Feedback

Hubungan antara sudut interinsisal dengan profil jaringan lunak wajah pada pasien yang dirawat di klinik spesialis ortodonti RSGMP FKG USU

Informasi dokumen
HUBUNGAN ANTARA SUDUT INTERINSISAL DENGAN PROFIL JARINGAN LUNAK WAJAH PADA PASIEN YANG DIRAWAT DI KLINIK SPESIALIS ORTODONTI RSGMP FKG USU SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat guna memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi Oleh : SITI NURBAYATI NIM : 070600097 FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara Fakultas Kedokteran Gigi Departemen Ortodonsia Tahun 2011 Siti Nurbayati Hubungan antara sudut interinsisal dengan profil jaringan lunak wajah pada pasien yang dirawat di klinik spesialis ortodonti RSGMP FKG USU ix + 31 halaman Semakin berkembangnya ilmu ortodonti, maka semakin banyak orang yang ingin memperbaiki posisi gigi mereka yang tidak teratur. Saat ini perawatan ortodonti tidak hanya ditujukan untuk perbaikan gigi dan rahang saja tetapi juga jaringan lunak wajah. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan diagnosis serta rencana perawatan yang tepat. Salah satu alat bantu untuk menegakkan diagnosis adalah foto sefalometri. Dalam perawatan ortodonti kasus-kasus maloklusi yang sering menjadi keluhan utama pasien adalah kasus gigi anterior berjejal dan kasus gigi protrusif. Kasus-kasus ini berhubungan langsung dengan aspek estetika yang sangat berpengaruh terhadap penampilan wajah pasien. Burstone menyatakan penampilan wajah seseorang di daerah sepertiga bagian bawah sangat ditentukan oleh posisi bibir sedangkan posisi bibir sangat ditentukan oleh inklinasi gigi anterior. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat adanya hubungan antara sudut interinsisal dengan profil jaringan lunak wajah pada pasien yang dirawat di klinik spesialis ortodonti RSGMP FKG USU. Universitas Sumatera Utara Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional dengan pengambilan data crossectional. Penelitian ini menggunakan 30 foto sefalometri lateral yang diperoleh dari pasien yang dirawat di klinik spesialis ortodonti RSGMP FKG USU yang telah diseleksi terlebih dahulu. Alat penelitian yang digunakan adalah tracing box, pensil 4H, penggaris, busur derajat dan penghapus. Bahan yang digunakan adalah sefalogram lateral (8x10 inci), kertas asetat (8x10 inci; tebal 0,003) dan lem perekat. Berdasarkan hasil penelitian dapat diperoleh kesimpulan bahwa adanya korelasi negatif antara sudut interinsisal dengan profil jaringan lunak wajah. Artinya semakin besarnya sudut interinsisal, maka semakin kecil jarak bibir atas (Ls) dan bibir bawah (Li) terhadap garis estetik. Daftar rujukan : 29 (1967-2011) Universitas Sumatera Utara HUBUNGAN ANTARA SUDUT INTERINSISAL DENGAN PROFIL JARINGAN LUNAK WAJAH PADA PASIEN YANG DIRAWAT DI KLINIK SPESIALIS ORTODONTI RSGMP FKG USU SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat guna memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi Oleh : SITI NURBAYATI NIM : 070600097 FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara PERNYATAAN PERSETUJUAN Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan tim penguji skripsi Medan, 28 Juli 2011 Pembimbing : 1. Mimi Marina Lubis.,drg Tanda Tangan NIP. 19790414200501 2001 Universitas Sumatera Utara TIM PENGUJI SKRIPSI Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan tim penguji pada tanggal 28 Juli 2011 TIM PENGUJI KETUA : Mimi Marina Lubis, drg ANGGOTA : 1. Erna Sulistyawati, drg., Sp.Ort (K) 2. Erliera, drg., Sp.Ort Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah Yang Maha Kuasa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi. Dalam penulisan skripsi ini, penulis telah banyak mendapat bimbingan, bantuan, dukungan serta doa dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dengan kerendahan hati serta penghargaan yang tulus penulis mengucapkan rasa terima kasih kepada : 1. Prof. Nazruddin, drg., C.Ort., Ph.D., Sp.Ort selaku Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara dan selaku dosen pembimbing akademis yang telah membimbing, memotivasi dan memberikan semangat kepada penulis selama masa pendidikan akademik. 2. Erna Sulistyawati, drg., Sp.Ort (K) selaku Ketua Departemen Ortodonsia dan penguji skripsi atas waktu dan bantuan yang telah diberikan kepada penulis. 3. Mimi Marina Lubis, drg selaku dosen pembimbing skripsi yang telah banyak meluangkan waktu, tenaga dan pikirannya dalam memberikan bimbingan, masukan dan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 4. Erliera, drg., Sp.Ort selaku dosen penguji skripsi yang telah menyediakan waktu dan memberikan masukan kepada penulis. 5. Seluruh staf pengajar FKG USU terutama staf dan pegawai di departemen Ortodonsia FKG USU atas bantuan yang diberikan kepada penulis. 6. Drs. Abdul Jalil selaku Pembantu Dekan III Fakultas Kesehatan Masyarakat atas bimbingan dan arahan yang diberikan kepada penulis. Universitas Sumatera Utara 7. Rasa terima kasih yang tidak terhingga penulis sampaikan kepada Ayahanda H. Hasan Basri dan Ibunda Hj. Siti Aisyah yang selalu memberikan dorongan, semangat dan doa kepada penulis. 8. Saudara penulis Hj. Nursehan, SE. (kakak), H. Misroni, SH. (abang), H. M. As’ad (abang), Fahrul Rozi, SE. (abang), H. Ahmad Mardoni (abang) yang selalu memberikan semangat dan doa kepada penulis. 9. Selanjutnya terima kasih juga penulis sampaikan kepada Frisca, Fitri, Nunu, Ayu, Putri, Dona dan teman-teman angkatan 2007 lainnya atas bantuan dan kebersamaan di FKG USU. Akhir kata, penulis mengharapkan semoga skripsi ini dapat memberikan bimbingan pikiran yang berguna bagi fakultas, pengembangan ilmu pengetahuan terutama dalam bidang Ortodonti. Medan, 28 Juli 2011 Penulis ( Siti Nurbayati ) 070600097 Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL. HALAMAN PERSETUJUAN . HALAMAN TIM PENGUJI SKIPSI . KATA PENGANTAR . iv DAFTAR ISI . vi DAFTAR TABEL . viii DAFTAR GAMBAR . ix DAFTAR LAMPIRAN . x BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang . 1.2 Rumusan Masalah . . 1.3 Tujuan Penelitian 1.4 Hipotesis Penelitian 1.5 Manfaat Penelitian. 1 3 4 4 4 BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sudut Interinsisal. 2.2 Radiografi Sefalometri . 2.3 Analisa Jaringan Lunak Wajah . 2.3.1 Analisa Menurut Holdaway . 2.3.2 Analisa Menurut Steiner. 2.3.3 Analisa Menurut Subtelny . 2.3.4 Analisa Menurut Ricketts. 5 7 8 10 11 12 13 BAB 3. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian . 3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian. 3.3 Variabel Penelitian . 3.4 Populasi Penelitian . 3.5 Sampel Penelitian . 14 14 14 15 15 Universitas Sumatera Utara 3.6 3.7 3.8 3.9 3.10 Definisi Operasional . Alat dan Bahan . Cara Pengumpulan Data . Pengolahan Data . Analisi Data . 16 17 18 19 19 BAB 4. HASIL PENELITIAN . 21 BAB 5. PEMBAHASAN . 24 BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan. 6.2 Saran. 27 27 DAFTAR PUSTAKA . 28 LAMPIRAN Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1. Rerata nilai sudut interinsisal dan profil jaringan lunak wajah pada pasien yang dirawat di klinik spesialis ortodonti RSGMP FKG USU . 21 2. Hubungan antara sudut interinsisal dengan profil jaringan lunak wajah pada pasien yang dirawat di klinik spesialis ortodonti RSGMP FKG USU . 22 Universitas Sumatera Utara DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 1. Sefalogram frontal dan lateral . 8 2. Titik-titik dalam analisa jaringan lunak menurut Jacobson . 9 3. Analisa jaringan lunak wajah menurut Holdaway (H line) . 11 4. Analisa jaringan lunak wajah menurut Steiner (S line) . 11 5. Analisa jaringan lunak wajah menurut Subtelny . 12 6. Analisa jaringan lunak wajah menurut Ricketts ( E line) . 13 7. Sudut interinsisal. 17 8. Jarak antara Ls dan Li terhadap garis estetik . 19 Universitas Sumatera Utara DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Kerangka teori 2. Kerangka konsep 3. Hasil pengukuran sudut interinsisal dan profil jaringan lunak wajah pada pasien yang dirawat di klinik spesialis ortodonti RSGMP FKG USU 4. Hasil perhitungan statistik sudut interinsisal dan profil jaringan lunak wajah pada pasien yang dirawat di klinik spesialis ortodonti RSGMP FKG USU 5. Persetujuan Komisi Etik Tentang Pelaksanaan Penelitian Bidang Kesehatan Universitas Sumatera Utara Fakultas Kedokteran Gigi Departemen Ortodonsia Tahun 2011 Siti Nurbayati Hubungan antara sudut interinsisal dengan profil jaringan lunak wajah pada pasien yang dirawat di klinik spesialis ortodonti RSGMP FKG USU ix + 31 halaman Semakin berkembangnya ilmu ortodonti, maka semakin banyak orang yang ingin memperbaiki posisi gigi mereka yang tidak teratur. Saat ini perawatan ortodonti tidak hanya ditujukan untuk perbaikan gigi dan rahang saja tetapi juga jaringan lunak wajah. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan diagnosis serta rencana perawatan yang tepat. Salah satu alat bantu untuk menegakkan diagnosis adalah foto sefalometri. Dalam perawatan ortodonti kasus-kasus maloklusi yang sering menjadi keluhan utama pasien adalah kasus gigi anterior berjejal dan kasus gigi protrusif. Kasus-kasus ini berhubungan langsung dengan aspek estetika yang sangat berpengaruh terhadap penampilan wajah pasien. Burstone menyatakan penampilan wajah seseorang di daerah sepertiga bagian bawah sangat ditentukan oleh posisi bibir sedangkan posisi bibir sangat ditentukan oleh inklinasi gigi anterior. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat adanya hubungan antara sudut interinsisal dengan profil jaringan lunak wajah pada pasien yang dirawat di klinik spesialis ortodonti RSGMP FKG USU. Universitas Sumatera Utara Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional dengan pengambilan data crossectional. Penelitian ini menggunakan 30 foto sefalometri lateral yang diperoleh dari pasien yang dirawat di klinik spesialis ortodonti RSGMP FKG USU yang telah diseleksi terlebih dahulu. Alat penelitian yang digunakan adalah tracing box, pensil 4H, penggaris, busur derajat dan penghapus. Bahan yang digunakan adalah sefalogram lateral (8x10 inci), kertas asetat (8x10 inci; tebal 0,003) dan lem perekat. Berdasarkan hasil penelitian dapat diperoleh kesimpulan bahwa adanya korelasi negatif antara sudut interinsisal dengan profil jaringan lunak wajah. Artinya semakin besarnya sudut interinsisal, maka semakin kecil jarak bibir atas (Ls) dan bibir bawah (Li) terhadap garis estetik. Daftar rujukan : 29 (1967-2011) Universitas Sumatera Utara BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Semakin berkembangnya ilmu ortodonti, maka semakin banyak orang yang ingin memperbaiki posisi gigi mereka yang tidak teratur. Maloklusi gigi merupakan problema bagi beberapa individu karena dapat menyebabkan gangguan fungsi pengunyahan, penelanan, bicara dan gangguan temporo mandibular joint (TMJ). Maloklusi juga merupakan predisposisi untuk terjadinya penyakit-penyakit periodontal akibat oral higiene yang jelek sehingga berpengaruh buruk terhadap penampilan wajah dan dapat mempengaruhi psikologi penderita.1,2. Perawatan ortodonti bertujuan untuk menghasilkan fungsi yang maksimal, keseimbangan struktural dan keselarasan estetik.3,4 Saat ini perawatan ortodonti tidak hanya ditujukan untuk perbaikan gigi dan rahang saja tetapi juga jaringan lunak wajah. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan diagnosis serta rencana perawatan yang tepat. Salah satu alat bantu untuk menegakkan diagnosis adalah foto sefalometri.3,5,6. Dalam bidang ortodonti kasus-kasus maloklusi yang sering menjadi keluhan utama pasien adalah kasus gigi anterior berjejal dan kasus gigi protrusif. Kasus-kasus ini berhubungan langsung dengan aspek estetika yang sangat berpengaruh terhadap penampilan wajah pasien. Penampilan wajah seseorang di daerah sepertiga bagian Universitas Sumatera Utara bawah sangat ditentukan oleh posisi bibir sedangkan posisi bibir sangat ditentukan oleh inklinasi gigi anterior.7 Menurut Talass dkk., pertumbuhan jaringan lunak wajah berkaitan erat dengan pertumbuhan jaringan keras wajah.8 Peneliti lain berpendapat bahwa fungsi otot yang lebih berperan. Pada saat berbicara bibir banyak bergerak sehingga diduga perkembangan bibir tidak sepenuhnya bergantung pada tulang yang ada di bawahnya, melainkan mempunyai sifat mandiri. Adanya anggapan bahwa jaringan lunak daerah wajah bagian bawah pertumbuhannya mandiri, maka dasar hidung, bibir atas, bibir bawah, dan pipi menjadi penting dalam perawatan ortodonti karena otot-otot bagian ini banyak berkontraksi.9 Menurut Arnet dkk. (cit. Zen Y, 2005) perubahan jaringan keras karena perawatan pada sepertiga wajah bagian bawah akan berpengaruh pada jaringan lunak, yaitu posisi bibir, sudut nasolabial dan sudut labiomental.6 Menurut Waldman ada hubungan antara perubahan kontur bibir atas dengan retraksi gigi insisivus atas.10 Talass dkk. menambahkan bahwa retraksi gigi insisivus atas menyebabkan retraksi bibir atas, penambahan panjang bibir bawah dan penambahan sudut nasolabial.8 Susilowati menyatakan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara sudut interinsisal dengan derajat konveksitas profil jaringan lunak wajah pada lakilaki dan perempuan suku Bugis dan Makassar. Menurut Hamilah terdapat korelasi antara kemiringan bibir dan kemiringan insisivus sentralis, karena bibir atas selalu bertumpu pada insisivus sentralis dan tulang alveolar rahang atas (cit. Susilowati, 2009). Menurut Hendro Kusnoto pada kasus Klas II dengan retrognati mandibula akan menyebabkan sudut interinsisal mengecil, sedangkan pada Universitas Sumatera Utara kasus Klas III dengan prognati mandibula terjadi sebaliknya (cit. Susilowati, 2009). Menurut Irawati jika bertambahnya usia akan menyebabkan gigi insisivus retrusif, sehingga sudut interinsisal bertambah besar dan konveksitas jaringan lunak wajah juga menjadi bertambah, hal ini dikarenakan bertambahnya ketebalan jaringan lunak dagu dan majunya mandibula ke depan (cit. Susilowati, 2009).2 Perawatan ortodonti dapat dikatakan memuaskan apabila dapat memberikan fungsi yang maksimal dan dapat dicapainya penampilan wajah pasien yang lebih harmonis dan seimbang.11 Keadaan harmonis dan seimbang ini sangat ditentukan oleh susunan gigi yang teratur dengan inklinasi dan angulasi gigi anterior yang baik sesuai dengan kriteria oklusi normal menurut six keys of Andrews.12 Pada saat ini penelitian mengenai hubungan antara sudut interinsisal dengan profil jaringan lunak hasilnya masih belum jelas. Beberapa peneliti berpendapat bahwa adanya hubungan antara sudut interinsisal dengan profil jaringan lunak wajah, sementara peneliti lain berpendapat tidak adanya hubungan, oleh karena penulis tertarik ingin melakukan penelitian. Penelitian ini dilakukan pada pasien yang dirawat di klinik spesialis ortodonti RSGMP FKG USU. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan di atas, maka dapat dirumuskan masalah apakah ada hubungan antara sudut interinsisal dengan profil jaringan lunak wajah pada pasien yang dirawat di klinik spesialis ortodonti RSGMP FKG USU? Universitas Sumatera Utara 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat adanya hubungan antara sudut interinsisal dengan profil jaringan lunak wajah pada pasien yang dirawat di klinik spesialis ortodonti RSGMP FKG USU. 1.4 Hipotesa Penelitian Hipotesa dalam penelitian ini adalah ada hubungan antara sudut interinsisal dengan profil jaringan lunak wajah pada pasien yang dirawat di klinik spesialis ortodonti RSGMP FKG USU. 1.5 Manfaat Penelitian Manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah : 1. Membantu dalam penentuan rencana perawatan. 2. Hasilnya dapat dijadikan S, Ricketts garis estetis (garis E), Merrifeld sudut-Z dan Holdaway garisHarmoni (garis-H).10,23 2.5.1 Garis-S (Steiner) Garis-S merupakan garis yang ditarik dari titik Pog ke pertengahan kurva S (Pronasal (Pr) ke titik Subnasalis (Sn)) (Gambar 12). Menurut Steiner, idealnya titik Labrale superior dan Labrale inferior menyinggung garis S. Jika bibir berada dibelakang garis-S dinyatakan profil wajahnya datar. Sedangkan jika berada di depan garis-S, profil wajahnya terlalu tebal atau cembung. 10,23 2.5.2 Garis-E (Ricketts) Menurut Ricketts analisis konveksitas jaringan lunak wajah seseorang, dipengaruhi oleh garis E. Garis E merupakan garis yang ditarik dari titik dagu kulit (Pog ) ke puncak hidung (Pr) (Gambar 13). Seseorang mempunyai profil yang harmonis jika titik Labrale superior (Ls) terletak 2-4 mm di belakang garis-E sedangkan titik Labrale inferior (Li) 1-2 mm di belakang garis-E. Apabila letak titik Universitas Sumatera Utara Ls lebih 4 mm di belakang garis E maka profil wajah tampak cekung sebaliknya tampak cembung jika terletak di depan garis E. Namun demikian menurut Ricketts nilai ideal tersebut dapat bervariasi tergantung pada umur dan jenis kelamin.10,23 Gambar 12. Garis-S atau garis Steiner, dibentuk dengan menarik garis dari titik pogonion kulit (Pg ) ke tengah kurva-S21 Gambar 13. Garis-E, ditarik dari titik dagu kulit (Pog ) ke Puncak hidung (Pr)21 Universitas Sumatera Utara 2.5.3 Sudut-Z Merrifield Sebuah garis profil wajah dibentuk oleh garis yang ditarik dari tangensial jaringan lunak dagu (Pog ) dan titik paling depan dari bibir atas dan bibir bawah (Gambar 14). Sudut-Z dibentuk oleh perpotongan antara bidang horizontal Frankfurt dan garis profil tersebut. Nilai ideal sudut ini berkisar 80 ± 9o.10,23 Gambar 14. Sudut-Z Merrifield, sebuah garis profil wajah yang dibentuk oleh garis yang ditarik dari tangensial jaringan lunak dagu (Pog ) dan titik paling depan dari bibir atas dan bibir bawah 21 2.5.4 Sudut-H (Holdaway) Holdaway menggunakan garis-H untuk analisis keseimbangan dan keharmonisan profil jaringan lunak sebagai singkatan dari garis-Harmoni atau nama keluarganya sendiri yaitu Holdaway. Garis-H ini diperoleh dengan menarik garis dari titik pogonion kulit (Pog ) ke titik labial superior (Ls) (Gambar 15).3,6,9,10,12 Universitas Sumatera Utara Menurut Jacobson dan Vlachos, analisis Holdaway lebih berani, terperinci, jelas dan luas dalam pembahasannya tentang profil jaringan lunak yang seimbang dan harmonis, yaitu terdiri dari jarak puncak hidung (Pr) terhadap garis-H, kedalaman sulkus labialis superior, kedalaman sulkus labialis inferior, jarak bibir bawah ke garis-H, tebal bibir atas, kurvatura bibir atas, besar sudut fasial, tebal dagu, strain bibir atas, besar sudut-H dan konveksitas skeletal. Oleh karena itu penelitian ini secara khusus akan membahas mengenai konveksitas skletal dan konveksitas jaringan lunak wajah berdasarkan sudut-H.10,12 Yang dimaksud dengan sudut-H adalah sebuah sudut yang dibentuk oleh perpotongan garis-H dengan garis N -Pog (Gambar 15). Sudut-H juga digunakan dalam penentuan konveksitas jaringan lunak adalah cembung, lurus atau cekung. Besar sudut-H yang harmonis dan seimbang berkisar 7o - 15o. Apabila sudut-H lebih besar dari 15o maka konveksitas bentuk profil menunjukkan cembung sedangkan lebih kecil dari 7o menunjukkan konveksitas bentuk profil yang cekung karena letak Pog lebih ke posterior atau letak titik Ls lebih ke anterior. 10 Berdasarkan analisis Holdaway, 10o merupakan sudut-H yang paling ideal dengan nilai konveksitas wajah 0 mm. Profil yang harmoni dapat dilihat jika nilai konveksitas skeletal dan sudut-H seimbang. Apabila konveksitas skeletal lebih besar dari besar sudut-H atau tidak sesuai maka kemungkinan yang terjadi adalah pertumbuhan fasial yang tidak seimbang.3,6,10 Universitas Sumatera Utara Gambar 15. Garis-H. Garis-H ini diperoleh dengan menarik garis dari titik Pogonion kulit (Pog ) ke Labial superior (Ls); sudut-H, dibentuk oleh perpotongan garis-H dengan garis N -Pog 10 2.6 Suku Batak Analisis wajah dimulai dengan memeriksa faktor individu yang dapat secara signifikan memberi efek pada perawatan ortodonti nantinya.4 Ada 5 komponen individu yang mempengaruhi analisis wajah, yaitu umur, jenis kelamin, ras (etnis), bentuk tubuh dan kepribadian.16 Penduduk Indonesia terdiri dari kelompok Proto-Melayu (Melayu Tua) dan Deutro-Melayu (Melayu Muda). Kelompok Proto-Melayu pada 2000 S.M. datang ke Indonesia sedangkan Deutro-Melayu pada 1500 S.M. Pada mulanya kelompok ProtoMelayu menempati pantai-pantai Sumatera Utara, Kalimantan Barat dan Sulawesi Barat yang kemudian pindah ke pedalaman karena terdesak oleh kelompok DeutroMelayu.17 Universitas Sumatera Utara Suku Batak merupakan bagian dari ras Proto-Melayu yang menempati pulau Sumatra. Sifat dominan dari suku ini adalah kebiasaan hidup dalam Splendid isolation di lembah-lembah sungai dan puncak-puncak pegunungan. Dengan bertambahnya penduduk, maka berkurang pula lahan yang digunakan untuk pertanian. Maka perpindahan terpaksa dilakukan. Perpindahan diarahkan ke segala arah, sebagian membuka pemukiman baru di daerah hutan belukar di arah pantai selatan yang kemudian bernama Rao, sekarang di Sumatera Barat. Beberapa kelompok diantaranya turun ke Timur, menetap dan membuka tanah, sekarang dikenal sebagai Tanjung Morawa, daerah di pinggir kota Medan. 16 Dari pengamatan yang telah dilakukan di Klinik Ortodonti Fakultas Kedokteran Gigi USU sebelum penelitian dimulai diperoleh data yang diambil secara random bahwa pada tahun 2005 dan 2006 lebih dari 60% penderita yang berobat berasal dari suku Batak. Maka pengambilan sampel dalam penelitian ini, ditujukan pada suku Batak. Universitas Sumatera Utara BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional dengan rancangan crossectional. 3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian Tempat : Departemen Ortodonti FKG USU Waktu : Desember 2010 3.3 Populasi dan Sampel Penelitian Populasi : Pasien suku Batak yang dirawat di klinik ortodonti FKG USU dari tahun 2005-2009. Foto Rontgen sefalogram lateral yang diperoleh adalah sebesar 110 sampel. Sampel : Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah metode porposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Foto Rontgen sefalogram lateral yang diperoleh adalah sebesar 44 sampel. 3.4 Kriteria Inklusi dan Eksklusi Kriteria inklusi kelompok sampel : Pasien suku Batak jenis kelamin laki-laki pada usia 12-14 tahun Pasien suku Batak jenis kelamin perempuan pada usia 10-12 tahun Suku Batak satu generasi di atas yaitu ayah dan/atau ibu Universitas Sumatera Utara Belum pernah dirawat ortodonti Posisi bibir pada gambaran radiografi sefalometri relaks Kriteria eksklusi kelompok sampel : Sefalogram yang tidak jelas atau kabur Crowded lebih dari 2 mm 3.5 Variabel Penelitian Variabel bebas - Konveksitas skeletal Variabel tergantung - Konveksitas jaringan lunak wajah 3.6 Defenisi Operasional Penelitian a. Titik A adalah titik paling cekung di antara spina nasalis anterior dan prosthion, dekat apeks akar gigi insisivus sentralis. b. Nasion skeletal (N) adalah titik perpotongan sutura frontonasalis. c. Pogonion ( Pog ) adalah titik paling depan dari tulang dagu. d. Nasion kulit (N ) adalah titik paling cekung pada kulit di pertengahan dahi dan hidung. e. Pogonion kulit (Pog ) adalah titik paling anterior dari jaringan lunak dagu. f. Labial superior (Ls) adalah titik pada ujung tepi bibir atas. g. Konveksitas skeletal adalah jarak dari titik A tegak lurus terhadap garis yang ditarik dari titik nasion ke titik pogonion . Universitas Sumatera Utara h. Konveksitas jaringan lunak wajah adalah sudut yang dibentuk oleh perpotongan garis-H (garis dari titik pogonion kulit ke titik labial superior) dengan garis yang ditarik dari titik nasion kulit ke titik pogonion kulit. i. Suku Batak adalah penduduk Indonesia yang berasal dari provinsi Sumatera Utara dan ditandai dengan adanya nama keluarga yang diturunkan dari orang tua (ayah) ditambahkan dibelakang nama berupa marga Batak. 3.7 Alat dan Bahan Penelitian Alat penelitian yang digunakan adalah (Gambar 16): a. Tracing box b. Pensil 4H c. Busur dan penggaris d. Kalkulator Bahan yang digunakan dalam penelitian (Gambar 17): a. Sefalogram lateral (8x10 inci) b. Kertas asetat (8x10 inci; tebal 0,003) c. Lem perekat 3.8 Cara Penelitian Adapun prosedur pengumpulan dan pengambilan data yang dilakukan, yaitu : a. Pengumpulan data Foto sefalogram lateral diperoleh dari data rekam medik pasien Departemen Ortodonti FKG USU dari tahun 2005-2009 yang dikumpulkan dan diambil yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Besar sampel yang diperoleh adalah 44 Universitas Sumatera Utara sampel dan kemudian dikelompokkan menjadi tiga kelompok sampel berdasarkan relasi skeletal rahang yang dilihat dari sefalometri lateral, yaitu 21 sampel Kelas I Angle, 13 sampel Kelas II Angle dan 10 sampel Kelas III suku Batak yang dirawat di klinik ortodonti FKG USU. Penelitiannya dikelompokkan berdasarkan Klas I Angle, Klas II Angle dan Klas III Angle. Hasil penelitiannya didapat bahwa ada hubungan antara konveksitas skeletal dengan konveksitas jaringan lunak wajah pada pasien suku Batak usia remaja yang dirawat di klinik ortodonti FKG USU.28 Zen juga telah melakukan penelitian yang bertujuan untuk melihat adanya hubungan antara jaringan keras dan jaringan lunak menggunakan analisis Ricketts. Zen menyimpulkan bahwa terdapat hubungan antara konveksitas, posisi gigi insisivus bawah terhadap bidang profil, dan posisi bibir menurut analisis Ricketts.6 Penelitian yang sama telah dilakukan sebelumnya oleh Susilowati pada suku Bugis dan Makassar, Susilowati menemukan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara besarnya sudut interinsisal dengan derajat konveksitas jaringan lunak wajah.1 Penelitian Susilowati didukung oleh penelitian Koesoemahardja yang menyatakan bahwa tidak semua jaringan lunak fasial pertumbuhannya berkorelasi dengan jaringan kerasnya, tetapi ada yang tumbuh mandiri, perbedaan hasil ini mungkin disebabkan karena titik-titik referensi yang digunakan untuk mengukur profil jaringan lunak wajah berbeda.8 Pada penelitian Susilowati pengukuran profil jaringan lunak wajah yang dipakai adalah metode Subtelny, titik referensi yang digunakan yaitu N’-Sn-Pog’.1 Sedangkan penelitian ini menggunakan metode Ricketts, dimana titik referensinya yaitu Pog’-Pr. Selain itu pada penelitian Susilowati subjek dibedakan antara laki-laki dan perempuan dan suku yang menjadi subjek penelitian berbeda sementara pada penelitian ini subjek penelitian tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan. Hal ini disebabkan karena keterbatasan sampel. Universitas Sumatera Utara BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan Rerata sudut interinsisal mahasiswa suku Batak FKG dan FT USU adalah 121,45°, nilai rerata Ls : E line adalah 0,93 mm dan nilai rerata Li : E line adalah 0,60 mm. Hasil ini lebih kecil dibandingkan dengan nilai normal sudut interinsisal dan profil jaringan lunak menurut Ricketts dimana nilai rerata normal untuk sudut interinsisal adalah 130 ° dan untuk Ls : E line dan Li : E line masing-masing adalah 2-4 mm dan 1-2 mm.16,22 Terdapat korelasi antara sudut interinsisal dengan profil jaringan lunak wajah (Ls : E line) sebesar 0,251. Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan korelasi lemah dengan nilai signifikan (p) yang tidak bermakna yaitu sebesar 0,119. Terdapat korelasi antara sudut interinsisal dengan profil lunak wajah (Li : E line) sebesar 0,020. Hal ini menunjukkan bahwa korelasi sangat lemah dengan nilai signifikan (p) yang tidak bermakna sebesar 0,903. Korelasi antara sudut interinsisal dengan profil jaringan lunak wajah dalam arah positif. Artinya semakin besarnya sudut interinsisal, maka semakin besar pula jarak bibir atas (Ls) dan bibir bawah (Li) terhadap garis estetis. 6.2 Saran 1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan mengelompokkan subjek berdasarkan jenis kelamin dan berdasarkan klasifikasi skeletal dan dental. 2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan jumlah sampel yang lebih besar untuk mendapatkan validitas yang lebih tinggi. 3. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut pada tiap-tiap suku di Indonesia. 4. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan membandingkan nilai sudut interinsisal sebelum dan setelah perawatan ortodonti. 5. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan analisis jaringan lunak yang lain. Universitas Sumatera Utara DAFTAR PUSTAKA 1. Susilowati. Hubungan antara sudut interinsisal dengan derajat konveksitas profil jaringan lunak wajah pada suku bugis dan Makassar. Dentika Dent. J 2009; 14 (2): 125-8. 2. Bergman RT. Cephalometric soft tissue facial analysis. Am J Orthod 1999; 116: 373-88. 3. Rakosi T. An atlas and manual of cephalometric radiography. London: Wolfe Medical Publications Ltd, 1982: 7-8,78-89. 4. Sahin AM, Umit G. Analysis of Holdaway soft-tissue measurements in children between 9 and 12 years of age. European Journal of Orthodontics 2001; 23: 287-94. 5. Ardhana W. Hubungan antara pengukuran inklinasi gigi insisivus sentral secara linier pada model studi dengan pengukuran secara anguler pada sefalogram lateral. MIKG. 2004: VI (2): 148-9. 6. Zen Y. Pola hubungan antara konveksitas, posisi gigi insisivus, dan posisi bibir dalam analisis Ricketts. MIKG 2005; 20 (63): 160-8. 7. Tallas MP, Tallas L, Boker RC. Soft tissue profile changes resulting retraction of maxillar incisor. Am J Orthod 1977; 91 : 385-394. 8. Koesoemahardja HD, Roeslan BO. Pola pertumbuhan jaringan lunak kemancungan hidung, ketebalan bibir atas, dan ketebalan bibir bawah serta kaitannya dengan pertumbuhan umum. MIKG 1993: 8(24) : 128-55. Universitas Sumatera Utara 9. Waldman BH. Change in lip contour with maxillary incisor retraction. Angle Orthod 1982. 52 (2) : 129-34. 10. Nurbayati S. Hubungan Sudut Interinsisal Terhadap Profil Jaringan Lunak Pasien RSGMP FKG USU. Skripsi. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara, 2011. 11. Andrews LF. Six keys to normal occlusion. Am J Orthod 1972; 62: 296309. 12. Riedel RA. Esthetics and its relation to orthodontic therapy. Am J Orthod 1970; 20 (3): 168-178. 13. Dachryal MK. Harga diri penderita dengan penampilan kelainan dentofasial. KPPIKG VII. FKG UI. Jakarta, 1986; 275-83. 14. Ackerman, JL. The characteristics of malocclusion: A modern approach to classificationand diagnosis. Am J Orthod 1969; 56 (5): 446-453. 15. Korrodi A. The use of model templates for class ii treatment. http://orthocj.com/2001/09 (September 1.2001). 16. Jacobson A. Radiographic cephalometry. Quintessence Publishing Co, Inc. 1995; 87-95, 248-53. 17. Kusnoto H. Penggunaan cephalometri radiografi dalam bidang orthodonti. Jakarta: Universitas Trisakti, 1977; 1-7, 87-90. 18. Bhalajhi, S.I. Orthodontics: The art and science. 1st ed. New Delhi: Arya publishing house, 1998; 1-15, 151-2. 19. Rema A, Wafa A. Craniofacial characteristics in Saudi Down’s syndrome. http://www.sciencedirect.com/science/article/pii (April 22.2012). Universitas Sumatera Utara 20. Spradley FL, Jacobs JD, Crowe DP. Assesment of the antero-posterior soft tissue countour of the lower third in the ideal young adult. Am J Orthod 1981; 79 (3): 316-24. 21. Mahyastuti RD, Christnawati. Perbandingan posisi bibir dan dagu antara lakilaki dan perempuan Jawa berdasarkan analisis estetis profil muka menurut Bass. MIKG 2008; 23 (1): 1-7. 22. Rostina T. Analisis profil jaringan lunak menurut metode Holdaway pada mahasiswa FKG USU suku Deutro Melayu. Tesis. FKG USU. Medan, 2007. 23. Andriani N. Beberapa metode dalam Menganalisis jaringan lunak sebagai salah satu prosedur diagnosa ortodonti berdasarkan fotografi. Skripsi. FKG USU. Medan, 2003. 24. Naidu DL. Comparisons of the consistency and sensitivity of five reference lines of the horizontal position of the upper and lower lip to lateral facial harmony. Orthod CYBER Journal. 2010. 25. Hwang, HS. Ethnic differences in the soft tissue profile of Korean and European-American adults with normal occlusions and well-balanced faces. Angle Orthodontist 2002;72:72-3. 26. Rio RO. Analisis wajah suku Batak. Tesis. Medan : Bagian Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Bedah Kepala Leher FK USU, 2008: 6-24. 27. Daldjoeni N. Ras-ras umat manusia. Bandung: PT. Citra Aditya bakti, 1991: 189-93. Universitas Sumatera Utara 28. Sijabat DN. Hubungan konveksitas skeletal dengan konveksitas jaringan lunak wajah pada pasien remaja suku Batak yang dirawat di klinik ortodonti FKG USU. Skripsi. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara, 2011. 29. Hashim HA, AlBarakati SF. Cephalometric soft tissue profile analysis between two different ethnic groups: A comparative study. Journal of Contemporary Dental Practice. 2003; 4(2). 30. Simanjuntak H. Ukuran Lebar Mesiodistal dan Dimensi Lengkung Gigi pada Mahasiswa Suku Batak Universitas Sumatera Utara. Skripsi. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara, 2011. 31. Riza A. Kajian Etnik Pemilih Pilkada Sumut. http://nasional.kompas.com/ read/2008/04/17/18184958/kajian.etnik.pemilih.pilkada (April 17.2008). 32. Ricketts R, Palisades P. A foundation for cephalometric communication. Am J Orthod 1960; 62: 342-345. Universitas Sumatera Utara Analisa Wajah Jenis kelamin Umur Bentuk tubuh Kepribadian Sefalometri Frontal Lateral Jaringan Keras Ras Deutro Melayu Analisa profil jaringan lunak wajah Inklinasi gigi insisivus RA dan RB Sudut interinsis al Suku Batak Jaringan Lunak Gigi geligi Skeletal j h Proto Melayu Fotometri Metode Ricketts Metode Steiner Metode Subtelny Metode Holdaway Universitas Sumatera Utara LAMPIRAN 2 KERANGKA KONSEP Mahasiswa Suku Batak FKG dan FT USU Klas I Angle & Klas I Skeletal Radiografi sefalometri lateral Inklinasi gigi insisivus rahang atas dan rahang bawah Sudut interinsisal Profil jaringan lunak wajah (metode Ricketts) Universitas Sumatera Utara
Hubungan antara sudut interinsisal dengan profil jaringan lunak wajah pada pasien yang dirawat di klinik spesialis ortodonti RSGMP FKG USU Analisa Menurut Holdaway Analisa Menurut Steiner Analisa Menurut Subtelny Analisa Menurut Ricketts Defenisi Operasional Alat dan Bahan Cara Pengumpulan Data HASIL PENELITIAN Hubungan antara sudut interinsisal dengan profil jaringan lunak wajah pada pasien yang dirawat di klinik spesialis ortodonti RSGMP FKG USU Jenis Penelitian Lokasi dan Waktu Penelitian Variabel Penelitian Populasi Penelitian Sampel Penelitian PEMBAHASAN Hubungan antara sudut interinsisal dengan profil jaringan lunak wajah pada pasien yang dirawat di klinik spesialis ortodonti RSGMP FKG USU Sudut Interinsisal TINJAUAN PUSTAKA
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Hubungan antara sudut interinsisal dengan profil jaringan lunak wajah pada pasien yang dirawat di klinik spesialis ortodonti RSGMP FKG USU

Gratis