Feedback

Perlindungan Hukum Nasabah Atas Syarat-Syarat Baku Perjanjian Gadai (Studi Pada Kantor Pegadaian Di Kota Binjai)

Informasi dokumen
PERLINDUNGAN HUKUM NASABAH ATAS SYARAT-SYARAT BAKU PERJANJIAN GADAI (STUDI PADA KANTOR PEGADAIAN DI KOTA BINJAI) TESIS OLEH FAHMI FAUZAN 097011064/M.Kn FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara PERLINDUNGAN HUKUM NASABAH ATAS SYARAT-SYARAT BAKU PERJANJIAN GADAI (STUDI PADA KANTOR PEGADAIAN DI KOTA BINJAI) TESIS Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Oleh FAHMI FAUZAN 097011064/M.Kn FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara Judul Tesis : PERLINDUNGAN HUKUM NASABAH ATAS SYARAT-SYARAT BAKU PERJANJIAN GADAI (STUDI PADA KANTOR PEGADAIAN DI KOTA BINJAI) : Fahmi Fauzan : 097011064 : Kenotariatan Nama Mahasiswa Nomor Pokok Program Studi Menyetujui Komisi Pembimbing (Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN) Pembimbing (Prof. Dr. Budiman Ginting, SH, MHum ) Pembimbing (Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, MHum) Ketua Program Studi, (Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN) Dekan, (Prof. Dr. Runtung, SH, MHum) Tanggal lulus : 13 Agustus 2011 Universitas Sumatera Utara Telah diuji pada Tanggal : 13 Agustus 2011 PANITIA PENGUJI TESIS Ketua : Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN Anggota : 1. Prof. Dr. Budiman Ginting, SH, MHum 2. Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, MHum 3. Dr. Mahmul Siregar, SH, MHum 4. Dr. Dedi Harianto, SH, MHum Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Perlindungan hukum merupakan suatu pemberian jaminan atau kepastian bahwa seseorang akan mendapatkan apa yang telah menjadi hak dan kewajibannya, sehingga yang bersangkutan merasa aman. UU Perlindungan Konsumen merupakan payung yang mengintegrasikan dan memperkuat penegakan hukum di bidang perlindungan konsumen (nasabah/debitur), khususnya dalam perjanjian baku/standar di Kantor Perum Pegadaian. Penggunaan perjanjian baku dalam sistem pembiayaan pada Perum Pegadaian merupakan suatu hal yang tidak terelakkan lagi, karena alasan efisiensi operasional perbankan dan jaminan kepastian untuk melindungi kepentingan Perum Pegadaian selaku pelaku usaha jasa atau pihak kreditur yang mengeluarkan dana. Begitu juga halnya nasabah/debitur juga memerlukan jaminan kepastian hukum atas perlindungan hak-haknya selaku konsumen atau pihak debitur yang memanfaatkan dana Perum Pegadaian. Berkaitan dengan hal-hal diatas objek permasalahan dalam tesis ini adalah bagaimana hak dan kewajiban kreditur dan debitur dalam perjanjian baku pada Perum Pegadaian, bagaimana perlindungan hukum atas debitur gadai dalam sistem hukum perlindungan konsumen dan bagaimana perlindungan hukum nasabah dalam syaratsyarat baku perjanjian gadai di Perum Pegadaian Cabang Kota Binjai ditinjau dari UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Dalam rangka membahas masalah tersebut metode penelitian yang dilakukan adalah deskriptif analistis, artinya suatu penelitian yang menggambarkan, menelaah, menjelaskan dan menganalisis hukum baik dalam bentuk teori maupun praktek pelaksanaan dari hasil penelitian dilapangan. Materi penelitian diperoleh melalui pendekatan yurudis normatif, yaitu pendekatan terhadap masalah dengan cara melihat dari segi peraturan perundang-undangan yang berlaku.” Hak dan kewajiban kreditur dan debitur dalam perjanjian baku pada Perum Pegadaian secara yuridis-teoritik telah melekatkan hak dan kewajiban dalam isi perjanjian tidak proporsional, yaitu kewajiban nasabah diatur secara rinci dalam perjanjian, sedangkan kewajiban kreditur kurang tampak dalam perjanjian (SBK). Tidak proporsionalnya hak dan kewajiban dalam perjanjian gadai menjadi penyebab penumpukan hak pada kreditur dan penumpukan kewajiban pada debitur. Perlindungan hukum atas debitur gadai dalam sistem hukum perlindungan konsumen, yaitu apabila dalam perjanjian gadai terjadi adanya tindakan wanprestasi yang dilakukan Perum Pegadaian terhadap benda jaminan gadai milik debitur. Tindakan wanprestasi tersebut dapat berupa: kelalaian menyebabkan benda jaminan tertukar, hilang dan rusak. Perlindungan hukum yang diberikan dapat dilihat dalam isi SBK nomor 4 yang mengatakan Perum Pegadaian akan memberikan penggantian kerugian sebesar 125 % dari nilai taksiran Barang jaminan yang mengalami kerusakan/hilang. Perlindungan hukum nasabah dalam syarat-syarat baku perjanjian gadai di Perum Pegadaian Cabang Kota Binjai ditinjau dari UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen terdapat dalam Pasal 18 UU Perlindungan Konsumenyaitu mengenai larangan penggunaan syarat-syarat baku dikaitkan dengan dua hal yaitu: isi dan bentuk penulisannya. Kata Kunci: Perlindungan Hukum, Syarat Baku dan Perjanjian Gadai i Universitas Sumatera Utara ABSTRACT Legal protection is a guarantee or certainty that a person will obtain what has become his right and obligation so that he will feel safe. Law on Consumer Protection constitutes an umbrella which integrates and strengthens law enforcement in consumer’s protection (clients/debtors), especially in the standard agreement at Pawnbroking Public Corporation. The use of standard agreement in the financial system at Pawnbroking Public Corporation is inevitable due to the banking operational efficiency and the guarantee to protect the interest of Pawnbroking Public Corporation as the agent of business service of the creditor who provides funds. On the other hand, the clients/debtors also need guarantee for legal certainty in order to protect their rights as consumers or debtors who use the loan of Pawnbroking Public Corporation. Based on the explanation above, the problems of this research were about how the right and obligation of the creditors and debtors in the standard agreement at the Pawnbroking Public Corporation was, how the protection for the pawners in the system of Law on Consumer Protection was, and how the legal protection on clients stipulated in the standard requirements of pawn agreement at Pawnbroking Public Corporation Office, Binjai, viewed from Law No. 8/1999 on Consumer Protection. The research was descriptive analytic; namely a study which described, explained, and analyzed legal matters theoretically and practically of the field study. The materials for the research were obtained from judicial normative approach; namely, an approach to the problems based on legal provisions. The right and obligation of both the creditors and the debtors in the standard agreement at Pawnbroking Public Corporation which was reflected judicially and theoretically in the content of the agreement was not proportional; namely, the clients’ obligation was regulated in detail in the agreement, while the creditor’s obligation was not clear enough in the agreement (SBK). The absence of proportional right and obligation in the agreement caused the creditor to have more right, and the debtors to have more obligation. The legal protection for the pawners in the law on consumer protection is needed when Pawnbroking Public Corporation breaks the agreement about the debtor’s collaterals. This default can be : negligence which causes the collaterals to be accidentally exchanged, lost, and damaged. The legal protection for the clients can be seen in SBK No. 4 which states that Pawnbroking Public Corporation will reimburse 125% of the accessed value of the collaterals which are damaged or lost. The legal protection for the clients in the standard requirements of pawn agreement at Pawnbroking Public Corporation Office, Binjai, viewed from Article 18 of Law No. 8/1999 on Consumer Protection ; namely, prohibition of using standard requirements concerning two things: content and form of the writing. Keywords : Legal Protection, Standard requirements and Pawn Agreement ii Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmat dan hidayah-Nya. Shalawat beriring salam disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan tesis ini dengan baik. Banyak hal yang terjadi dialami saat menyelesaikan penulisan tesis ini. Adapun tujuan dibuat penulisan tesis ini untuk memenuhi sebagian syaratsyarat untuk memperoleh gelar Magister Kenotariatan Dalam Program Studi Kenotariatan pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan. Adapun judul tesis ini adalah: “PERLINDUNGAN HUKUM NASABAH ATAS SYARAT-SYARAT BAKU PERJANJIAN GADAI (Studi Pada Kantor Perum Pegadaian Di Kota Binjai)”. Penulis menyadari dalam penulisan tesis ini masih terdapat banyak kekurangan dan kesalahan, sehingga penulis sangat mengharapkan saran dan kritikan yang bersifat masukan yang membangun demi melengkapi kesempurnaan dalam penulisan tesis ini. Pada kesempatan ini, penulis juga ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan dan penyelesaian tesis ini terutama kepada yang terhormat : l. Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc (CTM), Sp.AK) selaku Rektor atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada penulis untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan pada program studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Univenitas Sumatera Utara; 2. Bapak Prof. DR. Runtung, S.H, M.Hum, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara; 3. Bapak Prof. DR. Muhammad Yamin, S.H, M.S, C.N, selaku Ketua Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dan juga iii Universitas Sumatera Utara selaku Komisi Pembimbing Utama yang telah memberikan saran dan kritik dalam penelitian tesis ini, sampai akhirnya penulis dapat menyelesaikan perkuliahan; 4. Ibu DR. T. Keizerina Devi A, SH, CN, M.Hum, selaku Sekretaris Program Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara sekaligus Anggota Komisi Pembimbing yang telah memberikan bimbingan, dukungan, serta saran dan kritik dari awal penelitian, sampai akhirnya penulis dapat menyelesaikan perkuliahan; 5. Bapak Prof. DR. Budiman Ginting, SH, M.Hum, selaku Anggota Komisi Pembimbing yang telah memberikan bimbingan dukungan, serta saran dan kritik dari awal penelitian, sampai akhirnya penulis dapat menyelesaikan perkuliahan. 6. Bapak DR. Mahmul Siregar, SH, M.Hum selaku Anggota Komisi Penguji yang telah banyak memberikan kontribusi pemikiran dan arahan dalam penyelesaian tesis ini. 7. Bapak DR. Dedi Harianto, SH, M.Hum selaku Anggota Komisi Penguji yang telah banyak memberikan kontribusi pemikiran dan arahan dalam penyelesaian tesis ini 8. Ibu Gelorina Ginting, SE (Kepala Pimpinan Cabang Perum Pegadaian Kota Binjai), Bapak H.M Darma Bakti Nasution, SE, SH, M.H (Wakil Ketua Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Medan - Sumatera Utara) dan Bapak abu Bakar Siddik, SH (Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia Medan – Sumatera Utara) yang telah memberikan masukan serta data-data sehingga penelitian tesis ini dapat diselesaikan. 9. Para Guru Besar serta seluruh Dosen Staf Pengajar Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan ilmu dan pengetahuannya kepada penulis selama mengikuti proses perkuliahan; 10. Seluruh Rekan Staf dan Pegawai Sekretariat Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utars atas bantuan dan informasinya yang iv Universitas Sumatera Utara diberikan kepada penulis dalam proses penyelesaian perkuliahan hingga penelitian tesis ini; 11. Para sahabat seperjuangan Kelas Reguler A, B dan khususnya Kelas C Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Tahun 2009 yang telah memberikan motivasi dan dukungan baik moril dan spritual dalam penyelesaian penelitian tesis ini; 12. Penulis juga ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat langsung maupun tidak langsung yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan penulisan tesis ini. Serta ucapan terima kasih teristimewa penulis sampaikan kepada : 1. Kedua Orang Tua Penulis Ayahanda Refwandi Sanan dan Ibunda Emy Syafrani tercinta yang telah mendidik dan membesarkan penulis serta memberikan dorongan moril, sprituil dan materil kepada penulis. 2. Kakanda Mutia, SP, Kakanda Kumala Sari, Amd, Abangnda Darwis, Amd, Abangda Joeanda, ST dan Adinda Fahrul Reza, SE, serta Keponakan Habibi yang memberikan dorongan moril dan sprituil . Akhirulkalam penulis mengembalikannya dan berdoa kepada Allah SWT, agar kita selalu mendapat taufik dan hidayah-Nya, penulis berharap semoga tesis ini bermanfaat bagi ilmu pengetahuan khususnya pada bidang Kenotariatan terlebih pada penulis sendiri dan orang lain. Medan, Penulis, Agustus 2011 FAHMI FAUZAN v Universitas Sumatera Utara DAFTAR RIYAWAT HIDUP A. Data Pribadi Nama : FAHMI FAUZAN Tempat/Tanggal Lahir : Binjai, 23 Juli 1986 Jenis Kelamin : Laki-Laki Kewarganegaraan : Indonesia Agama : Islam Alamat : Jalan Cut Nyak Dhien No. 176 Binjai Kelurahan Tanah Tinggi KecamatanBinjai Timur Kota Binjai, 20731 E-mail : fauzan_lagood@yahoo.co.id Nama Ayah : Refwandi Sanan Nama Ibu : Emy Syafrani Anak ke : 3 (tiga) dari 4 (empat) bersaudara No. Handphone : 08126569306 1992 – 1998 : SD Negeri 023900 Binjai di Binjai 1998 – 2001 : SLTP Negeri 4 Binjai di Binjai 2001 – 2004 : SMA Negeri 3 Binjai di Binjai 2005 – 2009 : Strata Satu (S1) Fakultas Hukum Universitas Islam Sumatera Utara di Medan 2009 – 2011 : Strata Dua (S2) Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara di Medan B. Pendidikan vi Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI Halaman ABSTRAK . i ABSTRACT . ii KATA PENGANTAR. iii DAFTAR RIWAYAT HIDUP . vi DAFTAR ISI. vii BAB I PENDAHULUAN. 1 A. Latar Belakang . 1 B. Perumusan Masalah . 14 C. Tujuan Penelitian . 14 D. Manfaat Penelitian . 14 E. Keaslian Penelitian. 15 F. Kerangka Teori dan Konsepsi. 17 1. Kerangka teori. 17 2. Konsepsional . 34 G. Metode Penelitian. 40 1. Sifat dan jenis penelitian . 40 2. Sumber data. 41 3. Alat Pengumpul Data . 42 4. Analisis Data . 43 BAB II HAK DAN KEWAJIBAN KREDITUR DAN DEBITUR DALAM PERJANJIAN BAKU PADA PERUM PEGADAIAN 44 A. Hak dan Kewajiban Para Pihak Dalam Perjanjian Baku . 44 1. Pengertian perjanjian baku. 44 2. Hak dan kewajiban dalam perjanjian baku di Perum Pegadaian . 48 B. Perimbangan Hak dan Kewajiban Debitur dan Kreditur dalam Perjanjian Baku pada Perum Pegadaian. 51 vii Universitas Sumatera Utara BAB III PERLINDUNGAN HUKUM ATAS DEBITUR GADAI DALAM SISTEM HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN 78 A. Debitur Gadai Dalam Sistem Hukum Perlindungan Konsumen 78 1. Pengertian gadai . 78 2. Debitur gadai dalam Perum Pegadaian . 80 3. Bentuk dan substansi perjanjian gadai . 86 B. Perlindungan Hukum Debitur Gadai Dalam Sistem Hukum Perlindungan Konsumen . 89 1. Pengertian hukum perlindungan konsumen . 89 2. Debitur gadai dalam sistem hukum perlindungan konsumen . 91 BAB IV PERLINDUNGAN HUKUM NASABAH DALAM SYARATSYARAT BAKU DI PERUM PEGADAIAN CABANG KOTA BINJAI DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN . 100 A. Perum Pegadaian Kota Binjai . 100 B. Perlindungan Hukum dalam Syarat-Syarat Baku pada Perjanjian Gadai . 104 1. Perlindungan konsumen melalui syarat-syarat baku. 104 2. Perlindungan konsumen nasabah berdasarkan syarat-syarat baku pada Perum Pegadaian. 110 C. Standar Larangan Syarat Baku Dalam UU Perlindungan Konsumen . 124 D. Klausula-Klausula Baku Dalam Perjanjian Gadai di Perum Pegadaian Bila Ditinjau dari UU Perlindungan Konsumen . 141 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN . 149 A. Kesimpulan . 149 B. Saran. 150 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN viii Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Perlindungan hukum merupakan suatu pemberian jaminan atau kepastian bahwa seseorang akan mendapatkan apa yang telah menjadi hak dan kewajibannya, sehingga yang bersangkutan merasa aman. UU Perlindungan Konsumen 1 (satu) hari. m. Pekerja tidak dapat melakukan pekerjaan karena sakit menurut keterangan Dokter. n. Pekerja tidak dapat melakukan pekerjaan karena sedang menjalankan kewajiban terhadap Negara yang telah diatur dalam peraturan perundang-undangan, upah dibayar jika Negara tidak melakukan pembayaran atau Negara membayar kurang dari upah yang diterima pekerja, maka kekurangannya wajib dibayar pengusaha. o. Karena menjalankan ibadah yang diperintahkan agamanya yang telah diatur dengan peraturan perundang-undangan. p. Pekerja bersedia melakukan pekerjaan yang telah dijanjikan, tetapi pengusaha tidak mempekerjakannya, baik karena kesalahan sendiri maupun halangan yang seharusnya dapat dihindari pengusaha. q. Pekerja melaksanakan hak istirahat. r. Pekerja melaksanakan tugas serikat pekerja atas persetujuan pengusaha. s. Pekerja melakukan tugas pendidikan dari pengusaha. Pekerja yang akan tidak masuk kerja pada hari-hari seperti tersebut pada angka 2 (dua) huruf b, c, e sampai dengan h, n, o, q, s diatas memberitahukan kepada Satiruddin Lubis : Analisa Hukum Pengaturan Syarat-Syarat Kerja Dan Hak-Hak Normatif Dalam Perjanjian Kerja Bersama Studi Pada PT.Umada Di Medan, 2009 perusahaan selambat-lambatnya 3 (tiga) hari sebelum pelaksanaannya, sedangkan huruf d, i sampai dengan m, memberitahukannya pada saat kejadian. Pekerja yang belum saatnya waktu pulang, tiba-tiba mendapat berita kemalangan dari keluarga sebagaimana dimaksud pada ayat 2 (dua) j, sampai dengan I, tersebut diatas, cukup melaporkan kepada atasannya minimal mandor agar dapat meninggalkan pekerjaannya dengan pembayaran upah penuh. Guna mengetahui frekwensi kehadiran para buruh/ pegawai bulanan di PT.Umada dibuat suatu daftar hadir yang harus ditandatangani oleh para buruh/ pekerja sendiri ketika masuk kerja dan penendatangan ketika buruh/ pekerja pulang/ selesai bekerja, penandatanganan daftar hadir ini tidak dapat diwakilkan kepada orang lain, yang mana dari daftar ini dapat memberikan informasi kepada perusahaan mengenai tingkat kedisiplinan buruh/ pekerja dalam melaksanakan Perjanjian Kerja Bersama yang akan digunakan dalam penilaian indeks prestasi kerja buruh/ pekerja itu sendiri dan dijadikan salah satu komponen penetuan besarnya kenaikan upah ketika diadakan penyesuaian upah berkala bagi para buruh/ pekerja. Berikut ini adalah contoh rekapitulasi daftar hadir pekerja/ buruh PT.Umada dari Bulan Januari sampai dengan Desember 2008. Tabel VII : Rekapitulasi Daftar Kehadiran Pegawai Bulanan PT.Umada Bulan Januari s/d Desember 2008 BULAN Jumlah pegawai KETERANGAN HADIR KETERANGAN Satiruddin Lubis : Analisa Hukum Pengaturan Syarat-Syarat Kerja Dan Hak-Hak Normatif Dalam Perjanjian Kerja Bersama Studi Pada PT.Umada Di Medan, 2009 T/H M/H I/H S/H C/H 5 35 Januari 287 Februari 286 2 32 Maret 286 1 36 April 294 Mei 294 Juni 2 22 1 10 12 294 3 16 49 Juli 296 2 2 34 Agustus 293 2 11 September 294 1 5 8 Oktober 294 3 7 38 Nopember 282 2 51 Desember 281 1 40 6 1 Sumber : PT.Umada, Mei 2009 Keterangan : T/H M/H I/H S/H C/H : Terlambat : Mangkir : Izin : Sakit : Cuti Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa tidak ada pekerja yang mangkir pada tahun 2008. 12. Pembayaran Uang Makan dan Uang Mandah Satiruddin Lubis : Analisa Hukum Pengaturan Syarat-Syarat Kerja Dan Hak-Hak Normatif Dalam Perjanjian Kerja Bersama Studi Pada PT.Umada Di Medan, 2009 a. Uang makan : Kepada Pekerja yang melakukan pekerjaan di luar perkebunan dan tidak dapat pulang ke rumah pada waktu makan yang biasa, diberi uang makan sebagai berikut : Sarapan pagi Rp. 7.000,- (tujuh ribu rupiah) Makan siang Rp. 10.000,- (sepuluh ribu rupiah) Makan malam Rp. 10.000,- (sepuluh ribu rupiah) 51 b. Uang Mandah : Sewaktu mandah, kepada Pekerja dibayar uang makan (atas dasar jumlah tersebut diatas), ditambah uang penginapan (sesuai dengan kwitansi). Dalam hal Pengusaha menyediakan makan dan penginapan, kepada Pekerja tidak dibayarkan uang makan dan uang penginapan, tetapi kepada pekerja diberikan uang saku sebesar Rp.30.000,- (tiga puluh ribu rupiah)/ hari, sedangkan selama mandah tersebut tidak diberikan uang lembur. 13. Waktu Kerja Lembur dan Upah Kerja Lembur. Berpedoman pada Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia No.KEP-102/MEN/VI/2004 tentang Waktu Kerja dan Upah Kerja Lembur. a. Untuk menghitung upah lembur 1 (satu) jam bagi Pekerja Bulanan dipakai dasar sebagai berikut : 51 Keputusan Direktur Jendral Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja, Perjanjian Kerja Bersama, BKSPPS, Medan, 2008, Op, Cit, halaman 17. Satiruddin Lubis : Analisa Hukum Pengaturan Syarat-Syarat Kerja Dan Hak-Hak Normatif Dalam Perjanjian Kerja Bersama Studi Pada PT.Umada Di Medan, 2009 Upah uang sebulan + nilai catu beras pekerja sebulan 173 b. Perhitungan Upah Lembur : 13.1. Hari biasa. Untuk jam kerja lembur pertama dibayar 1,5 (satu setengah kali upah sejam dan untuk setiap jam kerja lembur berikutnya dibayar 2 (dua) kali upah sejam. 13.2. Hari istirahat mingguan/ hari libur resmi. Untuk waktu kerja 6 (enam) hari kerja/40 jam seminggu : 7 (tujuh) jam pertama dibayar 2 (dua) kali upah sejam. Jam ke 8 (delapan) dibayar 3 (tiga) kali upah sejam. Jam ke 9 (Sembilan) dan ke 10 (sepuluh) dibayar 4 kali upah sejam. Jika hari libur resmi jatuh pada hari kerja terpendek : a. 5 (lima) jam pertama dibayar 2 (dua) kali upah sejam. b. Jam ke 6 (enam) dibayar 3 (tiga) kali upah sejam. c. Jam ke 7 (tujuh) dan ke 8 (delapan) dibayar 4 (empat) kali upah sejam. 13.3. Untuk waktu 5 (lima) hari kerja/40 (empat puluh) jam seminggu. Hari istirahat mingguan/ hari libur resmi : a. 8 (delapan) jam pertama dibayar 2 (dua) kali upah sejam. b. Jam ke 9 (sembilan) dibayar 3 (tiga) kali upah sejam. Satiruddin Lubis : Analisa Hukum Pengaturan Syarat-Syarat Kerja Dan Hak-Hak Normatif Dalam Perjanjian Kerja Bersama Studi Pada PT.Umada Di Medan, 2009 c. Jam ke 10 (sepuluh) dan ke 11 (sebelas) dibayar 4 (empat) kali upah sejam. Waktu kerja lembur hanya dapat dilakukan paling banyak 3 (tiga) jam dalam 1 (satu) hari dan 14 (empat belas) jam dalam 1 (satu) minggu, kecuali kerja lembur pada hari minggu atau hari libur resmi. Berikut ini adalah contoh perhitungan upah lembur selama 3 (tiga) jam pada hari kerja biasa : Nama Tenagakerja : AR Perhitungan Lembur Bulan : Juni 2009 Upah Pokok Bulan Juni 2009 : Rp. 1.067.000 Natura ( beras ) diuangkan : Rp.15 Kg x Rp.5.600 = Rp.84.000,Jumlah Upah Pokok + Natura : Rp. 1.151.000,Dasar Perhitungan Lembur adalah Rp.1.151.000 : 173 = Rp.6.653 Upah Lembur 1 (satu) Jam I = 1 x Rp.6.653 x 150% = Rp.9.979,5 Upah Lembur 2 Jam II = 2 x Rp.6.653 x 200% = Rp.26.612,Jumlah Upah Lembur selam 3 Jam = Rp.36.591,5 Keterangan : Rp.5.600 adalah Harga beras per kilo gram pada bulan Juni tahun 2009. 173 (tujuh puluh tiga) adalah 6 hari kerja dalam seminggu per 6 hari kerja dalam seminggu x 40 jam dalam seminggu x 52 minggu dalam setahun dibagi 12 Bulan. 14. Tunjangan Hari Raya Keagamaan. Setiap tahun dibayarkan kepada Pekerja Tunjangan Hari Raya (THR), yang diberikan berkenaan dengan Hari Raya Keagamaan. Besarnya Tunjangan Hari Raya Satiruddin Lubis : Analisa Hukum Pengaturan Syarat-Syarat Kerja Dan Hak-Hak Normatif Dalam Perjanjian Kerja Bersama Studi Pada PT.Umada Di Medan, 2009 dibayarkan berdasarkan kesepakatan bersama antara Badan Kerjasama Perusahaan Perkebunan Sumatera (BKS-PPS) dengan Federasi Serikat Pekerja Pertanian dan Perkebunan Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (FSP.PP-SPSI) yang disaksikan oleh Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia dan dibayarkan 15 (lima belas) hari menjelang Hari Raya/ Tahun Baru. 15. Bonus. Besarnya Bonus ditetapkan berdasarkan Kesepakatan Bersama antara Badan Kerjasama Perusahaan Perkebunan Sumatera (BKS-PPS) dengan Federasi Serikat Pekerja Pertanian dan Perkebunan Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (FSP.PP- SPSI). 52 Adapun besarnya bonus yang diberikan kepada pegawai untuk tahun 2008 di PT.Umada dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel : VIII Rekapitulasi Pembayaran Bonus PT. Umada Tahun 2008 No Nama I PKS Natura (Rp) Gaji Pokok Jumlah Rp Bonus 4 Bulan Panjar 1 Bulan Sisa dibayar 1 Pegawai 4.089.000,- 53.911.855,- 58.000.855,- 232.003.420,- 58.000.855,- 174.002.565,- 2 KHT 3.313.500,- 41.266.000,- 44.579.500,- 178.318.000,- 44.579.500,- 133.738.500,- 3 Kary.Berhenti 846.000,- 10.837.230,- 11.683.230,- 40.686.268,- 10.581.585,- 30.104.683,- Sub.Jumlah 8.248.500,- 106.015.085, 114.263.585, 451.007.688, 113.161.940, 337.845.748, II Ket ESTET 1 Pegawai 2.538.000,- 33.688.635,- 36.226.635,- 144.906.540,- 36.226.635,- 108.679.905,- 2 KHT 6.627.000,- 82.532.000,- 89.159.000,- 345.886.333,- 86.471.583,- 259.414.750,- 52 Keputusan Direktur Jendral Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja, Perjanjian Kerja Bersama, BKSPPS, Medan, Cara yang paling efektif dalam mendapatkan pelunasan piutang Perusahaan adalah jika nasabah dapat membayar pinjamannya tepat waktu. Dalam proses pelelangan dikenal adanya Uang Kelebihan Lelang. Uang Kelebihan Lelang adalah selisih antara harga lakunya lelang dikurangi dengan (Uang Pinjaman + Sewa Modal). Adanya uang kelebihan lelang diberitahukan kepada nasabah yang bersangkutan agar dapat di ambil ke tempat ia menggadaikan barangnya. Apabila dalam waktu satu tahun sejak tanggal lelang uang kelebihan lelang tersebut tidak diambil juga, maka uang kelebihan lelang tersebut akan menjadi milik Perusahaan. Disamping itu dalam proses pelelangan selalu ada barang yang tidak laku terjual yang di sebut Barang Sisa Lelang (BSL). Menurut Pedoman Operasional Kantor Cabang, BSL adalah barang jaminan yang di taksir dengan wajar tetapi pada saat lelang tidak laku dijual, selanjutnya di tetapkan menjadi milik (asset) perusahaan. Namun ada juga barang yang tidak laku terjual karena taksiran atas barang tersebut terlalu tinggi, sehingga tidak ada peminatnya pada saat penjualan di muka umum. Taksiran tinggi adalah taksiran yang melebihi kriteria/batas Universitas Sumatera Utara toleransi dari taksiran wajar, baik semata-mata karena kelalaian/kekeliruan penaksir/KPK/Kepala Cabang maupun di sengaja, dikategorikan sebagai taksiran tinggi. Untuk barang taksiran tinggi ini, tindakan yang diambil adalah pembebanan kerugian yang menjadi beban penaksir dan di catat pada Kartu Piutang Pegawai Pegadaian segera setelah mendapat Surat Keterangan Tuntutan Ganti Rugi (SK TGR) dan tiap bulan harus di buat laporan penyelesaian pembayaran TP/TGR sesuai ketentuan yang ditetapkan perusahaan. Aturan-aturan mengenai proses pelaksanaan pemberian kredit di Perum Pegadaian sampai dengan proses pelaksanaan Lelang yang telah dijabarkan di atas telah jelas menggambarkan bagaimana timbulnya hak Perum Pegadaian untuk melelang barang jaminan nasabah. Perum Pegadaian sebagai Perusahaan Milik Negara diharapkan dapat membantu Negara dalam meningkatkan perekonomian rakyat dengan tetap menyalurkan dana kepada masyarakat. Universitas Sumatera Utara BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Kesimpulan yang penulis ambil dalam penulisan skripsi ini adalah: 1. Hak gadai adalah hak yang melekat pada benda bergerak baik benda bergerak yang berwujud maupun benda bergerak yang tidak berwujud. Adanya hak gadai ini merupakan salah satu bentuk jaminan yang diakui di Indonesia. Hak gadai pada benda bergerak mengakibatkan benda yang dijadikan objek gadai harus lepas dari kekuasaan debitur sebagai pemberi gadai beralih menjadi di bawah kekuasaan kreditur sebagai pemegang gadai. Penyerahan objek gadai ini diwajibkan oleh undang-undang (pasal 1152 KUH Perdata), apabila hal ini dilanggar maka hak gadai itu akan hapus dengan sendirinya. Apabila oleh para pihak tidak diperjanjikan lain maka kreditur berhak untuk mengambil sendiri pelunasan atas piutangnya apabila debitur wanprestasi. Pengambilan pelunasan sendiri oleh kreditur dilakukan dengan cara melakukan pelelangan di muka umum setelah tenggat waktu yang ditentukan telah lampau. Pengambilan pelunasan oleh kreditur sendiri di sebut dengan parate eksekusi yaitu wewenang yang diberikan kepada kreditur untuk mengambil pelunasan piutang dari kekayaan debitur tanpa memiliki titel eksekutorial. Perum Pegadaian dalam melaksanakan kegiatannya di bidang penjaminan benda bergerak juga mengenal parate eksekusi apabila debitur (nasabah) wanprestasi dengan tidak membayar tepat pada waktunya. Dalam melakukan parate eksekusi diwajibkan bagi Universitas Sumatera Utara kreditur untuk menyampaikan pemberitahuan lelang kepada debitur yang barang jaminannya akan dilelang. Apabila tidak dilakukan pemberitahuan maka debitur berhak untuk menuntut kreditur di muka Hakim. 2. Parate eksekusi sebagai cara yang diambil oleh debitur dalam mengambil pelunasan piutangnya sendiri sebenarnya merupakan suatu keuntungan bagi kreditur yang memberikan pinjaman dengan jaminan gadai. Hal ini dikarenakan kreditur dapat dengan mudah mengambil pelunasan atas piutangnya tanpa harus memintakan titel eksekutorial dari Hakim atas benda jaminan gadai tersebut. Kemudahan yang didapatkan kreditur ini sebenarnya merupakan konsekuensi lembaga gadai sebagai lembaga jaminan khusus yang sifatnya memberikan kemudahan dan kedudukan didahulukan bagi kreditur dalam mendapatkan pelunasan hak tagihnya. Perum Pegadaian sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memiliki peranan penting dalam membantu perekonomian Indonesia yang masih bersifat kerakyatan, sehingga apabila dalam menjalankan kegiatannya terdapat kendala-kendala yang dapat mempengaruhi kekayaan Perusahaan tentu dapat berpengaruh juga terhadap perekonomian Negara. Adanya lembaga Parate Eksekusi ini sangat membantu Perum Pegadaian dalam mengembalikan piutangnya dari debitur yang wanprestasi. Pelaksanaan Parate Eksekusi dalam bentuk pelelangan di muka umum terbukti efektif dalam pengembalian piutang Perusahaan. Namun, tidak berarti Pegadaian mengutamakan cara pelelangan di muka umum ini sebagai upaya pelunasan piutang perusahaan. Pelunasan hutang oleh debitur dengan tepat waktu adalah hal yang diharapkan oleh Universitas Sumatera Utara Perum Pegadaian dalam setiap pemberian pinjaman kredit. Karena dengan dibayar tepat waktu maka piutang dapat dikembalikan dengan cepat tanpa perlu mengeluarkan biaya untuk melakukan pelelangan lagi. B. Saran Saran penulis di dalam skripsi ini adalah: 1. Kreditur sebagai pemegang gadai dalam memberikan gadai hendaklah memperhatikan keadaan ekonomi debitur. Sehingga dengan adanya lembaga gadai dapat meningkatkan kehidupan perekonomian debitur pada awalnya dan meningkatkan kehidupan perekonomian masyarakat Indonesia selanjutnya. Apabila debitur melakukan wanprestasi dalam pemberian pinjaman kredit, kreditur hendaknya dapat memastikan bahwa debitur telah tahu bahwa barang jaminannya akan dilelang. Sehingga apabila debitur masih memungkinkan untuk memenuhi prestasinya barang jaminan yang akan dilelang tersebut dapat dilelang. Dan apabila debitur memang tidak mampu untuk melunasi hutangnya, debitur mengetahui bahwa barangnya akan dilelang dan debitur dapat meminta sisa uang kelebihan dari hasil pelelangan tersebut. 2. Debitur sebagai pemberi gadai hendaknya tahu resiko yang dihadapi apabila meminjam uang dengan jaminan benda gadai, karena apabila debitur wanprestasi maka barang jaminan yang digadaikan dapat dilelang oleh kreditur. Debitur hendaklah dapat mempergunakan uang yang dipinjamnya dengan sebaik-baiknya sehingga apabila telah jatuh tempo barang jaminannya dapat diambil kembali dari kekuasaan kreditur. Karena dengan Universitas Sumatera Utara dikembalikannya pinjaman oleh debitur dengan tepat waktu, berarti perputaran uang yang terjadi di tengah-tengah masyarakat terus berjalan dalam artian tidak ada kredit macet yang menyebabkan lambannya gerak roda perkonomian Indonesia. Universitas Sumatera Utara DAFTAR PUSTAKA A. Buku Badrulzaman, Mariam Darus(1998). Hukum Jaminan Indonesia. Jakarta: Elips. ________________________(1991). Perjanjian Kredit Bank. Bandung: Cipta Karya Abadi. Harahap, M.Yahya(2006). Ruang Lingkup Permasalahan Eksekusi Bidang Perdata. Jakarta: Sinar Grafika. H.S., Salim(2004). Perkembangan Hukum Jaminan di Indonesia. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Kartini Muljadi-Gunawan Widjaja(2007). Hak istimewa, gadai, dan hipotek. Jakrta: Kencana. Manullang, M.(1989). Pengantar Ekonomi Perusahaan. Yogyakarta: Liberty Megarita(2007., Perlindungan Hukum terhadap Pembeli Saham yang Digadaikan. Medan: USU Press. Meliala. Djaja S.(2007). Perkembangan Hukum Perdata tentang Benda dan Hukum Perikatan. Bandung: Nuansa Aulia. Prodjodikoro, Wirjono(1986). Hukum Perdata tentang Hak Atas Benda. Jakarta: Intermasa. Satrio, J. (2007). Hukum Jaminan Hak Jaminan Kebendaan. Bandung: Citra Aditya Bakti. Sofwan, Sri Soedewi Masjchoen(1981). Hukum Perdata: Hukum Benda. Yogyakarta: Liberty. ______________________________(1980). Hukum Jaminan di Indonesia: Pokok-pokok Hukum Jaminan dan Jaminan Perorangan. Yogyakarta: Liberty. Subekti(1982). Jaminan-jaminan untuk Pemberian Kredit Menurut Hukum Indonesia. Bandung: Penerbit Alumni. Subekti, R. & Tjitrosudibio,R.(2001). Kitab Undang-undang Hukum Perdata. Jakarta: Pradnya Paramita. Universitas Sumatera Utara B. Kamus Departemen Pendidikan Nasional(2005). Kamus Besar Bahasa Indonesia: Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka. Sudarsono(2007). Kamus Hukum. Jakarta: Rineka Cipta. Simorangkir, J.C.T.(2007). Kamus Hukum. Jakarta: Sinar Grafika. C. Peraturan Perundang-undangan Peraturan Pemerintah No.10 Tahun 1990 Tentang Pengalihan Bentuk Perusahaan Jawatan (Perjan) Pegadaian Menjadi Perusahaan Umum (Perum) Pegadaian Aturan Dasar Pegadaian Staatblaad No. 81 Tahun 1928 Surat Edaran No. 48/Op.1.00211/2003 Tentang Lelang Barang Jaminan di Pegadaian D. Internet http://www.jdih.bpk.go.id/informasihukum/PerbedaanFidusia_Gadai.pdf www.scribd.com, Universitas Sumatera Utara
Perlindungan Hukum Nasabah Atas Syarat-Syarat Baku Perjanjian Gadai (Studi Pada Kantor Pegadaian Di Kota Binjai)
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Perlindungan Hukum Nasabah Atas Syarat-Syarat Baku Perjanjian Gadai (Studi Pada Kantor Pegadaian Di Kota Binjai)

Gratis