Analisis pengaruh rasio modal saham terhadap return yang diterima oleh pemegang saham (studi empiris pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2004-2008)

Full text

(1)

ANALISIS PENGARUH RASIO MODAL SAHAM TERHADAP RETURN YANG DITERIMA OLEH PEMEGANG SAHAM

(Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI Periode 2004- 2008)

Oleh:

Ibrahim Putra Agustian Siswadi

105081002525

JURUSAN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)

ANALISIS PENGARUH RASIO MODAL SAHAM TERHADAP RETURN

YANG DITERIMA OLEH PEMEGANG SAHAM

(Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI Periode 2004- 2008)

Skripsi

Diajukan Kepada Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial

Untuk Memenuhi Syarat-syarat untuk Meraih Gelar Sarjana Ekonomi

Oleh:

Ibrahim Putra Agustian Siswadi 105081002525

Di bawah Bimbingan

Pembimbing I Pembimbing II

Dr. Hj. Pudji Astuty, SE., MM Titi Dewi Warninda, SE., MM NIP. 0311065804 NIP. 1973 12 21 200501 2 002

JURUSAN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(3)

ANALISIS PENGARUH RASIO MODAL SAHAM TERHADAP RETURN

YANG DITERIMA OLEH PEMEGANG SAHAM

(Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI Periode 2004- 2008)

Skripsi

Diajukan Kepada Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial

Untuk Memenuhi Syarat-syarat untuk Meraih Gelar Sarjana Ekonomi

Oleh:

Ibrahim Putra Agustian Siswadi 105081002525

Di bawah Bimbingan:

Pembimbing I Pembimbing II

Dr. Hj. Pudji Astuty, SE., MM Titi Dewi Warninda, SE., MM NIP. 0311065804 NIP. 1973 12 21 200501 2 002

Penguji Ahli I Penguji Ahli II

(4)

Hari Selasa Tanggal 10 Bulan November Tahun Dua Ribu Sembilan telah dilakukan Ujian Komprehensif atas nama Ibrahim Putra Agustian Siswadi NIM : 105081002525 dengan Judul Skripsi “ANALISIS PENGARUH RASIO MODAL SAHAM TERHADAP RETURN YANG DITERIMA OLEH PEMEGANG SAHAM (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI Periode 2004-2008)”. Memperhatikan penampilan mahasiswa tersebut selama ujian berlangsung, maka skripsi ini sudah dapat diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 10 November 2010

Tim Penguji Ujian Komprehensif

Indoyama Nasarudin, SE., MBA Suhendra, S.Ag., MM

Ketua Penguji Sekretaris

Prof. Dr. Ahmad Rodoni, MM

(5)

Abstract

The purposes of this researches is to know the influence of market value ratio to return of manufacturing companies in BEI. This research uses multiple regression linear model, examination of hyphotesis by using t test, F test.

Based on the result of multiple regression shows that parsially, ROE is significant variable have significant effect to return of manufacturing companies and as simultaneously, five variable do not have significant effect to return.

(6)

Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh rasio modal saham terhadap return yang diterima oleh pemegang saham perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI baik secara parsial ataupun simultan. Metode yang digunakan adalah regresi berganda, kemudian dilakukan uji hipotesis dengan uji t dan uji F.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial, hanya variabel ROE yang berpengaruh secara signifikan Sedangkan variabel lainnya tidak memiliki pengaruh yang signifikan secara parsial terhadap return saham. Secara simultan, semua variabel tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap return saham.

(7)

KATA PENGANTAR

Assalaamu’allaikum Wr. Wb.

Puji dan syukur hamba panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya yang memberikan jalan kemudahan dan keteguhan hati dari kesukaran, karena pada akhirnya penulis dapat menyelesaika n skripsi ini dengan baik dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk meraih gelar Sarjana pada Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakartapada bidang studi Manajemen Keuangan, Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial.

Dalam penyusunan skripsi ini penulis banyak menemukan kesulitan, namun berkat bantuan dari berbagai pihak, kesulitan tersebut dapat diatasi sehingga skripsi ini dapat terselesaikan walau masih jauh dari kesempurnaan.

Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini dan juga telah membimbing penulis selama menempuh pendidikan di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial ( FEIS ). Terutama kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Abdul Hamid, MS selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Universitas Islam Negeri S yarif Hidayatullah Jakarta.

2. Bapak Indo Yama Nasaruddin, SE., MAB, selaku Ketua Jurusan Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Ibu Dr. Hj. Pudji Astuty, SE., MM selaku dosen pembimbing I dan Ibu Titi Dewi Warninda,SE., M,Si selaku dosen pembimbing II, terima kasih atas bimbingan dan ilmu yang bermanfaat bagi penulis.

4. Untuk segenap Dosen Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, staff karyawan dan petugas perpustakaan, terima kasih atas ilmunya selama ini.

(8)

6. Kepada teman-teman Manajemen D, Manajemen keuangan yang namanya tidak bisa saya sebutkan satu persatu namun tidak mengurangi rasa terima kasih penulis terhadap kalian atas persahabatan yang luar biasa.

Harapan besar dari penulis, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Karena keterbatasan dan kemampuan yang dimiliki oleh penulis, penulis menerima saran dan kritik yang membangun demi lebih baiknya skripsi ini.

Wassalamu’allaikum Wr.Wb.

Jakarta, 10 Maret 2010

(9)

DAFTAR ISI

C. Tujuan dan Manfaat penelitian ………....……12

1. Tujuan Penelitian………12

2. Manfaat Penelitian………..……..…..…13

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ………..………...14

A. Landasan Teori ……….…………...…...….14

1. Sekilas Tentang Pasar Modal ………...………14

2. Manfaat Pasar Modal ………16

C. Hipotesis Penelitian ………..…….35

D. Kerangka Berpikir……… ………...…36

BAB III METODOLOGI PENELITIAN …………..………..37

A. Ruang Lingkup Penelitian ………...……...….……..37

(10)

C. Metode Pengumpulan Data ………...……...39

D. Metode Analisis ………..……..40

E. Operasional Variabel Penelitian………..…..……...46

BAB IV PENEMUAN DAN PEMBAHASAN ………48

A. Sekilas Gambaran Umum Oyek Penelitian………..…….48

1. Obyek Penelitian ………...…..48

2. Variabel-variabel Penelitian Sampel ………..………50

3. Analisis Deskriptif Data ……..………...52

B. Penemuan dan Pembahasan ……….…64

1. Uji Asumsi Klasik ………..65

a) Uji Normalitas Data ……….…..65

b) Uji Multikolonieritas ……….66 c) Uji Heterokedastisitas ……….…………...67 d) Uji Autokorelasi ……….………..…….68

BAB V KESIMPULAN DAN IMPLIKASI ………….……….…...75

A. Kesimpulan ………..75

B. Implikasi ………..…….……...…76

DAFTAR PUSTAKA

(11)

DAFTAR TABEL

Nomor Keterangan Hal

4.1 Daftar Nama Perusahaan Sampel 49

4.2 Deskriptif Data Rasio Capitalized Ratio

Perusahaan Manufaktur Tahun 2004-2008 53 4.3 Deskriptif Data EPS Perusahaan Manufaktur

tahun 2004-2008 55

4.4 Deskriptif Data PBV Perusahaan Manufaktur

Tahun 2004-2008 57

4.5 Deskriptif Data PER Perusahaan Manufaktur

Tahun 2004-2008 58

4.6 Deskriptif Data ROE Perusahaan Manufaktur

Tahun 2004-2008 60

4.7 Deskriptif Data Return Perusahaan Manufaktur

Tahun 2004-2008 62

4.8 Hasil Uji Normalitas Data Jarque Beta 65

4.9 Hasil Uji Multikolonieritas 66

4.10 Hasil Uji Heterokedastisitas 67

4.12 Hasil Uji Autokorelasi 68

(12)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Keterangan Hal

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Keterangan

(14)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian

Dalam pembangunan suatu negara, kegiatan ekonomi menjadi

sangat penting. Untuk mengembangkan kegiatan ekonomi, suatu negara

membutuhkan dana. Namun dalam perkembangannya mengalami

hambatan berupa kelangkaan dana. Panji dan Piji Anoraga (2001) dalam

bukunya menjelaskan bahwa negara yang sedang berkembang usaha yang

mengarah pada dana investasi yang bersumber dari dalam negeri masih

rendah sehingga dana untuk investasi menjadi tidak mencukupi. Sehingga

muncul beberapa alternatif sumber lain yang mengarah pada investasi

dana. Penerbitan saham merupakan salah satu sumber lain dari perusahaan

yang bertujuan untuk mendapatkan dana dari masyarakat yang dapat

digunakan untuk meningkatkan kinerja perusahaan. Hal ini menjadikan

pasar modal sebagai tempat yang tepat untuk menghimpun dana jangka

panjang yang kemudian disalurkan ke dalam sektor-sektor produktif.

Menurut Riyanto (2002) pasar modal memiliki 2 tujuan, yaitu

mempercepat proses pemerataan pendapatan masyarakat melalui

kepemilikan saham-saham perusahaan swasta dan meningkatkan

penghimpunan dana masyarakat untuk digunakan secara produktif dalam

(15)

Pasar modal saat ini dipandang sebagai sarana efektif untuk

mempercepat pembangunan suatu negara. Melalui pasar modal

dimungkinkan terciptanya usahawan yang dapat menggalang penyeraha n

dana jangka panjang dari masyarakat untuk disalurkan ke sektor-sektor

produktif. Pasar modal sendiri selain sebagai sarana penyedia dana bagi

perusahaan yang membutuhkan tambahan modal, juga berfungsi sebagai

tempat yang mempertemukan antara investor sebagai pihak yang

mengalami kelebihan dana dengan para perusahaan yang mengalami

kekurangan dana. Dari sudut pandang investor, pasar modal merupakan

sarana investasi bagi pihak yang mempunyai kelebihan dana baik jangka

pendek maupun jangka menengah. Dari sudut pandang perusahaan, pasar

modal adalah salah satu alternatif untuk menambah dana bagi perusahaan.

Sedangkan bagi masyarakat, kehadiran pasar modal merupakan tambahan

alternatif investasi yang selama ini dirasakan sangat terbatas di Indonesia.

Pengertian pasar modal menurut UU RI No 18 tahun 1995 merupakan

kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan

efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya,

serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek atau surat-surat

berharga misalnya saham.

Perkembangan pasar modal tidak akan berjalan hanya dengan

adanya kebijakan pemerintah saja tetapi juga dipengaruhi oleh partisipasi

aktif baik dari perusahaan yang akan menjual sahamnya maupun investor

(16)

modal merupakan sarana yang menjembatani perusahaan dalam mencari

dana dengan para investor yang akan menanamkan modalnya. Secara

formal pasar modal didefinisikan sebagai pasar untuk berbagai instrumen

keuangan (atau sekuritas) jangka panjang yang bisa di perjualbelikan, baik

dalam bentuk hutang ataupun modal sendiri, baik yang diterbitkan oleh

pemerintah, public authorities, maupun perusahaan swasta (Suad Husnan,

2003). Tujuan pasar modal di Indonesia adalah disamping untuk

mengerahkan dana dari masyarakat agar dapat disalurkan di sektor-sektor

produktif, juga ikut mewujudkan pemerataan pendapatan melalui

kepemilikan saham-saham perusahaan. Tujuan tersebut dapat dicapai

secara bertahap dengan semakin banyaknya jenis dan jumlah surat-surat

berharga yang diperjualbelikan sejalan dengan bertambahnya lembaga-

lembaga yang mendukung terselenggaranya pasar modal tersebut.

Pasar modal dibentuk untuk menjalankan fungsi ekonomi dan

keuangan dalam sistem perekonomian suatu negara. Pasar modal adalah

pelengkap disektor keuangan terhadap dua lembaga lainnya yaitu bank dan

lembaga pembiayaan yang memberikan jasanya untuk menghubungkan

dana dari pihak yang memiliki kelebihan dana (investor) kepada pihak

disektor produktif yang membutuhkan dana. Investor akan mengharapkan

keuntungan dari investasi yang telah dilakukan dan mempunyai hak dalam

kepemilikan perusahaan tanpa harus terlibat langsung didalamnya,

sebaliknya pihak perusahaan atau emiten memperoleh alternatif sumber

(17)

Menurut Husnan (1998: 47) para pemodal menghadapi kesempatan

investasi yang beresiko, pilihan investasi tidak dapat hanya dengan

mengandalkan pada tingkat keuntungan yang diharapkan. Apabila

pemodal mengharapkan untuk memperoleh tingkat keuntungan yang

tinggi, maka ia harus bersedia menanggung resiko yang tinggi pula. Salah

satu karakteristik investasi pada sekuritas adalah kemudahan untuk

membentuk portofolio investasi. Artinya, pemodal dapat dengan mudah

menyebar dan melakukan diversifikasi investasinya pada berbagai

kesempatan investasi. Oleh karena itu, perlu dipahami tentang proses

investasi mulai dari ekuitas apa yang akan dipilih, berapa banyak, dan

kapan investasi tersebut akan dilakukan.

Investor akan menanamkan investasinya pada perusahaan yang

dianggap dapat memberikan keuntungan. Perusahaan yang terdaftar di BEJ

akan selalu dinilai perkembangannya oleh investor dan calon investor.

Disini para investor dan calon investor dapat menilai apakah perusahaan

tersebut memiliki prospek yang baik dimasa depan atau tidak.

Investasi dalam bentuk saham merupakan investasi yang berisiko,

karena itu untuk menarik pemodal dengan menawarkan tingkat

keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat keuntungan

investasi lainnya yang kurang berisiko. Dari hal tersebut pemodal

membutuhkan berbagai informasi yang dijadikan sebagai sinyal untuk

menilai prospek perusahaan yang bersangkutan yaitu dengan menganalisis

(18)

pemodal dalam membeli saham adalah untuk menjual saham itu kembali

pada harga yang lebih tinggi atau mendapatkan return dari investasi yang

ditanamkan.

Laporan keuangan perusahaan korporasi (tidak seperti kemitraan

dan kepemilikan tunggal) meliputi modal saham. Manajemen perusahaan

korporasi harus melaporkan keadaan perusahaan kepada pemilik, yaitu

para pemegang saham. Salah satu teknik yang digunakan adalah rasio

modal saham. Manajemen juga harus berlatih untuk mengatasi hutang, dan

penggunaan rasio dapat membantu mereka melakukannya.

Dalam proses memulai suatu bisnis, seluruh uang yang berasal dari

penjualan saham akan terlihat pada”Modal Pemegang Saham” sebagai

modal disetor atau saham biasa, dan pada ”aktiva lancar” sebagai kas.

Selama perusahaan sedang berjalan, mungkin sebagian jumlah uang

tersebut dimasukkan dalam ”Laba ditahan”.

Dalam bukunya (Gill) mengklasifikasikan rasio-rasio modal saham

sebagai berikut: (1) laba atas ekuitas / return on equity (ROE), yang

mengindikasikan laba atas invetasi pemegang saham, (2) rasio harga laba /

price earning ratio (PER), yang digunakan untuk menentukan jumlah yang

bersedia dibayarkan oleh para investor potensial sebelum melakukan

investasi, (3) tingkat kapitalisasi, yang merupakan perbandingan terbalik

dari rasio harga laba, (4) rasio pendapatan per lembar saham / earning per

share (EPS), yang mengukur pendapatan untuk setiap lembar saham.

(19)

Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) telah mengeluarkan

berbagai ketentuan antara lain di bidang peningkatan kualitas dan

transparansi pelaporan keuangan. BAPEPAM telah mengeluarkan

peraturan nomor KEP-36/PM/2003 tentang kewajiban penyampaian

laporan keuangan emiten industri manufaktur bahwa penyampaian laporan

keuangan harus disampaikan selambat-lambatnya akhir bulan ke 3 setelah

tanggal laporan keuangan tahunan. Menurut BAPPEPAM jika laporan

keuangan perusahaan disampaikan lebih dari bulan ke 3 setelah tanggal

laporan keuangan dinyatakan tidak efisien lagi dan tidak wajib

menyampaikan laporan keuangan. Perubahan harga saham terjadi karena

ada informasi baru yang masuk ke pasar, dan harga bereaksi karena

adanya informasi baru tersebut. Informasi laporan keuangan adalah salah

satu sumber potensial yang digunakan investor untuk menilai harga saham

di bursa.

Return saham merupakan hasil yang diperoleh dari investasi.

Harapan untuk memperoleh return juga terjadi dalam asset financial.

Suatu asset finansial menunjukkan kesediaan investor menyediakan

sejumlah dana pada saat ini untuk memperoleh sebuah aliran dana pada

masa yang akan datang sebagai kompensasi atas faktor waktu selama dana

ditanamkan dan risiko yang ditanggung. Dengan demikian para investor

sedang mempertaruhkan suatu nilai sekarang untuk sebuah nilai yang

diharapkan pada masa mendatang. Para investor dalam asset financial

(20)

return yang maksimal tersebut diusahakan agar dapat terwujud dengan

mengadakan analisis dan upaya tindakan-tindakan yang berkaitan dengan

investasi dalam sahamnya. Oleh karena itu, perlu diketahui faktor-faktor

yang mempengaruhi return saham sehingga harapan untuk memperoleh

return yang maksimal bisa dicapai.

Di antara berbagai instrumen pasar modal, saham merupakan

instrumen investasi yang memiliki return dan risiko yang tinggi. Nilai

transaksi (tingkat kapitalisasi) yang tinggi mengindikasikan adanya

perolehan laba yang tinggi. Model penilaian saham merupakan suatu

mekanisme untuk mengubah serangkaian variabel perusahaan (misalnya

penjualan, laba, dan deviden) yang diamati menjadi perkiraan tentang

harga saham. (Halim, 2005). Laporan keuangan perusahaan korporasi

(tidak seperti firma dan CV) meliputi modal saham. Manajemen

perusahaan korporasi harus melaporkan keadaan perusahaan kepada

pemilik perusahaan, yaitu pemegang saham. Salah satu teknik yang

digunakan untuk melaporkan keadaan perusahaan adalah rasio modal

saham. Manajemen juga harus berlatih untuk mengatasi hutang.

Penggunaan rasio modal saham dapat membantu manajemen

melakukannya.

Selain itu, penelitian dari David Wijaya menunjukkan hasil secara

simultan (secara bersama-sama), semua variabel independen (ROE, PER,

BVPS, dan PTBV) secara signifikan dan positif tidak memiliki pengaruh

(21)

dipengaruhi oleh variabel-variabel lain yang tidak termasuk dalam

penelitian ini. Secara parsial, semua variabel independen (ROE, PER,

BVPS, dan PTBV) tidak memiliki pengaruh secara signifikan dan positif

terhadap variabel dependen (Return).

Kemudian penelitian dari Johannes Tesalonika Siregar (2009) yang

memperoleh hasil bahwa EPS dan PER berdasarkan keeratannya memiliki

hubungan yang erat dan searah terhadap harga saham. Sedangkan Rasio

Tingkat Kapitalisasi berdasarkan keeratannya adalah memiliki hubungan

yang erat dan tidak searah terhadap harga saham. EPS, PER dan Rasio

Tingkat Kapitalisasi secara gabungan memiliki pengaruh terhadap Harga

Saham. Pengaruh EPS, PER dan Rasio Tingkat Kapitalisasi secara parsial

(sendiri-sendiri) terhadap harga saham menunjukkan bahwa ada hubungan

linier antara EPS dengan harga saham Sedangkan antara PER terhadap

Harga Saham tidak ada atau tidak terjadi hubungan linier antara kedua

variabel tersebut. Begitu juga antara Rasio Tingkat Kapitalisasi terhadap

Harga Saham tidak ada atau tidak terjadi hubungan linier antara kedua

variabel tersebut.

Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Wahid Wachyu Adi winanto

(2007) yang meneliti mengenai variabel EPS, DER, PER dan PTBV

berpengaruh terhadap return saham menggunakan metode regresi

berganda dan menunjukkan hasil bahwa variabel EPS, DER, PER dan

(22)

Selanjutnya penelitian dari Ryo Bramantyo (2006) yang meneliti

mengenai pengaruh DER (debt to equity ratio), PBV (price to book value)

dan DPR (dividend payout ratio) terhadap return saham pada perusahaan

manufaktur yang menghasilkan bahwa tidak ada hubungan yang positif

dan signifikan antara DER, DPR dan PBV terhadap return saham pada

perusahaan manufaktur.

Kemudian penelitian dari Mohamad Abdul Azis (2005) yang

meneliti mengenai pengaruh Earning Per Share dan Pertumbuhan

Penjualan terhadap perubahan harga saham pada perusahaan makanan

dan minuman yang menghasilkan bahwa baik secara parsial maupun

simultan EPS berpengaruh terhadap perubahan harga saham.

Selanjutnya penelitian dari Anung Saptadi (2007) yang meneliti

mengenai pengaruh ROI, PER dan EPS terhadap harga saham pada

perusahaan manufaktur yang menghasilkan bahwa secara parsial, variabel

ROE berpengaruh terhadap harga saham. Sedangkan secara simultan,

variabel ROI, PER dan EPS berpengaruh terhadap harga saham.

Kemudian penelitian dari Tika Maya Prabawanti (2007) yang

meneliti pengaruh Quick Asset to Inventory (QAI), Net Profit Margin

(NPM), Return on Asset (ROA), Debt toTotal Asset (DTA), Debt to Equity

Ratio (DER), dan Earning per Share (EPS) terhadap Total Return saham

pada Perusahaan Industri Manufaktur di Bursa Efek Jakarta yang

(23)

memiliki pengaruh yang signifikan. Sedangkan secara parsial kelima

variabel berpengaruh terhadap return saham.

Penelitian dari Sri Artatik (2007) yang meneliti mengenai EPS dan

PER terhadap Return saham perusahaan Manufaktur yang terdaftar di BEJ

yang memperoleh hasil bahwa secara parsial variabel EPS berpengaruh

terhadap return saham dan variabel PER tidak berpengaruh secara parsial.

Sedangkan secara simultan, variabel EPS dan PER berpengaruh terhadap

return saham perusahaan.

Kemudian penelitian dari Missaka Warusawitharana (2010) yang

meneliti tentang pengaruh real return terhadap ekuitas yang merupakan

kunci dalam membuat keputusan investasi. Hasil penelitiannya

menunjukkan bahwa return di masa yang akan datang akan lebih rendah

dari return saat ini. Hal ini dilihat dari hubungan nilai sekarang (present

value) terhadap dividen, earning terhadap nilai pasar (market value)

melalui return saham.

Kemudian penelitian dari Semra Karacaer dan Ayhan

Kapusuzoglu (2008) yang meneliti mengenai pengaruh rasio keuangan

yaitu rasio likuiditas, profitabilitas, aktivitas dan keuangan terhadap

situasi keuangan di perusahaan-perusahaan Turki. Hasil penelitiannya

menunjukkan bahwa rasio likuiditas dan profitabilitas memiliki pengaruh

yang signifikan terhadap keuangan perusahaan.

Berpedoman pada uraian dan beberapa penelitian sebelumnya

(24)

pengaruh rasio-rasio modal saham terhadap return saham, dan ada

beberapa faktor lain yang bisa mempengaruhi tingkat keuntungan (return)

saham yang belum dalam dimasukkan dalam variabel penelitan, sehingga

peneliti tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang pengaruh

beberapa rasio modal saham terhadap return saham yang diterima oleh

pemegang saham.

Dari uraian diatas, maka penulis tertarik untuk mengambil judul

”Analisis Pengaruh Rasio Modal Saham Terhadap Return yang Diterima

Oleh Pemegang Saham (Studi Pada Perusahaan Manufaktur yang

Terdaftar di BEI). Penelitian ini mengambil periode Januari 2004 sampai

Desember 2008.

Periode ini diambil karena beberapa alasan berikut:

1. Tahun 2004 dijadikan dasar periode dalam penelitian ini karena pada

tahun tersebut pasar modal Indonesia mengalami pertumbuhan yang

sangat signifikan. Hal ini didukung oleh meningkatnya stabilitas di

bidang politik, keamanan dan ekonomi di tahun 2004. Hampir seluruh

indikator utama bursa mengalami peningkatan yang sangat berarti.

2. Periode Januari 2004 sampai Desember 2008 dapat menggambarkan

reaksi pasar terkini.

Adapun perbedaan penelitian ini dibandingkan dengan penelitian-

(25)

1. Penelitian ini dilakukan pada periode yang masih sangat up date yaitu

pada periode tahun 2004-2008 sehingga dapat melukiskan reaksi pasar

terkini.

2. Penelitian ini menambahkan variabel tingkat kapitalisasi sebagai salah

satu dari rasio modal saham.

3. Penelitian ini menggunakan e-views sebagai alat analisisnya

4. Penelitian ini menggunakan sampel perusahaan manufaktur

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas, maka permasalahan-permasalahan

dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Apakah variabel-variabel rasio modal saham yang terdiri atas CR,

EPS, PBV, PER dan ROE berpengaruh secara parsial terhadap return

saham?

2. Apakah variabel-variabel rasio modal saham yang terdiri atas CR,

EPS, PBV, PER dan ROE berpengaruh secara simultan terhadap return

saham?

3. Seberapa besar pengaruh variabel-variabel independen yaitu variabel

rasio modal saham terhadap variabel dependen yaitu return saham?

C. Tujuan dan Manfaat

C.1. Tujuan Penelitian

(26)

1. Untuk menguji secara parsial antara pengaruh variabel-variabel

rasio modal saham (ROE, PER, BTPV, EPS, dan CR) terhadap

return saham.

2. Untuk menguji secara simultan antara pengaruh variabel-

variabel rasio modal saham (ROE, PER, BTPV, EPS, dan CR)

terhadap return saham.

3. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel-variabel

rasio modal saham terhadap return saham?

C.2. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini ditujukan untuk berbagai pihak yang

berkepentingan yang dijabarkan sebagai berikut:

1. Bagi Perusahaan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi

yang bermanfaat bagi perusahaan dalam melakukan investasi di

pasar modal.

2. Bagi Penulis

Penulis dapat menerapkan ilmu pengetahuan tentang pasar

modal yang diperoleh selama masa studi.

3. Bagi Penelitian Selanjutnya

Untuk penelitian selanjutnya, diharapkan mampu menjadi

referensi dalam penelitian mengenai rasio-rasio modal saham

(27)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Sekilas Tentang Pasar Modal

Pasar modal menjalankan fungsi ekonomi dan keuangan. Dalam

melaksanakan fungsi ekonominya, pasar modal menyediakan fasilitas

untuk memindahkan dana dari lender ke borrowe. Dengan

menginvestasikan kelebihan dana yang mereka miliki, lenders

mengharapkan akan memperoleh imbalan dari penyerahan dana tersebut.

Dari sisi borrowers tersedianya dana dari pihak luar memungkinkan

mereka melakukan investasi tanpa harus menunggu tersedianya dana dari

hasil operasi perusahaan. Dalam proses itu diharapkan akan terjadi

peningkatan produksi, sehingga akhirnya secara keseluruhan akan terjadi

peningkatan kemakmuran. Fungsi keuangan dilakukan dengan

menyediakan dana yang diperlukan oleh para borrowers dan para lenders

menyediakan dana tanpa harus terlibat langsung dalam kepemilikan aktiva

riil yang diperlukan untuk investasi tersebut (Suad Husnan, 1992).

Pasar modal merupakan salah satu tempat bagi para investor untuk menginvestasikan modal dengan harapan memperoleh imbalan berupa return

(28)

tersebut baik keuangan maupun non keuangan yang dapat mempengaruhi besar kecilnya tingkat perolehan return (Khajar, 2005:1)

Pasar modal memberikan jasanya yaitu menjebatani hubunga n

antara pemilik modal dalam hal ini disebut sebagai pemodal (investor)

dengan peminjam dana dalam hal ini disebut dengan emiten. Ada beberapa

daya tarik pasar modal. Pertama, diharapkan pasar modal akan bisa

menjadi alternative penghimpunan dana selain system perbankan. Pasar

modal memungkinkan perusahaan menerbitkan sekuritas yang berupa

surat tanda hutang (obligasi) ataupun surat tanda kepemilikan (saham).

Dengan demikian, perusahaan bisa menghindarkan diri dari kondisi debt to

equity ratio yang terlalu tinggi karena meminjam dana dari bank sehingga

justru membuat cost of capital of the firm tidak lagi minimal. Kedua, pasar

modal memungkinkan para pemodal mempunyai berbagai pilihan investasi

yang sesuai dengan prefensi risiko mereka. Dengan adanya pasar modal,

para pemodal memungkinkan untuk melakukan diversifikasi investasi,

membentuk portofolio (yaitu gabungan dari berbagai investasi) sesuai

dengan risiko yang mereka bersedia tanggung dan tingkat keuntungan

yang mereka harapkan.

Menurut Badan Pengembangan Pasar Modal (BAPEPAM), Pasar

Modal merupakan kegiatan yang berhubungan dengan penawaran umu m

dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang

(29)

Dari beberapa pengertian pasar modal maka dapat disimpulkan

bahwa pasar modal adalah pasar yang menyediakan sumber pembelanjaan

dengan jangka waktu yang lebih panjang, yang diinvestasikan pada barang

modal untuk menciptakan dan memperbanyak alat-alat produksi, yang

pada akhirnya akan menciptakan pasar kerja dan meningkatkan kegiatan

perekonomian yang sehat.

2. Manfaat Pasar Modal

Manfaat pasar modal bisa dirasakan baik oleh investor, emiten,

pemerintah. Menurut Hakim mengenai manfaat pasar modal:

1. Manfaat bagi Perusahaan (emiten)

Masalah utama yang bisa dihadapi setiap perusahaan untuk

mengembangkan usahanya adalah”permodalan”. Walaupun dunia

perbankan dan lembaga keuangan lainnya telah menyediakan dan

membuka kesempatan kepada setiap pengusaha untuk memperoleh

fasilitas modal, namun tidak semua perusahaan dapat memperoleh

kesempatan tersebut. Hambatan utama biasanya menyangkut jaminan

atau agunan. Keterbatasan jaminan yang dimiliki perusahaan memaksa

terbukannya pasar bagi produk usahanya maupun kelonggaran yang

memberikan pemerintah tidak dapat sepenuhnya mereka manfaatkan.

Keadaan tersebut tidak sedikit menutup kesempatan

berkembangnya perusahaan kecil dan menengah. Di lain pihak, jenis

(30)

yang kuat permodalannya. Akhirnya, pengusaha dengan skala kecil

terpaksa mengalihkan usahannya ke bidang lain berhubung tidak kuat

bersain dengan perusahaan besar.

Dengan berkembanya pasar modal di Indonesia, tidak hanya

bermanfaat bagi perusahaan besar dan kuat untuk memperoleh modal,

baik berupa equity maupun obligasi, sejak deregulasi pasar modal

Indonesia bulan Desember 1987 yang lalu, pemerintah telah membuka

kemungkinan bagi perusahaan kecil dan menengah untuk

memanfaatkan pasar modal dalam pasar sekunder di luar bursa efek

Indonesia yaitu bursa Paralel atau OTC. Kesempatan ini masih belum

dimanfaatkan oleh pengusaha Indonesia. Di luar negeri seperti

Singapura dan Malaysia, para pengusaha kecil menengah tela h

memanfaatkan pasar modal di dalam mengembangkan perusahaanya

dan berhasil dengan baik.

2. Manfaat bagi Investor

Bila selama ini para pemodal relatif terbatas menanamkan dananya

di bank, dengan perkembangan pasar modal di Indonesia yang

menerbitkan saham, obligasi dan sekuritas, jelas membuka kesempatan

lebih mengoptimalkan perolehan dari dana yang dimilikinaya.

Memang bisa saja, pemodal tersebut menanamkan uangnya dalam

membentuk investasi langsung, tapi perlu melakukan penelitian yang

lebih mendalam tentang sektor investasi apakah prospeknya

(31)

bentuk saham dan obligasi, tidak memerlukan penelitian yang rumit.

Sebab perusahaan yang telah go public tersebut telah mempunyai

track record sebelumnya. Terlebih-lebih lagi ada pihak –pihak yang

telah meneliti mengenai keadaan keuangan dan prospek usaha

perusahaan tersebut untuk masa yang akan datang. Dalam hal

demikian ini, pemodal tersebut tidak perlu dipusingkan dibandingkan

bila melakukan investasi secara langsung. Yang penting adala h

menetapkan pemilihan saham yang akan dibeli dan pada harga berapa

bila saham tersebut diperdagangkan oleh penjamin emisinya bersama-

sama dengan emitennya.

3. Manfaat bagi Pemerintah

Dengan berkembangnya pasar modal, perusahaan-perusahaan

menjual sahamnya di bursa efek, hal ini akan sejalan dengan tujuan

pemerataan hasil pembangunan, membuka kesempatan kerja, dan

tidak kalah pentingnya adalah mengurangi ketegangan sosial di

kalangan masyarakat. Dana yang diperoleh perusahaan yang go

public dapat dipergunakan untuk memperluas jaringan usaha, baik

yang telah ada maupun usaha baru. Kondisi demikian jelas akan

membuka kesempatan kerja. Di lain pihak, dengan dimilikinya

saham-saham oleh pemodal perorangan, memberikan kesempatan

kepada masyarakat luas memiliki saham yang selama ini dimiliki oleh

keluarga tertentu maupun pengusaha-pengusaha kaya saja. Keadaan

(32)

dalam masyarakat. Manfaat lain dari perkembangan pasar modal ini

adalah pendayagunaan secara optimal dana yang dimiliki oleh

masyarakat yang dimanfaatkan dalam mendorong pembangunan.

Keterbatasan pembiayaan pembangunan dari sektor pemerintah

diharapkan dapat dipengaruhi dari masyarakat atau swasta sendiri.

3. Modal Saham

Menurut Tunggal (1994: 78) saham merupakan surat bukti

pemilikan modal perseroan terbatas yang memberi hak atas devidend dan

lain-lainnya. Sedangkan menurut Thian (2000: 13) saham adalah surat

berharga yang merupakan tanda kepemilikan seseorang atau badan

terhadap suatu perusahaan. Penyertaan ini bisa disebut saham kalau bentuk

badan hukum dari usaha tersebut adalah perseroan terbatas. Menurut

Sumarni dan Suprihanto (1998: 48) saham dapat diklasifikasikan menjadi

beberapa macam, yaitu:

1. Saham biasa (common stock), yaitu saham yang tidak mempunyai

kelebihan hak dari jenis saham yang lain, artinya para pemilik akan

memperoleh devidend hanya apabila perusahaan memperoleh laba.

2. Saham Preferen (Preferred Stock), saham ini memiliki preferensi atau

hak istimewa sebagai berikut:

1) Pembagian devidend yang didahulukan, artinya pemegang saham

mendapat pembagian devidend terlebih dulu daripada pemegang

(33)

2) Pembagian saham komulatif, artinya pemegang saham preferen ini

mendapatkan hak untuk memperoleh devidend pada tiap periode.

Jika ia tidak memperoleh devidend pada suatu periode karena

sesuatu hal, maka ia akan memperolehnya pada periode yang akan

datang secara komulatif.

3) Pembagian kekayaan yang didahulukan, artinya para pemegang

saham preferen mempunyai suatu hak untuk memperoleh

pembagian kekayaan perusahaan terlebih dulu dari pemegang

saham biasa, pada saat perusahaan dilikuidasikan. Tetapi

disamping itu para pemegang saham preferen tidak mempunyai

hak suara di dalam RUPS yang biasanya dilaksanakan paling

sedikit satu kali dalam satu tahun.

3. Saham Bonus, yaitu saham yang diberikan secara cuma-cuma kepada

para pemegang saham lainnya, karena keuntungan perusahaan yang

lalu dalam bentuk cadangan terlalu besar dan perlu dikurangi dengan

memberikan dalam bentuk saham-saham baru yang disebut saham

bonus.

4. Saham Pendiri, yaitu saham yang diberikan kepada para pendiri

perseroan karena jasa-jasanya pada masa pendirian perusahaan

tersebut.

5. Saham Kosong, yaitu saham yang dibeli kembali oleh perseroan dari

(34)

lagi dalam modal perseroan. Secara yurudis menurut Rido (1988: 221 –

222) saham itu mempunyai tiga fungsi utama, yaitu:

1) Sebagai sebagian dari modal.

Dikatakan demikian karena pada dasarnya saham itu merupakan

modal, sebagai yang sering dibaca dalam akta pendirian PT

2) Saham sebagai tanda anggota.

Setiap orang yang akan ikut serta sebagai anggota dalam kerja

sama PT diwajibkan untuk memberikan pemasukan sejumlah uang

ke dalam perseroan. Pemasukan inilah yang diperhitungkan dalam

bentuk saham. Nominal uang pemasukan itu tercantum sama dalam

saham. Jadi, dengan dimilikinya saham menunjukkan bahwa orang

tersebut adalah anggota yang disebut pesero dari PT. Sebagai

buktinya diberikanlah saham sebagai tanda anggota.

3) Saham sebagai alat legitimasi

Saham sebagai salah satu jenis surat berharga yang mempunyai

fungsi sebagai surat legitimasi, artinya suatu surat yang menunjuk

pemegangnya sebagai orang yang berhak khususnya di luar suatu

proses.

4. Investasi

Investasi adalah komitmen atas sejumalah dana atau sumber daya

lainnya yang dilakukan pada saat ini, dengan tujuan memperoleh

(35)

investor membeli sejumlah saham saat ini dengan harapan memperoleh

keuntungan dari kenaikan harga saham saat ini dengan harapan

memperoleh keuntungan dari kenaikan harga saham ataupun sejumlah

deviden di masa yang akan datang, sebagai imbalan atas waktu dan resiko

yang terkait dengan investasi tersebut.

Menurut PSAK Nomor 13 dalam standar akuntansi keuangan per 1

oktober 2004, investasi adalah suatu aktiva yang digunakan perusahaan

untuk pertumbuhan kekayaan melalui distribusi hasil investasi (seperti

bunga, royalty, dividen, dan uang sewa) untuk apresiasi nilai investasi,

atau untuk manfaat lain bagi perusahaan yang berinvetasi seperti manfaat

yang diperoleh melalui hubungan perdagangan. Persediaan dan aktiva

tetap bukan merupakan investasi.

Untuk mencapai suatu efektifitas dan efisiensi dalam keputusan

maka diperlukan ketegasan akan tujuan yang diharapkan (Yovi Lavianti

Hadi dan Irfan Fahmi,2009). Begitu pula halnya dalam bidang investasi

kita perlu menetapkan tujuan yang hendak dicapai yaitu terciptanya

keberlanjutan dalan investasi tersebut, terciptanya profit yang maksimum

atau keuntungan yang diharapkan, terciptanya kemakmuran bagi

pemegang saham dan turut memberikan andil bagi pembangunan bangsa.

Investasi memiliki dua tipe, yaitu direct investment dan indirect

investment. Direct investment adalah mereka yang memiliki dana dapat

langsung berinvestasi dengan membeli secara langsung suatu aktiva

(36)

perantara atau berbagai cara lainnya. Indirect investment adalah mereka

yang memiliki kelebihan dana dapat melakukan keputusan investasi

dengan tidak terlibat secara langsung atau pembelian aktiva keuangan

cukup hanya dengan memegang dalam bentuk saham atau obligasi saja.

Mereka yang melakukan kebijakan indirect investment umumnya

cenderung tidak terlibat dalam pengambilan keputusan penting pada suatu

perusahaan.

Setiap melakukan keputusan investasi adalah selalu saja

memerlukan proses, yang mana proses tersebut akan memberikan

gambaran setiap tahap yang akan ditempuh oleh perusahaan. Secara

umum, proses manajemen investasi meliputi lima langkah yaitu:

a. Menetapkan sasaran investasi

Penetapan sasaran artinya melakukan keputusan yang bersifat

fokus atau menetapkan target sasaran terhadap yang akan

diinvestasikan. Penetapan sasaran investasi adalah sangat

disesuaikan dengan apa yang akan ditujukan pada investasi

tersebut. Jika sasaran investasi adalah dalam bentuk penyaluran

kredit maka berarti investasi tersebut dalam bentuk lembaga

perbankan, leasing, bank perkreditan dan sejenisnya yang bertugas

untuk menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya

kepada public yang mengalami kekurangan dana.

(37)

Pada tahap ini menyangkut dengan bagaimana perusahaan

mengelola dana yang berasal dari stock, bond dan lainnya untuk

kemudian di distribusikan ke tempat-tempat yang dibutuhkan.

Penghitungan pendistribusian dana ini haruslah dilakukan dengan

prinsip kehati-hatian karena berbagai hal akan bisa timbul pada

saat dana tersebut tidak mampu untuk ditarik kembali. Juga perlu

bagi pihak perusahaan memperhitungkan tentang beban pajak (tax)

yang akan ditanggung nantinya.

c. Memilih strategi portofolio

Ini menyangkut keputusan peranan yang akan diambil oleh pihak

perusahaan, yaitu apakah bersifat aktif atau pasif saja. Pada saat

perusahaan melakukan investasi aktif maka semua kondisi tentang

perusahaan akan dengan cepat tergambarkan di pasar saham.

Investasi aktif akan selalu mencari informasi yang tersedia dan

kemudian selanjutnya mencari kombinasi portofolio yang paling

tepat untuk dilaksanakan. Sedangkan secara pasif hanya dapat

dilihat pada indeks rata-rata saja, atau dengan kata lain berdasarkan

pada reaksi pasar saja tanpa ada sikap atraktif.

d. Memilih asset

Disini pihak perusahaan berusaha memilih asset investasi yang

nantinya akan memberikan return yang tertinggi. Return disini

dilihat sebagai keuntungan yang akan mampu diperoleh.

(38)

Tahap ini adalah menjadi tahap reevaluasi bagi perusahaan untuk

melihat kembali apa yang telah dilakukan selama ini dan apakah

tindakan yang telah dilakukan selama ini telah betul-betul

maksimal atau belum. Jika belum maka sebaiknya segera

melakukan perbaikan agar kerugian tidak akan terjadi ke depan

nantinya. Bagaimanapun perusahaan berharap akan memperoleh

keuntungan yang bersifat suistainability dan bukan hanya

keuntungan yang diperoleh sesaat saja.

5. Return Saham

Return saham adalah tingkat pengembalian investor dari hasil

pendapatan perusahaan. Pembagian return dapat dikarenakan pembayaran

deviden kepada pemegang saham, return dapat juga diambil kembali oleh

perusahaan yang dapat digunakan untuk pembiayaan proyek perusahaan

yang selanjutnya. Hal ini dapat disebut juga internal financing dimana

return yang didapat perusahaan akan digunakan kembali untuk

memajukan perusahaan. Return saham terbagi menjadi dua, yaitu return

realisasi dan return ekspektasi.

Return realisasi (realization return) merupakan return yang telah terjadi. Return realisasi dihitung berdasarkan data histories. Return

realisasi penting karena digunakan sebagai salah satu pengukur kinerja

(39)

tingkat keuntungan yang diharapkan (expected return) dan resiko di masa

datang.

Return ekspektasi (expected return) adalah return yang diharapkan akan diperoleh oleh investor di masa mendatang. Berbeda

dengan return realisasi yang sifatnya sudah terjadi, sedangkan return

ekspektasi sifatnya belum terjadi.

6. Rasio Modal Saham

a. PER (Price Earning Ratio)

Menurut (Tandelilin, 2001: 243) informasi Price Earning Ratio

mengidentifikasikan besarnya rupiah yang harus dibayarkan investor

untuk memperoleh satu rupiah earning perusahaan. Dengan kata lain,

Price Earning Ratio menunjukkan besarnya harga tiap satu rupiah

earning perusahaan. Di samping itu, Price Earning Ratio juga

merupakan ukuran harga relatif dari sebuah saham perusahaan. PER

menunjukkan hubungan antara harga pasar saham biasa dan earning per

share. Oleh para investor, angka ratio ini digunakan untuk memprediksi

kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba (earning power) di masa datang. Kesediaan investor untuk menerima kenaikan PER sangat tergantung pada prospek perusahaan.

(40)

jumlah deviden yang akan bisa dibayarkan perusahaan nantinya. Jika labanya naik, ada kesempatan bahwa devidennya akan naik juga. Secara umum saham dengan PER yang rendah sering dikatakan sebagai saham yang murah. Rendahnya PER bias terjadi akibat menurunnya harga saha m atau meningkatnya laba bersih. Begitu sebaliknya, PER tinggi bisa terjadi jika ada penurunan laba bersih yang menjadi elemem pembagi dalam kalkulasi PER. Saham dengan PER tinggi bisa jadi menunjukkan bahwa perusahaan penerbit saham tersebut sedang bertumbuh pesat. Dengan logika yang sama PER yang rendah bisa menjadi indikasi bahwa perusahaan tersebut mencatat perolehan laba yang statis atau berada di bidang yang berisiko tinggi (Cahyono, 2000:190-192). Oleh karena itu, PER berpengaruh terhadap return yang diterima oleh pemegang saham. b. PBTV (Price To Book Value)

Price to Book Value (PBV) adalah rasio yang menjelaskan tentang

perbandingan harga pasar sebuah saham dengan nilai buku perlembar

saham (Book Value Per Share) sebenarnya. Nilai buku adalah jumlah

yang akan dibayarkan kepada para pemegang saham pada waktu

pembubaran (likuidasi) Perseroan Terbatas (PT). Price to Book Value

(41)

mengetahui nilai pasar dan nilai buku maka pertumbuhan perusahaan dapat diketahui. Perusahaan yang tumbuh mempunyai rasio lebih dari satu yang berarti pasar percaya bahwa nilai pasar perusahaan tersebut lebih besar dari nilai bukunya. Jika para penanam saham membeli saham diatas nilai bukunya maka perusahaan akan memperoleh keuntungan dari penjualan saham dan hal itu akan menurunkan return saham yang diterima para investor karena dinilai harga saham tersebut mahal. Maka semakin besar rasio. PBV akan mengakibatkan menurunnya return saham begitu juga

c. EPS (Earning Per Share)

Earning per share (EPS) jumlah pendapatan yang diperoleh dalam

satu periode untuk tiap lembar saham beredar (Baridwan 2000: 448).

(42)

hak-hak lainnya untuk pemegang saham biasa. Dengan cara membagi jumlah pendapatan yang tersedia untuk pemegang saham biasa dengan jumlah lembar saham biasa yang beredar maka akan diketahui jumlah lembar pendapatan untuk setiap lembar saham tersebut. Husnan (2001:317) bahwa jika kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba meningkat, maka harga saham akan meningkat. Dengan meningkatnya harga saham perusahaan, maka return saham yang akan diperoleh investor juga akan semakin tinggi. Jika nilai EPS naik maka harga saha m mengalami kenaikan, return sahamnya juga mengalami kenaikan. Pendapatan per saham (Earning per share/EPS) perusahaan biasanya menjadi perhatian pemegang saham pada umumnya atau calon pemegang saham dan manajemen. EPS menunjukkan jumlah uang yang dihasilkan (return) dari setiap lembar saham. Semakin besar nilai EPS, semakin besar keuntungan/return yang diterima pemegang saham (Alwi, 2003:77). Jadi jika saham yang beredar dari saham prioritas dan saham biasa maka langkah pertama adalah menentukan pendapatan yang menjadi hak pemegang saham prioritas dan hak tersebut dikurangkan pada laba bersih yang diperoleh baru kemudian dapat dihitung laba per lembar saham.

Jadi Earning Per Share (EPS) merupakan ukuran kemampuan

perusahaan dalam menghasilkan keuntungan perlembar saham bagi

pemiliknya. Informasi mengenai pendapatan per lembar saham dapat

digunakan oleh pimpinan perusahaan untuk menentukan deviden yang

(43)

mengetahui perkembangan perusahaan. Earning Per Share diperoleh

dari laba bersih setelah dibagi dengan jumlah saham.

EPS erat kaitannya dengan tingkat keuntungan yang diterima oleh

perusahaan dan berhubungan langsung dengan return perusahaan. Oleh

karena itu, EPS memiliki pengaruh terhadap return saham (Alwi,

2003:77).

d. ROE (Return On Equity)

Gill (2004) mengatakan bahwa rasio laba atas ekuitas

mengukur besarnya pengembalian terhadap investasi para pemegang

saham. Return on equity menggambarkan sejauh mana kemampuan

perusahaan menghasilkan laba yang tersedia bagi pemegang saham

(earning available for common stockholder’s) agar bisa terlihat

seberapa besar kemampuan modal sendiri dalam menghasilkan laba,

maka diperlukan perhitungan laba bersih yang sudah dikurangi dengan

biaya bunga dari modal asing (cost of debt) dan pajak perseroan

(income tax). Sedangkan modal yang dihitung adalah modal sendiri

yang bekerja dalam perusahaan.

Dari sudut pandang investor ROE merupakan salah satu

indikator penting untuk menilai prospek perusahaan di masa

mendatang. Dengan mengetahui tingkat ROE, investor dapat menilai

prospek perusahaan di masa mendatang. Dengan mengetahui tingkat

(44)

perusahaan. Indikator ROE sangat penting diperhatikan untuk

mengetahui sejauh mana investasi yang akan dilakukan investor di

suatu perusahaan mampu memberikan return yang sesuai dengan

tingkat yang diharapkan investor, ROE akan berubah jika EAT atau

equity mengalami perubahan.

e. Tingkat Kapitalisasi (Capitalized Ratio)

Tingkat kapitalisasi atau rasio tingkat pengembalian, mengukur

tingkat pengembalian yang dituntut oleh pasar terhadap perusahaan.

Jika rasio harga laba meningkat, maka tingkat kapitalisasi akan

menurun.

Rasio yang rendah berarti para investor tidak menuntut tingkat

pengembalian yang sangat tinggi atas uang mereka karena

beranggapan bahwa perusahaan tersebut akan menjadi suatu investasi

yang baik. Rasio yang tinggi berarti investor menginginkan tingkat

pengembalian yang tinggi untuk setiap modal yang diinvestasikan.

Oleh karena itu, rasio kapitalisasi ini berhubungan erat dengan return

saham (Gill, 2004).

B. Penelitian Sebelumnya

Penelitian yang dilakukan oleh David wijaya (2008) tentang

pengaruh variabel rasio modal saham yaitu ROE, PER, PTBV, dan BVS

terhadap return dengan menggunakan metode analisis regresi berganda

(45)

(ROE, PER, BVPS, PTBV) secara signifikan dan positif tidak memiliki

pengaruh terhadap return saham. Secara parsial, semua variabel

independen (ROE, PER, BVPS, dan PTBV) tidak memiliki pengaruh

secara signifikan dan positif terhadap variabel dependen (Return).

Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Wahid Wachyu Adi winanto

(2007) yang meneliti mengenai variabel EPS, DER, PER dan PTBV

berpengaruh terhadap return saham menggunakan metode regresi

berganda dan menunjukkan hasil bahwa variabel EPS, DER, PER dan

PTBV berpengaruh secara simultan terhadap return saham.

Kemudian penelitian dari Johannes Tesalonika Siregar (2009)

yang meneliti mengenai EPS, PER dan tingkat kapitalisasi terhadap return

saham yang menunjukkan hasil yaitu EPS dan PER berdasarkan

keeratannya memiliki hubungan yang erat dan searah terhadap harga

saham. Sedangkan Rasio Tingkat Kapitalisasi berdasarkan keeratannya

adalah memiliki hubungan yang erat dan tidak searah. terhadap harga

saham. EPS, PER dan Rasio Tingkat Kapitalisasi secara Gabungan

memiliki pengaruh terhadap Harga Saham. Pengaruh EPS, PER dan

Rasio Tingkat Kapitalisasi secara Parsial (sendiri-sendiri) terhadap Harga

Saham menunjukkan bahwa ada hubungan linier antara EPS dengan

harga saham Sedangkan antara PER terhadap Harga Saham tidak ada atau

tidak terjadi hubungan linier antara kedua variabel tersebut. Begitu juga

antara Rasio Tingkat Kapitalisasi terhadap Harga Saham tidak ada atau

(46)

Selanjutnya penelitian dari Ryo Bramantyo (2006) yang meneliti

mengenai pengaruh DER (debt to equity ratio), PBV (price to book value)

dan DPR (dividend payout ratio) terhadap return saham pada perusahaan

manufaktur yang menghasilkan bahwa tidak ada hubungan yang positif

dan signifikan antara DER, DPR dan PBV terhadap return saham pada

perusahaan manufaktur.

Kemudian penelitian dari Mohamad Abdul Azis (2005) yang

meneliti mengenai pengaruh Earning Per Share dan Pertumbuhan

Penjualan terhadap perubahan harga saham pada perusahaan makanan

dan minuman yang menghasilkan bahwa baik secara parsial maupun

simultan EPS berpengaruh terhadap perubahan harga saham.

Selanjutnya penelitian dari Anung Saptadi (2007) yang meneliti

mengenai pengaruh ROI, PER dan EPS terhadap harga saham pada

perusahaan manufaktur yang menghasilkan bahwa secara parsial, variabel

ROE berpengaruh terhadap harga saham. Sedangkan secara simultan,

variabel ROI, PER dan EPS berpengaruh terhadap harga saham.

Kemudian penelitian dari Tika Maya Prabawanti (2007) yang

meneliti pengaruh Quick Asset to Inventory (QAI), Net Profit Margin

(NPM), Return on Asset (ROA), Debt toTotal Asset (DTA), Debt to Equity

Ratio (DER), dan Earning per Share (EPS) terhadap Total Return saham

pada Perusahaan Industri Manufaktur di Bursa Efek Jakarta yang

(47)

memiliki pengaruh yang signifikan. Sedangkan secara parsial kelima

variabel berpengaruh terhadap return saham.

Penelitian dari Sri Artatik (2007) yang meneliti mengenai EPS dan

PER terhadap Return saham perusahaan Manufaktur yang terdaftar di BEJ

yang memperoleh hasil bahwa secara parsial variabel EPS berpengaruh

terhadap return saham dan variabel PER tidak berpengaruh secara parsial.

Sedangkan secara simultan, variabel EPS dan PER berpengaruh terhadap

return saham perusahaan.

Kemudian penelitian dari Missaka Warusawitharana (2010) yang

meneliti tentang pengaruh real return terhadap ekuitas yang merupakan

kunci dalam membuat keputusan investasi. Hasil penelitiannya

menunjukkan bahwa return di masa yang akan datang akan lebih rendah

dari return saat ini. Hal ini dilihat dari hubungan nilai sekarang (present

value) terhadap dividen, earning terhadap nilai pasar (market value)

melalui return saham.

Kemudian penelitian dari Semra Karacaer dan Ayhan

Kapusuzoglu (2008) yang meneliti mengenai pengaruh rasio keuangan

yaitu rasio likuiditas, profitabilitas, aktivitas dan keuangan terhadap

situasi keuangan di perusahaan-perusahaan Turki. Hasil penelitiannya

menunjukkan bahwa rasio likuiditas dan profitabilitas memiliki pengaruh

(48)

C. Hipotesis

Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya, maka berikut ini akan

disajikan hipotesis sebagai berikut:

H1: terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel (ROE, PER, PTBV

EPS, dan tingkat kapitalisasi) terhadap return saham secara parsial

H2: terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel (ROE, PER, PTBV

(49)

Uji F D. Kerangka Pemikiran

PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BEI

ANALISIS RASIO MODAL SAHAM

CR EPS PER PBV ROE

RETURN SAHAM

UJI ASUMSI KLASIK

Uji t Uji R2

UJI REGRESI BERGANDA

(50)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian yang dilakukan adalah penelitian kuantitatif karena

meneliti pengaruh rasio modal saham terhadap return saham yang

dilakukan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI. Periode

yang diambil yaitu Januari 2004 sampai Desember 2008, karena periode

ini menggambarkan reaksi pasar terkini dan pada tahun 2004 pasar modal

mengalami perkembangan yang sangat pesat.

B. Metode Penentuan Sampel

Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah perusahaan

manufaktur yang terdaftar di BEI selama periode 2004-2008 yang terdiri

atas perusahaan manufaktur dari sub sektor industri, sub sektor industry

tersebut diantaranya yaitu: food and Beverages, Tobacco Products,

Textile Mill Products, Apparel and Other Textile Products, Lumber and

Wood Products, Paper and Allied Products, Chemical and Allied

Products, Adhesive, Plastic Products, Cement, Metal, Machinery, Cables,

Electrik and EletronicsEquipment, Automotive and Allied Products,

Photographic Equipment, Pharmaceutikal, Consumer Goods, Other

Manufakturing, Fabricated Metal Products, Stone Clay and Concrete

(51)

Diambilnya Bursa Efek Jakarta sebagai ob yek pengamatan karena

Bursa Efek Jakarta sebagai barometer aktivitas pasar modal di Indonesia.

Disamping itu frekuensi perdagangan dan variasi harga saham jauh lebih

besar dan tinggi jika dibandingkan dengan Bursa Efek Surabaya.

Dipilihnya perusahaan manufakatur karena lebih dari separuh perusahaan

yang tercatat di Bursa Efek Jakarta adalah perusahaan manufaktur untuk

menjernihkan analisis, maka perlu mengkonsentrasikan pada perusahaan

yang menerbitkan laporan keuangan secara lengkap. Jumlah populasi

dalam penelitian ini adalah sebanyak 138 perusahaan manufaktur yang

tercatat di Bursa Efek Jakarta selama tahun 2004-2008 yang kemudian

diseleksi menjadi 23.

Metode penarikan sampel menggunakan teknik purposive

sampling, yaitu metode penarikan sampel berdasarkan syarat dan kriteria

yang ditentukan agar memperoleh data yang diinginkan.

Pemilihan sampel saham perusahaan manufaktur yang diteliti

berdasarkan kriteria sebagai berikut:

1. Perusahaan manufaktur yang go public di BEI selama tahun 2004-

2008

2. Perusahaan yang menerbitkan laporan keuangan tahunan yang

dipublikasikan dalam bentuk laporan keuangan auditan secara

lengkap selambat-lambatnya pada akhir bulan ketiga setelah tanggal

(52)

3. Sampel perusahaan diambil sebanyak 23 perusahaan selama periode 5

tahun.

C. Metode Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini

adalah:

1. Penelitian kepustakaan, yaitu metode pengumpulan data yang diperoleh

dengan cara membaca buku-buku dan surat kabar, mengadakan penelitia n

kepustakaan baik melalui buku-buku maupun bahan-bahan serta literatur-

literatur yang berhubungan erat kaitannya dengan pokok permasalahan

yang akan diteliti.

2. Data sekunder, yaitu melalui pihak-pihak lain seperti data-data yang dapat

diperoleh dari Bursa Efek Indonesia dan BAPEPAM.

3. Penelitian Lapangan, yaitu penulis mengadakan penelitian langsung ke

BEI denagn tujuan memperoleh data penelitian yang dibutuhkan. Data

yang digunakan dalam penelitian ni merupakan data runtun waktu atau

data berkala (time series) yaitu data yang disusun berdasarkan urutan

waktu atau data yang dikumpulkan dari waktu ke waktu. Waktu yang

(53)

D. Metode Analisis

Teknik analisis dalam penelitian ini dilakukan dengan

menggunakan analisis regresi linier berganda. Sebelum dilakukan

pengujian dengan regresi linier berganda, terlebih dahulu dilakukan

pengujian asumsi klasik yang terdiri dari uji normalitas, uji multi

kolinearitas, uji heteroskedastisitas dan uji auto korelasi. Analisis regresi

berganda bertujuan untuk melihat pengaruh antara variabel independen

dengan variabel dependen. Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan

program Eviews 5.0. Setelah model regresi terbebas dari penyimpangan

asumsi klasik, maka langkah selanjutnya dilakukan uji statistic yang

terdiri dari uji t dan uji F dan uji koefisien determinasi..

1. Uji Asumsi Klasik

Menurut Gujarati (1995) bahwa dalam analisis linier berganda

perlu menghindari penyimpangan asumsi klasik supaya tidak timbul

masalah dalam penggunaan analisis regresi linier berganda. Dalam

penelitian ini asumsi klasik yang dianggap penting dalam penelitian

yaitu:.

a. Uji Normalitas Data

(54)

akan valid jika residual yang kita dapatkan mempunyai distribusi

normal. Dalam penelitian ini uji normalitas data menggunakan

metode Jarque-Bera(J-B). jika residual didistribusikan secara

normal maka diharapkan nilai statistic J-B akan sama dengan nol.

Jika nilai probabilitas dari statistic J-B besar atau dengan kata lain

jika nilai statistic dari J-B ini tidak signifikan maka kita menerima

hipotesis bahwa residual mempunyai distribusi normal karena nilai

statistik J-B mendekati nol. Sebaliknya jika nilai probabilitas dari

statistic JB kecil atau signifikan maka kita menolak hipotesis

bahwa residual mempunyai distribusi normal karena nilai statistic

J-B tidak sama dengan nol.

b. Uji Multikolonieritas

Multikolinearitas adalah adanya hubungan antara variable

independen dalam satu regresi. Model regresi yang baik adalah

model yang tidak mempunyai masalah multikolinearitas. Penelitian

ini membahas masalah multikolinearitas dengan melakukan uji

korelasi parsial antar variabel independent dengan bantuan Eviews

5.

Masalah multikolinearitas dengan uji korelasi parsial antar

variabel independen dapat dilihat dengan nilai korelasi antar

variabel. Jika koefisen korelasi lebih dari 0.80, dapat disimpulkan

(55)

koefisien korelasi lebih kecil dari 0,80 maka diduga model tidak

mengandung masalah multikolinearitas (Widarjono;2007).

c. Uji Autokorelasi

Pengujian yang dilakukan untuk mengetahui apakah dala

sebuah model regresi linier ada korelasi antara kesalahan

pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1.

Penelitian ini menggunakan Metode Breusch-godfrey atau yang

lebih dikenal dengan metode Langrange Multiplier (LM) untuk

mendeteksi adanya masalah autokorelasi jika probabilitasobs*R2

uji LM < 0.05 maka terdapat gejala autokorelasi dalam model yang

digunakan.

d. Uji Heteroskedastisitas

Pengujian yang dilakukan untuk mengetahui apakah varians

residual absolut sama atau tidak sama untuk semua observasi data.

Pada penelitian ini uji heterokedastisitas dilakukan dengan

menggunakan uji White untuk mengidentifikasi masalah

heterokedastisitas. Suatu model dikatakan terdapat gejala

heterokedastisitas jika nilai chi square hitung lebih besar

dibandingkan dengan nilai chi square kritis. Sebaliknya jika nilai

chi square hitung lebih kecil dari nilai kritis chi square maka dapat

(56)

2. Uji Hipotesis

a. Uji Parsial (Uji t)

Uji t digunakan untuk menguji koefisien regresi secara parsial dari variabel independennya. Untuk menentukan nilai t-statistik tabel, ditentukan dengan tingkat signifikansi 5%, hasil dari perbandingan probabilitas (sig t) dengan taraf signifikansi yang ditolerir sebesar

=5% akan dijadikan dasar untuk pengambilan keputusan dalam uji

hipotesis penelitian.

Uji t digunakan untuk melihat pengaruh variabel independen

terhadap variabel dependen secara individu (parsial). Hipotesa yang

digunakan adalah :

Penelitian ini menggunakan level signifikan 95% atau = 5% H ditolak bila : probabilitas nilai t hitung < probabilitas nilai t kritis

0

H diterima bila : probabilitas nilai t hitung > probabilitas nilai t kritis 0

Rumus menghitung thitung dengan rumus thitung

(57)

Keterangan:

b = koefisien regresi parsial sampel

B = koefisien regresi parsial populasi

Sb = Standar error koefisien regresi sampel

b. Uji Simultan (Uji F-statistik)

Uji F-statistik digunakan untuk menguji besarnya pengaruh dari seluruh variabel independen secara bersama-sama atau simultan terhadap variabel dependen.

H0 : b1 , b2 , b3 , b4 , b5 , 0, artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan secara bersama-sama antara variabel independen (x1,x2,x3,x4,x5 ) terhadap variabel dependen (Y).

Ha : b1 , b2 , b3 , b4 , b5 > 0, artinya terdapat pengaruh yang signifikan secara bersama-sama dari variabel independen ( x1,x2,x3,x4,x5) terhadap variabel dependen (Y).

F = R2/k

(1-R2)/(n-k-1)

Keterangan:

F : F hitung

R2 : Koefisien Determinan

k : Jumlah variabel independent

n : Jumlah sample

Gambar

gambaran  setiap  tahap  yang  akan  ditempuh  oleh  perusahaan.  Secara
Secara . View in document p.36
Tabel 4.1 Daftar Sampel Perusahaan Manufaktur
Tabel 4 1 Daftar Sampel Perusahaan Manufaktur . View in document p.63
Tabel 4.2
Tabel 4 2 . View in document p.66
Tabel  4.3
Tabel 4 3 . View in document p.69
Tabel 4.4
Tabel 4 4 . View in document p.71
Tabel 4.5
Tabel 4 5 . View in document p.72
Tabel  4.6
Tabel 4 6 . View in document p.74
Tabel Return saham Perusahaan4.7  Manufaktur Tahun 2004-2008
Tabel Return saham Perusahaan4 7 Manufaktur Tahun 2004 2008 . View in document p.76
Tabel 4.8
Tabel 4 8 . View in document p.79
Tabel 4.9 Hasil Matrix Correlation
Tabel 4 9 Hasil Matrix Correlation . View in document p.80
Tabel 4.10
Tabel 4 10 . View in document p.81
Tabel 4.10  Menunjukkan  bahwa  model tidak mengandung
Tabel 4 10 Menunjukkan bahwa model tidak mengandung . View in document p.82
tabel 4.11 Berikut:
Berikut . View in document p.82
Tabel   4.11    tersebut   diatas menunjukkan    probabilitas
Tabel 4 11 tersebut diatas menunjukkan probabilitas . View in document p.83
Tabel  4.12   menunjukkan  bahwa   nilai  F   hitung  sebesar
Tabel 4 12 menunjukkan bahwa nilai F hitung sebesar . View in document p.84
table   4.12   di   atas   maka   diperoleh  persamaan   regresi   sebagai
table 4.12 di atas maka diperoleh persamaan regresi sebagai . View in document p.85

Referensi

Memperbarui...

Download now (96 pages)