SEJARAH PEMIKIRAN KI HADJAR DEWANTARA TENTANG PEREMPUAN TAHUN 1922-1959 SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sejarah Pada Program Studi Sejarah

Gratis

0
0
111
1 month ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI SEJARAH PEMIKIRAN KI HADJAR DEWANTARA TENTANG PEREMPUAN TAHUN 1922-1959 SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sejarah Pada Program Studi Sejarah Oleh : Iva Olami Hasdani NIM. 144314007 PROGRAM STUDI SEJARAH FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MOTTO berjalan tak seperti rencana adalah jalan yang sudah biasa jalan satu-satunya, jalani sebaik kau bisa -FSTVLST/ GAS!- iv

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Skripsi ini saya persembahkan untuk Bapak, Ibuk dan Mbak Ernest yang secara nyata mendukung saya dalam setiap pergumulan menyelesaikan skripsi. Tentu saja, skripsi ini juga saya persembahkan untuk penulisan sejarah mengenai perempuan di Indonesia. v

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Abstrak Iva Olami Hasdani, Sejarah Pemikiran Ki Hadjar Dewantara Tentang Perempuan Tahun 1922-1959. Skripsi. Yogyakarta: Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma, 2019. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab tiga permasalahan. Pertama apa yang melatar belakangi pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang perempuan. Kedua apa saja buah pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang perempuan. Ketiga bagaimana pengaruh pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang perempuan. Metode yang digunakan dalam penelitian skripsi ini yaitu metode sejarah yang tahapnya antara lain heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Sumber primer yang dijadikan objek penelitian dalam skripsi ini yaitu tulisantulisan Ki Hadjar Dewantara yang terdapat dalam bukunya yang berjudul “Kebudayaan”, maupun dalam artikel-artikel pada majalah Wasita. Skripsi ini menggunakan perspektif sejarah pemikiran dan teori gender milik Jane Pilche dan Imelda Whelehan. Kemudian beberapa konsep juga digunakan untuk mempermudah membatasi penelitian yaitu konsep perempuan Jawa dan konsep bangsawan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemikiran Ki Hadjar Dewantara mengenai perempuan yaitu kodrat bagi kaum perempuan adalah hal yang utama. Kodrat bagi perempuan menurut Ki Hadjar Dewantara ialah menjadi ibu yang mengandung, melahirkan serta menyusui anaknya. Kodrat perempuan yang menjadi gagasan Ki Hadjar Dewantara merupakan aspek biologis yang dimiliki oleh perempuan. Kendati demikian, Ki Hadjar Dewantara tetap memberi ruang bagi kaum perempuan untuk berkarya dalam bidang pendidikan serta mempunyai peran dan kedudukan yang sama dengan laki-laki. Kata Kunci: Ki Hadjar Dewantara, Sejarah Pemikiran, Perempuan viii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Abstract Iva Olami Hasdani, Sejarah Pemikiran Ki Hadjar Dewantara Tentang Perempuan Tahun 1922-1959. Skripsi. Yogyakarta: Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma, 2019. This study is supposed to answer three main problems. First, what was beyond Ki Hadjar Dewantara’s thought on woman, what are his thought on woman and the last one is how Ki Hadjar Dewantara’s thought on woman affected. The method which is used on the study is historical method, that could be divided into some steps. Those steps are heuristic, source criticism, interpretation and historiographic. The primary sources of the study are his writing on his book entitled “Kebudayaan” or some of essays on the Wasita Magazine. Jane Pilche and Imelda Whelehan writings are used on the study for the historical thought perspective and gender studies. Then some concepts also apply on this study to make a clear emphasize on the woman and nobility concept in Javanese culture. Through all those methods and perspective, this study has successfully drawn on what Ki Hadjar Dewantara’s thought on woman. He emphasized on the nature of a women as a mother. He believed that biologically woman has their special roles as a mother which is supposed to be respected, such as give birth and caring their children. However, He still gave a room for women to work in the education perspective and have the same roles compares to men. Keywords : Ki Hadjar Dewantara, History of thought, Woman. ix

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Skripsi bagi saya adalah suatu proses akademik yang cukup melelahkan. Namun saya bersyukur karena saya dapat menyelesaikan skripsi ini dengan lancar. Meski dalam perjalanan mengerjakan skripsi, saya selalu menemui kesulitan, akan tetapi banyak orang-orang yang selalu mendukung. Orang-orang tersebutlah yang memacu saya untuk terus semangat meraih apa yang saya impikan setelah saya lulus dari kuliah. Maka dari itu saya ingin mengucapkan banyak terimakasih kepada : 1. Tuhan Yesus Kristus atas berkat, perlindungan, kesehatan serta penyertaan dalam kehidupan saya, terlebih saat saya bergumul pada proses perkuliahan dan skripsi. 2. Kedua orang tua saya, Bapak Purwanto dan Ibu Sri Suprihatin, serta kakak saya, Ernesta Katrini, yang tanpa henti memberi kasih sayang serta dukungan untuk terus berkarya dalam hidup. 3. Dosen pembimbing skripsi, Bapak Heri Priyatmoko, M.A, yang selalu memberikan pencerahan serta kesabaran dalam membimbing skripsi saya. 4. Para dosen Program Studi Sejarah, (alm) Ibu Lucia Juningsih, Bapak Hery Santosa, Bapak Silverio R.L. Aji Sampurno, Bapak Yerry Wirawan, Bapak Heri Priyatmoko, Romo Baskara T. Wardaya, Bapak Hieronymus Purwanta, Bapak Manu, Ibu Retno, Ms. Siska, dan Mbak Diah yang telah memberikan serta menambah wawasan saya mengenai sejarah Indonesia dan sejarah Dunia. 5. Mas Doni selaku staf Sekretariat Program Studi Sejarah Fakultas Sastra yang telah banyak membantu proses administrasi perkuliahan. 6. Pihak Perpustakaan serta Museum Kirti Griya Dewantara yang telah banyak membantu serta memfasilitasi saya dalam menulis skripsi. x

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7. Pihak Perpustakaan Universitas Sanata Dharma yang telah banyak membantu serta memfasilitasi saya dalam menulis skripsi. 8. Teman-teman seperjuangan saya di Program Studi Sejarah angkatan 2014 Axl Gerard Beelt, Gustanto, Katon Mahanani, Gregorius Aditya Wicaksana, Bimo Bagas Basworo, Fransiska Sri Astuti, Tiur Angelina O.B.N, Rosma, Charles Advendi Kurniawan, Ageng Pasek Dharmajati, Luis Christian Anderson, Fransiskus Hendi, Andika Gilang Nugroho,dan Achmad Hidayat Fajar. 9. Teman-teman Program Studi Sejarah baik kakak tingkat maupun adik tingkat yang sudah memberikan warna dalam proses belajar saya di Sejarah. 10. Teman-teman Teater Seriboe Djendela yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, terimakasih karena sudah memperbolehkan saya masuk dalam lingkar kekeluargaan yang luar biasa. 11. Teman-teman panitia JAKSA 2015 dan JAKSA 2016 atas seluruh dinamikanya, terimakasih sudah mengajarkan saya tentang kesabaran dan tanggung jawab. 12. Orang-orang terkasih saya Yohanes Marino, Lilis Pawestri, Agatha Yuansa, Melinda Kristiana, Dhyaning Putri, Laurensius Dhion, Agatha Carniela, Ayu Maharani, Waluyo Adi Santoso, dan Guruh Nugroho Aji atas seluruh dukungan dan cinta kasih yang luar biasa. Pada kesempatan ini penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi tersebut, masih banyak kesalahan dan kekurangan. Maka penulis sangat berterimakasih jika ada yang berkenan memberikan kritik serta saran. xi

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL................................................................................................i HALAMAN PERSETUJUAN................................................................................ii HALAMAN PENGESAHAN................................................................................iii HALAMAN MOTTO.............................................................................................iv HALAMAN PERSEMBAHAN..............................................................................v HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA............................................vi PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS..........vii ABSTRAK............................................................................................................viii ABSTRACT............................................................................................................ix KATA PENGANTAR.............................................................................................x DAFTAR ISI..........................................................................................................xii BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1 1.1 Latar Belakang.............................................................................................1 1.2 Identifikasi dan Pembatasan Masalah..........................................................3 1.2.1 Identifikasi Masalah.........................................................................3 1.2.2 Pembatasan Masalah........................................................................4 1.3 Rumusan Masalah........................................................................................5 1.4 Tujuan Penelitian..........................................................................................5 1.5 Manfaat Penelitian........................................................................................5 1.6 Landasan Teori.............................................................................................6 1.7 Tinjauan Pustaka..........................................................................................8 1.8 Metode Penelitian.......................................................................................12 1.9 Sistematika Penulisan.................................................................................14 BAB II BIOGRAFI KI HADJAR DEWANTARA...............................................15 2.1 Ki Hadjar Dewantara dan Keluarga Pura Pakualaman..............................15 2.2 Ki Hadjar Dewantara dan Kejawaannya....................................................20 2.3 Pendidikan Ki Hadjar Dewantara...............................................................25 BAB III PEREMPUAN DALAM KACAMATA KI HADJAR DEWANTARA.......................................................................................32 3.1 Ki Hadjar Dewantara yang Jurnalis...........................................................32 3.2. Pandangan Ki Hadjar Dewantara Mengenai Perempuan...........................40 3.2.1 Persamaan Hak..................................................................................47 xii

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.2.2 Pendidikan.........................................................................................49 3.2.3 Kesehatan..........................................................................................55 3.2.4 Organisasi..........................................................................................57 3.2.5 Pekerjaan...........................................................................................59 BAB IV PENGARUH PEMIKIRAN KI HADJAR DEWANTARA MENGENAI PEREMPUAN.........................................................................................67 4.1 Penerapan Pemikiran Ki Hadjar Dewantara Tentang Perempuan Dalam Wanita Taman Siswa...............................................................................67 4.2 Peran Dan Kedudukan Wanita Taman Siswa..........................................75 4.3 Pengaruh Pemikiran Ki Hadjar Dewantara Mengenai Perempuan..........79 4.3.1 Perempuan dan Kodratnya..............................................................79 4.3.2 Pemikiran Soekarno Mengenai Perempuan....................................82 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN.................................................................90 5.1 Kesimpulan...............................................................................................90 5.2 Saran.........................................................................................................93 DAFTAR PUSTAKA............................................................................................95 xiii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hari Pendidikan Nasional merupakan sebuah momentum untuk mengenang jasa pahlawan pada bidang pendidikan. Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada tanggal 2 Mei setiap tahunnya bukan tanpa alasan. Tanggal tersebut merupakan tanggal lahir Ki Hadjar Dewantara tepat pada tahun 1889.1 Seluruh masyarakat Indonesia, khususnya instansi pendidikan, selalu memperingatinya dengan cara upacara bendera. Kini, tanggal lahir tersebut selalu dikenang tidak hanya untuk mengingat kembali seorang Ki Hadjar Dewantara, tetapi juga untuk merefleksikan pendidikan Indonesia dahulu dan kini. Berkat jasanya besarnya ini, Ki Hadjar Dewantara kemudian dikenal sebagai Bapak Pendidikan Indonesia. Keseriusan dan dedikasi yang tinggi dalam bidang pendidikan membuatnya bergairah untuk memperbaiki pendidikan di Indonesia kala itu. Beliau percaya bahwa pendidikan dapat membawa Indonesia menuju kemerdekaan. Selain itu, kegelisahannya terhadap sistem pendidikan Belanda yang hanya menguntungkan Belanda dapat terhapus dengan pendidikan kebangsaan ala Ki 1 Darsiti Soeratman, Ki Hadjar Dewantara, (Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, 1983), hal 8.

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 Hadjar Dewantara. Meskipun dalam perjuangannya beliau mendapat kecaman dari pihak Belanda, tidak membuat dirinya putus asa. Perjuangannya dalam bidang pendidikan diwujudnyatakan dengan membangun perguruan Tamansiswa.2 Dalam praktek pengajarannya, Tamansiswa selalu menyelipkan pengetahuan tentang Indonesia yang tidak pernah diajarkan di sekolah-sekolah milik Belanda. Selain Tamansiswa, gagasannya mengenai pendidikan tertuang dalam semboyan dan sistem tripusat pendidikan. Keduanya sangat relevan dengan tujuan dan cita-cita Ki Hadjar Dewantara serta perguruan Tamansiswanya. Semboyan pendidikan Ki Hadjar Dewantara pertama yaitu Ing Ngarsa Sung Tuladha yang berarti bahwa seorang pendidik harus selalu di depan memberi teladan serta contoh yang baik dalam perkataan maupun perbuatan. Kedua Ing Madya Mangun Karsa yaitu seorang pendidik harus selalu berada di tengah-tengah muridnya untuk memotivasi, memberikan semangat dan dukungan agar murid-murid selalu produktif dalam menghasilkan karya. Ketiga yaitu Tut Wuri Handayani artinya seorang pendidik harus selalu mendukung murid-muridnya agar berkarya ke arah yang benar. Siapa sangka seorang Ki Hadjar Dewantara juga pernah menulis tentang perempuan di beberapa surat kabar dan majalah. Adanya anggapan bahwa seorang 2 Abdurrachman Surjomihardjo, Ki Hadjar Dewantara Dan Tamansiswa Dalam Sejarah Indonesia Modern, (Jakarta: Sinar Harapan,1986), hal 87.

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 perempuan hanya masak, macak, manak semakin membatasi gerak perempuan.3 Bahkan perempuan tidak boleh mengenyam pendidikan karena adanya asumsi bahwa takdir perempuan nantinya hanya akan melayani suami serta anak-anak dan mengurus rumah tangga. Pemikiran serta tulisan-tulisanya mengenai perempuan adalah sisi lain mengenai Ki Hadjar Dewantara yang tidak banyak orang ketahui. Ki Hadjar Dewantara mampu menghadirkan gagasan baru mengenai permasalahan yang tidak banyak disinggung selama ini. Karena itulah studi ini melacak mengenai pemikiran Ki Hadjar Dewantara mengenai perempuan serta pengaruhnya. 1.2 Identifikasi dan Pembatasan Masalah 1.2.1 Identifikasi Ki Hadjar Dewantara adalah salah satu tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia. Perjuangannya bertumpu pada pemikirannya tentang pendidikan yang direalisasikan lewat Tamansiswa pada 3 Juli 1922. Pemikirannya ini tentu saja tidak sebatas tentang pendidikan saja, tetapi juga tentang keadaan politik pemerintahan Belanda, kesenian, kebudayaan, juga perempuan. Salah satu hal yang ditulis Ki Hadjar Dewantara yaitu tentang perempuan. Sebagai seorang bangsawan, Ki Hadjar Dewantara tidak luput dari aturan dan adat yang mengikat. Namun dirinya mencoba memberikan narasi lain mengenai perempuan. 3 Atik Catur Budiati, Aktualisasi Diri Perempuan Dalam Sistem Budaya Jawa: Persespai Perempuan Terhadap Nilai-Nilai Budaya Jawa Dalam Mengaktualisasikan Diri, (Pamator, Vol. 3, No. 1, 2010), hal 51.

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 1.2.2 Pembatasan Masalah Penelitian akan dibatasi pada tulisan Ki Hadjar Dewantara tentang perempuan yang ada pada bukunya yang berjudul Kebudayaan terbitan Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa tahun 1967. Terdapat Sembilan tulisan tentang perempuan yang ditulisnya antara tahun 1928 hingga 1935. Tulisan-tulisan tersebut berjudul Kodrat Perempuan, Perempuan Dalam Dunia Pendidikan, Pengaruh Perempuan Pada Barang Dan Tempat Kelilingnya, Perempuan dan Sport, Wanita Tamansiswa, Vrouwenraad dalam Tamansiswa, Perempuan Didalam Pertumbuhan Adab, Kemajuan Adab Perempuan, Kongres Jakarta dan Protes Semarang, Berkobarnya Rasa Kehormatan Dan Rasa Kebangsaan, Lapangan Kerja Bagi Perempuan. Selain itu, juga analisis beberapa foto-foto Ki Hadjar Dewantara dan perempuan di Taman Siswa. Kemudian dalam konteks waktu, akan dibatasi dari tahun 1922 sampai tahun 1959. Tahun 1922 adalah tahun pertama Wanita Taman Siswa didirikan meskipun baru pada tahun 1931 dibentuk secara formal. Hal ini dapat menjadi acuan dasar munculnya gagasan Ki Hadjar Dewantara tentang perempuan. Kemudian tahun 1959 adalah tahun dimana Ki Hadjar Dewantara wafat. Dari sini pula, dapat diketahui seberapa jauh pengaruh pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang perempuan terhadap dinamika gerakan perempuan.

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 1.3 Rumusan Masalah Berdasarkan pemaparan di atas, maka diajukan beberapa pertanyaan sebagai fokus penelitian, yakni: a) Apa yang melatarbelakangi Ki Hadjar Dewantara memiliki kepedulian terhadap perempuan ? b) Bagaimana pandangan Ki Hadjar Dewantara terhadap perempuan ? c) Bagaimana pengaruh pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang perempuan terhadap masyarakat ? 1.4 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk : a) Mengetahui latar belakang Ki Hadjar Dewantara memiliki kepedulian terhadap perempuan. b) Mengetahui pandangan Ki Hadjar Dewantara terhadap perempuan. c) Mengetahui pengaruh pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang perempuan terhadap masyarakat. 1.5 Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman baru mengenai sejarah pemikiran tentang perempuan lewat kacamata seorang Ki Hadjar Dewantara. Selain itu hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 penulisan sejarah Indonesia mengenai perempuan. Hasil penelitian ini juga diharapkan membawa angin segar terhadap pandangan masyarakat tentang Ki Hadjar Dewantara bahwa ia bukan hanya berfokus pada bidang pendidikan saja. 1.6 Landasan Teori Penelitian sejarah diwajibkan untuk memiliki teori pengetahuan yang dipinjam dari suatu teori yang berkesinambungan dengan topik penelitian. Berdasarkan keterangan diatas, penelitian ini akan menggunakan teori gender yang ditulis oleh Jane Pilcher dan Imelda Whelehan dalam bukunya yang berjudul Fifty Key Concepts in Gender Studies. Dikatakan bahwa gender digunakan sebagai analisis untuk menggambarkan sebuah garis pemisah antara sex biologis serta cara untuk menginformasikan perilaku-perilaku dan kemampuan-kemampuan yang nantinya akan ditetapkan sebagai masculine atau feminim.4 Selain itu, akan menggunakan beberapa konsep guna melengkapi teori dalam penelitian ini. Konsep-konsep tersebut yaitu konsep perempuan Jawa dan konsep bangsawan serta menggunakan perspektif sejarah pemikiran. Konsep dan perspektif tersebut digunakan untuk membatasi wilayah penelitian yang akan diteliti. 1. Konsep Perempuan Jawa 4 Jane Pilcher -melda Wheleman, Fifty Key Concepts in Gender Studies, (London: SAGE Publications Ltd., 2004).

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 Perempuan dalam budaya Jawa diidentikkan dengan istilah kanca wingking serta garwa atau sigaraning nyawa.5 Kedua istilah ini sangat melekat pada perempuan terutama mereka yang sudah menikah. Pada konsep ini dijelaskan bahwa perempuan jawa sangat identik dengan kultur budaya jawa seperti halus, tenang, kalem, tidak suka konflik, mementingkan harmoni, menjunjung tinggi nilai keluarga, mampu mengerti dan memahami orang lain, sopan, pengendalian diri tinggi, daya tahan untuk menderita tinggi, memegang peranan secara ekonomi, dan setia atau loyalitas tinggi.6 2. Konsep Bangsawan : Bangsawan dalam masyarakat Jawa lebih akrab disebut sebagai priyayi. Menurut Sartono Katodirdjo priyayi berasal dari kata para yayi (para adik) yang dimaksud adik dari raja.7 Dalam struktur sosial masyarakat jawa, priyayi berada pada strata sosial tertinggi. Maka priyayi merupakan orang yang sangat berpengaruh dalam struktur pemerintahan maupun dalam kehidupan sosialnya. Golongan priyayi sangat mengeksklusifkan dirinya karena sangat membatasi pergaulan dengan golongan di bawahnya termasuk para rakyat jelata. 5 Christina S. Handayani dan Ardhian Novianto, Kuasa Wanita Jawa, (Yogyakarta: LKiS, 2004), hal 118-120. 6 7 Ibid., hal 130. Sartono Kartodirdjo dkk, Perkembangan Peradaban Priyayi, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1987), hal 3.

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8 Penelitian ini menggunakan perspektif sejarah pemikiran. Menurut Kuntowijoyo, sejarah pemikiran adalah sejarah yang dilakukan pada perorangan.8 Pemikiran tersebut mempunyai tiga pendekatan yaitu kajian teks, konteks sejarah, dan kajian hubungan antara teks dan masyarakat.9 Kajian teks melihat bagaimana seorang tokoh mencetuskan pemikirannya seperti genesis pemikiran, konsistensi pemikira, evolusi pemikiran, sistematika pemikiran, varian pemikiran, komunikasi pemikiran, serta kesinambungan pemikiran. Konteks sejarah dilihat dari condongnya sebuah pemikiran pada bidang tertentu misalnya pendidikan atau perempuan. Sedangkan kajian hubungan antara teks dan masyarakat yaitu melihat bagaimana hubungan antara hasil pemikiran tokoh tersebut dengan lingkungan sekitarnya seperti dampaknya dengan masyarakat. 1.7 Tinjauan Pustaka Ada penulisan terkait yang bertema perempuan ataupun Ki Hadjar Dewantara. Pada buku berjudul Visi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara Tantangan dan Relevansi karya Bartolomeus Samho membahas tentang biografi Ki Hadjar Dewantara sejak masih kecil hingga dewasa. Dalam buku ini banyak membahas perihal gagasan Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan Tamansiswa. 8 Kuntowijoyo, Metodologi Sejarah, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2003), hal 190. 9 Ibid., hal 191.

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9 Buku terkait lainnya berjudul Sejarah Perempuan Indonesia Gerakan Dan Pencapaian karya Cora Vreede- De Stuers. Meskipun buku ini tidak membahas tentang Ki Hadjar Dewantara, namun dalam buku ini dibahas bagaimana gerakan perempuan di Indonesia muncul pertama kali. Selain itu, buku ini juga membahas mengenai adat-istiadat Indonesia dalam memandang perempuan. Permasalahan mengenai sistem kekerabatan serta sistem perkawinan yang mengikat perempuan Indonesia dapat dihapuskan meskipun tidak serta merta dengan pendidikan.10 Tema yang sama namun dengan pendekatan berbeda yaitu artikel karya Yuliati berjudul “Konsep Pendidikan Perempuan di Tamansiswa” pada jurnal yang berjudul Sejarah dan Budaya. Artikel tersebut mengatakan bahwa perempuan sangat berperan dalam bidang pendidikan. Tamansiswa telah melihat bahwa perempuan mempunyai peranan penting dalam mendewasakan anak-anak. Emansipasi perempuan juga diperhatikan tetapi Tamansiswa tetap berpegang teguh pada kodrat perempuan. Oleh karena itu pada kasus ini, Tamansiswa sangat menerapkan sistem among yang bermateri pendidikan kebangsaan, idealisme, dan cinta tanah air.11 Studi berjudul Aktualisasi Diri Perempuan Dalam Sistem Budaya Jawa (Persepsi Perempuan Terhadap Nilai-Nilai Budaya Jawa Dalam Mengaktualisasikan Diri) karya Atik Catur Budiati. Dijelaskan bahwa proses perubahan sosial membawa 10 Cora Vreede- De Stuers, Sejarah Perempuan Indonesia Gerakan Dan Pencapaian, (Jakarta: Komunitas Bambu, 2008). 11 Yuliati. (Konsep Pendidikan Perempuan di Tamansiswa). http://journal.um.ac.id/index.php/sejarah-dan-budaya/article/view/5919 pada 5 April 2017.

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 perubahan pola pikir terhadap nilai-nilai budaya Jawa. Budaya Jawa yang patriarki mulai berubah nilainya sehingga perempuan Jawa kini memiliki kapasitas untuk mengembangkan potensi dirinya. Hal ini membuktikan bahwa perempuan mampu mengembangkan diri tidak hanya dalam lingkup domestik saja tetapi juga ruang publik.12 Selanjutnya terdapat penelitian skripsi dengan tema Ki Hadjar Dewantara milik Felisitas Berni Ora. Skripsi tersebut berjudul Peranan Ki Hadjar Dewantara Dalam Memajukan Pendidikan Pribumi Tahun 1922-1930. Skripsi tersebut menyatakan bahwa terdapat tiga faktor yang mendorong Ki Hadjar Dewantara dalam memajukan pendidikan yaitu politik, ekonomi dan sosial. Faktor politik yaitu berkuasanya Pemerintah Belanda pada waktu itu yang membuat rakyat Indonesia merasa terpuruk. Kedua yaitu faktor ekonomi dimana tanam paksa membuat rakyat hanya semakin menderita. Ketiga yaitu faktor sosial dimana keadaan pada waktu itu membuat jurang pemisah antara kaum elit atau bangsawan dan priyayi menjadi semakin tebal dengan rakyat biasa. Skripsi milik Felisitas Berni Ora tersebut juga meneliti mengenai bagaimana upaya-upaya Ki Hadjar Dewantara dalam mendirikan Taman Siswa pada tahun 19221930.13 Dalam menjalankan Taman Siswanya Ki Hadjar Dewantara membuat asas- 12 Atik Catur Budiati, op.cit., Felisitas Berni Ora, Skripsi: Peranan Ki Hadjar Dewantara Dalam Memajukan Pendidikan Pribumi Tahun 1922-1930”, (Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma, 2011). 13

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11 asas hingga dasar-dasar Taman Siswa yang berisi mengenai hak dan kewajiban para anggota Taman Siswa. Tidak hanya mengenai bagaimana usaha Ki Hadjar Dewantara dalam memajukan Taman Siswa, dalam skripsi ini juga dituliskan mengenai hambatan-hambatan Taman Siswa. Hambatan-hambatan tersebut seperti pajak rumah tangga, semakin banyaknya murid-murid yang ingin bersekolah di Taman Siswa, hingga hambatan dari Pemerintah Belanda yaitu Ordonansi Sekolah Liar. Kemudian skripsi tersebut juga menuliskan mengenai dampak usaha-usaha Ki Hadjar Dewantara dalam dampak politik, ekonomi, sosial, kesenian, dan pendidikan. Dampak politik yaitu Taman Siswa menjadi tempay mendidik generasi muda yang mempunyai jiwa nasional. Dampak ekonomi yaitu menghasilkan anak diidk yang mandiri dan mempunyai karya nyata dalam masyarakat serta dapat mengurangi pengangguran. Dampak sosial yaitu Ki Hadjar Dewantara mampu membuktikan pada pemerintah Belanda waktu itu bahwa dengan daya , upaya serta usaha sendiri, rakyat Indonesia dapat berkarya untuk kemajuan bangsanya. Dampak kesenian yaitu Taman Siswa selalu memasukkan kesenian seperti gamelan dan tari-tarian dalam kegiatan belajar mengajar. Kemudia dampak pendidikan yaitu tersebarnya sekolah Taman Siswa ke berbagai daerah di dalam pulau Jawa maupun luar pulau Jawa. Kemudian semboyan Tut Wuri Handayani menjadi semboyan resmi pendidikan di Indonesia hingga sekarang.

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 1.8 Metode Penelitian Rancangan serta analisis data yang digunakan dalam penelitian ini berupa deskriptif naratif, karena akan menuliskan bagaimana pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang perempuan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode sejarah yang terdiri dari beberapa tahap yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. 1. Heuristik : Langkah heuristik atau pengumpulan sumber ditempuh melalu studi arsip, studi pustaka maupun film. Studi arsip dan studi pustaka dilakukan dengan mengumpulkan sumber-sumber primer dan sumber terkait serta referensi lainnya tentang Ki Hadjar Dewantara dan Perempuan. Sumber-sumber tersebut didapat dari majalah Wasita, Poesara serta buku yang berjudul Kebudayaan karya Ki Hadjar Dewantara yang diterbitkan oleh Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa. Dalam melakukan studi arsip dan studi pustaka, penelitian dilakukan di Perpustakaan Kirti Griya Taman Siswa dan Perpustakaan Universitas Sanata Dharma. Film yang digunakan berjudul “Tokoh Nasional Ki Hadjar Dewantara” diproduksi oleh Perusahaan Film Nasional. Dalam film tersebut, tokoh Ki Hadjar Dewantara bukan diperagakan oleh aktor melainkan oleh dirinya sendiri. Film yang disutradarai oleh RM. Soetarto dan Mardhani S. Dipo M.A bercerita mengenai perjalanan Ki Hadjar Dewantara dalam usahanya memperjuangkan kemerdekaan melalui Taman Siswa. Selain itu dalam film

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 ini juga ditayangkan wawancara salah seorang murid Taman Siswa dengan Ki Hadjar Dewantara mengenai perjalanan hidup sewaktu tergabung dalam Indische Partij. 2. Kritik sumber : Setelah sumber-sumber yang akan digunakan terkumpul, tahap selanjutnya yaitu memeriksa data melalui kritik sumber. Sumber yang sudah didapat kemudian dibandingkan satu dengan yang lainnya. Jika sumber yang dibandingkan sudah sesuai dengan topik penelitian, maka akan digunakan dalam tahap selanjutnya. Sebaliknya jika sumber tidak sesuai maka sumber tersebut tidak dipakai pada tahap selanjutnya. 3. Interpretasi : Metode penelitian selanjutnya yaitu interpretasi sumer. Data yang sudah diperoleh kemudian direkonstruksi untuk mendapatkan analisis yang sesuai dengan sejarah pemikiran Ki Hadjar Dewantara maupun tentang sejarah pemikiran tentang perempuan. Selanjutnya analisis tersebut akan menghasilkan fakta yang sesuai dengan topik penelitian. 4. Historiografi : Historiografi atau penulisan sejarah merupakan tahap akhir dari metode penelitian sejarah. Fakta-fakta yang dihasilkan pada tahap sebelumnya kemudian dituliskan ke dalam laporan penelitan dalam bentuk skripsi.

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 1.9 Sistematika Penulisan Penulisan akan diawali dengan bab I yang mencakup pendahuluan yang berisi latar belakang pemilihan topik, pembatasan masalah, rumusan masalah, kerangka teori, tinjauan pustaka, tujuan dan manfaat penelitian, dan sistematika. Selanjutnya bab II akan membahas mengenai biografi Ki Hadjar Dewantara dan hasil pemikiran Ki Hadjar Dewantara tahun 1922 hingga 1941. Kemudian pada bab III akan membahas mengenai perempuan dalam kacamata Ki Hadjar Dewantara tahun 19421945. Bab IV akan membahas mengenai perbandingan persepsi antara Ki Hadjar Dewantara dengan tokoh lain mengenai perempuan tahun 1945-1959. Pada bab V sebagai bab penutup akan berisi tentang kesimpulan dari penulisan bab-bab sebelumnya serta jawaban dan setiap rumusan masalah.

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 BAB II BIOGRAFI KI HADJAR DEWANTARA 2.1 Ki Hadjar Dewantara Dan Keluarga Pura Pakualaman Telah banyak studi pustaka yang menulis tentang Ki Hadjar Dewantara antara lain Darsiti Soeratman,1 Sajoga,2 Gerfasius Tasen,3. Dalam studi ini, biografi Ki Hadjar Dewantara dihadirkan kembali untuk mengingat bagaimana karakter dan pemikiran Ki Hadjar Dewantara dibentuk. Akan tetapi, biografi Ki Hadjar Dewantara dibatasi mengenai interaksi masa kecil di istana, adat istiadat budaya Jawa, dan 1 Darsiti Soeratman menulis buku biografi yang berjudul Ki Hadjar Dewantara. Buku tersebut berisi mengenai kehidupan Ki Hadjar Dewantara mulai dari lingkungan tempat tinggal, pendidikan, upaya-upaya dalam proses mencapai kemerdekaan, hingga perjalanan Ki Hadjar Dewantara dalam hukuman buangnya. Selain itu, buku tersebut juga membahas tentang proses Ki Hadjar Dewantara pada Taman Siswa salah satunya saat melawan Ordonansi Sekolah Liar tahun 1932. 2 Sajoga menulis biografi mengenai Ki Hadjar Dewantara dalam buku yang berjudul Taman Siswa 30 Tahun. Tulisan tersebut diberi judul Riwayat Perjuangan Tamansiswa 19221952 berisi tentang proses awal mulanya terbentuknya Taman Siswa hingga pada massa Indonesia Merdeka. Isi tulisan mengenai Ki Hadjar Dewantara antara lain tentang karirnya di perpolitikan bersama Sarekat Islam, Indische Partij, hingga pada massa pembuangannya di Belanda. Penulisan biografi ini masih berlanjut hingga pulangnya Ki Hadjar Dewantara dari Belanda kembali ke Indonesia. 3 Studi pustaka berupa skripsi milik Gerfasius Tasen meneliti perihal kehidupan Ki Hadjar Dewantara ketika berada di Belanda untuk menjalani pengasingan. Skripsi yang berjudul “Pengasingan Ki Hadjar Dewantara (1913-1917)” memuat mengenai apa saja yang melatar-belakangi Ki Hadjar Dewantara hingga dirinya diberi hukuman tersebut. Selain itu, dituliskan juga mengenai dampak pengasingan tersebut terhadap pendidikan di Indonesia.

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 perkembangan pendidikan Ki Hadjar Dewantara. Pembatasan tersebut bertujuan supaya tidak menyimpang dengan topik penelitian yang ditulis. Meninggal sebagai warga biasa, Ki Hadjar Dewantara tetap tercatat sebagai keturunan bangsawan. Lahir pada 2 Mei 1889 darah kebangsawanannya berasal dari sang ayah yaitu K.P.H Suryoningrat, anak dari Sri Paku Alam III.4 Sri Paku Alam III menikah dengan puteri B.P.H Puger yaitu anak Sri Sultan Hamengku Buwono II.5 Dengan begitu darah kebangsawanan Ki Hadjar Dewantara tidak hanya dari trah Pura Pakualaman tetapi juga dari Keraton Yogyakarta. Nama kecilnya yaitu Suwardi yang bergelar Raden Mas. Ayahnya, K.P.H Suryaningrat, adalah pewaris tahta sebagai raja selanjutnya. Akan tetapi hal ini tidak pernah terjadi karena Pangeran Suryaningrat menderita tuna netra sejak kecil. Selain itu setelah wafatnya Sri Paku Alam III, ayah Suwardi diharuskan keluar dari istana dan menetap di kampung bersama dengan rakyat biasa lainnya. Namun hal ini tidak menjadi suatu masalah bagi Suwardi dan keluarganya. Keluarnya Pangeran Suryaningrat dari istana bukan tanpa alasan. Sri Paku Alam III adalah seorang raja yang berani menentang kebijakan-kebijakan pemerintah 4 Sri Paku Alam III adalah gelar kebangsawanan yang diberikan untuk Kanjeng Gusti Pangeran Hadipati Harjo Surjosasraningrat sebagai raja Puro Pakualaman yang ke tiga. Lihat Bartolomeus Samho, Citra Kepribadian Ki Hadjar Dewantara: Visi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara Tantangan dan Relevansi, (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2013), hal 27. 5 Puteri B.P.H Puger adalah garwa padmi atau permaisuri Sri Paku Alam III. Dari garwa padminya ini Sri Paku Alam III mempunyai dua orang anak yaitu K.P.H Suryoningrat dan K.P.H Sasraningrat. Lihat Djoko Dwiyanto, Puro Pakualaman: Sejarah, Kontribusi Dan Nilai Kejuangannya, (Yogyakarta: Paradigma Indonesia, 2009), hal 30.

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 Belanda. Sri Paku Alam III mempunyai pemikiran dan pandangan politik yang berbanding terbalik dengan pemerintah Belanda. Sehingga ketika Sri Paku Alam III wafat pada 1864, pemerintah Belanda segera mengambil alih kekuasaan dengan mengangkat Pangerang Nataningrat sebagai Sri Paku Alam IV.6 Rupanya penentangan ini juga menurun pada Pangeran Suryoningrat yang menyebabkan dirinya harus keluar dari istana. Proses keluarnya Pangeran Suryoningrat membuat Suwardi tumbuh dengan dua budaya yang berbeda. Sebagai seorang bangsawan, Suwardi membawa gelarnya yaitu Raden Mas pada identitasnya di istana. Akan tetapi gelarnya ini dia tanggalkan ketika dirinya bermain dengan teman-temannya di kampung. Peristiwa ini pula yang nantinya mempengaruhi Suwardi benar-benar menanggalkan identitas kebangsawaannya ketika kepulangannya dari pengasingan di Belanda. Sejak kecil Suwardi dikenal sebagai anak yang pandai, berani, dan jujur dalam menyatakan pendiriannya.7 Dirinya bahkan membimbing anak-anak kampung untuk berkegiatan seperti pentas sandiwara, karawitan, pencak silat, serta pemberantasan buta huruf. Dalam kegiatan pemberantasan buta huruf Suwardi dibantu oleh kakaknya yaitu Suryopranoto. Selain itu, Suwardi sangat menekankan kepada seluruh pelayan yang ada di rumahnya agar dapat menulis dan membaca. Ketika akan memulai mengajari menulis dan membaca Suwardi berpesan agar menghiraukan hubungan 6 Budiawan, Anak Bangsawan Bertukar Jalan, (Yogyakarta: LKiS, 2006), hal 23. 7 B.S. Dewantara, Nyi Hadjar Dewantara, (Jakarta: Gunung Agung, 1984),hal 43.

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 antara Putera anak Pangeran dengan anak rakyat biasa. Hal ini dia lakukan agar mereka dapat berani bertanya hal-hal yang tidak diketahui oleh mereka. Pura Pakualaman mempunyai kebijakan agar anak-anak keturunan bangsawan diwajibkan untuk bersekolah baik di sekolah Eropa maupun di dalam istana. Pendidikan di dalam istana tidak lain adalah pendidikan mengenai budaya-budaya Jawa.8 Istana Paku Alam selalu menyediakan guru-guru yang ahli dalam bidangnya untuk mengajar pelajaran seperti sejarah, kesusastraan hingga kesenian. Pendidikan tersebut bukan hanya pendidikan mengenai istana Pura Pakualaman saja tetapi juga mengenai kebudayaan Jawa yang luas. Pendidikan di dalam istana pada kalangan bangsawan bertujuan untuk melestarikan tradisi-tradisi dari generasi ke generasi.9 Melalui hal ini, secara tidak langsung menjadikan tradisi sebagai hal utama dalam kehidupannya. Pendidikan yang terkesan eksklusif ini juga mempertebal kesadaran akan status sosialnya terhadap lingkungan masyarakat. Akan tetapi hal ini berbeda dengan Suwardi yang selalu mengesampingkan status sosialnya. Sifat merakyat Pangeran Suryoningrat tidak hanya ditunjukkan melalui kedekatannya dengan rakyat saja. Sebagai kerabat kerjaan sudah semestinya untuk 8 Darsiti Soeratman, Ki Hadjar Dewantara, (Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Direktorak Sejarah Dan Nilai Tradisional, 1984), hal 15. 9 Sartono Kartodirdjo, dkk, Perkembangan Peradaban Priyayi, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1987), hal 100.

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 membuat upacara kelahiran yang mewah dan megah layaknya keturunan bangsawan lainnya. Hal ini dilakukan karena, bagi para bangsawan anak merupakan lambang keberadaan serta lambang kemakmuran keluarga.10 Akan tetapi hal ini jauh berbeda dengan Pangeran Suryoningrat yang hanya melakukan upacara dengan sederhana, bahkan jauh dari kata mewah. Ketika Suwardi lahir, Pangeran Suryoningrat tidak mengadakan upacara kelahiran sesuai dengan tradisi di lingkungan istana. Pemberian hadiah atau bingkisan kepada tamu-tamu yang menjenguk ditiadakan. Tidak hanya kepada tamu saja, pemberian hadiah kepada para dhayang yang begadang serta bermain judi juga ditiadakan.11 Akan tetapi tidak serta merta upacara kelahiran tersebut tidak diselenggarakan. Pembacaan kitab-kitab Sastra Jawa masih tetap dilakukan dengan ditambah Tadarus Al-Quran. Meskipun Suwardi tinggal di luar istana, dirinya masih tetap menjalin hubungan baik dengan keluarga yang tinggal di istana. Hal ini dibuktikan dengan kedekatannya dengan Sutartinah, anak dari pamannya. Sutartinah tidak segan untuk membantu Suwardi ketika dirinya mengajari menulis dan membaca. Selain itu 10 11 Koentjoroningrat, Kebudayaan Jawa, (Jakarta: Balai Pustaka), hal 235. Bambang Sokawati Dewantara, Ki Hadjar Dewantara: Ayahku, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1989), hal 26.

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 Sutartinah juga setia mendampingi Suwardi ketika Suwardi mengikuti lomba mengaji dan adzan dikalangan anak-anak.12 2.2 Kejawaan Ki Hadjar Dewantara Ketika kita berbicara mengenai kejawaan seseorang, maka tidak akan bisa lepas dari budaya yang melekat. Budaya Jawa sendiri sangatlah kompleks dengan segala adat istiadat, sejarah, serta aturan-aturan yang mengikat. Akan tetapi, hal ini bukanlah suatu masalah, malah masyarakat Jawa sendiri melihatnya sebagai suatu karunia yang ditinggalkan oleh para leluhur dan setia menjaga tanpa pamrih. Budaya inilah yang selalu diselaraskan dengan jiwa dan tindak-tanduk dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kehidupan sehari-hari terdapat dua segi fundamentalis yang merupakan hal mendasar dan menyatu dalam diri manusia. Dua segi fundamentalis ini saling berkesinambungan sehingga tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya yaitu segi lahir dan segi batin.13 Segi lahir merupakan hal-hal yang dapat dilihat oleh manusia dengan mata telanjang seperti tingkah laku, pembawaannya dalam lingkungan masyarakat, hingga cara bicara. Sedangkan segi batin merupakan 12 13 B.S. Dewantara, op.cit., hal 45. Christina S. Handayani dan Ardhian Novianto, Kuasa Wanita Jawa, (Yogyakarta: LKiS, 2004), hal 51.

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 kesadaran manusia untuk menemukan kebenaran dan kebijaksanaan yang diperoleh melalui olah rasa.14 Dari kedua segi fundamentalis tersebut, terdapat prinsip-prinsip kesopanan. Prinsip-prinsip ini berguna untuk menyeimbangkan antara segi lahir dan segi batin. Prinsip pertama, bagaimana seorang manusia dapat membawa diri di dalam lingkungan sosialnya. Kedua, untuk tidak langsung mengatakan pendapatnya terhadap sesuatu yang tidak sejalan dengan pemikirannya. Ketiga, tidak memberitahukan hal-hal yang dianggap tidak penting. Keempat, untuk mengontrol sikap disetiap keadaan agar tidak menimbulkan kesan yang tidak sopan. Suwardi tidak pernah menerima pengajaran tentang kedua segi fundamentalis serta prinsip-prinsip kesopanan tersebut. Akan tetapi sebagai putra asli Jawa hal tersebut kemudian diajarkan melalui praktek kehidupan sehari-hari. Salah satu segi fundamentalis, yaitu segi batin, dipelajari melalui pelajaran-pelajaran agama Islam serta ajaran lama yang dipengaruhi oleh filsafat Hindu, yaitu wayang.15 Sedangkan prinsip-prinsip kesopanan tercermin dalam setiap tulisan Suwardi yang ringkas namun penuh dengan nilai dan pengetahuan serta tidak memojokkan siapapun. 14 Olah rasa dilakukan dengan bertapa di tempat-tempat yang dianggap keramat dan mempunyai nilai mistik yang kuat. 15 Darsiti Soeratman, op.cit., hal 16.

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 Dalam pengajaran agama Islam dan filsafat Hindu untuk mengolah segi bantinnya, Pangeran Suryoningratlah yang mempunyai andil besar di dalamnya. Pangeran Suryoningrat adalah seorang pemeluk agama Islam yang taat sekaligus pencinta wayang.16 Dalam mencintai wayang, Pangeran Suryoningratpun rutin menggelar pertunjukan wayang kulit dengan mengundang seorang dalang ke rumahnya. Hal ini dilakukannya bukan hanya sekedar hiburan dan seni melainkan juga untuk media pendidikan bagi anak-anaknya. Bagi masyarakat Jawa khususnya para priyayi, pernikahan merupakan hal yang penting. Dari pernikahan dapat menunjukkan status sosial serta kedudukannya di dalam kelompok masyarakat. Dalam memilih calon pengantinpun selalu memperhatikan bibit, bebet dan bobotnya. Bagi para priyayi memilih calon pengantin sangatlah penting agar darah kebangsawanan mereka tidak pudar. Selain itu, pernikahan yang diadakan bertujuan untuk menjalin silaturahmi antara kerajaan satu dengan kerajaan yang lain. Hal ini juga terjadi pada pernikahan Suwardi dimana dirinya dinikahkan dengan Sutartinah. Sebenarnya Suwardi dan Sutartinah merupakan saudara sepupu karena ayah keduanya merupakan saudara kandung kakak beradik. Mereka dinikahkan pada tahun 1913 tepat sebelum Suwardi bersama dengan dua rekannya, Douwess Dekker dan Tjipto Mangunkusumo, akan berangkat ke Belanda untuk menjalani masa 16 Budiawan, op.cit., hal 41.

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 pembuangan. Namun, pernikahan keduanya dilangsungkan dengan cara yang sederhana mengingat saat itu Suwardi akan menjalani hukuman buang. Maka dari itu, Sutartinah pun ikut ke Belanda menemani Suwardi dalam masa pembuangannya. Kejawaan Suwardi tidak hanya dilihat melalui kedua segi fundamentalis dan prinsip-prinsip kesopanan saja. Ketika dirinya menjalani hukuman buang di Belanda lahirlah anak pertama dan keduanya.17 Douwes Dekker yang pada waktu itu menjalani hukuman yang sama di Belanda, ikut memberi nama kepada ke dua anakanak Suwardi. Pada anak pertama, Douwes Dekker memberi nama Asti yang kemudian menjadi nama panggilannya sehari-hari dan kepada anak kedua, yaitu Aryo Mataram.18 Suatu kehormatan pada setiap masyarakat Jawa yang bisa ikut memberikan nama kepada seorang bayi yang baru lahir. Masyarakat Jawa sendiri menganggap nama adalah sebuah doa agar kehidupan sang bayi nantinya berjalan sesuai harapan orang tua. Sering kali nama-nama bayi yang baru lahir ini kemudian diambil dari cerita-cerita mitologi Jawa.19 Seperti Suwardi yang memberi nama anak keduanya, 17 Hukuman buang atau hukuman Internering adalah hukuman yang diberikan pemerintah kolonial Belanda kepada masyarakat Indonesia yang dianggap membangkang atau memberontak sistem pemerintahan waktu itu. Ki Hadjar Dewantara menjalani hukuman buang dari tahun 1913-1915 dengan kedua temannya yaitu Douwes Dekker dan Tjipto Mangunkusumo. Ki Hadjar Dewantara pun mengajak sang istri yaitu Nyi Hadjar Dewantara. Lihat Bartolomeus Samho, op.cit., hal 61. 18 Bambang Sokawati Dewantara, op.cit., hal 20. 19 Koentjoroningrat, op.cit., hal 238.

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 yaitu Subroto yang artinya Satria Pertapa. Sedangkan nama Aryo Mataram artinya merupakan sebuah harapan serta cerminan keagungan bangsa.20 Unsur kejawaan lain yang dimiliki Suwardi, yaitu bidang kesenian. Keahliannya dalam bidang kesenian ini diperoleh sebagai ciri khas keluarga kerajaan Pakualaman. Pura Pakualaman sendiri menaruh perhatian yang lebih terhadap bidang kesenian terutama pada serat-serat. Bahkan, pengetahuan mengenai budaya Jawa diberikan kepada setiap anak-anak kerabat Pakualaman sebagai sebuah pendidikan. Kegiatan semacam ini kemudian memupuk rasa Suwardi terhadap kebudayaannya sendiri. Lantaran sang ayah yang kerap menggelar pertunjukkan wayang kulit di rumahnya serta pendidikan Jawa yang diperolehnya dari istana membuat pengetahuannya akan budaya Jawa sangat luas. Tidak heran ketika dirinya berada di negeri Belanda dikenal sebagai seorang ahli sastra Jawa.21 Bahkan Suwardi diundang dalam Kongres Pengajaran Kolonial I di Den Haag pada Agustus 1916 sebagai seorang ahli kesenian.22 Hal ini sangat kompleks mengingat bahwa selama ini dirinya berkecimpung dalam bidang jurnalistik dan berbagai organisasi politik lainnya. 20 Bambang Sokawati Dewantara, op. cit., hal 22. 21 Darsiti Soeratman, op.cit., hal 70. 22 Kongres ini merupakan kongres yang membahas tentang bahasa pengantar pada sekolah-sekolah Bumiputera di Indonesia.

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 2.3 Pendidikan Ki Hadjar Dewantara Saat bersekolah, Suwardi menemukan dunia yang baru. Dirinya dikelilingi dengan orang-orang dari berbagi daerah seperti Ambon bahkan hingga orang-orang Indo. Tidak jarang pula Suwardi menerima ejekan dari orang-orang Indo karena dirinya adalah orang Jawa. Namun, dengan bersekolah membuat pengetahuan Suwardi bertambah tidak hanya tentang budaya dan sastra Jawa. Dengan bersekolah pula Suwardi menjadi tidak buta akan nasib bangsanya. Pada pertengahan abad ke- 19, lembaga pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah Belanda semakin bertambah. Bertambahnya lembaga yang didirikan dikarenakan semakin banyaknya orang-orang Belanda, bahkan orang-orang Eropa lainnya yang datang ke Indonesia. Tentunya selain orang-orang Eropa, masyarakat Indonesia ada pula yang bersekolah di sekolah-sekolah Belanda. Tetapi hanya masyarakat dari golongan elite dan bangsawan saja yang boleh bersekolah. Sekolah-sekolah yang menjadi tempat Suwardi mendapatkan pendidikan Belanda antara lain Sekolah Dasar Belanda III, Kweekschool, dan STOVIA. Sekolah Dasar Belanda III menjadi pilihan Suwardi dan keluarga dalam menempuh pendidikan. Hal ini dikarenakan semenjak wafatnya Sri Paku Alam III perekonomian keluarga Suwardi menjadi tidak stabil. Maka dari itu, dirinya disekolahkan di sekolah yang biayanya lebih terjangkau. Sementara itu seluruh kerabat Pura Pakualaman memilih Sekolah Dasar Belanda I sebagai pendidikannya.

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 Setelah menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Dasar Belanda III, Suwardi melanjutkan sekolahnya di Kweekschool pada tahun 1904.23 Akan tetapi, beliau tidak menyelesaikan pendidikan gurunya setelah bertemu Dr. Wahidin Sudirohusodo. Pertemuannya dengan Dr. Wahidin Sudirohusodo membawanya pada bidang kedokteran dengan menawarkan beasiswa pendidikan. Beasiswa tersebut berada pada sekolah dokter Jawa atau yang lebih dikenal STOVIA.24 Pengalaman baru didapatkannya ketika bersekolah di STOVIA pada 19051910. Menjadi murid STOVIA mengharuskan Suwardi untuk tinggal di asrama yang sangat berbeda jauh dengan kehidupannya di Pakualaman. Murid-murid lainnya berasal dari berbagai macam daerah serta latar belakang yang berbeda serta agama yang berbeda pula. Hal ini membuat Suwardi dapat beradaptasi dengan lingkungan baru. Selama menjadi murid STOVIA Suwardi semakin mengolah kemampuannya dalam berbagai bidang, termasuk berorganisasi. Organisasi pertama yang diikutinya 23 Kweekschool merupakan sekolah pendidikan guru untuk sekolah vervolg atau sekolah kelas II. Bahasa pengantarnya yaitu Bahasa Belanda. Tamatan Kweekschool mempunyai wewenang untuk mengajar sampai kelas tinggi. Lihat I. Djumhur dan Drs. H. Danasuparta, Sejarah Pendidikan, (Bandung: CV. Ilmu, 1976), hal 140. 24 STOVIA atau School Ter Opleiding van Indische Artsen didirikan tahun 1902. Untuk memenuhi kebutuhan akan banyaknya mantri cacar, maka tahun 1851 dibuka sekolah untuk para mantra cacar. Lulusan dari sini kemudian diberi gelar Dokter Jawa lalu sekolahnya dinamakan Sekolah Dokter Jawa. Kemudian pada tahun 1902 sekolah tersebut mengalami reorganisasi dan berganti nama menjadi STOVIA. Lihat Ibid., hal 144-145.

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 yaitu Budi Utomo tahun 1908.25 Budi Utomo menjadi ajang tempat pertemuannya dengan Douwes Dekker. Melalui organisasi inilah Suwardi menaruh perhatian pada bidang jurnalistik serta politik. Selalu berperan aktif saat menjadi anggota sehingga dipercayai menjalani tugas propaganda. Inilah fase awal Suwardi dalam perjuangan kemerdekaan. Tahun 1910 adalah tahun akhirnya bersekolah di STOVIA, Suwardi harus rela dikeluarkan dari sekolah karena dirinya dinyatakan tidak naik kelas. Alasannya adalah Suwardi tidak masuk selama empat bulan akibat sakit keras. Akibatnya beasiswanya dicabut dan tidak dapat melanjutkan pendidikanya. Akan tetapi, pihak sekolah memberikan surat keterangan baik dalam berbahasa Belanda untuk Suwardi. Dikeluarkannya Suwardi dari sekolah menuntunnya untuk fokus dalam organisasi serta perjuangan kemerdekaanya. Setelah dikeluarkan, Suwardi melanjutkan untuk bekerja di laboratorium Pabrik Gula di Banyumas. Kemudian tahun 1911 dirinya pindah ke Yogyakarta dan bekerja sebagai asisten apoteker di Rathkamp. Akan tetapi, Suwardi kembali berorganisasi dengan menjadi ketua Sarikat Islam cabang Bandung bersama dengan 25 Budi Utomo didirikan pada 20 Mei 1908 dalam sebuah rapat mahasiswa di STOVIA. Organisasi Budi Utomo merupakan sebuah wadah bagi para mahasiswa saat itu untuk dapat menampung segala aspirasinya. Selain itu, pembentukan Budi Utomo dilatar belakangi oleh aksi Dr. Wahidin Sudirohusodo yang berkeliling Jawa menemui pada Bupati dan Priyayi untuk menggalang dana beasiswa yang diperuntukkan para kaum muda Indonesia. Lihat Sartono Kartodirdjo, Pengantar Sejarah Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasional Dari Kolonialisme Sampai Nasionalisme Jilid 2, (Jakarta: PT Gramedia, 1990), hal 100-102.

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 Abdoel Moeis dan Wignyodisastro.26 Bersama dengan rekannya yang lain, yaitu Douwes Dekker dan Tjipto Mangunkusumo, Suwardi mendirikan sebuah partai bernama Indische Partij ditahun berikutnya.27 Bersama dengan Indische Partij Suwardi sangat produktif menghasilkan karya-karya jurnalistik. Tulisan-tulisannya sangat mencerminkan sikapnya yang tegas namun tenang serta tidak meledak-ledak. Hal ini dibuktikan saat Suwardi menulis tentang sikap pemerintah Belanda yang mengadakan perayaan Seratus Tahun di Hindia Belanda.28 Tulisannya yang berjudul Seandainya Aku Seorang Belanda, mampu membuat pemerintah Belanda merasa terancam keberadaannya. Akibatnya Suwardi menerima hukuman dari pemerintah Belanda bersama dengan Douwess 26 Sarikat Islam merupakan suatu organisasi yang bergerak di berbagai macam bidang serta tidak tertuju pada satu orientasi tujuan. Bidang-bidang tersebut diantaranya yaitu ekonomi,sosial, politik dan kultural. Sementara itu, agama Islam digunakan sebagai ideologi untuk melandasi segala aspek serta bidang-bidang yang berlaku. Lihat Sartono Kartodirdjo, op.cit., hal 107 dan B.S. Dewantara, op.cit., hal 58. 27 Indische Partij merupakan organisasi politik pertama di Indonesia yang beranggotakan Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo, dan Suwardi Suryaningrat. Ketiganya sangat produktif dalam menghasilkan tulisan-tulisan yang bersifat provokatif kepada kaum muda untuk melawan pemerintahan Belanda. Tak heran maka keduanya harus menjalani hukuman dari pemerintah Belanda. 28 Perayaan Seratus Tahun dilakukan Belanda untuk mengenang lepasnya Belanda dari jajahan Prancis. Pemerintah Belanda sendiri mengadakan sebuah acara dengan mendirikan Komite Perayaan Seratus Tahun Kemerdekaan Bangsa Belanda yang diadakan dengan menggalang dana dari rakyat. Sebagai sebuah perlawanan maka Suwardi menulis di sebuah surat kabar de Expres dengan judul “Seandainya Aku Seorang Belanda” dan menuai banyak kritikan dari pihak Belanda. Tulisannya ini juga didasari atas tidak diberikannya izin badan hukum bagi Indische Partij dari pemerintah Belanda. Pemerintah Belanda menganggap bahwa Indische Partij dapat membangkitkan semangat nasionalisme kaum muda untuk bangkit menentang pemerintahan Belanda.

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 Dekker dan Tjipto Mangunkusumo. Mereka bertiga kemudian mendapatkan hukuman buang atau hukuman internering di Belanda. Gambar 2.1: Tokoh “Tiga Serangkai”, Dr. Cipto Mangunkusuno, Douwes Dekker, dan R.M. Soewardi Sorjaningrat.29 Ketiga orang yang menamai dirinya Tiga Serangkai kemudian pada 15 September 1913 berlayar menggunakan kapal Bullow ke Belanda.30 Pembuangannya ke Belanda tidak pernah disia-siakan oleh Suwardi. Di Belanda dirinya terus menambah wawasan dengan belajar pada berbagai bidang. Bidang-bidang yang dipelajarinya antara lain yaitu pendidikan, seni, hingga jurnalistik. Meskipun masa pembuangan adalah masa hukuman bagi dirinya serta kedua temannya, masih dapat 29 “Tiga Serangkai,” Koleksi Foto Digital Museum Dewantara Kirti Griya (Tamansiswa), accessed November 21, 2018, https://museumdewantara.omeka.net/items/show/3292. 30 B.S. Dewatara, op.cit., hal 68.

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk menambah wawasan yang diperlukan untuk perjuangan. Salah satu bidang yang dipelajari secara teori yaitu pendidikan dengan belajar berbagai macam metode pembelajaran dari tokoh-tokoh pendidikan ternama. Tokohtokoh pendidikan tersebut antara lain J.J. Rousseau, Dr. Frobel, Dr. Montessori, Rabindranath Tagore, John Dewey, dan Kerschenteiner.31 Diantara beberapa tokoh diatas Dr. Frobel dan Dr. Montessorilah yang menginspirasi dirinya dalam merealisasikan perjuangannya. Kedua tokoh pendidikan inilah yang banyak mempengaruhi pemikiran Suwardi dalam bidang pendidikan. Kedua tokoh baik Dr. Frobel dan Dr. Montessori merupakan ahli-ahli pendidikan yang bergerak pada pendidikan taman kanak-kanak. Menurut Dr. Frobel melatih otak anak dengan menyediakan alat-alat dapat melatih gerak dan imajinasi mereka. Dengan melatih imajinasi, maka kita dapat melatih pula cara berpikir anakanak. Sedangkan Dr. Montessori lebih berfokus pada perilaku anak dan sikap anakanak. Metode milik Montessori inilah yang berkembang hingga ke Asia.32 Pendidikan formal yang ditempuh Suwardi memang tidak memuaskan, bahkan harus dikeluarkan dari sekolahnya. Namun, jika dilihat dari apa yang sudah disumbangkan bagi masyarakat sekitar hingga bangsa bukanlah sesuatu yang bisa 31 32 Darsiti Soeratman, op.cit., hal 68. Ibid., hal 69.

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 dibandingkan. Selain memperoleh pendidikan lewat sekolah-sekolah formal, Suwardi juga aktif dalam berbagai organisasi yang membuat pengetahuannya bertambah. Organisasi-organisasi tersebut mengajarkan beliau berjuang memerdekakan bangsa dengan cara yang berbeda. Tidak hanya dengan menulis pemikirannya, tetapi juga memberanikan diri untuk merealisasikannya di tengah-tengah kondisi bangsa yang tidak kondusif.

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 BAB III PEREMPUAN DALAM KACAMATA KI HADJAR DEWANTARA 3.1 Ki Hadjar Dewantara Yang Jurnalis Jurnalistik merupakan langkah awal yang ditempuh Suwardi dalam proses kemerdekaan Indonesia. Tidak susah untuk seorang Suwardi mempelajari jurnalistik karena latar belakang keluarganya yang menyukai serat maupun karya sastra Jawa lainnya. Bidang jurnalistik dijadikannya sebagai alat untuk menyingkirkan pemerintah Belanda dengan cara menuangkan ide-ide kritisnya. Hal ini sangat efektif karena para generasi muda dapat dengan mudah membacanya di beberapa surat kabar sehingga mereka tergugah untuk melawan pemerintah Belanda. Meskipun Suwardi memiliki latar belakang tulis-menulis dari keluarganya, dirinya tetap mempunyai proses dalam menulisnya sendiri. Sutartinah, istrinya, selalu mendorongnya untuk terjun dalam bidang jurnalistik walau Suwardi sekolah di bidang kedokteran. Sutartinah pula orang pertama yang menemukan bakat terpendam Suwardi untuk menjadi jurnalis ketika Suwardi membuat karya tulis tentang sebuah

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 penyakit dengan pandangan sosial, ekonomi dan politik.1 Kemudian Sutartinah mencoba mengarahkan Suwardi untuk mengirimkan karya tulisnya ke surat kabar. Kemampuan jurnalistik Suwardi berkembang ketika dirinya terjun menjadi anggota organisasi Budi Utomo. Pandangannya pun semakin luas pada bidang politik yang membuatnya menjadi sosok yang makin anti-pati terhadap pemerintahan Belanda. Latar belakang keluarga yang kontra dengan perpolitikan pemerintah Belanda, membuat Suwardi kian getol dalam menuliskan ide-idenya terhadap pemerintah Belanda. Kecintaan Suwardi pada bidang jurnalistik menemui titik terang tatkala pertemuannya dengan Douwes Dekker pada 1908.2 Pada waktu itu Douwes Dekker adalah seorang redaktur majalah Bataviaasche Nieuwsblad. Tahun 1910 ketika Suwardi dikeluarkan dari sekolah dirinya tambah leluasa untuk terjun dalam jurnalistik. Kendati Suwardi tidak langsung bekerja pada bidang jurnalistik, tahun 1912 dirinya mendapatkan kesempatan untuk mengurus sebuah surat kabar. Bersama dengan Douwes Dekker dan Tjipto Mangunkusumo, Suwardi 1 2 B.S Dewantara, Nyi Hadjar Dewantara, (Jakarta: Gunung Agung, 1984), hal 56. Nama lengkap Douwes Dekker adalah Ernest Francois Eugene Douwes Dekker. Dirinya adalah seorang Indo-Belanda yang lahir di Pasuruan pada tahun 1879. Douwes Dekker mempunyai nama Indonesia yaitu Dr. Danudirja Setiabudhi. Sebelum dengan Suwardi dan Tjipto Mangunkusumo, dirinya adalah seorang redaktur majalah Belanda yaitu Bataviaasche Nieuwsblaad. Kemudian dirinya dipecat dan mendirikan surat kabar sendiri dengan nama De Express. Ketika Perang Boer di Afrika Selatan sedang berjalan, dirinya ikut berperang melawan penjajahan Inggris yang menyebabkan dirinya kehilangan status sebagai warga negara Belanda. Sehingga ketika Douwes Dekker akan mengikuti ujian doctor di Universitas Zurich di Swiss, ia menyebutkan bahwa dirinya berkebangsaan Jawa. Lihat H.A.H. Harahap dan B.S. Dewantara, Ki Hadjar Dewantara dan Kawan-Kawan: Ditangkap, Dipenjarakan dan Diasingkan¸ (Jakarta: Gunung Agung, 1980), hal 4-7).

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 dipercaya memegang jabatan sebagai pembantu tetap di majalah De Express.3 Dengan semangat dan kepentingan yang sama, mendirikan sebuah organisasi yaitu Indische Partij yang menyatakan diri sebagai partai politik. Tulisan Suwardi yang paling terkenal berjudul Seandainya Aku Seorang Belanda tersebut dimuat dalam berbagai surat kabar salah satunya De Express dan dalam sebuah brosur milik Komite Bumi Putera.4 Tulisan tersebut dikirim hingga ke daerah pelosok Jawa sehingga semua orang dapat membacanya. Pemerintah Belanda kemudian menyita seluruh brosur-brosur tersebut dan memasalahkannya pada pihak kejaksaan. Bagi pemerintah Belanda, tulisan Suwardi merupakan tulisan yang dapat menghasut pikiran-pikiran rakyat Indonesia. Akan tetapi, bagi rakyat Indonesia sendiri, tulisan Suwardi disambut hangat sebagai tulisan yang berani dan tegas. Ditahun 1913 ketika tulisannya dilarang, Suwardi bersama dengan Tjipto Mangunkusumo dan Douwes Dekker menerima hukuman, yaitu hukuman buang ke negeri Belanda. Kehidupannya di Belanda membuatnya semakin giat untuk 3 Majalah De Express adalah majalah yang didirikan oleh Douwes Dekker setelah dirinya dipecat dari majalah Bataviaasche Nieuwsblad. Majalah ini lahir di Bandung dengan mengajar Ki Hadjar Dewantara dan Tjipto Mangunkusumo untuk mengelolanya. De Express menggunakan bahasa Belanda dalam penerbitannya dan sangat mencerminkan tujuan ketiganya dalam mencapai Indonesia merdeka. 4 Komite Bumi Putera dibentuk pada Juli 1913 oleh Tjipto Mangunkusumo, Suwardi Suryaningrat, Adul Muis, dan A.H. Wignyadisastra. Komite ini merupakan komite tandingan pemerintahan Belanda yang mengadakan Perayaan Seratus Tahun Kemerdekaan Belanda di tanah jajahan. Tujuan dibentuknya Komite Bumi Putera yaitu sebagai wadah kritik rakyat terhadap kebijakan pemerintah Belanda pada waktu itu. Selain itu sebagai alat untuk mencerdaskan rakyat dengan menyebarkan brosur yang memuat masalah-masalah ketatanegaraan dan ekonomi dalam bahasa Belanda dan Melayu. Lihat H.A.H. Harahap dan B.S. Dewantara, op.cit., hal 15-16.

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 menyuarakan suara-suara rakyat Indonesia. Kemampuan jurnalistiknya semakin terasah ketika dirinya harus rajin-rajin menulis agar mendapatkan uang demi mencukupi kebutuhan hidupnya di Belanda. Kemudian, Sutartinah, sebagai istrinya ikut mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan menjadi guru di Frobel School atau Taman Kanak-Kanak di Den Haag.5 Pada tahun 1914, Suwardi mendirikan biro pers Indonesia dengan nama Indonesische Pers Bureau dibantu Sutartinah. Biro pers yang dibuat oleh Suwardi merupakan biro pertama yang menggunakan nama Indonesia. Tujuan didirikannya biro pers ini adalah untuk memberikan informasi-informasi kepada surat kabar di Belanda tentang berbagai macam situasi yang sedang berlangsung di Indonesia. Selain itu, brosur-brosur serta risalah-risalah mengenai Budi Utomo, Sarikat Islam, Indische Partij dan lain-lain diterbitkan oleh Indonesische Pers Bureau. Melalui biro pers yang didirikannya Suwardi kemudian menerbitkan brosur untuk memperingati masa pembuangannya di Belanda. Brosur tersebut berisi beberapa tulisan Suwardi yang telah dilarang oleh pemerintah Belanda. Tulisan lainnya yang dimuat dalam brosur tersebut yaitu tulisan dari Tjipto Mangunkusumo, Douwes Dekker dan H. Mulder. Tulisan-tulisan tersebut adalah tulisan yang sudah dilarang dan dicabut oleh pemerintah Belanda. Akan tetapi oleh Sutartinah, tulisan 5 hal 73. B. S. Dewantara, Nyi Hadjar Dewantara, (Jakarta: Penerbit Gunung Agung, 1984),

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 tersebut dikumpulkan dan dirawat ketika mereka akan berangkat menuju tanah pembuangan. Biro pers milik Suwardi ternyata membuahkan hasil ketika Dewan Perwakilan Rakyat Belanda berunding dan memperdebatkan pembuangan Suwardi, Tjipto Mangunkusumo dan Douwes Dekker. Indonesische Pers Buerau berhasil untuk membentuk pendapat umum yang kemudian mendukung serta membela “Tiga Serangkai”. Melalui keputusan votting dihasilkan bahwa golongan demokrat, sosial, serta golongan progresif lainnya mendukung upaya pembebasan Tiga Serangkai tersebut. Keputusan pun dapat diambil yaitu pada tahun 1918 ketiganya dibebaskan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Graaf van Limburg Stirum.6 Suwardi semakin melebarkan sayapnya dalam berkiprah di bidang jurnalistik. Sekembalinya di Indonesia dirinya memimpin majalah De Beweging serta majalah berbahasa melayu yaitu Persatuan Hindia. Dirinya mengerahkan secara maksimal kemampuannya dalam menulis dengan banyak mengirimkan tulisan-tulisannya ke berbagai koran ataupun majalah-majalah. Meskipun Suwardi sudah dibebaskan dari hukuman buang, dirinya masih menulis tentang politik dan pembebasan rakyat Indonesia dari penjajahan Belanda. Tulisannya masih sangat sensitif bagi pemerintah 6 B.S. Dewantara, op.cit., hal 95.

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 Belanda. Sehingga Suwardi kembali mendapatkan hukuman dari pemerintah Belanda berupa Pers Delict.7 Akan tetapi dari seluruh perjalanan karier jurnalistik Suwardi, hanya Sutartinah lah yang menjadi pendorongnya. Sutartinah sendiri sangatlah mengetahui bagaimana watak suaminya ketika akan menuangkan ide-idenya ke dalam tulisan. Bagi Sutartinah, Suwardi adalah sosok yang cerdas, berani dan mempunyai semangat juang yang tinggi. Sutartinah juga berpendapat bahwa Suwardi terlalu gegabah dan sulit mengendalikan emosi. Dalam hal ini Sutartinah senantiasa mengarahkan Suwardi agar tidak terjebak dalam emosi oleh pemerintah Belanda. 7 Pers Delict adalah istilah dalam hukum yang digunakan untuk memidanakan kasuskasus yang berkaitan dengan pers. Atau dapat diartikan lagi sebagai tindak kejahatan yang dilakukan oleh pers. Selain itu penyiaran tulisan atau gambar dalam media pers yang dianggap sebagai pelanggaran hukum dapat juga dinamai sebagai pers delict. Pihak-pihak yang dapat dikenai pers delict adalah pembuat tulisan atau gambar, redaktur, penerbit, serta pencetak. Terdapat tiga unsur agar si pembuat tulisan dapat dikenai pers delict. Pertama adanya penyebarluasan gagasan melalui barang cetakan, kedua gagasan tersebut harus merupakan perbuatan yang dapat dipidanakan menurut hukum, dan ketiga gagasan tersebut harus dapat dibuktikan telah dipublikasi. Lihat di https://www.jurnalrozak.web.id/2014/05/pengertian-dan-unsur-delik-pers.html dan https://arti-pengertian-definisi.blogspot.com/2014/02/pengertian-delik-pers.html diakses pada 14 Agustus 2018.

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 Gambar 3.1: Ki dan Nyi Hadjar Dewantara8 Tepat di usianya yang ke 40, Suwardi mengubah namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara. Begitu pula dengan istrinya, Sutartinah, dirinya juga mengubah namanya menjadi Nyi Hadjar Dewantara. Perubahan nama tersebut berawal dari sebuah julukan yang diberikan oleh R.M. Sutatmo ketika memimpin sidang dalam acara “Seloso-Kliwonan”.9 R.M. Sutatmo memberikan julukan “Ki Ajar”. Julukan ini 8 “Ki dan Nyi Hadjar Dewantara ,” Koleksi Foto Digital Museum Dewantara Kirti Griya (Tamansiswa), accessed November 21, 2018, https://museumdewantara.omeka.net/items/show/3326. 9 Seloso-Kliwonan adalah sebuah paguyuban yang didirikan oleh Ki Ageng Suryamataraman sebagai ketua dan Ki Hadjar Dewantara sebagai sekertaris. Paguyuban ini mengagendakan untuk berdiskusi setiap malam selasa kliwon membicarakan tentang caranya meraih kemerdekaan. Anggotanya terdiri dari para pendidik, budayawan, politikus, dan ahli jiwa. Melalui Paguyuban Seloso-Kliwon, cikal bakal pemikiran mengenai pendidikan untuk rakyat Indonesia tercetus.

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 diberikan kepada Suwardi karena dirinya dianggap mampu dalam hal ilmu keguruan dan pendidikan.10 Julukan tersebut menjadi hal yang serius ketika Suwardi dan istrinya menjadikannya sebuah nama untuk selamanya. Perubahan nama ini juga membuktikan bahwa Suwardi dan Sutartinah sudah memantabkan diri untuk melepaskan statusnya sebagai bangsawan. Dengan tidak lagi memakai gelar pada namanya menandakan bahwa dirinya sama seperti orang biasa. Selain itu, dirinya juga sudah siap melepas atribut bangsawan yang telah lama melekat. Sehingga sudah tidak ada batasan antara dirinya yang seorang bangsawan dengan masyarakat biasa lainnya. Dalam memperjuangkan kemerdekaan, tentunya Ki Hadjar Dewantara tidak sendiri. Nyi Hadjar Dewantara pun mulai ikut terjun dalam kegiatan organisasi yang bergerak dalam bidang pergerakan perempuan. Dalam perkembangannya, Nyi Hadjar Dewantara menjadi ketua organisasi Wanita Taman Siswa sekaligus merangkap sebagai anggota Badan Penasehat Pemimpin Umum. Nyi Hadjar Dewantara kemudian juga terjun dalam bidang jurnalistik dengan menulis beberapa artikel tentang perempuan. 10 Bambang Sokawati Dewantara, Ki Hadjar Dewantara: Ayahku, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1989), hal 33.

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 3.2 Pandangan Ki Hadjar Dewantara Mengenai Perempuan Darah bangsawan yang mengalir dalam tubuh Ki Hadjar Dewantara tidak dapat ditutupi. Prinsip-prinsip Jawa serta keyakinan terhadap agamanya bahkan bisa dijalankan secara bersamaan. Rendah hati dan merakyat merupakan kata-kata yang pantas diberikan pada Ki Hadjar Dewantara. Lugas dan tegas dalam setiap tuturkatanya serta lemah-lembut pada setiap perbuatannya menjadikan Ki Hadjar Dewantara selalu dihormati. Keprihatinan terhadap keadaan bangsanya membuatnya sadar akan tugasnya untuk membawa perubahan pada sistem pendidikan. Kehidupan Ki Hadjar Dewantara diselimuti budaya Jawa yang mempengaruhi pola pikirnya. Salah satunya, pemikiran budaya Jawa mengenai perempuan. Perempuan dalam adat budaya Jawa selalu ditempatkan di belakang laki-laki. Pengaruh budaya patriarki yang kuat serta konstruksi sosial yang dibangun membuat banyak aturan yang mengikat para perempuan. Adat maupun aturan tersebut mampu mengekang kebebasan perempuan dalam mengeksplorasi dirinya baik dalam keluarga maupun masyarakat. Sehingga sedikit perempuan yang menyadari pentingnya posisi perempuan pada keluarga maupun masyarakat. Budaya Jawa sering kali menempatkan perempuan pada posisi nomor dua setelah laki-laki. Perempuan juga selalu diidentikkan dengan pekerjaan pada sektor domestik. Pada sektor ini perempuan hanya diberi tanggung jawab terhadap kehidupan keluarga. Sedangkan laki-laki di tempatkan pada sektor publik dimana laki-laki diharuskan untuk mencari nafkah guna memenuhi kebutuhan hidup

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41 sekaligus melindungi keluarga ketika menghadapi urusan luar rumah tangga.11 Hal ini mampu mempengaruhi perempuan dalam kedudukannya di masyarakat dimana mereka jarang diberi kesempatan untuk mengambil keputusan dalam kehidupan bermasyarakat.12 Tidak hanya pada adat serta banyaknya aturan saja yang mengikat perempuan Jawa, kesusastraan pun memuat nilai tentang seharusnya perempuan Jawa berperilaku. Pada Serat Centhini terdapat kias lima jari tangan yang menggambarkan kedudukan perempuan dalam keluarga. Kiasan ini menggambarkan bagaimana seharusnya perempuan bertindak agar tidak membawa keburukan terhadap suaminya.13 Kiasan tersebut antara lain : 1. Jempol atau ibu jari digambarkan sebagai Pol ing tyas yang berarti bahwa istri harus mengikuti kehendak suami serta menuruti apa yang suami katakan. 2. Penuduh atau telunjuk digambarkan sebagai tudhung kakung yang berarti tidak boleh mematahkan petunjuk suami. 11 Tanti Hermawati, Budaya Jawa dan Kesetaraan Gender, (Jurnal Komunikasi Massa, Vol. 1, No. 1, 2007), hal 19. 12 Dr. Budi Susanto, Citra Wanita dan Kekuasaan (Jawa), (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1992), hal 23. 13 Ibid., hal 24.

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 3. Penunggul atau jari tengah yaitu selalu meluhurkan serta menjaga martabat suami. 4. Jari manis yang berarti tidak boleh menunjukkan ekspresi marah, harus selalu manis di depan suami bila menghendaki sesuatu. 5. Jejenthik atau kelingking yang berarti sebagai seorang istri harus cerdas dan lincah dalam melayani suami. Pada serat berikutnya yaitu Serat Panitasastra, perempuan hanya dilihat dari fungsi reproduksinya saja. Fungsi reproduksi menurut serat tersebut menekankan pada faktor perempuan yang melahirkan keturunan serta tuntutan untuk setia pada suami.14 Dalam melahirkan keturunan, anak dianggap sebagai sumber kebahagiaan orang tua serta cerminan orang tuanya. Terlebih lagi jika perempuan melahirkan anak yang berjenis kelamin laki-laki, karena anak laki-laki tersebut akan dijunjung tinggi. Berbeda lagi jika perempuan tidak bisa mempunyai anak, maka perempuan itu dianggap sia-sia.15 Selain fungsi reproduksinya, dalam serat ini perempuan dianggap lemah dalam hal kebijakan dan kekuatan. 14 15 Ibid., hal 40. Atik Catur Budiati, Aktualisasi Diri Perempuan Dalam Sistem Budaya Jawa: Persepsi Perempuan Terhadap Nilai-Nilai Budaya Jawa Dalam Mengaktualisasikan Diri, (Pamator, Vol. 3, No. 1, 2010), hal 53.

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43 Selain serat-serat Jawa, budaya Jawa sendiri mempunyai beberapa istilah yang menempatkan posisi perempuan lebih rendah dari laki-laki.16 Istilah pertama yang paling sering diucapkan yaitu kanca wingking yang dalam Bahasa Indonesia artinya teman belakang. Kanca wingking dalam bahasa Jawa ditujukan untuk para perempuan yang diharapkan dapat mengurusi urusan belakang rumah tangga, yaitu mengurus anak hingga mengurusi pekerjaan rumah tangga. Istilah lainnya masak,macak, dan manak yang dalam Bahasa Indonesia artinya memasak, berdandan dan melahirkan. Istilah ini mengharuskan perempuan untuk dapat memasak untuk keluarga, berdandan untuk suaminya serta melahirkan keturunan sebagai penerus keluarga. Peran dan kedudukan perempuan dalam budaya Jawa lambat laun membentuk stereotip tentang bagaimana seharusnya perempuan berperilaku.17 Aturan yang dibungkus oleh adat secara tidak sadar mampu mengekang aktifitas perempuan dalam bersosialisasi. Maka tidak heran bahwa perempuan tidak dapat mengembangkan dirinya. Sebagai seorang bangsawan Jawa, Ki Hadjar Dewantara sudah lekat dengan berbagai aturan yang mengikat tentang perempuan. Ki Hadjar Dewantara ternyata mempunyai pandangan berbeda dengan yang lainnya, termasuk mengenai perempuan. Di beberapa tulisan dirinya menulis tentang perempuan dengan beberapa aspek yang dapat dikembangkan oleh perempuan. Dapat dikatakan bahwa Ki Hadjar Dewantara memiliki perhatian khusus terhadap 16 Tanti Hermawati, op.cit, hal 20. 17 Atik Catur Budiati, op.cit., hal 55.

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44 perempuan di beberapa aspek, bahkan tidak pernah terpikirkan. Aspek mendasar bagi kaum perempuan seperti pendidikan, pekerjaan, organisasi dan lain-lain. Pemikiran Ki Hadjar Dewantara mengenai perempuan diwujudnyatakan dalam kehidupannya melalui Nyi Hadjar Dewantara. Misalnya keikut sertaan Nyi Hadjar Dewantara sebagai ketua dalam Wanita Taman Siswa.18 Selanjutnya tanpa meninggalkan Wanita Taman Siswa sebagai wakil, Nyi Hadjar Dewantara melebarkan sayapnya dengan berperan serta dalam pembentukan Kongres Perempuan Indonesia pada 22 Desember 1928. Kongres Perempuan Indonesia bertujuan untuk memperkuat hubungan antara organisasi perempuan satu dengan yang lainnya serta membicarakan perihal perempuan baik mengenai kewajiban, keperluan serta kemajuannya.19 18 Wanita Taman Siswa merupakan sebuah badan kewanitaan yang berada di dalam naungan Taman Siswa sehingga azas dan tujuannya harus lurus dengan azas dan tujuan Taman Siswa. Wanita Taman Siswa bersifak eksklusif, hanya para anggota dari Taman Siswa saja yang boleh menjadi anggota Wanita Taman Siswa. Lihat Buku Peringatan Tamansiswa 30 Tahun, (Yogyakarta: Percetakan Tamansiswa, 1981), hal 97. 19 Sejarah Setengah Abad Pergerakan Wanita Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1978), hal 33.

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 Gambar 3.2: Nyi Hadjar Dewantara menyampaikan pidato pada acara Kongres PPII Surabaya 14 Desember 193020 Keikutsertaan Nyi Hadjar Dewantara dalam berbagai organisasi perempuan membuatnya terdorong untuk mengikuti jejak suaminya dalam menulis. Setelah sering mengirim artikel tentang perempuan ketika menjadi ketua Wanita Taman Siswa, pada Kongres Perempuan Indonesia dirinya menjadi redaktur di surat kabar milik Kongres Perempuan Indonesia. Melalui kegiatan ini, Nyi Hadjar Dewantara terus mengasah kemampuan menulis terkait masalah perempuan. Kendati Ki Hadjar Dewantara mendorong perempuan untuk berkiprah di luar sektor domestik, satu hal yang selalu ditekankan adalah kodrat sebagai perempuan. Ki Hadjar Dewantara berpendapat bahwa di seluruh dunia tidak ada hal yang paling berpengaruh atas hidup dan penghidupan manusia dari pada perihal perempuan.21 Perempuan menjadi lambang kesempurnaan hidup manusia karena dalam diri perempuan terdapat petunjuk-petunjuk kehidupan bagi manusia dalam bertindak. 20 “Nyi Hadjar Dewantara di Kongres Perempuan ,” Koleksi Foto Digital Museum Dewantara Kirti Griya (Tamansiswa), accessed October 8, 2018, https://museumdewantara.omeka.net/items/show/3298. 21 Ki Hadjar Dewantara, Kebudayaan, (Yogyakarta: Majelis Luhur Tamansiswa, 1967), hal 236.

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46 Maka, kodrat perempuan menjadi satu hal yang paling pokok dan penting ketika membicarakan soal perempuan. Kodrat perempuan menurutnya yaitu kewajiban menjadi ibu, mengandung anak, melahirkan anak dan lain-lain.22 Pada umunya kodrat perempuan, yaitu mengandung, melahirkan, dan menyusui. Kodrat perempuan inilah yang membedakan perilaku antara perempuan dan laki-laki. Kodrat ini yang membuat perempuan sangat istimewa karena tidak bisa dipertukarkan dengan laki-laki. Hal ini yang membuat Ki Hadjar Dewantara selalu menekankan pada kodrat perempuan dalam setiap tulisannya tentang perempuan. Maka dari itu, Ki Hadjar Dewantara selalu menegaskan dalam setiap tulisannya agar perempuan tidak boleh meninggalkan kodratnya apapun jenis pekerjaannya. Tulisan Ki Hadjar Dewantara mengenai perempuan mempunyai beberapa aspek yang dapat membuat perempuan tergugah untuk mengembangkan dirinya. Persamaan hak, pendidikan, kesehatan, organisasi, serta pekerjaan adalah beberapa aspek yang dapat ditemukan dalam tulisan-tulisan Ki Hadjar Dewantara. Beberapa aspek tersebut adalah hal-hal yang sangat mendasar bagi manusia agar dapat mengembangkan dirinya. Hal-hal tersebut sebelumnya sangat tabu jika dilakukan oleh kaum perempuan dikarenakan aturan dan adat yang berlaku. 22 Ibid., hal 237.

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47 3.2.1 Persamaan Hak Dalam tulisannya, Ki Hadjar Dewantara berpendapat bahwa persamaan antara laki-laki dan perempuan seharusnya terdapat tiga hal yakni persamaan hak, derajat dan harga, bukan mengenai persamaan hidup. Tidak berlakunya persamaan hidup berhubungan dengan kodrat perempuan sebagai ibu yaitu mengandung, melahirkan dan menyusui. Jadi dapat dikatakan bahwa persamaan hak antara laki-laki dan perempuan bukan berarti perempuan dapat menjalankan tugas laki-laki sepenuhnya. Persamaan hak antara laki-laki dan perempuan dapat ditemukan dalam bidang pendidikan terutama saat berada di dalam kelas. Seperti dalam tulisan Ki Hadjar Dewantara pada tahun 1928, sebagai berikut: “Begitulah djuga didalam kelas. Kalau ada anak perempuan, nistjajalah murid-murid laki-laki takut akan berbuat kasar. Dalam perkataannja-pun mereka terpaksa berhatihati, harus berkata halus dan sopan. Kalau kelas tidak ada muridnja perempuan, biasanya anak-anak berbitjara dan bertindak semau-maunja, seringkali kasar dan kotor. Guru laki-laki jang masih muda, terkadang ada djuga jang turut berbuat kasar. Itulah sebabnya lalu timbul suasana kasar”.23 23 Ki Hadjar Dewantara, “Pengaruh Perempuan Pada Barang Dan Tempat Kelilingnja”, Wasita, Desember 1928, Jilid 1, No. 3 dalam Ki Hadjar Dewantara, Kebudayaan, (Yogyakarta: Madjelis Luhur Persatuan Tamansiswa, 1967), hal 240.

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 Gambar 3.3: Suasana kelas di Taman Indria.24 Sangat disarankan untuk murid perempuan yang belajar bersama-sama dengan murid laki-laki. Hal ini pun dapat berpengaruh pada perkembangan perilaku murid laki-laki dimana ketika ada murid perempuan, mereka tidak akan berbuat kasar. Selain tidak akan berbuat kasar, murid laki-laki akan menjaga kesopanan dalam berbicara saat ada murid perempuan di kelas. Jadi ketika di kelas terdapat murid lakilaki dengan murid perempuan, kedudukan mereka setara sebagai murid. Tidak ada yang lebih tinggi atau rendah, serta tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Selain membahas persamaan hak pada tingkat pendidikan, Ki Hadjar Dewantara juga menuliskan persamaan hak pada tingkat organisasi. Menurutnya, 24 Foto tersebut merupakan salah satu tayangan yang ada dalam film documenter Ki Hadjar Dewantara produksi Perusahaan Film Nasional tahun 1960. Film tersebut menayangkan tentang perjalanan hidup Ki Hadjar Dewantara salah satunya mengenai Taman Siswa. Dalam film yang berdurasi kurang lebih empat puluh menit tersebut terdapat salah satu tayangan yang menayangkan tentang suasana kelas di Taman Indria. Di dalam kelas tersebut terdapat murid perempuan dan murid laki-laki yang sedang mengikuti proses belajar mengajar.

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49 kedudukan perempuan dan laki-laki pada tingkat organisasi adalah setara. Dirinya menyatakan bahwa kedudukan Wanita Taman Siswa berdiri sejajar dengan kedudukan Majelis Luhur dalam Taman Siswa. Seperti pada artikel yang ditulisnya pada tahun 1935, sebagai berikut : “...Dalam kedudukan itu perempuan berdiri sedjadjar dan bersamaan deradjat dengan laki-laki. Dengan setjara sambil lalu bolehlah kiranya saja memperingatkan, bahwa didalam organisasi “Persatuan Taman Siswa” kedudukan perempuan yang luhur itu diudjudkan terang dengan peraturan, bahwa badan “Wanita Taman Siswa” itu tidak berdiri dibawah penguasa Madjelis-Luhur, akan tetapi berdiri berdjadjar disampingnja...”.25 Kesejajaran kedudukan antara laki-laki dan perempuan membuat diri Taman Siswa semakin kuat. Hal ini juga yang membuat Wanita Taman Siswa menjadi salah satu badan perempuan dalam Taman Siswa yang mempunyai pengaruh penting bagi keberlangsungan Taman Siswa. Kaum perempuan dalam Taman Siswa memiliki wadah guna mengemukakan pendapatnya dalam sebuah forum yang mempunyai dasar sendiri. 3.2.2 Pendidikan Pendidikan adalah cara bagi setiap individu untuk memperoleh ilmu pengetahuan baik laki-laki maupun perempuan. Sudah semestinya kaum perempuan mendapat haknya untuk berpendidikan tanpa adanya perbedaan dengan laki-laki 25 Ki Hadjar Dewantara, “Perempuan Di Dalam Pertumbuhan Adab”, Wasita, Juli 1935, Jilid 1, No. 6 dalam ibid., hal 247.

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50 supaya tidak menimbulkan ketimpangan. Adanya ketimpangan dalam pendidikan ini dapat ditelusuri melalui budaya masyarakat yang male oriented atau yang lebih mengutamakan pendidikan bagi anak laki-laki.26 Male oriented dapat berkaitan dengan budaya yang telah mengakar pada masyarakat yakni budaya patriarki. Anggapan lainnya bahwa perempuan tidak memerlukan pendidikan yang tinggi sebab nantinya hanya akan ke dapur saja. Ketika pemerintah Kolonial Belanda menduduki Indonesia, pendidikan juga diatur dengan hanya memperbolehkan kaum laki-laki yang bersekolah. Pada saat itu, kaum perempuan tidak leluasa dalam mengenyam pendidikan ditambah lagi aturan adat bahwa perempuan harus dipingit jika sudah akil baligh. Ketika dipingit, mereka akan sulit berkegiatan di luar rumah termasuk bersekolah. Hal ini menyebabkan pendidikan mereka hanya sebatas mengaji, legenda-legenda Jawa, serta bahasa dan aksara Jawa Kuno.27 Aturan adat bagi kaum perempuan yang berupa pingitan juga dialami oleh R.A Kartini yang merupakan keturunan bangsawan. Kartini dipingit saat usia 12 tahun dan tidak boleh melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi oleh ayahnya.28 Meski dipingit, Kartini mempunyai pendirian akan adanya persamaan hak 26 Enny Zuhni Khayati, Pendidikan dan Idependensi Perempuan. 27 Cora Vreede-De Stuers, Sejarah Perempuan Indonesia: Gerakan dan Pencapaian, (Jakarta: Komunitas Bambu, 2008), hal 85. 28 https://nasional.kompas.com/read/2016/04/22/04471261/Menjadi.Ibu.Alasan.Kartin i.soal.Pentingnya.Pendidikan.bagi.Perempuan?page=2 diakses tanggal 20 Agustus 2018.

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 serta pengajaran bagi anak-anak gadis. Kartini beranggapan bahwa dengan pendidikan, perempuan akan lebih baik dalam mengerjakan tugasnya sebagai pendidik pertama manusia. Kemudian usaha yang dilakukan oleh Kartini adalah membuka kelas untuk anak-anak gadis dan diberi pelajaran membaca, menulis, memasak, menjahit dan keterampilan lainnya. Perihal pendidikan untuk kaum perempuan, Ki Hadjar Dewantara mempunyai keresahan yang sama. Ia berpendapat bahwa pendidikan merupakan hal yang penting bagi kaum perempuan. Dunia pendidikan sangat sesuai dengan kodrat perempuan. Sehingga sewaktu menempuh pendidikan, perempuan tidak akan meninggalkan kodratnya walau berada di luar aturan adat yang seharusnya, seperti yang dituliskan dalam artikel berjudul Perempuan Dalam Dunia Pendidikan pada tahun 1928, sebagai berikut: “...Berhubung dengan itu, maka mudahlah kita mengerti, bahwa dunia pendidikan itulah tempat kaum perempuan jang sangat laras dengan kodrat isteri, lahir dan batin...”.29 Salah satu cara agar wawasan seseorang dapat bertambah luas adalah dengan pendidikan. Tidak mengherankan jika Ki Hadjar Dewantara sangat menganjurkan kaum perempuan untuk terjun dalam dunia pendidikan. Dengan berbekal pendidikan, kaum perempuan dapat mengetahui berbagai informasi dan pengetahuan. Selain itu, 29 Ki Hadjar Dewantara, “Perempuan Dalam Dunia Pendidikan”, Wasita, Desember 1928, Jilid, No. 3 dalam op.cit., hal 238.

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 52 kaum perempuan menjadi lebih bijak tatkala dihadapkan oleh berbagai situasi dan informasi. Dalam pendidikan, selain para murid, Ki Hadjar Dewantara juga menekankan pada para gurunya, guru menjadi salah satu ujung tombak dalam dunia pendidikan. Menurutnya, menjadi guru sangatlah sesuai dengan kodrat perempuan sebagai ibu. Kaum perempuan dapat memberikan pelajaran yang lebih dari sekedar pengajaran saja ketika menjadi guru. Sifat keibuan yang dimiliki perempuan menjadikan anakanak nyaman dalam belajar. Karenanya anak-anak dapat menemukan sosok ibu dari para guru perempuan. Gambar 3.3: Nyi Kustiadi Hadisoekatno.30 30 Nyi Kustihadi Hadisoekatno adalah salah satu guru yang mengajar di Taman Siswa. Beliau mengajar seni tari pada anak-anak, lihat “Nyi Kustihadi Hadisoekatno,” Koleksi Foto Digital Museum Dewantara Kirti Griya (Tamansiswa), accessed November 20, 2018, https://museumdewantara.omeka.net/items/show/3215.

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 Terdapat beberapa guru perempuan atau disebut juga pamong di dalam Taman Siswa. Seperti foto di atas yaitu Nyi Kustihadi Hadisoekatno sebagai pamong Taman Siswa yang mengajar dibidang tari. Nyi Kustihadi Hadisoekatno adalah pamong tari yang berasal dari Keraton. Nyi Kustiadi Hadisoekatno bersekolah di Taman Guru Indriya. Gambar 3.4: Pamong-pamong Taman Siswa pada tahun 1934.31 Tahun 1934 Taman Siswa memiliki beberapa pamong yang sebagian besar diantaranya terdiri dari para perempuan. Pada foto di atas pamong tersebut berjumlah tiga belas orang. Sedangkan pamong perempuan berjumlah tujuh orang, dan pamong laki-laki berjumlah enam orang, sudah termasuk Ki Hadjar Dewantara. Nama-nama pamong perempuan tersebut adalah Nyi Surip, Nyi Sudarminto, Nyi Hadjar 31 “Pamong - pamong Taman Siswa pada tahun 1934 ,” Koleksi Foto Digital Museum Dewantara Kirti Griya (Tamansiswa), accessed November 20, 2018, https://museumdewantara.omeka.net/items/show/3035.

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 Dewantara, Nyi Mangunsarkoro dan Nyi Sunaryati Sukemi. Lalu nama-nama pamong laki-laki tersebut adalah Ki Mangun Sarkoro, Ki Hadjar Dewantara, Ki Suwarjo, Suryo Adiputro. Gambar 3.5: Murid-murid Taman Guru.32 Pendidikan dalam Taman Siswa tidak berhenti pada literasi saja. Taman Siswa pun memberikan pendidikan kepada para murid-murid perempuan yang bersifat keterampilan.. Pada gambar di atas, terdapat beberapa murid perempuan yang sedang belajar di ruang terbuka. Pelajaran keterampilan melatih mereka membuat suatu kerajinan yang bisa digunakan menjadi property dalam mainan anak kancil mencuri timun. Dunia pendidikan, menurut Ki Hadjar Dewantara adalah bagian dari kehidupan perempuan, sebagaimana tertulis dalam artikelnya pada tahun 1928 : 32 Film documenter “Ki Hadjar Dewantara” Produksi Perusahaan Film Negara tahun 1960 karya R.M. Soetarto dan Mardhani S. Dipo, M.A diambil pada menit ke 01:08.

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 “Maka dari itu saja serukan: Hai, kaum perempuan Indonesia, masuklah kedunia pendidikan! Disitulah kamu akan merasakan kenikmatan diri, karena kamu bekerdja guna kemuliaan rakjat dan bangsa, selaras dengan kodratmu lahir, dan batin.”.33 Dalam tulisannya, Ki Hadjar Dewantara kembali menegaskan bahwa kodrat perempuan yang utama adalah menjadi ibu. Menjadi ibu sama halnya dengan menjadi pusat kehidupan seseorang. Sebagai pusat kehidupan, tentu saja ibu harus dapat mendidik anak-anak serta dapat menentukan arah perkembangan seorang anak. Budi pekerti seorang anak juga dapat ditentukan dari bagaimana seorang ibu mendidik anaknya. Maka perempuan harus mengenyam pendidikan yang layak agar bisa menjalankan tugasnya sebagai ibu dengan baik. 3.2.3 Kesehatan Perihal perempuan lainnya yang dibahas oleh Ki Hadjar Dewantara yaitu tentang kesehatan. Kesehatan perempuan ditulisnya berjudul Perempuan dan Sport pada majalah Wasita tahun 1935. Kata Sport di sini mempunyai arti olah raga. Kemudian Ki Hadjar Dewantara mengatakan bahwa terdapat tiga hal yang menjadi dasar dalam kesehatan perempuan melalui bidang olah raga. Olah raga menurut Ki Hadjar Dewantara bukan hanya tentang kesenangan saja, tetapi juga suatu bentuk pemeliharaan serta pendidikan bagi kesehatan badan seperti dalam kalimat yang ditulisanya, yaitu: 33 Ibid., hal 239.

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 “Untuk permulaan haruslah diterangkan, apakah artinja sport itu? Adapun sport itu selain suatu kesenangan, djuga suatu usaha pemeliharaan atau pendidikan tubuh guna kesehatan badan Lain dari pada kesehatan badan, maka sport itu berguna djuga untuk pendidikan batin, jaitu untuk mendidik tabiat: sedjuk hati, saksama, awas, tertib, dan lain-lain.”.34 Maka bagi Ki Hadjar Dewantara setiap perempuan berhak untuk berolahraga bagi kesehatan badannya. Kendati demikian, olah raga bagi perempuan harus berbeda dengan olah raga yang dilakukan laki-laki. Perbedaan ini disebabkan oleh kodrat perempuan yang berbeda dengan kodrat laki-laki. Hal inilah yang mempengaruhi jenis olah raga apa saja yang diperbolehkan untuk perempuan. Menurut Ki Hadjar Dewantara kesehatan pada perempuan mengarah pada badan yang sehat. Yang dimaksud badan yang sehat adalah badan yang tidak mudah terserang penyakit. Pengertian badan sehat antara perempuan dan laki-laki menurut Ki Hadjar Dewantara sangatlah berbeda. Laki-laki memiliki badan yang sehat dan kuat adalah laki-laki yang dapat mengerjakan pekerjaan laki-laki seperti mengangkat benda berat, melawan perbuatan yang harus dilakukan dengan kekuatan badan, melindungi atau membantu dengan menggunakan kekuatan. Sedangkan badan yang sehat untuk perempuan adalah perempuan yang mudah mengerjakan segala perbuatan perempuan. Ki Hadjar Dewantara kembali mengatakan bahwa tubuh perempuan harus sehat sebagaimana mestinya agar mudah mengandung, melahirkan, dan menjaga 34 Ki Hadjar Dewantara, “Perempuan Dan Sport”, Wasita, Desember 1935, Jilid 1, No. 3 dalam ibid., hal 242.

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 anak-anak. Hal ini menjelaskan bahwa kesehatan reproduksi perempuan sangatlah penting. Untuk mudah mengandung dan melahirkan, rahim perempuan menjadi faktor yang sangat penting. Rahim berfungsi sebagai tempat janin tumbuh dan berkembang sebelum dilahirkan. Ketiga ketika perempuan berolah raga masih harus ditekankan pada prinsip kesopanan. Prinsip kesopanan ini menuju pada jenis olah raga apa yang tidak boleh dilakukan oleh perempuan. Pada jenis olah raga tertentu misalnya seperti tinju yang tidak boleh dilakukan perempuan karena mengandung unsur kekerasan. Serta olah raga yang pakaiannya memperlihatkan bentuk tubuh perempuan juga menjadi salah satu syarat kesopanan yang harus ditaati oleh perempuan menurut Ki Hadjar Dewantara. 3.2.4 Organisasi Dalam tulisannya yang berjudul Wanita Taman Siswa: Vrouwenraad dalam Taman Siswa pada tahun 1935, Ki Hadjar Dewantara memaparkan fungsi adanya sebuah badan perempuan, yaitu: “Belum selang lama ini dalam rapat tjabang dan rapat guru Taman Siswa di Mataram-Jogjakarta turut bersidang djuga ,,Madjelis Wanita” kita, untuk ikut memperbintjangkan suatu soal yang sempurna dirundingkan kalau tentang hal itu suara wanita tak kedengaran. Sesungguhnya sudah lama kita rasakan betapa perlunya kita mempunyai ,,Vrouwenraad” jang dapat memberi penerangan pada kita dan dapat bekerdja mengenai beberapa perkara keperempuanan, misalnja soal pendidikan anak perempuan, pengadjaran

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 kepandaian puteri, pemeliharaan gadis, pelanggaran adab dan kesopanan oleh atau terhadap wanita, soal kesutjian dan keadaban, hal kesusilaan tingkah laku, kesusilaan pakaian perempuan, hal tjeritera dan bacaan jang baik untuk anak perempuan dan lain sebagainja.”.35 Adanya kesadaran baik dari kaum laki-laki maupun perempuan bahwa tenaga perempuan sangatlah diperlukan terutama dalam mengajar anak-anak maka Wanita Taman Siswa dibentuk. Selain mengajar, Wanita Taman Siswa berfokus pada bidang keperempuanan di Taman Siswa seperti pendidikan perempuan, pengajaran kepandaian putri, pemeliharaan gadis, pelanggaran adab dan kesopanan oleh atau terhadap perempuan, soal kesucian, hal kesusilaan tingkah laku, kesusilaan pakaian perempuan, hal cerita dan bacaan yang baik untuk anak perempuan dan sebagainya.36 Meskipun Wanita Taman Siswa berfungsi pada pengajaran dan perempuan, pada nyatanya badan tersebut dibentuk untuk menyeimbangkan badan-badan lain yang ada di Taman Siswa. Seperti yang dipaparkan oleh Ki Hadjar Dewantara berikut ini : “Menurut pandangan kami badan wanita kita itu harus djadi sebagian dari Madjelis Luhur kita, sedjadjar dengan badan Paniteraan, badan Bendahara, badan Perusahaan, badan Pengajaran, badan Kesehatan, badan Pemeliharaan Anggota jang sudah tua (Ouderdomzorg) dan lain-lain bagian jang belum atau jang sudah ada, meski masih bersifat persediaan (provisorich).”.37 35 Ki Hadjar Dewantara, “Wanita Taman Siswa: Vrouwenraad dalam Taman Siswa”, Wasita, Desember 1935, Jilid 1 No. 3 dalam ibid., hal 244. 36 37 Buku Peringatan Tamansiswa 30 Tahun 1922-1952, log.cit. Ki Hadjar Dewantara, “Wanita Taman Siswa: Vrouwenraad dalam Taman Siswa”, Wasita, Desember 1935, Jilid 1 No. 3 dalam op.cit., hal 245.

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 59 Sejajarnya kedudukan Wanita Taman Siswa dengan badan-badan lain yang ada di Taman Siswa menunjukkan bahwa posisi perempuan di Taman Siswa memang diperhitungkan. Hal ini juga menunjukkan bahwa Ki Hadjar Dewantara maupun Taman Siswa sendiri memperhitungkan suatu wadah untuk perempuan yang berkegiatan di Taman Siswa. Selain itu dibentuknya Wanita Taman Siswa secara tidak langsung mengajarkan pada kaum perempuan bahwa kaum perempuan harus terlibat aktif dalam segala pekerjaan baik dari segi ide maupun prakteknya. 3.2.5 Perkerjaan Pekerjaan untuk kaum perempuan ditulis oleh Ki Hadjar Dewantara dengan judul “Lapangan Kerdja Bagi Perempuan” pada tahun 1935. Pemikiran Ki Hadjar Dewantara mengenai pekerjaan kaum perempuan diawali dengan keresahan beliau akan mata pencaharian atau pekerjaan yang dilakukan oleh kaum perempuan. Tulisan Ki Hadjar Dewantara mengenai pekerjaan kaum perempuan kembali mengingatkan bahwa apapun yang kaum perempuan lakukan, mereka tidak akan pernah bisa meninggalkan kodratnya. Ki Hadjar Dewantara mengatakan bahwa kaum perempuan semakin sadar akan pekerjaannya. Kaum perempuan mempunyai pandangan bahwa tidak baik hanya bekerja di sektor domestik dan menggantungkan keberlangsungan hidup pada lakilaki atau sanak saudara yang lain. Terlebih lagi tidak semua kaum laki-laki

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 mempunyai pekerjaan yang layak untuk menghidupi keluarganya. Maka dari itu, banyak kaum perempuan yang akhirnya keluar rumah dan mencari pekerjaan untuk keberlangsungan hidup. Mata pencaharian bagi kaum perempuan tidak semata-mata hanya untuk peningkatan perekonomian saja. Ki Hadjar Dewantara mengatakan bahwa mata pencaharian bagi kaum perempuan harus disesuaikan dengan sifat atau kodrat perempuan, sebagai berikut : “Sebaliknja tentang sifatnja mata-pentjaharian buat kaum perempuan, itulah tidak sadja nampak sebagai soal penghidupan belaka, akan tetapi djuga sebagai masalah jang berhubungan dengan perikeadaban kita, jaitu karena tjara hidup perempuan kita amat berbeda dengan tjara hidupnja kaum perempuan dinegeri-negeri jang disebut modern”.38 Bagi Ki Hadjar Dewantara pekerjaan yang dilakukan oleh kaum perempuan tidak hanya untuk peningkatakan perekonomian saja. Pekerjaan yang dilakukan oleh kaum perempuan haruslah sesuai dengan batas-batas kesopanan serta norma-norma yang berlaku. Hal ini dikarenakan kehidupan perempuan Indonesia sangatlah berbeda dengan kehidupan perempuan-perempuan Eropa.39 38 Ki Hadjar Dewantara,”Lapangan Kerdja Bagi Perempuan”, Wasita, November 1935, Jilid 1, No. 3 dalam ibid., hal 258. 39 Kehidupan perempuan-perempuan Eropa dijelaskan oleh Ki Hadjar Dewantara pada tulisannya yang berjudul “Kodrat Perempuan”. Ki Hadjar Dewantara mengatakan bahwa perempuan-perempuan Eropa, pada saat itu, sedang berusaha untuk mendapatkan hak yang sama dengan kaum laki-laki. Akan tetapi, persamaan hak yang dituntut perempuanperempuan Eropa tidak sesuai dengan kodrat perempuan pada umumnya. Perempuanperempuan Eropa tersebut meminta persamaan hak di segala bidang dengan kaum laki-laki. Selain itu, kehidupan perempuan Eropa dijelaskan dalam tulisannya yang berjudul “Perempuan Dan Sport” tentang bagaimana cara perempuan-perempuan Eropa berpakaian.

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 Kaum perempuan di Eropa, menurut Ki Hadjar Dewantara, sering kali bekerja hanya sebagai penarik publik atau sebagai penjaga toko maupun restoran. Mereka diperintahkan oleh majikannya untuk menarik para tamu yang berasal dari kalangan atas untuk masuk ke dalam restoran. Bahkan para tamu yang datang, memberikan perlakuan yang melebihi batas kesopanan kepada perempuan-perempuan tersebut. Pekerjaan perempuan Eropa yang seperti inilah yang sudah melebihi batas kesopanan dan tidak menghiraukan kodrat perempuan sebagaimana mestinya. Seorang majikan yang menggunakan kaum perempuan sebagai pekerjanya, menurut Ki Hadjar Dewantara terdapat beberapa alasan sebagai berikut : “...a. semata-mata untuk menarik perhatian publik karena ketjantikannya;b. untuk melakukan pekerjaan jang berhubungan dengan laku kemaksiatan; c. karena orang perempuan sebagai pegawai biasanya lebih murah dari pada pegawai laki-laki; d. ada pula (tetapi ini bahkan terbilang jarang) kaum madjikan memakai kaum perempuan itu, sebab mereka tjakap melakukan pekerdjaan-pekerdjaan jang chusus dan pasti, misalnya djabatan pengasuh anak-anak, juru rawat, bidan, modes, guru dan sebagainja, jang semuanya itu memang sesuai dengan kodratnja perempuan.”.40 Dalam pernyataan Ki Hadjar Dewantara kaum perempuan di posisikan sebagai objek. Para majikan menjadikan perempuan sebagai alat agar mendapat keuntungan yang lebih banyak. Peryataan Ki Hadjar Dewantara tersebut juga menunjukkan bahwa bentuk fisik dari perempuan sangat diutamakan. Akan tetapi, pada akhir pernyataan, Ki Hadjar Dewantara memaparkan tentang majikan yang mempekerjakan perempuan sesuai dengan kodratnya. Ki Hadjar Dewantara menuliskan bahwa cara berpakaian perempuan-perempuan Eropa sangat memperlihatkan bagian-bagian tubuh yang seharusnya tidak boleh terlihat. 40 Ki Hadjar Dewantara., op.cit, hal 259.

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 Ki Hadjar Dewantara berpendapat setidaknya ada tiga hal yang perlu diperhatikan ketika kaum perempuan ketika mencari pekerjaan. Hal pertama yang harus dilakukan adalah sebagai berikut: “Jang pertamakali wabjiblah kita menjelidiki keadaan lahir dan batin si perempuan jang akan mentjari djabatan. Bagaimakah dasar-dasarnja kebatinan atau budipekerti? Tertibkah tingkah lakunya? Tjukupkah pengetahuannja untuk dapat melakukan pekerdjaannja itu? Lagi pula tjakapkah atau kuatkah tubuhnya untuk djabatan itu? Demikianlah seterusnja pertanjaan-pertanjaan jang mengenai keadaan djiwa dan raganja si perempuan jang akan melakukan pekerjaan itu.”.41 Kondisi kesehatan perempuan sebagai hal pertama yang kemukakan Ki Hadjar Dewantara. Kesehatan menjadi hal penting guna melihat bagaimana perempuan tersebut dapat bekerja dengan baik atau tidak. Seorang perempuan harus memiliki budi pekerti serta ilmu pengetahuan yang baik agar pekerjaannya nanti dapat dikerjakan dengan mudah. Hal ini begitu diperhatikan agar kaum perempuan bekerja sesuai dengan ilmu pengetahuan dan kecakapan dibidangnya. Kedua, ketika kaum perempuan mencari pekerjaan sebaiknya perlu diperhatikan mengenai jumlah lowongan pekerjaan yang ada, seperti berikut: “Kedua kalinja haruslah kita selalu mengingat akan banjak atau sedikitnja djabatandjabatan itu didalam masarakat. Djika lowongan djabatan itu hanja sedikit, djanganlah kiranja kita mengandjur-andjurkan anak-anak perempuan kita untuk mengedjar djabatan itu, kalau ia sekiranya tidak terbilang sungguh pandai, hingga melebihi ketjakapannja orang-orang lain buat pekerdjaan itu.”.42 Memperhatikan jumlah lowongan pekerjaan menjadi salah satu hal penting ketika akan mencari pekerjaan. Jumlah lowongan pekerjaan dapat memberikan 41 Ibid., hal 259. 42 Ibid., hal 260.

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 informasi mengenai berapa jumlah pekerjaan yang membutuhkan pekerja dan berapa jumlah calon pekerja yang dibutuhkan. Selain itu, informasi mengenai jumlah lowongan pekerjaan juga dapat memberikan informasi mengenai jenis pekerjaan dan spesifikasi calon pekerja yang dibutuhkan. Sehingga kaum perempuan dapat mengambil pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya. Hal ketiga yang disampaikan oleh Ki Hadjar Dewantara yaitu mengenai keinginan dalam memilih pekerjaan, sebagai berikut: “Ketiga kalinja wadjiblah kita selalu mengindahkan keinginan dari anak-anak kita,agar mereka dapat memilih dengan merdeka; karena pilihan jang merdeka itu – asalkan berlaku dengan sabar— akan memberi rasa puas atau bahagia kepada anakanak kita.”.43 Memilih pekerjaan sesuai dengan keinginan sendiri, dapat memberikan efek puas terhadap diri sendiri. Selain itu, jika pekerjaan yang didapatkan sesuai dengan keahlian yang dimiliki akan lebih mudah mengerjakannya. Ki Hadjar Dewantara berpendapat bahwa memilih pekerjaan sebaiknya dilakukan oleh anak-anak yang sudah dewasa dalam berpikir. Mereka yang sudah dewasa dipercaya dalam memilih dan memilah pekerjaan yang sesuai dengan keinginan serta keahliannya. Pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang perempuan selalu menegaskan bahwa apapun yang perempuan lakukan dan kerjakan tidak boleh sampai meninggalkan kodratnya. Kodrat perempuan, menurut Ki Hadjar Dewantara adalah sebagai ibu yang mengandung, melahirkan dan menyusui anaknya. Kodrat perempuan tersebut 43 Ibid., hal 261.

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 64 berpengaruh terhadap apa yang dapat dan apa yang tidak dapat dikerjakan oleh perempuan dalam bidang tertentu. Seperti pada keterangan diatas bahwa persamaan hak, pendidikan, kesehatan, organisasi dan pekerjaan merupakan bidang yang dapat perempuan kerjaan sesuai dengan kodratnya. Namun, pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang perempuan tidak berhenti pada ke lima hal tersebut. Pemikiran Ki Hadjar Dewantara mengenai perempuan terdapat juga pada tulisannya yang berjudul “Kemadjuan Adab Perempuan: Kongres Djakarta dan Protes Semarang” pada tahun 1935. Ki Hadjar Dewantara mengemukakan pendapatnya mengenai perbedaan aliran yang ada pada P.P.I.I ketika kongres ini dibentuk44. Beberapa aliran tersebut yaitu aliran kebangsaan, aliran agama, kemasyarakatan, perekonomian serta kerumahtanggaan. Meski berbagai aliran terdapat pada P.P.I.I, peratuan tetap selalu mereka jaga. Pada judul tulisan yang sama pula, Ki Hadjar Dewantara mengemukakan pendapatnya mengenai kaum perempuan yang dijadikan model pertunjukan pada acara pasar malam di Semarang tahun 1935. Acara tersebut adalah ajang kecantikan 44 P.P.I.I dibentuk sebagai hasil dari Kongres Perempuan I pada 22-28 Desember 1928. Organisasi perempuan tersebut dahulu bernama Perikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia yang berganti nama menjadi Perikatan Perkumpulan Istri Indonesia. Agenda P.P.I.I pertama mengangkat persoalan mengenai pendidikan bagi perempuan, yatim piatu dan janda, perkawinan anak-anak, reformasi undang-undang perkawinan Islam, peningkatan harga diri perempuan dan perkawinan paksa. Kemudian pada agenda ke dua mengangkat mengenai persoalan perdagangan perempuan, hak suara perempuan, perlunya Kantor Penerangan Tenaga Kerja untuk perempuan, serta penelitian keadaan sanitasi di kampong serta tingginya angka kematian bayi. Lihat Muhadjir Darwin, Gerakan Perempuan di Indonesia dari Masa ke Masa, (Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Vol. 7, No. 3, 2004), hal 285).

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 65 yang diikuti oleh kaum perempuan yang mendaftar. Mereka yang mendaftar untuk mengikuti ajang tersebut mengenakan pakaian lurik dan diberi nilai oleh para juri. Menurut Ki Hadjar Dewantara para perempuan yang mengikuti ajang tersebut hanya digunakan sebagai alat pertunjukan guna mencari uang, sebagai berikut: “Protes jang timbul di Semarang dan akan mendjalar kemana-mana itu teranglah suatu bukti, bahwa kaum perempuan kita dengan persetudjuan dan sokongan dari kaum kebangsaan dalam umumnja, sungguhlah sadar, lagi selalu bersedia untuk membela diri dimana bordjuis hendak mempermainkan mereka guna alat kesenangan (atraksi, penarik) dan alat untuk mentjari uang. Semangat jang demikian itulah semangat jang pokok dan haruslah terus dianjurkan-andjurkan, oleh karena hanja itulah jang akan dapat melawan semangat manusia jang verburgerlijkt dan senantiasa mempergunakan perempuan sebagai alat perdagangan. Dalam prinsipnya hanja ada ,,gradueel verschil” (hanja sedikit bedanja) antara konkurs-konkurs perempuan itu dengan protisusi, jang dua-duanja tjuma dapat hidup karena dapat pemeliharaan jang sebaik-baiknya dari fihak bordjuis”.45 Ki Hadjar Dewantara menegaskan kembali mengenai kodrat perempuan pada tulisannya yang berjudul Perempuan Dalam Pertumbuhan Adab tahun 1935. Kodrat perempuan sebagai ibu merupakan hal yang tidak dapat dipertukarkan oleh laki-laki. Akan tetapi menjadi seorang ibu yang baik, tidak semua perempuan dapat melakukannya. Ki Hadjar Dewantara mengatakan bahwa menjadi seorang ibu, seluruh bibit, bebet, bobot nya harus baik, seperti berikut ini : “... ,,Bibit” bermaksud : harus baik, sehat, utuh dan sempurna bibitnja, jaitu tubuh djasmaninja si – ladjer atau si pemangku (sjarat fisik); ,,bebet” bermaksud : harus berasal dari turunan jang baik, misalnya turunan ksatrya, turunan dari pendeta dan sebagainja (sjarat biogenetis); ,,bobot” bermaksud : harus baik, dan berat isinja (sjarat kebatinan). Disinilah terbukti adanja ilmu eugenetik nasional.”.46 45 Ki Hadjar Dewantara, “Kemadjuan Adab Perempuan: Kongres Djakarta dan Protes Semarang”, Wasita, Agustus 1935, Jilid 1, No. 7 lihat Ki Hadjar Dewantara, op.cit., 252. 46 Ki Hadjar Dewantara, op.cit., hal 248.

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 66 Bibit, bebet dan bobot seorang perempuan adalah salah satu faktor yang dapat melengkapi kodrat perempuan. Bibit, bebet, bobot merupakan semboyan dalam Taman Siswa terlebih saat akan menentukan calon anak menantu.47 Semboyan tersebut mempunyai maksud agar dalam memilih anak menantu haruslah memilih anak yang sehat. Selain itu anak menantu tersebut haruslah mempunyai pengetahuan yang luas. Taman Siswa menggunakan semboyan tersebut dalam setiap pengajaran adab dan kebudayaan yang bertujuan untuk menyehatkan keturunan. 47 Buku Peringatan Tamansiswa 30 Tahun 1922-1952, op.cit., hal 67.

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 BAB IV PENGARUH PEMIKIRAN KI HADJAR DEWANTARA MENGENAI PEREMPUAN 4.1 Penerapan Pemikiran Ki Hadjar Dewantara Tentang Perempuan Dalam Wanita Taman Siswa Pada bab sebelumnya telah dibahas mengenai apa saja pemikiran Ki Hadjar Dewantara mengenai perempuan. Terdapat juga bagaimana Ki Hadjar Dewantara merealisasikan buah pemikirannya mengenai perempuan di dalam keberlangsungan Taman Siswa. Salah satu realisasi pemikiran Ki Hadjar Dewantara perihal perempuan terdapat pada Wanita Taman Siswa. Wanita Taman Siswa juga selalu identik dengan Nyi Hadjar Dewantara sebagai tokoh pendirinya. Kehadiran Wanita Taman Siswa berjalan seiring dengan dibentuknya Taman Siswa pada 3 Juli 1922. Wanita Taman Siswa berfungsi sebagai pengamat serta penanggung jawab mengenai masalah perempuan baik perorangan maupun kelompok.1 Secara kepengurusan yang resmi Wanita Taman Siswa dibentuk pada tahun 1931 dengan pengurusnya yaitu Nyi Hadjar Dewantara, Ni Surip, Nyi Sudarminto, Nyi S. Sukemi, Nyi Sri Mangunsarkoro, dan Nyi Sudjarwo. 1 Kenangan Tujuh Dasa Warsa Wanita Tamansiswa 3 Juli 1922-3 Juli 1993, (Yogyakarta: Badan Pusat Wanita Tamansiswa, 1992), hal 5.

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 68 Gambar 4.1: Pengurus Wanita Tamansiswa.2 Foto diatas merupakan foto pengurus Wanita Taman Siswa yang diambil pada tahun 1929. Pengurus tersebut yaitu Nyi Hadjar Dewantara, S. Sukaptinah, Nyi Sri Mangunsarkoro, Nyi Surip, Nyi Sugining Suparta, Nyi Achadiyah Suwandi, Nyi Sunryadi dan Ni Sukemi. Selain berfungsi sebagai pengamat dan penanggung jawab masalah perempuan dalam Taman Siswa, Wanita Taman Siswa dibentuk sebagai badan yang mewakili guru perempuan dan istri guru dalam Taman Siswa. Seperti pada bab sebelumnya, sudah diterangkan sedikit mengenai Wanita Taman Siswa yang bersifat ekslusif. Eksklusifnya Wanita Taman Siswa dapat 2 “Pengurus Wanita Taman Siswa Yang Pertama ,” Koleksi Foto Digital Museum Dewantara Kirti Griya (Tamansiswa), accessed November 20, 2018, https://museumdewantara.omeka.net/items/show/3073.

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 69 dilihat melalui anggota yang terdapat di dalamnya. Wanita Taman Siswa hanya memperbolehkan guru, istri guru serta anggota-anggota perempuan yang tergabung dalam Taman Siswa saja. Perempuan yang tidak terdaftar dalam Taman Siswa tidak diperbolehkan menjadi anggota Wanita Taman Siswa. Sifat keanggotaan Wanita Taman Siswa telah ditetapkan pada tahun 1931 ketika badan tersebut telah resmi secara kepengurusan. Kemudian Ki Hadjar Dewantara mempertegas sifat keanggotaan Wanita Taman Siswa dengan mengatakan bahwa badan ciri khas Wanita Taman Siswa sebagai pemberi nasihat dan korektif bagi Majelis Luhur tidak boleh dipengaruhi oleh orang luar.3 Akibat dari keanggotaannya yang ekslusif, Wanita Taman Siswa tidak boleh ikut campur dalam urusan partai politik. Gambar 4.2: Konferensi Wanita Taman Siswa.4 Pada tahun 1932, Taman Siswa menghadapi suatu masalah dimana Pemerintah Hindia Belanda kala itu mengeluarkan peraturan atau lebih dikenal 3 4 Ibid., hal 9. “Konferensi Wanita Taman Siswa,” Koleksi Foto Digital Museum Dewantara Kirti Griya (Tamansiswa), accessed November 20, 2018, https://museumdewantara.omeka.net/items/show/3064

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 70 sebagai Ordonansi Sekolah Liar.5 Peraturan tersebut berdampak pada guru-guru yang terkena larangan mengajar dari pemerintah Hindia Belanda. Maka pada Desember 1932, Wanita Taman Siswa mengadakan konferensi untuk menghadapi peraturan tersebut. Pada konferensi tersebut Ki Hadjar Dewantara mengatakan bahwa Wanita Taman Siswa harus menjadi Srikandi-Srikandi dan SembrodoSembrodo dalam menghadapi peraturan tersebut. Wanita Taman Siswa kembali menjadi salah satu anggota Kongres Perempuan Indonesia ke dua pada tahun 1935. Pada Kongres Perempuan Indonesia yang pertama tahun 1928, Wanita Taman Siswa yang diwakili oleh Nyi Hadjar Dewantara menjadi salah satu pencetusnya. Dalam pencetusan Kongres Perempuan Indonesia, Nyi Hadjar Dewantara bersama-sama dengan dua orang lainnya yaitu Ny. Sukonto dari Wanita Utomo dan N. Suyatin dari Putri Indonesia. Masalah yang dibahas antara lain sama dengan Wanita Indonesia namun dengan luang lingkup yang lebih luas. Seiring dengan bergantinya tahun, Wanita Taman Siswa pun mengalami reorganisasi kepengurusan. Tercatat sudah sebanyak empat periode sejak diresmikannya badan tersebut hingga tahun 1959. Pergantian kepengurusan tersebut mengalami perkembangan baik dalam jumlah anggota maupun dalam jenis bidang-bidangnya, antara lain 5 1 Oktober 1932 Pemerintah Hindia Belanda mulai memberlakukan UndangUndang Pengajaran atau yang lebih dikenal sebagai Ordonansi Sekolah Liar. Pemberlakuan peraturan tersebut dilatar-belakangi semakin kuatnya pergerakan nasional terutama dalam pendidikan. Taman Siswa menjadi salah satu sekolah yang merasakan adanya peraturan tersebut

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 a. Periode pertama tahun 1931-1936 jumlah pengurus masih terbatas yaitu Nyi Hadjar Dewantara sebagai ketua, Ni Soerip sebagai Panitera, Nyi Sudarminto dan Nyi Sunaryati sebagai anggota. Kemudia terdapat dua perwakilan yaitu Nyi Sri Mangunsarkoro sebagai perwakilan Jawa Barat dan Nyi Sudjarwo sebagai perwakilan Jawa Timur. b. Periode kedua yaitu 1937-1949 Nyi Hadjar Dewantra dan Ni Soerip masih menjabat sebagai ketua dan pemimpin umum. Akan tetapi, pada periode ini panitera dijabat oleh Ni Marminah. Nyi Mangunsarkoro, Nyi Moch Tauhid, Nyi Hadiprabowo dan Nyi Soemantri menjabat sebagai pengurus badan pertimbangan. Sedangkan Nyi Soedarminta, Nyi Samsoe SH, Nyi Satriya, Nyi Soehardjo, dan Nyi Bariyoen menjabat sebagai badan pengawas. c. Periode tahun 1950-1955 jumlah anggota dan jumlah kepengurusansemakin bertambah banyak. Nyi Hadjar Dewantara, Ni Soerip dan Nyi Soehardjo menjabat sebagai ketua. Ni Marminah dan Nyi Isti Kartini menjabat sebagai panitera, sedangkan bagian bendahara dijabat oleh Ni Sakdiah Saleh dan Nyi S. Sastrahutama. Bagian terakhir adalah pembantu umum yaitu Nyi Sudarminto, Nyi Sastrowibowo, Ni Sutarti Amirin, dan Nyi Sugondo Kartidiprodjo. d. Periode 1956-1959 mengalami perkembangan jumlah yang banyak. Nyi Hadjar Dewantara sebagai pemimpin umum, Nyi Tuti Darmani Djiwa sebagai ketua, dan Nyi Ramelan sebagai wakil ketua. Panitera dijabat oleh

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 Nyi Darsiti Soeratman dan Nyi Mulyanto. Bendahara dijabat oleh Nyi A. Hertog dan Nyi Murwantiyah. Nyi Isti Kartini pada bagian usaha dan sosial, Ni Karmini dan Ni Subaring pada bagian pembantu umum. Bagian pendidikan dan penerangan dijabat oleh Ni Supadmi dan Nyi Ramelan. Pada periode ini, Wanita Taman Siswa menyebarkan perwakilannya pada Yayasan Hari Ibu Yogyakarta yaitu Nyi Ramelan, pada Kowani Jakarta yaitu Nyi Suwarti dan Nyi Satriyowibowo. Sedangkan perwakilan pada daerah yaitu diserahkan oleh masing-masing cabang yaitu cabang Ibu Pawiyatan, cabang Bandung, cabang Jakarta, cabang Palembang dan cabang Pematag Siantar. Wanita Taman Siswa mengalami perkembangan dari tahun ke tahun. Bahkan badan tersebut mampu menjalankan tugasnya seiring dengan asas-asas Taman Siswa. Selain itu, atas peran dan kedudukannya dalam Taman Siswa, Wanita Taman Siswa dapat mengoptimalkan kerjanya baik ke dalam maupun ke luar. Hal ini membuktikan bahwa Wanita Taman Siswa yang merupakan sebuah badan perempuan dapat sederajat kedudukannya dengan badan lain yang ada di Taman Siswa. Dalam tulisannya yang berjudul Wanita Taman Siswa: Vrouwendraad Dalam Taman Siswa, Ki Hadjar Dewantara menyadari akan pentingnya peran perempuan terutama dalam menghadapi masalah keperempuanan. Maka dari itu, pembentukan sebuah badan keperempuanan dirasa cocok untuk mengurusi masalah tersebut. Tidak hanya sebagai badan yang mengurusi masalah keperempuanan, terbentuknya Wanita Taman Siswa diharapkan mampu untuk

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 73 menjadi penyeimbang dalam kemajuan Taman Siswa. Masalah keperempuanan yang menjadi fokus utama Wanita Taman Siswa merupakan yang terdapat dalam Taman Siswa.6 Ki Hadjar Dewantara kembali mengemukakan pendapatnya bahwa Wanita Taman Siswa dalam menjalankan pekerjaan harus sejajar kedudukannya dengan badan-badan lainnya yaitu Badan Paniteraan, Badan Bendahara, Badan Perusahaan, Badan Pengajaran, Badan Kesehatan, serta Badan Pemeliharaan Anggota yang Sudah Tua.7 Selain itu, Ki Hadjar Dewantara menegaskan bahwa Wanita Taman Siswa menjadi bagian dari keberlangsungan Taman Siswa dalam Majelis Luhur. Sebagai pendiri Taman Siswa, Ki Hadjar Dewantara memang tidak banyak terjun langsung dalam kepengurusan Wanita Taman Siswa. Ki Hadjar Dewantara menyerahkan segala urusan mengenai perempuan di Taman Siswa pada Wanita Taman Siswa. Meski Wanita Taman Siswa merupakan sebuah badan keperempuanan, dasar-dasarnya atau asas-asasnya tidak boleh menyeleweng dari asas-asas dan dasar-dasar Taman Siswa. Maka beberapa pemikiran Ki Hadjar Dewantara mengenai perempuan ada yang dijadikan asas oleh Wanita Taman Siswa. 6 Urusan keperempuanan dalam Taman Siswa yaitu pendidikan anak perempuan, pengajaran kepandaian putri, pemeliharaan gadis, pelanggaran adab dan kesopanan oleh atau terhadap wanita, soal kesucian dan keadaban, hal kesusilaan tingkah laku, kesusilaan pakaian perempuan, hal cerita dan bacaan yang baik untuk anak perempuan dan lain sebagainya, lihat Ki Hadjar Dewantara, “Wanita Taman Siswa: Vrouwendraad Dalam Taman Siswa”, Wasita¸ Desember 1928, Jilid 1, No. 3. 7 Ibid.,

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 74 Pemikiran Ki Hadjar Dewantara mengenai kodrat manusia menjadi salah satu hal utama yang adopsi. Asas Wanita Taman Siswa menjelaskan bahwa kodrat manusia menjadi laki-laki dan perempuan bersifat kekal. Sifatnya yang kekal ini lah maka laki-laki menjadi tiang turunan sedangkan perempuan menjadi pemangku turunan. Sebagai tiang turunan dan pemangku turunan, laki-laki dan perempuan senantiasa merawat dan menjaga turunannya. Hal ini dimaksudkan agar turunan mereka tidak menyimpang dari kodrat mereka sebagai laki-laki maupun sebagai perempuan. Pemikiran Ki Hadjar Dewantara mengenai persamaan hak antara perempuan dan laki-laki menjadi salah satu dasar pemikiran yang dijadikan asas Wanita Taman Siswa. Perempuan dan laki-laki memiliki hak yang sama dalam kehidupannya seperti kedudukan dan perannya pada masyarakat. Perbedaan yang terletak antara perempuan dan laki-laki hanyalah perebedaan mengenai sifat lahir dan batin. Sifat lahir dan batin merupakan sifat yang melekat pada diri laki-laki dan perempua. Keduanya tidak dapat dihilangkan ataupun dipisahkan. Pemikiran Ki Hadjar Dewantara mengenai perempuan yang terdapat pada asas Wanita Taman Siswa lainnya yaitu pengaruh perempuan sebagai pemangku turunan. Pemangku turunan diartikan sebagai seorang ibu yang mempunyai tugas untuk mendidik turunannya. Maka dari itu, seorang perempuan diharuskan mempunyai budi pekerti dan pendidikan yang baik. Kedua hal ini dapat mempengaruhi sifat perempuan ketika mendidik anak-anaknya.

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 75 4.2 Peran dan Kedudukan Wanita Taman Siswa Wanita Taman Siswa merupakan salah satu badan yang bertanggung jawab terhadap keberlangsungan Taman Siswa khususnya pada bidang perempuan. Hampir seluruh aspek yang bersinggungan dengan perempuan pada Taman Siswa, Wanita Taman Siswa lah yang menanganinya. Selain itu, adanya badan Wanita Taman Siswa telah membuktikan bahwa Taman Siswa memberikan wadah bagi kaum perempuan untuk mengoptimalkan dirinya di luar pekerjaan yang seharusnya. Hal ini yang membuat badan Wanita Taman Siswa sangat diperhitungkan kedudukannya dalam Taman Siswa. Sebagai suatu badan yang berdiri sejajar dengan badan lainnya, maka Wanita Taman Siswa juga mempunyai peraturan. Peraturan tersebut berupa asasasas Wanita Taman Siswa yang isinya sama-sekali tidak menyimpang dari asasasas Taman Siswa sendiri. Asas-asas tersebut berbunyi demikian:8 1. Kodrat iradatnya hidup manusia yang berwujud perempuan dan laki-laki itu, sungguhlah mengandung maksud akan kekalnya turunan, dalam hal mana orang laki-laki menjadi lajer atau tiang turunan dan orang perempuan menjadi pemangku turunan. 2. Dalam pangkal hidupnya perempuan dan laki-laki itu hak dan harga mereka itu samalah, sedangkan perbedaan antara mereka itu hanya semata- 8 Kenangan Tujuh Dasa Warsa Wanita Tamansiswa 3 Juli 1922-3 Juli 1993, (Yogyakarta: Badan Pusat Wanita Tamansiswa, 1992), op.cit., hal 9-11.

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 76 mata mengenai perbedaan hidup lahir dan batin yang khusus buat masingmasing. 3. Manusia sebagai makhluk yang insyaf akan hidup, wajiblah berusaha akan kekal dan baiknya turunan sesuai dengan kodrat alam, sebagai terbukti dari beberapa alamat, yang dalam hakikatnya bermaksud mengenal dan memperbaiki turunan itu, atau melawan segala perbuatan dan segala keadaan yang merintangi kekal dan baiknya turunan itu. 4. Segala syarat untuk mencapai kekal dan baiknya turunan, haruslah bermaksud memperteguh rasa kesucian dalam batinnya manusia dan memajukan ketertiban dalam hidupnya manusia bersama, seperti terkandung dalam syarat agama, adat dan hukum. 5. Menurut kodrat iradatnya hidup dan terbukti dari riwayat kemanusiaan zaman purbakala, maka amatlah besar pengaruhnya perempuan sebagai pemangku turunan atas bertumbuhnya rasa kesucian dan rasa ketertiban, sehingga pendidikan anak-anak atas pembangunan masyarakat tidak akan dapat sempurna, jika tidak mempergunakan pengaruh perempuan yang baik itu. 6. Di mana Taman Siswa mewujudkan dirinya keluarga besar yang suci maka berhak dan wajiblah kaum perempuan di dalam kalangan Taman Siswa selalu mempergunakan pengaruh keperempuanan yang menuju ke arah kesucian dan ketertiban dalam masyarakat Taman Siswa.

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 77 7. Oleh karena Wanita Taman Siswa adalah sebagian dari badan Taman Siswa, maka segala syarat keperempuanan, yang diadakan olehnya tidak boleh menyalahi asas Taman Siswa dan harus sesuai dengan kebangsaan dalam maksudnya yang sejati, yaitu memperteguh adat kemanusiaan. Asas-asas Wanita Taman Siswa tersebut juga dilengkapi dengan hak dan kewajiban para anggota Wanita Taman Siswa sebagai bagian dari Taman Siswa. Kewajiban Wanita Taman Siswa adalah membantu Taman Siswa dalam segala usahanya yang bersifat ke dalam maupun ke luar. 9 Kewajiban ke dalam yaitu segala bidang yang berhubungan dengan Taman Siswa terutama yang mengenai masalah keperempuanan. Sedangkan kewajiban ke luar yaitu mengadakan hubungan dengan dunia luar atau organisasi lain yang asas dan tujuannya tidak bertentangan dengan asas dan tujuan Wanita Taman Siswa. Kewajiban luar Wanita Taman Siswa dijalankan salah satunya dengan menjadi anggota Kongres Perempuan. Pada Kongres Perempuan pertama tahun 1928, Nyi Hadjar Dewantara menjadi salah satu anggota Wanita Taman Siswa yang menjadi perintis diadakannya Kongres tersebut. Maksud dan tujuan diadakannya Kongres tersebut yaitu sebagai sarana untuk mempertemukan berbagai organisasi Wanita Indonesia supaya bisa secara bersama-sama membicarakan perihal kewajiban keperluan dan kemajuan wanita.10 9 Darsiti Soeratman, Wanita Taman Siswa dan Hidup Kekeluargaan, (Yogyakarta: Badan Pusat Wanita Taman Siswa, 1979), hal 19. 10 Sejarah Setengah Abad Pergerakan Wanita Indonesia, (Jakarta: PN Balai Pustaka, 1978), hal 33.

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 78 Atas peran dan kedudukan Wanita Taman Siswa dalam keberlangsungan Taman Siswa, maka beberapa anggota Wanita Taman Siswa ada yang menjadi perwakilan dalam kepengurusan Mejelis Luhur Persatuan Taman Siswa, sebagai berikut:11 - Tahun 1934 Nyi Hadjar Dewantara dan Ni Surip menjadi anggota Majelis Luhur. - Tahun 1936 Nyi Hadjar Dewantara menjadi anggota Badan Pemangku Asas. - Tahun 1938 Nyi Hadjar Dewantara dan Nyi Sukemi menjadi anggota Badan Pemangku Asas. - Tahun 1942 ketika Jepang menduduki Indonesia Nyi Hadjar Dewantara dan Ni Surip menjadi anggota Majelis Luhur. - Tahun 1944 Nyi Hadjar Dewantara dan Ni Surip kembali menjadi anggota Majelis Luhur. - Tahun 1947 Nyi Hadjar Dewantara menjabat sebagai anggota Dewan Pengetua, Nyi S. Mangunsarkoro dan Nyi D.M. Hadiprabowo menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan, sedangkan Nyi S. Satriyowibowo dan Ni Soerip menjabat sebagai anggota Badan Pendidikan. 11 Kenangan Tujuh Dasa Warsa Wanita Tamansiswa 3 Juli 1922-3 Juli 1993, op.cit., hal 11.

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 79 - Tahun 1950 Ni Marminah menjabat sebagai anggota Bagian Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan. 4.3 Pengaruh Pemikiran Ki Hadjar Dewantara Mengenai Perempuan 4.3.1 Perempuan Dan Kodratnya Masyarakat masih banyak yang keliru mengenai konsep pemikiran akan kodrat manusia terutama kodrat kaum perempuan. Pemahaman masyarakat mengharuskan perempuan untuk bekerja hanya di dalam rumah seperti memasak, mengurus rumah, suami, serta anak-anaknya. Perempuan pun masih dianggap tabu jika dirinya memiliki pendidikan yang tinggi. Anggapan tersebut kembali pada pemahaman masyarakat bahwa tugas utama perempuan hanyalah mengurus rumah tangga, suami, dan anak-anaknya. Pemahaman masyarakat yang demikian merupakan suatu konstruksi sosial atas tugas dan peran antara laki-laki dan perempuan. Tugas dan peran antara lakilaki dan perempuan tersebut terbagi menjadi dua yaitu sektor publik dan sektor domestik. Terbaginya tugas dan peran dalam masyarakat kemudian dijadikan kewajiban dalam mengatur pekerjaan. Lambat laun, konsep tersebut dianggap sebagai suatu pemberian Tuhan serta kodrat yang harus dilaksanakan baik antara perempuan maupun laki-laki. Masyarakat di daerah Jawa masih sangat kental dengan konsep tersebut. Konsep tersebut kemudian dipatahkan Ki Hadjar Dewantara dengan mengatakan bahwa kodrat perempuan yaitu menjadi ibu. Ki Hadjar Dewantara

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 80 tidak membenarkan bahwa kodrat perempuan adalah mengurusi hal rumah tangga saja. Bahkan Ki Hadjar Dewantara berani memberikan narasi bahwa kaum perempuan diharuskan untuk mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Menurut Ki Hadjar Dewantara, pendidikan merupakan wadah yang cocok bagi kaum perempuan. Pendidikan mampu memberikan pandangan, wawasan serta pengetahuan baru bagi perempuan tanpa harus meninggalkan kodratnya. Ki Hadjar Dewantara mampu memberikan pemahaman mengenai kodrat antara perempuan dan laki-laki dengan tidak menyinggung pemahaman yang sudah ada. Kodrat menurut Ki Hadjar Dewantara yaitu, pada perempuan menjadi pemangku turunan, sedangkan pada laki-laki yaitu menjadi tiang turunan atau ladjer.12 Seperti yang dikatakan Ki Hadjar Dewantara berikut ini : “Teranglah dari pada tjeritera dimuka itu, bahwa untuk kemadjuan hidup manusia njatalah ,,ladjer-turunan” harus kuat, sedang ,,pemangku-turunan” harus sutji.”13 Kedua perumpamaan tersebut menggunakan kata-kata turunan yang sama halnya dengan kata keturunan. Keturunan dapat diartikan sebagai anak, cucu, atau generasi yang dilahirkan dari generasi sebelumnya.14 Maka baik ladjer turunan dan pemangku turunan keduanya berhubungan dengan keturunan yang akan 12 Pemangku turunan dan tiang turunan atau ladjer adalah sebuah kata perumpamaan yang digunakan Ki Hadjar Dewantara untuk menyebut perempuan dan laki-laki. Perumpamaan tersebut digunakan berdasarkan kodrat antara perempuan dan laki-laki yang sesungguhnya. 13 Ki Hadjar Dewantara, Perempuan Dalam Pertumbuhan Adab, “Wasita”, Juli 1935, Jilid 1, No. 6 dalam Ki Hadjar Dewantara, Kebudayaan, (Yogyakarta: Madjelis Luhur Persatuan Tamansiswa, 1967), hal 248. 14 https://kbbi.kata.web.id/turunan/ diakses pada tanggal 8 Januari 2019.

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 81 dihasilkan kemudian. Ladjer turunan dan pemangku turunan haruslah memiliki latar belakang yang baik, sehingga dapat memperbaiki keturunannya. Beberapa kali telah dituliskan bahwa menjadi ibu adalah kodrat bagi kaum perempuan. Ditegaskan kembali bahwa menjadi ibu yaitu berarti akan mengandung anak dan melahirkan anak.15 Mengandung dan melahirkan anak adalah salah satu sifat biologis yang dimiliki oleh kaum perempuan. Maka dapat dikatakan bahwa pemahaman kodrat perempuan menurut Ki Hadjar Dewantara yaitu perempuan dalam sifat bilogisnya. Tentu saja sifat biologis perempuan tidak hanya perihal mengandung dan melahirkan anak, tetapi juga mengenai ciri-ciri fisik yang terlihat yang berbeda dengan laki-laki. Dari keterangan diatas menunjukkan bahwa pemahaman Ki Hadjar Dewantara mengenai kodrat perempuan yaitu sesuatu yang bersifat alami. Sifat tersebut sangat melekat antara laki-laki dan perempuan dan tidak dapat dipertukarkan satu sama lain. Jika dikonsep kan, maka pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang kodrat perempuan adalah konsep sex atau jenis kelamin. Konsep sex ini membagi peran antara perempuan dan laki-laki yang ditentukan secara biologisnya.16 Sifat biologis pada perempuan adalah memiliki alat 15 Ki Hadjar Dewantara, “Kodrat Perempuan”, Wasita, Desember 1928, Jilid 1, No. 3 dalam Ki Hadjar Dewantara, op.cit., hal 238. 16 Dr. Mansour Fakih, Analisisi Gender Dan Transformasi Sosial, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003); hal 8.

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 82 reproduksi yaitu rahim dan saluran untuk melahirkan, memiliki payudara untuk menyusui, memiliki vagina dan memproduksi telur.17 4.3.2 Ki Hadjar Dewantara Menginspirasi Soekarno Bicara Mengenai Perempuan Sebagai seorang tokoh nasional, tidak bisa dipungkiri bahwa pemikiran Ki Hadjar Dewantara menginspirasi banyak orang. Sepak terjangnya pada perjuangan kemerdekaan menjadi sebuah landasan oleh setiap orang yang mengidolakannya. Semangatnya dalam melawan sistem pemerintahan Belanda mampu menggerakkan setiap insan demi menuju Indonesia merdeka. Salah satu tokoh nasional yang terinspirasi oleh pemikiran Ki Hadjar Dewantara yaitu Soekarno. Sejarah pemikiran Soekarno mengenai perempuan, dia tuangkan dalam sebuah buku karyanya yang berjudul “Sarinah”.18 Sarinah sendiri adalah nama seorang pengasuh Soekarno yang membantu ibunya merawat Soekarno ketika masih kecil. Nama pengasuh tersebut kemudian dia jadikan sebuah judul buku sebagai rasa terimakasih karena telah merawat Soekarno. Rasa terimakasih Soekarno dikarenakan Sarinah banyak mengajarkan dirinya tentang mencintai orang kecil. 17 18 Ibid., Soekarno, Sarinah, (Yogyakarta: Yayasan Gema Indonesia dan Pena Persada, Cetakan kedua, 2003).

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 83 Kegelisahan Soekarno mengenai perempuan berawal ketika dirinya sedang berkunjung ke rumah temannya. Pada waktu itu, Soekarno masih seorang interniran.19 Rumah teman Soekarno mempunyai sebuah toko di depan rumah utamanya. Tentunya Soekarno tidak sendiri, dia bersama dua orang teman lainnya yang merupakan pasangan suami istri. Ketika istri teman Soekarno menanyakan kepada tuan rumah tentang istrinya, langsung saja tuan rumah menjawab bahwa istrinya sedang tidak ada di rumah. Tuan rumah tidak mempersilahkan istrinya untuk duduk bersama para tamu dan berbincang-bincang. Pada waktu tuan rumah berbicara bahwa istrinya tidak berada di rumah, Soekarno melihat ke arah rumah utama yang hanya disekat menggunakan tirai dengan toko. Di balik tirai tersebut, Soekarno melihat seorang perempuan yang sedang mengintip pembicaraan mereka. Seketika itu, pikiran Soekarno terpecah antara sang tuan rumah yang berkata bahwa istrinya tidak di rumah dengan seorang perempuan yang sedang mengintip di balik tirai. Kemudian Soekarno mengetahui bahwa perempuan tersebut adalah istri dari sang tuan rumah. Hatinya bergejolak, mengapa sang tuan rumah tidak mau berterus terang bahwa istrinya sedang di rumah. Perihal kedua yang menjadi awal kegelisahan Soekarno datang dari temannya yang berasal dari Bengkulu. Temannya adalah orang terpandang di 19 Menurut KBBI, interniran berasal dari kata internir yang mempunyai arti yaitu menempatkan orang atau sekelompok orang (tawanan perang, pelarian dan sebagainya) di suatu tempat tinggal tertentu dan melarangnya meniggalkan tempat tersebut atau berhubungan dengan orang lain; mengasingkan; memenjarakan. Jadi interniran yaitu orang yang diinternir atau orang yang diasingkan dan dipenjarakan lihat https://kbbi.web.id/internir diakses tanggal 9 Januari 2019.

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 84 Bengkulu dan sudah mempunyai istri. Akan tetapi, sang suami tidak memperbolehkan istrinya untuk pergi ke luar rumah. Alasan suami tersebut yaitu karena dirinya amat sangat mencintai istrinya. Selain itu, sang suami tersebut sangat menghormati dan menjunjung tinggi istrinya, sehingga ia tidak mau jika istrinya kelak ada yang menghina. Pada akhir percakapan Soekarno dengan temannya dari Bengkulu, suami tersebut mengatakan bahwa dia memperlakukan istrinya sebagai sebutir mutiara. Bagi Soekarno, dalam proses menyusun negara serta masyarakat tidak akan mendapatkan hasil yang baik jika perihal perempuan tidak diperhatikan.20 Perempuan, dalam kehidupannya harus diberi kemerdekaan agar dapat mengoptimalkan dirinya sebagai istri maupun sebagai ibu. Dua peristiwa diatas menyadarkan Soekarno bahwa dengan menganggap istri sebagai mutiara tak lain hanya mengurungnya. Perempuan yang dianggap sebagai mutiara tersebut mereka jaga, hormati, dan muliakan. Akan tetapi, perlakuan tersebut membuat kaum perempuan merasa terkurung, hanya di dalam rumah, dan tidak bebas. Pengaruh pemikiran Ki Hadjar Dewantara mengenai perempuan pada pemikiran Soekarno terletak pada adanya kutipan yang ditulis Soekarno. Dalam buku “Sarinah”, setidaknya ada satu kutipan kalimat Ki Hadjar Dewantara yang dikutip lalu menjadi salah satu dasar Soekarno dalam berbicara mengenai perempuan. Kutipan tersebut merupakan salah satu kalimat yang ditulis Ki Hadjar 20 Ibid., hal 1.

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 85 Dewantara dengan judul “Kodrat Perempuan” pada majalah Wasita tahun 1928. Kutipan tersebut adalah sebagai berikut: “... “Janganlah tergesa-gesa meniru cara modern atau cara Eropa, janganlah juga terikat oleh rasa konservatif atau rasa sempit, tetapi cocokkanlah semua barang dengan kodratnya” Inilah perkataan Ki Hadjar Dewantara yang pernah saya baca. Saya kira buat soal perempuan kalimat inipun menjadi pedoman yang baik sekali...”.21 Sebelum mengutip tulisan Ki Hadjar Dewantara tersebut, Soekarno berbicara mengenai pergerakan perempuan di negara-negara Eropa. Menurut Soekarno, pergerakan perempuan di negara-negara Eropa yang lebih dikenal dengan feminisme, ternyata tidak berjalan dengan seharusnya. Pergerakan yang pada mulanya digunakan untuk menuntut persamaan hak antara laki-laki dan perempuan, dalam perkembangannya digunakan untuk mencari-cari hal lain yang dapat disamakan antara laki-laki dan perempuan. Hal-hal tersebut antara lain yaitu persamaan tingkah laku, persamaan cara hidup, hingga persamaan bentuk pakaian. Soekarno mengatakan dengan tegas bahwa pergerakan feminisme yang terjadi di Eropa sudah tidak pada tempatnya. Pergerakan feminisme tersebut sudah pada level dimana kodrat perempuan mulai disamakan dengan laki-laki. Kaum perempuan di Eropa mulai mengikuti kaum lelaki untuk mencari nafkah pada perusahaan-perusahaan dengan menjadi buruh. Pekerjaan utama seorang perempuan sebagai ibu serta istri ditambahi dengan sebagai buruh. Akan tetapi, pekerjaan sebagai buruh tidak memberikan waktu yang cukup kepada kaum perempuan di Eropa untuk menjadi ibu dan istri. Hal ini lah yang membuat Soekarno berpendapat bahwa feminisme di Eropa terasa gagal. 21 Soekarno, op.cit., hal 8.

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 86 Ketika Soekarno melihat bagaimana kaum perempuan di Eropa berperilaku, terdapat kesamaan dengan bagaimana Ki Hadjar Dewantara melihatnya. Pada tulisan Ki Hadjar Dewantara yang berjudul “Kodrat Perempuan”, beliau melihat bahwa kaum perempuan di Eropa sudah menuntut hak yang sama dengan kaum laki-laki dalam segala hal. Kemudian, Ki Hadjar Dewantara menjadikan khasus tersebut sebagai contoh kepada kaum perempuan dalam menuntut persamaan hak. Hal ini diperkuat lagi, dimana Ki Hadjar Dewantara melihat dengan kacamatanya sendiri bagaimana keadaan bangsa Eropa ketika dirinya menjalani hukuman di Belanda. Dikutipnya tulisan Ki Hadjar Dewantara oleh Soekarno, menunjukkan bahwa dalam membahas mengenai masalah perempuan, Soekarno sependapat dengan Ki Hadjar Dewantara. Terlebih ketika Soekarno membandingkan kaum perempuan di Indonesia dengan di Eropa. Maksud dan tujuan Soekarno menulis gerakan feminisme di Eropa bukan untuk menyulut api dengan perempuan Indonesia. Melainkan untuk memberikan contoh kepada kaum perempuan Indonesia, agar dapat meniru hal baik dari gerakan feminisme, dan meninggalkan hal buruk seperti contoh diatas. Meski Soekarno hanya mengutip sepenggal kalimat dari Ki Hadjar Dewantara, dalam perkembangannya terdapat beberapa pemikiran yang sama antara dua tokoh nasional tersebut. Pemikiran tersebut antara lain adalah mengenai persamaan hak dan kodrat perempuan. Adanya persamaan pemikiran mengenai perempuan, membuktikan bahwa Ki Hadjar Dewantara mempunyai pengaruh besar terhadap perekembangan pemikiran Soekarno. Meski begitu, baik

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 87 Soekarno maupun Ki Hadjar Dewantara masih mempunyai keunikannya sendirisendiri dalam menuangkannya melalui tulisan. Persamaan hak antara laki-laki dan perempuan, menurut Ki Hadjar Dewantara adalah persamaan mengenai kedudukan dan perannya dalam masyarakat. Persamaan hak ini, mengandung arti bahwa setiap peran dalam masyarakat, baik laki-laki dan perempuan, harus memikul tanggung jawab secara bersama-sama. Persamaan hak juga ada batasnya karena antara laki-laki dan perempuan memiliki kodrat yang berbeda. Baik laki-laki dan perempuan hal yang tidak dapat disamakan adalah hal lahir dan juga hal batin.22 Kedua hal tersebut sudah melekat pada diri laki-laki dan perempuan dan tidak dapat diubah oleh konstruksi sosial apapun. Sedangkan menurut Soekarno, persamaan hak yang terdapat antara lakilaki dan perempuan berkaitan juga dengan praktek kemanusiaan. Laki-laki dan perempuan harus bisa menjalankan perannya secara beriringan sebagai masyarakat. Baik laki-laki atau perempuan harus sejajar agar tidak ada dominasi dalam suatu masyarakat. Hal tersebut Soekarno tulis dalam bukunya sebagai berikut : “... Dan kemanusiaan akan terus pincang, selama sap yang satu menindas sap yang lain. Harmoni hanyalah dapat tercapai, kalau tidak ada sap satu diatas sap 22 Hal lahir seperti pakaian, perilaku, maupun pekerjaan. Sedangkan hal batin yaitu rasa adab, cinta kasih, kehalusan budi, kesucian serta kesopanan. Lihat Ki Hadjar Dewantara, “Kodrat Perempuan”, Wasita, Jilid 1, No. 3 dalam Ki Hadjar Dewantara, Kebudayaan¸(Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, 1967), hal 238.

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 88 yang lain, tetapi dua “sap” itu sama-derajat,--berjajar—yang satu disebelah yang lain, yang satu memperkuat kedudukan yang lain..”.23 Penjelasan Soekarno mengenai persamaan hak antara laki-laki dan perempuan, adalah sama dengan persamaan hak yang dibicarakan oleh Ki Hadjar Dewantara. Keduanya mempunyai pandangan mengenai persamaan akan kedudukan, serta peran yang sejajar antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat. Jika terdapat ketimpangan seperti laki-laki lebih mendominasi atau perempuan yang lebih mendominasi, maka kondisi masyarakat tersebut tidak dapat seimbang. Keputusan-keputusan yang dibuat pun hanya terpaku pada satu pemikiran saja yaitu pemikiran laki-laki saja atau pemikiran perempuannya saja. Persamaan pemikiran lainnya yaitu terdapat pada pemikiran akan kodrat perempuan. Ki Hadjar Dewantara mengatakan bahwa kodratnya perempuan adalah menjadi ibu. Menjadi ibu menurut Ki Hadjar Dewantara, bukanlah menjadi seorang ibu rumah tangga saja yang pekerjaannya hanya berkutat pada rumah dan segala isinya. Menjadi ibu menurut Ki Hadjar Dewantara, adalah menjadi ibu secara biologis yaitu melahirkan anak, menyusui anaknya serta mengurusi anaknya. Maka dapat dikatakan bahwa kodrat perempuan menjadi ibu, adalah menjadi ibu secara biologis. Pemikiran akan kodrat perempuan menurut Soekarno hampir sama dengan Ki Hadjar Dewantara. Hanya saja, Soekarno menggunakan kata-kata yang begitu tegas, seperti berikut ini: 23 Soekarno, op.cit., hal 11.

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 89 “Sekali lagi: ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Tetapi sekali lagi pula saya ulangi disini, bahwa perbedan-perbedaan itu hanyalah karena dan untuk tujuan kodrat alam, yakni hanyalah karena dan untuk tujuan perlaki-istrian dan peribuan saja. Dan sebagai tadi saya katakan, kecuali perbedaan tubuh, untuk hal ini adalah perbedaan psikis pula antara laki-laki dan perempuan yakni perbedaan jiwa.”24 “Ya, makin nyatalah kepada kita, bahwa penghidupan menurut kodrat yang menempatkan perempuan kesisi periuk-nasi dan panci-gulai itu, tak lain tak bukan adalah bukan penghidupan menurut kodrat, bukan penentu kodrat, (sebagai menerima zat anak, mengandung anak, melahirkan anak, memelihara anak), tetapi adalah penghidupan yang masyarakat sekarang dan hukum masyarakat sekarang kasihkan kepadanya.”25 Dua kutipan diatas, merupakan kodrat perempuan menurut Soekarno yang dipengaruhi pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Kedua kutipan tersebut membenarkan bahwa kodrat perempuan yang sebenarnya yaitu menjadi ibu. Menjadi ibu yang berhubungan dengan proses kehamilan, kelahiran serta mengurus anak-anaknya. Bahkan dalam pemikirannya mengenai kodrat perempuan, Soekarno menegaskan bahwa konstruksi pemikiran terhadap perempuan di masyarakat dewasa ini, hanya memikirkan bahwa pekerjaan perempuan berkutat pada urusan dapur dan kebersihan rumah saja. 24 Ibid., hal 23. 25 Ibid., hal 37.

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 90 BAB V KESIMPULAN 5.1 Kesimpulan Pemikiran Ki Hadjar Dewantara mengenai perempuan dilatarbelakangi oleh Nyi Hadjar Dewantara yang mampu berperan aktif dalam beberapa bidang. Sebagai seorang ibu, Nyi Hadjar Dewantara mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Selain itu, dalam Taman Siswa, Nyi Hadjar Dewantara dibantu dengan pengurus wanita lainnya mendirikan badan yang mengurusi perihal perempuan yaitu Wanita Taman Siswa serta Kongres Perempuan. Pada akhirnya, Nyi Hadjar Dewantara terjun pada bidang jurnalistik dengan banyak menulis tentang perempuan. Mengingat Ki Hadjar Dewantara adalah seorang bangsawan Jawa, maka penulisannya mengenai perempuan menjadi menarik. Ki Hadjar Dewantara mampu memberikan narasi lain mengenai perempuan yang sangat berbeda dengan latar belakangnya serta keadaan sosial pada periode tersebut. Perihal perempuan yang amat penting menurut Ki Hadjar Dewantara adalah kodratnya sebagai perempuan. Kodrat perempuan adalah menjadi ibu yang mengandung, melahirkan, serta menyusui anaknya. Maka dari itu, perempuan dan laki-laki memiliki tugas yang berbeda karena adanya kodrat tersebut. Meski perempuan dan laki-laki mempunyai perbedaan, dalam peran dan kedudukannya dalam masyarakat, perempuan dan laki-laki mempunyai hak yang

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 91 sama. Ki Hadjar Dewantara mengatakan bahwa meskipun perempuan dan lakilaki memiliki kodrat yang berbeda, akan tetapi keduanya memiliki hak yang sama. Persamaan hak ditunjukkan Ki Hadjar Dewantara dalam Taman Siswa saat berada di kelas. Murid perempuan dijadikan satu kelas dengan murid laki-laki, mereka tidak dipisah menurut jenis kelamin. Hal ini juga dapat mempengaruhi perilaku antara murid perempuan dan murid laki-laki. Guru adalah salah satu pekerjaan atau profesi yang menurut Ki Hadjar Dewantara sangat selaras dengan kodrat perempuan. Perempuan tidak hanya akan memberikan pengetahuan saja tetapi juga memberikan kasih sayang kepada anak didiknya. Menjadi seorang guru, berarti kaum perempuan mendidik dan merawat serta memberikan pengajaran kepada para muridnya. Murid-murid akan dianggapnya sebagai anaknya sendiri, sebagaimana perempuan merawat anaknya sendiri. Ketika mendirikan Taman Siswa, Ki Hadjar Dewantara juga memberikan wadah bagi para perempuan untuk berkarya. Wadah tersebut adalah berupa badan bernama Wanita Taman Siswa yang mengurusi berbagai hal mengenai perempuan di dalam Taman Siswa. Badan tersebut berdiri sejajar dengan badan-badan yang lain yang berada dalam Taman Siswa. Meski Wanita Taman Siswa bersifat eksklusif dalam merekrut anggotanya, namun Wanita Taman Siswa mampu berperan aktif dalam kegiatan di luar Taman Siswa. Wanita Taman Siswa tercatat pernah beberapa kali menjadi anggota Kongres Perempuan Indonesia. Bahkan Nyi Hadjar Dewantara adalah salah satu penggagas terselenggaranya Kongres Perempuan.

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 92 Pemikiran Ki Hadjar Dewantara mengenai perempuan, nyatanya mampu mempengaruhi pola pikir sekitarnya seperti Wanita Taman Siswa hingga Soekarno. Sebagai sebuah badan, Wanita Taman Siswa memiliki asas-asas sebagai dasar untuk menjalankan tugasnya. Asas-asas tersebut tidak boleh menyimpang dengan asas-asas Taman Siswa, karena Wanita Taman Siswa masih dalam bagian Taman Siswa. Akan tetapi, dalam perumusan asas-asas tersebut, mengadaptasi pemikiran Ki Hadjar Dewantara mengenai perempuan. Beberapa hal seperti kodrat perempuan, persamaan hak, hingga bagaimana perempuan berperilaku sebagai calon ibu dijelaskan dalam asas-asas tersebut. Kemudian pengaruh pemikiran Ki Hadjar Dewantara pada pemikiran Soekarno terletak pada sebuah tulisan Ki Hadjar Dewantara yang dikutip Soekarno dalam bukunya yang berjudul “Sarinah”. Kutipan tersebut diawali dengan pernyataan Soekarno yang tidak senang atas pergerakan perempuan di Eropa. Soekarno berpendapat bahwa pergerakan perempuan di Eropa sudah melewati batas kodrat yang ada. Kaum perempuan Eropa sudah meminta persamaan dalam segala bidang dengan laki-laki. Lambat laun kaum perempuan Eropa tidak mempedulikan lagi kodratnya sebagai ibu. Selain itu, pemikiran Ki Hadjar Dewantara mengenai kodrat perempuan juga menjadi salah satu hal yang mempengaruhi Soekarno. Pernyataan Ki Hadjar Dewantara mengenai perempuan dan kodratnya yaitu menjadi ibu yang mengandung, melahirkan serta menyusui anaknya, sama seperti kodrat perempuan yang dibicarakan oleh Soekarno. Kemudian Soekarno menambahkan dengan pernyataannya yaitu bahwa kodrat perempuan bukanlah mengerjakan pekerjaan

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 93 rumah ataupun urusan dapur. Meski sebenarnya Soekarno mempunyai pandangan tersendiri perihal perempuan, tetapi dengan adanya kutipan milik Ki Hadjar Dewantara sudah membuktikan bahwa Soekarno terpengaruh pemikiran Ki Hadjar Dewantara. 5. 2 Saran Penulisan sejarah Indonesia masih berkutat pada gerakan sosial, politik, maupun kemanusiaan yang mempunyai skala besar. Penulisan tersebut banyak dilirik oleh sebagian penduduk karena menganggap gerakan tersebut mampu mempengaruhi dinamika Indonesia. Sedangkan sejarah pemikiran yang menggerakan orang jarang disuguhkan dalam historiografi Indonesia. Salah satunya yaitu sejarah pemikiran mengenai perempuan. Meski penulisan sejarah mengenai perempuan sudah banyak dibahas, akan tetapi pembahasan tersebut masih seputar pada peristiwa gerakan perempuan seperti Gerwani atau Kongres Perempuan. Penulisan gerakan perempuan ditulis dengan diawali oleh bagaimana gerakan tersebut terbentu, lalu konflik yang ada hingga dampak-dampaknya terhadap keadaan Indonesia pada masa tersebut. Penulisan gerakan perempuan juga disertai dengan konsep-konsep feminisme yang memetakan perempuan dalam sebuah gerakan melawan penjajahan. Dari keterangan diatas, sebaiknya penulisan sejarah perempuan juga dibarengi dengan pemikiran mengenai perempuan. Penulisan sejarah pemikiran mengenai perempuan berarti bahwa kita menulis tentang pandangan kita

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 94 mengenai perempuan. Penulisan sejarah mengenai perempuan tidak perlu ditulis dengan memperhatikan peristiwa-peristiwa yang besar saja. Akan tetapi, penulisan sejarah mengenai perempuan dapat ditulis dengan melihat pemikiran seseorang mengenai perempuan. Skripsi ini, mengangkat pandangan Ki Hadjar Dewantara dalam melihat perempuan. Melalui pandangan Ki Hadjar Dewantara, kita dapat mengetahui bagaimana perempuan seharusnya bersikap dan berperilaku. Penulisan sejarah perempuan seperti memberi warna lain tentang citra perempuan di mata masyarakat. Melalui penulisan sejarah perempuan ini kita dapat pula mengetahui sisi lain seseorang ketika dirinya mempunyai pandangan mengenai perempuan.

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 95 DAFTAR PUSTAKA Abdurrachman Surjomihardjo. Ki Hadjar Dewantara Dan Tamansiswa Dalam Sejarah Indonesia Modern. Jakarta: Sinar Harapan,1986. Bambang Sokawati Dewantara. Ki Hadjar Dewantara: Ayahku. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1989. ----------------------------------------. Nyi Hadjar Dewantara. Jakarta: Gunung Agung, 1984. Budi Susanto, Dr. Citra Wanita dan Kekuasaan (Jawa). Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1992. Budiawan. Anak Bangsawan Bertukar Jalan. Yogyakarta: LKiS, 2006. Buku Peringatan Tamansiswa 30 Tahun. Yogyakarta: Percetakan Tamansiswa, 1981. Christina S. Handayani dan Ardhian Novianto. Kuasa Wanita Jawa. Yogyakarta: LKiS, 2004. Darsiti Soeratman. Ki Hadjar Dewantara. Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, 1983. -----------------------. Wanita Taman Siswa dan Hidup Kekeluargaan. Yogyakarta: Badan Pusat Wanita Taman Siswa, 1979. De Stuers, Cora Vreede. Sejarah Perempuan Indonesia Gerakan Dan Pencapaian. Jakarta: Komunitas Bambu, 2008. Djoko Dwiyanto. Puro Pakualaman: Sejarah, Kontribusi Kejuangannya. Yogyakarta: Paradigma Indonesia, 2009. Dan Nilai Djumhur, I. dan Drs. H. Danasuparta. Sejarah Pendidikan. Bandung: CV. Ilmu, 1976. Enny Zuhni Khayati. Pendidikan dan Idependensi Perempuan. Harahap , H.A.H. dan Bambang Sokawati Dewantara. Ki Hadjar Dewantara dan Kawan-Kawan: Ditangkap, Dipenjarakan dan Diasingkan. Jakarta: Gunung Agung, 1980. Kenangan Tujuh Dasa Warsa Wanita Tamansiswa 3 Juli 1922-3 Juli 1993. Yogyakarta: Badan Pusat Wanita Tamansiswa, 1992. Ki Hadjar Dewantara. Kebudayaan. Yogyakarta: Majelis Luhur Tamansiswa, 1967.

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 96 Koentjaraningrat. Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka. Kuntowijoyo. Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana, 2003. Mansour Fakih, Dr. Analisisi Gender Dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003. Pilcher, Jane dan Wheleman, Imelda. Fifty Key Concepts in Gender Studies. London: SAGE Publications L.td, 2004. Samho, Bartolomeus. Citra Kepribadian Ki Hadjar Dewantara: Visi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara Tantangan dan Relevansi. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2013. Sartono Kartodirdjo. Pengantar Sejarah Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasional Dari Kolonialisme Sampai Nasionalisme Jilid 2. Jakarta: PT Gramedia, 1990. Sartono Kartodirdjo dkk. Perkembangan Peradaban Priyayi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1987. Sejarah Setengah Abad Pergerakan Wanita Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1978. Soekarno. Sarinah. Yogyakarta: Yayasan Gema Indonesia dan Pena Persada, Cetakan kedua, 2003. MAJALAH Ki Hadjar Dewantara. “Kodrat Perempuan”. Wasita. Desember 1928. Jilid 1, No. 3. ----------------------------. “Perempuan Dalam Dunia Pendidikan”. Wasita, Desember 1928. Jilid 1, No. 3. ----------------------------. “Perempuan Dan Sport”. Wasita. Desember 1928. Jilid 1, No. 3. ----------------------------. “Pengaruh Perempuan Pada Barang Dan Tempat Kelilingnja”. Wasita. Desember 1928, Jilid 1, No. 3. ----------------------------. “Wanita Taman Siswa: Vrouwenraad dalam Taman Siswa”. Wasita. Desember 1928. Jilid 1 No. 3. ----------------------------. “Perempuan Dalam Pertumbuhan Adab”. Wasita. Juli 1935. Jilid 1, No. 6. ----------------------------. “Perempuan Di Dalam Pertumbuhan Adab”. Wasita. Juli 1935. Jilid 1, No. 6.

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 97 ---------------------------. “Kemadjuan Adab Perempuan: Kongres Djakarta dan Protes Semarang”. Wasita. Agustus 1935. Jilid 1, No. 7. ----------------------------.”Lapangan Kerdja Bagi Perempuan”. Wasita. November 1935. Jilid 1, No. 3. SKRIPSI Tasen, Gerfasius. Pengasingan Ki Hadjar Dewantara (1913-1917). Ora, Felisitas Berni. Peranan Ki Hadjar Dewantara Dalam Memajukan Pendidikan Pribumi Tahun 1922-1930. JURNAL Atik Catur Budiati. Aktualisasi Diri Perempuan Dalam Sistem Budaya Jawa: Persespai Perempuan Terhadap Nilai-Nilai Budaya Jawa Dalam Mengaktualisasikan Diri. Pamator. Vol. 3, No. 1, 2010. Tanti Hermawati. Budaya Jawa dan Kesetaraan Gender. Jurnal Komunikasi Massa, Vol. 1, No. 1, 2007. Yuliati. Konsep Pendidikan Perempuan di Tamansiswa. Diunduh melalui Google Scholar pada 5 April 2017. Muhadjir Darwin. Gerakan Perempuan di Indonesia dari Masa ke Masa. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Vol. 7, No. 3, 2004 WEBSITE “Ki dan Nyi Hadjar Dewantara ,” Koleksi Foto Digital Museum Dewantara Kirti Griya (Tamansiswa), accessed November 21, 2018, https://museumdewantara.omeka.net/items/show/3326. “Konferensi Wanita Taman Siswa,” Koleksi Foto Digital Museum Dewantara Kirti Griya (Tamansiswa), accessed November 20, 2018, https://museumdewantara.omeka.net/items/show/3064

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 98 “Nyi Hadjar Dewantara di Kongres Perempuan ,” Koleksi Foto Digital Museum Dewantara Kirti Griya (Tamansiswa), accessed October 8, 2018, https://museumdewantara.omeka.net/items/show/3298. “Nyi Kustihadi Hadisoekatno,” Koleksi Foto Digital Museum Dewantara Kirti Griya (Tamansiswa), accessed November 20, 2018, https://museumdewantara.omeka.net/items/show/3215. “Pamong - pamong Taman Siswa pada tahun 1934 ,” Koleksi Foto Digital Museum Dewantara Kirti Griya (Tamansiswa), accessed November 20, 2018, https://museumdewantara.omeka.net/items/show/3035. “Pengurus Wanita Taman Siswa Yang Pertama ,” Koleksi Foto Digital Museum Dewantara Kirti Griya (Tamansiswa), accessed November 20, 2018, https://museumdewantara.omeka.net/items/show/3073. “Tiga Serangkai,” Koleksi Foto Digital Museum Dewantara Kirti Griya (Tamansiswa), accessed November 21, 2018, https://museumdewantara.omeka.net/items/show/3292. https://kbbi.kata.web.id/turunan/ diakses pada tanggal 8 Januari 2019. https://kbbi.web.id/internir diakses tanggal 9 Januari 2019. https://nasional.kompas.com/read/2016/04/22/04471261/Menjadi.Ibu.Alasan.Kart ini.soal.Pentingnya.Pendidikan.bagi.Perempuan?page=2 diakses tanggal 20 Agustus 2018. https://www.jurnalrozak.web.id/2014/05/pengertian-dan-unsur-delik-pers.html diakses pada 14 Agustus 2018. https://arti-pengertian-definisi.blogspot.com/2014/02/pengertian-delik-pers.html diakses pada 14 Agustus 2018.

(112)

Dokumen baru

Download (111 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

PERSEPSI MASYARAKAT DUSUN GENENGREJO TERHADAP PENDIDIKAN SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Sejarah
0
0
19
Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Dalam Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Program Studi Manajemen
0
0
17
SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Program Studi Akuntansi
0
0
99
SKRIPSI Diajukan Sebagai Salah Satu Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
155
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
136
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Sejarah
0
0
224
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Sejarah
0
0
114
SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Sejarah
0
0
205
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Program Studi Ilmu Sejarah
0
0
191
SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Program Studi Teknik Informatika
0
0
146
Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Program Studi Ilmu Sejarah
0
0
103
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Program Studi Ilmu Sejarah
0
0
103
Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Program Studi Ilmu Sejarah
0
1
124
Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Program Studi Ilmu Sejarah
0
0
98
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Sejarah
0
0
135
Show more