Gambaran Pengetahuan dan Sikap Istri Terhadap Kekerasan Dalam Rumah Tangga di Wilayah Cipondoh Makmur RW 009 Kelurahan Cipondoh Makmur, Kota Tangerang

Gratis

0
13
134
3 years ago
Preview
Full text
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP ISTRI TERHADAP KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DI WILAYAH CIPONDOH MAKMUR RW 009 KELURAHAN CIPONDOH MAKMUR, KOTA TANGERANG TAHUN 2015 Skripsi ini Diajukan Sebagai Tugas Akhir Untuk Memenuhi Persyaratan Gelar Sarjana Keperawatan (S.Kep) Disusun Oleh : ITA SAMTASIYAH NIM : 1111104000045 PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1436 H/ 2015 M FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA Skripsi, Desember 2015 Ita Samtasiyah, NIM : 1111104000045 Gambaran Pengetahuan dan Sikap Istri Terhadap Kekerasan Dalam Rumah Tangga di Wilayah Cipondoh Makmur RW 009 Kelurahan Cipondoh Makmur, Kota Tangerang Xvi + 85 Halaman + 16 Tabel + 2 Bagan + 4 Lampiran ABSTRAK Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) merupakan bentuk kekerasan yang sulit untuk dikenali dan secara tidak sadar menjadi masalah yang sangat serius khususnya bagi istri dan anak. Kejadian KDRT pada istri meningkat setiap tahunnya namun banyak kasus-kasus KDRT yang tidak terungkap seperti fenomena gunung es. Hal ini dipengaruhi oleh pengetahuan dan sikap istri terhadap kasus kekerasan dalam rumah tangga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan dan sikap istri terhadap kekerasan dalam rumah tangga di wilayah cipondoh makmur. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain sederhana. Pengambilan data dilakukan pada 40 istri dari 4 RT di RW 009 Cipondoh Makmur dengan teknik Systematic Random Sampling dengan menggunakan kuesioner. Hasil penelitian ini menunjukan mayoritas responden memiliki pengetahuan baik45% dan memiliki sikap buruk 55%. Hasil penelitian berdasarkan karakteristik respondenistri dengan pengetahuan baik memiliki rentang usia 26-35 tahun (40%), pendidikan perguruan tinggi (50%), dan bekerja, sedangkan responden dengan sikap buruk memiliki rentang usia 26-35 tahun (41%), pendidikan SMA (59%), dan tidak bekerja (56,5%). Sikap yang buruk tidak didasari oleh pengetahuan yang baik, namun karena faktor kebudayaan, sehingga perlu diberikan informasi lebih lanjut oleh pelayanan kesehatan mengenai KDRT. Kata Kunci :Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), Pengetahuan, Sikap, Istri Referensi : 61 (Tahun 2005-2015) iii FACULTY OF MEDICINE AND HELATH SCIENCE STUDY PROGRAM OF NURSING SCIENCE ISLAMIC STATE UNIVERSITY SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA Skripsi, Desember 2015 Ita Samtasiyah, NIM : 1111104000045 Overview Knowledge and Attitude of Wife towards Domestic Violence in the Region Cipondoh Makmur RW 009, Kelurahan Cipondoh Makmur, Kota Tangerang. Xvii + 85 Pages + 16 table + 2 Charts + 4 Attachments ABSTRACT Domestic violence is a form of violence that are difficult to recognize and becomes a very serious probleminsensibly, especially for his wife and children. The incidence of domestic violence to the wife is increasing every year, but many cases of domestic violence were not revealed as an iceberg phenomenon. This is caused by influenced of the knowledge and attitude towards of wife in a domestic violence case. The aim of this researchis to determine the knowledge and attitude of wife towards domestic violence in the region CipondohMakmur. This research is a quantitative research using a simple design. The collecting of the data was collected at 40 of wife from 4 neighborhood head in head of hamlets of 009 CipondohMakmur with Systematic Random Sampling technique by using a questionnaire. These results indicate the majority of respondents have a good knowledge of 45% and 55% had a bad attitude. The results based on the characteristics of respondents that wife who have a good knowledge was come from the age range of 26-35 years (40%), college of education (50%), and work, where as the respondents with a bad attitude have an age range of 26-35 years (41%), Senior High School of education (59%), and it does not work (56.5%). Bad attitude is not based on good science, but due to cultural factors, so it needs to be given more information by health services institutional regarding of domestic violence. Keyword : Domestic Violence, Knowledge,attitude, wife Reference : 61 (Year 2005-2015) iv DAFTAR RIWAYAT HIDUP Nama : ITA SAMTASIYAH Tempat, Tanggal Lahir : Tangerang, 06 Juni 1994 Jenis Kelamin : Perempuan Agama : Islam Status : Belum Menikah Alamat : Jalan Tanjung 2 No.85 Kelurahan Cipondoh Makmur Kecamatan Cipondoh Kota Tangerang HP : 081297405678 E-mail : Itasamtasiyah@ymail.com Fakultas/Jurusan : Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan/ Program Studi Ilmu Keperawatan PENDIDIKAN 1. Sekolah Dasar Negeri Cipondoh 3 Tangerang 1999-2005 2. Sekolah Menengah Pertama Negeri 18 Tangerang 2005-2008 3. Sekolah Menengah Atas Negeri 09 Tangerang 2008-2011 4. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah 2011-Sekarang Jakarta vii KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, hidayah, karunia dan cahaya ilmu-Nya, serta shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada Rasul pembawa cahaya, Muhammad SAW, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Gambaran Tingkat Pengetahuan dan Sikap Istri Terhadap Kekerasan Dalam Rumah Tangga Di Wilayah Cipondoh Makmur RW 009 Kelurahan Cipondoh Makmur, Kota Tangerang”. Skripsi ini dibuat untuk memenuhi tugas akhir perkuliahan sebagai persyaratan gelar Sarjana Keperawatan (S.Kp) pada Pada Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Terselesaikannya skripsi ini tidak terlepas dari bantuan serta dukungan semangat dari berbagai pihak baik moril maupun materil, Karena itu penulis ingin menyampaikan terimakasih kepada: 1. Prof. Dr. Dede Rosyada selaku Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Prof. Dr. Arif Sumantri, SKM, M.Kes., selaku Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. viii 3. Ibu Maulina Handayani, S.Kp.,MSc, selaku ketua Program Studi dan, Ibu Ernawati, S.Kp, M.Kep, Sp.KMB, selaku Sekretaris Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. 4. Ibu Ns. Eni Nur’aini Agustini, S.Kep, M.Sc, selaku pembimbing akademik yang selalu memberikan nasehat dan motivasi selama proses pendidikan di Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. 5. Ibu Ns. Puspita Palupi, S.Kep, M.Kep, Sp.Mat selaku pembimbing 1 yang telah meluangkan waktu serta dengan sabar memberikan bimbingan, saran, kritikan serta motivasi kepada penulis. 6. Bapak Ns. Waras Budi Utomo, S.Kep, M.KM selaku pembimbing II yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing serta memeberikan motivasi kepada penulis. 7. Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Ilmu Keperawatan yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan kepada penulis selama 4 tahun, serta seluruh staf dan karyawan di lingkungan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. 8. Kepala Kelurahan Cipondoh Makmur beserta seluruh stafnya karena telah membantu dalam perizinan dan pengambilan data. 9. Ketua RW 009 yang telah membantu dalam perizinan dan pengambilan data. 10. Ketua RT 001, RT 002, RT 003, RT 004 karena telah membantu dalam perizinan dan pengambilan data. 11. Teristimewa ucapan terima kasih kepada kedua Orang tuaku tercinta, Ayahanda H. Samui dan Ibunda Hj. Tarsiyah yang telah mendidik, ix DAFTAR ISI Halaman PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ................................................................ i ABSTRACT .......................................................................................................... ii ABSTRAK ........................................................................................................... iii PERNYATAAN PERSETUJUAN ..................................................................... iv LEMBAR PENGESAHAN ..................................................................................v DAFTAR RIWAYAT HIDUP .......................................................................... vii KATA PENGANTAR ....................................................................................... viii DAFTAR ISI ........................................................................................................ xi DAFTAR SINGKATAN .................................................................................. xiii DAFTAR TABEL ............................................................................................ xiv DAFTAR BAGAN ............................................................................................. xvi DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xvii BAB I PENDAHULUAN A. B. C. D. E. F. Latar Belakang ........................................................................................1 Rumusan Masalah....................................................................................6 Pertanyaan Penelitian ..............................................................................7 Tujuan Penelitian ....................................................................................7 Manfaat Penelitian .................................................................................. 8 Ruang Lingkup Penelitian ......................................................................8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) ............................................9 1. Pengertian ........................................................................................9 2. Bentuk-bentuk Kekerasan ..............................................................10 3. Faktor yang Mempengaruhi KDRT................................................15 4. Dampak KDRT ...............................................................................21 B. Kekerasan dalam rumah tangga menurut islam .....................................24 1. Pengertian .......................................................................................24 xi C. D. E. F. 2. Batasan KDRT dalam islam ...........................................................25 3. Faktor KDRT dalam islam ............................................................ 26 Pengetahuan ...........................................................................................27 Sikap .....................................................................................................32 Penelitian Terkait ...................................................................................37 Kerangka Teori ......................................................................................39 BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL A. Kerangka Konsep ..................................................................................40 B. Definisi Operasional ..............................................................................41 BAB IV METODE PENELITIAN A. B. C. D. E. F. G. H. I. Desain Penelitian ...................................................................................43 Lokasi dan Waktu Penelitian .................................................................43 Populasi dan Sampel............................................................................. 44 Instrumen Penelitian .............................................................................48 Uji Validitas dan Reliabilitas ................................................................50 Langkah-Langkah Pengumpulan Data .................................................53 Pengolahan Data ...................................................................................54 Analisa Data ..........................................................................................55 Etika Penelitian ......................................................................................55 BAB V HASIL PENELITIAN A. Gambaran Kel. Cipondoh Makmur ...................................................... 57 B. Gambaran Karakteristik Responden ......................................................57 C. Analisa Univariat .................................................................................. 59 BAB VI PEMBAHASAN A. Analisa Univariat ....................................................................................68 B. Keterbatasan Penelitian ...........................................................................83 BAB VII PENUTUP A. Kesimpulan .............................................................................................84 B. Saran .......................................................................................................85 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN xii DAFTAR SINGKATAN KDRT : Kekerasan Dalam Rumah Tangga WHO : World Health Organization NCADV : National Coalition Against Domestic TPPKK : Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga LBH : Lembaga Bantuan Hukum PPT : Pusat Pelayanan Terpadu NNEDV : National Network to End Domestic Violence DEPKES : Departemen Kesehatan UIN : Universitas Islam Negeri RT : Rukun Tetangga RW : Rukun Warga Xiii DAFTAR TABEL Nomor Tabel Halaman 4.1 Jumlah Istri di RW 009 Kelurahan Cipondoh Makmur ...................................... 44 4.2 Hasil Ukur Skala Guttman ...................................................................................49 4.3 Kategori Pengukuran Skala Likert ...................................................................... 50 4.4 Hasil Ukur Skala Likert ...................................................................................... 50 4.5 Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Penelitian ....................................................... 52 5.1 Distribusi Frekuensi berdasarkan Usia Responden di RW 009 Kelurahan Cipondoh Makmur Tahun 2015 ........................................................................... 58 5.2 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pendidikan Responden di RW 009 Kelurahan Cipondoh Makmur Tahun 2015............................................................................ 58 5.3 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pekerjaan Responden di RW 009 Kelurahan Cipondoh Makmur Tahun 2015 ........................................................................... 59 5.4 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Responden tentang KDRT di RW 009 Kel. Cipondoh Makmur, Kota Tangerang ................................................................... 60 5.5 Distribusi Frekuensi Sikap Responden tentang KDRT di RW 009 Kelurahan CipondohMakmur, Kota Tangerang ..................................................................... 61 5.6 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Responden Berdasarkan usia di RW 009 Kel. Cipondoh Makmur Kota Tangerang .................................................................... 62 5.7 Distribusi frekuensi Sikap Responden Berdasarkan Usia di RW 009 Kelurahan Cipondoh Makmur Kota Tangerang .....................................................................63 5.8 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Responden Berdasarkan Pendidikan di RW 009 Kelurahan Cipondoh Makmur Kota Tangerang ........................................... 64 5.9 Distribusi Frekuensi Sikap Responden Berdasarkan Pendidikan di RW 009 di Kelurahan Cipondoh Makmur, Kota Tangerang ............................................. 65 5.10 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Responden Berdasarkan Pekerjaan xiv di RW 009 Kelurahan Cipondoh Makmur, Kota Tangerang .......................... 66 5.11 Distribusi Frekuensi Sikap Responden Berdasarkan Pekerjaan diRW 009 Kelurahan Cipondoh Makmur, Kota Tangerang ....................................... 67 xv DAFTAR BAGAN Nomor Bagan Halaman 2.1 Kerangka Teori ...................................................................................... 39 3.1 Kerangka Konsep .................................................................................... 40 xvi DAFTAR LAMPIRAN 1. Lampiran 1 Informed Consent 2. Lampiran 2 Surat Permohonan Izin Studi Pendahuluan 3. Lampiran 3 Surat Izin Penelitian 4. Lampiran 4 Kisi-kisi Instrumen Penelitian 5. Lampiran 5 Kuesioner Penelitian 6. Lampiran 6 Olah Data menggunakan Software Statistic xvii BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) memaparkan bahwa KDRT adalah “setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. Lingkup rumah tangga mencakup suami, istri, anak dan termasuk orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga ataupun hubungan darah (Ferry, 2009). Rumah tangga meliputi keluarga yang berarti mengacu pada rasa aman dan dilindungi, menjadi tempat berteduh dari tekanan-tekanan dan kesulitan di luar, tempat dimana anggota keluarga merasakan ketentraman dan kedamaian (Asmarany, 2013). KDRT merupakan bentuk kekerasan yang sulit untuk dikenali dan secara tidak sadar telah menjadi masalah yang sangat serius khususnya bagi perempuan dan anak (Astuti, 2006). Tercatat 1 dari 5 perempuan dan 1 dari 59 laki-laki telah mengalami kekerasan seksualitas atau pemerkosaan, sedangkan 1 dari 4 perempuan telah menjadi korban 1 2 kekerasan fisik yang parah oleh pasangan intimnya dan 1 dari 7 laki-laki telah mengalami hal yang sama (Breiding, 2014). World Health Organization (WHO) mengadakan tinjauan terhadap beberapa negara dunia mengenai KDRT dan mendapatkan hasil presentase dari angka kejadian KDRT didunia, diantaranya Afrika 37%, Mediterania Timur 37%, Amerika 30%, Eropa 25%, Pasifik Barat 24%. Berdasarkan semua data yang ada, menunjukkan bahwa 35 % wanita mengalami kekerasan oleh pasangan intim (kekerasan fisik dan/atau seksual oleh pasangan intim). Penelitian yang sama dilakukan di Amerika Serikat dan menunjukan bahwa korban KDRT terbanyak adalah perempuan dan dilakukan oleh pasangannya sendiri (Darrel, 2009). KDRT sering disebut dengan fenomena gunung es kerana kasus yang tampak hanyalah sebagian kecil dari angka kejadian yang sebenarnya (Marchira, 2007). Indonesia merupakan negara yang mempunyai angka tertinggi dalam kasus KDRT (Zubir, 2013). Berdasarkan Catatan Tahunan Komisi Nasional Perempuan (2014) yang ditangani oleh Pengadilan Agama yaitu kasus KDRT mencapai 263.285 dan 6% atau sekitar 16.403 merupakan kasus dari lembaga pengadaan layanan dengan kasus terbesar adalah KDRT terhadap istri. Kasus KDRT di Indonesia mengalami peningkatan setiap tahunnya, jika tahun 2011 ada 520 kasus, 2012 ada 600 kasus, dan tahun 2013 tercatat 992 kasus (Mulia, 2014). Berdasarkan data Polres Metro Kota Tangerang pada tahun 2011 terjadi sebanyak 77 kasus KDRT, tahun 2012 sebanyak 105 kasus KDRT, tahun 2013 sebanyak 80 kasus KDRT (Annahar, 2013). 3 Santoso (2014) melaporkan kasus KDRT di Jawa Tengah menduduki angka tertinggi, karena sepanjang November 2013- Februari 2014 KDRT mencapai 29 kasus dengan 169 korban perempuan yang menjadi korban kekerasan, dan 5 korban diantaranya meninggal dunia. Hal ini diakibatkan karena adanya pengaruh budaya Jawa yang menganggap bahwa membicarakan masalah keluarga adalah hal yang tabu dan memalukan, sehingga membuat wanita yang mengalami kekerasan enggan untuk memberitahukan kepada keluarga atau orang lain (Marchira, 2007). Fenomena KDRT adalah fenomena universal yang dapat terjadi tanpa memandang usia, profesi, tingkat ekonomi maupun pendidikan dari individu yang mengalaminya (Ferry, 2009). Penelitian yang di lakukan oleh Mantiri (2012) di Manado di dapatkan hasil bahwa pernikahan usia dini dan pendidikan rendah mendominasi terjadinya kasus KDRT namun tidak sedikit juga kasus KDRT terjadi pada usia dewasa dengan tingkat pendidikan yang tinggi. Berdasarkan survei terhadap KDRT pada wanita karier di Daerah Istimewa Yogyakara atau DIY yang dilakukan oleh Salirawati (2013) menunjukan bahwa wanita karier pernah mengalami KDRT baik fisik, psikis, seksual, ekonomi. National Coalition Against Domestic Violence atau NCADV menyebutkan bahwa perempuan yang berumur 20-24 tahun memiliki resiko lebih tinggi mengalami tindak kekerasan dalam rumah tangga. KDRT banyak terjadi pada kaum perempuan karena berbagai factor diantaranya ketidaksetaraan gender laki-laki dengan perempuan 4 karena laki-laki diibaratkan sebagai pemimpin maka perempuan harus tunduk terhadap laki-laki dan akan berujung pada kekerasan yang dilakukan oleh laki-laki. Posisi laki-laki yang lebih tinggi dan kekuasan yang dimiliki akan menyebabkan ketika ada konflik yang tidak terselesaikan maka konflik tersebut akan berujung pada tindak kekersan yang dilakukan oleh laki-laki kepada perempuan. Hal tersebut menjadi alasan tingginya kasus KDRT khususnya perempuan (Dharmono, 2008). Budaya patriarki di Indonesia menunjukan bahwa laki-laki berada dalam posisi dominan atau superior di bandingkan dengan perempuan dan menjadikan laki-laki memiliki kekuasaan lebih tinggi di dalam keluarga (Kuarniasih, 2007). Kesalahan persepsi mengenai budaya tersebut menjadikan istri sebagai kaum yang sangat lemah dan pembatasanpembatasan peran perempuan (Wardani, 2009). Ketergantungan perempuan ataupun istri terhadap laki-laki atau suami, terutama untuk masalah ekonomi (Dharmono, 2008). Ketergantungan ekonomi istri terhadap suami mengakibatkan ketika istri berani melapor dan ada bukti kuat, tetapi ancamannya pidana penjara untuk suami akan membuat istri berpikir kembali untuk melaporkan masalah KDRT bahkan membatalkan laporan, hal ini terjadi karena faktor siapa yang akan menafkahi keluarga, membiayai sekolah anak, dan lain sebagainya (Feranie, 2006). Suami dengan penghasilan pas-pasan atau menganggur dan istri yang tidak bekerja sering menjadi penyebab KDRT pada istri (Sidiq, 2013). Terdapat 131 kasus KDRT di Kota Pekan Baru 5 pada tahun 2012 dan 57 kasus diantaranya merupakan KDRT dengan faktor ekonomi yang rendah (Zubir, 2013). Sosial budaya atau keyakinan, yang menganggap bahwa permpuan harus selalu mengalah, pandai menyimpan rahasia keluarga karena menganggap KDRT adalah aib bagi keluarga (Kodir, 2008). Penelitan di Manado menunujukan bahwa terdapat 54 korban KDRT yang enggan untuk melaporkan masalah tersebut karena mereka menganggap bahwa KDRT merupakan persoalan pribadi dan rahasia keluarga yang harus dijaga (Mantiri, 2013). Lingkungan juga menganggap bahwa KDRT merupakan persoalan internal antara pihak suami dan istri saja (Dharmono, 2008). Kurangnya pengetahuan yang dimiliki perempuan mengenai kekerasan menjadikan penyebab KDRT berasal dari dalam diri perempuan itu sendiri. Mardiana (2012) menuliskan bahwa ketua Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (TPPKK) Provinsi Jawa Barat menilai minimnya pemahaman perempuan mengenai KDRT menjadi salah satu penyebab dari tingginya angka KDRT di Jawa Barat. Pemahaman bahwa KDRT hanya sebatas kekerasan fisik seperti pemukulan dan penganiayaan saja serta sikap pasif dan apatis perempuan terhadap tindak kekerasan yang dihadapi, kenyataan ini menyebabkan kurangnya respon masyarakat terhadap tindakan yang dilakukan suami terhadap istri (Cahyono, 2011). Peneliti tertarik melakukan penelitian di wilayah Cipondoh Makmur Rw 009 Kelurahan Cipondoh Makmur, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang karena berdasarkan catatan Polres Kota Tangerang 6 periode 2013 terdapat 11 kasus KDRT. Peneliti melakukan studi pendahuluan di Rw 009 Kelurahan Cipondoh Makmur, Kecamatan Cipondoh Kota Tangerang dengan wawancara ketua Rw setempat dan 10 istri di wilayah tersebut. Berdasarkan hasil wawancara, ketua Rw mengatakan pernah terjadi keributan bahkan pernah ada kasus pembunuhan kepada istri dan anak yang dilakukan oleh suami pada tahun 2014.Hasil studi pendahuluan yang didapat dari 10 istri menunjukan 7 istri tidak mengetahui tentang bentuk-bentuk KDRT dan dampak mengenai KDRT, para istri hanya menganggap KDRT hanya berupa kekerasan fisik berupa pemukulan dan penganiayaan terhadap istri, para istri juga tidak mengerti bagaimana harus bersikap terhadap KDRT. Maka dari itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai gambaran pengetahuan dan sikap istri terhadap Kekerasan Dalam Rumah Tangga di Rw 009 Kelurahan Cipondoh Makmur, Kecamatan Cipondoh Kota Tangerang. B. Rumusan Masalah Kasus KDRT di Indonesia masih sangat tinggi dan setiap tahunnya kasus selalu mengalami peningkatan. KDRT terjadi tidak hanya karena adanya percekcokan ataupun perselisishan antara suami dan istri, KDRT bersumber pada cara pandang yang merendahkan martabat kemanusiaan dan relasi yang timpang atau tidak seimbang sehingga KDRT bias dialami oleh istri, anak, suami,pekerja rumah tangga (PRT). Korban terbanyak kasus KDRT sendiri adalah perempuan dimana faktor yang menyebabkan 7 terjadinya KDRT diantaranya adalah kekuatan fisik laki-laki, budaya patriarki, pengetahuan yang rendah serta sikap pasrah yang dilakukan oleh perempuan. Oleh Karena itu penulis tertarik ingin mengetahui gambaran pengetahuan dan sikap istri terharap kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Wilayah Cipondoh Makmur RW 009 Kelurahan Cipondoh Makmur, Kota Tangerang. C. Pertayaan Penelitian Berdasarkan pemaparan rumusan masalah diatas, dapat dibuat beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan masalah KDRT, yaitu sebagai berikut: 1. Bagaimanakah gambaran pengtahuan seorang istri terhadap kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di RW 009 Kelurahan Cipondoh Makmur, Kota Tangerang? 2. Bagaimanakah gambaran sikap seorang istri terhadap kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di RW 009 Kelurahan Cipondoh Makmur, Kota Tangerang ? D. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan sikap istri terhadap kekerasan dalam rumah tangga di RW009 Kelurahan Cipondoh Makmur, Kota Tangerang. 2. Tujuan Khusus 8 a. Diketahuinya gambaran tingkat pengetahuan istri terhadap kekerasan dalam rumah tangga b. Diketahuinya gambaran sikap istri terhadap kekerasan dalam rumah tangga E. Manfaat Penelitian a. Bagi Pelayanan Keperawatan Penelitian ini dapat dijadikan dasar oleh pelayanan kesehatan setempat untuk memberikan promosi kesehatan mengenai KDRT kepada masyarakat khusunya perempuan dengan pengetahuan rendah. b. Bagi Perkembangan Ilmu Keperawatan Penelitian ini juga dapat menjadi acuan bagi penelitian selanjutnya yang akan mengangkat tema KDRT. Penelitian ini juga diharapkan menjadi landasan untuk mengembangkan evidence based practice dalam kesehatan perempuan khususnya KDRT yang terjadi pada perempuan. F. Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini mengetahui gambaran pengetahuan dan sikap istri terhadap KDRT diRW 009 Kelurahan Cipondoh Makmur, Kota Tangerang. Populasi dari penelitian ini adalah para istri baik ibu rumah tangga atupun istri yang bekerja. Alat untuk pengumpulan data menggunakan kuesioner yang akan dijawab oleh para istri. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT) 1. Pengertian Indonesia telah memiliki kebijakan hukum terkait dengan Kekerasan dalam Rumah Tangga(KDRT) kebijakan tersebut tercantum dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.Undang-Undang tersebut dapat memaparkan secara rinci dan jelas mengenai KDRT. Pengertian Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) yang dijelaskan dalam undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004 adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga (Mantiri, 2012). Kekerasan yang diterima perempuan biasanya dilakukan oleh pasangan atau suami dalam rumah tangga. Hal tersebut sesuai dengan definisi penyalahgunaan pasangan (spouse) yaitu perlakuan buruk atau penyalahgunaan satu orang dengan yang lain dalam konteks hubungan intim (videbeck, 2008). Adapun definisi Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) menurut Kodir (2008) merupakan salah satu bentuk kekerasan berbasis gender, yakni kekerasan yang terjadi karena adanya 9 10 asumsi gender dalam relasi laki-laki dan perempuan yang di konstruksikan masyarakat. Istilah Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) menggambarkan perilaku seseorang mulai Dari pelecehan verbal, prilaku mengancam ataupun intimidasi, perilaku manipulative, penyerangan fisik atau seksual, pemerkosaan bahkan hingga pembunuhan (Saadoon et al, 2011). 2. Bentuk-bentuk Kekerasan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga menyebutkan bentuk-bentuk KDRT “Setiap orang dilarang dilarang melakuakan kekerasan dalam rumah tangga terhadap orang dalam lingkup rumah tangganya, dengan cara kekerasan fisik, kekerasan psikis, kekerasan seksual atau penelantaran rumah tangga”. a. Kekerasan Fisik Kekerasan fisik merupakan kekerasan yang dapat mneimbulkan bahaya secara fisik bagi korbannya. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga dalam pasal 6 menyebutkan kekerasan fisik sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 huruf a adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat. 11 Kekerasan fisik dapat terjadi dengan berbagai cara dengan tujuan untuk melukai, menyiksa, atau menganiaya orang lain dengan menggunakan anggota tubuh pelaku (tangan, kaki) mulai dari pukulan, jambakan, cubitan, mendorong secara kasar, penginjakan, pelemparan, cekikan, tendangan, ataupun dengan menggunakan alat seperti pisau, siraman air keras, setrika, dan sebagainya (Dharmono, 2008). Bentuk kekerasan akibat penggunaan kekuatan fisik suami dapat bermacam-macam. Stuart (2005) mengidentifikasi tiga tindak kekerasan dengan penggunaan control dan kekuatan. Tindak kekerasan yang pertama adalah menimbulkan atau mencoba menimbulkan luka fisik atau penyakit seperti mencubit, mendorong, menarik rambut, menampar, memukul, menggigit, memutar lengan, meninju, memukul dengan benda tumpul, menendang, menusuk dan menembak.Tindak kekerasan yang kedua adalah menghambat akses untuk menjaga kesehatan, misalnya obat-obatan, perawatan medis, makanan atau minuman, tidur dan kebersihan diri. Tindak kekerasanyang terakhir adalah memaksa korban untuk menggunakan alcohol atau obat-obatan lain. b. Kekerasan Psikis Kekerasan psikis atau psikologi menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga dalam pasal 7 menyebutkan 12 kekerasan psikis sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 huruf b adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat seseorang. Videbeck (2008) menyebutkan tentang kekerasan psikologis, yaitu membuatnama panggilan yang buruk, berteriak, menghancurkan property, dan melakukan ancaman serta bentukbentuk halus seperti menolak untuk berbicara atau mengabaikan korban. Tindak kekerasan ini bertujuan untuk merendahkan citra korban KDRT baik melalui kata-kata maupun perbuatan dan mengakibatkan korban mengalami ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnyan kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat pada seseorang (Dharmono, 2008). Stuart (2005) mengidentifikasi dua tindak kekerasan psikologis akibat kekeuatan dan control suami. Tindak kekerasan yang pertama adalah menanamkan atau mencoba menanamkan ketakutan dengan cara mengintimidasi, mengancam untuk membahayakan diri pelaku atau korban, mengancam untuk membahayakan atau menculik anak, menggeretak, memeras, mengganggu, merusak barang-barang. Tindak kekerasan yang kedua adalah mengisolasi korban dari teman, keluarga, sekolah 13 atau pekerjaan, misalnya memutus akses telpon atau transportasi, merusak hubungan pribadi korban, menuduh tanpa ada dasar. c. Kekerasan seksual Kekerasan seksual menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga dalam pasal 8 menyebutkan kekerasan seksual sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 huruf c meliputi, pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkungan rumah tangga tersebut, pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu. Videback (2008) menyebutkan pelecehan seksual termasuk serangan selama hubungan seksual seperti menggigit puting, menarik rambut, menampar, dan pemerkosaan.Kekerasan seksual dapat juga terjadi ketika seorang suami menggunakan kekuatannya untuk melakukan tindak kekerasan seksual. Penganiayaan atau penyerangan seksual bukan monopoli kegiatan penjahat dan pemerkosa diluar rumah, tetapi ternyata dapat terjadi di kehidupan rumah tangga. Suami memaksa istrinya berhubungan seksual dengan cara yang menyakitkan (dengan alat atau prilaku sadomasochism), atau seorang ayah yang memperkosa anaknya, adalah contoh ekstrim kekerasan seksual dalam rumah tangga (Dharmono, 2008). 14 Stuart (2005) mengidentifikasi dua tindakan kekerasan seksual. Tindak kekerasan seksual yang pertama adalah memaksa atau mencoba memaksa hubungan seksual tanpa perstujuan, contohnya pemerkosaan dalam perkawinan, pemerkosaan oleh kenalan, memaksa berhubungan seks setelah pemukulan fisik, menyerang bagian seksual dari tubuh, prostitusi paksa, seks tanpa pelindung, sodomi. Tindak kekerasan seksual yang kedua adalah mencoba merusak seksualitas korban dengan cara memperlakukan korban dengan cara-cara seksual yang merendahkan. Kekerasan seksual yang dialami seorang istri merupakan persoalan rumah tangga yang sangat sulit terungkap karena istri menganggap bahwa kejadian tersebut merupakan aib dari keluarga, akibatnya banyak kejadian KDRT diantaranya pemerkosaan didalam perkawinan (Marchira, 2009). d. Kekerasan Ekonomi atau Penelantaran Rumah Tangga Penelantaran rumah tangga menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga dalam pasal 9 menyebutkan (1) setiap orang dilarang menelantarakan orang dalam lingkup rumah tangganya, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan, perawatan, atau pemeliharaan kepada orang tersebut. Penelantaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) juga berlaku bagi setiap orang yang mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan cara 15 membatasi dan/atau melarang untuk bekerja yang layak di dalam atau di luar rumah sehingga korban berada di bawah kendali orang tersebut. Kekerasan ekonomi termasuk dalam penelantaran rumah tangga, tindak kekerasan ini merupakan tindak kekerasan yang dilakukan oleh suami dengan cara membuat istri dan anak tergantung secara ekonomi dengan cara melarang istri bekerja, atau suami melarang istri bekerja sementara ia tidak memberikan nafkah kepada istrinya, suami mengeksploitasi anak dan istrinya untuk mendapatkan bagi kepentingannya. Penelantaran adalah jenis kekerasan yang bersifat multi dimensi (fisik, psikologi, seksual, sosial dan ekonomi) menelantarkan istri dengan cara tidak (Dharmono, 2008).Kurangnyasumberekonomiistrimembuatistrisangatbergantun gkepadasuamisehinggarentanterhadapkekerasan yang dilakukansuamikepadaistri (Astuti, 2008). 3. Faktor-Faktor yang mempengaruhi KDRT a. Faktor Individu Soeroso (2010) menjelasklan bahwa penyebab terjadinya KDRT dapat digolongkan menjadi dua faktor yaitu faktor eksternal dan internal.Faktor eksternal adalah faktor dari luar diri seseorang dan faktor internal adalah faktor dari dalam diri seseorang. 16 1) Korban Tidak benar jika hanya perempuan yang berpendidikan rendah saja atau yang menjadi ibu rumah tangga saja yang menjadi korban kekerasan oleh suami (Dharmono, 2008).Efendi (2008) menyebutkan di Amerika Serikat permpuan yang memiliki resiko terbesar mengalami KDRT ialah wanita yang lajang, bercerai atau ingin bercerai, ketergantungan obat atau alcohol, sedang hamil, atau mempunyai pasangan dengan sifat pencemburu dan posesif. Hasil penelitian menunjukan bahwa jenis kelamin terbanyak yang menjadi korban KDRT adalah perempuan, yaitu sekitar 97,5% dari 237 korban KDRT atau sekitar 231 perempuan (Afendi, 2012). Penelitian tersebut sesuai dengan penelitian di hongkong bahwa mayoritas korban KDRT adalah perempuan (Lau, 2009). 2) Pelaku Laki-laki secara fisik lebih kuat dari permpuan, dan ada kemungkinan tingkat agresivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan.Dari sisi karakteristik pelaku, ada beberapa faktor yang cukup berasosiasi dengan kemungkinan pria melakukan kekerasan kepada istrinya, di antaranya menggunakan alcohol, punya hubungan dengan wanita lain, pencemburu dan posesif, memiliki kepribdian paranoid dan prilaku impulsive (Dharmono, 2008).Faktor individu 17 menyangkut pada kepribadian diri pelaku KDRT yang mudah melakukan tindak kekerasan apabila menghadapi situasi yang menimbulkan kemarahan (soeroso, 2010). b. Faktor Sosial Faktor sosial merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya KDRT serta menyulitkan korban dalam mendapatkan dukungan dan pendamping dari masyarakat.Pertama dan yang utama adalah adanya ketimpangan relasi antara laki-laki dan perempuan, baik dalam rumah tangga ataupun public. Ketimpangan ini yang memaksakan laki-laki dan perempuan untuk melakukan peran gender, dimana setiap yang dilakukan istri harus berada dalam control dan pengawasan suami dan suami merasa dituntut untuk mendidik istri dengan cara pandang suami, sehingga pengontrolan suami ini tidak sedikit yang berujung pada tindak kekerasan (kodir, 2008). Flood & Pease (2009) mengatakan bahwa KDRT pada perempuan akibat faktor sosial sangat beragam mulai dari media massa yang merupakan pengaruh potensial khususnya pada pornografi dan berdampak pada meningkatnya angka kekerasan seksual pada perempuan. c. Faktor Budaya Faktor Budaya atau keyakinan yang berkembang di masyarakat bahwa seorang laki-laki adalah pemimpin, seseorang yang berani, tegas, menempatkan laki-laki dalam posisi yang lebih tinggi dibandingkan perempuan. Laki-laki diajakarkan untuk 18 melihat perempuan sebagai objek pelengkap hidup mereka, misalnya adalah seorang istri yang harus selalu patuh, tunduk dan bersifat pasrah, selalu mendahulukan kepntingan suami, menjaga aib suami dan keluarga (kodir, 2008). Budaya yang berkembang bahwa perempuan diwajibkan untuk menjadi istri yang baik yang pandai untuk menyangkan hati suami, pandai menjaga keutuhan rumah tangga, pandai menutupi masalah yang terjadi di dalam rumah tangga maka ketika suatu konflik muncul yang dilakukan oleh seorang istri adalah menyalahkan diri sendiri, dan tidak bisa mengambil keputusan saat mengalami kekerasan, disamping itu bagi perempuan sangat lah sulit untuk hidup menjadi seorang janda, karena ketergantungan istri baik secara ekonomi, emosional, ataupun rasa cinta yang dimiliki istri sehingga mereka harus bisa menanggung sisi buruk dari suami yang dicintainya (Sutarmi, 2003). Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) yang ada di kabupaten/kota menyebutkan banyak faktor penyebab terjadinya KDRT, yang paling dominan adalah persepsi laki-laki (suami) tentang status dan peran perempuan (istri) dalam rumah tangga. Persepsi yang dibentuk oleh tata nilai budaya patriarki. Suami diposisikan sebagai kepala keluarga diartikan sebagai figur pimpinan yang bisa berbuat sewenang-wenang terhadap anggota keluarga termasuk istri, anak dan pembantu di rumah (Juhriyadi, 2013). 19 d. Faktor Ekonomi Salah satu faktor utama terjadinya tindak kekerasan adalah kemiskinan, meskipun bukan berarti bahwa KDRT hanya terjadi pada kelompok miskin.Kemiskinan terutama berhubungan dengan masalah ketidakadilan gender, kesenjangan pendapatan, pengisolasian perempuan, kurangnya dukungan social. Realitas ekonomi tersebut memaksa perempuan untuk menerima penganiayaan dari orang pada siapa ia bergantung (Dharmono, 2008). Ketergantungan istri secara penuh terhadap suami terutama masalah ekonomi, membuat istri benar-benar berada dibawah kekuasan suami.Posisi rentan ini sering menjadi pelampiasan bagi suami, ketika suami mengahadapi persoalan-persoalan yang berada diluar rumah tangga (Kodir, 2008). National Network to End Domestic Violence atau NNEDV (2010) menjelaskan mengenai Faktor ekonomi bukan merupakan faktor yang menyebabkan KDRT, namun dapat meningkatkan resiko terjadinya KDRT khususnya permpuan dan mengurangi kemampuan korban untuk melarikan diri karena sangat bergantung dengan ekonomi suami. e. Faktor Spiritual Faktor religi seringkali menjadi konflik karena ketidaksiapan atau ketidakmampuan seseorang mengurus rumah tangga dan ketidaktahuan akan hak dan kewajiban seorang istri 20 yang sebenarnya telah ditentukan oleh agama (Subakti, 2008). Seperti Hadist berikut ini : “Jika seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur kemudian istri enggan untuk memenuhi ajakannya, sehingga suami merasa kecewa hingga tertidur, maka sepanjang itu pula para malaikat akan melaknat istri tersebut hingga datangnya waktu subuh” (Hadist Riwayat Ahmad bin Hanbal) Pemahaman kaidah keagamaan secara keliru yang manfaatkan penggalan-penggalan ayat dalam kitab suci untuk mendapatkan posisi dominasi laki-laki terhadap perempuan dan sebaliknya menempatkan perempuan dalam kewajibannya yang seakan tidak memberikan hak sedikutpun bagi kaum perempuan (Dharmono, 2008). Untuk mencapai keseimbangan dalam hak dan kewajiban masing-masing, agama Islam memberikan petunjuk dimana perbedaan antara laki-laki dan perempuan yang pada umunya lakilaki bekerja keras dalam mencari nafkah di luar rumah, sedangkan seorang istri lebih mampu bekerja di dalam rumah tangga (mempersiapkan segala sesuatu demi kenyamanan suami serta semua anggota keluarga lainnya) (Subakti, 2008). 21 4. Dampak KDRT a. Dampak fisik Dampak fisik merupakan dampak nyata yang dapat terlihat pada korban KDRT.Videbeck (2008) menyebutkan bahwa kekerasan fisik terjadi dari menekan dan mendorong sampai pemukulan parah dan tersedak dan bisa menyebabkan kerusakan tubuh, patah tulang rusuk, pendarahan, kerusakan otak, dan bahkan pembunuhan. Dampak fisik yang menyertai prilaku kekerasan di antaranya cidera fisik karena kekerasan fisik (dengan variasi tingkat perlukaannya hingga kondisi cacat yang permanen), penyakit atau perlukaan di organ reproduksi, kesudahan kehamilan yang tidak baik, penyakit menular, kekurangan gizi kronis, hingga bentuk yang paling ekstrim yang mengarah pada pembunuhan (Dharmono, 2008). Kekerasan fisik tidak hanya dapat menimbulkan luka tetapi juga dapat menimbulkan efek lain dari luka tersebut. Stuart (2005) mengidentifikasi dampak dari kekerasan fisik yang berkaitan dengan luka, misalnya sakit kepala, nyeri kronis, gangguan tidur, dan gangguan pencernaan. Penelitian mengenai karakteristik kasus KDRT menunjukan bahwa jenis luka terbanyak yang dialami oleh korban KDRT adalah memar dan lecet, serta lokasi terbanyak adalah pada kepala dan leher (Afandi, 2012). 22 b. Dampak Psikologis 1) Korban Perempuan Dampak psikologis merupakan dampak yang bermanifestasi ringan hingga berat, terjadi singkat atau kronik/ menahun, dapat terjadi langsung atau beberapa waktu kemudian. Beberapa faktor yang mempengaruhi berat ringannya dampak psikologis kekerasan terhadap korban antara lain tipe kepribadian, derajat kekerasan yang dialami, persepsi korban terhadap kekerasan, toleransi terhadap stress, dukungan yang didapat dari keluarga/ lingkungan sosial, keberhasilan mengatasi kekerasan yang pernah dialami sebelumnya (Dharmono, 2008). Poerwandari (2010) menyatakan dampak psikis yang dialami korban setelah kejadian seperti rasa takut, rasa terancam, hilangnya rasa berdaya, ketidakmampuan berfikir, sulit berkonsentrasi, kewaspadaan berlebih, mungkin juga terjadi gangguan pola makan dan pola tidur. Dampak psikologis yang paling umum ditunjukan pada perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga adalah marah, bingung, sedih dan frustasi (Sinha, 2013). Bentuk lain, korban KDRT ialah rentan mengalami gangguan kejiwaan, antara lain depresi, battered women’s syndrome (menyalahkan diri sendiri, merasa tidak berharga, ketakutan akan keselamatan dirinya dan anak, tidak mampu 23 mengendalikan situasi), stress, panic, dan keluhan psikosomatis (Dharmono, 2008). Hasil penelitian yang sama mengenai tingkat kecemasan pada wanita dengan KDRT bahwa gangguan kejiwaan (73,94%) seperti cemas, rasa rendah diri, truma hingga depresi, kemudian disusul dengan kesehatan fisik (50,3%) dan ganguan kesehatan reproduksi (4,85%) (Marchira, 2009). Perempuan yang menjadi korban KDRT akan beresiko empat kali lebih besar menderita gangguan kejiwaan dibandingkan dengan perempuan yang tidak mengalami kekerasan (Houry, 2006). 2) Anak korban KDRT Kejadian kekerasan dalam rumah tangga memungkinkan anak-anak untuk Menyaksikan pertengkaran orang tuanya (kekerasan terhadap ibunya) mengalamin kejadian seperti yang dialami ibunya, (pelampiasan bahkan emosi) oleh menjadi sasaran ibunya.Anak kekerasan korban KDRT tergantung usianya dapat mengalami berbagai bentuk gangguan kejiwaan sebagai dampak dari peristiwa traumatiknya.Pada anak pra-sekolah dapat berupa menarik diri, mengompol, gelisah, ketakutan, sulit tidur, mimpi buruk, bicara gagap, dan pada anak laki-laki mengakibatkan prilaku menjadi agresif.Pada sebagian anak korban KDRT cenderung lebih mudah terlibat tindak (Dharmono, 2008). kekerasan pada kemudian hari 24 Anak-anak korban langsung dan korban saksi KDRT menjadi terbiasa hidup didalam keluarga yang melakukan kekerasan, sehingga menurut mereka kekerasan merupakan hal yang biasa saja, bahkan kekerasan dapat dianggap sebagai hal yang wajar dalam menyelesaikan sebuah konflik yang terjadi dalam suatu relasi intim (Margaretha, 2013). B. KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA MENURUT PERSPEKTIF ISLAM 1. Pengertian Kekerasan dalam islam disebut juga sebagai “Jarimah” atau kriminalitas (Rahima, 2010). Kriminalitas adalah suatu tindakan atau perbuatan yang melanggar hukum dan melanggar norma-norma sosial (Kartono, 1999). Sesuatu yang melanggar hukum adalah kejahatan dan kejahatan merupakan perbuatan tercela (Rahima, 2010). Kekerasan dapat dilakukan untuk mendidik atau mengajarkan sebagaimana yang dibenarkan oleh ajaran agama, seperti suami boleh memukul istri mereka yang Nusyuz atau pembangkang seperti yang dijelaskan dalam QS. An-Nisa;34 dan memukul anak-anak yang sudah menginjak usia 10 tahun namun masih saja meninggalkan shalat fardhu seperti yang dijelaskan dalam HR. Sunan Abu Dawud (Basri, 2013). “Maka perempuan-perempuan yang saleh, adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah menjaga mereka. Perempuan-perempuan yang kamu (suami) khawatirkan akan nusyuz hendaklah kamu (suami) beri nasehat kepada mereka (istri), tinggalkanlah mereka ditempat tidur (pisah 25 ranjang) dan jika perlu pukullah mereka. Tetapi jika mereka menantimu (suami), maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya”(QS. An-Nisa;34) “Perintahkanlah anak untuk sholat ketika mencapai usia tujuh tahun. Dan bila telah berusia sepuluh tahun, pukullah dia bila enggan menunaikannya” (HR. Sunan Abu Dawud). 2. Batasan KDRT dalam Islam Ajaran islam secara tegas melarang terjadinya kekerasan dalam rumah tangga khususnya muslim, hal ini terbukti dengan banyak ayatayat dalam Al-Quran dan hadist yang memerintahkan par suami untuk memperlakukan istrinya dengan pergaulan yang baik (Basri, 2013). Hal ini dijelaskan dengan firman Allah SWT: “dan bergaullah dengan mereka secara patut (ma’ruf). Kemudian bila kamu tidak menuykai mereka (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak” (QS. An-Nisa;19). Rasulullah SAW bersabda “orang muslim yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik di antara mereka akhlaknya, dan sebaik-baiknya kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya”(HR.Sunan at-Turmidzy). Hadist tersebut menginformasikan betapa islam senantiasa menghormati, melindungi serta memuliakan istri . adapun perbedaan antara kekerasan atau Jarimah dengan kekerasan yang mendidik. a. Niat Bagi seorang muslim niat itu memiliki peran yang penting dalam menentukan makna dari suatu pekerjaan. Dalam hal ini harus diperhatikan apakah niat pelaku melakukan tindakan tersebut karena 26 ingin melaksanakan perintah agama atau karena ingin memenuhi hawa nafsu. Jika pemukulan dilakukan untuk memberikan pengajaran bagi istri tanpa menyakitinya tentu hal ini disebut dengan kekerasan untuk mendidik. b. Tujuan Setiap orang dalam melakukan suatu tindakan pasti memiliki tujuan, jika suami mencubit istri dengan tujuan kebaikan maka kekerasan ini termasuk kedalam mendidik. c. Subjek atau pelaku Keadaan pelaku sangat penting untuk diperhatikan dalam mengkategorikan apakah tindakan tersebut termasuk kedalam kekerasan atau mendidik. Suami dalam keadaan mabuk menendang isti hal ini termasuk kedalam tindak kekerasan. d. Objek atau sasaran Kondisi objek juga dapat diperhatikan setelah suami melakukan tindakan, misal terdapat lebam lebam akibat pemukulan yang dilakukan suami hanya karena kesalahan kecil yang dilakukan. 3. Faktor terjadinya KDRT dalam Islam Banyak faktor yang menjadi bukti terhadap meningkatknya kekerasan dalam rumah t angga muslim (Basri, 2013): a. Sikap nusyuz Sikap membangkang terhadap kewajiban-kewajiban dalam kehidupan rumah tangga yang ditunjukan istri atau suami. Seperti 27 istri yang tidak mau melayani suami padahal tidak ada hambatanhambatan (haid, sakit atau lelah). b. Lemahnya pemahaman ajaran islam Lemahnya seseorang dengan agama islam akan mengakibatkan tidak adanya ketaqwaan pada individu tersebut, dan ka

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Hubungan Pengetahuan dan Sikap Ibu Rumah Tangga Terhadap Pemakaian Botol Minuman Berplastik di Kelurahan Tanjung Mulia Hilir Kecamatan Medan Deli Kota Medan 2015
4
52
139
Perhatian orang tua dalam upaya pembentuka kepribadian anak (studi penelitian di Rw.04 kel Gondrong Kec. Cipondoh Kota Tangerang)
0
5
118
Peranan pengajian ikatan remaja masjid as-salam (irmas) dalam pembinaan ibadah remaja di kelurahan cipondoh makmur kota tangerang
1
27
74
Hutang Piutang dan Aplikasinya pada Masyarakat Kampung Gunung RT.006/03 Kelurahan Cipondoh Indah Kecamatan Cipondoh Kota Tangerang
0
5
93
Persepsi guru tentang kinerja kepala SMAN 10 Cipondoh Kota Tangerang
0
3
13
Pembinaan kompetensi profesional guru di SMP Assalam Cipondoh Tangerang
3
26
82
Pengaruh pendidikan agama islam terhadap pembentukan akhlak siswa di SDIT Yasir Cipondoh Kota Tangerang
1
11
104
Pola pendayagunaan zakat Badan Daerah (Bazda) Kota Tangerang dalam mengentaskan kemiskinan di Kecamatan Cipondoh
0
13
142
Gambaran Pengetahuan dan Sikap Istri Terhadap Kekerasan Dalam Rumah Tangga di Wilayah Cipondoh Makmur RW 009 Kelurahan Cipondoh
0
12
0
Strategi Pengembangan Kegiatan Keagamaan Remaja Di Dkm Masjid Baitul Makmur Srengseng Sawah - Jakarta Selatan
0
9
73
Hubungan shalat terhadap kesiapan menghadapi kematian pada lansia di wilayah Kelurahan Gondrong Kecamatan Cipondoh kota Tangerang
1
6
1
Analisis Geografi Terhadap Potensi Wisata Di Situ Cipondoh Kota Tangerang Banten
5
29
125
KEKERASAN PADA ISTRI DALAM RUMAH TANGGA PART 1
0
0
2
KEKERASAN PADA ISTRI DALAM RUMAH TANGGA
0
0
1
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP SUAMI TERHADAP KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DI RT. 5 RW. 8 KELURAHAN NGESREP KECAMATAN BANYUMANIK SEMARANG - Repository Universitas Muhammadiyah Semarang
0
0
7
Show more