HIDUP MENGGEREJA KONTEKSTUAL SEBAGAI UPAYA MENGHAYATI HIDUP BERIMAN KRISTIANI DI INDONESIA MASA KINI SKRIPSI

Gratis

0
1
141
4 months ago
Preview
Full text

  

H ID U P MEN GGEREJ A KON TEKS TU AL S EBAGAI U PAYA

MEN GH AYATI H ID U P BERIMAN KRIS TIAN I

D I IN D ON ES IA MAS A KIN I

S K R I P S I

  Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Disusun Oleh:

  

PETRU S RIN TO

  NIM : 021124017

  

P ROGRAM S TU D I ILMU P EN D ID IKAN

KEKH U S U S AN P EN D ID IKAN AGAMA KATOLIK

J U RU S AN ILMU P EN D ID IKAN

FAKU LTAS KEGU RU AN D AN ILMU P EN D ID IKAN

U N IVERS ITAS S AN ATA D H ARMA

YOGYAKARTA

2 0 0 7

  

PERSEMBAHAN

  Dengan segala ketulusan hati dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kasih, Skripsi ini kupersembahkan

  Kepada: Lover of my soul JESUS CHRIST Hanya karena kasih karunia-Mu maka semuanya dapat kulalui.

  Semoga persembahan ini berkenan kepada-Mu.

  Bapak & Ibu Nasarius Abang Periyanto

  Kakak Mimiwati & Aneta M. Moses

  Keluarga Bapak Ranggono Para Katekis pewarta Yesus Kristus

  

MOTTO

“Tibi Nos Creavisti Domino et Irrequescit

Cor Nostreem do rec requiescat in Te.”

  (St. Agustinus, Confessiones) “Engkau menciptakan kami bagi-Mu ya Tuhan

  Maka resahlah hati kami Sampai kami beristirahat dalam Dikau.”

  

ABSTRAK

  Judul Skripsi HIDUP MENGGEREJA KONTEKSTUAL SEBAGAI

  

UPAYA MENGHAYATI HIDUP BERIMAN KRISTIANI DI INDONESIA

MASA KINI dipilih dengan berpangkal pada situasi hidup dalam masyarakat

  Indonesia, baik yang diakibatkan oleh perubahan alam maupun oleh perbuatan manusia. Dalam situasi seperti itu, masyarakat Indonesia mengalami persoalan hidup sosial dan guncangan sebagai umat beriman. Tidak jarang orang-orang dalam masyarakat berbuat menyimpang dari ajaran imannya karena bermacam- macam persoalan hidup seperti tekanan, desakan, ancaman dan hawa nafsu duniawi. Bertitik tolak pada situasi itu, maka skripsi ini dimaksudkan untuk membantu jemaat kristiani di Indonesia zaman sekarang dalam menghayati imannya.

  Persoalan mendasar dalam skripsi ini adalah bagaimana upaya menghayati hidup beriman kristiani yang dibangun berdasar ajaran dan teladan Yesus Kristus? Mengikuti pola hidup Kristus berarti menentukan sikap yang diambil dalam menghadapi pelbagai situasi hidup. Gereja sudah cukup lama menghadirkan dirinya dalam kehidupan masyarakat dengan situasi hidup sebagai konteksnya, namun umat belum mencapai kesadaran iman yang sungguh memadai dalam menanggapi berbagai tuntutan masyarakat pada masa sekarang. Untuk sampai kepada hal itu, maka diperlukan pendampingan terus-menerus yang dapat menuntun umat agar sampai kepada penghayatannya. Sehubungan dengan itu, maka ditawarkan cara penghayatan iman kristiani dengan menjalani hidup menggereja yang kontekstual. Melalui penjelasan tentang hidup menggereja kontekstual tersebut, akan diberikan gambaran bagi umat tentang bagaimana hidup yang mencerminkan diri sebagai anggota Gereja di tengah masyarakat.

  Pembahasan mengenai hidup menggereja secara kontekstual, mau memberi masukan kepada umat kristiani untuk secara terus menerus mewujudkan imannya dalam situasi hidup konkrit pada masa kini, di sini dan di manapun. Dengan mengkonkritkan sikap hidup yang diwariskan Yesus Kristus, diharapkan umat kristiani akan mampu memperkembangkan iman meskipun manusia telah menodai dirinya sebagai umat yang dikuduskan, asal manusia sendiri membuka diri kepada teladan dan ajaran yang telah diberikan-Nya. Untuk mempermudah umat dalam memahami upaya menghayati hidup beriman kristiani, maka ditawarkan katekese kontekstual. Melalui bentuk katekese tersebut diharapkan umat dapat lebih memahami hidup menggereja secara kontekstual sebagai bentuk penghayatan iman kristiani menanggapi masyarakat di tengah-tengah masyarakat Indonesia masa kini.

  

ABSTRACT

  This thesis entitled LIVING CONTEXTUALLY CONTEXTUAL AS

THE EFFORT TO UNDERSTAND THE FAITH LIFE OF CHRISTIANS

  

IN INDONESIA IN THIS ERA chosen was based on the situation of life of

  Indonesia people, both caused by the change of nature or by human action. In this situation like this, Indonesian people face a problem in the social life and a shock as the members of a religious community. Frequently people of God live in a life made to deviate different from teaching of their faith because of a various kind of life issues such as pressure, force, threat and worldly desire. Because of these, this thesis was aimed to help Christian people in Indonesia now to implemet their faith accordingly.

  The basic issue in this thesis are how the effort to understand the faith life of Christians based on the teaching and model of Jesus Christ? Following the life style of Christ means to take the attitude in facing various kinds of life condition. The Church has been a long time to make herself exist in people life contextually. However, the faithful are in the stage of adequate consciousness of faith in response to various demands of people in this era. To reach this situation guidance continuously is needed that the faithful develop their understanding. Relating to this to live in christian faith contextually is effored how to live this is done by providing Christians of by reflecting them selves as the members of church in the middle of people.

  The discussion on the life concept of church contextually wants to give the input to Christian people continuously to bring their faith into reality in the concrete life situation in this era, here and anywhere. By concreting the life of attitude inherited by Jesus Christ, it is hoped that Christians will be able to develop their faith though man has disgraced his holy life, if he opens himself to the teaching and model given by Him. To make Christians easier in understanding the faith life of Christian, contextual catechesese is offered. Trough the form of catecheses, it is hoped that Christians are more able to understand the life concept of Church contextually as a way of living Christian faith which is a response to how to live in such a life in Indonesia, this era.

KATA PENGANTAR

  Kata St. Paulus: Bertolong-tolonglah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus (Gal 6:2). Saling membantu dan menolong adalah kata-kata yang mudah diucapkan, namun tak mudah untuk dilaksanakan. Menjadi murid Kristus berarti dipanggil untuk melaksanakan tugas Gereja mengemban amanat Kristus melayani sesama yang membutuhkan pertolongan.

  Perkataan St. Paulus mengawali ungkapan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kasih, yang karena kasih-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul

HIDUP MENGGEREJA KONTEKSTUAL SEBAGAI UPAYA MENGHAYATI HIDUP BERIMAN KRISTIANI DI INDONESIA MASA KINI.

  Skripsi ini ditulis berdasarkan keprihatinan penulis terhadap situasi kehidupan di Indonesia saat ini, dan terinspirasi oleh buku “Hidup Menggereja Kontekstual” yang ditulis oleh J.B. Banawiratma (ed.). Meskipun hidup menggereja sudah merupakan kegiatan Gereja sepanjang sejarahnya, namun situasi hidup dari hari ke hari, dan dari waktu ke waktu selalu berubah dan menantang Gereja. Oleh karena itu penyusunan skripsi ini dimaksudkan untuk memberikan sumbangan pemikiran bagi anggota Gereja dan katekis khususnya agar dapat memperkembangkan hidup menggerejanya secara kontekstual melalui katekese yang sesuai pula. Selain itu, skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Dengan diiringi rasa syukur atas tersusunnya skripsi ini, pada kesempatan ini pula penulis dengan setulus hati mengucapkan terima kasih kepada:

  1. Romo Drs. H.J. Suhardiyanto, S.J. selaku dosen pembimbing utama yang telah memberikan perhatian, meluangkan waktu dan membimbing penulis dengan penuh kesabaran, memberikan masukan yang berguna sehingga penulis dapat lebih termotivasi dalam menuangkan gagasan-gagasan dari awal hingga akhir penulisan skripsi ini.

  2. Romo Drs. F.X. Heryatno W.W., S.J., M.Ed. selaku Kaprodi, dosen pembimbing akademik, dan penguji skripsi yang telah membimbing, mengarahkan, dan menyemangati penulis selama studi sampai menyelesaikan skripsi di prodi IPPAK-FKIP-USD Yogyakarta.

  3. Ibu Dra. J. Sri Murtini, M.Si. selaku penguji yang telah berkenan untuk menguji skripsi ini dan membimbing dalam proses studi.

  4. Segenap staf dosen yang telah mendampingi selama studi di prodi IPPAK- FKIP-USD Yogyakarta.

  5. Bapak Nasarius dan ibunda Marsia A. di Randau Jeka. Terima kasih atas segala usaha keras untuk semuanya dan juga doanya bagiku hingga studi ini selesai.

  6. Saudara-saudariku: abang Periyanto, kak Mimiwati & Aneta, juga Moses yang telah memotivasi dan membantu baik secara moril maupun materiil hingga selesainya studi ini.

  7. Rekan-rekan studi di IPPAK-FKIP-USD. Terima kasih atas kebersamaannya dan telah membantu dengan caranya masing-masing.

  

DAFTAR ISI

  HALAMAN JUDUL .......................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................. ii HALAMAN PENGESAHAN............................................................................. iii HALAMAN PERSEMBAHAN.......................................................................... iv MOTTO............................................................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA.............................................................. vi ABSTRAK .......................................................................................................... vii ABSTRACT........................................................................................................ viii KATA PENGANTAR ........................................................................................ ix DAFTAR ISI....................................................................................................... xii DAFTAR SINGKATAN .................................................................................... xv

  BAB I. PENDAHULUAN .................................................................................. 1 A. Latar Belakang .................................................................................... 1 B. Rumusan Permasalahan ...................................................................... 6 C. Tujuan Penulisan................................................................................. 6 D. Metode Penulisan ................................................................................ 7 E. Sistematika Penulisan ......................................................................... 7 BAB II. GEREJA SETURUT TELADAN DAN AJARAN YESUS KRISTUS MENANGGAPI SITUASI KEHIDUPAN DI INDONESIA ZAMAN SEKARANG ......................................................................................... 8 A. Pengertian Gereja ................................................................................ 8

  1. Gereja Dalam Kitab Suci .............................................................. 9

  2. Gereja Menurut Konsili Vatikan II ............................................... 11

  B. Teladan dan Ajaran Yesus Kristus dalam Mewartakan Kerajaan Allah Pada Zaman-Nya ....................................................................... 14

  1. Yesus Kristus dan Tugas Perutusan-Nya ........................................ 14

  a. Yesus Putra Allah yang dikandung dari Roh Kudus................... 14

  b. Hidup, Karya, Sengsara, Wafat dan Kebangkitan-Nya .............. 15

  2. Teladan Yesus Kristus .................................................................... 21

  a. Yesus dan Teman-Teman-Nya.................................................... 23

  1. Komunitas Basis Kristiani ............................................................ 65

  F. Menghayati Iman Kristiani Dalam Hidup Menggereja....................... 85

  2. Intern Gereja ................................................................................. 84

  1. Ekstern Gereja............................................................................... 84

  E. Hambatan Menggereja di Indonesia Zaman Sekarang ....................... 84

  2. Lingkup Masyarakat ..................................................................... 78

  1. Lingkup Gerejawi ......................................................................... 76

  D. Tantangan Menggereja di Indonesia Zaman Sekarang ...................... 75

  C. Bidang-bidang yang Dapat Dijadikan Realisasi Hidup Menggereja .. 74

  3. Komunitas Basis Antariman ......................................................... 74

  2. Komunitas Basis Manusiawi......................................................... 72

  BAB III. HIDUP MENGGEREJA KONTEKSTUAL SEBAGAI PRAKSIS MENGHAYATI IMAN KRISTIANI .................................................. 60 A. Hidup Menggereja Kontekstual .......................................................... 60 B. Bentuk Hidup Menggereja .................................................................. 64

  b. Yesus dan Lawan-Lawan-Nya .................................................... 28

  D. Gereja Menanggapi Situasi Kehidupan di Indonesia Zaman Sekarang............................................................................................ 49

  2. Situasi Kehidupan Masyarakat....................................................... 45

  1. Lingkungan Alam........................................................................... 42

  C. Situasi Kehidupan Di Indonesia Zaman Sekarang.............................. 41

  e. Ajaran Yesus Tentang Sesama.................................................... 40

  d. Ajaran Yesus Menanggapi Harta Duniawi dan Kekhawatiran .. 38

  c. Ajaran Yesus Menanggapi Hukum Taurat.................................. 36

  b. Garam Dunia dan Terang Dunia ................................................. 35

  a. Sabda Bahagia............................................................................. 34

  3. Ajaran Yesus Kristus ...................................................................... 32

  c. Yesus dan Murid-Murid-Nya...................................................... 31

  1. Hidup Menggereja sebagai upaya menghayati Iman Kristiani ..... 86

  2. Hidup Menggereja Kontekstual Sebagai Praksis Perwujudan Iman Kristiani ................................................................................ 88

  BAB IV. KATEKESE KONTEKSTUAL SEBAGAI UPAYA MENGEM BANGKAN HIDUP MENGGEREJA KONTEKSTUAL DI INDONESIA MASA KINI ................................................................. 91 A. Hakikat Katekese ................................................................................ 92 B. Tujuan Katekese Kontekstual ............................................................. 98 C. Proses Katekese Kontekstual .............................................................. 99 D. Usulan Katekese Sebagai Alternatif untuk Mengembangkan Hidup Menggereja Kontekstual di Indonesia Masa Kini............................... 102 BAB V. PENUTUP............................................................................................. 119 A. Kesimpulan ......................................................................................... 119 B. Saran ................................................................................................... 121 DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 123

DAFTAR SINGKATAN

  A. Singkatan Kitab Suci Seluruh singkatan Kitab Suci dalam skripsi ini mengikuti Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta (2002). Alkitab Deuterokanonika halaman 6.

  B. Singkatan Dokumen Resmi Gereja AG : Ad Gentes, dekrit tentang kegiatan misioner Gereja.

  DV : Dei Verbum, konstitusi dogmatis tentang Wahyu Ilahi. EN : Evangelii Nuntiandi, anjuran Apostolik Paus Paulus VI tentang Pewartaan Injil dalam dunia modern.

  GS : Gaudium et Spes, konstitusi pastoral tentang Gereja dalam dunia Modern.

  LG : Lumen Gentium, konstitusi dogmatis tentang Gereja. UR : Unitatis Redintegratio, Dekrit tentang Ekumenisme.

  C. Singkatan Lain Ansos : Analisis Sosial.

  Art. : Artikel ASCAP : American Social Commission On Asia Pacific.

  BCC : Basic Christian Community. BEC : Basic Ecclesial Community. CT : Catechesi Tradendae. Ed. : Editor

  HPH : Hak Pengusahaan Hutan. HTI : Hutan Tanaman Industri.

  ICG : International Crisis Group.

  IOM : International Organization for Migration. FABC : Federation of Asian Bishop Conference.

  IDRD : Institute of Dayakology Research and Development. KBAI : Komunitas Basis Antariman. KBG : Komunitas Basis Gerejawi. KBK : Komunitas Basis Kristiani. KBM : Komunitas Basis Manusiawi. KLMT : Kecil Lemah Miskin dan Tersingkirkan. KomKat : Komisi Kateketik. KWI : Konferensi Waligereja Indonesia. LBH APIK: Lembaga Bantuan Hukum Perempuan Indonesia untuk Keadilan LBI : Lembaga Biblika Indonesia.

  NKRI : Negara Kesatuan Republik Indonesia. PIR : Perkebunan Inti Rakyat. PKKI : Pertemuan Kateketik Keuskupan se-Indonesia. SAGKI : Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia. TKI : Tenaga Kerja Indonesia. TKW : Tenaga Kerja Wanita. UU : Undang Undang. YJP : Yayasan Jurnal Perempuan.

BAB I PENDAHULUAN Pada bab pendahuluan ini akan dibahas mengenai Latar Belakang, Rumusan Permasalahan, Tujuan penulisan, Metode Penulisan, dan Sistematika Penulisan. Agar semakin memperjelas berikut ini adalah uraiannya. A. Latar Belakang Dalam berbagai aspek kehidupan, negeri Indonesia dewasa ini sedang

  mengalami transisi menuju suatu perubahan pola kehidupan bernegara. Pengaruh globalisasi dan modernitas sangat mendominasi pola pikir dan prilaku masyarakat Indonesia. Manusia berubah seturut perkembangan zaman. Ada usaha dari manusia untuk hidup lebih baik. Tetapi, ironisnya manakala usaha itu dilakukan dalam berbagai aspek atau bidang kehidupan, negeri Indonesia dewasa ini malah mengalami banyak hal yang kurang diharapkan.

  Kehadiran berbagai macam produk ilmu pengetahuan dan teknologi telah memberikan warna tersendiri dalam kehidupan manusia zaman sekarang.

  Harapannya adalah dengan munculnya berbagai macam produk ilmu pengetahuan dan teknologi, martabat dan nilai-nilai luhur kemanusiaan semakin dijunjung tinggi dan manusia semakin dimanusiakan oleh sesama manusia tetapi yang terjadi adalah sebaliknya.

  Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah banyak disalahgunakan orang-orang demi kepentingan diri sendiri. Di samping membawa dampak positif, kemajuan teknologi juga membawa dampak negatif bagi kehidupan manusia. Adapun contoh-contoh dampak negatif dari berbagai kemajuan teknologi adalah hubungan antara pribadi manusia satu dengan yang lain menjadi jauh karena kesibukan masing-masing dan manusia dengan alam kurang harmonis. Dengan kemajuan alat komunikasi, idealnya orang yang terpisah secara geografis dapat berkomunikasi, tetapi yang terjadi dewasa ini hubungan pribadi manusia yang dekat pun semakin jauh. Seiring dengan perputaran arus zaman, umat manusia dewasa ini juga dipengaruhi dan dibayang-bayangi oleh ketakutan, kecemasan dan kegelisahan akibat bencana alam dan kriminalitas.

  Bencana alam dalam hal ini misalnya banjir, gunung meletus, gempa bumi, lumpur panas, tsunami, angin topan, badai, dsb. Selain bencana alam yang sifatnya alamiah seperti yang telah disebutkan di atas, ada juga bencana yang timbul akibat perbuatan manusia yang tak bertanggung jawab. Contohnya tindakan kriminal itu misalnya pembunuhan, penganiayaan, perampokan, pemerkosaan, penculikkan, pemerasan, penipuan, penggusuran dan lain-lain. Situasi seperti itu menimbulkan ketakutan dan kecemasan yang mengakibatkan ketidakberdayaan dalam diri manusia sebagai makhluk yang mempunyai harkat dan martabat luhur yang mestinya diperjuangkan.

  Baik bencana alam maupun bencana yang merupakan akibat dari perbuatan manusia sendiri, keduanya telah memberikan pengaruh negatif pada sifat, karakter dan sikap manusia. Manusia yang adalah makhluk sosial sedikit demi sedikit mulai kehilangan jati dirinya karena satu sama lain mulai saling curiga, apatis, dan tidak saling percaya. Dan, di dalam dirinya manusia mulai kehilangan orientasi kepercayaan dan pengharapan akan hidup damai. Kehadiran Allah mulai manusia mulai goyah ketika segala sesuatu yang tak mengenakkan hati terjadi. Manusia merasa bahwa Allah sudah tidak peduli dengan hidup mereka. Dari itu semua, muncul pertanyaan iman yang mendasar “bila Tuhan itu baik, mengapa dunia ini begitu buruk?” (Surat Gembala KAS APP 2007). Kegoncangan iman yang terjadi dalam batin manusia menjadi semakin kuat dan mengakibatkan martabat manusia di hadapan Tuhan mudah dimanipulasi.

  Suara hati manusia mulai sulit didengarkan lagi sehingga manusia sebagai pribadi ciptaan Tuhan kerapkali melakukan tindakan yang tidak berorientasi pada nilai-nilai luhur hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Menghadapi situasi masyarakat Indonesia yang demikian, sering membuat manusia berkonfrontasi dengan banyaknya persoalan yang datang dari dalam maupun dari luar pribadinya. Situasi ini terjadi juga dalam kehidupan umat kristiani. Meskipun umat kristiani selalu berpedoman pada amanat Injil yaitu iman, namun kadang-kadang penghayatan imannya tidak jujur. Jika bersikap jujur, iman sebenarnya cukup bagi umat krisiani untuk memperoleh pengharapan dan keselamatan dari Allah. Seperti yang tertulis dalam Iman Katolik (1996:160):

  Iman merupakan sikap manusia dalam berelasi dengan Allah. Iman merupakan suatu sikap penyerahan diri seutuhnya kepada Allah. Tetapi tidak hanya itu, iman memberi dasar pada harapan yang dinyatakan dalam kasih. Dengan iman orang menyambut Allah yang datang kepadanya, dengan harapan orang mau mendatangi Allah sendiri. Iman itu perlu dihayati dalam sikap hidup nyata. Namun, bagaimana orang kristiani zaman sekarang dapat beriman seutuhnya kepada Allah sementara banyak peristiwa duka yang menimpa? Dan bagaimana manusia dapat merasa hidup bebas di tengah berbagai himpitan kehidupan ini? Menyadari akan hal itu, penulis sebagai anggota Gereja turut memikirkan bagaimana cara menghayati hidup beriman kristiani di Indonesia pada masa kini. Dalam Pedoman Gereja Katolik Indonesia (1996:78) butir ke-118f ditulis:

  Pada dasarnya menggereja menghendaki kebersamaan dan menuntut penghayatan dalam persekutuan, bukan individualis serta juga tidak hanya mencari keselamatan diri sendiri. Gereja harus bersifat partisipatif, memelihara dan mengembangkan cita rasa katolik, kerasan sebagai anggota Gereja, dan penuh keterlibatan di dalam Gereja. Dengan segala cara ia rela berperan serta agar Gereja betul-betul hidup.

  Dengan berpedoman pada apa yang diungkapkan di atas, maka penulis mencoba menggagas hidup menggereja yang dapat menghantar umat kristiani pada penghayatan iman yang lebih hidup dengan menanggapi situasi hidup nyata. Walaupun situasi nyata yang dihadapi sangat sulit, namun mengingat ciri hakiki yang melekat pada sifatnya, Gereja tetap tidak boleh meninggalkan tugasnya membawa Kabar Gembira. Gereja harus terus mencari tanda yang memberi harapan keselamatan.

  Pewartaan kabar gembira mesti menyentuh hati, sehingga orang yang mendengarnya mampu mengadakan perubahan dari dalam, bukan hanya terbatas pada masing-masing pribadi tetapi juga orang-orang sebagai komunio. Pewartaan Injil bukannya suatu ilusi tanpa kenyataan melainkan suatu jawaban bagi semua orang yang rindu berjumpa dengan Allah. Dengan cara itu, Gereja tampil sebagai Gereja yang mau bersentuhan dengan keprihatinan sesama, dan mau berakar pada tempat di mana ia tinggal sebagai konteks.

  Gereja tidak lagi tampil sebagai suatu institusi yang kaku, melainkan sebagai bentuk persaudaraan iman yang membuka diri pada bimbingan Roh Kudus dan yang peka mendengarkan bisikan Tuhan, serta tanggap dalam tindakan iman, harapan, dan kasih. Gereja mau terlibat dengan permasalahan orang-orang di sekitar yang mau menjadi sesama bagi mereka yang memerlukan uluran tangannya. Tugas Gereja dalam perutusannya adalah mewartakan Kabar Gembira yakni warta keselamatan dan pembebasan yang datang dari Allah melalui Putra-Nya Yesus Kristus. Maka pewartaan Gereja harus berisikan kisah tentang Allah yang hadir menyertai manusia dan membebaskannya dari berbagai situasi yang membelenggu. Pewartaan tersebut akan semakin bermakna jika sungguh-sungguh dihayati dalam kehidupan sehari- hari. Bagi umat Kristiani teladan dan ajaran Yesus Kristus merupakan isi dari pewartaan yang perlu terus menerus dihayati.

  Dalam situasi di Indonesia dewasa ini, bagaimana teladan dan ajaran Yesus Kristus tersebut dihayati oleh Gereja? Bukan hal yang mustahil jika pola hidup umat Kristiani seperti pola hiudp Yesus, maka setiap persoalan tidak akan menjadi masalah besar yang dapat merenggut kebahagian. Dan, agar pewartaan semakin membumi diperlukan suatu pemikiran dan daya refleksi yang mendalam dari setiap pribadi umat kristiani.

  Untuk itu ada dua jalan yang harus ditempuh: pertama, wahyu Allah itu harus disesuaikan dengan situasi dan budaya masyarakat tertentu, karena wahyu Allah itu bukan sesuatu yang statis melainkan dinamis, cocok untuk segala situasi dan zaman. Kedua, dengan cara menelaah situasi lebih dahulu, menganalisa dan menerangkannya dalam terang wahyu Allah. Maka realitas perlu direfleksikan dalam perspektif iman. Karena hanya dengan demikian kehadiran Allah yang menyelamatkan dunia dapat dipahami dengan lebih manusiawi dan sederhana.

  Dalam hal ini Gereja menjadi mitra kerja Allah di dunia agar semua orang dapat mengalami bahwa Allah selalu menyapa umat-Nya dengan penuh kasih.

  Dan akhirnya, berdasarkan pemikiran yang telah diuraikan di atas, penulis mengambil judul skripsi HIDUP MENGGEREJA KONTEKSTUAL SEBAGAI

UPAYA MENGHAYATI HIDUP BERIMAN KRISTIANI DI INDONESIA MASA KINI.

  B. Rumusan Permasalahan

  1. Apa arti Gereja dan dasar pelayanannya menanggapi situasi kehidupan di Indonesia zaman sekarang?

  2. Apa arti hidup menggereja kontekstual sebagai upaya menghayati hidup beriman kristiani dalam situasi kehidupan di Indonesia masa kini?

  3. Katekese macam apa yang perlu dikembangkan sebagai upaya mengembangkan hidup menggereja di Indonesia masa kini?

  C. Tujuan Penulisan

  1. Menjelaskan arti Gereja dan dasar pelayanannya menanggapi situasi kehidupan di Indonesia zaman sekarang.

  2. Menjelaskan arti hidup menggereja kontekstual sebagai upaya menghayati hidup beriman kristiani dalam situasi kehidupan di Indonesia masa kini.

  3. Menunjukkan kemungkinan katekese yang perlu dikembangkan sebagai upaya mengembangkan hidup menggereja di Indonesia masa kini.

  4. Untuk memenuhi syarat kelulusan Sarjana Strata Satu (S-1) Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik (IPPAK) Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta.

  D. Metode Penulisan

  Dalam penulisan skripsi ini yang penulis gunakan adalah metode deskriptif analitis, yaitu mengolah sumber bahan atau literer yang berkaitan dengan judul yang dikemukakan dan ditunjang oleh sumber kepustakaan mengenai Gereja, Hidup Menggereja Kontekstual dan Katekese yang relevan.

  E. Sistematika Penulisan Bab I.

  Bab ini berisi Pendahuluan, Latar Belakang Penulisan Skripsi, Rumusan Permasalahan, Tujuan Penulisan, Metode Penulisan, dan Sistematika Penulisan. Bab II. Bab ini berisi Pengertian Gereja, Teladan dan Ajaran Yesus Dalam Memaklumkan Kerajaan Allah Pada Zaman-Nya, Situasi Kehidupan di Indonesia, dan Gereja Menanggapi Situasi Kehidupan di Indonesia Dewasa Ini. Bab III. Bab ini berisi Hidup Menggereja Kontekstual, Bentuk Hidup Menggereja, Bidang-bidang Hidup Menggereja, Tantangan Menggereja di Indonesia Zaman Sekarang, Hambatan Menggereja di Indonesia Zaman Sekarang, dan Menghayati Hidup Beriman Kristiani. Bab IV. Bab ini berisi Katekese Kontekstual sebagai Upaya Mengembangkan Hidup Menggereja di Indonesia Masa Kini yang meliputi: Hakekat, Tujuan, Proses, Usulan, dan Contoh Persiapan Katekese Kontekstual. Bab V. Bab ini merupakan bagian terakhir dalam uraian skripsi. Di sini diuraikan kesimpulan dan saran dari penulis.

BAB II GEREJA SETURUT TELADAN DAN AJARAN YESUS KRISTUS MENANGGAPI SITUASI KEHIDUPAN DI INDONESIA ZAMAN SEKARANG Pada bab kedua ini akan dibahas empat hal, yakni: Pengertian Gereja, Teladan

  dan Ajaran Yesus Kristus dalam Memaklumkan Kerajaan Allah pada Zaman-Nya, Situasi Kehidupan di Indonesia Zaman Sekarang, dan Gereja menanggapi Situasi Kehidupan di Indonesia Zaman Sekarang. Berikut adalah pembahasannya.

A. Pengertian Gereja

  Orang kristiani mesti tahu tentang dirinya, dalam hal ini ia adalah Gereja itu sendiri. Maka, sebagai anggota Gereja ia harus memahami apa itu Gereja dan tugasnya. Penulis menyadari bahwa semua gambaran Gereja berikut belum cukup untuk merumuskan jati diri Gereja yang sesungguhnya dengan tepat, maka sifatnya hanya refresentatif dari hal yang lebih dalam mengenai Gereja itu sendiri. Namun melalui pelbagai gambaran, akan dicoba diungkapkan dan berusaha menangkap makna Gereja yang mendalam (LG, art. 6), usaha menjelaskan makna Gereja yang terdalam dijalankan terus menerus (KWI, 1996:337). Dapat dikatakan bahwa usaha itu mesti menyesuaikan dengan situasi konkret agar Gereja dapat dipahami umat manusia. Gereja yang dipahami oleh umat kristiani ialah: himpunan umat beriman yang percaya kepada Yesus Kristus dalam perziarahannya di bumi menuju Allah Bapa di Surga. Pengertian tentang Gereja tersebut merupakan pengertian yang sudah familiar dalam diri jemaat Kristiani. Pengertian dasar Gereja menurut Iman Katolik yaitu: Kata Gereja berasal dari kata igereja dibawa ke Indonesia oleh para misionaris dari Portugis. Kata tersebut adalah ejaan Portugis untuk kata Latin ecclesia yang ternyata dari bahasa Yunani ekklesia. Namun Gereja bukan sembarang kumpulan, melainkan kumpulan orang yang amat khusus. Kata asing itu dipakai untuk menonjolkan kekhususannya, kadang-kadang dipakai kata jemaat atau umat, dan hal itu tepat juga. Tetapi perlu diingat bahwa jemaat ini sangat istimewa, maka disarankan lebih baik memakai kata “Gereja” saja yang dalam bahasa Yunani berarti memanggil. Jadi, Gereja adalah umat yang dipanggil Tuhan, itulah arti sesungguhnya Gereja (KWI, 1996:332). Selanjutnya penulis akan memaparkan pengertian Gereja menurut Kitab Suci dan Dokumen Konsili Vatikan II yang jarang didengar dan dipahami oleh jemaat

  Kristiani pada umumnya.

1. Gereja Dalam Kitab Suci

  Ada begitu banyak pengertian Gereja menurut Kitab Suci, namun pengertian Gereja berikut hanya diambil dari beberapa pengertian menurut Kitab Suci tersebut.

  Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, Gereja itu diartikan dalam kaitannya dengan pengalaman umat Israel sebagai yang dipanggil Allah. Dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, Gereja diartikan dalam kaitannya dengan kehidupan para rasul yang beriman akan Yesus Kristus pada waktu itu. Menurut Iman Katolik (1996:332-333) dikatakan demikian:

  Dalam Kitab Suci, Ekklesia adalah kata yang biasa dipakai pada zaman para rasul. Dapat dilihat bagaimana jemaat perdana memahami diri dan merumuskan karya keselamatan Tuhan di antara mereka. kadang-kadang mereka berkata Gereja Allah atau jemaat Allah (1 Kor 10:32; 11:22; 15:9), yang kiranya sesuai dengan cara berbicara orang Yahudi (Ul 23:1.2; Hak 20:2). Paulus berbicara mengenai jemaat yang berkumpul untuk merayakan Ekaristi. Mereka menjadi jemaat atau Gereja karena iman mereka akan Yesus Kristus, khususnya akan wafat dan kebangkitan-Nya yang mulia. Gereja adalah jemaat yang dikuduskan dalam Yesus Kristus (1Kor 1:2). Jadi sebetulnya ada tiga nama yang dipakai untuk Gereja dalam Perjanjian Baru: Umat Allah, Tubuh Kristus, bait Roh Kudus. Ketiganya saling berkaitan satu sama lain. Gereja sebagai Umat Allah merupakan istilah dari Perjanjian Lama. Yang paling menonjol dalam sebutan ini adalah bahwa Gereja itu umat terpilih Allah (1Ptr

  2:9). Konsili Vatikan II dalam Lumen Gentium (LG, art.9), sebutan Umat Allah amat dipentingkan khususnya untuk menekankan bahwa Gereja bukanlah pertama-tama suatu organisasi manusiawi melainkan perwujudan karya Allah yang konkrit, tekanan ada pada pilihan dan kasih Allah. Konsili mau menekankan bahwa Gereja mengalami dirinya sungguh erat berhubungan dengan umat manusia serta sejarahnya (GS, art. 1), sekaligus Gereja itu majemuk yaitu dari bangsa Yahudi dan kaum kafir Allah memanggil suatu bangsa yang bersatu padu, bukan menurut daging melainkan dalam Roh (KWI, 1996:333).

  Bagi Paulus Perayaan Ekaristi atau perjamuan bersama berarti kumpulan sebagai eklesia, dengan perjamuan Ekaristi terbentuklah jemaat. Perayaan Ekaristi juga tertuju pada pembentukan jemaat, yang dimaksudkan adalah jemaat Allah, maka dengan jemaat Allah itu pula dimaksudkan jemaat yang dipanggil oleh Allah. Hal itu lebih jelas dalam 1Tes 1:1 yang berbicara mengenai jemaat orang-orang Tesalonika yang ada di dalam Allah Bapa dan di dalam Yesus Kristus. Bagi Paulus juga Gereja selalu berarti jemaat setempat tetapi sekaligus juga mempunyai arti universal, di dalam jemaat setempat terbentuklah Gereja Allah (Jacobs, 1988:37). Gereja disebut Tubuh Kristus untuk mengungkapkan kesatuan jemaat seperti kata Paulus kendatipun ada aneka karunia dan pelayanan. Sama seperti tubuh itu satu dan anggota- anggotanya banyak, segala anggota itu sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi maupun Yunani, budak maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh (1Kor 12:12-13).

  Tubuh tidak terdiri dari satu anggota, tetapi banyak anggota. Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kamu semua adalah tubuh Kristus dan masing-masing adalah anggotanya (Ay. 27). Dalam Efesus 1:23 dikatakan bahwa jemaat adalah tubuh Kristus, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu (Kol 1:18.24), yang dimaksudkan ialah kesatuan jemaat dengan Kristus, oleh karena itu Kristus disebut kepala Gereja. Dari pada-Nyalah seluruh tubuh yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota, menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.

  Dengan gambaran tubuh mau dinyatakan kesatuan hidup antara Gereja dan Kristus (Ef 4:16), Gereja hidup dari Kristus dan dipenuhi oleh daya ilahi-Nya (Kol 2:10). Gereja Bait Roh Kudus berarti Gereja sebagai Bait Allah tempat pertemuan dengan Allah. Gereja dibangun atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Yesus Kristus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi Bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan tempat kediaman Allah di dalam Roh (Ef 2:20-22). Demikianlah Gereja disebut sebagai Bait Roh Kudus.

2. Gereja menurut Konsili Vatikan II

  Dalam pembaharuan Vatikan II, tujuan pastoral konsili adalah pemahaman Gereja, pewartaan Injil di seluruh dunia, dan dialog dengan dunia modern.

  Pembaharuan Gereja secara hakiki terdapat dalam peningkatan kesetiaan kepada panggilan-Nya (UR, art. 6), Gereja dipanggil oleh Kristus kepada perubahan terus- menerus, sesuai yang dibutuhkannya sebagai lembaga manusiawi dan duniawi (Jacobs, 1987:11). Faham tentang diri Gereja dibahas dalam konstitusi dogmatis Konsili Vatikan II Lumen Gentium yang selanjutnya disingkat LG. Gereja tidak lagi berbicara mengenai makna melainkan sebagai misteri dengan titik pangkal adalah karya Allah Tri Tunggal, dan Gereja adalah Sakramen. Gereja dalam keseluruhannya dimengerti sebagai sakramen atau sarana dan tanda. Soal Gereja sebagai Sakramen adalah persoalan dalam keselamatan dan rahmat, juga wahyu dan iman (Jacobs, 1987:13). Demikian juga hubungan Kristus dengan Gereja dilihat secara baru.

  Gereja disebut sebagai Sakramen yaitu tanda dan sarana kesatuan mesra umat manusia dengan Allah dan persatuan seluruh umat manusia (LG, art. 1). Gereja baru tampil ke muka sebagai Sakramen keselamatan bagi seluruh umat manusia setelah dipenuhi sendiri dengan hidup Kristus oleh Roh Kudus. Keselamatan itu digambarkan dalam rangka keselamatan Allah; Allah memanggil berhimpun mereka yang dengan penuh kepercayaan mengarahkan pandangannya kepada Yesus, pencipta keselamatan dan dasar kesatuan serta perdamaian dan membentuk mereka menjadi Gereja. Dengan demikian supaya Gereja bagi semua dan setiap orang menjadi Sakramen yang kelihatan dari kesatuan yang menyelamatkan itu (Jacobs, 1987:16-17).

  Gereja adalah himpunan orang yang percaya akan Kristus sebagai pencipta keselamatan dan dasar kesatuan serta perdamaian. Gereja merupakan Sakramen keselamatan karena imannya akan Kristus, jadi Gereja bukanlah lembaga di mana orang percaya akan Kristus saja melainkan merupakan ungkapan kesatuan dalam ditekankan tidak pertama-tama Gereja sendiri melainkan misteri Allah yang menyatakan diri secara historis dalam Kristus, dan, Gereja hanya berarti sejauh beriman akan Kristus (Jacobs, 1987:18). Konsili Vatikan II melihat Gereja dalam rangka sejarah keselamatan, tetapi tidak berarti bahwa Gereja hanyalah lanjutan bangsa Israel saja, kedatangan Kristus memberikan arti yang baru kepada umat Allah. Manusia adalah bait Allah dari Allah yang hidup, menurut firman Allah ini: Aku akan diam bersama-sama dengan mereka dan hidup di tengah-tengah mereka, dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka menjadi umat-Ku (2Kor 6:16) (KWI, 1996:333).

  Paham Gereja yang baru yang dilhat sebagai pokok ajaran Vatikan II yaitu paham “Communio” (bahasa Yunani “koinonia”) atau persekutuan. Communio mendasari komunikasi di antara anggota Gereja sendiri. Oleh karena itu kesatuan komunio ini berarti keanekaragaman para anggotanya dan keanekaragaman dalam berkomunikasi, sebab Roh Kudus yang tinggal di hati umat beriman, memenuhi serta membimbing seluruh Gereja, menciptakan persekutuan umat beriman yang mengagumkan itu (KWI, 1996:340).

  Dengan komunio Gereja juga dilihat dalam hubungannya dengan orang Kristen yang lain, bahkan dengan seluruh umat manusia dengan suku, ras, agama, dan situasi golongan yang berbeda.

  

B. Teladan dan Ajaran Yesus Kristus dalam Memaklumkan Kerajaan Allah

pada Zaman-Nya

  Gereja mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan, Guru dan Juru Selamat, maka dari itu teladan dan ajaran macam apa yang diberikan oleh Yesus dalam memaklumkan Kerajaan Allah. Yesus Kristus itulah yang menjadi pokok dalam setiap tindakan Gereja. Pengetahuan tentang Dia dalam Gereja Katolik dapat digali dari apa yang disebut Tradisi dan Kitab Suci. Dalam Iman Katolik tradisi berarti penyerahan, penerusan, komunikasi terus-menerus yang merupakan proses dari satu angkatan kepada angkatan berikut dan di antara orang sezaman. Begitu juga Kitab Suci, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru merupakan ungkapan dan rumusan tradisi sebagai pertemuan dan kesatuan antara Allah dan manusia. Jadi keduanya adalah Sabda Allah yang ditanggapi manusia dalam iman (KWI, 1996:213- 214). Berikut ini dipaparkan tentang Yesus Kristus, teladan dan ajaran-Nya.

1. Yesus Kristus dan Tugas Perutusan-Nya

  a. Yesus Putra Allah yang dikandung dari Roh Kudus Kisah kelahiran Yesus diceritakan secara paling lengkap di dalam Injil Lukas terutama Luk 1-2.

  Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh Malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud, nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau. Maria terkejut mendengar perkataan itu, ...Kata malaikat kepadanya Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. ...Jawab malaikat itu kepadanya Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau, sebab anak itu yang akan kau lahirkan akan disebut kudus, Anak Allah (Luk 1:26-35). Maria dikaruniai secara khusus oleh Allah, artinya menjadi manusia pilihannya, sehingga diberi peranan dalam sejarah penyelamatan, kunjungan

  Malaikat Gabriel merupakan bukti pilihan itu. Ungkapan Roh Kudus akan turun atasmu (ay. 35) adalah Roh Kudus yang turun dengan kuasa Allah Yang Mahatinggi yang akan menaungi, Ia akan menciptakan hidup yang baru dalam rahim Maria (Stefan Leks, 2003:440). Dengan menegaskan Roh Kudus akan datang atas diri Maria, mau dinyatakan bahwa terkandungnya Yesus dalam rahim Maria adalah peristiwa yang tidak ada duanya dalam sejarah dunia. Anak Maria bukan hasil hubungan seksual melainkan karunia Allah semata-mata.

  Kuasa Allah akan menghadirkan diri-Nya secara khusus untuk menjadikan Maria ibu bagi putra-Nya. Sampai suatu hari Yusuf dan Maria pergi ke kota Daud yang bernama Bethlehem untuk mendapftarkan diri pada cacah jiwa dalam pemerintahan Kaisar Agustus. Saat tiba di situ, tibalah juga saatnya bagi Maria untuk bersalin dan melahirkan seorang anak laki-laki (Luk 2:4-6). Waktu usia Yesus genap delapan hari Ia di bawa ke Yerusalem oleh orang tua-Nya untuk dipersembahkan kepada Tuhan di Bait Allah (Luk 2:21-22), dan Ia juga diberi nama Yesus seperti yang disebut oleh Malaikat Gabriel waktu masih dalam kandungan Maria.

  b. Hidup, Karya, Sengsara, Wafat dan Kebangkitan-Nya 1) Hidup dan Karya Yesus

  Pada masa kanak-kanak Yesus lazimnya anak manusia biasa yang punya ayah dan ibu dalam sebuah keluarga. Ia tinggal dan dibesarkan di kota kecil Nazaret yang tidak begitu dikenal luas. Kehidupan Yesus sangat sederhana, ayahnya Yusuf sebagai tukang kayu. Ia bergaul dengan para gembala domba, dan dengan orang-orang yang dipandang rendah oleh masyarakat, orang-orang Nazaret mengenal Yesus sebagai tukang kayu yang rajin berdoa (Fountain, 2004:27).

  Pendidikan yang diperoleh Yesus tidak hanya terbatas pada bidang rohani saja tetapi juga lingkungan hidup di sekitar-Nya. Dari ayah-Nya Yusuf Ia belajar sekitar, Ia juga banyak belajar tentang alam, padang rumput, bukit-bukit, kawanan domba/sapi/kambing, pergantian musim, aneka warna dan harum bunga-bunga di ladang/kebun sekitar perumahan Nazaret (Fountain, 2004:25).

  Waktu usia Yesus sudah genap 12 tahun, Ia dibawa ke Yerusalem oleh orang tua-Nya. Hukum Yahudi mewajibkan semua pria dewasa untuk berziarah ke Yerusalem pada hari raya Paskah, Pentekosta, dan Pondok Daun. Anak laki-laki Yahudi dianggap dewasa secara keagamaan pada usia 13 tahun, pada usia 12 tahun remaja laki-laki dididik langsung oleh ayahnya agar setahun kemudian ia mampu tampil sebagai orang dewasa. Mulai usia itu ia harus hidup penuh tanggung jawab (Stefan Leks, 2003:1001).

  Ia mulai dewasa dan akan tampil di muka umum untuk memaklumkan Kerajaan Allah, dan Yesus semakin meyadari tujuan hidup-Nya sebagai “Yang Diurapi”. Sebagai hamba Ia melayani Allah dengan jalan melayani umat-Nya dan melayani semua orang di dunia ini (Fountain, 2004:41).

  Sebelum mengawali pewartaan-Nya, sebagaimana orang banyak telah dibaptis oleh Yohanes pembaptis di sungai Yordan, Yesus juga minta dibaptis olehnya.

  Waktu Yesus sedang berdoa, terbukalah langit dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Yesus dinyatakan oleh Allah sebagai Anak yang dikasihi-Nya, dan kepada Yesus Allah berkenan (Luk 3:21-22).

  Selanjutnya Yesus di bawa oleh Roh Kudus yang menunjang kekuatan-Nya pergi ke padang gurun di mana tempat itu sebagai tempat binatang dan roh jahat, sekaligus juga tempat manusia berkontak dengan Allah menurut pemikiran Yahudi. Empat puluh hari lamanya Yesus berada di tempat itu, Ia dicobai iblis sebanyak tiga kali, dan selama itu tidak makan apa-apa (Luk 4:1-2). Ketiga cobaan itu melambangkan jenis cobaan yang dialami Yesus semasa hidup-Nya, dan ini bukan cobaan biasa yang dialami manusia beriman melainkan cobaan yang dialami oleh Yesus sebagai Putra Allah (Stefan Leks, 2003:137).

  Cobaan yang dilakukan iblis tidak menghasilkan apa-apa terhadap Yesus, iblis pun mundur (Luk 4: 13). Menurut Injil, Yesus memulai karya-Nya di Galilea dengan tampil di sinagoga Nazaret, dan waktu itu Yesus berumur kira-kira 30 tahun (Jacobs, 2006:49).

  Dalam kuasa Roh, kembalilah Yesus ke Galilea, lalu tersebarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu. Sementara itu Ia mengajar di rumah-rumah ibadat di situ dan semua orang memuji Dia. Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, hendak membaca Kitab Suci (Luk 4:14-16).

  Selain sebagai tempat Yesus mulai memberitakan Kerajaan Allah, Galilea juga sebagai tempat Yesus mendidik rasul-rasul-Nya. Selama hidup-Nya Yesus berkarya di wilayah Palestina, mulai dari Galilea sampai seluruh Yudea. Ada begitu banyak karya yang dilakukan-Nya demi keselamatan umat manusia termasuk berbagai kendala seperti penolakan orang-orang yang mendengar pewartaan-Nya. Selain mengajar, Yesus juga melakukan mukjizat untuk menyembuhkan, membangkitkan orang mati, mentahirkan dan mengusir roh jahat. Menurut Jacobs (2006:55) Injil memberikan gambaran karya Yesus dengan urutannya demikian: a). Yesus mengadakan mukjizat pertama kali pada pesta perkawinan di Kanna yang mengubah air menjadi anggur ketika dalam pesta terjadi kekurangan anggur.

  b). Yesus memanggil kedua belas rasul di Galilea dan mendidik mereka mengenai sikap batin. Sikap itu dapat ditunjukkan dengan hidup sederhana, sabar dan tabah pewartaan Yesus. Seperti Yesus sendiri tidak akan mundur karena harus meneruskan perjalanan pewartaan-Nya. Yesus juga mendidik mengenai sikap lahir yang dapat ditunjukkan dengan sikap hidup miskin/sederhana, hormat dan baik hati. Ini ditunjukkan-Nya dengan menerima orang-orang berdosa ketika makan bersama-Nya. Dengan demikian menunjukkan kebersamaan hidup dalam arti kesatuan hidup (Jacobs, 2006:96). Selain itu Yesus mendidik mereka mengenai kewaspadaan yaitu menghadapi godaan untuk berbuat jahat, sebab dengan demikian akan menjadi batu sandungan bagi orang lain.

  c). Yesus membangkitkankan orang mati. Membangkitkan orang mati disatu pihak Yesus sebagai “Tuhan” untuk menekankan keluhuran dan kuasanya dengan bersabda “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!” (Luk 7:14).

  Sabda penuh kuasa diperdengarkan, Yesus bertindak sebagai Sang Nabi. Di lain pihak, kemanusiaan-Nya ditonjolkan seperti ketika Elia berhadapan dengan anak janda Sarfat yang mati, ia berdoa kepada Tuhan (1Raj 17:20), demikian juga yang dilakukan Elisa (2Raj 4:33) (Jacobs, 2006:65-66).

  d). Yesus berkothbah di bukit

  e). Yesus meredakan angin ribut waktu Ia dan murid-murid-Nya menyeberangi Danau Galilea.

  f). Yesus mengusir setan pada orang yang kerasukan di Gerasa

  g). Yesus menggandakan roti untuk memberi makan lima ribu orang 2) Sengsara, Wafat dan Kebangkitan Yesus

  Yesus melakukan perjalanan mewartakan Kerajaan Allah menuju Yerusalem dengan berkeliling melewati kota-kota dan desa-desa sambil mengajar. Menurut Jacobs (2006:120) rangkaian peristiwa di Yerusalem ini bertemakan Minggu terakhir di Yerusalem. Ketika Yesus masuk kota Yerusalem, Ia disambut oleh umat seperti pada kisah Minggu Palma. Ia masuk ke Bait Allah dan mengajar di Kenisah di mana Yesus juga tampil sebagai Sang Nabi yang berada di tempat paling suci. Justru di situlah terjadi konfrontasi dengan para pemimpin Yahudi. Beberapa topik gawat disinggung yang menyangkut para pemimpin Yahudi itu. Topik gawat itu berkisar: tentang kuasa Yesus dan penggarap kebun anggur, tentang membayar pajak kepada kaisar dan masalah kebangkitan, tentang anak Daud (Jacobs, 2006:125). Dengan konfrontasi tersebut para pemimpin Yahudi merencanakan untuk menangkap dan membunuh Yesus. Rangkaian peristiwa di Yerusalem adalah sebagai berikut:

  a). Perjamuan terakhir. Yesus mengadakan perjamuan bersama murid-murid-Nya sebelum menderita sengsara. Kelak perjamuan ini ditetapkan sebagai Ekaristi oleh Yesus yang dirayakan oleh Gereja sampai sekarang ini.

  b). Yesus di Taman Getsemani. Di tempat ini Yesus berdoa kepada Bapa-Nya dan dikuatkan oleh malaikat, kemudian Yesus ditangkap.

  c). Yesus dihadapkan ke Mahkamah Agama, kepada Pilatus untuk dihukum mati, kemudian Yesus menapaki Jalan Salib-Nya. Menurut hukum, salib hanyalah bagi budak, penjahat yang sungguh melakukan kesalahan besar. Dalam buku Iman Katolik dikatakan bahwa salib merupakan suatu penghinaan yang amat luar biasa, bukan hanya karena penderitaan fisiknya, tetapi terutama karena arti sosialnya. Orang yang disalibkan kehilangan segala kehormatan dan penghargaannya dalam masyarakat (KWI, 1996:276). d). Wafat dan bangkit. Yesus di sesah dan didera sambil menapaki jalan salib-Nya menuju bukit Golgota, sesampai ditempat itu Ia disalibkan. Beberapa saat kemudian Yesus wafat di kayu salib itu setelah Ia menyerahkan nyawa-Nya kepada Bapa. Menurut Injil, jenazah Yesus dimakamkan pada sebuah kubur baru yang di dalamnya belum pernah dimakamkan seseorang (Yoh 19:41). Pada hari ketiga, syahadat mengatakan bahwa Yesus bangkit dari antara orang mati yang menurut orang Yahudi dihubungkan dengan keselamatan Tuhan.

  Dengan kata-kata “pada hari ketiga”, diungkapkan suatu peristiwa yang unik, yang khas untuk pengalaman iman umat kristen, yaitu keselamatan yang terlaksana dalam wafat dan kebangkitan Kristus (KWI, 1996:287).

  Allah tidak hanya mewahyukan bahwa Yesus hidup. Hidup Kristus yang mulia mempunyai arti keselamatan bagi manusia. Dengan kebangkitan, Allah menyatakan dukungan dan perutusan-Nya terhadap Yesus. (KWI, 1996:292).

2. Teladan Yesus Kristus

  Yesus tampil untuk memulai karya-Nya di dunia ini, orientasi hidup-Nya ialah kehendak Allah, Bapa-Nya. Kehendak Bapa-Nya yaitu cinta bagi sesama, demi keselamatan manusia. Hal itu Ia lakukan dengan mengamini tanggung jawab pribadi yaitu tanggung jawab yang kritis terhadap diri sendiri dan orang lain.

  Inti pewartaan Yesus adalah Kerajaan Allah: “waktunya telah genap, Kerajaan Allah sudah dekat”(Mrk 1:15). Kedatangan Allah sebagai Raja penyelamat dinyatakan akan segera terjadi (KWI, 1996:261). Bagi Yesus pewartaan Kerajaan Allah mempunyai arti yang khusus karena sabda Allah paling pokok adalah dalam sabda dan karya-Nya, dan juga Kerajaan Allah mempunyai cir-ciri khas dalam pewartaan Yesus sendiri. Yesus meninggalkan ketenangan hidup dalam keluarga di Nazaret dan mulai mengembara. Ia berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa, memberitakan Injil Kerajaan Allah. Tuntutan Kerajaan Allah ialah sabda bahagia yang dinyatakan bukan kepada orang-orang saleh melainkan orang miskin, orang lapar, orang yang menangis (KWI, 1996:263).

  Dengan demikian Yesus memaklumkan suatu revolusi yang membalikkan nilai-nilai dan tata hubungan sebagaimana yang dipahami oleh umat manusia.

  Ucapan “bahagia” yang disampaikan Yesus bagi orang kalangan bawah mempunyai sangkut paut dengan sikap hidup atau cara hidup yang dimiliki oleh orang semacam itu, singkatnya adalah mereka yang tidak memiliki apa-apa dan tidak berdaya di dunia ini paling condong mengharapkan segalanya dari Tuhan.

  Segala harapan, sandaran, kekayaan, dan kekuatan mereka adalah Tuhan. Dalam perjalanan-Nya mewartakan Injil Kerajaan Allah, Yesus berjumpa dengan beraneka ragam orang dengan latar belakang yang beraneka ragam pula dan berelasi dengan mereka. Yesus bukan saja berbicara tentang Kerajaan Allah dan memberi kesaksian, tetapi juga disertai tindakan-tindakan-Nya karena memang ada kesatuan antara sabda dan karya-Nya. Ia tampil sebagai nabi dan juga tabib yang masing- masing mewakili unsur perkataan dan perbuatan, di dalam hidup Yesus hal ini merupakan kesatuan yang tak terpisahkan.

  Kitab Suci Perjanjian Baru khususnya Injil banyak berbicara mengenai teladan Yesus Kristus dalam tugas perutusan-Nya mewartakan Kerajaan Allah kepada dunia.

  Sikap dan tindakan Yesus Kristus untuk berbuat kebaikan terhadap manusia mendapat pro dan kontra di antara orang-orang sekitar-Nya. Ada di satu pihak yang lain pihak ada yang menerima bahwa Yesus adalah Sang penyembuh dari berbagai penyakit dan pengaruh jahat yang membelenggu manusia.

  Dari sekian banyak orang yang ada di sekitar Yesus itu ada orang Farisi, orang Saduki, kaum Zelot, dan rakyat biasa yang terdiri dari orang miskin, lemah, kusta, pemungut cukai, orang cacat, dan kaum perempuan. Berbagai macam orang yang dihadapi-Nya itu tentu saja Ia mempunyai sikap tersendiri terhadap orang kebanyakan itu. Sebagai Anak Allah Ia telah menjelma menjadi manusia dan menjadi saudara bagi setiap orang. Dia sungguh Allah dan sungguh manusia, Dialah titik acuan manusia yang berziarah di bumi menuju kepenuhan hidup dalam kebersamaan Allah Tritunggal (Telaumbanua, 2000:89). Teladan Yesus terhadap sesama dapat dilihat pada relasi-Nya teman-teman-Nya, Yesus dan murid-murid- Nya.

  a. Yesus dan Teman-teman-Nya 1). Yesus dan perempuan pendosa

  Kisah Yesus dan kaum pendosa terdapat pada Injil Lukas 7:36-50 yaitu mengenai Yesus diurapi perempuan berdosa. Perempuan pendosa di kalangan orang Yahudi dianggap sebagai pelanggar kode kelakuan baik yang dipegang oleh mereka. Kedosaannya tidak diragukan lagi sebab dosanya memang banyak. Perempuan tersebut setiap hari selalu dihina oleh para penduduk kotanya.

  Yesus sebagai orang yang dianggap suci oleh mereka semakin terasa tidak pantas didatangi oleh perempuan pendosa itu. Pada jaman Yesus, peraturan tentang pergaulan cukup ketat. Yesus bergaul dengan siapa saja. Sebagai guru agama dilarang bergaul dengan wanita, bergaul dengan orang yang dianggap berdosa seperti para antek penjajah, dengan anak-anak, dan dengan orang yang tidak sebaya. Dimata orang Farisi peristiwa itu sesuatu yang memalukan baik bagi Simon orang Farisi maupun perempuan itu sendiri, yang keberaniannya tampak dalam tindakannya (Bergant, 2002:130).

  ...ketika perempuan itu mendengar bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia dengan membawa sebuah botol pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis...membasahi kaki-Nya dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu (Luk 7:37-38).

  Perempuan ini mungkin sebelumnya pernah berjumpa dengan Yesus sebagaimana orang muda dan kaya dalam kisah lain. Perempuan itu merasa dihargai, bahkan dikasihi oleh Yesus dan sambil menangis perempuan itu datang kepada-Nya. Ada yang mengartikan sebagai air mata pertobatan, tetapi ada juga yang menilainya sebagai air mata sukacita atas pengampunan dosa yang dialami perempuan itu.

  Dalam Injil, Lukas menganut paham yang kedua yaitu sebagai air mata sukacita (Stefan Leks, 2003:220-221).

  Keadaan ini sangat berbeda dengan pandangan dan sikap orang kebanyakan. Yesus bersikap netral terhadap orang yang dianggap berdosa besar. Ia bahkan mengasihinya supaya nantinya jangan berbuat dosa lagi. Sikap Yesus ini mencerminkan pengampunan sebagai Bapa yang mengasihi dan memanggil orang yang berdosa seperti yang pernah ia katakan bahwa, Ia datang untuk mencari yang berdosa untuk bertobat. Yesus menyatakan bahwa dosa perempuan itu sudah diampuni, ini jelas karena kasih-Nya yang besar. Ia menggarisbawahi hal yang sudah nyata dalam diri perempuan itu (Bergant, 2002:130).

  2) Yesus dan pemungut cukai (Luk 19:1-10)

  Kaum pendosa biasanya juga diidentikkan dengan seorang pemungut cukai. Dalam hal ini Zakheus adalah seorang pemungut cukai sebagaimana kaum Lewi yang kemudian mengikuti Yesus. Mereka dikatakan sebagai pemeras rakyat, dan bagi masyarakat Yahudi orang seperti itu harus dikucilkan dalam pergaulan atau relasi. Mereka tidak boleh didekati apalagi berteman akrab.

  Yesus masuk kota Yeriko dan berjalan terus melintasi kota itu. Di situ ada orang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya. Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. Ia pun berlari mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus yang akan lewat di situ. Ketika Yesus di tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata kepadanya, Zakheus, segera turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu (Luk 19:1-5).

  Bangsa Yahudi yakin bahwa para pemungut cukai melakukan pekerjaan yang sungguh-sungguh kafir, sebab mereka tergantung sepenuhnya dari penjajah yang kafir itu. Pemungut cukai adalah petugas lembaga fiskal Romawi, tugas itu dipercayakan oleh bangsa penjajah kepada yang mampu menawarkan paling banyak uang kepada mereka. Jumlah itu harus ditagihnya dengan segala macam akal. Kepala pemungut cukai hidup dari selisih uang antara jumlah yang ditetapkan penjajah dan jumlah yang berhasil ditagihnya.

  Demi memperoleh jumlah yang harus disetor, terpaksa mereka memeras. Ketidakadilan yang dilakukan oleh para pemungut cukai lebih berat daripada bea cukai itu sendiri. Karena itu juga mereka tidak boleh bertindak sebagai saksi dalam pengadilan Yahudi, bisa ada indikasi bahwa mereka akan bersaksi dusta karena motivasinya mendapat uang lebih dari penggugat, dan kemungkinan mereka untuk bertobat sangat diragukan. Para pemungut cukai cenderung menutup diri dan mengandalkan diri mereka sendiri karena dikucilkan oleh masyarakat. Bergaul dengan mereka dianggap sama jahatnya dengan bekerja sebagai pemungut cukai (Stefan Leks, 2003:490).

  Orang banyak bersungut-sungut bahwa jika seseorang tinggal di rumah seorang pendosa maka ia mengambil bagian dalam hidupnya yang salah. Dalam hal ini, Yesus yang dianggap sebagai orang suci telah bergaul dengan orang berdosa seperti Zakheus, bagi orang Yahudi hal ini tidak pantas dan melanggar hukum. Yesus bertindak melawan sopan santun yang biasa. Ia tidak menunggu diundang ke rumah pemungut cukai, Ia mengundang diri sendiri, gembala mencari domba yang hilang (Bergant, 2002:150). Bagi Yesus dalam sikap-Nya ini tampak seperti pangeran yang menjadikan dirinya pengemis. Yesus tidak menunggu Zakheus datang terlebih dahulu kepada-Nya sambil berlutut dan memohon berkat pengampunan-Nya. Justru Dialah yang mendekati Zakheus bahkan mencarinya ibarat seorang gembala yang baik yang dombanya hilang. Ia menyambutnya searti dengan melangkah lebih dulu ke arah sesama (Stefan Leks, 2003:492). Yesus mengambil prakarsa dalam pertobatan Zakheus ini, meskipun ia pemungut cukai hendaknya jangan dikucilkan karena kegagalannya, melainkan dibantu untuk menemukan jalannya kembali kepada kawanan. Kasih Yesus terhadapnya telah membangkitkan kemungkinan- kemungkinan baru untuk kasih dan pelayanan bagi sesama yang membutuhkan uluran tangan menuju pembaharuan hidup.

  3) Yesus dan kaum perempuan Kisah Yesus dan kaum perempuan dapat dilihat juga pada Injil Lukas 10:38-42 yaitu mengenai diri-Nya, Maria dan Marta. Kisah Marta dan Maria di sini lebih melihat pelayanan perempuan terhadap Yesus. Salah satu komentator kisah ini adalah Martin Harun, OFM. Ia tidak bermaksud mempertentangkan pelayanan dan doa atau hidup aktif dan kontemplatif. Ia mencontohkan bahwa mendengarkan sabda Tuhan merupakan cara melayani Tuhan yang lebih tepat dan perlu daripada memenuhi jasmani-Nya secara berlebihan.

  Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah desa. Seorang perempuan bernama Marta menerima Dia di rumahnya. Perempuan itu mempunyai saudara yang bernama Maria. Maria duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya. Sedangkan Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata:Tuhan, tidakkah Engkau peduli bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku. Tetapi Tuhan menjawabnya: Marta, Marta, engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak hal, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian terbaik yang tidak akan diambil dari dia (Luk 10:38-42).

  Dari kisah itu, orang hendaknya menyambut Tuhan dengan memberikan segala perhatian pada sabda-Nya. Hal ini mutlak perlu sebab seorang tidak dapat menghasilkan buah dan memperoleh hidup kekal kalau ia tidak mulai dengan sungguh-sungguh mendengarkan sabda itu dan menyimpannya dalam hati. Perlu diakui juga bahwa kisah ini sebenarnya merupakan tindakan kasih manusia kepada Tuhan, sedangkan kisah Yesus dan perempuan Samaria Ia menekankan tindakan kasih terhadap sesama (Bergant, 2002:136). Tanpa mau melihat sepenuhnya apa yang dilakukan Marta dan Maria, kutipan Injil Lukas ini mau melihat bagaimana Yesus disambut oleh kaum perempuan. Rombongan Yesus terdiri pula dari sejumlah perempuan, dan beberapa di antaranya pastilah bukan perempuan terhormat (Luk 8:1-3).

  Dengan menegaskan keperempuanan itu ingin menggarisbawahi sesuatu yang penting antara lain sikap keterbukaan Yesus terhadap kaum perempuan. Sikap itu bertentangan dengan kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat Yahudi (Stefan leks, 2003:307).

  Agama Yahudi memang tidak melarang perempuan mempelajari Kitab Suci. Namun, tidak seorang rabi pun yang mau mengajarkan kepada kaum perempuan. Yesus memang melanggar adat yang berlaku. Ia juga makan bersama kaum pendosa dan menyembuhkan banyak orang yang sama sekali tidak dipedulikan oleh masyarakat Yahudi. Ia bergaul akrab dengan perempuan-perempuan berdosa, malah membiarkan diri-Nya disentuh oleh mereka.

  Kisah Yesus terhadap kaum perempuan dapat juga dilihat pada Injil Yohanes 4:1-42 yaitu sikap Yesus terhadap perempuan Samaria.

  Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: Berilah Aku minum. Sebab murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan. Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria? (sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria). Jawab Yesus kepadanya: Jika engkau tahu karunia Allah dan engkau tahu siapakah Dia yang berkata- kata kepadamu: Berilah Aku minum! Niscaya engkau akan meminta kepada- Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup..., Jawab Yesus kepadanya: Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa yang minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya (Yoh 4:7-14a). Secara kultur dan geografis, Yesus dan orang Samaria berbeda karena memang

  Yesus orang Yahudi. Baik Yesus maupun perempuan Samaria itu saling tidak bergaul satu sama lain dan tidak punya ikatan apapun.

  Hubungan orang Yahudi dan orang Samaria yang tinggal di antara bagi utara Galilea dan bagian selatan Yudea adalah buruk (Bergant, 2002:169). Yesus tidak mempersoalkan hal itu tetapi Ia memberikan sesuatu yang tidak dipahami dan memberikan tanda untuk keselamatan orang lain. b. Yesus dan Lawan-lawan-Nya Menurut Injil Markus, karya Yesus diliputi oleh ketegangan. Namun begitu, sampai saat Yesus ditangkap, para lawan-Nya itu lebih suka memata-matai ataupun menjebak-Nya secara licik daripada berperang dengan-Nya secara terbuka. Para lawan-Nya itu adalah orang Farisi, ahli-ahli Taurat, dan para pemuka agama Yahudi yang selalu bertentangan dengan sikap, tindakan maupun ajaran Yesus. Hal perlawanan ini nampak ketika orang Yahudi memasuki hari Sabat, dan Yesus diundang untuk datang dan makan di rumahnya.

  Pada suatu hari Sabat...murid-murid-Nya memetik bulir gandum lalu orang Farisi berkata kepada-Nya: Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat? Jawab-Nya kepada mereka: Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud ketia ia dan mereka yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, bagaimana ia masuk ke dalam rumah rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai imam besar lalu makan roti sajian itu-yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam-dan memberikannya juga kepada pengikut-pengikutnya? Lalu kata-Nya kepada mereka: Hari Sabat diadakan untuk manusia, bukan manusia untuk hari Sabat (Mrk 2:23-28).

  Hukum Sabat adalah karunia Allah bagi umat-Nya, bukan beban yang tidak terpikulkan. Demikianlah patokan umum yang seharusnya dipegang dalam segala situasi. Dalam Injil Markus 3:1-6, Yesus juga diamat-amati oleh orang Farisi yang tidak se-visi dengan mereka. Mereka melakukan hal itu supaya dapat mempersalahkan Dia. Pada waktu itu Yesus telah menyembuhkan orang yang mati sebelah tangannya. Lalu Yesus berkata kepada orang Farisi itu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan orang atau membunuh orang? (Mrk 3: 4). Para lawan Yesus yakin bahwa Dia seorang pemerkosa hari Sabat karena Yesus membuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari itu, dalam hal ini Yesus menyembuhkan orang sakit.

  Sikap mereka secara tepat terungkap dalam pernyataan seorang kepala sinagoga yang dikutip dalam Lukas “Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat” (Luk 3:14). Penyembuhan pada hari Sabat diatur secara ketat, dan hanya orang dalam bahaya maut yang dapat ditolong oleh tabib (Stefan Leks, 2003:141).

  Dimata mereka, sabda dan tindakan Yesus ini menjungkirbalikkan interpretasi hukum serta paham kesalehan yang mereka pelihara, sehingga menurut mereka Yesus juga sebagai pemberontak, pelanggar tradisi dan penentang kuasa. Para lawan Yesus ingin mempersalahkan-Nya secara resmi, yaitu mendakwa-Nya di depan sidang agama.

  Lewat pertanyaan “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat...?” Yesus berbicara dalam bahasa yang dipahami oleh hadirin. Sebetulnya mereka tahu bahwa menyelamatkan nyawa setiap hari harus diusahakan secara baru dengan amanat Allah dalam kitab Ul. 30:15 “Ingatlah bahwa Aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan”. Tradisi Yahudi selalu menafsirkan Ul. 30:15 ini sebagai keharusan mutlak.

  Tidak ada satu hari pun yang membebaskan manusia dari kewajiban berbuat baik. Jadi, Yesus sesungguhnya tidak mngajukan pertanyaan melainkan mengingatkan kewajiban utama mereka. Bila mereka menetapkan batas-batas dalam pelaksanaan perintah utama itu, karena interpretasi salah mengenai hari Sabat, maka mereka akan tertimpa kutuk. Nama mereka akan terhapus sedangkan Yahwe akan murka. Pilihan yang salah mengantarkan manusia kepada kejahatan (Stefan Leks, 2003:143). Program Yesus ialah mengantarkan manusia kepada pilihan yang tepat. Konsekwensinya bahwa setiap hukum seharusnya demi manusia. Setiap situasi hidup harus selalu demi kesejahteraan manusia, juga kalau tanpa hukum. Hal yang ditolak oleh Yesus ialah pemenuhan atas tuntutan lahir hukum belaka karena sekedar penyesuaian diri atas keinginan lingkungan.

  Yesus ingin supaya kejahatan dikalahkan dengan perbuatan baru, bukan dengan ketaatan harafiah atau balas dendam. Selain menyelamatkan dan memulihkan umat manusia dari penyakit, Yesus juga berlaku merdeka terhadap hukum. Hukum harus selalu ditinjau dari sudut kepentingan manusia, termasuk hukum yang sesuci hukum Taurat sendiri. Ia tidak meniadakan hukum itu tetapi mengembalikan maknanya yang sesungguhnya. Yesus tidak mau terikat oleh aturan yang mengakibatkan manusia celaka, sebab bagi-Nya keselamatan manusia lebih penting daripada hanya mematuhi hukum yang terkadang mendatangkan kehancuran bagi umat manusia. Biarpun dimata-matai, Ia tetap menempuh jalan hidup-Nya, Ia tidak segan melanggar hukum suci, kemerdekaan yang menyatu dengan-Nya dipakai demi menyelamatkan manusia. Ia ingin memulihkan keadaan manusia yang sakit sehingga dapat mengembangkan lagi seluruh potensinya. Untuk itulah Yesus datang (Stefan Leks, 2003:134).

  c. Yesus dan Murid-murid-Nya Teladan Yesus semakin memuncak dan menjadi kenangan bagi murid-murid-

  Nya bahkan bagi Gereja sampai saat ini. Teladan Yesus itu tampak ketika Ia bersama para murid-Nya pada malam sebelum Ia menderita sengsara. Kisah ini terdapat dalam Injil Yohanes 13:2-20 yaitu Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya.

  Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu bahwa saat- senantiasa mengasihi murid-murid-Nya, demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya. Mereka sedang makan bersama ... Yesus tahu bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah. Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu (Yoh 13:1-5).

  Yesus menjadi hamba Allah, hamba kemanusiaan dan Ia mengasihi mereka sampai pada kesudahannya. Membasuh kaki orang lain yang kotor karena berjalan melintasi jalan-jalan berdebu dengan memakai sandal merupakan pekerjaan hina bahkan tidak diinginkan oleh hamba-hamba Yahudi sekalipun (LBI, 1981:100-101).

  Dengan membasuh kaki para murid Yesus ingin menunjukkan kerendahan hati-Nya terhadap sesama. Yesus melakukan pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh seorang hamba, maka murid-murid-Nya juga harus mau melayani atau saling melayani. Gereja dipanggil untuk saling melayani satu sama yang lain tanpa harus melihat latar belakang sesamanya. Pembasuhan kaki melambangkan kesediaan Yesus melakukan sebagaimana halnya yang dilakukan oleh hamba. “Sebab Aku telah memberikan suatu teladan bagi kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (ay. 15). Yesus mau supaya warga Gereja atau murid-murid- Nya bukan memerintah tetapi melayani, kata-Nya (Mrk 10:44-45): “..., hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan..., hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.

3. Ajaran Yesus Kristus

  Yesus yang hidup di bumi lebih dari 2000 tahun silam telah mengajarkan jalan- jalan Allah. Dalam kothban-Nya di bukit Ia telah mengajarkan banyak hal bagi keselamatan manusia dari belenggu dosa dunia, agar manusia memiliki sikap baru seperti yang diajarkan-Nya. Sikap baru terhadap sesama, penguasa, alam sekitar, harta benda, penderitaan, kematian, dan kejahatan telah Dia patri.

  Dia juga telah menjanjikan ganjaran mulia bagi mereka yang berbuat kasih, ini merupakan hukum yang pertama dan terutama bagi umat perjanjian baru. Sejak Dialah sejarah hidup manusia bercorak lain yaitu: permusuhan diganti dengan damai, kebencian diganti kasih-mengasihi, egoisme diubah menjadi solidaritas, penindasan diganti dengan keadilan dan hormat kepada martabat hidup; perkawinan diberi-Nya nilai kesetiaan dan ketidakceraian; keterpakuan pada masa kini diganti ke orientasi ke masa depan; kelekatan pada kesementaraan digoyahkan-Nya dengan nilai-nilai yang kekal; penderitaan dan salib diberi-Nya dimensi paska penyelamatan; ketertutupan etnis diubah menjadi persaudaraan yang terbuka yang tidak kenal garis batas.

  Singkatnya yaitu seperti dalam Perjanjian Baru “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat 22:39). Jadi hukum cinta kasih adalah menjadi dasar dan hukum utama dari Yesus Kristus yang diwariskan kepada Gereja dalam mengemban tugas perutusannya.

  Sejarah dunia dan pola hidup bersama mengalami perubahan karena Yesus Kristus yang sungguh Allah dan sungguh manusia telah menyatakan dengan sebenarnya siapa Allah dan rencana yang suci dari pihak Allah bagi manusia.

  Kita sekalian adalah anak Allah; Allah kita adalah Bapa Yang Maha Pengasih dan Maharahim. Panggilan hidup kita adalah untuk saling mengasihi hingga akhir zaman, sebab Allah adalah kasih (1Yoh 4:8), panggilan ini tidak mengenal titik henti karena kamu adalah garam dan terang dunia (Mat 5:13- 14); Akulah pokok anggur dan kamu adalah ranting-rantingnya. Barang siapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak (Yoh 15:5); pergilah dan jadikanlah semua bangsa murid-Ku (Mat 28:19). Kita ditinggikan- Nya menjadi saluran kasih-Nya agar semua orang beroleh penebusan dan keselamatan berkat tetesan darah-Nya (Telaumbanua, 2000:90).

  Allah menginginkan agar melalui diri anggota Gereja setiap orang mendapat terang dalam perjalanan hidup dan umat manusia kerasan di bumi yang diciptakan Allah sehingga hidup masing-masing dan bersama tidak percuma. Setiap orang hendaknya akan mendengarkan suara sang Hakim Mahaadil, “... Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan” (Mat 25:34).

  Selama menjadi saluran kasih-Nya, harus ingat pada Tuhan Yesus sendiri yang telah bersabda “... Aku akan menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat 28:20). Ajaran Yesus yang akan dibicarakan berikut merupakan beberapa dari sekian banyak bagian mengenai ajaran-Nya. Seperti diketahui, bahwa Kitab Suci Perjanjian Baru banyak berbicara mengenai Yesus Kristus, dan bagian yang akan dibicarakan berikut ini tekanannya lebih pada ajaran-Nya.

  a. Sabda Bahagia Ketika Yesus pertama kali berkothbah di atas bukit dengan mengucapkan

  “Berbahagialah.” Melalui sabda bahagia, Yesus menyatakannya kepada banyak orang sesuatu yang tak terduga. Kelompok pertama sabda bahagia adalah pewartaan bahagia kepada orang miskin dalam Roh yang kondisinya menuntut kepercayaan total kepada Allah.

  Orang yang sedih, yang lemah lembut, mereka yang lapar dan haus akan kebenaran, yang tugas pokoknya dalam hidup adalah memenuhi kehendak Allah.

  Kebahagiaannya mereka umumnya ialah di masa mendatang, tetapi juga dimaksudkan untuk masa kini (Bergant, 2002:41). Dengan menghayati nilai-nilai kerajaan sorga di sini dan sekarang, mereka mengantisipasi dan mengambil bagian dalam kebahagiaan yang akan diberikan oleh bentuk kehidupan yang lebih penuh dengan Allah. Allah adalah sumber segala kebahagiaan manusia.

  Kelompok kedua sabda bahagia berpuncak pada penyebutan kebenaran. Suatu berkat di sini diucapkan bagi yang berbelas kasih, yang jujur, pembawa damai, dan mereka yang menderita demi mencari kebenaran. Kepada mereka juga dijanjikan kebahagiaan di masa mendatang dari Allah (Bergant, 2002:41). Penderitaan yang mereka alami, menurut Yesus bukan selalu berarti karena mereka sudah menempuh jalan buruknya dalam hidup mereka. Allah memperhatikan mereka sehingga orang lapar dikenyangkan, orang haus dipuaskan, orang miskin dicukupkan. Dengan sabda bahagia ini mereka yang mendengarnya seakan memperoleh suatu hiburan yang luar biasa.

  b. Garam Dunia dan Terang Dunia Peranan para pengikut Yesus terhadap dunia digambarkan dengan garam dan terang. Waktu zaman Yesus, garam selain dipergunakan untuk menambah rasa juga untuk mengawetkan daging dan ikan.

  Kamu adalah garam dunia, jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagi pula orang tidak menyalakan pelita dan meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di Sorga (Mat 5:13-16).

  Dengan perumpamaan garam, Yesus mau mengatakan bahwa para murid dipanggil untuk menambah kaulitas eksistensi manusia dan mengawetkannya dari kehancuran. Bagi Yesus, garam adalah hikmat. Jika tidak ada hikmat maka tidak ada peranan atau pelayanan yang baik dari para pengikut-Nya, sebab sama seperti garam yang tidak asin lagi, tidak ada manfaat apa-apa untuk segala sesuatu yang memerlukannya. Demikian juga dengan terang dunia, Yesus mengatakan bahwa dengan terang dunia tindakan para murid diharapkan akan bisa berperan seperti semacam kumpulan sinar dalam dunia. Para murid ditantang untuk membiarkan terang mereka sebagai kesaksian atau kesetiaan mereka kepada Yesus dan kepada Bapa di sorga (Bergant, 2002:41). Yesus menyebut terang dunia adalah Allah, Adam, Israel, hukum Taurat, dan Bait Allah atau Yerusalem dalam Perjanjian Baru. Terang yang terutama adalah Yesus sendiri. Kalau tujuannya baik, perbuatan benar di muka umum sangat dianjurkan. Sebagai murid Kristus terang itu harus dibawa kepada sesama supaya terang itu berguna sebagai pengusir kegelapan atau jawaban atas kebingungan manusia.

  c. Ajaran Yesus Menanggapi Hukum Taurat Dalam Matius 5:21-48, Yesus memperdalam tuntutan Allah dengan menyatakannya sebagai sesuatu yang ada sangkut pautnya dengan manusia batiniah, dan yang hanya dapat dilaksanakan dengan kasih karunia. Ini memperlawankan ideal para ahli kitab mengenai kekudusan berdasar pada pembacaan harafiah Alkitab dan ajaran Yesus yang lebih radikal dan lebih menuntut.

  Kontras ini digambarkan dengan enam antitesis, di mana sabda-sabda dari Perjanjian Lama ditempatkan di samping sabda Yesus. Yesus datang untuk menggenapi hukum dan nubuat para nabi dengan menerangkan makna dari hukum Perjanjian Lama dalam tahapnya yang paling dalam. Enam antitesis itu meliputi; pembunuhan dan kemarahan, zina dan hawa napsu, perceraian, sumpah, hukum pembalasan, dan mencintai musuh (Bergant, 2002:42-43).

  Antitesis pertama, para pengikut Yesus tidak cukup hanya dengan menghindari tindakan pembunuhan tetapi harus menghapus juga kemarahan dan cacian yang bisa menyebabkan pembunuhan. Kemarahan hendaknya dianggap seserius pembunuhan.

  Antitesis kedua, menuntut bahwa hawa nafsu sebagai akar penyebab perzinahan hendaknya dihindari. Keselamatan seluruh pribadi lebih berharga daripada memelihara salah satu bagian tubuh yang menyebabkan dosa seperti digambarkan dengan tangan kanan atau mata kanan.

  Antitesis ketiga, Yesus tidak memperbolehkan perceraian, keculi itu karena zina. Dengan zina berarti ada hubungan yang melanggar hukum. Antitesis keempat, mengenai sumpah. Sumpah dan janji merupakan kebiasaan dalam Yudaisme. Yesus menasihati para murid-Nya agar berlaku sopan dan berterus terang dalam ucapannya, karena tak seorang pun dapat mengontrol atau memiliki langit, bumi, atau Yerusalem, hanya Allah saja. Manusia bahkan tidak dapat mengontrol tubuhnya sepenuhnya, maka tak seorang pun mempunyai hak untuk bersumpah berdasarkan benda-benda sebagai saksi. Karena itu, janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit karena langit adalah tahta Allah, maupun demi bumi karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun tentang Yerusalem karena Yerusalem adalah kota Raja Besar (Mat 5:34-35). Antitesis kelima, hukum pembalasan dimaksudkan untuk membatasi balas dendam dan kekerasan menurut aturan yang ditetapkan. Yesus mendesak para pengikutnya untuk mengatasi pembalasan terbatas yang diizinkan seperti dalam Perjanjian Lama. Para murid tidak boleh mengambil alih sikap dan tindakan para musuhnya. Antitesis keenam, mencintai musuh, menuntut agar para pengikut Yesus tidak hanya mencintai anggota dari kelompok bangsa atau agamanya saja tetapi juga yang memusuhinya. Tuntutan baru ini tidak berdasar pada kodrat manusiawi, tetapi pada contoh Allah sendiri. Bila tidak, ini hanya sesuai dengan kodrat manusia yang diwakili para pemungut cukai dan orang yang tak mengenal Allah yang mengasihi mereka yang mengasihi, dan memberi salam hanya pada anggota keluarganya.

  Yesus mengajarkan kepada Murid-Nya bahwa Allah membuat matahari terbit, baik bagi orang yang baik maupun orang jahat, juga menurunkan hujan baik bagi orang yang baik maupun orang yang jahat. Jika kasih yang ditunjukkan Allah kepada semua orang dijadikan ukuran, maka para murid Yesus tidak boleh membatasi kasih kepada kelompok mereka sendiri atau bangsa sendiri (Bergant, 2002:42-43). Kata Yesus kepada mereka:

  Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga ... Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna (Mat 5:45-48).

  Kesempurnaan para murid perlu mencerminkan dan mengacu pada kesempurnaan Allah. Kesempurnaan yang dituntut bukan berarti adanya dua patokan, patokan manusia dan Allah. Hidup yang baru sebagai anak dalam Kristus adalah satu-satunya dasar, di atas mana prinsip-prinsip yang diuraikan itu dapat dipenuhi. Hanya itulah yang dapat memberi pandangan yang benar dan punya arti yang pokok terutama bila dinyatakan dengan hubungan-hubungan pribadi, bukan tindakan-tindakan lahiriah (LBI, 1981:70-71).

  d. Ajaran Yesus menanggapi Harta Duniawi dan Kekhawatiran Orang Farisi menganggap kekayaan sebagai upah setelah melakukan hukum Taurat. Segala sesuatu diperoleh karena dianggap telah taat melakukan hukum itu.

  Ajaran Yesus, kalau upahnya upah rohani, ini bukanlah mementingkan diri sendiri, karena itu Ia berkata “kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkarnya” (Mat 6:20). Dalam

  bagian ini dibahas tentang kebutuhan hidup dan ditunjukkan motif-motif yang benar dalam iman. Harta kekayaan dalam segala bentuknya diistilahkan dengan mamon (LBI, 1981:77).

  Apa yang dikatakan Yesus mengenai sikap hidup di sini bertentangan langsung dengan pendekatan manusiawi yang biasa yaitu berusaha untuk mengendalikan hidup dengan mengusahakan segala hal yang diperlukan, dan menutupi segala kekurangan. Kerisauan mengenai hal-hal demikian adalah tanda kurangnya iman dan salah paham mengenai Allah. Mereka yang pandangannya tidak terfokus pada ketaatan terhadap kehendak Allah akan tercebur sendiri ke dalam kegelapan.

  Keputusan untuk melawan atau memihak Allah perlu tampak dalam segala dimensi dari kehidupan seseorang. Manusia harus memilih antara Allah dan kesejahteraan duniawi belaka (Bergant, 2002:44), tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan, karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain (Mat 6:24). Tuntutan Yesus menjangkau jauh sampai ke dasar harta simpanan manusia.

  Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan dan minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah di antara ... Dan mengapa kamu kuatir akan ... Perhatikanlah bunga bakung di ladang yang tumbuh tanpa bekerja dan memintal, ... Salomo dalam kemegahannya tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi ... tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?” (Mat 6:25- 30). Hidup itu adalah tubuh dan jiwa, yang lebih penting daripada harta seperti makan dan pakaian. Sebagaimana Yesus telah memenangkan perjuangan-Nya melewati godaan, Ia berkata “manusia bukan hidup dari roti saja” (Luk 4:4), dengan demikian bahwa ada yang lebih penting dalam hidup dari pada makanan. Tidak peduli bagaimana orang ingin melindungi hidupnya agar sehat dan selamat, panjangnya hidup adalah semata-mata dikendalikan oleh Allah (Bergant, 2002:138- 139). Manusia sendiri lebih penting dari perabotan dan perlengkapannya. Bukan berarti makan dan pakaian tidak penting bagi manusia, melainkan manusia dalam memenuhi kebutuhannya harus lebih menggantungkan kepercayaan kepada Allah penyelenggara hidup.

  Jadi, hal-hal yang duniawi tidak sepenuhnya mencukupi kebutuhan jasmani dan rohani manusia. Yesus menyampaikan, bahwa Allah telah menyelenggarakannya juga untuk manusia, juga untuk ciptaan-Nya yang lebih rendah. Pandanglah burung- burung di langit (ay. 26), perhatikanlah bunga bakung di ladang (ay. 28). Jadi, tentu Ia akan lebih lagi memperhatikan manusia (LBI, 1982:76). Hal yang dilarang adalah kekhawatiran, jadi bukannya mengurus dan memikirkan lebih dulu apa yang diperlukan dirinya sendiri saja. Menyediakan dan mencari kebutuhan benda bukannya tidak penting, tetapi motif pertama haruslah kehendak Allah. Datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu (ay. 10).

  e. Ajaran Yesus Tentang Sesama Perumpamaan Yesus melalui kisah orang Samaria yang baik hati, memberikan suatu gambaran mengenai pemuridan kristen dalam istilah kasih kepada sesama atau pelayanan aktif, dan kasih kepada Yesus atau doa. Keduanya digabungkan untuk melukiskan jalan kepada kehidupan kekal.

  Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus, “Dan siapakah sesamaku manusia?” Jawab Yesus “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yeriko, ia jatuh ke tangan penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu, ia melihat orang itu tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang lewi datang ke tempat itu, ketika ia melihat orang itu ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria yang sedang dalam perjalanan ke tempat itu, dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya (Luk 10:29-34). Cerita mengenai orang Samaria yang baik hati dimaksudkan untuk menentang suatu pola pikir yang salah tetapi diterima, sehingga nilai-nilai dari Kerajaan Allah dapat masuk ke dalam sistem yang ketat. Hal ini dilakukan dengan menunjukkan seorang Samaria, anggota dari kelompok yang dihina dan dicemooh orang-orang Yahudi tetapi melakukan pelayanan kasih yang dihindari oleh pemimpin agama Yahudi (Bergant, 2003:135-136). Ini mengejutkan, dan bagi orang Yahudi tidak dapat dipercaya dan diterima. Seorang imam Yahudi jika melakukan pertolongan kepada orang yang luka, secara otomatis ia menjadi najis.

  Untuk menjadi tahir kembali, ia harus menjalani upacara khusus selama seminggu dan tidak boleh mengikuti keagamaan bersama umat lain. Begitu juga kaum Lewi ikut melayani ibadat di Bait Suci sebagaimana para imam, walaupun mereka tidak berstatus sebagai imam. Baik imam maupun Lewi tidak mau menolong orang yang terluka berat itu (Stefan Leks, 2003:3001).

  Pelayan-pelayan Bait Suci tersebut hanya sebagai sarana kontras yang tajam. Mereka tidak mengasihi, sedangkan orang Samaria justru mengasihi, malah berbelas kasih. Tindakan belas kasihan orang Samaria sungguh ironis karena di mata orang Yahudi, orang Samaria bukan sesama. Namun, justru orang Samarialah yang membuktikan dirinya sebagai sesama bagi orang lain meskipun tak dikenalnya.

  Menurut Yesus, sesama bukanlah soal darah, kebangsaan atau persekutuan keagamaan tetapi ditentukan oleh sikap yang dimiliki seseorang terhadap orang lain (Bergant, 2003: 136).

  Sesama ialah setiap orang yang sedang membutuhkan bantuan dan uluran tangan dari individu. Imam dan kaum Lewi tahu benar mengenai perintah Allah, tetapi mereka tidak memiliki tujuan yang mendalam, sementara apa yang dilakukan oleh orang Samaria menunjukkan bahwa ia mengetahui hukum daripada para wakil resmi agama Yahudi. Inti dari ajaran Yesus ini ialah memperlakukan orang lain sebagai sesama dan saudara dengan kasih. Sebab dengan kasih orang dapat membawa manusia kepada Allah dan keselamatan.

C. Situasi Kehidupan di Indonesia Zaman Sekarang

  Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) secara geografis menempati wilayah dari Sabang sampai Merauke yang selanjutnya disebut Nusantara. Tanah air Indonesia mempunyai julukan, salah satunya sebagai negara agraris karena memiliki tanah pertanian yang subur. Bukan saja tanahnya yang subur tetapi juga rakyatnya yang Bhineka tunggal Ika karena terdiri dari beraneka ragam suku bangsa, bahasa dan budaya.

  Seiring dengan laju pertumbuhannya, baik ilmu pengetahuan dan teknologi maupun sumber daya manusianya, di satu sisi membawa dampak positif dan di sisi lain membawa dampak negatif bagi kehidupan manusia. Dampak positif itu dapat dilihat dari pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sungguh berguna bagi hidup manusia, sedangkan dampak negatifnya sebagai akibat dari penyalahgunaan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut, juga karena kurangnya pemahaman akan akibat yang ditimbulkan oleh perbuatan manusianya. Sebab dan akibat yang terjadi itu ada yang secara alami, tetapi ada juga yang disebabkan oleh perbuatan manusia itu sendiri. Dengan laju pertumbuhan dari waktu ke waktu, baik pembangunan, jumlah penduduk, maupun bidang-bidang lain, banyak hal yang terjadi pada alam sekitar dan kehidupan masyarakat dengan segala akibat yang harus ditanggungnya.

  Berikut ini adalah beberapa dari sekian banyak situasi yang terjadi dan dialami oleh masyarakat Indonesia zaman sekarang.

1. Lingkungan Alam

  Keadaan alam Indonesia sudah mengalami kerusakan, bahkan sudah berada dalam katagori yang parah. Bukan saja oleh perubahan alam itu sendiri tetapi juga akibat perbuatan manusia. Kerusakan lingkungan sudah terjadi di mana-mana, semuanya itu sudah pasti berdampak buruk bagi kehidupan manusia di sekitarnya.

  Sebagai contoh peristiwa alam, di pulau Sumatra terjadi tsunami, gempa bumi yang meluluh lantakkan daerah itu. Begitu juga di tempat lain seperti di pulau Jawa terjadi gempa bumi, erupsi gunung merapi, angin topan, tanah longsor, lumpur panas, dan peristiwa biasa lainnya. Daerah pulau Kalimantan terjadi penebangan hutan secara liar (illegal logging) dan penambangan emas secara liar pula, akibatnya banjir dan pencemaran lingkungan terutama sungai sebagai sumber air. Kebakaran hutan juga mendapat andil, yang melahap ribuan hektar lahan perkebunan penduduk sebagai salah satu sumber daya alam yang dimiliki (IDRD. 2003:27).

  Keadaan tersebut bahkan masih berdampak sampai saat ini. Bagi mereka hutan tidak hanya memiliki fungsi ekologis, tetapi memiliki pula fungsi sosial dan ekonomis. Hutan memberikan kekayaan keragaman flora dan fauna yang dimanfaatkan oleh masyarakat, juga memberikan keuntungan ekonomis. Karena itu keberadaan hutan dipahami oleh masyarakat daerah sekitar bukan saja sebagai kawasan yang menjadi bagian dari identitas mereka, tetapi juga sebagai sumber pendapatan (Leo, 2007:29). Begitu juga pengelolaan dan pemanfaatan hasil hutan telah dilakukan masyarakat dengan cara-cara tradisional yang didasari oleh asas keseimbangan alam dan kebutuhan konsumsi masyarakat, sehingga tetap terjaga kelestariannya. Pada masyarakat Dayak di Kalimantan sebelum keadaan sekarang ini, ada kearifan lokal dalam mengelola hutan seperti ajaran “Kaharingan”.

  Ini dipakai sebagai panduan bagi mereka bahwa memanfaatkan hutan dan alamnya dengan memperhatikan kepentingan ekologis hutan itu sendiri. Sekarang ini, apa yang telah terjadi tidak sejalan lagi dengan kearifan lokal tersebut. Perusahaan-perusahaan besar telah masuk dengan Hak Pemanfaatan Hutan (HPH) yang dimilikinya, seperti Perkebunan kelapa sawit/Perkebunan Inti Rakyat (PIR) dan Hutan Tanaman Industri (HTI) misalnya yang ada di Kalimantan atau yang ada di Sumatra. Dengan masuknya perusahaan, proses industrialisasi tradisional pemanfaatan hutan dan alam tersebut telah bergeser. Pengelolaan hasil alam yang mendapat dukungan dari negara memiliki dampak yang luas, baik secara ekologi maupun secara sosial, budaya dan ekonomi (IDRD, 2003:40).

  Dari aspek ekologi jelas akan membawa dampak kerusakan lingkungan yang tak terkendalikan jika tidak dikelola dengan memperhatikan kelestarian sebagai sumber penghidupan dan ekonomi. Aspek sosial budaya, kapitalisasi pemanfaatan alam dan hutan akan menyebabkan masyarakat yang selama ini menggantungkan hidup mereka pada keberadaan potensi alam tersingkir oleh migrasi penduduk luar daerah yang berusaha merambahnya. Sedangkan aspek ekonomi, kapitalisasi potensi alam lebih memberikan keuntungan pada pemegang modal dan elite daripada menguntungkan masyarakat. Upaya mengatasi permasalahan daerah akibat unsur luar, otonomi daerah telah diberlakukan sebagai pelaksanaan UU. No. 22 tahun 1999. Hak untuk mengelola potensi alam telah diberikan kepada daerah. Namun, pada kenyataannya dalam kasus tertentu membuka peluang yang lebih parah oleh elite- elite lokal (Laporan ICG No.19, 29, 39 thn. 2001-2002 dalam BASIS Januari 2007).

  Seperti pada kasus Papua dan Kalimantan menggambarkan bagaimana masyarakat adat tergeser dari tanah adatnya oleh karena yang mengelola tanah adat mereka kini adalah para pemilik modal yang memiliki Hak Pemanfaatan Hutan/HPH (Leo, 2007:29). Logika yang terbangun adalah bagaimana mereka (pemilik modal) dapat melipatgandakan kapitalnya tanpa banyak memperhitungkan dampak bagi masyarakat di sekitarnya. Dampak itu bisa berupa hilangnya lahan pencaharian masyarakat sebagai warisan leluhur, bisa juga pencemaran lingkungan seperti tanah, udara, dan sumber air terutama sungai beserta ekosistemnya akibat limbah perusahaan. Masyarakat sekitar tidak pernah merasakan keuntungan yang cukup berarti atau jauh dari selisih keuntungan yang diperoleh pemilik modal. Padahal masyarakat sekitar melihat dengan mata kepala sendiri secara langsung betapa banyak hasil eksplorasi yang dihasilkan daerah yang mereka tempati. Kerugianlah yang banyak diderita, dengan akibat lain mereka terpaksa menjadi kuli di tanah sendiri.

  Tempat lain seperti Flores, Maluku, Sulawesi, juga tidak luput dari bencana alam dan keadaan yang tidak menguntungkan lainnya dengan kadar masing-masing.

  Alam akibatnya rusak, masyarakat hidup susah, bumi yang seharusnya menjadi tempat yang nyaman untuk didiami menjadi gerah dan kurang dapat dinikmati. Dari keadaan itu semua dapat dilihat betapa alam Indonesia sudah jauh dari sebutan sejahtera. Semua itu tinggal mimpi yang masih harus bertahan dalam bayangan masyarakat. Kerusakan alam Indonesia bahkan sudah berada diambang batas kewajaran seperti yang terjadi di Kalimantan (Siyok, 2003:27). Tidak menutup kemungkinan bahwa sampai saat ini kerusakan alam semakin bertambah karena

  

illegal logging sebagai salah satu faktor penyebabnya, hampir tidak mungkin

dihentikan.

2. Situasi Kehidupan Masyarakat

  Sebagai akibat dari peristiwa yang sering terjadi, juga kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, situasi kehidupan ikut dipengaruhi olehnya. Banyak peristiwa terjadi di negara ini, bukan saja di kota-kota besar tetapi juga telah merambat sampai ke pelosok-pelosok desa.

  Selain peristiwa alam, berbagai tindakan kriminal atau kejahatan lain dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat yakni kalangan profesi seperti politikus, pelaku ekonomi dan bisnis, pejabat-pejabat dalam pemerintahan, orang tua, anak-anak, laki- laki dan perempuan, dan berasal dari berbagai agama yang ada di tanah air. Hal ini dapat dicontohkan dengan maraknya tindakan kekerasan dalam masyarakat. Dapat dilihat dalam rentetan peristiwa misalnya kerusuhan Mei 1998 dengan target etnis Cina, perang saudara di Maluku antara orang Muslim dan Kristen, perselisihan etnis di Kalimantan antara Dayak dan Madura, pembunuhan dukun-dukun santet di Banyuwangi, tawuran antar pelajar, aksi premanisme, kekerasan suami istri, kekerasan orang tua anak, dan kini marak kekerasan antar organisasi massa/ormas (Leo, 2007:60).

  Dalam banyak kasus seperti: pembunuhan, praktek trafficking, pelecehan seksual, penipuan, penganiayaan, pencurian, berperan besar di dalamnya sebagaimana yang dapat disaksikan melalui media massa lain dan tayangan televisi seperti Brutal, Sidik, Patroli, Jejak Kasus. Misalnya seorang ayah memperkosa anak kandungnya sendiri, pelecehan seksual dibawah umur, perselingkuhan, dan berbagai macam pelecehan seksual lainnya yang menggambarkan penodaan terhadap martabat manusia.

  Berbagai kekerasan itu begitu gampang terjadi dalam masyarakat, lebih-lebih yang dipicu oleh keinginan balas dendam. Satu orang terkena kekerasan, ia segera mencari sasaran lain untuk melampiaskan dendam akibat kekerasan yang dideritanya. Bukan saja terjadi dalam masyarakat tetapi juga telah merambat pada lembaga pendidikan, pemerintahan, klub-klub olah raga, dan golongan tertentu yang berkedok lembaga agama. Bahkan mereka yang sehari-hari kelihatan alim dan saleh tiba-tiba rela terpercik darah ketika disulut kekerasan. Demikianlah dalam sekejap banyak orang bisa ketularan kekerasan; saling menyiksa, dan membunuh hampir tanpa habis-habisnya.

  Selain perbuatan jahat tersebut, tindakan penodaan martabat manusia yang banyak terjadi adalah kasus pembunuhan. Suami membunuh istri dan sebaliknya, anak membunuh orang tua, suami atau istri menghabisi keluarganya sendiri, teman membunuh teman, ada juga yang karena himpitan banyak faktor melakukan tindakan bunuh diri. Terjadinya pembunuhan tersebut dapat saja diakibatkan oleh hal-hal kecil yang terjadi dalam masyarakat. Dalam lingkup yang lebih besar, misalnya adanya pemboman tempat-tempat tertentu seperti gereja, masjid, hotel di mana orang banyak keselamatan masyarakat dan negara, bahkan ada yang berkedok sehingga menyebabkan keresahan.

  Kasus lain yang dapat menodai martabat manusia adalah penyalahgunaan kebebasan individu kepada hal-hal yang kurang baik seperti banyaknya masyarakat dari berbagai kalangan, jenjang umur, jenis kelamin yang terlibat penggunaan obat- obat terlarang, sex bebas (free-sex), minum minuman keras, cara-cara mengakhiri hidup dengan jalan pintas, dan lain-lain. Begitu pula hal lain yang dipengaruhi oleh kemajuan teknologi yang seharusnya dimanfaatkan untuk kehidupan yang lebih baik, tetapi disalah gunakan seperti tontonan yang tidak sehat/pantas. Akibat pemahaman yang kurang, ini mengakibatkan orang menghantar dirinya kepada hal-hal negatif seperti konsumerisme yang sifatnya memakai tanpa memunculkan kreatifitas manusia.

  Sifat hedonisme semakin dimunculkan karena orang cenderung mencari nikmatnya saja dengan apa yang ada. Kejadian-kejadian tersebut sangat memprihatinkan karena memperlihatkan bahwa manusia semakin tidak mampu menghargai nilai-nilai kemanusiaan dan nilai kebenaran yang berasal dari ajaran agama dan moral. Hidup manusia semakin dikuasai oleh hasrat kuasa, keuangan dan kehormatan. Para birokrat atau pejabat pemerintahan banyak menggunakan cara-cara yang tidak baik demi suatu kedudukan tanpa memperhitungkan konsekwensi yang akan ditimbulkannya. Janji-janji palsu yang diistilahkan “tebar pesona” begitu kuat didengar. Ketika sudah menduduki jabatannya, seakan tidak tahu lagi apa yang pernah diucapkannya kepada masyarakat, yang ada hanya janji tinggal janji. Dampak yang dirasakan masyarakat bisa dilihat ketika terjadi bencana alam yang menimpa

  Begitu mudahnya pemerintah memberikan janji untuk membangun kembali tempat tinggal yang hancur akibat bencana termasuk jaminan biaya hidup para korbannya, namun memenuhinya tidak semudah mengatakannya. Banyak masyarakat yang beraksi menuntut hak mereka supaya dipenuhi. Selain itu birokrasi yang berbelit-belit terhadap korban yang sudah jelas-jelas mengalami penderitaan. Hal ini dilakukan bukan saja oleh kalangan pemerintahan, tetapi juga orang-orang yang berkedok organisasi sosial dengan berbagai macam alasan bahkan sampai yang tidak masuk akal. Ini menandakan bahwa manusia belum sepenuhnya bebas dari egoismenya yang mementingkan pribadi, lapisan, dan golongannya.

  Pada awal tahun 2007, di tengah keadaan negara Indonesia yang carut marut akibat bencana dan himpitan krisis multidimensi yang masih tak kunjung pulih, seakan menjadi awal dari munculnya rentetan peristiwa yang mengerikan di negeri ini sesudah peristiwa lain terjadi tahun sebelumnya. Mulai dari tenggelamnya atau terbakarnya sarana transportasi laut, disusul terjungkalnya sarana transportasi darat, hilang/jatuhnya sarana transportasi udara, dan berikutnya pada bulan Maret kembali terjadi kecelakaan transportasi udara. Ratusan bahkan ribuan nyawa manusia melayang begitu saja dengan sia-sia. Ini merupakan tragedi yang dialami sebuah negara dengan menggoreskan luka, duka, derita, kecemasan, ketakutan dan kegelisahan yang berlarut-larut bagi masyarakat.

  Bencana telah merenggut begitu banyak dimensi dari kemanusiaan seperti; hilangnya orang-orang yang dicintai, harta benda, karier dan pekerjaan. Setelah itu, kemudian merasa masa depan yang suram ketika tidak tahu harus berbuat apa untuk hidup ini. Kalau pun masih tersisa secercah optimisme, orang juga bingung dari suatu tempat yang tak mengenal ujung pangkal. Situasi ini juga menimbulkan kegundahan, baik bagi mereka yang empunya anggota keluarga yang tertimpa musibah, maupun bagi masyarakat, lembaga/instansi yang peduli pada sesamanya.

D. Gereja menanggapi Situasi Kehidupan di Indonesia Zaman sekarang

  Allah telah memberi karunia-karunia khusus di antara umat. Karunia ini menjadikan umat terampil dan siaga untuk menerima berbagai karya dan tugas yang berguna bagi pembangunan juga pewartaan Gereja sesuai dengan bimbingan Roh Kudus. Dalam surat Petrus yang pertama tentang hidup orang Kristen dikatakan “Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap- tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah” (1Ptr 4:10).

  Umat Allah yang disebut “Gereja” dipanggil untuk mewartakan Kerajaan Allah seturut teladan dan ajaran peletak dasarnya yaitu Yesus sendiri. Berarti pola hidup Kristus, gaya hidup Kristus menjadi gaya hidup Gereja dalam segala tindakannya untuk menyampaikan kasih Allah kepada umat manusia. Gereja mesti terbuka kepada segala bangsa. Oleh Konsili Vatikan II dalam konstitusi dogmatis Lumen art. 26 tentang Gereja dikatakan:

  Gentium

  Gereja Kristus sungguh hadir dalam semua jemaat beriman setempat yang sah, yang dalam Perjanjian Baru disebut Gereja. Gereja-gereja itu, di tempatnya masing-masing, dengan sepenuhnya merupakan umat baru yang dipanggil oleh Allah dalam Roh Kudus.

  Oleh karena itu, setiap anggota jemaat harus menjadi pewarta semangat Kristus yang mewartakan Kerajaan Allah. Di mana-mana dan dalam bentuk yang berbeda- beda, terwujudlah satu Gereja Kristus yang menyampaikan kasih Allah kepada umat manusia yang membutuhkan uluran tangannya. Gereja Kristus adalah umat yang beriman akan Yesus Kristus, yang berusaha menyampaikan kasih Allah kepada umat manusia seturut teladan dan ajaran Yesus Kristus. Gereja yang sedang berziarah di tengah dunia ini terlibat dalam sejarah umat manusia. Gereja tidak hidup demi dirinya sendiri melainkan demi Allah dan umat yang dipercayakan oleh Allah kepadanya. Gereja menyadari bahwa Allah berkehendak untuk memperbaharui segala sesuatu di dunia ini di dalam Kristus melalui Gereja-Nya. Gereja menyampaikan kesaksian hidup tentang Dia dan kebenaran yang menyelamatkan, terutama melalui hidup iman-cintakasih, dan persembahan pujian demi keluhuran Allah.

  Gereja mewujudkan iman dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat melalui tugas masing-masing anggota dan mengarahkan dunia yang profan kepada Kristus. Dengan semangat Injil meresapi dan menyempurnakan dunia, serta oleh bimbingan Roh Kudus dan melalui kesaksiannya, menghadirkan Kerajaan Allah.

  Ketika Yesus naik ke Surga, Ia berpesan kepada murid-murid-Nya “Kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria, sampai ke ujung bumi”(Luk 1:8). Menjadi saksi Kristus berarti hadir serta hidup dan bekerja dalam semangat Kristus, begitu juga memberi kesaksian berarti membiarkan orang lain bebas untuk menentukan sendiri sikapnya, menghormati orang lain dan tidak mencampurinya (Magnis Suseno, 2004:56).

  Menjadi saksi Kristus dalam masyarakat juga berarti hidup dengan bertindak dan bekerja di tengah-tengahnya sesuai dengan semangat Injil di mana pun berada; di rumah, di tempat kerja, di pasar, dsb. Konsili Vatikan II dalam konstitusi dogmatis dikatakan bahwa “Gereja dalam ajaran, hidup serta ibadatnya melestarikan serta art. 8). Orang beriman kristiani dipanggil untuk membawa hidup kekristenannya kepada umat manusia. Membawa kekristenan berarti membawa Yesus Kristus dan tugas perutusan-Nya sebagai Gembala utama.

  Dalam Iman Katolik, mengenal Yesus Kristus dan karya-Nya, berarti mengenal Yesus Kristus dan karya-Nya sebagaimana dilihat dan dihayati oleh para murid-Nya.

  Yesus Kristus adalah pemberi makna hidup, Ia adalah penyelamat hidup manusia. Bukankah semua manusia mengharapkan juru selamat bagi hidupnya? Pada suku Jawa juru selamat itu disebut Ratu Adil, pada suku Irian disebut Fanseren Manggudi, dan sebagainya.

  Harapan akan juru selamat merupakan impian universal. Konsili Vatikan II dalam konstitusi dogmatis tentang Gereja dikatakan “Gereja sendiri bukan tujuan, tujuannya adalah Kerajaan Allah, yang oleh Allah sendiri telah dimulai di dunia” (LG, art. 9). Demikian pula konstitusi pastoral tentang Gereja dalam dunia modern dikatakan “Oleh karena itu, berdasarkan Injil yang dipercayakan kepadanya, Gereja mewartakan hak-hak manusia dan mengakui serta menjunjung tinggi dinamismenya jaman sekarang” (GS, art. 41). “Manusialah dalam kesatuan dan keutuhannya, beserta jiwa maupun raganya, dengan hati serta nuraninya, dengan budi dan kehendaknya, adalah poros segala kegiatan Gereja” (GS, art. 3).

  Gereja berpedoman pada sabda Yesus “Sabat untuk manusia, dan bukan manusia untuk Sabat” (Mrk 2:27). Berpedoman pada sabda Yesus itu kiranya dapat dikatakan bahwa bukan manusia untuk Gereja, dengan segala ajaran dan ibadatnya, melainkan Gereja untuk manusia. Gereja membantu dunia dan menerima banyak dari dunia, yang dimaksudkannya hanyalah supaya datanglah Kerajaan Allah dan

  Gereja dipanggil supaya melayani manusia dan umat seluruhnya. Manusia yang dimaksudkan ialah segenap keluarga manusia beserta kenyataan semesta yang menjadi lingkungan hidupnya, ditandai jerih payah, suka-duka, kecemasan, kekalahan, kejayaan, dan perbudakan dosa. Oleh karena itu manusia dituntut agar senantiasa mengamati situasi penuh perhatian, sanggup belajar dari pengalaman dan mampu menanggulangi situasi-situasi baru, bijaksana dan luwes pemikirannya, bila perlu mengubah kegiatannya. Singkatnya, orang tidak hanya harus berani tetapi juga mampu memilih jalan hidupnya. Yakin karena pegangan utamanya adalah iman, dalam perjuangan bersama itu Gereja menemukan medan pelayanannya, yaitu sesama yang mencari kehendak Tuhan dan arah hidup.

  Anggota Gereja dalam segala tindakannya perlu mempunyai spiritualitas yang menghidupkan. Gereja adalah saluran rahmat dan kasih Allah bagi sesama yang di luar Gereja juga. Seperti diketahui, masyarakat Indonesia secara formal menjunjung tinggi Ketuhanan Yang Maha Esa namun demikian prilakunya tidak cukup mencerminkan sikap yang dijunjung itu. Walaupun kelihatan begitu rajin melaksanakan macam-macam peraturan dan upacara keagamaan dengan tekun, tetapi berbagai keutamaan hidup seperti tanggung jawab, kejujuran, dll. kurang dihargai. Kelihatannya situasi masyarakat sekarang ketika orang merasa sudah beriman masih cenderung kepada keduniawian yang kurang berimbang (demi uang/harta, popularitas).

  Pertanyaan yang bisa muncul adalah: mungkinkah keduniawian yang demikian itu membangkitkan kerinduan akan hubungan pribadi dengan yang transenden? Untuk itu perlulah dimiliki spiritualitas sebagai orang kristiani yang tidak lain adalah kepada Gereja-Nya. Tugas yang diemban oleh orang yang menghayati spiritualitas Kristus adalah menghadirkan dan mewartakan Kerajaan Allah, demikian hendaknya spiritualitas Gereja serta semua pewarta (PKKI VI).

  Spiritualitas adalah istilah yang banyak dipakai di kalangan Kristen Katolik terutama kalangan biarawan-biarawati katolik untuk tarekat-tarekatnya. Spiritualitas ternyata juga bisa dikenakan untuk kaum awam, maka lazim disebut spiritualitas awam, spiritulitas katekis terutama untuk katekis yang awam. Dalam kalangan Kristen, dengan “spiritualitas” dimaksudkan sebagai sikap atau keterarahan batin dalam setiap tindakan yang diambil. Spiritualitas mengandung nada cita-cita yang menjiwai seluruh diri, cara bersikap, dan bertindak seseorang (Magnis Suseno, 1993:114).

  Spiritualitas berasal dari Roh Allah sendiri, orang Kristen percaya bahwa spiritulitas adalah Roh Allah yang tinggal dalam semua orang beriman (1Kor 3:16).

  Spiritualitas itu hampir sama dengan iman yang sadar. Heuken (2002:205) mengatakan bahwa spiritualitas merupakan segi hidup yang sangat pribadi, yaitu mengamalkan iman akan Kristus pada masa kini, di tempat ini, bersama dengan orang lain dalam masyarakat sebagaimana adanya. Hidup sebagai orang beriman bukan semata-mata mengejar yang rohani saja, kerohanian bukan suatu psycological

  

coating yang melapisi hidup manusia melainkan api hidup yang dalam, yang

  menghangati segala segi hidup sebagai orang beriman. Sikap serta tindakan harus diresapi sedalam-dalamnya oleh iman. Inti Spiritualitas Kristiani adalah keinginan mengikuti Yesus Kristus (meskipun tidak sedikit dalam Gereja-Gereja yang mempunyai cara penghayatan iman dan spiritualitas yang berbeda-beda). Mengikuti

  Tuhan di perjalanan-Nya bisa menjadi motivasi yang amat kuat bagi orang Kristen bila ia mempunyai relasi yang kuat dengan pribadi Kristus.

  Seperti Yesus memanggil murid-murid-Nya yang pertama “Ikutilah Aku” demikian pula hati orang Kristen gembira, tentram dan mantap apabila boleh mengikuti Yesus Kristus. Mengikuti Yesus juga berarti membangun sikap-sikap seperti yang diperlihatkan Yesus seperti kata-Nya dalam Yohanes 13:15, “Aku telah memberikan suatu teladan bagi kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu”. Para murid menghayati diri diutus untuk memperjuangkan cita-cita dan nilai-nilai Injil, mereka mau mengikuti dan mengabdi Yesus dalam usaha untuk mendirikan kerajaan cinta kasih, keadilan, dan damai sejahtera. Dalam para murid terdapat spiritualitas yang memotivasi untuk mengubah dunia yang penuh kekerasan, kebencian, penindasan, ketidak adilan dan kedosaan menjadi tempat di mana sentuhan cinta kasih Allah dapat dirasakan (Magnis Suseno, 1993:115).

  Spiritualitas mestinya menghasilkan transformasi sosial, dia merupakan ragi perubahan-perubahan mendalam bagi kehidupan sosial itu sendiri, yang dalam Ensiklik Paus Yohanes Paulus II Sollicitudo Rei Sosialis, berusaha dekat dengan saudara-saudari yang menderita, diperlakukan dengan tidak adil, marginal dan dalam kesulitan sebagai terjemahan cinta kasih, atau berada dalam situasi di mana orang berada dalam keadaan yang demikian (Magnis Suseno, 1993:122).

  Solidaritas yang memuat sikap cinta sesama yang direalisasikan, diharapkan dapat mengubah masyarakat yang egois dan berdasar struktur-struktur kekuasaan menjadi masyarakat yang solider dan penuh persaudaraan. Solidaritas dapat berarti membantu sekaligus menghormati martabat dan otonominya, bukan semata-mata menjadikannya objek kebaikan tetapi lebih dari itu, berarti memberi diri dengan cinta, perhatian, hormat, kesediaan untuk tidak meninggalkannya dan membantu mengubah nasib mereka yang kurang baik ke arah yang lebih baik dalam hidup.

  Sikap dasar Gereja yang berpegang pada Kristus adalah melayani, bukan dilayani. Bagi Gereja Katolik, Kristus adalah pusat iman. Dengan demikian berarti sikap hidup Kristus pun harus menjadi sikap hidupnya, demikian pula tindakan Kristus semestinya menjadi tindakannya juga. Salah satu tindakan Kristus yang amat mencolok adalah penolakannya terhadap feodalisme atau masyarakat yang betingkat- tingkat dengan membedakan golongan orang, karena itu Yesus bersabda:

  Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian diantara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu, sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Mat 20:25-28).

  Yesus mengenal struktur masyarakat feodal yaitu akan adanya kelas-kelas dan tingkat-tingkat, yang biasa dalam masyarakat. Yesus menghendaki supaya pengikut- Nya bertindak lain, seperti yang diajarkan-Nya yaitu saling melayani. Yesus juga tidak pernah menganggap orang lain lebih rendah dari diri-Nya meskipun Ia mengetahui bahwa sebetulnya Ia tidak sama dengan yang lain. Tindakan Yesus yang paling nyata itu ketika membasuh kaki murid-murid-Nya (Yoh 13:13-14), Ia mengatakan “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani” (KWI, 1996:447). Gereja tidak boleh merasa diri lebih pandai, sehingga mulai menggurui orang lain, semuanya adalah saudara dan harus saling membantu dalam mencari jalan dan arah hidup agar dapat sebisa mungkin menemukan jalannya sebagaimana yang dikehendaki Allah penyelenggara hidup itu. Dalam melayani hendaknya tidak ada perbedaan suku, ras, keturunan, agama, dan latar belakang yang lain, sebab semua manusia sama di hadapan Tuhan. Dalam pandangan Kristen, melayani tidaklah rendah, melainkan mengangkat orang karena membuatnya sama dengan Kristus Tuhan dan Guru yang memberi teladan pelayanan. (KWI, 1996:448).

  Iman Kristen adalah anugerah dan rahmat Tuhan, dan oleh karena itu bukanlah sesuatu untuk dibanggakan. Dasar pengabdian Gereja ialah iman akan Kristus, karena itu barangsiapa menyatakan diri murid Kristus ia wajib hidup sama seperti Kristus hidup yang mangambil rupa seorang hamba. Gereja menegaskan supaya setiap orang memandang sesamanya tanpa kecuali sebagai “dirinya yang lain” dan mementingkan perihidup mereka beserta upaya-upaya yang mereka butuhkan supaya dapat hidup secara layak (KWI, 1996:449). Dalam usaha pelayanan janganlah yang lain menjadi objek belas kasihan, karena pelayanan itu sendiri berarti kerjasama yang di dalamnya semua orang merupakan subjek yang ikut bertanggung jawab.

  Hal yang menjadi pokok adalah harkat, martabat, harga diri, bukan kemajuan segala bidang saja dan bantuan sosial ekonomi yang sifatnya sebagai sarana. Orang Kristen dituntut supaya mengembangkan sikap pelayanan sebagai intisari sikap Kristus. Saling melayani sebagai prinsip dasar kehidupan bersama dalam masyarakat merupakan tindakan yang tidak gampang, maka perlu dipupuk sikap tanggung jawab diri pribadi untuk menuju tanggung jawab bersama. Hal yang demikian sangat perlu dikonkretkan pada praksisnya karena Gereja dipanggil menjadi pelopor pelayanan, hadir pada orang lain sebagai sesama, itulah cara hidup Kristus dan sekaligus memberikan teladan serta menerangkan bahwa demikianlah kehendak Bapa-Nya. Pelayanan Gereja juga mempunyai dasar dalam ketaatan kepada Tuhan. Hukum kasih yang pertama berbunyi “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu”. Sikap iman itu dinyatakan dalam pelayanan kepada sesama, yaitu cinta kepada sesama. Oleh karena itu pelayanan kristiani tidak berdasarkan belaskasihan atau ketaatan kepada perintah, melainkan berdasarkan hormat terhadap Allah Pencipta yang membuat manusia sesuai dengan citra-Nya. Menurut Iman Katolik (1996:451) Gereja mempunyai empat ciri pelayanan:

  Pertama, ciri religiusnya. Ciri religius pelayanan secara konkret ialah ciri kristiani, dan menimba kekuatannya dari suri teladan Kristus. Demikianlah pelayanan mulai di dalam Gereja sendiri, yang dalam Kristus merupakan satu tubuh dengan banyak anggota, yang saling membutuhkan dan melayani (1Kor 12:1-27). Kedua, kesetiaan kepada Kristus sebagai Tuhan dan Guru. Kata Yesus “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya...” (Yoh 15:5). Gereja menyatakan diri sebagai murid Kristus. Dalam hal ini Gereja selalu peka dan mematuhi ajaran Kristus untuk menghasilkan kelimpahan oleh rahmat Tuhan yang menyertainya seperti yang sudah arahkan oleh pemuka Gereja/hierarki. Ketiga, mengambil bagian dalam sengsara dan penderitaan Kristus, yang tetap senasib dengan semua orang khususnya mereka yang malang dan miskin. “Segala sesuatu yang kamu lakukan bagi untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu lakukan untuk Aku” (Mat 25:40). Itulah sabda Yesus yang disampaikan kepada Gereja, Kristus adalah saudara bagi semua orang, oleh sebab itu pelayanan Gereja tertuju terutama kepada mereka yang paling membutuhkan perhatian dan pelayanan. Dengan sepenuh hati Gereja akan melibatkan diri dalam segala usaha yang ingin membebaskan manusia dari penderitaan. Keempat, kerendahan hati. Ini merupakan sesuatu yang penting bagi murid Kristus. Gereja tidak boleh membanggakan pelayanannya, bahkan seringkali hendaknya mengaku dirinya sebagai hamba yang tidak berguna (Luk 17:10). Kerendahan hati merupakan sikap realistis yang mengakui segala keterbatasan segala usaha manusia, termasuk pelayanan Gereja itu sendiri.

  Dengan begitu, pelayanan Gereja berarti menerima dunia dan manusia sebagaimana adanya, serta berusaha mengahayati sikap Kristus di hadapan sesama. Iman umat kristiani dalam masyarakat Indonesia perlu terwujud dalam sikap nyata dan praktis. Magnis Suseno (1993:134) menekankan tiga sikap yang dianggap secara khusus dan spesifik dari umat yang mau mengikuti Kristus:

  Pertama, sikap positif dan mencintai. Orang kristiani mesti memberikan kesaksian bahwa dalam situasi apapun, terhadap mereka yang menghargai ataupun mereka yang membenci, menganiaya dan kurang menghargai, tetap berusaha menghargai mereka. Meski demikian, orang kristiani tidak berarti bersikap lembik atau menerima apa saja yang ditujukan kepadanya, tetapi sikap militan, bersedia berjuang dan masuk ke dalam konflik. Cinta damai tidak sama dengan menerima apa saja yang ada karena takut atau kurang berani, sebab dalam membela hak orang lain harus keras, tegas, berani menentang, juga berani konflik. Orang kristiani juga jangan pernah begitu saja membiarkan hak-haknya diabaikan, namun menolak jalan kekerasan bukan saja kekerasan fisik tetapi juga kekerasan hati. Kedua, sikap kepeloporan. Umat kristiani dituntut kepeloporan hidup dalam gaya alternatif di tengah masyarakat yang tampak hanyut dalam konsumerisme akibat modernisasi. Masyarakat telah dihantui oleh sikap yang dikuasai nafsu untuk memiliki sesuatu yang terkadang bukan karena mereka membutuhkan atau menikmatinya melainkan karena daya belinya itu sendiri. Hal yang demikian karena dimanipulasi reklame yang memberi sugesti bahwa orang yang memiliki komoditas ini atau itu adalah eksekutif, modern, dan sebagainya. Sikap yang demikian biasanya disertai sikap memandang hina dan rendah pada orang kecil dan sederhana. Walaupun ada keberpihakan kepada orang miskin dan kecil, orang kristiani tidak dipanggil untuk hidup miskin tetapi dipanggil untuk hidup sederhana, memberi kesaksian tentang gaya hidup alternatif (gaya hidup Kristus) dan dituntut sebuah eksodus dari gaya hidup yang konsumeristik, juga kekerasan terhadap saudara yang kecil, lemah, miskin dan tersingkirkan. Gaya hidup alternatif itu hendaknya dapat menjadi tanda tantangan positif dan harapan bagi masyarakat seluruhnya. Ketiga, berdiri dipihak saudara yang tak berdaya. Dalam masyarakat ada saudara yang secara khusus dititipkan oleh Tuhan yaitu kaum lemah dan tak berdaya, sebab Kristus secara khusus hadir dalam orang-orang tersebut. Umat Kristus dipanggil untuk berdiri di pihak mereka, oleh sebab itu orang Kristen mesti mempunyai a prefer ential option for the poor.

  Spiritualitas pengikut Kristus mendesak umat kristiani untuk memberikan perhatian khusus kepada para janda, yatim piatu, kepada para pengemis dan orang sakit, dan mereka yang kurang diperhitungkan dalam masyarakat. Pengikut Kristus dipanggil untuk berjuang secara damai, tanpa kebencian tetapi dengan tegas, berani dan tanpa pamrih berjuang demi pembongkaran belenggu-belenggu yang menimpa kehidupan manusia zaman sekarang. Kehidupan di Indonesia saat ini menuntut tindakan semacam itu, sebab dengan begitu dapat meringankan penderitaan orang yang sedang dilanda berbagai persoalan hidup. Mereka akan merasa diperhatikan dan diperhitungkan di antara kebanyakan orang. Kesaksian tentang iman kiranya hanya meyakinkan dan hanya sejati apabila secara nyata ditemukan di pihak mereka yang lemah dan tak berdaya.

BAB III HIDUP MENGGEREJA KONTEKSTUAL SEBAGAI PRAKSIS MENGHAYATI IMAN KRISTIANI Pada bab tiga ini akan dibahas enam hal, yakni: Hidup Menggereja Kontekstual, Bentuk Hidup Menggereja, Bidang-bidang yang Dapat Dijadikan Realisasi Hidup Menggereja, Tantangan Menggereja di Indonesia, Hambatan Menggereja di Indonesia, dan Menghayati Iman Kristiani Dalam Hidup menggereja. Adapun harapan penulis setelah memahami enam hal tersebut jemaat kristiani dapat mengambil maknanya sesuai dengan tugas perutusannya sebagai anggota Gereja. Berikut adalah pembahasannya. A. Hidup Menggereja Kontekstual Hidup sebagai murid Kristus berarti hidup sebagai anggota Gereja yang sudah

  dikuduskan oleh Allah dengan segala konsekuensinya. Hidup menggereja berarti menampakkan iman akan Yesus Kristus, dalam arti luas adalah perwujudan iman dalam hidup sehari-hari, baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat. Menggereja yang memasyarakat berarti pula berhubungan dengan masyarakat sebagai konteks.

  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988:458), istilah konteks berarti situasi yang ada hubungannya dengan suatu kejadian atau keadaan. Banawiratma (1999:190) menjelaskan bahwa, kontekstual berarti suatu usaha yang berhubungan dengan fungsi pelayanan terhadap kelompok yang hidup dalam konteks tertentu.

  Selain itu usaha kontekstual juga ingin menyapa seluruh kelompok manusia, tidak hanya berdasarkan otoritas eksternal, melainkan berpangkal pada otoritas internal dari kenyataan hidup sebagai konteks. Banawiratma juga memberikan alasan bahwa dengan kontekstualisasi lebih bersifat komunikatif dalam dialog karena adjektif kontekstual dipergunakan oleh bidang atau ilmu lain.

  Kontekstual secara eksplisit mempunyai cakupan yang luas, tidak hanya kultur, melainkan juga ekonomi, politik, dan seluruh pengalaman hidup umat beriman.

  Dengan demikian, hidup menggereja kontekstual berarti menggereja dalam hubungannya dengan situasi atau kejadian yang dialami. Dalam menggereja kontekstual, situasi yang dimaksudkan adalah realitas hidup konkrit yang dialami dalam masyarakat. Realitas hidup konkret itu sifatnya aktual dan mendesak untuk ditanggapi dengan segera mengambil sikap bertindak. Gereja masa kini sedang berada dalam situasi itu, dan diharapkan bersikap serta bertindak sebagaimana yang dilakukan dan diajarkan oleh Yesus Kristus.

  Hidup menggereja kontekstual dilakukan dalam jaringan berbagai macam komunitas basis kontekstual yang menurut bahasa Injil terdiri dari siapa saja yang melakukan kehendak Allah, sebagaimana yang dikatakan Yesus “Barangsiapa yang melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku (Mrk 3:35). Cara hidup menggereja kontekstual memberikan penghargaan kepada setiap orang, dengan demikian cara hidup ini juga mengembangkan demokrasi dan keluhuran nilai-nilai hidup serta hak azasi manusia. Dalam hidup menggereja kontekstual diharapkan, semua kharisma baik yang dianugerahkan kepada laki-laki maupun perempuan dapat lebih diterima dan diperkembangkan demi pelayanan bersama (Banawiratma, 2000:195). Pedoman Gereja Katolik Indonesia (1996:5,9,126) menempatkan hidup Gereja Katolik Indonesia di tengah bangsa serta masyarakat Indonesia dengan menyebutnya sebagai

  ... diutus oleh Tuhan menjadi musyafir-hidup bersama seluruh bangsa Indonesia... merasakan segala kegembiraan dan harapan yang serupa dengan kegembiraan dan harapan seluruh rakyat Nusantara... sepenuhnya terintegrasi ke dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

  Sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, maka segala problem dan permasalahan yang dihadapi masyarakat Indonesia dihadapi pula oleh Gereja Katolik Indonesia. Gereja Indonesia mengemban tugas dalam kemajemukan masyarakat dengan suka-duka, kegembiraan dan harapan, maka sudah selayaknya Gereja bersama anggotanya membaharui dirinya terus menerus. Dalam Arah Dasar Gereja Katolik Indonesia (1996:8) butir ke-11 dikatakan bahwa:

  Dengan pendirian dipanggil untuk membangun koinonia yang mengalirkan

  diakonia, ia ingin mengungkapkan penghayatan sebagai bagian integral rakyat

  Indonesia, ... mau mencurahkan segenap tenaga guna menyingkirkan segala hal yang dapat memecah belah persatuan bangsa, dan berpadu dengan seluruh Gereja semesta. Paus Yohanes Paulus II juga meminta Gereja Indonesia untuk menjadi betul- betul Indonesia dan sungguh-sungguh Katolik sebagaimana terungkap dalam

  Pedoman Gereja Katolik Indonesia butir ke-16. Dari situ Gereja bertekad hendak terus menerus melibatkan diri dalam pembentukan hidup keluarga, politik, dan ekonomi, mengabdikan diri dalam pendidikan, kesehatan, komunitas massa, pelbagai karya sosial, dan amal di tengah masyarakat. Pertanyaan yang bisa muncul adalah “Apa yang diharapkan pada Gereja Indonesia sebagai Umat Allah di tengah masyarakat masa kini?” Sebagai himpunan umat Allah ia seperti kawanan domba dengan Yesus sebagai Gembala Utama. Dialah Gembala yang baik yang menyerahkan hidup-Nya bagi domba-domba-Nya (Yoh 10:11).

  Menurut Wibowo Ardhi, seorang penulis buku dengan judul “Arti Gereja” memaparkan bahwa sebagai Umat Allah, Gereja memperlihatkan: 1) Aspek komunio, yaitu yang dibentuk dan dipersatukan oleh pembaptisan. Oleh sebab itu maka adanya kesamaan martabat para anggotanya karena satu dalam Kristus. 2) Aspek misioner, yaitu Gereja yang selalu dan terus menerus mewartakan Kabar Gembira guna menghimpun semua orang kepada Yesus Kristus. 3) Aspek eskatologis, yaitu Umat Allah yang berziarah dalam persatuan dengan Kristus dan dibimbing oleh Roh Kudus menuju Kerajaan Bapa. Keselamatan sudah terjadi dalam Gereja-Nya tetapi belum sempurna (Ardhi, 1993:13).

  Dalam Perjanjian Baru terdapat unsur universalitas umat Allah yang sangat menonjol karena Perjanjian Baru tidak membatasi diri sebagaimana dalam Pejanjian Lama. Universalitas umat Allah mengungkapkan bahwa Gereja dimaksudkan untuk semua orang. Semua orang dipanggil untuk menjadi umat Allah. Gereja memberi tempat dan menerima semua yang baik, semua bakat, kekayaan budaya atau adat- istiadat sejauh tidak bertentangan dengan Injil. Sifat universalitas umat Allah mencakup dan menghapus perbedaan anggota, semua memiliki derajat sama dalam Gereja. Hal ini ditegaskan pula oleh Konsili Vatikan II dalam konstitusi dogmatis

  

Lumen Gentium tentang Gereja sebagai berikut: Segala sesuatu yang telah dikatakan

  tentang umat Allah, sama-sama dimaksudkan bagi kaum awam, para religius, dan kaum rohaniwan (LG, art. 30).

  Dengan demikian di dalam Gereja Kristus, semua orang yang dibaptis dalam nama-Nya telah mengenakan Dia. Karena itu, tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, rohaniwan, para religius sama-sama mengemban tugas sebagai anggota Gereja sesuai dengan fungsinya masing-masing. Keterbukaan Gereja bagi semua orang memiliki konsekwensi, seperti yang dikatakan oleh Y. Suratman, Pr dalam buku yang berjudul “Membangun Komunitas Basis Gerejani” bahwa semua orang dalam kebersamaan bertanggung jawab terhadap Gereja. Semua orang yang dipermandikan mempunyai tanggung jawab bersama untuk ikut serta membangun hidup Gereja, termasuk mereka yang miskin dan kecil. Dengan demikian Gereja tidak menjadi monopoli orang-orang tertentu saja (Suratman, 1999:24).

  Konsili Vatikan II juga menekankan ciri komuniter Gereja dalam berbagai dimensi di antaranya kesatuan antara anggota Gereja, kesatuan Gereja partikular dan Gereja Universal, kesatuan Gereja universal dengan seluruh umat. Ciri-ciri komunitas yang ditegaskan oleh Konsili itu pertama-tama terungkap dalam keluarga dan dalam berbagai komunitas gerejawi yang kecil. Berkaitan dengan hal itu, Suratman menjelaskan bahwa dalam komunitas itu orang saling mengenal, mendukung dan melayani satu sama lain, dan juga semakin dipersatukan dengan sesama, Tuhan dan seluruh Gereja (Suratman, 1999:25).

B. Bentuk Hidup Menggereja

  Komunitas basis adalah suatu cara bentuk menggereja yang sesuai dengan kebudayaan, persaudaraan dan gerakan demokratis. Pembentukan komunitas basis menjadi prioritas Gereja di Asia karena Gereja di Asia menyadari kenyataan bahwa Gereja akan menjadi Gereja dan mendapat wujud konkrit dalam basis yaitu dalam anggota-anggotanya. Komunitas basis berdasarkan Federation of Asian Bishop

  

Conference (FABC), Bandung, 1990 adalah persekutuan paguyuban-paguyuban di mana kaum awam, imam, biarawan-biarawati, saling mengakui dan menerima sebagai saudara-saudari, dipanggil dan dibimbing untuk membentuk Komunitas Basis Gerejani, mereka berdoa dan sharing Injil, serta membawanya ke dalam kehidupan sehari-hari. Paus Yohanes Paulus II dalam Ensiklik Church Missionary

  

Mandate mengatakan bahwa Komunitas Basis Gerejani merupakan tanda dari daya

hidup atau vitalitas Gereja sendiri.

  Sebenarnya menggereja dengan komunitas basis bukan merupakan cara baru dalam Gereja katolik. Paling tidak, komunitas basis sudah pernah ada cikal bakalnya seperti yang ada di Kalimantan dan Nusa Tenggara, jauh sebelum SAGKI (KomKat KWI, 2005:23). Hal yang masih menjadi persoalan ialah pemahaman dan perwujudannya secara memadai untuk beberapa keuskupan di Indonesia. Dengan memilih komunitas basis, mau dihidupkan apa yang merupakan Gereja itu sendiri, yaitu kumpulan orang beriman yang dihimpun oleh Yesus Kristus sebagai suatu umat yang berjalan bersama dalam bimbingan Roh Tuhan menuju ke Allah Bapa.

  Memahami komunitas basis tentu memerlukan kajian secara khusus, demikian pula dengan Komunitas Basis Gerejawi. Pembahasan komunitas basis di sini lebih bersifat gambaran umum yang merupakan penekanan untuk memungkinkan gerak langkah Gereja menjawab panggilan Allah.

1. Komunitas Basis Kristiani

  Komunitas Basis Kristiani disebut juga dengan Komunitas Basis Gerejawi (KBG). Komunitas Basis Gerejawi menekankan partisipasi antar umat dengan umat, dan gembala dengan umat serta dengan semua orang. Dengan adanya partisipasi dan penghargaan yang sama terhadap semua orang, maka diharapkan Gereja mampu menggerakkan umat menjadi aktif karena merasa ikut memiliki. Umat merasa ikut bertanggung jawab terhadap maju mundurnya Gereja. Komunitas Basis Gerejawi dipanggil untuk memberikan kesaksian akan kehidupan masyarakat yang sederajat dan memberi tempat satu sama lain demi kebaikan hidup bersama.

  Dalam negara Filipina, cara menggereja dengan KBK/BEC (Basic Ecclesial

  

Community) , yang dikatakan basic itu adalah bahwa Gereja itu sendiri merupakan

derivasi/turunan dari Kristus sebagai Imam, Nabi, dan Raja (Margana, 2004:87-88).

  Gereja memiliki derivasi ke-imam-an Yesus karena komunitas basis senantiasa beribadat baik dalam perayaan liturgi seperti Ekaristi, sabda, dan Sakramen- Sakramen maupun perayaan liturgis yang sesuai dengan kalender liturgi. KBG juga membawa ke-Nabi-an Yesus karena memberikan kesaksian, mewartakan Injil, mendapatkan dan memberikan pewartaan, serta tak henti-hentinya mengingatkan mereka yang melenceng dari jalan yang benar.

  Selanjutnya KBG mewujudkan ke-Raja-an Kristus yaitu dengan selalu melayani, peduli terhadap kebutuhan sesama, berjuang demi tegaknya keadilan dan kebebasan. Dengan melaksanakan sikap Kristus tersebut, Gereja sudah menjalankan beberapa fungsinya yaitu sebagai Kerygma, Diakonia, Martyria, Leitourgia.

  Komunitas berarti relasi vital antar anggota yang mengungkapkan adanya solidaritas dan sikap tolong menolong antar anggota, dan merupakan suatu bentuk yang mendalam, stabil, terencana, menggairahkan dalam hidup bersama. Secara teologis, basis berarti apa yang mendasar pada prinsip kristiani yaitu tingkatan di mana Gereja sungguh-sungguh merupakan kehadiran keselamatan bagi masyarakat yang terdiri dari individu-individu (Hardaputranta, 1993:38). Sunarko (1991:38),

  Pertama, KBG adalah komunitas yang berusaha untuk sadar akan kenyataan hidup dan kehidupan, misalnya; harapan, perjuangan, ketakutan, impian kegembiraan, dan kekuatan-kekuatan yang ada dalam diri komunitas. Kedua, KBG adalah komunitas yang dengan Sabda Allah mampu melihat kembali pengalaman-pengalaman hidup dan mengambil sikap tertentu untuk membangun hidup komunitas, serta makin menyadari panggilan Allah dalam diri supaya dapat menghadapi situasi nyata.

  Ketiga, KBG adalah suatu komunitas yang menyembuhkan dan memperdamaikan. Artinya komunitas yang sadar bahwa akibat dosa dapat menimbulkan perpecahan dalam diri manusia. Namun juga menyadari bahwa komunitas memiliki kekuatan yang dapat mempersatukan karena diri setiap orang merindukan damai, persatuan, persaudaraan dan rasa aman. Keempat, KBG adalah suatu komunitas yang kokoh dan tersusun secara teratur, komunitas yang sengaja dibentuk untuk membangun hidup yang penuh persaudaraan, persatuan, kekompakan, kedamaian, dan aman dengan memanfaatkan seluruh kekuatan komunitas.

  Kelima, KBG adalah suatu komunitas yang kuat imannya, komunitas yang menyadari bahwa dalam menghadapi kenyataan hidup tidak hanya mengandalkan kekuatan sendiri, tetapi memerlukan kekuatan Allah yang terungkap dalam doa dan perayaan iman.

  Keenam, KBG adalah komunitas yang berpusat pada Kristus. Artinya komunitas yang mengikuti pola hidup Kristus yang membebaskan manusia dari penindasan dan mengutamakan mereka yang lemah, berani mengkritik ide-ide yang merendahkan martabat manusia. Dalam seluruh segi hidupnya komunitas menampakkan diri sebagai murid Kristus. Ketujuh, KBG adalah komunitas yang terbuka bagi masyarakat luas. Komunitas ini tidak hanya berpusat pada anggota-anggota dan permasalahannya, tetapi juga mau ikut serta menerima dan memikirkan permasalahan yang dihadapi orang-orang di luar komunitasnya dan mau bekerjasama dengan orang yang berkehendak baik.

  Kedelapan, KBG adalah komunitas yang mau membangun seluruh segi kehidupan manusia. Komunitas yang dibangun bukan saja segi hidup iman, tetapi seluruh segi hidup di mana iman akan Kristus mewarnai segi-segi hidup yang lain.

  Kesembilan, KBG adalah komunitas yang membebaskan anggota-angotanya dari ikatan-ikatan yang terdapat dalam seluruh segi hidupnya sehingga mereka dapat berkembang sebagai murid Kristus. Dengan adanya uraian tersebut di atas maka dapat dikatakan bahwa Komunitas

  Basis Gerejawi terdiri dari berbagai golongan/tingkatan yang mempunyai keprihatinan yang sama, komunitas yang mendengarkan dan sadar akan kondisi

  Komunitas Basis Gerejawi memiliki empat ciri utama yaitu; 1) jumlah yang dibatasi dengan heterogenitas usia, 2) merupakan kelompok masyarakat akar rumput, 3) menafsirkan semua persoalan kehidupan dalam terang Kitab Suci dan tradisi Gereja, 4) merupakan kelompok pemberdayaan umat awam (KomKat KWI, 2005:35).

  Model Gereja komunitas basis adalah Gereja dalam konteksnya, artinya ciri- ciri tersebut tidak ditafsirkan secara statis dan kaku, melainkan bersifat dinamis dan fleksibel mengingat perbedaan tahap perkembangan perwujudan konsep dan cita-cita Komunitas Basis Gerejawi tersebut di setiap keuskupan. Sementara itu Margana (2005:71) meringkas ciri yang sering dipakai dalam Komunitas Basis Gerejawi sebagai berikut:

  Pertama, persekutuan umat beriman yang relatif kecil, saling mengenal, tinggal berdekatan atau memiliki kepentingan bersama, secara tetap berkumpul. Kedua, mereka berdoa, membaca Kitab Suci, mengadakan sharing iman berdasarkan Sabda Tuhan yang direnungkannya. Ketiga, mereka membicarakan masalah nyata keseharian, mencari solusi, dan mengadakan aksi nyata bersama-sama, baik untuk anggota, masyarakat di sekitar, maupun alam lingkungannya. Keempat, persekutuan itu senantiasa berada di bawah naungan Gereja universal.

  Dengan demikian tidak semua paguyuban bisa disebut sebagai Komunitas Basis Gerejawi. Keempat ciri tersebut secara bersama-sama harus dimiliki oleh suatu Komunitas Basis Gerejawi nyata di lapis akar rumput. Sebagai satuan Gereja di akar rumput, komunitas basis bukan hanya berhimpun atau berdoa, mereka juga merancang aksi nyata selaras dengan terang Injil yang mereka baca dan renungkan bersama. Hal itu dilakukan karena Gereja di tingkat akar rumput merupakan sakramen atau karya keselamatan bagi manusia di sekitarnya. Karya keselamatan yang nanti diperjuangkan oleh Gereja akar rumput adalah memerangi kemiskinan, ketidakadilan dan membantu yang terpinggirkan (Margana, 2005:73).

  Ciri-ciri KBG yang ada itu sering dijadikan formula di mana-mana dan diringkas menjadi tiga hal yakni: Berpusat pada Kristus, bercirikan persaudaraan terbuka, dan membawa pelayanan kasih. Suatu komunitas basis mestinya bukan hanya asyik di sekitar altar atau sibuk dengan urusan liturgis. Persekutuan umat yang hanya berhimpun, berdoa dan membaca Kitab Suci belumlah cukup disebut sebagai komunitas basis, ini lebih cocok disebut sebagai persekutuan doa. Sebaliknya kelompok orang yang berhimpun dan mengadakan aksi sosial juga belum cukup disebut sebagai Komunitas Basis Gerejawi, ini lebih cocok disebut sebagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau kelompok aksi sosial.

  Mengingat paguyuban umat di lapis yang paling dasar itu memiliki keterbatasan-keterbatasan, pemberdayaan komunitas basis perlu memperhatikan hal- hal seperti yang diperingatkan oleh Paus Paulus VI dalam surat Apotolik Evangelii

  

Nuntiandi mengenai pewartaan Injil di dunia modern yang menjadi dasar

  pemberdayaan KBG, di antaranya: 1) Jangan membiarkan diri direkayasa oleh kepentingan politik sempit. Kesadaran politik dalam arti luas harus diimbangi dengan pendalaman Injil.

  2) Jangan hanya menyibukkan diri dengan urusan rohani semata, dan menutup diri terhadap kebutuhan dan derita rakyat di sekitarnya.

  3) Jangan sampai menafsirkan Kitab Suci secara harafiah, tertutup, eksklusif, dan menjurus ke sifat sektarian.

  4) Jangan terlalu banyak bergiat dalam proyek-proyek pembangunan, bisnis,

  Keterlibatan dalam urusan uang, bisnis, dan proyek ekonomi akan menjadi sumber korupsi.

  5) Jangan tertutup atau terlalu eksklusif terhadap sesama Komunitas Basis Gerejawi.

  6) Jangan membiarkan anggotanya mengabaikan menggereja secara baru, sebab kalau tidak menggereja secara baru tidak melakukan perbaikan dan perubahan secara tuntas demi tegaknya keadilan dan hak azasi manusia. Hal yang lebih penting untuk diperhatikan adalah bahwa komunitas basis hendaknya tidak menutup mata bagi kebutuhan dan derita masyarakat di sekitarnya.

  Sekalipun komunitas basis terlibat dalam lembaga-lembaga lain non gerejawi, namun ia lebih hanya sebagai mitra, sebab kalau terjadi ketidakpahaman, korupsi, kerugian dan lainnya dalam mengurus dalam instansi lain, maka akan menjadi bibit perpecahan dalam komunitas basis itu sendiri.

  Dalam gerak menggereja mestinya bisa mencari solusi bersama umat/masyarakat di mana ia berada demi karya keselamatan dunia. Menurut apa yang dirumuskan dalam Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) tahun 2000, Komunitas Basis Gerejawi harus terbuka bagi berkembangnya komunitas lain di luar dirinya yaitu Komunitas Basis Manusiawi (KBM) dan Komunitas Basis Antariman (KBAI).

  Mestinya KBG sudah membuka jaringan dan jalinan dengan saudara-saudari yang datang dari berbagai latar belakang (suku, ras agama, golongan, dan kebudayaan).

  SAGKI menghimbau demikian sebab aksi nyata yang mereka lakukan senantiasa disesuaikan dengan situasi nyata di sekitarnya, baik dengan anggota maupun masyarakat yang berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda. Komunitas basis

  Komunitas basis adalah yang benar-benar mengandung keempat ciri tersebut dan diharapkan menjadi gerakan umat beriman yang senantiasa berpusat pada Kristus dan sekaligus terbuka untuk mewartakan karya keselamatan ke masyarakat dan ikut memperhatikan alam sekitarnya. Sebagai cara menggereja berarti sebagai umat beriman yang senantiasa diterangi oleh Sang Sabda, mereka akan menyapa, membantu, manjalin persaudaraan dengan masyarakat di sekitarnya demi terwujudnya keadilan, kesejahteraan dan kehidupan bersama yang bermartabat.

  Sebagai strategi pastoral, Komunitas Basis Gerejawi memungkinkan jangkauan pelayanan pastoral yang semakin jauh dan luas, Komunitas Basis Gerejawi juga hendaknya menjangkau semua umat manusia. Kini Komunitas Basis Gerejawi sudah merupakan sistem struktur paroki yang menjadi isi, bentuk, dan strategi kehidupan parokial dan pastoral. Perubahan KBG dari sub struktur sistem paroki ke sistem struktur paroki bukan hanya menyentuh hal formal, melainkan perubahan dalam pemahaman diri Gereja. Pemahaman diri Gereja dalam pola pikir Komunitas Basis Gerejawi mempunyai dampak pastoral yang berisikan keterlibatan umat yang semakin luas dan intensif dalam katekese, ibadat, dan tugas tanggung jawab kepemimpinan.

  Selain itu mempunyai dampak spiritual jika berhubungan dengan sosial politik yaitu mengandung makna bahwa kelompok umat basis merupakan kelompok umat solidaritas yang sadar dan melek akan persoalan sosial politik kemasyarakatan umumnya. Komunitas Basis Gerejawi tidak membatasi diri pada persoalan dan tema internal gerejawi, melainkan terlibat secara utuh dalam kehidupan masyarakat umum, baik masyarakat homogen secara kultural maupun yang plural dalam pelbagai aspek

  Sebagai suatu keterarahan untuk memahami Komunitas Basis Gerejawi dan mungkin juga spiritualitas KBG itu sendiri, Putranto (2005:117), memberikan model pendekatan teologis untuk memahaminya sebagai berikut:

  Pertama, model inkarnatif paskah. Kelompok basis bisa mengidentifikasi dirinya sebagai yang diutus untuk menjadi sesungguhnya dengan membenamkan diri sebagai manusia yang paling tragis dengan segala penderitaan, penganiayaan dan kematian. Inkarnasi muaranya selalu pada paskah, karena inkarnasi tanpa paskah tidak ada artinya. Kedua, model penyeberangan. Dalam Kitab Suci, bangsa Israel ragu-ragu/takut menyeberangi laut merah untuk menuju kebebasan. Penyeberangan menuju kebebasan memang penuh resiko, menjadi orang bebas ternyata tidak gampang karena lebih enak menjadi manusia tergantung dengan hidup terjamin.

  Ketiga, model dialogal – pengutusan profetis. Allah mengutus, memanggil seperti seorang nabi yang menyatakan “Inilah aku, utuslah aku”. KBG mengidentifikasikan dirinya sebagai utusan dan harus mau bertanggung jawab, bersusah payah dan tahu bahwa pengutusan bukan hanya demi kemampuan dan prestasi dari dirinya sendiri. Keempat, model kemuridan. Menjadi murid Yesus berarti harus menjalani hidup seperti Yesus dan mempraktekkan hidup Yesus, maka KBG sebagai murid Yesus harus mengenal Yesus dan mempraktikkan hidup-Nya itu.

  Hidup menggereja dengan KBK/KBG/BCC berarti sesuai dengan ciri-cirinya, dan ciri-ciri itu dapat berarti membangun Gereja yang terdiri dari kelompok kecil, mengurus dan menghidupi diri sendiri, mampu berdikari (self governing, self

  , dan peduli pada pihak lain yang

  nourishing, and self supporting basic communities) berada dalam kesulitan.

2. Komunitas Basis Manusiawi

  Komunitas Basis Manusiawi (KBM) sering pula disebut dengan basis insani, yaitu paguyuban persaudaraan yang tidak dibatasi oleh iman dan agama tertentu tetapi oleh pengalaman hidup bersama sebagai manusia dengan kepedulian manusia bersama pula. Komunitas Basis Manusiawi terbentuk untuk mengurangi penderitaan atau pergulatan hidup yang terasa berat sehingga masyarakat dan lingkungan hidup menjadi lebih adil dan lestari.

  Dalam Komunitas Basis Manusiawi masing-masing anggotanya terpisah, berserakan yang kemudian disatupadukan dalam kehangatan persaudaraan menuju perubahan kehidupan bersama. Dalam perspektif iman kristiani, Komunitas Basis Manusiawi ini merupakan suatu yang dasariah yakni menyangkut tindakan orang-orang kristiani yang benar dalam konteks kemiskinan dan kemajemukan religius yang dalam bahasa Injil di sebut komunitas Kerajaan Allah yang terbuka (Banawiratma, 2000:192).

  Pewartaan dan penghayatan Injil terjadi dalam berbagai pengalaman iman dalam konteks kemiskinan, ketidakadilan sosial, dan konteks anti Kerajaan Allah.

  Komunitas Basis Manusiawi merupakan medan di mana usaha berbagi pengalaman dan berbagi rasa dapat berkembang subur menuju transformasi kehidupan bersama.

  Murid-murid Kristus yang berpegang pada Injil mengartikan apa yang dialami bersama itu dalam terang Injil, agar Injil itu sungguh dapat menjadi peneguh dan pemberi harapan akan pola hidup baru yang lebih baik. Pengartian dan pengarahan Injili ini dioleh dan dikembangkan dalam persekutuan dan persaudaraan yang dibangun berdasarkan Injil, yakni dalam Komunitas Basis Gerejani baik komunitas teritorial maupun komunitas kategorial (fungsional).

3. Komunitas Basis Antariman

  Komunitas Basis Antariman (KBAI) merupakan wadah dialog, saling meneguhkan iman masing-masing dan menjalin persaudaraan untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang bermartabat. Kekhasan masing-masing tradisi religius dapat bertemu dan saling memperkaya dalam komunitas ini. Dalam keterbukaan dan kerendahan hati, penghayatan iman yang berbeda-beda dapat bersama-sama berusaha mencari dan menemukan rahasia dari yang menghendaki dan menentukan hidup serta mengikutinya.

  Dalam Komunitas Basis Antariman (KBAI) disadari dan diperjuangkan bersama nilai-nilai yang dipilih oleh kehidupan beriman, dengan demikian dialog iman tidak hanya membawa transformasi internal tetapi juga menggulirkan gerakan untuk mengubah situasi masyarakat menjadi lebih baik guna membawa transformasi di mana kaum kecil, lemah, miskin, tersingkirkan (KLMT), saudara-saudari yang menderita, mengalami kehidupan bersama dalam masyarakat yang lebih adil, manusiawi, merdeka, lestari, dan beradab.

C. Bidang-bidang yang Dapat Dijadikan Realisasi Hidup Menggereja

  Ada begitu banyak bidang yang dapat dijadikan realisasi untuk hidup menggereja. Bidang-bidang itu secara umum dapat disebutkan seperti: bidang ekonomi, bidang sosial, bidang kebudayaan, bidang pendidikan, bidang kesehatan, bidang komunikasi, bahkan anggota Gereja juga bisa merealisasikan hidupnya ke dalam bidang politik. Semua bidang-bidang tersebut tentu saja masih mempunyai sub-sub bidangnya karena sangat komplek.

  Kompleksitas itu mencakup seluruh bidang kehidupan masyarakat/umat yang melampaui batas Gerejawi. Ini dikatakan demikian karena bidang-bidang itu masih sangat umum, bukan saja di dalam lingkup Gereja tetapi juga di luar lingkup Gereja. Dalam lingkup Gereja tentu saja berkaitan dengan bidang-bidang yang ditangani Gereja. Sedangkan di luar lingkup Gereja adalah kepentingan masyarakat pada umumnya, namun yang lebih penting ialah semangat menggereja itu sendiri, yang dijiwai oleh semangat dan iman akan Kristus, yang mengutamakan kaum kecil dan tak berdaya. Untuk itu anggota Gereja dapat merealisasikannya sejauh dalam aturan dan ketentuan yang direkomendasikan oleh lembaga Gereja.

D. Tantangan Menggereja di Indonesia Zaman Sekarang

  Gereja yang melakukan misinya adalah Gereja yang bersedia menderita seperti Kristus. Begitulah pelayanan atau diakonia memperoleh makna yang sebenarnya yaitu memberikan diri bagi kepentingan sesama. Kata “pelayanan” dalam Gereja kerap kali mendapat penyempitan arti. Pelayanan seolah-olah sama dengan aktivitas gerejawi atau pemberian bantuan misalnya: orang-orang jompo, anak yatim, janda- janda anggota jemaat.

  Pemberian arti yang demikian sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Gereja ditantang untuk menjadi Gereja pelayan atau Gereja hamba di dalam kehidupan itu sendiri dan di tengah-tengah masyarakat. Hal ini disebabkan banyak warga masyarakat masih hidup dalam penderitaan karena kemiskinan, ketidakadilan, dan ancaman. Dengan demikian Gereja harus bersedia menderita dan menyatakan solidaritas kasih (Artanto, 1997:149).

  Keprihatinan Gereja itu bukan saja yang dirasakan dalam lingkup Gereja sebagai lembaga, tetapi juga dalam masyarakat yang merupakan bagian tak lepas dari Gereja itu sendiri dalam arti kemitraan hidup anggotanya. Berikut ini akan dibahas beberapa hal sederhana namun strategis dan praktis bisa dibuat oleh Gereja untuk menuju hal yang prinsipiil, disamping itu juga merupakan keprihatinan bersama.

1. Lingkup Gerejawi

  Dalam misteri penyelamatan, Gereja menyadari dirinya sebagai kelangsungan misteri Yesus di dunia dan Sakramen kerajaan-Nya. Hingga akhir zaman, melalui pelbagai pengantaraan, Gereja tiada hentinya menantang kebebasan manusia untuk mematuhi kehendak-Nya. Sebetulnya Gereja sudah cukup lama mengusahakan orientasi sosialnya, bukan saja di kalangan umat beriman sendiri tetapi juga bermotivasikan perjuangan demi martabat dan hak-hak asasi manusia yang semakin urgen (Hardawiryana, 2001:64). Sebagian besar persoalan berkisar pada kaum kecil, lemah, miskin, dan tersingkirkan (KLMT), dambaan mendasarnya adalah damai sejahtera, penggalangan tata sosial yang sungguh adil, lingkungan yang lebih layak huni bagi masyarakat (pengungsi, perantau, korban penindasan, sampai pada aspirasi-aspirasi akan hidup layak sederhana).

  Dalam banyak hal agaknya umat beriman belum mencapai kesadaran iman yang sungguh memadai menanggapi beragam tuntutan dan bermacam situasi masyarakat Indonesia sekarang. Lagi pula belum siap-siaga, sadar-bertanggung jawab, menatap masa depan Gereja beserta misinya untuk Evangelisasi Baru di tengah masyarakat. Keadaan itu bisa dilihat misalnya tidak jarang ada kelompok- kelompok kategorial yang sering sukar atau tidak berhasil ditembus oleh reksa pastoral umum, kendati dalam kelompok-kelompok tersebut telah diadakan ceramah oleh mereka yang sungguh cakap di banyak bidang mengenai pembinaan iman.

  Mereka ini seperti menumpang saja dalam umat. Begitu juga ketika mendengar kotbah-kotbah yang khusus, mereka biasa-biasa saja (Hardawiryana, 2001:28).

  Dalam paroki-paroki, ada komunitas-komunitas yang sengaja dibentuk untuk diberdayakan seperti: mudika, WK, PIA, PPA, dan masih banyak lagi bentuk yang lain. Tidak sedikit paroki yang mempunyai komunitas seperti itu tetapi kurang berkembang dan cenderung vakum, terlebih paroki-paroki kecil. Faktor penyebabnya bisa saja karena kurangnya daya tarik/daya pikat, tidak ada pastor paroki yang tetap, komunitas lingkungan tidak aktif, kurangnya minat, kesibukan atau pun kader- seperti pindah paroki atau meninggalkan daerahnya sehingga tidak ada lagi yang dapat diharapkan untuk penggenerasian. Dengan demikian Gereja/Paroki mengalami kekosongan, hingga akhirnya segala aktivitasnya juga mengalami kemunduran.

  Setiap tahun Keuskupan-Keuskupan melalui surat gembalanya selalu menghimbau kepada paroki-parokinya untuk terus memberdayakan komunitas yang ada sebagai perwujudan iman akan Kristus. Bukan pertama-tama komunitas yang dipentingkan, tetapi lebih daripada itu iman umat sendiri perlu dipupuk atau dihidupi.

  Keuskupan Agung Semarang (KAS) misalnya, pada tahun 2007 menghimbau kepada keluarga-keluarga kristiani untuk menjadikannya basis kesejatian hidup beriman akan Kristus. Keluarga dipandang sebagai yang pertama dalam pendidikan termasuk dalam mendidik dan memupuk iman. Demikian juga keuskupan lain mempunyai surat gembala sendiri-sendiri, yang intinya adalah untuk memperteguh iman Gereja dengan caranya sendiri-sendiri pula.

2. Lingkup Masyarakat

  Kehidupan umat dalam masyarakat seringkali tidak mencerminkan imannya, bahwa sikapnya tidak cukup dibentuk oleh iman, tidak terkecuali orang-orang kristiani. Hampir setiap orang juga mengalami krisis iman sebagai pegangan hidup karena banyak faktor penyebabnya. Bukan saja imannya tetapi juga pola hidup yang sedang dialami masyarakat mengalami pergeseran. Hidup bermasyarakat yang tadinya sebagai wujud kebersamaan yang rukun, damai, tenang, dan aman telah berubah seiring dengan perkembangannya.

  Sikap hidup umat beriman dalam masyarakat sudah menjadi kontras dengan yang semestinya. Umat kristiani pun mengalami hal yang demikian sehingga nilai-nilai iman kristiani itu semakin memudar. Orang kristiani yang sudah dibaptis mestinya mengikuti pola dan cara hidup Kristus, mengakui Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamatnya.

  Sikap saling mengampuni, saling menolong, rendah hati, dan setia pada imannya adalah kunci pokok yang harus dimiliki oleh seorang yang mengaku diri pengikut Kristus. Tidak jarang umat beriman dalam masyarakat berbuat menyimpang dari ajaran imannya karena bermacam-macam persoalan (tekanan/desakan/ancaman/hawa nafsu), dapat dikatakan telah mengikuti keinginannya sendiri.

  Pada zaman sekarang, ketika uang/kekayaan, kekuasaan, dan popularitas dijadikan motivasi utamanya, segala cara dapat dihalalkan atau dianggap lumrah.

  Uang dipakai sebagai simbol dan pengganti dari tercapainya kebutuhan manusia, akibatnya terjadilah pertukaran nilai. Kepuasan tidak dihitung dari kepuasan manusiawi lagi tetapi dihitung oleh banyaknya uang. Misalnya rasa aman tidak lagi diperoleh melalui rasa saling percaya dan saling melindungi, tetapi diperoleh dengan membayar para penjaga yang belum tentu dapat dipercaya, akibatnya manusia merasa khawatir terus menerus. Karena daya tarik uang, orang terperangkap dalam hidup bermasyarakat yang tidak memperdulikan orang lain. Bagi yang berhasil memang memiliki banyak uang, namun karena semuanya dicapai dalam ketegangan dan persaingan, maka diri mereka sudah terlanjur tercabik oleh rasa tidak mencintai sesama. Akibatnya setelah berhasil mereka tetap buas dan gelisah seperti harimau di dalam kandangnya. Mereka yang gagal semakin tersingkir dan terinjak-injak harga dirinya. Sistem dunia modern yang bermotivasikan uang/kekayaan, kekuasaan, berprilaku. Reksosusilo (1997:129), menggambarkan akibat yang terjadi dari motivasi tersebut: Pertama, nilai kerja yang efektif dan efisien bagi sebuah usaha, dalam proses produksi yang dikejar ialah hasil yang sebanyak mungkin dalam waktu yang sesingkat mungkin, maka akan diraih pula uang sebanyak mungkin meskipun belum tentu memperhitungkan kualitasnya karena kreatif dan rekreatif tidak diperhitungkan lagi. Kedua, nilai kebebasan individu. Manusia merupakan makhluk yang ingin bebas, tetapi keterarahan pada uang membuat manusia menekankan kebebasan untuk mencarinya, dengan demikian merebaklah semangat individualisme, dan akibatnya rasa kebersamaan yang mendahulukan kepentingan sesama telah hilang. Ketiga, relativisme. Wujud kebutuhan manusia tidak ditentukan lagi oleh manusia yang bersifat sosial dan rasional, tidak ada lagi nilai-nilai mutlak. Semuanya bersifat nisbi dan relatif, akibatnya hilanglah kepastian dan kemantapan hidup. Segala urutan itu begitu menggerogoti manusia sehingga prilaku manusia juga mengalami perubahan yang cukup kentara. Misalnya, cinta kasih yang terwujud dalam memberi pertolongan yang penuh perhatian diganti dengan menolong secara jarak jauh, sumbangan, tanpa keterikatan kasih sayang. Bisa menolong tapi dengan pamrih atau do ut des, dengan memberi berarti harus menerima juga. Upacara sakral atau ibadat yang semestinya mendekatkan manusia kepada Tuhan diganti dengan acara untuk melepas ketegangan. Tujuan agama untuk memberikan pendalaman nilai yang mapan dihadang oleh kebutuhan fasilitas-fasilitas yang tentu saja memerlukan dana, tenaga dan waktu yang tidak sedikit. Begitu juga dalam banyak kasus untuk suatu kedudukan seperti yang diungkapkan para uskup Indonesia, bahwa agama yang merupakan hak azasi setiap orang pun dijadikan bahan pertimbangan untuk menduduki jabatan tertentu (Reksosusilo, 1997:89).

  Waktu senggang yang seharusnya dapat dipakai untuk memantapkan keadaan rohani, diisi dengan aktivitas yang secara efektif dan efisien menghasilkan sesuatu. Keadaan yang demikian itu juga bisa membawa dampak bagi keluarga-keluarga, tidak terkecuali keluarga kristiani.

  Dalam situasi modern ini, keluarga yang seharusnya menjadi tempat pertama mendapatkan kebutuhan rasa aman, rasa untuk mencintai dan dicintai sudah diganti dengan kelimpahan benda-benda terutama dalam keluarga-keluarga kaya. Atau sebaliknya, kekurangan benda-benda dalam keluarga miskin, mendesak setiap anggotanya dengan dilibatkan untuk mencari nafkah meski belum waktunya. Karena itu manusia dalam keluarga zaman modern ini tidak sampai dalam tingkat harga diri yang menghargai sesama, karena harga diri diukur dengan benda/kekayaan, uang atau pun kedudukan. Apalagi soal pengembangan diri hampir tidak ada yang tercapai. Pengembangan harga diri sudah disamakan dengan memuaskan segala hawa nafsu (Reksosusilo, 1997:130). Dalam keluarga yang mestinya ditemukan rasa aman, perlindungan dan cinta kasih ternyata cuma ditemukan kelimpahan benda, atau kekurangan benda-benda yang tentu saja membawa tantangan untuk mencari kebahagiaan yang telah hilang. Keadaan ini membawa kebingungan mendalam, akibatnya dapat membuat orang menjadi stres. Keluarga yang tidak bisa mengatasi persoalannya dapat saja bersikap membiarkan begitu saja keadaan itu, dalam keluarga kristiani pun dapat terjadi demikian.

  Kurangnya didikan, pengajaran dan pendampingan kepada anggota keluarga berakibat pada kurangnya pemahaman akan hidup terutama ketika sudah dewasa.

  Tidak jarang dijumpai banyak orang muda yang terjerumus dalam kawin campur, padahal dari segi pandangan katolik kawin campur membuat perkawinan tidak sah.

  Dapat menjadi sah apabila dispensasi diberikan dengan syarat tertentu, tetapi

  Demikian juga persoalan yang muncul akibat kemajuan teknologi, sudah merambat sampai ke pelosok desa.

  Pola hidup masyarakat pun menjadi begitu berubah dan cenderung ke arah relatif negatif. Menghadapi beban hidup yang berat menimbulkan stres yang berlebihan jika tidak disikapi dengan baik, akibatnya jalan pintas begitu gampang ditempuh. Karena sikap pesimis, putus asa, dan serakah begitu melekat dalam diri manusia, tidak jarang terjadi pencurian, perampasan sesuatu yang bukan haknya, dan bahkan menghilangkan nyawa orang lain atau dirinya sendiri. Sifat yang demikian itu sama sekali bukan sikap seorang pengikut Kristus.

  Situasi-situasi seperti itu masih dialami dan dirasakan oleh umat sampai saat ini. Meskipun sekarang ini makin marak perjuangan golongan-golongan demi hak- hak asasi manusia, tetapi masih deras sekali arus-arus dehumanisasi dan sekularisasi. Ini merupakan tantangan berat bagi Gereja untuk memfiltrasikan nilai-nilai manusiawi-kristiani (Hardawiryana, 2001:41). Orang kristiani perlu berpegang pada imannya akan Yesus Kristus dalam menghadapi berbagai situasi termasuk yang tidak meng-enakkan. Ini adalah sebagai konsekwensi menjadi pengikut-Nya. Yesus mengajarkan kepada murid-murid-Nya:

  Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang akan diberikannya sebagai ganti nyawanya? (Mat 16:24-26).

  Untuk menjadi pengikut Kristus, manusia mesti berbuat apa saja untuk tidak berpusat pada dirinya sendiri. Bukan hanya penolakan terhadap dosa atau perbuatan salah saja, bukan juga semacam matiraga, melainkan usaha terus-menerus untuk menolak dan meninggalkan dirinya sebagaimana diri itu terbentuk sebelum mengikut Kristus. Segala sesuatu yang tidak sesuai iman kristiani harus ditolak, agar Kristus bisa menjadi tuan kehidupan. Pengikut Kristus harus membuktikan ketaatannya, bukan hanya dalam situasi tertentu saja tetapi sungguh bergabung dengan-Nya dengan segala konsekwensinya sampai akhir (Stefan Leks, 2003:248).

  Gereja ditantang tanggung jawabnya dalam membina anggotanya untuk sampai kepada pemahaman akan hidup sebagai murid Kristus. Tidak membiarkan diri tercebur dan ikut saja arus perkembangan zaman dengan segala situasinya, tetapi perlu menjadi teman seperjalanan senasip sepenanggungan yang sedang berziarah menuju Bapa di surga. Mencari kehendak Allah adalah menjadi tugas perutusan Gereja yang utama yaitu peka terhadap segala situasi yang membawa kebaikan atau tidaknya bagi umat.

  Gereja perlu menjalankan fungsi-fungsinya sebagai aktualisasi keprihatinannya karena dirinya memperoleh warisan misteri sebagaimana diwahyukan oleh Allah dalam Kristus dan tugas perutusan untuk menyinari, membimbing, menyuburkan dan mendorong sejarah umat manusia agar menjadi wahana perwujudan Kerajaan Allah.

  Fungsi-fungsi itu menyangkut: Diakonia; Kerajaan Allah direalisir dalam cinta kasih dan pelayanan yang penuh persaudaraan di mana Gereja merupakan jawaban terhadap kebutuhan manusia, yang menemukan dirinya dalam situasi tertindas dan egois.

  Koinonia; Gereja dipanggil untuk memberi kesaksian akan adanya

  kemungkinan hidup yang didasari persekutuan seperti dicita-citakan Kerajaan Allah, karena Gereja dihadapkan dengan dunia yang terpecah belah oleh egoisme, kebencian, gila hormat dan kekayaan, penyingkiran kaum kecil, lemah, miskin, dan tersingkirkan (KLMT).

  Kerygma; Gereja dipanggil untuk menjadi saksi dan pembawa harapan dengan

  mewartakan Yesus dan Injil-Nya, karena dihadapkan dengan dunia yang penuh kemalangan, penderitaan, keburukan dan kejahatan, tidak jarang membuat orang putus asa atau bersikap fatalistis. Leitourgia; menjawab kebutuhan manusia untuk merayakan kehidupan. Gereja dipanggil untuk menciptakan tempat dan kesempatan setelah dibaharui dan diselamatkan, karena berhadapan dengan keterbatasan daya pikir manusia dalam masyarakat yang menekankan kebebasan, tetapi sekaligus mengalami kesepian. (Adisusanto, 2000:16-17).

E. Hambatan menggereja di Indonesia Zaman Sekarang

1. Ekstern Gereja

  Hidup menggereja di Indonesia mengalami hambatan untuk merealisasikan dirinya, dalam hal ini ruang gerak yang dibatasi. Hambatan yang nampak sebagai contoh misalnya dibidang pendidikan, banyak sekolah Katolik ditutup dan akhirnya dibubarkan. Kasus Sisdiknas merupakan salah satu contoh bahwa hak memperoleh pelajaran agama begitu diatur oleh pemerintah, padahal beragama merupakan hak azasi setiap individu, pengaturan dalam lembaga semestinya ditentukan oleh lembaga itu sendiri, pemerintah tidak punya hak mengatur yang bersifat azasi. Gereja sebagai wadah persekutuan umat beriman selalu dicurigai dengan sebutan kristenisasi. Dalam lembaga pendidikan tertentu, penerimaan peserta didik masih sering dilihat latar belakang agamanya.

2. Intern Gereja

  Untuk kalangan Gereja sendiri, sumber daya manusianya yang berkualitas memadai secara pengetahuan cukup banyak untuk dikota-kota, namun penghayatan menggereja sendiri tidak dapat dipastikan. Tidak sedikit yang berpendapat bahwa yang penting adalah pengungkapan iman dalam bentuk upacara dan doa, sementara perwujudan iman dilalaikan. Jadi, kalau demikian ibadah, doa dan upacara keagamaan dapat lepas sama sekali dari moralitas hidup pribadi maupun sosial (Kompas, 15/8/2007).

  Pengetahuan tentang iman tidak bisa disamakan dengan pengetahuan tentang bidang yang lain. Pengetahuan tentang iman perlu adanya penghayatan dan perwujudan. PKKI II menekankan pentingnya penghayatan iman, meskipun pengetahuan iman tidak boleh dilupakan. Lain halnya dengan daerah-daerah tertentu seperti misalnya di pedalaman Kalimantan, orang katolik memang banyak tetapi orang yang sungguh kompeten pada bidang pengetahuan agamanya terlebih penghayatannya masih sangat kurang. Tidak tertutup kemungkinan bahwa tenaga- tenaga dibidang agama di perkotaan pun masih kurang memadai. Alasan klasik yang relatif kurang bisa diterima adalah kerap muncul keluhan tidak tersedia cukup dana bagi pengembangan hidup menggereja, alias hanya mau melaksanakan tugas menggereja kalau persediaan dananya banyak. Berarti hambatan ini memberi kesan bahwa, banyak orang lebih mendahulukan enaknya daripada menyumbangkan tenaga dalam hidup menggereja meskipun dana itu sendiri jelas merupakan unsur yang penting.

F. Menghayati Iman Kristiani Dalam Hidup Menggereja

  Iman yang ada di dalam orang yang mengenal Kristus, tidak serta merta menjadi petunjuk untuk bertindak. Iman itu sendiri ialah hubungan secara pribadi dengan Kristus yang dapat menolong orang untuk mengenal dirinya sendiri, yang pada gilirannya dapat mengambil keputusan untuk bertindak (Mali, 2004:283).

  Karena isi imannya adalah Kristus sendiri, seorang Kristen dipanggil dan diberi tugas untuk bertindak dari sudut pandang Kristus, mewujudkan iman akan Kristus. Jadi, menghayati iman kristiani tidak hanya sebatas spiritualitas yang didengungkan, tetapi lebih dari itu perlu mengkonkritkannya. Konkritisasi gerak hidup menggereja orang kristiani itu tidak hanya di dalam lingkup Gereja sendiri, tetapi menjangkau yang di luar Gereja juga.

1. Hidup Menggereja Sebagai Upaya Menghayati Iman Kristiani

  Dalam bahasa Yunani, iman disebut pistis, Latin fides, Inggris faith. Semua itu biasanya diartikan sebagai keyakinan dan penerimaan akan wahyu Allah, terlaksana berkat pewartaan nabi-nabi-Nya dan diungkapkan dalam Kitab Suci atau sarana lain yang ada dalam agama. Dalam konteks teologis, iman menunjukkan hubungan manusia dengan Allah terutama dalam menerima wahyu-Nya (Sutrisnaatmaka, 2002:47-48). Iman merupakan tanggapan atas wahyu Allah seperti yang terungkap dalam konstitusi dogmatis Konsili Vatikan II Dei Verbum artikel 5:

  Kepada Allah yang menyampaikan wahyu, manusia wajib menyatakan ketaatan iman. Demikianlah manusia dengan bebas menyerahkan seutuhnya kepada Allah, dengan mempersembahkan kepatuhan akal budi serta kehendak yang sepenuhnya kepada Allah yang mewahyukan.

  Sutrisnaatmaka (2002:49) menjelaskan, paling tidak ada tiga segi-segi hidup yang melibatkan seluruh diri manusia seperti yang dinyatakan di atas: 1) Ketaatan iman dan penyerahan bebas seluruh diri manusia kepada Allah itu menyangkut akal budi (intelektual, pengetahuan, keyakinan, dan pengertian serta pemahaman). 2) Kehendak, menyangkut segi emosi atau perasaan agar manusia dapat menentukan sikap. 3) Kerelaan hati atau keterbukaan untuk menerima kebenaran wahyu walaupaun kerelaan dan ketaatan dapat saja bertentangan antara kehendak dan pikiran sendiri.

  Dalam tradisi Gereja dimunculkan istilah iman, harapan, dan kasih (1Kor 13:13), dan yang paling besar di antaranya menurut St. Paulus adalah kasih, yaitu yang lebih menekankan pemberian diri personal berdasar hubungan pribadi dengan Allah. Yang menjadi khas dalam iman kristiani ialah iman akan Yesus Kristus, Ia merupakan pribadi yang mencerminkan kepenuhan wahyu Ilahi. Oleh sebab itu umat kristiani tidak hanya beriman akan apa yang diajarkan Yesus, tetapi hubungan pribadi manusia dengan Allah dalam Yesus Kristus dikonkritkan dengan tindakan nyata dalam kasih terhadap sesama.

  Jadi, mengimani Allah berarti mengamini kehidupan ini sepenuhnya sehingga nilai-nilai yang baik muncul daripadanya. Mengimani Allah tidak cukup hanya dalam kesadaran atau dalam doa/ibadat sebagai rutinitas, tetapi mengalami situasi hidup masyarakat menjadi penting karena tidak dapat terpisahkan dari praksis hidup manusia sebagai umat Allah. Gereja tidak lepas dari padanya. Hal ini dimaksudkan sebagai kelanjutan dari apa yang ditimba melalui spiritualitas atau doa/ibadat. Hidup menggereja itu hidup dengan busana Kristus, jadi setiap kegiatan yang menampakkan iman akan Kristus adalah hidup menggereja. Hampir terdengar di mana-mana dibicarakan dan diupayakan penghayatan iman yang tidak hanya di dalam Gereja Katolik, tetapi juga di luarnya yaitu iman yang memasyarakat. Dengan kata lain hidup menggereja itu mau dikembalikan pada aspek profannya. Jadi, hidup menggereja itu juga hidup memasyarakat.

  Dalam hidup menggereja dibedakan dua hal tetapi juga disatukan, yaitu segi batin yang diterima lewat pembaptisan dan segi lahir yang diwujudkan dalam hidup bersama. Segi batin merupakan segi iman yang disebut sacramen cum fide yang berarti pintu masuk, gerbang Gereja (dapat dikatakan pintu rohani iman dilihat dari segi sikap batin). Segi lahir ialah keanggotaan Gereja yang kemudian berbentuk komunio, dari situ diperolehlah hidup bersama dalam Gereja terutama dalam Ekaristi. Menghadiri perayaan Ekaristi harus disertai dengan sikap batin yang sesuai, itulah sebabnya kedua segi (batin dan lahir) tidak dapat dipisahkan. Sikap batin perlu diwujudkan dalam bentuk lahir, demikian sebaliknya bentuk lahir itu tidak cukup tanpa disertai sikap batin.

  

2. Hidup Menggereja Kontekstual Sebagai Praksis Perwujudan Iman

Kristiani

  Inti dari surat Yakobus 2:14-26 yaitu bahwa iman tanpa perbuatan itu pada hakekatnya adalah mati. Maksud dari Yakobus mengandung asumsi pokok bahwa orang yang mendengarkan firman harus melaksanakannya juga. Iman tidak boleh berhenti pada masalah liturgi atau terkurung di sekitar tembok Gereja, melainkan harus peduli terhadap pelbagai situasi aktual dan lingkungan hidup. Dalam dunia yang semakin berkembang ini muncul gejala-gejala yang mengakibatkan krisis berbagai dimensi kehidupan yang menimbulkan masalah kemiskinan kaum terlantar, anonimitas, para pengungsi yang mendapat tekanan politik, dsb. dengan akibat orang cenderung lebih berusaha memenuhi kebutuhan jasmani daripada yang rohani termasuk yang berhubungan dengan iman itu sendiri, padahal iman juga menuntut perjuangan demi perdamaian, pembangunan dan pembebasan mereka yang berada dalam kesulitan.

  Iman Kitab Suci itu diwartakan kepada segala bangsa dengan pelbagai cara dan bahasa, serta melalui pelbagai kebudayaan. Meskipun situasinya selalu berubah dari waktu ke waktu, namun iman itu tidak berubah sebagaimana ditegaskan dalam

  

Evangelii Nuntiandi artikel 65 tentang pewartaan Injil kepada bangsa-bangsa

  dinyatakan: Meskipun diterjemahkan ke dalam semua ungkapan, isinya (iman) tidak boleh dilemahkan atau dikurangi. Kendati diselubungi oleh bentuk-bentuk lahiriah yang cocok dengan tiap bangsa, dieksplisitkan dengan ungkapan-ungkapan teologis yang memperhatikan perbedaan budaya, lingkungan sosial, dan suasana kesukuan, isinya harus tetap mengenai iman Katolik seperti yang diterima oleh magisterium Gereja dan disampaikan magisterium.

  Dengan demikian, juga hendaknya anggota Gereja menghayati imannya akan Yesus Kristus dalam situasinya dengan memperhatikan iman akan Yesus itu, bukan terbawa oleh arus yang gampang berubah, tetapi mesti melihat situasi nyata dengan terang iman yang sejati pada Kristus. Hidup menurut Injil Yesus Kristus merupakan ungkapan orang beriman dalam menjawab kehendak Allah di dalam kehidupan pribadi maupun bersama. Mewujudkan iman itu bersifat mutlak karena de facto iman itu perlu perwujudannya. Yang hendak dicapai oleh Gereja adalah menggereja secara kontekstual, yaitu menggereja dalam hubungannya dengan situasi aktual masyarakat dan begitu mendesak untuk ditanggapi dengan mengambil tindakan. Gerak hidup menggereja kontekstual orang kristiani itu ialah sebagaimana yang diwujudkan dalam Komunitas Basis Gerejawi (KBG).

  Komunitas Basis Gerejawi ini dipahami sebagai wadah gerakan Gereja menuju hidup yang menghadirkan Kerajaan Allah di tengah-tengah masyarakat dan bagi masyarakat. Gereja Indonesia mau setia mengemban tugas perutusannya untuk membawa Kabar Gembira, kini, dan disini, di negeri yang diwarnai kemiskinan, ketidakadilan, dan situasi yang kurang menguntungkan lainnya, termasuk juga adanya kemajemukan dalam masyarakat Indonesia yang diakibatkan oleh lingkungan alam sekitarnya. Para uskup Asia sebagaimana pada FABC VII, merefleksikan usaha-usahanya sebagai gerakan menuju pembaharuan hidup yang bermuara pada keterlibatan aktif dalam menciptakan dan melayani kehidupan.

  Gereja sebagai gerakan adalah suatu cara mengikuti Yesus, ia mau tampil dan terlibat dalam kehidupan masyarakat. Dengan begitu Gereja menegaskan semangat dasarnya yaitu mengikuti Yesus yang mewartakan Kerajaan Allah yang memerdekakan (ArDas KAS. 2001-2005). Gereja meniru pola Yesus dalam arti tertentu juga tampil sebagai pelopor gerakan pembaharuan hidup. Pembaharuan yang disampaikan Yesus yaitu solidaritas dan pemerdekaan yang menurut St. Paulus digambarkan dengan semangat mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba (Fil 2:7). Solidaritas Yesus dengan manusia ini menjadikan Dia merasakan apa yang dirasakan manusia. Sedangkan pemerdekaan oleh Yesus yaitu pewartaan Kerajaan Allah yang membawa pemerdekaan bagi mereka yang menerima-Nya. Ia berkata: Roh Tuhan ada pada-Ku..., menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin, pembebasan kepada orang-orang tawanan, orang-orang tertindas, penglihatan

  Gereja dipanggil menjadi penggerak pembaharuan dalam pelbagai bidang kehidupan manusia, gerakan ini perlu dibangun dari komunitas-komunitas basis yang terlibat dalam hidup, sehingga orang-orang yang berada di dalamnya mengalami kebebasan dan membuat juga orang-orang di sekitarnya mengalami kebebasan pula, antara lain; orang yang tertekan mengalami kelegaan, yang kesepian mengalami sapaan, yang terbelakang merasa diperhitungkan, dsb.

  Sebagai sebuah gerakan, Gereja Indonesia perlu bergerak dalam masyarakat, membawa daya penyelamat Ilahi. Oleh sebab itu Gereja harus menjadi sebuah peristiwa, di mana ia berada, harus terjadi perubahan ke arah perdamaian, persaudaraan dalam kasih yang membangun paguyuban untuk bersama-sama membawa pesan Kristus ke dalam masyarakat (Dossiers, http://mirifica.net, 2002).

BAB IV KATEKESE KONTEKSTUAL SEBAGAI UPAYA MENGEMBANGKAN HIDUP MENGGEREJA KONTEKSTUAL DI INDONESIA MASA KINI Pada bab empat ini, penulis bermaksud menguraikan: Hakikat Katekese, Tujuan Katekese Kontekstual, Proses Katekese Kontekstual, dan Usulan Katekese Sebagai Alternatif untuk Mengembangkan Hidup Menggereja Kontekstual di Indonesia Masa Kini. Seluruh anggota Gereja dipanggil dan diutus untuk mewartakan kasih Allah

  dengan menjadi saluran rahmat bagi umat manusia. Ada banyak cara yang dilakukan oleh Gereja untuk mewartakan imannya kepada manusia. Pada prinsipnya pewartaan iman mesti menyentuh hati orang. Memang, tugas ini merupakan tugas yang tidak mudah dalam praksisnya, namun Gereja tetap berusaha agar hal itu sampai ke hati orang sebagaimana yang dilakukan oleh Yesus sendiri. Hal ini semakin nyata dalam pernyataan Paus Yohanes Paulus II dalam salah satu dekrit tentang kegiatan misioner Gereja Ad Gentes artikel 1. Beliau menyatakan:

  Kepada para bangsa, Gereja diutus oleh Allah menjadi Sakramen universal keselamatan. Untuk memenuhi tuntutan-tuntutan hakiki sifat katoliknya, menaati perintah pendirinya, Gereja sungguh-sungguh berusaha mewartakan Injil kepada semua orang.

  Jelas bahwa mewartakan Injil itu berarti sebagai suatu unsur yang melekat dalam identitas Gereja. Gereja mengisahkan bagaimana proses kehadiran Allah yang menyelamatkan sungguh-sungguh memberikan inspirasi bagi segenap anggota jemaat kristiani untuk berjuang dalam menghadapi pelbagai tantangan zaman. Pewartaan berarti Gereja berkisah tentang campur tangan Allah dalam segala hidup manusia.

A. Hakikat Katekese

  Ada begitu banyak pemahaman tentang katekese, hal ini karena berkaitan dengan pewartaan Injil Yesus Kristus dalam segala situasi dan zaman, dan pewartaan Injil itu menuntut supaya dapat menyentuh situasi hidup nyata umat. Menurut Paus Yohanes Paulus II katekese adalah “pendidikan dalam iman yang ditujukan untuk anak-anak, kaum muda dan kelompok orang dewasa” (CT, Art. 3.1). Pendidikan iman itu mengenai Yesus Kristus sebagai pewarta unatama dan guru sejati semua umat beriman. Sifatnya Kristosentris yaitu berpusat pada Yesus Kristus. Pertemuan Kateketik antar Keuskupan se-Indonesia I (PKKI-I) merasa bahwa dengan mulai berkembangnya Gereja sebagai komunitas, katekese lebih bersifat komunikatif, maka katekese dilihat sebagai komunikasi iman atau lazim disebut katekese dari umat, oleh umat, dan untuk umat yang selanjutnya disebut Katekese Umat. Katekese diartikan sedemikian rupa sebagaimana yang dirumuskan kembali dalam PKKI-II yaitu:

  a. Katekese Umat diartikan sebagai komunikasi iman atau tukar pengalaman iman (penghayatan iman) antara anggota kelompok atau jemaat. Melalui kesaksian para peserta saling membantu sedemikian rupa sehingga iman masing-masing diteguhkan dan dihayati secara makin sempurna, dan tekanannya diletakkan pada penghayatan iman meskipun pengetahuan iman tidak dilupakan. Katekese umat mengandaikan adanya perencanaan.

  b. Dalam katekese itu, umat bersaksi tentang iman akan Yesus Kristus, pengantara Allah yang bersabda kepada manusia dan pengantara manusia menanggapi Sabda Allah. Yesus tampil sebagai pola hidup dalam Kitab Suci khususnya dalam Perjanjian Baru, yang mendasari penghayatan iman Gereja sepanjang tradisinya.

  c. Yang berkatekese ialah umat, artinya semua orang beriman yang secara pribadi memilih Kristus dan secara bebas berkumpul untuk lebih memahami- Nya. Kristus menjadi pola hidup pribadi, pun pula pola kehidupan kelompok. Jadi seluruh umat baik yang berkumpul dalam kelompok-kelompok basis, maupun di sekolah atau perguruan tinggi.

  d. Pemimpin katekese bertindak terutama sebagai pengarah (fasilitator), pelayan yang siap menciptakan suasana komunikatif, membangkitkan gairah supaya para peserta berani berbicara secara terbuka.

  e. Katekese Umat merupakan komunikasi iman dari peserta sebagai sesama dalam iman yang sederajat, yang saling bersaksi tentang iman mereka. Mereka berdialog dalam suasana terbuka, ditandai sikap saling menghargai dan saling mendengarkan. Proses terencana ini bersifat kontinyu dan holistik/menyeluruh.

  Komunikasi iman yang dimaksud dalam katekese ialah komunikasi yang melibatkan seluruh peserta baik peserta dengan pendamping maupun antar peserta sendiri. Penekanan pada seluruh umat ini justru merupakan salah satu unsur yang memberi arah pada katekese sekarang, dan penekanan peranan umat pada katekese ini sesuai dengan peranan umat pada pengertian Gereja itu sendiri (KomKat KWI, 2005:5).

  Peserta saling tukar pengalaman iman dan saling menanggapi sehingga saling meneguhkan satu sama lain dan diperkaya. Hal ini sesuai dengan katekese zaman Komunikasi iman bertujuan: 1) Supaya dalam terang Injil umat semakin meresapi arti pengalaman sehari-hari. 2) Bertobat (metanoia) kepada Allah dan semakin menyadari kehadiran-Nya dalam kenyataan hidup sehari-hari. 3) Dapat semakin sempurna dalam beriman, berharap, mengamalkan cinta kasih, dan hidup kristiani semakin dikukuhkan. 4) Dapat makin bersatu dengan Kristus, makin menjemaat, makin tegas mewujudkan tugas Gereja setempat dan mengokohkan Gereja semesta.

  5) Umat sanggup memberikan kesaksian tentang Kristus dalam hidup di tengah masyarakat. Adapun nilai-nilai yang melekat pada katekese menurut Telaumbanua dalam seri Umat Baru (2001:4) adalah sebagai berikut:

  Pertama, katekese sebagai karya pastoral Gereja dalam dirinya adalah media utama untuk mengembangkan diri, untuk berakar dalam budaya setempat dan berbuah bagi hidup masyarakat. Kedua, memelihara kesatuan Gereja dengan tetap menghargai setinggi- tingginya kemajemukan, pluralisme ide dan praksis, serta otonomi Gereja lokal malah hingga ke tingkat paroki. Katekese membela persekutuan Gereja sembari mengelakkan perpecahan dan keretakan, tanpa jatuh dalam uniformitas yang beku dan kaku. Ketiga, katekese, sejauh ekspresi kehidupan Gereja menampung dengan leluasa sekaligus meningkatkan terus-menerus partisipasi awam dalam pelayanan sabda khususnya mereka yang punya hati dan kharisma untuk itu. Namun perlu dihindari praktek katekese yang liar dan sewenang-wenang.

  Keempat, katekese berperan besar memperbaharui Gereja yang “Semper et

  Reformanda” . Gereja sebagai komunio, persekutuan orang-orang yang ditebus Kristus sedang mengukir diri di mana-mana sejak Konsili Vatikan II.

  Kepengurusan serta manajemen paroki dan penggarisan dinamika paroki tidak lagi semata dibahu sang gembala tertahbis. Kelima, katekese juga merupakan media Gereja untuk menggalang dan menggiatkan kehidupan ekumene sembari tetap menghidupi kesetiaannya kepada Gereja. Dengan demikian katekese merupakan tugas setiap orang beriman akan Kristus sebagai gembala Gereja yang mempunyai keterbukaan hati dan kharisma untuk tugas itu. Gereja terus memperbaharui diri dalam situasi zaman yang terus berubah dari waktu ke waktu. Katekese memungkinkan terbentuknya komunio dan merupakan sarana yang menghantar orang untuk beriman kepada Kristus yang adalah jalan, kebenaran, dan hidup itu sendiri.

  Pertemuan Kateketik antar Keuskupan se-Indonesia yang kedelapan (PKKI

  VIII), telah menindaklanjuti Katekese Umat dalam membangun Komunitas Basis Gerejawi (KBG) dengan tema “Katekese Umat yang Membangun Hidup Gereja (KBG) yang Kontekstual. Stef. Agus mengatakan tema ini dipilih oleh panitia PPKI-VIII berdasarkan kebutuhan Gereja dalam konteks situasi dan kondisi zaman ini khususnya yang dihadapi Gereja di Indonesia. Lokakarya pada PKKI

  VIII ini beserta temanya itu menurut Ditjen Bimas Katolik Dapartmen Agama RI tersebut merupakan salah satu wujud dari upaya Gereja Katolik dalam membangun kualitas masyarakat katolik yang dimulai dari komunitas-komunitas basis. Katekese Umat masih menjadi agenda yang strategis dalam membangun Komunitas Basis Kristiani.

  Menurut Paus Yohanes Paulus II dalam Catechesi Tradendae artikel 24 tentang katekese, komunitas gerejawi menjadi basis (konteks) katekese. Katekese mempunyai misi Ad Intra dan Ad Extra dalam melaksanakan tugasnya demi pelayanan kepada masyarakat/umat Allah. Misi Ad Intra berarti misi ke dalam, yaitu katekese harus membantu membangkitkan semangat persaudaraan, persatuan dan saling meneguhkan.

  Komunitas gerejawi berkewajiban menumbuhkan dengan melatih, mendampingi, dan memberi dukungan konkrit bagi semua umat beriman pada tahap awal, dalam hal ini baptisan baru yang telah menyerahkan diri pada Kristus. Ia harus membuka diri selebar-lebarnya, menciptakan kesempatan supaya mereka dapat semakin berintegrasi di dalam hidup Gereja. Katekese yang bertujuan membangun hidup Gereja dipahami sebagai aktualisasi perwujudan diri Gereja itu sendiri. Sedangkan misi Ad Extra berarti misi ke luar. Melalui pelayanan kepada kehidupan masyarakat terutama yang paling membutuhkan, Gereja makin menghayati dirinya sebagai kesatuan umat yang dipanggil dan diutus oleh-Nya. Iman seseorang membutuhkan kehadiran jemaat, iman itu berkembang karena jemaat dan dalam jemaat. Semua anggota jemaat dapat berperan sebagai pendamping, oleh karena itu iman seseorang tidak semata-mata bersifat individual.

  Pada PKKI IV yang diselenggarakan di Denpasar dengan tema: “Membangun iman yang terlibat dalam masyarakat” membawa suatu wawasan baru yang menantang suatu perubahan strategis dalam operasi katekese umat. PKKI IV merasa bahwa pelaksanaan ketekese belum terlaksana secara memadai seperti yang diharapkan, padahal pelaksanaan ketekese waktu itu berhadapan dengan permasalahan sosial yang menantang arus kepedulian Gereja. Oleh sebab itu PKKI

  IV yang merupakan suatu forum pemikiran bersama, turut menyumbang terbentuknya Gereja abad ke-21 yang benar-benar memasyarakat. Almarhum Romo Mangunwijaya, Pr. sebagai salah satu narasumber dalam PKKI IV itu merasa begitu pentingnya katekese yang berorientasi kemasyarakatan terkait dengan peranan Gereja di abad ke-21.

  Pada abad ke-21 Gereja akan tetap minoritas bahkan tersebar dalam diaspora, namun diharapkan dalam kualitasnya dapat bersaing. Untuk inilah Romo Mangunwijaya menekankan pentingnya katekese umat yang tidak gerejasentris, tetapi dapat membina iman yang terlibat dalam masyarakat bahkan katekese yang dapat manampakkan wadah komunitas iman dan nilai-nilai Kerajaan Allah, pun di kalangan masyarakat yang beragama lain. Katekese di masa depan harus menjadi tempat mengkomunikasikan pengalaman iman yang berakar pada kesadaran akan nilai-nilai Kerajaan Allah, yang diperlukan juga oleh sesama dalam masyarakat yang berasal dari berbagai tradisi keagamaan. Katekese kontekstual yang dimunculkan dalam PKKI IV dimaksudkan untuk memberi penekanan agar Katekese Umat lebih memasyarakat. Katekese kontekstual bukan merupakan hal yang baru sama sekali, melainkan sudah ada benihnya dalam PKKI II. Katekese kontekstual adalah katekese yang berusaha menanggapi situasi atau peristiwa tertentu yang dialami umat dalam hidup sehari-harinya sebagai wujud pengembangan hidup menggereja. Situasi tersebut merupakan realitas dalam hidup konkrit, sifatnya aktual dan mendesak untuk ditanggapi permasalahannya, misalnya: kegelisahan, ketakutan/kecemasan, ketidakadilan, kemiskinan, bencana alam, tindak kriminalitas yang semuanya itu dialami dalam kehidupan orang di tengah masyarakat.

  Situasi-situasi tersebut sebenarnya berakar pada situasi hidup dalam keluarga. Ketidakharmonisan keluarga, tingkat pendidikan yang tidak memadai untuk mengubah kehidupan yang lebih baik, sementara tuntutan ekonomi yang semakin hari semakin tinggi sehingga orang mengalami ketertekanan, selain itu juga bencana alam yang kerap melanda masyarakat.

  Keluarga sebagai basis kesejatian hidup beriman lambat laun mulai mengalami krisis seperti halnya yang diangkat oleh panitia APP KAS 2007 bahwa keluarga seharusnya menjadi dasar atas kehidupan beriman jemaat dan masyarakat. Situasi krisis ini sangat kontekstual untuk zaman sekarang sehingga menuntut pihak-pihak yang bergerak di bidang pemberdayaan hidup beriman untuk melakukan suatu pembaharuan-pembaharuan yang dapat memberikan kontribusi berarti. Secara khusus Gereja sebenarnya berpeluang untuk melakukan pembaharuan itu. Salah satunya adalah pembaharuan dalam hal katekese. Menurut hemat penulis katekese yang sungguh relevan adalah katekese kontekstual. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Komisi Kateketik KWI bahwa Kontekstualisasi katekese bergerak dalam tiga konteks, yakni: aktual, Alkitabiah, dan historis dalam komunikasi kritis-kreatif, demikian pun dengan praktek katekese dalam situasi zaman sekarang hendaknya sesuai dengan ketiga konteks di atas (KomKat KWI, 1997:23). Berdasarkan penjelasan di atas, katekese kontekstual dapat diartikan sebagai komunikasi iman dalam usaha menanggapi secara konkrit pewahyuan Allah yang tersirat di balik realitas hidup masyarakat sehingga iman umat berkembang semakin sempurna (Adisusanto, 1989). Tanggapan iman yang ditekankan dalam katekese kontekstual bersifat praktis, yaitu terarah pada keterlibatan dalam hidup masyarakat. Dengan katekese kontekstual peserta katekese didorong untuk mengambil tindakan konkrit guna mengatasi masalah yang dialami dalam hidup konkritnya sehari-hari.

B. Tujuan Katekese Kontekstual

  Katekese kontekstual bertujuan memberi dorongan kepada umat untuk terlibat dalam membangun kehidupan yang lebih baik. Dalam bidang pastoral, hal ini merupakan kerygma yang memberi penekanan pada diakonia karena bidang itu mencakup tujuan katekese. Karena katekese kontekstual merupakan salah satu bentuk dari Katekese Umat (KU). Spesifikasi tujuan katekese kontekstual yaitu mengusahakan terjadinya pertobatan (metanoia) umat kepada Allah yang ditransformasikan dalam tindakan konkrit dalam masyarakat dan bagi masyarakat. Terjadinya pertobatan sejati pada umat, dalam arti pertumbuhan iman dari dalam mampu mengubah wajah masyarakat sehingga menjadi seperti yang diharapkan. Perkembangan iman yang diharapkan bukan sekedar demi kesucian pribadi, melainkan dampaknya terarah pada perbaikan keadaan manusia dan lingkungannya.

C. Proses Katekese Kontekstual Katekese Kontekstual mengikuti proses katekese umat pada umumnya.

  Menurut PKKI ada tiga langkah besar yang hendak dialami di dalamnya yaitu:

  1. Langkah pertama; mengamati dan menyadari suatu fenomena tertentu dalam masyarakat yang diangkat sebagai tema katekese (aktual).

  Tema katekese kontekstual diangkat dari situasi konkrit masyarakat/umat. Situasi konkrit ini bisa merupakan persoalan masyarakat, misalnya: kelaparan, kemiskinan, ketidakadilan, bencana alam, tindak kriminal dan kebutuhan masyarakat (sandang, pangan, papan, pendidikan). Situasi itu didalami dan dianalisis supaya dapat disadari secara utuh. Katekese kontekstual bertitik tolak dari situasi konkrit masyarakat karena Allah bersabda bukan secara anonim saja, tetapi Allah menyapa manusia dalam situasi kehidupannya yang konkrit, yakni manusia yang hidup dalam konteks sosio-budaya tertentu. Supaya dapat mendengarkan dan menghayati sabda Allah dengan baik, orang perlu menghadirkan diri dalam konteks sosio-budaya di mana ia hidup. Ini berarti bahwa dalam katekese kontekstual umat perlu ditolong agar memiliki kepedulian akan masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakatnya, mencoba memperoleh gambaran tentang masalah-masalahnya. Kepedulian akan masalah-masalah masyarakat merupakan titik tolak dari katekese yang akan memacu umat untuk mendengarkan Allah yang berada di tengahnya guna menyadari apa arti keselamatan, dan apa yang perlu dilakukan agar dapat menghayati iman yang terlibat dalam masyarakat.

  2. Langkah kedua; menyadari dan merefleksikan situasi yang telah dianalisis dalam terang Sabda Allah (Alkitabiah).

  Situasi konkrit telah dialami dan dirasakan oleh masyarakat dengan berbagai bentuknya. Hal itu sudah menjadi bagian dari hidup manusia yang tidak bisa dipungkiri. Umat diarahkan untuk melihat semuanya itu dalam terang Sabda Allah. Kitab Suci merupakan ungkapan tertulis sabda Allah itu yang mempunyai peranan penting dalam katekese. Dengan melalui Kitab Suci umat diajak untuk mendengarkan sabda Allah yang Hic et Nunc bersabda kepada mereka di tengah masalah-masalah yang dihadapinya. Perikopa Kitab Suci yang dipilih sekurang- kurangnya mendekati masalah-masalah yang sedang dihadapi tersebut, agar sabda Allah sungguh menggema dalam hati sanubari umat. Umat perlu diberi kesempatan serta waktu untuk sungguh-sungguh mendengarkan dan merenungkan Sabda Allah.

  Melalui renungan itu umat diharapkan menemukan dan memahami kepedulian Allah kepada umat dalam situasi yang kurang menguntungkan, dengan kata lain diajak untuk mengerti, meresapkan pandangan dan sikap Allah atas peristiwa-peristiwa yang dialami. Dengan demikian umat diajak untuk memikirkan apa arti keselamatan

  

Hic et Nunc bagi masyarakat dan apa yang perlu diperbuat agar keselamatan tersebut

sungguh terjadi bagi kehidupan.

  3. Langkah ketiga; memikirkan dan merencanakan aksi untuk bertindak (historis dalam komunikasi kritis-kreatif).

  Mengamati situasi dan merefleksikannya dalam terang sabda Allah bertujuan supaya dapat menjadi lebih sadar akan panggilan sebagai orang beriman untuk bertindak memperbaiki keadaan. Mungkin Sabda Allah itu akan menegur umat supaya bermetanoia, memberi inspirasi dan meneguhkan untuk berani bertindak, maka pada tahap ini diharapkan peserta katekese membuat rencana-rencana dan membulatkan tekad untuk bertindak. Memang, langkah ketiga ini sudah berada di luar proses katekese itu, namun ini merupakan implementasi dari katekese, dan katekese itu sebenarnya harus berujung pada tindakan atau aksi nyata. Katekese Kontekstual yang berorientasi kemasyarakatan ini biasanya ditelaah dengan memanfaatkan ANSOS. Katekese dengan tiga langkah besar tersebut dapat dijabarkan lagi dalam beberapa langkah secara lebih rinci. Romo Adisusanto, SJ. menyarankan delapan langkah dalam hubungannya dengan Katekese Umat sebagai berikut: 1) Pemetaan masalah, 2) Pengutaraan perasaan, reaksi spontan atas dokumen yang baru dibaca/dilihat/didengar, 3) Penceriterakan kembali isi dokumen selengkap dan sejelas mungkin, 4) Pencarian tema/pokok pembicaraan yang dapat diambil dari dokumen, 5) Penceriteraan peristiwa dalam masyarakat yang sesuai dengan pokok pembicaraan yang diusulkan, 6) Permenungan hasil analisa yang dilaksanakan pada langkah kelima dan menekankan kembali akar/sebab utama masalah yang dihadapi masyarakat. 7) pemilihan dan permenungan Sabda Allah yang sesuai dengan peristiwa/masalah masyarakat yang sedang dibicarakan, 8) pembaharuan diri dan merencanakan tindakan konkrit yang mungkin dapat dilaksanakan untuk menghadapi secara positif peristiwa yang sedang di alami. Dengan demikian dapat terjadi transformasi nyata dalam masyarakat.

  Berkaitan dengan proses katekese ini, Romo Adisusanto, SJ. juga memberikan beberapa hal yang perlu diperhatikan. Sifat proses adalah hidup dan dinamis. Proses berkembang melalui langkah-langkah secara bertahap. Suatu tahap bukan suatu kotak yang bila telah dilalui dapat ditinggalkan begitu saja.

  Tahap sendiri dibangun dalam proses dan dibangun bersama kelompok, bukan sesuatu yang sudah siap jadi atau dibentuk sebelumnya oleh pembina. Suatu tahap berbeda secara kualitatif dari tahap yang mendahuluinya, dan harus selalu mempunyai relasi dengan tahap yang lain. Dalam proses, bisa kembali ke tahap sebelumnya bila nyata bahwa masih ada soal dari tahap itu yang perlu diselesaikan.

  

D. Usulan katekese sebagai alternatif untuk mengembangkan hidup

menggereja kontekstual di Indonesia masa kini

  Gereja Indonesia telah mengukir sejarah dengan mengadakan Pertemuan Kateketik antar Keuskupan se-Indonesia (PKKI) sebanyak delapan kali. Dalam pertemuan itu beberapa pola katekese telah disepakati antara lain: Katekese Umat (KU), Katekese Analisis Sosial/Ansos, Katekese Kontekstual, Katekese dengan Audivisual dan juga pola Pendidikan Agama Katolik (PAK). Macam-macam pola tersebut memiliki tujuan yang sama yakni agar hidup iman jemaat kristiani semakin berpedoman pada Tuhan Yesus Kristus. Sebagaimana diketahui dalam Kitab Suci, iman anggota jemaat semakin berakar dan tiap pribadi hidup lebih menjemaat dan memasyarakat, akhirnya Gereja Indonesia semakin berdaya menjalankan misinya untuk menjadi garam dan terang dunia. Katekese yang ditawarkan dalam skripsi ini adalah katekese kontekstual, adapun yang menjadi alasan penulis mengusulkan katekese ini yaitu; sesuai dengan penelitian Allocita yang dikemukakan pada tahun 2004 dalam PKKI VIII, bahwa banyak Gereja lokal yang masih menghayati keterpisahan antara Gereja dan Negara.

  KBG yang ada di Indonesia masih sibuk dengan hal-hal rohani, hal ini bisa dimengerti karena KBG yang sekarang berada di keuskupan-keuskupan berasal dari kelompok-kelompok doa, paguyuban rohani, atau wilayah administratif paroki seperti kring, lingkungan, wilayah, dsb. yang secara pastoral menekankan segi kultis- liturgis. Maka, Gereja, juga KBG, masih banyak membatasi dirinya pada hal-hal rohani. Kenyataan ini menunjukkan bahwa Katekese Umat sebenarnya belum cukup berhasil membangun KBG yang berdimensi kemasyarakatan dan yang dapat merubah masyarakat ke arah yang lebih baik. Usulan katekese kontekstual yang ditawarkan dalam skripsi ini juga berdasarkan keprihatinan terhadap situasi kehidupan di Indonesia saat ini. Berkaitan dengan itu adanya seruan untuk Gereja seperti yang terungkap dalam Nota pastoral KWI 2004, bahwa Gereja saat ini senantiasa harus terus menerus bertobat. Dengan kata lain, Gereja Indonesia saat ini perlu memiliki sikap rendah hati dan mau mengakui bahwa Gereja telah ikut ambil bagian dan tidak bisa melepaskan tanggung jawab dalam rusaknya keadaban publik.

  Dengan kesadaran itu Gereja mau bertekad mengambil bagian bersama semua orang yang berkehendak baik. Kesadaran Gereja ini hendaknya tidak hanya merupakan wacana belaka, tetapi perlu dikonkritkan mulai dari lingkup yang kecil di dalam masyarakat, dan jika mungkin sampai ke lingkup yang lebih besar. Untuk mewujudkan tekad Gereja tersebut, penulis sebagai anggota Gereja mengusulkan penulis mengangkat tema berkaitan dengan masalah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang sedang marak terjadi dengan konteks masyarakat di wilayah Kalimantan Barat, dan kasus tersebut kini banyak dihadapi oleh masyarakat setempat. Berikut ini adalah contoh rangkaian katekese kontekstual.

  Salah satu contoh Persiapan Pertemuan Katekese Kontekstual Identitas Pertemuan Katekese Kontekstual

  Judul Pertemuan : Perdagangan perempuan dan anak-anak Tujuan Pertemuan : Agar peserta tidak terlibat dan terpengaruh dalam praktek jual beli orang, juga berani mencegah terjadinya pada keluarga/orang lain. Metode : KU-ANSOS Peserta : Umat kristiani di Wilayah Keuskupan

  Ketapang, Kalimantan Barat Sarana : TV 30 inch, VCD player Sumber Bahan : - CD Kasus Trafficking di Kal-Bar, produksi YJP tahun 2003

  • Mrk 14:10-11;43-45. Mat 27:1-5
  • Darmawijaya, St., Pr. Mencari Pesan Misa Harian. Yogyakarta: Kanisius.
  • Bergant, Dianne, CSA. (2002). Tafsir Yogyakarta: Kanisius.

  KSPB.

  • Leks, Stefan. (2003). Tafsir Injil Matius & Markus. Yogyakarta: Kanisius.
  • Majalah Kalimantan Review. IDRD
  • Http:// beritasore.com; Http:// idola.net Waktu : 1x 100 menit

  Pemikiran Dasar

  Pada zaman sekarang ini, sikap untuk melindungi dan menghargai sesama manusia semakin kurang. Banyak orang berusaha demi kepentingan dirinya sendiri saja tanpa perduli bahwa tindakannya itu merugikan orang lain dengan mengabaikan nilai luhur manusia sebagai sesama ciptaan Allah. Kasus semacam ini dapat dilihat pada praktek perdagangan perempuan dan anak dalam kasus Trafficking yang terjadi di negara ini. Menurut definisi PBB, Trafficking adalah perekrutan, pemindahan, pengiriman seseorang, dengan ancaman, atau penggunaan kekerasan, penipuan atau bentuk pemaksaan, penyalahgunaan kekuasaan, menerima bayaran untuk tujuan eksploitasi. Kasus ini sebelumnya sudah terjadi di mana-mana, bukan saja di Kalimantan Barat, tetapi juga di Sumatra, Bali, bahkan di Jawa sekalipun.

  Sudah cukup lama praktek trafficking ini terjadi di Indonesia, hal ini terjadi karena manusia ingin hidup lebih baik. Ironisnya, terhadap masalah ini pemerintah maupun aparat sebagai pejabat negara, pelindung, dan pengayom rakyat, kurang berperanan secara serius dalam menangani kasus ini, sehingga praktek trafficking ini semakin marak seolah tanpa kendala dan banyak memunculkan agen-agen baru penyalur tenaga kerja yang tidak bertanggung jawab. Sinyalemen ini semakin diperkuat oleh laporan Departmen Luar Negeri Amerika Serikat dan Komisi Ekonomi dan Social Commission On Asia Pacific (ASCAP) dalam Trafficking in

  

Report , July 2001, bahwa Indonesia menempati peringkat ketiga terendah dalam upaya penanggulangan trafficking. Namun begitu, masih ada pihak-pihak yang peduli terhadap kasus semacam ini misalnya yayasan-yayasan, dalam hal ini Yayasan Jurnal Perempuan (YJP).

  Yayasan ini menangani kasus-kasus yang berhubungan dengan isu perempuan Indonesia karena memang praktek trafficking yang terjadi lebih banyak menimpa kaum perempuan. Tidak sedikit orang yang menjadi korban dari praktek trafficking ini. Pada tahun 2000 YJP menemukan banyak kasus kejahatan terhadap TKI khususnya TKW. Untuk daerah Kalimantan Barat, beberapa lembaga di antaranya seperti International Organization for Migration (IOM) mengatakan bahwa kasus

  

trafficking perempuan dan anak sejak periode Juni 2005-Oktober 2006, prosentase

korban terbesar mencapai 80,89% adalah warga daerah itu sendiri.

  Pada umumnya banyak dari mereka yang menjadi tenaga kerja illegal di Malaysia karena direkrut oleh agen-agen yang tidak bertanggung jawab, dan aksesnya pun melalui jalan-jalan setapak untuk menuju ke perbatasan. Motivasi mereka yang mau direkrut tersebut umumnya untuk membantu keluarga, dan mereka begitu mudahnya terpengaruh oleh bujukan dan tipu daya lainnya berupa janji-janji dan iming-imingan yang menarik. Namun, yang didapatkan malah sebaliknya membuat keadaan memprihatinkan karena ternyata mereka diperjual-belikan dan mendapat perlakuan yang tidak wajar. Kebanyakan dari mereka ternyata disiksa oleh majikannya, gaji mereka pun tidak dibayar. Akhirnya hal ini tidak sedikit yang berujung pada penyesalan bagi mereka.

  Ada bermacam-macam cara dan alasan untuk memperlakukan para TKI secara tidak wajar. Para majikan merasa kurang puas dengan pekerjaan TKI, dan beranggapan bahwa para TKI pantas diperlakukan secara kasar. Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK) hingga Maret 2007, menemukan satu kasus yang meliputi: penculikan, penjualan bayi, perempuan untuk pelacuran, dan penjualan amoy (sebutan untuk gadis keturunan Tionghoa) untuk pengantin pesanan.

  Manusia mestinya mempunyai tanggung jawab terhadap dirinya dan segala konsekwensi yang ia lakukan. Manusia itu adalah ciptaan dan citra Allah, maka sudah selayak dan sepantasnya setiap orang diperhitungkan sebagai sesama yang mempunyai hak hidup layak. Negara Indonesia sangat menjunjung tinggi hak hidup dan berkembang setiap individu. Hal ini berarti bahwa tidak seorang pun yang punya hak merampas sesuatu yang bukan miliknya, atau pun mempermainkan hidup orang lain. Manusia haruslah dijunjung tinggi harkat, derajat dan martabatnya sebagai pribadi. Orang beriman mestinya mempunyai hati dan rasa belas kasih sebagaimana terhadap dirinya sendiri, bukan malah sebaliknya bersikap semena-mena terhadap orang lain mengingat kehidupan itu sendiri bukan miliknya. Praktek trafficking adalah sikap yang tidak manusiawi.

  Dalam Kitab Suci Perjanjian Baru khususnya Injil, kasus yang mirip trafficking ini juga dikemukakan, seperti dalam Markus 14:10-11; dan Mat 27:1-6. Kedua injil tersebut mengisahkan bagaimana Yudas Iskariot tergiur oleh uang, sampai rela menjual Yesus gurunya. Imam-imam kepala berjanji akan membayar mahal Yudas Iskariot seandainya mau memberi informasi keberadaan Yesus. Yudas menerima begitu saja tawaran imam-imam kepala itu. Tindakan Yudas Iskariot ini mencelakakan gurunya sendiri demi uang. Bagi Gereja Katolik atau umat Katolik, hal yang demikian itu jangan sampai terjadi dan bahkan harus mengambil sikap tegas untuk menentangnya walaupun tanpa kekerasan. Kasus ini perlu diangkat mengingat situasinya itu sangat kontekstual, bahkan persoalan semacam itu mengancam perkembangan hidup di Keuskupan Ketapang, dan bisa berdampak pada hidup beriman itu sendiri. Kasus ini kiranya baik untuk didalami pada suatu kesempatan. Tanpa bermaksud menuding siapa yang seharusnya menangani permasalahan ini, sebagai katekis penulis merasa tergerak untuk melakukan sesuatu yang diharapkan dapat memberikan kontribusi yang berarti peranan Gereja di tengah masyarakat. Semoga niat baik ini diberkati oleh Allah yang senatiasa mencintai umat-Nya.

  Proses Pertemuan

  Doa Pembukaan Marilah Kita berdoa (†)

  Allah Bapa Mahapengasih dan penyayang, Syukur dan terimaksih atas berkah dan rahmat yang melimpah-limpah pada kami hingga saat ini. Saat ini umatmu berkumpul untuk bersama-sama merenungkan hidup sebagai umat kristiani. Sekiranya Engkau berkenan hadir dan membuka hati pikiran kami untuk terbuka terhadap firman-Mu. Ya Allah semoga segala perjuangan dan usaha kami untuk semakin serupa dengan Yesus Kristus Putera-Mu semakin mendorong kami untuk dekat dengan Engkau. Allah Bapa, akhirnya kami serahkan seluruh warga kami dan siapa saja yang saat ini belum bisa hadir bersama-sama kami di tempat ini. Doa yang jauh dari sempurna ini kami sampaikan kepada-Mu dengan perantaraan Yesus Kristus Tuhan dan Juru selamat kami. Amin.

  Langkah pertama: Pengantar dan pemetaan masalah

  Bapak, ibu dan saudara-saudari yang terkasih di dalam Tuhan kita Yesus Kristus, selamat berjumpa di tempat ini. Pada kesempatan ini, saya akan mengajak bapak, ibu dan saudara-saudari untuk sejenak merenungkan perjalanan hidup kita sebagai umat beriman. Seperti kita ketahui bahwa manusia adalah ciptaan Allah yang paling tinngi karena memiliki akal budi untuk bertindak bebas. Kebebasan itu termasuk untuk berelasi dengan Allah dan sesama. Allah menghendaki, dengan kebebasannya manusia juga setia pada jalan-Nya yaitu kasih, hormat, dan penghargaan kepada Allah dan sesama.

  Terhadap sesama yaitu mempunyai sikap peduli dengan penderitaannya dan berusaha untuk meringankan penderitaannya. Namun dalam perkembangan zaman, banyak tantangan maupun tawaran yang membuat manusia lupa akan keberadaannya sebagai citra Allah. Ia cenderung terbius oleh hidup yang menyenangkan untuk dirinya sendiri serta mudah menindas orang lain. Akibat dari itu semua, muncullah sikap yang tidak terarah pada nilai luhur hidup manusia. Banyak hal yang bisa terjadi misalnya; premanisme, penipuan berkedok, praktek perdagangan manusia, keserakahan, dan lain-lain yang sifatnya merugikan hidup. Supaya tidak berpanjang lebar lagi dan mempersingkat waktu, sekarang mari kita saksikan tayangan berikut mengenai kasus-kasus yang merendahkan martabat manusia!

  (Session pemutaran film berkaitan dengan kasus “trafficking”)

  Langkah kedua: Menggali perasaan/kesan dari peserta katekese

  Bapak, ibu dan saudara-saudari yang terkasih, setelah kita menyaksikan tayangan film tadi, saya akan mengajak kita semua untuk mensharingkan perasaan, kesan atau suasana hati anda.

  (Diberikan kesempatan kepada peserta untuk menyampaikan kesan-kesannya) Langkah ketiga: menceriterakan kembali isi dari tayangan film

  Setelah tadi kita mengutarakan perasaan kita masing-masing dengan melihat tayangan film, selanjutnya saya akan mengajak untuk menceriterakan kembali selengkap dan sejelas mungkin setiap peristiwa yang terjadi dalam film itu. Masing- masing dari anda dapat saling melengkapi sehingga peristiwa yang ditayangkan dalam film itu sungguh-sungguh menjadi milik kita dan kita bisa belajar dari film tersebut. Berikut panduan pertanyaan yang dapat menuntun ingatan kita pada film yang baru saja kita saksikan:

  1. Di mana lokasi/tempat terjadinya pengiriman tenaga kerja berdasarkan film tersebut?

  2. Siapa yang melakukan pengiriman tenaga kerja tersebut?

  3. Siapa yang menjadi sasaran para pengirim tenaga kerja itu?

  4. Mereka yang dikirim itu disuruh bekerja apa?

  5. Apa hasil yang mereka dapat setelah dikirim sebagai tenaga kerja?

  6. Bagaimana akhirnya nasib para tenaga kerja itu pada umumnya?

  (Peserta diharapkan menjawab pertanyaan seputar film yang ditayangkan)

  

Langkah keempat: Peserta mengemukakan bahan-bahan pembicaraan yang

diambil dari dokumen (tayangan film).

  Setelah tadi mencermati dan menceritakan tayangan film, pada kesempatan ini par peserta diajak untuk mengemukakan pokok-pokok pembicaraan sesuai dengan film dan merupakan permasalahan dalam masyarakat. Para peserta dipersilahkan untuk mengemukakannya.

  (Diharapkan peserta mengemukakan pokok-pokok pembicaraan)

Langkah Kelima: Peserta diminta untuk menceriterakan peristiwa dalam

masyarakat sejalan atau mirip pokok pembicaraan.

  

(Peserta diberi kesempatan menceriterakan peristiwa yang terjadi dalam

masyarakat, misalnya tentang pengiriman tenaga kerja)

  Setelah peserta menceritakan peristiwa masyarakat yang sejalan dengan film (misalnya tentang pengiriman tenaga kerja tsb.), peserta diajak menganalisis peristiwa itu. Berikut ini adalah beberapa panduan pertanyaan yang dapat menuntun peserta untuk menganalisis peristiwa yang telah ditemukan bersama:

  1. Apa yang sebenarnya terjadi dalam peristiwa tersebut?

  2. Apa akibat-akibat yang muncul dari peristiwa tersebut?

  3. Siapa yang amat diuntungkan dan siapa yang amat dirugikan dengan adanya peristiwa tersebut?

  4. Apa kiranya yang menjadi sebab-sebab peristiwa tersebut?

  5. Apa yang menjadi akar masalah/sebab utama peristiwa tersebut?

  (Fasilitator merangkum pokok-pokoknya dari jawaban peserta).

  Keuskupan Ketapang ini merupakan bagian dari wilayah Kalimantan Barat yang tentu saja tidak bisa luput dari praktek trafficking yang dilakukan oleh agen penyalur tenaga kerja illegal yang tidak bertanggung jawab. Yang terjadi dalam peristiwa itu ialah adanya pengiriman tenaga kerja illegal dengan mengelabuhi orang-orang yang dianggap berpengetahuan/berpendidikan rendah dan tidak punya pekerjaan, sehingga mudah tergiur oleh berbagai tawaran dari para pelaku yang menjanjikan. Biasanya para korban itu tidak berpikir panjang lagi atas kemungkinan buruk yang akan terjadi. Dengan demikian rang-orang ini menjadi sasaran empuk bagi para pelaku trafficking, sehingga mereka tidak mengalami kesulitan yang cukup berarti dalam prosesnya. Tidak heran, bahwa tidak sedikit orang yang telah terjebak ke dalam peristiwa pengiriman tenaga kerja illegal itu.

  Akibat yang ditimbulkan dari kasus itu adalah mereka terjebak ke dalam keadaan yang menghasilkan kekecewaan berat. Orang yang tadinya dianggap bisa dipercaya ternyata lepas tangan. Akhirnya yang didapat justru penderitaan lahir batin karena dipermainkan. Aib keluarga pun tidak jarang menimpa mereka karena mereka dijadikan PSK atau dipaksa kawin kontrak.

  Harapan mereka yang dipekerjakan itu adalah memperoleh kesejahteraan hidup, namun sebaliknya bukan itu yang didapat. Jadi baik individu maupun masyarakat terutama yang menjadi korban, dirugikan secara fisik maupun mental. Dari peristiwa semacam ini, yang diuntungkan yang jelas para agen/calo penyalur. Mereka ini biasanya dibayar cukup tinggi oleh si empunya rencana untuk melancarkan aksinya, dan yang empunya rencana mendapat keuntungan jauh lebih banyak daripada yang diterima para korban. Mereka tidak mau tahu apa yang terjadi pada para korban untuk selanjutnya. Jelas, yang dirugikan adalah para korban karena mereka tidak mendapatkan haknya. Lebih daripada itu mereka sendiri telah rusak masa depannya. Keluarga mereka pun tidak jarang merasa terpukul oleh keadaan itu karena yang bersangkutan pulang dalam keadaan cacad atau sakit. Hal ini menjadi lebih jelas dari pengakuan para korban sendiri.

  Adapun yang menjadi sebab-sebab hal itu mudah terjadi, para korban sebagian besar adalah orang-orang kelas bawah. Mereka ini tidak memiliki pendidikan yang memadai, penganggur, miskin, dan memiliki keinginan hidup enak.

  Hal ini tentu saja dimanfaatkan oleh yang tahu keadaan ini demi keuntungan pribadi/kelompoknya. Mereka lalu menyusun strategi yang pas untuk niat jahat itu.

  Akar masalah dari terjadinya pengiriman tenaga kerja illegal dalam praktek

  

trafficking , menurut seorang anggota Komisi B DPRD Kal-Bar bernama Asmaniar

  seperti yang disampaikannya pada tahun 2007, adalah pendidikan rendah, pengangguran, kemiskinan, minimnya akses informasi, yang semuanya ini merupakan satu kesatuan.

  

Langkah keenam: merenungkan hasil analisis/hasil langkah kelima dan

menekankan kembali akar masalah/sebab utama masalah yang dihadapi masyarakat

  Setelah peserta menemukan/menyadari akar masalah yang ada dalam masyarakat lingkungan mereka, mereka diajak merenungkan sejenak hal itu.

  Berdasarkan sharing dari peserta diharapkan dapat dirumuskan akar masalah dari peristiwa yang dialami sebagai berikut: Akar/sebab utama masalah yang dihadapi masayarakat adalah tingkat pendidikan rendah, kemiskinan, pengangguran, dan minimnya akses informasi.

  Langkah Ketujuh:

  a) mengajak peserta merenungkan Sabda Tuhan yang mirip atau sejalan dengan peristiwa dalam masyarakat

  Setelah peserta diajak merenungkan hasil analisis terhadap peristiwa dalam masyarakat yang telah dibicarakan, peserta diajak mendengarkan Sabda Tuhan.

  Pembacaan diambil dari Markus 14:10-11;43-45, Mateus 27:1-5 Markus 14:10-11;43-45

  10. Lalu pergilah Yudas Iskariot, salah seorang dari keduabelas murid itu, kepada imam-imam kepala dengan maksud menyerahkan Yesus kepada mereka.

  11. Mereka sangat gembira waktu mendengarnya dan mereka berjanji akan memberikan uang kepadanya. Kemudian ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus.

  43. Waktu Yesus masih berbicara, muncullah Yudas, salah seorang dari keduabelas murid itu, dan bersama-sama dia serombongan orang yang membawa pedang dan pentung, disuruh oleh imam-imam kepala, ahli Taurat dan tua-tua.

  44. Orang yang menyerahkan Dia telah memberitahukan tanda ini kepada mereka: “Orang yang akan kucium, itulah Dia, tangkaplah Dia dan bawalah Dia dengan selamat.”

  45. Dan ketika ia sampai di situ ia segera maju dan mendapatkan Yesus dan berkata “Rabi”, lalu mencium Dia.

  Mateus 27:1-5

  1. Ketika hari mulai siang, semua imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi berkumpul mengambil keputusan untuk membunuh Yesus

  2. Mereka membelenggu Dia, lalu membawa-Nya, dan menyerahkan-Nya kepada Pilatus wali negeri itu.

  3. Pada waktu Yudas, yang menyerahkan Dia, melihat, bahwa Yesus telah dijatuhi hukuman mati, menyesallah ia. Lalu ia mengembalikan uang yang tiga puluh perak itu kepada imam-imam kepala, dan tua-tua,

  4. dan berkata: “Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah.” Tetapi jawab mereka: “Apa urusan kami dengan itu? Itu urusanmu sendiri!”

  5. Maka ia pun melemparkan uang perak itu ke dalam Bait Suci, lalu pergi dan menggantung diri.

  

b) Setelah merenungkan hasil analisis peristiwa dalam masyarakat dan

merenungkan Sabda Tuhan yang baru saja dibaca, selanjutnya fasilitator mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut:

  1. Dari pengalaman yang anda kemukakan tadi, mana yang sesuai dan mana yang bertentangan dengan nilai-nilai injili?

  2. Dalam situasi seperti yang anda ungkapkan, apa arti keselamatan dan dosa?

  3. Tuhan berada di mana? Pada siapa Ia berpihak?

  4. Apa yang dikehendaki Tuhan pada manusia dalam peristiwa ini? Setelah peserta menanggapi pertanyaan-pertanyaan tersebut, fasilitator kemudian memberikan masukan sebagai berikut: Dalam Injil, Yudas Iskariot dikatakan sebagai pengkhianat Yesus. Karena motivasinya yang serakah, ia mendatangi imam-imam kepala dan tergiur oleh uang yang ditawarkan mereka, sampai rela menjual Yesus gurunya. Imam-imam kepala berjanji akan membayar mahal Yudas Iskariot seandainya mau memberi informasi keberadaan Yesus. Yudas menerima begitu saja tawaran dari para imam kepala itu, sampai akhirnya ia benar- benar memberikan informasi keberadaan Yesus kepada imam-imam kepala.

  Tindakan Yudas ini adalah mencelakakan gurunya sendiri.

  Apa yang terjadi pada Yudas selanjutnya? Injil Mateus mengisahkan bahwa Yudas menyesali segala perbuatannya ketika ia tahu bahwa Yesus dijatuhi hukuman mati. Tindakan penyesalan Yudas tidak disampaikan kepada Yesus tetapi dengan mendatangi imam-imam kepala. Sesampainya ia ke hadapan imam-imam kepala malah mendapatkan prilaku yang sama sekali tidak diharapkannya. Dengan entengnya para imam itu berkata; “apa urusan kami dengan itu? Itu urusanmu sendiri! (Mat 27:4).

  Terasa sekali di sini bahwa para imam itu tidak mau tahu apa yang terjadi pada korbannya. Mereka lepas tangan atas nasib yang menimpa Yudas, dan Yudas menerima kekecewaan yang berat dan penyesalan yang mendalam. Yudas tidak menyampaikan penyesalannya kepada Yesus karena ia sendiri tidak cukup percaya akan kerahiman-Nya yang Mahabesar terhadap pendosa yang bertobat. Dengan kekecewaan yang berat dan penyesalan yang dalam, Yudas melemparkan uang yang semula menjadi menggiurkannya ke dalam Bait Suci, lalu pergi dan menggantung dirinya.

  Dalam situasi seperti itu, keselamatan itu adalah benar-benar mendapat imbalan yang besar, dianggap berjasa, pekerjaan yang bergengsi, dan gaji yang tinggi. ini dari pihak korban. Mereka mengharapkan keselamatan tetapi yang diperoleh penderitaan. Arti dosa dalam situasi itu ialah menipu, mengkhianati, tidak bisa bertanggung jawab atau lepas tangan terhadap persoalan yang menimpa para korban. ini yang dilakukan pihak agen/calo-calo tenaga kerja. Karena Tuhan itu Mahabaik, Ia berada di antara orang-orang yang sungguh membutuhkan pertolongan, dalam hal ini adalah para korban yang mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan ekonominya. Tuhan berpihak pada orang yang menjadi korban penipuan, pengkhianatan. Karena Tuhan itu Mahabaik Ia berkehendak menolong manusia menderita dan menjauhkan manusia itu dari cengkraman agen berikutnya. Tuhan menghendaki agar orang waspada terhadap segala kemungkinan yang dapat merugikan hidupnya sendiri, ataupun merugikan orang lain.

  Langkah Kedelapan: membuat aksi konkrit

  Setelah bersama-sama peserta merenungkan peristiwa hidup, mulai dari memetakan permasalahan yang dihadapi sampai meneranginya dalam terang Kitab Suci, fasilitator mengajak peserta memikirkan tindakan konkrit agar rencana yang dibuat pada kesempatan ini tidak tanpa hasil. Tidak perlu yang muluk-muluk tetapi yang dapat lakukan. Berikut ini adalah panduan pertanyaan yang dapat membantu membuat rencana aksi konkrit:

  1. Apa yang akan dilakukan selanjutnya?

  2. Bagaimana hal itu mau dilakukan? Sampai kapan?

  3. Kapan niat itu akan dilakukan? Setelah peserta membuat rencana dan disepakati bersama, selanjutnya fasilitator mengajak peserta untuk menyerahkan diri pada Tuhan melaui doa, agar usaha yang baik ini dapat diberkati oleh-Nya. Doa Penutup Marilah berdoa (†).

  Allah Bapa di dalam kerajaan surga, kembali kami mengucapkan syukur karena Engkau berkenan hadir dan memberikan Roh Kudus-Mu hadir pada kesempatan yang baik ini. Bapa, banyak hal telah kami bicarakan dan kembali kami memohon kepadamu agar apa yang kami bicarakan ini tidak berhenti pada pertemuan ini saja melainkan terus dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi usaha kami dalam membangun kehidupan iman kristiani yang lebih baik. Ya Allah, berilah kepada kami semangat untuk ambil bagian dalam kehendak-Mu antara satu dengan yang lain baik dalam keluarga, lingkungan maupun masyarakat sehingga suasana kedamaian hidup. Ya Allah, demikianlah doa ini kami haturkan kepada-Mu dengan perantaraan Yesus Kristus Sang Guru dan teladan hidup kami, kini dan sepanjang masa. Amin.

BAB V PENUTUP Pada bab terakhir ini penulis akan memaparkan dua hal. Pertama, Kesimpulan Penulisan Skripsi dan Kedua, Saran dari penulis agar para pembaca umumnya dan

  jemaat kristiani khususnya secara bersama-sama dapat semakin meningkatkan kualitas hidup berimannya sesuai dengan situasi zaman sekarang. Berikut ini adalah pemaparan kedua hal tersebut.

A. Kesimpulan

  Bukan hal yang mustahil jika bentuk penghayatan iman kristiani mengalami perkembangan sesuai dengan perubahan zaman. Penghayatan hidup beriman memang perlu disesuaikan dengan konteks zaman atau lebih tepatnya sesuai dengan situasi hidup jemaat itu sendiri. Hidup menggereja dapat dijadikan sebagai bentuk penghayatan iman yang sesuai dengan harapan dan cita-cita Yesus Kristus. Tetapi, hidup menggereja yang bagaimana selain sesuai dengan harapan Yesus Kristus juga sesuai dengan situasi zaman ini? Hidup menggereja kontekstual merupakan bentuk penghayatan iman yang menanggapi berbagai persoalan hidup jemaat terutama persoalan hidup yang berhubungan dengan penghayatan hidup beriman zaman sekarang.

  Jemaat kristiani zaman sekarang, khususnya jemaat kristiani Indonesia perlu kembali kepada vitalitas hidup berimannya yakni menjadi saksi Kristus dalam setiap tugas perutusan Gereja. Menjadi saksi Kristus berarti hidup sebagai murid. Sebagai murid, jemaat kristiani perlu bersikap sesuai dengan ajaran dan teladan Sang Guru, yakni Yesus Kristus.

  Seperti yang telah dibahas pada bab III bahwa hidup menggereja kontekstual berarti menggereja dalam hubungannya dengan situasi atau kejadian konkrit yang dialami dalam hidup sehari-hari. Dalam menggereja kontekstual, situasi yang dimaksudkan adalah realitas hidup konkrit dalam masyarakat. Adapun alasan mengapa jemaat kristiani zaman sekarang perlu menghayati imannya dalam bentuk hidup menggereja kontekstual adalah karena dengan hidup menggereja yang demikian, jemaat diajak untuk tidak hanya beriman secara “buta” atau beriman tanpa berpikir melainkan beriman secara terbuka, yakni terbuka terhadap realitas yang terjadi di sekitarnya saat ini sampai pada praksisnya.

  Jika hal ini telah menjadi model hidup beriman jemaat kristiani zaman sekarang, niscaya suasana yang tercipta akan menjadi lebih baik, damai dan sejahtera. Dengan kata lain, Kerajaan Allah semakin dapat dirasakan di sini, saat ini, dan di mana pun. Indikasi dari hal ini adalah tidak hanya di antara anggota jemaat saja damai dan sejahtera dapat dirasakan, melainkan juga oleh seluruh warga masyarakat. Dengan memberikan keteladanan hidup bersama yang rukun dan damai, berarti tugas jemaat kristiani untuk menjadi saksi Kristus betul-betul dapat direalisasikan.

  Hal ini memang tidak mudah untuk dilakukan, tetapi juga bukan sesuatu hal yang mustahil untuk diperjuangkan. Melalui pendalaman iman atau katekese, anggota jemaat kristiani semakin diberdayakan dalam hal iman. Adapun bentuk katekese yang dirasa mampu mendukung hal ini adalah katekese kontekstual. Katekese kontekstual itu sendiri adalah katekese yang berusaha menanggapi situasi atau peristiwa tertentu yang dialami masyarakat sebagai wujud pengembangan hidup menggereja. Situasi tersebut merupakan realitas dalam hidup konkrit, sifatnya aktual dan mendesak untuk ditanggapi permasalahannya. Harapannya adalah bahwa dengan semakin peka terhadap realitas sosial, jemaat kristiani dapat semakin didewasakan dalam hal iman, dan ketika iman jemaat semakin dewasa, apapun persoalan hidup yang menghadang di depan mata dapat diatasi dengan baik sesuai dengan harapan dan kehendak Allah Bapa di surga.

B. Saran

  Tanpa bermaksud menggurui pihak-pihak tertentu yang tersebut di bawah ini, pada bagian kedua ini penulis akan menyampaikan beberapa saran agar usaha meningkatkan penghayatan hidup beriman yang kontekstual semakin dapat terwujud.

  1. Kepada para Pemimpin Gereja, dengan segala kekayaan ilmu pengetahuan dan iman, biarkanlah Roh Kudus membimbing agar antara anggota jemaat yang paling lemah dapat semakin tertolong dan dibantu dalam hal usaha mengembangkan kualitas hidup dan hidup berimannya sehari-hari. Kehadiran para pemimpin Gereja di tengah-tengah jemaat yang dirasakan akan memberi motivasi yang kuat untuk semakin berkembang dalam hal iman.

  2. Kepada para penanggung jawab lembaga pendidikan yang khusus membina kaum muda Katolik, diharapkan mereka semakin kreatif dan inovatif dalam usaha mengembangkan kualitas hidup iman jemaat.

  3. Kepada para kaum muda Katolik, perlunya bersama-sama berjuang dengan segenap daya dan upaya yang dimiliki agar semakin menjadi anak-anak terang di dunia yang kian menantang ini.

  4. Dan terakhir untuk segenap anggota jemaat kristiani di manapun berada.

  Diharapkan mereka bergerak tanpa harus menunggu komando dari para pemimpin Gereja. Gerakan awam saat ini sangat diperlukan demi perkembangan Gereja dan iman jemaat sendiri.

  • GG=EE-------

  

C. DAFTAR PUSTAKA

  Adisusanto, F.X. (2000). Katekese dalam Konteks Pastoral Gereja. Seri Puskat No. 370. Yogyakarta. ____________. (2005). Katekese Umat Ansos. Dalam Yosef Lalu (Ed.). Katekese Umat (hal. 76-77). Jakarta: KWI. Agustino, Leo. (2007). Negara Pusat, Negara Lokal. Dalam BASIS No. 01-02 Th. ke-56, hal. 26-30. Banawiratma, J.B. (Ed.). (1986). Panggilan Gereja Indonesia dan Teologi.

  Yogyakarta: Kanisius. ____________. (1999). Teologi Kontekstual Liberatif. Dalam A. Sudiarja

  (Ed.). Tinjauan Kritis Atas Gereja Diaspora Romo

Mangunwijaya (hal. 187-231). Yogyakarta: Kanisius.

____________. (Ed.). (2000). Gereja Indonesia, Quo Vadis? Hidup Menggereja Kontekstual. Yogyakarta: Kanisius.

  Bergant, Diane. (2002). LBI. Tafsir Kitab Suci Perjanjian Baru.

  Yogyakarta: Kanisius. BUR. (2007, 15 Agustus). Uskup Agung Ingatkan Tanggung Jawab Sosial Agama. KOMPAS.

  Depdikbud. (1988). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

  Dossiers. http:// Mirifica.net. accessed on 2002. Fountain, E. Daniel (2004). Yesus? Siapa Dia? Bandung: Lembaga Literer Baptis.

  Hardaputranta, R. (1993). Gereja Masyarakat Akar Rumput. Seri Forum LPPS. No. 26. Hardawiryana, R. (1986). Panggilan Kesucian. Dalam Banawiratma (Ed.).

  (hal. 43-76). Yogyakarta:

  Panggilan Gereja Indonesia dan Teologi Kanisius.

  ____________. (2001). Kumpulan ASG Tahun 1898-1991 Dari Rerum Novarum Sampai Centesimus Annus. Jakarta: DokPen KWI. ____________. (2001). Topografi Reksa Pastoral Umat Kristiani di Indonesia Yogyakarta: Kanisius.

   Sekarang.

  Hartono Budi & Purwatma, M. (Ed.). (2004). Di Jalan TERJAL

  Mewartakan Kristus yang Tersalib di Tengah Masyarakat Resiko. Yogyakarta: Kanisius.

  Heuken, A. (2002). Spiritualitas Kristiani. Jakarta: Cipta Loka Caraka. Jacobs, Tom. (1987). Gereja Menurut Vatikan II. Yogyakarta: Kanisius. ____________. (1988). Gereja Menurut Perjanjian Baru. Yogyakarta: Kanisius. ____________. (2006). Lukas. Pelukis Hidup Yesus. Yogyakarta: Kanisius. K. A.Semarang. (2001). ArDas K.A. Semarang 2001-2005. Yogyakarta: Kanisius. Komisi Kateketik KWI. (1989). Menuju Katekese Kontekstual Tahun 2000. ____________. (1992). Bunga Rampai Katekese Sosial. Jakarta: Obor.

  ____________. (1997a). Menggalakkan Karya Katekese di Indonesia. Yogyakarta: Kanisius. ____________. (1997). Upaya Pengembangan Katekese di Indonesia.

  Yogyakarta: Kanisius. Konferensi Waligereja Indonesia. (1996). Iman Katolik: Buku Informasi dan Referensi. Yogyakarta: Kanisius.

  Kotan, B. Daniel (Ed.). (2005). Membangun Komunitas Basis Berdaya Transformatif

Lewat Katekese Umat. Cet. 1. Jakarta: KomKat KWI.

____________. (1996). Pedoman Gereja Katolik Indonesia. Bogor: Mardi Yuana. Lalu, Yosef. (2005). Katekese Umat. Jakarta: Komisi Kateketik KWI. Leks, Stefan. (2003). Tafsir Injil Lukas. Yogyakarta: Kanisius. Lembaga Alkitab Indonesia. (1972). Perhatikan Siapa Dia! (Hidup dan Ajaran Yesus). Lembaga Biblika Indonesia. (1981). Tafsir Injil dan Surat-Surat Yohanes.Yogyakarta Kanisius. ____________. (1981). Tafsir Alkitab Masa Kini 3 (Matius-Wahyu). ____________. (2003). Tafsir Injil Markus. Yogyakarta: Kanisius. Magnis Suseno, Franz. (1993). Beriman Dalam Masyarakat; Butir - Butir Teologi Kontekstual . Yogyakarta: Kanisius. ____________. (2004). Menjadi Saksi Kristus di Tengah Masyarakat Majemuk Cet.1. Bogor: Mardi Yuana. Mali, Matheus. (2004). Moralitas: Pertanggung jawaban Iman. Dalam Hartono

  Budi (Ed.).Di Jalan TERJAL mewartakan Kristus yang Tersalib di Tengah Masyarakat Resiko (hal. 265-288). Yogyakarta: Kanisius. Margana, A. (2004). Komunitas Basis:Gerak Menggereja Kontekstual. Yogyakarta: Kanisius. Paus Paulus VI (terj.), (1975). Pewartaan Injil Kepada Bangsa-Bangsa. Ende: Nusa

  Indah Putranto, C.B. (1998). Pewarta Kerajaan Allah. Seri Puskat 357-360. Yogyakarta. Reksosusilo, S. (1997). Reksa Pastoral Dalam Situasi Dewasa Ini. Malang: Dioma. Siyok, Damianus. (2003). Bila Alam Mulai Marah. Dalam Kalimantan Review No.91/Th.XII. hal. 27. Pontianak: IDRD.

  Sunarka, J. (1999). Komunitas Basis yang Berdaya bagi Indonesia Baru. Dalam Sadhana No.217. (hal.11).

  Suratman, Y. (1999). Membangun Komunitas Basis Gerejawi. Jakarta: Celesty Hieronika. Sutrisnaatmaka, A.M. (2002) Penghayatan Iman Berdasar Wahyu Allah. Dalam Eddy Kristiyanto (Ed.). Dinamika Hidup Beriman (hal. 45-85).

  Telaumbanua, Marinus. (2000). Bercita Rasa Saudara. Dalam J. B.

  Banawiratma (Ed.). Gereja Indonesia Quo vadis? Hidup Menggereja Kontekstual (hal. 89-1030). Yogyakarta: Kanisius. _____________. (2001). Trend - Trend Katekese Dalam Gereja. Umat Baru, 203. hal. 2-11. Wibowo Ardhi, F.X. (1993). Arti Gereja. Yogyakarta: Kanisius. Widi Artanto. (1997). Menjadi Gereja Misioner (dalam konteks Indonesia) Yogyakarta: BPK Gunung Mulia. Woy, Amatus. (2005). Peran Sosial Poloitik KBG; Hakekat, Teologi dan Spirituali tasnya. Dalam D.B. Kotan (Ed.). Membangun Komunitas Basis

  Berdaya Transformatif Lewat Katekese Umat (hal. 56-69).

  Jakarta: KomKat KWI. Yohanes Paulus II. (1979). Catechesi Tradendae. (R. Hardawiryana, Penerjemah).

  Jakarta: DokPen KWI No. 28. (dokumen asli diterbitkan th. 1979).

Dokumen baru