Hubungan antara kematangan psikososial dengan penggunaan strategi akulturasi integrasi pada mahasiswa perantau di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta - USD Repository

Gratis

0
0
119
3 weeks ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HUBUNGAN ANTARA KEMATANGAN PSIKOSOSIAL DENGAN PENGGUNAAN STRATEGI AKULTURASI INTEGRASI PADA MAHASISWA PERANTAU DI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA HALAMAN JUDUL Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Disusun Oleh : Age Tiara Wimana 139114047 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ii

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ALAMAN PENGESAHAN iii

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN untuk dukungan dari orang-orang yang saya cintai, untuk proses yang sudah saya lalui, dan untuk masa depan yang sudah menanti iv

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MOTTO from now on what's waited till tomorrow starts tonight it starts tonight and let this promise in me start like an anthem in my heart v

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, 26 Oktober 2018 Age Tiara Wimana vi

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HUBUNGAN ANTARA KEMATANGAN PSIKOSOSIAL DENGAN PENGGUNAAN STRATEGI AKULTURASI INTEGRASI PADA MAHASISWA PERANTAU DI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA Age Tiara Wimana ABSTRAK Penelitian ini berusaha melihat hubungan antara kematangan psikososial dengan penggunaan strategi akulturasi integrasi pada mahasiswa perantau. Penelitian ini dilakukan kepada 229 mahasiswa perantau di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, dengan usia 18-25 tahun. Pemilihan partisipan dilakukan dengan metode purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan dua buah skala, yaitu skala Penggunaan Strategi Akulturasi Integrasi, dan MEPSI. Data yang didapat kemudian dikorelasikan dengan uji korelasi Spearman’s rho. Hasil penelitian menunjukkan nilai korelasi sebesar 0,236 dan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p<0,05). Hasil ini menunjukkan bahwa ada hubungan signifikan dan positif di antara kematangan psikososial dengan penggunaan strategi akulturasi integrasi pada mahasiswa perantau. Kemampuankemampuan yang dikembangkan dalam kematangan psikososial dapat mendukung individu untuk menjalin relasi dengan orang lain, dan juga dapat mendukung pembentukan identitas individu. Di sisi lain, kedua hal tersebut juga dapat mendukung pengambilan strategi akulturasi integrasi. Kata kunci : integrasi, kematangan psikososial, perantau, strategi akulturasi vii

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI THE CORRELATION BETWEEN PSYCHOSOCIAL MATURITY AND THE APPLICATION OF INTEGRATION AS AN ACCULTURATION STRATEGY IN UNDERGRADUATE PSYCHOLOGY DEPARTMENT STUDENT OF SANATA DHARMA UNIVERSITY FROM OUTSIDE YOGYAKARTA ABSTRACT This study is aimed to seek the correlation between psychosocial maturity and the application of integration as an acculturation strategy in undergraduate students from outside Yogyakarta. This study had 229 undergraduate students from outside Yogyakarta in Department of Psychology, Sanata Dharma University, aged 18-25 as the participant. Purposive Sampling method was used in this study. Data collection was accomplished with Application Integration Acculturation Strategies and MEPSI. The data itself was correlated with Spearman’s rho correlation test. The results showed 0,236 correlation and significancy 0,000 (p<0,05). This data means that there is a significant and positive correlation between psychosocial maturity and application of integration as an acculturation strategy in undergraduate students from outside Yogyakarta. Developed competencies in psychosocial maturity enable individuals to establish a relationship with others and support identity achievement. Those competencies are required in the application of integration as an acculturation strategies. Keywords : acculturation strategy, integration, psychosocial maturity, student viii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma Nama Nomor Mahasiswa : Age Tiara Wimana : 139114047 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul: HUBUNGAN ANTARA KEMATANGAN PSIKOSOSIAL DENGAN PENGGUNAAN STRATEGI AKULTURASI INTEGRASI PADA MAHASISWA PERANTAU DI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelola di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di : Yogyakarta Pada Tanggal : 26 Oktober 2018 yang menyatakan, Age Tiara Wimana ix

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkatnya yang melimpah sehingga penelitian ini dapat berjalan dan selesai dibuat. Proses pembuatan skripsi ini juga tidak lepas dari peran banyak pihak yang telah memberikan waktu, pikiran, tenaga, dan dukungan bagi pneliti. Maka dari itu, peneliti mengucapkan terima kasih kepada : 1. Ibu Dr. Titik Kristiyani M.Psi., selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. 2. Ibu Ratri Sunar Astuti, M.Si selaku Wakil Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. 3. Ibu Monica Eviandaru Madyaningrum, M.App,Psych. selaku Kepala Program Studi Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. 4. Ibu Passchedona Henrietta Puji Dwi Astuti Dian Sabbati, S.Psi., M.A. selaku Wakil Kepala Program Studi Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. 5. Bapak Edward Theodorus, M.App.Psy. selaku dosen pembimbing skripsi, yang tidak pernah lelah dan dengan sabar mendampingi peniliti dalam pembuatan skripsi ini. 6. Seluruh dosen dan karyawan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma yang sudah membantu dan mendukung peneliti sampai saat ini. 7. Seluruh partisipan yang telah mau ambil bagian dalam penelitian ini, serta semua penulis yang karyanya menjadi acuan dan inspirasi dalam proses pembuatan skripsi ini. 8. Mami, Babeh, Esol, dan Egol atas cinta, doa, dan semangat yang diberikan pada peneliti. Juga Om Roni dan Mbah Slawi yang mendukung peneliti dengan caranya masing-masing. x

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9. Koleta Acintya Saraswati, yang sudah menjadi sumber semangat, pemberi masukan, dan pendamping dalam keseharian. Terima kasih sudah mau berjalan bersama dalam perjalanan ini. 10. Om Ivan, Tante Inez, dan Kaki Nini atas dukungan yang sungguh besar artinya bagi peneliti. 11. Dr.Y.B. Cahya Widiyanto, M.Si., Timotius Maria Raditya Hernawa, M.Psi., Mbak Thia, dan juga seluruh asisten P2TKP yang telah menjadi guru, sahabat, dan keluarga yang penuh CINTA. 12. Cyrillus Yuniarto Purnomo, Felix Dewa Ndaru, Bonivasios Dwi, Nikolaus Kusumasmara, Amatohula Lahagu, dan Stefanus Krisna atas suka duka yang telah dibagikan. 13. Teman-teman dari Bimbingan Skripsi Pak Edo, seluruh mahasiswa Psikologi, khususnya Kelas D angkatan 2013 yang sudah berbagi ilmu skaligus menjadi teman seperjuangan peneliti. 14. Seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu, namun telah membentuk peneliti menjadi seperti saat ini. Peneliti berharap agar penelitian ini membawa banyak manfaat, akan tetapi peneliti juga menyadari ada banyak kelemahan dan kekurangan dalam penelitian ini. Maka dari itu, peneliti juga terbuka terhadap adanya kritik dan saran yang dapat membantu penelitian ini dan juga peneliti untuk menjadi lebih baik. Sekali lagi, terima kasih. xi

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ......................................................................................................................i HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING............................................................... ii ALAMAN PENGESAHAN ........................................................................................................ iii HALAMAN PERSEMBAHAN .................................................................................................... iv MOTTO ........................................................................................................................................ v HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ...................................................................vi ABSTRAK ..................................................................................................................................vii ABSTRACT ................................................................................................................................ viii PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ............................................................ ix KATA PENGANTAR ................................................................................................................... x DAFTAR ISI ...............................................................................................................................xii DAFTAR TABEL ....................................................................................................................... xv DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................................................. xvi DAFTAR GAMBAR .................................................................................................................xvii BAB I ............................................................................................................................................ 1 A. Latar Belakang ................................................................................................................... 1 B. Rumusan Permasalahan .................................................................................................... 11 C. Ruang Lingkup ................................................................................................................. 12 D. Tujuan .............................................................................................................................. 12 E. Pertanyaan Penelitian........................................................................................................ 12 F. Manfaat Penelitian ............................................................................................................ 13 1. Bagi Mahasiswa Perantau ............................................................................................ 13 2. Bagi orangtua dan pihak universitas ............................................................................ 13 3. Bagi masyarakat di sekitar tempat tinggal mahasiswa perantau.................................... 13 4. Bagi ilmuwan dan praktisi psikologi............................................................................ 14 BAB II ........................................................................................................................................ 15 xii

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI A. Pengantar .......................................................................................................................... 15 B. Dinamika Psikologis Mahasiswa Perantau ........................................................................ 15 1. Perspektif Perkembangan ............................................................................................ 16 2. Perspektif Psikologi Sosial .......................................................................................... 18 C. Strategi Akulturasi Integrasi ............................................................................................. 21 1. Definisi ....................................................................................................................... 21 2. Aspek-aspek Strategi Akulturasi Integrasi ................................................................... 23 3. Faktor-faktor ............................................................................................................... 25 4. Proses dan Dampak ..................................................................................................... 28 D. Strategi Akulturasi Integrasi pada Mahasiswa Perantau..................................................... 31 E. Kematangan Psikososial ................................................................................................... 32 1. Definisi Kematangan Psikososial ................................................................................ 32 2. Tahap-tahap Perkembangan Psikososial ...................................................................... 35 3. Proses dan dampak ...................................................................................................... 39 F. Kematangan Psikososial Mahasiswa Perantau ................................................................... 41 G. Hubungan Antara Kematangan Psikososial dengan Strategi Akulturasi Integrasi pada Mahasiswa Perantau ............................................................................................................... 43 H. Kerangka Konseptual........................................................................................................ 46 I. Hipotesis .......................................................................................................................... 49 BAB III ....................................................................................................................................... 50 A. Pengantar .......................................................................................................................... 50 B. Rancangan Penelitian........................................................................................................ 50 C. Partisipan.......................................................................................................................... 50 D. Identifikasi dan Definisi Operasional Variabel .................................................................. 51 1. Strategi Akulturasi Integrasi ........................................................................................ 51 2. Kematangan Psikososial .............................................................................................. 52 E. Prosedur ........................................................................................................................... 52 F. Alat pengumpulan data ..................................................................................................... 54 1. Strategi Akulturasi Integrasi ........................................................................................ 55 xiii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. Kematangan Psikososial .............................................................................................. 57 3. Validitas ...................................................................................................................... 59 4. Seleksi item ................................................................................................................. 60 5. Reliabilitas .................................................................................................................. 61 G. Analisis Data .................................................................................................................... 62 1. Uji Normalitas............................................................................................................. 62 2. Uji Hipotesis ............................................................................................................... 62 H. Pertimbangan Etis ............................................................................................................. 63 BAB IV ....................................................................................................................................... 64 A. Pengantar .......................................................................................................................... 64 B. Hasil ................................................................................................................................. 64 1. Deskripsi Data Partisipan ............................................................................................ 64 2. Deskripsi Data Penelitian ............................................................................................ 66 3. Uji Normalitas............................................................................................................. 68 4. Uji Hipotesis ............................................................................................................... 69 C. Pembahasan ...................................................................................................................... 70 BAB V ........................................................................................................................................ 76 A. Kesimpulan ...................................................................................................................... 76 B. Keterbatasan ..................................................................................................................... 77 C. Saran ................................................................................................................................ 77 1. Bagi mahasiswa perantau ............................................................................................ 78 2. Bagi orangtua, dosen, dan pihak universitas ................................................................ 78 3. Bagi masyarakat di lingkungan sekitar mahasiswa perantau ........................................ 79 4. Bagi komunitas ilmuwan psikologi.............................................................................. 79 D. Komentar Penutup ............................................................................................................ 79 DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................................. 81 LAMPIRAN ................................................................................................................................ 94 xiv

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 3.1. Blueprint Skala Strategi Akulturasi Integrasi…………………… 53 Tabel 3.2. Bobot Skala Strategi Akulturasi Integrasi………………………. 54 Tabel 3.3. Sabaran Item Skala Strategi Akulturasi Integrasi untuk Try Out…………………………………………………… 54 Tabel 3.4. Sebaran Item MEPSI……………………………………………. 56 Tabel 3.5. Sabaran Item Skala Strategi Akulturasi Integrasi Setelah Seleksi Item…………………………………………….. 58 Tabel 4.1. Jenis Kelamin Partisipan………………………………………... 61 Tabel 4.2. Usia Partisipan………………………………………………….. 62 Tabel 4.3. Daerah Asal Partisipan………………………………………….. 63 Tabel 4.4. Hasil Pengukuran Deskripsi Variabel…………………………... 64 Tabel 4.5. Hasil Pengukuran Deskripsi Variabel Penggunaan Strategi Akulturasi Integrasi dan Uji Beda Mean Empiris dengan Mean Teoretis…………………………... 64 Tabel 4.6. Mean Skor Skala Penggunaan Strategi Akulturasi Integrasi Berdasarkan Daerah Asal……………………………... 65 Tabel 4.7. Hasil Uji Normalitas Data Penelitian…………………………… 66 Tabel 4.8. Hasil Uji Hipotesis……………………………………………… 67 xv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 : Uji Coba Skala Penggunaan Strategi Akulturasi Integrasi…... . 85 Lampiran 2 : Informed Consent Penelitian………………………………..... 88 Lampiran 3 : Reliabilitas Skala Penggunaan Strategi Akulturasi Integrasi… 89 Lampiran 4 : Uji Nomalitas…………………………………………………. 92 Lampiran 5 : Uji Hipotesis………………………………………………..... . 92 xvi

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1. Skema Penelitian………………………………………….... 45 xvii

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian ini membahas mengenai penggunaan strategi akulturasi integrasi pada mahasiswa perantau di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Peneliti merasa tertarik dengan penelitian ini karena tiga alasan, yaitu 1) peneliti merasa sedih melihat teman sekelas peneliti yang kesulitan dalam menghadapi perbedaan budaya, 2) peneliti sendiri merupakan mahasiswa perantau yang sempat mengalami kesulitan di perantauan, dan 3) peneliti ingin melakukan sesuatu dalam kapasitasnya sebagai mahasiswa psikologi untuk membantu mahasiswa perantau yang mengalami kesulitan dalam menghadapi perbedaan budaya di perantauan. Pertama, peneliti merasa sedih saat melihat teman sekelas peneliti yang merasa tidak nyaman dengan kondisi di kelas karena perbedaan budaya, padahal seharusnya ada cara lain yang bisa dilakukan oleh teman tersebut. Teman tersebut mengalami kesulitan dalam menjalin pertemanan di kelas. Dia menjadi sangat pendiam, tidak memiliki banyak teman, dan juga memiliki prestasi akademik yang kurang baik di kelas. Di sisi lain, ada teman peneliti yang lain yang memiliki cara berbeda dalam menghadapi perbedaan budaya di perantauan. Teman tersebut berbicara dengan aksen daerah asalnya dan menjalin relasi yang baik dengan orang-orang yang ditemui. Teman tersebut juga suka pergi mencicipi makananmakanan khas Yogyakarta, dan pergi ke tempat-tempat menarik. Dalam hal 1

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 pertemanan, teman tersebut memiliki banyak teman dan menjadi tempat bagi teman-teman lain untuk bercerita serta mencurahkan isi hati. Peneliti merasa bahwa seharusnya teman peneliti yang pertama bisa menggunakan cara menghadapi perbedaan budaya yang diambil oleh teman kedua. Kedua, peneliti sendiri merupakan mahasiswa perantau yang pernah mengalami kesulitan dalam menghadapi perbedaan budaya. Selama hidup di perantauan, peneliti mengalami kesulitan terkait dengan penggunaan bahasa. Peneliti berasal Purwokerto, di mana bahasa Jawa di Purwokerto memiliki kosakata dan dialek yang berbeda dengan bahasa Jawa yang digunakan di Yogyakarta. Peneliti merasa malu karena dalam keseharian dialek tersebut sering dianggap lucu oleh kebanyakan orang. Peneliti membutuhkan beberapa waktu sebelum akhirnya dapat memperkaya kosakata dan memperhalus dialek untuk memperlancar komunikasi dengan teman lain. Untuk mencapai hal tersebut, peneliti terus-menerus membiasakan diri untuk berelasi dengan teman dari budaya yang berbeda. Keseluruhan proses ini membuat peneliti merasa lega, karena setelah itu peneliti menjadi semakin percaya diri dan mudah bergaul dengan orang-orang di perantauan. Peneliti merasa bahwa membuka diri terhadap budaya di tempat baru sangat membantu peneliti untuk mengatasi kesulitan di perantauan. Alasan ketiga, peneliti ingin melakukan sesuatu dalam kapasitasnya sebagai mahasiswa psikologi untuk membantu mahasiswa perantau yang mengalami kesulitan dalam menghadapi perbedaan budaya di perantauan. Peneliti melakukan penelitian mengenai strategi akulturasi integrasi, di mana strategi akulturasi integrasi merupakan strategi yang adaptif untuk digunakan dalam menghadapi

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 perbedaan budaya (Berry, 1997). Penelitian ini bisa menjadi referensi dan memberikan gambaran bagi mahasiswa perantau yang sedang menghadapi berbagai tantangan di perantauan bahwa ada cara-cara adaptif yang dapat digunakan. Dengan begitu, melalui penelitian ini peneliti dapat berkontribusi untuk membuat kondisi mahasiswa perantau menjadi lebih baik. Ketiga alasan di atas menunjukkan bahwa topik penelitian ini sangat bermakna bagi peneliti. Penelitian ini juga dapat digunakan untuk menerapkan ilmu yang telah didapat ke dalam kehidupan sehari-hari. Setelah membahas mengenai ketertarikan peneliti, bagian selanjutnya akan membahas mengenai latar belakang penelitian ini dan juga permasalahan apa yang berusaha diselesaikan melalui penelitian ini. Pada bab ini juga akan dijabarkan manfaat dari penelitian ini, baik bagi mahasiswa perantau, bagi orangtua, dosen, pihak universitas, dan bagi ilmuwan psikologi. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh Yogyakarta menjadi tujuan banyak orang untuk berkuliah. Hal ini sudah dimulai sejak Ki Hajar Dewantara, seorang tokoh pendidikan dan pergerakan nasional, mendirikan Perguruan Tamansiswa pada tahun 1922 (Darmaningtyas, 2017). Perguruan tersebut memberikan pendidikan kepada semua kalangan, tidak hanya untuk bangsawan saja seperti sekolah-sekolah pada jaman penjajahan Belanda (Hanna, 2017). Dengan membuka pendidikan untuk semua kalangan, dalam kurun delapan tahun Perguruan Tamansiswa berkembang pesat dan memiliki puluhan ribu murid (Darmaningtyas, 2017). Sejak saat itu, pendidikan di Yogyakarta berkembang pesat.

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 Perkembangan perguruan tinggi di Yogyakarta tidak lepas dari sikap dukungan pemimpin Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Pada tahun 1946, Sri Sultan Hemengku Buwono IX yang juga menjabat sebagai wakil presiden Republik Indonesia, mengambil peran besar dalam pendirian UGM (Iwan, n.d.). Ia menjadi penggagas beridirinya UGM, dan juga memberikan tanah miliki kraton untuk dijadikan tempat berdirinya UGM. Tidak hanya itu, lingkungan kraton juga dibuka untuk kegiatan perkuliahan. Keterbukaan ini membuat pendidikan di Yogyakarta menjadi semakin berkembang. Saat ini, terdapat 106 perguruan tinggi di Yogyakarta (Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, 2016). Yogyakarta menjadi tujuan mahasiswa untuk merantau juga karena biaya hidup yang relatif murah dibandingkan dengan biaya hidup di kota-kota lain (Araro, 2018). Pada tahun 1980 nasi kucing menjadi makanan yang populer di kalangan mahasiswa. Disebut nasi kucing karena makanan tersebut berisi porsi kecil nasi yang diberi ikan teri. Bahkan hingga sekarang nasi kucing masih sangat mudah ditemui di Yogyakrta dengan harga sekitar Rp 1.500 – Rp 2.000 per porsi (Sulkhan, 2018). Jumlah mahasiswa perantau di Yogyakarta selalu meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2013, persentase mahasiswa perantau di Yogyakarta mencapai 78,8 persen (“Pertahankan ‘Indonesia Mini’ di Yogyakarta,” 2013). Dengan jumlah sebesar itu, pertemuan antara budaya yang berbeda akan terjadi. Banyaknya mahasiswa perantau yang berkuliah di Yogyakarta membuat terjadinya kontak antara mahasiswa dari suatu daerah dengan mahasiswa dari

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 daerah lainnya. Berbagai artikel menyebutkan manfaat dari perantau, sseperti menjadi lebih mandiri, bertanggungjawab, belajar budaya baru, menumbuhkan rasa cinta pada negara, dan lain sebagainya (Fadhilla, 2017; Nindra, 2017; Tarana, 2017). Manfaat dari merantau ini dirasakan oleh Putri Nuzulil, seorang mahasiswa dari Aceh yang berkuliah di Bandung (Nuzulil, 2017). Putri Nuzulil merasa bahwa dirinya adalah anak yang manja, yang selalu mengandalkan orangtua dalam menghadapi permasalahan. Contoh yang diceritakan oleh Putri adalah ketika Putri menghadapi masalah, ia akan langsung berkeluh kesah pada orangtuanya. Contoh lainnya, Putri yang memiliki suatu alergi akan membangunkan kedua orangtuanya di tengah malam apabila alerginya kambuh, meskipun Putri menyadari bahwa alergi tersebut bisa diatasi hanya dengan meminum obat tanpa perlu membangunkan orangtuanya. Putri merasa bahwa dengan merantau dirinya bisa semakin mandiri. Putri juga lebih mampu bertanggungjawab atas dirinya sendiri, mampu mengatur keuangan, dan banyak manfaat lain. Putri mengungkapkan bahwa kunci suksesnya untuk hidup di perantauan adalah dengan fokus pada tujuannya untuk merantau (Nuzulil, 2017). Putri juga selalu menjalin kontak dengan kedua orangtuanya di Aceh, dan tetap mempertahankan nilai-nilai yang dibwanya dari Aceh supaya tidak terbawa kehidupan bebas di Bandung. Pengalaman lain diceritakan oleh Arief, mahasiswa perantau dari Depok yang berkuliah di Solo. Di Solo, Arief mengalami kesulitan untuk menjalin

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 percakapan sehari-hari dengan teman yang berbahasa Jawa. Ia mengungkapkan bahwa tingkatan dalam bahasa Jawa menjadi kesulitan bagi dirinya untuk memahami bahasa Jawa. Untuk mengatasi hal tersebut Arief berusaha mempelajari bahasa Jawa sederhana dalam kehidupan sehari, mulai dari menggunakan kata “nggih” dalam percakapan sehari-hari untuk merespon percapakan dalam Bahasa Jawa. Hal ini memperlancar komunikasi Arief dengan orang dari Jawa, sehingga adaptasinya di Solo menjadi semakin lancar. Dalam kajian psikologi, kedua cara menghadapi perbedaan budaya tersebut dalam pengalaman tersebut disebut dengan strategi akulturasi integrasi (Berry, 2007). Penggunaan strategi tersebut ditandai dengan adanya orientasi individu untuk mempertahankan budaya yang asli yang dimilikinya, dan juga adanya perilaku membuka diri terhadap budaya di lingkungan baru. Berbagai literatur mengungkapkan bahwa strategi akulturasi integrasi merupakan strategi yang paling adaptif untuk digunakan di perantauan karena membawa berbagai dampak positif bagi individu yang menggunakannya, seperti hidup lebih sejahtera, dan lebih cepat beradaptasi di perantauan (Berry, 1997, 2007; Berry & Hou, 2017). Di sisi lain, penggunaan strategi yang jauh dari strategi akulturasi integrasi dapat membawa hasil yang berbeda pula. Penggunaan strategi akulturasi marginalisasi misalnya, di mana individu tidak membuka diri terhadap budaya di lingkungan barunya, dapat membawa individu memiliki kepuasan hidup yang rendah di perantauan karena rentan mengalami konflik dan diskriminasi di perantauan (Berry & Hou, 2017; Ramos, Cassidy, Reicher, & Haslam, 2016).

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 Pada tahun 2014 sempat ramai dibicarakan seseorang bernama Florence Sihombing, mahasiswa pascasarjana yang berkuliah di Yogyakarta. Berawal dari Florence yang ditegur karena memotong antrean saat hendak melakukan pengisian bahan bakar, ia mencurahkan perasaannya di media sosial (Tim VIVA, 2014). “Jogja miskin, tolol, miskin dan tak berbudaya. Teman-teman Jakarta, Bandung, jangan mau tinggal di Jogja”. Banyak pihak yang merasa tidak terima dengan kiriman tersebut dan melaporkan kasus ini ke polisi. Bahkan situs berita liputan6.com menulis dengan judul Florence Sihombing kini jadi orang paling dicari di Jogja (“Florence Sihombing Kini Jadi `Orang Paling Dicari di Jogja`,” 2014). Kasus ini terus berjalan di pengadilan, hingga akhirnya Florence dijatuhi hukuman 2 bulan penjara karena dianggap melakukan pencemaran nama baik (Yanuar, 2015). Kasus di atas menunjukkan bahwa Florence tidak menggunakan strategi yang adaptif di perantauan. Ditinjau dari teori Berry, Florence nampak tidak menggunakan strategi akulturasi yang adaptif. Dari kasus Florence, ia terlihat mempertahankan budaya asli yang dimiliki dengan mengajak teman-temannya yang berasal dari Jakarta dan Bandung untuk tidak ke Yogyakarta. Padahal Florence adalah mahasiswa yang berkuliah di Yogyakarta, akan tetapi Florence seperti tidak mengidentifikasi Yogyakarta sebagai tempat tinggalnya juga. Dari sisi terbuka atau menerima budaya di perantauan, Florence juga terlihat tidak melakukan hal tersebut. Florence cenderung terlihat tidak menyesuaikan diri dengan budaya yang ada

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8 Yogyakarta. Dari pembahasan di atas, Florence terlihat seperti menggunakan strategi akulturasi separasi, di mana strategi akulturasi ini merupakan strategi yang tidak adaptif karena membatasi interaksi dengan budaya di tempat baru. Penggunaan strategi yang adaptif menekankan pada perantau untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Di sisi lain, dalam psikologi dikenal pendekatan psikososial, di mana pendekatan ini juga memandang bahwa perkembangan psikologis individu tidak hanya berasal dari dalam dirinya saja, melainkan juga dari interaksi antara individu dengan lingkungan sosialnya (Erikson, dalam Newman & Newman, 2012). Individu yang tumbuh bersama dengan lingkungan sosialnya kemungkinan memiliki penyesuaian diri yang baik pula terhadap lingkungan. Kemampuan penyesuaian diri ini merupakan kemampuan yang dibutuhkan dalam penggunaan strategi akulturasi integrasi. Hal ini memungkinkan adanya hubungan antara kematangan psikososial pada individu dengan pengambilan strategi akulturasi integrasi. Teori tahap perkembangan psikososial dari Erikson membagi tahap perkembangan ke dalam delapan tahap (Feist & Feist, 2008). Pada masing-masing tahap, individu akan mengembangkan suatu unsur dalam dirinya. Unsur yang dikembangkan dapat bersifat positif, dan negatif. Individu dikatakan semakin matang secara psikososial saat individu semakin banyak mengembangkan unsur positif (Olczak & Goldman, 1975). Unsur positif tersebut adalah trust, autonomy, initiative, industry, identity, intimacy, generativity, dan ego integrity (Newman & Newman, 2012). Unsur-unsur tersebut berkaitan dengan kemampuan individu

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9 untuk membentuk dirinya dan di saat yang sama juga menyesuaikan diri dengan tuntutan masyarakat. Penelitian dilakukan di lingkungan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta karena banyaknya jumlah mahasiswa perantau di gakultas tersebut. Berdasarkan data yang didapat dari Sekretariat Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta (2018), persentase mahasiswa perantau di fakultas tersebut berjumlah 634 mahasiswa, atau 68 persen dari keseluruhan mahasiswa. Penelitian ini dapat membantu melihat penggunaan strategi akulturasi integrasi dari mahasiswa perantau di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, penggunaan strategi akulturasi integrasi ini penting karena dianggap sebagai cara yang paling adaptif dalam menghadapi perbedaan budaya (Berry, 2007). Selain itu, salah satu tujuan yang harus dicapai oleh mahasiswa psikologi adalah kemampuan untuk menjalin relasi interpersonal yang baik (APA Board of Educational Affairs Task Force on Psychology Major Competencies, 2013) yang juga merupakan aspek penyusun dari penggunaan strategi akulturasi integrasi. Pengalaman yang dihadapi oleh mahasiswa perantau tidak lepas dari peran berbegai pihak 1) orangtua mahasiswa perantau, 2) pihak universitas, 3) masyarakat di sekitar tempat tinggal mahasiswa perantau, dan 4) ilmuwan serta praktisi psikologi. Pertama, peran orangtua mahasiswa dalam hal membentuk diri mahasiswa perantau. Pola asuh yang digunakan orangtua mempengaruhi resiliensi mahasiswa di perantauan (Cahya Permata & Listiyandini, 2015). Dengan mendidik anaknya untuk mandiri dan menggunakan pola asuh otoritatif, orangtua

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 dapat membuat anak menjadi lebih resilien di perantauan. Selain itu, dukungan sosial yang diberikan orangtua juga dapat membuat mahasiswa perantau membuat mahasiswa perantau merasa didukung, dicintai, dan diperhatikan (Harijanto & Setiawan, 2017). Kedua, pihak universitas dan juga Kemenristekdikti yang berperan dalam mendorong prestasi mahasiswa. Untuk mencapai hal tersebut universitas dan Kemenristekdikti akan menyediakan sistem pelajaran, dan menyediakan fasilitas pembelajaran yang memadai (Novenanty, n.d.). Selain dari sisi akademis, pihak universitas dan Kemenristekdikti juga berperan dalam pengembangan diri mahasiswa. Peran ini dijalankan dengan mengadakan program pengembanganpengembangan bagi mahasiswa. Ketiga, masyarakat di lingkungan sekitar berperan memberi dukungan bagi mahasiswa perantau (Lian & Tsang, 2010; Sullivan & Kashubeck-West, 2015). Dukungan diberikan dalam berbagai bentuk seperti perhatian, dorongan, dan juga dukungan materi. Adanya dukungan dari masyarakat sekitar akan menggantikan dukungan yang biasa didapat dari orangtua dan orang-orang di daerah asalnya (Phillimore, 2011). Hal ini dapat memudahkan mahasiswa perantau untuk beradaptasi. Keempat, ilmuwan dan praktisi psikologi berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Pengembangan ini dilakuakan untuk meningkatkan pemahaman tentang perilaku manusia, baik dalam bentuk pemahaman mengenai diri sendiri maupun orang lain (HIMPSI, 2010). Ilmu pengetahuan ini penting bagi kesejahteraan masyarakat.

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11 B. Rumusan Permasalahan Di perantauan, mahasiswa perantau akan bertemu dengan orang dari budaya yang berbeda. Dalam mengahadapi perbedaan budaya ini terdapat berbagai macam strategi. Strategi akulturasi integrasi merupakan strategi yang adaptif dan membawa banyak manfaat bagi mahasiswa perantau. Manfaat tersebut antara lain dapat meningkatkan kesejahteraan serta kepuasan hidup mahasiswa di perantauan (Berry & Hou, 2017). Di sisi lain, dari pembahasan sebelumnya dapat dilihat bahwa ada banyak perantau di Yogyakarta, namun tidak semua mahasiswa rantau mengembangkan identitas adaptif dan mampu menyesuaikan diri dengan keadaan di lingkungan baru. Ketidakmampuan ini dapat menyebabkan berbagai hal, seperti diskriminasi, dan penurunan kualitas hidup mahasiswa perantau (Berry & Hou, 2017). Melihat kesenjangan tersebut, peneliti melakukan penelitian yang berhubungan dengan strategi akulturasi integrasi. Penelitian mengenai strategi akulturasi mahasiswa perantau belum banyak dilakukan di Indonesia. Penelitian yang sudah dilakukan, antara lain studi deskriptif mengenai penggunaan strategi akulturasi pada etnik Minangkabau dan Batak di Bandung (Jamhur et al., 2015) dan penelitian kualitatif dengan subjek ekspatriat yang ada di Yogyakarta (Sari & Subandi, 2015). Padahal penelitian menganai penggunaan strategi akulturasi dan dampaknya menjadi topik yang banyak dibahas di luar negeri (Ahani, 2016; Berry & Hou, 2017; Dona & Berry, 1994; Pham & Harris, 2001). Hal ini perlu

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 dilakukan mengingat penelitian mengenai akulturasi perlu dilakukan di berbagai konteks dan partisipan yang berbeda (Sam & Berry, 2006). C. Ruang Lingkup Perbedaan antara budaya asli dengan budaya baru dihadapi oleh seluruh mahasiswa perantau, namun dalam penelitian ini peneliti hanya akan melihat hubungan antara kematangan psikososial dengan penggunaan strategi akulturasi integrasi pada mahasiswa perantau di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Yang dimaksud dengan mahasiswa perantau dalam penelitian ini adalah mahasiswa yang berasal dari luar Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa perantau yang berusia 18-25 tahun. Penelitian ini tidak mengkategorikan, atau memeriksa strategi apa yang digunakan oleh partisipan. D. Tujuan Tujuan dari dilakukannya penelitian ini adalah untuk melihat hubungan antara kematangan psikososial dengan pengambilan strategi akulturasi integrasi pada mahasiswa perantau. E. Pertanyaan Penelitian Apakah ada hubungan yang signifikan antara kematangan psikososial dengan pengambilan strategi akulturasi integrasi pada mahasiswa perantau?

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 F. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat membawa manfaat bagi mahasiswa perantau dan juga bagi pihak-pihak yang berhubungan dengan mahasiswa perantau. Bagian ini akan menjabarkan manfaat-manfaat apa saja yang diberikan melalui penelitian ini. 1. Bagi Mahasiswa Perantau Penelitian ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan mahasiswa perantau tentang hubungan antara kematangan psikososial dengan penggunaan strategi akulturasi integrasi. Pengetahuan ini dapat menjadi bekal bagi bagi mahasiswa perantau untuk dapat meningkatkan penggunaan strategi akulturasi intergasi di perantauan. 2. Bagi orangtua dan pihak universitas Penelitian ini bermanfaat bagi orang tua mahasiswa persntsu untuk mempersiapkan kematangan anak. Bagi universitas, penelitian ini bermanfaat untuk memperkaya materi yang dapat digunakan dalam program pengembangan mahasiswa perantau. Misalnya program mengenai cara yang adaptif dalam menghadapi perbedaan budaya, dan bagaimana meningkatkan perilaku adaptif tersebut. 3. Bagi masyarakat di sekitar tempat tinggal mahasiswa perantau Melalui pemapaparan teori, penelitian ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat sekitar mengenai perannya bagi proses adaptasi mahasiswa

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 perantau. Masyarakat sekitar juga dapat mengetahui dinamika yang dialami oleh mahasiswa perantau selama di perantauan. 4. Bagi ilmuwan dan praktisi psikologi Penelitian ini dapat memperkaya kajian psikologi dalam hal penggunaan strategi akulturasi integrasi pada mahasiswa perantau. Pengetahuan baru yang didapat dapat menambah pengetahuan yang sudah ada, sehingga dapat melengkapi pemahaman yang sudah ada sebelumnya.

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II LANDASAN TEORI A. Pengantar Pada bab ini peneliti akan membahas mengenai variabel-variabel dan target grup yang ada dalam penelitian ini supaya dapat terlihat hubungan antara kedua variabel. Pertama, peneliti akan membahas menganai dinamika psikologis mahasiswa perantau yang akan dibahas dari 2 perspektif : psikologi perkembangan dan psikologi sosial. Dari perspektif psikologi perkembangan, dinamika psikologis mahasiswa perantau akan dibahas dari tahap dan tugas perkembangan yang sedang dijalani oleh mahasiswa pernatau. Sedangkan pada perspektif psikologi sosial, akan dibahas dinamika kelompok yang memiliki pengalaman dan dinamika serupa dengan mahasiswa perantau. Hal ini dilakukan untuk mendapakan gambaran yang luas mengenai mahasiswa perantau. Bab ini juga akan menjabarkan variabel-variabel yang ada dalam penelitian ini, mulai dari definisi, aspek, dan faktor-faktor yang mempengaruhi variabel. Peneliti juga akan menjabarkan hubungan kedua variabel dengan mahasiswa perantau, dan juga hubungan antara kedua variabel itu sendiri. Melalui hubunganhubungan tersebut, bab ini akan ditutup dengan hipotesis yang diajukan oleh peneliti. B. Dinamika Psikologis Mahasiswa Perantau Untuk mendapatkan gambaran yang utuh mengenai mahasiswa perantau, bab ini akan membahas mahasiswa perantau dari dua perspektf. Kedua perspektif 15

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 tersebut adalah psikologi perkembangan dan psikologi sosial. Dari perspektif perkembangan, mahasiswa perantau akan dilihat sebagai individu yang berada dalam tahap perkembangan emerging adulthood. Pembahasan dinamika psikologis mahasiswa perantau dari perpektif psikologi sosial akan memandang mahasiswa perantau sebagai sojourner. 1. Perspektif Perkembangan Dari perspektif perkembangan, mahasiswa berada di tahap perkembangan emerging adulthood, yaitu berusia 18-25 tahun (Santrock, 2014; Subdit Statistika Pendidikan dan Kesejahteraan Sosial, 2017). Arnett (2000) menggambarkan tahap emerging adulthood sebagai tahapan peralihan dari tahap remaja menuju tahap dewasa. Pada tahap ini individu mulai melepaskan ketergantungannya terhadap orang lain layaknya tahap anak-anak dan remaja yang masih bergantung pada orangtuanya, akan tetapi belum memiliki tanggungjawab yang dimiliki orang dewasa, seperti bekerja dan menghidupi keluarga. Tahapan emerging adulthood memiliki tugas khusus, yaitu eksplorasi (Arnett, 2000). Eksplorasi menjadi cara individu untuk menemukan identitas yang sebetulnya sudah dimulai sejak individu berada di tahap perkembangan remaja, di mana eksplorasi menjadi cara individu untuk menemukan identitas (Feist & Feist, 2008). Pada tahap emerging adulthood, eksplorasi semakin terfokus dan mendalam di tiga hal, yaitu cinta, pekerjaan, dan pandangan tentang dunia (Arnett, 2000). Pada eksplorasi dalam hal cinta, individu akan

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 memikirkan dan mencari orang untuk dijadikan pendamping hidup bukan lagi untuk bersenang-senang saja (Arnett, 2005). Kedua, dalam hal pekerjaan. Sebagai orang dewasa tentunya perlu memenuhi berbagai kebutuhan hidup. Pada masa remaja individu belum memikirkan tentang pekerjaan atau profesi apa yang akan ditekuninya. Beberpa remaja misalnya mencari pekerjaan untuk dijadikan pengisi waktu luang dan tamabahan uang saku (Larson & Verma, 1999). Dalam masa peralihan ini individu mulai mencari pekerjaan yang menjadi ketertarikannya, dan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Pada area yang ketiga, individu akan mendapat berbagai pandangan tentang dunia melalui berbagai hal, seperti pengalaman hidup yang dialami (Gutierrez & Park, 2015) dan pergi meninggalkan rumah (Arnett, 2015). Dalam eksplorasi ini, terkadang individu juga dapat menemukan nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai-nilai yang dibawa olehnya sejak kecil (Arnett, 2000). Dengan adanya eksplorasi ini, individu akan memiliki gambaran yang jelas tentang dirinya yang digunakan sebagai bekal untuk memasuki masa dewasa nanti. Sejalan dengan eksplorasi yang ditekankan oleh Arnett, Teori Perkembangan Psikososial mengungkapkan bahwa mahasiswa perantau sedang berada pada peralihan dari masa remaja menuju dewasa dan berusaha mendapat kejelasan identitas melalui eksplorasi (Santrock, 2014). Identitas berkaitan dengan tujuan hidup, nilai-nilai yang dianut. Ketika identitas tidak atau belum didapat, individu mengalami identity confusion (Feist & Feist,

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 2008). Hal ini ditandai dengan permasalahan seperti kurang memiliki gambaran diri yang jelas dan ketidakmampuan membangun relasi. Pada masa dewasa, individu yang mengalami identity confusion dapat mengalami berbagai kesulitan, misalnya berpindah-pindah tempat kerja tanpa tujuan pasti, bergonta-ganti pasangan, dan lain sebagainya. 2. Perspektif Psikologi Sosial Dinamika yang dialami oleh mahasiswa perantau bisa dilihat dari dinamika psikologis dari sojourner, yaitu orang yang meninggalkan daerah asalnya dan tinggal di daerah tertentu untuk sementara waktu (Berry, 2007; Church, 1982; Ikeguchi, 2008). Selain mahasiswa perantau, turis, dan orang yang melakukan perjalanan bisnis juga tercakup dalam kategori sojourner. Perpindahan sojourner ke tempat baru dan kontak dengan budaya yang berbeda-beda di tempat baru dapat membawa dampak negatif bagi sojourner. Berbagai penelitian telah berusaha melihat dampak dari pertemuan sojourner dengan budaya yang berbeda. Dampak dari perbedaan budaya yang ditemui ini adalah akulturatif stres, di mana hal tersebut dapat membawa kecemasan, bahkan depresi pada individu yang mengalaminya (Berry, 2007; Church, 1982; Hamamura & Laird, 2014). Dampak lain dari kontak dengan budaya lain adalah munculnya perasaan terisolasi karena jauh dari keluarga, teman, dan harus hidup sendiri (Phillimore, 2011). Perasaan ini muncul akibat dari perubahan kebiasaan dan hilangnya dukungan sosial yang biasa diterima sojourner di tempat asalanya. ini menjadi beban tersendiri bagi sojourner.

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 Maka dari itu, dukungan sosial baik dari lingkungan barunya sangat diperlukan sojourner untuk menggantikan dukungan yang biasa didapat di tempat asalnya (Lian & Tsang, 2010; Sullivan & Kashubeck-West, 2015). Hal ini tentu saja dapat membentu mengurangi dampak negatif yang dihadapi oleh sojourner. Akulturasi juga dapat membawa perubahan psikologis dalam diri individu (Berry, 2007). Perubahan psikologis yang terjadi dalam diri sojourner merupakan bentuk usaha untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya (Berry, Poortinga, Breugelmans, Chasiotis, & Sam, 2012). Salah satu bentuk peruhahan yang dapat diamati adalah perubahan bahasa. Sojourner akan menemui bahasa yang berbeda dari budaya aslinya. Perbedaan bahasa dapat mengganggu proses komunikasi antara pendatang dan orang di tempat baru, padahal komunikasi merupakan kunci bagi sojourner untuk mampu berbaur dan terlibat dalam kehidupan di tempat barunya (Selmer & Lauring, 2015). Usaha yang dapat dilakukan oleh sojourner untuk menghadapi hal ini adalah dengan mempelajari bahasa di tempat barunya. Berbagai penelitian menunjukkan perubahan pola makan juga dialami oleh sojourner (Lesser et al., 2014; Skreblin & Sujoldzic, 2003). Perubahan ini tidak lepas dari ketersediaan bahan makanan di lingkungan sekitar. Seperti dalam penelitian, partisipan merasa bahwa dirinya lebih mudah untuk mendapatkan buah dan sayur daripada di tempat asalnya. Hal ini diikuti dengan tingkat konsumsi buah dan sayur partisipan yang meningkat. Akan tetapi perubahan pola makan memang tidak terjadi begitu saja. Butuh waktu

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 beberapa lama bagi sojourner untuk beradaptasi dengan makanan di tempat baru (Raza et al., 2016). Sojourner juga rentan mengalami diskriminasi. Diskriminasi adalah tindakan tidak adil yang bersifat negatif, dan tindakan yang berbahaya kepada anggota suatu kelompok yang disebabkan oleh keanggotaan anggota tersebut di suatu kelompok (Aronson, Wilson, & Akert, 2005). Diskriminasi membuat sojourner merasa tidak bisa menjalin relasi dengan budaya di sekitarnya (Berry et al., 2006; Ramos et al., 2016). Tidak adanya relasi antara sojourner dan lingkungan membuat kelekatan antara sojourner dengan lingkungan tidak terbentuk. Lebih jauh lagi, mendapat diskriminasi dapat mengarahkan sojourner pada penurunan kesehatan mental, dan menurunkan kepuasan hidup pada sojourner (Berry & Hou, 2017). Meski banyak tantangan yang dihadapi individu di perantauan, menjadi sojourner juga memiliki berbagai manfaat. Pengalaman sojourner terpapar budaya lain membuat belajar bahasa baru dapat meningkatkan kemampuan sojourner dalam hal komunikasi lintas budaya (Salisbury, An, & Pascarella, 2013). Hal ini memungkinkan individu untuk menjalin relasi dengan teman dari budaya berbeda (Williams, 2005). Dengan banyak menjalin relasi degan individu yang berbeda budaya, sojourner akan terbiasa menemui perbedaan. Penelitian menyebutkan bahwa melakukan kontak dengan orang-orang dari budaya yang berbeda dapat meningkatkan toleransi pada individu (van Zalk, Kerr, van Zalk, & Stattin, 2013).

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 Penyesuaian diri yang baik pada sojourner dapat meningkatkan kesejahteraan sojourner selama berada di tempat baru (Berry & Hou, 2017). Sebaliknya, ketidakmampuan untuk menyesuaikan diri akan membawa sojourner pada pengalaman kesepian, dan kehilangan makna hidup (Russell, Rosenthal, & Thomson, 2010). Perubahan psikologis yang dialami oleh individu juga berbeda-beda, sama halnya dengan cara individu menghadapi perbedaan budaya yang berbeda-beda pula. C. Strategi Akulturasi Integrasi Pada bagian ini, peneliti akan menjabarkan hal-hal yang berakaitan dengan variabel penggunaan strategi akulturasi integrasi, mulai dari definisi strategi akulturasi integrasi, aspek-aspek yang membentuk strategi tersebut, dan faktorfaktor yang memperngaruhi penggunaan strategi akulturasi integrasi. Bagian terakhir akan membahas mengenai proses yang terdapat dalam strategi akulturasi dan dampak yang ditimbulkan. 1. Definisi Dalam menjelaskan mengenai akulturasi terdapat dua buah model yang digunakan, yaitu model akulturasi unidimensional dan bidimensional (ArendsTóth & Van de Vijver, 2007). Model pertama adalah model akulturasi unidimensional. Model ini memandang akulturasi sebagai suatu proses kontinum, di mana individu akan mempertahankan budaya aslinya atau beradaptasi dengan menyesuaikan diri mengikuti budaya yang ada di

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 sekitarnya. Saat individu mempertahankan budaya aslinya, maka individu tidak mengikuti budaya di sekiarnya, begitu pula sebaliknya. Model kedua adalah model akulturasi bidimensional, di mana model ini menggunakan sudut pandang bahwa dalam proses mempertahankan budaya yang dimiliki oleh individu dan proses menyesuaikan diri dengan lingkungan berada dalam dimensi yang berbeda. Hal ini memungkinkan individu untuk melakukan keduanya secara bersamaan. Dari kedua model tersebut, peneliti menggunakan model akulturasi bidimensional untuk digunakan dalam penelitian ini. Model Akulturasi Bidimensional yang paling banyak diteliti adalah model akulturasi yang dikembangkan oleh Berry (Arends-Tóth & van de Vijver, 2006). Berry (2007) menggunakan pandangan bidemensional untuk membuat suatu konsep yang dinamakan Strategi Akulturasi, di mana konsep ini didasarkan pada dua buah isu. Pertama, apakah individu mempertahankan budaya asli yang sudah dimilikinya atau tidak, dan yang kedua adalah apakah individu terbuka terhadap budaya lain atau tidak. Pertemuan isu-isu tersebut menghasilkan empat macam strategi akulturasi. Ketika individu mempertahankan budaya aslinya dan di saat yang sama juga terbuka terhadap budaya lain, strategi tersebut dinamakan integrasi. Sebaliknya ketika individu tidak mempertahankan budaya aslinya, dan di sisi lain juga tidak mau menerima budaya baru di tempat tinggalnya, individu tersebut menggunakan strategi marginalisasi. Strategi asimilasi digunakan saat indvidu tidak mempertahankan budaya aslinya, dan lebih memilih untuk membuka dirinya bagi budaya baru di sekitarnya. Berkebalikan dengan asimilasi, individu yang

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 menggunakan strategi akulturasi separasi justru lebih memilih untuk mempertahankan budaya asli yang dimiliki dan tidak membuka diri dengan budaya baru yang ada di sekitarnya. Dari pembahasan di atas, dapat dilihat bahwa definisi dari strategi akulturasi integrasi adalah cara mengahadapi perbedaan budaya yang ditandai dengan orientasi untuk mempertahankan budaya asli dan membuka diri terhadap budaya di lingkungan baru. Definisi inilah yang akan digunakan oleh penliti dalam melakukan penelitian. 2. Aspek-aspek Strategi Akulturasi Integrasi Strategi akulturasi integrasi terbentuk dari sikap individu yang memiliki orientasi untuk mempertahankan budaya asli, dan terbuka terhadap budaya lain. Pada bagian ini, bentuk nyata dari kedua hal tersebut akan dijabarkan secara lebih detail. a. Sikap Mempertahankan Budaya Asli Berry (2007) menjelaskan perilaku individu untuk tetap mempertahankan budaya yang sudah dimilikinya meskipun berada di tempat yang baru. Bentuk dari perilaku mempertahankan budaya asli dapat bermacam-macam. LaFromboise, Coleman, & Gerton (1993) menjelaskan bahwa kemampuan ini ditandai dengan perasaan positif dari individu saat harus menjalin relasi dengan orang dari budaya yang sama dengannya. Selain itu, perilaku mempertahankan budaya asli ini dapat dilihat dari penggunaan bahasa dari daerah asal oleh individu (Ikeguchi, 2008).

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 Penggunaan bahasa ini menjadi hal ditekankan karena bahasa merupakan identitas bagi suatu kelompok budaya. Ikeguchi juga mengungkapkan bahwa mempertahankan budaya asli juga berarti mempertahankan pertemanan dari daerah asalnya, dan juga tetap menjalin kontak dengan keluarganya. Berkaitan dengan hal tersebut, individu juga akan memiliki rasa tanggungjawab untuk melakukan sesuatu bagi orang-orang tersebut. Individu yang mempertahankan budaya aslinya juga memiliki pengetahuan tentang budaya aslinya dan juga memiliki perasaan aman saat bersama dengan orang dari daerah asalnya. b. Sikap Terbuka Terhadap Budaya Lain Berbagai literatur menggambarkan sikap terhadap budaya lain sebagai mau menjalin kontak dengan budaya lain. Ikeguchi (2008) menjelaskan bahwa penyesuaian diri dengan lingkungan memerlukan individu untuk dapat memahami nilai-nilai dan makna yang ada di dalam lingkungan barunya. Salah satu contoh yang dapat dilihat adalah dalam percakapan dengan orang yang lebih tua, hendaknya individu berbicara dengan menggunakan bahasa krama. Selain itu, terbuka terhadap lingkungan baru berarti juga mengembangkan relasi sosial dan terlibat dalam lingkungan tersebut. Ada pula unsur-unsur budaya yang digambarkan Ikeguchi (2008) sebagai unsur implisit, seperti gaya komunikasi, dan unsur eksplisit seperti makan, musik, dan lain sebagainya.

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 Penjabaran mengenai kedua aspek pembentuk strategi akulturasi integrasi dapat meningkatkan pemahaman akan penggunaan strategi akulturasi integrasi. Penjabaran mengenai kedua aspek tersebut masih bisa diperbanyak dengan menyasar ke berbagai situasi kehidupan yang lain (Arends-Tóth & van de Vijver, 2006). 3. Faktor-faktor Penggunaan strategi akulturasi integrasi tidak serta-merta dapat digunakan oleh individu. Dalam prosesnya, terdapat faktor-faktor yang mendukung maupun menghambat pengambilan strategi akulturasi integrasi. Bagian ini akan menjelaskan mengenai faktor-faktor tersebut. a. Karakteristik Masyarakat di Tempat Baru Berry dan Sam (2010) menyebutkan bahwa sikap individu juga dibentuk dari kondisi dan tuntutan masyarakat sekitar. Di antara masyarakat yang multikultural, integrasilah yang akan didukung. Sedangkan ketika masyarakat berusaha mengembangkan lingkungan yang harmonis dan sejenis, maka strategi akulturasi asimilasi akan lebih mendapat dukungan. Bakker dkk., (2006) juga mengungkapkan hal yang sama, yaitu bahwa masyarakat memiliki pengaruh yang besar terhadap pemilihan strategi akulturasi dari individu. Sikap terbuka masyarakat terhadap pendatang misalnya, memungkinkan terjadinya interaksi antara pendatang dengan penduduk setempat. Kondisi seperti ini memungkinkan pendatang untuk menggunakan strategi akulturasi integrasi. Tidak adanya

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 keterbukaan dari masyarakat hanya memungkinkan individu untuk mengambil strategi akulturasi separasi dan marginalisasi. Di Yogyakarta sendiri terdapat stereotip dan prasangka terhadap orang-orang dari Papua (Nugraha, 2015). Bentuknya bermacam-macam, mulai dari menganggap orang Papua suka minum-minum, membuat kerusuhan, suka melanggar aturan, dan lain sebagainya. Hal membuat orang orang Papua di Yogyakarta mengalami berbagai diskriminasi (Masyitoh, 2017). Dalam penelitian yang dilakukan oleh Masyitoh (2017) dijelaskan bahwa mahasiswa Papua mengalami berbagai penolakan saat hendak mencari kos, saat hendak menyewa motor atau mobil, dan juga dijauhi di masyarakat. Dalam akulturasi, bukan tidak mungkin antara satu budaya dengan budaya lain memiliki kesamaan dalam hal nilai, kepercayaan, atau yang lainnya. Seberapa besar kesamaan budaya yang ditemui di tempat baru juga menjadi faktor yang menentukan perilaku integrasi dari individu (Arends-Tóth & van de Vijver, 2006; de Anda, 1984). Persamaan yang terdapat pada kedua budaya memungkinkan individu untuk lebih cepat memahami lingkungan. Dengan demikian, individu akan mampu lebih cepat menyesuaikan diri dengan norma dan cara hidup di tempat yang baru. Hal tersebut akan membantu individu dalam mengambil strategi akulturasi integrasi. Mahasiswa yang berasal dari Jawa dan berkuliah di Yogyakarta tidak akan mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri. Hal ini karena budaya sopan santun yang dijunjung dalam kehidupan sehari-

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 hari mampu membantu mahasiswa dari Jawa untuk diterima di masyrakat (Endrayanty, 2012). Selain kesamaan norma dan nilai-nilai dalam suatu budaya, persamaan atau perbedaan fisik juga menjadi faktor yang menentukan dalam pengambilan strategi akulturasi integrasi. Di dalamnya termasuk etnisitas yang dimiliki oleh individu. Datang ke tempat baru di mana individu memiliki karakter fisik yang sama dengan orang-orang di sekitarnya akan memudahkan individu tersebut untuk menyatu dengan masyarakat (de Anda, 1984). Sebaliknya, perbedaan karakter fisik seperti warna kulit dan perbedaan bentuk mata akan terlihat secara langsung. Dengan perbedaan ini, orang di lingkungan baru dapat langsung membedakan ‘outsiders’ dengan ‘insiders’. Hal ini membuat perbedaan fisik menjadi dapat penghalang bagi individu dalam melakukan sosialisasi. b. Karakteristik Personal Selain faktor dari budaya di sekitar, faktor dari dalam diri individu pun memiliki peranan (Arends-Tóth & van de Vijver, 2006). Salah satunya ada kemampuan problem solving yang dimiliki oleh individu (de Anda, 1984). Kemampuan problem solving mengindikasikan kemampuan kognitif individu untuk memahami lingkungan. Pemahaman ini dapat membawa individu untuk merespon lingkungannya dengan cara yang tepat. Cara merespon lingkungan yang dilakukan dengan tepat memungkinkan individu untuk lebih mudah menjalin relasi dengan budaya

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 lain, di mana hal tersebut penting dalam pengambilan strategi akulturasi integrasi. Karakteristik individu lainnya yang dapat menjadi faktor penentu adalah kemampuan individu untuk menggunakan bahasa baru (de Anda, 1984). Seperti yang sudah diungkapkan sebelumya bahwa kemampuan berbahasa ini dapat membuka jalan bagi individu untuk menjalin relasi dengan orang dari budaya baru (Williams, 2005). Adanya keterbukaan terhadap budaya lain dalam diri individu dapat menjadi jalan bagi individu untuk menggunakan strategi akulturasi integrasi. Meskipun terdapat banyak faktor yang mempengaruhi pengambilan strategi akulturasi integrasi pada individu, peneliti memiliki keterbatasan untuk dapat melibatkan seluruh faktor tersebut ke dalam penelitian. Faktor kesamaan budaya antara budaya asli individu dengan budaya di tempat baru misalnya, tidak dapat peneliti libatkan secara mendalam dalam penelitian ini. 4. Proses dan Dampak Aspek aspek dan faktor memberi dampak pada individu, berikut penjelasannya. Pembahasan sebelumnya menjelaskan bahwa strategi akulturasi integrasi merupakan perilaku individu untuk mempertahankan budaya asli sekaligus membuka diri terhadap budaya baru dalam menghadapi akulturasi. Penggunaan strategi akulturasi integrasi sendiri berhubungan dengan adaptasi individu di tempat barunya (Lian & Tsang, 2010). Berkaitan dengan hal tersebut, penggunaan strategi akulturasi integrasi berhubungan

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 juga dengan rendahnya stres pada individu yang disebabkan oleh perbedaan budaya di lingkungan baru (Sullivan & Kashubeck-West, 2015). Hal ini terjadi karena pengambilan strategi akulturasi integrasi memungkinkan individu untuk mendapat dukungan sosial baik dari budaya asalnya, maupun orang-orang budaya baru. Selain berhubungan dengan adaptasi dan rendahnya tingkat stres, penggunaan strategi akulturasi integrasi juga berhubungan dengan kepuasan hidup yang lebih baik dibanding dengan individu yang menggunakan strategi lainnya (Ryabichenko & Lebedeva, 2016). Banyaknya manfaat yang didapat dari pengambilan strategi akulturasi integrasi, tidak heran apabila berbagai penelitian menganggap strategi ini sebagai strategi yang paling adaptif untuk digunakan dalam menghadapi akulturasi (Berry, 1997). Sebaliknya, individu yang tidak mengambil strategi akulturasi integrasi memiliki sikap untuk tidak mempertahankan budaya asli yang dimiliki dan di sisi lain juga cenderung tidak membuat kontak dengan budaya di sekitarnya (Berry, 2007). Dampak dari sikap seperti ini membuat individu rentan terhadap perlakuan diskriminasi dari lingkungan barunya (Berry & Hou, 2017). Hal ini juga berkaitan dengan rendahnya adaptasi individu di lingkungan sosial dan rendahnya kepuasan hidup individu di tempat barunya (Lian & Tsang, 2010; Ryabichenko & Lebedeva, 2016). Penggunaan strategi akulturasi juga bisa ditingkatkan. Meningkatkan perilaku integrasi tentu berarti meningkatkan orientasi individu terhadap budaya aslinya, dan juga meningkatkan partisipasi individu dengan budaya

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 barunya. Bryam dalam Yu & Wang (2011) mengungkapkan bahwa kunci untuk dapat menjalin relasi dengan budaya baru adalah melalui pemahaman akan bahasa daerah setempat. Dampak yang dibawa dari meningkatnya relasi individu dengan lingkungannya antara lain menghindari terjadinya diskriminasi, dan juga kesepian, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan individu (Berry & Hou, 2017). Untuk melakukan kontak dengan budaya lain, individu juga memerlukan situasi yang nyaman bagi dirinya. Seperti yang sudah dibahas sebelumnya bahwa pertemuan individu dengan budaya lain dapat memunculkan akulturatif stres yang dapat membuat individu mengalamai kecemasan, bahkan depresi (Berry, 2007; Church, 1982; Hamamura & Laird, 2014). Adanya akulturatif stres dapat menghambat individu untuk terlibat dengan lingkungan barunya. Untuk mengatasi hal ini, individu memerlukan strategi coping, di mana strategi coping adalah cara yang diambil oleh individu untuk mengurangi stres (Lazarus & Folkman, 1984). Schmitz (dalam Kosic, 2004) mengungkapkan bahwa penggunaan strategi coping yang lebih berfokus pada masalah daripada emosi memiliki hubungan yang kuat dengan penggunaan strategi akulturasi integrasi. Dengan demikian, melatih individu untuk secara aktif menggunakan strategi coping yang berfokus terhadap permasalahan dapat mendorong meningkatnya perilaku integrasi pada individu juga.

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 D. Strategi Akulturasi Integrasi pada Mahasiswa Perantau Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, mahasiswa pergi merantau dengan tujuan untuk menuntut ilmu. Akan tetapi, mahasiswa perantau juga menghadapi tantangan di perantauan seperti akulturatif stres (Risaharti & Wang, 2018). Hal ini disebabkan karena perbedaan budaya yang dihadapi oleh mahasiswa perantau antara budaya aslinya dengan budaya di tempat baru. Ketidakmampuan untuk menghadapi akulturatif stres ini juga dapat meningkatkan kemungkinan individu untuk mengalami diskriminasi yang diakibatkan oleh terpisahnya individu dari lingkungan sekitar (Ramos et al., 2016) dan berujung pada rendahnya kepuasan hidup mahasiswa di perantauan (Ryabichenko & Lebedeva, 2016). Rendahnya penggunaan strategi akulturasi integrasi dapat membuat mahasiswa perantau mengalami berbagai kesulitan. Segala kesulitan ini dapat membuat mahasiswa tidak lagi fokus dengan tujuan awal merantau, yaitu untuk menuntut ilmu. Penelitian yang dilakukan oleh Rania, Siri, Bagnasco, Aleo, & Sasso (2014) sendiri menekankan pentingnya bagi mahasiswa perantau membangun relasi yang baik dengan lingkunga. Hal ini dapat mendukung performa akademik dari mahasiswa perantau. Rania et al., (2014) juga menambahkan bahwa performa akademik mahasiswa perantau juga dipengurhi oleh kepuasan hidupnya selama di perantauan. Kontak dengan orang orang dan budaya yang berbeda dengan budaya asli yang dimiliki oleh mahasiswa perantau adalah suatu hal yang tidak dapat dihindari (Imamura & Zhang, 2014). Akan tetapi mahasiswa perlu melakukan kontak dan terbuka dengan budaya di tempat barunya (Berry & Sam, 2010). Sikap

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 terbuka terhadap budaya lain dan tetap menjalin kontak dengan budaya asli seperti dalam pengambilan strategi akulturasi integrasi berhubungan dengan kepuasan hidup mahasiwa perantau (Ryabichenko & Lebedeva, 2016), dan rendahnya akulturatif stres yang dialami di lingkungan baru (Kosic, 2004). Melalui pembahasan di atas dapat dipahami pentingnya strategi akulturasi integrasi dalam kehidupan mahasiswa perantau. E. Kematangan Psikososial Setelah membahas mengenai penggunaan strategi akulturasi integrasi, bagian ini akan membahas mengenai kematangan psikososial. Penjelasan akan dimulai definisi kematangan psikososial, dilanjutkan dengan tahap-tahap perkembangan psikososial dari Erikson, dan terakhir adalah proses dan dampak. 1. Definisi Kematangan Psikososial Pendekatan psikososial melihat perkembangan sebagai hasil dari proses biologis, psikologis, dan sosial yang saling mempengaruhi dalam diri individu (Newman & Newman, 2012). Newman dan Newman (2012) menganalogikan perkembangan ego ini dengan teori evolusi, di mana teori ini memandang adaptasi sebagai hasil dari interaksi organisme dengan lingkungan fisiknya. Dengan kata lain, pendekatan ini memandang bahwa ego individu tidak berkembang dengan sendirinya, melainkan menyesuaikan juga dengan kebutuhan lingkungan sosial dan juga kemampuan fisik dari individu itu sendiri.

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 Greenberger dan Sorensen (1974) juga menjelaskan konsep psikososial sebagai kesatuan proses antara faktor biologis, psikologis, dan sosiologis dari individu. Lagi-lagi individu perlu menyesuaikan diri dengan tuntutan dari lingkungan sosial yang ada. Adapun untuk dapat memenuhi tuntutan sosial di sekitarnya, individu harus mampu memiliki 3 buah kemampuan. Pertama, kemampuan untuk menjadi diri yang berfungsi sepenuhnya. Kemampuan ini meliputi kemampuan individu untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, dan bertanggungjawab atas keberlangsungan hidupnya sendiri. Kemampuan yang kedua adalah kemampuan untuk menjalin interaksi dengan orang lain. Dalam hidup, manusia tidak pernah lepas dari orang lain. Individu perlu bekerjasama dan melakukan kontak sosial untuk bertahan hidup. Dengan adanya kemampuan untuk menjalin relasi sosial, individu akan dapat diterima dan dipercaya dalam masyarakat (Greenberger & Sorensen, 1974). Yang terakhir adalah kemampuan untuk memberi kontribusi bagi kesatuan masyarakat. Kemampuan ini perlu dikembangkan karena dipandang dapat mempertahankan keberlangsungan dari masyarakat dan individu itu sendiri. Setelah mendapat gambaran mengenai konsep psikososial, selanjutnya akan dibahas mengenai apa itu kematangan. Greenberger dan Sorensen (1974) melalui tulisannya yang berjudul Toward a Concept of Psychosocial Maturity membagi konsep kematangan menjadi dua hal, yaitu statis dan dinamis. Konsep kematangan statis menggambarkan kematangan dengan deskripsi akan hasil yang seharusnya dicapai atau hasil akhir dari suatu produk. Sedangkan, konsep kematangan

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 dinamis menjelaskan kematangan melalui langkah-langkah yang harus dilalui untuk mencapai produk akhir. Dari penjebaran tersebut, kematangan berbica mengenai tahapan tercapainya produk akhir atau perkembangan yang seutuhnya dari suatu tahap perkembangan. Salah satu ahli yang menggunakan pendekatan Psikososial adalah Erik Erikson (Newman & Newman, 2012). Melalui teori perkembangan psikososialnya, Erikosn membagi tahap perkembangan manusia menjadi delapan tahapan di mana setiap tahapan perkembangan menjadi dasar bagi perkembangan di tahap selanjutnya. Feist & Feist (2008) menganalogikan perkembangan ini seperti seorang anak yang belajar jalan. Proses belajar jalan diawali dari anak yang hanya bisa merangkak, setelah bisa merangkak, barulah anak tersebut mampu berdiri, berjalan, kemudian baru berlari dan melompat. Ketika anak sudah memiliki kemampuan untuk melompat, kemampuan untuk merangkak, berjalan, dan berlarinya tidak hilang. Dengan kata lain, kemampuan tersebut dibangun di atas kemampuan lainnya. Menurut Erikson, individu akan menjumpai krisis di setiap tahapan perkembangan. Dalam penyelesaian krisis tersebut, individu akan mengalami konflik antara unsur sistonik dan distonik. Unsur sistonik menrupakan unsurunsur positif, seperti trust, autonomy, industry, dan identity. Sebaliknya, unsur distonik merupakan unsur negatif seperti mistrust, guilty, dan shame. Konflik tersebut akan menghasilkan basic strength yang akan menjadi modal bagi ego untuk melangkah ke tahap perkembangan selanjutnya. Ketika basic strength tersebut tidak terpenuhi, yang terjadi adalah munculnya anthithesis atau

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 patologi dari basic strength. Olczak & Goldman (1975) mendifiniskan kematangan psikososial sebagai seberapa sukses individu menyelesaikan krisis di setiap tahap perkembangan psikososial. Berdasarkan pembahasan di atas, dapat dilihat bahwa definisi dari kematangan psikososial adalah seberapa sukses individu menyelesaikan krisis dari tahap perkembangan yang merupakan kesatuan dari proses biologi, psikologi, dan sosiologi individu. Definisi kematangan psikososial dan tahapan perkembangan psikososial Erikson inilah yang akan dijadikan landasan teori untuk melihat kematangan psikososial dalam penelitian ini. 2. Tahap-tahap Perkembangan Psikososial Pada pembahasan sebelumnya telah disebutkan bahwa setiap tahapan perkembangan psikososial, individu akan mengahdapi krisis. Untuk memahami krisis yang dihadapi oleh individu dalam proses mencapai kematangan psikososial, krisis dari setiap tahapan akan dijabarkan di bagian ini. a. Masa bayi Pada masa bayi, individu akan mengalami konflik antara basic trust vs basic mistrust. Perkembangan dua hal ini akan dipengaruhi oleh pemenuhan kebutuhan bayi dari lingkungannya, di mana ibu merupakan figur yang penting dalam pemenuhan kebutuhan ini (Alwisol, 2009). Saat lingkungan dapat memenuhi kebutuhan si bayi, seperti makanan, dan keramahan, individu akan mengembangkan basic trust, di mana individu

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 yang mampu mengembangkan basic trust dalam dirinya akan memiliki rasa percaya terhadap orang lain, serta memandang dunia, orang lain, dan dirinya sendiri secara positif (Santrock, 2014). Pada masa dewasa, individu yang mengembangkan trust memiliki tingkat konflik yang lebih rendah saat menjalin pertemanan (Jones, Vaterlaus, Jackson, & Morrill, 2004). b. Kanak-kanak awal Pada masa kanak-kanak, di mana individu sudah mengenal hak, kewajiban, dan batasan-batasan, individu akan mengalami konflik autonomy vs shame and doubt (Alwisol, 2009). Keberhasilan dalam mengontrol diri, menyelesaikan kewajiban, dan menyesuaikan diri terhadap batasan akan memunculkan sisi sistonik dalam diri individu, yaitu otonomi (Feist & Feist, 2008). Otonomi yang dimiliki individu akan membuat individu mampu mengandalkan diri sendiri dalam bertindak dan menentukan pilihan, serta melakukan pengambilan resiko. Sedangkan sisi distonik pada tahap ini adalah rasa malu dan ragu-ragu, yang ditandai dengan perasaan diamati, tidak yakin, dan lain sebagainya. c. Usia bermain Tahapan berikutnya adalah pada usia bermain, yaitu usia tiga sampai enam tahun (Alwisol, 2009). Kemampuan individu untuk semakin lincah bergerak memungkinkan anak untuk semakin memahami lingkungannya. Hal ini akan menumbuhkan konflik antara inisiatif dengan rasa bersalah. Alwisol (2009) mengatakan bahwa inisiatif tanpa rasa bersalah akan

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 menyebabkan kekacauan, sedangkan perasaan berdosa yang terlalu besar menyebabkan individu menjadi kompulsif dan terlalu terkekang. Individu yang mengembangkan inisiatif yang baik akan lebih mudah menjalin pertemanan dengan orang lain. Penelitian menunjukkan inisiatif pada masa dewasa berhubungan dengan rendahnya konflik dalam pertemanan individu tersebut (Jones et al., 2004). d. Usia sekolah Memasuki usia sekolah, individu akan dihadapkan dengan ketekunan dan perasaan inferior. Dalam hal ini, ketekunan memiliki sifat sistonik yang ditandai dengan ketekunan serta kemauan individu untuk melakukan suatu pekerjaan hingga tuntas. Sebaliknya, ketidakmampuan menuntaskan pekerjaan akan membawa individu pada perasaan inferior. e. Remaja Berbagai sumber menyebutkan bahwa masa remaja merupakan masa yang paling penting dalam tahap perkembangan individu (Arnett, 2000; Feist & Feist, 2008; Newman & Newman, 2012). Menurut Feist & Feist (2008), masa remaja penting karena pada masa remaja ini terjadi pencarian identitas pada individu. Identitas inilah yang akan dibawa oleh individu hingga tua nanti. Menurut Erikson (dalam Feist & Feist), identitas muncul dari dua hal, yaitu penguatan akan identifikasi individu pada masa kanakkanak, dan kesediaan individu untuk mengikuti suatu standar yang berlaku di masyarakat. Pada masa ini, terkadang individu lebih memilih mengikuti

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 nilai-nilai dalam kelompok pertemanan, sehingga teman dan masyarakat memiliki peran penting dalam kehidupan remaja. Identitas sebagai unsur sistonik akan dihadapkan dengan kebingungan identitas sebagai unsur distonik. Individu yang menemukan identitasnya ditandai dengan pemahaman akan apa yang diinginkan dan tidak diinginkan, serta apa yang hendak dituju dalam hidup. Sedangkan kebingungan identitas ditandai dengan adanya ketidakmampuan membangun kedekatan dengan orang lain, dan penolakan akan standar yang ada di lingkungannya. Baik standar dari keluarga maupun dari teman sebaya. f. Dewasa awal Tahap keenam dalam Teori Perkembangan Psikososial ini adalah tahap dewasa awal. Setelah di masa remaja individu mendapatkan identitasnya, pada masa ini individu akan bertemu dengan identitas milik orang lain dan membentuk sebuah kedekatan. Individu yang mampu mengembangkan kedekatan ditandai dengan memiliki sifat hangat, terbuka, dan peduli terhadap orang lain. Sebaliknya, ketidakmampuan menjalin kedekatan akan menciptakan isolasi bagi individu tersebut. Cinta menjadi basic strength dalam tahapan ini. g. Dewasa Pada masa dewasa, individu akan lebih berfokus pada merawat dan mendukung perkembangan keturunannya (Santrock, 2014). Kemampuan ini dinamakan generativitas, di mana unsur distonik dari generativitas

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 adalah stagnansi. Stagnansi muncul ketika individu hanya berfokus pada dirinya sendiri. Keinginan untuk memberikan sesuatu pada orang lain, baik itu anak, keluarga, dan masyarakat menghasilkan basic strength kepedulian. h. Usia tua Tahapan terakhir dari Tahap Perkembangan Psikososial Erikson adalah usia tua. Di mana individu akan mengalami konflik antara integritas dengan keputusasaan (Feist & Feist, 2008). Masa ini merupakan masa individu akan melihat kembali masa hidup yang sudah dilaluinya. Ketika proses peninjauan kembali menampilkan hal baik, individu akan mencapai integritas. Sebaliknya, ketika proses melihat kembali menunjukkan hasil yang kurang baik, individu akan merasa putus asa. Setelah penjabaran mengenai delapan tahap perkembangan psikososial dari Erikson, selanjutnya akan dibahas mengenai dinamika di dalam kematangan psikososial ini sendiri. Selain itu, akan dibahas pula dari kematangan psikososial. 3. Proses dan dampak Erikson membagi tahapan perkembangan dalam teorinya tanpa mencantukan usia di mana perkembangan tersebut terjadi, melainkan hanya memberi nama suatu periode, seperti usia kanak-kanak, remaja, dan masa tua. Hal ini dimaksudkan bahwa perkembangan yang terjadi tidak hanya terpaku pada usia dari individu. Perkembangan yang terjadi menyesuaikan dengan

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 kematangan psikologis dan lingkungan sosial yang dimiliki oelh individu (Newman & Newman, 2012). Dengan demikian, individu yang lebih tua belum tentu lebih matang daripada individu yang leih muda (Goebel & Brown dalam Sheldon & Kasser, 2001). Kematangan psikososial individu ditentutan oleh kesuksesan individu melewati krisis yang ada di setiap tahap perkembangan (Olczak & Goldman, 1975). Artinya semakin banyak krisis yang dilewati dengan sukses, semakin matang pula individu tersebut secara psikososial. Hal ini ditandai dengan individu yang memiliki pandangan positif terhadap dunia, mampu mengendalikan diri, memiliki inisiatif, dan mampu menyelesaikan tugas dengan baik. Unsur sistonik lain yang merupakan hasil dari kesuksesan melewati krisis dalam tahap perkembangan psikososial adalah menemukan tujuan hidup, mampu membangun kedekatan dengan orang lain, memiliki keinginan untuk berbagi dengan orang lain, dan yang terakhir adalah individu akan mengalami kepenuhan dalam dirinya. Kejelasan identitas yang merupakan bagian dari kematangan psikososial juga menghasilkan individu yang fleksibel dan adaptif (Santrock, 2014). Kemampuan ini membuat individu lebih mampu untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam hidupnya. Kematangan psikososial juga dapat membuat membantu individu untuk mencapai kesejahteraan (Deci & Ryan, 1991). Bahkan tidak hanya kesejahteraan individu, penelitian yang dilakukan oleh Olczak dan Goldman (1975) juga

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41 menunjukkan bahwa individu yang kematangan psikososial memiliki korelasi yang positif, tinggi, dan signifikan dengan aktualisasi diri. Berkebalikan dengan individu yang matang secara psikososial, semakin sedikit individu mampu melewati krisis dengan sukses, individu tersebut dikatan semakin tidak matang (Olczak & Goldman, 1975). Erikson (1968) menggambarkan individu dengan unsur-unsur distonik : menjadi orang yang pesimis, pemalu, memiliki rasa bersalah yang tinggi, rendah diri, dan kebingungan akan identitas. Selain itu, individu tersebut juga akan memiliki ketidakmampuan untuk menjalin hubungan dengan orang lain, hanya berfokus pada dirinya sendiri, dan juga mengalami keputusasaan saat melihat kembali proses dalam hidupnya. Penjabaran di atas telah menunjukkan bagaimana individu dengan kematangan psikososial yang tinggi, dan bagaiamana individu dengan kematangan yang rendah. Bagian selanjutnya, kematangan psikososial akan dibahas dalam konteks mahasiswa perantau. F. Kematangan Psikososial Mahasiswa Perantau Penelitian ini berfokus pada kematangan psikososial mahasiswa perantau, di mana mahasiswa perantau sedang mengalami krisis antara identitas dengan kebingungan identitas (Arnett, 2000). Dengan melihat pada konsep kematangan dinamis, tercapainya kejelasan identitas pada tahap ini menjadi tolok ukur bagi mahasiswa perantau untuk dapat (Greenberger & Sorensen, 1974). dikatakan matang secara psikososial

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa sebelum mencapai kejelasan identitas, mahasiswa perlu untuk melewati dengan baik krisis yang ada di tahap perkemabangan sebelumnya, dan untuk mencapai kejelasan identitas individu perlu melakukan eksplorasi (Arnett, 2015). Perkembangan psikososial mahasiswa pada masa perkembangan ini sangat dipengaruhi oleh teman sebaya (Jones et al., 2004). Jones (dalam Feist & Feist, 2008) menambahkan bahwa hal ini disebabkan karena beberapa faktor : orangtua bukan lagi sumber kelekatan utama, bahkan masa ini juga merupakan masa di mana individu pergi meninggalkan rumahnya dan tinggal di tempat lain. Hal ini menyebabkan mahasiswa lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman. Selain itu, pada masa ini individu juga melakukan eksplorasi di area cinta dan mulai memiliki hubungan yang lebih intim dengan pasangannya (Jones et al., 2004). Melalui pertemanan dan perjumpaan orang-orang dalam kehidupannya, mahasiswa akan berjumpa dengan nilai-nilai dan budaya yang berbeda dengan nilai-nilai yang dibawa sejak kecil (Feist & Feist, 2008). Hal ini lebih dialami lagi oleh mahasiswa perantau, di mana mahasiswa perantau tinggal bukan di daerah asalnya lagi. Hal ini membawa pembentukan identitas pada diri mahasiswa, karena menurut Feist & Feist (2008), pembentukan identitas dipengaruhi oleh dua hal : penegasan atau penghapusan identifikasi pada masa kanak-kanak, dan kesediaan individu untuk menerima standar tertentu yang berlaku di masyarakat tempat ia tinggal. Berbagai penelitian menyebutkan bahwa proses ini menjadikan masa remaja sebagai masa yang paling penting dalam perkembangan individu (Sullivan dalam

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43 Jones et al., 2004). Pencapaian identitas di pada mahasiswa perantau akan menjadi modal bagi mahasiswa untuk mengahdapi krisis di tahap perkembangan selanjutnya. Dikatakan demikian karena identitas inilah yang akan menentukan masa depan individu. Hal disebabkan karena identitas individu akan berkaitan dengan penentuan tujuan jangka panjang, pekerjaan, cinta, dan berbagai hal lain yang akan dibawa di masa dewasa (Arnett, 2000; Gfellner & Cordoba, 2011). Dengan demikian, hal-hal tersebut pula yang dimiliki oleh mahasiswa perantau yang memiiki kematangan psikososial tinggi. Sebaliknya, mahasiswa perantau yang memiliki kematangan psikososial yang rendah akan mengalami distres (Gfellner & Cordoba, 2011). Distres sendiri merupakan ketidakmampuan untuk menyatukan aspek-aspek dalam diri untuk membentuk suatu pemahaman diri yang utuh. Aspek-aspek tersebut antara lain peran dalam keidupan, hubungan individu dengan sesama, dan juga komitmen. Ketidakjelasan ini akan membawa mahasiwa rantau pada ketidakpastian akan tujuan hidup, pilihan pekerjaan, pertemanan, dan lain sebagainya. Feist & Feist (2008) menambahkan kebingungan akan hal-hal tersebut juga akan mempengaruhi komintmen mahasiswa perantau dan menyebabkan individu tersebut tidak bisa setia pada suatu pekerjaan, atau bahkan pada satu pasangan. G. Hubungan Antara Kematangan Psikososial dengan Strategi Akulturasi Integrasi pada Mahasiswa Perantau Mahasiswa perantau merupakan individu yang berada dalam tahap perkembangan emerging adulthood (Arnett, 2000). Fokus utama individu pada

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44 tahap perkembangan ini adalah eksplorasi identitas. Individu akan mencoba berbagai hal dalam hidupnya. Eksplorasi akan cinta, pekerjaan, dan pandangan individu terhadap dunia mencapai puncaknya pada masa ini. Salah satu bentuk eksplorasi yang dilakukan adalah dengan merantau (Alwisol, 2009). Memasuki usia mahasiswa (18-25 tahun), individu memasuki tahap perkembangan emerging adulthood. Pada tahap perkembangan ini, individu akan berfokus pada pencarian identitas (Arnett, 2000). Dalam usaha pencapaian identitas ini, individu akan melakukan eksplorasi, khususnya di bidang cinta, pekerjaan, dan pandangan terhadap dunia. Individu akan mulai mencari pasangan untuk masa depan, dan mulai mempersiapkan diri untuk karir yang akan dijalani juga. Bentuk eksplorasi yang dapat kita lihat adalah menjadi mahasiswa perantau (Arnett, 2000). Penejelasan di bagian sebelumnya telah menunjukkan bahwa kehidupan di peratauan tidak slelau mudah. Mahasiswa perantau akan bertemu dan melakukan kontak dengan budaya yang berbeda dengan budaya aslinya (Imamura & Zhang, 2014), dan akan menemui berbagai perbedaan-perbedaan antara budaya di tempat barunya, seperti perbedaan makanan, bahasa, dan lain sebagainya (Lesser et al., 2014; Selmer & Lauring, 2015). Mahasiswa perantau juga dapat mengalami perasaan kesepian (Phillimore, 2011). Perasaan kesepian dapat membuat mahasiswa perantau menarik diri dari interaksi sosial. Padahal penarikan diri semakin menjauhkan perantau dari lingkungan sosial. Semakin jauh perantau dari lingkungan sosial, hal ini dapat memicu diskriminasi dari lingkungan sekitar (Ramos et al., 2016). Hal-hal ini dapat menurunkan kesehatan mental dan juga

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 menurunkan kepuasan hidup dari mahasiswa selama di perantauan (Berry & Hou, 2017). Strategi Akulturasi Integrasi dapat digunakan untuk mengahadapi berbagai tantangan di perantauan. Menggunakan strategi ini berarti individu beorientasi untuk mempertahankan budaya aslinya dan juga terbuka terhadap budaya lain di tempat barunya (Berry, 2007). Penggunaan strategi ini dapat mengatasi permasalahan-permasalah mahasiswa perantau seperti permasalahan kesepian yang sebelumnya telah disebutkan. Memiliki orientasi untuk mepertahankan budaya asli berarti juga menjalin kontak dengan orang dari daerah asalnya, ditambah lagi dengan membuka diri terhadap pertemanan dengan orang-orang baru di perantauan memungkinkan individu mendapat dukungan sosial yang dibutuhkan selama di perantauan (Sullivan & Kashubeck-West, 2015). Penggunaan strategi ini juga berhubungan dengan menjauhakan mahsiswa dari diskriminasi, dan dapat meningkatkan kepuasan hidup mahasiswa di perantaun (Berry & Hou, 2017). Penggunaan strategi akulturasi integrasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti tingkat kesamaan budaya yang terdapat di daerah asal dengan yang ada di perantauan, dan karakterisitik personal dari mahasiswa itu sendiri. Penelitian ini ingin melihat hubungan antara kematangan psikososial dengan penggunaan strategi akulturasi integrasi pada mahasiswa perantau. Kematangan psikososial sendiri dilihat dari kemampuan-kemampuan mahasiswa perantau yang dikembangkan dalam tahap perkembangan psikososail dari Erikson (Olczak & Goldman, 1975). Kemampuan-kemampuan terebut adalah

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46 trust, autonomy, initiative, industry, identity, intimacy, generativity, dan ego integrity. Kemampuan-kemampuan tersebut dirasa dapat mendukung penggunaan strategi akulturasi integrasi pada mahasiswa perantau. Penelitian dari Jones et al., (2004) menunjukkan korelasi negatif antara konflik dalam pertmanan dengan trust dan autonomy pada mahasiswa. Kemampuan initiative yang dikembangkan individu juga berhubungan dengan dukungan dalam hubungan pertemanan mahasiswa. Kemampuan-kemampuan tersebut dapat mendukung mahsiswa perantau untuk menjalin relasi dengan orang dari budaya yang berbeda. Relasi tersebut akan bermanfaat untuk mendapatkan dukugan sosial di perantauan (Sullivan & Kashubeck-West, 2015). Selain itu, dalam proses kematangan psikososial juga dikembangkan identitas, yang merupakan kemampuan yang dikembangkan di usia-usia remaja dan emerging adulthood (Arnett, 2000). Identitas yang jelas dirasa dapat membuat individu memiliki orientasi yang terhadap budaya aslinya yang dapat mendukung mahasiswa perantau untuk menggunakan strategi akulturasi integrasi di perantauan. H. Kerangka Konseptual Strategi akulturasi integrasi merupakan cara yang paling adaptif untuk menghadapi akulturasi. Orang yang menggunakan strategi ini memiliki orientasi terhadap budaya aslinya, dan di saat yang sama juga terbuka pada budaya lain yang dijumpai di perantauan. Akan tetapi tidak semua individu memiliki kemampuan untuk menggunakan strategi ini. Peneliti berusaha melihat hal-hal apa

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47 yang berhubungan penggunaan strategi akulturasi integrasi. Dalam usaha tersebut, peneliti mencoba menggali salah satu Mahasiswa perantau akan mengembangkan kematangan psikososial. Dalam tahap perkembangan psikososial, individu akan mengembangkan suatu kemampuan pada tahap tertentu. Kemampuan-kemampuan tersebut adalah trust, autonomy, initiative, industry, identity, intimacy, generativity, dan ego integrity. Kemampuan-kemampuan tersebut disebut kemampuan sistonik, yaitu kemampuan yang bersifat positif. Sebalkinya, kemampuan-kemampuan distonik merupakan kemampuan yang bersifat negatif. Semakin banyak kemampuan-kemampuan tersebut, mahasiswa dapat dikatakan semakin matang secara psikososial. Saat mahasiswa perantau mengembangkan kematangan psikososial yang tinggi, unsur-unsur sistonik seperti autonomy, initiative, dan trust akan memungkinkan individu untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Selain itu, aspek kematangan psikososial yang lain, yaitu identitas juga dapat memberikan kejelasan identitas bagi individu. Kedua hal ini dapat mendukung mahasiswa perantau untuk mengambil strategi akulturasi integrasi selama di perantauan. Pengambilan strategi akulturasi integrasi berhubungan dengan kepuasan hidup yang tinggi di perantauan. Selain itu, dengan mengambil stategi akulturasi integrasi, mahasiswa juga akan mendapat dukungan sosial dari lingkungan serta terhindar dari diskriminasi.

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 Mahasiswa perantau Melakukan ekplorasi akan identitas Kematangan Psikososial Tinggi Kematangan Psikososial Rendah -Mengembangkan unsur-unsur sistonik - Memiliki dentitas yang jelas dan sehat - Mampu menyesuaikan diri dengan perubahan di masyarakat - Mampu menjalin hubungan baik dengan orang lain - Mengembangkan unsur-unsur distonik - Mengalami kebingungnan identitas - Kurang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan di masyarakat dan menerima standar di tempat baru Penggunaan strategi akulturasi integrasi yang tinggi Penggunaan strategi akulturasi integrasi yang rendah - Memiliki akulturatif stres yang rendah - Kepuasan hidup yang tinggi di perantauan - Rentan mengalami diskriminasi - Kepuasan hidup yang rendah di perantauan Gambar 2.1 Skema Penelitian

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49 I. Hipotesis Berdasarkan uraian di atas, peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut : 1. Ada hubungan yang signifikan dan positif antara kematangan psikososial dengan strategi akulturasi integrasi pada mahasiswa perantau.

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODE A. Pengantar Pada bagian ini akan dijelaskan berbagai hal yang berkaitan dengan desain penelitian yang akan di lakukan dalam penelitian ini. Mulai dari jenis penelitian, partisipan yang akan dilibatkan dalam penelitian ini, hingga metode analisis data yang akan digunakan. B. Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional, di mana penelitian kuantitatif bertujuan dan berguna untuk menguji sebuah teori dengan melihat hubungan antara dua variabel (Supratiknya, 2015). Data yang didapatkan dari penelitian kuantitatif adalah data berupa angka yang kemudian diolah menggunakan porsedur statistika (Creswell, 2014). Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survei. Metode survei sendiri adalah metode yang digunakan untuk mendeskripsikan kecendurangan, sikap, atau pendapat dari sebuah sampel atau populasi (Creswell, 2014). Dalam peneltian ini, penyebaran dan pengisian survei akan dilakukan secara daring. C. Partisipan Partisipan dalam penelitian merupakan mahasiswa perantau, atau dengan kata lain berasal dari luar Daerah Istimewa Yogyakarta. Partisipan juga merupakan mahasiswa aktif di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma 50

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 Yogyakarta dengan rentang usia 18-25 tahun. Untuk memenuhi kebutuhan partisipan ini, peneliti menggunakan teknik purposive sampling. Teknik ini merupakan teknik penentuan sampel dengan pertimbangan kriteria tertentu yang dimiliki oleh partisipan (Siregar, 2013). Dengan adanya pertimbangan pada kriteria partisipan, jenis sampling ini termasuk dalam sampling yang bersifat nonprobalitias. Artinya, populasi tidak memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam penelitian ini (Neuman, 2014). Hal ini membuat hasil penelitian dengan metode sampling yang bersifat nonprobabilitas tidak dapat digeneralisasi ke seluruh populasi. D. Identifikasi dan Definisi Operasional Variabel Terdapat dua buah variabel dalam penelitian ini, yaitu variabel tergantung (dependent variable) dan variabel bebas (independent variable). Supratiknya (2015) menyebutkan bahwa variabel tergantung merupakan variabel yang diasumsikan sebagai hasil atau akibat pengaruh dari variabel independen. Sedangkan variabel independen merupakan variabel yang kemungkinan mempengaruhi atau berdampak pada hasil tertentu. Variabel tergantung dalam penelitian ini adalah strategi akulturasi integrasi, dan yang menjadi variabel bebas adalah kematangan psikososial. 1. Strategi Akulturasi Integrasi Strategi akulturasi integrasi merupakan cara dalam menghadapi akulturasi, di mana pada cara ini individu mempertahankan budaya asli yang dimiliki, dan memiliki sikap terbuka terhadap lingkungan budaya sekitar

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 52 (Berry, 2007). Perilaku mempertahankan budaya asli yang dilakukan oleh individu dilihat dari relasi individu dengan orang-orang dari budaya aslinya, dan penggunaan bahasa dari daerah asal individu. Sedangkan sikap terbuka terhadap budaya sekitar dilihat dari pemahaman individu akan nilai-nilai di lingkungan baru, penyesuaian gaya komunikasi, dan juga keinginan untuk merasakan makanan khas di budaya baru. 2. Kematangan Psikososial Kematangan Psikososial adalah banyaknya atribut positif dari Tahapan Psikososial Erik Erikson yang dicapai oleh individu. Atribut positif tersebut adalah trust, autonomy, initiative, industry, identity, intimacy, generativity, dan ego integrity yang didapat dari masing-masing tahap perkembangan psikososial (Erikson, dalam Newman & Newman, 2012; Santrock, 2014). Pencapaian individu akan atribut positif tersebut menjadi indikator untuk menunjukkan kematangan psikososial dalam diri individu. E. Prosedur Penelitian ini menggunakan Strategi Akulturasi Integrasi yang disusun oleh peneliti untuk pengumpulan data. Skala dibuat berdasarkan dua aspek penyusun strategi akulturasi integrasi yang diekmukakan oleh Berry, yaitu perilaku mempertahankan budaya asli dan sikap terbuka terhadap budaya di tempat baru (Berry, 2007). Peneliti menyarikan berbagai penelitian untuk menjabarkan kedua aspek tersebut yang kemudian digunakan untuk menentukan area budaya apa saja

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 yang hendak dilihat dalam penelitian ini (Berry, 2006). Hasil tersebut kemudian dituliskan dalam bentuk item-item dalam skala. Skala strategi akulturasi integrasi yang sudah jadi tersebut kemudian dilihat validitasnya terlebih dahulu. Peneliti melakukan validasi expert judgement dengan mengkonsultasikan hasil penyusunan skala tersebut kepada dosen pembimbing untuk melihat item-item yang dirasa kurang relevan untuk digunakan dalam peneltian. Selain dari dosen pembimbingan, peneliti juga melakukan peer judgement. Peneliti meminta lima orang rekan peneliti untuk memberi masukan terkait item-item yang telah dibuat. Masukan yang didapat dari dosen pembimbing dan rekan peneliti menjadi landasan peneliti untuk melakukan revisi terhadap item-item yang telah dibuat sebelumnya. Berbeda dengan skala startegi akulturasi integrasi, skala yang digunakan untuk mengumpulkan data kematangan psikososial merupakan skala terjemahan dari Modified Erikson’s Psychosocial Stage Inventory (Darling-Fisher & Leidy, 1988). Untuk menggunakan skala ini, peneliti lebih dulu meminta izin untuk menerjemahkan dan menggunakan skala MEPSI dalam penelitian kepada DarlingFisher selaku pembuat skala. Setelah mendapat izin dari pembuat skala, peneliti berlanjut ke proses selanjutnya, yaitu penerjemahan. Proses penerjemahan melibatkan orang-orang yang memiliki keahlian dalam bahasa Inggris. Skala ini diterjemahkan ke dalam Bahasa Indaonesia oleh rekan yang seorang lulusan Jurusan Sastra Inggris. Hasil terjemahan tersebut kemudian diterjemahkan kembali ke Bahasa Inggris untuk dibandingkan dengan naskah awal. Proses ini bertujuan untuk melihat apakah ada pergeseran makna atau tidak.

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 Pembandingan ini dilakukan oleh rekan yang merupakan lulusan S-1 Pendidikan Bahasa Inggris, dan mendapat gelar master di bidang pendidikan di Australia. Kedua skala yang telah melalui proses validasi selanjutnya dibawa ke tahap uji coba. Uji coba skala dilakukan dengan menyebarkan kedua skala secara daring kepada sejumlah partisipan. Partisipan yang dilibatkan dalam penelitian ini adalah mahasiswa perantau, dalam artian berasal dari luar Daerah Istimewa Yogyakarta, dan berusia 18-25 tahun. Partisipan juga merupakan mahasiswa aktif Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Proses ini berlangsung dari 25 Juni 2018 hingga 29 Juni 2018 dan mendapatkan 71 partisipan. Data yang didapat kemudian diolah menggunakan program SPSS untuk dilihat validitas dan reliabilitasnya. Hasil olahan tersebut dijadikan sebagai dasar untuk menentukan item-item mana saja yang layak untuk digunakan dalam penelitian. Keseluruhan proses ini dinamakan proses seleksi item, dan akan dibahas pada bagian lain dari tulisan ini. F. Alat pengumpulan data Kedua variabel dalam penelitian ini diukur menggunakan alat pengumpulan data. Baik variabel penggunaan strategi akulturasi integrasi, maupun variabel kematangan psikososial, memiliki alat pengumpulan datanya masing-masing. Subbab ini akan menjelaskan mengenai alat pengumpulan data tersebut, mulai dari sumber alat ukur, jenis alat ukur, dan juga blueprint dari alat ukur tersebut.

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 1. Strategi Akulturasi Integrasi Pengumpulan data strategi akulturasi integrasi dilakukan dengan menggunakan skala yang disusun oleh peneliti. Skala ini mengacu pada teori strategi akulturasi yang ditulis oleh Berry, dimana startegi akulturasi integrasi disususun dari perilaku individu mempertahankan budaya asli, dan di saat yang bersamaan juga terbuka terhadap budaya baru (Berry, 2007). Skala ini terdiri dari item-item favorable dan unfavourable. Pada itemitem favourable, skor bergerak dari 1-5, di mana semakin sering individu melakukan pernyataan yang terdapat pada item, semakin tinggi pula skor yang didapat oleh partisipan. Hal ini menunjukkan penggunaan strategi akulturasi integrasi yang tinggi pula. Sebaliknya, pada item unfavourable, skor bergerak dari 5-1, dan semakin sering individu melakukan pernyataan yang terdapat pada item, semakin rendah skor yang didapat oleh partisipan. Proses pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode survei. Peneliti akan membagikan kuesioner dalam bentuk skala mengenai variabel dalam penelitian ini kepada sampel. Skala yang digunakan yaitu berupa skala likert, di mana skala dalam skala likert partisipan akan diminta untuk menyatakan respons kesetujuan atau ketidaksetujuaannya terhadap suatu pernyataan dalam rentang yang bersifat kontinum (Supratiknya, 2014). Repons yang disediakan ada 5, yaitu sangat setuju, setuju, tidak tahu, tidak setuju, dan sangat tidak setuju.

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 Untuk mendapatkan data skor variabel strategi akulturasi integrasi, peneliti menggunakan kuesioner yang disusun oleh peneliti sendiri.. Kuesioner berisi 28 item dengan penjabaran sebagai berikut: Tabel 3.1 Blueprint Skala Strategi Akulturasi Integrasi Total Aspek Indikator Item Menjalin relasi dengan orang dari daerah asal, menggunaan bahasa daerah asal di perantauan, mengetahui tentang daerah asal, merasa aman saat Mempertahankan budaya asli 14 bersama teman dari daerah asal, dan merasa memiliki tanggungjawab untuk melakukan sesuatu bagi orang daerah asal Menjalin relasi dengan orang dari budaya yang berbeda, memahami budaya atau bahasa di tempat baru, Terbuka terhadap budaya menikmati elemen eksplisit dari budaya baru baru seperti music dan makanan, serta melibatkan diri dalam linkungan di budaya baru 14

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 Tabel 3.2 Bobot Skala Strategi Akulturasi Integrasi Aspek Mempertahankan budaya asli Jumlah Item Favorable Unfavorable Total % 8 8 16 50% 8 8 16 50% 16 16 32 100% Terbuka terhadap budaya baru Total Tabel 3.3 Sabaran Item Skala Strategi Akulturasi Integrasi untuk Try Out Aspek Mempertahankan Favorable Unfavorable 1, 10, 14, 15, 21, 28, 2, 5, 12, 16, 18, 22, 29, 31 26, 32 3, 8, 9, 17, 19, 23, 4, 6, 7, 11, 13, 20, 25, 30 24, 27 16 16 budaya asli Terbuka terhadap budaya baru Total Total 16 16 32 2. Kematangan Psikososial Pengumpulan data untuk variabel kematangan psikososial dilakukan dengan menyebarkan skala Modified Erikson’s Psychosocial Maturity Inventory (MEPSI) kepada partisipan. Skala yang digunakan merupakan skala terjemahan dari skala asli yang dikembangkan oleh Darling-Fisher & Leidy

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 (1988). Skala ini berisi 80 item, di mana terdapat 10 item untuk masingmasing tahapan perkembangan psikososial. Skor untuk masing-masing item bergerak dari 1 sampai dengan 5, di mana skor tersebut akan dijumlahkan dan dirata-rata untuk mendapatkan skor MEPSI keseluruhan. Skor 1 sampai dengan 2 menunjukkan bahwa partisipan lebih banyak didominasi dengan atribut negatif seperti mistrust, inferiority, dan isolation. Sebaliknya, skor 4 sampai dengan 5 menunjukkan bahwa partisipan lebih banyak didominasi dengan atribut positif. Data dari skala ini juga digunakan untuk memisahkan antara partisipan yang memiliki kematangan psikososial tinggi dengan yang rendah. Batas skor yang digunakan adalah 4, di mana skor lebih dari atau sama dengan 4, kematangan psikososial dikategorikan tinggi, dan kurang dari 4 dikategorikan rendah. Dalam penyusunannya, skala ini telah diuji coba kepada 168 orang dewasa (Darling-Fisher & Leidy, 1988). Hasil dari uji coba tersebut didapati bahwa koefisien reliabilitas untuk trust adalah 0.82 (n = 157), autonomy 0.84 (n = 160), initiative 0.78 (n = 153), industry 0.88 (n = 151), identity 0.85 (n = 157), intimacy 0.78 (n = 157), generativity 0.75 (n = 157), and ego integrity 0.80 (n = 159). Selain itu didapati koefisien yang didapatkan untuk keseluruhan skala adalah sebesar 0.97 (n = 126). Koefisien reliabilitas pada MEPSI, baik skala untuk mengukur setiap tahapan maupun keseluruhan skala menunjukkan skor yang lebih dari 0,7 di mana skor ini menunjukkan bahwa reliabilitas tes ini baik (Supratiknya, 2014).

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 59 Tabel 3.4 Sebaran Item MEPSI Distribusi Item Skala Trust - Mistrust Autonomy - Shame & Doubt Initiative - Guilt Industry - Inferiority Identity - Confusion Intimacy - Isolation Generativity - Stagnation Ego Integrity - Despair Positif Negatif 24, 34, 36, 10, 18, 28, 53, 67 40, 44 1, 5, 12, 37, 49, 57, 54, 68 66, 78 7, 32, 59, 11, 15, 22, 71, 75 23, 65 2, 29, 33, 14, 52, 61, 38, 64 74, 76 8, 13, 16, 6, 9, 25, 17, 41 47, 48 4, 26, 45, 3, 30, 39, 62, 77 58, 72 21, 42, 50, 27, 43, 60, 70, 80 63, 69 20, 46, 56, 19, 31, 35, 73, 79 51, 55 Jumlah total item dalam skala Jumlah item % 10 12,5% 10 12,5% 10 12,5% 10 12,5% 10 12,5% 10 12,5% 10 12,5% 10 12,5% 80 100% 3. Validitas Validitas dalam pengukuran psikologis adalah suatu kualitas yang menunjukkan bahwa sebuah tes benar-benar mengukur atribut psikologis yang hendak diukur (Supratiknya, 2014). Untuk melihat validitas alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pengujian validitas yang melibatkan ahli. Metode ini disebut dengan metode expert judgment.

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 Dalam hal ini, ahli yang dilibatkan adalah dosen pembimbing, dan juga ahli bahasa Inggris untuk melakukan penerjemahan skala. 4. Seleksi item Seleksi dilakukan untuk mendapatkan item-item yang akan digunakan dalam skala final. Pada tahap ini, akan dilihat korelasi antar item dalam suatu alat ukur (Supratiknya, 2014). Tujuannya adalah agar ditemukan adanya sifat homogen dan daya diskriminasi yang baik dari suatu skala. Pada tahap ini , item yang dperthankan adalah item yang memiliki nilai korelasi > 0,20 (Supratiknya, 2014). Seleksi item dalam penelitian ini hanya dilakukan kepada Skala Strategi Akultuasi Integrasi. Hal ini disebabkan karena alat ukur MEPSI yang digunakan dalam penelitian ini merupakan alat ukur yang diadaptasi, sehingga tidak diperkenankan untuk mengubah konstruknya (Azwar, 2009). Dalam hal ini, yang dimaksud mengubah termasuk menambahkan atau mengurangi item dalam alat ukur. Hasilnya adalah terdapat 12 item yang digugurkan. Skala yang semula berisi 32 item, bekurang menjadi 20 item.

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 Tabel 3.5 Sabaran Item Skala Strategi Akulturasi Integrasi Setelah Seleksi Item Aspek Favorable Unfavorable 1, 10, 14, 15, 2*, 5*, 12, 16, 21*, 28*, 29, 31* 18, 22, 26, 32* Terbuka terhadap 3, 8, 9*, 17*, 4*, 6, 7*, 11*, budaya baru 19, 23, 25, 30 13*, 20, 24, 27 11 9 Mempertahankan budaya asli Total Total % 10 50% 10 50% 20 100% *item gugur 5. Reliabilitas Reliabilitas menunjukkan seberapa jauh alat ukur dapat dipercaya untuk mengukur suatu atribut (Azwar, 2009). Alat ukur yang memiliki reliabilitas yang baik akan menunjukkan yang konsisten saat diberikan secara berulang dalam jangka waktu yang berbeda (AERA, APA, dalam Supratiknya, 2014). Untuk melihat reliabilitas suatu alat ukur perlu dilakukan uji Alpha Cronbach (Supratiknya, 2014). Koefisien reliabilitas bergerak dari 0,00 hingga 1,00 di mana semakin besar koefisien reliabilitas suatu alat ukur, berarti semakin reliabel tes tersebut. Selain itu, suatu alat ukur dapat dianggap memilki koefisien reliabilitas yang memuaskan apabila memiliki skor > 0,7 (Kline, dalam Supratiknya, 2014). Setelah dilakukan uji reliabilitas Alpha Cronbach diketahui bahwa Skala Strategi Akulturasi yang dirancang oleh penliti memiliki koefisien reliabilitas sebesar 0,751 (p>0,7). Hasil ini menunjukkan bahwa reliabilitas skala ini memuaskan.

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 G. Analisis Data Bagian ini akan menjabarkan mengenai analisis data yang akan dilakukan dalam penelitian ini. Analisis untuk melihat normalitas perseberan data yang didapat akan dijabarkan terlebih dahulu. Normalitas persebaran data diperlukan untuk menentukan uji hipotesis apa yang digunakan. Pembahasan selanjutnya akan membahas uji hipotesis yang akan dilakukan. 1. Uji Normalitas Peneliti menggunakan program komputer untuk melakukan analisis data dalam penelitian ini, yaitu SPSS for Windows. Analisis pertama adalah uji normalitas, di mana hal ini dilakukan untuk melihat persebaran data yang didapatkan. Data dapat dikatakan memliki persebaran yang normal jika nilai signifikansi yang dimiliki lebih dari 0,05 (Mayers, 2013). Uji normalitas sendiri dapat dilakukan dengan uji normaltias Kolmogorov-Smirnov saat partisipan berjumlah 50 atau lebih. Sebaliknya, apabila jumlah partisipan kurang dari 50, uji normalitas Shapiro-Wilk yang akan digunakan (Mayers, 2013). Dengan jumlah partisipan sebanyak 241 partisipan, penelitian ini mengunakan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov. 2. Uji Hipotesis Uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan analisis statistik korelasi. Metode analisis data ini disesuaikan dengan tujuan penelitian yang melihat kekuatan atau bentuk dua arah hubungan antara dua variabel atau lebih, dalam hal ini hubungan antara kematangan psikososial dengan strategi akulturasi integrasi pada mahasiswa perantau (Siregar, 2013). Uji statistik yang akan

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 digunakan sendiri ada 2 macam: Uji Korelasi Pearson yang digunakan saat data terdistribusi secara normal, dan Uji Korelasi Spearman saat data yang hendak diolah tidak terdistribusi secara normal. H. Pertimbangan Etis Penelitian ini mungkin saja membuat partisipan merasa tidak nyaman atau menimbulkan perasaan negatif lainnya. Ketidaknyamanan mungkin muncul di mana total item yang harus diisi oleh peserta mencapai 120 item. Pertanyaan dalam skala akan menggali informasi yang berkaitan tentang pengalaman partisipan selama di perantauan. Skala lainnya juga akan menggali tentang relasi interpersonal, tujuan hidup, masa lalu partisipan, dan berbagai hal lain yang mungkin dapat menimbulkan ketidaknyamanan dalam diri partisipan. Untuk menggulangi ketidaknyamanan tersebut, peneliti menggunakan informed consent dalam pengambilan data. Informed consent tersebut menjelaskan mengenai tujuan dari penelitian ini, jangka waktu, dan juga menginformasikan bahwa partisipan berhak untuk mengundurkan diri dari penelitian kapan saja tanpa adanya konsekuensi apa pun. Pengsisian skala dilanjutkan hanya setelah partisipan menandai bagian yang menyatakan kesetujuan. Informed consent ini mengacu pada Kode Etik Psikologi Indonesia Pasal 49 (HIMPSI, 2010). Seluruh data yang didapat dari penelitian ini juga hanya akan digunakan untuk keperluan penelitian saja.

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 64 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pengantar Pada bab ini akan dituliskan hasil dari penelitian yang telah dilakukan dan juga pembahasan mengenai hasil yang didapat. Dari hasil yang didaptkan akan dideskripsikan jenis kelamin, usia, dan daerah asal dari partisipan dalam penelitian ini. Selain itu, hasil dari uji statistik yang dilakukan juga akan dijabarkan di bab ini. Hasil-hasil tersebut adalah hasil uji normalitas, dan uji hipotesis. Setelah itu, makna dari perhitungan statiska yang sudah didapat akan dibahas. B. Hasil 1. Deskripsi Data Partisipan Deskripsi mengenai data partisipan dapat dilihat dalam tabel-tabel berikut. Tabel 4.1 Jenis Kelamin Partisipan Jenis Kelamin Jumlah Partisipan Persentase Laki-laki 46 20,1% Perempuan 183 79,9% Total 229 100% Berdasarkan deskripsi tersebut, diketahui bahwa mayoritas partisipan dalam penelitian ini berjenis kelamin perempuan. Jumlah partisipan perempuan sebanyak 183 partisipan atau 79,9% dari jumlah parisipan.

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 65 Sedangkan partisipan laki-laki perjumlah 46 partisipan atau 20,1% dari jumlah partisipan. Keseluruhan partisipan dalam penelitian ini ada 229 partisipan. Tabel 4.2 Usia Partisipan Usia Jumlah Persentase 18 5 2,2% 19 24 10,5% 20 41 17,9% 21 51 22,3% 22 73 31,9% 23 22 9,6% 24 8 3,5% 25 5 2,2% Total 229 100% Partisipan dalam penelitian ini merupakan mahasiswa rantau yang berasal dari luar Daerah Istimewa Yogyakarta dengan rentang usia 18-25 tahun. Partisipan yang terlbat dalam penelitian ini mewakili seluruh usia dalam rentang tersebut, meskipun jumlahnya tidak selalu sama. Jumlah partisipan dari usia 18-22 terus meningkat, kemudian terus menurun di usia 22-25.

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 66 Tabel 4.3 Daerah Asal Partisipan Daerah Jumlah Persentase Jawa 115 50,2% Kalimantan 27 11,8% Sumatera 38 16,6% Bali 18 7,9% Papua 6 2,6% Sulawesi 10 4,4% Lain-lain* 15 6,6% Total 229 100% Asal *NTT, Kupang, Kefamenanu, Labuan Bajo, Sumbawa Besar, Waikabubak, Tual, Ende, Flores Lebih dari separuh partispan dalam penelitian ini berasal dari Jawa (115) dengan persentase sebesar 50,2 persen. Partispan dari Sumatera dan Kalimantan merupakan partisipan kedua dan ketiga terbanyak. Jumlahnya masing-masing 38 dan 27 partisipan. Partispan dari Bali, Papua, dan Sulawesi masing-masing berjumlah 18, 6, dan 10 partisipan. Selain keenam daerah yang sudah disebutkan, ada juga partisipan dari daerah lain seperti Sumbawa Besar, Flores, dan Kupang. 2. Deskripsi Data Penelitian Bagian ini akan menjelaskan deskripsi data penelitian yang telah didapatkan. Peneliti akan melihat juga mean empiris dan mean teoretis dari

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 skala penggunaan strategi akulturasi integrasi. Hal ini dapat memberikan gambaran tentang kecenderungan penggunaan strategi akulturasi integrasi pada partisipan. Tabel 4.4 Hasil Pengukuran Deskripsi Variabel Jumlah Rentang Minimum Maksimun Mean Skala Standar Deviasi Strategi Akulturasi 229 21 47 68 57,99 4,07 229 1,10 2,7 3,80 3,2 0,23 Integrasi MEPSI Tabel 4.5 Hasil Pengukuran Deskripsi Variabel Penggunaan Strategi Akulturasi Integrasi dan Uji Beda Mean Empiris dengan Mean Teoretis Min Maks 47 68 Mean Mean Empiris Teoretis 57,5 57,99 Test Value = 57.5 t 1.824 df 228 Mean 95% Confidence Interval of the Sig. (2- Differen Difference tailed) ce .069 .49127 Lower -.0395 Upper 1.0220

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 68 Tabel di atas menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara mean teoretis dengan mean empiris pada penggunaan strategi akulturasi integrasi mahasiswa perantau (p>0,5). Dengan demikian, penggunaan strategi akulturasi integrasi pada partisipan tidak bisa dibilang tinggi. Tabel 4.6 Mean Skor Skala Penggunaan Strategi Akulturasi Integrasi Berdasarkan Daerah Asal Asal N Mean Jawa 115 58.15 Kalimantan 27 57.14 Sumatera 38 57.7 Bali 18 58.11 Papua 6 56.5 Sulawesi 10 59.00 Lain-lain 15 58.73 Daerah Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa partisipan dari Sulawesi memiliki mean tertinggi untuk skor penggunaan strategi akulturasi integrasi. Berikutnya ada partisipan dari Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan, dan Papua. 3. Uji Normalitas Uji normalitas dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov. Data yang didapat dikatakan memiliki

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 69 distribusi yang normal jika koefisien signifikansi lebih dari 0,05 (p > 0,05) (Mayers, 2013). Hasil dari uji normalitas dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 4.7 Hasil Uji Normalitas Data Penelitian Kolmogorov-Smirnov Skala Statistik df Sig. 0,068 229 0,013 0,096 229 0,000 Strategi Akulturasi Integrasi MEPSI Tabel di atas menunjukkan bahwa kedua skala memiliki nilai signifikansi di bawah 0,05. Melalui nilai signifikansi tersebut dapat diketahui bahwa kedua skala memiliki persebaran yang tidak normal. Hal ini berdampak pada uji hipotesis yang dilakukan. 4. Uji Hipotesis Uji hipotesis dilakukan untuk melihat hubungan antara dua variabel, yaitu kematangan psikososial dan strategi akulturasi integrasi. Uji normalitas telah menunjukkan bahwa sebaran data pada kedua skala tidak normal. Dengan demikian, uji hipotesis yang dilakukan pada penelitian ini adalah uji

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 70 hipotesis Spearman (Mayers, 2013). Kedua variabel dikatakan memiliki korelasi yang signifikan saat koefisien korelasi dari uji Spearman ini menunjukkan angka kurang dari 0,05 (p < 0,05) (Mayers, 2013). Tabel 4.8 Hasil Uji Hipotesis Strategi Akulturasi MEPSI Integrasi Koefisien Strategi Akulturasi Spearman’s Integrasi Korelasi Sig. (2-tailed) N rho Koefisien MEPSI Korelasi Sig. (2-tailed) N 1,000 0,236** , 0,000 229 229 0,236** 1,000 0,000 , 229 229 Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa nilai signifikansi menunjukkan 0,000 (p < 0,05). Hasil ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara kematangan psikososial dan strategi akulturasi integrasi. Melalui koefisien korelasi dari tabel di atas (0,236) juga dapat diketahui bahwa hubungan antara kedua variabel bersifat positif. C. Pembahasan Tujuan dari dilakukannya penelitian ini adalah untuk melihat hubungan antara kematangan psikososial dengan penggunaan strategi akulturasi pada mahasiswa perantau di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 Yogyakarta. Berdasarkan perhitungan statistika yang telah dilakukan, diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,000 (p<0,05) dan koefisien korelasi sebesar 0,236. Hasil tersebut menunjukkan bahwa di antara kematangan psikososial dan strategi akulturasi integrasi terdapat hubungan yang signifikan dan bersifat positif. Hal ini berarti semakin tinggi kematangan psikososial pada mahasiswa perantau yang menjadi partisipan dalam penelitian ini, semakin tinggi pula penggunaan strategi akulturasi mahasiswa tersebut. Hasil ini tidak dapat digeneralisikan ke seluruh populasi karena penggunaan sampling yang tidak memungkinkan seluruh populasi mendapat kesempatan yang sama untuk terlibat dalam penelitian ini (Neuman, 2014). Hasil dari penelitian menunjukkan ada hubungan antara kematangan psikososial dengan orientasi yang dimiliki oleh partisipan terkait mempertahankan budaya asli. Hal ini dapat dilihat dari salah satu aspek yang dikembangan dalam kematangan psikososial, yaitu identitas (Alwisol, 2009; Feist & Feist, 2008; Newman & Newman, 2012). Partisipan dengan kematangan psikososial tinggi akan dapat mencapai kejelasan identitas, yang akan membawa partisipan pada pemahaman yang utuh tentang siapa dirinya, tujuan hidup, dan lain sebagainya (Gfellner & Cordoba, 2011; Markstrom & Marshall, 2007). Adanya pemahaman identitas ini, membawa partisipan untuk memiliki orientasi terhadap budaya aslinya yang dibutuhkan dalam pengambilan strategi akulturasi integrasi. Orientasi untuk mempertahankan budaya asli di perantauan ditandai dengan partisipan yang tetap menjalin relasi dengan teman-teman dari daerah aslanya. Adanya relasi yang berkelanjutan ini memungkinkan partisipan untuk lebih

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 mudah dalam mendapatkan dukungan ketika menghadapi kesulitan (Sullivan & Kashubeck-West, 2015). Dukungan ini menjauhkan partisipan dari perasaan terisolasi, sehingga partisipan tidak mengalami stres yang disebabkan karena perbedaan budaya dan akulturasi (Phillimore, 2011) Strategi akulturasi integrasi juga dibentuk dari orientasi individu untuk terbuka terhadap budaya lain (Berry, 2007). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa strategi akulturasi integrasi berhubungan dengan kematangan psikososial. Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, semakin tinggi kematangan psikososial pada partisipan, semakin banyak pula unsur sistonik yang dikembangkan (Darling-Fisher & Leidy, 1988; Olczak & Goldman, 1975). Saat partisipan mengembangkan unsur-unsur sistonik, seperti pandangan yang positif terhadap lingkungan, kepercayaan diri, inisiatif, dan lain sebagainya. Kemampuan tersebut dapat membantu partisipan dalam menjalin relasi dengan lingkungan di sekitarnya. Hasil ini juga didukung oleh Jones et al., (2004) yang mengungkapkan bahwa aspek-aspek kematangan psikososial seperti trust, autonomy, dan initiative mampu menurunkan konflik dalam pertemanan. Selain itu, mahasiswa perantau yang mengembangkan kematangan psikososial memiliki rasa empati yang tinggi pula (Jones et al., 2004). Dengan demikian dapat dilihat pula bahwa partisipan dengan kematangan psikososial yang tinggi, memiliki penggunaan strategi aulturasi integrasi yang tinggi pula. Dengan menggunakan strategi akulturasi integrasi yang tinggi, partisipan dapat terhindar dari diskriminasi dan memiliki kepuasan hidup yang lebih tinggi pula di perantauan (Berry & Hou, 2017).

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 73 Berdasarkan data yang didapat, mahasiswa perantau yang mendapat skor penggunaan strategi akulturasi integrasi dari yang tertinggi adalah partisipan dari Sulawesi (n=10, mean=59,00). Mahasiswa perantau dari Pulau Jawa, tempat di mana partisipan berkuliah berada di urutan kedua (n=115, mean=58,15). Kemudian ada Bali (n=18, mean=58,11), Sumatera (n=38, mean=57,71), dan Kalimatan (n=27, mean=57,14). Skor penggunaan strategi akulturasi integrasi terendah didapatkan oleh partisipan yang berasal dari Papua (N=6, n=56,50). Hasil ini dipengaruhi oleh faktor-faktor yang mendukung dan menghambat pengambilan strategi akulturasi integrasi. Pada mean kelompok partisipan yang berada di urutan atas bisa jadi didukung oleh adanya persamaan bahasa, norma, dan budaya antara daerah asalnya dengan budaya yang ditemui di Yogyakarta, atau bisa juga karena faktor personal dari mahasiswa tersebut (de Anda, 1984; LaFromboise et al., 1993). Mahasiswa dari Sulawesi yang memiliki penggunaan strategi akulturasi tertinggi ini didukung dengan penelitian yang mengungkapkan bahwa mahasiswa Sulawesi banyak menggunakan strategi coping problem focused, di mana strategi ini dapat membantu adaptasi mahasiswa di perantauan (Parks, 1999). Selanjutnya mahasiswa dari Jawa berada di urutan kedua juga didukung oleh faktor banyak kesamaan budaya yang ditemui mahasiswa di daerah asalya dengan budaya yang ada di Yogyakarta. Mahasiswa dari Jawa juga menjunjung tinggi sopan santun dalam keseharian (Endrayanty, 2012). Sopan santun ini digunakan baik dalam relasi dengan teman, maupun orang yang lebih tua. Hal ini membuat mahasiswa dari Jawa lebih mudah untuk diterima di masyrakat.

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 74 Lain halnya dengan mahasiswa dari Sumatra, penelitian yang sudah ada mengindikasikan bahwa mahasiswa dari Sumatra yang berkuliah di Yogyakarta cenderung mampu untuk menyesuaikan diri dengan budaya Jawa (Marpaung, 2007). Penysuaian diri dengan budaya sekitar ini merupakan salah satu aspek pendukung dari penggunaan dari strategi akulturasi integrasi, akan tetapi penelitian ini menunjukkan bahwamahasiswa dari Sumatera hanya menempati urutan keempat dari tujuh daerah yang dilihat dari penelitian ini. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak hal-hal yang perlu dikembangkan oleh mahasiswa perantau dari Sumatra terkait dengan pengambilan strategi akulturasi integrasi. Sebaliknya, kelompok partisipan yang berada di peringkat bawah bisa saja mengalami hambatan seperti perbedaan budaya yang besar, perbedaan karakteristik fisik, dan lain sebagainya (de Anda, 1984). Hal lain yang perlu menjadi perhatian pada hasil penelitian ini adalah peran masyarakat sekitar dalam pengambilan strategi akulturasi integrasi pada mahasiswa perantau. Sikap terbuka dari orang-orang di lingkungan sekitar akan mendukung perantau untuk berinteraksi dan memahami lingkungan (Bakker et al., 2006; Berry & Sam, 2010). Penelitian ini tidak mengukur sikap masyrakat sekitar terhadap pendatang, sehingga tidak dapat melihat dampak dari faktor tersebut dalam penelitian ini. Namun, dari hasil penelitian sebelumnya didapati bahwa banyak stereotip yang ditujukan pada mahasiswa Papua, seperti suka melanggar aturan, kasar, dan suka mabuk yang membawa mahasiswa Papua mendapat diskriminasi dari masyarakat Yogyakarta (Masyitoh, 2017; Nugraha, 2015). Hal ini menjadi salah satu

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 75 penghambat bagi mahasiswa Papua untuk menggunakan strategi akulturasi integrasi. Selain itu, terdapat perbedaan jumlah pada masing-masing kelompok partisipan, misalnya antara partisipan dari Jawa (n=115) dengan partisipan dari Papua (n=6) dan Sulawesi (n=10). Hal-hal tersebut membuka peluang bagi peneliti lain untuk mengembangkan hasil penelitian ini dalam penelitian selanjutnya. Peneliti juga berusaha mendapat gambaran mengenai penggunaan strategi akulturasi integrasi pada partisipan. Dari analisis data yang telah dilakukan, diketahui bahwa mean empiris yang didapat oleh partisipan dalam penelitian ini (mean=57,99) lebih tinggi dari mean teoretis penggunaan strategi akulturasi (mean=57,50). Setelah data tersebut diuji secara statistik, didapati bahwa tidak adanya perbedaan yang signifikan mean teoretis dengan mean empiris pada skor kematangan psikososial pada partisipan menunjukkan. Hal ini menunjukkan bahwa pengunaan strategi akulturasi integrasi pada partisipan dalam penelitian ini tidak dapat dibilang tinggi, meskipun mean empiris yang didapat lebih tinggi dari mean teoretis penggunaan strategi akulturasi integrasi.

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V KESIMPULAN A. Kesimpulan Penelitian yang telah dilakukan menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan dan bersifat positif di antara kematangan psikososial dengan penggunaan strategi akulturasi integrasi pada mahasiswa perantau. Hal ini berarti semakin tinggi kematangan psikososial mahasiswa perantau, semakin tinggi pula penggunaan strategi akulturasi individu tersebut. Berbagai kemampuan yang dikembangkan dalam kematangan psikososial, seperti identitas, pandangan positif, dan kepercayaan diri dapat mendudukung partisipan untuk mencapai kejelasan identitas, dan juga menjalin relasi yang baik dengan lingkungan. Hal-hal tersebut merupakan hal yang dibutuhkan dalam pengambilan strategi akulturasi. Dalam hal penggunaan strategi akulturasi integrasi, partisipan dari berbagai daerah memiliki rata-rata yang berbeda. Perbedaan ini perlu menjadi perhatian karena perbedaan antara budaya di tempat asal artisipan dengan budaya di perantauan, dan faktor-faktor lain dapat mempengaruhi penggunaan strategi akulturasi pada partisipan. Dari penelitian ini didapati juga bahwa penggunaan strategi akulturasi integrasi pada mahasiswa perantau yang menjadi partisipan dalam penelitian berada di atas rata-rata, akan tetapi perbedaannya tidak signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan strategi akulturasi integrasi pada partisipan masih dapat ditingkatkan. 76

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 77 B. Keterbatasan Penelitian ini tidak lepas dari keterbatasan. Dalam penyusunan skala strategi akulturasi integrasi, peneliti hanya menggunakan beberapa domain seperti relasi sosial, penggunaan bahasa, dan lain sebagainya. Semakin banyak domain yang digambarkan dalam skala tentunya juga akan meningkatkan kualitas alat ukur itu sendiri. Meski dengan keterbatasan ini peneliti sudah mendapatkan skala dengan validitas dan reliabilitas yang baik, akan tetapi kualitas skala tersebut masih bisa ditingkatkan lagi. Keterbatasan lain yang terdapat dalam penelitian ini adalah metode sampling nonprobabilitas, di mana metode tersebut tidak dapat menggambarkan seluruh populasi. Hal ini disebabkan karena populasi tidak memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. Dengan digunakannya metode sampling probabilitas, hasil penelitian dapat digeneralisir untuk populasi yang lebih luas. Meskipun begitu, metode nonprobabilitas yang digunakan oleh peneliti juga dapat memberi manfaat dalam hal menguji hipotesis dalam penelitian ini. C. Saran Setelah mendapatkan kesimpulan dari penelitian ini, selanjutnya akan disajikan saran tentang hal apa yang dapat dilakukan oleh target grup dan pihaklain terkait dengan hasil penelitian ini. Melalui saran ini, diharapkan pihak-pihak tersebut dapat merasakan manfaat dari penelitian ini.

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 78 1. Bagi mahasiswa perantau Mahasiswa dapat lebih meningkatkan interaksi dengan lingkungan sosial untuk dapat semakin memahami kebutuhan lingkungan, dan bagaimana merespons lingkungan secara tepat. Hal ini dapat dilakukan untuk meningkatkan kematangan psikososial, yang akan berdampak pada penggunaan strategi akulturasi yang meningkat pula. 2. Bagi orangtua, dosen, dan pihak universitas Pendekatan psikososial menekankan peran lingkungan sosial bagi perkembangan diri individu. Maka dari itu, lingkungan diharpkan dapat mendukung kehidupan mahasiswa perantau di perantauan. Orangtua dari mahasiswa perantau perlu mempersiapkan mahasiswa sebelum dilepas ke perantauan, seperti membiasakan anak untuk mandiri, dan mampu menyelesaikan masalah dengan baik. Selain itu, dosen, universitas, dan Kemenristekdikti juga perlu memberikan dukungan bagi mahasiswa selama di perantauan. Dukungan yang diberikan bisa dalam bentuk pelatihan yang dapat mengembangkan kematangan psikososial mahasiswa perantau. Tujuannya, agar mahasiswa mampu menanggapi lingkungan dengan cara yang adaptif, yaitu menggunakan strategi akulturasi integrasi.

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 79 3. Bagi masyarakat di lingkungan sekitar mahasiswa perantau Masyarakat di sekitar mahasiswa perantau dapat meningkatkan interaksi dengan mahasiswa perantau, misalnya dengan melibatkan mahasiswa perantau dalam berbagai kegiatan kerja bakti, pertemuan lingkungan, dan lain sebagainya. Hal ini dapat membantu mahasiswa perantau untuk lebih mengenal lingkungan dan mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan. 4. Bagi komunitas ilmuwan psikologi Ilmuwan psikologi perlu lebih banyak melakukan penelitian mengenai strategi akulturasi integrasi di Indonesia. Dengan banyaknya penelitian mengenai strategi akulturasi integrasi dan hal-hal lain yang mendukungnya diharapkan dapat meningkatkan penggunaan strategi akulturasi integrasi ini di masyarakat. Penelitian selanjutnya bisa dilakukan dengan pengambilan subjek yang lebih besar, dan metode sampling yang mampu merepresentasikan populasi dengan lebih luas. D. Komentar Penutup Peneliti merasa senang setelah melakukan penelitian ini. Perasaan tersebut diladasi oleh 2 hal. Pertama, peneliti dapat memberikan kontribusi bagi mahasiswa perantau sesuai dengan kapasitas peneliti sebagai mahasiswa psikologi. Kedua, peneliti mendapat banyak hal baru untuk dipelajari selama melakukan penelitian ini, khususnya tentang berbagai strategi dalam menghadapi perantauan. Peneliti merasa bahwa tambahan ilmu ini tentu saja sangat bermanfaat

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 80 dan dapat menjadi bekal bagi peneliti untuk dibawa dalam kehidupan, baik saat bekerja, atau saat harus terjun ke masyarakat. Akhir kata, peneliti berharap pembaca juga mendapat banyak manfaat dari penelitian ini. Semakin banyak yang pembaca yang mendapat menfaat dari penelitian ini, tentu semakin banyak pula perasaan senang yang dirasakaan oleh peneliti. Tuhan memberkati.

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Ahani, S. (2016). The Impact of Acculturation and Biculturalism on the Second Generations Living in Canada. City University of Seattle, Vancouver. Alwisol. (2009). Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press. APA Board of Educational Affairs Task Force on Psychology Major Competencies. (2013). APA Guidelines for the Undergraduate Psychology Major. American Psychological Association. Araro, R. (2018, Oktober). Biaya Hidup Anak Kos, Kota Mana Termurah? Retrieved Tribunmanado.Co.Id. from http://manado.tribunnews.com/2018/10/29/biaya-hidup-anak-kos-kotamana-termurah?page=all Arends-Tóth, J., & van de Vijver, F. J. R. (2006). Assessment of psychological acculturation. In D. L. Sam & J. W. Berry (Eds.), The Cambridge Handbook of Acculturation Psychology (pp. 142–160). Cambridge: Cambridge University Press. doi : 10.1017/CBO9780511489891.013 Arends-Tóth, J., & Van de Vijver, F. J. R. (2007). Acculturation attitudes: A comparison of measurement methods. Journal of Applied Social Psychology, 37(7), 1462–1488. doi : 10.1111/j.1559-1816.2007.00222.x Arnett, J. J. (2000). Emerging adulthood : A theory of development from the late teens through the twenties. American Psychologist, 55(5), 469–480. doi : 10.1037//0003-066X.55.5.469 81

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 82 Arnett, J. J. (2005). The developmental context of substance use in emerging adulthood. Journal of Drug Issues, 5(2), 235–254. Arnett, J. J. (2015). Emerging Adulthood : The Winding Road From the Late Teens Through the Twenties. Oxford University Press. Aronson, E., Wilson, T. D., & Akert, R. M. (2005). Social Psychology (5th ed.). New Jersey: Pearson Education, Inc. Azwar, S. (2009). Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Bakker, W., Zee, K. van der, & Oudenhoven, J. P. van. (2006). Personality and Dutch emigrants’ reactions to acculturation strategies. Journal of Applied Social Psychology, 36(12), 2864–2891. doi : 10.1111/j.0021- 9029.2006.00132.x Berry, J. W. (1997). Immigration, acculturation, and adaptation. Applied Psychology, 46(1), 5–68. doi : 10.1080/026999497378458 Berry, J. W. (2006). Design of acculturation studies. In The Cambridge Handbook of Acculturation Psychology (pp. 129–141). Cambridge: Cambridge University Press. Berry, J. W. (2007). Acculturation. In J. E. Grusec & P. D. Hastings (Eds.), Handbook of Socialization. New York: The Guilford Press. Berry, J. W., & Hou, F. (2017). Acculturation, Discrimination and Wellbeing Among Second Generation of Immigrants in Canada. IInternational Journal of Intercultural Relations, 61, 29–39.

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 83 Berry, J. W., Phinney, J. S., Sam, D. L., & Vedder, P. (2006). Immigrant Youth: Acculturation, Identity, and Adaptation. Applied Psychology : An International Review, 55(3), 303–332. Berry, J. W., Poortinga, Y. H., Breugelmans, S. M., Chasiotis, A., & Sam, D. L. (2012). Cross-cultural psychology : Research and application (3rd ed.). Cambridge: University Press. Berry, J. W., & Sam, D. L. (2010). Acculturation : When individuals and groups of different cultural backgrounds meet. Perspective on Psychological Science, 5(4), 472–481. doi : 10.1177/1745691610373075 Cahya Permata, D., & Listiyandini, R. A. (2015). Peranan Pola Asuh Orangtua dalam Memprediksi Resiliensi Mahasiswa Tahun Pertama yang Merantau di Jakarta. Prosiding PESAT, 6. Church, A. T. (1982). Sojourner adjustment. Psychological Bulletin, 91(3), 540– 572. doi : 10.1037/0033-2909.91.3.540 Creswell, J. W. (2014). Research design : Qualitative, quantitavie, and mixed methods approaches (4th ed.). London: Sage Publication. Daftar Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Angkatan 2012-2017. (2018). Sekretariat Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Darling-Fisher, C., & Leidy, N. K. (1988). Measuring Eriksonian development in the adult: The Modified Erikson Psychosocial Stage Inventory. Psychological Report, 62, 747–754.

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 84 Darmaningtyas. (2017, May 2). Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial. Geotimes.Co. Retrieved from https://geotimes.co.id/kolom/pendidikan/tamansiswa-ki-hadjar-dewantaradan-sistem-pendidikan-kolonial/ de Anda, D. (1984). Bicultural Socialization: Factors affecting the minority experience. Social Work, 29(2), 101–107. doi : 10.1093/sw/29.2.101 Deci, E. L., & Ryan, R. M. (1991). A motivational approach to self: Integration in personality. In Nebraska Symposium on Motivation, 1990: Perspectives on motivation. (pp. 237–288). Lincoln, NE, US: University of Nebraska Press. Dona, G., & Berry, J. W. (1994). Acculturation Attitudes and Acculturative Stress of Central American Refugess. International Journal of Psychology, 29(1), 57–70. Endrayanty, W. (2012). Makna sopan santun pada remaja Jawa di yogyakarta. Sanata Dharma Yogyakarta, Yogyakarta. Fadhilla, I. (2017, June 25). Pergilah Merantau, Supaya Kamu Dapat Merasakan 12 Hal Ini. IDNtimes.Com. Retrieved from https://www.idntimes.com/life/inspiration/dhilla/inilah-beberapa-manfaatmenjadi-seorang-perantau/full Feist, J., & Feist, G. J. (2008). Theories of Personality (7th ed.). New York: McGraw-Hill. Florence Sihombing Kini Jadi `Orang Paling Dicari di Jogja. (2014, August 24). Liputan6.Com. Retrieved from

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 85 http://www.liputan6.com/citizen6/read/2097784/florence-sihombing-kinijadi-orang-paling-dicari-di-jogja Gfellner, B. M., & Cordoba, A. I. (2011). Identity distress, psychosocial maturity, and adaptive functioning among university students. Identity: An Iternational Jornal of Theory and Research, 11(2), 136–154. doi : 10.1080/13676261.2015.1059925 Greenberger, E., & Sorensen, A. (1974). Toward a concept of psychosocial maturity. Journal of Youth and Adolescence, 3(4), 329–358. doi : 10.1007/BF02214746 Gutierrez, I. A., & Park, C. L. (2015). Emerging adulthood, evolving worldviews: How life events impact college students’ developing belief systems. Journal of Emerging Adulthood, 3(2), 85–97. doi : 10.1177/2167696814544501 Hamamura, T., & Laird, P. G. (2014). The effect of perfectionism and acculturative stress on levels of depression experienced by East Asian international student. Journal of Multicultural Counseling and Development, 42, 205–217. doi : 10.1002/j.2161-1912.2014.00055.x Hanna, Y. (2017, May 2). Sejarah Berdirinya Organisasi Taman Siswa di Yogyakarta. Bobo.Id. Retrieved from http://bobo.grid.id/read/08674870/sejarah-berdirinya-organisasi-tamansiswa-di-yogyakarta?page=all

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 86 Harijanto, J., & Setiawan, J. L. (2017). Hubungan Antara Dukungan Sosial Dan Kebahagiaan Pada Mahasiswa Perantau Di Surabaya. Psychopreneur, 1(1). HIMPSI. (2010). Kode etik psikologi Indonesia. Jakarta: Pengurus Pusat Himpunan Psikologi Indonesia. Ikeguchi, C. (2008). Cultural learning and adaptation : A closer look at the realities. Intercultural Communication Studies, XVII(1). Imamura, M., & Zhang, Y. B. (2014). Functions of the common ingroup identity model and acculturation strategies in intercultural communication: American host nationals’ communication with Chinese international students. International Journal of Intercultural Relations, 43, 227–238. doi : 10.1016/j.ijintrel.2014.08.018 Iwan, D. (n.d.). Sederhana, Merakyat, Demokratis, Berkharisma, dan Rela Berkorban untuk Negara adalah Semangat dan Inspirasi dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX bagi Generasi Penerus Bangsa. Historia.Id. Retrieved from https://belanegarari.com/2012/05/27/sederhana-merakyatdemokratis-berkharisma-dan-rela-berkorban-untuk-negara-adalahsemangat-dan-inspirasi-dari-sri-sultan-hamengku-buwono-ix-bagigenerasi-penerus-bangsa/ Jamhur, M. E., Borualogo, I. S., & Hamdan, S. R. (2015). Studi deskriptif mengenai strategi akulturasi integrasi pada mahasiswa perantau kelompok etnik Minangkabau dan kelompok etnik Batak di Kota Bandung. Prosiding Psikologi, 151–156.

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 87 Jones, R. M., Vaterlaus, J. M., Jackson, M. A., & Morrill, T. B. (2004). Friendship characteristics, psychosocial development, and adolescent identity formation: Young adult friendships and psychological development. Journal of Personal Relationships, 21(1), 51–67. doi : 10.1111/pere.12017 Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi. (2016, November 30). Jumlah perguruan tinggi kopertis wilayah V – Daerah Istimewa Yogyakarta. Retrieved from http://kelembagaan.ristekdikti.go.id/index.php/2016/11/30/infografiskopertis-wilayah-v/ Kosic, A. (2004). Acculturation strategies, coping process and acculturative stress. Scandinavian Journal of Psychology, 45(4), 269–278. doi : 10.1111/j.1467-9450.2004.00405.x LaFromboise, T., Coleman, H. L., & Gerton, J. (1993). Psychological impact of biculturalism: Evidence and theory. Psychological Bulletin, 114(3), 395– 412. doi : 10.1037/0033-2909.114.3.395 Larson, R. W., & Verma, S. (1999). How children and adolescents spend time across the world: Work, play, and developmental opportunities. Psychological Bulletin, 125(6), 701–736. doi : 10.1037/0033- 2909.125.6.701 Lazarus, R. S., & Folkman, S. (1984). Stress, appraisal, and coping. New York: Springer Publication.

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 88 Lesser, I. A., Gasevic, D., & Lear, S. A. (2014). The Association between Acculturation and Dietary Patterns of South Asian Immigrants. PLoS ONE, 9(2). Lian, Y., & Tsang, K. (2010). The impacts of acculturation strategies and social support on the cross-cultural adaptation of mainland Chinese students in Hong Kong. Educational Research Journal, 25(1), 81–102. doi : 10.1007/s12564-013-9285-6 Markstrom, C. A., & Marshall, S. K. (2007). The psychosocial inventory of ego strengths: Examination of theory and psychometric properties. Journal of Adolescence, 30(1), 63–79. doi : 10.1016/j.adolescence.2005.11.003 Marpaung, W. (2007). Perbedaan tingkat asertivitas antara mahasiswa Batak Toba yang ada di Yogyakarta dengan mahasiswa Batak Toba yang ada di Medan. Sanata Dharma Yogyakarta, Yogyakarta. Masyitoh, M. (2017). Adaptasi mahasiswa Papua di Yogyakarta (Master Thesis). Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Mayers, A. (2013). Introduction to statistics and SPSS in psychology. Harlow: Pearson. Neuman, W. L. (2014). Basics of social research: qualitative and quantitative approaches (3rd ed.). Harlow: Pearson Education, Inc. Newman, B. M., & Newman, P. R. (2012). Development Through Life : A Psychosocial Approach. Belmont, Australia: Wadsworth.

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 89 Nindra, R. (2017). 6 Manfaat yang Bisa Kamu Dapatkan Jika Merantau Saat Kuliah. Hipwee.Com. Retrieved from https://www.hipwee.com/list/6manfaat-yang-bisa-kamu-dapatkan-jika-merantau-saat-kuliah/ Novenanty, W. M. (n.d.). Peran Universitas dalam Pengembangan Potensi Mahasiswa. Retrieved October 23, 2018, from http://unpar.ac.id/peranuniversitas-dalam-pengembangan-potensi-mahasiswa/ Nugraha, W. A. (2015). Stereotip dan prasangka terhadap Suku Papua di Yogyakarta. University Muhammadiyah Yogyakarta, Yogyakarta. Nuzulil, P. (2017, February 25). Suka duka kuliah di perantauan. Retrieved from http://www.putrinuzulil.com/kuliah-di-perantauan/ Olczak, P. V., & Goldman, J. A. (1975). The relationship between selfactualization and psychosocial maturity. Journal of Clinical Psychology, 31(3), 415–419. doi : 10.1002/1097-4679(197507)31:3<415::AID- JCLP2270310307>3.0.CO;2-C Parks, C. A. (1999). Bicultural Competence: A Mediating Factor Affecting Alcohol Use Practices and Problems among Lesbian Social Drinkers. Journal of Drug Issues, 29(1), 135–153. doi : 10.1177/002204269902900109 Pertahankan “Indonesia Mini” di Yogyakarta. (2013, August 4). Kompas.Com. Retrieved from https://nasional.kompas.com/read/2013/04/08/03164776/Pertahankan.Indo nesia.Mini.di.Yogyakarta

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 90 Pham, T. B., & Harris, R. J. (2001). Acculturation stretegies among VietnameseAmericans. International Journal of Intercultural Relations, 25(3), 279– 300. doi : 10.1016/S0147-1767(01)00004-9 Phillimore, J. (2011a). Refugees, acculturation strategies, stress, and integration. Journal of Social Policy, 40(3), 575–593. doi : 10.1017/S0047279410000929 Ramos, M. R., Cassidy, C., Reicher, S., & Haslam, S. A. (2016). A Longitudinal Study of the Effects of Discrimination on the Acculturation Strategies of International Student. Journal of Cross-Cultural Psychology, 47(3), 401– 420. Rania, N., Siri, A., Bagnasco, A., Aleo, G., & Sasso, L. (2014). Academic climate, well-being and academic performance in a university degree course. Journal of Nursing Management, 22(6), 751–760. doi : 10.1111/j.1365-2834.2012.01471.x Raza, Q., Nicolaou, M., Snijder, M. B., Stronks, K., & Seidell, J. C. (2016). Dietary Acculturation Among the South-Asia Surinamese Population in the Netherlands: the HELIUS Study. Public Heath Nutrition, 1–10. Risaharti, & Wang, C. (2018). An overview of acculturation strategies applied by the Indonesian students living in Taiwan. Jurnal Serambi Ilmu, 31(1), 1–7. doi : 10.32672/si.v30i1.528 Russell, J., Rosenthal, D., & Thomson, G. (2010). The international student experience: three styles of adaptation. Journal of High Education, 60(2), 235–249. doi : 10.1007/s10734-009-9297-7

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 91 Ryabichenko, T. A., & Lebedeva, N. M. (2016). Assimilation or integration : Similarities and differences between acculturation attitudes of migrants from Central Asia and Russians in Central Russia. Psychology in Russia : State of the Art, 9(1), 98–111. doi : 10.11621/pir.2016.0107 Salisbury, M. H., An, B. P., & Pascarella, E. T. (2013). The Effect of Study Abroad on Intercultural Competence Among Undergraduate College Students. Journal of Student Affairs Research and Practice, 50(1), 1–20. Sam, D. L., & Berry, J. W. (2006). The Cambridge handbook of acculturation psychology. Cambridge, England: Cambridge University Press. Santrock, J. W. (2014). Adolescence (Fifteenth). New York: McGraw Hill Education. Sari, G. R., & Subandi, M. A. (2015). Akulturasi psikologis para self-initiated expatriate. Gadjah Mada Journal of Psychology, 1(1), 13–39. Selmer, J., & Lauring, J. (2015). Host country language ability and expatriate adjustment: the moderating effect of language difficulty. The International Journal of Human Resource Management, 26(3), 401–420. doi : 10.1080/09585192.2011.561238 Sheldon, K. M., & Kasser, T. (2001). Getting older, getting better? Personal strivings and psychological maturity across the life span. Developmental Psychology, 37(4), 491–501. doi : 10.1037/0012-1649.37.4.491 Siregar, S. (2013). Metode Penelitian Kuantitatif SPSS. Jakarta: Kencana.

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 92 Skreblin, L., & Sujoldzic, A. (2003). Acculturation Process and Its Effects on Dietary Habits, Nutritional Behavior and Body-Image in Adolescents. Coll. Antropol, 27(2), 459–477. Subdit Statistika Pendidikan dan Kesejahteraan Sosial. (2017). Potret Pendidikan Indonesia (2017th ed.). Jakarta: Badan Pusat Statistik. Sulkhan, A. (2018, Agustus). Dengan Lima Ribu Bisa Makan Apa di Jogja? Mojok.Co. Retrieved from https://mojok.co/aks/liputan/keluyuran/denganlima-ribu-bisa-makan-apa-di-jogja/ Sullivan, C., & Kashubeck-West, S. (2015). The interplay of international students’ acculturative stress, social support, and acculturation modes. Journal of International Student, 5(1), 1–11. Supratiknya, A. (2014). Pengukuran psikologis. Yogyakarta: Penerbit Universitas Sanata Dharma. Supratiknya, A. (2015). Metodologi penelitian kuantitatif & kualitatif dalam psikologi. Yogyakarta: Penerbit Universitas Sanata Dharma. Tarana, H. (2017, July 31). Kiat dan Manfaat Hidup Merantau. Kompasiana.Com. Retrieved from https://www.kompasiana.com/takayomi21/597efab9ed967e153617c112/ki at-dan-manfaat-hidup-merantau?page=all Tim VIVA. (2014, August 30). Kronologi Kasus Hinaan Florence Hingga Berujung Bui. Retrieved from https://www.viva.co.id/berita/nasional/533619-kronologi-kasus-hinaanflorence-hingga-berujung-bui

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 93 van Zalk, M., Kerr, M., van Zalk, N., & Stattin, H. (2013). Xenophobia and Tolerance Toward Immigrants in Adolescence: Cross-Influence Processes Within Friendship. Journal of Abnormal Children Psychology, 41, 627– 639. Williams, T. (2005). Exploring the Impact of Study Abroad on Students’ Intercultural Communication Skills: Adaptability and Sensitivity. Journal of Studies in International Education, 9(4), 356–371. doi : 10.1177/1028315305277681 Yanuar, H. (2015, March 13). Florence Sihombing Menangis Divonis 2 Bulan Penjara. Www.Liputan6.Com. Retrieved from http://news.liputan6.com/read/2201796/florence-sihombing-menangisdivonis-2-bulan-penjara Yu, W., & Wang, S. (2011). An investigation to the acculturation strategies of Chinese students in Germany. Intercultural Communication Studies, 20(2).

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 94 LAMPIRAN

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 95 Lampiran 1 : Uji Coba Skala Penggunaan Strategi Akulturasi Integrasi Aspek Indikator No. Item 1 28*. Teman dekat saya berasal dari daerah/kota yang sama dengan saya. 2 1. Saya tetap menjaga komunikasi dengan orang dari daerah asal saya. Menggunakan bahasa daerah asal di perantauan 3 31*. Saya berbicara menggunakan bahasa/aksen daerah saya saat bertemu dengan teman dari daerah/kota asal saya. Mengetahui tentang daerah asal 4 14. Saya mengikuti perkembangan tentang apa yang terjadi di daerah asal saya Merasa aman saat bersama teman dari daerah yang sama 5 15. Saya merasa nyaman saat bersama teman dari daerah asal saya. 6 10. Saya merasa tenang saat menghadapi kesulitan karena saya memiliki teman dari daerah asalsaya yang sia membantu. 7 21*. Teman yang berasal dari daerah yang sama dengan saya lebih mampu untuk memahami saya Merasa memiliki tanggungjawab untuk melakukan sesuatu yang penting bagi orang daerah yang sama 8 29. Saat ada teman yang berasal dari daerah asal saya mengalami saya kesulitan, saya harus membantunya. Menjalin relasi dengan orang dari daerah asal 1 32*. Teman dekat saya berasal dari daerah/kota yang berbeda dengan saya. 2 12. Saya melepas kontak dengan orang dari daerah asal saya. 3 5*. Saya berbicara menggunakan Menjalin relasi dengan orang dari daerah asal Sikap terhadap budaya sendiri Menggunakan bahasa

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 96 daerah asal di perantauan bahasa/aksen Jogja saat bertemu dengan teman dari daerah/kota asal saya. Mengetahui tentang daerah asal 4 26. Saya mengabaikan perkembangan tentang apa yang terjadi di daerah asal saya Merasa aman saat bersama teman dari daerah yang sama 5 22. Saya merasa terancam saat bersama teman dari daerah asal saya. 6 18. Saya khawatir tidak ada teman dari daerah asal saya yang siap membantu saya saat menghadapi kesulitan 7 2*. Teman yang berasal dari daerah yang sama dengan saya tidak akan mampu untuk memahami saya Merasa memiliki tanggungjawab untuk melakukan sesuatu yang penting bagi orang daerah yang sama 8 16. Saat ada teman yang berasal daerah asal saya mengalami kesulitan, saya mengabaikannya. Menjalin relasi dengan orang dari budaya lain 1 3. Saya mau berbaur dengan orang yang berasal dari Jogja 2 19. Saya merasa nyaman saat berada di sekitar orang yang berasal dari Jogja 3 17*. Saya merasa nyaman untuk mencurahkan isi hati saya pada teman yang berasal dari daerah lain 4 8. Saya mempelajari bahasa Jawa selama berada di Jogja 5 23. Saat berbicara dengan orang yang lebih tua, saya menggunakan bahasa krama 6 30. Saya ingin mencoba makanan khas dari Jogja Sikap terhadap budaya lain. Memahami/mempelajari budaya/bahasa daerah setempat Menikmati elemen eksplisit dari budaya baru

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 97 7 9*. Saya mendengarkan musik berbahasa Jawa Melibatkan diri dalam lingkungan 8 25. Saya terlibat dalam berbagai kepanitiaan di kampus. Menjalin relasi dengan orang dari budaya lain 1 20. Saya menjaga jarak diri dari orang yang berasal dari Jogja 2 24. Saya merasa terancam saat berada di sekitar orang yang berasal dari Jogja 3 7*. Saya merasa nyaman untuk mencurahkan isi hati saya pada teman, asalkan teman itu berasal dari daerah yang sama dengan saya 4 6. Saya kurang tertarik untuk mempelajari bahasa Jawa selama berada di Jogja 5 13*. Saat berbicara dengan orang yang lebih tua, saya menggunakan bahasa layaknya saya berbicara dengan teman 6 11*. Saya tidak tertarik untuk mencoba makanan khas dari Jogja 7 27. Saya tidak ingin mendengarkan musik berbahasa Jawa 8 4*. Saya menarik diri dari berbagai kepanitiaan di kampus. Memahami/mempelajari budaya/bahasa daerah setempat Menikmati elemen eksplisit dari budaya baru Melibatkan diri dalam lingkungan *item gugur

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 98 Lampiran 2 : Informed Consent Penelitian Salam sejahtera bagi kita semua, izinkan saya memperkenalkan diri, nama saya Age Tiara Wimana mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang sedang melakukan penelititan guna memenuhi tugas akhir sebagai syarat kelulusan. Penelitian ini membutuhkan : 1. Laki-laki atau perempuan berusia 18-25 tahun. 2. Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 3. Merupakan mahasiswa perantau (berasal dari luar Daerah Istimewa Yogyakarta). 4. Berdomisili di Yogyakarta. Saat ini saya membutuhkan bantuan anda untuk mengisi skala yang berisi sejumlah pertanyaan. Skala pertama merupakan skala mengenai pengalaman anda selama menghadapi akulturasi, dan skala kedua merupakan skala tentang sikap personal anda. Waktu yang dibutuhkan untuk mengisi kedua kuesioner ini kurang lebih 15 hingga 20 menit. Jawaban yang Anda berikan akan dirahasiakan, sehingga tidak akan ada yang mengetahui identitas serta jawaban Anda. Saya sangat menghargai apabila Anda bersedia mengisi skala ini dengan sejujur-jujurnya dan apa adanya. Apabila Anda mersasakan adanya ketidaknyamanan dalam proses ini, Anda berhak mengundurkan diri dari penelitian ini kapan pun dan tidak akan ada konsekuensi apa pun dari penarikan diri tersebut. Apabila anda menyetujui segala kondisi di atas, silahkan mengsi kolom kesediaan di bawah ini untuk dapat melanjutkan ke bagian selanjutnya. Atas perhatian dan kesediaan Anda, saya ucapkan terima kasih. * Required * Ya, saya memenuhi persyaratan di atas dan bersedia dengan sukarela menjadi partisipan dalam penelitian ini

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 99 Lampiran 3 : Reliabilitas Skala Penggunaan Strategi Akulturasi Integrasi A. Sebelum Seleksi Item Case Processing Summary N Cases Valid % 71 100.0 0 .0 71 100.0 Excludeda Total a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. Reliability Statistics Cronbach's Alpha Based on Cronbach's Standardized Alpha Items .706 N of Items .737 32 Item-Total Statistics Squared Cronbach's Scale Mean if Scale Variance Corrected Item- Multiple Alpha if Item Item Deleted if Item Deleted Total Correlation Correlation Deleted SAI1 119.3662 83.150 .436 .640 .687 SAI2 119.6479 86.403 .189 .587 .701 SAI3 118.9859 88.357 .176 .582 .702 SAI4 119.1408 87.551 .149 .750 .703 SAI5 120.1972 88.932 -.004 .603 .718 SAI6 119.5493 85.565 .215 .765 .699 SAI7 119.8169 92.209 -.153 .579 .726 SAI8 119.8592 84.523 .266 .783 .696 SAI9 121.0282 85.571 .146 .646 .706 SAI10 120.5493 78.823 .480 .781 .677 SAI11 119.2958 87.383 .128 .657 .705 SAI12 119.0563 84.854 .440 .592 .690 SAI13 119.4930 87.082 .119 .654 .706 SAI14 120.0704 81.495 .410 .754 .685 SAI15 119.9577 83.555 .376 .748 .690 SAI16 119.3380 83.484 .506 .603 .686

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 100 SAI17 120.2394 86.842 .132 .544 .705 SAI18 119.8592 82.923 .311 .467 .692 SAI19 119.9155 86.507 .179 .704 .702 SAI20 118.9718 87.542 .223 .610 .700 SAI21 121.0423 85.441 .180 .760 .702 SAI22 119.0563 86.482 .269 .669 .697 SAI23 120.6761 81.536 .289 .614 .694 SAI24 119.0000 88.457 .151 .684 .703 SAI25 119.5070 86.596 .183 .732 .701 SAI26 119.4085 84.045 .360 .670 .691 SAI27 119.8028 81.161 .401 .713 .685 SAI28 120.9718 86.371 .095 .690 .711 SAI29 119.8169 82.837 .414 .508 .687 SAI30 119.4789 86.367 .212 .683 .700 SAI31 119.6479 86.374 .138 .598 .705 SAI32 121.6479 86.631 .116 .711 .707

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 101 B. Setelah Seleksi Item Case Processing Summary N Cases Valid Excludeda Total % 71 100.0 0 .0 71 100.0 a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items .771 20 Item-Total Statistics Cronbach's Scale Mean if Scale Variance Corrected Item- Alpha if Item Item Deleted if Item Deleted Total Correlation Deleted SAI1 77.2535 51.821 .480 .753 SAI3 76.8732 55.312 .343 .764 SAI6 77.4366 52.621 .330 .762 SAI8 77.7465 52.363 .337 .762 SAI10 78.4366 50.707 .356 .761 SAI12 76.9437 53.511 .462 .757 SAI14 77.9577 50.527 .439 .754 SAI15 77.8451 53.904 .269 .766 SAI16 77.2254 52.634 .503 .754 SAI18 77.7465 51.935 .317 .764 SAI19 77.8028 54.418 .219 .770 SAI20 76.8592 54.723 .359 .762 SAI22 76.9437 54.997 .267 .766 SAI23 78.5634 52.307 .208 .778 SAI24 76.8873 55.501 .291 .766 SAI25 77.3944 53.814 .281 .765 SAI26 77.2958 52.183 .431 .756 SAI27 77.6901 50.588 .405 .757 SAI29 77.7042 52.583 .369 .760 SAI30 77.3662 53.921 .292 .765

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 102 Lampiran 4 : Uji Nomalitas Tests of Normality Kolmogorov-Smirnova Statistic df Shapiro-Wilk Sig. Statistic df Sig. MEPSI .055 242 .077 .979 242 .001 SAI .083 242 .000 .974 242 .000 a. Lilliefors Significance Correction Lampiran 5 : Uji Hipotesis Correlations SAI Spearman's rho SAI 1.000 .267** . .000 242 242 .267** 1.000 Sig. (2-tailed) .000 . N 242 242 Correlation Coefficient Sig. (2-tailed) N MEPSI MEPSI Correlation Coefficient **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

(120)

Dokumen baru

Download (119 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

Hubungan antara orientasi tujuan dan prestasi akademik pada mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
0
4
130
Hubungan antara orientasi tujuan dan prestasi akademik pada mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
0
0
128
Hubungan antara persepsi mahasiswa psikologi Universitas Sanata Dharma terhadap profesi psikolog dengan motif berprestasi - USD Repository
0
0
184
Studi deskriptif konsep diri fisik : studi pada mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma - USD Repository
0
0
105
Sikap mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta terhadap keperawanan wanita - USD Repository
0
0
102
Perilaku mahasiswa dalam mengkonsumsi buku : studi pada mahasiswa Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta - USD Repository
0
0
122
Hubungan antara kepercayaan diri dengan kecemasan dalam menghadapi dunia kerja pada mahasiswa semester akhir di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta - USD Repository
0
0
132
Kecenderungan perilaku prokrastinasi akademik pada mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta - USD Repository
0
0
136
Analisis minat mahasiswa dalam menggunakan Bus Trans Yogyakarta : studi kasus pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta - USD Repository
0
0
95
Studi deskriptif tingkat kepribadian tahan banting (hardiness personality) pada mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta - USD Repository
0
1
121
Hubungan antara kinerja dosen, ketersediaan fasilitas belajar serta motivasi belajar dengan prestasi belajar mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta - USD Repository
0
0
168
Hubungan antara persepsi popularitas dengan terbentuknya konsep diri pada mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta - USD Repository
0
0
90
Hubungan antara harga diri dengan kesepian pada mahasiswa baru angkatan 2013/2014 Universitas Sanata Dharma - USD Repository
0
0
114
Hubungan antara karakteristik sosio-demografi terhadap tingkat pengetahuan, sikap, dan tindakan penggunaan antibiotika tanpa resep di kalangan mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta - USD Repository
0
0
161
Hubungan antara dukungan emosional orangtua dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta - USD Repository
0
0
113
Show more