TEOLOGI KRISTEN TENTANG KERJA VOCATION

 0  0  13  2018-10-04 11:36:54 Report infringing document

  Jurnal Transformasi 9/1 (Juni 2013)

  VOCATION

TEOLOGI KRISTEN TENTANG KERJA ( )

PADA MASA

PRA-REFORMASI DAN REFORMASI

  Sukamto

  

Abstrak

Kerja merupakan mandat suci yang diberikan Allah kepada manusia.

Pada perkembangannya maknanya mengalami distorsi. Agustinus

contemplative life" dipengaruhi oleh Plato yang memberi penilaian "

( devita contemplativa ) lebih tinggi dibandingkan “active life” (de vita

activa). Pandangan ini kemudian sangat mempengaruhi corak pikir

Abad Pertengahan sehingga memunculkan perbedaan yang mencolok

sacred calling dan secular work. Perbedaan ini kemudian antara

direvisi oleh para Reformator, tidak ada secular work semuanya

adalah sacred calling karena tujuannya adalah untuk kemuliaan

Allah. Kata kunci: Kerja, Vocation, Abad Pertengahan, Reformasi.

  stilah kerja atau pekerjaan dalam bahasa Inggris bisa digunakan work, job, employment, beberapa kata untuk menyebutnya working, occupation, vocation. Dari beberapa kata tersebut kata

  I

  vocation mempunyai arti yang menarik. Kata vocation yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan pekerjaan berasal dari bahasa Latin vocare jika diterjemahkan maknanya adalah memanggil. Artinya merupakan panggilan. Siapa yang memanggil? Allah sendiri Sang 1 Pencipta manusia.

  Panggilan untuk bekerja, mengusahakan tanah diberikan kepada manusia pada manusia diciptakan, “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu” (Kej. 2:15). Namun panggilan yang mulia ini dalam perkembangan sejarahnya telah dimaknai dengan berbagai cara dari yang negatif sampai yang positif. Tulisan ini membahas perkembangan teologi kerja ( vocation) dari masa pra-reformasi dan reformasi.

  1. Teologi Kerja Masa Pra-Reformasi

  vocation, sangat di- Pandangan pra-reformasi tentang kerja, pengaruhi oleh filsafat Yunani khususnya tentang materi. Pengaruh ini bisa dirunut sejak awal perkembangan kekristenan. Kekristenan berkembang dalam tiga konteks besar yaitu Yahudi, Roma, dan Yunani. Konteks agama banyak dipengaruhi oleh Yahudi, politik, sosial ekonomi banyak dipengaruhi oleh Roma, namun secara

  Greek). Bisa dikatakan pemikiran banyak dipengaruhi oleh Yunani ( 2 bahwa Greek thinking controlled the minds of men. Pemikiran Yunani yang sangat berpengaruh bagi konsep pra-reformasi tentang kerja adalah filsafat Plato. Plato mengajarkan bahwa dunia dibagi ideas yang tidak kelihatan (unseen world) menjadi dua yaitu: (1) dunia apa yang dimaksud ideas adalah spiritual realities that exist in an unseen world. (2) dunia materi yang merupakan source of all evil 3 —of pain, disappointment, imperfection, sorrow, and death. Begitu juga dengan manusia terdiri dari dua bagian yaitu jiwa/roh dan tubuh, dalam pandangan Plato jiwa/roh lebih tinggi kedudukannya 1 dibandingkan dengan tubuh. Karena segala sesuatu yang berbau materi

  

R. Paul Stevens, God’s Business: Memaknai Bisnis Secara Kristiani, (Jakarta: BPK

2 Gunung Mulia, 2008): 27.

  

Harry R. Boer, A Short History of the Early Church, (Grand Rapids, Michigan: Wm.

  (dunia bawah) disebut sebagai sumber segala kejahatan maka nilainya dipandang lebih rendah, inferior dibandingkan dengan dunia atas. Untuk itu tujuan hidup manusia harus difokuskan ke atas jangan ke bawah. Seperti diungkapkan oleh Kristiyanto, “... dunia atas merupakan kerajaan terang yang berasal dari Allah yang melawan 4 kerajaan gelap ya ng berasal dari materi”.

  Pandangan seperti tersebut di atas menghasilkan sebuah paham yang disebut dengan dualisme. Paham dualisme adalah sebuah paham yang menekankan tentang eksistensi dua alam yang independen, terpisah, tidak dapat direduksi bahkan alam atas lebih baik dari pada alam bawah. Plotinus seorang filsuf yang pikirannya sangat mem- pengaruhi Agustinus dan kekristenan Barat menggambarkan perbedaan besar antara spiritualitas dan materialisme sebagai berikut:

  "Kesenangan yang dicari bagi kehidupan kaum spirituaris melarang segala bentuk kenikmatan tubuh yang tidak bermoral atau pemuasan badani... Biarkan manusia yang terikat dengan bumi ini ( sic) menampakkan kegagahannya, kekuatannya, dan kekayaannya, serta condong kepada dunia ini sehingga dapat menguasai seluruh umat manusia: tetapi tidak boleh ada yang merasa iri terhadapnya, hanya orang bodoh yang terpikat olehnya.” Kaum spiritualis, sebaliknya, akan menanggalkan "tirani tubuh... dengan mengabaikan seluruh 5 klaimnya”.

  Begitu juga dengan kerja, karena kerja masuk dunia bawah maka dalam pandangan Yunani secara tepat dapat disimpulkan seperti dalam 6 ungkapan Adriano Tilgher “work was a curse and nothing else.” Bapa-bapa gereja mula-mula banyak dipengaruhi oleh pemahaman 4 seperti ini sehingga mereka menerapkan pendekatan “atas bawah”

  

Eddy Kristiyanto, Selilit Sang Nabi: Bisik-bisik tentang Aliran Sesat, (Yogyakarta:

5 Kanisius, 2007), 38. 6 R. Paul Stevens, God’s Business: Memaknai Bisnis Secara Kristiani, 57.

  

Lee Hardy, The Fabric of this World: Inquiries into Calling, Career Choice, and the

  7

  dalam kehidupan. Jabatan-jabatan atau pekerjaan-pekerjaan di dalam dunia yang dianggap mempunyai nilai tertinggi adalah yang berkaitan dengan dunia spiritualitas dan cenderung meremehkan dunia materi. Para biarawan, biarawati, imam dan para pastor merupakan pekerjaan- pekerjaan yang mulia, mereka menolak melakukan pekerjaan biasa di dunia karena dinilai lebih rendah. Eusibius yang hidup sekitar 315 M mewakili pandangan seperti tersebut di atas:

  Dua cara hidup yang telah diberikan oleh hukum Kristus kepada Gereja-Nya. Satu adalah mengatasi alam, dan melampaui kehidupan biasa manusia hidup; itu berarti dilarang menikah, mempunyai anak, menyimpan harta benda atau menjadi kaya, melainkan benar-benar terpisah secara total dari kehidupan biasa manusia pada umumnya, menyerahkan diri untuk melayani Allah sendiri dalam kekayaan kasih surgawi!... Oleh karena itu, inilah bentuk sempurna kehidupan Kristen. Dan yang lain, lebih rendah hati, lebih manusiawi, meng- izinkan manusia bersatu dalam perkawinan dan mempunyai anak, bertanggung jawab kepada pemerintah, memberi perintah kepada tentara untuk berperang demi kebenaran; kepentingan sekuler setara retret dengan kepentingan agama; bagi orang-orang seperti ini waktu dan bekerja dipisahkan dari waktu untuk mendengarkan hal-hal yang suci. Mereka termasuk dalam golongan orang-orang saleh tingkat kedua... (Stevens 2008:57).

  Orang-orang yang bekerja di luar monasteri disebut sebagai kaum awam ( laity). Istilah laity tidak terdapat dalam Alkitab baik dalam terjemahan tua Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani yang disebut Septuaginta. Istilah ini digunakan dalam dunia Roma-Yunani untuk menunjuk pada hal-hal profane (materi) yang dimiliki orang-orang 8 7 desa di Mesir. 8 R. Paul Stevens, God’s Business: Memaknai Bisnis Secara Kristiani, 56.

  

Hans-Ruedi Weber, On Being Christian in the World: Reflections on the ecumenical

discussion about the laity, Le Cénacle, Geneva, 7-10 May 1997.

  In the course of church history the laity were usually seen as

Christians who are neither clergy nor monks and nuns. Such a

distinction can be helpful because each of these groups has a

differently oriented vocation within the life and mission of Christ's

company. For the clergy this is signified by a special ordination, for

members of religious orders by the monastic vows. This paper does not

deal with the function and status of set apart minister and religious

orders but with those who are usually only negatively referred to as

  9 the non-clergy.

  Agustinus bapa gereja yang hidup antara tahun 354-430 M penulis De civitate dei pandangan dasarnya tentang dunia dipengaruhi buku oleh pemahamannya tentang hubungan Kota Allah dengan Kota Manusia. Menurut Agustinus kehidupan dibagi dan dibedakan ke dalam dua bagian ( Two Lives ) yaitu “active life” (de vita activa) dengan 10

  " contemplative life" (devita contemplativa). Dalam The City of God Book VIII, 4 dituliskan,

  And, as as the study of wisdom consists in action and contemplation, so that one part of it may be called active, and the other contemplativethe active part having reference to the conduct of life, that is, to the regulation of morals, and the contemplative part 11 to the investigation into the causes of nature and into pure truth ...

  Hal yang sama diungkapkan dalam Tractatus in evangelium Iohannis cxxiv.5 yang dikutip oleh Butler, dua dunia dikontraskan secara tajam:

  9 Hans-Ruedi Weber, On Being Christian in the World: Reflections on the ecumenical

discussion about the laity, Le Cénacle, Geneva, 7-10 May 1997.

10 Diakses 30 Mei 2013.

  

Dom Cuthbert Butler, Western Mysticism: The Teaching of Ss. Augustine, Gregory

and Bernard on Contemplation and contemplative Life, (London: E. P. Dutton & Co,

  The Church knows two lives divinely preached and commended unto her: whereof the one is in fa ith, the other in ‘specie’; the one is in the time of pilgrimage, the other in eternity of abiding; the one is in labour, the other in rest; the one is on the way, the other in the [true] country; the one is in the work of action, the other in the reward of contemplation; the one turns away from evil and does good, the other has no evil from which to turn away, and has great good to enjoy; the one wars with the foe, the other reigns without a foe; the one is strong in things adverse, the other has no sense of aught adverse; the one bridles the lusts of the flesh, the other is given up to the joys of the spirit; the one is anxious with the care of getting the victory, the other in the peace of victory is without care; the one is helped in temptations, the other, without any temptation, rejoices in its Helper Himself; the one assists the needy, the other is where it finds none needy; the one pardons the sins of others that its own sins may be pardoned, the other suffers nothingthat it can pardon, nor does anything that calls for pardon; the one is scourged with evil that it be not lifted up with good things, the other through so great fullness of grace is without any evil, so that without temptation of pride it cleaves to the Supreme Good; the one discerns between good and evil, the other sees things which are only good: therefore the one is good, but still in miseries; the other is better and in beatitude (Tract. In Ioan. 12 Cxxiv. 5).

  Kemudian Agustinus dengan tidak ragu-ragu menarik kesimpulan superioritas " contemplative life" (devita contemplativa ) atas “active life

  ” (de vita activa) dengan berdasarkan penafsiran pada kisah Marta dan Maria. Marta memilih bagian yang baik tetapi Maria memilih yang lebih baik.

  Martha chose a good part, but Mary the better. What Martha chose passes away. She ministered to the hungry, the thirsty, the homeless: but all these pass away, there will be when none will hunger nor thirst. Therefore will her care be taken from her, ‘Mary hath chosen the better part (meliorem), which shall not be taken away from her’. She hath chosen to contemplate, to live by the Word (cbdx, 13 17).

  Agustinus memang memuji pekerjaan petani, tukang kayu, dan juga pedagang namun dia secara yakin bepikir bahwa: “Christians will not refuse the discipline of this temporal life. However, he tended to

  14 Demikian juga

  view this life as only a school for life eternal.” denganGregorius Agung yang berpendapat sama dengan Agustinus bahwa,

  The contemplative life is greater in merit than the active, which labours in the exercise of present work, whilst the other already tastes with inward savour the rest that is to come. Although the active life is 15 good, the contemplative is better (Horn, in Ezech. i. iii. 9).

  Pandangan-pandangan Agustinus tersebut sangat berpengaruh pada masa Abad Pertengahan. Pada abad ini yang disebut dengan real Christianity adalah para rahib yang hidup dalam biara monastisisme. Ciri dari kehidupan monastisisme adalah “implies a strong ethos of withdrawal from society and culture, abandoning of the world, having

13 Western Mysticism: The Teaching of Ss. Augustine, Gregory

  Dom Cuthbert Butler,

and Bernard on Contemplation and contemplative Life, 160. Bandingkan juga dengan

Two lives are held out to us pemahaman alegoris Agustinus atas kisah Lea dan Rahel:

in the Body of Christ the one temporal, in which we labour; the other eternal, in

which we shall contemplate the delights of God. The names of Jacob's wives teach us

to understand this. For it is said that Lia is interpreted ‘labouring’, and Rachel ‘the

Beginning see n’, or ‘the Word by which is seen the Beginning’. Therefore the action of

human and mortal life, in which we live by faith, doing many laborious works, is Lia.

But the hope of the eternal contemplation of God, which has a sure and delightful

14 understanding of the truth, is Rachel (c. Faust, xxii. 52).

  

John A. Bernbaum and Simon M. Steer, Why Work? Careers and Employment in

Biblical Perspective, (Grand Rapids, Michigan: Baker Book House dan Washington,

D.C.,: Christian College Coalition, 1986), 19.

16 Oleh karena itu teologi yang

  nothing to do with humanity.” 17 dikembangkan di monasteri tidak berbicara masalah vocation. Betul seperti yang disimpulkan oleh Stevens bahwa, “... cara Maria yang kontemplatif, mengatasi dan menentang kehidupan sekuler, yakni cara 18 Marta yang aktif bekerja di dunia.” Pada abad inilah munculah 19 perbedaan yang mencolok antara sacred calling dan secular work.

  Sehingga kemudian muncul istilah kerja rohani dan kerja sekular, sekolah rohani dan sekolah sekular, sebuah pembagian yang mempunyai konotasi ada yang superior dan yang inferior. Pandangan dualistik ala Plato telah berpengaruh dan berkembang ke ranah dunia kerja.

  Thomas Aquinas seorang pemikir yang sangat menonjol pada abad pertengahan. Gagasan Thomas Aquinas tentang dunia juga dipengaruhi oleh Agustinus yaitu membedakan dunia kehidupan “active life” (de vita activa) dengan "contemplative life" (devita contemplativa). Vita Contemplativa orientasinya ke eternal sedangkan vita Activa perlu 20 untuk kehidupan sekarang. Bagi Thomas Aquinas, “... the life decoted to inner stillness and spiritual knowledge, the vita contemplativa, is 21 the highest form of human activity .”

  Sama dengan Agustinus, contemplative life (devita Thomas Aquinas meyakini bahwa contemplativa) lebih bernilai daripada active life (de vita activa).

  Sampai pada masa Abad Pertengahan dominasi pemikiran bahwa 16 sacred calling lebih mulia daripada secular calling masih sangat kuat.

  

Klaus Bockmuehl, “Recovering Vocation Today,” dalam With Heart, mind &

Strength: The Best of Crux, 1979-1989, Donald M. Lewis, ed., (Regent: Regent College

17 Publishing, 1990), 88. 18 Klaus Bockmuehl, “Recovering Vocation Today,” 89.

  God’s Business: Memaknai Bisnis Secara Kristiani, 56. 19 R. Paul Stevens,

Joshua P. Guzman, “Eschatological Significance of Human Vocation,” An Integrative

20 Thesis Master of Arts Reformed Theological Seminary, (2004), 25.

  

John A. Bernbaum and Simon M. Steer, Why Work? Careers and Employment in

Biblical Perspective, 20.

2. Teologi Kerja Masa Reformasi

  Teologi Reformasi merupakan koreksi atau bisa disebut sebagai perlawanan terhadap pandangan pemikiran yang berkembang pada Abad Pertengahan. Jika pada Abad Pertengahan real Christianity ada di monasteri-monasteri maka pada masa reformasi, “True Christianity” berada di kehidupan orang-orang awam dalam pekerjaan kesehariannya. “ The real “saint” is now the “secular saint” –not the one who

  22

  withdraws from society Untuk itu bisa dikatakan bahwa ....” 23

  “Reformation returns the Christians into the world.”

  Luther menolak pandangan bahwa kehidupan di monasteri

(menjadi biarawan, imam, pendeta) lebih superior dibandingkan

dengan hidup di ranah umum. Untuk menyenangkan Allah tidak

harus menjadi pertapa di monasteri tetapi bisa dengan cara

menjalankan hidup di dunia keseharian. Seperti yang ditulis oleh

Luther sebagai berikut:

  If you ask further, whether they count it also a good work when they work at their trade, walk, stand, eat, drink, sleep, and do all kinds of works for the nourishment of the body or for the common welfare, and whether they believe that God takes pleasure in them because of such works, you will find that they say, "No"; and they define good works so narrowly that they are made to consist only of praying in church, fasting, and almsgiving.Other works they consider to be in vain, and think that God cares nothing for them. Sothrough their damnable unbelief they curtail and lessen the service of God, Who is servedby all things whatsoever that are done, spoken or thought in faith.

  So teaches Ecclesiastes ix: "Go thy way with joy, eat and drink, and know that God accepteth thy works. Let thy garments be always white; and let thy head lack no ointment. Live joyfully with the wife whom thou lovest all the days of the life of thy vanity." “Let thy garments be always white," that is, let all our works be good, whatever they may be, without any distinction. And they are white when I am certain and believe that they please God. Then shall the head of my 24 soul never lack the ointment of a joyful conscience.

  Hal yang sama dia tulis dalam An Open to the Christian Nobility, all Christians are truly of the Spiritual estate. dia menyatakan bahwa Adapun bunyi lengkapnya sebagai berikut:

  It is pure invention that pope, bishops, priests and monks are to be called the " spiritual estate"; princes, lords, arti- sans, and farmers the " temporal estate. " That is a fine bit of lying and hypocrisy. Yet no one should be frightened by it ; and for this reason - viz., that all Christians are truly of the "spiritual estate," and there is among them no difference at all but that of office, as Paul says in I Cor. XII, We are all one body, yet every member has its own work, whereby it serves every other, all because we have one baptism, one Gospel, one faith, and are all alike Christians ; for baptism, Gospel and faith alone make

  

25

us "spiritual" and a Christian people.

  Orang-orang Abad Pertengahan dianggap oleh Luther telah good works) yaitu menyempitkan pemahaman pekerjaan yang baik ( dengan membatasi bahwa kerja yang baik adalah dalam hal doa di gereja, puasa, dan persembahan-persembahan untuk gereja. Kuncinya bukan terletak pada aktivitas yang mereka lakukan tetapi pada keyakinan mereka atas Allah, meskipun mereka melakukan doa, puasa, penebusan dosa, tetapi kalau tidak bersatu dengan Allah ( he who is not at one with God) semuanya sia-sia.

  So a Christian who lives in this confidence toward God, a knows all things, can do all things, undertakes all things that are to be done, and does everything cheerfully and freely; not that he may gather many merits and good works, but because it is a pleasure for him to 24 please God thereby, and he serves God purely for nothing, content

  

Martin Luther, A Treatise on Good Works, (Rockville, Maryland: Serenity Publishers, 2009), 22-23. that his service pleases God. On the other hand, he who is not at one with God, or doubts, hunts and worries in what way he may do enough and with many works move God. He runs to St. James of Compostella, to Rome, to Jerusalem, hither and yon, prays St. Bridget's prayer and the rest, fasts on this day and on that, makes confession here, and makes confession there, questions this man and that, and yet finds no peace. He does all this with great effort, despair and disrelish of heart, so that the Scriptures rightly call such works in Hebrew Avenama, that is, labor and travail. And even then they are not good

  26 works, and are all lost.

  Konsep Luther tentang kerja dipengaruhi oleh penafsiran atas 1 27 Korintus 7:20 “Baiklah tiap-tiap orang tinggal dalam keadaan, seperti klhsei ) Allah.” Dalam teks tersebut Luther waktu ia dipanggil ( menterjemahkan kata klesis (klhsei) dalam bahasa Yunani dengan kata Beruf dalam bahasa Jerman yang diterjemahkan calling. Bagi Luther setiap pekerjaan bukan hanya imam atau romo adalah calling 28 sesuatu yang diberikan Allah kepada manusia.

  Tujuan kerja bagi Luther adalah bekerja bukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk orang lain. Bagi Luther “A Christian is a perfectly free lord of all, subject to none. A Christian is a perfectly

  29 Bahkan dengan tegas ia

  dutiful servant of all, subject to all.” menuliskan bahwa: A man does not live for himself alone in this mortal body to work for italone, but he lives also for all men on earth; rather, he lives only

  26 A Treatise on Good Works, (Rockville, Maryland: Serenity Martin Luther, 27 Publishers, 2009), 25-26. 28 e]kastoj evn th klhsei h eklhqh ev tauth menetw

Ian Hart, “The Teaching of Luther and Calvin about Ordinary Work: 1. Martin Luther (1483- 1646),” Evangelical Quarterly 67: 1 (1995), 43-44. forothers and not for himself. To this end he brings his body into

  30 subjectionthat he may the more sincerely and freely serve others ...

  Pandangan Calvin tentang kerja tidak terlalu jauh berbeda dengan Luther. Calvin berpendapat bahwa penyangkalan diri Kristen memiliki dua aspek yaitu (1) aspek Allah yang mencakup bahwa hidup bukan hanya untuk diri sendiri tetapi untuk kemuliaan Allah, dan aspek manusia yang mencakup mencari yang baik bagi sesama daripada 31 hanya untuk diri sendiri. Menurut Calvin pada dasarnya Allah menciptakan manusia dengan tujuan untuk bekerja:

  Here Moses adds that the earth was leased to man, on this condition, thathe busies himself cultivating it. It follows from this that men were madeto employ themselves doing something and not to be 32 lazy and idle.

  Awalnya pekerjaan merupakan sesuatu yang menyenangkan bagi Adam namun menjadi berbeda ketika terjadi kejatuhan di dalam dosa. Kerja menjadi sebuah beban. Namun kutuk atas kerja ini dibebaskan oleh Kristus. Seperti Luther, Calvin meyakini bahwa pekerjaan sehari- calling, dipengaruhi oleh doktrin predestinasinya hari adalah sebuah

  Calvin bahkan berkeyakinan setiap manusia mungkin untuk menemukan pekerjaan apa yang Allah inginkan dalam hidup seseorang. Calvin juga berpendapat bahwa semua pekerjaan adalah 33 baik semua ada di dalam lawful ordinances of God.

  Masa Reformasi merupakan titik balik tentang teologi kerja. Kerja yang dipandang rendah, inferior oleh para teolog Abad Pertengahan dibandingkan dengan hidup membiara di monasteri dikembalikan 30 oleh para teolog Reformator pada tempat yang sesungguhnya. Kerja

  

Ian Hart, “The Teaching of Luther and Calvin about Ordinary Work: 1. Martin

31 Luther (1483- 1646),” 42.

  

Ian Hart, “The Teaching of Luther and Calvin about Ordinmy Work: 2. John Calvin

(1509- 32 64),” TheEvangelical Quarterly 67:2 (1995), 121.

  Calvinus: in Mosis libros, ad loco Gn. 2:15 dikutip Ian Hart, “The Teaching of Luther and Calvin about Ordinmy Work: 2. John Calvin (1509- 64),”121-122. merupakan panggilan suci yang harus dilakukan oleh setiap manusia. Kerja dikembalikan pada kesakralannya. Nilai sakralnya tidak terletak pada di mana kerja dilakukan entah itu di monasteri (gereja) atau di dunia umum jika tujuannya untuk Kemuliaan Allah maka pekerjaan sacred calling dalam bahasa Luther spiritual estate. itu masuk di dalam

3. Kesimpulan

  Kerja merupakan panggilan Allah, mandat suci yang diberikan Allah kepada manusia ketika ia diciptakan. Kerja yang suci ini pada perkembangannya maknanya mengalami distorsi. Agustinus di- pengaruhi oleh Plato membedakan kehidupan ke dalam dua area yaitu “active life” (de vita activa) dengan "contemplative life" (devita contemplativa). Active life yaitu kerja dalam kehidupan sehari-hari dinilai lebih rendah jika dibandingkan dengan area contemplative life (kerja dalam monasteri, gereja). Pandangan ini kemudian sangat mempengaruhi corak pikir Abad Pertengahan termasuk pemikiran Thomas Aquinas sehingga memunculkan perbedaan yang mencolok antara sacred calling dan secular work.

  Perbedaan ini kemudian direvisi oleh para Reformator (Marthin Luther dan John Calvin). Jika pada Abad Pertengahan real Christianity ada di monasteri-monasteri maka pada masa reformasi, “True Christianity” berada di kehidupan orang-orang awam dalam pekerjaan keseharian- secular work semuanya adalah sacred calling ter- nya. Tidak ada gantung dari tujuannya kerja yaitu untuk kemuliaan Allah, yang membedakan bukan tempatnya tetapi tujuannya.

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2018-08-08

Dokumen yang terkait
Tags
Teologi Kristen Modern Di Asia Teologi Kristen Modern Di Afrika Teologi Kristen Modern Di Eropa Teologi

Soal Tentang Etika Kristen Pengaruhnya

Pandangan Kristen Tentang Bunda Maria

Makalah Tentang Kerja Sama Syirkah

Laporan Tentang Kepuasan Kerja Karyawan

Makalah Ekonomi Tentang Kesempatan Kerja

Pandangan Kristen Tentang Dosa Asal Muas

TEOLOGI KRISTEN TENTANG KERJA VOCATION

Gratis

Feedback