Feedback

Pemetaan Daerah Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan di Kabupaten Toba Samosir Provinsi Sumatera Utara.

Informasi dokumen
PEMETAAN DAERAH RAWAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DI KABUPATEN TOBA SAMOSIR PROVINSI SUMATERA UTARA SKRIPSI Oleh MAYA SARI HASIBUAN 071201044 PROGRAM STUDI MANAJEMEN HUTAN DEPARTEMEN KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2011   Universitas Sumatera Utara PEMETAAN DAERAH RAWAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DI KABUPATEN TOBA SAMOSIR PROVINSI SUMATERA UTARA SKRIPSI Oleh MAYA SARI HASIBUAN 071201044/MANAJEMEN HUTAN Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana di Departemen Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara PROGRAM STUDI MANAJEMEN HUTAN DEPARTEMEN KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2011   Universitas Sumatera Utara LEMBAR PENGESAHAN Judul Skripsi : Pemetaan Daerah Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan di Kabupaten Toba Samosir Provinsi Sumatera Utara Nama : Maya Sari Hasibuan NIM : 071201044 Program Studi : Manajemen Hutan Disetujui Oleh Komisi Pembimbing Ketua Anggota Siti Latifah, S.Hut, M.Si, Ph.D NIP. 19710416 200112 2 001 Riswan, S.Hut NIP. 152315039 Mengetahui Ketua Departemen Kehutanan Siti Latifah, S.Hut, M.Si, Ph.D NIP. 19710416 200112 2 001   Universitas Sumatera Utara ABSTRACT MAYA SARI HASIBUAN. Mapping of Danger Area to Forest and Land Fires on Toba Samosir District, North Sumatera Province. Guided by SITI LATIFAH, S.Hut, M.Si, Ph.D dan RISWAN, S.Hut. Forest fires often occurs on most recently in Indonesia, especially in Sumatera and Kalimantan. Forest fires in the area of Lake Toba (Toba Samosir) is one of the main factors that cause the degradation of land in the region. Almost every year of forest fire occurred in this region with an average of about 113 Ha. Information of danger area to forest fires is very important information and is required by fire managers in forest and land fires control activity. This research aims to analyze the forest and land fires factors in the district Toba Samosir, to map danger area to forest fires and land in the district Toba Samosir, and measuring the area of forest and land fires in the district Toba Samosir. The research was conducted in the district Toba Samosir on May 2011 to July 2011. This research uses Geographic Information System (GIS) to map danger area to forest and land fires in the district and to know the extent Toba Samosir. Throught this research it is known that the Toba Samosir is dominated by class of danger to forest and land fires “middle” with and area 131.303, 18 Ha. Forest and land fires factors that could potentially cause forest and land fires are land cover, climate and elevation. Danger area to forest and land fires that most potential to occur in district with large Borbor 20. 637,29 Ha. While danger area to forest and land fires that occurred in the smallest district with an area of 22,24 Ha Lumbanjulu. Keyword : Danger area, Forest and Land Fire, GIS, Map   Universitas Sumatera Utara ABSTRAK MAYA SARI HASIBUAN. Pemetaan Daerah Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan di Kabupaten Toba Samosir, Provinsi Sumatera Utara. Dibimbing oleh SITI LATIFAH, S.Hut, M.Si, Ph.D dan RISWAN, S.Hut. Kebakaran hutan akhir-akhir ini sering terjadi di Indonesia khususnya di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Kebakaran hutan di wilayah Danau Toba (Kabupaten Toba Samosir) merupakan salah satu faktor utama yang menjadi penyebab dalam degradasi lahan di wilayah tersebut. Hampir setiap tahun, kebakaran hutan terjadi di wilayah ini dengan rata-rata luasan sekitar 113 Ha. Informasi mengenai daerah rawan kebakaran merupakan informasi yang sangat penting dan diperlukan oleh fire manager dalam kegiatan pengendalian kebakaran hutan dan lahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa faktor-faktor penyebab kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Toba Samosir, memetakan daerah rawan kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Toba Samosir, menghitung luas daerah rawan kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Toba Samosir. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Toba Samosir pada bulan Mei 2011 sampai Juli 2011. Penelitian ini menggunakan GIS untuk memetakan daerah rawan kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Toba Samosir serta mengetahui luasnya. Melalui penelitian ini dapat diketahui bahwa Kabupaten Toba Samosir didominasi oleh kelas rawan kebakaran hutan dan lahan “sedang” dengan luas 131.303,28 Ha. Faktor kebakaran hutan dan lahan yang berpotensi menyebabkan kebakaran hutan dan lahan yaitu tutupan lahan, iklim dan elevasi. Daerah rawan kebakaran hutan dan lahan yang paling berpotensi terjadi di Kecamatan Borbor dengan luas 20.637,28 Ha, sedangkan daerah rawan kebakaran hutan dan lahan yang paling kecil terjadi di Kecamatan Lumbanjulu dengan luas 22,24 Ha   Universitas Sumatera Utara RIWAYAT HIDUP Penulis bernama lengkap Maya Sari Hasibuan, dilahirkan di Medan pada tanggal 04 Desember 1989 dari Ayahanda Minsyachri Hasibuan dan Ibunda Almh. Asnawati. Penulis merupakan putri pertama dari tiga bersaudara. Pendidikan formal pertama Penulis dimulai dari Taman Kanak-Kanak (TK) Aisyiah Medan tahun 1995, kemudian melanjutkan pendidikan di SDN. 064955 Medan sampai tahun 2001. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan di SLTP Negeri 15 Medan sampai tahun 2004. Pada tahun 2004, penulis melanjutkan pendidikan di SMA Swasta ERIA sampai tahun 2007. Selanjutnya pada bulan Agustus tahun 2007, penulis diterima sebagai mahasiswi Departemen Kehutanan Program Studi Manajemen Hutan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara melalui Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Selama mengikuti perkuliahan, penulis menjadi asisten Praktikum Inventarisasi Hutan tahun 2010 dan asisten Pemanenan Hasil Hutan tahun 2011. Selain itu penulis juga merupakan anggota Himpunan Mahasiswa Sylva (HIMAS) dan anggota Keputrian Badan Kemakmuran Mushalla (BKM) Baitul Asyjar. Penulis telah mengikuti Praktek Pengenalan dan Pengelolaan Hutan (P3H) di Desa Aras Napal Kiri Kabupaten Langkat dan Desa Pulau Sembilan Kabupaten Langkat pada tahun 2009. Pada tahun 2011, penulis melaksanakan Praktek Kerja Lapang (PKL) di KPH Cianjur, Perum Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten pada tanggal 3 Januari 2011 sampai 3 Pebruari 2011. Sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan di Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, penulis menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pemetaan Daerah Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan di Kabupaten Toba Samosir, Provinsi Sumatera Utara” dibawah bimbingan ibu Siti Latifah, S.Hut, M.Si, Ph.D dan bapak Riswan, S.Hut.   Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan draft proposal penelitian ini. Adapun skripsi ini berjudul Pemetaan Daerah Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan di Kabupaten Toba Samosir Provinsi Sumatera Utara. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk dapat memperoleh untuk gelar sarjana. Dalam penulisan skripsi ini, penulis dibimbing oleh Siti Latifah, S.Hut, M.Si, Ph.D sebagai ketua komisi pembimbing dan Riswan, S.Hut sebagai anggota komisi pembimbing. Skripsi penelitian ini masih banyak kekurangannya. Oleh karena itu diharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Akhir kata saya mengucapkan terima kasih. Medan, September 2011 Penulis   Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI ABSTRACT . i ABSTRAK . ii RIWAYAT HIDUP . iii KATA PENGANTAR. iv DAFTAR ISI. v DAFTAR TABEL . vi DAFTAR GAMBAR . vii PENDAHULUAN Latar Belakang . 1 Tujuan penelitian . 4 Manfaat penelitian . 4 TINJAUAN PUSTAKA Definisi Kebakaran Hutan dan Lahan . 6 Proses Kebakaran . 6 Faktor-faktor Penyebab Kebakaran Hutan dan Lahan . 7 Dampak Kebakaran Hutan dan Lahan . 14 Titik Panas (Hotspot) . 16 Aplikasi SIG pada Kebakaran Hutan dan Lahan . 18 Monitoring Kebakaran Hutan . 23 Teknik Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan . 25 Kondisi Umum Lokasi Penelitian Lokasi dan Keadaan Geografis . 27 Iklim . 28 Kependudukan . 28 Struktur Ekonomi . 28 METODOLOGI Waktu dan Tempat. 30 Bahan dan Alat. 30 Prosedur Penelitian Pengumpulan Data . 31 Pengolahan Data . 31 Penentuan Skoring . 32 Analisis Tumpang Susun . 35 Evaluasi/verifikasi. 37   Universitas Sumatera Utara HASIL DAN PEMBAHASAN Faktor-faktor Penyebab Kebakaran Hutan dan Lahan di Kabupaten Toba Samosir Tutupan Lahan (Vegetasi) . 38 Topografi . 41 Iklim . 44 Jarak dari Pemukiman . 52 Tingkat Kerawanan Kebakaran Hutan dan Lahan di Kabupaten Toba Samosir . 55 Nilai Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan Berdasarkan Masing-Masing Faktor Kebakaran Hutan dan Lahan di Kabupaten Toba Samosir Tutupan Lahan . 59 Topografi. 61 Iklim . 63 Jarak Pemukiman . 67 Evaluasi/verifikasi. 69 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan . 70 Saran . 70 DAFTAR PUSTAKA GLOSARIUM LAMPIRAN   Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL 1. Luas Kebakaran Hutan dan Lahan di Provinsi Sumatera dan Kalimantan Tahun 2006 . 6 2. Tipe Vegetasi atau Penutupan Lahan dan Pembobotannya . 32 3. Klasifikasi Ketinggian Tempat dan Pembobotannya . 33 4. Klasifikasi Curah Hujan Bulanan dan Pembobotannya . 33 5. Klasifikasi Suhu Udara Bulanan dan Pembobotannya . 34 6. Klasifikasi Kecepatan Angin Bulanan dan Pembobotannya . 34 7. Klasifikasi Jarak dari Pemukiman dan Pembobotannya . 35 8. Klasifikasi Tingkat Kerawanan Kebakaran Hutan dan Lahan . 36 9. Tutupan Lahan di Kabupaten Toba Samosir . 40 10. Ketinggian Tempat (Elevasi) di Kabupaten Toba Samosir . 43 11. Rata-Rata Curah Hujan Bulanan Tahun 2010 di Kabupaten Toba Samosir . 44 12. Rata-Rata Suhu Udara Bulanan Tahun 2010 di Kabupaten Toba Samosir . 47 13. Rata-Rata Kecepatan Angin Bulanan Tahun 2010 di Kabupaten Toba Samosir . 51 14. Jarak Lokasi Pemukiman Terhadap Tutupan Lahan . 52 15. Nilai Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan Berdasarkan Kelas Rawan Menurut Luasan . 55 16. Nilai Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan Berdasarkan Jenis Tutupan Lahan Menurut Luasan . 59 17. Nilai Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan Berdasarkan Ketinggian Tempat Menurut Luasan . 61 18. Nilai Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan Berdasarkan Rata-Rata Curah Hujan Bulanan Tahun 2010 Menurut Luasan . 63   Universitas Sumatera Utara 19. Nilai Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan Berdasarkan Rata-Rata Suhu Udara Bulanan Tahun 2010 Menurut Luasan . 64 20. Nilai Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan Berdasarkan Rata-Rata Kecepatan Angin Bulanan Tahun 2010 Menurut Luasan . 66 21. Nilai Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan Berdasarkan Jarak Lokasi Pemukiman Menurut Luasan . 68   Universitas Sumatera Utara DAFTAR GAMBAR 1. Kerangka Pemikiran. 5 2. Prinsip Segitiga Api . 7 3. Peta Tutupan Lahan Kabupaten Toba Samosir . 39 4. Lokasi Bekas Kebakaran di Lereng Curam di Kecamatan Balige . 41 5. Peta Ketinggian Tempat (Elevasi) Kabupaten Toba Samosir . 42 6. Peta Rata-Rata Curah Hujan Bulanan Kabupaten Toba Samosir . 45 7. Peta Rata-Rata Suhu Udara Bulanan Kabupaten Toba Samosir . 48 8. Peta Rata-Rata Kecepatan Angin Bulanan Kabupaten Toba Samosir . 50 9. Peta Lokasi Pemukiman Kabupaten Toba Samosir . 54 10. Peta Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan di Kabupaten Toba Samosir . 56   Universitas Sumatera Utara ABSTRACT MAYA SARI HASIBUAN. Mapping of Danger Area to Forest and Land Fires on Toba Samosir District, North Sumatera Province. Guided by SITI LATIFAH, S.Hut, M.Si, Ph.D dan RISWAN, S.Hut. Forest fires often occurs on most recently in Indonesia, especially in Sumatera and Kalimantan. Forest fires in the area of Lake Toba (Toba Samosir) is one of the main factors that cause the degradation of land in the region. Almost every year of forest fire occurred in this region with an average of about 113 Ha. Information of danger area to forest fires is very important information and is required by fire managers in forest and land fires control activity. This research aims to analyze the forest and land fires factors in the district Toba Samosir, to map danger area to forest fires and land in the district Toba Samosir, and measuring the area of forest and land fires in the district Toba Samosir. The research was conducted in the district Toba Samosir on May 2011 to July 2011. This research uses Geographic Information System (GIS) to map danger area to forest and land fires in the district and to know the extent Toba Samosir. Throught this research it is known that the Toba Samosir is dominated by class of danger to forest and land fires “middle” with and area 131.303, 18 Ha. Forest and land fires factors that could potentially cause forest and land fires are land cover, climate and elevation. Danger area to forest and land fires that most potential to occur in district with large Borbor 20. 637,29 Ha. While danger area to forest and land fires that occurred in the smallest district with an area of 22,24 Ha Lumbanjulu. Keyword : Danger area, Forest and Land Fire, GIS, Map   Universitas Sumatera Utara ABSTRAK MAYA SARI HASIBUAN. Pemetaan Daerah Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan di Kabupaten Toba Samosir, Provinsi Sumatera Utara. Dibimbing oleh SITI LATIFAH, S.Hut, M.Si, Ph.D dan RISWAN, S.Hut. Kebakaran hutan akhir-akhir ini sering terjadi di Indonesia khususnya di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Kebakaran hutan di wilayah Danau Toba (Kabupaten Toba Samosir) merupakan salah satu faktor utama yang menjadi penyebab dalam degradasi lahan di wilayah tersebut. Hampir setiap tahun, kebakaran hutan terjadi di wilayah ini dengan rata-rata luasan sekitar 113 Ha. Informasi mengenai daerah rawan kebakaran merupakan informasi yang sangat penting dan diperlukan oleh fire manager dalam kegiatan pengendalian kebakaran hutan dan lahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa faktor-faktor penyebab kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara Precipitation Radar (PR). Sensor PR ini merupakan sensor radar untuk pemantauan presipitasi yang pertama di antariksa. Sensor PR ini bekerja pada frekuensi 13,8 GHz untuk mengukur distribusi presipitasi secara 3 (tiga) dimensi, baik untuk presipitasi di atas daratan maupun di atas lautan; serta untuk menentukan kedalaman lapisan presipitasi. Perkembangan baru dari TRMM adalah Tropical Rainfall Measuring Mission Multi Satellite Precipitation Analysis (TMPA). TMPA adalah sebuah satelit multiplatform constellation satellite yang didesain untuk mengkombinasikan estimasi curah hujan dari beberapa sistem satelit dimana hasil estimasi satelit TRMM sama baiknya seperti estimasi dari penakar hujan terestial (Huffman et al., 2007). Produk satelit TRMM memiliki resolusi spasial 0.250 x 0.250 dan resolusi temporal yaitu setiap 3-jam (Huffman et al., 2007). TRMM system didesain untuk menggabungkan perkiraan hujan dari berbagai satelit sehingga menghasilkan estimasi curah hujan yang sama baiknya dengan penakar hujan (Scheel et al., 2011). TRMM adalah satelit dengan cakupan spasial yang luas dan memungkinkan untuk mengestimasi curah hujan di daerah terpencil dan tidak dihuni manusia (Juaeni et al., 2010). Selain itu, TRMM memiliki tingkat akurasi yang tinggi dalam memetakan kejadian hujan ekstrim misalnya pada saat terjadinya ENSO di lautan pasifik (Juaeni et al., 2010). Universitas Sumatera Utara III. METODE PENELITIAN 3.1. Tempat dan waktu Penelitian ini dilaksanakan di propinsi Sumatera Utara yang terletak pada 1° - 4° LU dan 98° - 100° BT, yang pada tahun 2011 memiliki 25 Kabupaten dan 8 kota, dan terdiri dari 325 kecamatan, secara keseluruhan Provinsi Sumatera Utara mempunyai 5.456 desa dan kelurahan (Pemprovsu,2013). Gambar 3.1. Lokasi Penelitian Universitas Sumatera Utara Secara topografi, wilayah Propinsi Sumatera Utara bagian Timur terdiri dari dataran rendah (< 100 msl), bagian tengah Propinsi Sumatera terdiri dari wilayah pegunungan bukit barisan (100 – 2.835 msl), bagian Barat terdiri dari dataran rendah (< 100 msl). Luas daratan Propinsi Sumatera Utara 72.981,23 km2. Penelitian ini dilaksanakan mulai tanggal 10 Oktober 2013 hingga selesai. 3.2. Bahan dan Alat 3.2.1. Bahan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah data curah hujan dan suhu udara harian selama 3 tahun yaitu tahun 2010 hingga 2012 dari 4 stasiun BMKG yang ada di propinsi Sumatera Utara. Data curah hujan dari satelit TRMM dan data titik panas (hotspot) juga pada tahun yang sama. Adapun bahan-bahan yang digunakan tersebut adalah sebagai berikut: a. Data curah hujan harian dari alat penakar hujan (OBS) Data curah hujan harian diperoleh dari 4 alat penakar hujan yang dioperasikan Balai Besar BMKG Regional I Medan untuk period 1 Januari 2010 s.d. 31 Desember 2012. Pemilihan stasiun penakar hujan berdasarkan pada ketersediaan data secara kontinue dan lokasi. Propinsi Sumatera Utara dibagi menjadi 3 wilayah yaitu pantai Timur, pantai Barat dan pegunungan, pembagian wilayah ini sering digunakan oleh balai besar BMKG regional I karena kekurangan stasiun pengamatan cuaca yang ada di propinsi Sumatera Utara. Untuk lebih memahami karakteristik data TRMM Universitas Sumatera Utara terhadap kondisi lokal di tiap wilayah, maka dipilih beberapa stasiun yang terletak pada topografi yang berbeda-beda. Adapun stasiun yang datanya akan digunakan dalam penelitian ini adalah sbb : Tabel 3.1. Koordinat dari alat penakar hujan yang dipergunakan Wilayah Stasiun Utama Lat Long Elevasi (msl) Pantai Timur Polonia Tuntungan 3.57 98.68 3.50 98.56 28 79 Pegunungan Parapat 2.70 98.93 1337 Pantai Barat Gunung Sitoli 1.23 97.64 131 Sebelum data digunakan, maka dilakukan proses filtering untuk meningkatkan kualitas data. Salah satu masalah yang mungkin terjadi dalam data adalah adanya pencilan (Outliers). Metode yang akan dipergunakan dalam penelitian ini yaitu : Metode Grub’s test. Salah satu tehnik yang dapat digunakan dalam mendeteksi keberadaan data pencilan (outliers) yaitu Grubbs’ test. Grubbs' test juga disebut sebagai metode ESD (Extreme Studentized Deviate) (Barnett and Lewis, 1994). Secara prinsip Grub’s test dilakukan dengan berdasarkan analisa rasio Z. Apabila suatu data memiiki nilai Z yang besar maka data tersebut memiliki perbedaan yang besar dari yang lain. Nilai Z diperoleh dari perbandingan perbedaan antara outlier dan rata-rata data terhadap Standar Deviasi (SD) data (Barnett and Lewis, 1994). Satu hal yang menjadi perhatian dalam metode ini bahwa hasil dari perhitungan rata- Universitas Sumatera Utara rata dan standar deviasi melibatkan outlier termasuk dalam perhitungan rata-rata dan standar deviasi. .persamaan (1) dimana ; = Rata-rata curah hujan bulanan dalam bulan i dan tahun i. = Curah hujan bulanan dalam bulan i dan tahun i. SDi = Standar deviasi curah hujan dalam bulan i dan tahun i. Perhitungan standar deviasi dilakukan berdasarkan seluruh data sehingga keberadaan outlier akan meningkatkan perhitungan standar deviasi (SD) tapi karena numerator ( ) dan denominator (SD) juga meningkat maka harga Z tidak akan mencapai nilai sangat tinggi. Nilai Z tidak dapat lebih tinggi dari (N-1)/√N (N = jumlah data). Dalam penelitian ini. Dengan N=13, Z harus selalu kurang dari 1.46 dengan confidence level 90 % (GRAPHAD, 2005). b. Data curah hujan harian dari satelit TRMM (3B42RT) TRMM menyediakan data curah hujan global dengan resolusi spasial yaitu 0.250 × 0.250 (27 km) dengan resolusi temporal 3-jam (3B42RT)dan harian (3B43). Untuk penelitian ini, data yang dipergunakan adalah data dari satelit TRMM tipe 3B42RT yang menyediakan data curah hujan harian dari 1 Januari 2010 – 31 Desember 2012. Universitas Sumatera Utara Data tersebut merupakan hasil olahan dari data 3 jam-an (TRMM 3B42) dan telah divalidasi menggunakan data dari penakar hujan yang ada. Data TRMM 3B42RT yang disediakan masih berbentuk binary data. Oleh karena itu perlu dilakukan pengolahan data menggunakan GraDS sehingga data tersebut dapat dipergunakan. Data TRMM 3B42RT dapat diakses secara bebas dan didownload melalui : ftp://disc2.nascom.nasa.gov/data/TRMM/Gridded/Derived_Products/3B42RT/Daily/ Proses pengambilan data satelit TRMM dilakukan dengan menggunakan GrADS. GrADS. Data satelit TRMM yang tersedia yaitu dalam bentuk binary data dan harus di konversi ke dalam bentuk data numerik. Dengan menggunakan GrADS, kita dapat mengekstraksi data curah hujan harian berdasarkan titik koordinat maupun berdasarkan wilayah tertentu. Data yang diperoleh melalui pengolahan data satelit TRMM adalah data curah hujan harian untuk 13 (tiga belas) stasiun yang dipakai dalam periode 1 Januari 2010 s.d. 31 Desember 2012. Selanjutnya, semua data curah hujan harian TRMM yang diperoleh harus melalui proses filtering sama halnya pada data curah hujan OBS. c. Data Titik Panas (hotspot) Data titik panas dihasilkan oleh Indofire dari tanggal 1 Januari 2010 – 31 Desember 2012. Indofire adalah sebuah satelit real-time yang berfungsi untuk memonitoring kejadian kebakaran di wilayah Indonesia dan dapat diakses secara bebas melalui internet (Dawbina et al., 2011). Indofire bekerja the FireWatch Universitas Sumatera Utara MODIS berbasiskan titik panas (http://firewatch.landgate.wa.gov.au/) (Dawbina et al., 2011). Validasi data titik panas telah dilakukan di Kalimantan Tengah and menunjukan bahwa data titik panas tersebut memiliki korelasi yang tinggi terhadap kebakaran hutan (Vetrita et al., 2012). Partner dalam indofire yaitu Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) dan Menteri Kehutanan. Saat ini, receiver data untuk indofire juga telah resmi di pasang di BMKG sehingga data dengan mudah dapat diakses setiap hari. d. Data suhu maksimum harian Data suhu maksimum harian berguna sebagai masukan dalam perhitungan indeks kekeringan hari ini sebagai salah satu tahapan pada perhitungan KBDI. Suhu maksimum harian yang dipakai adalah suhu tertinggi yang tercatat dalam rentang waktu pukul 07.00 WIB s.d. 18.00 WIB dari tanggal 1 Januari 2010 – 31 Desember 2012. Data suhu diperoleh dari BMKG Wilayah I Medan, sedangkan untuk data yang daerah yang tidak ada pengukurannya maka digunakan data hasil estimasi. Secara umum sifat udara adalah setiap kita naik 100 meter maka suhu udara akan turun sebesar 0,6 deg celcius (anonimous, 2000). Apabila tidak terdapat data pengamatan suhu udara dapat dilakukan dengan melakukan pendugaan dari stasiun terdekat dengan memperhitungkan faktor ketinggian tempat dengan persamaan Mock (1973) : ∆ t = 0,006 X (Z1 – Z2) .persamaan (2) Universitas Sumatera Utara Dimana : ∆ t : Perbedaan suhu antara stasiun pengukuran dengan yang dianalisis. (oC) Z1 : Elevasi stasiun pengukuran suhu. (m) Z2 : Elevasi stasiun yang dianalisis. (m) 3.2.2. memiliki kelas kelerengan, jenis tanah dan batuan, serta penutupan lahan yang memiliki nilai paling dominan dibandingkan dengan kecamatan lainnya. Saran Metode dalam penelitian ini tidak menggunakan curah hujan sebagai parameter penentu tingkat bahaya longsor karena hanya dianggap sebagai faktor pemicu bahaya longsor. Dalam penelitian selanjutnya, curah hujan dapat dimasukkan ke dalam parameter penentu untuk mengetahui besarnya pengaruh curah hujan terhadap bahaya longsor. Universitas Sumatera Utara DAFTAR PUSTAKA Arsyad, S. 2006. Konservasi Tanah dan Air. IPB Press. Bogor. Budiono. 2003. Potensi Pengembangan Tanaman Pangan Berdasarkan Zona Agroekosistem: Kasus di Playen dan Wonosari, Yogyakarta. Buletin Teknik Pertanian 8:41-46. http://www.pustaka-deptan.go.id/publikasi/bt082031.pdf [10 Mei 2010] Budiyanto, E. 2002. Sistem Informasi Geografis Menggunakan Arc View GIS. Andi Yogyakarta. Yogyakarta. Darmawijaya, M. I. 1990. Klasifikasi Tanah. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Effendi, A. D. 2008. Identifikasi Kejadian Longsor dan Penentuan Faktor-Faktor Utama Penyebabnya di Kecamatan Babakan Madang Kabupaten Bogor. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor. http://iirc.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/11607/2/E08ade.pdf [30 Juli 2010] Haifani, A. M. 2008. Aplikasi Sistem Informasi Geografi untuk Mendukung Penerapan Sistem Manajemen Resiko Bencana di Indonesia. Prosiding. Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008. 17-18 November 2008. Universitas Lampung. V-163-176. http://lemlit.unila.ac.id/file/arsip%202009/SATEK%202008/VERSI%20PD F/bidang%205/5-19.pdf [18 Maret 2010] Hardiyatmo, H. C. 2006. Penanganan Tanah Longsor dan Erosi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Hardjono, I. 2008. Pemintakatan Bahaya Longsor Lahan di Kecamatan Manyaran Kabupaten Wonogiri Propinsi Jawa Tengah. Forum Geografi Vol. 22 No. 2 Desember 2008. Hal 113-128. Hardjowigeno, S. 2003. Ilmu Tanah. Akademika Pressindo. Jakarta. Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral. 2008. Pengenalan Gerakan Tanah. http://www.esdm.go.id/publikasi/lainlain/doc_download/489-pengenalangerakan-tanah.html Khadiyanto, P. 2008. Gerakan Tanah (Longsoran). Semarang. http://parfikh.blogspot.com/2008/12/gerakan-tanah-longsoran.html [19 Maret 2010] Universitas Sumatera Utara Kumajas, M. 2006. Inventarisasi dan Pemetaan Rawan Longsor Kota Manado - Sulawesi Utara. Forum Geografi 20: 190-197. http://eprints.ums.ac.id/254/1/7._MITHEL_KUMAJAS.pdf [12 Maret 2010] Marwanto, S., A. Dariah, D. Subardja, dan Y. Hadian. 2007. Indentifikasi Lahan Rawan Longsor dan Indeks Bahaya Erosi di Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat. Solok. http://balittanah.litbang.deptan.go.id/dokumentasi/prosiding2008pdf/setiari_ longsor.pdf [1 Agustus 2010] Munir, M. 1996. Geologi dan Mineralogi Tanah. Dunia Pustaka Jaya. Jakarta. Nugroho, J. A. 2010. Pemetaan Daerah Rawan Longsor dengan Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis (Studi Kasus Hutan Lindung Kabupaten Mojokerto). Institut Teknologi Sepuluh November. Surabaya. http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-10147-Paper.pdf [30 Juli 2010] Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor : P. 32/Menhut-II/2009 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Teknik Rehabilitasi Hutan dan Lahan Daerah Aliran Sungai (RTkRHL-DAS). Prahasta, E. 2005. Sistem Informasi Geografis. Edisi Revisi, Cetakan Kedua. C. V. Informatika. Bandung. Prijono, S. dan W. D. Nurrohmah. 2009. Analisis Penyebab Longsor di Kawasan Perbukitan Malang Selatan, Kecamatan Pagak. Agritek Vol. 17 No. 2 Maret 2009. Hal 402-414. Priyono, K. D., Y. Priyana, dan Priyono. 2006. Analisis Tingkat Bahaya Longsor Tanah di Kecamatan Banjarmangu Kabupaten Banjarnegara. Forum Geografi 20: 175-189. http://eprints.ums.ac.id/253/1/6._KUSWAJI_DWI_P.pdf [18 Maret 2010] Wahjono.2003. Evaluasi Geologi Teknik Atas kejadian Gerakan Tanah di Kompleks Perumahan Lereng Bukit Gombel-Semarang. Kasus Longsoran Gombel, 8 Februari 2002. Buletin Geologi Tata Lingkungan Vol. 13 No. 1 Mei 2003. Hal 32-43. Wahyunto, H. Sastramihardja, W. Supriatna, W. Wahdini, dan Sunaryo. 2003. Kerawanan Longsor Lahan Pertanian di Daerah Aliran Sungai Citarum, Jawa Barat. Prosiding Seminar Nasional Multifungsi dan Konversi Lahan Pertanian : 99-112. Badan Litbang Pertanian. Jakarta. Universitas Sumatera Utara LAMPIRAN Universitas Sumatera Utara Lampiran 1. Titik sampel bahaya longsor Kabupaten Karo Lampiran 1. Titik sampel bahaya longsor Kabupaten Karo 12 3 45 No. Titik Koodinat Kecamatan Kelas XY Bahaya Longsor 1 98,52639 3,24005 Berastagi R 2 98,54068 3,23301 Berastagi ST 3 98,52895 3,24005 Berastagi R 4 98,53578 3,22277 Berastagi ST 5 98,52703 3,20954 Berastagi S 6 98,52170 3,20933 Berastagi S 7 98,52426 3,20229 Berastagi R 8 98,51445 3,19845 Berastagi R 9 98,51082 3,16496 Berastagi SR 10 98,50719 3,15579 Berastagi SR 11 98,49143 3,17339 Simpang Empat T 12 98,48269 3,16464 Simpang Empat SR 13 98,47602 3,15672 Simpang Empat SR 14 98,46019 3,14256 Simpang Empat S 15 98,45227 3,15089 Simpang Empat T 16 98,45227 3,13756 Simpang Empat S 17 98,47727 3,19380 Simpang Empat ST 18 98,46477 3,20464 Simpang Empat ST 19 98,50898 3,13336 Kabanjahe SR 20 98,50498 3,11497 Kabanjahe S 21 98,48978 3,09710 Kabanjahe SR 22 98,49885 3,10403 Kabanjahe R 23 98,48525 3,09977 Kabanjahe R 24 98,47645 3,09443 Kabanjahe S 25 98,54205 3,22968 Tiga Panah ST 26 98,54301 3,22787 Tiga Panah T 27 98,54093 3,22605 Tiga Panah ST 28 98,54397 3,22120 Tiga Panah T 29 98,54471 3,21896 Tiga Panah R 30 98,54231 3,21389 Tiga Panah R 31 98,54109 3,21101 Tiga Panah S 32 98,53928 3,20845 Tiga Panah S 33 98,53128 3,15639 Tiga Panah SR 34 98,53325 3,15265 Tiga Panah SR 35 98,54496 2,98064 Merek T 36 98,53742 2,97157 Merek T 37 98,53055 2,90816 Merek S 38 98,53002 2,90603 Merek S Universitas Sumatera Utara 12 39 98,52015 40 98,52015 41 98,52207 42 98,52323 43 98,51698 44 98,51726 45 98,56717 46 98,56950 47 98,57658 48 98,57937 49 98,44395 50 98,42687 51 98,41031 52 98,41584 53 98,37997 54 98,37525 55 98,33615 56 98,35288 57 98,32303 58 98,31596 59 98,31079 60 98,31337 61 98,30872 62 98,29802 63 98,27628 64 98,27214 65 98,40942 66 98,39553 67 98,38215 68 98,37444 69 98,37074 70 98,36189 71 98,37278 72 98,37385 73 98,25689 74 98,25538 75 98,25138 76 98,25117 77 98,24717 78 98,24879 79 98,25127 80 98,25806 3 2,89161 2,88980 2,88852 2,88628 2,87267 2,87213 3,17142 3,16812 3,16421 3,16385 3,06548 3,06287 3,05506 3,04257 3,02914 3,02577 3,02622 3,02329 3,02934 3,02691 3,02517 3,02656 3,02482 3,02169 3,02306 3,02497 3,12733 3,12097 3,12440 3,12725 3,13127 3,13495 3,13377 3,13770 3,05123 3,05904 3,06586 3,06955 3,07302 3,07508 3,07746 3,08029 4 Merek Merek Merek Merek Merek Merek Barusjahe Barusjahe Barusjahe Barusjahe Munthe Munthe Munthe Munthe Munthe Munthe Juhar Juhar Juhar Juhar Juhar Juhar Juhar Juhar Juhar Juhar Payun g Payun g Payun g Payun g Payun g Payun g Payun g Payun g Tiga Binanga Tiga Binanga Tiga Binanga Tiga Binanga Tiga Binanga Tiga Binanga Tiga Binanga Tiga Binanga 5 R ST SR SR R R T T ST ST T S S T ST ST T T S ST R ST R S SR SR S S T T R R ST ST S S R R T T ST ST Universitas Sumatera Utara 12 81 98,29008 82 98,28750 83 98,28188 84 98,28004 85 98,21075 86 98,20881 87 98,13165 88 98,12644 89 98,06170 90 98,06202 91 98,07235 92 98,07123 93 98,06969 94 98,06860 95 98,13318 96 98,13289 97 98,12833 98 98,12636 99 98,13762 100 98,13549 101 98,06503 102 98,06362 103 98,06174 104 98,05963 105 98,04795 106 98,04673 Keterangan : SR : Sangat Rendah R : Rendah S : Sedang T : Tinggi ST : Sangat Tinggi Keterangan : SR : Sangat Rendah R : Rendah S : Sedang T : Tinggi ST : Sangat Tinggi 3 3,15397 3,15795 3,16830 3,16738 3,25994 3,26188 3,17329 3,16925 3,12477 3,12464 3,12433 3,12608 3,12965 3,13219 3,16281 3,16226 3,18841 3,18987 3,22441 3,22890 3,15001 3,15434 3,15979 3,16247 3,13757 3,13856 4 Kuta Buluh Kuta Buluh Kuta Buluh Kuta Buluh Kuta Buluh Kuta Buluh Laubaleng Laubaleng Laubaleng Laubaleng Laubaleng Laubaleng Laubaleng Laubaleng Laubaleng Laubaleng Mardingding Mardingding Mardingding Mardingding Mardingding Mardingding Mardingding Mardingding Mardingding Mardingding 5 T T ST ST S S S S T T S T S T ST ST S S ST ST S R T T SR SR Universitas Sumatera Utara Lampiran 2. Peta Jenis Batuan Kabupaten Karo Universitas Sumatera Utara Lampiran 3. Peta Jenis Tanah Kabupaten Karo Universitas Sumatera Utara Lampiran 4. Peta Jenis Tutupan Lahan Kabupaten Karo Universitas Sumatera Utara Lampiran 5. Peta Kelas Kelerengan Kabupaten Karo Universitas Sumatera Utara
Pemetaan Daerah Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan di Kabupaten Toba Samosir Provinsi Sumatera Utara.
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Pemetaan Daerah Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan di Kabupaten Toba Samosir Provinsi Sumatera Utara.

Gratis