SEBARAN PROPAGUL GULMA PADA BERBAGAI KEDALAMAN TANAH DAN KONDISI LAHAN

Gratis

5
15
96
2 years ago
Preview
Full text
SEBARAN PROPAGUL GULMA PADA BERBAGAI KEDALAMAN TANAH DAN KONDISI LAHAN SKRIPSI Oleh: Ahmad Ali Kondi 20120210002 Program Studi Agroteknologi Kepada FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA YOGYAKARTA 2017 SEBARAN PROPAGUL GULMA PADA BERBAGAI KEDALAMAN TANAH DAN KONDISI LAHAN SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Untuk Memenuhi Sebagian dari Persyaratan Guna Memperoleh Derajat Sarjana Pertanian Oleh : Ahmad Ali Kondi 20120210002 Program Studi Agroteknologi FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA YOGYAKARTA 2017 ii PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan : 1. Karya tulis saya, skripsi ini merupakan gagasan dari Ir. Agus Nugroho Setiawan, M.P., adalah asli dan belum pernah diajukan untuk mendapatkan gelar akademik, baik di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta maupun di perguruan tinggi lainnya. 2. Karya tulis ini murni gagasan, rumusan, dan penilaian saya sendiri, tanpa bantuan pihak lain, kecuali arahan pembimbing. 3. Karya tulis ini murni gagasan, rumusan, dan penilaian saya setelah mendapatkan arahan dan saran dari Tim Pembimbing. Oleh karena itu, saya menyetujui pemanfaatan karya tulis ini dalam berbagai forum ilmiah, maupun pengembangannya dalam bentuk karya ilmiah lain dan oleh Tim Pembimbing. 4. Dalam karya tulis ini tidak terdapat karya atau pendapat yang telah ditulis atau dipublikasikan orang lain, kecuali secara tertulis dengan jelas dicantumkan sebagai acuan dalam naskah dengan disebutkan nama pengarang dan dicantumkan dalam daftar pustaka. 5. Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila dikemudian hari terdapat penyimpangan dan ketidakbenaran dalam pernyataan ini, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan gelar yang telah saya peroleh karena karya tulis ini, serta sanksi lainnya sesuai dengan norma yang berlaku di perguruan tinggi ini. Yogyakarta, 4 Januari 2017 Yang membuat pernyataan, Ahmad Ali Kondi 20120210002 iii MOTTO Tidak ada yang tidak mungkin dalam berusaha,. yang ada hanyalah Menyerah untuk berusaha Sabar dalam mengatasi kesulitan dan bertindak bijaksana dalam mengatasinya adalah sesuatu yang utama Harapan kosong itu lebih menyakitkan daripada kenyataan yang pahit sekalipun Orang sudah terlalu terbiasa berpikir secara linier. Kalau mau usaha, pasti mencari untung; mencari berhasil. Padahal dalam usaha itu ya pasti ada rugi dan gagal toh? Bagi kamu yang mau berhasil, justru cari kegagalan sebanyakbanyaknya. Sebab keberhasilan itu hanyalah sebuah titik di puncak gunung kegagalan. Banggalah kita ketika kegagalan selalu hadir dalam sebuah usaha karena semakin banyk kegagalan yang kita dapat maka semakin dekatlah keberhasilan yang kita mau Ingat,. libatkanlah Allah di dalam hati kita dalam keadaan apapun,. Karena tidak akan ada kesuksesan tanpa ridho dari_Nya “Salam anak Rantau” iv PERSEMBAHAN Dengan segala puji syukur kepada Allah SWT dan atas dukungan dan do’a dari orang-orang tercinta, akhirnya skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya. Hanya kepada-Mu ya Allah dan hanya untuk-Mu ya Allah, janji Mu sunggu luar biasa bagi sebuah Semangat dan Kesabaran Ayah dan Ibu, terimakasih untuk setiap tetesan keringatmu yang mengalir Terimakasih untuk do’a mu selama anakmu ini menuntut ilmu disini, setiap langkah kakiku ini selalu tergambar wajahmu agar anakmu ini tahu bahwa tidak akan dikatakan sukses seorang anak jika belum mampu mengangkat derajatmu Ayah dan Ibu Karya ini kupersembahkan untuk kalian Adik-adikku dirumah, semangatmu dan do’a mu selalu ku ingat dalam perjalananku menyelsaikan karya ini. Semoga adik-adikku bisa mengikuti jejakku ini dalam menuntut ilmu bahkan lebih dari apa yang telah kudapatkan Dosen pembimbing, terimakasih atas bimbingan dan arahan kalian yang telah ikhlas dalam membantu menyelesaikan karya ini Para sahabat dan teman-teman yang tidak dapat ku tuliskan satu persatu serta orang yang selalu setia menemani baik dalam kesusahan maupun senang yang selalu kusebut dalam do’aku Terimakasih v KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat, hidayah dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Sebaran Propagul Gulma Pada Berbagai Kedalaman Tanah Dan Kondisi Lahan”. Skripsi ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat dalam menempuh jenjang S-1 di Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Selama menyelesaikan penyusunan skripsi ini penulis tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung.Dengan demikian, pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang turut membantu sehingga penilitian dapat terwujudkan. Ucapan terimakasih ditujukan kepada: 1. Kepada Allah SWT yang maha pemberi pertolongan dan petunjuk bahwa dibalik kesusahan dalam perjuangan akan ada kemenangan 2. Kepada Nabi Muhammad SAW yang telah memberikan banyak tuntunan 3. Dosen pembimbing Ir. Agus Nugroho Setiawan, S,M.P dan Ir. Titiek Widyastuti, M.S yang telah memberikan ilmu dan arahannya 4. Ketua Program Studi Agroteknologi Dr. Innaka Ageng Rineksane S.P., M.P yang telah banyak membantu Yogyakarta, 4 Januari2017 Penulis Ahmad Ali Kondi vi DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR ...................................................................................................... vi DAFTAR ISI.................................................................................................................... vii DAFTAR TABEL ............................................................................................................ ix DAFTAR GAMBAR ......................................................................................................... x DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................................... xi INTISARI .........................................................................Error! Bookmark not defined. ABSTRACT ......................................................................Error! Bookmark not defined. I. PENDAHULUAN .............................................. Error! Bookmark not defined. A. B. C. D. Latar Belakang ............................................ Error! Bookmark not defined. Rumusan Masalah ....................................... Error! Bookmark not defined. Tujuan Penelitian ........................................ Error! Bookmark not defined. Manfaat Penelitian ...................................... Error! Bookmark not defined. II. TINJAUAN PUSTAKA...................................... Error! Bookmark not defined. A. Pengertian Gulma ........................................ Error! Bookmark not defined. 1. Perkembangbiakan Gulma ............................. Error! Bookmark not defined. 2. Penyebaran Gulma ........................................ Error! Bookmark not defined. 3. Propagul ....................................................... Error! Bookmark not defined. 4. Dormansi Gulma........................................... Error! Bookmark not defined. 5. Perkecambahan Gulma .................................. Error! Bookmark not defined. 7. Analisis Vegetasi .......................................... Error! Bookmark not defined. B. Kedalaman Tanah........................................ Error! Bookmark not defined. C. Kondisi Lahan ............................................. Error! Bookmark not defined. D. Hipotesis...................................................... Error! Bookmark not defined. III.TATA CARA PENELITIAN ............................. Error! Bookmark not defined. A. Waktu dan Tempat ...................................... Error! Bookmark not defined. B. Bahan Dan Alat Penelitian .......................... Error! Bookmark not defined. C. Metode Penelitian........................................ Error! Bookmark not defined. D. Cara Penelitian ............................................ Error! Bookmark not defined. 1. Pemilihan Lokasi .......................................... Error! Bookmark not defined. 2. Pengambilan Tanah ....................................... Error! Bookmark not defined. 3. Pengisian Media ........................................... Error! Bookmark not defined. 4. Inkubasi ....................................................... Error! Bookmark not defined. E. Parameter yang Diamati .............................. Error! Bookmark not defined. 1. Waktu Tumbuh Gulma (hari) ......................... Error! Bookmark not defined. 2. Analisis Vegetasi .......................................... Error! Bookmark not defined. F. Analisis Data ............................................... Error! Bookmark not defined. vii IV.HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN ......... Error! Bookmark not defined. A. B. C. D. E. F. Waktu tumbuh gulma .................................. Error! Bookmark not defined. Jumlah individu gulma ................................ Error! Bookmark not defined. Jumlah jenis gulma ...................................... Error! Bookmark not defined. Bobot kering gulma ..................................... Error! Bookmark not defined. Summed Dominance Ratio (SDR)............... Error! Bookmark not defined. Koefisien Komunitas ................................... Error! Bookmark not defined. V. KESIMPULAN DAN SARAN ...................................Error! Bookmark not defined. A. Kesimpulan ................................................. Error! Bookmark not defined. B. Saran ............................................................ Error! Bookmark not defined. DAFTAR PUSTAKA .............................................. Error! Bookmark not defined. LAMPIRAN............................................................ Error! Bookmark not defined. viii DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1 Waktu tumbuh gulma ................................... Error! Bookmark not defined. 2 Jumlah individu gulma dan jumlah jenis gulma pada berbagai kedalaman tanah dan kondisi lahan ................................ Error! Bookmark not defined. 3 Bobot kering gulma ...................................... Error! Bookmark not defined. 4 Nilai SDR kedalaman 5 cm.......................... Error! Bookmark not defined. 5 Nilai SDR kedalaman 10 cm........................ Error! Bookmark not defined. 6 Nilai SDR kedalaman 15 cm........................ Error! Bookmark not defined. 7 Nilai SDR kedalaman 20 cm........................ Error! Bookmark not defined. 8 Nilai SDR kedalaman 25 cm........................ Error! Bookmark not defined. 9 Koefisien komunitas gulma (C) antar perlakuan (%) Error! Bookmark not defined. ix DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 1 Pengaruh luas petak-contoh ........................................................................Error! Bookmark not defined. 2 Jenis gulma yang memiliki waktu tumbuh lebih cepat................................ Error! Bookmark not defined. 3 Jenis gulma pada kondisi lahan bekas tanaman jagung dan tebu....... .........Error! Bookmark not defined. 4 Jenis gulma dominansi kedalaman 5 cm .....................................................Error! Bookmark not defined. 5 Jenis gulma dominansi kedalaman 10 cm ....................................................Error! Bookmark not defined. 6 Jenis gulma dominansi kedalaman 15 cm ...................................................Error! Bookmark not defined. 7 Jenis gulma dominansi kedalaman 20 cm ....................................................Error! Bookmark not defined. 8 Jenis gulma dominansi kedalaman 25 cm ....................................................Error! Bookmark not defined. x DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman 1 Layout Penelitian ......................................... Error! Bookmark not defined. 2 Jenis-Jenis Gulma ........................................ Error! Bookmark not defined. 3 Dokumentasi penelitian ............................... Error! Bookmark not defined. 4 Hasil sidik ragam ......................................... Error! Bookmark not defined. xi ABSTRACT Research about weed propagules distribution at different depths in the soil was conducted to determine the number of propagules in any depth of soil from a wide range of soil conditions. This research conducted in the greenhouse agriculture faculty University of Muhammadiyah Yogyakarta concealment of July until August 2016. Reseach conducted using the method of single factor experiments were arranged in a completely randomized design. The treatment being tested is the condition of area which comprises 4 types of land formerly used for rice, corn, soybean, and sugar cane respectively located at a depth of 5, 10, 15, 20, and 25 cm in order to obtain 20 treatment. Each treatment was repeated 3 times and each unit so that composite sample was obtained 60 unit treatment. Weed observation data were analyzed using analysis of variance to determine the effect of treatment. If there is a real effect among treatments, then it will continue using Duncan’s Multiple Range Test at α 5% error rate. Propagules are at different depths in the soil, at a depth of 1-5 cm higher weed populations can be seen from the number of individuals weeds. The condition of the former land rice plant has a number of weeds higher than the condition of the former land of maize, soybean and sugar cane. Vegetation composition of various soil depth and soil conditions are not same, except on the soil depth of 20 cm in the former land of corn and soybean crops. Keywords: distribution of propagules, depth, time grows. xvi I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara beriklim tropis yang potensial untuk dijadikan sebagai lahan pertanian. Iklim tropis yang ada di Indonesia memiliki karakteristik basah, curah hujan tinggi serta temperatur yang tinggi sehingga sangat potensial untuk dilakukan budidaya tanaman sepanjang tahun. Budidaya tanaman sepanjang tahun dapat menjadi lingkungan yang kondusif untuk ditumbuhi oleh gulma. Gulma dapat didefinisikan sebagai tumbuhan yang tumbuh/hadir pada suatu tempat/keadaan yang tidak kita inginkan.Gulma mengganggu tanamanbudidaya karena berkompetisi dalammendapatkan hara, air, cahaya dan ruang.Karakter gulma yang dapat hidup disetiap macam lingkungan membuat produksi gulma akan selalu ada diberbagai lapisan tanah. Propagul merupakan calon/bakal gulma yang akan tumbuh menjadi gulma ketika lingkungan sekitar memungkinkan untuk tumbuh. Semakin banyaknya propagul yang ada pada lapisan tanah maka akan semakin banyak gulma yang akan tumbuh. Tumbuhnya gulma dari berbagai lapisan tanah terjadi karena adanya adaptasi dari gulma tersebut dengan budidaya yang terjadi sepanjang tahun sehingga propagul gulma yang ada dalam tanah dapat bertahan. Banyaknya jumlah spesies gulma yang ada didalam tanah dapat menjadi tempat gulma untuk berkembang biak. Sifat-sifat vegetatif gulma bisa berubah sesuai dengan lingkungan, dan sifat-sifat generatif gulma akan cenderung tetap. Keberadaan gulma yang ada saat iniditentukan oleh simpanan biji gulma dalamtanah. Tumbuhnya gulma dapat menjadi kompetisi bagi tanaman yang 1 2 dibudidayakan karena sifat gulma yang menginginkan unsur hara, cahaya, dan ruang lingkungannya.Dalam keadaan yang tidak baik, gulma akan mengalami dormansi.Tanah yang diolah dalam budidaya akan memberikan lingkungan yang sesuai untuk tumbuh gulma, baik dari kedalaman, cara pengolahan dan rotasi tanam. Pengolahan tanah yang dilakukan oleh petani menggunakan cara tradisionaldan cara modern dapat memberikan lingkungan yang baru untuk tumbuh pada sebaran propagul. Keberadaan propagul dibeberapa kedalaman akan terangkat dengan pengolahan tanah yang dilakukan sehingga lingkungan gulma untuk tumbuh dapat terpenuhi. Oleh sebab ituuntuk dapat megetahui sebaran propagul pada berbagai kedalaman tanah dan kondisi lahan bekas tanaman padi, jagung, kedelai, dan tebu perlu dilakukan penelitian pada kedalaman tanah 5, 10, 15, 20, dan 25 cm. Pengendalian gulma yang tepatuntuk memperoleh hasil yang memuaskanperlu dipikirkan terlebih dahulu. Pengetahuantentang biologis dari gulma (daur hidup), faktoryang mempengaruhi pertumbuhan gulma,pengetahuan mengenai cara gulma berkembangbiak, menyebar, dan bereaksi dengan perubahanlingkungan dan cara gulma tumbuh pada keadaanyang berbeda-beda sangat penting untuk diketahui dalam menentukan cara pengendalian.Keberhasilan dalam pengendalian gulma harusdidasari dengan pengetahuan yang cukup danbenar dari sifat biologi gulma tersebut, misalnyadengan melakukan identifikasi gulma pada jenis lahan bekas tanaman dan beberapa kedalam tanah. Dengan mengidentifikasi gulma pada masing- 3 masing bekas lahan tanaman maka dapat diketahui cara pengendalian gulma pada lahan bekas tanaman tersebut. B. Rumusan Masalah Bagaimana sebaran propagul gulma pada berbagai kedalaman dan kondisi lahan? C. Tujuan Penelitian Mendapatkansebaran propagul gulma pada berbagai kedalaman dan kondisi lahan I. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Gulma Gulma adalah tumbuhan yang tumbuh pada areal yang tidak dikehendaki yakni tumbuh pada areal pertanaman. Gulma secara langsung maupun tidak langsung merugikan tanaman budidaya. Gulma dapat merugikan tanaman budidaya karena bersaing dalam mendapatkan unsur hara, cahaya matahari, dan air. Jenis gulma yang tumbuh biasanya sesuai dengan kondisi perkebunan, misalnya pada perkebuanan yang baru diolah, maka gulma yang dijumpai kebanyakan adalah gulma semusim, sedang pada perkebunan yang telah lama ditanami gulma yang banyak terdapat adalah jenis tahunan. Gulma yang terdapat pada dataran tinggi relatif berbeda dengan yang tumbuh di daerah dataran rendah, Pada daerah yang tinggi terlihat adanya kecenderungan bertambahnya keanekaragaman jenis, sedangkan jumlah individu biasanya tidak begitu besar. Hal yang sebaliknya terjadi pada daerah rendah yakni jumlah individu sangat melimpah, tetapi jenis yang ada tidak begitu banyak (Soekisman, T. dkk. 1984). Gulma dikenal sebagai tumbuhan yang mampu beradaptasi pada ritme pertumbuhan tanaman budidaya. Pertumbuhan gulma cepat, daya regenerasinya tinggi apabila terluka, dan mampu berbunga walaupun kondisinya dirugikan oleh tanaman budidaya.Secara fisik, gulma bersaing dengan tanaman budidaya untuk ruang, cahaya, dan secara kimiawi untuk air, nutrisi, gas-gas penting, dan dalam peristiwa allelopati.Beberapa jenis gulma dapat memperbanyak diri dengan tuber (modifikasi dari akar yang berisi cadangan makanan). 1 2 1. Perkembangbiakan Gulma Gulma mampu berkembang biak secara vegetatif maupun generatif dengan biji yang dihasilkan. Kemampuan yang dimiliki oleh jenis-jenis gulma menahun untuk memperbanyak diri dari bagian-bagian vegetatif menyebabkan jenis-jenis ini menjadi sangat kompetitif dan sukar untuk dikendalikan. Produksi organ perbanyakan vegetatifjuga erat kaitannya dengan kandungan karbohidrat yang perkembangbiakan tersimpan. bagi Perbanyakan sebagian besar vegetatif gulma ialah tahunan.Gulma prinsip yang memperbanyak diri secara vegetatif sulit untuk dikendalikan karena banyak memiliki organ vegetatif dorman di dalam tanah.Beberapa bentuk organ vegetatif yang banyak ditemukan dalam perbanyakan jenis-jenis gulma menahun yaitu a. Rhizoma (Rimpang) merupakan batang yang menjalar di dalam tanah yang dapat membentuk akar dan tunas daun b. Stolon merupakan batang yang silindris dan menjalar di permukaan tanah yang dapat membentuk akar dan tunas c. Umbi batang merupakan pangkal batang yang membengkak yang terletak di dalam tanah. Di bedakan dari umbi daun dengan adanya beberapa mata tunas yang nyata terlihat dan bagian yang bengkak sangat pendek d. Umbi akar merupakan bagian terminal dari rhizoma yang membengkak dan merupakan jaringan makanan serta mempunyai tunas ujung 3 2. Penyebaran Gulma Mekanisme perbanyakan gulma termasuk salah satu yang paling efisien di alam. Efisiensi seperti ini diperoleh melalui seleksi alam dan adaptasi ekologi. Perkembangbiakan dapat dilakukan dengan biji atau dengan organ vegetatif. Pada gulma semusim, perkembangbiakan dilakukan melalui produksi biji. Biji dihasilkan dalam jumlah banyak dan sebagian besar memiliki dormansi. Biji didefinisikan sebagai sel telur yang masak yang telah dibuahi dan mempunyai lembaga, persediaan makanan, dan lapisan perlindungan. Biji mengandung semua bahan-bahan yang dibutuhkan untuk memindahkan sifatsifat keturunan yang diperoleh dari tumbuhan induknya, mampu mempertahankan hidup kecambahnya meskipun hanya sementara sehingga dapat menyerap makanannya sendiri (Soetikno, 1990). Menurut Soetikno (1990) biji gulma khususnya dari jenis-jenis yang semusim memegang peranan penting dalam kaitannya dengan keberhasilan usaha-usaha pencegahan atau pengendalian gulma. Jumlah biji yang mampu berkecambah dan tahan akan usaha-usaha pengendalian akan menentukan kerugian yang timbul pada tanaman pangan setiap musimnya. Banyaknya biji yang ada di dalam tanah atau lebih dikenal sebagai simpanan bijidan yang jatuh ke permukaan tanah dari gulma yang tumbuh pada musim berikutnya akan menentukan apakah jenis gulma ini dapat hidup dan mempunyai potensi untuk merugikan tanaman pangan yang akan tumbuh di tempat itu. Jumlah biji yang ada dan berkecambah mungkin tidak cukup untuk melakukan persaingan 4 dengan tanaman pangannya akan tetapi masih menghasilkan biji-biji yang akan mampu untuk bersaing untuk musim berikutnya. Populasi biji gulma di dalam tanah sangat bervariasi jumlahnya tergantung dari komposisi jenis gulma yang tumbuh di atasnya dan juga sejarah dari tanah itu sendiri. Jika tanah semula digunakan untuk peternakan, maka sebagian besar dari biji-biji yang ada merupakan biji gulma yang biasa dijumpai di daerah peternakan, sedangkan lahan pertanian akan mempunyai populasi biji yang berkaitan dengan gulma-gulma pertanian. Populasi biji gulma di lahan pertanian pada umumnya terdiri dari beberapa jenis yang dominan dengan jumlah biji yang cukup tinggi, beberapa jenis dengan jumlah yang cukupan, dan banyak jenis yang mempunyai biji hanya sedikit saja. Polapola produksi biji, penyebaran, dan penyimpanan pada setiap tahapan dalam suatu suksesi kita akan jumpai bahwa jenis-jenis pemula mempunyai simpanan biji yang cukup besar jika dibandingkan dengan jenis-jenis pertengahan atau jenis-jenis akhir. Ini menunjukkan bahwa jenis-jenis pemula mampu menghasilkan biji dalam jumlah yang cukup besar. Strategi semacam ini mempunyai potensi reproduksi yang tinggi dikombinasikan dengan adanya dormansi menyebabkan adanya simpanan biji di dalam tanah yang cukup besar dan tetap jumlahnya setiap waktu. 3. Propagul Propagul merupakan biji, stolon,atau rimpang yang akan berkembang menjadi individu gulma jika kondisi lingkungan mendukung (Fenner, 1995). Espinar et al. (2005) mengatakan bahwaumumnya propagul banyak berada di 5 permukaan tanah, tetapi adanya retakan tanah dapat menyebabkan perubahan ukuran menurut kedalaman tanah. Pada tanah tanpa gangguan, menurut Fenner (1995) propagul berada pada kedalaman 2-5 cm dari permukaan tanah, tetapi pada tanah pertanian, berada 12-16 cm dari permukaan tanah. Kemelimpahan atau distribusi jenis-jenis gulma di lahan budidaya dipengaruhi oleh jenis tanaman budidaya, kultur teknis dan pola tanam yang diterapkan, jenis dan kelembaban tanah, lokasi, serta musim. Keberadaan gulma yang ada saat ini ditentukan oleh simpanan biji gulma tanah. Sebagian gulma memulai siklus hidupnya dari biji tunggal dalam tanah kemudian bijibiji tersebut tumbuh hingga menghasilkan biji dalam jumlah banyak. Biji-biji tersebut kembali ke tanah dan menjadi sebagai sumber populasi gulma untuk masa yang akan datang. Sebagian besar (95%) biji yang tersimpan dalam tanah berasal dari gulma annual (semusim atau setahun), sedangkan 4% dari gulma perennial atau tahunan. 4. Dormansi Gulma Biji gulma berada pada permukaan tanah dan tersebar dalam profil tanah yangterdiri dari biji gulma baru dan lama yang telah bertahan dalam tanah selama bertahun-tahun.Pada tanah pertanian dapat berisi ribuan biji gulma/m2. Bijigulma terkubur di dalam tanah dan di atas permukaan tanah. Sebesar 6499,6% bijigulma ditemukan 10 cm di atas lapisan tanah (Anderson, 1977).Biji gulma dan bagian vegetatif, biasanya mempunyai periode istirahat yangdisebut ”dormansi”. Dormansi adalah suatu istilah fisiologis tumbuhan 6 yangdipergunakan untuk biji atau organ vegetatif yang tidak mau berkecambah meskipunkeadaan lingkungannya menguntungkan. Dormansi merupakan strategi reproduksigulma untuk tetap bertahan hidup dalam keadaan yang tidak menguntungkan.Intensitas dormansi dipengaruhi oleh lingkungan selama perkembangan biji.Dormansi pada jenis tertentu mengakibatkan biji tidak berkecambah di dalamtanah bertahun-tahun. Hal ini menjelaskan keberadaan gulma di lahan pertanian yangditanami secara kontinyu (Ilyas, 2012).Biji gulma berada di dalam tanah mempunyaitingkat dormansi yang berbeda-beda, sehingga perkecambahan dari suatu populasi bijigulma tidak terjadi secara serentak. Keadaan ini mengakibatkan biji gulma di dalamtanah akan tetap menjadi masalah selama biji masih ada. Terdapat tiga macam dormansi secara luas yaitu: (1) bawaan (innate), (2) rangsangan (induced), dan (3) paksaan (enforced). Dormansi bawaan atau kadangkala juga disebut sebagai dormansi primer, biasanya dijumpai pada bijibiji atau organ vegetatif sesaat setelah terlepas dari induknya. Dormansi rangsangan yang kadangkala juga disebut sebagai dormansi sekunder merupakan hasil pengaruh lingkungan di sekitar biji atau organ perbanyakan vegetatif setelah dilepaskan induknya. Dormansi paksaan disebabkan oleh adanya faktor lingkungan yang tidak menguntungkan untuk dimulainya pertumbuhan, biasanya akibat kekurangan air, suhu yang tidak menguntungkan, dan lain-lain ( Soetikno, S.S. 1990). Dormansi dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu Dormansi primer, walaupun faktor-faktor yang dibutuhkan untuk perkecambahan tersedia, namun 7 gulma tetap tidak tumbuh/berkecambah untuk waktu tertentu. Dormansi sekunder, dormansi yang terjadi karena faktor lingkungan (seperti cahaya, gas, dan lain-lain) biji tidak akan berkecambah walaupun sesungguhnya biji tersebut tidak dalam keadaan dormansi. Dormansi paksaan(enforced), apabila beberapa faktor untuk perkecambahan dihalangi, biji gulma tidak akan berkecambah tetapi tetap hidup dan akan berkecambah apabila faktor-faktor tersebut tersedia. 5. Perkecambahan Gulma Menurut (Soetikno, S.S. 1990) Perkecambahan didefinisikan sebagai awal dari pertumbuhan suatu biji atau organ perbanyakan vegetatif. Perkecambahan biji ditandai oleh adanya beberapa tahapan proses yang berupa yaitu: (1) penyerapan air, (2) peningkatan respirasi, (3) mobilisasi simpanan makanan, dan (4) penggunaan simpanan makanan. Bagi kebanyakan biji tanaman pangan tahapan proses ini bermula segera setelah tanam dan berlanjut hingga kecambah muda muncul dipermukaan tanah. Waktu yang dibutuhkan untuk semua proses ini sangat bergantung pada kondisi tanah dan suhunya. Keadaan ini sangat berbeda pada biji-biji dan organ perbanyakan vegetatif gulma karena pada gulma perkecambahan biasanya tidak terjadi begitu sampai dipermukaan tanah atau organ perbanyakan vegetatif terputus dengan induknya. Perkecambahan biji adalah proses pertumbuhan embrio dan komponenkomponen biji untuk tumbuh secara normal menjadi tumbuhan baru. Dalam keadaan normal, semua jaringan yang kompleks dan organ yang membentuk 8 bibit (seedling) dan menjadi tumbuh dewasa berasal dari sel telur yang dibuahi. Tetapi tidak seluruh bagian biji berasal dari sel telur yang dibuahi. Faktorfaktor yang mempengaruhi perkecambahan biji ada dua macam yaitu faktor luar dan faktor dalam. Faktor luar yang mempengaruhi perkecambahan adalah tingkat kemasakan biji, ukuran biji, dormansi, dan adanya penghambatan perkecambahan. Sedangkan faktor dalam yang mempengaruhi perkecambahan adalah air, temperatur, oksigen, dan cahaya. Perkecambahan terjadi hanya pada waktu-waktu tertentu meskipun ada juga waktu-waktu lain di akhir musim panas dan awal musim gugur yang mempunyai kondisi kelembaban, suhu, dan cahaya yang sama seperti pada waktu musim semi atau awal musim panas. Keadaan ini memberikan peluang yang sangat menguntungkan bagi gulma karena jika biji-bijinya berkecambah pada akhir musim semi atau awal musim gugur maka semua kecambah akan mati sebelum dapat menghasilkan biji dan jenis-jenis ini akan punah. Biji-biji sesama jenis maupun yang berlainan jenis mempunyai respon yang berbedabeda terhadap perubahan lingkungan mikro yang terjadi di sekelilingnya. Ini mengakibatkan biji-biji itu tidak berkecambah secara serentak. Dari semua faktor lingkungan yang mempengaruhi perkecambahan, kedalaman biji berada di tanah memberikan pengaruh yang tetap. Yang pertama, tumbuhnya biji-biji sebagian besar mempunyai hubungan yang negatif dengan kedalaman lebih dari 1 cm. Semakin dalam biji tertanam kemungkinannya untuk berkecambah dan tumbuh menjadi semakin kecil. Munculnya biji yang paling baik jika biji-biji berada di permukaan tanah atau 9 hanya beberapa milimeter terbenamnya. Suhu sudah tentu memegang peranan penting dalam perkecambahan tetapi kedalaman biji juga lebih penting lagi peranannya. Beberapa hasil penelitian mengenai pengaruh dua faktor ini memberikan kesimpulan mengenai pengaruh kedalaman terhadap perkecambahan yaitu: a. Biji-biji semakin banyak yang tumbuh jika terbenam hanya beberapa milimeter dari permukaan tanah b. Setiap jenis mempunyai respon tumbuh yang berbeda-beda terhadap kedalaman di mana biji berada c. Beberapa biji dapat tumbuh meskipun terbenam pada kedalaman yang melebihi kedalaman yang ideal ( 1 cm ). 6. Kerugian Akibat Gulma Secara umum kerugian yang ditimbulkan gulma dapat dibagi menjadi dua kategori yang langsung dan yang tidak langsung. Kerugian langsung terjadi akibat kompetisi yang dapat mengurangi jumlah atau hasil panen. Termasuk di dalamnya adalah penurunan hasil panen, baik secara kesulurhan atau yang dipanennya saja dan penurunan kualitas hasil panenan sebagai akibat pencemaran oleh biji-biji gulma. Kerugian yang tidak langsung terjadi akibat kompetisi yang dapat menimbulkan kerugian kepada petani tetapi tidak secara langsung dalam hasil panenannya. Contohnya, gulma dapat menjadi inang sementara bagi hama penyakit tanaman, dan menimbulkan gangguan penyakit 10 seperti pada beberapa jenis gulma yang serbuk sari, getah, atau duri pada gulma tersebut sehingga dapat menimbulkan alergi. Kerugian langsung yang ditimbulkan akibat adanya gulma yang paling menjadikan masalah khusus dalam bidang pertanian adalah dengan penurunan hasil panen. Gulma dapat menurunkan hasil panenan dalam dua cara yaitu: 1) dengan mengurangi jumlah hasil yang dapat di panen (biji-bijian, rumput, atau buah-buahan dan sebagainya) dan 2) dengan mengurangi jumlah individu tanaman yang dipanen. Besarnya penurunan hasil panen yang diakibatkan oleh gulma sangatlah bervariasi bergantung dari jenis tanaman pokoknya, jenis gulma, dan faktor-faktor pertumbuhan yang mempengaruhinya. Adanya gulma dalam jumlah yang banyak pada masa pertumbuhan dapat menyebabkan kehilangan hasil secara total. 7. Analisis Vegetasi Analisis vegetasi adalah suatu cara mempelajari susunan dan atau komposisi vegetasi secara bentuk (struktur) vegetasi dari tumbuh-tumbuhan. Unsur struktur vegetasi adalah bentuk pertumbuhan, stratifikasi dan penutupan tajuk. Untuk keperluan analisis vegetasi diperlukan data-data jenis, diameter dan tinggi untuk menentukan indeks nilai penting dari penyusun komunitas tersebut. Dengan analisis vegetasi dapat diperoleh informasi kuantitatif tentang struktur dan komposisi suatu komunitas tumbuhan.Vegetasi tidak hanya kumpulan dari individu-individu tumbuhan melainkan membentuk suatu kesatuan dimana individu-individunya saling tergantung satu sama lain, yang disebut sebagai suatu komunitas tumbuh-tumbuhan. Vegetasi di suatu tempat 11 akan berbeda dengan vegetasi di tempat lain karena berbeda pula faktor lingkungannya.Konsepsi dan metode analisis vegetasi sesungguhnya sangat bervariasi, tergantung keadaan vegetasi itu sendiri dan tujuannya apakah ditujukan untuk mempelajari tingkat suksesi, dan apakah untuk evaluasi hasil suatu pengendalian gulma (Soetikno S. 1990). 8. Kerapatan Kerapatan menunjukkan jumlah individu suatu jenis tumbuhan pada tiappetak-contoh. Untuk menghitung kerapatan dilakukan dengan mencabut setiap populasi gulma yang ada pada media. 9. Frekuensi Frekuensi merupakan jenis tumbuhan yang muncul pada area tertentu yang dinyatakan dalam satuan persen (%) dari sejumlah petak-contoh yang dibuat. Misalnya jika tumbuhan A ditemukan dalam 86 petak-contoh dari 200 petak contoh yang dibuat, maka frekuensi A = 86/200 x 100% = 43%. Frekuensi dipengaruhi beberapa faktor yaitu luas petak-contoh, distribusi tumbuhan, dan ukuran jenis-jenis tumbuhannya. ...................... ........... ........ . .......... ....... ............ A. . . .......... . . . ..... .............. . . B . ..... .. .............. ......... ....................... Gambar 1. Pengaruh luas petak-contoh 12 Dengan menggunakan petak contoh A, nilai frekuensi akan jauh lebih besar daripada dengan menggunakan petak-contoh B yang lebih kecil (gambar 1). Sebab kemungkinan memuat sesuatu jenis tumbuhan dengan petak-contoh A adalah lebih besar. Sedangkan distribusi tumbuhan jika terdapat tiga petakcontoh yang dibuat 10. Dominansi Dominansi digunakan untuk menyatakan berapa luas area yang ditumbuhi oleh sejenis tumbuhan, atau kemampuan sesuatu jenis tumbuhan dalam hal bersaing terhadap jenis lainnya. Dominansi dapat dinyatakan dengan menghitung biomassa yaitu dengan memotong tumbuhan di atas tanah dan dikeringkan dalam pengeringan 100-1100C, kemudian ditimbang berat keringnya. Semakin tinggi berat kering suatu gulma maka akan semakin besar luas area yang ditumbuhi suatu gulma. 11. Summed Dominance Ratio (SDR) SDR menunjukkan jumlah nilai penting dibagi jumlah besaran. SDR biasa dipakai karena jumlahnya tidak pernah lebih dari 100%, sehingga mudah untuk diinterpretasi. Semakin tinggi nilai SDR jenis gulma maka akan semakin tinggi pengaruh gulma tersebut dalam mendominasi suatu area dari jenis gulma lainnya. B. Kedalaman Tanah Tanah merupakan lapisan yang menyelimuti bumi dengan ketebalan yang bervariasi dari beberapa centimeter hingga lebih dari 3 meter. Dibandingkan 13 dengan massa bumi, lapisan ini sebenarnya tidak berarti, namun dari tanah inilah segala makhluk hidup yang berada di muka bumi, baik tumbuhan maupun hewan memperoleh segala kebutuhan mineralnya.Selain itu, antara tanah dan makhluk hidup ini membentuk suatu hubungan yang dinamis. Dari tanah diperoleh kebutuhan mineral makhluk hidup dan kedalam tanah akan dikembalikan residu dari makhluk tersebut (Subagyo,. dkk. 2004). Tanah berkembang dari bahan mineral yang berasal dari batuan induknya dan bahan organik yang berasal dari makhluk hidup yang terdapat di sekitarnya. Bahan-bahan ini membentuk bagian padat tanah yang dinamakan dengan kerangka tanah. Di antara partikel padat ini terdapat rongga yang dapat berisi udara atau berisi air. Ruang pori ini meliputi sekitar setengah volume tanah pada horizon A, sedangkan pada horizon B dan C ruang pori ini lebih sedikit jumlahnya. Bagian pori yang lebih kecil biasanya diisi oleh air sedangkan udara mengisi bagian pori yang lebih besar.Kedalaman efektif suatu tanah adalah kedalaman lapisan tanah yang dapat ditembus oleh perakaran tanaman. Tanah memiliki kedalaman efektif yang tinggi apabila perkembangan perakaran tanaman tidak terhambat oleh faktor fisik tanah, seperti lapisan keras yang tidak tembus oleh akar atau oleh adanya lapisan air yang tidak sesuai bagi perkembangan akar tanaman. Kedalaman efektif suatu tanah sangat ditentukan oleh tekstur tanah serta homogenei-tas antar lapisan tanah Isa Darmawijaya, (1990). Kedalaman tanah seringkali menjadi kendala utama dalam keberhasilan produksi tanaman tahunan. Terhambatnya perkembangan perakaran sebagai akibat tipisnya kedalaman tanah mengakibatkan tanaman tidak dapat memperoleh 14 air serta hara yang cukup bagi pertumbuhannya.Kedalaman tanah juga dapat mengakibatkan dormansinya propagul gulma yang ada pada tiap-tiap kedalaman tanah. Sehingga semakin dalam kedalaman tanah tersebut maka tingkat dormansi propagul gulma akan semakin tinggi karena sebagian besar gulma yang tumbuh pada lingkungan budidaya diakibatkan oleh faktor keberadaan propagul gulma yang masih berada dikedalaman tanah Hardjowigeno, S. (1992). C. Kondisi Lahan Kondisi lahan merupakan keadaan bagaimana keadaan lahan tersebut berada dalam kondisi basah, kering, atau setelah tanam. Lahan padi, jagung, kedelai, dan tebu dalam kondisi setelah tanam akan memasuki masa tanam berikutnya sehingga akan berpengaruh terhadap vegetasi yang ada pada kondisi tersebut. Kondisi lahan yang selalu mengalami pengolahan dalam budidaya mempengaruhi jumlah vegetasi yang tumbuh karena setiap vegetasi membutuhkan kondisi lingkungan yang sesuai agar dapat hidup. Ada beberapa jenis gulma yang tumbuh pada setiap lahan yaitu pada lahan sawah, terdapat 10 jenis dari golongan rerumputan, 7 teki-tekian, dan 16 jenis dari golongan gulma berdaun lebar. Sepuluh jenis gulma yang dominannya adalah sebagai berikut: Monochoria vaginalis,paspalum distichum, Fimbristylis milliacea, Cyperus difformis, Scirpus juncoides, Marsilea creata, Echinochola crus-galli, Jussiea repens, Spenocblea zeylanica, dan Cyperus Iria. Sedangkan pada lahan bekas tanaman jagung terdapat 12 jenis rerumputan, 5 teki-tekian, dan 26 jenis gulma berdaun lebar. Dengan jenis gulma yang 15 dominan adalah D. ciliaris, A. conyzoides, P. distichum, E. indica, B. alata, C. rotundus, P. niruri, C. dactylon, Althernanthera philoxeroides, dan Synedrella nodiflora. Pada lahan bekas tanaman kedelai 20 jenis gulma rerumputan, 6 tekitekian, dan 30 jenis dari golongan gulma berdaun lebar. Gulma jenis E. indica, A. conyzoides, C. iria, Mimosa pudica, C. dactylon, dan Commelina nodiflora merupakan yang lebih dominan. Kuntohartono (1984), melaporkan tentang komposisi jenis gulma yang biasa tumbuh di kebu tebu di jawa. Jenis-jenis gulma yang tumbuh di pertanaman tebu sangat ditentukan oleh cara pengolahan tanah dan macam tanaman budidayanya. Pengolahan tanah sempurna dengan membajak akan mengurangi kepadatan gulma jenis rerumputan, tetapi akan lebih meningkatkan pertumbuhan jenis-jenis gulma dari golongan teki dan berdaun lebar. D. Hipotesis Sebaran propagul sebesar 64-99,6% terdapat pada kedalaman 10 cm di atas lapisan tanah. III. TATA CARA PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Pengambilan sampel dilakukan di 3 kecamatan yaitu Kecamatan Kasihan, Sewon, dan Godean pada lahan bekas tanaman jagung, kedelai, padi, dan tebu dengan jenis tanah regosol. Penelitian sampel tanah dilaksanakan di Greenhouse Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan di Laboratorium Penelitian Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada bulan Juli sampai dengan Agustus 2016. B. Bahan Dan Alat Penelitian Bahan yang digunakan pada penelitian ini tanah bekas penanaman padi, tanah bekas penanaman jagung, tanah bekas penanaman kedelai, dan tanah bekas penanaman tebu. Alat yang digunakan besek berukuran 25x30 cm, plastik hitam, gembor, penggaris, timbangan, oven, kertas label, cangkul, dan sekop kecil. C. Metode Penelitian Penelitian dilakukan menggunakan metode eksperimen dengan rancangan percobaan faktor tunggaldisusun dalam Rancangan Acak Lengkap. Perlakuan yang diujikanadalah kondisi lahan yang terdiri 4 jenis yaitu kondisi lahan bekas tanaman padi, jagung, kedelai, dan tebu yang masing-masing dengan kedalaman 5, 10, 15, 20, dan 25 cm sehingga diperoleh 20 perlakuan. Masing-masing perlakuan diulang 3 kali dan setiap ulangan didapat 3 unit sampel kemudian dikompositkan sehingga diperoleh 60 unit perlakuan. 19 20 D. Cara Penelitian 1. Pemilihan Lokasi Pemilihan lokasi dilakukan untuk menentukan empat lahan bekas tanaman yang diambil tanahnya yaitu jagung, kedelai, padi, dan tebu. Lahan yang dipilih sebagai lokasi pengambilan sampel adalah lahan dengan luasan ±1000 m2 untuk setiap jenis lahan. Survei dilakukan di 3 Kecamatan yaitu sewon, pajangan, dan godean dengan luas lahan pertanian besar dari 40% dari wilayah tersebut. 2. Pengambilan Tanah Pengambilan tanah dilakukan dengan menggali tanah yang sudah ditentukan menggunakan cangkuldi lahan padi, tebu, jagung, dan kedelai pada saat setelah panen dengan kedalaman 5, 10, 15, 20, dan 25 cm.Setiap kondisi lahan, jumlah tanah yang diambil sebanyak 5 kg. Tanah yang telah diambil dari lahan kemudian dikeringanginkan didalam Greenhouse Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. 3. Pengisian Media Sampel tanah yang diambil kemudian dikeringanginkan dan dimasukkan kedalam besek berukuran 25 x 30 cm dengan berat 2 kg tanah untuk setiap besek. Tanah kemudian diinkubasi untuk diamati pertumbuhan gulma pada masing-masing perlakuan tersebut. 21 4. Inkubasi a. Penyiraman Penyiraman dilakukan untuk menjaga kadar lengas tanah dilakukan jika diperlukan b. Pengamatan Pengamatan dilakukan selama 30 hari dengan cara analisis vegetasi gulma. E. Parameter yang Diamati 1. Waktu Tumbuh Gulma (hari) Waktu tumbuh dihitung untuk mengetahui jenis perlakuan yang memiliki tingkat pertumbuhan gulma yang paling tinggi dengan melihat luas permukaan media tanah yang ternaungi oleh gulma. 2. Analisis Vegetasi Analisis Vegetasi dilakukan setelah 30 hari inkubasi. Pengamatan gulma dilakukan dengan analisis vegetasi menggunakan metode kuadrat. Pengamatan gulma mulai dilakuan saat kemunculan tunas pertama pada setiap petak perlakuan.Gulma yang ada pada petak perlakuan kemudian dicabut dan dipisahkan berdasarkan jenisnya dan diidentifikasi sebagai data untuk menghitung kerapatan, frekuensi, dominansi, dan SDR. a. Kerapatan gulma Kerapatan menunjukkan jumlah individu suatu jenis tumbuhan pada tiap besek. Gulma dipilih dan dihitung jumlahnya berdasarkan jenisnya di 22 petakan tersebut. Rumus Kerapatan gulma (Tjitrosoedirdjo dkk,. 1983), yaitu: kerapatan nisbi = �ℎ � � � � � � � � % � b. Frekuensi Frekuensi merupakan jenis tumbuhan yang muncul pada area tertentu yang dinyatakan dalam satuan persen (%). Pengambilan sampel dilakukan dengan cara mencabut gulma yang paling banyak muncul dan diidentifikasi jenisnya. Rumus Frekuensi gulma (Tjitrosoedirdjo dkk,. 1983), yaitu: �ℎ Frekuensi Mutlak = Frekuensi nisbi = � ℎ �� � �ℎ � �ℎ � � � � ℎ % c. Dominansi gulma Dominansi digunakan untuk menyatakan berapa luas area yang ditumbuhi oleh sejenis tumbuhan atau kemampuan sejenis tumbuhan dalam hal bersaing terhadap jenis lainnya. Dominansi dapat dinyatakan dengan menghitung biomassa. Gulma dikeringkan dalam oven pada suhu 100-1100C. Gulma yang sudah kering kemudian ditimbang untuk mengukur berat keringnya. Rumus dominansi gulma (Tjitrosoedirdjo dkk,. 1983), yaitu: Dominansi mutlak suatu jenis = Berat kering tertentu Dominansi nisbi = � � � � � � � � � � % 23 d. SDR (Summed Dominance Ratio) �� + � + �� SDR menunjukkan jumlah nilai penting dibagi jumlah besaran. Semakin tinggi nilai SDR gulma maka semakin tinggi dominasi suatu spesies gulma dan sebaliknya semakin rendah nilai SDRmaka semakin rendah pula spesies gulma dalam menguasai suatu wilayah. e. Koefisien komunitas Koefisien komunitas digunakan untuk membandingkan dua komunitas vegetasi atau dua macam vegetasi dari dua daerah. Rumus koefisien komunitas (Tjitrosoedirdjo dkk,. 1983), yaitu C = koefisien komunitas = + w = jumlah dari dua kuantitas terendah untuk jenis dari masing-masing komunitas a = jumlah dari semua kuantitas pada komunitas pertama b = jumlah dari semua kuantitas pada komunitas kedua Apabila nilai C ≥ 75% maka artinya tidak banyak perbedaan keadaan vegetasinya 24 F. Analisis Data Data hasil pengamatan gulma dianalisis menggunakan sidik ragam untuk mengetahui adanya pengaruh perlakuan. Apabila terdapat pengaruh nyata antar perlakuan, maka dilanjutkan menggunakan uji Duncan’s Multiple Range Test pada tingkat kesalahan α 5%. IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Waktu tumbuh gulma Berdasarkan hasil sidik ragam kondisi lahan dan kedalaman tanah tidak memberikanpengaruh nyata terhadap waktu tumbuh gulma.Hal ini diduga kondisi lingkungan dan ketersediaan air, suhu, dan cahaya pada setiap kedalaman tanah dan kondisi lahan terpenuhi. Waktu tumbuh gulma dipengaruhi oleh faktor curah hujan, suhu rata-rata harian, kelembaban harian dan intensitas cahaya matahari. Adanya air yang cukup akan mempercepat proses tumbuhnya seed bank, tetapi tidak mutlak mempercepat waktu tumbuhnya gulma, karena kecepatan tumbuh seed bank juga dipengaruhi oleh viabilitas biji dan cadangan makanan yang terdapat dalam biji gulma.Simpanan makanan ini menentukan daya hidupnya dan kemampuan untuk muncul ke permukaan tanah. Pertumbuhan gulma dikontrol secara hormonal dan lingkungan, Moenandir (1993) menambahkan bahwa yang termasuk faktor non hormonal adalah kulit biji, suhu, cahaya, ketinggian tempat, dan posisi biji dalam tanah.Kecepatan gulma tumbuh juga dipengaruhi oleh dormansi biji. Dormansi adalah suatu istilah fisiologis tumbuhan yang dipergunakan untuk biji atau organ vegetatif yang tidak mau berkecambah meskipun keadaan lingkungannya menguntungkan. Dormansi merupakan strategi reproduksi gulma untuk tetap bertahan hidup dalam keadaan yang tidak menguntungkan. Dengan cara demikian, perkecambahan dapat terjadi beberapa waktu kemudian dan atau terjadi di tempat lain yang berjauhan dengan induknya. 25 26 Tabel 1Waktu tumbuh gulma Perlakuan Waktu tumbuh Lahan Jagung Kedalaman 5 cm 7,00 Lahan Jagung Kedalaman 10 cm 6,33 Lahan Jagung Kedalaman 15 cm 6,00 Lahan Jagung Kedalaman 20 cm 4,00 Lahan jagung kedalaman 25 cm 4,00 Lahan kedelai kedalaman 5 cm 5,66 Lahan kedelai kedalaman 10 cm 6,33 Lahan kedelai kedalaman 15 cm 6,33 Lahan kedelai kedalaman 20 cm 7,00 Lahan kedelai kedalaman 25 cm 6,33 Lahan padi kedalaman 5 cm 4,00 Lahan padi kedalaman 10 cm 4,66 Lahan padi kedalaman 15 cm 4,00 Lahan padi kedalaman 20 cm 5,00 Lahan padi kedalaman 25 cm 5,00 Lahan tebu kedalaman 5 cm 3,33 Lahan tebu kedalaman 10 cm 6,00 Lahan tebu kedalaman 15 cm 5,33 Lahan tebu kedalaman 20 cm 4,00 Lahan tebu kedalaman 25 cm 8,66 Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan taraf 5% Selain itu dormansi dapat menjadikan biji-biji gulma tahan bertahun-tahun dalam tanah dan hanya akan berkecambah dan tumbuh bila keadaan lingkungannya menguntungkan. Biji-biji gulma yang berada dalam tanah tersebut mempunyai tingkat dormansi yang berbeda beda, sehingga perkecambahan dari suatu populasi biji gulma tidak terjadi secara serentak. Keadaan ini mengakibatkan biji-biji gulma dalam tanah akan tetap menjadi masalah selama biji-biji tersebut masih ada.Kecepatan pertumbuhan tanaman dan gulmaakibat lingkungan yang sesuai dapat menyebabkan jenis tertentu mampu tumbuhbaik dan bersaing. Jenis gulma yang tumbuh baik tersebut biasanya ada persamaandalam 27 hal kebutuhan pertumbuhan (ruang, cahaya, nutrisi, dan air ataukelembaban) atau karena persamaan morfologi (misal bentuk daun). Beberapa jenis gulma yang memiliki kecepatan berkembangbiak cukup besar yaitu Portulaca oleracea, Cleome sp, dan Ageratum conyzoides. Dengan berkembangbiak yang dilakukan dengan cara vegetatif dan generatif membuat jenis gulma tersebut mampu tumbuh lebih cepat pada tanaman budidaya. Lindernia dubia Cleome sp Portulaca oleracea Ageratum conyzoides Gambar 1 Jenis gulma yang memiliki waktu tumbuh lebih cepat 28 Gulma berdaun lebar dapat berkembangbiak dengan pembentukan daun dan pemanjangan batang yang cepat sehingga dalam pertumbuhannya gulma tersebut lebih cepat. Selain itu, gulma yang memiliki waktu tumbuh lebih cept mempunyai daya kompetisi yang tinggi (Yunasfi,2007). Persaingan antara gulma dengan tanaman yang diusahakan dalam mengambil unsur-unsur hara dan air dari dalam tanah dan penerimaan cahaya matahari untuk proses fotosintesis, menimbulkan kerugian-kerugian dalam produksi baik kualitas maupun kuantitas. Kerugian berupa penurunan produksi dari beberapa tanaman adalah padi 10,8%, jagung 13%, kedelai 13,5%, dan tebu 15,7%. Lahan jagung, kedelai, padi, dan tebu merupakan jenis lahan yang memiliki lingkungan dan ketersediaan air, suhu, dan cahaya yang cukup terhadap perkecambahan gulma. Adanya faktor-faktor tumbuh gulma pada setiap jenis lahan dan kedalaman tanah mempengaruhi waktu tumbuh gulma. Biji gulma yang mendapatkan cahaya, air, serta suhu pada setiap kedalaman tanah suatu saat dapat tumbuh. Semakin cepat waktu tumbuh gulma pada suatu lahan maka semakin besar pengaruh gulma tersebut dalam mempengaruhi pertumbuhan tanaman budidaya. Hal ini dikarenakan setiap tanaman budidaya memiliki periode kritis pada saat awal tanam, dimana waktu tersebut membutuhkan air dan cahaya yang cukup sebagai kelangsungan proses vegetatif. Dengan demikian jenis lahan jagung, kedelai, padi, dan tebu memiliki waktu tumbuh gulma yang tidak beda nyata pada jenis tanaman berdasarkan hasil sidik ragam. 29 B. Jumlah individu gulma Hasil penelitian menunjukkan bahwakedalaman tanahdan kondisi lahan memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah individu gulma. Kerapatan yang tinggi dipengaruhi oleh banyaknya jumlah individu gulma. Semakin tinggi kerapatan gulma pada kedalaman tanah tertentu dapat terlihat dari banyaknya jumlah individu gulma yang tumbuh. Pada kondisi lahan bekas tanaman padi dengan kedalaman 5 cm menunjukkan jumlah individu yang lebih tinggi dibandingkan jumlah individu pada kondisi lahan bekas tanaman kedelai, jagung, dan tebu pada semua kedalaman (Tabel 2). Tingginya jumlah individu pada lahan padi kedalaman tanah 5 cm dibandingkan dengan kondisi lahan bekas tanaman lainnya diduga karena gulma merupakan tumbuhan yang mampu hid

Dokumen baru

Aktifitas terkini

Download (96 Halaman)
Gratis

Dokumen yang terkait

APLIKASI METODE GEOLISTRIK RESISTIVITAS 3D KONFIGURASI POLE-POLE UNTUK MENENTUKAN SEBARAN DAN KEDALAMAN AKUIFER AIR TANAH DI DAERAH KAMPUS FMIPA UNIVERSITAS JEMBER
1
9
16
APLIKASI METODE GEOLISTRIK RESISTIVITAS 3D KONFIGURASI POLE-POLE UNTUK MENENTUKAN SEBARAN DAN KEDALAMAN AKUIFER AIR TANAH DI DAERAH KAMPUS FMIPA UNIVERSITAS JEMBER
0
6
16
DISTRIBUSI DAN KEPADATAN POPULASI CACING TANAH Dl BERBAGAI LAHAN DALAM AREA KAMPUS UNIVERSITAS JEMBER
0
3
14
HUBUNGAN ASAL TANAH DARI BERBAGAI PENGGUNAAN LAHAN DENGAN PERTUMBUHAN TANAMAN KEDELAI
0
4
20
HUBUNGAN SIFAT KIMIA TANAH DENGAN POPULASI RHIZOBIA PADA BERBAGAI PENGGUNAAN LAHAN TERHADAP PRODUKTIVITAS KEDELAI BALURAN
0
3
17
KAJIAN EROSI DAN ALIRAN PERMUKAAN PADA BERBAGAI SISTEM TANAM DI TANAH TERDEGRADASI
0
3
56
KEPARAHAN PENYAKIT ANTRAKNOSA PADA CABAI (Capsicum annuum L) DAN BERBAGAI JENIS GULMA
3
15
41
UPAYA PERBAIKAN KEMANTAPAN AGREGAT MELALUI PEMBERIAN BERBAGAI JENIS GULMA PADA TANAH ULTISOL
0
4
7
SEBARAN STATUS BAHAN ORGANIK SEBAGAI DASAR PENGELOLAAN KESUBURAN TANAH PADA PERKEBUNAN TEBU (Saccharum officinarum L.) LAHAN KERING BERPASIR DI PT. PERKEBUNAN NUSANTARA X, DJENGKOL-KEDIRI
0
1
12
View of PEMETAAN GEOSTATISTIK KONDISI TANAH LAHAN KERING KOTA KEFAMENANU KABUPATEN TIMOR TENGAH UTARA
0
0
7
PENENTUAN KATEGORI KONSENTRASI BERBAGAI PEUBAH KIMIA KUALITAS TANAH PADA KEDALAMAN BERBEDA DI TAMBAK PROVINSI SULAWESI SELATAN, INDONESIA
0
0
14
KEANEKARAGAMAN ARTHROPODA PERMUKAAN TANAH PADA BERBAGAI PENGGUNAAN LAHAN DI LERENG GUNUNG LAWU KALISORO, TAWANGMANGU Skripsi
0
0
13
PENGARUH PUPUK ORGANIK DAN KEDALAMAN OLAH TANAH TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KORO PEDANG (Canavalia
0
0
6
SEBARAN LAHAN KRITIS DAN DAMPAKNYA TERHADAP PUSAT KEGIATAN PERKOTAAN KECAMATAN MODOINDING
0
0
12
TEKNOLOGI KONSERVASI TANAH PADA LAHAN PERTANIAN BERLERENG
0
0
11
Show more