EFEK MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI SAINTIFIK DAN PEMANFAATAN MEDIA KIT IPA TERHADAP HASIL BELAJAR IPA SISWA KELAS V SD NEGERI 050783 SALAHAJI.

30 

Full text

(1)

EFEK MODEL PEMBELAJARANINKUIRISAINTIFIK DAN

PEMANFAATAN MEDIA KIT IPA TERHADAP HASIL

BELAJARPADA SISWA KELAS V

SD NEGERI 050783 SALAHAJI

TESIS

DiajukanGunaMemenuhi Salah SatuSyarat UntukMemperolehGelar Magister Pendidikan

Program StudiPendidikanDasar

Oleh

TeukuAlamsyah

NIM 8136182054

PROGRAM PASCA SARJANA

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

(2)
(3)
(4)
(5)

i

ABSTRAK

TEUKU ALAMSYAH. NIM. 8136182054. Efek Model Pembelajaran Inkuiri Saintifik dan Pemanfaatan Media KIT IPA Terhadap Hasil Belajar IPA Siswa Kelas V SD Negeri 050783 Salahaji. Tesis. Program Studi Pendidikan Dasar Pascasarjana UNIMED. 2015.

Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran inkuiri saintifik (scientific inquiry) dan pemanfaatan media KIT IPA terhadap hasil belajar IPA siswa kelas V SD Negeri 050783 dibandingkan model pembelajaran langsung (direct instruction). Penelitian ini termasuk jenis penelitian kuasi eksperimental. Populasi dalam penelitian ini siswa kelas V SD Negeri 050783 Salahaji sebanyak 2 kelas dan tiap kelas sebanyak 32 siswa. Sampel dalam penelitian sebanyak 2 kelas atau merupakan total unit populasi. Kelas pertama sebagai kelas eksperimen diajarkan dengan model pembelajaran inkuiri saintifik dan pemanfaatan media KIT IPA, sedangkan satu kelas lainnya sebagai kelas pengontrol yang diajarkan dengan model pembelajaran langsung. Teknik pengumpulan data menggunakan tes hasil belajar dalam bentuk pilihan berganda yang telah diuji validitas, reliabilitas, daya beda, dan tingkat kesukarannya. Pengujian reliabilitas tes dilakukan pada butir-butir soal yang dinyatakan valid yaitu sebanyak 27 soal. Hasil analisis reliabilitas tes diperoleh r11 sebesar 0,897 yang berarti 27 soal yang valid dinyatakan reliabel atau tingkat kepercayaan tergolong tinggi. Teknik analisis menggunakan uji t atau uji Independent Sampel T-Test dengan bantuan program SPSS 16.0.Hasil penelitian menunjukkan model pembelajaran inkuiri saintifik dan pemanfaatan media KIT IPA memberikan pengaruh lebih tinggi terhadap hasil belajar sains siswapada materi perubahan wujud benda dibandingkan model pembelajaran langsung (direct instruction) dengan thitung = 4,351 dan p = 0,000. Hasil analisis diperoleh hasil belajar IPA siswa yang diajarkan model pembelajaran inkuiri saintifik dan pemanfaatan media KIT IPA pada materi perubahan wujud benda tergolong kategori tinggi dengan rata-rata gain skor (tingkat pemahaman konsep) sebesar 0,73 dengan standar deviasi sebesar 0,099. Hasil belajar belajar IPAsiswa setelah diajarkan dengan model pembelajaran langsung tergolong pada kategori sedang dengan rata-rata gain skor sebesar 0,61 dengan standar deviasi sebesar 0,122. Ranah kognitif siswa kelas eksperimen yang berkembang setelah diajarkan model pembelajaran inkuiri saintifik dan pemanfaatan media KIT IPAadalah C1 sebesar 77,5% (tinggi); C2 sebesar 72,4% (tinggi); C3 sebesar 71,3% (tinggi); dan C4 sebesar 72,1% (tinggi).

(6)

ii

ABSTRACT

TEUKU ALAMSYAH. NIM. 8136182054. Scientific Inquiry Learning Model

Effects And Utilization Of Media KIT IPA IPA Learning Outcomes Student Class V SD Negeri 050 783 Salahaji. Thesis. Basic Education Graduate

Studies Program.UNIMED.2015.

Research carried out to determine the effect of scientific inquiry learning model (scientific inquiry) and the utilization of IPA KIT media on learning outcomes fifth grade science students Elementary School 050 783 compared to direct learning model (direct instruction). This research includes the quasi-experimental study. The population in this study Elementary School fifth grade students as much as 2 050 783 Salahaji class and each class of 32 students. Samples much as 2 class or a total unit population. The first class is taught as a class experiment with a model of scientific inquiry learning and media utilization KIT IPA, whereas the other classes as a controller class is taught by direct learning model. Data collection techniques using test results in the form of multiple-choice study tested the validity, reliability, power difference, and the difficulty level. Tests of reliability tests conducted on the test items were declared invalid as many as 27 questions. Results obtained r11 reliability analysis test of 0.897, which means about 27 valid or reliable expressed confidence level is high. Techniques of analysis using the t test or the test of Independent Sample T-Test with SPSS 16.0.Hasil research shows a model of scientific inquiry learning and media utilization KIT IPA higher impact on learning outcomes of students in materials science changes in states of matter than direct learning model (direct instruction) with t = 4.351 and p = 0.000. Results obtained by analysis of learning outcomes of students taught science inquiry learning model scientific and media utilization KIT IPA to material changes in the form of objects classified as high category with an average gain scores (level of understanding of the concept) by 0.73 with a standard deviation of 0.099. Learn science student learning outcomes after taught with direct instruction models classified in the category with an average gain of a score of 0.61 with a standard deviation of 0.122. Cognitive experimental class students are taught that developed after the model of scientific inquiry learning and media utilization KIT IPA is C1 amounted to 77.5% (high); C2 amounted to 72.4% (high); C3 amounted to 71.3% (high); and C4 amounted to 72.1% (high).

(7)

iii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah swt, atas segala Rahmat dan Hidayah-Nya, yang memberikan kesehatan dan hikmah kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis yang berjudul “Efek model pembelajaran inkuiri saintifik dan pemanfaatan media KIT IPA terhadap hasil belajar pada siswa kelas V SD Negeri 050783 Salahaji”, dengan baik dan tepat waktu. Tesis ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Pendidikan Program Studi Pendidikan Dasar pada Program Pascasarjana Universitas Negeri Medan.

Penulis menyadari bahwa penulisan tesis ini tidak akan dapat diselesaikan dengan baik dan tepat waktu tanpa bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan tesis ini. Ucapan terima kasih sebesar-besarnya secara khusus penulis sampaikan kepada Bapak Prof. Dr. Mara Bangun Harahap. M.S, dan Bapak Prof. Dr. Sumarno. M.Pd selaku Dosen Pembimbing yang dengan sabar memberikan motivasi, pengarahan, saran, masukan, dan bimbingan kepada penulis sejak awal penulisan hingga selesainya tesis ini.

(8)

iv

Semoga bantuan dan jasa baik yang telah diberikan kepada penulis mendapat balasan dari Allah swt. Penulis telah berupaya dengan semaksimal mungkin dalam penyelesaian tesis ini, namun penulis menyadari masih banyak terdapat kelemahan baik dari segi isi maupun tata bahasa, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun dari pembaca demi sempurnanya tesis ini. Kiranya isi tesis ini dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya dalam memperkaya khasanah ilmu pendidikan. Akhirnya penulis mengucapkan terima kasih, semoga tesis ini berguna bagi kita semua khususnya para pembaca. Amin

Medan, Agustus 2015 Penulis,

Teuku Alamsyah

NIM 8136182054

(9)

iv

2.2 KajianHasilBelajar yang Relevan ... 38

2.3 KerangkaBerpikir ... 41

(10)

iv

BABIII METODE PENELITIAN

3.1 JenisdanDesainPenelitian ... 44

3.2 LokasidanWaktuPenelitian ... 45

3.3 PopulasidanSampel ... 45

3.4 VariabelPenelitian ... 45

3.5 ProsedurPenelitian ... 47

3.6PengontrolanPerlakuan ... 49

3.7 TehnikdanInstrumenPengumpulan Data... 51

3.8 TeknikAnalisis Data ... 58

BABIV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 HasilPenelitian ... 61

4.1.1 Deskripsi Data HasilPenelitian ... 61

4.1.1.1Deskripsi Data PretesSiswa ... 64

4.1.1.2Deskripsi Data PostesSiswa ... 62

4.1.1.3Deskripsi Data Gain SkorSiswa ... 67

4.1.1.4UjiHipotesis ... 71

4.1.1.5PerkembanganRanahKognitifSiswaKelasEksperimen ... 72

4.2 Pembahasan ... 73

BABV SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN 5.1 Simpulan ... 80

5.2 Implikasi ... 80

5.3 Saran ... 80

DAFTAR PUSTAKA ... 83

(11)

ii

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1.1Pretest-Postess Control Group Design ... 44

Tabel 2.1Kisi-Kisi TesHasilBelajar ... 52

Tabel 3.1Deskripsi Data PretesSiswa ... 61

Tabel 3.2HasilUjiNormalitas Data PretesSiswa ... 62

Tabel 3.3HasilUjiHomogenitas Data Pretes ... 64

Tabel 3.4Deskripsi Data PostesSiswa ... 65

Tabel 3.5HasilUjiNormalitas Data PostesSiswa ... 65

Tabel 3.6HasilUjiHomogenitas Data Postes ... 67

Tabel 3.7Deskripsi Data Gain SkorSiswa ... 68

Tabel 3.8HasilUjiNormalitas Data Gain SkorSiswa ... 68

Tabel 3.9HasilUjiHomogenitasDataGainSkor ... 70

Tabel 3.10RingkasanHasilUji Independent Sampel T Test ... 71

(12)

vii

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar1.1 Diagram AlurPenelitian ... 49

1.2 Histogram Data PretesSiswaKelasEksperimen ... 63

1.3 Histogram Data PretesSiswaKelasKontrol ... 63

1.4 Histogram Data PostesSiswaKelasEksperimen ... 66

1.5 Histogram Data PretesSiswaKelasKontrol ... 66

1.6 Histogram Data Gain SkorSiswaKelasEksperimen ... 70

1.7 Histogram Data Gain SkorSiswaKelasKontrol ... 71

1.8 Histogram PeningkatanHasilBelajar IPA Siswa ... 74

(13)

viii

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1.RencanaPelaksanaanPembelajaran... 86

2. LembarKerjaSiswa ... 104

3 SoalTesHasilBelajar ... 118

4. KunciJawaban ... 124

5. Tabulasi Data PretesSiswaKelasEksperimen ... 134

6. Tabulasi Data PretesSiswaKelasKontrol ... 136

7. Tabulasi Data PostesSiswaKelasEksperimen... 138

8. Tabulasi Data PostesSiswaKelasKontrol ... 140

9. PerkembanganRanahKognitifSiswaKelasEksperimen ... 142

10.PenguasaanKognitifHasilPostesKelasEksperimen ... 143

11.PerhitunganPerkembanganRanahKognitifSiswa ... 144

12.Rekap Data HasilPenelitian ... 145

(14)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang Masalah

Paradigma mengukur kemajuan suatu bangsa saat ini sudah bergeser,

yaitu dari yang semula mengukur kemajuan suatu bangsa dengan bertumpu

semata-mata pada kekayaan sumber daya alam (SDA), menjadi mengukur

kemajuan suatu bangsa dengan bertumpu pada kekuatan sumber daya manusia

(SDA). Paradigma ini mengharuskan suatu bangsa memperkuat sektor

pendidikan. Kemajuan suatu bangsa akan sumber daya manusia yang unggul

mengharuskan adanya pendidikan yang unggul dan adanya pendidikan yang

unggul mengharuskan adanya berbagai komponen atau aspek pendidikan yang

unggul pula. Kepada pendidikan yang unggul itulah harapan terwujudnya bangsa

yang besar dan maju akan segera tergapai.

Salah satu strategi untuk mewujudkan pendidikan yang unggul adalah

bagaimana mengelola input sebuah pendidikan agar peserta didik yang telah

menempuh masa pendidikan dapat bersaing dengan dunia luar pendidikan yang

notabenenya lebih kompetitif dalam meraih yang diharapkan dari semua

bidang kehidupan.

Perubahan zaman dan ilmu pengetahuan, membuat seluruh aspek

termasuk dunia pedidikan mengalami berbagai perubahan mulai dari perubahan

visi, misi pendidikan sampai dengan perubahan kurikulum yang sekarang ini.

(15)

2

timbul dalam kurun waktu terakhir ini. Hal ini merupakan upaya untuk

membelajarkan peserta didik sehingga dapat belajar secara optimal. Banyak

ragam inovasi dalam pembelajaran dikembangkan, seringkali dikaitkan dengan

teori belajar tertentu atau mengantisipasi arah perkembangan ilmu pengetahuan

dan teknologi di masa datang. Secara umum pengkajian terhadap suatu

kecenderungan atau inovasi dalam pendidikan sains dapat kita telaah dengan

memperhatikan aspek filosofis, karakteritik, dan ciri pokok, serta implikasinya

dalam praktek.

Khusus untuk pembelajaran sains/IPA, dilaporkan berbagai hal penelitian

yang berkaitan dengan upaya membelajarkan peserta didik. Upaya-upaya yang

dilakukan terus dan akan terus berlanjut agar peserta didik mempunyai bekal

untuk mengantisipasi arah perubahan yang akan terjadi. Uapaya-upaya itu antara

lain, pendekatan untuk mengaktifkan peserta didik baik secara fisik maupun

mental dalam suatu pembelajaran sains, mengaitkan bahan pelajaran dengan

penerapannya di dalam kehidupan sehari-hari atau upaya mengkongkritkan objek

bahasan dan melatih ketrampilan proses sains.

Permasalahan yang timbul akhir-akhir ini dalam kaitannya dengan

mengaktifkan peserta didik, adalah apa yang diinginkan dengan metode aktif

masih belum tampak dampaknya dalam kegiatan pendidikan di sekolah. Dalam

peningkatan kualitas pendidikan, pembelajaran aktif perlu dilaksanakan.

Beberapa guru menganggap bahwa peserta didik dikatakan aktif bila peserta

(16)

3

belum jelas bagi guru. Beberapa guru yang lain menganggap anak harus berpikir

sendiri, untuk itu tidak boleh ditolong atau dibimbinig (Dahar, 1991:12).

Dalam kaitan dengan kekurangpuasan dalam pembelajaran sains dan tinjauan

kritis terhadap upaya mengaktifkan peserta didik melalui kerja praktek,

Hudson, D. (1990:33-34) menyatakan:

"A major cause of the unsatisfactory nature of much school practical work is that teachers use it unthinkingly.... that sees hands-on pratical work as the universal panacea, the educational solution ta all learning problems".

Tidak hanya sekedar untuk mengaktifkan peserta didik saja, tetapi rupanya

guru juga menjadikan kerja praktek sebagai obat mujarab (panacea) untuk

mengobati semua masalah dalam pendidikan, meskipun penggunaannya kurang

dipahami secara baik.

Gallagher, (dalam Dahar, 1971: 61) menyatakan ketrampilan proses sains merupakan keterampilan untuk menperoleh dan mengorganisasi pengetahuan {knowledge) tentang lingkungannya. Lebih lanjut Gallagher berpendapat, bahwa Pendidikan sains kurang memperhatikan interaksi antara dimensi-dimensi konseptual dan proses dari sains dengan teknologi dan masyarakat.

Pembelajaran merupakan suatu proses yang rumit karena tidak hanya sekedar

menyerap informasi dari guru tetapi melibatkan berbagai kegiatan dan tindakan

yang harus dilakukan untuk mendapatkan hasil belajar yang lebih baik.

Pembelajaran yang kondusif penuh interaksi timbal balik sangat didambakan oleh

setiap pihak pada lingkup pendidikan terlebih jika menyangkut mutu sumber daya

manusia yang ada. Salah satu kegiatan pembelajaran yang menekankan berbagai

(17)

4

dengan karakter peserta didik. Strategi pembelajaran merupakan cara yang teratur

untuk mencapai tujuan pengajaran dan untuk memperoleh kemampuan dalam

mengembangkan aktivitas belajar yang dilakukan pendidik dan peserta didik.

Selain suatu strategi pembelajaran, keaktifan belajar siswa juga merupakan

salah satu faktor penting dalam keberhasilan proses belajar mengajar. Sikap aktif

terwujud dengan menempatkan siswa sebagai subyek pendidikan. Peran guru

adalah sebagai fasilitator dan bukan sumber utama pembelajaran. Setiap siswa

harus dapat memanfaatkan ilmu yang diperolehnya dalam kehidupan sehari-hari,

untuk itu setiap pelajaran selalu dikaitkan dengan manfaatnya dalam lingkungan

sosial masyarakat.

Pembelajaran dengan strategi yang tepat hendaknya dilaksanakan pada tiap

jenjang pendidikan serta dalam semua mata pelajaran termasuk IPA. IPA

merupakan salah satu ilmu dasar yang mempunyai peranan penting dalam upaya

penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. IPA juga ilmu yang bertujuan untuk

mendidik manusia agar dapat berfikir secara logis, kritis, rasional dan percaya

diri. Pemahaman, penguasaan materi serta prestasi belajar siswa merupakan

indikator keberhasilan proses kegiatan pembelajaran IPA. Semakin tinggi

pemahaman dan penguasaaan materi serta prestasi belajar maka semakin tinggi

pula tingkat keberhasilan pembelajaran. Dalam pembelajaran IPA yang dilakukan

pada umumnya tidak memperhatikan hal-hal tersebut sehingga pelajaran IPA

kurang diminati siswa dampak lebih lanjut adalah pelajaran tersebut tidak tercapai

tujuannya dan kurang bermanfaat bagi siswa. (Depdiknas, 2006) Pelajaran IPA

(18)

5

1) Merupakan suatu kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis, dan

dalam penggunaannya secara umum terbatas pada gejala-gejala alam.

2) IPA merupakan pengetahuan teoritis. Teori IPA diperoleh atau disusun

dengan cara yang khas atau khusus, yaitu dengan melakukan observasi,

eksperimentasi, penyimpulan, penyusunan teori, eksperimentasi, observasi

dan demikian seterusnya kait mengkait antara cara yang satu dengan cara

yang lain.

3) IPA merupakan suatu rangkaian konsep yang saling berkaitan. Dengan

bagan-bagan konsep yang telah berkembang sebagai suatu hasil eksperimen

dan observasi, yang bermanfaat untuk eksperimentasi dan observasi lebih

lanjut.

Dari ketiga karakteristik tersebut jika dimasukkan ke dalam memori anak

SD tentu membutuhkan metode yang cukup efektif dan menyenangkan dalam

proses pembelajaran. Pembelajaran IPA sering bisa dikaitkan dengan

pembelajaran yang harus bisa dipahami secara utuh. KIT IPA merupakan

peralatan IPA yang biasa digunakan siswa dan guru dalam membantu proses

pembelajaran IPA sehingga konsep dalam IPA dapat dipakai secara utuh.

IPA merupakan mata pelajaran wajib yang dipelajari di SD. Pembelajaran

IPA di SD hendaknya bukan hanya sekedar penguasaan kumpulan pengetahuan

yang berupa fakta, konsep, atau prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses

penemuan. Pembelajaran untuk anak SD seharusnya banyak disediakannya

kesempatan anak untuk bereksplorasi, berpikir dan memperoleh kesempatan

(19)

6

bekerjasama secara kelompok. Untuk itu pembelajaran IPA hendaknya anak

dibawa ke dalam situasi yang nyata, anak melihat dan membuktikan sendiri, anak

mengkonstruksi pengetahuan sendiri berdasarkan fakta yang ada dan memperoleh

pengalaman konkret.

Cara yang bisa dipakai di dalam pengembangan proses pembelajaran dapat

dimulai dari adanya inovasi model pembelajaran. Salah satu model yang mulai

dikembangkan saat ini adalah model inkuiri dimana di dalam model pembelajaran

ini berupaya menanamkan dasar-dasar berfikir ilmiah pada diri siswa, sehingga

dalam proses pembelajaran ini siswa lebih banyak belajar sendiri,

mengembangkan kreativitas dalam memecahkan masalah. Sampai sekarang,

model ini dianggap sebagai model yang efektif untuk pembelajaran IPA dan

penerapan model inkuiri untuk siswa SD lebih tepatnya menggunakan model

inkuiri saintifik. Inkuiri merupakan proses pembelajaran berdasarkan penemuan

dan pencarian melalui proses berpikir secara sistematis, dimana guru memimpin

murid-murid dengan tahapan-tahapan yang benar, mengijinkan adanya diskusi,

memberikan pertanyaan yang menuntun, dan memperkenalkan ide pokok bila

dirasa perlu. Dengan model inkuiri, siswa dituntut untuk menemukan konsep

melalui petunjuk-petunjuk seperlunya dari seorang guru. Petunjuk-petunjuk itu

pada umumnya berupa pertanyaan-pertanyaan yang bersifat mengarahkan siswa.

Berdasarkan hasil observasi peneliti di SD Negeri 050783 Salahaji

diketahui fakta bahwa dalam proses pembelajaran di kelas V guru masih

menggunakan metode pembelajaran yang bersifat konvensional atau ekspositori

(20)

7

khususnya penggunaan model inkuiri saintifik sehingga siswa kurang

bersemangat dan bosan dalam mengikuti proses pembelajaran terutama mata

pelajaran IPA, sumber pengetahuan hanya didapat dari guru dan buku paket,

siswa kurang berperan aktif di dalam proses pembelajaran sehingga kemampuan

siswa tidak berkembang secara optimal, serta prestasi belajar siswa kelas V pada

pelajaran IPA yang masih rendah.

Data yang telah didapat dari pengamatan secara singkat tentang hasil

belajar IPA di SD Negeri 050783 belum mencapai nilai KKM. Nilai KKM yang

ditetapkan sekolah untuk mata pelajaran IPA adalah 70. Kemudian menurut

beberapa siswa mengatakan bahwa dalam pebelajaran IPA masih banyak yang

belum mereka pahami secara utuh. Menurut pengamatan penulis saat pelajaran

IPA di kelas V SD Negeri 050783 dalam materi sifat dan perubahan wujud benda

masih ada 10 siswa yang terlihat tidak konsentrasi dengan yang diterangkan guru,

8 siswa yang sibuk sendiri dengan pekerjaannya, dan tidak ada pertanyaan

ataupun komentar yang muncul dari pelajaran yang disampaikan.

Hal ini berkaitan dengan ketepatan penggunaan model pembelajaran yang

digunakan guru lebih sering sekedar menerangkan dengan ceramah sehingga

belum sesuai dengan keadaan siswa sehingga mempunyai dampak terhadap hasil

belajar siswa. Sehingga penulis mengambil sebuah masalah tentang pembelajaran

IPA materi perubahan sifat benda dan perubahan wujud benda. Konsep tersebut

tidak cukup hanya diberikan secara teoritis ceramah tanpa praktik nyata yang

(21)

8

tujuan pembelajaran yang meliputi tiga aspek pengetahuan atau nilai, sikap dan

keaktifan dapat tercapai.

Berdasarkan uraian di atas, penulis akan menerapkan model inkuiri

saintifik dengan pemanfaatan KIT IPA dalam proses pembelajaran IPA tentang

perubahan sifat benda dan perubahan wujud benda yang diharapkan dapat efektif

terhadap hasil belajar yang ditargetkan atau sesuai dengan tujuan. Sehingga

penulis mengambil sebuah judul penelitian “efek penerapan model pembelajaran

inkuiri saintifik dan pemanfaatan media KIT IPA terhadap hasil belajar IPA pada

Siswa Kelas V Sekolah Dasar Negeri 050783 Salahaji”.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis menemukan beberapa

masalah yang teridentifikasi yaitu:

1) Guru masih menggunakan metode pembelajaran konvensional dimana

pembelajaran masih sangat biasa, belum ada inovasi pembelajaran terutama

penggunaan model inkuiri saintifik sehingga siswa menjadi bosan dan tidak

bersemangat terutama pada mata pelajaran IPA.

2) Sumber utama belajar berasal dari guru dan buku paket.

3) Siswa kurang berperan aktif di dalam proses pembelajaran sehingga

kemampuan yang dimiliki siswa belum berkembang secara optimal.

(22)

9

1.3 Batasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah, peneliti memberikan pembatasan

masalah sehingga ruang lingkup dalam penelitian yang dilakukan yaitu tentang

efek model pembelajaran inkuiri saintifik dan pemanfaatan media KIT IPA

terhadap peningkatan prestasi belajar siswa kelas V pada mata pelajaran IPA.

1.4 Rumusan Masalah

Dari uraian latar belakang di atas, dapat dirumuskan permasalahan yang

diangkat penulis yaitu:

1. Bagaimanakah hasil belajar IPA siswa yang diajarkan dengan model

pembelajaran inkuiri saintifik dan pemanfaatan media KIT?

2. Bagaimanakah hasil belajar IPA siswa yang diajarkan dengan model

pembelajaran langsung (direct instruction)?

3. Apakah model pembelajaran inkuiri saintifik dan pemanfaatan media KIT

memberikan pengaruh lebih efektif terhadap hasil belajar IPA siswa pada

materi perubahan sifat benda dan perubahan wujud benda dibandingkan model

pembelajaran langsung (direct instruction) di kelas V SD Negeri 050783 Salahaji?

1.5 Tujuan Penelitian

Sejalan dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan dilakukannya

(23)

10

1. Hasil belajar IPA siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran inkuiri

saintifik dan pemanfaatan media KIT.

2. Hasil belajar sains siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran langsung

(direct instruction).

3. Pengaruh model pembelajaran inkuiri saintifik dan pemanfaatan media KIT

terhadap hasil belajar IPA siswa pada materi perubahan sifat benda dan

perubahan wujud benda dibandingkan model pembelajaran langsung (direct

instruction) di kelas V SD Negeri 050783 Salahaji.

1.4 Manfaat Penelitian

Dalam penelitian ini diharapkan dapat membawa manfaat bagi dunia

pendidikan. Adapun manfaat dari penelitiaan ini adalah sebagai berikut:

1.Manfaat Teoritis

Penelitian ini secara umum memberikan sumbangan dalam pembelajaran

untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan penerapan pelajaran IPA pokok

bahasan sifat dan perubahan wujud benda kelas V.

2.Manfaat Praktis

a) Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa yang

terkait dengan penerapan model pembelajaran inkuiri saintifik dan

pemanfaatan media KIT IPA dalam mata pelajaran IPA kelas V Sekolah

Dasar Negeri 050783 Salahaji

b) Penelitian ini diharapkan dapat memberikan alternatif kepada guru dalam

memilih model pembelajaran IPA yang sesuai dengan pendekatan yang

(24)

11

c) Penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi untuk penelitian yang akan

dilakukan oleh para guru untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

d) Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan bagi pihak-pihak yang

(25)

80

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1Simpulan

Hasil temuan penelitian dan analisis yang telah dilakukan, diperoleh beberapa simpulan, antara lain:

1. Hasil belajar IPA siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran inkuiri saintifik dan pemanfaatan media KIT IPA rata-rata tergolong kategori tinggi dengan rata-rata gain skor (tingkat pemahaman konsep) sebesar 0,73 dengan standar deviasi sebesar 0,099.

2. Hasil belajar IPAsiswa yang diajarkan dengan model pembelajaran langsung (direct instruction) rata-rata tergolong pada kategori sedang dengan rata-rata gain skor sebesar 0,61 dengan standar deviasi sebesar 0,122.

3. Model pembelajaran inkuiri saintifik dan pemanfaatan media KIT IPA memberikan pengaruh lebih tinggi terhadap hasil belajar sains siswapada materi benda dan sifatnya dibandingkan model pembelajaran langsung (direct instruction) di kelas V SD Negeri 050783 Salahaji T.P. 2015/2016 (thitung = 4,351 dan p = 0,000).

5.2Saran

Berdasarkan simpulan dan implikasi yang telah dikemukakan, maka sebagai tindak lanjut dari penelitian ini disarankan beberapa hal sebagai berikut: 1. Hendaknya dalam mengajarkan materi IPA, guru tidak hanya sekedar

(26)

81

merancang dan mengembangkan suatu model pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa untuk belajar, dan disarankan kepada guru untuk dapat menerapkan model pembelajaran inkuiri saintifik dan memanfaatkan media KIT IPA, agar siswa mudah memahami konsep-konsep yang dipelajarinya dan terlibat secara aktif dalam belajar baik dalam diskusi kelompok maupun diskusi kelas, serta menghapus mind set siswa bahwa pembelajaran IPA adalah pelajaran yang sulit atau membosankan.

2. Penerapan model pembelajaran inkuiri saintifik dan pemanfaatan media KIT IPA di dalam kelas bukanlah hal yang mudah, oleh karena itu diharapkan kepada guru untuk dapat merencanakan dengan baik langkah-langkah pembelajaran yang akan dilaksanakan, mulai dari menghadapkan siswa dengan masalah, menengahi penelitian menurut prosedur-prosedur penelitian, merespons penjajakan penelitian siswa dengan informasi yang penting,membantu para siswa untuk fokus dalam penelitian mereka, dan memfasilitasi diskusi anatara siswa tentang situasi permasalahan tersebut. 3. Kepada pihak sekolah, juga diharapkan untuk lebih memperhatikan

penyediaan sarana, prasarana maupun fasilitas pembelajaran yang dapat membantu guru dalam menjalankan tugasnya dengan baik, dan disarankan agar mengikutsertakan para guru dalam pelatihan-pelatiahan atau diklat sehingga guru dapat meningkatkan profesionalismenya dalam menunjang efektifitas dan efisiensi pelaksanaan belajar mengajar di dalam kelas.

(27)

82

disebarluaskan kepada komunitas pengguna hasil penelitian misalnya guru, kepala sekolah, pengawas sekolah maupun mahasiswa kependidikan.

(28)

83

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman. 2007. Meaningful Learning Re-Invensi Kebermaknaan Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Chalmers, AF. 1980. What is Thing Called Science? Milton Keynes, England:

The Open University Press

Dahar, R W. 1985. Kesiapan Guru Mengajarkan Sains di Sekolah Dasar ditinjau dari Segi Pengembangan Keterampilan Proses Sains.Desertasi meraih

gelar doctor Ilmu Kependidikan dalam Bidang Pendidikan Sains. Bandung:IKIP.Bandung.

DeBoer, George E.1991.A History of Ideas in Science Education : Implication for Practice. New York: Teacher College, Columbia University.

Depdiknas. 2006. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang standar Isi. Jakarta : Depdiknas.

Dimyati dan Mudjiono. 2009. Belajar Dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Faisher, Robert B. 1975. Science, Man, And Society. Toronto: W.B. Saunders

Company

Gulo, W. 2004.Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Grasindo, Anggota Ikapi

Handayani, Tutik 2010.Skripsi.Pengaruh Pemanfaatan Metode Inquiry terhadap Prestasi Belajar IPA Kelas V SD N Siwal 01 Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Semarang Tahun Ajaran 2010/2011

Himmah, Wafi Rif’atul. 2009. Penggunaan Metode Inquiri Guna Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Kelas IV Di SD N Tutup 02 Kecamatan Tunjungan Kabupaten Blora Semester I Tahun Pelajaran 2009/2010. Skripsi Program

Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Kristen Satya Wacana,

Indiawasti. 2010. Skripsi Ganjaran Nonverbal Sebagai Media Meningkatkan Motivasi dan Prestasi Belajar IPA Khususnya Tentang Pemahaman Konsep Sifat-Sifat Cahaya Siswa Kelas V di SD N Sumurboto Kecamatan Jepon Kabupaten Blora Tahun Pelajaran 2009/2010. UKSW Salataiga

Jenkins, Edgar & Whitfield. 1974. Science Teacher Education Project: Reading in Science Education. Maidenhead, Berkshire: McGrow-Hill Company (UK)

(29)

84

Joyce, Bruce & Weil Marsha.1980. Model of Teaching, New Jersey:

Prentice-Hall,Inc.

Kholil, Munawar. 2009. Ilmu Pengetahuan Alam 5 untuk SD/MI Kelas V. Jakarta:

Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Kriswanti. 2011. Skripsi Pengoptimalan Pemanfaatan Kit IPA dalam Mata Pelajaran IPA Pokok Bahasan Pesawat Sederhana untuk meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Kelas V SD Negeri Salatiga 10 Semester II Tahun Ajaran 2011/2012. UKSW Salatiga

Maryanto. 2009. Ilmu Pengetahuan Alam 5 untuk SD/MI Kelas 5. Jakarta :PT.

Galaxy Puspa Mega

Priyanto, Dwi. 2008. 5 jam Belajar Olah Data dengan SPSS 17. Yogyakarta:

Penerbit Andi

Riduwan,& Sunarto. 2009. Pengantar Statistika untuk Penelitian Pendidikan, Sosial Ekonomi, Komunikasi dan Bisnis. Bandung: Alfabeta.

Roestiyah.2008. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta :Rinekacipta

Sanjaya, Wina. 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Sukmadinata, Nana Saodih. 2011. Metode Penelitian Pendidikan.

Bandung.Rosdakarya

SEQIP. 2002. Buku IPA Guru Kelas 5. Jakarta : Depdiknas

Soemanto, Wasti. 2003. Psikologi Pendidikan. Malang. Rineka Cipta

Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta.

Rineka Cipta.

Sudjana, Nana. 1987. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung. : Sinar

Baru Agresindo.

Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : Alfabeta.

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : Alfabeta.

Sulistyanto, Heri. 2008. Ilmu Pengetahuan Alam 5 untuk SD/MI Kelas V. Jakarta:

(30)

85

Supatmi. Skripsi. Upaya Peningkatan Hasil Belajar IPA dengan Pendekatan Inquiry pada Siswa Kelas IV SD N Sekaran 01 Kecamatan Gunungpati Kota Semarang Tahun Pelajaran 2009/2011.UNNES Semarang

Sund, R.B, Bybee, R.W, Trowbridge, L.W. 1981. Becoming a Secondary School Science Teachers. Columbus, Ohio: Charles E. Menril Publishing

Company

Trianto. 2011. Mendesain Pembelajaran Inovativ-Progresif. Jakarta : Kencana

Trisnoherawati, Nanik. 2004. Tesis Pengaruh Penggunaan Peralatan KIT IP Dalam Pembelajaran IPA Terhadap Prestasi Belajar IPA Siswa SD N di Kecamatan Purworejo Kota Pasuruan.Universitas PGRI Adi Buana Surabaya. UPI Bandung

Wikaningrum, Anjar. 20120. Skripsi. Upaya peningkatan keaktifan dan hasil belajar siswa menggunakan metode inquiry pembelajaran IPA dengan materi pokok pesawat sederhana di SD Negeri 3 kaloran tahun pelajaran 2009/2010. UKSW Salatiga

Winkel, W.S. 1991. Psikologi Pengajaran. Yogyakarta : Media Abadi.

Wellington, J. 1996. Pendidikan IPA 4. Jakarta: Universitas Terbuka

Yager, R.1996.Science/Tecnology/Society: As Reform in Science Education.

Gambar

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Download now (30 pages)