PPT UEU Patofisiologi 3 Pertemuan 10

Gratis

1
0
79
6 months ago
Preview
Full text

  

KOMPLIKASI SAAT PERSALINAN DAN MASA

KELAHIRAN

PERTEMUAN 10

Dr.Noor Yulia MM

PRODI ILMU KESEHATAN & FAKULTAS RMIK

KEMAMPUAN AKHIR YANG DIHARAPKAN

  • mahasiswa dapat memahami Gangguan dan Komplikasi saat persalinan dan masa kelahiran
  • mahasiswa dapat menjelaskan dan menguraikan Gangguan dan Komplikasi saat persalinan dan masa kelahiran

  

PENDAHULUAN

Komplikasi persalinan dan kelahiran

  • •Komplikasi yang dapat timbul pada kala I yaitu:

    • – ketuban pecah dini, tali pusat menumbung,

      obstruksi placenta, gawat janin.

  • Komplikasi yang dapat timbul pada kala II adalah : – eklampsi, kegawatdaruratan janin.
  • Komplikasi yang timbul pada kala III dan IV adalah :
    • – perdarahan post partum , inversio uteri ,
    Komplikasi Kala I dan Kala II

  1.Persalinan lama :

  • Fase laten lebih dari 8 jam ,
  • Disebabkan : kecemasan ,ketakutan, pemberian analgetik yang kuat /terlalu cepat pada persalinan dan pemberian anastesi sebelum fase aktif normal pada tenaga ekspulsi , abnormalitas pada panggul,
  • kelainan pada letak dan bentuk janin

  2. Distosia :

  • adalah kelambatan atau kesulitan persalinan.
  • Dapat disebabkan kelainan tenaga( tenaga/his : His Hipotonic/ Inersia Uteri· His Hipertonic, His yang tidak

  • Partus Presipitatus ekspulsi janin berlangsung kurang dari 3 jam setelah awal persalinan.
  • berkaitan dengan Solusio plasenta ,Aspirasi mekonium, Perdarahan post partum Pengguna cocain,
  • bila servik panjang dan jalan lahir kaku, terjadi robekan servik dan jalan lahir yang luas,
  • Emboli air ketuban, • Atonia uteri dengan akibat HPP.
  • Kontraksi uterus yang terlalu kuat akan menyebabkan asfksia intrauterine,
  • akibat tahanan jalan lahir dapat timbul Trauma intrakranial

  

Komplikasi Kala III dan Kala

  

IV

  • – karena terpotongnya pembuluh-pembuluh darah dari dinding rahim bekas implantasi plasenta karena sinus-sinus maternalis ditempat insersinya pada dinding uterus terbuka.
    • Bila darah yang keluar melebihi 500cc dikategori kan perdarahan pascapersalinan primer.

  2. Hal-hal yang menyebabkan perdarahan post partum adalah;

  • Atonia uteri,
  • Perlukaan jalan lahir,
  • Terlepasnya sebagian plasenta dari

  uterus ,

  • Tertinggalnya sebagian dari plasenta

  umpamanya klotiledon atau plasenta suksenturiata.

  • kelainan proses pembekuan darah

  

akibat dari hipofbrinogenemia ,solution plasenta, retensi janin mati dalam uterus, Komplikasi persalinan dan kelahiran (O60-O75) pada

ICD 10

  • O60. Kelahiran preterm : Awal persalinan (spontan) sebelum lengkap 37 minggu kehamilan
  • O61. Kegagalan induksi persalinan
  • O61.0 Kegagalan induksi persalinan medis : dengan: oxytocin, prostaglandins
  • O61.1 Kegagalan induksi persalinan dengan instrumen secara: mekanis, bedah • O61.8 Kegagalan induksi persalinan lainnya.
  • O61.9 Kegagalan induksi persalinan, tidak

  • adalah persalinan yang terjadi pada kehamilan

  20-37 minggu, Bayi yang dilahirkan dengan berat badan kurang dari 2500 gram termasuk dalam kategori berat badan lahir rendah (BBLR),

  • Penyebab – Idiopatik – Preeklampsia – KPD
    • – Komplikasi kegawat daruratan kebidanan : eklampsia, resus, solusio plasenta, plasenta praevia
    • Resiko persalinan pre term dibagi 2 yaitu
    • Mayor :

  • – Kehamilan multipel,
  • – hidramnion,
  • – anomali uterus,
  • – serviks terbuka lebih dari 1 cm pada kehamilan 32 minggu,
  • – serviks mendatar kurang dari 1 cm pada kehamilan 28 minggu
    • Minor :

    >– Penyakit yang disertai demam
  • – Perdarahan pervaginam stlh kehamilan 12 minggu
  • – Riwayat pielonefritis
  • – Riwayat abortus semester 2
  • – Riwayat abortus trisemester 1 lebih dari 1 kali

  • Pemeriksaan penunjang
    • – USG
    • – Kardiotokograf : CTG
    • – Pemeriksaan berkala dilatasi/pemendekan serviks
    • – Amniosentesis : p0emeriksaan surfaktan
    • – Pemeriksaan bakterial
    • – Kultur urin
    • – Pemeriksaan gas darah dan ph darah janin

  • • Terapi : bed rest, penanganan faktor resiko , Beri

    obat tokolitik(obat golongan beta mimetik dan

  

Kegagalan induksi

persalinan

  • Induksi adalah tindakan untuk mengakhiri

  kehamilan dengan merangsang timbulnya

kontraksi rahim sehingga terjadi persalinan

  • Merupakan suatu upaya stimulasi mulainya proses persalinan dengan menimbulkan kontraksi /his untuk mempermudah keluarnya bayi secara normal (melahirkan pervaginam) dimana ibu tidak memperlihatkan tanda-tanda persalinan
  • Induksi akan bermanfaat ketika muLut rahim telah menipis dan berdilatasi 3-4 cm

  • Indikasi dilakukannya Induksi adalah :
  • Kondisi medis ibu : hipertensi , preeklamsia,diabetes gestasional -> untuk menyelamatkan nyawa ibu
  • Tekanan darah tinggi : Bila ibu mengalami tekanan darah tinggi yang semakin memburuk khususnya preeklamsi dan eklamsi.
  • Selaput ketuban telah pecah : ketuban

  pecah dini namun persalinan belum juga dimulai ,sebelum kontraksi ibu dan bayi beresiko terhadap infeksi. usahakan bayi segera lahir setidaknya 24 jam setelah ketuban pecah.

  • Pertimbangan bayi : 
  • Kehamilan lewat waktu:  kehamilan >41 minggu

  (atau 7 hari melebihi waktu seharusnya), akan meningkatkan resiko komplikasi pada bayi. misalnya pergerakan janin melemah

  • Bila ibu mengalami Tekanan darah tinggi : mengancam keselamatan janin jika terlalu lama didalam kandungan,
  • Oligohidramnion (air ketuban sediki) IUGR

  (Intrauterine Growth Retardation-hambatan pertumbuhan janin),

  • janin lewat waktu. pergerakan janin yang

  

Berbagai Metode Induksi

  • Membrane sweep : dengan memisahkan lapisan kantung ketuban dengan leher rahim sehingga terjadi pelepasan formon prostaglandin
  • Pematangan cervix uteri : dengan 0bat hormon secara oral atau intra vaginal
  • Memecahkan selaput air ketuban : dilakukan jika kepala bayi telah sampai pada panggul bawah dan cervix uteri telah setengah terbuka
  • Memberikan infus obat yang mengandung hormon

   yang menyebabkan rahim berkontraksi jika cervix telah mulai menipis dan lunak

  • Jika dengan induksi bayi tetap tidak keluar maka

Resiko akibat dilakukannya induksi

  • Persalinan akan lebih sakit dibandingkan persalinan normal pervaginam biasa
  • Terkadang membutuhkan alat bantu untuk mengeluarkan bayi yang disebut forceps
  • Pada kehamilan yang terlalu dini dapat menyebabkan bayi lahir prematur
  • Oksitosin atau prostaglandin dapat menyebabkan denyut jantung janin (djj) menjadi lemah dan mengurangi suplai oksigen
  • • Gangguan tali pusat membumbung yang akan

  • Pada induksi dengan memcahkan kantong amnion dapat meningkat kan infeksi baik pada ibu maupun bayi
  • Resiko perdarahan setelah lahir an karena uterus tidak berkontraksi
  • • Memicu sindrom baby blue pada ibu karena

    depresi pasca persalinan akibat persalinan

    yang menyakitkan
  • Ruptur uterus : pecah rahim menimbulkan

    perdarahan  menyebabkan kematian ibu

    dan bayie

  

Bahaya induksi persalinan pada

bayi

  • • Menyebabkan kelainan jantung pada bayi baru lahir

  

menjadi lebih parah akibat obat yang dipakai untuk

induksi

  • Menyebabkan kematian bayi setelah dilahirkan
  • • Resiko distosia bahu : bahu macet karena bayi dipaksa

    keluar -> menyebabkan cacat permanen pada bayi
  • • Meningkatkan resiko fetal distress : detak jantung bayi

    sangat cepat kemudian turun dengan cepat
  • Bayi memberikan respon dengan gerakan yang

  

berlebihan karena kontraksi rahim yang menyakitkan

dan dapat menyebabkan rahim robek

  • Bayi yang dilahirkan dengan persalinan normal dengan induksi biasanya akan

    mendapatkan perawatan di NICU setelah

    dilahirkan.
  • disebabkan karena masalah pernafasan pada bayi, gangguan paru-paru sebagai efek induksi dan resiko penyakit yang lain.
  • • jika bayi sudah terlilit tali pusat maka bayi

    bisa kekurangan oksigen setelah dilahirkan.

Induksi persalinan dengan forcep

  • Induksi membuat tenaga ibu habis untuk menahan rasa sakit dalam waktu yang lebih lama.Saat itu mungkin bayi sudah siap di rongga panggul sehingga jika tidak segera lahir maka sangat berbahaya untuk ibu dan bayi.
  • Biasanya dokter akan membantu persalinan dengan alat forceps dan vakum.
  • Persalinan dengan forcep :
    • – akan lebih menyakitkan untuk ibu
    • – meningkatkan resiko robeknya dinding perineum yang lebih lebar

Persalinan operasi Sectio caesaria dilakukan bila

  • Pemberian induksi saat persalinan

    menyebabkan kantong cairan rusak,

  • • air ketuban semakin kering dan bayi

    tidak bisa melakukan pernafasan dengan baik.
  • O62. Kelainan tenaga persalinan>O62.0 Kontraksi in adekuat primer akibat kegagalan dilatasi servix atau Disfungsi hipotonik primer uterus
  • O62.1 Inersia uterus sekunder : pada Fase aktif persalinan terhenti dan Disfungsi hipotonik sekunder uterus
  • O62.2 Inersi lain uterus pada Atonia uterus, persalinan irreguler, persalinan desultory (kontraksi tak teratur), kontraksi lemah, inersia uterus NOS, disfungsi hipotonik uterus NOS
  • O62.3 Precipitate labour persalinan yang cepat [partus presipitatus]
  • O62.4 Kontraksi hipertonik uterus, tidak teratur dan waktunya memanjang, distosia uterus NOS, distosia cincin kontraksi

    [distosia = susah melalui jalan lahir], Kontraksi tetanik, kontraksi

    hour-glass uterus, disfungsi hipertonik uterus, Partus tidak teratur, kerja uterus tak teratur, Kecuali: distosia (janin)(maternal) NOS (O66.9)
  • O62.8 Kelainan lain tenaga persalinan

  

Inersia uterus

  • Inersia uteri adalah kelainan his yang kekuatannya tidak adekuat untuk melakukan pembukaan serviks atau mendorong janin keluar.
  • • adalah perpanjangan fase laten atau fase aktif atau kedua-duanya

    dari kala pembukaan. Yang memberikan resiko kematian perinatal.
  • Pemanjangan fase laten dapat disebabkan oleh serviks yang belum matang atau karena penggunaan analgetik yang terlalu dini.
  • kekuatan his lemah dan frekuensinya jarang.
  • dijumpai pada penderita dengan keadaan umum kurang baik seperti anemia, uterus yang terlalu teregang misalnya akibat hidramnion atau kehamilan kembar atau makrosomia, grandemultipara atau primipara, serta para penderita dengan keadaan emosi kurang baik.

  • sebab-sebab inersia uteri adalah :

  1.Kelainan his sering dijumpai pada primipara

  2.Faktor herediter, 3.emosi dan ketakutan 4.obat-obat penenang

  5.Bagian terbawah janin tidak berhubungan rapat dengan segmen bawah rahim,pada kesalahan letak janin dan disproporsi sevalopelvik

  6.Kelainan uterus,  uterus bikornis unikolis

  7.Kehamilan postmatur 8.keadaan umum kurang baik  anemia

  9.Uterus yang terlalu teregang : pada hidramnion , kehamilan kembar

  •   Komplikasi 1.infeksi , dehidrasi

  2.Kehabisan tenaga ibu

  

istilah

  • Inersia uteri primer : His lemah dari awal persalinan
  • Inersia uteri sekunder : mula-mula His baik,kemudian menjadi lemah karena otot-otot rahim lelah akibat persalinan berlangsung lama (inersia karena kelelahan )   
  • Inersia uteri hipotonis : kontraksi terkoordinasi, tetapi lemah., His jarang, pada puncak kontraksi dinding rahim masih dapat ditekan kedalam
  • Inersia uteri hipertonis : inersia spastis : kontraksi tidak terkoordinasi,bersifat hifertonis, kontraksi segmen tengah lebih kuat dari segmen atas..
distosia

  • Adalah kesulitan persalinan disebabkan karena gangguan tenaga meneran(his)pada kelainan letak janin, bentuk janin ,kelainan bentuk jalan lahir
  • jenis-jenis distosia :
  • Distosia Karena kelainan HIS (tenaga)
  • Distosia karena HIS yang tidak normal baik kekuatan maupun sifatnya sehingga memperlambat kelancaran persalinan.
  • Penyebab distosia : kelainan his, tetania uteri, uterus inkoordinasi,, herediter, emosi, ketakutan , obat- obatan,hamil post mature, kelainan bentuk

  O63. partus memanjang

  • O63.0 Kala I (persalinan) memanjang – sejak kontraksi dimulai
  • O63.1 Kala II (persalinan) memanjang – sejak pembukaan lengkap sampai lahir • O63.2 Kelahiran bayi kedua.pada twin, triplet, dst.

  tertunda

  • O63.9 Partus memanjang (long labour): tidak dijelaskan, NOS

Persalinan dengan kala I lama

  • adalah persalinan yang fase latennya berlangsung lebih dari 8 jam
  • pada fase aktif laju pembukaannya tidak adekuat atau bervariasi; kurang dari 1 cm setiap jam selama sekurang- kurangnya 2 jam setelah kemajuan persalinan
  • kurang dari 1,2 cm per jam pada primigravida dan kurang dari 1,5 per jam pada multipara
  • lebih dari 12 jam sejak pembukaan 4 sampai pembukaan lengkap (rata-rata 0,5 cm per jam).
  • Insiden ini terjadi pada 5 % persalinan
  • pada primigravida insidensinya dua kali lebih besar
sebab-sebab terjadinya partus lama yaitu:

  • Kelainan letak janin
  • Kelainan-kelainan panggul
  • Kelainan his
  • Janin besar
  • ada kelainan kongenital
  • Primitua • Ketuban pecah dini

  O64. Persalinan terhambat (obstructed labour) akibat malposisi dan

malpresentasi fetus

  • O64.0 Persalinan terhambat akibat rotasi kepala janin tidak sempurna terjadi pada Deep transverse arrest akibat (posisi) persisten:, oksipito-iliaka, oksipito-posterior, oksipito-sakrum, oksipito-transversa
  • O64.1 Persalinan terhambat akibat presentasi sungsang
  • O64.2 Persalinan terhambat akibat presentasi muka /dagu
  • O64.3 Persalinan terhambat akibat presentasi dahi
  • O64.4 Persalinan terhambat akibat presentasi bahu pada

Prolapsed arm (lengan ‘menumbung’)

  • O64.5 Persalinan terhambat akibat presentasi campuran
  • O64.8 Persalinan terhambat akibat malposisi dan malpresentasi lain

O65. Persalinan terhambat akibat kelainan pelvik ibu

  • O65.0 Persalinan terhambat akibat deformasi pelvis
  • • O65.1 Persalinan terhambat akibat panggul secara umum sempit

  • O65.2 Persalinan terhambat akibat penyempitan pintu atas panggul
  • O65.3 Persalinan terhambat akibat penyempitan pintu bawah dan rongga panggul
  • O65.4 Persalinan terhambat akibat disproporsi feto-pelvik, tidak dijelaskan
  • O65.5 Persalinan terhambat akibat kelainan organ pelvik ibu :

    Persalinan terhambat akibat kondisi yang tercantum pada O34.-

  • O65.8 Persalinan terhambat akibat kelainan lain pelvik ibu
  • • O65.9 Persalinan terhambat akibat kelainan pelvik ibu yang tidak

    dijelaskan

  • O66.

  Persalinan terhambat lainnya

  • O66.0 Persalinan terhambat akibat distosia bahu : Impacted shoulders
  • O66.1 Persalinan terhambat akibat locked twins – si kembar saling mengunci
  • O66.2 Persalinan terhambat akibat janin sangat besar
  • O66.3 Persalinan terhambat akibat kelainan lain pada janin misal

  Distosia akibat: kembar siam, janin hidrosefalus, asites, hydrops, meningomyelocele, sacral teratoma, atau tumor pada janin

  • O66.4 Kegagalan percobaan persalinan, tidak dijelaskan:Kegagalan percobaan persalinan dengan kelahiran kemudian secara seksio sesar
  • O66.5 Kegagalan penggunaan ekstraksi vakum dan forseps, tidak dijelaskan, Kegagalan ekstraksi vakum disusul dengan penggunaan forseps,   atau kegagalan ekstraksi forceps disusul dengan seksio sesar
  • O66.8 Persalinan terhambat lain yang dijelaskan
  • O66.9 Persalinan terhambat, tidak dijelaskan

  O67. Persalinan dipersulit oleh perdarahan intrapartum, n.e.c.

  • O67.0 Perdarahan intrapartum dengan cacad koagulasi : pada Perdarahan (berlebihan) intrapartum akibat:DIC,

    afbrinogenaemia, hypofbrinogenaemia,

    hyperfbrinolysis
  • O67.8 Perdarahan intrapartum lainnya –

    misal Perdarahan intrapartum berlebihan

  • O67.9 Perdarahan intrapartum, tidak dijelaskan

O68. Persalinan dipersulit oleh fetal stress [distress]

  • Termasuk: “fetal distress” pada persalinan dan kelahiran akibat pemberian obat
  • O68.0 Persalinan dan kelahiran dipersulit oleh kelainan fetal heart rate (FHR) Fetal: bradycardia, tachycardia, irama jantung tidak teratur
  • O68.1 Persalinan dan kelahiran dipersulit oleh meconium di dalam cairan amnion
  • O68.2 Persalinan dan kelahiran dipersulit kelainan FHR dengan meconium di cairan amnion
  • O68.3 Persalinan dan kelahiran dipersulit oleh bukti biokimiawi fetal stress : Asidemia atau gangguan keseimbangan asam basa pada janin
  • O68.8 Persalinan dan kelahiran dipersulit oleh bukti lain fetal stress,

  Bukti fetal distress pada: EKG, USG

  • O68.9 Persalinan dan kelahiran dipersulit oleh fetal stress, tidak dijelaskan

  O69. Persalinan dan kelahiran dipersulit oleh

komplikasi tali pusat

  • • O69.0 Persalinan dan kelahiran dipersulit oleh prolaps umbilikus

  • • O69.1 Persalinan dan kelahiran dipersulit oleh umbilikus melilit

    leher, dengan penekanan
  • O69.2 Persalinan dan kelahiran dipersulit oleh umbilikus tersangkut lainnya : kusut pada kembar dengan kantong amnion tunggal, Simpul pada umbilikus
  • • O69.3 Persalinan dan kelahiran dipersulit oleh umbilikus pendek

  • O69.4 Persalinan dan kelahiran dipersulit vasa praevia [perdarahan dari vasa praevia]
  • O69.5 Persalinan dan kelahiran dipersulit oleh lesi pembuluh darah umbilikus, Lecet atau haematoma umbilikus, thrombosis pembuluh darah umbilikus

O70. Laserasi perineum sewaktu melahirkan

  • • O70.0 Luka perineum tingkat satu sewaktu melahirkan Luka,

    ruptur, atau robek ketika melahirkan (melibatkan) fourchette (lipatan kulit di balik vulva), vulva, vagina, labia, kulit
  • O70.1 Luka perineum tingkat dua sewaktu melahirkan luka, ruptur, atau robek ketika melahirkan seperti O70.0, yang melibatkan: lantai pelvik, otot perineum, otot vagina
  • O70.2 Luka perineum tingkat tiga sewaktu melahirkanLuka,

    ruptur, atau robekan ketika melahirkan seperti O70.1, yang

    melibatkan: septum rektovaginalis, sphincter anus, sphincter
  • O70.3 Luka perineum tingkat empat sewaktu melahirkan :

    Luka, ruptur, atau robekan ketika melahirkan seperti O70.2,

    yang melibatkan: mukosa anus atau mukosa rektum,
  • O70.9 Luka perineum sewaktu melahirkan, tidak dijelaskan

  • pembukaan serviks berjalan sangat lambat
  • Kala I lama diklasifkasikan menjadi 2, yaitu
    • – Fase Laten Memanjang (Prolonged latent phase): Adalah fase pembukaan serviks yang tidak melewati 3 cm setelah 8 jam inpartu
    • – Fase aktif memanjang (Prolonged Active Phase): Adalah fase yang lebih panjang dari 12 jam dengan pembukaan serviks kurang dari 1,2 cm per jam

  • Faktor2 yang mempengaruhi (predisposisi) : kelainan letak janin,kelainan his akibat inersia uteri,
  • tanda klinis kala I lama :
    • – Pada ibu: Gelisah, letih, suhu badan meningkat, berkeringat, nadi cepat, pernapasan cepat dan meteorismus. Di daerah lokal sering dijumpai edema vulva, edema serviks, cairan ketuban yang berbau, terdapat mekonium
    • – Pada janin : Denyut jantung janin cepat/hebat/tidak teratur bahkan negatif; air ketuban terdapat mekonium, kental kehijau-hijauan, berbau.Kaput suksedaneum yang besar.Moulage kepala yang

Komplikasi pada Ibu dan Janin Akibat Kala I Lama

  • Bagi janin
  • Bagi ibu

  1.detak jantung janin

  1. Ketuban pecah dini mengalami gangguan,

  2. Sepsis Puerperalis dapat terjadi takikardi

  3. Ruptur Uterus sampai bradikardi

  4. Cedera dasar panggul 2.adanya kaput

  5. Dehidrasi suksidaneum yang besar (pembengkakan kulit

  6. Pada pemeriksaan dalam kepala) terdapat oedema serviks,

  3.asfksia intrauterin dan air ketuban

  4.molase (tumpang tindih bercampur dengan tulang-tulang kranium) mekoneum

O71. Trauma obstetrik lainnya

  • O71.0 Ruptur uterus sebelum awal persalinan
  • O71.1 Ruptur uterus selama persalinan: Ruptur uterus yang tidak dinyatakan terjadi sebelum awal persalinan
  • O71.2 Inversi uterus postpartum
  • O71.3 Luka obstetrik pada serviks:Annular detachment of cervix – lepasnya serviks seperti cincin
  • O71.4 Luka obstetrik tinggi tersendiri di vagina Luka dinding vagina tanpa disebutkan luka perineum
  • O71.5 Cedera obstetrik lain pada organ pelvik Cedera obstetrik pada bladder atau urethra
  • O71.6 Kerusakan obstetrik terhadap sendi dan ligamen pelvik Avulsi (lepas) obstetrik rawan bagian dalam simfsis, Pemisahan traumatika obstetrik simfsis (pubis), kerusakan obstetrik koksigis
  • O71.7 Haematoma obstetrik pada pelvis Haematoma obstetrik: pada perineum, vagina, vulva
  • O71.8 Trauma obstetrik lain yang dijelaskan

  

Ruptur uteri

  • Robeknya dinding uterus pada kehamilan atau persalinan atau robeknya peritoneum viseral
  • Kriteria diagnosis ;
    • – sakit perut mendadak
    • – Perdarahan pervaginam
    • – Adanya lokus monoris pada rahim, trauma, partus sulit
    • – Kadang ada tanda akut abdomen
    • – Teraba bagian janin langsung dibawah kulit

O72. Postpartum haemorrhage

  • • O72.1 Perdarahan postpartum segera lainnya

    Perdarahan setelah kelahiran plasenta, perdarahan postpartum (atonik) NOS
  • • O72.2 Perdarahan postpartum terlambat dan

    sekunder :Perdarahan akibat tertahannya bagian plasenta atau membran, Tertahannya produk konsepsi NOS, setelah kelahiran
  • O72.3 Cacad koagulasi postpartum : Afbrinogenaemia atau fbrinolysis

  

Komplikasi pada masa nifas

  bersalin didefenisikan sebagai perdarahan pasca persalinan .

  • Darah bercampur dengan cairan amnion atau dengan urine, darah juga tersebar pada spon, handuk dan kain di dalam
  • ember dan di lantai.
  • volume darah yang hilang bervariasi akibatnya sesuai

  Seorang ibu dengan kadar Hb dengan kadar haemoglobin ibu. normal akan dapat menyesuaikan diri terhadap kehilangan darah ,pada kasus anemia akan berakibat fatal.

  Perdarahan dapat terjadi dengan lambat untuk jangka waktu beberapa jam dan kondisi ini dapat tidak dikenali sampai terjadi syok.

  • Beberapa bakteri dapat menyebabkan infeksi setelah persalinan.
  • Infeksi meluas ke saluran urinary, payudara dan pembedahan • Gejala umum : suhu tubuh meningkat , takikardi dan malaise.
  • gejala lokal : uterus lembek, kemerahan, dan rasa nyeri pada payudara atau adanya disuria.
  • Ibu beresiko terjadi infeksi post partum : ada luka pada bekas pelepasan plasenta, laserasi pada saluran genital termasuk episiotomi pada perineum, dinding vagina dan serviks, infeksi post SC yang mungkin terjadi.
  • Penyebab infeksi : bakteri endogen dan bakteri eksogen
  • Faktor predisposisi : nutrisi yang buruk, defsiensi zat besi, persalinan lama, ruptur membran, episiotomi, SC
  • Gejala klinis : endometritis tampak pada hari ke 3 post partum disertai dengan suhu mencapai 39 derajat celcius,takikardi,

  3. SAKIT KEPALA, NYERI EPIGASTRIK DAN PENGLIHATAN KABUR

  • Wanita yang baru melahirkan sering mengeluh sakit kepala hebat atau penglihatan kabur.
  • Penanganan :
  • >Periksa adanya varises
  • Periksa kemerahan pada betis
  • Periksa apakah tulang kering,pergelangan kaki, kaki oedema (perhatikan adanya oedema pitting)
  • 5. DEMAM, MUNTAH, RASA SAKIT WAKTU BERK>Organisme yang menyebabkan infeksi saluran kemih berasal dari fora normal perineum.
  • Pada masa nifas dini, sensitivitas kandung kemih terhadap tegangan air kemih di dalam vesika sering menurun akibat trauma persalinan serta analgesia epidural atau spinal. Sensasi peregangan kandung kemih juga mungkin berkurang akibat rasa tidak nyaman yang ditimbulkan oleh episiotomi yang lebar, laserasi periuretra atau hematoma dinding vagina.
  • Setelah melahirkan terutama saat infuse oksitosin dihentikan terjadi diuresis yang disertai peningkatan produksi urine dan distensi kandung kemih.
  • Overdistensi yang disertai kateterisasi untuk mengeluarkan

TERASA SAKIT

  • • Payudara bengkak tidak disusu secara adekuat dapat menyebab

    kan payudara menjadi merah, panas, terasa sakit,-> mastitis.

  • Puting lecet memudahkan masuknya kuman -> payudara bengkak • B.H yang terlalu ketat, mengakibatkan segmental engorgement.
  • Kalau tidak disusu dengan adekuat, bisa terjadi mastitis.
  • • Penatalaksanaan : Menyusui diteruskan. Pertama bayi disusukan

    pada payudara yang terkena edema dan sesering mungkin, agar payudara kosong kemudian pada payudara yang normal.
  • Beri kompres panas, shower hangat atau lap basah panas pada

    payudara yang terkena.Ubahlah posisi menyusui dari waktu ke

    waktu (posisi tiduran, duduk atau posisi memegang bola (football position), Pakailah baju B. H yang longgar.
  • Istirahat yang cukup , makanan yang bergizi ,Banyak minum sekitar 2 liter per hari, diberikan antibiotik selama 5-10 hari dan

  7. RASA SAKIT, MERAH, LUNAK DAN PEMBENGKAKAN DI KAKI

  • Selama masa nifas dapat terbentuk thrombus sementara pada vena-vena di pelvis yang mengalami dilatasi .
  • Faktor predisposisi : Obesitas, Peningkatan umur maternal dan tingginya paritas , Riwayat sebelumnya , Anestesi dan pembedahan dengan kemungkinan trauma yang lama pada keadaan pembuluh vena, Anemia maternal , Hypotermi dan penyakit jantung, Endometritis , Varicostitis • Manifestasi : Timbul secara akut , Timbul rasa nyeri akibat terbakar , Nyeri tekan permukaan

  

O73. Tertahannya plasenta

dan selaput ketuban, tanpa

perdrahan

  • O73.0 Plasenta terahan tanpa perdarahan: Placenta accreta (melekat erat) tanpa perdarahan
  • • O73.1 Bagian plasenta dan membran

    tertahan, tanpa perdarahan: Produk

    konsepsi tertahan setelah kelahiran, tanpa perdarahan

  plasenta belum lahir setengah jam sesudah anak lahir

  

Retensio plasenta

  • Adalah bila
  • Patofsiologi :
    • – Retensio plasenta dalam rahim akan mengganggu kontraksi dan retraksi, menyebabkan sinus-sinus darah tetap terbuka, dan menimbulkan HPP. Begitu bagian plasenta terlepas dari dinding uterus, perdarahan akan terjadi di daerah itu.
    • – Bagian plasenta yang masih melekat merintangi retraksi miometri um dan perdarahan berlangsung terus sampai sisa organ tersebut terlepas serta dikeluarkan.

  • Diagnosa :
    • – Pada pemeriksaan luar: fundus/korpus ikut tertarik apabila tali pusat ditarik.,
    • – Pada pemeriksaan dalam: sulit ditentukan tepi plasenta karena implantasi yang dalam.

  • Terapi :

  

O74. Komplikasi anestesia

persalinan dan kelahiran selama

  • O74.0 Pneumonitis aspirasi akibat anestesia selama persalinan dan kelahiran: Inhalasi isi atau sekresi lambung NOS selama persalinan dan kelahiran Sindroma Mendelson akibat anestesia selama persalinan dan kelahiran
  • O74.1 Kompilasi paru-paru lainnya selama persalinan dan kelahiran Kolaps tekanan pada paru-paru akibat anestesia selama persalinan dan kelahiran O74.2 Komplikasi anestesia terhadap jantung selama persalinan dan kelahiranGagal
  • jantung akibat anestesia selama persalinan dan kelahiran
  • O74.3 Komplikasi anestesia terhadap sistem syaraf pusat selama persalinan dan

    kelahiran: Anoksia otak akibat anestesia selama persalinan dan kelahiran O74.4 Reaksi toksik terhadap anestesia lokal selama persalinan dan kelahiran
  • O74.5 Sakit kepala akibat anestesia spinal dan epidural selama persalinan dan kelahiran O74.6 Komplikasi lain anestesia spinal dan epidural selama persalinan dan kelahiran
  • O74.7 Intubasi gagal atau sulit selama persalinan dan kelahiran O74.8 Komplikasi lain anestesia selama persalinan dan kelahiran
  • >O74.9 Komplikasi anestesia selama persalinan dan kelahiran, tidak dijelaskan

  

O75. Komplikasi lain persalinan

dan kelahiran, not elsewhere

  • O75.0 Maternal distress selama persalinan dan kelahiran

  

classifed

  • O75.1 Shock selama atau sesudah persalinan dan kelahiran: Obstetric shock
  • • O75.2 Pyrexia selama persalinan dan kelahiran, not elsewhere classifed

  • O75.3 Infeksi lain selama persalinan: Septikemia selama persalinan
  • • O75.4 Komplikasi lain dari operasi dan prosedur obstetrik: Gagal jantung

    atau anoksia serebri setelah operasi sesar atau operasi dan prosedur obstetrik lainnya,
  • (O86.0), disrupsi (O90.0-O90.1), hematoma (O90.2)
  • • O75.5 Kelahiran terlambat setelah membran dipecahkan secara artifsial

  • O75.6 Kelahiran terlambat setelah membran pecah spontan atau tidak dijelaskan
  • O75.7 Kelahiran per vaginam setelah seksio sesar sebelumnya
  • O75.8 Komplikasi lain persalinan yang dijelaskan
  • O75.9 Komplikasi persalinan, tidak dijelaskan

  O86. Infeksi nifas lainnya

  • O86.0 Infeksi luka bedah obstetrik :Infeksi setelah kelahiran pada: luka seksio sesar, perbaikan perineum
  • O86.1 Infeksi lain saluran genital setelah kelahiran

Servisitis atau vaginitis setelah kelahiran

  • O86.2 Infeksi saluran kemih setelah kelahiran
  • O86.3 Infeksi genitourinarius setelah setelah kelahiran: Infeksi genitourinarius nifas NOS
  • O86.4 Pyrexia setelah kelahiran dengan penyebab tidak : Infeksi atau pireksia nifas:

Infeksi intra partum

  • Infeksi terjadi dalam persalinan
  • Ditandai oleh : demam > 38’c, air ketuban keruh kecoklatan, bau , leukosit darah tinggi > 15.000/mm3
  • Kriteria diagnosis : biasanya ketuban sudah pecah, suhu tinggi >38’c, air ketuban keruh kecoklatan , bau
  • Faktor predisposisi : distosia, partus lama,gizi kurang, keadaan umum lemah, kebersihan alat genital kurang
  • Terapi :
    • – Umum : pencegaham , hilangkan faktor predisposisi,bilas

      vagina
    • – Khusus : antibiotika

  • O85. Puerperal sepsis : pada Endometritis, demam, peritonitis, atau septikemia pada masa nifas
KEHAMILAN EKTOPIK TERGANGGU (KET )

  • Keadan dimana hasil konsepsi berimplantasi dan tumbuh diluar endometrium cavum uteri
  • • Misal :kehamilan abdominal , kehamilan

    di ampula tuba falopii, kehamilan pada

    ovarium,intra ligamen, cornu,servix uteri
  • Kriteria diagnosis : dari anamnesa :terlambat haid /amenorre
  • Sinkop dan nyeri perut mendadak

O87. Komplikasi vena di saat nifas

  • O87.0 Thrombophlebitis superfsialis pada waktu nifas
  • O87.1 Phlebothrombosis profunda pada waktu nifas
  •             Thrombosis vena dalam, postpartum;
  •             Thrombophlebitis pelvik, postpartum
  • O87.2 Haemorrhoids pada waktu nifas
  • O87.3 Thrombosis vena cerebralis pada waktu nifas
  •             Thrombosis sinus cerebrovenosa pada waktu nifas
  • O87.8 Komplikasi lain pada vena pada waktu nifas
  •             Varises genitalia pada waktu nifas
  • O87.9 Komplikasi vena pada waktu nifas, tidak dijelaskan
  •             Phlebitis nifas NOS, phlebopati nifas NOS, thrombosis nifas NOS

  O88 Obstetric embolism

  • O88.0 Embolisme udara obstetrik
  • O88.1 Embolisme cairan amnion
  • O88.2 Embolisme bekuan darah obstetrik Embolisme (pulmonalis): obstetrik NOS, nifas NOS
  • • O88.3 Embolisme pyaemik and septik

    obstetrik
  • O88.8 Embolisme obstetrik lain-

Emboli air ketuban

  • • Emboli air ketuban adalah syok yang berat sewaktu persalinan

    selain oleh plasenta previa (Obstetri Patologi. 1981:128).
  • Emboli air ketuban adalah merupakan salah satu penyebab syok disebabkan karena perdarahan.(Ilmu Kebidanan. 2002:672).
  • Etiologi : Masuknya air ketuban ke vena endosentrik/sinus yang terbuka didaerah tempat perlekatan plasenta.
  • Faktor prediposisi : Ketuban sudah pecah , His kuat , Pembuluh darah yang terbuka(SC rupture), Multiparasit , Kematian janin intrauterine(IUFD) , Mekonium dalam cairan

    amnion ,Usia diatas 30 tahun, Persallinan pesipitasus(kurang

    dari 3 jam).
  • Gejala : Gelisah , Mual muntah disertai takikardi dan dispnea, Sianosis, TD menurun, Nadi cepat dan lemah , Kesadaran

    menurun, Nistasmus dan kadang timbul kejang tonik klonik,

O89 Komplikasi anestesia pada waktu nifas

  • 089.0   Komplikasi anestesia pada paru-paru pada waktu nifas :

    Akibat anestesia pada waktu nifas: sindroma Mendelson, inhalasi

    isi atau sekresi lambung NOS, pneumonitis aspirasi,kolaps tekanan pada paru-paru
  • • O89.1 Komplikasi anestesia pada jantung pada waktu nifas : Gagal

    jantung akibat anestesia pada waktu nifas
  • O89.2 Komplikasi anestesia pada sistem syaraf pusat pada waktu nifas: Anoksia otak akibat anestesia pada waktu nifas
  • O89.3 Reaksi toksik anestesia lokal pada waktu nifas
  • • O89.4 Sakit kepala akibat anestesia spinal dan epidura pada waktu

    nifas
  • O89.5 Komplikasi lain anestesia spinal dan epidura pada waktu nifas
  • O89.6 Intubasi sulit atau gagal pada waktu nifas
  • O89.8 Komplikasi lain dari anestesia pada waktu nifas

O90 Komplikasi nifas, not elsewhere classifed

  • O90.0 Disrupsi luka seksio sesar
  • O90.1 Disrupsi luka obstetrik pada perineum:Disrupsi luka: episiotomi, laserasi perineum, Robekan sekunder perineum
  • O90.2 Haematoma luka obstetrik
  • O90.3 Kardiomiopati dalam nifas  Kondisi pada I42.-
  • O90.4 Gagal ginjal akut postpartum: Sindroma hepatorenal setelah persalinan dan melahirkan
  • O90.5 Tiroiditis postpartum
  • O90.8 Komplikasi lain nifas, not elsewhere classifed : Polip plasenta
  • O90.9 Komplikasi nifas, tidak dijelaskan

  O91 Infeksi mammae sehubungan dengan

melahirkan

  • • O91.0 Infeksi papilla mammae sehubungan dengan

    melahirkan: Abses papilla mammae pada: hamil,

    nifas
  • O91.1 Abses mammae sehubungan dengan melahirkan: Aabses mammae, mastitis purulenta, abses subareola: akibat hamil atau nifas
  • O91.2  Mastitis nonpurulenta sehubungan dengan melahirkan: Limfangitis mammae pada hamil atau nifas,   Mastitis: NOS, interstitialis, atau parenkimatosa pada hamil atau nifas

  O92 Kelainan lain mammae dan laktasi sehubungan dengan

melahirkan

   O92.0 Retraksi papilla mammae sehubungan dengan melahirkan  O92.1 Retak papilla mammae sehubungan dengan melahirkan:

  Fissura papilla mammae pada hamil atau nifas  O92.2 Kelainan lain dan tidak dijelaskan pada mammae sehubungan dengan melahirkan  O92.3 Agalactia – [tidak mampu memproduksi ASI]  Agalactia primer  O92.4 Hypogalactia – [produksi ASI kurang]  O92.5 Suppressed lactation – [penekanan laktasi] Agalactia: elektif, sekunder, terapeutika  O92.6 Galactorrhoea – produksi ASI berlebihan    Kecuali:   galactorrhoea yang tidak berhubungan dengan melahirkan (N64.3)  O92.7 Kelainan laktasi lainnya dan tidak dijelaskan Galactocele nifas

  • – tumor mammae berisi ASI

  

Inversio uteri

  • Pada inversion uteri
  • t bagian atas uterus memasuki kavum uteri, hingga fundus uteri sebelah dalam menonjol kedalam kavum uteri.
  • • te rjadi tiba-tiba dalam kala III/ segera setelah plasenta keluar

  • Jarang ditemukan
  • Menurut perkembangannya inversion uteri dibagi yaitu;

  1. Fundus uteri menonjol kedalam kavum uteri, tetapi belum keluar dari ruang tersebut.

  2. Korpus uteri yang terbalik sudah masuk kedalam vagina.

  3. Uterus dengan vagina , semuanya terbalik, sebagian besar terletak diluar vagina.

  • Inversio uteri bisa terjadi spontan/ sebagai akibat tindakan.
  • Diagnosis tidak sukar dibuat . pemeriksaan dalam dapat menunjukkan tumor yang lunak diatas servik uteri/ didalam vagina,

Fistula urinae

  • Disebabkan karena persalinan , dapat terjadi langsung saat bersalin atau saat tindakan operasi (sectio caesaria, perforasi, kranioklasi, dekapitasi, ekstraksi cunam
  • Akibat tekanan kepala janin terlalu lama pada jaringan jalan lahir di os pubis dan symfsis sehingga menimbulkan iskhemia dan kematian jaringan dijalan lahir
  • Fistula traumatik juga dapat timbul akibat histerektomi abdominal ndan vaginal,
  • Karena nekrosis dan infeksi dapat timbul stenosis vaginae, uretrae hilang sebagian atau seluruhnya, jaringan sekitar fstula jadi hilang atau ada sebagian
  • Dapat timbul fstula lebih dari 2
  • • Pemeriksaan : spekulum , methilen

    blue
  • Terapi ;erasi transvaginal 3 bulan setelah persalinan saat jaringan fstula sudah tenang
  • Dapat residif atau dapat sembuh sendiri

Mastitis

  • peradangan pada payudara
  • Dibagi dalam
    • – Mastitis gravidarum -> timbul waktu hamil
    • – Mastitis puerperalis-> timbul waktu laktasi

    >

    • Port d’entrée atau tempat masuk kuman biasanya diputing susu

    yang terluka atau lecet
  • Kuman dapat juga perkontinuitatum menjalar ke duktuli dan sinus
  • • Kebanyakan pada biakan ditemukan kuman staflokokkus aureus

  • Berupa peradangan atau abses
  • Pada radang duktulus- duktulus menjadi edematus, air susu terbendung, dapat bercampur nanah
  • Gejala : nyeri dipayudara, kulit diatas abses mengkilat, demam,
  • Terapi : insisi, pake perban elastispasang drainage pentous/ perban elastis yang ketat untuk menghentikan

  Komplikasi paska operasi

  

dari sistem sirkulasi sehingga sel – sel jaringan

tidak mendapat cukup suply zat makanan dan O2

  • Syok dapat timbul karena : hemoragik, sepsis, neurogenik, kardiogenik
  • Gejala : nadi dan pernafasan meningkat,tensi

    turun, oliguria, gelisah , ekstremitas dan wajah

    dingin, warna kulit kle abu-abuan
  • Terapi : segera berikan Oksigen dan infus intra vena
  • Perdarahan bisa tampak keluar atau perdarahan didalam rongga perut
  • Biasanya timbul karena usaha penghentian darah kurang sempurna
  • Gejala : nadi meningkat, tensi

    menurun ,penderita tampak pucat dan gelisah

    , kadang mengeluh sakit perut, pada perkusi abdomen ditemukan suara pekak disamping abdomen

  3. Retensio urinae

  • Terjadi jika air urine yang dikeluarkan jauh berkurang paska operasi
  • Terapi : kateterisasi

  4. Infeksi jalan kencing

  • Akibat dari dikateterisasi
  • Gejala : demam, kadang nyeri saat BAK,
  • Pemeriksaan urine tampak leukosit dalam jumlah berkelompok ,
  • •lakukan pembiakan untuk mengetahui kuman

    penyebab infeksi
  • Biasanya terjadi paska laparatomi
  • Distensi terjadi karena
  • Sehingga paska operasi pasien perlu diawasi
  • Tanda baik bila fatus keluar pasca operasi
  • Gejala : pada perkusi bunyi abdomen tympani, distensi bertambah , mual muntah , tidak ada bising usus pada ileus paralitik 48-72 jam paska operasi atau peristaltik meningkat disertai rasa mules yang keras dan berulang pada ileus obstruktif 5-7 hari paska operasi
  • Dilatasi lambung dan ileus paralitik , ileus obstruksi
  • Pemeriksaan penunjang : rontgen foto abdomen
  • Terapi : puasakan, masukkan sonde lewat hidung sampai lambung untuk mengeluarkan isinya, beri makanan parenteral

  6. Infeksi umum / sepsis

  • •Bila saat operasi sumber infeksi terbuka dan

    drainage tidak mencukupi
  • Gejala : tampak penderita sakit keras, suhu tinggi, menggigil, nadi cepat, adanya infeksi lokal di sumber primer
  • •Penunjang : biakan darah untuk mengetahui

    kuman penyebab

  7. Komplikasi peritonitis akuta

  

8. Terbukanya luka operasi : disrupsi luka

operasi

  • Timbul karena luka tidak dijahit dengan sempurna, distensi abdomen , batuk, muntah yang keras. Infeksi,debilitas penderita
  • •Gejala : rasa nyeri setempat, menonjolnya luka operasi, keluar

    cairan serosanguinolen pada bekas luka, teraba masa lembek dibawah kulit atau tampak usus halus dalam luka terbuka
  • Terapi : reposisi isi rongga perut , buat jahitan menembus semua lapisan kulit sampai peritonium

  9. Trombofebitis

  • Terjadi pada minggu ke 2 paska operasi
  • Gejala: suhu naik,nadi cepat,nyeri spontan edema kaki

  

Gangguan psikologi masa

persalinan

  • Penyebab Gangguan Psikologi pada Ibu Bersalin
    • Perubahan hormon
    • Kurangnya persiapan mental
    • Kecenderungan menolak kelahiran bayi karena akan menjadi beban

  • Perubahan psikologis pada kala 1
    • – Perasaan ibu tidak enak,cemas , takut akan persalinan , takut bayi tidak normal, takut tidak bisa merawat bayi

  • Perubahan psikologis ibu saat persalinan
    • – Fase laten: ibu merasa lega karena masa kehamilannya akan

      segera berakhir. Namun ibu gelisah, gugup, cemas dan khawatir sehubungan dengan rasa tidak nyaman karena kontraksi.
    • –  Fase aktif: saat kemajuan persalinan sampai pada waktu kecepatan maksimum  rasa khawatir menjadi meningkat. Rasa takut tidak mampu beradaptasi dengan kontraksinya.

Usia kehamilan

  • Lama kehamilan diukur dari hari pertama ‘last normal menstrual period’ atau hari pertama haid terakhir (HPHT). Usia kehamilan dinyatakan dalam hari penuh atau minggu penuh (misalnya 280-286 hari penuh setelah HPHT dianggap 40 minggu kehamilan).
  • Untuk menghitung usia kehamilan dari tanggal HPHT dan hari lahir, harus diingat bahwa hari pertama adalah hari ‘0’ dan bukan hari ‘1’; jadi hari 0-6 adalah ‘minggu 0’; hari 7-13 adalah ‘minggu 1’; dan minggu ke- 40 adalah ‘minggu 39’. Kalau tanggal HPHT tidak diketahui, usia kehamilan harus didasarkan pada perkiraan klinis terbaik. Untuk mencegah kesalahpahaman, tabulasi hendaknya berisi minggu dan hari.
  • Pre-term   : <37 minggu lengkap (kurang dari 259 hari) kehamilan.
  • Term    : 37 minggu lengkap sampai <42 minggu (259-293 hari) kehamilan.
  • Post-term  : 42 minggu lengkap atau lebih (294 hari atau lebih) kehamilan
  • Masa perinatal dimulai dari 22 minggu lengkap (154 hari) kehamilan (saat berat lahir biasanya 500 g), sampai 7 hari lengkap setelah lahir.
  • Masa neonatal dimulai sejak lahir sampai 28 hari lengkap. Kematian neonatus dini terjadi dalam 7 hari pertama kehidupan, dan lanjut setelah 7 hari tapi belum lengkap 28 hari kehidupan.
  • Usia kematian pada hari pertama kehidupan (hari 0) harus dicatat dalam menit atau jam lengkap kehidupan. Untuk hari kedua (hari 1), ketiga (hari 2) dan selama 27 hari lengkap kehidupan, usia pada waktu meninggal harus dicatat dalam satuan hari.

Kematian janin didalam kandungan (IUFD)

  • Adalah kematian janin dalam uterus , berat janin lebih dari 500 gram, usia kehamilan lebih dari 20 mingg(
  • Kriteria diagnosis :
    • – kandungan tidak bertambah besar , terasa mengecil
    • – Pemeriksaan uterus lebih kecil dari usia kehamilan yang seharusnya, Uterus teraba kurang tegas, bentuknya, bunyi jantung janin tidak ada, kadang terasa krepitasi ( penimbunan gas dalam tubuh )

    >USG : Gerakan dan djj tidak ada, tampak tulang – tulang janin tidak tegas dan tidak teratur
  • Foto rontgen polos abdomen : tampak tanda spalding dan tulang punggung lebih melengkung, posisi janin abnormal, penimbunan gas dalam rongga tubuh janian

  • Terapi :
  • Pasif
    • – Menunggu persalinan spontan dalam waktu 2-4 minggu, menilai penurunan kadar

      fbrinogen tiap minggu (kurang dari 150

      mg/dl)

  • Aktif
    • – lakukan dilatasi dan curetage bila kehamilan 12 minggu
    • – Induksi persalinan bila lebih dari 12 minggu

  Pemeriksaan - pemeriksaan

  pemeriksaan air ketuban untuk pengenalan

  • Amnioskopi :

  keadaan janin , misal warna hijau tua menunjukkan bayi dalam keadaan bahaya ( fetal distress)

  • Amniocentesis : pemeriksaan air ketuban untuk

  menentukan umur janin dan sex kelamin

  • • Hysterosalpingograf : foto rontgen dengan sonde didalam

  cavum uteri untuk menegakkan diagnosa kehamilan ektopik

  • Kuldosentesis : menusuk jarum pada lumen yang agak

  besar di cavum douglasi dibelakangnya serviks uteri , unuk membuktikan adanya cairan/ darah dicavum douglasi Selamat belajar

Dokumen baru