PENGEMBANGAN ALAT PERAGA MATEMATIKA UNTUK OPERASI BILANGAN BULAT BERBASIS METODE MONTESSORI

Gratis

0
1
177
2 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PENGEMBANGAN ALAT PERAGA MATEMATIKA UNTUK OPERASI BILANGAN BULAT BERBASIS METODE MONTESSORI SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Oleh: Agatha Risky Ratri NIM: 101134085 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Skripsi ini saya persembahkan kepada: 1. Tuhan Yesus yang selalu menjadi sahabatku dalam suka dan duka, sumber semangat, kesehatan, dan keselamatan bagiku. 2. Orang tuaku, Andreas Sutrisna dan Yustina Sariyem yang telah memberikan dukungan baik material, moral, maupun spiritual. 3. Kedua adikku, Yohanna Rizke Alvanni dan Rizza Kingkin Prasetyo. 4. Para sahabat dan teman terkasih yang selalu memberi semangat dan menghiburku terutama Kurni dan Ajeng. 5. Para guru di SD Kanisius Minggir, SMP Pangudi Luhur Moyudan, dan SMA Negeri 1 Godean yang telah mengajar dan membimbingku. 6. Para dosen di PGSD Sanata Dharma. 7. Teman-teman kelas B angkatan 2010. 8. Pembaca yang berbahagia. iv

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN MOTTO -Kita adalah pemimpin atas diri kita sendiri- -Jika kita bahagia, maka kita bisa menyelesaikan apa yang kita kerjakan, meraih apa yang kita cita-citakan, dan mendapatkan apa yang kita impikan. Happiness is the way not the destination- -Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa. (Roma 12:12)- v

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar referensi, sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, 22 Mei 2014 Yang Menyatakan, Agatha Risky Ratri NIM: 101134085 vi

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Agatha Risky Ratri Nomor Mahasiswa : 101134085 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul: PENGEMBANGAN ALAT PERAGA MATEMATIKA UNTUK OPERASI BILANGAN BULAT BERBASIS METODE MONTESSORI beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Yogyakarta, 22 Mei 2014 Yang menyatakan, Agatha Risky Ratri vii

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRAK Ratri, Agatha Risky. (2014). Pengembangan alat peraga matematika untuk operasi bilangan bulat berbasis metode Montessori. Skripsi. Yogyakarta: Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Sanata Dharma. Kata kunci: penelitian dan pengembangan, metode Montessori, alat peraga, bilangan bulat, Papan Bilangan Bulat Inovasi pembelajaran sangat diperlukan dalam setiap mata pelajaran yang diajarkan di sekolah. Inovasi pembelajaran dapat dilakukan oleh guru dengan cara menggunakan alat peraga dalam praktek pembelajaran. Salah satu tokoh pendidikan yang sangat peduli terhadap pentingnya penggunaan alat peraga bagi siswa adalah Maria Montessori (1870 – 1952). Montessori mengembangkan alat peraga berdasarkan ciri-ciri: (1) menarik, (2) memiliki gradasi, (3) memiliki pengendali kesalahan, dan (4) dapat membelajarakan siswa secara mandiri. Pada penelitian ini ditambahkan ciri kontekstual. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengembangkan alat peraga matematika untuk operasi bilangan bulat berbasis metode Montessori, (2) mengetahui kualitas alat peraga yang dikembangkan, dan (3) mengetahui dampak penggunaan alat peraga yang dikembangkan. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian dan pengembangan. Subjek pada penelitian ini adalah lima (5) siswa kelas IV di SDK Klepu Yogyakarta. Objek pada penelitian ini adalah alat peraga Papan Bilangan Bulat. Prosedur penelitian dan pengembangan alat peraga Montessori melalui lima tahap, yaitu: (1) kajian Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, (2) analisis kebutuhan, (3) produksi alat peraga, (4) pembuatan instrumen penelitian, dan (5) validasi alat peraga oleh ahli serta melalui uji coba lapangan terbatas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Papan Bilangan Bulat yang dikembangkan memiliki empat ciri-ciri alat peraga Montessori dan satu ciri tambahan (kontekstual). Alat peraga Papan Bilangan Bulat memiliki rerata skor validasi produk 3,5 yang menunjukkan kualitas “sangat baik”. Alat peraga Papan Bilangan Bulat memiliki dampak pada proses dan hasil belajar siswa. Siswa menjadi lebih antusias, lebih aktif, lebih berkonsentrasi, dan dapat belajar secara mandiri selama proses pendampingan. Alat peraga papan bilangan bulat yang dikembangkan mampu meningkatkan hasil belajar siswa sebanyak 71% berdasarkan hasil pretest dan posttest. viii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT Ratri, Agatha Risky. (2014). Developing a set of mathematic learning media for integer arithmetic based on Montessori method. A Thesis. Yogyakarta: Elementary Teacher Education Study Program, Sanata Dharma University. Keywords: Research and Development, Montessori method, integer arithmetic, Papan Bilangan Bulat An innovation of learning process should be presented on each subject in the school. The innovation of learning process can be done by teacher using the material on the learning process. One of experts of education who cares about the use of material for student is Maria Montessori (1870 – 1952). Montessori developed the learning media based on characteristics: (1) attractive, (2) gradual, (3) auto-correction, and (4) auto-education. In this research, it is added the contextual characteristic. The purposes of this research are (1) developing the mathematic learning mediafor arithmetic integer based on Montessori Method, (2) knowing the quality of the material which is developed and (3) knowing the impact of the use of material which is developed. This research applied Research and Development (R and D) method. The subjects of this research were five (5) students in the fourth grade in SDK Klepu Yogyakarta. The object of this research is Papan Bilangan Bulat material. The procedures of this research consist of five steps, they were: (1) examining the standard competency, (2) analyzing the teacher‟s and the students‟ needs, (3) producing the math Montessori learning media, and (4) developing the research instrument, and (5) validating and revising the material by expert judgment and by the way of preliminary form of the product. The result of this research is that Papan Bilangan Bulat completely has those four characteristics of Montessori learning media and contextual characteristic. Papan Bilangan Bulat reaches the average score of validation product up to 3.5. It shows that the quality of the product is “very good”. Papan Bilangan Bulat material has the impact of the process and students‟ learning outcome. The students became more enthusiastic, more active, more being focused, and more independent in their learning. The developing Papan Bilangan Bulat material can increase the students‟ learning outcome into 71% based on the results of pretest and posttest. ix

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KATA PENGANTAR Puji dan syukur peneliti panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas segala berkat dan karunia-Nya sehingga dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengembangan Alat Peraga Matematika untuk Operasi Bilangan Bulat berbasis Metode Montessori” ini tepat pada waktunya. Peneliti menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik berkat adanya bimbingan, bantuan, dan dukungan dari berbagai pihak. Karena itu, perkenankanlah peneliti menyampaikan ucapan terima kasih dengan setulus hati kepada: 1. Rohandi, Ph.D. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. 2. Gregorius Ari Nugrahanta, SJ., S.S., BST., M.A. selaku Kaprodi PGSD sekaligus dosen pembimbing I yang telah membimbing peneliti dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaan dari awal penulisan skripsi hingga selesai. 3. E. Catur Rismiyati, S.Pd., M.A., Ed.D. selaku Wakaprodi PGSD. 4. Andri Anugrahana, S.Pd., M.Pd. selaku dosen pembimbing II yang telah membimbing peneliti dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaan. 5. Andrias Yance Eko Sutopo, S. Pd. selaku Kepala SD Kanisius Klepu yang telah memberikan ijin sehingga penelitian ini dapat terlaksana dengan baik. 6. Nimas Palmasari, S.Pd. selaku wali kelas IV SD Kanisius Klepu yang telah memberikan bantuan dan dukungan selama melaksanakan penelitian di sekolah. 7. Para ahli yang telah melakukan uji keterbacaan dan uji validitas terhadap instrumen penelitian saya yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu. 8. Dosen ahli yang telah menjadi validator ahli pembelajaran Montessori terhadap alat peraga yang saya kembangkan. 9. Dosen ahli yang telah menjadi validator ahli pembelajaran Matematika terhadap alat peraga yang saya kembangkan. 10. Orang tuaku, Andreas Sutrisna dan Yustina Sariyem yang telah memberikan dukungan baik secara material maupun spiritual. x

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11. Teman-teman Penelitian Payung R and D; Wulan, Ima, Danik, Kristi, Mido, Tira, dan Andre, terima kasih atas kerja sama kalian dari awal sampai akhir penyusunan skripsi ini. 12. Para sahabat dan teman terkasih yang telah memberikan dukungan dan doa bagi kelancaran skripsi saya. 13. Teman-teman PGSD angkatan 2010 kelas B yang telah memberikan bantuan dan dukungan bagi peneliti. 14. Semua pihak yang telah banyak berjasa yang tidak dapat peneliti sebutkan satu per satu. Peneliti menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih banyak kekurangan dan kesalahan sebab tak ada gading yang tak retak. Oleh sebab itu, peneliti mengharap kritik dan saran yang bersifat konstruktif demi kesempurnaan skripsi ini. Akhir kata, peneliti berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan digunakan sebagaimana mestinya. Yogyakarta, 22 Mei 2014 Peneliti, Agatha Risky Ratri NIM: 101134085 xi

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .......................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................ ii HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ........................................................................ iv HALAMAN MOTTO ........................................................................................ v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ............................................................ vi PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ............................................ vii ABSTRAK....................................................................................................... viii ABSTRACT ...................................................................................................... ix KATA PENGANTAR ........................................................................................ x DAFTAR ISI .................................................................................................... xii DAFTAR TABEL ............................................................................................ xv DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... xvi DAFTAR BAGAN ......................................................................................... xvii DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... xix BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1 1.1 Latar Belakang Masalah ............................................................................. 1 1.2 Rumusan Masalah ...................................................................................... 6 1.3 Tujuan Penelitian ........................................................................................ 6 1.4 Manfaat Penelitian ...................................................................................... 6 1.5 Spesifikasi Produk ...................................................................................... 7 1.6 Definisi Operasional ................................................................................... 9 BAB II LANDASAN TEORI ........................................................................... 11 2.1 Teori-teori yang Mendukung .................................................................... 11 2.1.1 Teori Belajar Konstruktivisme............................................................ 11 2.1.1.1 Teori belajar Piaget ...................................................................... 11 2.1.1.2 Teori belajar Vygotsky ............................................................... 12 2.1.1.3 Pengertian belajar ........................................................................ 12 2.1.1.4 Hasil belajar................................................................................. 13 2.1.2Metode Montessori ............................................................................. 14 2.1.3 Matematika ........................................................................................ 16 2.1.3.1 Hakikat matematika ..................................................................... 16 2.1.3.2 Pembelajaran matematika ............................................................ 17 2.1.3.3 Materi operasi bilangan bulat ....................................................... 18 2.1.3.4 Penjumlahan bilangan bulat ......................................................... 19 2.1.3.5 Pengurangan bilangan bulat ......................................................... 19 2.1.4 Alat Peraga Matematika berbasis Montessori ..................................... 19 2.1.4.1 Pengertian alat peraga .................................................................. 19 2.1.4.2 Alat Peraga Montessori ................................................................ 20 2.1.4.3 Ciri-ciri alat peraga Montessori .................................................... 21 2.1.4.4 Alat peraga Papan Bilangan Bulat berbasis metode Montessori.... 24 2.2 Hasil Penelitian yang Relevan .................................................................. 25 2.2.1 Hasil penelitian yang relevan mengenai pembelajaran Montessori ...... 25 2.2.2 Hasil penelitian yang relevan mengenai pembelajaran matematika ..... 26 2.3 Kerangka Berpikir .................................................................................... 29 2.4 Pertanyaan Penelitian................................................................................ 31 xii

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN .................................................................. 32 3.1 Jenis Penelitian ......................................................................................... 32 3.2 Setting Penelitian ...................................................................................... 32 3.2.1 Objek Penelitian ................................................................................. 32 3.2.2 Subjek Penelitian ............................................................................... 32 3.2.3 Lokasi Penelitian ................................................................................ 33 3.2.4 Waktu Penelitian ................................................................................ 33 3.3 Prosedur Pengembangan ........................................................................... 33 3.4 Teknik Pengumpulan Data ........................................................................ 38 3.4.1 Analisis Kebutuhan ............................................................................ 38 3.4.1.1 Kuesioner .................................................................................... 38 3.4.1.2 Wawancara tidak terstruktur ....................................................... 39 3.4.2 Skala Nilai Validasi Produk oleh Ahli ................................................ 39 3.4.3 Uji Coba Lapangan ............................................................................ 39 3.4.3.1 Tes............................................................................................... 39 3.4.3.2 Skala Nilai ................................................................................... 39 3.4.3.3 Wawancara semi-terstruktur ........................................................ 40 3.4.3.4 Observasi partisipatif ................................................................... 40 3.4.4 Triangulasi Data ................................................................................. 41 3.5 Instrumen Penelitian ................................................................................. 41 3.5.1 Jenis Data........................................................................................... 41 3.5.2 Instrumen Pengumpulan Data............................................................. 41 3.5.2.1 Instrumen analisis kebutuhan ....................................................... 41 3.5.2.2 Instrumen Validasi Produk oleh Ahli ........................................... 42 3.5.2.3 Instrumen tes untuk uji coba lapangan terbatas............................. 43 3.6 Teknik Pengujian Instrumen ..................................................................... 43 3.6.1 Uji Keterbacaan terhadap Instrumen Analisis Kebutuhan ................... 43 3.6.2 Uji Validitas dan Reliabilitas terhadap Instrumen Tes ........................ 44 3.6.3 Uji Keterbacaan terhadap Instrumen Validasi Produk ......................... 46 3.6.4 Uji Validitas Produk oleh Ahli ........................................................... 46 3.6.5 Uji Coba Lapangan Terbatas .............................................................. 46 3.7 Teknik Analisis Data ................................................................................ 47 3.7.1 Tes ..................................................................................................... 47 3.7.2Non tes................................................................................................ 47 3.7.2.1 Kuesioner .................................................................................... 47 3.7.2.2 Skala Nilai ................................................................................... 48 3.7.2.3 Wawancara .................................................................................. 48 3.7.2.4 Observasi ..................................................................................... 49 3.7.2.5 Triangulasi Data .......................................................................... 49 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .................................. 51 4.1 Kajian Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar .................................. 51 4.2 Analisis Kebutuhan .................................................................................. 51 4.2.1 Uji Keterbacaan Instrumen Analisis Kebutuhan ................................. 51 4.2.1.1 Ahli pembelajaran Montessori ..................................................... 53 4.2.1.2 Ahli Bahasa ................................................................................. 54 4.2.1.3 Ahli pembelajaran matematika ..................................................... 55 4.2.1.4 Guru ............................................................................................ 55 4.2.1.5 Siswa ........................................................................................... 56 xiii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4.2.2Analisis Kebutuhan oleh Guru............................................................. 56 4.2.2 Analisis Kebutuhan oleh Siswa .......................................................... 59 4.3 Pembuatan Alat Peraga Papan Bilangan Bulat .......................................... 61 4.4 Hasil Validasi Instrumen Penelitian .......................................................... 65 4.4.1Uji Keterbacaan Kuesioner Validasi Produk ........................................ 65 4.4.1.1 Ahli Bahasa ................................................................................. 65 4.4.1.2 Ahli pembelajaran matematika ..................................................... 65 4.4.1.3 Guru kelas IV .............................................................................. 66 4.4.1.4 Siswa kelas IV ............................................................................. 66 4.4.2Uji Keterbacaan Instrumen Tes ........................................................... 66 4.4.2.1 Ahli pembelajaran matematika ..................................................... 67 4.4.2.2 Guru kelas IV .............................................................................. 68 4.4.2.3 Uji Validitas Instrumen Tes oleh Ahli .......................................... 69 4.4.2.4 Hasil uji validitas empirik instrumen tes ...................................... 70 4.5Hasil Validasi Alat Peraga oleh Ahli .......................................................... 72 4.5.1 Data Validasi Alat Peraga .................................................................. 72 4.5.2 Ahli Pembelajaran Matematika .......................................................... 72 4.5.3 Ahli Pembelajaran Montessori............................................................ 72 4.5.4 Guru Kelas IV .................................................................................... 73 4.6 Revisi Produk ........................................................................................... 73 4.7 Uji Coba Lapangan Terbatas..................................................................... 74 4.7.1 Analisis Proses dan Dampaknya ......................................................... 75 4.7.2 Analisis Hasil Tes .............................................................................. 78 4.7.3Kuesioner Validasi Produk oleh Siswa ................................................ 81 4.8Kajian Produk Akhir .................................................................................. 82 4.9 Analisis Lanjut ......................................................................................... 83 BAB V PENUTUP ........................................................................................... 84 5.1 Kesimpulan .............................................................................................. 84 5.2 Keterbatasan Penelitian............................................................................. 85 5.3 Saran ........................................................................................................ 85 DAFTAR REFERENSI ................................................................................... 86 LAMPIRAN ..................................................................................................... 90 CURRICULUM VITAE ................................................................................ 158 xiv

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 3.1Pedoman Wawancara Uji Coba Lapangan Terbatas ............................. 40 Tabel 3.2Kisi-kisi Instrumen Analisis Kebutuhan............................................... 42 Tabel 3.3Kisi-kisi Instrumen Validasi Ahli ........................................................ 43 Tabel 3.4Matriks Pengembangan Instrumen Tes ................................................ 45 Tabel 3.5Rumus Konversi Nilai Skala Lima....................................................... 48 Tabel 4.1Rumus Interval Skor ............................................................................ 52 Tabel 4.2Hasil Penghitungan Interval Skor ........................................................ 53 Tabel 4.3Hasil Uji Keterbacaan Instrumen Analisis Kebutuhan.......................... 53 Tabel 4.4Saran Analisis Kebutuhan dari Ahli Pembelajaran Montessori ............. 54 Tabel 4.5Saran Analisis Kebutuhan dari Ahli Bahasa ......................................... 54 Tabel 4.6Saran Analisis Kebutuhan dari Ahli Bahasa ......................................... 55 Tabel 4.7Uji Keterbacaan Analisis Kebutuhan oleh Guru ................................... 55 Tabel 4.8Uji Keterbacaan Analisis Kebutuhan oleh Siswa ................................. 56 Tabel 4.9Hasil Analisis Kebutuhan .................................................................... 57 Tabel 4.10 Rekapitulasi Hasil Analisis Kebutuhan oleh Siswa ........................... 59 Tabel 4.11 Hasil Penilaian terhadap Validasi Produk ......................................... 65 Tabel 4.12 Rekapitulasi Hasil Uji Keterbacaan Instrumen Tes ........................... 67 Tabel 4.13 Saran/Komentar dari Ahli I ............................................................... 67 Tabel 4.14 Saran/Komentar dari Ahli II ............................................................. 68 Tabel 4.15 Saran/Komentar dari Guru ................................................................ 68 Tabel 4.16 Rekapitulasi Hasil Uji Keterbacaan Instrumen Tes ........................... 68 Tabel 4.17 Rekapitulasi hasil expert judgment instrumen tes .............................. 69 Tabel 4.18 Rekapitulasi Hasil Uji Validitas Empirik Instrumen Tes ................... 70 Tabel 4.19 Kisi-kisi Soal Instrumen Tes ............................................................. 71 Tabel 4.20 Uji Reliabilitas ................................................................................. 71 Tabel 4.21 Pelaksanaan Uji Coba Lapangan Terbatas......................................... 74 Tabel 4.22 Daftar Nilai Siswa ............................................................................ 78 Tabel 4.23 Rekapitulasi Penilaian Siswa terhadap Kualitas Alat Peraga. ............ 81 Tabel 4.24 Rekapitulasi hasil validasi alat peraga Papan Bilangan Bulat ............ 82 xv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Garis Bilangan ................................................................................ 18 Gambar 3.1 Rumus nilai tes ............................................................................... 47 Gambar 3.2 Rumus rerata siswa ......................................................................... 47 Gambar 3.3 Rumus persentase kenaikan pretest dan posttest .............................. 47 Gambar 4.1Papan Bilangan Bulat....................................................................... 62 Gambar 4.2 Biji Bilangan................................................................................... 63 Gambar 4.3Kartu Soal........................................................................................ 63 Gambar 4.4 Kotak Penyimpanan Kartu Soal dan Biji Bilangan .......................... 64 Gambar 4.5 Presentase kenaikan pretest dan posttest. ......................................... 78 xvi

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR BAGAN Bagan 2.1 Penelitian yang Relevan .................................................................... 29 Bagan 3.1 Prosedur Pengembangan Produk Menurut Sugiyono.......................... 34 Bagan 3.2 Prosedur Pengembangan Alat Peraga Papan Bilangan Bulat .............. 36 xvii

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR DIAGRAM Diagram 4.1Nilai Pretest dan Posttest Siswa ...................................................... 79 Diagram 4.2Peningkatan Rerata Siswa ............................................................... 81 xviii

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Instrumen Analisis Kebutuhan ........................................................ 90 Lampiran 1.1 Rekapitulasi keterbacaan instrumen analisis kebutuhan oleh ahli .. 90 Lampiran 1.2 Rekapitulasi keterbacaan instrumen analisis kebutuhan siswa ....... 92 Lampiran 1.3 Rekapitulasi hasil kuesioner analisis kebutuhan guru .................... 94 Lampiran 1.4 Rekapitulasi hasil kuesioner analisis kebutuhan oleh siswa ........... 96 Lampiran 2 Desain Produk ................................................................................. 98 Lampiran 2.1 Desain Produk .............................................................................. 98 Lampiran 3 Instrumen Penelitian...................................................................... 101 Lampiran 3.1Keterbacaan instrumen validasi produk oleh ahli ......................... 101 Lampiran 3.2 Keterbacaan instrumen tes oleh ahli ........................................... 102 Lampiran 3.3 Uji validitas instrumen tes oleh ahli ............................................ 105 Lampiran 3.5 Tabel validasi uji validitas empirik ............................................. 106 Lampiran 4 Validasi produk ............................................................................. 107 Lampiran 5 Uji Coba Lapangan Terbatas ......................................................... 108 Lampiran 5.1 Soal tes ...................................................................................... 108 Lampiran 5.2 Kunci jawaban soal tes ............................................................... 110 Lampiran 5.3 Hasil pretest ............................................................................... 111 Lampiran 5.4 Hasil posttest .............................................................................. 111 Lampiran 5.5 Kuesioner validasi produk oleh siswa ......................................... 112 Lampiran 5.6 Hasil wawancara siswa ............................................................... 113 Lampiran 5.7Hasil wawancara guru ................................................................. 114 Lampiran 6 Surat keterangan telah melaksanakan uji validitas ......................... 115 Lampiran 7 Surat permohonan ijin penelitian ke SD ........................................ 117 Lampiran 8 Surat keterangan telah melaksanakan penelitian dari SD ............... 118 Lampiran 9Dokumentasi uji coba lapangan terbatas ......................................... 119 Lampiran 10 Album Pembelajaran ................................................................... 121 xix

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini akan dibahas (1) latar belakang masalah, (2) rumusan masalah, (3) tujuan penelitian, (4) manfaat penelitian, (5) spesifikasi produk, dan (6) definisi operasional. 1.1 Latar Belakang Masalah Kemampuan bidang matematika, sains, dan bahasa siswa Indonesia menduduki peringkat bawah yaitu peringkat 57 dari 65 negara dengan skor 371. Peringkat tersebut dikemukakan oleh PISA (Programme for International Student Assessment) pada tahun 2009. Kualitas pendidikan di Indonesia semakin menurun berdasarkan hasil evaluasi internasional yang dilakukan oleh PISA pada tahun 2012 dalam bidang matematika, sains, dan membaca. Indonesia berada di peringkat ke-64 dari 65 negara partisipan tes tersebut, dengan rata-rata skor matematika 375, sains 382, dan membaca 396. Padahal, skor rata-rata kemampuan matematika, sains, dan membaca yang dikemukakan oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) sebesar 494, 501, dan 496 (Kompas, 5 Desember 2013). Hal ini menunjukkan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia masih sangat rendah. Pemerintah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Salah satunya melalui program sertifikasi guru. Guru yang berkualitas adalah faktor penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan (The World Bank, 2010: 3). Program sertifikasi guru bertujuan untuk meningkatkan kinerja guru agar menjadi guru yang semakin profesional dalam memfasilitasi siswa belajar (The World Bank, 2014: 98). Pemerintah memberikan apresiasi yang lebih bagi guru dalam bentuk tunjangan untuk memotivasi guru dalam meningkatkan kinerjanya. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), proses yang harus dilalui oleh guru untuk mendapatkan sertifikasi terlalu instan sehingga tidak berpengaruh terhadap peningkatan kompetensi guru dalam proses belajar-mengajar di kelas. Akibatnya, guru yang memperoleh tunjangan sertifikasi tidak meningkatkan kinerjanya untuk meningkatkan hasil belajar siswa (The World Bank, 2014: 120). 1

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Hasil survey oleh PBB menunjukkan bahwa kebijakan politik terkait sertifikasi tidak memberi dampak signifikan terhadap hasil belajar siswa. Perubahan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia tetap harus mencakup inovasi dalam pembelajaran. Inovasi dalam pembelajaran secara langsung dilakukan oleh guru. Guru dapat melakukan inovasi pembelajaran dengan cara penggunaan alat peraga dalam praktek pembelajaran. Alat peraga dapat digunakan sebagai sarana untuk memperagakan konsep yang abstrak bagi siswa. Misalnya materi tentang bilangan dalam mata pelajaran matematika. Siswa membutuhkan benda-benda nyata untuk memahami konsep bilangan tersebut. Pengajaran matematika di SD memiliki tujuan khusus yaitu untuk meningkatkan keterampilan berhitung sebagai alat bantu dalam kehidupan seharihari (Susanto, 2013: 189). Pembelajaran matematika di SD memiliki alokasi waktu 5 jam setiap minggu (Depdiknas, 2007). Hal ini menunjukkan bahwa matematika menjadi mata pelajaran yang sangat penting bagi siswa di SD. Matematika tidak hanya mengembangkan kemampuan berhitung siswa, melainkan kemampuan untuk berpikir secara logis. Siswa dapat mempelajari konsep-konsep sederhana hingga konsep-konsep yang kompleks melalui mata pelajaran matematika. Penguasaan keterampilan dan konsep yang dimiliki oleh siswa dapat membantu siswa dalam memecahkan masalah matematika maupun bidang ilmu yang lain sehingga siswa dapat memecahkan masalah yang dihadapinya. Matematika dapat membantu siswa memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan perhitungan (bilangan) dan pengukuran. Matematika merupakan salah satu disiplin ilmu yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir, berargumentasi, dan memberikan kontribusi dalam penyelesaian masalah sehari-hari (Susanto, 2013: 185). Oleh sebab itu, guru perlu melakukan inovasi pembelajaran melalui penggunaan alat peraga agar siswa termotivasi dan senang terhadap mata pelajaran matematika. Peneliti melakukan wawancara informal kepada guru kelas IV di SD Kanisius Klepu dan SD Negeri Sendangagung pada bulan Desember 2013. Kedua narasumber tersebut mengatakan bahwa materi kelas IV pada semester genap yang paling sulit adalah operasi hitung bilangan bulat. Biasanya guru 2

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI menggunakan alat peraga garis bilangan pada saat membantu siswa belajar pada materi operasi bilangan bulat. Siswa diberi penjelasan secara langsung di depan kelas dengan cara mengaitkan materi dengan hal-hal yang telah diketahui siswa dalam kehidupan sehari-hari, kemudian guru memberikan contoh soal operasi bilangan bulat. Setelah itu, siswa mengerjakan soal-soal latihan. Guru masih merasa kesulitan dalam mencari alat peraga lain yang mudah digunakan untuk menanamkan konsep bilangan bulat bagi siswa. Observasi pembelajaran matematika dilakukan di dua Sekolah Dasar pada bulan Oktober dan Desember 2013 yang dilaksanakan oleh peneliti pada saat magang. Berdasarkan observasi, guru memberikan penjelasan tentang materi di depan kelas. Setelah siswa paham dengan materi, guru memberikan soal latihan. Guru memberikan pekerjaan rumah kepada siswa di akhir pelajaran. Media yang digunakan guru adalah papan tulis yang digunakan untuk menjelaskan cara pengerjaan soal. Siswa nampak aktif mengikuti pembelajaran pada saat guru mengajak siswa mengerjakan contoh soal di papan tulis. Siswa berebut untuk menjawab soal di papan tulis bersama dengan guru, namun ada sebagian siswa yang hanya terdiam dan melihat cara guru mencontohkan soal di papan tulis. Berdasarkan wawancara informal dengan dua siswa pada bulan Oktober 2013, guru jarang menggunakan alat peraga dalam pembelajaran matematika. Siswa mengatakan bahwa matematika itu sulit dan membingungkan. Pada umumnya, guru hanya menjelaskan dan memberikan contoh soal kepada siswa. Padahal siswa lebih senang jika belajar matematika dengan menggunakan alat peraga. Dengan demikian, siswa membutuhkan alat peraga untuk memahami konsep matematika yang abstrak. Siswa SD berada pada tahap operasional konkret (7-11 tahun). Hal ini ditandai dengan permulaan berpikir matematika logis. Sesuai dengan pendapat Piaget, berpikir logis anak didasarkan atas manipulasi fisik terhadap objek-objek (Slameto, 2010: 13). Pada tahap ini, anak akan menghubungkan pengalaman konkret pada masa lampau dengan pengalaman-pengalaman baru yang diterimanya dan masih memiliki kesulitan dalam pengambilan kesimpulan logis dari pengalaman-pengalaman yang abstrak. Misalnya, siswa mengalami kesulitan 3

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dalam membayangkan bilangan negatif apabila tidak dikaitkan dengan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari. Guru mengungkapkan bahwa operasi bilangan bulat merupakan materi yang abstrak bagi siswa. Pembahasan bilangan bulat mencakup bilangan bulat positif dan bilangan bulat negatif. Pemahaman dan penggunaan bilangan bulat baik positif maupun negatif menjadi kebutuhan manusia agar dapat bertahan hidup dalam lingkungannya. Banyak siswa yang masih mengalami kesulitan dalam memahami operasi penjumlahan bilangan bulat, terutama bilangan bulat negatif dianggap sebagai materi yang abstrak bagi siswa. Sebelum melakukan operasi bilangan bulat positif dan bilangan bulat negatif, terlebih dahulu siswa harus memahami konsep tentang bilangan bulat. Pemahaman konsep tentang materi bilangan bulat sangatlah penting. Bilangan bulat banyak ditemui dalam kehidupan sehari-hari siswa. Siswa yang tidak memahami konsep bilangan bulat akan merasa kesulitan dalam memecahkan masalah yang berhubungan dengan matematika maupun dalam kehidupan seharihari. Siswa yang tidak berhasil dalam memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari dapat mengalami ketertinggalan atau tidak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya dibandingkan dengan siswa yang telah menguasai konsepkonsep matematika (Susanto, 2013: 185). Siswa yang menguasai konsep matematika dengan baik dapat mengikuti perkembangan jaman yang semakin pesat ini. Guru membutuhkan alat peraga yang efektif dan menarik untuk memfasilitasi siswa dalam mempelajari materi bilangan bulat. Sebagaimana dikemukakan oleh Piaget (dalam Dahar, 1989: 157), alat peraga yang efektif dapat membantu siswa dalam memahami konsep sederhana yang harus mereka kuasai sehingga mereka dapat mengaitkan konsep-konsep sederhana menjadi konsep yang lebih kompleks. Berdasarkan wawancara informal dengan salah satu kepala sekolah di Yogyakarta pada bulan Desember 2013, alat peraga dapat diperoleh dari pemerintah maupun pengadaan mandiri oleh sekolah. Sekolah dapat membuat alat peraga menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK) atau dana Biaya Operasional Sekolah (BOS). Biasanya sekolah membeli Kit alat peraga dari 4

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI distributor alat peraga pendidikan. Kit alat peraga tersebut belum diketahui apakah telah teruji secara ilmiah atau belum. Salah satu tokoh pendidikan yang sangat peduli terhadap pentingnya penggunaan alat peraga bagi siswa adalah Maria Montessori (1870-1952). Montessori mengembangkan alat peraga berdasarkan ciri-ciri: (1) menarik, (2) memiliki gradasi, (3) memiliki pengendali kesalahan, dan (4) dapat membelajarkan siswa secara mandiri (Lillard, 1997: 11). Montessori (2002: 95) mengemukakan bahwa pendidikan mesti membantu anak untuk mengatasi masalah yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari sehingga anak dapat melakukan segala sesuatu secara mandiri. Belajar secara mandiri yaitu anak dapat mengkonstruksi pengetahuannya secara mandiri dengan bantuan lingkungan sekitarnya. Alat peraga matematika berbasis metode Montessori baik apabila digunakan untuk membantu siswa dalam memahami suatu konsep matematika yang abstrak. Montessori mengemukakan bahwa alat peraga yang dirancang bukan pertama-tama untuk mengajar Matematika. Alat peraga berbasis metode Montessori digunakan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan matematis seperti memahami perintah, urutan, abstraksi, dan kemampuan mengkonstruksi konsep-konsep baru dari pengetahuan yang diperoleh (Lillard, 1997: 137). Metode Montessori telah berkembang pesat di negara-negara maju. Meskipun demikian, belum banyak penelitian tentang penggunaan alat peraga matematika berbasis Montessori di Indonesia. Oleh sebab itu, penelitian ini dilakukan untuk mengembangkan alat peraga Matematika berbasis metode Montessori berdasarkan keempat ciri alat peraga Montessori. Peneliti menambahkan ciri kontekstual agar dapat memanfaatkan potensi lokal sebagai bahan dasar pembuatan alat peraga serta alat peraga dibuat sesuai dengan pengetahuan yang telah dipelajari siswa sebelumnya. Alat peraga yang akan dikembangkan adalah Papan Bilangan Bulat yang digunakan untuk materi operasi bilangan bulat. Penelitian ini mengambil sampel siswa kelas IV di SD Kanisius Klepu. Penelitian ini dibatasi pada materi kelas IV Semester genap pada 5

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kompetensi Dasar 5.2 Menjumlahkan bilangan bulat dan 5.3 Mengurangkan bilangan bulat. 1.2 Rumusan Masalah 1.2.1 Bagaimana ciri-ciri alat peraga matematika berbasis metode Montessori “Papan Bilangan Bulat” yang dikembangkan untuk konsep bilangan bulat bagi siswa kelas IV? 1.2.2 Bagaimana kualitas alat peraga matematika berbasis metode Montessori “Papan Bilangan Bulat” untuk konsep bilangan bulat sampai pada uji coba terbatas tahap I? 1.2.3 Bagaimana dampak penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori “Papan Bilangan Bulat” yang dikembangkan untuk konsep bilangan bulat terhadap proses dan hasil belajar siswa? 1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Mengetahui ciri-ciri alat peraga matematika berbasis metode Montessori “Papan Bilangan Bulat” yang dikembangkan untuk konsep bilangan bulat bagi siswa kelas IV. 1.3.2 Mengetahui kualitas alat peraga Matematika berbasis metode Montessori “Papan Bilangan Bulat” untuk konsep bilangan bulat dua angka sampai pada uji coba terbatas tahap I. 1.3.3 Mengetahui dampak penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori “Papan Bilangan Bulat” yang dikembangkan untuk konsep bilangan bulat dua angka terhadap proses dan hasil belajar siswa. 1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi sekolah Sekolah memiliki tambahan khasanah pengetahuan tentang alat peraga yang baik digunakan dalam proses pembelajaran. Sekolah dapat mengembangkan sendiri alat peraga matematika berbasis metode Montessori. 6

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1.4.2 Bagi guru Guru mitra dapat mengetahui cara mengembangkan dan memvalidasi alat peragauntuk pembelajaran Matematika berbasis metode Montessori. Guru dapat mengembangkan sendiri berbagai alat peraga yang lain dengan menggunakan prinsip-prinsip pembelajaran berbasis metode Montessori. 1.4.3 Bagi siswa Siswa kelas IV SD dapat mempelajari materi operasi bilangan bulat dengan baik dengan menggunakan alat peraga yang telah dikembangkan dan melewati serangkaian uji coba secara ilmiah. Siswa mendapatkan pengalaman belajar yang mampu mengaktifkan ranah kognitif, afektif, psikomotorik, berikut pemanfaatan indera secara maksimal, serta sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing siswa. Siswa dapat mengalami pembelajaran dengan memanfaatkan alat peraga berbasis metode Montessori yang menciptakan suasana belajar yang aktif, kreatif, dan menyenangkan. 1.4.4 Bagi peneliti Peneliti mendapat pengalaman langsung tentang cara mengembangkan alat peraga Matematika berbasis metode Montessori untuk siswa Sekolah Dasar. Peneliti mempunyai pengalaman melakukan proses pengembangan dan validasi produk alat peraga matematika berbasis metode Montessori. Peneliti mendapat wawasan dan bekal untuk mengembangkan sendiri berbagai alat peraga pembelajaran yang lain berbasis metode Montessori. 1.5 Spesifikasi Produk Alat peraga Montessori memiliki empat ciri yaitu ciri keindahan atau menarik, unsur gradasi, nilai kemandirian, dan nilai pengendali kesalahan. Pada penelitian ini ditambahkan ciri kontekstual. Alat peraga yang akan dikembangkan untuk memfasilitasi siswa dalam memahami konsep operasi bilangan bulat adalah “Papan Bilangan Bulat”. Alat peraga papan bilangan bulat dirasa cukup menarik untuk menumbuhkan motivasi siswa untuk belajar, khususnya belajar tentang materi operasi bilangan bulat. Alat peraga yang dirancang memiliki unsur gradasi karena dapat digunakan untuk mempelajari materi lebih dari satu Kompetensi Dasar. Siswa akan belajar secara mandiri dengan menggunakan alat peraga Papan 7

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Bilangan Bulat. Dari segi kontekstual, bahan yang digunakan pun mudah didapat di lingkungan sekitar yaitu menggunakan kayu Mindi. Papan Bilangan Bulat dirancang berdasarkan kajian SK dan KD, metode Montessori, dan analisis kebutuhan. Alat peraga Montessori yang telah ada dan digunakan untuk operasi hitung bilangan bulat adalah snake game. Permainan snake game mengajarkan konsep penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat positif dan negatif. Alat peraga Papan Bilangan Bulat dapat digunakan untuk memahami penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat menggunakan metode pembelajaran yang sama dengan permainan snake game. Alat peraga yang akan dikembangkan oleh peneliti adalah Papan Bilangan Bulat yang terdiri dari 20 lubang. Papan tersebut terdiri dari dua baris, setiap baris terdapat sepuluh lubang yang berdiameter 5 cm. Papan bilangan bulat yang dikembangkan memiliki ukuran panjang 60 cm, lebar 15 meter, dan tinggi 4 cm. Baris pertama pada papan bilangan bulat yang dikembangkan dimaksudkan untuk menempatkan biji bilangan bulat positif sedangkan baris kedua digunakan untuk tempat biji bilangan negatif. Biji bilangan yang akan digunakan adalah sebanyak 100 biji untuk bilangan positif dan 100 biji untuk bilangan negatif. Biji bilangan yang akan digunakan untuk bilangan bulat positif dan negatif menggunakan kayu yang diberi warna agar lebih menarik. Bentuk biji adalah setengah tabung yang berdiameter 1,5 cm dan tingginya 1 cm. Biji bilangan dibedakan ke dalam dua warna. Warna yang akan digunakan tergantung hasil analisis kebutuhan. Desain papan bilangan bulat secara spesifik terlampir pada lampiran 2 halaman 98. Papan bilangan bulat dan biji bilangan dapat digunakan untuk merepresentasikan bilangan bulat positif dan negatif. Bilangan bulat positif mudah untuk dipahami oleh siswa, namun bilangan bulat negatif merupakan konsep yang sulit dipahami oleh siswa karena merupakan konsep yang abstrak. Oleh sebab itu, Papan Bilangan Bulat dapat digunakan sebagai alat peraga manipulatif untuk menghadirkan objek yang sulit untuk dihadirkan dalam bentuk nyatanya. Papan bilangan bulat ini diharapkan dapat digunakan sebagai alat peraga pembelajaran matematika kelas IV SD pada Standar Kompetensi 5Menjumlahkan dan mengurangkan bilangan bulat dengan KD 5.2 Menjumlahkan bilangan bulat dan KD 5.3 Mengurangkan bilangan bulat. Alat peraga papan bilangan bulat 8

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dilengkapi dengan album pembelajaran yang berisi materi, manual penggunaan alat peraga, dan 46 kartu soal beserta jawabannya berdasarkan indikator pembelajaran. 1.6 Definisi Operasional 1.6.1 Alat peraga adalah bagian dari media pembelajaran yang dirancang untuk mempermudah siswa memahami konsep tentang operasi bilangan bulat. 1.6.2 Metode Montessori adalah metode pembelajaran yang dikembangkan oleh Maria Montessori (1870-1952) dari Italia yang sangat menekankan kemandirian siswa dalam belajar dengan menggunakan lingkungan pembelajaran yang sudah dikondisikan. 1.6.3 Alat peraga berbasis metode Montessori adalah alat yang digunakan dalam proses pembelajaran yang dapat membantu siswa memahami konsep yang dipelajarinya yang dirancang berdasarkan metode Montessori dengan empat karakteristik antara lain menarik, bergradasi, auto correction, auto education. 1.6.4 Kontekstual adalah ciri tambahan pada alat peraga yang dirancang, meliputi potensi lokal bahan yang digunakan dan bentuk alat peraga yang telah dikenal oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari. 1.6.5 Album pembelajaran Montessori adalah buku panduan penggunaan alat peraga Montessori yang berisi materi pembelajaran, tema pembelajaran, nama alat peraga, tujuan pembelajaran, cara penggunaan alat peraga, dan beberapa latihan soal. 1.6.6 Operasi bilangan bulat adalah operasi hitung bilangan bulat terdiri dari bilangan bulat positif dan bilangan bulat negatif yang dijumlahkan atau dikurangkan. 1.6.7 Papan bilangan bulat adalah seperangkat alat peraga yang dirancang sebagai pengembangan alat peraga Matematika berbasis metode Montessori untuk materi operasi bilangan bulat bagi siswa kelas IV SD yang terdiri dari 20 lubang berdiameter 5 cm yang dilengkapi dengan biji bilangan bulat positif dan biji bilangan bulat negatif. 9

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1.6.8 Dampak penggunaan alat peraga matematika adalah fenomena-fenomena yang muncul pada proses pelaksanaan uji coba lapangan terbatas dengan menggunakan alat peraga Papan Bilangan Bulat beserta hasil belajar yang diperoleh siswa. 1.6.9 Siswa SD adalah siswa-siswi kelas IV SD Kanisius Klepu tahun ajaran 2013/2014 yang dijadikan subjek penelitian. 10

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II LANDASAN TEORI Pada bab ini dikemukakan (1) teori-teori yang mendukung, (2) hasil penelitian yang relevan, (3) kerangka berpikir, dan (4) pertanyaan-pertanyaan penelitian. 2.1 Teori-teori yang Mendukung 2.1.1 Teori Belajar Konstruktivisme Teori belajar bermanfaat untuk menjelaskan teori-teori tentang belajar. Teori yang dijelaskan pada bagian ini adalah teori konstruktivisme. Konstruktivisme merupakan perspektif psikologis dan filosofis yang memandang bahwa masing-masing individu membangun sebagian besar dari apa yang mereka pelajari dan pahami (Bruning, dkk dalam Schunk, 2012: 320). Pengaruh besar yang mendorong munculnya teori konstruktivisme adalah teori Piaget dan Vygotsky. 2.1.1.1 Teori belajar Piaget Anak mengalami perkembangan kognitif yang bertahap. Tingkat perkembangan kognitif anak menurut Piaget (Susanto, 2013: 77) yaitu periode berpikir motorik sensorik yang dimulai sejak lahir sampai kira-kira umur 2 tahun. Periode berpikir praoperasional konkret dimulai kira-kira umur 2 tahun sampai 7 tahun. Periode berpikir operasional konkret dimulai kira-kira umur 7 tahun sampai umur 11 tahun, periode berpikir operasional formal dimulai sejak umur 11 tahun sampai dewasa. Anak usia SD (7–11 tahun) berada pada tahap operasional konkret dimana anak belajar melalui pengalaman nyata untuk memahami hal-hal yang abstrak seperti konsep-konsep matematika. Pada tahap operasional konkret, siswa sudah mulai memahami aspek-aspek kumulatif materi, misalnya volume dan jumlah. Siswa juga sudah memiliki kemampuan memahami cara mengombinasikan beberapa golongan benda yang bervariasi tingkatannya (Susanto, 2013: 77). Selain itu, siswa sudah mampu berpikir sistematis mengenai benda-benda dan peristiwa-peristiwa konkret. 11

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Pada tahap operasional konkret, siswa mengembangkan kemampuan untuk mempertahankan (konservasi), kemampuan mengelompokkan secara memadai, melakukan pengurutan (mengurutkan dari yang terkecil sampai paling besar dan sebaliknya), dan menangani konsep angka. Selama tahap ini proses pemikiran diarahkan pada kejadian riil yang diamati oleh siswa (Hergenhahn & Matthew, 2008: 320). Dengan demikian, siswa dapat melakukan operasi pemecahan masalah yang agak kompleks selama masalah itu konkret dan tidak abstrak. 2.1.1.2 Teori belajar Vygotsky Seperti teori Piaget, teori Vygotsky juga merupakan teori konstruktivis. Vigotsky menempatkan lebih banyak penekanan pada lingkungan sosial sebagai fasilitator perkembangan dan pembelajaran (Tudge & Scrimsher dalam Schunk, 2012: 337). Vygotsky menganggap bahwa lingkungan sosial sangat penting bagi pembelajaran. Interaksi-interaksi sosial mengubah atau mentransformasi pengalaman-pengalaman belajar. Aktivitas sosial adalah sebuah fenomena yang membantu menjelaskan perubahan-perubahan dalam pikiran sadar dan membentuk teori psikologis yang menyatukan perilaku dan pikiran. Konsep pokok dalam teori Vygotsky adalah Zone of Proximal Development (ZPD) atau zona perkembangan proksimal. ZPD adalah perbedaan antara apa yang dapat dilakukan sendiri oleh siswa dan apa yang dapat mereka lakukan dengan bantuan orang lain (Schunk, 2012: 341). Interaksi orang dewasa (guru) dan teman sebaya dalam ZPD mendorong perkembangan kognitif. Tugas utama guru adalah mengatur lingkungan pembelajaran sehingga siswa dapat membangun pengetahuannya. Peran guru di sini adalah menyajikan sebuah lingkungan yang mendukung, bukan menyajikan penjelasan materi dan menyediakan jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan. 2.1.1.3 Pengertian belajar Belajar adalah proses orang memperoleh berbagai kecakapan, keterampilan, dan sikap (Aunurrahman, 2012: 38). Belajar adalah apa yang dilakukan siswa, bukan apa yang dilakukan oleh guru untuk siswa. Belajar merupakan suatu proses aktif dan bertujuan, bukan proses yang pasif. Media pembelajaran dapat digunakan agar dapat menciptakan pembelajaran yang aktif sehingga siswa diarahkan pada kegiatan yang mendukung tujuan pembelajaran 12

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (Marks, dkk. 1988: 11). Winkel (2004: 59) mengartikan belajar sebagai suatu aktivitas mental/psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan sejumlah perubahan dalam pengetahuanpemahaman, keterampilan, dan nilai sikap. Perubahan ini bersifat relatif konstan dan berbekas. Pengertian belajar yang telah dikemukakan oleh beberapa ahli tersebut memiliki kesamaan yaitu belajar aktivitas untuk memperoleh pengetahuan. Konstruktivisme menyatakan bahwa siswa membentuk pemahamanpemahamannya sendiri mengenai suatu pengetahuan dan keterampilan (Schunk, 2012: 387). Pembentukan pengetahuan menurut teori konstruktivistik memandang bahwa siswa aktif menciptakan struktur-struktur kognitif dalam interaksinya dengan lingkungan. Dengan bantuan struktur kognitifnya ini, siswa menyusun pengertian realitasnya. Interaksi kognitif akan terjadi sejauh realitas tersebut disusun melalui struktur kognitif yang diciptakan oleh siswa itu sendiri. Asumsi utama dari konstruktivisme adalah manusia merupakan siswa aktif yang mengembangkan pengetahuan bagi dirinya sendiri (Schunk, 2012: 322–324). Siswalah yang harus aktif mengembangkan pengetahuan mereka, bukan guru atau orang lain. Dengan demikian, belajar merupakan proses yang dialami siswa melalui pengalaman langsung untuk membangun pengetahuan, sikap, dan keterampilan dengan cara berinteraksi dengan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. 2.1.1.4 Hasil belajar Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan baru yang diperoleh siswa setelah mengikuti proses belajar-mengajar tentang mata pelajaran tertentu (Supratiknya, 2012: 5). Hasil belajar merupakan terbangunnya pengetahuanpengetahuan baru melalui interaksi dengan lingkungan. Hasil belajar diperoleh siswa secara aktif dan mandiri. Hasil belajar yang diperoleh melalui proses belajar dapat berupa kemampuan baru sama sekali maupun penyempurnaan atau pengembangan dari suatu kemampuan yang telah dimiliki (Winkel, 2004: 61). Misalnya, seorang anak belajar berenang pada waktu ia duduk di bangku Sekolah Dasar dengan mengikuti pelajaran renang yang diselenggarakan oleh sekolah. Pada waktu menjadi siswa 13

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Sekolah Menengah Pertama, anak itu dapat mempelajari beberapa gaya berenang yang lain seperti gaya kupu-kupu, yang merupakan perluasan dari gaya berenang dasar yang telah dikuasainya. Hasil belajar keterampilan yang terakhir ini sukar untuk dipandang sebagai hasil yang bersifat serba baru. Dengan demikian, hasil belajar merupakan kemampuan baru yang diperoleh siswa melalui pengalaman belajar yang aktif dan mandiri. Kemampuan baru sebagai hasil belajar yang lebih ditekankan adalah pengetahuan, pemahaman, maksud, sikap, harapan, dan penafsiran sebagai wujud pikiran sebagaimana dikemukakan oleh teori konstruktivisme. 2.1.2Metode Montessori Metode Montessori didasarkan pada konsepnya tentang ilmu pengetahuan, pengamatan-pengamatannya terhadap anak, dan pada risetnya yang luas dalam bidang antropologi, psikologi, dan pedagogi. Dari riset dan pengalaman, Montessori menemukan atau mengasumsikan tentang pertumbuhan, perkembangan, dan pendidikan anak (Gutek, 2013: 71). Montessori memiliki konsep tentang watak alami anak sebagai seorang pembelajar. Anak-anak memiliki daya interior untuk menyerap dan mengasimilasi banyak unsur dari sebuah kebudayaan yang kompleks tanpa pengajaran langsung. Montessori berusaha untuk meninggalkan teori-teori filsafat yang abstrak menuju penggunaan metode ilmiah untuk mengungkapkan pola-pola perkembangan anak. Dengan melakukan hal ini, Montessori dapat menyusun sebuah lingkungan pendidikan dan sebuah rangkaian proses pengajaran yang sepenuhnya mengaktualisasikan pola-pola pertumbuhan dan perkembangan manusia. Bagi Montessori, proses pendidikan mencakup dua unsur kunci yang sangat penting yaitu anak secara individu dan lingkungan (Gutek, 2013: 72). Bagi Montessori, lingkungan merupakan faktor sekunder, karena lingkungan dapat mengubah perkembangan dengan cara membantu atau menghambatnya, tetapi tidak dapat menciptakan perkembangan sendiri. Montessori (2002: 95) mengemukakan bahwa pendidikan mesti membantu anak untuk mengatasi masalah yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari sehingga anak dapat melakukan segala sesuatu secara mandiri. Dengan demikian, tugas pendidikan adalah membantu anak agar semakin mandiri. Anak belajar 14

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI untuk semakin mandiri sudah dimulai sejak disapih dari ibunya. Oleh sebab itu, sejak anak memasuki fase awal untuk aktif, aktivitas mereka semestinya menjadi dasar untuk mengarahkan mereka agar semakin mandiri. Menurut Montessori (2002: 101), anak yang terbiasa dengan disiplin aktif yang dicapai melalui kebebasan untuk beraktivitas akan lebih menghargai pemberian hadiah yang tidak meremehkan kemampuannya untuk melakukan sesuatu. Anak menyadari bahwa perkembangan kemampuan dan kebebasan batin menjadi asal-usul bagi aktivitasnya. Konsep kebebasan dalam pendidikan semestinya dimengerti sebagai kebebasan yang menuntut kondisi yang paling mendukung perkembangan seluruh kepribadian anak bukan hanya secara fisik tetapi juga mental termasuk perkembangan kemampuan otak (Montessori 2002: 104). Meskipun Montessori menekankan pentingnya kebebasan, Montessori tidak menafsirkan kebebasan anak-anak sebagai ketiadaan kontrol. Oleh sebab itu, pendidik semestinya memberikan perhatian atas perkembangan masing-masing anak. Masing-masing anak mengalami perkembangan yang merupakan perkembangan pribadi yang hidup. Montessori mendefinisikan pendidikan sebagai sebuah proses dinamis di mana anak-anak berkembang menurut hakikat perkembangan dari kehidupann mereka (Gutek, 2013: 75). Anak akan bekerja dengan sukarela ketika mereka ditempatkan dalam sebuah lingkungan yang disiapkan untuk memberi mereka kebebasan untuk mengekspresikan diri. Pertumbuhan fisik dan psikis anak tidak semestinya dihalang-halangani. Pendidik mestinya mengamati perkembangan yang terjadi terus-menerus ini. Montessori menyebut pendidik sebagai direktris (Gutek, 2013: 26). Tugas direktris adalah memandu anak-anak dalam kegiatan belajar mereka. Direktris harus peka terhadap kesiapan anak-anak dan tahap-tahap perkembangan mereka. Montessori menyebut tiga ciri utama pelajaran yang diberikan secara individual (2002:108), yaitu: (1) singkat, (2) sederhana, dan (3) objektif. Pelajaran itu harus singkat. Semakin efisien kata-kata yang diberikan, semakin baik suatu pelajaran. Pendidik mesti sungguh-sungguh dalam mempertimbangkan bobot kata-kata yang akan diucapkan untuk menilai perlu tidaknya kata-kata itu. Pelajaran harus sederhana. Kata-kata yang sudah dipilih dengan seksama haruslah 15

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI yang paling sederhana yang bisa ditemukan dan yang mengacu pada kebenaran. Kata-kata yang sederhana dapat membantu anak untuk memahami objek yang sedang dipelajarinya. Pelajaran haruslah objektif. Guru tidak boleh menarik perhatian anak-anak pada dirinya sendiri sebagai guru, melainkan hanya pada objek yang ingin dia terangkan. Penjelasan singkat tersebut haruslah merupakan penjelasan mengenai objek yang akan dipelajari anak-anak. Metode Montessori bersandar pada prinsipnya bahwa pendidikan seorang anak harus muncul dari dan bertepatan dengan tahap-tahap perkembangan anak itu sendiri (Gutek, 2013: 78). Montessori meyakini bahwa anak-anak mengalami kemajuan melalui serangkaian tahap perkembangan. Masing-masing tahap perkembangan memerlukan jenis pembelajaran yang dirancang secara tepat dan spesifik. Montessori mengidentifikasi tiga periode perkembangan utama (Gutek, 2013: 79). Pertama, dari lahir hingga usia enam tahun yang disebut dengan tahapan otak penyerap. Pada tahap pertama, anak-anak membangun konsepkonsep mereka tentang realitas, mulai menggunakan bahasa, dan mulai masuk ke dunia yang lebih besar. Kedua, dari usia enam hingga usia dua belas tahun. Pada tahap ini, keterampilan-keterampilan yang telah diperoleh dikembangkan lagi, dilatih, diperkuat, dan disempurnakan. Ketiga, dari usia dua belas hingga usia delapan belas tahun. Periode ketiga merupakan periode terjadinya perubahan fisik yang besar. Pada masa ini, seseorang berusaha untuk memahami peran-peran sosial dan ekonomi dan berusaha menemukan posisinya dalam masyarakat. 2.1.3 Matematika 2.1.3.1 Hakikat matematika Mengacu pada Peraturan Pemerintah no 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, matematika termasuk ke dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi yang bertujuan untuk mengenal, menyikapi, dan mengapresiasi ilmu pengetahuan dan teknologi, serta menanamkan kebiasaan berpikir dan berperilaku ilmiah yang kritis, kreatif, dan mandiri. Berdasarkan Depdiknas (2007), mata pelajaran matematika termasuk mata pelajaran intrakurikuler yang wajib diajarkan dan memiliki alokasi lima jam pelajaran per minggu. Dengan demikian, matematika mempunyai kedudukan yang penting dalam struktur kurikulum pendidikan, khususnya di Sekolah Dasar. Matematika 16

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI merupakan salah satu disiplin ilmu yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir, berargumentasi, dan memberikan kontribusi dalam penyelesaian masalah sehari-hari (Susanto, 2013: 185). Menurut Montessori Matematika SD merupakan literasi/ketermelekan, tujuannya bukan untuk mengajarkan rumus tetapi untuk membantu mengembangkan kemampuan berpikir logis serta mengantarkan anak memahami materi abstrak (Lillard, 1997: 137; Gutek, 2013: 363-375). Dengan demikian, matematika merupakan sarana yang digunakan dalam pendidikan untuk membantu siswa membangun kemampuan berpikir logis dan memahami hal-hal yang abstrak. Hal ini dapat membuat siswa mampu menyelesaikan masalahmasalah yang dia temui dalam kehidupan sehari-hari. 2.1.3.2 Pembelajaran matematika Pembelajaran matematika adalah suatu proses belajar mengajar yang dibangun oleh guru untuk mengembangkan kreativitas berpikir siswa yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa serta dapat meningkatkan kemampuan mengkonstruksi pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan penguasaan yang baik terhadap materi (Susanto, 2013: 195). Tujuan pembelajaran matematika saat ini tidak hanya sekedar menghapal, latihan (drill), dan ulangan agar dapat menguasai operasi matematika (Depdiknas, 2007). Hasil yang diharapkan dari pembelajaran matematika adalah siswa mampu berpikir tingkat tinggi dan memecahkan masalah. Tanggung jawab guru matematika yang sangat penting adalah mendorong kreativitas dengan cara membantu siswa menemukan ide dasar, aturan-aturan, dan prinsip-prinsip matematika (Marks, dkk, 1988: 11). Salah satu ciri menonjol dalam pengajaran matematika adalah semakin meningkatnya perhatian pada pengembangan kemampuan untuk menemukan, memeriksa, dan membuat generalisasi. Belajar matematika dapat dilakukan secara efektif dan efisien, bila penekanannya pada struktur, organisasi, dan hubungan-hubungan antara apa yang telah dipelajari (Marks, dkk, 1988: 12). Siswa harus mampu mengkonstruksi sendiri sebuah struktur dengan mulai mengenal ide tersebut pada tingkatan kongkret, kemudian secara perlahan-lahan diperkenalkan bahasa teknis untuk 17

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI mengungkapkan ide tersebut. Pada akhirnya, siswa dapat bekerja secara efektif pada tingkatan lambang yang abstrak. Melalui pembelajaran matematika, siswa harus mengetahui relevansi matematika dengan kehidupan sehari-hari (Marks, dkk, 1988: 13). Siswa harus dapat menerapkan keterampilannya pertama-tama pada lingkungan sekitarnya dan kemudian di luar lingkungannya. Setiap kegiatan belajar yang tersusun dan terencana dengan baik akan mencakup penggunaan konsep dan keterampilan matematika secara luas, dengan memperhatikan keragaman situasi yang memerlukan penerapan topik yang sudah dipelajari. Belajar akan lebih efektif apabila siswa terlibat secara aktif. Siswa yang diajar dengan sebuah ide dan konsep bilangan bulat oleh seorang guru, misalnya, jarang sekali memperhatikan dan mempelajari proses-proses yang diperlukan untuk memecahkan soal atau merasakan gairahnya menemukan sesuatu. Siswa membutuhkan kesempatan untuk mencoba dan menyelidiki suatu konsep secara mandiri. 2.1.3.3 Materi operasi bilangan bulat Bilangan bulat merupakan bilangan yang terdiri dari bilangan negatif, bilangan nol, dan bilangan positif. Seperti pada bilangan cacah, bilangan bulat dapat diartikan sebagai jarak berarah yang ditempuh kalau kita bergerak. Bilangan positif menyatakan bergerak ke kanan dan bilangan negatif menyatakan bergerak ke kiri. Seperti pada gambar 2.1 berikut ini (Mustaqim, 2008: 137). Gambar 2.1 Garis Bilangan Bilangan bulat dapat digunakan untuk menyatakan temperatur atau suhu udara. Misalnya, suhu udara di Amsterdam pada malam hari mencapai -5oC. Artinya, suhu udara mencapai 5 oC di bawah nol. Bilangan bulat dapat digunakan untuk menyatakan utang atau kerugian. Misalnya, Pak Ahmad membeli sepeda seharga Rp 375.000 rupiah. Kemudian Pak Ahmad menjualnya dengan harga Rp 350.000 rupiah. Artinya, Pak Ahmad rugi Rp 25.000 rupiah. Dapat dikatakan juga bahwa keuntungan Pak Ahmad minus Rp 25.000 rupiah. Bilangan bulat juga dapat digunakan untuk menyatakan kedalaman. Misalnya, kapal selam dapat 18

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI menyelam sampai -100 m. Artinya, kapal selam menyelam sampai kedalaman 100 meter di bawah permukaan laut. Materi operasi hitung bilangan bulat pada kelas 4 SD meliputi: mengenal bilangan bulat, mengurutkan bilangan bulat, penjumlahan bilangan bulat, pengurangan bilangan bulat, dan operasi hitung campuran bilangan bulat. Pada penelitian ini, peneliti memfokuskan penelitian pada penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. 2.1.3.4 Penjumlahan bilangan bulat Operasi penjumlahan pada bilangan bulat merupakan perluasan dari operasi yang sama pada bilangan cacah. Penjumlahan bilangan bulat terdiri dari (1) penjumlahan bilangan bulat positif dengan bilangan bulat positif, misalnya: 5 + 5 = 10; (2) penjumlahan bilangan bulat positif dengan bilangan bulat negatif, misalnya: 5 + (-5) = 0; (3) penjumlahan bilangan bulat negatif dengan bilangan bulat positif, misalnya: -5 + 5 = 0; dan (4) penjumlahan bilangan bulat negatif dengan bilangan bulat negatif, misalnya: -5 + (-5) = -10. 2.1.3.5 Pengurangan bilangan bulat Operasi pengurangan pada bilangan bulat merupakan perluasan dari operasi yang sama pada bilangan cacah. Pengurangan bilangan bulat terdiri dari (1) pengurangan bilangan bulat positif dengan bilangan bulat positif, misalnya: 5 5 = 0; (2) pengurangan bilangan bulat positif dengan bilangan bulat negatif, misalnya: 5 - (-5) = 10; (3) pengurangan bilangan bulat negatif dengan bilangan bulat positif, misalnya: -5 - 5 = -10; dan (4) pengurangan bilangan bulat negatif dengan bilangan bulat negatif, misalnya: -5 - (-5) = 0. 2.1.4 Alat Peraga Matematika berbasis Montessori 2.1.4.1 Pengertian alat peraga Pengertian alat peraga berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008: 37) adalah alat bantu dalam pengajaran untuk memeragakan sesuatu supaya apa yang diajarkan mudah dimengerti anak didik. Kekhasan alat peraga adalah alat pembelajaran yang dapat diperagakan oleh guru pada suatu konsep teoretis sehingga lebih mudah dipahami. 19

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Sudono (2010: 14) mengungkapkan bahwa alat peraga adalah alat yang berfungsi untuk menerangkan suatu mata pelajaran tertentu dalam suatu proses belajar mengajar. Arsyad (2007: 4) mengemukakan bahwa alat bantu mengajar yang dapat digunakan sebagai penyalur atau penghubung pesan ajar yang diciptakan secara terencana oleh guru adalah media pembelajaran. Guru sering membedakan antara alat peraga dan media, namun banyak pula yang menggunakan kedua istilah itu saling berganti untuk menunjukkan kepada suatu alat atau benda yang sama (Anitah, 2010: 6). Sebetulnya perbedaannya ada pada fungsi, bukan pada substansi maupun benda itu sendiri. Sesuatu disebut sebagai alat peraga bila fungsinya sebagai alat bantu belaka, dan disebut media bila merupakan integral dari seluruh kegiatan pembelajaran, serta ada pembagian tanggung jawab antara guru di satu pihak dan media di lain pihak. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa alat peraga merupakan bagian dari media pembelajaran yang dapat digunakan untuk memperagakan sebuah konsep yang abstrak agar siswa menjadi lebih mudah dalam memahaminya. Beberapa ahli telah membahas manfaat alat peraga. Alat peraga bermanfaat untuk menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar, bahan pelajaran akan menjadi lebih jelas maknanya sehingga akan lebih mudah dipahami oleh siswa, metode mengajar guru akan menjadi lebih inovatif, dan siswa menjadi lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran (Arsyad, 2007: 21-23; Munadi, 2010: 37-48). 2.1.4.2 Alat Peraga Montessori Alat peraga matematika menurut Montessori adalah material yang dirancang dengan konsep dan desain yang unggul berdasarkan cakupan pemahaman matematika yang akan dicapai (Lillard, 1997: 137). Alat peraga matematika Montessori tidak dirancang untuk “mengajar matematika” tetapi untuk membantu siswa mengembangkan pikiran matematikanya: memahami perintah, urutan, abstraksi, dan memiliki kemampuan untuk mengonstruksikan pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki menjadi suatu konsep baru. Alat peraga Montessori merupakan alat yang digunakan sebagai penyampai pesan dalam pembelajaran dengan menerapkan metode Montessori. Alat peraga yang digunakan memuat ciri-ciri yaitu menarik, mengandung unsur 20

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI gradasi, memiliki pengendali kesalahan, dapat membelajarkan siswa secara mandiri, dan kontekstual. 2.1.4.3 Ciri-ciri alat peraga Montessori Montessori sangat memperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan perkembangan anak secara mendetail, misalnya pembuatan meja dan kursi yang disesuaikan dengan ukuran anak, berat kursi dan meja yang dapat dipindah-pindah oleh anak, dan dibedakan juga meja untuk kerja kelompok dan untuk bekerja secara individual (Montessori, 2002: 81). Setiap pemilihan dan pembuatan alat dalam pembelajaran Montessori selalu memiliki arti dan alasan penggunaannya. Ciri-ciri dari alat tersebut dapat diperinci sebagai berikut. 1. Menarik Montessori (2002: 81) mengemukakan bahwa setiap media pembelajaran harus mengandung unsur keindahan. Unsur tersebut dapat dilihat dari segi warna sehingga mengundang minat siswa untuk belajar. Alat-alat peraga harus dibuat menarik bagi siswa agar secara spontan siswa ingin menyentuh, meraba, memegang, merasakan, dan menggunakannya untuk belajar. Tampilan fisik alat peraga harus mengombinasikan warna yang cerah dan disukai siswa. Dengan demikian, siswa akan menggunakan sensorialnya untuk belajar. 2. Memiliki gradasi Alat peraga yang digunakan dalam pembelajaran mengandung unsur gradasi. Gradasi yang dimaksud adalah rangsangan rasional yang nampak pada penggunaan alat yang melibatkan beberapa indera. Alat peraga harus memiliki gradasi rangsangan yang rasional terkait warna, bentuk, dan usia anak. Alat peraga sebanyak mungkin melibatkan penggunaan panca indera, dan juga dapat digunakan untuk berbagai usia perkembangan anak dengan tingkat abstraksi pembentukan konsep-konsep yang semakin kompleks. Untuk memperkenalkan gradasi warna merah, misalnya, kartu-kartu warna merah dibuat dengan 10 gradasi dari kartu berwarna merah sangat tua sampai dengan kartu berwarna merah sangat muda. 3. Memiliki pengendali kesalahan (auto correction) Setiap alat peraga Montessori memiliki pengendali kesalahan yang bertujuan agar anak dapat mengetahui kebenaran dan ketepatan dalam aktivitas 21

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI yang dilakukannya bersama suatu alat peraga secara mandiri. Contohnya pada saat anak melakukan permainan “incastri solidi”, ketika anak melakukan kesalahan dalam memasangkan inkastri dengan lubangnya, anak akan mengeluarkan inkastri tersebut kemudian melakukan percobaan berulang-ulang hingga dia dapat memasukkan inkastri pada lubang yang tepat (Montessori, 2002: 170-171). Pengendali kesalahan yang dimaksud dalam hal ini adalah setiap alat yang digunakan memiliki penunjuk bahwa sedang terjadi kesalahan pada apa yang dilakukan anak dalam penggunaan alat. Anak juga belajar dari kesalahan yang dilakukan dalam rangka membangun dirinya untuk lebih teratur, misalnya anak membuat gaduh ketika memindah kursi. Melalui suara yang ditimbulkan dari gesekan kursi dengan lantai, pengalaman tersebut dijadikan pelajaran untuk siswa agar dapat memindah kursi dengan hati-hati (Montessori, 2008: 83-85). 4. Membelajarkan siswa secara mandiri (auto education) Alat peraga dalam pembelajaran Montessori dirancang berdasarkan tahap perkembangan anak sehingga sesuai dengan kebutuhan anak. Alat peraga Montessori juga didesain untuk mudah dipindahkan oleh anak-anak sendiri sehingga anak dapat memilih kenyamanannya sendiri secara bebas untuk meggunakan alat peraga selama pembelajaran (Montessori, 2008: 83-84). Bagi anak-anak, kemandirian berarti bebas untuk melakukan hal-hal yang membuat mereka bebas dari campur tangan orang dewasa. Bagi anak, kemandirian berarti mampu melakukan sepenuhnya oleh dirinya sendiri (Montessori dalam Gutek, 2013: 75). Pada dasarnya, anak-anak bersemangat untuk mempelajari hal-hal baru maupun keterampilan-keterampilan baru. Dengan inisiatif mereka sendiri, mereka akan bertahan pada tugas yang mereka lakukan dan terus mengulang-ulanginya hingga mereka dapat menguasainya dengan baik. Montessori menyimpulkan bahwa anak-anak tidak harus dipaksa untuk belajar (Gutek, 2013: 74). Dengan demikian, penghargaan dan hukuman tidak diperlukan dalam proses pembelajaran. Montessori menyadari bahwa intervensi yang tepat diperlukan pada saatsaat tertentu tetapi harus dikurangi secara bertahap ketika anak-anak telah semakin mandiri. Kemandirian merupakan pondasi bagi nilai-nilai ketekunan pada sebuah tugas, ketahanan dalam mengerjakan sesuatu hingga tugas tersebut dapat 22

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dikerjakan dengan benar, dan kepuasan pada sebuah pekerjaan yang dikerjakan dengan baik. 5. Kontekstual Satu ciri alat peraga yang ditambahkan adalah kontekstual. Kontekstual yang dimaksud dalam alat peraga yang dikembangkan bahwa bahan-bahan yang digunakan mudah ditemukan di lingkungan sekitar sekolah dan sudah dikenal oleh siswa. Seperti yang dilakukan Montessori ketika mengawali pelayanan pendidikan, Montessori menggunakan alat seadanya yang disesuaikan dengan kesulitan belajar yang dialami siswa. Montessori mengembangkan alat peraga yang terbuat dari bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar yaitu kayu dan pasir. Kontekstual diterapkan dalam pembelajaran untuk mengaitkan materi dengan lingkungan atau masalah sehari-hari yang dialami oleh siswa. Hal ini dijelaskan oleh Depdiknas melalui pendekatan kontekstual. Pendekatan kontekstual (Depdiknas, 2003: 1) adalah pendekatan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi nyata siswa. Siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Johnson (2007: 14) mengemukakan bahwa pembelajaran kontekstual adalah sebuah sistem belajar yang didasarkan pada filosofi bahwa siswa mampu menyerap pelajaran apabila mereka menangkap makna dalam materi akademis yang mereka terima dan mereka menangkap makna dalam tugas-tugas sekolah jika mereka bisa mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan dan pengalaman yang sudah mereka miliki sebelumnya. Dengan demikian, kontekstual merupakan pembelajaran yang mengaitkan isi akademis dengan konteks dalam situasi kehidupan sehingga siswa dapat menemukan makna. Suasana kontekstual dapat diciptakan dengan menghadirkan alat peraga yang berasal dari lingkungan sekitar siswa sehingga siswa dapat mengaitkan materi yang dipelajari dengan kehidupan sehari-hari mereka agar menciptakan suasana kontekstual bagi siswa. Dengan demikian, peneliti menambahkan ciri kontekstual. 23

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2.1.4.4 Alat peraga Papan Bilangan Bulat berbasis metode Montessori Alat peraga memiliki berbagai macam fungsi, salah satunya adalah fungsi manipulatif. Sebagaimana dikemukakan oleh Munadi (2010: 41), fungsi manipulatif media pembelajaran atau alat peraga dapat digunakan untuk mengatasi keterbatasan ruang dan waktu dimana alat peraga dapat menghadirkan objek yang sulit dihadirkan dalam bentuk aslinya. Alat peraga yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah Papan Bilangan Bulat. Alat peraga tersebut dirancang berdasarkan empat ciri alat peraga Montessori dan satu ciri tambahan. Empat ciri tersebut adalah (1) menarik, (2) bergradasi, (3) auto correction, (4) auto education. Ciri tambahan dalam penelitian ini adalah kontektual. Unsur menarik yang terdapat dalam alat peraga yang dikembangkanadalah warna alat peraga yang digunakan sesuai dengan keinginan siswa. Gradasi terdapat pada penggunaan alat peraga yang melibatkan lebih dari satu indera dan alat peraga dapat digunakan untuk materi pada kompetensi dasar selanjutnya. Pengendali kesalahan terletak pada penempatan biji bilangan. Jika masih ada biji yang berpasangan di Papan Bilangan Bulat, maka siswa belum bisa mendapatkan jawaban yang benar. Selain itu, di balik kartu soal terdapat kunci jawaban yang dapat digunakan oleh siswa mengecek benar atau salahnya jawaban yang ia peroleh setelah menggunakan alat peraga. Alat peraga dapat membelajarkan siswa secara mandiri, siswa dapat belajar menggunakan alat peraga sendiri ataupun dengan teman tanpa tergantung oleh keberadaan guru. Alat peraga yang dirancang dapat dikatakan kontekstual karena menggunakan bahan dasar dari kayu yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Papan dan biji bilangan dapat digunakan untuk merepresentasikan bilangan bulat positif dan negatif. Bilangan bulat positif mudah untuk dipahami oleh siswa. Bilangan bulat positif merupakan konsep yang sulit dipahami oleh siswa karena merupakan konsep yang abstrak. Oleh sebab itu, papan dan biji bilangan dapat digunakan sebagai alat peraga manipulatif untuk menghadirkan objek yang sulit untuk dihadirkan dalam bentuk nyatanya. Cara untuk memanipulasi bilangan bulat positif dan negatif adalah sebagai berikut: papan bagian atas digunakan untuk menempatkan biji positif dan papan bagian bawah dapat digunakan untuk menempatkan biji negatif. Biji bilangan 24

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dibedakan ke dalam dua warna, misalnya warna merah untuk bilangan positif dan warna biru untuk bilangan negatif. 2.2 Hasil Penelitian yang Relevan 2.2.1 Hasil penelitian yang relevan mengenai pembelajaran Montessori Penelitian yang dilakukan oleh Manner (2006) membandingkan prestasi akademis sekolah Montessori dengan sekolah tradisional. Penelitian tersebut menguji hubungan antara pendidikan berbasis Montessori yang ditunjukkan dengan pencapaian skor tes Standford dalam aspek membaca dan matematika jika dibandingkan dengan skor yang sama di sekolah tradisional. Pengukuran dilakukan secara berulang dengan desain yang tetap selama periode waktu tiga tahun. Hasil dari penelitian tersebut yaitu pada tahun pertama tidak ditemukan perbedaan antara kelompok Montessori dengan kelompok tradisional. Perbedaan yang signifikan muncul pada tahun kedua dan ketiga yaitu menunjukkan bahwa program Montessori memberikan hasil yang unggul untuk aspek membaca. Perbedaan yang signifikan juga terdapat pada aspek matematika pada tahun kedua dan ketiga. Lillard (2006) meneliti perbandingan skor prestasi akademik dan sosial siswa sekolah Montessori dan program pendidikan Sekolah Dasar lainnya yang berusia 5 tahun dan 12 tahun di Milwaukee, Wilsconsin. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa (1) siswa Montessori umur 5 tahun menunjukkan hasil yang lebih baik dalam tes membaca dan matematika, memiliki dorongan yang positif dalam berinteraksi dengan orang lain, menunjukkan kemajuan dalam kesadaran sosial, dan peduli terhadap kejujuran serta keadilan, dan (2) siswa Montessori umur 12 tahunlebih kreatif dalam membuat essay dengan susunan kalimat yang lebih kompleks, selektif dalam memberikan respon positif tehadap masalah-masalah sosial danmenunjukkan perasaan yang peka terhadap komunitasnya di sekolah. Kedua hasil penelitian tersebut menunjukkan prestasi akademik dan sosial siswa Montessori lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Penelitian relevan yang ketiga dilakukan oleh Koh & Frick (2010) yang meneliti penerapan dukungan untuk kebebasan individu (autonomy support) dalam kelas Montessori. Tujuan dalam penelitian tersebut adalah mengetahui 25

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI karakteristik guru yang memiliki autonomy support dalam kelas Montessori dan pengaruh autonomy support terhadap motivasi intrinsik siswa dalam belajar. Penelitian tersebut dilakukan terhadap guru dan asistennya pada sekolah Montessori. Penelitian ini dilakukan di salah satu sekolah Montessori yang terletak di Indiana, USA. Hasil penelitian ini terdiri atas dua hal, yaitu (1) guru dan asistennya memiliki strategi yang sesuai dengan filosofi Montessori dalam mendukung kemandirian siswa dan (2) siswa Montessori memiliki motivasi intrinsik dalam mengerjakan tugasnya. Ketiga penelitian yang mengkaji pembelajaran Montessori di atas menunjukkan bahwa penggunaan metode Montessori dalam pembelajaran dapat membantu siswa dalam meningkatkan prestasi akademis, kemampuan sosial, kemandirian, dan motivasi dalam belajar. Metode Montessori baik apabila diterapkan dalam kegiatan pembelajaran. Oleh sebab itu, perlu dilakukan penelitian pengembangan yang meneliti penggunaan alat peraga berbasis Montessori dalam kegiatan pembelajaran. Penelitian ini memberikan sumbangan baru untuk mengembangkan alat peraga Montessori pada materi operasi bilangan bulat untuk siswa SD kelas IV. 2.2.2 Hasil penelitian yang relevan mengenai pembelajaran matematika Pertama, penelitian yang dilakukan oleh Dwina dan Yerizon (2006). Tujuan penelitian tersebut adalah mengetahui keefektifan alat manipulatif dalam proses pembelajaran matematika di Sekolah Dasar. Sampel yang digunakan adalah siswa kelas V SD N 09 dan SD N 04 di Kecamatan Mandiangin Kota Selayan, Kota Bukittinggi. Instrumen yang digunakan adalah posttest untuk mengukur bagaimana pemahaman siswa setelah menggunakan alat manipulatif. Alat manipulatif yang digunakan dalam proses pembelajaran matematika adalah keping berwarna untuk mengajarkan materi bilangan bulat positif dan bilangan bulat negatif. Hasil yang diperoleh dari eksperimen yang dilakukan oleh peneliti adalah kemampuan operasi hitung siswa kelas eksperimen secara umum sudah mencapai tuntas belajar atau lebih besar dari 65%, kecuali pada pengurangan bilangan bulat negatif dengan negatif baru mencapai 50,73%. Sedangkan pada kelas kontrol, ketuntasan belajar belum mencapai 65%. Dengan demikian, 26

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI penggunaan alat manipulatif pada proses pembelajaran operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan dapat meningkatkan kemampuan siswa. Penelitian yang dilakukan oleh Dwina dan Yerizon (2006) telah membuktikan berhasilnya penggunaan alat manipulatif namun, pemilihan sampel yang dilakukan secara random menunjukkan bahwa peneliti tersebut tidak memperhatikan kondisi awal siswa apakah sama atau berbeda. Tidak ada semacam pretest untuk membuktikan bahwa kelas kontrol dan kelas eksperimen mempunyai kondisi awal siswa yang sama. Hal ini dapat memungkinkan adanya faktor lain yang dapat mempengaruhi meningkatnya hasil belajar siswa seperti kondisi awal siswa yang memang berbeda, gaya mengajar guru, maupun perbedaan akreditasi sekolah. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dwina dan Yerizon (2006) tersebut, peneliti mengambil celah untuk melakukan penelitian pengembangan yaitu dengan mengembangkan alat peraga Papan Bilangan Bulat yang dirasa lebih menarik bagi siswa. Kedua, penelitian yang dilakukan oleh Elniati (2007). Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan perangkat pembelajaran matematika berorientasi konstruktivisme untuk siswa kelas VIII SMP. Perangkat pembelajaran yang disusun berupa handout, Rencana Pembelajaran (RP), dan Lembar Kerja Siswa. Model pembelajaran yang digunakan adalah model pembelajaran dengan pendekatan kontekstual, model pembelajaran kooperatif, pembelajaran berbasis masalah, dan pembelajaran langsung. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian pengembangan. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri di Kota Padang. Penelitian ini melibatkan tiga SMP Negeri yang masing-masing mewakili peringkat tinggi, rendah, dan sedang, maka sampel diambil dengan teknik stratified random sampling, setelah dilakukan uji normalitas, uji homogenitas, dan uji kesamaan rata-rata. Hasil penelitian tahap I menunjukkan perangkat yang dihasilkan memiliki validitas isi dan susunan yang cukup baik. Selanjutnya, pada tahap implementasi (tahap II) diperoleh kesimpulan bahwa perangkat yang dihasilkan memiliki praktikabilitas yang memadai. Penelitian tersebut menghasilkan perangkat pembelajaran yang valid dan praktis untuk digunakan dalam pembelajaran matematika. Meskipun demikian, penelitian tersebut belum mengembangkan alat peraga yang dapat 27

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI mengaktifan siswa sehingga siswa dapat mengkonstruksi pemahamannya.Hal yang akan dilakukan oleh peneliti untuk melengkapi penelitian yang telah dilakukan oleh Elniati tersebut adalah menciptakan alat peraga pembelajaran matematika yang dapat membantu siswa mengonstruksi sendiri pemahamannya tentang materi pembelajaran bilangan. Alat peraga yang akan digunakan oleh peneliti adalah Papan Bilangan Bulat untuk meningkatkan hasil belajar siswa khususnya dalam materi bilangan bulat. Ketiga, penelitian yang dilakukan oleh Diba, dkk (2009). Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan materi pembelajaran matematika pada materi bilangan berdasarkan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) dalam bentuk buku siswa yang valid, praktis, dan mempunyai efektivitas untuk siswa kelas V Sekolah Dasar. Jenis penelitian yang digunakan oleh peneliti tersebut adalah penelitian pengembangan. Subjek penelitian yang digunakan adalah siswa kelas 5C SD N 117 Palembang dengan jumlah siswa 41 anak. Instrumen yang digunakan adalah observasi, tes, analisis dokumen, dan wawancara. Prototipe ketiga buku siswa menghasilkan materi pembelajaran bilangan yang valid, praktis, dan mempunyai potensi efek untuk siswa dan dapat digunakan sebagai salah satu alternatif dalam pembelajaran bilangan. Penelitian tersebut telah berhasil menciptakan buku siswa untuk pembelajaran materi bilangan berdasarkan PMRI. Berdasarkan penelitian tersebut, peneliti akan membuat album pembelajaran sesuai dengan Metode Montessori sebagai alternatif lain dalam pembelajaran bilangan bulat. Berdasarkan tiga penelitian yang relevan mengenai pembelajaran matematika, penelitian ini memberikan sumbangan pada pengembangan alat peraga matematika yang bermanfaat untuk mengajarkan konsep bilangan bulat bagi siswa kelas IV SD. Alat peraga dibuat lebih menarik berdasarkan metode Montessori. Alat peraga dilengkapi dengan album pembelajaran sebagai pedoman dalam penggunaan alat peraga. Pemetaan penelitian-penelitian terdahulu ditunjukkan dalam bagan 2.1 pada halaman 29. 28

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Metode Pembelajaran Montessori Pembelajaran Matematika Manner (2006) prestasi akademis sekolah Montessori - sekolah tradisional Dwina dan Yerizon (2006) Alat manipulatif –hasil belajar Lillard (2006) skor prestasi sosial siswa sekolah Montessori - program pendidikan Sekolah Dasarlainnya Elniati (2007) Perangkat Pembelajaran Matematika Konstruktivisme Koh & Frick (2010) penerapan dukungan - kebebasan individu (autonomy support) dalam kelas Montessori Diba, dkk (2009) Materi Pembelajaran Bilangan berdasarkan Pendidikan Matematika Realistik untuk siswa kelas V Sekolah Dasar Yang perlu diteliti: Pengembangan alat peraga matematika untuk operasi bilangan bulat berbasis metode Montessori Bagan 2.1 Penelitian yang Relevan 2.3 Kerangka Berpikir Metode Montessori merupakan metode pembelajaran yang diciptakan oleh Maria Montessori. Metode ini memiliki dua fokus utama yaitu anak dan lingkungan. Anak memiliki tahap-tahap perkembangan tertentu. Bersamaan dengan tahap-tahap perkembangan tersebut, anak harus menyelesaikan tugas perkembangannya. Lingkungan belajar merupakan lingkungan yang harus dipersiapkan agar anak dapat belajar secara mandiri. Montessori menyebut pengajar sebagai direktris. Tugas direktris adalah memandu anak-anak dalam kegiatan belajar mereka. Direktris harus peka terhadap kesiapan anak-anak dan tahap-tahap perkembangan mereka. 29

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tujuan khusus pembelajaran matematika di SD adalah untuk menumbuhkembangkan keterampilan berhitung (menggunakan bilangan) sebagai alat bantu dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menguasai konsep dan keterampilan, siswa diharapkan dapat memecahkan berbagai masalah dalam bidang lain serta masalah yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk membantu siswa dalam memahami konsep matematika adalah dengan menggunakan alat peraga. Manfaat alat peraga adalah pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar, bahan pelajaran akan menjadi lebih jelas maknanya sehingga akan lebih mudah dipahami oleh siswa, metode mengajar guru akan menjadi lebih inovatif, dan siswa menjadi lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran. Pembelajaran Montessori merupakan pembelajaran yang menitikberatkan kemandirian siswa untuk mengembangkan pengetahuannya dengan memanfaatkan sensorialnya secara menyeluruh. Siswa memilih sendiri alat peraga yang ingin digunakannya. Alat-alat peraga Montessori dikembangkan untuk mendukung kemandirian anak dalam belajar. Alat-alat peraga Montessori merupakan bagian dari lingkungan yang dikondisikan yang perlu untuk terjadinya pembelajaran. Ciri-ciri alat peraga berbasis Montessori adalah menarik, memiliki gradasi, memiliki pengendali kesalahan, membelajarkan siswa secara mandiri, dan kontekstual. Alat peraga digunakan untuk memanipulasi hal-hal yang masih bersifat abstrak bagi siswa. Fungsi manipulatif alat peraga dapat diterapkan dalam menciptakan alat yang dapat digunakan untuk membantu siswa memahami konsep bilangan bulat positif dan negatif. Alat peraga yang dapat dikembangkan berdasarkan metode Montessori adalah Papan Bilangan Bulat. Bilangan bulat positif dan negatif dapat dimanipulasikan dalam sebuah objek yang nyata bagi siswa berupa papan dan biji bilangan. Papan bagian atas digunakan untuk menempatkan biji positif dan papan bagian bawah dapat digunakan untuk menempatkan biji negatif. Biji bilangan dibedakan ke dalam dua warna, misalnya warna merah untuk bilangan positif dan warna biru untuk bilangan negatif. Jika alat peraga matematika SD dikembangkan berdasarkan Metode Montessori, maka alat peraga tersebut memiliki ciri-ciri alat peraga yaitu menarik, 30

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI memiliki unsur gradasi, dapat membelajarkan siswa secara mandiri, memiliki pengendali kesalahan, dan kontekstual serta memiliki kualitas yang sangat baik. Dengan demikian, siswa dapat meningkatkan hasil belajar tentang penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. 2.4 Pertanyaan Penelitian 2.4.1 Bagaimana ciri-ciri alat peraga Matematika berbasis metode Montessori “Papan Bilangan Bulat” yang dikembangkan untuk konsep bilangan bulat bagi siswa kelas IV? 2.4.2 Bagaimana jika ciri kontekstual ditambahkan pada pengembangan alat peraga “Papan Bilangan Bulat” untuk konsep bilangan bulat bagi siswa kelas IV? 2.4.3Bagaimana kualitas alat peraga Matematika berbasis metode Montessori Montessori “Papan Bilangan Bulat” untuk konsep bilangan bulat sampai pada uji coba terbatas tahap I? 2.4.4 Bagaimana dampak penggunaan alat peraga Matematika berbasis metode Montessori “Papan Bilangan Bulat” yang dikembangkan untuk konsep bilangan bulat terhadap proses belajar? 2.4.5Bagaimana dampak penggunaan alat peraga Matematika berbasis metode Montessori “Papan Bilangan Bulat” yang dikembangkan untuk konsep bilangan bulat terhadap hasil belajar siswa? 31

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN Bab ini akan membahas secara lengkap (1) jenis penelitian, (3) setting penelitian, (3) prosedur pengembangan, (4) uji validitas, (5) teknik pengumpulan data, (6) instrumen penelitian, dan (7) teknik analisis data. 3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Research and Development (R and D). Research and Development adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu (Sugiyono, 2010: 407). Sukmadinata (2011: 164) mengemukakan bahwa R and D adalah suatu proses atau langkah-langkah untuk mengembangkan suatu produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada, yang dapat dipertanggungjawabkan. Penelitian ini mengembangkan alat peraga berdasarkan Montessori yaitu Papan Bilangan Bulat untuk materi operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. Pada penelitian ini dibatasi sampai dengan uji coba terbatas untuk mengetahui kualitas alat peraga yang dikembangkan dan untuk membantu siswa kelas IV SD dalam memahami materi operasi bilangan bulat. 3.2 Setting Penelitian 3.2.1 Objek Penelitian Objek penelitian ini adalah alat peraga matematika berbasis metode Montessori yaitu Papan Bilangan Bulat. Papan bilangan bulat dilengkapi dengan biji bilangan sebagai alat manipulasi bilangan bulat positif dan bilangan bulat negatif. Alat peraga ini juga dilengkapi dengan album pembelajaran. 3.2.2 Subjek Penelitian Subjek pada penelitian ini adalah sekelompok siswa kelas IV SD yang berjumlah lima anak. Siswa tersebut dipilih atas rekomendasi guru kelas IV. Guru memilih siswa yang memiliki kemampuan menengah ke atas agar dapat mudah menerima materi sebagai bekal pada saat menerima materi bilangan bulat di kelas pada semester genap. Jumlah seluruh siswa kelas IV ada 25 anak, 15 siswa laki- 32

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI laki dan 10 siswa perempuan. Siswa kelas IV di SDK Klepu memiliki kemampuan yang beragam. Kondisi ruangan Kelas IV baik untuk melakukan pembelajaran. Meja dan kursi dalam keadaan baik. Satu meja dan kursi panjang digunakan untuk tiga siswa. Ada sebuah papan tulis kapur di depan kelas. Ventilasi ruangan cukup untuk masuknya cahaya yang dapat menerangi kegiatan belajar. Lampu sebagai alat bantu penerangan. Buku-buku yang digunakan untuk pembelajaran lengkap dan diletakkan di pinggir ruangan. Alat kebersihan berupa sapu dan sekop tersedia. Papan data kelas tertempel pada dinding kelas. Ada sedikit alat peraga yang diletakkan di dalam kelas. 3.2.3 Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di SD Kanisius Klepu yang beralamat di Klepu, Sendangmulyo, Minggir, Sleman, Yogyakarta. SDK Klepu berdiri pada tanggal 1 April 1927. Sekolah ini memiliki nilai akreditasi A. Jumlah guru yang mengajar sebanyak 11 orang dan memiliki 3 karyawan. Alasan pemilihan SD tersebut yaitu siswa-siswa di SDK Klepu memiliki prestasi yang baik walaupun lokasi sekolah berada di desa. Prestasi sekolah yang dicapai pada tahun 2013 diantaranya juara 3 UN tahun ajaran 2012/2013 se-UPT Kecamatan Minggir, juara 3 IPA Olimpiade Sains se-Kecamatan Minggir, juara 3 Matematika Olimpiade Sains se-Kecamatan Minggir, dan lain-lain. Selain itu, siswa yang bersekolah di SD Kanisius Klepu berasal dari latar belakang keluarga yang beragam yaitu menengah ke bawah sampai menengah ke atas. 3.2.4 Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan selama 9 bulan, yaitu pada bulan September 2013 sampai bulan Mei 2014. 3.3 Prosedur Pengembangan Prosedur pengembangan produk yang digunakan dalam penelitian Research and Development menurut Sugiyono (2012: 298) adalah sebagai berikut: 33

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Potensi dan Masalah Ujicoba Pemakaian Revisi Produk Pengumpulan Data Revisi Produk Desain Produk Uji Coba Produk Validasi Desain Revisi Desain Produksi Massal Bagan 3.1 Prosedur Pengembangan Produk Menurut Sugiyono Berdasarkan bagan 3.1, penelitian berangkat dari adanya potensi atau masalah yang terjadi di lapangan. Setelah potensi atau masalah dapat ditunjukkan secara faktual dan krusial, selanjutnya perlu dilakukan pengumpulan data untuk mendapatkan informasi yang cukup untuk melakukan penelitian pengembangan. Informasi atau data-data tersebut digunakan untuk perencanaan produk atau alat peraga tertentu yang akan dikembangkan. Produk yang akan dihasilkan perlu didesain terlebih dahulu. Desain produk dalam bidang pendidikan bertujuan untuk meningkatkan produktivitas pendidikan, yaitu lulusan yang jumlahnya banyak, berkualitas, dan relevan dengan kebutuhan (Sugiyono, 2010: 412). Selanjutnya adalah melakukan validasi desain yang merupakan proses kegiatan untuk menilai produk atau alat peraga yang dihasilkan. Perbaikan desain perlu dilakukan untuk memperbaiki kekurangan dari produk yang didesain. Tahap selanjutnya adalah uji coba produk. Dalam bidang pendidikan, desain produk seperti metode mengajar baru dapat langsung diuji cobakan setelah dilakukan validasi dan revisi desain. Setelah diujicobakan, tahap berikutnya adalah revisi produk kemudian dilakukan uji coba pemakaian pada kelas yang lebih besar. Apabila ditemukan kelemahan dan kekurangan terhadap produk yang dihasilkan, dilakukan revisi produk lagi kemudian produk tersebut dapat diproduksi secara masal. Borg dan Gall (1983: 775) mengemukakan langkah-langkah yang digunakan dalam penelitian R and D adalah sebagai berikut: (1) Penelitian dan pengumpulan informasi awal. Pada tahap ini, dilakukan pencarian informasi melalui literatur, observasi kelas, dan persiapan laporan. (2) Persiapan, meliputi 34

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI mendeskripsikan keterampilan, menentukan tujuan pembelajaran, dan uji coba terbatas. (3) Pembuatan rancangan produk yang meliputi persiapan manual alat peraga, handbooks, dan alat evaluasi. (4) Uji coba awal. Uji coba terbatas dilakukan pada satu sampai tiga sekolah, menggunakan enam sampai dua belas siswa. Peneliti melakukan pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan kuesioner dan menganalisis data hasil uji coba terbatas. (5) Revisi produk awal. Revisi produk dilakukan berdasarkan hasil yang diperoleh dari uji coba terbatas. (6) Uji coba produk di lapangan. Uji coba ini dilakukan pada lima sampai lima belas sekolah dengan melibatkan tiga puluh sampai seratus siswa. Data kuantitatif diperoleh melalui pretest dan posttest. Hasil data yang diperoleh dievaluasi dengan mengkaji ketercapaian tujuan pembelajaran dan dibandingkan dengan data pada kelompok kontrol. (7) Revisi produk secara operasional berdasarkan hasil yang diperoleh dari uji coba di lapangan. Pada tahap ini dilakukan penyempurnaan produk berdasarkan uji coba lapangan. (8) Uji pelaksanaan lapangan yang melibatkan sepuluh sampai tiga puluh sekolah yang melibatkan empat puluh sampai dua ratus siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi, dan kuesioner dan dianalisis. (9) Revisi produk akhir berdasarkan hasil dari uji coba secara operasional. (10) Diseminasi dan implementasi produk yaitu melaporkan produk yang dihasilkan pada seminar dan jurnal. Penelitian mengenai pengembangan alat peraga matematika berbasis Montessori ini, mengadopsi langkah-langkah penelitian yang dikemukakan oleh Sugiyono (2012) serta Borg dan Gall (1983) tersebut. Peneliti membatasi penelitian pengembangan ini sampai pada uji coba terbatas. Uji coba terbatas dilakukan untuk mengetahui apakah alat peraga yang dihasilkan dapat membantu siswa memahami materi yang diajarkan serta mengetahui kualitas alat peraga yang dihasilkan. Adapun tahap-tahap yang digunakan dalam penelitian ini ditunjukkan oleh bagan 3.2 halaman 36. 35

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Bagan 3.2 Prosedur Pengembangan Alat Peraga Papan Bilangan Bulat 36

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tahap pertama, peneliti mengkaji standar kompetensi untuk menentukan kompetensi dasar dan dilanjutkan dengan memilih materi pembelajaran yang akan dikembangkan. Peneliti memilih Standar Kompetensi 5. Operasi Bilangan Bulat dengan Kompetensi Dasar pada 5.2 Penjumlahan Bilangan Bulat dan 5.3 Pengurangan Bilangan Bulat. Tahap kedua, peneliti melakukan analisis kebutuhan. Analisis kebutuhan dilakukan sebagai acuan dalam pembuatan produk alat peraga. Pertama-tama, peneliti melakukan analisis karakteristik alat peraga Montessori dan karakteristik siswa yang akan dijadikan subjek penelitian. Selanjutnya, peneliti membuat instrumen analisis kebutuhan. Instrumen analisis kebutuhan diuji keterbacaannya oleh ahli pembelajaran Matematika, ahli bahasa, guru, dan siswa.Analisis kebutuhan dilakukan pada siswa kelas IV yang berjumlah 25 siswa dan semua guru kelas di SD Kanisius Klepu. Analisis kebutuhan ini dilakukan dengan tujuan agar peneliti mengetahui karakteristik dan kebutuhan siswa dalam mempelajari materi pembelajaran matematika untuk keterampilan berhitung pada bilangan bulat. Setelah peneliti melakukan analisis kebutuhan, peneliti mengembangkan program pembelajaran meliputi alat peraga, pengembangan perangkat album dan evaluasi pembelajaran. Langkah ini memberikan pertimbangan pada peneliti dalam menentukan langkah selanjutnya. Tahap ketiga, peneliti memproduksi alat peraga Montessori untuk keterampilan berhitung matematika. Langkah ini dimulai dengan membuat desain alat peraga dan dilanjutkan dengan mengumpulkan bahan untuk pembuatan produk pengembangan penelitian. Bahan-bahan yang telah terkumpul kemudian akan diproses dan dikembangkan sesuai dengan desain yang telah peneliti rencanakan. Produksi alat peraga Montessori dilengkapi dengan album pembelajaran yang memuat langkah-langkah penggunaan alat peraga Papan Bilangan Bulat bilangan bulat dan kartu soal sebagai pengendali kesalahan. Tahap keempat adalah pembuatan instrumen penelitian. Instrumen yang dibuat adalah instrumen tes untuk siswa dan kuesioner validasi produk yang ditujukan untuk ahli, guru, dan siswa. Instrumen tes divalidasi oleh ahli pembelajaran matematika dan guru kelas IV. Instrumen kuesioner validasi produk 37

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI diuji keterbacaannya oleh ahli pembelajaran matematika, ahli bahasa, guru, dan siswa. Tahap kelima adalah validasi dan revisi produk alat peraga. Proses validasi oleh para ahli dilakukan satu kali. Validasi produk dilakukan oleh ahli pembelajaran Montessori, ahli pembelajaran matematika, dan guru kelas IV.Hasil dari validasi oleh para ahli digunakan sebagai bahan pertimbangan oleh peneliti dalam merevisi produk. Uji coba lapangan terbatas dilakukan pada sekelompok siswa kelas IV SDK Klepu. Sebelum dilakukan uji coba, siswa akan diberi soal pretest untuk mengetahui kemampuan awal siswa. Setelah uji coba, siswa akan diberi soal posttest. Peneliti melakukan analisis terhadap hasil uji coba lapangan terbatas. Hasil uji coba lapangan terbatas akan digunakan sebagai pertimbangan dalam melakukan revisi produk. Dari langkah tersebut akan dihasilkan prototipe produk penelitian pengembangan berupa alat peraga papan bilangan bulat. 3.4 Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif diperoleh dari kuesioner analisis kebutuhan, kuesioner validasi produk, pretest,dan posttest. Teknik pengumpulan data kualitatif diperlukan untuk melengkapi dan mengonfirmasi data yang telah diperoleh secara kuantitatif. Seperti dikemukakan oleh Krathwohl (2004: 546) bahwa setiap studi eksperimental selalu dianjurkan memasukkan unsur-unsur kualitatif untuk mengangkat sudut pandang subjek penelitian misalnya melalui wawancara. Instrumen dalam penelitian kualitatif adalah peneliti itu sendiri sehingga tidak memerlukan uji validitas dan reliabilitas (Sugiyono, 2012: 222). Uji validitas pada penelitian kualitatif adalah uji validitas terhadap peneliti itu sendiri. Uji validitas dilakukan oleh peneliti itu sendiri untuk mengukur sejauh mana peneliti memahami metode dan langkah-langkah pengumpulan data dalam penelitian kualitatif (Sugiyono, 2012: 222). 3.4.1 Analisis Kebutuhan 3.4.1.1 Kuesioner Teknik pengumpulan data analisis kebutuhan dengan menggunakan kuesioner yang telah disusun berdasarkan kisi-kisi. Kuesioner yang digunakan 38

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI adalah kuesioner tertutup yang ditujukan pada semua guru kelas dan siswa kelas IV di SD Kanisius Klepu yang berjumlah 25 siswa. 3.4.1.2 Wawancara tidak terstruktur Wawancara yang akan dilakukan pada guru dan siswa adalah wawancara tidak terstruktur. Wawancara dilakukan secara langsung kepada guru dan siswa bertujuan untuk mengkonfirmasi kuesioner yang telah diberikan dan untuk mendapatkan informasi secara lebih mendalam. Hal-hal yang akan ditanyakan diantaranya (1) ketersediaan alat peraga di sekolah, (2) cara memperoleh alat peraga, (3) penggunaan alat peraga di sekolah, (4) kriteria alat peraga yang menarik, dan (5) kegunaan alat peraga dalam pembelajaran. 3.4.2 Skala Nilai Validasi Produk oleh Ahli Setelah dilakukan presentasi, para ahli akan mengisi kuesioner yang telah disusun berdasarkan kisi-kisi. Tujuan penggunaan kuesioner pada tahap ini adalah untuk melakukan uji validasi produk yang ditujukan pada ahli pembelajaran matematika, ahli alat peraga, dan guru matematika kelas IV SD Kanisius Klepu. 3.4.3 Uji Coba Lapangan 3.4.3.1 Tes Tes dilakukan dengan pemberian pretest dan posttest. Posttest dilakukan sebelum pembelajaran dilakukan dengan menggunakan alat peraga untuk mengetahui kondisi awal siswa. Posttest dilakukan diakhir pembelajaran untuk mengetahui kemampuan yang diperoleh siswa. Tes yang akan digunakan adalah bentuk uraian objektif yang memuat langkah-langkah tertentu untuk dikerjakan oleh siswa. 3.4.3.2 Skala Nilai Skala yang digunakan pada tahapan ini mengadopsi skala Likert. Azwar (2007: 161) mengemukakan bahwa skala Likert dapat dinyatakan dalam enam, lima, atau empat kategori. Peneliti menggunakan skala 1-4 dalam kuesioner yang digunakan. Penggunaan skala 1-4 bertujuan untuk mereduksi kategori “cukup” sehingga tidak ada penilaian “cukup” yang tertera dalam kuesioner. Penilai atau validator diharapkan dapat menilai dengan yakin jika instrumen benar-benar baik 39

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI atau kurang baik. Dengan demikian, skor 4 menyatakan “sangat baik”, skor 3 menyatakan “baik”, skor 2 menyatakan “kurang baik”, dan skor 1 menyatakan “sangat kurang baik”. Kuesioner diberikan kepada sekelompok siswa yang menjadi subjek penelitian. Siswa memberikan penilaian dengan memilih satu skala berdasarkan pengalaman yang mereka alami. Kuesioner diberikan kepada siswa setelah proses pembelajaran dengan alat peraga selesai dilakukan. 3.4.3.3 Wawancara semi-terstruktur Wawancara dilakukan pada guru dan siswa adalah wawancara semi terstruktur. Tujuan dari wawancara semi-terstruktur adalah untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka, di mana pihak yang diajak wawancara diminta pendapat dan ide-idenya (Sugiyono, 2012: 233). Dalam hal ini, peneliti hanya membawa pedoman yang merupakan garis besar tentang hal-hal yang akan ditanyakan. Wawancara dilakukan secara langsung kepada guru dan siswa bertujuan untuk mengkonfirmasi kuesioner yang telah diberikan dan untuk mendapatkan informasi secara lebih mendalam. Pedoman wawancara menggunakan garis besar pertanyaan sebagai berikut: Tabel 3.1 Pedoman Wawancara Uji Coba Lapangan Terbatas No 1 2 3 4 5 6 Garis Besar Pertanyaan Kesan setelah menggunakan alat peraga. Kemenarikan alat peraga. Kegunaan alat peraga untuk mempelajari konsep Kemandirian belajar saat menggunakan alat peraga. Konsentrasi belajar Dll 3.4.3.4 Observasi partisipatif Teknik observasi pada penelitian ini dilakukan secara partisipatif. Peneliti terlibat aktif dalam kegiatan penelitian berperan sebagai direktris. Observasi pada saat uji coba lapangan terbatas dilakukan dengan tidak berstruktur karena fokus penelitian belum jelas. Fokus penelitian akan berkembang selama kegiatan observasi berlangsung (Sugiyono, 2012: 228). Dalam penelitian kualitatif, peneliti tidak mempersiapkan observasi secara sistematis tentang apa yang akan diobservasi. Dalam melakukan pengamatan, peneliti tidak menggunakan instrumen yang telah baku, tetapi hanya berupa rambu-rambu pengamatan. Rambu-rambu pengamatan yang digunakan oleh peneliti mengacu pada tabel 3.2 halaman 43. 40

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3.4.4 Triangulasi Data Sugiyono (2011: 327) mengemukakan bahwa triangulasi adalah sebuah teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. Sugiyono menjelaskan lebih lanjut bahwa apabila peneliti melakukan pengumpulan data dengan triangulasi, sebenarnya peneliti mengumpulkan data yang sekaligus menguji kredibilitas data. Data diuji melalui kegiatan mengecek kredibilitas data dengan berbagai teknik pengumpulan data berbagai sumber. Pada penelitian ini, peneliti melakukan triangulasi teknik dan triangulasi sumber. Triangulasi teknik dilakukan dengan cara pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber yang sama. Pada saat melaksanakan uji coba lapangan terbatas, peneliti melakukan wawancara semiterstruktur, observasi partisipatif tidak berstruktur, dan dokumentasi hasil tes. Triangulasi sumber dilakukan dengan cara wawancara siswa, guru, dan pendapat peneliti untuk memperoleh data. Data yang dikumpulkan merupakan data mengenai dampak penggunaan alat peraga Papan Bilangan Bulat terhadap proses dan hasil belajar siswa. 3.5 Instrumen Penelitian 3.5.1 Jenis Data Data yang didapatkan dari penelitian pengembangan ini adalah data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif berupa masukan dari penilaian ahli pembelajaran matematika, ahli alat peraga, guru matematika, dan siswa kelas IV SDK Klepu. Data kualitatif untuk mengetahui dampak alat peraga diperoleh dari observasi dan wawancara. Data kuantitatif diperoleh dari hasil analisis kebutuhan siswa yang berupa kuesioner dan wawancara, hasil analisis validasi ahli berupa kuesioner, serta hasil analisis uji coba lapangan terbatas berupa tes dan kuesioner. 3.5.2 Instrumen Pengumpulan Data 3.5.2.1 Instrumen analisis kebutuhan Instrumen penelitian yang digunakan untuk melakukan analisis kebutuhan adalah kuesioner dan wawancara. Sebagaimana dikemukakan oleh Arikunto (1997: 128), kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden. Responden yang dimaksud dalam 41

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI penelitian ini adalah guru dan siswa. Responden diharapkan dapat mengungkapkan pendapat pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui mengenai kebutuhan terhadap alat peraga matematika. Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner tertutup yaitu kuesioner yang sudah disediakan jawabannya sehingga responden tinggal memilih (Arikunto, 1997: 129). Kuesioner analisis kebutuhan untuk siswa bertujuan mengetahui kebutuhan siswa dan karakteristik siswa. Kuesioner analisis kebutuhan untuk guru bertujuan mengetahui informasi tentang kebutuhan dan alat peraga yang digunakan oleh guru selama pembelajaran. Penyusunan kuesioner analisis kebutuhan berdasarkan kisi-kisi pada tabel 3.3. Tabel 3.2Kisi-kisi Instrumen Analisis Kebutuhan No 1 Karakteristik Alat Peraga Auto education Indikator a. b. Nomor Soal Menggunakan alat peraga dalam pembelajaran matematika. Memahami konsep matematika secara mandiri dengan alat peraga 1 2 2 Menarik a. b. Pemberian warna pada alat peraga. Pemilihan warna alat peraga. 3 4 3 Bergradasi a. b. Bobot alat peraga Penggunaan alat peraga untuk kompetensi yang berbeda. 5 6 4 Auto correction a. b. Menemukan kesalahan sendiri Menemukan jawaban yang benar 7 8 5 Kontekstual a. Penggunaan alat peraga dari lingkungan sekitar. Alat peraga dapat dibuat menggunakan bahan-bahan dari lingkungan sekitar. 9 b. 10 Untuk mengonfirmasi hasil kuesioner, peneliti melakukan wawancara. Wawancara merupakan sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara (Arikunto, 1997: 132). Wawancara pada penelitian ini menggunakan jenis wawancara tidak terstruktur. 3.5.2.2 Instrumen Validasi Produk oleh Ahli Instrumen yang digunakan untuk validasi produk oleh ahli adalah kuesioner. Presentasi dilakukan setelah alat peraga selesai dibuat. Alat peraga dipresentasikan kepada ahli pembelajaran matematika dan ahli pembelajaran Montessori sehingga terdapat dua ahli yang memvalidasi alat peraga tersebut. Tujuan dilakukannya presentasi alat peraga terhadap para ahli adalah untuk 42

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI mengetahui kelayakan alat peraga jika digunakan dalam pembelajaran. Setelah melakukan presentasi, validator memberikan penilaian melalui kuesioner yang diberikan. Penelitian ini juga menggunakan instrumen kuesioner untuk validasi ahli yang ditujukan kepada guru kelas IV SD Kanisius Klepu. Penyusunan kuesioner didasarkan pada kisi-kisi pada tabel 3.4 berikut ini. Tabel 3.3Kisi-kisi Instrumen Validasi Ahli No 1 Karakteristik Alat Peraga Auto education Indikator c. d. 2 Menarik 3 Bergradasi c. d. c. d. 4 Auto correction 5 Kontekstual c. d. c. d. Menggunakan alat peraga secara mandiri Memahami konsep matematika secara mandiri dengan alat peraga Warna alat peraga menarik Bentuk alat peraga menarik Digunakan untuk berbagai kompetensi yang berbeda Memiliki ukuran dan berat yang sesuai dengan karakteristik siswa Menemukan kesalahan sendiri Menemukan jawaban yang benar Bahan mudah didapat Alat peraga dapat diproduksi oleh masyarakat sekitar Nomor Soal 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 3.5.2.3 Instrumen tes untuk uji coba lapangan terbatas Instrumen validasi produk dengan uji coba lapangan terbatas dilakukan dengan cara tes dan non tes. Tes dilakukan dengan pemberian pretest dan posttest. Pretest dilakukan sebelum pembelajaran dilakukan dengan menggunakan alat peraga untuk mengetahui kondisi awal siswa. Posttest dilakukan di akhir pembelajaran untuk mengetahui kemampuan yang diperoleh siswa. Peneliti menggunakan 10 soal sebagai instrumen pretest dan posttest. Instrumen non tes yang akan digunakan untuk melakukan uji validasi dengan uji coba lapangan terbatas adalah kuesioner tertutup yang akan diberikan kepada siswa. Penyusunan kuesioner menggunakan kisi-kisi yang disesuaikan dengan kisi-kisi validasi ahli. Jumlah aitem yang akan digunakan dalam kuesioner sebanyak 10 aitem. 3.6 Teknik Pengujian Instrumen 3.6.1 Uji Keterbacaan terhadap Instrumen Analisis Kebutuhan Instrumen analisis kebutuhan yag akan digunakan adalah kuesioner. Sebelum kuesioner digunakan, dilakukan uji keterbacaan instrumen oleh para ahli. 43

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Uji keterbacaan dilakukan untuk meminta pendapat ahli maupun responden terhadap kelayakan setiap pertanyaan yang terdapat pada kuesioner. Sebagaimana dikemukakan oleh Gall, M. D., Gall, J. P., & Borg, W. R., (2007: 236-237): “You should carry out a thorough pilot test of the quesionnaire before using it in your study. The pilot test should include a sample of individuals from the population from which you plan to draw your respondents. Also, the pilot-test form of the questionnaire should provide space for respondents to make criticisms and recommendations for improving the questionnaire. Another useful pilot-test strategy is to ask respondents to state in their own words what they think each question means. ….” Uji keterbacaan terhadap instrumen analisis kebutuhan dilakukan oleh ahli pembelajaran matematika yaitu dosen matematika yang mengajar di PGSD Sanata Dharma; ahli bahasa yaitu dosen yang mengajar Bahasa Indonesia di PGSD Sanata Dharma, tiga guru, dan dua siswa di SDK Minggir. Guru dan siswa di SDKMinggir dipilih sebagai ahli yang memvalidasi instrumen yang akan digunakan karena memiliki akreditasi yang sama dengan SD tempat penelitian yaitu A. SDK Minggir memiliki karakteristik siswa yang hampir sama dengan SDK Klepu karena berada dalam satu Unit Pelayanan Teknis (UPT) Kecamatan Minggir. 3.6.2 Uji Validitas dan Reliabilitas terhadap Instrumen Tes Uji validitas instrumen tes pada penelitian ini dilakukan untuk memeriksa validitas isi dan validitas konstruk oleh para ahli dan uji validitas secara empirik. Validitas isi menunjukkan sejauhmana aitem-aitem dalam tes mencakup keseluruhan kawasan isi yang hendak diukur oleh tes. Validitas konstruk adalah validitas yang menunjukkan sejauhmana suatu tes mengukur trait atau konstruk teoritik yang hendak diukur (Azwar, 2013: 175). Uji validitas dilakukan oleh ahli pembelajaran matematika yaitu dosen matematika di PGSD Sanata Dharma. Guru yang memvalidasi soal adalah guru kelas IV SD Kanisius Minggir. Peneliti melakukan uji validitas dan reliabilitas empirik terhadap instrumen tes di SDK Minggir dan SDK Jetisdepok. Kedua SD tersebut masih berada dalam satu UPT dan memiliki akreditasi yang sama. Instrumen tes diujikan kepada siswa kelas IV. Siswa kelas IV di SDK Minggir berjumlah 20, namun yang mengikuti uji coba tes sebanyak 19 siswa. Siswa kelas IV di SDK Jetisdepok 44

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI berjumlah 21 siswa, namun yang mengikuti uji coba tes sebanyak 17 siswa. Jumlah siswa seluruhnya yang mengikuti uji coba soal tes adalah 36 siswa. Jumlah soal yang digunakan dalam uji coba tes adalah 30 soal yang disusun berdasarkan indikator. Soal yang telah dilakukan uji coba kemudian dianalisis untuk mengetahui validitasnya melalui analisis korelasi. Untuk mengetahui korelasi skor tiap aitem dengan skor total digunakan rumus korelasi product moment atau korelasi Pearson (Sugiyono, 2010: 255). r hitung dibandingkan dengan r tabel dengan taraf signifikansi 5%. Apabila r hitung > r tabel, suatu aitem dinyatakan signifikan dan butir soal dinyatakan valid. Demikian juga validitas aitem soal dapat diketahui dengan menggunakan program SPSS 16.0 for Windows dengan melihat harga signifikansi (2-tailed), apabila harga  < 0,05 (sig. 2-tailed) berarti aitem soal tersebut dinyatakan valid (Setyaningsih, 2009: 241). Pada penelitian ini, uji validitas dilakukan dengan melihat harga signifikansi (2-tailed). Instrumen disebut reliabel jika instrumen tersebut menghasilkan data yang sama untuk objek yang sama dalam beberapa kali pengukuran. Salah satu metode pengujian reliabilitas adalah dengan menggunakan metode Alpha Cronbach (Triton, 2006: 248). Suatu konstruk/variabel dikatakan reliabel jika memiliki nilai Alpha Cronbach > 0,60 (Nunnally 1960 dalam Gozhali, 2009: 46). Berikut ini merupakan kisi-kisi 30 soal yang akan diujicobakan secara empirik pada 36 siswa. Tabel 3.4Matriks Pengembangan Instrumen Tes Standar Kompetensi: 5. Menjumlahkan dan mengurangkan bilangan bulat No Kompetensi Dasar Indikator 1 5.2 Menjumlahkan bilangan Mengetahui pengertian bilangan bulat bulat 2 5.3 Mengurangkan bilangan bulat Menyebutkan bilangan bulat positif dan bilangan bulat negatif Melakukan penjumlahan bilangan bulat positif dengan positif Melakukan penjumlahan bilangan bulat positif dengan negatif Melakukan penjumlahan bilangan bulat negatif dengan positif Melakukan penjumlahan bilangan bulat negatif dengan negatif Melakukan pengurangan bilangan bulat positif dengan positif Melakukan pengurangan bilangan No. Aitem 1, 2, 3 4, 5, 6 7, 8 9, 10, 11 12, 13, 14, 15 16, 17, 18 19, 20, 21 22, 23, 24 45

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Standar Kompetensi: 5. Menjumlahkan dan mengurangkan bilangan bulat No Kompetensi Dasar Indikator bulat positif dengan negatif Melakukan pengurangan bilangan bulat negatif dengan positif Melakukan pengurangan bilangan bulat negatif dengan negatif No. Aitem 25, 26, 27 28, 29, 30 3.6.3 Uji Keterbacaan terhadap Instrumen Validasi Produk Instrumen validasi produk perlu divalidasi agar instrumen yang digunakan benar-benar layak apabila digunakan. Instrumen validasi produk sangat penting untuk menguji produk yang telah dirancang oleh peneliti. Uji validitas terhadap instrumen validasi produk oleh ahli dilakukan oleh ahli pembelajaran Montessori, ahli pembelajaran matematika, dan guru kelas IV. Guru kelas IV yang melakukan validasi terhadap instrumen validasi produk adalah guru kelas IV di SDK Jetisdepok. 3.6.4 Uji Validitas Produk oleh Ahli Uji validasi produk bertujuan untuk memperoleh pendapat dari para ahli mengenai kelayakan alat peraga yang telah dirancang. Uji validasi ahli dilakukan oleh ahli pembelajaran Montessori, ahli pembelajaran matematika dan guru kelas IV SD Kanisius Klepu. Uji validasi tahap pertama terhadap produk ini dilakukan setelah produk alat peraga dan perangkatnya selesai dibuat dan sebelum pelaksanaan uji coba terbatas. Uji validasi ini dilakukan untuk mengetahui apakah alat peraga yang dibuat layak apabila digunakan dalam uji coba lapangan terbatas. 3.6.5 Uji Coba Lapangan Terbatas Uji validasi produk pada tahap kedua dilakukan dengan cara uji coba lapangan terbatas. Uji validasi ini bertujuan untuk memperoleh penilaian dan tanggapan dari para siswa yang menjadi subjek penelitian. Siswa memberikan penilaian dan tanggapan mengenai kelayakan alat peraga yang dikembangkan berdasarkan metode Montessori dalam pembelajaran matematika pada materi operasi bilangan bulat. Uji coba lapangan terbatas ini dilakukan pada sekelompok siswa di SD Kanisius Klepu yang berjumlah lima anak. 46

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3.7 Teknik Analisis Data 3.7.1 Tes Jumlah soal untuk pretest dan posttest masing-masing 10 soal. Soal yang diberikan merupakan bentuk tes uraian objektif. Adapun penyekoran yang diberikan berdasarkan pada pedoman sebagai berikut: skor 4 apabila langkahlangkah tepat dan jawaban benar, skor 3 apabila langkah-langkah tepat dan jawaban salah, skor 2 apabila langkah-langkah tidak tepat dan jawaban benar, skor 1 apabila langkah-langkah tidak tepat dan jawaban salah. Pedoman penilaian tersebut didasarkan pada penilaian siswa yang menggabungkan antara penilaian proses dan hasil pengerjaan soal siswa. Jumlah skor maksimal yang diperoleh adalah 40. Nilai yang diperoleh siswa dihitung dengan cara sebagai berikut: Nilai = Jumlah skor yang diperoleh 40 X 100 Gambar 3.1 Rumus nilai tes Langkah selanjutnya adalah menghitung rata-rata tes yang diperoleh oleh semua siswa dengan cara sebagai berikut: Rerata = Jumlah nilai semua siswa Jumlah siswa Gambar 3.2 Rumus rerata siswa Kemudian membandingkan nilai pretest dengan nilai posttest dengan cara menghitung persentase peningkatan nilai pretest dangan posttest dengan cara: Persentase = x𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡−X𝑝𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 X 𝑝𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 X 100% Gambar 3.3 Rumus persentase kenaikan pretest dan posttest 3.7.2 Non tes 3.7.2.1 Kuesioner Skor hasil kuesioner analisis kebutuhan oleh siswa dan guru ditunjukkan dalam satuan persentase berdasarkan jumlah jawaban dari responden. Selanjutnya 47

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI hasil persentase tersebut dianalisis sebagai pertimbangan dalam pembuatan produk berupa alat peraga berbasis metode Montessori dan album pembelajaran. 3.7.2.2 Skala Nilai Data yang diperoleh melalui instrumen validasi produk oleh ahli, guru, dan siswa dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis data secara kualitatif dilakukan untuk menganalisis komentar dan pendapat dari ahli untuk mengetahui kualitas alat peraga. Data kualitatif tersebut dianalisis untuk melakukan revisi produk. Data kuantitatif berupa skor yang diberikan oleh para ahli. Skor tersebut diubah menjadi data interval. Hasil penyekoran yang telah dilakukan kemudian dikelompokkan ke dalam beberapa kriteria untuk mengetahui tingkat kualitas produk yang dihasilkan. Setelah data diperoleh dari responden, data dianalisis dengan statistik deskriptif. Langkah-langkah analisis statistik deskriptif yang dimaksud meliputi: (1) pengumpulan data kasar, (2) pemberian skor untuk analisis kuantitatif, dan (3) skor yang diperoleh melalui analisis dikonversikan menjadi nilai dengan skala lima. Berikut ini tabel 3.5 yang merupakan adaptasi penilaian Widoyoko (2009: 238) sebagai acuan konversi nilai skala lima yang dimaksudkan untuk menilai kualitas atau kelayakan produk yang dihasilkan. Tabel 3.5 Rumus Konversi Nilai Skala Lima Kategori Sangat baik Baik Cukup baik Kurang baik Sangat kurang baik Interval skor X >̅ + 1,80 SBi ̅ + 0,60 SBi < X ≤̅ + 1,80 SBi ̅ ─ 0,60 SBi < X ≤̅ + 0,60 SBi ̅ ─ 1,80 SBi < X ≤̅ ─ 0,60 SBi X ≤̅ ─ 1,80 SBi Keterangan: Xi : rerata ideal = ½ (skor maksimal + skor minimal ideal) SBi : simpangan baku ideal = 1/6 (skor maksimal ideal ─ skor minimal ideal) 3.7.2.3 Wawancara Hasil wawancara dianalisis dengan cara kualitatif yaitu mendeskripsikan hasil wawancara yang dilakukan pada siswa untuk mengetahui dampak alat peraga Papan Bilangan Bulat terhadap proses dan hasil belajar siswa. Hasil analisis dapat memperdalam kuesioner yang diberikan kepada siswa dan dapat mengetahui kualitas alat peraga Papan Bilangan Bulat secara langsung. 48

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3.7.2.4 Observasi Hasil observasi dianalisis dengan cara kualitatif yaitu mendeskripsikan hasil observasi yang dilakukan pada siswa untuk mengetahui dampak alat peraga Papan Bilangan Bulat terhadap proses dan hasil belajar siswa. Hasil analisis dapat memperdalam kuesioner yang diberikan kepada siswa dan dapat mengetahui kualitas alat peraga Papan Bilangan Bulat secara langsung. 3.7.2.5 Triangulasi Data Data yang telah dikumpulkan melalui triangulasi data selanjutnya dianalisis untuk memperoleh kesimpulan yang akurat. Analisis data secara kualitatif dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung dan setelah selesai pengumpulan data pada periode tertentu (Sugiyono, 2011: 335). Misalnya, pada saat wawancara, peneliti sudah melakukan analisis terhadap jawaban yang diwawancarai. Apabila jawaban yang diwawancarai setelah dianalisis terasa belum memuaskan, peneliti akan melanjutkan pertanyaan lagi, sampai pada tahap tertentu, sehingga diperoleh data yang dianggap kredibel. Aktivitas dalam analisis data selama di lapangan model Miles dan Huberman yaitu data reduction, data display, dan conclusion drawing/verification ( dalam Sugiyono, 2011: 334-343). 1) Data reduction Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal pokok. Peneliti memfokuskan data pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian, data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya. Dalam mereduksi data, peneliti akan dipandu oleh tujuan yang akan dicapai. Tujuan utama pada penelitian kualitatif adalah pada temuan. 2) Data display Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart dan sejenisnya. Yang paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah berupa teks yang bersifat naratif. Penyajian data akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi dan dapat merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami tersebut. 49

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3) Conclusion drawing/verification Langkah ketiga dalam analisis data kualitatif adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan dalam penelitian kualitatif mungkin dapat menjawab rumusan masalah, tetapi mungkin juga tidak. Masalah dan rumusan masalah dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah penelitian di lapangan. Kesimpulan yang diperoleh merupakan temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada. Temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu objek yang sebelumnya masih remang-remang atau gelap sehingga setelah diteliti menjadi jelas. Kesimpulan yang diperoleh dapat berupa kausal atau interaktif, hipotesis, maupun teori. 50

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab IV berisi (1) kajian Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, (2) analisis kebutuhan, (3) pembuatan alat peraga Papan Bilangan Bulat, (4) hasil validasi instrumen penelitian, (5) hasil validasi alat peraga oleh ahli, (6) analisis dan revisi produk, (7) uji coba lapangan terbatas, (8) kajian produk akhir, dan (9) analisis lanjut. 4.1 Kajian Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Peneliti melakukan kajian Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) untuk memetakan SK dan KD pada kelas IV. Peneliti juga mengkaji tingkat kesulitan Kompetensi Dasar dengan cara melakukan wawancara kepada dua guru kelas IV SD. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas IV SDK Klepu pada bulan Oktober 2013 materi kelas IV yang tergolong sulit adalah operasi bilangan bulat. Penelitian ini berfokus pada SK 5. Menjumlahkan dan mengurangkan bilangan bulat dan KD 5.2 Menjumlahkan bilangan bulat dan 5.3 Mengurangkan bilangan bulat. Materi yang akan digunakan dalam penelitian mengacu pada KD tersebut yaitu menjumlahkan dan mengurangkan bilangan bulat. Dengan demikian, alat peraga yang dibuat adalah Papan Bilangan Bulat untuk siswa kelas IV. 4.2 Analisis Kebutuhan 4.2.1 Uji Keterbacaan Instrumen Analisis Kebutuhan Uji keterbacaan instrumen analisis kebutuhan dilakukan sebelum instrumen analisis kebutuhan digunakan untuk penelitian. Kuesioner tersebut menunjukkan skor mentah secara kuantitatif. Skor kuantitatif tersebut kemudian dikonversikan menjadi lima skala kualitatif berdasarkan Widoyoko (2009: 238) sebagai berikut: Skor maksimal = 4 Skor minimal = 1 51

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI SBi = 1/6 (skor maksimal – skor minimal) = 1/6 ( 4 – 1 ) = 0,5 ̅ = ½ (skor maksimal + skor minimal) = ½ (4 + 1) = 2,5 Penghitungan interval skor sehingga menjadi data kualitatif menggunakan rumus sebagai berikut: Tabel 4.1Rumus Interval Skor Kategori Sangat baik Baik Cukup baik Kurang baik Sangat kurang baik Sangat baik = X >̅ + 1,80 SBi Interval skor X >̅ + 1,80 SBi ̅ + 0,60 SBi < X ≤̅ + 1,80 SBi ̅ ─ 0,60 SBi < X ≤̅ + 0,60 SBi ̅ ─ 1,80 SBi < X ≤̅ ─ 0,60 SBi X ≤̅ ─ 1,80 SBi = X >2,5 + 1,80 x 0,5 = X > 3,4 Baik = ̅ + 0,60 SBi < X ≤ ̅ + 1,80 SBi = 2,5 + 0,60 x 0,5< X ≤ 2,5 + 1,80 x 0,5 = 2,8 < X ≤ 3,4 Cukup baik = ̅ ─ 0,60 SBi < X ≤̅ + 0,60 SBi = 2,5 ─ 0,60 x 0,5< X ≤2,5 + 0,60 x 0,5 = 2,2 < X ≤ 2,8 Kurang baik = ̅ ─ 1,80 SBi < X ≤̅ ─ 0,60 SBi = 2,5 ─ 1,80 x 0,5< X ≤2,5 ─ 0,60 x 0,5 = 1,6 < X ≤ 2,2 Sangat kurang baik = X ≤̅ ─ 1,80 SBi = X ≤ 2,5 ─ 1,80 x 0,5 = X ≤ 1,6 52

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Berdasarkan penghitungan, diperoleh interval skor seperti pada tabel 4.2 berikut ini. Tabel 4.2 Hasil Penghitungan Interval Skor Kategori Sangat baik Baik Cukup baik Kurang baik Sangat kurang baik Interval skor 3,5 – 4,0 2,9 – 3,4 2,1 – 2,8 1,7 – 2,2 1 - 1,6 Interval skor pada tabel 4.2 selanjutnya juga digunakan untuk mengategorikan uji keterbacaan instrumen penelitian dan kuesioner validasi produk. Uji keterbacaan terhadap instrumen analisis kebutuhan dilakukan oleh ahli pembelajaran Montessori, ahli bahasa, ahli pembelajaran matematika, tiga guru di SDK Minggir, dan tiga siswa SDK Minggir. Rekapitulasi uji keterbacaan dapat dilihat pada lampiran 1.1 halaman 90. Hasil uji keterbacaan terhadap instrumen analisis kebutuhan ditunjukkan oleh tabel 4.3 Tabel 4.3Hasil Uji Keterbacaan Instrumen Analisis Kebutuhan No Penilai 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Ahli Montessori Ahli Bahasa Ahli Matematika Guru kelas VI Guru kelas V Guru kelas IV Siswa A Siswa B Siswa C 1 4 4 3 3 3 3 4 3 3 2 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Skor per aitem 3 4 5 6 7 8 3 3 3 4 4 4 2 4 2 3 4 4 3 4 3 4 4 4 4 3 3 2 3 3 4 3 3 3 3 4 4 3 3 4 3 3 4 4 3 3 3 3 4 4 4 3 4 4 4 4 4 3 4 4 Rerata 9 4 4 3 3 3 3 3 3 4 10 4 4 4 3 3 3 3 4 4 Total Rerata 37 35 36 31 33 33 34 37 38 3.7 3.5 3.6 3.1 3.2 3.3 3.4 3.7 3.8 3.5 Berdasarkan tabel 4.3, rerata skor nilai instrumen analisis kebutuhan adalah 3,5. Dengan demikian, instrumen memiliki kategori “sangat baik” sehingga sangat layak digunakan. Penjelasan hasil uji keterbacaan akan dijelaskan secara lebih rinci dalam sub-sub bab berikut ini. 4.2.1.1 Ahli pembelajaran Montessori Ahli pembelajaran Montessori yang menjadi penilai instrumen analisis kebutuhan adalah dosen pembelajaran Montessori di PGSD USD. Dosen tersebut 53

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI telah menjadi anggota Association of Indonesian Montessori Schools (AIMS). Penilaian dilaksanakan pada tanggal 4 Oktober 2013. Berdasarkan tabel 4.3, dapat diketahui bahwa rerata skor yang diberikan adalah 3,7. Hal ini menunjukkan bahwa instrumen “sangat baik” sehingga sangat layak digunakan. Ahli pembelajaran Montessori memberikan komentar sebagai berikut. Tabel 4.4 Saran Analisis Kebutuhan dari Ahli Pembelajaran Montessori No Aitem 3 7 Saran/komentar Apakah alat peraga yang ada di sekitar siswa belum ada warnanya atau warna-warna natural tidak menarik? Perlu ada penjelasana maksud kesalahannya sendiri Tindak Lanjut Melakukan revisi sesuai saran ahli Melakukan revisi sesuai saran ahli 4.2.1.2 Ahli Bahasa Ahli bahasa yang melakukan penilaian uji keterbacaan terhadap instrumen analisis kebutuhan adalah dosen muda yang telah memiliki pengalaman mengajar di SD selama dua tahun dan menjadi dosen selama satu tahun. Penilaian dilaksanakan pada tanggal 11 Oktober 2013. Berdasarkan tabel 4.3, rerata skor yang diberikan adalah 3,5. Rerata tersebut memiliki kategori “sangat baik”. Dengan demikian, instrumen analisis kebutuhan yang dibuat oleh peneliti sudah sangat layak digunakan. Komentar/saran yang diberikan oleh ahli bahasa dapat dilihat pada tabel 4.5. Tabel 4.5 Saran Analisis Kebutuhan dari Ahli Bahasa No Aitem 1 Saran/komentar Tindak Lanjut Dilaksanakan pada saat pemberian kuesioner 4 Harus dijelaskan konteksnya kriteria sering, sangat sering, kadang-kadang, misalnya sering 4 kali dalam seminggu Warna cerah dan warna gelap yang seperti apa? 5 Kriteria berat, sedang, ringan? 6 Masih terlalu abstrak, menemukan kesalahan yang seperti apa? Masih terlalu abstrak, menemukan jawaban benar yang seperti apa? Gradasi pilihan antara sangat – tidak, sangat berhimpit 7 10 Warna cerah misalnya merah dan kuning, warna gelap misalnya hitam dan cokelat dijelaskan pada saat pemberian kuesioner Berat lebih dari 2 kg, sedang 1 – 2 kg, ringan kurang dari 1 kg dijelaskan pada saat pemberian kuesioner Ditambahkan kata-kata “pada saat mengerjakan soal latihan” Ditambahkan kata-kata “pada saat mengerjakan soal latihan” Gradasi pilihan bertujuan untuk mengetahui pendapat yang lebih detail. 54

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4.2.1.3 Ahli pembelajaran matematika Ahli pembelajaran Matematika yang menjadi penilai instrumen analisis kebutuhan adalah dosen Matematika di PGSD USD. Ahli tersebut merupakan dosen muda yang telah memiliki pengalaman mengajar sebagai dosen selama satu tahun. Penilaian dilaksanakan pada tanggal 11 Oktober 2013. Rerata skor yang diberikan adalah 3,6. Dengan demikian, instrumen memiliki kategori “sangat baik” sehingga sangat layak digunakan. Saran/komentar yang diberikan oleh ahli pembelajaran matematika dapat dilihat pada tabel 4.6. Tabel 4.6 Saran Analisis Kebutuhan dari Ahli Bahasa No Aitem 1 3 5 6 Saran/komentar Tindak Lanjut Sebaiknya menggunakan kalimat “Seberapa sering Bapak/Ibu menggunakan ……………..” Sebaiknya menggunakan kalimat “Apakah pemberian warna pada alat peraga dapat membuat alat peraga tersebut terlihat lebih menarik?” Sebaiknya menggunakan kalimat “ Jika dilihat dari beratnya, manakah alat peraga …...” Sebaiknya menggunakan kalimat “Seberapa sering Bapak/Ibu menggunakan …….” Sudah direvisi berdasarkan saran dosen Sudah direvisi berdasarkan saran dosen Sudah direvisi berdasarkan saran dosen Sudah direvisi dengan menggunakan kalimat “Apakah Bapak/Ibu setuju apabila …….” karena pertanyaan bertujuan untuk mengetahui pendapat guru tentang pembuatan alat peraga. 4.2.1.4 Guru Penilaian uji keterbacaan kuesioner analisis kebutuhan dilakukan untuk mengetahui tingkat keterbacaan kalimat per aitem. Penilaian tersebut dilakukan untuk mengetahui apakah kuesioner sudah sesuai apabila digunakan dalam penelitian. Kuesioner analisis kebutuhan akan diberikan kepada guru-guru di SDK Klepu. Penilaian terhadap kelayakan instrumen tersebut dilakukan oleh guru-guru di SDK Minggir pada tanggal 8 Oktober 2013. Guru-guru yang memberikan penilaian yaitu guru kelas VI, guru kelas V, dan guru kelas IV. Adapun rekapitulasi hasil penilaian oleh ketiga guru dapat dilihat pada tabel 4.7. Tabel 4.7 Uji Keterbacaan Analisis Kebutuhan oleh Guru No Penilai Rerata skor Kriteria instrumen 1 Guru kelas VI 3,1 Baik 2 Guru kelas V 3,3 Baik 3 Guru kelas IV 3,3 Baik 3,2 Baik Rerata penilaian guru 55

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Dari penilaian guru diperoleh rerata 3,2 yang menunjukkan bahwa instrumen analisis kebutuhan memiliki kategori “baik “sehingga instrumen layak digunakan. Ketiga guru tersebut tidak memberikan saran maupun komentar terhadap instrumen yang dibuat oleh peneliti. Guru kelas VI mengatakan bahwa aitem yang ada pada kuesioner dapat dipahami dengan mudah. 4.2.1.5 Siswa Kuesioner analisis kebutuhan juga akan diberikan kepada siswa kelas IV di SDK Klepu sehingga instrumen perlu divalidasi oleh siswa untuk mengetahui apakah aitem yang ada pada kuesioner sudah sesuai dengan siswa. Penilaian instrumen analisis kebutuhan dilakukan oleh siswa di SDK Minggir pada tanggal 8 Oktober 2013. Instrumen uji keterbacaan analisis kebutuhan oleh siswa dapat dilihat pada lampiran 1.2 halaman 92. Adapun rekapitulasi hasil penilaian dapat dilihat pada tabel 4.8. Tabel 4.8 Uji Keterbacaan Analisis Kebutuhan oleh Siswa No Penilai Rerata skor Kriteria instrumen 1 Siswa A 3,4 Baik 2 Siswa B 3,7 Sangat baik 3 Siswa C 3,8 Sangat baik Rerata penilaian siswa 3,6 Sangat baik Berdasarkan hasil uji keterbacaan analisis kebutuhan oleh siswa, diperoleh rerata skor 3,6. Dengan demikian, kriteria instrumen analisis kebutuhan yang telah dibuat memiliki kategori “sangat baik” sehingga instrumen sangat layak digunakan. 4.2.2Analisis Kebutuhan oleh Guru Analisis kebutuhan dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang diisi oleh 6 guru yaitu guru kelas I sampai kelas VI SDK Klepu. Untuk mengonfirmasi hasil kuesioner, peneliti juga melakukan wawancara kepada guru. Analisis kebutuhan dilaksanakan pada tanggal 21–25 Oktober 2013. Kuesioner analisis kebutuhan oleh guru terlampir pada lampiran 1.3 halaman 94. Hasil analisis kebutuhan oleh guru ditunjukkan oleh tabel 4.9. 56

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel 4.9Hasil Analisis Kebutuhan No Aitem 1 2 3 Indikator Menggunakan alat peraga dalam pembelajaran matematika. Memahami konsep matematika secara mandiri dengan alat peraga Pemberian warna pada alat peraga. 4 Pemilihan warna alat peraga. 5 Bobot alat peraga 6 Penggunaan alat peraga untuk kompetensi yang berbeda. Menemukan kesalahan sendiri 7 8 9 10 Menemukan jawaban yang benar Penggunaan alat peraga dari lingkungan sekitar. Alat peraga dapat dibuat menggunakan bahan-bahan dari lingkungan sekitar. Jumlah Persentase 0 3 3 0 0 6 0 0% 50% 50% 0% 0% 100% 0% a. Ya b. Tidak 6 0 100% 0% a. b. a. b. c. a. b. a. b. a. b. a. b. c. d. e. a. b. c. d. 6 0 0 2 4 6 0 6 0 6 0 0 5 1 0 0 4 2 0 0 100% 0% 0% 33% 67% 100% 0% 100% 0% 100 % 0% 0% 83 % 17 % 0% 0% 67 % 33 % 0% 0% a. b. c. d. e. a. b. Alternatif Jawaban Sangat sering Sering Kadang-kadang Jarang Sangat jarang Ya Tidak Warna cerah Warna gelap Berat Sedang Ringan Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Sangat sering Sering Kadang-kadang Jarang Tidak pernah Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju Berdasarkan tabel 4.9, sebanyak 50% guru sering menggunakan alat peraga ketika mengajar matematika sedangkan 50% guru menyatakan kadangkadang menggunakan alat peraga. Semua guru mengemukakan bahwa penggunaan alat peraga dapat membantu siswa memahami konsep-konsep matematika. Jawaban yang diberikan oleh guru menunjukkan bahwa guru membutuhkan alat peraga untuk memfasilitasi siswa dalam memperoleh pengetahuannya. Hal ini sesuai dengan ciri auto-education yaitu alat peraga dapat membantu siswa belajar secara mandiri untuk memperoleh pengetahuanya. Semua guru mengemukakan bahwa pemberian warna pada alat peraga dapat membuat alat peraga tersebut terlihat menarik. Semua guru mengemukakan bahwa warna cerah lebih disukai siswa sebagai warna alat peraga. Hal ini sesuai 57

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dengan ciri kedua yaitu menarik. Guru membutuhkan alat peraga yang dapat menarik perhatian siswa, misalnya dengan pemberian warna cerah pada alat peraga. Ciri alat peraga yang ketiga adalah bergradasi. Ciri bergradasi dapat dilihat melalui berat alat peraga yang bergradasi mulai dari berat hingga ringan. Berat alat peraga tersebut disesuaikan dengan karakteristik anak. Berdasarkan aitem nomor 5, sebanyak 33% guru menjawab sedang dan 67% guru menjawab ringan. Hal ini menunjukkan bahwa gradasi berat alat peraga yang sesuai untuk siswa adalah ringan hingga sedang. Berdasarkan wawancara dengan guru, berat alat peraga yang diharapkan memiliki ukuran 1–2 kg. Ciri bergradasi yang lain misalnya terlihat pada manfaat alat peraga yang dapat digunakan untuk berbagai Kompetensi Dasar yang berbeda. Berdasarkan hasil analisis kebutuhan, ternyata semua guru menghendaki bahwa alat peraga yang sama dapat digunakan untuk berbagai Kompetensi Dasar (KD) yang berbeda. Dengan demikian, alat peraga yang dibuat harus dapat digunakan untuk berbagai KD yang berbeda. Berdasarkan tabel 4.9 halaman 57, semua guru mengemukakan bahwa alat peraga dapat membantu siswa menemukan kesalahannya sendiri pada saat mengerjakan soal-soal latihan. Semua guru mengemukakan bahwa alat peraga dapat membantu siswa menemukan jawaban yang benar. Jawaban guru tersebut sesuai dengan cirri alat peraga yang keempat yaitu auto correction. Auto correction yaitu alat peraga dapat membantu siswa menemukan sendiri kesalahannya pada saat mengerjakan soal latihan. Selain itu, siswa juga dapat menemukan jawaban yang benar. Ciri alat peraga yang kelima adalah kontekstual. Hal ini sesuai dengan jawaban guru yaitu sebanyak 83% guru menggunakan benda-benda dari lingkungan sekitar ketika mengajar matematika dan 17% guru kadang-kadang menggunakan benda-benda dari lingkungan sekitar. Sebanyak 67% guru sangat setuju jika alat peraga matematika dibuat dari bahan yang berasal dari lingkungan sekitar dan 33% menyatakan setuju. Dengan demikian, alat peraga yang dibutuhkan oleh guru adalah alat peraga yang berasal dari lingkungan sekitar atau dibuat dari bahan-bahan yang berasal dari lingkungan sekitar. 58

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4.2.2 Analisis Kebutuhan oleh Siswa Analisis kebutuhan alat peraga dilakukan pada 25 siswa kelas IV SDK Klepu. Analisis kebutuhan oleh siswa dilaksanakan pada tanggal 21 Oktober 2014. Instrumen analisis kebutuhan oleh siswa dapat dilihat pada lampiran 1.4 halaman 96. Rekapitulasi hasil analisis kebutuhan oleh siswadapat dilihat pada tabel 4.10. Tabel 4.10Rekapitulasi Hasil Analisis Kebutuhan oleh Siswa No 1 Indikator Menggunakan alat peraga dalam pembelajaran matematika. 2 Memahami konsep matematika secara mandiri dengan alat peraga Pemberian warna pada alat peraga. 3 4 5 6 7 8 9 10 Jumlah 0 0 18 4 3 24 1 Persentase 0% 0% 72% 12% 16% 96% 4% Ya Tidak 22 3 88% 12% Pemilihan warna alat peraga. a. b. Bobot alat peraga a. b. c. Penggunaan alat peraga a. untuk kompetensi yang b. berbeda. Menemukan kesalahan a. sendiri b. Warna cerah Warna gelap Berat Sedang Ringan Ya Tidak 23 2 1 13 11 19 6 92% 8% 4% 52% 44% 76% 24% Ya Tidak 21 4 84% 16% Menemukan jawaban yang benar Penggunaan alat peraga dari lingkungan sekitar. Ya Tidak Sangat sering Sering Kadang-kadang Jarang Tidak pernah Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju 24 1 1 2 11 8 3 6 14 4 1 96% 4% 4% 8% 44% 32% 12% 24% 56% 16% 4% Alat peraga dapat dibuat menggunakan bahan-bahan dari lingkungan sekitar. Jawaban a. Sangat sering b. Sering c. Kadang-kadang d. Jarang e. Sangat jarang a. Ya b. Tidak a. b. a. b. a. b. c. d. e. a. b. c. d. Dengan melihat tabel 4.10 pada halaman 59, sebanyak 72% siswa menyatakan bahwa guru kadang-kadang menggunakan alat peraga ketika mengajar matematika, 12% menyatakan jarang dan 16% menyatakan sangat jarang. Sebanyak 96% siswa mengemukakan bahwa penggunaan alat peraga dapat membantu siswa memahami konsep-konsep matematika. Berdasarkan wawancara, 59

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI siswa lebih senang apabila belajar dengan menggunakan alat peraga. Jawaban siswa tersebut menunjukkan bahwa siswa membutuhkan alat peraga untuk memahami materi yang sedang dipelajari. Hal ini sesuai dengan ciri alat peragaauto-education yaitu alat peraga dapat membantu siswa untuk membangun sendiri pengetahuannya. Aitem tiga dan empat pada kuesioner digunakan untuk melihat ciri alat peraga menarik yang dibutuhkan oleh siswa. Sebanyak 88% siswa mengemukakan bahwa pemberian warna pada alat peraga dapat membuat alat peraga tersebut lebih menarik. Siswa yang mengemukakan bahwa warna cerah lebih disukai siswa sebagai warna alat peraga adalah sebanyak 92%. Dengan demikian, alat peraga harus dibuat dengan mengandung ciri menarik. Alat peraga dibuat dengan menggunakan warna cerah dan diberi warna sesuai dengan keinginan siswa. Berdasarkan wawancara, siswa mengatakan bahwa lebih menyukai warna merah dan biru. Aitem nomor 5 pada kuesioner digunakan untuk mengetahui berat alat peraga matematika yang sesuai untuk siswa. Sebanyak 52% siswa menjawab sedang dan 44% siswa menjawab ringan. Dengan demikian, gradasi berat yang diinginkan siswa adalah ringan hingga sedang. Berdasarkan jawaban aitem nomor 6, sebanyak 76% siswa menghendaki bahwa alat peraga yang sama dapat digunakan untuk berbagai Kompetensi Dasar (KD) yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa alat peraga yang dibuat harus dapat digunakan untuk berbagai KD yang berbeda. Sebanyak 84% siswa mengemukakan bahwa alat peraga dapat membantu siswa menemukan kesalahannya sendiri pada saat mengerjakan soal-soal latihan. Sebanyak 96% siwa mengemukakan bahwa alat peraga dapat membantu siswa menemukan jawaban yang benar. Jawaban siswa tersebut sesuai dengan ciri yang keempat yaitu auto-correction yaitu alat peraga dapat membantu siswa menemukan sendiri kesalahannya serta siswa dapat menemukan jawaban yang benar secara mandiri. Ciri alat peraga yang kelima adalah kontekstual terdapat pada aitem nomor sembilan dan sepuluh. Sebanyak 44% siswa menyatakan bahwa guru kadangkadang menggunakan benda-benda dari lingkungan sekitar ketika mengajar 60

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI matematika, sedangkan 32% menyatakan jarang menggunakan. Sebanyak 24% siswa sangat setuju jika alat peraga matematika dibuat dari bahan yang berasal dari lingkungan sekitar dan 56% setuju. Dengan demikian, alat peraga harus dibuat dengan melihat ciri kontekstual yaitu berasal dari lingkungan sekitar atau dibuat dari bahan-bahan yang berasal dari lingkungan sekitar. 4.3 Pembuatan Alat Peraga Papan Bilangan Bulat Pembuatan alat peraga dilakukan berdasarkan kajian SK dan KD, metode Montessori, dan analisis kebutuhan. Berdasarkan kajian SK dan KD alat peraga yang dibutuhkan oleh guru adalah alat peraga yang dapat digunakan untuk materi operasi bilangan bulat. Montessori merancang alat peraga sesuai dengan tahap perkembangan anak dan memanfaatkan lingkungan sekitar. Alat peraga berdasarkan metode Montessori harus memuat ciri-ciri yaitu menarik, bergradasi, autoeducation, dan auto correction. Alat peraga untuk menanamkan konsep bilangan bulat yang telah ada di Montessori adalah manik bilangan yang digunakan untuk permainan snake game. Alat peraga yang dikembangkan oleh peneliti yaitu Papan Bilangan Bulat mengadopsi metode pembelajaran yang terdapat pada snake game tersebut. Berdasarkan analisis kebutuhan, alat peraga yang dibuat harus dapat membantu siswa memahami konsep-konsep matematika, dalam penelitian ini adalah konsep penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. Alat peraga harus diberi warna cerah agar menarik bagi siswa. Berat alat peraga disesuaikan dengan karakteristik siswa kelas IV. Alat peraga Papan Bilangan Bulat memiliki berat 1,2 kg sehingga termasuk ringan bagi siswa. Alat peraga yang dibuat harus dapat digunakan untuk berbagai kompetensi dasar yang berbeda. Alat peraga papan bilangan bulat dapat membantu siswa menemukan sendiri kesalahannya pada saat mengerjakan soal-soal latihan. Pada set alat peraga dilengkapi dengan kartu soal yang memuat soal dan jawaban sebagai pengendali kesalahan. Pengendali kesalahan yang lain adalah hasil akhir biji bilangan pada papan tidak boleh berpasangan. Alat peraga tersebut dapat membantu siswa menemukan jawaban yang benar. Alat peraga dibuat berdasarkan benda-benda dari lingkungan sekitar yaitu kayu yang dapat dengan mudah ditemukan di lingkungan sekitar. 61

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Gambar 4.1Papan Bilangan Bulat Proses pembuatan alat peraga papan dan biji bilangan dilakukan oleh tukang kayu sesuai desain yang telah dirancang oleh peneliti. Desain produk alat peraga dapat dilihat pada lampiran 2.1 halaman 98. Papan Bilangan Bulat dibuat dengan ukuran panjang 60 cm, lebar 15 cm, dan tinggi 5 cm. Lubang cekung yang dibuat sebanyak 20 lubang dengan diameter 5 cm dengan kedalaman 4 cm. Jenis kayu yang digunakan adalah kayu mindi (Melia azedarach L.) yang memiliki tekstur halus, berwarna coklat muda, dan ringan. Kayu mindi banyak ditemukan di Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara dan Irian Jaya. Tanaman Mindi tumbuh pada daerah dataran rendah hingga dataran tinggi, ketinggian 0-1200 m di atas permukaan laut, dengan curah hujan rata-rata per tahun 600-2000 mm, dapat tumbuh pada berbagai tipe tanah. Tumbuh subur pada tanah berdrainase baik, tanah yang dalam, tanah liat berpasir, toleran terhadap tanah dangkal, tanah asin dan basa (Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, 2007). Bahan kayu mindi dicari oleh tukang kayu. Setelah menemukan kayu yang baik, kayu tersebut segera diolah. Pertama-tama membuat papan kayu yang berukuran panjang 60 cm, lebar 15 cm dan tebal 3 cm. Tekstur papan kayu tersebut diperhalus kemudian diberi gambar lingkaran yang berdiameter 5 cm sebanyak 20 lubang. Kemudian membuat lubang berdasarkan gambar lingkaran tersebut. Setelah itu, membuat papan kayu yang kedua dengan ukuran panjang 60 cm, lebar 15 cm dan tebal 2 cm. Papan kayu satu dan papan kayu dua kemudian disatukan dengan menggunakan lem kayu sehingga membentuk lubang cekung. Lubang cekung tersebut dirapikan dengan menggunakan alat bor. Papan kayu yang telah disatukan tersebut, permukaannya diperhalus lagi kemudian diberi dempul untuk menutupi daerah yang tidak rata. Papan kayu dicat dengan menggunakan melamin (cat berwarna bening). Pengecatan dilakukan dengan cara disemprot sebanyak dua kali. Penyemprotan pertama dilakukan untuk menutup 62

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI pori-pori kayu. Penyemprotan kedua bertujuan untuk melindungi kayu dari goresan. Tahap terakhir pembuatan Papan Bilangan Bulat adalah dijemur tanpa terkena sinar matahari langsung agar papan kayu tidak melengkung. Gambar 4.2 Biji Bilangan Biji bilangan dibuat dengan bahan yang sama dengan Papan Bilangan Bulat. Biji bilangan dibuat dengan cara membuat tabung pejal berukuran tinggi 1 cm dan diameter 1,5. Kemudian tabung pejal tersebut dibelah menjadi dua. Biji bilangan diberi warna sesuai dengan warna kesukaan siswa. Peneliti melakukan wawancara kepada siswa kelas IV di SDK Klepu. Banyak siswa yang menyukai warna merah dan biru. Sehingga biji bilangan diberi warna merah untuk biji bilangan positif dan biru untuk biji bilangan negatif. Gambar 4.3Kartu Soal Kartu soal dibuat berdasarkan indikator untuk materi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. Jumlah kartu soal yang dibuat adalah 46, terdiri dari 6 kartu digunakan sebagai pengantar materi dan pengenalan alat peraga. Kartu soal untuk penjumlahan bilangan bulat sebanyak 20 kartu dan untuk pengurangan bilangan bulat sebanyak 20 kartu. Ukuran kartu yang dibuat adalah 8 cm x 7 cm dengan ketebalan 0,5 mm. Kartu didesain dua sisi, satu sisi untuk soal dan sisi 63

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI yang lain untuk jawaban sebagai pengendali kesalahan. Kartu dicetak dengan menggunakan digital printing. Jenis kertas yang digunakan adalah Ivory 260. Gambar 4.4 Kotak Penyimpanan Kartu Soal dan Biji Bilangan Kotak penyimpanan dibuat untuk menyimpan biji bilangan dan kartu soal. Ukuran kotak yaitu panjang 18 cm, tinggi 8 cm, dan lebar 13 cm. Kotak penyimpanan juga dibuat dari kayu mindi. Tebal tepi kotak adalah 1 cm sedangkan sekat dalam kotak dibuat 0,5 cm. Proses pembuatan kotak penyimpanan dimulai dengan pemotongan kayu sesuai dengan ukuran yang telah ditentukan. Kayu yang telah dipotong, kemudian permukaannya diperhalus dengan cara digosok dengan amplas. Kemudian kayu tersebut disatukan sesuai dengan rancangan kotak. Kotak penyimpanan dicat dengan menggunakan melamin (cat berwarna bening). Pengecatan dilakukan dengan cara disemprot sebanyak dua kali. Penyemprotan pertama dilakukan untuk menutup pori-pori kayu. Penyemprotan kedua bertujuan untuk melindungi kayu dari goresan. Tahap terakhir pembuatan kotak penyimpanan adalah dijemur tanpa terkena sinar matahari langsung agar papan kayu tidak melengkung. Alat peraga Papan Bilangan Bulat dilengkapi dengan album pembelajaran (lampiran 10 halaman 121). Album pembelajaran disusun oleh peneliti sesuai dengan album pembelajaran Montessori yang memuat tema pembelajaran, syarat, usia, alat, dan presentasi. Album pembelajaran Papan Bilangan Bulat terdiri dari sembilan tema pembelajaran yaitu satu tema pengenalan alat peraga dan delapan tema yang memuat indikator tentang penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. Album pembelajaran dibuat dengan Microsoft Word 2007, font Times New Roman 12, dicetak menggunakan kertas HVS 80 gram. 64

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4.4Hasil Validasi Instrumen Penelitian 4.4.1Uji Keterbacaan Kuesioner Validasi Produk Uji keterbacaan terhadap instrumen validasi produk dilakukan oleh ahli pembelajaran Montessori, ahli pembelajaran matematika, dan guru kelas IV. Rekapitulasi instrumen uji keterbacaan validasi produk oleh ahli dan guru dapat dilihat pada lampiran 3.1 halaman 101. Tabel 4.11 Hasil Penilaian terhadap Validasi Produk No Penilai 1 2 3 4 Ahli Bahasa Ahli Matematika Guru kelas IV Siswa kelas IV 1 4 4 3 4 2 4 3 3 4 Skor per aitem 3 4 5 6 4 4 4 3 3 3 4 3 3 3 3 3 4 4 4 4 Rerata 7 3 3 3 4 8 4 3 2 4 9 4 3 3 4 10 3 3 3 4 Total Rerata 37 32 29 40 3.7 3.2 2.9 4 3.5 Berdasarkan tabel 4.11, diperoleh rerata skor dari keempat penilai yaitu 3,5. Dengan demikian, instrumen validasi produk yang disusun memiliki kategori “sangat baik” sehingga instrumen sangat layak digunakan. Penjelasan mengenai proses uji keterbacaaan dijelaskan lebih lanjut dalam sub-sub bab berikut ini. 4.4.1.1 Ahli Bahasa Penilaian terhadap instrumen validasi produk dilakukan oleh Ahli I yaitu ahli bahasa. Penilaian dilakukan pada tanggal 18 November 2013. Ahli bahasa yang melakukan penilaian adalah dosen Bahasa Indonesia di PGSD USD. Dosen tersebut merupakan dosen muda yang telah menjadi dosen selama 1 tahun. Ahli bahasa merupakan dosen yang telah melakukan uji keterbacaan analisis kebutuhan pada penelitian ini. Ahli bahasa memberikan penilaian terhadap kuesioner validasi produk dengan rerata skor 3,7. Kriteria penilaian yang diperoleh adalah “sangat baik” sehingga instrumen sangat layak digunakan. Ahli bahasa memberikan saran secara lisan yaitu pada saat kuesioner diberikan sebaiknya diberikan penjelasan tentang ciri-ciri alat peraga Montessori agar lebih jelas. Sebagai tindak lanjut, peneliti melakukan saran yang diberikan oleh ahli bahasa pada saat instrumen validasi produk digunakan. 4.4.1.2 Ahli pembelajaran matematika Ahli II adalah dosen di Jurusan Pendidikan Matematika dan PGSD USD. Penilaian dilakukan pada tanggal 14 November 2013. Ahli II memberikan 65

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI penilaian dengan rerata skor 3,2 sehingga instrumen yang digunakan memiliki kategori “baik” yang artinya instrumen tersebut layak digunakan. Ahli II tidak memberikan saran maupun komentar untuk perbaikan instrumen. 4.4.1.3 Guru kelas IV Guru yang melakukan uji keterbacaan terhadap instrumen validasi produk adalah guru kelas IV di SDK Jetisdepok. Penilaian dilakukan pada tanggal 17 Oktober 2013. Validasi produk perlu dinilai oleh guru kelas IV untuk mengetahui sejauh mana guru dapat memahami aitem yang terdapat di dalam kuesioner sehingga guru dapat melakukan validasi produk dengan baik tanpa mengalami bias persepsi. Rerata skor yang diperoleh dari hasil penilaian oleh guru kelas IV adalah 2,9. Rerata tersebut termasuk dalam kategori “baik” sehingga instrumen tersebut layak digunakan dengan perbaikan. Guru kelas IV memberikan saran terhadap aitem no 8 yaitu sebaiknya aitem diganti dengan kalimat “Memecahkan masalah sehari-hari yang berhubungan dengan matematika”. Saran tersebut menjadi pertimbangan peneliti. Selanjutnya peneliti melakukan studi pustaka dan berkonsultasi dengan dosen pembimbing. Aitem tersebut dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana ciri alat peraga dapat membelajarkan siswa secara mandiri sehingga aitem no. 8 tetap dipertahankan oleh peneliti dengan pernyataan “Penggunaan alat peraga dapat membantu siswa menemukan jawaban yang benar”. Apabila siswa telah menemukan jawaban yang benar berarti siswa telah mampu belajar secara mandiri tanpa campur tangan orang dewasa atau direktris. 4.4.1.4 Siswa kelas IV Siswa yang melakukan penilaian terhadap validasi produk adalah siswa kelas IV di SDK Jetisdepok. Penilaian dilakukan pada tanggal 17 Oktober 2013. Rerata nilai yang diberikan oleh siswa adalah 4 sehingga kategori kuesioner yang diberikan adalah “sangat baik”. Siswa tersebut mengatakan bahwa sudah mengetahui maksud dari pernyataan pada kuesioner. 4.4.2Uji Keterbacaan Instrumen Tes Uji keterbacaan dilakukan oleh dua ahli pembelajaran matematika. Ahli yang pertama adalah dosen matematika di PGSD. Instrumen uji keterbacaan instrumen tes oleh ahlidan guru dapat dilihat pada lampiran 3.2 halaman 102. Ahli 66

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI yang kedua adalah dosen matematika di PGSD dan Jurusan Pendidikan Matematika di Universitas Sanata Dharma. Ahli yang ketiga adalah guru kelas IV. Guru yang melakukan penilaian terhadap soal tes adalah guru kelas IV SDK Minggir. Tabel 4.12 Rekapitulasi Hasil Uji Keterbacaan Instrumen Tes No Aitem 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Skor per Aitem Ahli Ahli Guru I II 3 3 4 4 3 4 4 2 4 3 2 3 4 3 4 4 3 4 3 3 4 4 3 4 3 3 4 4 3 4 4 3 4 3 3 4 4 3 4 4 2 4 4 3 4 No Aitem 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Total Rerata Rerata Skor per Aitem Ahli Ahli Guru I II 4 3 4 4 3 4 4 3 4 4 3 3 4 3 4 4 3 4 4 3 3 4 3 3 4 1 3 4 3 3 4 3 4 4 3 3 4 3 4 4 3 4 4 2 4 115 84 113 3.8 2.8 3.8 3,5 Berdasarkan tabel 4.12, dapat diperoleh rerata dari tiga penilai yaitu 3,5 yang menyatakan kategori “sangat baik”. Uraian tentang uji keterbacaan instrumen tes secara lebih rinci dijelaskan dalam sub-sub bab berikut ini. 4.4.2.1 Ahli pembelajaran matematika Rerata skor yang diperoleh dari ahli pertama adalah 3,8. Kriteria yang diperoleh adalah “sangat baik” sehingga instrumen sangat layak digunakan. Beliau memberikan sejumlah koreksi yaitu Tabel 4.13Saran/Komentar dari Ahli I Aitem no 1 4 7, 9, 10 Saran/ komentar Soal belum jelas maksudnya Soal kurang jelas maksudnya Ubah kata “hasil pengerjaan” menjadi “hasil penjumlahan” Tindak Lanjut Sudah direvisi berdasarkan saran ahli Sudah direvisi berdasarkan saran ahli Sudah direvisi berdasarkan saran ahli 67

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Rerata skor dari ahli yang kedua adalah 2,8. Kriteria penilaian yang diperoleh adalah “cukup baik”. Ahli kedua memberikan banyak koreksi yaitu: Tabel 4.14 Saran/Komentar dari Ahli II Aitem no 2 Saran/ komentar Perhatikan spasi 3 Susunan kalimat membingungkan 4 14 Bilangan positif terkecil atau bilangan bulat positif terkecil? Konteks membingungkan 23 Perhatikan penulisan – 890C 24 Tidak sesuai indikator 30 Anak dapat menyelesaikan dengan cara 21 – 10 Tindak Lanjut Melakukan revisi sesuai saranahli II Melakukan revisi sesuai saranahli II Sudah direvisi menjadi “bilangan bulat positif terkecil Melakukan revisi sesuai saranahli II Melakukan revisi sesuai saranahli II Melakukan revisi sesuai saranahli II Tidak direvisi karena anak akan diberi penjelasan tentang langkah-langkah pengerjaan yang benar 4.4.2.2 Guru kelas IV Ahli yang ketiga adalah guru kelas IV di SDK Minggir. Ahli ketiga telah menjadi guru di SD tersebut selama 5 tahun. Rerata skor yang diperoleh adalah 3,8. Kriteria penilaian yang diperoleh adalah “sangat baik” sehingga instrumen sangat layak digunakan. Koreksi yang diberikan yaitu: Tabel 4.15 Saran/Komentar dari Guru Aitem no 14 24 dan 25 Koreksi Kalau hutang alurnya dengan membayar, cari kata lain! Perlu diperhatikan penggunaan tanda kurung „(…..)‟ Tindak Lanjut Melakukan revisi sesuai saran guru Melakukan revisi sesuai saran guru Tabel 4.16 Rekapitulasi Hasil Uji Keterbacaan Instrumen Tes No Penilai Rerata skor Kriteria Penilaian 1 Ahli I 3,8 Sangat baik 2 Ahli II 2,8 Cukup baik 3 Ahli III 3,8 Sangat baik 3,5 Sangat baik Rerata skor penilaian Berdasarkan tabel 4.16, rerata penilaian keterbacaan untuk instrumen tes memiliki kriteria “sangat baik” sehingga instrumen tersebut layak digunakan dalam penelitian. Peneliti merevisi soal yang akan digunakan untuk uji coba 68

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI empirik agar soal mudah dipahami siswa, sesuai dengan indikator, dan sesuai dengan karakteristik siswa. 4.4.2.3 Uji Validitas Instrumen Tes oleh Ahli Uji validitas isi dan konstruk instrumen tes dilakukan sebelum instrumen tes diujicobakan secara empirik. Uji validitas ini dilakukan dengan expert judgment. Ahli yang menjadi validator adalah ahli pembelajaran matematika dan guru kelas IV. Validator I adalah dosen matematika di PGSD dan Jurusan Pendidikan Matematika USD. Validator I merupakan dosen senior yang telah memiliki pengalaman mengajar matematika di Universitas PGRI. Validator II adalah guru kelas IV di SDK Jetisdepok. Uji validitas menggunakan kuesioner yang telah disusun oleh peneliti untuk mengetahui kesesuaian soal dengan indikator yang dibuat. Instrumen uji validitas terhadap instrumen tes oleh ahli dapat dilihat pada lampiran 3.3 halaman 105. Rekapitulasi hasil uji validitasdapat dilihat pada tabel 4.17. Tabel 4.17 Rekapitulasi hasil expert judgment instrumen tes No Penilai 1 2 Ahli Matematika Guru kelas IV 1 2 3 4 5 6 3 3 3 3 3 3 4 3 3 4 3 3 Skor per aitem 7 8 9 10 4 4 4 4 3 4 3 3 11 12 13 14 4 3 4 4 3 4 4 4 Total Rerata 48 49 3.4 3.4 3.4 Dengan melihat tabel 4.17, dapat diketahui bahwa rerata skor yang diberikan oleh ahli adalah 3,4. Dengan demikian, kategori instrumen tes yang dibuat adalah “baik” sehingga instrumen layak digunakan. Validator I memberikan beberapa saran/komentar yaitu indikator 1 kata kerjanya kurang operasional perlu ditambahkan yang kontekstual. Sebagai tindak lanjut, peneliti melakukan revisi terhadap indikator 1. Soal no 1 kurang menunjukkan bahwa siswa memahami pengertian. Sebagai tindak lanjut, peneliti melakukan revisi berdasarkan saran dari validator. Ada satu soal untuk mencapai 2 indikator yaitu soal no 8. Hal itu merupakan kesalahan pengetikan yang dilakukan oleh peneliti dan sudah direvisi. Soal-soal abstrak dapat dibantu dengan gambar agar lebih bermakna. Peneliti tidak memberikan gambar agar siswa dapat mengerjakan soal dengan membayangkan penggunaan alat peraga. 69

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Guru kelas IV tidak memberikan komentar terhadap instrumen tes yang dibuat. Guru hanya memberikan saran secara lisan yaitu kalau bentuk soal uraian singkat, sebaiknya jumlahnya jangan terlalu banyak, bisa sepuluh atau lima belas saja. Peneliti menerima saran dari guru untuk menyusun jumlah soal pretest dan posttest yang akan digunakan dalam penelitian. 4.4.2.4 Hasil uji validitas empirik instrumen tes Uji validitas secara empirik dilakukan di SDK Minggir dan SDK Jetisdepok. Uji validitas soal dilakukan dengan menggunakan korelasi Pearson. Soal yang digunakan untuk uji validitas sebanyak 30 soal. Instrumen uji coba tes dapat dilihat pada lampiran 3.4 halaman 106. Soal yang akan digunakan untuk penelitian sebanyak 10 soal. Hasil pengujian 30 soal kepada 36 siswa dapat dilihat pada tabel 4.18. Tabel 4.18Rekapitulasi Hasil Uji Validitas Empirik Instrumen Tes No r hitung r tabel Sig 2-tailed Hasil No r hitung r tabel Sig 2-tailed Hasil 1 -0, 160 0,329 0, 353 tidak valid 16 0, 249 0,329 0, 143 tidak valid 2 0, 558 0,329 0, 000 Valid 17 0, 347 0,329 0, 038 valid 3 0, 296 0,329 0, 080 tidak valid 18 0, 317 0,329 0, 060 tidak valid 4 0, 030 0,329 0, 861 tidak valid 19 0, 367 0,329 0, 028 valid 5 0, 316 0,329 0, 060 tidak valid 20 0, 559 0,329 0, 000 valid 6 0, 641 0,329 0, 000 Valid 21 0, 310 0,329 0, 065 tidak valid 7 0, 217 0,329 0, 204 tidak valid 22 a 0,329 8 0, 668 0,329 0, 000 Valid 23 0, 259 0,329 0, 128 tidak valid 9 0, 015 0,329 0, 933 tidak valid 24 0, 655 0,329 0, 000 valid 10 0, 601 0,329 0, 000 Valid 25 a 0,329 11 0, 146 0,329 0, 397 tidak valid 26 0, 271 0,329 0, 110 tidak valid 12 0, 238 0,329 0, 163 tidak valid 27 0, 689 0,329 0, 000 valid 13 0, 555 0,329 0, 000 Valid 28 0, 013 0,329 0, 939 tidak valid 14 0, 697 0,329 0, 000 Valid 29 0, 490 0,329 0, 002 valid 15 0, 253 0,329 0, 136 tidak valid 30 0, 472 0,329 0, 004 valid tidak valid tidak valid Berdasarkan uji empirik diperoleh 13 soal yang valid yaitu no 2, 6, 8, 10, 13, 14, 17, 19, 20, 24, 27, 29 dan 30. Soal yang digunakan sebanyak 10 soal untuk instrumen pretest dan posttest.Kriteria pemilihan aitem soal dengan cara melihat nilai r hitung yang paling besar pada setiap indikator. Kisi-kisi soal yang digunakan untuk instrumen pretest dan posttestdapat dilihat pada tabel 4.19. 70

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel 4.19 Kisi-kisi Soal Instrumen Tes Standar Kompetensi: 5. Menjumlahkan dan mengurangkan bilangan bulat No Kompetensi Dasar Indikator No Soal Valid 1 5.2Menjumlahkan Mengetahui pengertian 2 bilangan bulat bilangan bulat Menyebutkan bilangan bulat 6 positif dan bilangan bulat negatif Melakukan penjumlahan 8 bilangan bulat positif dengan positif Melakukan penjumlahan 10 bilangan bulat positif dengan negatif Melakukan penjumlahan 14 bilangan bulat negatif dengan positif Melakukan penjumlahan 17 bilangan bulat negatif dengan negatif 2 5.3 Mengurangkan Melakukan pengurangan 20 bilangan bulat bilangan bulat positif dengan positif Melakukan pengurangan 24 bilangan bulat positif dengan negatif Melakukan pengurangan 27 bilangan bulat negatif dengan positif Melakukan pengurangan 29 bilangan bulat negatif dengan negatif No Soal Jadi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Reliabilitas 10 soal yang digunakan dalam instrumen pretest dan posttest ditunjukkan oleh tabel 4.20. Tabel 4.20Uji Reliabilitas Cronbach's Alpha .741 Cronbach's Alpha Based on Standardized Items .798 N of Items 10 Berdasarkan hasil uji reliabilitas pada tabel 4.20, dapat diketahui nilai Cronbach Alpha instrumen pretest dan posttest adalah 0,798. Menurut Nunnally, suatu konstruk dikatakan reliabel jika harga Cronbach Alpha > 0,60 (dalam Ghozali, 2009: 46) sehingga instrumen tersebut reliabel dan dapat digunakan sebagai instrumen penelitian. 71

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4.5Hasil Validasi Alat Peraga oleh Ahli 4.5.1 Data Validasi Alat Peraga Penilaian produk alat peraga dilakukan oleh ahli pembelajaran matematika, ahli pembelajaran Montessori, dan guru kelas IV di SDK Klepu sebelum alat peraga digunakan untuk uju coba lapangan terbatas. Siswa yang menjadi subjek penelitian juga melakukan penilaian setelah melakukan uji coba alat peraga. Penilaian tersebut menggunakan kuesioner yang terdiri dari 10 aitem pernyataan yang memuat indikator alat peraga berbasis Montessori yaitu (1) menarik, (2) bergradasi, (3) auto-correction, (4) auto-education,dan (5) kontekstual. Kuesioner tersebut menunjukkan skor mentah secara kuantitatif dengan skor maksimal 4 dan skor minimal 1. Skor kuantitatif tersebut kemudian dikonversikan menjadi lima skala kualitatif berdasarkan Widoyoko (2009: 238) seperti tabel 4.2 halaman 53. Rekapitulasi hasil validasi produk oleh ahli dapat dilihat pada lampiran 4 halaman 107. 4.5.2 Ahli Pembelajaran Matematika Penilaian produk alat peraga oleh ahli yang dilakukan sebelum alat peraga digunakan dalam uji coba lapangan terbatas bertujuan untuk mengetahui kelayakan alat peraga tersebut. Validator I adalah ahli pembelajaran Matematika Validator I adalah dosen Matematika di prodi PGSD dan Jurusan Pendidikan Matematika, Universitas Sanata Dharma. Total skor yang diperoleh berdasarkan instrumen validasi produk oleh ahli pembelajaran matematika adalah 36 sehingga rerata skor yang diperoleh adalah 3,6. Dengan demikian, alat peraga yang digunakan memilik kualitas “sangat baik”apabila digunakan untuk uji coba lapangan terbatas. Validator I memberikan komentar bahwa manual lebih diperjelas dan disesuaikan dengan filosofi Montessori. Berdasarkan komentar tersebut, peneliti melakukan studi pustaka dan berkonsultasi dengan dosen matematika serta direktris dari sekolah Montessori sehingga peneliti mendapatkan solusi bahwa perlu ditekankan konsep tentang apabila biji positif dan biji negatif bertemu hasilnya adalah nol. 4.5.3 Ahli Pembelajaran Montessori Validator II adalah ahli pembelajaran Montessori. Validator II adalah dosen Pembelajaran Montessori di PGSD USD. Sebelum memperoleh penilaian 72

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dari validator II, peneliti melakukan konsultasi alat peraga kepada direktris dari Sekolah Montessori untuk memperkuat bahwa alat peraga Papan Bilangan Bulat ini dikembangkan berdasarkan prinsip dan karakteristik metode Montessori. Direktris mengemukakan bahwa alat peraga yang telah dikembangkan oleh peneliti merupakan alat peraga yang menggunakan metode pembelajaran Montessori. Total skor penilaian yang diberikan oleh validator II adalah 39 sehingga rerata skor yang diperoleh adalah 3,9. Dengan demikian, alat peraga yang digunakan memilik kualitas “sangat baik” apabila digunakan untuk uji coba lapangan terbatas. Komentar secara lisan yang diberikan adalah langkah-langkah dalam penggunaan alat peraga harus diperjelas agar tidak menimbulkan kebingungan bagi siswa. Berdasarkan komentar tersebut, peneliti melakukan studi pustaka dan berkonsultasi dengan dosen matematika serta direktris dari sekolah Montessori sehingga peneliti mendapatkan solusi yang tepat. 4.5.4 Guru Kelas IV Guru kelas IV yang melakukan validasi produk adalah guru kelas IV di SDK Klepu. Total skor yang diberikan adalah 31 sehingga rerata skor yang diperoleh adalah 3,1. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas alat peraga termasuk ke dalam kategori “baik”. Guru memberikan komentar secara lisan bahwa penggunaan alat peraga diperjelas lagi agar siswa dapat dengan mudah memahami konsep karena operasi bilangan bulat memang sulit dipahami siswa. Apalagi untuk konsep pengurangan bilangan bulat. Berdasarkan komentar tersebut, peneliti melakukan studi pustaka dan berkonsultasi dengan dosen matematika serta salah satu direktris dari sekolah Montessori sehingga peneliti mendapatkan solusi yang tepat. 4.6 Revisi Produk Rerata penilaian yang diperoleh dari ahli pembelajaran matematika, ahli pembelajaran Montessori, dan guru kelas IV adalah 3,5. Komentar yang diberikan oleh ketiga peneliti lebih menekankan pada langkah-langkah penggunaan alat peraga agar lebih sistematis dan mudah dipahami siswa. Komentar yang diberikan oleh para ahli menjadi bahan pertimbangan bagi peneliti 73

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI untuk merevisi album pembelajaran. Oleh sebab itu, peneliti melakukan revisi yaitu memperbaiki album pembelajaran yang digunakan. Perbaikan album menekankan langkah-langkah dalam melakukan pengurangan bilangan bulat. Berdasarkan komentar tersebut, peneliti melakukan studi pustaka dan berkonsultasi dengan dosen matematika dan salah satu direktris di sekolah Montessori. Peneliti telah menemukan solusi yang baik untuk perbaikan album pembelajaran yang berisi langkah-langkah penggunaan alat peraga. Pada tahap ini peneliti hanya melakukan revisi bagian album pembelajaran yang berisi langkahlangkah penanaman konsep bilangan bulat positif dan negatif. Pada album pembelajaran ditambahkan penekanan bahwa bilangan bulat positif dan bilangan negatif yang sama apabila dijumlahkan hasilnya adalah nol. Penekanan ini merupakan dasar bagi penggunaan alat peraga Papan Bilangan Bulat. 4.7 Uji Coba Lapangan Terbatas Uji coba lapangan terbatas dilakukan pada lima siswa kelas IV yang dipilih berdasarkan rekomendasi guru. Uji coba lapangan terbatas dilakukan selama 4 kali yaitu pada tanggal 13, 14, 16, dan 18 Desember 2013. Setiap pertemuan adalah 60 menit. Sebelum pelaksanaan uji coba dilakukan pretest untuk mengetahui kemampuan awal siswa yang dilaksanakan selama 30 menit. Adapun pelaksanaan uji coba lapangan terbatas ditunjukkan oleh tabel 4.21. Tabel 4.21Pelaksanaan Uji Coba Lapangan Terbatas No 1 Hari/tanggal Jumat, 13 Desember 2013 Waktu 09.30 – 10.00 10.00 – 11.00 2 Sabtu, 14 Desember 2013 10.00 – 11.00 3 Senin, 16 Desember 2013 10.00 – 11.00 4 Rabu, 18 Desember 2013 10.00 – 11.00 Materi Pretest - Pengantar, - penjumlahan bilangan bulat positif dengan positif - Penjumlahan bilangan bulat positif dengan negatif - Penjumlahan bilangan bulat negatif dengan positif - Penjumlahan bilangan bulat negatif dengan negatif - Pengurangan bilangan bulat positif dengan positif - Pengurangan bilangan bulat positif dengan negatif - Pengurangan bilangan bulat negatif dengan positif - Pengurangan bilangan bulat negatif dengan negatif 74

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Siswa memperhatikan direktris mempresentasikan cara penggunaan alat peraga kemudian siswa mencoba secara mandiri. Siswa mempraktekkan cara menggunakan alat peraga Papan Bilangan Bulat secara bergantian. Siswa lain mengamati teman yang sedang melaksanakan praktek dan mengoreksi apabila melakukan kesalahan tetapi tidak menunjukkan dimana letak kesalahan temannya. Siswa yang melaksanakan uji coba akan tahu dimana letak kesalahannya apabila masih ada pasangan biji bilangan yang masih ada di papan atau hasil penghitungannya tidak sama dengan jawaban pada kartu soal. Hal ini menunjukkan bahwa alat peraga yang digunakan memiliki ciri auto-correction. Setelah empat kali pertemuan, siswa mengerjakan soal posttest dalam waktu 30 menit. Soal yang digunakan untuk pretest dan posttest merupakan soal dengan aitem yang sama untuk mengetahui peningkatan kemampuan siswa. Soal tersebut merupakan instrumen penelitian yang telah diuji validitas sebelumnya. 4.7.1 Analisis Proses dan Dampaknya Agar dapat mengetahui dampak alat peraga terhadap proses belajar siswa, peneliti melakukan wawancara kepada siswa, guru, dan melakukan observasi secara langsung. Wawancara dilakukan setelah pendampingan berakhir. Hasil wawancara dengan siswa dapat dilihat pada lampiran 5.6 halaman 113. Hasil wawancara dengan guru dapat dilihat pada lampiran 5.7 halaman 114. Berdasarkan wawancara dengan siswa, empat anak mengatakan bahwa ia sangat senang mengikuti bimbingan belajar dengan menggunakan alat peraga dan satu anak mengatakan bahwa ia senang. Kemudian peneliti menanyakan alasan mengapa siswa sangat senang mengikuti pendampingan. Siswa W menjawab, “Ya, karena saya dapat memahami konsep matematika dengan menggunakan alat peraga ini” (Wawancara siswa, 18 Desember 2013). Hal ini menunjukkan bahwa siswa lebih suka menggunakan alat peraga dalam pembelajaran matematika karena lebih mudah dalam memahami materi dan lebih mudah dalam mengerjakan soal. Pada saat pendampingan, salah satu siswa berkata, “Untung aku tadi mau disuruh bu guru ikut ini” (Siswa Y, komunikasi pribadi, 13 Desember 2013). Kata “ini” yang diucapkan siswa merujuk pada kegiatan pendampingan belajar yang sedang dilakukan. Hal ini mengindikasikan bahwa siswa memang senang mengikuti pendampingan. Kelima siswa mengatakan 75

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI bahwa siswa tertarik dengan alat peraga yang digunakan karena bentuk alat peraga sudah tidak asing lagi seperti papan dakon. Jadi, siswa penasaran terhadap fungsi alat peraga yang akan digunakan. Sikap senang dan ketertarikan siswa terhadap alat peraga yang digunakan menunjukkan bahwa siswa merasa antusias mengikuti pendampingan. Hal ini dikemukakan pula oleh guru bahwa antusiasme siswa sangat tinggi mengikuti kegiatan pendampingan yang diungkapkan guru pada saat wawancara. Guru berkata, “Ya. Siswa lebih bersemangat. Lebih antusias apabila menggunakan alat peraga”(Wawancara guru, 18 Desember 2013). Menurut KBBI (2008), antusias dapat diartikan sebagai gairah, semangat, ketertarikan, maupun minat terhadap sesuatu. Dengan demikian, penggunaan alat peraga membuat siswa menjadi lebih antusias untuk belajar bila dibandingkan dengan pembelajaran biasa tanpa menggunakan alat peraga. Berdasarkan observasi, siswa nampak sangat aktif. Pada saat direktris bertanya, “Siapa yang ingin mencoba dulu?” Spontan siswa langsung berebut menjawab untuk mencoba terlebih dahulu. Direktris membuat aturan untuk menggunakan alat peraga secara berurutan agar semua siswa dapat mencoba. Keaktifan siswa nampak pada kegiatan siswa dalam penggunaan alat peraga untuk mengerjakan soal yang terdapat pada kartu soal. Siswa memilih sendiri kartu soal yang akan siswa jawab. Hal ini menunjukkan adanya interaksi antara siswa dengan alat peraga yang digunakan. Keaktifan siswa juga diungkapkan oleh guru pada saat wawancara yaitu “Siswa terlihat lebih aktif selama mengikuti kegiatan belajar menggunakan alat peraga Papan Bilangan Bulat”(Wawancara guru, 18 Desember 2013). Uno dan Mohamad (2012: 10) mengemukakan bahwa dalam proses belajar yang aktif terjadi dialog yang interaktif antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru, atau siswa dengan sumber belajar lainnya. Dengan demikian, penggunaan alat peraga Papan Bilangan Bulat dapat membuat siswa menjadi lebih aktif bila dibandingkan dengan pembelajaran biasa tanpa menggunakan alat peraga. Berdasarkan wawancara, siswa menyatakan bahwa siswa lebih berkonsentrasi apabila mengerjakan latihan soal dengan menggunakan alat peraga. Hal ini juga sesuai dengan observasi peneliti. Pada saat pendampingan, banyak siswa kelas enam yang masuk ke ruangan yang digunakan untuk pendampingan. 76

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kelima siswa yang mengikuti pendampingan dapat berkonsentrasi untuk mengerjakan soal dengan benar. Guru pun mengungapkan bahwa konsentrasi siswa terlihat tinggi pada saat mengikuti proses pendampingan. Dengan demikian, penggunaan alat peraga alat peraga Papan Bilangan Bulat dapat membuat siswa menjadi lebih berkonsentrasi bila dibandingkan dengan pembelajaran biasa tanpa menggunakan alat peraga. Langkah-langkah pembelajaran yang dilakukan siswa adalah melihat presentasi penggunaan alat peraga oleh direktris kemudian siswa mencoba sendiri penggunaan alat peraga tersebut. Berdasarkan hasil wawancara, siswa mengatakan bahwa dapat belajar secara mandiri pada saat menggunakan alat peraga. Hal ini menunjukkan bahwa siswa dapat belajar secara mandiri selama proses pendampingan. Berdasarkan observasi peneliti, siswa dapat memahami konsep bilangan bulat secara mandiri dengan menggunakan alat peraga Papan Bilangan Bulat. Siswa W berkata, “Aku tahu cara menghitung 5 dikurangi (-5)” (komunikasi pribadi, 16 Desember 2013). Siswa tersebut berkata sambil tersenyum pada saat melihat siswa lain mendapat giliran mengerjakan soal tersebut dengan menggunakan alat peraga. Hal ini menunjukkan bahwa siswa W telah menemukan konsep pengurangan setelah siswa W menghitung dengan menggunakan alat peraga dan mengamati siswa lain mengerjakan soal. Guru memiliki pendapat yang berbeda yaitu siswa belum bisa belajar secara mandiri dengan menggunakan alat peraga karena masih membutuhkan pendampingan dari guru atau direktris. Lebih lanjut, guru menyatakan bahwa alat peraga dapat membantu siswa memahami konsep penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat dengan baik. Dengan demikian, alat peraga dapat membuat siswa belajar secara mandiri tanpa bantuan dari orang dewasa setelah mendapatkan beberapa kali pendampingan. Sebagaimana dikemukakan oleh Montessori bahwa anak harus dipandu dengan baik untuk mencapai kemandiriannya (Gutek, 2013: 181). Berdasarkan analisis, dapat diketahui bahwa penggunaan alat peraga memiliki dampak positif terhadap proses belajar siswa. Dampak tersebut yaitu siswa menjadi lebih antusias mengikuti kegiatan pembelajaran, lebih aktif dalam belajar, lebih berkonsentrasi untuk mengerjakan soal, dan dapat membuat siswa belajar secara mandiri. 77

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4.7.2 Analisis Hasil Tes Sebelum dilaksanakan uji coba lapangan terbatas, kelima siswa mengerjakan soal pretest yang berjumlah 10 soal uraian singkat. Soal tes dapat dilihat pada lampiran 5.1 halaman 108. Siswa diberi kesempatan mengerjakan selama 30 menit. Pada saat siswa menerima soal tersebut, siswa berkomentar bahwa mereka bingung dengan soal yang diberikan karena belum diajarkan. Siswa nampak serius mengerjakan dalam 10 menit pertama kemudian mereka mulai menyerah pada menit ke-15. Peneliti meminta siswa untuk mengerjakan dengan sungguh-sungguh. Siswa mengerjakan secara individu, tidak ada yang mencontek dan bertanya. Soal yang dapat siswa kerjakan adalah mengenai penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat positif dengan positif karena memang sudah mereka kuasai. Pada pengerjaan soal yang berkaitan dengan bilangan bulat positif dan negatif mereka mengalami kesulitan sehingga siswa menjawab dengan cara cobacoba. Setelah selesai pendampingan, siswa mengerjakan soal posttest. Hasil pretest dan posttest yang telah dikerjakan oleh siswa kemudian dianalisis untuk mengetahui peningkatannya. Masing-masing siswa dihitung peningkatannya untuk mengetahui seberapa jauh siswa mampu memahami materi dengan menggunakan alat peraga. Rerata hasil tes kelima siswa juga dihitung untuk mengetahui peningkatan keseluruhan yang dapat dicapai oleh lima siswa yang mengikuti pendampingan. Persentase kenaikan hasil belajar siswa dapat dihitung dengan cara sebagai berikut. Persentase kenaikan = x𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡−X𝑝𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 X 𝑝𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 X 100% Gambar 4.5 Presentase kenaikan pretest dan posttest. Rekapitulasi hasil pretest kelima siswa dapat dilihat pada lampiran 5.3 halaman 111. Rekapitulasi hasil posttest kelima siswa dapat dilihat pada lampiran 5.4 halaman 111. Berikut ini adalah data nilai pretest dan posttest lima siswa yang mengikuti pendampingan selama empat kali pertemuan. Tabel 4.22 Daftar Nilai Siswa Nama Y W V Nilai Pretest 45 42,5 45 Nilai Posttest 82,5 70 57,5 Persentase Kenaikan 83% 65% 28% 78

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Nama L I Rerata Nilai Pretest 45 45 44.5 Nilai Posttest 85 85 76 Persentase Kenaikan 89% 89% 71 % Dengan melihat hasil pretest dan posttest siswa pada tabel 4.22, dapat diketahui bahwa nilai siswa mengalami peningkatan. Berdasarkan hasil pretest, siswa yang memiliki nilai 45 ada empat siswa dan 42,5 satu siswa. Empat siswa memiliki nilai yang sama tetapi jawaban siswa pada lembar pretest memiliki perbedaan. Tidak ada jawaban yang sama persis. Berdasarkan hasil pretest siswa belum mengetahui pengertian bilangan bulat. Siswa belum pernah mendapatkan pelajaran tentang bilangan bulat sebelumnya. Rerata nilai pretest yang diperoleh siswa adalah 44,5. Kelima siswa tersebut memiliki kemampuan awal yang hampir sama. Persentase kenaikan rerata kelima siswa adalah 71%. Persentase kenaikan terendah adalah 28% dan persentase kenaikan tertinggi adalah 89%. Siswa L dan siswa I memiliki nilai pretest dan postest yang sama namun, skor jawaban siswa pada tiap soal berbeda. Siswa L dan siswa I memiliki variasi jawaban yang berbeda. Peningkatan nilai pretest dan posttest ditunjukkan oleh diagram 4.1 halaman 80. 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 85 82.5 85 70 57.5 45 42.5 45 45 45 Nilai Pretest Nilai Posttest Y W V L I Diagram 4.1Nilai Pretest dan Posttest Siswa Setelah siswa melaksanakan kegiatan pembelajaran selama empat kali pertemuan, siswa mengerjakan soal posttest. Aitem soal yang dikerjakan oleh siswa sama dengan soal prestest yang pernah dikerjakan. Siswa diberi kesempatan untuk mengerjakan soal tersebut selama 30 menit. Mereka mengerjakan dengan sungguh-sungguh secara individu. Peneliti mengawasi agar tidak ada siswa yang 79

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI mencontek ataupun bertanya kepada temannya. Pada menit ke-15 ada tiga siswa yang sudah selesai mengerjakan. Peneliti meminta mereka agar mengecek kembali hasil pekerjaan mereka. Siswa yang bernama V masih mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal posttest. V nampak berpikir keras untuk mengerjakan. Nilai posttest yang diperoleh V adalah nilai yang paling rendah dari kelima siswa yaitu 57,5. V mengalami peningkatan nilai yang paling rendah pula yaitu 28%. Pada saat latihan soal dengan menggunakan alat peraga, V nampak memperhatikan dengan sungguh-sungguh dan ia pun dapat mengerjakan soal dengan menggunakan alat peraga. Pada saat selesai mengerjakan soal posttest, V mengatakan bahwa V masih bingung apabila mengerjakan soal bilangan bulat dengan menggunakan langkah-langkahnya. Dengan demikian, V belum bisa memahami langkahlangkah pengerjaan soal dengan baik. V juga kurang mampu memahami soal cerita yang terdapat dalam soal. Hal ini terlihat pada hasil pekerjaan posttestnya. Langkah-langkah yang digunakan untuk menyelesaikan soal masih belum benar. V kurang mampu untuk menuliskan kalimat matematika berdasarkan soal cerita yang dikerjakan sehingga jawabannya pun salah. Padahal apabila V langsung menemui soal yang bukan soal cerita, V mampu mengerjakan. Pada saat kegiatan pembelajaran, V mendapatkan kesempatan yang sama dengan teman-temannya dalam menggunakan alat peraga. Dengan demikian, V memerlukan kesempatan yang lebih agar soal latihan yang dikerjakan pun lebih banyak. Peneliti bertanya kepada guru mengapa siswa V mengalami kenaikan yang tidak signifikan seperti teman-temannya. Guru menjawab bahwa memang siswa V memiliki kemampuan yang kurang dalam matematika tetapi pandai dalam pelajaran lain yang lebih banyak menghafal. Hasil posttest kelima siswa berdasarkan diagram 4.1 halaman 80, menunjukkan rerata 76. Nilai terendah yang diperoleh siswa adalah 57,5. Dua siswa memiliki nilai tertinggi yaitu 85. Kenaikan rerata nilai kelima siswa ditunjukkan oleh diagram 4.2. 80

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 76 70 60 44.5 50 40 Nilai pretest 30 Nilai posttest 20 10 0 Rerata Diagram 4.2Peningkatan Rerata Siswa Persentase kenaikan hasil belajar siswa dapat dihitung dengan cara sebagai berikut. Persentase kenaikan = x −44 Persentase kenaikan = Persentase kenaikan= X 44 44 −X X 100% X 100% x 100% = 71% Berdasarkan hasil penghitungan diperoleh persentase kenaikan nilai siswa yaitu sebesar 71%. Kenaikan tersebut merupakan kenaikan hasil belajar siswa dari pretest ke posttest. 4.7.3 Validasi Produk oleh Siswa Setelah selesai melakukan kegiatan, siswa diberi kuesioner untuk menilai kualitas alat peraga yang telah mereka gunakan (lampiran 5.5 halaman 112). Rekapitulasi hasil kuesioner oleh siswa dalah sebagai berikut. Tabel4.23 Rekapitulasi Penilaian Siswa terhadap Kualitas Alat Peraga. Nama Y W V L I Rerata skor Penilaian Alat Peraga 3,9 3,4 3,1 3,5 3,6 3,5 Kriteria Sangat baik Baik Baik Sangat baik Sangat baik Sangat baik Berdasarkan tabel 4.23, tiga siswa menyatakan bahwa kualitas alat peraga adalah sangat baik. Dua siswa menyatakan bahwa kualitas alat peraga adalah baik. Rerata skor yang diperoleh dari penilaian siswa terhadap alat peraga yaitu 3,5. 81

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Berdasarkan hasil rerata tersebut, kualitas alat peraga yang digunakan memiliki kategori “sangat baik”. 4.8Kajian Produk Akhir Kajian produk akhir merupakan kajian prototipe yang dihasilkan sampai pada tahap uji coba lapangan terbatas. Rekapitulasi hasil validasi alat peraga Papan Bilangan Bulat ditunjukkan oleh tabel 4.24. Tabel 4.24Rekapitulasi hasil validasi alat peraga Papan Bilangan Bulat No 1 2 3 4 Penilai Ahli Pembelajaran Matematika Ahli Pembelajaran Montessori Guru Kelas IV Siswa Rerata Rerata skor 3,6 3,9 3,1 3,5 3,5 Kategori Sangat baik Sangat baik Baik Sangat baik Sangat baik Berdasarkan rerata nilai yang diberikan oleh ahli pembelajaran Matematika, ahli pembelajaran Montessori, Guru kelas IV, dan siswa menunjukkan bahwa kualitas alat peraga papan bilangan bulat berbasis metode Montessori adalah “sangat baik” dengan peningkatan hasil belajar siswa setelah menggunakan alat peraga Papan Bilangan Bulat sebesar 71%. Berdasarkan kuesioner validasi produk oleh ahli, guru, dan siswa, alat peraga Papan Bilangan Bulat memiliki ciri-ciri alat peraga berbasis metode Montessori yaitu (1) menarik, (2) bergradasi, (3) auto education, (4) auto correction, dan kontekstual sebagai ciri tambahan. Produk alat peraga Papan Bilangan Bulat dan biji bilangan tidak mengalami revisi setelah diujicobakan. Berdasarkan hasil posttest yang dilakukan masih ada siswa yang memperoleh nilai 57,5. Hal ini dapat disebabkan oleh waktu yang digunakan untuk melaksanakan uji coba masih kurang, hanya 60 menit padahal siswa yang belajar ada 5 anak dan juga soal-soal yang digunakan untuk latihan masih kurang. Oleh sebab itu, peneliti menyarankan untuk menambahkan jumlah kartu soal. Dengan demikian, diharapkan siswa mendapat banyak kesempatan untuk berlatih dengan menggunakan alat peraga. 82

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4.9 Analisis Lanjut Penelitian pengembangan alat peraga matematika berbasis metode Montessori yang telah dilakukan ini menunjukkan bahwa pengembangan alat peraga dapat digunakan sebagai salah satu inovasi dalam pembelajaran. Penggunaan alat peraga berdampak pada peningkatan proses dan hasil belajar siswa. Hal ini menjawab permasalahan rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia yang dikemukakan oleh PISA 2012 bahwa Indonesia berada pada peringkat ke-64 dari 65 negara. Permasalahan lain yang dikemukakan oleh PBB bahwa sertifikasi guru bukanlah solusi yang efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Kualitas pendidikan perlu diperbaiki melalui inovasi yang harus dilakukan oleh guru seperti inovasi dalam penggunaan alat peraga maupun metode pembelajaran yang digunakan. Melalui penelitian ini, peneliti memaparkan salah satu solusi yang dapat dilakukan oleh guru yaitu dengan melakukan pengembangan alat peraga. Berdasarkan kualitas alat peraga yang sangat baik, dampak proses yang muncul dan peningkatan hasil belajar yang diperoleh siswa, peneliti merekomendasikan agar alat peraga Papan Bilangan Bulat diperbanyak. Alat peraga dibuat dengan menggunakan desain yang sama dengan desain awal alat peraga yang dikembangkan ini. Alat peraga dapat disertai dengan menambah jumlah kartu soal dan digunakan dalam pembelajaran di kelas secara klasikal. 83

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V PENUTUP Bab V berisi tentang (1) kesimpulan, (2) keterbatasan penelitian, dan (3) saran bagi penelitian selanjutnya. 5.1 Kesimpulan 5.1.1 Alat peraga Papan Bilangan Bulat yang dikembangkan memenuhi empat ciri alat peraga Montessori yaitu (1) menarik, (2) bergradasi, (3) membelajarkan siswa secara mandiri, (4) pengendali kesalahan, dan ciri tambahan kontekstual. Unsur menarik nampak pada warna alat peraga yaitu memiliki warna cerah dan biji bilangan diberi warna biru dan merah sesuai dengan keinginan siswa. Gradasiterdapat pada penggunaan alat peraga yang melibatkan lebih dari satu indera dan alat peraga dapat digunakan untuk materi pada kompetensi dasar selanjutnya. Pengendali kesalahan terletak pada penempatan biji bilangan. Jika masih ada biji yang berpasangan di Papan Bilangan Bulat, maka siswa belum bisa mendapatkan jawaban yang benar. Selain itu, di balik kartu soal terdapat kunci jawaban yang dapat digunakan oleh siswa mengecek benar atau salahnya jawaban yang ia peroleh setelah menggunakan alat peraga. Alat peraga dapat membelajarkan siswa secara mandiri. Siswa dapat belajar menggunakan alat peraga sendiri ataupun dengan teman tanpa tergantung oleh keberadaan guru. Alat peraga yang dirancang dapat dikatakan kontekstual karena menggunakan bahan dasar dari kayu yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar yaitu kayu mindi dan bentuk alat peraga sudah dikenal oleh siswa yaitu menyerupai permainan dakon. 5.1.2 Kualitas alat peraga Matematika berbasis metode Montessori “Papan Bilangan Bulat” untuk konsep bilangan bulat dua angka sampai pada uji coba terbatas tahap I adalah “sangat baik”. Kualitas tersebut dapat diketahui berdasarkan rerata nilai validasi produk oleh ahli pembelajaran matematika, ahli pembelajaran Montessori, guru kelas IV, dan kelima siswa yaitu 3,5 yang menunjukkan kualitas “sangat baik”. 84

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5.1.3 Penggunaan alat peraga Papan Bilangan Bulat memiliki dampak terhadap proses dan hasil belajar siswa. Siswa menjadi lebih antusias, lebih aktif, lebih berkonsentrasi, dan dapat belajar secara mandiri selama proses pendampingan. Alat peraga papan bilangan bulat yang dirancang mampu meningkatkan hasil belajar siswa sebesar 71% berdasarkan hasil pretest dan posttest. 5.2 Keterbatasan Penelitian Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yaitu 5.2.1 Penelitian ini hanya sampai pada tahap uji coba lapangan terbatas, belum sampai pada tahap uji efektivitas dengan cara eksperimental pada sampel yang lebih luas dengan melibatkan kelompok kontrol dan kelompok eksperimental. 5.2.2 Pembuatan alat peraga membutuhkan waktu yang lama sehingga jarak waktu antara revisi produk dengan uji coba lapangan terbatas sangat sempit sehingga peneliti melakukan revisi praktis agar alat peraga dapat segera digunakan oleh siswa. 5.2.3 Album pembelajaran belum divalidasi oleh ahli pembelajaran Montessori, ahli pembelajaran matematika, dan guru kelas. 5.3 Saran Berdasarkan keterbatasan pada penelitian ini, peneliti memiliki saran untuk penelitian selanjutnya yaitu 5.3.1 Perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk menguji keefektivan alat peraga Montessori Papan Bilangan Bulat yang telah dikembangkan. 5.3.2Sebaiknya untuk penelitian selanjutnya perlu memperhatikan jadwal pembuatan alat peraga dengan rencana pelaksanaan uji coba lapangan terbatas agar memiliki waktu yang cukup untuk melakukan revisi produk. 5.3.3 Album pembelajaran sebaiknya divalidasi terlebih dahulu. 85

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR REFERENSI Anitah, S. (2010). Media pembelajaran. Surakarta: Yuma Pressindo. Arikunto, S. (1997). Prosedur penelitian suatu pendekatan praktek edisi revisi V. Jakarta: Rineka Cipta. Arsyad, A. (2010). Media pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers. Azwar, S. (2007). Sikap manusia teori dan pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. _________. (2013). Tes prestasi fungsi dan pengembangan pengukuran prestasi belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Borg, W. R. & Gall, M. D. (1983). Educational research, an introduction, fourth edition. New York: Longman. Dahar, R. W. (1989). Teori-teori belajar. Jakarta: Erlangga. Depdiknas. (2003). Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning (CTL). Jakarta: Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama, Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah. Depdiknas. (2007). Kurikulum tingkat satuan pendidikan. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Diba, F, dkk. (2009). Pengembangan materi pembelajaran bilangan berdasarkan Pendidikan Matematika Realistik untuk siswa kelas V Sekolah Dasar. Jurnal pendidikan Matematika, 3(1), 33-46. Dwina, F & Yerizon. (2006). Alat manipulatif dalam proses pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar. Jurnal pembelajaran, 29 (1), 67-77. Elniati, S. (2007). Pengembangan perangkat pembelajaran Berorientasi Konstruktivisme. Jurnal Guru, 1 (4), 13 – 25. Matematika Gall, M. D., Gall, J. P., & Borg, W. R. (2007). Educational research: An introduction 8th edition. Boston: Pearson. Gozhali, I. (2009). Aplikasi analisis multivariate dengan program SPSS. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Gutek, G. L. (2013). Metode Montessori: Panduan wajib untuk guru dan orang tua didik PAUD (pendidikan anak usia dini). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hamalik, O. (1994). Media Pendidikan. Bandung: Citra Aditya Bakti. 86

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Hergenhahn, B. R & Matthew H. O. (2008). Theories of learning (edisi ketujuh). Jakarta: Prenada Media Group. Johnson, E. B. (2007). Contextual teaching and learning: Menjadikan kegiatan belajar-mengajar mengasyikkan dan bermakna. Bandung: Mizan Learning Center. Koh, J. H. L., & Frick T. W. (2010). Implementing autonomy support: Insights from a Montessori classroom. International Journal of Education, Vol. 2, No. 2: E3, 1-15. Diakses tanggal 10 September 2013. Sumber elektronik:http://go.galegroup.com/ps/i.do?id=GALE%7CA246254348&v= 2.1&u=kpt05011&it=r&p=GPS&sw=w Kompas, 5 Desember 2013. Skor PISA: Posisi Indonesia nyaris jadi juru kunci. Diakses tanggal 9 Desember 2013. Sumber elektronik: http:www. Kompas.com/skorpisa/5/12/2013 Krathwoll, D. R. (2004). Method’s of educational and social science research: An integrated approach (second edition). Illinois: Waveland Press. Lillard, A. S. (2006). Evaluating Montessori education. AAAS Journal. Education Forum 313. Diakses tanggal 10 September 2013. Sumber elektronik:www.sciencemag.org/cgi/content/full/313/5795/1893/DC1 Lillard, P. P. (1997). Montessori in the classroom. New York: Schocken Books. Manner, J. C. (2007). Montessori vs. traditional education in the public sector: seeking appropriate comparisons of academic achievement. Forum on Public Policy: A Journal of the Oxford Round Table. Gale Education, Religion and Humanities Lite Package. Diakses tanggal 10 September 2013. Sumber elektronik: http://go.galegroup.com/ps/i.do?id=GALE%7CA191817971&v=2.1&u=k pt05011&it=r&p=GPS&sw=w Marks, dkk. (1988). Metode Jakarta: Erlangga. pengajaran Matematika untuk Sekolah Dasar. Montessori, M. (2002). The Montessori method. United States: Schocken Books Inc. Montessori, M. (2008). The absorbent mind. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Munadi, Y. (2010). Media pembelajaran. Jakarta: Gaung Persada Press. Mustaqim, B & Ary A. (2008). Ayo belajar matematika untuk SD dan MI kelas IV. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 87

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Sarwono, J. (2006). Metode penelitian kualitatif dan kuantitatif.Yogyakarta: Graha Ilmu. Schunk. D. H. (2012). Learning Theories: An educational. (Terj). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Setyaningsih, N. (Penyunt.). (2009). Seri professional pengolahan data statistic dengan SPSS 16.0. Jakarta: Salemba Infotek. Slameto. (2010). Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta. Sudono, A. (2010). Sumber belajar dan alat permainan: Untuk pendidikan anak usia dini. Jakarta: Grasindo. Sugiyono. (2010). Metode penelitian pendidikan pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta. ________. (2011). Metode penelitian pendidikan pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta. ________. (2012). Metode penelitian pendidikan pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta. Sukmadinata. N. S. (2011). Metode penelitian pendidikan. Bandung. Remaja Rosdakarya. Supratiknya. (2010). Penilaian hasil belajar dangan teknik nontes. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Susanto, A. (2013). Teori belajar dan pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana Prenata Media Grup. The Worl Bank. (2010). Transforming Indonesia’s Teaching Force. Jakarta: Indonesia Stock Exchange Building. Diakses tanggal 9 April 2014. Sumber elektronik:http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd= 4&cad=rja&uact=8&ved=0CFIQFjAD&url=http%3A%2F%2Fwww.teindia.nic.in %2Fe9-tm%2FFiles%2FTE-reform-inIndonesia.pdf&ei=MXVEU4r4CsTarAeQmIHwDw&usg=AFQjCNHZblhZqbx0lG BEtCOcpF4ZBm28Qw&sig2=TzLJBopOvToSw8RqaapycA The World Bank. (2014). Teacher reform in Indonesia: the role of politics and evidence in policy making. Diaksestanggal 9 April 2014. Sumber elektronik:http://documents.worldbank.org/curated/en/2013/11/18606227/t eacher-reform-indonesia-role-politics-evidence-policy-making Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. (2008). Kamus besar bahasa Indonesia edisi keempat. Jakarta: Balai Pustaka. 88

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Triton, P.B. (2006). SPSS 13.0 terapan riset statistik parametrik.Yogyakarta: Andi Offset. Uno, H.B. & Mohamad, N. (2012). Belajar dengan pendekatan PAILKEM: pembelajaran aktif, inovatif, lingkungan, kreatif, efektif, dan menarik. Jakarta: Bumi Aksara. Widoyoko, E.P. (2009). Evaluasi program pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Winkel, W.S. (2004). Psikologi pengajaran. Yogyakarta: Media Abadi. 89

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN Lampiran 1 Instrumen Analisis Kebutuhan Lampiran 1. 1Rekapitulasi keterbacaan instrumen analisis kebutuhan oleh ahli Keterangan: Instrumen keterbacaan analisis kebutuhan guru diisi oleh 6 ahliyaitu: ahli Montessori, ahli bahasa, ahli matematika, dan tiga guru. Jumlah penilai perskor No. Indikator Pertanyaan 1 2 3 4 Apakah Bapak/Ibu menggunakan alat peraga ketika mengajar Matematika? a. Sangat sering 1. Autoeducation 2. Autoeducation 3. Menarik 4. Menarik 5. Bergradasi 6. Bergradasi 7. Autocorrection 8. Autocorrection 9. Kontekstual b. c. d. e. Sering Kadang-kadang Jarang Sangat jarang Apakah penggunaan alat peraga dapat membantu siswa memahami konsepkonsep matematika? a. Ya b. Tidak Jika alat peraga Matematika berasal dari lingkungan sekitar, apakah akan lebih menarik jika diberi warna? a. Ya b. Tidak Warna yang seperti apa yang Bapak/Ibu sukai untuk alat peraga? a. Warna cerah b. Warna gelap Manakah alat peraga matematika yang Bapak/Ibu sukai? a. Berat b. Sedang c. Ringan Apakah Bapak/Ibu lebih suka jika alat peraga yang sama bisa digunakan untuk berbagai kompetensi dasar yang berbeda? a. Ya b. Tidak Apakah menurut Bapak/Ibu penggunaan alat peraga dapat membantu siswa menemukan kesalahannya sendiri? a. Ya b. Tidak Apakah penggunaan alat peraga dapat membantu siswa untuk menemukan jawaban yang benar? a. Ya b. Tidak Apakah Bapak/Ibu menggunakan bendabenda dari lingkungan sekitar ketika mengajar Matematika? a. Sangat sering b. Sering c. Kadang-kadang 0 0 4 2 0 0 0 6 0 1 2 3 0 0 4 2 0 1 5 0 0 1 2 3 0 0 3 3 0 0 3 3 0 0 4 2 90

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Jumlah penilai perskor No. Indikator Pertanyaan 1 2 3 4 d. Jarang e. Tidak pernah 10. Kontekstual Total Skor Rerata Apakah Bapak/Ibu setuju jika alat peraga matematika dibuat menggunakan bendabenda dari lingkungan sekitar? a. Sangat setuju b. Setuju c. Kurang setuju d. Tidak setuju 0 0 3 3 204 3,4 91

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 1. 2Rekapitulasi keterbacaan instrumen analisis kebutuhan siswa Keterangan: Instrumen keterbacaan analisis kebutuhan siswa diisi oleh 3 siswa. Jumlah penilai perskor No. Indikator Pertanyaan Apakah Bapak/Ibu gurumu menggunakan alat peraga ketika mengajar Matematika? a. Sangat sering 1. Autoeducation 2. Autoeducation 3. Menarik 4. Menarik 5. Bergradasi 6. Bergradasi 7. Autocorrection 8. Autocorrection 9. Kontekstual b. Sering c. Kadang-kadang d. Jarang e. Sangat jarang Apakah penggunaan alat peraga dapat membantumu memahami konsepkonsep matematika? a. Ya b. Tidak Jika alat peraga Matematika berasal dari lingkungan sekitar, apakah akan lebih menarik jika diberi warna? a. Ya b. Tidak Warna yang seperti apa yang kamu sukai untuk alat peraga? a. Warna cerah b.Warna gelap Manakah alat peraga matematika yang kamu sukai? a. Berat b. Sedang c. Ringan Apakah kamu lebih suka jika alat peraga yang sama bisa digunakan untuk berbagai kompetensi dasar yang berbeda? a. Ya b. Tidak Apakah menurutmu penggunaan alat peraga dapat membantumu menemukan kesalahannya sendiri? a. Ya b. Tidak Apakah penggunaan alat peraga dapat membantumu untuk menemukan jawaban yang benar? a. Ya b. Tidak Apakah Bapak/Ibu gurumu menggunakan benda-benda dari lingkungan sekitar ketika mengajar Matematika? a. Sangat sering b. Sering c. Kadangkadang d. Jarang 1 2 3 2 4 1 3 3 3 1 2 3 1 2 1 2 2 1 92

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Jumlah penilai perskor No. Indikator Pertanyaan 1 2 3 4 e. Tidak pernah 10. Kontekstual Total Skor Rerata Apakah kamu setuju jika alat peraga matematika dibuat menggunakan benda-benda dari lingkungan sekitar? a. Sangat setuju b. Setuju c. Kurang setuju d. Tidak setuju 1 2 109 3,6 93

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 1. 3Rekapitulasi hasil kuesioner analisis kebutuhan guru Keterangan: Kuesioner kebutuhan guru diisi oleh 6 guru. No 1 Ciri Alat Peraga Auto-education Pertanyaan Seberapa sering Bapak/Ibu menggunakan alat peraga ketika mengajar matematika? Jawaban Jumlah Persentase 0 0% 3 3 50% 50% 0 0 0% 0% a. b. Sangat sering Sering Kadangkadang Jarang Sangat jarang Ya Tidak 6 0 100% 0% a. b. Ya Tidak 6 0 100% 0% a. b. Warna cerah Warna gelap 6 0 100% 0% a. b. c. Berat Sedang Ringan 0 2 4 0% 33% 67 % a. b. Ya Tidak 6 0 100% 0% a. b. Ya Tidak 6 0 100% 0% a. b. Ya Tidak 6 0 100% 0% a. b. c. d. e. 2 Auto-education 3 Menarik 4 Menarik 5 Bergradasi 6 Bergradasi 7 Autocorrection 8 Autocorrection Apakah menurut Bapak/Ibu penggunaan alat peraga dapat membantu siswa memahami konsepkonsep matematika? Apakah menurut Bapak/Ibu pemberian warna pada alat peraga dapat membuat alat peraga tersebut terlihat menarik? Warna yang seperti apa yang Bapak/Ibu sukai untuk alat peraga? Jika dilihat dari beratnya, manakah alat peraga matematika yang menurut Bapak/Ibu sesuai untuk siswa? Apakah Bapak/Ibu suka jika alat peraga yang sama bisa digunakan untuk berbagai kompetensi dasar yang berbeda? Apakah menurut Bapak/Ibu penggunaan alat peraga dapat membantu siswa menemukan kesalahannya sendiri pada saat mengerjakan soal-soal latihan? Apakah menurut Bapak/Ibu penggunaan alat 94

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No 9 Ciri Alat Peraga Kontekstual Pertanyaan peraga dapat membantu siswa untuk menemukan jawaban yang benar? Apakah Bapak/Ibu menggunakan bendabenda dari lingkungan sekitar ketika mengajar matematika? Jawaban a. b. c. d. e. 10 Kontekstual Apakah Bapak/Ibu setuju jika alat peraga matematika dibuat dari bahan yang berasal dari lingkungan sekitar? a. b. c. d. Sangat sering Sering Kadangkadang Jarang Tidak pernah Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju Jumlah Persentase 0 0% 5 1 83% 17% 0 0 0% 0% 4 67% 2 0 33% 0% 0 0% 95

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 1. 4Rekapitulasi hasil kuesioner analisis kebutuhan oleh siswa Keterangan: Kuesioner analisis kebutuhan siswa diisi oleh 25 siswa. No 1 Indikator Auto-education 2 Auto-education 3 Menarik 4 Menarik 5 Bergradasi 6 Bergradasi 7 Auto-correction 8 Auto-correction 9 Kontekstual Pertanyaan Seberapa sering gurumu menggunakan alat peraga ketika mengajar matematika? Apakah penggunaan alat peraga dapat membantumu memahami konsepkonsep matematika? Apakah menurutmu pemberian warna pada alat peraga dapat membuat alat peraga tersebut terlihat menarik? Warna yang seperti apa yang kamu sukai untuk alat peraga? Jika dilihat dari beratnya, manakah alat peraga matematika yang kamu sukai? Apakah kamu suka jika alat peraga yang sama bisa digunakan untuk berbagai kompetensi dasar yang berbeda? Apakah kamu suka jika penggunaan alat peraga dapat membantumu menemukan kesalahannya sendiri pada saat mengerjakan soal-soal latihan? Apakah penggunaan alat peraga dapat membantumu untuk menemukan jawaban yang benar? Apakah gurumu menggunakan bendabenda dari lingkungan sekitar ketika mengajar matematika? Jawaban a. Sangat sering b. Sering c. Kadangkadang d. Jarang e. Sangat jarang a. Ya b. Tidak Jumlah 0 Persentase 0% 0 18 0% 72% 4 3 12% 16 % 24 1 96% 4% a. b. Ya Tidak 22 3 88% 12 % a. 23 92% 2 8% a. b. c. Warna cerah Warna gelap Berat Sedang Ringan 1 13 11 4% 52% 44 % a. b. Ya Tidak 19 6 76% 24 % a. b. Ya Tidak 21 4 84% 16 % a. b. Ya Tidak 24 1 96% 4% a. Sangat sering Sering Kadangkadang 1 4% 2 11 8% 44% b. b. c. 96

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No 10 Indikator Kontekstual Pertanyaan Apakah kamu setuju jika alat peraga matematika dibuat dari bahan yang berasal dari lingkungan sekitar? Jawaban d. Jarang e. Tidak pernah a. Sangat setuju b. Setuju c. Kurang setuju d. Tidak setuju Jumlah 8 3 Persentase 32% 12 % 6 24% 14 4 56% 16% 1 4% 97

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 2.1 Desain Produk DESAIN PAPAN BILANGAN BULAT Oleh: Agatha Risky Ratri Lubang cekung diameter 5 cm BIji bilangan berbentuk setengah tabung dengan diameter 1,5 cm dan tingginya 1 cm. Biji bilangan positif 100 buah. Biji bilangan negatif 100 buah. Warna menyesuaikan siswa. Panjang papan 60 cm Lebar papan 15 cm Tinggi papan 4 cm 98

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DESAIN KOTAK PENYIMPANAN BIJI BILANGAN DAN KARTU SOAL 9 cm 9 cm 8 cm 5 cm 8 cm Tebal sekat 0,5 cm Tebal tepi kotak 1 cm KARTU SOAL 8 cm 7 cm 99

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DESAIN TUTUP KOTAK PENYIMPANAN 20,5 cm cm 1 cm cm 15, 5 cm 0,5 cm 100

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 3 :INSTRUMEN PENELITIAN Lampiran 3.1Keterbacaan instrumen validasi produk oleh ahli Keterangan: Instrumen keterbacaan validasi produk diisi oleh 4 penilai yaitu ahli bahasa, ahli matematika, guru kelas IV, dansatu siswa kelas IV. Jumlah penilai No Ciri alat peraga perkor Aspek Penilaian 4 1 Auto-education 2 Auto-education 3 Menarik 4 Menarik 5 Bergradasi 6 Bergradasi 7 Auto-correction 8 Auto-correction 9 Kontekstual 10 Kontekstual Siswa dapat menggunakan alat peraga secara mandiri Siswa dapat memahami konsep matematika secara mandiri Warna alat peraga membuat siswa tertarik untuk belajar matematika Bentuk alat peraga menarik bagi siswa Alat peraga dapat digunakan untuk berbagai kompetensi dasar yang berbeda Alat peraga memiliki ukuran dan berat yang sesuai dengan karakteristik siswa Penggunaan alat peraga membantu siswa menemukan kesalahannya sendiri pada saat mengerjakan soal-soal latihan Penggunaan alat peraga membantu siswa menemukan jawaban yang benar Bahan yang digunakan untuk membuat alat peraga mudah didapatkan dari lingkungan sekitar sekolah Alat peraga dapat diproduksi oleh masyarakat sekitar. Total skor Rerata 3 2 1 3 1 0 0 2 2 0 0 2 2 0 0 2 2 0 0 3 1 0 0 1 3 0 0 1 3 0 0 2 1 1 0 2 2 0 0 1 3 0 0 138 3,5 101

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 3.2Keterbacaan instrumen tes oleh ahli Keterangan: Keterbacaan instrumen tes diisi oleh 3 penilai yaitu dua ahli matematika dan satu guru kelas IV. Indikator 1. 2. 3. Mengetahui pengertian bilangan bulat. Soal 1. 2. 5. 0 0 1 2 3. Suhu di suatu tempat adalah 15 derajat di bawah nol, dapat dituliskan… . 0 1 0 2 Menyebutkan 4. bilangan bulat positif dan bilangan bulat negatif. Bilangan positif yang paling kecil adalah …. . 0 1 2 0 5. Bilangan 23 dibaca… . 0 0 1 2 6. Lambang bilangan dari negatif empat puluh satu adalah …. . 0 0 1 2 Hasil pengerjaan dari 19+21=… 0 0 2 1 Nenek memetik 20 buah jeruk di kebun. Kakek memetik 25 buah jeruk di kebun yang sama. Jumlah jeruk yang dipetik oleh kakek dan nenek adalah… . 0 0 1 2 Hasil pengerjaaan dari 19 + (-17) = n. Nilai n adalah… . 0 0 2 1 Hasil dari 45+(-5) adalah … . 0 0 1 2 Hasil dari 27+(-5) adalah … . Hasil pengerjaan dari -77+8 adalah… . 0 0 0 0 1 2 2 1 Seekor ikan lumba-lumba berada pada kedalaman 2 m di bawah permukaan laut. Kemudian melompat pada ketinggian 2 m di atas permukaan laut. Berapa meter likan lumba-lumba itu naik ke atas? 14. Paman mempunyai hutang 5 permen kepada adik. Paman baru saja member adik 3 permen. Jumlah hutang paman sekarang adalah… . 0 0 1 2 0 1 0 2 Melakukan 7. penjumlahan bilangan bulat positif dengan positif 8. 4. Bilangan bulat adalah bilangan yang terdiri dari ... . Lawan dari -7 adalah… . Jumlah penilai perskor 1 2 3 4 0 0 2 1 Melakukan 9. penjumlahan bilangan bulat positif dengan 10. negatif 11. Melakukan 12. penjumlahan bilangan bulat 13. negatif dengan positif 102

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Indikator Soal 15. Suhu di kota Berlin adalah -12o. Setelah siang hari suhunya naik 10odarisuhusemula. Suhu di kota berlin pada siang hari adalah… . 6. Melakukan 16. -42 + (-42) =… . penjumlahan bilangan bulat negatif dengan negatif 0 0 1 2 0 0 1 2 0 0 0 0 1 2 2 1 20. Kakak mempunyai 30 permen kemudian diberikan kepada adik 15 permen. Jumlah permen yang dimiliki kakak sekarang adalah… . 21. Ayah menggali sumur sedalam 7 m. Setelah air keluar, ternyata kedalaman sumur yang tidak terisi air adalah 4 m. Berapa m tinggi air di dalam sumur itu? 22. 88 + 9 = 88 – (-9) = p Nilai p adalah… . 0 0 1 2 0 0 1 2 0 0 2 1 23. Suhu terpanas di bumi adalah 570C. Suhu terdingin di bumi adalah -890C. Berapa selisih suhu terpanas dan terdingin di bumi? 24. Hasil dari 65 – (23) adalah… . 25. -24 – (21) = ……. 0 0 2 1 1 0 0 0 1 2 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 1 2 1 1 0 1 2 2 2 17. Hasil dari -23 + (-57) = … . 7. 8. 9. 18. -100+ (-50) = … . Melakukan 19. Sebuah mobil bergerak maju ke depan pengurangan sejauh 25 m, kemudian mundur 45 m. bilangan bulat Jarak mobil sekarang dari titik awal… positif dengan positif Melakukan pengurangan bilangan bulat positif dengan negatif Melakukan pengurangan bilangan bulat negatif dengan positif Jumlah penilai perskor 1 2 3 4 0 0 1 2 26. Ayah memundurkan mobilnya sejauh 5 m. Kemudian ayah memundurkan mobilnya lagi sejauh 3 m. Berapa jarak mobil ayah dari posisi semula? 27. -45 – (5) = … . 10. Melakukan 28. -21- (-21) =… . pengurangan 29. -35- (-5) = … . bilangan bulat 30. Andi meminjam kelereng sebanyak 21 negatif dengan butir kepada Toni. Budi juga meminjam 10 negatif butir kelereng kepada Toni. Berapa selisih kelereng yang dipinjam Andi dan Budi 103

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Indikator Soal Jumlah penilai perskor 1 2 3 4 kepada Toni? JumlahSkor Rerata 312 3,5 104

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 3. 3 Uji validitas instrumen tes oleh ahli Keterangan: Uji validitas instrumen tes oleh ahli dilakukan oleh 2 penilai yaitu ahli matematika dan guru kelas IV. No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10 11. 12. 13. 14. Komponen Penilaian Kesesuaian SK, KD, dan indikator Kualitas perilaku yang dituntut dalam indikator mencerminkan keutuhan perkembangan pribadi siswa Kesesuaian indikator 1 dengan item soal yang diberikan Kesesuaian indikator 2 dengan item soal yang diberikan Kesesuaian indikator 3 dengan item soal yang diberikan Kesesuaian indikator 4 dengan item soal yang diberikan Kesesuaian indikator 5 dengan item soal yang diberikan Kesesuaian indikator 6 dengan item soal yang diberikan Kesesuaian indikator 7 dengan item soal yang diberikan Kesesuaian indikator 8 dengan item soal yang diberikan Kesesuaian indikator 9 dengan item soal yang diberikan Kesesuaian indikator 10 dengan item soal yang diberikan Bentuk muka instrumen tes yang disajikan Penggunaan bahasa Indonesia dan tata tulis baku Total skor Rerata Jumlah penilai perskor 4 3 2 1 0 2 0 0 0 2 0 0 0 1 1 0 2 2 1 0 1 2 2 1 1 2 0 0 1 2 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 2 1 0 0 0 0 0 97 3,4 105

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 3. 4 Tabel validasi uji validitas empirik Total a1 a2 a3 a4 a5 a6 a7 a8 a9 a10 a11 a12 a13 a14 a15 Pearson correlation Sig. (2-tailed) N Pearson correlation Sig. (2-tailed) N Pearson correlation Sig. (2-tailed) N Pearson correlation Sig. (2-tailed) N Pearson correlation Sig. (2-tailed) N Pearson correlation Sig. (2-tailed) N Pearson correlation Sig. (2-tailed) N Pearson correlation Sig. (2-tailed) N Pearson correlation Sig. (2-tailed) N Pearson correlation Sig. (2-tailed) N Pearson correlation Sig. (2-tailed) N Pearson correlation Sig. (2-tailed) N Pearson correlation Sig. (2-tailed) N Pearson correlation Sig. (2-tailed) N Pearson correlation Sig. (2-tailed) N Pearson correlation Sig. (2-tailed) N Total 1 36 -.160 .353 36 .558'' .000 36 .296 .080 36 .030 .861 36 .316 .060 36 .641" .000 36 .217 .204 36 .668" .000 36 .015 .933" 36 .601" .000 36 .146 .397 36 .238 .163 36 .555" .000 36 .697" .000 36 .253 .136 36 a16 a17 a18 a19 a20 a21 a22 a23 a24 a25 a26 a27 a28 a29 a30 Pearson correlation Sig. (2-tailed) N Pearson correlation Sig. (2-tailed) N Pearson correlation Sig. (2-tailed) N Pearson correlation Sig. (2-tailed) N Pearson correlation Sig. (2-tailed) N Pearson correlation Sig. (2-tailed) N Pearson correlation Sig. (2-tailed) N Pearson correlation Sig. (2-tailed) N Pearson correlation Sig. (2-tailed) N Pearson correlation Sig. (2-tailed) N Pearson correlation Sig. (2-tailed) N Pearson correlation Sig. (2-tailed) N Pearson correlation Sig. (2-tailed) N Pearson correlation Sig. (2-tailed) N Pearson correlation Sig. (2-tailed) N Total .249 .143 36 .347' .038 36 .317 .060 36 .367' .028 36 .559" .000 36 .310 .065 36 a 36 .259 .128 36 .655" .000 36 a 36 .271 .110 36 .689" .000 36 .013 .939 36 .490" .002 36 472" .004 36 106

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4: VALIDASI PRODUK OLEH AHLI No 1 2 3 Skor peraitem Penilai Ahli Matematika Ahli Montessori Guru Kelas IV 3 4 3 4 4 2 4 3 4 4 4 4 4 4 3 4 4 3 4 4 2 3 4 3 3 4 3 Total Rerata 36 39 31 3.6 3.9 3.1 3 4 4 Keterangan: Instrumen Validasi produk diisi oleh 3 penilai yaitu ahli matematika, ahli Montessori, dan guru kelas iV. Jumlah penilai No Ciri alat peraga perskor Aspek Penilaian 4 1 Auto-education 2 Auto-education 3 Menarik 4 Menarik 5 Bergradasi 6 Bergradasi 7 Auto-correction 8 Auto-correction 9 Kontekstual 10 Kontekstual Alat peraga papan bilangan bulat dapat membuat siswa belajar secara mandiri Alat peraga papan bilangan bulatdapat membantu siswa memahami konsep matematika secara mandiri Warna alat peraga papan bilangan bulat membuat siswa tertarik untuk belajar matematika Bentuk alat peraga papan bilangan bulat menarik bagi siswa Alat peraga papan bilangan bulat dapat digunakan untuk berbagai kompetensi dasar yang berbeda Alat peraga papan bilangan bulat memiliki ukuran dan berat yang sesuai dengan karakteristik siswa Penggunaan alat peraga papan bilangan bulat dapat membantu siswa menemukan kesalahannya sendiri pada saat mengerjakan soalsoal latihan Penggunaan alat peraga papan bilangan bulat dapat membantu siswa menemukan jawaban yang benar Bahan yang digunakan untuk membuat alat peraga papan bilangan bulat mudah didapatkan dari lingkungan sekitar sekolah Alat peraga papan bilangan bulat dapat diproduksi oleh masyarakat sekitar. Total skor Rerata 3 2 1 1 2 0 0 2 0 1 0 2 1 0 0 3 0 0 0 2 1 0 0 2 1 0 0 2 0 1 0 1 2 0 0 1 2 0 0 1 2 0 0 106 3,5 107

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 5 UJI COBA LAPANGAN TERBATAS Lampiran 5. 1Soal tes Materi : Operasi Bilangan Bulat Nama Siswa :………………………………. Kelas :………………………………. Sekolah :………………………………. Petunjuk: Selesaikan soal-soal berikut ini dengan menggunakan langkah-langkah yang tepat! 1. Berapakah lawan dari -7? dipetik oleh kakek dan nenek adalah… . 2. Berapakah lambang bilangan dari negatif 4. Hasil dari 45+(-5) adalah …. empat puluh satu? 5. Paman mempunyai 3. Nenek memetik 20 buah hutang 5 permen kepada jeruk di kebun. Kakek adik. Paman baru saja memetik 25 buah jeruk di membayar hutang kepada kebun yang sama. adik sebanyak 3 permen. Jumlah jeruk yang 108

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Jumlah hutang paman sekarang adalah… . 8. Hasil dari 65 – (-23) adalah… . 6. Hasil dari -23 + (-57) = …. 9. -45 – 5 = … . 7. Kakak mempunyai 30 permen kemudian diberikan kepada adik 15 permen. Jumlah permen yang dimiliki kakak sekarang adalah… . 10. -35- (-5) = … . 109

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 5. 2 Kunci jawaban soal tes 1. Jadi, lawan dari -7 adalah 7 2. Lambang bilangan dari negatif empat puluh satu adalah -41 3. Nenek= 20 jeruk, kakek= 25 jeruk Jumlah jeruk kakek dan nenek = 20 + 25 = 45 jeruk 4. 45 + (-5) = 45 – 5 = 40 5. -5 + 3 = -2. Jadi hutang paman adalah 2 permen. 6. -23 + (-57) = -80 7. 30 – 15 = 15. Jadi, permen kakak sekarang 15 permen 8. 65 – (-23) = 65 + 23 = 88 9. -45 – 5 = -45 + -5 = -50 10. -35 – (-5) = -35 + 5 = -30 110

(130) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 5. 3 Hasil pretest No Nama Siswa 1 2 3 4 5 Y W V L I 1 1 1 1 1 1 2 1 1 2 2 2 3 4 4 4 4 4 4 1 1 1 1 1 Skor peraitem 5 6 7 2 1 4 2 1 4 1 2 4 1 1 4 1 2 4 8 1 1 1 1 1 9 1 1 1 1 1 10 2 1 1 2 1 3 4 4 4 4 2 4 3 1 4 4 4 Skor peraitem 5 6 7 4 4 4 4 3 2 1 1 4 4 4 4 4 4 4 8 4 1 1 1 4 9 2 3 1 1 4 10 2 4 1 4 2 Total 18 17 18 18 18 Nilai 45 42,5 45 45 45 Lampiran 5. 4 Hasil posttest No Nama Siswa 1 2 3 4 5 Y W V L I 1 4 4 4 4 4 2 2 2 2 4 2 Total 33 28 23 34 34 Nilai 82,5 70 57,5 85 85 111

(131) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 5. 5 Kuesioner validasi produk oleh siswa No Nama Siswa 4 Siswa Y 1 4 5 6 7 8 Siswa W Siswa V Siswa L Siswa I 4 3 3 3 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 2 4 3 3 Skor peraitem 4 5 6 7 4 4 4 4 4 3 4 3 3 3 4 4 3 3 3 3 3 2 3 4 3 2 3 4 4 3 4 4 8 4 9 4 10 4 3 4 3 4 4 4 4 4 3 4 4 3 Total Rerata 39 3.9 34 31 35 36 3.4 3.1 3.5 3.6 Jumlah siswa perskor Aspek Penilaian 4 3 2 1 Alat peraga papan bilangan bulat dapat membuat saya belajar secara mandiri Alat peraga papan bilangan bulat dapat membantu saya memahami konsep matematika secara mandiri Warna alat peraga papan bilangan bulat membuat saya tertarik untuk belajar matematika Bentuk alat peraga papan bilangan bulat menarik 2 3 0 0 3 2 0 0 2 3 0 0 1 4 0 0 Alat peraga papan bilangan bulat dapat digunakan untuk berbagai kompetensi dasar yang berbeda Alat peraga papan bilangan bulat memiliki ukuran dan berat yang sesuai Penggunaan alat peraga papan bilangan bulat dapat membantu saya menemukan kesalahan sendiri pada saat mengerjakan soal-soal latihan Penggunaan alat peraga papan bilangan bulat dapat membantu saya menemukan jawaban yang benar Bahan yang digunakan untuk membuat alat peraga papan bilangan bulat mudah didapatkan dari lingkungan sekitar sekolah Alat peraga papan bilangan bulat dapat diproduksi oleh masyarakat sekitar. Total skor 2 2 1 0 2 2 1 0 4 1 0 0 3 2 0 0 5 0 0 0 3 2 0 0 Rerata 175 3,5 112

(132) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 5. 6 Hasil wawancara siswa Tanggal wawancara : 18 Desember 2013 Narasumber : lima siswa uji coba terbatas No Pertanyaan Bagaimana perasaanmu setelah mengikuti kegiatan belajar dengan menggunakan alat peraga papan bilangan bulat? (sangat senang/senang/kurang)Mengapa demikian? Mana yang lebih kamu sukai, belajar dengan menggunakan alat peraga atau tidak menggunakan alat peraga? Mengapa demikian? Apakah kamu dapat lebih berkonsentrasi apabila belajar dengan menggunakan alat peraga? Jawaban Empat anak mengatakan sangat senang, satu anak mengatakan senang. Karena menggunakan alat peraga 4 Apakah kamu dapat memahami konsep penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat dengan menggunakan alat peraga papan bilangan bulat? Ya 5 Setelah belajar menggunakan alat peraga papan bilangan bulat, diantara rentang 60 -100 berapa nilai pemahaman yang kamu berikan untuk dirimu sendiri? Lima anak menjawab 90 6 Berikan kesan dan pesanmu setelah mengikuti kegiatan belajar? Kesan: belajar dengan menggunakan alat peraga sangat menyenangkan Pesan: alat peraga dapat digunakan pada saat pembelajaran di kelas 1 2 3 Menggunakan alat peraga karena lebih mudah memahami materi, lebih mudah saat mengerjakan soal Ya, walaupun ada teman yang mengganggu tetap bisa mengerjakan soal latihan, tetap bisa belajar 113

(133) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 5.7 Hasil wawancara guru Tanggal wawancara : 18 Desember 2013 Narasumber : Guru kelas IV SDK Klepu No 1 Pertanyaan Bagaimana antusiasme siswa dalam mengikuti kegiatan belajar menggunakan alat peraga papan bilangan bulat? (sangat antusias/antusias/kurang) Bagaimana keaktifan siswa selama mengikuti kegiatan belajar menggunakan alat peraga papan bilangan bulat? (tinggi/sedang/rendah) Bagaimana konsentrasi siswa selama mengikuti kegiatan belajar menggunakan alat peraga papan bilangan bulat? (tinggi/sedang/rendah) Apakah siswa mampu belajar secara mandiri dengan alat peraga yang digunakan? Apakah alat peraga papan bilangan bulat dapat membantu siswa memahami konsep penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat dengan baik? (sangat baik/baik/kurang) Jawaban Lebih bersemangat, sangat antusias 6 Bagaimana pendapat Ibu setelah mengetahui hasil belajar siswa? Cukup membantu siswa apabila menggunakan alat peraga 7 Apakah ada saran dan rekomendasi bagi peneliti untuk perbaikan selanjutnya? Dari segi soal, tingkat kesulitannya dinaikkan 2 3 4 5 Siswa terlihat lebih aktif selama mengikuti kegiatan belajar menggunakan alat peraga Berkonsentrasi tinggi Belum mampu, perlu pendampingan guru Ya, bisa membantu 114

(134) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 6 Surat keterangan telah melaksanakan uji validitas instrumen penelitian 115

(135) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 116

(136) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 7Surat permohonan ijin penelitian ke SD 117

(137) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 8 Surat keterangan telah melaksanakan penelitian dari SD 118

(138) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 9 Dokumentasi uji coba lapangan terbatas Gambar 9.1 Siswa mengerjakan soal pretest Gambar 9.2 Direktris mempresentasikan alat peraga 119

(139) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Gambar 9.3 Siswa menggunakan alat peraga 120

(140) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 10Album pembelajaran ALBUM PEMBELAJARAN MONTESSORI “PAPAN BILANGAN BULAT” 1. Tema Pembelajaran: Pengenalan Alat Peraga Papan Bilangan Bulat 1.1 Tujuan langsung : Mengenalkan nilai bilangan bulat positif dan bilangan bulat negatif kepada anak dengan menggunakan alat peraga papan bilangan bulat 1.2 Syarat : Anak sudah mengetahui pengertian bilangan bulat 1.3 Usia : 9-10 tahun 1.4Alat : - 1 papan bilangan bulat - 1 set biji bilangan, yang terdiri dari 100 biji bilangan bulat positif dan 100 biji bilangan bulat negatif - Kartu soal - Kertas dan pensil 121

(141) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1.5 Presentasi: 1.5.1 Direktris menyiapkan lokasi kerja. 1.5.2 Anak diajak untuk bermain, “ Mari bermain bilangan bulat bersama Ibu” 1.5.3 Anak diajak untuk membantu direktris menyiapkan alat peraga, “Mari membantu Ibu mengambil alat peraga papan bilangan bulat” 1.5.4 Anak diminta untuk duduk di sebelah kanan direktris 1.5.5 Direktris meletakkan alat peraga di depan anak 1.5.6 Direktris mengenalkan alat peraga papan bilangan bulat yang akan digunakan kepada anak, “Ini adalah papan bilangan bulat. Baris pertama untuk meletakkan biji bilangan bulat positif dan baris kedua untuk meletakkan biji bilangan bulat negatif (sambil menunjukkan alat peraga yang dimaksud). Ini adalah biji bilangan bulat. Biji warna merah untuk bilangan bulat positif. Biji warna biru untuk bilangan bulat negatif”. 1.5.7 Direktris mengambil kartu soal A1 dan meletakkan di atas karpet, “Letakkan biji bilangan yang menunjukkan bilangan positif satu (1) pada papan bilangan bulat” 1.5.8 Anak meletakkan satu (1) biji bilangan warna merah pada lubang pertama baris pertama. 122

(142) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1.5.9 Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya. 1.5.10 Direktris meletakkan kartu soal pada tempatnya kemudian mengambil kartu soal A2. “Letakkan biji bilangan yang menunjukkan bilangan positif lima”. 1.5.11 Anak mengambil lima (5) biji berwarna merah kemudian meletakkan pada lubang baris pertama. 1.5.12 Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya. 123

(143) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1.5.13 Direktris meletakkan kartu soal pada tempatnya kemudian mengambil kartu soal A3. “Letakkan biji bilangan yang menunjukkan bilangan positif lima belas”. 1.5.14 Anak mengambil lima belas biji berwarna merah kemudian meletakkan satu per satu pada lubang baris pertama, setelah sampai pada lubang kesepuluh, kembali pada lubang pertama baris pertama. 1.5.15 Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya. 1.5.16 Direktris meletakkan kartu soal pada tempatnya kemudian mengambil kartu soal A4. “Letakkan biji bilangan yang menunjukkan bilangan negatif satu”. 124

(144) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1.5.17 Anak mengambil satu biji berwarna biru kemudian meletakkan pada lubang pertama baris kedua. 1.5.18 Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya. 1.5.19 Direktris meletakkan kartu soal pada tempatnya kemudian mengambil kartu soal A5. “Letakkan biji bilangan yang menunjukkan bilangan negatif lima”. 1.5.20 Anak mengambil lima biji berwarna biru kemudian meletakkan satu per satu dimulai pada lubang pertama baris kedua. 125

(145) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1.5.21 Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya. 1.5.22 Direktris meletakkan kartu soal pada tempatnya kemudian mengambil kartu soal A6. “Letakkan biji bilangan yang menunjukkan bilangan negatif lima belas”. 1.5.23 Anak mengambil lima belas biji berwarna biru kemudian meletakkan satu per satu dimulai pada lubang pertama baris kedua. 1.5.24 Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya. 126

(146) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1.5.25 Direktris berkata,” Satu biji positif ditambah satu biji negatif nilainya sama dengan nol” 1.5.26 Jika anak telah mengenal nilai bilangan bulat positif dan negatif dengan papan bilangan bulat, pembelajaran dapat dilanjutkan pada tema selanjutnya. 2. Tema Pembelajaran: Penjumlahan Bilangan Bulat Positif dengan Positif 2.1 Tujuan langsung : Anak dapat melakukan penjumlahan bilangan bulat positif dengan positif 2.2 Syarat : Anak sudah mengetahui pengertian bilangan bulat 2.3 Usia : 9-10 tahun 2.4 Alat : - 1 papan bilangan bulat - 1 set biji bilangan, yang terdiri dari 100 biji bilangan bulat positif dan 100 biji bilangan bulat negatif - Kartu soal - Kertas dan pensil 2.5 Presentasi: 2.5.1 Direktris menyiapkan lokasi kerja. 2.5.2 Anak diajak untuk bermain, “ Mari bermain bilangan bulat bersama Ibu” 2.5.3 Anak diajak untuk membantu direktris menyiapkan alat peraga, “Mari membantu Ibu mengambil alat peraga papan bilangan bulat” 2.5.4 Anak diminta untuk duduk di sebelah kanan direktris 2.5.5 Direktris meletakkan alat peraga di depan anak. 127

(147) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2.5.6 Direktris mengambil kartu soal B1 kemudian meletakkan di atas karpet. 2.5.7 Direktris meminta anak untuk meletakkan biji bilangan positif sebanyak enam (6) kemudian biji bilangan positif sebanyak delapan (6) pada papan bilangan bulat. 2.5.8 Anak mengambil enam (6) biji berwarna merah kemudian meletakkan satu per satu mulai dari lubang pertama baris pertama. 2.5.9 Anak mengambil delapan (8) biji berwarna merah kemudian meletakkan satu per satu kelanjutan dari enam (6) biji yang telah diletakkan. 2.5.10 Anak menghitung jumlah biji yang telah diletakkan pada papan bilangan bulat. 128

(148) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2.5.11 Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya. 2.5.12 Direktris meletakkan kartu soal pada tempatnya. 2.5.13 Anak diminta untuk mengambil kartu soal B2. 2.5.14 Direktris meminta anak untuk meletakkan biji positif lima belas (15) kemudian biji positif tiga (3) pada papan bilangan bulat. 2.5.15 Anak mengambil lima belas (15) biji bilangan warna merah kemudian meletakkan satu persatu pada lubang baris pertama. 2.5.16 Anak mengambil tiga (3) biji bilangan warna merah kemudian meletakkan satu persatu pada lubang baris pertama melanjutkan biji yang telah diletakkan semula. 129

(149) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2.5.17 Anak menghitung jumlah biji yang diletakkan pada papan bilangan bulat. 2.5.18 Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya. 2.5.19 Direktris mengembalikan kartu soal pada tempatnya. 2.5.20 Anak diminta untuk mempraktekkan kartu soal B secara mandiri. 2.5.21 Jika anak sudah paham mengenai penjumlahan bilangan bulat positif dengan positif, pembelajaran dapat dilanjutkan pada tema selanjutnya. 3. Tema Pembelajaran: Penjumlahan Bilangan Bulat Positif dengan Negatif 3.1 Tujuan langsung : Anak dapat melakukan penjumlahan bilangan bulat positif dengan negatif 3.2 Syarat : Anak sudah mengetahui pengertian bilangan bulat 3.3 Usia : 9-10 tahun 3.4 Alat : - 1 papan bilangan bulat - 1 set biji bilangan, yang terdiri dari 100 biji bilangan bulat positif dan 100 biji bilangan bulat negatif - Kartu soal - Kertas dan pensil 3.5 Presentasi 3.5.1 Direktris menyiapkan lokasi kerja. 3.5.2 Anak diajak untuk bermain, “ Mari bermain bilangan bulat bersama Ibu” 3.5.3 Anak diajak untuk membantu direktris menyiapkan alat peraga, “Mari membantu Ibu mengambil alat peraga papan bilangan bulat” 3.5.4 Anak diminta untuk duduk di sebelah kanan direktris 3.5.5 Direktris meletakkan alat peraga di depan anak 130

(150) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3.5.6 Direktris mengambil kartu soal C1 kemudian meletakkan di atas karpet. 3.5.7 Direktris mengambil dua (2) biji berwarna merah kemudian meletakkan satu per satu mulai dari lubang pertama baris pertama. 3.5.8 Direktris mengambil lima (5) biji berwarna biru kemudian meletakkan satu per satu mulai dari lubang pertama baris kedua. 3.5.9 Direktris mengambil biji yang berpasangan dari lubang baris pertama dan lubang baris kedua kemudian meletakkan sepasang demi sepasang pada meja kerja. 131

(151) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3.5.10 Direktris berkata, “Jadi, dua ditambah negatif lima sama dengan negatif tiga. 3.5.11 Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya. 3.5.12 Direktris meletakkan kartu soal pada tempatnya kemudian mengambil kartu soal C2. 3.5.13 Direktris mengambil dua belas (12) biji bilangan warna merah kemudian meletakkan satu persatu pada lubang baris pertama. 3.5.14 Direktris mengambil empat (4) biji bilangan warna biru kemudian meletakkan satu persatu pada lubang baris kedua. 132

(152) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3.5.15 Direktris mengambil biji yang berpasangan dari lubang baris pertama dan lubang baris kedua kemudian meletakkan sepasang demi sepasang meja kerja. 3.5.16 Direktris berkata, “Jadi, dua belas ditambah negatif empat sama dengan delapan ditunjukkan oleh delapan biji positif yang tidak mempunyai pasangan di lubang baris pertama. 3.5.17 Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya. 3.5.18 Direktris mengembalikan kartu soal pada tempatnya. 3.5.19 Anak diminta untuk mempraktekkan kartu soal C secara mandiri. 3.5.20 Jika anak sudah paham mengenai penjumlahan bilangan bulat positif dengan negatif, pembelajaran dapat dilanjutkan pada tema berikutnya. 4. Tema Pembelajaran: Penjumlahan Bilangan Bulat Negatif dengan Positif 4.1 Tujuan langsung: Anak dapat melakukan penjumlahan bilangan bulat negatif dengan positif 4.2 Syarat : Anak sudah mengetahui pengertian bilangan bulat 4.3 Usia : 9-10 tahun 4.4 Alat : - 1 papan bilangan bulat 133

(153) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI - 1 set biji bilangan - Kertas dan pensil 4.5 Presentasi: 4.5.1 Direktris menyiapkan lokasi kerja. 4.5.2 Anak diajak untuk bermain, “ Mari bermain bilangan bulat bersama Ibu” 4.5.3 Anak diajak untuk membantu direktris menyiapkan alat peraga, “Mari membantu Ibu mengambil alat peraga papan bilangan bulat” 4.5.4 Anak diminta untuk duduk di sebelah kanan direktris 4.5.5 Direktris meletakkan alat peraga di depan anak 4.5.6 Direktris mengambil kartu soal D1 kemudian meletakkan di atas karpet. 4.5.7 Direktris mengambil delapan (8) biji berwarna biru kemudian meletakkan satu per satu mulai dari lubang pertama pada baris kedua. 4.5.8 Direktris mengambil tujuh (7) biji berwarna merah kemudian meletakkan satu per satu mulai dari lubang pertama baris pertama. 134

(154) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4.5.9 Direktris mengambil biji yang berpasangan dari lubang baris pertama dan lubang baris kedua kemudian meletakkan sepasang demi sepasang pada meja kerja. 4.5.10 Direktris berkata, “Jadi, negatif delapan (-8) ditambah tujuh (7) sama dengan negatif satu (-1)”. 4.5.11 Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya. 4.5.12 Direktris meletakkan kartu soal pada tempatnya kemudian mengambil kartu soal D2. 4.5.13 Direktris mengambil lima belas (15) biji bilangan warna biru kemudian meletakkan satu persatu pada lubang baris kedua. 135

(155) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4.5.14 Direktris mengambil lima belas (15) biji bilangan warna merah kemudian meletakkan satu persatu pada lubang baris pertama. 4.5.15 Direktris mengambil biji yang berpasangan dari lubang baris pertama dan lubang baris kedua kemudian meletakkan sepasang demi sepasang pada meja kerja. 4.5.16 Direktris berkata, “Jadi negatif lima belas ditambah lima belas sama dengan nol ditunjukkan oleh tidak ada biji yang tersisa di papan”. 4.5.17 Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya. 4.5.18 Direktris mengembalikan kartu soal pada tempatnya kemudian mengambil kartu soal D3. 136

(156) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4.5.19 Direktris mengambil dua puluh satu (21) biji bilangan warna biru kemudian meletakkan satu persatu pada lubang baris kedua. 4.5.20 Direktris mengambil lima belas (15) biji bilangan warna merah kemudian meletakkan satu persatu pada lubang baris pertama. 4.5.21 Direktris mengambil biji yang berpasangan dari lubang baris pertama dan lubang baris kedua kemudian meletakkan sepasang demi sepasang pada meja, kemudian berkata, “ Jadi, negatif dua puluh satu ditambah lima belas sama dengan negatif enam”. 137

(157) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4.5.22 Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya. 4.5.23 Direktris mengembalikan kartu soal pada tempatnya. 4.5.24 Anak diminta untuk mengulang kartu soal D secara mandiri. 4.5.25 Jika anak sudah paham mengenai penjumlahan bilangan bulat negatif dengan positif, pembelajaran dapat dilanjutkan pada tema berikutnya. 5. Tema Pembelajaran: Penjumlahan Bilangan Bulat Negatif dengan Negatif 5.1 Tujuan langsung: Anak dapat melakukan penjumlahan bilangan bulat negatif dengan negatif 5.2 Syarat : Anak sudah mengetahui pengertian bilangan bulat 5.3 Usia : 9-10 tahun 5.4 Alat : - 1 papan bilangan bulat - 1 set biji bilangan - Kartu soal - Kertas dan pensil 5.5 Presentasi: 5.5.1 Direktris menyiapkan lokasi kerja. 5.5.2 Anak diajak untuk bermain, “ Mari bermain bilangan bulat bersama Ibu” 5.5.3 Anak diajak untuk membantu direktris menyiapkan alat peraga, “Mari membantu Ibu mengambil alat peraga papan bilangan bulat” 5.5.4 Anak diminta untuk duduk di sebelah kanan direktris 5.5.5 Direktris meletakkan alat peraga di depan anak 138

(158) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5.5.6 Direktris mengambil kartu soal E1 kemudian meletakkan di atas karpet. 5.5.7 Direktris mengambil dua belas (12) biji berwarna biru kemudian meletakkan satu per satu mulai dari lubang pertama pada baris kedua. 5.5.8 Direktris mengambil tiga belas (13) biji berwarna biru kemudian meletakkan satu per satu pada lubang baris kedua melanjutkan biji yang telah diletakkan sebelumnya. 5.5.9 Direktris berkata,”Lihat! Tidak ada biji berpasangan, maka kita dapat langsung menghitung jumlah biji pada lubang negatif.” 5.5.10 Direktris berkata, “Jadi, negatif dua belas ditambah negatif tiga belas sama dengan negatif dua puluh lima”. 5.5.11 Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya. 5.5.12 Direktris meletakkan kartu soal pada tempatnya kemudian mengambil kartu soal E2. 139

(159) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5.5.13 Direktris mengambil dua puluh lima (25) biji bilangan warna biru kemudian meletakkan satu persatu pada lubang baris kedua. 5.5.14 Direktris mengambil lima (5) biji bilangan warna biru kemudian meletakkan satu persatu pada lubang baris kedua melanjutkan biji yang telah diletakkan sebelumnya. 5.5.15 Direktris berkata,”Lihat! Tidak ada biji berpasangan, maka kita dapat langsung menghitung jumlah biji pada lubang negatif.” 5.5.16 Direktris berkata, “Jadi negatif dua puluh lima ditambah negatif lima sama dengan negatif tiga puluh”. 5.5.17 Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya. 140

(160) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5.5.18 Direktris mengembalikan kartu soal pada tempatnya kemudian mengambil kartu soal E3. 5.5.19 Direktris mengambil tiga puluh (30) biji bilangan warna biru kemudian meletakkan satu persatu pada lubang baris kedua. 5.5.20 Direktris mengambil dua puluh (20) biji bilangan warna biru kemudian meletakkan satu persatu pada lubang baris kedua melanjutkan biji bilangan yang telah diletakkan sebelumnya. 5.5.21 Direktris berkata,”Lihat! Tidak ada biji berpasangan, maka kita dapat langsung menghitung jumlah biji pada lubang negatif.” 5.5.22 Direktris berkata, “ Jadi, negatif tiga puluh ditambah negatif dua puluh sama dengan negatif lima puluh”. 5.5.23 Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya. 5.5.24 Direktris mengembalikan kartu soal pada tempatnya. 5.5.25 Anak diminta untuk mengulang kartu soal E secara mandiri. 5.5.26 Jika anak sudah paham mengenai penjumlahan bilangan bulat negatif dengan negatif, anak diminta untuk mengembalikan alat peraga pada tempat semula. 141

(161) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6. Tema Pembelajaran: Pengurangan Bilangan Bulat Positif dengan Positif 6.1 Tujuan langsung : Anak dapat melakukan pengurangan bilangan bulat positif dengan positif 6.2 Syarat : Anak sudah mengetahui pengertian bilangan bulat 6.3 Usia : 9-10 tahun 6.4 Alat : - 1 papan bilangan bulat - 1 set biji bilangan, yang terdiri dari 100 biji bilangan bulat positif dan 100 biji bilangan bulat negatif - Kartu soal - Kertas dan pensil 6.5 Presentasi: 6.5.1 Direktris menyiapkan lokasi kerja. 6.5.2 Anak diajak untuk bermain, “ Mari bermain bilangan bulat bersama Ibu” 6.5.3 Anak diajak untuk membantu direktris menyiapkan alat peraga, “Mari membantu Ibu mengambil alat peraga papan bilangan bulat” 142

(162) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6.5.4 Anak diminta untuk duduk di sebelah kanan direktris. 6.5.5 Direktris meletakkan alat peraga di depan anak. 6.5.6 Direktris mengambil kartu soal F1 kemudian meletakkan di depan anak. 6.5.7 Direktris mengambil dua belas (12) biji bilangan warna merah kemudian meletakkan satu persatu pada baris pertama mulai dari lubang pertama. 6.5.8 Direktris berkata, “Kita akan mengurangi dua belas (12) dengan empat (4), maka kita ambil empat (4) biji dari dua belas (12) biji yang sudah diletakkan. Jadi dua belas (12) dikurangi empat (4) sama dengan delapan (8). 6.5.9 Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya. 6.5.10 Direktris mengembalikan kartu soal pada tempatnya. 143

(163) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6.5.11 Direktris mengambil kartu soal F2 kemudian meletakkan di depan siswa. 6.5.12 Direktris mengambil tujuh belas (17) biji bilangan warna merah kemudian meletakkan satu persatu pada baris pertama mulai dari lubang pertama. 6.5.13 Direktris berkata, “Kita akan mengurangi tujuh belas (17) dengan dua puluh (20), maka kita harus mengambil dua puluh (20) biji bilangan positif warna merah.” 6.5.14 Direktris berkata, “Lihat! Kita sudah mempunyai tujuh belas (17) biji warna merah, maka kita harus menambahkan tiga (3) pasang biji bilangan yaitu tiga biji warna merah dan tiga biji warna biru.” 6.5.15 Direktris berkata, “Setelah itu, kita dapat mengambil dua puluh (20) biji positif warna merah.” 6.5.16 Jadi tujuh belas (17) dikurangi dua puluh (20) sama dengan negatif tiga 144

(164) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (-3). 6.5.17 Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya. 6.5.18 Direktris mengembalikan kartu soal pada tempatnya. 6.5.19 Anak diminta untuk mengulang kartu soal F secara mandiri. 6.5.20 Jika anak sudah paham mengenai pengurangan bilangan bulat positif dengan positif, pembelajaran dapat dilanjutkan pada tema berikutnya. 7. Tema Pembelajaran: Pengurangan Bilangan Bulat Positif dengan Negatif 7.1 Tujuan langsung : Anak dapat melakukan pengurangan bilangan bulat positif dengan negatif 7.2 Syarat : Anak sudah mengetahui pengertian bilangan bulat 7.3 Usia : 9-10 tahun 7.4 Alat : - 1 papan bilangan bulat - 1 set biji bilangan, yang terdiri dari 100 biji bilangan bulat positif dan 100 biji bilangan bulat negatif - Kartu soal - Kertas dan pensil 7.5 Presentasi: 7.5.1 Direktris menyiapkan lokasi kerja. 7.5.2 Anak diajak untuk bermain, “ Mari bermain bilangan bulat bersama Ibu” 7.5.3 Anak diajak untuk membantu direktris menyiapkan alat peraga, “Mari membantu Ibu mengambil alat peraga papan bilangan bulat” 7.5.4 Anak diminta untuk duduk di sebelah kanan direktris. 7.5.5 Direktris meletakkan alat peraga di depan anak. 145

(165) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7.5.6 Direktris mengambil kartu soal G1 kemudian meletakkan di depan anak. 7.5.7 Direktris mengambil dua belas (12) biji bilangan warna merah kemudian meletakkan satu persatu pada baris pertama mulai dari lubang pertama. 7.5.8 Direktris berkata, “Kita akan mengurangi dua belas (12) dengan negatif tiga (-3), tetapi belum ada biji bilangan negatif pada papan maka kita belum bisa mengambil tiga (3) biji bilangan negatif.” 7.5.9 Direktris berkata, “Kita harus menambahkan tiga pasang biji bilangan yaitu tiga (3) biji bilangan warna merah dan tiga (3) biji bilangan warna biru agar dapat melakukan pengurangan.” 7.5.10 Direktris berkata, “Setelah itu kita dapat mengambil tiga (3) biji bilangan warna biru. Jadi, dua belas (12) dikurangi negatif tiga (-3) sama dengan lima belas (15). 146

(166) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7.5.11 Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya. 7.5.12 Direktris mengembalikan kartu soal pada tempatnya. 7.5.13 Direktris mengambil kartu soal G2 kemudian meletakkan di depan siswa. 7.5.14 Direktris mengambil tiga puluh (30) biji bilangan warna merah kemudian meletakkan satu persatu pada baris pertama mulai dari lubang pertama. 7.5.15 Direktris berkata, “Kita akan mengurangi tiga puluh (30) dengan negatif lima belas (-15), tetapi belum ada biji bilangan negatif pada papan maka kita belum bisa mengambil lima belas (15) biji bilangan negatif.” 7.5.16 Direktris berkata, “Kita harus menambahkan lima belas (15) pasang biji bilangan yaitu lima belas (15) biji bilangan warna merah dan lima belas (15) biji bilangan warna biru agar dapat melakukan pengurangan. 147

(167) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7.5.17 Direktris berkata, “Setelah itu kita dapat mengambil lima belas (15) biji bilangan warna biru. Jadi, tiga puluh (30) dikurangi negatif lima belas (-15) sama dengan empat puluh lima (45). 7.5.18 Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya. 7.5.19 Direktris mengembalikan kartu soal pada tempatnya. 7.5.20 Anak diminta untuk mempraktekkan kartu soal G secara mandiri. 7.5.21 Jika anak sudah paham mengenai pengurangan bilangan bulat positif dengan negatif, pembelajaran dapat dilanjutkan pada tema berikutnya. 8. Tema Pembelajaran: Pengurangan Bilangan Bulat Negatif dengan Positif 8.1 Tujuan langsung : Anak dapat melakukan pengurangan bilangan bulat negatif dengan positif 8.2 Syarat : Anak sudah mengetahui pengertian bilangan bulat 8.3 Usia : 9-10 tahun 8.4 Alat : - 1 papan bilangan bulat - 1 set biji bilangan, yang terdiri dari 100 biji bilangan bulat positif dan 100 biji bilangan bulat negatif - Kartu soal - Kertas dan pensil 8.5 Presentasi: 8.5.1 Direktris menyiapkan lokasi kerja. 8.5.2 Anak diajak untuk bermain, “ Mari bermain bilangan bulat bersama Ibu” 148

(168) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8.5.3 Anak diajak untuk membantu direktris menyiapkan alat peraga, “Mari membantu Ibu mengambil alat peraga papan bilangan bulat” 8.5.4 Anak diminta untuk duduk di sebelah kanan direktris. 8.5.5 Direktris meletakkan alat peraga di depan anak. 8.5.6 Direktris mengambil kartu soal H1 kemudian meletakkan di depan anak. 8.5.7 Direktris mengambil enam belas (16) biji bilangan warna biru kemudian meletakkan satu persatu mulai dari lubang pertama pada baris kedua. 8.5.8 Direktris berkata, “Kita akan mengurangi negatif enam belas (-16) dengan positif tujuh (7), tetapi belum ada biji bilangan positif pada papan maka kita belum bisa mengambil tujuh (7) biji bilangan positif.” 8.5.9 Direktris berkata, “Kita harus menambahkan tujuh pasang biji bilangan yaitu tujuh (7) biji bilangan warna merah dan tujuh (7) biji bilangan warna biru agar dapat melakukan pengurangan.” 149

(169) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8.5.10 Direktris berkata, “Setelah itu kita dapat mengambil tujuh (7) biji bilangan warna merah. Jadi, negatif enam belas (-16) dikurangi tujuh (7) sama dengan negatif dua puluh tiga (-23).” 8.5.11 Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya. 8.5.12 Direktris mengembalikan kartu soal pada tempatnya. 8.5.13 Direktris mengambil kartu soal H2 kemudian meletakkan di depan anak. 8.5.14 Direktris mengambil delapan belas (18) biji bilangan warna biru kemudian meletakkan satu persatu mulai dari lubang pertama pada baris kedua. 8.5.15 Direktris berkata, “Kita akan mengurangi negatif delapan belas (-18) dengan positif dua belas (12), tetapi belum ada biji bilangan positif pada papan maka kita belum bisa mengambil dua belas (12) biji bilangan positif.” 150

(170) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8.5.16 Direktris berkata, “Kita harus menambahkan dua belas (12) pasang biji bilangan yaitu dua belas (12) biji bilangan warna merah dan dua belas (12) biji bilangan warna biru agar dapat melakukan pengurangan. 8.5.17 Direktris berkata, “Setelah itu kita dapat mengambil dua belas (12) biji bilangan positif warna merah. Jadi, negatif delapan belas (-18) dikurangi dua belas (12) sama dengan negatif tiga puluh (-30).” 8.5.18 Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya. 8.5.19 Direktris mengembalikan kartu soal pada tempatnya. 8.5.20 Direktris mengambil kartu soal H3 kemudian meletakkan di depan anak. 151

(171) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8.5.21 Direktris mengambil dua puluh (20) biji bilangan warna biru kemudian meletakkan satu persatu mulai dari lubang pertama pada baris kedua. 8.5.22 Direktris berkata, “Kita akan mengurangi negatif dua puluh (-20) dengan positif dua (2), tetapi belum ada biji bilangan positif pada papan maka kita belum bisa mengambil dua (2) biji bilangan positif.” 8.5.23 Direktris berkata, “Kita harus menambahkan dua pasang biji bilangan yaitu dua (2) biji bilangan warna merah dan dua (2) biji bilangan warna biru agar dapat melakukan pengurangan.” 8.5.24 Direktris berkata, “Setelah itu kita dapat mengambil dua (2) biji bilangan warna merah. Jadi, negatif dua puluh (-20) dikurangi dua (2) sama dengan negatif dua puluh dua (-22).” 152

(172) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8.5.25 Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya. 8.5.26 Direktris mengembalikan kartu soal pada tempatnya. 8.5.27 Anak diminta untuk mengulang melakukan kegiatan untuk kartu soal H secara mandiri. 8.5.28 Jika anak sudah memahami cara melakukan pengurangan bilangan bulat negatif dengan positif, pembelajaran dapat dilanjutkan pada tema berikutnya. 9. Tema Pembelajaran: Pengurangan Bilangan Bulat Negatif dengan Negatif 9.1 Tujuan langsung : Anak dapat melakukan pengurangan bilangan bulat negatif dengan negatif 9.2 Syarat : Anak sudah mengetahui pengertian bilangan bulat 9.3 Usia : 9-10 tahun 9.4 Alat : - 1 papan bilangan bulat - 1 set biji bilangan, yang terdiri dari 100 biji bilangan bulat positif dan 100 biji bilangan bulat negatif - Kartu soal - Kertas dan pensil 9.5 Presentasi: 9.5.1 Direktris menyiapkan lokasi kerja. 9.5.2 Anak diajak untuk bermain, “ Mari bermain bilangan bulat bersama Ibu” 9.5.3 Anak diajak untuk membantu direktris menyiapkan alat peraga, “Mari membantu Ibu mengambil alat peraga papan bilangan bulat” 9.5.4 Anak diminta untuk duduk di sebelah kanan direktris. 9.5.5 Direktris meletakkan alat peraga di depan anak. 153

(173) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9.5.6 Direktris mengambil kartu soal I1 kemudian meletakkan di depan anak. 9.5.7 Direktris mengambil lima (5) biji bilangan warna biru kemudian meletakkan satu persatu mulai dari lubang pertama pada baris kedua. 9.5.8 Direktris berkata, “Kita akan mengurangi negatif lima (-5) dengan negatif lima (-5), maka kita dapat mengambil lima (5) biji warna biru. 9.5.9 Direktris berkata, “Jadi, negatif lima (-5) dikurangi negatif lima (-5) sama dengan nol (0). 9.5.10 Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya. 9.5.11 Direktris mengembalikan kartu soal pada tempatnya. 154

(174) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9.5.12 Direktris mengambil kartu soal I2 kemudian meletakkan di depan anak. 9.5.13 Direktris mengambil lima belas (15) biji bilangan warna biru kemudian meletakkan satu persatu mulai dari lubang pertama pada baris kedua. 9.5.14 Direktris berkata, “Kita akan mengurangi negatif lima belas (-15) dengan negatif sepuluh (-10), maka kita dapat mengambil sepuluh (10) biji warna biru. 9.5.15 Direktris berkata, “Jadi, negatif lima belas (-15) dikurangi negatif sepuluh (-10) sama dengan negatif lima (-5). 9.5.16 Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya. 9.5.17 Direktris mengembalikan kartu soal pada tempatnya. 155

(175) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9.5.18 Direktris mengambil kartu soal I3 kemudian meletakkan di depan anak. 9.5.19 Direktris mengambil lima (5) biji bilangan warna biru kemudian meletakkan satu persatu mulai dari lubang pertama pada baris kedua. 9.5.20 Direktris berkata, “Kita akan mengurangi negatif lima (-5) dengan negatif lima belas (-15), maka kita harus mengambil lima belas (15) biji negatif warna biru.” 9.5.21 Direktris berkata, “Kita sudah mempunyai lima (5) biji negatif berarti kurang 10 biji pada lubang biji negatif, maka kita perlu menambahkan sepuluh (10) pasang biji bilangan, yaitu sepuluh (10) biji warna merah dan sepuluh (10) biji warna biru.” 156

(176) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9.5.22 Direktris berkata, “ Setelah itu kita dapat mengambil lima belas (15) biji bilangan negatif warna biru.” 9.5.23 Direktris berkata, “Jadi, negatif lima (-5) dikurangi negatif lima belas (-15) sama dengan sepuluh (10). 9.5.24 Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya. 9.5.25 Direktris mengembalikan kartu soal pada tempatnya. 9.5.26 Anak diminta untuk mengulang kegiatan untuk kartu soal I secara mandiri. 9.5.27 Jika anak sudah memahami cara melakukan pengurangan bilangan bulat negatif dengan negatif, anak diminta untuk merapikan alat peraga dan mengembalikan ke tempat semula. 157

(177) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI CURRICULUM VITAE Agatha Risky Ratri merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Lahir di Sleman, 02 Februari 1992. Peneliti telah menyelesaikan pendidikan Taman Kanakkanan Xaverius Lampung Tengah pada tahun 19961998. Peneliti memperoleh jenjang pendidikan Sekolah Dasar di SD Kanisius Minggir 1998-2004. Pada tahun 2004-2007, peneliti memperoleh pendidikan menengah pertama di SMP Pangudi Luhur Moyudan. Pada tahun 2007-2010, peneliti memperoleh pendidikan menengah tingkat atas di SMA N 1 Godean. Pada tahun 2010, peneliti menempuh pendidikan tinggi di Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Ilmu Pendidikan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma. Selama menempuh bangku perkuliahan, peneliti juga mengikuti berbagai kegiatan untuk mengembangkan soft skills. Pada tahun 2011, peneliti mengikuti Pelatihan Pengembangan Kepribadian Mahasiswa I dan II. Peneliti telah mengikuti Kursus Mahir Dasar (KMD) pramuka pada tahun yang sama. Selanjutnya, peneliti mengikuti seminar internasional yang diselenggarakan oleh mahasiswa University of Arnhem/Nijmegen the Netherlands dengan tema “Philosophy with Children”. Peneliti terlibat aktif dalam berbagai kepanitiaan, diantaranya menjadi sie acara pada kegiatan lomba Public Speaking antarmahasiswa PGSD se DIY- Jateng. Peneliti telah mengikuti Workshop Montessori: Model pembelajaran untuk anak usia 3-6 tahun pada bulan Juli 2011– Agustus 2011. Peneliti juga mengikuti kegiatan English Club yang diselenggarakan oleh PGSD USD selama empat semester untuk mengembangkan kemampuan berbahasa Inggris. Peneliti juga berpaartisipasi dalam berbagai kegiatan lomba diantaranya menjadi peserta pada lomba Story Telling and Writing Contest antarmahasiswa PGSD se Jawa pada tahun 2012. Selanjutnya pada tahun 2013, peneliti mengikuti Program Kegiatan Mahasiswa dan berhasil lolos seleksi didanai DIKTI. 158

(178)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

RISET PASAR ALAT PERAGA EDUKATIF BERBASIS METODE MONTESSORI UNTUK ANAK USIA DINI RISET PASAR ALAT PERAGA EDUKATIF BERBASIS METODE MONTESSORI UNTUK ANAK USIA DINI.
0
7
19
BAB 1 PENDAHULUAN RISET PASAR ALAT PERAGA EDUKATIF BERBASIS METODE MONTESSORI UNTUK ANAK USIA DINI.
0
4
6
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI RISET PASAR ALAT PERAGA EDUKATIF BERBASIS METODE MONTESSORI UNTUK ANAK USIA DINI.
0
5
33
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN RISET PASAR ALAT PERAGA EDUKATIF BERBASIS METODE MONTESSORI UNTUK ANAK USIA DINI.
0
3
7
BAB 4 DATA RISET PASAR ALAT PERAGA EDUKATIF BERBASIS METODE MONTESSORI UNTUK ANAK USIA DINI.
1
3
20
BAB 5 ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN RISET PASAR ALAT PERAGA EDUKATIF BERBASIS METODE MONTESSORI UNTUK ANAK USIA DINI.
0
9
67
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN RISET PASAR ALAT PERAGA EDUKATIF BERBASIS METODE MONTESSORI UNTUK ANAK USIA DINI.
0
3
9
PENGGUNAAN ALAT PERAGA AKUARIUM BILBUL UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP BILANGAN BULAT PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS IV SEKOLAH DASAR.
0
0
37
MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA TERHADAP OPERASI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN BILANGAN BULAT MELALUI PEMBELAJARAN DENGAN MENGGUNAKAN ALAT PERAGA KELERENG.
0
0
14
PENGEMBANGAN PERMAINAN MATEMATIKA SIRKUIT PINTAR UNTUK MENINGKATKAN PENGUASAAN KONSEP SIFAT OPERASI BILANGAN BULAT SISWA SMP KELAS VII -
0
0
24
TINGKAT KEPUASAN SISWA DAN GURU TERHADAP PENGGUNAAN ALAT PERAGA MATEMATIKA BERBASIS METODE MONTESSORI
0
0
264
PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR SISWA ATAS PENGGUNAAN ALAT PERAGA MATEMATIKA BERBASIS METODE MONTESSORI SKRIPSI
0
0
275
PERSEPSI GURU DAN SISWA TERHADAP ALAT PERAGA UNTUK PERTUKARAN DAN PENGELOMPOKAN BERBASIS METODE MONTESSORI SKRIPSI
0
0
183
PERSEPSI GURU DAN SISWA TERHADAP ALAT PERAGA BILANGAN BULAT BERBASIS METODE MONTESSORI SKRIPSI
0
0
210
TINGKAT KEPUASAN SISWA DAN GURU TERHADAP PENGGUNAAN ALAT PERAGA MATEMATIKA BERBASIS METODE MONTESSORI
0
0
317
Show more