TEKS, KONTEKS, DAN KOGNISI SOSIAL WACANA BERTEMA PENDIDIKAN DALAM SITUS KOMPASIANA DAN IMPLIKASINYA PADA PEMBELAJARAN BAHASA DI SMA

38 

Full text

(1)

ABSTRAK

TEKS, KONTEKS, DAN KOGNISI SOSIAL WACANA BERTEMA PENDIDIKAN DALAM SITUS KOMPASIANA DAN IMPLIKASINYA PADA PEMBELAJARAN BAHASA DI SMA

Oleh

Dewi Ratna Ningsih

(2)

TEKS, KONTEKS, DAN KOGNISI SOSIAL WACANA BERTEMA PENDIDIKAN DALAM SITUS KOMPASIANA DAN IMPLIKASINYA PADA

PEMBELAJARAN BAHASA DI SMA

Oleh

DEWI RATNA NINGSIH

Tesis

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar MAGISTER PENDIDIKAN

Pada

Program Pascasarjana Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

MAGISTER PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG

(3)

ABSTRACT

TEXT, CONTEXT, AND SOCIAL COGNITION OF EDUCATION DISCOURSE IN KOMPASIANA SITE AND ITS IMPLICATION TO THE

BAHASA INDONESIA LEARING IN JUNIOR HIGH SCHOOL

By

Dewi Ratna Ningsih

(4)
(5)
(6)
(7)

RIWAYAT HIDUP

Pada tanggal 19 Desember 1986, di sebuah Desa bernama Desa Beber,

Kabupaten Cirebon Jawa-Barat, lahirlah seorang putri dari pasangan Bapak

Mulyadi dan Ibu Sulia Ningsih. Anak itu diberi nama Dewi Ratna Ningsih.

Memasuki masa sekolah Dewi Ratna Ningsih beserta keluarga hijrah ke

Lampung. Di sana Ia menghabiskan masa kanak-kanak hingga menamatkan

pendidikannya. Di tahun 1999 ia tamat dari SDN I Gapura, tahun 2002 ia tamat

dari SMPN I Kotabumi, tahun 2005 ia tamat dari SMAN 3 Kotabumi. Pendidikan

selanjutnya ditempuh di STKIP Muhammadiyah Kotabumi-Lampung pada

Pro-gram Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah yang diselesaikan

pada Oktober 2011. Sejak tahun kedua perkuliahan hingga kelulusannya ia

mendapatkan beasiswa berprestasi dari Kopertis Pemerintah Wilayah II

Palembang. Setelah lulus dari STKIP Muhammadiyah Kotabumi-Lampung, ia

melanjutkan program pascasarjana di Universitas Lampung yang diselesaikan

pada 2015.

Kegiatan ilmiah seperti seminar juga pernah diikuti oleh Dewi Ratna

Ningsih. Pada tanggal 29 Mei 2010, Ia mengikuti Seminar Nasional dengan tema “Pengembangan Karakter Melalui Pembelajaran Bahasa dan Sastra” yang diselenggarakan di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Muhammadiyah Kotabumi. Pada tanggal 30 Januari 2015, ia mengikuti Seminar dengan tema “Pengembangan Karakter Melalui Pembelajaran Bahasa dan Sastra” yang diselenggarakan di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Muhammadiyah Kotabumi. Pada tanggal 26 November 2014, ia mengikuti

(8)

PERSEMBAHAN

Berbekal rasa syukur atas nikmat dan karunia Allah Swt yang tiada hentinya,

penulis mempersembahkan tesis ini kepada

1. suamiku tercinta, Hartono, S.Pd., yang sabar dan tiada lelah memberikan

doa, dukungan, dan semangat kepadaku agar tesis ini segera selesai;

2. orang tuaku tersayang, Mulyadi dan Sulia Ningsih, yang selalu

memberikan dukungan dan mendoakan kesuksesanku di kehidupan dunia

akhirat;

3. kakakku tersayang, Brigpol Ari Aprianto, yang selalu memberikan

semangat dan doa kepadaku agar tesis ini segera selesai;

4. keluarga dan kerabat yang telah memberikan dukungannya secara terus

menerus agar tesis ini segera selesai;

5. ketua, wakil ketua, dan rekan-rekan dosen dan staf STKIP

Muhammadiyah Kotabumi Lampung yang telah memberikan bantuan dan

dukungan tiada habisnya agar perjalanan pendidikan di pascasarjana ini

segera terselesaikan; dan

6. Universitas Lampung sebagai tempatku untuk memperoleh pendidikan

(9)

MOTTO

“Barangsiapa melalui suatu jalan untuk mencari suatu pengetahuan (agama), Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”

(Bukhari Muslim)

Sesungguhnya di dalam kesulitan selalu terdapat kemudahan (Al-Quran)

Hidup adalah eksistensi diri (ArtonLabs)

(10)

SANWACANA

Assalammualaikum wr.wb

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan

hidayah-Nya lah tesis ini dapat terselesaikan. Tesis berjudul Teks, Konteks, dan Kognisi Sosial

Wacana Bertema Pendidikan dalam Situs Kompasiana dan Implikasinya pada

Pembelajaran Bahasa di SMA adalah salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister

Pendidikan pada Program Pascasarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP

Universitas Lampung.

Penulis menyadari bahwa dalam menyelesaikan tesis ini tidak lepas dari bantuan, arahan,

dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis ucapkan

terimakasih kepada

1. Prof. Dr. Sugeng P. Hariyanto, M.S. selaku Rektor Universitas Lampung;

2. Dr. Bujang Rahman, M.Si. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu

Pendidikan;

3. Prof. Dr. Sudjarwo, M.S. selaku Direktur Pascasarjana Universitas

Lampung;

4. Dr. Mulyanto Widodo, M.Pd. selaku Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa

dan Seni, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung;

5. Dr. Nurlaksana Eko Rusminto, M.Pd. selaku Ketua Program Studi Bahasa

(11)

ii

6. Dr. Nurlaksana Eko Rusminto, M.Pd. selaku pembimbing pertama, yang

telah membimbing dengan sabar dan profesional;

7. Dr. Karomani, M.Si. selaku pembimbing kedua, yang telah memberikan

ide-ide cemerlang ketika membimbing;

8. Dr. Siti Samhati, M.Pd. selaku pembahas yang telah memberikan masukan

yang luar biasa;

9. Bapak dan Ibu dosen di Program Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra

Indonesia;

10.Ketua STKIP Muhammadiyah Kotabumi Lampung Dr. Sumarno, M.Pd.,

wakil ketua dua Dr. Badawi, M.Pd., dan Dr. Armina, M.Pd. yang selalu

memberikan energi-energi positif;

11.Kedua orang tua (Mulyadi dan Sulia Ningsih) dan suami ku (Hartono)

tercinta yang telah memberikan kekuatan dan dukungan kepadaku;

12.Rekan-rekan Program Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

angkatan 2013; dan

13.Semua pihak yang telah membantu proses penyelesaian tesis ini yang tidak

bisa disebutkan satu persatu.

Semoga Allah membalas semua kebaikan pihak-pihak yang telah

membantu penuis. Penulis berharap semoga tesis ini dapat bermanfaat bagi kita

semua terutama di dunia pendidikan.

Wassalammualaikum wr.wb

Bandar Lampung, Februari 2015 Penulis,

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

2. Daftar Pertanyaan Untuk Pembuat Wacana 3. Wacana 1a

4. Tabel Analisis Wacana 1a

5. Jawaban Pertanyaan Pembuat Wacana 1a 6. Wacana 1b

7. Tabel Analisis Wacana 1b

8. Jawaban Pertanyaan Pembuat Wacana 1b 9. Wacana 2a

10.Tabel Analisis Wacana 2a

11.Jawaban Pertanyaan Pembuat Wacana 2a 12.Wacana 2b

13.Tabel Analisis Wacana 2b

14.Jawaban Pertanyaan Pembuat Wacana 2b 15.Wacana 3a

16.Tabel Analisis Wacana 3a

17.Jawaban Pertanyaan Pembuat Wacana 3a 18.Wacana 3b

19.Tabel Analisis Wacana 3b

20.Jawaban Pertanyaan Pembuat Wacana 3b 21.Tabel hasil penelitian

(13)

iii

2.1.2 Wacana Berdasarkan Media penyampaian ... 15

(14)

2.2.2.2 Konteks ... 34

2.2.2.3 Kognisi Sosial ... 36

2.3 Wacana Bertema Pendidikan dalam Situs Kompasiana …………. 37

2.4 Wacana Kritis dalam Pembelajaran Bahasa di SMA ... 39

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian ………. 45

3.2 Sumber Data ………. 45

3.3 Instrumen Penelitian ……….. 46

3.4 Teknik Pengumpulan Data ……… 47

3.5 Teknik Analisis Data ………. 48

4.1.4 Pro Kontra Wacana dalam Situs Kompasiana ... 195

4.1.5 Implikasi Hasil Penelitian dalam Pembelajaran Bahasa... 196

BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan ………. 204

5.2 Saran ………. 208

(15)

1

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Wacana tidak hanya dipandang sebagai pemakaian bahasa dalam tuturan

dan tulisan, tetapi juga sebagai bentuk dari praktik sosial. Dalam hal ini, wacana

adalah alat yang dekat dan mampu berinteraksi secara eksplisit dan implisit

dengan kehidupan masyarakat. Melalui keberagaman media yang dapat

melingkupinya dan tingkatan kualitas komunikasi yang dapat dibangunnya,

wacana dimanfaatkan sebagai gerakan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu.

Pencapaian tujuan akan menciptakan dampak sesuai dengan tujuan yang ingin

dicapai oleh penulis wacana tersebut.

Dengan segala dampak yang dapat diciptakannya, wacana tentunya bukan

sekedar teks dengan tujuan penulisan tertentu. Eriyanto (2010: 8—13) menyebut

wacana semacam ini dengan istilah wacana kritis. Dia mengatakan bahwa wacana

kritis dipandang sebagai objek kajian berdimensi yang terdiri atas beberapa aspek:

tindakan, konteks, historis, kekuasaan, dan ideologi. Aspek-aspek tersebut

merupakan karakteristik dari wacana kritis.

Wacana atau tulisan bernada kritis dilatarbelakangi oleh maksud dan tujuan

dari penulisnya. Salah satu upaya untuk mengetahui tujuan dan memahami

(16)

wacana kritis. Analisis wacana kritis adalah model analisis wacana yang dapat

digunakan untuk menjawab apakah wacana yang diproduksi telah dipengaruhi

oleh tujuan tertentu atau tidak, dan bagaimana dampak wacana tersebut terhadap

masyarakat pembaca. Hal tersebut didukung oleh pendapat Van Dijk dalam

Darma (2013:51) yang mengemukakan bahwa analisis wacana kritis digunakan

untuk menganalisis wacana-wacana kritis di antaranya politik, ras, gender, kelas

sosial, hegemoni, dan lainnya.

Kegiatan mendeskripsikan, menganalisisis, dan mengktitik sebuah tulisan

atau teks dapat dilakukan melalui analisis wacana kritis. Analisis wacana kritis

adalah upaya mendeskripsikan segala fenomena yang tertuang dalam tulisan atau

teks. Kegiatan pendeskripsian dimaksudkan untuk memberikan gambaran yang

lengkap terkait fenomena masyarakat yang tertuang dalam sebuah teks. Kegiatan

menganalisis diartikan sebagai kegiatan mengurai teks guna melihat apakah teks

yang dihasilkan oleh pembuat teks dipengaruhi oleh kognisi dan lingkungan

tertentu. Selain itu, kegiatan mengkritik adalah kegiatan untuk menilai kesesuaian

dan ketidaksesuaian teks terhadap kondisi kehidupan sosial masyarakat.

Analisis wacana kritis setidak-tidaknya memandang wacana sebagai objek

berdimensi yang terdiri atas tiga unsur: teks, kognisi sosial, dan konteks. Dimensi

teks yang akan diteliti adalah struktur dari teks itu sendiri, di dalamnya terdapat

analisis linguistik. Kognisi sosial merupakan dimensi untuk menjelaskan

bagaimana suatu teks diproduksi atau dibuat oleh penulis wacana. Konteks

merupakan dimensi untuk melihat bagaimana teks dihubungkan dengan struktur

(17)

3

merupakan bagian integral yang harus dikaji bersama-sama untuk mendapatkan

hasil analisis wacana secara utuh.

Setiap dimensi dalam wacana kritis tentunya mengangkat tema-tema

tertentu, seperti pendidikan, politik, dan kebijakan pemerintah. Tema adalah

struktur wajib yang terdapat pada wacana. Tanpa adanya tema, wacana akan

kehilangan tujuan, penguat antarkomponen, dan pengait antarstruktur. Dalam

kaitannya dengan kemunculan tema tersebut, tema yang terdapat dalam suatu

wacana dapat muncul secara sadar dan tidak sadar. Tema yang muncul secara

sadar adalah tema yang dipilih berdasarkan hasil pemikiran, perumusan tujuan,

atau penyimpulan suatu kajian. Sementara itu, tema yang muncul secara tidak

sadar disebabkan adanya stimulus-stimulus tertentu (situasi politik, kebijakan

pemerintah yang tidak adil, atau ancaman kesejahteraan) yang memengaruhi dan

memicu motivasi pemproduksi wacana. Tema yang muncul secara sadar dan tidak

sadar tersebut dapat disikapi melalui dua pandangan: pro (dukung) dan kontra

(tolak). Dengan demikian, satu tema dapat disikapi dengan kegiatan mendukung

(pro) atau menolak (kontra), bahkan perlawanan.

Bagan 1Posisi Tema dalam Wacana

Praktik pemilihan tema yang muncul secara sadar dan tidak sadar, lalu

disikapi dengan kegiatan pro dan kontra dapat dilihat pada wacana-wacana kritis

TEMA

Pro (Dukung) Kontra (Tolak)

(18)

yang dipublikasikan melalui media massa: koran, televisi, atau internet. Beberapa

media masa sering memilih satu tema yang memiliki kecenderungan pro dan

kontra. Misalnya, tema pendidikan “kebijakan pemerintah yang menetapkan ujian

nasional sebagai penentu kelulusan siswa” yang dituliskan koran ABC sebagai

langkah tepat dan ideal, namun dituliskan oleh koran XYZ sebagai tindakan salah

dan merugikan. Fenomena seperti ini tidak terlepas dari fakta bahwa wacana kritis

dipengaruhi oleh aspek kekuasaan dan ideologi. Wacana yang dipublikasikan oleh

koran ABC mungkin saja bagian dari alat pendukung kebijakan penguasa, dan

koran XYZ adalah media perlawanan yang diisi oleh pihak-pihak yang memiliki

ideologi tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa media massa memiliki

kecenderungan-kecenderungan tertentu meskipun hampir semua media massa

mengaku bahwa mereka pada posisi netral (tidak berpihak).

Media massa dan wacana adalah dua hal yang saling mendukung satu sama

lain. Wacana kritis yang memiliki kualitas konten baik sekalipun tidak akan

mampu berdiri sendiri, wacana seperti ini memerlukan media massa yang

melingkupinya. Media massa sebagai alat yang digunakan dalam penyampaian

pesan-pesan dari sumber kepada khalayak (menerima) dengan menggunakan

alat-alat komunikasi mekanis. Karakteristik media massa adalah: a) publisitas

(disebarkan kepada publik/khalayak), b) universalitas (berisi informasi umum

yang mencakup semua aspek kehidupan dan berbagai peristiwa di berbagai

tempat), c) kontinuitas (disampaikan secara berkesinambungan), d) aktualitas

(berisi hal-hal baru), dan e) periodisitas (disajikan secara tetap atau berkala).

Menurut jenisnya, media massa dibagi menjadi tiga: media cetak, media

(19)

5

Jika keberadaan wacana sangat bergantung pada media massa yang

melingkupinya, media massa akan sangat bergantung pada penikmat atau

penggunanya. Oleh karena itu, media massa yang ideal tidak hanya dilihat dari

konten-konten yang diterbitkannya, tetapi juga kemudahan akses yang

diberikannya kepada pengguna. Untuk saat ini, media siber adalah media massa

yang sangat populer dan diminati banyak golongan. Media jenis ini menjadi

populer karena sangat mudah diakses oleh pengguna. Bahkan, pengguna bisa

mencari berita-berita dengan kategori tertentu, sesuai kebutuhan informasi yang

diinginkan oleh pengguna, tidak seperti media massa jenis lain yang cenderung

lebih kaku. Media siber juga dapat diakses dimana dan kapan saja, hanya dengan

alat komunikasi sehari-hari: telepon genggam atau telpon cerdas (smartphone).

Kemudahan akses informasi yang ditawarkan media massa jenis siber juga

didukung dengan kemudahan interaksi antara pengguna dan media massa. Dalam

konteks ini, media siber tidak hanya sarana berbagi informasi milik redaksi, tetapi

juga sarana berbagi informasi antar pengguna. Melalui media siber besar seperti

Kompas melalui Kompasiana, Detik melalui DetikForum dan BlogDetik, atau

VivaNews melalui VivaForum, pengguna dapat mengirimkan tulisan untuk

diterbitkan secara mudah, cepat, dan dapat dijangkau oleh banyak pihak.

Kenyataan ini tentunya berbeda dengan media massa jenis cetak dan elektronik.

Meskipun kedua jenis media massa ini juga melibatkan pengguna untuk

mengirimkan berita atau tulisannya, media massa jenis siber memberikan akses

lebih mudah dan cepat. Dengan adanya peran pengguna untuk berbagi informasi

atau berita, informasi yang dipublikasi akan lebih beragam dan mampu

(20)

Keberadaan pengguna sebagai penyedia informasi dalam media massa siber

akan memengaruhi variasi dan pilihan tema yang dipublikasi, diikuti dengan

variasi dalam menyikapi tema. Dalam media massa siber, hampir semua informasi

yang dipublikasi telah mewakili semua tema umum: pendidikan, pemerintahan,

politik, budaya, sosial, kriminal, olahraga, teknologi, dan ekonomi. Kesemua tema

tersebut juga disikapi dengan pandangan pro dan kontra.

Media siber mampu menyediakan informasi yang mewakili keberagaman

tema dan pandangan atau sikap, juga memberikan hak menulis lebih bebas dan

fleksibel (tidak disunting secara ketat) daripada media cetak dan elektronik

sehingga informasi yang disajikan lebih jujur dan objektif. Oleh karena itu,

penelitian ini memilih wacana-wacana yang dipublikasikan oleh media massa

jenis siber. Situs media massa siber yang dipilih adalah Kompas melalui

Kompasiana. Kompasiana adalah situs milik Kompas yang memfasilitasi

penggunanya untuk mempublikasikan berita atau informasi, berbagi pandangan,

dan melakukan interaksi antarpengguna secara mudah dan cepat. Situs

Kompasiana dipilih karena beberapa alasan: 1) Kompasiana merupakan situs

yang didalamnya terdapat banyak tulisan terkait topik atau tema yang akan

dibahas, 2) Kompasiana merupakan situs terkenal, 3) Kompasiana adalah media

digital yang diakses secara global dan internasional, 4) Kompasiana lebih mudah

untuk diakses karena berupa media digital, 5) Kompasiana memiliki sistem

dokumentasi yang baik, 6) Kompasiana memiliki banyak penulis, 7) Kompasiana

merupakan situs resmi digital dari Kompas yang telah diakui kehandalannya, dan

8) lebih objektif karena disampaikan oleh banyak pengguna yang mewakili

(21)

7

Dalam kaitannya dengan pembelajaran, hasil penelitian ini akan

dimanfaatkan sebagai objek untuk menghasilkan suatu produk yang nantinya

dapat bermanfaat dalam proses belajar mengajar. Penggunaan produk inilah yang

merupakan hasil nyata atau bentuk realisasi dari implikasi penelitian terhadap

pembelajaran. Beberapa produk yang dapat dihasilkan dalam penelitian ini di

antaranya bahan ajar dan bahan bacaan guru dan siswa. Penggunaan produk

penelitian (bahan ajar dan bahan bacaan) akan memberi stimulus bagi guru dan

siswa sehingga terjadi umpan balik. Hal inilah yang dinamakan implikasi

penelitian terhadap pembelajaran.

Pemilihan jenjang SMA dikarenakan siswa pada jenjang ini sudah

memunyai tingkat pemikiran yang lebih kritis terhadap suatu masalah yang

berkembang di masyarakat. Selain itu, jenjang SMA dipilih karena sesuai dengan

kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh siswa SMA. Kompetensi tersebut

terdapat pada kompetensi dasar 3.3 (menganalisis teks cerita sejarah, berita, iklan,

editorial/opini, dan novel baik melalui lisan maupun tulisan) dan kompetensi

dasar 4.2 (memproduksi teks cerita sejarah, berita, iklan, editorial/opini, dan novel

baik melalui lisan maupun tulisan).

Penelitian sebelumnya yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian

dalam Jurnal Ilmu komunikasi yang dilakukan oleh Elvinaro Ardianto dengan

judul Analisis Wacana Kritis Pemberitaan Harian Pikiran Rakyat dan Harian

Kompas sebagai Public Relations Politik dalam Membentuk Branding Reputation

Presiden SBY. Penelitian ini berfokus pada pemberitaan dalam Harian Pikiran

Rakyat dan Harian Kompas. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis

(22)

Penelitian lain dilakukan oleh Tia Agnes Astuti mahasiswa UIN Syarif

Hidayatullah dengan judul Analisis Wacana Van Dijk terhadap Berita “Sebuah

Kegilaan di Simpang Kraft” di Majalah Pantau. Penelitian ini menggunakan

model analisis Van Dijk dengan kajian teks, kognisi sosial, dan konteks.

Melalui beberapa penelitian sebelumnya yang relevan dengan penelitian ini,

dapat dikatakan bahwa ada beberapa perbedaan kajian penelitian ini dengan

penelitian sebelumnya yaitu 1) perbedaan media yang menerbitkan tulisan. Jika

penelitian ini berfokus pada media siber, penelitian lain yang relevan terfokus

pada media cetak. 2) perbedaan kajian lingkup wacana. Jika penelitian ini lebih

mengkhususkan pada wacana yang memunyai pandangan pro dan kontra,

penelitian sebelumnya tidak mengkhususkan kajian pandangan pro dan kontra

pada wacana.

Berdasarkan pemaparan di atas, penelitian ini penting untuk dilakukan

karena beberapa alasan. Pertama, penelitian ini melibatkan keseluruhan kajian

pada model analisis Van Dijk (teks, konteks, dan kognisi sosial) yang saling

berintegrasi sehingga hasil penelitian dapat merepresentasikan kajian-kajian yang

diteliti secara lebih komprehensif. Kedua, penelitian ini relevan dengan

kompetensi dasar yang terdapat dalam standar isi pada kurikulum 2013 sehingga

memiliki implikasi dalam pembelajaran bahasa di SMA. Ketiga, penelitian ini

menggunakan media siber yang memiliki kemudahan akses. Selain itu, penelitian

ini memiliki perbedaan dengan penelitian sebelumnya karena mengkategorikan

(23)

9

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas,

rumusan masalah pada penelitian ini dapat dirumuskan menjadi beberapa hal,

yaitu (1) bagaimanakah teks wacana bertema pendidikan dalam situs Kompasiana,

(2) bagaimanakah konteks wacana bertema pendidikan dalam situs Kompasiana,

(3) bagaimanakah kognisi sosial wacana bertema pendidikan dalam situs

Kompasiana, dan (4) bagaimanakah implikasi hasil penelitian pada pembelajaran

bahasa di Sekolah Menengah Atas (SMA)?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan umum penelitian ini adalah menganalisis dan mendeskripsikan teks,

konteks, dan kognisi sosial wacana bertema pendidikan dalam situs Kompasiana

dan implikasinya pada pembelajaran di SMA. Tujuan penelitian secara spesifik

dan khusus dijabarkan menjadi dua tujuan:

1. menganalisis dan mendeskripsikan teks wacana bertema pendidikan

dalam situs Kompasiana menggunakan metode AWKVD.

2. menganalisis dan mendeskripsikan konteks wacana bertema pendidikan

dalam situs Kompasiana menggunakan metode AWKVD.

3. menganalisis dan mendeskripsikan kognisi sosial wacana bertema

pendidikan dalam situs Kompasiana menggunakan metode AWKVD.

4. mengimplikasikan hasil penelitian wacana bertema pendidikan dalam

(24)

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat dalam penelitian ini terbagi menjadi dua, yaitu manfaat secara

teoritis dan manfaat secara praktis.

a. Manfaat secara Teoretis

Hasil penelitian diharapkan dapat menambah dan mendukung ketersediaan

dan keberadaan teori pada bidang bahasa, khususnya pada bidang wacana

dan analisisnya. Selain itu, penelitian ini juga dapat dimanfaatkan sebagai

pendukung atau fakta (pembuktian) dari teori-teori tertentu yang

berhubungan dengan penelitian ini.

b. Manfaat secara Praktis

Hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi pembaca, siswa, dan guru yang

tertarik untuk menerapkan proses menulis kritis. Penelitian ini juga dapat

dijadikan bahan pertimbangan dalam aktivitas membaca pemahaman.

Dalam konteks ini, pembaca mampu menentukan dan mendalami tema,

topik, alur, dan beragam informasi dalam bahan bacaan. Bagi peneliti yang

sedang meneliti permasalahan serupa, penelitian ini dapat digunakan

sebagai fakta pendukung teori.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah teks, konteks, dan kognisi sosial

wacana bertema pendidikan dalam situs Kompasiana. Teks yang akan dikaji

meliputi tema, skema, latar, detil, maksud, koherensi, koherensi kondisional,

(25)

11

leksikon, praanggapan, grafis, dan metafora. Konteks dalam analisis wacana

kritis, diartikan sebagai latar, situasi, peristiwa, dan kondisi. Kognisi sosial dalam

analisis wacana kritis siartika sebagai hubungan lebih jauh terkait struktur sosial

dan pengetahuan yang berkembang di masyarakat. Selanjutnya mengimplikasikan

(26)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif.

Penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif adalah penelitian yang

menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata atau lisan. Penelitian kualitatif juga

menekankan keberadaan peneliti sebagai aspek utama. Penelitian ini menekankan

pada aspek pemahaman secara mendalam terhadap suatu masalah.

Untuk melakukan analisis wacana kritis pada tulisan yang dipublikasi pada

situs Kompasiana, model analisis wacana kritis yang digunakan dalam penelitian

ini adalah model analisis wacana kritis milik Van Dijk. Model analisis wacana

kritis yang digunakan Van Dijk dengan elemen teks dan konteks. Sementara

kognisi sosial sebagai digunakan sebagai bahan untuk membantu pencarian data

terkait.

3.2 Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini adalah wacana bertema pendidikan yang

dipublikasikan dalam situs Kompasiana, beralamat di http://Kompasiana.com.

Bentuk dari data dalam penelitian ini adalah data tulisan dan lisan. Data tulisan

(27)

46

dengan rentang waktu antara tahun 2013—2014 maupun tulisan-tulisan komentar

yang terdapat dalam forum komentar. Data lisan diperoleh dari hasil wawancara

terhadap pembuat tulisan terkait. Data lisan diperoleh melalui telepon dan skype.

3.3 Instrumen Penelitian

Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti yang bersangkutan. Data

diperoleh berdasarkan keberadaan penelitinya dan bagaimana usaha peneliti

dalam mencarinya. Semi (1993:24) mengemukakan bahwa dalam penelitian

kualitatif, peneliti merupakan intrumen kunci. Artinya, peneliti itu sendiri yang

berperan sebagai perencana, pengumpul data, dan pelapor hasil penelitian.

Selain peneliti, instrumen lain yang digunakan adalah daftar pertanyaan.

Daftar pertanyaan berisi tentang pertanyaan-pertanyaan terkait kognisi sosial

pembuat tulisan. Daftar pertanyaan yang digunakan adalah sebagai berikut.

1) Siapakah nama lengkap Anda?

2) Apakah pendidikan terkahir Anda?

3) Dimanakah Anda bekerja?

4) Apakah motivasi dan tujuan Anda dalam menulis tulisan tersebut?

5) Faktor apa saja yang memengaruhi tulisan Anda?

6) Di lingkungan apakah Anda tinggal?

Daftar pertanyaan selanjutnya berisi tentang pertanyaan-pertanyaan terkait

bagaimana implikasi hasil penelitian berupa rencana pelaksanaan pembelajaran

dapat digunakan dalam proses kegiatan belajar mengajar di sekolah. Daftar

pertanyaan yang digunakan adalah sebagai berikut.

(28)

2) Apakah pendidikan terakhir ibu/bapak?

3) Dimanakah ibu/bapak mengajar?

4) Dapatkah ibu/bapak menceritakan pengalaman mengajar ibu/bapak?

5) Apakah pembelajaran mengenai wacana sesuai dengan kurikulum yang

ditetapkan di sekolah tempat ibu/bapak mengajar?

6) Apakah pembelajaran mengenai wacana sesuai dengan KI dan KD yang

digunakan dalam kurikulum di sekolah tempat ibu/bapak mengajar?

7) Apakah pembelajaran mengenai wacana sesuai dengan tujuan pembelajaran

dalam kurikulum di sekolah tempat ibu/bapak mengajar?

8) Apakah pembelajaran mengenai wacana sesuai dengan indikator pembelajaran

dalam kurikulum di sekolah tempat ibu/bapak mengajar?

9) Apakah pembelajaran mengenai wacana sesuai dengan karakteristik peserta

didik yang ada di sekolah tempat ibu/bapak mengajar?

10) Apakah hasil penelitian tesis ini (rencana pelaksanaan pembelajaran) dapat

diimplememtasikan dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia?

11) Keterlibatan hasil penelitian ini dapat berupa apa saja (bahan ajar, bahan

bacaan, bahan ajar dan bahan bacaan)?

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dibagi menjadi beberapa tahap.

a. Mencari (searching)

Proses utama dalam pengumpulan data adalah pencarian. Pencarian

dilakukan untuk menemukan tulisan-tulisan yang berhubungan dengan

masalah penelitian. Proses pencarian dilakukan melalui beberapa cara

(29)

48

internal adalah mesin pencarian yang disediakan dalam situs Kompasiana.

Pencarian dengan cara ini dilakukan dengan menuliskan beberapa kata

kunci terkait masalah. Mesin pencarian eksternal adalah mesin pencarian

di internet yang cakupannya lebih luas seperti google, bing, dan yahoo.

Pada proses pencarian ini kata kunci ditulisakan dengan diakhiri tulisan

Kompasiana.com’, kemudian hasil dari pencarian disaring berdasarkan

alamat situs Kompasiana.

b. Mengunduh (download)

Tulisan-tulisan yang telah ditemukan dalam proses pencarian kemudian

diunduh. Pengunduhan dilakukan untuk mendokumentasikan sehingga

proses analisis data menjadi lebih mudah.

c. Wawancara

Proses wawancara dilakukan untuk memperoleh data kognisi sosial dan

konteks dari pembuat tulisan (wawasan). Wawancara yang dilakukan

dalam penelitian ini menggunakan daftar pertanyaan yang telah

dipersiapkan.

3.5 Teknik Analisis Data

Analisis data dalam penelitian ini dibagi menjadi menjadi dua tahap.

1.5.1 Analisis Data Tahap Pertama

Langkah-langkah kegiatan yang dilakukan pada analisis data tahap awal

dijabarkan sebagai berikut.

a. Membaca tulisan secara berulang-ulang

(30)

1.5.2 Analisis Data Tahap Kedua

Langkah-langkah kegiatan yang dilakukan pada analisis data tahap kedua

disesuaikan pada model analisis wacana kritis yang diungkapkan oleh Van Dijk.

Model analisis wacana kritis yang diungkapkan oleh Van Dijk memfokuskan

proses analisis dalam elemen teks dan konteks.

1. Menganalisis teks berdasarkan teori van Dijk. Elemen teks yang akan dianalisis

meliputi tema, skema, latar, detil, maksud, nominalisasi, koherensi, koherensi

kondisional, koherensi pembeda, pengingkaran, bentuk kalimat, kata ganti,

leksikon, praanggapan, grafis, dan metafora.

2. Memberdayakan konteks dengan tujuan untuk mengetahui hal-hal yang

memengaruhi pewacana dalam memproduksi wacana. Konteks dalam analisis

wacana kritis, diartikan sebagai latar, situasi, peristiwa, dan kondisi.

3. Menganalisis kognisi sosial terkait dengan bagaimana teks tersebut diproduksi

oleh penulis teks. Kajian kognisi sosial akan melihat kesadaran mental dari

penulis teks. Bagaimana kepercayaan, pengetahuan, dan prasangka terhadap

fenomena atau masalah yang ditulisnya.

4. Mengklasifikasi unsur-unsur teks yang terdapat dalam wacana dengan

pengodean sebagai berikut:

a. kode-kode yang digunakan untuk merujuk teks seperti tema dengan kode

huruf (Tm), skema dengan kode huruf (Sk), latar dengan kode huruf (Lt),

detil dengan kode huruf (Dt), maksud dengan kode huruf (Mk), nominalisasi

dengan kode huruf (Nl), koherensi dengan kode huruf (Kh), koherensi

kondisional dengan kode huruf (Kh K), koherensi pembeda dengan kode

(31)

50

kode huruf (BK), kata ganti dengan kode huruf (KG), leksikon dengan kode

huruf (Ls), praanggapan dengan kode huruf (Pa), grafis dengan kode huruf

(Gf), dan metafora dengan kode huruf (Mf).

b.kode 1,2,3, dan seterusnya digunakan untuk menunjukkan urutan wacana.

c.kode I, II, III, dan seterusnya digunakan untuk menunjukkan paragraf.

d.kode i, ii, iii, dan seterusnya digunakan untuk menunjukkan baris.

Contoh: Tm/3/II/i artinya unsur tema terdapat pada wacana ketiga paragraf kedua

baris kesatu.

5. Mengimplikasikan hasil penelitian terhadap pembelajaran bahasa di SMA

dengan mempertimbangkan kompetensi inti dan kompetensi dasar sesuai dengan

kurikulum 2013.

6. Menafsirkan hasil penelitian.

(32)

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab sebelumnya, didapat

simpulan sebagai berikut.

1. Hampir semua unsur teks ada di dalam wacana yang dianalisis. Namun,

ada beberapa unsur yang tidak terdapat didalamnya. Pada wacana 1a tidak

ditemukan metafora. Pada wacana 1b tidak ditemukan nominalisasi. Pada

wacana 2a tidak ditemukan nominalisasi dan koherensi pembeda. Pada

wacana 2b tidak ditemukan nominalisasi. Pada wacana 3a tidak ditemukan

nominalisasi dan pengingkaran. Sementara pada wacana 3b semua unsur

teks ditemukan.

2. Konteks pada wacana 1a didasari pentingnya sertifikasi guru untuk

meningkatkan kemampuan dan profesionalitas guru namun guru-guru

justru merasakan rumit dan sulitnya mengikuti prosedur-prosedur untuk

melakukan sertifikasi guru. Konteks pada wacana 1b didasari oleh fakta

bahwa sertifikasi guru adalah tindakan yang membuang-buang anggaran

negara secara percuma. Konteks pada wacana 2a didasari oleh terjadinya

protes besar di masyarakat agar UN segera dihapuskan. Konteks pada

(33)

205

disebabkan oleh pelaksanaan UN. Konteks pada wacana 3a didasari oleh

umpan balik positif yang dirasakan peserta didik ketika diberi treatment

dalam lingkup kurikulum 2013 dan protes besar dari banyak pihak untuk

menghentikan kurikulum 2013. Konteks pada wacana 3b didasari oleh

fakta bahwa penyelenggara kurikulum 2013 masih belum siap dalam

menyelenggarakan kurikulum 2013 sehingga kurikulum 2013 sebaiknya

dikaji lebih mendalam atau bahkan dihentikan.

3. Berdasarkan kajian kognisi sosial, pembuat wacana 1a yang merupakan

seorang guru, jelas akan mendukung adanya sertifikasi guru. Hal ini

didasari oleh pengalaman mengurus sertifikasi. Pembuat wacana 1b yang

merupakan seorang mahasiswa, Penolakan terjadi dengan alasan pembuat

wacana merasa ada ketimpangan antara pemberian sertifikasi dengan

keadaan pendidikan di Indonesia. Pembuat wacana 2a adalah seorang PNS

yang mendukung pelaksanaan UN. Ketika ia membuat wacana ia

terinspirasi oleh pemberitaan mengenai protes besar-besaran untuk

menghapuskan UN. Oleh karena itu, ia menyatakan sikapnya untuk

mendukung pelaksanaan UN. Pembuat wacana 2b adalah seorang

wiraswasta yang justru menolak adanya pelaksanaan UN. Penolakan

pembuat wacana didasari kenyataan yang ia lihat disekitarnya, bahwa

banyak kejadian tragis yang terjadi di masyarakat yang disebabkan oleh

pelaksanaan UN. Pembuat wacana 3a mendukung pelaksanaan kurikulum

2013. Ketika ia membuat wacana ia terinspirasi oleh keadaan sekitarnya.

Ia melihat peningkatan yang cukup signifikan pada kemampuan anaknya

(34)

menyatakan sikapnya untuk mendukung pelaksanaan kurikulum 2013.

Pembuat wacana 3b adalah seorang direktur di Edu Training Center yang

justru menolak adanya pelasanaan kurikulum 2013. Ia menilai bahwa

penyelenggara kurikulum 2013 belum siap dan kurikulum 2013 terkesan

miskin pertimbangan.

4. Dalam teks wacana pro dan kontra ditemukan tema, skema, latar, detil,

maksud, praanggapan, nominalisasi, pengingkaran, bentuk kalimat,

koherensi, koherensi kondisional, koherensi pembeda, kata ganti, leksikon,

grafis, dan metafora. Konteks wacana pro terkait hal-hal yang menyatakan

dukungan terhadap fenomena atau kejadian yang menjadi topik

permasalahan. Konteks wacana kontra terkait hal-hal yang menyatakan

menolak terhadap fenomena atau kejadian yang menjadi topik

permasalahan. Interaksi sosial menjadi penambah pengetahun dari

pembuat wacana yang kemudian digunakan sebagai dasar membuat

wacana pro dan kontra.

5. Implikasi hasil penelitian dapat digunakan sebagai alternatif bahan ajar

dan bahan bacaan. Sebagai alternatif bahan ajar hasil penelitian akan

dikaitkan berdasarkan aspek kebahasaan, aspek spikologi, dan aspek latar

belakang peserta didik. Aspek kebahasaan yang terdapat dalam wacana ini

melibatkan penggunaan kata dan kalimat yang kritis. Penggunaan kalimat

bernada kritis akan melatih daya kreativitas peserta didik dalam

mengkritisi suatu masalah. Melalui proses membaca, peserta didik akan

belajar bagaimana cara menanggapi suatu masalah secara kritis. Hal ini

(35)

207

memunyai daya pikir yang kritis. Oleh karena itu, dapat dikatakan

wacana-wacana kritis dalam situs Kompasiana sesuai dengan tingkat kebahasaan

peserta didik jenjang SMA.

6. Berdasarkan segi psikologi, wacana kritis dalam situs Kompasiana dapat

memberikan pengetahuan mengenai bagaimana cara mengkritisi suatu

fenomena atau kejadian di masyarakat. Sehingga setelah peserta didik

membaca wacana-wacana tersebut, peserta didik dapat menumbuhkan

sikap simpati dan empati terhadap fenomena yang terjadi di masyarakat.

Peserta didik akan peka terhadap setiap fenomena atau kejadian yang

terjadi di masyarakat. Dengan menumbuhkan sikap peka peserta didik

terhadap fenomena atau kejadian yang ada di masyarakat, peserta didik

akan menjadi generasi bangsa yang dapat membangun negara.

7. Masalah-masalah yang dikemukakan dalam wacana Kompasiana

merupakan masalah yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Dengan

adanya kesamaan antara masalah yang ada di dalam wacana dan

kenyataan, siswa dapat berpikir dan bertindak secara tepat dalam

kehidupan sehari-harinya. Oleh karena itu, dapat dikatakan wacana dalam

situs Kompasiana sesuai dengan latar belakang dan karakteristik peserta

didik.

8. Sebagai alternatif bahan bacaan, dapat dikatakan bahwa hasil penelitian

dapat dijadikan sebagai sumber belajar siswa ataupun guru terkait teori

(36)

5.2Saran

Berdasarkan gambaran simpulan di atas, disarankan kepada pembaca

sebagai berikut.

1. Bagi guru, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai alternatif bahan

ajar dan bahan bacaan. Sebagai alternatif bahan ajar, hasil penelitian

berupa rencana pelaksanaan pembelajaran berguna sebagai skenario

pembelajaran yang dapat diimplementasikan di sekolah sedangkan sebagai

alternatif bahan bacaan, hasil penelitian berguna sebagai suplemen

penambah pengetahuan terkait wacana kritis.

2. Bagi siswa, pembelajaran dengan menggunakan wacana kritis dapat

menumbuhkembangkan sikap simpati dan empati terhadap fenomena yang

terjadi di masyarakat dan dapat menambah pengetahuan terkait bagaimana

mengkritisi suatu masalah.

3. Bagi peneliti lain yang ingin mengadakan penelitian sejenis, dapat

mengkritisi fenomena-fenomena lain yang sedang menjadi trend di

(37)

DAFTAR RUJUKAN

Ali, Mohammad. 2007. Ilmu dan Aplikasi Pendidikan. Bandung: PT Imperial Bakti Utama.

Ardianto. 2007. Pembelajaran Sastra Sebagai Sarana Pengembangan Daya Nalar Siswa. Dalam Jurnal Iqra Vol 3 (1) 57-67. (Darling), Tersedia: http://jurnaliqro. Files. Wordpress. Com. (20 Oktober 2014).

Darma, Yoce Aliah.2013.Analisis Wacana Kritis.Bandung: Yrama Widya.

Departemen Pendidikan Nasional.2006.Pedoman Memilih dan Menyusun Bahan Ajar.

Eriyanto.2008.Analisis Wacana(Pengantar Analisis Teks Media).Yogyakarta: Lkis.

Eriyanto.2008.Analisis Framing (Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media). Yogyakarta: Lkis.

Fairclough, Norman.2010. Critical Discorse Analysis (The Critical Studi of Language). New York: Routledge.

Hamad, Ibnu.2013.Konstruksi Realitas Politik dalam Media Massa.Jakarta: Pustaka Pelajar.

http://edukasi.Kompasiana.com/2014/04/28/sertifikasi-guru-prosedur-rumit-namun-dianggap-dan-dipahami-mudah-649895.html.

http://edukasi.Kompasiana.com/2014/08/05/sisi-balik-sertifikasi-guru-terhadap-pendidikan-kaum-tertindas-667174.html.

http://edukasi.Kompasiana.com/2013/05/02/bukan-un-yang-salah-kinerja-kemendikbud-yang-perlu-diubah-556425.html.

http://edukasi.Kompasiana.com/2014/05/18/ujian-nasional-hanya-indonesia-yang-bisa-begini-tragis-653371.html.

(38)

http://edukasi.Kompasiana.com/2013/09/19/bahkan-kemendikbud-pun-belum-siap-dengan-kurikulum-2013--591208.htmlhttp//wikipedia.com

Jabrohim (Ed). 1994. Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Junaiyah dan Arifin, Zaenal. 2013. Keutuhan Wacana. Jakarta: Grasindo.

Karomani. 2008. Analisis Wacana Berita: Mengungkapn Kontroversi Sidang Istimewa dan Dekrit Presiden Abdurrahman Wahid dalam Bidikan Media Massa Kompas dan Republika. Tanggerang: Matabaca Publishing.

Rahmanto, B. 1988. Metode Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Kanisius.

Rusminto, Nurlaksana Eko. 2012. Analisis Wacana: Sebuah Kajian Teoritis dan Praktis. Bandar Lampung: Universitas Lampung.

Semi, Atar. 1993. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa.

Sudibyo, Agus.2001.Politik Media dan Pertarungan Wacana. Yogyakarta: Lkis.

Titscher, Stefan. Dkk. Abdul Syukur Ibrahim (Ed).2009. Metode Analisis Teks dan Wacana. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Van Dijk, Teun A. 1985. Handbook of Discourse Analysis: Dimentions of Discourse. London: Academic Press.

Van Dijk, Teun A.1992.Tekt and Context (Explorations and Semantics and Pragmatics of Discorse). New York: Longman.

Van Dijk, Teun A. 2011. Discorse Studies. London: ECIY.

Wijana, I Dewa Putu dan Rohmadi, Muhammad. 2010. Analisis Wacana Pragmatik: Kajian Teori dan Analisis. Surakarta: Yuma Pustaka.

Winarto, Yunita T. 2007. Karya Tulis Ilmiah Sosial: Menyikapi, Menulis, dan Mencermatinya. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Yuwono, Untung. 2008. Wacana. Dalam Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Budaya Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Budaya Vol 10 no.1 , April 2008, hlm 1— 189.

Gambar

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Download now (38 pages)
Related subjects : Kognisi Sosial