semangat dan tetap optimis untuk sembuh dari sakit. Pada S2 ( RM ) pemberian dukungan penilaian berupa menghadirkan subjek pembanding. Keluarga membandingkan keadaan RM dengan keadaan penderita lainnya yang lebih buruk, sehingga bisa memotifasi RM untuk tidak pesimis dan kecil hati dalam menjalani sakitnya. Keluarga juga memotivasi RM dengan memberi sugesti rohani yakni mengajak RM untuk tekun menjalankan sholat, dan

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 107 menyakinkan RM bahwa ketekunan doa akan membuahkan kesabaran dan kesembuhan pada RM. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Wright et al.,1996 (dalam Friedman , 2010) bahwa kepercayaan dan keyakinan pada Tuhan dan doa diidentifikasikan sebagai cara yang sangat penting mengatasi stresor yang mengancam hidup. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa melalui dukungan ini RM pun semakin tekun menjalankan kewajiban keagamaannya, dan bagi RM, koping rohani mampu mengurangi stres dan kecemasan yang dialaminya. Penilain positif serta komunikasi dan peneguhan dari keluarga kepada subjek, menumbuhkan rasa percaya diri serta kemampuan pada subjek untuk mencari solusi ketika mengalami stres atau kejenuhan - kejenuhan dalam menjalankan hidupnya sebagai penderita kusta. Dalam hasil penelitian ini juga ditemukan bahwa keluarga berperan aktif dalam mencarikan informasi-informasi terkait dengan keadaan subjek sebagai penderita kusta. Smet (1994) dan Caplan, (Friedman 2010) menjelaskan bahwa keluarga berfungsi sebagai pencari dan penyebar informasi tentang dunia. Dalam hal ini keluarga berperan sebagai pemberi sugesti, saran, petunjuk, informasi serta umpan balik yang digunakan untuk mengungkapkan suatu masalah. Dukungan informasional diterima oleh ketiga subjek dalam penelitian ini dimana masing-masing subjek mendapatkan informasi pengobatan

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 108 dan hal-hal yang terkait dengan keadaan subjek dengan cara yang berbeda-beda. S1 (RO) merasakan keterlibatan keluarga sejak awal sakit. Selama menjalani perawatan di rumah, keluarga aktif dalam mecarikan informasi-informasi tentang pengobatan untuk RO, baik itu pengobatan secara medis maupun pengobatan alternatif seperti pengobatan secara herbal dan tradisional. Keluarga juga berperan sebagai penyebar informasi kepada significant others yang lain, sampai akhirnya RO mendapat bantuan dari pihak gereja untuk menjalankan pengobatan sampai dengan proses rehabilitasi. Informasi pengobatan yang akurat, membawa dampak positif pada subjek, yakni penyembuhan dari penyakit kusta dan pemulihan kondisi fisik. Pada S 2 ( RM ), informasi yang didapatkan dari keluarga, berupa arahan untuk patuh minum obat selama masa awal pengobatan. Pemunculan efek negatif dari ketidakpatuhan minum obat, memunculkan kesadaran dan niat dalam diri RM untuk patuh dengan aturan minum obat yang sudah dianjurkan oleh dokter. Informasiinformasi terkait dengan pengobatan untuk RM juga didapatkan dari significant others yang lain. RM mendapatkan anjuran dari seorang mantan penderita kusta untuk menjalani proses pengobatan dan rehabilitasi di rumah rehabilitasi kusta Sani-kabupaten Pati. Pengalaman akan dukungan informasional dari keluarga bagi S3 ( TA) bermula dari keprihatinan keluarga melihat kondisi TA yang semakin

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI parah. Keluarga kemudian 109 menganjurkan TA untuk menjalani pengobatan secara medis. Selain itu TA juga mendapatkan informasi dari seorang teman mantan penderita kusta untuk menjalani pengobatan di rumah rehabilitasi kusta Sani, kabupaten Pati. Dukungan informasional dari keluarga membantu ketiga subjek untuk mendapatkan informasi-informasi terkait dengan pengobatan yang tepat untuk mereka. Dengan adanya informasiinformasi pengobatan yang diterima dari keluarga, subjek pun akhirnya bisa mendapatkan pengobatan di rumah sakit dan rumah rehabilitasi. Subjek menjadi lebih bisa teratur dalam mengontrol diri dan patuh mengikuti setiap arahan yang diberikan. Dari ketiga subjek dalam penelitian ini ditemukan bahwa subjek ke 3 (TA) adalah subjek yang kurang mendapatkan dukungan dari keluarga. Sejak awal sakit, keluarga cenderung apatis terhadap keadaan TA. Hal ini terlihat dari sikap keluarga terhadap subjek selama subjek di rumah maupun selama menjalani pengobatan di rumah sakit maupun di rumah rehabilitasi. Adapun sikap keluarga tersebut adalah, membatasi ruang gerak dari TA. Keluarga melarang TA untuk melakukan aktifitas harian seperti menimbah air di sumur karena ada katekutan akan menularkan penyakit kusta. Hal lain yang dirasakan oleh TA adalah larangan dari keluarga untuk mengikuti aktifitas sosial karena keluarga merasa malu dengan keadaan TA sebagai penderita kusta.

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 110 Selama menjalani peroses pengobatan awal sampai dengan pengobatan lanjutan di rumah rehabilitasi, keluarga jarang mengunjungi TA. TA merasa ada komunikasi yang terputus antara TA dan keluarga. penolakan dari keluarga, membuat TA menajadi pribadi yang minder, sampai saat ini, TA pun sulit untuk bersosialisasi dengan orang lain di luar komunitas rumah rehabilitasi. Kurangnya dukungan dari keluarga juga membawa pengaruh tersendiri pada subjek. pengalaman penolakan dari keluarga yang dialami subjek, membuat subjek merasa takut untuk kembali kepada keluarga. subjek pun menjadi pribadi yang minder, kurang bisa bersosialisasi dengan orang lain, secara khusus dengan orang lain di luar komunitas rumah rehabilitasi. Subjek merasa bahwa kehidupan di rumah rehabilitasi lebih membuat subjek merasa bahagia, untuk itu subjek memilih untuk tetap tinggal di rumah rehabilitasi sekalipun nanti sudah sembuh dari sakit kusta. Subjek memilih untuk menjadi volunter di rumah rehabilitasi, bekerja dan melayani orang-orang yang menderita sakit kusta. Berdasarkan temuan penelitian dari kedua fokus penelitian yakni tentang dinamika psikologis dan dukungan keluarga pada penderita kusta, terlihat jelas bahwa dukungan keluarga mempunyai peran penting dalam mengatasi masalah-masalah psikologis pada penderita kusta. Tidak ada rentang waktu tertentu yang dibutuhkan bagi seorang penderita kusta untuk bisa menerima kondisi diri atau

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 111 mengurangi rasa minder sehingga mampu bersosialisai dengan orang lain. Melalui pendekatan keluarga yang intensif, mampu mengubah semua konsep ketakutan, penolakan, rasa minder dan pengucilan diri pada subjek. Penerimaan yang tulus dari keluarga serta kesetiaan keluarga dalam menjaga dan merawat subjek selama sakit, mengubah disposisi bathin subjek. Perubahan dari rasa putus asah menjadi adanya harapan untuk sembuh dari sakit. Subjek pun merasa lebih tenang dalam menghadapi sakitnya. Hal lain yang dirasakan oleh subjek adalah, adanya perubahan konsep berpikir pada subjek dari yang negatif menjadi lebih positif terhadap keluarga. Perawatan dan pengobatan intensif yang dilakukan baik itu selama di rumah sakit maupun di rumah rehabilitasi, membawa perubahan pada kondisi fisik subjek. Secara perlahan kondisi fisik subjek membaik, meskipun tidak pulih secara total karena adanya cacat permanen pada bagian-bagian tubuh subjek akibat dari penyakit kusta yang dialami oleh subjek. Kondisi fisik yang berangsur membaik, secara perlahan membantu subjek untuk bisa menjalankan aktifitas hariannya. Subjek pun mulai terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial dan mulai kembali bersosialisasi dengan orang lain.

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 165 L,A.MPIRAN 11. SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN WAWAI\CARA. SUBJEK 3. Dengan surat ini saya menyatakan bahwa saya bersedia untuk diwawancarai selama proses pengambilan data untuk keperluan skripsi mahasiswa Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta di bawa ini. Nama NIM: : Katarina Peni 099114002 Dengan skripsi yang berjudul " Dukungan Sosial Keluarga Pada Penderita Kusta " Saya bersedia untuk memberikan informasi dengan diri jujur tentang keadaan saya dan hal-hal yang saya rasakan tentang keterlibatan keluarga dalam memberikan perhatian dan dukungan kepada saya, selama saya menjalani sakit sebagai penderita kusta. Saya juga memberi ijin kepada peneliti untuk merekan hasil pembicaraan selama proses wawancara berlangsung. Surat pemyataan ini dibuat secara sadar tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Harapan saya agar hasil wawancara ini tidak disalahgunakan untuk kepentingan yang lain, tetapi hanya untuk kepentingan penelitian. Yogyakarta. 22 September 2013. a7/rsrtr. Penelitian.

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis data dari ketiga subjek dalam penelitian ini, ditemukan bahwa, penyakit kusta yang diderita oleh ketiga subjek membawa dampak fisik dan psikologis pada penderita. Dampak fisik yang dirasakan oleh ketiga subjek adalah, ketiga subjek menjadi cacat. Kecacatan yang dialami oleh ketiga subjek berawal dari lambannya subjek dalam merespon gejala kusta yang mereka rasakan. Dampak lebih besar yang dirasalan adalah hilangnya pekerjaan bagi ketiga subjek akibat dari kondisi fisik yang tidak kondusif untuk bekerja. Kondisi ini membawa dampak psikologis pada ketiga subjek, dimana ketiga subjek dalam penelitian ini, menjadi minder dan mengisolasi diri dari lingungan sekitarnya. Pengalaman lain yang dirasakan adalah, munculnya keinginan untuk pergi dari keluarga karena masing-masing subjek merasa bahwa kehadiran mereka ditengah keluarga menjadi beban bagi keluarga. Ada dua karakter yang ditemukan dari pengalaman subjek terkait dengan dukunga yang diterima dari keluarga selama masing-masing subjek menjalani sakit sebagai penderita kusta. karakter pertama ditemukan pada subjek 1 ( RO ) dan subjek 2 ( RM ) kedua subjek mendapatkan dukungan sosial yang kuat dari keluarga. Dukungan keluarga yang diterima dan dirasakan adalah keempat dukungan sosial yakni, dukungan emosional berupa empati dan sikap positif dari keluarga 112

(130) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 113 dalam menerima kehadiran subjek. dukungan informasional berupa saran atau informasi-informasi terkait dengan proses pengobatan dan pemberian semangat kepada subjek, dukungan instrumental berupa kepekaan dalam menyediakan kebutuhan-kebutuhan subjek selama sakit, merawat subjek selama menjalani perawtan rumah serta menghantar dan menjaga subjek selama menjalani pengobatan di rumah sakit serta dukungan penilaian berupa sikap suportif dari keluarga dalam memantau perkembangan kesehatan serta pemberian dukungan penilaian berupa menghadirkan subjek pembanding yang dapat memotifasi subjek untuk terus bersemangat dalam menjalani sakitnya. Dukungan sosial yang kuat dari keluarga dapat membawa perubahan pada subjek, baik itu mengenai konsep berpikir tentang diri, keluarga maupun tentang penyakit yang diderita. Subjek memiliki pemikiran yang lebih positif tentang ketiga hal tersebut serta mampu menerima kondisi diri yang sesungguhnya dan berani mengambil keputusan untuk keluar dari rumah rehabilitasi. Karakter yang kedua ditemukan pada subjek 3 ( TA ) adalah subjek yang kurang mendapatkan suport dari keluarga. Subjek tetap menadi pribadi yang minder dan merasa takut untuk kembali ke keluarga. Subjek tetap memilih untuk tinggal di rumah rehabilitasi dan merasa nyaman tinggal di ruah rehabilitasi.

(131) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI B. 114 Keterbatasan Penelitian Penelitian ini hanya dikenakan pada penderita kusta sebagai penerima suport dari keluarga sehingga peneliti hanya berfokus pada pengalaman penderita akan dukungan yang diterima dari keluarga. Keterbatasan penelitian ini adalah tidak melibatkan keluarga sebagai pemberi suport dan pemberi informasi terkait dengan dukungan untuk subjek. C. Saran. 1. Bagi peneliti selanjutnya yang berniat untuk meneliti topik yang sama diharapkan dapat meneliti kedua belah pihak yakni keluarga sebagai pemberi suport dan penderita sebagai penerima suport. 2. Bagi keluarga yang mempunyai anggota penderita kusta. Dari hasil analisis data diketahui hal paling dasar yang dibutuhkan oleh seorang penderita kusta adalah penerimaan positif dari keluarga. Keluarga mempu memberikan pendampingan dan penerimaan yang positif bagi penderita sehingga mampu mengurangi rasa minder dan meumbuhkan semangat untuk sembuh bagi penderita. Keluarga dihimbau untuk memiliki sikap cepat tanggap terhadap gejala yang dialami oleh subjek demi menghindari cacat fisik yang ditimbulkan oleh penyakit tersebut.

(132) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Carol, W & Carol, T. ( 2007 ) Psikologi, edisi ke 9. Jilid 1. Alih bahasa Padang Mursalin, Jakarta : Erlangga. Creswell, J.W. (2012). Research design, pendekatan kualitatif, kuantitatif, dan mixed, ed.3 (Achmad F., terj). Yogyakarta : Pustaka Pelajar. (Karya asli terbit 2009) Chaplin, C.P.( 1995). Kamus Lengkap Psikologi. Penerjemah: Kartini Kartono. Jakarta: Rajawali Pers. Depkes RI .( 2006). Buku Pedoman Nasional Pemberantasan Penyakit Kusta.cetakan XVII. Jakarta : Ditjend PPM & PL. Depkes RI .( 2002). Buku Pedoman Nasional Pemberantasan Penyakit Kusta. Jakarta : Ditjend PPM & PL. Friedman, M. (1998) Keperawatan Keluarga, Jakarta: EGC Friedman,.M.M., Vicky, R.B,.& Elayne, G.J. ( 2010 ) Keperawatan Keluarga ( Riset , Teori dan Praktek, Edisi 5 ) Jakarta : EGC. Hiswani. (2001). Kusta Salah Satu Penyakit Menular Yang Masih Dijumpai di Indonesia, Diakses 15 Januari, 2014. http ://library.usu.ac.id/ Kelly, H., Bennet, N., Murray, S & Ann O’Grady, K. ( 2009 ). 73 Penyakit yang penting diketahui .(Yudi, S., terje ). Yogyakarta : PALMALL. Kosasi A., Made wisnu, I., Daili, S & Linuwi M. S. ( 2009 ) Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Jakarta : Fak. Kedokteran UI Kuncoro, Z. ( 2002). Konsep Dukungan Sosial. Diundah tanggal 23 Mei, 2013 http://www.epsikologi.com/epsi/search.asp Lauhenapessy, A. A. (1980). Partisipasi masyarakat dalam membantu Pemberantasan Penyakit Kusta. Jakarta : MEDIPRES. Moleong, L. J. (2006). Metodologi penelitian kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Mongi, A.R. (2011). Gambaran persepsi penderita tantang penyakit kusta dan dukungan keluarga pada penderita kusta di Manado. Diakses tanggal 12 februari 2014. http://fkm.unsrat.ac.id/wp-content/uploads/2012/10/Rilauni-Mongi.pdf Nurbaini, F. (2010). Dukungan sosial pada ODH. Universitas Gunadharma Jakarta. Diakses tanggal 22 Pebruari, 2014. http://publication.gunadarma.ac.id/bitstream/123456789/1880/1/Artikel _10503068.pdf Patton, M,Q. (2006). Metode evaluasi kualitatif. (Budi. P.P., terj). Yogyakarta : 115 Pustaka Pelajar.

(133) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 116 Poerwandari, E.K. (1998). Pendekatan Kualitatif dalam Psikologi. Jakarta : Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Penelitian Psikologi Universitas Indonesia Radley, A .( 1994 ) Making sense of illness. The social psychology of health and disease. London: Sage Publication. Rahayu D. A. ( 2012) Dukungan psikososial keluarga penderita kusta di kabupaten pekalongan. Jurnal Unimus, Lppm unimus. ISBN : 978-602-18809-0-6. Rutter, D. R., Chesham, D.J. & Quine, L. ( 1993 ) social psychological Aproaches to Health. New York : Harvester Wheatsheaf. Shegal Afical (2006) Deadly disease and epidemics leprosy. Philadelphia : Chelsea house Publishers. Saeed, T.,Mansur A, NN.,Nas, F & Fatima, K.(2012). Perceived social support: impact on Quality of life in diabetics. International journal of academic research vol. 4. No. 3. May, 2012 Smet, B. ( 1994 ). Psikologi kesehatan. Jakarta : PT. Grasindo Smith, J.A., & Osborn, M. (2009). Psikologi Kualitatif, Panduan Praktis Metode Riset. Alih bahasa Budi Santosa. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.. Sarafino, E. P. ( 1998 ). Health Psychology : Biopsychosocial Interactions. New York : Jhon Willy & Sons, Inc. Tinuk I, S & W. Laksono. ( 2009 ). Faktor-faktor yang yang melatarbelakangi persepsi penderita, terhadap stigma penyakit kusta. Jurnal promosi kesehatan Vol. 4/ No 1/ p 18-24 Tahir Saeed1, Nur Naha Abu Mansor, Farah Naz, , Kaneez Fatima, Scholar Hafiz & Muhammad Ishaq ( 2012 ) Perceived social support: impact on quality of life in diabetics. Ebsco host. International journal of academic research Vol. 4. No. 3. Taylor, Shelley. (1999). Health psychology (ed. Ke-4). Singapore: McGraw- Hill. World Health Organization, ( 2007 ) . Technical guide on communiti- based rehabilitation and leprozy : WHO Library Cataloguing-in-Publication Data. World Health Organization, ( 2007 ) . Technical guide on communiti- based rehabilitation and leprozy : WHO Library Cataloguing-in-Publication Data. Zulkifli. (2003). Penyakit Kusta dan Masalah yang Ditimbulkannya. Diakses 13 November 2013. http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkm-zulkifli2.pdf.

(134) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN 117

(135) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 118 LAMPIRAN 1. KETERANGAN VERBATIM SUBJEK 1, 2 DAN 3. 1. Transkrip verbatim dibuat dalam bentuk tabel yang terdiri dari 4 kolom. a. Kolom pertama berisi penomoran untuk setiap baris kalimat pertanyaan pewawancara dan jawaban subjek atas pertanyaan wawancara. fungsi dari nomer urut yang diberikan yaitu untuk mempermudah analisis data. Hasil wawancara berupa kata-kata dari subjek penelitian akan dikutip kembali, sebagai penegasan atas tema penting yang ditemukan, sesuai dengn tujuan penelitain. b. Kolom kedua berisi verbatim hasil wawancara. c. Kolom ketiga berisi koding awal. d. Kolom ke empat berisi analisis tema-tema yang muncul. 2. Keterangan tulisan. a. Tulisan yang dibold, adalah opsi pertanyaan yang diberikan kepada subjek ketika wawancarai. b. Tulisan yang tidak dibold adalah diwawancarai. jawaban dari subjek yang

(136) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 119 LAMPIRAN 2 PROTOKOL WAWANCARA Waktu wawancara (hari/tanggal/jam) : Durasi wawancara : Tempat wawancara : Nama interviewe (Inisial) : Pekerjaan : Tempat/ tanggal lahir : Status pernikahan : Sudah / Belum Menikah Usia : tahun Urutan kelahiran : anak ke- dari bersaudara Panduan Pertanyaan. No Panduan pertanyaan 1 Bagaimana awalmulanya anda menderita sakit kusta ? 2. Apa yang anda rasakan setelah anda mengetahui bahwa anda menderita sakit kusta? 2 Apa yang pikirkan setelah anda mengetahui bahwa anda adalah penderita kusta? 3 Dampak fisologis yang dirasakan?  Apa saja tanda – tanda atau gejala yang muncul dari penyakit tersebut?  Pengaruh ke badan yang dirasakan seperti apa Dampak Psikologis yang anda rasakan setelah menderita sakit kusta?  Perasaan apa yang muncul saat berelasi atau berjumpa dengan orang lain?  Apa yang anda rasakan terhadap lambannya proses

(137) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 120 penyembuhan dari penyakit tersebut?  Apa yang anda rasakan dengan munculnya reaksi kusta yang kadang-kadang tidak diketahui? 4 Sejauh mana dukungan yang anda terima dari keluarga?  Bagaimana tanggapan dari keluarga setelah mengetahui bahwa anda menderita sakit kusta?  Apakah keluarga terlibat dalam memberikan dukungan atau bantuan selama anda sakit? 5 Bentuk-bentuk dukungan atau perhatian sepeti apa yang anda terima dari keluaga ? 6 Apa yang anda rasakan dengan dukungan yang anda terima dari keluarga?

(138) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN 3 TEMA SUBJEK 1. No Tema-tema utama Nomer verbatim 1. Gambaran awal terjadinya sakit. a. Merasakan tanda-tanda fisik - (16-22) - (25-28 ) - (51-52) - (36-389) - (58-64) - (66-70) - ( 87-93, 104-105) - (78-81) - (72-73, 204-205) - (206-208) sebagai gejala dari penyakit kusta. b. Menanggapi gejala yang muncul dengan mengupayakan pengobatan. c. Bukti medis terkait dengan gejala yang dirasakan. ( Subjek menderita sakit kusta) 2. Faktor pemicu munculnya sakit. - Menderita sakit kusta karena faktor keturunan. 3. Kondisi awal saat mengalami sakit a. Merasa shock dan penolakan terhadap hasil diagnosa. b. Merasa takut akan kehilangan keluarga teman dan pekerjaan c. Mengalami kelumpuhan fisik, tidak bisa beraktifitas dan berhenti bekerja. d. Mengisolasi diri dari lingkungan sosial. e. Merasa bahwa hidup tidak berguna dan menjadi beban gagi orang lain. f. Merasa putus asah karena proses 121

(139) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 122 penyembuhan yang lamban. 4. Pengalaman akan dukungan keluarga selama sakit. a. Dukungan emosional - Mendapatkan penerimaan - positif berupa empati dan (129-131, 129-131) kasih sayang dari keluarga. b. Dukungan instrumental. - Mendapatkan bantuan biaya - (146-147) - (167-168) - (155-159,185- pengobatan dari kakak dan pakde. - Budhe dan adik selalu mempersiapkan makanan untuk subjek. - Keluarga menjaga dan 186, 239-242) merawat subjek selama sakit. c. Dukungan penilaian. . - Keluarga membangun - (306-310) - (211-215, 282- komunikasi intensif dengan subjek untuk mengikuti perkembangan kesehatan subjek. d. Dukungan informasional - 287) Mendapatkan nasehat dari kelurga untuk lebih tenang dan sabar dalam menghadapi sakit, serta melalukan - (153-157) - (200-204) aktifitas gerak motorik untuk membantu proses penyembuhan. - Mendapatkan alternatif

(140) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI pengobatan dari keluarga.. - 123 - (183-188) - (231-235) - (413-416) - (420 -430-435) - (467-470) - (472-472) Keluarga melibatkan signifan others yang lain untuk membantu proses pengobatan dan penyembuhan pada subjek. 5. Gambaran umum tentang kondisi subjek saat ini. a. Mampu menerima kondisi diri yang sesungguhnya. b. Menjadi pribadi yang mudah bersyukur dan merasa dekat dnegan keluarga. c. Optimis untuk mandiri dan mengembangkan usaha peternakan. d. Memilih untuk keluar dari rumah rehabilitasi.

(141) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 124 LAMPIRAN 4. TRANSKRIP VERBATIM WAWANCARA DAN ANALISIS DATA SUBJEK I. ( RO ) Baris Verbatim 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Sebelum mas sakit, mas bekerja sebagai apa ya? Pekerjaan terakhir itu di distributor farmasih, gudang farmasih. Di mana itu mas ? Di bekasi. Saya cuma nyiapkan obat, ya kadang saya ngambil obat ke pabrik , biasanya ke Bogor. Berapa tahun mas rio kerja di sana? 5 tahunan. Sebelumnya saya pernah kerja di Sanyo juga, terus di Unilever juga pernah. Cuma yang paling lama di Distributor farmasi. bisakah mas menceritakan kepada saya bagaimana awalmulanya atau sejak kapan mas menderita sakit kusta? Kalau munculnya sekitar 2005, 2006. Tandanya atau gejalanya itu seperti apa ya mas? Tandanya ya luka itu pecah-pecah merah, kaya bengkak, itu di bagian kaki. saya itu inget dulu itu di leher saya itu ada semacam panu begitu, terus kulitnya itu menebal. kadang sembuh, eh muncul lagi di punggung, pernah di pelipis muncul juga kaya benjolan merah pikir saya itu ya ntah alergi ntah panu atau kurap semcam intulah, ya luka biasa. Oh gitu? terus apa yang diusahakan untuk mengatasi gejala yang tersebut? Ya beli obat di apotik, pikirnya ya sakit biasa, jadi Cuman Transformasi - - - RO, menceritakan bahwa sebelum sakit, ia pernah bekerja dibeberapa tempat, antara lain di Sanyo, Unilever dan yang terakhir di Distributor farmasi. Subjek mengatakan bahwa Tahun 2005-2006, muncul gejala kusta, berupa luka yang membengkak dan pecah-pecah pada bagain kaki RM berusaha untuk mengatasi gejala tersebut dengan mengkonsumsi obat-obataan Tema - Sebelum sakit RO bekerja sebagai distributor farmasi di daerah bekasi. . - Tanda –tanda fisik dari penyakit kusta yang dialami oleh subjek. - Mengatasi rasa sakit dengan menkonsumsi obat-obat

(142) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 125 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47. 48. 49. 50. 51. 52. 53. 54. 55. 56. 57. beli obat di apotik aja, ada juga temen kerja yang nyariin obat herbal untuk saya, kadang sembuh, kadang ya muncul lagi, heem, lha kalo uda sibuk kerja kadang nda dirasa sakit apa nda ya dibawa kerja aja, lupa semunya. Taunya uda parah baru ke rumah sakit. Kalau menurut mas sendiri, kira-kira apa yang menyebabkan mas menderita sakit kusta? Kayanya itu nular dari ibu saya, saya yakin ya begitu, soalnya kalau dari ciri-ciri fisiknya ibu itu sakitnya sama persis saya, sama persis cuman nda pernah kontrol jadi nda tau kalo sakit kusta. Jadi mas merasa yakin kalau mas mendarita sakit kusta karena mendapat penularan dari ibu? iya, soalnya ya, tanda sakitnya ibu saya itu sama perisis dengan saya, sama persisi. Terus sampe ketahuan kalau sakit kusta itu bagaimana mas? waktu itu saya sakitnya parah, itu sekitar tahun 2009, nda bisa jalan. Lutut saya itu nda bisa saya tekuk, mati rasa. Lha uda diusahain obat herbal, macem-macem juga nda ada perubahan, nah, akhirnya ya udah, putuskan untuk ke rumah sakit, periksa semuanya, terus dokter bilang sama saya, kalau saya sakit kusta, uda positif kusta. Oh gitu? iya suster, makanya dokter nyarankan sama saya, suruh ikuti program pengobatan awal ituloh.Saya ya jalankan cuman nda telaten makanya nda sembuh. Apa reaksi spontan yang muncul saat itu? - herbal dan obat-obat yag dibeli dari apotik. Kesibukan kerja seringkali membuat RO mengabaikan sakitnya. yang dibeli dari apotik. - Mengabaikan gejala yang muncul karena kesibukan kerja. - RO Mengatakan bahwa ia menderita sakit kusta karena mendapat penularan dari ibu. - Menderita sakit kusta karena faktor lingkungan. - RO merasa yakin bahwa ia menderita sakit kusta karena tertular dari Ibu. - Menderita kusta karena mendapat penularan dari Ibu. - RO menderita sakit parah dan tidak bisa berjalan. RO berobat ke rumah sakit dan mendapatkan dianosa medis sebagai penderita kusta. - Kondisi disability Diagnosa awal ketika berobat ke Rumah Sakit, RO positif menderita sakit kusta. - Proses penyembuhan terhambat karena lalai. - - RO menyatakan kelalianya dalam menjalani therapi awal pengobatan sehinga terhambat dalam proses penyembuhan. RO mengataka bahwa pertama kali

(143) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 126 58. 59. 60. 61. 62. 63. 64. 65. 66. 67. 68. 69. 70. 71. 72. 73. 74. 75. 76. 77. 78. 79. 80. 81. 82. 83. 84. 85. 86. 87. 88. 89. Pertama kalinya denger fonis seperti itu gitu? Iya mas. Pertama kali ya takut, takut, ya sedih begitu, ya percaya nda percaya, waktu itu, rasanya itu nda yakin, bingung, nangis malahan, Jadi mas benar-benar merasa takut, begitu ya? Iya suster, takut, sampe saya itu nangis, bener-bener nangis. Mungkin ada sesuatu yang mas pikirkan sehingga mas merasa begitu takut dengan penyakit ini? Pikiran saya itu organ tubuh saya itu hilang semua. Jari, jari saya itu pasti hilang, nangis malahan,cemas, cemas ya gimna, Macem-macem pikiran saya, ya kehilanagn teman, keluarga ya pekerjaan, ditinggalkan sama orang-orang deket, pikiran saya ya pasti seperti itu, akan ditingalkan. heem, heem, rasanya itu hidup saya ya uda nda ada arti lagi. Sakit kusta ya mungkin Tuhan itu menghukum saya susah ya hem, mau bilangnya gimana, nda taulah, ya kaya gitu saya bener-bener down saat itu. Yang mas alami ketika berelasi dengan orang lain, perasaannya seperti apa? Mau ketemu sama orang itu malu, mulai terasa watu saya nda bisa nutupi luka-luka saya, kulit saya mulai kelihatan kaya kebakar mau keluar entah jumpa sama orang, udah mikir duluan, malu. iya, iya, heem, ini khan lebih ke perasaan dan pikiran ya mas, terus reaksi ke fisik gimana mas? maksudnya gimana suster? oh maksudnya itu pengaruh ke badan yang mas rasakan itu seperti apa? Badan saya itu sakit semua suster, nah kalo pas reaksi nemen sakitnya. tulang itu sakit, kulit itu pun ya sakit, terus nda punya napsu makan sama sekali, olehnya, e, lama mendengar fonis dari dokter membuatnya merasa takut, bingung, sedih dan menangis. - Merasa takut, bingung, sedih dan menangis Kondisi Psikologis, Shock RO, berpikir bahwa ada bagian tubuhnya yang bakal hilang. Ia juga akan kehilangan keluarga, teman dan pekerjaan. RO, melihat dirinya sebagai orang berdosa yang mendapat hukuman dari Tuhan. RO juga merasa bahwa hidupnya tidak berguna. - Berpikir akan kehilangan organ tubuh, pekerjaan keluarga ( kondisi Psikologis, discredititing definition of self ) - - Kondisi fisik yang luka menjadi salah satu penyebab rasa minder pada RO. RO menjadi minder bila bertemu dengan orang lain. - Melihat diri sebagai orang yang mendapat hukuman dari Tuhan dan tidak berguna dalam hidup. kondisi psikologis, discreding definition of self Merasa minder berhadapan dengan orang-orang (kondisi psikologis, isolasi sosia) - RO mengatakan bahwa ketika berada dalam kondisi reaksi kusta, ia tidak bisa berdaya. Seluruh aktifitas menjadi terhambat karena - - - Reaksi fisiologis yang terjadi saat sakit berdampak pada kondisi psikologis, Impairtmen dan disability

(144) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 127 90. 91. 92. 93. 94. 95. 96. 97. 98. 99. 100. 101. 102. 103. 104. 105. 106. 107. 108. 109. 110. 111. 112. 113. 114. 115. 116. 117. 118. 119. 120. 121. kelamaan nda bisa apa pun , seperti itu. Saya nda bisa ber, apa ya? kreatifitas sendiri khan nda bisa. Nda bisa kerja, . Bangun dari tempat tidur pun saya nda kuat, waktu itu, waktu parah-parahnya itu. Terus efeknya ke pekerjaan bagaimana mas? Ya jadinya nda maksimal kerja. Awal-awalnya emang masih bertahan kerja, kalau pas nda kambuh, badan itu agak enakan, maka bisa kerja, bisalah saya ngatasinya, cuman lama-kelamaan kondisi semakin jelek, kerja nda maksimal, malah jadi beban sendiri. Bertahan kerja di distributor farmsai sampe kapan mas? Sampe 2011. waktu itu kondisi saya ngedrop, ngedrop, itu beberapa kali, luka-luka itu terus muncul, bengkak-bengkak, nda bisa ke mana-mana, dikontrakan itu saya cuman dikamar, akhirnya ya saya berhenti kerja, akhir 2011.udah nda bisa, dipaksa kerja pun nda bisa. Itu dikeluarkan atau mas minta sendiri untuk berhenti kerja? Saya mengundurkan diri, saya minta sama atasan untuk berhenti kerja. Mau maksa kerja uda unda bisa. Bagaimana perasaannnya setelah tidak bekerja lagi sebagai distributor farmasi? Sedih suster, sedih, karena bagi saya itu, pekerjaan itu sama dengan tanggung jawab saya terhadap adik-adek saya. Setelah berhenti dari kerja, terus mas kembali ke Klaten atau tetap di jakarta? Saya memutuskan untuk kembali ke Klaten, tempat keluarga saya di sana. Ada keluarga pakde saya, jadi pulangnya kesana, soalnya bapa sama ibu uda ninggal kesakitan fisik yang dirasakannya. - Keterbatasan fisik karena sakit, membuat subjek tidak maksimal bekerja. ( kondisi Psikologis, Disability ) - Mengundurkan diri dari pekerjaan karena kondisi fisik semakin memburuk. (kondisi Disability) - Merasa tidak mampu bekerja, mengundurkan diri dari pekerjaan. - Merasa sedih atas kehilnagan pekerjaan - Keberania untuk mengambil keputusan. RO mengatakan bahwa ia masih bisa bertahan bekerja sebagai distributor farmasi meskipun tidak maksimal. - Tahun 2011, kondisi memburuk, RO memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya sebagai distributor farmasi. - RO menyadari bahwa secara fisik ia tidak mampu lagi untuk bekerja. RO mengambil keputusan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya. - Merasa sedih, karena kehilangan pekerjaan sama dengan kehilangan tanggung jawab terhadap keluarga. - - RO mengatakan bahwa setelah berhenti bekerja Ia memutuskan untuk kembali ke keluarga.

(145) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 128 122. 123. 124. 125. 126. 127. 128. 129. 130. 131. 132. 133. 134. 135. 136. 137. 138. 139. 140. 141. 142. 143. 144. 145. 146. 147. 148. 149. 150. 151. 152. 153. suster, uda nda ada. Kenapa harus kembali ke keluarga mas? Pertama-tamanya saya itu sadar, sadar akan kondisi saya. nda mungkin, saya nda mungkin bisa ngatasi kondis saya ini sendirian. Saya butuh orang lain, maka ya uda satusatunya pilihan saya saat itu, saya kembali ke keluarga. Mas pulang sendri atau dijemput sama keluarga? Saya dijemput sama pakde saya, saya kabarin sama mereka kalo saya sakit, terus dijemput di Jakarta, kami kembali ke Klaten. Terus bagaimana respon atau tanggapan dari keluarga setelah mereka tau kalau mas sakit kusta? ya sempet nangis, waktu lihat, ya waktu awal-awalnya saya dari jakarta itu, kakak saya di Jakarta nelpon saya ya ngomong sambil nagis ya mungkin kaget ato apa. Dari respon atau tanggapan mereka ini, apakah pihak keluarga mempunyai sikap positif terhadap mas? Yang saya rasakan ya suster, ya iya, mereka nerima saya positif. Mereka ya nerima saya, bener-bener saya itu dibantu ya diterima sama keluarga. Nah tadi khan mas bilang kalau keluarga cukup memberi perhatian kepada mas selama skit ya? nah kira-kira apa saja usaha yang dilakukan oleh keluarga sebagai bentuk perhatian terhadap mas? Kalau bantuan sih banyak, itu mulai dari soal biaya, saya juga pernah dibantu sama pakde saya. waktu sakit di Jakarta, pakde ya ikut bantu biaya rumah sakit. Kalau saudara kandung ya ada, kaka saya yang di Jakarta meskipun secara langsung ya mereka nda nunggu saya, tapi khan selalu ada kontak, ya nelpon, nanya-nanya kabar saya, perkembangan saya gimana, ya selalu ditanya, kadang juga ngirim uang bantuin saya. . heem ,heem, kalo - Sadar akan kondisi fisiknya yang terbatas, RO membutuhkan bantuan keluarga. - Respon positif dari keluarga, menjemput RO untuk kebali ke Klaten. - - - - - - merasa tergantun dengan keluarga. ( dependen) - Dukungan instrumental dari keluarga. RO, mengatakan bahwa keluarga merasa sedih dan menangis ketika mengetahui bahwa RO menderita sakit kusta. - Rasa empati dari pihak keluarga terhadap RO. RO, menyatakan bahwa, sikap positif dari pihak keluarga membuat RO, merasa dirinya diterima dan dibantu oleh keluarga. - Respon positif dari keluarga menerima keadaan RO yang sakit. - Keluarga membantu biaya pengobatan RO. (Dukungan instrumenta) Kakak memantau perkembangan kesehatan RO lewat telepon. (dukungan emosiaonal dan penilaian dari keluarga) RO menceritakan bahwa selama sakit Ia mendapatkan bantuan biaya rumah sakit dari keluarga pakde dan kakak. Kakak RO selalu menelpon dan mematau perkembangan kesehartan RO. Adik selalu mengunjungi RO dan bercerita bersama RO. -

(146) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 129 154. 155. 156. 157. 158. 159. 160. 161. 162. 163. 164. 165. 166. 167. 168. 169. 170. 171. 172. 173. 174. 175. 176. 177. 178. 179. 180. 181. 182. 183. 184. 185. adek saya yang di Kalten hari-harinya kalo uda pulang sekolah ya maen, nengok saya, ya cerita sama saya, deket banget sama saya. oh gitu ya mas? iya, nda ada kurangnya suster. Lha saya itu waktu sakit di rumah di klaten sana itu, saya nda bisa mandi sendiri, boleh dibilang lumpuh, jalan nda bisa, semuanya nda bisa, saya tergantung banget sama keluarga, semua yang nolongin saya itu pakde dan budhe saya, ya nyariin obat ya mandiin saya, badan saya, kaki saya, tangan saya itu bengkan- bengkak, luka,yang balutin luka, yang gantin ferban bersiin luka ya pakde gentenan sama budhe. Selain pakde dan budhe, apakah adik-adik atau saudra yang lain di rumah juga memeperhatikan mas? adek-adek saya, mereka nganterin makan untuk saya. Ya cerita, ngobrol sama saya. kadang ya mereka rebuskan air untuk saya, untuk mandi memang saya harus pake air hanget, jadi kalo budhe nda sempet rebus, ya adek-adek saya yang ngurus. Selama di rumah apakah pernah berobat ke Rumah Sakit atau Puskesmas begitu mas? Kalo waktu di rumah saya pernah dihantar keluarga berobat ke Solo sana, 6 bulan pertama itu saya berobatnya rutin ya, dapet obat dari pemerintah, ya udah tiap minggu ya dihantar berobat ke Solo. Ituloh rumah sakit Moewardi, Sempet juga saya mondok di sana sekitar dua bulan. Yang carikan informasi untuk ke sana siapa mas? Pakde saya, yang sregep nyari informasi, ya nanya-nanya sama orang, apa aja diusahain suster. Pernah saya dicarikan obat tadisional,terus ke alternatif, itu dapet dari temannya - Kondisi fisik lumpuh, menjadi tergantung dengan keluarga. (disability) - Keluarga berperan mencarikan obat dan merawat RO saat sakit. (dukungan instrumental) - Adik-adik membantu menyiapkan kebutuhan RO saat sakit. (dukungann instrumental ) - Peran keluarga menghantar RO untuk berobat. (dukungan informasiona) - Usaha keluarga mencarikan informasi pengobatan utnuk RO. (dukungan informasional) Ketika di rumah, RO mengalami sakit parah, RO menjadi lumpuh. RO merasa tergantung dengan keluarga. Pakde dan budhe mencarikan obat untuk RO, merawat RO selama sakit ( memandikan dan membersihkan luka-luka) Kepedulihan dari adik-adik, Mereka membantu menghantar makanan dan menyiapkan kebutuhan mandi untuk RO. Usaha dari keluarga, mencarikan informasi pengobatan untuk RO dan menghantar RO untuk berobat ke rumah sak Pakde adalah orang yang paling aktif mencari informasi pengobatan untuk RO.

(147) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 130 186. 187. 188. 189. 190. 191. 192. 193. 194. 195. 196. 197. 198. 199. 200. 201. 202. 203. 204. 205. 206. 207. 208. 209. 210. 211. 212. 213. 214. 215. 216. 217. pakde, katanya itu suruh makan pisang ambon, ya diusahakan, sampe saya ya bisa makan, ya macem-macem suster Oh gitu, terus ada tidak yang nungguin di rumah sakit? Kalo yang nunggu itu budhe saya yang nungguin saya, pakde yang balik ke klaten ada kerjaann juga di sana. Selama hampir dua bulan di Solo apakah mas merasa ada perubahan? adalah, ya tapi cuman sedikit, oh gitu? iya suster,emang kalo badan saya itu ya agak enakan, cuman saya tetep nda bisa jalan. di sana 2 bulan terus balik lagi ke rumah, itu minum obat yang dibawain dari rumah sakit itu, yo tetep , yo tetep nda bisa jalan. Setelah saya dengar ceritanya mas ini khan, sudah beberapa kali berobat tapi nda juga sembuh, apa yang mas rasakan dengan situasi seperti ini? Ya jenuh suster. Saya sempet ngedrop waktu itu, saya itu bener-bener putus asah, ya jenuh. Saya itu malah tersiksa, kesannya itu malah menjadi beban untuk banyak orang, tiap malam saya itu nda bisa tidur, lah saya itu berdoa saya bilang sama Tuhan kalau saya memang tidak bisa sembuh, tolong ambil nyawa saya, tapi kalo memang saya bisa disembuhan, beri jalan untuk saya, lewat keluarga atau siapa saja yang mau nolong saya, saya sudah capek, saya tidak kuat suster, saya benar-benar putus asah. Pernah mengkomunikasikan pengalaman ini kepada keluarga mas? Saya ya ngeluh sama pakde, ya, sama adek saya. Saya kok nda kuat, saya udah capek Tanggapan pakde seperti apa? Pakde ya ngomong sama saya, bilang sama saya, kalau - Budhe menunggu selama menjalani perawatan di Solo. - Ditunggu budhe selama sakit. (dukungan emosional dan instrumental) - RO, mengatakan bahwa ketika keluar dari rumah sakit di Solo, kondisinya sedikit membaik, tetapi tetap tidak bisa jalan. - Kondisi agak membaik tetapi tetap tidak bisa jalan ( kondisi Psikologis, Impairtmen ) - Pengalaman sakit berkepanjangan membuat RO merasa jenuh dan putus asah. RO juga merasa tersiksa karena menjadi beban untuk orang lain Berdoa agar Tuhan mengambil nyawanya. Merasa capek dan tidak kuat menghadapi sakit. Mengkomunikasikan pengalaman putus asah kepada keluarga. - Putus asah dan tidak kuat menghadapi sakit ( Kondisi psikologis, Depresi ) - Merasa menjadi beban bagi orang lain. (becoming a burden on others) . - Mendapatkan peneguhan dan nasehat saat jenuh dan putus asah ( dukungan penilaian dan dukungan emosional . - - Pakde meneguhkan RO , agar tetap memiliki semangat dan tidak mudah stres dalam menghadapi sakit.

(148) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 131 218. 219. 220. 221. 222. 223. 224. 225. 226. 227. 228. 229. 230. 231. 232. 233. 234. 235. 236. 237. 238. 239. 240. 241. 242. 243. 244. 245. 246 247. 248. 249. sakit kaya saya ini bisa disembuhkan asal kita itu telaten dan sabar, nda mudah sters, nda mudah putus asah., ya harus punya harapanlah, tetangga saya pun ya begitu ngomongnya. Berarati ada peneguhan dari keluarga ya mas? iya suster, Respon dari mas sendiri bagaimana setelah mendapat peneguhan dari keluarga? Hemm,ya, hati saya itu legah, plong ada kekuatan untuk hadapin sakit. kadang ya muncul lagi, tapi ya sering dibilangin, saya ya usahakan, ya sabar ya bisa nerima. Setelah dari Solo, terus mas jalani perawatan di rumah gitu? Di rumah cuman beberapa bulan aja, terus saya berobat ke Panti Rapih, keluarga sama orang gereja, yang nganjurin saya untuk ke sana, ada juga bruder yang bantu ya, sampe saya dapet rekomendasi dari bapa uskup untuk berobat ke Panti Rapih. Malah ada tetangga juga yang ikut hanter ko suster, ya pakde sama budhe terus bruder Modestus juga ikut. Dia yang nyopir, bawa mobilnya dari Semarang terus kami sama-sama ke Panti Rapih. Mas jalani perawatan di sana berapa lama? Saya di sana itu, kayanya ya satu bulan lebih, ya kurang lebih segitu ya suster. Selama opname siapa yang tunggu? Yang nunggu ya pakde saya, kadang pulang, terus dateng lagi, nungguin saya, kalo hari minggu ya kadang budhe sama adek-adek dateng nengokin, beberapa jam begitu, setelah itu pulang lagi, kalo selese jam besuk. Ada perubahan yang dirasakan selama berobat ke - Merasa legah dan memiliki kekuatan untuk menghadapi sakit. RO, merasa lebih terbuka berbagi pengalaman bersama keluarga. - Mendapatkan bantuan dari gereja berupa rekomendasi dari bapa Uskup untuk berobat ke Panti Rapih. - Keluarga bersana significant others yang lain, menghantar RO untuk berobat ke pnati rapih. Pemberian suport positif berupa nasehat dan peneguhan membuat RO merasa kuat menghadapi sakit dan semakin terbuka dengan keluarga. Usaha keluarga, melibatkan significant others yang lain untuk membantu RO. (dukungan informasional dan emosional) Usaha keluarga, menghantar RO ke Rumah sakit. (dukungan instrumental ) Menjalani rawat inap di RS panti rapih selama satu setengah bulan. Selama di Panti Rapih, RO ditunggu sama Pakde, serta mendapat kunjungan dari budhe dan adik-adik. RO menyatakan bahwa, stelah - Ditunggu dan dikunjungi keluarga selama di Rumah sakit. merupakan fungsi afektif dan dukungan emosional dari keluarga.

(149) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 132 250. 251. 252. 253. 254. 255. 256. 257. 258. 259. 260. 261. 262. 263. 264. 265. 266. 267. 268. 269. 270. 271. 272. 273. 274. 275. 276. 277. 278. 279. 280. 281. Panti Rapih? Ya banyak perubahan suster. kebetulan selain berobat saya juga therapi jalan, makanya saya ya bisa jalan lagi, heem, heem. emang sih masih pelan-pelan, tapi ya uda bisalah, boleh dibilang membaik, tapi yang saya rasakan lebih ke bathin saya. Waktu di rumah sakit Panti Rapih saya itu menemukan harapan untuk sembuh, saya ditunggu, dijaga sama keluarga , terus di situ suster-suster Panti Rapih, itu memberi peneguhan kepada saya. Saya merasa diperhatikan, saya malah , saya merasa nda ada beban. Hati saya itu lebih tenang di sana itu. nda canggung ya, mau minta tolong sama suster juga enak, bisa ngomong apa aja sama pakde saya, heem, saya merasa hati saya lebih tenang di sana. kalo saya bilang, di sana itu, di Panti Rapih, saya kembali menemukan Iman saya. bisa semangat lagi ya kuat, bener-bener siap untuk ngadepi sakit. Nah terus ceritanya bisa sampe ke Sani, itu gimana mas? Nah kalo itu awalnya dari Panti Rapih suster, karena di Panti Rapih, itu khan bukan buat penampungan penderita kusta seperti saya. Saya ya nda mungkin lama-lama di sana. Nah waktu itu ya bruder Modes sama suster Lusiani CB yang nyariin informasi nntuk bisa nampung orang yang sakit sepeti saya, dapetnya ya di Pati, ya disini. Mas sendiri bagaimana, apakah siap untuk tinggal di Pati? Saya ya siap, saya mau, pengennya itu khan sembuh jadi apa aja anjuran untuk sembuh ya saja jalanin semuanya, seneng juga bisa dapet temat khusus,perawtannya lebih khusus, ya dijelaskan sama pakde saya sebelum berangkat jadi waktu dari panti rapih, langsung berangkat ke Pati berobat di panti Rapi, kondisi berangsur membaik, RO bisa berjalan. - Kondisi fisik membaik, sudah bisa berjalan. - RO mengatakan bahwa selama di Panti Rapih ia menemukan kembali harapan untuk sembuh. - Pengalaman bathin dari RO, menemukan kembali harapan untuk sembuh. - RO merasa hatinya jauh lebih tenang. Ia mengatakan bahwa di Panti Rapih, ia kembali menemukan imannya. Peneguhan dan perhatian. (dukungan panilaian dan dukungan emotional) membawa ketenangan hati dan menumbuhkan iman bagi RO. - RO, menyatakan bahwa setelah menjalani perawatan di Panti rapi, ia kembali menjalani perawatan di Pati, di rumah rehabilitasi kusta, atas bantuan Suster dan Bruder. - Mendapatkan bantuan dari suster dan bruder, melanjutkan perawatan di rumah rehabilitasi kusta di Pati. (Dukungan informational) - RO, menyatakan kesiapannya untuk tinggal di rumah rehabilitasi, atas dasar keinginannya untuk sembuh dari sakit kusta. Merasa siap untuk tinggal di rumah rehabilitasi. Subjek ingin sembuh dari sakit kusta.

(150) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 133 282. 283. 284. 285. 286. 287. 288. 289. 290. 291. 292. 293. 294. 295. 296. 297. 298. 299. 300. 301. 302. 303. 304. 305. 306. 307. 308. 309. 310. 311. 312. 313. gitu mas? Iya. saya itu langsung sama bruder ke Sani. Keluarga nda ikut emang brudernya suruh nda usah ikut, baliknya itu yang susah. pakde ya cuman pesan-pesan gitu ya nasehatlah untuk saya. Pesan apa ya mas? Pesannya itu, harus belajar gerak, kerana kalau gerak poripori bisa terbuka, bisa keluar keringat, penyakit itu akan keluar lewat keringat juga, bisa bantu juga untuk kesembuhan, bilang lagi sama saya, kalau nanti udah baik, udah sehat, pulanglah ke Klaten, jangan netep di Pati , keluarga tetep nerima kamu. Nah dengan peneguhan atau motivasi yang diterima dari keluarga apakah itu lebih membantu mas untuk hadapin sakit dan juga situasi hidup baru di Sani? Yang jelas hati saya lebih tenang untuk hadapin sakit, dulu itu saya mudah sekali putus asah, mudah ngeluh, tapi setelah dapat motivasi, peneguhan-peneguhan dan dukungan-dukungan dari keluarga, saya jadinya lebih tegar, lebih bisa nerimalah, semacam itu. Oh gitu mas? oh ya, kalau dihitung dari awal masuk sampai sekarang, sudah brapa bulan mas ada di Sani? Sekarang genap 6 bulan suster. Selama di Sani, apakah keluarga pernah brkunjung ? hem, kalau berkunjung sih belum. Pakde sama budhe saya belum pernah ke Sani. Saudara-saudara yang lain juga belum ya karena mereka ya tinggalnya berjauhan, jadi mungkin nyari waktunya itu susah. Terus selama ini apakah ada komunikasi dengan keluarga dengan pakde di Klaten? Kalo komunikasi ya ada. Pakde sama budhe saya selalu nelpon, kadang dua hari sekali, kadang ya seminggu, ya - Berangkat ke Sani untuk tinggal di Sani, dihantar seorang bruder. - Dihantar bruder ke Rumah rehabilitasi kusta. (dukungan instrumental) - Keluarga mengingatkan subjek, agar rajin melakukan aktifitas gerak, demi membantu proses penyembuhan. - Fungsi afektif dan dukungan informasional dari keluarga. - Subjek menceritakan pengalaman awal ketika sakit, subjek merasa lebih mudah mengeluh, dan putus asah. Tetapi setelah mendapat dukungan dan mitivasi-motivasi dari keluarga, ia merasa lebih tegar dan kuat untuk menghadapi sakit. Dukungan dari keluarga turut berperan mengubah rasa sedih dan putus asah menjadi kekuatan untuk menghadapi sakit. - Selama 6 bulan di rumah rehabilitasi, keluarga belum pernah mengunjungi RO.RO memahami situasi keluarga yang saling berjauhan. Keluarga belum sempat mengunjungi subjek karena situasi. - Keluarga membangun komunikasi rutin dengan subjek. setiap minggu keluarga selalu menelpon subjek untuk menanyakan kabar dan Keluarga aktif menelpon RO semenjak RO di rumah rehabilitasi. (dukungan informasional dan -

(151) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 134 314. 315. 316. 317. 318. 319. 320. 321. 322. 323. 324. 325. 326. 327. 328. 329. 330. 331. 332. 333. 334. 335. 336. 337. 338. 339. 340. 341. 342. 343. 344. 345. sesempatnya mereka nelpon, kadang gantian pakde sama budhe saya, ya mereka pasti nelpon, ya nanya kabar,ya kesehatan saya, keadaan saya, itu uda pasti gitu. Rasanya bagaimana mas, ketika keluarga sering bertanya tentang kondisi atau keadaan mas di sini? Saya ya seneng-seneng aja ya boleh dikata bahagialah, karena saya sendiri ngerasa itu bentuk perhatianlah dari saudara saya, keluarga saya, saya bisa cerita dengan mereka soal perkembangan saya, ya hal yang positif dari keluarga untuk saya. Pernah ada kerinduan untuk ketemu dengan keluarga mas? Ya sangat suster, sangat, dari adek saya pun seperti itu, kapan mas bisa pulang. kalo pas duduk sendirian ya igetnya di rumah. tapi ya nda apa-apa, sesempetnya mereka dateng, kalo bisa dateng ya saya ya seneng. eh, tapi saya itu tanggal 15 oktober bruder mau ke Yogya, saya mau diajak untuk liat keluarga di Klaten. Kesempatan saya bisa ketemu sama keluarga. Nah kalau di rumah rehabilitasi, apa saja yang dilakukan di sini mas? Kalo di sini ya berobat ya therapi, tapi em, ituloh suster, ya disini ya dilatih juga untuk kerja ya kecil-kecilan, ada macem-macem, itu ada ternak, ada sana itu kebun, ya buat pupuk organik, terus di depan itu pembibitan tanaman hias ya buah. Mas sendiri masih menjalani pengobatan di Sani ini.? ya masih suster, awal-awalnya tiap tiga bulan saya masih kontrol ke Donorejo, selama di Sani ini, dua kali saya kontrol sama suster, kadang ya sama bruder. Sampe sekarang mas? Sekarang sudah berhenti, ya uda mulai baikan. perkembanagn kesehatan dari subjek. - - - - Komunikasi yang dibangun bersama keluarga membuat subjek merasa sennag dan bahagia. Subjek mampu menceritkan perkembanagn kesehatannya kepada keluarga. Subjek mengatakan bahwa ia selalu memiliki kerinduan untuk ketemu dengan keluarga Mendapatkan kesempatan untuk bisa berkunjung ke keluarga, subjek merasa bahagia. Subjek menceritaka beberapa aktifitas di rumah rehabilitasi, selain berobat ada juga beberapa bidang yang dikembangkan sebagai sarana untuk latihan bekerja. - Menjalani pengontrolan rutin di Donorejo, setiap tiga bulan. RO dihantar oleh bruder dan suster. - Kondisi RO semakin membaik, dokter menganjurkan untuk dukungan emosional ) - Respon positif dari subjek, merasa senang dan bahagia ketika berkomunikasi dengan keluarga. - Kerinduan subjek untuk berjumpa dnegan keluarga - Merasa bahagia karena diberi kesempatan untuk mengunjungi keluarga. - aktifitas di rumah rehabilitasi. - Kontrol ke Rumah sakit Donorejo. Dihantar suster dan bruder. (dukungan instrumental dari significant others) - Kondisi berangsur membaik, RO, berhenti

(152) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 135 346. 347. 348. 349. 350. 351. 352. 353. 354. 355. 356. 357. 358. 359. 360. 361. 362. 363. 364. 365. 366. 367. 368. 369. 370. 371. 372. 373. 374. 375. 376. 377. itu sebulan yang lalu dokter uda bilang kalo saya uda nda minum obat kusta lagi karena sudah sembuh, tapi kalo obat yang untuk ngurangi rasa sakit, saya masih minum. Dulu itu dosisnya satu suster, oh gitu ? jadi itu kalo tiap kali saya rasa sakit saya minum satu biji, heem, pelan-pelan saya kurangi, terus sekarang tingal minum seperempat saja. Sekarang saya lagi nyoba untuk bisa lepas dari obat tapi kayanya belum bisa, ntalah kapan tapi saya akan terus nyoba suster. Kalau perubahan ke fisik bagaimana? Apa yang mas alami ? Kalo ke fisik, sekarang saya uda bisa jalan,ya jalan jauhlah, nda kaya beberapa bulan sebelumnya. Lha, tadi pagi saya bawa sepeda ke gereja untuk misa pagi. Uda hampir satu bulan ini, saya ya nyepeda ke gereja, kalo di tanjaan sedikit di depan itu, ta tuntun suster, soale kaki saya belom kuat. oh ya, tadi khan, mas cerita kalau di Sani ini khan ada semacam latihan kerja ya? Iya suster. Ada nda yang mas ikuti? Ada sih suster, cuman aktifitas ringanlah boleh dibilang begitu, ya untuk belajar. Masalahnya itu saya belum bisa kerja fisiklah, yang berat-berat itu belom bisa, beda ya kalo misalnya seperti Pak Gun, sama temen yang lain, itu mereka uda bener-bener sembuh, jadinya itu bisa urus ternak sama kebon. Kalo saya, bruder kasih yang ringan aja. Oh gitu? apa itu mas ? Saya itu ditugasin sama bruder untuk nunggu tamanan di depan ini, tiap hari khan ada orang datang mbeli, terus-terus kaya gitu, bruder ya nyuruh saya jaga ya sambil jualan gitu. Setiap hari ya mas? iya, tiap hari, tapi gentenan sama Rumain. Cuman bruder nda batasi berapa jam, yo kalo kondisinya uda nda tahan ya bisa istirahat. berhenti mengkonsumsi obat kusta. mengkonsumsi obat kusta. - Tampak niat dan usaha dari RO untuk sembuh. berjuang untuk bebas dari mengkonsumsi obat. RO merasakan ada perubahan fisik yang dialaminya, ia mulai berjalan dengan baik dan bisa mengkayuh sepeda ke gereja. - Tampak fisik mulai sehat, RO, sudah bisa berjalan dan membawa sepeda. RO menceritakan bahwa bruder memberikan tugas kepada RO, untuk menjaga dan menunggu dan menjual bibit tanaman, sebagai aktifitas untuk latihan bekerja. - Mendapatkan aktifitas untuk latihan bekerja. (dukungan instrumental dari significan others yang lain.) RO menceritakan usahanya untuk mengurangi dosisi obat rasa sakit yang dikonsumsinya selama ini.

(153) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 136 378. 379. 380. 381. 382. 383. 384. 385. 386. 387. 388. 389. 390. 391. 392. 393. 394. 395. 396. 397. 398. 399. 400. 401. 402. 403. 404. 405. 406. 407. 408. 409. Mas merasa terbantu dengan latihan ini atau bagaiman? Kalo bagi saya sih sangat, sangat terbantu, ne kalo jualan itu otomatis saya itu ketemu sama orang lain, lama-lama saya ya jadi beranilah, nda minder lagi sama orang. Emang sih awal-awalnya mau ngomong sama orang ya masih mikir gimana, tapi lama-lama saya ya jadinya itu biasa. Ya bisalah percaya diri. Terus, begini mas, kalau saya melihat dari mas punya cerita, keluarga itu sangat pedulih dengan mas ya? kira-kira seingetnya mas, perhatian atau dukungan seperti apa yang sering diterima dari keluarga? Emm, apa ya suster? kalau saya ingat mulai pertama saya sakit sampai sekarang , saya itu banyak termotivasi oleh pakde dan budhe saya, entah waktu kapan aja, pakde itu selalu pesan untuk saya, nesehatin saya, nerima saya. Positiflah mereka itu mikir tentang saya. supaya saya semangat, obat ya dicariin, apa-apa ya diusahakan untuk saya, bener-bener nerima keadaan saya Kira-kira dari mas sendiri tanggapannya gimana dengan semua bentuk perhatian yang diberikan oleh keluarga? kalo yang saya rasa selama ini, ya semuanya itu membantu saya, keluarga saya itu ngeri ne butuhnya orang sakit itu seperti apa, ya mereka itu paham dengan kebutuhan saya ya semuanyalah. Kalau bertemu dengan orang lain, apakah mas masih merasa minder? Oo, kalau itu uda nda, biasa suster, biasa aja. Sekarang ya, saya meras lebih percaya diri, karena lingkungan juga ngajarin saya, ya disinilah, terus, kalo di klaten itu temanteman saya ya bisa menerima saya, jadinya saya itu lebih - RO, meyatakan bahwa ia sangat terbatu dengan aktifitas ini, karena bisa berkounikasi dengan orang lain dan meningkatkan rasa percaya diri. - Memberikan aktifitas kepada RO untuk bekerja, adalah salah satu bentuk dukungan instrumental, yang dapat meningkatkan rasa percaya diri pada RO. - RO, meyatakan bahwa dukungan dan perhatian yang sering diterima dari keluarga, adalah berupa penerimaan dari keluarga serta nasehat dan mitivasi-motivasi. - Dukungan paling besar dari keluarga untuk subjek adalah peneguhan, dan motivasi, serta penerimaan positif tehadap subjek. - RO, meyatakan bahwa semua bentuk dukungan yang diberikan oleh Keluarga sangat berarti dan membantu RO. - Semua perhatian dan dukungan dari keluarga bermanfaat untuk subjek. - RO, menyatakan bahwa lingkungan, membentuknya menjadi lebih percaya diri. sehingga dia tidak minder ketika bertemu dengan orang lain. - Peran lingkungan meningkatkan rasa percaya diri padab RO.

(154) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 137 410. 411. 412. 413. 414. 415. 416. 417. 418. 419. 420. 421. 422. 423. 424. 425. 426. 427. 428. 429. 430. 431. 432. 433. 434. 435. 436. 437. 438. 439. 440. 441. merasa percaya diri. Mas sendiri gimana melihat diri atau menilai diri sendiri seperti apa? Saya nerima keadaan saya, nerima kalo saya ya sakit seperti ini, sakit kusta, emangsih ini nda mudah ya, bersyukur sudah mulai perlahan sembuh, meski ya nda bisa normal kaya dulu lagi, tapi saya tetep ngeliat positif. Misalnya sisi posistip yang bagaimana mas. bisa diceritakan? Saya itu masih bisa jalan, bersyukur masih punya kaki sama tangan ya, punya organ tubuh yang lengkap, boleh dibilang itu jauh dengan banyangan saya seblumnya. Emang nda sempurna sih kaya dulu, tapi khan masih bisa jalan. saya itu merasa bahwa Tuhan itu mencintai saya, menjawab apa yang menjadi harapan saya. Heem, mungkin ada pengalaman lain selain ini? Kalo saya ya, sekarang ini, hal-hal kecil aja, misalnya dapet bingkisan atau apa, bisa gerak bisa jalan kaya gini aja, saya ya bersyukur, maturnuwun sama Gusti. Dulunya itu sebelum sakit, saya boleh dibilang jarang ya bersyukur, merasa semua bisa ya begitulah. . saya merasa bahwa doa saya dikabulkan, apa yang saya minta, Oke terus tanggapan mas sendiri tentang keluarga gimana? Kalo bagi saya itu, keluarga itu sangat berarti, ya segalanya. perannya itu saya rasa bener-bener menguatkan saya, ya semampu mereka, mungkin secara finansial itu nda seberapalah , tapi ya secara moral ya peneguhan. saya RO, meyatakan bahwa saai ini ia sudah bisa menerima dirinya sebagai seorang yang menderita sakit kusta. ia menyadari bahwa kondisinya tidak akan kembali normal namun dia tetap melihat sisi positif dalam dirinya. RO, meyatakan bahwa sisi positif yang ada dalam dirinya adalah, ia masih bisa berjalan, masih memiliki kaki dan tangan, lebih dari itu, RO, merasakan bahwa Tuhan mencintai dia dan menjawab apa yang menjadi harapannya. RO, menyatakan bahwa ia mulai mensyukuri hal-hal kecil yang dialami dan diterima dalam hidupnya. Menurut RO, hal ini merupakan sebuah pengalaman yang tidak pernah terjadi sebelum RO, menderita sakit. RO, menyatakan bahwa keluarga memiliki peran penting dan tetap menerima RO, sebagai seorang yang menderita sakit kusta. - Kemampuan akan penerimaan diri dan melihat sisi positif dalam diri. - Muncul rasa syukur dan Iman dalam diri. - Pengalaman sakit mengubah RO, menjadi orang yang mudah bersyukur. - Keluarga merupakan pemeran utama dalam membantu RO, dan menerima RO apa adanya.

(155) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 138 442. 443. 444. 445. 446. 447. 448. 449. 450. 451. 452. 453. 454. 455. 456. 457. 458. 459. 460. 461. 462. 463. 464. 465. 466. 467. 468. 469. 470. 471. 472. 473. 474. 475. bener-bener itu saya rasakan. Meskipun saya sakitnya kaya gini, sulit, nda umum, keluarga tetep nerima saya sebage anggota keluarga, mereka nda ninggalin saya. Kira –kira ada nda perbedaan pandangan tentang keluarga ketika awal menderita sakit dan saat ini. Ya iya, ada . Dulu ya suster? heem. awal-awal saya sakit itu ya, saya itu mikir keluarga itu ya jauh dari saya, nda mau dengerin saya, nda akan nerima saya, makanya saya itu nda berani ngomong ya kalo saya sakit kusta, sampe uda parah baru keluarga tau. Udah negatif duluan mikirnya itu. Kalau sekarang gimana mas? Keluarga itu pertama yang memahami saya, mbimbing saya, sampe saya itu bisa nerima, nerima keadaan saya. Bener-bener nerima kondisi saya seperti ini, tantangan semuanya yang berat, makanya sekarang itu saya itu lebih terbuka ya dengan keluarga, kalo ada apa-apa ya ngomongnya sama keluarga, ayemlah, saya sakit begini keluarga malah perhatiin saya. kalo uda jauh begini ya kadang rindu, mikirnya ya cepet sembuh biar bisa pulang ke keluarga. Mas sendiri punya niat apa setelah mendapat dukungan dan perhatian dari keluarga? Ya, setelah saya apa ya, saya banyak pengalaman yang saya alami ini saya itu punya niat untuk mandiri, pertama ya untuk saya sendiri, ya untuk keluarga saya, saya kembangkan bantuan yang selama ini saya dapet dari temen-temen saya, ada subangan dari mereka. Rencananya saya akan kembali ke Klaten, saya akan ternak ayam, ya bisa untuk memandirikan saya sendiri aja dulu. Nda ada rencana untuk kembali ke Perusahan yang dulu mas? - persepsi awal terhadap keluarga, keluarga akan menjauh, tidak bisa mendengarkan dan tidak menerima subjek. RO, menjadi tidak berani mengkomunikasikan pengalaman sakit kepada keluarga. - RO, meyatakan bahwa saat ini ia merasa lebih terbuka dengan keluarga. ada rasa nyaman ketika bisa komunikasi dengan keluarga. - RO, menyatakan bahwa ia akan berusaha untuk mandiri. Ia akan kembali ke Klaten dan mengembangkan bantuan yang diberikan oleh teman-temannya dengan beternak ayam. - RO, menyadari bahwa dirinya tidak bisa lagi bekerja kembali sebagai distributor Farmasi, karena kondisi fisiknya tidak memngkinka, untuk itu ia memilih untuk mengembangkan usaha sendiri. Persepsi awal RO terhadap keluarga, keluarga akan menjauh dan tidak menerima keadaan RO. - Menjadi lebih terbuka dan merasakan kedekatan dengan keluarga setelah mendapatkan perhatian dari keluarga selama. sakit. - Tampak usaha dan rencana dari O untuk mandiri. . - Menyadari kerebatasan fisik, RO memilih untuk mengembangkan usaha sendiri.

(156) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 139 476. 477. 478. 479. 480. 481. 482. 483. 484. Oh, kalo itu nda suster. Soalnya kalo mau terjun ke perusahaa seperti dulu, umur saya sepertinya nda , nda memungkinkan ya, terus kondisi, ya fisik saya saya juga nda mungkin kalo saya kembali ke sana, ya saya ya, kembangkan usaha sendiri aja. Jadi lebih ke usaha untuk mandiri begitu ya mas ? Iya, saya ya maunya sih mandiri. Saya juga bisa ngontrol kesehatan saya ya suster, udah mantep gitu, bulan juli saya keluar, saya akan mulai usaha saya. RO, menyatakan bahwa bulan juli ia akan keluar dari Rumah rehabilitasi kusta, dan memulai mengembangkan usahanya beternak ayam. ( 516-518 ) - Akan memulai mengembangkan usaha dalam waktu dekat setelah keluar dari rumah rehabilitasi.

(157) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN 5. TEMA-TEMA PADA SUBJEK 2. No 1 Tema-tema Nomer verbatim. Gambaran awal terjadinya sakit kusta. a. Merasakan tanda-tanda fisik sebagai gejala dari penyakit kusta. - (1-6) - (13-14, 17-18) - (24-28) - (38-39) - (40-41) (89-91) - (42-44, 47-49) (61-67) 53-55 b. Mengabaikan gejala yang dirasakan. 2 Kondisi subjek saat mengalami sakit. a. Berhenti bekerja dan memutuskan untuk kembali ke keluarga. b. Merasa shock saat terdiagnosa sebagai penderita kusta. c. Mersa akan menjadi lumpuh. d. Mudah tersinggung dan mudah marah. e. Menarik diri dari lingkungan sosial. f. Merasa diri tidak berguna g. Merasa bahwa penyakit kusta mematikan hidup. 3. Pengalaman akan dukungan keluarga selama sakit. a. Dukungan emosional - Didengarkan oleh adik saat mengeluh. - (138-142) - Mendapatkan peneguhan dan motivasi - (93-98) - (70-72,202- dari simbah. - Diterima dan diperhatikan oleh keluarga. 204) b. Dukungan instrumental. - Mendapatkan bantuan biaya operasi dari keluarga. - Ibu dan simbah mempersiapkan makanan dan kebutuhanuntuk subjek. - (151-153) - (114-115) - (131-133) Ibu dan simbah menemani subjek ke puskesmas - - Dihantar keluarga ke rumah rehabilitasi. 140

(158) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI - (179-173) - (189-194) - (94-97 - (92-95) a. Menemukan cara untuk mengatasi sters. - (100-104) b. Menjadi lebih tekun dalam dan mendekatkan - (286-291) - (243-249) - (274-281) - (298-300) - (308-309) - Mendapatkan kunjungan dari keluarga selama di rumah rehabilitasi. c. Dukungan informasional - Nasehat dari keluarga untuk selalu dekat dengan Tuhan dengan menjalankan sholat. - Nasehat dari keluarga untuk lebih sabar menghadapi sakit. 4 Gambaran keadaan subjek dengan dukungan dari keluarga. diri dengan Tuhan. c. Adanya perubahan fisik ke arah yang lebih sehat. d. Sudah mampu bersosialisasi dengan orang lain. e. Memiliki niat untuk mandiri. 141

(159) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 142 LAMPIRAN 6 TRANSKRIP VERBATIM WAWANCARA DAN ANALISIS DATA SUBJEK 2. (RM) No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. Verbatim Sebelum sakit , mas pernah kerja di mana ? Yo jadi kulih, di sawah orang, ya sama orang, heem, pernah jadi kulih di perkebunan tebu, motongin tebu, terus pernah di Bekasi juga. Ya macam-macem kerjanya. Yang terakhirnya pas saya sakit itu saya di Bekasi, buruh disana. Terus berhenti tahun 2007. Berhenti karna sakit? Iya. nda sanggup kerja suster, badan saya sakit semua, lha kerjaan saya itu khan tenaga harus kuat, harus motongin tebu tiap hari, nda sanggup lanjutin, kondisi saya uda nda bisa. Oh gitu? terus mulai merasakan sakinya kapan? Em, sekitar 2004. Mulai terasa ya sekitar itu, cuman nda paham, kalau itu sakit Lepra. Berarti uda lamah ya? Iya. Nek kalau munculnya itu, awal-awalnya cuman sering panas aja, terus badan saya itu sakit semua, tapi nda berobat suster, saya nda berobat, orang saya itu mikir sakit biasa kok, pegel-pegel biasalah, lha, tapi kok lama-lama malah semakin parah, kok kaya gini?, uda nda bisa ngapa-ngapain,tangan saya, kaki saya itu kaku . Heem, Terus mulai tau kalau sakit kusta itu kapan? Persisnya itu tahun 2007, waktu itu saya pulang ke rumah simbok saya, heem, terus sama simbah saya di’jak berobat ke puskesmas, periksa di sana, baru Koding awal Analisis - Subjek menyatakan bahwa sebelum sakit ia bekerja sebagai buruh pemotong tebu. - Profesi subjek sebelum sakit . - Tahun 2007 berhenti bekerja, karena kondisi fisik semakin lemah. - ( Kondisi disability) - Subjek memastikan bahwa tahun 2004 ia mulai menderita sakit kusta. - Sejarah munculnya sakit kusta. - Subjek menceritakan gejala munculnya sakit kusta, ia merasakan panas dan sakit pada seluruh badan. Mengabaikan gejala yang mncul, berakibat pada konsisi subjek semakin memburuk. - Tanda-tanda fisik munculnya sakit kusta pada subjek. - Pengabaian akan gejala yang dirasakan. - Berobat k Rumah sakit bersama simbah. (dukungan - - Diajak Simbah untuk berobat ke Puskesmas. Hasil diagnosa dokter, menunjukan bahwa

(160) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 143 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49. 50. 51. 52. 53. 54. 55. 56. 57. 58. ketahuan sakitnya. Dokter ya bilang kalo saya itu sakit Lepra. Oh gitu, jadi taunya itu setelah ke Puskesmas itu ya mas? iya suster. Nah kalau menurut mas sendiri, kira-kira mas menderita sakit kusta karena apa? Ya, bisa juga karena lingkungan. Masalahnya itu dikampung sana banyak sus. Ada yang udah sembuh, ada yang masih sakit. Oh begitu? Nah, Perasaan mas waktu itu bagaimana ya setelah tau kalau sakit kusta? Nda karuan, shock, bingung, ya sedih, wah bener-bener bingung, jengkel, kaget, kok sakit Lepra?, udah nda karuan mikirnya entah tanganku jadi buntung, kakiku buntung, dosaku opo yo, kok Tuhan kasih aku sakit Lepra? Heem, heem, waktu itu waktu awal-awalnya, pengennya pergi jau nda usah ketemu sama orang lain, isin, lha koyo ngene? kusta? Isin sus. Efeknya ke relasi dengan teman-teman bagaimana? Ya nda sama kaya dulu, sejak terkena lepra saya lebih seneng sendiri aja, mau ngomong sama orang malu sus, makanya saya itu banyak di kamar, minder. Kenapa harus minder mas? Ya, kerana penyakit kusta itu, penyakit yang istilanya itu menjijikan, terus menakutkan Jeleklah. Kusta ki mateni uripku, ya sedih ( menangis ), kaya aib gituloh, kalo misale sakit yang laen, aku masih bisa, tapi koyo ngene yo ngenes. ya nda nerima, apa mungkin Tuhan itu mau menguji saya? kok iso koyo ngene? RM, menderita sakit kusta. - RM merasa yakin, ia menderita sakit kusta karena faktor lingkungan - RM, menyatakan bahwa ia benar-benar shock kaget, merasa sedih dan menangis, setelah mendapat diagnosa dari dokter. - RM merasa malu bertemu dan berpikir untuk pergi dan tidak mau bertemu dengan orang lain. - Bagi subjek penyakit kusta yang dideritanya adalah penyakit yang menjijikan dan mematikan hidupnya. instrumental). - Menderita sakit kusta karena fakto lingkungan. - Reaksi spontan dari RM ketika mengetahui penyakitnya, kaget, sedih dan menagis. ( kondisi psikologis, shok ) - muncul keinginan untuk menghindar dari orang lain. (kondisi psikologis, Social isolation) - Persepsi buruk terhadap penyakit, membuat subjek merasa minder untuk bertemu dengan orang lain. ( kondidi psikologis, social

(161) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 144 59. 60. 61. 62. 63. 64. 65. 66. 67. 68. 69. 70. 71. 72. 73. 74. 75. 76. 77. 78. 79. 80. 81. 82. 83. 84. 85. 86. 87. 88. 89. 90. Jadi mas merasa bahwa penyakit kusta itu menghambat bahkan mematikan kehidupan mas ya? Iya, emang nyatanya ya kaya gitu, lha saya itu waktu awal-awalnya sakit, nda bisa ngapa-ngapain. Sejak terkena kusta, hidup saya ya cuman kaya gini, kalau mau nyari kerja, opo yo diterina, nda bakalan. Lagian uda cacat begini, susah. Nda semua orang paham dengan kusta, kalo di dalam sini orang masih bisa paham, diluar sana itu orang nda paham. Terus bagaiman respon atau tanggapan keluarga setelah mereka mengetahui kalau mas sakit kusta? Ada macem-macem, Nek simbah saya orangnya nerima. Nda ada masalah, nda ada rasa jijik dengan saya. Malah simbah ki lebih sering ngopeni aku yo saat sakit kui. Kalau seperti bapa saya itu orangnya cuek. Tentang sakit saya ini, bapa ini cuek kaya gimana gitu suster, Bapa khan seseorang gimana, kalo ada masalah nda gimana-gimana gitu, kaya nda ada masalah, bapa khan dulu kalo sama keluarga nda ada romantisnya, pengennya rabih meneh, terus niggalin simbok saya, dia emang beda sama bapak-bapak yang lain. Jadi mas merasa kecewa dengan bapak ya? Iya suster, Heem, Nah selama sakit, sampe sekarang, bagaiman sikap keluarga, apakah ada dukungan dari mereka? Keluarga yo biasa suster, ya beri dukungan buat saya, Misalnya apa aja mas? Yo kui, nganterin berobat ke puskesmas. Waktu masih di rumah, kalau ke Puskesmas saya ya sama almarhum mbah saya, gentenan sama ibu saya. heem, heem, kalo pas reaksi itu nda stabil, maunya itu marah aja, ntah ada masalah apa nda, pengennya itu isolation ) - Merasa diri tidak bisa berbuat apa-apa karena sakit kusta. RM merasa bahwa akan ada hambatan didalam mencari pekerjaan karena tidak semua orang paham akan penyakit kusta. - (kondisi psikologis, Discrediting definition of self ) - Sikap positif dari simbah, menerima keadaan Rm selama sakit. Rm pun merasa bahwa, semenjak sakit simbah menjadi lebih fokus memperhatikan RM. - Respon awal dari keluarga, empati dengan situasi RM. (dukungan emosional) - RM menceritakan bahwa keluarga selalu memberikan perhatian kepada RM selama sakit. Tampak usaha dari kelurga, menghantar RM untuk berobat ke rumah sakit. - Respon positif dari keluarga, menerima dan memperhatikan RM selama sakit. Dihantar untuk berobat ke rumah sakit, dukungan insrumental dari - -

(162) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 145 91. 92. 93. 94. 95. 96. 97. 98. 99. 100. 101. 102. 103. 104. 105. 106. 107. 108. 109. 110. 111. 112. 113. 114. 115. 116. 117. 118. 119. 120. 121. 122. marah, terus rasanya itu jenuh, situasinya itu kaya timbul tenggelam gitu,terus gampang tersinggung suster. lha simbah ki ngerti, terus dinasehati sama simbah saya, kon sabar, yakin, sakit saya itu bisa sembuh. Bilang sama saya, ada orang yang lebih susah, lebih parah sakitnya, nda usah grusah-grusuh, dilakoni wae, sambil usaha, pasti Yo sembuh,terus diingetin jangan sampe kamu itu ninggalin sholat. Orang itu kalo rajin sholat yo pasti cepet sembuh. Heem, heem, e’ berarti diteguhkan gitu ya? Iya suster, nek saya itu udah sters kepikiran macemmacem, uda, saya ambil alquran baca ayat-ayat alquran, nah baru plong, jadi itu uda khas gitu terus sampe hari ini, sholat ya saya jalanin lima waktu, nah terus Inget sama yang laen, tangannya buntung, kakinya buntung, ya udah, semangat lagi untuk sembuh, saya khan istilanya itu belom parah gituloh sus, sama yang laen. Heem, heem, giniloh suster, kalo sakit kusta ini khan nda mesti, pikirnya orang itu sudah sehat, eh tiba-tiba nda bisa jalan, tiba-tiba aja muncul tanda kusta, ndadak saya nda bisa apa-apa, mau kerja nda bisa, mau ngapain aja nda bisa, cuman tidur aja kaya gitu jadi yang merhatiin semuanya, ya simbah sama ibu saya. semuanya sus, mulai dari nyiapin makan minum semuanya Hee, terus tindak lanjut dari puskesmas bagaimana? Ya disuruh berobat. Rutin suster, selama 6 bulan, minum obat, nda boleh telat.Tiap hari harus minum obat, rutin, pokonya nda boleh telat. ada yang bantu mengingatkan? hehe, ada sus, biasanya simbah saya.Dia selalu bilang sama saya ojo lalai le, obatte kui diombe, ben cepet keluarga. - Simbah mengingatkan RM untuk sabar dan yakin bahwa penyakit yang dideritanya bisa disembuhkan dan jangan meninggalkan sholat. - RM mengatakan bahwa, ketika mengalami stres ia mengatasiny adengan cara membaca ayat-ayat alquran. - Rm mendapat kelegaan setelah membaca ayat-ayat alquran dan semakin sadar untuk menjalai sholat. - Pengalaman pada saat reaksi kusta, RM tidak mampu melakukan aktifitas harian. Simbah membantu RM dengan menyediakan kebutuhan RM saat sakit, menyediakan makan dan minum serta seluruh kebutuhan RM. - - Dokter menganjurkan untuk menjalani pengobatan rutin - Memberikan peneguhan dan motivasi kepada subjek, dukungan emosional dari keluarga. - Mengatasi stres dengan melakukan cpping rohani, Rm mendapatkan kelegaan. - Abnormalisasi fungsi fisiologis dan anatomis. (impairtmen) - Respon keluarga terus aktif memperhatikan kebutuhan RM. (dukungan instrumental) - Menjalankan pengobatan rutin atas

(163) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 146 123. 124. 125. 126. 127. 128. 129. 130. 131. 132. 133. 134. 135. 136. 137. 138. 139. 140. 141. 142. 143. 144. 145. 146. 147. 148. 149. 150. 151. 152. 153. 154. mari, nek telat kakimu, tanganmu jadi lumpuh, woalah yo takut to sus.Makanya saya itu selalu inget, jam brapajam barapa harus minum obat. misalnya itu kita telat, wah uda muring-muring sus ada kontrol rutin juga ke puskesmas? Oh iya, tiap dua minggu sekali harus ngontrol, Ooh, kalau ke puskesmas biasanya jalan sendiri atau ada yang hantar? Selalu dihantar kok suster. kadang ya sama simbok saya, kadang sama mbah. Jarang saya brangkat sendirian. Yo jalan kaki sama mereka. nda jauh kok dari rumah. Hem, berarati selalu ada teman ya? iya suster. Selain ibu dan mbah, siapa lagi yang biasanya beri perhatian sama mas? Adek saya, kami khan 5 bersodara, nah adek nomer 3 itu selalu perhatian sama saya, kalau misalnya nda ada simbah, ya gantian nyiapin makan untuk saya, ya ngobrol-ngobrol, kadang kalau hati saya itu sesek, ya ngobrol, ngomong sama adik saya. didengerin aja hatinya bisa legah. heem, biasa kok suster, nda ada rasa takut atau jijik dengan saya, nda ada. Dia ya nerima saya, saya sakit kusta, nda jadi masalah untuk adik saya. ohh, terus apa yang mas rasakan saat itu? legah suster. tadinya itu misalnya mumet, stres,pusing, macem-macem rasa itu bisa hilang, to ada yang dengerin, jadinya bisa kuat, ada yang nopang gituloh. Terus biaya pengobatannya gimana? Nek masalah biaya, keluarga tetep bantu. Tangan saya ini khan pernah operasi di Donorejo, biaya operasinya ya dibantu sama keluarga. Kalau soal lain-lainnya itu semua buder yang nanggung. Heem, heem, Awal-awal selama 6 bulan. anjuran dari dokter. (dukungan instrumental dari dokter) - Simbah, mengingatkan RM untuk rutin mengkonsumsi obat. - Berobat ke puskesmas, RM selalu dihantar oleh ibu dan simbah. - Dukungan emosional dan penilaian dari keluarga. - Adik membantu mnyiapakan kebutuhan makan dan minum unutk RM selama sakit. selain itu Adik menjadi teman curhat untuk RM. - Dihantar ke puskesmas untuk berobat adalah salah satu bentuk dukungan instrumenta. - Sikap positif dari adik, menerima dan memahami keadaan RM. membuat RM merasa legah dan dan kuat dalam menghadapi sakit. - Dukungan instrumental dan emosional dari adik. - RM mengatakan bahwa selama sakit, keluarga ikut membantu biaya pengobatan Sikap postif menerima keadaan RM, dukungan emosional dari

(164) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 147 155. 156. 157. 158. 159. 160. 161. 162. 163. 164. 165. 166. 167. 168. 169. 170. 171. 172. 173. 174. 175. 176. 177. 178. 179. 180. 181. 182. 183. 184. 185. 186. waktu di Puskesmas juga nda bayar kok suster, saya khan pake kartu miskin, jadi nda bayar. obat-obatnya gratis sama dokter dikasih aja gitu, cuman memang harus antri. Lama, sampe kemeng. Berarti keluarga tetep bantu ya mas, meskipun sedikit? Iya sus, Terus ceritanya mas bisa sampe ke Sani ini gimana? Nah, saya itu dapet informasi itu dari orang mantan Sani juga, dulunya sakit lepra juga, tapi dia lebih parah dari saya, dia itu tangannya buntung, kakinya buntung, itu tetangga rumah di Sukolilo sana itu. dia itu dateng ke rumah terus nawarin saya untuk ke Sani. Tanggapan dari mas gimana? Seneng ya sus, ada yang nolongin, nyariin jalan untuk saya. Jadi waktu itu mas langsung diajak ke Sani ya? iya suster, Tanggapan keluarga bagaimana? Yo gelem, manut ko suster sama saya. simbok ya mau, terserah sama saya. Ada keluarga yang hantar ke Sani? Ada suster, yang hanter waktu itu, Simbah sama simbok saya,terus sama tetangga yang nawarin saya ke Sani. Dia itu mantan Sani suster, nda tau uda brapa tahun yang lalu. Bapa nda ikut hantar ya mas? Nda. Bapa waktu itu lagi buruh ke Kudus, Sekarang mas sendiri di Sani uda berapa lama? Uda mau 5 tahun suster. uda lama. Rio itu belom ada RM. - Mendapatkan tawaran dari tetangga ( mantan penderita yang tingal di Sani ) untuk berobat dan tinggal di Sani. - Merasa senang karena mendapat bantuan untuk tinggal di rumah rehabilitasi kusta. - Simbok mengijinkan RM untuk menjalani pengobatan dan tinggal di rumah rehabiliasi kusta di Sani. - RM menceritakan bahwa ketika berangkat ke Pati, keluarga dan tetangga menghantarnya. - RM mengatakan bahwa sudah hampir 5 tahun ia tinggal di Rumah Rahabilitasi keluarga memberi kelegaan kekuatan pada RM. - - Keluarga berpartisipasi Membantu biaya pengobatan RM, dukungan intrumental. Mendapat bantuan, merasa bahagia. - Mendapat dukungan dari ibu untuk tinggal di rumah rehabiltasi kusta. - Keluarga menghantar RM untuk tinggal di rumah rehabilitasi. (dukungan instrumental) - lamanya waktu tinggal di rumah rehabilitasi.

(165) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 148 187. 188. 189. 190. 191. 192. 193. 194. 195. 196. 197. 198. 199. 200. 201. 202. 203. 204. 205. 206. 207. 208. 209. 210. 211. 212. 213. 214. 215. 216. 217. 218. satu taon, saya duluan. Selama di Sani, pernah nda dikunjungi keluarga? Yo pernah. Bapak sama simbok sering ke sini. Deket kok suster, sini sama Sokolilo yo deket numpa bis cuman sejam nda nyampe. Kadang ya sebulan sekali. Nda mesti, cuman ya sering mereka nengok saya. Kalau pas nda ada ongkos ya mereka nda dateng. Namanya orang susah sus. Membantu biaya pengobatan juga ya mas? ya ada, cuman sedikit suster. misalnya kalau kontrol ke Donorejo khan bayar juga, jadinya keluarga ya ikut bantu, cuman yang paling banyak bantu saya itu buder sama suster yang disini. Bapa sama simbok saya orang susah. Berarti cukup diperhatikan sama keluarga ya mas? Almhamdululah dari dulu sampe sekarang tetap meberi suport aku. Tetap nerima aku. Nda seberapa dibanding yang laen, tapi perhatian itu ada. bisa nerima saya. Ada bentuk perhatian yang lain, selali mereka berkunjung ? Paling ya nelpon, tapi jarang kok sus, simbok ki nda ngerti make HP. Palingan yo adek saya. Oo, tadi khan mas bilang diterima oleh keluarga ya, itu misalnya gimana? Nah, kalau saya pulang ke rumah, ya seperti biasa saja. Nda ada rasa nolak atau jijik gitu suster. Alhamdulilah dari dulu sampe sekarang keluarga bisa menerima, sama seperti waktu saya sehat. Seperti biasa kok sus. Nah kalau dilihat dari awal, kira-kira perhatian - Mendapat kunjungan rutin dari keluarga, selama tinggal di rumah rehabilitasi. - Dikunjungi keluarga merupakan salah satu bentuk dukungan emosional dan istrumental - Keterlibatan keluarga membantu baiya pengobatan RM. dukungan instrumental - RM mengatakan bahwa keluarga ikut terlibat membantu biaya pengobaran RM. - RM mengatakan bahwa selalu ada perhatian secara khusus penerimaan dari keluarga terhadap RM sejak awal sakit sampai saat ini. - Totalitas perhatian dan penerimaan keluarga untuk RM.(dukungan emosional) - RM mengatakan bahwa keluarga selalu mengunjungi RM selama berada di rumah rehabilitasi. - Dukungan emosional dari keluarga. - RM menyatakan bahwa dukungan dari keluarga lebih kepada nasehat-nasehat yang diberikan untuk RM. - Nasehat dan peneguhan dari keluarga untuk RM.

(166) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 149 219. 220. 221. 222. 223. 224. 225. 226. 227. 228. 229. 230. 231. 232. 233. 234. 235. 236. 237. 238. 239. 240. 241. 242. 243. 244. 245. 246. 247. 248. 249. 250. yang mas terima dari keluraga itu lebih cenderung perhatian yang bagiman ya? Kalo itu mungkin lebih ke nasehat ya suster semacam itulah, bener terasa kok sus, sampe sekarang nasehatnasehat simbah saya itu , wah terdengung terus. Dulu sama simbah saya, suka nasehati saya, ngomong yang baiklah tentang saya. tapi kalo ke materi, emang jarang. Soalnya bapa sama simbok tu orang susah. buder nda pernah minta biaya dari bapa sama simbok saya. seingetnya mereka mereka kasih, nda jadi soal. Nah terus kalau menurut mas? selama sakit, kirakira siapa yang sering memperhatika mas? Almarhum mbah saya. Itu yang paling ker buat aku. Almarhum itu sangat –sangat berjasa. Dia yang meng.. apa namanya, pengobatan saya waktu masih di rumah, ke puskesmas, semunya ya itu mbah saya. bagi saya, mbah itu pahlawan untuk saya. Keluarga yang lain juga iya, cuman nda seberapalah dibanding simbah saya, benar-benar ker sama sama saya, Oke, oke, Nah selama hampir 5 tahun mas tinggal di Sani, adakah perubahan yang dirasakan? Maksud e perubahan apa ya sus? Oh ya, maksud saya, mas merasa semakin sehat begitu? Alhamdulilah, banyak perubahannya. Jauh, jauh lebih sehat . Cuman ya tangan saya itu nda bisa pulih, tetep aja kaya gini, raiso lurus. kalau kaya gini ya kaya gini terus, nda luwes kalo kerja. Dadak ngene-ngeneloh, biasanya saya kalo kerja cepet, bosku di perkebunan itu seneng lihat saya itu kerja, cuman sekarang ya nda bisa, ngangkat seng abot wae ora iso sus. Bisa kerja apa aja mas? - Kondisi RM mulai membaik setelah tinggal di rumah rehabilitasi. Ia menyatakan bahwa untuk saat ini ia jarang mengalami reaksi kusta, dibandingikan dengan pengalaman sebelumnya. - Kondisi fisik membaik setelah menjalani pengobatan di rumah rehabilitasi.

(167) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 150 251. 252. 253. 254. 255. 256. 257. 258. 259. 260. 261. 262. 263. 264. 265. 266. 267. 268. 269. 270. 271. 272. 273. 274. 275. 276. 277. 278. 279. 280. 281. 282. Ngarit yo iso kok sus. iso nimba air untuk mandi, nyapu, nyiram tanaman, pokoknya uda bisa kerja. Selain berobat, ada hal-hal lain yang didaptkan di tempat ini mas? Banyak sus, disini itu ada ya melihara ternak, ya kebon nanem sayur-sayur, buat pupuk organik, ada yang bibitin tanaman, ya macam-macam, ada jadual dari buder buat saya sama Rio untuk nungguin tanaman itu khan tiap hari ada yang mbeli gituloh suster, ya kulaan bibit sama pupuk. Mas merasa terbantu dengan latihan- latihan diatas? Alhamdulilha sus, bisalah, bisa mbantu saya. tapi yo misalnya itu untuk buat hidup di luar itu ya harus ada modal, Zaman sekarang itu kalo nda ada uang, nda ada modal, ya nda bisa ngapa-ngapain. Tapi yo, Sakarang saya ikutin semuanya buat keterampilan saya. Kalau dalam berelasi dengan orang laian, apakah masih merasa minderatau? Eeh, sebenernya masih ada dikit, kalau misalnya ada yang dateng beli tanaman, ngeliatnya itu kaya melotot gitu, merhatiin tangan saya, saya jadi kikuk, langsung aja, dengan sendirinya itu malu. Tapi sekarang uda mending, nda kaya dulu mau jumpa sama orang aja mikir ketemu nda, ketemu nda? Uda bedalah sama sekarang. Ke masjid udah nda malu kok suter, jumpa sama orang udah nda masalah. Nah kalau dibandingin keadaan mas ketika awal - RM menyatakan bahwa ada sarana yang dikembang di rumah rehabilitasi untuk meningkatkan keterampilan, antara lain, latihan untuk mengembangkan ternah, berkebun, pembuatan pupuk organik dan pembibitan tanaman hias. - Memilih mengikuti atifitas yang dikembangkan di rumah rehabilitasi untuk meningkatkan keterampilan. - Merasa terbantu oleh aktifitas yang dikembangkan di rumah rehabilitas, dan berusaha mengikuti untuk mengembangkan keterampilan. - Aktif mengikuti kegiatan di rumah rehabilitasi - Sudah mulai bersosialisasi dengan orang lain walau terkadang masih muncul rasa minder. - Kemampuan untuk bersosialisasi dengan orang lain.

(168) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 151 283. 284. 285. 286. 287. 288. 289. 290. 291. 292. 293. 294. 295. 296. 297. 298. 299. 300. 301. 302. 303. 304. 305. 306. 307. 308. 309. 310. 311. 312. 313. 314. sakit sampai saat ini, ada nda perubahan-perubahan yang mas alami, entah itu pikiran atau juga kondisi fisik. Sekarang saya lebih rajin sholat suster, saya jalani sholat 5 waktu. Terus mikirnya itu ya optimis, saya nyadar suster, sakit saya ini emang sembunya dibanding Rio, sama yang laen-laen, tapi saya yakin ya punya semangat, suatu saat nanti yo pasti sembuh. itu aja keyakinan saya. Kalau sekarang, pikiran mas sendiri, atau pandangan mas sendiri tentang sakit kusta itu seperti apa? ya pikiran saya itu Lepra itu bisa disembuhkan, khan itu saya alami sendiri. Nah saya itu pengen ngomong sama orang-orang disana, di kampung saya kalau lepra itu bisa sembuh, soalnya orang-orang di sana itu malah termasuk beberapa keluarga saya, di kampung saya itu jijik banget dengan yang namanya sakit kusta, sangat jijik, makanya sampe sekarang ada perasaan nda enak sendiri, di sana ya, sebagian teman ada yang baik ada yang nda. Nah setelah tinggal di rumah rehabilitasi, dengan perhatian-perhatian yang diberikan, dari keluarga maupun dari pihak yayasan mas sendiri punya harapan apa? Maunya itu usaha sendiri sus, pengennya itu ternak lele, terus jual-jualan entok, cuman saya itu belum siap, nda punya apa-apa, belum ada modal, mau balik ke keluarga, disana saya malah bingung, ya untuk sekarang ya saya disini aja, ngikuitin semua dari bruder sama suster. Ntah kapan saya akan pulang, tapi saat ini saya disini aja dulu, belom siap untuk pulang. saya bantu - RM mengungkapkan perubahan yang dialami saat ini, dimana RM menjadi orang yang optimis dan taat menjalankan kwajiban agama. - Memiliki progres untuk sembuh dari sakit dan semakin beriman. - RM menyatakan bahwa saat ini ia mulai berpikir bahwa penyakit kusta adalah penyakit yang bisa disembuhkan. RM mempunyai keinginan untuk bisa menyakinkan orangorang yang ada dikampungnya termasuk keluarga dari RM. - Memliki persepsi baru terhadap penyakit yang diderita. - Tampak kerinduan untuk melakukan sesuatu yang baik bagi orang lain. - Ingin mandidi tetapi belum siap Menentukan pilihan untuk tetap tinggal di rumah rehabilitasi - RM mengatakan keinginannya untuk mandiri dengan mengembagkan usaha beternak, akan tetapi ia terbentur dengan modal. -

(169) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 152 315. 316. suster sama buder aja dulu. kerja disini urus kebon sama ternak.

(170) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN 7 TEMA –TEMA UMUM SUBJEK 3. Tema-tema utama No Nomer verbatim 1.Gambaran awal menderita sakit kusta.. a. Merasakan tanda-tanda kusta ketika berumur - (13-15) - (23-29, 61-66) - (32-33, 36-40) - (25-28) - (59-60, 67-69) - (133-137) - (97-99, 183-184) - (73-77, 104-109) 11 tahun.. b. Menjadi cacat karena terlambat menangani gejala yang dirasakan. c. Menjalani tahap awal pengobatan setelah kondisi menjadi cacat. 2. Kondisis awal saat mengalami sakit a. Mengalami cacat pada kaki, tangan dan mata karena penyakit kusta. b. Merasa minder dan tidak mau bertemu dengan orang lain. c. Ruang gerak di rumah dibatasi karena ketakutan dari keluarga akan resiko penularan. d. Merasa sedih dan kecewa karena tidak mendapat kunjungan dari keluarga saat sakit. e. Mempunyai niat untuk pergi dari rumah karena tidak mau menjadi beban untuk keluarga. 3. Pengalaman akan dukungan dari keluarga. . a. Respon positif dari keluarga - - Dihantar ke rumah sakit Tugurejo. (84) 4. Pengalaman akan penolakan dari keluarga. - Kakak menghindari subjek dengan mencari - (117-125) - (87-92, 178-181) - (178-181) aktifitas di luar rumah. - Keluarga jarang mengunjungi subjek selama sakit. - Miss cominikasi dengan keluarga. 5. Gambaran umum tentang kondisi subjek tanpa 153

(171) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dukungan dari keluarga. a. Merasa kecewa dan jengkel dengan - (183-184 , 190-191) - (205-212, 214-218) - (199-201, 226-228) - (237-246) keluarga. b. Merasa minder bila bertemu dengan orang lain. c. Merasa nyaman tinggal di rumah rehabilitasi. . d. Memilih tnggal dan bekerja di rumah rehabilitasi. 154

(172) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 155 LAMPIRAN 8. TRANSKRIP VERBATIM SWAWANCAERA DAN ANALISIS DATA. SUBJEK 3. (TA) Baris Verbatim 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Sebelum sakit mbak kerjanya apa? Saya di rumah suster? iya..yo tani, ikut kaka saya. sana yo kerja yo di sawa, ato nda yo di rumah. Tapi saya juga pernah ke Jekarta sampe 2 bulan. Ikut kaka saya tapi. Nda kerja di sana, ikut kaka saya. Kaka saya itu jadi sopir pribadi, di, mana, di jauh kok suster, tapi yo ada yang di rumah, disawah itu loh., ada yang di sawah. Pekerjan mbak yang terakhir sebelum sakit, itu apa? Yo buruh suster, tani, ituloh kerja di sawahnya orang. Begini mbak, bisa mbak menceritakan kepada saya, bagaimana awalmulanya atau sejak kapan mbak menderita sakit kusta? Saya mulai sakit itu kelas 4 suster. waktu itu umur saya sekitar 11 tahun. Sudah ngerasa kok suster, uda ada . Saya mulai sakit. Ada tanda-tanda yang diketahui kalo sakit ya mbak? Ada suster. Awal-awalnya itu saya itu sering sakit, badan saya rasanya yo panas dingin gituloh suster. itu dikiranin karena kehujanan badan saya nda kuat. Oh gitu ya mbak, selain itu tanda ke fisik atau ke badan ada nda? Ada flek, nda terasa ituloh. Dulu itu disana, itu di desa belum diadakan puskesmas, jadi nda tau, nda pernah berobat, saya itu sakit apa, nda tau sampe badan saya cacat semua, tangan saya, kaki saya, kalo jalan susah., harus pake tongkat. Koding awal - TA, mengatakan bahwa pekerjaannya yang terakhir sebelum sakit adalah sebagai buruh tani. - TA, meyatakan bahwa ia mulai menderita sakit kusta sejak duduk di bangku kelas 4 SD. - TA, menyatakan bahwa awalmulanya, sering sakit, badannya pans dingin, TA mengira bahwa hal itu terjadi karena efek dari kehujanan - Tanda-tanda kusta yang dirasakan berupa flek dan mati rasa pada kulit. Situasi tidak kondusif untuk melakukan pemeriksaan, TA - Analisis - Profesi TA, sebelum sakit, sebagai buruh tani. - Sejarah munculnya pnyakit kusta pada TA. - Persepsi yang salah tentang gejala yang muncul. - Tanda-tanda fisik dari penyakit kusta. Tidak ada penanganan dini, TA menjadi cacat. -

(173) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 156 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47. 48. 49. 50. 51. 52. 53. 54. 55. 56. 57. Wah susah bener saya sus. ituloh mata saya juga cacat, nda bisa lihat, yang kanan sampe sekarang nda bisa lihat.Nah terus kaka kakak ipar saya bilang sama saya, kamu itu coba berobat, kayanya penyakitmu itu nda penyakit sembarangan, takutnya itu nular. Terus mbak tau kalau sakit kusta itu dari mana? Taunya itu setelah berobat ke dokter di Semarang, persisnya itu tahun 1997. Waktu ke semarang berobat di sana terus dokter bilang mbak sakit kusta ya? iya suster. Awal ketemu, lihat saya cacat, tangan ya kaki sama mata saya, dokter bilang sama kaka saya, kalau saya itu kena kusta. ya uda, sama dokter ya disuruh tinggal di Semarang, di Tugurejo ituloh. Tanggapan dari keluarga bagaimana mbak, ketika dokter mengatakan kalau mbak sakit kusta ? Kakak itu kelihatannya nda nerima, dia malah nanya sama dokter, kok adik saya sakitnya kaya gini, kok bisa, kok bisa, kok bisa sakit Lepra? Malah grundel sendirian. kalo menurut mbak, kira-kira mbak bisa sakit kusta karena apa ya? nurun dari simbah saya suster. Simbah yo sakitnya kaya saya ini, di punggungnya itu ada flek, terus kakinya itu mengecil, kiding sampe susah kalo jalan. Nek simbah ngeluh ato minta tolong ya ta bantu gosoki punggungnya itu, kadang pake uang logam ituloh, dikasih balpirik, terus sembuh, gitu terus, nanti sembuh, muncul lagi begitu, tapi yo nda ngerti, kalo itu kusta ? lha dulu itu di sana, itu di desa belum diadakan puskesmas jadi nda tau, nda pernah berobat Bagaimana perasaan mbak dengan keadaan sakit seperti ini? - menjadi cacat. . Kaka ipar mengetahui gejala tersebut dan menyurh TA untuk berobat. - Mengetahui kalau menderita sakit kusta , setelah berobat ke Semarang, tahun 1997. - Dokter menganjurkan agar TA, berobat dan tingal di Rumah sakit Kusta Semarang setelah mengetahui bahwa TA menderita sakit kusta. - Respon negatif dari kakak, mengatakan bahwa penyakit yang diderita oleh TA adalah penyakit yang menakutkan. - TA mengatakan bahwa ia menderita sakit kusta karena mendapat penularan dari simbah. (kondisi impairtmen) - Mendapat anjuran dari kaka ipar untuk berobat. (dukungan informasiona) - Positif kusta, dokter menganjurkan untuk menjalai pengobatan rutin selala 6 bulan dan tinggal di Semarang. - Persepsi buruk dari keluarga tentang penyakit yang diderita oleh TA. - Munculnya sakit kusta, Faktor keturunan.

(174) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 157 58. 59. 60. 61. 62. 63. 64. 65. 66. 67. 68. 69. 70. 71. 72. 73. 74. 75. 76. 77. 78. 79. 80. 81. 82. 83. 84. 85. 86. 87. 88. 89. Malu suster, malu sama orang, setelah tau tangan saya kaya gini, saya itu susah, ya sedih. Dulu itu khan belum minum obat, tangan saya ini bengkak-bengkak terus kadang kempes, kalau kempes itu menkeret, nda langsung kempes nda, mengkeret dulu, muncul lagi luka kadang bengkak terus menkeret lagi,terus-terusan sampe kaki saya, tangan saya itu jadi cacat kaya gini, kalo jalan ya susah, dua-duanya kaki sama tangan saya cacat suster, mata saya juga cacat. heem, uda cacat kaya gini, mau keluar ketemu sama orang aja, saya itu minder kok suster. Jadi mbak merasa malu ya kalau ketemu sama orang lain? iya, Yang sering muncul dalam pikiran mbak saat itu apa? Pergi dari rumah. Perkara natinya itu berobat ke mana, nda jadi soal, pokoknya saya mau pergi dulu, terus aja mikirnya kaya gitu. Jauh dari rumah. lha nda enak, jadi beban ya untuk keluarga saya kasihan ibuk uda tua, saya sakitnya kaya gini. kakak saya juga orangnya susah kaya gitu sama adiknya aja nda mau suster, kadang nda mau nyapa. Makanya waktu dokter suruh saya tinggal di Semarang, saya yo seneng. Nda bebani keluarga gituloh. Oo, mbak tinggal di sana brapa lama? 6 bulan suster. ada keluarga yang hantar? Ya kakak saya, kakak saya hanter sampe Semarang, Selama di Semarang, pernah nda dikunjungi keluarga? Jarang suster. Pernah sekali kaka saya itu dateng, dia nda mau masuk, di jalan itu saya diundah, dipanggil suruh keluar, biacaranya itu dijalan terus cepatcepat pulang, dia nda mau bener masuk ke kamar saya, - Menjadi cacat karena sakit kusta, TA merasa putus asah dan minder apabila bertemu dengan orang lain. - Merasa minder dan putus asah. ( kondisi Psikologis, restriced life ) ( kondisi Impairtmen ) - TA, menyatakan bahwa tidak enak menjadi bahan untuk keluarga, TA berharap agar segera sembuh dari sakit. - Ingin pergi karena merasa menjadi beban untuk keluarga. (kondisi psikologis, Becoming a burden on others ) - Dukungan instrumental dari keluarga. - Diabaikan keluarga. TA merasa sedih. - Berobat ke Semarang, dihantar oleh kakak. - Pengalaman TA, selama menjalani perawatan di

(175) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 158 90. 91. 92. 93. 94. 95. 96. 97. 98. 99. 100. 101. 102. 103. 104. 105. 106. 107. 108. 109. 110. 111. 112. 113. 114. 115. 116. 117. 118. 119. 120. 121. ketemunya itu ya di Jalan. Setelah itu nda pernah dateng lagi sampe saya kembali ke Brebes. Itu kaka kandung saya suster, satu rumah dengan saya sama ibu di Brebes wah itu nda pernah kasih dukungan dengan saya Bagaimana perasaannya mbak ketika tidak mendapat perhatian dari keluarga? Sebenernya yo sedih suster, kalo uda liat itu temen sebelahan kamar sama saya kadang dateng saudaranya yo sedih. Keluarga yang lain juga nda pernah keunjungi mbak? Nda. Anda ada yang nengok saya. setelah 6 bulan di Semarang, terus pulang lagi ke Brebes ya mbak? Iya suster, waktu itu dokter bilang sama saya sudah boleh pulang, jadinya saya ya kembali ke Brebes. Malah saya itu takut mau kembali ke rumah, kakak saya yo nerima saya pa nda?. Nambah lagi beban buar mereka. Ibaranya saya itu disini uda ngurangi beban utuk keluarga, ee, terus balik lagi, hemm, dilema sus. iya, heem. Iya suster, nda siap, ya nda siap pulang ke Brebes Waktu sampe di rumah, respon dari keluarga bagaimana? Kalo ibu saya itu masih bisa nerima suster, masih bisalah, beda sama kaka saya. Kalau kakanya mbak bagaimana? kaka saya, dia itu nda mau, nda pernah dukung saya. lha saya itu nyampe, kok tangan kamu masih kaya gini nda berubah, saya ya bilang, kalo tangan sudah cacat nda mungkin lagi normal, kadang dia itu nda mau ngomong sama saya. Hari-harinya itu ya diem aja gituloh suster, kadang pergi, nda mau pulang, nda mau pulang ke rumah. - - Semarang, keluarga jarang mengunjungi TA merasa bahwa ia kurang mendapat dukunga dari keluarga. TA menyatakan bahwa ia merasa sedih karena tidak mendapat perhatian dari keluarga. - Mendapat anjuran dari dokter untuk kembali ke rumah. - TA menyatakan bahwa ia merasa takut kembali ke keluarga karena pengalaman penolakan yang pernah dialaminya. - Kurang mendapat dukungan dari keluarga. - Perasaan sedih karena tidak dikunjungi keluarga. - Kondisi membaik, TA dianjurkan untuk kembali ke rumah. Trauma penolakan membuat TA merasa taktu untuk kembali ke Rumah. ( kondisi psikologis, social isolation ) - - Ibu menerima kehadiran TA. - TA merasa bahwa kakaknya kurang memeberi dukungan kepadanya. Kakak lebih sering diam dan tidak mau - Dukungan emosional dari keluarga. - Merasa dikucilkan dan tidak diterima oleh saudara. (kondisi psikologis,

(176) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 159 122. 123. 124. 125. 126. 127. 128. 129. 130. 131. 132. 133. 134. 135. 136. 137. 138. 139. 140. 141. 142. 143. 144. 145. 146. 147. 148. 149. 150. 151. 152. 153. Setelah dari Semarang, Mbak tinggal di rumah berapa lama? Tiga bulan. Apa yang mbak rasakan ketika kembali bersama keluarga? Saya itu kembali ke rumah malah susah, sedih malah di rumah itu, yo pie ? kaka saya ya nda mau nerima saya, jadinya saya itu susah, ya sedih. Kalo inget lagi itu sedih suster., yo udalah wes lewat. Oh ya?. Tidak terimannya bagaimana? Lha saya itu mau nimba air untuk mandi aja nda boleh, nda boleh bener sama kaka saya, takutnya itu nular, jadi hari-harinya itu saya yo sedih ya nangis. Mau nemeni ibu saya ikut arisan yo nda boleh. Katanya itu malu kalau dilihat orang. Saya itu di rumah malah susah kok suster. Berarti kakak tetap tidak memberi dukungan ya mbak? Iya suster, nda bisa diharep Heem, istilahnya itu mikir yo mikir sendiri, nyari inpormasi sana-sini ya saya itu sendirian suster, usaha sendirilah untuk bisa sembuh. Malahannya yang bantu saya itu mantan sakit kusta juga, sampe saya ke Sani, dia yang nolong saya. Di rumah sendiri, saya itu ngerasa kaya orang asing, ya sedih, rasanya itu beda, beda sama saya di Semarang. Heem, nah terus ceritanya mbak bisa sampe di sani itu gimana mbak? Eh, waktu itu saya di Semarang, terus ada orang dari Sani, berbicara dengan TA. - TA merasa bahwa kehadirannya di rumah tidak diterima oleh kaka. - TA menyatakan bahwa kakaknya melarangnya menimbah air untuk mandi karena takut menularkan penyakit. TA merasa sedih dan menangis. - TA, menyatakan bahwa ia sering berusaha sendiri mencari informasi untuk penyembuhan sakitnya, karena sikap keluarga yang sangat pasif. Ta menyatakan bahwa orang yang bisa memahami dan membantu nya adalah bukan keluarga tetapi seorang mantan penderita Kusta. - - Betemu dengan seorang Handicap) - Merasa ditolak oleh keluarga ( kondisi psikologis, Handicap ) - Dilarang beraktifitas karena takut menularkan penyakit. (kondisi Psikologis, Handicap) - Kurang perhatian dari keluarga mendorong TA, aktif mencari informasih tentang sakit yang dideritanya. - Mendapat bantuan dari mantan penderita kusta. ( dukungan informasional dari Significant others )

(177) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 160 154. 155. 156. 157. 158. 159. 160. 161. 162. 163. 164. 165. 166. 167. 168. 169. 170. 171. 172. 173. 174. 175. 176. 177. 178. 179. 180. 181. 182. 183. 184. 185. mbak Safati namanya, dia itu dulunya juga sakit seperti saya, nengok temannya di Semarang itu khan ada yang opnam. Terus saya dibilangin, bagaimana kalau kamu ikut saya ke Sani, saya nanya, Sani itu di mana to mbak? Katanya mbak itu Sani itu ya tempat kita-kita ini, di sana itu ada suster sama bruder, kalo kamu mau, kita bisa ke sana. Tapi saya ta bilang dulu ya, sama keluarga saya, mbak itu bilang sama saya, tapi jangan kelamaan. Di Semarang khan saya pernah pulang ke rumah suster. terus saya itu di rumah itu 3 bulan terus saya disurati sama mbak Safati suruh saya ke sani, ya uda. Saya yo manut. Ada yang hantar ke Sani Mbak. Nda, saya waktu itu dijemput sama mbak Safati. Sekitar tahun berapa ya mbak? Tahun 99 itu saya uda dateng suster, waktu itu yo saya masih gadis, alhamdulilah dapet jodohnya di Sani. Itu bapanya Lia itu juga sakit kok suster sama, sama seperti saya. Duluan bapanya Lia, sama saya kace satu tahun. Bapa uda ninggal suster, belum ada setahun ninggalnya. Bearti sampai sekarang sudah 15 tahun mbak di Sani ya? iya suster. Nah selama 15 tahun, apakah keluarga di Brebes pernah datang mengunjungi mbak? Jarang suster, jarang, bisa dihitung kok, jarang. Saya itu di sini sampe ibu saya ninggal yo saya nda tau, kaka saya itu yang di Jakarta ninggal saya nda tau, pakde saya ninggal yo saya nda tau, nda ada yang nyampein sama saya. Ooo, heem, heem, Jengkel suster, bener-bener saya itu kecewa. Kecewa sama keluarga saya. Sampe sekarang apakah memang sikap keluarga mantan penderita kusta di Semarang, TA diajak untuk tingal di rumah rehabilitasi kusta di Sani kabupaten Pati. - - - Komunikasi berlanjut, SF menyurati TA dan menyuruh untuk datang dan tinggal di Pati. TA, menyatakan bahwa selama tinggal di Sani kurang lebih 15 tahun, keluarga jarang mengunjungi dia. Bahkan keluarga tidak pernah menginformasikan kepada TA, ketika ibu, dan beberapa dari keluarganya meninggal. TA merasa jengkel dengan sikap keluarga yang tidak mau - Mendapat tawaran dari seorang teman untuk tinggal di rumah rehabiliasi kusta Sani. ( dukungan informational dari significan others) - Dukungan informasional dari significant others yang lain. - Tidak pernah ada komunikasi dengan keluarga. Perasaan sedih karena kehilangan beberapa anggota keluarga. - - Rasa kecewa terhadap keluarga.

(178) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 161 186. 187. 188. 189. 190. 191. 192. 193. 194. 195. 196. 197. 198. 199. 200. 201. 202. 203. 204. 205. 206. 207. 208. 209. 210. 211. 212. 213. 214. 215. 216. 217. masih tidak menerima mbak? Ya tetep aja kaya gitu. Terus bagaimana perasaan mbak dengan situasi keluarga yang tidak memberi suport sama mbak? Nek dituruti yo jengkel, kesel gituloh sama keluarga, tapi yo gimana? Udalah, nda apa-apa, sekarang uda ada Lia Sama Damar, hati saya dame suster. nda ada waktu, anda ada suster buat mikir diri sendiri, kaya sedih atau gimana, soalnya semuanya itu uda untuk anak, lupa malahan sama dulu-dulunya itu. Ooo, iya-iya, berarati nda terlalu menjadi beban ya mbak? Nda sus, saya uda seneng disini, malah lebih dari keluarga saya. Semua uda cukup, lebih malahan. Buder sama suster disini perhatian sama kita-kita ini. Dalam berelasi dengan orang lain, bagaimana mbak? Maksudnya gimana suster? Oh, maksudnya itu kalau bicara atau ketemu sama orang lain, sikap mbak bagaimana? Yo tergantung, nek misalnya di Sani aja, yo nda apa-apa, sama-sama temen, sama –sama sakit,kita-kita aja nda jadi soal. Nda minder gituloh. Mau ngomong sama merekamereka, ketemu sama suster, sama buder yo nda ada masalah, Cuma kalau keluar dari sini, misal itu jumpa sama orang di jalan ato orang dateng kunjung, rasa malu itu tetep, tetep ada. nda PD sus, kalau ketemu sama orang luar, tetep minder. Heem, heem, Kalau Sama buder disuruh belanja ke pasar, kadang yo saya suruh mbak Sri yang pergi. Mending saya itu masak aja di rumah , biar yang belanja, apa jualan kacang sama endok ke pasar ya bu Sri. Aku ta pilih masak wae sama bu berkomunikasi dengan TA. - - TA mengatakan bahwa rasa kahadiran kedua anaknya menjadi pengalihan rasa kecewa dan jengkel terhadap keluarga. TA lebih fokus memikirkan kedua anaknya dari pada dirinya sendiri. - Kehadiran anak, pengalihan rasa jengkel terhadap keluarga. - TA mengatakan bahwa ia merasa senang tinggal di rumah rehabilitasi karena perhatian yang didapatkan di rumah rehabilitasi melebihi perhatian dari keluarga. - Merasa nyaman tinggal di rumah rehabilitasi, karena ada perhatian untuk TA. - TA mengakui bahwa ia merasa lebuh ferr dan percaya diri ketika bertemu dengan sesama teman di Sani. Akan tetapi ia tetap merasa minder bial bertemu dengan orang lain diluar komunitas Sani. - Merasa minder saat bertemu dnegan orang lain di luar komunitas. ( social isolation) - Berusaha menghindar bertemu - Merasa tidak nyaman bertemu dengn orang lain, TA memilih untuk memasak dari pada

(179) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 162 218. 219. 220. 221. 222. 223. 224. 225. 226. 227. 228. 229. 230. 231. 232. 233. 234. 235. 236. 237. 238. 239. 240. 241. 242. 243. 244. 245. 246. Warni. Jadi mbak masih malu ya, kalau ketemu dengan orang-orang di luar Sani. Heem, Iya sus. Nah sekarang mbak sudah sehat, sudah ada anak, terus apakah mbak sendiri ada rencana untuk pulang ke Brebes? Nda ada suster, nda mau, saya nda mikir untuk kembali ke Brebes, di sana nda ada siapa-siapa. Nanti siapa yang ngurus Lia sama Damar. Saya itu gantungkan Lia sama Damar itu sama Suster sama Bruder di sini. Kalo kami pulang ke Brebes, nanti anak saya nda sekolah. Mamanya uda nda sekolah, jadi anaknya itu harus pinter oh gitu ya mbak? Iya suster, Saya di sini aja suster, di sini aja, saya kerja bantu bruder sama suster di sini. Kalo ada temen yang sakit ya saya bantu nolong mereka, saya disini aja. saya masak untuk teman-temen, untuk kami semua di Sani. Anak-anak saya disini, diperhatiin sama suster, sama bruder, saya uda matur sama buder juga, saya bantu di Sani ya Nyapu, ya masak, ya semampu saya lakuin di tempat ini, nolong teman-teman saya yang sakit ya untuk masa depan anak-anak saya, saya nda mau mereka sakit. belanja atau jualan ke pasar. - - TA merasa bahwa tidak ada keluarga yang bisa memperhatikan mereka, untuk itu Ta tidak mau kembali ke Brebes. TA menginginkan agar anakanaknya tetap sekolah dan memiliki masa depan yang baik. - Ta menyatakan niatnya untuk tetap tinggal dan bekerja di rumah rehabilitasi. Ia mau bekerja dan membantu temanteman yang sakit. - Ta berusaha agar anakanaknya tidak menderita sakit seperti dirinya. dengan orang lain. - Trauma penolakan membuat Ta memilih untuk tetap tinggal di rumah rehabilitasi. - Harapan untuk masa depan anak-anak. - Memilih untuk tetap tinggal dan bekerja di rumah rehabilitasi. - Prioritas berjuang untuk anak.

(180) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN 163 9. SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN WAWANCARA. SUBJEK 1. Dengan surat ini saya menyatakan bahwa saya bersedia untuk diwawancarai selama proses pengambilan data untuk keperluan skripsi mahasiswa Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta di bawa ini. Nama NIM: : Katarina Peni 099114002 Dengan skripsi yang berjudul ( Dukungan : Sosial Keluarga Pada Penderita Kusta 3' Saya bersedia untuk memberikan informasi dengan diri jujur tentang keadaan saya dan hal-hal yang saya rasakan tentang keterlibatan keluarga dalam memberikan perhatian dan dukungan kepada saya, selama saya menjalani sakit sebagai penderita kusta. Saya juga memberi ijin kepada peneliti untuk merekan hasil pembicaraan selama proses wawancara berlangsung. Surat pernyataan ini dibuat secara sadar tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Harapan saya agar hasil wawancara ini tidak disalahgunakan untuk kepentingan yang lain, tetapi hanya untuk kepentingan penelitian. Yogyakarta. 22 September 2013. Subjek Penelitian.

(181) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI IM LAMPIRAN 10. SURAT PERIYYATAAIT PERSETUJUAI\I WAWAIYCARA. SI]B.IEK2. Dengan surat ini saya bahwa saya bersedia untuk diwawancarai selama proses pengambilan data untuk keperluan skripsi mahasiswa Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta di bawa ini. Nama: KatarinaPeni NIM : 499114002 Dengan skripsi yang berjudul : " Dukungan Sosial Keluarga Pada Penderita Kusta " Saya bersedia untuk diri memhrikan infonnasi dengan jujur tentang keadaan saya dan hal-hal yang saya rasakan tentang ketedibatan keluarga dalam memberikan perhatian dan dukungan kepada saya, selama saya menjalani sakit sebagai penderita kusta. Saya juga memberi ijin kepada peneliti untuk merekan hasil pembicaraan selama proses wawancara berlangsung. Surat pernyataan ini dibuat secara sadar tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Harapan saya agar hasil wawancara ini tidak disalahgunakan untuk kepentingan yang lain, tetapi hanya untuk kepentingan penelitian. Yogyakarta- 22 September, 2013. er*,r)Subjek Penelitian.

(182)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

DUKUNGAN SOSIAL DARI KELUARGA PADA PENDERITA SKIZOFRENIA
3
7
23
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN DEPRESI PENDERITA KUSTA DI DUA WILAYAH TERTINGGI KUSTA DI KABUPATEN JEMBER
1
12
177
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN DEPRESI PENDERITA KUSTA DI DUA WILAYAH TERTINGGI KUSTA DI KABUPATEN JEMBER
0
11
19
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN INTERAKSI SOSIAL PADA KLIEN KUSTA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SUMBERBARU KABUPATEN JEMBER
2
6
165
i HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA DENGAN DEPRESI PADA PENDERITA KUSTA DI KABUPATEN JEMBER
0
47
60
HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA DENGAN TINGKAT DEPRESI PENDERITA KUSTA PADA LANSIA
0
3
86
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN PERCAYA DIRI EKS PENDERITA KUSTA DI UNIT PELAKSANA TEKNIS EKS KUSTA BELIDAHAN SEI RAMPAH.
0
6
29
PERAN DUKUNGAN KELUARGA PADA PENANGANAN PENDERITA SKIZOFRENIA.
0
0
10
DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA PADA ANAK PENDERITA KANKER DARAH DI YAYASAN KASIH ANAK KANKER JOGJA.
1
4
234
ANALISIS DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA PADA O
0
0
7
HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA DENGAN TINGKAT STRES PADA PENDERITA HIV/AIDS (ODHA)
0
1
9
View of HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN DEPRESI PENDERITA KUSTA DI RUANG RAWAT PENYAKIT DALAM KUSTA RUMAH SAKIT KUSTA DR. SITANALA TANGERANG
0
0
7
KARYA TULIS ILMIAH DUKUNGAN PSIKOSOSIAL KELUARGA DENGAN KEPATUHAN BEROBAT PADA PASIEN KUSTA DI RS KUSTA SUMBERGLAGAH
0
0
8
DISERTASI MODEL PERAN KELUARGA DALAM UPAYA MENCEGAH TINGKAT CACAT PADA PENDERITA KUSTA
0
0
23
DUKUNGAN SOSIAL DARI KELUARGA DENGAN RESILIENSI PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE 2 SKRIPSI
0
0
20
Show more