BEBERAPA PEMIKIRAN TENTANG KEBIJAKAN PEN (1)

 0  0  8  2018-09-16 23:02:17 Report infringing document

  BEBERAPA PEMIKIRAN TENTANG KEBIJAKAN PENDIDIKAN DALAM SISTEM PENDIDIKAN INDONESIA MENGHADAPI ERA GLOBALISASI oleh : Lastiko Runtuwene, S.Ag, M.Pd

(Staf Bimas Katolik Kanwil Dep. Agama Prov. Sulut, Pengajar pada STISIPOL Merdeka Manado, Sekolah

Tinggi Pastoral Don Bosco Tomohon, Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng – UPP PGSD Don Bosco)

  PENDAHULUAN

  Indonesia sebagai negara berkembang dalam memasuki era globalisasi menghadapi beberapa isu penting tentang sistem pendidikan. Pertanyaan mendasar adalah sudah siapkah sistem pendidikan Indonesia memasuki era globalisasi ? Di tinjau dari kesiapan, pada aspek-aspek tertentu sudah siap, misalnya kekuatan sumber ekonomi, stabilitas keamanan walaupun akhir-akhir ini agak tercabik-cabik akibat adanya reformasi di segala bidang, dan kesiapan kekuatan sumber daya alam. Akan tetapi pada aspek lainnya tampaknya belum siap, misalnya mayoritas sumber daya manusia masih tertingal karena pendidikan yang belum berkualitas karena sistem pendidikannya belum dipersiapkan secara matang dan terencana untuk memasuki era globalisasi.

  Tulisan ini mengangkat beberapa masalah seputar kebijakan pendidikan yang perlu diperhatikan dalam sistem pendidikan Indonesia, yakni :

  1. Bagaimanakah menanggulangi kolonialisme pendidikan dan kolonialisme literatur dalam sistem pendidikan nasional Indonesia ?

2. Bagaimana strategi pendidikan Indonesia dalam memasuki era globalisasi ? 3.

  Bagaimana keterkaitan antara pendidikan, pekerjaan dan penghasilan dalam era globalisasi di Indonesia ?

  4. Bagaimana kurikulum pendidikan di Indonesia dalam memasuki era globalisasi ?

  

1. KEBIJAKAN MENANGGULANGI KOLONIALSME PENDIDIKAN

DAN LITERATUR

  Ketertinggalan pendidikan dan kurangnya literatur galian dari budaya dan ilmu pengetahuan sendiri masih dihadapi oleh negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Untuk menanggulangi masalah ini dapat diupayakan : pertama, meningkatkan peranan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) dan lembaga- lembaga Pendidikan secara maksimal untuk menghasilkan ilmu pengetahuan khas Indonesia dengan jalan mengadakan penelitian-penelitian secara intensif, sehingga dihasilkan ilmu pengetahuan khas Indonesia. Memang ilmu pengetahuan bersifat universal, akan tetapi upaya-upaya untuk menggali ilmu pengetahuan yang bercorak khas Indoensia perlu digali dan dikembangkan. Misalnya tentang filsafat Pancasila, Bahasa dan sastra serta budaya Indonesia, dan ekonomi Pancasila.

  Kedua , Diadakan upaya penerjemahan sumber pustaka asing ke dalam

  bahasa Indonesia. Kesulitan yang ada sekarang adalah kurangnya sumber pustaka asing dalam bahasa Indonesia, sehingga hanya sebagian kecil saja yang memiliki kemampuan memahami pustaka asing. Bagi negara Indonesia, salah satu filter untuk tetap menjaga jati diri bangsa adalah dengan filsafat Pancasila dan kehidupan masyarakat yang religius. Namun disadari bahwa penyusunan kebijakan pendidikan di Indoensia kurang menggali pemikiran-pemikiran cemerlang dari para ahli pendidikan negara kita antara lain Ki Hajar Dewantara, dan Moh. Syafei’i dalam satu pola nasional. Boleh saja konsep dan pemikiran, ilmu pengetahuan dan teknologi diimport dan ditransfer dari negara-negara maju, tetapi sistem pendidikan yang digunakan mestinya bercorak Indonesia.

  Ketiga, mengembangkan pendidikan multi kultural, yakni suatu pendidikan

  yang memperhatikan pluralitas kebudayaan Indonesia. Paradigma pluralitas perlu dikedepankan, mengingat bangsa Indonesia terdiri dari perlbagai suku, golongan dan adat-istiadat dan agama. Mestinya Indonesia dapat memiliki sistem pendidikan yang khas. Salah satunya adalah sistem pendidikan multikultural.

  

2. KEBIJAKAN STRATEGI PENDIDIKAN MEMASUKI ERA

GLOBALISASI

  Memasuki era globalisasi, di samping tetap menjaga dan mengembangkan jati diri bangsa, sistem pendidikan Indonesia perlu beradaptasi dengan situasi perkembangan era global saat ini. Globalisasi di satu pihak membawa dampak positif tetapi di lain pihak berdampak negatif. Dampak positif antara lain semakin cepat dan mudahnya orang berinteraksi dan berkomunikasi. Dampak negatifnya antara lain adalah masuknya nilai-nilai asing yang tidak sesuai dengan jati diri bangsa. Sudah saatnya sistem dan strategi pendidikan Indonesia mengarah pada orientasi penyediaan sumber daya manusia yang unggul dalam jati diri bangsa dan unggul juga dalam interkasi dan pergaulan global.

  Ada beberapa faktor yang dapat menjadi penunjang pengembangan strategi pendidikan memasuki era globalisasi, antara lain sumber daya alam yang kaya, jumlah penduduk yang besar, mulai meningkatnya jumlah orang Indonesia yang menimbah ilmu di luar negeri dan adanya sistem informasi dan komunikasi yang sudah menjangkau sampai ke pelosok tanah air. Strategi yang dapat dikembangkan menghadapi era globalisasi adalah dengan mengembangkan secara maksimal sistem pendidikan terbuka. Sistem pendidikan yang inklusif dan tertutup harus ditinggalkan. Sistem pendidikan terbuka di sini dimaksudkan sistem pendidikan yang menerima segala unsur yang positif dari luar dan bersedia bekerja-sama untuk tukar-menukar informasi dan transfer ilmu pengetahuan dan teknologi. Pertukaran guru/dosen dan siswa/mahasiswa perlu dikembangkan dan ditingkatkan. Dialog dan komunikasi antara negara dan komunitas yang berbeda menjadi sarana yang unggul untuk mengembangkan sistem pendidikan terbuka. Sistem pendidikan terbuka mengandaikan juga adanya pengakuan dan pengahargaan terhadap nilai-nilai kebenaran yang dapat berasal dari pelbagai sumber, budaya dan negara.

  

3. KEBIJAKAN MENGEMBANGKAN RELEVANSI ANTARA

PENDIDIKAN DAN DUNIA KERJA DALAM ERA GLOBALISASI

  Relevansi pendidikan (efisiensi eksternal) suatu sistem pendidikan antara lain diukur dari keberhasilan dalam memasok tenaga-tenaga terampil dalam jumlah yang memadai bagi sektor-sektor pembangunan (Tilaar, 2004: 152). Akan tetapi sangat kasat mata bahwa meningkatnya angka pengangguran di Indonesia karena kualitas sumber daya manusia Indonesia sebagai hasil dari sistem pendidikan Indonesia selama ini sangat rendah. Sistem pendidikan di Indonesia selama ini memiliki kecenderungan menghantar peserta didik untuk memiliki banyak pengetahuan tetapi kurang terampil dalam dunia kerja.

  Ada dua hal penting yang dapat dikemukan di sini soal relevansi pendidikan dan dunia kerja. Pertama, soal ketrampilan tenaga kerja Indonesia. Banyak tenaga kerja Indonesia di kirim ke luar negeri akan tetapi bukan tenaga ahli (spesialis), tetapi lebih pada tenaga kerja dengan pengetahuan dan keterampilan terbatas. Bila dibandingkan dengan Filipina, tenaga kerja mereka yang di kirim ke luar negeri adalah tenaga kerja terdidik dan terlatih. Sehingga tidak heran devisa terbesar negara Filipina adalah dari sektor tenaga kerja yang di kirim ke luar negeri. Kedua, soal relevansi lulusan pendidikan dengan kekuatan sumber-daya alam Indoenesia. Sumber daya alam Indonesia yang terbesar adalah dari sektor pertanian dan perikanan (laut dan darat). Akan tetapi sistem pendidikan Indonesia saat ini secara umum tidak memberikan perhatian terhadap kemampuan dan keterampilan (kompetensi) untuk mengolah sumber daya alam. Sekolah-sekolah kejuruan dan teknik sangat kurang dibandingkan dengan sekolah umum. Di Perguruan Tinggi, minat mahasiswa pada bidang pengelolaan sumber daya alam seperti pertanian, perikanan, perkebunan dan kelautan sangat jauh dibandingkan dengan minat mahasiswa yang masuk pada bidang ekonomi dan hukum. Kebijakan yang menutup sekolah-sekolah menengah kejuruan menjadi sekolah umum pada tingkat SMP sampai SMA barangkali perlu ditinjau kembali. Dalam konteks ini mestinya perlu dikembangkan dan diperbanyak sekolah-sekolah kejuruan dan teknik perikanan, pertanian, perkebunan dan kelautan sampai di perguruan tinggi.

4. KEBIJAKAN KURIKULUM MEMASUKI ERA GLOBALISASI

  Berbicara tentang pendidikan sangat terkait erat dengan sistem kurikulum yang berlaku. Masalah yang dihadapi oleh bangsa Indonesia salah satunya adalah keterampilan dalam persaingan bekerja dan hidup. Ada kecenderungan kurikulum yang diterapkan mulai dari SD sampai PT nampaknya lebih berorintasi pada transfer ilmu pengetahuan. Kurang memberi perhatian pada soal keterampilan dalam bekerja dan keterampilan hidup. Banyak lulusan lembaga pendidikan memiliki banyak pengetahuan tetapi kurang terampil. Di samping itu juga kurikulum Indonesia nampaknya kurang menghantar para lulusan untuk belajar secara mandiri. Semuanya tergantung pada apa yang didapat dan didengar dari para guru/dosen. Strategi pengembangan pendidikan ke depan mestinya berusaha mendidik para peserta didik untuk dapat memiliki kemampuan (bukan hanya sekedar memiliki kompetensi) untuk dapat secara mandiri dapat belajar sendiri dan dapat berusaha dan bekerja secara mandiri. Maka pendidikan kewirausahawan perlu mendapat perhatian (Danim, 2003: 142).

  Untuk itu kebijakan yang dapat diambil dalam sistem pendidikan Indonesia adalah dengan mengubah paradigma yang (hanya) menekankan segi kognif saja (misalnya mutu pendidikan hanya diukur dari hasil Ujian Nasional saja) menuju pendidikan yang (juga) menekankan keterampilan dan pengembangan seluruh aspek kemanusiaan yang lebih utuh. Dari sistem pendidikan dan pembelajaran yang lebih menekankan keaktifan guru menuju kepada pembelajaran yang lebih menekankan siswa aktif untuk mengembangkan diri dan mengkontruksi pengetahuan mereka. Dari kurikulum yang lebih berorientasi pada banyak materi menuju kurikulum yang lebih memperhatikan konsep dasar, tantangan zaman dan kebutuhan global dan lokal (Suparno, 2002: 107).

  Problematika akses informasi dalam kurikulum nampaknya masih menjadi tantangan bangsa Indoensia. Era globalisasi menuntut setiap orang untuk dapat mengakses sebanyak mungkin informasi dari pelbagai sumber dengan pelbagai sarana komunikasi dan informasi. Dapat dikatakan bahwa sebagian besar para siswa di Indonesia saat ini masih ”buta” dengan sistem informasi. Strategi ke depan adalah dengan mengembangkan sistem informasi sampai ke tingkat sekolah dasar, yakni dengan program dan proyek pengadaan sarana informasi (komputer, internet, media publikasi, dll) ke sekolah-sekolah. Sistem pembelajaran juga mestinya merangsang para siswa secara mandiri untuk dapat menemukan pelbagai informasi ilmu pengetahuan dari pelbagai sumber dan sarana yang tersedia. Tidak hanya berpuas diri saja dengan apa yang didapatkannya melalui buku pegangan di sekolah. Lebih dari pada itu pihak sekolah dan guru untuk merangsang para siswa untuk dapat mengakses informasi sebanyak-banyaknya dari pelbagai media yang tersedia.

5. KEBIJAKAN SISTEM PENDIDIKAN YANG KOLABORATIF DAN

  INTEGRATIF

  Sistem pendidikan di Indonesia perlu ada keseimbangan antara bidang studi akademik dan non akademik. Bidang sudi akademik mencakup matematika, IPA,

  IPS dan seterusnya. Sedangkan bidang studi non akademik meliputi : creative

  

thinking, decision making, problem solving, learning by doing, learning how to lern,

collaboration, and self management (Marzano, Pickering, Mc. Tighe, 1999).

  Kebijakan pendidikan di era globalisasi menurut UNESCO haruslah didasarkan pada empat pilar, yakni 1) Learning to think, artinya proses belajar sepanjang hayat diarahkan pada bagaimana belajar untuk berpikir. 2) Learning to do, artinya belajar bagaimana mengerjakan. 3) Learning to be, artinya belajar bagaimana secara sadar untuk tetap hidup. 4) Learning to live together, di era informasi saat ini manusia semakin dekat satu dengan yang lain, sebab itu manusia harus belajar untuk dapat hidup bersama secara berdampingan.

  Dalam perspektif gagasan tersebut maka kebijakan pendidikan dan pembelajaran Indonesia perlu mengembangkan secara progresif, kolaboratif dan integratif seluruh aspek kemanusiaan peserta didik. Untuk itu pengembangan mutu pendidikan secara menyeluruh (total) menjadi tuntutan yang sangat mendesak. Kebijakan sistem pendidikan yang berorientasi kualitas yang menyeluruh dapat ditempuh dengan menerapkan Total Quality Management (TQM). Edward Deming, Paine, dkk (1982) menegaskan bahwa TQM dalam pendidikan adalah filosofi perbaikan terus-menerus di mana lembaga pendidikan menyediakan seperangkat sarana atau alat untuk memenuhi bahkan melampaui kebutuhan, keinginan dan harapan pelanggan saat ini dan di masa mendatang. TQM Merupakan suatu pendekatan dalam menjalankan usaha yang mencoba untuk memaksimumkan daya saing lembaga pendidikan dan para lulusannya melalui perbaikan terus-menerus atas produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan.

  PENUTUP

  Era globalisasi telah menjadi suatu fenomena yang mempengaruhi semua aspek kehidupan manusia. Tak terkecuali dunia pendidikan di Indonesia. Memasuki era globalisai yang sangat kompetitif, sangat menuntut adanya kebijakan-kebijakan pendidikan yang terarah, kompetible, relevan dan berdaya saing, bukan hanya sekedar menghabiskan anggaran negara. Dapat ditegaskan lagi beberapa kebijakan dalam sistem pendidikan Indonesia yang dapat dikembangkan antara lain :

  1) Menanggulangi kolonialisme pendidikan dengan mengembangkan jati diri dan ciri khas pendidikan Indonesia. Antara lain mengembangkan pendidikan filsafat pendidikan yang khas Indoensia yang berdasarkan pada filsafat Pancasila, pendidikan khas Indonesia seperti bahasa dan sastra Indonesia. 2) Mengembangkan pendidikan terbuka, yakni pendidikan yang inkulsif, artinya pendidikan yang terbuka dan bersikap kritis dengan segala masukan dari luar. 3) Mengembangkan pendidikan multikultural, artinya pendidikan yang menghargai pluralitas keanekaan budaya bangsa Indonesia dan budaya asing. 4) Mengembangkan pendidikan yang relevan dengan dunia kerja dan dunia pasar. Perlu dikembangkan suatu strategi pendidikan yang mengarahkan para lulusan lembaga pendidikan memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk terjun dalam dunia kerja. 5) Mengembangkan kurikulum yang progresif, kolaboratif, integral dan menyeluruh menyangkut seluruh aspek kemanusiaan.

  KEPUSTAKAAN

Edward dan Sallis, 2004, Total Quality Management in Education (Manajemen Kualitas Total Dalam

Pendidikan, diterjemahkan oleh Kambey C. Daniel, Program Pascasarjana Universitas Negeri Manado.

Danim Sudarwan, 2003, Menjadi Komunitas Pembelajar,Kepemimpinan Transformasional dalam Komunitas

Organisasi Pembelajaran, Jakarta : Bumi Aksara. Senduk J.F., 2006, Isu dan Kebijakan Pendidikan, Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Manado.

Tilaar, H.A.R., 2004, Manajemen Pendidikan Nasional, Kajian Pendidikan Masa Depan, Bandung: PT Remaja

Rosdakarya.

  

Soetopo Hendyat, 2005, Pendidikan dan Pembelajaran, Teori, Permasalahan dan Praktek, Universitas Negeri

Malang. Suparno Paul, dkk, 2002, Reformasi Pendidikan, Yogyakarta : Kanisius. Suryosubroto B., 2004, Manajemen Pendidikan di Sekolah, Jakarta : PT. Rineka Cipta.

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2018-08-08

Dokumen yang terkait
Tags

Tinjauan Teoritis Beberapa Kebijakan Pen

Beberapa Pemikiran Tentang Pendidikan Pengembangan

Satu Pembicaraan Tentang Pengutaraan Pemikiran 91

Terjemahan Permasalahan Dan Beberapa Pen

Revisi Makalah Sejarah Pemikiran Dan Pen

Analisis Kebijakan Pemerintah Akibat Pen

Sertifikat Penyusunan Proposal Pen Kebijakan Tentang Revolusi Pemikiran Pemikiran Soekarno Tentang Marhaenisme

BEBERAPA PEMIKIRAN TENTANG KEBIJAKAN PEN (1)

Gratis

Feedback