Feedback

Keanekaragaman Fungi Mikoriza Arbuskula pada Tegakan Karet dan Tegakan Sawit di Ekosistem Lahan Gambut Desa Telaga Suka Kecamatan Panai Tengah Kabupaten Labuhan Batu

Informasi dokumen
KEANEKARAGAMAN FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA PADA TEGAKAN KARET DAN TEGAKAN SAWIT DI EKOSISTEM LAHAN GAMBUT Desa Telaga Suka Kecamatan Panai Tengah Kabupaten Labuhan Batu SKRIPSI Oleh: ANDRIANUS SIMON SIBARANI 071202025 PROGRAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2011 Universitas Sumatera Utara KEANEKARAGAMAN FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA PADA TEGAKAN KARET DAN TEGAKAN SAWIT DI EKOSISTEM LAHAN GAMBUT Desa Telaga Suka Kecamatan Panai Tengah Kabupaten Labuhan Batu SKRIPSI Oleh : ANDRIANUS SIMON SIBARANI 071202025/BUDIDAYA HUTAN Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Kehutanan di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara PROGRAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2011 Universitas Sumatera Utara LEMBAR PENGESAHAN Judul Penelitian : Keanekaragaman Fungi Mikoriza Arbuskula pada Tegakan Karet dan Tegakan Sawit di Ekosistem Lahan Gambut Desa Telaga Suka Kecamatan Panai Tengah Kabupaten Labuhan Batu Nama Mahasiswa : Andrianus Simon Sibarani NIM : 071202025 Program Studi : Budidaya Hutan Disetujui oleh : Komisi Pembimbing Dr. Deni Elfiati, SP, MP Ketua Dr. Delvian, SP, MP Anggota Mengetahui, Siti Latifah, S.Hut., M.Si., Ph.D Ketua Program Studi Kehutanan Universitas Sumatera Utara ABSTRACT ANDRIANUS SIMON SIBARANI: Diversity of Arbuscula Mycorrhiza Fungi in Rubber Stands and Oil Palm Stands in Peatland Ecosystems in Desa Telaga Suka, Kecamatan Panai Tengah, Kabupaten Labuhan Batu, supervisied by DENI ELFIATI and DELVIAN. Peatland rehabilitation can applied with mycorrhyza, if data and isolate of mycorrhyza in that peatland have been knowed. For that a study have been conducted to determine the diversity and density of spores of Arbuscula Mycorrhiza Fungi (AMF) in rubber stands and oil palm stands in peatland ecosystems in Desa Telaga Suka, Kecamatan Panai Tengah, Kabupaten Labuhan Batu. Observations and analysis performed in Laboratorium Biologi Tanah, Fakultas Pertanian while trapping of AMF conducted in Rumah Kaca, Fakultas Pertanian. The observations parameters used were spore density, degree of root colonization, and the identification of spores type. Results showed that the average density of AMF spore isolation results from the field, in rubber stands 25/10 gr of soils, and in oil palm stands 37/10 gr of soils. The average density of AMF spores trapping method results in rubber stands 161/10 gr of soils and in oil palm stands 242/10 gr of soils. FMA type contained in the study site is the type of Glomus spp. and Acaulospora spp. The average colonization of roots in both stands is low. Key words: AMF, Peatland, Spore,Oil Palm, Rubber i Universitas Sumatera Utara ABSTRAK ANDRIANUS SIMON SIBARANI: Keanekaragaman Fungi Mikoriza Arbuskula pada Tegakan Karet dan Tegakan Sawit di Ekosistem Lahan Gambut Desa Telaga Suka, Kecamatan Panai Tengah, Kabupaten Labuhan Batu, dibimbing oleh DENI ELFIATI dan DELVIAN. Rehabilitasi lahan gambut dapat diterapkan dengan aplikasi mikoriza, apabila telah didapat data isolat mikoriza pada lahan tersebut. Untuk itu suatu penelitian telah dilakukan untuk mengetahui keanekaragaman dan kepadatan spora Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) pada tegakan karet dan tegakan sawit di ekosistem lahan gambut Desa Telaga Suka, Kecamatan Panai Tengah, Kabupaten Labuhan Batu. Pengamatan dan analisis dilakukan di Laboratorium Biologi Tanah Fakultas Pertanian, sedangkan pemerangkapan dilakukan di Rumah Kaca Fakultas Pertanian. Parameter pengamatan yang digunakan adalah kepadatan spora, derajat kolonisasi akar, dan identifikasi tipe spora. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kepadatan spora FMA hasil isolasi dari lapangan pada tegakan karet 25/10 gr tanah, dan pada tegakan sawit sebesar 37/10 gr tanah. Hasil pemerangkapan mengalami peningkatan hingga 600%, dimana pada tegakan karet 161/10 gr tanah, dan pada tegakan sawit sebesar 242/10 gr tanah. Tipe FMA yang didapat adalah tipe Glomus spp. dan tipe Acaulospora spp. Rata-rata kolonisasi akar tergolong rendah. Kata kunci : FMA, Gambut, Spora. Sawit, Karet ii Universitas Sumatera Utara RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Balam pada tanggal 19 Juni1989, dari pasangan Bistok Sibarani dan Tiaman Sitorus. Penulis merupakan anak kedua dari lima bersaudara. Penulis menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar (SD) di SD Negeri 175806 Sibarani Nasampulu, Laguboti pada tahun 2001 dan melanjutkan pendidikan di SMP Negri 1 Laguboti hingga lulus pada tahun 2004. Kemudian melanjutkan pendidikan di SMK Negri 1 Balige dan lulus pada tahun 2007. Tahun 2007, penulis diterima di Fakultas Pertanian , Universitas Sumatera Utara, melalui jalur ujian tertulis Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru. Penulis memilih minat Budidaya Hutan, Program Studi Kehutanan. Dalam menyelesaikan kegiatan akademik, pada tahun 2009 mengikuti kegiatan Praktik Pengenalan dan Pengelolaan Hutan (P3H) di hutan dataran rendah Aras Napal dan hutan mangrove Pulau Sembilan, Kabupaten Langkat. Tahun ajaran 2008/2009 penulis menjadi asisten mata kuliah Silvikultur . Tahun Ajaran 2010/2011 penulis menjadi asisten lapangan Praktik Pengenalan Ekosistem Hutan (PEH) di hutan dataran tinggi Gunung Sinabung dan Deleng Lancuk, Kabupaten Karo dan asisten mata kuliah Hidrologi Hutan. Penulis melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di PT. Austral Byna-DPH, Camp Sikuy KM.27-Muara Teweh dari tanggal 20 Januari sampai dengan 20 Februari 2011. iii Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan kasih-Nya kepada penulis, seingga dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Keanekaragaman Fungi Mikoriza Arbuskula pada Tegakan Karet dan Tegakan Sawit di Ekosistem Lahan Gambut Desa Telaga Suka, Kecamatan Panai Tengah, Kabupaten Labuhan Batu”. Pada kesempatan ini penulis menghaturkan pernyataan terima kasih sebesar-besarnya kepada orang tua penulis yang telah memberikan dukungan kasih sayang, membesarkan, memelihara, dan mendidik penulis selama ini. Penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada Dr. Deni Elfiati, SP., MP. selaku ketua komisi pembimbing dan Dr. Delvian, SP, MP. selaku anggota komisi pembimbing yang telah membimbing penuh dan mengarahkan penulis dalam pelaksanaan penelitian hingga penyusunan skripsi ini. Kepada Gaja Sibarani beserta keluarga, penulis mengucapkan terima kasih atas dukungannya terhadap studi penulis. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua staf pengajar dan pegawai di Program Studi Kehutanan. Kepada Musa Hutapea, Ronald P. Marpaung, Fehni Al asy’ari Harahap, dan Juneith O.S. Nadeak yang telah membantu dalam pelaksanaan penelitian, serta semua rekan mahasiswa yang tak dapat disebutkan satu per satu di sini yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat. iv Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI ABSTRACT . ABSTRAK . RIWAYAT HIDUP . KATA PENGANTAR . DAFTAR TABEL . DAFTAR GAMBAR . DAFTAR LAMPIRAN. PENDAHULUAN Latar Belakang . Tujuan Penelitian . Kegunaan Penelitian . TINJAUAN PUSTAKA Kondisi Lahan Gambut . Tanah Gambut dan Permasalahannya . Mikoriza . Klasifikasi Fungi Mikoriza Arbuskula. Struktur Umum Fungi Mikoriza Arbuskula . Distribusi dan Ekologi Fungi Mikoriza Arbuskula. Hasil Penelitian Keanekaragaman FMA pada Lahan Gambut. BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat . Bahan dan Alat . Metode Penelitian . 1. Pembuatan Petak . 2. Pengambilan Contoh Tanah . 3. Pengambilan Sampel Akar. 4. Ekstraksi dan Identifikasi Spora Fungi Mikoriza Arbuskula. 5. Kolonisasi FMA pada Akar Tanaman Sampel. 6. Pemerangkapan (Trapping Culture). 7. Pengamatan . HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Fisik dan Kimia Tanah. Kepadatan Spora Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) . Persentase Kolonisasi Akar . Tipe dan Karakteristik Spora FMA Hasil Pengamatan. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan. Saran. DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN i ii iii v vi vii viii 1 3 3 4 5 6 7 9 11 11 14 14 15 15 15 15 16 17 18 18 19 20 24 27 28 28 v Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL No. 1. 2. 3. 4. Perkiraan luas lahan gambut di Indonesia menurut beberapa sumber. Hasil analisis tanah lokasi penelitian. Tipe spora FMA dan karakteristik. Tipe-tipe spora dengan tegakan yang ada Hal. 1 19 28 39 vi Universitas Sumatera Utara DAFTAR GAMBAR No. Hal. 1. Phylogeny perkembangan dan taksonomi ordo Glomales 8 2 Ilustrasi petak contoh pengambilan sampel tanah . 15 3. Jumlah spora FMA hasil pengamatan lapangan 21 4. Perbandingan jumlah spora FMA hasil isolasi dari lapangan dan hasil pemerangkapan . 23 5. Persentase kolonisasi akar oleh FMA 24 6. Akar anakan sampel pada tegakan karet yang terinfeksi oleh hifa FMA . 26 7. Akar anakan pada tegakan sawityang terinfeksi oleh hifa FMA . 26 8. Akar anakan sampel yang tidak terinfeksi oleh hifa FMA 27 vii Universitas Sumatera Utara DAFTAR LAMPIRAN 1. 2. 3. Kriteria Persentase Kolonisasi Akar menurut Setiadi et al.(1992) Hasil Analisis Tanah Lokasi Penelitian Kriteria Penilaian Sifat Kimia Tanah Staf Pusat Penelitian TanahBogor (1983) dan BPP-Medan (1982). viii Universitas Sumatera Utara ABSTRACT ANDRIANUS SIMON SIBARANI: Diversity of Arbuscula Mycorrhiza Fungi in Rubber Stands and Oil Palm Stands in Peatland Ecosystems in Desa Telaga Suka, Kecamatan Panai Tengah, Kabupaten Labuhan Batu, supervisied by DENI ELFIATI and DELVIAN. Peatland rehabilitation can applied with mycorrhyza, if data and isolate of mycorrhyza in that peatland have been knowed. For that a study have been conducted to determine the diversity and density of spores of Arbuscula Mycorrhiza Fungi (AMF) in rubber stands and oil palm stands in peatland ecosystems in Desa Telaga Suka, Kecamatan Panai Tengah, Kabupaten Labuhan Batu. Observations and analysis performed in Laboratorium Biologi Tanah, Fakultas Pertanian while trapping of AMF conducted in Rumah Kaca, Fakultas Pertanian. The observations parameters used were spore density, degree of root colonization, and the identification of spores type. Results showed that the average density of AMF spore isolation results from the field, in rubber stands 25/10 gr of soils, and in oil palm stands 37/10 gr of soils. The average density of AMF spores trapping method results in rubber stands 161/10 gr of soils and in oil palm stands 242/10 gr of soils. FMA type contained in the study site is the type of Glomus spp. and Acaulospora spp. The average colonization of roots in both stands is low. Key words: AMF, Peatland, Spore,Oil Palm, Rubber i Universitas Sumatera Utara ABSTRAK ANDRIANUS SIMON SIBARANI: Keanekaragaman Fungi Mikoriza Arbuskula pada Tegakan Karet dan Tegakan Sawit di Ekosistem Lahan Gambut Desa Telaga Suka, Kecamatan Panai Tengah, Kabupaten Labuhan Batu, dibimbing oleh DENI ELFIATI dan DELVIAN. Rehabilitasi lahan gambut dapat diterapkan dengan aplikasi mikoriza, apabila telah didapat data isolat mikoriza pada lahan tersebut. Untuk itu suatu penelitian telah dilakukan untuk mengetahui keanekaragaman dan kepadatan spora Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) pada tegakan karet dan tegakan sawit di ekosistem lahan gambut Desa Telaga Suka, Kecamatan Panai Tengah, Kabupaten Labuhan Batu. Pengamatan dan analisis dilakukan di Laboratorium Biologi Tanah Fakultas Pertanian, sedangkan pemerangkapan dilakukan di Rumah Kaca Fakultas Pertanian. Parameter pengamatan yang digunakan adalah kepadatan spora, derajat kolonisasi akar, dan identifikasi tipe spora. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kepadatan spora FMA hasil isolasi dari lapangan pada tegakan karet 25/10 gr tanah, dan pada tegakan sawit sebesar 37/10 gr tanah. Hasil pemerangkapan mengalami peningkatan hingga 600%, dimana pada tegakan karet 161/10 gr tanah, dan pada tegakan sawit sebesar 242/10 gr tanah. Tipe FMA yang didapat adalah tipe Glomus spp. dan tipe Acaulospora spp. Rata-rata kolonisasi akar tergolong rendah. Kata kunci : FMA, Gambut, Spora. Sawit, Karet ii Universitas Sumatera Utara PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia memiliki lahan gambut tropika terluas di dunia. Noor dan Heyde (2007), menyatakan luas lahan gambut Indonesia adalah 20,6 juta hektar. Luas tersebut berarti sekitar 50% dari luas seluruh lahan gambut tropika (40 juta hektar) atau sekitar 10,8% dari luas daratan Indonesia. Jika dilihat penyebarannya, lahan gambut sebagian besar terdapat di Sumatra (sekitar 35%), Kalimantan (sekitar 30%), Papua (sekitar 30%) dan Sulawesi (sekitar 3%) seperti pada Tabel 1. Tabel 1. Perkiraan luas lahan gambut di Indonesia menurut beberapa sumber. Penulis/Sumber Driessen (1978) Puslittanak (1981) Euroconsult (1984) Soekardi dan Hidayat (1988) Deptrans (1988) Subagyo et al. (1990) Deptrans (1990) Nugroho et al. (1992) Radjagukguk (1993) Dwiyono dan Rachman (1996) Penyebaran Gambut (Juta ha.) Sumatra Kalimantan Papua Lainnya 9,7 6,3 0,1 8,9 6,5 10,9 0,2 6,84 4,93 5,46 4,5 9,3 4,6 < 0,1 8,2 6,8 4,6 0,4 6,4 5,4 3,1 6,9 6,4 4,2 0,3 4,8 6,1 2,5 0,1 8,25 6,79 4,62 0,4 7,16 4,34 8,40 0,1 Total 16,1 26,5 17,2 18,4 20,1 14,9 17,8 13,5* 20,1 20,0 *Tidak termasuk gambut yang berasosiasi dengan lahan salin dan lahan lebak (2,46 juta ha). Sumber: Noor dan Heyde (2007). Hutan rawa gambut tropis sedang mengalami tekanan berat dari kegiatan pengembangan pertanian/silvikultur dan penebangan. Kecenderungan penutupan lahan di Asia Tenggara dikembangkan dari perubahan antara tahun 1985 dan tahun 2000. Selama periode ini, lahan gambut mengalami laju deforestasi rata-rata sebesar 1,3% per tahun, nilai tertinggi ditemukan di Kalimantan Timur (2,8%/tahun), terendah di Papua (0,5%/tahun) (Hooijer et al., 2006). 1 Universitas Sumatera Utara 2 Pada saat ini introduksi mikoriza merupakan teknologi yang tidak bisa ditawar lagi untuk meningkatkan keberhasilan rehabilitasi hutan dan lahan terdegradasi di Indonesia (Santoso et al., 2007). Kendala utama yang dihadapi dalam kegiatan rehabilitasi lahan gambut adalah sifat unik gambut dapat dilihat dari sifat kimia dan fisiknya. Lahan gambut memiliki sifat yang spesifik antara satu dengan yang lainnya. Menurut Najiyati et al. (2005), sifat kimia gambut yang lebih merujuk pada kondisi kesuburannya yang bervariasi, tetapi secara umum memiliki kesuburan rendah. Hal ini ditandai dengan tanah yang masam (pH rendah), ketersediaan sejumlah unsur hara makro (K, Ca, Mg, P) dan mikro (Cu, Zn, Mn, dan Bo) rendah, mengandung asam-asam organik beracun, serta memiliki Kapasitas Tukar Kation (KTK) yang tinggi tetapi Kejenuhan Basa (KB) rendah. Sifat fisik gambut yang perlu dipahami antara lain menyangkut kematangan, warna, berat jenis, porositas, kering tak balik, subsidensi, dan mudah terbakar. Fungi mikoriza arbuskula (FMA) mempunyai pengaruh positif terhadap pertumbuhan dan proses fisiologi pada tanaman. Rosliani et al. (2006), menyatakan pengaruh menguntungkan dari fungi mikoriza arbuskula terhadap pertumbuhan tanaman sering dihubungkan dengan peningkatan serapan hara yang tidak tersedia terutama fosfor (P). Mikoriza tidak hanya berkembang pada tanah berdrainase baik, tapi juga pada lahan tergenang. Bahkan pada lingkungan yang sangat miskin atau lingkungan yang tercemar limbah berbahaya, fungi mikoriza masih memperlihatkan eksistensinya. Salah satu bentuk lingkungan yang mencerminkan keadaan demikian dapat ditemui pada tipe tanah Histosol atau yang lebih umum disebut tanah gambut (Hanafiah, 2004). Universitas Sumatera Utara 3 Rehabilitasi lahan gambut dengan aplikasi mikoriza dapat diterapkan, apabila telah didapat isolat mikoriza yang dengan terbentuknya daerah bening (holozone) yang mengelilingi koloni jamur. Koloni tersebut kemudian dimurnikan pada media baru dan dipindahkan ke tabung reaksi yang berisi media Pikovskaya, disimpan pada suhu 28°C untuk pengujian selanjutnya. Universitas Sumatera Utara 4. Uji potensi pada media padat Jamur pelarut fosfat yang murni selanjutnya diuji kemampuannya melarutkan fosfat dalam cawan petri berisi media Pikovskaya padat steril. Bahan yang digunakan dalam pembuatan media uji ini sama dengan bahan media Pikovskaya pada tahap isolasi, namun Ca3(PO4)2 g/L pada media isolasi diganti dengan AlPO4 dengan dosis 5 g/L media. Media uji dimasukkan dalam cawan petri dan dibiarkan mengeras. Selanjutnya biakan murni ditumbuhkan pada media uji. Tiap biakan murni diberi 3 ulangan untuk mendapatkan rataan hasil yang valid. Inkubasi dilaksanakan selama 7 hari. Jamur pelarut fosfat yang membentuk holozone paling cepat dengan diameter paling besar secara kualitatif di sekitar koloni menunjukkan besar kecilnya potensi jamur pelarut fosfat dalam melarutkan unsur P dari bentuk yang tidak terlarut. Dihitung potensi jamur dengan menggunakan nilai indeks pelarutan yaitu nisbah antara diameter zona jernih terhadap diameter koloni (Premono, 1998). 5. Uji potensi pada media cair Sebanyak 50 ml media Pikovskaya cair (sumber P AlPO4) ditempatkan dalam Erlenmeyer 250 ml yang disterilkan dalam autoklaf pada suhu 121˚C dengan tekanan 1,5 atm. Sebanyak 1 jarum ose spora jamur pelarut fosfat diinokulasikan pada media cair tersebut. Tiap biakan murni diberi 3 ulangan untuk mendapatkan rataan hasil yang valid. Inkubasi secara diam dilakukan selama 7 hari pada suhu kamar. Setelah proses inokulasi selesai, kultur disentrifugasi dengan kecepatan 7000 rpm selama 10 menit sampai terjadi pemisahan filtrat jernih dengan filtrat keruh yang berisi hifa JPF. Diambil filtrat jernih menggunakan pipet dan dijaga agar filtrat keruh tidak terikut. Filtrat jernih Universitas Sumatera Utara ditentukan kadar P-tersedianya dengan metode kolorimetri dan dihitung dengan Bray-II. Hal serupa dilakukan juga pada kontrol yaitu media tanpa inokulum dan dibandingkan hasil yang diperoleh. Jamur yang paling besar meningkatkan P terlarut secara kuantitatif pada media (dibandingkan dengan hasil kontrol) merupakan jamur yang efektif dan potensial. Setelah itu pH medium diukur dengan pH meter untuk mengetahui pengaruh pelarutan fosfat oleh jamur terhadap pH media. 6. Identifikasi jamur pelarut fosfat yang potensial melarutkan fosfat Setelah diperoleh jamur pelarut fosfat paling potensial selanjutnya dilakukan indentifikasi pada jamur tersebut. Biakan murni jamur diremajakan pada media potato dextrose agar (PDA) dan diinkubasi selama 3 hari. Jamur yang telah tumbuh pada media, diamati ciri-ciri makroskpisnya, yaitu ciri koloni seperti sifat tumbuh hifa, warna koloni dan diameter koloni. Jamur juga ditumbuhkan pada kaca objek yang diberi potongan PDA yang dioles tipis dengan spora JPF potensial. Potongan agar kemudian ditutup dengan kaca objek. Biakan pada kaca objek ditempatkan dalam cawan petri yang telah diberi pelembab berupa kapas basah. Biakan pada kaca diinkubasi selama 3 hari pada kondisi ruangan. Setelah masa inkubasi, jamur yang tumbuh pada kaca preparat diamati ciri mikroskopisnya yaitu ciri hifa, tipe percabangan hifa, serta ciri-ciri konidia dibawah mikroskop. Ciri yang ditemukan dari masing-masing jamur kemudian dideskripsikan dan dicocokkan dengan buku indentifikasi jamur (Gilman, 1971). Universitas Sumatera Utara HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Sifat Kimia Sampel Tanah Gambut Keberadaan mikroba di dalam tanah terutama dipengaruhi oleh sifat kimia tanah. Hasil analisis sifat kimia sampel tanah dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Hasil analisis sifat kimia sampel tanah gambut Parameter Satuan Nilai Kriteria pH (H2O) - 3,51 Sangat masam C-organik % 31,02 Sangat tinggi ppm 57,81 Sangat tinggi mg/100g 51,89 Tinggi P-tersedia (Bray II) P-total Sumber kriteria: Staf Pusat Penelitian Tanah-Bogor dan BPP-Medan (Lampiran 2) Hasil analisis menunjukkan pH tanah termasuk dalam kriteria sangat masam. Menurut Barchia (2006) tingginya kemasaman tanah gambut disebabkan tingginya asam fenolat dan asam-asam organik lain hasil dekomposisi bahan organik yang banyak mengandung lignin. Tapak pertukaran tanah gambut didominasi ion hidrogen yang merupakan kation yang berperan dalam pertukaran kation (KTK). Kation gambut akan mengikat basa-basa yang umumnya adalah hara yang dibutuhkan tanaman. Jumlah ion H+ yang tinggi menyebabkan hara terikat semakin tinggi serta diikuti pula dengan penurunan pH. Penurunan pH akan diikuti kejenuhan basa yang rendah. Hal ini juga berarti ketersediaan hara yang semakin kecil. Ketersedian fosfat dalam tanah sangat dipengaruhi oleh pH karena P sangat rentan diikat pada kondisi masam maupun alkalin. Ketersediaan fosfat akan menurun pada pH 7,0. Pada kondisi masam aktivitas besi dan aluminium yang tinggi menjadi unsur pengikat P yang utama. Pada kondisi alkalin 16 Universitas Sumatera Utara aktivitas fiksasi atau jerapan dilakukan oleh kalsium dan magnesium yang banyak tersedia dan larut. Menurut Poerwowidodo (2000), umumnya ketersediaan fosfat dalam tanah maksimum dijumpai pada kisaran pH 5,5–7,0. Hasil pengukuran C-organik sampel tanah gambut adalah 31,02 %. Nilai tersebut menggambarkan pada lahan gambut memiliki simpanan karbon yang sangat tinggi. Kadar C-organik dapat memberi gambaran kandungan bahan organik dalam tanah. Bila nilai C-organik dikonversikan akan diperoleh kadar bahan organik sebesar 53,35. Bahan organik sebagai sumber hara makro dan mikro tanaman juga menjadi sumber nutrisi bagi kehidupan mikroba tanah yang akan mempengaruhi populasi dan aktivitasnya. Selain sebagai sumber nutrisi, bahan organik berperan dalam menentukan nilai kapasitas tukar kation (KTK). Kapasitas tukar kation tanah berhubungan dengan basa-basanya yang merupakan hasil dekomposisi bahan organik. Hal ini dikarenakan bahan organik yang terdekomposisi menghasilkan CO2 serta asam-asam organik yang akan melepaskan ion H+ yang mempengaruhi pH tanah. Nilai pH menunjukkan banyaknya konsentrasi ion hidrogen (H+) di dalam tanah. Semakin banyak H+ yang dilepaskan maka pH tanah akan semakin masam. Penurunan pH ini akan diikuti peningkatan nilai KTK tanah. Kandungan bahan organik berhubungan dengan keadaan P-total serta hubungan antara bahan organik dengan pH tanah. Bahan organik mengandung berbagai hara, termasuk fosfat yang akan terlepas selama dekomposisi baik dalam bentuk P-terikat ataupun P-tersedia. Besarnya bahan organik yang terdekomposisi dipengaruhi pH tanah karena besarnya pH mempengaruhi jumlah mikroba Universitas Sumatera Utara pendekomposer. Jika pH mendukung, jumlah dan aktivitas dekomposer akan meningkat sehingga semakin besar hara yang dilepaskan dalam tanah. Mikroba tanah mampu menghasilkan enzim ekstraseluler yaitu kelompok enzim fosfatase dan fitase yang berperan dalam mekanisme pelarutan P-organik menjadi P-anorganik secara biologis. Hal ini didukung oleh hasil penelitian Rao (1994) yang menunjukkan bahwa mikroba pelarut fosfat mampu meningkatkan ketersediaan unsur P melalui aktivitas enzim. Enzim ini diproduksi selama proses dekomposisi bahan organik berlangsung. Dengan kata lain enzim fosfatase yang dihasilkan berbanding lurus dengan besar bahan organik yang didekomposisi. Aktivitas fosfatase dalam tanah meningkat dengan meningkatnya C-organik, temperatur dan kelembaban. Selain faktor diatas, kemasaman atau pH turut mempengaruhi aktivitas fosfatase. Hasil penelitian Fitriatin et al., (2008) menunjukkan bahwa pH media mempengaruhi aktivitas fosfatase. Jamur lebih dominan aktivitas fosfatasenya pada pH masam karena merupakan habitat yang baik untuk pertumbuhannya yang optimum. Pada kebanyakan tanah, P-organik berkorelasi dengan C-organik tanah sehingga mineralisasi P meningkat dengan meningkatnya total C-organik. Semakin tinggi C-organik dan semakin rendah P-organik menggambarkan semakin meningkatnya imobilisasi P. Fosfat anorganik dapat diimobilisasi menjadi P-organik oleh mikroba pelarut fosfat. Berdasarkan penelitian Lestari dan Saraswati (1997), jamur pelarut fosfat dapat meningkatkan konsentrasi P-telarut sebesar 27-47 % di tanah masam. Jamur pelarut fosfat juga lebih mampu melarutkan ikatan P dalam bentuk AlPO4 pada tanah masam bila dibandingkan dengan bakteri maupun aktinomisetes. Hal ini Universitas Sumatera Utara dikarenakan pertumbuhan optimum jamur berada pada kondisi masam. Sebaliknya, kondisi masam kurang sesuai bagi pertumbuhan kelompok bakteri dan aktinomisetes. Pertumbuhan kelompok bakteri optimum pada pH netral dan meningkat seiring dengan meningkatnya pH. Isolasi Jamur Pelarut Fosfat dari Bahan Tanah Gambut Biakan campuran yang tumbuh di media isolasi diamati dan dihitung jumlah mikroba yang mampu membentuk holozone. Populasi mikroba pelarut fosfat yang diperoleh tergolong tinggi yaitu Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara
Keanekaragaman Fungi Mikoriza Arbuskula pada Tegakan Karet dan Tegakan Sawit di Ekosistem Lahan Gambut Desa Telaga Suka Kecamatan Panai Tengah Kabupaten Labuhan Batu Kolonisasi FMA pada Akar Tanaman Sampel Pemerangkapan Trapping Culture Pengamatan Pengambilan Sampel Tanah Pengambilan Sampel Akar Ekstraksi dan Identifikasi Spora FMA
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Keanekaragaman Fungi Mikoriza Arbuskula pada Tegakan Karet dan Tegakan Sawit di Ekosistem Lahan Gambut Desa Telaga Suka Kecamatan Panai Tengah Kabupaten Labuhan Batu

Gratis