BAB II TINJAUAN PUSTAKA - Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Intellectual Capital Perusahaan Manufaktur di Indonesia

Gratis

0
0
17
9 months ago
Preview
Full text

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Resources-Based Theory

  Resources-Based Theory dipelopori oleh Penrose (1959) yang

  mengemukakan bahwa sumber daya perusahaan bersifat heterogen, tidak homogen, dan jasa produkstif yang berasal dari sumber daya perusahaan yang memberikan karakter unik bagi tiap-tiap perusahaan. Dalam Resources-Based

  Theory , sumber daya dapat secara umum didefinisikan untuk memasukkan aset,

  proses organisasi, atribut perusahaan, informasi, atau pengetahuan yang dikendalikan oleh perusahaan yang dapat digunakan untuk memahami dan menerapkan strategi mereka (Daft , 1983).

  Sumber daya harus memenuhi kriteria-kriteria tersebut di bawah ini agar dapat memberikan keunggulan kompetitif dan kinerja yang berkelanjutan, yaitu :

  1. Sumber daya yang unik secara fisik.

  2. Sumber daya yang memerlukan waktu lama dan biaya yang besar untuk memperolehnya.

  3. Sumber daya unik yang sulit dimiliki dan dimanfaatkan oleh pesaing.

  4. Sumber daya yang memerlukan investasi modal yang besar untuk mendapatkannya serta membangun kapasitas produksi dalam skala ekonomis

  

capital memenuhi kriteria-kriteria sebagai sumber daya unik yang mampu menciptakan keunggulan kompetitif perusahaan sehingga dapat menciptakan

  

value added bagi perusahaan. Perusahaan menyadari bahwa penting untuk

  mengelola intellectual capital yang dimiliki. Apabila perusahaan dapat memaksimalkan sumber daya yang dimiliki, maka perusahaan tersebut akan memiliki suatu value added yang dapat memberikan suatu karateristik tersendiri. Oleh karena itu dengan adanya karateristik yang dimiliki, perusahaan mampu mencapai keunggulan kompetitif yang nantinya hanya dimiliki oleh perusahaan itu sendiri. Dan perusahaan pastinya akan mendapatkan nilai tambah yang berupa peningkatan kinerja perusahaan.

2.2 Kinerja Keuangan Perusahaan

  Kinerja perusahaan dapat diukur dengan menggunakan dua dasar elemen, yaitu elemen keuangan maupun elemen non-keuangan. Pengukuran kinerja keuangan dapat menggunakan banyak metode pengukuran, di antaranya adalah

  market to book value (MtBV), return on assets (ROA), return on equity (ROE), employee productivity (EP), earnings per share (EPS), annual stock return (ASR)

  (Jogiyanto, 2008). Pada penelitian ini kinerja keuangan perusahaan diukur menggunakan return on assets (ROA), earnings per share (EPS) dan employee

  productivity (EP). Penggunaan rasio tersebut dalam penelitian ini dianggap telah

  mampu menilai kinerja keuangan perusahaan dalam memanfaatkan aspek kinerja intellectual capital nya.

  2.2.1 Return on Asset (ROA) Return on assets (ROA) yaitu indikator kemampuan sebuah unit usaha untuk memperoleh laba atas sejumlah aset yang dimiliki oleh unit usaha tersebut.

  ROA dapat diperoleh dengan cara menghitung rasio antara laba setelah pajak dengan total aktiva (Net Income dibagi Total Assets). (Munawir, 2002). Rasio ROA ini sering dipakai manajemen untuk mengukur kinerja keuangan perusahaan dan menilai kinerja operasional dalam memanfaatkan sumber daya yang dimiliki perusahaan, disamping perlu mempertimbangkan masalah pembiayaan terhadap aktiva tersebut. Nilai ROA yang semakin mendekati 1, berarti semakin baik profitabilitas perusahaan karena setiap aktiva yang ada dapat menghasilkan laba. Dengan kata lain semakin tinggi nilai ROA maka semakin baik kinerja keuangan perusahaan tersebut (Munawir, 2002).

  2.2.2 Earning Per Share (EPS)

  Menurut Tandelilin (2001: 241), “komponen penting pertama yang harus diperhatikan dalam analisis perusahaan adalah laba per lembar saham atau yang lebih dikenal sebagai Earning Per Share (EPS)”. Bagi para investor, informasi

  earning per share merupakan informasi yang dianggap paling mendasar dan

  berguna, karena dapat menggambarkan prospek earning perusahaan di masa depan (Tandelilin, 2001: 233). Oleh karena itu, informasi earning per share suatu perusahaan menunjukkan besarnya rupiah dari keuntungan perusahaan yang siap

  Laba Bersih EPS =

  Jumlah Saham yang Beredar Semakin besar nilai EPS menunjukkan perusahaan mampu memberikan laba yang lebih tinggi bagi investor.

2.2.3 Employee Productivity (EP)

  Bambang Kusriyanto (1993) memberikan pendapatnya bahwa produktivitas merupakan nisbah atau rasio antara hasil kegiatan (output) dan segala pengorbanan (biaya) untuk mewujudkan hasil tersebut (input). Employee

  productivity (EP) merupakan pengukuran untuk nilai tambah bersih per karyawan,

  yang merefleksikan produktivitas karyawan. EP merupakan perbandingan antara hasil yang dicapai oleh perusahaan dengan jumlah tenaga kerja perusahaan.

2.3 Umur Perusahaan

  Umur perusahaan digunakan untuk mengukur pengaruh lamanya perusahaan beroperasi terhadap kinerja perusahaan. Umur perusahaan menunjukkan perusahaan tetap eksis, mampu bersaing dan memanfaatkan peluang bisnis dalam suatu perekonomian. Dengan mengetahui umur perusahaan, maka akan diketahui pula sejauh mana perusahaan tersebut dapat survive.

  Selama ini penelitian tentang intellectual capital yang menggunakan umur perusahaan hanya yang berhubungan dengan pengungkapan informasi intellectual

  capital dalam laporan tahunan perusahaan. Ulum (2009) menunjukkan bahwa

  umur perusahaan memiliki hubungan yang positif dengan pengungkapan intellectual capital .

  Alasan yang mendasari memasukkan umur perusahaan ini adalah bahwa semakin tua umur perusahaan, maka memiliki pengalaman yang lebih banyak dalam pengelolaan dan pemeliharaan intellectual capital akan menjadi lebih optimal dan dengan sendirinya dapat meningkatkan kinerja intellectual capital tersebut. Sehingga selain kinerja yang meningkat nilai reputasi perusahaan pun akan semakin tinggi pula.

  2.4 Ukuran Perusahaan

  Ukuran perusahaan mencerminkan besar kecilnya perusahaan yang tampak dalam nilai total aset perusahaan pada neraca akhir tahun (Sujoko dan Soebiantoro, 2007). Semakin besar total aset maka semakin besar pula ukuran suatu perusahaan. Perusahaan besar dengan jumlah aset yang besar memiliki dana lebih banyak untuk diinvestasikan dalam intellectual capital. Ketersediaan dana dalam jumlah yang besar akan membuat pengelolaan dan pemeliharaan

  

intellectual capital menjadi semakin optimal dan akan menghasilkan kinerja

intellectual capital yang lebih tinggi. Aset menunjukkan aktiva yang digunakan

  untuk aktivitas operasional perusahaan (Sujoko dan Soebiantoro, 2007).

  2.5 Intellectual Capital Intellectual capital pada umumnya didefinisikan sebagai perbedaan antara

  nilai pasar perusahaan dan nilai buku dari aset perusahaan tersebut atau dari

  financial capital nya. Hal ini berdasarkan observasi bahwa sejak akhir 1980-an,

  berdasarkan pengetahuan keuangan telah menjadi lebih besar dari nilai yang dilaporkan dalam laporan keuangan berdasarkan perhitungan yang dilakukan oleh akuntan (Roslender dan Fincham, 2004).

  Stewart (1994) mendefinisikan intellectual capital sebagai berikut:

  “The sum of everything everybody in your company knows that gives you a competitive edge in the market place. It is intellectual material – knowledge, information, intellectual property, experience – that can be put to use to create wealth”.

  Pulic (2001) mendefinisikan intellectual capital sebagai seluruh karyawan, perusahaan dan kemampuan mereka untuk menciptakan nilai tambah bagi perusahaan. Sedangkan menurut Heng (2006) mengartikan intellectual capital sebagai suatu aset pengetahuan di dalam perusahaan yang menjadi basis kompetisi inti perusahaan yang dapat mempengaruhi daya tahan dan keunggulan bersaing.

  Walaupun sampai sekarang belum ada definisi umum mengenai pengertian

  

intellectual capital , kebanyakan definisi menangkap arti yang sama bahwa

intellectual capital dianggap sebagai jumlah dari apa yang dihasilkan oleh tiga

  elemen utama organisasi (human capital, structural capital, customer capital) yang berkaitan dengan pengetahuan dan teknologi yang dapat memberikan nilai lebih (tambah) bagi perusahaan berupa keunggulan bersaing organisasi (Sawarjuwono dan Kadir, 2003).

2.6 Pengukuran Intellectual Capital

  Ada banyak konsep pengukuran intellectual capital yang dikembangkan oleh para peneliti saat ini, jika ditelaah lebih jauh maka metode yang dikembangkan tersebut dapat dikelompokkan ke dalam 2 kelompok, yaitu : pengukuran non monetary (non financial) dan pengukuran monetary (financial).

  Saat ini cukup banyak perusahaan yang menggunakan ukuran financial dalam menilai kinerja perusahaan (Knight 1999). Sementara itu Thornburg (1994) mengutip pendapat Edvinsson menyatakan bahwa:

  

“Non financial measures that help a company determine direction and

predict success might include the number of costumers the company has,

the number of ideas customer bring to the company and how they are

developed, the number of software packages compared to the number of

employees, how many people are tied into the internet system, how much networking is done between customers and employees, and similar measures that show the relationship between human, customer and structural capital.

  Banyak peneliti luar negeri yang telah melakukan penelitian dalam pengukuran intellectual capital, baik secara literatur maupun penerapan langsung pada perusahaan. Diawali tahun 1992, Arthur Andersen melaksanakan riset terhadap penilaian aset tidak berwujud. Survey dilakukan pada sejumlah perusahaan di Inggris. Dari hasil survey tersebut Andersen memberikan beberapa metode yang dapat digunakan untuk menilai aktiva tidak berwujud perusahaan (Partanen 1998), yaitu: 1. Market Based, yang meliputi nilai pasar yang dapat disamakan.

  2. Economic Based, meliputi net cash flow/earnings, kontribusi brand, metode royalti.

  3. Hybrid Based Model, meliputi pendekatan aset dan premium (PE). Menurut Luthy (2000) metode pengukuran intellectual capital dapat dikelompokkan kedalam dua kelompok besar, yaitu: metode yang dilakukan dengan component by component evaluation dan metode pengukuran yang tingkatan organisasi tanpa mengacu pada komponen–komponen individual intellectual capital.

  TM

2.7 Metode VAIC

  TM

  VAIC merupakan metode yang dikembangkan oleh Pulic (1998), didesain untuk menyajikan informasi mengenai value creation efficiency dari aset berwujud (tangible asset) dan aset tidak berwujud (intangible asset) yang dimiliki perusahaan. Model ini dimulai dengan kemampuan perusahaan untuk menciptakan value added (VA). VA adalah indikator paling objektif untuk menilai keberhasilan bisnis dan menunjukkan kemampuan perusahaan dalam penciptaan nilai (value creation) (Pulic, 1998). VA dihitung sebagai selisih antara output dan input (Pulic, 1998). VA secara teknik merupakan penjumlahan

  

retained profit, interest expense, salaries and wages, depreciation, dividend,

minority share , dan tax untuk pemerintah. Oleh karena itu, VA didefinisikan

  sebagai peningkatan pada nilai bersih perusahaan dikarenakan kegiatan operasi perusahaan. TM Komponen utama dari VAIC yang dikembangkan Pulic (1998) tersebut dapat dilihat dari sumber daya perusahaan, yaitu physical capital (VACA – Value

  

Added Capital Employed ), human capital (VAHU – Value Added Human

Capital ), dan structural capital (STVA – Structural Capital Value Added).

TM

  VAIC juga dikenal sebagai Value Creation Efficiency Analysis, dimana nilai yang dihasilkan dari perusahaan yang didapat dengan menggabungkan CEE

  (Capital Employed Efficiency), HCE (Human Capital Efficiency), dan SCE (Structure Capital Efficiency) (Pulic, 1998).

2.7.1 Value Added Capital Employed (VACA)

  VACA adalah indikator atau nilai tambah yang diciptakan oleh satu unit dari physical capital. VACA adalah perbandingan antara value added (VA) dengan model fisik yang bekerja (Capital Employed/CA). Capital employed ini menunjukkan hubungan harmonis yang dimiliki perusahaan dengan mitranya, baik yang berasal dari pemasok yang andal dan berkualitas, pelanggan yang loyal dan merasa puas dengan pelayanan perusahaan yang bersangkutan, serta hubungan perusahaan dengan pemerintah maupun dengan masyarakat sekitar (Belkaoui, 2003). Dalam proses penciptaan nilai intelektual potensial yang direpresentasikan dalam biaya karyawan tidak dihitung sebagai biaya (input) (Tan

  et al ., 2007).

  Pulic (1998) mengasumsikan bahwa jika satu unit CA menghasilkan

  

return yang lebih besar pada sebuah perusahaan, maka perusahaan tersebut

  mampu memanfaatkan CA dengan lebih baik. Jadi pemanfaatan lebih CA adalah bagian dari intellectual capital perusahaan. Ketika membandingkan lebih dari sebuah kelompok perusahaan. VACA menjadi sebuah indikator kemampuan intelektual perusahaan dalam memanfaatkan modal fisiknya (Tan et al,. 2007).

  VAHU mengindikasikan seberapa besar value added (VA) yang diciptakan oleh setiap rupiah pengeluaran untuk pegawai (Tan et al., 2007).

  Stewart (1997) menjelaskan bahwa human capital adalah kemampuan karyawan untuk menciptakan produk yang dapat menjaring konsumen sehingga konsumen tidak akan berpaling pada pesaing. Human capital mempresentasikan kemampuan perusahaan dalam mengelola sumber daya manusia dan menganggap manusia atau karyawan sebagai aset strategi perusahaan karena pengetahuan yang mereka miliki. VAHU dihitung dengan membagi value added yang diciptakan perusahaan dengan total salaries dan wages. Perhitungan ini mengasumsikan bahwa HC sebagai suatu investasi daripada sebagai expenses dan aakan diakui sebagai aset pada neraca (Pulic, 2000 dalam Saleh et al., 2008).

  Hubungan antara VA dan human capital (HC) mengindikasikan bahwa kemampuan HC adalah menciptakan nilai pada sebuah perusahaan. Pulic (1998) berpendapat bahwa biaya gaji dan upah merupakan indikator bagi HC. Ketika

  VAHU dibandingkan antar perusahaan, VAHU menjadi sebuah indikator kualitas sumber daya perusahaan. VAHU juga sebagai kemampuan perusahaan menghasilkan nilai tambah untuk setiap rupiah yang dikeluarkan pada HC (Kuryanto dan Syafruddin, 2008).

2.7.3 Structural Capital Value Added (STVA)

  STVA menunjukkan kontribusi modal struktural (SC) dalam pembentukan seperti data base yang memungkinkan orang-orang dihubungkan dan belajar satu sama lain, sehingga menumbuhkan sinergi karena adanya kemudahan berbagi pengetahuan dan bekerja sama antar individu dalam organisasi. Penciptaan dari

  structural capital ini berhubungan dengan pengetahuan atau nilai dari seseorang

  yang tidak akan begitu saja hilang kalau yang bersangkutan meninggalkan perusahaan karena pengetahuannya telah dirangkum dalam data base, sehingga perusahaan tidak akan kehilangan nilainya.

  Dalam model yang dikembangkan Pulic ini, STVA dihitung dengan membagi structural capital (SC) dengan value added (VA). Dalam model Pulic SC diperoleh dari VA dikurangi dengan HC. STVA menunjukkan kontribusi modal struktural dalam penciptaan nilai semakin kecil kontribusi HC dalam penciptaan nilai maka akan semakin besar kontribusi SC (Tan et al., 2007). Pulic (1998) menyatakan terdapat hubungan proposi yang berkebalikan antara HC dan SC.

2.8 Penelitian Terdahulu

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu No. Nama Peneliti Judul Variabel Hasil Penelitian

  1 Steven Firer (2002)

  Firm ownership Structure and Intellectual capital disclosure

  Independen :

  Intellectual Capital Disclosure

  (ICD) Dependen :

  Ownership diffusion ,

  kepemilikan manajemen, kepemilikan pemerintah.

  Pelaporan intellectual

  capital cenderung lebih

  sedikit pada perusahaan yang kepemilikannya tidak menyebar. Perusahaan dengan kepemilikan manajemen yang tinggi lebih sedikit dalam melaporkan

  intellectual capital .

  No. Nama Peneliti Judul Variabel Hasil Penelitian

  Kinerja Keuangan Perusahaan ; Suatu Analisi dengan Pendekatan

  intellectual capital (VAIC)

  kinerja keuangan. Secara statistik terdapat pengaruh

  intellectual capital terhadap

  Secara statistik terbukti terdapat pengaruh

  Dependen : Kinerja keuangan (ROE, EPS, dan ASR)

  Intellectual Capital

  Independen :

  Partial Least Squares

  Intellectual Capital dan

  2 Sonnier dan Carson, 2009

  3 Ulum, Ghozali dan Chariri, 2008

  dibandingkan dengan perusahaan yang berdasarkan klasifikasi ukuran.

  intellectual capital

  Klasifikasi umur lebih banyak mengungkapkan

  capital yang dilakukan oleh manajemen perusahaan.

  Faktor umur perusahaan memiliki hubungan timbal balik dengan pengungkapan intellectual

  intellectual capital

  Independen: Ukuran dan umur perusahaan. Dependen : Level pengungkapan

  An Examination of The Impact of Firm Size and Age on Managerial Disclosure of Intellectual Capital by High-Tech Companies

  terhadap kinerja keuangan perusahaan di masa depan

  No. Nama Peneliti Judul Variabel Hasil Penelitian

  kepemilikan manajerial, pemerintah dan asing tidak memiliki pengaruh signifikan pada kinerja

  komisaris independen, umur perusahaan, dan ukuran perusahaan. Dependen : Pengungkapan Modal Intelektual

  leverage ,

  Independen : Konsentrasi kepemilikan,

  Faktor-faktor yang mempengaruhi pengungkapan sukarela modal intelektual

  5 Sri Layla Wahyu Istanti (2009)

  intellectual capital.

  capital. Sedangkan

  4 Norman Mohd.

  Kepemilikan keluarga memiliki pengaruh yang negatif yang signifikan pada kinerja intellectual

  VAICTM Kontrol : ROA, leverage, ukuran perusahaan.

  Independen : Kepemilikan manajerial, keluarga, asing dan pemerintah. Dependen :

  perusahaan yang terdaftar di Bursa MESDAQ Malaysia

  intellectual capital pada

  Pengaruh struktur kepemilikan keluarga, manajemen, pemerintah dan asing terhadap variasi kinerja

  Saleh, Mara Ridhuan Che Abdul Rahman, dan Mohamat Sabri Hasan (2008)

  Ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan modal intelektual, sedangkan konsentrasi kepemilikan , leverage, komisaris independen, dan umur perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan modal intelektual

  Nama No. Judul Variabel Hasil Penelitian Peneliti

  6 Gelisha Pengaruh Independen : Kepemilikan manajerial dan Dian struktur Struktur kepemilikan institusional Kharisma kepemilikan, kepemilikan, tidak berpengaruh terhadap Putri umur umur kinerja intellectual capital, (2011) perusahaan perusahaan sedangkan kepemilikan dan ukuran dan ukuran asing dan ukuran perusahaan perusahaan. perusahaan berpengaruh terhadap Dependen: positif yang signifikan kinerja Kinerja

  intellectual Intellectual capital pada Capital

  perusahaan Perbankan yang terdaftar di BEI

  Sumber : Data diolah (2014)

2.9 Kerangka Konseptual

  Permasalahan yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah dampak kinerja keuangan perusahaan, ukuran perusahaan dan umur perusahaan terhadap kinerja intellectual capital. Intellectual capital saat ini semakin menjadi aspek penting di dalam keberlangsungan hidup perusahaan. Abidin (2000) menyatakan bahwa jika perusahaan-perusahaan mengacu pada perkembangan yang ada, yaitu manajemen yang berbasis pengetahuan, maka perusahaan-perusahaan di Indonesia akan dapat bersaing dengan menggunakan keuanggulan kompetitif yang diperoleh melalui inovasi-inovasi kreatif yang dihasilkan oleh intellectual capital yang dimiliki oleh perusahaan. Hal ini akan mendorong terciptanya produk-produk yang semakin favourable di mata konsumen. Stewart (1997) mengklasifikasikan

  intellectual capital menjadi tiga bentuk dasar, yaitu modal manusia (human capital ), modal struktural (structural capital) dan modal pelanggan (customer capital ).

  Variabel penelitian yang digunakan adalah ukuran, umur dan kinerja keuangan perusahaan. Variabel independennya yaitu kinerja keuangan perusahaan, ukuran perusahaan dan umur perusahaan. Sedangkan variabel dependennya adalah intellectual capital secara agregat (value added intellectual capital) atau VAIC. Kinerja keuangan perusahaan diukur dengan menggunakan proksi return on assets (ROA), yaitu ukuran profitabilitas perusahaan, earning per

  shares (EPS) yaitu ukuran pendapatan per lembar saham employee productivity

  (EP), yaitu ukuran produktivitas karyawan dalam perusahaan. Intellectual capital diukur dengan model value added intellectual capital secara agregat (VAIC).

  Adapun komponen VAIC meliputi value added capital employee (VACA), yaitu kalkulasi dari kemampuan mengelola modal perusahaan, value added human

  

capital (VAHU), yaitu kalkulasi dari kemampuan SDM perusahaan, dan

structural capital value added (STVA), yaitu kalkulasi untuk kemampuan

  organisasi dalam perusahaan.

2.9.1 Pengaruh Return on Assets (ROA) terhadap Kinerja Intellectual

  Capital Return on Asset (ROA) merupakan rasio yang biasa digunakan untuk mengukur dan membandingkan kinerja profitabilitas menilai kinerja perusahaan.

  yang tersedia untuk mendapatkan net income.

  Rasio ROA ini sering dipakai manajemen untuk mengukur kinerja keuangan perusahaan dan menilai kinerja operasional dalam memanfaatkan sumber daya yang dimiliki perusahaan, disamping perlu mempertimbangkan masalah pembiayaan terhadap aktiva tersebut. Nilai ROA yang semakin mendekati 1, berarti semakin baik profitabilitas perusahaan karena setiap aktiva yang ada dapat menghasilkan laba. Dengan kata lain semakin tinggi nilai ROA maka semakin baik kinerja keuangan perusahaan tersebut.

  2.9.2 Pengaruh Earning Per Shares (EPS) terhadap Kinerja Intellectual Capital

  Earning per shares menunjukkan besarnya laba yang diperoleh investor

  dalam penanaman modalnya di suatu perusahaan go public di Bursa Efek Indonesia. Semakin tinggi intellectual capital yang dimanfaatkan oleh perusahaan, maka semakin tinggi pula nilai EPS. Jika EPS suatu perusahaan semakin tinggi, investor akan bersedia menanamkan investasi pada perusahaan tersebut. (Pramestiningrum, 2013)

  2.9.3 Pengaruh Employee Productivity (EP) terhadap Kinerja Intellectual Capital

  Employee productivity (EP), yaitu ukuran produktivitas karyawan dalam

  perusahaan. Peningkatan profitabilitas perusahaan juga dapat disebabkan oleh efektifitas kinerja para karyawan perusahaan. Semakin tinggi tingkat produktifitas para karyawan, akan semakin tinggi pula tingkat profit yang diperoleh menilai kinerja keuangan perusahaan dalam memanfaatkan aspek kinerja intellectual capital dalam perusahaan yaitu sumber daya manusia dan organisasi.

  Return on Assets (X 1 ) Earning per Shares (X ) 2 Kinerja Intellectual Employee Productivity (X 3 ) Capital (Y)

  Umur Perusahaan (X 4 ) Ukuran Perusahaan (X ) 5 Gambar 2.1 Kerangka Konseptual

2.8.2 Hipotesis

  Berdasarkan kerangka konseptual maka hipotesis yang dirumuskan dalam penelitian ini yaitu Return on Assets (ROA), Earning per Shares (EPS), Employee

  Productivity (EP), umur perusahaan, ukuran perusahaan berpengaruh positif

  terhadap kinerja Intellectual Capital pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Pemberlakuan Perjanjian Internasional Di Indonesia Dikaitkan Dengan Judicial Review Terhadap Piagam Asean Di Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia
0
1
20
BAB I I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang - Tinjauan Hukum Administrasi Negara Terhadap Izin Pengelolaan Hutan Di Provinsi Sumatera Utara Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 21 Tahun 2002
0
0
16
TINJAUAN HUKUM ADMINISTRASI NEGARA TERHADAP IZIN PENGELOLAAN HUTAN DI PROVINSI SUMATERA UTARA BERDASARKAN PERATURAN DAERAH NOMOR 21 TAHUN 2002 SKRIPSI
0
0
9
BAB II PENGATURAN MENGENAI BUKTI ELEKTRONIKSEBAGAI ALAT BUKTI YANG SAH DALAM HUKUM PIDANA INDONESIA - Tinjauan Yuridis Mengenai Pembuktian Elektronik Sebagai Alat Bukti Yang Sah Dalam Kasus Tindak Pidana Pencucian Uang Dikaitkan Dengan UU No. 11 tahun 200
0
0
29
BAB I PENDAHULUAN - Tinjauan Yuridis Mengenai Pembuktian Elektronik Sebagai Alat Bukti Yang Sah Dalam Kasus Tindak Pidana Pencucian Uang Dikaitkan Dengan UU No. 11 tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik
0
0
22
BAB II ASEAN DAN HUBUNGAN ANTAR ANGGOTA ASEAN DALAM LINGKUP INTERNASIONAL TERHADAP KEJAHATAN LINTAS NEGARA - Kesepakatan Antara Indonesia Dengan Malaysia Sebagai Anggota Association Of South East Asian Nations (Asean) Dalam Memberantas Kejahatan Lintas Ne
0
0
35
BAB I PENDAHULUAN - Kesepakatan Antara Indonesia Dengan Malaysia Sebagai Anggota Association Of South East Asian Nations (Asean) Dalam Memberantas Kejahatan Lintas Negara
0
1
12
PengaruhKompetensi, Independensi, Due Professional Care, Akuntabilitas, dan Fraud Risk Assessment Aparat Inspektorat terhadap Kualitas Audit dalam mewujudkan Good Governance di Kabupaten Karo
0
0
25
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Landasan Teori - PengaruhKompetensi, Independensi, Due Professional Care, Akuntabilitas, dan Fraud Risk Assessment Aparat Inspektorat terhadap Kualitas Audit dalam mewujudkan Good Governance di Kabupaten Karo
0
1
26
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah - PengaruhKompetensi, Independensi, Due Professional Care, Akuntabilitas, dan Fraud Risk Assessment Aparat Inspektorat terhadap Kualitas Audit dalam mewujudkan Good Governance di Kabupaten Karo
0
0
8
PengaruhKompetensi, Independensi, Due Professional Care, Akuntabilitas, dan Fraud Risk Assessment Aparat Inspektorat terhadap Kualitas Audit dalam mewujudkan Good Governance di Kabupaten Karo
0
0
14
Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi TimelinessPelaporan Keuangan pada Perusahaan Go Public Sektor Industri Barang Konsumsi yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)
0
0
14
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Teoritis 2.1.1 Laporan Keuangan - Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi TimelinessPelaporan Keuangan pada Perusahaan Go Public Sektor Industri Barang Konsumsi yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)
0
0
36
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah - Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi TimelinessPelaporan Keuangan pada Perusahaan Go Public Sektor Industri Barang Konsumsi yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)
0
0
11
Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi TimelinessPelaporan Keuangan pada Perusahaan Go Public Sektor Industri Barang Konsumsi yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)
0
0
14
Show more