INTERTEKSTUAL CERPEN “ROBOHNYA SURAU KAMI” KARYA A.A. NAVIS DENGAN “BURUNG KECIL BERSARANG DI POHON” KARYA KUNTOWIJOYO DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN SASTRA DI SEKOLAH

Gratis

33
396
108
3 years ago
Preview
Full text

  INTERTEKSTUAL CERPEN “ROBOHNYA SURAU KAMI” KARYA A.A. NAVIS DENGAN “BURUNG KECIL BERSARANG DI POHON ” KARYA KUNTOWIJOYO DAN

  

IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN SASTRA DI

SEKOLAH

  Skripsi Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.)

  Oleh

  

Suci Bella Dwi Kurnia

109013000111

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

  

LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI

INTERTEKSTUAL CERPEN ROBOHNYA SURAU KAMI KARYA A.A. NAVIS DENGAN

  BURUNG KECIL BERSARANG DI POHON KARYA

KUNTOWIJOYO DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN

SASTRA DI SEKOLAH

  Skripsi Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

  Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) Oleh

  

Suci Bella Dwi Kurnia

NIM: 109013000111

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

  

2013

  

LEMBAR PENGESAHAN

  Skripsi berjudul “Intertekstual Cerpen „Robohnya Surau Kami‟ Karya A.A.

  Navis dengan „Burung Kecil Bersarang di Pohon‟ Karya Kuntowijoyo dan

Implikasinya Terhadap Pembelajaran Sastra di Sekolah” diajukan kepada

  Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan telah lulus dalam ujian munaqasah pada tanggal 27 September 2013 di hadapan dewan penguji. Karena itu penulis berhak memperoleh gelar Sarjana S1 (S.Pd.) bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

  Jakarta, 30 September 2013 Panitia Ujian Munaqasah

SURAT PERNYATAAN KARYA ILMIAH

  Yang bertanda tangan di bawah ini: Nama : Suci Bella Dwi Kurnia NIM : 109013000111 Jurusan : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Alamat : Klapanunggal Rt 02/ RW 01 No. 123 Cileungsi-Bogor 16820

MENYATAKAN DENGAN SESUNGGUHNYA

  Bahwa skripsi yang berjudul Intertekstual Cerpen

  “Robohnya Surau Kami ” Karya A.A. Navis dengan “Burung Kecil Bersarang di Pohon” Karya

Kuntowijoyo dan Implikasinya terhadap Pembelajaran Sastra di Sekolah

  adalah benar hasil karya sendiri di bawah bimbingan dosen: Nama Pembimbing : Ahmad Bahtiar, M.Hum.

  NIP : 197601182009121002 Jurusan/Program Studi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

  Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan saya siap menerima segala konsekuensi apabila terbukti bahwa skripsi ini bukan hasil karya sendiri.

  Jakarta, 19 September 2013 Suci Bella Dwi Kurnia

  

ABSTRAK

  Suci Bella Dwi Kurnia 109013000111, Intertekstual Cerpen “Robohnya

  Surau Kami ” Karya A.A. Navis dan “Burung Kecil Bersarang di Pohon” Karya Kuntowijoyo dan Implikasinya terhadap Pembelajaran Sastra di Sekolah. Skripsi.

  Jakarta: Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. 2013.

  Penelitian ini bertujuan untuk 1) Mendeskripsikan bentuk intertekstual yang terdapat dalam cerpen “Robohnya Surau Kami” karya AA. Navis dan cerpen

  “Burung Kecil Bersarang di Pohonkarya Kuntowijoyo, 2) Mendeskripsikan implikasi bentuk intertekstualitas cerpen Robohnya Surau Kami karya AA. Navis dengan cerpen

  “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis dan cerpen “Burung Kecil Bersarang di Pohon

  ” karya Kuntowijoyo terhadap pembelajaran sastra di sekolah. Kedua cerpen tersebut dipilih dengan alasan sebagai berikut. 1) Peneliti menemukan persamaan dan perbedaan antara kedua cerpen tersebut sehingga tertarik untuk mengkajinya secara intertekstual, dan 2) Persamaan dan perbedaan yang ditemukan dalam penelitian menimbulkan banyak pertanyaan sehingga menarik untuk dikaji. Metode yang digunakan dalam penelitian karya ilmiah ini adalah metode kualitatif yang bertujuan untuk mengetahui intertekstualitas yang terdapat dalam cerpen

  “Robohnya Surau Kami” dengan cerpen “Burung Kecil Bersarang di Pohon

  ” selain itu penulisan karya ilmiah ini juga menggunakan pendekatan intertekstual. Berdasarkan temuan dan hasil analisis terhadap kedua cerpen ini, diketahui bahwa kedua cerpen ini mempunyai hubungan intertekstualitas berupa: 1) Kedua cerpen bertemakan mengenai konflik jiwa keagamaan yang dialami oleh tokoh utama yang sama yaitu kakek. 2) Persamaan tokoh utama yaitu seorang kakek dengan latar belakang berbeda namun memiliki sifat sama dalam masalah ibadah sosial. 3) Terdapat pesamaan latar tempat yaitu daerah Minang. 4) Cerpen “Robohnya Surau Kami” merupakan hipogram sedangkan cerpen “Burung Kecil Bersarang di Pohon merupakan transformasi.

  Kata kunci : Intertekstualitas, cerpen

  “Robohnya Surau Kami”, cerpen “Burung Kecil Bersarang di Pohon ”, Implikasi, Sastra.

  

ABSTRACT

  Suci Bella Dwi Kurnia, 109013000111, Intertextual “The Collapsed of

  Our Surau ” Short Story A. A. Navis and Small Birds Nesting in a Tree of Kuntowijoyo and the Implications to the Learning Literature at School. A thesis.

  Jakarta: Indonesia Language and Literature Education. 2013.

  T his research aimed to know, 1) To describe an intertextual in “The Collapsed of Our Surau

  ” Short Story A.A. Navis and “Small Birds Nesting in a Tree

  ” of Kuntowijoyo, 2) To describe the implications “The Collapsed of Our Surau

  ” Short Story A. A. Navis and “Small Birds Nesting in a Tree” of Kuntowijoyo to the Learning Literature at School. Both of short stories were selected by the following reasons. 1) The researcher found the similarities and differences between the two short stories, and so interested to review them in intertextual, and 2) The similarities and differences which found in this research make many questions and so interesting to review. The methods which used in the writing of scientific papers is a qualitative method which aims to find out the intertextualitas contained in a

  “The Collapsed of Our Surau” short story with “Small Birds Nesting in a Tree” short story, beside that, writing of this scientific papers is also using the intertextual approach.

  Based on the findings an analysis of these two short stories, nothing these two stories had intertextual connection, which are, 1) Both short stories is had theme about religious life conflict that experienced by the same main character, the Grandfather. 2) The equation of the main character is an old man with different background but have the same problem. About social worship. 3) Had the same setting, on Minang. 4) “The Collapsed of Our Surauis the Hypogram and “Small Birds Nesting in a Treeis transformation short story.

  Keywords

  : Intertextual, “The Collapsed of Our Surau” short story, “Small Birds Nesting in a Tree ” short story, implication, literature.

KATA PENGANTAR

  Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah Swt yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, serta kesehatan rohani dan jasmani kepada penulis sehingga diberikan kemudahan untuk dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Intertekstual Cerpen ‗Robohnya Surau Kami‘ Karya A.A. Navis dan ‗Burung Kecil Bersarang di Pohon

  ‘ Karya Kuntowijoyo dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Sastra di Sekolah”. Salawat dan salam semoga terdurahkan kepada utusan Allah Swt, yaitu Nabi Muhammad Saw.

  Penulis menyusun skripsi ini untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi kepentingan pembacanya.

  Dalam penulisan skripsi ini, penulis tidak luput dari berbagai hambatan dan rintangan. Tanpa bantuan dan peran serta berbagai pihak, karya ilmiah ini tidak mungkin terwujud. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan kepada:

  1. Nurlena Rifa‘i, M.A., Ph.D., selaku Dekan FITK UIN Jakarta yang telah mempermudah dan melancarkan penyelesaian skripsi ini;

  2. Dra. Mahmudah Fitriyah, ZA, M. Pd., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, dosen yang telah memberikan ilmu dan bimbingan yang sangat berharga bagi penulis selama ini.

  3. Ahmad Bahtiar, M. Hum., selaku dosen pembimbing yang sangat berpengaruh dalam penyelesaian skripsi ini. Terima kasih untuk semangat, arahan, bimbingan, dan kesabaran Bapak selama membimbing penulis.

  4. Bapak dan Ibu Dosen di lingkungan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif

  Hidayatullah Jakarta, yang selama ini telah membekali penulis untuk terus maju.

  5. Keluarga penulis tercinta terutama Papa, Mama, dan kedua adik. Viny Marzella dan Rico Nurillahi yang selalu memberikan dukungan kepada penulis unuk terus maju dan selalu memberikan kasih sayangnya hingga detik ini.

  6. Arif Rachman yang setia menemani saat PPKT dan saat menyusun skripsi, terima kasih untuk doa, motivasi, saran, dan bantuannya.

  7. Agnis Afriani, Aeni Nur Syamsiyah, Reny Rachmawati, Adinda Putri, sahabat-sahabatku sejak awal masuk perkuliahan hingga saat ini.

  8. Teman-teman kosan Intan, Bundo Dian, Elsa, Anit, Yeyen, Wardah, Nisa, Eka, Dewi, Nia, yang selalu menemani. Terima kasih atas doa dan dukungan kalian.

  9. Seluruh sahabat mahasiswa PBSI angkatan 2009 khususnya kelas C yang tidak dapat disebutkan satu persatu;

  10. Fotokopi Maju Jaya, Bang Tyo, Uda Is, Uda Ade, Rizky yang telah membantu penulis dan untuk berbagai pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Semoga semua bantuan, dukungan, dan partisipasi yang diberikan kepada penulis senantiasa mendapat pahala yang berliat ganda dari Allah Swt serta diberikan balasan setimpal dari Allah Swt. Amin.

  Akhirnya penulis berharap, semoga skripsi ini bermanfaat bagi kemajuan pendidikan dan pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia.

  Jakarta, 19 September 2013

DAFTAR ISI ABSTRAK

  i ………………………………………………………….. ii

  ABSTRACT

  …………………………………………………………

KATA PENGANTAR

  iii ………………………………………………

DAFTAR ISI

  v …………………………………………………………

  BAB I PENDAHULUAN A.

  1 Latar Belakang …………………………………………….

  B.

  3 Identifikasi Masalah …..….……………………………….

  C.

  4 Batasan Masalah …………………………………………..

  D.

  4 Rumusan Masalah ………………………………………… E.

  5 Tujuan Penelitian ………………………………………….

  F.

  5 Manfaat Penelitian ………………………………………… G.

  6 Metode dan Teknik Penelitian …………………………….

  H.

  10 Penelitian yang Relevan …………………………………..

  BAB II LANDASAN TEORI A.

  12 Hakikat Cerpen …………………………………………… 1.

  12 Pengertian Cerpen ……………………………………..

  2.

  14 Ciri-ciri Cerpen ………………………………………...

  3.

  16 Perbedaan Cerpen dengan Novel ……………………..

4. Unsur Intrinsik Cerpen ………………………………… 17 5.

  22 Unsur Ekstrinsik Cerpen ……………………………….

  B.

  23 Pendekatan Intertekstual …………………………………..

  1.

  23 Teori Intertekstual …….……………………………….

  2.

  25 Hipogramatik …………….………………………….… 3.

  28 Transformasi Teks ……………………………………..

  C.

  29 Pembelajaran Sastra di Sekolah …………………………....

  1.

  29 Pengertian Pembelajaran Sastra ………………………. a.

  33 Ruang Lingkup Bahan Ajar Cerpen di SMA ….

  b.

  Strategi dan Teknik Mengajar Cerpen di SMA… 34 c. Tujuan Pembelajaran Analisis Cerpen di SMA..… 34

  BAB III PEMBAHASAN A.

  36 Biografi A.A. Navis ……………………………………..…… B.

  38 Biografi A.A. Kuntowijoyo …………………………………..

  C.

  40 Sinopsis Cerpen “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis ..

  D.

  Sinopsis tentang Cerpen “Burung Kecil Bersarang di Pohon”

  41 karya Kuntowijoyo…………………………………………… E.

  Unsur Intrinsik Cerpen “Robohnya Surau Kami” karya A.A.

  Navis 43 ………………………………………………………….

  F.

  Unsur Intrinsik Cerpen “Burung Kecil Bersarang di Pohon” Karya

  56 Kuntowijoyo…………………………………………… G. Analisis Intertekstual Cerpen “Robohnya Surau Kami” karya

  A.A. Navis dengan Cerpen “Burung Kecil Bersarang di Pohon” karya

  67 Kuntowijoyo……………………………………….…...

  H.

  Implikasi terhadap Pembelajaran Sastra di Sekolah……………. 80

  BAB IV PENUTUP A.

  89 Simpulan …………………………………………………….

  B.

  90 Saran …………………………………………………………

DAFTAR PUSTAKA LEMBAR UJI REFERENSI BIOGRAFI PENULIS

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sebagai karya seni, karya sastra memiliki orisinalitas. Salah satu

  pembangun orisinalitas tersebut terbentuk dari pemahaman pengarang terhadap kenyataan yang dihadapinya. Setiap kenyataan dunia akan berbeda makna bagi setiap pengarang atau penyair. Akibatnya, sebuah kenyataan dunia akan tampil berbeda pada karya sastra yang dihasilkan oleh penyair yang berbeda. Begitu pula dengan bahasa sebagai media yang digunakannya pun akan berbeda pada setiap pengarang. Oleh karena itu, terdapat pendekatan objektif dalam mendekati karya sastra.

  Selain pandangan yang lebih menitikberatkan pada karya sastra tersebut, terdapat pula pandangan yang menyatakan bahwa karya sastra pun mendapatkan juga maknanya dari pembacanya. Dalam hal ini, karya sastra tidak hanya mutlak milik pengarang atau penyair, tetapi juga milik pembaca. Pengarang atau penyair tentu menciptakan karya sastra untuk menyampaikan setiap gagasannya yang lahir dari perekaman dan pemahaman kenyataan dunia yang dialaminya.

  Dalam kaitan tersebut terdapat pandangan bahwa karya sastra tidak diciptakan dari kekosongan budaya. Pengarang dalam menciptakan karangan tentu dipengaruhi oleh alam sekitar (masyarakat, kebudayaan, dan bahasa). Pada hakikatnya, sang pengarang dalam menciptakan karya sastra melalui daya imajinasinya tentu dipengaruhi oleh situasi dan kondisi lingkungan. Namun, pengaruh situasi dan kondisi lingkungan tidak mutlak tertuang dalam sastra sehingga dalam karyanya pengarang juga memasukkan imajinasinya.

  Pengarang dalam menciptakan suatu karya sastra pasti berbeda-beda, hal ini terlihat dari hasil karyanya bisa berupa cerpen, novel, atau puisi. Selain itu, selain perbedaan antara pengarang satu dengan pengarang yang lain banyak juga pengarang yang menciptakan karya sastra dilandasi atau didasari oleh karya sastra pengarang lain. Hal ini dinamakan interteks yaitu menciptakan kemiripan cerita yang terkandung antara karya sastra yang satu dengan karya sastra yang lain. Tetapi kemiripan yang terdapat dalam karya sastra yang dihasilkan bukan merupakan suatu penjiplakan.

  Sebuah karya sastra yang mengandung intertekstualitas adalah bentuk respons seorang pembaca terhadap karya yang telah dibacanya. Boleh dikatakan sebuah karya sastra adalah kumpulan karya sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa interteks memiliki hubungan dengan resepsi dan respons. Kreativitas pengarang sangat berperan dalam prinsip ini.

  Selain itu, prinsip intertekstualitas yang utama adalah prinsip memahami dan memberikan makna karya yang bersangkutan. Karya itu diprediksi sebagai reaksi, penyerapan, atau transformasi dari karya-karya yang lain. Masalah intertekstualitas lebih dari pengaruh, pengambilan, atau jiplakan, melainkan bagaimana kita memperoleh makna sebuah karya secara penuh dalam kontrasnya dengan karya lain yang menjadi hipogramnya.

  Menurut Pradopo, karya sastra diciptakan mengikuti konvensi-konvensi karya-karya sastra yang ditulis sebelumnya, di samping juga menyimpangi konvensi sastra yang sudah ada, atau menentang karya sastra sebelumnya, baik

  1 mengenai pikiran yang dikedepankan maupun konvensi estetikanya .

  Cerpen merupakan bentuk karya fiksi yang menceritakan sebuah dunia yang berisi model kehidupan yang diidealkan, dunia imajinatif, yang dibangun dengan unsur intrinsik, seperti tema, tokoh dan penokohan, alur, latar, sudut pandang, dan gaya bahasa. Secara garis besar unsur inrinsik yang terdapat dalam sebuah karya sastra hampir sama, yang pasti sebuah karya setidaknya harus mengandung tiga aspek utama yaitu, decore (memberikan sesuatu kepada pembaca), declarate (memberikan kenikmatan melalui unsur estetik), dan movere (mampu menggerakkan kreativitas pembaca).

  Atas dasar inilah penulis akan mengkaji dua buah karya sastra tulis berupa cerita pendek (cerpen). Cerpen yang akan dikaji yaitu cerpen “Robohnya Surau

  Kami ” karya A.A. Navis dengan cerpen “Burung Kecil Bersarang di Pohon” karya Kuntowijoyo. Cerpen tersebut dipilih dalam penelitian ini karena kedua novel tersebut mengandung banyak kesamaan. Ide cerita atau tema yang terdapat di dalam kedua cerpen tersebut sama, yaitu mengenai konflik jiwa keagamaan yang dialami tokoh utama. Selain itu, juga terdapat tokoh utama yang sama.

  Persamaan lain dari kedua cerpen ini terletak pada ceritanya yang menggambarkan tokoh kakek yang cenderung melupakan kondisi lingkungan dan lebih memilih terus beribadah, padahal ibadah sosial sama pentingnya dengan ibadah ritual kepada Tuhan. Peristiwa yang dialami tokoh kakek pada kedua cerpen tersebut membuka pandangan kita bahwa tidaklah baik pula bila kita selalu beribadah kepada Tuhan tanpa mengingat kehidupan sosial yang ada di sekeliling kita.

  Kedua cerpen ini dinilai memiliki banyak kesamaan yang nantinya bisa dijadikan sebagai materi pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah, dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia, khususnya tentang sastra diajarkan berbagai hal yang membahas mengenai sastra. Dalam prosa rekaan, seperti novel dan cerpen maka yang dipelajari adalah unsur instrinsik dari prosa tersebut, selain itu dengan pendekatan intertekstualitas ini dalam pembelajaran sastra indonesia di sekolah dapat diketahui mana teks awal atau teks pertama yang dibuat dan menjadi latar belakang penulisan teks selanjutnya (hipogram) dengan teks kedua yang lahir setelah teks pertama itu (transformasi).

  Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan maka penulis menyusun judul dalam penelitian ini yaitu “Intertekstualitas Cerpen “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis dengan cerpen

  “Burung Kecil Bersarang di Pohon”Karya Kuntowijoyo dan

  Implikasinya terhadap Pembelajaran Sastra di Sekolah.”

B. Identifikasi Masalah

  Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat diidentifikasikan masalah sebagai berikut:

  1. Sastra tidak diciptakan dari kekosongan budaya.

  2. Interteks akan menciptakan kemiripan cerita yang terkandung antara karya sastra yang satu dengan karya sastra yang lain.

  3. Bentuk intertekstual yang terdapat dalam cerpen Robonhya Surau Kami karya AA. Navis dan cerpen Burung Kecil Bersarang di Pohon karya Kuntowijoyo 4. Implikasi bentuk intertekstualitas cerpen Robonhya Surau Kami karya AA.

  Navis dengan cerpen Burung Kecil Bersarang di Pohon karya Kuntowijoyo dan implikasinya terhadap pembelajaran sastra di sekolah.

  C. Batasan Masalah

  Dalam suatu penelitian diperlukan pembatasan masalah agar pembahasan dalam penelitian tersebut tidak meluas. Adapun pembatasan dalam penelitian ini adalah penelitian membahas hubungan intertekstual antara dua cerpen yaitu “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis dengan cerpen “Burung Kecil Bersarang di Pohon

  ” Karya Kuntowijoyo”. Hubungan intertekstual difokuskan pada pembahasan mengenai bentuk intertekstual dari segi struktur tema, tokoh, latar tempat, dan hipogram.

  D. Rumusan Masalah

  Dari pembatasan masalah di atas, dapat dirumuskan beberapa pertanyaan sebagai berikut:

1. Bagaimana bentuk intertekstual yang terdapat dalam cerpen “Robohnya

  Surau Kami ” karya A.A. Navis dengan cerpen “Burung Kecil Bersarang di

  Pohon ” karya Kuntowijoyo? 2.

  Bagaimana implikasi bentuk intertekstualitas cerpen “Robohnya Surau

  Pohon ” karya AA. Navis dan cerpen Burung Kecil Bersarang di Pohon karya Kuntowijoyo terhadap pembelajaran sastra di sekolah?

E. Tujuan Penelitian

  Dalam penelitian ini ada dua tujuan yang ingin dicapai, yaitu: 1. Mendeskripsikan bentuk intertekstual yang terdapat dalam cerpen

  Robohnya Surau Kami karya AA. Navis dan cerpen Burung Kecil Bersarang di Pohon karya Kuntowijoyo.

2. Mendeskripsikan implikasi bentuk intertekstualitas cerpen Robohnya

  Surau Kami karya AA. Navis dengan cerpen Robohnya Surau Kami karya

  AA. Navis dan cerpen Burung Kecil Bersarang di Pohon karya Kuntowijoyo terhadap pembelajaran sastra di sekolah.

F. Manfaat Penelitian

  Penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat kepada pembaca. Adapun manfaat penelitian yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Manfaat Teoretis

  b) Bagi Mahasiswa

  Membantu mahasiswa untuk menemukan gagasan atau ide yang kreatif di masa mendatang.

  c) Bagi Dunia Pendidikan Dapat digunakan guru bahasa dan sastra di sekolah sebagai bahan ajar.

  d)

  a) Bagi Pembaca dan Pecinta Sastra

  2. Manfaat Praktis

  Membantu pembaca agar dapat memperluas pengetahuan terutama dalam bidang bahasa dan sastra Indonesia, khususnya bagi pecinta sastra.

  Dapat digunakan pembaca dan pecinta sastra sebagai bahan perbandingan dengan penelitian lain dalam menganalisis studi interteks.

  Membantu peneliti memperkaya pengetahuan dan wawasan mengenai dunia bahasa dan sastra Indonesia.

G. Metode Penelitian 1. Pendekatan dan Jenis Penelitian

  Dalam mengkaji intertekstual cerpen “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis dengan cerpen

  “Burung Kecil Bersarang di Pohon” karya Kuntowijoyo digunakan metode kualitatif. Penelitian kualitatif mempertahankan hakikat

  2 nilai-nilai . Metode kualitatif memberikan perhatian terhadap data ilmiah.

  Data berhubungan dengan konteks keberadaan melibatkan sejumlah besar gejala sosial yang relevan.

  Penelitian kualitatif deskriptif merupakan penelitian yang menyajikan temuannya dalam bentuk deskripsi kalimat yang rinci, lengkap dan mendalam mengenai proses mengapa dan bagaimana sesuatu terjadi. Pengkajian deskriptif menyarankan pada pengkajian yang dilakukan semata-mata hanya berdasarkan pada fakta atau fenomena yang secara empiris hidup pada penuturnya (sastrawan). Artinya yang dicatat dan dianalisis adalah unsur- unsur dalam karya sastra seperti apa adanya.

  Jenis penelitian pada penelitian ini adalah penelitian dasar yang memfokuskan pada deskripsi tentang hubungan interteks pada cerpen. Dengan demikian, penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif.

2. Objek Penelitian

  Objek penelitian adalah unsur-unsur yang bersama-sama dengan sasaran penelitian membentuk data dan konteks data. Objek penelitian itu penting bahkan merupakan jiwa penelitian, apabila objek penelitian tidak ada, maka tentu saja penelitan tidak akan pernah ada. Objek dalam penelitian ini adalah hubungan intertekstual dalam cerpen “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis dengan cerpen “Burung Kecil Bersarang di Pohon” karya Kuntowijoyo.

3. Data dan Sumber Data

  a) Data

  Data penelitian sastra adalah kata-kata, kalimat, dan wacana. Adapun data penelitian ini adalah data yang berupa kata, kalimat, dan wacana yang terdapat dalam cerpen

  “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis dengan cerpen “Burung Kecil Bersarang di Pohon” yang diklasifikasikan sesuai dengan analisis yang dikaji yaitu hubungan intertekstual dalam cerpen

  “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis dengan cerpen “Burung Kecil Bersarang di Pohon ” karya Kuntowijoyo.

  b) Sumber Data

  Sumber data dalam penelitian ini menggunakan sumber data primer dan data sekunder, adapun data yang diperoleh dari sumber data tersebut adalah sebagai berikut:

  1) Sumber Data Primer Sumber data primer adalah sumber data utama, sumber asli.

  Sumber data primer yaitu data yang langsung dan segera diperoleh dari sumber data oleh penyelidik untuk tujuan khusus. Sumber primer dari penelitian ini yaitu cerpen

  “Robohnya Surau Kami” dalam kumpulan cerpen berjudul Robohnya Surau Kami karya AA. Navis terbitan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2010, v+142 halaman dan cerpen “Burung Kecil Bersarang di Pohon” dalam kumpulan cerpen berjudul

  Dilarang Mencintai Bunga-bunga karya Kuntowijoyo terbitan Pustaka Firdaus, tahun 1996, xvii+202 halaman.

  2) Sumber Data Sekunder

  Sumber data sekunder merupakan data kedua. Selain itu data sekunder merupakan data yang berhubungan dengan penelitian yang telah dilakukan. Data sekunder membantu peneliti dalam menganalisis data primer dalam sebuah penelitian berupa artikel-artikel di situs internet (on line) ataupun dalam artikel koran yang berhubungan dengan objek penelitian yang difokuskan pada A.A. Navis dan Kuntowijoyo.

  3) Teknik Pengumpulan Data

  Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik pustaka dan catat. Teknik pustaka yaitu studi tentang sumber-sumber yang digunakan dalam penelitian sejenis, dokumen yang digunakan untuk mencari data-data mengenai hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, majalah, gambar, dan data-data yang bukan angka. Teknik simak adalah suatu metode pemerolehan data yang dilakukan dengan cara menyimak suatu penggunaan bahasa.

  Pengumpulan data dilakukan dengan pembacaan dan penyimakan cerpen “Robohnya Surau Kamidan “Burung Kecil Bersarang di

  Pohon ” secara cermat, terarah, dan teliti. Pada saat melakukan pembacaan tersebut peneliti mencatat data-data yang berhubungan dengan intertekstual yang ditemukan dalam kedua novel tersebut.

  Setelah itu barulah peneliti mencocokan dengan materi pembelajaran dan kurikulum di sekolah. Dalam pembelajaran di sekolah baik SMP/SMA terdapat materi pelajaran mengenai unsur- unsur intrinsik dan ekstrinsik.

  4) Teknik Analisis Data

  Analisis data dalam penelitian kualitatif dilaksanakan secara terus menerus, sejak pengumpulan data di lapangan sampai waktu penulisan laporan penelian. Hal ini dikarenakan pengumpulan data sebagai jalan menuju terciptanya penulisan laporan penelitian yang dilakukan. Analisis data merupakan kegiatan yang berjalan dari awal hingga akhir penulisan penelitian yang berlangsung terus menerus.

  Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik cara kerja yang dilakukan oleh pembaca dengan menginterpretasikan teks sastra secara referensial lewat tanda-tanda linguistik. Pembacaan heuristik dapat juga dilakukan secara struktural. Pembacaan ini berasumsi bahwa bahasa bersifat referensial artinya bahasa harus dihubungkan dengan hal- hal nyata.

  Pembacaan hermeneutik atau retroaktif merupakan kelanjutan dari pembacaan heuristik untuk menyampaikan makna. Metode ini merupakan cara kerja yang dilakukan oleh pembaca dengan bekerja secara terus- menerus lewat pembacaan teks sastra secara bolak-balik dari awal sampai akhir. Jadi, penafsiran disampaikan lewat bahasa, bukan bahasa itu sendiri. Karya sastra perlu ditafsirkan sebab di satu pihak karya sastra itu terdiri atas bahasa, di pihak lain, di dalam bahasa sangat banyak makna yang

  3 tersembunyi, atau dengan sengaja disembunyikan.

  Langkah awal analisis cerpen “Robohnya Surau Kamidan

  “Burung Kecil Bersarang di Pohon” yaitu memaparkan strukturalnya dengan menggunakan metode pembacaan heuristik, pada tahap ini pembaca dapat menemukan arti atau makna. Tahap ini juga mengungkapkan satu persatu hasil analisis struktural masing-masing cerpen, sehingga dapat diketahui struktur yang membangun cerpen “Robohnya Surau Kami” dan “Burung Kecil Bersarang di Pohon”.

  Selanjutnya dilakukan pembacaan hermeneutik, yaitu peneliti bekerja secara terus menerus lewat pembacaan teks sastra secara bolak- balik dari awal sampai akhir. Cerpen

  “Robohnya Surau Kami” adalah cerpen yang pertama dibaca secara terus menerus, bolak-balik dari awal sampai akhir. Kemudian cerpen

  “Burung Kecil Bersarang di Pohon” yang dibaca secara terus menerus, bolak-balik dari awal sampai akhir, hal ini bertujuan untuk mengungkapkan hubungan interteks pada cerpen

  Robohnya Surau Kami” danBurung Kecil Bersarang di Pohon” yang lebih difokuskan pada transformasi dalam tema, tokoh, latar tempat, dan masalah agama kedua cerpen.

H. Penelitian yang Relevan

  Penelitian yang relevan memuat penelitian-penelitian terdahulu yang relevan dengan topik penelitian. Penelitian-penelitian tersebut diuraikan sebagai berikut: Analisis mengenai cerpen

  “Robohnya Surau Kami sebelumnya telah dilakukan, antara lain oleh Siswo Harsono (2009) yang berjudul

  “Kontestasi Kesalehan Ritual Versus Sosial (Kritik Sosial terhadap

4 Praktik Keberagamaan Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kesalehan ”.

  ritual merupakan representasi dari masyarakat Minangkabau yang religius. Sedangkan kesalehan sosial yang diwujudkan dalam bekerja merupakan representasi dari masyarakat pedagang. Si kakek penjaga surau hidup dalam

  habitus (meminjam istilah Bourdieu) religius yang selalu beribadah secara

  ritual. Sedangkan Ajo Sidi yang selalu merantau hidup dalam habitus sosial yang selalu bekerja. Bagi masyarakat religius, cerita keagamaan merupakan tuntunan kehidupan. Bagi masyarakat perantau, cerita dari berbagai tempat yang identik dengan bualan menjadi bahan hiburan. Dalam kontestasi kedua

  habitus itulah masyarakat Minangkabau yang ritual dikalahkan oleh yang sosial, beribadah dikalahkan oleh bekerja.

  Anwar (2007) dalam analisisnya “Cerpen-cerpen Kuntowijoyo: Dialektika

  5

  hasil penelitiannya menyatakan bahwa pola cerita dalam Dua Dunia”, “Burung Kecil Bersarang di Pohon” mengingatkan kita pada cerpen “Robohnya Surau Kami”. Baik Navis maupun Kuntowijoyo agaknya ingin menegaskan bahwa ibadah sosial (humanisasi dan liberasi) sama pentingnya dengan ibadah ritual kepada Tuhan (trasendensi).

  Bambali (2007) mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta dalam 4 skripsinya yang berjudul Intertekstual Novel Geni Jora Karya Abidah El

  Siswo Harsono, “Kontestasi Kesalehan Ritual Versus Sosial (Kritik Sosial Terhadap Praktik

  6 Khalieqy dengan Novel Layar Terkembang Karya Sutan Takdir Alisyahbana.

  Hasil penelitian skripsinya menunjukkan terdapat persamaan tema utama dalam novel Layar Terkembang dan novel Geni Jora, yaitu perjuangan perempuan untuk memperoleh kesamaan hak dengan laki-laki harus mengubah pemikiran dan pandangannya tentang sikap perempuan. Watak tokoh utama juga memiliki persamaan, antara lain suka membaca, pandai, kejam, pemarah, tegas, semangat, dan pemberani. Begitu pula dengan tokoh tambahan pada kedua novel yang mempunyai lebih banyak persamaan, antara lain pada tokoh Yusuf dengan Zakky yang kekanak-kanakan, intelek, petualang, dan romantis, tokoh Maria dengan Elya tegas, tokoh Lola dengan Ratna yang cekatan dan pandai, dan ayah Tuti dengan ayah Kejora, seorang yang bijaksana dan religious. Jadi, kesimpulannya novel Geni Jora menjadi teks transformasi, mempunyai persamaan dengan novel Layar Terkembang yang menjadi hipogramnya.

  Persamaan penelitian ini dengan beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya adalah pengkajian dilakukan pada karya sastra berupa cerpen, yaitu Robohnya Surau Kami dan Burung Kecil Bersarang di Pohon, selain itu persamaan juga tampak dalam pengkajian intertekstual. Adapun perbedaannya adalah peneliti akan melakukan penelitian untuk mengungkapkan hubungan intertekstual antara cerpen dengan cerpen, sedangkan cerpen yang akan dikaji hubungan intertekstualnya adalah cerpen Robohnya Surau Kami dan Burung Kecil Bersarang di Pohon.

6 Bambali, “Intertekstual Novel Geni Jora Karya Abidah El Khalieqy dengan Novel Layar

BAB II LANDASAN TEORI A. Hakikat Cerpen Jika membicarakan karya sastra rekaan atau imajinasi (yang juga disebut

  karya sastra kreatif untuk membedakan dengan karya sastra non-imajinasi yang mendasarkan pada data) kita akan membaginya menjadi tiga bagian, yakni fiksi, puisi, dan drama. Dahulu orang sering menggolongkan hasil-hasil sastra menjadi prosa dan puisi. Termasuk prosa di dalamnya adalah novel, cerita pendek, dan esai. Di dalam cara penyajiannya prosa selalu menggunakan kalimat-kalimat atau susunan kata-kata yang mempunyai arti tunggal (satu arti saja) meskipun keseluruhan pengungkapan pengalaman di dalamnya (misalnya cerita pendek atau novel) dapat menimbulkan banyak arti atau tafsiran.

1. Pengertian Cerpen

  Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan bahwa pengertian cerita

  pendek (cerpen) adalah kisahan pendek (kurang dari 10.000 kata) yang memberikan kesan tunggal yang dominan dan memusatkan diri pada satu

  1 tokoh dalam satu situasi (pada suatu ketika).

  Abrams sendiri mengemukakan bahwa a short story is a brief work of prose

  fiction, and most of the terms for analyzing the component elements, the types, and the various narrative techniques of the novel are applicable to the short story as 2 well.

  Selanjutnya menurut H.

B. Jassin dalam tulisannya “Cerpen Pendek,

  L ukisan dan Roman” seperti yang dikutip Korrie Layun Rampan dalam

  3 1 bukunya yang berjudul Apresiasi Cerpen Indonesia Mutakhir mengatakan, Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ke-4, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008), hlm. 263 cerpen ialah cerita yang pendek. Tentang pendek ini orang boleh berdebat dan bertengkar, tetapi cerita yang 100 halaman panjangnya sudah tentu tidak bisa yang panjangnya 10 atau 20 halaman masih bisa disebut cerpen tetapi ada juga cerpen yang panjangnya hanya satu halaman.

  Dalam buku yang sama, pendapat lain yaitu Nyoman Tusthi Eddy dan Bambang Sadono S.Y. dalam tulisan “Proses Penciptaan Cerita Pendek” mengatakan bahwa cerpen ialah 1) hanya melukiskan kejadian/peristiwa, 2) waktu berlangsung kejadian tak begitu lama, 3) tempat kejadian berkisar antara satu sampai tiga tempat, 4) jumlah pelaku paling banyak lima orang, dan (5) watak pelaku tak dilukiskan secara mendalam.

  Sedangkan menurut Mochtar Lubis yang disebut cerpen adalah cerita yang bisa selesei sekali baca, dua kali baca, atau tiga kali baca dengan jumlah perkataan berkisar 500-30.000 kata. Dengan penentuan jumlah perkataan ini

  4 belumlah menjamin cerita yang pendek itu dapat dikatakan cerpen.

  Jakob Sumardjo berpendapat bahwa cerita pendek adalah cerita yang membatasi diri dalam membahas salah satu unsur fiksi dalam aspeknya yang terkecil. Jadi, kependekan sebuah cerita pendek bukan karena bentuknya yang jauh lebih pendek dari novel, tetapi karena aspek masalahnya yang sangat

  5 dibatasi.

  Cerita pendek (cerpen) merupakan cerita yang menurut wujud fisiknya berbentuk pendek. Ukuran panjang pendeknya suatu cerita memang relatif. Namun, pada umumnya cerita pendek merupakan cerita yang habis dibaca sekitar sepuluh menit atau setengah jam. Jumlah katanya sekitar 500

  • – 5.000 kata. Karena itu, cerita pendek sering diungkapkan dengan cerita yang dapat

  6 dibaca dalam sekali duduk.

4 Mochtar Lubis, Teknik Mengarang, (Jakarta: Kurnia Esa, 1981), hlm. 43

  Dari berbagai pendapat para ahli, rumusan-rumusan tersebut tidak sama persis, juga tidak saling bertentangan satu sama lain. Hampir semuanya menyepakati pada satu simpulan bahwa cerita pendek atau cerpen adalah cerita rekaan yang pendek. Cerpen merupakan akronim dari cerita pendek. Karya sastra merupakan wujud dan bentuk dari perilaku yang diciptakan, contoh karya sastra yang sederhana adalah cerpen. Cerpen merupakan karya sastra yang menarik dan sederhana. Menceritakan sebuah konflik secara singkat dan lugas, namun memiliki unsur-unsur sastra yang menarik. Oleh karena itu, cerita pendek pada umumnya bertema sederhana. Jumlah tokohnya terbatas, jalan ceritanya sederhana dan latarnya meliputi ruang lingkup yang terbatas.

2. Ciri-ciri Cerpen

  Pada dasarnya sebuah cerpen haruslah mengandung unsur-unsur: 1) interpretasi pengarang tentang konsepsinya mengenai penghidupan, baik secara langsung maupun tidak langsung, 2) harus menimbulkan suatu empasan dalam pikiran pembaca, 3) harus menimbulkan perasaan pada pembaca sehingga pembaca merasa terbawa jalan cerita, cerpen pertama-tama menarik perasaan dan baru kemudian menarik pikiran, 4) mengandung perincian dan insiden-insiden yang dipilih dengan sengaja serta bisa menimbulkan pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran pembaca.

  Ukuran panjang pendeknya suatu karya sering dijadikan ciri pembeda yang cukup mudah untuk dikenali, tetapi ia bukanlah satu-satunya aspek. Ini seperti yang tampak pada cerita pendek, novella, novelet, dan novel. Selain unsur ukuran panjang, mereka juga dibedakan dari unsur yang lain, khususnya unsur penanganan plot dan perwataan tokoh-tokohnya. Ukuran panjang cerita pendek biasanya berkisar anatra 1500 sampai 15.000 kata, novella antara 20.000 sampai 25.000 kata, novelet antara 30.000 sampai 50.000 kata, dan novel sekitar 70.000 terkadang sampai 400.000 kata.

  Cerpen cenderung membatasi diri pada rentang waktu yang pendek daripada menunjukkan adanya perkembangan dan kematangan watak pada diri tokoh. Ia lebih tertarik penonjolan atau eksploitasi saat-saat kritis revelasi, baik internal maupun eksternal. Cerpen jarang menggunakan plot kompleks karena sekali lagi, ia lebih terfokus pada satu episode atau situasi tertentu saja, daripada pada rangkaian peristiwa.

  Selain itu ada beberapa informasi terkait cerpen antara lain mengenai materi cerita, plot dan penokohan. Materi cerita dalam cerpen disusun di atas semua topik yang memungkinkan. Materinya mencakup humor, petualangan,

  7 misteri, realism, drama, detektif, kajian psikologis tokoh, dan sebagainya.

  Beberapa cerpen modern sendiri tidak memliki plot, sebagian besar masih dibangun secara konvensional. Ceritanya yang didasarkan pada gagasan sentral atau tema, biasanya dialirkan tanpa menunda-nunda sehingga pendahuluannya pendek dan to the point. Klimaks muncul di ujung, kadang- kadang di baris-baris akhir sehingga minat pembaca tetap ditahan hingga akhir cerita. Polanya adalah dengan menempatkan klimaks di awal-awal cerita lalu menggunakan metode kilas balik (flashback) untuk menunjukkan apa yang menyebabkan klimaks tersebut biasanya hanya ada satu aspek kehidupan yang digarap, dan dalam hal ini cerpen dibedakan dari novel, yang memang memuat banyak aspek. Bagaimanapun, sama dengan novel, cerpen yang baik memanfaatkan plot bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai alat untuk mengembangkan penokohan. Sedangkan dalam penokohan, jumlah tokoh biasanya tidak banyak, dan karena sempitnya ruang, mereka tidak digambarkan secara penuh.

  Simpulan yang dapat diambil berdasarkan uraian-uraian di atas yaitu ciri- ciri cerpen antara lain terdiri dari, alurnya lebih sederhana, tokoh yang

7 Furqonul Aziez dan Abdul Hasim, Menganalisis Fiksi Sebuah Pengantar, (Bogor: Ghalia

  dimunculkan hanya beberapa orang, dan latar yang dilukiskan hanya sesaat dan dalam lingkup yang relatif terbatas.

3. Perbedaan Cerpen dengan Novel

  Pada dasarnya, cerpen memiliki ciri tersendiri, yang membedakannya dari fiksi lain, seperti novelet, novel (roman), dan drama. Novel adalah karya imajinatif yang mengisahkan sisi utuh atas problematika kehidupan seseorang atau beberapa orang tokoh. Sementara itu, cerpen (cerita pendek) adalah karangan pendek yang berbentuk prosa. Dalam cerpen dikisahkan sepenggal kehidupan tokoh yang penuh pertikaian peristiwa yang mengharukan atau menyenangkan, dan mengandung kesan yang tidak mudah dilupakan.

8 Menurut Tarigan , perbedaan antara cerpen dan novel terletak pada: a.

  Jumlah kata. Cerita pendek jumlah katanya hanya mencapai 10.000 buah saja; sedangkan novel lebih dari 35.0000 buah.

  b.

  Jumlah halaman. Cerita pendek hanya mencapai maksimal 30 halaman kuarto; sedangkan novel minimal 100 halaman kuarto.

  c.

  Jumlah waktu. Waktu rata-rata yang dipergunakan untuk membaca cerita pendek adalah 10-30 menit; sedangkan untuk novel yang paling pendek diperlukan waktu minimal 2 jam atau 120 menit.

  d.

  Cerita pendek bergantung pada situasi dan hanya satu situasi; sedangkan novel pada pelaku dan mungkin lebih dari satu pelaku.

  e.

  Cerita pendek menyajikan satu impresi tunggal, sedangkan novel menyajikan lebih dari satu impresi.

  f.

  Cerita pendek menyajikan satu kesatuan efek, sedangkan novel menyajikan lebih dari satu efek.

  g.

  Cerita pendek menyajikan satu emosi saja, sedangkan novel menyajikan lebih dari satu emosi.

  h.

  Skala lebih sempit dalam cerita pendek dibanding dalam novel. i.

  Seleksi lebih ketat dalam cerita pendek dibanding dalam novel. j.

  Kelajuan dalam cerita pendek lebih cepat dibanding dalam novel. k.

  Unsur-unsur kepadatan dan intensitas lebih diutamakan dalam cerita pendek dibanding dalam novel.

  Kesimpulannya, secara umum perbedaan antara cerpen dan novel dapat diuraikan dalam tabel berikut:

  Tabel 1 Perbedaan Cerpen dan Novel No Cerpen Novel 1 Alur lebih sederhana Alur lebih rumit dan lebih panjang.

  Ditandai oleh perubahan nasib pada diri sang tokoh.

  2 Tokoh yang dimunculkan hanya beberapa orang.

  Tokohnya lebih banyak dalam berbagai karakter.

  3 Latar yang dilukiskan hanya sebentar dan sangat terbatas.

  Latar meliputi wilayah geografi yang luas dan dalam waktu yang lebih lama.

  4 Tema mengupas masalah yang relative sederhana Tema lebih kompleks, ditandai oleh adanya tema-tema bawahan.

4. Unsur Intrinsik Cerpen

  Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang secara langsung membangun karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur inilah secara faktual dijumpai oleh pembaca saat membaca karya sastra. Kepaduan antar unsur intrinsik inilah yang membuat sebuah cerpen terwujud. Unsur intrinsik dalam cerpen terdiri dari tema, alur, penokohan, latar, dan sudut pandang. a) Tema

  Tema adalah ide, gagasan, pandangan hidup pengarang yang melatarbelakangi ciptaan karya sastra. Sastra sendiri merupakan pencerminan kehidupan bermasyarakat, oleh karena itu, dalam setiap cerita bisa terdapat berabgai macam tema. Tema sendiri bisa berupa permasalahan moral, etika, sosial, agama, budaya, teknologi, dan tradisi yang erat hubungannya dengan masalah kehidupan. Tema jarang dituliskan secara tersurat oleh pengarangnya. Untuk dapat merumuskan tema cerita fiksi, seorang pembaca harus terlebih dahulu mnegenali unsur-unsur intrinsik yang dipakai oleh pengarang untuk

  9

  mengembangkan cerita fiksinya. Berbagai unsur fiksi seperti alur, penokohan, sudut pandang, latar, dan lain-lain akan berkaitan dan bersinergi mendukung eksistensi tema.

  Dengan demikian, disimpulkan jika tema suatu cerita bisa beraneka ragam dan tema biasanya ditulis secara tersurat oleh penulis. Suatu tema terbangun berdasarkan unsur-unsur yang berkaitan dengan tema itu dan secara bersinergi mendukung eksistensinya.

  b) Alur atau Plot

  Menurut Abrams the plot in a dramatic or narrative work is constituted by

  its events and actions, as these are rendered and ordered toward achieving

  10 particular artistic and emotional effects. Brooks dalam Tarigan menyatakan

  bahwa yang dimaksudkan dengan alur atau plot adalah “struktur gerak yang

  11

  . Pada prinsipnya, suatu fiksi haruslah terdapat dalam fiksi atau drama” bergerak dari suatu permula, melalui suatu pertengahan menuju akhir yang dalam dunia sastra lebih dikenal sebagai eksposisi, komplikasi, dan resolusi.

  Penjelasan-penjelasan tersebut memperlihatkan bahwa tiap peristiwa tidak 9 berdiri sendiri. Permulaan peristiwa mengakibatkan timbulnya peristiwa yang

E. Kosasih, Op. cit., hlm.61

  lain, peristiwa yang lain itu akan menjadi sebab bagi timbulnya peristiwa berikutnya dan seterusnya sampai cerita tersebut berakhir.

  Ada pula penjelasan mengenai eksposisi, komplikasi, resolusi, dan klimaks yang dikutip dalam Tarigan sebagai berikut: a)

  Eksposisi Dalam suatu fiksi, eksposisi mendasari serta mengatur gerak yang berkaitan dengan masalah-masalah waktu dan tempat. Dalam eksposisi inilah diperkenalkan para tokoh pelaku kepada para pembaca, mencerminkan situasi para tokoh, merencanakan konflik yang akan terjadi, dan sementara itu memberikan suatu indikasi mengenai resolusi fiksi tersebut.

  b) Komplikasi

  Bagian tengah atau komplikasi dalam suatu fiksi bertugas mengembangkan konflik. Tokoh utama menemui gangguan-gangguan, halangan-halangan yang memisahkan serta menjauhkan dia dari tujuannya. Dia menemui masalah paham dalam perjuangannya menumpas penghalang serta gangguan tersebut.

  c) Resolusi

  Resolusi atau bagian akhir adalah bagian akhir suatu fiksi. Di sinilah sang pengarang memberikan pemecahan masalah dari semua peristiwa yang terjadi.

  d) Klimaks

  Titik yang memisahkan komplikasi dengan resolusi disebut turning point atau klimaks. Justru pada klimaks inilah biasanya terdapat suatu perubahan penting atau crucial shift dalam nasib, sukses atau tidaknya tokoh utama fiksi tersebut. jadi, klimaks adalah puncak tertinggi dalam serangkaian puncak tempat kekuatan-kekuatan dalam konflik mencapai intensifikasi yang tertinggi. Adapun jenis-jenis alur diantaranya berdasarkan kualitas kepaduannya dan berdasarkan isi ceritanya. Pada kualitas kepaduannya dibagi menjadi dua alur, yang satu dengan yang lainnya begitu padu sehingga tidak memungkinkan apabila bagian-bagian pembentuk peristiwa itu dilesapkan. Alur longgar adalah hubungan antara peristiwa yang satu dengan yang lainnya terjalin secara renggang. Pengarang menyelingi peristiwa-peristiwa yang ada itu dengan peristiwa lainnya yang tidak begitu berhubungan dengan inti cerita sehingga bila peristiwa-peristiwa ditanggalkan maka tidak mengganggu struktur cerita secara keseluruhan. Dan berdasarkan isi ceritanya ada bermacam-macam alur, yaitu alur gerak, alur pedih, alur tragis, alur penghukuman, alur sinis, alur sentimental, alur kekaguman, alur kedewasaan,

  12 alur perbaikan, dan lain-lain.

  Dari penjelasan di atas disimpulkan bahwa alur adalah rangkaian peristiwa yang membangun cerita, dengan adanya permulaan dan berlanjut pada sebuah peristiwa sehingga datanglah sebuah konflik hingga mencapai klimaks dan berakhir dengan penyelesaian.

  c) Latar

  Latar atau setting meliputi tempat, waktu, dan budaya yang digunakan

  13

  dalam suatu cerita. Secara singkat, Brooks menyatakan bahwa latar adalah

  14 Unsur prosa cerita

  “latar fisik, unsur tempat dan ruang, dalam suatu cerita” yang disebut latar ini menyangkut tentang lingkungan geografi, sejarah, sosial, dan bahkan kadang-kadang lingkungan politik atau latar belakang kisah itu berlangsung. Latar berfungsi untuk memperkuat atau mempertegas keyakinan pembaca terhadap jalannya cerita ataupun pada karekter tokoh.

  Dari penjelasan tersebut maka latar merupakan penggambaran factual yang meliputi tempat, waktu, dan budaya dalam suatu cerita. Ketiga hal tersebut mampu memperkuat jalannya suatu cerita, sehingga pembaca menerima gambaran pelaku dan peristiwa yang terjadi pada cerita.

12 Kosasih, Op. Cit, hlm. 65-67

  d) Tokoh dan Penokohan

  Dilihat dari fungsi penampilan tokoh, dapat dibedakan ke dalam tokoh antagonis dan tokoh protagonis. Protagonis adalah tokoh yang memegang peranan pimpinan dalam cerita. Tokoh ini adalah tokoh yang menampilkan sesuatu sesuai pandangan-pandangan kita, harapan-harapan kita, dan merupakan pengejawantahan norma-norma, nilai-nilai yang ideal. Tokoh antagonis adalah tokoh penentang dari tokoh protagonis. Untuk menggambarkan karakter seorang tokoh, pengarang dapat menggunakan teknik analitik dan teknik dramatik

  . “teknik analitik, karakter tokoh

  15

  sedangkan teknik dramatik diceritakan secara langsung oleh pengarang” adalah karakter tokoh yang dilakukan melalui penggambaran fisik dan perilaku tokoh, penggambaran lingkungan kehidupan tokoh, penggambaran tata kebahasaan tokoh, dan penggambaran oleh tokoh lain.

  Penulis dapat menyimpulkan bahwa tokoh dan penokohan termasuk ke dalam salah satu unsur intrinsik yang sangat penting dan tidak mungkin dipisahkan karena penokohan adalah cara seorang pengarang dalam mengembangkan karakter tokoh-tokoh.

  e) Sudut Pandang atau Point of View

  Sudut pandang atau point of view adalah posisi pengarang dalam

  16

  membawakan cerita. Secara garis besar, sudut pandang dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu berperan langsung sebagai orang pertama, sebagai tokoh yang terlibat dalam cerita yang bersangkutan dan hanya sebagai orang ketiga yang berperan sebagai pengamat.

  Pada sudut pandang yang menggunakan orang pertama, oengarang memakai sitilah “aku” dalam ceritanya. Pengarang masuk ke dalam cerita menjadi si “aku”, yaitu tokoh yang mengisahkan kesadaran dirinya sendiri serta segala peristiwa atau tindakan yang diketahui, didengar, dilihat, dialami,

15 Kosasih, Op. Cit. hlm. 68

  dirasakan, serta sikapnya terhadap tokoh lain, kepada pembaca. Pembaca hanya menerima ap a yang diceritakan oleh tokoh “aku”. Sebagai konsekuensinya, pembaca hanya dapat melihat dan merasakan secara terbatas apa yang dilihat dan dirasakan tokoh si “aku” tersebut.

  Sudut pandang orang pertama dapat dibedakan lagi ke dalam dua golongan berdasarka n peran dan kedudukan tokoh “aku” dalam cerita, yaitu “aku” sebagai tokoh utama jika ia menduduki peran utama atau menjadi tokoh utama protagonis dan “aku” sebagai tokoh tambahan jika ia hanya menduduki peran tambahan, menjadi tokoh tambahan protagonis, atau berlaku sebagai saksi.

  Jadi, dalam sudut pandang pengarang bisa menjadi tokoh utama atau bisa menjadi tokoh tambahan/tokoh pembantu yang hanya berperan kecil.

  Adapun pada sudut pandang orang ketiga, pengarang menjadi seseorang yang berada di luar cerita. Pengarang menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan mneyebut nama, atau menggunakan kata ia, dia, mereka. Nama-nama tokoh cerita, khususnya tokoh utama, terus menerus disebut, dan sebagai variasi digunakan kata ganti. Hal ini akan memudahkan pembaca dalam mengenali siapa tokoh yang diceritakan atau siapa yang bertindak.

5. Unsur Ekstrinsik Cerpen

  Berbicara tentang unsur intrinsik maka tidak akan lepas dari pembahasan unsur ekstrinsik suatu karya sastra. Salah satunya adalah unsur ekstrinsik dalam fiksi. Karena pada dasarnya struktur luar dan struktur dalam merupakan unsur yang secara fungsional berhubungan satu sma lainnya. Struktur luar atau ekstrinsik adalah “segala macam unsur yang beada di luar suatu karya sastra yang ikut mempengaruhi kehadiran karya sastra tersebut, misalnya faktor sosial ekonomi, factor kebudayaan, faktor sosio-politik, keagamaan, dan tata nilai yang dianut masyarakat. Pemahaman unsur ekstrinsik suatu karya akan membantu dalam pemahaman makna karya tersebut, karena karya sastra muncul dari suatu budaya. Segi ekstrinsik hanya dapat dibicarakan bila dilihat dari segi-segi

  17

  falsafah hidup yang dianut pengarangnya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa, biografi pengarang, lingkungan sosial budaya, lingkungan pendidikan dan pandangan hidup pengarang termasuk bagian dari pembahasan unsur ekstrinsik

  18 yang memengaruhi isi karya sastra yang diciptakannya .

B. Pendekatan Intertekstual 1. Teori Intertekstual

  Secara luas intertekstual diartikan sebagai jaringan hubungan antara satu teks dengan teks yang lain. Lebih dari itu, teks itu sendiri secara etimologis

  19

  berarti tenunan, anyaman, penggabungan, susunan, dan jalinan . Menurut pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa intertekstual adalah hubungan antara teks yang satu dengan teks yang lain yang saling berhubungan. Teks itu sendiri adalah susunan kata yang membentuk makna.

  Sebuah karya sastra itu sendiri, baik puisi atau prosa, mempunyai hubungan sejarah antara karya sezaman, yang mendahuluinya atau yang

  20

  kemudian . Jadi, dalam menganalisis karya sastra tersebut sebaiknya kita juga membandingkan dengan karya sezaman, sebelumnya, atau juga sesudahnya karena teks itu berhubungan dengan teks lain. Inilah yang menjadi acuan dalam penelitian intertekstual.

  Sebenarnya paham atau prinsip intertekstualitas ini pada mulanya berasal dari Perancis dan bersumber pada aliran dalam strukturalisme Perancis. Prinsip ini kemudian dikembangkan oleh Julia Kristeva. Prinsip ini menekankan bahwa setiap teks sastra dibaca dan harus dengan latar belakang teks-teks lain karena tidak ada sebuah teks yang benar-benar mandiri, dalam

  17 18 M. Atar Semi, Anatomi Sastra, (Padang: Angkasa Raya, 1998), hlm.35 19 Ibid, hlm. 36 Nyoman Kutha Ratna, Teori, Metode, dan Teknik Penilaian Sastra, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), hlm., hlm. 172

  arti bahwa penciptaan dan pembacaannya tidak dapat dilakukan tanpa adanya

  21 teks-teks lain.

  Keterangan Kristeva tentang intertekstualitas dapat dirumuskan sebagai

  22

  berikut : a.

  Kehadiran secara fisikal suatu teks dalam teks lainnya.

  b.

  Pengertian teks bukan hanya terbatas kepada cerita, tapi juga mungkin berupa teks bahasa.

  Selanjutnya Teeuw dalam Nurgiyantoro menguraikan bahwa kajian intertekstual sendiri dimaksudkan sebagai kajian terhadap sejumlah teks yang diduga mempunyai bentuk-bentuk hubungan tertentu, misalnya untuk menemukan adanya hubungan unsur-unsur intrinsik, seperti ide, gagasan, peristiwa, plot, penokohan, (gaya) bahasa, dan lain-lain, di antara teks-teks

  23

  yang dikaji. Secara khusus dapat dikatakan bahwa kajian interteks berusaha menemukan aspek-aspek tertentu yang telah ada pada karya-karya sebelumnya pada karya yang muncul lebih kemudian. Tujuan interteks adalah untuk memberikan makna secara lebih penuh terhadap karya tersebut. selain itu, menurut Teeuw konsep intertekstualitas sendiri memainkan peranan yang sangat penting dalam semiotik sastra, tidak hanya dalam usaha untuk sekadar

  24 memberikan interpretasi tertentu terhadap karya sastra yang konkret saja.

  Julia Kristeva juga mengemukakan bahwa tiap teks merupakan mosaik, kutipan-kutipan dan merupakan penyerapan atau transformasi teks-teks lain. Konvensi dan gagasan yang diserap itu dapat dikenali jika kita membandingkan teks yang sebelumnya dan teks saat ini, dalam arti teks yang sebelumnya disebut hipogram dan teks baru yang menyerap hipogram yang 21 disebut teks transformasi.

  Rina Ratih, “Pendekatan Intertekstual dalam Pengkajian Sastra”. Dalam Jabrohim (ed.) Metode 22 Penelitian Sastra, (Yogyakarta: Hanindita Graha Widia, 2002), hlm. 125 23 Umar Junus, Resepsi Sastra Sebuah Pengantar, (Jakarta: PT Gramedia, 1985), hlm. 87-88

Burhanudin Nurgiantoro, Teori Pengkajian Fiksi. (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press,

2. Hipogramatik

  Teks-teks yang dikerangkakan sebagai intertekstual tidak terbatas sebagai persamaan genre, intertekstual memberikan kemungkinan yang seluas-luasnya bagi peneliti untuk menemukan hipogram. Hipogram adalah karya sastra yang menjadi latar kelahiran karya berikutnya, dan karya berikutnya dinamakan transformasi. Intertekstual dapat dilakukan antara novel dengan novel, novel

  25 dengan puisi, novel dengan mitos .

  Karena pada hakikatnya karya sastra merupakan respon (serapan, olahan, mosaik kutipan, transformasi) terhadap apa yang telah ada dalam karya sastra

  26

  lain. Respon tersebut dapat berupa kata, frase, kalimat, bentuk, gagasan, dan sejenis di dalam teks transformatif sehingga kadang pembaca sering tidak ingat lagi akan karya yang menjadi latarnya.

  Hipogram merupakan karya, tradisi, dan konvensi sebelumnya yang dipandang sebagai suatu tantangan yang perlu disikapi yang dijadikan dasar

  27

  bagi penulisan karya lain sesudahnya . Seorang pengarang mungkin menyadari atau tidak menyadari sama sekali bahwa terdapat hipogram dalam suatu karya.

  Hipogram dapat diibaratkan sebagai “induk” yang melahirkan karya-karya baru. Pengidentifikasian hal itu dapat dilakukan dengan memperbandingkan antara karya “induk” dan karya “baru”. Usaha tersebut dapat menggambarkan bentuk-bentuk hipogram yang meliputi: a. ekspansi, yaitu perluasan atau pengembangan karya sastra. Ekspansi tak sekadar repetisi, tetapi termasuk perubahan gramatikal dan perubahan jenis kata;

25 Nyoman Kutha Ratna, Teori, Metode, dan Teknik Penilaian Sastra. (Yogyakarta: Pustaka

  Pelajar, 2007), hlm. 172-173 b. konversi adalah pemutarbalikan hipogram atau matriknya. Penulis akan memodifikasi kalimat ke dalam karya baru; c. modifikasi, adalah perubahan tataran linguistik, manipulasi, urutan kata dan kalimat. Dapat saja pengarang hanya mengganti nama tokoh, padahal tema dan ceritanya sama; d. ekserp, adalah semacam intisari dari unsur-unsur atau episode dalam hipogram yang disadap oleh pengarang. Ekserp biasanya lebih halus, dan

  28 sangat sulit dikenali, jika peneliti belum terbiasa membandingkan karya.

  Riffaterre mendefinisikan hipogram sebagai struktur prateks, generator teks puitika. Hipogram mungkin kata-kata tiruan, kutipan, kompleks tematik, kata-kata tunggal, atau keseluruhan teks. Pengarang baik secara sadar atau tidak menggunakan hipogram untuk melahirkan matriks atau kata-kata kunci

  29 yang pada gilirannya melahirkan model dan serial varian.

30 Menurut Riffaterre pula , dalam penulisan teks kesusastraan hipogram

  ada dua macam, yakni hipogram potensial dan hipogram aktual. Hipogram potensial tidak eksplisit dalam teks, tetapi dapat diabstraksikan dari teks.

  Hipogram potensial merupakan potensi sistem tanda pada sebuah teks

  sehingga makna teks dapat dipahami pada karya itu sendiri, tanpa mengacu pada teks yang sudah ada sebelumnya.

  Hipogram aktual adalah teks nyata, yang dapat berupa kata, frase, kalimat,

  peribahasa, atau seluruh teks, yang menjadi latar penciptaan teks baru sehingga signifikasi teks harus ditemukan dengan mengacu pada teks lain atau teks yang sudah ada sebelumnya. Teks dalam pengertian umum bukan hanya teks tertulis atau teks lisan, tetapi juga adat-istiadat, kebudayaan, agama dan 28 bahkan seluurh isi alam semesta (dunia) ini adalah teks. 29 Suwardi Endraswara, Metodologi Penelitian Sastra, (Yogyakarta: CAPS, 2011), hlm.132

Nyoman Kutha Ratna, Sastra dan Cultural Studies: Representasi Fiksi dan Fakta, (Yogyakarta:

  Oleh sebab itu, hipogram yang menjadi latar penciptaan teks baru itu, bukan hanya teks tertulis atau teks lisan, tetapi juga dapat berupa adat-istiadat, kebudayaan, agama, bahkan dunia ini. Hipogram tersebut direspons atau ditanggapi oleh teks baru. Tanggapan tersebut dapat berupa penerusan, atau penentangan tradisi atau konvensi. Adanya tanggapan itu menunjukkan bahwa keberadaan suatu teks sastra adalah dalam rangka fungsi yang ditujukan kepada pembaca.

  Sedangkan sebagaimana telah diungkapkan oleh Kristeva teks yang menyerap dan mentransformasikan hipogram dapat disebut sebagai teks transformasi. Untuk mendapatkan makna hakiki dari sebuah karya sastra yang mengandung teks transformasi semacam itu, digunakan metode intertekstual, yaitu membandingkan, menjajarkan, dan mengontraskan sebuah teks transformasi dengan hipogramnya.

  Ciri hiprogamatik sebuah cerpen dengan cerpen lain adalah pengungkapan masalah yang mempunyai kesamaan latar sebuah cerpen dengan cerpen lain. Sebuah cerpen mendapatkan kekuatannya sebagai cerpen, karena masalah yang terungkap telah dijelaskan dalam cerpen sebelumnya.

  Hipogram tersebut dalam penciptaan karya yang baru tidak selalu dipatuhi,

  31

  tetapi mungkin juga disimpangi oleh penyair karya sastra yang baru. Oleh Nurgiantoro, penyimpangan terhadap hipogram diistilahkan dengan myth of

  freedom (mitos pemberontakan, sedangkan hipogram yang dipatuhi atau

  diteruskan diistilahkan dengan myth of concern (mitos pengukuhan). Kedua hal tersebut menurutnya wajib hadir dalam penulisan teks kesusastraan karena kesusastraan pada hakikatnya selalu berada dalam ketegangan antara

  32

  konvensi, invansi, mitos pengukuhan dan mitos pemberontakan. Ini berarti pengkajian intertekstual teks sastra yang baru tidak dipahami secara 31 sederhana. Teks hipogram tersebut tidak selalu tampak eksplisit dalam karya

  Ahmad Bahtiar. Op. Cit, hlm. 124 sastra yang baru. Hal ini karena pengaruh tersebut merupakan penyerapan, pentransformasian kembali teks lama terjadi secara disadari maupun tidak disadari. Oleh sebab itu, dalam pemaknaan kembali teks baru dengan metode intertekstual sangat memungkinkan intersubjektivitas.

  Hipogram tidak akan komplit, melainkan hanya bersifat parsial, yang berwujud tanda-tanda teks atau pengaktualisasian unsur-unsur tertentu. Pengambilan, derivasi, atau pentransformasian bentuk-bentuk itu dapat mencakup berbagai unsur intrinsik fiksi seperti alur, penokohan, latar, tema, dan lain-lain. Dengan demikian, pengkajian sebuah cerita dengan intertekstualitas akan lebih sempurna jika memperhatikan hal-hal berikut ini: a.

  Sebuah cerita yang tercipta tidak lepas dari cerita yang lebih lama tercipta b. Cerita yang lebih dahulu, merupakan hipogram untuk membandingkan dengan cerita baru c.

  Hipogram tersebut tidak selalu dipatuhi, tetapi mungkin disimpangi. Istilah tersebut adalah myth of concern dan myth of freedom.

  Jadi, prinsip dasar intertekstualitas adalah karya hanya dapat dipahami maknanya secara utuh dalam kaitannya dengan teks lain yang menjadi hipogram. Hipogram adalah karya sastra terdahulu yang dijadikan sandaran berkarya. Hipogram tersebut bisa sangat halus dan juga sangat kentara.

3. Transformasi Teks

  Makna kunci istilah “transformasi” adalah “perubahan”, yaitu perubahan

  

33

  terhadap suatu hal atau keadaan. Di dalam intertekstual, hubungannya seringkali terjadi kontras-kontras. Hal ini disebabkan cara mentransformasikan tanda ke dalam cerita berbeda. Transformasi dapat terjadi dari tanda memetik kata/frase, memetik dari teks ke teks. Khusus untuk analisis intertekstualitas masalah yang akan di analisis adalah transformasi dari teks ke teks sebagai 33 faktor komunikatif cerita.

  Proses transformasi dapat dikatakan sebagai proses derivasi teks. Sumber- sumber yang diperoleh seorang pengarang dari teks lain menjadi bahan atau pengetahuannya dan kemudian bahan itu ditransformasikan ke dalam karyanya. Transformasi juga sebagai proses aktualisasi ide pengarang, sehingga faktor individual (subjektivitas) pengarang menjadi penting.

C. Pembelajaran Sastra di Sekolah 1. Pengertian Pembelajaran Sastra

  Dalam melaksanakan pengajaran kita tidak boleh berhenti pada penguraian keterampilan ataupun pengetahan. Setiap guru hendaknya selalu menyadari bahwa setiap siswa adalah seorang individu dengan kepribadiannya yang khas, kemampuan, masalah, dan kadar perkembangannya masing-masing yang khusus. Oleh karena itu penting sekali kiranya memandang pengajaran sebagai proses pengembangan individu secara keseluruhan.

  Walaupun sebagai dalam hal ini menunjuk suatu kesatuan yang kompleks, tetapi kita dapat melihat bahwa di dalam diri siswa terkandung berbagai ragam kecakapan yang kadang-kadang menunjukkan adanya kekurangan-kekurangan atau bahkan kelebihan-kelebihan. Oleh karena itu, hendaknya kecakapan- kecakapan itu dikembangkan secara harmonis jika individu yang bersangkutan diharapkan untuk dapat menyadari potensinya dan dapat mengabdikan diri bagi kepentingan-kepentingan generasinya. Jika pengajaran sastra dilakukan dengan cara yang tepat, maka pengajaran sastra dapat juga memberikan sumbangan yang besar untuk memecahkan masalah-masalah nyata yang

  34 cukup sulit untuk dipecahkan di dalam masyarakat.

  Dalam kurikulum 2013 sendiri tujuan pembelajaran mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia terbagi menjadi dua, yaitu: 1) agar peserta didik mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadiannya, memperluas wawasan di dalam kehidupan, serta untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa; 2) agar peserta didik dapat menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.

  Pembelajaran sastra adalah pembelajaran yang materinya berhubungan sastra. Suatu hasil karya baru dapat dikatakan memiliki nilai saastra bila di dalamnya terdapat kesepadanan antara bentuk dan isinya. Bentuk bahasanya baik dan indah, dan susunannya beserta isinya dapat menimbulkan perasaan haru dan kagum di hati pembacanya.

  Pembelajaran sastra hendaknya mempertimbangkan keseimbangan pengembangan pribadi dan kecerdasan peserta didik. Pembelajaran semacam ini akan mempertimbangkan keseimbangan antara spiritual, emosional, etika,

  35

  logika, estetika, dan kinestetika. Pembelajaran sastra hendaknya digunakan peserta didik sebagai salah satu kecakapan untuk hidup dan harus dicapai oleh peserta didik melalui pengalaman belajar.

  Bentuk dan isi sastra harus saling mengisi, yaitu dapat menimbulkan kesan yang mendalam di hati para pembacanya sebagai prwujudan nilai-nilai karya seni. Apabila isi tulisan cukup baik tetapi cara pengungkapan bahasanya buruk, karya tersebut tidak dapat disebut sebagai cipta sastra, begitu juga sebaliknya.

  Pengajaran sastra tidak bisa dipisahkan dari pengajaran bahasa. Namun pengajaran sastra tidaklah dapat disamakan dengan pengajaran bahasa. Perbedaan hakiki antara keduanya terletak pada tujuan akhirnya. Pada pengajaran sastra yang dasarnya mengemban misi afektif (memperkaya pengalaman siswa dan menjadikannya lebih tanggap terhadap peristiwa- peristiwa di sekelilingnya) yang memiliki tujuan akhir menanam, menumbuhkan, dan mengembangkan kepekaan terhadap masalah-masalah manusiawi, pengenalan dan rasa hormatnya terhadap tata nilai baik dalam konteks individual maupun sosial. Sastra memang tidak bisa dikelompokkan ke dalam aspek keterampilan berbahasa karena bukan merupakan bidang yang sejenis tetapi pembelajaran sastra dilaksanakan secara terintegrasi dengan pembelajaran bahasa baik dengan keterampilan menulis, membaca, manyimak, maupun berbicara.

  Selain itu terdapat pula beberapa fungsi sastra dalam kehidupan manusia. Fungsi sastra bagi kehidupan manusia adalah: a.

  Fungsi reaktif, yaitu fungsi atau manfaat memberikan rasa senang, gembira, dan menghibur.

  b.

  Fungsi didaktif, yaitu fungsi atau manfaat mengarahkan dan mendidik pembaca karena mengandung nilai-nilai moral.

  c.

  Fungsi estetika, yaitu fungsi atau manfaat yang dapat memberikan keindahan bagi pembaca karenabahasanya yang indah.

  d.

  Fungsi moralitas, yaitu fungsi atau manfaat yang dapat membedakan moral yang baik dan tidak baik bagi pembacanya karena sastra yang baik selalu mengandung nilai-nilai moral yang tinggi.

  e.

  Fungsi religiusitas, yaitu fungsi atau manfaat yang mengandung ajaran- ajaran agama yang harus diteladani oleh pembaca.

  Secara khusus pengajaran sastra bertujuan mengembangkan kepekaan siswa terhadap nilai-nilai indrawi, nilai akali, nilai afektif, nilai sosial, ataupun gabungan seluruhnya. Dalam konteks inilah, kegiatan belajar-mengajar sastra perlu dilaksanakan. Metode pengajaran manapun yang akan ditempuh, keefektivannya ditentukan terutama oleh corak komunikasi yang terjalin antara guru dengan siswanya. Dengan asumsi bahwa guru akrab dengan karya satra dan mengenal perjalanan kreatif sastrawan, pengarang karya yang dibicarakannya, maka menjalin keakraban dengan siswa merupakan titian yang efektif untuk melaksanakan pengajaran sastra. Kunci untuk membuka kepercayaan siswa terletak pada diri kita sebagai guru, penampilan pertama kita di hadapan mereka. Jika kesan yang mereka peroleh positif, maka pada yang mereka peroleh positif, maka mereka akan menutup dirinya, bahkan tidak jarang menantang wibawa guru. Tanpa adanya landasan keterbukaan dan kepercayaan para siswa, maka sulit dibayangkan kemungkinan terwujudnya komunikasi dua arah yang sehat dan konstruktif, baik antara guru dengan siswa, maupun antara siswa dengan karya sastra.

2. Pembelajaran Cerpen di Sekolah a. Ruang Lingkup Bahan Ajar Cerpen di SMA/MA

  Dalam kurikulum 2013 untuk Sekolah Menengah Atas (SMA), ruang

  

36

  lingkup bahan ajarnya sebagai berikut :

  

Tabel 2

Ruang Lingkup Bahan Ajar Cerpen

  Kelas Semester Bahan Ajar Ket.

  X -

  I

  • II

  XI I  Mensyukuri anugerah Tuhan akan keberadaan bahasa Indonesia dan menggunakannya sebagai sarana komunikasi dalam memahami, menerapkan, dan menganalisis informasi lisan dan tulis melalui teks cerita pendek, pantun, cerita ulang, eksplanasi kompleks, dan film/drama.

   Memahami struktur dan kaidah teks cerita pendek, pantun, cerita ulang, eksplanasi kompleks, dan film/drama 36 baik melalui lisan maupun tulisan

  Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Kompetensi Dasar untuk Sekolah Menengah

   Membandingkan teks cerita pendek, pantun, cerita ulang, eksplanasi kompleks, dan film/drama baik melalui lisan maupun tulisan.

   Menganalisis teks cerita pendek, pantun, cerita ulang, eksplanasi kompleks, dan film/drama baik melalui lisan maupun tulisan.

   Mengevaluasi teks cerita pendek, pantun, cerita ulang, eksplanasi kompleks, dan film/drama berdasarkan kaidah-kaidah teks baik melalui lisan maupun tulisan.

  II  Menginterpretasi makna teks cerita pendek, pantun, cerita ulang, eksplanasi kompleks, dan film/drama baik secara lisan maupun tulisan.

   Memproduksi teks cerita pendek, pantun, cerita ulang, eksplanasi kompleks, dan film/drama yang koheren sesuai dengan karakteristik teks yang akan dibuat baik secara lisan mupun tulisan.

   Menyunting teks cerita pendek, pantun, cerita ulang, eksplanasi kompleks, dan film/drama sesuai dengan struktur dan kaidah teks baik secara lisan maupun tulisan.

   Mengabstraksi teks cerita pendek, pantun, cerita ulang, eksplanasi kompleks, dan film/drama baik secara lisan maupun tulisan.

   Mengonversi teks cerita pendek, pantun, cerita ulang, eksplanasi kompleks, dan film/drama ke dalam bentuk yang lain sesuai dengan struktur dan kaidah teks baik secara lisan maupun tulisan.

  I

  • XII
  • II b.

   Strategi dan Teknik Mengajar Mengajar Cerpen di SMA/MA

  Selain bahan ajar, waktu, dan metode, serta teknik pembelajaran memegang peranan penting dalam mengajar. Bagaimanapun baiknya bahan ajar dan cukup alokasi waktu yang telah disediakan jika tidak didukung dengan strategi yang baik, maka tujuan atau proses pengajaran tidak terkoordinir dengan baik, sudah tentu hasil yang diharapkan pun relatif kurang. Oleh karena itu, kedudukan bahan, waktu, metode serta teknik tujuan pengajaran yang baik dan relevan merupakan satu sistem yang tidak dapat dipisahkan di dalam proses belajar mengajar.

  Selanjutnya teknik mengajar apresiasi cerpen dengan menggunakan pendekatan intertekstualitas kepada siswa adalah kegiatan analisis secara operasional dilakukan oleh penganalisis (siswa). Secara operasional teknik atau langkah-langkah kerja analisis sebagai berikut: 1)

  Membaca kedua cerpen secara keseluruhan 2)

  Mengidentifikasi unsur-unsur intrinsik kedua cerpen tersebut yang meliputi tema, alur, latar, tokoh dan penokohan 3)

  Menghubungkan dua buah cerpen dari segi tema, tokoh dan penokohan, serta latar untuk mengetahui hubungan intertekstualitasnya Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, jelaslah bahwa dalam pelaksanaan proses belajar-mengajar, strategi dan teknik mengajar cerpen berperan untuk pencapaian sasaran pengajaran.

c. Tujuan Pembelajaran Intertekstual Cerpen di SMA/MA

  Tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran intertekstual adalah sebagai berikut: 1)

  Peserta didik memperoleh pengetahuan tentang unsur-unsur yang terkandung dalam sebuah cerpen; 2)

  Peserta didik memperoleh gambaran tentang hubungan suatu karya sastra khususnya cerpen yang mempunyai hubungan atau pertentangan dengan karya lain. 3)

  Peserta didik memperoleh kesenangan mempelajari cerpen dengan pendekatan intertekstual.

  Apabila seseorang sudah semakin tinggi tingkat pemahamannya mengeani cerpen maka ia akan selalu mengikuti perkembangan cerpen sepanjang zaman yang selalu mengalami perubahan, yaitu perubahan yang sesuai dengan evolusi selera dan perubahan konsep estetiknya.

BAB III PEMBAHASAN A. Biografi A.A. Navis Nama lengkapnya adalah Ali Akbar Navis, tetapi sepanjang kariernya ia

  lebih dikenal dengan namanya yang lebih sederhana A.A. Navis. Putera dari St. Marajo Sawiyah ini lahir di Padangpanjang, Sumatera Barat, pada tanggal

  17 November 1924. Ia merupakan anak sulung dari 11 saudara kandung atau 16 saudara seayah.

  Berbeda dengan kebanyakan putera Minangkabau yang senang merantau, A.A. Navis memilih untuk tetap tinggal di tanah kelahirannya. Ia berpendapat bahwa merantau hanyalah soal pindah tempat dan lingkungan, namun yang menentukan keberhasilan pada akhirnya tetaplah kreativitas itu sendiri.

  Kesenangan A.A. Navis terhadap sastra dimulai dari kampung halamannya di Minang. Orang tuanya pada saat itu, berlangganan majalah Panji Islam dan

  Pedoman Masyarakat. Kedua majalah itu sama-sama memuat cerita pendek

  dan cerita bersambung di setiap edisinya. Navis selalu membaca cerita-cerita itu dan lama-kelamaan ia pun mulai menggemarinya. Ayahnya pun lalu memberikan uang agar ia bisa membeli buku-buku bacaan kegemarannya. Itulah modal awal Navis untuk menekuni dunia karang-mengarang di kemudian hari.

  Navis memulai pendidikan formalnya dengan memasuki sekolah

  Indonesich Nederiandsch School (INS) di daerah Kayutanam selama sebelas

  tahun. Meskipun sekolah itu begitu berjasa dan menjadi perhatian Navis tetapi hampir tidak ada karya sastranya yang berkaitan dengan atau mengambil latar

  INS. Hanya saja Navis memperkirakan bahwa watak dan kebiasaan

  1 mencemooh yang amat kental dalam cerpen-cerpen terasah di INS ini. Kemampuannya mencemooh dalam karya sastra maupun pergaulan sehari-hari merupakan hal yang khas dari Navis.

  Seusai masa Jepang dan memasuki masa kemerdekaan, Navis pindah dan melaksanakan aktivitas di Bukittinggi dan ikut dalam perjuangan perebutan kemerdekaan melalui bidang yang dikuasainya. Untuk biaya hidup, ia membuka toko buku yang juga berfungsi sebagai taman bacaan, serta mengisi acara radio di RRI Bukittinggi. Navis menulis skrip, memainkan. dan menyutradai sandiwara. Ia juga mengasuh sebuah acara sastra dan budaya

  2 yang diminati oleh banyak orang muda pecinta sastra.

  A.A. Navis baru muncul dalam gelanggang sastra Indonesia pada tahun 1955, yaitu ketika ia mengumumkan cerpennya yang pertama sekaligus menjadikannya terkenal yaitu

  “Robohnya Surau Kami”. Cerpen ini merupakan sindiran terhadap orang-orang yang kelihatannya patuh melakukan syariat agama tetapi sebenarnya rapuh di dalam, sehingga mudah terhasut untuk bunuh diri. Cerpen ini kemudian diterbitkan bersama-sama dengan beberapa buah cerpen lain dengan judul Robohnya Surau Kami (1956). Ketika dicetak ulang beberapa tahun kemudian, buku ini mengalami perubahan isi. Ada

  3 beberapa cerpen baru ditambahkan, tetapi ada juga cerpen lama yang dicabut.

  Selain itu, ia juga menulis kumpulan cerpen lainnya seperti Hujan Panas (1964) dan Bianglala (1964).

  Selain menulis cerpen, Navis juga menulis novel Kemarau (1967) dan

  Saraswti Si Gadis dalam Sunyi (1970). Tema-tema yang muncul dalam karya-

  karya A.A. Navis biasanya bernafaskan kedaerahan dan keagamaan sekitar masyarakat Minangkabau. Ia pernah berkeinginan menulis tentang peristiwa kemiliteran yang pernah dihadapi bangsa Indonesia dan mencari penerbit yang mau menerbitkan cerita yang berisi peristiwa tersebut.

  Di luar bidang kepengarangannya itu, Navis bekerja sebagai pemimpin redaksi harian Semangat (harian angkatan bersenjata edisi Padang), Dewan Pengurus Badan Wakaf INS, dan pengurus Kelompok Cendekiawan Sumatera Barat (Padang Club). Di samping itu, Navis juga sering menghadiri berbagai seminar masalah sosial dan budaya sebagai pemakalah atau peserta.

  Semasa hidupnya Navis juga pernah memperoleh beberapa penghargaan antara lain hadiah kedua lomba cerpen majalah Kisah (1955) untuk cerpen “Robohnya Surau Kami”. Penghargaan dari UNESCO (1967) untuk novel

  

Saraswati dalam Sunyi, hadiah seni dari Depdikbud (1988) untuk novel

Kemarau, dan SEA Write Awards (1992) dari Pusat Bahasa (bekerja sama

  dengan Kerajaan Thailand).

B. Biografi Kuntowijoyo

  Prof. Dr. Kuntowijoyo lahir Ayahnya seorang dalang dan pembaca macapat, sedangkan eyang buyut-nya seorang khathath (penulis mushaf Al-

  Qur‘an dengan tangan). Kuntowijoyo mendapatkan pendidikan formal keagamaan di Madrasah

  Ibtidaiyah di Ngawon Gelar M.A American History diperoleh da pada tahun 1980.

  Karya-karya monumental yang lahir dari tangan dinginnya antara lain;

  

Suluk Awung-awung (Kumpulan Sajak, 1975), Isyarat (Kumpulan Sajak,

  1976), dan Makrifat Daun, Daun Makrifat (Kumpulan Sajak, 1995); Dilarang

  

Mencintai Bunga-Bunga (Kumpulan Cerpen, 1992) dan Hampir Sebuah

Subversi (Kumpulan Cerpen, 1999); Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari

  di Atas Bukit (Novel, 1976), Mantra Penjinak Ular (2000), dan Wasripin dan Satinah (2003); Rumput-Rumput Danau Bento (drama, 1968), Tidak Ada Waktu Bagi Nyonya Fatma, Barda dan Carta (drama, 1972), dan Topeng

  4 Kayu (1973). Karyanya yang lain tersebar pula dalam berbagai antologi.

  Karya sastra yang diciptakan, menurut Kuntowijoyo bukan hanya memberi kesan melalui fungsinya, tetapi terutama melalui kualitas pesan moral dan kemanusiaannya yang disugestikan melalui ungkapan-ungkapan estetisnya yang memiliki daya pembayang (imaginasi) yang kuat. Untuk itu, Kuntwowijoyo menggunakan sarana-sarana estetik sastra klasik seperti penciptaan tokoh, kejadian dan latar cerita yang aneh, ganjil, ajaib, serba unik, mengagumkan, mengerikan dan kadang-kadang dahsyat. Caranya membangun alur cerita, menampilkan tokoh dan kerjadian, serta latar cerita, dapat dibandingkan penulis-penulis lain yang sezaman seperti Iwan Simatupang, Danarto, Budi Darma, Arifin C. Noer dan lain-lain. Sekali pun tokoh cerpen- cerpen dan novel Kuntowijoyo terkesan ganjil, namun tetap berpijak pada

  5 realitas.

  Bagi Kuntowijoyo (menulis) sastra adalah proses pengendapan pengalaman. Sudah sejak kecil ia terbiasa menuliskan “catatan-catatan pengalaman” dalam bentuk sinopsis. Dari catatan-catatan itulah kemudian bermunculan karya sastra. Hal yang memberikan pengaruh dalam proses kreatif Kuntowijoyo ketika menulis sastra, selain faktor budaya Jawa, pengalaman hidupnya, pergulatan dengan budaya Barat dan pemikiran Islam, adalah juga posisinya sebagai sejarawan.

  Kuntowijoyo telah meraih beberapa penghargaan, antara lain; penghargaan sastra daatas kumpulan cerpen Dilarang Mencintai Bunga-

  Bunga ASEAN Award on Culture (1997), Satya Lencana Kebudayaan 4 RI (1997), Mizan Award (1998 Wan Anwar, Kuntowijoyo: Karya dan Dunianya, (Jakarta: PT Grasindo, 2007), hal.2 dan Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) atas novel

  

Mantra Pejinak Ular (2001), dan SEA Write Award dari Pemerintahan

Thailand (2001).

  Ia meninggal dunia pada tanggapada umur 61 tahun akibat komplikasi penyakit sesak napas, diare, dan ginjal yang diderita setelah untuk beberapa tahun mengalami serangan virus Sebelum meninggal dunia, ia adalah Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya di Ia meninggalkan seorang istri dan dua anak.

  Gagasannya yang sangat penting bagi pengembangan di Indonesia adalah idenya tentang (ISP). Bagi Kuntowijoyo, menuju cita-cita yang diidealkan masyarakatnya. Ia kemudian merumuskan tiga nilai dasar sebagai pijakan ilmu sosial profetik, yaitu: yang dimaksudkan sebagai rparadigma ISP.

  C.

  

Sinopsis Cerpen “Robohnya Surau Kami” karya AA. Navis

  Cerpen “Robohnya Surau Kami” ini bercerita mengenai di suatu tempat ada sebuah surau tua yang nyaris ambruk, datanglah seseorang yang ke sana dengan keikhlasan hatinya dan izin dari masyarakat setempat untuk menjadi garin atau penjaga surau tersebut, dan hingga kini surau tersebut masih tegak berdiri. Meskipun kakek atau garin dapat hidup karena sedekah orang lain, tetapi ada hal pokok yang membuatnya dapat bertahan, yaitu dia mau bekerja sebagai pengasah pisau. Dari pekerjaannya inilah dia dapat mengais rejeki, apakah itu berupa uang, makanan, kue-kue, atau rokok.

  Kehidupan kakek ini sangat monoton. Ia hanya mengasah pisau, menerima imbalan, membersihkan dan merawat surau, beribadah di surau, dan bekerja hanya untuk keperluannya sendiri. Hasil pekerjaannya itu tidak untuk orang lain, apalagi untuk anak dan istrinya yang tidak pernah terpikirkan.

  Suatu ketika datanglah Ajo Sidi untuk berbincang-bincang dengan penjaga surau itu. Lalu, keduanya terlibat dalam sebuah perbincangan. Akan tetapi, sepulangnya Ajo Sidi, penjaga surau itu murung, sedih, dan kesal. Karena dia merasakan apa yang diceritakan Ajo Sidi itu sebuah ejekan dan sindiran untuk dirinya.

  Dia memang tidak pernah mengingat anak dan istrinya, tetapi dia pun tidak pernah memikirkan hidupnya sendiri sebab memang tak ingin kaya atau membuat rumah. Segala kehidupannya lahir batin diserahkannya kepada Tuhan. Ia tak berusaha menyusahkan orang lain atau membunuh seekor lalatpun ia senantiasa bersujud, bersyukur, memuji, dan berdoa kepada Tuhan.

  Kakek atau garin penjaga surau begitu memikirkan hal ini dengan segala perasaannya. Akhirnya, ia tidak kuat memikirkan hal itu. Kemudian ia lebih memilih jalan pintas untuk menjemput kematiannya dengan cara menggorok lehernya dengan pisau cukur. Kematiannya sungguh mengejutkan masyarakat sekitar. Semua orang berusaha mengurus mayatnya dan menguburnya. Kecuali satu orang saja yang tidak begitu peduli atas kematian sang kakek. Dialah Ajo Sidi, yang pada saat semua orang mengantar jenazah penjaga surau, dia tetap pergi bekerja.

D. Sinopsis Cerpen “Burung Kecil Bersarang di Pohon” karya Kuntowijoyo

  Cerpen Burung Kecil Bersarang di Pohon berkisah tentang seorang lelaki tua yang merupakan guru besar ilmu Tauhid sebuah universitas. Cerita berawal dari perjalanan sang tokoh menuju masjid untuk menunaikan salat kesempatan Jumat itu. Di perjalannannya menuju masjid ia melewati sebuah pasar yang (selalu) hiruk-pikuk, seolah tak peduli bahwa hari itu hari Jumat. Di jalan pasar itulah pikiran sang guru besar ilmu Tauhid tersebut berkecamuk. Pikirannya dipenuhi prasangka buruk kepada para pedagang. Bagaimana mungkin bisa disebut beragama mereka (para pedagang) jika pada hari Jumat saja tidak bisa memenuhi panggilan Tuhan. Untuk beberapa saat pikirannya terbenam kelakuan para pedagang yang tak mengindahkan hari mulia tersebut. Kutukan menyumbat pikirannya. Sang guru bukannya tidak berusaha mencari alasan logis untuk setidaknya agak memihak kondisi pedagang yang tak bisa meninggalkan dagangannya untuk salat Jumat. Namun, seiring itu pula sikap negatif muncul lebih kuat.

  Kesimpulannya, orang pasar tersebut tak tahu agama, dan mereka harus diberi peringatan. Namun, tak lama kemudian di sisi lain, perhatiannya teralih kepada seorang bocah yang sedang menangis karena tidak bisa mengambil sarang burung di pohon, hatinya tertarik mendekati bocah malang itu. Tanpa ia sadari ia telah berlama-lama dengan sang bocah

  —hanya untuk menolong bocah tersebut mengambil sarang burung sekaligus menangkap (menjerat) induk burung.

  Pertemuan sang guru besar dengan bocah tersebut melemparkannya ke ingatan masa lalu. Sejenak ia merasa seperti kanak-kanak lagi. Bersama sang bocah itu pula ia seperti menemukan lorong waktu. Ia kembali merasakan masa kanaknya yang bahagia. Hanya satu yang tak ia ingat. Hari itu hari Jumat. Dan ia telah telat total. Sesampai di mesjid para jemaah sudah berhamburan keluar. Mata tajam para jemaah menusuk tepat di matanya.

  Sang guru besar itu seperti menelan sendiri pikirannya terhadap orang pasar tadi. Bagaimanapun, tadi, ia telah menghakimi orang pasar yang tidak tahu agama karena tidak bersegera menjalankan ibadah shalat jumat. Dan kini, para jamaahnya, lewat mata mereka, menghukum keterlambatannya. Ia malu dalam masjid sendirian dan salat sendirian. Tiba-tiba pikiran aneh muncul di kepalanya, jangan-jangan anak itu penjelmaan setan yang tugasnya menggoda manusia di jalan Tuhan. Ia merasa takut dimurkai oleh Tuhan, padahal baru saja ia merasakan suatu perasaan berbeda bersama anak kecil itu, perasaan bahwa ia bekerja keras, bahwa ia baru saja merasa menjadi manusia dalam arti sebenarnya bersama anak kecil itu.

E. Unsur Intrinsik Cerpen “Robohnya Surau Kami” karya AA. Navis 1.

  Tema Tema yang disampaikan pengarang melalui cerpen ini adalah mengenai konflik jiwa keagamaan dalam menghadapi soal-soal duniawi.

  Tema ini disajikan dalam bentuk sindiran-sindiran yang tajam terhadap orang-orang beragama, terutama yang menjalankan perintah Tuhan tanpa mampu penafsiran yang mendalam secara kritis sehingga melupakan amal perbuatan dan tanggung jawab duniawi. Dalam hal ini perbuatan baik untuk amal di akhirat tidak kalah pentingnya dengan tanggung jawab hidup selama di dunia.

2. Tokoh dan Penokohan a.

  Aku Tokoh Aku di sini yang membawakan jalannya cerita, dalam arti cerita ini merupakan cerita berbingkai dimana di dalam cerita terdapat sebuah cerita. Ada pengarang asli yang membuat cerita dalam arti di sini adalah A.A. Navis namun dalam kisahnya sendiri terdapat narrator lain sebagai pembawa jalannya cerita yaitu tokoh aku.

  Pengarang menggambarkan tokoh aku secara dramatik. Teknik penggambaran tokoh secara dramatik artinya pengarang tidak mendeskripsikan secara eksplisit sifat dan sikap serta tingkah laku tokoh.

6 Pengarang membiarkan para tokoh cerita untuk menunjukkan

  6 kehadirannya sendiri melalui berbagai aktivitas yang dilakukan, baik secara verbal lewat kata maupun nonverbal lewat tindakan atau tingkah laku, dan juga melalui peristiwa yang terjadi.

  Aku orang yang cukup peduli dan perhatian kepada kakek karena sering memberi kakek uang. Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku

  7 dengan menumpang bis, Tuan akan berhenti di depan pasar.

  “Sekali hari aku datang pula mengupah kepada Kakek. Biasanya

  8 Kakek gembira menerimaku, k

  arena aku suka memberinya uang.” Tokoh ini juga begitu berperan dalam cerpen ini. Dari mulutnya kita bisa mendengar kisah si Kakek yang membunuh dirinya dengan cara menggorok lehernya dengan pisau. Narator menggambarkan tokoh ini sebagai orang yang ingin tahu perkara orang lain. Datanya seperti berikut.

  Tiba-tiba aku ingat lagi pada Kakek dan kedatangan Ajo Sidi kepadanya. Apakah Ajo Sidi tidak membuat bualan tentang kakek ? Dan bualan itukah yang mendurjakan kakek ? Aku ingin tahu. Lalu aku tanya pada kakek lagi: “Apa ceritanya, kek ?” Ingin tahuku dengan cerita Ajo Sidi yang memurungkan Kakek jadi memuncak. Aku t anya lagi kakek : “Bagaimana katanya, kek

  9 .

  ?” “Astaga. Ajo Sidi punya gara-gara,” kataku seraya cepat-cepat meninggalkan istriku yang tercengang-cengang. Aku cari Ajo Sidi ke rumahnya. Tapi aku berjumpa sama istrinya saja. Lalu aku tanya

  10 dia.

  b.

  Kakek Kakek adalah tokoh utama dalam cerpen ini. Kisah kakek diceritakan oleh tokoh Aku. Kakek yang dipanggil sebagai garin atau 7 marbot, karena bertugas sebagai penjaga surau dan sangat taat 8 AA. Navis, Robohnya Surau Kami, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2010), hlm. 1

   Ibid, hlm. 2-3 beribadah. Sudah bertahun-tahun kakek mengabdikan dirinya sebagai penjaga surau walaupun dari hasil pengabdiannya itu kakek tidak mendapat upah.

  Dan di pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang tua yang biasanya duduk di sana dengan segala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat. Sudah bertahun-tahun ia sebagai garin, penjaga surau itu. Orang-orang memanggilnya Kakek.

  11 Untuk biaya hidup kakek mendapat sedekah dari orang-orang

  setiap kali hari Jumat. Setiap enam bulan sekali ia mendapat seperempat dari hasil pemunggahan ikan mas di kolam, dan setiap Idul Fitri, kakek mendapat zakat. Selain menjaga surau, Kakek mahir mengasah pisau sehingga banyak yang meminta tolong kepadanya untuk mengasah pisau walaupun terkadang hanya imbalan berupa terima kasih dan sedikit senyuman yang didapatnya.

  Ia lebih dikenal sebagai pengasah pisau. Karena ia begitu mahir dengan pekerjaannya itu. Orang-orang suka meminta tolong kepadanya, sedang ia tak pernah meminta imbalan apa-apa.

  12 Di usianya yang senja Kakek hidup sendiri karena memang

  diceritakan ia tidak menikah dan berkeluarga. Kakek menghabiskan waktunya hanya untuk beribadah kepada Tuhan tanpa memikirkan kehidupan di dunia.

  Sedari mudaku aku di sini, bukan? Tak kuingat punya istri, punya anak, punya keluarga seperti orang-orang lain, tahu? Tak kupikirkan hidupku sendiri. Aku tak ingin cari kaya, bikin rumah. Segala kehidupanku, lahir batin, kuserahkan kepada Allah Subhanahu wataala. Tak pernah aku menyusahkan orang lain. Lalat seekor enggan aku membunuhnya.

  13 Sifat Kakek yang hanya memikirkan dunia inilah yang pada

  akhirnya menjadi “korban” bualan dari Ajo Sidi. Pada akhir cerita, Kakek ditemukan bunuh diri dengan menggorok lehernya sendiri 11 Ibid, hlm. 1 setelah mendengar cerita dari Ajo Sidi. Di sini terlihat jika ternyata Kakek mudah percaya dengan seseorang walaupun pada awalnya sempat kesal dan mencoba untuk menahan amarahnya, ia berpikir akan sia-sia saja semua ibadah yang dilakukan, tetapi pada akhirnya Kakek memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Ini merupakan satu sifat yang sangat bertentangan dengan pribadi Kakek yang taat beribadah tetapi justru malah bunuh diri.

  “Kakek marah?” “Marah? Ya, kalau aku masih muda, tapi aku sudah tua. Orang tua menahan ragam. Sudah lama aku tak marah-marah lagi. Takut aku kalau imanku rusak karenanya. Sudah begitu lama aku berbuat baik, beribadat, bertawakal kepada Tuhan. Sudah begitu lama aku menyerahkan diriku kepada-Nya. Dan Tuhan akan mengasihi orang yang sabar dan tawakal.”

  14

  “Ya. tadi subuh Kakek kedapatan mati di suraunya dalam keadaan yang mengerikan sekali. Ia menggoroh lehernya dengan pisau cukur.”

  15 c.

  Ajo Sidi Ajo Sidi dikenal sebagai pembual, agak sukar untuk dipercaya bila berbicara sungguh-sungguh, apalagi dalam membicarakan soal-soal seperti agama. Pandangannya tentang ibadah kepada Tuhan tidak membuktikan bahwa ia melakukan ibadah itu, tapi terlalu memperhatikan duniawi. Tindakannya antara dunia dan akhirat tidak berimbang. Dia lebih mementingkan kehidupan di dunia dengan kerja keras. Pandangannya keagamaan yang dikisahkannya bukan untuk meyakinkan dirinya, melainkan sebagai cerita dalam bentuk sindiran terhadap kehidupan beragama di lingkungannya.

  “Maka aku ingat Ajo Sidi, si pembual itu. Sudah lama aku tak ketemu dia. Dan aku ingin ketemu dia lagi. Aku senang mendengar bualannya. Ajo Sidi bisa mengikat orang-orang dengan bualannya yang aneh sepanjang hari. Tapi ini jarang terjadi karena ia begitu sibuk dengan pekerjaannya. Sebagai pembual, sukses terbesar baginya ialah karena semua pelaku-pelaku yang diceritakannya menjadi model orang untuk diejek dan ceritanya menjadi pemeo

  16 akhirnya.

  ” d. Haji Soleh

  Haji Saleh adalah tokoh rekaan Ajo Sidi dalam bualannya kepada Kakek. Tokoh Haji Saleh ini sengaja diciptakan Ajo Sidi untuk menarik perbandingan dengan tokoh Kakek. Haji Saleh digambarkan sebagai seorang haji yang sangat membanggakan kehajiannya, sampai- sampai dihadapan Tuhan, Haji Saleh berkeinginan untuk menyatakan bahwa dia seorang haji.

  “Aku Saleh. Tapi karena aku sudah ke Mekah

17 Ha

  ji Saleh namaku.” Haji Saleh selama hidup di dunia selalu taat beribadah kepada

  Tuhan. Siang malam tak hentinya memuja nama Tuhan hingga ia melupakan keluarga dan lingkungan tempat ia tinggal. Sifat inilah yang pada akhirnya malah membuat Haji Saleh dimasukkan Tuhan ke dalam neraka. Padahal sebelumnya Haji Saleh sudah sangat yakin kalau ia akan dimasukkan ke dalan surga Tuhan.

  ‗Ya Tuhanku, tak ada pekerjaanku selain daripada beribadat menyembah-Mu, menyebut-nyebut nama-Mu. Bahkan dalam kasih-Mu, ketika aku sakit, nama-Mu menjadi buah bibirku juga. Dan aku selalu berdoa, mendoakan kemurahan hati-Mu untuk

  

18

  menginsafkan umat- Mu.‘

  19 Dan malaikat dengan sigapnya menjewer Haji Saleh ke neraka.

  e.

  Tuhan dan Malaikat Tuhan dan Malaikat ini terdapat dalam bualan Ajo Sidi sama seperti tokoh Haji Saleh. Tuhan dan Malaikat sengaja ditampilkan oleh

  Ajo Sidi untuk meyakinkan Kakek/Garin atas kisahnya. Tuhan 16 memang tidak menginginkan pujian atau selalu disembah. Tuhan 17 Ibid, hlm. 3

  Ibid, hlm. 6 memberi umat-Nya negeri yang berlimpah dan kaya raya ialah agar kita semua mengolah dan memanfaatkan kekayaan tersebut bukan malah berkelahi satu sama lain dan pasrah mennerima segala bentuk jajahan dari orang asing.

  ‗Kalau ada, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan enngkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Emgkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu lain tidak memuji-muji dan

  20

  menyembahku saja. Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka.‘ 3. Alur

  Alur yang dikembangkan pengarang di antaranya menggambarkan cerita Kakek yang seakan-akan terpengaruh cerita Ajo Sidi. Kakek yang bekerja menjaga surau dan sering diminta mengasah pisau oleh ibu-ibu, suatu hari didatangi oleh Ajo Sidi yang terkenal sebagai pembual di desa.

  Cerpen ini merupakan cerita berbingkai, yang berarti dalam cerpen diceritakan pula kisah yang lain. Alur yang digunakan dalam cerpen ini adalah alur mundur, karena tokoh “aku” menceritakan kisah yang sudah terjadi.

  “Dan biang keladi dari kerobohan ini ialah sebuah dongeng yang tak

  21

  dapat disangkal kebenarannya. Be ginilah kisahnya.”

  Tabel 3 Gambaran Alur Robohnya Surau Kami

  Awal Tengah Konflik 1 Konflik 2 Klimaks penyelesaian Akhir Tokoh aku Suatu hari, Kakek Haji Saleh Kakek Haji Saleh Kakek menceritakan tokoh aku menahan dan orang- meningg dimasukkan meninggal 20 Ibid, hlm. 11-12 tentang sebuah surau tua di kota kelahirannya yang dijaga seorang garin. mendapatk an kakek sedang murung. kemarahannya dan menceritakan kisahnya Ajo Sidi kepada tokoh Aku. orang yang masuk neraka menemui Tuhan untuk meminta keadalian al ke neraka karena melupakan kewajibannya di dunia. dengan cara menggoro k lehernya dengan pisau cukur dan Ajo Sidi tetap bekerja.

4. Latar a.

  Latar Tempat Latar jenis ini biasa disebut latar fisik. Latar ini dapat berupa daerah, bangunan, kapal, sekolah, kampus, hutan, dan sejenisnya. Latar tempat yang ada dalam cerpen ini jelas disebutkan oleh pengarangnya, seperti kota, dekat pasar, di surau, dan sebagainya. Dalam cerpen tidak disebutkan secara eksplisit di mana peristiwa yang diceritakan itu terjadi. Hanya disebutkan di surau tua yang di depannya ada kolam ikan, yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut:

  “Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar. Melangkahlah menyusuri jalan raya arah ke barat. Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tan di jalan kampungku. Pada simpang kecil kekanan, simpang yang kelima, membeloklah ke jalan sempit itu. Dan di ujung jalan itu nanti akan tuan temui sebuah surau tua. Di depannya ada kolan ikan, yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi.

22 Walaupun tidak secara eksplisit disebutkan di mana tempat cerita

  ”

  tersebut tetapi kita dapat menyelidiki dengan cara mencermati nama tokoh seperti Ajo Sidi. Ajo Sidi adalah nama umum bagi sebagian penduduk Sumatera Barat, yaitu penduduk bagian pesisir selatan Sumatera Barat. Jadi dapat diperkirakan bahwa cerita ini berlatar tempat di Minang, Sumatera Barat.

  b.

  Latar Waktu Begitu pula halnya dengan latar waktu tidak dijelaskan secara eksplisit dalam cerita, tetapi pembuatan cerpen ini adalah tahun 1986.

  Karena dalam cerpen terdapat kutipan “Kalalu beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan

  23 Jadi kira-kira latar waktu kejadian

  akan berhenti di dekat pasar.” dalam cerpen adalah beberapa tahun sebelum pembuatan cerpen ini.

  c.

  Latar Peristiwa Pada saat diceritakan kisah tentang Haji Saleh, saat itu Indonesia masih dijajah oleh bangsa asing, di mana hasil kekayaan Indonesia dibawa ke negeri penjajah dan rakyat sendiri menjadi kacau-balau karena sering berkelahi.

  ‗Negeri yang lama diperbudak orang lain?‘ ‗Ya, Tuhanku. Sungguh laknat penjajah itu, Tuhanku.‘ ‗Dan hasil tanahmu, mereka yang mengeruknya, dan diangkut ke negerinya, bukan?‘ ‗Benar, Tuhanku. Hingga kami tak mendapat apa-apa lagi. Sungguh laknat mereka itu.‘ ‗Di negeri yang selalu kacau itu, hingga kamu dengan kamu selalu berkelahi, sedang hasil tanahmu orang lain juga yang

  24

  men gambilnya, bukan?‘ d.

  Latar Sosial Di dalam latar ini umumnya menggambarkan keadaan masyarakat, kelompok-kelompok sosial dan sikapnya, kebiasaannya, cara hidup, dan bahasa. Di dalam cerpen ini latar sosial digambarkan sebagai berikut :

  “Dan di pelataran surau kiri itu akan tuan temui seorang tua yang biasanya duduk disana dengan segala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat. Sudah bertahun-tahun Ia sebagai Garim,

  25 penjaga surau itu. Orang-orang memanggilnya kakek.

  ” Dari contoh ini tampak latar sosial berdasarkan usia, pekerjaan, dan kebisaan atau cara hidupnya. Namun demikian, contoh latar sosial yang menggambarkan kebiasaan yang lainnya yaitu :

  “Kalau Tuhan akan mau mengakui kehilapan–Nya bagaimana ?” suatu suara melengking di dalam kelompok orang banyak itu. “Kita protes. Kita resolusikan,” kata Haji Soleh “Cocok sekali, di dunia dulu dengan demonstrasi saja, banyak yang kita peroleh,” sebuah suara menyela.

  26 “Setuju. Setuju. Setuju.” Mereka bersorak beramai-ramai.

  Kebiasaan ini tentunya mengisyaratkan kepada kita bahwa tokoh- tokoh yang terlibat dalam dialog ini (hlm.13), termasuk kelompok orang yang sangat kritis, vokal, dan berani. Karena kritik, vokalnya, dan beraninya Dia sering menganggap enteng orang lain dan akhirnya terjebak dalam kesombongan. Tokoh-tokoh ini menjadi sombong di hadapan Tuhannya padahal apa yang dilakukannya belum ada apa- apanya. Perhatikan pada berikut ini.

  Haji soleh yang jadi pemimpin dan juru bicara tampil ke depan. Dan dengan suara yang menggeletar dan berirama indah, Ia memulai pidatonya: “O, Tuhan kami yang Mahabesar, kami yang menghadap-Mu ini adalah umat-Mu yang paling taat beribadat, yang paling taat menyembah-Mu. Kamilah orang-orang yang selalu menyebut nama-Mu, memuji-muji kebesaran-Mu,

  27

  mempropagandakan keadilan-Mu, dan lain- lainnya…” Akhirnya ada latar sosial lain yang digambarkan dalam cerpen ini meskipun hanya sepintas saja gambaranya itu. Latar sosial ini menunjukkan bahwa salah satu tokoh dalam cerita ini termasuk 25 kedalam kelompok sosial pekerja. Adapun kutipannya sebagai berikut,

  Ibid, hlm. 7

  “Dan sekarang,” tanyaku kehilangan akal sungguh mendengar segala peristiwa oleh perbuatan Ajo Sidi yang tidak sedikitpun bertanggung jaw ab, “dan sekarang ke mana dia ? “Kerja”

  28

  “Kerja?”tanyaku mengulangi hampa.“Ya. Dia pergi kerja.” 5. Sudut Pandang

  Sudut pandang adalah cara atau pandangan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar, dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita. Dalam cerpen

  “Robohnya Surau Kami” sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang persona pertama “aku” tokoh tambahan. Dalam sudut pandang ini tokoh “aku” muncul bukan sebagai

  29 tokoh utama, melainkan sebagai tokoh tambahan, first person peripheral.

  Tokoh “aku” dalam cerpen sebagai pencerita atau narator yang terlibat langsung dalam cerpen. Hal ini dapt dilihat dalam kutipan berikut: Tapi aku tak perlu menjawabnya lagi. Sebab aku tahu kalau Kakek sudah membuka mulutnya, dia takkan diam lagi. Aku biarkan Kakek dengan pertanyaannya sendiri. “Tiba-tiba aku ingat pada kakek dan kedatangan Ajo Sidi kepadanya. Apakah Ajo Sidi telah membuat bualan tentang Kakek? Dan bualan

  30

  itukah yang mendurjakan Kakek? Aku ingin tahu” 6.

  Gaya Bahasa Gaya merupakan sarana bercerita. Dengan demikian gaya biasa disebut sebagai cara pengungkapan seorang yang khas bagi seorang pengarang atau sebagai cara pemakaian bahasa spesifik oleh seorang pengarang. Jadi, gaya merupakan kemahiran seorang pengarang dalam memilih dan menggunakan kata, kelompok kata, atau kalimat dan ungkapan.

  Di dalam cerpen ini ternyata pengarang menggunakan kata-kata yang 28 biasa digunakan dalam bidang keagamaan (Islam), seperti garin, Allah 29 Ibid, hlm. 13 Burhan Nurgiantoro, Teori Pengkajian Fiksi, (Ypgyakarta: Gadjah Mada University Press, Subhanau Wataala, Alhamdulillah, Astagfirullah, Masya-Allah, Akhirat, Tawakal, dosa dan pahala, Surga, Tuhan, beribadat menyembah-Mu, berdoa, menginsyafkan umat-Mu, hamba-Mu, kitab-Mu, Malaikat, neraka, haji, Syekh, dan Surau serta fitrah Id, juga Sedekah.

  Selain itu, pengarang juga menggunakan beberapa perumpamaan atau kiasan. Ada beberapa gaya bahasa yang digunakan penulis dalam menuangkan pemikirannya ke dalam cerpen

  “Robohnya Surau Kami” yaitu penggunaan beberapa majas diantaranya adalah majas personofikasi dan majas hiperbola. Majas-majas ini digunakan sebagai penguat karakter tokoh-tokoh dalam cerpen Robohnya Surau Kami.

  a.

  Majas personifikasi Personifikasi merupakan gaya bahasa yang memberi sifat-sifat benda mati dengan sifat-sifat seperti yang dimiliki manusia sehingga dapat bersikap dan bertingkah laku sebagaimana halnya manusia. Contoh kutipan majas personifikasi dalam “Robohnya Surau Kami” adalah:

  1) Jika Tuan datang sekarang, hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu kesucian yang bakal roboh.

  31 b.

  Majas Hiperbola Hiperbola merupakan suatu cara penuturan yang bertujuan menekankan maksud dengan sengaja melebih-lebihkannya.

  2) Pandangannya sayu ke depan, seolah-olah ada sesuatu yang mengamuk pikirannya.

  

32

  3) Karena fajar kegembiraan telah membayang di wajahnya kembali.

  33

  4) “Dan sekarang,” tanyaku kehilangan akal sungguh mendengar segala peristiwa oleh perbuatan Ajo Sidi yang tidak sedikit pun bertanggung jawab.

  34 31 Ibid, hlm. 2

7. Amanat

  Di dalam sebuah cerita, gagasan atau pokok persoalan dituangkan sedemikian rupa oleh pengarangnya sehingga gagasan itu mendasari seluuh cerita. Gagasan yang mendasari seluruh cerita ini dipertegas oleh pengarangnya melalui solusi bagi pokok persoalan itu. Dengan kata lain solusi yang dimunculkan pengaranngnya itu dimaksudkan untuk memecahkan pokok persoalan, yang didalamnya akan terlibat pandangan hidup dan cita-cita pengarang. Hal inilah yang dimaksudkan dengan amanat. Dengan demikian, amanat merupakan keinginan pengarang untuk menyampaikan pesan atau nasihat kepada pembacanya.

  Jadi amanat pokok yang terdapat dalam cerpen Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis adalah: “Pelihara, jaga, dan jangan bermasabodoh

  terhadap apa yang kau miliki

  .” Hal ini terdapat pada paragraf kelima halaman delapan kalimat yang terakhir. Amanat pokok/utama ini kemudian diperjelas atau diuraikan dalam ceritanya. Akibatnya muncullah amanat-amanat lain yang mempertegas amanat utama itu. Amanat-amanat yang dimaksud itu di antaranya:

  a) Jangan cepat marah kalau ada orang yang mengejek atau menasihati kita karena ada perbuatan kita yang kurang layak di hadapan orang lain. Amanat ini dimunculkan melalui ucapan kakek seperti kutipan di bawah ini, “Marah ? Ya, kalau aku masih muda, tetapi aku sudah tua. Orang tua menahan ragam. Sudah lama aku tak marah-marah lagi. Takut aku kalau imanku rusak karenanya, ibadahku rusak karenanya. Sudah begitu lama aku berbuat baik, beribadah bertawakkal kepada Tuhan

  35

  .…” dari ucapan kakek Garin itu jelas tegambar pandangan hidup/cita-cita pengarangnya mengenai karangan untuk cepat marah.

34 Ibid, hlm. 13

  b) Jangan cepat bangga akan perbuatan baik yang kita lakukan karena hal ini bisa saja baik di hadapan manusia tetapi tetap kurang baik di hadapan Tuhan itu. Coba saja tengok pengalaman tokoh yang bernama Haji Saleh ketika dia disidang di akhirat sana: “Alangkah tercengangnya Haji Saleh, karena di Neraka itu banyak teman-temannya didunia terpanggang hangus, merintih kesakitan. Dan tambah tak mengerti lagi dengan keadaan dirinya, karena semua orang- orang yang dilihatnya di Neraka itu tak kurang ibadahnya dari dia sendiri. Bahkan ada salah seorang yang telah sampai 14 kali ke

  36 Mekkah dan bergelar Syekh pula.

  Tidak hanya itu saja. Dari gambaran ini terpapar pula amanat lain, yaitu:

  c) Kita jangan terpesona oleh gelar dan nama besar sebab hal itu akan mencelakakan diri pemakainya.

  d) Jangan menyia-nyiakan apa yang kamu miliki, untuk itu cermati sabda Tuhan dalam cerpen ini:

  “…, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua, sedang harta bendamu kau biarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas, kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang Aku menyuruh engkau semuanya beramal disamping beribadat. Bagaimana engkau bisa beramal

  

37

  kalau engkau miskin .…”

  e) Jangan mementingkan diri sendiri, seperti yang disabdakan Tuhan dalam cerpen ini, ”…. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat bersembahyang, tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri, melupakan kehidupan anak istrimu sendiri, sehingga mereka itu kucar kacir selamanya. Inilah kesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis, padahal engkau didunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak memperdulikan mereka sedikitpun.”

  38 Dan akhirnya amanat (d) dan (e) menjadi kunci amanat yang

  diinginkan pengarang untuk pembacanya. Kedua amanat itu kemudian dirumuskan, seperti yang sudah dituliskan pada bagian awal tentang amanat di atas.

F. Unsur Intrinsik Cerpen “Burung Kecil Bersarang di Pohon ” karya Kuntowijoyo 1.

  Tema Tema yang diangkat dalam cerpen ini adalah mengenai religiusitas. Sebenarnya religiusitas tidak bekerja dalam pengertian-pengertian (otak) tetapi dalam pengalaman, penghayatan (totalitas diri) yang mendahului analisis atau konseptualisasi.

  39 Religiusitas dalam cerpen ini dimaknai

  sebagai keadaan sang tokoh utama yang sangat menjaga kesucian pakaiannya karena ingin beribadah di rumah Tuhan, tetapi dalam perjalanannya justru ia malah berpikiran buruk terhadap orang-orang di pasar yang ia temui. Terlebih lagi ia malah tertinggal salat Jumat yang menjadi tujuan utamanya menjaga kebersihan pakaiannya itu.

  Kutukan dan rutukan menyumbat pikirannya. Sang guru bukannya tidak berusaha mencari alasan logis untuk setidaknya agak memihak kondisi pedagang yang tak bisa meninggalkan dagangannya untuk salat jumat. Namun seiring itu pula sikap negatif muncul lebih kuat. Kesimpulannya, orang pasar tersebut tak tahu agama, dan mereka harus diberi peringatan. Namun, tak lama kemudian di sisi lain, perhatiannya teralih kepada seorang bocah yang sedang menangis karena tidak bisa mengambil sarang burung di pohon. Entah kenapa hatinya tertarik mendekati bocah malang itu. Tanpa ia sadari ia telah berlama-lama dengan sang bocah hanya untuk menolong bocah tersebut mengambil sarang burung sekaligus menangkap (menjerat) induk burung.

  40

38 Ibid, hlm. 16

2. Tokoh dan Penokohan a.

  Laki-laki Tua Laki-laki tua atau kakek yang merupakan tokoh utama dalam novel ini adalah seorang guru besar ilmu fiqih dan tauhid, orang-orang di masjid memanggilnya dengan sebutan buya karena ia adalah seorang tokoh utama dan kebetulan saat itu ia akan menjadi khatib dan imam shalat Jumat.

  Seorang laki- laki mendekat padanya. “Buya”, kata orang itu.

  41 Teranglah, sudah waktunya ke masjid. Ia harus mengucapkan khotbah dan menjadi imam.

  42 Kakek sang guru besar ilmu fiqih dan tauhid ini, pada masa

  kecilnya senang sekali pergi bermain dan juga menangkap burung maka tak heran ketika ia bertemu dengan anak kecil yang sedang menangis karena ingin menangkap burung di atas pohon tak ragu kakek segera mengambilkannya.

  Ia ingat kembali masa kanaknya ketika ia masih bocah nakal sebesar anak itu. Ia pun suka burung. Berjalan dari kampung ke kampung memburu.

43 Pengalaman masa kanaknya sangat banyak, hampir semua hari

  adalah hari bermain, sebelum semuanya itu direnggutkan oleh hidup yang keras.

44 Setelah agak besar, ayah dari kakek pun mulai mengirimkan kakek

  ke pondok untuk belajar lebih jauh mengenai ilmu agama. Lama belajar di pondok menjadikan kakek kuat dan mengerti banyak tentang agama terutama fiqih dan tauhid hingga akhirnya ia seperti sekarang menjadi guru besar di sebuah universitas.

  Hidup dalam pondok dan penuh dengan kebijaksanaan itu menjadikan ia makhluk yang kuat dan gmebira. Kesedihannya

  41 Kuntowijoyo, Op. Cit,, hlm. 200 42 Ibid, hlm. 181 yang terutama ialah bila ia tak bisa menepati waktu-waktu sembahyang, atau ia melupakan mengaji.

  45 Setelah dewasa dan cukup berumur kini sifatnya sangat

  menjunjung tinggi nilai agama dan selalu mengutamakan ibadah kepada Tuhan. Termasuk saat beribadah, ia ingin segala sesuatunya sempurna.

  Besar kemungkinan dalam perjalanan, dengan tak sengaja, debu menempel. Itu mengurangi kesucian. Ia ingin, Tuhan melihatnya dalam keadaan bersih bersujud di rumah-nya.

  46 Namun, keimanan sang guru besar ini mulai terganggu saat ia

  berpikiran negatif tentang orang-orang di pasar yang ia temui saat hendak melaksanakan salat Jumat menurutnya orang pasar tersebut tak tahu agama, dan mereka harus diberi peringatan. Ini merupakan sifat buruk yang dimilikinya seharusnya ia tidak sembarang menghakimi keimanan seseorang.

  Mereka selalu bergegas, wajah rakus, pandangan liar: uang. Alangkah sungguh tersita. Setiap kali ia lewati pasar itu benaknya tak mau juga berhenti berpikir. Tidak sempatkah mereka merenungkan sebentar tentang hubungan dengan Sang Pencipta?

  47 Bagaimanapun, ia tidak bisa memaafkan semua bentuk kekafiran.

  Bagi dia sudah jelas, kesadaran pada Tuhan itu membedakan manusia makhluk lain.

48 Sifat laki-laki tua ini yang menghakimi orang-orang di pasar ini

  cukup bertentangan saat ia bertemu seorang anak kecil. Merasa kasihan dan ia teringat masa kecilnya, akhirnya sang profesor berhenti dan berusaha menolong anak itu untuk menangkap burung yang diinginkan. Karena asyiknya menolong anak itu, dia lupa harus berangkat cepat ke masjid. Seusai menolong anak kecil itu, ahli fiqih ini merasa sangat bahagia.

  45 Ibid, hlm. 192-193 46 Ibid, hlm. 181

  Ia ingat kembali masa kanaknya ketika ia masih bocah nakal

  49 sebesar anak itu. Ia pun suka burung.

  Ia hampir merasakan kebahagiaan, semacam yang lain dari kebahagiaan, semacam yang lain dari kebahagiaannya selama ini.

  50 Sesuatu yang lain dari kebahagiaannya selama ini.

  Setelah selesai dengan urusan anak kecil ini, ia baru teringat akan tujuan utamanya sebenarnya yaitu pergi ke masjid dan ia sudah terlambat untuk salat Jumat. Lagi-lagi sang ahli fiqih ini mempunyai pikiran buruk tentang orang-orang yang baru saja selesai shalat.

  Ia tak berani menantang tatapan mereka. Mata-mata itu! Rasanya

  51 seperti tusukan pada hatinya.

  Tetapi kenapa, kalau orang lain datang terlambat tidak mendapat tatapan setajam itu? Sedangkan ia dan orang lain sama belaka. Mereka sungguh kejam dengan memberikan perhatian berlebihan

  52 kepadanya.

  Pikiran-pikiran mengenai dirinya sendiri yang buruk inilah yang menjadi sifat jelek dari laki-laki tua ini. Ia selalu berburuk sangka baik kepada dirinya sendiri atau orang lain. Hingga akhirnya ia tersadar bahwa sifat berburuk sangkanya itu salah dan ia segera mengambil air wudhu untuk lebih menenangkan hatinya.

  Kemudian, dia berpikir. Dia Yang Maha Tinggilah yang menggerakkan semuanya itu. Itu salahMu sendiri. Tidak, Engkau tidak bersalah. Tentulah, itu karena menunjukkan sesuatu padanya.

  53 Sebenarnyalah, ia mengerti sesuatu. Maka, ia pun menangis.

  b.

  Anak Kecil Tokoh anak kecil yang dipanggil dengan panggilan Buyung ini memiliki sifat polos sama seperti anak kecil pada umumnya ia ingin 49 meminta bantuan dari kakek yang kebetulan melewati jalan tersebut 50 Ibid, hlm. 188 51 Ibid, hlm.188 Ibid , hlm. 197

  untuk mengambilkan burung yang berada di atas pohon. Saat kakek bertemu dengannya ia sedang menangis.

  Di bawah pohon asam, seorang anak laki-laki memandang pada ketinggian. Ketika laki-laki tua itu memandangnya, anak itu menunjuk ke atas. Pohon itu tinggi dan rimbun, suatu kesejukan pada siang ini.

  “Apa maksudmu Buyung?”, ia bertanya. Baru langit bertahta perak matahari menerjang matanya ketika ia melihat ke puncak pohon. Ia menutup matanya yang tertusuk berkas matahari. Mengusap kepala anak itu. “Apa?” Anak itu menunjuk ke atas. “Burung”, katanya. “O, ya. ada suaranya. Itu burung kecil, Cucu”.

  54 c.

  Orang-orang di Pasar Orang-orang di pasar ini tentu saja menjalankan rutinitas pekerjaannya yaitu berjualan menawarkan dagangannya dan pembeli yang mencari kebutuhannya di pasar.

  Pedagang-pedagang dipandangnya dengan ketakjuban besar.

  55 d.

  Orang-orang di Masjid Orang-orang di masjid ini adalah jamaah yang mengikuti salat

  Jumat. Ketika salat Jumat telah selesai dan orang-orang ini keluar dari masjid sang kakek baru saja tiba di masjid. Ketika kakek sang guru besar ilmu fiqih dan tauhid baru tiba di masjid tentu saja orang-orang ini langsung melihatnya.

  Orang-orang sudah keluar dari masjid, berpencaran di jalan. Mereka semua melihatnya.

  56 e.

  Laki-laki di Masjid Laki-laki di dalam masjid ini menghampiri laki-laki tua atau kakek si tokoh utama ke tika kakek baru tiba di masjid. “Seorang laki-laki

54 Ibid, hlm. 187

  mendekat padanya. ‗Buya‘, kata orang itu. Ia menolak orang itu

  57 mencoba tersenyum.

  ” 3. Alur

  Alur dalam cerpen ini adalah alur maju. Cerita diawali dengan perjalanan kakek yang merupakan seorang guru besar ilmu fiqih dan tauhid di sebuah universitas yang ingin pergi melaksanakan ibadah salat jumat. Dalam perjalanan menuju masjid, ia harus melewati sebuah pasar yang tentunya kotor dan dipenuhi pedagang-pedagang yang berjualan. Berbagai macam pikiran pun berkecamuk dalam hati kakek mengenai orang-orang di pasar ini hingga akhirnya setelah melewati pasar ia tiba di sebuah jalan dengan beberapa pohon rindang.

  Konflik mulai terjadi saat kakek berusaha membantu seorang anak kecil yang ditemuinya sedang menangis karena ingin mendapat burung yang bertengger di atas sebuah pohon. Merasa kasihan dan teringat masa lalunya akhirnya kakek pun menolong anak kecil itu, karena keasyikan menangkap burung sampai-sampai kakek sang guru besar ilmu fiqih dan tauhid ini lupa tujuan utamanya yaitu pergi ke masjid untuk shalat Jumat. Setelah selesai menangkap burung ia bergegas pergi ke masjid.

  Konflik mulai mereda saat kakek mulai teringat perjalanan dan kejadian-kejadian yang ia alami hari itu. Mulai dari berangkat dari rumah untuk pergi ke masjid ia melewati pasar dan di sana ia melihat pedagang- pedagang yang dalam pikirannya tidak mempedulikan bahwa hari itu hari Jumat dan seharusnya mereka pergi menunaikan ibadah. Lalu ia bertemu seorang anak kecil dan malah membantunya mengambilkan burung di atas pohon.

  Akhir cerita kakek sang guru besar ilmu fiqih dan tauhid ini pun segera mengambil air wudhu dan ia sadar kejadian-kejadian yang ia alami hari itu adalah kesengajaan Tuhan.

  Tabel 4 Gambaran Alur Burung Kecil Bersarang di Pohon

  Awal Tengah Konflik Klimaks Pemyelesaian Akhir Kakek berjalan menuju masjid untuk melaksanakan shalat jumat dan melewati sebuah pasar.

  Di tengah perjalanan kakek bertemu dengan anak kecil yang sedang menangis ingin diambilkan burung di atas pohon.

  Kakek berusaha mengambil burung yang bertengger di atas pohon.

  Kakek terlambat untuk shalat di masjid.

  Kakek teringat perjalanannya hari itu.

  Walaupun kakek tiba di masjid ketika orang-orang sudah selesai shalat, tetapi kakek tetap mengambil air wudhu untuk mensucikan diri.

4. Latar a.

  Latar Tempat Tempat yang digambarkan dalam cerpen ini adalah di rumah tokoh utama yaitu kakek, sebuah pasar, setelah melewati pasar, tokoh kakek akan tiba di sebuah jalanan yang ditumbuhi rerumputan dan terdapat beberapa pohon rindang. Di pohon-pohon tersebut ada sebuah pohon asam, di sini si tokoh utama akan bertemu dengan seorang anak kecil dan akhirnya ia akan mengambil burung yang sedang bertengger di atas pohon. Setelah dari pohon itu dan berjalan tak jauh tibalah di sebuah masjid.

  Laki-laki tua itu menjaga baju putihnya, supaya jangan sedikit pun debu menyentuh. Hari itu Jumat siang. Matahari bergetar-getar di atas atap rumahnya.

58 Setiap berjalan lewat pasar itu, selalu ia merasa ada yang aneh.

  Kalau bukan untuk mengurangi jarak serta menghindari keributan jalan raya, ia tidak akan menempuh tengah pasar itu.

  59

  …ia sampai di bagian sepi dari kota. Beberapa kelompok rumah, tanah kosong dan pohonan. Ada jalanan, yaitu sekadar setapak tanah yang memanjang bebas dari rumputan. Di sini tanah luas, masih ada juga bagian kota yang belum terbangun. Sekali-sekali

  60 pohon akan melindunginya dari panas matahari.

  Di bawah pohon asam, seorang anak laki-laki memandang pada

  61 ketinggian.

  Orang-orang sudah keluar dari masjid, berpencaran di jalan.

  62 Mereka semua melihatnya.

  Untuk masalah tempat dalam cerpen ini memang hanya disebutkan nama-nama tempat umumnya saja, seperti disebutkan di atas yaitu rumah, pasar, jalan, dan masjid, tetapi jika diteliti lagi, seorang pembaca dapat menemukan di mana kira-kira cerpen ini bercerita. Dalam cerpen terdapat nama- nama panggilan seperti ‗Buyung‘ dan ‗Buya‘. Nama-nama panggilan tersebut berasal dari Sumatera Barat. ‗Buyung‘ adalah panggilan untuk anak laki-laki sedangkan ‗Buya‘ adalah panggilan untuk tokoh agama, dalam cerpen ini dikisahkan kakek adalah seorang guru besar ilmu fiqih dan tauhid yang pada hari Jumat itu akan menjadi khatib dan imam salat Jumat.

  Jadi, dari petunjuk-petunjuk tersebut dapat disimpulkan bahwa cerpen ini berlatar tempat di daerah Minang yaitu Sumatera Barat.

  b.

  Latar Waktu Latar waktu berhubungan dengan masalah “kapan” terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi.

  Masalah “kapan” tersebut biasanya dihubungkan dengan waktu faktual, waktu yang ada kaitannya atau dapat dikaitkan dengan

  63 60 peristiwa sejarah. 61 Ibid, hlm. 183 62 Ibid, hlm. 187 Ibid, hlm. 197

  Latar waktu dalam novel ini diperkirakan sekitar tahun 1970-an

  64

  ketika cerpen ini dibuat. Dalam ceritanya sendiri masalah waktu hanya dijelaskan pada hari Jumat dan saat hari menginjak siang karena bertepatan dengan dilaksanakannya ibadah shalat Jumat bagi pria muslim.

  …hari itu Jumat siang. Matahari bergetar-getar di atas atap

  65 rumahnya. Ia harus mengucapkan khotbah dan menjadi imam.

  c.

  Latar Peristiwa Dalam cerpen ini peristiwa-peristiwa yang terjadi lebih banyak dialami oleh tokoh utama dan itu masih sebatas wajar. Peristiwa- peristiwa sekitar tahun 1970-an saat cerpen dibuat tidak diceritakan dalam cerpen. Kisah perjalanan tokoh utama yaitu kakek dari rumah menuju masjid dan dari perjalanan inilah si kakek akan mengalami berbagai kejadian.

  Jika dicermati secara teliti maka akan ditemukan beberapa kesimpulan mengenai latar peristiwa dari cerpen ini, seperti si tokoh utama yang akan berangkat ke masjid dari rumahnya. Ia harus melewati pasar, lalu jalanan yang ditumbuhi berbagai pohon rindang, barulah ia tiba di masjid. Dari gambaran tersebut terlihat bahwa perjalanan yang cukup jauh tersebut di tempuh tokoh utama yang merupakan laki-laki tua atau kakek dengan berjalan kaki tanpa naik kendaraan padahal ia juga sangat hati-hati menjaga kebersihan pakaiannya. Di tahun 1970-an sendiri kendaraan bermesin memang masih sangat jarang sehingga orang bepergian dengan berjalan kaki.

5. Sudut Pandang

  Sudut pandang yang digunakan dalam cerpen “Burung Kecil

  Bersarang di Pohon 64 ” ini adalah sudut pandang orang ketiga (mahatahu).

  Abdul Hadi W.M., “Wawasan Sastra Kuntowijoyo dan Kepengarangannya”, dalam

  Dalam sudut pandang ini, cerita dikisahkan dari sudut “dia”, namun pengarang, narrator, dapat menceritakan apa saja hal-hal yang menyangkut tokoh “dia” tersebut. Narator mengetahui segalanya, ia bersifat mahatahu

  66 (omniscient).

  67 Setiap berjalan melewati pasar itu, selalu ia merasa ada yang aneh.

  Laki-laki tua itu melihat-lihat di manakah ia harus meletakkan sangkar burung itu supaya mudah terlihat oleh induknya, dan ia akan

  68 menghubungkan sangkar itu dengan tali pada pintunya.

6. Gaya Bahasa

  Ada beberapa gaya bahasa yang dilukiskan dalam novel ini, diantaranya ada benerapa kutipan yang menggunakan bentuk pemajasan. Pemajasan merupakan teknik pengungkapan bahasa, penggayabahasaan, yang maknanya tidak menunjuk pada makna harfiah kata-kata yang mendukungnya, melainkan pada makna yang ditambahkan, makna yang tersirat. Jadi, ia merupakan gaya yang sengaja mendayagunakan penuturan

  69 dengan memanfaatkan bahasa kias.

  Beberapa majas yang terdapat dalam ce rpen “Burung Kecil Bersarang di Pohon” adalah majas personifikasi dan majas hiperbola. Majas ini digunakan sebagai penguatan karakter tokoh.

  a.

  Personifikasi Adalah gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati atau barang-barang yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki

  70

  sifat-sifat kemanusiaan. Jadi, dalam personifikasi terdapat persamaan sifat antara benda mati dengan sifat-sifat manusia.

66 Burhanudin Nurgiantoro, Teori Pengkajian Fiksi, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press,

  67 2005), hlm.257- 258 68 Kuntowijoyo, op. cit, hlm. 181 Ibid, hlm. 191

  Beberapa kutipan dalam cerpen yang menggunakan personifikasi adalah:

  71

  1) Matahari bergetar-getar di atas rumahnya. 2)

  Angin mendesau di pohon, menggugurkan daun, mencipta

  72 bayang-bayang yang jatuh kabur di rumputan.

  3) Ia menyentuh daun kuning yang melayang seperti beberapa

  73 tetes gerimis, terbuai angin.

  b.

  Hiperbola Adalah gaya bahasa yang mengandung suatu pernyataan yang

  74

  berlebihan, dengan membesar-besarkan suatu hal. Beberapa kutipan dalam “Burung Kecil Bersarang di Pohon” yang menggunakan majas hiperbola adalah:

  1) Baru langit bertahta perak matahari menerjang matanya ketika ia melihat ke puncak pohon. Ia menutup matanya yang tertusuk

  75 berkas matahari.

  76

  2) Mata-mata itu! Rasanya seperti tusukan pada hatinya.

  7. Amanat Amanat merupakan ajaran moral atau pesan didaktis yang hendak disampaikan pengarang kepada pembaca melalui karyanya itu. Ada beberapa amanat yang bisa kita dapatkan dari cerpen ini, yaitu:

  a) Janganlah kita menghakimi suatu hal tanpa berkaca pada diri sendiri terlebih dahulu.

b) Kita harus saling tolong-menolong terhadap sesama manusia.

  c) Janganlah berlebihan terhadap suatu hal karena biasanya yang berlebihan itu tidaklah baik.

  d) 71 Janganlah kita berburuk sanka kepada orang lain. 72 Ibid, hlm. 181 73 Ibid, hlm. 184 74 Ibid, hlm.189 Gorys Keraf, Op. Cit., hlm. 135 e) Ada instink yang dapat menangkap rangsang dari luar pada binatang dan dengan alat itu mereka bereaksi. Lain dengan

  77 manusia. Manusia adalah makhluk yang sempurna.

  f) Orang tidak akan masuk apa-apa. Kalau engkau bodoh, engkau

  78 akan masuk perangkap. Maka rajinlah belajar.

  g) Ketika anak dalam bahaya, orang tua pasti akan melindungi anaknya itu.

G. Analisis Intertekstual Cerpen “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis dengan Cerpen “Burung Kecil Bersarang di Pohon” karya Kuntowijoyo.

  Kajian intertekstualitas dimaksudkan sebagai kajian terhadap sejumlah teks (sastra), yang diduga mempunyai bentuk-bentuk hubungan tertentu, misalnya untuk menemukan adanya hubungan unsur-unsur intrinsik seperti ide, gagasan, peristiwa, plot, penokohan, (gaya) bahasa, dan lainnya, di antara teks yang dikaji. Berikut ini merupakan penjabaran terkait hubungan intertekstual yang terdapat dalam cerpen

  “Robohnya Surau Kami” dan “Burung Kecil Bersarang di Pohon”.

1. Perbandingan Unsur Intrinsik a.

  Tema Terdapat persamaan tema dari kedua cerpen seperti yang telah dituliskan dalam unsur intrinsik kedua cerpen. Tema yang terdapat dalam kedua cerpen tersebut adalah mengenai religiusitas atau lebih mendekat kepada mengenai konflik jiwa keagamaan yang dialami oleh tokoh utama yang sama yaitu seorang laki-laki tua atau kakek.

  Dalam “Robohnya Surau Kami” tema mengenai konflik jiwa keagamaan ini jelas menimpa diri kakek yang bekerja sebagai garin atau penjaga surau.

  Pada awalnya, sedari muda kakek adalah orang yang rajin beribadah. Kakek tersebut hidup dengan penuh pengabdian terhadap agama yang diwujudkan dengan kesetiaannya menjaga surau seorang diri. Ketaatannya dalam beragama lebih mementingkan beribadah daripada bekerja. Secara ritual kakek itu seorang yang saleh, namun secara sosial dia hanyalah seorang pengasah pisau bagi masyarakat di sekitarnya.

  Namun, kedatangan si pembual Ajo Sidi meruntuhkan semua keyakinan Kakek. Cerita Ajo Sidi memutarbalikkan semua keyakinan Kakek karena baginya, yang paling penting adalah kesalehan sosial. Hubungan horisontal antara sesama manusia itulah yang dapat menyelamatkan manusia dari siksa neraka, dan dapat dijadikan tiket masuk surga. Kesalehan sosial diwujudkan dengan bekerja. Bagi Ajo Sidi, bekerja lebih utama daripada beribadah. Cerita Haji Saleh digunakan untuk mendekonstruksi keberagamaan yang berorientasi pada kesalehan ritual. Dengan cerita tersebut, kesalehan sosial yang diwujudkan dengan bekerja menjadi lebih utama.

  Hal yang sama terjadi pada laki-laki tua atau kakek dalam “Burung Kecil Bersarang di Pohon.

  ” Ia sendiri menyalahkan orang lain yang tidak mau beribadah kepada Tuhan hingga akhirnya ia termakan omongan sendiri dan tidak melaksanakan ibadah salat Jumat karena malah membantu seorang anak kecil untuk mengambilkan burung di atas pohon.

  Navis sendiri mengingatkan arti penting usaha manusia di dunia ini. Kehidupan akhirat merupakan hasil usaha umat manusia di dunia ini. Kehidupan akhirat merupakan hasil usaha umat manusia di dunia ini. Usaha di dunia berarti menghidupi diri dan saudara-saudara yang lain dalam rangka mencari kehidupan yang sejahtera dan bahagia. Usaha untuk kehidupan dunia

  79 dan akhirat haruslah seimbang.

  Dari penjelasan tersebut dapat di simpulkan bahwa kedua cerpen tersebut memiliki persamaan tema walaupun cerita dikembangkan secara berbeda namun pada intinya cerpen tersebut bertemakan sama. b.

  Tokoh Tokoh utama dalam kedua cerpen tersebut adalah laki-laki tua atau seorang kakek. Orang tua memang identik dengan semakin rajinnya beribadah kepada Tuhan karena sebagian orang menilai di usia senja adalah masanya seseorang untuk ‗bertobat‘ dari kesalahan-kesalahan di masa muda.

  Sedangkan bagi Kuntowijoyo sendiri, sosok kakek-kakek atau lelaki tua

  80

  melambangkan kejernihan, ketulusan, dan kebajikan. Di mana keduanya memiliki umur yang cukup namun dengan latar belakang berbeda.

  Kakek dalam “Robohnya Surau Kami” diceritakan sudah menjaga surau saat masih muda dan hidupnya ia habiskan untuk beribadah kepada Tuhan. Ia tidak memiliki keluarga dan tidak pula berkeluarga karena inginnya fokus beribadah kepada Tuhan. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari kakek hanya mengandalkan tetangga yang kadang-kadang memberinya makanan karena ia percaya Tuhan akan mengasihi hamba-Nya. Selain itu, kakek memiliki keterampilan mengasah pisau sehingga banyak tetangga yang datang untuk meminta kakek mengasahkan pisaunya. Tetapi dari hasil mengasah pisau ini jarang ada yang memberi kakek uang biasanya hanya mengucapkan terima kasih.

  …Sudah bertahun-tahun ia sebagai garin, penjaga surau itu. Orang-orang memanggilnya Kakek. Sebagai penjaga surau, Kakek tidak mendapat apa-apa. Ia hidup dari

  81 sedekah yang dipungutnya sekali se-Jumat.

  Lain halnya dengan kakek dalam cerpen “Burung Kecil Bersarang di

  Pohon ” adalah seorang ahli ilmu agama dan tauhid dan juga pengajar di sebuah universitas. Di lingkungan masjid kakek dipanggil dengan sebutan buya. Kakek memiliki tempat tinggal dan juga memiliki keluarga. Pada waktu masih kecil, kakek senang bermain termasuk menangkap burung oleh karena itu saat ia melihat ada anak kecil yang menangis minta diambilkan burung di atas pohon, kakek menjadi teringat dengan masa kecilnya. Ketika menginjak usia sekolah kakek langsung dimasukkan ke dalam pondok oleh ayahnya, inilah yang kemudian mengubah pola hidup kakek. Ia menjadi anak yang rajin beribadah dan paham betul mengenai agama hingga akhirnya di usianya saat ini kakek menjadi seorang ahli ilmu agama.

  Pengalaman masa kanaknya sangat banyak, hampir semua hari adalah hari bermain, sebelum semuanya itu direnggut oleh hidup yang keras. Segera ayahnya tahu bahwa sudah sepantasnya ia hidup lebih sungguh-sungguh,

  

82

ayah itu mengirimnya ke pondok.

  Ia ingin mengatakan pada mereka. Sejam saja, Saudara. Sejam untuk yang menjadikan langit dan bumi! Mengapa mereka keberatan? Itu sangat tidak masuk dalam akalnya. Akal seorang mahaguru ilmu tauhid. Mungkin karena ia mengajar di universitas, hingga kehidupan yang buru-buru itu

  83 tidak masuk dalam akalnya.

  Tokoh kakek dalam cerpen “Burung Kecil Bersarang di Pohon” jika dibandingkan dengan kakek dalam

  “Robohnya Surau Kami” memang perbedaan latar belakangnya cukup jauh, kakek dalam “Burung Kecil

  Bersarang di Pohon ” yang seorang ahli agama dan ilmu fiqih ini dihadirkan dalam cerita Kuntowijoyo tetapi justru tetap salah dengan konsep agama yang ia jalankan, bukan tidak mungkin hal ini tidak disengaja karena selain Kuntowijoyo juga banyak memuat tokoh laki-laki tua dalam buku kumpulan cerpen Dilarang Mencintai Bunga-bunga, Kuntowijoyo juga ingin mempertegas bahwa kesadaran manusia juga penting. Hal ini bisa menimpa diri siapa pun termasuk seorang ahli ilmu agama dan fiqih.

  Satu hal yang membuat ibadah mereka tak sempurna yaitu konsep ‗ibadah‘ yang mereka yakini sebenarnya ada yang salah. Kedua kakek dalam cerpen tersebut hanya memikirkan ibadah kepada Tuhan saja tanpa memikirkan ibadah kepada manusia. Jika kakek dalam

  “Robohnya Surau Kami” menghabiskan waktunya dengan menjaga surau dan beribadah menyembah serta memuja Tuhan.

  “Sedari mudaku aku disini, bukan? Tak kuingat punya istri, punya anak, punya keluarga seperti orang-orang lain, tahu? Tak kupikirkan hidupku sendiri. Aku tak ingin cari kaya, bikin rumah. Segala kehidupanku, lahir batin, kuserahkan kepada Allah Subhanahu wataala. Tak pernah aku

  84

  menyusahkan orang lain.” Lain halnya dengan kakek dalam “Burung Kecil Bersarang di Pohon”. Kakek dalam

  “Burung Kecil Bersarang di Pohon” terlalu ingin tampil sempurna di mata Tuhan dengan berhati-hati menjaga kesucian pakaiannya untuk salat Jumat. Ketika melewati pasar ia malah mengutuk dalam hati tentang orang-orang yang tidak mengindahkan ibadah kepada Tuhan dan malah terus berjualan.

  Meninggalkan universitas selama sejam tidak apa, tetapi meninggalkan pasar selama itu, berapakah uang yang hilang? Bagaimanapun ia tak bisa memaafkan semua bentuk kekafiran. Bagi dia seudah jelas, kesadaran pada

  85 Tuhan itu membedakan manusia dari makhluk lain.

  Tokoh kakek dalam “Robohnya Surau Kami” disadarkan dengan cerita dari Ajo Sidi mengenai Haji Saleh yang di dunia selalu menyembah Tuhan tetapi malah dimasukkan ke dalam neraka.

  86

  “…Apa salahnya pekerjaanku itu? Tapi kini aku dikatakkan terkutuk.” Ketika Kakek terdiam agak lama, aku menyelakan tanyaku. “Ia katakan Kakek begitu, Kek?”

  87

  “Ia tak mengatakan aku terkutuk. Tapi begitulah kira-kiranya.” “‘Pada suatu waktu,‘ kata Ajo Sidi memulai, ‗di akhirat Tuhan Allah memeriksa orang-orang yang sudah berpulang. Para malaikat bertugas di samping-Nya. Di tangan mereka tergenggam daftar dosa dan pahala manusia. Begitu banyak orang yang diperiksa. Maklumlah dimana-mana ada perang. Dan di antara orang-orang yang diperiksa itu ada seorang yang

  

88

  di dunia dinamai Haji Saleh…‘” Sedangkan tokoh kakek dalam

  “Burung Kecil Bersarang di Pohon” 84 disadarkan saat ia malah terlambat datang ke masjid untuk menjadi imam 85 A.A. Navis, Op. Cit., hlm. 5 86 Kuntowijoyo, Op. Cit., hlm. 182 A.A. Navis. Op. Cit., hlm 5

  karena menolong anak kecil yang menangis dan menginginkan burung di atas pohon. Sadar tidak sadar, di sini kakek lebih memilih membantu anak kecil dibandingkan shalat Jumat yang menjadi tujuan utamanya sebelumnya. Di akhir cerita, kakek dalam “Robohnya Surau Kami” diceritakan lebih tragis yaitu memilih untuk bunuh diri sedangkan kakek dalam

  “Burung Kecil Bersarang di Pohon

  ” menyadari bahwa kesadaran kepada manusia sama nikmatnya dengan kesadaran kepada Tuhan.

  Bukan salahku. Anak kecil yang menangis itulah! Anak itu yang menyebabkan aku berhenti. Anak itu yang membuat aku lupa. Diingatnya orang-orang pasar yang baru saja dikutuknya. Ia malu. Itulah, sebenarnya ia harus berdoa sepanjang jalan dan membuang pikiran yang lain kecuali

  89 memohon keridhaannya.

  Kalau itu semua terkutuk, kenapa buka Dia sendiri memusnahkan mereka? Tidak, ia akan menangis, seperti ia gembira melihat kegembiraan anak itu. Mereka adalah juga ia, mungkin. Kelahirannya semata suatu kebetulan. Ia sendiri tidak tahu telah menjadi seperti sekarang. Ia merasa sedih berdiri di

  90 pintu masjid. Tidak seperti biasanya, ia merasa tentram.

  Di sini dapat terlihat adanya perkembangan cerita tokoh kakek dalam cerpen “Burung Kecil Bersarang di Pohon” dibandingkan dengan kakek dalam

  “Robohnya Surau Kami”. Kakek dalam “Burung Kecil Bersarang di Pohon” boleh dikatakan lebi h baik dari pada kakek dalam “Robohnya Surau Kami” tetapi konsep mengenai ibadah kepada Tuhan yang menjadikan mereka memiliki kesamaan. Ternyata ibadah kepada Tuhan memang penting tetapi harus pula diseimbangkan dengan ibadah kepada manusia.

  Selain persamaan tokoh utama, ada pula persamaan tokoh lain di dalam kedua cerpen ini, yaitu tokoh yang membuat tokoh utama terperosok dalam kesadaran beribadah sosial. Jika dalam “Robohnya Surau Kami” tokoh Kakek disada rkan oleh Ajo Sidi sang pembual maka dalam “Burung Kecil Bersarang di Pohon” tokoh utama disadarkan oleh anak kecil yang dipanggil dengan sebutan Buyung.

  Tiba-tiba aku ingat lagi pada Kakek dan kedatangan Ajo Sidi kepadanya. Apakah Ajo Sidi telah membuat bualan tentang Kakek? Dan bualan itukah yang mendurjakan Kakek? Aku ingin tahu. Lalu aku Tanya Kakek lagi, “Apa ceritanya, Kek?” “Siapa?” “Ajo Sidi.”

  91 “Kurang ajar dia,” Kakek menjawab.

  Bandingkan dengan kutipan cerpen “Burung Kecil Bersarang di Pohon” di bawah ini: Bukan salahku. Anak kecil yang menangis itulah! Anak itu yang

  92 menyebabkan aku berhenti. Anak itu yang membuat aku lupa.

  Baru saja ia merasakan sesuatu perasaan yang lain, bersama anak kecil itu. Ia harus segera masuk ke dalam, menghindari pandangan orang. Ia akan sembahyang sendiri. Teringat kembali anak mungil itu menghilang di

  93 salah satu gerumbul pohon perdu membawa sangkar.

  c.

  Latar Tempat Latar tempat sendiri memang dalam kedua cerpen tersebut tidak disebutkan secara eksplisit namun dari petunjuk-petunjuk seperti nama tokoh kita bisa mengetahui di mana sekiranya cerpen tersebut dikisahkan. Dalam “Robohnya Surau Kami” kita menjumpai nama seperti Ajo Sidi.

  …Dan aku Tanya Kakek, “Pisau siapa, Kek?” “Ajo Sidi.”

  94

  “Ajo Sidi?” Sedangkan dalam

  “Burung Kecil Bersarang di Pohon”, kita akan menjumpai panggilan-panggilan seperti Buyung dan Buya. Baik Ajo ataupun Buyung dan Buya adalah sapaan-sapaan khas dari daerah Minang yaitu Sumatera Barat.

  95 91 “Apa maksudmu Buyung?”, ia bertanya. 92 A.A. Navis, Op. Cit., hlm. 3-4 93 Kuntowijoyo, Op. Cit., hlm. 199 Ibid.

  “Bukan begitu, Yung. Kita hati-hati sedemikian, hingga ia tak tahu kalau

  96 kita akan menangkapnya”.

  Seorang laki- laki mendekat padanya. “Buya”, kata orang itu. Ia menolak

  97 orang itu mencoba tersenyum.

  Ajo adalah nama panggilan terhadap kaum pria dewasa dalam pergaulan sehari-hari sedangkan Buya adalah panggilan untuk seorang tokoh agama dan Buyung adalah panggilan untuk anak laki-laki. Jadi, dapat disimpulkan jika kedua cerpen tersebut memiliki latar tempat yang sama yaitu Sumatera Barat.

  Di satu pihak, seperti yang diketahui masyarakat Minangkabau adalah masyarakat yang religius tetapi masyarakat tersebut juga memiliki budaya perdagangan yang selalu merantau. Kesalehan ritual merupakan representasi dari masyarakat Minangkabau yang religius. Sedangkan kesalehan sosial yang diwujudkan dalam bekerja merupakan representasi dari masyarakat pedagang. Sedangkan Pariaman, salah satu daerah di Sumatera Barat yang merupakan tempat A.A. Navis bersekolah di INS adalah daerah yang penduduknya dikenal sebagai pencerita serta pencemooh ulung. Cemooh yang kadang sinis,

  98 kadang sarkastis itu hadir dalam cepen-cerpennya.

  Di sini yang cukup menarik adalah bagaimana Kuntowijoyo yang berasal dari Jawa namun bercerita tentang latar belakang Sumatera Barat walupun secara tersirat. Bukannya tidak mungkin bahwa Kuntowijoyo memang menjadikan cerpen

  “Burung Kecil Bersarang di Pohon” ini dengan cerpen “Robohnya Surau Kami” karena menurut Wan Anwar sendiri jika kita membaca cerpen

  “Burung Kecil Bersarang di Pohon” ini maka kita pasti akan teringat dengan cerpen “Robohnya Surau Kami” yang memiliki pola cerita

  99

  hampir sama. Sebutan-sebutan untuk buya atau buyung saat ini memang sudah lazim kita dengar, tetapi pada mulanya sebutan ini memang berasal dari daerah Minang. Jadi, kemungkinan besar cerita ini berlatar tempat di Sumatera 96 Barat. 97 Ibid, hlm. 194 Ibid, hlm. 200

  Kini masalah konsep ibadah kepada Tuhan dengan ibadah kepada manusia atau sosial memang menjadi masalah yang universal tidak lagi hanya menyangkut satu agama atau satu masyarakat saja. Oleh karena itu, Kuntowijoyo tidak secara eksplisit menyebutkan nama tempat atau latar tempat karena memang cerpen ini dibuat oleh semua pembaca secara universal tidak bergantung dari agama atau suku apa, tetapi pada dasarnya Kuntowijoyo tetap mentransformasika n cerpen ini terhadap cerpen “Robohnya Surau

  K ami”.

  Lain halnya dengan A.A. Navis yang memang asli Minang sehingga dapat langsung mengetahui bahwa ceritanya pasti lebih banyak berlatar Minang. Tentu saja sasaran kritik A.A Navis tidak terbatas pada masyarakat Minangkabau saja, latar yang menyangkut Indonesia menunjukkan sasaran kritik kehidupan keberagamaan dalam skala nasional. Perhatikan kutipan berikut: ‗Kalian di dunia tinggal di mana?‘ Tanya Tuhan.

  ‗Kami ini adalah umat-Mu yang tinggal di Indonesia, Tuhanku.‘ ‗O, di negeri yang tanahnya subur itu?‘

  100

  ‗Ya, benarlah itu, Tuhanku.‘ Begitu pula dengan “Burung Kecil Bersarang di Pohon” kedua cerpen tersebut menggunakan Bahasa Indonesia oleh karena itu, kedua cerpen tersebut ditujukan untuk konsumsi nasional. Hal tersebut akan berbeda jika cerpen itu ditulis dalam Bahasa Minangkabau.

2. Hipogramatik

  Hipogram yang diibaratkan sebagai “induk” yang melahirkan karya-karya baru ini dapat diidentifikasi dengan cara memperbandingkan antara karya “induk” dan karya “baru”. Jika dilihat dari tahun pembuatannya “Robohnya Surau Kami

  ” lebih dahulu dibuat yaitu sekitar tahun 1955 sedangkan “Burung Kecil Bersarang di Pohon” baru dibuat di tahun 1970 sehingga “Robohnya Surau Kami ” sendiri adalah hipogram dari “Burung Kecil Bersarang di Pohon”.

  Cerita “Robohnya Surau Kami” yang dijadikan latar dalam penulisan cerpen

  “Burung Kecil Bersarang di Pohon” dan diolah secara kreatif sehingga karya tersebut merupakan respon atau tanggapan penyair. Karena pada hakikatnya karya sastra merupakan respon (serapan, olahan, mosaik kutipan, transformasi) terhadap apa yang telah ada dalam karya sastra lain. Respon tersebut dapat berupa kata, frase, kalimat, bentuk, gagasan, dan sejenis di dalam teks transformatif sehingga kadang pembaca sering tidak ingat lagi akan karya yang menjadi latarnya.

  Oleh karena itu berbagai cerita yang muncul tidak hanya mengukuhkan mitos kesalehan sosial tetapi juga melakukan penyimpangan dan pemberontakan serta sejumlah perubahan yang ada. Hal itu merupakan usaha mereformasi keadaan untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan dan tuntunan zaman, termasuk dengan menghadirkan kontra mitos secara ekstrem.

  Namun, tidak selamanya cerita yang menjadi transformasi itu melakukan pemberontakan karena ada juga yang tetap mengikuti atau meneruskan seperti pada cerpen

  “Burung Kecil Bersarang di Pohon”. Cerpen “Burung Kecil Bersarang di Pohon” yang merupakan transformasi dari “Robohnya Surau Kami

  ” seakan mulai mempertegas tentang ibadah kepada Tuhan (kesalehan ritual) dan ibadah kepada manusia (kesalehan sosial). Di sini tampak Kuntowijoyo ingin menguatkan apa yang diceritakan oleh Navis sebelumnya. Jika Navis menyadarkan tokoh Kakek melalui cerita dari Ajo Sidi sang pembual, maka Kuntowijoyo menyadarkan Kakek melalui sosok anak kecil yang masih polos dan lugu.

  Kuntowijoyo senantiasa membayang-bayangi kita lewat cerita-cerita sederhana namun mengandung metafor yang begitu dahsyat menyadarkan kita manusia Indonesia akan bahaya lupa. Ia juga piawai membangun konflik- konflik tokoh ceritanya, termasuk dalam realitas kehidupan beragama yang kita temukan dalam cerpen

  “Burung Kecil Bersarang di Pohon”. Dalam

  “kesadaran sastra transendental”, mengutip istilah Kunto sendiri,

  101

  kerapkali ia melontarkan kritik terhadap agama (Islam) dan tokoh-tokoh agama yang munafik, yang tak jarang menganggap dirinya paling suci di dunia ini. Hal ini tergambar jelas dalam cerpen

  “Burung Kecil Bersarang di Pohon” yang mengikuti pola “Robohnya Surau Kami” melalui tokoh utama yaitu Kakek.

  Yang menarik lagi adalah Kuntowijoyo menuliskan akhir cerita secara lebih ‗manis‘ yaitu dengan Kakek yang kemudian berwudu dan memohon ampun kepada Tuhan atas kelalaiannya dalam beribadah kepada manusia.

  Ia pergi mengambil wudhu. Mukanya berseri-seri. Orang-orang masih berkerumun di luar, ketika ia masuk ke dalam (masjid). Pengalaman hari itu pastilah suatu kesengajaan Tuhan. Ia tidak ragu-ragu. Alangkah ajaibnya cara-Mu menunjukkan. Anak kecil itu ialah anak manusia. Ia rindu kepada anak itu, burung-burung, bahkan keributan pasar. Seperti sekarang, ia rindu kepada-Nya.

  102

  Lain halnya dengan Navis yang mengakhiri cerita secara lebih tragis yaitu Kakek yang bunuh diri dengan menggorok lehernya tanpa sempat menyadarkan Kakek akan pentingnya ibadah sosial.

  Dan besoknya, ketika aku mau turun rumah pagi-pagi, istriku berkata apa aku tak pergi menjenguk. “Siapa yang meninggal?” tanyaku kaget. “Kakek.” “Kakek?” “Ya. tadi subuh Kakek kedapatan mati di suraunya dalam keadaan yang mengerikan sekali. Ia menggoroh lehernya dengan pisau cukur.”

  103

  Tokoh Kakek karangan Kuntowijoyo tidak mengalami nasib tragis seperti Kakek karangan A.A. Navis karena sebagai manusia, Kakek dalam

  “Burung Kecil Bersarang di Pohon” pada akhirnya menyadari bahwa rindu kepada manusia (kesadaran kemanusiaan) sama nikmatnya dengan rindu kepada Tuhan (kesadaran transendensi). Tidak seperti Navis, Kuntowijoyo menyeleseikan dialektika dunia dan akhirat, manusia dan Tuhan, yang lahir 101

  Wildan Nugraha, iunduh pada 29 Juli 2011 (pernah dimuat dalam Sabili No. 20 Th.

  XVIII 16 Juni 2011/14 Jumadil Akhir 1432) dan yang batin, menerimanya sebagai keadaan yang sama perlu untuk dikerjakan. Inilah manusia profetik Kuntowijoyo itu, manusia yang berpijak di bumi tetapi menjangkau langit, manusia yang melakukan aktivitas humanisasi

  (amar ma’ruf), liberasi (nahyi munkar), sekaligus transendensi (tu’minu 104 billah).

  Sedangkan perbedaan-perbedaan yang terdapat di dalam kedua cerpen juga menunjukkan bahwa pada karya sesudahnya terdapat pengembangan yang sifatnya berupa kreatifitas dari pengarang mengenai fenomena-fenomena yang timbul dari karya sebelumnya. Sehingga tidak terjadi apa yang dinamakan karya sastra yang serupa tapi tak nampak sama. Sebabnya adalah karena ada sesuatu yang lain diantara keduanya.

  Cerpen “Burung Kecil Bersarang di Pohonini jika kita lihat mengikuti pola yang diistilahkan oleh Nurgiantoro yaitu myth of concern (mitos pengukuhan) yang berarti hipogram yang dipatuhi atau diteruskan. Kuntowijoyo masih mengikuti pola cerita yang sama dengan A.A. Navis dalam

  “Robohnya Surau Kami”, pola cerita keduanya memang sama namun dengan kemasan yang berbeda tetapi dalam akhir cerita Kuntowijoyo memiliki perbedaan dengan A.A. Navis.

  Dari pendeskripsian kedua cerpen di atas disimpulkan bahwa cerpen- cerpen tersebut mempunyai persamaan. Dengan demikian cerpen “Robohnya Surau Kami” dan “Burung Kecil Bersarang di Pohon” merupakan dua cerpen yang mempunyai hubungan intertekstual. C erpen “Robohnya Surau Kami”

  (1955) merupakan hipogram atau latar bagi penciptaan cerpen “Burung Kecil Bersarang di Pohon” (1970).

  Ekspansi atau perluasan karya sastra yang tergambar dalam cerpen “Burung Kecil Bersarang di Pohon” bisa terlihat dari sudut pandang yang digunakan Kuntowijoyo berbeda dengan yang dipakai oleh A.A. Navis dalam “Robohnya Surau Kami”. Dalam “Burung Kecil Bersarang di Pohon” sudut pandang yang d igunakan adalah persona ketiga “dia” mahatahu.

  Laki-laki tua itu menjaga baju putihnya, supaya jangan sedikit debu menyentuh.

  105

  Tidak sampai hati sesungguhnya ia mengutuk mereka. Mereka tidak tahu, mereka tidak tahu. Tuhan ampunilah mereka.

  106

  Bandingkan dengan sudut pandang yang digunakan dalam “Robohnya Surau Kami” Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar.

  107

  Tapi Kakek diam saja. Berat hatinya bercerita barangkali. Karena aku telah berulang-ulang bertanya, lalu ia yang bertanya padaku,

  108

  Modifikasi dalam cerpen “Burung Kecil Bersarang di Pohon” yang b erhipogram pada “Robohnya Surau Kami” terlihat dari penggunaan tokoh utama sama yaitu Kakek. Selain modifikasi dalam hal tokoh, terdapat pula konversi atau modifikasi kalimat ke dalam karya yang baru berupa akhir penceritaan yang berbeda antara kedua cerpen tersebut.

  Sedangkan bentuk intertekstual dari kedua cerpen tersebut berupa penerusan atau memperkuat tradisi (myth of concern) karena konsep pentingnya ibadah sosial disamping ibadah beragama mempengaruhi Kuntowijoyo untuk melahirkan kembali konsep tersebut. hal itu membuktikan suatu teks (sastra) tidak bisa berdiri sendiri. Dia senantiasa mendasarkan diri pada karya-karya lain yang telah ada sebelumnya, baik dari sezaman maupun tidak sezaman.

  Mitos yang dihadirkan dalam kedua cerpen ini adalah ibadah atau ritual keagamaan yang sering kali disalahartikan oleh masyarakat pada umumnya. Masyarakat kebanyakan memandang ibadah itu terbatas pada mengaji, puasa, naik haji, dan salat. Kenyataannya bekerja itu juga merupakan ibadah. Bekerja dengan tekun pada jalan yang baik, mengolah hasil bumi, keakyaan alam, atau memahami gejala alam untuk ilmu pengetahuan juga merupakan ibadah. 105

  Kuntowijoyo, Op. Cit., hlm. 181 106 Ibid, hlm. 183

  Kesalahan konsep persepsi pada mitos yang melekat pada masyarakat tentu saja dapat terjadi pada siapa saja termasuk seorang ahli ilmu agama.

H. Implikasi terhadap Pembelajaran Sastra di Sekolah

  Berkaitan dengan karya seni yang lain, karya sastra banyak mengait- ngaitkan bidang ilmu yang lain. Di dalam sebuah karya sastra yang baik kita akan menemui unsur-unsur dari ilmu filsafat, ilmu kemasyarakatan, psikologis, sains, ekologi, hukum, tradisi, dan sebagainya. Dengan demikian sastra mampu mencakupi alam kehidupan yang lebih luas, lebih kompleks,

  109 dan lebih rumit.

  Karya sastra merupakan representasi dari dunia kehidupan manusia dan alam semesta. Pertanyaan umum yang sering muncul adalah: bagaimana implikasi sebuah karya terhadap kehidupan sosial masyarakat? Melalui penelitian sastra dengan ditunjang dengan pendekatan sastra, dapat dilihat bagaimana pengaruh timbal balik antara masyarakat dan karya sastra.

  Kata implikasi diartikan keterlibatan atau keadaan terlibat. Implikasi terhadap sebuah novel berarti melibatkan novel dalam pengajaran sastra. Dalam penelitian ini, yang diimplikasikan ke dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia adalah cerepen Robohnya Surau Kami karya AA. Navis dan cerpen.

  Dalam struktur kurikulum 2013 untuk SMA/MA ada penambahan jam belajar per minggu sebesar 4-6 jam sehingga untuk kelas X bertambah dari 38 jam menjadi 42 jam belajar, dan untuk kelas XI dan XII bertambah dari 38 jam menjadi 44 jam belajar. Sedangkan lama belajar untuk setiap jam belajar

  110 adalah 45 menit.

  109 M. Atar Semi, Op. Cit., (Padang: Angkasa Raya, 1998), hlm. 19

  Dengan adanya tambahan jam belajar ini dan pengurangan jumlah Kompetensi Dasar, guru memiliki keleluasaan waktu untuk mengembangkan proses pembelajaran yang berorientasi siswa aktif belajar. Proses pembelajaran siswa aktif memerlukan waktu yang lebih panjang dari proses pembelajaran penyampaian informasi karena peserta didik perlu latihan untuk melakukan mengamati, menanya, mengasosiasi, dan berkomunikasi. Proses pembelajaran yang dikembangkan guru menghendaki kesabaran dalam menunggu respon peserta didik karena mereka belum terbiasa. Selain itu bertambahnya jam belajar memungkinkan guru melakukan penilaian proses dan hasil belajar.

  Struktur kurikulum pendidikan menengah terdiri atas sejumlah mata pelajaran, beban belajar, dan kalender pendidikan. Mata pelajaran terdiri atas: 1)

  Mata pelajaran wajib diikuti oleh seluruh peserta didik di satu satuan pendidikan pada setiap satuan atau jenjang pendidikan 2)

  Mata pelajaran pilihan yang diikuti oleh peserta didik sesuai dengan pilihan mereka.

  Mata pelajaran wajib merupakan mata pelajaran yang harus diambil oleh setiap peserta didik di SMA/MA dan SMK/MAK. Sedangkan mata pelajaran pilihan untuk SMA/MA berbeda dengan untuk SMK/MAK. Untuk SMA/MA mata pelajaran pilihan bersifat akademik, sedangkan SMK/MAK mata pelajaran pilihan bersifat akademik dan vokasi.

  Tujuan pembelajaran sastra di SMA adalah dikuasainya kompetensi sastra pada siswa, yaitu kemampuan siswa dalam mengapresiasi karya sastra melalui kegiatan mendengarkan, menyimak, membaca, dan melisankan hasil sastra; mendiskusikan, memahami, dan menggunakan pengertian teknis konvensi kesusastraan dan sejarah sastra, untuk menjelaskan, meresensi, menilai, dan menganalisis hasil sastra; dan mampu memerankan drama, serta menulis puisi,

  Dalam hal ini pembelajaran cerpen sendiri pada dasarnya sudah diajarkan dari tingkat SD kemudian berlanjut hingga SMA. Untuk tingkat SMA sendiri pembelajaran mengenai cerpen dikhususkan untuk kelas XI semester I dan II dengan bahan ajar di semester pertama yaitu mengemukakan hal-hal yang menarik atau mengesankan dari cerita pendek melalui kegiatan diskusi, menemukan nilai-nilai cerita pendek melalui kegiatan diskusi, dan menganalisis keterkaitan unsur intrinsik suatu cerpen dengan kehidupan sehari-hari. Sedangkan di semester kedua bahan ajarnya adalah menulis karangan berdasarkan kehidupan diri sendiri dalam cerpen (pelaku, peristiwa, latar) dan menulis karangan berdasarkan pengalaman orang lain dalam cerpen (pelaku, peristiwa, latar).

  Bahan-bahan ajar tersebut sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sebagai berikut:

  

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

(RPP)

SEKOLAH : SMA Bina Insani

MATA PELAJARAN : Bahasa Indonesia

KELAS : XI SEMESTER : 1 A. STANDAR KOMPETENSI :

  Berbicara : 6. Membahas cerita pendek melalui kegiatan diskusi B.

   KOMPETENSI DASAR :

  6.1 Mengemukakan hal-hal yang menarik atau mengesankan dari cerita pendek melalui kegiatan diskusi

C. MATERI PEMBELAJARAN :

  Naskah cerita pendek :  isi cerpen  hal yang menarik

  D.

  :

   INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI Nilai Budaya Dan Kewirausahaan/ No Indikator Pencapaian Kompetensi Karakter Bangsa Ekonomi Kreatif

  1 Menceritakan kembali isi cerita pendek  Bersahabat/  Kepemimpinan komunikatif yang dibaca dengan kata-kata sendiri  Tanggung jawab

  2 Mengungkapkan hal-hal yang menarik atau mengesankan

  3 Mendiskusikan unsur-unsur intrinsik (tema, penokohan, alur, sudut pandang, latar , amanat) cerita pendek yang dibaca.

  E. TUJUAN PEMBELAJARAN* :

  Siswa dapat:  Menceritakan kembali isi cerita pendek yang dibaca, baik oleh dirinya sendiri maupun temannya dengan kalimat sendiri.

   Mengungkapkan hal-hal yang menarik atau mengesankan yang terdapat dalam cerpen yang dibaca.  Mendiskusikan unsur-unsur intrinsik (tema, penokohan, alur, sudut pandang, latar, amanat) cerita pendek yang dibaca.

  F. METODE PEMBELAJARAN :

  Penugasan

   Diskusi  Tanya Jawab

   Unjuk kerja

   Ceramah  Demonstrasi

   G. StrategiPembelajaran

  

Tatap Muka Terstruktur Mandiri

   Mengemukakan hal-hal  contoh Naskah cerita  SiswaMenceritakan yang menarik atau pendek kembali isi cerita mengesankan dari cerita pendek yang dibaca pendek dengan kata-kata sendiri.

H. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN : Nilai Budaya Dan No. Kegiatan Belajar Karakter Bangsa

  1. Kegiatan Awal : Bersahabat/ komunikatif

  1. Kegiatan dimulai dengan salam dan tegur sapa 2. ketua kelas mempin pembacaan doa sebelum memulai pelajaran

  3. Guru bertanya jawab tentang materi sebelumnya 4.

  Guru menjelaskan Tujuan Pembelajaran hari ini.

  2. Kegiatan Inti : Tanggung jawab

   Eksplorasi

  Dalam kegiatan eksplorasi : 

  Membaca cerita pendek 

  Menceritakan kembali isi cerita pendek yang dibaca dengan kata-kata sendiri 

  Mengungkapkan hal-hal yang menarik atau mengesankan dari karya tersebut 

  Elaborasi Dalam kegiatan elaborasi, 

  Mendiskusikan unsur-unsur intrinsik (tema, penokohan, alur, sudut pandang, latar , amanat) cerita pendek yang dibaca

   Melaporkan hasil diskusi

   Mengidentifikasi kalimat langsung dan tidak langsung

   Konfirmasi

  Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa: 

  Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui  Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui.

  3. Kegiatan Akhir : Bersahabat/

   komunikatif

  Refleksi  Guru menyimpulkan pembelajaran hari ini.  Pelajaran ditutup dengan doa.

I. ALOKASI WAKTU :

  4 x 40 menit J.

   SUMBER BELAJAR/ALAT/BAHAN :

   Buku kumpulan cerpen: Dilarang Mencintai Bunga-bunga karya Kuntowijoyo

   media massa/ internet: Cybersastra.com, Kompas online K.

   PENILAIAN :

  Jenis Tagihan: tugas individu

   ulangan

   Bentuk Instrumen: uraian bebas

   jawaban singkat

   Mengetahui, Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran NIP.

  NIP.

Dokumen baru

Tags

Intertekskualitas Cerpen Robohnya Surau Kami

Dokumen yang terkait

NILAI MORAL DALAM NOVEL PESANTREN IMPIAN KARYA ASMA NADIA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN SASTRA DI SEKOLAH
29
256
121
Respons Pembaca Remaja Terhadap Cerpen “Robohnya Surau Kami” Karya A.A Navis Dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Sastra
5
130
140
Nilai Religius Dalam Novel Opera Van Gontor Karya Amroeh Adiwijaya Dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Sastra Di Sekolah
8
109
93
Gaya bahasa perbandingan dalam kumpulan Cerpen Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidarma serta implikasinya terhadap pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah
18
166
84
Penggunaan gaya bahasa pada kumpulan cerpen hujan kepagian karya Nugroho Notosusanto dan implikasinya terhadap pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di SMA
25
217
127
WARNA LOKAL DALAM KUMPULAN CERPEN PEREMPUAN DI RUMAH PANGGUNG KARYA ISBEDY STIAWAN ZS DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN SASTRA DI SMP
3
21
60
RESEPSI SISWA TERHADAP CERPEN MATA YANG ENAK DIPANDANG KARYA AHMAD TOHARI DAN IMPLIKASINYA PADA PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA
9
102
58
Kritik Sosial dalam Kumpulan Cerpen Lukisan Kaligrafi karya A. Mustofa Bisri dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA
4
25
93
Diskursus Realitas Sosial Sebagai Pembentuk Karakter Manusia dalam Cerpen “Robohnya Surau Kami” Karya A. A. Navis.
0
3
10
STRUKTUR DAN NILAI BUDAYA DALAM UKURAN CERITA PENDEK ROBOHNYA SURAU KAMI KARYA A.A NAUIS.
8
150
29
Problem Keminangan Dalam Cerpen Robohnja Surau Kami Karya A.A. Navis Tinjauan Semiotika Budaya.
0
0
2
a.a. navis rubuhnya surau kami kumpulan cerpen
0
4
126
BAB I PENDAHULUAN - Analisis Cerpen Robohnya Surau kami
0
1
18
ANALISIS PENOKOHAN NOVEL SARASWATI SI GADIS DALAM SUNYI KARYA A.A NAVIS
1
2
25
ANALISIS STRUKTUR CERPEN “KAWIN” KARYA A.A. NAVIS - UNWIDHA Repository
0
3
24
Show more