Full text

(1)

MASALAH PSIKOSOSIAL DAN LINGKUNGAN DALAM PSIKOSOMATIS Wika H Lubis, Habibah Hanum, Guntur Ginting

Divisi Psikosomatis – Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK USU-RSUP HAM/RSU Pirngadi

Teori Perkembangan Psikososial

Teori Perkembangan Psikososial Menurut Erik Erikson

Teori yang disampaikan oleh Erik Erikson yang membahas tentang perkembangan manusia dikenal dengan teori perkembangan psiko-sosial. Teori perkembangan psikososial ini adalah salah teori perkembangan psikososial terbaik dalam psikologi. Seperti halnya Sigmund Freud, Erickson percaya bahwa kepribadian berkembang dalam beberapa tingkatan. Menurut Erikson, perkembangan psikologi manusia dihasilkan dari interaksi antara proses-proses maturasional atau kebutuhan biologis dengan tuntutan masyarakat dan kekuatan-kekuatan sosial yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Dari sudut pandang seperti ini, teori Erikson menempatkan titik tekan yang lebih besar pada dimensi sosialisasi dibanding teori Freud. Selain perbedaan ini, teori Erikson membahas perkembangan psikologis di sepanjang usia manusia, dan bukan hanya tahun-tahun antara masa bayi dan remaja. Seperti Freud, Erikson juga meneliti akibat yang dihasilkan oleh pengalaman-pengalaman usia dini terhadap masa-masa berkutnya, akan tetapi ia melangkah lebih jauh lagi dengan menyelidiki perubahan kualitatif yang terjadi selama pertengahan umur dan tahun-tahun akhir kehidupan.1

Teori perkembangan kepribadian yang dikemukakan Erikson merupakan salah satu teori yang memiliki pengaruh kuat dalam psikologi. Bersama dengan Sigmund Freud,

Erikson mendapat posisi penting dalam psikologi. Hal ini dikarenakan ia menjelaskan tahap perkembangan manusia mulai dari lahir hingga lanjut usia, satu hal yang tidak dilakukan oleh Freud. Selain itu karena Freud lebih banyak berbicara dalam wilayah ketidaksadaran manusia, teori Erikson yang membawa aspek kehidupan sosial dan fungsi budaya dianggap lebih realistis. Erikson dalam membentuk teorinya secara baik, sangat berkaitan erat dengan kehidupan pribadinya dalam hal ini mengenai pertumbuhan egonya. Erikson berpendapat bahwa pandangan-pandangannya sesuai dengan ajaran dasar psikoanalisis yang diletakkan oleh Freud. Jadi dapat dikatakan bahwa Erikson adalah seorang post-freudian atau

Reading Assignment

Divisi Psikosomatis

Telah dibacakan di Divisi Psikosomatis

(2)

neofreudian. Akan tetapi, teori Erikson lebih tertuju pada masyarakat dan kebudayaan. Hal ini terjadi karena dia adalah seorang ilmuwan yang punya ketertarikan terhadap antropologis yang sangat besar, bahkan dia sering meminggirkan masalah insting dan alam bawah sadar. Oleh sebab itu, maka di satu pihak ia menerima konsep struktur mental Freud, dan di lain pihak menambahkan dimensi sosial-psikologis pada konsep dinamika dan perkembangan kepribadian yang diajukan oleh Freud.1

Bagi Erikson, dinamika kepribadian selalu diwujudkan sebagai hasil interaksi antara kebutuhan dasar biologis dan pengungkapannya sebagai tindakan-tindakan sosial. Pusat dari

teori Erikson mengenai perkembangan ego ialah sebuah asumsi mengenai perkembangan setiap manusia yang merupakan suatu tahap yang telah ditetapkan secara universal dalam

kehidupan setiap manusia. Erikson memberi jiwa baru ke dalam teori psikoanalisis, dengan memberi perhatian yang lebih kepada ego dari pada id dan superego. Dia masih tetap menghargai teori Freud, namun mengembangkan ide-ide khususnya dalam hubungannya dengan tahap perkembangan dan peran sosial terhadap pembentukan ego. Ego berkembang melalui respon terhadap kekuatan dalam dan kekuatan lingkungan sosial. Ego bersifat adaptif dan kreatif, berjuang aktif (otonomi) membantu diri menangani dunianya. Erikson masih mengakui adanya kualitas dan inisiatif sebagai bentuk dasar pada tahap awal, namun hal itu hanya bisa berkembang dan matang melalui pengalaman sosial dan lingkungan. Dia juga mengakui sifat rentan ego, defense yang irasional, efek trauma -anxie-guilt, dan dampak lingkungan yang membatasi dan tidak peduli terhadap individu. Namun menurutnya ego memiliki sifat adaptif, kreatif, dan otonom (adaptable, creative, dan autonomy). Dia memandang lingkungan bukan semata-mata menghambat dan menghukum (Freud), tetapi juga mendorong dan membantu individu. Ego menjadi mampu (terkadang dengan sedikit bantuan dari terapis) untuk menangani masalah secara efektif.1

Erikson menggambarkan adanya sejumlah kualitas yang dimiliki ego, yang tidak ada pada psikoanalisis Freud, yakni kepercayaan dan penghargaan, otonomi dan kemauan,

(3)

kultural dan historik. Ego yang sempurna, digambarkan Erikson memiliki tiga dimensi, faktualitas, universalitas, dan aktualitas:1

 Faktualitas adalah kumpulan fakta, data, dan metoda yang dapat diverifikasi dengan metoda kerja yang sedang berlaku. Ego berisi kumpulan fakta dan data basil interaksi dengan lingkungan.

 Universalitas berkaitan dengan kesadaran akan kenyataan (sells of reality) yang menggabungkan hal yang praktis dan kongkrit dengan pandangan semesta, mirip dengan prinsip realita dari Freud.

 Aktualitas adalah cara baru dalam berhubungan satu dengan yang lain, memperkuat hubungan untuk mencapai tujuan bersama. Ego adalah realitas

kekinian, terus mengembangkan cara baru dalam memecahkan masalah kehidupan, yang lebih efektif, prospektif, dan progresif.

Menurut Erikson, ego sebagian bersifat tak sadar, mengorganisir dan mensintesa pengalaman sekarang dengan pengalaman diri masa lalu dan dengan diri masa yang akan datang. Dia menemukan tiga aspek ego yang saling behubungan, yakni body ego (mengacu ke pangalaman orang dengan tubuh/fisiknya sendiri), ego ideal (gambaran mengenai bagaimana seharusnya diri, sesuatu yang bersifat ideal), dan ego identity (gambaran mengenai diri dalam berbagai peran sosial). Ketiga aspek itu umumnya berkembang sangat cepat pada masa dewasa, namun sesungguhnya perubahan ketiga elemen itu terjadi pada semua tahap kehidupan.1

Teori Ego dari Erikson yang dapat dipandang sebagai pengembangan dari teori perkembangan seksual-infantil dari Freud, mendapat pengakuan yang luas sebagai teori yang khas, berkat pandangannya bahwa perkembangan kepribadian mengikuti prinsip epigenetik. Bagi organisme, untuk mencapai perkembangan penuh dari struktur biologis potensialnya,

lingkungan harus memberi stimulasi yang khusus. Menurut Erikson, fungsi psikoseksual dari Freud yang bersifat biologis juga bersifat epigenesis, artinya psikoseksual untuk berkembang

membutuhkan stimulasi khusus dari lingkungan, dalam hal ini yang terpenting adalah lingkungan sosial.1

(4)

interaksinya dalam bentuk kepercayaan dasar (basic trust), yakni mereka memandang kontak dengan manusia sangat menyenangkan karena pada masa lalu hubungan semacam itu menimbulkan rasa aman dan menyenangkan. Sebaliknya, tanpa basic trust bayi akan mengantisipasi interaksi interpersonal dengan kecemasan, karena masa lalu hubungan interpersonalnya menimbulkan frustrasi dan rasa sakit. Kepercaayaan dasar berkembang menjadi karakteristik ego yang mandiri, bebas dari dorongan drives darimana dia berasal. Hal yang sama terjadi pada fungsi ego seperti persepsi, pemecahan masalah, dan identias ego, beroperasi independen dari drive yang melahirkan mereka. Ciri khas psikologi ego dari

Erikson dapat diringkas sebagai berikut:1

 Erikson menekankan kesadaran individu untuk menyesuaikan diri dengan pengaruh sosial. Pusat perhatian psikologi ego adalah kemasakan ego yang sehat, alih-alih konflik salah suai yang neurotik.

 Erikson berusaha mengembangkan teori insting dari Freud dengan menambahkan konsep epigenetik kepribadian.

 Erikson secara eksplisit mengemukakan bahwa motif mungkin berasal dari impuls id yang tak sadar, namun motif itu bisa membebaskan diri dari id seperti individu meninggalkan peran sosial di masa lalunya. Fungsi ego dalam pemecahan masalah, persepsi, identitas ego, dan dasar kepercayaan bebas dari Id, membangun sistem kerja sendiri yang terlepas dari sitem kerja id.

 Erikson menganggap ego sebagai sumber kesadaran diri seseorang. Selama menyesuaikan diri dengan realita, ego mengembangkan perasaan keberlanjutan diri dengan masa lalu dan masa yang akan datang.

Perkembangan berlangsung melalui penyelesaian krisis-krisis yang ada pada tahapan perkembangan yang terjadi berurutan. Erikson pertama kali memaparkan kedelapan tahapan

ini dalam bukunya yang termasyhur, Childhood and Society (1950a). Delapan Tahapan Perkembangan Psikososial menyajikan tahapan dan menunjukkan krisis atau tugas

psikososial apa yang terkait dengan masing-masing tahapan tersebut, kondisi-kondisi sosial yang mungkin membantu atau mengganggu penyelesaian tahapan itu, dan hasil-hasil perilaku yang muncul dari penyelesaian tahapan tersebut entah itu berhasil maupun gagal.1

(5)

Tahapan 2 (2 s.d 3 tahun) Muskular-Anal, otonomi vs ragu-ragu/malu. bisakah aku mengendalikan perilakuku? Keberhasilan : sikap membolehkan dengan pertimbangan, otonomi. Kegagalan : kekurangan rasa percaya diri,

keraguan.

Tahapan 3 (4 s.d 5 tahun), Lokomotor-Genital, inisiatif vs rasa bersalah. Bisakah aku mandiri dari orang tuaku dan menjelajahi batas-batas kemampuanku? Keberhasilan: kesempatan, inisiatif. Kegagalan: perasaan-perasaan negatif, rasa bersalah.

Tahapan 4 (6 s.d 11 tahun) Latensi, kerja keras vs rasa inferior. Bisakah aku menguasai keahlian untuk hidup dan beradaptasi? Keberhasilan : Pelatihan yang memadai, pendidikan yang bagus, model-model yang baik. Kegagalan:

Pendidikan atau palatihan yang buruk, kurangnya pengarahan dan dukungan, rasa rendah diri.

Tahapan 5 (12 s.d 18 tahun) Pubertas dan masa remaja, identitas vs kebingungan identitas. Siapa saya? Seperti apa keyakinanku, perasaanku, dan sikap-sikapku? Keberhasilan: Stabilitas internal dan kesinambungan, model-model seks yang tepat, dan umpan balik yang positif. Kegagalan: kekacauan tujuan, umpan balik yang tidak jelas, harapan-harapan yang tidak tepat, kekacauan atau kebingungan peran.

Tahapan 6 (awal masa dewasa) Awal Masa Dewasa, keintiman vs isolasi Bisakah aku memberikan diriku sepenuhnya bagi orang lain? Keberhasilan: Sikap hangat, pemahaman, rasa percaya. Kegagalan: kesepian, perasaan terasing, keterkucilan

Tahapan 7 (masa dewasa) Masa dewasa, kreativitas vs stagnasi. Apa yang kutawarkan pada generasi selanjutnya? Keberhasilan: Kepastian tujuan, produktivitas. Kegagalan: kurang menghasilkan, kemunduran, generativitas, kemandekan

Tahapan 8 (masa kematangan) Masa kematangan, integritas vs Keputus asaan. Sudahkah kutemukan kepuasan dan kelegaan dalam segala kegiatan hidupku? Dukungan: Perasaan aman, utuh, dan terarah. Kekurangan dukungan: Rasa kurang, rasa tidak puasIntegritas ego

(6)

-titik ekstrem dalam kontinum ini tidak ada dalam kenyataan, namun bagian-bagian dari setiap titik ekstrem itu seringkali bisa ditemukan pada semua individu dalam tahapan mana pun. Sebagai contoh, tidak ada anak yang tumbuh dengan rasa percaya (trust) sepenuhnya atau rasa tidak percaya (distrust) sepenuhnya – masing-masing individu beradaptasi sesuai dengan apa yang digariskan oleh tuntutan-tuntutan sosial.1

Perbandingan Tahapan Erik Erikson dengan Sigmund Freud

Seperti diketahui nahwa Erikson adalah murid dari Freud sehingga Erikson adalah pengembang teori Freud dan mendasarkan konstruksi teori psikososialnya dari psiko-analisas

Freud. Kalau Freud memaparkan teori perkembangan manusia hanya sampai masa remaja, maka para penganut teori psiko-analisa (freud) akan menemukan kelengkapan penjelasan dari

Erikson, walaupun demikian ada perbedaan antara psikoseksual Freud dengan psikososial Erikson. Beberapa aspek perbedan tersebut dapat dilihat di bawah ini:1

Erik Erikson Sigmund Freud

ada dalam lingkungan hidup yang langsung pada

anak. Hubungan antara anak dan orang tua

melalui pola pengaturan bersama (mutual

regulation).

Hubungan segitiga antara anak, ibu dan ayah

menjadi landasan yang terpenting dalam

psikisnya karena konflik internal, antara id dan

super ego.

(7)

Sigmund Freud, Erikson mendapat posisi penting dalam psikologi. Hal ini dikarenakan ia menjelaskan tahap perkembangan manusia mulai dari lahir hingga lanjut usia; satu hal yang tidak dilakukan oleh Freud. Selain itu karena Freud lebih banyak berbicara dalam wilayah ketidaksadaran manusia, sementara teori Erikson yang membawa aspek kehidupan sosial dan fungsi budaya dianggap lebih realistis.1

Seperfi teori Freud, teori Erikson juga membagi proses-proses perkembangan ke dalam serangkaian tahapan yang diatur oleh kekuatan-kekuatan maturasional dan ditandai oleh adanya konflik. Teori Erikson terdiri atas delapan tahapan semacam itu, yang

masing-masingnya terkait dengan krisis yang harus diselesaikan oleh individu untuk bisa berpindah ke tahapan berikutnya. Dalam pandangan Erikson, proses pematangan (maturational) bisa

jadi merupakan faktor pendorong munculnya tahapan baru; adapun tuntutan sosial, yang telah ada sejak manusia dalam kandungan hingga kematian, bertindak sebagai kekuatan penengah dan pembentuk.1

Apabila teori Freud bertumpu pada hubungan antara energi kehidupan (libido) dengan fungsi-fungsi psikologis individu, teori Erikson menekankan pentingnya kedudukan ego. Bagi Erikson, ego merupakan struktur penyatu, dan kekuatan ego merupakan lem yang merekatkan berbagai aspek atau dimensi fungsi-fungsi psikologis. Pandangan Erikson mengenai ego ini serupa dengan yang ada pada Freud: ego adalah pelaksana tindakan pencapaian-tujuan realistis dan menjadi penengah antara dorongan biologis id dan batasan masyarakat berupa superego. Namun sifat perkembangan yang ada dalam teori Erikson menjadikan ego sebagai struktur yang paling penting. Melalui ego, manusia mengalami dan menyelesaikan krisis-krisis perkembangan tertentu. Ketika ego goyah dan tidak bisa menangani suatu krisis, maka perkembangan pun menjadi terancam.1

Seperti Freud, Erikson yakin bahwa meskipun dorongan biologis memiliki arti yang

amat penting, namun tekanan sosial dan kekuatan lingkungan memiliki dampak yang lebih besar. Pengamatan terperinci atas kekuatan-kekuatan seperti ini dalam kehidupan individu

(8)

Psikososial dalam Psikosomatis

Dalam diagnosis multiaksial, aksis IV bertujuan untuk melaporkan masalah psikososial dan lingkungan pasien dapat yang mempengaruhi diagnosis, penanganan, serta prognosis gangguan mental (aksis I dan II). Masalah psikososial dan lingkungan dapat berupa pengalaman hidup yang tidak baik, kesulitan atau defisiensi lingkungan, stres interpersonal ataupun familial, kurangnya dukungan sosial atau penghasilan pribadi, ataupun masalah lain yang berkaitan dengan kesulitan seseorang untuk dapat berkembang. Stresor ternyata dapat pula bersifat positif, misalnya promosi dalam pekerjaan. Hal ini disebut sebagai stresor jika

keberadaanya justru menyebabkan datangnya masalah bagi seseorang dalam hal kesulitan beradaptasi pada situasi yang baru. Dalam perannya sebagai inisiator maupun pencetus

eksaserbasi terhadap gangguan mental, masalah psikososial dapat muncul sebagai konsekuensi dari psikopatologis seseorang, dalam bentuk masalah-masalah yang harus dipertimbangkan dalam manajemen secara holistik.2

Saat seseorang memiliki masalah psikososial dan lingkungan yang multipel, klinisi harus mencatat sebanyak-banyaknya hal-hal yang dianggap relevan. Pada umumnya, klinisi hanya perlu mencatat masalah-masalah lingkungan dan psikososial yang telah ada sejak satu tahun sebelum pemeriksaan. Namun demikian, jika terdapat masalah psikososial dan lingkungan di luar waktu tersebut namun memiliki dampak yang nyata terhadap gangguan mental dan ditetapkan sebagai fokus penanganan, maka hal tersebut juga perlu dicatat. Sebagai contoh, pengalaman perang yang menyebabkan gangguan stres post-traumatik.2

Dalam praktek klinis, kebanyakan masalah psikososial dan lingkungan akan diletakkan pada aksis IV. Namun demikian, jika masalah psikososial dan lingkungan ini merupakan fokus primer dari perhatian klinis, maka hal tersebut juga harus dimasukkan di aksis I, dimana kodenya berasal dari bagian “Kondisi-kondisi Lain yang dapat menjadi Fokus Perhatian Klinis”2

Untuk memudahkan dalam praktek klinis, masalah psikososial dan lingkungan ini

dikelompokkan menjadi beberapa kategori antara lain :2

(9)

Masalah terkait lingkungan sosial, misalnya : kehilangan/kematian teman dekat, kurangnya dukungan sosial, hidup sendiri, kesulitan untuk menyesuaikan diri, diskriminasi, penyesuaian terhadap perubahan-perubahan dalam hidup (contohnya

: pensiun)

Masalah Pendidikan, misalnya: buta huruf, masalah akademis, konflik dengan guru atau teman sekelas, lingkungan sekolah yang kurang mendukung

Masalah Pekerjaan, misalnya: pengangguran, ancaman kehilangan pekerjaan, jadwal kerja yang padat, kondisi kerja yang sulit, ketidakpuasan dalam pekerjaan, kesempatan dalam bekerja, ketidakharmonisan dengan atasan atau rekan sekerja. Masalah Perumahan, misalnya: tidak punya rumah/tempat tinggal, rumah yang

tidak layak, tetangga yang kurang baik, gangguan dari tetangga ataupun pemilik tanah/lahan

Masalah Ekonomi, misalnya: kondisi yang sangat miskin, keuangan yang tidak memadai, kurangnya jaminan kesejahteraan.

Masalah Akses ke Pelayananan Kesehatan, misalnya: Pelayanan kesehatan yang tidak memadai, ketiadaan transportasi ke sarana pelayanan kesehatan, asuransi kesehatan yang tidak memadai.

Masalah Interaksi dengan Sistem Hukum/Kriminal, misalnya: dipenjara, ditahan, didakwa, korban kejahatan.

Masalah Psikososial dan Lingkungan Lainnya, misalnya: Paparan terhadap bencana alam, perang, konflik/permusuhan lain, perselisihan dengan mitra non-keluarga misalnya, konsultan non-keluarga, pekerja sosial, dokter non-keluarga, ketiadaan layanan sosial.

Saat klinisi mengevaluasi faktor psikososial ini dalam format multiaksial, maka penting untuk menuliskan secara spesifik faktor psikososial tersebut. Namun jika tidak menggunakan format ini, maka cukup dituliskan saja hal yang spesifik tersebut di aksis IV.2

Terapi Psikososial

(10)

Intervensi psikososial diyakini berdampak baik pada angka relaps dan kualitas hidup penderita.Ada beberapa macam metode yang dapat dilakukan antara lain :3

Psikoedukasi

Terapi ini memberikan edukasi kepada pasien dan perhatian mereka terhadap penyakitnya. Hal ini meningkatkan pengetahuan mereka tentang gejala dan terapi, pelayanan yang tersedia dan rencana pemulihan. Sehingga mereka dapat memonitor tanda peringatan relaps secara dini dan membuat rencana bagaimana merespon tanda ini serta belajar untuk mencegah relaps. Informasi dan edukasi dapat diberikan melalui video, pamflet, websites,

atau diskusi dengan dokter.4 Terapi Keluarga

Berbagai terapi berorientasi keluarga berguna dalam pengobatan gangguan mental. Keluarga seringkali mendapatkan manfaat dari terapi keluarga yang singkat dan intensif. Pemusatan perhatian terapi adalah situasi yang segera serta mengidentifikasi dan menghindari situasi yang kemungkinan menimbulkan kesulitan. Jika masalah memang berasal dari dalam keluarga maka pusat terapi harus pada pemecahan masalah secara tepat.5

Setelah pemulangan pasien dari rumah sakit, topik penting yang dibahas di dalam terapi keluarga adalah proses pemulihan, khususnya lama dan kecepatannnya. Tidak boleh teralu cepat. Terapi keluarga selanjutnya diarahkan kepada berbagai macam strategi penurunan stres dan penyelesaian masalah serta melibatkan kembali pasien dalam aktivitas. Tujuan terapi keluarga adalah:5

1. Pendidikan pasien dan keluarga tentang sifat-sifat penyakit 2. Mengurangi rasa bersalah penderita atas timbulnya penyakit.

3. Mempertinggi toleransi keluarga. Kecaman dari keluarga dapat berkaitan erat dengan relaps.

4. Mengurangi keterlibatan orang tua dalam kehidupan emosional penderita.

5. Mengidentifikasi perilaku problematik pada penderita dan anggota keluarga

lainnya dan memperjelas pedoman bagi penderita dan keluarga.

(11)

Terapi perilaku-kognitif (Cognitive behavioural therapy)

Cognitive behavioral therapy (CBT) mencakup berbagai intervensi. Pada intinya adalah gagasan bahwa jika pasien dapat tampil dengan model kognitif dari gejala -gejala mereka, mereka akan dapat mengembangkan strategi copying yang lebih adaptif, sehingga dapat mengurangi distres, meningkatkan fungsi sosial, dan bahkan mungkin menurunnya gejala. CBT, melibatkan pertemuan regular antara klinisi dan pasien.6

Paket terapi ini menekankan terhadap agenda perjanjian terapeutik yang umum, dan perhatian yang sungguh-sungguh. Elemen yang relatif tidak spesifik membentuk suatu

komponen penting dalam semua paket terapi, termasuk informasi dasar tentang kondisi penyakit dan terapi farmakologisnya, strategi untuk menangani kecemasan dan depresi, dan

intervensi untuk menangkal gejala negatif dan disfungsi sosial. Strategi yang lebih spesifik untuk memenuhi target gejala positif termasuk memformulasikan, bersama dengan pasien, alternatif, model penjelasan yang lebih adaptif. Bagaimanapun juga terdapat perbedaan penting pada detil antara penelitian yang telah dipublikasikan, contohnya sehubungan dengan memperhatikan lamanya intervensi atau kerjasama dengan keluarga.6

Terapi perilaku menggunakan hadiah dan latihan keterampilan sosial untuk meningkatkan kemampuan sosial, kemampuan memenuhi diri sendiri, latihan praktis dan komunikasi interpersonal.6

Rehabilitasi sosial dan vokasional

Rehabilitasi yang fokus pada kemampuan sosial dan bekerja bisa menghilangkan atau mengurangi gejala gangguan mental. Hal ini membantu mereka agar lebih bermanfaat dalam komunitasnya. Rehabilitasi ini bisa dilakukan secara individual ataupun berkelompok, tergantung pada kebutuhan. Program rehabilitasi mencakup konseling vokasional, latihan kerja, permainan simulasi, pekerjaan rumah, konseling pengaturan keuangan, kemampuan

komunikasi, belajar menggunakan transfortasi umum dan praktek sosial.6

Terapi keterampilan sosial (social skills therapy) dapat secara langsung membantu

dan berguna bagi pasien serta secara alami meningkatkan keberhasilan terapi farmakologis.6 Terapi Kelompok

(12)

Terapi kelompok ini mencakup dari yang usaha yang menekankan pada dukungan dan peningkatan terhadap kemampuan sosial, penyembuhan spesifik yang bersifat simtomatis, hingga pada konflik intrapsikis yang belum terpecahkan. Jika dibandingkan dengan terapi individual, dua kekuatan utama dari terapi kelompok ini adalah kesempatan untuk mendapatkan umpan balik dengan segera dari teman sebaya pasien dan kesempatan bagi masing-masing pasien dan ahli terapi untuk mengobservasi respon psikologis, emosional, dan perilaku pasien terhadap orang-orang yang memperoleh transferensi yang bervariasi. Baik persoalan individu dan interpersonal dapat diselesaikan dengan psikoterapi kelompok.Prinsip

memilih pasien untuk terapi aktifitas kelompok adalah homogenitas yang dijabarkan antara lain:7

Gejala sama

Setiap terapi aktifitas kelompok memiliki tujuan spesifik bagi anggotanya, bisa untuk sosialisasi, kerjasama ataupun mengungkapkan isi pikiran. Setiap tujuan spesifik tersebut akan dapat dicapai bila pasien memiliki masalah atau gejala yang sama, sehingga mereka dapat bekerjasama atau berbagi dalam proses terapi.7

Jika sekelompok orang yang sedang mempunyai masalah mau menceritakan pengalamannya, dan mencurahkan emosinya kepada orang lain, maka akan tercipta perasaan empati satu sama lain. Lewat terapi ini mereka diajak berkumpul, dan saling membagikan cerita maupun perasaan yang sedang dialaminya terutama mengenai masalah yang sedang dihadapinya. Tanpa sadar momen ini akan memancing inisiatif dan pemikiran terpendam dari masing-masing anggota untuk keluar.7

Kategori sama

Dalam artian pasien memiliki nilai skor hampir sama dari hasil kategorisasi. Pasien yang dapat diikutkan dalam terapi aktifitas kelompok adalah pasien akut skor rendah sampai

pasien tahap promotion. Bila dalam satu terapi pasien memiliki skor yang hampir sama maka tujuan terapi akan lebih mudah tercapai.7

Jenis kelamin sama

Pengalaman terapi aktifitas kelompok yang dilakukan pada pasien dengan gejala sama, biasanya laki-laki akan lebih mendominasi dari pada perempuan. Maka lebih baik dibedakan.7

Kelompok umur hampir sama

(13)

Jumlah efektif 7-10 orang per-kelompok terapi

Terlalu banyak peserta maka tujuan terapi akan sulit tercapai karena akan terlalu ramai dan kurang perhatian terapis pada pasien. Bila terlalu sedikitpun, terapi akan terasa sepi interaksi dan tujuanya sulit tercapai. Kelebihan dari cara ini adalah bisa diterapkan dalam kondisi apa pun. Disamping itu, juga melatih seseorang untuk sedikit demi sedikit memunculkan pemikiran-pemikiran kreatifnya sehingga tidak mudah menyerah dengan keadaan. Di sini, berbagai ide sangat dihargai dan pasti didengarkan terutama ketika perasaan sebagai satu saudara sudah didapat. Orang yang memiliki tipe introvert akan terpancing untuk

mencurahkan dan mengeluarkan pendapatnya dalam diskusi kelompok.7 Tahapan yang sebaiknya dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Buatlah satu kelompok kecil yang terdiri dari kurang lebih lima orang atau lebih dan mereka telah saling mengenal .

2. Bukalah seluruh kesulitan, beban hidup yang dialami berkaitan dengan fokus perkara yang akan dibahas.

3. Dengarkanlah dan hormatilah lawan bicara untuk mencurahkan semua perasaannya satu-persatu sampai tuntas, bahkan sampai menangis-pun boleh justru itu sangat efektif dan bagus untuk mengeluarkan emosi.

4. Bukalah sesi di mana seluruh individu bebas untuk menimpali dan memotong lawan bicaranya dengan tujuan utama memberikan satu solusi yang berguna. Arahkan bersama untuk memikirkan apa yang terbaik bagi kelompok dan masyarakat.

Kekuatan utama terletak pada kemampuan verbal dan curhat dari anggota, karena proses penyembuhan terjadi di sini. Segala luka-luka batin dan beban yang mengganjal dikeluarkan secara lugas dan ini membuat pertahanan diri manusia mulai terbuka sehingga

orientasi ke arah diri sendiri atau ego-nya berkurang.7

Untuk membantu orang dengan kepribadian yang benar-benar tertutup, bisa juga

diberi sesi khusus sebelum diskusi dimulai. Yakni mempersilahkan menggambar pengalaman yang paling traumatis dalam hidupnya pada suatu kertas besar kemudian saling menceritakan pengalamannya. Ini sangat membantu, khususnya untuk yang bertipe introvert agar mencurahkan emosi yang belum terselesaikan dan mempersiapkan masuk dalam topik pembicaraan.7

(14)

Setelah tahapan ini berhasil, kelompok terapi tersebut diharapkan membentuk satu grass root yang kokoh, kemudian dibuat jaringan yang tersusun dari tim-tim diskusi dengan tilikannya masing-masing yang menjadi komponen dan elemen inti dari wadah ini.7

Kelompok Menolong Diri Sendiri (self-help group)

Kelompok menolong diri sendiri adalah orang yang ingin mengatasi masalah atau krisis kehidupan tertentu. Biasanya disusun dengan tugas tertentu, kelompok tersebut tidak berusaha untuk menggali psikodinamika individu secara sangat mendalam atau untuk mengubah fungsi kepribadian secara bermakna. Tetapi kelompok menolong diri sendiri telah

meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan emosional banyak orang.7

Suatu karakteristik yang membedakan kelompok menolong diri sendiri adalah

homogenitasnya. Anggota staf menderita gangguan yang sama, dan mereka berbagi pengalaman mereka, baik dan buruk, berhasil dan tidak berhasil, satu sama lainnya. Dengan melakukan hal tersebut, mereka saling mendidik satu sama lainnya, memberikan dukungan yang saling menguntungkan dan menghilangkan perasaan terasing yang biasanya dirasakan oleh orang yang ditarik ke tipe kelompok tersebut.7

Kelompok menolong diri sendiri menekankan keterpaduan yang cukup kuat pada kelompok tersebut. Karena anggota kelompok memiliki masalah dan gejala yang sama, ikatan emosional yang kuat dan karakteristik kelompok sendiri adalah berkembang, sehingga anggotanya dapat menyandang kualitas kesembuhan magis. Contoh dari Kelompok menolong diri sendiri adalah Alcoholic Anonymous (AA), Gamblers Anonymous (GA) dan Overtreaters Anonymous (OA).7

Pergerakan kelompok menolong diri sendiri adalah semakin naik. Kelompok memenuhi kebutuhan anggota kelompoknya dengan memberikan penerimaan, dukungan yang saling menguntungkan dan bantuan dalam menghadapi pola perilaku maladaptasi atau

keadaan perasaan yang biasanya belum berhasil dengan kesehatan mental tradisional dan profesional medis. Kelompok menolong diri sendiri dan kelompok terapi telah mulai untuk

bergabung: kelompok menolong diri sendiri telah memungkinkan anggotanya menghentikan pola perilaku yang tidak diinginkan; kelompok terapi membantu anggotanya mengerti mengapa dan bagaimana mereka seharusnya atau adanya.7

Intervensi Krisis (crisis support)

(15)

keseimbangan emosional yang ada sebelum onset krisis. Jika hal tersebut terjadi, krisis dapat diatasi tetapi disamping itu, orang belajar bagaimana menggunakan reaksi adaptif. Selain itu, dengan memecahkan krisis pasien mungkin berada dalam keadaan pikiran yang lebih baik, lebih unggul dibandingkan onset kesulitan psikologis. Tetapi jika pasien menggunakan reaksi maladaptif, keadaan menyakitkan akan menjadi kuat, krisis akan mendalam dan perburukan regresif akan terjadi yang menghasilkan gejala psikiatrik. Gejala tersebut, selanjutnya akan berkristalisasi ke dalam pola perilaku neurotik yang membatasi kemampuan pasien untuk berfungsi secara bebas. Tetapi, kadang-kadang situasi tidak dapat distabilkan; reaksi

maladaptif baru diperkenalkan; dan akibatnya dapat dalam roporsi yang membahayakan yang menyebabkan kematian oleh bunuh diri. Dalam hal tersebut, krisis psikologis adalah

menyakitkan dan mungkin dipandang sebagai titik percabangan untuk menjadi lebih baik atau lebih buruk.8

Situasi krisis adalah berhenti dengan sendirinya dan dapat berlangsung kapan saja dari beberapajam sampai minggu. Krisis seperti itu ditandai oleh fase awal, dimana kecemasan dan ketegangan timbul. Fase tersebut diikuti oleh suatu fase dimana mekanisme memecahkan masalah digerakkan. Mekanisme tersebut mungkin berhasil, tergantung pada apakah adaptif atau maladaptive. Pasien selama periode kekacauan adalah reseptif terhadap bantuan minimal dan mendapatkan hasil yang berarti. Dengan demikian semua jenis bantuan telah dianjurkan untuk tujuan tersebut. Beberapa adalah terbuka yang lainnya membatasi waktu yang tersedia atau jumlah sesi.8

Teori krisis membantu kia mengerti orang normal yang sehat yang berada dalam krisis dan mengembangkan alat terapetik yang ditujukan untuk mencegah kesulitan psikologis di masa depan.Intervensi krisis ditawarkan kepada orang yang tidak mampu atau terganggu secara parah oleh suatu krisis.8

Konseling

Berbicara dengan seseorang adalah salah satu penatalaksanaan yang terpenting.

Dokter tempat pasien berkonsultasi akan memberi dukungan selama dan setelah episode psikosis muncul.9

Terapi Psikomotor

(16)

Terapi Rekreasi

Terapi reakreasi ialah suatu bentuk terapi yang mempergunakan media reakresi (bermain, berolahraga, berdarmawisata, menonton TV, dan sebagainnya) dengan tujuan mengurangi keterganguan emosional dan memperbaiki prilaku melalui diskusi tentang kegiatan reakresi yang telah dilakukan, sehingg perilaku yang baik diulang dan yang buruk dihilangkan.10

Terapi Seni (Art therapy)

Terapi seni ialah suatu bentuk yang menggunakan media seni ( tari, lukisan, musik,pahat, dan lain-lain) untuk mengekspresikan ketegangan-ketegangan pskis, keinginan

yang terhalang sehingga mendapatkan berbagai bentuk hasil seni dan menyalurkan dorongan-dorongan yang terpendam dalam jiwa seseorang. Hasil seni yang dibuat selain dapat dinikmati orang lain dan dirinya juga akan meningkatkan harga diri seseorang. Perawat jiwa yang selalu dekat dengan pasien diharapkan dapat memberikan berbagai kegiatan yang terarah dan berguna bagi pasien dalam berbagai terapi tersebut.10

Kesimpulan

• Perkembangan psikologi manusia dihasilkan dari interaksi antara proses-proses maturasional atau kebutuhan biologis dengan tuntutan masyarakat dan

kekuatan-kekuatan sosial yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari (Teori Psikososial Erik Erikson)

• Masalah psikososial merupakan salah satu bagian yang penting dalam pengkajian pasien psikosomatik, dalam hal ini masalah psikososial dikelompokkan dalam aksis

IV

• Masalah psikososial menurut DSM IV-TR dikelompokkan menjadi : masalah dukungan keluarga inti, lingkungan sosial, pendidikan, pekerjaan, perumahan, ekonomi, akses ke pelayanan kesehatan, interaksi dengan hukum, dan masalah psikososial lain

(17)

Kepustakaan

1. Salkind, Neil J. (2004). An Introduction to Theories of Human Development. Thousand Oaks, London, New Delhi: Sage Publications. International Education and Publisher 2. American Psychiatric Association (2000). Diagnostic and Statistical Manual of Mental

Disorders Fourth Edition Text Revison, DSM-IV-TR. Arlington, VA: American Psychiatric Association

3. Mueser KT, Deavers F, Penn DL, Cassisi J (2013). Psychosocial trreatments for

schizophrenia. Annual Review of Clinical Psychology. 9:465-97

4. Bauml J, Frobose T, Walz GP (2006). Psychoeducation: a basic psychotherapeutic

intervention for patients with schizophrenia and their families. Schizophrenia Bulletin. Vol 32 no S1 pp.S1-S9

5. Dallos R, Draper R (2000). An introduction to family therapy. Open University Press. Philadelphia, PA 19106, USA.

6. Rector NA (2010). Cognitive-behavioral therapy, an information guide. Center for Addiction and Mental Health. ISBN 978-I-77052-296-7

7. The American Group Psychotherapy Association Science to Service Task Force. Practice guidelines for group psychotherapy. 2007.

8. James RK, Glliland BE (2013). Crisis intervention strategies, 7th ed. Brooks/Cole, Cengage Learning. Belmont CA 94002-3098

9. Flanagan JS, Flanagan RS (2014). Counseling and psychotherapy theories: in context and practice. Psychotherapy.net, LLC. Mill Valley, CA 94941

10.Austin DR, Crawford ME, McCormick BP, Puymbroeck MV (2015). Recreational therapy: an introduction, 4th ed. Sagamore publishing LLC. ISBN e-book:

Gambar

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Download now (17 pages)