Pola Tidur dan Gangguan Tidur Klien Hipertensi di Puskesmas Helvetia

 6  52  115  2017-06-12 02:58:02 Report infringing document
64 Lampiran 1 LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN PENELITIAN Pola Tidur dan Gngguan Tidur Klien Hipertensi di Puskesmas Helvetia Tri Suci 11101122 Saya adalah mahasiswi Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara Medan. Penelitian ini dilaksanakan sebagai salah satu kegiatan dalam menyelesaikan tugas akhir di Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola tidur dan gangguan tidur klien hipertensi di Puskesmas Helvetia. Saya mengharapkan partisipasi Bapak/Ibu yang menjadi subjek dalam penelitian ini dengan menjawab pernyataan-pernyataan yang ada di kuesioner. Identitas dan jawaban Bapak/Ibu akan dijamin kerahasiannya dan hanya digunakan untuk pengembangan ilmu keperawatan. Bapak/Ibu dapat memilih untuk menghentikan atau menolak berpartisipasi dalam penelitian ini kapan pun tanpa ada tekanan. Jika Bapak/Ibu bersedia menjadi peserta penelitian ini, silakan menandatangani formulir ini. Terimakasih atas perhatian dan partisipasi yang Bapak/Ibu berikan. Medan, Mei 2015 Peneliti Responden, Tri Suci (.......................) Universitas Sumatera Utara 65 Lampiran 2 Kode: KUESIONER PENELITIAN POLA TIDUR DAN GANGGUAN TIDUR KLIEN HIPERTENSI DI PUSKESMAS HELVETIA Petunjuk pengisian: A. Beri tanda check list () pada kotak yang tersedia. B. Jawablah kuesioner dibawah ini dengan cara memilih salah satu jawaban dengan memberikan tanda check list () pada jawaban yang Bapak/Ibu pilih. A. Data Demografi Umur : ....... Tahun Jenis Kelamin : Laki-laki Perempuan Pendidikan : SD Perguruan tinggi SMP Lain-lain SMA Agama : Islam Hindu Kristen Lain-lain Buddha Status perkawinan Pekerjaan : : Belum menikah Janda/Duda Menikah Lain-lain PNS/ TNI/ POLRI Bertani Pegawai swasta/wiraswasta Lain-lain Buruh Universitas Sumatera Utara 66 Jumlah teman sekamar : Sendiri 1-2 orang 3-4 orang Lebih dari 4 orang Ukuran kamar : ....... Penyakit lain yang diderita : ........ Obat yang dikonsumsi: Chlortalidone Bendroflazid/bendroflumetazid Hidroklorotiazid Furosemide Amilorid HCL Spironolakton Universitas Sumatera Utara 67 B. Kuesioner Pola Tidur Bagian ini akan menanyakan tentang kualitas tidur Bapak/ Ibu yang sebenarnya tadi malam. 1. Berapa lama waktu yang Bapak/ Ibu butuhkan untuk tidur di malam hari? 1. <5 jam 2. 5-6 jam 3. 6-7 jam 4. >7 jam 2. Berapa lama waktu yang Bapak/ Ibu butuhkan untuk dapat tertidur di malam hari? 1. >60 menit 2. 31-60 menit 3. 16-30 menit 4. <15 menit 3. Berapa kali Bapak/ Ibu terbangun dari tidur di malam hari? 1. >5 kali 2. 3-4 kali 3. 1-2 kali 4. Tidak ada 4. Bagaimana perasaan Bapak/ Ibu ketika bangun tidur di pagi hari? 1. Sangat mengantuk 2. Mengantuk 3. Sedikit mengantuk 4. Segar Universitas Sumatera Utara 68 5. Seberapa nyenyak tidur Bapak/ Ibu di malam hari? 1. Sebentar-bentar terbangun 2. Tidur dan kemudian terbangun 3. Tidur tetapi tidak nyenyak 4. Tidur sangat nyenyak 6. Apakah Bapak/ ibu merasa segar saat bangun tidur di pagi hari? 1. Tidak sama sekali 2. Cukup segar 3. Sedang 4. Sangat segar 7. Apakah Bapak/ Ibu merasa lemah/ lelah saat beraktivitas pada pagi hari? 1. Sangat lemah atau sangat lelah 2. Lemah atau lelah 3. Sedikit lemah atau lelah 4. Tidak lemah atau lelah sama sekali Universitas Sumatera Utara 69 C.Faktor-Faktor Gangguan Tidur Berilah tanda () pada kolom yang tersedia dan pilih jawaban sesuai dengan keadaan sebenarnya. Pertanyaan berikut ini berhubungan dengan pendapat Bapak/ Ibu tentang faktor-faktor fisik dan linngkungan yang mengganggu tidur Bapak/ Ibu pada malam hari. Faktor Gangguan Tidur Ya Tidak Faktor-faktor Fisik 1. Pusing 2. Nyeri 3. Rasa tidak nyaman 4. Terbangun karena buang air kecil 5. Kelelahan Faktor-faktor Lingkungan 1. Suara bising 2. Penerangan 3. Suhu ruangan Universitas Sumatera Utara 70 Universitas Sumatera Utara 71 Lampiran 4 TAKSASI DANA No 1 2 3 Kegiatan Biaya PROPOSAL • Kertas A4 80 gr 2 rim • Biaya internet dan pulsa modem • Fotocopy sumber-sumber tinjauan pustaka Rp • Fotocopy perbanyak proposal Rp 100.000 • Persiapan sidang proposal Rp 100.000 Rp 150.000 80.000 Rp 150.000 PENGUMPULAN DATA • Izin penelitian • Transportasi Rp 150.000 • Fotocopy kuesioner dan lembar persetujuan Rp 20.000 • Cendramata Rp 350.000 Rp 150. 000 ANALISA DATA DAN PENYAJAN DATA • biaya print, kertas A4 80 gr 2 rim Rp 150.000 • penjilidan Rp 100.000 • fotocopy laporan penelitian Rp 100.000 • persiapan sidang skripsi Rp 300.000 4 BIAYA TAK TERDUGA Rp 500.000 5 TOTAL Rp 2.400.000 Universitas Sumatera Utara 72 Lampiran 5 Validitas Kuesioner Gangguan Tidur No. Validator 1. 4 2. 4 3. 4 4. 4 5. 3 6. 4 7. 2 8. 3 Total 28/32=0,875 Universitas Sumatera Utara 73 Lampiran 6 Hasil Reliability Kuesioner Kuesioner Pola Tidur Scale: ALL VARIABLES Case Processing Summary N Cases % Valid 10 32.3 Excluded 21 67.7 Total 31 100.0 a a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. Reliability Statistics Cronbach's Alpha Based on Cronbach's Alpha Standardized Items .788 .775 N of Items 7 Item-Total Statistics Cronbach's Scale Mean if Scale Variance Corrected Item- Squared Multiple Item Deleted if Item Deleted Total Correlation Correlation Alpha if Item Deleted Total jam tidur malam 15.40 20.711 .595 .745 .744 Waktu untuk memulai 15.30 20.900 .663 .751 .734 Frekuensi tidur malam 15.60 20.933 .571 .553 .749 Kepuasan tidur 15.20 22.400 .443 .496 .774 Kedalaman tidur 15.70 18.678 .690 .825 .721 Rasa segar bangun pagi 15.30 27.122 .043 .436 .831 tidur Universitas Sumatera Utara 74 Item-Total Statistics Cronbach's Scale Mean if Scale Variance Corrected Item- Squared Multiple Item Deleted if Item Deleted Total Correlation Correlation Alpha if Item Deleted Total jam tidur malam 15.40 20.711 .595 .745 .744 Waktu untuk memulai 15.30 20.900 .663 .751 .734 Frekuensi tidur malam 15.60 20.933 .571 .553 .749 Kepuasan tidur 15.20 22.400 .443 .496 .774 Kedalaman tidur 15.70 18.678 .690 .825 .721 Rasa segar bangun pagi 15.30 27.122 .043 .436 .831 Konsentrasi beraktivitas 15.50 20.722 .590 .734 .745 tidur Universitas Sumatera Utara 75 Tabel Hasil Uji Reliabilitas Faktor Fisik (KR 20) Responden 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. NP P Q PQ Vt = = = = 1 2 3 4 5 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 8 0,8 0,2 0,16 0 0 1 0 1 0 1 0 0 0 3 0,3 0,7 0,21 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 9 0,9 0,1 0,09 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 9 0,9 0,1 0,09 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 1 0 0 ∑ � 2 −∑ � � 157 −39 10 10−1 118 10 9 11,8 9 Pertanyaan �−1 r 11 = = � �−1 5 4 × × X X² 4 3 4 4 5 3 5 3 4 4 39 16 9 16 16 25 9 25 9 16 16 157 0,55 ��−�� �� 1,3−0,55 1,3 = 1,25 × 0,5769 = 0,72 = 1,3 Universitas Sumatera Utara 76 Faktor Lingkungan (KR20) Responden 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 NP P Q PQ Vt = = = ∑ �²−∑ � � �−1 80−28 10 9 52 10 9 = 0,57 Pertanyaan 1 2 3 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 9 0,9 0,1 0,09 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 1 0 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 9 0,9 0,1 0,09 r 11 = = � �−1 3 3−1 × × X² 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 28 9 9 4 9 9 9 9 9 4 9 80 0,18 ��−�� �� 0,57−0,18 3 0,39 2 0,57 = × X 0,57 = 1,5 × 0,68 = 1,02 Universitas Sumatera Utara 77 Lampiran 7 Frequencies Data Demografi Statistics Jenis Jumlah kelam Umur N Valid Missing Mean Std. in Status Pendidikan Agama perkawinan Penyakit Pekerjaa teman Ukuran lain yang Obat yang n sekamar kamar diderita dikonsumsi 44 44 44 44 44 44 44 44 44 44 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3.30 1.45 3.23 1.27 1.86 3.18 1.80 3.00 1.86 7.82 1.407 .504 1.008 .451 .632 1.386 .462 .682 1.747 .657 Deviation Frequency Table Umur Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid 17-25 tahun (remaja akhir) 6 13.6 13.6 13.6 26-35 tahun (dewasa awal) 4 9.1 9.1 22.7 36-45 tahun (dewasa akhir) 18 40.9 40.9 63.6 46-55 tahun (lansia awal) 6 13.6 13.6 77.3 56-65 tahun (lansia akhir) 7 15.9 15.9 93.2 65 sampai ke atas (manula) 3 6.8 6.8 100.0 44 100.0 100.0 Total Universitas Sumatera Utara 78 Jenis kelamin Frequency Valid Percent Valid Percent Cumulative Percent Laki-laki 24 54.5 54.5 54.5 Perempuan 20 45.5 45.5 100.0 Total 44 100.0 100.0 Pendidikan Frequency Valid SD Percent Valid Percent Cumulative Percent 4 9.1 9.1 9.1 SMP 4 9.1 9.1 18.2 SMA 16 36.4 36.4 54.5 Perguruan tinggi 18 40.9 40.9 95.5 2 4.5 4.5 100.0 44 100.0 100.0 Lain-lain Total Agama Frequency Valid Percent Valid Percent Cumulative Percent Islam 32 72.7 72.7 72.7 Kristen 12 27.3 27.3 100.0 Total 44 100.0 100.0 Status perkawinan Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid Belum menikah 12 27.3 27.3 27.3 Menikah 26 59.1 59.1 86.4 6 13.6 13.6 100.0 Janda/Duda Universitas Sumatera Utara 79 Status perkawinan Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid Belum menikah 12 27.3 27.3 27.3 Menikah 26 59.1 59.1 86.4 6 13.6 13.6 100.0 44 100.0 100.0 Janda/Duda Total Pekerjaan Frequency Valid PNS/TNI/POLRI Percent Valid Percent Cumulative Percent 4 9.1 9.1 9.1 Pegawai swasta/wiraswasta 13 29.5 29.5 38.6 Buruh 11 25.0 25.0 63.6 Bertani 3 6.8 6.8 70.5 Lain-lain 13 29.5 29.5 100.0 Total 44 100.0 100.0 Jumlah teman sekamar Frequency Valid Percent Valid Percent Cumulative Percent Sendiri 10 22.7 22.7 22.7 1-2 orang 33 75.0 75.0 97.7 3-4 orang 1 2.3 2.3 100.0 44 100.0 100.0 Total Ukuran kamar Frequency Valid Percent Valid Percent Cumulative Percent 2x3 3 6.8 6.8 6.8 3x3 1 2.3 2.3 9.1 Universitas Sumatera Utara 80 3x4 33 75.0 75.0 84.1 4x4 7 15.9 15.9 100.0 44 100.0 100.0 Total Penyakit lain yang diderita Frequency Valid Tidak ada Percent Valid Percent Cumulative Percent 32 72.7 72.7 72.7 Jantung 4 9.1 9.1 81.8 Kolesterol 1 2.3 2.3 84.1 Asam urat 2 4.5 4.5 88.6 Lambung 1 2.3 2.3 90.9 Rematik 2 4.5 4.5 95.5 Diabetes 2 4.5 4.5 100.0 44 100.0 100.0 Total Obat yang dikonsumsi Frequency Valid Percent Valid Percent Cumulative Percent Furosemide 1 2.3 2.3 2.3 Lain-lain 4 9.1 9.1 11.4 Tidak ada 39 88.6 88.6 100.0 Total 44 100.0 100.0 Universitas Sumatera Utara 81 Lampiran 8 Frequencies Pola Tidur Statistics Total jam Waktu untuk Frekuensi N tidur memulai tidur malam tidur malam Valid tidur tidur bangun pagi Konsentrasi beraktivitas 44 44 44 44 44 44 44 0 0 0 0 0 0 0 2.61 2.48 2.82 2.82 2.73 2.14 2.82 1.083 1.131 .815 .971 1.107 .702 .896 Missing Mean Std. Deviation Kepuasan Kedalaman Rasa segar Frequency Table Total jam tidur malam Frequency Valid Percent Valid Percent Cumulative Percent < 5 jam 8 18.2 18.2 18.2 5-6 jam 13 29.5 29.5 47.7 6-7 jam 11 25.0 25.0 72.7 > 7 jam 12 27.3 27.3 100.0 Total 44 100.0 100.0 Waktu untuk memulai tidur Frequency Valid Percent Valid Percent Cumulative Percent > 60 menit 10 22.7 22.7 22.7 31-60 menit 15 34.1 34.1 56.8 16-30 menit 7 15.9 15.9 72.7 < 15 menit 12 27.3 27.3 100.0 Total 44 100.0 100.0 Universitas Sumatera Utara 82 Frekuensi tidur malam Frequency Valid Percent Valid Percent Cumulative Percent > 5 kali 2 4.5 4.5 4.5 3-4 kali 13 29.5 29.5 34.1 1-2 kali 20 45.5 45.5 79.5 9 20.5 20.5 100.0 44 100.0 100.0 Tidak ada Total Kepuasan tidur Frequency Valid Sangat mengantuk Percent Valid Percent Cumulative Percent 3 6.8 6.8 6.8 Mengantuk 16 36.4 36.4 43.2 Sedikit mengantuk 11 25.0 25.0 68.2 Segar 14 31.8 31.8 100.0 Total 44 100.0 100.0 Kedalaman tidur Frequency Valid Sebentar-bentar terbangun Percent Valid Percent Cumulative Percent 7 15.9 15.9 15.9 13 29.5 29.5 45.5 9 20.5 20.5 65.9 Tidur sangat nyenyak 15 34.1 34.1 100.0 Total 44 100.0 100.0 Tidur dan kemudian terbangun Tidur tetapi tidak nyenyak Universitas Sumatera Utara 83 Rasa segar bangun pagi Frequency Valid Tidak sama sekali Percent Valid Percent Cumulative Percent 6 13.6 13.6 13.6 28 63.6 63.6 77.3 Sedang 8 18.2 18.2 95.5 Sangat segar 2 4.5 4.5 100.0 44 100.0 100.0 Cukup segar Total Konsentrasi beraktivitas Frequency Valid Sangat lemah atau sangat lelah Percent Valid Percent Cumulative Percent 2 4.5 4.5 4.5 Lemah atau lemah 16 36.4 36.4 40.9 Sedikit lemah atau lelah 14 31.8 31.8 72.7 Tidak lemah/ lelah sama sekali 12 27.3 27.3 100.0 Total 44 100.0 100.0 Universitas Sumatera Utara 84 Lampiran 9 Frequencies Gangguan Tidur Statistics Rasa tidak Pusing Nyeri N Valid Missing Mean Std. Deviation nyaman Terbangun buang air kecil Kelelahan Suara bising Penerangan Suhu ruangan 44 44 44 44 44 44 44 44 0 0 0 0 0 0 0 0 .55 .07 .48 .77 .73 .66 .70 .59 .504 .255 .505 .424 .451 .479 .462 .497 Frequency Table Gangguan Tidur Fisik Pusing Frequency Valid Percent Valid Percent Cumulative Percent Tidak 20 45.5 45.5 45.5 Ya 24 54.5 54.5 100.0 Total 44 100.0 100.0 Nyeri Frequency Valid Tidak Ya Total Percent Valid Percent Cumulative Percent 41 93.2 93.2 93.2 3 6.8 6.8 100.0 44 100.0 100.0 Universitas Sumatera Utara 85 Rasa tidak nyaman Frequency Valid Percent Valid Percent Cumulative Percent Tidak 23 52.3 52.3 52.3 Ya 21 47.7 47.7 100.0 Total 44 100.0 100.0 Terbangun buang air kecil Frequency Valid Percent Valid Percent Cumulative Percent Tidak 10 22.7 22.7 22.7 Ya 34 77.3 77.3 100.0 Total 44 100.0 100.0 Kelelahan Frequency Valid Percent Valid Percent Cumulative Percent Tidak 12 27.3 27.3 27.3 Ya 32 72.7 72.7 100.0 Total 44 100.0 100.0 Frequency Table Gangguan Tidur Lingkungan Suara bising Frequency Valid Percent Valid Percent Cumulative Percent Tidak 15 34.1 34.1 34.1 Ya 29 65.9 65.9 100.0 Total 44 100.0 100.0 Universitas Sumatera Utara 86 Penerangan Frequency Valid Percent Valid Percent Cumulative Percent Tidak 13 29.5 29.5 29.5 Ya 31 70.5 70.5 100.0 Total 44 100.0 100.0 Suhu ruangan Frequency Valid Percent Valid Percent Cumulative Percent Tidak 18 40.9 40.9 40.9 Ya 26 59.1 59.1 100.0 Total 44 100.0 100.0 Universitas Sumatera Utara 87 Lampiran 10 Master Tabel Data Demografi No U JK PDDKN A SP PKJN JTS UK 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 5 2 3 1 1 3 1 3 6 3 5 4 2 3 4 3 5 3 3 2 5 4 3 3 4 3 6 3 5 3 1 3 1 5 6 4 5 2 2 2 2 2 1 2 2 1 2 1 1 1 1 2 2 2 1 1 2 1 1 2 1 1 2 2 2 1 1 2 1 1 2 2 1 2 3 4 5 3 4 4 4 4 5 3 3 3 3 2 4 3 4 4 3 4 3 4 4 4 4 2 1 2 4 3 4 3 3 2 3 4 3 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 2 2 1 1 2 2 1 1 1 2 2 1 1 1 1 2 2 1 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 1 2 3 3 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3 3 2 2 1 2 1 2 3 2 2 3 5 1 4 5 5 3 3 4 3 2 3 2 3 2 5 5 1 2 1 5 2 2 2 2 5 5 5 5 5 5 3 5 3 2 2 3 3 2 1 2 2 2 2 1 1 2 2 2 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 3 3 4 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 2 3 3 4 3 4 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 1 4 3 4 PLYD OYD 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 7 2 1 1 3 1 1 1 1 1 1 4 1 1 1 5 1 7 2 1 6 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 4 8 7 8 7 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 7 8 8 Universitas Sumatera Utara 88 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. 3 1 3 3 4 2 3 1 1 1 1 1 1 1 1 3 1 3 1 4 4 1 1 1 1 1 2 1 2 1 2 2 2 2 2 4 2 2 2 3 1 3 2 1 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 4 3 1 1 6 4 2 1 2 8 8 8 7 8 8 8 Keterangan: Umur : 1 : 17-25 tahun (remaja akhir) 2 : 26-35 tahun (dewasa awal) 3 : 36-45 tahun (dewasa akhir) 4 : 46-55 tahun (lansia awal) 5 : 56-65 tahun (lansia akhir) 6 : 65 tahun ke atas (manula) Jenis kelamin : 1 : Laki-laki 2 : Perempuan Pendidikan : 1 : SD 2 : SMP 3 : SMA 4 : Perguruan tinggi 5 : Lain-lain Agama : 1 : Islam 2 : Kristen 3 : Budha 4 : Hindu 5 : Lain-lain Status Perkawinan: 1 : Belum menikah 2 : Menikah 3 : Janda/duda 4 : Lain-lain Pekerjaan : 1 : PNS/TNI/POLRI 2 : Pegawai swasta/wiraswasta 3 : Buruh Universitas Sumatera Utara 89 4 : Bertani 5 : Lain-lain Jumlah teman sekamar : 1 : Sendiri 2 : 1-2 orang 3 : 3-4 orang 4 : Lebih dari 4 orang Ukuran kamar : 1 : 2x3 m² 2 : 3x3 m² 3 : 3x4 m² 4 : 4x4 m² Penyakit lain yang diderita : 1 : Tidak ada 2 : Jantung 3 : Kolesterol 4 : Asam urat 5 : Lambung 6 : Rematik 7 : Diabetes Obat yang dikonsumsi : 1 : Chlortalidone 2 : Bendroflazid/bendroflumetazi 3 : Hidroklorotiazid 4 : Furosemide 5 : Amilorid HCL 6 : Spironolakton 7 : Lain-lain 8 : Tidak ada Universitas Sumatera Utara 90 Lampiran 11 Master Tabel Pola Tidur No. Item1 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 3 4 3 3 4 4 4 4 3 3 2 3 4 1 3 2 3 4 2 3 3 2 4 1 1 4 1 2 2 3 4 1 2 4 2 1 2 Item2 Item3 Item4 Item5 Item6 Item7 Total 3 2 2 2 2 2 1 4 4 4 4 4 3 4 4 4 3 4 3 3 4 3 4 4 2 2 2 1 2 2 1 1 1 1 2 1 2 3 3 3 3 3 4 4 3 3 4 3 3 3 4 3 4 4 3 4 3 3 3 3 3 4 3 1 2 2 2 4 2 2 2 3 2 2 3 4 4 4 4 4 4 4 3 2 4 4 2 2 2 4 3 3 3 3 2 3 4 2 3 4 2 2 2 2 4 3 1 4 1 2 3 2 2 4 4 2 1 2 4 3 4 1 4 4 4 4 4 4 4 3 2 3 3 4 2 4 4 1 2 1 2 2 3 3 1 1 2 3 2 2 2 2 2 3 3 3 4 3 2 2 3 3 2 4 2 2 3 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 3 2 1 2 1 2 2 4 4 4 4 4 3 3 4 2 4 4 3 4 3 3 4 2 3 3 3 3 4 4 3 3 2 1 3 3 2 2 2 2 1 2 2 3 20 21 22 22 21 21 21 26 22 24 20 23 23 21 21 26 21 23 21 19 20 20 25 17 19 21 9 14 14 15 20 14 12 15 12 12 17 Universitas Sumatera Utara 91 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. 2 1 4 2 2 2 1 2 1 3 2 2 1 1 2 2 3 2 2 2 1 3 2 1 2 2 2 2 2 3 4 2 2 3 1 2 1 1 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 15 12 18 14 14 14 9 Universitas Sumatera Utara 92 Lampiran 12 Master Tabel Gangguan Tidur No. Item1 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 1 1 0 0 1 Item2 Item3 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 0 0 1 0 1 1 0 1 0 0 1 1 1 1 1 Item4 Item5 Item6 Item7 Item8 Total 1 0 0 0 0 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 0 1 0 0 1 0 0 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 0 1 1 0 0 1 0 1 1 1 0 0 0 1 0 1 1 0 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 0 0 0 1 0 1 1 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 0 1 2 1 1 4 1 4 4 3 3 1 1 4 3 2 7 1 6 6 6 7 7 7 6 6 7 5 7 7 2 6 4 4 7 6 6 3 7 Universitas Sumatera Utara 93 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. 0 1 0 1 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 2 5 6 5 6 5 7 Universitas Sumatera Utara 94 Universitas Sumatera Utara 95 Universitas Sumatera Utara 96 Universitas Sumatera Utara 97 Universitas Sumatera Utara 98 Universitas Sumatera Utara 99 Universitas Sumatera Utara 100 Universitas Sumatera Utara 101 Universitas Sumatera Utara 102 Universitas Sumatera Utara 103 Lampiran 20 RIWAYAT HIDUP Nama : Tri Suci Tempat/ tanggal lahir : Adil Makmur, 24 Februari 1993 Jenis kelamin : Perempuan Agama : Islam Alamat : Jl. Merak Gg. Adil No.51 Kec. Sunggal, Medan Pendidikan : SD Negeri 094124 Dusun Pengkolan (1999-2005) SMP Negeri 1 Bosar Maligas (2005-2008) SMA Negeri 1 Bandar Perdagangan (2008-2011) S1 Keperawatan USU (2011-Sekarang) Universitas Sumatera Utara 60 DAFTAR PUSTAKA Alawiyah. T. (2014). Gambaran gangguan pola tidur pada perawat di rs syarif hidayatullah. Jurnal. www.ejournal.ac.id. Diunduh 25 Juli 2015 Albertie, A. (2006). Headache and sleep. Sleep laboratory, neurologic clinic of Perugia, via e. Dal pozzo, perugia, italy,http://www.clusterheadaches.com. diunduh 24 Juni 2015 Asmadi. (2008). Teknik prosedural keperawatan: konsep dan aplikasi kebutuhan dasar klien. Jakarta: Salemba Medika Boynton, L. (2003). Respiratory caredisclaimer: the material contained herein is provided for informational purposes only, and should not be construed as medical or legal advice on any subject matter. http://web.alsa.org. diunduh 10 Oktober 2014. Bustan, M. N. (2007). Epidemiologi penyakit tidak menular. Jakarta: Rineka Cipta Bastaman, T. K. (1988). Arti Tidur dalam Kehidupan Sehari-hari. Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta. http://www.kalbe.co.id.diunduh tanggal 28 Juni 2015 Chopra, D. 2003. Tidur nyenyak, mengapa tidak? Ucapkan selamat tinggal pada insomnia. Yogyakarta: Ikon Teralitera Cohen, Jerome. D. (2009). Hypertension epidemiology and economic burden: refining risk assesment to lower costs. Departement of nternal medicine (cardiology), St. Louis University School of Medicine.http://www.managedcaremag.com. diunduh 10 Oktober 2014 Cortelli, R. J. (2006). Longitudinal clinical evaluation of adjunct minocycline in the treatment of chronic periodontitis. www.joponline.org. diunduh 30 Juni 2015 Corwin, E. J. (2000). Buku saku patofisiologi. EGC: Jakarta. Corwin, E. J. (2009). Patofisiologi:buku sakuedisi 9. Jakarta: EGC Craven, R. F., & Hirnle, C. J. (2000). Fundamental of nursing: human health and function (3 rd ed). Philadelphia: J.B. Lippincott Company Detroit. (2012). Pusat gangguan tidur ford. http://www.herbalengkap.comdiunduh 10 Oktober 2014 henry Gangwich, et al..2006. Short Sleep Duration as a Risk Factor for Hypertension :Analyses of the First National health and Nutrition Examination Survey. American Heart Association: 7272 Greenville Avenue, Dallas Ganong, W. F. (1998). Buku ajar fisiologi kedokteran edisi 17. Jakarta: EGC Universitas Sumatera Utara 61 Gotlieb, D. J. Et al. (2005). Association of sleep time with diabetes mellitus and impaired glucose tolerance. Arch intern med. http://web.sleep.com. diunduh 29 Juni 2015 Guyton, A. C. & Hall, J. E. (1997). Buku ajar fisiologi kedokteran edisi 9. Jakarta: EGC Hanning, C. (2009). Sleep disturbance and wind turbine noise on behalf of stop swinford wind farm action group (SSWFAG). http://docs.wind-watch.org. diunduh 24 Juni 2015 Hanun, M. (2011). Mengenal sebab-sebab, akibat-akibat, dan cara terapi insomnia. Yogyakarta: FlashBooks Hidayat, A. A. A. (2006). Pengantar kebutuhan dasar manusia: aplikasi konsep dan proses keperawatan. Jakarta: Salemba Medika Karota-Bukit. (2003). Sleep Quality and Factors Interfering with Sleep Among Hospitalized Elderly in Medical Units, Medan Indonesia. Master of Nursing Science Thesis in Adult Nursing. Prince of Songkla University, Thailand. Khuswardhani, R.A.T. (2006). Penatalaksanaan hipertensi pada usia lanjut. Jurnal. www.academia.edu. diunduh 25 Juni 2015 Koch, R. (2003). The impact of shift Australia. http://www.healthservice.or.id. diunduh 01 Juli 2015 work. Lee WL, e. a. (2007). Risk Factors for Peripheral Intravenous Catheter Infection in Hospitalized Patients: A Prospective Study of 3165 Patients. Am J Inject Control. Mansoor, G. A. (2002). Sleep Actigraphy in Hypertensive Patients with The 'Nondipper' Blood Pressure Profile. Journal of Human Hypertension. http://www.nature.com.diunduh 25 Juni 2015 Miller, C. A. (1995). Nursingcare of older adults: theory & practice. Philadelphia: J. B. Lippincott Notoatmodjo, S. (2005). Metode penelitian kesehatan edisi revisi. Jakarta: Rineka Cipta Notoatmodjo, S. (2012). Metode penelitian kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta Nurmianto, E. (2004). Ergonomi: Konsep dasar & aplikasinyaedisi III. Surabaya: Guna Widya Palmer, A. & W. B. (2007). Tekanan darah tinggi. Jakarta: Erlangga Universitas Sumatera Utara 62 Patlak, M. (2005). Your guide to healthy sleep. U. S. Department of health and human services. http://www.nhlbi.nih.gov. diunduh 15 November 2014. Polit, D. F. & Hungler, B. P. (1995). Nursing research: principle and methol (5th edition). Philadelphia: J. B Lippincontt Company Potter, P. & Perry, A. G. (2009). Fundamental keperawatan edisi 7 volume 1. Jakarta: Salemba Medika Potter, P. & Perry, A. G. (2005). Buku ajar fundamental keperawatan; konsep, proses dan praktik edisi 4 volume 2. Jakarta: EGC. Puskesmas Helvetia. (2013). Data hipertensi di wilayah kecamatan helvetia. Medan: Puskesmas Helvetia Medan Putriana. D. (2012). Kualitas tidur dan faktor gangguan tidur pada penderita hipertensi di wilayah kerja puskesmas medan teladan. Jurnal www.cademia.edu. diunduh 24 Juli 2015 Rains, J. C. (2006). Sleep Disorders and Headache. Center for Sleep Evaluation at Elliot Hospital, Manchester. Rasyidah. D. (2012). Kualitas tidur dan faktor gangguan tidur pada penderita hipertensi di wilayah kerja puskesmas medan teladan.http://www.academia.edu. diunduh 02 Juli 2015 Rochers & Roth. (2000). Shift work and health. http://www.wsws.org. diunduh 25 Juni 2015 Riskedas. (2013). Laporan riskedas 2013. www.litbang.depkes.go.id diunduh 13 Januari 2015 Sack, R. L. et al. (2007). Circadian Rhythm Sleep Disorders: Part I, Basic Principles, Shift Work and Jet Lag Disorders An American Academy of Sleep Medicine Review. http://www.aasmnet.orgdiunduh 24 Juni 2015 Schachter, L. (2008). Sample Diagnostic Report. Sleep Australia. http://www.tmjtreatment.com.Diunduh 24 Juni 2015 Services Sugiyono. (2005). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta Tarwoto & Wartonah. (2006). Kebutuhan dasar manusia dan proses keperawatanedisi 3. Jakarta: Salemba Medika Youna, S. (2014). Hubungan tekanan darah sistolik dengan kualitas tidur pasien hipertensi di puskesmas bahu manado. Jurnal http://www.jurnal.lipi.go.id. Diunduh 25 Juni 2015 WHO. (2004). Global burden disease report. http://www.who.int. diunduh 14 November 2014 Universitas Sumatera Utara 35 BAB 3 KERANGKA PENELITIAN 1. Kerangka Penelitian Kerangka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola tidur dan gangguan tidur klien hipertensi di puskesmas Helvetia. Banyak faktor yang mempengaruhi tidur yaitu fisik seperti pusing, nyeri, rasa tidak nyaman, terbangun karena BAK, dan mudah lelah; lingkungan seperti suara bising, lampu ruangan terlalu terang, suhu ruangan panas, dan suhu ruangan dingin; psikologis seperti stres emosional dan kecemasan; dan obat-obatan dan substansi seperti hipnotik, diuretik, antidepresan, alkohol, penyekat beta, benzodiazepin dan narkotika. Pada penelitian ini hanya meneliti fisik dan lingkungan karena keterbatasan waktu penelitian dan kedua faktor ini sudah memenuhi untuk diteliti dan mendukung variabel penelitian dalam penelitian ini. 35 Universitas Sumatera Utara 36 Gambar 3.1. Kerangka penelitian Pola Tidur dan Gangguan Tidur Klien Hipertensi Gangguan Tidur: Fisik Pola Tidur: - Total jam tidur malam - Waktu memulai tidur - Frekuensi terbangun malam - Kepuasan tidur - Kedalaman tidur - Rasa segar bangun pagi - Konsentrasi beraktivitas - Pusing - Nyeri - Rasa tidak nyaman - Terbangun karena BAK - Kelelahan Lingkungan - Suara bising - Penerangan - Suhu ruangan Psikologis - Stres emosional - Kecemasan Obat-obatan dan substansi - Hipnotik - Diuretik - Antidepresan - Alkohol - Penyekat beta - Benzodiazepin - Narkotika Keterangan: Diteliti Tidak diteliti Universitas Sumatera Utara 37 2. Definisi Operasional 2.1. Pola Tidur Pola tidur adalah ritme jadwal tidur dan bangun seseorang dalam jangka waktu tertentu pada malam hari yang dapat dinilaidari 7 aspek parameter tidur yaitu total jam tidur malam, waktu memulai tidur, frekuensi terbangun malam, kepuasan tidur, kedalaman tidur, rasa segar bangun pagi, konsentrasi beraktivitas. Pola tidur diukur dengan menggunakan kuesioner SQQ. Skala yang digunakan adalah skala ordinal untuk mengidentifikasi kualitas tidur responden baik atau buruk. 2.2. Gangguan Tidur Gangguan tidur adalahperubahan yang terjadi terhadap proses tidur akibat dari masalah medis meliputi masalah fisik dan lingkungan. Gangguan tidur fisik merupakan perubahan tidur yang berasal dari fungsi sistem tubuh yaitu pusing, nyeri, rasa tidak nyaman, terbangun karena buang air kecil, dan kelelahan. Gangguan tidur lingkungan merupakan perubahan tidur yang berasal dari lingkungan yaitu suara bising, penerangan, dan suhu ruangan. Gangguan tidur diukur dengan menggunakan kuesioner. Dimana klien akan memilih salah satu jawaban yaitu Ya atau Tidak. Skala yang digunakan adalah skala ordinal. Universitas Sumatera Utara 38 BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN 1. Desain Penelitian Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan desain penelitian yang digunakan yaitu deskriptif dimana metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran tentang suatu keadaan secara objektif (Notoatmodjo, 2012). Dimana tujuannya untuk mengidentifikasi gambaran pola tidur dan gangguan tidur klien hipertensi di puskesmas Helvetia. 2. Populasi, Sampel dan Teknik Sampling 2.1. Populasi Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti (Notoatmodjo, 2012). Populasi dalam penelitian ini adalah klien hipertensi yang berkunjung ke puskesmas Helvetia. Berdasarkan survei jumlah penderita hipertensi pada tahun 2013 di puskesmas Helvetia terdiri dari 294 orang. 2.2. Sampel Sampel adalah objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2012). Sampel penelitian terdiri dari bagian populasi yang terjangkau yang dapat dipergunakan sebagai subjek penelitian. Penetapan jumlah sampel yang didapatkan 15% dari populasi yaitu 44 orang (Notoatmodjo, 2012). 38 Universitas Sumatera Utara 39 2.3. Teknik Sampling Metode sampling nonprobability yang digunakan adalah convenience sampling yaitu pengambilan sampel yang tidak direncanakan terlebih dahulu, melainkan secara kebetulan, yaitu subjek tersedia bagi peneliti saat pengumpulan data dilakukan. Adapun kriteria inklusi pada penelitian ini adalah klien yang terdiagnosis hipertensi enam bulan ke atas yang berkunjung di puskesmas Helvetia, bersedia menjadi responden, sehat jasmani dan rohani. 3. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini telah dilakukan di Puskesmas Helvetia Jln. Kemuning Perumnas Helvetia yang merupakan salah satu puskesmas rawat inap, dengan pertimbangan jumlah sampel yang memadai, efisiensi waktu dan biaya penelitian. Perencanaan waktu penelitian dilakukan dari bulan Mei sampai dengan Juni 2015. 4. Pertimbangan Etik Terdapat beberapa hal yang berkaitan dengan etik dalam penelitian ini yaitu: Self determination, dalam penelitian ini peneliti memberikan kebebasan kepada responden untuk menentukan apakah bersedia menjadi responden atau tidak dalam penelitian ini setelah diberikan penjelasan tentang maksud dan tujuan penelitian. Universitas Sumatera Utara 40 Privacy, peneliti menjelaskan pada responden bahwa semua informasi yang diperoleh dari responden selama penelitian ini hanya digunakan untuk kepentingan penelitian ini. Anonymity, peneliti menjelaskan kepada responden bahwa menjamin kerahasiaan responden dengan tidak menuliskan atau mencantumkan identitas responden pada lembar pengumpulan data atau kuesioner. Confidentially, peneliti menjelaskan kepada responden bahwa semua informasi yang deperoleh dari responden tidak akan disajikan secara keseluruhan. Protection from discomfort and harm, peneliti memperhatikan kemungkinan ketidaknyamanan yang dirasakan responden selama pengisian kuesioner. Untuk meminimalkan ketidaknyamanan maka peneliti mendampingi responden selama pengisian kuesioner. 5. Instrumen Penelitian Untuk memperoleh informasi dari responden, peneliti menggunakan alat pengumpul data dengan membacakan kuesioner. Instrumen ini terdiri atas tiga bagian yaitu Data Demografi (KDD), Kuesioner Pola Tidur (KPT), dan Kuesioner Gangguan Tidur (KGT). Kuesioner Data Demografi (KDD) merupakan bagian pertama instrumen penelitian berisi tentang pengkajian data demografi klien hipertensi yang bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik responden yang meliputi umur, jenis kelamin, agama, status perkawinan, pekerjaan, dan jumlah teman sekamar, ukuran kamar, penyakit lain yang diderita dan obat yang dikonsumsi. Universitas Sumatera Utara 41 Kuesioner Pola Tidur (KPT) bertujuan untuk mengidentifikasi pola tidur klien hipertensi. Kuesioner yang digunakan adalah kuesioner yang diadopsi dari kuesioner pola tidur Karota Bukit (2005). Kuesioner pola tidur ini merupakan kuesioner yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi pola tidur klien hipertensi di puskesmas Helvetia. Kuesioner pola tidur meliputi: total jam tidur malam (kuesioner nomor 1), waktu untuk memulai tidur (kuesioner nomor 2), frekuensi terbangun di malam hari (kuesioner nomor 3), kepuasan tidur (kuesioner nomor 4), kedalaman tidur(kuesioner nomor 5), rasa segar bangun tidur (kuesioner nomor 6), konsentrasi dalam beraktivitas (kuesioner nomor 7). Kuesioner pola tidur ini terdiri dari tujuh pertanyaan tertutup dengan empat pilihan. Kualitas tidur akan semakin buruk apabila nilai kuesioner semakin rendah dan sebaliknya kualitas tidur akan semakin baik apabila nilainya tinggi dimana nilainya 7-28. Kuesioner gangguan tidur (KGT) bertujuan untuk mengidentifikasi ada tidaknya gangguan tidur yang terjadi pada klien hipertensi. Kuesioner yang digunakan adalah kuesioner yang dimodifikasi dari penelitian sebelumnya oleh Vina Prismawati Sagala. Faktor-faktor Fisik: pusing (kuesioner nomor 1), nyeri (kuesioner nomor 2), rasa tidak nyaman (kuesioner nomor 3), terbangunkarena buang air kecil(kuesioner nomor 4), kelelahan(kuesioner nomor 5). Faktor-faktor Lingkungan: suara bising(kuesioner nomor 1), penerangan(kuesioner nomor 2), suhu ruangan(kuesioner nomor 3). Nilai dari kuesioner ini yaitu 0-8, semakin tinggi nilai kuesioner maka semakin tinggi pula tingkat gangguan tidurnya. Sebaliknya semakin rendah nilainya maka semakin baik. Universitas Sumatera Utara 42 6. Alat dan Bahan Suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati (Sugiyono, 2005). Pada penelitian ini, alat yang digunakan adalah berupa lembar kuesioner untuk memperoleh data tentang pola tidur dan gangguan tidur klien hipertensi. 7. Validitas dan Reabilitas 7.1. Validitas Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Suatu instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan dan dapat mengungkapkan data dari variabel yang diteliti secara tepat (Notoatmodjo, 2012). Berdasarkan tinjauan pustaka dalam penggunaan instrumen penelitian yang merupakan adaptasi total dari SQQ (Sleep Quality Questionaires)yang telah divalidasi sehingga dapat digunakan di berbagai tatanan pelayanan kesehatan baik di rumah sakit, di komunitas maupun di sekolah. Sedangkan gangguan tidur klien hipertensi menggunakan kuesioner yang dimodifikasi dari penelitian sebelumnya oleh Vina Prismawati Sagala. Dimana instrumen ini telah divalidasikan oleh Dosen di Fakultas Keperawatan yang memiliki kesesuaian bidang dengan judul penelitian dari Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Universitas Sumatera Utara 43 7.2. Reliabilitas Sebagai pemeriksaan pendahuluan sebelum melakukan penelitian, menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran tetap konsisten bila dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama dengan menggunakan alat ukur yang sama (Notoadmodjo, 2012). Uji reliabilitas instrumen bertujuan untuk mengetahui seberapa besar derajat alat ukur dapat mengukur secara konsisten objek yang akan diukur. Alat ukur yang baik adalah alat ukur yang memberikan hasil yang relatif sama bila digunakan beberapa kali pada kelompok sampel yang sama. Uji reliabilitas dilakukan untuk mengetahui seberapa besar derajat alat ukur dapat mengukur secara konsisten objek yang akan diukur. Uji reliabilitas telah dilakukan pada responden yang berkunjung ke Puskesmas Helvetia. Kuesioner pola tidur sudah direliabilitas dengan internal konsistensi Cronbach’s Alpha Coefficient dengan hasil 0,788 dan hasil ini dinyatakan reliab. Kuesioner gangguan tidur telah di uji dengan menggunakan uji KR 20 dan dinyatakan relieb apabila nilai 0,6-0,7 atau lebih. Hasil reliabilitas gangguan tidur fisik didapatkan nilai 0,72 dan gangguan tidur lingkungan dengan nilai 1,02. 8. Pengumpulan Data Pada tahap awal peneliti telah mengajukan permohonan izin pelaksanaan penelitian pada institusi pendidikan Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara, kemudian permohonan izin yang diperoleh dikirimkan ke bagian Pendidikan Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Sumatera Utara 44 Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Setelah mendapatkan izin, peneliti melaksanakan pengumpulan data penelitian. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menyebarluaskan kuesioner kepada setiap responden sesuai dengan inklusi kriteria dan telah bersedia menjadi responden dengan mengisi lembar persetujuan. Responden dijelaskan tentang topik, manfaat serta tujuan dari penelitian kemudian responden diminta untuk mengisi kuesioner yang diberikan oleh peneliti, agar tidak terjadi kesalahan interpretasi pada responden, bila perlu peneliti mendampingi responden selama pengisian kuesioner sehingga hal-hal yang kurang dimengerti responden dapat segera dijelaskan. Setelah responden selesai mengisi kuesioner, maka seluruh data dikumpulkan untuk dianalisa. Pada waktu yang bersamaan, responden diminta untuk menyerahkan foto kopi transkrip nilai yang dibutuhkan. 9. Analisa Data Analisa data dilakukan setelah semua data terkumpul melalui beberapa tahap ditandai dengan editing untuk memeriksa kelengkapan identitas dan data responden serta memastikan semua bahwa semua jawaban telah diisi, kemudian data yang sesuai diberi kode (coding) untuk memudahkan peneliti dalam melakukan tabulasi dan analisa data. Selanjutnya mamasukan (entry) data kedalam komputer dan melakukan pengolahan data dengan menggunakan program statistik. Analisisdata mengunakan analisis dataunivariat yang dilakukan untuk melihat distribusi frekuensi dan persentase dari setiap variabel yang dikehendaki dari tabel distribusi frekuensi. Universitas Sumatera Utara 45 BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Hasil Penelitian Dalam bab ini diuraikan hasil penelitian tentang pola tidur dan gangguan tidur klien hipertensi di Puskesmas Helvetia melalui proses pengumpulan data yang telah dilakukan pada tanggal 25 Mei – 20 Juni 2015. Penyajian data meliputi deskripsi karakteristik responden, pola tidur klien hipertensi dan gangguan tidur klien hipertensi di Puskesmas Helvetia sejumlah 44 orang. 1.1. Deskripsi Karakteristik Responden Hasil penelitian pada tabel 5.1 menunjukkan bahwa mayoritas responden yang didapatkan berusia 36-45 tahun yaitu sebanyak (41%), responden berjenis kelamin laki-laki (55%) dan perempuan (45%), SMA (36%) dan tingkat pendidikan perguruan tinggi (41%), agama responden mayoritas Islam (73%), pekerjaan pegawai swasta/wiraswasta dan lain-lain (30%) dan buruh (25%), jumlah teman sekamar 1-2 orang (75%), ukuran kamar 3x4 m² (75%), penyakit lain yang diderita tidak ada (73%), dan klien tidak ada mengonsumsi obat sebesar (89%). Tabel 5.1Frekuensi dan persentase data demografi klien hipertensi di Puskesmas Helvetia (n=44) Karakteristik Responden Umur 17-25 tahun (remaja akhir) 26-35 tahun (dewasa awal) 36-45 tahun (dewasa akhir) 46-55 tahun (lansia awal) Frekuensi Persentase 6 4 18 6 14 9 41 15 45 Universitas Sumatera Utara 46 Tabel 5.1 (Lanjutan) Karakteristik Responden 56-65 tahn (lansia akhir) 65 sampai keatas (manula) Frekuensi Persentase 7 3 16 7 Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan 24 20 55 45 Pendidikan SD SMP SMA Perguruan Tinggi Lain-lain 4 4 16 18 2 9 9 36 41 5 Agama Islam Kristen 32 12 73 27 Status Perkawinan Belum Menikah Menikah Janda/Duda 12 26 6 27 59 14 Pekerjaan PNS/TNI/POLRI Pegawai Swasta/Wiraswasta Buruh Bertani Lain-lain 4 13 11 3 13 9 30 25 6 30 Jumlah Teman Sekamar Sendiri 1-2 orang 3-4 orang 10 33 1 23 75 2 Ukuran Kamar 2x3 3x3 3x4 4x4 3 1 33 7 7 2 75 16 Universitas Sumatera Utara 47 Tabel 5.1 (Lanjutan) Karakteristik Responden Frekuensi Persentase Penyakit Lain yang Diderita Tidak Ada Jantung Kolesterol Asam Urat Lambung Rematik Diabetes 32 4 1 2 1 2 2 73 9 2 5 2 5 4 Obat yang Dikonsumsi Furosemide Lain-lain Tidak ada 1 4 39 2 9 89 1.2. Pola Tidur Klien Hipertensi di Puskesmas Helvetia Pola tidur klien hipertensi dapat diidentifikasi dari parameter tidur yaitu: total jam tidur malam, waktu untuk memulai tidur, frekuensi terbangun malam, kepuasan tidur, kedalaman tidur, rasa segar bangun pagi, konsentrasi beraktivitas. Hasil persentase pola tidur klien dapat dilihat berdasarkan grafik 5.1 dan tabel 5.2. Hasil penelitian yang dilakukan sesuai dengan tabel 5.2 menunjukkan bahwa mayoritas 30% total jam tidur malam hari 5-6 jam (X= 2.61, SD=1.083), 57% waktu untuk memulai tidur 31-60 menit atau lebih (X= 2.48, SD=1.131), 45% frekuensi terbangun malam 1-2 kali (X= 2.82, SD= 0.815), 36% kepuasan tidur klien merasa mengantuk (X= 2.82, SD= 0.971), 66% kedalaman tidur klien tidur tetapi tidak nyenyak (X= 2.73, SD=1.107), 64% merasa cukup segar bangun di pagi hari (X= 2.14, SD= 0.702), 36% merasa lemah atau lelah saat beraktivitas di siang hari (X= 2.82, SD= 0.896). Universitas Sumatera Utara 48 Gambar 5.1 Grafik persentase pola tidur klien hipertensi di puskesmas helvetia 70% 60% 50% Skor Relatif Baik 40% Skor Relatif Cukup 30% Skor Relatif Rendah 20% Skor Relatif Sangat Rendah 10% 0% TJM WMT FTM KPD KDT RSB KBT Tabel 5.2Frekuensi dan persentase parameter tidur klien hipertensi di Puskesmas Helvetia (n=44). Parameter Tidur Total jam tidur malam hari < 5 jam 5 – 6 Jam > 6 - 7 jam > 7 jam Waktu untuk memulai tidur > 60 menit 31 - 60 menit 16 - 30 menit < 15 menit Frekuensi terbangun malam > 5 kali 3 - 4 kali 1 - 2 kali Tidak ada Kepuasan tidur Sangat mengantuk Mengantuk Sedikit mengantuk Segar Frekuensi Persentase 8 13 11 12 18 30 25 27 10 15 7 12 23 34 16 27 2 13 20 9 5 30 45 20 3 16 11 14 7 36 25 32 Universitas Sumatera Utara 49 Tabel 5.2 (Lanjutan) Parameter Tidur Kedalaman tidur Sebentar-bentar terbangun Tidur dan kemudian terbangun Tidur tetapi tidak nyenyak Tidur sangat nyenyak Rasa segar bangun pagi Tidak sama sekali Cukup segar Sedang Sangat segar Konsentrasi beraktivitas Sangat lemah atau sangat lelah Lemah atau lelah Sedikit lemah atau lelah Tidak lemah atau lelah sama sekali Frekuensi Persentase 7 13 9 15 16 30 20 34 6 28 8 2 14 64 18 4 2 16 14 12 5 36 32 27 1.3. Gangguan Tidur Klien Hipertensi di Puskesmas Helvetia 1.3.1. Faktor Fisik Tabel 5.3 menunjukkan tanda gejala penyakit yang dialami oleh mayoritas klien adalah pusing (51%), rasa tidak nyaman (47%), terbangun buang air kecil (76%) dan kelelahan (71%). Tabel 5.3Frekuensi dan persentase gangguan tidur fisik klien hipertensi di Puskesmas Helvetia (n=44) Ya Faktor Fisik Pusing Nyeri Rasa tidak nyaman Terbangun BAK Kelelahan Tidak F % f % 23 3 21 34 32 51 7 47 76 71 21 41 23 10 12 47 91 51 22 27 Universitas Sumatera Utara 50 1.3.2. Faktor Lingkungan Gangguan tidur umumnya dari suara bising berbagai sumber, penerangan, dan juga suhu ruangan yang tidak sesuai. Tabel 4 menunjukkan mayoritas klien mengalami gangguan pada suara bising (65%), penerangan (69%) dan suhu ruangan yang tidak sesuai sebesar (58%). Tabel 5.4Frekuensi dan persentase gangguan tidur lingkungan klien hipertensi di Puskesmas Helvetia (n=44) Faktor Lingkungan 2. Ya Tidak F % f % Suara Bising 29 65 15 33 Penerangan 31 69 13 29 Suhu Ruangan 26 58 18 40 Pembahasan Pembahasan dilakukan untuk menjawab pertanyaan penelitian yaitu untuk mengidentifikasi pola tidur dan gangguan tidur klien hipertensi di Puskesmas Helvetia. 2.1. Pola Tidur Klien Hipertensi Pola Tidur adalah ritme jadwal tidur dan bangun seseorang dalam jangka waktu tertentu pada malam harimeliputi waktu untuk memulai tidur, frekuensi terbangun malam, kepuasan tidur, kedalaman tidur, dan konsentrasi beraktivitas (Potter & Perry, 2005) serta total jam tidur dan rasa segar bangun pagi (Guyton & Hall, 1997). Hasil penelitian yang didapatkan pola tidur klien hipertensi mayoritas Universitas Sumatera Utara 51 berada pada pola tidur dengan karakteristik rendah pada aspek penilaian tujuh komponen parameter tidur hal ini menunjukkan bahwa pola tidur klien dengan hipertensi benar dalam kondisi tidak normal. Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya bahwa klien hipertensi mengalami pola tidur dalam kondisi yang tidak normal (Sarah, 2014). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar total jam tidur malam klien 5-6 jam (30%).Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya total jam tidur malam klien hipertensi adalah 5-6 jam (Putriana, 2012), adapun penelitian terhadap 230 klien hipertensi dari Unversitas Pisa di Italy menemukan bahwa mayoritas responden tidur 6 jam atau kurang setiap malam,sedangkan kebutuhan waktu tidur normal pada orang dewasa adalah 7-8 jam dalam sehari (Patlak, 2005). Secara umum kebutuhan tidur yang tidak normal tentunya akan mempengaruhi peningkatan tekanan darah pada hipertensi (Gangwisch, 2006), bahkan apabila terjadi dalam waktu yang lama tentunya akan memperparah peningkatan tekanan darah yang diderita (Chopra, 2003). Hal tersebut desebabkan karena saat tidur tekanan darah dan denyut jantung akan menurun sebanyak 1020% (Gotlieb, 2006). Hasil penelitian menunjukkan waktu mulai tertidur 31-60 menit atau lebih dialami 57% klien. Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya waktu yang dibutuhkan untuk mulai tidur 31-60 menit dialami 35% klien (Putriana, 2012). Hal tersebut sesuai dengan pernyataan bahwa penderita hipertensi memiliki waktu lebih lama untuk mulai tertidur (Mansoor, 2002)sehingga akan berdampak pada total jam tidur yang berkurang dan tidak seperti orang normal yang biasa tertidur Universitas Sumatera Utara 52 dalam waktu 20 menit (Schachter, 2008).Tidak nyaman, status kesehatan yang memburuk dapat meningkatan waktu mulai tidur klien. Orang yang menderita penyakit hipertensi tentunya akan mengkonsumsi obat-obatan tertentu, sehingga responden bisa mengalami insomnia dan klien akan sulit untuk tidur (Sarah, 2014). Hal ini juga berkaitan dengan mengonsumsi tembakau dan teh, adapun kandungan nikotin yang terdapat dalam tembakau dan kandungan kafein yang terdapat dalam teh akan menyebabkan seseorang sulit untuk memulai tidur (Mukhlidah, 2011). Hasil penelitian yang menunjukkan bahwa responden dapat terbangun 3-4 kali saat tidur malam hari (30%). Namun hampir dari sebagian responden terbangun masih dalam batas normal 1-2 kali saat tidur malam hari (45%). Hal ini tidak sesuai dengan pernyataan bahwa mayoritas responden hipertensi dapat terbangun 3-4 kali saat tidur malam hari dialami 38% klien (Putriana 2012). Obat yang diberikan pada klien hipertensi salah satunya diuretik akan menyebabkan nokturia sehingga tidur menjadi terganggu karena sering berkemih dan klien akan sering terbangun (Potter & Perry, 2005). Selain itu, menurut International Classification of Sleep Disorders penggunaan obat stimulan yang kronik (amfetamin, kafein, nikotin), antihipertensi, antidepresan dapat menimbulkan terputus-putusnya fase tidur REM sehingga menyebabkan klien sering terbangun. Pada penelitian ini klien hipertensi merasa kurang puas dengan tidurnya dimana klien merasa mengantuk di pagi hari (36%). Hal ini sesuai dengan penelitian di Sulawesi Utara dimanasebagian besar responden mengeluhkan perubahan kualitas tidur membuat mereka terbangun lebih pagi tapi merasa Universitas Sumatera Utara 53 mengantuk di pagi hari (Sarah, 2012). Hal ini dapat terjadi karena klien terjaga di malam hari dalam waktu yang panjang dan klien sering terbangun (Roehers & Roth, 2000). Obat seperti penyekat-Beta yang diberikan pada klien hipertensi juga dapat menyebabkan seseorang mimpi buruk, insomnia, menyebabkan terbangun dari tidurnya dan klien pun akan mengalami gangguan pada tidurnya (Potter & Perry, 2005). Mayoritas klien hipertensi memiliki kedalaman tidur yang kurang baik dimana klien merasa tidurnya tidak nyenyak (66%). Hal ini sesuai dengan peneltian sebelumnya bahwa klien hipertensi memiliki kedalaman tidur yang tidak baik karena sebentar-sebentar dapat terbangun saat tidur dialami 41% klien (Rasyidah, 2012). Hal ini juga berkaitan dengan seringnya klien terbangun di selasela tidurnya seperti yang sudah dipaparkan oleh Potter & Perry bahwa kondisi klinis yang dialami klien hipertensi membuat klien tidak mendapatkan tidur yang cukup dan juga efek samping obat hipertensi yang membuat klien tatap terjaga di malam hari (Putriana, 2012). Lebih dari setengah klien hipertensi merasa cukup segar saat bangun di pagi hari (64%). Namun 14% klien hipertensi merasa tidak segar sama sekali saat bangun pagi. Hal ini tidak sesuai dengan penelitian sebelumnya bahwa mayoritas klien hipertensi merasa tidak segar sama sekali saat bangun pagi dialami 32% klien (Rasyidah,2012). Hal ini mengindikasikan bahwa tidak segar sewaktu bangun di pagi hari dapat disebabkan berbagai faktor masalah kesehatan yang meningkatkan frekuensi terbangun (Miller, 1995). Misalnya efek samping obat yang membuat sering berkemih di sela-sela tidur klien. Universitas Sumatera Utara 54 Lemah atau lelah saat melakukan aktivitas di pagi hari juga dirasakan klien hipertensi (36%). Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya bahwa mayoritas klien hipertensi merasa lelah saat beraktivitas di pagi hari dialami 38% klien (Rasyidah, 2012). Hal ini juga berkaitan dengan hasil dari parameter tidur klien. Hasil penelitian ini sesuai dengan pernyataan yang menunjukkan bahwa seseorang yang tidak mendapatkan tidur yang cukup akan merasa kelelahan saat beraktivitas keesokan harinya (Bastaman, 1988).Pada klien hipertensi, gangguan tidur yang berkepanjangan akan mengakibatkan perubahan-perubahan pada siklus tidur biologiknya, menurun daya tahan tubuh serta menurunkan prestasi kerja, mudah tersinggung, depresi, kurang konsentrasi, kelelahan, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi keselamatan diri sendiri atau orang lain (Alawiyah, 2009). 2.2. Faktor-faktor Gangguan Tidur Klien Hipertensi 2.2.1. Faktor fisik Pada penelitian ini 51% klien mengalami pusing karena tekanan darahnya meningkat. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari hasil penelitian Cortelli (2006) yang menunjukkan bahwa 46% klien hipertensi sering mengalami pusing yang berdampak pada kualitas tidur yang buruk, dan apabila pusing tidak segera diatasi dan semakin parah maka akan semakin meningkat juga tingkat gangguan tidurnya (Albertie, 2006). Selain itu pusing pada klien hipertensi dapat membangunkan klien dari tidurnya sehingga klien tidak mendapatkan tidur yang cukup yang nantinya akan berdampak pada aktivitas di keesokan harinya (Potter & Perry, 2005). Menurut asumsi peneliti pada klien hipertensi yang mengalami pusing mengakibatkan orang tersebut menjadi kurang dapat berintegrasi dengan baik dan Universitas Sumatera Utara 55 kurang efekfif. Mereka menunjukkan tanda-tanda curiga dan gampangmarah serta membuat mereka tidak mendapatkan tidur yang cukup dan tidak nyenyak dengan tidurnya. Klien hipertensi yang mengalami nyeri hanya 7% dan mereka mengatakan hal tersebut disebabkan oleh adanya penyakit penyerta yang lain misalnya karena peningkatan asam lambung yang diderita klien. Inilah yang menyebabkan sedikitnya klien hipertensi yang mengalami nyeri. Berdasarkan hasil yang didapat, peneliti memiliki asumsi bahwa nyeri yang dialami oleh klien hipertensi dipengaruhi oleh adanya penyakit penyerta lain. Sementara itu klien merasa tidak nyaman dengan tidurnya dikarenakan kondisi klinis klien yang dialami berkaitan juga dengan pusing dan terbangun karena buang air kecil (47%). Hal ini sesuai dengan pernyataan bahwa rasa tidak nyaman merupakan salah satu faktor terjadinya gangguan tidur dimana seseorang akan merasa gelisah dan sulit untuk mendapatkan tidur yang nyenyak (Potter & Perry, 2005). Berdasarkan hasil yang didapat maka peneliti berasumsi bahwa pusing yang berkepanjangan dialami klien hipertensi sangat berpengaruh pada kenyamanan klien. Sehingga klien tidak nyaman dengan tidurnya dan klien mengalami gangguan tidur. Pada penelitian ini masalah yang sering dialami oleh klien hipertensi sering terbangun karena buang air kecil pada malam hari (76%). Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Khuswardhani (2006) yang menunjukkan bahwa 68% gejala tersering pada klien hipertensi adalah sering buang air kecil. Selain itu Rains (2006) juga menambahkan bahwa sering buang air kecil pada klien Universitas Sumatera Utara 56 hipertensi dapat menyebabkan seseorang terbangun berulang kali dari tidurnya (Mansoor, 2002). Setelah seseorang berulang kali terbangun untuk berkemih, menyebabkan kembali untuk tertidur lagi menjadi sulit (Potter & Perry, 2005). Hasil penelitian menunjukkan klien hipertensi mengalami kelelahan (71%) dikarenakan keadaannya sekarang. Hipotiroidisme menurunkan tidur tahap 4, sebaliknya hipertiroidisme menyebabkan seorang perlu waktu yang banyak untuk tertidur. Kelelahan dapat menyebabkan gangguan tidur, dimana biasanya seseorang yang kelelahan akan merasa seolah-olah mereka bangun ketika tidur dan biasanya tidak mendapatkan tidur yang dalam, (Potter & Perry, 2005). 2.2.2. Faktor lingkungan Gangguan tidur juga dapat disebabkan oleh faktor lingkungan, di antaranya adalah suara bising, penerangan, dan suhu ruangan. Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 65% klien mengalami gangguan tidur bila berada pada lingkungan yang menimbulkan suara bising. Hal ini sesuai dengan penelitian Rasyidah bahwa 73% responden hipertensi mengalami gangguan tidur bila berada pada lingkungan yang menimbulkan suara bising. Hal ini sesuai dengan pernyataan bahwa kebisingan dapat menyebabkan tertundanya tidur karena terganggunya konsentrasi seseorang untuk memulai tidur (Mukhlidah, 2011) dan juga dapat membangunkan seseorang dari tidur (Hanning, 2009). Hasil penelitian oleh Robert Koch (2003) menunjukkan bahwa orang yang hidup di lingkungan permukiman yang padat cenderung mengalami suara bising yang mengakibatkan peningkatan tekanan darah dan berdampak buruk bagi kesehatan jangka panjang klien hipertensi. Universitas Sumatera Utara 57 Penerangan juga mempengaruhi tidur seseorang dimana hasil penelitian menunjukkan 69% klien terganggu dengan penerangan. Tingkat cahaya dapat mempengaruhi kemampuan untuk tidur. Beberapa klien menyukai sorot lampu ruangan gelap, sementara yang lain menyukai cahaya remang yang tetap menyala selama tidur (Potter & Perry, 2005). Menurut Guyton & Hall (1997), penerangan dapat menyebabkan gangguan tidur dan dapat menghambat sekresi melatonin pada tubuh yang akan menyebabkan seseorang tidak mengantuk. Hal ini tentunya dapat menyebabkan terjadinya pergeseran sistem sirkadian, dimana jadwal tidur maju secara bertahap dan mengakibatkan seseorang mengalami total jam tidur yang kurang (Sack et al, 2007). Keluhan klien 58% terganggu dengan suhu ruangan yang terlalu panas atau terlalu dingin. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Rasyidah bahwa 76% melaporkan bahwa klien hipertensi mengalami gangguan tidur bila tidak berada di ruangan dengan suhu yang terlalu panas atau terlalu dingin. Seseorang akan mengalami gangguan tidur apabila tidur di ruangan yang terlalu panas ataupun terlalu dingin (Lee, 2007). Hal ini disebabkan karena saat tidur suhu ruangan akan mempengaruhi suhu tubuh dan tekanan darah seseorang saat tidur, jika suhu ruangan meningkat maka hypothalamus akan merangsang pembesaran pori-pori kulit percepatan peredaran darah, pengeluaran keringat, dan reaksi-reaksi tubuh lainnya yang bertujuan untuk mengurangi panas tubuh yang berlebihan. 3. Keterbatasan Penelitian Pengelompokkan usia tidak diberi batasan dalam melakukan penelitian karena responden yang diambil dilakukan secara kebetulan saja. Universitas Sumatera Utara 58 BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil analisa dan pembahasan dapat diambil kesimpulan mengenai pola tidur dan gangguan tidur klien hipertensi di Puskesmas Helvetia. 1. Kesimpulan Hasil Penelitian Hasil penelitian yang didapatkan pola tidur klien hipertensi mayoritas berada pada pola tidur dengan karakteristik rendah pada aspek penilaian tujuh komponen parameter tidur hal ini menunjukkan bahwa pola tidur klien dengan hipertensi benar dalam kondisi tidak normal. Mayoritas total jam tidur malam hari klien hipertensi 5 jam sampai 6 jam (30%), waktu untuk memulai tidur 31-60 menit atau lebih (57%), frekuensi terbangun malam 1-2 kali (45%), kepuasan tidur klien merasa mengantuk (36%), kedalaman tidur klien tidur tetapi tidak nyenyak (66%), merasa cukup segar bangun di pagi hari (64%), merasa lemah atau lelah saat beraktivitas di siang hari (36%). Berdasarkan pola tidur klien dengan 7 parameter tidur maka dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi nilainya maka semakin baik pula kualitas tidurnya. Gangguan tidur utama dari faktor fisik adalah pusing (51%), rasa tidak nyaman (47%), terbangun buang air kecil (76%), dan kelelahan (71%).Nyeri yang mengganggu tidur klien di malam hari hanya sebagian kecil (7%). Sedangkan dari lingkungan suara bising (65%), penerangan (69%), dan juga suhu ruangan (58%) yang tidak sesuai sangat mempengaruhi tidur klien. Berdasarkan gambaran gangguan tidur maka dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi nilainya maka semakin tinggi pula gangguan tidurnya. 58 Universitas Sumatera Utara 59 2. Saran 2.1. Bagi Pendidikan Keperawatan Perlunya diberikan penekanan materi tentang pola tidur dan gangguan tidur klien hipertensi di Puskesmas. 2.2. Bagi Pelayanan Keperawatan Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi masukan bagi pelayanan keperawatan untuk memberikan pelayanan yang lebih komprehensif berupa promosi kesehatan dalam meningkatkan kesadaran tentang pola tidur dan gangguan tidur klien hipertensi dan bagaimana cara mendapatkan kualitas tidur yang baik terkhusus ditujukan kepada klien hipertensi. 2.3. Bagi Penelitian Keperawatan Hasil penelitian ini menunjukkan pola tidur dan gangguan tidur klien hipertensi, hal ini dapat digunakan sebagai dasar dan referensi penelitian selanjutnyatentang pola tidur dan gangguan tidur klien hipertensi Universitas Sumatera Utara 5 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 1. Hipertensi 1.1. Definisi Hipertensi secara umum dapat didefinisikan sebagai tekanan sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan diastolik lebih dari 90 mmHg. Tekanan darah manusia secara alami berfluktuasi sepanjang hari. Tekanan darah tinggi menjadi masalah hanya bila tekanan darah tersebut persisten. Tekanan darah tersebut membuat sistem sirkulasi dan organ yang mendapat suplai darah (termasuk jantung dan otak) menjadi tegang (Palmer, 2005). Menurut WHO batas normal tekanan darah adalah 120–140 mmHg tekanan sistolik dan 80 – 90 mmHg tekanan diastolik. Hipertensi adalah tekanan darah tinggi yang abnormal dan diukur paling tidak pada tiga kesempatan yang berbeda (Corwin, 2009). Tekanan darah normal bervariasi sesuai usia, sehingga setiap diagnosis hipertensi harus bersifat spesifik usia (Corwin, 2009). Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure yang ke 7 (dalam Corwin, 2009) telah mempublikasikan revisi panduan nilai tekanan darah sistolik dan diastolik yang optimal dan hipertensif. Pada umumnya, tekanan yang dianggap optimal adalah kurang dari 120 mmHg untuk tekanan sistolik dan 80 mmHg untuk tekanan diastolik, sementara tekanan yang dianggap hipertensif adalah lebih dari 140 mmHg untuk sistolik dan lebih dari 90 mmHg untuk dastolik. Istilah “prahipertensi” adalh tekanan darah antara 120 mmHg dan 139 mmHg untuk sistolik dan 80 dan 89 mmHg untuk diastolik. Untuk individu 5 Universitas Sumatera Utara 6 terutama yang memiliki faktor risiko kardiovaskuler bermakna, termasuk riwayat yang kuat dalam keluarga untuk infark miokard atau stroke, atau riwayat diabetes pada individu, bahkan pada nilai prahipertensif dianggap terlalu tinggi (Corwin, 2009). 1.2. Etiologi Pada lebih dari 95% penderita hipertensi tidak dapat ditemukan penyebabnya yang khusus. Para pasien ini didiagnosis sebagai pasien hipertensi primer. Sebagian kecil dari pasien yang penyebab khususnya dapat diidentifikasi telah didiagnosis sebagai pasien hipertensi sekunder ( Corwin, 2009). Ada beberapa penyebab hipertensi yaitu: Usia, insidens hipertensi makin meningkat dengan meningkatnya usia. Hipertensi pada yang berusia kurang dari 35 tahun dengan jelas menaikkan insiden penyakit arteri koroner dan kematian prematur. Kelamin, pada umumnya insidens pada pria lebih tinggi daripada wanita, namun pada usia pertengahan dan lebih tua, insidens pada wanita mulai meningkat, sehingga pada usia di atas 65 tahun, insidens pada wanita lebih tinggi. Ras, hipertensi pada orang yang berkulit hitam paling sedikit dua kalinya pada orang yang berkulit putih. Akibat penyakit ini umumnya lebih berat pada ras ulit hitam. Misalnya mortalitas pasien pria hitam dengan diastole 115 atau lebih, 3,3 kali lebih tinggi daripada pria berkulit putih, dan 5,6 kali bagi wanita putih. Pola Hidup, faktor seperti pendidikan, penghasilan, dan faktor pola hidup lain telah diteliti, tanpa hasil yang jelas. Penghasilan yang rendah, tingkat Universitas Sumatera Utara 7 pendidikan rendah, dan kehidupan atau pekerjaan yang penuh stres agaknya berhubungan dengan insidens hipertensi yang lebih tinggi. 1.3. Faktor Risiko Pada sebagian besar kasus, penyebab tekanan darah tinggi tidak diketahui. Hal ini terutama terjadi pada hipertensi esensial. Walaupun demikian, terdapat beberapa faktor risiko yang dapat membuat anda lebih mudah terkena tekanan darah tinggi (Palmer, 2007). Faktor risiko tersebut meliputi: Kelebihan berat badan, didefenisikan sebagai indeks masa tubuh (BMI) lebih besar dari 30KG/m². Hal tersebut sangat terkait erat dengan tekanan darah tinggi. Kurang berolahraga dan aktivitas fisik, sebuah gaya hidup tak berpindahpindah kontribusi untuk pengembangan kegemukan dan tekanan darah tinggi. Mengonsumsi makanan berkadar garam tinggi, beberapa orag memiliki kepekaan tinggi untuk sodium (garam), dan tekanan darah mereka akan meningkat jika mereka menggunakan garam. Mengurangi konsumsi sodium cenderung menurunkan tekanan darah. Makanan cepat saji merupakan makanan yang terutama mengandung jumlah sodium yang tinggi. Banyak obat-obatan seperti analgesik juga mengandung sodium dalam kadar yang lebih. Usia tua, tekanan darah cenderung meningkat seiring bertambahnya usia, terutama sistolik. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh arteriosklerosis. Riwayat tekanan darah tinggi dalam keluarga, kita cenderung menyandang tekanan darah tinggi bila kedua orang tua kita juga menyandangnya. Universitas Sumatera Utara 8 Etnis, orang kulit hitam lebih besar risiko terkena darah tinggi daripada orang kulit putih. Hal tersebut juga dapat muncul dengan kemungkinan lebih besar pada usia muda dan berkembang menjadi komplikasi yang lebih cepat. Gender, tekanan darah tinggi sedikit lebih sering terjadi pada pria daripada wanita. Kemungkinan ini bervariasi dengan usia dan diantara kelompok etnis. Obat, beberapa obat seperti amphetamine (stimulan), diet pil, dan beberapa pil yang digunakan untuk keadaan dingin dan gejala alergi, cenderung untuk meningkatkan tekanan darah. Walaupun merokok hanya menyebabkan peningkatan tekanan darah sesaat, namun merokok secara dramatis meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke. Meskipun makan terlalu banyak lemak (terutama lemak jenuh yang ditemukan pada daging dan produk susu) tidak secara langsung dikaitkan dengan peningkatan tekanan darah, namun tetap merupakan faktor risiko penyakit kardiovaskular karena hal tersebut terkait dengan tingginya kadar kolesterol dalam darah (Palmer, 2007). 1.4. Klasifikasi Hipertensi sering diklasifikasi menjadi hipertensi primer atau sekunder, berdasarkan ada tidaknya penyebab yang dapat diidentifikasi. Kebanyakan besar kasus hipertensi primer atau esensial. Apabila penyebab hipertensi dapat diketahui dengan jelas, disebut hipertensi sekunder (Corwin, 2009). Universitas Sumatera Utara 9 Hipertensi Esensial (primer) Tipe ini terjadi pada sebagian besar kasus tekanan darah tinggi sebesar 95%. Penyebabnya tidak diketahui, walaupun dikaitkan dengan kombinasi faktor gaya hidup seperti kurang bergerak (inaktivitas) dan pola makan (Corwin, 2009). Hipertensi Sekunder Salah satu contoh hipertensi sekunder adalah hipertensi vaskuler renal, yang terjadi akibat stenosis arteri renalis. Kelainan ini dapat bersifat kongenital atau akibat aterosklerosis. Stenosis arteri renalis menurunkan aliran darah ke ginjal sehingga terjadi pengaktifan baroreseptor ginjal, perangsangan pelepasan renin, dan pembentukanangiotensin II. Angiotensin II secara langsung meningkatkan tekanan darah dengan meningkatkan TPR, dan secara tidak langsung dengan meningkatkan sintesis aldosteron dan reabsorpsi natrium. Apabila dapat dilakukan perbaikan pada stenosis, atau apabila ginjal yang terkena diangkat, tekanan darah akan kembali ke normal (Corwin, 2009). 1.5. Patofisiologi Dimulai dengan atherosclerosis, gangguan struktur anatomi pembuluh darah perifer yang berlanjut dengan kekakuan pembuluh darah. Kekakuan pembuluh darah disertai dengan penyempitan dan kemungkinan pembesaran plaque yang mennghambat gangguan peredaran darah perifer. Kekakuan dan kelambanan aliran darah menyebabkan beban jantung bertambah berat yang akhirnya dikompensasi dengan peningkatan upaya pemompaan jantung yang memberikan gambaran peningkatan tekanan darah dalam sistem sirkulasi (Bustan, 2007). Universitas Sumatera Utara 10 1.6. Komplikasi Stroke merupakan salah satu komplikasi dari tekanan darah tinggi. Stroke dapat terjadi pada hipertensi kronik apabila arteri-arteri yang memperdarahi otak mengalami hipertropi dan menebal, sehingga aliran darah ke daerah-daerah yang diperdarahinya berkurang. Komplikasi akibat hipertensi yang lain adalah terjadinya infark miokard. Karena hipertensi kronik dan hipertensi ventrikel, maka kebutuhan oksigen miokardium mungkin tidak dapat terpenuhi dan dapat terjadi iskemia jantung yang menyebabkan infark. Demikian juga hipertropi ventrikel dapat menimbulkan perubahan-perubahan waktu hantaran listrik melintasi ventrikel sehingga terjadi disritmia, hipoksia jantung, dan peningkatan resiko pembentukan bekuan (Corwin, 2009). Gagal ginjal juga dapat terjadi karena kerusakan progresif akibat tekanan tinggi pada kapiler-kepiler ginjal, dan glomerolus. Rusaknya membran glomerolus, protein akan keluar melalui urin sehingga tekanan osmotik koloid plasma berkurang, menyebabkan edema yang sering dijumpai pada hipertensi kronik. Ensefalopati dapat terjadi terjadi terutama pada hipertensi maligna (hipertensi yang cepat). Tekanan yang tinggi pada kelainan ini menyebabkan peningkatan tekanan kapiler dan mendorong cairan ke dalam ruang intertisium diseluruh susunan saraf pusat. Selain itu, hipertensi Gagal jantung atau ketidakmampuan jantung dalam memompa darah yang kembalinya kejantung sehingga menyebabkan bengkak atau sering dikatakan edema (Corwin, 2009). Universitas Sumatera Utara 11 2. Konsep Tidur 2.1. Definisi Tidur Istirahat dan tidur merupakan kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh semua orang. Untuk dapat berfungsi secara normal, maka setiap orang memerlukan istirahat dan tidur yang cukup. Pada kondisi istirahat dan tidur, tubuh melakukan proses pemulihan untuk mengembalikan stamina tubuh hingga berada dalam kondisi yang optimal. Setiap individu mempunyai kebutuhan istirahat dan tidur yang berbeda. Pola istirahat dan tidur yang baik dan teratur memberikan efek yang bagus terhadap kesehatan (Asmadi, 2008). Tidur adalah suatu proses perubahan kesadaran yang terjadi berulangulang selama periode tertentu (Potter & Perry, 2005). Tidur merupakan suatu keadaan tidak sadar di mana persepsi dan reaksi individu terhadap lingkungan menurun atau hilang, dan adapat dibangunkan kembali dengan indra atau rangsangan yang cukup. Tidur didefenisikan sebagai suatu keadaan bawah sadar dimana seseorang masih dapat dibangunkan dengan pemberian rangsang sensorik atau dengan rangsang lainnya (Guyton & Hall, 1997). 2.2. Fisiologi Tidur Tidur dimulai dengan aktifitas fisik minimal, tingkatan kesadaran yang bervariasi, perubahan-perubahan proses fisiologi tubuh dan penurunan respon terhadap rangsangan dari luar. Tidur merupakan sesuatu yang paling penting bagi manusia, sama halnya seperti kesehatan yang baik secara umum (Guyton & Hall,1997). Tiap individu membutuhkan jumlah yang berbeda untuk tidur. Tanpa jumlah tidur yang cukup, kemampuan untuk berkonsentrasi, membuat keputusan, Universitas Sumatera Utara 12 dan berpartisipasi dalam aktivitas harian akan menurun, dan meningkatkan iritabilitas (Potter & Perry, 2005). Sebagian besar organisme hidup menunjukkan adanya fluktuasi fungsi tubuh yang berirama sepanjang kurang lebih 24 jam, yaitu berirama sirkadian. Umumnya, organisme –organisme tersebut menjadi terlatih seirama dengan siklus cahaya siang-malam yang terjadi di lingkungannya (Ganong, 1998). Irama sirkadian mempengaruhi pola fungsi biologis utama dan fungsi perilaku. Fluktuasi dan prakiraan suhu tubuh, denyut jantung, tekanan darah, sekresi hormon, kemampuan sensorik, dan suasana hati tergantung pada pemeliharaan siklus sirkadian 24 jam (Potter & Perry, 2005). Zona tidur otak depan basal meliputi bagian-bagian dari hipotalamus. Dari hipotalamus, jalur endokrin dan saraf yang menuju ke berbagai bagian tubuh, mengatur irama ini, termasuk pelepasan melatonin di malam hari, yang berfungsi sebagai sinyal waktu sistemik (Ganong, 1998). Irama biologis tidur sering menjadi sinkron dengan fungsi tubuh yang lain. Jika siklus tidur bangun menjadi terganggu (misalnya perputaran dinas kerja), maka fungsifisiologis lain dapat berubah juga. Kegagalan untuk mempertahankan siklus tidur-bangun individual yang biasanya dapat secara berlawanan mempengaruhi kesehatan keseluruhan seseorang (Potter & Perry, 2005). Tidur melibatkan suatu urutan keadaan fisiologis yang dipertahankan oleh integrasi fungsi aktivitas sistem saraf pusat yang berhubungan dengan perubahan dalam sistem saraf peripheral, endokrin, kardiovaskuler, pernapasan dan muskular. Tiap rangkaian didefinisikan dengan respon fisik tertentu dan pola Universitas Sumatera Utara 13 aktivitas otak. Peralatan seperti elektroensefalogram (EEG), yang mengukur aktivitas listrik dalam korteks serebral, elektromiogram (EMG), yang mengukur tonus otot dan elektrookulogram (EOG) yang mengukur gerakan mata, memberikan informasi struktur aspek fisiologis tidur (Potter & Perry, 2005). Kontrol dan pengaturan tidur tergantung pada hubungan natara dua mekanisme serebral yang mengaktivasi secara intermiten dan menekan pusat otak tertinggi untuk mengontrol tidur dan terjaga. Sebuah mekanisme menyebabkan terjaga dan yang lain menyebabkan tertidur. Siklus tidur-bangun mempengaruhi dan mengatur fungsi fisiologis dan respon prilaku. Jika siklus tidur-bangun seseorang terganggun, maka fungsi fisiologis tubuh yang lain juga dapat terganggu atau berubah. Kegagalan untuk mempertahankan siklus tidur-bangun individual yang normal dapat mempengaruhi kesehatan seseorang (Potter & Perry, 2005). Tidur dapat dihasilkan dari pengeluaran serotonin dari sel tetentu dalam sistem tidur Raphe pada puas dan otak depan bagian tengah. Zat agonis serotonin berguna untuk menekan tidur dan antagonis serotonin meningkatkan tidur gelombang lambat pada manusia. Seseorang tetap tertidur atau terbangun tergantung pada keseimbangan impuls yang diterima dari pusat yang lebih tinggi, reseptor sensori perifer dan sistem limbik. Ketika seseorang mencoba untuk tidur mereka akan menutup mata dan berada pada posisi rileks. Jika stimulus ke SAR menurun maka aktivitas SAR juga akan menurun. Pada beberapa bagian lain, BSR mengambil alih dan menyebabkan seseorang tidur (Ganong, 1998). Jumlah tidur total tidak berubah sesuai pertambahan usia. Akan tetapi, pola tidur kelihatan Universitas Sumatera Utara 14 menjadi berubah pada kebanyakan orang dewasa. Keluhan tentang kesulitan tidur waktu malam seringkali terjadi di antara orang dewasa, seringkali akibat penyakit yang diderita individu tersebut. 2.3. Fungsi Tidur Fungsi secara jelas tidak diketahui, akan tetapi diyakini bahwa tidur dapat digunakan untuk menjaga keseimbangan mental, emosional, kesehatan, mengurangi stress pada paru, kardiovaskuler, endokrin, dan lain-lain. Secara umum terdapat dua efek fisiologis dari tidur : pertama, efek pada sistem saraf yang diperkirakan dapat memulihkan kepekaan normal dan keseimbangan di antara berbagai susunan saraf, dan kedua, efek pada struktur tubuh dengan memulihkan kesegaran dan fungsi dalam organ tubuh karena selama tidur terjadi penurunan (Hidayat, 2006). Menurut hodgson, 1991 (di kutip dari Potter & Perry, 2005) kegunaan tidur masih belum jelas, namun di yakini tidur diperlukan untuk menjaga keseimbangan mental, emosional dan kesehatan. Menurut Anch dkk, 1988 (di kutip dari Potter & Perry 2005) Teori Lain tentang kegunaan tidur adalah tubuh menyimpan energi selama tidur. Otot skelet berelaksasi secara progresif, dan tidak adanya kontraksi otot menyimpan energi kimia untuk proses seluler. Penurunan laju metabolik basal lebih jauh menyimpan persediaan energi tubuh. Tidur diperlukan untuk memperbaiki proses biologis secara rutin, selama tidur gelombang rendah yang dalam NREM (nonrapid eye movement tahap IV), tubuh melepaskan hormon pertumbuhan manusia untuk memperbaiki dan Universitas Sumatera Utara 15 memperbaharui sel epitel dan sel khusus seperti sel otak. Sintesa protein dan pembagian sel untuk pembaharuan jaringan seperti pada kulit, sumsum tulang, mukosa lambung terjadi juga selama tidur dan istirahat (Potter & Perry, 2005). Pada tidur REM (rapid eye movement) terjadi perubahan dalam aliran darah serebral, peningkatan aktivitas kortikal, peningkatan konsumsi oksigen dan pelepasan epinefrin, sehingga membantu penyimpanan memori dan pembelajaran maka tidur REM penting untuk pemulihan koqnitif. Tanpa kebutuhan tidur dan istirahat yang cukup, konsentrasi dan pengambilan keputusan akan menurun (Potter & Perry, 2005). Menurut Oswold, 1984 (dikutip dari Potter & Perry, 2005) kegunaan tidur yang lain adalah selama tidur tubuh akan menyimpan energi. 2.4. Tahapan Tidur Tidur dibagi menjadi dua fase yaitu pergerakan mata yang cepat atau Rapid Eye Movement (REM) dan pergerakan mata yang tidak cepat atau Non Rapid Eye Movement (NREM). Tidur diawali dengan fase NREM yang terdiri dari empat stadium, yaitu tidur stadium satu, tidur stadium dua, tidur stadium tiga dan tidur stadium empat; lalu diikuti oleh fase REM (Patlak, 2005). Fase NREM dan REM terjadi secara bergantian sekitar 4-6 siklus dalam semalam (Potter & Perry, 2005). a. Tidur stadium satu Pada tahap ini seseorang akan mengalami tidur yang dangkal dan dapat terbangun dengan mudah oleh karena suara atau gangguan lain. Selama tahap pertama tidur, mata akan bergerak peralahan-lahan, dan aktivitas otot melambat (Patlak, 2005). Universitas Sumatera Utara 16 b. Tidur stadium dua Biasanya berlangsung selama 10 hingga 25 menit. Denyut jantung melambat dan suhu tubuh menurun. Pada tahap ini didapatkan gerakan bola mata berhenti (Patlak, 2005). c. Tidur stadium tiga Tahap ini lebih dalam dari tahap sebelumnya (Ganong, 1998). Pada tahap ini individu sulit untuk dibangunkan, dan jika terbangun, individu tersebut tidak dapat segera menyesuaikan diri dan sering merasa bingung selama beberapa menit. d. Tidur stadium empat Tahap ini merupakan tahap tidur yang paling dalam. Gelombang otak sangat lambat. Aliran darah diarahkan jauh dari otak dan menuju otot, untuk memulihkan energi fisik (Guyton & Hall, 1997). Tahap tiga dan empat dianggap sebagai tidur dalam atau deep sleep, dan sangat restorative bagian dari tidur yang diperlukan untuk merasa cukup istirahat dan energik di siang hari (Patlak, 2005). Fase tidur NREM ini biasanya berlangsung antara 70 menit sampai 100 menit, setelah itu akan masuk ke fase REM. Pada waktu REM jam pertama prosesnya berlangsung lebih cepat dan menjadi lebih intens dan panjang saat menjelang pagi atau bangun. Selama tidur REM, mata bergerak cepat ke berbagai arah, walaupun kelopak mata tetap tertutup. Pernafasan juga menjadi lebih cepat, tidak teratur, dan dangkal. Denyut jantung dan nadi meningkat (Patlak, 2005). Universitas Sumatera Utara 17 Selama tidur baik NREM maupun REM, dapat terjadi mimpi tetapi mimpi dari tidur REM lebih nyata dan diyakini penting secara fungsional untuk konsolidasi memori jangka panjang (Potter & Perry, 2005). Selama tidur malam yang berlangsung rata-rata tujuh jam, REM dan NREM terjadi berselingan sebanyak 4-6 kali. Apabila seseorang kurang cukup mengalami REM, maka esok harinya ia akan menunjukkan kecenderungan untuk menjadi hiperaktif, kurang dapat mengendalikan emosinya dan nafsu makan bertambah. Sedangkan jika NREM kurang cukup, keadaan fisik menjadi kurang gesit. Gambar 2.1. Tahap-tahap tidur (Potter & Perry, 2005) Tahap pratidur NREM tahap I NREM tahap II NREM tahap III NREM tahap IV Tidur REM NREM tahap IV NREM tahap III Tahap ini merupakan salah satu dari irama sirkadian yang merupakan siklus dari 24 jam kehidupan manusia. Keteraturan irama sirkadian ini juga merupakan keteraturan tidur seseorang. Jika terganggu, maka fungsi fisiologis dan psikologis dapat terganggu (Potter & Perry, 2005). Universitas Sumatera Utara 18 2.5. Pola Tidur Pola Tidur adalah ritme jadwal tidur dan bangun seseorang dalam jangka waktu tertentu pada malam hari dan meliputi waktu untuk memulai tidur, frekuensi terbangun malam, kepuasan tidur, kedalaman tidur, dan konsentrasi beraktivitas (Potter & Perry, 2005) serta total jam tidur dan rasa segar bangun pagi (Guyton & Hall, 1997). Usia merupakan salah satu faktor penentu lamanya tidur yang dibutuhkan seseorang. Semakin tua usia, maka semakin sedikit pula lama tidur yang dibutuhkan (Asmadi, 2008). Pola tidur normal berdasarkan tingkat perkembangan/usia, yaitu: Bayi baru lahir Tidur 14-18 jam sehari, pernapasan teratur, gerak tubuh sedikit, 50% tidur NREM. Setiap siklus sekitar 45-60 menit (Asmadi, 2008). Bayi yang lahir dari ibu tanpa medikasi lahir dalam keadaan terjaga. Mata terbuka lebar dan mengisap kencang. Setelah sekitar satu jam bayi baru lahir menjadi diam dan kurang responsif terhadap stimulus internal dan eksternal. Periode tidur berakhir beberapa menit, 2 sampai 4 jam setelahnya. Kemudian bayi terbangun lagi dan seringkali menjadi terlalu responsif terhadap stimulus. Stimulus lapar, nyeri, dingin, atau yang lain seringkali menyebabkan tangisan. Pada minggu pertama, bayi baru lahir tidur dengan konstan. Kira-kira 50% dari tidur ini adalah tidur REM, yang menstimulasi pusat otak tertinggi. Hal ini dianggap esensial bagi perkembangan karena neonatus tidak terjaga cukup lamauntuk stimulasi eksternal yang bermakna (Potter & Perry, 2005) Universitas Sumatera Utara 19 Bayi, tidur 12-14 jam sehari, 20-30% tidur REM, tidur lebih lama pada malam hari dan memiliki pola terbangun sebentar (Asmadi, 2008). Bayi tertidur beberapa kali pada siang hari tetapi biasanya tidur rata-rata 8 sampai 10 jam pada malam hari. Sekitar 30% dari waktu tidur dihabiskan dalam siklus REM. Bangun biasanya pada pagi hari, meskipun tidak umum bagi bayi untuk terjaga selama malam hari. Jika bangun selama malam hari menjadi rutin, masalahnya pada diet karena lapar seringkali membangunkan anak. Bayi yang minum ASI biasanya tidur selama periode yang lebih pendek, dengan lebih sering terbangun, daripada bayi yang minum susu botol ( Wong, 1995). Bayi yang lebih besar tidur lebih lama daripada bayi yang lebih kecil karena kapasitas lambungnya yang lebih besar. Seorang bayi antara usia 1 bulan dan 1 tahun tidur rata-rata 14 jam sehari. Dibandingkan dengan anak-anak yang lebih besar, tidur aktif (REM) membentuk proporsi tidur yang lebih besar. Sebaliknya pada bayi baru lahir yang tidur dan bangun bergantian sepanjang periode 24 jam, setelah usia 3 bulan periode tidur terpanjang terlihat pada malam hari (Potter & Perry, 2005). Todler, tidur sekitar 10-12 jam sehari, 25% tidur REM, banyak tidur pada malam hari, terbangun dini hari berkurang, siklus bangun tidur normal sudah menetap pada umur 2-3 tahun (Asmadi, 2008). Sedangkan menurut Potter & Perry (2005), pada usia 2 tahun, anak-anak biasanya tidur sepanjang malam dan tidur siang setiap hari. Total tidur rata-rata 12 jam sehari. Tidur siang dapat hilang pada usia 3 tahun. Hal yang umum bagi todler terbangun pada malam hari. Persentase tidur REM berlanjut menurun. Selama periode ini todler tidak ingin tidur pada malam hari. Ketidakinginan ini dapat berhubungan dengan kebutuhan untuk Universitas Sumatera Utara 20 otonomi, atau takut perpisahan. Todler mempunyai kebutuhan untuk mengeksplorasi dan memuaskan keingintahuannya, yang dapat menjelaskan mengapa beberapa dari mereka mencoba untuk menunda waktu tidur. Pra sekolah, tidur sekitar 11 jam sehari, 20% tidur REM, periode terbangun kedua hilang pada umur 3 tahun. Pada umur 5 tahun, anak pra sekolah jarang tidur siang. Kecuali pada kebudayaan yaitu siesta adalah kebiasaan. Anak usia pra sekolah biasanya mengalami kesulitan untuk relaks atau diam setelah hari-hari yang aktif, panjang. Anak usia pra sekolah juga mempunyai masalah dengan ketakutan waktu tidur, terjaga malam hari, atau mimpi buruk. Orang tua paling berhasil untuk membawa anak pra sekolah untuk tidur dengan membina ritual yang konsisten yang mencakup aktivitas waktu tenang sebelum waktu tidur. Biasanya, para ahli tidak merekomendasi seorang anak diperbolehkan tidur dengan orang tua. Akan tetapi, di beberapa kebudayaan, berbagi tempat tidur atau ruangan dengan orang tua telah diterima sebagai praktik tidur (Potter & Perry, 2005). Usia Sekolah, tidur sekitar 10 jam sehari, 18,5% tidur REM. Sisa waktu tidur relatif konstan. Biasanya anak usia ini menolak untuk tidur siang karena aktivitas yang menurutnya menyenangkan (Asmadi, 2008). Menurut Potter & Perry (2005), jumlah tidur yang diperlukan pada usia sekolah bersifat individual dikarenakan status aktivitas dan tingkat kesehatan yang bervariasi. Anak usia sekolah biasanya tidak membutuhkan tidur siang. Pada usia 6 tahun akan tidur malam rata-rata 11 sampai 12 jam; sementara anak usia 11 tahun tidursekitar 9 sampai 10 jam. Anak usia 6 atau 7 tahun biasanya dapat dibujuk untuk tidur Universitas Sumatera Utara 21 dengan mendorong melakukan aktivitas yang tenang. Anak yang lebih tua seringkali menolak tidur karena ketidaksadaran terhadap kelelahan atau kebutuhan mandiri. Anak usia sekolah akan menjadi lelah pada hari berikutnya jika diizinkan untuk tinggal lebih lama dari biasanya. Anak yang lebih tua meminta waktu tidur yang lebih larut sebagai suatu simbol dominan dari anak yang lebih muda. Orang tua biasanya berhasil membuat anak yang lebih tua untuk tidur dengan menggunakan pendekatan tegas dan konsisten. Anak usia sekolah yang lebih tua diperbolehkan tidur lebih larut, tetapi hak istimewa ini tergantung pada anak untuk tidur segera tanpa keluhan. Remaja, tidur sekitar 8,5 jam sehari, dan 20% tidur REM. Hari-hari remaja biasanya diisi oleh banyak kegiatan. Sehingga cenderung tidur larut malam dan bangun terlambat (Asmadi, 2008). Tuntutan sekolah, kegiatan sosial setelah sekolah, dan pekerjaan paruh waktu menekan waktu yang tersedia untuk tidur. Remaja pergi tidur lebih larut dan bangun lebih cepat pada waktu sekolah menengah atas. Harapan sosial yang umum adalah remaja membutuhkan tidur yang sedikit daripada praremaja. Akan tetapi, data laboratorium menunjukkan bahwa remaja mempunyai kebutuhan fisiologis untuk tidur lebih banyak bila dibandingkan dengan praremaja. Karena tuntutangaya hidup yang memperpendek waktu yang tersedia untuk tidur dan kemungkinan kebutuhan fisiologis, maka remaja seringkali mengantuk berlebihan pada siang hari (excessive daytime sleepness, EDS). Penampilan di sekolah, kerentanan terhadap kecelakaan, dan masalah perilaku dan suasana hati karena EDS yang berhubungan dengan tidur yang tidak cukup. Orang tua, guru, dan remaja itu sendiri seringkali kekurangan Universitas Sumatera Utara 22 pengetahuan tentang apa itu tidur yang tepat. Mereka memerlukan pendidikan untuk meningkatkan apa yang menjadi masalah kesehatan yang penting bagi remaja (Potter & Perry, 2005). Dewasa muda, tidur sekitar 7-9 jam sehari, 20-25% tidur REM, 5-10% Tidur tahap I, 50% tidur tahap II, dan 10-20% tidur tahap II dan IV. Dewasa muda yang sehat membutuhkan cukup tidur untuk berpartisipasi dalam kesibukan aktivitas yang mengisi hari-hari mereka. Akan tetapi, adalah hal yang umum untuk tuntutan gaya hidup yang mengganggu pola tidur yang umum. Stres pekerjaan, hubungan keluarga, dan aktivitas sosial dapat mengarah pada insomnia (mis. kesulitan memulai dan/atau mempertahankan tidur) dan penggunaan medikasi untuk tidur. Penggunaan jangka panjang medikasi tersebut dapat mengganggu pola tidur dan memperburuk masalah insomnia (Potter & Perry, 2005). Dewasa pertengahan, tidur sekitar 7 jam sehari, 20% tidur REM. Selama masa dewasa tengah total waktu yang digunakan untuk tidur malam hari mulai menurun. Jumlah tidur tahap 4 mulai menurun, suatu penurunan yang berlanjut dengan bertambahnya usia. Gangguan tidur seringkali mulai didiagnosa di antara orang-orang pada rentang usia ini bahkan ketika gejala dari gangguan yang telah ada untuk beberapa tahun. Insomnia terutama lazim terjadi, mungkin disebabkan oleh perubahan dan stres usia menengah. Gangguan tidur dapat disebabkan oleh kecemasan, depresi, atau penyakit fisik ringan tertentu. Wanita yang mengalami gejala menopause dapat mengalami insomnia. Anggota kelompok usia ini dapat tergantung pada obat tidur (Potter & Perry, 2005). Universitas Sumatera Utara 23 Dewasa tua, Tidur sekitar 6 jam sehari, 20-25% tidur REM, tidur tahap IV nyata berkurang kadang-kadang tidak ada. Pada dewasa tua kualitas tidur kelihatan menjadi berubah. Episode tidur REM cenderung memendek. Terdapat penurunan yang progresif pada tahap tidur NREM 3 dan 4; beberapa dewasa tua hampir tidak memiliki tahap 4, atau tidur yang dalam. Seorang dewasa tua yang terbangun lebih sering di malam hari, dan membutuhkan banyak waktu untuk jatuh tidur. Akan tetapi, pada dewasa tua yang berhasil beradaptasi terhadap perubahan fisiologis dan psikologis dalam penuaan lebih mudah memelihara tidur REM dan keberlangsungan dalam siklus tidur yang mirip dengan dewasa muda, Reynolds dkk (1993, dalam Potter & Perry 2005). Keragaman dalam perilaku tidur dewasa tua adalah umum. Keluhan tentang kesulitan tidur waktu malam seringkali terjadi di antara dewasa tua, seringkali akibat keberadaan penyakit kronik yang lain. Sebagai contoh, seorang dewasa tua yang mengalami artritis mempunyai kesulitan tidur akibat nyeri sendi. Kecenderungan untuk tidur siang kelihatannya meningkat secara progresif dengan bertambahnya usia. Peningkatan waktu siang hari yang dipakai untuk tidur dapat terjadi karena seringnya terbangun pada malam hari. Dibandingkan dengan jumlah waktu yang dihabiskan di tempat tidur, waktu yang dipakai tidur menurun 1 jam atau lebih, Evans dan Rogers (1994 dalam Potter & Perry, 2005). Perubahan pola tidur pada dewasa tua disebabkan perubahan SSP yang mempengaruhi pengaturan tidur. Kerusakan sensorik, umum dengan penuaan, dapat mengurangi sensitivitas terhadap waktu yang mempertahankan irama sirkadian ( Potter & Perry, 2005). Universitas Sumatera Utara 24 2.6. Pengkajian Pola tidur menyangkut pengkajian subjektif yaitu menyegarkan dan tenangnya tidur mereka dan pengkajian objektif yang dapat diketahui dari rekaman poligrafi, gerakan pergelangan tangan, gerakan kepala dan mata. 2.6.1. Data Subjektif Data subjektif tidur yang baik atau buruk dapat dievaluasi dengan persepsi para penderita penyakit tentang parameter tidur diantaranya adalah berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memulai tidur, frekuensi terbangun pada malam hari, total waktu tidur di malam, kepuasan tidur, rasa segar bangun tidur, kedalaman tidur, dan konsentrasi beraktivitas. Hanya para penderita penyakit saja yang dapat melaporkan apakah mereka mendapatkan tidur yang baik atau buruk. Jika para penderita penyakit puas dengan kualitas dan kuantitas tidurnya maka mereka mempunyai tidur yang baik (Potter & Perry, 2005). Parameter tersebut dapat dilihat sebagai berikut: Total jam tidur malam, kebanyakan orang dewasa tidur malam hari ratarata 6 sampai 8 jam/hari. Orang dewasa yang sehat membutuhkan tidur yang cukup untuk berpartisipasi dalam kesibukan aktivitas yang mengisi hari-hari mereka. Namun pada individu yang sakit, misalnya pusing akan mengganggu tidurnya. Sehingga menyebabkan individu tersebut memiliki kualitas tidur yang buruk. Waktu untuk memulai tidur, secara normal pada orang dewasa dimulai dengan periode sebelum tidur. Selama seseorang terjaga hanya pada rasa kantuk Universitas Sumatera Utara 25 yang bertahap dan berkembang secara teratur. Periode ini secara normal berakhir 10 hingga 30 menit, tetapi untuk seseorang yang memiliki kesulitan untuk tertidur, akan berlangsung satu jam atau lebih (Potter & Perry, 2005). Frekuensi terbangun malam, pada klien hipertensi sering terbangun di malam hari karena BAK, pusing, stres, nyeri dan lain-lain sehingga akan mengganggu tidurnya (Potter & Perry, 2005). Hal ini akan menyebabkan ketidaknyaman klien untuk dapat tidur kembali. Kedalaman tidur, pada klien hipertensi dapat terjadi pola tidur yang kurang baik karena gangguan-gangguan tidur yang dapat saja terjadi pada mereka. Semua itu dapat mempengaruhi kesehatan klien itu sendiri. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi tidur klien tersebut baik yang mereka sadari maupun tidak. Jika faktor-faktor tersebut tidak segera dihilangkan atau dikurangi maka ini akan memperburuk kondisi klien. Kepuasan tidur, kepuasan terhadap tidur seseorang dapat dilihat dari kemampuan individu dalam mempertahankan tidur dan mendapat kebutuhan tidur yang cukup dari tidur REM dan NREM. Kepuasan tidur dapat diketahui dengan melakukan pengkajian yang meliputi data subjektif dan objektif (Craven dan Hirnle, 2000). Contohnya ada seseorang yang tidur selama 4 jam namun sudah merasa puas dengan tidurnya, sementara yang lain membutuhkan tidur selama 8 sampai 10 jam ataupun lebih untuk merasa puas akan tidurnya. Rasa segar bangun tidur, secara normal, orang yang tidurnya cukup akan merasa segar setelah terbangun dari tidurnya karena tidur berfungsi sebagai penyimpanan energi untuk digunakan pada hari berikutnya. Namun pada orang Universitas Sumatera Utara 26 yang tidak mendapatkan tidur yang cukup dan sering terjaga di malam hari akan menyebabkan rasa tidak segar dan juga kelemahan pada keesokan harinya (Potter & Perry, 2005). Konsentrasi dalam melakukan aktivitas, ketika kurang tidur seseorang akan berpikir dan bekerja lebih lambat, membuat banyak kesalahan, dan sulit untuk mengingat sesuatu. Hal ini mengakibatkan penurunan produktivitas kerja dan dapat menyebabkan kecelakaan. Selanjutnya, di Amerika kerugian akibat hal di atas diperkirakan mencapai 18 milyar dollar per tahun. Efek lainnya pada pekerja yaitu pekerja menjadi lebih cepat marah, tidak sabar, gelisah, dan depresi. Masalah ini dapat mengganggu pekerjaan dan hubungan keluarga, serta mengurangi aktivitas sosial (Nurmianto, 2004). 2.6.2. Data Objektif Data objektif bisa kita dapakan melalui pengkajian fisik dan diagnostik penderita penyakit yaitu dengan mengobservasi penampilan wajah seperti adanya lingkaran hitam disekitar mata, mata sayu dan konjungtiva merah, dapat juga dilihat dari perilaku dan tingkat energi individu seperti perilaku iritabel, kurang perhatian, respon lambat, sering menguap, menarik diri dan bingung, postur tubuh tidak stabil, tangan tremor dan kurang koordinasi (Tarwoto & Wartonah, 2006). Selain itu, data objektif kualitas tidur penderita penyakit juga bisa dianalisa melalui pemeriksaan laboratorium yaitu EEG, EMG, dan EOG sinyal listrik menunjukkan perbedaan tingkat aktivitas yang berbeda dari otak, otot, dan mata yang berhubungan dengan tahap tidur yang berbeda (Sleep Research Society, 1993; dikutip dari (Potter & Perry, 2005). Melalui pemeriksaan laboratorium yaitu Universitas Sumatera Utara 27 Electroencephalogram (EEG) yang merupakan rekaman arus listrik pada otak. Perekaman listrik pada permukaan otak atau permukaan luar kepala dapat menunjukkan adanya aktivitas listrik yang terus-menerus timbul dalam otak dapat menganalisa pola tidur klien. Ini sangat dipengaruhi oleh derajat eksitensi otak sebagai akibat dari keadaan tidur, keadaan siaga/karena penyakit lain (Guyton & Hall, 1997). 2.6.3. Hubungan antara Data Subjektif dan Data Objektif Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan kuat antara kualitas tidur berdasarkan data subjektif dan data objektif. Dari data objektif yang diperoleh maka dapat diketahui bagaimana kualitas tidur seseorang. Menurut beberapa penelitian, semakin banyak gelombang kecil perdetiknya pada EEG maka semakin lelap dan tenang tidur seseorang. Beberapa penelitian melaporkan adanya hubungan yang signifikan antara data subjektif dan data objektif berupa evaluasi polisomnografi seperti EEG, EOG, dan EMG (Guyton & Hall, 1997). 2.7. Dampak Kurang Tidur Kondisi klien yang mengalami gangguan tidur akan menyebabkan kelemahan, keletihan, dan merasa tidak nyaman pada keesokan harinya lebih rentan terhadap efek stress, baik fisik maupun mental (Guyton & Hall, 1997). Hal ini tentunya akan menghambat seseorang dalam melakukan kegiatan bahkan jika dibiarkan terlalu lama akan memperburuk keadaan dan menimbulkan penyakit baru pada penderitanya (Potter & Perry, 2005). Universitas Sumatera Utara 28 Dalam sebuah penelitian menyebutkan bahwa gangguan tidur dapat menimbulkan beberapa efek pada manusia. Ketika kurang tidur seseorang akan berpikir dan bekerja lebih lambat, membuat banyak kesalahan, dan sulit untuk mengingat sesuatu. Hal ini mengakibatkan penurunan produktivitas kerja dan dapat menyebabkan kecelakaan. Selanjutnya, di Amerika kerugian akibat hal di atas diperkirakan mencapai 18 milyar dollar per tahun. Efek lainnya pada pekerja yaitu pekerja menjadi lebih cepat marah, tidak sabar, gelisah, dan depresi. Masalah ini dapat mengganggu pekerjaan dan hubungan keluarga, serta mengurangi aktivitas sosial (Nurmianto, 2004). 3. Faktor –faktor Gangguan Tidur Sejumlah faktor mempengaruhi kuantitas dan kualitas tidur. Seringkali faktor tunggal tidak hanya menjadi penyebab masalah tidur (Nurmianto, 2004). Gangguan tidur dapat dialami oleh semua lapisan masyarakat baik kaya, miskin, berpendidikan tinggi dan rendah, orang muda serta yang paling sering ditemukan pada usia lanjut. Pada orang normal, gangguan tidur yang berkepanjangan akan mengakibatkan perubahan-perubahan pada siklus tidur biologisnya, menurun daya tahan tubuh serta menurunkan prestasi kerja, mudah tersinggung, depresi, kurang konsentrasi, kelelahan, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi keselamatan diri sendiri atau orang lain (Potter & Perry, 2009). Gangguan tidur merupakan masalah yang sangat umum. Di Negara-negara industri khususnya, banyak orang menderita dari beberapa bentuk gangguan tidur. Data tentang frekuensi bervariasi antara 25-50% dari populasi (Nurmianto, 2004). Universitas Sumatera Utara 29 Faktor fisiologis, faktor psikologis, obat-obatan dan substansi, dan lingkungan dapat mengubah kualitas dan kuantitas tidur (Potter & Perry, 2005). 3.1. Faktor Fisik Setiap penyakit yang menyebabkan nyeri, rasa tidak nyaman (mis. Kesulitan bernafas), atau masalah suasana hati, seperti kecemasan atau depresi, dapat menyebabkan masalah tidur. Seseorang dengan perubahan seperti itu mempunyai masalah kesulitan tertidur atau tetap tertidur. Penyakit juga dapat memaksa klien untuk tidur dalam posisi yang aneh saat tangan atau lengan diimobilisasi pada traksi dapat mengganggu tidur. Berdasarkan penelitian, rasa tidak nyaman merupakan salah satu faktor terjadinya gangguan tidur dimana seseorang akan merasa gelisah dan sulit untuk mendapatkan tidur yang nyenyak (Potter & Perry, 2005). Hipertensi seringkali menyebabkan terbangun pada pagi hari dan kelelahan. Hipotiroidisme menurunkan tidur tahap 4, sebaliknya hipertiroidisme menyebabkan seorang perlu waktu yang banyak untuk tertidur. Kelelahan, dapat menyebabkan gangguan tidur, dimana biasanya seseorang yang kelelahan akan merasa seolah-olah mereka bangun ketika tidur dan biasanya tidak mendapatkan tidur yang dalam, (Potter & Perry, 2005). Seseorang yang kelelahan menengah biasanya memperoleh tidur yang mengistirahatkan, khususnya jika kelelahan adalah hasil kerja atau latihan yang menyenangkan. Latihan 2 jam atau lebih sebelum waktu tidur membuat tubuh mendingin dan mempertahankan suatu keadaan kelelahan yang meningkatkan relaksasi. Akan tetapi, kelelahan yang berlebihan yang dihasilkan dari kerja yang meletihkan atau penuh stres membuat Universitas Sumatera Utara 30 sulit tidur. Hal ini dapat menjadi masalah yang umum bagi sebagian orang (Potter & Perry, 2005). Pusing sering terjadi pada siapa saja, dan akan menyebabkan gangguan tidur serta apabila pusing semakin parah maka akan semakin parah juga tingkat gangguan tidurnya. Pusing dapat menyebabkan seseorang terbangun dari tidurnya sehingga total jam tidur menjadi berkurang (Potter & Perry, 2005). Nokturia, atau berkemih pada malam hari, mengganggu tidur dan siklus tidur. Kondisi ini yang paling umum pada lansia dengan penurunan tonus kandung kemih atau orang yang berpenyakit jantung, diabetes,uretritis, atau penyakit prostat. Setelah seseorang berulang kali terbangun untuk berkemih, menyebabkan kembali untuk tertidur lagi menjadi sulit (Potter & Perry, 2005). 3.2. Faktor Lingkungan Lingkungan tempat seseorang tidur berpengaruh penting pada kemampuan untuk tertidur dan tetap tertidur. Ventilasi yang baik adalah esensial untuk tidur yang tenang. Ukuran, kekerasan, dan posisi tempat tidur mempengaruhi kualitas tidur. Jika seseorang biasanya tidur dengan individu lain, maka tidur sendiri menyebabkan ia terjaga. Sebaliknya, tidur tanpa ketenangan atau teman tidur yang mengorok juga mengganggu tidur (Potter & Perry, 2005). Suara bising juga mempengaruhi tidur. Tingkat suara yang diperlukan untuk membangunkan orang tergantung pada tahap tidur (Webster dan Thompson, 1986). Suara yang rendah lebih sering membangunkan seorang dari tidur tahap 1, sementara suara yang keras membangunkan orang pada tahap tidur 3 dan 4. Beberapa orang membutuhkan ketenangan untuk tidur, sementara yang lain lebih Universitas Sumatera Utara 31 menyukai suara sebagai latar belakang seperti musik lembut atau televisi. WHO (2004) juga menyatakan hal yang sama namun WHO menambahkan bahwa sebagian besar orang tidak mengeluhkan kurang tidur karena kebisingan tetapi memiliki tidur yang non-restoratif, mengalami kelelahan dan atau sakit kepala pada saat bangun pagi dan kantuk yang berlebihan di siang hari (Potter & Perry, 2005). Tingkat cahaya dapat mempengaruhi kemampuan untuk tidur. Beberapa klien menyukai sorot lampu ruangan gelap, sementara yang lain menyukai cahaya remang yang tetap menyala selama tidur (Potter & Perry, 2005). Menurut Guyton & Hall (1997), penerangan dapat menyebabkan gangguan tidur dan dapat menghambat sekresi melatonin pada tubuh. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya pergeseran sistem sirkadian, dimana jadwal tidur maju secara bertahap (Asmadi, 2008). Klien juga mungkin bermasalah tidur karena suhu ruangan. Suhu ruangan panas dan dingin. Ruangan terlalu panas atau terlalu dingin seringkali menyebabkan klien gelisah keadaan ini akan mengganggu tidur seseorang (Potter & Perry, 2005). 3.3. Obat-obatan dan Substansi Dari daftar obat di PDR 1990, dengan 584 obat resep atau obat bebas menuliskan mengantuk sebagai salah satu efek samping, 486 menulis insomnia, dan 281 menyebabkan kelelahan (Buysse, 1991). Mengantuk dan deprivasi tidur adalah efek samping medikasi yang umum. Medikasi yang diresepkan untuk tidur seringkali memberi banyak masalah daripada keuntungan. Orang dewasa muda Universitas Sumatera Utara 32 dan dewasa tengah dapat tergangtung pada obat tidur untuk mengatasi stresor gaya hidupnya (Potter & Perry, 2005). Hipnotik berpengaruh pada tidur, yaitu mengganggu dengan mencapai tahap tidur yang lebih dalam, memberikan hanya peningkatan kualitas tidur sementara, seringkali menyebabkan rasa mengambang sepanjang siang hari, perasaan mengantuk yang berlebihan, bingung, penurunan energi, dan memperburuk apnea tidur pada lansia (Potter & Perry, 2005). Diuretik menyebabkan nokturia sehingga tidur menjadi terganggu karena sering berkemih. Setelah seseorang beberapa kali berkemih di selang tidurnya maka orang tersebut akan sulit tidur kembali (Potter & Perry, 2005). Antidepresan dan stimulan menekan tidur REM dan menurunkan total waktu tidur sehingga menyebabkan gangguan tidur ringan maupun gangguan tidur berat (Potter & Perry, 2005). Alkohol juga berpengaruh pada tidur seseorang, seperti mempercepat mulanya tidur, mengganggu tidur REM, membangunkan seseorang pada malam hari dan menyebabkan kesulitan untuk kembali tdur (Potter & Perry, 2005). Kafein dapat menyebabkan seseorang terbangun di malam hari, mencegah seseorang tertidur. Seseorang tersebut akan terus terjaga dengan mengkonsumsi seperti kopi (Potter & Perry, 2005). Penyekat-Beta menyebabkan mimpi buruk, menyebabkan insomnia, menyebabkan terbangun dari tidurnya dan individu pun akan mengalami gangguan pada tidurnya (Potter & Perry, 2005). Universitas Sumatera Utara 33 Benzodiazepin meningkatkan waktu tidur dan meningkatkan kantuk di siang hari sehingga aktivitas di siang hari menjadi terganggu (Potter & Perry, 2005). Narkotika (Morfin/Demerol) menyebabkan peningkatan perasaan kantuk pada siang hari dan menekan tidur REM (Potter & Perry, 2005). 3.4. Faktor Psikologis Kecemasan tentang masalah pribadi atau situasi dapat mengganggu tidur. Stres emosional juga dapatmenyebabkan seseorang menjadi tegang dan seringkali mengarah frustasi apabila tidak tidur. Stres juga menyebabkan seseorang mencoba terlalu keras untuk tertidur, sering terbangun selama siklus tidur, atau terlalu banyak tidur. Stres yang berlanjut dapat menyebabkan kebiasaan tidur yang buruk (Potter & Perry, 2005). Seringkali klien dewasa sampai lansia mengalami kehilangan yang mengarah pada stres emosional. Pensiun, gangguan fisik, kematian orang yang dicintai, dan kehilangan keamanan ekonomi merupakan contoh situasi yang memprediposisi untuk cemas dan depresi. Individu yang mengalami masalah perasaan depresi, sering juga mengalami perlambatan untuk jatuh tertidur,, munculnya tidur REM secara dini, seringkali terjaga, peningkatan total waktu tidur, perasaan tidur yang kurang, dan terbangun cepat (Bliwise, 1993) 4. Pola Tidur Klien Hipertensi Pola istirahat/tidur juga sangat erat kaitanya dengan masalah yang memicu terjadinya hipertensi dimana hubungan antara pola tidur dengan hipertensi diduga Universitas Sumatera Utara 34 melalui aktivitas saraf simpatis peningkatan saraf dapat menaikan tekanan darah secara intermiten (tidak menentu). Pola tidur yang kurang teratur dan sering tidur terlalu malam dapat mengakibatkan tekanan darah menetap tinggi. Walaupun hal ini belum terbukti akan tetapi angka kejadian di masyarakat perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan di pedesaan. Hal ini dapat dihubungkan dengan pengaruh pola istirahat/tidur yang dialami kelompok masyarakat yang tinggal di kota. Para peneliti di Pusat Gangguan Tidur Henry Ford, Detroit, menemukan bahwa prevalensi hipertensi lebih besar pada penderita tak bisa tidur jika dibandingkan dengan mereka yg tidur dengan normal. Penyebab hipertensi pada penderita tak bisa tidur sebab seringnya terbangun di malam hari serta latensi tidur mereka yaitu rentang waktu yang diperlukan untuk mencapai transisi dari terjaga penuh untuk tidur semakin lama waktu yg dibutuhkan seseorang untuk tertidur dan beberapa kali terbangun di malam hari, tingkat hipertensi mereka akan lebih parah. Universitas Sumatera Utara 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Hipertensi merupakan penyakit kronis yang semakin meningkat baik di negara maju maupun di negara berkembang termasuk Indonesia. Hipertensi adalah gangguan asimptomatik yang sering terjadi ditandai dengan peningkatan tekanan darah secara persisten (Potter and Perry, 2005). Hipertensi cenderung diderita oleh orang dengan kelompok usia 45-54 tahun dan usia ini merupakan usia produktif (Cohen, 2009). Menurut Riskedas (2013) lebih dari 25% orang Indonesia yang berusia di atas 18 tahun menderita penyakit darah tinggi (hipertensi).Berdasarkan data laporan dari puskesmas Helvetia tahun 2013 yang menderita hipertensi dan yang berobat di puskesmas berjumlah 294 orang (Puskesmas Helvetia, 2013). Boynton (2003) hipertensi dapat terjadi akibat beberapa faktor resiko yaitu riwayat keluarga, kebiasan hidup yang kurang baik, pola diit yang kurang baik dan durasi atau kualitas tidur. Permasalahan yang sering terjadi padapenderita hipertensi seperti sakit kepala, pusing, sulit bernafas dapat berpengaruh pada pola tidur penderitanya. Menurut Guyton & Hall (1997) durasi dan kualitas tidur yang kurang baik akan lebih banyak memicu aktivitas sistem saraf simpatik dan menimbulkan stressor fisik dan psikologis, yaitu: nyeri, ketidaknyamanan fisik, atau masalah suasana hati, seperti kecemasan atau depresi. Sebaliknya di Pusat Gangguan Tidur Henry Ford, Detroit menemukan bahwa prevalensi hipertensi lebih besar pada penderita tak bisa tidur jika 1 Universitas Sumatera Utara 2 dibandingkan dengan mereka yang tidur dengan normal. Penyebab hipertensi pada penderita tak bisa tidur sebab seringnya terbangun di malam hari serta latensi tidur mereka yaitu rentang waktu yang diperlukan untuk mencapai transisi dari terjaga penuh untuk tidur. Semakin lama waktu yg dibutuhkan seseorang untuk tertidur dan beberapa kali terbangun di malam hari, tingkat hipertensi mereka akan lebih parah. Selain itu penderita hipertensi sering mengalami terbangun karena buang air kecil, nyeri, cemas atau depresi, suara bising, sorot lampu ruangan yang terlalu terang, panas dan lain-lain sehingga akan mengganggu tidurnya yang berdampak pada pola tidur yang buruk. Pola tidur buruk yang berlangsung dalam waktu yang lama akan menyebabkan individu tersebut mengalami kurang tidur yang mengakibatkan peningkatan risiko penyakit yang dideritanya (Potter & Perry, 2005). Sebaliknya kondisi klien yang mengalami gangguan tidur akan menyebabkan kelemahan, keletihan, dan merasa tidak nyaman pada keesokan harinya lebih rentan terhadap efek stress, baik fisik maupun mental (Guyton, 1997). Kondisi klien tersebut seperti gangguan koordinasi, koping tidak adaptif menghambat seseorang dalam melakukan kegiatan atau aktifitas bahkan jika dibiarkan terlalu lama akan berdampak buruk terhadap keadaan yang menimbulkan penyakit baru pada penderitanya (Potter & Perry, 2005). Berdasarkan pemaparan diataspenelitian ini menjadi penting dilakukan untuk mengetahui Pola Tidur dan Gangguan Tidur Klien Hipertensi di puskesmas Helvetia. Universitas Sumatera Utara 3 2. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah dari penelitian ini adalah “Bagaimana Pola Tidur dan Gangguan Tidur Klien Hipertensi di Puskesmas Helvetia?”. 3. Pertanyaan Penelitian 3.1. Bagaimana pola tidur klien hipertensi di puskesmas Helvetia? 3.2. Bagaimana gangguan tidur klien hipertensi di puskesmas Helvetia? 4. Tujuan Penelitian 4.1. Mengetahui pola tidur klien hipertensi di puskesmas Helvetia. 4.2. Mengetahui gangguan tidur klien hipertensi di puskesmas Helvetia. 5. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat : 5.1. Pendidikan Keperawatan Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai informasi tambahan tentang pola tidur dan gangguan tidur klien hipertensi yang dapat dijadikan referensi bagi pendidikan keperawatan. 5.2. Pelayanan Keperawatan Hasil penelitian ini merupakan “evidence base practice” yang dapat dijadikan masukan bagi pelayanan keperawatan tentang pola tidur dan gangguan tidur klien hipertensi. Universitas Sumatera Utara 4 5.3. Penelitian Keperawatan Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar dan referensi penelitian selanjutnyatentang pola tidur dan gangguan tidur klien hipertensi. Universitas Sumatera Utara 12 Judul : Pola Tidur dan Gangguan Tidur Klien Hipertensi di Puskesmas Helvetia Peneliti : Tri Suci NIM : 111101122 Jurusan : S1 Ilmu Keperawatan USU Tahun Akademik : 2014/2015 ABSTRAK Secara umum klien hipertensi mengalami gangguan tidur karena beberapa kondisi fisik dan kondisi lingkungan yang dialaminya sehingga berdampak pada kualitas tidur yang dapat mempengaruhi peningkatan tekanan darah. Penelitian ini adalah desain deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui pola tidur dan gangguan tidur klien hipertensi di Puskesmas Helvetia menggunakan teknik pengambilan sampel metode convinience sampling dengan jumlah sampel penelitian 44 orang klien hipertensi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang terdiri dari kuesioner data demografi, kuesioner pola tidur dan kuesioner gangguan tidur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden tidak dapat tidur dengan baik yang dapat dilihat dari total waktu tidur malam hari 5-6 jam (30%), waktu untuk memulai tidur 31-60 menit atau lebih (57%), frekuensi terbangun malam 1-2 kali (45%), kepuasan tidur klien merasa mengantuk (36%), kedalaman tidur klien tidur tetapi tidak nyenyak (66%), merasa cukup segar bangun di pagi hari (64%), merasa lemah atau lelah saat beraktivitas di siang hari (36%). Dari 7 parameter tidur tersebut maka dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi nilainya maka semakin baik pula kualitas tidurnya. Mayoritas responden mengalami gangguan tidur karena kondisi fisik seperti pusing (51%), rasa tidak nyaman (47%), terbangun buang air kecil (76%) dan kelelahan (71%) dan mengalami gangguan tidur karena kondisi lingkungan seperti suara bising (65%), penerangan (69%) dan suhu ruangan yang tidak sesuai (58%). Maka hasilnya semakin tinggi nilainya semakin tinggi pula gangguan tidurnya.Berdasarkan hasil penelitian diperlukan adanya rekomendasi untuk mengatasi kualitas tidur yang buruk dan faktor-faktor gangguan tidur pada klien hipertensi. Kata kunci: Hipertensi,pola tidur, gangguan tidur xi Universitas Sumatera Utara 13 Title of the Thesis Name Std. ID. Number Department Academic Year : Sleep Pattern and Sleep Disorder of Patients Who Suffer from Hypertensionat Helvetia Puskesmas : Tri Suci : 111101122 : S1 (Undergraduate) Nursing, USU : 2014-2015 ABSTRACT In general, a patient who suffers from a hypertension experiences sleep disorder because of the physical and environmental conditions which affect his sleep quality and influence blood pressure. The research is a descriptive design whose objective is to find out sleep pattern and sleep disorder of patients who suffer from hypertension in Helvetia Puskesmas. To determine the sample, convenience sampling method is used with total of 44 patients. Data are collected with questionnaires which consist of demographic, sleep pattern, and sleep disorder. The research result showed that the majority of respondents cannot sleep well which could be seen from the total night sleep 5 – 6 hours (30%), time to start to sleep 31-60 minutes or more (57%), frequencies to wake up 1-2 times (45%), satisfaction to sleep and sleepy (36%), sleep depth but not soundly (66%), feeling fresh enough after getting up in the morning (64%), feeling weak and tired to work in the afternoon (36%). From the 7 sleep parameters, it could be concluded that the higher the value was, the better the quality of sleep. The majority of respondents experienced sleep disorder because of the physical condition, such as headache (51%), feeling uncomfortable (47%), wake to urinate (76%) and tiredness (71%) and experience sleep disorder because of environmental condition, such as bustling sound (65%), light (69%0, and inappropriate room temperature (58%). Consequently, the result was the higher the value was, the higher the sleep nuisance. Based on the result, a recommendation was needed to overcome the bad sleep quality and factors that disturb the clients who suffer from hypertension. ________________________________________________________________ Keywords: Hypertension, Sleep Pattern, Sleep Disorder xii Universitas Sumatera Utara 1 Pola Tidur dan Gangguan Tidur Klien Hipertensi di Puskesmas Helvetia SKRIPSI oleh Tri Suci 111101122 FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITASSUMATERAUTARA MEDAN 2015 Universitas Sumatera Utara 2 Universitas Sumatera Utara 3 ii Universitas Sumatera Utara 4 PRAKATA Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya yang telah memberikan kekuatan dan kesempatan kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Pola Tidur dan Gangguan Tidur Klien Hipertensi di Puskesmas Helvetia”. Skripsi ini terlaksana karena arahan, masukan, dan dukungan dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. dr. Dedi Ardinata, M. Kes, selaku Dekan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. 2. Ibu Erniyati, S. Kp, MNS, selaku Wakil Dekan 1 Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. 3. Ibu Evi Karota Bukit,S.Kp,MNS, selaku Wakil Dekan II dan sebagai dosen pembimbing skripsi penulis Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. 4. Bapak Ihksanuddin A. Harahap, S. Kp, MNS, selaku Wakil Dekan III Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. 5. Bapak Ismayadi, S. Kep, Ns, M. Kes, selaku dosen penguji I skripsi saya di Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. 6. Ibu Siti Zahara Nasution, S. Kp, MNS, selaku dosen penguji II skripsi saya di Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. iii Universitas Sumatera Utara 5 7. Ibu Rika Endah Nurhidayah, S. Kp, M. Pd, selaku dosen Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara yang memvalidasi instrumen penelitian ini. 8. Seluruh dosen dan staf pengajar serta civitas akademika Fakultas Keperawatan USU yang telah memberi bimbingan selama perkuliahan, khususnya dosen-dosen mata kuliah riset keperawatan. 9. Orang tua tercinta Ayahanda Mudawar, Ibunda Maryati, Kakanda Priyanto, Supri ono, Adinda Rita Ningsih yang selalu memberikan dukungan dan doa dalam menyelesaikan skripsi ini. 10. Teman-teman sejawat Program S1 Keperawatan terkhusus Ayu Permata Hati Barus, Dini Angriani Harahap, Melisa Naratilova Nainggolan, Ernawati Sitorus,Renta R Hutasoit, Putri Sari Bungsu Siregar, Sugiyanti, Irma Rahmawati, dan teman satu doping saya Desi Amelinda, Friska, Maya Anna, serta teman-teman S1 2011 Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara yang telah membantu dan memotivasi saya dalam penyusunan skripsi ini. 11. Sahabat saya Kurniawati, Chitra Latifah, Kiki Fatmala, dan Tria Lestari, serta Sugiono yang selalu memotivasi dan mendukung saya dalam penyusunan skripsi ini. 12. Serta semua pihak yang telah membantu penulis dalam menempuh pendidikan dan penyusunan skripsi ini. Penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan di bidang keperawatan dan pihak-pihak yang membutuhkan. Penulis iv Universitas Sumatera Utara 6 sangat mengharapkan adanya saran yang bersifat membangun untuk perbaikan yang lebih baik di masa yang akan datang. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih. Medan, 11 Juli 2015 Penulis ( Tri Suci ) NIM. 111101122 v Universitas Sumatera Utara 7 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ............................................................................. i HALAMAN PENGESAHAN ............................................................... ii PRAKATA ............................................................................................. iii DAFTAR ISI .......................................................................................... vi DAFTAR TABEL ................................................................................. ix DAFTAR GAMBAR ............................................................................. x ABSTRAK ............................................................................................ xi Bab 1 Pendahuluan ............................................................................... 1 1. Latar belakang ...................................................................... 1 2. Perumusan masalah .............................................................. 3 3. Pertanyaan penelitian ........................................................... 3 4. Tujuan penelitian .................................................................. 3 5. Manfaat penelitian ................................................................ 3 Bab 2Tinjauan pustaka ....................................................................... 5 1. Hipertensi ............................................................................. 5 1.1. Definisi ....................................................................... 5 1.2. Etiologi ....................................................................... 6 1.3. Faktor risiko ................................................................ 7 1.4. Klasifikasi ................................................................... 8 1.5. Patofisiologi ................................................................ 9 1.6. Komplikasi .................................................................. 10 2. Konsep tidur ......................................................................... 11 2.1. Definisi ....................................................................... 11 2.2. Fisiologi ...................................................................... 11 2.3. Fungsi tidur ................................................................. 14 2.4. Tahapan tidur .............................................................. 15 2.5. Pola tidur ..................................................................... 18 2.6. Pengkajian tidur .......................................................... 24 2.6.1. Data subjektif ................................................. 24 2.6.2. Data objektif ................................................... 26 2.6.3. Hubungan data subjektif dan data objektif ..... 27 2.7. Dampak kurang tidur .................................................. 27 3. Faktor-faktor gangguan tidur ............................................... 28 3.1. Faktor fisik .................................................................. 29 3.2. Faktor lingkungan ....................................................... 30 3.3. Faktor obat-obatan dan substansi ............................... 31 3.4. Faktor psikologis ....................................................... 33 4. Pola Tidur klien hipertensi ................................................... 34 vi Universitas Sumatera Utara 8 Bab 3 Kerangka penelitian ................................................................... 35 1. Kerangka penelitian ............................................................. 35 2. Definisi operasional ............................................................. 37 Bab 4 Metodologi penelitian................................................................. 38 1. Desain penelitian .................................................................. 38 2. Populasi, sampel dan teknik sampling ................................. 38 2.1. Populasi....................................................................... 38 2.2. Sampel ........................................................................ 38 2.3. Teknik sampling ......................................................... 39 3. Lokasi dan waktu penelitian................................................. 39 4. Pertimbangan etik................................................................. 39 5. Instrumen penelitian ............................................................. 40 6. Alat dan bahan...................................................................... 42 7. Validitas dan reliabilitas ....................................................... 42 7.1. Validitas ...................................................................... 42 7.2. Reliabilitas .................................................................. 43 8. Rencana pengumpulan data.................................................. 43 9. Analisa data .......................................................................... 44 Bab 5. Hasil dan Pembahasan .............................................................. 45 1. Hasil penelitian .................................................................... 45 1.1. Deskripsi Karakteristik Responden ........................... 45 1.2. Pola Tidur Klien Hipertensi di Puskesmas Helvetia .................................................................................... 47 1.3. Gangguan Tidur Klien Hipertensi di Puskesmas Helvetia ...................................................................... 49 1.3.1. Faktor Fisik .................................................... 49 1.3.2. Faktor Lingkungan ......................................... 50 2. Pembahasan ......................................................................... 50 2.1. Pola Tidur Klien Hipertensi ....................................... 50 2.2. Faktor-faktor Gangguan Tidur Klien Hipertensi ....... 54 2.2.1. Faktor Fisik .................................................... 54 2.2.2. Faktor Lingkungan ......................................... 56 Bab 6. Kesimpulan dan Saran ............................................................. 58 1. Kesimpulan hasil penelitian................................................. 58 2. Saran .................................................................................... 59 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................... 60 LAMPIRAN .......................................................................................... 63 Lampiran 1.Inform consent ................................................................... Lampiran 2. Instrumen penelitian ........................................................ Lampiran 3. Jadwal tentatif penelitian ................................................. Lampiran 4. Taksasi dana ..................................................................... Lampiran 5. Tabel hasil uji validitas .................................................... Lampiran 6. Tabel hasil uji reliabilitas ................................................. Lampiran 7. Tabel hasil data demografi ............................................... 64 65 70 71 72 73 75 vii Universitas Sumatera Utara 9 Lampiran 8. Tabel hasil pola tidur ....................................................... Lampiran 9. Tabel hasil gangguan tidur ............................................... Lampiran 10.Master tabel data demografi ........................................... Lampiran 11. Master tabel data pola tidur ........................................... Lampiran 12.Master tabel data gangguan tidur .................................... Lampiran 13.Surat Etik Penelitian ....................................................... Lampiran 14. Surat izin survey ............................................................ Lampiran 15. Surat izin reliabilitas dan pengumpulan data ................. Lampiran 16. Surat balasan izin dan selesai penelitian ........................ Lampiran 17. Surat izin pemakaian instrumen ..................................... Lampiran 18. Surat balasan izin menggunakan instrumen ................... Lampiran 19. Lembar bukti bimbingan ................................................ Lampiran 20. Riwayat hidup ................................................................ 80 83 86 89 91 93 94 95 96 97 98 99 101 viii Universitas Sumatera Utara 10 DAFTAR TABEL Tabel 5.1. Frekuensi dan Persentase Data Demografi Klien Hipertensi di Puskesmas Helvetia.......................................................... 46 Tabel 5.2. Frekuensi dan Persentase Parameter Tidur Klien Hipertensi di Puskesmas Helvetia .................................................. 49 Tabel 5.3. Frekuensi dan Persentase Gangguan Tidur Fisik Klien Hipertensi di Puskesmas Helvetia ........................................ 50 Tabel 5.4. Frekuensi dan Persentase Gangguan Tidur Lingkungan Klien Hipertensi di Puskesmas Helvetia .............................. 51 ix Universitas Sumatera Utara 11 DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1. Tahap-tahap Tidur .............................................................. 17 Gambar 3.1. Kerangka Penelitian ........................................................... 36 Gambar 5.1. Grafik Persentase Pola Tidur Klien Hipertensi ................. 49 x Universitas Sumatera Utara
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

Pola Tidur dan Gangguan Tidur Klien Hipertens..

Gratis

Feedback