Pengaruh terak baja terhadap sifat kimia tanah serta pertumbuhan dan produksi tanaman Padi (Oryza Sativa) pada tanah gambut dalam dari Kumpeh, Jambi

Gratis

0
5
151
3 years ago
Preview
Full text
PENGARUH TERAK BAJA TERHADAP SIFAT KIMIA TANAH SERTA PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN PADI (Oryza Sativa) PADA TANAH GAMBUT DALAM DARI KUMPEH, JAMBI Mahro Syihabuddin A14061042 PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA LAHAN DEPARTEMEN ILMU TANAH DAN SUMBERDAYA LAHAN FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011 ii RINGKASAN MAHRO SYIHABUDDIN. Pengaruh Terak Baja terhadap Sifat Kimia Tanah serta Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Padi (Oryza Sativa) pada Tanah Gambut Dalam dari Kumpeh, Jambi. Dibimbing oleh ATANG SUTANDI dan SUWARNO. Usaha untuk mencapai swasembada beras sangat penting dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan penduduk Indonesia yang semakin meningkat. Hal ini menimbulkan permasalahan karena lahan pertanian yang subur di Pulau Jawa semakin sempit seiring dengan banyaknya konversi lahan ke penggunaan nonpertanian. Salah satu solusi adalah membuka lahan gambut di luar Pulau Jawa. Pemanfaatan tanah gambut untuk budidaya padi dihadapkan pada beberapa masalah seperti tingginya tingkat kemasaman dan kandungan asam-asam organik beracun yang berpengaruh pada pertumbuhan tanaman. Terak baja (steel slag) adalah produk sampingan dari proses pemurnian besi cair dalam pembuatan baja yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah-masalah sifat kimia tanah gambut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terak baja terhadap sifat kimia tanah serta pertumbuhan dan produksi tanaman padi (Oryza Sativa). Penelitian dilakukan melalui percobaan pot di rumah kaca dengan menggunakan tanah gambut yang berasal dari Kumpeh, Jambi. Dosis terak baja adalah 0, 1, 2, 3, 4, dan 5% atau 0, 30, 60, 90, 120, dan 150 g/pot, dikombinasikan dengan pupuk NPK dengan dosis 50 dan 75% dari standar, dibandingkan dengan perlakuan kontrol dan standar. Rancangan penelitian yang dipakai adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan faktor tunggal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terak baja berpengaruh nyata dalam meningkatkan pH tanah, basa-basa Ca dan Mg dapat dipertukarkan, serta unsur Mn-tersedia dalam tanah. Kandungan logam berat beracun yang tinggi dalam tanah dan gabah terdapat pada perlakuan pupuk tunggal. Terak baja juga berpengaruh nyata meningkatkan pertumbuhan dan produksi padi, menurunkan persentase gabah hampa, serta meningkatkan kadar Ca dan Mg dalam tanaman. Selain itu secara ekonomi terak baja dapat mengurangi penggunaan pupuk konvensional. Hal ini ditunjukkan oleh nilai efisiensi pupuk yang tinggi pada perlakuan terak baja. Kata Kunci : Terak Baja, Gambut, Padi iii SUMMARY MAHRO SYIHABUDDIN. The Effect of Steel Slag on Chemical Properties of Soils and also Rice Growth and Yield in Peat Soils from Kumpeh, Jambi. Supervised by ATANG SUTANDI and SUWARNO. Serious efforts to achieve self sufficiency in rice to fullfil consumption of population growth in Indonesia become very important. One of the most important problems was the decrease of fertile land in Java along with significant numbers of land conversion to nonagricultural usage. One of the important effort to overcome this problem was utilizing peatlands outside Java. Utilizing of peatland for rice cultivation faces many problems such as soil acidity and toxicity of organic acid which effect to crop growth. Steel slag is a by-product furnace in the process of steel manufacturing. These materials can be used as liming material for improving chemical properties of peat soil. This research purposed to evaluate effect of steel slag on chemical properties of soils and also rice growth and yield. Research was carried out of pot experiment in greenhouse by using peat soils from Kumpeh, Jambi. Slags were applied in dosage 0, 1, 2, 3, 4, and 5% or 0, 30, 60, 90, 120, and 150 g / pot, combined with NPK fertilizer in dosage 50 and 75% from standard, compared with control and standard. The result shows that steel slag significantly improved chemical properties of soils such as raised soil pH, exchangeable Ca and Mg, and available Mn in soils. Toxic heavy metal in rice and soils were given by NPK fertilizer treatment. Steel slag also significantly increased rice yield and growth, reduced unfilled spikelets, and also increased nutrient rate of Ca and Mg in crop. In addition, steel slag reduced usage of conventional fertilizer. This was shown by higher value of fertilizer efficiency on steel slag treatment. Keywords : Steel Slag, Peat Soils, Rice iv PENGARUH TERAK BAJA TERHADAP SIFAT KIMIA TANAH SERTA PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN PADI (Oryza Sativa) PADA TANAH GAMBUT DALAM DARI KUMPEH, JAMBI Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian Pada Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor MAHRO SYIHABUDDIN A14061042 PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA LAHAN DEPARTEMEN ILMU TANAH DAN SUMBERDAYA LAHAN FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011 v Judul Penelitian : Pengaruh Terak Baja terhadap Sifat Kimia Tanah serta Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Padi (Oryza Sativa) pada Tanah Gambut Dalam dari Kumpeh, Jambi Nama : Mahro Syihabuddin NRP : A14061042 Menyetujui, Pembimbing I Pembimbing II Dr. Ir. Atang Sutandi, M.Si. NIP. 19541212 198103 1 010 Dr. Ir. Suwarno, M.Sc. NIP. 19621120 198811 1 001 Mengetahui, Ketua Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan Dr. Ir. Syaiful Anwar, M.Sc. NIP. 19621113 198703 1 003 Tanggal Lulus : vi RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Malang pada tanggal 3 September 1988 dari pasangan Prof. Dr. Muhaimin, MA. dan Rosida Rahayu. Penulis merupakan anak terakhir dari tiga bersaudara. Penulis memulai studinya di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Malang I dan lulus pada tahun 2000. Setelah itu penulis melanjutkan studi ke Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Malang I, dan lulus pada tahun 2003. Selanjutnya, penulis melanjutkan studi ke Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Malang, dan lulus pada tahun 2006. Pada tahun yang sama dengan kelulusan SMA, penulis diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Undangan Saringan Masuk IPB (USMI). Setelah menjalani Tingkat Persiapan Bersama (TPB) pada tahun pertama di IPB, penulis diterima di Mayor Manajemen Sumberdaya Lahan, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian. Selama menjalankan studi di Institut Pertanian Bogor, penulis pernah menjadi asisten praktikum mata kuliah Pengantar Ilmu Tanah tahun 2010. vii KATA PENGANTAR Puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Pengaruh Terak Baja terhadap Sifat Kimia Tanah serta Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Padi (Oryza Sativa) pada Tanah Gambut Dalam dari Kumpeh, Jambi. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk kelulusan dari Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan. Dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan, bantuan, dan dorongan dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga kesulitan yang penulis hadapi dapat teratasi. Pada kesempatan kali ini penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. Dr. Ir. Atang Sutandi, MSi. selaku dosen pembimbing skripsi pertama atas bimbingan, bantuan, saran, dan motivasi yang diberikan selama proses penelitian dan penyusunan skripsi ini. 2. Dr. Ir. Suwarno, MSc. selaku dosen pembimbing skripsi kedua atas saransaran dan bantuan selama masa penyusunan skripsi serta penelitian. 3. Kedua orang tua penulis, Bapak Muhaimin dan Ibu Rosida Rahayu serta kedua kakak penulis, atas dorongan dan motivasi yang diberikan pada penulis sehingga penulis tetap bersemangat dalam menyelesaikan skripsi ini 4. Seluruh staf Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB (Pak Ade, Pak Soleh, Pak Dadi, Pak Koyo, Pak Kasmun, Pak Ayang) yang telah memberikan bantuan selama melakukan analisis di laboratorium. 5. Teman-teman seperjuangan, Asep Barkhah, Bayu Sejati, dan Inpiktus Rudi Sitepu yang telah banyak membantu penulis selama masa penelitian. 6. Seluruh teman-teman dari Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah dan seluruh Soilers 43 yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu atas bantuan, serta doa dan semangatnya, yang tidak akan pernah dilupakan oleh penulis. 7. Pihak-pihak lain yang telah membantu penulis dalam penyelesaian skripsi ini, yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. viii Penulis sadar bahwa tulisan ini masih jauh dari sempurna dan masih membutuhkan saran serta kritik. Namun, penulis berharap agar tulisan ini dapat memberikan manfaat dalam rangka pembelajaran bagi penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya. Bogor, Januari 2011 Penulis ix DAFTAR ISI Halaman I. PENDAHULUAN .......................................................................................... 1.1. Latar Belakang 1 .............................................................................. 1 1.2. Tujuan .......................................................................................... 2 1.3. Hipotesis .......................................................................................... 2 II. TINJAUAN PUSTAKA .............................................................................. 3 2.1. Tanah Gambut .............................................................................. 3 .......................................................................................... 8 .............................................................................. 9 2.4. Silikat ...................................................................................................... 10 2.5. Logam Berat .......................................................................................... 11 .................................................................. 12 2.2. Terak Baja 2.3. Tanaman Padi III. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ...................................................... 12 3.2. Bahan dan Alat .............................................................................. 12 3.3. Metode Penelitian .............................................................................. 13 3.4. Metode Penilaian Efisiensi Pupuk dan Produksi Relatif .................. 16 3.5. Metode Analisis Logam Berat Tanah dan Tanaman .............................. 16 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................................. 19 4.1. Komposisi Hara pada Terak Baja ...................................................... 19 4.2. Pengaruh Terak Baja terhadap Sifat Kimia Tanah .............................. 19 4.3. Pengaruh Terak Baja terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman..... 23 4.4. Pengaruh Terak Baja terhadap Kadar dan Serapan Hara Tanaman ...... 32 4.5. Efisiensi Penggunaan Pupuk .................................................................. 38 V. KESIMPULAN DAN SARAN .................................................................. 41 5.1. Kesimpulan .......................................................................................... 41 5.2. Saran ...................................................................................................... 41 .............................................................................. 42 LAMPIRAN ...................................................................................................... 44 VI. DAFTAR PUSTAKA x DAFTAR TABEL Nomor Halaman Teks 1. Kriteria Tingkat Kesuburan Tanah Gambut (Fleischer, dalam Driessen dan Soepraptohardjo, 1974) ........................................................................ 4 2. Kriteria Penilaian Tingkat Kesuburan Tanah Gambut (Tim IPB,1976) .... 4 3. Dosis Pupuk yang Diberikan per Pot .......................................................... 14 4. Pengaruh Terak Baja terhadap pH dan Basa-Basa Dapat Ditukar .............. 20 5. Pengaruh Terak Baja terhadap Unsur Mikro Tanah ................................... 21 6. Kandungan Logam Berat pada Tanah ....................................................... 23 7. Pengaruh Terak Baja terhadap Pertumbuhan Tanaman Padi ..................... 26 8. Pengaruh Terak Baja terhadap Produksi Tanaman Padi ............................ 28 9. Perbandingan Produksi Relatif antara Standar dengan Kontrol dan Semua Perlakuan....... .............................................................................................. 31 10. Pengaruh Terak Baja terhadap Kadar Hara N, P, dan K ............................ 33 11. Pengaruh Terak Baja terhadap Serapan Hara N, P, dan K ......................... 34 12. Pengaruh Terak Baja terhadap Kadar Ca, Mg, dan Cu Tanaman ............ 36 13. Kandungan Logam Berat Beracun pada Gabah ........................................ 38 14. Pengaruh Terak Baja terhadap Efisiensi Pupuk ........................................ 39 Lampiran 1. Komposisi Hara Terak Baja ........................................................................ 45 2. Analisis Ragam pH Tanah ............................................................................ 46 3. Analisis Ragam Ca-dd Tanah ....................................................................... 46 4. Analisis Ragam Mg-dd Tanah ...................................................................... 46 5. Kriteria Penilaian Analisis Tanah (Pusat Penelitian Tanah, 1983 dalam Sulaeman et al., 2005) ................................................................................. 47 6. Analisis Ragam Kadar Fe-tersedia dalam Tanah .......................................... 48 7. Analisis Ragam Kadar Mn-tersedia dalam Tanah ........................................ 48 8. Analisis Ragam Kadar Cu-tersedia dalam Tanah ......................................... 48 xi 9. Persyaratan Logam Berat dalam Tanah (Sulaeman et al.,2005) .................. 48 10. Pengaruh Terak Baja terhadap Pertumbuhan Tanaman .............................. 49 11. Analisis Ragam Tinggi Tanaman Padi ...................................................... 50 12. Analisis Ragam Anakan Maksimum Padi ................................................. 50 13. Analisis Ragam Anakan Produktif Padi ..................................................... 50 14. Analisis Ragam Biomassa Tanaman Padi.................................................. 50 15. Analisis Ragam Bobot Gabah Kering Panen Padi ..................................... 51 16. Analisis Ragam Bobot Gabah Kering Giling Padi ..................................... 51 17. Analisis Ragam Bobot Gabah Kering Bernas Padi.................................... 51 18. Analisis Ragam Persentase Gabah Hampa Padi ......................................... 51 19. Analisis Ragam Kadar Hara N Tanaman .................................................... 52 20. Analisis Ragam Kadar Hara P Tanaman .................................................... 52 21. Analisis Ragam Kadar Hara K Tanaman .................................................... 52 22. Analisis Ragam Serapan Hara N Tanaman ................................................. 52 23. Analisis Ragam Serapan Hara P Tanaman ................................................. 53 24. Analisis Ragam Serapan Hara K Tanaman ................................................. 53 25. Analisis Ragam Kadar Ca dalam Tanaman ................................................ 53 26. Analisis Ragam Kadar Mg dalam Tanaman ............................................... 53 27. Analisis Ragam Kadar Cu dalam Tanaman ................................................ 54 28. Batas Maksimum Logam Berat pada Beras (SNI 7387:2009).................... 54 29. Analisis Ragam Efisiensi Pupuk N ............................................................. 54 30. Analisis Ragam Efisiensi Pupuk P ............................................................. 54 31. Analisis Ragam Efisiensi Pupuk K ............................................................ 55 32. Pengaruh Terak Baja terhadap Basa-Basa Dapat Dipertukarkan................ 56 33. Pengaruh Terak Baja terhadap pH dan Kadar Air Tanah .......................... 57 34. Pengaruh Terak Baja terhadap Unsur Mikro Tanah ................................... 58 35. Pengaruh Terak Baja terhadap Produksi Tanaman ..................................... 59 36. Pengaruh Terak Baja terhadap Kadar Hara Tanaman ............................... 60 xii 37. Pengaruh Terak Baja terhadap Serapan Hara Tanaman............................. 61 38. Pengaruh Terak Baja terhadap Kadar Ca, Mg, dan Cu Tanaman .............. 62 xiii DAFTAR GAMBAR Nomor Halaman Teks 1. Pengaruh Terak Baja terhadap Basa-Basa Dapat Dipertukarkan ................ 20 2. Pengaruh Terak Baja terhadap Unsur Mikro dalam Tanah ......................... 22 3. Pengaruh Terak Baja terhadap Tinggi Tanaman Umur 11 MST ................ 24 4. Pengaruh Terak Baja terhadap Jumlah Anakan Maksimum ....................... 26 5. Pengaruh Terak Baja terhadap Jumlah Anakan Produktif .......................... 27 6. Pengaruh Terak Baja terhadap Bobot Gabah Kering Giling ....................... 29 7. Pengaruh Terak Baja terhadap Bobot Gabah Kering Bernas ...................... 29 8. Pengaruh Terak Baja terhadap Persentase Gabah Hampa........................... 30 9. Perbandingan Produksi Relatif antara Standar dengan Kontrol dan Semua Perlakuan ..................................................................................................... 32 10. Pengaruh Terak Baja terhadap Serapan Hara ............................................ 34 11. Pengaruh Terak Baja terhadap Kadar Ca dan Mg pada Tanaman ............. 36 12. Pengaruh Terak Baja terhadap Kadar Cu pada Tanaman .......................... 37 13. Pengaruh Terak Baja terhadap Efisiensi Pupuk ......................................... 40 Lampiran 1. Pengambilan Contoh Tanah ........................................................................ 63 2. Terak Baja (Electric Furnace Slag) ............................................................. 63 3. Perbandingan Pertumbuhan Padi antara Kontrol dan Perlakuan Standar dengan Perlakuan Slag Kombinasi NPK 1 Sebelum Tumbuh Malai ......... . 64 4. Perbandingan Pertumbuhan Padi antara Kontrol dan Perlakuan Standar dengan Perlakuan Slag Kombinasi NPK 2 Sebelum Tumbuh Malai ........... 64 5. Tanaman Padi dalam Rumah Kaca ............................................................. 65 6. Perbandingan Pertumbuhan Padi antara Kontrol dan Perlakuan Standar dengan Perlakuan Slag Kombinasi NPK 1 Umur 11 MST .......................... 65 xiv 7. Perbandingan Pertumbuhan Padi antara Kontrol dan Perlakuan Standar dengan Perlakuan Slag Kombinasi NPK 2 Umur 11 MST .......................... 66 8. Perbandingan Produksi Gabah antara Kontrol dan Perlakuan Standar dengan Perlakuan Slag Kombinasi NPK 1 ................................................... 66 9. Perbandingan Produksi Gabah antara Kontrol dan Perlakuan Standar dengan Perlakuan Slag Kombinasi NPK 2 ................................................... 67 1 I. 1.1. PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbanyak keempat di dunia. Populasi manusia tumbuh begitu cepat dari tahun 2000 sebanyak 206 juta jiwa hingga sekarang menjadi 237 juta jiwa. Semakin banyaknya jumlah penduduk menuntut peningkatan produksi beras yang merupakan makanan pokok sehari-hari di Indonesia. Hal ini menimbulkan permasalahan karena lahan pertanian yang subur terutama di Pulau Jawa semakin menyempit seiring dengan banyaknya lahan yang telah dikonversi ke penggunaan nonpertanian. Salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah membuka lahan pertanian baru yang berada di luar Pulau Jawa, yang pemanfaatan dan pengembangannya masih sangat terbatas. Ekstensifikasi pertanian di luar Pulau Jawa dinilai sebagai alternatif yang tepat untuk mengatasi kekurangan produksi pangan secara berkelanjutan, sekaligus mengurangi tekanan bagi lahan pertanian di Pulau Jawa yang dikelola terlalu intensif. Salah satu alternatif adalah pemanfaatan lahan gambut. Tanah gambut diartikan sebagai material atau bahan organik yang tertimbun secara alami dan tidak atau hanya sedikit mengalami perombakan. Menurut Notohadiprawiro (1996 dalam Noor, 2001), luas lahan gambut di Indonesia sekitar 17 juta hektar. Lahan tersebut antara lain tersebar di Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Irian Jaya (Papua). Pembukaan lahan gambut di Indonesia selalu menimbulkan kontroversi yang disebabkan oleh sifat dan perilaku lahan gambut itu sendiri. Pemanfaatan tanah gambut untuk budidaya padi sawah dihadapkan pada beberapa masalah seperti tingkat kemasaman, status dan keseimbangan hara, serta tingginya kandungan asam-asam organik beracun bagi tanaman. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa ketersediaan silikat pada tanah gambut rendah. Selain itu tanaman padi yang tumbuh pada tanah gambut mengalami defisiensi Cu dan kehampaan gabah yang tinggi. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut antara lain drainase lahan gambut, pengapuran, penambahan unsur hara 2 makro dan mikro, penambahan bahan amelioran, penambahan tanah mineral berkadar besi tinggi dan lain-lain (Salampak, 1999). Menurut Yoshida (1981) rendahnya kandungan silikat pada tanaman padi menunjukkan gejala-gejala sebagai berikut : daun padi lemas dan merunduk, daun padi bagian bawah cepat layu dan mengering, terutama pada saat pembentukan malai, dan setelah malai terbentuk nampak bercak-bercak coklat pada bulir padi. Terak baja adalah produk sampingan dari proses pemurnian besi cair dalam pembuatan baja. Material ini bermanfaat bagi pertanian karena dapat digunakan sebagai bahan pengapuran untuk meningkatkan pH tanah masam ataupun sebagai sumber silikat bagi tanaman padi. Penggunaan terak baja dapat meningkatkan pH tanah, Ca dan Mg dapat dipertukarkan, dan meningkatkan ketersediaan Si dalam tanah (Suwarno dan Goto, 1997). 1.2. Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk : 1. Mempelajari dan mengevaluasi pengaruh terak baja terhadap sifat kimia tanah serta pertumbuhan dan produksi padi pada tanah gambut dari Kumpeh, Jambi, melalui percobaan rumah kaca 2. Mengevaluasi pengaruh terak baja terhadap efisiensi pupuk 3. Mengevaluasi pengaruh pemberian terak baja terhadap kandungan logam berat beracun dalam tanah dan gabah untuk kelayakan konsumsi beras 1.3. Hipotesis Hipotesis yang diajukan pada penelitian ini adalah : 1. Pemberian terak baja dapat mempercepat pertumbuhan dan meningkatkan produksi padi sawah pada tanah gambut dari Kumpeh, Jambi 2. Terak baja dapat mengurangi dosis dan penggunaan pupuk konvensional 3. Pemberian terak baja tidak berpengaruh terhadap kandungan logam berat beracun dalam tanah dan gabah 3 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tanah Gambut 2.1.1. Pengertian Tanah Gambut Gambut diartikan sebagai material atau bahan organik yang tertimbun secara alami dalam keadaan basah berlebihan, bersifat tidak mampat dan tidak atau hanya sedikit mengalami perombakan. Dalam pengertian ini, tidak berarti bahwa setiap timbunan bahan organik yang basah adalah gambut. Menurut Andriesse (1992, dalam Noor, 2001), gambut adalah tanah organik (organic soils), tetapi tidak berarti bahwa tanah organik adalah tanah gambut. Sebagian petani menyebut tanah gambut dengan istilah tanah hitam, karena warnanya hitam dan berbeda dengan jenis tanah lainnya. Tanah gambut yang telah mengalami perombakan secara sempurna sehingga bagian tumbuhan aslinya tidak dikenali lagi dan kandungan mineralnya tinggi disebut tanah bergambut (muck, peatymuck, mucky). Menurut Notohadiprawiro (1986), yang dinamakan gambut (peat) ialah endapan bahan organik sedenter (pengendapan di tempat), yang terutama terdiri dari atas sisa jaringan tumbuhan yang menumbuhi dataran rawa itu. Oleh karena bahan sisa nabati itu belum mengalami proses perombakan jauh, maka gambut masih jelas menampakkan bentuk jaringan asli yang menjadi asalnya. Apabila proses perombakan telah berjalan cukup jauh, sehingga bentuk jaringan aslinya sudah tidak tampak lagi dan sedikit banyak telah memperoleh kenampakan serba sama (homogen), maka bahan organik itu dinamakan sepuk (muck). 2.1.2. Kesuburan Tanah Gambut Kesuburan alamiah tanah gambut sangat beragam, tergantung pada beberapa faktor : (a) ketebalan lapisan tanah gambut dan tingkat dekomposisi, (b) komposisi tanaman penyusun gambut, dan (c) tanah mineral yang berada di bawah lapisan tanah gambut. Gambut di Indonesia umumnya dikategorikan pada tingkat kesuburan oligotrofik, yaitu gambut dengan tingkat kesuburan yang rendah. Kesuburan gambut 4 oligotrofik ini dijumpai pada gambut ombrogen, yaitu gambut pedalaman yang terdiri dari gambut tebal dan miskin unsur hara (Noor, 2001). Fleischer (dalam Driessen dan Soepraptohardjo, 1974) mengklasifikasikan kesuburan tanah gambut pada tiga tingkat kesuburan; oligotrofik (tingkat kesuburan rendah), mesotrofik (tingkat kesuburan sedang), dan eutrofik (tingkat kesuburan tinggi), dapat mengikuti kisaran kandungan beberapa unsur hara yang terdapat pada tanah gambut seperti berikut ini (Tabel 1). Tabel 1. Kriteria Tingkat Kesuburan Tanah Gambut (Fleischer, dalam Driessen dan Soepraptohardjo, 1974) Tingkat Kandungan hara (% bobot kering) Kesuburan N K2O P2O5 CaO Abu Eutrofik 2.50 0.10 0.25 4.00 10.00 Mesotrofik 2.00 0.10 0.20 1.00 5.00 Oligotrofik 0.80 0.03 0.05 0.25 2.00 Tabel 2. Kriteria Penilaian Tingkat Kesuburan Tanah Gambut (Tim IPB, 1976 dalam Prasetyo, 1996) Kriteria Penilaian Sifat Tanah Rendah Sedang Tinggi pH <4 4-5 >5 N-total < 0.2 0.2-0.5 > 0.5 P-tersedia < 20 20-40 > 40 K-tersedia < 0.39 0.39-0.78 > 0.78 Kandungan kation basa-basa (Ca, Mg, K, dan Na) umumnya terdapat dalam jumlah yang rendah terutama pada gambut tebal. Semakin tebal gambut, kandungan abu semakin rendah, kandungan Ca dan Mg menurun dan reaksi tanah menjadi lebih masam (Driessen dan Soepraptohardjo, 1974). Rendahnya ketersediaan kation-kation 5 basa dan tingginya kapasitas tukar kation (KTK) pada tanah gambut menyebabkan nilai kejenuhan basa (KB) yang rendah. Upaya untuk meningkatkan KB pada tanah gambut adalah dengan penambahan basa-basa atau dengan menurunkan nilai KTK tanah (Halim, 1987). Kandungan unsur mikro pada tanah gambut umumnya dalam jumlah yang sangat rendah, dan dapat menyebabkan gejala defisiensi bagi tanaman. Menurut Andriesse (1988), gugus karboksilat dan fenolat pada tapak pertukaran kation tanah gambut dapat membentuk ikatan kompleks dengan unsur mikro, sehingga unsur mikro menjadi tidak tersedia bagi tanaman. Selain itu, adanya reduksi yang kuat menyebabkan unsur mikro direduksi menjadi bentuk logamnya yang tidak bermuatan. Selanjutnya, Tan (1998) menyatakan bahwa pada tanah yang mengandung bahan organik tinggi, ketersediaan unsur mikro seperti Cu, Fe dan Mn sangat rendah karena diikat oleh senyawa-senyawa organik. 2.1.3. Kendala Utama Pemanfaatan Lahan Gambut Kendala kimia yang membatasi produktivitas lahan gambut adalah rendahnya ketersediaan hara dan tingginya kandungan asam-asam organik beracun bagi tanaman seperti asam-asam fenolat. Ameliorasi kemasaman tanah dengan pengapuran terbukti dapat meningkatkan pH tanah dan menekan aktivitas asam-asam fenolat. (Barchia, 2006) Menurut Noor (2001), pengembangan pertanian di lahan gambut tropik dihadapkan pada beberapa masalah, antara lain sebagai berikut. 1. Lahan gambut sebagian besar terhampar di atas lapisan pirit yang mempunyai potensi keasaman tinggi dan pencemaran dari hasil oksidasi seperti Fe, Al, dan asam-asam organik lainnya. Sebagian lahan gambut terhampar di atas lapisan pasir kuarsa yang miskin hara. 2. Lahan gambut cepat mengalami perubahan lingkungan fisik setelah direklamasi antara lain menjadi kering tak balik, berubah sifat menjadi hidrofob. 6 3. Kawasan gambut merupakan lingkungan yang mempunyai potensi jangkitan penyakit (virulensi) tinggi. Perkembangan organisme pengganggu tanaman (gulma, hama, dan penyakit tanaman) dan gangguan kesehatan manusia (malaria, cacing) cukup tinggi. 2.1.4. Klasifikasi Tanah Gambut Menurut Noor (2001), Sistem Klasifikasi Tanah (Soil Taxonomy) yang sering dijadikan acuan dalam tata nama tanah-tanah tropik adalah yang dikembangkan oleh Amerika Serikat. Dalam klasifikasi, tanah gambut dikelompokkan dalam ordo Histosol. Menurut sistem klasifikasi ini, disebut tanah gambut jika memenuhi kriteria sebagai berikut. 1. Jika dalam keadaan jenuh air dengan genangan dalam periode yang lama (sekalipun dengan adanya pengatusan buatan) dan dengan meniadakan akarakar tanaman hidup, mengandung : a. 18% bobot karbon organik (setara dengan 30% bahan organik) atau lebih jika mengandung fraksi liat (clay) sebesar 60% atau lebih, atau b. 12% bobot karbon organik (setara dengan 20% bahan organik) atau lebih jika tidak ada kandungan fraksi liat, atau c. 12% + (lempung dengan kelipatan 0,1 kali) persen bobot karbon organik atau lebih, jika mengandung fraksi liat <60%, atau 2. Jika tidak pernah tergenang, kecuali beberapa hari dan mengandung 20% bobot atau lebih karbon organik Sebaran kelas tebal gambut dalam ordo Histosol ialah 17% mempunyai tebal 25-50 cm, 20% dalam kelas 51-100 cm, 11% antara 101-150 cm, 5% antara 151-200 cm, dan 47% lebih tebal daripada 200 cm. Menurut taraf perombakannya, 36% bersifat fibrik (gambut mentah), 28% bersifat hemik (taraf perombakan sedang) dan 36% bersifat saprik, yaitu taraf perombakan terjauh dan sudah mencapai sifat sepuk (Notohadiprawiro, 1986). Tanah gambut adalah tanah yang : (1) tidak pernah terendam air selama lebih dari beberapa hari mengandung bahan organik 20% atau lebih, (2) pernah terendam 7 air untuk waktu lama atau yang telah didrainase mengandung (a) bahan organik 18% atau lebih jika fraksi lempungnya 60% atau lebih, (b) bahan organik 12%-18% jika fraksi lempung kurang dari 60%, dan bahan organik kurang dari 12% tanpa mengandung fraksi lempung. Tanah Organik digolongkan ke dalam Organosol, dimana di Indonesia secara umum dinamakan tanah Gambut (Veen, Peat). Jenis tanah ini mengandung bahan organik sedemkian banyaknya, sehingga tidak mengalami perkembangan profil ke arah terbentuknya horison-horison yang berbeda, berwarna coklat kelam sampai hitam, berkadar air tinggi dan bereaksi asam (pH 3-5) (Darmawijaya, 1990). Menurut Noor (2001), berdasarkan ketebalan lapisan bahan organiknya, gambut dipilah dalam empat kategori, yaitu gambut dangkal, tengahan, dalam, dan sangat dalam. 1. Gambut dangkal adalah lahan gambut yang mempunyai ketebalan lapisan bahan organik antara 50-100 cm. 2. Gambut tengahan adalah lahan gambut yang mempunyai ketebalan lapisan bahan organik antara 100-200 cm. 3. Gambut dalam adalah lahan gambut yang mempunyai ketebalan lapisan bahan organik antara 200-300 cm. 4. Gambut sangat dalam adalah lahan gambut yang mempunyai ketebalan lapisan bahan organik antara > 300 cm. 2.1.5. Usaha-Usaha Perbaikan Lahan Gambut Menurut Soepardi (1983), usaha-usaha yang dilakukan untuk perbaikan lahan gambut antara lain : 1. Drainase lahan gambut, penurunan dan pengendalian aras air untuk jangka waktu relatif lama sehingga memungkinkan aerasi pada daerah akar selama musim pertanaman 2. Pengelolaan struktur, tanah organik pada umumnya memerlukan pemadatan daripada penggemburan. Makin lama gambut diusahakan pemadatan makin penting. Pengelolaan cenderung merusak struktur semula, dan tanah 8 menjadi peka terhadap erosi angin. Untuk alasan itu suatu pemadat merupakan hal penting dalam pengelolaan tanah demikian. Pemadatan tanah organik memungkinkan akar berhubungan lebih dekat dengan tanah dan memungkinkan air naik dari bawah. 3. Penggunaan kapur, keadaan yang sangat masam menyebabkan pelarutan besi, aluminium, dan mangan sampai suatu tingkat sehingga mereka menjadi racun. Di bawah keadaan demikian, sejumlah besar kapur diperlukan untuk memperoleh pertumbuhan normal. 4. Unsur mikro, tanah gambut tidak hanya memerlukan kalium, fosfor, dan nitrogen, tetapi seringkali membutuhkan beberapa unsur mikro. Pada tanah gambut berkayu dari New York, penambahan tembaga sulfat berhasil menekan penyakit pada selada dan berhasil memberikan warna bawang yang diinginkan. Bukan hanya tembaga sulfat, garam mangan dan seng digunakan untuk memperbaiki keadaan fisiologik tanah gambut dan gambut yang telah melapuk lanjut. 2.2. Terak Baja Terak baja adalah produk sampingan dari proses pemurnian besi cair dalam pembuatan baja. Terdapat beberapa macam jenis terak baja, antara lain blast furnace slag, open-hearth slag, basic slag, converter slag, dan electric furnace slag. Materialmaterial ini bermanfaat bagi pertanian karena dapat digunakan sebagai bahan pengapuran untuk meningkatkan pH tanah masam ataupun sebagai sumber silikat bagi tanaman padi. Terak baja Indonesia (Indonesia Electric Furnace Slag) setiap tahunnya diproduksi sekitar 350.000 ton, tetapi belum ada yang digunakan untuk bidang pertanian. Penggunaan terak baja dapat meningkatkan pH tanah, Ca dan Mg dapat dipertukarkan, dan meningkatkan ketersediaan Si dalam tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terak baja Indonesia mengandung unsur-unsur sebagai berikut : 42% Fe2O3, 7.2 % Al2O3, 21.5 % CaO, 11.2 % MgO, 14.6 % SiO2 dan 0.4 % P2O5 (Suwarno dan Goto, 1997). 9 Pemberian terak baja telah meningkatkan pertumbuhan dan hasil padi terutama pada pengisian gabah pada tanah sawah (Suwarno dan Goto, 1997), jagung dan kedelai pada tanah gambut (Halim, 1983 dalam Barchia, 2002). Kation yang dominan dalam terak baja adalah Fe, Ca, Mg, Si, dan Al (Suwarno dan Goto, 1997). Memperhatikan kandungan kation-kation tersebut terak baja dapat dipakai sebagai alternatif bahan ameliorasi tanah gambut. 2.3. Tanaman Padi Menurut Yoshida (1981), tanaman padi pada umumnya memerlukan waktu 36 bulan dari fase perkecambahan hingga pemasakan, tergantung pada varietas dan lingkungan tempat padi itu tumbuh. Pertumbuhan tanaman padi dibagi menjadi tiga fase, yaitu fase vegetatif, reproduktif, dan fase pemasakan 1. Fase Vegetatif, meliputi pertumbuhan kecambah sampai dengan inisiasi primordia malai. Selama fase vegetatif anakan dan tinggi tanaman bertambah dengan cepat, serta daun tumbuh secara teratur. Anakan aktif ditandai dengan pertambahan anakan yang cepat sampai tercapainya anakan maksimum. Setelah anakan maksimum tercapai, sebagian dari anakan akan mati dan tidak menghasilan malai, yang dapat disebut sebagai anakan tidak efektif. 2. Fase Reproduktif, dimulai dari inisiasi primordia malai sampai berbunga. Ditandai dengan memanjangnya beberapa ruas teratas pada batang, yang sebelumnya tertumpuk rapat pada permukaan tanah. Di samping itu, fase reproduktif juga ditandai dengan berkurangnya jumlah anakan, munculnya daun bendera, bunting dan pembungaan. Inisiasi primordia malai biasanya dimulai 30 hari sebelum bunga. Pembungaan merupakan stadia keluarnya malai. Dalam suatu rumpun, fase pembungaan memerlukan waktu 10-14 hari. Antesis telah mulai setelah pembungaan atau 25 hari setelah bunting. 3. Fase Pemasakan, dimulai dari berbunga sampai masak panen. Ditandai dengan bobot jerami mulai turun, bobot gabah meningkat dengan cepat dan terjadi penuaan daun. Fase pemasakan terdiri dari masak bertepung, 10 menguning, dan masak panen. Periode yang dibutuhkan untuk fase ini sekitar 30 hari. 2.4. Silikat 2.4.1. Peranan Silikat pada Tanaman Terak baja Indonesia (Electric Furnace Slag) yang dapat digunakan sebagai pupuk silikat pada tanaman padi bermanfaat mengurangi persentase gabah hampa dan meningkatkan produksi padi pada tanah dengan ketersediaan Si yang rendah (Suwarno dan Goto, 1997). Peranan silikat pada tanaman padi antara lain adalah memelihara daun tetap tegak (Yoshida et al.,1969 dalam Suwarno dan Goto, 1997), meningkatkan pertumbuhan padi, memperkuat akar dan batang, meningkatkan bobot gabah, mempercepat pematangan bulir padi (De Datta,1981), dan meningkatkan ketahanan tanaman padi terhadap hama penyakit (Yoshida et al., 1962 dalam Suwarno dan Goto, 1997). Silikat mempunyai beberapa manfaat dalam pertumbuhan padi, antara lain melindungi tanaman dari serangan jamur dan serangga, memelihara daun tetap tegak, mengurangi kehilangan air akibat transpirasi melalui kutikula, meningkatkan toleransi tanaman terhadap berkurangnya tekanan osmosis pada perakaran medium, dan mengurangi pengambilan yang berlebihan pada Fe dan Mn (Yoshida, 1981). 2.4.2. Gejala Tanaman Kekurangan Silikat Yoshida (1975, dalam Yoshida, 1981) melakukan penelitian dan mendapatkan hasil bahwa tanaman padi yang tidak diberi tambahan silikat menunjukkan gejalagejala sebagai berikut : daun padi lemas dan menunduk, daun bagian bawah cepat layu dan mengering terutama pada saat pembentukan malai, pertumbuhan akar tidak normal dan setelah malai terbentuk nampak bercak-bercak coklat pada bulir padi. Yoshida (1975, dalam Yoshida, 1981) melaporkan bahwa tanaman yang kekurangan silikat kecepatan transpirasinya 33 % lebih besar dibandingkan dengan tanaman yang diberi tambahan silikat. Hal ini terjadi karena peningkatan transpirasi kutikuler di mana tanaman itu sendiri tidak dapat mengendalikannya, yang 11 disebabkan pengendapan silikat pada kutikula dan sel-sel epidermis rendah serta stomata lebih mudah terbuka. Dengan demikian, tanaman ini akan menderita stres air internal, jika ditempatkan pada lingkungan yang menyebabkan transpirasi meningkat dengan hebat atau serapan air sangat terganggu. Penelitian tentang fisiologi air secara jelas menunjukkan bahwa perpanjangan sel-sel tanaman sangat peka terhadap stres air internal. 2.5. Logam Berat Menurut Rahayu (1995, dalam Suendarti, 2004), logam berat adalah unsur- unsur kimia dengan bobot jenis lebih besar dari 5 g/cm3, terletak di sudut kanan bawah daftar berkala, mempunyai afinitas yang tinggi terhadap unsur sulfur dan biasanya logam berat bernomor atom 22 sampai 92 dari periode tiga sampai tujuh daftar susunan berkala. Soepardi (1983) menyatakan bahwa hingga batas tertentu logam berat sangat beracun bagi manusia atau binatang. Kadmium dan arsen sangat beracun; air raksa, timah, nikel, dan fluor mempunyai tingkat racun yang sedang; dan boron, tembaga, mangan, dan seng mempunyai tingkat racun terendah. Pemakaian logam berat sangat luas dan sangat penting, seperti untuk pereaksi atau katalis dalam berbagai proses industri. Hasil proses industri sangat penting artinya bagi kehidupan manusia, namun bersamaan dengan itu dihasilkan pula limbah yang tidak berguna, bahkan dengan jumlah tertentu dapat membahayakan kehidupan manusia. Salah satu zat yang terkandung dalam limbah adalah logam berat yang akan masuk ke lingkungan, seperti sungai, danau, tanah, udara dan dapat mengalami magnifikasi biologis pada tumbuhan dan hewan yang akan dikonsumsi manusia, sehingga dapat mempengaruhi kesehatannya (Darmono, 1995). Sutrisno dan Salirawati (1993, dalam Suendarti, 2004) menyatakan ada dua hal yang menyebabkan logam berat termasuk sebagai pencemar yang berbahaya, yaitu : a) tidak dihancurkan oleh mikroba yang hidup di lingkungannya, b) terakumulasi ke dalam komponen-komponen lingkungan. 12 III. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan melalui percobaan rumah kaca. Tanah gambut berasal dari Desa Arang-Arang, Kecamatan Kumpeh, Jambi, diambil pada bulan November 2009. Percobaan rumah kaca dilaksanakan di Kebun Percobaan Cikabayan, Institut Pertanian Bogor, sedangkan analisis tanah dan tanaman dilakukan di Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Percobaan rumah kaca berlangsung selama bulan Maret hingga Agustus 2010. 3.2. Bahan dan Alat Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi : Tanah gambut dalam yang berasal dari Kumpeh, Jambi. Contoh tanah (bulk sample) diambil dari kedalaman 0-20 cm. Sebagai sumber silikat digunakan terak baja berukuran kurang dari 2 mm, yang berasal dari PT Krakatau Steel, Cilegon. Pupuk yang diberikan meliputi urea, SP-18, KCl, dan pupuk mikro (CuSO4 dan ZnSO4). Tanaman padi yang digunakan adalah varietas Ciherang. Analisis tanah dan tanaman menggunakan beberapa bahan kimia. Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah : ember (digunakan sebagai pot), plastik, meteran, penggaris, hand sprayer, timbangan, jaring perangkap burung, kain kassa, bambu, dan beberapa peralatan untuk analisis tanah dan tanaman di laboratorium yaitu labu kjeldhal/digestion, destilator dan labunya, spectrophotometer , flamephotometer, atomic absorption spectrophotometer (AAS), serta peralatan lainnya. 13 3.3. Metode Penelitian 3.3.1. Rancangan Penelitian Percobaan pot di rumah kaca merupakan percobaan faktor tunggal dengan 14 perlakuan dan 4 ulangan sehingga jumlah satuan percobaan sebanyak 56. Perlakuan yang diberikan tertera pada Tabel 3. Rancangan yang dipakai adalah rancangan acak lengkap (RAL). Adapun model matematika rancangan percobaan ini adalah sebagai berikut : Y ij = μ + Pi + Eij di mana : Yij = Nilai pengukuran/pengamatan pada perlakuan ke i dan ulangan ke j Pi = Pengaruh perlakuan ke-i Eij = Galat Analisis statistik dengan menggunakan ANOVA (program SPSS 16) dan apabila berpengaruh nyata selanjutnya dilakukan analisis lanjutan dengan menggunakan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) atau uji wilayah Duncan pada taraf α = 5%. 3.3.2. 1. Percobaan Rumah Kaca Persiapan Inkubasi Penetapan kadar air tanah gambut didasarkan metode gravimetri. Pengeringan gambut dilakukan pada suhu 105° C selama 24 jam. Kadar air (KA) gambut dihitung sebagai berikut: Kadar Air ( KA ) = Bobot Tanah Awal – Bobot Kering Oven x 100 % Bobot Kering Oven Setelah diketahui kadar air, maka dapat ditentukan berapa kg tanah yang harus dimasukkan ke dalam pot untuk diinkubasi bersama terak baja. Bobot kering mutlak (BKM) telah ditentukan sebesar 3 kg/pot, sehingga tanah yang harus ditimbang (BKU) dihitung sebagai berikut : 14 BKU = (KA x BKM) + BKM Berdasarkan perhitungan tersebut didapatkan bobot tanah per pot yaitu 11.78 kg (kadar air = 292.67%). Terak baja diberikan dengan dosis 0, 1, 2, 3, 4, dan 5% atau 0, 30, 60, 90, 120, dan 150 g/pot, lalu diaduk bersama tanah dan diinkubasi dalam rumah kaca selama 1 bulan. Tabel 3. Dosis Pupuk yang Diberikan per Pot Perlakuan Terak Baja Urea SP-18 KCl CuSO4 ZnSO4 ....................................(g/kg).................................. 1. Kontrol 0 0 0 0 0 0 2. Standar 0 1.5 1.5 0.75 0.05 0.05 3. NPK 1 (50% Standar) 0 0.75 0.75 0.38 0 0 4. NPK 1 + 1% Slag 10 0.75 0.75 0.38 0 0 5. NPK 1 + 2% Slag 20 0.75 0.75 0.38 0 0 6. NPK 1 + 3% Slag 30 0.75 0.75 0.38 0 0 7. NPK 1 + 4% Slag 40 0.75 0.75 0.38 0 0 8. NPK 1 + 5% Slag 50 0.75 0.75 0.38 0 0 9. NPK 2 (75% Standar) 0 1.13 1.13 0.56 0 0 10. NPK 2 + 1% Slag 10 1.13 1.13 0.56 0 0 11. NPK 2 + 2% Slag 20 1.13 1.13 0.56 0 0 12. NPK 2 + 3% Slag 30 1.13 1.13 0.56 0 0 13. NPK 2 + 4% Slag 40 1.13 1.13 0.56 0 0 14. NPK 2 + 5% Slag 50 1.13 1.13 0.56 0 0 2. Penanaman dan Pemeliharaan Penanaman dengan menggunakan bibit yang telah berumur 21 hari. Setiap pot ditanami sebanyak 2 batang bibit padi. Pupuk yang diberikan berupa urea, SP-18, KCl dan pupuk mikro (CuSO4 dan ZnSO4). Pupuk SP-18 diberikan seluruhnya saat tanam, urea diberikan tiga kali dengan rincian 1/3 bagian saat tanam, 1/3 bagian pada saat tanaman berumur 21 hari setelah tanam, 1/3 bagian pada saat tanaman berumur 35 hari setelah tanam, dan KCl diberikan dua kali dengan dosis masing-masing ½ 15 bagian pada saat tanam dan ½ bagian pada saat tanaman berumur 35 hari setelah tanam. Dalam percobaan ini tidak dilakukan penyemprotan pestisida, karena gejala penyakit pada tanaman tidak diamati. Tinggi air genangan disesuaikan dengan kondisi di lapang, sehingga setiap 2-3 hari sekali pot disiram hingga tinggi air genangan mencapai 2.5-5 cm dari permukaan tanah. Setelah malai mulai tumbuh, jaring perangkap burung dipasang untuk menghindari serangan burung pada rumah kaca sehingga malai tidak dimakan oleh burung. 3. Pengamatan Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah variabel pertumbuhan vegetatif dan produksi. Variabel pertumbuhan tanaman yang diamati terdiri dari : tinggi tanaman, jumlah anakan maksimum, dan anakan produktif. Pengukuran tinggi tanaman dilakukan dengan mengukur tinggi tanaman mulai dari permukaan tanah sampai dengan ujung daun tertinggi setelah diluruskan. Variabel produksi tanaman yang diukur terdiri dari bobot gabah kering panen (BGKP), bobot gabah kering giling (BGKG), bobot kering gabah bernas (BKGB), dan persentase gabah hampa (GH). 4. Pemanenan Panen dilakukan pada saat tanaman berumur 15 dan 16 minggu. Pemanenan tidak dilakukan secara serempak, karena pemasakan malai tiap perlakuan berbeda. Sebagian tanaman yang dipanen pada minggu ke-15 adalah perlakuan terak baja, karena lebih cepat matang. Pada saat pemanenan, pematangan yang tidak merata juga terjadi dalam satu pot, sehingga harus dilakukan panen dua kali. Gabah yang telah dipanen dipisahkan dari malai yang kemudian ditimbang sebagai bobot gabah kering panen. Selanjutnya gabah dijemur selama sehari, dan ditimbang untuk bobot gabah kering giling. Setelah itu, dilakukan pemisahan antara gabah bernas dan gabah hampa dan ditimbang masing-masing bobotnya. Biomassa tanaman yang berupa akar, daun, dan batang dicuci hingga bersih untuk dilakukan analisis tanaman. Setelah panen, contoh tanah yang terdapat dalam pot diambil untuk dilakukan analisis tanah. Pengambilan contoh tanah menggunakan pipa paralon kecil, diambil 16 kurang lebih dua titik yang terletak berjauhan. Kemudian contoh tanah tersebut dikering udara selama 3 hari untuk ditetapkan kadar airnya. Analisis tanah yang dilakukan antara lain analisis pH H2O, basa-basa Ca-dd, Mg-dd, Na-dd dan K-dd dengan pengekstrak NH4OAc, unsur mikro Fe, Mn, Cu, dan Zn tersedia, dan kandungan logam berat beracun timbal (Pb), kadmium (Cd), timah (Sn), Arsen (As), dan merkuri (Hg) tersedia. Analisis yang dilakukan pada biomassa tanaman berupa jerami meliputi : penetapan kadar hara N, P, K, Ca dan Mg total, unsur mikro Cu dan Zn total, dan kandungan logam berat beracun Pb, Cd, Sn, As, dan Hg total pada gabah. 3.4. Metode Penilaian Efisiensi Pupuk dan Persentase Hasil Produksi Metode perhitungan efisiensi pupuk digunakan untuk menilai sampai sejauh mana tanaman dapat memanfaatkan unsur hara yang telah diserap untuk berproduksi lebih tinggi tanpa menambah hara yang diperlukan, dimana formulanya sebagai berikut. Efisiensi Pupuk (%) = Serapan Hara Perlakuan – Serapan Hara Kontrol Dosis Pupuk yang Diberikan x 100% Produksi relatif menunjukkan perbandingan persentase hasil produksi tanaman padi antara standar dengan kontrol dan semua perlakuan. Penilaian produksi relatif adalah sebagai berikut. Produksi Relatif (%) = Produksi Perlakuan x 100% Produksi Standar 3.5. Metode Analisis Logam Berat Tanah dan Tanaman 3.5.1. Analisis Logam Berat Pb, Cd, As, Hg, dan Sn tersedia pada Tanah Alat dan Bahan : 1. Contoh Tanah 2. Timbangan 3. Botol film 17 4. Mesin pengocok 5. Kertas saring 6. Corong 7. HCl 0,05 N 8. Tabung kocok Cara Kerja : Contoh tanah kering udara ditimbang sebanyak 5 g dan dimasukkan ke dalam tabung kocok. Kemudian ditambahkan 20 ml HCl 0,05 N, dan dikocok selama 30 menit dengan menggunakan mesin pengocok. Selanjutnya, larutan tanah tersebut disaring dan ditampung ke dalam botol film. Pengukuran : Hasil ekstrak jernih diukur dengan AAS menggunakan deret standar masing-masing logam berat sebagai pembanding. Perhitungan : Kadar logam berat (ppm) = ppm kurva x ( ml ekstrak )/( 1.000 ml ) x 1000 g ( g contoh )-1 x fk Keterangan : ppm kurva = kadar contoh yang didapat dari kurva hubungan antara kadar deret standar dengan pembacaannya setelah di koreksi blangko 1000 = faktor konversi ke ppm fk = faktor koreksi kadar air 3.5.2. Analisis Logam Berat Pb, Cd, As, Hg, dan Sn total pada Tanaman Alat dan Bahan : 1. Gabah 2. Asam Nitrat 3. Larutan Perklorat HClO4 18 4. Blok digestion 5. Tabung digestion 6. Botol film 7. Aquades 8. Corong 9. Labu ukur 50 ml Cara Kerja : Contoh gabah yang telah dikupas dan ditumbuk halus menjadi tepung, ditimbang sebanyak 0,5 g, kemudian dimasukkan ke dalam tabung digestión. Selanjutnya, ditambahkan campuran asam nitrat dan perklorat dengan perbandingan 2 : 1 sebanyak 5 ml, lalu didiamkan semalam. Destruksi dilakukan selama 1½ jam pada suhu 150° C, kemudian ditambahkan HCl 6 N 1 ml. Larutan pada tabung digestión dipanaskan kembali selama ½ jam, dan suhu dinaikkan menjadi 230 oC. Setelah itu, tabung diangkat dan ditunggu hingga panas berkurang, kemudian ditampung ke dalam labu ukur 50 ml, dan ditambahkan aquades sampai dengan tanda tera. Pengukuran : Hasil ekstrak jernih diukur dengan AAS menggunakan deret standar masing-masing logam berat sebagai pembanding. Perhitungan : Kadar logam berat (ppm) = ppm kurva x ( ml ekstrak )/( 1.000 ml ) x 1000 g( g contoh )-1 x fk Keterangan : ppm kurva = kadar contoh yang didapat dari kurva hubungan antara kadar deret standar dengan pembacaannya setelah di koreksi blangko 1000 = faktor konversi ke ppm fk = faktor koreksi kadar air 19 IV. 4.1. HASIL DAN PEMBAHASAN Komposisi Hara pada Terak Baja Komposisi hara pada terak baja ditunjukkan pada Tabel Lampiran 1. Kandungan silikat pada terak baja sangat tinggi yaitu sebesar 14.6%. Hal ini menunjukkan bahwa terak baja merupakan salah satu pupuk silikat. Selain itu, pH terak baja juga cukup tinggi yaitu 11.1. Kadar CaO, MgO, MnO2 dan Fe2O3 juga terdapat dalam jumlah yang besar pada terak baja. Kandungan basa-basa dan unsur mikro pada terak baja yang cukup tinggi diharapkan dapat meningkatkan pH dan kesuburan tanah sehingga pertumbuhan dan produksi tanaman menjadi lebih baik. 4.2. Pengaruh Terak Baja terhadap Sifat Kimia Tanah 4.2.1. pH dan Basa-Basa Dapat Dipertukarkan Hasil analisis ragam (Tabel Lampiran 2, 3, dan 4) menunjukkan bahwa pemberian terak baja sangat nyata pengaruhnya meningkatkan pH tanah dan kandungan basa-basa Ca dan Mg

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Respon Sifat Kimia, Bio-Kimia Tanah Sawah, Serapan Hara Dan Produksi Tanaman Padi (Oryza Sativa, L) Terhadap Pemberian Jerami Pada Sistem Tanam Budidaya Lokal Dan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT)
0
49
129
Perubahan Sifat Kimia Tanah Sawah, Pertumbuhan Dan Produksi Padi (Oryza Sativa L.) Akibat Aplikasi Jerami Cacah Dan Pupuk Kandang Sapi Dengan Sistem Sri
1
57
81
Respons Pertumbuhan Dan Produksi Beberapa Varietas Padi (Oryza sativa L.) Akibat Pemberian Amandemen Bokashi Jerami Dan Pemupukan Spesifik Lokasi Pada Tanah Salin
1
34
155
Pertumbuhan Dan Produksi Beberapa Varietas Padi Gogo (Oryza Sativa L.) Pada Jarak Tanam Dan Persiapan Tanah Yang Berbeda
0
43
187
Pertumbuhan Dan Produksi Beberapa Varietas Padi Sawah (Oryza Sativa L.) Pada Pwersiapan Tanah Dan Jumlah Bibit Yang Berbeda
5
55
131
Perubahan Beberapa Sifat Kimia Tanah Gambut, Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Padi (Oryza sativa L.) Akibat Pemberian Air Laut dan Bahan Mineral
26
389
96
Pengaruh Berbagai macam Bahan Organik terhadap Pertumbuhan dan Produksi Padi (Oryza sativa L.) Vatietas IR-36 serta Sifat Kimia Tanah pada Latosol Darmaga
0
3
122
Pengaruh Pemberian Terak Baja Dengan dan Tanpa Penambahan Bahan Humat terhadap Produksi Padi dan Sifat-sifat Kimia Tanah
1
12
93
Pengaruh Electric Furnace Slag, Silica gel dan Unsur Mikro terhadap Sifat Kimia Tanah Serta Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Padi Sawah (Oryza sativa L.) pada Tanah Gambut dari Kumpeh, Jambi
0
5
133
Pengaruh Terak Baja terhadap Sifat-Sifat Kimia Tanah Sulfat Masam dan Produksi Padi (Oryza sativa L.)
2
10
105
Pengaruh Trass dan Kombinasinya dengan Abu Volkan terhadap Sifat Kimia Tanah dan Pertumbuhan Padi pada Tanah Gambut dari Kumpeh, Jambi
0
4
43
Pengaruh Residu Electric Furnace Slag, Dolomit, dan Unsur Mikro terhadap Sifat Kimia Tanah serta Pertumbuhan dan Produksi Padi Sawah Tanaman Kedua pada Tanah Gambut.
0
3
48
PENGARUH PEMBERIAN ABU SEKAM PADI TERHADAP SIFAT KIMIA TANAH DAN PRODUKSI VARIETAS PADI (Oryza sativa L.) DENGAN BERBAGAI TINGKAT TOLERANSI PADA TANAH GAMBUT.
0
0
6
Perubahan Beberapa Sifat Kimia Tanah Gambut, Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Padi (Oryza sativa L.) Akibat Pemberian Air Laut dan Bahan Mineral
0
0
28
Perubahan Beberapa Sifat Kimia Tanah Gambut, Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Padi (Oryza sativa L.) Akibat Pemberian Air Laut dan Bahan Mineral
0
0
14
Show more