Efek hepatoprotektif infusa daun macaranga tanarius L. pada tikus jantan galur wistar terinduksi karbon tetraklorida.

Gratis

0
0
108
2 years ago
Preview
Full text

INTISARI

  Berdasarkan hasil penelitian dari data ALT serum yang diperoleh, dari tatacara analisis hasil yang digunakan, infusa daun M. tanarius memberikan efekhepatoprotektif pada dosis 2,5 g/kgBB; 5 g/kgBB; dan 10 g/kgBB secara berturut- turut sebesar 44,1%, 39,6%, dan 58,1%.

FAKULTAS FARMASI

HALAMAN PERSEMBAHAN

  Berdasarkan hasil penelitian dari data ALT serum yang diperoleh, dari tatacara analisis hasil yang digunakan, infusa daun M. tanarius memberikan efekhepatoprotektif pada dosis 2,5 g/kgBB; 5 g/kgBB; dan 10 g/kgBB secara berturut- turut sebesar 44,1%, 39,6%, dan 58,1%.

BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Hati merupakan organ yang mempunyai peranan penting bagi manusia

  Pada penelitian ini digunakan bentuk sediaan infusa didasarkan pada penelitian Matsunami, dkk (2009) dilaporkan bahwa dengan pelarut yang bersifatpolar dapat menarik senyawa antioksidan dari daun M. tanarius adalah penelitian Puteri dan Kawabata (2010), yang melaporkan bahwa terdapat 5 senyawa baru yang dapat diisolasi dan diidentifikasi dari ekstrak EtOAc daun M.

3. Manfaat penelitian

  Manfaat teoritisPenelitian ini diharapkan bermanfaatkan bagi perkembangan ilmu pengetahuan dalam bidang farmasi mengenai pengaruh infusa daun M. Manfaat praktisPenelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai pengobatan alternatif pada kerusakan hati.

B. Tujuan Penelitian

1. Tujuan umum

2. Tujuan khusus

  Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa pemberian infusa daun M. tanarius mempunyai efek hepatoprotektif dengan menurunkan kadar Penelitian ini khususnya bertujuan untuk mengetahui dosis paling efektif dari infusa daun M.

BAB II PENELAAHAN PUSTAKA A. Hati Hati merupakan organ atau kelenjar terbesar dalam tubuh. Hati disebut

  Antar sinusoid dibatasi oleh sel Kupffer yang mempunyai fungsi untuk memfagosit bakteri dan benda asing lain dalam saluran darah (Price dan Wilson,2005). Arteri hepatica membawa darah yang berisi oksigen yang berasal arteria hepatica communis , di sebelah kiri ductus choledocus dan di depan vena portae (Wibowo dan Paryana, 2009).

B. Kerusakan Hati

Kerusakan hati yang dapat timbul dari berbagai jenis senyawa toksik adalah sebagai berikut.

1. Steatosis (Perlemakan hati)

  Informasi utamanya adalah aktivitas tingkat enzim alaninaminotransferase (ALT) yang mendominasi enzim di hepatosit, selain itu juga dapat dideteksi dengan laktat dehidrogenase (LDH), yang ditemukan dalambanyak jaringan (Gregus dan Klaaseen, 2001). Ketika jaringan parut fibrotik membagi-bagi massa hati yang masih baik menjadi nodul-nodul dengan hepatosit yang masihberegenerasi, fibrosis telah berkembang menjadi sirosis dan hati memiliki kapasitas cadangan fungsional yang sangat kecil untuk menjalankan fungsi hati.

C. Hepatotoksin

  Atom hidrogen yang berasal dari metilen dapat menjembatani reaksi dengan asam lemak tak jenuh atau protein yang akan menghasilkan ikatan kovalen denganlemak mikrosomal dan protein, dan akan beraksi secara langsung dengan fosfolipid dan kolesterol yang bersifat toksik. Pada penelitian Hogade, Patil, Wadkar, Mathapati,Dhumal (2010) melaporkan bahwa aktivitas ALT dan AST serum pada tikus yang terinduksi karbon tetraklorida mencapai tiga dan empat kali nilai normal.

1. Tes enzim serum

  Enzim yang tidak spesifik dan dapat menunjukkan kerusakan jaringan ekstrahepatik misalnya aspartat aminotransferase (AST) dan laktat dehidrogenase(LDH). Senyawa ituseperti bilirubin dan xenobiotika lainnya dapat digunakan untuk mendeteksi dan menentukan kerusakan hepatik karena berasal dari dalam hati.

4. Analisis histologik kerusakan hati

  Analisis potensi hepatotoksik terhadap zat kimia di hati dapat dilengkapi dengan deskripsi histologi kerusakan yang dihasilkan. Ciri-ciri kerusakan hatiditentukan dengan pengamatan mikroskopik cahaya dari sel hati (Plaa dan Charbonneau, 2001).

F. ALT dan AST

  Enzim AST dan ALT dianggap enzim hati karena konsentrasinya tinggi di hati, namun dari keduanyayang spesifik untuk hati adalah ALT, AST terdapat juga di miokardium, otot rangka, otak, dan ginjal (Sacher dan Mc Pherson, 2002). Peningkatan kadar beberapa enzim serum pada pemejanan beberapasenyawa toksik Senyawa toksikLesi yang ditimbulkan Peningkatan kadar enzim serumNekrosis Steatosis AST ALT OCT,SDH CCl 4 + + 4+ 3+ 4+ Thioacetamide + - 4+ 3+ 4+Tetrasiklin - + 2 + 1+ Ethionine - + + - +Phosphorous + + 1-2+ 1-2+ 1-2+ Keterangan : ALT, alanin aminotransferase; AST, aspartate aminotransferase; CCl4 , karbon tetraklorida; OCT, ornithine carbamoyl transferase; SDH, sorbitol dehydrogenase (Zimmerman, 1999).

G. Macaranga tanarius L

  SinonimMacaranga molliuscula Kurz., Macaranga tomentosa Druce, dan Mappa tanarius Blume (World Agroforestry Centre. 2002). Tanaman ini banyak ditemukan di banyakNegara antara lain : Australia, Brunei, Kamboja, China, Indonesia, Vietnam,Jepang, Laos, Malaysia, Myanmar, Papua Nugini, Filipina, Taiwan, dan Thailand (World Agroforestry Centre. 2002).

6. Kandungan kimia Matsunami dkk., (2006, 2009) telah melaporkan bahwa dalam daun M

  Senyawa yang terkandung pada daun M. Matsunami, dkk (2009) melaporkan adanya senyawa glikosida yaitu macarangiosida A-D dan malofenol B yang diisolasi dari ekstrak metanol M.

7. Khasiat dan kegunaan

  Bagian daun segar digunakan sebagai antiinflamasi, dekok dariakarnya digunakan sebagai antipireutik dan antitusif, bagian akar segar digunakan sebagai antiemetik (Phommart dkk, 2005). Puteri dan Kawabata (2010)melaporkan bahwa daun M.

H. Infusa 1

  Definisi Infus merupakan sediaan cair yang dibuat dengan cara mengekstraksi o simplisia nabati dengan air pada suhu 90 C selama 15 menit. Pembuatan infus merupakan cara yang paling sederhana untuk membuat sediaan herbal dari bahanlunak seperti daun dan bunga.

2. Cara pembuatan

Infusa dibuat dengan cara mencampur serbuk simplisia derajat halus Serkai selagi panas dengan kain flanel, tambahkan air panas secukupnya melalui ampas hingga diperoleh volume yang dikehendaki (Badan Pengawas Obat danMakanan Republik Indonesia, 2010).

I. Landasan Teori

  Senyawa ini akan menghasil radikal bebas triklorometil dengan katalis enzim sitokrom P-450yang dapat menimbulkan peroksidasi lipid serta dapat berikatan secara kovalen dengan protein dan lipid sehingga mengakibatkan steatosis dan tertimbunnya lipidini dapat mengganggu integritas membrane sel hati (Timbrell, 2008). tanarius, yaitu macarangiosida A, macarangiosida B, macarangiosida C, dan malofenol B yang diisolasi dari ekstrak metanol daun M.

BAB II I METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimental murni dengan rancangan penelitian acak lengkap pola searah. B. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

1. Variabel penelitian

  Variabel tergantung :Variabel tergantung pada penelitian ini adalah kadar ALT-AST serum pada tikus jantan galur Wistar yang terinduksi karbon tetraklorida (CCl 4 ) setelah pemberian infusa daun M. tanarius yang diambil di kebun obat Universitas Sanata Dharma dan diambil pada bulan Mei2012.

2. Definisi operasional

  Serkai selagi panas dengan kain flannel, kemudian diuapkan dengan waterbath hingga bobot infusa mencapai bobot yang sama dengan bobot serbuk kering daun M. tanarius yang sebelumnya diinfudasi sehingga diperoleh infusa daun M.

C. Bahan Penelitian

  Hewan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah tikus jantan galurWistar dengan range berat badan 150-250 g dan umur 2-3 bulan yang diperoleh dari Laboratorium Imono Fakultas Farmasi Universitas SanataDharma Yogyakarta. Bahan hepatotoksin yang digunakan adalah karbon tetraklorida yang diperoleh dari Laboratorium Kimia Analisis Fakultas Farmasi UniversitasSanata Dharma dalam pelarut olive oil (Bertolli).

D. Alat Penelitian

  tanarius Alat yang digunakan untuk pembuatan serbuk daun M. Alat pengukuran kadar ALT-AST serum Alat yang digunakan dalam pengukuran meliputi seperangkat alat gelas(Bekker glass (Iwaki Pyrex), gelas ukur (Iwaki Pyrex), tabung reaksi dan batang pengaduk), timbangan analitik (Mettler Toledo), spuit injeksi intraperitonial danperoral untuk tikus (Terumo), pipa kapiler, Eppendrof, vortex (Genie Wilten), sentrifuge (Centurium Scientific), stopwatch dan Microlab 200 Merck.

E. Tata Cara Penelitian

  tanarius yang 4 Penetapan dosis karbon tetraklorida dilakukan untuk mengetahui pada dosis berapa karbon tetraklorida mampu menyebabkan kerusakan hati tikus yang ditandai dengan peningkatan aktivitas ALT dan AST-serum paling tinggi. Penetapan waktu cuplikan darahPenelitian Janakat dan Al-Merie (2002) mengenai optimasi dosis, rute pemberian, dan karakteristik waktu pemberian karbon tetraklorida sebagaihepatotoksin menunjukkan bahwa aktivitas ALT-AST serum tikus terinduksi karbon tetraklorida 2 ml/kgBB mencapai maksimal pada jam ke-24 setelahpemberiannya, kemudian pada jam ke-48 berangsur-angsur menurun.

8. Pengelompokan hewan uji

  tanarius secara oral dengan dosis berturut-turut 2,5; 5; dan 10 g/kgBB sekali sehari selama enam hari berturut-turut kemudian pada hari ke tujuh diberi larutan karbon tetraklorida 50% dosis 2 ml/kgBB secara i.p. Pengukuran aktivitas ALT-AST serum Alat yang digunakan untuk menganalisis aktivitas ALT dan AST serum adalah Mikrolab 200 Merck di Laboratorium Biokimia-Fisiologi ManusiaFakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, dan hasil dinyatakan dengan satuanU/L.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Penyiapan Bahan Uji

  tanarius Penetapan kadar air perlu dilakukan dengan tujuan untuk memastikan bahwa serbuk kering yang digunakan memiliki kandungan air sesuai persyaratanserbuk simplisia yang baik, yaitu kurang dari 10% (Direktorat Jenderal PengawasObat dan Makanan, 1995). tanarius dilakukan dengan menghitung susut penguapan menggunakan terrmopan denganalat Moisture Balance yang terdapat di Laboratorium Kimia Analisis Fakultas Penetapan kadar air dilakukan dengan cara memanaskan serbuk pada suhu 110 C selama 15 menit.

B. Uji Pendahuluan

1. Penetapan dosis infusa daun M. tanarius

  Penetapan dosis hepatotoksin karbon tetraklorida Tujuan dari penetapan dosis hepatotoksin karbon tetraklorida adalah untuk menentukan dosis karbon tetraklorida yang dapat menyebabkan kerusakanhati (steatosis) pada tikus. Pada penelitian ini dosis karbon tetraklorida yang digunakan diperoleh dari hasil penelitian Janakat dan Al-Merie (2002) mengenai optimasi dosis, rutepemberian dan karakteristik waktu pemberian karbon tetraklorida untuk menginduksi hepatotoksisitas pada tikus.

4. Penetapan lama praperlakuan infusa daun M. tanarius

  tanarius selama 6 hari dan pada hari ke- 7diberi karbon tetraklorida dosis 2 ml/kgBB Kelompok Perlakuan I II III IV V VI II B B B TB B IV B B B TB - B V B TB - B TB B Keterangan : Kontrol Negatif Olive oil 2ml/kgBB I = II = Kontrol Hepatotoksin karbon tetraklorida 2 ml/kgBB III = Kontrol Infusa Daun M. tanarius selama 6 hari dan pada hari ke-7diberi karbon tetraklorida dosis 2 ml/kgBB Kelompok Perlakuan I II III IV V VI II B B B B B IV B B B TB B - V B B - B TB B Keterangan : Kontrol Negatif Olive oil 2ml/kgBB I = II = Kontrol Hepatotoksin karbon tetraklorida 2 ml/kgBB III = Kontrol Infusa Daun M.

1. Kontrol negatif (olive oil 2 ml/kgBB)

  Dosis olive oil yang digunakan dalam pengujian ini adalah 2 ml/kgBB disesuaikan dengan dosis karbon tetraklorida yang digunakanyaitu 2 ml/kgBB. Untuk mengetahuipengaruh pemberian olive oil terhadap peningkatan aktivitas ALT-AST serum maka hasil pengukuran di atas dianalisis secara statistik dan dibandingkan denganaktivitas ALT-AST serum tikus sebelum diberi olive oil.

2. Kontrol hepatotoksin karbon tetraklorida 2 ml/kgBB

  Menurut Zimmerman (1999) bahwa aktivitas ALT-serum dengan adanya kerusakan hati berupa steatosis mencapai tiga kali lipat dari nilai normal, dari hasil pengujian ini terlihat bahwapeningkatan aktivitas ALT-serum dengan adanya pemberian karbon tetraklorida dosis 2 ml/kgBB telah mencapai 3 kali lipat dari nilai normal (dibandingkandengan kelompok kontrol negatif olive oil). MenurutZimmerman (1999) bahwa aktivitas AST-serum dengan adanya kerusakan hati berupa steatosis mencapai empat kali lipat dari nilai normal, dari hasil pengujianini terlihat bahwa peningkatan aktivitas ALT-serum dengan adanya pemberian karbon tetraklorida dosis 2 ml/kgBB telah mencapai empat kali lipat dari nilainormal (dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif olive oil).

3. Kontrol negatif infusa daun M. tanarius dosis 10 g/kgBB

  Setelah dilakukan pengujian statistik dengan analisis variasi satu arah dan dilanjutkan dengan uji Scheffe pada Walaupun hasil dari aktivitas ALT-AST serum kelompok kontrol negatif infusa daun M. tanarius 10g/kgBB yang ditunjukkan lebih tinggi daripada kelompokkontrol negatif olive oil namun setelah dilakukan uji statistik didapatkan hasil perbedaan yang tidak bermakna di antara keduanya maka dapat disimpulkanbahwa pemberian infusa daun M.

4. Kelompok perlakuan infusa daun M. tanarius dosis 2,5; 5 dan 10 g/kgBB pada tikus jantan galur Wistar terinduksi karbon tetraklorida 2 ml/kgBB

  Kelompok IV (dosis 2,5 g/kgBB) terhadap Kelompok V (dosis 5 tanarius dilihat dari aktivitas ALT-serum yang dari yang terkecil adalah kelompok praperlakuan infusa daun M. Radikal triklorometil mengalami suatu reaksi, atom hidrogen yang berasal dari metilendapat menjembatani reaksi dengan asam lemak tak jenuh atau protein dan menghasilkan ikatan kovalen dengan lemak mikrosomal dan protein, dan akanberaksi secara langsung dengan fosfolipid dan kolesterol yang bersifat toksik.

D. Rangkuman Pembahasan

  tanarius pada ketiga dosis tersebut dapat berpengaruh menurunkan aktivitas ALT-AST serum akibatinduksi karbon tetraklorida 2 ml/kgBB sehingga hasil pengujian sesuai dengan hipotesis pada penelitian ini. tanarius dosis 10 g/kgBB dapat melindungi hati dari induksi karbon tetraklorida karena dimungkinkan dalam infusa tersari kandunganglikosida yang berperan sebagai antioksidan dari daun M.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil yang telah diperoleh dan analisis statistik yang telah

  tanarius pada dosis 2,5; 5; dan 10 g/kgBB terbukti berpengaruh dalam menurunkan aktivitas ALT-AST serum tikus jantan yangterinduksi karbon tetraklorida dosis 2 ml/kgBB 2. Dari ketiga dosis yang digunakan dosis yang memberikan pengaruh penurunan aktivitas ALT-AST serum yang paling efektif adalah dosis 10g/kgBB.

B. Saran

  Pengaruh pemberian infusa daun M. tanarius pada tikus jantan terinduksi karbon tetraklorida 2 ml/kgBB, dengan dosis infusa di bawah dosis 2,5g/kgBB.

DAFTAR PUSTAKA

  Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, 2010, Acuan Sediaan Herbal, Badan Pengawas Obat dan Makanan Replubik Indonesia, Jakarta, pp. Matsunami, K., Takamori, I., Shinzato, T., Aramoto, M., Kondo, K., Otsuka, H., dan Takeda, Y., 2006, Radical-Scavenging Activities of NewMegastigmane Glucosides from Macaranga tanarius (L.), Chem.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Uji efek ekstrak etanol bunga rosela (Hibiscus sabdariffa L.) terhadap penurunan kadar gula darah pada tikus putih jantan
7
54
98
Efek pemberian ekstrak kulit manggis (Garcinia mangostana L.) terhadap jumlah sel fibroblas gingiva pada tikus wistar jantan dengan periodontitis
1
5
8
Ekspresi COX-2 setelah pemberian ekstrak etanolik kulit manggis (Garcinia mangsotana Linn) pada tikus wistar
0
3
8
Gambaran mikroskopis ketebalan epitel gingiva setelah pemberian vitamin C pada proses penyembuhan luka pada tikus wistar (Rattus norvegiccus)
0
6
66
Jumlah sel makrofag gingiva tikus wistar jantan yang diinduksi periodontitis setelah pemberian ekstrak etanolik kulit manggis
0
5
6
Uji efek hioglikemia fraksi etil asetat biji jinten hitam pada tikus putih jantan dengan metode induksi aloksan dan toleransi glukosa
0
4
98
Uji Efek ekstra etanol daun sirih (piper betle L) terhadap penurunan kadar asam urat darah pada tikus putih jantan yang diinduksi kafeina
6
93
84
Efek ekstrak kayu manis “cinnamomum cassia” terhadap kadar glukosa darah, berat badan dan trigliserida pada tikus jantan strain sparague dawley yang diinduksi aloksan
2
11
69
Uji Antifertilitas ekstrak N-Heksana biji Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) pada tikus putih jantan (Rattus novergicus) galur Sprague Dawley secara IN VIVO
2
15
116
Uji aktivitas ekstrak Etanol 70% daun Binahong (Anredera cordifolia (Ten) Steenis) terhadap penurunan kadar asam urat dalam darah tikus putih jantan yang diinduksi dengan Kafeina
1
40
73
Aktivitas antifertilitas ekstrak etanol 70% daun pacing (costus spiralis) pada tikus sprague-dawley jantan secara in vivo
1
32
0
Ekspresi high mobility group box 1 pada ulkus traumatikus tikus wistar dengan terapi ekstrak teripang emas
0
0
5
Aktivitas fagositosis pada tikus wistar yang diinokulasi Candida albicans dan diberi mimba (Azadirachta indica) Phagocytosis activity on wistar rats were inoculated by Candida albicans and fed with neem (Azadirachta indica)
0
0
6
Efek antipiretik ekstrak daun jeruk nipis (citrus aurantiifolium l.) Pada tikus putih (rattus norvegicus)
0
0
57
Efek larvasida ekstrak daun cengkeh (Syzygium aromaticum L.) terhadap Aedes aegypti L.
1
1
47
Show more