EFEKTIVITAS PERANAN PENYIDIK POLRI DALAM PENYIDIKAN TINDAK PIDANA KORUPSI (Studi Kasus di Polres Lampung Barat)

 9  91  106  2017-04-19 16:21:19 Laporkan dokumen yang dilanggar
EFEKTIVITAS PERANAN PENYIDIK POLRI DALAM PENYIDIKAN TINDAK PIDANA KORUPSI (Studi Kasus di Polres Lampung Barat) Oleh Tedi Pirdianto Tesis Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Derajat MAGISTER HUKUM Pada Jurusan Sub Program Hukum Pidana Program Pascasarjana Magister Hukum Universitas Lampung PROGRAM MAGISTER HUKUM PROGRAM PASCA SARJANA FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2013 ABSTRAK EFEKTIVITAS PERANAN PENYIDIK POLRI DALAM PENYIDIKAN TINDAK PIDANA KORUPSI (Studi Kasus di Polres Lampung Barat) Oleh Tedi Pirdianto Efektivitas sistem peradilan pidana yang dilaksanakan oleh sub-sistem peradilan pidana tidak terlepas dari beberapa indikator/kriteria masing-masing sub-sistem institusi/lembaga yaitu: proporsi penyelesaian perkara (clearance rate); proporsi penyidikan; proporsi kecepatan penanganan perkara (speedy trial); proporsi pemidanaan (conviction rate); proporsi pengulangan kejahatan (rate of "recall" to prison). Kepolisian sebagai salah satu sub-sistem dari sistem peradilan pidana yang mempunyai fungsi dan tugas di bidang penyidikan selama ini telah menunjukkan kinerja yang baik dalam penanganan perkara tindak pidana korupsi di daerah Lampung Barat. Proporsi penyidikan tindak pidana korupsi dalam tahun 2011 s/d 2013 di wilayah hukum Polres Lampung Barat cukup tinggi, yaitu sebesar 70%, . Cukup tingginya proporsi penyidikan bukan berarti telah menunjukkan bahwa peran kepolisian telah efektif, melainkan harus dilihat pula bagaimana, proporsi kecepatan penanganan perkara (speedy trial) dan proses penanganannya pada tahap penyelidikan dan penyidikan . Polisi sebagai aparat penegak hukum yang diberi fungsi, tugas dan wewenang sebagai penyidik oleh undang-undang dalam perkara tindak pidana korupsi seharusnya dapat berperan dalam menanggulangi tindak pidana korupsi dengan meningkatkan proporsi penyelesaian perkara dan kecepatan penanganan perkara. Selanjutnya polri juga dapat meningkatkan koordinasi antar aparat penegak hukum dan dengan instansi lainnya sehingga penegakan hukum dapat berjalan secara terpadu dalam rangka mencapai tujuan penanggulangan tindak pidana korupsi. Masalah dalam penelitian ini adalah : (1) Bagaimanakah efektivitas peran Polri dalam Penyidikan perkara tindak pidana korupsi? (2) Apakah faktor penghambat efektivitas peran Polri dalam penyidikan tindak pidana korupsi? Penelitian menggunakan pendekatan yuridis-normatif. Data diperoleh dari data primer dan data sekunder. Setelah melalui proses pengumpulan dan pengolahan data dilakukan analisis secara kualitatif. Tedi Pirdianto, SH Penelitian diperoleh hasil bahwa sistem peradilan pidana dikatakan efektif apabila proporsi penyelesaian perkara (clearance rate), proporsi pennyidikan, proporsi pemidanaan (conviction rate), kecepatan penanganan perkara (speedy trial) cukup tinggi sedangkan residivis (recall to prison rendah). Peran Polri dalam penanggulangan tindak pidana korupsi diselenggarakan melalui kegiatan penyelidikan dan penyidikan selanjutnya penuntutan pada tahap pemeriksaan di persidangan guna menetapkan putusan hakim serta diakhiri oleh tahap pelaksanaan putusan hakim. Faktor penghambat peran Polri dalam penanggulangan tindak pidana korupsi disebabkan oleh factor-faktor perundangundangan, aparat penegak hukum, dan fasilitas. Selanjutnya disarankan agar pimpinan Kepolisian segera melengkapi kekurangan yang menjadi factor penghambat dalam penanganan tindak pidana korupsi oleh kepolisian baik factor intern maupun ekstern dengan melakukan peningkatan SDM polri melalui pelatihan, kejuruan, dan sekolah khusus untuk penyidik tindak pidana korupsi selain itu melengkapi IT dan anggaran, sehingga pemberantasan tindak pidana korupsi oleh penyidik polri dapat berjalan efektiv sesuai harapan masyarakat. Kata Kunci : Efektivitas, Peranan Penyidik Polri, Tindak Pidana Korupsi DAFTAR ISI Abstrak ....................................................................................................... Lembar Judul .............................................................................................. Lembar Persetujuan .................................................................................... Lembar Pengesahan ................................................................................... Lembar Pernyataan ..................................................................................... Daftar Riwayat Hidup ................................................................................ Motto .......................................................................................................... Persembahan .............................................................................................. Kata Pengantar ........................................................................................... Daftar Isi ..................................................................................................... i v vi vii viii ix x xi xii xv BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ................................................................. B. Permasalahan dan Ruang Lingkup ................................................. C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ................................................... D. Kerangka Pemikiran dan Konseptual ............................................. 1 15 16 17 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tindak Pidana Korupsi ................................................................... B. Karakteristik Tindak Pidana Korupsi ............................................. C. Sistem Peradilan Pidana dan Sub-sub Sistem Peradilan Pidana .... D. Fungsi dan Tugas Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan dan Lembaga Pemasyarakatan .............................................................. E. Efektivitas Penyidik Polri dalam Penanganan Tindak Pidana Korupsi ............................................................................... 83 BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan Masalah ....................................................................... B. Sumber dan Jenis Data ................................................................... C. Penentuan Populasi Sampel ........................................................... D. Prosedur Pengumpulan Data .......................................................... E. Analisis Data .................................................................................. 86 87 88 89 90 31 39 47 65 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Polres Lampung Barat ...................................... 91 B. Efektivitas Peranan Polri dalam Penyidikan Perkara Tindak Pidana Korupsi ................................................................... 94 C. Faktor Penghambat Efektivitas Peranan Polri dalam Penyidikan Perkara Tindak Pidana Korupsi ..................................................... 108 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan .................................................................................... 113 B. Saran .............................................................................................. 115 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Negara Indonesia yang berdasarkan atas hukum (rechsstaat), tidak berdasarkan kekuasaan belaka (machtstaat), demikian ditegaskan dalam penjelasan Undang– Undang Dasar 1945. Mengingat pernyataan demikian dirumuskan dalam penjelasan dari UUD 1945, itu berarti kehidupan bernegara/ bermasyarakat, baik oleh warga negara maupun dalam hubungan antara negara maupun dalam hubungan antara negara dengan rakyatnya ingin dibangun dan diwujudkan melalui suatu tatanan hukum. Pernyataan tersebut mengandung arti bahwa tidak ada seorang pun berada di atas hukum, semua sama dimata hukum (equality before the law), dengan demikian pemerintah, negara beserta aparatnya harus melaksanakan kekuasaannya berlandaskan hukum, sehingga dalam kehidupan berbangsa harus dijunjung tinggi nilai–nilai substansial yang menjiwai hukum dan menjadi tuntutan masyarakat antara lain tegaknya nilai–nilai keadilan, kebenaran, kejujuran, dan kepercayaan antar sesama, tegaknya nilai–nilai kemanusiaan yang beradab dan penghargaan/ perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM), tidak adanya penyalahgunaan kekuasaan/kewenangan, tidak adanya praktek korupsi, Kolusi, dan nepotisme.1 1 Barda Nawawi Arief, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, 2002:hlm. 10. Sejarah mencatat selama lebih dari tiga dasa warsa sejak orde lama maupun orde baru, hukum tidak mendapat tempat sebagaimana dimaksudkan dalam UUD 1945. Tempatnya digeser oleh politik (orde lama) dan ekonomi (orde baru). Bahkan dalam periode tersebut hukum dijadikan alat penopang kekuasaan yang berpusat pada satu tangan yaitu Presiden. Keadaan ini berakibat lebih jauh yaitu tidak berfungsinya dengan baik lembaga tertinggi negara dan lembaga tinggi negara lainnya, serta tidak berkembangnya partisipasi masyarakat dalam memberikan kontrol sosial dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara. Keadaan ini seperti membuktikan kebenaran ungkapan Lord Acton2 yaitu “Power tend to be corrupt, absolute power corrupt absolutely” (Kekuasaan cederung diselewengkan, kekuasaan absolute/ mutlak menyebabkan penyelewengan secara mutlak pula). Pembangunan yang mengedepankan pada pengembangan sektor ekonomi oleh pemerintah yang sentralistis, memang membawa peningkatan pada aktivitas ekonomi masyarakat. Tetapi seiring dengan perkembangan pembangunan ekonomi tersebut, karena ketiadaan kontrol sosial dari masyarakat, maka, timbul dampak negatif berupa munculnya berbagai kejahatan dibidang ekonomi seperti korupsi, penyalahgunaan wewenang dan jabatan, money Loundering dan sebagainya. Keadaan ini merupakan dimensi baru “Kejahatan dalam konteks pembangunan atau Kejahatan Luar bisaa (Ekstra Ordinary Crime) “ sebagaimana telah dibahas dalam kongres PBB ke 7 tahun 1985 tentang The Prevention Of 2 Letter to Bishop Mandell Creighton, April 5, 1887 published in Historical Essays and Studies, edited by J. N. Figgis and R. V. Laurence (London: Macmillan, 1907) 2 Crime and The Treatment of offenders di Milan Italia. Salah satu yang dibahas dalam pembicaraan “dimensi baru” itu adalah tentang tejadinya penyalahgunaan kekuasaan (abuse of Power) berupa abuse of public power dan abuse of economic power, dimana keduanya bergandengan erat berupa kemungkinan adanya kolusi antara kedua jenis kuasa ini untuk keuntungan ekonomi kelompok, yang menyebabkan KKN hidup subur.3 Lengsernya Presiden Soeharto pada pertengahan tahun 1998 merupakan babak baru dalam perjalanan sejarah bangsa indonesia, ditandai dengan lahirnya gerakan reformasi yang menuntut hukum ditegakkan dan demokrasi dijalankan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Reformasi merupakan koreksi terhadap kekuasaan yang sentralistis yang penuh penyimpangan dan segala bentuk penyelewengan serta penyalahgunaan wewenang dihentikan. Supremasi hukum dan penegakkan hukum dilakukan, dalam rangka menciptakan penyelenggara negara yang bersih dan bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme. Upaya penegakkan hukum dalam rangka pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme yang merupakan semangat dari reformasi merupakan tuntutan hati nurani rakyat agar terwujudnya penyelenggara negara yang bersih mendapat tempat dalam ketetapan MPR R.I. NO. XI Tahun 1998 menegaskan sebagai berikut : 3 Mardjono Reksodiputro, kemajuan pembangunan ekonomi dan kejahatan 1990 : hlm. 4. 3 Pasal 4 : Upaya pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme harus dilakukan secara tegas terhadap siapapun juga, baik pejabat negara, mantan pejabat negara, keluarga dan kroninya maupun pihak swasta konglomerat termasuk mantan Presiden Soeharto dengan tetap memperhatikan prinsip praduga tak bersalah dan hak asasi manusia. Semangat reformasi telah menimbulkan baik political will maupun tekad pemerintah untuk memberantas korupsi, kolusi dan nepotisme serta bentuk– bentuk penyimpangan lain, seperti penyalahgunaan kekuasaan dan wewenang oleh aparatur penyelenggara negara. Upaya penegakan hukum yang dilakukan oleh pemerintah, tidak dapat dilepaskan dari kepolisian. Tugas pokok Polri itu sendiri menurut Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian adalah memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, dan memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.4 Tugas penegakan hukum berkaitan dengan Sistem Peradilan Pidana di mana Polri menjadi salah satu bagiannya selain hakim dan jaksa. Dalam Sistem Peradilan Pidana tersebut, Polri diberi wewenang untuk melakukan upaya paksa. Upaya paksa itu meliputi kegiatan penangkapan, penahanan, penggeledahan dan penyitaan. 4 Pasal 13 UU No.2 Tahun 2002 Tentang Undang-undang Kepolisian Negara Republik Indonesia 4 Faktanya di Polres Lampung Barat, bahwa penanganan tindak pidana korupsi oleh penyidik Polres Lampung Barat merupakan tugas yang sangat berat yang harus diemban polisi. Dalam interaksinya dengan masyarakat, seorang anggota polisi harus berhadapan dengan beragam perilaku individual. Tingkat kepatuhan (compliance) dari tiap orang berbeda. Kadang tidak cukup bagi seorang polisi untuk menunjukkan bahwa ia memang anggota kepolisian, misalnya dengan pemakaian seragam polisi atau penunjukkan lencana. Dalam masyarakat memang terdapat individu yang memang nekat atau berada di ujung keputusannya yang kemudian memiliki keberanian untuk melawan atau melarikan diri dari polisi. Menghadapi anggota masyarakat (pejabat negara) yang memiliki tingkat kepatuhan yang rendah, polisi dibekali dengan wewenang untuk menggunakan kekuatan. Keberadaan anggota masyarakat seperti itu merupakan suatu ancaman bagi kedamaian dan ketentraman hidup dalam masyarakat secara umum serta ancaman langsung bagi keselamatan polisi itu sendiri secara khusus. Terlebih dimasa resesi ekonomi yang sepertinya tak berujung ini, keputusasaan di dalam masyarakat menyebabkan peningkatan kriminalitas secara signifikan. Penggunaan kekuatan oleh polisi ini kemudian menjadi hal yang justru didukung oleh masyarakat. Keresahan masyarakat menuntut agar polisi bertindak lebih tegas terhadap para pelaku kejahatan. Tindakan tegas oleh petugas polisi dalam hal ini termasuk penggunaan kekuatan fisik. Dalam penangkapan misalnya, bilamana si tersangka pelaku kejahatan melawan dengan kekuatan fisik keselamatan petugas polisi menjadi terancam. Sehingga dalam situasi tertentu petugas itu harus menggunakan kekuatan fisik 5 baik dalam rangka memperoleh kepatuhan dari si tersangka pelaku kejahatan. Tindakan yang dilakukan oleh petugas polisi tersebut dibenarkan oleh undangundang sehingga dapat dikatakan bahwa polisi melaksanakan wewenangnya berdasarkan asas legalitas.5 “Efektivitas” mengandung arti “keefektifan (effectiviness), yaitu pengaruh/efek keberhasilan, atau kemanjuran/kemujaraban”. Oleh karena itu di dalam tesis ini akan dibahas mengenai Efektivitas Peranan Penyidik Polri Dalam Penyidikan Tindak Pidana Korupsi di wilayah hukum Polres Lampung Barat berdasarkan hukum positif saat ini dan berdasarkan hukum ideal atau hukum masa depan dalam rangka efektivitas penegakan hukum . Membicarakan “Efektivitas Peranan Penyidik Polri Dalam Penyidikan Tindak Pidana dalam rangka efektivitas penegakan hukum”, tentunya tidak terlepas dari penganalisisan terhadap karekteristik 2 (dua) variable yang terkait, yaitu karekteristik / dimensi dari “obyek/sasaran yang dituju” (yaitu korupsi) dan karekteristik dari “alat/sarana yang digunakan” (yaitu perangkat hukum pidana) 6. Karekteristik dan dimensi kejahatan korupsi dapat diidentifikasikan sebagai berikut: 1. Masalah korupsi terkait dengan berbagai kompleksitas masalah, antara lain masalah moral/sikap mental, masalah pola hidup serta budaya dan lingkungan sosial, masalah kebutuhan/tuntutan ekonomi dan kesenjangan sosial-ekonomi, Soebroto Brotodiredjo, “Asas-asas Wewenang Kepolisian”, Hukum Kepolisian di Indonesia, Penyunting DPM Sitompul, Edward Syahperenong, Tarsito, Bandung:,1985, hlm. 14. 6 Barda Namawi Arief, Makalah pada Seminar “ Penanggulangan tindak pidana korupsi di Era peningkatan Supremasi Hukum” , Yayasan Setia Karya, Hotel Gracia Semarang , 01 Nopember 2001. 5 6 masalah struktur/sistem ekonomi, maslah sistem/budaya politik, masalah mekanisme pembangunan dan lemahnya birokrasi/prosedur administrasi (termasuk sistem pengawasan) dibidang keuangan dan pelayanan publik. Jadi, kuasa dan kondisi yang bersifat krimonogen untuk timbulnya korupsi sangatlah luas (multidimensi), yaitu bisa di bidang moral, sosial, ekonomi, poltik, budaya, birokrasi/administrasi dan sebagainya. 2. Mengingat sebab-sebab yang multidimensional itu, maka korupsi pada hakikatnya tidak hanya mengandung aspek ekonomis (yaitu merugikan keuangan/perekonomian negara dan memperkaya diri sendiri/orang lain), tetapi juga mengandung korupsi nilai-nilai moral, korupsi jabatan/kekuasaan, korupsi politik dan nilai-nilai demokasi dan sebagainya. 3. Mengingat aspek yang sangat luas itu, sering dinyatakan bahwa korupsi termasuk atau tekait juga dengan “economic crimes”, „organized crimes”, “illicit drug traffiking”, “money laundering”, “white collar crime”, “political crime”, “top hatcrime” atau (“crime of politician in office”), dan bahkan “transnational crime”. 4. Karena terkait dengan masalah politik/jabatan/kekuasaan (termasuk “top hat crime”), maka di dalamnya mengandung 2 (dua) fenomena kembar (“twinphenomena”) yang dapat menyulitkan penegakan hukum (seperti dikemukakan oleh Dionysios Spinellis.7 Dionysios Spinellis, “Crimes of Politicians in Office”, dalam “Crime by Government” oleh Dr.Helmut (Editor), hlm. 23. 7 7 Polri sebagai instrumen negara untuk menegakkan hukum serta memelihara keamanan dan ketertiban di dalam masyarakat tidak luput dari perhatian publik. Kewenangan Polri yang sangat luas dan kadang terasa tanpa batas menjadi sorotan masyarakat. Hal ini disebabkan peluang terjadinya pelanggaran HAM ketika menjalankan tugas. Era sekarang ini diketahui korupsi telah terjadi dimana-mana. Hampir di semua negara di seluruh dunia terjadi praktek korupsi, dan tidak terkecuali Indonesia. Di Indonesia sendiri pengaturan, pengawasan dan penindakan korupsi telah dilakukan dari waktu ke waktu, baik sejak pemerintahan orde lama hingga pemerintahan saat ini. Selain dari nilai uangnya, jumlah orang yang terlibat serta cara-cara yang dipakai dalam praktek korupsi semakin lama semakin meningkat. Mengantisipasi hal tersebut, banyak lembaga yang ditugaskan untuk mengawasi pelaksanaan korupsi dan menindak para pelakunya, khususnya Kepolisian Negara Republik Indonesia (sesuai Undang-Undang No.2 Tahun 2002). Namun dalam perkembangan hal itu ternyata diikuti pula oleh peningkatan teknik dan gaya penyelewengan, sehingga seakan-akan praktek korupsi itu tiada batas akhirnya.8 Korupsi yang tejadi di Indonesa sudah sangat memprihatinkan. Korupsi tidak hanya dilakukan oleh pegawai negeri, tetapi juga melibatkan pengusaha, swasta, pejabat negara, aparat penegak hukum serta para wakil rakyat yang duduk di DPR maupun DPRD. Korupsi merupakan extra ordinary crime (kejahatan luar bisaa) dan untuk memberantasnya bukan perkara yang mudah, sehingga dibutuhkan cara 8 Djoko prakoso, Peranan Pengawasan dalam Penangkalan Tindak Pidana Korupsi, Aksara Perrsada Indonesia Jakarta,1990, hlm.1. 8 yang luar bisaa pula dengan dukungan dan komitmen seluruh rakyat Indonesia, aparat Negara dan profesionalisme aparat penegak hukum yang tentunya juga harus didukung dengan penyempurnaan perangkat undang-undang yang terkait dengan pemberantasan korupsi khususnya penyidik Polri. Pengalaman empiris selama ini menunjukkan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutam dalam peradilan tindak pidana korupsi memerlukan dukungan dan wewenang yang bersifat extra ordinary (luar bisaa), profesional, dan dukungan biaya yang besar, serta tersedianya waktu untuk penyelidikan dan penyidikan yang cukup.9 Institusi pada tingkat pelaksanaan (aparat penegak hukum) yang diberi tugas dan tanggung jawab menanggulangi tindak pidana korupsi, memerlukan sarana berupa perangkat hukum yang memberikan landasan guna dapat melaksanakan tugas dan kewajiban secara efektif. Oleh karena itu, diperlukan istrumen yang luar bisaa tersebut tidak bertentangan dengan atau menyimpang dengan berbagai standar yang berlaku secara universal. Instrumen hukum yang luar bisaa yang diadopsi ke dalam hukum. Selain melakukan penyempurnaan undang-undang tentang Pemberantsan Korupsi, pemerintah juga membentuk lembaga pemberantasan korupsi baru, yaitu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melalui UndangUndang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Salah satu alasan dibentuknya lembaga ini adalah pemberantasan korupsi belum optimal dan lembaga pemerintah yang menangani perkara korupsi 9 M.Akil mochtar, Memberantas Korupsi,Efektivitas Sistem Pembalikan Beban Pembuktian dalam Gratifikasi, Q-Communication, Jakarta, 2006, hlm.5. 9 (Kejaksaan dan Kepolisian) belum berfungsinya secara efektif dan efisien dalam memberantas korupsi.10 Pembaharuan hukum pidana pada hakikatnya mengandung makna, suatu upaya untuk melakukan reorientasi dan reformasi hukum pidana yang sesuai dengan nilai-nilai sentral sosio-politik, sosio filosofis, sosio kultural masyarakat Indonesia yang melandasi kebijakan kriminal dan kebijakan penegakan hukum di Indonesia.11 Pembaharuan hukum pidana harus dilakukan dengan pendekatan kebijakan, karena pada hakikatnya pembaharuan hukum yang dilakukan adalah bagian dari suatu langkah kebijakan (policy) yaitu bagian dari politik hukum atau penegakan hukum, politik hukum pidana, politik kriminal, dan politik sosial. Setiap kebijakan (policy) pertimbangan nilai. Oleh karena itu, pembaharuan hukum pidana harus pula berorientasi pada pendekatan nilai.12 Kebijakan pidana (penal policy), sebagaimana kebijakan publik umumnya, pada dasarnya harus merupakan kebijakan yang rasional. Kebijakan legislative merupakan kebijakan dalam menetapkan merumuskan sesuatu di dalam peraturan perundang-undangan oleh karena itu sering juga kebijakan legislatif disebut sebagai istilah kebijakan formulatif.13 10 Indonesia, undang-undang tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, UU No.30, LN No.137 Tahun 2002, TLN 4250, bagian menimbag, huruf (a) dan (b) 11 Barda Nawawi Arief, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, PT Citra Aditya Bakti, Bandung, 1996. hlm. 31 12 Ibid, hlm. 31 13 Ibid hlm. 245 10 Kebijakan formulasi merupakan tahap paling strategis dari keseluruhan proses operasionalisasi atau fungsionalisasi dan konkretisasi hukum pidana dalam rangka penanganan korupsi di Indonesia. Berpijak dari kenyataan tersebut penulis akan menggali, mengkaji, kemudian akan mengadakan penelitian untuk mendapatkan informasi, data dan kesimpulan mengenai Tindakan Penyidik/ Polri dalam proses penyidikan terhadap Tindak Pidana Korupsi di Wilayah Hukum Polres Lampung Barat, sehingga tesis saya beri judul : “Efektivitas Peranan Penyidik Polri Dalam Penyidikan Tindak Pidana Korupsi (Studi Kasus Di Polres Lampung Barat)” Tindakan yang dilakukan agar upaya penegakan dan pemberantasan korupsi lebih efektif dan untuk memberi kemudahan dalam pembuktian, Undang–Undang Nomor. 3 tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dicabut dan diganti dengan undang–undang Korupsi yang baru, yang memberi akses partisipasi masyarakat guna terlibat membantu dalam usaha pemberantasan korupsi baik preventif maupun refresif, yaitu Undang–Undang No. 31 Tahun 1999 yang kemudian diperbarui dengan Undang–Undang No. 20 Tahun 2001. Disamping itu dikeluarkan juga Undang–Undang No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK). Penyelengaraan peradilan Pidana di Indonesia telah mengalami pembaharuan dengan diberlakukannya Undang–Undang No. 8 tahun 1981 tentang Kitab Undang–Undang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia No. 76 selanjutnya disebut KUHAP) yang menggantikan Het Herziene Inlands Reglement (HIR) produk pemerintah kolonial Hindia Belanda. Sejak 11 diberlakukannya KUHAP sampai dengan sekarang, masih perlu dipertanyakan apakah proses peradilan pidana telah berjalan cepat atau efektif, murah dan sederhana serta menjunjung keadilan dan kebenaran? Berdasarkan pengamatan, ternyata Efektivitas serta tujuan mencapai keadilan dan kebenaran dari proses peradilan pidana masih jauh dari harapan. Proses peradilan pidana merupakan mekanisme peradilan pidana yang dilihat dari bekerjanya lembaga kepolisian sampai dengan lembaga permasyarakatan (criminal justice as process). Hal itu berarti bekerjanya peradilan pidana menunjukkan adanya hubungan antara beberapa institusi/lembaga (sub-sistem) yang terlibat dalam proses tersebut dalam rangka untuk mencapai tujuan peradilan pidana, seperti sub-sistem Kepolisian (Proses penyelidikan dan penyidikan), Sub Sistem Kejaksaan (Proses Penuntutan), Sub sistem Pengadilan (Proses pemeriksaan dimuka sidang pengadilan) dan sub-sistem Lembaga Pemasyarakatan (Proses pembinaan terpidana). Efektivitas sistem peradilan pidana yang dilaksanakan oleh Sub-sistem institusi/ lembaga diatas, menurut Hiroshi Ishikawa14 tidak terlepas dari beberapa indikator/ kriteria masing–masing sub–sistem institusi/ lembaga yaitu : proporsi penyelesaian perkara (clearance rate); proporsi penuntutan (prosecution rate); proporsi kecepatan penanganan perkara (speedy trial); proporsi pemidanaan (conviction rate); proporsi pengulangan kejahatan (rate of “recall” to prison). 14 Hiroshi Ishikawa, 5 indikator/kriteria masing–masing sub–sistem institusi/ lembaga, 1984 : hlm.4. 12 Kepolisian sebagai salah satu sub–sisitem dari sistem peradilan pidana yang mempunyai fungsi dan tugas dibidang penyelidikan dan penyidikan selama ini telah menunjukkan kinerja yang cukup baik dalam penanganan perkara Tindak Pidana Korupsi didaerah Lampung khususnya di Lampung Barat. Penegakkan hukum berdasarkan Undang–Undang No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (selanjutnya disebut UU Korupsi) pada empat tahun terakhir (Januari 2010 – Mei 2013), di Polres Lampung Barat telah menangani sejumlah 10 Perkara, dimana dari sejumlah perkara tersebut telah diputus pengadilan berupa pemidanaan sebanyak 6 Perkara, Seperti terlihat pada tabel berikut dibawah ini : Tabel 1. Data Penanganan perkara tindak pidana korupsi di wilayah hukum Polres Lampung Barat tahun 2010 – 2013 : Putusan No Tahun Penyidikan Penuntutan 1 Januari 2012 4 4 4 2 Mei 2013 2 - - JML 6 4 4 Pengadilan Persentase 70 % Sumber : Unit Tipikor Polres Lampung Barat, 2013. Tabel di atas menunjukkan bahwa proporsi penyidikan tindak pidana korupsi dalam tahun 2012 - 2013 diwilayah hukum Polres Lampung Barat cukup baik yaitu 70 % dan pada tahun 2010 - 2011 sebesar 30 %, dimana 2 Perkara masih dalam proses penyidikan di Kepolisian. (data terlampir) 13 Proporsi Penyidikan bukan berarti telah menunjukkan bahwa peran kepolisian telah efektif, melainkan harus dilihat pula bagaimana, proporsi kecepatan penanganan perkara (speedy trial) dan proses penanganannya pada tahap penuntutan dan peradilan. Kepolisian dalam hal ini Penyidik sebagai aparat penegak hukum yang diberi fungsi, tugas dan wewenang sebagai penyidik oleh undang–undang dalam penanganan perkara korupsi seharusnya dapat berperan dalam menanggulangi tindak pidana korupsi dengan meningkatkan proporsi penyelesaian perkara dan kecepatan penanganan perkara. Selanjutnya penyidik juga dapat meningkatkan koordinasi antar aparat penegak hukum dan dengan instansi lainnya sehingga penegakkan hukum dapat berjalan secara terpadu dalam rangka mencapai tujuan penanggulangan tindak pidana korupsi khususnya diwilayah hukum Polres Lampung Barat. Berpijak dari kenyataan tersebut penulis akan menggali, mengkaji, kemudian akan mengadakan penelitian untuk mendapatkan informasi, data dan kesimpulan mengenai peranan Penyidik/ Polri dalam proses penyidikan terhadap Tindak Pidana Korupsi di wilayah hukum Polres Lampung Barat, sehingga tesis saya beri judul :“Efektivitas Peranan Penyidik Polri Dalam Penyidikan Tindak Pidana Korupsi (Studi Kasus di Polres Lampung Barat)”. 14 B. Permasalahan dan Ruang Lingkup Berdasarkan latar belakang yang diuraikan diatas, yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah : 1. Bagaimanakah Efektivitas peran Penyidik Polri dalam penyidikan tindak pidana korupsi studi kasus di Polres Lampung Barat? 2. Apakah faktor pengahambat Efektivitas peran Penyidik Polri dalam penyidikan tindak pidana korupsi studi kasus di Polres Lampung Barat? Ruang lingkup pembahasan penelitian ini meliputi kajian–kajian yang berhubungan dengan proses peradilan pidana yang diatur dalam KUHAP dan peraturan perundang–undangan yang terkait dengan Kepolisian dan Korupsi yaitu Undang–Undang Nomor 02 Tahun 2002 tentang kepolisian Negara Republik Indonesia dan Undang–Undang No. 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang–Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan mengetahui Bagaimanakah Efektivitas peran Penyidik Polri dalam penyidikan tindak pidana korupsi serta apa saja faktor pengahambat Efektivitas peran Penyidik Polri dalam penyidikan tindak pidana korupsi, lokasi penelitian dilakukan penulis di Unit Tipikor (Tindak Pidana Korupsi) Sat Reskrim Polres Lampung Barat dan yang menjadi narasumber dalam penelitian ini adalah Kasat Reskrim, Kanit Tipikor dan satu orang penyidik di Unit Tipikor tersebut. 15 C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian Penelitian bertujuan untuk : a. Menganalisis Efektivitas peran Penyidik Polri dalam penyidikan tindak pidana korupsi studi kasus di Polres Lampung Barat. b. Menganalisis faktor penghambat Efektivitas peran Penyidik Polri dalam penyidikan tindak pidana korupsi studi kasus di Polres Lampung Barat. 2. Kegunaan Penelitian’ Berdasarkan permasalahan yang menjadi fokus kajian penelitian ini dan tujuan yang ingin dicapai maka diharapkan penelitian ini dapat memberikan manfaat sebagai berikut : a. Kegunaan Praktis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi pemikiran dan pertimbangan dalam penanganan tindak pidana korupsi dan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi aparat penegak hukum (penyidik Polri) dan pemerintah khususnya dalam penanganan tindak pidana korupsi. b. Kegunaan Teoritis Secara teoritis diharapkan dapat menambah informasi atau wawasan yang lebih konkrit bagi aparat penegak hukum dan pemerintah, khususnya dalam penanganan Tindak Pidana Korupsi oleh Penyidik Polri/ Polres Lampung Barat dalam perspektif pembaharuan hukum pidana di Indonesia. dan hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran ilmiah bagi pengembangan 16 ilmu pengetahuan hukum pada umumnya, dan pengkajian hukum khususnya yang berkaitan dengan kebijakan kriminal dalam penanganan tindak pidana korupsi oleh penyidik Polri/Polres Lampung Barat dalam perspektif Pembaharuan Hukum Pidana di Indonesia. D. Kerangka Pemikiran dan Konseptual 1. Kerangka Pemikiran Permasalahan penegakan hukum , baik secara “ in abstracto” maupun secara “ in Concreto” merupakan masalah actual yang akhir-akhir ini disorot tajam oleh masyarakat hal tersebut tentunya tidak lepas dari kualitas Sumber Daya Manusia dibidang Penegakan Hukum terutama kualitas penegakan hukum secara materiil / substansial seperti terungkap dalam isu sentral di masyarakat, yakni : 1. Adanya perlindungan Hak Asasi Manusia ( HAM ) 2. Tegaknya nilai kebenaran, kejujuran, keadilan dan kepercayaan antar sesama 3. Tidak adanya penyalahgunaan kekuasaan / kewenangan . 4. Bersih dari praktik “favoritisme” ( pilih kasih), KKN dan mafia peradilan . 5. Terwujudnya kekuasaan kehakiman/penegakan hukum yang merdeka. 6. Adanya penyelenggaraan pemerintah yang bersih dan berwibawa15. Banyak faktor yang mempengaruhi dan menentukan kualitas penegakan hukum, faktor-faktor tersebut adalah faktor kualitas individual (SDM), kualitas institusional/ struktur hukum (termasuk mekanisme tata kerja dan manajemen), Barda Namawi Arief , “ Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Hukum Pidana dalam Penanggulangan Kejahatan “ Penerbit Kencana Prenada Media Group, Jakarta. Cetakan Kedua Tahun 2006. hlm. 19. 15 17 kualitas sarana dan prasarana, kualiatas perundang-undangan (Substansi hukum) dan kualitas kondisi lingkungan (Sistem sosial, ekonomi, politik, budaya termasuk budaya hukum masyarakat). Menurut Soerjono Sukanto, bahwa penegakan hukum merupakan suatu rangkaian proses yang terdiri dari pentahapan-pentahapan yaitu : a. Tahapan perumusan perbuatan-perbuatan yang dapat dipidana yang menjadi wewenang lembaga legislatife. b. Tahapan penerapan/ aplikatif yang menjadi wewenang lembaga yudikatif . c. Tahapan pelaksanaan/ administratife yang menjadi wewenang lembaga ekskutif.16 Penegakan hukum ini diartikan secara luas tidak hanya menerapkan hukum pidana tetapi dimaknai lebih dari sekedar penerapan hukum pidana positif, yakni tidak hanya mengatur perbuatan warga masayarakat pada umumnya namun juga mengatur kewenangan/kekuasaan aparat penegak hukum. Tindakan atau upaya peningkatan kualitas penegakan hukum harus mencakup keseluruhan faktor/ kondisi/ kausa yang mempengaruhinya karena kualitas sumber daya manusialah yang menjadi sumber utama dari proses penegakan hukum dan tentu pula berimplikasi terhadap Efektivitas penegakan hukum termasuk didalamnya tentang proses penyidikan tindak pidana korupsi oleh Polri di Wilayah Hukum Polres Lampung Barat . Nyoman Serikat Putra Jaya , “ Bahan Kuliah Sistim Peradilan Pidana “ Mahasiswa Program Magister Ilmu Hukum. Universitas Diponegoro . hlm. 8. 16 18 Berbicara mengenai Efektivitas berasal dari bahasa inggris : effectiveness. Menurut Kamus Inggris-Indonesia, John Echols dan Hasan Sadily,17 bahwa kata effectiveness bermakna “keefektipan, kemanjuran, kemujaraban”. Maka dari pengertian tersebut dapat dijelaskan lebih lanjut bahwa Efektivitas penanganan tindak pidana korupsi adalah sesuatu hal yang efektip/ manjur/ mujarab dalam hal penanganan tindak pidana korupsi. Korupsi merupakan simbol dari pemerintahan yang tidak benar18, yang dicerminkan oleh prosedur berbelit-belit, unit pemungut pajak yang tidak efektif, korupsi besar-besaran dalam pengadaan barang dan jasa serta layanan masyarakat yang sangat buruk, tetapi bila pejabat pemerintah yang bertanggungjawab mengelola sumber daya milik masyarakat diwajibkan mempertanggungjawabkan tugasnya pada masyarakat luas, maka pengambilan keputusan dapat menjadi sendi bagi strategi pemerintah daerah untuk memperbaiki unit yang “sakit” dan meningkatkan kersejahteraan masyarakat19. Masalah korupsi ini tidak terlepas dari lingkungannya sehingga dapat membawa dampak yang besar bagi perkembangan masyarakat atau lembaga, baik lembaga swasta atau lembaga pemerintah, oleh karena itu perlu adanya usaha. Salah satu usaha penanggulangan korupsi adalah dengan menggunakan hukum pidana beserta saksinya. Penggunaan hukum pidana sebagai upaya untuk mengatasi masalah sosial (korupsi) termasuk kajian dalam penegakan hukum. Disamping itu 17 John M.Echolis dan Hasan Shadily, Kamus Inggris Indonesia ( An Inggris - Indonesia Dictionary ) Penerbit PT. Gramedia Jakarta. 2005 . 18 Robert Klitgaard, Ronald Maclean Abaroe dan Lindsey Parris, “ Penuntun Pemberantasan Korupsi Dalam Pemerintahan Daerah. Jakarta. Yayasan Obor. 2005. hlm. 15 19 Ibid . hlm. 25 19 karena tujuannya untuk mencapai kesejahteraan masyarakat dan perlindungan masyarakat pada umunya, maka kebijakan penegakan hukum inipun termasuk dalam bidang kebijakan sosial20. Dengan demikian masalah pengendalian atau penanggulangan korupsi menggunakan hukum pidana merupakan masalah kebijakan (the problem of policy), karena sistem pidana itu merupakan bagian politik criminal21, yaitu: “suatu usaha yang rasional dari masyarakat untuk menanggulangi kejahatan. Ini mencakup kegiatan pembentukan undang-undang pidana. Aktifitas dari kepolisian, kejaksaan, pengadilan dan lembaga pemasyarakatan, disamping usahausaha yang tidak menggunakan hukum (hukum pidana). Menurut Barda Nawawi Arief istilah kebijakan yang diambil dari istilah “policy” (Inggris) atau “politiek” (Belanda). Bertolak dari kedua istilah asing ini, maka istilah kebijakan hukum pidana dapat juga disebutkan dengan istilah “politik hukum pidana”, yang dalam kepustakaan asing sering dikenal dengan istilah “penal policy”, “Criminal Law Policy”, atau “strafrechts politiek”22. Menurut Sudarto, “politik hukum pidana” dapat dilihat dari politik hukum maupun politik kriminal. Politik hukum adalah: a. Usaha untuk mewujudkan peraturan-peraturan yang baik sesuai dengan keadaan dan situasi pada suatu saat. 20 21 22 Robert Klitgaard, Ronald Maclean Abaroe dan Lindsey Parris, Op. Cit. hlm 13 Sudarto, “ Kapita Selecta Hukum Pidana, Bandung , Alumni, 1998 . hlm. 73 Sudarto, “ Hukum Pidana dan Perkembangan Masyarakat, (Bandung. Alumni. 1983). hlm. 20. 20 b. Kebijakan dari Negara melalui badan-badan yang berwenang untuk menetapkan peraturan-peraturan yang dikehendaki yang diperkirakan bisa digunakan untuk mengekspresikan apa yang dicita-citakan. Ini berarti bahwa hukum bertujuan untuk melindungi dan mensejahterakan masyarakat, sekaligus juga mengandung tujuan untuk melindungi, memperbaiki, dan mendidik si pelaku kejahatan itu sendiri. Perlu diketahui bahwa tidak semua pelaku tindak pidana yang terjadi di masyarakat bersentuhan dengan sistem peradilan pidana tak terkecuali tindak pidana korupsi . Hal ini disebabkan adanya bebarapa tindak pidana tidak dilaporkan atau diadukan, tidak semuanya diteruskan ke tingkat penyidikan sesuai dengan Pasal 109 Ayat (2) KUHAP23, disebabkan oleh : a. Tidak terdapat cukup bukti atau b. Peristiwa tersebut ternyata bukan merupakan tindak pidana, atau c. Penyidikan dihentikan demi hukum Tindak pidana yang ditingkatkan ke penyidikan, kemudian oleh Penyidik dilimpahkan ke Penuntut Umum, Tindak pidana yang dilimpahkan ke Penuntut Umum, tidak semuanya ditingkatkan ke penuntutan oleh Penuntut Umum, mengingat Penuntut Umum dapat berpendapat sesuai dengan ketentuan Pasal 140 Ayat (2) huruf a. untuk memutuskan menghentikan penuntutan dengan alasan sesuai dengan Pasal 109 Ayat (2) KUHAP disebabkan oleh : Nyoman Serikat Putra Jaya , “ Bahan Kuliah Sistim Peradilan Pidana “ Mahasiswa Program Magister IlmuHukum. Universitas Diponegoro . hlm . 8. 23 21 a. Tidak terdapat cukup bukti atau b. Peristiwa tersebut ternyata bukan merupakan tindak pidana, atau c. Penyidikan dihentikan demi hukum Tindak pidana yang dilimpahkan ke Pengadilan oleh Penuntut Umum disertai permintaan untuk mengadilinya, oleh Pengadilan tidak semua dijatuhi pidana, mengingat dalam memeriksa perkara pidana terdapat beberapa kemungkinan antara lain : a. Putusan bebas dari segala dakwaan ( Pasal 191 Ayat (1) KUHAP, b. Perbuatan yang didakwakan kepada terdakwa terbukti, tetapi perbuatan itu tidak merupakan tindak pidana, sehingga diputus lepas dari segala tuntutan hukum c. (Pasal 191 Ayat (2) KUHAP. d. Terdakwa bersalah melakukan tindak pidana, maka dijatuhi pidana (Pasal 193 Ayat (1) KUHAP Menurut UU Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (TPK) sebagaimana telah diubah dengan UU. Nomor 20 Tahun 2001, memberikan batasan-batasan yang dapat dipahami dari bunyi teks pasal-pasal kemudian mengelompokkannya ke dalam beberapa rumusan delik. Jika dilihat dari kedua undang-undang di atas, dapat dikelompokkan sebagai berikut24: 1. Kelompok delik yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian Negara (Pasal 2, Pasal 3 UU. Nomor 31 Tahun 1999); 2. Kelompok delik Penyuapan, baik secara aktif (yang menyuap) maupun yang secara pasif (yang menerima suap) (Pasal 5, 11, 12, 12 B, UU. Nomor 20 Tahun 2001) 3. Kelompok delik Penggelapan (Pasal 8, Pasal 10 UU. Nomor 20 Tahun 2001) 4. Kelompok delik Pemerasan (Pasal 12 e, dan f, UU. Nomor 20 Tahun 2001) 5. Kelompok delik yang berkaitan dengan Pemborongan, leveransir, dan rekanan (Pasal 7 UU. Nomor 20 Tahun 2001). 24 Chaerudin, dkk,Op.Cit.hlm. 4. 22 Berpijak dari pengelompokkan delik-delik di atas, penting artinya bagi aparat penegak hukum. Dengan memahami hal tersebut diharapkan segala tindakan hukum dalam rangka pemberantasan korupsi akan terwujud, baik dalam bentuk pencegahan (preventif) maupun tindakan represif. Pemberantasan korupsi tidak hanya memberikan efek jera (deterrence effect) bagi pelaku, tetapi juga dapat berfungsi sebgai daya tangkal (prevency effect). Semangat untuk memberantas korupsi terkesan hanya menyalahkan sistem yang ada, tetapi kurang berorientasi pada peningkatan dan pengawasan kinerja dan profesionalitas aparat penegak hukum. Sehingga, tidak jarang dalam proses pencegahan dan penindakan tindak pidana korupsi itu sendiri terhalang oleh perilaku para penegak hukum yang menyalahgunakan kewenangan (abuse of power). Semangat yang hanya berorientasi untuk perbaikan sistem hukum materil, dapat dilihat dari peraturan perundang-undangan tentang tindak pidana korupsi yang telah mengalami beberapa kali perubahan, berawal dengan keluarnya Peraturan Nomor PRT/PM PRT/PERPU/013/1958 06/1957 Tentang Pemberantasan Korupsi dan tentang Pengusutan, Penuntutan dan Pemeriksaan Perbuatan Korupsi dan Pemilikan Harta Benda dari Kepala Staf Angkatan Darat selaku Penguasa Perang Angkatan Darat, kemudian secara berturut-turut mengalami perubahan, Pertama, keluarnya PERPU Nomor 24 Tahun 1960 tentang Pengusutan, Penuntutan dan Pemeriksaan Tindak Pidana Korupsi, yang kemudian menjadi UU. Nomor 1 Tahun 1961, kemudia kedua, UU. Nomor 1 23 Tahun 1961 diubah dengan UU. Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, ketiga, Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, dan keempat UU. Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan atas UU. Nomor Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Tujuan pemerintah dan pembuat undang-undang melakukan revisi atau mengganti produk legislasi tersebut merupakan upaya untuk mendorong institusi yang berwenang dalam pemberantasan Korupsi, agar dapat menjangkau berbagai modus operandi tindak pidana korupsi dan meminimalisir celah-celah hukum, yang dapat dijadikan alasan bagi para pelaku tindak pidana korupsi untuk dapat melepaskan dirinya dari jeratan hukum. Meskipun demikian, penegak hukum harus tetap melindungi hak konstitusional warga negara untuk memperoleh jaminan dan perlindungan hukum yang pasti. Hal itu dinyatakan oleh UndangUndang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 setelah diamandemen, pada Pasal 28 D Ayat (1), sedangkan dalam bidang hukum pidana dimuat dalam Pasal 1 Ayat (1) KUHP yang diterjemahkan sebagai asas legalitas. Dengan demikian, setiap tindakan dalam proses hukum harus mengacu kepada suatu peraturan yang tertulis yang telah ditetapkan terlebih dahulu oleh peraturan perundang-undangan. Itulah makna dari negaran hukum. Maka setiap aspek pemberantasan korupsi harus didasarkan pada hukum, karena dalam negara hukum terdapat prinsip 24 wetmatigheid van bestuur, menurut hukum administrasi negara atau dalam hukum pidana dikenal dengan asas legalitas nullum crimen sine lege.25 Pelaku korupsi pada umumnya menyalahgunakan kekuasaan atau jabatannya untuk kepentingan pribadinya. Korupsi dikategorikan sebagai kejahatan kerah putih (white collar crime) mengingat pelaku korupsi yang mempunyai status sosial dan kedudukan yang terhormat. Istilah tersebut pertama kali diciptakan oleh Edwin H. Sutherland dalam suatu presidential addres didepan American Sociological Society pada tahun 1939, yang menyatakan bahwa white collar crime adalah kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang yang terhormat dan status sosial yang tinggi dalam kaitan dengan okupasinya (jabatannya).26 Uraian diatas membicarakan tentang korupsi memang akan menemukan sesuatu yang busuk, jahat dan merusak, karena korupsi menyangkut segi moral, sifat dan jabatan dalam instansi atau aparatur pemerintah, penyelewengan kekuasaan dalam jabatan kerena pemberian, faktor ekonomi dan politik, serta penempatan keluarga atau golongan kedalam kedinasan dibawah kekuasaan jabatannya27 Dengan demikian secara harfiah dapat diartikan bahwa sesungguhnya korupsi adalah: a. Penyelewengan atau penggelapan (uang negara atau perusahaan dan sebagainya) untuk pribadi atau orang lain; b. Busuk, rusak, suka memakai barang atau uang yang dipercayakan kepadanya, dapat disogok (melalui kekuasaannya untuk kepentingan pribadi). 25 26 27 Chaerudin, dkk, Op.Cit., hlm. 6. Muladi, Op. Cit., hlm.159. Evi hartanti, Op.Cit.,hlm.9. 25 Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi antara lain adalah : a. b. Perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara (Pasal 2 UU No. 20 tahun 2001); Perbuatan yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara (Pasal 3 UU No. 20 Tahun 2001). Bunyi Pasal 1 angka 1 KUHAP, penyidik adalah pejabat Polisi Negara Republik Indonesia atau pegawai negeri sipil tertentu yang dibebani wewenang oleh Undang-undang untuk melakukan penyidikan. Sedangkan pada Pasal 1 angka 4 menyebutkan bahwa penyelidik adalah pejabat polisi negara Republik Indonesia yang diberi wewenang oleh undang-undang ini untuk melakukan penyelidikan. Jadi perbedaannya ialah penyidik terdiri dari polisi negara dan pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang, sedangkan penyelidik hanya terdiri dari polisi negara saja. Dalam Pasal 6 KUHAP ditentukan 2 (dua) wewenang penyidikan, yaitu : a. Kepolisian Negara Republik Indonesia; b. Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang. Khusus untuk Tindak Pidana Korupsi, institusi yang diberi wewenag untuk melakukan penyidikan adalah : 26 a. Kejaksaan (jaksa) Sesuai dengan ketentuan Pasal 284 ayat (2) KUHAP dan Pasal 30 UndangUndang Nomor 16 Tahun 2004 Tentang Kejaksaan. b. Kepolisian Negara Republik Indonesia Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, dalam Pasal 14 huruf (g) disebutkan bahwa : “Kepolisian Negara Republik Indonesia bertugas melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap semua tindak pidana sesuai dengan hukum acara pidana dan peraturan perundang-undangan lainnya” Sebagaimana ketentuan ini, kepolisian berwenang melakukan penyidikan tindak pidana korupsi, karena Kepolisian Negara RI berwenang melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap semua tindak pidana, termasuk tindak pidana korupsi. c. Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Ketentuan Pasal 43 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi mengamanatkan untuk membentuk Komisi Pemberantasan Tindak Korupsi paling lambat 2 (dua) tahun sejak undang-undang ini mulai berlaku. Amanat tersebut ditindaklanjuti dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Korupsi. Badan ini mempunyai kewenangan antara lain melakukan koordinasi dan supervise terhadap instansi yang berwenang 27 melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi, melakukan penyelidikan, penyidikan dan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi. “Menurut Soerjono Soekanto28 peranan adalah suatu sistem kaidah– kaidah yang berisikan patokan–patokan perikelakuan pada kedudukan– kedudukan tertentu didalam masyarakat, kedudukan mana dapat dipunyai oleh pribadi ataupun kelompok–kelompok. Pribadi yang mempunyai peranan tadi dinamakan pemegang peran (role occupant) dan perikelakuannya adalah berperannya pemegang peran (role performance)”. Suatu peranan tertentu dari pribadi atau kelompok dapat dijabarkan sebagai berikut : 1. Peranan yang ideal (ideal role) 2. Peranan yang seharusnya (expected role) 3. Peranan yang dianggap oleh diri sendiri (perceived role) 4. Peranan yang sebenarnya dilakukan (actual role) Peranan yang ideal dan yang seharusnya datang dari pihak (atau pihak – pihak) lain, sedangkan peranan yang sebenarnya serta yang dianggap oleh diri sendiri berasal dari pribadi. Peranan yang seharusnya dari Penyidik Polri sebagai aparat penegak hukum telah dirumuskan dalam beberapa undang – undang. Kedudukan Penyidik Polri sebagai aparat penegak hukum mempunyai Tugas dan fungsi sebagaimana diatur dalam Undang–Undang Nomor 02 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia (Undang-Undang Kepolisian) dan Undang–Undang No. 08 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). 28 Soerjono Soekanto, Pokok-pokok sosiologi hukum 1980: hlm. 122. 28 Penyidik Polri dapat dikatakan berperan dalam penegakan hukum tindak pidana korupsi apabila telah melaksanakan fungsi dan tugasnya dibidang penegakan hukum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang–undangan yang ada sehingga tindak pidana korupsi dapat dituntut ke Pengadilan. Dengan menggunakan teori Hiroshi Ishikawa29 bahwa indikator pengukuran dilihat dari Clearance rate, procecution rate, conviction rate, speedy trial, and recall to prison, yang dalam penulisan tesis ini dimodifikasi dengan dua ukuran saja, yaitu Penyidikan oleh Penyidik Polri sesuai dengan Prosedur undang - undang dan kecepatan penanganan perkara (speedy trial), maka Efektivitas peran Penyidik dapat dilihat dari meningkatnya proporsi Penyidikan dan Proporsi Kecepatan penanganan perkara dalam tahap penyelidikan dan penyidikan tindak pidana korupsi. 2. Konseptual Konseptual adalah Konsep–konsep yang menggambarkan hubungan antara konsep–konsep, khusus yang merupakan kumpulan dari arti–arti yang berkaitan dengan istilah. Istilah yang digunakan dalam penulisan proposal penelitian ini adalah : 1. Efektif adalah berdaya guna30. Ukuran untuk menyatakan sesuatu adalah efektif/berdaya guna memerlukan adanya indikator/kriteria yang telah ditentukan. Dalam peneitian ini, Indikator yang digunakan adalah Proporsi Penyidikan dan Kecepatan penanganan Perkara dalam tahap penyidikan. 29 Hiroshi Ishikawa, Penyidikan oleh Penyidik Polri sesuai dengan Prosedur Undang Undang dan kecepatan penanganan perkara (speedy trial). 1984: hlm.4 30 Kamus besar Bahasa Indonesia, 1987 29 2. Peran adalah pelaksanaan aktivitas/kegiatan berdasarkan kedudukan, tugas dan fungsinya31. 3. Peradilan Pidana adalah suatu proses penyelenggaraan penegakan hukum pidana yang dilaksanakan oleh sub–sub sistem peradilan pidana, yaitu Kepolisian, Kejaksaan, Kehakiman, dan Lembaga pemasyarakatan dengan tujuan untuk menanggulangi kejahatan. 4. Tindak Pidana adalah suatu perbuatan yang dilarang dan diancam dengan hukuman oleh undang–undang, terhadap perbuatan tersebut pelakunya dapat dipertanggungjawabkan. 5. Korupsi adalah perbuatan melawan hukum yang merugikan keuangan negara. Tindak pidana korupsi merupakan perbuatan yang dilarang dan diancam dengan hukuman oleh UU Korupsi. 6. Kepolisian Resor (Polres) adalah : Kepolisian yang berkedudukan di Kabupaten/Kota dan daerah hukumnya meliputi wilayah Kabupaten yang bersangkutan, dipimpin oleh Kepala Polisi Resor (Kapolres) yang bertanggung jawab langsung kepada Kapolda. 31 Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, 1987 30 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tindak Pidana Korupsi 1. Pengertian Korupsi Istilah korupsi berasal dari bahasa Latin corruptio atau corruptus yang berarti kerusakan atau kebobrokan. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan kata corruption/corrupt, sedangkan dalam bahasa Belanda disebut dengan corruptie1. Pengertian korupsi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia2 ialah penyelewengan atau penggelapan (uang negara atau perusahaan dan sebagainya) untuk keuntungan pribadi atau orang lain, sedangkan pengertian korup ialah busuk; buruk; suka memakai barang (uang) yang dipercayakan kepadanya; dapat disogok (melalui kekuasaannya untuk kepentingan pribadi). Menurut A.S. Hornby et. al. Dalam The Advanced Leaner's Dictionary of Current English3 korupsi adalah "the offering and accepting of bribes" (penawaran/pemberian dan penerimaan hadiah-hadiah berupa suap) dan diartikan pula sebagai “decay” yaitu kebusukan/kerusakan. Pengertian korupsi banyak didefinisikan oleh para pakar, dimana masing-masing merumuskannya sesuai dengan sisi pandang bidang ilmunya. Korupsi dari sisi 1 Martiman Prodjohamidjojo, Tinjauan Yuridis Terhadap Hak Tersangka Untuk Memperoleh Informasi Dalam Perkara Korupsi Oleh Kejaksaan, 2001: hlm.7 2 Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka 1989 3 dikutip dari Baharuddin Lopa, 1989: hlm.1 pandang ekonomi menurut Jacob van Klaveren4 bahwa seorang pengabdi negara (pegawai negeri) yang berjiwa korup menganggap kantor/instansinya sebagai perusahaan dagang, dimana pendapatannya akan diusahakan semaksimal mungkin. Korupsi dari sisi pandang pemerintahan menurut J. S. Nye5 sebagai perilaku yang menyimpang dari kewajiban-kewajiban normal suatu peran instansi pemerintah, karena kepentingan pribadi (keluarga, golongan, kawan, teman) demi mengejar status dan gengsi atau melanggar peraturan dengan jalan melakukan atau mencari pengaruh bagi kepentingan pribadi. Hal itu cakup tindakan seperti penyuapan (memberi hadiah dengan maksud hal-hal menyelewengkan seseorang dalam kedudukan pada jawatan dinasnya); nepotisme (kedudukan sanak saudaranya sendiri didahulukan, khususnya dalam pemberian jabatan atau memberikan perlindungan dengan alasan hubungan asal-usul dan bukannya berdasarkan pertimbangan prestasi; penyalahgunaan atau secara tidak sah menggunakan sumber penghasilan negara untuk kepentingan pribadi). Carl J. Friesrich6 “Merumuskan korupsi dari sisi pandang kepentingan umum dengan mengatakan bahwa pola korupsi dapat dikatakan ada apabila seorang memegang kekuasaan yang berwenang untuk melakukan hal-hal tertentu seperti seorang pejabat yang bertanggungjawab melalui uang atau semacam hadiah lainnya yang tidak dibolehkan oleh undang-undang; membujuk atau mengambil langkah yang menolong siapa saja yang menyediakan hadiah dan dengan demikian benar-benar membahayakan Kepentingan umum”. 4 dikutip dari John A. Gardiner, 1974: hlm.18 J.S. Nye, “Corruption and Political Development: A Cost-Benefit Analysis,” American Political Science Review, Vol. 61, No. 2, pp. 417-427. 1967 6 Carl J. Friesrich, Political Pathology. 1966: hlm. 85 5 32 Selanjutnya Mubyarto7 yang mengutip pendapat Theodore M. Smith “Merumuskan korupsi dari sisi pandang politik dengan mengatakan secara keseluruhan korupsi di Indonesia muncul lebih sering sebagai masalah politik daripada masalah ekonomi. Ia menyentuh keabsahan (legitimasi) pemerintah di mata generasi muda, kaum elite terdidik dan pegawai pada umumnya. Korupsi mengurangi dukungan pada pemerintah dari kelompok elite di tingkat propinsi dan kabupaten”. Menurut sisi pandang sosiologi, Syed Hussein Alatas8 menyatakan terjadi korupsi adalah apabila seorang pegawai negeri menerima pemberian yang disodorkan oleh seorang dengan maksud mempengaruhinya agar memberikan perhatian istimewa pada kepentingan-kepentingan si pemberi. Kadang-kadang juga berupa perbuatan menawarkan pemberian uang dan hadiah lain yang dapat menggoda pejabat. Termasuk dalam pengertian ini juga pemerasan yakni permintaan pemberian atau hadiah seperti itu dalam pelaksanaan tugas-tugas publik. Istilah itu juga dikenakan pada pejabat-pejabat yang menggunakan dana publik yang mereka urus bagi keuntungan mereka sendiri. Selanjutnya ditambahkan Syed Hussein Alatas, yang termasuk pula sebagai korupsi adalah pengangkatan sanak saudara, teman-teman atau kelompok-kelompok politik pada jabatan-jabatan dalam kedinasan aparatur pemerintahan tanpa memandang keahlian mereka maupun konsekuensinya pada kesejahteraan masyarakat (nepotisme). Dengan demikian yang termasuk dalam korupsi adalah empat tipe yang mencakup perbuatan penyuapan, pemerasan, nepotisme dan penggelapan. Menurut Syed Hussein Alatas9 empat tipe korupsi di atas dalam prakteknya meliputi ciri-ciri sebagai berikut: 7 8 9 Mubyarto, 1980: hlm. 60 Syed Hussein Alatas,1980: hlm. 11 Syed Hussein Alatas,1980: hlm. 13 33 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 2. Korupsi selalu melibatkan lebih dari satu orang. Korupsi pada umumnya dilakukan penuh kerahasiaan. Korupsi melibatkan elemen kewajiban dan keuntungan timbal balik. Korupsi dengan berbagai macam akal berlindung dibalik pembenaran hukum. Mereka yang terlibat korupsi adalah yang menginginkan keputusan yang tegas dan mereka mampu mempengaruhi keputusan. Tindakan korupsi mengandung penipuan baik pada badan publik atau masyarakat umum. Setiap bentuk korupsi adalah suatu pengkhianatan kepercayaan. Setiap bentuk korupsi melibatkan fungsi ganda yang kontradiktif dari mereka yang melakukan itu. Suatu perbuatan korupsi melanggar norma-norma tugas dan pertanggung jawaban dalam tatanan masyarakat. Tindak Pidana Korupsi Pengertian tindak pidana korupsi sejak berlakunya Peraturan Penguasa Militer No. Prt/PM-06/1957 Tanggal 9 April 1957 sampai dengan diundangkannya UUTPK Tahun 1999 semakin lama semakin disempurnakan, sehingga hampir merumuskan berbagai bentuk pengertian korupsi yang telah diuraikan di atas. Dalam UUTPK pengertian tindak pidana korupsi tercantum dalam Bab II tentang Tindak Pidana Korupsi Pasal 2-Pasal 20 dan Bab III tentang tindak pidana lain yang berkaitan dengan Tindak Pidana Korupsi Pasal 21-Pasal 24. Berdasarkan ketentuan pasal-pasal tersebut dapat dikategorikan lima pengertian dan tipe tindak pidana korupsi berikut di bawah ini dengan penjelasan masing-masing unsurnya. Unsur-unsur yang sama yang telah dijelaskan sebelumnya tidak akan dijelaskan lagi pada penjelasan unsur Pasal berikutnya. a. Pengertian Tindak Pidana Korupsi Tipe Pertama Pengertian tindak pidana korupsi tipe pertama terdapat dalam Pasal 2 UUTPK: (1) Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan 34 memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh tahun) dan denda paling sedikit Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah). (2) Dalam hal tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dalam keadaan tertentu pidana mati dapat dijatuhkan. Berpijak dari ketentuan pasal di atas unsur-unsur dari tindak pidana korupsi adalah sebagai berikut: (1) Perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu badan Pada dasarnya maksud memperkaya di sini dapat ditafsirkan suatu perbuatan dengan mana si pelaku bertambah kekayaannya oleh karena perbuatan tersebut. Modus operandi perbuatan memperkaya dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dengan membeli, menjual, mengambil, memindahbukukan rekening, menandatangani kontrak serta perbuatan lainnya sehingga si pelaku bertambah kekayaannya. (2) Perbuatan tersebut bersifat melawan hukum Unsur melawan hukum dalam UUTPK mencakup perbuatan melawan hukum baik dalam arti formil maupun dalam arti materil, yakni meskipun perbuatan tersebut tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan, tetapi apabila perbuatan tersebut dianggap tercela karena tidak sesuai dengan rasa keadilan atau normanorma kehidupan sosial dalam masyarakat, maka perbuatan tersebut dapat dipidana. 35 (3) Merugikan keuangan atau perekonomian negara Penjelasan UUTP menentukan bahwa keuangan negara adalah seluruh kekayaan negara dalam bentuk apapun, yang dipisahkan atau tidak dipisahkan, termasuk di dalamnya segala bagian kekayaan negara dan segala hak dan kewajiban yang timbul karena: a) Berada dalam penguasaan, pengurusan, dan pertanggungjawaban pejabat negara, baik di tingkat pusat maupun daerah; dan b) Berada dalam pengurusan dan pertanggungjawaban Badan Usaha Milik Negara/ Badan Usaha Milik Daerah, Yayasan, Badan Hukum, dan perusahaan yang menyertakan modal negara, atau perusahaan yang menyertakan modal pihak ketiga berdasarkan perjanjian dengan negara. Perekonomian negara adalah kehidupan perekonomian yang disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan atau pun usaha masyarakat secara mandiri yang berdasarkan pada kebijakan pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku yang bertujuan memberikan manfaat, kemakmuran, dan kesejahteraan kepada seluruh kehidupan masyarakat. b. Pengertian Tindak Pidana Korupsi Tipe Kedua Pasal 3 UUTPK merumuskan pengertian tindak pidana korupsi tipe kedua sebagai berikut: Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 1 (satu) 36 tahun dan atau denda paling sedikit Rp 50.000.000.00 (lima puluh juta rapiah) dan paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah). Unsur-unsur tindak pidana korupsi dari Pasal di atas adalah sebagai berikut: (1) Menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukannya Tindak pidana korupsi pada tipe kedua ini terutama ditujukan kepada seorang pegawai negeri, oleh karena hanya pegawai negeri saja yang dapat menyalahgunakan jabatan, kedudukan dari kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya. Menurut ketentuan Pasal 1 Ayat (2) UUTPK, pengertian pegawai negeri meliputi: (a) Pegawai negeri sebagaimana dimaksud dalam undang-undang Kepegawaian (i.c. Undang-Undang No. 43 Tahun 1999); (b) Pegawai negeri sebagaimana dimaksud dalam KUHPidana (i.c. Pasal 92 KUHPidana); (c) Orang yang menerima gaji atau upah dari keuangan negara atau daerah; (d) Orang yang menerima gaji atau upah dari suatu korporasi yang menerima bantuan dari keuangan negara atau daerah; dan (e) Orang yang menerima gaji atau upah dari korporasi lain yang mempergunakan modal atau fasilitas dari negara atau masyarakat. (2) Tujuan dari perbuatan tersebut menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi Perbuatan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi berarti membuat orang tersebut, orang lain/kroninya atau suatu korporasi memperoleh aspek material maupun inmaterial dari perbuatan itu. Pembuktian unsur “menguntungkan” dapat lebih mudah dibuktian oleh penuntut umum karena unsur menguntungkan tidak memerlukan dimensi apakah orang tersebut menjadi kaya atau bertambah kaya sebagaimana unsur “memperkaya” dalam pasal 2 UUTPK. 37 c. Pengertian Tindak Pidana Korupsi Tipe Ketiga Tindak pidana korupsi pada tipe ketiga terdapat dalam Pasal 5 sampai dengan pasal 13 UUTPK yang merupakan pasal-pasal dari KUHPidana yang kemudian ditarik menjadi tindak pidana korupsi. Apabila dikelompokkan, terdapat empat kelompok tindak pidana korupsi tipe ketiga berikut ini. (1) Penarikan perbuatan yang bersifat penyuapan, yaitu Pasal 209, 210, 418, 419 dan 420 KUHPidana. (2) Penarikan perbuatan yang bersifat penggelapan yaitu Pasal 415, 416 dan 417 KUHPidana. (3) Penarikan perbuatan yang bersifat kerakusan yaitu Pasal 423 dan 425 KUHPidana. (4) Penarikan perbuatan yang berkorelasi dengan pemborongan, leveransir dan rekanan, yaitu Pasal 387, 388 dan 435 KUHPidana. d. Pengertian Tindak Pidana Korupsi Tipe Keempat Pasal 15 dan 16 UUTPK mengkualifikasikan perbuatan percobaan (poging), pembantuan atau permufakatan jahat serta pemberian kesempatan, sarana atau keterangan terjadinya tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh orang di luar wilayah Indonesia sebagai tindak pidana korupsi. e. Pengertian Tindak Pidana Korupsi Tipe Kelima Tindak pidana korupsi pada tipe kelima ini sebenarnya “tidak murni” sebagai tindak pidana korupsi melainkan tindak pidana lain yang berkaitan dengan tindak pidana korupsi sebagaimana diatur dalam Bab III Pasal 21 sampai dengan 24 UUTPK. Apabila dijabarkan, hal-hal tersebut adalah: (1) Setiap orang yang dengan sengaja mencegah, merintangi atau menggagalkan secara langsung atau tidak langsung penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan terhadap tersangka atau terdakwa, ataupun para saksi dalam perkara korupsi dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan atau denda paling sedikit Rp 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 600.000.000,00 (enam ratus juta 38 rupiah). (2) Setiap orang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28, Pasal 35 atau Pasal 36 UUTPK yang dengan sengaja tidak memberi keterangan atau memberi keterangan yang tidak benar dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan atau denda paling sedikit Rp 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah). (3) Dalam perkara korupsi, pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 220, 231, 241, 422, 429 atau 430 KUHPidana dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 6 (enam) tahun dan atau denda paling sedikit Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 300.000.000.00 (tiga ratus juta rupiah). (4) Saksi yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 UUTPK dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan atau denda paling banyak Rp 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah). B. Karakteristik Tindak Pidana Korupsi Dyatmiko Soemodihardjo, di dalam bukunya berjudul mencegah dan memberantas korupsi, mencermati dinamikanya di Indonesia dan masih terlalu banyak kelompok atau karakteristik Tindak Pidana Korupsi di Indonesia sehingga masih kesulitan bagi masyarakat umum untuk memahami masuk kelompok atau karakteristik yang mana suatu tindak pidana korupsi yang telah dilakukan oleh seorang pegawai negeri atau penyelenggara negara, dan inilah beberapa karakteristik Tindak pidana Korupsi : a. b. Korupsi yang terkait dengan keuangan negara, yaitu melawan hukum untuk memperkaya diri dan dapat merugikan keuangan negara; menyalahgunakan kewenangan untuk menguntungkan diri sendiri dan dapat merugikan keuangan negara terdapat pada Pasal 2, Pasal 3, Pasal 7 Ayat (1) huruf A, Pasal 7 Ayat (1) huruf C, Pasal 7 Ayat (2), Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10 huruf (A), Pasal 12 huruf (I), Pasal 12A dan Pasal 17, UUDRI Nomor 31 Tahun 1999 juncto UURI Nomor 20 Tahun 2001. Korupsi yang terkait dengan suap – menyuap, yaitu menyuap pegawai negeri; memberi hadiah kepada pegawai negeri karena jabatannya; pegawai negeri menerima suap;pegawai negeri menerima hadiah yang berhubungan dengan jabatannya ; menyuap hakim; menyuap advokad; hakim dan advokad yang menerima suap; hakim yang menerima suap; advokad yang menerima suap, terdapat pada Pasal 5, Pasal 6, Pasal 11, Pasal 12 huruf a, Pasal 12 huruf b, Pasal 12 huruf c, Pasal 12 huruf d, Pasal 12 A, Pasal 17, dan UURI Nomor 31 Tahun 1999 juncto UURI Nomor 20 Tahun 2001. 39 c. d. e. f. g. Korupsi yang terkait penggelapan dalam jabatan, yaitu pegawai negeri yang menggelapkan uang atau membiarkan penggelapan; pegawai negeri memalsukan buku untuk pemeriksaan administrasi; pegawai negeri merusakkan bukti; pegawai negeri membiarkan orang lain merusak bukti; pegawai negeri membantu orang lain merusakkan buku terdapat pada Pasal 8, Pasal 9 huruf i, Pasal 10 huruf a, Pasal 10 huruf b, Pasal 10 huruf c. Korupsi yang terkait dengan perbuatan pemerasan, yaitu pegawai negeri memeras; pegawai negeri memeras pegawai negeri yang lainnya, terdapadat pada Pasal 12 huruf e, Pasal 12 huruf f, Pasal 12 huruf g, Pasal 12 A, Pasal 17, dan UURI Nomor 31 Tahun 1999 juncto UURI Nomor 20 Tahun 2001. Korupsin yang terkait dengan perbuatan curang, yaitu pembohong berbuat curang, pengawas proyek membiarkan perbuatan curang, rekanan TNI / POLRI berbuat curang, pengawas rekanan TNI / POLRI membiarkan perbuatan curang, penerima barang TNI / POLRI membiarkan perbuatan curang, pegawai negeri menyerobot tanah negara sehingga merugikan orang lain yang terdapat pada Pasal 12 huruf i, Pasal 17 dan UURI Nomor 20 Tahun 2001. Korupsi yang terkait dengan benturan kepentingan dalam pengadaan yaitu pegawai negeri turut serta dalam pengadaan yang diurusnya yang terdapat pada pasal 12 huruf i. Korupsi yang terkait dengan grafitasi, yaitu pegawai negeri menerima grafitasi dan tidak lapor Komisi Pemberantasan Korupsi yang terdapat pada, pasal 12 B juncto 12 C, Pasal 13, Pasal 17, dan UURI Nomor 20 Tahun 2001. Perbuatan korupsi di manapun dan kapanpun akan selalu memiliki ciri khas dan ciri khas tersebut bisa bermacam-macam, beberapa diantaranya adalah sebagai berikut: a. Melibatkan lebih dari satu orang; b. Korupsi tidak hanya berlaku di kalangan pegawai negeri atau anggota birokrasi negara, korupsi juga terjadi di organisasi usaha swasta; c. Korupsi dapat mengambil bentuk menerima sogok, uang kopi, salam tempel, uang semir, uang pelancar, baik dalam bentuk uang tunai atau benda atau pun wanita; d. Umumnya serba rahasia, kecuali sudah membudaya; e. Melibatkan elemen kewajiban dan keuntungan timbal balik yang tidak selalu berupa uang; f. Setiap tindakan korupsi mengandung penipuan, bisaanya pada badan publik atau masyarakat umum; 40 g. Setiap perbuatan korupsi melanggar norma-norma tugas dan pertanggungjawaban dalam tatanan masyarakat; h. Di bidang swasta, korupsi dapat berbentuk menerima pembayaran uang dan sebagainya, untuk membuka rahasia perusahaan tempat seseorang bekerja, mengambil komisi yang seharusnya hak perusahaan. Menurut M. Dawan Rahardjo dalam artikelnya Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN) menggambarkan bahwa timbulnya perbuatan korupsi dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama, apakah kelembagaan pemerintah itu memberikan kesempatan kepada perbuatan korupsi. Kedua, lingkungan budaya yang memepengaruhi psikologi orang-seorang. Ketiga, pengaturan ekonomi yang mungkin memberikan tekanan-tekanan tertentu. Tindak pidana korupsi bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Pelaku korupsi menyangkut berbagai hal yang sifatnya kompleks. Faktor faktor penyebabnya tidak saja dapat berasal dari internal pelaku korupsi, Tetapi dapat juga berasal dari situasi lingkungan yang kondusif bagi seseorang untuk melakukan korupsi. Berikut adalah aspek-aspek penyebab seseorang melakukan korupsi, menurut Sarlito W Sarwono , kendatipun tidak ada jawaban yang persis, tetapi dua hal yang jelas yakni : a. Dorongan dari dalam diri sendiri (keinginan, Hasrat, kehendak dan sebagainya); b. Rangsangan dari luar (dorongan teman-teman, adanya kesempatan, kurangnya kontrol dan sebagainya). 41 Beberapa Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya tindak pidana korupsi menurut Andi hamzah sebagai berikut: a. Kurangnya gaji atau pendapatan pegawai negeri dibandingkan dengan kebutuhan yang makin hari makin meningkat; b. Latar belakang kebudayaan atau kultur Indonesia yang merupakan sumber atau sebab meluasnya korupsi; c. Manajemen yang kurang baik dan kontrol yang kurang efektif dan kurang efisien sering di pandang sebagai penyebab korupsi, dalam arti bahwa yang demikian itu akan memberi peluang untuk melakukan korupsi. Semakin besar anggaran pembangunan, semakin besar pula kemungkinan kebocoran-kebocoran; d. Modernisasi mengembangbiakkan korupsi karena membawa perubahan nilai dasar atas masyarakat membuka sumber-sumber kekayaan dan kekuasaan baru, membawa perubahan yang diakibatkannya dalam bidang kegiatan sistem politik, memperbesar kekuasaan pemerintah dan melipat gandakan kegiatan-kegiatan yang diatur oleh peraturan pemerintah; e. Faktor mental yang tidak sehat lebih dominan untuk mendorong terjadinya perbuatan korupsi. Sebab sekalipun faktor-fakor lainnya itu ada / terdapat pada diri seseorang, akan tetapi apabila ia bermental sehat tidak akan melakukan perbuatan korupsi (semacam ada rem). Analisa yang lebih detail lagi tentang beberapa penyebab korupsi kemudian dipaparkan oleh badan pengawasan keuangan dan pembangunan (BPKP) dalam bukunya berjudul “Strategi Pemberantasan Korupsi” dimana beberapa yang menjadi penyebab korupsi antara lain; 1) Aspek individu pelaku a. Sifat tamak manusia Kemungkinan orang melakukan korupsi bukan disebabkan karena orangnya miskin atau penghasilannya tidak cukup. Kemungkinan orang tersebut sudah cukup kaya tetapi masih mempunyai hasrat yang begitu besar untuk memperkaya diri, penyebab korupsi pada pelaku semacam ini datang dari dalam diri sendiri yakni sifat tamak dan rakus; 42 b. Moral yang kurang kuat Seseorang yang moralnya tidak kuat cenderung mudah tergoda untuk melakukan korupsi. Godaan itu bisa berasal dari atasan, teman setingkat bawahannya atau fihak yang lainnya memberikan kesempatan untuk itu; c. Penghasilan yang kurang mencukupi Penghasilan seorang pegawai dari suatu pekerjaan selayaknya dapat memenuhi atau sejalan dengan kebutuhan hidup yang wajar, bila hal itu tidak terjadi maka sesorang akan berusaha memenuhinya dengan berbagai cara. tetapi apabila segala upaya dilakukan ternyata sulit didapatkan, keadaan semacam ini akan memberikan sebuah peluang besar untuk melakukan tindak korupsi, baik itu korupsi waktu, tenaga, maupun fikiran dalam artian semua curahan peluang itu untuk keperluan diluar pekerjaan yang seharusnya; d. Kebutuhan hidup yang mendesak Dalam rentang kehidupan ada kemungkinan seseorang mengalami situasi terdesak dalam hal ekonomi. Keterdesakan itu kemudian membuka ruang bagi seseorang untuk melakukan jalan pintas diantaranya dengan melakukan korupsi; e. Gaya hidup yang konsumptif Kehidupan di kota kota besar acapkali mendorong gaya hidup seseorang berperilaku konsumtif. Perilaku semacam ini apabila tidak diimbangi dengan pendapatan yang memadai akan membuka peluang seseorang untuk melakukan berbagai tindakan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Dan kemungkinan itu adalah dengan melakukan tindak korupsi; 43 f. Sifat malas atau tidak mau bekerja Sebagian orang ingin mendapatkan hasil dari suatu pekerjaan tanpa keluar keringat alias malas bekerja. Sifat semacam ini akan potensial dalam melakukan tindakan apapun dengan cara cara mudah dan cepat, yang diantaranya melakukan korupsi; g. Ajaran agama yang kurang diterapkan Indonesia dikenal sebagai bangsa yang religius, yang tentunya akan melarang setiap warga negaranya melakukan tindakan korupsi dalam bentuk apapun. Akan tetapi kenyataan dilapangan menunjukan bahwa praktek korupsi semakin berkembang subur di tengah masyarakat. situasi paradoks semacam ini mencerminkan bahwa ajaran agama tidak sepenuhnya diterapkan dalam kehidupan. 2) Aspek Organisasi a. Kurangnya Sikap Keteladanan Pimpinan Posisi pimpinan dalam suatu lembaga formal maupun informal sesungguhnya mempunyai pengaruh yang sangat penting bagi bawahannya. Apabila seorang pemimpin tidak bisa memberikan keteladanan yang baik dihadapan bawahannya misalnya berbuat korupsi maka kemungkinan besar bawahannya akan mengambil kesempatan yang sama sebagaimana atasannya; b. Tidak adanya kultur organisasi yang benar Kultur organisai bisaanya mempunyai pengaruh kuat terhadap anggotanya. apabila kulur organisasi tidak dapat dikelola dengan baik, maka akan menimbulkan berbagai situasi yang tidak kondusif mewarnai kehidupan 44 organisasi. Dalam posisi yang demikian perbuatan negatif seperti antara lain korupsi memiliki peluang yang besar untuk terjadi; c. Sistem akuntabilitas yang benar di instansi pemerintah yang kurang memadai Pada institusi pemerintah pada umumnya belum merumuskan dan melaksanakan dengan jelas visi dan misi yang diembannya dan juga belum merumuskan dengan tujuan dan sasaran yang harus dicapai dalam periode tertentu guna mencapai misi tersebut. Akibatnya terhadap instansi pemerintah sulit untuk dilakukan penilaian apakah instansi tersebut telah berhasil mencapai sasaranya atau tidak? Dan akibat lebih lanjut terhadap kurangnya perhatian pada efisiensi penggunaan sumber daya yang dimiliki semacam ini memunculkan situasi organisasi yang kondusif untuk praktek korupsi; d. Kelemahan sistem pengendalian manajemaen Pengendalian manajemen merupakan salah satu syarat bagi tindak pelanggaran korupsi dalam sebuah organisasi. semakin longgar atau lemah pengendalian manajemen sebuah organisasi akan semakin terbuka peluang perbuatan tindak korupsi anggota atau pegawai di dalamnya; e. Manajemen cenderung menutupi korupsi di dalam orgainisasi Pada umumnya jajaran manajemen selalu menutupi tindakan korupsi yang dilakukan oleh segelintir oknum dalam organisasi. Akibat sifat tertutup tersebut, pelanggaran korupsi justru cenderung terus berjalan dengan berbagai bentuk. 45 3) Aspek tempat individu dan organisasi berada a. Nilai nilai di masyarakat kondusif untuk terjadinya korupsi Sebagaimana diketahui, korupsi bisa ditimbulkan oleh budaya masyarakat misalnya, masyarakat menghargai seseorang karena kekayaan yang dimilikinya. Sikap sikap seperti ini sering membuat masyarakat tidak kritis pada kondisi misalnya dari mana kekayaan tersebut didapatkan; b. Masyarakat kurang menyadari sebagai korban utama korupsi Masyarakat masih kurang menyadari bila yang dirugikan dalam korupsi itu adalah justru masyarakat sendiri. Anggapan pada masyarakat umum bahwa yang mengalami kerugian akibat korupsi adalah Negara, Padahal bila negara rugi, yang rugi adalah masyarakat juga karena proses anggaran pembangunan bisa berkurang akibat di korupsi; c. Masyarakat kurang menyadari bila dirinya terlibat korupsi Dan umumnya setiap korupsi pasti melibatkan anggota masyarakat. Hal ini kurang disadari oleh masyarakat sendiri. Bahkan seringkali masyarakat sudah terbisaa terlibat pada kegiatan korupsi sehari hari dengan cara cara terbuka namun tidak mereka sadari; d. Masyarakat kurang menyadari bahwa korupsi akan bisa dicegah dan diberantas bila masyarakat ikut berpartisi aktif Dimana pada umumnya masyarakat berpandangan bahwa masalah korupsi itu tanggung jawab pemerintah. Masyarakat kurang menyadari bahwa korupsi itu bisa diberantas hanya bila masyarakat itu aktif berperan serta melakukannya; 46 e. Aspek peraturan perundang undangan korupsi yang mudah timbul karena adanya kelemahan di dalam peraturan perundang undangan yang dapat mencakup adanya peraturan yang hanya menguntungkan kroni penguasa, kualitas peraturan yang kurang memadai, peraturan yang kurang disosialisasikan, sanksi yang terlalu ringan, penerapan sanksi yang tidak konsisten dan pandang bulu, serta lemahnya bidang evaluasi dan revisi peraturan perundang undangan. C. Sistem Peradilan Pidana dan Sub – Sub Sistem Peradilan Pidana Istilah sistem peradilan pidana (SPP) sebenarnya dapat disepadankan dengan istilah dalam bahasa Inggris criminal justice sistem (CJS) atau ada juga yang menyepadankan dengan istilah lain dalam bahasa Inggris juga yaitu criminal justice administration (CJA), namun demikian istilah yang terakhir jarang digunakan disini. Cakupan SPP tidak hanya terbatas pada masalah pengadilan, namun lebih luas daripada itu, dalam kamus hukum CJS diberi pengertian sebagai: “The network ef courts and tribunals which deal with criminal law and its enforcement”10. Dilihat dari segi tujuan sistem, SPP dapat diartikan sebagai suatu jaringan kerja yang ada dalam masyarakat atau negara yang dibentuk secara sadar dalam rangka usaha mengendalikan kejahatan, agar kejahatan yang ada dalam masyarakat masih berada dalam tingkatan yang dapat diterima. Dengan demikian, dalam pengertian 10 Black, 1986: hlm. 75 47 ini terdapat suatu kesadaran bahwa kejahatan yang terdapat di dalam masyarakat tidak mungkin dapat dihilangkan sama sekali, karena itu yang dapat dilakukan oleh SPP adalah sebatas pada usaha untuk mengendalikan atau mengurangi kejahatan (controll/reduction of crime). Memahami pengertian peradilan dalam kerangka sistem, analisis mengenai bagaimana seseorang menjadi pelanggar hukum, dalam konteks sistem dikemukakan oleh La Patra11 sebagai berikut: “When someone becomes a law violator, he may be considered to be crossing the boundary between society and the criminal justice sistem. After leaving the CJS, the individual returns to society; if he returns to the CJS at the later time, he is called a recidivist”. Menurut La Patra seseorang dikatakan sebagai pelanggar hukum, mungkin karena ia telah melanggar batas-batas antara masyarakat dengan SPP. Seseorang yang melakukan perbuatan melanggar hukum berarti ia telah melanggar batas toleransi masyarakat, untuk itu bagi mereka akan menerima konsekuensi dengan dimasukkan ke dalam SPP. Sesudah ia keluar dari SPP ia akan kembali lagi ke dalam masyarakatnya, namun apabila di kemudian hari ia melakukan pelanggaran hukum ia akan masuk kembali ke dalam SPP, orang tersebut secara terminologi hukum dinamakan sebagai residivis. Pandangan La Patra tersebut terdapat gambaran adanya siklus yang dimulai dari terjadinya pelanggaran hukum oleh seseorang dalam masyarakat, kemudian masuknya si pelanggar hukum ke dalam SPP, sampai dengan munculnya seorang 11 La Patra, Healing: The Coming Revolution in Holistic Medicine. 1978: hlm. 83 48 residivis. Dalam. pandangan La Patra tersebut seorang pelanggar hukum itu ada dalam batas antara masyarakat dengan SPP. Apabila seseorang tidak melakukan pelanggaran hukum pidana, maka ia tidak akan masuk ke dalam SPP, sedangkan apabila seseorang telah selesai menjalani hukuman, maka ia akan kembali lagi ke dalam masyarakat, dan ia akan masuk lagi ke dalam SPP manakala ia melakukan pelanggaran hukum lagi (residivis). Lebih jauh lagi La Patra berpandangan bahwa beberapa perbedaan sistem sosial mempunyai pengaruh terhadap seseorang sebelum ia kontak dengan SPP. Menurutnya sesorang lahir dengan beberapa kemampuan mental dan fisik dan khususnya yang cenderung telah diwarisi. Dalam kehidupannya orang berhubungan dengan bermacam-macam kelompok, misalnya keluarga, yang memainkan peranan penting dalam hidupnya. Sistem sosial penting yang lain yang dapat mempengaruhi adalah ekonomi, pendidikan, teknologi, dan politik. Sistem ekonomi misalnya dapat mempengaruhi tingkat penghasilan, perawatan kesehatan, transportasi, pekerjaan, rekreasi, dan atribut lain dalam hidupannya, sedangkan sistem pendidikan akan membentuk kecerdasan (kemampuan berpikir) dan jiwa (mental endowments) serta meningkatkan keahlian dan potensi yang dimiliki seseorang. Sistem teknologi dapat mempengaruhi seni, metode, dan perlengkapan yang dipergunakan dalam proses perubahan dan pengaruh utama dalam hidupnya pada waktu bekerja. Karena sistem potitik menghasilkan pengalokasian sumber daya dan menetapkan formasi kebijakan (policy) dan 49 hukum (laws) maka secara tidak langsung sistem politik akan mempengaruhi proses evolusi dari norma-norma sosial serta nilai-nilai. Segi idealita suatu pendekatan sistem dapat digunakan untuk menyelidiki hubunaan-hubungan antara faktor-faktor yang mempengaruhi bagaimana seseorang dapat menjadi pelanggar hukum. Dalam hal ini La Patra telah membantu membuat langkah sebagai petunjuk mengenai pendefinisian tingkatantingkatan sistem untuk memahami masalah peradilan pidana. Tidak dapat disangkal bahwa batas-batas dan tingkatan-tingkatan sistem yang meliputi identifikasi sistem, sub sistem, dan sistem yang lebih tinggi berhubungan dengan masalah pemahaman peradilan pidana dalam kerangka sistem. SPP dalam pengertian tingkatan-tingkatan tersebut di atas digambarkan oleh La Patra sebagai berikut: Ragaan 1. Hubungan SPP dengan politik, ekonomi dan budaya Society Politic, economic, sosial, culture CRIMINAL JUSTICE SISTEM Level I Level II Level III Keterangan: Level I (society) yaitu suatu level yang lebih besar merupakan sistem masyarakat, dalam level mana terdapat level-level yang lebih kecil antara lain; Level II (poleksosbud) yaitu level dimana terdapat faktor-faktor politik, ekonomi, sosial, budaya, teknologi, sedangkan level yang lebih kecil yaitu; Level EQ subsistem of 50 criminal justice, level dimana terjadinya proses penegakan hukum pidana yang pada hakikatnya terdapat interaksi, interkoneksi dengan level-level yang lebih besar sehingga kedudukan dari level 3 menjadi interdepensi terhadap level-level lainnya12. Gambaran tersebut di atas terlihat jelas bahwa letak SPP ada dalam tatanan masyarakat, dalam kedudukan seperti itu SPP dipengaruhi oleh sub-sub sistem penting dalam masyarakat, yaitu ekonomi, pendidikan, teknologi, dan politik. Berdasarkan pada pandangan La Patra tersebut SPP harus berpijak pada masyarakat, SPP tidak bisa lepas dari masyarakat dan bekerja sendiri didalamnya. Sub-sub sistem dalam SPP haras bekerja dengan suatu tatanan yang sudah jelas tujuan atau targetnya. SPP tidak boleh bekerja sendiri terpisah dari tujuan masyarakat dimana SPP berada didalamnya. Allan Coffey13 secara lebih detail dengan pendekatan yang berbeda dengan La Patra mengemukakan pengertian sistem sebagai: “The sistems approach has to do with causes and effects, which in turn have to do with interaction. All human interactions are effects of some kind, and every interaction whether large or small, has some effect. Even the supposed absence of interaction has effect on thse who notice the absence. It is through this fundamental observation about sistems that the vital role of people emerges”. Menurat Coffey pendekatan sistem dapat dilakukan dengan melihat rangkaian sebab akibat dari suatu proses interaksi. Bahwa setiap macam interaksi manusia adalah akibat dari berbagai hal, dan setiap interaksi apakah ia besar atau kecil 12 13 J.W. La Patra, Healing: The Coming Revolution in Holistic Medicine. 1978: hlm. 86 Allan Coffey, 1984: hlm. 8 51 pastilah akan menimbulkan suatu akibat. Menurat Coffey, terhadap pengamatan mendasar tentang sistem ini menimbulkan adanya peranan penting mengenai orang (people). Lebih lanjut lagi untuk memberikan gambaran pendekatan SPP sebagai suatu proses rangkaian interaksi sebab akibat diberikan contoh oleh Coffey sebagai berikut: “The interaction of an armed robber with the victim is the effect of the robbery, but it is also the cause of another interaction with police (hopefully), and with prosecution, corrections and so on. The interaction of police with prosecution similarly a variety of both causes and effects, as are the interactions of corrections with courts and police”. Karena suatu sistem dipahami sebagai suatu rangkaian sebab interaksi sebab akibat sehingga menurut Coffey suatu sistem itu digambarkan seperti untaian rantai (chain) yang berisi rangkaian sebab-sebab dan akibat-akibat, sebagaimana dikatakan oleh Coffey sendiri bahwa: “A sistem is simply a chain of these causes and effects”. Sejalan dengan pandangannya tersebut diberikan suatu gambaran mengenai sistematik rantai interaksi yang dapat didisain untuk menghasilkan altibat-akibat yang diinginkan, secara konsisten Coffey menganalogikan dengan sistem pemanas ruangan yang dilengkapi dengan alat pemanas (thermostat) yang dapat mengatur seberapa besar panas yang diperlukan untuk ruangan sehingga tercapai tingkat suhu ruangan yang ideal, yang sesuai dengan kebutuhan pemakainya. 52 Kerangka pandangan Coffey tersebut, dalam hal SPP, maka fungsi-fungsi individual dari kepolisian, kejaksaan, pengadilan, dan lembaga pemasyarakatan idealnya dapat berfungsi sama dengan cara kerja sistem pemanas. Meskipun tidak dapat disangkal bahwa sistematik cara kerja SPP yang terjadi dapat disebabkan oleh beberapa kemungkinan, sedang sistem pemanas hanya disebabkan oleh satu macam kemungkinan yaitu tingkat suhu ruangan. Dengan kata lain bahwa SPP harus bisa memberikan respon terhadap bermacam-macam variabel, seperti variabel perubahan sosial, perubahan peraturan perundang-undangan, dan perubahan ekonomi yang secara langsung dapat mempengaruhi polisi, pengadilan, penuntut umum, pembela, dan lembaga pemasyarakatan, yang kesemuanya itu sebenarnya adalah sejumlah “thermostat”. Salah satu tujuan peradilan pidana adalah pengendalian kejahatan dalam rangka perlindungan masyarakat untuk mencapai kesejahteraan, oleh karena itu salah satu tolak ukur keberhasilan peradilan pidana adalah dengan melihat tingkat kemampuan peradilan pidana untuk mampu menyeleksi secara efisien kesalahan tersangka dan memberikan hukuman yang harus diterapkan kepada pelaku secara pantas (adil), sehingga dengan demikian secara kuantitatif tercapai tingkat penegakan hukum yang tinggi. Sisi lain masyarakat menginginkan perlindungan agar tidak menjadi korban kejahatan, atau kalau pun sudah terlanjur menjadi korban kejahatan, maka pelakunya dapat diproses melalui peradilan pidana, namun demikian pada sisi yang lain masyarakat tidak menginginkan terjadinya gangguan terhadap hak-hak 53 mereka sebagai warga negara yang mempunyai hak asasi manusia (HAM) akibat bekerjanya alat-alat penegak hukum, kecuali yang memang benar-benar telah diatur kewenangannya oleh peraturan hukum yang berlaku. Hal tersebut ibarat dua sisi dari mata uang. Oleh karena itu peradilan pidana harus mampu mengakomodasi secara proporsional setidak-tidaknya dua macam kepentingan tersebut yaitu kepentingan umum, yaitu kepentingan warga masyarakat yang menjadi korban kejahatan baik secara langsung maupun tidak langsung yang dalam hal ini diwakili oleh alat negara penegak hukum, dengan kepentingan pelaku kejahatan. Kedua kepentingan yang harus diperhatikan secara proporsional ini harus menjadi salah satu dasar falsafah utama dalam peradilan pidana. Apabila peradilan pidana terlalu mementingkan pemberian kewenangan alat negara penegak hukum tanpa memperhatikan pemberian hak-hak warga negara khususnya kepada tersangka/terdakwa, maka hal itu merupakan potensi terjadinya pelanggaran hak-hak warga negara. Namun sebaliknya jika terlalu mementingkan aspek perlindungan hak-hak warga negara dikhawatirkan akan mempersulit pelaksanaan tugas aparat penegak hukum. Penyelesaian perkara kejahatan melalui proses peradilan pidana, berarti alat-alat negara penegak hukum bekerja dengan menjalankan kewenangan yang dimilikinya. Sebagaimana pernah dikemukakan oleh Lord Acton bahwa “power tends to corrupt”, bahwa kekuasaan cenderung untuk disalahgunakan, maka di 54 sinilah letak pentingnya perhatian terhadap perlunya perlindungan warga negara terhadap kemungkinan pelanggaran kewenangan oleh alat negara penegak hukum. Seseorang yang diduga telah melakukan suatu perbuatan jahat oleh alat negara penegak hukum, maka status hukumnya berubah menjadi tersangka. Sebagai seorang tersangka dia dapat dikenakan berbagai pembatasan terhadap kemerdekaan pribadinya seperti kebebasan bergerak, menguasai/memiliki harta benda dan lain sebagainya. Kondisi seperti ini seorang tersangka berhadapan dengan petugas penegak hukum yang dibekali sejumlah kewenangan tertentu, maka seorang tersangka akan nampak sebagai pihak yang sangat lemah. Sebagai pihak yang lemah tentunya harus ada suatu jaminan yuridis yang memberi perlindungan agar seorang tersangka tidak menjadi korban penyalahgunaan kewenangan. Meskipun seorang tersangka dapat dikenakan berbagai pembatasan HAM yang dimilikinya, tidak berarti dia dapat diperlakukan sewenang-wenang sehingga berkesan seluruh haknya sebagai warga negara telah hilang sama sekali. Pembatasan-pembatasan hak-hak warga negara dalam suatu negara yang berdasar atas hukum seperti di Indonesia, hanya diperbolehkan apabila hal itu dibenarkan oleh hukum itu sendiri melalui suatu proses peradilan pidana yang adil (due process of law) sebagai lawan dari arbitrary process atau proses peradilan yang sewenang-wenang. Due process of law merupakan kerangka dasar pendirian sistem peradilan yang tertib. yang meliputi administrasi, dan kebebasan seseorang, bahkan kita tidak 55 dapat membicarakan masalah keadilan dalam proses peradilan tanpa mengkaitkannya dengan due process of law, yang menurut Tobisa dan Petersen14 berasal dari Magna Charta tahun 1215 di Inggris yang mulai membatasi kekuasaan raja yang absolut sehingga warga negara tidak terlindungi dengan baik. Tidak ada satu definisi yang tepat untuk segala situasi mengenai due process of law karena adanya perbedaan-perbedaan tempat yang mempengaruhi. Definisinya tergantung pada hubungan hukum atau peraturan perundang-tmdangan yang mengatur perilaku warga dan hukum yang membatasi kekuasaan. Due process of law bukan rule of law tetapi merupakan elemen dasar dari keadilan. Menurut definisi dari Daniel Webster yang diambil berdasarkan kasus Dartmouth College v Woodward due process of law diartikan sebagai: a law which hears before it condems; which proceeds upon Due process of law merupakan jaminan konstitusional untuk melindungi individu dari kekuasaan yang sewenang-wenang, karena adanya jaminan bahwa tidak seorang pun boleh dirampas hidup, kebebasan, dan kekayaannya selain berdasarkan putusan pengadilan yang sah. Sebagai contoh dikutipkan Amandemen ke-5 dan ke-14 dalam konstitusi Amerika Serikat sebagai berikut: No perso… be deprived of life, liberty, or property without due process of law (fifth amandment); … nor shall any state deprive any person of life, liberty, or property, without due process of law (14th amandment) 14 Dikutip dari Mardjono Reksodiputro, 1983: hlm. 211 56 Ada tiga hal yang menjadi asumsi atau dasar dari due process of law yaitu: (1) rule of law dalam arti negara berdasar hukum; (2) Equality before the law atau asas persamaan di depan hukum dalam arti tidak ada diskriminasi yang bersifat negatif di muka hukum; dan (3) presumption of innocence dalam arti asas praduga tidak bersalah. Menurut Mardjono Reksodiputro15, due process of law sering ditafsirkan secara keliru karena hanya dikaitkan dengan penerapan aturan-aturan hukum acara pidana dalam suatu proses peradilan terhadap terdakwa. Dengan mengutip kalimat salah satu alinea Pembukaan UUD 1945: “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan adalah hak segala bangsa” Oleh karena itu sebenarnya pengertian dari proses peradilan pidana yang adil harus lebih luas dari pada sekedar menerapkan aturan hukum acara pidana, namun selain itu harus terdapat suatu sikap penghargaan kita terhadap hak-hak warga negara termasuk di dalamnya adalah tersangka/terdakwa. Inti dari pengertian due process of law yang benar adalah perlindungan terhadap kebebasan warga negara. dan hal ini menjadi tonggak utama peradilan pidana dalam negara hukum. Adanya dua macam tuntutan terhadap jaminan perlindungan kepentingan dua pihak dalam proses peradilan pidana, yaitu kepentingan umum yang diwakili oleh petugas penegak hukum yang menginginkan adanya jaminan kelancaran proses peradilan pidana, dengan kepentingan pihak tersangka dan terdakwa yang menginginkan jaminan perlindungan hak asasi mereka, sebenarnya membawa 15 Mardjono Reksodiputro, Hukum Pidana dan Batas-batas Toleransi Penegakan Hukum, Pidato Pengukuhan Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta, 1994 57 kesukaran di dalam praktek, karena pada dasarnya sangat sukar untuk memenuhi tuntutan tersebut secara benar-benar seimbang. Pengamatan terhadap dua macam sistem peradilan yang sangat berpengaruh di dunia, yaitu sistem Anglo Saxon dan Eropa Kontinental, ternyata menunjukkan adanya perbedaan cara pandang dalam memenuhi dua macam kepentingan yang dalam banyak hal sering bertentangan itu. Sistem Anglo Saxon meletakkan kerangka hukum acara pidana yang lebih menonjolkan aspek perlindungan hak-hak asasi manusia dibandingkan dengan penonjolan aspek kepentingan petugas penegak hukum. Tradisi sistem Anglo Saxon yang berasal dari Inggris dan kemudian juga sampai ke Amerika Serikat itu. dipengaruhi oleh munculnya Magna Charta tahun 1215 yang memperkenalkan prinsip due process of law, hukum acara pidananya mencerminkan sendi-sendi hukum berdasarkan Habeas Corpus dan Rule of Law. sedang pendekatan pemeriksaan perkara. lebih bersifat accusatoria. Sistem Eropa Kontinental terlihat lebih menonjolkan kepentingan tugas negara dalam proses peradilan pidana yang diberikan melalui perangkat peraturan yang memberikan kewenangan alat penegak hukum, namun demikian bukan berarti hak asasi khususnya bagi tersangka dan terdakwa tidak diperhatikan karena peraturan hukum yang memberi berbagai kewenangan petugas penegak hukum tersebut diimbangi dengan ketentuan mengenai akibat hukum apabila terjadi pelanggaran dan penyalahgunaan kewenangan. 58 Rumusan peraturan hukum acara pidananya mencerminkan sendi-sendi hukum berdasarkan rule of law dan diperkuat oleh Droit Administratis. Kedua macam sistem peradilan pidana tersebut kalau pada awalnya memang dapat dibedakan secara jelas dengan melihat kepada sejarah dan tradisi sistem hukumnya, namun demikian sekarang ini nampaknya semakin sulit mengingat dalam perkembangannya terjadi beberapa percampuran sistem hukum di banyak negara penganut ke dua macam sistem hukum tersebut. Indonesia misalnya sebagai salah satu contoh. Kalau dilihat dari sejarah sistem hukumnya sebenarnya lebih condong kepada sistem Eropa Continental, namun dalam perkembangannya ternyata ditemukan juga pengaruh sistem Anglo Saxon, hal ini kemungkinan disebabkan oleh arus globalisasi informasi dan semakin banyaknya ahli hukum Indonesia yang melakukan studi hukum ke Amerika Serikat dibandingkan dengan yang ke Belanda atau Perancis. Mengingat perkembangan kedua macam sistem hukum dan sistem peradilan pidana yang berpengaruh di dunia tersebut, sebenamya kita tidak dihadapkan kepada suatu sikap mutlak untuk menjadikan pilihan yang harus diterima, namun nampaknya akan lebih baik apabila dilakukan pengidentifikasian sistem nilai yang melatar belakangi bagaimana dinamika berjalannya sistem peradilan pidana yang dapat dipilih sesuai dengan perkembangan kebutuhan peradilan pidana, sehingga kita terhindar dari perangkap sistem yang semula kita pilih. 59 Penelitian Herbert L. Packer16 mencoba untuk mengambil atostraksi dari kenyataan berjalannya peradilan pidana di Amerika Serikat yang menganut model adversary, dan kemudian menciptakan dua model (kerangka pikiran) yang kemudian dikembangkan menjadi teori. Kedua model yang dimaksudkan tersebut adalah crime control model (CCM) dan due process wtodel (DPM) . Menurut Packer kedua model tersebut saling berkompetisi (berlomba) untuk mendapatkan prioritas dalam pelaksanaan proses pidana. Kedua model yang dikemukakan Packer tersebut sebenamya hanyalah suatu abstraksi dari kenyataan proses kriminal yang diamati. Sebenamya secara faktual model tersebut tidak ada sungguh-sungguh di dunia ini (dalam arti menjadi semacam peraturan hukum tertentu yang mengatur proses peradilan pidana menjadi dua macam model tersebut), karena model ini hanyalah suatu cara Packer untuk menilai pelaksanaan peradilan pidana. Sebenarnya selain kedua model yang dikemukakan Packer tersebut masih ada satu model lagi yang dikemukakan oleh John Griffithst17 sebagai suatu pandangan yang mengkritik CCM dan DPM yang ada dalam sistem adversary. Model ketiga yang dimaksud dinamakan sebagai The Family Model. Selain itu sebenamya Roeslan Saleh18 juga mengemukakan mengenai dua macam model peradilan pidana yang dinamakannya sebagai Mode 1 Yuridis dan Model Kemudi atau stuurmode. 16 17 18 Herbert L. Packer, Two Models of the Criminal Process ,1968: hlm. 72 John Griffithst, the crime control model” dan “the due process model. 1970: hlm. 48 Roeslan Saleh, Stelsel pidana Indonesia Roeslan Sale, Jakarta, Aksara Baru 1983 60 Peradilan pidana diselenggarakan oleh lembaga-lembaga peradilan pidana, yaitu Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan, dan Lembaga Pemasyarakatan. Kedudukan Kepolisian dalam proses peradilan pidana berperan sebagai penjaga pintu gerbang (as a gate keepers) yaitu melalui kekuasaan yang ada, ia merupakan awal mula dari proses pidana. Polisi dalam hal ini Penyidik Polri berwenang menentukan siapa yang patut disidik, ditangkap, dan ditahan. Penuntut umum baru melaksanakan fungsinya setelah ada penyerahan hasil pemeriksaan dari penyidik. Pembuatan surat dakwaan oleh penuntut umum berdasarkan berita acara pemeriksaan penyidikan. Jadi antara tugas Kepolisian dan tugas Kejaksaan, satu sama lain ada kaitannya. Kaitan tersebut dimana hasil penyidikan oleh polisi akan mempengaruhi dakwaan yang dibuat oleh jaksa. Praktik peradilan pidana tidak dapat dihindari tugas Kepolisian dan Kejaksaan tersebut saling berhubungan, maka mutlak perlu adanya kerja sama seharmonis mungkin, haras ada koordinasi yang dilandasi tanggung jawab moral bersama untuk satu tujuan yaitu penegakan hukum. Kekuasaan polisi, seberapa dapat harus menunjang tugas penuntut umum, artinya tidak sekehendak hati menggunakan kekuasaan tersebut. Sebaliknya antara kedua lembaga itu selalu diadakan koordinasi dan konsultasi timbal balik. Masingmasing mengambil inisiatif positif saling bertemu untuk memecahkan persoalanpersoalan yang rumit dalam menangani satu perkara. Kegiatan Prapenuntutan, tidak berarti menempatkan Kejaksaan berada di atas Kepolisian, dan sebaliknya pula wewenang Kepolisian tidak berarti di atas 61 Kejaksaan. Kepolisian dan Kejaksaan adalah sama-sama merupakan rantai-rantai yang terkait dalam satu roda bergigi. Prapenuntutan, pada hakekatnya suatu tuntutan moral, atau suatu jalur komunikasi, agar Kepolisian dan Kejaksaan saling “tepo sliro” saling menghargai, bertenggang rasa akan tugas dan tanggung jawab masing-masing. Mengenai hubungan Kepolisian dengan Pengadilan. Hubungan tersebut yaitu dalam hal penyidik mengajukan permintaan untuk perpanjangan penahanan, meminta izin penggeledahan, penyitaan dan pemeriksan surat. Jika ketua Pengadilan tidak memberi izin atau menolak permintaan penyidik, maka penyidik harus berusaha memahami kebijaksanaan yang ditempuh oleh Pengadilan tersebut. Hubungan antara penuntut umum dengan hakim tampak pada pemeriksan di muka persidangan. Jika hakim berdasarkan periksaannya beranggapan surat dakwaan tersebut tidak atau kurang benar, maka hakim dapat memberikan kesempatan kepada penuntut umum untuk memperbaikinya. Hubungan dengan Lembaga Pemasyarakatan, penuntut umum adalah orang yang ditugaskan melaksanakan putusan Pengadilan yang telah mempunyai kekuatan tetap dengan memasukkan orang yang telah dipidana ke Lembaga Pemasyarakatan (eksekusi). Dalam hal putusan Pengadilan berupa perampasan kemerdekaan, maka peranan hakim sebagai pejabat diharapkan juga bertanggung jawab atas putusan tersebut. Artinya ia harus mengetahui apakah putusan yang 62 telah dijatuhkan olehnya dilaksanakan dengan baik oleh petugas-petugas yang berwenang yaitu, baik penuntut umum maupun Lembaga Permasyarakatan. Adanya pengawasan atas putusan yang dijatuhkan, maka tujuan pemidanaan antara lain usaha pengembalian eks terpidana ke masyarakat dapat dilaksanakan. Dengan demikian hubungan Pengadilan dengan penuntut umum dan Lembaga Pemasyarakatan tampak lebih nyata melalui lembaga pengawasan sebagai hal yang baru dalam KUHAP. Hal ini ini sekaligus diartikan pula tugas hakim dalam sistem peradilan pidana tidaklah berakhir pada saat keputusan Pengadilan dijatuhkan, tapi juga terus berlanjut sampai tujuan pemidanaan atau tujuan sistem peradilan pidana tercapai, atau setidak-tidaknya sampai eks terpidana kembali kepada masyarakat sebagai anggota yang baik. Tugas hakim yang demikian ini, memberi manfaat agar ia dalam menjatuhkan pidana dapat mengetahui perilaku narapidana dalam lembaga dan pengaruhnya terhadap putusan yang telah ia berikan maupun ketika eks terpidana kembali pada masyarakat. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dikatakan sistem peradilan pidana terpadu menuntut suatu konsekuensi perluasan kekuasaan hakim tidak hanya sebagai pemidana saja atau melaksanakan fungsi justisi, tetapi juga sebagai pelaksana dalam mencapai tujuan peradilan pidana, yaitu fungsi pembinaan terhadap pidana atau fungsi kesejahteraan19. 19 Sudarto, Kapita Selekta Hukum Pidana. 1981: hlm. 38 63 Kedudukannya sebagaimana dikemukakan di atas, maka dapat pula dikatakan hakim telah melakukan fungsi politik kriminal, sebagai suatu cara untuk mencapai atau mewujudkan kesejahteraan di dalam kehidupan masyarakat. Fungsi ini dalam praktik peradilan pidana di negara-negara yang maju banyak dilakukan terutama dalam konteks pembangunan terhadap manusia bagi mereka yang telah melakukan pelanggaran terhadap hukum. Dengan kata lain pembangunan tidak hanya ditujukan terhadap manusia yang tidak melakukan pelanggaran terhadap hukum saja, tetapi juga terhadap pelanggar hukum. Pembangunan tersebut dilakukan melalui kebijakan pidana yang dimulai dari sejak awal proses peradilan pidana dan dilanjutkan sampai saat terpidana menjalani masa pidananya di Lembaga Pemasyarakatan dengan tujuan menjadi warga negara yang baik. Sistem peradilan pidana yang terdiri dari subsistem-subsistem Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan, dan Lembaga Pemasyarakatan merupakan satu kesaruan yang melaksanakan fungsi dan tugas penegakan hukum pidana secara terpadu (integrated criminal justice sistem). Untuk memahami fungsi dan tugas masingmasing subsistem dan hubungannya subsistem lainnya dalam peradilan pidana, di bawah ini diuraikan fungsi dan tugas Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan dan Lembaga Pemasyarakatan. 64 D. Fungsi dan Tugas Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan dan Lembaga Pemasyarakatan 1. Kepolisian Undang-undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia (selanjutnya disebut UU Kepolisian) merupakan pembaruan dari Undang-undang No. 28 Tahun 1997 tentang Kepolisian R.I. Dalam UU Kepolisian mencantumkan tugas kepolisian yang meliputi tugas penegakan hukum serta pemeliharaan ketertiban dan keamanan umum. Proses penegakan hukum, Kepolisian lembaga yang pertama kali harus dilalui dalam proses peradilan pidana. Oleh karenanya mempunyai wewenang untuk melakukan serangkaian kegiatan-kegiatan mulai dari penyelidikan, penyidikan, penahanan, penyitaan sampai ditemukan suatu kejahatan yang telah dilakukan sebagaimana diatur dalam Undang – Undang Nomor 81 Tahun 1981 tentang KUHAP. Dalam melaksanakan tugas ini terkandung pengertian mencegah dan menindak atau memberantas kejahatan menurut ketentuan yang berlaku. Berdasarkan tugas polisi yang luas tersebut, maka menuntut suatu tingkat kepribadian yang tinggi dalam arti anggota polisi memiliki pengetahuan, tanggap serta terampil dalam menangani kasus-kasus menyangkut penegakan bukun serta ketertiban dan keamanan masyarakat. Anggota polisi, dituntut pula mempunyai rasa tanggung jawab hukum memadai, mengingat tugasnya harus dapat memberikan penilaian terhadap perbuatan yang dapat dikualifikasikan sebagai tindak pidana. Lagi pula ia harus segera mengambil sikap ucapan harus bertindak apabila terjadi peristiwa pelanggaran hukum. Polisi menganggap sebagai wasit 65 terhadap nilai-nilai sosial yang dilanggar, karena ia yang berhadapan langsung dengan situasi sehari-hari, sehingga dalam praktek kadang-kadang sewajarnya jika terjadi tindak pidana, tindakan polisi dipengaruhi oleh hal-hal yang bersifat praktis dan pragmatis, seperti sering tcrlihat penanganan oleh polisi terhadap pelanggaran lalu lintas. Sebagai salah satu lembaga penegak hukum, Kepolisian diletakkan di garis depan dalam menghadapi situasi perubahan sosial yang cepat. Perubahan cepat sebagai akibat timbulnya modernisasi di bidang teknologi, khususnya dalam pencegahan kejahatan modern dan kejahatan luar bisaa seperti Korupsi, terorisme, penyanderaan, pembajakan udara, di samping menghadapi bentuk-bentuk kejahatan umumnya. seperti pencurian, perampokan, pemerkosaan, penipuan. Tugas multi kompleks ini disebabkan polisi tidak dapat menghindarkan diri, ia harus berkontak langsung dengan masyarakat, dan juga selalu berkonfrontasi dengan masyarakat tersebut. Tugas melakukan bimbingan masyarakat adalah tugas untuk menciptakan ketaatan warga kepada hukum serta peraturan-peraturan negara secara persuasip dan edukatif yang dalam pelaksanaannya menghendaki kerja sama dengan berbagai instansi baik pemerintah maupun organisasi kemasyarakatan lainnya. Tugas yang bersifat preventif atau pencegahan meliputi tugas polisi sebagai pemelihara ketertiban dan menjamin keamanan umum; memelihara keselamatan jiwa raga, harta benda, masyarakat, dan lingkungan hidup dari gangguan ketertiban dan/atau bencana termasuk memberikan perlindungan dan pertolongan 66 dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia; menyelenggarakan segala kegiatan dalam rangka membina keamanan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas jalan; melindungi dan melayani kepentingan warga masyarakat untuk sementara, sebelum ditangani oleh instansi dan/atau pihak yang berwenang; membina ketaatan diri warga masyarakat terhadap hukum dan peraturan perundangundangan; turut serta dalam pembinaan hukum nasional dan pembinaan kesadaran hukum masyarakat; melakukan koordinasi, pengawasan, dan pembinaan teknis terhadap alat-alat Kepolisian Khusus, penyidik pegawai negeri sipil, dan bentukbentuk pengamanan swakarsa yang memiliki kewenangan Kepolisian terbatas; melakukan pengawasan terhadap orang asing yang berada di wilayah Indonesia dengan koordinasi instansi terkait sesuai dengan peraturan perundang-undangan; dan mewakili pemerintah Republik Indonesia dalam organisasi kepolisian internasional. Apabila dikaji lebih lanjut tugas memelihara keamanan adalah tugas yang luas dibandingkan dengan tugas penyidik. Tugas memelihara keamanan dan pertahanan bukan sekedar tugas ketertiban yang berarti penegakan hukum, melainkan tugas-tugas keamanan dapat saja berupa tugas yang menyampingkan penegakan hukum demi tercapainya keamanan. Contoh, untuk melaksanakan keamanan dapat saja prosedur hukum dikesampingkan, yaitu dalam hal dilakukan penangkapan, penggeledahan dan penyitaan tanpa melakukan prosedur hukum seperti yang disyaratkan KUHAP. Dalam melaksanakan tugas di atas tentunya polisi diberi wewenang untuk melakukan sesuatu yang erat hubungan dengan pelaksanaan tugas. 67 Polisi sebagai lembaga pertama yang berhadapan langsung dengan masyarakat, diharapkan dapat menggunakan wewenang dalam penyidikan tidak hanya sekedar supaya tersangka didakwa, tetapi dalam kaitannya dengan tujuan peradilan pidana mampu menilai dan menggunakan wewenang tersebut sesuai dengan tujuan peradilan pidana. Penyidikan suatu perkara yang telah cukup bukti untuk diteruskan sebagai suatu perkara, polisi dapat saja melanjutkan perkara itu untuk didakwa. Kemudian ternyata polisi menghentikan penyidikan, karena polisi berpendapat bahwa manfaat “penghentian” akan lebih baik dibandingkan dengan perkara diteruskan. Misalnya polisi menangani perkara pelanggaran lalu lintas, dimana antara pelaku dengan korban telah terjadi perdamaian. Kemudian polisi menghentikan penyidikan, setelah melihat bahwa proses penyidikan yang telah ia lakukan ternyata memberi pengaruh positif kepada pelaku, antara lain ia menginsyafi perbuatannya yang salah dan untuk itu berjanji tidak mengulangi lagi perbuatannya, dan akan berbuat baik sebagaimana layaknya. Hal ini dapat dibenarkan karena tujuan peradilan pidana setidak-tidaknya telah tercapai pada tahap yang dilakukan oleh polisi tersebut. Dengan kata lain “tujuan” peradilan pidana memberikan pembenaran (justification) atas perbuatan-perbuatan polisi dalam penghentian penyidikan tersebut. Menjadi permasalahan sekarang, bagaimana seandainya dengan penghentian penyidikan tersebut ternyata penuntut umum atau pihak ketiga melakukan praperadilan. Dalam hal ini hakim seyogyanya pertama-tama tidak hanya 68 mengartikan praperadiian sebagai suatu cara untuk menguji sah atau tidaknya penghentian penyidikan secara kebenaran formil, artinya menekankan pada apa yang diatur oleh undang-undang saja. Tetapi melihat sah atau tidak sahnya itu secara lebih luas lagi, yaitu jika tujuan peradilan pidana tercapai dengan dilakukan penghentian penyidikan tersebut, yaitu si pelaku dapat menjadi warga masyarakat yang baik dan insyaf dan akan mematuhi hukum, maka penghentian penyidikan oleh polisi tersebut hams dianggap sah. Suatu hal yang pertu dicatat, hal tersebut di atas hanya dapat dimungkinkan pada sistem peradilan pidana yang terpadu yang menghendaki keharmonisan, koordinasi kerja sama yang baik antara lembaga peradilan. Pihak ketiga yang mengajukan praperadilan, baik yang berkepentingan sendiri atau pembelanya, hendaknya lebih luas pandangannya terhadap makna peradilan (dalam hal ini penyidikan), bukan hanya sebagai upaya untuk menghukum, tapi juga untuk mengembalikan si pelanggar hukum kepada jalan yang benar. Kembali ke jalan yang benar itu tidak “harus” melalui peradilan pidana yang dimulai sejak penyidikan, penuntutan, pemeriksaan di persidangan sampai dengan pelaksanaan hukum, tetapi dapat saja dilaksanakan oleh salah satu sub sistem peradilan pidana. Polisi dalam bidang penyidikan menurut KUHAP adalah sebagai penyidik Karna, dengan demikian polisi memiliki peran sebagai koordinator penyidik. Adapun wewenang polisi sebagai penyelidik dari penyidik menurut KUHAP dapat dilihat dalam Pasal 5, 6, dan 7 sebagai berikut: 69 Sebagai penyelidik: Pasal 4: Penyelidik adalah setiap pejabat Polisi Negara Republik Indonesia. Pasal 5: (1) Penyelidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4: a. Karena kewajibannya mempunyai wewenang : 1. Menerima laporan atau pengaduan dari seorang tentang adanya tindak pidana; 2. Mencari keterangan dan alat bukti; 3. Menyuruh berheriti seorang yang dicurigai dari menanyakan serta memeriksa tanda pengenal diri; 4. Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab. b. Atas perintah penyidik dapat melakukan tindakan berupa: 1. Penangkapan, Larangan meninggalkan tempat, penggeledahan dan penyitaan; 2. Pemeriksaan dan penyitaan; 3. Mengambil sidik jari dam memotret seorang; 4. Membawa dan menghadapkan seorang pada penyidik. (2) Penyelidik membuat dan menyampaikan laporan hasil pelaksanaan tindakan sebagaimana tersebut pada ayat (1) huruf a dan huruf b kepada penyidik. 70 Sebagai penyidik : Pasal 6: (1) Penyidik adalah: a. Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia; b. Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang. (2) Syarat kepangkatan pejabat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) akan diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. Pasal 7 : (1) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf a karena kewajibannya mempunyai wewenang: a. Menerima laporan atau pengaduan dari seorang tentang adanya tindak pidana; b. Melakukan tindakan pertama pada saat di tempat kejadian; c. Menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka; d. Melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan dan penyitaan. e. Melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat; f. Mengambil sidik jari dan memotret seseorang; g. Memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi; h. Mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan Pemeriksaan perkara; i. Mengadakan penghentian penyidikan; j. Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggungjawab. Penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 Ayat (1) huruf b mempunyai wewenang sesuai dengan Undang-undang yang menjadi dasar hukumnya masingmasing dan dalam pelaksanaan tugasnya berada di bawah koordinasi dan pengawasan penyidik tersebut dalam Pasal 6 Ayat (1) huruf a. 71 Peradilan pidana Kepolisian mempunyai tugas yang bersifat penindakan atau represif, seperti melakukan tindakan penyelidikan, penyidikan, penangkapan, penahan dan penyitaan. Tindakan ini dalam sistem peradilan pidana bermaksud menyelesaikan dengan efektif tiap-tiap perkara yang masuk di Kepolisian. Dengan adanya angka penyelesaian perkara yang tinggi terhadap kasus-kasus yang masuk di Kepolisian sebagai the gate keepers, maka hal ini menunjukan bahwa Kepolisian sebagai subsistem dalam peradilan pidana telah bertindak secara efisien. Bertindak “efisien” yang dilaksanakan oleh Kepolisian tidak mempunyai arti apabila tidak diikuti oleh mekanisme sub sistem lainnya. Misalnya Kejaksaan atau penuntut umum dalam proses lebih lanjut terhadap perkara yang dilimpahkan oleh polisi haruslah dengan cepat menyelesaikan hal tersebut. Apabila hal di atas dihubungkan dengan lembaga prapenuntutan sebagai hak penuntut umum untuk mengembalikan berkas perkara kepada polisi dengan alasan belum cukup bukti, maka jangan sampai proses melengkapi menjadi berlarutlarut. Perlu kerja sama kedua lembaga berupa koordinasi; bagi penuntut umum prapenuntutan adalah suatu jalur resmi dalam memberi petunjuk-petunjuk yang harus dilakukan oleh pihak Kepolisian dalam rangka penyelesaian perkara. Sebaliknya oleh polisi, prapenuntutan dianggap pula sebagai jalur resmi untuk berkonsultasi kepada penuntut umum. 72 2. Kejaksaan Salah satu fungsi hukum adalah mewujudkan keamanan dan ketertiban masyarakat yang dilaksanakan oleh pemerintah melalui aparat-aparatnya, yaitu yang dikenal sebagai aparatur penegak hukum. Oleh karena itu, tugas dan wewenang masing-masing aparatur penegak hukum tersebut tidak hanya berkaitan dengan menerapkan hukum pidana (material dan formal) saja, melainkan pula melaksanakan tugas perlindungan masyarakat dalam rangka mencapai tujuan pembangunan yaitu terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur, sejahtera material dan spiritual berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Jaksa sebagai aparatur penegak hukum yang mempunyai salah satu tugas di bidang penuntutan merupakan pelimpahan wewenang dari pemerintah guna melaksanakan kekuasaan negara di bidang penuntutan. Kewenangan jaksa dalam menuntut didasarkan pada asas legalitas, yaitu adanya peraturan perundangundangan yang memberi kewenangan kepada jaksa sebagai satu-satunya lembaga penuntut umum yang mewakili pemerintah dalam penegakan hukum pidana. Dengan demikian Kejaksaan adalah lembaga pemerintahan yang melaksanakan kekuasaan negara di bidang penuntutan, sehigga tidak mungkin ada kewenangan penuntutan yang dilakukan selain oleh Kejaksaan, karena Kejaksaan adalah satusatunya alat pemerintah yang mengemban tugas tersebut (dominus litis). Adapun aturan yang mengatur tentang Kejaksaan Republik Indonesia tercantum dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia (UU Kejaksaan). undang-undang Kejaksaan adalah undang-undang yang baru dan 73 mengaritikan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1991 tentang Kejaksaan Republik Indonesia. Ketentuan-ketentuan tersebut di atas, maka tugas yang diemban oleh Kejaksaan itu makin mantap yang disesuaikan dengan negara yang sedang melaksanakan pembangunan di segala bidang, dimana Kejaksaan pun haras tampil dalam peranannya sebagai aparatur penegak hukum, keamanan dan ketertiban masyarakat, mengawasi peredaran barang-barang cetakan dan aliran-aliran kepercayaan yang kesemuanya itu merupakan pengamanan dan usaha-usaha mempertahankan Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa Indonesia terhadap kegiatan-kegiatan yang dapat menggoyahkan sendi-sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sehingga dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya tersebut, Kejaksaan harus lebih mampu dan berwibawa dalam mewujudkan kepastian hukum, ketertiban, dan keadilan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Lebih jelas lagi dalam UU Kejaksaan tugas dan wewenang jaksa dirumuskan sebagai berikut: Pasal 2: (1) Kejaksaan Republik Indonesia yang selanjutnya dalam undang-undang ini disebut kejaksaan, adalah lembaga pemerintahan yang melaksanakan kekuasaan negara di bidang penuntutan serta kewenangan lain berdasarkan undang-undang. (2) Kekuasaan negara sebagaimana pada ayat (1) dilaksanakan secara merdeka. (3) Kejaksaan sebagaimana pada ayat (1) adalah satu dan tidak terpisahkan. 74 Pasal 30: (1) Di bidang pidana, Kejaksaan mempunyai tugas dan wewenang: a. Melakukan penuntutan; b. Melaksanakan penetapan hakim dan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap; c. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan putusan pidana bersyarat, putusan pidana pengawasan dan keputusan lepas bersyarat; d. Melakukan penyidikan terhadap tindak pidana tertentu berdasarkan undang-undang; e. melengkapi berkas perkara tertentu dan untuk itu dapat melakukan pemeriksaan tambahan sebelum dilimpahkan ke pengadilan yang dalam pelaksanaannya dikoordinasikan dengan penyidik. (2) Di bidang perdata dan tata usaha negara, kejaksaan dengan kuasa khusus dapat bertindak di dalam maupun di luar pengadilan untuk dan atas nama negara atau pemerintah. (3) Dalam bidang ketertiban dan ketenteraman umum, kejaksaan turut menyelenggarakan kegiatan: a. peningkatan kesadaran hukum masyarakat; b. pengamanan kebijakan penegakan hukum; c. pengawasan peredaran barang cetakan; d. pengawasan aliran kepercayaan yang dapat membahayakan masyarakat dan negara; e. pencegahan penyalahgunaan dan/atau penodaan agama; f. penelitian dan pengembangan hukum serta statistik kriminal. UU Kejaksaan mengadakan perbedaan pengertian jaksa dan penuntut umum sebagai berikut: Pasal 1 butir 1: Jaksa adalah pejabat fungsional yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk bertindak sebagai penuntut umum serta melaksanakan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap serta wewenang lain berdasarkan undang-undang. 75 Pasal 1 butir 2 Penuntut Umum adalah jaksa yang diberi wewenang oleh undang-undang ini untuk melakukan penuntutan dan melaksanakan penetapan hakim. Rumusan di atas jelas terdapat perbedaan pengertian jaksa dan penuntut umum, yang dapat dilihat dari kewenangannya, yang mana kewenangan jaksa adalah: (1) sebagai penuntut umum; dan (2) sebagai eksekutor, sedangkan penuntut umum wewenangnya adalah: (1) melakukan penuntutan; dan (2) melaksanakan penetapan hakim. Seorang jaksa yang sedang menangani perkara dan dalam tahap penuntutan disebut sebagai penuntut umum, sedangkan yang tidak sedang bertugas dalam penuntutan disebut sebagai jaksa saja. Dengan demikian seorang jaksa belum tentu sebagai seorang penuntut umum karena ia tidak melakukan tugas sebagai seorang penuntut umum di muka persidangan. Jaksa setiap saat dapat menggantikan kedudukan sebagai seorang penuntut umum dan apabila terjadi hal demikian persidangan pengadilan berjalan terus tidak terpengaruhi dengan adanya penggantian seorang penuntut umum oleh jaksa lain. Hal yang demikian berbeda dengan seorang hakim, dimana apabila dalam persidangan tiba-tiba hakim bersangkutan berhalangan, tidak dapat digantikan dengan hakim yang lain. Apabila terpaksa diadakan penggantian hakim karena hakim bersangkutan berhalangan tetap, maka persidangan tersebut akan dimulai kembali sejak dari permulaan. Ketentuan demikian karena jabatan hakim adalah jabatan tetap yang tidak bisa diperintah oleh atasan, sehingga bebas dalam 76 memutus perkara yang ditanganinya, sedangkan seorang jaksa wajib memperhatikan perintah atasannya mengenai setiap pekerjaan atau tugas yang diembannya. Hal itu secara tegas tercantum dalam Pasal 2 Ayat (3) UU Kejaksaan: “Kejaksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah satu dan tidak terpisahkan.” Perumusan tentang tugas dan wewenang Kejaksaan dalam UU Kejaksaan ini sinkron dengan ketentuan yang terdapat dalam Undang-undang No. 8 Tahun 1981 tentang KUHAP. Dalam Pasal 14 KUHAP disebutkan bahwa penuntut umum mempunyai wewenang: a. Menerima dan memeriksa perkara, penyidikan perkara dari penyidik atau penyidik pembantu; b. Mengadakan pra penuntutan apabila ada kekurangan pada penyidikan dengan memperhatikan ketentuan Pasal 110 Ayat (3) dan Ayat (4) dengan memberi petunjuk dalam rangka penyempurnaan penyidikan dari penyidik; c. Memberikan perpanjangan penahanan, melakukan penahanan atau menahan lanjutan dan atau mengubah status tahanan setelah perkaranya dilimpahkan oleh penyidik; a. Membuat surat dakwaan; b. Melimpahkan perkara ke Pengadilan; c. Menyampaikan pemberitahuan kepada terdakwa tentang ketentuan hari dan waktu perkara disidangkan yang disertai surat panggilan baik kepada terdakwa maupun kepada saksi untuk datang pada sidang yang telah ditentukan; d. Melakukan penuntutan; e. Menutup perkara demi kepentingan umum; f. Mengadakan tindakan lain dalam lingkup tugas dan tanggung jawab sebagai penuntut umum menurut ketentuan undang-undang ini; g. Melaksanakan penetapan hakim. 77 Kemudian pada Pasal 270 KUHAP disebutkan pula bahwa pelaksanaan keputusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dilakukan oleh jaksa, yang untuk itu panitera mengirimkan salinan surat putusan kepadanya. 3. Pengadilan Pengadilan adalah lembaga yang menjalankan salah satu kekuasaan kehakiman yang merdeka, menyelenggarakan peradilan yang dilaksanakan oleh hakim guna menerima, memeriksa dan mengadili serta menyelesaikan setiap perkara yang diajukan kepadanya. Inti tugas tersebut adalah memberi kekuasaan pada hakim di pengadilan untuk mengadili dan memberi keputusan setiap perkara baik perdata maupun pidana. Tugas ini dilaksanakan oleh hakim, termasuk hakim di Pengadilan Negeri, hakim tinggi di Pengadilan Tinggi dan hakim agung di Mahkamah Agung. Dalam menjalankan tugasnya hakim harus merdeka, harus bebas, tidak boleh ada pengaruh kekuasaan pemerintah, tidak boleh ada campur tangan oleh pihak manapun, hakim harus mandiri. Tujuan penegakan hukum dan keadilan menuntut kepada hakim agar supaya wajib mengadili dan memeriksa setiap perkara yang diajukan kepadanya; tidak boleh menolak memeriksa perkara. Hakim adalah tempat pencari keadilan meminta keadilan. Hakim dianggap mulut undang-undang (hukum) yang dapat memberikan tafsiran atas peraturan hukum yang berlaku untuk itu hakim wajib pula mengikuti dan memahami nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. Putusan- 78 putusan hakim, yang telah mempunyai kekuatan pasti, harus dilaksanakan dengan baik, bahkan ia wajib mengawasinya. Peranan yang dimainkan oleh hakim sebagai subsistem dalam peradilan pidana dalam usahanya untuk menanggulangi kejahatan dan penjahat adalah pemberian hukuman pidana bagi si pelanggar hukum. Tingginya angka penghukuman oleh hakim pada pengadilan terhadap perkara yang masuk, bukan hanya sebagai petunjuk adanya kemampuan hakim dalam melaksanakan aturan yang berlaku tetapi juga menunjukan adanya kerja sama dan koordinasi antar lembaga-lembaga sistem peradilan pidana secara baik. Dampak dari adanya kegiatan hakim yang cepat dan tinggi dalam penyelesaian perkara pidana (crime clearance) bukan tidak mungkin mampu mencegah jumlah kejahatan karena hal ini lebih efektif dalam penanggulangan kejahatan penyelesaian perkara yang cepat berarti juga kemungkinan risiko penangkapan yang besar dan cepat terhadap calon penjahat dibandingkan dengan ancaman hukuman yang berat. Hal ini menyebabkan pengaruh prevensi atas kejahatan juga sangat ditentukan oleh efisiensi kerja hakim sebagai sub sistem peradilan pidana. Perlu dikemukakan dalam hal ini mengenai peran hakim selain sebagai pemberi pidana (straftoemeter) yaitu peran hakim dalam memberi putusan yang “sesuai dengan hukum dan rasa keadilan” yang hidup dalam masyarakat, juga melakukan penemuan hukum. Dalam penjelasan Undang-undang No. 4 Tahun 2004 tentang Kehakiman hal ini dinyatakan dengan tegas, bahwa hakim merupakan perumus dan penggali dari nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat. 79 Makna dari ketentuan ini memberi peran yang luas pada hakim, bahwa untuk mendapat keadilan bagi si pencari keadilan andaikata hakim tidak menemukan hukum tertulis, ia wajib menggali hukum tidak tertulis, atau hukum yang hidup dalam masyarakat. Berdasarkan apa yang telah dikemukakan di atas berarti hakim harus menyelesaikan setiap perkara yang diajukan padanya, dan kemungkinan dalam menyelesaikan perkara “menemukan hukum” (rechtsvinding) lebih dahulu baru kemudian menetapkan keputusan (vonis). Dalam hal ini berarti dalam sistem peradilan pidana di samping melakukan peran yudikatif (fungsi yudisiil) hakim juga “dapat” melakukan peran legislatif (the judge law). Hakim sebagai pejabat yang diberikan wewenang untuk memeriksa serta memutuskan suatu perkara mempunyai kedudukan yang istimewa, karena hakim selain sebagai pegawai negeri, diangkat dan diberhentikan oleh Presiden. Hakim sebagai pegawai negeri digaji oleh pemerintah, akan tetapi ia tidak menjalankan perintah dari pemerintah, bahkan hakim dapat menghukum pemerintah apabila pemerintah melakukan perbuatan yang melanggar hukum. Oleh karena itu untuk mewujudkan negara hukum yang mempunyai sistem peradilan yang baik, harus dipenuhi syarat tidak ada campur tangan atau pengaruh oleh pihak manapun dan dalam bentuk apapun dalam sistem peradilan. Pedoman-pedoman bagi hakim yang tertuang dalam pasal-pasal tersebut dimaksud agar hakim dalam melaksanakan tugas selalu menggunakan pedoman tersebut sebagai alat kontrol terhadap dirinya. Kemudian yang lebih penting lagi 80 adalah hakim memeriksa perkara pidana tidak memihak, sebingga putusannya mencerminkan rasa keadilan. 4. Lembaga Pemasyarakatan Lembaga pemasyarakatan adalah wadah yang berfungsi sebagai tempat penggodokan para terpidana, guna menjalani apa yang telah diputuskan oleh pengadilan baginya. Lembaga pemasyarakatan adalah wadah yang berfungsi sebagai akhir dari proses penyelesaian peradilan pidana. Berhasil atau tidaknya tujuan peradilan pidana terlihat dari hasil yang telah ditempuh dan dikeluarkan oleh lembaga pemasyarakatan dalam pidananya. Masuknya terpidana ke dalam lembaga pemasyarakatan merupakan titik awal usaha pembinaan terpidana baik fisik maupun mental, dengan cara memberikan kepada mereka pendidikan sekolah, moral, agama serta keterampilan khusus agar terpidana nantinya mempunyai bekal dalam menghadapi lingkungan hidup baru di sekitarnya dalam masyarakat. Dalam kenyataan sekarang karena terbatasnya sarana untuk tempat penahanan bagai tersangka/terdakwa, yang seharusnya ditahan di rumah tahanan negara (Rutan), maka dalam praktik lembaga Pemasyarakatan berfungsi juga sebagai rumah tahanan negara. Tugas-tugas sosial yang dimiliki oleh lembaga pemasyarakatan memberikan wewenang padanya untuk menilai sikap perilaku terpidana dan menentukan langkah apa yang akan dijalankan dalam proses pembinaan tersebut. Hasil penilaian ini mendorong untuk diberikan upaya-upaya yang meringankan terpidana selama menjalani pemidanaan dalam lembaga pemasyarakatan. upaya- 81 upaya tersebut berupa pemberian remisi atau pelepasan bersyarat, yang semua itu mengarah agar terpidana tidak berbuat jahat lagi nantinya. Fungsi sosial dari lembaga pemasyarakatan diwujudkan dengan memberikan pendidikan dan ketrampilan bagi terpidana, serta pembinaan moral dan tingkah laku yang baik serta bermanfaat. Apa yang disebutkan sebagai tugas sosial sebenamya adalah usaha lembaga pemasyarakatan dalam upayanya “meresosialisasikan” para terpidana. Resosialisasi ini adalah dalam mencapai tujuan akhir dari peradilan pidana izin supaya eks terpidana kembali ke dalam masyarakat sebagai warga yang berguna. Usaha resosialisasi yang dimulai dengan menciptakan “kultur resosialisasi” tidak akan berhasil apabila masyarakat sendiri sebagai “tempatnya” tidak menciptakan kultur yang sama terhadap eks terpidana. Perlu dipikirkan bahwa sebagai suatu “sistem”, peradilan pidana tidak hanya terdiri dari sub-sub sistem seperti kepolisian, kejaksaan, pengadilan dan lembaga pemasyarakatan saja, tetapi juga subsistem masyarakat adalah juga ikut serta di dalamnya. Sudah selayaknya pengertian keterpaduan dari sistem peradilan pidana adalah dicerminkan dengan keterpaduan dari sub-subsistem peradilan pidana di atas. 82 E. Efektivitas Penyidik Polri dalam Penanganan Tindak Pidana Korupsi Lambatnya penyelesaian kasus korupsi yang ditangani oleh Polri membuat Masyarakat kurang mempercayai Polri dalam penanganan Tindak Pidana Korupsi termasuk Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) juga mengkritisi Polri terkait lambatnya penanganan kasus Korupsi yang ditangani. Sebagai salah satu bentuk kepedulian Kompolnas terhadap Polri agar semakin kuat dan baik dalam menangani kasus korupsi. Bahkan masyarakat juga, tidak pernah mengetahui, kasus korupsi apa saja yang sedang ditangani oleh Polri dan kasus apa saja yang sudah selesai ditangani. Polri dipandang terbisaa diintervensi oleh kekuatan politik serta memiliki komitmen dan profesionalisme yang lemah dalam pemberantasan korupsi. Kepolisian Republik Indonesia (Polri) masih tidak bisa independen dalam penanganan kasus korupsi di lembaganya, karena instansi Polri masih berada di lingkungan pemerintahan dan belum independen seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Alhasil, ada rasa segan untuk mengungkap kasus korupsi yang melibatkan pejabat pemerintahan, mengalami kesulitan. Kalau KPK itu lebih independen jika menindak pejabat di pemerintahan. Selain itu instruksi Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tentang penanganan kasus tindak pidana korupsi (Tipikor)."Tentang implementasi Inpres 9 dan 17 Tahun 2011 dan Inpres 13/2013 tentang Efektivitas penanggulangan korupsi, Untuk diketahui, Kompolnas telah menilai dari tiga instansi penegak hukum di Indonesia, seperti Kejaksaan Agung (Kejagung), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Polri. 83 Hanya Polri yang dinilai lambat dalam penanganan kasus korupsi. Oleh sebab itu dibentuklah Lembaga KPK berdasarkan UU Nomo 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Korupsi yang dianggap akan lebih evektif dalam penanganan Tindak Pidana Korupsi. Berpijak dari hal tersebut di atas ada indikator yang berpengaruh besar terhadap efektivitas peranan penyidik Polri dalam penanganan kasus tindak pidana korupsi, yang paling mendasar dan harus sangat diperhatikan yaitu dari segi perundangundangan itu sendiri yang merupakan landasan hukum paling mendasar bagi Polri dan menyangkut kewenanganya dalam penyidikan tindak pidana korupsi. Berikut digambarkan bagan indikator efektivitas Polri dari segi perundang-undangan : UU No. 2 Tahun 2002 UU No. 31 Tahun 1999/UU No. 20 Tahun 2001 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Mengatur tugas kepolisian yang meliputi : penegakan hukum dan pemeliharaan Kamdagri Belum ada satu pasalpun yang mengatur kewenangan kepada Polri untuk melakukan penyadapan dan penyitaan asset pelaku tindak pidana korupsi UU No. 8 Tahun 1981 Tentang KUHAP Pasal 7 Ayat 1 tentang kewenangan penyidik Polri pada aplikasinya dalam penanganan tindak pidana korupsi masih belum efektif. 84 Indikator tersebut menggambarkan bahwa masih lemahnya kewenangan Polri dalam penyidikan tindak pidana korupsi dibandingkan dengan lembaga KPK (Komisi Peberantasan Korupsi), jika dilihat sebenarnya Polri berperan sangat besar dalam penegakan hukum pemberantasan kasus tindak pidana korupsi. Namun lemahnya undang-undang yang mengatur tentang kewenangan Polri dalam penyidikan tindak pidana korupsi menjadi salah satu indikator penyebab Polri belum efektif dalam menangani kasus tindak pidana korupsi. 85 III. METODE PENELITIAN A. Pendekatan Permasalahan 1. Metode pendekatan Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif empiris, focus penelitian yuridis normative empiris yaitu pada penerapan atau implementasi ketentuan hukum normative (in abstracto) pada peristiwa hukum tertentu (in concerto) dan hasilnya. Jadi yang diteliti adalah proses implementasi atau penerapan untuk mencapai tujuan dan tujuan sebagai hasil akhir. Ketentuan hukum normative yang menjadi tolok ukur terapan/ implementasi dalam penelitian ini sudah dirumuskan lebih dahulu dalam kodifikasi, undang-undang yakni Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Republik Indonesia, Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tentang KUHAP. Jenis penelitian yuridis normatife ini digunakan untuk meneliti azas-azas hukum karena permasalahan yang diteliti berkisar pada peraturan perundang-undangan yaitu hubungan peraturan satu dengan peraturan lainnya serta kaitannya dengan penerapan dalam praktek . 2. Spesifikasi Penelitian Pendekatan dalam penelitian ini adalah deskriptif analitis dengan menggambarkan penyidikan Polri terhadap tindak pidana korupsi, bertitik tolak dari peraturan perundang-undangan berlaku saat ini maupun dalam instrument. B. Sumber dan Jenis Data Sumber data berasal dari data lapangan dan data kepustakaan, sedangkan jenis data berupa data primer dan data sekunder : 1. Data Primer, yaitu data yang diperoleh secara langsung dari hasil penelitian di lapangan, baik melalui pengamatan ataupun wawancara dengan para responden, dalam hal ini adalah pihak–pihak yang berhubungan langsung dengan masalah penulisan penelitian ini. 2. Data Sekunder, yaitu data yang diperoleh dengan menelusuri literatur– literatur maupun peraturan–peraturan dan norma–norma yang berhubungan dengan masalah yang akan dibahas dalam penulisan penelitian ini. Data sekunder tersebut meliputi : a. Bahan hukum primer yaitu : Undang–Undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Undang–Undang Nomor 02 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia dan Undang–Undang No. 08 Tahun 1981 tentang KUHAP. 87 b. Bahan hukum sekunder yaitu Peraturan Pemerintah, Peraturan dan Surat Keputusan Menteri, serta peraturan–peraturan lainnya yang berkaitan dengan Kepolisian dan Korupsi. c. Bahan hukum terseier yaitu karya–karya ilmiah, bahan seminar, dan hasil–hasil peneltian para sarjana berkaitan dengan pokok permasalahan yang dibahas. C. Penentuan Populasi Sampel Populasi penelitian adalah Penyidik di Polres Lampung Barat, Praktisi, dan masyarakat. Untuk menentukan sampel dari populasi diatas digunakan metode Purposive sampling yang berarti bahwa dalam menentukan sampel disesuaikan dengan tujuan yang hendak dicapai dan kedudukan masing–masing sampel yang dianggap telah mewakili populai terhadap masalah yang hendak diteliti/dibahas. Sesuai dengan metode penentuan sampel dari populasi yang akan diteliti sebagaimana tersebut diatas maka sampel dalam penelitian ini adalah : 1. Penyidik Tipikor di Polres Lampung Barat 3 orang 2. Pengacara / Penasehat Hukum 1 orang 3. Lembaga Swadaya masyarakat (LSM) 1 orang Jumlah 5 orang 88 D. Prosedur Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan langkah–langkah sebagai berikut : a. Untuk memperoleh data sekunder, dilakukan dengan serangakain kegiatan penelusuran kepustakaan dengan cara membaca, mengutip buku–buku, menelaah peraturan perundang–undangan, dokumen dan informasi lainnya yang berhubungan dengan permasalahan yang akan dibahas. b. Untuk memperoleh data Primer, dilakukan dengan cara melakukan studi lapangan di Unit III Tipikor Sat Reskrim Polres Lampung Barat dengan menggunakan metode wawancara. Dalam metode wawancara materi–materi yang akan ditanyakan telah dipersiapkan terlebih dahulu oleh penulis sebagai pedoman, metode ini digunakan agar responden bebas memberikan jawaban – jawaban dalam bentuk uraian. Setelah data tersebut terkumpul, pengolahan data dilakukan dengan cara 1. Editing, dalam hal ini data yang masuk akan diperiksa kelengkapannya, kejelasannya, serta relevansi dengan penelitian. 2. Evaluating, yaitu memeriksa dan meneliti data untuk dapat diberikan penilaian apakah data tersebut dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya dan digunakan untuk penelitian. 3. Sisitimatisasi data, yaitu menggolongkan data sesuai dengan kelompoknya dan ditempatkan pada bagian–bagian yang telah ditentukan sehingga memudahkan dalam penggunaannya. 89 E. Analisis Data Untuk menganalisis data yang telah terkumpul penulis menggunakan analisis kualitatif. Analisis kualitatif dilakukan untuk melukiskan kenyataan–kenyataan yang ada berdasarkan hasil penelitian yang berbentuk penjelasan–penjelasan, dari analisis tersebut dapat ditarik suatu kesimpulan terhadap permasalahan yang membahas secara umum yang didasarkan atas fakta–fakta yang bersifat khusus. Metode yang digunakan dalam penarikan kesimpulan adalah metode induktif yaitu suatu cara berfikir yang didasarkan fakta-fakta yang bersifat khusus yang kemudian diambil kesimpulan secara umum sehingga kesimpulan tersebut dapat diberikan saran 90 V. PENUTUP A. Simpulan Berdasarkan uraian yang telah penulis sampaikan dalam penulisan tesis ini, maka dapat penulis simpulkan dalam uraian yang lebih singkat dalam bab ini sebagai berikut : 1. Bagaimana Efektivitas Peranan Penyidik Polri Dalam Penanganan Kasus Tindak Pidana Korupsi di Polres Lampung Barat. Bahwa berdasarkan hukum posistif, yakni Peraturan Perundang-undangan yang berlaku di Indonesia diantaranya UU R.I No.2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, UU RI. No. 31 Tahun 1999 Junto UU RI. No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, KUHP dan KUHAP serta didukung dengan Peraturan perundang-undangan lainnya yang mengatur tentang kewenangan Polri masih memiliki kelemahan dibandingkan dengan lembaga KPK. Jika dilihat sebenarnya Polri berperan sangat besar dalam penegakan hukum pemberantasan kasus tindak pidana korupsi. Namun lemahnya undang-undang yang mengatur tentang kewenangan Polri dalam penyidikan tindak pidana korupsi mengakibatkan belum efektivnya penyidikan kasus tindak pidana korupsi oleh Polri. Sistem peradilan pidana dikatakan efektif apabila proporsi penyelesaian perkara (clearance rate), proporsi penuntutan (prosecution rate), proporsi pemidanaan (conviction rate), kecepatan perianganan perkara (speedy trial) cukup tinggi sedangkan residivis (recall to prison) rendah. Peran Polri dalam penanggulangan tindak pidana korupsi diselenggarakan melalui kegiatan Penyelidiakan dan Penyidikan, Polri telah berperan efektif menanggulangi tindak pidana korupsi, dimana tingkat penyelesaian perkara oleh peyidik secara umum mencapai 70 %, sedangkan kecepatan penanganan perkara cukup baik dalam batasan jangka waktu lamanya penahanan oleh penyidik. 2. Faktor Pengahambat Efektivitas Peran Penyidik Polri Dalam Penyidikan Tindak Pidana Korupsi. Pelaksanaan penegakan hukum penanggulangan tindak pidana korupsi di Polres Lampung Barat masih belum efektif dan di pengaruhi oleh dua faktor yaitu : 1) Faktor Intern : (a).Kurangnya SDM Polri; (b). Adanya Intervensi; (c). Kurangnya Fasilitas; (d).Kurangnya IT (Information technology) dan (e). Kurangnya anggaran. 2). Faktor Penghambat Ekstern : (a). Lemahnya Peraturan Perundang-undangan, (b). Masyarakat, LSM dan instansi pemerintah serta BUMN/ BUMD yang seolah-olah menutupi terjadinya kasus korupsi kepada polri, (c). Egoisme sebagian besar jaksa, (d). Locus Delicty dan saksi yang tempatnya berjauhan sehingga memakan biaya dan waktu. 114 Sebagaimana kesimpulan diatas bahwa tindakan Penyidik Polri dalam melakukan proses penyidikan tindak pidana korupsi berdasarkan yang dipraktekkan Penyidik di Polres Lampung Barat, selalu ada kendala yang berakibat pada terlambannya/ terhambatnya proses penyidikan tindak pidana korupsi khususnya seperti yang telah disebutkan diatas. B. Saran Berdasarkan Simpulan tersebut diatas, maka agar peran Penyidik Kepolisian khususnya Penyidik Tindak Pidana Korupsi bisa efektif dan memenuhi harapan masyarakat sesuai yang diamanatkan dalam undang–undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi disarankan sebagai berikut : 1. Agar pemerintah merevisi undang-undang yang telah ada untuk menambahkan kewenangan Polri dalam hal melakukan penyidikan dan asset racing terhadap pelaku tindak pidana korupsi, Membuat MOU antar aparat penegak hukum sehingga antara penegak hukum dapat sama-sama berpresepsi dan tidak ada egoisme antar aparat penegak hokum, perangkat hukum tidak tumpang tindih namun saling melengkapi, dan dibentuk Lembaga Terpadu (Lembaga satu Atap) terdiri dari Kepolisian, kejaksaan, Pengadilan dan BPKP ) yang secara khusus menangani Tindak Pidana Korupsi, Seharusnya juga dibuatkan aturan atau ketentuan yang mengatur berapa batasan minimum kerugian keuangan Negara yang dapat diproses sampai kepersidangan sehingga kerugian keuangan Negara dapat diselamatkan bukan malah sebaliknya penanganan kasus tersebut merugikan keuangan Negara dan diadakannya Political Will 115 untuk melakukan pencegahan dan penegakan hukum terhadap pelaku tindak pidana korupsi , yakni Ijin/ Persetujuan Tertulis dari Presiden/ Mendagri/ Gubernur/ Pengadilan Negeri berkaitan dengan pemeriksaan terhadap Pejabat / Orang-orang tertentu sebagaimana yang diatur dalam Peraturan Undang-undang tidak diperlukan lagi sehingga tidak terjadi perlakukan yang diskriminatif sebagaimana yang tersurat dan tersirat dalam Pasal : 28D Undang-Undang Dasar 1945 , yakni setiap orang dipersamakan kedudukannya didepan hukum . 2. Perekrutan Sumber daya manusia untuk bertindak sebagai Penyidik Tindak Pidana Korupsi, benar-benar patut dan layak serta mempunyai kemampuan professional dibidang Reserse Kriminal dan proporsional dalam melakukan tindakan penyidikan, Terpenuhinya kebutuhan sarana dan prasarana dalam tindakan penyidikan, Adakan latihan-latihan singkat tentang taktik dan teknik penyelidikan dan penyidikan dengan tenaga pelatih yang professional, serta lengkapi Sat reskrim dengan perpustakaan yang lengkap dengan kewajiban semua anggota untuk membacanya, dihilangkannya sifat arogansi dan interes pribadi dari Penyidik, dihilangkan pula intervensi dari para pengambil kebijakan dan dari Instansi lain terhadap tindakan penyidikan, Adakan lobby melalui tokoh-tokoh politik, cendikiawan maupun tokoh-tokoh agama serta LSM agar ikut memberikan masukan kepada pembuat undang-undang yakni pemerintah dan legislatif, khususnya yang mengatur masalah penyidikan, agar tidak terjadi diskriminatif serta tumpang tindih kewenangan, Perlunya setiap 116 Penyidik diwajibkan untuk mengikuti pendidikan strata satu dibidang ilmu hukum dengan bantuan anggaran dari pemerintah seperti instansi penegak hukum yang lain agar dapat menguasai/ memahami dan mengimplementasikan hukum secara akurat dan Pengesampingan sifat ego sektoral dari Aparat Penegak Hukum ( Kepolisian, Kejaksaan dan Pengadilan ) 117 DAFTAR PUSTAKA A. BUKU Arief. Barda Namawi, “Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Hukum Pidana dalam Penanggulangan Kejahatan “ Penerbit Kencana Prenada Media Group, Jakarta. Cetakan Kedua Tahun 2006. hlm. 19. ……, Makalah pada Seminar “ Penanggulangan tindak pidana korupsi di Era peningkatan Supremasi Hukum” , Yayasan Setia Karya, Hotel Gracia Semarang , 01 Nopember 2001. ……, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, 2002:hlm. 10. ……, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, PT Citra Aditya Bakti, Bandung, 1996. hlm. 31 ……, Penyidikan oleh Penyidik Polri sesuai dengan Prosedur Undang - Undang dan kecepatan penanganan perkara (speedy trial). 1984: hlm.4 Brotodiredjo. Soebroto, “Asas-asas Wewenang Kepolisian”, Hukum Kepolisian di Indonesia, Penyunting DPM Sitompul, Edward Syahperenong, Tarsito, Bandung:,1985, hlm. 14. Carl J. Friesrich, 1966: hlm. 85 Chaerudin, dkk, Op.Cit., hlm. 4, 6. Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka 1989 Echolis. John M. dan Hasan Shadily, Kamus Inggris Indonesia (An Inggris Indonesia Dictionary) Penerbit PT. Gramedia Jakarta. 2005 . Ishikawa. Hiroshi, 5 indikator/kriteria masing–masing sub–sistem institusi/ lembaga, 1984: hlm.4. Jaya. Nyoman Serikat Putra, “ Bahan Kuliah Sistim Peradilan Pidana “ Mahasiswa Program Magister Ilmu Hukum. Universitas Diponegoro . hlm. 8. ……, “ Bahan Kuliah Sistim Peradilan Pidana “ Mahasiswa Program Magister IlmuHukum. Universitas Diponegoro . hlm . 8. J.S. Nye, 1967: hlm. 27 J.W. La Patra, 1978: hlm. 86 John Griffithst, the crime control model” dan “the due process model. 1970: hlm. 48 Kamus besar Bahasa Indonesia, 1987 Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, 1987 Klitgaard. Robert, Ronald Maclean Abaroe dan Lindsey Parris, “ Penuntun Pemberantasan Korupsi Dalam Pemerintahan Daerah. Jakarta. Yayasan Obor. 2005. hlm. 15 ……, Ronald Maclean Abaroe dan Lindsey Parris, Op. Cit. hlm 13 La Patra, 1978: hlm. 83 Letter to Bishop Mandell Creighton, April 5, 1887 published in Historical Essays and Studies, edited by J. N. Figgis and R. V. Laurence (London: Macmillan, 1907) Mochtar. M.Akil, Memberantas Korupsi,Efektivitas Sistem Pembalikan Beban Pembuktian dalam Gratifikasi, Q-Communication, Jakarta, 2006, hlm.5. Packer. Herbert L., Two Models of the Criminal Process ,1968: hlm. 72 Prakoso. Djoko, Peranan Pengawasan dalam Penangkalan Tindak Pidana Korupsi, Aksara Perrsada Indonesia Jakarta,1990, hlm.1. Prodjohamidjojo. Martiman, Tinjauan Yuridis Terhadap Hak Tersangka Untuk Memperoleh Informasi Dalam Perkara Korupsi Oleh Kejaksaan, 2001: hlm.7 Reksodiputro. Mardjono, Hukum Pidana dan Batas-batas Toleransi Penegakan Hukum, Pidato Pengukuhan Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta, 1994 ……, Kemajuan Pembangunan Ekonomi dan Kejahatan. 1990 : hlm. 4. Saleh. Roeslan, Stelsel pidana Indonesia Roeslan Sale, Jakarta, Aksara Baru 1983 Spinellis. Dionysios, “Crimes of Politicians in Office”, dalam “Crime by Government” oleh Dr.Helmut (Editor), hlm. 23. Soerjono Soekanto, Sosiologi hukum dalam masyarakat, Rajawali 1980: hlm. 122. Sudarto, “Hukum Pidana dan Perkembangan Masyarakat, Bandung. Alumni. 1983. hlm. 20. ......, “Kapita Selecta Hukum Pidana, Bandung , Alumni, 1998 . hlm. 73 Sudarto, Kapita Selekta Hukum Pidana. 1981: hlm. 38 Syed Hussein Alatas,1980: hlm. 11 Syed Hussein Alatas,1980: hlm. 13 B. PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Undang – Undang No. 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) Undang-Undang No. 15 Tahun 2002, sebagaimana diubah dalam UU No. 8/2010, tentang Tindak Pidana Pencucian Uang Undang-Undang No. 2 Tahun 2002, Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia Undang-Undang No. 31 tahun 1999, sebagaimana diubah dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Undang-Undang No. 3, LN No. 19 tahun 1971, Undang-undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Undang-Undang No. 8, LN No. 76 tahun 1981, Undang-Undang Hukum Acara Pidana, TLN No. 3209. Undang-Undang No.30, LN No.137 Tahun 2002,Undang-Undang Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, TLN 4250 C. INTERNET http://faturohmanalbantani.blogspot.com/2011/01/ciri-ciri-korupsi-sebab-danakibat.html http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2010/11/korupsi-definisi-ciri-ciridan.html http://arriwp97.blogspot.com/2011/03/upaya-meningkatkan-kualitaspenyidik.html
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

EFEKTIVITAS PERANAN PENYIDIK POLRI DALAM PENY..

Gratis

Feedback