SPIRITUALITAS PELAYANAN IBU TERESA DARI KALKUTA SEBAGAI TELADAN BAGI KATEKIS DALAM MEWUJUDKAN SEMANGAT PELAYANAN BAGI KAUM MISKIN SKRIPSI

Gratis

0
0
135
3 months ago
Preview
Full text

  SPIRITUALITAS PELAYANAN IBU TERESA DARI KALKUTA SEBAGAI TELADAN BAGI KATEKIS DALAM MEWUJUDKAN SEMANGAT PELAYANAN BAGI KAUM MISKIN S K R I P S I

  Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Oleh:

  Marantika Br Tarigan NIM: 071124030

PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

  PERSEMBAHAN

  Skripsi ini kupersembahkan kepada kedua orangtuaku, kakak-kakak, adikku dan kepada semua orang yang mencintai kaum miskin.

  MOTTO

  “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan dan bertekunlah dalam doa.”

  (Rm 12:12)

  

ABSTRAK

  Judul skripsi ini adalah “SPIRITUALITAS PELAYANAN IBU TERESA

  

SEBAGAI TELADAN BAGI KATEKIS DALAM MEWUJUDKAN

SEMANGAT PELAYANAN BAGI KAUM MISKIN . Judul ini dipilih

  berdasarkan pada fakta yang ada bahwa masih banyak katekis yang kurang memahami dan menghayati semangat pelayanannya bagi kaum miskin. Katekis cenderung lebih menutup diri terhadap kaum miskin karena menurut mereka melakukan pelayanan yang bersifat liturgis jauh lebih penting untuk dilaksanakan dibandingkan dengan melayani kaum miskin.

  Persoalan pokok dalam skripsi ini adalah bagaimana para katekis dapat dibantu untuk semakin menyadari dan menghayati spiritualitas pelayanan bagi kaum miskin dengan belajar dari pelayanan yang dilakukan oleh Ibu Teresa. Dengan begitu katekis diharapkan semakin memahami dan menghayati makna panggilannya dalam melayani kaum miskin.

  Dalam menanggapi persoalan tersebut, penulis merasa perlu adanya proses pengenalan lebih dekat akan sosok Ibu Teresa beserta karya-karyanya dalam melayani kaum miskin. Dalam skripsi ini penulis akan memaparkan riwayat hidup Ibu Teresa dan proses perjalanan karya pelayanannya, mulai dari panggilan pertamanya untuk menjadi suster biara Loreto sampai saat dia menerima panggilan kedua yang sering dia sebut sebag ai “panggilan dalam panggilan”. Pengenalan lebih dekat terhadap sosok Ibu Teresa diharapkan memberikan inspirasi bagi katekis untuk meneladan karya-karya pelayanan Ibu Teresa. Selain itu juga penulis ingin memberikan penyadaran kepada katekis untuk semakin memahami arti pelayanan bagi kaum miskin, bahwa melayani kaum miskin itu bukanlah hanya kegitan sosial belaka yang wajib dilakukan untuk membantu sesama kita yang miskin, tetapi menyadarkan katekis untuk melihat Kristus yang hadir dalam diri kaum miskin, pelayanan yang dilakukan bukan semata-mata pelayanan sosial kemanusiaan, tetapi pelayanan kepada Kristus sendiri yang hadir bersama kaum miskin.

  Pada bagian akhir penulis mengusulkan sebuah program katekese umat model

  Shared Christian Praxsis

  yang berjudul “Spiritualitas pelayanan Ibu Teresa sebagai teladan bagi katekis dalam mewujudkan semangat pelayananan bagi Tuhan melalui sesama yang miskin” sebagai salah satu upaya yang dapat ditempuh agar para katekis semakin memahami dan memaknai arti pelayanannya bagi kaum miskin dengan melihat dan mendalami karya-karya pelayanan Ibu Teresa bagi kaum miskin.

  

ABSTRACT

  The title of this small thesis is “THE SPIRITUALITY OF MOTHER TERESA AS AN EXAMPLE FOR CATECHIST THEIR MAKING TO SERVE THE POOR

  ”. The title was chosen based on the fact that many catechists do not understand and appreciate the spirit of their service to the poor. Catechist ten to be more closed to the poor. For them to serve the poor is not an obligation that is needed to be implemented. Chatechists ten to be more concerned with their own lives and give prioritize services that are liturgical, thus set aside the service for the poor.

  The main issue in small this thesis is how the catechist can be helped to become more aware and appreciate the service to the poor by learning from the service that had been performed by Mother Teresa. By doing so, catechist are expected to increasingly understand and appreciate the meaning of their vocation, which in turn catechists are also able to appreciate and do the service for the poor.

  In response to these issues, the writer felt the need for a closer identification process with the figure of Mother Teresa and all her works and service for the poor. This writing firs describes the life history of Mother Teresa and the way she followed the call. From the first time she entered the convent and became a Loreto’ sister until she received a second call that is often referred to as a “call within a call” and gave her whole life there.

  Introduction closer to the figure of Mother Teresa’s exsample and her services toward the poor. In addition, the writer also wold like to provide an awareness for catechists to further understand the meaning of the service to the poor: that serving the poor is not merely social activities that must be done in order to help the poor, but rather catechists realization that Chris loves the poor and is present and struggle in the life of the poor. Therefore, the service to the poor does not just merely humanitarian social service, but a Christian act and service to Christ himself who is present in the life of the poor.

  Finally , this writing proposes a model of human catehetical program Shared Christian Praxsis, entitled “Spirituality of mother Teresa as an Exemplary Services For Chatechist in Delivering Services for God through Their Services to The Poor,” as one of the measures that can be taken so that the catechists increasingly understand and develop their appreciation and services to the poor by looking and imitating the works of Mother Teresa towards to the poor.

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah yang maha berbelas kasih dan kepada Bunda maria yang penuh cinta di mana atas berkat dan penyertaannya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul

  “SPIRITUALITAS

  

PELAYANAN IBU TERESA DARI KALKUTA SEBAGAI TELADAN BAGI

KATEKIS DALAM MEWUJUDKAN SEMANGAT PELAYANAN BAGI

KAUM MISKIN ”.

  Dalam skripsi ini penulis mengangkat keprihatinan yang selama ini terjadi di kalangan katekis di mana mereka masih sulit untuk melayani kaum miskin. Penulis menyadari bahwa banyak orang yang dapat dijadikan teladan dalam melayani kaum miskin tetapi penulis memilih Ibu Teresa karena Ibu Teresa merupakan sosok yang teguh dalam panggilan dan begitu mencintai kaum miskin, dan dia selalu menegaskan bahwa karya-karya yang dia lakukan bukan sekedar kegiatan sosial tetapi dia melakukan itu semua karena Yesus, dia melihat Yesus dalam diri orang miskin. Oleh karena itu penulis sebagai calon katekis merasa tergugah oleh sosok Ibu Teresa yang begitu sederhana dan penuh cinta dalam melayani kaum miskin.

  Banyak pelajaran hidup yang penulis dapat dalam menyelesaikan skripsi ini dan penulis menyadari bahwa terselesaikannya skripsi ini berkat bantuan dan dukungan dari banyak pihak yang telah memberikan perhatian, dorongan, motivasi dan inspirasi bagi penulis. Maka pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada: 1.

  Dr. Bernardus Agus Rukiyanto, S.J., selaku dosen utama yang telah meluangkan banyak waktu, perhatian dan dengan penuh kesabaran membimbing penulis serta

  2. Drs. M. Sumarno Ds., S.J., M.A., selaku dosen penguji kedua dan sebagai dosen pembimbing akademik yang telah banyak meluangkan waktu, tenaga, pikiran untuk membimbing penulis selama studi sampai pada pertanggungjawaban skripsi ini.

  3. Drs. F.X. Heryatno Wono Wulung., S.J., M.Ed., sebagai kaprodi IPPAK dan dosen penguji ketiga yang telah memberikan dukungan dan kesempatan kepada penulis dalam menyelesaikan skrispsi ini serta kesediaanya membimbing sekaligus memeriksa skripsi dan menguji penulis.

  4. Bapak-Ibu dosen dan Segenap staf prodi IPPAK Universitas Sanata Dharma yang telah mendampingi dengan setia serta menjadi rekan selama penulis melaksanakan studi di IPPAK-USD Yogyakarta.

  5. Yakobus Naya Leoema yang dengan setia menemani, memperhatikan dan selalu memberi dorongan serta semangat untuk secepatnya menyelesaikan skripsi ini.

  6. Teman-temanku Tarmilla Br Tarigan, Paskarada Gerada, Hermi Marbun, Santri Dor, Niken Pratiwi, Ade Mardiana, Rosita Dangin, Yuniarti Ninu, Karolina Ohuiliun, Deslita Angelina Br Tarigan yang telah mendukung dan menyemangati penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

  7. Grup Labo Piga Bagi Kam Eina yang beranggotakan Imalia Br Sembiring, Tarmilla Br Tarigan, Alan Dwinta Karo Sekali, Roy Yoseph Gomgom Sinambela, Harry Dwi Saputra Ginting, Dedi Silva Sinulingga, Mahendra Barus, Jefry Pinem yang selalu menyemangati penulis selama proses penulisan sampai terselesaikannya skripsi ini.

  8. Semua rekan-rekan seangkatan 2007 yang telah memberikan perhatian dan

  DATAR ISI

  Halaman HALAMAN JUDUL ................................................................................................. i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING........................................................ ii HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................................ iv MOTTO. .................................................................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .................................................................... vi PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI...................................................... vii ABSTRAK ................................................................................................................ viii

  

ABSTRACT ................................................................................................................ ix

  KATA PENGANTAR .............................................................................................. x DAFTAR ISI ............................................................................................................. xiii DAFTAR SINGKATAN ........................................................................................... xvii BAB I. PENDAHULUAN ........................................................................................

  1 A.

  1 Latar Belakang ...........................................................................................

  B.

  5 Rumusan Masalah ......................................................................................

  C.

  5 Tujuan Penulisan ........................................................................................

  D.

  6 Manfaat Penulisan ......................................................................................

  E.

  6 Metode Penulisan .......................................................................................

  F.

  6 Sistematika Penulisan .................................................................................

  BAB II. IBU TERESA DAN SPIRITUALITAS PELAYANANNYA ....................

  8 A.

  8 Riwayat hidup Ibu Teresa ...........................................................................

  B.

  Spiritualitas Pelayanan Ibu Teresa ............................................................. 13 1.

  Pengertian Spiritualitas ......................................................................... 13 2. Spiritualitas Pelayanan ......................................................................... 14 3. Ciri-ciri Pelayanan ................................................................................ 15 4. Spiritualitas Pelayanan Ibu Teresa ....................................................... 16 C. Karya dan Pelayanan Ibu Teresa ................................................................ 18 1.

  Mengajar anak-anak miskin di Motijhil ............................................... 18

  3. Shisu Bhavan ........................................................................................ 22 4.

  Sealdah Stasion ..................................................................................... 23 5. Nirmal Hriday atau Wisma Hati nan Murni ......................................... 23 6. Prem Daan ............................................................................................ 24 7. Shantinagar/ Rumah bagi Orang-orang Berkusta ................................. 25 8. Membangun Klinik Kesehatan ............................................................. 25 9. Protima Sen School .............................................................................. 26 D. Hambatan yang dialami oleh Ibu Teresa pada Awal Karyanya ................ 26 1.

  Perubahan Gaya Hidup ......................................................................... 26 2. Tiadanya Bekal ..................................................................................... 27 3. “Ladang” yang Amat Berbeda .............................................................. 28 4. Memulai dengan Sendirian ................................................................... 28 E. Pandangan Ibu Teresa Terhadap Penderitaan ............................................. 29 F. Cinta Kasih Ibu Teresa .............................................................................. 31 1.

  Mencintai Kristus dengan Melayani Sesama ....................................... 31 2. Melayani dengan Berbagi Kehidupan .................................................. 33 G. Teladan Hidup Ibu Teresa .......................................................................... 34 1.

  Ibu Teresa Teladan dalam Keheningan ................................................ 34 2. Ibu Teresa Teladan dalam Doa ............................................................. 35 3. Ibu Teresa Teladan dalam Iman .......................................................... 36 4. Ibu Teresa Teladan dalam Cinta ........................................................... 36 5. Ibu Teresa Teladan dalam Melayani .................................................... 37 6. Ibu Teresa Teladan dalam Perdamaian ................................................. 39 BAB III. SEMANGAT PELAYANAN KATEKIS BAGI KAUM MISKIN ...........

  40 A. Pengertian Katekis ...................................................................................... 41 B. Spiritualitas Katekis ……………………………………………………... 43 1.

  Keterbukaan terhadap Sabda ................................................................ 43 2. Keutuhan dan Keaslian Hidup ............................................................. 45 3. Semangat Misioner ............................................................................... 46 4. Devosi kepada Bunda Maria ………………………………………... 47 C. Kemampuan yang perlu dimiliki Katekis .................................................. 48

  2. Mampu Menjadi Teladan …………………………………………. ... 49 3.

  Mampu berefleksi dan Kehidupan Rohani yang Mendalam ……….. . 50 4. Mampu Menjadi Pemimpin ................................................................. 51 D. Peran Katerkis dalam Tugas Perutusannya ................................................ 52 1.

  Panggilan dan Perutusan Katekis …………………………………… 52 2. Peran Katekis dalam Tugas Perutusannya …………………………. .. 53 a.

  Peran Katekis dalam Tugas Perutusannya di Sekolah .................... 54 b. Peran Katekis dalam Tugas Perutusannya di Paroki ........................ 54 c. Peran Katekis dalam Tugas Perutusannya di dalam Struktur Pemerintahan ...................................................................................

  55 E. Pelayanan Katekis bagi Kaum Miskin ...................................................... 56 1.

  Pengertian Kaum Miskin ...................................................................... 56 2. Gereja dan Kaum Miskin...................................................................... 57 3. Peran Katekis dalam Pelayanan bagi Kaum Miskin ............................ 60 F. Ibu Teresa sebagai Teladan bagi Katekis dalam Mewujudkan Semangat

  Pelayanan bagi Kaum Miskin ..................................................................... 62

  BAB IV. USAHA MENINGKATKAN SEMANGAT PELAYANAN KATEKIS BAGI KAUM MISKIN BERDASARKAN TELADAN PELAYANAN IBU TERESA BAGI KAUM MELALUI KATEKESE UMAT ............

  69 A. Arti Katekese Umat .................................................................................... 70 B. Tujuan Katekese Umat ............................................................................... 71 C. Shared Christian Praxis Sebagai Suatu Alternatif Model Katekese Umat 71 1.

  Pengertian Shared Christian Praxis .................................................... 72 a.

  Praxis ............................................................................................. 73 b. Christian ......................................................................................... 74 c. Shared ............................................................................................ 75 2. Langkah-langkah Shared Christian Praxis .......................................... 76 a.

  Langkah 0: Pemusatan Aktivitas .................................................... 76 b. Langkah I: Pengungkapan Pengalaman Hidup Peserta (Mengungkapkan Pengalaman Hidup Peserta) ..............................

  77 c. Langkah II: Refleksi Kritis atas Sharing Pengalaman Hidup peserta (Mendalami Pengalaman Hidup Peserta) ...........................

  77

  Lebih Terjangkau (Menggali Pengalaman Iman Kristian) .............

  78 e. Langkah IV: Interpretasi/Tafsir Dialektis antara Tradisi dan Visi

  Kristiani dengan Tradisi dan Visi Peserta (Menerapkan Iman Kristiani dalam Situasi Peserta Konkret) .......................................

  79 f. Langkah V : Keterlibatan Baru demi Terwujudnya Kerajaan Allah di Dunia Ini (Mengusahakan Suatu Aksi Konkret) .......................

  80 D. Usaha Meningkatkan Pelayanan Katekis bagi Kaum Miskin Berdasarkan Teladan Pelayanan Ibu Teresa Melalui Katekese Umat .........................

  81 1. Latar Belakang Program Katekese Umat ............................................ 81 2. Alasan Pemilihan Tema ...................................................................... 81 3. Rumusan Tema dan Tujuan Katekese Umat ....................................... 82 4. Penjabaran Usulan Program Katekese Model SCP ............................ 85 5. Petunjuk Pelaksanaan Program ......................................................... 89 6. Contoh Persiapan Katekese Umat ....................................................... 89

  BAB V. PENUTUP ................................................................................................... 104 A. Kesimpulan ............................................................................................... 108 B. Saran ........................................................................................................ 106 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................... 108 LAMPIRAN .............................................................................................................. 110 Lampiran 1: Lagu “Bahasa Cinta” dan “Kasih Pasti Lemah Lembut” ..................... (1) Lampiran 2: Film “Mother Teresa” ........................................................................... (2) Lampiran 3: Matius 22:34-40 .................................................................................... (3) Lampiran 4: Cerita “Aku Haus” ................................................................................ (4) Lampiran 5: Cerita “Pino Siapa Saudaramu?” .......................................................... (5) Lampiran 6: Cerita “Pino Ingin Bertemu Tuhan” ..................................................... (7)

  DAFTAR SINGKATAN A.

   Singkatan Kitab Suci

  Daftar singkatan Kitab Suci dalam skripsi ini mengikuti Kitab Suci

  Perjanjian Baru: dengan Pengantar dan Catatan Singkat (Dipersembahkan

  kepada Umat Katolik Indonesia oleh Dirjen Bimas Katolik Departemen Agama Republik Indonesia dalam Rangka PELITA IV). Ende: Arnoldus, 1984/1985, hal.

  8. B.

   Singkatan Dokumen Resmi Gereja

  CT : Catechesi Tradendae, Anjuran Apostolik Sri Paus Yohanes Paulus II kepada para uskup, klerus dan segenap umat beriman, tentang katekese masa kini, 16 Oktober 1979.

  RN : Rerum Novarum, Ensiklik Paus Leo XIII mengenai kondisi kelas kerja dan nasib para buruh, Mei 1891.

C. Singkatan Lain

  ASG : Ajaran Sosial Gereja Bdk : Bandingkan DokPen : Dokumentasi dan Penerangan FABC : Faderation of Asian Bishop Conferences Hal : Halaman

  IPPAK : Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik KAS : Keuskupan Agung Semarang KomKat : Komisi Kateketik

  KOPTARI : Konferensi Tarekat Religius Indonesia KWI : Konferensi Waligereja Indonesia MASRI : Majelis Antar Serikat Religius Indonesia MAWI : Majelis Waligereja Indonesia PKKI : Pertemuan Kateketik antar Keuskupan se-Indonesia SCP : Shared Christian Praxsis St : Santa USD : Universitas Sanata Dharma

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ibu Teresa merupakan sosok wanita yang tangguh dan tekun dalam

  menjalankan setiap tugas pelayanannya meskipun banyak permasalahan yang dihadapinya tetapi dia tetap tenang dan menyerahkan semuanya kepada Allah.

  Dalam melaksanakan tugas pelayanan Ibu Teresa tidak hanya berbicara saja melainkan dia mewartakan Kristus dengan perbuatan yaitu dengan menghadirkan kasih Kristus dalam kehidupan orang miskin, menderita, tertindas dan cacat. Sosok seperti Ibu Teresa sulit ditemukan pada saat ini karena memang tidak mudah menemukan orang yang benar-benar mencintai kaum miskin. Hal ini sungguh berbeda dengan Ibu Teresa karena Ibu Teresa melihat kemiskinan sebagai fakta hidup untuk mempraktekkan kasih Allah.

  Ibu Teresa hadir di Kalkuta bukan hanya sekedar untuk merealisasikan tugasnya sebagai seorang biarawati tetapi di sana ia menemukan kehidupan sebagai seorang yang percaya kepada Kristus yang sesungguhnya. Di Kalkuta ia melihat dunia yang sesungguhnya, dunia yang majemuk bukan hanya dari segi agama, tetapi juga persoalan. kondisi yang seperti itu membuat hati Ibu Teresa tidak tenang dan selalu ingin melakukan sesuatu untuk mereka. Ibu Teresa merupakan pribadi yang memiliki semangat dalam melayani dan juga mampu mengambil bagian dalam sengsara dan penderitaan Kristus, yang tetap senasib dengan orang yang menderita sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara- Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25:40). Ibu Teresa mengatakan bahwa apa yang Ibu Teresa lakukan bersama para suster Misionaris Cinta Kasih, mereka melakukannya demi Yesus, mereka berjumpa dengan Yesus 24 jam sehari melalui kaum miskin, mereka merasa bahwa perjumpaan mereka bersama Kristus melalui kaum miskin sangat mebahagiakan karena bagi mereka kaum miskin begitu menarik hati. Kaum tidak membutuhkan rasa simpati dan belas kasihan, tetapi mereka membutuhkan cinta kasih dan perhatian yang tulus (Hartono, 1998: 12). Di sini dapat dilihat bahwa Ibu Teresa sungguh-sungguh menyerahkan seluruh hidupnya untuk melayani kaum miskin, dia begitu bahagia ketika dia bisa melayani mereka. Ibu Teresa melakukan semuanya itu bukan karena rasa kasihan tetapi karena cinta kasihnya kepada Kristus dan dia wujudkan melalui mereka yang miskin dan menderita.

  Ibu Teresa memiliki sepiritualitas kerohanian yang sungguh mengutamakan Allah. Ibu Teresa tidak pernah memandang perbedaan sosial, agama dan budaya. Dia mencintai semua orang yang miskin dan menderita tanpa memperhatikan orang itu dari kalangan apa, cara hidupnya juga sangat sederhana, cintanya kepada Tuhan mengalahkan semuanya. Dia selalu percaya bahwa Tuhan selalu meyertai dia, sehingga dia tidak pernah takut dalam menjalankan pelayanannya, dia percaya bahwa Tuhan pasti akan selalu memberi jalan kepadanya di saat dia mengalami kesusahan karena dia melakukan apa yang diajarkan oleh Yesus sendiri. Sikap dan pandangan Ibu Teresa ini sungguh-sungguh dapat memberikan inspirasi dan teladan bagi siapa saja yang ingin melayani kaum miskin

  Ibu Teresa pernah mengatakan sebagaimana yang dikutip oleh Krispurwana Cahyadi (2010: 220) bahwa “Tuhan memanggil kita bukan untuk sukses, dia memanggil kita untuk setia”. Ini menunjukkan bahwa kesuksesan itu bukanlah hal yang utama dalam hidup ini tetapi kesetiaan pada jalan kita menapaki kehidupan ini, bersama Dia yang memanggil kita yang paling penting. Menemukan orang yang setia pada jalan Allah memang tidak mudah karena banyak adalah orang yang ingin sukses dan terkenal tanpa harus bersusah payah mengikuti apa yang sudah diminta oleh Allah kepadanya.

  Menolong orang-orang yang miskin dan menderita merupakan sesuatu yang wajib bagi Ibu Teresa karena ia melihat bahwa Tuhan ada di dalam diri mereka, sehingga tidak ada kata menyerah dalam memberikan kasih bagi mereka yang sudah mendekati ajalnya, mereka yang dianggap sampah oleh pemerintah dan juga masyarakat, serta mereka yang sudah tak dianggab oleh orang yang ada di sekitar mereka. Semuanya dibawa dan dirawat oleh Ibu Teresa sehingga mereka yang tadinya merasa ditinggalkan dan tidak dianggab oleh orang lain benar-benar dapat merasakan cinta kasih dan kedamaian yang diberikan oleh Ibu Teresa. Soal pluralitas yang menjadi latar medan pelayanannya, Ibu Teresa berkata bahwa agama, suku, ras dan budaya tidak menjadi penghalang baginya untuk mewujudkan kasih Allah bagi kaum miskin karena Iman harus dikonkritkan dalam kebersamaan hidup, kebersamaan dalam hal suka maupun duka. Hal yang utama dalam beragama bukanlah (dokrin dan praktek) secara eksklusif, namun bagaimana keterbukaan sikap dan pemikiran untuk melihat orang lain, sebagai bagian dari rencana usaha penyelamatan Kristus. Ibu Teresa tidak berdialog dengan agama lain dalam tataran

  Zaman sekarang ini pribadi seperti Ibu Teresa tidak mudah untuk ditemukan karena pada kenyataannya banyak orang lebih mementingkan kehidupannya sendiri. Hal yang sama juga berlaku bagi katekis di mana penulis mendengar dan melihat bahwa banyak katekis yang begitu khawatir akan kehidupannya sehingga banyak katekis yang menutup mata untuk melayani kaum miskin. Banyak katekis yang merasa mereka tidak mampu melayani kaum miskin.

  Selain itu banyak katekis yang begitu mengutamakan pelayanan-pelayanan yang bersifat liturgis sehingga mengesampingkan pelayanan mereka bagi kaum miskin, bagi mereka melayani kaum miskin bukan kewajiban yang harus mereka lakukan.

  Penulis merasa tertarik dengan semangat pelayanan Ibu Teresa karena di dalam melaksanakan pelayanannya dia selalu percaya dan berserah pada Tuhan. Ibu Teresa tidak pernah merasakan bahwa Tuhan tidak menyayanginya atau Tuhan meninggalkannya meskipun dia sedang mengalami banyak masalah dalam hidupnya. Sumua masalah yang dialaminya dia jadikan sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Semakin banyak masalah yang dialaminya semakin dia dekat dengan Tuhan. Baginya masalah itu adalah anugrah yang harus disyukuri karena semakin banyak masalah Allah semakin cinta dengan kita.

  Semangat pelayanan Ibu Teresa ini dapat dijadikan sebagai inspirasi dan teladan bagi siapa saja yang ingin melayani Tuhan melalui kaum miskin, tak terkecuali bagi katekis. Katekis sebagai murid Kristus sudah seharusnya menyadari hukum yang pertama dan utama yaitu kasih kepada Allah dan sesama terutama sesama yang menderita. Katekis diajak untuk semakin menanggapi panggilan Allah dengan berkarya melayani Allah melalui sesama yang miskin dan menderita. Oleh

  

“SPIRITUALITAS PELAYANAN IBU TERESA DARI KALKUTA SEBAGAI

TELADAN BAGI KATEKIS DALAM MEWUJUDKAN SEMANGAT

PELAYANAN BAGI KAUM MISKIN”. Harapan penulis, spiritualitas dan karya

  Ibu Teresa dapat dijadikan teladan bagi katekis dalam melaksanakan tugas pelayanannya bagi kaum miskin serta katekis semakin menyadari bahwa mencintai dan melayani kaum miskin merupakan tugas yang penting dan tidak boleh dilupakan atau diabaikan.

  B. Rumusan Masalah

  1. Apa yang dimaksud dengan spiritualitas pelayanan Ibu Teresa?

  2. Apa yang dimaksud dengan pelayanan Katekis?

  3. Bagaimana spiritualitas Ibu Teresa dijadikan sebagai inspirasi dan teladan bagi katekis dalam mewujudkan semangat pelayanan bagi kaum miskin?

  C. Tujuan Penulisan

  Adapun tujuan penulisan ini adalah sebagai berikut: 1.

  Untuk memahami spiritualitas pelayanan Ibu Teresa bagi kaum miskin.

  2. Untuk mengetahui tugas pelayanan katekis bagi kaum miskin.

  3. Untuk mengetahui karya-karya dan jalan hidup Ibu Teresa katekis semakin termotivasi untuk melayani kaum miskin.

  4. Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pada Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

  D. Manfaat Penulisan

  1. Meningkatkan pemahaman spiritualitas Ibu Teresa bagi katekis dalam melayani kaum miskin.

  2. Memberikan sumbangan pemikiran bagi katekis untuk meningkatkan semangat pelayanan dalam perkembangan zaman dewasa ini dan sebagai acuan untuk menjadikan katekis lebih peka dengan situasi tersebut.

  3. Katekis menghayati spiritualitas pelayanannya bagi kaum miskin dengan meneladani pelayanan Ibu Teresa.

  E. Metode Penulisan

  Skripsi ini disusun dengan memakai metode deskriptif analisis yang menggambarkan dan menganalisa permasalahan yang ada untuk menemukan jalan pemecahan yang memadai atas sebuah studi pustaka dari berbagai buku refrensi karangan ilmiah yang berkaitan dengan tema yang diangkat oleh penulis.

  F. Sistematika Penulisan

  Penulis memilih judul skripsi

  ”SPIRITUALITAS PELAYANAN IBU

TERESA DARI KALKUTA SEBAGAI TELADAN BAGI KATEKIS DALAM

MEWUJUDKAN SE

  MANGAT PELAYANAN BAGI KAUM MISKIN” yang

  akan diuraikan dalam lima bab sebagai berikut:

  Bab I merupakan pendahuluan yang berisikan latar belakang penulisan skripsi, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan. Teresa yang terbagi dalam tujuh bagian pokok yakni riwayat hidup Ibu Teresa, spiritualitas pelayanan Ibu Teresa, karya dan pelayanan Ibu Teresa, hambatan yang dialami Ibu Teresa pada awal karyanya, pandangan Ibu Teresa terhadap penderitaan, cinta kasih Ibu Teresa dan teladan hidup Ibu Teresa.

  Bab III menjelaskan mengenai semangat pelayanan katekis bagi kaum miskin berdasarkan teladan pelayanan Ibu yang terbagi dalam empat bagian pokok yakni pengertian katekis, spiritualitas katekis, kemampuan katekis, peran katekis dalam tugas perutusannya, pelayanan katekis bagi kaum miskin, Ibu Teresa sebagai teladan bagi katekis dalam mewujudkan semangat pelayanan bagi kaum miskin.

  Bab IV merupakan sumbangan pendampingan bagi katekis dalam usaha meningkatkan pelayanan katekis bagi kaum miskin berdasarkan teladan pelayanan Ibu Teresa melalui katekese umat, dengan menggunakan model Shared Christian Praxsis .

  Bab V merupakan bagian akhir dari penulisan yang terdiri dari kesimpulan dan saran.

  BAB II IBU TERESA DAN SPIRITUALITAS PELAYANANNYA Tokoh seperti Ibu Teresa merupakan sosok yang sulit ditemukan pada abad ini karena banyak karya-karya yang dia lakukan bagi kaum miskin. Karya pelayanan yang ia berikan bagi kaum miskin di Kalkuta mampu membuka mata dunia untuk mengenal lebih jauh sosok Ibu Teresa. Pribadi Ibu Teresa membuat hati setiap orang yang mengenalnya luluh dan simpatik akan apa yang ia lakukan bagi kaum miskin. Untuk lebih mengenal sosok dan spiritualitas pelayanan Ibu Teresa maka dalam bab ini akan diuraikan tentang riwayat hidup Ibu Teresa, spiritualitas pelayanan Ibu Teresa, karya dan pelayanan Ibu Teresa, hambatan yang dialami Ibu Teresa dan teladan hidup Ibu Teresa.

A. Riwayat Hidup Ibu Teresa

  Buku yang berjudul Ibu Teresa (Langford, 2010: 10-16) menjelaskan mengenai sejarah singkat riwayat hidup Ibu Teresa.

  Ibu Teresa lahir pada tanggal 26 Agustus 1910 di Skopje, (saat ini di Macedonia) Yugoslavia dari suatu keluarga Albania sebagai yang bungsu dari tiga bersaudara putra-putri Bapak Nicholas Bojaxhiu dan Ibu Drane Bojaxhiu. Ia dibabtis dengan nama Agnes Gonxa Bojaxhiu yang berarti kuncup bunga. Di sekolah dasar dia tumbuh dalam ketertarikan besar akan misi di luar negeri, dan ketika berusia 12 tahun Ibu Teresa telah memutuskan untuk membaktikan hidup untuk membantu sesama (Langford, 2010: 10). Pada usia 14 tahun Ibu Teresa sudah pada umur 18 tahun, bulan September 1928, Agnes masuk Biara Suster-suster Loreto di Irlandia. Ia memilih nama Suster Maria Teresa sebagai kenangan akan St.

  Theresia Kecil dari Lisieux yang sering disebut sebagai “Bunga Kecil” (Beding, 1989: 94).

  Pada bulan Desember, Sr. Teresa meninggalkan Irlandia dan berangkat ke India dan tiba di Kalkuta pada tanggal 6 Januari 1929. Setelah mengucapkan Kaul Pertamanya pada tanggal 24 Mei 1931, Sr. Teresa ditugaskan untuk mengajar di sekolah lanjut atas untuk gadis-gadis Bengali yang dijalankan oleh suster Loreto di Entally sebelah timur Kalkuta. Selama kira-kira 20 tahun Sr. Teresa mengajar di sekolah itu, dia mengajar ilmu bumi dan sejarah. Bahkan Sr. Teresa sempat diangkat menjadi kepala sekolah. Suster Teresa juga mengajar di sekolah lain yang lingkungan sekolahnya berdekatan dengan biara Loreto yaitu St. Maria (Beding, 1989: 94).

  Pada tanggal 10 September 1946, dalam perjalanan kereta api dari Kalkuta ke Darjeeling untuk menjalani retret tahunan, Ibu Teresa menerima “inspirasi”, “panggilan dalam panggilan”-nya. Pada hari itu, dengan suatu cara yang tidak pernah dapat dijelaskan, dahaga Yesus akan cinta dan akan jiwa-jiwa memenuhi hatinya. “Mari, jadilah cahaya bagi-Ku”. Sejak itu, Ibu Teresa dipenuhi hasrat “untuk memuaskan dahaga Yesus yang tersalib akan cinta dan akan jiwa- jiwa” dengan berkarya demi keselamatan dan kekudusan orang-orang termiskin dari yang miskin (Langford, 2010: 11).

  Pada bulan Februari 1948, Ibu Teresa menanggalkan pakaian biaranya dan mengenakan sari India yang berwarna putih dengan pinggiran garis-garis warna

  1948 Ibu Teresa keluar melewati gerbang Biara Loreto yang tenteram yang amat dicintainya untuk memasuki dunia orang-orang miskin (Beding, 1989: 105).

  Untuk pertama kalinya setelah keluar dari biara Loreto yang sangat dicintainya Ibu Teresa memulai karya pelayanannya dengan mengajar anak-anak miskin yang berada di kampung kumuh padat penduduk di Moti Jhil. Kemampuannya sebagai guru digunakannya untuk mengajar anak-anak miskin dengan menggunakan tanah sebagai papan tulis, dan sebatang pohon sebagai atap dan tempat berteduh. Sebagai hadiah atas kehadiran anak-anak yang dia ajari Ibu Teresa membagikan sabun kepada murid-muridnya (Langford, 2010: 12).

  Pada bulan Februari 1949, keluarga Michael Gomes meminjaminya sebuah ruangan di Creek Lane. Ibu Teresa pindah ke rumah itu hanya dengan membawa tas kecil dan menata ruangan untuk tidur dan kerja, dengan sepasang prabot untuk meja dan kursi. Setelah berita tentang Ibu Teresa tersebar orang-orang yang mengenalnya mulai membantu karya perutusannya yang baru itu (Langford, 2010: 12).

  Pada tanggal 7 Oktober 1950, kongregasi Misionaris Cinta Kasih memperoleh pengakuan dari Gereja Katolik dengan persetujuan Paus Pius XII (Krispurwana Cahyadi, 2003b: 177-178). Awal tahun 1960-an, Ibu Teresa mulai mengutus para susternya ke bagian-bagian lain India. Dekrit Pujian yang dianugerahkan kepada Kongregasi oleh Paus Paulus VI pada bulan Februari 1965 mendorong Ibu Teresa untuk membuka rumah penampungan. Sejak tahun 1970- 1971 Ibu Teresa telah menambahkan rumah di India juga internasional yaitu London, Australia, Venezuela, Yordan dan Amerika Serikat (Wellman, 2002: 204). akhirnya di setiap benua. Pada tahun 1980 hingga 1990, Ibu Teresa membuka rumah-rumah penampungan di hampir di seluruh negara-negara komunis, termasuk Uni Soviet, Albania dan Kuba. Agar dapat menanggapi kebutuhan kaum miskin, baik jasmani maupun rohani, Ibu Teresa melangkah lebih lanjut dengan mendirikan lima komunitas religius tersendiri bagi pelayanan pada kaum miskin. Bersama para Suster, yang didirikan pada tahun 1950, dia mulai dengan cabang pria, Bruder- bruder Misionaris Cinta Kasih, berdiri 1966, kemudian para Suster Kontemplatif pada tahun 1976, pada tahun 1979 didirikan Bruder-bruder Kontemplatif, dan yang terakhir pada tahun 1984 didirikan Imam Misionaris Cinta Kasih untuk melayani luka batin dan kemiskinan rohani dari mereka yang dilayani oleh para suster serta Bruder (Langford, 2010: 15).

  Mata dunia mulai terbuka terhadap Ibu Teresa dan karyanya. Pada 6 Januari 1970 Paus Pius VI menganugrahinya dengan Penghargaan Perdamaian Paus Yohanes XXIII. Penghargaan ini telah dipersiapkan oleh almarhum Paus Yohanes

  XXIII untuk menghormati para pencipta perdamaian (Wellman, 2002: 204). Ia juga membentuk Kerabat Kerja Ibu Teresa dan Kerabat Kerja Sick and Suffering, yaitu orang-orang dari berbagai kalangan agama dan kebangsaan dengan siapa ia berbagi semangat doa, kesederhanaan, kurban silih dan karya sebagai pelayan cinta kasih.

  Semangat ini kemudian mengilhami terbentuknya Misionaris Cinta Kasih awam (Krispurwana Cahyadi, 2003c: 217).

  Atas permintaan banyak imam, pada tahun 1981 Ibu Teresa juga memulai Gerakan Corpus Christi bagi para imam sebagai “jalan kecil kekudusan” bagi mereka yang rindu untuk berbagi karisma dan semangat dengannya

  Pada tahun 1997, tarekat Misionaris Cinta Kasih hampir mencapai 4000 orang, tergabung dalam 610 cabang dan tersebar di 120 negara dari berbagai belahan duniam (Wellman, 2002: 230). Pada bulan Maret 1997, Ibu Teresa memberikan restu kepada Sr. Nirmala MC, penerusnya sebagai Superior Jenderal Misionaris Cinta Kasih. Setelah bertemu dengan Paus Yohanes Paulus II untuk terakhir kalinya, ia kembali ke Kalkuta dan melewatkan minggu-minggu terakhir hidupnya dengan menerima kunjungan para tamu dan memberikan nasehat-nasehat terakhir kepada para biarawatinya (Langford, 2010: 14).

  Pada tanggal 5 September 1997 jam 9:30 malam, hidup Ibu Teresa di dunia ini berakhir. Jenazahnya dipindahkan dari Rumah Induk ke Gereja St.

  Thomas, gereja dekat Biara Loreto di mana ia menjejakkan kaki pertama kalinya di India hampir 69 tahun yang lalu. Ratusan ribu pelayat dari berbagai kalangan dan agama, dari India maupun luar negeri, berdatangan untuk menyampaikan penghormatan terakhir mereka (Langford, 2010: 15).

  Ibu Teresa mendapat kehormatan dimakamkan secara kenegaraan oleh Pemerintah India pada tanggal 13 September sebelum akhirnya dimakamkan di Rumah Induk Misionaris Cinta kasih. Segera saja makamnya menjadi tempat ziarah dan tempat doa bagi banyak orang dari berbagai kalangan agama, kaya maupun miskin (Wellman, 2002: 230).

  Ibu Teresa mewariskan teladan iman yang kokoh, harapan yang tak kunjung padam, dan cinta kasih yang luar biasa. Jawaban atas panggilan Yesus, “Mari, jadilah cahaya bagi-Ku,” menjadikannya seorang Misionaris Cinta Kasih, seorang “ibu bagi kaum miskin”, sebagai simbol belas kasih terhadap dunia. 26 yang tersebar luas karena kekudusan dan karya-karyanya, Paus Yohanes Paulus II memberikan persetujuan untuk dimulainya proses kanonisasi Ibu Teresa. Dengan melewati proses panjang dan juga kerja keras pada tanggal 20 Desember 2002 Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II mengeluarkan keputusan untuk mengesahkan beatifikasi Ibu Teresa. Pada tanggal 19 Oktober 2003 dilaksanakan perayaan beatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II di lapangan Basilika St. Petrus Vatikan. (Krispurwana Cahyadi, 2004: 64).

B. Spiritualitas Pelayanan Ibu Teresa

1. Pengertian Spiritualitas

  KOPTARI ( 1987: 4) menyatakan bahwa spiritualitas adalah “kenyataan konkret hidup yang mencakup keyakinan iman, keutamaan beserta perwujudannya”.

  Definisi ini memberikan penjelasan bahwa spiritualitas bukanlah sesuatu yang abstrak, akan tetapi sesuatu yang nyata dapat dilihat realitasnya dalam sikap dan tindakan hidup sehari-hari. Di mana seseorang yang memiliki iman yang teguh dan kuat akan dapat terlihat dari perilaku dan tindakannya dalam hidup di tengah-tengah masyarakat.

  Banawiratma (1990: 57-58) menyatakan bahwa spiritualitas merupakan “kekuatan atau Roh yang memberi daya tahan kepada seseorang atau kelompok untuk mempertahankan, memperkembangkan, mewujudkan kehidupan”. Di mana spiritualitas dapat memberikan semangat dan pengharapan dalam menjalani segala rintangan untuk mencapai cita-cita seseorang atau kelompok. Semangat yang tak kunjung padam meskipun begitu banyak hambatan yang dialami oleh seseorang

  Dalam Ensiklopedia Gereja Katolik III, Heuken (1991: 106) mengatakan bahwa spiritualitas berasal dari kata spirit yang berarti roh. Kata Spiritualitas berarti kerohanian atau hidup rohani. Dengan begitu spiritualitas dapat dirumuskan sebagai hidup berdasarkan kekuatan Roh Kudus sehingga orang dapat mengembangkan iman, harapan dan cinta kasih atau sebagai usaha mengintegrasikan segala segi kehidupan ke dalam cara hidup yang secara sadar bertumpu pada iman akan Yesus Kristus atau sebagai pengalaman iman kristiani dalam situasi konkret masing- masing orang. Hal tersebut selalu bertumpu pada iman akan Yesus melalui perbuatan dan pengalaman iman dalam kehidupan sehari-hari.

  Dari beberapa definisi di atas penulis menyimpulkan bahwa spiritualitas merupakan semangat yang berasal dari Allah yang menyelimuti hidup seseorang sehingga dalam segala prilakunya dapat terlihat bahwa Roh Allah yang berkarya dan diwujudkan oleh manusia dalam tindakan yang nyata dengan mencintai Allah melalui orang lain yang ada di sekitarnya terlebih mereka yang miskin dan kecil.

2. Spiritualitas Pelayanan

  Spiritualitas pelayanan merupakan segala keyakinan iman, sikap dan keutamaan maupun pilihan serta tindakan yang mendukung keterlibatan kita untuk melayani kerajaan Allah yang hadir dalam kenyataan sosial masyarakat, kerajaan Allah yang bergulat dan tumbuh dalam kenyataan sosial manusia (KOPTARI, 1987: 4-5). Spiritualitas pelayanan dapat dimengerti sebagai semangat yang berasal dari Allah untuk melayani kerajaan Allah yang hadir dalam kenyataan hidup manusia.

  Diletakkan di dalam konteks transendensi hidup manusia yang memberi makna dan cinta, pengetahuan dan tindakan. Berdasarkan rahmatnya manusia mengalami kepenuhan hidup, kebahagiaan, dan damai sejahtera, seperti yang disabdakan Yesus sendiri (Yoh 10:10).

5. Ciri-Ciri Pelayanan Kristiani

  Pelayanan Kristiani memiliki empat ciri yakni ciri pelayanan yang pertama ialah ciri Religius. Dimana pelayanan Kristiani tidak berdasarkan berbelaskasihan atau ketaatan kepada pemerintah, penguasa dan orang kaya melainkan hormat kepada Allah pencipta yang membuat manusia sesuai dengan citra-Nya sendiri. Ciri yang kedua ialah kesetiaan kepada Kristus dan Tuhan sebagai Guru, di mana Gereja menyatakan diri sebagai murid Kristus oleh karena itu pelayanan yang dilakukan oleh umat Kristiani harus konkrit dan mampu menimba kekuatan dari suri teladan Kristus. Ciri ketiga ialah mengambil bagian dalam sengsara dan penderitaan Kristus yang tetap senasib dengan semua orang yang menderita. Kristus itu saudara semua orang, khususnya mereka yang malang, miskin dan menderita. Ciri keempat adalah kerendahan hati dimana orang Kristiani tidak (boleh) membanggakan pelayanannya karena manusia harus mengakui segala keterbatasannya termasuk dalam pelayanan. Pelayanan Kristiani ialah menerima dunia dan manusia seadanya dan berusaha menghayati sikap Kristus dihadapan sesama (KWI, 1996: 451-452). Ciri-ciri pelayanan Kristiani harus bersumber pada Yesus Kristus, sebagaimana digambarkan dalam Kitab Suci, itu berarti bahwa setiap orang Kristiani dipanggil untuk mengajar kesempurnaan cinta kasih dalam pelayanan kepada Kerajaan Allah menurut norma dan teladan Yesus Kristus

4. Spiritualitas Pelayanan Ibu Teresa

  Yesus adalah segala-galanya bagi Ibu Teresa sehingga dalam karya pelyanannya Ibu Teresa selalu mengutamakan Yesus alasannya melayani orang miskin adalah semata

  • –mata karena Yesus sehingga Ibu Teresa sebagaimana yang dikutip oleh Krispurwana Cahyadi (2003a: 58) senantiasa mengatakan:

  Aku melakukannya karena Yesus, bersama Yesus, dalam Yesus, dan untuk Yesus. Itu berarti mencintai sesama sebagaimana cara Yesus sendiri mencintai kita semua sampai mengorbankan diri-Nya sendiri demi cinta-Nya kepada kita. Oleh karena itu, tidaklah mungkin seseorang terlibat dalam kerasulan aktif jika tidak memiliki semangat dan jiwa pendoa. Kita harus menyadari kesatuan dengan Kristus, sebagaimana dia satu dengan Bapa-

  Nya…dengannya kita belajar mencari Allah dan kehendak-Nya. Relasi dengan mereka yang miskin merupakan sarana yang efektif bagi penyucian diri kita dan sesama. Hidup panggilan serta karya perutusan Ibu Teresa memang berakar dari dalam diri Yesus sehingga Tuhan Yesus menjadi segalanya. Ibu Teresa begitu memahami bahwa apapun yang dia lakukan dalam karyanya semata-mata karena kasih Yesus yang begitu besar kepadanya. Bila Tuhan ditemukan, bahkan dibiarkan berdiam dalam diri, seseorang semakin mampu mengerjakan perbuatan-perbuatan kasih, Ibu Teresa sendiri sebagaimana yang dikutip oleh Krispurwana Cahyadi (2003a: 60) mengatakan bahwa

  “pekerjaan yang kita lakukan tiada lain hanyalah mencintai Yesus dalam tindakan saya melakukan ini karena saya percaya bahwa saya melakukannya karena Yesus. Saya sangat yakin bahwa ini adalah pekerjaan- Nya.

  Saya sangat yakin bahwa dialah pelakunya bukan saya”. Ketika Ibu Teresa menerima panggilannya yang kedua yang dia se but “panggilan dalam panggilan” membuat Ibu Teresa rela meninggalkan biara Loreto yang sangat ia cintai. Seruan

  Tuhan Yesus di salib “Aku haus” (Yoh 19:28) menjadi dasar panggilan hidup Ibu

  Spiritualitas pelayanan Ibu Teresa berakar dari kata- kata Yesus “Aku haus”. Dalam spiritualitas pelayanan Ibu Teresa, gambaran ketidak berdayaan Tuhan yang menjadi pusat perhatiannya adalah saat peristiwa salib, terlebih ketika Tuhan mengatakan

  “Aku haus” (Yoh 19:28). Bagi Ibu Teresa kata “Aku haus” bukan hanya menunjukkan bahwa Yesus haus akan air tetapi menurut Ibu Teresa Yesus senantiasa haus akan kasih dengan peristiwa salib Yesus ingin memperlihatkan bahwa semua orang yang menderita senantiasa merasa haus. Yesus mengangkat penderitaan umat manusia dan memperlihatkan betapa mereka yang menderita senantiasa merasa haus dan dengan itu mengundang siapa saja untuk memberikan rasa dahaga kepada mereka. Kehausan mereka adalah kehausan akan cinta kasih. Persatuannya yang mendalam dengan Allah menghantarnya kepada banyak keutamaan hidup rohani yang mengagumkan banyak orang. Pengalaman rohani Ibu Teresa yang mendalam, menggerakkannya untuk melakukan pelayanan di tengah- tengah orang miskin.

  Dalam diri orang-orang miskin ini Ibu Teresa merasakan kasih Yesus, oleh karena itu ia ingin untuk melayani Yesus yang nampak dalam diri orang-orang miskin dan menderita (Krispurwana Cahyadi, 2003c: 64). Ibu Teresa sangat memahami bahwa Tuhan memanggil semua orang mencintai mereka yang miskin, menderi ta dan hina. Karena Tuhan bersabda bahwa “sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukann ya untuk Aku” (Mat 25:40). Oleh karena itu Ibu Teresa memahami bahwa Yesus hadir secara tersamar melalui mereka yang miskin, sakit, kesepian dan menderita. Dengan alasan itulah Ibu Teresa tidak pernah lelah atau merasa jijik

C. Karya dan Pelayanan Ibu Teresa

  Sebelum memutuskan untuk keluar dari biara Loreto yang sangat dicintainya Suster Teresa mengabdikan diri untuk biaranya dan patuh akan perintah pimpinannya. Setelah suster pulang dari Darjeeling Suster Teresa diutus kembali oleh pimpinannya sebagai pendidik di sekolah suster Teresa dan kembali melanjutkan tugasnya mengajar di sekolah St. Maria dan sekolah Entally (Beding, 1989: 98).

  Setelah kaul kekal Suster Teresa diangkat menjadi kepala sekolah di St. Mary’s School dan juga mengajar di St. Teresa’s School sebuah sekolah yang terletak di luar biara. Ketika suster Teresa merasakan bahwa Yesus memanggil dia untuk kedua kalinya melayani orang miskin, melarat dan kelaparan suster Teresa memilih untuk meninggalkan biara yang paling ia cintai supaya dengan leluasa dia biasa melakukan karya pelayanannya bagi kaum miskin tanpa harus terikat dengan aturan biara Loreto (Krispurwana Cahyadi, 2010: 27-28).

  Setelah keluar dari biara Loreto banyak karya dan pelayan yang Ibu Teresa berikan bagi kaum miskin yakni: mengajar anak-anak miskin di Motijhil, mendirikan Misionaris Cinta Kasih, Shisu Bhavan, Sealdah Stasion, Nirmal Hriday atau Wisma Hati Nan Murni, Prem Daan, Shantinagar/Rumah bagi Orang-Orang Berkusta, Membangun Klinik Kesehatan, Protima Sen School.

1. Mengajar Anak-anak Miskin di Motijhil

  Pekerjaan pertama Ibu Teresa setelah keluar dari Biara Loreto adalah mengajar anak-anak miskin di kawasan kumuh Motijhil. Motijhil adalah sebuah halaman terbuka di antara gubuk-gubuk. Tak ada papan tulis, tak ada bangku, tak ada kursi, tak ada apa-apa hanya satu lapangan terbuka. Ibu Teresa menulis di tanah, di lumpur dengan sebatang tongkat kecil, lalu Ibu Teresa mengajari anak-anak itu bahasa Bengali dan mengajari mereka bernyanyi (Krispurwana Cahyadi, 2010: 32).

  Pada hari kedua Ibu Teresa sudah mendapat meja, kursi dan sebuah lemari. Dengan semangat yang luar biasa Ibu Teresa mengajar anak-anak, bagi Ibu Teresa apa saja yang bisa dia lakukan hari ini akan dia lakukan tanpa harus menunggu yang lain (Beding, 1989: 67).

2. Mendirikan Misionaris Cinta Kasih

  Pada awal karyanya Ibu Teresa memulainya dengan sendiri, namun pada tanggal 19 Maret 1949 datanglah kepadanya muridnya dulu di Entally Subashini Das yang ingin bergabung dengannya. Kemudian, pada tanggal 26 Maret 1949 datang pula Magdalena, semakin hari pengikut Ibu Teresa semakin banyak dan pada akhirnya sampai pada 11 orang (Krispurwana Cahyadi, 2003c: 183).

  Ketika dalam kelompok barunya itu banyak yang datang untuk bergabung maka Ibu Teresa merasa perlu untuk memberi nama untuk kelompoknya ini, oleh karena itu ia memberi nama Misionaris Cinta Kasih. Ibu Teresa menyadari bahwa menyatakan cinta kasih merupakan tugas yang harus diembannya, atau misi yang harus disangganya (Krispurwana Cahyadi, 2003c: 175).

  Pada tahun 1950 Ibu Tersesa mendirikan tarekat Misionaris Cinta Kasih (Misionary of Charity). Tarekat Misionaris Cinta Kasih tidak hanya terdiri dari Suster tetapi ada Bruder bahkan Imam yang bergabung di dalamnya. Dan ada juga agama yang disahkan dan didirikan dengan berkat Bapa Suci, Paus Paulus VI ini sangat membuat Ibu Teresa bahagia dan bangga. Pada tahun 1980 hingga 1990, Ibu Teresa membuka rumah-rumah penampungan di hampir di seluruh negara-negara komunis, termasuk Uni Soviet, Albania dan Kuba. Agar dapat menanggapi kebutuhan kaum miskin, baik jasmani maupun rohani, Ibu Teresa melangkah lebih lanjut dengan mendirikan lima komunitas religius tersendiri bagi pelayanan pada kaum miskin. Bersama para Suster, yang didirikan pada tahun 1950, dia mulai dengan cabang pria, Bruder-bruder Misionaris Cinta Kasih, berdiri 1966, kemudian para Suster Kontemplatif pada tahun 1976, pada tahun 1979 didirikan Bruder-bruder Kontemplatif, dan yang terakhir pada tahun 1984 didirikan komunitas Imam Misionaris Cinta Kasih untuk melayani luka batin dan kemiskinan rohani dari mereka yang dilayani oleh para suster serta bruder (Langford, 2010: 15).

  Cara hidup Misionris Cinta Kasih memiliki kekhasan tersendiri yaitu adanya kaul keempat, selain kaul kemiskinan, kemurnian, dan ketaatan. Kaul keempat mereka adalah kaul untuk memberikan pelayanan dengan sepenuh hati dan tanpa pamrih kepada mereka yang termiskin dari yang miskin. Ibu Teresa, seperti yang dikutip oleh Egan & Egan

  (2001: 26) mengatakan bahwa “dengan kaul keempat kita menanggapi panggilan Kristus yaitu dengan memberikan pelayanan sepenuh hati dan bebas kepada yang terpapa dari yang papa seturut kepatuhan. Dengan demikian kita akan dapat memu askan dahaga Yesus tanpa henti”.

  Tiga kata dari kaul ini memiliki arti khusus bagi para biarawati dimana sepenuh hati berarti hati berkobar oleh semangat dan cinta akan kehidupan. Bebas berarti penuh kegembiraan tanpa rasa takut, tanpa mengharapkan imbalan apapun menyediakan diri sepenuhnya untuk Yesus, oleh karena itu Dia akan hidup di dalam kita dan melalui kita dalam kelembutan tanpa batas, dengan cinta kasih dan murah hati bagi yang terpapa dari yang papa baik rohaniah maupun jasmaniah. Dewasa ini mereka adalah para biarawan dan biarawati yang dapat pergi kemanapun, satu- satunya syarat yang harus mereka patuhi yang diberikan oleh kongregasi ialah pekerjaan yang mereka lakukan harus membumi mereka harus melayani “Terpapa dari yang papa” (Egan & Egan, 2001: 26-27).

  Untuk bergabung dengan tarekat Misionaris Cinta Kasih tentunya ada syarat

  • –syarat yang harus dipenuhi yaitu syarat yang pertama usia paling tidak 18 tahun atau lebih, memiliki motivasi yang sungguh serta tulus, sehat jasmani dan rohani, mampu menanggung dan menjalankan tugas berat, memiliki cukup pengetahuan, juga memiliki kehendak kuat untuk mempelajari bahasa setempat, memiliki kedewasaan dalam mengambil keputusan, memiliki kegembiraan dan rasa humor yang sehat. Syarat ini dibuat oleh Ibu Teresa karena Ibu Teresa menyadari bahwa karya pelayanan mereka bukanlah tugas yang mudah melainkan berat dan penuh dengan perjuangan, tidak sembarang orang bisa melakukannya (Krispurwana Cahyadi, 2003c: 188-189). Setelah terpenuhinya semua syarat yang telah ditentukan maka dilakukan tahap pembinaan sebagai religious. Pertama mereka melalui tahap aspiran selama enam bulan hingga satu tahun, pada tahap aspiran mereka belajar bahasa Inggris sebagai bahasa resmi dan mengikuti karya Tarekat untuk melihat sejauh mana panggilannya sebagai anggota Misionaris Cinta Kasih. Setelah melewati masa aspiran para calon anggota Misionaris Cinta Kasih menjalani masa postulan selama enam bulan sampai satu tahun. Pada masa postulan mereka menguji
dengan panggilan hidup sebagai Misionaris Cinta Kasih. Setelah itu mereka menjalani masa novisiat dimana mereka mempelajari Kitab Suci, dasar-dasar ajaran Gereja serta sejarah Gereja (Krispurwana Cahyadi, 2003c: 189-190).

  Pada akhir masa Novis mereka mengucapkan kaul sementara, lalu mereka disebut sebagai suster yunior. Masa yuniorat ini berlangsung selama lima tahun. Setiap tahun mereka harus membaharui kaulnya. Pada tahun keenam anggota Misionaris Cinta Kasih menjalani masa tersiat, sebelum mereka mengucapkan kaul kekal (Krispurwana Cahyadi, 2003c: 191).

3. Shisu Bhavan

  Ibu Teresa menyewa rumah untuk anak-anak terlantar rumah itu dinamakan Shisu Bhavan. Shisu Bhavan adalah bangunan bertingkat dua, dalam Shisu Bhavan selalu ada kegiatan meskipun Shisu Bhavan merupakan rumah untuk anak-anak terlantar tetapi rumah ini juga merupakan pusat kegiatan Misionaris Cinta Kasih. Tempat ini cukup berbeda dari ketenagaan rumah induk karena disinilah orang-orang kelaparan diberi makan, dan orang-orang sakit dirawat serta disini tempat untuk menampung ibu-ibu yang menunggu kelahiran anaknya yang tidak memiliki tempat (Beding, 1989: 43).

  Di pintu masuk Shisu Bhavan terdapat beberapa klinik harian di mana orang miskin dapat membawa anak-anak mereka, selain itu juga disini ada tempat untuk mengadopsi anak dan juga klinik untuk rawat jalan. Di shisu bhavan juga ada tempat memasak untuk memberi makan 1.000 orang lebih setiap harinya dan mereka biasanya para pengemis dan gelandangan yang datang setiap hari untuk

  4. Sealdah Station

  Sealdah Station adalah stasiun kereta api dari Estern Railway. Di dalam stasiun itu sepuluh ribu orang memasak, makan, tidur dan meninggal dunia beralaskan lantai batu ruang-ruang tunggu, sementara kereta-kereta api datang dari pagi kemudian melangkahkan kaki di sela-sela orang banyak itu. Setiap hari Ibu Teresa dan Misionaris Cinta Kasih membagi-bagikan bahan pangan berupa campuran bulgur dan kedelai kepada para wanita yang mempunyai kompor dan bagi mereka yang tidak mempunyai kompor Ibu Teresa memasak di tong-tong besar dan dibagikan kepada mereka (Beding, 1989: 166).

  5. Nirmal Hriday atau Wisma Hati nan Murni

  Nirmal Hriday atau Wisma Hati nan Murni adalah rumah yang didirikan oleh Ibu Teresa untuk menampung orang-orang yang sekarat, melarat dan menghadapi ajalnya. Rumah ini diberi nama Wisma Hati nan Murni karena rumah ini dipersembahkan kepada Hati Tak Bernoda Maria. Ibu Teresa mendirikan Nirmal Hriday karena banyak orang yang tidak peduli akan penderitaan orang yang sekarat yang meninggal di jalanan dan dijilati oleh anjing. Ibu Teresa menginginkan di akhir hidup orang-orang yang melarat dan sekarat itu mereka bisa merasakan cinta, perhatian dan kebahagiaan sehingga ketika ajal menjemput mereka bisa tersenyum dan mengatakan terima kasih. Setiap orang yang mengunjungi Nirmal Hriday akan memiliki suatu gambaran umum tentang tempat itu, tentang keindahan terhadap sikap pasrah maut yang tak dapat dielakkan (Beding, 1989: 152).

  Ibu Teresa menyebut kematian itu sebagai pulang ke rumah, ia berkata berangkat langsung menuju Tuhan. Dan kalau mereka pergi, meraka akan bercerita kepada-Nya tentang kita. Kami membantu mereka untuk mati dalam Tuhan. Kami membantu mereka untuk minta maaf pada Tuhan, sesuai dengan iman-Nya masing- masing” itulah yang dikatakan oleh Ibu Teresa. Beliau sangat mencintai dan memperhatikan semua orang yang menderita termasuk orang yang sudah mendekati ajalnyapun berusaha Ibu perhatikan agar mereka merasakan kedekatan mereka dengan Tuhan tanpa harus memaksakan orang yang dirawatnya untuk menjadi Katolik seperti dirinya. Ibu Teresa memberikan kebebasan kepada mereka untuk berdoa sesuai dengan kepercayaannya. Bagi Ibu Teresa perbedaan bukan menjadi halangan untuk mengasihi Tuhan melalui sesama yang menderita (Beding, 1989: 160).

6. Prem Daan

  Prem Daan adalah rumah untuk menampung orang-orang sakit yang mempunyai harapan untuk sembuh dan hidup lebih lama. Semula Prem Daan adalah gedung yang dibangun untuk dijadikan Labolatorium Kimia, tetapi pada bulan April 1973 pabrik itu diserahkan kepada Ibu Teresa. Bagi Ibu Teresa itu merupakan contoh yang bagus tentang praktek cinta kasih maka Ibu Teresa menamakan tempat itu Prem Daan yang berarti “Anugrah Cinta” (Beding, 1989: 214). Di Prem Daan, Ibu Teresa dan suster-susternya merawat orang-orang sakit, baik jiwa maupun badan, orang-orang yang mengidap penyakit parah. Di Prem Daan ada ruangan khusus untuk merawat orang-orang yang sakit ingatan. Prem Daan merupakan tempat yang tenteram dimana orang-orang sakit dapat merasakan damai dan tidak Prem Daan juga juga memiliki tempat untuk pusat rehabilitasi. Untuk orang-orang miskin, mereka diajari untuk mengolah serabut kelapa menjadi barang-barang kebutuhan rumah tangga seperti sikat, keset, tali dan kranjang. Sampah yang sebelumnya menjadi masalah dalam masyarakat dapat Ibu Teresa olah menjadi barang yang mempunyai nilai jual sehingga ini mampu menjadi biaya hidup bagi orang miskin (Beding, 1989: 215-217).

  7. Shantinagar

  Shantinagar adalah salah satu rumah untuk penderita kusta, Shantinagar yang berarti tempat ketentraman merupakan tempat yang dapat memberikan rasa aman dan hidup secara layak dan bermartabat bagi penderita kusta. Selain sebagai tempat perawatan orang-orang penderita kusta, Shantinagar juga memiliki pondok- pondok kecil untuk orang-orang penderita kusta yang ingin tinggal bersama keluarga mereka, pasien penderita kusta yang sudah menikah diijinkan untuk membawa keluarganya dan tinggal bersama-sama. Di tempat ini penderita kusta dapat hidup secara tenteram bersama keluarga mereka tanpa harus dijauhi oleh orang-orang (Beding, 1989: 243).

  8. Membangun Klinik Kesehatan

  Berawal dari klinik keliling, Ibu Teresa menolong penyandang kusta ke perkampungan-perkampungan. Melihat semakin hari penyandang kusta semakin banyak berdatangan Ibu Teresa berusaha bekerja sama dengan pemerintah dan dokter, mereka membangun sebuah lembaga perawatan yang baru jauh di luar kota klinik untuk penyandang kusta ada juga klinik untuk anak-anak cacat fisik dan mental, klinik untuk pasien AIDS dan TBC serta klinik untuk anak-anak yang kekurangan gizi serta klinik mobil yang masih berkeliling setiap hari di daerah Kalkuta (Vardey, 1997: 83).

9. Protima Sen School

  Protima Sen School merupakan sekolah yang menolong anak-anak yang di buang dan yang tidak bisa diatur dan dikendalikan oleh orang tua mereka lagi, anak-anak yang berkeliaran di jalan-jalan, yang melakukan pencurian dan anak yang sering berurusan dengan polisi. Di protima Sen School mereka dilatih untuk bekerja untuk membangun kehidupan yang lebih baik dan anak diajarkan untuk mengembangkan bakat mereka (Beding, 1989: 80).

D. Hambatan yang Dialami Oleh Ibu Teresa pada Awal Karyanya

  Buku Teresa dari Kalkuta, Krispurwana Cahyadi (2010: 29-32) menyebutkan bahwa ada empat kendala yang dialami oleh Ibu Teresa pada awal karyanya diantaranya adalah perubahan gaya hidup, tiadanya bekal,

  “ladang” yang berbeda dan yang terakhir adalah semuanya dimulai dengan sendirian.

1. Perubahan Gaya Hidup

  Ketika memutuskan untuk keluar dari biara Loreto tentunya hal pertama yang langsung berubah dari kebiasaan-kebiasan yang sering Ibu Teresa lakukan adalah perubahan gaya hidup. Kehidupan Ibu Teresa ketika menjadi suster Loreto berangkat dari biara yang teratur, baik dari hidup dan karya semua teratur, dengan pekerjaan sebagai pendidik dengan jadwal yang jelas, dan interaksi dengan orang lain juga terbatas. Tentunya ini sangat jauh berbeda dengan karya pelayanan Ibu bagi kaum miskin. Ketika Ibu Teresa berkarya di tengah-tengah orang miskin tentunya tidak ada jadwal yang tertata dengan baik sehingga perubahan cara hidup yang dia jalani begitu berbeda dengan sebelumnya. Hal ini membuat Ibu Teresa sering merindukan biara Loreto dan membayangkan hidup teratur, terjamin, tentram dan aman disana. Perubahan ini sangat tidak mudah untuk dia jalankan sehingga perubahan ini menjadi pengalaman yang menyakitkan, pengalaman yang membawa masuk ke dalam kekeringan dan kesepian rohani bagi Ibu Teresa (Krispurwana Cahyadi, 2010: 30).

2. Tiadanya Bekal

  Pada awal keluar biara Ibu Teresa tidak tahu apa yang akan dia lakukan karena dia tidak punya uang dan juga pengalaman berkarya di kalangan kaum miskin. Ibu Teresa hanya memiliki pengalaman sebagai guru yang bertugas untuk mengajar anak-anak di sekolah. Ibu Teresa sadar bahwa kemampuannya mengajar tidak bisa dia jadikan sebagai bekal untuk melayani kaum miskin karena kaum miskin tidak hanya butuh pendidikan tapi banyak hal lain. Oleh karena itu Ibu Teresa mulai belajar untuk merawat orang sakit dan membantu ibu yang melahirkan. Dari situ Ibu Teresa belajar bahwa yang terpenting bukan bekal melainkan hati, bukan uang, tetapi kasih. Tetapi untuk sampai kesitu tentunya mengalami proses yang tidak mudah Ketika Ibu Teresa masih berada di dalam biara Loreto Ibu Teresa

  3. “Ladang” yang Amat Berbeda

  Dunia sekolah dan dunia kampung kumuh sangat berbeda, maka pertama kali masuk kecurigaan dan penolakan dialaminya apa lagi Ibu Teresa orang Barat dan suster, mengingat waktu itu konflik Hindu-Islam memanas. Tidak mudah membuktikan bahwa dia datang dengan tulus dan sungguh, dengan kasih dan hati.

  Banyak orang-orang menentang kehadiran Ibu Teresa dan bahkan ingin mencelakainya, hal ini membuat Ibu Teresa takut dan cemas tetapi dia tidak pernah mau mundur karena semuanya baru dimulai.

  Pada awalnya Ibu Teresa tidak kuat untuk melihat darah dan merawat orang-orang yang sakit, tetapi seiring dengan berjalannya waktu Ibu Teresa bisa mengatasi masalahnya itu. Satu hal yang Ibu Teresa katakan yang membuatnya bisa kuat melayani dan mencintai kaum miskin adalah karena dia melihat Tuhan di dalam diri mereka yang miskin dan menderita. Hal itulah yang memberikan kekuatan untuk dia agar tetap bisa melayani, merawat dan mencintai orang yang sedang menderita. Baginya dia mencintai dan mengasihi Allah melalui mereka. Allahlah yang hadir secara tersamar melalui mereka yang menderita sehingga tidak ada alasan utuk mengabaikan mereka (Krispurwana Cahyadi, 2010: 31).

6. Memulai dengan Sendirian

  Orang pertama-tama melakukan sesuatu mencari teman tetapi apa yang yang dilakukan oleh Ibu Teresa, dia melakukan semua dengan sendirian. Memang ada pastor Jesuit yang membantu tetapi dapat dikatakan bahwa Ibu Teresa berjuang sendiri, segalanya dia lakukan sendiri. Kemuian dan datang relawan dan kemudian Teresa tidak mudah panggilan itu diterimanya. Akan tetapi dia menyadari bahwa tidak ada panggilan yang mudah. Bagi Ibu Teresa kesulitan, tragedi merupakan jalan panggilan. Justru kemiskinan dan kesulitan, salib dan derita, kesepian dan kekeringan, penolakan dan kecurigaan, yang dialaminya semakin masuk ke dalam ajakan panggilan Allah, dan tidak menjadikannya malahan mundur. Di tengah salib, berkat memancar, ditengah tragedi, rahmat menyertai, namun semuanya itu akan didapat jika umat beriman memberikan diri kepada Allah untuk ikut serta dalam gerakan Yesus, memanggul salib dan masuk dalam derita. Konsekuensinya terlibat dalam kecemasan, duka, sakit, luka dan penderitaan umat manusia (Krispurwana Cahyadi, 2010: 32).

E. Pandangan Ibu Teresa terhadap Penderitaan

  Setiap orang pasti pernah mengalami masalah dalam hidup dan masalah itu memberikan penderitaan bagi orang yang mengalaminya. Sering sekali masalah yang begitu berat membuat orang tidak mampu untuk bangkit lagi, hanya bisa meratapi tanpa berbuat apa-apa. Dan yang paling menyedihkan adalah di saat orang mengalami masalah dan penderitaan yang berkepanjangan orang merasakan Tuhan jauh darinya, merasa Tuhan tidak peduli terhadap penderitaannya. Sering orang merasa kecewa pada Tuhan ketika apa yang diharapkannya tidak jadi kenyataan. Ibu Teresa sebagaimana yang dikutip oleh Egan & Egan (2001: 130) pernah mengatakan bahwa ubahlah kata “masalah” menjadi “karunia” maka ketika kita menghadapai masalah kita tidak terpuruk hanya disitu tetapi mampu menikmati masalah itu dan menjadikannya sebagai karunia yang harus disyukuri. Bagi Ibu melihat kearah yang berlainan yaitu apa yang diharapkan oleh Tuhan dari masalah yang ada. Ibu Teresa pernah mengatakan bahwa janganlah kamu berkecil hati dan kecewa ketika kamu sudah berusaha untuk mendapatkan sesuatu dan kamu tidak bisa mendapatkannya.

  Sebagai manusia biasa tentunya Ibu Teresa juga pernah mengalami masalah, mengalami penderitaan, dan kesedihan, tetapi Ibu Teresa mampu mengatasi semua karena dia percaya bahwa Allah selalu menyertainya. Ketika dia harus meninggalkan keluarganya untuk melayani Tuhan dia tetap memiliki kegembiraan, begitu juga ketika ia harus meninggalkan biara yang sangat dicintainya yaitu Loreto, Ibu Teresa juga merasa terluka tetapi demi panggilannya yang baru ia tetap mampu bertahan. Dalam buku hariannya seperti yang dikutip oleh Egan & Egan (2001: 71) Ibu Teresa menulis:

  Tuhan menghendaki diri saya untuk menjadi biarawati yang kesepian, menanggung salib kemiskinan. Hari ini saya memetik pelajaran baik. Kemiskinan yang ditanggung orang-orang itu sedemikian berat. Ketika saya berjalan dan terus berjalan hingga kaki dan tangan terasa sakit, saya berpikir betapa berat penderitaan orang-orang itu ketika mereka mencari tempat berlindung.

  Dapat di lihat bahwa Ibu Teresa juga merasa kesepian tetapi beliau masih bisa bersyukur dengan merasakan betapa berat penderitaan yang dialami oleh orang- orang miskin. Penderitaan yang dia alami tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan penderitaan orang yang sakit, miskin dan disingkirkan oleh orang lain. Bagi Ibu Teresa penderitaan yang dialami akan terasa ringan jika kita mampu melihat penderitaan orang lain yang jauh lebih besar dari pada kita. Tidak hanya sampai disitu pada awal karyanya untuk melayani orang miskin beliau juga ditolak oleh

F. Cinta Kasih Ibu Teresa

1. Mencintai Kristus dengan Melayani Sesama

  Ibu Teresa sangat memahami bahwa cinta-Nya kepada Kristus membuat hidup-Nya berubah, baginya tidak ada artinya dia berkata bahwa dia mencintai Kristus tetapi tidak ikut ambil bagian dalam melayani Yesus. Apabila kita tidak dapat mencintai seseorang yang kelihatan, bagaimana mungkin kita bisa mencintai Kristus yang tidak kelihatan. Bagi Ibu Teresa mencintai saudara kita yang hadir secara nyata bersama kita merupakan perwujudan dari cinta kita kepada Kristus. Ibu Teresa sangat memahami bahwa cinta itu butuh pengorbanan tidak hanya sekedar kata-kata tetapi butuh tindakan nyata. Ibu Teresa sebagaimana yang dikutip oleh Krispurwana Cahyadi (2003c: 57). mengatakan bahwa:

  Cinta tidak bermakna jika tidak dibagikan. Cinta harus diletakkan dalam perbuatan nyata. Kita harus mencintai tanpa mengharapkan imbalan, semata-mata untuk cinta itu sendirian. Cinta yang dalam tidak mengharapkan apapun, cinta hanya memberi. Kita tidak perlu melakukan hal-hal yang besar kepada Tuhan dan sesama. Justru kemendalaman cinta yang kita nyatakan dalam perbuatanlah yang membuat perbuatan- perbuatan kita menjadi indah di mata Tuhan. Cinta Ibu Teresa kepada Yesus membuatnya tidak pernah lelah dalam melayani sesama karena baginya jika cinta itu tulus maka dia tidak akan pernah menuntut dan tidak akan pernah mengeluh dengan apa yang dikerjakannya. Oleh karena itu Ibu Teresa tidak pernah mengharapkan apapun dari orang yang dia layani karena dia mengerti betul bahwa yang dia layani itu adalah Yesus sendiri. Bagi Ibu Teresa Yesus adalah segala-galanya sehingga ketika dia melayani orang miskin dia merasakan bahwa yang dilayaninya itu adalah Yesus sendiri sehingga dia selalu berusaha melakukan yang terbaik bagi orang yang dia layani. Tentang karya- Yesus, bersama Yesus, dalam Yesus dan untuk Yesus. Itu berarti mencintai sesama, sebagaimana Yesus sendiri mencintai kita semua, sampai mengorbankan diri-Nya sendiri demi cinta- Nya kepada kita” (Krispurwana Cahyadi, 2003c: 59).

  Dahulu Yesus mengorbankan hidupNya demi kita dan sekarang apa yang dapat kita berikan untuk dia. Dia rela menjadi manusia dan menyerahkan nyawa- Nya untuk menebus dosa manusia. Itulah pelayanan yang Yesus berikan pada manusia dan itu bisa terjadi karena cinta-Nya kepada manusia. Pengorbanan Yesus membuat Ibu Teresa memahami bahwa cinta itu butuh pengorbanan dan harus siap untuk menderita, seperti Yesus yang rela menderita demi manusia itulah bukti cinta kasih-Nya kepada manusia. Oleh karena Kristus telah mau merendahkan diri demi manusia dan menyelamatkan seluruh umat manusia Ibu Teresa rela melakukan segalanya bagi Dia. Ibu Teresa juga percaya bahwa Kristuslah yang memanggil dia sehingga dia mampu melakukan semua karya pelayanannya, baginya Kristuslah yang berkarya dalam setiap karya yang dia kerjakan. Menurutnya semua orang dipanggil oleh Allah untuk meneruskan karya pelayanannya di dunia. Oleh karena itu jika kamu ingin mendengarkan panggilan Allah, kamu harus siap untuk mengosongkan diri supaya Allah yang mengisi (Krispurwana Cahyadi, 2003a: 59).

2. Melayani dengan Berbagi Kehidupan

  Kehidupan merupakan sesuatu yang sangat berharga yang harus dijaga dan dipelihara, tetapi zaman sekarang ini kehidupan sangat memperihatinkan karena banyak orang yang tidak tahu bagaimana menghargai kehidupan. Kekerasan, pembunuhan, pemerkosaan, memakai obat-obatan terlarang, bahkan sering orang nyawanya dan nyawa orang lain. Karena alasan ekonomi seorang ibu tega membunuh anaknya sendiri, bahkan banyak anak yang di bawah umur melakukan seks bebas, ini semua fenomena yang terjadi dalam kehidupan ini dan semua ini seolah-olah gaya hidup dan suatu pembenaran oleh orang-orang pada saat ini. Hal yang sangat membuat Ibu Teresa prihatin dalam kehidupan ini adalah kemiskinan rohani yang dialami oleh orang-orang, bagi Ibu Teresa kemiskinan rohani jauh lebih sulit diatasi dari pada kemiskinan jasmani. Kemiskinan jasmani bisa diatasi dengan memberi makanan atau uang tetapi kemiskinan rohani lebih dari itu makanan dan materi tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka, hidup-Nya hampa, merasa ditinggalkan, perasaan kesepian, tidak bermakna, ditolak, tidak diperhatikan kemiskinan yang sulit untuk diatasi sehingga Ibu Teresa dalam pelayanan-Nya tidak hanya memberi makanan jasmani tetapi dia juga memberikan makanan rohani. Ibu Teresa ingin mengatakan kepada semua orang bahwa tidak perlu takut untuk menjalani kehidupan ini karena Tuhan datang untuk memberikan kehidupan,

  ”Aku dating, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yoh 10:10). Ibu Teresa sangat meyakini hal itu sehingga di dalam menjalani panggilan-Nya dia tidak pernah takut dan khawatir karena Tuhan pasti akan memberi jalan (Krispurwana Cahyadi, 2003c: 136-137).

  Melayani tidak pernah lepas dari kata memberi, baik memberi diri, memberi kasih, memberi materi bahkan memberikan kehidupan bagi orang yang dilayani. Inilah yang dilakukan oleh Ibu Teresa dalam melakukan pelayanannya Ibu Teresa memberikan diri secara penuh kepada Allah sehingga dalam setiap pelayanannya dia benar-benar merasakan Yesus yang hadir secara tersamar di dalam kandungan. Bagi Ibu Teresa Allah juga hadir bersama mereka oleh karena itu meskipun dia belum lahir tidak ada orang yang berhak mengahiri kehidupannya termasuk ibunya sendiri. Oleh karena itu perbuatan aborsi adalah perbuatan yang paling fatal yang tidak boleh dilakukan oleh siapapun termasuk ibu yang mengandungnya. Karena seorang ibu bertugas untuk menjaga dan memelihara kehidupan anak yang dikandungnya dan seorang Ibu harus memahami bahwa anak adalah milik Allah bukan miliknya jadi dengan begitu dia bisa menyadari bahwa dia tidak memiliki hak untuk mengakhiri hidup anak itu. Selain itu aborsi juga merusak suara hati seorang ibu. Karena dengan melakukan pengguguran seorang ibu mengajarkan pembunuhan ini jauh dari kodrat seorang perempuan yang merupakan sosok yang pemberi kehidupan (Krispurwana Cahyadi, 2003c: 140-141).

G. Teladan Hidup Ibu Teresa

  Komitmen pada Kristus adalah inti dari segala karya yang dilakukan Ibu Teresa, secara sederhana Ibu Teresa menunjukkan enam jalan sederhana yang dilaluinya yang dapat kita jadikan teladan dalam melayani kaum miskin yaitu Ibu Teresa teladan keheningan, Ibu Teresa teladan dalam doa, Ibu Teresa teladan dalam iman, Ibu Teresa teladan dalam cinta, Ibu Teresa teladan dalam melayani, Ibu Teresa teladan dalam perdamaian.

1. Ibu Teresa Teladan dalam Keheningan

  Setiap hari Ibu Teresa selalu menyempatkan diri untuk meluangkan waktu hening, sesibuk apapun dia dalam menjalankan karyanya Ibu Teresa selalu yang sepi untuk menciptakan keheningan. Menurut Ibu Teresa di dalam keheningan ia dapat membuka hati yang bersih dan mendengarkan Allah. Ibu Teresa sebagaimana yang dikutip oleh Beding (1989: 274) mengatakan bahwa:

  Kita harus berusaha bertemu dengan Allah. Tetapi Ia tidak bisa di jumpai dalam kebisingan dan hiruk pikuk. Allah itu sahabat keheningan. Lihat bagaimana bunga-bungaan, rumput dan pohon-pohon, semuanya tumbuh dalam keheningan. Allah kita bukan seorang yang mati melainkan yang hidup, yang penuh cinta. Semakin banyak kita terima dalam keheningan doa, maka semakin banyak juga yang dapat kita berikan dalam kehidupan kita yang aktif. Semua kita membutuhkan keheningan supaya dapat menyentuh jiwa-jiwa. Yang penting adalah bukanlah apa yang kita katakan tetapi apa yang disabdakan Allah kepada kita dan melalui kita. Tidak akan ada artinya kata-kata yang kita ucapkan jika tidak menyinarkan cahaya Kristus.

  Bagi Ibu Teresa keheningan mengantarkannya untuk lebih dekat dengan Allah dan merasakan damainya hati. Melalui keheningan Ibu Teresa merasakan Allah menyentuh jiwanya dan melalui keheningan dia bisa mendengarkan apa yang disabdakan Allah kepadanya. Baginya yang terpenting bukanlah kata-kata yang kita ucapkan tetapi bagaimana kedekatan kita dengan Allah akan mempengaruhi segala yang kita lakukan dalam pelayanan kita. Dalam perjumpaan kita dengan Allah melalui keheningan kita tidak perlu meminta karena Dia baik dan maha kasih.

2. Ibu Teresa Teladan dalam Doa

  Ibu Teresa merupakan pribadi pendoa. Sebagai hamba Ibu Teresa mempercayakan diri sepenuhnya kepada Allah, Ibu Teresa begitu meyakini bahwa Allah akan selalu mendampinginya. Bagi Ibu Teresa doa merupakan hal terpenting dalam karyanya karena baginya doa mampu memberikan kekuatan, menopang, dan memberi suka cita dalam karyanya. Ibu Teresa selalu memberikan teladan doa hadapan Allah. Doa merupakan perkara hati di mana dengan berdoa dengan hati memudahkan kita bertemu dengan Allah. Oleh karena itu Ibu Teresa selalu memberikan teladan yang baik supaya kita mencintai doa. Ibu Teresa sebagaimana yang dikutip oleh Beding (1989: 273) mengatakan “Hendaklah kita mencintai doa, hendaknya kita sering merasakan kebutuhan untuk berdoa sepanjang hari dan berusaha berdoa. Doa melapangkan hati hingga ia mampu menampung Allah yang menyerahkan diri-Ny a” Ibu Teresa merasakan, dengan berdoa dan melalui doa kita dapat bersatu dalam cinta dengan Kristus. Melalui doa juga kita akan lebih bisa terbuka kepada Allah. Berdoa kepada-Nya berarti bersama Dia duapuluh empat jam sehari. Doa juga mampu memberikan kedamaian bagi kita dan doa mampu memberikan kita kekuatan dalam menapaki jalan hidup ini. Begitulah pentingnya doa bagi Ibu Teresa.

3. Ibu Teresa Teladan dalam Iman

  Dalam karyanya Ibu Teresa tidak mengajarkan tentang iman, tetapi dari cara berbuat dan melakukan suatu hal, Ibu Teresa sungguh menghayati imannya.

  Hal itu terlihat dari perbuatannya terhadap orang miskin Ibu Teresa sebagaimana yang dikutip oleh Beding (1989: 262) pernah juga mengatakan bahwa “di mana ada

  Misteri di sana ada Iman”. Bagi Ibu Teresa iman adalah menanggapi kasih Allah, menanggapi kasih Allah bukan berarti langsung mengasihi Allah, tetapi menanggapi kasih Allah berarti berbuat melakukan sesuatu untuk mereka.

  “iman sejati adalah iman yang terarah kepada manusia, bukan pada teks, iman yang menunjukkan Allah yang menyapa dan menyelamatkan umat manusia” (Krispurwana Cahyadi, 2010: itu mampu menunjukkan dengan perbuatan sesuai dengan iman yang dipercayainya. Begitu banyak orang yang mengaku beriman tetapi sedikit sekali orang yang menyatakan imannya dengan tindakan nyata. Ada begitu banyak agama dan masing- masing orang mempunyai jalan untuk mengikuti Allah dan saya mengikuti Yesus dan beriman kepadanya karena itu Yesus merupakan segala-galanya bagiku. Karena itu dia merasa tidak pernah takut dalam menghadapi segala ujian karena dia percaya bahwa Yesus selalu ada bersama dia dan dia begitu percaya pada Kristus sehingga dia selalu berkata bahwa semuanya yang dia lakukan karena Kristus dan untuk Kristus (Vardey, 1997: 29).

4. Ibu Teresa Teladan dalam Cinta

  Cinta membuat Ibu Teresa rela meninggalkan cita-cita masa kecilnya, kebahagiaan masa depan yang menjaminnya demi orang-orang yang ditemuinya di jalan-jalan yaitu mereka yang menderita, miskin, tersingkir dan kurang diperhatikan, mereka yang kesepian, semua itu dilakukan oleh Ibu Teresa karena cintanya kepada Kristus. Bagi Ibu Teresa percuma kita mencintai orang lain jika kita tidak mampu menderita baginya, karena cinta sejati tidak pernah meminta tetapi selalu memberi sampai merasakan sakit. Bukankah Yesus sendiri menderita karena cinta-Nya pada manusia. Bagi Ibu Teresa panggilan mengikut Kristus merupakan pemberian diri.

  Pemberian diri merupakan tanda cinta. Ibu Teresa sebagaimana yang dikutip oleh Krispurwana Cahyadi (2003c: 57) mengungkapkan demikian:

  Cinta tidak bermakna jika tidak dibagikan. Cinta harus diletakkan dalam perbuatan nyata, kita harus mencintai tanpa mengharapkan imbalan, semata-mata untuk cinta itu sendiri, jika kita mengharapkan imbalan itu bukan cinta. Kita tidak perlu melakukan hal-hal yang luar bisa untuk yang kita nyatakan dalam perbuatanlah yang membuat perbuatan- perbuatan kita indah di mata Tuhan. Tidak ada artinya kita berkata jika kita mencintai Tuhan, jika tidak melakukan apa-apa bagi sesama, karena cinta kepada Tuhan harus dinyatakan dengan perbuatan baik kepada sesama yang membutuhkan karena sesungguhnya lebih indah melakukan satu tindakan nyata yang menunjukkan cinta kita kepada Tuhan dari pada mengucapkan seribu kata cinta tetapi tidak melakukan apa-apa bagi-Nya.

5. Ibu Teresa Teladan dalam Melayani

  Bagi Ibu Teresa melayani mereka yang miskin, menderita, cacat dan kelaparan adalah hal yang paling penting karena mereka adalah orang-orang yang butuh perhatian sehingga Ibu Teresa memberikan diri dengan tulus kepada mereka yang membutuhkannya. Menurut Ibu Teresa setiap orang mampu memberikan pelayanan pada orang lain dan itu tidak perlu sama seperti yang dia lakukan karena baginya pelayanan yang orang lakukan belum tentu bisa dia lakukan dan pelayanan yang dia lakukan belum tentu orang lain bisa lakukan, yang terpenting adalah membuka hati untuk orang lain, kalau masalah uang atau yang lain itu pasti akan ada jalannya yang terpenting adalah hati. Ibu Teresa sebagaimana yang dikutip oleh Beding (1989: 89) pernah mengatakan bahwa

  “Tidak pernah saya memikirkan soal uang. Uang selalu datang. Tuhan mengirimkanya. Soalnya kami melakukan karya- Nya. Maka Ia menyediakan sarana, jika Tuhan tidak memberikan sarana itu sudah merupakan satu petunjuk bahwa Ia tidak merestui pekerjaan tersebut. Nah mengapa cemas?”. Ibu Teresa percaya bahwa dalam melakukan pelayanan jangan pernah takut tidak ada uang karena jika Allah memberikan pekerjaan maka Ia juga akan menyediakan sarana. Tugas orang beriman hanyalah memberikan karya kasih agar dengan karya kasih itu umat manusia semakin beriman dan bisa merasakan kasih Allah dalam hidupnya sehingga dalam penderitaanpun dia mampu merasakan kehadiran Allah melalui karya yang kita lakukan.

6. Ibu Teresa Teladan dalam Perdamaian

  Ibu Teresa banyak melakukan karya perdamaian, karya damai yang Ibu lakukan tidak hanya di sekitar kota India tetapi di luar India seperti Amerika, Inggris, Ethopia dan masih banyak yang lainnya. Semua yang Ibu Teresa lakukan untuk menciptakan kedamaian. Bagi Ibu Teresa dia akan merasakan damai jika dia bisa berbuat bagi orang lain. Ibu Teresa sebagaimana yang dikutip oleh Beding (1989: 283) pernah mengatakan bahwa “Hendaknya kita memancarkan kedamaian Allah, memancarkan cahaya-Nya, dan mematikan segala kebencian dalam dunia ini, dalam hati segala orang, mematikan cinta akan kekuasaan”. Karena dengan itu orang akan merasakan damai. Bagi Ibu Teresa jika orang ingin merasakan kedamaian ia terlebih dahulu harus berdamai dengan dirinya sendiri karena orang yang menaruh dendam, benci dan amarah tidak akan bisa merasakan kedamaian apalagi membawa kedamaian itu sangat tidak mungkin, begitu juga dengan orang yang mencari kekuasaan sampai mengorbankan orang lain mereka tidak akan merasakan damai.

  Jadi untuk mendapatkan kedamaian semuanya harus dimulai dari diri sendiri dan pada akhirnya bisa memberikannya bagi orang lain.

BAB III SEMANGAT PELAYANAN KATEKIS BAGI KAUM MISKIN BERDASARKAN TELADAN PELAYANAN IBU TERESA Kehidupan katekis tidak pernah dapat dipisahkan dari kaum miskin

  karena katekis hidup bersama dalam masyarakat. Oleh karena itu karya pelayanan katekis juga tidak dapat dipisahkan dari kaum miskin, karena selain mereka berada di satu tempat yang sama, mereka sebagai murid Kristus memiliki kewajiban untuk ikut ambil bagian dalam menjalankan sabda-sabdaNya. Seperti yang kita ketahui bahwa di dalam menjalankan karya-Nya Yesus sendiri selalu memberikan perhatian kepada mereka yang miskin dan menyembuhkan yang sakit. Orang miskin memiliki tempat yang istimewa di dalam karya pelayanan-Nya, itu terlihat di dalam sabda- Nya “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah, berbahagialah hai sekarang ini lapar karena kamu akan dipuaskan.

  Berbahagialah hai kamu yang sekarang ini menangis karena k amu akan tertawa” (Luk 6:20-21

  ). “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25: 40).

  Mewartakan Kerajaan Allah kepada kaum miskin bukanlah tugas yang mudah, banyak godaan dan rintangan yang harus dihadapi, oleh karena itu katekis harus memenuhi beberapa kriteria. Dimana kriteria tersebut bertujuan untuk menjamin kwalitas hidup dan tugas perutusannya dengan baik dan penuh tanggung jawab, serta diharapkan dapat tampil sebagai sosok pribadi yang bermutu, baik lain sungguh mengenal dan mengimani Yesus Kristus serta mampu menghadirkan Kerajaan Allah bagi kaum miskin. Mencintai dan melayani mereka yang miskin, menderita, tertindas dan difabel merupakan suatu pekerjaan yang tidak mudah, mereka adalah orang-orang yang dihindari bahkan dianggap

  “sampah” oleh pemerintah.

  Dari dulu sampai sekarang mereka tetap menjadi korban atas ketidakberdayaan mereka melawan pemerintah, mereka seolah-oleh dianggap sebagai masalah yang sulit untuk diselesaikan, oleh karena itu Yesus selalu mengajak orang yang mengikuti Dia untuk memberikan perhatian dan cinta kasih kepada mereka yang miskin. Oleh karena itu katekis sebagai pengikut Yesus sudah sepantasnya memberikan perhatian yang khusus kepada kaum miskin sehingga katekis mampu mewujudkan Kerajaan Allah bagi kaum miskin dan pada akhirnya katekis mampu mewujudkan keadilan kepada orang yang lemah dan anak yatim; membela orang miskin dan tertindas, meluputkan yang tidak berdaya dan berkekurangan; dan membebaskan mereka dari tangan orang jahat (Mzm 82:3-4).

  Berikut ini akan dibahas tentang siapa itu katekis, spiritualitasnya, kemampuan yang perlu dimiliki, peran katekis dalam tugas perutusannya dan pelayanannya bagi kaum miskin.

A. Pengertian Katekis

  Katekis adalah “Orang beriman yang dipanggil secara khusus dan diutus oleh Allah serta mendapat penugasan dari Gereja melalui missio kanonika dari Gereja terutama dalam karya pewartaan Gereja untuk memperkenalkan, baik teritorial maupun kat egorial” (Para Peserta Pertemuan Nasional Katekese Se- Tanah Air, 2005: 133).

  Marseen (1981: 12) menyatakankan bahwa katekis adalah “orang yang pekerjaannya memperkenalkan Tuhan Allah”. Ini berarti bahwa katekis memiliki tanggung jawab yang besar karena ia berbicara tentang Tuhan Allah. Tentunya katekis harus memahami dan memiliki kedekatan dengan Allah sehingga dalam pelayanannya ia mampu memperkenalkan Allah kepada semua orang tanpa pandang bulu. Selain itu Marss en menambahkan bahwa katekis adalah ”seorang yang mendapat panggilan dari Allah yang terus menerus mencintai dan memelihara

  Gerejanya, yang menolong umat, yang jalannya sulit serta membawa umat kepada Tuhan Allah”. Seorang katekis harus mencintai Gerejanya dan memberikan pelayanan secara utuh demi kemuliaan Allah.

  Menurut Indra Sanjaya (2011: 11) katekis adalah “mereka yang sebenarnya berhadapan langsung dengan jemaat beriman dengan segala macam problemanya”. Dimana katekis adalah orang yang paling mengerti dan mengenal umat, dengan berbagai macam karakter orang, lengkap dengan berbagai macam masalah yang mereka hadapi, katekis sebagai orang yang paling tahu keadaan umat dibandingkan dengan yang lainnya.

  Menurut Suhardo (1972: 10) katekis adalah “orang beriman yang secara khusus mendapat tugas untuk memberikan kesaksiannya atas imannya sendiri dalam masyarakat. Atau dapat dikatakan secara khusus membawa masyarakat kearah apa yang diimaninya, yaitu Kristus yang telah menderita sengasara, wafat dan bangkit”

  Dari beberapa pengertian mengenai katekis yang telah dipaparkan di untuk mewartakan Kabar Gembira bagi semua orang teristimewa bagi mereka yang miskin dan menderita.

B. Spiritualitas Katekis

  Seorang katekis adalah pewarta Kabar Gembira Allah bagi semua orang, teristimewa bagi kaum miskin, oleh karena itu seorang katekis harus mempunyai aneka semangat hidup yang mewarnai isi pewartaannya. Di mana adanya keadaan yang senantiasa mendorong, menyemangati, dan memotivasi katekis. Ada empat macam ciri spiritualitas katekis (Komkat KWI, 1997: 23-30) yaitu keterbukaan terhadap Sabda, keutuhan dan keaslian hidup, semangat misioner dan devosi kepada Bunda Maria.

1. Keterbukaan terhadap Sabda

  Seorang katekis memiliki tugas yang paling utama yaitu mewartakan Kabar Gembira bagi semua orang, oleh karena itu sikap rohani yang paling mendasar yang perlu dimiliki oleh katekis adalah keterbukaan terhadap sabda Tuhan. Keterbukaan terhadap sabda Tuhan berarti terbuka terhadap peyelenggalaraan Allah dalam hidupnya sehingga dalam menjalani hidupnya sehari- hari di tengah-tengah Gereja, masyarakat dan dunia katekis mampu merasakan kehadiran Bapa dalam hatinya. Sehingga dia mampu membiarkan dirinya untuk mendengarkan apa yang di sabdakan oleh Allah dan menyimpanya di dalam hatinya yang paling dalam dan dia wujudkan melalui sikap dan perbuatan di dalam kehidupan sehari-hari (KomKat KWI, 1997: 23). Dengan demikian semangat mampu mewujudkan apa yang diharapkan oleh Bapa yaitu membawa semua orang pada kebenaran dan keselamatan. Katekis harus percaya pada penyertaan Bapa dalam hidupnya sehingga dia bersedia untuk dituntun oleh Roh Kudus dan mampu menjadi pewarta sabda yang cemerlang.

  Apa yang menjadi tugas Gereja secara tidak langsung itu menjadi tugas katekis, karena katekis adalah bagian yang tak terpisahkan dari Gereja dan katekis memiliki peran penting dalam tugas pelayanan Gereja. Katekis sebagai anggota Gereja memperoleh amanat untuk mewartakan Kabar Gembira Allah bagi semua orang. Jadi pelayanan katekis merupakan pelayanan gerejawi oleh karena itu kehadiran katekis harus menjadi tanda yang kelihatan dalam masyarakat. Para katekis harus ikut serta bertanggung jawab terhadap perubahan yang terjadi di sekitarnya. Hendaklah katekis memperhatikan pewartaan misteri Kristus kepada umat beriman, kepada mereka yang tidak percaya dan bukan Kristiani (KomKat KWI, 1997: 23).

  Katekis juga harus memiliki kesadaran akan misinya di tengah dunia untuk mempersatukan seluruh umat manusia, katekis harus benar-benar menyadari bahwa dia dipanggil untuk mewartakan Kabar Gembira Allah bagi dunia. Oleh karena itu kehadiran katekis harus nampak dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat yang memiliki berbagai macam keadaan dan kenyataan. Katekis harus tetap teguh dan yakin pada penyelenggaraan Allah dalam hidupnya sehingga dia tetap mampu berdiri tegak meskipun keadaanya tidak seperti yang diharapkan. Berpegang teguh pada Allah merupakan alat utama untuk tetap maju dalam pelayanan, sehingga pada akhirnya harapan katekis untuk menyampaikan kabar

2. Keutuhan dan Keaslian Hidup

  Sebagai seseorang yang mewartakan Kabar Gembira Allah bagi semua orang katekis harus memiliki keutuhan dan keaslian hidup yang benar-benar mengutamakan Allah dalam hidupnya. Setiap gerak langkahnya terlihat bahwa Allah yang berkarya dalam hidupnya serta karya Allah itu benar-benar dia resapi sehingga semua orang dapat melihatnya dari perilaku dan perbuatan katekis di tengah-tengah masyarakat. Sebelum katekis mewartakan Sabda Alah terlebih dahulu dia harus menanamkan Sabda itu dalam hidupnya sehingga pada saat dia mewartakanya pada orang lain sabda itu bukan hanya sebagai bagian dari hidupnya tetapi sungguh-sungguh menjadi miliknya. Sebagai seorang pewarta, katekis perlu berkembang secara rohani dan memiliki sikap berani. Sehingga mampu membawa orang-orang menjadi semakin beriman dan percaya akan penyertaan Allah dalam hidup mereka (KomKat KWI, 1997: 26).

  Sama seperti para kudus yang mewartakan hidup Yesus Kristus di dalam hidup mereka, katekis juga mewartakan hidup Yesus Kristus di dalam hidupnya. Itu berarti bahwa pewartaan katekis bukan hanya melalui ucapan kata saja, melainkan juga melalui tindakanya dan seluruh aspek kehidupannya. Hendaknya apa yang diajarkan oleh katekis sesuai dengan apa yang dipraktekkan dalam kehidupan yang katekis jalani. Bukan sebaliknya, kesaksian hidup seorang katekis menjadi batu sandungan bagi umat beriman atau bagi masyarakat yang ada di sekitarnya. Karena itu, seorang katekis sebaiknya memiliki spiritualitas yang utuh dan dewasa sehingga mampu menjadi seorang gembala yang dapat mengayomi umat ataupun orang-orang yang ada di sekitarnya. Katekis juga harus memiliki daya keteladanan dan daya dia ajarkan atau katakan dapat dia lakukan melalui tindakannya, sehingga semangat hidupnya dapat menjadi inspirasi bagi umat dan masyarakat. Menjadi saksi Kristus bukanlah tugas yang mudah karena katekis harus menyampaikan atau menunjukkan apa yang dialami dan diketahui tentang Kristus kepada orang lain. Gereja juga mewartakan Injil kepada dunia dengan kesaksian hidup yang setia pada Tuhan Yesus. Menjadi saksi Kristus dapat menuai banyak resiko. Dengan demikian dalam situasi apapun katekis harus tetap berpegang pada Kristus sehingga pada akhirnya nanti ketika katekis mendapat banyak ujian yang sulit untuk mereka pahami mereka tetap yakin bahwa berpegang pada Kristus adalah cara terbaik untuk mengatasi semua masalah (KomKat KWI, 1997: 27).

3. Semangat Misioner

  Katekis tidak bisa tidak harus memiliki semangat kerasulan yang tinggi, dan hanya ingin mengetahui dan mewartakan kasih akan Kristus kepada semua orang tanpa pandang bulu. Katekis harus benar-benar mewartakan Kabar Gembira Allah kepada semua orang tak terkecuali mereka yang belum mengenal Kristus.

  Katekis harus mengingat bahwa lambang kemurnian semangat misioner adalah salib. Kristus yang diwartakan ketekis adalah Kristus yang tersalib. Maka katekis harus menyiapkan diri untuk tetap mencintai tugasnya sebagai panggilan khusus, memiliki kegembiraan di tengah kesulitan yang dihadapi dalam menjalankan panggilan dan perutusannya, mereka harus tetap mengikuti Yesus meskipun dijalan yang sulit. Karena menjadi pengikut Kristus bukanlah hal yang mudah katekis harus siap ikut ambil bagian dalam tugas Kristus dalam memikul salib. Semangat misioner baik kristiani maupun yang bukan kristiani, katekis harus menjadi hamba yang sanggup melayani dunia demi terwujudnya Kerajaan Allah. Katekis sebagai seorang awam lebih memiliki kebebasan mewartakan Kerajaan Allah di tengah-tengah masyarakat dibandingkan dengan para imam karena katekis hidup bersama di tengah-tengah masyarakat. Dengan demikian harapan akan terwujudnya Kerajaan Allah akan semakin nyata, karena Kerajaan Allah itu adalah Kerajaan cinta kasih, keadilan dan keselamatan. Dimana di situ hanya ada kedamaian dan keteduhan hati, inilah yang harus dihadirkan oleh katekis dalam melaksanakan tugas misionernya (Komkat KWI, 1997: 27-29).

4. Devosi kepada Bunda Maria

  Sikap menyerah pada penyelenggaraan Allah menuntunnya pada misteri penyelamatan, ketulusan hati Bunda Maria menjadikannya Ibu dari seorang penyelamat. Sikap pasrah Bunda Maria kepada penyelenggaraan yang Illahi membuat Bunda Maria teguh dalam iman. Bunda Maria mampu mengosongkan diri dan melepaskan keinginan pribadinya supaya Allah berkarya dalam dirinya. Dengan rendah hati Bunda Maria menyatakan diri sebagai hamba yang siap melaksanakan kehendak Allah. Bunda Maria begitu pasrah dan tetap berpegang teguh pada kehendak Allah, sikap pasrahnya kepada rencana Allah inilah yang membuatnya mampu tetap setia meskipun banyak rintangan yang dia hadapi bahkan dia merelakan putranya untuk menderita sengsara demi keselamatan dan perdamain umat manusia. Melalui Devosi kepada Bunda Maria diharapkan mampu membawa katekis kepada sikap pasrah kepada rencana Allah dalam menjalani setiap tugas

C. Kemampuan yang Perlu dimiliki Katekis

  Kemampuan merupakan suatu hal yang tidak bisa dikesampingkan oleh katekis oleh karena itu dibutuhkan persiapan yang khusus untuk menjadikan katekis yang memiliki kemampuan. Persiapan menjadi seorang katekis tidaklah mudah, mengingat tugas yang dipercayakan kepada mereka sangat sukar. Oleh sebab itu, para katekis perlu dipersiapkan sedemikian rupa melalui pembinaan dan pendidikan yang tepat, sehingga menjadi pejuang-pejuang misi yang tangguh dan memiliki kemampuan dalam menjalankan tugas dalam segala karyanya. Karena itu katekis harus memiliki kemampuan dalam mendukung karyanya antara lain: Kemampuan berkomunikasi dan berdialog, mampu menjadi teladan, kemampuan berefleksi, mampu menjadi pemimpin.

1. Kemampuan Berkomunikasi dan Berdialog

  Komunikasi dan dialog merupakan suatu hal yang penting dalam meciptakan hubungan yang baik dengan orang lain, komunikasi dan dialog akan melahirkan suatu kesepakatan antar manusia. Dengan menjalin komunikasi yang baik dengan orang lain maka akan menghasilkan yang baik pula, oleh karena itu sebagai katekis yang hidup dalam masyarakat dan yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat, seorang katekis harus memiliki kemampuan berkomunikasi dan berdialog yang baik sehingga di dalam melaksanakan karya pelayanannya katekis benar-benar dapat menjadi pewarta yang baik serta katekis harus menjadi kawan seperjuangan mereka yang dilayani, serta katekis harus mengetahui kebutuhan- kebutuhan dan harapan orang yang dia layani dan ikut berperanserta mengambil mengusahakan adanya dialog di dalam masyarakat sehingga apa yang ingin kita capai dapat terwujud dengan baik, dialog akan menghasilkan satu kesepakatan yang tidak merugikan orang lain, karena pada akhirnya dialog yang baik akan menghasilkan sesuatu yang baik pula, oleh karena itu katekis harus memiliki kemampuan berkomunikasi dan berdialog yang baik sehingga ketika ada masalah yang terjadi di dalam masyarakat katekis mampu mengajak semua orang untuk berdialog (Para Peserta Pertemuan Nasional Katekese Se-Tanah Air, 2005: 135).

2. Mampu Menjadi Teladan

  Seorang katekis harus benar-benar mengerti bahwa pada saat ini kesaksian lebih disukai dari pada pengajaran karena orang lebih membutuhkan contoh kongkrit dari pada teori yang diberikan, bagi banyak orang ceramah yang terlalu panjang lebar hanya menimbulkan kebosananan, pada zaman sekarang ini orang tidak lagi membutuhkan teori tetapi bagaimana teori itu dapat dilaksanakan. Seorang katekis yang mengajarkan tentang cinta kasih, di dalam kehidupan bersama di dalam masyarakat dia juga harus mampu memberikan contoh konkret bagaimana sesungguhnya cinta kasih itu. Tugas sebagai katekis bukanlah hal yang mudah, karena apa yang diungkapkan harus sesuai dengan apa yang dilakukan sehingga pengajaran yang diberikan itu tidak kosong. Bagaimana mungkin seseorang mengajarkan tentang cinta jika dia sendiri tidak memiliki cinta, jika dia mengajarkan kepada orang-orang tentang cinta kasih kepada sesama, terlebih dahulu dia harus menjalankan sendiri cinta kasih itu, karena segala perkataan dan perilakunya harus sesuai. Seorang katekis juga harus memiliki perilaku yang baik sehingga di dalam karena perkataan dan perbuatannya tidak sesuai. Katekis yang baik akan selalu diikuti oleh orang karena orang dapat merasakan kasih yang dia berikan bagaimana dia bisa membawa perubahan bagi setiap orang yang mengenalnya. Menjadi teladan bukanlah hal yang mudah karena banyak hal yang harus dilakukan supaya bisa menjadi panutan bagi orang lain, tetapi jika katekis memiliki sikap rendah hati dan pasra pada penyelenggaraan dalam hidupnya tentunya hal itu dengan sendirinya akan didapat. Seorang teladan adalah seorang yang patut dicontoh dimana dia tidak sombong, egois dan merasa diri paling bisa sehingga merendahkan orang lain.

  Semoga dengan kemampuan-kemampuan yang dimiliki menjadikannya semakin rendah hati (Para Peserta Pertemuan Nasional Katekese Se-Tanah Air, 2005: 135).

3. Mampu Berefleksi dan Kehidupan Rohani yang Mendalam

  Seorang katekis harus memiliki kehidupan rohani yang mendalam sehingga dengan begitu dia mampu melihat segala sesuatu dalam terang iman.

  Mengingat pentingnya keberadaan dan peranan katekis di dalam memberitakan kabar Gembira Allah kepada semua orang maka kematangan hidup rohani katekis sangat berpengaruh pada tugas pewartaannya, kehidupan rohani yang mendalam akan melahirkan iman yang mendalam dengan demikian, dengan iman yang kuat maka katekis akan semakin mampu memaknai kehadiran Kristus di dalam kehidupannya. Oleh karena itu, katekis diharapkan selalu memperkembangkan hidup rohaninya supaya semakin mendalam dan mau memperkaya diri dengan berbagai macam pengetahuan agama yang sesuai dengan perkembangan zaman.

  Seorang katekis juga sebaiknya memiliki kemampuan berefleksi karena itu sangat baik suka maupun duka, dengan kemampuan berefleksi ini maka katekis akan semakin mampu menemukan nilai-nilai manusia dalam kehidupan sehari-hari dan mampu menggumuli nilai-nilai kristiani dalam kehidupan sehingga kehadiran katekis mampu membawa perubahan bagi dirinya dan juga orang yang dilayaninya (Pertemuan Kateketik Antar Keuskupan se-Indonesia, 1993: 23).

4. Mampu menjadi Pemimpin

  Seorang katekis harus memiliki kemampuan sebagai pemimpin, tetapi pemimpin yang dimaksud disini adalah pemimpin yang melayani bukan sebagai pemimpin yang pada umumnya yaitu pemimpin yang hanya mementingkan diri sendiri dan kalangannya, pemimpin yang merasa diri paling bisa sehingga dia sulit untuk menghargai orang lain dan pengetahuannya dia jadikan sebagai alat untuk menjatuhkan orang lain, tidak mampu menghargai orang lain dan merasa diri paling benar dan berkuasa.

  Seorang katekis harus memiliki kepemimpinan kristiani dimana kepemimpinan kristiani adalah selalu bersifat pelayanan. Sebagai pemimpin katekis dipanggil menjadi pelayan, tugasnya adalah memberikan kesempatan kepada orang lain untuk saling mengasihi, mampu mengayomi dan mampu membawa perubahan bagi orang lain atupun dirinya sendiri. Oleh karena itu seorang katekis harus mampu menjadi pemimpin. Tetapi pemimpin yang dimaksud dalam konteks ini adalah pemimpin yang melayani bukan sebagai pemimpin yang menjadi tuan atau pendikte tetapi pemimpin yang mampu mengarahkan umat atau masyarakat yang dipimpinnya. Seorang katekis harus memiliki wibawa kepemimpinan yang sesuai termasuk mereka yang miskin dan yang tidak dianggap oleh masyarakat. Dengan kemampuannya ini diharapkan kehadiran katekis benar-benar dapat dirasakan oleh masyarakat (Brian, 1992: 17).

D. Peran Katekis dalam Tugas Perutusannya

1. Panggilan dan Perutusan Katekis

  Katekis adalah orang yang dipanggil secara khusus oleh Allah untuk mewartakan kabar gembira kepada seluruh umat manusia. Dengan demikian diharapkan katekis mampu menyadari bahwa menjadi katekis adalah panggilan khusus dari Allah

  “Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan mereka pun datang kepada-Nya. Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil

  ” (Mrk 3:13-14). Oleh karena itu sudah sepantasnya katekis memahami panggilan hidupnya sebagai panggilan yang istimewa dalam hidupnya sehingga di dalam menjalankan tugas perutusannya dia tidak pernah kenal lelah dan terus semangat dan mempercayakan semuanya kepada Allah karena tidak semua orang mendapatkan panggilan itu (Prasetya, 2007: 44).

  Katekis harus memahami bahwa di dalam lingkungan mana saja katekis bertugas di situ terlaksana fungsi perutusannya, baik di lingkungan orang beriman katolik ataupun di lingkungan yang bukan beriman katolik. Tugas perutusan katekis tetap dibutuhkan. Dan di dalam tugas perutusannya hendaknya katekis belajar dari Yesus Kristus dimana Yesus pernah mengatakan bahwa “Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, baru kamu tahu, bahwa Akulah Dia, dan bahwa Aku tidak berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri, tetapi aku berbicara tentang hal-hal katekis memahami betul bahwa apa yang dia lakukukan dalam perutusannya adalah kehendak dari Allah, sehingga di dalam melaksanakan perutusannya katekis tetap yakin akan penyertaan Allah dalam tugas perutusannya.

2. Peran Katekis dalam Tugas Perutusannya

  Tugas pewartaan berasal atau bermula dari pemikiran Allah oleh karena itu tugas ini berlaku untuk Gereja, perintah Allah adalah ”Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan

  Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat 28:19-20). "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk" (Mrk 16:15). Dengan demikian mewartakan Yesus Kristus kepada dunia merupakan tugas pokok Gereja, oleh karena itu katekis sebagai bagian yang tidak bisa dipisahkan dari Gereja yang memiliki tugas istimewa diharapkan mampu mewartakan Yesus Kristus bagi seluruh orang, baik orang yang belum beriman ataupun orang yang sudah beriman kepada-Nya, baik orang kaya maupun yang miskin.

  Katekis dipanggil oleh Allah untuk menjadi saksi dan pembawa harapan bagi semua orang dengan mewartakan Yesus Kristus yang mulia serta menjamin terwujudnya karya keselamatan Allah di dunia ini. Mewartakan Yesus Kristus berarti mewartakan kabar gembira dari Allah kepada semua orang. Di mana katekis membantu meraka untuk mengenal, mencintai dan mengimani Yesus Kristus di dalam menjalani kehidupan mereka sehari-hari di tengah-tengah masyarakat

  Di sini ada tiga peran katekis dalam tugas perutusannya yakni peran katekis dalam tugas perutusannya di sekolah, peran katekis dalam tugas perutusannya di paroki dan peran katekis dalam tugas perutusannya di dalam struktur pemerintahan.

  a. Peran Katekis dalam Tugas Perutusannya di Sekolah

  Katekis sekolah merupakan seorang guru agama yang bekerja di bidang pendidikan (PNS atau pegawai yayasan) yang bertugas untuk memberikan pelajaran/pengetahuan tentang agama katolik bagi siswa-siswi yang katolik ataupun yang bukan katolik. Di sini guru agama memiliki peran penting dalam tugas pewartaannya dimana guru agama tidak hanya mengajarkan tentang apa yang tertulis dalam kurikulum tetapi lebih dari itu guru agama memiliki tugas untuk mewartaan sabda Allah kepada anak didiknya. Oleh karena itu guru agama memiliki tugas penting untuk menanamkan nilai-nilai yang diajarkan oleh Allah untuk diterapkan dalam peroses pendidikan yang dijalankan (KomKat KWI, 2005: 26).

  b. Peran Katekis dalam Tugas Perutusannya di Paroki

  Katekis paroki mempunyai tugas yang begitu berat karena mewartakan karya keselamatan Allah di antaranya yaitu pembinaan katekese umat, pembinaan sakramen, pemandu dalam pendalaman iman dan Kitab Suci, mendampingi tim katekese paroki dan membina iman anak. Tentunya tugas itu bukanlah hal yang mudah karena semua itu dibutuhkan keterampilan dan kerja keras, tugas pewartaan merupakan tugas pokok katekis melalui pengajaran agama (katekese). Katekis bersama Pastor paroki yang juga gembala yang bertugas mengajar iman umat Allah yang dipercayakan kepadanya. Tentunya tugas sebagai gembala tidak melihat dari segi yang lain semuanya domba dituntun meskipun ada yang kecil, besar, tua dan sebagainya. Begitu juga dengan tugas pastor paroki menuntun umatnya dia bukan saja mengajar bagi para orang tua tetapi mulai dari anak-anak sampai dengan kakek-nenek, semua usia, semua golongan, tanpa pandang bulu (Komkat KWI, 1997: 18).

  c.

  

Peran Katekis dalam Tugas Perutusannya di dalam Struktur Pemerintahan

  Katekis dalam struktur pemerintahan ini bertugas untuk mengurus seluruh kegiatan yang berhubungan dengan pemerintahan dan pendidikan. Katekis yang bertugas dalam struktur pemerintahan ini tidak pernah dapat dipisahkan dari hidup bermasyarakat, karena katekis berada di tengah-tengah masyarakat dan menjadi bagian dalam hidup bermasyarakat. Oleh karena itu katekis memiliki peran penting dalam tugas pelayan kepada masyarakat. Di sini katekis diharapkan dapat membawa dan menyampaikan kabar gembira dalam masyarakat dari Yesus Kristus, di mana selama ini banyak masyarakat yang ingin lepas dari tekanan, ketidak adilan, kemiskinan. Oleh karena itu sebagai orang yang dipandang memiliki pengaruh dalam masyarakat katekis diharapkan mampu membawa perubahan dalam masyarakat, katekis harus menjadi pembawa damai dalam masyarakat yang beragam suku, ras dan budaya. Katekis harus selalu mampu menghadirkan kasih Yesus di tengah-tengah hidup mereka melalui sikap dan perbuatan, di manapun katekis berada dia harus memiliki semangat kerasulan yang selalu hidup (Suhardo, 1972:

E. Pelayanan Katekis bagi Kaum Miskin

1. Pengertian Kaum Miskin

  Jika berbicara tentang kemiskinan tentunya tidak mudah mendefinisikan atau merumuskan kriteria kaum miskin itu seperti apa. Miskin dapat dalam bentuk jasmani maupun rohani atau orang yang mengalami penderitaan yang disebabkan oleh orang lain yang tidak peduli atau secara tidak langsung menindas mereka.

  Kemiskinan sendiri sebenarnya tidak diharapkan dan disukai karena hidup dalam kemiskinan identik dengan kehinaan dan penuh problema. Dalam dokumen Majelis Antar Serikat Religius Indonesia (MASRI) tahun 1984 sebagaimana yang dikutip oleh Banawiratma (1987: 98) melukiskan secara cukup luas apa yang dimaksud orang miskin dan kecil yakni antara lain

  ”orang yang tak berdaya karena mengalami aneka macam pemiskinan … yang membuat semakin banyak orang hidup semakin tidak manusiawi dan tidak menggambarkan bahwa dia adalah citra Allah yang bermartabat sebagai manusia ( no. 6). Pada umumnya mereka hidup di bawah taraf kewajaran manusia (no. 7) ”.

  Dokpen KWI (1995: 339) menjelaskan bahwa miskin bukan dalam nilai- nilai, kualitas ataupun potensi-potensi manusiawi. Miskin berarti bahwa mereka dilucuti dari kemungkinan mencapai harta dan sumber-sumber material yang mereka perlukan untuk bisa hidup secara sungguh manusiawi. Dikatakan dilucuti, karena mereka hidup di bawah penindasan, yakni, di bawah struktur-struktur sosial, ekonomis dan politis yang dalam dirinya sudah mengandung ketidak-adilan. Miskin di sini bukan hanya miskin secara materi tetapi miskin rohani dan mereka yang tidak mendapatkan keadilan, mereka yang ditindas, mereka yang menderita dan karena itu dari beberapa keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa kaum miskin yang dimaksud di dalam tulisan ini adalah kaum miskin yang didefenisikan oleh Ibu Teresa sebagaimana yang dikutip oleh Vardey (1997: 8-9) yaitu:

  Yang lapar dan kesepian, tidak hanya saja akan makanan tetapi Sabda Allah; yang haus dan yang bodoh, tidak hanya akan air tetapi juga akan pengetahuan, damai, kebenaran, keadilan dan cinta; yang telanjang dan yang tidak dicintai, tidak hanya soal pakaian tetapi akan martabat manusia; yang tidak diinginkan, anak-anak yang belum lahir, penentang diskriminasi rasialis, kaum tuna wisma dan orang-orang yang terbuang mereka tidak hanya butuh rumah yang tersusun dari batu bata tetapi juga akan sebuah hati yang memahami, yang melindungi, yang mencintai, yang sakit, yang melarat, yang hamper mati, dan para tawanan- tidak hanya secara jasmani tetapi juga pikiran dan jiwa; mereka semua yang telah kehilangan harapan jiwa dan iman dalam hidup, dalam alkoholik dan pecandu obat-obatan, dan mereka semua kehilangan Allah karena bagi mereka Allah adalah masa lampau, padahal Allah sesunggunya adalah saat ini dan di sini ini, dan yang kehilangan segala harapan akan Kekuasaan Roh Kudus.

2. Gereja dan Kaum Miskin

  Gereja adalah tubuh Kristus, Gereja bukan persekutuan yang hidup sendiri dari persekutuan-persekutuan lainya. Gereja adalah persekutuan pelayanan.

  Meskipun dalam Gereja terdapat beraneka macam fungsi dan pelayanan tetapi masing-masing pelayanan mempunyai tujuan dan ciri khasnya masing-masing.

  Gereja tidak pernah dapat dipisahkan dari kaum miskin karena Gereja dan pelayanannya harus membawa kabar baik bagi semua orang teristimewa kaum miskin, karena di mata Yesus kaum miskin memiliki tempat yang istimewa sehingga di dalam pewartaannya, Yesus banyak berkumpul dengan mereka yang miskin, menderita dan cacat. Oleh karena itu sebagai pengikut Kristus, Gereja juga memiliki peran penting dalam mewartakan kabar baik bagi semua orang terlebih lagi bagi mereka yang miskin.

  Dalam Dokumen “Keadilan di Dunia” hasil sinode para uskup tahun 1971 ditegaskan bahwa pewartaan Kabar Gembira bagi kaum miskin merupakan misi Gereja. Di sini Gereja hadir sebagai penampung aspirasi masyarkat yang tertindas dan mengalami ketidakadilan. Bertolak dari pengertian tentang pewartaan Injil dalam konteks itulah Gereja harus mendekati misinya untuk berbagi kehidupan kaum miskin di Indonesia. Gereja tidak melulu bekerja untuk kaum miskin seperti suatu lembaga sosial melainkan Gereja ikut bekerja sama bersama kaum miskin ikut mengalami kehidupan dan memahami harapan mereka berjalan menyertai mereka dalam usaha mencari kemanusia yang otentik dalam Kristus Yesus (KWI, 1996: 242).

  Kegiatan demi keadilan merupakan unsur hakiki pewartaan Injil, Gereja harus ikut serta di dalam perjuangan kaum miskin dan bersatu dengan mereka demi perjuangan mereka yang lebih manusiawi (FABC, I No 58). Di sini tampak bahwa apabila kita dapat saling memperhatikan dan menolong, maka proses pemiskinan akan semakin terkikis dan digantikan oleh proses saling mengasihi yang membawa masyarakat menuju kedamaian dan kebahagiaan. Semoga Gereja mampu mewujudkan wajah Gereja yang berpihak pada kaum miskin dalam setiap perbuatan dan tingkah laku kita sehari-hari berlandaskan kasih akan Allah dan sesama.

  Memang tidak mudah, banyak cobaan dan godaan namun dengan bantuan Roh Kudus kita berharap mempunyai keprihatinan yang besar terhadap kaum miskin, sehingga Gereja kaum miskin benar-benar terwujud dan diperlukan, bukan sekedar slogan belaka tetapi dapat terwujud di dalam kehidupan bersama dalam masyarakat (KWI, 1996: 455). Keprihatinan kepada mereka yang miskin juga ditunjukkan oleh kaum miskin, ASG sendiri muncul pertama kali pada 15 Mei 1891 yang ditulis oleh Paus Leo XIII melalui Ensiklik Rerum Novarum. Ajaran sosial Gereja (ASG) merupakan usaha Gereja untuk merumuskan maksud dan arah keterlibatan orang Kristiani yang beraneka ragam suku, ras, agama dan budaya dalam memberikan keprihatinan terhadap mereka yang tertidas dan miskin. Munculnya ASG karena adanya keprihatinan dari Gereja terhadap mereka yang miskin dan tertindas, keprihatinan itu membuat Gereja ikut bertindak mencari jalan keluar, Gereja memahami bahwa Gereja hadir di dalam dunia bukan dari luar dunia sehingga Gereja tidak mampu menutup mata atas keprihatinan yang terjadi. Allah yang solider terhadap manusia memicu munculnya ASG, jika Allah sendiri solider terhadap manusia mengapa manusia tidak solider terhadap sesamanya sendiri. Bukankah Yesus sendiri mengajarkan kita untuk mencitai sesama seperti diri sendiri (Mat 22:39).

  Gereja melihat ada aneka macam keprihatinan yang dialami oleh umat manusia di belahan dunia. Terhadap masalah-masalah tersebut, Gereja tidak berdiri sendiri. Gereja bukanlah penonton yang diam dan tak bergerak. Gereja menyadari sebagai bagian dari masyarakat dan dunia, keprihatinan yang terjadi di masyarakat dan juga dunia merupakan tanggung jawab Gereja. Ajaran Sosial Gereja pada umumnya tersebar dalam ajaran moral katolik yang menyangkut hubungan antar manusia yang berbicara tentang hal yang menyangkut sosial-ekonomi, kemiskinan dan pembagian kekayaan. Sejak tahun 1891 ada banyak ajaran sosial Gereja, baik yang ditulis oleh para paus maupun dari konferensi para uskup di belahan dunia mulai dari Rerum Novarum sampai Caritas in Veritate (KomKat KAS, 2012: 12-

3. Peran Katekis dalam Pelayanan bagi Kaum Miskin

  Tidak dapat dipungkiri bahwa di Indonesia tanah air kita yang tercinta ini banyak sekali orang miskin atau lebih tepatnya mereka dimiskinkan oleh struktur pemerintahan yang tidak adil. Di sini katekis sebagai bagian dari Gereja memiliki peran penting dalam membawa perubahan dan mampu menghadirkan kerajaan Allah di tengah-tengah masyarakat. Para katekis memiliki peran penting dalam hal ini karena kehadiran katekis diharapkan mampu membawa perubahan bagi perkembangan hidup manusia serta mampu menegakkan keadilan. Oleh karena mereka hidup sebagai orang awam dalam masyarakat, dengan begitu mereka bisa memahami dengan baik, menafsirkan, dan berusaha menemukan pemecahan bagi masalah-masalah pribadi dan sosial dalam terang Injil (KomKat KWI, 1997: 34).

  Dengan demikian katekis harus mampu membawa perubahan dan mewartakan kabar Gembira Allah bagi semua orang yang mengalami kemiskinan. Yesus sendiri bersabda bahwa "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku (Luk 4:18). Di sini katekis sebagai bagian dari Gereja diharapkan mampu membawa kabar baik bagi semua orang miskin dengan memberikan semangat iman bagi mereka. Yesus juga bersabda “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25:40). Yesus ingin menegaskan bahwa apa yang kita lakukan bagi kaum miskin kita melakukannya untuk Kristus, Dia ingin mengatakan bahwa betapa berartinya kaum miskin bagi-Nya sehingga Dia tidak ingin kaum miskin menjadi bahan perguncingan dan bahkan ditinggalkan. saja artinya kita berbuat baik kepada Yesus, begitu juga sebaliknya jika kita berbuat tidak baik terhadap sesama sama saja kita tidak berbuat baik terhadap Yesus. Jadi dari situ dapat dilihat bahwa betapa berartinya kaum miskin bagi Yesus. Oleh karena itu katekis harus mampu merasakan kehadiran Yesus dalam diri orang miskin sehingga katekis mampu melayani Yesus yang hadir dalam diri orang miskin. Sebaiknya katekis tidak menutup mata akan penderitaan orang miskin.

  Yesus sangat mencintai orang yang miskin, oleh karena itu sebagai pengikut Yesus katekis harus memiliki cinta kasih karena jati diri pengikut Kristus adalah cinta kasih “Barang siapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih” (1 Yoh 4:8 ).

  Sudah sepantasnya katekis memahami betul apa yang harus dia lakukan bagi mereka yang miskin. Orang-orang yang menderita ini rindu akan cinta kasih.

  Oleh karena itu katekis harus mampu membawa mereka pada perjumpaan kasih yang mendalam, dengan jalan melakukan karya-karya kecil dengan cinta kasih yang besar dan mendalam kepada mereka yang miskin. Semoga dengan kasih yang hadir dalam diri masing-masing katekis mampu merubah wajah di sekitar kita menjadi lebih manusiawi dan mampu mengurangi tingkat kemiskinan. Karena para katekis yang khususnya terlibat dalam kerasulan umum mempunyai kewajiban untuk menjadikan keprihatinan ini sebagai keberpihakan Gereja. Ini tidak berarti bahwa mereka hanya tertarik pada kaum miskin melainkan bahwa kaum miskin mendapat perhatian yang utama (KomKat KWI, 1997: 34). Dan pada akhirnya sabda Yesus dapat diwujudkan oleh katekis bagi kaum miskin “Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu me ngunjungi Aku” (Mat 25:35-36).

  

F. Ibu Teresa sebagai Teladan bagi Katekis dalam Mewujudkan Semangat

Pelayanan bagi Kaum Miskin

  Ibu Teresa merupakan sosok yang mampu memberikan inspirasi dan teladan bagi semua orang karena karyanya yang begitu besar, ketulusan hatinya mencintai mereka yang kekurangan membuat dia dikenal oleh banyak orang bahkan dunia pun mengenalnya. Karya Ibu Teresa dipuji oleh semua orang bahkan banyak orang yang tergugah melihat karyanya dan meneladani dia dengan ikut melayani kaum miskin. Beliau merupakan sosok yang mampu memberikan inspirasi dan teladan bagi banyak orang di dunia tidak terkecuali Gereja, memang sosok seperti beliau begitu mengundang banyak perhatian sehingga tidak heran jika dia mendapatkan banyak penghargaan. Bahkan Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa Ibu Teresa sebagai Guru yang banyak mengajarinya tentang cinta kasih dan pengorbanan kepada kaum miskin.

  Ibu Teresa memang sosok yang mudah membuat hati orang tergugah jika Paus Yohanes Paulus II saja mengaguminya dan mengatakan Ibu Teresa sebagai teladannya dalam memberikan cinta bagi kaum miskin bagaimana dengan katekis tentunya Ibu Teresa sangat pantas untuk dijadikan teladan oleh katekis dalam melayani kaum miskin. Dalam melaksanakan karya pelayanannya bagi kaum miskin Ibu Teresa tidak pernah mengenal lelah dan dia selalu mengutamakan Allah dalam hidupnya, betapapun orang memujinya karena karya pelayanannya tetapi dia tetap karya Allah. Allahlah yang berkarya dia hanya sebagai perpanjangan tangan Allah untuk memberikan kasih kepada orang miskin (Krispurwana Cahyadi, 2003c: 6).

  Banyak hal yang dapat katekis teladani dari hidup beliau, baik dari segi iman, cinta, kesetiaan dan karya. Sebagai pendidik di sekolah katekis juga dapat menjadikan Ibu Teresa sebagai teladan dalam karya pelayanannya di sekolah , sikap rendah hati Ibu Teresa dapat katekis jadikan sebagai teladan. Ketika Ibu Teresa diutus oleh biaranya untuk mengajar dia mampu mengajar dengan baik bahkan para siswanya sangat menyayangi dia sehingga ketika dia memutuskan untuk keluar para siswanya sangat merindukan dia, sebaiknya sebagai pendidik di sekolah katekis mampu menjadi saluran kasih Allah sehingga kehadiran katekis sebagai pendidik tidak semata-mata memberikan pengetahuan tapi bagaimana dia mampu menjadi teman bagi siswanya. Bagi Ibu Teresa pendidikan juga suatu keharusan karena tanpa pendidikan orang mudah untuk dibodohi, ketika dia masih remaja ibunya sudah mengajarkan dia pentingnya arti pendidikan sehingga ketika ayahnya meninggal, ibunya tidak mengijinkan dia untuk berhenti sekolah dan membantu ibunya memenuhi kebutuhan hidup. Ibu Teresa mengingat selalu apa yang dikatakan oleh ibunya bahwa “Dunia terlalu keras tanpa pendidikan” (Wellman, 2002: 26). Hal inilah yang membuat Ibu Teresa tidak ada lelahnya untuk belajar. Ibu Teresa sangat memahami bahwa di sekolah itu banyak hal yang dapat orang pelajari bukan hanya sebatas untuk mengetahui sesuatu yang belum diketahui tetapi sekolah merupakan tempat untuk belajar bagaimana menanamkan perilaku yang baik pada anak-anak.

  Seharusnya katekis juga sebagai pendidik memahami betul bahwa tugasnya bukan hanya mengajarkan tentang Yesus Kristus tapi bagaimana mereka bisa meyakini Dia

  Kecintaan Ibu Teresa terhadap pendidikan dapat dilihat dari karyanya di Motijhil, ketika dia memutuskan untuk meninggalkan biara Loreto yang sangat dicintainya itu, hal pertama yang dilakukan oleh Ibu Teresa adalah mengajar anak- anak miskin di perkampungan kumuh di Motijhil. Banyak sekali karya Ibu Teresa yang dapat katekis teladani bagi kaum miskin, tetapi yang tidak kalah penting adalah kesetiaan dalam panggilan. Pada saat ini banyak katekis yang krisis dalam panggilan apa lagi panggilan untuk melayani kaum miskin. Penulis sendiri mendengar beberapa sharing dari katekis yang merasa bahwa mereka sering goyah dalam melaksanakan tugas perutusannya. Mereka memiliki kekawatiran bahwa tugas sebagai katekis itu tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka, bagaimana mungkin mereka bisa melayani kaum miskin jika mereka sendiri menghawatirkan kehidupan mereka. Para katekis kurang memiliki sikap berserah pada kehadiran Allah. Ini sangat jauh berbeda dengan Ibu Teresa. Beliau sangat percaya pada penyelenggaraan Allah dalam hidupnya sehingga baginya uang bukanlah penghalang dalam karyanya, jika Allah sudah berkehendak maka apapun bisa terjadi dan Ibu Teresa yakin akan hal itu.

  Dalam melakukan karyanya bagi kaum miskin Ibu Teresa tidak pernah memikirkan uang. Baginya uang tidak dapat menghentikan pelayanan kasih yang dia berikan, karena Ibu Teresa percaya bahwa Allah memberikan pekerjaan maka Ia juga akan menyediakan sarana. Tugas orang beriman hanyalah memberikan karya kasih agar dengan karya kasih itu umat manusia semakin beriman dan bisa merasakan kasih Allah dalam hidupnya sehingga dalam penderitaanpun dia mampu merasakan kehadiran Allah melalui karya yang kita lakukan tanpa harus takut tidak pada Allah bahkan dia sampai mengalami dua kali panggilan dalam hidupnya, hal ini dapat katekis jadikan sebagai teladan serta motivasi untuk tetap semangat dan selalu setia pada penyelenggaraan Allah dalam hidupnya.

  Bagi Ibu Teresa jika kita selalu siap pada penyelenggaraan Allah dan selalu berkata ya pada panggilannya maka Allah akan memberikan tugas yang lebih besar lagi. Kita harus selalu setia padanya sehingga ketika Dia memanggil kita bisa mendengarnya. Panggilan itu selalu bersifat khusus tergantung kita mendengarkan dan menjalankannya atau tidak, semuanya terserah kita karena Allah tidak pernah memaksa apa yang akan dipilih oleh umatnya. Kesetiaan Ibu Teresa kepada penyertaan Allah dan sikap pasrahnya akan panggilan Allah membuatnya mendapatkan tugas yang lebih besar lagi yaitu mendirikan konggregasi Misionaris Cinta Kasih baik suster, maupun bruder. Melalui Misionaris Cinta Kasih, Ibu Teresa melayani umat Allah dengan lebih banyak lagi. Semangat Ibu Teresa dalam pelayanan Allah dapat dijadikan teladan bagi katekis dalam melayani umat Allah meskipun karya pelayanannya tidak sebesar apa yang dilakukan oleh Ibu Teresa, tetapi ini dapat dijadikan teladan agar di dalam melaksanakan tugas pelayanannya bagi Allah, katekis tidak mengenal lelah dan selalu mengutamakan Allah dalam hidupnya dan selalu percaya pada penyelenggaraan Allah. Memang tidak mudah untuk meneladani karya Ibu Teresa karena begitu banyak yang sudah dia lakukan bagi banyak orang.

  Dalam karya pelayanannya Ibu Teresa tidak pernah memilih-milih orang yang dia layani baik suku, budaya, ras dan agama. Bagi Ibu Teresa Yesus hadir secara tersamar dalam penderitaan, kemiskinan, dan kerinduan hati banyak orang. penyamaran Tuhan yang paling nyata. Bukankah Yesus sendiri bersabda bahwa kita harus mengasihi sesama kita manusia seperti diri kita sendiri, Sabda-Nya itu tentunya memiliki arti yang dalam, jika Yesus sendiri meminta kita untuk mencintai sesama kenapa kita harus membeda-bedakannya. Jadi di dalam karya pelayananya katekis juga benar-benar mampu mencintai sesama, apa lagi mereka yang miskin (Krispurwana Cahyadi, 2003c: 66).

  Dalam karya pelayanannya Ibu Teresa tidak hanya melayani mereka yang miskin secara materi tetapi Ibu Teresa juga melayani mereka yang miskin secara rohani. Bahkan melayani yang miskin secara rohani jauh lebih sulit dari pada miskin secara materi karena orang yang miskin secara materi memberi mereka makan saja sudah cukup tetapi orang yang miskin secara rohani tidak hanya cukup memberi mereka makan tetapi mereka membutuhkan bimbingan dan perhatian yang khusus. Di dalam karya pelayanannya tentunya katekis pasti akan menemukan mereka yang miskin secara rohani. Kadang orang yang miskin secara rohani ini tidak terlihat bahkan dianggap dia tidak memiliki masalah sehingga dia sering terabaikan. Bagaimana kehadiran katekis di tengah-tengah masyarakat mampu membawa perubahan yang baik sehingga orang-orang merasa diperhatikan dan merasa berarti, karena banyak orang pada saat ini bukan hanya miskin secara materi, tetapi miskin secara rohani.

  Kehadiran Ibu Teresa tidak hanya membawa perdamaian di Kalkuta tetapi kehadirannya juga dapat membawa perdamaian bagi dunia, sehingga ketika terjadi pertikaian di India dan di negara kelahirannya Ibu Teresa berhenti bekerja dan berkonsentrasi menulis surat kepada pers, mengajak masyarakat untuk agama sebagai alat pemecah belah. Sebagai orang yang tidak bisa dipisahkan dari keluarga, lingkungan masyarakat kehadiran katekis juga diharapkan mampu membawa perdamaian bagi keluarga dan lingkungannya, katekis dapat melihat dari sosok Ibu Teresa yang terus menerus berusaha membawa perubahan sebaiknya kehadiran katekis juga bisa membawa perdamaian baik dalam keluarga maupun masyarakat (Egan & Egan, 2001: 110).

  Cinta kasih Ibu Teresa terhadap kaum miskin membuatnya mengorbankan seluruh hidupnya bagi mereka. Menurut Ibu Teresa kaum miskin tidak semata-mata hanya membutuhkan makanan jasmani saja tetapi mereka sebenarnya lebih membutuhkan makan rohani. Oleh karena itu mereka sebenarnya lebih membutuhkan kasih dibandingkan hanya materi. Katekis di dalam melaksanakan pelayanannya sebaiknya mengutamakan cinta kasih seperti yang Ibu Teresa lakukan bukankah dasar daripada mentalitas kerasulan yang sejati dalam agama Katolik adalah “cinta kasih kepada sesama, perhatian yang dalam mengenai Hidup manusia, keinginan untuk hidup demi kepentingan orang lain, dengan demikian membuat hidup kita sendiri bera rti” (Cooke, 1972: 21). Semangat Ibu Teresa dalam melayani kaum miskin seharusnya dapat dijadikan teladan oleh katekis dalam melaksanakan karyanya bagi kaum miskin.

  Bukankah Yesus sendiri sangat mencintai mereka yang miskin, hina dan terbuang. Ini dapat dilihat dari sabda-sabda-

  Nya “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang miskin ” (Luk 4:18). “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25:40). Dari sabda-Nya itu dapat dilihat bahwa Yesus sangat mencintai mereka yang miskin.

  Melalui karya-karyanya Ibu Teresa mampu menghadirkan Kerajaan Allah di tengah-tengah kaum miskin, bukankah seharusnya katekis juga mampu menghadirkan kerajaan Allah di tengah-tengah kaum miskin. Karya Ibu Teresa dapat menjadi motivasi yang kuat bagi katekis dalam mewujudkan Kerajaan Allah di tengah-tengah kaum miskin, karena di sekitar kita masih banyak sekali kaum miskin yang belum merasakan kehadiran kerajaan Allah, di mana mereka masih takut, lapar, haus, sakit, dijauhi dan tidak diperhatikan dan martabat mereka tidak dihiraukan. Dengan begitu semoga kehadiran katekis dapat membawa perubahan nasib bagi mereka yang miskin.

  “Kerajaan yang diwartakan oleh Yesus menyangkut pembelaan terhadap martabat pribadi manusia yang diciptakan sebagai citra Allah berkaitan dengan perjuangan mengatasi kemiskinan, perjuangan melawan keadilan (Suratman Gitowiratmo, 1996: 47). Dengan menghadirkan Kerajaan Allah di tengah-tengah kaum miskin, diharapkan kehidupan mereka lebih baik dan iman mereka lebih berkembang dan mereka benar-benar dapat merasakan kehadiran Kerajaan Allah di tengah kepahitan hidup yang mereka alami.

BAB IV USAHA MENINGKATKAN PELAYANAN KATEKIS BAGI KAUM MISKIN BERDASARKAN TELADAN PELAYANAN IBU TERESA MELALUI KATEKESE UMAT Mencintai dan melayani kaum miskin merupakan suatu keharusan bagi Ibu Teresa. Baginya Allah memanggil semua orang untuk mencintai dan melayani

  kaum miskin dan sekarang tergantung dari pribadi masing-masing orang bagaimana tanggapannya terhadap panggilan Allah itu. Bagi Ibu Teresa mencintai dan melayani kaum miskin sama dengan mencintai dan melayani Allah, sehingga tidak heran jika seluruh hidupnya dia berikan untuk orang miskin. Bagi Ibu Teresa mencintai dan melayani kaum miskin berarti mencintai dan melayani Allah yang hadir bersama kaum miskin dan melalui diri kaum miskin, sehingga tidak heran jika tidak ada kata menyerah untuk memberikan pelayanan kasih bagi kaum miskin. Baginya semua yang dia lakukan untuk Kristus, karena cintanya pada Kristuslah yang memampukannya melayani mereka yang miskin. Inilah yang memotivasinya sehingga dia tetap teguh dalam pelayanannya. Baginya menghadirkan Kerajaan Allah bagi kaum miskin merupakan keharusan yang harus selalu dijalani. Sikap Ibu Teresa yang begitu mencintai Allah dan mewujudkannya melalui kaum miskin sudah sepantasnya menjadi inspirasi dan teladan bagi katekis dalam melaksanakan pelayanan kasih bagi kaum miskin sehingga dalam tugas pewartaannya, kaum miskin mendapat tempat yang istimewa seperti dalam karya pewartaan Yesus di mana kaum miskin memiliki tempat yang istimewa. Sebagai bahan guna membantu para katekis dalam memaksimalkan pelayanan bagi kaum miskin, maka pada bab empat ini akan disajikan program katekese umat yang yang akan dibahas dalam lima bagian yakni bagian pertama akan membahas tentang arti katekese umat, tujuan katekese umat, Shared Christian Praxis sebagai suatu alternatif katekese umat model pengalaman hidup, usulan program katekese, petunjuk pelaksanaan program, contoh persiapan katekese umat.

A. Arti Katekese Umat

  Katekese adalah pengajaran, pendalaman, dan pendidikan iman agar seorang Kristiani semakin dewasa dan teguh dalam iman. Dengan kata lain katekese adalah usaha-usaha dari pihak Gereja untuk menolong umat agar semakin memahami, menghayati dan mewujudkan imannya dalam kehidupan sehari-hari di dalam masyarakat (Telaumbanua, 1999: 5). Seperti yang sudah dijelaskan bahwa katekese merupakan pengajaran sebagaimana yang dirumuskan dalam PKKI II sebagai berikut:

  Katekese umat diartikan sebagai komunikasi iman atau tukar pengalaman iman (penghayatan iman) antar anggota jemaat/kelompok. Melalui kesaksian para peserta saling membantu sedemikian rupa, sehingga iman masing-masing diteguhkan dan dihayati secara semaki sempurna. Dalam katekese umat tekanan terutama diletakkan penghayatan iman. Meskipun tidak dilupakan katekese umat mengandaikan adanya perencanaan (Huber, 1980: 18).

  Dari keterangan di atas dapat ditarik kesimpulkan bahwa katekese umat merupakan tukar pengalaman iman yang berasal dari umat, oleh umat dan untuk umat. Dimana umat memiliki peran penting dalam mengambil bagian dalam pendalaman yang dilakukan. Umat dituntut untuk aktif dalam menceritakan pengalaman apa yang mereka alami dalam kehidupan sehari-hari dan bagaimna itu dilihat dalam terang iman.

  B. Tujuan Katekese Umat

  Setiap kegiatan yang dilakukan tentunya memiliki tujuan yang ingin dicapai begitu juga dengan katekese umat. Menurut PKKI II tahun 1980 tujuan dari katekese umat adalah:

  Supaya dalam terang Injil kita semakin meresapi arti pengalaman hidup kita sehari-hari; dan kita bertobat (metanoia) kepada Allah dan semakin menyadari kehadiran-Nya dalam kenyataan hidup sehari-hari; dengan demikian kita semakin sempurna beriman, berharap, mengamalkan cinta kasih dan makin dikukuhkan hidup Kristiani kita; kita makin bersatu dalam kristus, makin menjemaat, makin tegas mewujudkan tugas Gereja setempat dan mengokohkan Gereja semesta; sehingga kita sanggup memeri kesaksian tentang Kristus dalam hidup di tengah masyarakat (Huber, 1980: 16)

  Berdasarkan pengertian di atas tampaklah bahwa tujuan dari katekese umat adalah menjawab kerinduan umat akan kehadiran Allah dalam hidup mereka sehingga mereka merasakan kehadiran Allah dalam pergulatan hidup mereka sehari- hari. Umat mampu memperbaharui hidup secara terus menerus (metanoia) dan semakin beriman kepada Yesus Kristus dengan mengamalkan kasih serta menghadirkan Kerajaan Allah di tengah dunia. Selain itu tujuan dari katekese umat adalah menjawab kebutuhan hidup umat yang relevan dengan kehidupan zaman sekarang. Jadi katekese umat merupakan suatu kegiatan gerejawi untuk membantu umat (memahami), menghayati dan mewujudkan iman dalam hidup sehari-hari dengan melayani orang yang membutuhkan.

  C. Shared Christian Praxis sebagai Suatu Model Katekese Umat

  Dalam rangka membantu katekis untuk semakin menghayati tugas katekese umat karena menurut penulis ini sanggat cocok dengan katekis yang hidup bersama dalam masyarakat. Seperti Ibu Teresa yang tergugah hatinya ketika melihat apa yang sedang dihadapi oleh masyarakat yang diharapkan katekis juga dapat merasakan hal yang sama. Dengan mendengarkan sharing dari umat pemahaman dan pengetahuan katekis tentang dunia sekitarnya akan semakin bertambah dan berkembang. Bagaimanapun juga kehidupan katekis tidak dapat dipisahkan dari kehidupan bermasyarakat karena katekis merupakan bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat karena katekis adalah bagian dari masyarakat itu.

  Shared Christian Praxis (SCP) adalah suatu pendekatan berkatekese

  yang bersifat dialogal dan partisipatif yang bertujuan untuk mendorong peserta, berdasarkan konfrontasi antara “tradisi” dan “visi” hidup mereka dengan tradisi dan visi Kristiani. Orientasi utama dari model ini adalah praxsis yaitu perwujudan nilai- nilai Kerajaan Allah dalam kehidupan pribadi, masyarakat dan Gereja. Keterlibatan kongkrit dalam mewujudkan Kerajaan Allah mengandaikan bahwa peserta baik pribadi maupun bersama mengalami proses metanoia atau pertobatan yang terus- menerus. Pertobatan ini mengantar peserta pada integritas pribadi sebagai subjek dan mendorong mereka untuk selalu penuh perhatian dan peka pada apa yang terjadi dalam dirinya sendiri, Gereja dan masyarakat. Sehingga dengan tegas mengambil keputusan yang tepat demi terwujudnya Kerajaan Allah bagi semua orang (Sumarno, 2007: 14-15).

1. Pengertian Shared Christian Praxis

  Buku Thomas H. Groome yang berjudul “Shared Christian Praxis” ada 3

a. Praxis

  Praxis dalam pengertian model katekese ini bukanlah hanya suatu

  praktek saja, tetapi suatu tindakan yang sudah direfleksikan. Praxis sebagai perbuatan atau tindakan meliputi seluruh keterlibatan manusia dalam dunia, segala sesuatu yang diperbuat oleh manusia dengan tujuan tertentu atau dengan sengaja.

  

Praxis mengacu pada tindakan manusia yang mempunyai tujuan untuk perubahan

  hidup meliputi kesatuan antara praktek dan teori (yang membentuk suatu kreatifitas), antara refleksi kritis dan kesadaran historis (yang mengarah pada keterlibatan baru). Praxis ini mencakup ungkapan pribadi yang mengacu ungkapan fisik, emosional, intelektual, spiritual dari hidup manusia. Tindakan ini meliputi sesuatu yang dimiliki, dialami dan dirasakan oleh manusia. Praxis merupakan titik temu antara peristiwa masa kini yang dipengaruhi oleh peristiwa di masa lampau dan peristiwa yang akan terjadi di masa depan. Praxis mempunyai tiga unsur pembentuk yang saling berkaitan: aktivitas, refleksi dan kreativitas. Ketiga unsur pembentuk itu berfungsi untuk membangkitkan perkembangan imaginasi, meneguhkan kehendak dan mendorong praxis baru yang dapat dipertanggungjawabkan secara etis dan moral (Groome, 1997: 2).

1) Aktivitas

  Aktivitas meliputi kegiatan mental dan fisik, kesadaran, tindakan personal dan sosial, hidup pribadi dan kegiatan publik yang semuanya merupakan medan untuk perwujudan diri manusia sebagai subjek karena bersifat historis, maka aktivitas hidup manusia perlu ditempatkan di dalam konteks waktu dan tempat tertentu (Groome, 1997: 2).

2) Refleksi

  Penekanan pada bagian ini terlebih pada bagian refleksi secara kritis mengenai tindakan historis personal dan sosial, praksis pribadi dan kehidupan masyarakat, serta tradisi dan visi iman kristiani sepanjang sejarah. Dengan adanya refleksi secara kritis ini, diharapkan peserta dapat menganalisa, memahami tempat dan peran mereka, memahami keadaan masyarakat beserta permasalahannya, serta menemukan kekayaan refleksi iman Kristiani sebagai sabda yang hidup (Groome, 1997: 2).

3) Kreativitas

  Kreativitas merupakan perpaduan antara aktivitas dan refleksi yang yang menggarisbawahi “sifat transenden” manusia. Penekanan komponen ini adalah dinamika praksis di masa depan yang terus berkembang sehingga melahirkan praksis baru (Groome, 1997: 2).

b. Christian

  Katekese model SCP mengusahakan agar kekayaan iman Kristiani dan visinya dapat terjangkau dan semakin relevan dalam kehidupan umat beriman pada zaman sekarang. Kekayaan iman Kristiani mempunyai dua unsur pokok yaitu pengalaman visi dan tradisi Kristiani menyangkut pengalaman iman jemaat yang sungguh dihayati dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks ini, tradisi dipahami sebagai medan perjumpaan antara rahmat Allah yang nyata dalam diri Yesus Kristus dan tanggapan manusia atas rahmat Allah tersebut. Tradisi Kristiani meliputi Kitab

  Visi Kristiani menggarisbawahi adanya tanggung jawab dan perutusan orang Kristiani sebagai jalan untuk menghidupi sikap dan semangat kemuridan Kristus. Visi Kristiani yang paling mendasar adalah tanggung jawab untuk mewujudkan nilai-nilai Kerajaan Allah dalam praksis hidup konkrit. Visi kristiani menunjuk pada proses sejarah kehidupan manusia yang berkesinambungan dan dinamis, mengundang penilaian, penegasan, membuat pilihan dan keputusan yang tepat.

  Tradisi dan visi Kristiani tidak terpisahkan dalam sejarah hidup jemaat Kristiani. Keduanya mengusahakan adanya penyingkapan nilai-nilai Kerjaan Allah di tengah realitas hidup manusia. Oleh karena itu keduanya harus diinterprestasikan berdasarkan kepentingan, nilai dan budaya umat setempat. Keduanya harus menjadi sarana untuk berdialog, menumbuhkan rasa memiliki dan kesatuan sebagai jemaat beriman, sekaligus meneguhkan identitas kristiani (Groome, 1997: 2-3).

  c.

   Shared

  Istilah shared menunjuk pada pengertian komunikasi timbal balik antara peserta dan pendamping/fasilitator maupun antar peserta yang menunjuk pada partisipasi aktif peserta, adanya sikap egalitarian dari peserta yaitu terbuka terhadap diri sendiri, orang lain maupun terhadap rahmat Tuhan. Istilah ini juga menekankan aspek dialog dalam proses katekese, persaudaraan, keterlibatan, dan solidaritas dari setiap peserta. Selanjutnya dalam sharing semua peserta diharapkan dapat terbuka mengungkapkan pengalaman imannya dan siap pula mendengarkan dengan empati kesaksian iman peserta lain. Selanjutnya sharing juga terkandung hubungan dialektis antar pengalaman hidup faktual peserta (Groome, 1997: 3).

2. Langkah-langkah Shared Christian Praxis

  Shared Christian Praxsis merupakan salah satu model katekese yang

  prosesnya menekankan penggalian pengalaman nyata dalam hidup peserta sendiri yang diuraikan dalam 5 (lima) langkah pokok SCP, yang didahului dengan langkah 0 (Awal): pemusatan aktivitas, langkah I (Pertama): pengungkapan pengalaman hidup faktual, langkah II (Kedua): refleksi kritis atas sharing pengalaman hidup faktual, langkah III (Ketiga): mengusahakan supaya tradisi dan visi kristiani lebih terjangkau, langkah IV (Keempat): Interpretasi/ tafsir dialektis antara tradisi dan visi kristiani dengan tradisi dan visi peserta, langkah V (Lima): keterlibatan baru demi terwujudnya Kerajaan Allah di dunia ini (Sumarno, 2007: 18-22).

a. Langkah 0 : Pemusatan Aktivitas

  Langkah nol dalam SCP bertujuan untuk mendorong peserta untuk menemukan topik pertemuan yang bertolak dari kehidupan konkret peserta. Topik- topik yang ditemukan oleh peserta akan menjadi tema dasar pertemuan. Dengan demikian tema tema besar yang ditemukan sungguh-sungguh mencerminkan pokok- pokok hidup, keprihatinan, permasalahan, dan kebutuhan mereka. Biasanya sarana yang digunakan berupa simbol, cerita, bahasa foto, film atau sarana lain yang dapat memicu peserta untuk menemukan salah satu aspek yang bisa menjadi topik dasar pertemuan tersebut dan diharapkan tema dasar sungguh-sungguh dapat mendorong peserta untuk dapat terlibat aktif dalam pertemuan. Disini pembimbing memiliki peran untuk menciptakan suasana yang kondusif, memilih sarana dan merumuskan prioritas tema yang tepat yang akan di dalami dalam pendalaman yang akan

  

b. Langkah I: Pengungkapan Pengalaman Hidup Peserta (Mengungkapkan

Pengalaman Hidup Peserta)

  Berdasarkan pada tema dasar pada langkah O, langkah ini mengajak peserta untuk mengungkapkan pengalaman hidupnya secara nyata dan terbuka. Di samping menyampaikan pengalaman hidupnya sendiri peserta dapat menceritakan atau mengungkapkan kejadian yang pernah terjadi di dalam kehidupan bermasyarakatnya atau gabungan dari keduanya. Disini peserta membagikan pengalaman hidup yang sungguh-sungguh dialami dan peserta boleh diam, disini tidak ada paksaan untuk membagikan pengalaman. Disini fasilitator bertugas untuk menciptakan suasana pertemuan menjadi hangat dan mendukung peserta untuk mengungkapkan pengalaman hidupnya yang berkaitan dengan tema dasar, merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang jelas dan terarah dan tidak menyinggung atau menyindir seseorang. Bersifat terbuka dan obyektif sesuai dengan pengalaman peserta supaya peserta semakin memahami tujuan dari pendalaman bisa digunakan tarian, nyanyian yang dimengerti oleh peserta lain. Pembimbing juga diharapkan memiliki sikap ramah, sabar, hormat dan peka pada latar belakang keadaan dan permasalahan peserta. Dengan cara itu diharapkan peserta semakin terbuka dan peka terhadap keadaan sekitarnya (Sumarno, 2007: 19).

  c.

  

Langkah II: Refleksi Kritis atas Sharing Pengalaman Faktual (Mendalami

Pengalaman Hidup Peserta)

  Langkah kedua ini lebih mendalami langkah pertama. Dimana pada langkah ini peserta diajak untuk memperdalam saat refleksi dan mengantar peserta meliputi: pertama, pemahaman kritis dan sosial yang secara sistematis menganalisa pengalaman hidup dalam masyarakat yang saling berhubungan. Kedua, kenangan analitis dan sosial yang menekankan sejarah hidup peserta dan membentuk serta mempengaruhi cara hidup peserta dan masyarakatnya. Ketiga, imajinasi kreatif dan sosial yang bersifat pribadi dan membayangkan konsekuensi akibat dari tindakan yang dilakukan dan bagaimana konsekuensi yang bersifat pribadi itu membuka kesadaran dan keterlibatan serta solidaritas sosial. Disini pembimbing memiliki peran penting untuk menghargai dan memahami situasi peserta serta menciptakan suasana yang benar-benar nyaman untuk peserta (Sumarno, 2007: 20).

  d.

  

Langkah III: Mengusahakan Supaya Tradisi dan Visi Kristiani Lebih

Terjangkau (Menggali Pengalaman Iman Kristiani)

  Orientasi dari langkah ini adalah mengusahakan supaya Tradisi dan Visi Kristiani menjadi lebih terjangkau, dekat dan relevan bagi peserta di zaman sekarang. Tujuan Tradisi adalah pengungkapan pengalaman iman yang sungguh dihidupi Gereja sepanjang sejarahnya. Hal-hal yang termasuk tradisi Gereja adalah dogma, Kitab Suci, spiritualitas dan devosi, kebiasaan hidup beriman, aneka kesenian Gereja, liturgi, kepemimpinan dan lain-lain. Visi merefeksikan harapan dan janji, mandat dan tanggung jawab yang muncul dari tradisi suci yang bertujuan untuk mendorong dan meneguhkan iman peserta dalam keterlibatannya untuk mewujudkan nilai-nilai Kerajaan Allah. Langkah ini mengusahakan tradisi dan visi tersebut menjadi makin terjangkau dan relevan untuk kehidupan peserta. Maka, tradisi dan visi kristiani perlu dijelaskan dan diinterprestasikan. Disini pembimbing visi dan Tradisi Kristiani, bersifat terbuka dan tidak mendikte sehingga mampu membawa peserta kepada tingkat kesadaran, pembimbing tidak bersikap sebagai orang yang paling mengerti tetapi pembimbing harus bersikap sebagai orang yang sama-sama belajar serta memiliki kesiapan yang matang (Sumarno, 2007: 20-21).

  

e. Langkah IV: Interpretasi/Tafsir Dialektis antara Tradisi dan Visi Kristiani

dengan Tradisi dan Visi Peserta (Menerapkan Iman Kristiani dalam situasi Peserta konkret)

  Langkah ini mendorong peserta untuk menemukan bagi dirinya sendiri nilai hidup yang hendak digarisbawahi, sikap-sikap pribadi yang picik yang hendak dihilangkan dan nilai-nilai baru yang hendak diperkembangkan berdasarkan nilai Tradisi dan Visi Kristiani sehingga menjadi bagian hidup peserta. Tradisi dan Visi Kristiani meneguhkan, mengkritik dan mengundang peserta untuk melangkah pada praksis yang lebih maju. Langkah ini mendorong peserta untuk mendialogkan hasil pengolahan mereka pada langkah pertama dan kedua dengan isi pokok pada langkah ketiga. Supaya peserta dapat hidup lebih beriman demi semakin terwujudnya nilai- nilai Kerajaan Allah di tengah kehidupan manusia. Di sini pendapat peserta dianggap paling benar dan tafsiran pembimbing sebagai kebenaran satu-satunya. Di sini pembimbing memiliki peran untuk menghormati kebebasan dan hasil penegasan peserta, bahkan yang menolak tafsiran pembimbing. Pembimbing bertugas memberikan keyakinan pada peserta bahwa mereka mampu mempertemukan nilai pengalaman hidup dengan nilai Tadisi dan visi Kristiani. Pembimbing juga bertugas untuk mendengarkan pendapat peserta dengan hati yang tulus dan penuh perhatian

  f.

  

Langkah V: Keterlibatan Baru demi makin Terwujudnya Kerajaan Allah

di Dunia Ini (Mengusahakan Suatu Aksi Konkret)

  Langkah ini mengajak peserta agar sampai pada keputusan praktis yang dipahami sebagai tanggapan jemaat terhadap pewahyuan Allah yang terus berlangsung di dalam sejarah kehidupan manusia. Peserta diajak untuk menghidupi iman Kristiani pada konteks hidup mereka. Peserta mengambil keputusan-keputusan berdasarkan tema-tema dasar yang diolah pada pertemuan katekese. Kerpihatinannya adalah praktis, yakni mendorong keterlibatan baru dengan jalan mengusahakan metanoia, pertobatan pribadi dan sosial yang kontinyu dalam kehidupan peserta.

  Karena dipengaruhi oleh topik dasar maka keputusan dapat beraneka ragam bentuk baik penekanannya pada aspek kognitif, afektif atau tingkah laku.

  Sifatnya bisa menyangkut personal atau interpersonal. Keputusan yang diambil hendaknya praktis dan tidak muluk-mulu, tetapi mudah dilaksanakan. Subyeknya, dapat bersifat aktivitas pribadi atau tindakan bersama. Memiliki arah untuk kepentingan kelompok atau di luar kelompok (keterlibatan kepada sesama).

  Pembimbing bertanggung jawab untuk menyadari hakikat praktis dan inovatif dari langkah ini, merumuskan pertanyaan dan mengarahkan supaya peserta sampai kepada keputusan pribadi dan bersama. Pembimbing juga bertanggung jawab untuk merangkum hasil langkah pertama sampai keempat supaya lebih membantu peserta.

  Untuk mengakhiri pertemuan peserta diajak merayakan liturgi sederhana untuk mendoakan keputusan yang mereka ambil supaya semakin mengesankan, mempertajam, mendalam dan menyemangati peserta dalam mengusahakan aksi baru

  

D. Usulan Program Katekese Umat bagi Katekis dalam Mewujudkan

Semangat Pelayanan bagi Kaum Miskin Berdasarkan Teladan Pelayanan Ibu Teresa

  Program katekese ini merupakan satu usulan atau tawaran bagi pelaksana katekese umat dalam upaya meningkatkan semangat katekis dalam melayani kaum miskin berdasarkan teladan pelayanan Ibu Teresa. Diantaranya adalah latar belakang program katekese umat dan alasan pemilihan tema dalam katekese umat.

  1. Latar belakang Program Katekese Umat

  Pada halaman berikut penulis membuat usulan program katekese umat untuk pengembangan spiritualitas Ibu Teresa. Program ini penulis buat bertujuan untuk memberi gambaran sebagai alternatif untuk melaksanakan suatu katekese umat tentang kaum miskin berinspirasikan dari semangat pelayanan Ibu Teresa dalam melayani kaum miskin. Diharapkan program ini dapat membantu katekis untuk semakin menghayati tugas perutusannya bagi kaum miskin dan pada akhirnya dia mampu menggugah hati umat dan masyarakat untuk melayani kaum miskin, sehingga kaum miskin semakin merasakan kehadiran Allah dalam hidupnya.

  2. Alasan Pemilihan Tema

  Tema umum yang diangkat dalam usalan program ini adalah “Spiritualitas pelayanan Ibu Teresa sebagai teladan bagi katekis dalam mewujudkan semangat pelayanan bagi Tuhan melalui sesama yang miskin. Adapun tujuannya adalah

  “Membantu para katekis untuk semakin memahami dan menghayati mewujudkan semangat pelayanan bagi kaum miskin berdasarkan inspirasi dan teladan dari karya pelayanan Ibu Teresa ”. Tema umum ini penulis angkat mengingat pada zaman sekarang ini sangat susah untuk menemukan orang yang peka dan peduli terhadap kaum miskin dan tak terkecuali katekis, keegoisan merajai setiap hati manusia, sebagian besar dari mereka menjadikan uang sebagai alasan untuk tidak melakukan pelayanan bagi kaum miskin. Bagi mereka kebutuhan hidup mereka saja sudah sulit untuk terpenuhi bagaimana mungkin mereka bisa membantu orang miskin, banyak orang yang rela membuang waktu banyak untuk memenuhi kesenangannya tetapi tidak mampu memberikan waktu untuk melayani kaum miskin. Saat ini orang cendrung mementingkan kesenangan sendiri dan menjadikan uang sebagai “Raja” yang mampu mengendalikan dan melakukan apapun. Sulit bagi orang untuk melihat Tuhan dalam diri kaum miskin. Berdasarkan tema yang dijabarkan dalam katekese umat ini diharapkan para katekis semakin mengenal dan memahami sosok Ibu Teresa dan karya pelayanannya sehingga dengan begitu katekis dapat meneladani semangat Ibu Teresa dalam mewujudkan pelayanan kepada kaum miskin.

7. Rumusan Tema dan Tujuan Katekese Umat

  Tema Umum : Spiritualitas pelayanan Ibu Teresa sebagai teladan bagi katekis dalam mewujudkan semangat pelayanan bagi Tuhan melalui sesama yang miskin. Tujuan umum : Membantu para katekis untuk semakin memahami dan menghayati spiritualitas pelayanan Ibu Teresa sehingga kaum miskin berdasarkan inspirasi dan teladan dari karya pelayanan Ibu Teresa.

  Tema 1 : Cinta kasih Ibu Teresa kepada Allah terwujud melalui cinta kepada sesama yang miskin dan menderita.

  Tujuan 1 : Bersama-sama pendamping, peserta dapat semakin mampu memahami dan menghayati pentingnya mencintai Allah, yang terwujud dalam cinta kepada sesama yang menderita, sehingga cinta kasih Ibu Teresa dalam mencintai dapat menjadi teladan kita untuk mencintai dengan tulus sesama yang miskindan menderita di dalam hidup sehari-hari. Tema 2 : Spiritualitas pelayanan Ibu Teresa Tujuan 2 : Bersama pendamping peserta semakin memahami dan menyadari spiritualitas pelayanan Ibu Teresa sehingga peserta mampu meneladani semangat Ibu Teresa dalam melayani kaum miskin dan menderita.

  Tema 3 : Kegembiraan dalam berbagi Tujuan 3 : Bersama pendamping, peserta semakin memahami arti dan makna berbagi sehingga di dalam kehidupan bersama di tengah-tengah masyarakat peserta merasa bahagia dalam berbagi dengan saudara-saudari yang kurang mampu. Tema 4 : Teladan hidup Ibu Teresa

  Tujuan 4 : Bersama pendamping katekis semakin mengenal karya- karya pelayanan Ibu Teresa dan teladan hidup Ibu Teresa sehingga pada akhirnya peserta mampu meneladani karya hidup Ibu Teresa dalam melayani Tuhan melalui sesama. Tema 5 : Teresa Ibu Kaum miskin Tujuan 5 : Bersama pendamping peserta semakin memahami dan menyadari pelayanan Ibu Teresa dalam melayani kaum miskin sehingga peserta mampu mewujudkan karya- karya Ibu Teresa dalam hidup bersama di masyarakat.

  Tujuan 6 : Pelayanan kasih Ibu Teresa Tujuan 6 : Bersama-sama pendamping peserta semakin menyadari sikap melayani bagi sesama sehingga peserta mampu memberikan pelayanan kasih kepada sesama sebagaimana yang dilakukan oleh Ibu Teresa.

  85

E. Penjabaran Usulan Program Katekese model SCP

  Tema Umum : Spiritualitas pelayanan Ibu Teresa sebagai teladan bagi katekis dalam mewujudkan semangat pelayanan bagi Tuhan melalui sesama yang miskin.

  Tujuan umum : Membantu para katekis untuk semakin memahami dan menghayati spiritualitas pelayanan Ibu Teresa sehingga peserta mampu mewujudkan semangat pelayanan bagi kaum miskin berdasarkan inspirasi dan teladan dari karya pelayanan Ibu Teresa.

  No Tema Tujuan Tema Uraian Materi Metode Sarana Sumber bahan (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

  1 Cinta kasih Ibu Bersama-sama pendamping, Cinta yang besar Penyampaian Teks Lagu Mat 22:34-40

  Leks, 2003: 470- Teresa kepada peserta dapat semakin kepada Tuhan informasi

  “Bahasa Cinta” 476. Allah terwujud mampu memahami dan memampukan dan “Kasih

  Pengolahan Komisi Komunikasi melalui cinta menghayati pentingnya kita berkorban Pasti Lemah

  Refleksi SVD Jawa, 2008 kepada sesama mencintai Allah, yang bagi sesama Lembu t”

  Pribadi yang miskin dan terwujud dalam cinta kepada yang miskin

  Teks Kitab Diskusi menderita. sesama yang menderita,

  Suci Cinta yang tak kelompok sehingga cinta kasih Ibu kunjung padam Perjanjian Baru

  Sharing Teresa dalam mencintai

  Pengalaman Lilin dan Salib dapat menjadi teladan kita untuk mencintai dengan tulus sesama yang miskindan menderita di dalam hidup sehari-hari.

  Tanya jawab Peneguhan

  Cerita “ Aku Haus”

  Penyampaian informasi Teks Cerita

  Bersama pendamping, peserta semakin memahami Karya-karya pelayanan Ibu

  3 Teladan hidup Ibu Teresa

  Mrk 8:27-35 Hani, 2003: 7. Martasudjita, 2012: 96.

  ” Teks Kitab Suci Laptop Instrumen

  “ dan “ Hidup Rukun dan Damai

  Teks Lagu “Andaikan Aku Lakukan

  Buku Mada Bakti

  Laptop, speaker dan LCD

  Pengalaman Tanya jawab Peneguhan

  Pribadi Diskusi kelompok Sharing

  Penyampaian informasi Pengolahan Refleksi

  Mampu merasakan kehadiran Allah

  “Aku Haus” menjadi dasar semangat pelayanan Ibu Teresa

  Bersama pendamping peserta semakin memahami dan menyadari spiritualitas pelayanan Ibu Teresa sehingga peserta mampu meneladani semangat Ibu Teresa dalam melayani kaum miskin dan menderita.

  2 Spiritualitas pelayanan Ibu Teresa

  Film “Mother Theresa”

  “Dia Yoh 3:13-17 Arsuwendo 86 arti dan makna berbagi sehingga di dalam kehidupan bersama di tengah-tengah masyarakat peserta merasa bahagia dalam berbagi dengan saudara-saudari yang kurang mampu.

  Teresa Teladan hidup

  Mampu merasakan kehadiran saudara kita yang miskin

  Mat 6:19-28 Komisi Komunikasi SVD Jawa, 2011.

  Lilin dan Salib Laptop, speaker

  Buku Mada Bakti

  Teks Kitab Suci Perjanjian Baru

  Kisah”Pino Mencari Tuhan”

  Pribadi Informasi Tanya jawab Sharing kelompok Peneguhan

  Diskusi kelompok Refleksi

  Mampu memberikan cinta bagi kaum miskin

  4 Teresa Ibu kaum miskin Bersama pendamping katekis semakin mengenal karya-karya pelayanan Ibu Teresa dan teladan hidup Ibu Teresa sehingga pada akhirnya peserta mampu meneladani karya hidup Ibu Teresa dalam melayani Tuhan melalui sesama

  Ibu Teresa Ibu Teresa teladan dalam keheningan, Doa, Iman, Cinta, melayani, perdamaian

  Martasudjita, 2012: 160.

  Atmowiloto, 2003: 11. Martasudjita, 2007: 556.

  Buku Mada Bakti

  Suci Perjanjian Baru

  ” Teks Kitab

  Memberiku Segalanya

  Pengalaman Peneguhan

  Pribadi Diskusi kelompok Sharing

  Pengolahan Refleksi

  Sudarman, 2011: 17. Leks, 2003: 176- 178. 87

  88

  5 Kegembiraan Bersama pendamping Menyadari Diskusi Slide lagu Mat 15:21-28 dalam berbagi peserta semakin memahami makna dari kelompok

  Teks cerita Martasudjita, 2007: dan menyadari pelayanan berbagi 480. ”Pino Siapa

  Refleksi Ibu Teresa dalam melayani

  Pribadi Saudaramu ”

  Menyadari arti Martasudjita, kaum miskin sehingga kebahagian 2012: 138.

  Informasi Slide bacaan peserta mampu mewujudkan dalam berbagi

  Kitab Suci Tanya jawab Sudarman, 2011: karya-karya Ibu Teresa

  Perjanjian Baru 21. Sharing dalam hidup bersama di kelompok

  Lilin dan Salib Leks, 2003: 339- masyarakat.

  3347. Laptop

  Peneguhan

  6 Pelayanan kasih Bersama-sama pendamping Mampu Diskusi Teks lagu Mat 20:17-28

  Ibu Teresa peserta semakin menyadari melayani kelompok “Jadilah Saksi

  Martasudjita, 2007: sikap melayani bagi sesama mereka yang Kristu 450. ”

  Refleksi sehingga peserta mampu membutuhkan

  Pribadi Teks cerita”Ibu

  Arsuwendo memberikan pelayanan kasih Teresa

  Atmowiloto, 2003: Pelayanan yang Informasi kepada sesama sebagaimana tak kunjung Penampakan 11.

  Tanya jawab yang dilakukan oleh Ibu padam yang

  Sharing Teresa.

  Sederhana ” kelompok

  Cinta memampukan Teks dari Kitab

  Peneguhan orang untuk Suci melayani

  Lilin dan Salib

  F. Petunjuk Pelaksananan Program

  Dalam skripsi ini penulis mengusulkan program katekese umat bagi para katekis amartir maupun propesional yang ada di Paroki Santo Petrus Berastagi.

  Direncanakan program ini dilaksanakan selama 6 (enam) bulan dan pertemuan dilakukan satu bulan sekali dan yang akan melaksanakannya adalah penulis sendiri.

  Pendalaman ini akan menggunakan model Shared Christian Praxsis yang setiap pertemuannya akan dilaksanakan dalam waktu 90 menit. Usulan program ini terdiri dari enam tema. Masing-masing tema akan diuraikan secara berurutuan setiap kali pertemuan dilakukan. Harapan dari penulis dengan mendalami spiritualitas Ibu Teresa dan dengan melihat keberadaan kaum miskin di sekitar kita katekis semakin memahami pentingnya mencintai kaum miskin.

  G. Contoh persiapan Katekese Umat

1. Identitas

  a. Tema : Cinta kasih Ibu Teresa kepada Allah terwujud melalui cinta kepada sesama yang miskin dan menderita.

  b. Tujuan : Bersama-sama pendamping, peserta dapat semakin mampu memahami dan menghayati pentingnya mencintai Allah, yang terwujud dalam cinta kepada sesama yang menderita, sehingga cinta kasih Ibu Teresa dalam mencintai dapat menjadi teladan kita untuk mencintai dengan tulus sesama yang miskin dan menderita di dalam hidup sehari-hari.

  c. Peserta : Katekis d. Waktu : 90 Menit

  e. Metode : Penyampaian informasi : Pengolahan : Refleksi pribadi : Diskusi kelompok : Sharing pengalaman : Tanya jawab : Peneguhan f. Sarana : Teks lagu “Bahasa cinta”

  : Teks la gu “kasih pasti lemah lembut” : Teks Kitab Suci : Lilin dan Salib

  : Laptop, speaker dan LCD :

  Film “Mother Theresa” : Shared Christian Praxsis f. Sumber Bahan : Mat 22 : 34 – 40 : Leks, Stefan. (2003). Tafsir Injil Matius. Yogyakarta: Kanisius.

  Hal. 473-476. : Komisi Komunikasi SVD Jawa. (2008). Berjalan Bersama

  Surabaya: Sang Sabda: Refleksi harian Kitab Suci 2008. Komisi Komunikasi SVD Jawa. Jumat 22 agustus dan Minggu 26 Oktober 2008.

2. Pemikiran Dasar

  Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita dapat menjumpai orang-orang yang hidupnya terlantar, berkekurangan, dianiyaya dan miskin. Baik kita lihat secara langsung maupun melalui TV, Koran, radio,dll. Banyak kita jumpai berita yang sangat memprihatinkan yang menunjukkan tidak adanya kasih kepada sesama.

  Banyak orang sudah tidak peduli dengan sesamanya, ia lebih menikmati kepentingannya sendiri, sehingga mengabaikan orang lain yang membutuhkan dirinya, ia terlalu berpusat pada dirinya sendiri sehingga tertutup dengan orang lain yang mederita, yang sangat membutuhkan belas kasihannya. Dalam kehidupan kita setiap hari, sikap hidup kita terkadang masih kurang menunjukkan sikap kasih kepada orang lain yang menderita.

  Hal ini sangat jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Ibu Teresa, melihat orang-orang yang terkapar di jalanan yang sakit, sekarat dan yang miskin menggugah hati Ibu Teresa dan berusaha untuk melayani mereka dengan hati yang tulus. Dalam melayani mereka yang miskin dan menderita Ibu Teresa tidak pernah pandang bulu. Cintanya pada Allah dia wujudkan melalui sesama yang menderita Hidup kita masih jauh dari perwujudan kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama sehingga hal ini membuat kita tidak mampu untuk mencintai dan melayani orang yang membutuhkan bantuan kita. Saat kita hidup senang, kita seringkali lupa akan Tuhan dan menutup mata akan penderitaan sesama, tetapi saat kita mengalami kemalangan, penderitaan, kekecewaan, ketakutan yang menimpa kita, disitulah mungkin kita baru teringat akan Tuhan dan berkaitan dengan aneka bentuk penderitaan, tantangan dan kesulitan, kita cenderung menolak atau kurang setia. kelihatan, apalagi sesama yang kelihatan dan dapat kita lihat dengan jelas yang hidup bersama kita dalam kehidupan sehari-hari.

  Dalam Matius 22:34

  • –40 kita diajak untuk mengasihi Allah dengan segenap hati, dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi. Disini untuk dapat mencintai dan mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi, kita harus menyerahkan diri secara total kepada Allah dan mencintai sesama dengan total meski harus berkorban, baik itu waktu, tenaga, pikiran. Mengasihi Tuhan juga meliputi kesetiaan, keterlibatan dan keterikatan pribadi dengan Dia, mengimani Dia dan dengan ketaatan yang sungguh-sungguh yang kita nyatakan dalam pengabdian kita kepada Allah.

  Dalam pertemuan ini diharapkan kita sebagai katekis yang berada di dalam lingkungan Paroki Santo Petrus Berastagi ini diharapkan dapat semakin mencintai Allah yang terwujud dalam mencintai sesama yang menderita, yang membutuhkan uluran kasih kita. Memang mencintai itu tidak mudah namun bila kita percaya kepada Allah maka kita akan mampu mencintai sesama kita. Kita pasti akan memiliki sikap siap sedia dalam melayani mereka dengan kasih yang kita miliki.

  Cinta kepada Allah harus mampu kita wujudkan melalui cinta kepada sesama yang menderita yang hidup berdampingan dengan kita di dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan kita ini.

3. Pengembangan Langkah-Langkah

a. Pembukaan

  1) Pengantar ini kita berkumpul kembali untuk bersama-sama menggali kembali pengalaman- pengalaman yang kita alami di dalam kehidupan kita sehari-hari. Seperti yang sering kita lihat dan juga jumpai baik itu melalui Koran, TV atau pengalaman kita sendiri. Banyak yang kita lihat bahwa banyak orang yang mengalami ketidak adilan, pemerkosaan, tawuran, kelaparan, bencana, anak yang harus putus sekolah karena keluarganya tidak mampu dan sebagainya. Tentunya kita sedih melihat semua kejadian itu, banyak sekarang kita yang sudah tidak mampu mengasihi sesama kita sebagaimana yang diajarkan oleh Yesus supaya kita mengasihi Allah dan kasih kepada Allah dapat kita wujudkan melalui kasih kepada sesama kita yang miskin dan menderita. Untuk itu marilah dalam pertemuan kita ini kita awali dengan doa pembukaan. 2) Lagu Pembukaan: Bahasa Cinta [Lampiran 1: (1)]. 3) Doa Pembukaan:

  Allah Bapa yang penuh kasih, kembali kami mengucap syukur atas berkat yang Engkau limpahkan kepada kami hingga saat ini. Ya Bapa sebentar lagi kami akan menggali pengalaman-pengalaman kami dalam mengasihi Engkau. Ya Bapa kami menyadari bahwa kami sering menutup mata akan kejadian-kejadian yang terjadi di sekitar kami, banyak saudara-saudara kami yang mengalami penderitaan, kemiskinan, kelaparan dan yang sakit. Dan kami sering mengabaikan mereka. Kami mohon ya Bapa semoga dengan pertemuan ini kami semakin memahami apa arti mengasihi Engkau dan kami semakin mampu mengasihi Engkau melalui sesama kami yang menderita. Semoga dengan melihat karya-karya pelayanan Ibu Teresa kami semakin mampu untuk belajar melayani Engkau kami agar kami mampu melihat semuanya ini. Doa ini kami serahkan melalui perantaraan Puteramu terkasih Tuhan kami Yesus Kristus. Amin.

  

b. Langkah I: Pengungkapan Pengalaman Hidup Peserta (Mengungkapkan

Pengalaman Hidup Peserta)

  1) Pendamping mengajak peserta untuk menonton film “Mother Theresa”. 2) Pendamping meminta salah seorang peserta untuk menceritakan kembali Intisari film “Mother Theresa” [Lampiran 2: (2)].

  3) Inti sari film “Mother Theresa” :

  Cerita tadi mengisahkan tentang Ibu Teresa yang memperjuangkan hidup orang yang tersingkir, miskin dan menderita. Banyak hal yang telah dilakukan atau dikorbankan oleh Ibu Teresa untuk mereka yang miskin, seperti yang sudah kita lihat tadi bahwa Ibu Teresa keluar dari biara yang sangat dicintainya supaya dapat hidup bersama dengan orang miskin, bahkan dia tetap bertahan meskipun banyak orang yang menentang pelayanan yang Ibu Teresa berikan bagi mereka yang miskin dan menderita. Pelayanan Ibu Teresa dianggap sebagai suatu kegiatan untuk mengkatolikkan orang-orang yang dilayaninya sehingga dia ditolak dan diusir oleh orang-orang. Pada awal mula karyanya banyak kesulitan yang dialami oleh Ibu Teresa tetapi dia tetap teguh pada panggilan Allah dalam hidupnya. Penolakan yang dialaminya tidak membuatnya patah semangat untuk melanjutkan tugas pelayanannya. Baginya mencintai Allah melalui mereka yang miskin dan menderita itu hal yang lebih penting dari pada berdiam diri dan tidak berbuat apa-apa.

  Kasihnya kepada Allah dia tunjukkan melalui kasihnya kepada sesama dia sangat yang selalu hadir bersama dia setia hari. Ibu Teresa benar-benar memahami perinta Tuhan untuk mengasihi Dia dan juga sesama kita manusia. Kasihnya yang begitu besar kepada Allah memampukanya untuk mengasihi sesama yang miskin, menderita dan terbuang. 4) Pengungkapan pengalaman: peserta diajak untuk mendalami cerita tersebut dengan tutunan beberapa pertanyaan: a)

  Ceritakan kesan bapak-ibu setelah melihat bagaimana perjuangan Ibu Teresa dalam mengasihi kaum miskin dan menderita yang baru kita saksikan? b)

  Ceritakan pengalaman bapak dan ibu dalam hal mengasihi yang miskin dan menderita yang ada di lingkungan kita ini? 5)

  Suatu Contoh Arah Rangkuman Bapak ibu yang terkasih dalam cerita tadi kita sudah melihat bahwa betapa Ibu Teresa sangat kuat dan tangguh dia juga begitu setia kepada Allah sehingga dia melepaskan semuanya supaya Allah yang menuntun dan mebawanya untuk mengasihi Allah melalui sesama yang miskin dan menderita. Dalam cerita tadi dapat kita lihat betapa besar pengorbanan Ibu Teresa dalam mewujudkan kasihnya kepada Allah. Dia rela melepaskan segalanya bahkan dia rela melepaskan kebahagiaanya demi mewujudkan kasih kepada mereka yang miskin, terlantar, sakit dan yang tidak dianggap oleh orang-orang di sekitarnya. Dia juga sabar dan memiliki semangat juang yang tinggi sehingga meskipun dia mengalami masalah tetapi dia tetap teguh pada apa yang diyakininya.

  Dalam hidup bersama di dalam masyarakat kita kadang sulit untuk mengasihi sesama kita apa lagi sesama kita yang miskin dan yang menderita. Kita yang bisa kita lakukan bagi mereka. Kita bisa mulai dengan hal yang kecil misalnya kita mengunjungi mereka. Hal ini sangatlah sederhana tetapi sangat berarti bagi mereka. Memang tidak mudah untuk memberikan kasih bagi orang lain karena sifat kita sebagai manusia yang sering ingin diperhatikan, dihargai. Kita juga cenderung lebih suka menerima dari pada memberi. Bahkan jika kita cenderung memberi apa yang sudah tidak berharga lagi bagi kita.

  c.

  

Langkah II: Refleksi Kritis Atas Sharing Pengalaman Hidup Peserta

(Mendalami Pengalaman Hidup Peserta)

  1) Peserta diajak untuk merefleksikan pngalaman berdasarkan cerita “Mother

  Teresa” di atas dengan bantuan beberapa pertanyaan sebagai berikut:

  a) Apa yang mendorong bapak dan ibu untuk bersedia mengasihi orang lain yang miskin dan menderita?

  2) Dari jawaban yang telah diungkapkan oleh peserta, pendamping memberikan arahan rangkuman singkat, misalnya:

  Mengasihi sesama kita yang miskin dan menderita memang bukanlah sesuatu yang mudah karena kita sebagai manusia biasa cendurung egois dan mementingkan diri sendiri. Tetapi ketika kita menyadari bahwa kita sangat mengasihi Allah maka dari situ kita termotivasi untuk mewujudkanya melalui sesama yang miskin dan menderita. Dalam kehidupan kita, dalam masyarakat sikap untuk saling mengasihi dan memperhatikan sangat dibutuhkan sekali. Karena begitu banyak penderitaan yang dialami oleh orang lain. Dalam hidup kita, kita dapat mengasihi orang lain dengan memberikan bantuan, dukungan, mendoakan untuk berbuat kasih kepada orang yang membutuhkan pertolongan kita walaupun pertolongan itu sangat sederhana namun sangat berarti bagi mereka yang kita tolong.

  Sekecil apapun pertolongan kita akan sangat berarti jika kita melakukamya dengan hati yang tulus. Dengan membantu orang lain yang menderita kita sudah turut serta dengan Allah dalam mengembangkan Kerajaan Allah lewat pelayanan kasih yang kita berikan kepada mereka. Pelayanan kita yang kita berikan kepada orang lain itu merupakan wujud cinta kita kepada Allah melalui sesama kita yang menderita.

  d.

  

Langkah III: Mengusahakan Supaya Tradisi dan Visi Kristiani lebih

Terjangkau (Menggali Pengalaman Iman Kristiani)

  1) Salah seorang peserta dimohon untuk membacakan prikope dari teks Kitab Suci

  Injil Matius 22:34 –40. 2)

  Peserta diberi waktu sebentar untuk hening sejenak secara pribadi merenungkan dan menanggapi bacaan Kitab Suci dengan bantuan beberapa pertanyaan sebagai berikut :

  a) Ayat-ayat mana saja yang menunjukkan sikap mengasihi yang diajarkan oleh

  Yesus ?

  b) Sikap-sikap mana yang hendak ditanamkan oleh Yesus untuk mengasihi?

  3) Peserta diajak untuk sendiri mencari dan menemukan pesan inti prikope sehubungan dengan jawaban atas 2 (pertanyaan) diatas.

  4) Pendamping memberikan interprestasi atau tafsir bacaan Kitab suci dari Injil

  Matius 22:34

  • –40 dan menghubungkannya dengan tanggapan peserta dalam hubungan dengan tema dan tujuan.
Ayat 38 “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu” Yesus menghendaki agar hal ini terwujud dalam kehidupan umat manusia yang beriman kepada-Nya. Dalam berkata-kata Yesus bukan hanya sebatas kata-kata saja tetapi ada wujud nyatanya.

  Yesus dalam mengasihi Bapa-Nya dan juga manusia sungguh-sungguh tiada batasnya, bahkan Yesus berani berkorban untuk kasih itu. Mengasihi dengan tulus ikhlas akan mendatangkan kebahagiaan. Ayat 39

  “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri ”. Kasih kepada sesama khususnya yang menderita merupakan suatu ungkapan balas kasih Allah yang telah mengasihi kita lebih dulu.

  Mengasihi atau mencintai sesama dapat juga diwujudkan melalui perhatian, sapaan. Mengasihi lewat sapaan dan perhatian kepada sesama yang menderita akan lebih besar manfaatnya daripada kasih yang diberi kepada mereka yang sudah biasa mendapat perhatian dan sapaan dari yang mengasihi/mencintai mereka. Karena sesuatu akan semakin berarti bagi orang lain jika kita berikan apa yang dia tidak miliki. Kita tidak perlu berpikir terlalu kerasa bagaimana untuk mengasihi sesama apa yang harus kita lakukan. Kita tidak perlu kawatir akan hal itu kita juga tidak perlu berfikir bahwa segalanya hanya bisa kita selesaikan dengan uang, kadang kita tidak menyadari bahwa orang-orang miskin sekalipun lebih memilih diperhatikan dengan menyapa dan mengunjungi serta mendengarkan keluhan mereka daripada kita hanya memberikan apa yang kita punya dan yang sudah tidak berharga lagi bagi kita. Kita sering lupa bahwa sapaan dan perhatian hal yang sesederhana itu yang terlihat mudah tetapi sulit lakukan apa-apa sama sekali. Untuk mengasihi Allah dan sesama dituntut suatu sikap kerendahan hati dan pengorbanan yang sungguh-sungguh dan tanpa ada harapan untuk imbalan atas kasih yang kita berikan.

  e.

  

Langkah IV: Interprestasi antara Tradisi dan Visi Kristiani dengan Tradisi

dan visi peserta (Menerapkan Pengalaman Iman Kristiani Dalam Situasi Peserta Konkrit)

  1) Pengantar

  Dalam pembicaraan-pembicaraan tadi, kita sudah menemukan sikap- sikap mana yang diajarkan oleh Yesus untuk dihayati oleh kita sebagai para murid- Nya atau pengikut-Nya yang berimankan akan Kristus sang pencinta yang sejati, agar kita memiliki kemampuan dan kemauan serta kesadaran yang kuat untuk mampu mengasihi Allah yang terwujudkan melalui kasih kepada sesama kita yang miskin dan menderita sehingga orang lain yang kita kasihi merasakan kebahagiaan dan kedamaian. Namun dalam keseharian hidup kita, sikap kita masih jauh dari perwujudan kasih kepada Allah melalui sesama. Dalam mengasihi dibutuhkan suatu kesetiaan, kita mengasihi Allah bukan karena kita ada dalam kebahagiaan dan mengalami kemanisan hidup tetapi daharapkan dari kita supaya di dalam penderitaanpun kita mampu mengasihi Allah. Orang yang mengasihi Allah akan selalu berusaha bagaimana cara untuk dapat mewujudkan kasih itu kepada sesama meskipun sebagai orang yang lemah terkadang kita kurang mampu mewujudkan kasih itu dalam kehidupan kita sehari-hari sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah. Tetapi jika kita berusaha pasti kita mampu untuk mewujudkannya. Kita tidak kecil dan sederhana tetapi besar manfaatnya bagi orang yang kita layani. Kita sebagai katekis di Paroki Santo Fransiskus Berastagi ini ini harus tetap semangat dalam melayani saudara-saudara kita yang membutuhkan bantuan kita. Hal kecil yang bisa kita lakukan di lingkungan kita ini adalah dengan memberikan perhatian kepada tetangga kita yang tidak bisa melanjutkan sekolahnya. 2)

  Sebagai bahan refleksi kita untuk semakin menghayati dan percaya akan Allah satu-satunya pemberi rahmat dan kekuatan dalam diri kita untuk dapat senantiasa mengasihi orang lain yang menderita dan miskin, meskipun banyak tantangan dari orang lain yang kurang simpatik sengan cara hidup kita, dan untuk itu kita akan merenungkan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

  a) Sejauh mana bapak dan ibu sudah mewujudkan sikap mengasihi orang lain terutama sesama yang miskin dan menderita?

  3) Saat hening peserta diiringi dengan instrument yang mampu membantu peserta untuk merenungkan secara pribadi pesan Injil dengan dua pertanyaan di atas., kemudian peserta diberi kesempatan untuk mensharingkan hasil renungannya.

  4) Satu contoh arah rangkuman penerapan pada situasi peserta:

  Dalam hidup ini kita sering sekali sulit mengasihi sesama kita yang menderita padahal Yesus sendiri mengajarkan kita untuk mengasihi sesama kita.

  Memang benar mengasihi sesama bukanlah hal yang mudah apa lagi mengasihi mereka yang miskin dan menderita tetapi semoga kita sebagai katekis di paroki Santo Fransiskus ini mampu meneladani kasih yang diberikan Tuhan kepada kita. Semua itu bisa kita mulai dari hal-hal yang kecil misanya ketika tetangga kita membutuhkan bantuan kita dapat membantunya. Ketika tetangga kita sakit kita memiliki sedikit rejeki kita bisa berbagi dengan saudara kita yang ada di paroki Santo Fransiskus Berastagi ini.

  f.

  

Langkah V: Keterlibatan Baru demi Makin Terwujudnya Kerajaan Allah

di Dunia (Mengusahakan Suatu Aksi Konkrit)

  1) Pengantar

  Bapak ibu yang terkasih dalam cerita tadi kita sudah melihat bahwa betapa Ibu Teresa sangat kuat dan tangguh dia juga begitu setia kepada Allah sehingga dia melepaskan semuanya supaya Allah yang menuntun dan mebawanya untuk mengasihi Allah melalui sesama yang miskin dan menderita. Dalam cerita tadi dapat kita lihat betapa besar pengorbanan Ibu Teresa dalam mewujudkan kasihnya kepada Allah. Dia rela melepaskan segalanya bahkan dia rela melepaskan kebahagiaanya demi mewujudkan kasih kepada mereka yang miskin, terlantar, sakit dan yang tidak dianggab oleh orang-orang di sekitarnya. Dalam hidup bersama di dalam masyarakat kita kadang sulit untuk mengasihi sesama kita apa lagi sesama kita yang miskin dan yang menderita. Kita sering mengutamakan rasa ego kita daripada belas kasih kita.

  Yesus sendiri bersabda bahwa Kasihilah Tuhan Allahmu dan Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Kasih kepada Allah harus kita wujudkan melalui Kasih kepada sesama khususnya sesama yang menderita. Sikap untuk saling mengasihi dan memperhatikan merupakan suatu kewajiban bagi kita karena begitu banyak penderitaan yang dialami oleh orang lain. Kita tidak perlu memikirkan terlalu besar apa yang harus kita lakukan bagi sesama kita semuanya bisa kita mulai sudah biasa disapa dan diperhatikan memang itu tidak berarti baginya tetapi bagi orang yang tidak pernah diperhatikan dan disapa tentunya itu merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi mereka. Sesuatu akan bermakna jika kita memberikan apa yang berharga buat kita dan yang tidak dimiliki oleh orang lain.

  2) Setelah kita bersama menggali pengalaman sebagai seorang yang dilimpahi rahmat untuk mampu memberikan kasih kepada sesama yang menderita agar sama-sama menikmati kebahagiaan bersama Allah dalam kasih-Nya. Sekarang marilah kita memikirkan niat-niat bagaimana meningkatkan pelayanan kasih kita.

  a) Niat-niat apa yang akan bapak dan ibu lakukan untuk menunjukkan bahwa bapak dan ibu memperhatikan dan mengasihi sesama yang miskin dan menderita?

  b) Usaha apa yang dapat bapak dan ibu lakukan agar niat-niat itu dapat terwujud dalam hidup harian bapak dan ibu?

  3) Kemudian, niat-niat pribadi diungkapkan agar semakin menyadari sikap peduli yang hadir dalam hidup ini dan dapat mewujudkannya dalam kehidupan sehari- hari.

  4) Kemudian, pendamping mengajak peserta untuk membicarakan dan mendiskusikan bersama guna menentukan niat bersama konkrit, yang dapat segera diwujudkan agar mereka semakin menyadari akan pentingnya sikap pengorbanan dalam pergaulan sehari-hari.

g. Penutup

  1) Setelah itu salib dan lilin yang telah bernyala diletakkan di tengah-tengah

  2) Kesempatan Doa umat spontan yang diawali oleh pendamping dengan menghubungkan dengan kebutuhan dan situasi peserta. Setelah itu doa umat disusul secara spontan oleh peserta yang lain. Akhir doa umat ditutup dengan doa penutup dari pendamping yang merangkum keseluruhan SCP ini.

  3) Doa penutup:

  Tuhan Yesus Kristus kami mengucapkan syukur dan terima kasih atas penyertaan-Mu dalam pertemuan kami malam ini. Kami telah banyak mendapatkan wawasan baru dan mendapatkan semangat baru untuk dapat mencintai Allah melalui sesame kami yang miskin dan menderita. Banyak kenyataan yang kami jumpai dalam kehidupan ini bahwa masih banyak saudara kami yang belum bisa menikmati kebebasan hidup. Ya Bapa dengan pertemuan ini kami merasa bahwa kami semakin dikuatkan kami semakin menyadari bahwa mengasihimu adalah suatu hukum yang pertama dan yang utama yang harus kami lakukan sebagaimana yang diajarkan oleh Putramu. Kami mengerti bahwa mengasihi Engkau harus kami wujudkan dengan mengasihi sesama sebagaimana yang dilakukan oleh Ibu Teresa. Dimana karena kasihnya yang begitu besar Kepada-Mu memampukannya untuk melihat Engkau melalui saudara kami yang miskin dan menderita. Semoga kami mampu meneladani dia dan kami mampu mewujudkannya melalui saudara kami yang miskin dan menderita. Engkau kami puji sekarang dan selamanya. Amin.

  4. Sesudah doa penutup pertemuan diakhiri dengan menyayikan lagu penutup Lagu Pembukaan: Kasih Pasti Lemah Lembut [Lampiran 1: (1)].

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Ibu Teresa merupakan sosok yang memberikan banyak inspirasi bagi

  orang-orang dalam melayani kaum miskin. Sebagai seorang gadis muda, Ibu Teresa merasa terpanggil untuk melayani sebagai biarawati oleh karena itu dia memutuskan untuk masuk biara Loreto. Tetapi pada tahun 1946, sebagai wanita yang mengajar dan tinggal di Kalkuta, Ibu Teresa merasakan panggilan lainnya, yang sering dia sebut “panggilan dalam panggilan”. Ketika itu Ibu Teresa merasakan bahwa Dia dipanggil oleh Allah untuk memuaskan rasa dahagaNya dengan melayani kaum miskin, oleh karena itu Ibu Teresa memilih untuk keluar dari biara yang sangat ia cintai yaitu Loreto. Setelah keluar dari biara Loreto Ibu Teresa memulai karya pelayanannya dengan melayani kaum miskin, tujuannya adalah untuk memuaskan rasa dahaga Yesus. Kata-kata Yesus di salib yang mengatakan

  “Aku Haus” (Yoh 19:28) menjadi dasar spiritualitas pelayanan Ibu Teresa. Bagi Ibu Teresa ini merupakan undangan dari Allah untuk terlibat dan peduli terhadap kaum miskin. Ibu Teresa merasa terpanggil untuk memuaskan dahaga Yesus melalui kaum miskin yang haus akan cinta kasih, perhatian dan penghargaan. Hal ini membuat Ibu Teresa memutuskan untuk keluar dari biara Loreto dan memilih untuk lebih dekat lagi dengan orang-orang yang termiskin dari yang miskin.

  Ibu Teresa merupakan pribadi yang memiliki semangat juang yang mendalam dalam melayani kaum miskin. Beliau juga mampu mengambil bagian menderita secara nyata di dunia ini. Ketika Ibu Teresa memutuskan keluar dari biara Loreto banyak karya-karya dan pelayanan yang senantiasa menemani perjalanan hidup Ibu Teresa setiap hari mulai dari mengajar anak-anak miskin di Motijhil, Mendirikan Misionaris Cinta Kasih, menyewa rumah untuk anak-anak terlantar, membagi-bagikan bahan pangan berupa campuran bulgur dan kedelai di stasiun, Sebuah rumah untuk orang sekarat, sebuah rumah untuk yatim piatu, sebuah perawatan bagi para penderita kusta, berbagai pusat medis, dan tempat perlindungan bagi tuna wisma yang tidak terhitung jumlahnya bermunculan di Kalkuta sebagai hasil dari karya beliau sebagai utusan dari pembawa-pembawa kasih.

  Ibu Teresa mewartakan Kristus bukan dengan kata-kata tetapi dengan perbuatan dia telah menghadirkan kasih Kristus dalam kehidupan orang miskin, menderita, tertindas dan cacat. Tidak banyak orang yang seperti dia. Kemiskinan dilihatnya sebagai fakta hidup untuk mempraktekan kasih Yesus. Dia hadir di Kalkuta bukan hanya sekedar untuk merealisasikan tugasnya sebagai seorang biarawati. Di sana ia menemukan kehidupan sebagai seorang yang percaya kepada Kristus yang sesungguhnya. Di sana ia juga melihat dunia yang sesungguhnya. Dunia yang majemuk, bukan hanya dari segi agama, tetapi juga persoalan. Zaman sekarang ini pribadi seperti Ibu Teresa tidak mudah untuk ditemukan karena pada kenyataannya banyak orang lebih mementingkan kehidupannya sendiri tidak peduli dengan kehidupan sesamanya yang mengalami penderitaan, kemelaratan.

  Tentunya sosok Ibu Teresa ini dapat dijadikan sebagi inspirasi dan teladan bagi siapa saja yang ingin melayani Tuhan melalui kaum miskin, tak terkecuali katekis dalam melaksanakan tugas pelayanannya bagi Allah melalui kaum melayani Tuhan melalui sesama, dengan mencintai, melayani mereka yang miskin, lemah dan tersingkir. Seorang katekis adalah pewarta Kabar Gembira Allah bagi semua orang, teristimewa bagi kaum miskin, oleh karena itu seorang katekis harus mempunyai aneka semangat hidup yang mewarnai isi pewartaannya. Katekis harus semakin menyadari tugas perutusannya, katekis tidak boleh menutup mata terhadap kaum miskin, katekis juga tidak boleh kawatir akan kehidupan yang mereka jalani.

  Katekis harus semakin sadar bahwa uang bukan sebagai hambatan dalam melakukan pelayanan bagi kaum miskin. Diharapkan dengan semakin mengenal sosok Ibu Teresa katekis semakin memahami maksud dari sabda Yesus “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku (Mat 25:40).

B. Saran

  Bertitik tolak dari keseluruhan pembahasan yang telah diuraikan pada setiap bab dalam skripsi ini akhirnya penulis mencoba menyampaikan saran yang dapat digunakan untuk meningkatkan semangat pelayanan katekis bagi kaum miskin berdasarkan teladan pelayanan Ibu Teresa. Berkaitan dengan skripsi ini penulis memberikan beberapa saran yang bisa dibuat untuk dilaksanakan yaitu pertama memperdalam pemahaman katekis tentang arti pelayanan bagi kaum miskin dengan belajar dari karya-karya pelayanan Ibu Teresa. Kedua dengan melakukan pendalaman iman bagi katekis dengan mengangkat tema-tema yang berkaitan dengan karya-karya Ibu Teresa bagi kaum miskin. Ketiga katekis sebaiknya semakin mampu menggugah hati katekis untuk semakin bersyukur dan memampukan katekis untuk semakin teguh dalam mewujudkan pelayanan bagi kaum miskin.

  Diharapkan dengan bertambahnya pemahaman katekis tentang arti pelayanan bagi kaum miskin, katekis semakin memiliki semangat yang tinggi dalam melayani kaum miskin. Harapan penulis dalam skripsi ini yaitu: bahwa spiritualitas Ibu Teresa dapat memberi sumbangan pemikiran atau gagasan pemikiran bagi katekis untuk meningkatkan semangat pelayanan katekis bagi kaum miskin.

DAFTAR PUSTAKA

  Arswendo Atmowiloto. (2003). Ibu Teresa Penampakan yang Sederhana. Utusan, 53, hal. 11. Banawiratma, J.B. SJ. (1987). Kemiskinan dan Pembebasan. Yogyakarta: Kanisius. ________. (1990). Spiritualitas Transformatif. Yogyakarta: Kanisius. Beding, Bosko. (1989). Ibu Teresa Karya dan Orang-orangnya. Ende: Nusa Indah. Brian, P. Hall. (1992). Panggilan akan Pelayanan. Yogyakarta: Kanisius. Cooke, Bernard S.J. (1972). Iman dan Katekis (Seri Puskat No. 110). Yogyakarta: Bagian Publikasi Puskat. Darminta, J. SJ. Pelayanan Kaum Religius. Yogyakarta: Kanisius. DOKPEN KWI. (1995). Federation of Asian Bishops’ Conferences I (FABC). (R.

  Hardawiryana, Penerjemah). Bogor: Mardi Yuana. Dokumentasi dan Penerangan KWI. (1999). Ajaran Sosial Gereja. (R.

  Hardawiryana, SJ. Penerjemah). Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI. Egan, Eileen & Egan, Kathleen. (2001). Suffering Into Joy: Mengubah Penderitaan Menjadi Kegembiraan (A. Rahartati Bambang Haryo, Penerjemah).

  Batam: Santo Press. Gray, Charlotte. (1994). Bunda Teresa. Jakarta: Gramedia. Groome, Thomas H. (1997). Shared Christian Praxis: Suatu Model Berkatekese.

  (F.X. Heryatno Wono Wulung, Penyadur). Yogyakarta: Lembaga Pengembangan Kateketik Puskat. (Buku asli diterbitkan 1991). Hani, A. S.J. (2003). Aku Haus. Utusan, 53, hal. 7. Heuken, A. (1991). Ensiklopedi Gereja Katolik III. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka. Huber, Th. S.J. (1979). Arah Katekese di Indonesia??? Ende: Nusa Indah. ________. (1980). Katekese Umat: Hasil Pertemuan Kateketik antar Keuskupan II.

  Yogyakarta: Kanisius. Indra Sanjaya, V. Pr. (2011).

  Belajar dari Yesus “Sang Katekis”. Yogyakarta: Kanisius.

Kitab Suci Perjanjian Baru : dengan Pengantar dan Catatan Singkat.

  (Dipersembahkan kepada Umat Katolik Indonesia oleh Ditjen Bimas Katolik Departemen Agama Republik Indonesia dalam rangka PELITA IV). Ende: Arnoldus, 1984/1985.

  Komisi Kateketik KAS. (2012). Pembelajaran Ajaran Sosial Gereja. Manuskrip disajikan dalam Seminar Pembelajaran Ajaran Sosial Gereja di Gereja Kidul Loji, Yogyakarta, pada tanggal 7 dan 28 September 2012. Komisi Kateketik KWI. (1997). Pedoman untuk Katekis. Yogyakarta: Kanisius. Komisi Kateketik KWI. (2005). Identitas Katekis Di Tengah Arus Perubahan Zaman . Jakarta: Komisi Kateketik KWI. Komisi Komunikasi SVD Jawa. (2008). Berjalan Bersama Sang Sabda: Refleksi harian Kitab Suci 2008 . Surabaya: Komisi Komunikasi SVD Jawa. ________. (2011). Berjalan Bersama Sang Sabda:Refleksi harian Kitab Suci 2011.

  Surabaya: Komisi Komunikasi SVD Jawa.

  Konferensi Pemimpin Tarekat Religius Indonesia (KOPTARI). (1987). Spiritualitas

  Pelayanan . Hasil Sidang Pleno KOPTARI di Jakarta, pada 24 Agustus s/d 5 September 1989.

  Konferensi Waligereja Indonesia. (1996). Iman Katolik: Buku Informasi dan Refleksi . Yogyakarta: Kanisius. Krispurwana Cahyadi, T. (2003a). Jalan Kemiskinan Ibu Teresa. Jakarta: Obor. _________. (2003b). Jalan Kesucian Ibu Teresa. Jakarta: Obor. _________. (2003c). Jalan Pelayanan Ibu Teresa. Jakarta: Obor. _________. (2004). Beata Teresa: Proses dan Refleksi atas Beatifikasi. Jakarta: Obor. _________. (2010). Teresa dari Kalkuta. Yogyakarta: Kanisius. Langford, Joseph. (2010). Ibu Teresa: Secret Fire. Jakarta: Gramedia. Leks, Stefan. (2003). Tafsir Injil Matius. Yogyakarta: Kanisius. Martasudjita, E. Pr. (2007). Inspirasi Batin 2007: Renungan Sepanjang Tahun Yogyakarta: Kanisius. _________. (2012). Inspirasi Batin 2012: Renungan Sepanjang Tahun. Yogyakarta: Kanisius. Marssen, H. (1981) Buku Pegangan untuk Katekis-katekis (Seri Puskat No. 43).

  Yogyakarta: Lembaga Pengembangan Kateketik Puskat. Para Peserta Pertemuan Nasional Katekese Se-Tanah Air. (2005). Pernyataan Akhir dan Rekomendasi. Dalam KomKat KWI (Ed.). Identitas Katekis Di

  Tengah Arus Perubahan Zaman (hal. 133-137). Jakarta: Komisi Kateketik KWI.

  Papo, Jakob. (1987). Memahami Katekese. Ende: Nusa Indah. Pertemuan Kateketik Antar Keuskupan se-Indonesia. (1993). Katekese Umat.

  Dalam KomKat KWI (Ed.). Arah Katekese Gereja Indonesia. (hal. 10). Malang: Dioma. Prasetya, L. (2007). Prodiakon Itu Awam, Lho! Yogyakarta: Kanisius. Roger, Br. (1998). Maria: Bunda Pendamai. Yogyakarta: Kanisius. Sales, de Frans. (2003). Dia Memberiku Segalanya. Utusan, 53, hal. 23-24. Schultheis, Michael SJ. (1988). Pokok-Pokok Ajaran Sosial Gereja. Yogyakarta: Kanisius.

  Sudarman, Simon. (2001a). Pino Mencari Tuhan. Utusan, 51, hal. 17. ________. (2001b). Pino Siapa Saudaramu. Utusan, 51, hal. 21. Sugiyana. (2012). Pembelajaran Ajaran Sosial Gereja. Sebuah modul untuk memperkenalkan ASG kepada umat yang dibuat oleh Komisi Kateketik

  Keuskupan Agung Semarang. Suhardo, E. BA. (1972). Sukses Katekis dalam Kepemimpinan (Seri Puskat No.

  108). Yogyakarta: Lembaga Pengembangan Kateketik Puskat. Sumarno, M. (2007) Program Pengalaman Lapangan Pendidikan Agama Katolik.

  Diktat Mata Kuliah PPL PAK Paroki untuk Mahasiswa Semester VI, Prodi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik, Universitas Sanata Dharma,Yogyakarta.

  Suratman Gitowiratmo, Pr. (1996). Kamulah Sesamaku. Yogyakarta: Kanisius. Telaumbanua, Marianus. (1999). Ilmu Kateketik: Hakekat, Metode dan Peran Katekese Gerejawi . Jakarta: Obor.

  Wellman, Sam. (2002). Mother Teresa: Utusan Pembawa Kasih. Jakarta: Adonai. Yohanes Paulus II, Paus. (2006). Catechesi Tradendae (R. Hardawiryana,

  Penerjemah) Jakarta: Dokpen KWI (Dokumen asli diterbitkan tahun 1979).

  

L A M P I R A N

  Lampiran 1: Lagu

  ”Bahasa Cinta” dan “Kasih Pasti Lemah Lembut” Bahasa Cinta Andaikan aku lakukan yang luhurmulia Jika tanpak asih Tuhan hampa tak berguna Ajarilah kami Bahasa cintamu Agar dekat padamu ya Tuhanku Ajarilah kami Bahasa cintamu Agar kami dekat pada-Mu Kasih Pasti Lemah Lembut Kasih pasti lemah lembut, kasih pasti memaafkan, Kasih pasti murah hati, kasihMu kasihMu Tuhan, Ajarilah kami ini, saling mengasihi Ajarilah kami ini saling mengampuni ajarilah kami ini KasihMu oh Tuhan kasihMu kasihMu Tuhan.

  Lampiran 2

  : Film “Mother Teresa”

  Lampiran 3: Teks Matius 22:34-40

(Hukum yang Terutama)

  34 Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka. 35 dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia: 36 "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" 37 Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. 38 Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. 39 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. 40 Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." 41 Ketika orang-orang Farisi sedang berkumpul, Yesus bertanya kepada mereka, kata-Nya.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

UPAYA RUMAH SAKIT DALAM MENINGKATKAN PELAYANAN BAGI MASYARAKAT MISKIN (Studi di RSD Dr.H.Moh Anwar Kabupaten Sumenep)
0
6
1
EFEKTIVITAS PELAYANAN KESEHATAN BAGI IBU HAMIL DAN BAYI MISKIN DI PUSKESMAS KEBONDALEM KECAMATAN BANGOREJO KABUPATEN BANYUWANGI
0
5
18
EFEKTIVITAS PELAYANAN KESEHATAN BAGI IBU HAMIL DAN BAYI MISKIN DI PUSKESMAS KEBONDALEM KECAMATAN BANGOREJO KABUPATEN BANYUWANGI
1
5
8
i EFEKTIVITAS PELAYANAN KESEHATAN BAGI IBU HAMIL DAN BAYI MISKIN DI PUSKESMAS KEBONDALEM KECAMATAN BANGOREJO KABUPATEN BANYUWANGI
0
3
18
IMPLEMENTASI REGULASI JAMINAN SOSIAL TERHADAP PELAYANAN KESEHATAN BAGI WARGA MISKIN DI KOTA SEMARANG
1
12
141
PELATIHAN ANGKLUNG BAGI KAUM IBU LANSIA DI YAYASAN SOKA GAKKAI MEDAN.
0
5
14
PELATIHAN PELAYANAN PRIMA BAGI PERANGKAT NAGAI DALAM RANGKA PEGUATAN LEMBAGA PEMERINTAHAN NAGARI SEBAGAI ORGANISASI PUBLIK.
0
0
6
PELAYANAN PUBLIK BIDANG TRANSPORTASI BAGI KAUM DIFABEL
0
0
10
PELAYANAN KESEJAHTERAAN SOSIAL BAGI FAKIR MISKIN
0
0
16
TAP.COM - MEWUJUDKAN KEADILAN KONSTITUSIONAL BAGI FAKIR MISKIN ...
0
1
100
SUMBANGAN SPIRITUALITAS SANTO VINSENSIUS A PAULO BAGI PELAYANAN KATEKIS DI PAROKI TAMIANG LAYANG
0
0
25
SPIRITUALITAS PELAYANAN SANTO DON BOSCO DALAM PENDAMPINGAN KAUM MUDA
0
0
22
DISKRIMINASI HARGA DI RSUD KABUPATEN/KOTA UNTUK MENINGKATKAN PELAYANAN BAGI KELUARGA MISKIN
0
1
12
ASURANSI KESEHATAN MASYARAKAT MISKIN SEBAGAI SALAH SATU ALTERNATIF DALAM PEMBERIAN PELAYANAN KESEHATAN BAGI WARGA MISKIN (KAJIAN NORMATIF TERHADAP UNDANG UNDANG NOMOR 23 TAHUN 1992 TENTANG KESEHATAN)
0
0
8
SUMBANGAN MATA KULIAH PEMBINAAN SPIRITUALITAS BAGI MAHASISWA DALAM RANGKA MENJADI KATEKIS BERSPIRITUALITAS DAN PROFESIONAL SKRIPSI
0
0
172
Show more