PENGHAYATAN KEJAWEN: PERJALANAN MENEMUKAN OTENTISITAS DIRI Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi

Gratis

0
0
140
7 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PENGHAYATAN KEJAWEN: PERJALANAN MENEMUKAN OTENTISITAS DIRI Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Disusun Oleh: Santo Patrik Dyan Martikatama NIM : 099114135 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PENGHAYATAN KEJAWEN: PERJALANAN MENEMUKAN OTENTISITAS DIRI Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Disusun Oleh: Santo Patrik Dyan Martikatama NIM : 099114135 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI SKRIPSI PENGHAYATAN KEJAWEN: PERJALANAN MENEMUKAN OTEI\TTISITASDIRI Oleh: Santo Patrik Dyan Martikatama NIM:099114135 Telahdisetujuioleh: Skripsi, Yogyakartaif 0 JUN 2014 V. Didik Suryo.H., M.Si. u

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI SKRIPSI PENGHAYATANKEJAWEN: PERJALANANMENEMUKAN OTENTISITAS DIRI Diperciapkandar ditulis oleh: Santo Patrik Dya[ Martikatama NIM: 099U4135 Telahdipertanggungjawabkan di depanParitia Penguji padatanggal:8 Apdl 2014 dandinyatakantelah memenuhisyarat Susunan PaoitiaPenguji: NamaLengkap TandaTangan /h/ Penguji1 V. Didik SuryoH., M.Si. Peoguji2 C. WijoyoAdinugroho,M.Psi Penguji3 Drs.H. Wahludi,M.Si er" ..-.."--."=...-:"1.:=.. fl I jUN 2014 Yosyakart4 FakultasPsikologi itas SanataDhama r.;o Y14 Dr. Ta$isiusPriyoWidiyanto,M,Si. iii

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Aku..Kamu..Kita..Dia..Kami..Mereka..Hanya wadah semata.. Sentuhlah ruang gelap di situ.. Karena di situ tak melihat, tak mendengar, tak bicara, tak apapun.. kecuali sinar menyala.. tanpa itu semua tiada.. Maka pancarkan terangnya, Dyan.. Persembahanku.. untuk energi kehidupan.. yang tak terbilang.. yang meng-Ada.. yang melindungi, menjaga, mengasuh.. rupa-rupa yang tersenyum.. Bapak-Ibu yang segalanya bagiku.. Mbak-Mas dan dua buah hati yang menyokongku.. Putri tunggal yang mencintaiku.. Pak yang selalu membimbingku.. lan pengada-pengada tak tersebutkan yang berarti bagiku.. iv

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERNYATAAI{ KEASLIAN KARYA Saya,mahasiswaUniversitasSanataDharrnadenganidentitasdi bawahini: Nama : SantoPatrik Dyan Martikatama NIM :099114135 FakultavJurusan?rodi : Psikologr meny?takan bahwa skripsi ini rnerupakan karya sendiri dan belum pemah diajukan guna mencapaigelar kesarjanaandi perguruantinggi manapun.Karla hrlis ini tidak memuatkarya ataubagian dari karya orang lain, kecuali yang telah disebutkandalamkutipan dan daftar pustakasebagaimana layaknyakarya ilmiah. Apabila terjadi pelanggaranterhadap keaslian karya ini, mohon diputuskan sebagaimana ssrnestinya. Yogyakarta,l0 Juni 2014 Yarg menyatakan, SantoPatrik Dyan Martikatana

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PENGHAYATAN KEJAWEN: PERJALANAN MENEMUKAN OTENTISITAS DIRI Studi Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Santo Patrik Dyan Martikatama ABSTRAK Kejawen adalah dunia spiritual orang Jawa. Orang Jawa meninggalkan agama guna mencari bentuk penghayatan spiritual yang dirasa lebih luwes. Penelitian ini menggambarkan penemuan otentisitas dalam pengalaman hidup orang Jawa dengan menghayati kejawen. Otentisitas diwujudkan dengan dimensi coherence-cohesion, coherence-continuity, coherencedemarcation; vitality; depth; dan maturity. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi interpretatif. Subyek dari penelitian ini adalah satu orang dengan kriteria meninggalkan agama. Pengumpulan data melalui wawancara semi terstruktur. Kredibilitas penelitian yang digunakan adalah validasi komunikatif. Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa orang Jawa dengan menghayati kejawen mengalami otentisitas berupa ―menemukan keluwesan diri‖ (maturity). Pengalaman otentisitas ini diawali dengan ―keterkaitan episode masa lalu dalam proses being‖ (coherence-continuity), ―menemukan Tuhan secara spiritual‖ (coherence-demarcation), ―menjadi diri yang otonom‖ (coherence-cohesion), ―mengatur hidup secara mandiri‖ (depth), dan ―merasa berdaya dengan kejawen‖ (vitality). Kata kunci : kejawen, dimensi coherence, vitality, depth, dan maturity, serta fenomenologi interpretatif vi

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LIVE IN KEJAWEN: A JOURNEY FINDING SELF AUTHENTICITY A Psychological Study in Sanata Dharma University Santo Patrik Dyan Martikatama ABSTRACT Kejawen is Javanese’ spiritual world. A Javanese leaves his religion in order to find the essence of spiritualism, which is more flexible. This research figures out the finding of the authenticity that is reflected on a Javanese’ life experience, who lives in Kejawen spiritualism. The authenticity is reflected on some dimensions, namely coherence-cohesion, coherence-continuity, coherence-demarcation; vitality; depth; and maturity. This research used interpretative phenomenology approach. The subject of this research was one person who left his religion. The data collection of this research was done by semi-structured interview. The research credibility used communicative validity. This research found that a Javanese who lived in Kejawen got the authenticity, namely ―finding self-flexibility‖ (maturity), the experience of the authenticity was begun by ―the continuity of a past life episode related to the process of being‖ (coherencecontinuity), ―finding God spiritually‖ (coherence-demarcation), ―being a self-autonomous‖ (coherence-cohesion), ―setting life up independently‖ (depth), and ―feeling empowered by living in Kejawen‖ (vitality). Keywords : kejawen, coherence, vitality, depth, and maturity dimensions, interpretative phenomenology vii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAII UNTI]K KEPENTINGAN AKADEMIS Ya g bertalda talgan di bawahini, sayamahasiswaUriversitas Saiata Dharma: NAMA : SANTO PATRIK DYAN MARTIKATAMA NIM : 099114135 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kqrada Perpustakaan Univenitas SanataDhannakarya ilmiah sayayang berjudul: PenghayatanKejawen: Perjalanan Menemukan Otentisitas Diri mestinyaurtuk kepentinganakademis. supayadipergunakansebagaimana Dengandemikian, pihak PeryustakaanUnive$itas SanataDhama berhak untuk menfmpan, mengalihkal dalan bentuk media lain, mengelolanyadi intemet ataumedia lain demi kepentitrganakademistanpaperlu memintaijin dan sayamaupunmembedkanroyalti kepadasayaselamatetap mencantumkannama sayasebagaipenulis. Dernikiafl pelaryataan ini yang sayabuat dengansebenamya.Terimakasih. Dibuat di Yogyakarta, Padatanggal:l0 Juni2014 Ya0g menyatakan, SantoPatdk Dyan Martikatama v111

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KATA PENGANTAR Sebuah karya apapun dapat terealisasikan apabila dilandasi minat dan kemauan. Karya tertulis yang disebut ―skripsi‖ ini, alhasil karena penulis menumbuhkan minat dan kemauan. Penulis terinspirasi oleh Maxim Gorki (18361936) yang mengatakan: “Jika pekerjaan merupakan kenikmatan, maka kehidupan adalah kesenangan. Jika pekerjaan merupakan kewajiban, kehidupan adalah perbudakan.” Terdorong rasa ingin tahu untuk melihat pengalaman otentisitas pada penghayat kejawen, karya tulis ini direalisasikan. Penulis berharap pengetahuan ini bisa memberi pengetahuan bagi masyarakat dan penulis pribadi. Lewat kesempatan ini, penulis ingin memberikan ungkapan syukur dan terima kasih kepada pihak yang secara langsung maupun tidak langsung telah membantu proses penelitian. Terima kasih penulis haturkan kepada: 1. Ada yang hadir untuk memberi ruang dan waktu bagi kehidupan. 2. Bapak V. Didik Suryo H., M.Si. selaku dosen pembimbing skripsi. Matur nuwun atas bantuan, diskusi, saran, dan proses pembelajaran yang diberikan dari awal hingga skripsi ini terselesaikan. 3. Direksi Universitas Sanata Dharma serta segenap staf dan pengelola Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. Terima kasih atas pelayanannya mengantarkan mahasiswa dalam proses being. ix

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4. Bapak G. Sugeng Maryadi dan Ibu Sri Suharyanti yang keberadaannya sangat berarti bagi penulis. Doa, harapan, semangat, perjuangan, dan pengorbanannya terasa dalam perjalanan penulis. 5. Mbak Fabiola Hendrati, Mas Hipolitus Kristoforus K, Cory dan Tito yang menjadi inspirasi bagi penulis. Terima kasih atas berbagai macam bantuannya. 6. Christina Mariana Ayogyani, Pak Karyono, dan Bu Maria yang kehadirannya memberi warna dan orientasi bagi perjalanan penulis. ―it’s not about choice but it needs my commitment“. Thanks. 7. Budhe Rus dan Pakdhe Pardal yang menguatkan lewat doa. Matur nuwun. 8. Mas Azat Sudrajat dan Mbak Fany yang memberikan sentuhan seni kepada penulis selama tinggal di rumah sebelah. Merci. 9. Bapak Djoko Suko yang membantu penulis belajar mengenali identitas. Matur nuwun telah memberikan pikiran, tenaga, dan waktu untuk menjadi sahabat diskusi penulis. 10. Bapak Widihasto Wasana Putra atas kesempatannya berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam waktu yang singkat. 11. Bapak Krisno Wibowo dan Eko Hadiyanto atas dorongan, pemikiran, ajakan, dan kesempatan guna memperluas wawasan bersama penulis. 12. Japemethe yang tersebar: Ucil, Wahyu, Timo, Bayu, Plenthong, Betet, Samira, Koen, Yatim, Dion, Kibo, Andang, Elisa, Yutti, Popo, x

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Yustia, Bram, Widek, Arga, Yudha, Pika, Vico, Anton, Ateng, Gerald, Dias, Ella, Indro, Tino, Panjul, Gusbay, Albert Mahendra, Al, Albert Adityas, Partok, Putra, Sandi, Bryan, Gatyo, Adi, Agnes, Indah, Dinar, Wieana, Bayu Adi, Stepik, Tyas, Deta, Ine, Pakdhe, Gandring, Simin, Arin, Chisty, Rani, Eka, Yoha, Fandra, Tejo, Uki, Nana, Sakti, Lintang, Bismo, Dimin. 13. Pengada-pengada lain yang memiliki peran namun tidak sempat tercantumkan. Terima kasih semuanya. Akhirnya, penulis menyadari karya tulis ini tidaklah sempurna, seperti pepatah Jawa: “Jalma tan kena kinira, Gusti tan kena kinaya apa”, yang kira-kira mengingatkan penulis bahwa manusia tak dapat dikira, Tuhan tak dapat digambarkan. Oleh karenanya, karya tulis ini mengharapkan segala kritik dan saran yang membangun, sehingga kesahihan karya tulis ini semakin didekati secara pasti. Matur nuwun. Yogyakarta, 10 Juni 2014 Santo Patrik Dyan Martikatama xi

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL...................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING.............................. ii HALAMAN PENGESAHAN………............................................................ iii HALAMAN MOTTO. DAN PERSEMBAHAN……..........…………......... iv PERNYATAAN KEASLIAN KARYA…………………………………..... v ABSTRAK..................................................................................................... vi ABSTRACT..................................................................................................... vii LEMBAR PERSETUJUAN KARYA ILMIAH……………........................ viii KATA PENGANTAR.................................................................................... ix DAFTAR ISI.................................................................................................. xii DAFTAR TABEL………………………………………………………….. xv DAFTAR GAMBAR..................................................................................... xvi DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................. xvii BAB I. PENGANTAR................................................................................... 1 A. Latar Belakang Masalah................................................................ 1 B. Rumusan Masalah.......................................................................... 7 C. Tujuan Penelitian........................................................................... 7 D. Manfaat Penelitian......................................................................... 7 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA................................................................... 9 A. Otentisitas..................................................................................... 9 1. Pengantar pada Pemikiran Heidegger…………………………... 9 xii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. Pemikiran Heidegger untuk Memahami Otentisitas…………… 10 3. Dimensi Otentisitas………………………………….................. 13 B. Kejawen….................................................................................... 21 1. Karakteristik Orang Jawa………………………………………. 21 2. Kejawen sebagai Penghayatan………………………................. 23 3. Kejawen Bawono Toto…………………………………………. 26 4. Kejawen Modern…………………………………….................. 27 C. Kejawen sebagai Proses Menjadi Otentik.................................... 29 D. Pertanyaan Penelitian………………........................................... 36 BAB III. METODE PENELITIAN….......................................................... 38 A. Jenis Penelitian…………………...................………………… 38 B. Fokus Penelitian........................................................................ 39 C. Subyek Penelitian..................................................................... 39 D. Metode Pengumpulan Data…………....................................... 40 E. Proses Pengambilan Data……........................................……. 41 F. Metode Analisis Data………………………………………….. 44 F. Kredibilitas Penelitian................................................................ 46 BAB IV. DESKRIPSI ANALITIS TERKAIT TEMATIS, ESENSI PENGALAMAN DAN PEMBAHASAN...................................... 48 A. Deskripsi Analitis terkait Tematis.............................................. 48 B. Esensi Pengalaman..................................................................... 80 C. Pembahasan…........................................................................... 83 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN..................................................... xiii 92

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI A. Kesimpulan................................................................................. 92 B. Saran........................................................................................ 93 DAFTAR PUSTAKA….............................................................................. 96 xiv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 3.1. Panduan Wawancara…………………………………………….. 41 Tabel 3.2. Pelaksanaan Wawancara………………………………………… 44 Tabel 4.1. Hasil Deskripsi Analitis-Tematis…………………………………78 xv

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1. Dimensi Otentisitas.................................................................... 20 Gambar 4.1. Struktur Pengalaman.................................................................. 82 xvi

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Informed Consent ...................................................................... 97 Lampiran 2. Verbatim Wawancara ……….................................................... 98 Lampiran 3. Tema-Tema Subyek…………………………………………… 114 xvii

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Masalah Dalam masyarakat Jawa, banyak dijumpai orang Jawa yang menekuni ritual seperti menjalani puasa ngapit weton (hari lahir pasaran Jawa). Salah satu abdi dalem Kraton Yogyakarta, berpangkat Raden Panewu, menceritakan pengalamannya puasa ngapit Jumat Kliwon yang dimulai pada hari Kamis Wage lalu Jumat Kliwon dan Sabtu Legi. Beliau percaya bahwa dengan berpuasa, Tuhan akan memberinya kelancaran rejeki. Beliau juga mendoakan kakang kawah adi ari-ari, yaitu saudara kembarnya yang dipercayai hidup meskipun tidak berwujud seperti manusia. Kemudian berdasarkan wawancara terhadap seorang penghayat ritual budaya Jawa di kota Yogya yang secara jujur menjalani meditasi dan memberikan sesaji di situs Watu Gilang, Bantul. Ritual meditasi dan memberikan sesaji di situs Watu Gilang—yang dipercayai oleh masyarakat sekitar sebagai petilasan Panembahan Senopati—dilakukannya setiap hari Selasa dan Jumat kliwon. Pria paruh baya itu lebih sreg menjalani ritual budaya Jawa daripada kebaktian di Gereja. Stange (2009) mengangkat penelitian mengenai adanya kelompok orang beragama Islam namun dalam kesehariannya menekuni ritual Jawa. Orang-orang tersebut tergabung dalam paguyuban yang bernama Sumarah. Sumarah adalah aliran kebatinan jawa yang salah satu bentuk ritualnya 1

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 berupa sujud. Warga Sumarah tetap setia memeluk agama Islam, namun ritual sujud dipisahkannya dari praktek agama. Gejala yang memperlihatkan beberapa orang Jawa melakukan puasa ngapit weton, meditasi dan memberikan sesaji, serta sujud ini memunculkan pertanyaan; apa artinya gejala yang dialami orang Jawa tersebut? Penelitian sebelumnya pernah dilakukan Barnes (2005) yang menemukan adanya kebangkitan ritual asli masyarakat di Indonesia Timur, khususnya di Kedang, Nusa Tenggara Timur. Kebangkitan ritual di Kedang merupakan dampak dari perubahan politik di Indonesia terutama setelah lengsernya Orde Baru. Masyarakat Kedang melaksanakan ritual asli selama tiga hari untuk merayakan ulang tahun desa. Mereka menemukan identitasnya dalam perayaan ulang tahun desa. Penelitian serupa dilakukan oleh Diaz & Sawatzky (1995) terhadap orang-orang keturunan Indian yang menjalani upacara dan ritual budaya asli Indian. Penelitian tersebut menggambarkan bahwa orang-orang keturunan Indian menemukan kembali ―rumahnya‖ setelah hijrah dari kehidupan modern. Melalui ritual dan upacara, mereka berkesempatan untuk berhubungan kembali dengan aspek fisik, mental, emosional, psikologis dan spiritual dari dirinya sehingga hidupnya menjadi bermakna. Dalam kasus masyarakat asli Amerika utara (Indian) itu diceritakan bahwa kembali ke ritual asli telah mendorong dan memfasilitasi rekoneksi masyarakat terhadap adat, budaya, dan alam semesta. Ritual asli membantu mereka menangani masa transisi dari kehidupan modern kembali ke

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 ―rumah-nya‖ guna menemukan identitasnya. Ritual berfungsi sebagai penyangga, melindungi mereka dari mengalami disintegrasi realitas karena mereka mengetahui dan memahami akan dirinya. Dalam penelitian tersebut, orang-orang keturunan Indian merasa ada sesuatu yang hilang dalam budaya modern. Melalui ritual, mereka diajak untuk memahami siapa diri mereka sehingga mereka menemukan identitasnya dalam budaya asli. Bagi mereka, ―rumah‖ berarti merupakan kehidupan yang bermakna dan tempat untuk dimiliki. "Rumah" merupakan jawaban atas pertanyaan, "Siapakah aku?" dan menjadi bangga karena menemukan ―aku‖. Gerakan masyarakat Kedang dan Indian yang menjalani ritual asli merupakan gerakan kembali kepada keaslian, Diaz & Sawatzky (1995) menuliskannya sebagai kembali ke ―rumah‖. Gerakan kembali kepada keaslian ini memiliki kesamaan dengan gerakan otentisitas yang digaungkan oleh Heidegger (1927/1962). Otentisitas sendiri didefinisikan dengan beragam, misalnya menjadi jujur pada diri sendiri. Jujur pada diri sendiri memiliki pengertian bahwa diri melakukan sesuatu sesuai kenyataaan yang sebenarnya atau dengan kesungguhan hati (Bovens dalam Martens, 2005). Heidegger (1927/1962) menjelaskan otentisitas sebagai proses manusia membentuk kemungkinankemungkinan hidup yang pada waktunya akan terhenti oleh kematian. Dengan menyadari adanya kematian itu manusia berusaha menjalani hidup dengan otentik.

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Gerakan otentisitas bermula dari keterlemparan. 4 Heidegger (1927/1962) memunculkan istilah ―keterlemparan‖ sebagai tanda untuk memahami otentisitas. Keterlemparan itu berupa manusia tidak memilih namun dilahirkan untuk hidup di dunia. Martens (2005) mengatakan bahwa pada dasarnya manusia lahir dalam struktur sosial yang telah dibentuk, dengan adanya aturan-aturan yang wajib dipatuhi. Keberadaan manusia yang terlempar di dunia ini, disadari atau tidak membuat manusia menyibukkan diri dengan aktivitas dunianya. Di dalam kesibukannya tersebut, manusia dihadapkan pada pilihan untuk tenggelam pada masyarakat, bukan menjadi dirinya sendiri; atau menjadi diri yang otentik, sesuai dengan potensi-potensi yang ada pada diri sendiri. Oleh karenanya, setiap manusia bila ditanya pasti akan memilih hidup yang otentik. Peneliti melihat gejala masyarakat Jawa yang menjalani ritual asli seperti puasa ngapit weton, sujud, meditasi dan memberikan sesaji sebagai gejala orang Jawa yang menemukan otentisitas diri. Bermula dari keterlemparan orang Jawa dalam aturan-aturan yang mengikat di agama sehingga menghambat keluarnya potensi-potensi diri. Kemudian orang Jawa menemukan potensi-potensi dirinya dalam penghayatan ritual asli. Orang Jawa yang menekuni ritual asli merasa menemukan kesesuaian pemahaman mengenai dirinya. Dengan memahami dirinya, orang menjadi terbantu mengenali dirinya yang otentik (Martens, 2005).

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 Peneliti menemukan contoh berupa gerakan orang Jawa yang menggelar ritual asli dan memperkenalkan dirinya sebagai penghayat kejawen Bawono Toto, artinya orang Jawa dengan penghayatan kejawen beraliran Bawono Toto. Kejawen sendiri adalah salah satu kepercayaan yang berasal dari tanah Jawa. Kepercayaan merupakan wadah bagi keyakinan atau ajaran asli yang tidak dilembagakan seperti halnya agama. Penghayat kejawen Bawono Toto menceritakan pengalamannya yang meninggalkan agama kemudian menjalani ritual puasa, meditasi dan napak tilas. Penghayat kejawen Bawono Toto menjalani ritual puasa, meditasi dan napak tilas di situs yang sifatnya sakral serta memiliki energi besar dan positif, misalnya Jambe Pitu (Gunung Selok, Cilacap) dan Mbang Lampir (Gunung Kidul). Pengalaman otentisitas yang ditunjukkan oleh seorang penghayat kejawen Bawono Toto yang meninggalkan agama dengan menghayati ritual asli apabila dilihat dari psychological well-being mengarah pada dimensi tujuan hidup dan otonomi. Penghayat yang mengalami keterlemparan di dalam agama merasa kecewa. Kemudian penghayat menyadari tujuan hidupnya untuk memperoleh kebahagiaan sehingga mengantarkan dirinya untuk menghayati ritual asli yang dirasa sesuai dengan pemahaman dirinya. Penghayat juga memiliki otonomi diri karena tidak tenggelam dalam tuntutan masyarakat untuk menekuni agama. Stange (2009) menjelaskan bahwa kejawen adalah semata bersifat mistik, yakni suatu komitmen terhadap dimensi batin, vertikal, atau spiritual

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 dari kehidupan beragama. Namun, peneliti merasa yakin bahwa kejawen bergerak di domain spiritualitas bukan keagamaan. Zinnbauer et al., dalam Martens (2003) menunjukkan bahwa spiritualitas seringkali dipahami tumpang tindih dengan keagamaan. Akan tetapi, terdapat perbedaan yang signifikan antara keduanya. Spiritualitas mencerminkan ide-ide dan nilai-nilai yang mengacu pada dunia batin (belum tentu urusan agama), sedangkan keagamaan secara universal adalah ekspresi dari ide atau praktek, yang berhubungan dengan sistem moral yang terorganisir (Kernberg dalam Martens, 2003). Melihat keberadaan manusia pada sosok penghayat kejawen Bawono Toto, membangkitkan keingintahuan peneliti untuk menyelidiki dunia penghayat tersebut. Peneliti mensinyalir bahwa gerakan penghayat mengarah pada proses menjadi diri yang otentik. Berdasarkan hal di atas, peneliti merasa perlu untuk meneliti bagaimana pengalaman penemuan otentisitas pada penghayat kejawen Bawono Toto. Subyek yang dipilih peneliti adalah orang Jawa dikarenakan faktor sejarah dan budaya yang membentuknya berhubungan dengan kebatinan. Seperti pendapat Stange (2009), bahwa hakikat kejawen adalah kebatinan. Penelitian ini akan memeriksa bagaimana pengalaman ritual penghayat dan mencoba mengkontraskan dengan ritual agama. Hal ini dilakukan peneliti untuk melihat apa yang menjadi alasan penghayat menjalani ritual kejawen.

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI B. 7 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah bagaimana penemuan otentisitas pada pengalaman hidup penghayat kejawen? C. Tujuan Penelitian Melalui pemaparan ini, peneliti ingin menggambarkan proses penemuan otentisitas dalam pengalaman penghayat kejawen. D. Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini adalah : 1. Manfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan memberi sumbangan di bidang psikologi, khususnya psikologi timur, psikologi indigenous, dan kesehatan mental. Penelitian mengenai dunia kejawen memberi manfaat bagi eksistensi psikologi timur, yang mana keberadaannya sebagai pendekatan alternatif dari disiplin ilmu psikologi Amerika dan Eropa. Pengetahuan mengenai budaya spiritual Jawa dalam wadah kejawen, diperlukan untuk menambah pustaka psikologi indigenous. Bagi kesehatan mental, penelitian ini untuk menggambarkan pertumbuhan diri yang otentik.

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. 8 Manfaat Praktis a) Terkait dengan manfaat teoritis, dalam praktisnya memberikan pengetahuan dan bahan masukan mengenai pengolahan dimensi spiritual orang Jawa melalui kejawen, sehingga mendorong perubahan cara pandang masyarakat yang eksklusif menjadi inklusif terhadap keberadaan kepercayaan. Harapannya, agar tercipta budaya toleransi terhadap kepercayaan di luar agama-agama yang diakui pemerintah. b) Penelitian ini juga diharapkan bermanfaat bagi peneliti lain yang ingin meneliti tentang peran penghayatan kejawen sehingga menjadi bahan masukan penelitian selanjutnya.

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Otentisitas 1. Pengantar pada Pemikiran Heidegger Abidin (2007) memaparkan bahwa eksistensialisme merupakan gerakan filsafat yang memberi inspirasi kepada Martin Heidegger (1889-1976). Pemikiran eksistensialisme merupakan pendekatan filosofis terhadap realitas, khususnya realitas manusia. Pemikiran ini pertama kali diusung oleh Kierkegaard (1813-1855) dan Nitzsche (1844-1900). Menurut Lemay & Pitts (2001), kedua pemikir merupakan filsuf yang meragukan ide-ide tentang kebenaran. Nitzsche meragukan kebenaran akan Allah sehingga melihat eksistensi manusia sebagai manusia super. Sebelumnya Kierkegaard mencetuskan bahwa kebenaran subyektifitas adalah penting karena terbatas oleh waktu. Setelah itu Lemay & Pitts (2001) mengutarakan kemunculan seorang tokoh yang merasa memiliki tugas untuk menghancurkan pengandaian-pengandaian bombas akan kebenaran. Tokoh yang dimaksud bernama Husserl (1859-1938). Husserl percaya bahwa pengetahuan ilmiah sangat berguna, tetapi tanpa mengingkari kegunaannya, ilmu tidak menghasilkan jenis pengetahuan yang terpenting. Lebih lanjut, Husserl hadir dengan memperkembangkan metode 9

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 filosofis yang disebut fenomenologi. Fenomenologi Husserl menggulati ―pengalaman― atau ―kesadaran― akan sesuatu. Dengan memfokuskan perhatiannya pada tindakan ―mengalami sesuatu― ini daripada pribadi yang sedang mengalami atau obyek yang dialami, Husserl menghasilkan sejenis pengetahuan baru. Dalam perkembangannya, metode fenomenologi memberi inspirasi kepada banyak pemikir. Salah seorang filsuf yang terinspirasi adalah Heidegger, yang tidak lain merupakan mahasiswa terbaik Husserl. Heidegger mengadakan penyelidikan akan kebenaran manusia menggunakan fenomenologi Husserl. Dari situ, Heidegger mengklaim bahwa pandangannya menandai akhir filsafat. 2. Pemikiran Heidegger untuk Memahami Otentisitas Dalam Lemay & Pitts (2001), Heidegger meyakini bahwa sejak para filsuf mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang dunia, terdapat masalah yang fundamental bahwa mereka telah mengabaikan kenyataan yang paling penting, yaitu dunia ada (eksis). Misteri dasar kehidupan adalah bahwa dunia ada, bukannya ketiadaan. Dunia ada digambarkan sebagai keberadaan dunia sendiri, yang ditulisnya sebagai ―Ada― (Sein, Being). Ada (selalu dengan huruf besar) merupakan syarat awal atau dasar yang memungkinkan segala sesuatu yang lain menjadi ada. Heidegger menyebut yang lain seperti manusia, planet, hewan,

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 tumbuhan sebagai ada (huruf kecil) atau pengada. Pengada-pengada adalah entitas-entitas yang ada di dunia. Setiap entitas menjadi sebuah pengada melalui Ada. Tanpa Ada, tanpa eksistensi dasar, pengadapengada tidak mungkin untuk berada. Manusia yang disebut sebagai pengada, dilabeli nama Dasein untuk menandai arti eksistensinya. Dasein, secara literal adalah ―berada-di-sana―. Dasein merupakan eksistensi manusia di dunia empiris ini. Untuk menekankan pentingnya dunia, Heidegger menyebut kegiatan-kegiatan Dasein sebagai berada-dalam-dunia. Penggunaan garis hubung menekankan bahwa tidak ada jarak antara manusia dengan dunia. Cara paling mudah untuk memahami berada-dalam-dunia adalah dengan memikirkan kata ―dalam‖ sebagai kata yang memiliki makna yang sangat eksistensial, yaitu keterlibatan (concerned with), keterikatan (preoccupation), komitmen, dan keakraban (Abidin, 2007). Kata ―dunia‖ tidak dimaksudkan sebagai suatu lingkungan fisik material, melainkan sebagai dunia kehidupan, Husserl menyebutnya Lebenswelt. May (1967) menjelaskan dunia sebagai struktur hubungan yang bermakna di mana seseorang ada, dan seseorang itu berpartisipasi untuk mendisainnya. Dipaparkan oleh Macquarrie & Robinson (1962) bahwa Dasein (adanya manusia di dunia ini) tahu-tahu sudah disadari ada begitu saja. Manusia tidak memilihnya namun sudah ditetapkan atau ditentukan

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 untuk lahir dan ada. Inilah keadaan nyata manusia di dunia yang disebut keterlemparan. Keterlemparan dijelaskan melalui hubungan antara self dengan they. They (―mereka―) digunakan untuk mewadahi kewajibankewajiban, peraturan-peraturan, dan hal-hal yang menjadi patokan, keadaan mendesak dan luas dari perhatian dan keinginan menjadidalam-dunia. Dalam hubungan tersebut, kepatuhan manusia kepada ―mereka― merupakan sebuah keterlemparan. Mudji Sutrisno & Hardiman (1992) mengungkapkan bahwa manusia yang terlempar di dunia ini diliputi kecemasan akan macammacam hal. Karena cemas terhadap macam-macam hal, manusia sibuk, aktif dan larut dalam dunia ini sampai lupa mengurus ―ada―-nya sendiri. Dalam menyibukkan diri tersebut, manusia diajak untuk kembali ke ―ada― dirinya yang otentik oleh dorongan Angst. Angst merupakan ketakutan eksistensial, sebuah rasa takut bercampur cemas, gelisah, dan muncul pertanyaan yang berkembang dari kesadaran bahwa kelak manusia akan mati. Macquarrie & Robinson (1962) mengatakan bahwa manusia dapat mengalami proses kembali ke dirinya yang otentik, jika Dasein secara khusus membawa dirinya keluar dari keadaan keterlemparan di dalam ―mereka―. Proses ini dilakukan dengan mengabaikan Dasein yang mengalami keterlemparan di dalam keadaan tidak otentik. Ketika Dasein membawa dirinya kembali dari ―mereka―, hubungan they-self (―mereka―-―diri―) dimodifikasi secara eksistensial sehingga diri

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 mengalami proses menjadi diri yang otentik. Keotentikan ini disempurnakan dengan Nachholen einer Wahl- dalam bahasa yang lebih sederhana adalah diri menentukan potensinya dalam proses menjadi dan mengambil keputusan secara mandiri. Di dalam Nachholen einer Wahl, Dasein membuat kemungkinan-kemungkinan, utama dan terpenting yaitu proses menjadi diri yang otentik. 3. Dimensi Otentisitas Untuk memahami kerangka berpikir mengenai otentisitas diperlukan dimensinya secara psikologis. Dalam Ferrara (1998), psikoanalisis menyediakan empat dimensi otentisitas atau pemenuhan identitas individu yaitu coherence, vitality, depth, dan maturity (lebih ringkasnya lihat gambar 1). a. Coherence Coherence dapat dipahami secara umum sebagai kemungkinan menyimpulkan modifikasi yang dialami oleh identitas individu selama masa hidup dalam bentuk narasi. Itu meliputi aspek-aspek dari cohesion versus fragmentation, continuity versus discontinuity, demarcation versus indistinctness. i. Coherence-cohesion Cohesion disini mengacu sebagai kualitas seseorang yang memiliki integritas, memiliki kesatuan, dan perasaan yang berseberangan dengan diri yang terpecah (fragmentation), takut yang

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 tak teratasi, diri yang tenggelam, hancur atau jatuh selamanya, tanpa arah atau merasa terpisah dari tubuh. Cohesion merupakan aspek dari coherence sebagai unsur penting untuk kesejahteraan manusia. Manusia yang hadir dengan membawa rasa diri dipahami oleh sebagian besar psikoanalisis kontemporer sebagai entitas kohesif dan berbatas tegas yang seharusnya not be taken for granted. Artinya, manusia yang menuju ke arah diri yang otentik memiliki kecenderungan untuk berintegritas, memiliki keterkaitan dan kepaduan dari episode-episode masa hidupnya sehingga hidupnya tak terampas oleh sesuatu di luar dan bukan dirinya. ii. Coherence-continuity Aspek yang kedua dari coherence adalah continuity. Secara literal, continuity diartikan sebagai keadaan yang terus menerus dan terhubung oleh waktu. Dalam Reflective Authenticity tertulis bahwa continuity dipahami sebagai persepsi batin seseorang, atau istilahnya persepsi dari ―going on being‖ seseorang. Persepsi batin dapat diartikan sebagai kapasitas akan pengalaman yang berkelanjutan dan ada keterkaitan dalam proses menjadi seseorang sebagai fungsi cohesion diri. Kemudian disebutkan bahwa hanya diri yang mengintegrasikan seluruh gambaran diri yang baik dan buruk adalah karakteristik continuity. iii. Coherence-demarcation Aspek ketiga dari coherence adalah demarcation, sebagai lawan

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 dari identitas yang kacau dan renggang. Demarcation secara umum berkaitan dengan agresivitas dan frustrasi. Proses pembentukan demarcation dimulai dari kecil. Setiap anak yang mengalami pengalaman akan kehilangan, frustrasi, dan kekecewaan secara tidak sadar pasti menimbulkan perasaan yang saling bertentangan terhadap orang tuanya. Jika perasaan seperti itu, bagaimanapun, tidak melebihi batas tertentu dari intensitas dan frekuensi, itu berkontribusi pada pertumbuhan diri yang baik dan memiliki batasan-batasan terhadap dunia objek. Lalu demarcation dipahami juga sebagai kecenderungan menuju individuasi. Jika seorang ibu tidak mampu secara memadai untuk merespon kebutuhan akan kemandirian dan eksplorasi anak, maka anak memperoleh tanda batas yang tidak sempurna antara dirinya dengan dunia obyek. Dalam sebuah essei dari sastrawan Goenawan Muhamad, ―Tembok‖, menggambarkan sebuah negeri terbentuk karena batas kota yang jelas−tembok kota: demarkasi. Apabila disepadankan dengan maksud demarcation di sini, pemenuhan identitas seseorang dapat terjadi karena ada batas antara dirinya dengan dunia luar. b. Vitality Dimensi otentitas berikutnya yaitu vitality. Vitality berarti pengalaman penuh kegembiraan yang memberdayakan seseorang yang dihasilkan dari pemenuhan kebutuhan utamanya, dari merasa cocok dengan ingatan yang telah dimilikinya, dan dari gerakan kesadarannya

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 untuk menjadi seseorang yang diinginkan. Dimensi vitality berkaitan dengan pengalaman menyenangkan dan segera yang dipahami sebagai cinta dan harga diri yang pantas. Kebalikan dari vitality dalam hal ini adalah rasa penghinaan atau malu yang berhubungan dengan representasi diri kita. Vitality dipahami juga sebagai kapasitas untuk merasa puas atau menikmati dan untuk mengambil minat dalam kehidupan. Bersama dengan coherence, vitality sebagai yang sifatnya spontan dan asli dari diri merupakan dimensi yang penting untuk pemenuhan identitas. c. Depth Selanjutnya, dimensi otentitas yang ketiga adalah depth. Depth menunjukkan kemampuan seseorang untuk memiliki akses ke jiwa sendiri dan merefleksikan kesadarannya dalam membentuk identitas. Depth merupakan dimensi otentitas yang membutuhkan pengetahuan untuk memahami bawah sadar seseorang. Pertama, untuk memahami depth perlu melihat dari aspek kognitif murni sebagai pengetahuan akan diri dan refleksi diri. Dalam tulisan Freud, Interpretation of Dream, ―untuk membuat kesadaran dari bawah sadar seseorang‖ yang berarti penggerak utama dari jiwa dipahami sebagai keinginan, kita perlu menyadari akan keinginan bawah sadar yang mempengaruhi motivasi sadar kita. Kemudian aspek kedua untuk menerangkan depth, kita melihatnya sebagai rasa kemandirian. Kemandirian dipahami secara

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 luas sebagai rasa bebas dan merdeka dari pengaruh luar. Dalam hal ini, Freud mengembangkan rumus yang awalnya ―untuk membuat kesadaran dari bawah sadar seseorang‖ menjadi ―dimana id berada, ego sebagaimana diharapkan‖. Gagasan baru tentang kemandirian ini diilustrasikan dalam New Introdutory Lectures sebagai berikut: Freud menempatkan ego berada di ―daerah pusat musuh‖, dimana ego harus menaklukkan, dan tujuan terapi psikoanalisis ―untuk memperkuat ego, untuk membuat ego melepas ketergantungan dari super-ego, untuk meluaskan ranah perspektif dan memperbaiki organisasinya, sehingga ego dapat menguasai daerah baru yang awalnya didominasi id‖. Terakhir, depth diartikan sebagai seseorang yang mampu berdiri dan mencukupi kebutuhannya sendiri. Kondisi ini termanifestasikan oleh kapasitas seseorang dalam kesendirian−sebagai kemampuan untuk menangguhkan sementara hubungan seseorang dengan dirinya yang obyektif dan menyuarakan haknya untuk mengatasi kebutuhan akan sesuatu yang dicerminkan dan diidealkan oleh orang lain. d. Maturity Dimensi otentitas yang keempat adalah maturity. Secara umum, maturity, dipahami sebagai kemampuan dan kemauan seseorang berkenaan dengan faktisitas dunia alam, sosial, dan internal, tanpa kehilangan coherence dan vitality-nya. Dimensi maturity meliputi beberapa aspek khusus. Pertama, maturity dapat dipahami sebagai kapasitas untuk membedakan antara representasi diri seseorang,

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 proyeksi atau hasrat, dan realitasnya. Dalam hal ini, perbedaan maturity dan immaturity dipahami sebagai pertentangan antara pengujian realitas yang setepat-tepatnya dan kegemaran berangan-angan. Freud menerangkan pengujian realitas sebagai proses sekunder−diatur oleh logika, dapat menunda pemuasan, dapat membedakan antara benda dan manusia, memahami konsep waktu, dan bersentuhan dengan realitas. Pengertian maturity yang lain adalah kemampuan untuk membentuk gambaran realistis dari obyek sehingga dapat melihat baik dan buruknya obyek. Kapasitas tersebut berkembang di tiga taraf. Pertama, anak kecil merancang ―obyek fantasi sebelah luar‖, dan biasanya agresif, obyek yang menyebabkan gangguan ―gambar sebelah dalam‖. Fantasi ini menyertai rasa kemahakuasaan dan meninggalkan hampir tidak ada ruang untuk pengujian realitas. Akibatnya, proyeksi ―gambar sebelah dalam‖ menjadi kacau dengan properti obyek riil yang dirasakan anak kecil. Kehadiran obyek riil berkontribusi untuk meredakan karakter mengerikan dari obyek fantasi. Akhirnya, ego mencoba untuk mendamaikan keduanya sehingga obyek baru sebelah dalam, lebih realistis dan integritas. Lebih lanjut, aspek fundamental dari pemenuhan identitas dalam maturity tergantung pada pencapaian sebagai berikut: (1) kapasitas untuk menyusun masa depan, (2) kapasitas untuk memisahkan karakteristik tunggal, fisik dan psikis, dari obyek cinta seseorang, (3) kapasitas untuk memahami persamaan dan perbedaan diantara obyek,

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 dan (4) kapasitas untuk membedakan antara diri dan obyek. Aspek kedua dari maturity meliputi kapasitas untuk mengatur secara pasti kesesuaian antara diri yang ideal dan potensi diri yang sesungguhnya. Dari perspektif ini, kutub berlawanan dari maturity dan immaturity diwujudkan melalui pertentangan antara narcissistic grandiosity, seperti perilaku berlebihan untuk menarik perhatian publik atau sifat yang diidealkan, dan the perspicuity atau lucidity, dimana seseorang dibawah petunjuk dari pengalaman dan refleksi, mampu untuk menyetel diri yang ideal sesuai dengan realitas dari kebutuhan dan kapasitasnya. Aspek maturity yang ketiga menampilkan keluwesan yang berseberangan dengan kekakuan. Individu yang dewasa mengambil variasi dengan perhitungan, tahu bagaimana memilih jalan alternatif yang datang dalam dunianya, mudah untuk memahami kesetaraan rute menuju kematiannya, dan siap mundur apabila jalan yang dipilih terbukti buntu. Keluwesan berpihak pada kapasitas untuk mendamaikan tuntutan budaya dengan faktor penggeraknya. Keluwesan juga dapat dilihat sebagai kapasitas untuk toleransi dengan perasaan yang bertentangan dalam dirinya. Selain itu, keluwesan terkait dengan kebijaksanaan, yang dibilang sebagai penerimaan batas-batas kekuatan fisik, intelektual dan emosional seseorang, sebagai rasa humor dan ironi.

(38) PLAGIAT MERUPAKAN MERUPAKAN TINDAKAN TINDAKAN TIDAK TIDAK TERPUJI TERPUJI PLAGIAT 20

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI B. 21 Kejawen 1. Karakteristik Orang Jawa Sebelum masuk pada ranah kejawen, peneliti akan sedikit mengulas asal-usul munculnya kejawen. Asal-usul keberadaan kejawen tidak dapat dipisahkan dari empunya–orang Jawa. Munculnya kejawen bermula dari tanah Jawa sehingga untuk memahami kejawen, peneliti memulai dari penggambaran orang Jawa. Dalam Magnis-Suseno (1985), orang Jawa adalah orang yang menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa ibunya. Bahasa Jawa banyak digunakan sebagai bahasa komunikasi masyarakat di Jawa bagian tengah dan Jawa bagian timur. Penggolongan masyarakat Jawa berdasarkan keberagamaan dalam wujud struktur sosial dimulai oleh Geertz, dalam bukunya The Religion of Java–diterjemahkan Aswab Mahasin menjadi Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa (1989). Geertz mengklasifikasikan abangan sebagai masyarakat desa, santri sebagai masyarakat kota, dan priyayi sebagai elit birokrat. Magnis-Suseno (1985) menggolongkan orang Jawa secara sosial-ekonomis menjadi tiga, yakni wong cilik, priyayi, dan ningrat (ndara). Golongan sosial wong cilik (orang kecil), terdiri dari sebagian besar massa petani dan mereka yang berpendapatan rendah di kota. Kaum priyayi meliputi kaum pegawai dan orang-orang intelektual. Termasuk pula sekelompok orang yang memiliki darah bangsawan (Noer, 1980). Dalam kehidupan orang-orang Jawa tradisional, yang

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 termasuk golongan priyayi adalah orang-orang yang duduk dalam atau mempunyai hubungan dengan pemerintah. Sedangkan kaum ningrat (ndara) merupakan kelompok kecil tetapi memiliki prestise yang cukup tinggi. Namun gaya hidup dan cara pandangnya tidak begitu berbeda dengan kaum priyayi. Orang Jawa dapat dibedakan lagi secara keagamaan, yakni golongan abangan dan santri. Kaum abangan dalam kesadaran dan cara hidupnya lebih ditentukan oleh tradisi-tradisi Jawa pra-Islam, sehingga dapat disebut Jawa Kejawen. Kaum santri memahami diri sebagai orang Islam dan hidup menurut ajaran Islam. Sedangkan Noer (1980) menyebut kelompok santri sebagai golongan ―putihan‖. Kriteria pembagian antara ―putihan‖ dan ―abangan‖ dapat diterapkan juga pada golongan priyayi sehingga di dalam golongan ini pun terdapat ulama atau kiai. Oleh sebab itu pengertian priyayi dapat dipertentangkan dengan wong cilik atau rakyat biasa. Pandangan Geertz yang membagi masyarakat Jawa menjadi abangan, santri, dan priyayi, disikapi oleh Woordward dengan meringkas ketiga varian tersebut menjadi Islam Mistis dan Islam Normatif, dalam terj. Islam Jawa: Kesalehan Normatif versus Kebatinan (1999). Islam Mistis dianut oleh kaum abangan dan priyayi, sedangkan Islam Normatif diikuti oleh kalangan santri. Pengelompokan oleh Woordward ini mendapat kritikan dari Stange (1998), yang mengatakan bahwa masih ada aliran kepercayaan

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 yang ingin berdiri sendiri, atau ingin diakui sebagai agama tersendiri seperti penganut aliran kepercayaan–kejawen–Agama Jawi (Koenjtaraningrat, 1994). Penganut aliran kepercayaan, kejawen, sering mendapat sebutan sebagai penghayat. Penghayat memiliki arti orang yang menghayati. Hayat memiliki sinonim dengan kata hidup. Jadi penghayat kejawen adalah orang yang menghidupi kejawen atau orang yang hidup dalam keyakinan dan nilai kejawen. Dari sini, peneliti akan membahas mengenai kejawen secara khusus meskipun sumber-sumber yang tertulis terkait oleh pengaruh dari agama Islam, Hindu–Budha, bahkan tidak menutup kemungkinan agama Kristen dan Katolik karena seperti pendapat Stange (2009) bahwa kejawen merupakan dimensi spiritual dari kehidupan beragama orang Jawa. 2. Kejawen Sebagai Penghayatan: Memayu Hayuning Bawono Bagi orang Jawa yang menghayati kejawen, konsep Memayu Hayuning Bawono sebagai pedoman untuk menciptakan dunia yang tertib dan tertata. Memayu Hayuning Bawono, secara literal berarti membuat dunia menjadi indah (Endraswara, 2013). Gerakan orang Jawa menghayati kejawen karena sebagian besar orang Jawa butuh merenungkan kembali identitasnya, sehingga mencari pemahaman mengenai hakekat alam semesta dan Tuhan, serta intisari kehidupan.

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 Magnis-Suseno (1985) memaparkan bahwa tatanan alam dan masyarakat sudah ditentukan dalam segala seginya merupakan dasar pandangan bagi orang Jawa. Setiap individu dalam struktur keseluruhan itu hanya memainkan peranan yang kecil. Pokok-pokok kehidupan dan statusnya sudah ditetapkan, nasibnya sudah ditentukan sebelumnya, dan dalam rangka itu individu dengan sabar harus menanggung kesulitankesulitan hidup. Anggapan ini erat hubungannya dengan kepercayaan pada bimbingan adikodrati dan bantuan dari pihak roh-roh nenek moyang, Allah atau Tuhan yang menimbulkan perasaan keagamaan dan rasa aman. Keagamaan bagi orang Jawa yang kejawen ditentukan oleh kepercayaan pada berbagai macam roh yang tak kelihatan, yang dapat menimbulkan kecelakaan dan menimbulkan berbagai penyakit apabila mereka dibuat marah atau orang kurang hati-hati. Oleh karenanya, orang Jawa yang kejawen bisa melindungi diri dengan sekali-sekali memberi sesajen, dengan minta bantuan orang pinter, dan juga dengan berusaha untuk menghindari dari kejutan-kejutan dan tetap mempertahankan batin dalam keadaan tenang dan ikhlas. Dalam mengekspresikan Memayu Hayuning Bawono, penghayat kejawen ada yang ikut paguyuban–kelompok-kelompok yang mengusahakan kesempurnaan hidup melalui praktek-praktek asketis, meditasi, dan mistik. Kebanyakan paguyuban di Jawa merupakan gerakan lokal, dengan jumlah anggota yang terbatas. Misalnya,

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 kelompok Penunggalan, Perukunan Kawula Manembah Gusti, Jiwa Ayu, dan Pancasila Handayaningratan dari Surakarta; Ilmu Kebatinan Kasunyatan, Trimurti Naluri Majapahit, Kejawen Urip Sejati, dan Kasunyatan Bimo Suci dari Yogyakarta; serta Ilmu Sejati dari Madiun. Kemudian terdapat pula paguyuban yang anggotanya tersebar di berbagai kota di Jawa, dan terorganisir ke dalam cabang-cabang. Lima paguyuban yang terbesar adalah Hardapusara di Purworejo, Susila Budi Darma (SUBUD) yang asalnya berkembang di Semarang, Paguyuban Ngesti Tunggal (Pangestu) dari Surakarta, Paguyuban Sumarah dan Sapta Darma dari Yogyakarta. Di luar itu, banyak juga penghayat kejawen yang tidak ikut paguyuban. Mereka melakukan praktek-praktek asketis, meditasi, dan mistik secara sendiri. Biasanya mereka menjalankan praktek itu di rumah atau tempat-tempat tertentu semisal sungai, gunung, atau situs yang dipercaya memiliki energi positif. Oleh karena itu, Kamil (1985) mengatakan bahwa praktek kejawen dapat dipahami sebagai segala naluri (tradisi atau perbuatan yang sudah lazim dijalankan) atau adat istiadat leluhur Jawa yang tidak termasuk ajaran Islam dan melepaskan diri dari hukum Islam, namun merupakan dunia spiritual bagi orang Jawa. Kejawen juga tidak dimasukkan ke dalam hukum agama Hindu-Budha dan kepercayaan animisme. Hanya saja agama-agama yang datang dan kepercayaan animisme memberi pengaruh terhadap praktek spiritual kejawen.

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 Setiadji (2006) menerangkan bahwa orang Jawa yang kejawen memiliki kebiasaan ritual puasa–Senin dan Kamis, ngapit weton (hari lahir), berpantang makan kecuali nasi putih saja (mutih), dan beberapa jenis puasa lainnya. Semua itu merupakan asal mula dari tirakat. Selain itu, orang Jawa yang kejawen melakukan tapabrata (bertapa). Kegiatan ritual orang kejawen yang lainnya adalah meditasi atau semedi. Meditasi dan tapabrata pada dasarnya adalah sama, namun perbedaannya hanya terletak pada intensitas menjalankannya (Setiadji, 2006). Meditasi atau semedi biasanya dilakukan bersama-sama dengan tapabrata (bertapa) dan dilakukan pada tempat-tempat yang dianggap keramat misalnya di gunung, makam leluhur, ruang yang memiliki nilai keramat dan sebagainya (Koentjaraningrat, 1994). Pada umumnya orang melakukan tirakat, ritual puasa, tapabrata, dan meditasi adalah untuk mendekatkan atau menyatukan diri dengan Tuhan. 3. Kejawen Bawono Toto Peneliti merasa mendapatkan profil kurang lengkap mengenai kejawen aliran Bawono Toto. Peneliti hanya memperoleh sumber lisan dari penghayat, bukan sumber tertulis berupa diktat kejawen Bawono Toto. Kejawen Bawono Toto merupakan aliran kejawen yang bertujuan untuk menciptakan dunia yang tertib dan tertata. Dunia di sini merujuk pada Lebenswelt, dunia kehidupan masing-masing penghayat. Penghayat diajari oleh sesepuh di kejawen Bawono Toto untuk

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 manembah dan membaca diktat yang berisi mantra-mantra saat meditasi. Penghayat diajari untuk menjalani ritual di situs-situs yang memiliki energi besar dan positif. Penghayat diajari untuk menghormati norma yang berlaku untuk tidak napak tilas di kuburan. Tokoh yang menekuni kejawen Bawono Toto adalah mantan presiden Soeharto dan istrinya Tien Soeharto. 4. Kejawen Modern: Manunggaling Kawulo Gusti Di sini peneliti merujuk kepada Stange (2009) bahwa kejawen modern mengalami pembaruan dan penyesuaian yang jelas. Peneliti menggunakan contoh Sumarah sebagai model penelitian untuk menggambarkan kejawen di masa kini (tentu tidak semuanya). Sumarah (dan di aliran-aliran lain, tentu tidak semuanya pula) mengembangkan penghayatan terhadap Ketuhanan Yang Maha Esa dan meninggalkan dunia magic. Mereka adalah orang modern akan tetapi tetap menjalani budaya spiritual Jawa dan berasal dari suku Jawa. Dicontohkan, pengikut Sumarah banyak yang menjalankan ibadah agama Islam, namun praktik kejawennya dipisahkan dari pengalaman agama. Jadi, Sumarah bukan tarekat Islam, melainkan aliran kebatinan Jawa di dalam arti kejawen. Apabila dirunut lebih dalam lagi, kebanyakan warga dari lingkungan kejawen berasal dari kalangan NU dan Muhammadiyah serta merasakan udara Jawa,

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 memakai istilah-istilah yang sangat Jawa (yang di dalamnya disertai wacana Islam tasawuf pula). Sumarah adalah aliran kebatinan yang menekankan intuisi (rasa pangrasa) sebagai gerbang menuju jagat spiritual dikaitkan dengan orientasi budaya Jawa tentang rasa. Jadi, orientasi latihan sudah mengarah pada upaya harmonisasi dengan kepekaan terhadap, dunia luar. Cita-cita dan esensi latihan Sumarah mengarah pada kepasrahan yang membimbing kesadaran individu menuju aksi sosial yang harmonis. Kepasrahan di sini bukan pasrah dalam artian fatalisme atau kepasifan, namun penyerahan total kepada kehendak Tuhan sehingga ketika sujud (salah satu pengertian latihan bercorak Islam) selesai, warga Sumarah yakin mengalami kedamaian batin secara otomatis, meluas menuju penyelarasan dengan melahirkan tindakan konstruktif bagi kehidupan masyarakat. Dunia kejawen sendiri dalam kerangka berpikir Stange (2009) adalah sebagai berikut: Bila dikontraskan dengan agama maka pertama, apa yang menjadi titik pokok dalam kejawen adalah ketegangan antara kejawen lama dengan kejawen modern. Bila kejawen lama selalu dikaitkan dengan alam roh dan pencarian kuasa (magic), maka kejawen modern lebih terarah pada kesadaran manunggal semata-mata. Kedua, yang tidak dapat disangkal dari kejawen lama dan kejawen modern

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 adalah semata bersifat mistik, yakni suatu komitmen terhadap dimensi batin, vertikal, atau spiritual dari kehidupan beragama. Dengan pemaparan tersebut, Stange (2009) menggambarkan Sumarah sebagai penghayatan kejawen yang modern. Artinya, warga Sumarah yang menjadi penghayat kejawen tetap memeluk agama (dalam penelitiannya beragama Islam) namun dalam mengolah dimensi spiritualnya menggunakan kejawen. Kemudian penghayatan kejawen melalui Sumarah meninggalkan unsur magic (alam roh dan pencarian kuasa). Warga Sumarah lebih mengarahkan diri untuk kesadaran manunggal–menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa. C. Kejawen sebagai Proses Menjadi Otentik Heidegger telah menyampaikan pemikiran yang hebat mengenai keberadaan manusia di dunia secara ontologis. Sebagai seorang filsuf, pemahaman mengenai eksistensi manusia telah memberikan pengetahuan baru di bidang psikologi. Hal ini ditandai oleh kemunculan psikologi eksistensial, sebagai gerakan atau pendekatan baru dalam memahami manusia secara menyeluruh melalui keberadaannya. Dengan menyadari eksistensinya, Dasein akan berusaha mewujudkan diri yang otentik. Maka pada penelitian ini, diperlukan pemikiran Heidegger mengenai ―keterlemparan―, yang menjelaskan proses menjadi diri otentik melalui dimensi otentitasnya pada penghayat kejawen. Peneliti melihat gerakan orang Jawa (Dasein) yang menghayati

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 kejawen sebagai perjalanan menuju diri otentik. Diawali dari pengalaman keterlemparan ketika berada dalam dunia agama besar, kemudian Dasein merasa cemas. Orang Jawa yang terlempar mengalami kepatuhan terhadap agama sehingga kehilangan kebebasan untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri. Ketidakbebasan yang dialami orang Jawa membuatnya kecewa. Keadaan serupa ditemukan oleh Diaz & Sawatzky (1995) pada masyarakat asli Amerika utara (Indian). Mereka mengalami kebingungan, ketakutan, dan hilangnya semangat serta kepercayaan diri. Karena cemas, Dasein sibuk, aktif dan larut dalam dunia agama besar sampai lupa mengurus ―ada―nya sendiri. Kemudian muncul dorongan Angst–ketakutan eksistensial, sebuah rasa takut bercampur cemas, gelisah, dan muncul pertanyaan yang berkembang dari kesadaran bahwa kelak manusia akan mati–sehingga dasein berusaha menemukan diri yang otentik dengan keluar dari agama kemudian menghayati kejawen. Peneliti mengambil contoh salah satu penghayat kejawen adalah Soeharto. Peneliti melihat perjalanan Soeharto untuk menjalani ritual karena adanya kecemasan (dorongan Angst). Dalam otobiografinya, disebutkan bahwa semenjak remaja Soeharto gemar melakukan ritual seperti puasa Senin Kamis, dan tidur di bawah tritisan (bawah atap rumah paling ujung). Arwan (2007), juga mengemukakan bahwa Soeharto gemar melakukan kungkum, semedi, dan tirakat. Soeharto muda menjalani ritual secara kuat dikarenakan ingin mengatasi kecemasan akan eksistensinya di dunia ini. Mudji Sutrisno & Hardiman (1992) mengelaborasi bahwa manusia

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 memiliki dua sikap terhadap keberadaannya yang menuju kematian (ketiadaan). Pertama, manusia menghayati Dasein sebagai Eksistenz, yaitu manusia merancang kebudayaannya dan kemungkinan-kemungkinan hidupnya (Entwurf) karena eksistensi keterlemparan di dunia. Manusia perlu mengalami dirinya itu sungguh-sungguh eksis. Kemudian manusia menggarap benda-benda yang ada (Vorhanden) sehingga bisa menjadi sarana (Zuhanden). Begitulah, manusia terus memakai kemungkinan-kemungkinan hidupnya dan mengerjakan dua lingkup dunia Vorhanden dan Zuhanden. Bila yang terjadi adalah manusia menyibukkan diri menggarap teknik, benda, sarana maka manusia lupa pada masalah ―ada―-nya. Hal itu berarti manusia belum menyadari bahwa Dasein-nya itu ―ada― menuju kematian. Kedua, bila manusia sadar bahwa kemungkinan-kemungkinan itu pada titik tertentu akan berhenti, yaitu kematian kemudian manusia menyadari keberadaannya di dunia sebagai ―ada menuju kematian― (Sein zum Tode) dan tidak lari-lari menyibukkan diri seperti gerombolan atau massa mengambang, manusia mesti menyongsong realitasnya di dunia ini. Dengan menghayati Sein zum Tode dengan ketegaran, maka manusia akan hidup dengan kesadaran menuju kematian itu. Oleh karena itu, manusia mesti mengisi terus hidupnya dengan tegar meskipun sadar bahwa akhirnya akan mati juga. Bila manusia menyadari hidup seperti ini, manusia hidup secara sejati, asli, otentik. Penekanan Heidegger terhadap otentisitas hidup manusia terletak

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 pada perhatian terhadap Dasein-nya. Perhatian di sini tidak sebatas menyadari keberadaan di dunia tetapi menyadari tanggung jawab akan keberadaannya. Manusia menyadari keberadaannya dalam bayang-bayang waktu sehingga manusia berusaha bertanggung jawab terhadap hidup sekaligus bertanggung jawab terhadap kematiannya. Kesadaran akan gaya hidup yang otentik ini mengubah pandangan manusia untuk memperhatikan dunianya secara baik-baik. Graham (2005) mengungkapkan bahwa penerimaan atas kematian memungkinkan manusia untuk hidup yang sesungguhnya. Kondisi otentik ini merupakan kondisi keberadaan yang penuh kesadaran, dimana manusia senantiasa sadar atas kerapuhan keberadaannya beserta tanggung jawab akan keberadaannya. Manusia menyadari dirinya sebagai pencipta eksistensi dan menjelajahi potensi-potensi beserta batas-batasnya. Apa yang diutarakan Graham (2005) ini berhubungan dengan konsep India tentang kesadaran (mindfulness), jalan untuk mentransenden, yaitu melihat ke dalam hakikat eksistensi. Dalam filsafat India dan eksistensial, kesadaran pribadi terhadap kematian ini bertindak sebagai stimulus pergeseran manusia dari manusia biasa kondisi kelupaan menuju kepenuhan pikiran untuk mentransenden, kondisi kepenuhan pikiran yang terjaga. Penelitian mengenai otentisitas sebelumnya dilakukan oleh Diaz & Sawatzky (1995) pada orang-orang keturunan Indian (Masyarakat Amerika Utara) yang menjalani ritual asli. Untuk melihat pengalaman orang-orang keturunan Indian, peneliti akan memaparkan kembali hasil temuan Diaz &

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 Sawatzky sebagai berikut: Orang-orang keturunan Indian yang menjadi partisipan dibantu oleh orang-orang penting untuk menjadi lebih terlibat dalam upacara dan ritual budaya asli. Tiga partisipan (Tuuk, Dancing Cloud, Rose) menyebut pengalamannya sebagai keberuntungan karena berada di acara-acara yang ada hubungannya dengan ritual asli. Perjumpaan mereka dengan orangorang yang mengantarkan kembali ke ritual asli berawal dari mengambil kursus dalam studi budaya asli Amerika, mempelajari budaya di perguruan tinggi, dan pusat pelatihan dan perawatan obat. Sedangkan tiga partisipan yang lain (Robear, Andrew, Ted) secara sadar melakukan perjumpaan dengan penatua untuk mencari bantuan dalam berhubungan kembali dengan budaya asli. Dengan belajar melalui keterlibatannya dalam upacara dan ritual asli, mereka berhadapan dengan diri mereka sendiri. Mereka merasakan adanya koneksi secara emosional dengan budaya asli. Pengalaman terlibat dalam upacara dan ritual asli untuk pertama kalinya tidak mudah bagi mereka. Mereka merasakan ketakutan karena tidak tahu apa yang akan terjadi dan bagaimana mereka melakukannya. Kemudian mereka merasa takut bila tidak diterima oleh orang-orang asli lainnya. Mereka takut tidak diterima karena mereka berasal dari budaya modern dan berkulit putih. Mereka menghadapi ketidaksempurnaan diri melalui keterlibatan dalam upacara dan ritual asli. Ini bagian yang paling sulit dari proses

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 penemuan kembali identitas asli mereka. Mereka mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan ketika berhadapan dengan ketidaksempurnaan diri. Mereka menceritakan pengalamannya yang menderita dalam berpuasa karena menghadapi ketidaksempurnaan dirinya secara fisik, emosional, psikologis, dan spiritual. Mereka berjuang mengatasi rasa takutnya. Ketika berhasil menjalani puasa, mereka merasa lebih diperkaya meskipun mereka takut untuk mempelajari lebih lanjut dan melihat lebih banyak tentang sesuatu yang belum mereka ketahui sebelumnya. Mereka belajar puasa untuk menghargai kehidupan dan menjadi lebih bertanggung jawab. Mereka menganggap budaya modern tidak mengajari mereka untuk menghargai kehidupan. Mereka mulai memisahkan diri dari budaya modern dan bertanggung jawab terhadap pilihannya tersebut. Ketika mereka belajar lebih banyak tentang menjadi dirinya yang asli melalui upacara dan ritual asli, mereka menyadari proses itu memberi makna bagi kehidupan mereka. Mereka membandingkan budaya asli dan budaya modern yang mana mereka membedakan apa yang asli dan apa yang tidak, apa yang sesuai dengan diri dan apa yang tidak. Mereka menemukan kembali identitasnya melalui belajar tentang tradisi dan ritual yang telah memberi arti bagi hidup mereka. Mereka merasakan koneksi dengan diri sendiri, orang lain, dan alam.

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 Perubahan yang mereka alami adalah menjadi utuh. Mereka mengibaratkan hidupnya sebagai lingkaran yang memiliki empat bagian yang tertanam menjadi satu. Mereka melakukan perjalanan untuk menyadari aspek fisik, emosional, psikologis, dan spiritualnya. Akibatnya, mereka merasa bangga dapat melalui itu. Mereka menjadi lebih mencintai dirinya, budayanya, dan penciptaaannya. Ketika dikontraskan dengan keyakinan agama, mereka merasa lebih cocok dengan nilai-nilai dan keyakinan budaya asli. Agama mengajarkan mereka tentang adanya dosa dan meletakkan adanya rasa bersalah dan malu bila melakukan dosa. Agama memberikan warisan berupa rasa takut bagi mereka. Sedangkan dalam budaya asli, mereka diperlakukan murni sebagai anak-anak Sang Pencipta. Mereka mendengarkan penatua yang bercerita bahwa manusia datang ke dunia, tidak tercemar. Perjalanan untuk menemukan kembali identitas mereka melalui upacara dan ritual asli telah menawarkan cara bagi mereka untuk mencapai keutuhan diri dan makna hidup yang tidak mereka temukan di dunia modern. Perjalanan menemukan kembali identitas asli mereka adalah cara bagi mereka untuk menyembuhkan ―kepribadian yang terluka‖, perpecahan diri mereka antara sadar dan tidak sadar. Dengan mengobati diri yang terpecah itu, mereka bisa berhubungan kembali dengan gambar-gambar primordial yang hilang. Mereka diberi kesempatan untuk belajar tentang mitos dan awal kelahiran yang suci dari penduduk asli serta untuk menghadapi ketakutan

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 mereka yang tidak diketahui dengan dukungan dan bimbingan orang asli Indian. Melalui upacara dan ritual asli, mereka diberi kesempatan untuk menyaksikan berlakunya mitos dan mengalami kedahsyatan alam semesta yang misterius. Identitas mereka sebagai orang asli menjadi diperkuat karena secara simbolis mereka dilahirkan kembali menjadi anggota budaya asli Indian. Mereka merasa berjalan dalam jalur otentik yang mana telah mengantarkan mereka kembali ke ―rumah‖. Apa yang membuat mereka berada di jalur otentik karena ada hubungan emosional yang kuat dengan budaya asli dan mendapat dukungan dari orang-orang asli Indian. Perjalanan kembali ke ―rumah‖ didorong oleh perasaan bahwa ada sesuatu yang hilang dalam hidup mereka. Seorang partisipan, Ted, mengungkapkan secara singkat bahwa dirinya mendapatkan gambaran yang lebih lengkap tentang siapa ―aku‖. Berkiblat dari penelitian Diaz & Sawatzky (1995), orang Jawa yang terlempar dalam penghayatan agama besar mengalami pergolakan batin sehingga keluar dari agama dan menghayati kejawen guna menemukan identitasnya. Dengan menghayati kejawen, orang Jawa merasa dilahirkan kembali sebagai manusia yang menyadari dasein-nya. Kesadaran inilah yang membawa manusia mengalami diri otentik atau asli. Peneliti terinspirasi dari penelitian Diaz & Sawatzky (1995) yang berhasil mengungkap gerakan kembali kepada keaslian pada masyarakat Indian, untuk menemukan identitasnya. Untuk itu peneliti mencoba melihat

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 gerakan penghayatan kejawen dalam orang Jawa. Perbedaan konteks penelitian ini diharapkan dapat memperluas hasil penelitian mengenai gerakan menuju diri yang otentik bagi orang yang menjalani ritual asli. D. Pertanyaan Penelitian Dalam penelitian ini, peneliti mengajukan dua pertanyaan untuk mengungkap penghayatan kejawen yang dialami subyek. Pertanyaan untuk penelitian utama terangkum dalam central question, dan pertanyaan yang membantu untuk mengarahkan pada penelitian utama tercantum dalam subquestion. 1. Central Question Bagaimana penemuan otentisitas yang dialami subyek sebagai penghayat kejawen? 2. Subquestion a. Bagaimana pengalaman keterlemparan yang dialami subyek dalam agama? b. Bagaimana dorongan Angst yang dialami subyek dalam agama? c. Bagaimana proses pencarian otentisitas yang dialami subyek? d. Apa saja bentuk-bentuk otentisitas yang dialami subyek?

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif digunakan untuk mengeksplorasi dan memahami suatu Central Phenomenon, suatu proses atau kejadian, suatu fenomena, atau suatu konsep yang terlalu kompleks untuk diuraikan melalui variabel-variabel yang menyertainya (Creswell, 1998). Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi interpretatif. Pendekatan ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan memahami secara terperinci bagaimana seorang subyek memaknai dunia personal dan dunia sosialnya (Smith & Osborn, 2009). Makna yang terkandung dalam pengalaman, kejadian dan keadaan subyek merupakan sarana utama yang akan dikaji. Dalam Smith & Osborn (2009), pendekatan ini bersifat fenomenologis yang artinya adalah penelitian ini melakukan pengujian secara terperinci terhadap persepsi atau penuturan personal seorang subyek mengenai objek atau kejadian tertentu dan pada saat yang sama disertai peran aktif peneliti. Dengan demikian, pendekatan fenomenologi interpretatif berlangsung proses interpretasi atas dua langkah. Pertama, subyek mencoba mengartikan dunia mereka secara personal. Kedua, peneliti mencoba mengartikan kegiatan subyek yang tengah mengartikan dunia mereka itu. Dengan kata lain, proses ini mengupayakan subyek memahami 38

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 obyek atau kejadian tertentu seperti apa adanya berdasarkan sudut pandangnya sendiri. Istilah ―memahami‖ secara awam dapat diartikan sebagai proses mengartikan yakni mengidentifikasi dan dapat juga berarti memaknai (Smith & Osborn, 2009). Dalam penelitian ini, tujuan peneliti menggunakan pendekatan fenomenologi interpretatif adalah agar dapat mengungkapkan bagaimana subyek memaknai hidupnya secara lebih terperinci dan pada saat yang bersamaan, peneliti juga turut serta dalam mengartikan makna subyek atas hidupnya. Dengan demikian antara menggali secara mendalam persepsi subyek mengenai makna hidupnya dan interpretasi oleh peneliti maka penelitian ini dapat mengarah pada analisis yang lebih subur dan lebih sesuai dengan totalitas subyek dari segala sisi. B. Fokus Penelitian Pada penelitian ini, yang menjadi fokus penelitian adalah menggambarkan proses penemuan otentisitas dalam pengalaman hidup orang Jawa dengan menghayati kejawen. Dimulai dari pengalaman subyek menghayati agama kemudian meninggalkan agama hingga pengalaman menghayati kejawen dengan ritual puasa, meditasi, dan napak tilas. C. Subyek Penelitian Subyek pada penelitian ini berjumlah 1 orang sehingga menjadikan penelitian ini sebagai single-case studies yang didekati lewat fenomenologi

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 interpretatif. Peneliti merasa kesulitan untuk menambah jumlah subyek karena apa yang diteliti merupakan pengalaman yang bersifat privasi dan sensitif terkait agama. Subyek tersebut dipilih dengan menggunakan Criterion Sampling yaitu cara penentuan subyek berdasarkan kriteria tertentu dari peneliti yaitu orang Jawa dengan pengalaman menghayati kejawen Bawono Toto dan meninggalkan penghayatan agama. Hal terpenting dari kriteria tersebut adalah subyek dipilih karena memiliki dan mengalami pengalaman secara langsung atas fenomena yang hendak diteliti (Creswell, 1998). D. Metode Pengumpulan Data Penelitian ini menggunakan wawancara dalam metode pengumpulan data. Wawancara yang digunakan adalah wawancara semi terstruktur karena bertujuan untuk menganalisis secara terperinci bagaimana subyek memahami dan memaknai hal-hal yang terjadi pada diri subyek sehingga dibutuhkan pengumpulan data yang luwes. Bentuk wawancara ini memungkinkan peneliti dan subyek terlibat dalam suatu dialog dimana pertanyaan dapat dimodifikasi sesuai jawabannya dan peneliti pun dapat menggali wilayah yang menarik dan penting yang muncul dalam proses wawancara (Smith & Osborn, 2009). Meskipun wawancara semi terstruktur adalah pengumpulan data yang luwes, peneliti tetap membuat panduan daftar pertanyaan terlebih dahulu sehingga akan membuat peneliti tetap fokus pada kajian yang diteliti.

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 Panduan daftar wawancara disusun menggunakan pertanyaan-pertanyaan terbuka namun tetap berdasar fokus penelitian. Tabel 1. Panduan Wawancara 1. Tolong ceritakan pengalaman Bapak dalam menghayati agama awal sebelum kejawen? (disertai elaborasi) 2. Ceritakan pengalaman Bapak mulai menekuni kejawen? (disertai elaborasi) 3. Bagaimana yang Bapak pikirkan dan rasakan ketika menghayati kejawen? (disertai elaborasi) 4. Bagaimana Bapak memandang diri sendiri saat menghayati kejawen? (disertai elaborasi) 5. Bagaimana Bapak memahami hubungan dengan orang lain saat menghayati kejawen? (disertai elaborasi) 6. Bagaimana hambatan hidup menjadi penghayat kejawen? (disertai elaborasi) 7. Apakah hidup Bapak saat ini mencerminkan diri yang sesungguhnya? (disertai elaborasi) E. Proses Pengambilan Data Proses pengambilan data dimulai dengan mencari subyek orang Jawa dengan menghayati kejawen. Rencana peneliti akan menggunakan dua subyek dengan latar belakang agama yang berbeda. Namun dalam perjalanannya, data subyek yang pertama tidak sesuai dengan yang

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 diharapkan. Subyek berhasil diwawancarai namun karena tidak adanya rasa percaya dari subyek terhadap peneliti, maka data yang disampaikan subyek sangat dangkal dan tidak menggambarkan pengalamannya secara personal. Akhirnya, peneliti mencari satu subyek lagi dengan kriteria yang lebih ketat. Peneliti mencari subyek yang memiliki pengalaman lebih mendalam mengenai dunia kejawen, subyek memiliki sikap terbuka dan bersedia diajak sharing, sehingga diharapkan pengalamannya dapat menggambarkan gerakan orang Jawa dengan menghayati kejawen secara komprehensif. Sebelumnya, peneliti berusaha membangun interaksi seoptimal mungkin agar muncul rasa percaya subyek terhadap peneliti. Dengan tereskplorasinya pengalaman subyek, diharapkan akan mencapai kredibilitas penelitian. Perkenalan dengan subyek dimulai pada 15 Juli 2013. Peneliti berkunjung ke rumah subyek di Bantul. Pada perjumpaan yang pertama kali, subyek menunjukkan dirinya sebagai pribadi yang ramah. Sebagai langkah awal, peneliti melakukan pendekatan bertegur sapa, memperkenalkan diri dan mengajak dialog ringan seputar dunia kejawen. Subyek memberikan respon yang positif sehingga membangkitkan minat peneliti untuk mengetahui subyek lebih lanjut. Proses wawancara pertama kali terjadi pada 4 November 2013. Wawancara dilakukan di kediaman subyek pada sore hari pukul 15.00-16.00 WIB. Saat memulai proses wawancara dengan subyek, peneliti terlebih dahulu menjelaskan maksud dan tujuan penelitian. Subyek menjawab

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 pertanyaan dengan suara yang tegas, dan menggerakkan kedua tangannya untuk membantu memperjelas kepada peneliti. Wawancara yang pertama masih menghasilkan gambaran umum mengenai penghayatan kejawennya. Hasil wawancara belum menyentuh personalitas subyek. Peneliti melaksanakan wawancara yang kedua pada 17 November 2013 di rumah subyek. Proses wawancara yang kedua berlangsung lama karena diselingi dengan acara makan malam. Peneliti mengawali wawancara pukul 18.25 WIB dan berhenti pukul 19.00 WIB, dan wawancara dimulai lagi pukul 19.30-20.00 WIB. Subyek masih menggambarkan pengalaman penghayat secara kolektif. Artinya, subyek belum mengungkapkan personalitasnya. Kemudian dilanjutkan wawancara yang ketiga pada 8 Desember 2013 mulai pukul 20.00-21.00 WIB. Subyek mulai menceritakan pengalamannya mendalami kejawen. Subyek mulai terbuka terhadap pertanyaan yang diajukan peneliti. Subyek kembali menggunakan kedua tangannya untuk menggambarkan pengalamannya kepada peneliti. Sesekali subyek berdiri untuk menceritakan pengalamannya. Namun, karena dirasa personalitas subyek belum lengkap, peneliti membuat jadwal wawancara lagi dengan subyek. Akhirnya, terlaksana wawancara yang keempat pada 12 Januari 2014. Proses wawancara berlangsung sekitar 45 menit. Peneliti datang ke rumah subyek pukul 14.30 WIB. Peneliti ingat mengakhiri wawancara saat terdengar adzan ashar sekitar pukul 15.15 WIB. Subyek menceritakan

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 pengalaman menghayati kejawen dengan lebih lengkap dan terungkap personalitasnya. Subyek tampak menceritakan masa lalunya dengan lugas. Subyek pun terlihat lebih bersemangat untuk sharing mengenai kehidupannya. Subyek mampu mengupas pertanyaan demi pertanyaan secara tegas dan menggambarkan pemahaman mengenai diri dan Tuhannya sendiri secara kritis. Tabel 2. Pelaksanaan Wawancara Subyek Tanggal Waktu Tempat Pukul 15.00-16.00 4 November 2013 WIB Pukul 18.25-19.00 17 November 2013 WIB dan Pukul 19.3020.00 WIB DS Rumah DS Pukul 20.00-21.00 8 Desember 2013 WIB Pukul 14.30-15.15 12 Januari 2013 WIB F. Metode Analisis Data Dalam metode analisis data ini, peneliti akan menguraikan langkah demi langkah proses analisis fenomenologi interpretatif yang terdiri dari mencari tema untuk yang pertama kalinya, menghubungkan tema-tema, dan

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 menyusun table akhir tema-tema pokoknya. Kemudian peneliti akan menambahi dengan mendeskripsikan esensi pengalaman dari penemuan tema-tema pokoknya, yaitu sebagai berikut: 1. Mencari tema untuk yang pertama kalinya Peneliti membaca transkrip beberapa kali secara cermat, kemudian membuat catatan mengenai apa yang menarik atau signifikan dari penuturan subyek. Proses membaca transkrip secara cermat ini dilakukan agar peneliti memahami maksud dari penuturan subyek. Setelah itu, peneliti mencatat judul-judul tema yang muncul. Kemudian catatan pertama ini ditransformasikan menjadi ungkapan-ungkapan yang dimaksudkan untuk menangkap kualitas inti dari apa yang ditemukan dalam teks. Transformasi dilakukan agar ungkapan-ungkapan yang implisit dapat diubah menjadi eksplisit. Tema-temanya menggerakkan jawaban menuju ke level abstraksi yang sedikit lebih tinggi dan bisa memunculkan istilah-istilah bersifat psikologis. 2. Menghubungkan tema-tema Peneliti mendaftar dan mencari hubungan diantara tematema yang muncul tersebut. Dalam daftar pertama, tema-tema disusun secara kronologis yaitu didasarkan pada urutan kemunculannya dalam transkrip. Tahapan berikutnya adalah tema-tema diurutkan secara analitis atau teoritis dimana peneliti mencoba untuk memahami hubungan diantara tema-tema yang

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 muncul. Setelah itu, peneliti membuat tabel tema-tema dengan susunan yang memiliki hubungan dan kaitan. Cara ini dimaksudkan agar peneliti dapat mengidentifikasi kelompok tema yang paling sesuai Kelompok-kelompok itu terhadap topik-topik kemudian diberi tertentu. judul yang menggambarkan tema pokok yang membawahi tema-tema lainnya. Dalam proses ini, tema-tema tertentu yakni tema-tema yang tidak sejalan dengan struktur yang muncul dan tidak sesuai dengan transkrip dapat disingkirkan. Kemudian peneliti menyusun tabel akhir tema-tema pokoknya. 3. Mendeskripsikan esensi pengalaman Setelah berhasil menyusun tabel akhir tema-tema pokoknya, peneliti mulai untuk mendinamikakan tema-tema pokoknya dan menemukan esensi pengalamannya. Dengan menemukan esensi pengalamannya, otentisitas yang dialami subyek dapat mudah dipahami. G. Kredibilitas Penelitian Peneliti menggunakan istilah kredibilitas dalam melakukan penelitian karena istilah kredibilitas sering dipilih untuk menggantikan konsep validitas, yang dimaksudkan untuk merangkum bahasan menyangkut kualitas penelitian kualitatif (Poerwandari, 2005). Kredibilitas penelitian kualitatif terletak pada keberhasilannya mencapai maksud untuk

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 mengeksplorasi masalah atau mendeskripsikan setting, proses, kelompok sosial, atau pola interaksi yang kompleks. Keberhasilan tersebut diperoleh dengan deskripsi mendalam yang menjelaskan kompleksitas aspek-aspek terkait (dalam bahasa kuantitatif : variabel) dan interaksi dari berbagai aspek tersebut. Konsep kredibilitas juga harus mampu mendemonstrasikan bahwa untuk memotret kompleksitas hubungan antar aspek tersebut, penelitian dilakukan dengan cara tertentu yang menjamin bahwa subyek diidentifikasi dan dideskripsikan dengan akurat. Sarantakos dalam Poerwandari (2005) menyampaikan bahwa dalam penelitian kualitatif, validitas dicapai tidak melalui manipulasi variabel tetapi melalui orientasinya dan upayanya mendalami dunia empiris dengan menggunakan metode paling cocok untuk pengambilan dan analisis data. Konsep validitas yang dipakai adalah validasi komunikatif, yang artinya untuk memperoleh validitas yang baik dilakukan melalui mengkonfirmasikan kembali data dan analisisnya pada subyek penelitian sehingga peneliti mendapatkan feedback untuk proses pengecekan kembali penelitian.

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV DESKRIPSI ANALITIS TERKAIT TEMATIS, ESENSI PENGALAMAN DAN PEMBAHASAN Pada bab ini, deskripsi analitis terkait tematis dan esensi pengalaman merupakan uraian dari hasil penelitian. Hasil penelitian diuraikan menjadi dua bagian ini untuk memaparkan pengalaman subyek guna menemukan tema pokoknya, dan menyusun esensi pengalaman subyek guna meringkas keterkaitan antar tema pokoknya. Langkah ini dilakukan untuk mempermudah membaca hasil penelitian. A. Deskripsi Analitis terkait Tematis Pada penelitian ini, peneliti menggambarkan subyek sebagai seorang penghayat kejawen dengan menggunakan inisial Ds. Ds lahir di Pancoran, Jakarta, pada tahun 1955. Sekarang berusia 59 tahun dan dalam KTP tertera agama Katolik. Ds lahir sebagai anak bungsu dari sepuluh bersaudara. Ds merupakan seorang anak yang menaruh hormat kepada orang tuanya. Ds menceritakan di usia 3 tahun mampu melihat sesuatu yang tidak kasat mata. Di rumahnya yang angker itu, Ds pertama kali melihat ―penampakan‖. Ds mengintip dari balik pintu kamar tidurnya, karena weruh sesuatu yang tidak kasat mata masuk ke kamar mandi. Ds merasa tidak takut. Hal itu malah membuatnya penasaran dan ingin mengetahui lebih lanjut. 48

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 Pada saat usia sekolah, Ds pindah rumah di Yogyakarta. Ds menceritakan masa kecilnya yang menempuh pendidikan di sekolah Katolik, dari SD hingga SMA. Berikut pengalaman hidup Ds dalam agama besar: 1. Pengalaman keterlemparan a. Fanatisme terhadap agama besar Ds mengungkapkan fanatismenya terhadap agama Katolik dengan beberapa peristiwa. Ds menghayati agama Katolik karena patuh pada anjuran orang tua agar memilih agama Katolik. Kesungguhan Ds dalam mendalami agama dilakukan dengan taat pergi ke Gereja. Dalam penghayatannya itu, Ds membaca kitab suci hampir tiap hari dan memiliki pengetahuan agama yang sangat luas. Awalnya penghayatan agama saya boleh dibilang fanatik, sejak dibaptis waktu SD usia 10 tahun sampai remaja usia 20 tahun. Saya mendalami agama dengan sungguhsungguh. Saya taat ikut misa di gereja. Setiap sabtu atau minggu saya selalu menyempatkan ke gereja. Itu karena aturan keluarga saya yang menghayati Katolik sejati. (113) Pengetahuan saya tentang agama yang saya anut sangat luas. Saya sering membeli buku-buku keagamaan. Kitab suci menjadi bacaan hampir setiap hari,.. (57-62) b. Dorongan menjadi pastur Ds memiliki cita-cita menjadi seorang pastur. Ds mengidentifikasi sosok seorang pastur disebabkan oleh beberapa cara pandang. Ds memandang pastur sebagai sosok orang yang saleh dan suci. Ds memandang pastur sebagai wakil Tuhan. Ds memiliki keyakinan bahwa pastur yang meninggal pasti masuk surga. Ds memiliki cara pandang yang

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 demikian itu, salah satunya karena aktif dalam kegiatan organisasi Katolik, seperti Legio Maria, Mudika (OMK), dan Misdinar (putra altar). Alasanalasan tersebut membuat Ds mendaftar di seminari Mertoyudan. Saya bahkan pernah bercita-cita menjadi seorang pastur. Seorang pastur dalam pandangan saya waktu kecil sebagai sosok yang saleh dan suci. Saya katakan saleh karena setiap hari pastur rajin memimpin ritual atau kebaktian gereja. Saya katakan suci karena pastur hidup selibat yang praktis dia tidak melakukan senggama dengan lawan jenis. Selebihnya, saya berpandangan bahwa seorang pastur adalah wakil Tuhan karena mampu menterjemahkan dan memahami pesan-pesan Tuhan yang ada di dalam kitab suci. Dan saya waktu kecil meyakini kalau pastur meninggal pasti masuk surga. Di samping itu keinginan saya untuk menjadi pastur karena kegiatan saya di lingkungan organisasi-organisasi yang berbasis agama Katolik, seperti Legio Maria, mudika, dan putra altar (misdinar). Pandangan tersebut yang mendorong saya untuk masuk sekolah pastur. Kemudian saya mendaftarkan diri sekolah di seminari Mertoyudan,.. (13-48) Berdasarkan deskripsi analitis, pengalaman akan keterlemparan yang terdiri dari fanatisme terhadap agama besar dan dorongan menjadi pastur terangkum menjadi tema pokok sebagai berikut: Kepatuhan terhadap kewajiban agama Setiap orang pasti mengalami proses keterlemparan. Dimulai ketika seseorang lahir di dunia. Seseorang yang lahir tidak memiliki pilihan untuk menentukan nasib lahir dimana, kapan, bahkan memilih dilahirkan siapa. Begitu seterusnya melewati tahap-tahap perkembangan, sampai seseorang mempertimbangkan untuk menjadi dirinya sesuai potensi-potensi yang dimiliki. Seseorang akan menjadi diri sendiri yang sesuai dengan potensipotensinya atau menjadi otentik apabila memiliki penerimaan akan kematian

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 (dorongan Angst). May (1958) mengungkapkan bahwa seseorang yang gagal menerima adanya kematian akan mengalami konformisme. Seseorang yang mengalami konformisme akan membiarkan dirinya tenggelam dalam masyarakat (kolektifitas) sehingga potensi-potensi dirinya tidak muncul dan tentu saja tidak otentik. Hal ini yang dialami oleh Ds pada mulanya memeluk agama Katolik. Kebebasan yang dimiliki Ds direduksi oleh adanya aturan-aturan dalam dunia sosialnya; keluarga, sekolah, organisasi Katolik, dan lingkungan Katolik yang ditinggali Ds. Ds mau tidak mau harus tunduk pada aturan-aturan yang berlaku. Dalam proses memilih agama saat usia sekolah, seringkali seseorang mengikuti anjuran dari orang-orang terdekatnya, terutama orang tua. Seseorang akan memilih agama berdasarkan petunjuk dari orang tuanya. Hal ini terjadi pada perjalanan hidup Ds. Ds memeluk agama Katolik karena dianjurkan oleh orang tuanya. Orang tua dipandang oleh Ds sebagai figur yang harus dipatuhi. Awalnya Ds memeluk agama Katolik seperti orang-orang Katolik lainnya yang menjalani pembaptisan. Dalam perjalanannya Ds menjalani penghayatan agama dengan fanatik. Ds mengungkapkan fanatismenya terhadap agama Katolik dengan beberapa peristiwa. Kesungguhan Ds dalam menghayati agama dilakukan dengan patuh mengikuti kebaktian di Gereja, rutin membaca kitab suci dan buku-buku keagamaan. Kesungguhan

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 menghayati agama membuat Ds memiliki pengetahuan agama yang luas. Setelah mengalami proses identifikasi terhadap orang tuanya dengan mengikuti agama Katolik, Ds juga mengidentifikasi seorang pastur. Perjumpaan dengan pastur saat mengikuti kebaktian di Gereja membuat proses identifikasi terjadi. Proses identifikasi itu membuat Ds terdorong untuk menjadi pastur. Karena untuk menjadi pastur diwajibkan sekolah di seminari, dorongan menjadi pastur yang dimiliki Ds mengantarkannya untuk mendaftar sekolah di seminari Mertoyudan. ** 2. Dorongan Angst a. Kecewa atas kegagalan menjadi pastur Ds merasa kecewa karena gagal masuk seminari. Dorongan menjadi pastur yang dialami Ds terhenti sampai di peristiwa kegagalan ini. ..tetapi saya tidak lulus tes. Untuk beberapa tahun kemudian kegagalan masuk seminari membuat saya kecewa. (48-52) b. Pilihan untuk bebas Ds sadar bahwa dirinya tidak memiliki kebebasan karena merasa dibatasi oleh aturan agama. Untuk itu Ds mengambil pilihan untuk membebaskan dirinya dari ketidakcocokan di dalam aturan agama. Selama 10 tahun menghayati agama Katolik itu, saya merasa tidak memiliki kebebasan untuk membuat pilihan atas hidup. Akhirnya, saya sadar jika mengalami fanatisme agama. Saya merasa ada batasan aturan sehingga gerakgerik saya tidak leluasa. Saya sadar bahwa saya merasa tidak cocok dengan ritual agama Katolik. (82-94)

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 c. Khawatir akan kesia-siaan hidup Ds merasa hidupnya tidak boleh disia-siakan sehingga Ds sadar harus bertanggung jawab terhadap hidup. Dalam episode kehidupan ini, tentu Ds merasa cemas karena tidak leluasa ketika menjalani ritual agama. Saya tidak mau menyia-nyiakan hidup, apalagi saya memiliki kemampuan indigo sehingga saya ingin mencari jalan hidup sesuai pilihan saya. Iya saya berhak menentukan hidup mau menjadi seperti apa to. (94-102) Berdasarkan deskripsi analitis, pengalaman akan dorongan Angst yang terdiri dari kecewa atas kegagalan menjadi pastur, pilihan untuk bebas dan khawatir akan kesia-siaan hidup terangkum menjadi tema pokok sebagai berikut: Kehendak untuk menentukan pilihan hidup Dalam merujuk konsep keterlemparan yang diusung Heidegger, manusia yang terlempar di dunia ini memiliki dua sikap. Pertama, dalam keadaan terlempar manusia menyibukkan diri, dan tenggelam dalam faktisitas dunia di luar diri. Kemudian kondisi ini menjauhkan manusia dari pengalaman otentisitas. Kedua, dalam menyibukkan diri tersebut, manusia diingatkan akan Dasein-nya oleh dorongan Angst. Akibatnya, manusia sadar untuk membuat dirinya menjadi otentik. Kepatuhan terhadap kewajiban agama yang dialami Ds membuatnya tidak bahagia. Moaddel & Karabenick (2008) mengatakan bahwa otoritas agama yang mengikat seseorang dipastikan menghambat munculnya kebahagiaan. Ketidakbahagiaan ini memunculkan konsekuensi berupa rasa menyesal dan bersalah atas apa yang dilakukan seseorang.

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 Kesadaran akan kepatuhan terhadap kewajiban agama dimulai dengan pengalaman kekecewaan karena gagal masuk seminari Mertoyudan. Pengalaman kekecewaan itu membuat Ds berhenti untuk mewujudkan dorongannya menjadi pastur. Perasaan kecewa yang dialami Ds menyadarkannya untuk menjadi otentik. Peristiwa tersebut membuat Ds memiliki pilihan untuk bebas dan khawatir akan kesia-siaan hidup. Dengan adanya pilihan untuk bebas dan khawatir akan kesia-siaan hidup muncul kehendak untuk menentukan pilihan sendiri sehingga Ds mengalami pergeseran stimulus dari kondisi manusia yang patuh, menuju kepenuhan pikiran untuk mentransenden. Meskipun kecemasan akan kematian tidak dibicarakan, dorongan Angst diungkapkan dengan kehendak untuk menentukan pilihan sendiri. Kehendak untuk menentukan pilihan sendiri mengisyaratkan adanya kecemasan terhadap ketidakbebasan dan kesia-siaan hidup. “Saya merasa tidak memiliki kebebasan untuk membuat pilihan atas hidup.. saya tidak mau menyia-nyiakan hidup..“ Ds ingin menemukan potensi-potensi dirinya sehingga tidak terikat pada kewajiban agama. Heidegger (dalam Martens, 2005) mengutarakan bahwa otentisitas adalah suatu jalan bagi diri untuk mengeluarkan potensipotensi yang dimiliki dan mengubah reaksi diri terhadap tekanan. Lewat kesadaran untuk menjadi otentik, Ds merasa tidak menemukan kecocokan di dalam ritual Katolik.

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 Kemudian Ds mencari jalan hidup yang sesuai dengan potensipotensinya. Kesadaran untuk hidup otentik itu juga didasari oleh keinginan mengasah kemampuan indigonya. Akhirnya, kehendak untuk menentukan pilihan sendiri yang dialami Ds menentukan pengalaman hidupnya pada usia 20 tahun. ** 3. Proses pencarian otentisitas a. Ketertarikan mendalami kejawen Ds tertarik mendalami kejawen bermula dari mengikuti kebaktian salah satu pastur di Gereja Pugeran (tahun 1974/1975), Romo Sandiwan Broto, Pr., yang sering mengadakan kebaktian dengan menyesuaikan hari kelahiran Jawa. Ds merasa senang mengikuti kebaktian yang dipimpin pastur itu. Akhirnya, saya tertarik kejawen karena ikut kebaktian di Gereja Pugeran, Yogyakarta, setiap Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon. Kebaktian dipimpin salah satu pastur di Gereja Pugeran (tahun 1974/1975), Romo Sandiwan Broto, Pr. Saya merasa senang mengikuti kebaktian yang dipimpin pastur itu. Saya mengikuti kebaktian Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon bersama teman-teman mudika. Setelah selesai kebaktian, biasanya saya pergi tirakat bersama teman-teman mudika ke Panembahan Bodo, Makam Imogiri, dan Makam Ndoro Purbo. Sejak SMA, saya sering melihat pertunjukan ilmu katosan (debus). Saya tertarik untuk memahami budaya mistis dengan membaca buku-buku berbau mistis. (102-128) Saya ingin tahu bagaimana ajaran moral dan tradisi nenek moyang saya karena saya terlahir sebagai orang Jawa. Itu berguna untuk memahami diri saya sebagai orang Jawa. Itu baik untuk mengetahui asal-usul seseorang, sehingga tidak terjadi seperti sekarang ini yang mana orang pribumi mengadopsi budaya Arab, ada yang meniru budaya Eropa.

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 Menurut saya, pemaksaan budaya, terlebih-lebih terkait keyakinan jelas bisa merusak tatanan masyarakat yang sudah terbentuk sejak dulu. Saya menjadi paham diri saya dalam budaya Jawa. (145-165) b. Keluar dari penghayatan agama besar Pada usia 25 tahun, Ds keluar dari ritual agama Katolik karena telah menemukan keyakinan di dalam kejawen. Ds menolak praktek ritual agama besar. Ketika meninggalkan gereja, Ds menyadari adanya batas dengan komunitas Katolik. Ds memandang agama Katolik sebagai agama pendatang. Ds meyakini jika kejawen merupakan agama asli orang Jawa. Ds memandang kejawen sebagai warisan leluhur yang berisi ajaran moral dan tradisi. Kemudian mengapa saya menghayati kejawen yang selama ini juga saya yakini sebagai agama asli orang Jawa? Bagi saya, Katolik yang selama ini saya anut sebagai agama import. Agama Katolik bisa sampai ke Nusantara karena dibawa oleh orang asing ya, waktu kedatangan Portugis. (128-138) Saya tidak menjalankan agama dengan sepenuh hati sebab tidak bisa menerima praktek ritual selama ini. Misalnya, untuk bertemu Tuhan saja, umat harus melakukan kebaktian di Gereja pada hari minggu. Betapa birokratisnya untuk ketemu Tuhan, dimana penganutnya harus melalui orang lain yakni pastur. (190-201) Saya mulai tidak mengikuti kebaktian di Gereja pada usia 25 tahun. Saya sering bolos untuk kegiatan sembahyangan lingkungan. Lalu saya mulai pelan-pelan tidak aktif kegiatan di organisasi Katolik. Akibat dari sikap ini adalah saya teralienasi dari komunitas Katolik. Ya, saya melepaskan diri dari ikatan komunitas. Konsekuensi ini sudah saya perhitungkan sebelumnya dan karenanya saya tidak kaget ataupun menyesali. (256-272)

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 c. Integrasi ke kejawen Bawono Toto (coherence-cohesion) Pada usia 40 tahun, Ds mulai menekuni kejawen aliran Bawono Toto. Sebelumnya Ds mempelajari kejawen secara mandiri. Awal mulanya bergabung ke aliran Bawono Toto, Ds melihat sekelompok orang berpakaian surjan lengkap. Ketika melihat mereka, Ds tertarik untuk bergabung. Ds merasa ada dorongan untuk mendalami kejawen melalui aliran Bawono Toto. Ds pun meminta ijin kepada kelompok tersebut untuk menjadi anggota. Kemudian Ds diajari manembah dan membaca diktat yang berisi mantra-mantra untuk meditasi. Awalnya saya mempelajari kejawen secara otodidak. Baru pada usia 40 tahun, saya menekuni aliran bawono toto. Awal mulanya bergabung ke aliran bawono toto, saya melihat sekelompok orang berpakaian surjan lengkap. Saya tertarik untuk bergabung. Tertariknya ya berasal dari rasa dan Jawa-saya. Saya terdorong untuk mendalami kejawen melalui aliran bawono toto. Saat itu, saya meminta ijin kepada kelompok tersebut untuk menjadi anggota. Kemudian saya diajari manembah dan membaca diktat yang berisi mantra-mantra untuk meditasi. Kejawen yang saya hayati adalah kejawen seperti yang dihayati oleh Pak Harto dan Bu Tien, yaitu kejawen yang berafiliasi pada terciptanya tertib dan tertatanya dunia ini, yang dikenal kejawen Bawono Toto. (272-300) Kejawen Bawono Toto merupakan aliran kejawen yang bertujuan untuk menciptakan dunia yang tertib dan tertata. Sebagai pengikut kejawen Bawono Toto, Ds mengikuti norma yang berlaku. Salah satunya, Ds mengikuti norma untuk tidak napak tilas di kuburan. Ds melakukan meditasi di situs yang memiliki energi besar dan positif. Bagi pengikut kejawen bawono toto, dilarang napak tilas di kuburan. Situs yang menjadi tempat bagi penganut

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 bawono toto melakukan meditasi atau napak tilas adalah situs yang punya energi besar dan positif. Pada saatnya penghayat bawono toto akan bersatu dengan pepunden sari yang akan mendampingi sampai akhir hayat. Pepunden sari itu adalah sosok yang hidup di alam astral tapi mendapatkan tugas untuk mendampingi seseorang (mikrokosmos) yang ingin menjaga kelestarian suatu Negara (makrokosmos) supaya tertata dan tertib. Bagi seorang penghayat bawono toto yang sudah bersatu dengan pepunden sari di hari kelahiran (weton, kelahiran Jawa) wajib hukumnya untuk diperingati dengan bersesaji. (306-332) Dalam menghayati kejawen Bawono Toto, Ds berlatih menjalani puasa, meditasi, dan napak tilas. Ds juga menjalani ritual mandi tiap jam 12 malam. Ds rutin menjalani ritual-ritual dalam kejawen Bawono Toto sampai sekarang. Dalam kejawen ini saya dilatih untuk menjalani puasa dan meditasi serta melakukan napak tilas di tempat-tempat yang sifatnya sakral. Dan saya masih menjalani itu sampai sekarang. (300-306) Misal, rejeki selalu saya peroleh ini contoh konkritnya setelah saya melakukan mandi jam 12 malam tanpa sabun selama satu bulan dan sampai sekarang sering saya lakukan. (536-542) Ds suka pergi napak tilas di banyak situs. Ds menyebutkan satu per satu, sembari terdiam untuk memanggil kembali ingatannya. Situs yang berhasil Ds kunjungi antara lain, Padjajaran dan Batu Tulis (Bogor), Godog Suci (Garut), Kawali (Ciamis), Situ Sang Hyang (Lereng Gunung Cerme, Kuningan), Jambe Pitu (Gunung Selok, Cilacap), Dieng dan Padusan Bimo Lukar (Wonosobo), dan Sendang Sanjaya (Salatiga).

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 Pada tahun 1994, ada pengalaman unik yang Ds ceritakan saat napak tilas di Gunung Bromo. Waktu itu, Ds harus melihat matahari di pagi hari. Kemudian Ds mengambil sikap tubuh untuk meditasi. Dalam posisi meditasi itu, Ds mendengar suara yang tegas dan berat, “Mbesok, yen wes tekan titi wancine, bakal ana wong wuto kang jibles koyo Sukarno watege, bakal mimpin tanah Jawa kulon, tengah, lan wetan”. Untuk beberapa saat kemudian, Ds belum mampu menafsirkan suara gaib itu. Setelah beberapa lama mempelajari maksud suara itu, Ds seakan diberi petunjuk bahwa akan muncul pemimpin Indonesia yang mengalami gangguan penglihatan. Dan kenyataannya, Gus Dur dengan kondisi buta memimpin Indonesia pada tahun 2000-2002. Ds juga melakukan perjalanan napak tilas di beberapa tempat di Yogyakarta dan sekitarnya, yaitu Watu Gilang (Bantul), Mbang Lampir (Gunung Kidul), Kahyangan (Wonogiri), Candi Sukuh dan Candi Cetho (Lereng Gunung Lawu, Karanganyar). Kemudian Ds menyusuri wilayah di Jawa bagian Timur, antara lain, Petilasan Jayabaya (Pare, Kediri), Candi Penataran (Blitar), Candi Singosari, Candi Badut, Candi Jawi dan Candi Jago (Malang), Sumur Jalatunda dan Candi Brau (Mojokerto). Pengalaman unik Ds yang lain adalah napak tilas di Batu Pulang Geni, Lereng Gunung Salak. Pada tahun 1996 itu, Ds kembali mendengarkan suara yang tegas dan berat, “Bambang..Bambang..Bambang, kui mbesok bakal kairing dening Brawijaya IV, Jayabaya, Airlangga, Siliwangi, Sang Hyang Tunggal, Kanjeng Ratu Kidul madeg narendra ing

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 tanah Jawa. Mulo Suruh Ayu papagna ana ing Watu Pulang Geni iki supaya Ratu kui dadi sesuruh kang ayu yo apik kanggo natapraja.” Beberapa tahun berikutnya, tepatnya tahun 2004, SBY terpilih menjadi presiden Indonesia. Pengalaman dalam menjalani puasa, meditasi, dan napak tilas membuat Ds seperti terlahir kembali. Ds membangun dunia kehidupannya yang baru sesuai dengan potensi-potensi dirinya. Potensi-potensi yang berhasil disadarinya seperti kemampuan supranatural dan pola pikir yang kritis. Berdasarkan deskripsi analitis, pengalaman akan pencarian otentisitas yang terdiri dari ketertarikan mendalami kejawen, keluar dari penghayatan agama besar, dan integrasi ke kejawen Bawono Toto terangkum menjadi tema pokok sebagai berikut: Keterlibatan dalam ritual kejawen: puasa, meditasi, dan napak tilas. Guna melihat proses pencarian diri Ds yang otentik, perlu diketahui bahwa Ds memiliki pertanyaan berkaitan dengan pemahaman mengenai dirinya dan Tuhan sehingga setiap perjalanan hidupnya berusaha untuk menjawab pertanyaan itu. Ds tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaan itu ketika mengalami kepatuhan terhadap kewajiban agama. Kemudian Ds memilih untuk mendalami kejawen. Ketertarikan mendalami kejawen terjadi pada saat Ds berusia 20 tahun dengan mengikuti kebaktian Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon di Gereja. Ds menemukan kecocokan dengan kebaktian itu. Kemudian selesai kebaktian Ds pergi tirakat bersama teman-teman mudika ke Panembahan Bodo, Makam

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 Imogiri, dan Makam Ndoro Purbo. Berawal dari situ, Ds tertarik untuk mendalami kejawen dengan melakukan tirakat. Dalam proses mendalami kejawen itu, Ds menemukan pengetahuanpengetahuan baru, seperti sejarah kedatangan agama Katolik dan ajaran mengenai kejawen. Dengan adanya pengetahuan baru itu menjadikan Ds semakin memperdalam ajaran kejawen. Ds semakin mendalami dunia kejawen karena memahami dirinya sebagai orang Jawa. Ketidakcocokan terhadap ritual agama Katolik, telah menyadarkan Ds untuk mencari bentuk ritual yang lebih cocok dengan pemahaman Ds mengenai dirinya dan Tuhan. Pada usia 25 tahun Ds meninggalkan ritual agama Katolik di Gereja. Alasan Ds meninggalkan praktek ritual agama Katolik karena mengalami pertentangan batin mengenai aturan ritual yang birokratis, artinya untuk ketemu Tuhan diperlukan peran seorang pastur. Perjalanan Ds mendalami kejawen, tidak meninggalkan pemahaman mengenai diri dan Tuhan yang sedang dibangunnya. Kemudian Ds menghayati kejawen aliran Bawono Toto pada usia 40 tahun. Ds bergabung di kejawen Bawono Toto karena adanya keinginan dari diri sendiri yang terkait rasa dan Jawa-nya. Ds memilih menghayati kejawen Bawono Toto karena sesuai dengan arti Bawono Toto, Ds ingin berafiliasi pada terciptanya ketertiban dan tertatanya dunia ini. Dalam penghayatannya tersebut, Ds sering melakukan napak tilas di berbagai situs yang berenergi positif. Di beberapa situs itu Ds melakukan napak tilas dengan puasa dan meditasi. Pengalaman unik ketika napak tilas

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 adalah Ds mampu mendengar suara gaib berkaitan dengan calon pemimpin bangsa. Hal tersebut dikarenakan kemampuan supranatural yang dimilikinya. Akhirnya, dengan keterlibatan di ritual kejawen Ds menemukan pengalaman otentisitas. ** 3. Penemuan otentisitas a. Keterkaitan episode masa lalu dalam proses being (coherence– continuity) Ds membaca kitab suci dengan kritis sehingga menerima konsep Trinitas. Ds memahami Trinitas ada di dalam diri sehingga sampai sekarang masih meyakini ajaran Yesus. Ds juga menjaga dan melestarikan warisan nenek moyang Jawa. ..dan (kitab suci) selalu saya kupas dengan kritis. Saya kupas dengan tuntas. Misalnya, saya bisa menerima konsep Trinitas, Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus. Buat saya itu betul, Trinitas itu ada di dalam diri manusia. Allah Bapa itu kan Allah yang satu tadi. Allah Putra itu kita manusia yang hidup di dunia ini. Allah Roh Kudus itu sosok yang tidak kasat mata yang selalu melindungi, menjaga, mengasuh kita di dunia ini. Jadi Trinitas itu tidak hanya dimiliki oleh Yesus. Sampai sekarang saya masih meyakini ajaran Yesus. (62-81) Untuk itu, saya perlu menjaga dan melestarikan warisan nenek moyang Jawa. Saya mengelus dada bila banyak orang kurang peduli terhadap warisan nenek moyang. (165-171) Keterkaitan episode masa lalu dalam proses being Dalam proses menjadi seseorang yang diinginkan berdasarkan potensi-potensinya, Ds membawa pemahaman Trinitas yang dipelajarinya

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 sewaktu sekolah. Ds mampu menerima pemahaman Trinitas karena rutin membaca kitab suci. Dalam memahami isi kitab suci, Ds menghindari cara membaca isi kitab suci dengan membatasi diri pada pemahaman literal. Artinya, isi kitab suci tidak dipahami secara dasar, tetapi dipahami sesuai konteks kehidupan. Karena isi kitab suci dibaca secara kritis, Ds mampu menafsirkan isi kitab suci dengan dinamis. Ds mampu memadukan pemahaman Trinitas dengan keilahian Tuhan dalam ajaran kejawen yang didalaminya. Ds menghayati kejawen dengan tetap menerima pemahaman Trinitas. b. Menemukan Tuhan secara spiritual (coherence–demarcation) Ds menerima keilahian Tuhan dengan kejawen. Ds menolak pemahaman Tuhan yang satu dalam agama besar. Selain itu, Ds menolak pemahaman Tuhan yang berada jauh di luar manusia. Ds meyakini pemahaman Tuhan yang imanen. Lalu agama asli kejawen lebih bisa saya terima dalam memahami keilahian Tuhan atau Allah. Allah buat saya adalah energi kehidupan yang memenuhi alam semesta atau jagat raya ini. Oleh karena itu, Allah itu tidak terbilang sebagai satu dalam pemahaman agama Yahudi, Kristen dan Islam yang selama ini diyakini banyak orang. Maksudnya adalah bahwa Tuhan itu tidak bisa dirinci dengan bilangan angka satu, dua, tiga. Bagi saya, satunya Tuhan atau Allah tidak seperti angka satu yang selama ini kita pahami dalam ilmu matematika. (171-190) Lalu saya juga berseberangan dengan konsep Tuhan dalam agama tertentu yang menyebutkan bahwa Tuhan itu bersifat transendental, atau Tuhan itu berada jauh di luar manusia. Bagi saya, Tuhan itu imanen, berada dalam diri manusia. Tuhan itu ada di dalam tubuh sehingga organ di

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 dalam tubuh kita bisa berfungsi. Saya lebih setuju dengan pendapat Yesus yang mengatakan bahwa: “jika engkau mengenal Aku, engkau akan mengenal Bapa di Surga”. Aku di sini jangan dipahami sebagai sosok Yesus. Yang dimaksudkan Aku di sini adalah Roh Tuhan. Yesus mengajarkan kepada kita bahwa Roh kita yang sejati itu adalah Tuhan itu sendiri yang bersemayam di dalam hati. (201-226) Pemahaman mengenai Tuhan dicontohkan Ds lewat pengalamannya saat mau mencuri. Pada kesempatan tersebut, Ds sadar bahwa suara hati mengingatkannya untuk tidak mencuri. Ds memahami jika suara hati yang muncul itu adalah suara Tuhan. Kemudian Ds menceritakan pengalaman sewaktu ada bantuan bencana gempa. Ds menyadari jika suara hatinya kembali mengingatkan untuk tidak memanipulasi bantuan. Contohnya, pengalaman saya saat mau mencuri mangga di kebun tetangga, suara yang keluar dari dalam diri saya mengingatkannya dengan suara lembut, “Jangan Mencuri”. Jadi suara itu adalah suara hati yang saya pahami sebagai suara Tuhan. Kalau kita rawat, suara itu akan muncul dengan sendirinya ketika kita menghadapi situasi yang dilematis. Dulu waktu ada bantuan bencana dari pemerintah yang diberikan kepada korban gempa 2006 di Bantul, saya tahu bahwa banyak orang memanipulasi bantuan untuk kepentingan pribadi. Tetapi suara hati saya mengingatkan untuk tidak melakukannya. Suara hati itu selebihnya mengatakan, “jika kamu ikut memanipulasi bantuan, suatu saat pasti ketahuan.” Kenyataannya beberapa tahun kemudian orang-orang itu disidang di pengadilan. (226-256) Menemukan Tuhan secara spiritual Dengan cara pandang yang kritis itu, Ds mampu menemukan Tuhannya sendiri secara spiritual. Ds memiliki pemahaman mengenai Tuhan

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 yang berbeda dengan orang pada umumnya. Ds menolak pemahaman Tuhan yang dapat dirinci dengan angka satu dalam agama besar. Penemuan Tuhan secara spiritual dapat dipahami dalam keyakinan Ds mengenai Tuhan yang imanen. Karena Tuhan itu mengisi alam semesta, Ds meyakini keberadaan Tuhan dalam diri manusia. Ds menolak pemahaman Tuhan yang berada jauh di luar manusia, Tuhan yang bersifat transenden. Penganut agama besar dominan berada dalam pemahaman Tuhan yang transenden. Pemahaman Ds mengenai Tuhan yang imanen adalah pengalaman yang unik. Pemahaman mengenai Tuhan yang imanen dicontohkan Ds lewat pengalamannya sewaktu mau mencuri dan adanya bantuan untuk korban gempa. Lewat kedua pengalaman itu Ds menyadari Tuhan yang imanen muncul melalui suara hati. Oleh karenanya, Ds tetap meyakini ajaran Yesus serta sadar untuk menjaga dan melestarikan kejawen. c. Menjadi diri yang otonom (coherence-cohesion) Ds memiliki pengalaman ikut organisasi keagamaan, sekolah, dan partai. Ds mampu menunjukkan sikap yang berbeda dengan anggota lain dalam memecahkan persoalan di partai. Ds pun berani meninggalkan partai karena tidak sesuai dengan jiwanya. ..saya mampu menampilkan sikap yang berbeda dengan orang lain dalam ikut memecahkan persoalan. Dengan ketenangan yang saya miliki, saya mampu merumuskan suatu solusi yang mujarab bahkan mencengangkan orang lain karena bisa keluar dari kemelut yang dihadapi organisasi. (376-387)

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 Pengalaman dari berorganisasi pemuda Katolik telah memberi inspirasi saya untuk kiprah di organisasi OSIS SMA. Karena kemampuan dan pengalaman saya berorganisasi tersebut, membuat saya terpilih sebagai ketua OSIS SMA. Keterlibatan saya dalam berorganisasi yang awalnya aktif sebagai pengurus pemuda Katolik, akhirnya menginspirasi untuk melanjutkan kiprah di organisasi partai (PDI) dengan menggerakkan pemuda sekampung sekaligus membentuk cabang partai. (434-452) Buat saya, terlibat di PDI pada awalnya sangat menyenangkan dan membuat saya bersemangat karena bisa berinteraksi dengan kawan-kawan se-Yogyakarta. Tetapi, saya merasa organisasi politik ini (dan partai politik lainnya) tidak sesuai dengan jiwa saya karena di dalamnya penuh dengan intrik dan kepentingan pribadi yang bisa merugikan partai. Dan akhirnya saya tinggalkan dunia partai itu. (453-467) Menjadi diri yang otonom Park (dalam Martens, 2005) mengatakan bahwa ketika seseorang memahami penerapan pola dan perilaku budaya di sekitarnya (enkulturasi), seseorang itu dapat mulai untuk melawan dan mengatasi proses-proses sosialisasinya. Pertama kali, seseorang akan menjadi konformis dengan penerapan pola dan perilaku budaya di sekitarnya. Kemudian dengan melakukan investigasi diri, seseorang termotivasi untuk menjadi lebih otonom. Hal ini dialami Ds dalam keikutsertaan di organisasi. Awal mula Ds tertarik untuk berorganisasi (menjadi anggota pemuda Katolik) ketika berusia 16 tahun dan duduk di bangku SMA. Ds memiliki keinginan untuk menambah sosialisasi dan mendapatkan pengalaman berorganisasi yang berasaskan keagamaan. Sukarno, presiden RI pertama adalah sosok idola sejak kecil yang melatarbelakangi dirinya berorganisasi.

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Ds terinspirasi oleh kemahiran Sukarno dalam berorasi. 67 Dengan berkecimpung di organisasi Katolik, Ds berharap bisa setiap saat menggunakan kesempatan melatih berbicara menggunakan kalimat yang bernas (betul), sebagai permulaan latihan berorasi dan berani tampil di depan umum. Setelah lulus SMA, Ds memiliki cita-cita untuk bisa kuliah. Karena tidak memiliki biaya untuk kuliah, Ds ingin bekerja terlebih dulu. Akhirnya, Ds diajak temannya untuk bekerja di Centre for Strategic and International Studies (CSIS) di Jakarta. Ds menceritakan bahwa dirinya bekerja di CSIS selama 15 tahun. Pada usia 30 tahun Ds mengambil kuliah jurusan sosial dan politik di Universitas Nasional, Jakarta. Ds menjalani kuliah sembari bekerja. Karena sejak SMA hingga bekerja dan kuliah Ds membangun dunianya dalam lingkup politik, maka menjadikan Ds masuk dalam organisasi partai. Ds merasa senang dan bersemangat karena bisa bertemu dan berinteraksi dengan banyak teman di partai. Dalam perkembangannya, Ds menyadari adanya intrik dan kepentingan pribadi yang tidak sesuai dengan cara pandang Ds terhadap partai. Ds menunjukkan otonomi dirinya dengan berani meninggalkan partai. Ds memiliki rasa diri sehingga tidak terampas untuk patuh pada garis partai. Ds menjadi seorang yang otonom karena otonomi mengandung arti menjadi seseorang yang berpemerintah sendiri (Park dalam Martens, 2005).

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 d. Mengatur hidup secara mandiri (depth) Ds menjalani pacaran namun memilih untuk tidak menikah. Setelah masuk kejawen Ds semakin terpanggil untuk selibat. Ds mengatur hidupnya secara mandiri. Oleh karenanya, Ds merasa bangga. Saya mulai SMP sudah banyak yang naksir. Saat SMP, saya juga mulai tertarik dengan lawan jenis. Namun saat itu masih sebatas suka saja selayaknya anak remaja pada umumnya. Pernah waktu itu beranjak ke SMA, saya didekati oleh tiga cewek cantik. Mereka sekolah di beda tempat dengan saya, tetapi mereka jemaat dari gereja yang sama dengan saya. Mereka jadi pacar saya. Saya saat itu memang tidak seperti remaja-remaja yang lain kalau pacaran suka pamer pasangan. Saya lebih suka ngumpet. Agar tidak menimbulkan rasa cemburu dan sakit hati bagi ketiga cewek itu, saya memutuskan pindah ke Jakarta untuk bekerja. Meskipun punya pacar, nyatanya saya merasa tidak terpanggil untuk menikah. Setelah menghayati kejawen ini, saya semakin menyadari kalau saya terpanggil untuk hidup selibat. (581-612) Nyatanya, saya dapat mengatur hidup saya secara mandiri, iya tetap merasa bangga kan. (615-618) Mengatur hidup secara mandiri Semasa muda, Ds mengakui bahwa dirinya tertarik dengan lawan jenis dan menjalani pacaran. Setelah dewasa, Ds menyadari hidupnya terpanggil untuk tidak menikah. Ds semakin menyadari panggilan untuk hidup selibat setelah menghayati kejawen. Ds mengatur hidup secara mandiri sendiri lepas dari ketergantungan orang lain. Ds yang seorang diri tetap mampu mengatur hidupnya tanpa membutuhkan sesuatu yang diidealkan orang lain. Ds dengan sadar dan bebas memilih untuk hidup mandiri tanpa terikat pernikahan.

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 e. Merasa berdaya dengan kejawen (vitality) Ds merasa bebas menyampaikan uneg-uneg kepada Tuhan. Ds merasa antusias ketika berinteraksi dengan komunitas kejawen. Bagi Ds, penghayatan kejawen mengobati kekecewaannya terhadap relasi dan praktek ritual dalam agama Katolik. Kemudian Ds menjalani aktivitas dengan semangat dan tidak mengeluh, memiliki cinta dan harga diri, dan senang bisa menolong orang lain. Setelah menekuni kejawen, ya saya merasa lebih bebas berekspresi meski dalam batas-batas tertentu. Misalnya, saya bisa langsung memohon kepada Tuhan tanpa melalui perantara sebagaimana dalam agama Katolik. Dalam kebebasan berekspresi melalui kegiatan ritual dalam aliran bawono toto, saya bisa menyampaikan keinginan, uneguneg kepada Sang Khalik. Dalam menyampaikan aspirasi tidak bisa dilakukan umat dalam perayaan ekaristi. Itu bedanya, ritual menurut Katolik dan kejawen. Saya pun merasa antusias ketika berkumpul bersama komunitas kejawen. Saya bisa berinteraksi dengan banyak orang yang masih memeluk berbagai agama Islam, Katolik, Hindu, Budha. Itu benar-benar saya alami. Jadi kekecewaan saya (berinteraksi dan praktek ritual hanya dengan sesama umat) terobati. (467-498) Secara lahir batin penghayatan yang selama ini saya jalani memberikan kepuasan lebih dari cukup. (532-535) Saya pun menjalani aktivitas sehari-hari dengan semangat dan tidak mengeluh akan keadaan saya. (612-615) Seringkali, banyak teman atau tetangga yang meminta bantuan kepada saya. Saya merasa senang dengan menolong mereka. (623-628) Sebelumnya Ds mengalami perubahan cara pandang terhadap sosok pastur yang sewaktu kecil menjadi cita-citanya. Ds merasa kecewa terhadap seorang pastur seperti petikan wawancara berikut:

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 Tapi bentuk kekecewaan saya yang belum terobati adalah melihat seorang pastur melanggar sumpah selibat dengan menjalin hubungan dengan lawan jenis. Buat saya ini suatu peristiwa yang menjijikkan karena sering kali pastur disebut oleh banyak orang sebagai wakil Tuhan dalam melakukan kegiatan ritual. Saya juga prihatin melihat pastur yang tidak mau menjalin silahturahmi atau sekedar jagongan dengan warga sekitar yang bukan umatnya. Silahturahmi dengan ustad aja tidak pernah dilakukan. Menurut saya, banyak pastur yang saya temui itu pribadi yang kaku. Padahal keluwesan untuk bergaul dengan umat lain sangat penting, salah satunya untuk mengatasi perbedaan dan konflik sosial di masyarakat. (498-525) Merasa berdaya dengan kejawen Ds merasa gembira karena Ds menemukan kebebasan berekspresi melalui doa kepada Tuhan. Ds merasa bebas karena tidak ada yang mengatur sebagaimana dalam ritual agama Katolik. Dalam penghayatan kejawen, Ds tidak membutuhkan perantara (pastur) untuk menyampaikan doa kepada Tuhan. Ds merasa puas ketika berinteraksi dengan komunitas kejawen karena bisa bertemu dengan umat dari beragam agama. Ds menemukan bentuk relasi yang terbuka dan luas. Akhirnya, penghayatan kejawen yang dijalani mengobati kekecewaannya terhadap relasi dan praktek ritual dalam agama Katolik. Kemudian Ds menjalani aktivitas sehari-hari dengan semangat dan tidak mengeluh karena memiliki minat untuk menjalani hidup. Ds juga mengungkapkan bahwa dirinya memiliki cinta dan harga diri karena sering dimintai bantuan oleh orang lain. Ds merasa senang bisa menolong orang

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 lain. Oleh karenanya, penghayatan kejawen yang dijalani Ds membuatnya merasa berdaya. f. Menyetel perubahan diri (maturity) Ds merasa bahwa pandangan hidupnya mengalami perubahan setelah menghayati kejawen Bawono Toto. Ds melakukan meditasi untuk melatih keberanian. Kemudian Ds menjalani puasa untuk melatih pengendalian nafsu. Dalam menghayati Bawono Toto, banyak hal yang mengubah pandangan hidup saya. Latihan meditasi tiap jam 12 tengah malam saya lakukan untuk melatih keberanian dalam situasi gelap dan sepi. Dengan kondisi seperti itu, saya berharap mampu mendengarkan suara yang paling lirih. Sedangkan berpuasa itu untuk melatih saya untuk mengendalikan nafsu dari lima indera yang ada. (333-348) Latihan meditasi dan puasa membuat Ds sadar akan sifat temperamennya. Kemudian Ds mampu mengubah perilaku buruknya itu. Dampaknya, Ds dapat menghadapi persoalan dengan tenang. Hasil dari latihan meditasi dan berpuasa memang nyata bermanfaat bagi saya pribadi dalam kehidupan sampai sekarang ini. Dulu (sebelum menghayati kejawen) saya tipe orang yang sangat temperamental dalam menyikapi masalah yang bersifat pribadi maupun yang bersifat umum (masalah sehari-hari orang banyak). Kelakuan buruk seperti itu bisa saya sadari dan saya perbaiki dengan berpuasa dan meditasi. Dengan meditasi dan puasa, segala persoalan bisa saya hadapi dengan tenang dan bisa teratasi. Dulu saya kalau berjalan langkah kaki saya terburu-buru. Saya merasa ga sabaran. Sekarang (setelah menghayati kejawen) kalau saya jalan ya dengan langkah yang kalem. (348-373)

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 Ds mengakui jika dirinya memiliki sifat keras kepala. Hal itu dikarenakan Ds memiliki prinsip. Apabila Ds merasa yakin bahwa sikap dan pendapatnya benar, maka Ds akan menunjukkan sifat keras kepalanya. Orang lain sering mengatakan saya keras kepala dengan sikap itu tetapi saya merasa yakin sikap dan pendapat itu benar. Contohnya pengalaman saya dalam rangka mencari dana untuk membiayai suatu even organisasi politik. Bila orang lain dalam menghimpun dana dengan menarik sumbangan dari para donator sementara saya dalam menghimpun dana cukup dengan pengumpulan koran dari anggota dan simpatisan. Ternyata dana yang terkumpul lebih besar yang diperoleh dari pengumpulan koran daripada donator sehingga event yang kami gagas bisa berjalan sesuai dengan rencana. (387-409) Ds membuat kemampuan intuisinya menjadi tajam. Ds memanfaatkan ketajaman intuisinya untuk membantu teman. Selain itu, Ds dapat menggunakan ketajaman intuisi untuk membantu diri sendiri. Lalu kemampuan intuisi saya menjadi lebih tajam dalam memprediksi peristiwa yang akan saya hadapi ke depan. Ketajaman intuisi ini juga bisa saya manfaatkan untuk membantu teman dalam mencari solusi atas permasalahan yang menimpa keluarganya. Contohnya, saya bisa memberikan petunjuk secara metafisika. Dan oleh karenanya, jasa metafisika yang saya miliki itu memperoleh imbalan jasa. Meskipun hal ini tidak menjadi harapan saya. Ketajaman intuisi juga telah membantu diri saya pribadi terhindar menjadi korban gempa bumi 2006 di Bantul, karena satu hari sebelumnya saya sudah mendapatkan firasat tentang peristiwa ini. (542-566) g. Memiliki rasa humor terhadap diri (maturity) Dalam ironinya, Ds memiliki rasa humor. Ds merasa geli dengan diri sendiri terkait relasinya dengan lawan jenis. Hal ini tidak terlepas dari

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 pengalaman Ds yang menjalani pacaran semasa muda, namun hingga kini menjalani hidup seorang diri. Kalau bercermin, saya seringkali geli dengan diri saya sendiri, terutama dalam hal berelasi dengan cewek-cewek. Kalau saya pikir-pikir, saya berulangkali memiliki pacar tetapi ya mau gimana kalau saya inginnya seperti ini. Hehe Apalagi jika dikaitkan dengan status saya dewasa ini yang masih tetap membujang. Saya tetap akan menjalani kesendirian saya, toh di kanan kiri saya banyak teman. (567-581) h. Mampu bersikap inklusif (maturity) Kemudian Ds senantiasa sadar untuk mematuhi norma hukum dan masyarakat. Ds mengembangkan toleransi dalam hidup bermasyarakat. Ds menolak pemaksaan kehendak dari orang lain dengan damai. Sikap hidup saya setelah menghayati kejawen, senantiasa sadar untuk tidak melakukan sesuatu yang menyimpang dari norma hukum dan norma masyarakat. (526-532) Selain itu, saya menghormati orang-orang yang tidak sejalan dengan penghayatan saya selama ini. Pemahaman seseorang tentang Tuhan dan agama serta budaya spiritual yang berbeda-beda itu saya hormati. Saya sadar bahwa manusia itu satu sama lain sudah pasti punya perbedaan dalam hal pandangan hidup dan penghayatan spiritual. Untuk itu kata toleransi bagi saya tetap saya pegang teguh dalam pergaulan masyarakat. Meskipun orang punya keyakinan yang tidak sejalan dengan saya dan tidak memaksakan keyakinannya, saya tetap hargai. Tetapi ketika orang dengan keyakinan yang tidak sejalan dengan saya dan memaksakan kehendak saya untuk sama dengannya, maka saya akan membantahnya dengan argumentasi yang sehat dan tidak menciderai keyakinan yang dipeluknya. (628-657) Dalam perjalanan menghayati kejawen, Ds sadar akan adanya hambatan. Hambatan tersebut terutama ketika berhadapan dengan orang

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 fanatik. Ds pun sadar bahwa pemerintah belum mengakui penghayat secara legal. Hambatan sebagai penghayat kepercayaan itu ketika berhadapan dengan pemeluk fanatik agama Islam maupun Kristen. Mereka biasanya lebih mudah mendiskreditkan pelaku penghayat kepercayaan sebagai musyrik. Kemudian pemerintah belum 100% mengakui keberadaan penghayat secara legal. Maksudnya, pemerintah seringkali hanya mengakomodir kepentingan domain agama. Keberadaan teman-teman penghayat seakan-akan menjadi anak tiri. (657-675) i. Menemukan keluwesan relasi diri–Tuhan (maturity) Akhirnya, Ds menemukan kesesuaian hubungan antara dirinya dengan Tuhan dalam kejawen. Ds memahami relasinya dengan Tuhan sangat pribadi tanpa intervensi dari orang lain. Ds juga dapat melakukan hubungan personal dengan Tuhan setiap saat. Penghayatan yang saya jalani sekarang dalam komunitas kejawen lebih cocok atau sesuai dengan pandangan dan keyakinan saya tentang relasi manusia dengan Tuhannya. Pendek kata, hubungan manusia dengan Tuhannya sangat pribadi sekali dan jauh dari intervensi orang lain maupun otoritas suatu lembaga keagamaan. Yang dimaksudkan lebih sesuai dalam hal ini adalah sewaktu-waktu saya bisa melakukan hubungan personal dengan Sang Pencipta tanpa harus melibatkan banyak orang sebagaimana yang dilakukan pemeluk agama dengan sholat berjamaah dan kebaktian di Gereja. (675-697) Berdasarkan deskripsi analitis, pengalaman maturity yang muncul melalui tema menyetel perubahan diri, memiliki rasa humor terhadap diri, mampu bersikap inklusif, dan menemukan keluwesan relasi diri-Tuhan terangkum menjadi tema pokok sebagai berikut:

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 Menemukan keluwesan diri Proses menjadi seorang yang luwes dimulai dengan menyetel perubahan diri. Dirinya menjadi berani menghadapi situasi yang gelap dan sepi dengan latihan meditasi. Kemudian dirinya menjadi mampu mengendalikan nafsu dengan latihan puasa. Dengan latihan meditasi dan puasa Ds menyadari sifat temperamennya dan mampu mengubah sifatnya itu. Akibatnya, Ds dapat menghadapi persoalan dengan tenang. Kemudian Ds mengakui bahwa dirinya memiliki sifat keras kepala karena memegang kuat prinsip. Ds melatih kemampuan intuisinya menjadi tajam pula. Ds memanfaatkan ketajaman intuisinya untuk membantu teman dan diri sendiri karena dapat memprediksi peristiwa yang akan dihadapi ke depan. Dalam kesendiriannya, Ds memiliki rasa humor. Ds mampu menertawai diri sendiri terkait relasinya dengan lawan jenis. Hal ini tidak terlepas dari pengalaman Ds yang menjalani pacaran semasa muda, namun hingga kini menjalani hidup seorang diri. Dalam kehidupan sosialnya, Ds sadar untuk mematuhi norma hukum dan masyarakat. Kesadaran itu diwujudkan dengan mengembangkan toleransi dalam hidup bermasyarakat. Ds menghormati orang-orang yang memiliki pemahaman di luar penghayatan kejawennya. Hal ini karena Ds menyadari adanya perbedaan dalam pandangan hidup dan penghayatan spiritual setiap orang.

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 Dalam perjalanan menghayati kejawen, Ds mengakui adanya hambatan. Hambatan tersebut terutama ketika berhadapan dengan orang fanatik. Selain itu, pemerintah belum mengakui penghayat secara legal. Akhirnya, pengalaman otentisitas yang ditemukan Ds mengarah pada kesesuaian relasi dirinya dengan Tuhan. Ds memahami relasinya dengan Tuhan sangat pribadi tanpa intervensi orang lain. Ds dapat melakukan hubungan personal dengan Tuhan tidak terbatas oleh waktu dan tempat; kapan pun. Keluwesan diri bila ditilik dari psychological well-being menunjukkan dimensi penerimaan diri dan pertumbuhan diri yaitu Ds berdamai dan menerima pengalaman hidupnya masa lampau dan melanjutkan proses kehidupannya di masa kini. Dimensi yang lain berupa Ds memiliki relasi positif dengan orang lain. Penemuan otentisitas tersebut menggambarkan Ds, meminjam istilah Rogers (1971) sebagai seseorang yang congruence. Rogers mengatakan bahwa congruence merupakan konsep yang kompleks, namun secara naluriah seseorang dapat membedakan mana dirinya yang sungguh-sungguh, berkata apa yang betul-betul ingin dikatakannya, dan perasaan yang ada di dalam lubuk hatinya yang terdalam adalah sama dengan yang diekspresikannya. Seseorang yang menemukan pengalaman otentisitasnya adalah seseorang yang congruence karena memahami keadaan dirinya sendiri.

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 Sekarang Ds lebih sering menghabiskan waktu di rumah. Ds menikmati kesehariannya di Bantul dan seringkali pergi menengok saudaranya yang ada di kota Yogya. Namun, Ds tidak melupakan kegiatan ritualnya. Ds melakukan ritual seperti mandi jam 12 malam, meditasi, dan puasa di rumah. Apabila melakukan napak tilas, Ds pergi ke situs yang tidak terlalu jauh. Jika ada kegiatan penyuluhan dari salah satu LSM, tentang masalah hukum, politik, pemilu, seringkali Ds diminta untuk membantu.

(96) PLAGIAT MERUPAKAN MERUPAKAN TINDAKAN TINDAKAN TIDAK TIDAK TERPUJI TERPUJI PLAGIAT 78

(97) PLAGIAT MERUPAKAN MERUPAKAN TINDAKAN TINDAKAN TIDAK TIDAK TERPUJI TERPUJI PLAGIAT 79

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI B. 80 Esensi Pengalaman Ds menggambarkan pengalamannya sebagai kepatuhan terhadap kewajiban agama karena adanya fanatisme terhadap agama besar. Fanatismenya terhadap agama besar itu mendorong Ds untuk menjadi pastur. Namun, Ds mengalami kegagalan karena tidak lulus tes masuk seminari, sehingga memupus harapannya menjadi pastur. Ds merasa kecewa terhadap pengalaman kepatuhan yang mendorongnya untuk menjadi pastur. Kemudian Ds mengalami pilihan untuk bebas sebagai akibat dari ketidakbebasan dalam mengembangkan potensi-potensinya di dalam kepatuhan agama. Dalam ketidakbebasan itu Ds merasa khawatir akan kesia-siaan hidupnya. Ds menyadari memiliki kemampuan indigo sehingga tidak ingin menyia-nyiakan potensinya tersebut. Ds ingin hidupnya memiliki arti sehingga muncul kehendak untuk menentukan pilihan sendiri. Kehendak untuk menentukan pilihan sendiri ini guna memenuhi pilihan untuk bebas dan mengatasi kekhawatiran akan kesia-siaan hidupnya. Dengan munculnya kehendak untuk menentukan pilihan sendiri ini menghantarkan Ds terlibat dalam ritual kejawen dengan menjalani puasa, meditasi, dan napak tilas. Dalam membangun dunia baru yang sesuai dengan pilihannya di kejawen, ada keterkaitan episode masa lalu dalam proses being berupa keyakinan ajaran Trinitas. Keterkaitan episode masa lalu dalam proses being membuat Ds menemukan Tuhan secara spiritual. Kemudian Ds menjadi seorang yang otonom karena berhasil menemukan Tuhannya sendiri secara spiritual, sehingga Ds memilih keluar

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 dari partai dengan menuruti suara hatinya (suara Tuhan). Karena memiliki otonomi diri dan adanya keterkaitan episode masa lalu dalam proses being yang berupa keinginan hidup selibat (cita-cita menjadi pastur), menjadi alasan Ds untuk mengatur hidup secara mandiri. Penghayatan kejawen yang dijalani Ds membuatnya merasa gembira. Ds mampu mengatasi kekecewaannya terhadap interaksi dan praktek ritual di dalam agama. Ds menjadi berdaya dalam menjalani hidup karena telah menemukan Tuhannya sendiri secara spiritual, menjadi diri yang otonom, dan mengatur hidup secara mandiri. Dengan memiliki perasaan yang memberdayakan, Ds menemukan keluwesan diri. Keluwesan di sini terkait hubungan Ds dengan dirinya sendiri, orang lain, dan Tuhan. Keluwesan diri inilah yang menjadi pengalaman puncak dari penemuan otentisitas yang dialami Ds. Keluwesan diri merupakan esensi pengalaman hidup yang dialami orang Jawa dalam penghayatan kejawennya. Penghayat kejawen memiliki kecenderungan mencari keluwesan diri guna menjaga kedamaian batin. Dengan memiliki kedamaian batin, penghayat kejawen mudah untuk mengejawantahkan konsep Memayu Hayuning Bawono (membuat dunia menjadi semakin indah) sehingga terjaga keharmonisan dalam kehidupan alam semesta. Untuk memperjelas struktur pengalaman Ds, akan disuguhkan gambar 2 sebagai berikut:

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Gambar 2. Struktur Pengalaman Kepatuhan terhadap kewajiban agama Kehendak untuk menentukan pilihan sendiri: kecewa atas kegagalan, pilihan bebas dan khawatir akan kesia-siaan hidup Keterlibatan dalam ritual kejawen: puasa, meditasi, napak tilas Keterkaitan episode masa lalu dalam proses being Menemukan Tuhan secara spiritual Menjadi diri yang otonom Menemukan keluwesan diri Merasa berdaya dengan kejawen Mengatur hidup secara mandiri 82

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI C. 83 Pembahasan Pengalaman hidup Ds merupakan sebuah perjalanan menemukan keluwesan diri yang diawali dengan penghayatan pada agama yang dirasa memiliki aturan kaku. Penghayatan yang dialami Ds membuatnya patuh terhadap kewajiban agama. Kepatuhan terhadap kewajiban agama menimbulkan perasaan kecewa. Kemudian muncul pilihan untuk bebas dan khawatir akan kesia-siaan hidupnya sehingga keluar kehendak untuk menentukan pilihan sendiri. Ds memilih untuk mencari bentuk penghayatan yang lebih luwes. Pencarian itu mengantarkan Ds untuk terlibat di ritual kejawen. Ds menjalani ritual puasa, meditasi, dan napak tilas. Sedangkan penelitian Diaz & Sawatzky (1995) merupakan perjalanan para partisipan untuk menemukan kembali apa itu yang disebut ―rumah‖. ―Rumah‖ memunculkan pemikiran bahwa mereka telah memiliki tempat dimana mereka mengolah aspek fisik, emosional, psikologis, dan spiritualnya, namun mereka meninggalkannya untuk hidup di budaya modern. Perjalanan pulang ke ―rumah‖ merupakan cara partisipan menemukan dirinya yang utuh dengan kembali menuju budaya asli dari budaya modern. Perjalanan spiritual Ds memiliki perbedaan dengan perjalanan pulang ke ―rumah‖ oleh para partisipan. Perjalanan Ds merupakan bentuk pencarian penghayatan ritual yang lebih luwes, dimulai dari kepatuhan di agama yang mencerminkan kekakuan berlanjut ke keterlibatan di kejawen yang dirasa luwes. Keterlibatan Ds di ritual kejawen membuat dirinya

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI merasa gembira. Kegembiraan itu berupa adanya 84 kebebasan mengekspresikan potensi-potensinya sehingga Ds mampu memahami keadaan dirinya sendiri. Ds bebas untuk menjadi dirinya sendiri. Kebebasan yang dimiliki Ds menghasilkan pengalaman unik dalam pemahamannya mengenai Tuhan. Meskipun meninggalkan lembaga dan aturan agama, Ds masih meyakini dan membawa ajaran Trinitas (Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus) yang diperolehnya dari agama. Ds menemukan kesesuaian antara ajaran Trinitas dari agama dan pemahaman Tuhan secara spiritual melalui keluwesan dirinya. Ds meyakini bahwa Tuhan merupakan energi yang mengisi alam semesta sehingga Ds meyakini keberadaan Tuhan yang imanen. Ds merasakan kehadiran Tuhan yang imanen lewat pengalaman memilih antara yang baik dan buruk berdasarkan suara hati (suara Tuhan). Ds menolak pemahaman agama yang meyakini Tuhan dapat dirinci dengan angka satu dan berada jauh di luar manusia. Sedangkan bagi seorang partisipan, Robear, penyembuhan melalui upacara dan ritual asli dirasakan sebagai hubungan dengan Sang Pencipta, tanah kelahiran, dan segala sesuatu yang tumbuh di tanah kelahirannya. Akibatnya, Robear menemukan kembali budaya dan identitas dirinya yang sempat hilang itu. Sang Pencipta dipahami sebagai kekuatan yang membuat segala sesuatu yang tumbuh di bumi dapat hidup. Pemahaman mengenai Tuhan tidak diceritakan oleh semua partisipan dalam penelitian Diaz & Sawatzky (1995).

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 85 Perbedaan berikutnya yang peneliti temukan adalah dalam mengolah ritual asli, para partisipan merasa takut karena upacara dan ritual asli merupakan pengalaman pertama mereka dalam menghadapi ketidaksempurnaan diri dan takut tidak diterima karena datang dari budaya modern. Sedangkan Ds tidak merasa takut terhadap pengalaman ritual seperti para partisipan ritual asli Indian. Ds memiliki pengalaman yang berbeda karena sebelumnya Ds memiliki pengetahuan dan pengalaman mengenai kejawen yang dipelajarinya secara mandiri. Ds merasa percaya diri ketika mendalami kejawen dan masuk ke aliran kejawen Bawono Toto. Meskipun sebagai orang modern, Ds tidak menganggap dirinya berbeda dengan orang-orang kejawen lainnya. Ds dan para partisipan mengalami proses identifikasi terhadap orang tertentu. Ds mengidentifikasi seorang pastur yang membawanya masuk ke kejawen kemudian mengidentifikasi pelaku kejawen Bawono Toto untuk masuk menjadi anggotanya. Sedangkan para partisipan mengidentifikasi orang-orang asli Indian dan penatua untuk membantunya masuk ke upacara dan ritual asli. Ds meminta diajari manembah dan meditasi oleh pengikut kejawen Bawono Toto. Para partisipan juga meminta penatua untuk mengajarinya puasa. Kemudian Ds mengalami kecocokan dalam ritual di kejawen karena lebih luwes daripada ritual di agama Katolik. Para partisipan merasa menemukan identitasnya dalam upacara dan ritual budaya asli daripada budaya modern.

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86 Para partisipan dan Ds memiliki motivasi yang berbeda dalam menemukan sesuatu yang hilang di perjalanan kehidupannya. Para partisipan secara gamblang menceritakan pencarian diri yang utuh melalui ritual asli. Ds termotivasi untuk menemukan kebebasan yang tidak diperoleh di kehidupan beragamanya. Dengan menemukan sesuatu yang hilang dalam kehidupan mereka, maka kehidupan yang mereka jalani menjadi bermakna. Selanjutnya, peneliti akan mencantumkan temuan Heidegger (1927/1962) mengenai otentisitas untuk membandingkan dengan temuan otentisitas dalam pengalaman Ds. Heidegger menjelaskan secara khas bahwa otentisitas ditandai dengan adanya dorongan Angst, kecemasan yang dialami manusia karena suatu saat akan mati. Manusia yang menyadari bahwa eksistensi dirinya akan berhenti pada titik kematian, maka terdorong untuk bertanggung jawab terhadap hidupnya. Dorongan untuk bertanggung jawab muncul dikarenakan manusia lupa mengurus ―ada‖-nya sendiri sehingga timbul perasaan cemas atas ketiadaan tanggung jawab terhadap hidup. Ds tidak bercerita mengenai kematian sehingga perasaan yang muncul terhadap kematian tidak diungkapkan. Peneliti menemukan bahwa dorongan Angst muncul berupa kehendak untuk menentukan pilihan sendiri. Kehendak untuk menentukan pilihan sendiri mengisyaratkan adanya kecemasan terhadap ketidakbebasan dan kesia-siaan hidup. Ketidakbebasan dan kesia-siaan hidup akibat Ds lupa mengurus ―ada‖-nya dalam kepatuhan terhadap kewajiban agama.

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87 Heidegger (dalam Martens, 2005) mengatakan bahwa cara otentisitas hadir berhubungan dengan kreatifitas, berupa keinginan menjadi otentik harus timbul dari pertanyaan pribadi seseorang dan tidak ditentukan dari luar diri. Otentisitas dapat demikian dipahami sebagai bentuk dari realisasi diri, penyelidikan terhadap dunia dan diri, dan jalan untuk membebaskan kepalsuan diri, kondisi yang tidak memiliki hasrat dan pilihan hidup yang keliru. Bila dikaitkan dengan pendapat Heidegger ini, maka pengalaman Ds yang mengarah pada cara otentisitas hadir dapat ditemukan dalam munculnya pilihan untuk bebas. Sekali lagi mengutip penggalan wawancara, “..saya merasa tidak memiliki kebebasan untuk membuat pilihan atas hidup. Akhirnya, saya sadar jika mengalami fanatisme agama. Saya merasa ada batasan aturan sehingga gerak-gerik saya tidak leluasa..“ (83-91) Perjalanan Ds dalam menghayati kejawen merupakan pengalaman yang unik. Pengalaman Ds terkait dengan dunia politik. Pertama, memiliki sosok inspirasi dalam berorganisasi yaitu Sukarno. Ds tertarik dengan kemahiran Sukarno dalam berorasi. Ds memiliki pengalaman berorganisasi dimulai dari organisasi keagamaan hingga organisasi partai. Kemudian ketika melanjutkan kuliah, Ds pun memilih jurusan sosial dan politik. Dalam keterlibatan di organisasi partai Ds memperlihatkan otonomi diri. Ds berani meninggalkan partai demi mempertahankan dirinya yang otonom. Pengalaman Ds ini merupakan antitesis bagi pelaku politik praktis dewasa ini. Artinya, pelaku politik dewasa ini menggunakan kebijakan dan

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 88 kekuasaannya hanya untuk kepentingan pribadi maupun kelompok sehingga kehilangan otonomi dirinya. Ds memilih menghayati kejawen Bawono Toto karena sesuai dengan arti Bawono Toto, Ds ingin berafiliasi pada terciptanya ketertiban dan tertatanya dunia ini. Keinginan untuk terlibat dalam ketertiban dan tertatanya dunia ini merupakan implementasi dari konsep Memayu Hayuning Bawono dan pendidikan politik yang diperolehnya melalui organisasi dan perkuliahan. Kemudian karena Ds memiliki kemampuan supranatural, Ds mampu mendengarkan suara gaib terkait dengan suasana politik di Indonesia. Seperti prediksi akan sosok pemimpin nomor satu di Indonesia. Kemudian diceritakan bahwa Ds memiliki panggilan untuk hidup selibat atau tidak menikah. Ds menolak keterikatan dengan aturan pernikahan. Dalam kehidupan seorang diri itu, Ds mampu mengatur hidupnya secara mandiri. Ds merasa terpanggil membaktikan hidupnya untuk membantu orang lain yang membutuhkan kemampuan supranaturalnya. Hal ini menarik karena pengalaman personal mengenai hidup selibat dan kemampuan supranatural tidak ditemukan dalam penelitian Diaz & Sawatzky (1995). Penelitian ini juga memiliki perbedaan mengenai hasil penelitian dengan Stange (2009). Stange menggambarkan bahwa penghayatan Sumarah merupakan perjalanan kejawen yang mengalami transformasi bentuk dari kejawen lama (alam roh dan pencarian kuasa) menjadi kejawen

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 89 modern (kesadaran manunggal). Warga Sumarah tetap setia menekuni agama, namun praktek kejawen dipisahkannya dari praktek agama. Sedangkan penghayatan Ds menunjukkan bahwa Ds dapat dikatakan menghayati kejawen lama karena masih mempercayai alam roh meskipun Ds meninggalkan bentuk pencarian kuasa (magic). Dalam penelitian ini Ds meninggalkan agama dan meleburkan diri dalam penghayatan spiritual. Namun, Ds tetap sebagai seorang yang modern dan berasal dari suku Jawa terlepas dari penghayatan kejawennya. Dalam penelitian ini, Ds meninggalkan agama karena memiliki alasan. Ds meninggalkan agama karena alasan ketidakcocokkan dalam bentuk ritual dan relasi agama. Seperti yang telah dibahas sebelumnya relasi yang dimaksud adalah saat menjalani ritual, perjumpaan yang terjadi hanya dengan sesama umat seagama. Sedangkan praktek ritual yang telah membuat Ds kecewa adalah adanya perantara (pastur) untuk melakukan perjumpaan dengan Tuhan sehingga Ds merasa kebebasan pribadinya diatur. Alasan untuk meninggalkan agama diperparah oleh perubahan cara pandang terhadap sosok pastur. Sewaktu kecil, Ds sangat mengidolai pastur. Di usia dewasa, Ds menaruh kekecewaan terhadap pastur. Kekecewaan itu muncul karena Ds melihat pastur melanggar janji selibat. Ds menemukan ada pastur menjalin hubungan dengan lawan jenis. Ds juga prihatin melihat pastur yang tidak mau berinteraksi dengan warga di luar umatnya. Pengalaman itu diperparah lagi dengan perjumpaan Ds dengan pastur yang bersikap kaku. Ds memiliki harapan kepada pastur

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 agar bersikap luwes, sehingga dapat mengatasi perbedaan dan konflik sosial di masyarakat. Konsentrasi penelitian ini adalah menggambarkan penemuan otentisitas dalam pengalaman hidup Ds, maka peneliti mengungkapkan bahwa penghayatan kejawen yang diikuti Ds membantunya untuk melahirkan diri yang otentik. Berdasarkan munculnya tema-tema yang menunjukkan dimensi otentisitas, pengalaman yang paling menonjol adalah maturity. Tentu perbandingannya dengan dimensi otentisitas yang lain (coherence, vitality, dan depth). Pengalaman maturity Ds tampak paling menonjol karena merupakan pengalaman puncak dari penemuan otentisitasnya. Pengalaman maturity yang dimaksud adalah menemukan keluwesan diri. Ferrara (1998) memaparkan keluwesan sebagai kapasitas untuk memilih dan menjaga jalur otentik yang telah dibangunnya, toleransi dengan perasaan yang bertentangan dalam diri, penerimaan terhadap batas-batas kekuatan fisik, intelektual, dan emosional diri seseorang. Tidak mengherankan apabila Ds menunjukkan maturity yang tinggi, jika dilihat dari usia kronologisnya, yaitu 59 tahun. Kemudian Ds menjalani puasa, meditasi, dan napak tilas dengan rutin pula. Keterlibatan di ritual kejawen terbukti mengantarkan Ds menemukan keluwesan diri. Faktor terakhir yang sangat menentukan adalah kemampuan indigo yang dimiliki Ds sehingga mempengaruhi dirinya untuk menjadi lebih matang.

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91 Kemampuan indigo atau supranatural yang dimiliki Ds menunjukkan bahwa Ds lahir dengan anugerah kemampuan untuk melihat, mendengar, dan berkomunikasi dengan makhluk yang tidak kasat mata. Peneliti melihatnya sebagai gifted, bukanlah halusinasi seperti pengalamannya mendengarkan suara gaib perihal calon pemimpin negara Indonesia. Hal itu dikarenakan pendengarannya akan suara gaib diperoleh tidak setiap saat, namun momen tertentu seperti ketika Ds melakukan napak tilas di Gunung Bromo dan Batu Pulang Geni, Lereng Gunung Salak. Penelitian ini menggambarkan jalan menemukan otentisitas pada diri Ds melalui penghayatan kejawen. Ds merasa bahwa karena menghayati kejawen, dirinya dapat berjumpa dengan dirinya sendiri dan memunculkan dirinya yang otentik. Namun, peneliti tidak memungkiri apabila ada jalan lain yang dapat menghantarkan orang untuk menemukan otentisitas dirinya. Peneliti menyadari bila penghayatan kejawen bukanlah satu-satunya jalan untuk menemukan otentisitas diri.

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Ds mengalami empat babak kehidupan, pertama Ds mengalami keterlemparan dalam agama besar. Ds menyadari keterlemparan tersebut karena adanya dorongan Angst. Kemudian Ds melakukan pencarian otentisitas dengan kejawen. Akhirnya, Ds menemukan pengalaman otentisitas (diri yang otentik). Pada pengalaman keterlemparan, terangkum tema utama yaitu kepatuhan terhadap kewajiban agama. Kemudian Ds menyadari kepatuhan terhadap kewajiban agama karena adanya dorongan Angst (kecemasan) berupa tema kehendak untuk menentukan pilihan hidup. Dorongan Angst membuat Ds menyadari Dasein (berada-dalam-dunia). Dengan menyadari Dasein-nya, Ds melakukan perjalanan untuk mencari otentisitas. Proses pencarian otentisitas dialami Ds dengan keterlibatan di ritual kejawen. Ds menjalani puasa, meditasi, dan napak tilas. Prosesnya dimulai dengan menggeluti dunia kejawen secara mandiri. Hingga akhirnya Ds menghayati kejawen aliran Bawono Toto. Penghayatan kejawen yang dialami Ds mengantarkannya dalam penemuan otentisitas. Peristiwa pertama ditunjukkan dengan adanya keterkaitan episode masa lalu dalam proses being (coherence-continuity). 92

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 93 Karena adanya keterkaitan dengan episode masa lalu, Ds menemukan Tuhan secara spiritual (coherence-demarcation). Dengan menemukan Tuhannya sendiri secara spiritual membantu Ds menjadi diri yang otonom (coherencecohesion). Kemudian peristiwa itu mempengaruhi Ds untuk mengatur hidup secara mandiri (depth). Keberhasilan menemukan pengalaman-pengalaman unik tersebut membuat Ds merasa berdaya (vitality). Sebagai penutup, Ds mengalami pengalaman puncak dengan menemukan keluwesan diri (maturity) sehingga sesuatu yang hilang dalam penghayatan agama dapat diraihnya di ritual kejawen. Oleh karenanya, kehidupan yang dijalani Ds menjadi bermakna. B. Saran Melalui penelitian ini dapat diberikan beberapa saran sebagai berikut: 1. Saran bagi keluarga dan masyarakat a. Pada ranah keluarga diharapkan memberi kebebasan bagi setiap anggota keluarga untuk memilih jalan hidupnya, terkait dengan agama dan kepercayaan. Dengan adanya kebebasan tersebut, setiap anggota dapat mengembangkan potensi-potensi dalam dirinya sehingga setiap anggota keluarga dapat tumbuh sebagaimana yang dicita-citakan. Berkaitan dengan itu, pertumbuhan menjadi diri yang otentik harus didukung dari keluarga.

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI b. 94 Pada tataran masyarakat diharapkan dapat memahami bagaimana penghayat kejawen membangun dunianya. Masyarakat memiliki peran dalam menciptakan toleransi sehingga masyarakat merupakan entitas pertama untuk memberi ruang bagi perbedaan kepercayaan dan agama. 2. Saran bagi eksponen agama dan pemangku kebijakan a. Para eksponen agama memiliki kewajiban untuk memberi kenyamanan bagi umatnya masing-masing terkait dengan pribumisasi ritual, yang mana makna ritual akan lebih mengena apabila disesuaikan dengan budaya masyarakat setempat. Para eksponen agama diharapkan memberi teladan mengenai perilaku yang mencerminkan orang beragama dan kerukunan antar umat beragama, sehingga dapat menggerakkan pemeluknya untuk menciptakan dialog keaagamaan. b. Bagi pemangku kebijakan yang saling terkait, seperti pemerintah dan pihak swasta, diharapkan untuk tidak mempolitisasi agama dan tidak memberi intervensi terhadap kebebasan umat dalam menjalankan agama dan kepercayaannya. 3. Saran bagi peneliti lainnya a. Terkait dengan pengalaman otentisitas dari penghayat kepercayaan, perlu dilakukan penelitian yang melibatkan lebih dari

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 95 satu subyek dengan latar belakang agama yang berbeda. Penggunaan subyek tunggal menunjukkan kelemahan penelitian. Dengan demikian, akan dihasilkan pengalaman otentisitas yang beragam dari beberapa pemeluk agama atau mantan penganut agama yang mengolah dimensi spiritualnya. b. Bagi peneliti yang tertarik dengan dunia kejawen, diharapkan memperbanyak penelitian yang menggambarkan peran penghayatan kejawen sehingga dihasilkan penelitian selain sebagai proses penemuan otentisitas.

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Abidin, Z. (2007). Analisis eksistensial sebuah pendekatan alternatif untuk psikologi dan psikiatri. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Artha, A.T. (2007). Dunia Spiritual Soeharto: Menelusuri Laku Ritual, TempatTempat dan Guru Spiritualnya. Yogyakarta: Galangpress. Creswell, J.W. (1998). Qualitative inquiry and research design choosing among five traditions. California : Sage Publications, Inc. Diaz, S. & Sawatzky, D. (1995). Rediscovering native rituals: ―coming home to my self‖. The Journal of Transpersonal Psychology, 27(1), 69-86. Endraswara, S. (2013). Memayu Hayuning Bawana. Yogyakarta: Narasi. Ferrara, A. (1998). Reflective Authenticity: Rethinking the Project of Modernity. London: Routledge. Fromm, E. (1995). Masyarakat yang sehat. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Geertz, C. (1989). Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa (Aswab Mahasin, Terj.). Jakarta: Pustaka Jaya. Heidegger, M. (1962). Being and time (John Macquarrie & Edward Robinson, Terj.). Southampton: The Gamelot Press Ltd. Kartapradja, K. (1985). Aliran Kebatinan dan Kepercayaan di Indonesia. Jakarta: Yayasan Masagung. Koentjaraningrat. (1994). Kebudayaan Jawa, Cet. II, Jakarta: Balai Pustaka. Lemay, E. & Pitts, J.A. (terj.). (2001). Heidegger untuk Pemula. Yogyakarta: Kanisius. Magnis-Suseno, F. (1985). Etika Jawa Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. Jakarta: Gramedia. Mangunwijaya, Y.B. (2008). Manusia Pascamodern, Semesta, dan Tuhan. Yogyakarta: Kanisius. Martens, W.H.D. (2003). Spiritual psychotherapy for antisocial and psychopathic personalities: Some theoretical building blocks. Journal of Contemporary Psychotherapy, 33(3), 205-218. 96

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 97 Martens, W.H.D. (2005). A theoretical model of fragile authenticity structure. International Journal of Philisophical Practice, 2(3), 1-18. May, R. (1958). Contributions of existential psychotherapy. Dalam R. May, E. Angel, & H.F. Ellenberger (Eds.), Existence: A new dimension in psychiatry and psychology. New York: Basic Books, Inc. Moaddel, M. & Karabenick, S.A. (2008). Religious fundamentalism among young muslims in Egypt and Saudi Arabia. Social Forces, 86(4),1675-1710. Mudji Sutrisno, FX. & Hardiman, F.B. (Ed.). (1992). Para Filsuf Penentu Gerak Zaman. Yogyakarta: Kanisius. Noer, D. (1980). Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. Jakarta: LP3ES. Poerwandari, Kristi. (2005). Pendekatan Kualitatif untuk Penelitian Perilaku Manusia. Jakarta : LPSP3 Psikologi UI. Purwadi. (2012). Pemikiran Religius Masyarakat Jawa. Yogyakarta: Elmatera Publishing. Rogers, C.R. (1971). On becoming a person. A therapist’s views of psychotherapy. London: Constable & Company, Ltd. Setiadji, A.B. (2006). Kawruh Utama Jawa: A Stream of Light of Javanese Noble Knowledge. Banda Aceh:___ Smith, A. J. (Ed). (2009). Dasar-dasar psikologi kualitatif, Pedoman praktis Metode penelitian. Alih bahasa Budi Santosa. Jakarta: Nusamedia. Stange, P. (1998). Politik Perhatian: Rasa dalam Kebudayaan Jawa, (LkiS, Terj.). Yogyakarta: LkiS. Stange, P. (2009). Kejawen Modern: Hakikat dalam Penghayatan Sumarah. Yogyakarta: LkiS. Subagya, R. (1976). Kepercayaan- Kebatinan, Kerohanian, Kejiwaan- dan Agama. Yogyakarta: Kanisius. Woodward, M.R. (1999). Islam Jawa: Kesalehan Normatif versus Kebatinan (Hairus Salim HS, Terj.). Yogyakarta: LkiS.

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN 1 INFORMED CONSENT 98

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 99 INFORMED CONSENT Saya adalah mahasiswaFalnltas Psikologi Universitas SanataDharma yang akan melakukanporelitian mengenaipengalamai otentisitaspenghayat kejawen. Dalam mendukung proses penelitian ini, saya mohon bantuan Saudamuntuk bersediamenjadi partisipanpenelitian. Tujuan dari penelitian ini adalahmenggambarkanpengalamanotentisitaspenghayatkejawen. Saya mohon bantuan kepada Saudara karena pengalaman Saudara dalam menghayatikejawen- Untuk lebih jelas terhadapprosesnya,Saudaraberhak bertanyamengenaihal-hal yang dirasa belum paham denganpenelitian ini sebelummenjadipartisipan. Saya akan mengumpulkandata dengan metode wawancara-Kernudian saya meminta Saudara untuk menjawab pertanyaan-peltanyaanterkait pengalamanSaudarasebelum dan sesudahmenghayati kejawen. Mungkin SaudaraharusmengingaFingatpengalamandi masalalu karenaSaudaraakan menceritakanpengalarnan-pengalaman pribadi yang pernahte4adi. Sayaakan menggu[akan digital recoftler untuk merekam proses wawancara yang berlangsung.Wawancaraakan dimulai kapanpunketika Saudarasiap untuk bercerita. Proses wawancaraakan berlangsungdengan durasi secukupnya, selamaSaudan tetap memsanyaman untuk bercsrita. Intensitas\rawancara tidak bisa diprediksi sampaitujuan penelitiantelah tercapailewat pengalaman yang Saudaracedtakan. Saudaraakan dapat merefleksikankembali pengalamanyang diceritakan melalui peran Saudaramenjadi patisipan. Kemauan Saudaradalam berbagi pengalamanberhargaini akan memberikansumbangsihtersendiribagi orang lain ataumasyarakatya g mernbaca.KemudianpartisipasiSaudarajuga akan berperandalarnsumbangsihkeilmuan dalamdisiplin psikologi. Tanda tangan Saudaramenyatakanbahwa Saudaratelah menghendaki untuk berpartisipasidalampenelitianini namuntidak mengikat Saudarauntuk tetapmenjadipartisipa[ sarnpaibemkhimyapenelitianini. Terimakasih. Peneliti ./2 ry' S.P.Dyan Martikatama

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN 2 VERBATIM WAWANCARA 100

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 101 VERBATIM WAWANCARA No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. Komentar Memiliki penghayatan agama besar yang fanatik Verbatim Awalnya penghayatan agama saya boleh dibilang fanatik, sejak dibaptis waktu SD usia 10 tahun sampai remaja usia Mendalami agama 20 tahun. Saya mendalami sungguh-sungguh agama dengan sungguhTaat aturan gereja sungguh. Saya taat ikut misa di gereja. Setiap sabtu atau minggu saya selalu Taat aturan keluarga menyempatkan ke gereja. Itu karena aturan keluarga saya yang menghayati Katolik Pernah bercita-cita sejati. Saya bahkan pernah menjadi seorang bercita-cita menjadi seorang pastur pastur. Seorang pastur dalam Waktu kecil pandangan saya waktu kecil memandang pastur sebagai sosok yang saleh dan sebagai sosok yang suci. Saya katakan saleh saleh dan suci karena setiap hari pastur rajin memimpin ritual atau kebaktian gereja. Saya katakan suci karena pastur hidup selibat yang praktis dia tidak melakukan senggama dengan lawan jenis. Memandang pastur Selebihnya, saya sebagai wakil Tuhan berpandangan bahwa seorang karena mampu pastur adalah wakil Tuhan menterjemahkan dan karena mampu memahami pesannya menterjemahkan dan memahami pesan-pesan Tuhan yang ada di dalam Waktu kecil meyakini kitab suci. Dan saya waktu pastur yang meninggal kecil meyakini kalau pastur masuk surga meninggal pasti masuk surga. Di samping itu keinginan Keinginan menjadi saya untuk menjadi pastur pastur karena kegiatan karena kegiatan saya di organisasi Katolik lingkungan organisasiorganisasi yang berbasis agama Katolik, seperti Legio Maria, mudika, dan putra altar (misdinar). Pandangan Judul Tema Menghayati agama besar dengan fanatik Taat aturan keluarga dan gereja Memiliki cita-cita menjadi pastur Memandang pastur sebagai sosok yang saleh dan suci Memandang pastur sebagai wakil Tuhan Meyakini pastur yang meninggal masuk surga Cita-cita menjadi pastur karena terlibat organisasi keagamaan

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44. 45. 46. 47. 48. 49. 50. 51. 52. 53. 54. 55. 56. 57. 58. 59. 60. 61. 62. 63. 64. 65. 66. 67. 68. 69. 70. 71. 72. 73. 74. 75. 76. 77. 78. 79. 80. 81. 82. 83. 84. 85. 86. 87. 88. 89. tersebut yang mendorong saya untuk masuk sekolah Mendaftar seminari pastur. Kemudian saya Mertoyudan karena mendaftarkan diri sekolah di terdorong pandangan seminari Mertoyudan, tetapi tentang pastur saya tidak lulus tes. Untuk Kecewa karena gagal beberapa tahun kemudian tes masuk seminari kegagalan masuk seminari membuat saya kecewa. Tapi Menyadari kegagalan lama-lama saya menyadari sebagai suratan tangan bahwa kegagalan itu sudah dan tak perlu disesali menjadi suratan tangan dan tak perlu disesali. Pengetahuan tentang Pengetahuan saya tentang agama sangat luas agama yang saya anut sangat luas. Saya sering membeli Kitab suci dibaca buku-buku keagamaan. Kitab hampir tiap hari dan suci menjadi bacaan hampir dikupas secara kritis setiap hari, dan selalu saya kupas dengan kritis. Saya kupas dengan tuntas. Menerima konsep Misalnya, saya bisa Trinitas menerima konsep Trinitas, Allah Bapa, Allah Putra, dan Trinitas ada di dalam Allah Roh Kudus. Buat saya diri itu betul, Trinitas itu ada di dalam diri manusia. Allah Bapa itu kan Allah yang satu tadi. Allah Putra itu kita manusia yang hidup di dunia ini. Allah Roh Kudus itu sosok yang tidak kasat mata yang selalu melindungi, menjaga, mengasuh kita di dunia ini. Jadi Trinitas itu tidak hanya dimiliki oleh Masih meyakini Yesus. Sampai sekarang saya ajaran Yesus masih meyakini ajaran Yesus. Selama 10 tahun menghayati Sadar dirinya merasa agama Katolik itu, saya tidak bebas membuat merasa tidak memiliki pilihan hidup. kebebasan untuk membuat pilihan atas hidup. Akhirnya, saya sadar jika mengalami Merasa ada batasan fanatisme agama. Saya dalam ataran agama merasa ada batasan aturan 102 Pandangan tentang pastur mendorong masuk seminari Kecewa karena gagal masuk seminari Menyadari kegagalan sebagai takdir Pengetahuan agama sangat luas Membaca kitab suci hampir tiap hari Membaca kitab suci dengan kritis Menerima konsep Trinitas Memahami Trinitas ada di dalam diri Masih meyakini ajaran Yesus Sadar untuk bebas memilih Merasa dibatasi oleh aturan agama

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90. 91. 92. 93. 94. 95. 96. 97. 98. 99. 100. 101. 102. 103. 104. 105. 106. 107. 108. 109. 110. 111. 112. 113. 114. 115. 116. 117. 118. 119. 120. 121. 122. 123. 124. 125. 126. 127. 128. 129. 130. 131. 132. 133. 134. 135. Merasa tidak cocok dengan ritual agama Katolik Tidak ingin menyianyiakan hidup Sadar memiliki kemampuan indigo Ingin mencari jalan hidup sendiri Tertarik mendalami kejawen dengan ikut kebaktian Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon. Suka pergi tirakat bersama teman-teman mudika. Suka membaca bukubuku mistis. Melihat Katolik sebagai agama datang sehingga gerak-gerik saya tidak leluasa. Saya sadar bahwa saya merasa tidak cocok dengan ritual agama Katolik. Saya tidak mau menyia-nyiakan hidup, apalagi saya memiliki kemampuan indigo sehingga saya ingin mencari jalan hidup sesuai pilihan saya. Iya saya berhak menentukan hidup mau menjadi seperti apa to. Akhirnya, saya tertarik kejawen karena ikut kebaktian di Gereja Pugeran, Yogyakarta, setiap Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon. Kebaktian dipimpin salah satu pastur di Gereja Pugeran (tahun 1974/1975), Romo Sandiwan Broto, Pr. Saya merasa senang mengikuti kebaktian yang dipimpin pastur itu. Saya mengikuti kebaktian Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon bersama teman-teman mudika. Setelah selesai kebaktian, biasanya saya pergi tirakat bersama teman-teman mudika ke Panembahan Bodo, Makam Imogiri, dan Makam Ndoro Purbo. Sejak SMA, saya sering melihat pertunjukan ilmu katosan (debus). Saya tertarik untuk memahami budaya mistis dengan membaca buku-buku berbau mistis. Kemudian mengapa saya menghayati kejawen yang selama ini juga saya yakini sebagai agama asli orang Jawa? Bagi saya, Katolik yang selama ini saya anut sebagai agama import. Agama Katolik bisa sampai 103 Ketidakcocokan dengan ritual agama Tidak ingin menyianyiakan hidup Sadar memiliki kemampuan indigo Ingin menentukan pilihan hidup sendiri Tertarik mendalami kejawen Memandang agama besar sebagai pendatang

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 136. 137. 138. 139. 140. 141. 142. 143. 144. 145. 146. 147. 148. 149. 150. 151. 152. 153. 154. 155. 156. 157. 158. 159. 160. 161. 162. 163. 164. 165. 166. 167. 168. 169. 170. 171. 172. 173. 174. 175. 176. 177. 178. 179. 180. 181. Melihat Kejawen sebagai ajaran moral dan tradisi leluhur Sadar terlahir sebagai orang Jawa sehingga ingin tahu warisan nenek moyang Berguna untuk memahami diri sebagai orang Jawa Pemaksaan budaya asing merusak tatanan masyarakat Menjaga dan melestarikan warisan nenek moyang Bisa memahami keilahian Allah dengan kejawen Allah adalah energi kehidupan alam semesta Menolak pemahaman Allah yang satu dalam agama besar ke Nusantara karena dibawa oleh orang asing ya, waktu kedatangan Portugis. Sedang kejawen merupakan ajaran moral dan tradisi dari nenek moyang. Ajaran yang sejak dulu sudah ada, sebelum ada agama seperti yang dianut oleh banyak orang sekarang ini. Saya ingin tahu bagaimana ajaran moral dan tradisi nenek moyang saya karena saya terlahir sebagai orang Jawa. Itu berguna untuk memahami diri saya sebagai orang Jawa. Itu baik untuk mengetahui asal-usul seseorang, sehingga tidak terjadi seperti sekarang ini yang mana orang pribumi mengadopsi budaya Arab, ada yang meniru budaya Eropa. Menurut saya, pemaksaan budaya, terlebihlebih terkait keyakinan jelas bisa merusak tatanan masyarakat yang sudah terbentuk sejak dulu. Saya menjadi paham diri saya dalam budaya Jawa. Untuk itu, saya perlu menjaga dan melestarikan warisan nenek moyang Jawa. Saya mengelus dada bila banyak orang kurang peduli terhadap warisan nenek moyang. Lalu agama asli kejawen lebih bisa saya terima dalam memahami keilahian Tuhan atau Allah. Allah buat saya adalah energi kehidupan yang memenuhi alam semesta atau jagat raya ini. Oleh karena itu, Allah itu tidak terbilang sebagai satu dalam pemahaman agama Yahudi, Kristen dan Islam 104 Memandang kejawen sebagai warisan leluhur Memahami diri sebagai orang Jawa Menjaga dan melestarikan warisan Jawa Memahami keilahian Tuhan dengan kejawen Menolak pemahaman Tuhan yang satu dalam agama besar

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 182. 183. 184. 185. 186. 187. 188. 189. 190. 191. 192. 193. 194. 195. 196. 197. 198. 199. 200. 201. 202. 203. 204. 205. 206. 207. 208. 209. 210. 211. 212. 213. 214. 215. 216. 217. 218. 219. 220. 221. 222. 223. 224. 225. 226. 227. yang selama ini diyakini banyak orang. Maksudnya adalah bahwa Tuhan itu tidak bisa dirinci dengan bilangan angka satu, dua, tiga. Bagi saya, satunya Tuhan atau Allah tidak seperti angka satu yang selama ini kita pahami Tidak menjalankan dalam ilmu matematika. Saya agama besar sepenuh tidak menjalankan agama hati karena tidak bisa dengan sepenuh hati sebab menerima praktek tidak bisa menerima praktek ritualnya ritual selama ini. Misalnya, untuk bertemu Tuhan saja, umat harus melakukan kebaktian di Gereja pada hari minggu. Betapa birokratisnya untuk ketemu Tuhan, dimana penganutnya harus melalui orang lain yakni pastur. Lalu Berseberangan dengan saya juga berseberangan konsep Tuhan yang dengan konsep Tuhan dalam berada jauh di luar agama tertentu yang manusia menyebutkan bahwa Tuhan itu bersifat transendental, atau Tuhan itu berada jauh di luar Meyakini Tuhan manusia. Bagi saya, Tuhan berada dalam diri itu imanen, berada dalam diri manusia manusia. Tuhan itu ada di dalam tubuh sehingga organ di dalam tubuh kita bisa berfungsi. Saya lebih setuju dengan pendapat Yesus yang mengatakan bahwa: ―jika engkau mengenal Aku, engkau akan mengenal Bapa di Surga‖. Aku di sini jangan dipahami sebagai sosok Yesus. Yang dimaksudkan Aku di sini adalah Roh Tuhan. Yesus mengajarkan kepada kita bahwa Roh kita yang sejati itu adalah Tuhan itu sendiri yang bersemayam di dalam hati. Contohnya, Suara hati pengalaman saya saat mau 105 Menolak praktek ritual agama besar Menolak pemahaman Tuhan yang berada jauh dari manusia Meyakini pemahaman Tuhan yang imanen Suara hati

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 228. 229. 230. 231. 232. 233. 234. 235. 236. 237. 238. 239. 240. 241. 242. 243. 244. 245. 246. 247. 248. 249. 250. 251. 252. 253. 254. 255. 256. 257. 258. 259. 260. 261. 262. 263. 264. 265. 266. 267. 268. 269. 270. 271. 272. 273. mengingatkan untuk tidak mencuri mencuri mangga di kebun tetangga, suara yang keluar dari dalam diri saya mengingatkannya dengan suara lembut, ―Jangan Memahami suara hati Mencuri‖. Jadi suara itu sebagai suara Tuhan adalah suara hati yang saya pahami sebagai suara Tuhan. Kalau kita rawat, suara itu akan muncul dengan sendirinya ketika kita menghadapi situasi yang dilematis. Dulu waktu ada bantuan bencana dari pemerintah yang diberikan kepada korban gempa 2006 di Bantul, saya tahu bahwa banyak orang memanipulasi bantuan untuk kepentingan pribadi. Tetapi suara hati saya mengingatkan untuk tidak Suara hati melakukannya. Suara hati itu mengingatkan untuk selebihnya mengatakan, ―jika tidak ikut kamu ikut memanipulasi memanipulasi bantuan bantuan, suatu saat pasti pemerintah ketahuan.‖ Kenyataannya beberapa tahun kemudian orang-orang itu disidang di Mulai tidak ikut pengadilan. Saya mulai tidak kebaktian Gereja di mengikuti kebaktian di usia 25 tahun Gereja pada usia 25 tahun. Sering bolos Saya sering bolos untuk sembahyangan kegiatan sembahyangan lingkungan lingkungan. Lalu saya mulai pelan-pelan tidak aktif kegiatan di organisasi Merasa teralienasi dari Katolik. Akibat dari sikap ini komunitas Katolik adalah saya teralienasi dari komunitas Katolik. Ya, saya melepaskan diri dari ikatan Memperhitungkan komunitas. Konsekuensi ini konsekuensinya sudah saya perhitungkan sehingga tidak kaget sebelumnya dan karenanya ataupun menyesali saya tidak kaget ataupun menyesali. Awalnya saya mempelajari kejawen secara 106 mengingatkan untuk tidak mencuri Memahami suara hati sebagai suara Tuhan Suara hati mengingatkan untuk tidak memanipulasi bantuan Memiliki integritas dengan keluar dari ritual agama besar Ada batas antara diri– komunitas agama besar Memahami konsekuensi dari alienasi

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 274. 275. 276. 277. 278. 279. 280. 281. 282. 283. 284. 285. 286. 287. 288. 289. 290. 291. 292. 293. 294. 295. 296. 297. 298. 299. 300. 301. 302. 303. 304. 305. 306. 307. 308. 309. 310. 311. 312. 313. 314. 315. 316. 317. 318. 319. otodidak. Baru pada usia 40 tahun, saya menekuni aliran bawono toto. Awal mulanya bergabung ke aliran bawono toto, saya melihat sekelompok orang berpakaian surjan lengkap. Saya tertarik untuk bergabung. Tertariknya ya berasal dari rasa dan Jawasaya. Saya terdorong untuk mendalami kejawen melalui aliran bawono toto. Saat itu, saya meminta ijin kepada kelompok tersebut untuk menjadi anggota. Kemudian saya diajari manembah dan membaca diktat yang berisi Menghayati aliran mantra-mantra untuk kejawen Bawono Toto meditasi. Kejawen yang saya hayati adalah kejawen seperti yang dihayati oleh Pak Harto dan Bu Tien, yaitu kejawen yang berafiliasi pada terciptanya tertib dan tertatanya dunia ini, yang Dilatih menjalani dikenal kejawen Bawono puasa dan meditasi Toto. Dalam kejawen ini saya serta napak tilas di dilatih untuk menjalani puasa tempat sakral sampai dan meditasi serta melakukan sekarang napak tilas di tempat-tempat yang sifatnya sakral. Dan saya masih menjalani itu Mengikuti larangan sampai sekarang. Bagi napak tilas di kuburan pengikut kejawen bawono toto, dilarang napak tilas di kuburan. Situs yang menjadi tempat bagi penganut bawono toto melakukan meditasi atau napak tilas adalah situs yang punya energi besar dan positif. Pada saatnya penghayat bawono toto akan bersatu dengan pepunden sari yang akan mendampingi sampai akhir hayat. Pepunden sari itu adalah sosok yang 107 Menghayati kejawen Bawono Toto Berlatih menjalani puasa, meditasi, dan napak tilas sampai sekarang Mengikuti norma kejawen

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 320. 321. 322. 323. 324. 325. 326. 327. 328. 329. 330. 331. 332. 333. 334. 335. 336. 337. 338. 339. 340. 341. 342. 343. 344. 345. 346. 347. 348. 349. 350. 351. 352. 353. 354. 355. 356. 357. 358. 359. 360. 361. 362. 363. 364. 365. Pandangan hidup berubah setelah menghayati Bawono Toto Meditasi tiap jam 12 untuk melatih keberanian Puasa untuk melatih pengendalian nafsu dari lima indera Menyadari dulunya sebagai orang yang temperamen Kelakuan buruknya disadari dan diperbaiki dengan puasa dan meditasi Segala persoalan dihadapi dengan hidup di alam astral tapi mendapatkan tugas untuk mendampingi seseorang (mikrokosmos) yang ingin menjaga kelestarian suatu Negara (makrokosmos) supaya tertata dan tertib. Bagi seorang penghayat bawono toto yang sudah bersatu dengan pepunden sari di hari kelahiran (weton, kelahiran Jawa) wajib hukumnya untuk diperingati dengan bersesaji. Dalam menghayati Bawono Toto, banyak hal yang mengubah pandangan hidup saya. Latihan meditasi tiap jam 12 tengah malam saya lakukan untuk melatih keberanian dalam situasi gelap dan sepi. Dengan kondisi seperti itu, saya berharap mampu mendengarkan suara yang paling lirih. Sedangkan berpuasa itu untuk melatih saya untuk mengendalikan nafsu dari lima indera yang ada. Hasil dari latihan meditasi dan berpuasa memang nyata bermanfaat bagi saya pribadi dalam kehidupan sampai sekarang ini. Dulu (sebelum menghayati kejawen) saya tipe orang yang sangat temperamental dalam menyikapi masalah yang bersifat pribadi maupun yang bersifat umum (masalah sehari-hari orang banyak). Kelakuan buruk seperti itu bisa saya sadari dan saya perbaiki dengan berpuasa dan meditasi. Dengan meditasi dan puasa, segala persoalan 108 Menyadari bahwa pandangan hidup berubah Meditasi untuk melatih keberanian Puasa untuk melatih pengendalian nafsu Menyadari sifat temperamen Mengubah perilaku buruk dengan puasa dan meditasi Menghadapi persoalan dengan tenang

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 366. 367. 368. 369. 370. 371. 372. 373. 374. 375. 376. 377. 378. 379. 380. 381. 382. 383. 384. 385. 386. 387. 388. 389. 390. 391. 392. 393. 394. 395. 396. 397. 398. 399. 400. 401. 402. 403. 404. 405. 406. 407. 408. 409. 410. 411. tenang dan teratasi Menampilkan sikap yang berbeda dengan orang lain saat ikut memecahkan persoalan di partai Menyadari dirinya keras kepala karena yakin sikap dan pendapatnya benar bisa saya hadapi dengan tenang dan bisa teratasi. Dulu saya kalau berjalan langkah kaki saya terburu-buru. Saya merasa ga sabaran. Sekarang (setelah menghayati kejawen) kalau saya jalan ya dengan langkah yang kalem. Manfaat lainnya yang bisa saya petik dari berpuasa dan meditasi, saya mampu menampilkan sikap yang berbeda dengan orang lain dalam ikut memecahkan persoalan. Dengan ketenangan yang saya miliki, saya mampu merumuskan suatu solusi yang mujarab bahkan mencengangkan orang lain karena bisa keluar dari kemelut yang dihadapi organisasi. Orang lain sering mengatakan saya keras kepala dengan sikap itu tetapi saya merasa yakin sikap dan pendapat itu benar. Contohnya pengalaman saya dalam rangka mencari dana untuk membiayai suatu even organisasi politik. Bila orang lain dalam menghimpun dana dengan menarik sumbangan dari para donator sementara saya dalam menghimpun dana cukup dengan pengumpulan koran dari anggota dan simpatisan. Ternyata dana yang terkumpul lebih besar yang diperoleh dari pengumpulan koran daripada donator sehingga event yang kami gagas bisa berjalan sesuai dengan rencana. Saya tertarik berorganisasi (menjadi anggota pemuda Katolik) saat 109 Mampu menunjukkan sikap berbeda dalam memecahkan persoalan di partai Mengakui sifat keras kepala karena memiliki prinsip

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 412. 413. 414. 415. 416. 417. 418. 419. 420. 421. 422. 423. 424. 425. 426. 427. 428. 429. 430. 431. 432. 433. 434. 435. 436. 437. 438. 439. 440. 441. 442. 443. 444. 445. 446. 447. 448. 449. 450. 451. 452. 453. 454. 455. 456. 457. Pengalaman berorganisasi Katolik membawanya menjadi ketua OSIS dan penggerak partai usia 16 tahun waktu SMA. Di samping untuk sosialisasi sekaligus saya ingin mendapatkan pengalaman dari berorganisasi yang berasaskan keagamaan. Yang melatarbelakangi saya mau berorganisasi adalah sosok Sukarno, presiden RI pertama yang menjadi idola saya sejak kecil. Kemahiran Sukarno dalam berorasi itu yang lebih menginspirasi saya berorganisasi. Dengan berkecimpung di organisasi Katolik, saya bisa setiap saat menggunakan kesempatan melatih berbicara menggunakan kalimat yang bernas (betul) sebagai permulaan latihan berorasi dan berani tampil di depan umum. Pengalaman dari berorganisasi pemuda Katolik telah memberi inspirasi saya untuk kiprah di organisasi OSIS SMA. Karena kemampuan dan pengalaman saya berorganisasi tersebut, membuat saya terpilih sebagai ketua OSIS SMA. Keterlibatan saya dalam berorganisasi yang awalnya aktif sebagai pengurus pemuda Katolik, akhirnya menginspirasi untuk melanjutkan kiprah di organisasi partai (PDI) dengan menggerakkan pemuda sekampung sekaligus membentuk cabang partai. Buat saya, terlibat di PDI pada awalnya sangat menyenangkan dan membuat saya bersemangat karena bisa berinteraksi dengan kawan- 110 Menjadi ketua OSIS dan penggerak partai karena pengalaman organisasi keagamaan

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 458. 459. 460. 461. 462. 463. 464. 465. 466. 467. 468. 469. 470. 471. 472. 473. 474. 475. 476. 477. 478. 479. 480. 481. 482. 483. 484. 485. 486. 487. 488. 489. 490. 491. 492. 493. 494. 495. 496. 497. 498. 499. 500. 501. 502. 503. kawan se-Yogyakarta. Tetapi, saya merasa organisasi politik Meninggalkan partai ini (dan partai politik lainnya) karena penuh intrik tidak sesuai dengan jiwa saya dan kepentingan karena di dalamnya penuh pribadi sehingga tidak dengan intrik dan sesuai dengan jiwanya kepentingan pribadi yang bisa merugikan partai. Dan akhirnya saya tinggalkan dunia partai itu. Setelah menekuni kejawen, ya saya Merasa bebas merasa lebih bebas berekspresi dalam berekspresi meski dalam batas-batas tertentu batas-batas tertentu. setelah menekuni Misalnya, saya bisa langsung kejawen memohon kepada Tuhan tanpa melalui perantara sebagaimana dalam agama Katolik. Dalam kebebasan berekspresi melalui kegiatan ritual dalam aliran bawono toto, saya bisa menyampaikan keinginan, uneg-uneg kepada Sang Khalik. Dalam menyampaikan aspirasi tidak bisa dilakukan umat dalam perayaan ekaristi. Itu Merasa antusias ketika bedanya, ritual menurut Katolik dan kejawen. Saya berinteraksi dengan pun merasa antusias ketika komunitas kejawen berkumpul bersama komunitas kejawen. Saya bisa berinteraksi dengan banyak orang yang masih memeluk Kekecewaan terhadap berbagai agama Islam, Katolik, Hindu, Budha. Itu relasi dan praktek benar-benar saya alami. Jadi ritual hanya dengan kekecewaan saya sesama umat terobati (berinteraksi dan praktek ritual hanya dengan sesama Masih merasa kecewa umat) terobati. Tapi bentuk kekecewaan saya yang belum melihat pastur terobati adalah melihat melanggar sumpah seorang pastur melanggar selibat sumpah selibat dengan menjalin hubungan dengan 111 Meninggalkan partai karena tidak sesuai dengan jiwanya Merasa bebas berekspresi kepada Tuhan dengan kejawen Merasa antusias ketika berinteraksi dengan komunitas kejawen Kejawen mengobati kekecewaan terhadap relasi dan praktek ritual Kecewa melihat pastur melanggar janji selibat

(130) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 504. 505. 506. 507. 508. 509. 510. 511. 512. 513. 514. 515. 516. 517. 518. 519. 520. 521. 522. 523. 524. 525. 526. 527. 528. 529. 530. 531. 532. 533. 534. 535. 536. 537. 538. 539. 540. 541. 542. 543. 544. 545. 546. 547. 548. 549. Merasa prihatin melihat pastur tidak mau berinteraksi dengan warga sekitar bukan umatnya Menjumpai banyak pastur yang bersikap kaku Mengharapkan pastur bersikap luwes agar dapat mengatasi perbedaan dan konflik sosial Memiliki kesadaran untuk tidak melanggar norma hukum dan masyarakat Secara lahir batin merasakan kepuasan lebih dari cukup Menjalani ritual mandi jam 12 malam sampai sekarang Kemampuan intuisi menjadi lebih tajam Ketajaman intuisi bermanfaat untuk membantu teman lawan jenis. Buat saya ini suatu peristiwa yang menjijikkan karena sering kali pastur disebut oleh banyak orang sebagai wakil Tuhan dalam melakukan kegiatan ritual. Saya juga prihatin melihat pastur yang tidak mau menjalin silahturahmi atau sekedar jagongan dengan warga sekitar yang bukan umatnya. Silahturahmi dengan ustad aja tidak pernah dilakukan. Menurut saya, banyak pastur yang saya temui itu pribadi yang kaku. Padahal keluwesan untuk bergaul dengan umat lain sangat penting, salah satunya untuk mengatasi perbedaan dan konflik sosial di masyarakat. Sikap hidup saya setelah menghayati kejawen, senantiasa sadar untuk tidak melakukan sesuatu yang menyimpang dari norma hukum dan norma masyarakat. Secara lahir batin penghayatan yang selama ini saya jalani memberikan kepuasan lebih dari cukup. Misal, rejeki selalu saya peroleh ini contoh konkritnya setelah saya melakukan mandi jam 12 malam tanpa sabun selama satu bulan dan sampai sekarang sering saya lakukan. Lalu kemampuan intuisi saya menjadi lebih tajam dalam memprediksi peristiwa yang akan saya hadapi ke depan. Ketajaman intuisi ini juga bisa saya manfaatkan untuk membantu teman dalam mencari solusi 112 Prihatin melihat pastur yang tidak mau berinteraksi dengan warga di luar umatnya Menjumpai banyak pastur yang kaku Berharap pastur bersikap luwes agar dapat mengatasi perbedaan dan konflik sosial Sadar untuk mematuhi norma hukum dan masyarakat Merasa puas secara lahir batin Menjalani ritual mandi tiap jam 12 malam Menyadari kemampuan intuisi menjadi tajam Ketajaman intuisi bermanfaat untuk membantu teman

(131) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 550. 551. 552. 553. 554. 555. 556. 557. 558. 559. 560. 561. 562. 563. 564. 565. 566. 567. 568. 569. 570. 571. 572. 573. 574. 575. 576. 577. 578. 579. 580. 581. 582. 583. 584. 585. 586. 587. 588. 589. 590. 591. 592. 593. 594. 595. Ketajaman intuisi membantunya terhindar dari gempa bumi Merasa geli dengan dirinya sendiri terkait relasi dengan wanita Menyadari dirinya tertarik dengan lawan jenis Saat remaja menjalani pacaran atas permasalahan yang menimpa keluarganya. Contohnya, saya bisa memberikan petunjuk secara metafisika. Dan oleh karenanya, jasa metafisika yang saya miliki itu memperoleh imbalan jasa. Meskipun hal ini tidak menjadi harapan saya. Ketajaman intuisi juga telah membantu diri saya pribadi terhindar menjadi korban gempa bumi 2006 di Bantul, karena satu hari sebelumnya saya sudah mendapatkan firasat tentang peristiwa ini. Kalau bercermin, saya seringkali geli dengan diri saya sendiri, terutama dalam hal berelasi dengan cewekcewek. Kalau saya pikir-pikir, saya berulangkali memiliki pacar tetapi ya mau gimana kalau saya inginnya seperti ini. Hehe Apalagi jika dikaitkan dengan status saya dewasa ini yang masih tetap membujang. Saya tetap akan menjalani kesendirian saya, toh di kanan kiri saya banyak teman. Saya mulai SMP sudah banyak yang naksir. Saat SMP, saya juga mulai tertarik dengan lawan jenis. Namun saat itu masih sebatas suka saja selayaknya anak remaja pada umumnya. Pernah waktu itu beranjak ke SMA, saya didekati oleh tiga cewek cantik. Mereka sekolah di beda tempat dengan saya, tetapi mereka jemaat dari gereja yang sama dengan saya. Mereka jadi pacar saya. 113 Ketajaman intuisi bermanfaat untuk membantu diri sendiri Merasa geli dengan diri sendiri terkait relasi dengan lawan jenis Menyadari ketertarikan dengan lawan jenis

(132) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 596. 597. 598. 599. 600. 601. 602. 603. 604. 605. 606. 607. 608. 609. 610. 611. 612. 613. 614. 615. 616. 617. 618. 619. 620. 621. 622. 623. 624. 625. 626. 627. 628. 629. 630. 631. 632. 633. 634. 635. 636. 637. 638. 639. 640. 641. Menyadari dirinya tidak terpanggil untuk menikah Semakin menyadari dirinya terpanggil hidup selibat Menjalani aktivitas dengan semangat dan tidak mengeluh Mengatur hidup secara mandiri Bersikap apa adanya dengan lawan jenis Meskipun seorang diri tidak berkecil hati Merasa senang menolong orang lain Menghormati orang lain yang berbeda pandangan hidup dan penghayatan spiritual Menyadari satu sama lain punya perbedaan Memegang teguh Saya saat itu memang tidak seperti remaja-remaja yang lain kalau pacaran suka pamer pasangan. Saya lebih suka ngumpet. Agar tidak menimbulkan rasa cemburu dan sakit hati bagi ketiga cewek itu, saya memutuskan pindah ke Jakarta untuk bekerja. Meskipun punya pacar, nyatanya saya merasa tidak terpanggil untuk menikah. Setelah menghayati kejawen ini, saya semakin menyadari kalau saya terpanggil untuk hidup selibat. Saya pun menjalani aktivitas sehari-hari dengan semangat dan tidak mengeluh akan keadaan saya. Nyatanya, saya dapat mengatur hidup saya secara mandiri, iya tetap merasa bangga kan. Ketika berhadapan dengan lawan jenis, saya tetap bersikap apa adanya. Saya merasa tidak berkecil hati meskipun seorang diri. Seringkali, banyak teman atau tetangga yang meminta bantuan kepada saya. Saya merasa senang dengan menolong mereka . Selain itu, saya menghormati orang-orang yang tidak sejalan dengan penghayatan saya selama ini. Pemahaman seseorang tentang Tuhan dan agama serta budaya spiritual yang berbeda-beda itu saya hormati. Saya sadar bahwa manusia itu satu sama lain sudah pasti punya perbedaan dalam hal pandangan hidup dan penghayatan spiritual. Untuk itu kata toleransi bagi 114 Menyadari panggilan untuk hidup selibat Menjalani aktivitas dengan semangat dan tidak mengeluh Mengatur hidup secara mandiri Menerima keadaan diri yang bujang Merasa senang menolong orang lain Mengembangkan toleransi dalam hidup bermasyarakat

(133) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 642. 643. 644. 645. 646. 647. 648. 649. 650. 651. 652. 653. 654. 655. 656. 657. 658. 659. 660. 661. 662. 663. 664. 665. 666. 667. 668. 669. 670. 671. 672. 673. 674. 675. 676. 677. 678. 679. 680. 681. 682. 683. 684. 685. 686. 687. saya tetap saya pegang teguh dalam pergaulan masyarakat. Meskipun orang punya keyakinan yang tidak sejalan dengan saya dan tidak memaksakan keyakinannya, saya tetap hargai. Tetapi ketika orang dengan Memberi argumentasi keyakinan yang tidak sejalan yang sehat dan tidak dengan saya dan memaksakan menciderai keyakinan kehendak saya untuk sama orang lain yang dengannya, maka saya akan memaksakan membantahnya dengan kehendak argumentasi yang sehat dan tidak menciderai keyakinan yang dipeluknya. Hambatan Hambatan sebagai sebagai penghayat penghayat kepercayaan itu ketika kepercayaan ketika berhadapan dengan pemeluk berhadapan dengan fanatik agama Islam maupun orang beragama Kristen. Mereka biasanya fanatik lebih mudah mendiskreditkan pelaku penghayat kepercayaan sebagai musyrik. Pemerintah belum Kemudian pemerintah belum sepenuhnya mengakui 100% mengakui keberadaan penghayat secara legal penghayat secara legal. Maksudnya, pemerintah seringkali hanya mengakomodir kepentingan domain agama. Keberadaan teman-teman penghayat Penghayatan kejawen seakan-akan menjadi anak sesuai dengan tiri. Penghayatan yang saya pandangan dan jalani sekarang dalam keyakinannya tentang komunitas kejawen lebih relasi manusia dengan cocok atau sesuai dengan Tuhan pandangan dan keyakinan saya tentang relasi manusia Hubungannya dengan dengan Tuhannya. Pendek Tuhan sangat pribadi kata, hubungan manusia dan tidak ada dengan Tuhannya sangat intervensi pribadi sekali dan jauh dari intervensi orang lain maupun otoritas suatu lembaga keagamaan. Yang 115 toleransi dalam masyarakat Menolak pemaksaan kehendak dari orang lain dengan damai Menyadari hambatan ketika berhadapan dengan orang fanatik Menyadari bahwa pemerintah belum mengakui penghayat secara legal Menemukan kesesuaian hubungan dirinya– Tuhan dengan kejawen

(134) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 688. 689. 690. 691. 692. 693. 694. 695. 696. 697. Setiap saat dapat melakukan hubungan personal dengan Sang Pencipta tanpa melibatkan orang lain dimaksudkan lebih sesuai dalam hal ini adalah sewaktuwaktu saya bisa melakukan hubungan personal dengan Sang Pencipta tanpa harus melibatkan banyak orang sebagaimana yang dilakukan pemeluk agama dengan sholat berjamaah dan kebaktian di Gereja. 116

(135) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN 3 TEMA-TEMA SUBYEK 117

(136) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Pengalaman keterlemparan dalam agama besar a) Fanatik terhadap agama besar 1. Menghayati agama besar dengan fanatik 2. Taat aturan keluarga dan gereja 3. Pengetahuan agama sangat luas 4. Membaca kitab suci hampir tiap hari b) Dorongan menjadi pastur 1. Memandang pastur sebagai sosok yang saleh dan suci 2. Memandang pastur sebagai wakil Tuhan 3. Meyakini pastur yang meninggal masuk surga 4. Cita-cita menjadi pastur karena terlibat organisasi keagamaan 5. Memiliki cita-cita menjadi pastur 6. Pandangan tentang pastur mendorong masuk seminari 1. Dorongan Angst a) Kecewa atas kegagalan menjadi pastur 1. Kecewa karena gagal masuk seminari b) Pilihan bebas 1. Sadar untuk bebas memilih 2. Merasa dibatasi oleh aturan agama 3. Ketidakcocokan dengan ritual agama 118

(137) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 119 c) Khawatir akan kesia-siaan hidup 1. Tidak ingin menyia-nyiakan hidup 2. Sadar memiliki kemampuan indigo 3. Ingin menentukan pilihan hidup sendiri 2. Pencarian diri yang otentik a) Ketertarikan mendalami kejawen 1. Tertarik mendalami kejawen 2. Memahami diri sebagai orang Jawa b) Keluar dari penghayatan agama besar 1. Memandang agama besar sebagai pendatang 2. Menolak praktek ritual agama besar 3. Memiliki integritas dengan keluar dari ritual agama besar c) Integrasi ke kejawen Bawono Toto 1. Menghayati kejawen Bawono Toto 2. Mengikuti norma kejawen 3. Menjalani ritual mandi tiap jam 12 malam 4. Berlatih menjalani puasa, meditasi, dan napak tilas sampai sekarang

(138) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 120 3. Penemuan otentisitas A. Coherence-cohesion a) Menjadi diri yang otonom 1. Mampu menunjukkan sikap berbeda dalam memecahkan persoalan di partai 2. Menjadi ketua OSIS dan penggerak partai karena pengalaman berorganisasi 3. Meninggalkan partai karena tidak sesuai dengan jiwanya B. Coherence-continuity a) Keterkaitan episode masa lalu dalam proses being 1. Membaca kitab suci dengan kritis 2. Menerima konsep Trinitas 3. Memahami Trinitas ada di dalam diri 4. Masih meyakini ajaran Yesus 5. Menjaga dan melestarikan warisan Jawa C. Coherence-demarcation a) Menemukan Tuhan secara spiritual 1. Menolak pemahaman Tuhan yang satu dalam agama besar 2. Menolak pemahaman Tuhan yang berada jauh dari manusia 3. Meyakini pemahaman Tuhan yang imanen 4. Memahami keilahian Tuhan dengan kejawen

(139) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5. Suara hati mengingatkan untuk tidak mencuri 6. Memahami suara hati sebagai suara Tuhan 7. Suara hati mengingatkan untuk tidak memanipulasi bantuan D. Vitality a) Merasa berdaya dengan kejawen 1. Merasa bebas berekspresi kepada Tuhan dengan kejawen 2. Merasa antusias ketika berinteraksi dengan komunitas kejawen 3. Kejawen mengobati kekecewaan terhadap relasi dan praktek ritual 4. Merasa puas secara lahir batin 5. Merasa senang menolong orang lain 6. Menjalani aktivitas dengan semangat dan tidak mengeluh E. Depth a) Mengatur hidup secara mandiri 1. Menyadari ketertarikan dengan lawan jenis 2. Menyadari panggilan untuk hidup selibat 3. Mengatur hidup secara mandiri F. Maturity a) Menyetel perubahan diri 1. Menyadari bahwa pandangan hidup berubah 2. Meditasi untuk melatih keberanian 121

(140) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 122 3. Puasa untuk melatih pengendalian nafsu 4. Melatih kemampuan intuisi menjadi tajam 5. Ketajaman intuisi bermanfaat untuk membantu teman 6. Ketajaman intuisi bermanfaat untuk membantu diri sendiri 7. Menyadari sifat temperamen 8. Mengubah perilaku buruk dengan puasa dan meditasi 9. Menghadapi persoalan dengan tenang 10. Mengakui sifat keras kepala karena memiliki prinsip b) Mampu bersikap inklusif 1. Sadar untuk mematuhi norma hukum dan masyarakat 2. Mengembangkan toleransi dalam hidup bermasyarakat 3. Menolak pemaksaan kehendak dari orang lain dengan damai 4. Menyadari hambatan ketika berhadapan dengan orang fanatik 5. Menyadari bahwa pemerintah belum mengakui penghayat secara legal c) Memiliki rasa humor terhadap diri 1. Merasa geli dengan diri sendiri terkait relasi dengan lawan jenis d) Menemukan keluwesan relasi diri–Tuhan 1. Menemukan kesesuaian hubungan dirinya–Tuhan dengan kejawen

(141)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
117
Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
145
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
130
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
121
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
138
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
100
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
1
148
Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
112
Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
106
Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
130
Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
1
143
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
101
KONSEP DIRI REMAJA TUNANETRA Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
129
Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
177
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
99
Show more