Evaluasi peresepan antibiotika pada pasien diare dengan metode gyssens di instalasi rawat inap RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta periode April 2015.

Gratis

0
4
213
2 years ago
Preview
Full text

EVALUASI PERESEPAN ANTIBIOTIKA PADA PASIEN DIARE DENGAN METODE GYSSENS DI INSTALASI RAWAT INAP RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL YOGYAKARTA PERIODE APRIL 2015

  Penelitian dilakukan dengan menggunakan rekam medis yang bersifat retrospektif dari pasien diare rawat inap di RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakartaperiode April 2015, dan dilakukan evaluasi dengan metode Gyssens untuk menentukan kualitas dan ketepatan peresepan antibiotika pada pasien yangbersangkutan. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kualitas dan ketepatan peresepan antibiotika pada pasien diare rawatinap di RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta, sehingga hasil penelitian dapat digunakan untuk membantu meningkatkan kualitas dan ketepatan peresepanantibiotika pada pasien diare di rumah sakit yang bersangkutan.

Peresepan Antibiotika pada Pasien Diare dengan Metode Gyssens di Instalasi Rawat Inap RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta Periode April 2015”

  Penelitian dilakukan dengan menggunakan rekam medis yang bersifat retrospektif dari pasien diare rawat inap di RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakartaperiode April 2015, dan dilakukan evaluasi dengan metode Gyssens untuk menentukan kualitas dan ketepatan peresepan antibiotika pada pasien yangbersangkutan. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kualitas dan ketepatan peresepan antibiotika pada pasien diare rawatinap di RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta, sehingga hasil penelitian dapat digunakan untuk membantu meningkatkan kualitas dan ketepatan peresepanantibiotika pada pasien diare di rumah sakit yang bersangkutan.

B. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

  Mengevaluasi ketepatan peresepan antibiotika pada pasien diare di instalasi rawat inap RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta Diare dapat disebabkan karena beberapa hal antara lain : a. Substansi yang menyebabkan sekresi berlebihan ini yaitu vasoactive intestinal peptide (VIP) dari lemak makanan yang tidak diabsorbsi, toksin bakteri, dan garam empedu yang berlebih.

Terapi

  Sasaran terapi diare adalah mencegah dehidrasi, mengontrol gejala dan penyakit penyerta, dan mengurangi insidensi,keparahan, dan durasi diare (DiPiro, et al., 2008; Guandalini & Vaziri, 2011). Dosis yang direkomendasikan untuk anak-anak adalah20mg/hari selama 10 hari, dan untuk bayi yang berusia kurang dari dua bulan yaitu 10mg/hari selama 10 hari (WGO, 2012).

A. Antibiotika 1. Definisi

  Faktor farmakokinetika dan farmakodinamika, pentingnya penetapan jenis dan dosis antibiotika untuk mengetahui cara, lama, dan intervalpemberian antibiotika yang sesuai dengan setiap pasien. Faktor interaksi dan efek samping obat, pemberian antibiotika dengan obat lain diperlukan pertimbangan mengenai kemungkinan ada tidaknyainteraksi yang dapat menimbulkan efek yang tidak diharapkan.

C. Evaluasi Peresepan Antibiotika dengan Metode Gyssens

  Jumlah dan pemilihan rekam medis pada penelitian ini ditampilkan secara terperinci pada Gambar 2 di bawah ini : Jumlah pasien diare Rekam medis pasien Rekam medis pasienselama bulan April yang ditemukan yang menjalani rawat 2015 sebanyak 170 sebanyak 161 inap sebanyak 82pasien Eksklusi = 48 Rekam medis yang 26 Penelitian dilakukan di RSUD Panembahan Senopati, Kabupaten Bantul, dan waktu pengambilan data dilakukan pada bulan Agustus 2015. Tidak ada pedoman terapi antibiotika untuk diare non spesifik, tidak dilakukannya kultur bakteri, dan tidak adanya informasi mengenai bakteri 35penilaian ketepatan peresepan antibiotika yang diberikan pada pasien hanya didasarkan pada gejala klinis, diagnosa, hasil pemeriksaanlaboratorium (darah dan feses), dan data penunjang yang lainnya.

A. Profil Pasien

  Hal tersebut terkait dengan data yang digunakan dalam penelitian ini relatif sedikit yaitu sebanyak 34 kasus, dan dalam penelitian ini tidakmenggunakan seluruh rekam medis pasien diare yang ada, namun hanya rekam medis pasien diare yang menjalani rawat inap dan menerima peresepanantibiotika pada periode April 2015. Pola peresepan antibiotika pada penelitian ini mencakup golongan dan jenis antibiotika, rute pemberian antibiotika, dan durasi pemberian antibiotikayang diberikan pada pasien diare di instalasi rawat inap RSUD Panembahan 40dilakukan kultur bakteri sehingga tidak diketahui bakteri penyebab diare secara pasti.

Rute Pemberian Antibiotika

  Peresepan antibiotika yang tidak tepat ditemukan dalam beberapa kasus yang meliputi : 1 peresepan antibiotika tidak tepat dosis (kategori IIA), 1 peresepan antibiotika tidak tepat cara pemberian (kategori IIC), 23 peresepan ada antibiotika lain yang lebih efektif (kategori IVA), 1 peresepan adaantibiotika lain yang kurang toksik (kategori IVB), 1 peresepan ada antibiotika lain yang lebih murah (kategori IVC), dan 21 peresepan antibiotika tanpa indikasi(kategori V). Terdapat antibiotika lain yang lebih efektif terjadi jika antibiotika yang diberikan kepada pasien bukan lini pertama pengobatan, lini pertamapengobatan yang digunakan tidak memberikan outcome yang baik atau terdapat antibiotika lain yang lebih direkomendasikan dan lebih sesuai dengankondisi pasien, sehingga dapat memberikan outcome terapi yang lebih optimal.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian yang berjudul “Evaluasi Penggunaan Antibiotika pada Pasien Diare dengan Metode Gyssens di Instalasi Rawat Inap RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta Periode April 2015”

  ada antibiotika lain yang lebih efektif sebanyak 23 peresepan, ada antibiotikalain yang kurang toksik, ada antibiotika lain dengan harga yang lebih murah, dosis penggunaan antibiotika tidak tepat, dan rute pemberianantibiotika tidak tepat masing-masing sebanyak 1 peresepan. Perlu adanya penelitian lanjutan untuk mengevaluasi penggunaan antibiotika dengan pendekatan dan penyakit yang berbeda, serta jangkauan yang lebihluas tidak hanya hanya di instalasi rawat inap saja, agar dapat memberikan gambaran mengenai ketepatan penggunaan antibiotika secara keseluruhan dandapat dijadikan sebagai bahan evaluasi dalam penggunaan antibiotika di rumah sakit.

Gastroenteritis di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit “X” Periode

  Seftriakson Kategori Hasil Assessment (Lolos atau Tidak Lolos Per Kategori) GyssensKategori VI Lolos kategori VI (data rekam medis pasien lengkap) Assessment : Data rekam medis pasien lengkapKategori V Lolos kategori V (ada indikasi penggunaan antibiotika) Assessment : Pasien terdiagnosa gastroenteritis akut (demam tifoid). Lolos kategori IVB (tidak ada antibiotika lain yang kurang toksik) Kategori IVBAssessment : obat ini cukup aman digunakan oleh pasien dan tidak ada interaksi dengan obat lain yang digunakan oleh pasien (Lacy, et al., 2011).

Rujukan Satuan 4-4-2015 2−4-2015

HematologiHemoglobin 15,6 - 14 g/Dl Leukosit 5,41 7,6 4 10^6/UL % 1 - Eosinofil2 % 1 2 % 51 % 84 8 20 % 6 - Monosit4 % Fungsi hatiSGPT 14<37 U/L - SGOT 15<41 U/L - Fungsi ginjal 30 - Ureum17 mg/dL mg/dL 0,9 − 1,3 GlukosaGlukosa darah 61 mg/dL 80 − 200 Elektrolit 137 − 145 mmol/L Kalium 3,62mmol/L 3,5 − 5,1 107,6 98 − 107 Pemeriksaan UrineTanggal Rujukan Parameter 2-4-2015 UrinalisaWarna Kuning Kuning Kekeruhan Jernih JernihReduksi Negatif Negatif Bilirubin Negatif NegatifKeton urin Negatif Negatif BJ 1,015 1,015-0,025Darah samar Negatif Negatif PH 5,50 5-8,5Protein Negatif Negatif Urobilinogen 0,20 0,2-1 EU/LNitirit Negatif Negatif LeukositNegatif Negatif esterase Sedimen urinLeukosit 0-1 0-2/LPK Eritosit 0-2 0-3/LPKSel epitel Positif positif/LPK KristalKalsium oksalat Negatif Negatif/LPK

Tanggal Rujukan 2−4-2015

  Assessment : Sefotaksim merupakan antibiotika dalam kategori B untuk keamanan pada wanita hamil, dan tidak ada interaksi antara sefotaksim dengan obat lain yang digunakan yang dapat menimbulakn Assessment : Untuk obat sejenis tidak ada obat yang lebih murah. Bakteri yang paling sering ditransmisikan melalui makanan Kategori IVB Lolos kategori IVB (tidak ada antibiotika lain yang kurang toksik)Assessment : Obat ini cukup aman digunakan oleh pasien dan tidak ada interaksi dengan obat lain yang sifatnya merugikan (Lacy, et al., 2011).

Rujukan 22−4-2015

  Sefiksim Kategori Hasil Assessment (Lolos atau Tidak Lolos Per Kategori) GyssensKategori VI Lolos kategori VI (data rekam medis pasien lengkap) Assessment : Data rekam medis pasien lengkapKategori V Tidak lolos kategori V (tidak ada indikasi penggunaan antibiotika) Assessment : Pasien terdiagnosa gastroenteritis akut dengan dehidrasi. Kategori IVB Lolos kategori IVB (tidak ada antibiotika lain yang kurang toksik)Assessment : Metronidazol cukup aman (tidak kontraindikasi) dengan kondisi klinis pasien, dan tidak ada interaksi dengan obat lain yang sifatnya merugikan (Lacy, et al., 2011) Kategori IVC Lolos kategori IVC (tidak ada pilihan antibiotika yang lebih murah).

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Evaluasi penggunaan obat antihipertensi pada pasien di insatalasi rawat Inap RSUD Panembahan Senopati Bantul.
1
2
49
Evaluasi penggunaan obat antihipertensi pada pasien geriatri di Instalasi Rawat Inap RSUD Panembahan Senopati Bantul.
0
1
50
Evaluasi peresepan antibiotika dengan metode gyssens pada pasien leptospirosis di RSUD Panembahan Senopati Bantul Periode Januari-Mei 2015.
1
10
242
Evaluasi interaksi penggunaan obat hipoglikemi pada pasien rawat inap di Bangsal Cempaka RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Agustus 2015.
0
1
92
Evaluasi peresepan antibiotika profilaksis dengan metode gyssens pada pasien yang menjalani operasi sesar pada Bulan April 2015 di RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta.
2
21
186
Evaluasi interaksi penggunaan obat antihipertensi pada pasien rawat inap di Bangsal Cempaka RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Agustus 2015.
0
4
109
Evaluasi pelayanan informasi obat pada pasien di instalasi farmasi RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta.
8
72
110
Evaluasi peresepan antibiotika dengan metode gyssens pada pasien infeksi sepsis neonatal periode Maret-April 2015 di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta.
0
7
188
Evaluasi penggunaan obat Hipoglikemia pada pasien di instalasi rawat inap bangsal Bakung RSUD Panembahan Senopati Bantul Periode Agustus 2015.
1
6
117
Efektivitas penggunaan obat antihipertensi di Instalasi Rawat Inap bangsal Bakung RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Agustus 2015.
1
9
95
Evaluasi kerasionalan penggunaan antibiotika pada pasien anak dengan demam tifoid berdasarkan kriteria Gyssens di Instalasi Rawat Inap Rsud Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta periode Januari-Desember 2013.
2
8
201
Studi literatur interaksi obat pada peresepan pasien gagal ginjal kronik di instalasi rawat jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta periode Desember 2013.
7
45
147
Studi pustaka interaksi obat pada peresepan pasien tuberkulosis di Instalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Oktober-Desember 2013.
1
7
142
Evaluasi penggunaan obat antihipertensi pada pasien geriatri di Instalasi Rawat Inap RSUD Panembahan Senopati Bantul
0
0
48
Studi literatur interaksi obat pada peresepan pasien hipertensi di Instalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta periode Desember tahun 2013 - USD Repository
0
1
144
Show more