SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi

Gratis

0
0
145
11 months ago
Preview
Full text

  

STUDI DESKRIPTIF

TENTANG SIKAP ANAK SEKOLAH DASAR INKLUSI

TERHADAP TEMAN SEBAYA YANG

BERKEBUTUHAN KHUSUS

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

  

Program Studi Psikologi

  Oleh : Maretha Lia Isnaryanti

  NIM : 049114086

  

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  

!!

  ! ! " " # $ % & '

  

ABSTRAK

Maretha Lia Isnaryanti (2009) : Studi Deskriptif Tentang Anak Sekolah

Dasar Inklusi Terhadap Teman Sebaya yang Berkebutuhan Khusus.

Yogyakarta : Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas

Sanata Dharma.

  Teman menjadi orang yang sangat penting pada masa pertengahan kanak- kanak. Namun, anak cenderung memilih-milih anak sebaya yang akan dijadikannya sebagai teman. Di sisi lain, penilaian serta respon anak terhadap teman sebaya menjadi hal penting yang dapat mempengaruhi konsep diri teman tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan sikap siswa di sekolah dasar yang tidak berkebutuhan khusus terhadap teman sebaya yang berkebutuhan khusus di kelas inklusi. Penelitian ini ingin melihat bagaimana pandangan, perasaan dan kecenderungan tindakan siswa normal terhadap aspek kompetensi akademik, kompetensi sosial, kemampuan fisik/atletik dan penampilan fisik anak berkebutuhan khusus.

  Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa SD Negeri Giwangan kelas IV dan V yang berada dalam satu kelas inklusi dengan anak berkebutuhan khusus. Jumlah subyek dalam penelitian ini adalah 65 orang yang terdiri atas 35 siswa laki-laki dan 30 siswa perempuan. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan skala sikap terhadap anak berkebutuhan khusus. Skala sikap yang digunakan terdiri atas 38 item dengan koefisien reliabilitas sebesar 0,906.

  Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan anak normal di sekolah dasar inklusi memiliki sikap yang positif terhadap teman sebaya yang berkebutuhan khusus. Data keseluruhan menunjukkan bahwa terdapat 62 orang (95,4%) bersikap positif tinggi, 3 orang (4,6%) bersikap positif rata-rata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap positif yang tinggi pada subyek penelitian meliputi aspek kognitif, afektif, dan konatif. Sikap positif tersebut ditujukan terhadap keseluruhan aspek diri anak berkebutuhan khusus, yaitu kemampuan akademik, kemampuan sosial, kemampuan fisik/atletik serta penampilan fisik anak berkebutuhan khusus.

  Kata kunci : sikap, inklusi, teman sebaya, anak berkebutuhan khusus.

  

ABSTRACT

Maretha Lia Isnaryanti (2008). A Descriptive Study About The Attitude of

Children in Inclusion Elementary School Toward Their Peers With Special

Needs. Yogyakarta : Psychology Department, Sanata Dharma University.

  Friends are always being more important person in middle childhood. But children have tendency to choose peers who will be their friends. In other side, valuation and respond from children to another peer could be something important that can influence this peer’s self-concept. Current research aimed to describe the attitude of children without special needs in elementary school toward their peers with special needs in inclusion class. Current research wanted to show how did normal children thought, felt, and had tendency to act toward academic competence, social competence, physical/athletic competence and physical appearance in children with special needs.

  The type of this research was quantitative descriptive. Subject used on this research were student fourth and fifth grade in Giwangan Elementary School who studied together in one inclusion class with children with special needs. The number of the subject on this research were 65 people, those were 35 male students and 30 female students. Method to collected data on this research used attitude toward children with special needs scale. Attitude scale that used consist of 38 items with reliability coefficient 0,906.

  The result from the research was show that normal children in inclusive elementary school had positive attitude significantly toward peers with special needs. From the total result there was 62 people (95,4%) had high positive attitude, 3 people (4,6%) had average attitude. The result showed that high positive attitude, involve cognitive, affective, and conative. That positive attitude toward all of the self aspect on children with special need, there were academic competence, social competence, physical competence/athletic, and physical appearance from children with special needs.

  Key words : attitude, inclusion, peers, children with special needs.

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur penulis persembahkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas kasih yang tiada terduga sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Studi Deskriptif Tentang Sikap Siswa Normal di Sekolah Dasar Terhadap Anak Berkebutuhan Khusus di Kelas Inklusi”.

  Penulis menyadari bahwa penulis tidak meungkin dapat menyelesaikan skripsi ini tanpa bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu dengan segala kerendahan hati penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :

  1. Bapak P. Eddy Suhartanto, S. Psi, M. Si selaku dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma yang telah memberikan dukungan dan ijin untuk melakukan penelitian.

  2. Ibu Silvia Carolina M. Y. M, S. Psi, M. Si selaku Ketua Program Studi Psikologi Universitas Sanata Dharma yang telah mendukung dan membantu terselesaikannya penyusunan skripsi.

  3. Ibu Agnes Indar Etikawati, S. Psi, Psi, M. Si selaku dosen pembimbing skripsi yang telah meluangkan waktu, pikiran, dan tenaga untuk mengarahkan dengan sabar, memberi saran dan koreksi demi kelancaran penyusunan skripsi.

  4. Bapak Dr. Tarsisius Priyo Widiyanto M. Si selaku dosen penguji I yang telah memberi masukan berharga bagi kesempurnaan hasil karya penulis.

  5. Ibu Dra. Lusia Pratidarmanastiti MS selaku dosen penguji II yang telah mengkritisi serta memberi saran membangun demi kesempurnaan penelitian.

  6. Ibu Henrietta P. D. A. D. S, S. Psi selaku dosen pembimbing akademik yang telah mendorong supaya skripsi segera terselesaikan.

  7. Ibu Dra. Sri Pujiastuti selaku Kepala Sekolah SD Negeri Giwangan atas keterbukaannya untuk membantu penulis untuk melakukan penelitian di tempat beliau mengampu.

  8. Ibu Nur Endang Indrariana, S. Pd selaku Guru Pembimbing Khusus SD Negeri Giwangan yang telah mendampingi penulis untuk melakukan penelitian serta memberikan keterangan yang penulis butuhkan.

  9. Ibu Y. Sri Kayungyun, S. Pd selaku Kepala Sekolah SD Negeri Gejayang yang telah memberikan ijin kepada penulis untuk melakukan uji coba penelitian.

  10. Ibu Nining sebagai Guru Pendamping Khusus di SD Negeri Gejayan yang telah menyempatkan waktu untuk membantu penulis dalam melakukan uji coba penelitian.

  11. Siswa-siswi SD Negeri Gejayan dan siswa-siswi SD Negeri Giwangan yang telah bersedia menjadi subyek dalam penelitian.

  12. Seluruh dosen-dosen fakultas Psikologi yang telah memberikan ilmu dan wawasan dalam perkuliahan selama ini.

  13. Mas Gandung, Mbak Nanik, Pak Gie’, Mas Muji dan Mas Doni selaku staf dan karyawan fakultas Psikologi yang dengan sabar telah membantu memfasilitasi dan memberikan informasi selama penulis kuliah hingga menyelesaikan skripsi.

  14. Bapak dan Ibu yang kusayangi yang telah membesarkan dan membimbing dengan peluh serta selalu memberikan aku kesempatan untuk berkembang.

  Terima kasih atas doa dan restu bapak dan ibu selama ini.

  15. Mas Is, Henry, Debby dan Nano saudara kandungku yang selalu membuatku tertawa dan mewarnai hari-hariku di sela-sela kesibukanku.

  16. My Sweetheart yang selalu ada untukku sebagai kakak, sahabat dan ‘life-

  partner’ terbaikku. Terima kasih untuk kesabarannya dalam menemani langkahku dan semua dukunganmu, Say. Let’s walk together on His plans...

17. Keluarga Home Church Community : Bang Stef, Bro’ Yehezkiel, Sist’ Nona,

  Sist’ Susan, Sist’ Tirza, Sist’ Selvi, Sist’ Fenny, Mami Vony, Mbak Dwi, Sist’ Yekti, Sist’ Fifin, Bu Ning, Bu Tin, Bu Gun, Pak Dodo, Bro’ Dony dan Bro’Obet, sebagai saudaraku yang telah mengajariku bagaimana untuk tetap ‘hang on God’ dalam kesulitan-kesulitanku. Thanks a lot for your pray guys...

  18. Weny, Mae, dan Yoyo’ thanks guys untuk training singkat yang sangat membantuku dalam menyelesaikan pengolahan data.

  19. Teman-temanku Weny, Verty dan Wiwin kalian adalah warna selama masa kuliahku. Ayo lulus bareng tapi jangan pernah lupakan aku ya…

  20. Bapak Dr. Priyo T. Widiyanto, M. Si selaku kepala P2TKP, Bapak Thony dan Mbak Diana selaku staf P2TKP serta Mabk Tia sebagai psikolog P2TKP yang telah memberikan kesempatan untuk belajar dan mendapatkan pengalaman yang berharga di P2TKP.

  21. Seluruh asisten P2TKP tahun 2008 : Mas Desta, Mbak Otic, Mas A-be, Vania, Weny, Tinul, Wulan, Betty, Budi, Mitha, Atik, Mbak Wiwid, Mbak Gothe, Badai, Fany-oneng, dan Mas Rondang. Senang bisa mendapatkan pengalaman bekerja sama dengan kalian dan mengenal kalian. Terima kasih buat masukan- masukan dan dukungan dalam penyusunan skripsiku. Mari kita meraih masa depan yang sukses bersama!!

  22. Mahasiswa angkatan 2004 dan seluruh pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang telah membantu selama perkuliahan dan dalam penulisan skripsi.

  Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu penulis mengharapkan pembaca memberikan masukan dan kritik yang bersifat membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Akhirnya, penulis berharap hasil penelitian dalam skripsi ini dapat bermanfaat bagi ilmu psikologi dan bagi pembaca.

  Yogyakarta, 21 Februari 2009 Maretha Lia Isnaryanti

  DAFTAR ISI Halaman

  HALAMAN JUDUL………………………………………………………...... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING…………………………......... ii HALAMAN PENGESAHAN……………………………………...…………. iii MOTTO……………………………………………………………………….. iv HALAMAN PERSEMBAHAN………………………………………...…....... v PERYATAAN KEASLIAN KARYA……………………………………......... vi ABSTRAK…………………………………………………………………….. vii ABSTRACT…………………………………………………………………… viii LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI............................ ix KATA PENGANTAR………………………………………………………… x DAFTAR ISI………………………………………………………………….. xiv DAFTAR TABEL…………………………………………………………….. xvii DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................... xviii

  BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah........................................................................ 1 B. Rumusan Masalah…………………………………………………….. 8 C. Tujuan Masalah…………………………………………………...... ... 9 D. Manfaat Penelitian................................................................................. 10 BAB II. KAJIAN PUSTAKA A. Pertengahan Anak-anak……………………………………………….. 12

  1. Pengertian dan Batasan Usia………………………........................ 12

  2. Karakteristik Sosio-emosional…………………………………….. 13

  3. Perkembangan Moral dan Pemahaman Sosial…………………….. 17

  B. Sikap…………………………………………………………………... 18

  1. Definisi Sikap……………………………………………………... 18

  2. Komponen Sikap………………………………………………….. 19

  3. Dimensi Sikap…………………………………………………….. 20

  4. Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan dan Perubahan Sikap.... 21

  5. Aspek Diri Anak berkebutuhan Khusus Sebagai Obyek Sikap….......................................................................…………….. 23

  C. Anak Berkebutuhan Khusus………………………………………….... 26

  1. Pengertian………………………………………………………….. 26

  2. Jenis dan Karakteristik Anak berkebutuhan Khusus……………… 27

  D. Inklusi…………………………………………………………………. 33

  1. Pengertian Inklusi…………………………………………………. 33

  2. Karakteristik Kelas Inklusi………………………………………... 34

  3. Proses Belajar dalam Kelas Inklusi……………………………….. 35

  E. Sikap Anak Sekolah Dasar Inklusi Terhadap Teman Sebaya yang Berkebutuhan Khusus………………………………………….... 38 F. Skema Sikap Anak Sekolah Dasar Inklusi Terhadap Teman Sebaya yang Berkebutuhan Khusus………………………………………….... 44 G. Pertanyaan Penelitian………………………………………………….. 45

  BAB III. METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian…...……………………………………………………. 46

  B. Variabel Penelitian…………………………………………………….. 46

  C. Definisi Operasional…………………………………………………… 46

  D. Subyek Penelitian……………………………………………………… 48

  E. Metode dan Alat Pengumpulan Data…………………………………... 50

  1. Metode Pengumpulan Data……………………………………….... 50

  2. Isi Skala…………………………………………………………….. 51

  3. Pemberian Nilai atau Scoring………………………………………. 54

  4. Pertanggungjawaban Alat Ukur……………………………………. 54

  F. Prosedur Penelitian……………………………………………………... 60

  G. Metode Analisis Data…………………………………………………... 61

  BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Penelitian……………………………………………….... 64

  1. Pengumpulan data………………………………………………..... 64

  2. Deskripsi Subyek…………………………………………………... 66

  B. Hasil Penelitian……………………………………………………….... 68

  1. Uji Normalitas……………………………………………………… 68

  2. Hasil Analisis Deskriptif…………………………………………… 68

  C. Pembahasan…………………………………………………………….. 79

  BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan…………………………………………………………….. 89 B. Saran…………………………………………………………………… 89 Daftar Pustaka………………………………………………………………….. 92

  

DAFTAR TABEL

  Halaman Tabel 1. Blueprint Skala Sikap………………………………………………….. 51 Tabel 2. Distribusi Nomor Item Dalam Skala Sikap……………………………. 51 Tabel 3. Distribusi Nomor Item Dalam Skala Sikap Sesi 1…………………….. 52 Tabel 4. Distribusi Nomor Item Dalam Skala Sikap Sesi 2…………………….. 53 Tabel 5. Hasil Uji Coba Alat Ukur……………………………………………… 56 Tabel 6. Sebaran Item yang Sahih………………………………………………. 57 Tabel 7. Skala Penelitian Setelah Uji Coba…………………………………….. 58 Tabel 8. Deskripsi Data Penelitian Secara Umum……………………………… 68 Tabel 9. Kategori Skor Sikap Siswa Terhadap Teman Sebaya yang BerkebutuhanKhusus………………………………………………………….... 69 Tabel 10. Deskripsi Frekuensi dan Perbandingan Mean Empirik Tiap Aspek Sikap…………………………………………………………………...... 69 Tabel 11. Deskripsi Perbandingan Mean Empirik……………………………… 71

  LAMPIRAN

  Lampiran 1. Skala Penelitian Sebelum Uji Coba Lampiran 2. Skala Penelitian Setelah Uji Coba Lampiran 3. Koefisien Reliabilitas Uji Coba Skala Sikap Lampiran 4. Koefisien Reliabilitas Uji Coba Skala Sikap Lampiran 5. Uji Asumsi Normalitas Lampiran 6. Deskripsi Data Penelitian Lampiran 7. Surat Ijin dan Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perbedaan individu merupakan hal yang seringkali kita temukan dalam

  keseharian. Perbedaan tersebut dapat ditemukan dalam karakteristik fisik yang tampak pada seseorang sampai yang tidak terlihat dalam penampilan fisik orang tersebut. Kecacatan baik secara mental, emosional maupun fisik menyebabkan penyandangnya memiki kebutuhan yang berbeda dibandingkan orang-orang yang normal. Anak yang secara signifikan mengalami kelainan atau penyimpangan baik secara fisik, mental-intelektual, sosial, maupun emosional, dalam proses pertumbuhan atau perkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya sehingga mereka memerlukan pelayanan pendidikan khusus disebut sebagai anak berkebutuhan khusus (direktorat PLB, 2004).

  Kecacatan-kecacatan pada fisik mereka cenderung dapat menyulitkan bagi penyandangnya dalam melakukan aktifitas maupun dalam membangun hubungan interpersonal. Hal ini dikarenakan oleh kecenderungan masyarakat yang lebih menghargai daya tarik fisik dari seseorang (Tarsidi, 2008).

  Kelainan dan keterbatasan fisik cenderung memunculkan berbagai reaksi dari orang normal lainnya. Demikian juga dengan anak yang memiliki kelainan dalam hal intelektual maupun emosional terkadang juga mendapatkan

  

perlakuan yang berbeda. Orang-orang yang normal seringkali menganggap

keterbatasan dan kelainan sebagai sesuatu yang aneh atau tidak biasa.

  Unrow, 1989 (dalam Tarsidi, 2008) mengemukakan bahwa perlakuan

yang berbeda terhadap orang yang berkelainan, baik itu yang overprotektif

maupun yang menunjukkan penolakan, menjadikan ruang gerak orang-orang

dengan kebutuhan khusus menjadi semakin menyempit. Padahal keterbatasan

untuk berinteraksi dengan lingkungan dapat berpengaruh terhadap

  kemampuan anak untuk mengeksplorasi karir yang meliputi pemahaman akan minat dan bakat sendiri serta mengenal berbagai lingkungan kerja.

  Salah satu bentuk perlakuan berbeda yang membatasi ruang gerak anak berkebutuhan khusus adalah dengan mengharuskan anak berkebutuhan khusus untuk bersekolah di sekolah khusus. Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 dan Undang-Undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional bab III ayat 5 menyatakan bahwa setiap warga negara mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan. Mengacu pada undang- undang tersebut di atas, maka anak-anak yang berkelainan juga berhak untuk memperoleh kesempatan yang sama dengan anak normal dalam hal pendidikan (Direktorat PLB, 2004). Menanggapi pentingnya kesamaan hak bagi penyandang kebutuhan khusus, para penentu kebijakan dalam dunia pendidikan telah membuat setting pendidikan baru bagi anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus.

  Tempat dimana anak dengan kebutuhan khusus digabungkan dengan anak normal untuk belajar bersama baik itu secara penuh maupun dalam waktu tertentu saja disebut sebagai program inklusi. Inklusi membantu anak berkebutuhan khusus untuk belajar di tengah-tengah komunitas normal dan membantu anak normal untuk mengenal dan memahami orang-orang dengan kekurangannya (Papalia, et. al., 2004). Dalam kelas inklusi, anak-anak dengan kebutuhan khusus dan anak normal mengikuti proses pembelajaran bersama- sama dalam satu kelas dan aktivitas belajar-mengajar bersama-sama. Anak- anak berkebutuhan khusus akan berkembang melalui pengajaran dan dukungan teman-teman sebayanya dalam kelas inklusi tersebut (Sutriyono, 2006). Setting dalam kelas inklusi tersebut dikondisikan supaya tercipta situasi dimana siswa berkebutuhan khusus dengan siswa normal harus banyak berinteraksi.

  Adanya program inklusi membuka kesempatan bagi anak-anak dengan keterbatasan kemampuan fisik, mental maupun emosional untuk mendapatkan pendidikan di tempat yang tidak dipisahkan dengan anak normal lainnya. Pelaksanaan program inklusi dijamin oleh Undang Undang No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menjelaskan bahwa penyelenggaraan pendidikan untuk peserta didik berkelainan atau memiliki kecerdasan luar biasa diselenggarakan secara inklusif atau berupa sekolah khusus. Walaupun penyelenggaraan pendidikan inklusi dilindungi oleh undang-undang, pada kenyataannya program tersebut belum dapat dilaksanakan oleh banyak sekolah. Salah satu penghalangnya adalah masalah penerimaan dari masyarakat terutama orang tua siswa. Mereka berpikir apakah siswa berkebutuhan khusus tidak akan mengganggu anak-anak lain dan dapat menurunkan prestasi sekolah (Subkhan, 2007).

  Keberhasilan pelaksanaan program inklusi dalam membantu anak berkebutuhan khusus dipengaruhi oleh berbagai faktor. Sa’adah (2006) mengadakan penelitian di salah satu sekolah di Yogyakarta yang menerapkan program inklusi. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa adanya dorongan minat yang kuat dari masing-masing siswa tuna netra mendukung keberhasilan program inklusi. Namun masih ada faktor lain yang juga berpengaruh yaitu dukungan dan motivasi dari keluarga, guru bidang studi, guru pembimbing khusus, dan teman-temannya yang mempunyai toleransi dan dukungan yang besar terhadap anak tuna netra tersebut.

  Seorang guru di suatu sekolah di Jakarta Timur juga menceritakan bagaimana seorang siswa tuna rungu mendapat peringkat tiga besar dalam kelas inklusi. Guru tersebut merasa sangat kesulitan dalam mentransfer materi pada awalnya, tetapi teman-temannya tidak mengejek atau merendahkan siswa tuna rungu tersebut. Teman-temannya membantu siswa tuna rungu itu supaya dapat menangkap dan memahami materi pelajaran. Berkat dukungan siswa- siswa lainnya, guru merasa sangat tertolong dalam menyampaikan materi dan siswa tuna rungu sangat terbantu untuk maju (Tyas, 2006).

  Dukungan teman-teman sebaya dianggap sangat penting bagi perkembangan siswa berkebutuhan khusus yang belajar di kelas inklusi. Siswa yang duduk di bangku sekolah dasar dan berada dalam tahap perkembangan masa pertengahan kanak-kanak menempatkan pergaulan dengan teman sebaya sebagai faktor yang sangat berpengaruh dalam perkembangan emosional, sosial maupun akademik mereka. Dengan adanya teman, anak merasakan kasih sayang selain dari keluarga, merasa nyaman, dapat melakukan aktivitas yang disukai serta dapat membagikan perasaan dan rahasianya. Teman sebaya pada masa anak-anak merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi keyakinan diri anak terhadap kemampuan dirinya dalam menguasai tugas- tugas sekolah atau self-efficacy anak tersebut. Apabila anak memiliki keyakinan yang besar maka kecenderungannya anak juga akan memiliki keinginan yang besar untuk mencoba dan lebih berhasil dalam sekolahnya. Penolakan dari teman sebaya dan kurangnya teman di masa anak-anak dapat menimbulkan dampak dalam jangka panjang (Papalia, et. al., 2004).

  Bagwell, Newcomb, & Bukowski, 1998 (dalam Papalia et. al., 2004) melakukan studi longitudinal terhadap seorang murid kelas 5 sekolah dasar yang tidak memiliki teman lebih dibandingkan teman-teman sekelasnya. Hasilnya menunjukan bahwa anak tersebut memiliki rasa keberhargaan diri atau self-esteem yang rendah pada masa dewasa awal dan terkadang menunjukkan simtom depresi. Pada masa anak-anak, teman sebaya memberikan penilaian atau feedback mengenai kemampuan dan apa yang telah dilakukan oleh teman-temannya (Santrock, 2007). Penilaian tentang baik-buruk, mampu-tidak mampu, pintar-bodoh atau bahkan pujian maupun celaan dan sebagainya diberikan oleh teman sebaya kepada anak-anak yang lain.

  Program pendidikan inklusi dapat memungkinkan adanya kesempatan yang cukup besar untuk saling menilai kemampuan anak yang satu dengan yang lain. Hal ini dikarenakan oleh banyaknya interaksi yang dilakukan antara anak normal dengan anak berkebutuhan khusus dalam setting tersebut.

  Penilaian anak normal terhadap kemampuan dan perbedaan karakteristik dalam diri anak berkebutuhan khusus dapat mempengaruhi pembentukan sikap anak normal terhadap anak tersebut.

  Sikap merupakan suatu respon evaluatif terhadap stimulus tertentu yang kemudian menjadi suatu reaksi terhadap stimulus itu. Proses evaluasi secara sadar terjadi dalam diri individu sehingga dapat memberi kesimpulan mengenai stimulus itu dalam bentuk nilai menyenangkan atau tidak menyenangkan, suka atau tidak suka, baik atau buruk dan sebagainya. Kesimpulan tersebut akan berperan dalam membentuk reaksi dan tindakan- tindakan yang diambil oleh orang itu terhadap stimulus tersebut (Azwar, 1995).

  Kemampuan serta keadaan fisik yang ditunjukkan oleh anak dengan kecacatan fisik dapat mempengaruhi pandangan anak normal terhadap diri anak tersebut. Hal ini dapat mempengaruhi sikap anak normal terhadap teman- temannya yang memiliki keterbatasan fisik. Demikian juga dengan adanya kelainan dalam hal intelegensi maupun emosional dapat mempengaruhi pandangan dan sikap anak normal terhadap penyandangnya. Hal ini dijelaskan juga dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Wittenbrink, et. al (2001) yaitu bahwa prasangka yang dilakukan secara spontan merupakan suatu variabel yang secara otomatis dapat mempengaruhi terbentuknya suatu sikap. Kesan yang ditimbulkan dari penampakan fisik serta hal-hal yang nyata memiliki pengaruh yang besar munculnya prasangka-prasangka yang akhirnya dapat berpengaruh pada pembentukan sikap terhadap sesuatu yang dilihat.

  Sikap anak-anak normal terhadap keberadaan anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus dalam kelas inklusi dapat dikatakan sangat penting bagi diri anak berkebutuhan khusus tersebut. Sikap anak normal yang merupakan respon evaluatif terhadap diri anak berkebutuhan khusus dapat menjadi feedback atau masukan bagi anak berkebutuhan khusus. Respon evaluatif tersebut meliputi aspek diri anak berkebutuhan khusus yang terdiri atas kemampuan akademik, kemampuan sosial, kemampuan fisik/atletik serta penampilan fisik. Respon evaluatif yang negatif dari teman sebaya dapat berpengaruh pada rasa keberhargaan diri anak berkebutuhan khusus (Berk, 2006).

  Terkait dengan pentingnya sikap yang positif bagi perkembangan anak berkebutuhan khusus di tengah-tengah anak normal, Booth, et. al (dalam Reid, 2005) menyatakan bahwa dalam kelas inklusi diciptakan sebuah kenyamanan, penerimaan, kerja sama, serta menstimulasi komunitas dimana setiap orang dihargai. Dengan demikian, anak yang normal dengan anak berkebutuhan khusus diajari untuk bekerja sama, saling menghargai dan tercipta rasa nyaman. Adanya situasi tersebut, perbedaan individu bukan dihilangkan atau dianggap tidak ada, melainkan anak normal dan anak berkebutuhan khusus dibentuk untuk memiliki pandangan bahwa perbedaan itu bukanlah suatu hambatan untuk mereka belajar bersama dan mencapai suatu prestasi.

  Strategi pembelajaran dan koordinasi seperti yang telah digambarkan tersebut di atas dapat membantu anak normal untuk membentuk sikap yang positif terhadap teman-temannya yang memiliki keterbatasan fisik, mental, maupun emosional. Sutikno (dalam Sutriyono, 2006) menceritakan bahwa anak tuna netra yang berada di sekolah inklusi di Pemalang, Jawa Tengah, pada awalnya disingkirkan oleh teman-temannya. Akan tetapi pada akhirnya para siswa dapat menerima keberadaan anak tuna netra tersebut setelah guru berusaha untuk menciptakan situasi yang kondusif dalam kelas inklusi tersebut.

  Pada umumnya, sekolah inklusi tidak dapat menerima semua jenis anak berkebutuhan khusus untuk belajar bersama dengan anak normal.

  Keterbatasan kemampuan pengajar untuk dapat membimbing semua jenis anak berkebutuhan khusus bersama dengan anak normal membuat pihak sekolah cenderung memutuskan untuk menyeleksi anak berkebutuhan khusus yang mendaftar. Demikian juga yang dilakukan oleh kepala sekolah SD Negeri Giwangan sebagai salah satu sekolah dasar inklusi. Anak berkebutuhan khusus yang bersekolah di SD tersebut adalah anak memiliki kelainan secara fisik, emosional maupun intelektual tetapi dipandang masih mampu untuk belajar bersama dengan anak-anak normal lainnya. Dengan kata lain, anak berkebutuhan khusus tersebut memiliki tingkat keparahan yang masih dapat ditangani oleh tenaga pengajar di tempat sekolah tersebut.

  Walaupun demikian sangat penting untuk memastikan bahwa siswa normal memiliki sikap yang positif dan perilaku sosial yang mendukung terhadap temannya yang berkelainan fisik. Dengan demikian siswa yang berkelainan fisik akan benar-benar menjadi bagian dari kelas tersebut (Bowd, 1986). Apabila sikap anak normal negatif maka perlu adanya program untuk mengembangkan sikap yang positif sehingga program inklusi dapat berhasil.

  A. Rumusan Masalah

  Bagaimana sikap siswa sekolah dasar inklusi terhadap teman sebaya yang berkebutuhan khusus?

  C. Tujuan Penelitian

  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimanakah sikap siswa normal terhadap teman sebaya yang berkebutuhan khusus yang mengikuti proses pembelajaran bersama mereka dalam program inklusi. Dalam penelitian ini, peneliti ingin melihat tingkat sikap positif siswa sekolah dasar inklusi terhadap teman sebaya yang berkebutuhan khusus. Selain itu, peneliti juga ingin melihat apakah sikap positif tersebut meliputi keseluruhan aspek sikap atau hanya sebagian saja. Peneliti juga ingin mengetahui apakah sikap positif tersebut meliputi keseluruhan aspek diri anak berkebutuhan khusus atau hanya sebagian dari aspek tersebut.

D. Manfaat Penelitian

  1. Secara Teoretis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi perkembangan ilmu pengetahuan pada umumnya. Selain itu juga dapat memberikan sumbangan bagi ilmu psikologi pendidikan, psikologi perkembangan, psikologi sosial dan psikologi klinis pada khususnya.

  2. Secara Praktis

  a. Bagi sekolah dan pelaksana pendidikan Hasil penelitian ini dapat memberikan evaluasi dan gambaran mengenai bagaimana sikap siswa-siswi normal terhadap siswa-siswi berkebutuhan khusus dalam proses pembelajaran di kelas inklusi. Selain itu juga dapat memberikan informasi yang dapat dijadikan sebagai pertimbangan dalam menentukan kebijakan lainnya terkait dengan keberadaan anak berkebutuhan khusus. Ketika hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan adanya penerimaan positif, hal ini juga dapat dijadikan informasi pada pihak sekolah sehingga pihak sekolah tidak perlu kuatir terhadap masa depan sekolah terkait dengan ada atau tidaknya anak normal yang akan mendaftar ke sekolah tersebut. Ketika hasil yang diperoleh negatif, maka pihak sekolah perlu meninjau ulang program-program serta proses pembelajaran yang telah dilaksanakan untuk membantu pembentukan sikap yang positif terhadap anak berkebutuhan khusus.

  Dalam sekolah inklusi, pembinaan terhadap anak normal agar memiliki sikap yang positif terhadap teman yang berkebutuhan khusus sangatlah penting. Hasil penelitian dapat menjadi bahan bagi pihak sekolah khususnya guru untuk memberikan informasi dan arahan terhadap anak normal dan orang tua siswa mengenai bagaimana sikap anak normal terhadap anak berkebutuhan khusus. Selain itu, pihak sekolah juga dapat menyampaikan hasil penelitian kepada anak berkebutuhan khusus sebagai informasi yang dapat berpengaruh pada pembentukan konsep diri anak.

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Pertengahan Anak-anak (Middle Childhood)

  1. Pengertian dan Batasan Usia Berk (2006) mengungkapkan masa pertengahan anak-anak atau

  middle childhood sebagai masa dimana anak yang berusia 6 hingga 11

  tahun. Pada masa pertengahan anak-anak, anak memiliki proses berpikir yang lebih logis dan semakin mampu memahami diri sendiri. Selain itu, perkembangan moral anak pada masa ini juga semakin meningkat. Adanya persahabatan menjadi tanda anak memasuki masa pertengahan anak-anak.

  Santrock (2002) menyebut masa periode ini sebagai masa pertengahan dan akhir anak-anak, yaitu periode perkembangan yang merentang dari usia 6 hingga 11 tahun, yang kira-kira setara dengan tahun- tahun sekolah dasar sehingga periode ini kadang-kadang disebut “tahun- tahun sekolah dasar”. Pada masa ini, anak umumnya menguasai keterampilan-keterampilan fundamental seperti membaca, menulis, dan berhitung.

  McDevitt & Ormrod (2004) juga menggolongkan masa dimana anak berusia 6 hingga 10 tahun sebagai masa middle childhood atau pertengahan anak-anak. Pada masa ini, anak menunjukkan tanggung jawab yang serius terhadap teman sebaya, khususnya kepada teman bermain anak-anak menjadi penting karena anak banyak belajar melalui interaksi dengan teman-teman dan memecahkan perselisihan. Pada masa ini, anak juga mulai membanding-bandingkan performansi mereka dengan temannya yang lain. Dengan demikian, perbedaan individu dalam performansi akademik menjadi semakin penting dalam melewati tahun- tahun masa ini.

  Mengacu pada sumber terbaru, peneliti menggunakan istilah masa pertengahan anak-anak untuk menggambarkan anak yang berusia sekolah dasar atau berusia 6 hingga 11 tahun. Fokus perkembangan pada masa pertengahan anak-anak adalah pencapaian prestasi dan kemampuan kontrol diri yang meningkat. Anak-anak pada masa pertengahan anak-anak akan banyak mengarahkan konsentrasi dan energinya pada penguasaan kemampuan-kemampuan intelektual dan pengetahuan. Adanya perasaan tidak berkompeten dan tidak produktif yang dirasakan oleh anak merupakan hal yang berbahaya dalam tahap perkembangan ini. Perasaan tidak berkompeten dan tidak produktif akan menghambat anak mampu melakukan tugas perkembangannya dalam tahap ini (Santrock, 2007).

  2. Karakteristik Sosio-emosional Menurut Hurlock (1988), kelompok sosial memiliki pengaruh paling besar dalam melakukan identifikasi diri pada masa pertengahan anak-anak dan sebagian pada masa remaja dibandingkan pada masa perkembangan lainnya. Pada masa ini, teman sebaya memberikan pengaruh yang lebih besar dibandingkan orang-orang dewasa lainnya. Pengaruh yang kuat dari kelompok sebaya pada masa ini sebagian besar berasal dari keinginan untuk dapat diterima oleh kelompok. Selain itu hal ini juga dikarenakan anak banyak menghabiskan waktunya bersama dengan teman-teman sebaya.

  Hurlock (1988) menyebutkan pengaruh kelompok teman sebaya bagi anak, yaitu: a. Keinginan untuk menyesuaikan diri.

  Anak menyesuaikan keinginan, sikap dan nilainya dengan tuntutan kelompok supaya dapat mencapai popularitas dan memperoleh kasih sayang dari teman sebaya, terutama apabila tidak mendapat kasih sayang dari keluarga.

  b. Membantu anak-anak mencapai kemandirian dari orang tua dan dirinya sendiri.

  Melalui hubungan dengan teman sebaya anak-anak belajar berpikir secara mandiri, mengambil keputusan sendiri, belajar mengenai berbagai pandangan dan sikap yang bukan dari keluarga mereka. Selain itu mereka belajar mengenai pola perilaku yang dapat diterima oleh kelompok.

  c. Pembentukan konsep diri Anak akan menduga pendapat dan makna reaksi orang lain terhadap dirinya. Apabila pendapat orang lain mengenai dirinya menyenangkan, maka anak juga akan menganggap dirinya menyenangkan, dan begitu juga sebaliknya.

  Menurut Santrock (2007), terdapat 3 kemungkinan proses sosial- kognitif yang mempengaruhi anak dalam membangun relasi dengan teman sebaya, yaitu :

  a. Social perspective taking Social perspective taking merupakan kemampuan anak untuk

  menerima cara pandang orang lain dan memahami pikiran dan perasaannya. Pada masa usia sekolah dasar, kemampuan ini meningkat sehingga anak bisa memahami bahwa anak yang lain sedang sedih atau senang, dan mengapa mereka sedih atau senang. Berkaitan dengan kemampuan ini, Berk (2006) menyebutkan bahwa anak pada masa pertengahan anak-anak semakin mampu “membaca” pesan yang diterima dari orang lain dan menggabungkannya ke dalam definisi diri mereka. Sebagai anak di usia sekolah, anak menginternalisasikan penerimaan dari teman-temannya, mereka menggunakan ideal-self untuk mengevaluasi real-self.

b. Social information-processing skill

  Kenneth Dodge (1993 dalam Santrock, 2007) berpendapat bahwa anak melalui 5 tahapan dalam memproses informasi mengenai dunia sosial mereka, yaitu : menerima isyarat sosial atau decoding sosial cues, melakukan interpretasi, mencari respon, menyeleksi respon yang paling bagus, dan melakukan tindakan.

c. Social Knowledge

  Kemampuan anak untuk dekat dengan teman sebayanya juga dipengaruhi oleh pengetahuan sosialnya. Anak harus tahu apa tujuan mengapa mereka harus bertahan ketika situasi ambigu, bagaimana memulai dan bagaimana supaya mereka mempunyai teman, misalnya dengan mengatakan hal-hal yang baik. Apabila anak tidak tahu mengapa mereka harus menjalin relasi dan apa yang harus mereka lakukan supaya mereka bisa menjalin hubungan, maka mereka akan sulit untuk memperoleh teman.

  Selain itu, masalah emosi juga mempengaruhi hubungan pertemanan pada masa pertengahan anak-anak. Pada umumnya anak yang dianggap populer atau disukai banyak anak yang lain adalah anak yang memiliki kemampuan untuk mengatur dan menguasai emosinya. Anak yang populer memiliki sejumlah keterampilan sosial yang membuat mereka disukai oleh anak yang lain, misalnya memberikan penghargaan pada anak yang lain, mau mendengarkan, membangun komunikasi terbuka, periang, dapat mengontrol emosi negatifnya, bertindak sebagi dirinya sendiri, antusias dan perhatian, percaya diri tapi tidak sombong (Santrock, 2007). Sebaliknya, anak-anak yang tidak memiliki keterampilan sosial seperti di atas akan cenderung diabaikan. Sementara itu anak-anak yang diabaikan akan kesulitan mengembangkan keterampilan sosialnya karena tidak memiliki teman sehingga akan semakin merasa dikucilkan.

  3. Perkembangan Moral dan Pemahaman Sosial Saat memasuki masa sekolah dasar, anak semakin mampu menggambarkan keadaan mental seseorang. Dengan kata lain, mereka semakin bisa mengerti adanya perbedaan walaupun sangat sedikit dari perilaku seseorang, sehingga mereka menyadari bahwa perilaku seseorang tidak selalu menggambarkan pikiran dan perasaannya. Anak juga mulai menyadari bahwa orang menginterpretasikan apa yang mereka lihat dan mereka dengar. Dengan demikian mereka menjadi semakin menginginkan penerimaan dari orang lain. Hal itu membuat anak menjadi subyektif dalam menilai apa yang dikatakan dan dilakukan oleh orang lain. Selain itu, anak juga menyadari bahwa pikiran dan perasaan itu sangat berhubungan. Anak masa pertengahan anak-anak pada umumnya menyadari bahwa interpretasi yang mereka buat mengenai situasi tertentu dapat mempengaruhi perasaan mereka terhadap situasi tersebut (McDevitt & Ormrod, 2004).

  Anak pertengahan masa kanak-kanak juga menunjukkan tanda- tanda perasaan bersalah atau tidak nyaman saat mereka mengetahui bahwa mereka melakukan kesalahan atau membuat orang lain sakit atau tertekan. Pada masa pertengahan sekolah dasar, anak merasa malu dan tertuduh ketika gagal memenuhi standar perilaku sosial yang telah ditetapkan oleh orang tua, guru atau orang dewasa lainnya. Perasaan malu dan tertuduh tersebut ternyata juga dapat menjadi motivasi bagi terbentuknya rasa empati dan prososial apabila tidak ada kesalahan yang dibuat. Anak-anak pada masa ini mengalami peningkatan rasa simpati terhadap orang-orang yang tidak diketahui bahwa mereka menderita dan membutuhkan bantuan.

  Anak juga dapat membedakan mana yang merupakan perilaku yang kejam terhadap hak dan martabat manusia dengan yang mengancam ketentuan sosial. Anak pada masa ini memahamai bahwa harus ada seseorang yang berusaha keras supaya dapat memenuhi kebutuhan orang-orang seperti memperjuangkan haknya. Anak mulai menumbuhkan penghargaan untuk bekerja sama dan berkompromi (McDevitt & Ormrod, 2004).

A. Sikap

  1. Definisi Sikap Sikap merupakan gejala internal yang berdimensi afektif berupa kecenderungan untuk bereaksi atau merespon (response tendency) dengan cara yang relatif tetap terhadap obyek orang, barang, dan sebagainya, baik secara positif maupun negatif (Syah, 1995).

  Henerson, et. al. (1978) menjelaskan sikap sebagai sebuah konstruk yang menunjukkan konsistensi antara apa yang dikatakan seseorang, yang dipikirkan dengan yang dilakukan, sehingga memunculkan perilaku yang sesuai serta dapat memprediksi perilaku yang akan datang. Sikap seseorang ditunjukkan dari apa yang ia katakan dan apa yang ia lakukan.

  Thurston, Likert, & Osgood (dalam Azwar, 1995) menjelaskan sikap sebagai suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan. Seseorang yang menghadapi obyek sikap memberikan penilaian dalam bentuk perasaan memihak atau mendukung maupun perasaan tidak memihak atau tidak mendukung. Kemudian Secord & Backman (1964 dalam Azwar, 1995) mendefinisikan sikap sebagai keteraturan tertentu dalam hal perasaan (afeksi), pemikiran (kognisi), dan predisposisi tindakan (konasi) seseorang terhadap suatu aspek di lingkungan sekitarnya.

  Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa sikap merupakan reaksi evaluatif yang bersifat konsisten terhadap obyek sikap yang dimunculkan dalam pikiran, perasaan, dan tindakan tertentu.

  2. Komponen Sikap Menurut Azwar (1995) menyebutkan bahwa komponen penyusun sikap terdiri dari 3 komponen yang saling menunjang, yaitu diantaranya adalah :

  a. Komponen kognitif (cognitive) Yaitu kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar bagi obyek sikap. Ide mengenai sifat atau karakteristik suatu obyek sikap terbentuk melalui apa yang dilihat atau yang telah diketahui dari obyek tersebut. Kepercayaan tersebut berkembang berdasarkan pengalaman pribadi, kebutuhan emosional dan dari pandangan atau yang diceritakan oleh orang lain. b. Komponen afektif (affective) Merupakan reaksi emosional subyektif atau dapat dikatakan sebagai perasaan seseorang terhadap obyek sikap. Reaksi emosional tersebut banyak dipengaruhi oleh kepercayaan mengenai obyek sikap tersebut.

  c. Komponen konatif (conative) Yaitu bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan obyek sikap yang dihadapi.

  Kecenderungan berperilaku seseorang banyak ditentukan oleh keyakinan dan kepercayaan orang itu terhadap obyek sikap.

  3. Dimensi Sikap Azwar (1995) menguraikan dimensi-dimensi sikap yang terdiri dari :

  a. Arah Sikap terpilah pada dua arah kesetujuan. Orang yang setuju, mendukung atau memihak terhadap obyek sikap berarti memiliki sikap yang positif terhadap obyek sikap tersebut dan begitu juga sebaliknya.

  b. Intensitas Kedalaman atau kekuatan sikap belum tentu sama walaupun memiliki arah yang yang sama. Sikap yang positif memiliki kedalaman yang berbeda bagi setiap orang, mulai dari agak setuju hingga sangat setuju. c. Keluasan Kesetujuan atau ketidaksetujuan terhadap suatu obyek sikap dapat hanya mengenai beberapa aspek dan sangat spesifik dan dapat mencakup banyak sekali aspek dalam obyek sikap.

  d. Konsistensi Konsistensi sikap diperlihatkan oleh kesesuaian antara pernyataan sikap yang dikemukakan dengan respon yang ditunjukkan terhadap obyek sikap dalam waktu yang relatif panjang. Konsistensi juga diperlihatkan oleh tidak adanya kebimbangan dalam bersikap.

  e. Spontanitas Yaitu sejauh mana kesiapan individu untuk menyatakan sikapnya secara spontan. Sikap dikatakan memiliki spontanitas yang tinggi apabila dapat dinyatakan secara terbuka tanpa harus melakukan pengungkapan atau desakan terlebih dahulu agar individu mengemukakannya.

  4. Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan dan Perubahan Sikap Azwar (1995) menyebutkan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pembentukan dan perubahan sikap individu terhadap obyek sikap. Faktor- faktor tersebut diantaranya adalah :

  a. Pengalaman Pribadi Pengalaman pribadi yang meninggalkan kesan yang kuat serta terjadi dalam situasi yang melibatkan emosi akan menjadi dasar pembentukan sikap. Akan tetapi reaksi individu terhadap pengalamannya yang sekarang biasanya tidak terlepas dengan pengalaman-pengalaman yang sebelumnya.

  b. Pengaruh Orang Lain yang Dianggap Penting Seseorang yang dianggap penting, tidak ingin dikecewakan, atau seseorang yang memiliki arti khusus (significan other) banyak berpengaruh dalam pembentukan sikap. Kecenderungan ini diantaranya dipengaruhi oleh keinginan individu untuk berafiliasi dan keinginan untuk menghindari konflik dengan orang yang dianggap penting atau kelompok yang lain. Selain itu dapat juga dikarenakan oleh kharisma atau otoritas dari orang yang dianggap penting tersebut.

  c. Pengaruh Kebudayaan Budaya serta norma-norma yang berlaku di masyarakat sangat berpengaruh dalam pembentukan sikap. Sikap seseorang terbentuk karena adanya penguatan atau ganjaran dari masyarakat terhadap sikap yang dimilikinya tersebut.

  d. Media Massa Media massa seperti televisi, radio, surat kabar, dan majalah selain menyampaikan informasi juga membawa pesan-pesan sugesti yang dapat mengarahkan opini seseorang. Informasi baru mengenai sesuatu hal menjadi landasan kognitif yang baru bagi pembentukan sikap terhadap hal tersebut. Apabila pesan-pesan sugesti yang dibawa oleh informasi tersebut cukup kuat maka dapat menjadi dasar afektif dalam menilai sesuatu sehingga terbentuklah arah sikap tertentu.

  e. Lembaga Pendidikan dan Lembaga Agama Lembaga pendidikan dan lembaga agama mempunyai pengaruh dalam pembantukan sikap karena keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu. Konsep moral dan ajaran agama sangat menentukan sistem kepercayaan individu yang ikut berperan dalam pembenrukan sikap individu terhadap sesuatu hal.

  f. Pengaruh Faktor Emosional Suatu bentuk sikap dapat juga merupakan pernyataan emosi yang berfungsi sebagai penyaluran frustrasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego. Suatu contoh bentuk sikap yang didasari oleh faktor emosional adalah prasangka.

  5. Aspek Diri Anak Berkebutuhan Khusus Sebagai Obyek Sikap Dalam penelitian ini, obyek sikap yang ingin diteliti adalah anak berkebutuhan khusus yang mengikuti proses pembelajaran dalam kelas inklusi. Anak berkebutuhan khusus sebagai obyek sikap memiliki aspek- aspek diri. Aspek-aspek tersebut merupakan aspek-aspek dalam rasa keberhargaan diri anak usia pertengahan kanak-kanak (Berk, 2006). Pada masa pertengahan kanak-kanak, rasa keberhargaaan (self-esteem) berkembang berdasarkan penilaian atau pendapat teman sebayanya terhadap dirinya. Penelitian ini ingin melihat sikap teman sebaya terhadap aspek-aspek diri anak berkebutuhan khusus, yaitu : a. Academic competence atau kemampuan akademik yaitu kemampuan anak dalam bidang mata pelajaran sekolah, seperti bahasa, berhitung dan mata pelajaran yang lain. Kemampuan ini biasanya ditunjukkan melalui nilai hasil belajar di kelas. Selain itu dapat juga diketahui dari perfomansi anak di kelas saat pelajaran berlangsung.

  b. Social competence atau kemampuan sosial yaitu kemampuan anak dalam bergaul dan menjalin relasi dengan orang lain. McDevitt&Ormrod (2004) menyebutkan bahwa anak yang disukai oleh teman-temannya adalah anak yang memiliki keterampilan social, seperti bagaimana memulai percakapan, peka terhadap orang lain, mampu menyesuaikan perilakunya sesuai dengan keadaan, dan menunjukkan prososial, seperti membantu, berbagi, bekerja sama, dan empati.

  c. Physical/athletic competence atau kemampuan fisik/atletik yaitu kemampuan anak dalam melakukan permainan di luar ruangan maupun berbagai macam olah raga. Anak pada masa pertengahan anak-anak, gerakan berlari digunakan untuk mengorganisasi permainan dan olah raga. Mereka memaksimalkan kecepatan dan mengatur gerakan berlari, menendang, menangkap, dan men-dribble. Memiliki kemampuan atletik yang baik merupakan kepuasan bagi anak-anak dalam rentang usia ini. Anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus dengan keterbatasn fisik membutuhkan alat bantu untuk melakukan aktifitas fisik (McDevitt&Ormrod,2004). Selain itu, anak sudah mulai mengembangkan kemampuan motorik halus pada masa pertengahan anak-anak seperti menulis, menggambar, atau membuat suatu kerajinan tangan (Santrock, 2002). Anak berkebutuhan khusus yang memiliki karakteristik perkembangan berbeda dengan anak yang lain dimungkinkan memiliki kemampuan yang berbeda pula dalam mengembangkan kemampuan fisiknya.

  d. Physical appearance atau penampilan fisik yaitu keadaan fisik anak yang terlihat oleh orang lain.

  McDevitt&Ormrod (2004) berpendapat bahwa anak dalam masa pertengahan anak-anak semakin menyadari dan sensitif terhadap penampilan fisik mereka. Penampilan fisik ini meliputi keadaan fisik mereka, seperti bentuk tubuh, rambut, mata, kaki, tangan, dan sebagainya, atau hal-hal yang mereka kenakan seperti baju, sepatu, atau aksesoris lainnya.

  Pada penelitian ini ingin melihat bagaimana respon evaluatif anak yang normal terhadap diri anak berkebutuhan khusus. Respon evaluatif tersebut meliputi bagaimana keyakinan atau pandangan anak normal terhadap kemampuan akademik, kemampuan sosial, kemampuan fisik, serta penampilan fisik anak berkebutuhan khusus. Apabila anak normal menunjukkan pandangan yang positif berarti anak normal tidak berpikiran yang negatif terkait dengan keterbatasan yang ada dalam diri anak berkebutuhan khusus. Selain itu, penelitian ini juga ingin melihat bagaimana perasaan anak normal terhadap kemampuan akademik, kemampuan sosial, kemampuan fisik, serta rupa secara fisik anak berkebutuhan khusus. Apabila anak normal memiliki perasaan yang positif berarti bahwa anak normal menyukai, senang atau dapat menerima secara emosional anak berkebutuhan khusus. Respon evaluatif yang ingin diungkap dalam penelitian ini adalah bagaimana kecenderungan perilaku anak normal terhadap anak berkebutuhan khusus. Apakah anak normal akan cenderung berperilaku positif ataukah negatif. Apabila anak normal berperilaku positif berarti anak normal akan mendukung, membantu dan tidak berperilaku yang dapat menghambat anak berkebutuhan khusus dalam proses pembelajaran di kelas inklusi.

B. Anak Berkebutuhan Khusus

  1. Pengertian Direktorat Pendidikan Luar Biasa (2006) mendefinisikan anak berkebutuhan khusus sebagai anak yang secara signifikan mengalami kelainan/penyimpangan pada fisik, mental-intelektual, sosial, dan emosional dalam proses pertumbuhan/perkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya sehingga mereka memerlukan pelayanan pendidikan. Wolfolk (1995) menyebut anak-anak yang memiliki kemampuan atau permasalahan yang sangat signifikan sehingga membutuhkan pendidikan khusus atau pelayanan yang lain untuk dapat mencapai potensi mereka sebagai anak luar biasa (exceptional children).

  Seseorang atau anak mendapat label sebagai anak luar biasa dilihat dari bagaimana mereka melakukan tugas tertentu. Pemberian label ini pada awalnya ditujukan untuk menentukan syarat-syarat untuk pelayanan khusus di sekolah atau suatu komunitas. Akan tetapi pada kenyataannya pemberian label tersebut membuat baik guru, teman sekelas, orang tua, bahkan anak yang diberi label, sebagai suatu masalah yang permanen, sebuah cacat yang tidak dapat diubah.

  2. Jenis-Jenis dan Karakteristik Anak Berkebutuhan Khusus Anak berkebutuhan khusus terdiri atas berbagai jenis dan karakteristik.

  Dalam penelitian ini, jenis dan karakteristik anak berkebutuhan khusus dibatasi sebagai berikut : a. Retardasi Mental

  Payne, et. al (1983) menyatakan bahwa individu yang mengalami kesulian dalam mengikuti pelajaran di sekolah dan mendapat nilai yang rendah saat ujian, tetapi diluar sekolah dapat melakukan pekerjaannya dengan baik di masyarakat dapat digolongkan sebagai retardasi mental. Sedangkan menurut American Association on

  Mental Deficiency atau AAMD, (1992 dalam Wolfolk, 1995)

  mengklasikasikan retardasi mental sebagai keterbatasan yang substansial dalam menunjukkan fungsi intelektual. Selain itu juga menunjukkan keterbatasan yang terkait pada dua atau tiga area kemampuan adaptif yang mengikutinya : komunikasi, merawat diri sendiri (self-care), aktifitas di rumah (home living), keterampilan sosial, berperan dalam masyarakat, kontrol diri (self direction), kesehatan dan keselamatan, fungsi akademik, menggunakan waktu luang, dan bekerja. Pada sekolah inklusi tempat peneliti melakukan penelitian terdapat anak retardasi mental ringan atau moderat. Apabila anak retardasi mental ringan dan moderat diberikan pelatihan yang tepat dan diberi bantuan secara hati-hati, potensi mereka untuk berprestasi, belajar, dan hidup menjadi meningkat. Oleh karena itu sekolah inklusi masih mampu menerima anak retardasi mental ringan atau moderat untuk bersama-sama bersekolah dengan anak normal lainnya.

  b. Gifted atau Talented Payne, et. al. (1983) menyebutkan bahwa anak gifted secara jelas superior dalam segala hal dibandingkan anak seusianya pada umumunya. Sedangkan Renzulli & Reis, 1991 (dalam Wolfolk, 1995) berpendapat bahwa gifted merupakan kombinasi dari tiga karakteristik, yaitu kemampuan umum yang berada di atas rata-rata, kreatifitas yang tinggi, dan komitmen atau motivasi yang tinggi terhadap tugas atau sesuatu yang tinggi.

  Dalam penelitiannya, Terman menemukan bahwa tidak benar apabila mengatakan anak gifted juga selalu memiliki kemampuan adaptasi dan kesehatan emosional yang superior. Permasalahan yang dihadapi anak gifted diantaranya adalah kebosanan dan frustrasi di sekolah karena dikucilkan oleh teman-teman sebayanya. Teman-teman yang mengucilkannya beranggapan bahwa diantara mereka ada perbedaan minat dan perhatian yang tidak dapat terjembatani. Anak

  gifted juga dapat mengalami kesulitan dalam menerima keadaan emosi

  dirinya ketika pikiran dan emosinya tidak cocok. Mereka dapat merasa tidak sabar dengan teman, orang tua, atau kadang guru yang tidak mau membagikan minat dan kemampuan mereka (Wolfolk, 1995).

  Dalam penelitian ini terdapat anak gifted yang menjadi obyek sikap. Anak gifted pada penelitian ini aktif dan dipandang teman- temannya sebagai anak yang pintar. Anak tersebut suka menunjukkan teknologi di handphone yang dibawanya terhadap teman-temannya yang tidak membawa handphone. Anak gifted yang belajar di sekolah inklusi dalam penelitian ini memiliki penampilan seperti anak pada umumnya dan dapat berinteraksi dengan teman-temannya.

  c. Buta (Blind) dan Low Vision Taylor, 1973 (dalam Payne, 1983) mendefinisikan blind atau buta sebagai salah satu bentuk keterbatasan visual dimana penglihatan atau mata sama sekali tidak dapat digunakan untuk melihat atau membaca, dapat dididik dengan mengguanakan braile, tactile, dan perangkat auditori. Orang yang buta dapat menggunakan pendengarannya, sentuhan dan penciumannya, serta depat menggunakan tongkat untuk dapat berjalan sendirian dengan kakinya. Seringkali yang menghambat orang buta untuk belajar dan hidup secara alami adalah orang yang normal. Mereka seringkali tidak memperhatikan kebutuhan orang buta yang tidak dapat melihat dan menyamakan mereka dengan orang yang dapat melihat lainnya.

  Sedangkan low vision adalah kondisi dimana seseorang memiliki keterbatasan indera penglihatan sehingga memerlukan alat bantu khusus supaya dapat melihat dengan jelas.

  Anak berkebutuhan khusus dalam penelitian saya diantaranya adalah anak yang mengalami low vision. Anak low vision tersebut harus duduk di depan saat pelajaran berlangsung karena mengalami kesulitan apabila melihat dalam jarak yang agak jauh.

  d. Tuli (Deaf) Tuli merupakan keadaan dimana seseorang tidak memiliki kemampuan untuk mendengar sehingga menghalangi keberhasilan pemrosesan informasi bahasa melalui suara, baik itu menggunakan alat bantu pendengaran maupun tidak (Payne, et. al., 1983). Apabila tuli itu sudah dialami sejak lahir maka anak tidak dapat mempelajari bahasa yang biasa dipakai oleh orang normal pada umumnya. Hal ini menyebabkan kemampuan komunikasi anak yang tuli dengan orang lain menjadi terganggu. Anak tuna rungu berkomunikasi dengan caranya sendiri, misalnya dengan bahasa isyarat sedangkan tidak semua orang dapat memahaminya.

  Pada penelitian ini terdapat anak yang menyandang tuna rungu ringan. Anak tersebut mengalami gangguan pada pendengarannya namun tidak secara total. Dengan demikian para pengajar dan orang yang hendak berrinteraksi harus dengan suara yang cukup keras atau dengan gerak bibir yang jelas.

e. Slow Learner

  Beberapa anak yang mengalami masalah dalam belajarnya memiliki kesulitan dalam satu atau lebih area akademik, misalnya penyimpangan dalam berpikir, daya ingat, dan sebagainya (Wolfolk, 1995). Karakteristik anak slow learner dalam penelitian ini mengalami kesulitan belajar mengalami hambatan dalam membaca yaitu sulit dalam mengeja kata. Beberapa anak yang lain sulit mengingat atau sulit dalam pelajaran menghitung. Perkembangan kemampuan akademik anak slow learner berbeda dibandingkan dengan perkembangan anak seusianya. Karena keterbatasannya, anak-anak

  slow learner membutuhkan strategi belajar dan pendampingan belajar yang ekstra dibandingkan dengan anak-anak yang lain.

  f. Gangguan Autis(Autism Spectrum Disorder atau ASD) ASD merupakan sebuah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan sekelompok ketidakmampuan perkembangan neurologis dalam jangka panjang yang dilihat dari penampakannya dalam karakteristik tingkah laku dalam beberapa area fungsi. Dampak ASD beragam dari ringan hingga berat dan mungkin dapat meningkat atau berubah sejalan dengan kehidupan individu. Anak dengan ASD mengalami hambatan dalam komunikasi, interaksi sosial, serta memiliki pola minat dan tingkah laku yang terbatas dan dilakukan berulang-ulang (Goverment of British Columbia, 2007).

  Anak autis dalam penelitian ini mengalami hambatan dalam hal-hal tersebut di atas sehingga terkadang anak tersebut melakukan kegiatan yang menggangu seperti berteriak, menggambar saat dijelaskan oleh guru, dan mengulang perkataan yang dikatakan oleh guru. Anak tersebut juga suka melakukan gerakan-gerakan yang dilakukan berulang-ulag seperti menyalakan dan menghidupkan sakelar listrik.

  g. Gangguan Perhatian dan hiperaktif Anak hiperaktif aktif secara fisik, tidak dapat memusatkan perhatian dalam waktu yang cukup lama, sulit merespon dengan tepat, melalukan sesuatu sesuai dengan keinginannya sendiri, serta perilakunya tidak dapat dikendalikan dengan perintah (Wolfolk, 1995).

  Karakteristik anak yang mengalami gangguan perhatian dan hiperaktif dalam penelitian ini membuat anak tersebut mengalami kesulitan dalam menyerap materi di kelas. Selain itu, sifat yang tidak dapat diatur dapat menyebabkan suasanya menjadi kacau dan tidak terkendalikan. Anak yang seperti di atas memerlukan pendampingan rutin untuk mencapai perkembangan yang baik. h. Cacat tubuh (tuna daksa) Cacat tubuh merupakan kondisi dimana ada bagian tubuh yang tidak lengkap atau keadaannya tidak sempurna, misalnya pada kaki atau tangan. Kecacatan ini dapat dimiliki seseorang sejak lahir atau karena kecelakaan. Ketidaksempurnaan ini dapat menyebabkan seseorang terhambat dalam melakukan aktifitasnya, misalnya seseorang menjadi tidak dapat berjalan dengan kaki apabila tidak menggunakan alat bantu atau tidak dapat memegang pensil atau benda yang lain. Santrock (1995) mengulas beberapa komentar dari anak- anak yang mengalami cacat. Komentar-komentar mereka menunjukkan bahwa usaha penyesuaian diri terhadap dunia teman-teman sebaya dan sekolah seringkali menyakitkan hati dan sulit dilalui karena banyaknya ejekan.

  Pada penelitian ini terdapat satu anak yang mengalami kecacatan pada anggota tubuhnya. Anak tersebut memiliki tangan kiri yang tidak dapat digerakkan secara normal. Hal ini membuat anak harus melakukan semua pekerjaannya dengan menggunakan tangan kiri.

C. Inklusi

  1. Pengertian Inklusi Tomlinson (dalam Reid, 2005) mendefinisikan inklusi sebagai mencocokkan sumber-sumber yang kita miliki untuk model pembelajaran dan kebutuhan pendidikan pada siswa. Sedangkan Papalia, et. al. (2004) berpendapat bahwa tempat dimana anak dengan kebutuhan khusus digabungkan dengan anak normal untuk belajar bersama baik itu secara penuh maupun dalam waktu tertentu saja disebut sebagai program inklusi.

  Inklusi membantu anak berkebutuhan khusus untuk belajar ditengah- tengah komunitas normal dan membantu anak normal untuk mengenal dan memahami orang-orang dengan kekurangannya.

  Staub & Peck (1995, dalam Direktorat PLB, 2004) mengemukakan bahwa pendidikan inklusif adalah penempatan anak berkelainan tingkat ringan, sedang, dan berat secara penuh di kelas reguler. Dengan demikian kelas reguler merupakan tempat yang relevan untuk belajar bagi anak berkelainan, apa pun jenis kelainannya dan bagaimana pun tingkatannya.

  Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa inklusi merupakan proses penggabungan anak berkelainan dengan anak normal untuk belajar bersama dan memperoleh pelayanan pendidikan yang sama secara penuh.

  2. Karakteristik Kelas Inklusi Reid (2005) menyatakan untuk terbentuk menjadi kelas inklusi yang dapat berfungsi dengan baik, kelas tersebut harus memiliki krakteristik sebagai berikut :

  a. Terciptanya kultur inklusi dimana setiap orang merasa diterima, siswa dapat saling membantu, staf pengajar saling bekerja sama, staf pengajar dan siswa saling menghormati, ada kerjasama antara staf pengajar dan orang tua siswa, dan terdapat komunikasi yang baik.

  b. Ada penerimaan terhadap semua perbedaan individu.

  c. Tercipta komunikasi dan kerja sama yang efektif.

  d. Mengenali adanya kebijakan dan pengetahuan-pengetahuan yang berkembang sepanjang waktu yang dapat mempengaruhi bentuk dari kultur inklusi.

  3. Proses Belajar dalam Kelas Inklusi Anak berkebutuhan khusus dan anak normal belajar bersama-sama dalam kelas inklusi serta memperoleh pendidikan yang sama tanpa membeda- bedakan. Melalui program-program yang telah disusun, anak-anak bersama- sama melakukan proses pembelajaran. Program-program yang telah disesuaikan dengan keberagaman karakteristik siswa memungkinkan semua siswa untuk melakukan proses penerimaan informasi, transformasi atau pengubahan, serta evaluasi terhadap materi yang telah disampaikan.

  Dalam pelaksanaannya, terdapat faktor-faktor yang mendukung terwujudnya keberhasilan proses belajar di kelas inklusi. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses belajar dibagi menjadi 3 bagian yaitu faktor internal, eksternal serta faktor pendekatan belajar yang digunakan (Syah, 1995). Aspek internal siswa dalam proses belajar di kelas inklusi diantaranya adalah kondisi umum jasmani para siswa termasuk indera dan ketegangan otot, serta kecerdasan, minat, bakat dan motivasi siswa. Dengan demikian, anak yang indera penglihatannya tidak dapat berfungsi harus belajar menggunakan indera lainnya. Situasi di kelas inklusi juga diprogram supaya lebih menyenangkan untuk belajar bersama sehingga tidak ada yang merasa tertekan dan ada keinginan untuk belajar bersama.

  Selanjutnya aspek eksternal siswa diantaranya adalah lingkungan sosial seperti teman-teman, guru dan orang tua serta keluarga dan masyarakat.

  Lingkungan sosial yang mendukung anak normal dan anak berkebutuan khusus sangat mempengaruhi semangat belajar mereka. Selain itu faktor eksternal juga terdiri dari tempat belajar dan alat-alat yang digunakan dalam proses belajar. Dalam kelas inklusi, anak berkebutuhan khusus memerlukan alat yang tidak dibutuhkan anak normal. Contohnya, anak yang tidak dapat melihat memerlukan huruf braile untuk belajar menulis dan membaca. Selain itu, anak tersebut juga memerlukan tempat yang relatif tenang supaya dapat memaksimalkan indera pendengaran.

  Faktor terakhir yang mempengaruhi belajar dalam kelas inklusi adalah pendekatan yang digunakan siswa dalam belajar. Reid (2005) menjelaskan bahwa guru yang mengajar dalam kelas inklusi perlu beradaptasi dengan kebutuhan-kebutuhan siswa yang beragam. Model yang dapat digunakan untuk membantu siswa berkembang walaupun ada perbedaan karakteristik siswa, yaitu : a. Membuat tugas-tugas yang berbeda untuk siswa yang memiliki perbedaan kemampuan belajar. b. Membuat tugas yang lebih terbuka yang memungkinkan siswa untuk memberikan respon dengan berbagai cara.

  c. Dengan menghadirkan tambahan bantuan, misalnya guru anak luar biasa.

  Disamping model tersebut diatas, Frederickson & Cline (2002) menyebutkan bahwa belajar dengan cara bekerjasama (cooperative learning) merupakan pendekatan terbaik yang mendukung kesuksesan kelas inklusi yang didalamnya terdapat perbedaan karakteristik murid. Salah satu cara yang telah diteliti keefektifannya dalam mendukung berjalannya program inklusi adalah dengan metode peer tutoring and support. Dalam metode ini, siswa diminta untuk berpasang-pasangan saling mendukung, satu siswa menjadi pengajar (tutor) dan siswa yang lain menjadi yang diajari (tutee). Metode ini dapat meningkatkan self-esteem atau rasa keberhargaan diri dan prestasi akademik siswa.

  Bowd (1986) menjelaskan bahwa situasi atau iklim yang kooperatif lebih dapat meningkatkan penerimaan antar siswa dibandingkan ketika mereka harus belajar secara individual. Belajar secara individual lebih berpotensi terciptanya situasi kompetitif atau persaingan dibandingkan penerimaan.

  Karena anggota kelompok secara aktif bersama-sama mencapai tujuan dan saling tergantung satu dengan yang lain untuk memperoleh hasil, maka penerimaan yang positif antar siswa dapat terbentuk.

  

D. Sikap Anak Sekolah Dasar Inklusi Terhadap Teman Sebaya yang

Berkebutuhan Khusus

  Anak yang berada pada masa pertengahan anak-anak memiliki tugas perkembangan yang berfokus pada pencapaian prestasi serta peningkatan kontrol diri. Bahaya yang mungkin muncul dalam pencapaian tugas perkembangan ini adalah munculnya perasaan tidak berkompeten serta tidak produktif (Santrock, 2002).

  Disamping itu, pada masa ini pengaruh teman sebaya sangat besar bahkan lebih besar dibandingkan dengan orang-orang yang lainnya. Kelompok sosial memiliki pengaruh paling besar dalam melakukan identifikasi diri pada masa pertengahan anak-anak dan sebagian pada masa remaja dibandingkan pada masa perkembangan lainnya. Teman sebaya dapat mempengaruhi dalam pembentukan konsep diri anak melalui penerimaan yang mereka rasakan (Hurlock, 1988).

  Saat memasuki masa sekolah dasar, anak semakin mampu menggambarkan keadaan mental seseorang. Anak memahami bahwa perilaku seseorang tidak selalu menggambarkan pikiran dan perasaannya. Anak juga mulai menyadari bahwa orang menginterpretasikan apa yang mereka lihat dan mereka dengar. Dengan demikian mereka menjadi semakin menginginkan penerimaan dari orang lain. Hal itu membuat anak menjadi subyektif dalam menilai apa yang dikatakan dan dilakukan oleh orang lain. Anak masa pertengahan anak-anak pada umumnya menyadari bahwa interpretasi yang mereka buat mengenai situasi tertentu dapat mempengaruhi perasaan mereka terhadap situasi tersebut (McDevitt & Ormrod, 2004).

  Selain itu, pada masa pertengahan sekolah dasar, anak akan merasa malu dan tertuduh ketika gagal memenuhi standar perilaku sosial yang telah ditetapkan oleh orang tua, guru atau orang dewasa lainnya. Perasaan malu dan tertuduh tersebut ternyata juga dapat menjadi motivasi bagi terbentuknya rasa empati dan prososial apabila tidak ada kesalahan yang dibuat Anak-anak pada masa ini mengalami peningkatan rasa simpati terhadap orang-orang yang menderita dan membutuhkan bantuan. Anak juga dapat membedakan mana yang merupakan perilaku yang kejam terhadap hak dan martabat manusia dengan perilaku mana yang mengancam ketentuan sosial. Anak pada masa ini memahamai bahwa harus ada seseorang yang berusaha keras supaya kebutuhan orang-orang dapat terpenuhi, seperti memperjuangkan haknya sendiri. Anak mulai menumbuhkan penghargaan untuk bekerja sama dan berkompromi (McDevitt & Ormrod, 2004).

  Social perspective taking pada masa pertengahan anak-anak juga semakin mulai berkembang. Anak memiliki kemampuan untuk menerima cara pandang orang lain dan memahami pikiran dan perasaannya. Hal ini membuat anak bisa memahami bahwa anak yang lain sedang sedih atau senang, dan mengapa mereka sedih atau senang. Berkaitan dengan kemampuan ini, Berk (2006) menyebutkan bahwa anak pada masa pertengahan anak-anak semakin mampu “membaca” pesan yang diterima dari orang lain dan menggabungkannya ke dalam definisi diri mereka. Sebagai anak di usia sekolah, anak menginternalisasikan penerimaan dari teman-temannya, mereka menggunakan ideal-self untuk mengevaluasi real-self. Disatu sisi, anak pada masa pertengahan anak-anak juga mulai membanding-bandingkan performansi mereka dengan temannya yang lain. Dengan demikian, perbedaan individu dalam performansi akademik menjadi semakin penting dalam melewati tahun-tahun masa ini.

  Dalam perkembangannya, anak berkebutuhan khusus memiliki beberapa karakteristik yang berbeda dengan anak normal yang lain.

  Walaupun demikian mereka tetap memiliki tugas perkembangan dan beberapa karakteristik perkembangan yang sama dengan anak normal lainnya.

  Karakteristik yang berbeda tersebut terkadang mengharuskan mereka menggunakan cara yang berbeda untuk dapat mencapainya. Disamping itu, penerimaan anak-anak yang normal juga sangat mereka perlukan seperti anak normal yang juga mengharapkan penerimaan dari anak yang lainnya.

  Dukungan teman-teman sebaya dianggap sangat penting bagi perkembangan anak berkebutuhan khusus. Dengan adanya teman, anak merasakan kasih sayang selain dari keluarga, merasa nyaman, dapat melakukan aktivitas yang disukai serta dapat membagikan perasaan dan rahasianya. Teman sebaya pada masa anak-anak merupakan salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi keyakinan diri anak terhadap kemampuan dirinya dalam menguasai tugas-tugas sekolah atau self-efficacy anak tersebut. Apabila anak memiliki keyakinan yang besar maka kecenderungannya anak akan memiliki keinginan yang besar untuk mencoba dan lebih berhasil dalam sekolahnya. Penolakan dari teman sebaya dan kurangnya teman di masa anak- anak dapat menimbulkan dampak dalam jangka panjang (Papalia, et. al., 2004).

  Disatu sisi, anak pada masa pertengahan anak-anak memiliki fokus- fokus ketertarikan tersendiri dalam pemilihan teman. Misalnya, anak lebih suka bergaul dengan anak yang memiliki kemampuan untuk mengatur dan menguasai emosinya. Anak yang populer memiliki sejumlah keterampilan sosial yang membuat mereka disukai oleh anak yang lain, misalnya memberikan penghargaan pada anak yang lain, mau mendengarkan, membangun komunikasi terbuka, periang, dapat mengontrol emosi negatifnya, bertindak sebagi dirinya sendiri, antusias dan perhatian, percaya diri tapi tidak sombong (Santrock, 2007). Sebaliknya, anak-anak yang tidak memiliki keterampilan sosial seperti diatas akan cenderung diabaikan. Sementara itu anak-anak yang diabaikan akan kesulitan mengembangkan keterampilan sosialnya karena tidak memiliki teman sehingga akan semakin merasa dikucilkan.

  Pada masa sekolah dasar, anak memiliki kecenderungan untuk saling membanding-bandingkan performansinya dengan performansi teman-teman yang lain, khususnya di bidang akademik. Frederickson & Cline (2002) menyebutkan bahwa anak akan menilai kemampuan akademik teman- temannya. Anak yang memiliki kemampuan akademik yang baik akan mendapat penerimaan yang positif dari teman-temannya. Demikian juga dengan yang sebaliknya, anak yang tidak memiliki kemampuan akademik yang baik akan cenderung dijauhi oleh teman-temannya.

  Hurlock (1989) berpendapat bahwa anak sudah mengembangkan perhatian terhadap penampilan sejak kecil dengan mendapat pengaruh dari orang dewasa. Dengan demikian, anak mengembangkan adanya anggapan atau stereotip mengenai ciri-ciri orang yang disukai dan tidak disukai. Mereka membuat konsep atau kriteria mengenai seperti apa kondisi tubuh yang ideal. Hal ini membuat anak lain yang tidak sesuai dengan kriteria tersebut merasa cemas atau berusaha menutupi kekurangan tersebut.

  Anak pada masa pertengahan kanak-kanak juga menganggap bahwa memiliki kemampuan atletik yang baik dapat menjadi kepuasan tersendiri bagi anak-anak dalam rentang usia ini (McDevitt & Ormrod, 2004). Dengan demikian anak yang mengalami keterbatasan dalam melakukan gerakan- gerakan fisk akan mendapat penilaian yang negatif dari teman-temannya. Selain itu, anak yang sudah mulai mengembangkan kemampuan motorik halus, seperti menulis, menggambar, atau membuat suatu kerajinan (Santrock, 2002). Pujian dan ejekan dari teman sebaya dapat berpengaruh pada perasaan berkompeten atau tidak pada anak untuk mengembangkan keterampilan tersebut.

  Dalam setting pendidikan inklusi, anak yang normal dengan anak yang berkebutuhan khusus dididik dan mengikuti proses pembelajaran bersama- sama. Dalam setting tersebut, perbedaan karakteristik diterima dan anak normal diajak untuk bekerja sama dan berdampingan dengan anak berkebutuhan khusus. Melalui program-program yang telah disiapkan, situasi di kelas inklusi dikondisikan supaya dapat mendukung proses pembelajaran.

  Salah satunya adalah dengan cara menciptakan suasana kooperatif antar siswa dalam belajar. Misalnya dengan meminta para siswa untuk mengerjakan tugas bersama-sama.

  Suasana kooperatif yang berhasil diciptakan akan membantu siswa untuk belajar bersikap yang positif terhadap siswa yang lain (Bowd, 1988).

  Sikap positif yang berupa pandangan, perasaan dan kecenderungan perilaku yang ditunjukkan oleh anak normal dapat mendukung anak berkebutuhan khusus dalam mencapai tugas perkembangannya. Sebaliknya, apabila anak normal tetap menganggap perbedaan sebagai sesuatu yang tidak dapat dipahami secara positif dan menghambat perkembangan anak berkebutuhan khusus dengan perilaku, seperti mengejek, mengasingkan, dan sebagainya.

  Hal ini dapat menghambat perkembangan anak berkebutuhan khusus. kebudayaan faktor emosional SIKAP

  −

  −

  lembaga agama dan pendidikan

  −

  pengaruh orang lain

  −

  media massa

  −

  pengalamanpribadi

  Anak Berkebutuhan Khusus, yang memiliki aspek diri :

  

Skema Sikap Anak Sekolah Dasar Inklusi Terhadap Teman Sebaya yang

Berkebutuhan Khusus

  perkembangan moral dan pemahaman sosial situasi INKLUSI

  −

  sikap sosial (minat terhadap teman sebaya)

  −

  social perspective taking

  −

  Karakteristik Perkembangan :

  Anak Normal (middle childhood)

  • kemampuan akademik
  • kemampuan sosial
  • kemampuan fisik/atletik
  • penampilan fisik faktor sikap :
  • Kognitif - Afektif - Konatif Sikap Positif Sikap Negatif - berpandangan positif - berpandangan negatif

E. Pertanyaan Penelitian

  Penelitian ini ditujukan untuk menjawab pertanyaan penetian yaitu bagaimana sikap anak normal di sekolah dasar inklusi terhadap teman sebayanya yang berkebutuhan khusus.

BAB III MOTODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif. Penelitian

  ini ditujukan untuk membuat deskripsi secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat populasi tertentu. Penelitian ini dilakukan untuk menggambarkan variabel penelitian melalui pengisian skala tanpa mencari tahu hubungannya dengan variabel lain, menguji hipotesis atau mencari informasi lainnya. Hasil penelitian yang diperoleh akan digunakan untuk mendeskripsikan sikap anak normal yang belajar di sekolah dasar inklusi terhadap teman yang berkebutuhan khusus.

  B. Variabel Penelitian

  Variabel penelitian merupakan obyek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian (Arikunto, 2006). Dalam penelitian ini hanya terdapat satu variabel penelitian yaitu sikap anak normal yang belajar di sekolah dasar inklusi terhadap teman yang berkebutuhan khusus.

  C. Definisi Operasional

  Sikap anak normal yang belajar di sekolah dasar inklusi terhadap teman yang berkebutuhan khusus didefinisikan sebagai reaksi kognitif, afektif dan konatif yang terdapat dalam diri siswa sebagai anak normal yang terlibat dalam proses pembelajaran di sekolah dasar inklusi terhadap kehadiran temannya yang berkebutuhan khusus. Berk (2006) menyebutkan aspek diri anak terdiri atas :

  a. Academic competence atau kemampuan akademik Yaitu kemampuan anak dalam bidang mata pelajaran sekolah, seperti bahasa, berhitung dan mata pelajaran yang lain.

  b. Social competence atau kemampuan sosial Yaitu bagaimana kemampuan anak untuk memulai percakapan, peka terhadap orang lain, mampu menyesuaikan perilakunya sesuai dengan keadaan, dan menunjukkan prososial, seperti membantu, berbagi, bekerja sama, dan empati.

  c. Physical/athletic competence atau kemampuan fisik atau atletik Yaitu kemampuan anak dalam melakukan permainan di luar ruangan maupun berbagai macam olah raga.

  d. Physical appearance atau penampilan fisik Yaitu meliputi keadaan fisik, seperti bentuk tubuh, rambut, mata, kaki, tangan, dan sebagainya, atau hal-hal yang mereka kenakan seperti baju, sepatu, atau aksesoris lainnya. Sikap positif berarti bahwa subyek penelitian memiliki pandangan yang baik, mendukung, bersimpati, serta cenderung bertindak hal-hal yang positif terhadap aspek sikap (Azwar, 1995). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa anak normal yang memiliki sikap yang positif berarti anak tersebut berpandangan baik, mendukung, menerima, serta cederung bertindak positif terhadap diri anak berkebutuhan khusus meliputi kelima aspek diatas. Sedangkan anak yang memiliki sikap yang negatif berarti anak tersebut berarti anak tersebut berpandangan buruk, tidak mendukung, tidak menerima, serta cenderung tidak bertindak positif terhadap diri anak berkebutuhan khusus meliputi kelima aspek diatas.

  Variabel tersebut akan diukur menggunakan skala sikap yang berisi peryataan-peryataan yang akan diberikan kepada subyek penelitian dan mereka diminta untuk memberikan jawaban sesuai dengan keadaanya yang sebenarnya. Berdasarkan hasil analisis dari jawaban yang diberikan dapat diketahui bagaimana sikap subyek terhadap obyek sikap yang diteliti. Apabila nilai terhadap skala semakin tinggi maka sikap terhadap anak berkebutuhan khusus yang dimiliki subyek penelitian juga semakin positif.

D. Subyek Penelitian

  Pengambilan subyek harus dilakukan dengan sedemikian rupa sehingga diperoleh subyek yang dapat menggambarkan keadaan populasi yang sebenarnya atau bersifat representatif. Subyek dalam penelitian ini diambil dengan teknik sampling “purposive sampling”, yaitu dengan didasarkan atas adanya tujuan tertentu, dengan syarat memenuhi karakteristik atau ciri-ciri tertentu sehingga hasilnya dapat digeneralisasikan pada populasi dengan karakteristik yang sama (Arikunto, 2006). Subyek yang digunakan dalam penelitian ini memiliki kriteria : a. Anak yang berusia antara 6 hingga 11 tahun atau middle childhood.

  Masa middle childhood merupakan masa dimana relasi dengan teman sebaya menjadi sangat penting yang dapat berpengaruh dalam perkembangan sosioemosi dan moral mereka, yang akan berdampak pada kesuksesan mereka dalam melalui tahap perkembangan berikutnya. Anak

  middle childhood juga mulai memiliki kemampuan pemahaman sosial,

  perkembangan moralnya meningkat serta memiliki social perspective

  taking yang lebih besar dibandingkan dengan anak pada tahap perkembangan yang sebelumnya.

  b. Anak normal Anak normal disini dimaksudkan sebagai anak yang memiliki keadaan sempurna atau normal seperti anak pada umumnya. Anak normal secara sepintas dilihat sebagai anak yang memiliki keadaan lebih baik dibandingkan dengan anak berkebutuhan khusus. Sebagai anak yang mulai memiliki minat terhadap penampilan, pada umunya anak memiliki kecenderungan untuk memilih teman yang memiliki karakteristik yang sama dengan dirinya.

  c. Terlibat dalam proses pembelajaran dalam kelas inklusi.

  Anak normal yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran di kelas inklusi akan banyak berinteraksi dengan anak berkebutuhan khusus.

  Keterlibatan dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan bersama dengan anak berkebutuhan khusus dapat memunculkan kontak emosi dan fisik yang dapat berpengaruh dalam pembentukan sikap.

E. Metode dan Alat Pengumpulan Data

  1. Metode Pengumpulan Data Dalam penelitian ini, alat yang digunakan untuk pengumpulan data adalah mengunakan skala yang memuat kumpulan peryataan mengenai suatu obyek sikap. Skala ini ditulis, disusun, dan dianalisis sedemikian rupa sehingga respon seseorang terhadap peryataan tersebut dapat diberi angka (skor) dan kemudian dapat diinterpretasi (Azwar, 1995). Metode penyusunan skala dilakukan dengan metode summated rating scale atau rating skala yang dijumlahkan atau yang sering disebut dengan model Likert. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa jenis skala yang digunakan adalah skala Likert. Metode penskalaan Likert merupakan metode penskalaan peryataan sikap yang menggunakan distribusi respon sebagai dasar penentuan nilai skala (Azwar, 1998).

  Selain menggunakan skala sikap, peneliti melakukan wawancara dan observasi untuk memperoleh data tambahan yang akan digunakan untuk memperkaya hasil penelitian. Wawancara dilakukan terhadap beberapa subyek yang diambil secara acak. Sedangkan observasi dilakukan dengan metode observasi non partisipan, yaitu pengamat tidak terlibat langsung dalam kegiatan yang dilakukan oleh subyek penelitian atau dengan kata lain peneliti berperan sebagai pihak ketiga.

  2. Isi skala Skala sikap yang digunakan dalam penelitian ini ditujukan untuk mengukur kecenderungan reaksi kognitif, afektif, dan konatif subyek yang belajar di sekolah dasar inklusi terhadap diri temannya sebagai anak berkebutuhan khusus, yang meliputi beberapa aspek yaitu : a. Academic competence atau kemampuan akademik

  b. Social competence atau kemampuan sosial

  c. Physical/athletic competence atau kemampuan fisik atau atletik

  d. Physical appearance atau penampilan fisik Skala sikap yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 72 item yaitu 24 item untuk mengukur aspek kognitif, 24 item untuk mengukur aspek afektif dan 24 item untuk mengukur aspek konatif. Masing-masing item pada aspek-aspek tersebut dibagi lagi menjadi 6 item untuk mengukur aspek Academic competence, 6 item untuk mengukur aspek social competence, 6 item untuk mengukur physical/athletic

  competence , dan 6 item untuk mengukur aspek physical apperance. Dalam

  6 pernyataan pada masing-masing aspek tersebut, 3 pernyataan merupakan pernyataan favorabel atau yang mendukung obyek sikap dan 3 pernyataan yang lain berupa pernyataan unfavorabel atau yang tidak mendukung obyek sikap.

  Masing-masing item pada skala sikap ini disediakan 3 alternatif jawaban yaitu ☺ (ya), R (ragu-ragu), dan (tidak setuju)

  Tabel 1

  Blueprint Skala Sikap Uji Coba

  Komponen obyek Komponen sikap

  Total

  Sikap kognitif afektif konatif Fav Unfav Fav Unfav Fav Unfav

  Academic competence

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  18 Social competence

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  18 Physical/athletic competence

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  18 Physical appearance

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  18

  12

  12

  12

  12

  12

  12 Total

  24

  24

  24

  72 Tabel 2

  Distribusi Nomor Item Dalam Skala Sikap Uji Coba Komponen obyek Komponen sikap

  Total

  Sikap kognitif afektif konatif Fav Unfav Fav Unfav Fav Unfav

  Academic competence 1,25, 5,29, 9,33, 13,49, 17,37, 21,57,

  18

  45

  41

  53

  65

  61

  69 Social competence 2,26, 6,30, 10,34, 14,50, 18,38, 22,58,

  18

  46

  42

  54

  66

  62

  70 Physical/athletic competence 3,27, 7,31, 11,35, 15,51, 19,39, 23,59,

  18

  47

  43

  55

  67

  63

  71 Physical appearance 4,28, 8,32, 12,36, 16,52, 20,40, 24,60,

  18

  48

  44

  56

  68

  64

  72

  12

  12

  12

  12

  12

  12 Total

  72

  24

  24

  24 Dengan mempertimbangkan karakteristik subyek yaitu anak pada masa konsentrasinya dalam jangka waktu yang cukup lama, peneliti membagi try out ke dalam dua sesi. Sesi pelaksanaan try out tersebut dalam selisih waktu yang relatif tidak lama. Adapun blue print skala penelitian tiap-tiap sesi adalah sebagai berikut.

  Tabel 3 Distribusi nomor item dalam Skala Sikap sesi 1

  16

  8

  12

  16

  4 Total

  4

  4

  8

  8

  8

  9

  24

  20

  9 Physical appearance 4,28 8,32 12,36

  Komponen sikap kognitif afektif konatif Komponen obyek

  23

  19

  15

  9 Physical/athletic competence 3,27 7,31 11,35

  22

  18

  14

  9 Social competence 2,26 6,30 10,34

  21

  17

  13

  Total Academic competence 1,25 5,29 9,33

  Sikap Fav Unfav Fav Unfav Fav Unfav

  36 Tabel 4 Distribusi nomor item dalam Skala Sikap sesi 2

  Komponen obyek Komponen sikap Total Sikap kognitif afektif konatif

  Fav Unfav Fav Unfav Fav Unfav

  Academic competence

  45

  41 53 49,65 37,61 57,69

  9

  46

  42 54 50,66 38,62 58,70

  Social competence

  9 Physical/athletic competence

  47

  43 55 51,67 39,63 59,71

  9 Physical appearance

  48

  44 56 52,68 40,64 60,72

  9

  4

  4

  4

  8

  8

  8 Total

  36

  8

  12

  16

  3. Pemberian Nilai atau Scoring Untuk dapat diinterpretasikan, hasil respon atau jawaban yang telah diberikan subyek terhadap pernyataan-peryataan dalam skala sikap harus diberi nilai. Pemberian nilai untuk pernyataan yang bersifat favorabel dilakukan dengan cara : untuk jawaban ☺ diberi nilai 3, R diberi nilai 2, diberi nilai 1. Sedangkan pada pernyataan yang bersifat unfavorabel, untuk jawaban ☺ diberi nilai 1, R diberi nilai 2, diberi nilai 3.

  4. Pertanggungjawaban Alat Ukur

  a. Validitas Validitas merupakan suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Sebuah instrumen atau alat atau dapat mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat (Arikunto, 2006). Untuk melihat kevalidan alat ukur, peneliti menggunakan metode validitas isi. Validitas isi merupakan validitas estimasi melalui pengujian terhadap isi tes dengan analisis rasional atau lewat profesional judgement. Validitas isi menunjukkan sejauhmana item-item dalam tes mencakup keseluruhan kawasan isi obyek yang hendak diukur atau sejauhmana isi tes mencerminkan ciri atribut yang hendak diukur (Azwar, 1997).

  Validitas isi dilihat dari kesesuaian item-item dengan domain yang diukur, relevan serta tidak keluar dari tujuan penelitian. Hal ini dapat dilihat melalui apakah item-item yang telah dibuat sesuai dengan

  blue print yang telah ditentukan. Validitas alat pengambilan data juga

  diteguhkan dengan penilaian dari orang yang profesional (profesional judgement) , dalam penelitian ini adalah dosen pembimbing.

  b. Seleksi Item Untuk memperoleh alat pengambilan data yang sesuai tujuan penelitian, perlu juga mengetahui item-item mana saja yang mempunyai daya diskriminasi item yang tinggi. Daya diskriminasi item adalah sejauh mana item mampu membedakan antara individu atau kelompok individu yang memiliki dan tidak memiliki atribut yang diukur. Dalam skala sikap ini, item yang memiliki daya diskriminasi tinggi adalah item yang mampu membedakan mana subyek yang bersikap positif dan mana yang besikap negatif. Dengan kata lain, indeks daya diskriminasi juga merupakan indikator konsistensi antara fungsi item dengan fungsi skala secara keseluruhan yang dikenal dengan istilah konsistensi item-total (Azwar, 1999).

  Untuk mengetahui konsistensi total-item digunakan program SPSS versi 16.0. Semakin tinggi konsistensi antara skor item dengan skor skala berarti semakin tinggi konsistensi antara item tersebut dengan skala secara keseluruhan dan juga berarti semakin tinggi daya diskriminasinya. Sebagai batasan pemilihan item berdasarkan korelasi total-item, digunakan batasan r ix 0,30. Item yang mempunyai

  ≥

  koefisien r ix dibawah 0,30 dianggap memiliki daya diskriminasi yang rendah. Namun apabila jumlah item yang lolos tidak memenuhi jumlah item yang ditentukan, maka dapat dipertimbangkan untuk menurunkan sedikit batas kriteria dari 0,30 menjadi 0,25 (Azwar, 1999). Setelah diperoleh item-item yang memenuhi kriteria, peneliti meninjau kembali apakah distribusi item yang tersisa sudah dapat mewakili semua domain yang diukur.

  Peneliti melakukan uji coba alat ukur pada 47 subyek yang berada di kelas IV dan V SDN Gejayan yang berusia 8-11 tahun. Hasil yang telah diperoleh diberi nilai kemudian peneliti melakukan penyeleksian item yang layak. Peneliti menggunakan kriteria batasan rix≥0,25 untuk menentukan item yang lolos. Hal ini dilakukan karena ketika memakai batasan kriteria rix≥0,25, item yang lolos kurang memenuhi jumlah yang ditentukan.

  Tabel 5 Hasil Uji Coba Alat Ukur

  44 36 - 40, 64

  Gugur 3, 27 31, 43 55 51, 67 39, 63

  59

  10

  18 Sahih

  48 8, 32 12, 56 16, 68,

  52 20 60, 72

  

11 Physical

appearance

  Gugur 4, 28

  24

  15 19 23, 71

  7

  18 Total

  18

  18

  18

  18

  18

  18

  8 Physical/athletic competence

  47 7 11, 35

  Komponen sikap Kognitif afektif konatif

  57

  Komponen obyek Sikap

  Fav Unfav Fav Unfav Fav Unfav

  Total

  Sahih 45 29, 41 53 49, 65 37, 61 21, 69

  

10 Academic

competence

  Gugur 1, 25 5 9, 33

  13

  17

  8

  18 Sahih

  18 Sahih 2, 26,

  46 6, 30,

  42 10, 34,

  54 50, 66 38, 62

  70

  13 Social competence

  Gugur - - -

  14 18 22, 58

  4

  72 Berdasarkan kriteria tersebut, item yang pada awalnya berjumlah 72 gugur 30 sehingga tersisa 42 item dengan sebaran sebagai berikut : Tabel 6 Sebaran item yang sahih

  Komponen obyek Komponen sikap

  Total

  Sikap kognitif afektif konatif Fav Unfav Fav Unfav Fav Unfav

  Academic competence

  45 29, 41 53 49, 65 37, 61 21, 69

  10

  2, 26, 6, 30, 10, 34, 50, 66

  38

  70 Social competence

  13

  46

  42

  54 Physical/athletic competence

  47 7 11, 35

  15 19 23, 71

  8 Physical appearance

  48 8, 32 12, 56 16, 68, 20 60, 72

  11

  52 Total

  6

  8

  8

  8

  5

  7

  42 Berdasarkan tabel item yang sahih di atas dapat dilihat bahwa

  jumlah sebaran item antara aspek yang satu dengan yang lain memiliki perbedaan yang cukup besar. Aspek academic competence terdapat 10 item yang sahih, aspek social competence terdapat 13 item yang sahih, pada aspek physical/athletic competence 8 item dan yang terakhir aspek

  physical appearance terdapat 11 item. Peneliti melakukan pengurangan

  serta penambahan item supaya dapat menyeimbangkan jumlah sebaran item.

  Berikut ini adalah tabel penyusunan skala sikap berdasarkan item- item yang lolos uji coba serta dengan adanya penambahan dan pengurangan item pada tiap-tiap aspek supaya penyebaran item menjadi seimbang.

  Tabel 7 Skala penelitian setelah uji coba

  Komponen obyek Komponen sikap Total Sikap Kognitif afektif konatif

  Fav Unfav Fav Unfav Fav Unfav

  Academic competence 45(21) 29(12), 53(27) 49(25), 37(17), 21 (8),

  10

  41(19) 65(32) 61(30) 69(35)

  Social competence 26(10), 30(13), 34(15) 50(26), 38(18), 70(36)

  10

  46(22) 42(20) 66(33) 62(31)

  Physical/athletic 27(11), 7 (1) 11 (2), 15 (4) 19 (6) 23 (9),

  9 competence 47(23) 35(16) 71(37) Physical appearance 48(24) 32(14) 12 (3), 16 (5), 20 (7) 60(29),

  9

  56(28) 68(34) 72(38)

  Total

  12

  13

  13

  38 Keterangan : ( ) : nomor dalam skala penelitian.

  Item yang dihilangkan adalah item nomor 2, 6, 52 dan 54. Item- item tersebut terpilih untuk dihilangkan karena item tersebut memiliki rix terendah diantara item yang lain dalam satu aspek. Item nomor 8, dan 10 juga dihilangkan setelah dilihat bahwa item tersebut memiliki rix≤0,25 dalam analisis data penelitian. Selain itu item yang lain memiliki konten yang dapat mewakili item-item yang dihilangkan. Kemudian item yang ditambahkan adalah item nomor 27 (11) dan 62 (31). Item tersebut c. Reliabilitas Alat ukur yang memiliki reliabilitas yang tinggi adalah alat yang hasilnya dapat dipercaya dan dapat digunakan dengan hasil yang konsisten pada waktu yang berbeda dengan tujuan penelitian yang sama. Reliabilitas ini ditunjukkan dengan koefisien reliabilitas yang dikatakan tinggi jika angka tersebut mendekati satu. Penelitian ini menggunakan perhitungan reliabilitas koefisien alpha dari Cronbach yang diperoleh melalui penyajian satu bentuk skala yang dikenakan hanya sekali saja pada sekelompok responden (single-trial

  administration ). Perhitungan koefisien alpha Cronbach dilakukan

  dengan membelah tes menjadi sebanyak item yang ada. Setelah itu varians dari komponen-komponen ini dan varians dari skor total tes dipakai sebagai estimasi reliabilitas tes (Supratiknya, 1998). Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan program SPSS versi 16 untuk memudahkan penghitungan dalam mengestimasi reliabilitas tes. Alat ukur pada penelitian ini adalah 0.906.

F. Prosedur Penelitian

  Prosedur penelitian dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :

  1. Uji coba a. Menentukan jumlah dan kriteria item.

  b. Menentukan skala dengan summated rating scale. c. Menentukan kelompok subyek yang sesuai dengan karakteristik subyek penelitian yang sesungguhnya.

  d. Melaksanakan try out atau uji coba.

  e. Menganalisa data hasil try out dan menentukan item yang gugur dan yang sahih untuk digunakan dalam penelitian yang sesungguhnya.

  2. Penelitian

  a. Menyusun skala dengan data yang memenuhi kriteria kesahihan yang telah diperoleh dari hasil try out.

  b. Penyebaran skala pada subyek penelitian yang sesuai dengan tujuan penelitian.

  c. Menganalisis data dengan analisis deskriptif untuk menggambarkan subyek penelitian.

  d. Membuat kesimpulan dari analisis.

  e. Menyajikan kesimpulan dan seluruh hasil penelitian dalam bentuk kajian deskriptif.

G. Metode Analisis Data

  Analisis deskriptif bertujuan untuk memberikan deskripsi mengenai subyek penelitian berdasarkan data dari variabel yang diperolah dari kelompok subyek yang diteliti dan tidak dimaksudkan untuk pengujian hipotesis (Azwar, 2007). Dalam pengolahan atau analisis data penelitian deskriptif, data yang telah diperoleh terlebih dahulu diklasifikasikan menjadi dua kelompok data, yaitu data kuantitatif yang berupa angka-angka dan data kualitatif yang dinyatakan dalam kata-kata atau simbol. Data kualitatif yang berbentuk kata- kata tersebut disisihkan untuk sementara, karena akan sangat berguna untuk melengkapi gambaran yang diperoleh dari analisis data kuantitatif (Arikunto, 2006). Pada penelitian ini, data kuantitatif diperoleh dari skala sikap yang diberikan kepada subyek, sedangkan data kualitatif diperoleh melalui wawancara dan observasi yang dilakukan untuk memperoleh data tambahan untuk melengkapi hasil yang diperoleh dari analisis data kuantitatif.

  Data kuantitatif yang berupa skor skala dianalisis menggunakan statistik deskriptif dari distribusi data skor kelompok yang mencakup banyaknya subyek (n) dalam kelompok, mean skor skala (M), deviasi standar skor skala

  min maks (s), dan varians (s²), skor minimum (X ) dan skor maksimum (X ).

  Deskripsi data yang diperoleh memberikan gambaran penting mengenai keadaan subyek yang dikenai pengukuran dan bagaimana keadaan subyek pada aspek atau variabel yang diteliti. Selanjutnya, skor mentah yang telah diperoleh melalui skala dan yang telah dijumlahkan diacukan pada norma kategori supaya dapat menghasilkan makna yang memiliki nilai diagnostik. Pengkategorian dilakukan berdasarkan model distribusi normal sehingga diperoleh kategorisasi jenjang (Azwar, 1999). Norma kelompok yang diperoleh akan menggolongkan subyek ke dalam 3 golongan, yaitu subyek yang memiliki sikap positif tinggi, sedang atau rata-rata, dan rendah. Kategori normatif skor subyek dibuat menggunakan estimasi besarnya satuan deviasi x < – 1,0 σ : rendah

  • – 1,0 σ < x ≤ + 1,0 σ : sedang
    • 1,0 σ ≤ x : tinggi Keterangan :

  (mean) : rata-rata teoritis, yaitu rata-rata dari skor minimum dan skor maksimum.

  σ (standar deviasi) : luas jarak sebaran (range atau luas jarak skor minimum dan maksimum) yang dibagi dalam 6 satuan deviasi standar. Xminimum teoritik : nilai terendah yang mungkin diperoleh subyek dalam merespon skala Xmaksimum teoritik : nilai tertinggi yang mungkin diperoleh subyek dalam merespon skala.

BAB IV LAPORAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. PELAKSANAAN PENELITIAN

  1. Pengumpulan Data Penelitian dilakukan pada tanggal 19-23 Desember 2008 di SD

  Negeri Giwangan. Subyek penelitian yang diambil adalah murid yang tidak termasuk dalam anak berkebutuhan khusus, berusia antara 6 hingga 11 tahun, serta terlibat langsung dalam proses pembelajaran di kelas inklusi bersama dengan anak berkebutuhan khusus.

  SD Negeri Giwangan yang terletak di Jalan Tegalturi No. 45, Yogyakarta mengampu 245 siswa yang di dalamnya terdapat 16 anak berkebutuhan khusus. Di sekolah ini kelas dibagi secara paralel, yaitu kelas I A (satu A) hingga kelas VI A (enam A), dan kelas I B (satu B) hingga kelas VI B (enam B). Hampir di seluruh kelas terdapat anak berkebutuhan khusus dengan ragam yang berbeda-beda. Di kelas I A terdapat 1 anak slow learner, sedangkan di kelas I B terdapat 1 anak low

  vision , 1 anak slow learner dan 1 anak yang mengalami gangguan

  perhatian/hiperaktif. Di kelas II A terdapat 1 anak tuna daksa, dan di kelas II B terdapat 1 anak yang mengalami gangguan perhatian/hiperaktif.

  Kemudian di kelas III B terdapat 1 anak low vision, 1 anak tuna rungu di kelas V A terdapat 1 anak low vision, dan di kelas V B terdapat 1 anak autis dan 1 anak gifted. Yang terakhir di kelas VI A terdapat 1 anak tuna rungu ringan. Di SD Negeri Giwangan terdapat 4 orang guru pembimbing khusus untuk membantu perkembangan anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah.

  Tidak semua anak berkebutuhan khusus dapat bersekolah di SD Negeri Giwangan. Kepala sekolah melakukan penyaringan terhadap anak berkebutuhan khusus yang akan diterima untuk belajar bersama dengan siswa normal di SD Negeri Giwangan. Kepala sekolah menerima anak berkebutuhan khusus dengan tingkat keparahan yang relatif masih mampu ditangani oleh guru-guru pengampu. Hal ini diputuskan karena kepala sekolah berpandangan bahwa kemampuan tenaga pengajar terbatas sehingga tidak dapat membimbing anak yang mengalami penyimpangan dengan tingkatan yang berat.

  Peneliti mengambil subyek anak normal yang berada di kelas IV B dan V B sesuai dengan ijin yang diberikan oleh kepala sekolah. Peneliti memberikan skala penelitian kepada guru kelas IV dan V yang diteruskan kepada murid-murid. Hal ini dilakukan sesuai dengan kesepakatan kepala sekolah supaya tidak mengganggu aktifitas para murid dan skala dapat diisi oleh para murid di sekolah saat tidak melakukan remidi. Oleh karena itu peneliti tidak dapat mengawasi proses pengisian skala penelitian oleh subyek. Skala diberikan tanggal 19 Desember 2008 dan baru dapat dikumpulkan kembali pada tanggal 23 Desember 2008.

  Untuk memperlengkapi data penelitian yang diperoleh melalui skala, peneliti melakukan wawancara dan observasi tambahan pada saat jam istirahat murid. Wawancara dan observasi tersebut dilakukan pada tanggal 19-23 Desember 2008. Subyek wawancara adalah murid-murid yang menjadi subyek pengisian skala yang diambil secara acak. Selain itu, peneliti juga melakukan wawancara terhadap guru pendidikan anak luar biasa yang membantu di kelas inklusi SD negeri Giwangan.

  2. Deskripsi Subyek Karakteristik subyek penelitian dapat digambarkan melalui tabel dibawah ini.

  a. Berdasarkan jenis kelamin Jenis kelamin jumlah prosentase laki-laki

  35 53,8% perempuan 30 46,2%

  Total 65 100%

  2. Berdasarkan usia usia jumlah prosentase 8 2 3,1%

  9 19 39,2%

  10 26 40,0%

  11 18 27,7% total 65 100%

  c. Berdasarkan kelas kelas jumlah prosentase

  IV 32 49,2%

  V 33 50,8% total 65 100%

  Subyek penelitian yang berjumlah 65 orang terdiri dari 35 orang laki-laki dan 30 orang perempuan. Apabila dilihat dari usianya terdapat 2 orang yang berusia 8 tahun, 19 orang berusia 9 tahun, 26 orang yang berumur 10 tahun dan 18 orang yang berusia 11 tahun. Apabila dilihat dari kelasnya, terdapat 32 orang yang berada di kelas IV dan 33 orang yang berada di kelas V.

B. HASIL PENELITIAN

  1. Uji normalitas

  Sebelum mengolah data lebih lanjut, peneliti terlebih dahulu melakukan uji normalitas untuk mengetahui apakah sampel yang diambil berasal dari sebuah distribusi normal. Peneliti menggunakan teknik Kolmogorov-Smirnov dalam melakukan uji normalitas. Apabila diperoleh p>0,05 maka berarti sebarannya normal, namun apabila p<0,05 maka berarti sebarannya tidak normal. Berdasarkan uji normalitas yang dilakukan dengan teknik Kolmogorov-Smirnov SPSS versi 16.00 diperoleh nilai p sebesar 1,006. Hal ini berarti bahwa sebaran skornya normal.

  2. Hasil analisis deskriptif

a. Deskripsi data penelitian secara umum

  Perolehan data yang telah diolah menggunakan SPSS versi 16.00 adalah sebagai berikut :

  Tabel 8 Deskripsi data penelitian secara umum

  Teoritik Empirik N

  65

  65 Skor minimum

  38

  75 Skor maksimum 114 113 Mean

  76

  98 Standar deviasi 12,67 9,935 Dari data dalam tabel di atas dapat dilihat bahwa nilai mean empirik (98) lebih besar dibandingkan dengan nilai mean teoritik (76).

  Dari hasil analisis menggunakan One Sample T-Test diperoleh t = 17,927 dengan propabilitas 0,000. Dengan demikian 0,00<0,05 sehingga dapat dikatakan perbedaan mean teoritik dan mean empirik adalah signifikan. Hal ini berarti bahwa nilai rata-rata dalam penelitian lebih besar dibandingkan dengan nilai rata-rata hipotesis secara signifikan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa subyek penelitian secara umum tergolong bersikap positif yang signifikan terhadap teman sebaya yang berkebutuhan khusus.

  Peneliti juga melakukan pengkategorian sikap dengan cara memasukkan skor total subyek ke dalam kategori skala sikap berdasarkan mean teoritik. Berikut ini adalah tabel kategori beserta dengan jumlah subyek yang berada dalam masing-masing kategori.

  Tabel 9 Kategori Skor Sikap Siswa Terhadap Teman Sebaya yang

  Berkebutuhan Khusus Normatif Rentang nilai Kategori Frekuensi (orang) Presentase

  (%)

  • 1,0 σ ≤ x 114 ≤ x Tinggi 62 95,4%

  Μ

  • – 1,0 σ < x ≤ + 1,0 σ 63 < x ≤ 79 Sedang 3 4,6% x < – 1,0 σ X < 63 Rendah 0%

  Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa dari 65 subyek penelitian, 95,4% yaitu 62 orang memiliki sikap yang positif, 4,6% yaitu 3 orang memiliki sikap yang cukup positif atau rata-rata.

b. Deskripsi data masing-masing aspek sikap

  Tabel 10 Deskripsi frekuensi dan perbandingan mean empirik tiap aspek sikap

  Aspek sikap Kategori frekuensi prosentase mean Mean/jumlah empirik item Kognitif Rendah 1 1,5% 31 2,583

  Sedang 15 23,1% Tinggi 49 75,4%

  Afektif Rendah 0% 33 2,538 Sedang 15 31%

  Tinggi 50 76,9% Rendah 0% Sedang 13 20%

  Konatif Tinggi 52 80% 34 2,615

  Dari deskripsi tabel di atas dapat diketahui bahwa subyek penelitian memiliki sikap yang positif baik dalam aspek kognitif, afektif, maupun konatif. Hal ini ditunjukkan dari mean empirik dari masing-masing aspek semuanya lebih besar dari mean teoritiknya.

  Peneliti juga membandingkan mean antar aspek sikap dengan terlebih dahulu membagi mean masing-masing aspek dengan jumlah item pada aspek tersebut untuk menyeimbangkan. Hasil perbandingan tersebut menunjukkan bahwa aspek konatif adalah aspek yang paling dominan, disusul dengan aspek kognitif dan yang terakhir adalah aspek afektif.

  Peneliti juga melakukan analisis terhadap aspek sikap terhadap teman sebaya yang berkebutuhan khusus. Hal ini dilakukan untuk menggambarkan bagaimana sikap siswa pada usia pertengahan kanak- kanak terhadap teman sebaya yang berkebutuhan khusus terkait dengan aspek-aspek tersebut. Analisis dilakukan dengan membandingkan antara mean empirik dengan mean teoritik dari masing-masing aspek sikap terhadap teman sebaya yang berkebutuhan khusus. hasil analisis dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

  Tabel 11 Deskripsi perbandingan mean empirik tiap aspek diri

  Aspek sikap Mean empirik/jumlah item

  Academic competence 2,5692 Social competence 2,6123 Physical/athletic 2,5794 competence

  Physical appearance 2,5623

  Dari tabel perbandingan mean tersebut dapat diperoleh keterangan bahwa subyek penelitian mempunyai sikap yang positif pada keseluruhan aspek academic competence, social competence,

  

physical/athletic competence, dan physical appearance. Akan tetapi

  setelah dilakukan perbandingan antara mean empirik yang dibagi dengan jumlah item dari masing-masing aspek sikap terhadap teman sebaya yang berkebutuhan khusus dapat dilihat bahwa aspek social competence memiliki mean empirik paling besar (2,6123) kemudian aspek

  

physical/athletic competence (2,5794), aspek academic competence

(2,5692), dan yang terakhir adalah aspek physical appearance (2,5623).

  Dengan demikian, subyek penelitian memiliki sikap yang positif paling tinggi pada aspek social competence kemudian aspek academic

  

competence , aspek physical/athletic competence, dan yang terakhir

adalah aspek physical appearance.

c. Hasil Tambahan

1. Analisis Perbedaan Sikap (Uji-t)

  Untuk memperlengkapi data yang telah diperoleh, peneliti melakukan analisis tambahan. Uji-t yang dilakukan untuk mengetahui apakah ada perbedeaan sikap antara anak laki-laki dan perempuan serta antara anak kelas IV (empat sekolah dasar) dengan anak kelas V (lima sekolah dasar). Dalam penelitiannya, McGregor & Forlin (2005) menyebutkan bahwa sikap anak perempuan lebih positif dibandingkan dengan laki-laki terhadap anak berkebutuhan khusus yang mengalami keterbatasan fisik dan intelektual. Sedangkan anak laki-laki memiliki sikap yang lebih positif dibandingkan anak perempuan terhadap anak yang mengalami penyimpangan perilaku. Oleh sebab itu peneliti ingin melihat bagaimana sikap anak perempuan dan laki-laki terhadap anak berkebutuhan khusus secara keseluruhan.

  Selanjutnya, McGregor & Forlin (2005) menyebutkan hasil penelitiannya bahwa anak yang telah berada dalam kelas inklusi memiliki sikap yang positif terhadap anak berkebutuhan khusus dibandingkan sebelumnya. Dengan demikian peneliti menduga bahwa semakin lama anak berada dalam kelas inklusi maka sikap yang positif semakin terbentuk. Seiring dengan semakin lama waktu anak berada dalam kelas inklusi, maka semakin bertambah tindakan anak terhadap anak berkebutuhan khusus. Oleh sebab itu, peneliti juga hendak membandingkan sikap antara anak kelas IV dengan kelas V.

  1. Berdasarkan jenis kelamin Jenis kelamin Kategori Frekuensi Presentase Mean

  Tinggi 32 91,4% Sedang 3 8,6%

  Rendah 0% Laki-laki

  Total 35 100% 95,37

  Tinggi 30 100% Sedang 0%

  Rendah 0% Perempuan

  Total 30 100% 101,17

  2. Berdasarkan usia Usia Kategori Frekuensi Presentase Mean

  Tinggi 2 100% Sedang 0%

  Rendah 0%

  8 Total 2 100% 103,00

  Tinggi 17 89,5% Sedang 2 10,5%

  Rendah 0%

  9 98,11

  10 Tinggi 25 96,2% Sedang 1 3,8% 99,50

  Rendah 0% Total 26 100%

  11 Tinggi 18 100% 95,50

  Sedang 0% Rendah 0%

  Total 18 100%

  3. Berdasarkan kelas Kelas Kategori Frekuensi Presentase Mean

  IV Tinggi 29 90,6% Sedang 3 9,4% 95,41

  Rendah 0% Total 32 100%

  V Tinggi 33 100% 100,70

  Sedang 0% Rendah 0%

  Total 33 100% Uji-t dilakukan dengan independent sample t-test SPSS versi

  16.00 diperoleh nilai probabilitas sebesar 0,012 dengan taraf

  signifikansi 0,05. Dengan demikian 0,012<0,05 yang berarti ada perbedaan antara sikap laki-laki dan perempuan. Hasil analisis juga positif dibandingkan dengan siswa laki-laki (101,27>95,37). Selain itu pada pengkategorian dapat dilihat bahwa pada anak perempuan semua memiliki sikap positif yang tinggi (100% yaitu 30 anak). Sedangkan pada anak laki-laki masih terdapat anak yang bersikap positif rata-rata (8,6% yaitu 3 orang). Anak yang bersikap positif tinggi terdapat 91,4% yaitu 32 orang.

  Uji-t untuk melihat apakah terdapat perbedaan sikap antara siswa kelas IV dan V diperoleh nilai probabilitas sebesar 0,031 dengan taraf signifikansi 0,05. Dengan demikian 0,031<0,05 yang berarti terdapat perbedaan sikap antara siswa kelas IV dengan siswa kelas V.

  Siswa kelas V memiliki sikap yang lebih positif dibandingkan dengan siswa kelas IV (100,70>95,41). Selain itu, pada pengkategorian diperoleh hasil bahwa anak yang berada di kelas IV terdapat anak yang bersikap positif rata-rata 9,4% atau 3 orang. Sedangkan yang memiliki sikap positif yang tinggi terdapat 90,6% atau 29 orang. Pada kelas V semua anak memiliki sikap positif yang tinggi (100% atau 33 orang).

  Peneliti juga membandingkan mean pada subyek yang memiliki perbedaan karakteristik berdasarkan usia. Subyek penelitian yang memiliki sikap paling positif terhadap teman sebaya yang berkebutuhan khusus adalah subyek yang berusia 8 tahun (103,00), kemudian subyek yang berusia 10 tahun (99,50), subyek yang berusia 9 tahun (98,11) dan yang terakhir adalah subyek yang berusia 11 tahun (95,50). Pada anak yang berusia 8 tahun, 2 orang anak seluruhnya memiliki sikap positif yang tinggi (100%). Sedangkan anak yang berusia 9 tahun, terdapat 2 orang (10,5%) bersikap positif rata-rata, dan 17 orang (89,5%) memiliki sikap positif yang tinggi. Anak yang berusia 10 tahun, hanya terdapat 1 orang (3,8%) yang bersikap positif rata-rata, dan 25 orang (96,2%) yang memiliki sikap positif yang tinggi. Yang terakhir adalah pada anak yang berusia 11 tahun, semua anak yang berjumlah 18 orang memiliki sikap positif yang tinggi.

2. Hasil Wawancara dan Observasi

  Dari hasil wawancara dan observasi yang telah dilakukan, diperoleh informasi bahwa anak berkebutuhan khusus di SD Negeri Giwangan rata-rata dapat belajar bersama dengan anak-anak normal dan dapat berinteraksi dengan anak normal lainnya. Pada jam istirahat, anak-anak berkebutuhan khusus terlihat bermain bersama dengan anak normal lainnya. Dari hasil observasi dapat diketahui bahwa tidak ada masalah dalam hubungan antara anak berkebutuhan khusus dan anak normal. Mereka mau untuk saling menolong, seperti menggandeng anak low vision dan mau bercakap-cakap satu sama lain. Namun terdapat satu anak autis yang sangat jarang bermain bersama dengan anak normal. Anak autis tersebut lebih suka untuk bermain dengan dunianya sendiri. Anak tersebut sering kali terlihat berbicara sendiri dan terkadang memainkan benda yang ditemuinya secara berulang- autis itu seringkali terlihat menyendiri dan tidak mau diajak berbicara oleh orang lain. Anak-anak normal sebenarnya mau bermain dengan anak tersebut tetapi pada kenyataannya anak tersebut tidak mau menanggapi anak-anak yang mengajaknya berbicara.

  Saat berada di dalam kelas, anak tersebut terkadang berteriak dan menangis apabila teman-temannya sedang gaduh karena merasa terganggu. Teman-temannya berpendapat bahwa sebenarnya anak autis tersebut pintar dan pandai menggambar tetapi sifat seperti di atas membuat mereka enggan untuk belajar dalam satu kelompok dengannya. Namun anak normal mau belajar dan mengerjakan tugas bersama dengan anak-anak berkebutuhan khusus yang lain.

  Guru pendamping khusus dan kepala sekolah menyatakan bahwa anak-anak normal pada umumnya menunjukkan perilaku yang tidak menghambat anak berkebutuhan khusus, misalnya mengganggu atau mengejek mereka. Pada kesehariannya, anak normal dapat berdampingan dengan anak berkebutuhan khusus dalam melakukan aktifitasnya di sekolah. Pihak sekolah seringkali memberikan penekanan kepada siswa-siswanya mengenai bagaimana mereka harus bersikap terhadap adanya perbedaan yang ada. Pembinaan tersebut dilakukan melalui pembinaan agama saat upacara maupun saat pelajaran agama. Guru-guru kelas juga seringkali mengingatkan siswa apabila ada tindakan yang kurang baik terhadap temannya yang

C. PEMBAHASAN

  Berdasarkan hasil analisis deskriptif yang telah dilakukan diperoleh hasil yang menyatakan bahwa mean empirik (98) lebih besar dibandingkan dengan mean teoritik (76). Pada hasil analisis One Sample T-Test diperoleh probabilitas 0,000<0,05. Dengan demikian hasil tersebut menunjukkan bahwa subyek penelitian memiliki sikap positif yang signifikan terhadap teman sebaya yang berkebutuhan khusus di kelasnya.

  Berdasarkan pengkategorian subyek ke dalam tiga kategori diketahui bahwa dari 65 orang subyek penelitian terdapat 3 orang bersikap positif rata- rata (4,6%), 62 orang bersikap positif tinggi (95,4%). Dengan demikian subyek penelitian paling banyak memiliki sikap positif yang tinggi terhadap teman sebaya yang berkebutuhan khusus yang belajar di kelas inklusi.

  Pada saat penelitian, peneliti menemukan bahwa anak-anak normal bermain dan mau berinteraksi dengan anak berkebutuhan khusus. Pada saat jam istirahat anak-anak juga bermain dan bercakap-cakap dengan anak berkebutuhan khusus. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi, hanya terdapat anak autis yang sering bermain sendiri, terkadang berbicara sendiri dan kadang-kadang berteriak marah apabila situasi dianggapnya terlalu ramai dan mengganggu. Anak-anak sebenarnya mau bermain bersama dengan dia tetapi anak autis tersebut menunjukkan sikap tidak tertarik dengan teman- temannya yang lain. Anak-anak normal juga tidak keberatan apabila berada

  Anak-anak dalam usia pertengahan kanak-kanak menganggap teman sebagai orang yang penting dalam kehidupannya. Azwar (1995) menyebutkan beberapa faktor yang mempengaruhi terbentuknya sikap diantaranya adalah pengalaman pribadi, pengaruh orang lain yang dianggap penting, serta lembaga pendidikan. Pengalaman-pengalaman pribadi yang dialami subyek penelitian pada saat belajar bersama dengan anak berkebutuhan khusus di kelas inklusi sangat berpengaruh dalam terbentuknya sikap yang positif terhadap anak berkebutuhan khusus tersebut. Pengalaman-pengalaman pribadi tersebut sebagian besar merupakan hasil dari program-program di lembaga pendidikan tempat subyek penelitian belajar. Reid (2005) menyatakan bahwa iklim yang ingin diciptakan dalam kelas inklusi adalah tempat dimana semua orang di dalamnya saling menerima, dapat saling membantu, serta saling menghormati. Dengan kebijakan-kebijakan serta program yang sudah ada, baik siswa maupun guru diarahkan untuk memiliki pandangan, perasaan, serta tindakan yang positif terhadap warga sekolah yang berkebutuhan khusus maupun tidak. Situasi tersebut yang dialami subyek penelitian setiap harinya memproses subyek penelitian untuk memiliki sikap yang positif terhadap anak berkebutuhan khusus.

  Faktor lain yang mempengaruhi terbentuknya sikap positif adalah pengaruh orang yang dianggap penting oleh subyek penelitian. Dalam hal ini orang yang dianggap penting adalah orang tua, guru, maupun teman sebayanya yang lain. Santrock (1995) menyebutkan bahwa perkembangan sehingga memungkinkan orang tua untuk bermusyawarah dengan mereka tentang penyimpangan dan pengendalian perilaku mereka. Disamping itu, orang tua anak-anak sekolah dasar lebih cenderung menggunakan tindakan- tindakan yang diarahkan pada harga diri anak dan komentar-komentar yang dirancang untuk menggugah rasa bersalah. Hal tersebut membuat anak berpikir untuk lebih mengikuti perkataan dan pendapat orang tua. Orang tua yang memiliki sikap yang positif terhadap anak berkebutuhan khusus sangat besar kemungkinannya akan mengajarkan supaya anaknya juga memiliki sikap yang positif terhadap teman-temannya yang berkebutuhan khusus.

  Santrock (1995) berpendapat bahwa guru merupakan simbol otoritas dan figur yang sangat berpengaruh dalam menciptakan iklim kelas, kondisi- kondisi interaksi di antara murid-murid, dan hakekat keberfungsian kelompok. Pembawaan guru yang mengajar di kelas inklusi sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak-anak di kelas tersebut. Guru yang memberikan contoh dalam tindakan dan perkataan serta selalu mengarahkan murid-muridnya untuk bersikap positif terhadap murid yang berkebutuhan khusus dapat menjadi salah satu faktor penting bagi terbentuknya sikap positif murid- muridnya.

  Dalam hal pengaruh dari teman sebaya, Vasta, Haith, & Miller (1995) mengungkapkan bahwa pada masa sekolah, teman sebaya menjadi sumber dari perilaku dan nilai-nilai selain dari orang tua. Salah satu hal yang dipengaruhi oleh teman sebaya adalah bagaimana mereka memilih teman. Anak yang memiliki sikap yang positif terhadap anak berkebutuhan khusus akan mempengaruhi teman-temannya untuk bersikap positif juga terhadap anak berkebutuhan khusus. Demikian juga sebaliknya apabila terdapat anak yang bersikap negatif maka mereka akan mempengaruhi teman-temannya untuk bersikap negatif.

  Peneliti menemukan bahwa subyek penelitian memiliki aspek kognitif, afektif, dan konatif yang positif sebagai pembentuk sikap positif terhadap teman sebaya yang berkebutuhan khusus. Aspek kognitif yang berupa ide, keyakinan dan pikiran yang positif terhadap anak berkebutuhan khusus tersebut terbentuk melalui berbagai pengalaman pribadi, kebutuhan emosional, dan dari pandangan atau cerita orang lain (Azwar, 1995).

  Pada dasarnya perkembangan kognitif anak di masa pertengahan kanak- kanak berada pada tahap operasional konkret. Pada tahap ini, anak memiliki penalaran logis dengan batasan bahwa pemikiran tersebut dapat diterapkan ke dalam contoh-contoh yang spesifik atau konkret (Santrock, 1995). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pemikiran anak pada masa pertegahan kanak-kanak teman-temannya terbentuk berdasarkan hal-hal yang nyata yang mereka lihat dan mereka alami dalam kesehariannya. Berk (2006) menyebutkan bahwa anak pada masa pertengahan kanak-kanak hanya berpikir secara terorganisir dan dengan logika ketika dihadapkan dengan informasi nyata yang mereka terima secara langsung. Berdasarkan teori Piaget, tahap pemikiran operasional konkret anak berkembang berdasarkan kombinasi dari berbagai pengalaman dan lingkungan eksternal dimana anak berada.

  Dari uraian di atas peneliti menyimpulkan bahwa subyek penelitian mengalami pengalaman dan menerima informasi secara langsung mengenai anak berkebutuhan khusus. Pengalaman dan informasi tersebut membentuk pandangan, ide, dan keyakinan yang positif mengenai anak berkebutuhan khusus. Dalam aktifitas keseharian di sekolah, anak-anak melihat hal-hal yang dilakukan oleh guru-guru pendamping yang ditempatkan untuk membantu anak berkebutuhan khusus. Hal-hal positif yang dilakukan oleh guru-guru tersebut serta informasi positif mengenai anak berkebutuhan khusus mempengaruhi subyek penelitian untuk memiliki pandangan atau ide yang positif terhadap temannya yang berkebutuhan khusus. Selain itu, subyek penelitian juga melakukan aktifitas bersama dengan anak berkebutuhan khusus secara langsung. Dari aktifitas tersebut subyek penelitian melihat dan menangkap informasi yang baik mengenai anak-anak berkebutuhan khusus.

  Subyek penelitian juga memiliki aspek afektif atau perasaan yang positif karena dipengaruhi oleh keyakinannya terhadap teman sebaya yang berkebutuhan khusus tersebut. Anak pada masa pertengahan kanak-kanak mengalami peningkatan rasa simpati terhadap orang-orang yang membutuhkan bantuan. Anak pada masa ini memahami bahwa harus ada seseorang yang berusaha keras supaya dapat memenuhi kebutuhan orang- orang untuk memperjuangkan hak mereka (Mcdevitt & Ormrod, 2004). Pandangan bahwa anak berkebutuhan khusus adalah orang-orang yang harus dibantu dan tidak dijauhi memunculkan reaksi emosional yang positif dari subyek penelitian. Selain itu, anak masa pertengahan kanak-kanak juga semakin peka terhadap perasaan orang lain sehingga dapat mengatur emosi mereka dan merespon perasaan tertekan yang dirasakan oleh orang lain (Papalia, et. al., 2004). Kemampuan anak untuk mengatur emosinya diindikasikan sebagai penyebab subyek penelitian memiliki perasaan yang positif terhadap teman sebaya yang berkebutuhan khusus. Mereka memahami bahwa teman-temannya tersebut akan merasa sedih, kecewa, atau marah apabila mendapat penolakan dari teman yang lain.

  Aspek konatif atau kecenderungan subyek penelitian untuk berperilaku baik terhadap anak berkebutuhan khusus juga banyak ditentukan oleh keyakinannya terhadap anak berkebutuhan khusus. Subyek penelitian yang memiliki keyakinan bahwa anak berkebutuhan khusus itu bukanlah teman yang buruk bagi mereka membuat mereka cenderung melakukan hal-hal yang baik terhadap anak berkebutuhan khusus terrsebut. Anak di masa pertengahan kanak-kanak juga menyadari bahwa budaya di sekitarnya memiliki peran yang mengatur bagaimana mereka harus mengekspresikan emosi melalui perilaku mereka. Anak-anak belajar mengenai apa yang membuat orang lain marah, ketakutan, sedih dan bagaimana orang berperilaku untuk mengekspresikan perasaannya tersebut (Papalia, et. al., 2004).

  Berk (2006) juga menyebutkan bahwa anak pada masa pertengahan kanak-kanak lebih peduli terhadap penerimaan dari teman-temannya dibandingkan pada masa sebelumnya. Mereka belajar untuk mengendalikan emosi negatifnya yang dapat mengancam rasa keberhargaan dirinya. Anak- anak mulai belajar mengenai perilaku apa yang dapat diterima dan perilaku apa yang tidak disukai oleh orang lain. Berdasarkan karakteristik anak pertengahan kanak-kanak tersebut, peneliti menduga kemungkinan lain yang menyebabkan subyek penelitian berperilaku positif adalah karena subyek penelitian ingin memenuhi harapan sosial. Subyek penelitian ingin dipandang sebagai anak yang baik sehingga mendapat penerimaan yang positif dari lingkungan.

  Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa anak normal memiliki sikap yang positif terhadap keseluruhan aspek diri, yaitu aspek social competence (kemampuan sosial), physical/athletic competence (kemampuan fisik/atletik),

  

academic competence (kemampuan akademik), dan yang terakhir physical

appearance (penampilan fisik). Akan tetapi aspek yang paling disikap secara

  positif adalah aspek social competence. Subyek penelitian memiliki pandang dan perasaan yang positif, serta menunjukkan perilaku yang baik terkait dengan kemampuan anak berkebutuhan khusus dalam bergaul dan menjalin relasi dengan orang lain. Mc.Devitt&Omrod (2004) menyatakan bahwa anak- anak cenderung suka berteman dengan anak yang memiliki keterampilan sosial. Anak-anak lebih memilih anak yang menyenangkan untuk diajak lain. Frederickson&Cline (2002) berpendapat bahwa keterampilan sosial merupakan perilaku yang dapat diterima secara sosial yang memampukan seseorang untuk berinteraksi secara efektif dengan orang lain dan mencegah respon tidak diterima dari orang lain.

  Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang telah dilakukan, peneliti mengetahui bahwa anak berkebutuhan khusus di kelas IV adalah 2 anak slow learner, dan anak berkebutuhan khusus di kelas V adalah 1 anak

  

low vision , 1 anak gifted, dan 1 anak autis. Sedangkan di luar kelas mereka

  terdapat 2 anak slow learner, 2 anak low vision, 2 anak gangguan perhatian, 1 anak tuna daksa, 1 anak gifted, serta 2 anak tuna rungu ringan. Anak berkebutuhan khusus di sekolah tersebut cukup mampu berinteraksi dengan anak-anak normal lainnya. Hanya saja satu anak yang didiagnosa sebagai anak autis tersebut cenderung lebih suka bermain sendiri. Anak autis tersebut terkadang juga suka berteriak-teriak dan marah-marah apabila mendengar suara yang terlalu ribut dari anak-anak yang lain. Akan tetapi anak-anak berkebutuhan khusus lainnya cukup mampu berinteraksi dengan baik dengan anak-anak yang lain. Dengan demikian kemungkinan subyek penelitian lebih banyak terfokus dengan anak berkebutuhan khusus selain anak autis sehingga mereka memiliki pandangan, perasaan serta perilaku yang positif terhadap kemampuan sosial anak berkebutuhan khusus. Walaupun demikian sebenarnya subyek penelitian memiliki keinginan untuk berinteraksi dengan anak autis. Hanya saja anak autis tersebut tidak menanggapi subyek penelitian

  Pada analisis tambahan ditunjukkan bahwa terdapat perbedaan sikap yang signifikan antara siswa laki-laki dan perempuan. Siswa perempuan memiliki sikap yang lebih positif terhadap teman sebaya yang berkebutuhan khusus dibandingkan dengan siswa laki-laki. Dalam penelitiannya, McGregor&Forlin (2005) menyebutkan bahwa sikap anak perempuan lebih positif dibandingkan dengan laki-laki terhadap anak berkebutuhan khusus yang mengalami keterbatasan fisik dan intelektual. Sedangkan anak laki-laki memiliki sikap yang lebih positif dibandingkan anak perempuan terhadap anak yang mengalami penyimpangan perilaku.

  Anak laki-laki pada umumnya lebih aktif dalam melakukan gerakan- gerakan motorik kasar dibandingkan dengan anak perempuan yang lebih maju dalam keterampilan motorik halus. Anak yang mengalami penyimpangan perilaku pada umunya adalah anak yang sulit dikendalikan dalam bertindak.

  Karakteristik seperti ini kebanyakan lebih disukai oleh anak laki-laki dibandingkan anak perempuan. Pada dasarnya anak lebih menyukai teman yang memiliki karakteristik mirip dengannya (Rossvasta, Haitt, &Miller, 1995). Anak berkebutuhan khusus yang mengalami penyimpangan perilaku cenderung tidak akan dianggap berbeda dari teman-teman yang lain bagi anak laki-laki. Anak laki-laki pada masa akhir sekolah dasar lebih agresif secara fisik dibandingkan dengan anak perempuan (Berk, 2006). Hampir keseluruhan anak berkebutuhan khusus di SD Negeri Giwangan tidak mengalami penyimpangan dalam perilakunya. Berdasarkan data di atas peneliti kelamin perempuan tersebut dikarenakan karakteristik anak berkebutuhan khusus yang tidak mengalami penyimpangan dalam perilakunya. Selain itu, Berk (2006) juga berpendapat bahwa pada umumnya anak perempuan memiliki perasaan yang lebih sensitif dibandingkan dengan laki-laki. Dengan demikian, anak perempuan lebih dapat memahami perasaan anak berkebutuhan khusus apabila mereka mendapatkan perlakuan yang kurang baik dari teman yang lain.

  Selain itu juga diperoleh hasil bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara siswa kelas V dengan siswa kelas IV. siswa kelas V memiliki sikap yang lebih positif terhadap teman sebaya yang berkebutuhan khusus dibandingkan dengan sikap siswa kelas IV. McGregor&Forlin (2005) menyebutkan hasil penelitiannya bahwa anak yang telah berada dalam kelas inklusi memiliki sikap yang positif terhadap anak berkebutuhan khusus dibandingkan sebelumnya. Dengan demikian peneliti menduga bahwa subyek penelitian yang berada di kelas V memiliki sikap yang lebih positif dibandingkan dengan siswa kelas IV yang dikarenakan oleh siswa kelas V berada di kelas inklusi lebih lama dibandingkan dengan siswa kelas IV.

  Semakin lama subyek penelitian terlibat dalam keseharian dengan teman sebaya yang berkebutuhan khusus maka semakin positif juga sikap mereka terhadap teman sebayanya tersebut.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan analisis terhadap data yang telah diperoleh dari penelitian,

  dapat diketahui bahwa siswa kelas IV dan V Sekolah Dasar Negeri Giwangan memiliki sikap positif yang tinggi terhadap teman sebaya yang berkebutuhan khusus di kelasnya. Hal ini ditunjukkan dari perolehan mean empirik (mean = 98) yang lebih besar dibandingkan mean teroritik (mean = 76). Sikap positif tersebut meliputi keseluruhan aspek, yaitu aspek kognitif, afektif maupun konatif. Subyek penelitian menyikapi secara positif keseluruhan aspek dalam diri anak berkebutuhan khusus, yaitu aspek yaitu aspek social competence (kemampuan sosial), physical/athletic competence (kemampuan fisik/atletik),

  academic competence (kemampuan akademik), dan yang terakhir physical appearance (penampilan fisik).

B. Saran

  1. Bagi Anak Berkebutuhan Khusus Hasil penelitian dapat memberikan informasi yang dapat dijadikan sebagai dukungan sosial bagi anak berkebutuhan khusus. Adanya sikap positif dari anak-anak normal dapat menjadi pendukung anak berkebutuhan khusus dalam mengembangkan diri di tengah-tengah anak normal.

  2. Bagi sekolah dan pelaksana pendidikan Bagi pelaksana pendidikan disarankan untuk lebih mendukung dan mengembangkan kegiatan-kegiatan dalam program inklusi. Pelaksana pendidikan dapat menambah kegiatan-kegiatan yang melibatkan anak normal dan anak berkebutuhan khusus. Hasil penelitian yang dapat menjadi masukan bagi sekolah yang sudah melaksanakan program inklusi dan sekolah-sekolah lain yang hendak memasukkan program inklusi.

  Pihak sekolah hendaknya tidak perlu khawatir bahwa dengan adanya anak berkebutuhan khusus di sekolah tersebut tidak menjadi kendala bagi anak normal yang hendak mendaftar di sekolah tersebut. Anak berkebutuhan khusus memiliki keterampilan sosial yang mendapat sikap positif yang tinggi dari anak-anak normal.

  3. Bagi orang tua Hasil penelitian juga memberikan informasi bahwa anak normal memiliki sikap yang positif terhadap teman sebayanya yang berkebutuhan khusus. Oleh karena itu orang tua anak berkebutuhan khusus tidak perlu khawatir terhadap bagaimana penerimaan teman sebaya terhadap anak- anaknya. Selain itu, informasi mengenai adanya sikap yang positf dapat menjadi bahan bagi para orang tua untuk memupuk konsep diri dan rasa percaya diri anak.

  4. Bagi penelitian selanjutnya Untuk menyempurnakan penelitian yang telah dilakukan, peneliti menyarankan pada penelitian selanjutnya lebih memperhatikan jenis anak berkebutuhan khusus. Dengan demikian dapat dilihat bagaimana sikap anak normal terhadap anak berkebutuhan khusus jenis tertentu atau apakah ada perbedaan sikap terhadap anak berkebutuhan khusus dengan jenis yang berbeda.

DAFTAR PUSTAKA

  Arikunto, Suharsimi, Prof, Dr. 2006. Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : PT. Asdi Mahasatya. Astuti, Agustin P. 2004. Perbedaan Kompetisi Sosial pada siswa Sekolah Inklusi dan Sekolah Segregasi. Skripsi. Universitas Gajah Mada. Azwar, Saifuddin, Drs, MA. 1995. Sikap Manusia : Teori dan Pengukurannya.

  Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Azwar, Saifuddin, Drs. MA. 1999. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

  Azwar, Saifuddin, Drs. MA. 2007. Metode Penelitian. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Berk, Laura E. 2006. Child Development. United States of America : Pearson Education. Bowd, Alan. 1986. Exceptional Children in Class. Australia : Hargreen Publishing Company. Government of British Columbia. 2007. population Helath and Wellness.

  http://www.health.gov.bc.ca/prevent/autism.html (dipindai pada tanggal 18 Juli 2008).

  Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa. 2004. Mengenal Pendidikan Inklusif.

  http://www.ditplb.or.id/2006/index.php?menu=profile&pro=42 (dipindai pada tanggal 23 Mei 2008).

  Frederickson, Norah & Cline Tony. 2002. Special Educational Need, Inclusion and Diversity. United Stated of America : Open University Pres. Hurlock, Elizabeth B. 1988. Perkembangan Anak. Jilid 1, edisi ke enam. Jakarta : Erlangga. Hurlock, Elizabeth B. 1989. Perkembangan Anak. Jilid 2, edisi ke enam. Jakarta : Erlangga. Henerson, Marlene E., Moris, Lynn Lycons, & Gibbon, Carol Taylor Fitz. 1978.

  How to Measure Attitude. Los Angeles : The Regent of University of California McDevitt, Teresa M. & Ormrod, Jeanne Ellis. 2004. Child Development : Educating and Working with Children and Adolescents. Second edition.

  United Stated of America : Pearson Prentice Hall. McGregor, Steven J. R & Forlin, Chris. 2005. Attitude of Students Toward Peers

  With Disabilities : Relocating Students From An Educational Support Centre To An Inclusive Middle School Setting. Journal of American Psychological Association.

  Payne, James S., Patton, James R., Kauffman, James M., Brown, Gweneth B., & Payne, Ruth A. 1983. Exceptional Children in Focus. Ohio : A Bell & Howell Company.

  Papalia, D. E., Olds, S. W., & Feldman, R. D. 2004. A Child ‘s World : Infancy Through Adolessence . New York : McGraw-Hill Companies. Reid, Gavin. 2005. Learning Style and Inclusion. London : Paul Champman Publishing. Sa’adah, Umu, S. Pd. 2006. Proses Belajar Mengajar Siswa Tuna Netra. Program Inklusi : Studi Kasus di SMA Muhammadiah 4 Yogyakarta. Tesis.

  Universitas Gajah Mada. Santrock, Jhon. W. 2007. Child Development. Eleventh edition. New York : McGraw-Hill Companies.

  Santrock, Jhon. W. 1995. Life-Span Development : Perkembangan Masa Hidup.

  Edisi ke lima, jilid 1 . Jakarta : Erlangga.

  Subkhan, Imam. 2007. Pendidikan yang Humanis.

  http://www.suaramerdeka.com/harian/0710/22/opi05.htm (dipindai pada tanggal 23 Mei 2008).

  Supratiknya, A, Dr. 1998. Statistik Psikologi. Yogyakarta : Universitas Sanata Dharma. Sutriyono, R. 2006. Pendidikan Inklusi Bagi Penyandang Cacat. Majalah Educare, Nomor 02/III/Mei 2006. Syah, Muhibbin, M. Ed. 1995. Psikologi Pendidikan : dengan pendekatan baru.

  Bandung : PT Remaja Rosdakarya. Tarsidi, Didi. 2008. Counseling and Blindness : Pertimbangan-pertimbangan

  dalam Intervensi Konseling Rehabilitasi . http://d- tarsidi.blogspot.com/2008/05/pertimbangan-pertimbangan- Tyas. 2006. Pendidikan Bagi yang Punya Keterbatasan.

  http://optimis.multiply.com/journal/item/21/Pendidikan_Alternatif_bagi_y ang_Punya_Keterbatasan (dipindai pada tanggal 23 Mei 2008).

  Vasta, Ross., Haith, Marshall M., Miller, Scott. A. 1995. Child Development.

  New York : Jhon Wiley & Sons. Inc. Wahyono, Teguh. 2008. Belajar Sendiri SPSS 16 : Menjadi MAhir Tanpa Guru.

  Jakarta : PT. Elex Media Komputindo. Wittenbrink, B., Judd, C. M., & Park, B. 2001. Spontaneous Prejudice in Context

  : Variability in Automatically Activated Attitude. Journal of American Psychological Association. Woolfolk, Anita E. 1995. Educational Psychology. Sixth edition. USA : A Simon & Schuster Company.

  ! !

" # $ % & ' (

  !

  " " " # $ % &$ % % !

!! ' $ # $ ( $ # & % ! '"

#" # $ % ! ' ' ' ' # % ! ! "

  " )$ %" $ ! * +" " ( &" (

" ( # " #"' #" ! # ! & "

" # ,-. #" ' ! $ % &

$ % " " # ! $ # $ " " !& " !

  ☺ / % / ! & !

  / "# "# # 0 ' % ! " % $

0 ' " # ! # #" " " "

0 ' # "# # % ! 0 "

  

" " $ " "$ " # ! No.

  %

  %

  18. % ' " ' %

  ' ' $ '" #" ! " 0 ' # " % ! #"' " !

  17. % ' % $ # %

  ' ' #" " & ! !! $ % "# * " ) $ ) ' $ $" )* *

  16. % ! $ '" %

  ' # ! ' '

  15. % ) ! " # " ' "

  % ' '

  14. % ' $ '" ' * $&* $ # !

  % ! !! # ! # % % ' ' % ! !" " $ #" %

  ' ' 13.

  % #" $ '" # ! % % ! ' ' % ! ! ! ! ! 12. % $ '" # % ! ! $ $" )0 ) ' % % !

  ☺ 11.

  % ! ' # ! % % ! ' ' No.

  ☺ 1.

  10.

  " " " $ $" % ! 9. % ! ! ! ' # ! % % ! ' '

  8. % ' ' "

  "# # $ !" " !" ! ' & # ! % ! "

  7. % ' $" " ' ' '

  % ' $" " ' ' ' ' ' ! " ! ! & ! 6. % ' $" " ' ' ' "# '" # $ &

  5.

  % ' $" " ' 0 $ $" ' ' ' " $

  4.

  # $ " ! ' ' " !

  3. % ' $" " ' ' '

  #" % ! % !

  2. % ( ' ' # $

  % ' $ # $ ' ' ' '" 0 ' % ! #"' " ! #"

  ' ' " " " #"

  ' ' #" " & ! !! $ % "#

  $" !! ' ' ' ' % " ' ' # # ! " 29.

  36. % #" $ '" %

  % ! ' " ' # ! % ' '

  35.

  % ' * $&* $ # ! % ' '

  34.

  ' ' % ! !" " $ #" %

  33. % "# ! !! # ! %

  ' ' " "

  32. % ' $" " ' 0 ' )$ $"

  "# # $ " ! ' ' " !

  31. % ' $" " ' ' '

  % ( ' ' " #" % ! % !

  % ' $ # $ ' ' ' " " # $ " " % ! ' " # $ 30.

  ☺ 28.

  No.

  %

  # $ !" " !" ! ' # ! & % ! " No.

  27. % ' $" " ' ' '

  % ' $" " ' ' ' '" ! ! & ! $ #"' ! " 26. % ' $" " ' ' ' '" # $ &

  ' ' 25.

  % ' ' 24. % '" % ! $ $ $" ) !! ' %

  23. % $ " " ! ) "

  ' '

  22. % "# ' ' " # ! %

  % ! " # " $ % "# ' # # $ ! # ! % ' '

  ) " " " !! ' * * 21.

  % ' " ! $ # % ' ' % ! ' ! &! ! 20. % "# ! % ' ' % ! ' $ $"

  ☺ 19.

  %

  • " ) $ )' $ $" )* *

  !

  " " " # $ % &$ % % !

!! ' $ # $ ( $ # & % ! '"

#" # $ % ! ' '

' ' # % ! ! "

  " )$ %" $ ! * +" " ( &" ( " ( # " #"' #" ! # ! & " " # ,-. #" ' ! $ % & $ % " " # ! $ # $ " " !& " !

  ☺ / % / ! & !

  / "# "# # 0 ' % ! " % $ 0 ' " # ! # #" " " " 0 ' # "# # % ! 0 "

  

" " $ " "$ " # ! No.

  %

  ☺ 1 % " " ' # # $ ! # ! %

  ' ' 2 % ' ' " # ! % ' ' 3 % " " " ! ) "

  % ' ' 4 % $ " ! % ! $ $ $" ) !! ' % ' '

  5 % ! ! ' # ! % ' ' 6 % ) "# ' # ! % ' ' 7 % ! $ '" # ! % ' ' % ! ! !

  ! ! 8 % $ '" # % ! ! $ $" )0 ) ' % ' '

  9 % ( ' ' '" !" " $ ' #" # ! ' " 1: % ' $ # $ ' ' ' % ! #" ' * "

  No.

  %

  ☺ 11 ' ' '" ! &! "& " 12 % ' $ # $ ' 0 ' ' " " " $ $" % !

  ' " )* " ) $ # ! $ $" " 13 % ' % $ # % ' ' $ '" #" ! " 0 ' # " % ! #"' "

  ! 14 % " " ' " ' % ! " #"' #" ! ' % ' ' " " " #"

  15 % ! % ' ' % ! ' ! &! ! 16 % ! % ' ' % ! ' $ $" ) " " " !! ' % ! ' ' # # ! % ! " 17 % ! ' ' # ! %

  ' ' # 18 % ! " " " # $ " % ' ' No.

  %

  ☺ 19 % " " % ' ' "# '" !" "

  $ ! ' & # ! "#& "# " % 2: % '" % ") " $ $" % ' ' 21 % ( ' ' ' % ! " " # !" "

  $ ' #" 22 % ' $ # $ ' ' ' ' #" ' * " 23 ' ' ! " "

  # ! &! "& " 24 % ' $ # $ ' ' ' "# * " ) $ # !

  $ $" " 25 % %" # ! ' " " % ' ' ' $ # $ #" 26 % # % ' '

  " ! ' * " ! !" % ! " " 27 % "# 0 " % ' ' $ '" #"

  ' ) ' ! No.

  %

  ☺ 28 % "# " ! $ '" # % ! ! $ $" ) !! '

  % ' ' 29 % "# ' ' # ! % ' ' 3: % ) "# " " " # $ " % ' ' 31 % ! " %

  ' ' "# '" !" " $ ! ' & # ! "#& "# " % 32 % "# % " $ $" %

  ' ' 33 % ! % ' ' " " % $ " $ # $ #"

  34 % # % ' ' "# " ! ' * " ! !" % ! " " 35 % 0 " % ' ' $ '" #" ' )# $ !

  36 % " ! $ '" # % ! ! $ $" ) !! ' % ' '

  ; <

  " " " # $ % &$ % % ! !! ' $ # $ ( $ ( # & % ! '" #" # $ % ! ' ' ' ' # % ! ! " " )$ %" $ ! +" " ( * &" (

  • " ( # " #"' #" ! # ! & % ! " " # " ! ,-. #" ' ! $ % & $ % " " # ! $ # $ " " !& " !

  ☺ / % ) / ! & ! / "# ) "# "# # 0 ' % ! " % $ 0 '

  " # ! # #" " " $ $ 0 ' " #" ! " % " " " # "# # % ! 0 "

  = " "

  " " $ " "$ " # !

  %

  ☺ 1 % ' $" " ' ' ' "# # $ !" " !" ! '

  # ! & % ! " 2 % ' ' " " " " $ $" % ! 3 % ! ' # ! %

  % ! ' ' 4 % #" $ '" # ! % ' ' % ! ! ! ! !

  5 % $ '" # % ! ! $ $" )0 ) ' % ' ' 6 % ) ! " # " ' " ' # ! % ' '

  7 % ! $ '" % ' ' #" " & ! !! $ % "# * " ) $ ) ' $ $" )* *

  8 % "# ! % ' ' % ! ' $ $" )* *

  %

  ☺ 9 % $ " " ! ) " % ' ' 1: % ' $" " ' ' ' # $ !" " !" ! '

  # ! & % ! " 11 % ' $" " ' ' ' '" # $ & 12 % ' $ # $ ' ' '

  " " # $ " " % ! ' " # $ 13 % ' $ # $ ' 0 ' ' " " #" % ! % ! 14 % ' $" " ' ' )$ $" ' ' " " 15 % ' * $&* $ # ! % ' ' 16 % ! ' " ! ' # ! % ' ' 17 % " " ' # # $ ! # ! % % !

  ' '

  %

  ☺ 18 % ' ' " # ! % ' ' 19 % ! ! ' # ! % ' ' 2: % ) "# ' # ! % ' ' 21 % ( ' ' '" !" " $ ' #" # ! ' " 22 % ' $ # $ ' ' ' % ! #" ' * " 23 ' ' '" ! &! "& " 24 % ' $ # $ ' ' ' " " " $ $" % !

  ' " )* " ) $ # ! $ $" " 25 % ' % $ # ' ' $ '" #" ! " 0 ' # " % ! #"' " !

  26 % ! % ' ' % ! ' $ $" ) " " " !! ' ' ' # # ! "

  %

  ☺ 27 % ! " " " # $ " % ' ' 28 % '" % ") " $ $" % ' ' 29 % ' $ # $ ' 0 ' ' "# * " ) $ # !

  $ $" " 3: % # % ' ' " ! ' * " ! !" % ! " "

  31 % %" # ! ' " " % ' ' ' $ # $ #" 32 % "# ' ' # ! % ' ' 33 % ) "# " " " # $ " % ' ' 34 % "# % " $ $" % ' '

  %

  ☺ 35 % ! % ' ' " " % $ "

  $ # $ #" 36 % # % ' ' "# " ! ' * " ! !" % ! " "

  37 % 0 " % ' ' $ '" " ' )' ! 38 % " ! $ '" # % !

  ! $ $" ) !! ' % ' '

  Reliability Try Out 1 Scale: ALL VARIABLES Case Processing Summary N % Cases Valid a

47 100.0

Excluded .0

  Total

47 100.0

a. Listwise deletion based on all variables in the procedure.

  Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items .876

  72 Item-Total Statistics Scale Mean if Item Scale Variance if Corrected Item- Cronbach's Alpha Deleted Item Deleted Total Correlation if Item Deleted

item1 176.19 264.854 .185 .875

item2 175.87 262.244 .451 .873

item3 176.45 264.992 .137 .876

item4 175.98 265.760 .150 .875

item5 177.00 271.217 -.093 .880

item6 176.13 261.505 .284 .874

item7 176.32 256.526 .431 .872

item8 176.23 258.096 .408 .872

item9 175.85 266.303 .150 .875

item10 175.81 261.810 .478 .873

item11 175.89 263.358 .306 .874

  

item13 176.00 270.870 -.092 .878

item14 176.19 262.463 .226 .875

item15 176.21 254.606 .493 .871

item16 176.02 258.413 .506 .872

item17 176.55 262.731 .205 .875

item18 176.02 263.630 .223 .875

item19 175.96 259.216 .480 .872

item20 176.45 258.644 .315 .874

item21 176.06 258.061 .445 .872

item22 176.38 262.807 .192 .876

item23 175.91 261.167 .392 .873

item24 175.91 266.167 .136 .876

item25 176.53 265.472 .105 .877

item26 176.06 259.626 .417 .872

item27 176.40 263.420 .201 .875

item28 176.60 271.724 -.115 .880

item29 176.64 260.453 .295 .874

item30 176.04 256.650 .532 .871

item31 176.43 263.641 .179 .876

item32 176.38 258.937 .337 .873

item33 176.38 270.633 -.074 .880

item34 175.89 259.619 .558 .872

item35 175.96 258.085 .538 .871

item36 175.96 263.955 .242 .874

item37 176.06 262.105 .340 .873

item38 175.87 261.244 .519 .872

item39 175.81 265.202 .252 .874

item40 176.26 268.412 .003 .878

item41 175.98 259.195 .476 .872

item42 176.15 255.782 .517 .871

item43 175.72 267.639 .189 .875

item44 176.00 265.696 .162 .875

item45 176.09 263.775 .253 .874

item46 176.15 256.130 .524 .871

  

item48 176.23 260.183 .411 .873

item49 176.13 259.636 .435 .872

item50 176.23 260.488 .341 .873

item51 175.89 264.097 .246 .874

item52 175.89 264.184 .311 .874

item53 175.85 260.825 .510 .872

item54 175.96 261.868 .370 .873

item55 175.98 267.195 .080 .876

item56 175.94 261.713 .451 .873

item57 176.81 266.854 .055 .878

item58 176.21 264.780 .160 .876

item59 176.72 263.422 .193 .875

item60 176.51 257.951 .426 .872

item61 176.32 259.222 .343 .873

item62 176.28 261.944 .248 .875

item63 176.81 268.767 -.012 .879

item64 176.74 263.020 .205 .875

item65 176.17 258.188 .456 .872

item66 176.15 258.738 .453 .872

item67 176.06 263.322 .246 .874

item68 176.38 257.894 .401 .872

item69 176.02 261.630 .396 .873

item70 176.53 260.254 .353 .873

item71 175.98 260.021 .434 .872

item72 175.96 261.302 .430 .873

  Scale Statistics Mean Variance Std. Deviation N of Items 178.66 269.229 16.408

  72

  Reliability Try Out 2 Scale: ALL VARIABLES Case Processing Summary N % Valid

  

47 100.0

Excluded a .0 Cases Total

47 100.0

a. Listwise deletion based on all variables in the procedure.

  Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items .906

  43 Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if

  Item Deleted Corrected Item- Total Correlation Cronbach's Alpha if Item Deleted

item2 107.06 168.452 .407 .905

item6 107.32 167.874 .253 .907

item7 107.51 162.994 .444 .904

item8 107.43 164.250 .423 .904

item10 107.00 167.826 .458 .904

item11 107.09 168.862 .302 .906

item12 107.23 168.140 .268 .906

item15 107.40 161.855 .488 .903

item16 107.21 165.606 .458 .904

item19 107.15 165.130 .503 .903

item20 107.64 165.932 .273 .907

item21 107.26 165.803 .377 .905

  

item26 107.26 165.673 .424 .904

item29 107.83 166.753 .279 .907

item30 107.23 163.879 .506 .903

item32 107.57 165.598 .319 .906

item34 107.09 165.819 .558 .903

item35 107.15 164.782 .525 .903

item37 107.26 167.586 .353 .905

item38 107.06 167.061 .525 .904

item39 107.00 170.739 .215 .906

item41 107.17 164.753 .521 .903

item42 107.34 162.534 .527 .903

item45 107.28 168.857 .270 .906

item46 107.34 162.012 .577 .902

item47 107.45 166.209 .441 .904

item48 107.43 165.641 .448 .904

item49 107.32 165.048 .481 .904

item50 107.43 165.598 .387 .905

item52 107.09 168.558 .387 .905

item53 107.04 166.259 .553 .903

item54 107.15 166.390 .451 .904

item56 107.13 166.896 .499 .904

item60 107.70 163.605 .469 .904

item61 107.51 165.255 .351 .905

item65 107.36 164.627 .457 .904

item66 107.34 165.012 .457 .904

item68 107.57 164.337 .403 .905

item69 107.21 167.302 .404 .905

item70 107.72 165.378 .401 .905

item71 107.17 165.970 .444 .904

item72 107.15 166.608 .470 .904

  Scale Statistics Mean Variance Std. Deviation N of Items 109.85 173.564 13.174

  43

  Reliability try Out 3 Scale: ALL VARIABLES Case Processing Summary N % Valid

  

47 100.0

Excluded a .0 Cases Total

47 100.0

a. Listwise deletion based on all variables in the procedure.

  Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items .906

  42 Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if

  Item Deleted Corrected Item- Total Correlation Cronbach's Alpha if Item Deleted

item2 104.21 165.910 .387 .905

item6 104.47 165.037 .256 .906

item7 104.66 160.056 .453 .904

item8 104.57 161.467 .424 .904

item10 104.15 164.999 .462 .904

item11 104.23 166.314 .285 .906

item12 104.38 165.589 .255 .906

item15 104.55 159.122 .488 .903

item16 104.36 162.758 .464 .904

item19 104.30 162.475 .496 .903

item20 104.79 162.997 .280 .907

item21 104.40 163.072 .376 .905

  

item26 104.40 162.942 .422 .904

item29 104.98 163.934 .281 .906

item30 104.38 161.068 .510 .903

item32 104.72 162.857 .318 .906

item34 104.23 163.140 .552 .903

item35 104.30 162.083 .522 .903

item37 104.40 164.898 .347 .905

item38 104.21 164.389 .517 .904

item41 104.32 161.918 .526 .903

item42 104.49 159.777 .528 .903

item45 104.43 166.119 .267 .906

item46 104.49 159.299 .576 .902

item47 104.60 163.463 .440 .904

item48 104.57 162.902 .446 .904

item49 104.47 162.167 .489 .903

item50 104.57 162.858 .386 .905

item52 104.23 165.705 .392 .905

item53 104.19 163.593 .545 .903

item54 104.30 163.692 .447 .904

item56 104.28 164.031 .507 .904

item60 104.85 160.825 .471 .903

item61 104.66 162.490 .352 .905

item65 104.51 161.951 .452 .904

item66 104.49 162.168 .462 .904

item68 104.72 161.378 .413 .904

item69 104.36 164.410 .412 .904

item70 104.87 162.679 .398 .904

item71 104.32 163.092 .451 .904

item72 104.30 163.909 .465 .904

  Scale Statistics Mean Variance Std. Deviation N of Items 107.00 170.739 13.067

  42

  

Reliability Skala Sikap Terhadap Anak Berkebutuhan Khusus

Scale: ALL VARIABLES Case Processing Summary

  N % Valid 65 100.0 Excluded a .0 Cases

  Total 65 100.0

a. Listwise deletion based on all variables in the procedure.

  Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items .876

  38 Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if

  Item Deleted Corrected Item- Total Correlation Cronbach's Alpha if Item Deleted it1

  95.72 94.797 .261 .876 it2 96.06 93.527 .308 .875 it3 95.92 93.572 .299 .876 it4 95.48 94.410 .330 .874 it5 95.40 95.150 .308 .874 it6 95.15 97.788 .258 .875 it7 95.58 94.903 .276 .875 it8 95.49 91.723 .641 .868 it9 95.38 95.772 .245 .876 it10 95.40 95.806 .267 .875 it11 95.29 95.241 .397 .873 it12 95.78 91.015 .577 .869 it13 95.71 91.460 .509 .870 it15 95.38 96.053 .280 .875 it16 95.32 94.410 .505 .872 it17 95.65 92.295 .534 .870 it18 95.32 94.722 .436 .872 it19 95.37 92.955 .532 .870 it20 95.26 95.040 .479 .872 it21 95.49 95.848 .240 .876 it22 95.52 94.097 .420 .872 it23 95.74 95.946 .207 .877 it24 95.63 94.112 .324 .874 it25 95.66 93.477 .436 .872 it26 95.29 94.835 .411 .873 it27 95.46 93.596 .450 .872 it28 95.40 94.588 .420 .873 it29 95.65 92.826 .418 .872 it30 95.45 92.970 .509 .871 it31 95.46 95.534 .297 .875 it32 95.34 95.884 .290 .875 it33 95.46 94.127 .404 .873 it34 95.42 94.184 .407 .873 it35 95.38 95.928 .259 .875 it36 95.83 93.080 .362 .874 it37 95.34 93.634 .542 .871 it38 95.23 95.649 .392 .873

  Uji Normalitas

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

total N

  65 Mean

  98.09 Normal Parameters a Std. Deviation 9.935 Absolute .124 Positive .074

  Most Extreme Differences Negative -.124

Kolmogorov-Smirnov Z 1.002

Asymp. Sig. (2-tailed) .268

a. Test distribution is Normal.

  T-Test Sikap Terhadap Teman Yang Berkebutuhan Khusus One-Sample Statistics N Mean Std. Deviation Std. Error Mean total

  65 98.09 9.935 1.232

One-Sample Test

  Test Value = 76 95% Confidence Interval of the Difference t df Sig. (2-tailed) Mean Difference

  Lower Upper total 17.927 64 .000 22.092

  19.63

  24.55

  Aspek Kognitif Statistics total N Valid

  

65

Missing Mean

  

31

Std. Error of Mean Median

  

31

Mode

  

33

Std. Deviation

  

4

Variance

  

15

Range

  

17

Minimum

  

19

Maximum

  

36

grade

  Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent Valid rendah

  1

  1.5

  1.5

  1.5 tinggi

  49

  75.4

  75.4

  76.9 sedang

  15

  23.1 23.1 100.0 Total 65 100.0 100.0

  Aspek Afektif Statistics total N Valid

  

65

Missing Mean

  

33

Std. Error of Mean Median

  

34

Mode

  

34

Std. Deviation

  

4

Variance

  

15

Range

  

17

Minimum

  

22

Maximum

  

39

grade

  Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent Valid tinggi

  50

  76.9

  76.9

  76.9 sedang

  15

  23.1 23.1 100.0 Total 65 100.0 100.0

  Aspek Konatif Statistics total N Valid

  

65

Missing Mean

  

34

Std. Error of Mean Median

  

35

Mode

  

36

Std. Deviation

  

4

Variance

  

14

Range

  

14

Minimum

  

25

Maximum

  

39

grade

  Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent Valid tinggi

  52

  80.0

  80.0

  80.0 sedang

  13

  20.0 20.0 100.0 Total 65 100.0 100.0

  

aspek diri anak berkebutuhan khusus

academic competence total N Valid

  65 Missing Mean

  26 Std. Error of Mean Median

  27 Mode

  28 Std. Deviation

  3 Variance

  11 Range

  14 Minimum

  16 Maximum

  30 social competence total N Valid

  65 Missing Mean

  26 Std. Error of Mean Median

  27 Mode

  27 Std. Deviation

  3 Variance

  10 Range

  13

  

social competence

total Valid

  65 Missing Mean

  26 Std. Error of Mean Median

  27 Mode

  27 Std. Deviation

  3 Variance

  10 Range

  13 Minimum

  17 Maximum

  30

physical competence

total N Valid

  65 Missing Mean

  23 Std. Error of Mean Median

  24 Mode

  25 Std. Deviation

  3 Variance

  7 Range

  15 Minimum

  12 Maximum

  27

  

physical appearance

total N Valid

  65 Missing Mean

  23 Std. Error of Mean Median 23 a Mode

  22 Std. Deviation

  3 Variance

  8 Range

  12 Minimum

  15 Maximum

  27

  

a. Multiple modes exist. The smallest value is

shown

  Frekuensi Karakteristik Subyek

laki-laki

  Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent Valid sedang

  3

  8.6

  8.6

  8.6 tinggi

  32

  91.4 91.4 100.0 Total 35 100.0 100.0 perempuan

  Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent Valid tinggi 30 100.0 100.0 100.0

kelas IV

  Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent Valid sedang

  3

  9.4

  9.4

  9.4 tinggi

  29

  90.6 90.6 100.0 Total 32 100.0 100.0

kelas V

  Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid tinggi 33 100.0 100.0 100.0 umur 8

  Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent Valid tinggi 2 100.0 100.0 100.0

  

umur 9

Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent

  Valid sedang

  2

  10.5

  10.5

  10.5 tinggi

  17

  89.5 89.5 100.0 Total 19 100.0 100.0

umur 10

  Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent Valid sedang

  1

  3.8

  3.8

  3.8 tinggi

  25

  96.2 96.2 100.0 Total 26 100.0 100.0

umur 11

  Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent Valid tinggi 18 100.0 100.0 100.0

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
126
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
165
SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
144
SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
2
125
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
160
SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
92
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
130
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
120
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
169
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
121
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
121
SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
2
181
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
100
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
84
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
1
148
Show more