MAKALAH Dampak Pendidikan Karakter (1)

 0  0  16  2018-09-16 23:26:30 Report infringing document

  

MAKALAH

PENDIDIKAN KEPRIBADIAN BERKARAKTER

“Dampak Pendidikan Karakter”

Dosen : Dewi Mayang Sari, S.Psi., M.Psi.

  

UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU BUDAYA

PENDIDIKAN INFORMATIKA

Jl. Raya Telang PO BOX 2 Kamal, Bangkalan Madura

  

031-3011146, Fax. 031-3011506

www.trunojoyo.ac.id

2014

  

Oleh : Kelompok 7

Moh. Haris (130631100136)

Ulfatun Hasanah (130631100137)

Cyntia Desy Pratiwi (130631100140)

Bagus Ario Wardiansyah (130631100142)

Faita Puspita Sari (130631100143)

KATA PENGANTAR

  Puji dan Syukur kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-nya sehingga kami dapat menyusun makalah ini dengan baik dan tepat pada waktunya. Dalam makalah ini kami membahas mengenai

  “Dampak Pendidikan Karakter”.

  Makalah ini dibuat dengan berbagai referensi, sumber dan beberapa bantuan dari berbagai pihak untuk membantu menyelesaikan dan hambatan selama mengerjakan makalah ini. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.

  Selain dari pada itu, kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :

  1. Yang terhormat Bapak Rektor Universitas Trunojoyo Madura Prof. Dr. Ir. H.

  Arifin, MS.

  2. Dosen Pengajar Pendidikan Kepribadian berkarakter, Ibu Dewi Mayang Sari, S.Psi., M.Psi.

  3. Kedua orang tua kami, serta 4.

  Teman-teman kami.

  Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini. Oleh karena itu kami mengundang pembaca untuk memberikan saran serta kritik yang dapat membangun kami. Kritik konstruktif dari pembaca sangat kami harap kan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.

  Akhirnya, kami berharap agar tulisan sederhana ini mendapat ridha dari Allah SWT. Dan bermanfaat bagi kita semua. Amin yaarabbal alamin.

  Bangkalan, 4 Mei 2014 Penulis

  

DAFTAR ISI

Cover .............................................................................................................

  BAB III : PEMBAHASAN ......................................................................... 5

  4.2 Saran ............................................................................................. 11

  4.1 Kesimpulan ................................................................................... 10

  BAB IV : KESIMPULAN & SARAN ....................................................... 10

  3.2.2 Terhadap Keberhasilan Akademik ..................................... 7

  3.2.1 Terhadap Pembangunan SDM Secara Keseluruhan ........... 6

  3.2 Dampak Pendidikan Karakter ....................................................... 6

  3.1 Definisi Pendidikan Karakter ....................................................... 5

  2.3 Pengertian Karakter ...................................................................... 3

  KATA PENGANTAR ................................................................................. i DAFTAR ISI ................................................................................................ ii

  2.2 Pengertian Pendidikan .................................................................. 2

  2.1 Pengertian Dampak ....................................................................... 2

  BAB II : KAJIAN PUSTAKA .................................................................... 2

  1.4 Ruang Lingkup ............................................................................. 1

  1.3 Rumusan Masalah ......................................................................... 1

  1.2 Tujuan ........................................................................................... 1

  1.1 Latar Belakang .............................................................................. 1

  BAB I : PENDAHULUAN.......................................................................... 1

  DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 12 LAMPIRAN ................................................................................................. 13

BAB I PENDAHULUAN

  1.1 Latar Belakang

  Karakter adalah sebuah tameng untuk menangkis berbagai pengaruh negatif dari era globalisasi saat ini. Berbagai macam kasus negatif yang muncul ke permukaan yang menimpa sumber daya manusia membuktikan bahwa perlu adanya perubahan di berbagai bidang, khususnya pendidikan.

  Pendidikan berbasis karakter adalah salah satu cara yang dilakukan untuk membangun manusia-manusia yang berkarakter sehingga hal-hal buruk / negatif bisa diminimalisasi, diantisipasi, dan dihilangkan. Perlu kerjasama dan kekompakan dari berbagai pihak yaitu pemerintah, masyarakat, guru, atau orang tua dalam menyukseskan pendidikan berbasis karakter.

  Pendidik termasuk guru sebagai salah satu pihak yang bertanggung jawab terhadap pendidikan berbasis karakter di sekolah harus senantiasa melakukan koreksi dan melakukan usaha-usaha untuk meningkatkan kualitasnya sehingga mampu membangun generasi penerus bangsa yang berkarakter.

  1.2 Tujuan

  Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut : 1.

  Untuk mengetahui dan memahami definisi dari Pendidikan Karakter 2. Mengetahui dampak-dampak pendidikan karakter

  1.3 Rumusan Masalah

  Berdasarkan permasalahan yang terurai diatas maka penulis membuat rumusan masalah sebagai berikut :

1. Apa pendidikan karakter 2.

  Apa dampak dari pendidikan karakter

1.4 Ruang Lingkup

  Dalam makalah ini akan lebih dijelaskan dampak pendidikan karakter, khususnya dalam dunia pendidikan pada masa kini serta menunjukkan betapa pentingnya menumbuhkan jiwa berkarakter pada setiap anak bangsa.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

  2.1 Pengertian Dampak Dampak secara sederhana bisa diartikan sebagai pengaruh atau akibat.

  Dalam setiap keputusan yang diambil oleh se-seorang biasanya mempunyai dampak tersendiri, baik itu dampak positif maupun dampak negatif.

  Pengertian dampak menurut KBBI adalah benturan, pengaruh yang mendatangkan akibat baik positif maupun negatif. Pengaruh adalah daya yang ada dan timbul dari sesuatu (orang / benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan atau perbuatan seseorang. Pengaruh adalah suatu keadaan dimana ada hubungan timbal balik atau hubungan sebab akibat antara apa yang mempengaruhi dengan apa yang dipengaruhi. (KBBI Online, 2010).

  2.2 Pengertian Pendidikan

  Pendidikan merupakan bagian penting dari kehidupan manusia yang tak pernah ditinggalkan. Sebagai sebuah proses, ada dua hal asumsi yang berbeda mengenai pendidikan dalam kehidupan manusia. Pertama, bisa dianggap sebagai sebuah proses yang terjadi secara tidak disengaja atau berjalan secara alamiah. Pendidikan bukanlah proses yang diorganisasi secara teratur, terencana, dan mengunakan metode-metode yang dipelajari serta berdasarkan aturan-aturan yang telah disepakati mekanisme penyelenggaraannya oleh suatu komunitas masyarakat (Negara), melainkan lebih merupakan bagian dari kehiupan yang memang telah berjalan sejak manusia itu ada.

  Pengertian ini menunjuk bahwa pada dasarnya manusia secara alamiah merupakan mahkluk yang belajar dari peristiwa alam dan gejala-gejala kehidupan yang ada untuk mengembangkan kehidupannya. Kedua, pendidikan dianggap sebagai proses yang terjadi secara sengaja, disengaja, dan diorganisasi berdasarkan aturan yang berlaku, terutama perundang-undangan yang dibuat atas dasar kesepakatan masyarakat.

  Pendidikan sebagai sebuah kegiatan dan proses aktivitas yang disengaja ini merupakan gejala masyarakat ketika sudah mulai disadari pentingnya upaya untuk membentuk, mengarahkan, dan mengatur manusia sebagaimana dicita- citakan masyarakat terutama cita-cita orang yang mendapatkan kekuasaan.

  Cara mengatur manusia dalam pendidikan ini tentunya berkaitan dengan bagaimana masyarakat akan diatur. Artinya, tujuan dan pengorganisasian pendidikan mengikuti arah perkembangan sosial-ekonomi yang berjalan. Jadi, ada aspek material yang menjelaskan bagaimana arah pendidikan didesain berdasarkan siapa yang paling berkuasa dalam masyarakat tersebut. Karakter merupakan perpaduan antara moral, etika, dan akhlak. Moral lebih menitik beratkan pada kualitas perbuatan, tindakan atau perilaku manusia atau apakah perbuatan itu bisa dikatakan baik atau buruk, atau benar atau salah.

  Sebaliknya, etika memberikan penilaian tentang baik dan buruk, berdasarkan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat tertentu, sedangkan akhlak tatanannya lebih menekankan bahwa pada hakikatnya dalam diri manusia itu telah tertanam keyakinan di mana ke duanya (baik dan buruk) itu ada. Karenanya, pendidikan karakter dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang tujuannya mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik itu, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati.

2.3 Pengertian Karakter

  Istilah

   dihubungkan dengan istilah etika, ahlak dan atau nilai dan berkaitan dengan kekuatan moral, berkonotasi positif, bukan netral.

  Sedangkan Karakter menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) merupakan sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. Dengan demikian karakter adalah nilai-nilai yang unik, baik yang tersimpan dalam diri dan terwujudkan dalam perilaku. Karakter secara keseluruhan memancar dari hasil olah pikir, olah hati, olah rasa dan karsa, serta olahraga seseorang atau sekelompok orang.

  juga sering diasosiasikan dengan istilah apa yang disebut dengan temperamen yang lebih memberi penekanan pada definisi psikososial yang dihubungkan dengan pendidikan dan konteks lingkungan. Sedangkan karakter dilihat dari sudut pandang behaviorial lebih menekankan pada unsur somatopsikis yang dimiliki seseorang sejak lahir. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa proses perkembangapada seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor yang khas yang ada pada orang yang bersangkutan yang juga disebut faktor bawaan (nature) dan lingkungan (nurture) dimana orang yang bersangkutan tumbuh dan berkembang. Faktor bawaan boleh dikatakan berada di luar jangkauan masyarakat dan individu untuk mempengaruhinya. Sedangkan faktor lingkungan merupakan faktor yang berada pada jangkauan masyarakat dan individu. Jadi usaha pengembangan a seseorang dapat dilakukan oleh masyarakat atau individu sebagai bagian dari lingkungan melalui rekayasa faktor lingkungan.

BAB III PEMBAHASAN

3.1 Definisi Pendidikan Karakter

  Pendidikan karakter adalah suatu sistem penamaan nilai-nilai karakter

  yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan. Pengembangan karakter bangsa dapat dilakukan melalui perkembangan karakter individu seseorang. Akan tetapi, karena manusia hidup dalam lingkungan sosial dan budaya tertentu, maka perkembangan karakter individu seseorang hanya dapat dilakukan dalam lingkungan sosial dan budaya yang bersangkutan.

  Artinya, perkembangan budaya dan karakter dapat dilakukan dalam suatu proses pendidikan yang tidak melepaskan peserta didik dari lingkungan sosial, budaya masyarakat, dan budaya bangsa. Lingkungan sosial dan budaya bangsa adalah Pancasila, jadi pendidikan budaya dan karakter adalah mengembangkan nilai-nilai Pancasila pada diri peseta didik melalui pendidikan hati, otak, dan fisik.

  Pengertian pendidikan karakter ini merupakan salah satu alat yang paling penting dan harus dimiliki oleh setiap orang. Sehingga tingkat pengertian pendidikan karakter seseorang juga merupakan salah satu alat terbesar yang akan menjamin kualitas hidup seseorang dan keberhasilan pergaulan di dalam masyarakat. Disamping pendidikan formal yang kita dapatkan, kemampuan memperbaiki diri dan pengalaman juga merupakan hal yang mendukung upaya pendidikan seseorang di dalam bermasyarakat. Tanpa itu pengembangan individu cenderung tidak akan menjadi lebih baik. Pendidikan karakter diharapkan tidak membentuk siswa yang suka tawuran, nyontek, malas, pornografi, penyalahgunaan obat-obatan dan lain-lain.

  Pada kenyataannya moral adalah faktor utama yang mendukung pendidikan karakter seseorang tetapi masih ada beberapa faktor yang menyebabkan siswa tidak dapat menyerap pendidikan karakter yang diberikan. Sebagian besar dikarenakan terbentur dari sisi latar belakang ekonomi dan sosial, kemampuan seorang siswa sebenarnya ada akan tetapi karena terbentur oleh faktor di atas maka terbentur pula kemampuan seorang siswa untuk dapat menyerap apa yang telah diberikan kepadanya. Umumnya siswa dari keluarga yang memiliki tingkat ekonomi lebih baik akan lebih mudah untuk memilih jenis pendidikan yang diingikannya walaupun kemampuan seseorang berbeda- beda. Tingkat ekonomi juga menyumbang banyak pengaruh kepada tingkat penyerapan seorang siswa, siswa dengan tingkat ekonomi tinggi memiliki kesempatan berpendidikan dan berkarakter lebih baik dibanding dengan siswa yang kurang mampu walaupun hal ini tidak menjadi sebuah patokan. Hal ini pula yang meyakinkan kepada program pemerintah bahwa setiap tingkatan ekonomi masyarakat haruslah dapat memperoleh pendidikan semaksimal mungkin, termasuk pendidikan karakter.

3.2 Dampak Pendidikan Karakter

3.2.1 Terhadap Pembangunan SDM Secara Keseluruhan

  Pendidikan karakter bukan saja dapat membuat seorang anak mempunyai akhlak yang mulia, tetapi juga dapat meningkatkan keberhasilan akademiknya. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa ada kaitan erat antara keberhasilan pendidikan karakter dengan keberhasilan akademik, serta perilaku pro-sosial anak, sehingga dapat membuat suasana sekolah dapat begitu menyenangkan dan kondusif untuk proses belajar-mengajar yang efektif. Anak-anak yang berkarakter baik adalah mereka yang mempunyai kematangan emosi dan spiritual tinggi, sehingga dapat mengelola stressnya dengan lebih baik, yang akhirnya dapat meningkatkan kesehatan fisiknya.

  Para pakar pendidikan berpendapat bahwa terlalu menekankan pendidikan akademik (kognotif atau otak kiri) dan mengecilkan pentingnya pendidikan karakter (kecerdasan emosi atau otak kanan), adalah penyebab utama gagalnya membangun manusia yang berkualitas. Hal ini dibuktikan dari beberapa studi yang menunjukkan bahwa keberhasilan manusia dalam dunia kerja 80 persen ditentukan oleh kualitas karakternya, dan hanya 20 persen ditentukan oleh kemampuan akademiknya.

  Sehingga tidak berlebihan untuk menempatkan pendidikan karakter sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia seutuhnya, dimana karakter adalah input yang penting sekali dalam pembangunan sumber daya manusia.

  Bahkan manusia bukan saja harus mempunyai kecerdasan emosi, tetapi harus mempunyai kecerdasan spiritual (spiritual

  quotient-SQ ) agar dapat menjadi manusia yang sebenarnya manusia.

  Kualitas mutu sumber daya manusia sekarang sudah dilihat secara holistik, membuat aspek kecerdasan emosi dan spiritual menjadi aspek yang penting, dan pendidikan karakter yang menanamkan nilai- nilai kebajikan universal menjadi input yang sangat menentukan bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia secara utuh.

3.2.2 Terhadap Keberhasilan Akademik

  Apa dampak pendidikan karakter terhadap keberhasilan akademik? Beberapa penelitian bermunculan untuk menjawab pertanyaan ini. Ringkasan dari beberapa penemuan penting mengenai hal ini diterbitkan oleh sebuah buletin, Character Educator, yang diterbitkan oleh Character Education Partnership.

  Dalam buletin tersebut diuraikan bahwa hasil studi Dr. Marvin

  Berkowitz dari University of Missouri - St. Louis menunjukkan

  peningkatan motivasi siswa sekolah dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. Kelas- kelas yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter menunjukan penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik.

  Sebuah buku berjudul

  “Emotional Intelligence and School Success mengompilasikan berbagai hasil penelitian tentang

  pengaruh positif kecerdasan emosi anak terhadap keberhasilan di sekolah. Dikatakan bahwa ada sederet faktor resiko penyebab kegagalan anak di sekolah. Faktor-faktor resiko yang disebutkan ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak, tetapi pada karakter, yaitu rasa percaya diri, kemampuan bekerja sama, kemampuan bergaul, kemampuan berkonsentrasi, rasa empati, dan kemampuan berkomunikasi. Hal ini sesuai dengan pendapat Daniel Goleman tentang keberhasilan seseorang di masyarakat, ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi, dan lanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ).

  Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya akan mengalami kesulitan belajar, kesulitan bergaul (kuper) dan tidak lapat mengontrol emosinya. Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia pra-sekolah dan kalau tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa. Sebaliknya, para remaja yang berkarakter atau mempunyai kecerdasan emosi tinggi akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja seperti kenakalan, tawuran, narkoba, miras, perilaku seks bebas, dan sebagainya.

  Pendidikan karakter di sekolah sangat diperlukan, walaupun dasar dari pendidikan karakter adalah di dalam keluarga. Kalau seorang anak mendapatkan pendidikan karakter yang baik dari keluarganya, anak tersebut akan berkarakter baik pada tahap selanjutnya. Namun banyak orang tua yang lebih mementingkan aspek kecerdasan otak ketimbang pendidikan karakter. Selain itu,

  Daniel Goleman juga mengatakan bahwa banyak orang tua yang

  gagal dalam mendidik karakter anak-anaknya baik karena kesibukan maupun karena lebih mementingkan aspek kognitif anak. Meskipun demikian, kondisi ini dapat ditanggulangi dengan memberikan pendidikan karakter di sekolah.

  Permasalahan selanjutnya adalah kebijakan pendidikan di Indonesia yang lebih mementingkan aspek kecerdasan otak, walaupun belakangan ini pentingnya pendidikan budi pekerti menjadi bahan pembicaraan hangat. Ada yang mengatakan bahwa kurikulum pendidikan di Indonesia dibuat hanya cocok untuk diberikan pada 10- 20 persen otak-otak terbaik. Artinya, sebagian besar anak sekolah (80-

  90 persen) tidak dapat mengikuti kurikulum pelajaran di sekolah. Akibatnya sejak usia dini, sebagian besar anak-anak akan merasa “bodoh” karena kesulitan menyesuaikan dengan kurikulum yang ada.

  Ditambah lagi dengan adanya sistem ranking yang telah “memvonis” anak-a nak yang tidak masuk “10 besar” sebagai anak yang kurang pandai. Sistem seperti ini tentunya berpengaruh negatif terhadap usaha membangun karakter, dimana sejak dini anak-anak justru sudah “dibunuh” rasa percaya dirinya.

  Rasa tidak mampu yang berkepanjangan yang akan membentuk pribadi yang tidak percaya diri, akan menimbulkan stres berkepanjangan. Pada usia remaja biasanya keadaan ini akan mendorong remaja berperilaku negatif. Maka tidak heran kalau kita melihat perilaku remaja kita yang senang tawuran, terlibat kriminalitas, putus sekolah, dan menurunnya mutu lulusan SMP dan SMU.

BAB IV KESIMPULAN & SARAN

3.3 Kesimpulan

  Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek teori pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona, tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif, dan pelaksanaannya pun harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Dengan pendidikan karakter, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi adalah bekal terpenting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan. Dengan kecerdesana emosi seseorang akan dapat berhasil dalam menghadapi segala macam tantangan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis.

  Jadi, pendidikan karakter atau budi pekerti plus adalah suatu yang urgent untuk dilakukan. Kalau kita peduli untuk meningkatkan mutu lulusan SD, SMP dan SMU maka tanpa pendidikan karakter adalah usaha yang sia-sia. Ingatlah kata-kata bijak dari pemikir besar dunia berikut Mahatma Gandhi memperingatkan tentang salah satu tujuh dosa fatal yaitu

  “education without

characrter” (pendidikan tanpa karakter). Dr. Martir Luther King pernah

  berkata:

  “Intelligence plus character….that is the goa of true education”

  (Kecerdasan plus karakter….itu adalah tujuan akhir dari pendidikan sebenarnya). Theodore Roosevelt juga mengatakan:

  “The educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to society

  ” (Mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman marabahaya kepada masyarakat).

3.4 Saran

  Menurut saya Pendidikan Karakter sangatlah penting, setelah kita menyimak penjelasan dari makalah ini diatas. Maka akan semakin menekankan betapa pentingnya pendidikan karakter bagi dunia pendidikan, lingkungan dan seluruh aspek kehidupan masyarakat. Terlebih dengan kondisi pada jaman sekarang yang dimana para generasi penerus indonesia mengalami penurunan karakter dan jati diri mereka. Dan seharusnya penerapan pendidikan karakter dapat dilakukan pada seluruh aspek kehidupan, tidak hanya mementingkan pengetahuan saja, tetapi juga moral dan spiritual harus dibangun.

  DAFTAR PUSTAKA Muin, Facthul. 2011. Pendidikan Karakter Konstruksi Teoritik dan Praktik.

  Yogyakarta: Ars-ruzz Media. Goble, G. Frank. 1991. Mazhab Ketiga: Psikologi Humanistik Abraham Maslow.

  Yagyakarta: Kanisius. Ananua, Pramoedya Toer. 2006. Anak Semua Bangsa. Jakarta: Lentera Dipantara. Drs. Kusuma, Darma, M.Pd. 2011. Pendidikan Karakter Kajian Teori dan Praktik disekolah . Bandung: Rosda.

  Megawangi, Ratna. 2004. Pendidikan Karakter Solusi untuk Membangun Bangsa.

  

Dokumen baru
Dokumen yang terkait

MAKALAH Dampak Pendidikan Karakter (1)

Gratis

Feedback