WELAS ASIH PADA MAHASISWA PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA: SEBUAH STUDI DESKRIPTIF KUANTITATIF - USD Repository

Gratis

0
0
107
7 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI WELAS ASIH PADA MAHASISWA PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA: SEBUAH STUDI DESKRIPTIF KUANTITATIF SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Disusun oleh: Stefanus Tino Adika NIM: 07 9114 039 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ii

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERSEMBAHAN Sedikit karya kecil ini saya persembahkan untuk……………… Jesus Kristus yang selalu memberikan sinar terang dan bimbingan terhadap penulis…. Almarhum Bapak saya RR. Utomo yang sudah berada di Surga, sedikit persembahan supaya di surga bapak bisa tersenyum bangga untuk anakmu ini, semoga semakin tenang disana dengan kebahagiaan. Untuk Ibu saya MM. Trimurtini yang tanpa hentinya memberikan tawa dan tangis untuk penulis agar segera menyelesaikan penulisan skripsi ini, sekiranya ini persembahan yang sangat spesial untuk ke dua orang tua saya yang telah memberikan penulis semangat yang baru dan semangat yang tidak akan pernah padam. Untuk ke dua saudara saya kakak dan adik saya Yohana Fransiska Atikasari serta Paulus Nico Ardianto, terima kasih untuk semangat dan perhatiannya. Untuk Monika Dewi Ratna W. teman suka dan duka penulis selama lebih dari 8th, perjalanan yang panjang masih menanti kita. Indah akan tiba pada waktunya, harapan dan doa menyertai kita selalu. Untuk semua sahabat penulis, kalian semua sudah menjadi bagian dari keluarga. Kalian semua hebat, saya bangga terhadap kalian semua. Semoga kisah indah ini akan terus terjalin selamanya. iv

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI v v

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI WELAS ASIH PADA MAHASISWA PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA: SEBUAH STUDI DESKRIPTIF KUANTITATIF Stefanus Tino Adika ABSTRAK Welas asih adalah cara adaptif untuk berhubungan dengan diri ketika mempertimbangkan kekurangan pribadi atau dalam keadaan sulit. Ketika dihadapkan dengan perjuangan hidup yang sukar, atau menghadapi kesalahan pribadi, kegagalan, dan kekurangan; welas asih merespon dengan kebaikan daripada mencerca diri secara kasar, mengakui bahwa ketidaksempurnaan adalah bagian dari pengalaman manusia bersama. Penelitian ini menguji welas asih pada mahasiswa Psikologi Universitas Sanata Dharma ( N = 281 ; Musia = 19,8 ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat welas asih adalah rendah (μh = 45 > μe = 37.19). Selain itu, penelitian ini menguji (1) perbedaan welas asih berdasarkan jenis kelamin dan (2) perbedaan welas asih antara remaja dengan dewasa muda. Hasil menunjukkan bahwa ada perbedaan welas asih berdasarkan jenis kelamin, sebaliknya tidak ada perbedaan welas asih antara remaja dengan dewasa muda. Saran untuk penelitian selanjutnya meliputi: eksplorasi welas asih dengan melakukan wawancara ingatan awal dan menjelaskan karakter welas asih pada setiap tahap perkembangan secara menyeluruh. Kata kunci: Welas asih, mahasiswa Psikologi, studi deskriptif kuantitatif vi

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI SELF-COMPASSION AMONG STUDENTS OF PSYCHOLOGY AT SANATA DHARMA UNIVERSITY: A QUANTITATIVE DESCRIPTIVE RESEARCH Stefanus Tino Adika ABSTRACT Self-compassion is an adaptive way of relating to the self when considering personal inadequacies or difficult life circumstances. When faced with difficult life struggles, or confronting personal mistakes, failures, and inadequacies, self-compassion responds with kindness rather than harsh self-judgment, recognizing that imperfection is part of the shared human experience. The current study examined self-compassion among students of Psychology at Sanata Dharma University (N=281; Mage=19.8). Results indicated that the level of self-compassion is low (μh = 45 > μe = 37.19). In addition, the current study examined (1) the difference of self-compassion on sex and (2) the difference of self-compassion between adolescents and young adults. Results indicated that there was difference self-compassion on sex, conversely there was no difference between adolescents and young adults. Recommendations for future research include: exploration of selfcompassion by doing an earliest momories interview and explicate the character of selfcompassion on each stage of development. Keywords: Self-compassion, Students of Psychology, a quantitative descriptive research. vii

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI viii viii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KATA PENGANTAR Puji dan syukur kupanjatkan pada Tuhan pemilik Semesta, karena atas bimbingan dan berkat yang diberikanNYA penulis dapat menyelesaikan skripsi yang jauh belum sempurna ini yang berjudul “Welas Asih pada Mahasiswa Psikologi Universitas Sanata Dharma: Sebuah Studi Deskriptif Kuantitatif” ini diajukan kepada Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma untuk memenuhi sebagian dari syarat-syarat guna memperoleh gelar Sarjana Psikologi. Dalam penyusunan skripsi ini, penulis menyadari sepenuhnya bahwa tanpa bantuan, dukungan dan bimbingan dari berbagai pihak skripsi ini tidak bakal pernah terwujud. Oleh sebab itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. Sang Khalik yang disembah dengan berbagai cara yang telah menyinari berkat dan membimbing penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. Penulis selalu percaya bahwa DIA akan selalu hadir untuk membimbing dan memberikan jalan yang terbaik untuk penulis. 2. Orang Tua tercinta, Alm. Bapak Robertus Redjo Utomo yang sudah berada di Pangkuan Sang Pencipta, untuk pelajaran sebagaimana menjadi sebagai seorang pria. Dukungan serta pendidikan tanggung jawab dalam lingkup sebagaimana biasa disebut sebagai sebuah keluarga akan selalu hidup dan berkobar pada jiwa ini. Untuk Ibunda tercinta MM. Trimurtini yang sampai saat ini tidak pernah lelah memberikan semangat dan doa untuk segala kelancaran penulis. 3. Yohana Fransika Atikasari dan Paulus Nico Ardianto, terima kasih untuk semangat dan kehangatan yang tidak pernah ada habisnya sebagai bagian dari keluarga ini. 4. Untuk Dr. Tarsisius Priyo Widiyanto selaku Dekan Fakultas Psikologi atas ijin yang telah diberikan kepada penulis dalam melakukan penelitian ini. 5. MM. Nimas Eki Suprawati, M.Si., Psi selaku dosen pembimbing yang telah membimbing penulis dengan sabar dan penuh dengan perhatian. ix

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Terima kasih Bu untuk bimbingan hingga akhirnya mampu bisa menyelesaikan studi ini. 6. Dr. Ratri Sunar Astuti selaku ketua program studi yang telah memberikan kelancaran penulis selama mengikuti perkuliahan di Fakultas Psikologi. 7. My Lucky Angel Monika Dewi Ratna W. untuk waktu, semangat dan dukungan yang tidak ada habisnya bagi penulis hingga bisa menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih juga untuk segala kisah yang sudah dilalui, semoga akan indah pada waktunya. 8. Pak Gie, Mas Gandung, Mas Doni, Mbak Nany, Mas Muji untuk semua bantuannya dalam masa perkuliahan penulis samapi selesai mengerjakan skripsi ini. 9. Sahabat, konsultan beserta Bos besarku, Albertus Harimurti yang telah meluangkan banyak waktu, pikiran, semangat dan tenaga untuk berbagi pikiran kapan saja penulis minta. Terima kasih sekali lagi yang tidak akan pernah akan ada habisnya. 10. Kang Jaya dan Pakdhe Wahyu setiajati, untuk waktu dan tenaga yang membuat penulis bisa menyelesaikan skripsi ini. 11. Keluarga kecil, dimana penulis tinggal di rumah kontrakan bersama Bambang, Wawan, Anton untuk segala suka dan duka melewati kehidupan yang keras ini. Menyusul kembali Dimas untuk memberikan penulis semangat kerja yang baru. 12. Keluarga besar gowok rumah cinta, Tatang, Budi, Taufik, Vio, Hendy, Boy, Dino, Aziz, Andro, Mardi, Nanta untuk semangat dan harapan kita meraih impian bersama. 13. Th. Eriek Yonathan beserta keluarga kecilnya, sang istri Eva Deviana, serta keponakan kecilku Ecuel yang semakin tambah ganteng. Terima kasih untuk pengalaman dan memberikan penulis mengerti makna akan persahabatan. 14. Angkatan akhir seperjuangan 2007, Bambang, Dody Gendut, Putri Ve, Eva, Dea, Reno, Arya, Rico, Tia, Anton, Ayu dan yang tidak bisa penulis

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI sebutkan satu demi satu. Terima kasih telah memberikan motivasi untuk penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 15. Keluaraga besar TN (Tumindak Ngiwo) Windra, Kriwil, Komenk, Indro, Simien, Kang Kopet, Bang Boy, beserta yang lainnya yang tidak akan pernah bisa disebutkan satu demi satu, terima kasih untuk pelajaran berdinamika di dalam keluarga besar yang sangat hangat, kalian semua hebat. 16. Anak muda hebat Bayu, Arga, Yudha, Boni, Gempol, Kosak, Gerald, Kiplek, Sikak, Yatim, Dyan Martikatama, Plenthong, dan yang lainnya yang tidak bisa disebutkan satu demi satu. Kalian pemuda harapan bangsa yang sangat hebat, terima kasih untuk waktu dan tenaga dalam penyebaran skala yang penulis lakukan. 17. Untuk Mas Dian K, inspirasi dan motivasi membuat penulis menjadi berkembang dan mampu untuk menemukan arti yang dinamakan persahabatan dan inilah kehidupan. 18. Untuk Keluarga Besar Palguno, Mas Agus, Joko Think, Ary Idek, Deta, Hendra, Ery, dan yang tidak bisa disebutkan satu-demi satu. Terima kasih untuk dukungan dan semangat hingga akhirnya selesai juga penulisan skripsi ini. 19. Untuk si hijau, yang menemaniku dimana saat hujan dan terikanya panas matahari melewati jalanan guna tujuan melakukan pencarian jurnal dan mengantarkanku ke kampus Fakultas Psikologi. 20. Untuk Don Fernando yang saat ini sedang istirahat di dalam almari, berkat jasa dan ketangguhanmu penulis mampu membuat penulisan awal skripsi ini. Yogyakarta, 25 Juli 2014 Penulis, Stefanus Tino Adika

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ................................................................................. i HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ............................ ii HALAMAN PENGESAHAN .................................................................... iii PERSEMBAHAN ...................................................................................... iv PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ..................................................... iv ABSTRAK................................................................. .................................. v ABSTRACT ................................................................................................ vi HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ................. vii KATA PENGANTAR ............................................................................... ix DAFTAR ISI ............................................................................................. xii DAFTAR TABEL ..................................................................................... xv DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................. xvi BAB I : PENDAHULUAN ........................................................................ 1 A. Latar Belakang Masalah…………………………………………. 1 B. Rumusan Masalah……………………………………………….. 10 C. Tujuan Penelitian………………………………………………… 11 D. Manfaat Penelitian………………………………………………. 11 BAB II : LANDASAN TEORI .................................................................. 12 A. Welas Asih………………………………..………….………….. 12 1. Pengertian Welas Asih…….………………………………… 12 2. Komponen Welas Asih………………………………….…… 16 xii

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI B. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Welas Asih............................. 22 C. Welas Asih Mahasiswa Universitas Sanata Dharma………...…... 23 D. Pertanyaan Penelitian………………………………………....….. 25 BAB III : METODE PENELITIAN……………………………………….. 26 A. Jenis Penelitian…………………………………………………... 26 B. Variabel Penelitian………………………………………………. 26 C. Definisi Operasional…………………………………………….. 26 D. Subjek Penelitian………………………………………………… 27 E. Metode dan Alat Pengumpulan Data…………………………….. 28 F. Validitas, Analisis Item dan Reliabilitas………………………… 30 1. Validitas………………………………………………….….. 30 2. Analisis Item………………………………………………… 31 3. Reliabilitas…………………………………………………... 31 G. Metode Analisis Data……………………………………….…… 32 BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN…........................ 34 A. Orientasi Kancah Dan Persiapan Penelitian...................................... 34 B. Pelaksanaan Penelitian...................................................................... 35 C. Hasil Penelitian................................................................................. 36 1. Deskripsi Subjek Penelitian........................................................ 36 2. Uji Normalitas............................................................................. 36 3. Deskripsi Data Penelitian............................................................ 37 4. Deskripsi Data Penelitian Tiap Angkatan................................... 40

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5. Deskripsi Data Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin dan Masa Perkembangan………………………………………………..… 43 D. Pembahasan.................................................................................... 45 BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN.................................................... 53 A. Kesimpulan .................................................................................... 53 B. Saran .............................................................................................. 53 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 56 LAMPIRAN ............................................................................................. 61

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 3.1 Blue Print dan Sebaran Item Skala Welas Asih ........................... 29 Tabel 3.2 Pemberian Skor Skala Welas Asih .............................................. 30 Tabel 4.1 Pelaksanaan Penelitian ............................................................... 35 Tabel 4.2 Deskripsi Subjek Penelitian ........................................................ 36 Tabel 4.3 Uji Normalitas Data ................................................................... 37 Tabel 4.4 Hasil Analisis Deskriptif Penelitian ............................................ 39 Tabel 4.5 Uji One Sample T-Test ............................................................... 40 Tabel 4.6 Hasil Analisis Deskriptif Tiap Angkatan..................................... 41 Tabel 4.7 Uji One Sample T-Test Tiap Angkatan ....................................... 42 Tabel 4.8 Uji Two Independent Sample T-Test Jenis Kelamin .................... 43 Tabel 4.9 Uji Two Independent Sample T-Test Masa Perkembangan .......... 44 xv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Self-Compassion Scale …......……………………………….….. 61 Lampiran Skala Welas Asih….…………………….…………………..….. 64 Lampiran Hasil Uji Coba ………………………………………….….. 68 Lampiran Hasil Uji Coba Terpakai……………………………………….... 71 Lampiran Total Skor dan Histogram…………………………………...….. 73 Lampiran Data Deskriptif Jenis Kelamin dan Tahun Angkatan…………... 76 Lampiran Hasil Uji Normalitas Data……………………………………..... 78 Lampiran Hasil Uji One Sample T-Test Keseluruhan Data……………...… 80 Lampiran Hasil Uji One Sample T-Test Tahun Angkatan, Komponen dan Aspek................................................................... 82 Lampiran Hasil Uji Two Independent Sample T-Test Jenis Kelamin…….... 90 Lampiran Hasil Uji Two Independent Sample T-Test Masa Perkembangan..................................................................... 92 xvi

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam buku Motivation and Personality (1954), Maslow menuliskan bahwa seseorang yang mengalami aktualisasi diri memelihara kapasitas untuk merasa kagum dan mengalami pengalaman puncak. Individu tersebut merupakan orang yang kreatif, demokratis, dan rendah hati. Juga memposisikan humor tanpa permusuhan dan bela rasa (compassion) yang mendalam bagi orang lain. Bela rasa tidak hanya menjadi pembicaraan kaum psikologi humanistik semata. Bela rasa adalah kekhasan yang dimiliki oleh setiap individu. Allport (1961) menyebutkan bahwa bela rasa merupakan syarat yang harus ada guna menjadi pribadi yang matang. Pribadi yang matang ditandai dengan “relasi hangat antara diri dengan orang lain”. Pengejawantahan dari relasi hangat ini adalah cinta terhadap orang lain dalam cara yang intim dan penuh welas kasih. Menurut Neff (2003a), bela rasa melibatkan sikap terbuka dan tersentuh oleh penderitaan orang lain, sehingga seseorang berkeinginan untuk meringankan penderitaan mereka. Bela rasa menawarkan kesabaran, kebaikan dan pemahaman yang tidak menghakimi, mengakui bahwa semua manusia tidak sempurna dan sangat mungkin membuat kesalahan. Neff (2003a, 2003b) menyatakan bahwa bela rasa didefinisikan; “tersentuh oleh penderitaan orang lain, membuka kesadaran seseorang untuk rasa sakit orang 1

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 lain dan tidak menghindari atau memutuskan hubungan dengan orang tersebut, sehingga perasaan kebaikan terhadap orang lain dan keinginan untuk meringankan penderitaan oranglain yang muncul”. Sedangkan Snyder (2011) mendefinisikan bela rasa sebagai sebuah aspek kemanusiaan yang melibatkan pencarian di luar diri sendiri dan berpikir tentang orang lain layaknya merawat dan mengidentifikasi diri dengan orang lain tersebut. Dalam psikologi positif, individu yang mempraktekkan bela rasa perlu untuk (a) memahami kesulitan orang lain dan menganggapnya serius, (b) memahami bahwa kesulitan orang yang mengalami tidak merugikan individu, dan (c) bahwa individu, sebagai pengamat, mampu mengidentifikasi diri dengan penderitaan orang lain. Signifikansi bela rasa dalam kehidupan ini turut mendapatkan tempat dalam dunia pendidikan. Salah satu institusi pendidikan yang mengadopsi konsep bela rasa ini adalah Universitas Sanata Dharma (USD). USD adalah perguruan tinggi berbasis Jesuit. Sebagai sebuah kampus Jesuit, ada 3 semangat dasar (nilai-nilai yang dikembangkan) dalam pendidikan―yang kemudian dikenal dengan 3C. Nilai-nilai ini disarikan dalam Model Pendidikan Karakter di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta (2010). Adi, Dwiatmoko, Istono, Nugraha, & Maryarsanta (2010) menyatakan bahwa semangat dasar pertama adalah “kecakapan” yang dimaknai sebagai kemampuan akademik yang memadukan unsur-unsur pengetahuan keterampilan, dan sikap. Unsur-unsur dasar kecakapan adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Kedua adalah “hati nurani” yang dimaknai sebagai

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 kemampuan memahami alternatif dan menentukan pilihan (baik-buruk, benar-salah). Terakhir adalah bela rasa yang dimaknai sebagai kemauan untuk berbela rasa pada sesama dan lingkungan (Man and women for and with others). Unsur-unsur dalam bela rasa adalah: peduli, peka, rela, dan tanggap. Ditilik dari unsur-unsur bela rasa tersebut, maka bela rasa yang ditekankan dalam semangat dasar tersebut adalah bela rasa yang arahnya ke luar (outward compassion) atau terarah ke oranglain. Dengan demikian unsur nilai yang mengikuti; peduli, peka, rela, dan tanggap, berarti bahwa peduli pada oranglain, peka terhadap oranglain, rela berkorban bagi oranglain, dan tanggap terhadap permasalahan oranglain. Unsur nilai ini kesemuanya diejawantahkan dalam proses pendidikan karakter. Adi dkk. (2010) menyatakan bahwa pendidikan karakter di Universitas bersifat sekunder. Karakter sudah dibentuk dalam lingkungan yang lebih sempit namun akrab, yakni keluarga. Lalu sebelum mencapai fase perkuliahan mahasiswa sudah memperoleh pendidikan karakter dari sekolah maupun masyarakat. Bahkan tatkala kuliah, mahasiswa juga mendapatkan pendidikan karakter di masyarakat. Meskipun demikian, pendidikan karakter di Universitas adalah hal yang sangat penting. Mayoritas mahasiswa disamping kuliah juga mengikuti kegiataan kepanitiaan. Oleh karena itu, waktu yang dihabiskan mahasiswa dalam urusan kampus tidak diragukan lagi banyaknya. Dengan demikian, universitas berperan besar dalam membangun

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 konsep diri, keterampilan sosial, nilai-nilai, kematangan penalaran moral, perilaku prososial, dan pengetahuan mengenai moralitas atau suara hati. Dalam sebuah bagian, Adi dkk. (2010) menuliskan: “…..proses pendidikan di USD merupakan bagian integral dari pergulatan kemanusiaan dalam ranah akademik demi lahirnya pribadi-pribadi magis, yaitu pribadi yang selalu memimpikan dan mengupayakan kebaikan bersama yang lebih”. (hal. 25) Sesuai dengan isi teks tersebut, maka yang ingin dicapai dari pendidikan karakter ini adalah seorang pribadi yang utuh atau pribadi yang magis. Pribadi yang utuh ini dicapai lewat pengembangan karakter dengan semangat 3C. Semangat ini sepakat bahwa manusia adalah tujuan, dan bukan alat. Oleh karenanya, untuk mengedepankan manusia sebagai tujuan adalah dengan menghargai. Menghargai memiliki implikasi bahwa yang dihargai tidak hanya orang lain, melainkan juga diri sendiri. Penghargaan terhadap diri sendiri inilah yang kemudian mewujud dalam self-compassion (selanjutnya akan disebut “welas asih”). Jika bela rasa terarah ke luar diri, maka welas asih terarah ke dalam diri (Germer & Neff, 2013). Neff & Lamb (2009) mendefinisikan welas asih sebagai sebuah cara berelasi dengan keterbukaan-hati terhadap aspek negatif dari diri sendiri dan pengalaman. Cara berelasi dengan keterbukaan hati ini mampu menciptakan resiliensi emosional dan kesejahteraan psikologis yang lebih besar. Menurut definisi yang disajikan Neff, welas asih disusun dari tiga faktor kunci: (a) kebaikan-diri – perluasan kebaikan dan pemahaman terhadap diri sendiri, misalnya merasakan ketidakmampuan atau penderitaan daripada menilai secara kasar dan mengecam diri, (b) rasa kemanusiaan – melihat pengalaman

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 diri sebagai bagian pengalaman manusia yang lebih luas daripada melihatnya terpisah dan terasing, dan (c) kewaskitaan – mengatasi pikiran dan perasaan yang menyakitkan dalam kesadaran yang seimbang daripada mengidentifikasikannya secara berlebihan dalam cara yang membesarbesarkan. Bagi Kristin Neff (2011) welas asih menjadi semacam piranti untuk mencapai penyembuhan psikologis, kesejahteraan, dan relasi yang lebih baik. Welas asih adalah “cara yang lebih waras untuk berhubungan dengan diri sendiri”. Neff membedakan harga diri (self-esteem) dengan welas asih. Jika harga diri berdasarkan pada pencapaian superior, maka welas asih lebih pada kualitas pribadi yang sifatnya konstan, dalam menilai dan memperlakukan diri dengan baik layaknya manusia (Greenberg, 2012). Jika Neff mengklaim bahwa harga diri mampu membuat individu cenderung depresif jika target tidak tercapai, maka welas asih tidak. Sikap peduli terhadap diri sendiri ini membantu individu untuk mengenal kesamaan dan hubungan dengan oranglain, yang berbagi dengan si individu mengenai aspirasi umum dan sumber penderitaan. Bahkan, welas asih berperan dalam mengatasi diri yang mandek. Dengan kata lain, welas asih turut serta menjadi basis kritisisme-diri yang konstruktif. Breines (2013) membuat alegori bahwa welas asih laiknya sebuah parasut yang memungkinkan individu untuk meluncur dengan aman menuju bagian yang diri sendiri takut untuk melihatnya. Ini tidak akan membiarkan individu berendah diri dengan mudahnya, welas asih juga tidak

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 mengantar individu ke dalam jurang keputusasaan. Welas asih membuat individu berani mengakui “ya, saya kacau”, tanpa membuat individu berpemahaman bahwa dirinya (dan hidupnya) adalah sesuatu yang mengerikan. Welas asih membuat individu menjadi orang yang memiliki kekuatan sekaligus kelemahan disertai kesempatan untuk meningkatkan. Dalam atmosfer kehangatan ini, melihat lebih akrab pada kelemahankelemahan ini tidaklah menakutkan. Syahdan, hasil penelitian menunjukkan bahwa welas asih dapat meningkatkan kesehatan mental (Neff, 2011; Terry & Leary, 2011; Terry, Leary, Mehta, & Henderson, 2013; Neff, Kirkpatrick, & Rude, 2007). Juga, Barnard & Curry (2011) menemukan bahwa welas asih berkaitan erat dengan psikologi humanistik, pengecaman-diri (self-criticism), harga diri (selfesteem), mengasihani-diri (self-pity), maupun kepuasan-diri egosentrisme (self-complacency). Germer (self-centeredness), & Neff (2013) menyatakan bahwa ada peningkatan kuantitas riset mengenai welas asih sejak 2003. Ada sekitar 200 artikel jurnal dan disertasi yang meneliti topik tersebut. Apa yang ditemukan oleh para peneliti adalah welas asih yang lebih besar terkait dengan psikopatologi yang rendah. MacBeth & Gumley (dalam Germer & Neff, 2013) menemukan bahwa welas asih berpengaruh besar terhadap depresi, kecemasan, dan stres. Oleh karena itu, dalam rangka mencapai pribadi yang utuh, dibutuhkan pengembangan baik bela rasa maupun welas asih. Guna mengembangkan bela rasa, mahasiswa dapat belajar berbela rasa lewat kepanitiaan maupun

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 perkuliahan. Guna mengembangkan welas asih, dibutuhkan langkah lebih jauh lagi. Korthagen & Vasalos (2009) menyatakan bahwa refleksi menciptakan sebuah keseimbangan pikiran, perasaan, serta kehendak sebagaimana yang menjadi sumber berperilaku. Dari proses penyeimbangan yang berfokus terhadap masa lalu namun berorientasi ke masa depan inilah kemudian tercipta transformasi diri yang ditandai dengan kekinian dan kewaskitaan. Bertolak dari hubungan logis tersebut, maka dalam proses pendidikan USD pengembangan welas asih dapat dilakukan lewat refleksi. Refleksi dalam hal ini mengarah pada pandangan bahwa pendidikan adalah proses penyadaran (menjadi lebih waskita). Reznitskaya & Sternberg (2004) juga menuliskan bahwa fungsi refleksi dapat membantu peserta didik memantau dan mengontrol berbagai proses pembelajaran. Ini berarti refleksi meningkatkan kewaskitaan, dan kewaskitaan itu sendiri berpengaruh signifikan terhadap aspek lain dalam welas asih. Berkaitan dengan hal termaksud, Adi dkk. (2010) menuliskan: “Dalam pendidikan berbasis Ignasian, refleksi mengambil peran yang penting. Dengan berefleksi, mahasiswa menimbang dan memilih pengalaman-pengalamannya untuk menemukan dirinya yang otentik. Dengan cara ini, ia dapat mengambil keputusan dan bertindak sesuai dengan martabatnya yang luhur .” (hlm. 26) Sayangnya, proses refleksi ini tidak kasat mata ketika akhir kuliah (atau semester) di kelas-kelas. Padahal, kelas menjadi ruang paling kondusif dalam melakukan refleksi. Jangankan di kelas, bahkan di kepanitiaan (yang seringkali menjadi “idola” mahasiswa) refleksi jarang terjadi.

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 Bahkan, dalam penelitian mengenai persepsi nilai oleh Zamharin (2012), nilai yang mendapat peringkat 1 dan 2 menurut mahasiswa adalah nilai humanis dan kerja sama yang notabene dipahami mahasiswa sebagai bagian dari hubungan interpersonal ‒ yang berarti bela rasa, bukan welas asih. Penelitian Zamharin ini menjadi cermin yang baik dalam menggambarkan pendidikan yang dialami mahasiswa. Mengetahui bagaimana gambaran welas asih dan menyajikan contoh yang tepat dalam kehidupan mahasiswa bukanlah hal mudah. Bela rasa lebih mudah dilihat karena terjadi antar individu. Sedangkan welas asih terjadi dalam hubungan individu dengan dirinya sendiri, oleh karena itu welas asih termasuk dalam ranah yang cukup privat. Namun, ketika akan tiba waktu ujian, welas asih yang “terlihat” rendah dengan mudah terlihat. Misalnya menumpuknya tugas yang seharusnya bisa dikerjakan secara bertahap. Begadang menjadi tradisi yang begitu kental dalam kultus mahasiswa ketika ujian akan dilaksanakan. Padahal, ini hanya membuat mahasiswa lelah dan proses belajar menjadi kurang efektif. Bahkan tidak jarang pula yang merasa tidak “enak badan” ketika ujian dan setelah ujian berlangsung (berimbas pada kesehatan secara fisik). Dengan satu kasus ini, tidak serta merta bisa disimpulkan bahwa welas asih mahasiswa Sanata Dharma adalah rendah. Oleh karena itu, studi deskripsi perlu dilakukan utuk memperoleh data yang lebih sahih. Di samping itu, Pommier (2010) menemukan bahwa mahasiswa dengan bela rasa tinggi memiliki welas asih yang cenderung rendah, dan

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 mahasiswa dengan welas asih yang tinggi memiliki level bela rasa yang tinggi pula. Namun, hal tersebut ditemukan di tradisi Barat. Oleh karena itu, partisipan dengan adat ketimuran menjadi pertanyaan dan perbincangan yang menarik, sebagaimana dicerminkan dalam diri mahasiswa Psikologi Universitas Sanata Dharma. Dari uraian pendek di atas, welas asih pada mahasiswa Sanata Dharma mendapatkan urgensi tersendiri untuk ditelisik. Selain itu, seakan-akan uraian semangat dasar Universitas Sanata Dharma perlu diperlengkap. Bela rasa sebaiknya berorientasi ke dalam (diri sendiri) maupun ke luar (liyan). Apa yang tidak ada dalam uraian semangat dasar tersebut adalah kata “self”. Self mengandung pemahaman bahwa ada waktu di mana seseorang harus menghadapi masalahnya sendiri. Tidak setiap hal dapat dibicarakan dengan oranglain. Setiap orang menyimpan masalah dan pemecahannya masingmasing sama dengan setiap orang memiliki ruang privat masing-masing. Oleh karena itu, keunikan manusia di sini sangat ditekankan. Germer & Neff (2013) sendiri menjelaskan bahwa kecenderungan manusia adalah berbela rasa terhadap orang lain, namun tidak untuk dirinya sendiri. Tidak heran apabila di dunia Barat kemudian muncul istilah “woe is me” atau “sengsara adalah saya”. Selain itu, sebagai seorang mahasiswa Psikologi, tuntutan sebagai pribadi yang mampu berwelas asih dan memahami diri sendiri menjadi penting ketika mahasiswa tersebut terjun ke masyarakat – entah sebagai seorang psikolog maupun pegawai HRD. Sebagaimana ditemukan Pommier

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 (2010) bahwa seseorang dengan welas asih tinggi cenderung memiliki bela rasa yang tinggi pula, namun tidak untuk sebaliknya. Oleh karena itu, menjadi penting bagi mahasiswa psikologi untuk secara reflektif melihat dirinya mengenai bagaimana dirinya mampu untuk peduli dan berwelas-asih terhadap diri sendiri. Dengan terus melatih kemampuan welas asih secara reflektif dan ketika suatu waktu mahasiswa tersebut terjun dan menyapa masyarakat, maka harapannya di masa depan mahasiswa tersebut mampu bertindak sebagai seorang professional helper. Berkaitan dengan hal tersebut, menyelidiki welas asih pada mahasiswa psikologi menjadi amatlah penting. Alhasil, bertolak dari signifikansi welas asih terhadap kesehatan mental individu dan uraian mengenai bela rasa dalam semangat dasar Universitas Sanata Dharma, serta basis dasar dan menyiapkan mahasiswa psikologi sebagai seorang professional helper, muncul pertanyaan kritis yang penting untuk ditelusuri. Pertanyaan tersebut adalah; bagaimana gambaran welas asih pada mahasiswa psikologi Sanata Dharma? Jawaban dari pertanyaan tersebut akan mengantar ke dalam proses pendidikan yang “lebih jauh”. “Lebih jauh” di sini tidak memiliki makna lain kecuali pendidikan yang semakin memanusiakan manusia. B. Rumusan Masalah Masalah yang akan dijawab dalam penelitian ini adalah: bagaimana gambaran welas asih pada mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma?

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 C. Tujuan Penelitian Bertolak dari pertanyaan pada rumusan masalah, maka tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan gambaran welas asih pada mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. D. Manfaat Penelitian Secara teoritis, penelitian ini akan bermanfaat dalam kajian welas asih yang dalam dunia psikologi masih relatif baru. Oleh karena itu, penelitian ini bisa menjadi studi permulaan dalam konsep welas asih sehingga membuka pintu lebih lebar untuk penelitian yang membutuhkan literatur welas asih, khususnya pada mahasiswa. Selain itu, secara praktis penelitian ini dapat menjadi sebuah refleksi sekaligus evaluasi bagi USD dan mahasiswa Sanata Dharma mengenai proses pembelajaran yang selama ini telah berlangsung. Oleh karena itu, hasil dari penelitian ini dapat dijadikan data atau pengetahuan baru dalam proses pembelajaran di USD.

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II LANDASAN TEORI A. Welas Asih 1. Pengertian Welas Asih Dalam sebuah wawancara mengenai definisi welas asih, Neff (2011) memberi sebuah contoh mengenai persahabatan. Ketika seorang teman sedang memiliki masalah lalu bercerita, kemungkinan orang yang diceritai akan menunjukkan kehangatan, rasa peduli, kebaikan hati. Pendeknya, orang yang diceritai memberikan emosi yang positif dan sifatnya menolong. Demikian pula dengan welas asih, bedanya adalah bahwa “Welas asih secara sederhana berarti bela rasa yang terararah ke dalam diri” (Germer & Neff, 2013). Singkatnya, welas asih adalah sebuah cara berelasi dengan keterbukaan-hati terhadap aspek negatif dari diri sendiri dan pengalaman. Neff (2003a) menambahkan bahwa welas asih memerlukan pengetahuan bahwa penderitaan, kegagalan, dan ketidakadekuatan adalah bagian dari kondisi manusia, yang semua orang ‒ termasuk diri sendiri ‒ layak untuk diwelas-asihi. Menurut Neff (2003a), welas asih terejawantahkan dalam sikap terbuka dan tergerak oleh penderitaan diri, merasa peduli dan berbaik-hati terhadap diri sendiri, mengambil pemahaman, sikap tidak menghakimi terhadap kekurangan dan kegagalan diri, dan mengakui pengalaman itu sendiri sebagaimana juga pengalaman manusia pada umumnya. 12

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 Dalam penelitian mengenai welas asih, Barnard & Curry (2011) membentangkan hubungan welas asih dengan psikologi humanistik, pengecaman-diri (self-criticism), harga diri (self-esteem), mengasihanidiri (self-pity), egosentrisme (self-centeredness), maupun kepuasan-diri (self-complacency). Dengan psikologi humanistik, komponen kebaikan dalam welas asih memiliki konsistensi dengan kunci menuju kesejahteraan-diri. Kunci menuju kesejahteraan-diri adalah tidak terlalu defensif dan mengambil sudut pandang terhadap diri ketika menderita, kemudian belajar memahami dan menerima kegagalan personal tanpa menghakimi, mencintai, dan memaafkan. Pengecaman-diri menimbulkan rasa isolasi serta pelepasan perilakuan maupun mental. Hal ini berarti pengecaman-diri menunjukkan rendahnya intimasi dan perjuangan afiliatif yang disebabkan ketakutan akan penolakan. Ketika kemungkinan seseorang sedang mengecam-diri, afek negatif bermunculan. Selain itu, mengecam--diri cenderung mendorong tindakan untuk menghindari situasi dan memungkinkan terbukanya kesempatan menuju kegagalan. True self-esteem memiliki similaritas dengan konsep humanistik dan welas asih. Self-esteem sendiri dibagi ke dalam dua tipe, yang pertama adalah contingent self-esteem dan true self-esteem. Contingent self-esteem tergantung akan standar-standar tertentu yang diciptakan individu. Oleh karena itu, contingent self-esteem berdasar pada evaluasi terhadap diri, sedangkan welas asih justru sebaliknya.

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 Selanjutya adalah kaitan antara welas asih dengan mengasihanidiri, egosentrisme, maupun kepuasan-diri. Mengasihani-diri memiliki arti bahwa individu kehilangan rasa kemanusiaan dan cenderung overidentifikasi dengan perasaan, pikiran, dan pengalaman. Ini menunjukkan bahwa welas asih dengan mengasihani-diri merupakan dua konstruk yang berbeda. Demikian pula dengan egosentrisme yang kehilangan komponen rasa kemanusiaan. Bahkan welas asih justru mendukung keterhubungansosial (Neff, 2003a). Kepuasan-diri juga merupakan konstruk yang berbeda dengan welas asih. Welas asih membicarakan tentang ketenangan-diri, bukan ketidakacuhan atau penyerahan diri, melainkan pemahaman akan kesalahan. Kepuasan-diri sangat mugkin untuk mengantarkan seseorang menjadi defensif apabila menghadapi kegagalan. Beberapa penelitian menemukan bahwa welas asih berkorelasi positif terhadap afek-afek positif dan berkorelasi negatif dengan afek negatif (Leary et al., 2007; Neff et al., 2007; Neff & Vonk, 2009). Juga, welas asih menunjukkan hubungan yang unik dengan kesejahteraan-diri (Neely, Schallert, Mohammed, Roberts, & Chen, 2009). Welas asih menimbulkan kepuasan hidup di mana kepuasan hidup ini menjadi aspek pokok dalam kesejahteraan-diri. Selain itu welas asih kemungkinan juga berhubungan dengan regulasi emosi dan kecerdasan emosional, konstrukkonstruk yang berhubungan dengan hasil psikologi positif terkhusus ketika individu memiliki kendali kecil atas situasi (Neff, 2005). Terakhir, welas asih berkorelasi positif dengan kewaskitaan dan secara negatif

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 dengan perenungan, supresi pikiran, dan penghindaran (Neff et al., 2005; Neff, Kirkpatrick, & Rude, 2007; Neff & Vonk, 2009; Raes, 2010; Thompson & Waltz, 2008). Bertolak dari uraian di atas, welas asih merupakan konsep yang sedang berkembang dalam penelitian psikologi. Konsep yang mengadaptasi tradisi Timur ini didefinisikan sebagai bela rasa yang diarahkan terhadap diri sendiri. Misalnya ketika seorang mahasiswa memperoleh nilai yang buruk dalam 3 semester awal. Buruknya nilai ini memunculkan kecemasan dalam diri mahasiswa tersebut. Kecemasan ini kemudian memunculkan tegangan antara mahasiswa dengan dunia batin maupun dunia luar. Ketegangan ini perlu direduksi. Apabila mahasiswa tersebut memiliki welas asih yang baik, maka rasa gagal yang memunculkan sikap peremehan diri akan mudah dikontrol. Pengendalian ini akan diwujudkan dalam sikap yang lebih positif, misalnya membuat komparasi yang lebih luas bahwa setiap orang pernah mengalami kegagalan. Kegagalan bukan berarti seseorang tidak mampu. Kegagalan ini menjadi momentum diri untuk berusaha lebih keras dan rasional di semester berikutnya. Dengan demikian, pola belajar akan diubah demi mencapai apa yang diharapkan. Dari penelitian sebelumnya mengenai welas asih (Neff, 2011; Terry & Leary, 2011; Terry, Leary, Mehta, & Henderson, 2013; Neff, Kirkpatrick, & Rude, 2007) dan bela rasa (Neff, 2011; Pommier, 2010), maka ada tiga aspek utama dan negasi yang menyusun keduanya; hanya

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 saja arahnya berbeda. Jika bela rasa arahnya ke luar, maka welas asih ke dalam. 2. Komponen Welas Asih Menurut Germer & Neff (2013) ada tiga komponen inti dalam welas asih (dan bela rasa); (a) kebaikan, (b) rasa kemanusiaan; (c) kewaskitaan. Berikut adalah penjelasan singkat mengenai ketiganya: a. Kebaikan vs Penilaian Diri Kebaikan berarti melakukan perpanjangan kebaikan terhadap diri dan memahami diri daripada menilai diri secara kasar dan mengecam-diri. Welas asih ditandai dengan kehangatan dan pemahaman terhadap diri ketika menderita, gagal, atau merasa tidak mampu, daripada mengabaikan rasa sakit atau mendera diri dengan kritik-terhadap-diri. Orang dengan welas asih mengakui bahwa menjadi sempurna, gagal, dan mengalami kesulitan hidup merupakan hal yang tidak bisa dihindari, sehingga mereka cenderung bersikap lembut dengan diri mereka sendiri ketika dihadapkan dengan pengalaman menyakitkan daripada marah terhadap dirinya sendiri ketika hidup muram tidak sesuai apa yang diharapkan. Orang tidak bisa selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan. Bila kenyataan ini ditolak atau ditentang, maka penderitaan akan meningkat dalam wujud stres, frustrasi dan

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 otokritik. Bila kenyataan ini diterima dengan simpati dan kebaikan, ketenangan emosional akan dialami (Neff, 2009). Dalam kajian psikologi positif, komponen ini bersinggungan erat dengan penerimaan-diri yang menjadi dimensi kesejahteraan psikologis. Penerimaan-diri dipahami sebagai ciri utama dari kesehatan mental sebagaimana karakteristik aktualisasi diri, fungsi diri yang optimal, dan kematangan psikis (Ryff & Singer, 1996). Seseorang yang berbaik-hati terhadap dirinya akan cenderung lebih menerima dirinya karena mereka bersikap lembut terhadap dirinya sendiri. Dalam kasus di mana ancaman hadir, sebagai respon protektif, individu merasa perlu untuk memfokuskan perhatian pada diri sendiri. Ketika fokusnya adalah pada diri sendiri, tidak peduli pada penderitaan orang lain atau pandangan kritis terhadap dunia muncul. Ancaman menjadi penghalang bagi kebaikan. Dengan demikian, konstruksi lawan untuk kebaikan (dalam bela rasa) adalah ketidakpedulian (indifference). Berbeda lagi dengan welas asih. Dalam welas asih, konstruk lawan untuk kebaikan adalah penilaian diri (self-judgement). Ketika sikap kritis berbalik ke dalam, rasa pemahaman untuk diri hilang dan kebaikan menyelinap pergi mendukung sikap kritis dan menghakimi. Ketika kebaikan hilang bagi orang lain dalam kasih sayang, respon dingin dan apatis terjadi kemudian (Pommier, 2010).

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 b. Rasa Kemanusiaan vs Isolasi Komponen ini berarti melihat pengalaman diri sebagai bagian dari pengalaman manusia yang lebih luas daripada memisahkan serta mengisolasinya. Frustrasi karena tidak memperoleh persis seperti yang diinginkan sering disertai dengan irasionalitas dalam nuansa isolasi―seolah-olah "aku" adalah satusatunya orang yang menderita atau membuat kesalahan. Namun, semua manusia menderita. Menjadi "manusia" berarti seseorang bersifat fana, rentan dan tidak sempurna. Oleh karena itu, welas asih melibatkan pengakuan bahwa penderitaan dan kekurangan pribadi adalah bagian dari pengalaman bersama seluruh manusia - sesuatu yang dilalui semua orang, bukannya cuma “aku” sendiri. Ini juga berarti pengakuan bahwa pemikiran pribadi, perasaan dan tindakan juga dipengaruhi oleh faktor "eksternal" seperti sejarah pengasuhan, budaya, kondisi genetik dan lingkungan, serta perilaku dan harapan orang lain. Thich Nhat Hahn menyebut jejaring rumit dari sebab dan akibat yang resiprokal di mana tiap manusia tertanam "Ke-saling-Ada-an” (Interbeing). Menyadari ke-saling-Ada-an memungkinkan individu untuk menjadi kurang menghakimi tentang kegagalan pribadi. Setelah semua terjadi, apabila individu memiliki kendali penuh atas perilakunya, berapa banyak orang yang dengan sadar memilih

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 untuk memiliki masalah kemarahan, masalah kecanduan, melemahkan kecemasan sosial, gangguan makan, dan sebagainya? Banyak aspek dari diri sendiri dan keadaan hidup yang tidak bisa dipilih individu, melainkan berasal dari faktor tak terhitung [genetik dan (atau) lingkungan] di mana individu memiliki sedikit kontrol atasnya. Dengan mengakui ketergantungan esensial individu, kegagalan dan kesulitan hidup tidak harus diambil secara pribadi, tetapi dapat diakui dengan kasih sayang, tidak menghakimi, dan pemahaman (Neff, 2009). Pada konsep bela rasa, rasa kemanusiaan memiliki konstruk lawan berupa rasa pemisahan (separation). Setelah seseorang mampu melihat yang lain terpisah dari diri, adalah mungkin untuk mengorbankan respon welas asih kepada individu yang dalam sedang menderita. Dalam welas asih, jika seseorang melakukan ini untuk diri sendiri, individu yang memotong diri dari rasa kemanusiaan dan menjadi terisolasi. Dengan demikian, dalam welas asih, isolasi (isolation) adalah kebalikan dari kemanusiaan, tetapi dalam bela rasa dikonseptualisasikan dalam cara yang sedikit berbeda di mana keterpisahan dari orang lain menjadi hasilnya (Pommier, 2010). c. Kewaskitaan vs Over-identifikasi Menurut Neff (2009) kewaskitaan berarti memegang pikiran dan perasaan yang menyakitkan dalam

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 menyeimbangkannya dengan kesadaran daripada mengidentifikasikannya secara berlebih. Dalam terapi kognitif, melebih-lebihkan sesuatu adalah simptom buah pikir negatif yang mengantar individu menuju depresi. Dalam pemahaman di sini, yang perlu ditekankan adalah bahwa welas asih juga memerlukan pendekatan yang seimbang untuk emosi negatif sehingga perasaan tidak direpresi atau dibesar-besarkan. Sikap seimbang ini berasal dari proses yang berkaitan dengan pengalaman pribadi orang lain yang juga menderita, sehingga menempatkan situasi ke dalam perspektif yang lebih luas. Hal tersebut juga berasal dari kehendak untuk mengamati pikiran negatif dan emosi dengan keterbukaan dan kejelasan, sehingga mereka mengada di kesadaran. Kewaskitaan adalah tidak menghakimi, keadaan pikiran reseptif di mana seseorang mengamati pikiran dan perasaan seperti mereka, tanpa berusaha untuk menekan atau menolak mereka. Seseorang tidak bisa mengabaikan rasa sakit dan merasa kasihan terhadapnya di saat yang sama. Pada saat yang sama, kewaskitaan mengharuskan seseorang untuk tidak melakukan “over-identifikasi” dengan pikiran dan perasaan, yang dengan mudah menghantarnya untuk terjebak dan hanyut oleh reaktivitas negatif (Neff, 2009). Berkaitan dengan hal tersebut, komponen kewaskitaan dalam welas asih memiliki konstruk lawan berupa over-identifikasi.

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 Ketika seorang individu tidak waskita dalam situasi yang melibatkan diri, mereka kemungkinan melakukan over-identifikasi terhadap rasa sakit. Menyangkal penderitaan diri mengantar seseorang menjadi terlalu terlibat dengan rasa sakit. Dalam hal bela rasa, over-identifikasi terhadap penderitaan orang lain bukanlah yang seringkali terjadi. Akan jauh lebih mungkin untuk menolak atau melepaskan diri penderitaan maupun rasa sakit yang dialami orang lain (disengagement). Dengan demikian, konstruk lawan dari bela rasa adalah pelepasan dari liyan, sedangkan pada welas asih adalah over-identifikasi (Pommier, 2010). Dari ketiga komponen inti, kewaskitaan memegang peranan lebih. Kewaskitaan mempengaruhi dua aspek yang lain. Dalam menghadapi pengalaman buruk, kewaskitaan dalam level tertentu dibutuhkan agar menimbulkan kebaikan dan rasa kemanusiaan. Jopling (2000) menemukan bahwa sikap melepas (tepatnya menerima atau menikmati) dalam kewaskitaan menurunkan kritisisme-diri dan memberi ruang lebar bagi pemahaman-diri, yang berarti meningkatkan kebaikan-diri. Demikian juga Elkind (1969) yang menemukan bahwa pengambilan-perspektif yang seimbang melawan egosentrisme yang menyebabkan rasa terisolir dan keterpisahan dari kemanusiaan, dengan demikian menciptakan rasa kesaling-terhubungan.

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 B. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Welas Asih Berikut adalah beberapa faktor yang berpengaruh dengan tingkat welas asih dalam diri setiap individu: 1. Pola Asuh Greenberg (2012) mengklaim bahwa welas asih adalah sebentuk keahlian yang dapat dilatih dan ditingkatkan lewat belajar. Dalam hal ini, hubungan antara anak dengan penjaga, khususnya orang tua, mendapatkan tempat penting. Apabila anak mendapatkan hukuman karena marah atau atau sedih, maka anak cenderung belajar bahwa kedua kondisi tersebut adalah buruk. Jika anak merasa ditolak saat berbagi mengenai kekecewaannya, maka mereka akan cenderung mencerca dirinya atau memandang rendah dirinya. 2. Kelekatan Kelekatan terhadap orang tua juga berpotensi besar dalam membentuk welas asih. Neff & McGehee (2010) menemukan bahwa remaja dan dewasa awal dengan kelekatan yang aman (secure attachment style, selanjutnya disingkat SAS), memiliki level welas asih yang tinggi. Sesuai dengan model Bartholomew, SAS melibatkan keyakinan bahwa orang lain mendukung dirinya dan bahwa individu tersebut mearasa aman dan berarti sebagai seorang manusia. Remaja dan dewasa awal dengan preoccupied attachment style (PAS) ditemukan sebaliknya. PAS adalah kelekatan yang melibatkan kebutuhan atau ketergantungan terhadap orang lain untuk mengakui bahwa dirinya ada. Pun dengan fearful attachment

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 style (FAS), yang dikarakterisasikan dengan kurangnya keyakinan terhadap orang lain dan ragu akan keberartian diri. Remaja dan dewasa awal dengan keterikatan jenis ini cenderung memiliki welas asih dengan tingkat rendah. Sedangkan pada dismissive attachment style (DAS) justru dilaporkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan dengan welas asih. DAS sendiri merupakan keterikatan yang ditandai dengan menganggap remeh hubungan interpersonal yang melebih-lebihkan keberartian diri. 3. Budaya Greenberg (2012) juga menuliskan bahwa faktor budaya juga menjadi penentu welas asih seseorang. Budaya dalam istilah ini dipahami secara luas, sehingga institusi sosial seperti sistem pemerintahan dan agama juga termasuk dalam budaya. Dalam budaya yang mendasarkan ketakutan terhadap hukuman sebagai basis pembelajaran (misalnya dalam despotisme atau fasisme), level welas asih akan cenderung rendah. C. Welas Asih Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Welas asih berkembang sejak masa kanak-kanak. Kondisi dukungan maternal berpengaruh terhadap level welas asih yang tinggi. Dukungan maternal berupa sikap peduli terhadap si anak, memperhatikan kebutuhan si anak, maupun cinta tanpa syarat (Neff & McGehee, 2010). Tidak hanya saat masih anak-anak saja, welas asih terus berkembang dan dipelajari dalam masa hidup. Hal tersebut mengungkapkan bahwa welas asih bisa dipelajari.

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 Pengklasifikasian welas asih dalam ranah kecakapan emosional menunjukkan bahwa dalam setiap manusia terdapat anasir welas asih, hanya saja dengan tingkatan yang berbeda. Secara khusus, tingkat welas asih yang tinggi dibutuhkan oleh setiap orang yang akan berkecimpung dalam masyarakat. Lebih detilnya, kebutuhan untuk peduli atau berempati, sebagaimana dibutuhkan seorang perawat, guru, juga profesi seperti psikolog. Menarik bahwa diskursus mengenai welas asih mendapatkan bagiannya yang besar dalam lingkup ilmu psikologi. Dalam hal ini, seorang psikolog, HRD, atau pekerja sosial nantinya akan menyapa masyarakat dengan kepedulian dan empati. Kepedulian dan empati yang nantinya akan dijadikan bekal untuk menyapa masyarakat sangatlah ditentukan bagaimana hubungan orang tersebut dengan dirinya sendiri. Artinya, sikap seseorang terhadap diri sendiri menjadi kunci keberhasilan seseorang yang akan melibatkan diri dalam masyarakat. Penelitian baru-baru ini dari Pommier (2010) menunjukkan bahwa individu dengan tingkat welas asih yang tinggi cenderung memiliki bela rasa yang tinggi. Singkatnya, individu yang mampu berbaik hati, peduli, dan empati terhadap diri sendiri, akan mampu untuk berbaik hati, peduli, dan empati terhadap orang lain. Oleh karenanya, mahasiswa psikologi perlu mendapatkan bekal kemampuan untuk mampu peduli dan berempati terhadap dirinya sendiri. Kemampuan inilah yang kemudian tercakup dalam welas asih. Individu dengan welas asih yang tinggi tercermin dengan kesejahteraan psikologis yang tercukupi (Neff, 2011), mampu menjalin keakraban yang sehat (Neff &

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 Beretvas, 2012), mampu membangun sebuah keterikatan yang aman (Neff & McGehee, 2010), adaptif (Neff, Kirkpatrick, & Rude, 2007), regulasi diri yang adekuat (Terry & Leary, 2011), serta empatik (Birnie, Speca, & Carlson, 2010). Sedangkan mahasiswa dengan tingkat welas asih yang rendah adalah justru sebaliknya. D. Pertanyaan Penelitian Berdasarkan dari hasil paparan di atas, peneliti ingin melihat gambaran tingkat welas asih mahasiswa Fakultas Psikologi USD.

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penilitian ini merupakan penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif bertujuan untuk menguraikan dan memberi penjelasan mengenai suatu keadaan sesuai variabel yang diteliti. Variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah welas asih. Setelah didapatkan deskripsi mengenai welas asih mahasiswa Psikologi USD, selanjutnya adalah digambarkan perbedaan antar jenis kelamin. B. Identifikasi Variabel Penelitian Variabel yang dideskripsikan adalah welas asih pada mahasiswa Psikologi USD. C. Definisi Operasional Welas asih adalah sebuah cara berelasi dengan keterbukaan-hati terhadap aspek negatif dari diri sendiri dan pengalaman. Cara berrelasi dengan keterbukaan hati ini mampu meciptakan resiliensi emosional dan kesejahteraan psikologis yang lebih besar. Welas asih disusun dari tiga faktor kunci: (a) kebaikan-diri – kebaikan dan pemahaman terhadap diri sendiri misalnya merasakan ketidak-mampuan atau penderitaan daripada menilai secara kasar dan mengecam diri, (b) rasa kemanusiaan – melihat 26

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 pengalaman diri sebagai bagian pengalaman manusia yang lebih luas daripada melihatnya terpisah dan terasing, dan (c) kewaskitaan – mengatasi pikiran dan perasaan yang menyakitkan dalam kesadaran yang seimbang daripada mengidentifikasikannya secara berlebihan dalam cara yang membesar-besarkan. D. Subjek Penelitian Clark-Carter (2010) membuat eksplanasi mengenai pemilihan partisipan penelitian. Ketika ingin memilih partisipan penelitian, maka pertama harus menentukan karakteristik apa yang harus dimiliki partisipan. Pada penelitian kuantitatif ini, karakteristik yang menjadi syarat adalah mahasiswa Psikologi Universitas Sanata Dharma. Secara umum, subjek mahasiswa menarik untuk diteliti karena usia kronologisnya lebih dari 13 tahun. Neff (2009) mengklaim bahwa welas asih akan menjadi tepat diteliti pada subjek dengan usia lebih dari 13 tahun. Subjek mahasiswa dalam penelitian ini memiliki rentang usia antara 17 sampai 26 tahun. Kedua adalah berkaitan dengan Pedagogi Ignasian yang menjadi basis pendidikan di USD. Terakhir adalah bidang ilmu yang digeluti mahasiswa, yakni Psikologi. Sebagai seorang cendekiawan yang ahli di bidang Psikologi, dibutuhkan pemahaman dan kepedulian terhadap diri sendiri sebelum nantinya menyapa masyarakat dengan kepedulian dan pemahaman. Selanjutnya adalah bahwa keseluruhan mahasiswa Psikologi

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 USD adalah penduduk Indonesia, asumsinya adalah bahwa subjek mengalami proses kultural yang berbasis pada tradisi Timur. Kedua, harus mempertimbangkan jumlah partisipan. Menurut Kerlinger (2006), jumlah sampel dalam sebuah penelitian dianggap normal apabila minimal 30 sampel. Dengan demikian partisipan dalam sebuah penelitian kuantitatif akan sahih bila jumlah minimalnya adalah 30 partisipan. Kekuatan data dapat diperoleh dan semakin menyebar dengan jumlah partisipan yang semakin besar. E. Metode Pengumpulan Data Dalam penelitian ini, pengumpulan data menggunakan metode skala. Skala welas asih diadaptasi dari Neff (2003a). Jumlah item dalam skala ini adalah 26 item dengan enam indikator. Indikator pertama adalah kebaikan-diri yang tersebar pada item nomor 5, 12, 19, 23, dan 26. Kedua adalah item penilaian-diri yang tersebar dalam nomor 1, 8, 11, 16, dan 21. Lalu item rasa kemanusiaan pada nomor 3, 7, 10, dan 15. Selanjutnya item isolasi pada nomor 4, 13, 18, dan 25. Kelima adalah item kewaskitaan pada nomor 9, 14, 17, dan 22. Terakhir adalah item over-identifikasi yang terdapat dalam item nomor 2, 6, 20, dan 24. Skala tersebut akan diadaptasi menggunakan metode terjemahan back-translation tanpa mengubah format skala. Skala diterjemahkan oleh mahasiswa doktoral dari English Departement di Georgetown University asal Indonesia. Hasil terjemahan ini kemudian akan diperiksa lewat

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 penilaian profesional oleh dosen pembimbing. Setelah itu, hasil terjemahan kemudian diuji-coba dengan menanyakan makna kepada dua orang mahasiswa Psikologi USD. Berikut adalah blue-print skala welas asih: Tabel 3.1. Blue Print dan Sebaran Item Skala Welas Asih Indikator Sebaran Item Bobot Kebaikan-diri 5, 12, 19, 23, 26 5 Penilaian-diri 1, 8, 11, 16, 21 5 Rasa Kemanusiaan 3, 7, 10, 15 4 Isolasi 4, 13, 18, 25 4 Kewaskitaan 9, 14, 17, 22 4 Over-identifikasi 2, 6, 20, 24 4 TOTAL 26 item Skala menggunakan model skala Likert, menggunakan lima jawaban dengan rentang: Hampir Tidak Pernah 1 2 3 4 Hampir Selalu 5

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 Pembagian item Favorable dan Unfavourable dapat dicermati pada tabel berikut: Tabel 3.2. Pemberian Skor Skala Welas asih Jawaban 1 2 3 4 5 Skor Favourable Unfavourable 1 5 2 4 3 3 4 2 5 1 F. Validitas, Analisis Item dan Reliabilitas 1. Validitas Validitas merupakan sejauhmana sebuah skala mampu mengukur atribut yang akan diukur (Azwar, 2009). Validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi. Clark-Carter (2010) menyatakan bahwa validitas ini merujuk pada tingkat seperti apa sebuah pengukuran dapat mencakup hal yang akan diukur. Salah satu cara untuk melakukan validitas ini adalah menanyakan seorang ahli dalam bidang yang diukur. Dalam hal ini, ahli yang dimaksud adalah dosen pembimbing (professional judgement). Selain itu, karekteristik item yang digunakan disesuaikan dengan komponen pada variabel yang diteliti. Welas asih memiliki tiga komponen inti; kindness, common humanity, dan mindfulness. Oleh karena itu, ketiga komponen tersebut harus masuk dalam pengukuran,

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 yang berarti tiap item tertentu menggambarkan salah satu dari tiga komponen inti tersebut. 2. Analisis Item Uji daya beda item atau analisis item dilakukan dengan cara menguji karakteristik masing-masing item yang menjadi bagian skala pengukuran. Menurut Azwar (2010), pengujian daya diskriminasi item dilakukan dengan cara menghitung koefisien korelasi antara distribusi skor item dengan distribusi skor skala itu sendiri. Hasil dari pengujian ini disebut koefisien korelasi item total (rix). Nilai indeks daya beda item yang digunakan pada penelitian ini adalah ≥ 0,250. Berdasarkan hasil seleksi item diperoleh 11 item yang memiliki diskriminasi item rendah, sehingga peneliti memutuskan untuk menggugurkannya. Namun demikian, terdapat satu aitem yang tetap dipertahankan peneliti dengan nilai rix = 0,245 dikarenakan untuk menjaga konstruk welas asih agar tetap seimbang pada masing-masing aspeknya. 3. Reliabilitas Reliabilitas yang digunakan dalam penelitian ini merujuk pada apa yang disebut Clark-Carter (2010) dengan reliabilitas intrarater dan reliabilitas interrater. Reliabilitas intrarater dilakukan dengan cara menilai skala item dan menelitinya ulang apakah item sudah diklasifikasikan sesuai dengan indikator masing-masing.

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 Hasil analisis data yang telah dilakukan menunjukkan bahwa koefisien Alpha Cronbach pada variabel tersebut menunjukan nilai 0,464 pada jumlah aitem 26. Setelah dilakukannya seleksi item dengan menggugurkan 11 aitem dan diperoleh 15 aitem, terhitung koefisien Alpha Cronbach pada skala tersebut adalah 0,821. Hal ini menunjukkan bahwa skala welas asih memiliki koefisien Alpha Cronbach yang tinggi karena nilai yang dimiliki mendekati angka 1,00. Tabel 3.3. Sebaran Item Skala Welas Asih setelah Pengguguran Item Indikator Sebaran Item Bobot Kebaikan-diri 12, 19, 23 3 Penilaian-diri 11, 16, 21 3 Rasa Kemanusiaan 10 1 Isolasi 4, 13, 25 3 Kewaskitaan 14, 22 2 Over-identifikasi 6, 20, 24 3 TOTAL 15 item G. Metode Analisis Data Metode analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah metode statistik deskriptif, yakni metode yang memberi gambaran mengenai suatu gejala (Partino & Idrus, 2009). Dalam statistika deskriptif,

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 peneliti mengelola data agar dapat disajikan ke dalam bentuk-bentuk yang lebih berguna, sehingga dapat lebih mudah dipahami (Subagyo, 2003). Statistik deskriptif dapat disertai dengan perhitungan-perhitungan sederhana yang bertujuan untuk memperjelas suatu karakteristik data yang bersangkutan dalam penelitian (Azwar, 1999). Dalam metode statistik deskriptif, data penelitian disusun secara lebih teratur ke dalam distribusi frekuensi. Data-data tersebut juga dikenai perhitungan-perhitungan statistik sederhana, meliputi perhitungan Nilai Rata-rata (Mean), Standar Deviasi (SD), Median, serta Modus. Kemudian, agar data yang telah dihitung tersebut dapat dipahami dengan lebih cepat, maka penyajian data dapat dilakukan dengan membuat diagram maupun tabel-tabel mengenai hasil perhitungan data (Partino & Idrus, 2009; Subagyo, 2003).

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Orientasi Kancah Dan Persiapan Penelitian Neff (2009) memberikan saran bahwa skala welas asih tergolong reliabel ketika diterapkan dalam remaja belasan tahun dengan latar belakang sosial ekonomi dan pendidikan yang sama. Berbasis pada variabel penelitian, subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa Psikologi USD. Secara umum, subjek mahasiswa menarik untuk diteliti karena usia kronologisnya lebih dari 13 tahun. Sebagaimana Neff mengklaim bahwa welas asih akan menjadi tepat diteliti pada subjek dengan usia lebih dari 13 tahun. Subjek mahasiswa dalam penelitian ini memiliki rentang usia antara 17 sampai 26 tahun. Subjek mahasiswa ini juga dipilih berdasarkan pedagogi universitas. DI USD, pedagogi yang digunakan adalah Pedagogi Ignasian. Selain subjek dianggap telah hidup dalam atmosfer spiritualitas Ignasian dengan salah satu semangat dasarnya, yakni bela rasa, subjek juga dipilih yang menggeluti ilmu Psikologi. Pertimbangannya adalah karena untuk menjadi seorang cendekiawan yang ahli di bidang Psikologi, dibutuhkan pemahaman dan kepedulian terhadap diri sendiri sebelum nantinya akan menyapa masyarakat dengan kepedulian dan pemahaman. 34

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 B. Pelaksanaan Penelitian Pelaksanaan penelitian dilakukan antara bulan Januari hingga Mei 2014. Alat pengukuran yang digunakan adalah Welas asih Scale gubahan Neff (2003). Dari 400 skala yang disebar, jumlah skala yang diterima kembali oleh peneliti adalah 317 lembar. Namun kemudian diseleksi berdasar kelengkapannya. Oleh karena itu, data yang diolah dalam penelitian ini merupakan data sebanyak 281 subjek. Sebagai bahan pembantu, berikut adalah tabel pelakasanaan penelitian: Tabel 4.1. Pelaksanaan Penelitian Tanggal Pelaksanaan Kegiatan Tempat Pelaksanaan Jan - Maret 2014 Penyusunan Bab I sampai dengan Bab III - 15 April 2014 Penyaduran Item 15 Mei 2014 15 Mei 2014 16 Mei 2014 16-18 Mei 2014 19 - 23 Mei 2014 Lewat surel, Realino Pemeriksaan Item lewat penilaian profesional oleh Didik Suryo Hartoko, M.Si. Uji coba intersubyektivitas item dengan dua mahasiswa Psikologi USD angkatan 2012. Pemeriksaan Item lewat penilaian profesional oleh Nimas Eki Suprawati, M.Psi., Psi. pembahasan Kopi Selir Paingan, Depok, Maguwoharjo, Sleman, D.I. Yogyakarta. Kampus III USD Paingan, Depok, Maguwoharjo, Sleman, D.I. Yogyakarta. Kampus III USD Paingan, Depok, Maguwoharjo, Sleman, D.I. Yogyakarta dan sekitarnya. Penyebaran skala ke mahasiswa Psikologi USD. Analisis dan penelitian Jarakan, Tirtomartani, Kalasan, Sleman, D.I. Yogyakarta. hasil -

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 C. Hasil Penelitian 1. Deskripsi Subjek Penelitian Subjek pada penelitian ini adalah mahasiswa Psikologi USD angkatan 2010 – 2011 – 2012 – 2013. Berikut adalah gambaran subjek verdasarkan tahun angkatan dan jenis kelamin. Tabel 4.2. Deskripsi Subjek Penelitian Jenis Kelamin Tahun Angkatan 2. Laki-laki Perempuan 2010 7 21 2011 21 77 2012 13 46 2013 Total 26 68 69 213 Uji Normalitas Guna mengetahui apakah data populasi memiliki distribusi normal atau tidak, dilakukan uji normalitas (Noor, 2011). Salah satu teknik yang dilakukan untuk menguji normalitas adalah dengan menggunakan teknik Kolmogorov-Smirnov. Dengan metode ini, maka suatu data dikatakan memiliki distribusi yang normal jika memenuhi syarat, yakni nilai signifikansinya lebih besar dari nilai alpha sebesar 0,05 ( p > α 0,05). Namun jika nilai signifikansinya lebih kecil dari 0,05 ( p < 0,05), maka data tidak terdistribusi secara normal. Berikut adalah tabel hasil pengujian normalitas dengan menggunakan aplikasi SPSS for Windows version 16.

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 Tabel 4.3. Uji Normalitas Data Total N 281 Normal Parametersa Most Extreme Differences Mean 37.19 Std. Deviation 7.527 Absolute .056 Positive .056 Negative -.037 Kolmogorov-Smirnov Z .941 Asymp.Sig. (2-tailed) .338 Berdasarkan hasil di atas, maka didapatkan hasil nilai signifikansinya (p) adalah sebesar 0,338. Nilai signifikansi sebesar 0,338, ternyata lebih besar dari nilai 0,05 ( p > 0,05). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa data memiliki distribusi normal. 3. Deskripsi Data Penelitian Guna memudahkan proses analisis, data welas asih yang diperoleh dalam penelitian ini akan dibuat secara sistematis lewat: a. Analisis Deskriptif Lewat analisis deskriptif, maka akan diperoleh mean teoritik dan mean empirik. Mean teoritik merupakan rata-rata skor dari suatu alat ukur yang diperoleh dari angka yang menjadi nilai tengah alat ukur tersebut. Nilai rata-rata teoritik diperoleh dari rata-rata tengah skor

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 minimum dan maksimum. Sedangkan nilai mean empirik adalah ratarata skor dari hasil penelitian. Guna mencari nilai mean teoritik, maka penentuan skor minimum dan maksimum dari alat harus dilakukan. Jumlah butir pernyataan pada alat ukur adalah sejumlah 15, dengan rentang nilai jawaban bermula dari nilai 1 sampai dengan nilai 5. Skor minimum dari alat ukur adalah sebesar 15, yang berasal dari 15 item dikalikan skor 1, dan skor maksimum dari alat ukur adalah 75, yang berasal dari 15 item dikalikan dengan skor 5. Kemudian, rentangan skor pada skala adalah sebesar 60, yakni nilai skor maksimum dikurang skor minimum. Kemudian hasil rentangan skor dibagi ke dalam enam satuan standar deviasi, sehingga nilai standar deviasi dari alat ukur adalah sebesar 10. Adapun mean teoritik dari alat ukur dicari dengan menjumlahkan skor minimum dan maksimum, kemudian hasil penjumlahan dibagi dua, sehingga diperoleh mean teoritik sebesar 45.

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 Berikut adalah hasil analisis deskriptif dari keseluruhan data alat ukur: Tabel 4.4. Hasil Analisis Deskriptif Penelitian Parameter Statistik Nilai Teoritik Nilai Empirik N 281 281 Skor Minimum 15 15 Skor Maksimum 75 60 Range 60 45 Mean 45 37,19 SD 10 7,527 Berdasarkan tabel di atas, maka nilai empirik sebesar bernilai 37,19. Nilai ini lebih kecil jika dibandingkan dengan nilai mean teoritik, yakni sebesar 45. Hal ini menunjukan ada perbedaan di antara kedua nilai mean. Perbedaan yang terjadi menunjukan bahwa kecenderungan welas asih pada mahasiswa adalah rendah. b. Uji One Sample T-Test Guna menguji perbedaan di antara kedua kelompok mean, maka pengujian tambahan dilakukan, yakni dengan menggunakan uji One Sample T-Test. Menurut Santoso (2010), One Sample T-Test digunakan untuk menguji apakah suatu nilai yang dianggap sebagai pembanding

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 memiliki perbedaan dengan nilai dari suatu sampel. Pengujian ini akan menggunakan nilai rerata dari nilai hipotetik. Berikut adalah paparan mengenai hasil Uji One Sample T-Test pada data penelitian: Tabel 4.5. Uji Statistik One Sample T-Test Test Value = 45 95% Confidence Interval of the Difference selfcompassion T Df Sig. (2tailed) Mean Difference Lower Upper -17.397 280 .000 -7.811 -8.70 -6.93 Berdasarkan hal tersebut, yakni bahwa ada perbedaan di antara rata-rata dari mean hipotetik dan mean empirik. Di mana nilai mean empirik lebih kecil dibanding mean hipotetik yang ditunjukkan dengan nilai -7.811 pada bagian mean difference. Hal ini semakin menegaskan bahwa tingkat welas asih subjek adalah rendah. 4. Deskripsi Data Penelitian Tiap Angkatan Setelah keseluruhan, menggambarkan kecenderungan penelitian ini kecenderungan tiap-tiap angkatan. selnajutnya welas memeriksa asih secara deskripsi

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 a. Analisis Deskriptif Tiap Angkatan Penelitian ini diikuti subjek dengan rentang empat angkatan, yakni 2010 – 2011 – 2012 – 2013. Berikut adalah hasil analisis deskriptif subjek penelitian pada tahun angkatan yang berbeda: Tabel 4.6. Hasil Analisis Deskriptif Tiap Angkatan Tahun Angkatan Parameter Statistik 2010 2011 2012 2013 Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Hipotetik Empirik Hipotetik Empirik Hipotetik Empirik Hipotetik Empirik N 28 28 99 99 59 59 95 95 Skor Minimum 15 27 15 20 15 27 15 15 Skor Maksimum 75 51 75 60 75 53 75 56 Range 60 24 60 40 60 26 60 41 Mean 45 39,04 45 36,49 45 37,37 45 37,25 SD 10 6,362 10 7,179 10 6,845 10 8,540 Berdasarkan perhitungan di atas, maka mean empirik pada setiap angkatan cenderung lebih rendah daripada nilai mean hipotetik. Adapun perbedaan di antara kedua mean tersebut, bergerak dari rentang nilai 5.96 sampai dengan 8.51, di mana subjek angkatan 2011 memiliki perbedaan mean yang paling besar yakni 8.51.

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 b. Analisis Uji One Sample T-Test Tiap Angkatan Berikut adalah hasil uji One Sample T-Test untuk setiap subjek pada tahun angkatan yang berbeda. Tabel 4.7. Uji Statistik One Sample T-Test Tiap Angkatan Test Value = 45 95% Confidence Interval of the Difference T df Sig. (2tailed) Mean Difference Lower Upper 2010 -4.960 27 .000 -5.964 -8.43 -3.50 2011 -11.788 98 .000 -8.505 -9.94 -7.07 2012 -8.558 58 .000 -7.627 -9.41 -5.84 2013 -8.842 94 .000 -7.747 -9.49 -6.01 Berdasarkan hasil perhitungan One Sample T-Test pada setiap angkatan, maka diperoleh hasil untuk subjek dengan tiaptiap angkatan, memiliki perbedaan yang signifikan dengan nilai rerata hipotetiknya. Hal ini terlihat dari nilai probabilitas dari masing-masing kelompok di mana angkatan 2010 (p=0.000), 2011 (p=0.000), 2012 (p=0.000), dan 2013 (p=0.000) memiliki nilai signifikansi lebih kecil dibandingkan p=0,05. Oleh karena itu, dapat disimpulkan, terdapat perbedaan yang signifikan di antara kedua nilai rerata hipotetik dan empiriknya. Nilai minus pada

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 bagian mean difference menunjukkan bahwa level welas asih tiap angkatan cenderung rendah. 5. Deskripsi Data Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin dan Masa Perkembangan Menurut Santoso (2010), Independent Sampel T-Test digunakan untuk mengetahui perbedaan nilai rerata di antara dua buah sampel. Sebagaimana One Sample T-Test, dalam uji t untuk sampel bebas diperlukan dasar pengambilan keputusan untuk menguji signifikansinya. 1. Analisis Two Independent Sample T-Test untuk Jenis Kelamin Berikut adalah hasil dari analisis perbedaan mean antara subjek laki-laki dan perempuan. Tabel 4.8. Uji Statistik Two Independent Sample T-Test Jenis Kelamin JK P L N 213 68 Mean 37.70 35.57 SD Levene’s Test For Equality of Variances F Sig. .003 .955 t-test For Equality of Means t Sig (2tailed) 7.376 2.044 .042 7.818 Berdasarkan hasil di atas, maka nilai probabilitas adalah sebesar 0,955 dengan nilai F adalah sebesar 0,003. Nilai p 0,955 bernilai lebih besar daripada nilai signifikansi p 0,05. Hasil ini menunjukkan bahwa kedua kelompok memiliki varian yang sama. Sedangkan nilai 0.042

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan di antara kedua kelompok jenis kelamin. 2. Analisis Two Independent Sample T-Test untuk Masa Perkembangan Ditinjau dari masa perkembangan, subjek dalam penelitian ini terbagi ke dalam dua subjek. Pertama adalah mereka yang berusia 1417 tahun atau disebut remaja. Dan kedua adalah dewasa awal dengan usia antara 19-24 (ditambah satu subjek berusia 26 tahun yang kemudian dikategorikan ke dalam masa perkembangan ini). Berikut hasil dari analisis perbedaan mean antara kedua masa perkembangan: Tabel 4.9. Uji Statistik Two Independent Sample T-Test Masa Perkembangan MP N Mean SD DA 229 36.7555 7.01397 R 52 39.0962 9.30372 Levene’s Test For Equality of Variances F Sig. 12.271 .001 t-test For Equality of Means t -1.707 Sig (2tailed) .093 Berdasarkan hasil di atas, maka nilai probabilitas adalah sebesar 0,001 dengan nilai F adalah sebesar 12.271. Nilai p 0,001 bernilai lebih kecil daripada nilai signifikansi p 0,05. Hasil ini menunjukkan bahwa kedua kelompok memiliki varian yang berbeda. Sedangkan nilai 0.093

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan dalam welas asih antara kedua masa perkembangan. D. Pembahasan Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa mean empirik (37,19) subjek penelitian menunjukkan nilai yang lebih rendah dari mean hipotetik (45). Dari kedua nilai tersebut, diperoleh selisih mean sebesar 7,811. Dengan kata lain, hasil ini mengungkapkan bahwa welas asih pada mahasiswa Psikologi USD cenderung rendah. Dari tiga komponen utama, diperoleh data bahwa mean hipotetik dari tiap-tiap komponen self-kindness dan self-judgment, mindfulness dan overidentified, common humanity dan isolation, serta menghasilkan secara berurutan 18, 15, dan 12. Sedangkan mean empirik secara berurutan hasil penelitian menunjukkan kecenderungan welas asih yang rendah 14.76, 12.35, serta 10,08. Dengan demikian selisih masing-masing mean secara berurutan adalah 3.242, 2.648, serta 1.922. Ditinjau dari ketiga selisih tersebut, maka dalam penelitian ini komponen self-kindness dan self-judgement memiliki efek paling besar terhadap rendahnya welas asih pada mahasiswa Psikologi USD. Kemudian selisih antara mean hipotetik dengan mean empirik tiaptiap aspek juga diteliti. Dari keenam aspek, selisih mean terbesar dihasilkan pada item self-kindness (1.413) kemudian disusul oleh self-judgement (1.829). Hal tersebut memiliki arti bahwa subjek cenderung kurang

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 memahami serta memperlakukan diri secara tidak hangat dan tidak lembut terhadap dirinya sendiri ketika sedang dalam penderitaan, kegagalan, atau merasa tidak mampu. Hal ini, kemungkinan besar, juga berhubungan dengan penerimaan diri yang dipahami Ryff & Singer (1996) sebagai ciri utama dari kesehatan mental sebagaimana karakteristik aktualisasi diri, fungsi diri yang optimal, dan kematangan psikis. Berkaitan dengan penerimaan diri yang cenderung rendah menunjukkan bahwa individu kurang berbaik-hati terhadap diri sendiri. Dengan demikian kecenderungan self-kindness dan selfjudgement yang rendah menunjukkan kesukaran untuk bersikap-lembut terhadap diri sendiri dan berarti penerimaan diri yang tidak adekuat. Pommier (2010) menemukan bahwa bela rasa yang tinggi tidak serta merta menunjukkan bahwa welas asih juga tinggi, namun welas asih yang tinggi menunjukkan bahwa bela rasa juga tinggi. Berbasis dari tesis ini, level welas asih yang rendah dari subjek menunjukkan bahwa bela rasa subjek belum tentu memiliki level yang tinggi – bahkan ada kemungkinan level bela rasa justru rendah. Namun, untuk mengetahui secara pasti tingkat bela rasa, perlu juga penelitian yang mengkonduksi konstruk termaksud. Namun, ini menjadi data yang patut diperhatikan karena subjek berasal dari universitas yang pada dasarnya menawarkan bela rasa sebagai sebuah semangat dasar. Sebagaimana welas asih dan bela rasa yang terus berkembang selama rentang hidup, maka apabila dilihat dalam konteks yang lebih luas, sistem pendidikan akademis sendiri – maupun keluarga – juga bisa berpengaruh terhadap level tinggi-rendahnya welas asih. Yang ditekankan dalam sistem

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 pendidikan selama ini, sejak subjek mengikuti pendidikan dari sekolah dasar hingga universitas, adalah bahwa peserta didik menjadi spesial ketika mendapatkan penghargaan karena prestasinya. Atau jika tidak, dalam kehidupan sehari-hari individu akan merasa “ada” ketika individu tersebut merasa “lebih” terhadap orang lain – lebih lucu, lebih ramah, lebih dapat dipercaya. Efek jangka panjangnya adalah seorang individu akan cenderung mencerca dirinya sendiri apabila individu termaksud tidak menjadi “lebih”. Kritik secara kasar inilah yang kemudian berkaitan erat dengan kurangnya sifat lemah-lembut terhadap diri sendiri. Dalam hal ini, prinsip prestasi tersebut adalah efek dari self-esteem, di mana memiliki self-esteem yang tinggi butuh untuk merasa spesial dan di atas rata-rata (Neff, 2011). Berkaitan dengan hal tersebut, Neff (2009) menemukan bahwa welas asih merupakan prediktor kesehatan mental yang signifikan terhadap remaja dan dewasa awal. Semakin tinggi level welas asih, maka kecenderungan depresi dan kecemasan semakin menurun sehingga meningkatkan rasa keterhubungan sosial. Jika ditarik ke belakang, data mengenai latar belakang pola asuh dalam keluarga akan menjadi menarik. Keterikatan maternal dengan ibu akan mempengaruhi level welas asih individu. Bila individu mendapatkan dukungan maternal yang memadai, maka level welas asih akan cenderung tinggi, namun apabila seseorang sering mendapat kecaman maternal, maka yang terjadi adalah sebaliknya. Level welas asih juga secara signifikan dapat diprediksi lewat fungsi keluarga. Seorang remaja atau dewasa awal dari keluarga yang harmonis dan akrab, cenderung akan lebih

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 berwelas-asih. Sedangkan dari keluarga yang menekan dan penuh konflik cenderung kurang mendukung welas asih. Lebih lanjut, Neff (2009) menuliskan “Jika orang tua marah, bersikap dingin, atau mengecam anakanak, mereka mungkin menjadi lebih dingin dan mengecam dirinya sendiri. Jika orang tua hangat, peduli, dan mendukung, mungkin hal tersebut akan direfleksikan dalam dialog internal si anak.” Dalam penelitian ini, masa perkembangan subjek (yang berarti juga usia) mempengaruhi level welas asih. Dikatakan Neff (2009) bahwa ada kecenderungan untuk menjadi lebih welas asih pada usia yang semakin menua. Bahkan dalam penelitiannya tersebut, Neff menemukan bahwa tidak ada perbedaaan welas asih antara remaja dengan dewasa awal. Pun penelitian ini juga tidak menemukan perbedaan yang signifikan antara remaja (N=52, M=39.0962, SD=9.30372) dengan dewasa awal (N=229, M=36.7555, SD=7.01387). Ditinjau dari kedua nilai mean, maka subjek dalam masa perkembangan remaja dalam penelitian ini justru lebih berwelas-asih terhadap dirinya sendiri dibandingkan dengan subjek yang telah memasuki tahap perkembangan dewasa awal. Sesuai dengan apa yang dijabarkan Santrock (2011), remaja sedang berada pada tahap pencarian identitas. Pencarian identitas dalam ini melingkupi banyak aspek seperti: identitas karir, identitas politik, religius, hubungan, kultural, kepribadian, ketertarikan, dan fisik. Oleh karena adanya kehendak untuk menemukan identitas ini, singgungan dengan individu lain akan rentan membentuk konflik yang tidak menguntungkan. Tapi hal tersebut

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 justru berkebalikan dengan penelitian ini. Subjek dengan masa perkembangan dewasa awal justru memiliki level welas asih yang rendah, padahal yang diharapkan adalah justru lebih tinggi dibandingkan mereka yang remaja. Santrock (2009) juga menjelaskan bahwa menginjak usia 17-20 tahun konflik dalam diri seorang remaja mulai berkurang ‒ meskipun tetap berpotensi depresif. Graber & Sontag (dalam Santrock, 2009) menemukan bahwa tingkat gangguan depresi remaja sebesar 15-20 persen, artinya 15-20 persen akan cenderung mengalami depresi. Bahkan, lebih lanjut, tingkat depresi yang terjadi pada remaja perempuan akan cenderung lebih tinggi dibanding remaja laki-laki. Alasannya adalah karena tekanan akan citra-tubuh yang ideal bagi perempuan yang terus menumpuk dan karenanya kecenderungan untuk mengalami depresi meningkat. Dari logika ini, level welas asih subjek dewasa awal seharusnya lebih tinggi dibandingkan remaja. Jika mengikuti garis pemikiran dalam penelitian welas asih, yakni bahwa “semakin tua usia individu akan semakin tinggi level welas asih” dan bahwa “semakin tinggi welas asih maka semakin rendah tingkat depresi”, maka ada kecenderungan bahwa subjek dewasa awal mengalami apa yang disebut Erikson (dalam Santrock, 2009) sebagai krisis identitas. Ini berarti tugas perkembangan pada tahapan remaja, yakni pencarian identitas, tidak terselesaikan dengan baik. Ketidakterselesaikannya tugas tersebut menyebabkan subjek masih meraba-raba identitasnya yang belum begitu mantap.

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 Padahal dalam tahap dewasa awal, dalam relasi sosial, individu mulai untuk membangun intimitas dengan individu lain, khususnya yang berbeda jenis kelamin. Neff & Beretvas (2012) menemukan bahwa welas asih berkorelasi secara positif terhadap kesejahteraan psikologi yang dalam hal ini berupa keberartian diri, menjadi bahagia, dan mampu mengekpresikan pendapat dalam hubungan romantik. Mereka yang memiliki level welas asih tinggi memiliki rasa peduli, keterhubungan, dan resiliensi diri yang cenderung adekuat. Perlu diperhitungkan bahwa level welas asih yang rendah pada masa dewasa awal berpotensi untuk menjadi hambatan dalam menjalin relasi yang sarat akan intimitas. Apabila dalam kedua masa perkembangan tidak terdapat perbedaan yang signifikan, maka lain lagi dalam kategori jenis kelamin. Kemungkinan, tiadanya perbedaan ini akibat rentang usia yang begitu dekat sehingga perbedaan cenderung tidak signifikan. Dalam kategori jenis kelamin, ditemukan adanya perbedaan antara subjek perempuan (N=213; M=37.7042; SD=7.38) dengan laki-laki (N=68; M=35.5735; SD=7.82). Artinya, tingkat welas asih pada subjek perempuan cenderung lebih tinggi dibandingkan subjek laki-laki. Temuan bahwa subjek perempuan cenderung lebih welas ini cukup menarik untuk dicermati. The Art of Loving (1963), karya klasik Erich Fromm yang menjelaskan mengenai bentuk cinta dalam karakter matriarkal dan patriarkal, mendapatkan tempat tersendiri ‒ khususnya dalam bentuk cinta matriarkal yang cenderung tanpa syarat atau cinta keibuan (motherly

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 love). Karakter cinta keibuan yang lembut, mencintai tanpa syarat, juga memaafkan, cenderung dipelajari sejak kecil dan dilekatkan dalam konstruksi perempuan yang ideal. Jika dicermati lebih jauh, karakter ini berhubungan dengan pola asuh keluarga, terkhusus ibu, yang sifatnya cenderung lebih demokratis. Pola asuh demokratis ini, cenderung membentuk seseorang lebih menerima dirinya dibanding anak yang diasuh dalam pola asuh otoriter (demikian juga pada sistem agama maupun pemerintahan yang otoriter) maupun permisif. Oleh karena itu, sosok ideal perempuan yang lembut, memaafkan, dan mencintai tanpa syarat mempengaruhi tingkat welas asih perempuan dibandingkan dengan laki-laki yang memiliki karakter menguasai dan kompetisi. Sistem yang “mengabaikan” juga menjadi penghambat seorang mahasiswa untuk mengembangkan welas asih. Sebagaimana dicermati dalam update status di halaman Facebook 20 mahasiswa Psikologi USD, mahasiswa termaksud melakukan kritik sosial terhadap tindak kriminalitas baru-baru ini yang mengatasnamakan agama (kasus Aminuddin Azis dan Yulius Galang Press). Namun, “seakan-akan” suara yang ingin didengar ini berakhir pada tulinya telinga penegak hukum. Dari simpul kecil pengalaman ini, sebenarnya mahasiswa sebagai individu belajar bahwa suara-suara yang mereka lantunkan hanya diabaikan semata. Bila hal ini terus berlangsung, mudah ditebak bahwa suatu hari bibit-bibit cendekiawan kritis ini hanya akan berakhir dalam keputus-asaan untuk melakukan perubahan, dalam konteks ini adalah keadilan dan hak asasi manusia. Dengan mandeknya suara yang

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 mendamba perubahan ini, maka mungkin saja peran mereka sebagai rakyat yang melek hukum menjadi tidak berarti apapun. Ketidakberartian ini berpotensi menghasilkan manusia-manusia dengan welas asih yang rendah – dirinya sendiri-pun dianggap tidak berarti. Guna kembali mengingatkan di awal pembahasan ini, temuan berupa tingkat welas asih yang rendah pada mahasiwa Psikologi USD perlu diperhatikan dengan seksama. Bela rasa yang masuk dalam emosi menjadi bagian yang berada dalam lingkup kecerdasan emosional. Pun dengan welas asih yang ditandai dengan rasa peduli terhadap diri sendiri. Heffernan, Griffin, McNulty, & Fitzpatrick (2010) menyatakan bahwa seorang perawat sebaiknya memiliki kemampuan untuk berwelas-asih terhadap diri sendiri, karena apabila tidak mampu untuk berwelas-asih terhadap diri sendiri, maka akan mengalami kesukaran untuk berwelas-asih terhadap orang lain. Ketika perawat mampu untuk memperlakukan pasien dengan penuh hormat, penghargaan, dan mendengarkannya dengan seksama, pasien cenderung merasa lebih puas. Dalam penelitian tersebut, Heffernan dkk. (2010) menemukan bahwa ada korelasi yang positif antara welas asih dengan kecerdasan emosional. Sebagaimana perawat, mahasiswa Psikologi yang diharapkan menjadi seorang professional helper juga diharapkan berkemampuan untuk welas-asih, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain.

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang dilakukan, maka diperoleh kesimpulan bahwa tingkat welas asih pada subjek penelitian cenderung rendah. Hal ini disebabkan perbedaan mean hipotetik (µ = 45) dengan mean empirik (µ= 37.19), di mana mean empirik lebih kecil nilainya dibandingkan dengan mean hipotetik. Kesimpulan ini juga diperoleh berdasarkan hasil perhitungan welas asih pada tiap tahun angkatan, dengan hasil yang menunjukkan nilai mean empirik pada setiap angkatan lebih rendah daripada nilai hipotetiknya. Selain itu, perhitungan nilai empirik tiap-tiap aspek juga lebih rendah dibandingkan nilai hipotetiknya. B. Saran Berdasarkan hasil penelitian mengenai welas asih pada mahasiswa Psikologi USD, ada tiga saran yang dapat diberikan: 1. Bagi Mahasiswa Guna mempersiapkan di bidang masing-masing, yang tentu mayoritas berkaitan dengan problema inter-personal maupun intrapersonal, mahasiswa psikologi perlu untuk terus melatih welas asih. Proses latihan ini sebenarnya telah ditawarkan oleh universitas lewat uraiannya tentang Paradigma Pedagogi Ignasian, seperti membuat refleksi atas 53

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 proses keseharian. Selain itu baik juga untuk mengambil waktu hening untuk meningkatkan kewaskitaan, seperti bermeditasi. Selain itu, pembiasaan diri untuk mencatat mimpi atau peristiwa harian berpotensi meningkatkan pemahaman terhadap keadaan diri sendiri. 2. Bagi Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat welas asih mahasiswa rendah. Berkaitan dnegan hal tersebut, untuk mempersiapkan cendekiawan atau praktisi yang ahli di bidang psikologi, fakultas perlu untuk memberikan dan menciptakan suasana kelas maupun sistem pembelajaran yang berpotensi melatih welas asih. Misalnya saja refleksi diberikan di tiap akhir masa kuliah oleh masing-masing dosen atau di kepanitiaan refleksi menjadi sebuah agenda wajib. Selain itu, tugas-tugas mata kulaih juga baik untuk menyesuaikan, misalnya saja jurnal mimpi yang berpotensi untuk semakin memahami diri atau praktik mengenai psikologi transpersonal lewat meditasi. 3. Bagi Peneliti Selanjutnya Menarik untuk memperhatikan faktor latar belakang keluarga dalam penelitian welas asih di Indonesia. Wawancara kualitatif mengenai hubungan individu dengan keluarga pada awal perkembangan akan mampu mengungkap historisitas welas asih pada subjek. Selain itu, penelitian mengenai welas asih mengenai rentang umur juga baik untuk

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 mengungkap konsep ini lebih tuntas. Pertimbangannya adalah temuan dari penelitian ini yang justru terbalik dengan temuan Neff bahwa semakin tua seseorang, maka kecenderungan welas asih-nya akan semakin meningkat. Selain itu, penelitian longitudinal kualitatif mengenai welas asih juga perlu dilakukan. Meskipun terkesan gigantis, namun akan menarik untuk memahami perkembangan welas asih di tiap-tiap masa perkembangan. Berkaitan dengan metode pengambilan yang memanfaatkan kuesioner, ada perkembangan mutakhir untuk membantu mengumpulkan data. Misalnya Neff & Pommier (2013) yang menggunakan situs Survey Monkey. Penggunaan media berupa internet akan semakin mempermudah pengumpulan data dalam jumlah yang besar.

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Adi, K., Dwiatmoko, A., Istono, M., Nugraha, S.T. & Maryarsanta, E. (2010). Model pendidikan karakter di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Allport, G.W. (1961). Pattern and growth in personality. New York: Holt, Rinehart & Winston. Breines, J. (2013, October 13). The art of constructive self-criticism. Psychology Today. Dipungut 9 Desember, 2013, dari http://www.psychologytoday.com/blog/in-love-and-war/201310/the-artconstructive-self-criticism Birnie, K., Speca, M., & Carlson, L.E. (2010). Exploring self-compassion and empathy in the context of Mindfulness-based Stress Reduction (MBSR). Stress and Health, 26(5), 359-371. Clark-Carter, D. (2010). Quantitative psychological research: The complete student’s companion (eds. ke-3). New York: Psychology Press. Elkind, D. (1967). Egocentrism in adolescence. Child Development, 38, 1025– 1034. Fromm, E. (1963). The art of loving. New York: Harper & Row, Inc. Germer, C.K. & Neff, K.D. (2013). Self-Compassion in clinical practice. Journal Of Clinical Psychology: In Session, 69(8), 1-12. Greenberg, M.A. (2013, 1 October). Why self-compassion helps you meet life's challenges. Psychology Today. Dipungut 9 Desember, 2013, dari http://www.psychologytoday.com/blog/the-mindful-selfexpress/201310/why-self-compassion-helps-you-meet-lifes-challenges Heffernan, M., Griffin, M.T.Q., McNulty, S.R., & Fitzpatrick, J.J. (2010). Selfcompassion and emotional intellegence in nurses. Internastional Journal of Nursing Practice, 16, 366-373. Jopling, D. A. (2000). Self-knowledge and the self. New York: Routledge. Kerlinger, F.N. (2006). Asas-asas penelitian behavioral (ed.ke.3) (Landung Simatupang, Terj.). Gadjah Mada University Press: Yogyakarta. 56

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Korthagen, F.A.J., & Vasalos, A. (2009, August). From reflection to presence and mindfulness: 30 years of developments concerning the concept of reflection in teacher education. Makalah disajikan dalam EARLI Conference, Amsterdam, Maslow, A.H. (1954). Motivation and personality. New York : Harper Row Publ. Inc. Neff, K. D. (2003a). Development and validation of a scale to measure selfcompassion. Self and Identity, 2, 223–250. Neff, K. D. (2003b). Self-compassion: An alternative conceptualization of a healthy attitude toward oneself. Self and Identity, 2, 85–102. Neff, K. D., Kirkpatrick, K., & Rude, S.S. (2007). Self-compassion and adaptive psychological functioning. Journal of Research in Personality, 41, 908916. Neff, K.D., Pisitsungkagarm, K., & Hseih, Y. (2008). Self-compassion and selfconstrual in the United States, Thailand, and Taiwan. Journal of CrossCultural Psychology, 39(3), 267-285. Neff, K.D. & McGehee, P. (2009). Self-compassion and psychological resilience among adolescents and young adults. Self and Identity, 9, 225–240. Neff, K. D. (2011). Self-compassion, self-esteem, and well-being. Social and Personality Psychology Compass, 5/1, 1–12. Neff, K.D. & Beretvas, S.N. (2012). The role of self-compassion in romantic relationship. Self and Identity, 9, 225–240. Neff, K.D. & Pommier, E.A. (2013). The relationship about self-compassion and other-focused concern among college undergraduates, community adults, and practicing meditators. Self and Identity, 1-21. Partino, H.R. dan Idrus, H.M. (2009). Statistik deskriptif. Yogyakarta: Safiria Insania Press. Pommier, E.A. (2010). The compassion scale. Disertasi doktor yang tidak diterbitkan, University of Texas, Austin. Reznitskaya, A., & Sternberg, R.J. (2004). Teaching students to make wise judgements: The “Teaching for Wisdom” program. Dalam P.A. Linley & S. Joseph (Ed.), Positive psychology in practice (hlm. 181-196). New Jersey: John Wiley & Sons, Inc. 57

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Santoso, A. (2010). Statistik untuk psikologi dari blog menjadi buku. Penerbit Universitas Sanata Dharma: Yogyakarta. Santrock, J.W. (2010). Life-span development (ed. ke-13). New York: McGrawHill. Self-Compassion, Org. (2009). The three elements of self-compassion. Dipungut 9 Desember, 2013, dari http://www.self-compassion.org/what-is-selfcompassion/the-three-elements-of-self-compassion.html Self-Compassion, Org. (2010). Self-compassion Part 1 Kristin Neff [Film]. Dipungut 9 Desember 2013 dari http://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=Tyl6YXp1 Y6M Snyder, C.R., Lopez, S.J., & Pedrotti, J.T. (2011). Positive psychology: The scientific and practical explorations of human strengths. California: SAGE Publications, Inc. Subagyo, P. (2003). Statistik deskriptif. Yogyakarta: BP FE UGM. Terry, M.L. & Leary, M.R. (2011). Self-compasion, self-regulation, and health. Self and Identity, 10(3), 352-362. Terry, M. L., Leary, M. R., Mehta, S. & Henderson, K. (2013). Self-compassion as a buffer against homesickness, depression, and dissatisfaction in the transition to college. Personality and Social Psychology Bulletin, 39, 911926. Zamharin, O. (2012). Studi kuantitatif deskriptif persepsi mahasiswa mengenai nilai-nilai Universitas Sanata Dharma. Skripsi sarjana yang tidak diterbitkan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. 58

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN SELF-COMPASSION SCALE 61

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Self-Compassion Scale HOW I TYPICALLY ACT TOWARDS MYSELF IN DIFFICULT TIMES Please read each statement carefully before answering. To the left of each item, indicate how often you behave in the stated manner, using the following scale: Almost never 1 2 3 4 Almost always 5 ___1. I’m disapproving and judgmental about my own flaws and inadequacies. ___2. When I’m feeling down I tend to obsess and fixate on everything that’s wrong. ___3. When things are going badly for me, I see the difficulties as part of life that everyone goes through. ___4. When I think about my inadequacies, it tends to make me feel more separate and cut off from the rest of the world. ___5. I try to be loving towards myself when I’m feeling emotional pain. ___6. When I fail at something important to me I become consumed by feelings of inadequacy. ___7. When I'm down and out, I remind myself that there are lots of other people in the world feeling like I am. ___8. When times are really difficult, I tend to be tough on myself. ___9. When something upsets me I try to keep my emotions in balance. ___10. When I feel inadequate in some way, I try to remind myself that feelings of inadequacy are shared by most people. ___11. I’m intolerant and impatient towards those aspects of my personality I don't like. ___12. When I’m going through a very hard time, I give myself the caring and tenderness I need. ___13. When I’m feeling down, I tend to feel like most other people are probably happier than I am. ___14. When something painful happens I try to take a balanced view of the situation. ___15. I try to see my failings as part of the human condition. ___16. When I see aspects of myself that I don’t like, I get down on myself. ___17. When I fail at something important to me I try to keep things in perspective. 62

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ___18. When I’m really struggling, I tend to feel like other people must be having an easier time of it. ___19. I’m kind to myself when I’m experiencing suffering. ___20. When something upsets me I get carried away with my feelings. ___21. I can be a bit cold-hearted towards myself when I'm experiencing suffering. ___22. When I'm feeling down I try to approach my feelings with curiosity and openness. ___23. I’m tolerant of my own flaws and inadequacies. ___24. When something painful happens I tend to blow the incident out of proportion. ___25. When I fail at something that's important to me, I tend to feel alone in my failure. ___26. I try to be understanding and patient towards those aspects of my personality I don't like. 63

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN SKALA WELAS ASIH 64

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Salam Sejahtera, Saya adalah seorang mahasiswa tingkat akhir di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. Pada saat ini, saya sedang melakukan suatu penelitian sebagai tugas akhir untuk meraih gelar sarjana psikologi. Sehubungan dengan hal tersebut, maka saya mengharap kesediaan teman-teman mahasiswa untuk berpartisipasi dalam penelitian yang saya lakukan dengan mengisi angket ini. Sebelum mengisi angket ini, teman-teman diharapkan mengisi data diri masingmasing pada tempat yang sudah disediakan. Data yang teman-teman tulis dalam angket ini akan digabung dengan data mahasiswa lainnya sehingga akan menjadi data kelompok. Penyampaian data secara kelompok dimaksudkan untuk menjamin kerahasiaan dari data yang teman-teman berikan. Angket ini berisi tentang welas asih. Tidak ada jawaban salah dalam angket ini dan hasilnya juga tidak akan mempengaruhi prestasi akademis maupun relasi interpersonal yang teman-teman bangun. Oleh karena itu, dimohon untuk menjawab pernyataan-pernyataan ini dengan sebenar-benarnya. Atas bantuan dan partisipasi teman-teman, saya ucapkan terima kasih. St. Tino Adika 079114039 Inisial : _________________ Usia : ___________ Tahun Jenis Kelamin* : Laki-laki / Perempuan Angkatan : _________________ * Pilih salah satu jawaban dengan mencoret pilihan yang tidak benar! ~ Skala ada pada halaman sebaliknya ~ 65

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Skala Welas Asih BAGAIMANA BIASANYA KITA BERSIKAP TERHADAP DIRI SENDIRI DALAM SITUASI YANG SULIT Bacalah pernyataan berikut secara seksama sebelum menjawab. Dari sebelah kiri masing-masing aitem menunjukkan seberapa sering Anda bertindak atas perilaku Hampir Tidak Pernah 1 Hampir Selalu 2 3 4 5 yang disebutkan, dengan skala berikut: Berilah tanda silang (x) pada jawaban yang menurut Anda paling sesuai! No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. Aitem Saya mencela dan menghakimi segala kekurangan dan ketidakmampuan saya. Saya cenderung terobsesi dan terpaku pada segala hal yang salah ketika saya terpuruk. Ketika segala sesuatu berjalan buruk bagi diri saya, saya melihat bahwa itu adalah bagian kehidupan yang dilalui setiap orang. Ketika saya berpikir mengenai ketidakmampuan saya, hal tersebut membuat saya semakin terpisah dan terputus dari seluruh dunia. Saya mencoba untuk mencintai diri sendiri ketika saya merasa terluka. Ketika saya gagal pada hal yang penting bagi saya, saya menjadi terlarut dalam perasaan ketidakmampuan saya. Ketika saya terpuruk dan tidak diterima, saya mengingatkan diri sendiri bahwa banyak orang di dunia ini yang merasakan hal serupa. Ketika situasi sangat sulit, saya cenderung keras pada diri sendiri. Ketika suatu hal mengacaukan saya, saya mencoba menjaga emosi saya tetap seimbang. Ketika saya merasa tidak mampu atas suatu hal, saya mencoba mengingatkan diri saya bahwa perasaan ketidakmampuan juga dirasakan banyak orang. Saya tidak mentolerir dan tidak sabar terhadap aspek kepribadian saya yang tidak saya sukai. Ketika saya melewati masa yang berat, saya memberikan perhatian dan kelembutan terhadap diri saya sendiri. Ketika saya terpuruk, saya cenderung merasa seakan-akan banyak orang yang mungkin lebih bahagia daripada saya. Ketika sesuatu yang menyakitkan terjadi, saya mencoba untuk melihat situasi secara seimbang. Saya mencoba untuk melihat kegagalan saya sebagai bagian dari 66 1 2 3 4 5

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI keadaan manusia pada umumnya. 16. 17. 18. 19. 20 21. 22. 23. 24. 25. 26. Ketika saya melihat aspek-aspek yang tidak saya sukai dalam diri saya sendiri, saya menjadi terpuruk. Ketika saya gagal pada sesuatu yang penting bagi saya, saya mencoba untuk menempatkan sesuai konteksnya. Ketika saya sungguh-sungguh berjuang, saya cenderung merasa seakan-akan orang lain pasti lebih mudah di saat tersebut. Saya berbaik hati pada diri sendiri ketika saya mengalami penderitaan. Ketika sesuatu mengacaukan saya, saya terus menerus terbawa oleh perasaan saya. Saya dapat menjadi acuh pada diri sendiri ketika saya mengalami penderitaan. Ketika saya terpuruk, saya mencoba mendekati perasaan saya dengan rasa ingin tahu dan bersikap terbuka. Saya mentolelir kekurangan dan ketidakmampuan saya. Ketika sesuatu yang menyakitkan terjadi, saya cenderung membesar-besarkan kejadian tersebut. Ketika saya gagal pada suatu hal yang penting, saya cenderung merasa sendiri dalam kegagalan tersebut. Saya mencoba memahami dan sabar terhadap aspek-aspek kepribadian saya yang tidak saya sukai. ~ Terima Kasih ~ 67

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN HASIL UJI COBA 68

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1. Jumlah Subjek Uji Coba Case Processing Summary N Cases Valid % 281 100.0 0 .0 281 100.0 a Excluded Total a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. 2. Reliabilitas Uji Coba Reliability Statistics Cronbach's Alpha Based on Standardized Items Cronbach's Alpha .464 .411 N of Items 26 3. Korelasi Item Total Uji Coba Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted VAR00001 VAR00002 VAR00003 VAR00004 VAR00005 VAR00006 VAR00007 VAR00008 VAR00009 VAR00010 VAR00011 VAR00012 VAR00013 VAR00014 VAR00015 VAR00016 VAR00017 VAR00018 68.4840 68.7046 69.9039 70.0391 70.0071 69.3737 69.6762 69.1779 68.3167 69.7153 69.8327 69.6548 69.2918 69.9039 68.3915 69.8007 68.6050 69.0890 Scale Variance if Corrected Item- Squared Multiple Item Deleted Total Correlation Correlation 45.086 44.773 37.344 34.795 37.043 34.806 36.991 36.368 44.724 36.147 36.375 36.348 36.422 36.344 44.768 33.746 43.476 43.031 69 -.460 -.427 .191 .382 .197 .350 .215 .220 -.441 .314 .279 .290 .245 .317 -.469 .510 -.380 -.293 .430 .384 .352 .367 .210 .459 .309 .216 .391 .367 .231 .341 .366 .397 .435 .518 .346 .277 Cronbach's Alpha if Item Deleted .547 .544 .443 .404 .441 .408 .438 .435 .542 .422 .427 .426 .431 .423 .539 .381 .522 .525

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI VAR00019 VAR00020 VAR00021 VAR00022 VAR00023 VAR00024 VAR00025 VAR00026 69.5196 69.4698 69.7082 69.8648 69.7509 69.8897 69.5587 68.5409 35.643 33.400 35.979 36.825 35.109 34.306 34.133 43.935 70 .336 .494 .295 .289 .380 .459 .419 -.417 .354 .457 .263 .395 .471 .429 .441 .438 .416 .379 .423 .429 .407 .392 .394 .528

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN HASIL UJI-COBA TERPAKAI 71

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1. Reliabilitas Reliability Statistics Cronbach's Alpha Based on Standardized Items Cronbach's Alpha .821 2. .821 N of Items 15 Korelasi Item Total Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted VAR00004 VAR00006 VAR00010 VAR00011 VAR00012 VAR00013 VAR00014 VAR00016 VAR00019 VAR00020 VAR00021 VAR00022 VAR00023 VAR00024 VAR00025 35.0569 34.3915 34.7331 34.8505 34.6726 34.3096 34.9217 34.8185 34.5374 34.4875 34.7260 34.8826 34.7687 34.9075 34.5765 Scale Variance if Corrected ItemItem Deleted Total Correlation 48.968 48.432 52.175 51.135 51.871 50.286 50.780 47.578 51.157 47.822 51.314 51.690 49.778 48.513 48.231 72 .484 .488 .292 .364 .313 .394 .435 .629 .349 .555 .327 .381 .450 .555 .515 Cronbach's Alpha if Item Deleted .807 .807 .820 .815 .819 .814 .811 .798 .817 .802 .818 .814 .810 .803 .805

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN TOTAL SKOR DAN HISTOGRAM 73

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Total Skor Statistics SELFCOMPASSION N Valid Missing Mean Std. Error of Mean Median Mode Std. Deviation Variance 281 0 37.19 .449 37.00 35 7.527 56.654 Skewness .098 Std. Error of Skewness .145 Kurtosis .021 Std. Error of Kurtosis .290 Range 45 Minimum 15 Maximum 60 Sum 10450 74

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Histogram 75

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN DATA DESKRITIF JENIS KELAMIN DAN TAHUN ANGKATAN 76

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Deskripsi Data Berdasarkan Jenis Kelamin Descriptive Statistics N Perempuan Lakilaki Range Minimum Maximum Sum Mean Std. Deviation Variance 213 40 20 60 8031 37.70 7.376 54.407 68 38 15 53 2419 35.57 7.818 61.114 Deskripsi Data Berdasarkan Angkatan Descriptive Statistics N Range Minimum Maximum Sum Mean Std. Deviation Variance a2013 95 41 15 56 3539 37.25 8.540 72.935 a2012 59 26 27 53 2205 37.37 6.845 46.859 a2011 99 40 20 60 3613 36.49 7.179 51.538 a2010 28 24 27 51 1093 39.04 6.362 40.480 Deskripsi Data Berdasarkan Umur Descriptive Statistics N Range Minimum Maximum Sum Mean Std. Deviation Variance umur17 4 28 25 53 160 40.00 12.490 156.000 umur18 48 41 15 56 1873 39.02 9.159 83.893 umur19 72 31 20 51 2582 35.86 6.330 40.065 umur20 69 36 17 53 2520 36.52 7.407 54.871 umur21 66 40 20 60 2499 37.86 7.097 50.366 umur22 19 28 21 49 694 36.53 7.618 58.041 umur23 3 15 35 50 122 40.67 8.145 66.333 Valid N (listwise) 3 77

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN UJI NORMALITAS DATA 78

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test totalscore N Normal Parameters 281 a Most Extreme Differences Mean 37.19 Std. Deviation 7.527 Absolute .056 Positive .056 Negative -.037 Kolmogorov-Smirnov Z .941 Asymp. Sig. (2-tailed) .338 a. Test distribution is Normal. 79

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN UJI ONE SAMPLE T-TEST KESELURUHAN DATA 80

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Uji One Sample T-Test Keseluruhan Data One-Sample Statistics N totalscore Mean 281 37.19 Std. Deviation Std. Error Mean 7.527 .449 One-Sample Test Test Value = 45 95% Confidence Interval of the Difference t totalscore -17.397 df Sig. (2-tailed) 280 .000 81 Mean Difference -7.811 Lower Upper -8.70 -6.93

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN UJI ONE SAMPLE T-TEST TAHUN ANGKATAN, KOMPONEN, DAN ASPEK 82

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Uji One Sample T-Test Tahun Angkatan Angkatan 2013 One-Sample Statistics N a2013 Mean 95 Std. Deviation 37.25 Std. Error Mean 8.540 .876 One-Sample Test Test Value = 45 95% Confidence Interval of the Difference t a2013 df -8.842 Sig. (2-tailed) 94 Mean Difference .000 Lower -7.747 Upper -9.49 -6.01 Angkatan 2012 One-Sample Statistics N a2012 Mean 59 Std. Deviation 37.37 Std. Error Mean 6.845 .891 One-Sample Test Test Value = 45 95% Confidence Interval of the Difference t a2012 -8.558 df Sig. (2-tailed) 58 .000 83 Mean Difference -7.627 Lower Upper -9.41 -5.84

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Angkatan 2011 One-Sample Statistics N a2011 Mean 99 Std. Deviation 36.49 Std. Error Mean 7.179 .722 One-Sample Test Test Value = 45 95% Confidence Interval of the Difference t a2011 df -11.788 Sig. (2-tailed) 98 Mean Difference .000 Lower -8.505 Upper -9.94 -7.07 Angkatan 2010 One-Sample Statistics N a2010 Mean 28 Std. Deviation 39.04 Std. Error Mean 6.362 1.202 One-Sample Test Test Value = 45 95% Confidence Interval of the Difference t a2010 -4.960 df Sig. (2-tailed) 27 .000 84 Mean Difference -5.964 Lower Upper -8.43 -3.50

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Uji One Sample T-Test Tiap Komponen Self-Kindness vs Self-Judgment One-Sample Statistics N Komp1 Mean 281 Std. Deviation 14.76 Std. Error Mean 3.296 .197 One-Sample Test Test Value = 18 95% Confidence Interval of the Difference t Komp1 df -16.489 Sig. (2-tailed) 280 Mean Difference .000 Lower -3.242 Upper -3.63 -2.85 Common Humanity vs Isolation One-Sample Statistics N Komp2 Mean 281 10.08 Std. Deviation Std. Error Mean 2.464 .147 One-Sample Test Test Value = 12 95% Confidence Interval of the Difference t Komp2 -13.073 df Sig. (2-tailed) 280 .000 85 Mean Difference -1.922 Lower Upper -2.21 -1.63

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Mindfullness vs Over-identified One-Sample Statistics N Komp3 Mean 281 12.35 Std. Deviation Std. Error Mean 3.090 .184 One-Sample Test Test Value = 15 95% Confidence Interval of the Difference t Komp3 -14.362 df Sig. (2-tailed) 280 .000 86 Mean Difference -2.648 Lower Upper -3.01 -2.28

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Uji One Sample T-Test Tiap Aspek Self-Kindness One-Sample Statistics N selfkindness Mean 281 Std. Deviation 7.59 Std. Error Mean 2.123 .127 One-Sample Test Test Value = 9 95% Confidence Interval of the Difference t selfkindness df -11.155 Sig. (2-tailed) 280 Mean Difference .000 Lower -1.413 Upper -1.66 -1.16 Self-Judgment One-Sample Statistics N selfjudgment Mean 281 Std. Deviation 7.17 Std. Error Mean 1.989 .119 One-Sample Test Test Value = 9 95% Confidence Interval of the Difference t selfjudgment -15.416 df Sig. (2-tailed) 280 .000 87 Mean Difference -1.829 Lower Upper -2.06 -1.60

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Common Humanity One-Sample Statistics N commonhumanity Mean 281 Std. Deviation 2.46 Std. Error Mean .878 .052 One-Sample Test Test Value = 3 95% Confidence Interval of the Difference t commonhumanity df -10.399 Sig. (2-tailed) 280 Mean Difference .000 Lower -.544 Upper -.65 -.44 Isolation One-Sample Statistics N isolation Mean 281 7.62 Std. Deviation Std. Error Mean 2.141 .128 One-Sample Test Test Value = 9 95% Confidence Interval of the Difference t isolation -10.781 df Sig. (2-tailed) 280 .000 88 Mean Difference -1.377 Lower Upper -1.63 -1.13

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Mindfullness One-Sample Statistics N mindfullness Mean 281 Std. Deviation 4.57 Std. Error Mean 1.327 .079 One-Sample Test Test Value = 6 95% Confidence Interval of the Difference t mindfullness df -18.032 Sig. (2-tailed) 280 Mean Difference .000 Lower -1.427 Upper -1.58 -1.27 Over-identified One-Sample Statistics N overidentified Mean 281 Std. Deviation 7.78 Std. Error Mean 2.374 .142 One-Sample Test Test Value = 9 95% Confidence Interval of the Difference t overidentified -8.618 df Sig. (2-tailed) 280 .000 89 Mean Difference -1.221 Lower Upper -1.50 -.94

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN UJI TWO INDEPENDENT SAMPLE T-TEST JENIS KELAMIN 90

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Uji Two Independent Sample T-Test Jenis Kelamin Group Statistics N JK Mean Perempuan Laki-laki Std. Deviation Std. Error Mean 213 37.7042 7.37614 .50540 68 35.5735 7.81754 .94802 Independent Samples Test Levene's Test for Equality of Variances t-test for Equality of Means 95% Confidence Interval of F JK Equal variances assumed Equal variances not assumed Sig. .003 t .955 2.044 df Sig. (2- Mean Std. Error tailed) Difference Difference the Difference Lower Upper 279 .042 2.13070 1.04249 .07855 4.18284 1.983 107.746 .050 2.13070 1.07432 .00115 4.26025 91

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN UJI TWO INDEPENDENT SAMPLE T-TEST MASA PERKEMBANGAN 92

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Uji Two Independent Sample T-Test Masa Perkembangan Group Statistics N MP Mean Std. Deviation Std. Error Mean 1 229 36.7555 7.01387 .46349 2 52 39.0962 9.30372 1.29019 Independent Samples Test Levene's Test for Equality of Variances t-test for Equality of Means 95% Confidence Interval of the F MP Equal variances assumed Equal variances not assumed 12.271 Sig. t .001 df Sig. (2-tailed) Mean Std. Error Difference Difference Difference Lower Upper -2.036 279 .043 -2.34070 1.14980 -4.60408 -.07731 -1.707 64.772 .093 -2.34070 1.37092 -5.07880 .39740 93

(108)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM MEMILIH PROGRAM STUDI PSIKOLOGI PADA MAHASISWA FAKULTAS PSIKOLOGI 2012 UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
0
6
18
NILAI KONSUMSI PADA MAHASISWA PSIKOLOGI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
0
2
279
STUDI DESKRIPTIF RELIGIUSITAS MAHASISWA SEMESTER AKHIR JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG.
0
2
1
STUDI DESKRIPTIF MENGENAI POLA STRES PADA MAHASISWA PRAKTIKUM
0
0
10
DUA TAHUN PENELITIAN AKUNTANSI DI UNIVERSITAS AIRLANGGA: SEBUAH DESKRIPTIF Repository - UNAIR REPOSITORY
0
0
17
ANGGIT WELAS ASIH BAB I
0
0
8
ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA PADA SKRIPSI MAHASISWA FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS WIDYA DHARMA KLATEN - UNWIDHA Repository
0
0
30
STUDI KUANTITATIF DESKRIPTIF DUKUNGAN SOSIAL PASANGAN PADA IBU YANG MEMILIKI ANAK AUTISME SKRIPSI
0
0
17
STUDI DESKRIPTIF NILAI PROFESIONAL KEPERAWATAN PADA MAHASISWA PROGRAM STUDI PROFESI NERS FIKKES UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG - Repository Universitas Muhammadiyah Semarang
0
0
14
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - STUDI DESKRIPTIF NILAI PROFESIONAL KEPERAWATAN PADA MAHASISWA PROGRAM STUDI PROFESI NERS FIKKES UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG - Repository Universitas Muhammadiyah Semarang
0
0
10
STUDI DESKRIPTIF NILAI PROFESIONAL KEPERAWATAN PADA MAHASISWA PROFESI NERS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG - Repository Universitas Muhammadiyah Semarang
0
0
14
PENGARUH PELATIHAN ”MEMBANGUN KARAKTERISTIK KEWIRAUSAHAAN” PADA MAHASISWA PSIKOLOGI UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA SEMARANG - Unika Repository
0
0
14
STUDI DESKRIPTIF: SELF CONTROL PADA MAHASISWA UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA - Unika Repository
0
0
15
STUDI DESKRIPTIF MENGENAI PERILAKU BERJUDI PADA MAHASISWA
0
0
165
MINAT MAHASISWA PSIKOLOGI SANATA DHARMA DALAM MELAKUKAN PENELITIAN
0
0
90
Show more