Feedback

Infestasi Gulma pada Agroekologi yang Berbeda di Perkebunan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Tambusai Estate, Kab. Rokan Hulu, Riau

Informasi dokumen
i    INFESTASI GULMA PADA AGROEKOLOGI YANG BERBEDA DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT TAMBUSAI ESTATE, PT. PANCA SURYA AGRINDO, KAB. ROKAN HULU, RIAU RATIH LARASATI A24080149 DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012 Infestasi Gulma pada Agroekologi yang Berbeda di Perkebunan Kelapa Sawit Tambusai Estate, PT. Panca Surya Agrindo, Kab. Rokan Hulu, RIAU Weeds infestations on Different Agroecologi of Oil Palm Plantations Tambusai Estate (Elaeis guieensis Jacq.), PT. Panca Surya Agrindo, Rokan Hulu Distric, Riau Ratih Larasati1, Edi Santosa2 1 2 Mahasiswa Departemen Agronomi dan Hortikultura Faperta IPB Staff Pengajar Departemen Agronomi dan Hortikultura Faperta IPB Abstract Weed control in oil palm plantation can improve the productivity of oil palm trees. This in was carried out internship Tambusai Estate, Rokan Hulu, Riau, from February to May 2012. The objective of this apprentice was to improve the knowledge, skills, work experience and analyze factors that affect weed dynamic in different agroecological areal at oil palm plantation. Data were collected by direct method for primary data and indirect method for secondary data. Data of weed were collected using vegetation analysis of 1 m x 1m kuadran. The number of samples were 264. Weed were scored and tested using cluster analysis and shown as a dendogram. The results showed that agro-ecological factors, especially soil subgroup determined weed population and dominance in Tambusai Estate. Weed invasion on palm oil plantation spread based on the nature of the morphology, botany, and nature of damage to plants as well as palm oil is the difference in the form agroekologi subgroup of land. The humid soil conditions is an optimum for weeds Asystasia intrusa (Forssk.) Blume., Nephrolepsis bisserata (Sw.) Schott, and various kinds of other ferns which is the dominant weeds in Tambusai Estate. Key words: Agroecological, sum of dominance ratio, weed analysis, weed control   RINGKASAN RATIH LARASATI. Infestasi Gulma pada Agroekologi yang Berbeda di Perkebunan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Tambusai Estate, Kab. Rokan Hulu, Riau (Dibimbing oleh EDI SANTOSA). Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) merupakan salah satu komoditas perkebunan yang memiliki prospek agrobisnis yang sangat cerah. Selain itu, komoditas ini merupakan salah satu penyumbang devisa terbesar di Indonesia. Luas pertanaman dan produksi perkebunan kelapa sawit di Indonesia meningkat setiap tahunnya. Pada perkebunan kelapa sawit, kegiatan pemeliharaan penting untuk mempertahankan produksi dan kualitas produk kelapa sawit yang dihasilkan. Salah satu kegiatan pemeliharaan adalah pengendalian gulma. Pengendalian gulma pada perkebunan kelapa sawit bertujuan untuk menekan populasi pesaing tanaman budidaya dan memudahkan dalam pekerjaan pemanenan hasil tanaman budidaya. Kegiatan magang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan melatih keterampilan mengenai teknik budidaya kelapa sawit, menambah pengalaman kerja, serta mendalami proses kerja secara nyata di perkebunan. Penulis secara lebih khusus dapat meningkatkan pemahaman dan keterampilan teknis tentang pemeliharaan tanaman kelapa sawit terutama di dalam pengendalian gulma kelapa sawit serta menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi infestasi dan dominansi gulma di perkebunan kelapa sawit. Pada pelaksanaannya, pengumpulan data dilakukan dengan metode langsung (primer) maupun tidak langsung (sekunder). Data secara langsung diperoleh melalui pengamatan pada saat bekerja di lapangan. Data yang diamati yaitu: 1). Evaluasi pengendalian gulma dengan prinsip 5 tepat (tepat dosis, waktu, jenis, cara, dan konsentrasi), 2). Kalibrasi alat semprot, 3). Kalibrasi waktu penyemprotan gulma, dan 4). Pola penyebaran gulma. Pengambilan data gulma di Tambusai Estate dilakukan dengan cara pengambilan sampel gulma (inventarisasi gulma). Sampel gulma diambil secara acak pada tiap 15 afdeling. Setiap afdeling diambil 3 blok, dan pada masingmasing blok diambil 6 petak contoh. Pengambilan peta contoh ini berdasarkan ii   tahun tanam kelapa sawit dengan menggunakan kuadran 1m x 1m, sehingga sampel yang diambil menjadi 264 buah sampel. Kegiatan pemeliharaan di Tambusai Estate sudah cukup terorganisasi dengan baik. Namun demikian, perlu ditingkatkan pengawasan pemeliharaan terutama agar sesuai dengan standar pemeliharaan gulma yang telah ditetapkan perusahaan. Perbaikan tersebut meliputi peningkatan skill mandor maupun peningkatan kemampuan pekerja penyemprotan dalam memahami SOP penyemprotan. SOP penyemprotan di Tambusai Estate meliputi: 1). Penyemprotan herbisida di dalam piringan radius 2.5 cm, 2). Tinggi semprotan 30-40 cm dan tinggi babat gawangan 10 cm, 3). Dosis yang digunakan sesuai dengan rekomendasi riset, 4). Penggunaan alat semprot harus sesuai dengan rotasi, dosis, dan kerapatan gulma yang ada, dan 5). Tidak menyemprot areal tapal batas sungai (radius 2 m dari bibir sungai). Perbaikan kedua meliputi kalibrasi alat sebelum melakukan penyemprotan, dan ketiga adalah meningkatkan ketersediaan tenaga kerja sesuai dengan kebutuhan pekerjaan pemeliharaan. Berdasarkan pengamatan di Tambusai Estate, gulma yang dominan adalah gulma Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. dan Nephrolepsis bisserata (Sw.) Schott. Gulma yang memiliki dominansi tertinggi adalah gulma pakis-pakisan, gulma ini memiliki adaptasi yang tinggi terhadap ekologi, distribusi luas, pertumbuhan kembali (regrowth) yang sangat cepat, dan dapat tumbuh di lokasi dengan intensitas cahaya tinggi maupun rendah. Gulma pakis-pakisan yang menempel pada pohon sawit walau tidak terlalu berbahaya, tetapi perlu di dikendalikan karena dapat menahan berondolan sehingga tidak terlihat. Hasil analisis menunjukkan sebelas kriteria gulma yang menyerang perkebunan dibagi menjadi tiga grup yaitu grup A, B, dan C. Grup A cenderung mengelompok berdasarkan karakteristik morfologi gulma. Grup B mengelompok berdasarkan karakteristik gulma yang memiliki sifat merusak bagi tanaman kelapa sawit dan Grup C mengelompok berdasarkan karakteristik botani gulma tersebut. Pada kemiripan 55%, terdapat 6 sub grup gulma yaitu subgrup A1, A2, B1, B2, C1, dan C2. Sub grup A1 memiliki 2 karakteristik yaitu 1) Karakteristik sulitnya pengendalian gulma menggunakan herbisida dan 2) Biaya pengendalian mahal. Gulma yang termasuk ke dalam sub grup ini adalah gulma Melastoma affine D. iii   Don, Stachytarpheta indica Vahl.,dan Chromolaena odorata (L.) King and H.E.Robins. Sub grup A2 adalah sub grup dengan karakteristik: 1) Ketahanan terhadap kekeringan dan 2) Mengganggu bagi pekerja panen, dengan contoh gulma Mimosa invisa Mar., Mimosa pigra L. dan Passiflora foetida L. Sub grup B1 memiliki 2 karakteristik berupa distribusi gulma yang luas dan dapat merusak tanaman budidaya dengn jenis gulma Asystasia intrusa (Forssk.) Blume., Nephrolepsis biserrata (Sw.) Schott., dan Stenochlaena palustris Bedd. Karakteristik gulma yang memiliki potensi sebagai inang HPT merupakan karakteristik subgrup B2 dengan contoh gulma Paspalum conjugatum P.J. Berg., Leptochloa chinensis (L.) Ness., dan Euphorbia hirta L. Selanjutnya karakteristik untuk subgrup C1 adalah karakteristik pertumbuhan gulma yang cepat “ regrowth” atau suksesi yang cepat dan memiliki karakteristik propagul yang mudah terbawa oleh pekerja panen. Dicranopteris linearis (Burm. f. Underw)., Centotheca lappacea (L.) Desv., Gleichenia linearis (Burm. F.) C. B. Clarke., dan Imperata cylindrica (L.) Beauv., Subgrup C2 adalah karakteristik gulma yang tahan terhadap genangan dan memiliki perbanyakan masal. Contoh gulma yang termasuk ke dalam subgrup ini adalah gulma Caladium tuberosum (S. Moore) Bogner M., Chromolaena odorata (L.) King and H.E.Robins., Clidemia hirta (L.) D. Don., Eleusine indica (L. ) Gaertn., dan Pteridium aquilinum (L.) Kuhn. Faktor agroekologi tanah di Tambusai Estate juga mempengaruhi sebaran serangan gulma. Kondisi tanah lembab merupakan tempat yang optimum bagi gulma Asystasia intrusa (Forssk.) Blume., Nephrolepsis bisserata (Sw.) Schott., dan berbagai jenis tumbuhan paku lainnya. Hal ini yang menyebabkan gulma diatas menjadi gulma dominan dengan NJD rata-rata sebesar 23% setelah dilakukan inventarisasi gulma di wilayah Tambusai Estate. iv   INFESTASI GULMA PADA AGROEKOLOGI YANG BERBEDA DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT TAMBUSAI ESTATE, PT. PANCA SURYA AGRINDO, KAB. ROKAN HULU, RIAU Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor RATIH LARASATI A24080149 DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012 v   Judul : INFESTASI GULMA PADA AGROEKOLOGI YANG BERBEDA DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT TAMBUSAI ESTATE, KAB. ROKAN HULU, RIAU Nama : RATIH LARASATI NIM : A24080149 Menyetujui, Pembimbing Dr. Ir. Edi Santosa, M.Si NIP. 19700520 1996011 001 Mengetahui, Ketua Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor Dr. Ir. Agus Purwito, MSc.Agr NIP. 19611101 198703 1 003 Tanggal Lulus: vi     RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Desa Bajubang, Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi pada tanggal 25 Januari 1990. Penulis merupakan anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Bapak Supriyono dan Ibu Eny Ridaryati. Penulis lulus dari SD YKPP Bajubang pada tahun 2002, kemudian melanjutkan studi ke SLTP N 2 Batanghari selama 6 bulan pada tahun 2002, dan meneruskan pendidikan di SLTP N 7 Kota Jambi pada tahun yang sama hingga lulus SLTP pada tahun 2005. Setelah lulus dari SLTP penulis melanjutkan ke SMA N 1 Kota Jambi dan menyelesaikan studi pada tahun 2008. Pada tahun yang sama penulis diterima di Institut Pertanian Bogor, Program Studi Agronomi dan Hortikultura melalui jalur seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN). Selama kuliah, penulis aktif di berbagai organisasi mahasiswa: 1). Tahun 2008/2009 sebagai anggota UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) Gentra Kaheman dan UKM Volly IPB, 2). Tahun 2010/2011 sebagai bendahara divisi PSDM (Pengembangan Sumberdaya Masyarakat) DPM A (Dewan Perwakilan Mahasiswa) Faperta IPB, 3). Tahun 2011/2012 sebagai anggota divisi syar FKRD A (Forum Kerohanian Rohis Departemen) Faperta IPB, 4). Panitia IAC (IPB Art Contest), dan kepanitian lain di Departemen Agronomi dan Hortikultura. Selain itu, penulis aktif dalam kegiatan luar kampus yaitu sebagai anggota divisi seni dan budaya HIMAJA (Himpunan Mahasiswa Daerah Jambi). Penulis pernah mengikuti Program Goes to Field pada tahun 2010. vii     KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melindungi dan melimpahkan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Infestasi Gulma pada Agroekologi yang Berbeda di Perkebunan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Tambusai Estate, Kab. Rokan Hulu, Riau”. Skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian di Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada: 1. Ayahanda Supriyono, ibunda Eny Ridaryati, kakak Tika Fajar Wulandari, adik Bimo Bhirawa Annoraga dan semua keluarga yang memberikan dukungan selama pendidikan. 2. Dr. Ir. Edi Santosa, M.Si. selaku dosen pembimbing skripsi yang telah banyak memberikan bimbingan dan saran dalam proses magang dan akademik sampai dengan penyusunan skripsi ini. 3. Dr. Ir. Ni Made Armini Wiendi, MSc selaku dosen pembimbing akademik yang telang banyak membantu dan memberi saran selama proses pendidikan penulis di Institut Pertanian Bogor. 4. Dr. Dwi Guntoro, M.Si dan Dr. Ir. Herdhata Agusta, MS sebagai dosen penguji yang memberikan bimbingan dan saran dalam perbaikan penulisan skripsi ini. 5. Direksi First resources yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan kegiatan magang, H. Juwahir, SP (General manager), Patria Darma, SP dan Gita Mustika, SE (Deputy I dan II) selaku staf tertinggi di Tambusai Estate yang telah memperlancar pelaksanaan dan juga H. Sihotang asisten afdeling VIII selaku pembimbing lapangan, Hasnan, SP Field manager Tambusai Estate dan semua keluarga di afdeling VIII (Pak Livontus, Suhardi, Budi, Subadi, Pakde, Bu Ani, Pak Ca’mat, Pak Yusuf) serta seluruh staf laboratorium, staf umum dan karyawan Tambusai Estate yang memberikan arahan teknis lapangan. 6. Sahabat terbaikku (Pipit, Wulan, Dinda, Alma, Ryanda dan Hesti) atas kenangan dan pengalaman tidak terlupakan selama di IPB. Teman-teman viii     INDIGENOUS 45 yang sangat dicintai, tim magang First resources IPB’12 (Yelli yang setia menemani analisis vegetasi gulma), Wahyu, Rani, Ika dan Dimas), penghuni wisma lestari (Dian, Kak Meri, Kak Novi, Kak Ana, dan Kak Esy) atas kenangan yang tak terlupakan, teman-teman KKP’11 (Erick, Syakir, Winda, Santi, Miftah, dan Mae), penghuni pondok iswara (Fya, mbak Julia, mbak wie, mbak ulfa), teman se - PS (Lisna dan Irvanda) yang selalu membantu dan menemani mengerjakan tugas akhir, kakak Eky Perdana, SP atas semangat dan dukungannya, teman sekamar 367 (Arin, Sasti, dan Azza) yang sangat kusayang, serta Lodeh (lorong 8 TPB) yang setia menemani dari asrama sampai sekarang. Bogor, Oktober 2012 Penulis ix     DAFTAR ISI DAFTAR TABEL…………………..……………………………………... Hal xii DAFTAR GAMBAR……………….……………………….…………….. xiv DAFTAR LAMPIRAN……………………………………………...…….. xvii PENDAHULUAN………………………………...………………………. Latar Belakang……………………….…………………………......... Tujuan Magang………………………….…………………………… Hipotesis………………………………………………………........... 1 1 2 3 TINJAUAN PUSTAKA……………………………………………............ Botani Kelapa Sawit……………………………………………......... Syarat Tumbuh………………………...……………………………... Gulma ……………………………..………………...…………......... 4 4 5 5 BAHAN DAN METODE………………………………………….………. Waktu dan Tempat…………………………………………………… Metode Pelaksanaan……………………………………………......... Pengamatan dan Pengumpulan Data………………………………… Analisis Data ………………………………………………………... 7 7 7 9 10 KEADAAN UMUM …………………………………………………........ Letak Wilayah Administratif…………………………….................... Keadaan Iklim dan Tanah………………………………..…………. Areal Konsesi dan Tata Guna Lahan…………………………........... Keadaan Tanaman dan Produksi…………………………………… Struktur Organisasi Perusahaan dan Ketenagakerjaan…………… . 12 12 12 13 14 16 ASPEK MANAJERIAL………………………………………………….. Pendamping Mandor……………………………………………....... Pendamping Asisten Afdeling…………………………………… 21 21 24 ASPEK TEKNIS…………………………………………………………. Pengendalian Gulma………………………………………………... Pemupukan…………………………………………………………. Panen……………………………………………………………...... Pengolah Minyak Kelapa Sawit……………………………………. 25 25 35 51 63 ASPEK KHUSUS…………………….......................................................   Evaluasi Pengendalian Gulma…………………………........................ Kalibrasi Alat Semprot dan Waktu Penyemprotan…………………... Penyebaran Infestasi Gulma……………………………………….. NJD (Nisbah Jumlah Dominansi Gulma)………………………….......   Pengendalian Asystasia intrusa dan Suksesi Cleome rutidosperma.. 74 74 75 81  94 104 x     KESIMPULAN……………………………....………………………... 109 Kesimpulan………………………………………………………. Saran…………………………………………………………….. 109 109 DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………. 110 LAMPIRAN…………………………………………………………… 113 xi     DAFTAR TABEL Nomor Hal 1. Sebaran pengambilan sampel gulma di Tambusai Estate…………… 10 2. Luas areal kebun di Tambusai Estate………………………………. 14 3. Populasi tanaman kelapa sawit berdasarkan tahun tanam di Tambusai Estate……………………………………………………… 15 4. Produksi dan produktivitas Tambusai Estate………………………... 15 5. Jumlah karyawan staf dan non-staf Tambusai Estate tahun 2012…... 18 6. Daftar premi perawatan tanaman di Tambusai Estate……………….. 25 7. Daftar penyesuaian harga perawatan……………………………….... 26 8. Rekomendasi takaran pupuk sesuai dosis kg / pohon………………... 38 9. Rekomendasi takaran pupuk berdasarkan jumlah untilan………….... 38 10.Rekomendasi supply point ……………….......................................... 39 11.Persentase kandungan hara janjang kosong tiap ton.....……………. 45 12.Harga pupuk , Maret 2012……………………………………..……… 49 13.Kriteria buah matang berdasarkan berondolan……………………… 53 14.Daftar perhitungan denda pemanen, mandor panen, dan kerani panen………………………………………………………………….. 54 15.Peta kaveld panen afdeling VIII di Tambusai Estate……………….... 56 16.Deskripsi alat-alat panen…………………………………………….. 58 17.Daftar premi pemanen……………………………...………………... 59 18.Evaluasi lima tepat metode pengendalian gulma…………………….. 74 19.Kalibrasi alat penyemprotan Tambusai Estate afdeling VIII………… 76 20.Kalibrasi waktu penyemprotan pada piringan………………………... 80 21.Lokasi penyebaran gulma di Tambusai Estate……………… ……........ 82 22.Indeks tingkat mengganggu dan infestasi gulma di perkebunan kelapa sawit………………………………………………………………....... 84 xii     23.Hasil evaluasi indeks kriteria infestasi gulma di Tambusai Estate....... 86 24.Hasil analisis pengelompokkan berdasarkan tingkat kemiripan sebelas variabel berupa kriteria gulma yang menginfentasi perkebunan…………………………………………………………... 87 25. Perbedaan agroekologi berupa sub grup tanah ……………………… 91 26. Penyebaran gulma berdasarkan karakteristik gulma dan perbedaan agroekologi…………………………………………………………. 92 27.Nilai kerapatan, bobot kering, NJD, dan frekuensi gulma pada blok N20 afdeling VIII Tambusai Estate…………………………….. 95 28.Nilai kerapatan, bobot kering, NJD, dan frekuensi gulma pada blok X5 afdeling XII Tahun Tanam 2006……………………… 96 29.Gulma yang tumbuh dominan di Tambusai Estate…………………… 98 30.Pengamatan pengendalian Asystasia intrusa dan Centotheca lappacea pada blok N20………………………...………... 106 xiii     DAFTAR GAMBAR Nomor Hal 1. Peta pengambilan gulma di Tambusai Estate……………….…………. 9 2. Struktur organisasi di Tambusai Estate ……………………..………… 19 3. Struktur organisasi tingkat afdeling VIII di Tambusai Estate…………. 20 4. Babat gawangan di Tambusai Estate…………………………………... 26 5. Kegiatan dongkelan anakan kelapa sawit di Tambusai Estate: a). Kegiatan DAK (tukulan), b). Tempat anak kayu diletakan setelah didongkel (anjang-anjang………… …………………………... 27 6. Bahan dan kegiatan pengendalian gulma secara kimiawi: a). Bahan herbisida (amiron + metil metsulfuron) yang digunakan di Tambusai Estate , b). Kegiatan penyemprotan di pinggir collection road di Tambusai Estate………………………..... 28 7. Cara kerja penyemprotan dalam blok di Tambusai Estate……………... 31 8. Tim pengendalian gulma secara kimia yang dilengkapi dengan APD: a). Penggunaan APD (alat pelindung diri) bagi karyawan, b). Sarung tangan dan sepatu merupakan alat yang wajib digunakan di Tambusai Estate….............................................................................. 32 9. Gulma bermanfaat pada tanaman kelapa sawit dan hama UPDKS: a). Antigonon leftopus, b). Casia tora, c). Turnera subulata, d). Erechtites valerianifolia, e). Euphorbia heterophylla, f). Ageratum conyzoides, g).Urena lobata, dan hama UPDKS: h). Setothesa asigna, dan Setora nitens…………………………………………………………………….. 34 10 Jenis pupuk yang diaplikasikan di Tambusai Estate: a).Pupuk anorganik (rock phospate) dan b). Pupuk organik (janjang press)…………………………………………………………… 35 11.Organisasi pemupukan di Tambusai Estate: a). Organisasi penguntilan, c). Organisasi pengeceran, dan d). Organisasi penaburan………………………………………….......... 36 12.Organisasi penguntilan di Tambusai Estate: a). Pembokaran muatan di gudang pupuk, b). Peralatan di gunakan saat penguntilan, c). Penimbangan pupuk per untilan sesuai dengan takaran, dan d). Untilan pupuk………………………………… 37 13. Pola distribusi pupuk menurut Hidayat (2012)………………………... 39 xiv     14. Kondisi tanaman kekurangan Fe: a). Tingkat defisiensi Fe rendah, b). Tingkat defisiensi sedang, dan c).Tingkat defisiensi berat………….. 43 15. Kegiatan pengimpusan kelapa sawit: a). Alat mencampurkan pupuk, b). Chelat yang ditaburkan di piringan, c). Kegiatan mencari akar aktif dengan menggunakan dodos, d). Akar aktif, e). Pengisian FeSO4 ke dalam plastik pembungkus akar, dan f). Penimbunan dengan seresah.. 44 16.Tim panen yang sedang melakukan persiapan di Tambusai Estate: a). Check roll dipimpin oleh asisten dan b). Pembagian hanca panen oleh mandor panen………………………………………………… 51 17.Cara pemanenan yang benar menggunakan APD dengan baik: a). Pemotongan TBS dengan menggunakan egrek, b). Pelangsiran dan penimbunan TBS di TPH, dan c). Pemanenan menggunakan APD……... 55 18.Sistem transportasi TBS di Tambusai Estate: a). Dump truck, b). Pengangkutan TBS dari TPH dengan menggunakan “tojok”, c). Looder, dan d). Rakit (alternatif transportasi TBS dalam hancak di daerah banjir dan rendahan)………………………………….. 61 19.Kehilangan penen TBS (losses) yang ditemukan di Tambusai Estate: a). Losses TBS di gawangan mati dan b). Losses TBS di parit collection road……………………………………………………………………….. 62 20.Proses pemasukan TBS ke pabrik PKS: a). Timbangan otomatis di PKS, b). Dump truck yang berisi TBS ditimbang…………………….. 63 21.TBS di dalam lori dimasukan ke dalam ketel.…………………………… 65 22.Ketel tempat merebus TBS………………………….…………………… 65 23.TBS yang telah matang dikeluarkan…………………………………...... 65 24.Alat yang digunakan pada proses perebusan: a). CVM (alat control sterilisasi) dan b). Pencatat waktu perebusan…..………….. 66 25.Mesin pencacahan dan pemipilan (thresher)…………………………….. 67 26. Mesin pengaduk (digester)…………………….………………………… 68 27.Alat pengempaan TBS (screw press)……………………………………. 69 28.Crude oil tank dan Vibrating screen…………………...………………… 70 29.Nut silo (tempat penampungan biji sementara)………....………………. 70 30.Clay bath dan kalsium pemisah cangkang dan kernel....………………... 71 xv     31.Alat proses pengolahan kernel (inti): a). Alat pengering inti (kernel silo) dan b). Polishing drum……………………………………...……………. 72 32.Dendogram pengelompokkan tingkatan kerusakan gulma di Tambusai Estate…………………………………….…………...………………….. 88 33.Gulma daun lebar yang dominan di Tambusai Estate ………………….. 99 34. Gulma paku-pakuan yang dominan di Tambusai Estate………………. 100 35.Gulma rumput yang tumbuh dominan di Tambusai Estate…………….. 100 36.Pola penyebaran dominansi gulma di Tambusai Estate menurut tahun tanam……………………………………….....………………………… 102 37.Kematian gulma Chentotecha lappacea (L.) Desv. setelah aplikasi (penyemprotan) herbisida: a). Kematian gulma setelah 1 hari aplikasi, b). Kematian gulma setelah 1 minggu aplikasi, c). Setelah 2 minggu aplikasi, d. Setelah 3 minggu aplikasi, e). Setelah 4 minggu aplikasi, dan f). Setelah 5 minggu aplikasi……………………..………. 107 38.Pengendalian Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. setelah aplikasi (penyemprotan) herbisida dan suksesi Cleome rutidosperma D.C: a). Kematian gulma setelah 1 hari aplikasi, b). Kematian gulma setelah 1 minggu aplikasi, c). Setelah 2 minggu aplikasi, d). Setelah 3 minggu aplikasi, e). Setelah 4 minggu aplikasi, f). Setelah 5 minggu aplikasi, dan g). Bersamaan dengan kematian gulma Asystasia intrusa muncul gulma baru Cleome rutidospermae setelah 5 minggu aplikasi.……. ……………………………………….. 108 xvi     DAFTAR LAMPIRAN Nomor 1. Peta perkebunan Tambusai Estate……………………………………... Hal 114 2. Jurnal harian kegiatan magang sebagai karyawan harian lepas (KHL).. 115 3. Jurnal harian kegiatan magang sebagai pendamping Mandor/ Mandor besar……………………………………………………………………. 116 4. Jurnal harian kegiatan magang sebagai pendamping Asisten/ Kepala Afdeling………………………………………………………………… 118 5. Curah hujan rata-rata di Tambusai Estate……………………………… 120 6. Peta kesesuaian jenis lahan di Tambusai Estate………………………... 121 7. Summed dominance ratio (SDR) gulma dominan di perkebunan kelapa sawit di Tambusai Estate……………………………………….. 122 8. Data iklim Kabupaten Rokan Hulu, Riau 2005-2010…………………... 125 9. Efisiensi upah tenaga kerja dan PK SPKL di Afdeling VIII Tambusai Estate……………………………………………………………………. 128 10.Areal konsesi dan jumlah pohon Tambusai Estate tahun 2012………… 129 11.Rekapitulasi produksi, produktivitas TBS, CPO, dan kernel oil……….. 129 12.Potensi tandan buah segar PPKS, Marihat……………………………... 130 xvii   1   PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Permintaan ekspor dari berbagai negara meningkat tajam seiring dengan perkembangan konsumsi minyak kelapa sawit (CPO) dunia. Pertumbuhan akan permintaan CPO dunia dalam 5 (lima) tahun terakhir sebesar 10%, dengan negara pengkonsumsi CPO terbanyak yaitu China dan Uni Eropa (Hero, 2011). Peluang industri pengolah kelapa sawit (PKS) masih sangat besar untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam dan luar negeri terutama dengan meningkatnya harga minyak mentah dunia dapat menjadikan CPO sebagai pilihan untuk bahan baku pembuatan bioenergi. Masa depan agrobisnis kelapa sawit menunjukkan perannya yang penting bagi ekonomi Indonesia. Perkembangan luas dan produksi perkebunan kelapa sawit di Indonesia selama sepuluh tahun terakhir telah meningkat dari 4.2 juta ha pada tahun 2000 menjadi 7.8 juta ha pada tahun 2010 atau meningkat rata-rata sebesar 6% setiap tahunnya (Ditjenbun, 2012). Produksi juga meningkat dari 7 juta ton pada tahun 2000 menjadi 19 juta ton pada tahun 2010 atau meningkat rata-rata sebesar 9% setiap tahunnya (Ditjenbun, 2012) dengan luasan 7.8 juta ha. Hal ini menjadikan Indonesia merupakan produsen minyak sawit terbesar di dunia. Namun demikian, produktivitas minyak kelapa sawit di perkebunan di Indonesia masih tergolong rendah. Produktivitas per ha tahun 2010 mencapai 2.5 ton CPO/ha, meningkat produktivitasnya menjadi 2.97 ton CPO/ha/tahun pada tahun 2011, dibandingkan dengan Malaysia yang memiliki produktivitas 4.7 CPO ton/ha/tahun (Hero, 2011). Rendahnya produktivitas kelapa sawit di Indonesia dapat disebabkan oleh teknis agronomis yang tidak dijalankan sesuai dengan rekomendasi, khususnya dalam pemeliharaan tanaman kelapa sawit (Barchia, 2006). Kegiatan pemeliharaan kelapa sawit salah satunya adalah pengendalian gulma. Pengolahan lahan terlalu intensif akan memacu perkecambahan biji gulma, terutama biji yang terdapat di dalam tanah (Sastroutomo, 1990). Masalah gulma pada perkebunan kelapa sawit perlu dikendalikan. Menurut Pahan (2010) 1   2   kehadiran gulma dapat menurunkan produksi kelapa sawit karena adanya persaingan dalam pengambilan air, hara, sinar matahari, dan ruang hidup. Gulma juga dapat menurunkan mutu dan produksi, menjadi inang bagi hama, dan meningkatkan biaya pemeliharaan. Selanjutnya, menurut Hakim (2007) kelapa sawit akan mempunyai masalah gulma yang serius jika jarak tanam lebar, karena cahaya matahari leluasa mencapai permukaan tanah yang kaya dengan potensi gulma. Pengendalian gulma ini merupakan tahapan penting dalam pemeliharaan kelapa sawit untuk meningkatkan produktivitas hasil tanaman kelapa sawit dan juga mempelancar tata guna air ataupun drainase pada lahan gambut maupun mineral. Pahan (2010) menyatakan terdapat tiga jenis gulma yang harus dikendalikan, yaitu ilalang di piringan dan gawangan, rumput di piringan, dan anak kayu di gawangan. Ilalang di gawangan dan piringan efektif dikendalikan secara kimia dengan teknik sesuai populasi ilalang yang ada. Gulma rumput di piringan dapat dikendalikan baik secara manual maupun kimia, dan gulma berkayu dapat dikendalikan dengan dongkel anak kayu. Tujuan Kegiatan magang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan melatih keterampilan mengenai teknik budidaya kelapa sawit, menambah pengalaman kerja dan mendalami proses kerja secara nyata di perkebunan. Penulis secara lebih khusus dapat meningkatkan pemahaman dan keterampilan teknis tentang pemeliharaan kelapa sawit terutama di dalam pengendalian gulma pada tanaman kelapa sawit. Selain itu, menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas pengendalian gulma, melihat dinamika populasi, dan infestasi gulma di perkebunan yang dipengaruhi oleh faktor agroekologi yang berbeda. 2   3   Hipotesis Hipotesis yang diajukan pada kegiatan magang ini adalah: 1. Perbedaan agroekologi akan mempengaruhi dinamika populasi dan infestasi gulma pada tanaman kelapa sawit. 2. Terdapat perbedaan dominansi gulma yang menginfestasi tanaman kelapa sawit pada agroekologi yang berbeda. 3   4   TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit Tanaman kelapa sawit menurut Pahan (2010) termasuk divisi Embryophyta siphonagama, kelas Angiospermae, ordo Monocotyledonae, famili Arecaceae, subfamili Cocoideae, dan genus Elaeis. Kelapa sawit memiliki spesies Elaeis guineensis Jacq., Elaeis oleifera (H. B. K.) Cortes., dan Elaeis odora. Tanaman kelapa sawit pada umumnya berasal dari Afrika dan Amerika Selatan, tepatnya Brasilia. Kelapa sawit yang termasuk dalam subfamili Cocoideae merupakan tanaman asli Amerika Selatan seperti spesies Elaeis oleifera dan Elaeis odora. Menurut Pahan (2010) Elaeis guineensis berasal dari Afrika. Kelapa sawit berkembang biak dengan biji. Biji sawit yang telah matang embrionya akan berkecambah menghasilkan tunas (plumula) dan bakal akar (radikula). Kecambah kelapa sawit yang baru tumbuh memiliki akar tunggang, tetapi akar tersebut mudah mati dan segera diganti dengan akar serabut. Kelapa sawit yang sudah dewasa memiliki akar serabut yang membentuk anyaman rapat dan tebal. Sebagian akar serabut tumbuh lurus ke bawah atau vertikal dengan diameter 6 - 10 mm dan sebagian lagi tumbuh menyebar ke arah samping atau horizontal dengan diameter 2 - 4 mm (Sastrosayono, 2006). Umur produktif kelapa sawit rata - rata adalah 20 - 25 tahun. Pada tiga tahun pertama disebut kelapa sawit muda, hal ini dikarenakan kelapa sawit tersebut belum menghasilkan buah. Kelapa sawit mulai berbuah pada usia 4 - 6 tahun. Pada usia 7 - 10 tahun disebut sebagai periode matang (the mature periode) dimana pada periode ini menghasilkan buah tandan segar (fresh fruit bunch) yang optimum. Tanaman kelapa sawit pada usia 11 - 20 tahun mulai mengalami penurunan produksi dan tanaman mulai diremajakan setelah 25 - 30 tahun (Pahan, 2010). Buah muda berwarna hijau pucat, semakin tua berubah menjadi hijau hitam hingga kuning. Buah sawit yang masih mentah masih berwarna hitam (nigrescens), dan buah matang berwarna merah kuning (orange). Buah terlalu matang akan rontok (brondol), sebagai tanda bahwa tandan kelapa sawit sudah 4   5   siap panen. Biasanya tandan buah dipanen berdasarkan jumlah jatuhnya brondolan, yakni minimal 1 - 2 buah per TBS (Sunarko, 2009). Syarat Tumbuh Curah hujan yang baik untuk pertumbuhan dan produksi tanaman kelapa sawit adalah di atas 2,000 mm dan merata sepanjang tahun. Kekeringan selama 3 bulan menyebabkan pertumbuhan kuncup daun terhambat (anak daun tidak dapat memecah). Kondisi tersebut juga banyak berpengaruh terhadap produksi buah, karena buah yang sudah cukup umur tidak mau brondol. Hujan yang terlalu banyak tidak menghambat produksi buah kelapa sawit, asalkan drainase tanah dan penyinaran matahari cukup baik. Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh dengan baik di banyak jenis tanah, asal tersedia air pada musim hujan dan drainase baik. Akar akan busuk, jika tanaman tergenang untuk waktu lama (Sastrosayono, 2006). Tanaman kelapa sawit termasuk heliofil atau menyukai cahaya matahari. Penyinaran matahari sangat berpengaruh terhadap perkembangan buah kelapa sawit. Tanaman yang ternaungi karena jarak tanam yang sempit misalnya, akan terhambat pertumbuhannya. Gulma Gulma adalah tumbuhan yang mengganggu atau merugikan kepentingan manusia (Sembodo, 2010). Kehadiran gulma menjadi pesaing tanaman kelapa sawit yang kuat atau kompetitif dalam memperolah air, cahaya, CO2, dan ruang tumbuh. Kerugian akibat gulma dapat bersifat langsung maupun tidak langsung. Kerugian langsung misalnya menjadi kontaminan produk pertanian, melukai petani, menaikkan biaya produksi, menyita waktu petani atau merusak alat-alat pertanian. Kerugian tidak langsung misalnya menurunkan hasil pertanian (Sembodo, 2010), sebagai inang dari penyakit atau parasit tanaman, mengurangi mutu hasil, menghambat kelancaran aktivitas pertanian (Sastroutomo, 1990), dapat mengeluarkan senyawa alelopati, dan mengganggu tata guna air, sehingga akan meningkatkan biaya usaha tani (Pahan, 2010). 5   6   Menurut Rambe et al. (2010) gulma Mikania micrantha (H. B. K) RM. King. dapat menurunkan produksi tandan buah segar (TBS) sebesar 20%. Pada tahun 2010, di Provinsi Jambi tercatat kerugian hasil pada komoditi kelapa sawit yang disebabkan oleh Mikania micrantha (H. B. K) RM. King. sebesar Rp 38 juta dengan luas serangan 757.5 Ha, Imperata cylindrica (L.) Beauv. sebesar Rp 60 juta dengan luas serangan 1,086 Ha, dan Paspalum conjugatum P.J. Berg. sebesar Rp 43 juta dengan luas serangan 1,150 Ha. Metode pengendalian gulma yang dilakukan pada awal penyemaian adalah kultur teknis. Implementasi kultur teknis dilakukan dengan menanam kacang - kacangan untuk menyaingi pertumbuhan gulma pada saat awal tanaman kelapa sawit belum menghasilkan (TBM). Pengendalian gulma yang lain adalah secara biologis, manual, dan kimiawi. Pengendalian biologis dilakukan dengan musuh alami gulma. Tumbuhan liar berperan sebagai inang dari predator atau parasitoid terhadap ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS). Pengendalian kimia dilakukan khususnya area piringan, jalan pikul, dan tempat pemungutan hasil (TPH) berdasarkan kriteria penutupan gulma. Herbisida yang digunakan yaitu paraquat (Wibawanti, 2011). 6   7   BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Kegiatan magang ini dilaksanakan selama tiga bulan dari 13 Februari hingga 13 Mei 2012 bertempat di Tambusai Estate, Kec. Tambusai Utara, Kab. Rokan Hulu, Riau. Tambusai Estate merupakan salah satu anak perkebunan dari group First Resources. Perkebunan ini milik swasta asing asal Singapura. First Resources didirikan tahun 1992 dengan 9 perkebunan di Indonesia, dan terdaftar di bursa efek Singapura pada tahun 2007. First Resources merupakan salah satu perusahaan produsen kelapa sawit yang memiliki perkembangan tercepat di Asia Pasifik. Kegiatan utama yang dilakukan di perkebunan Tambusai Estate yaitu kegiatan agronomis meliputi pemeliharaan (pengendalian gulma, dan hama penyakit), pemupukan, pemanenan, dan pemeliharaan jalan. Peta perkebunan Tambusai Estate dapat dilihat pada Lampiran 1. Metode Pelaksanaan Selama magang, penulis turut aktif dalam pelaksanaan kegiatan teknis lapangan dibimbing asisten divisi, serta wawancara dan diskusi terkait pengelolaan kebun. Data pendukung berupa laporan bulanan, laporan tahunan, dan arsip kebun diperoleh dengan meminta izin manajer kebun. Penulis melaksanakan aspek teknis dan manajerial pada berbagai tingkat pekerjaan. Kegiatan yang dilakuan di lapang adalah menjadi kerja harian lepas (KHL), pendamping mandor, dan pendamping asisten. Jurnal kegiatan selama magang dapat dilihat di Lampiran 2, 3, dan 4. Kegiatan penulis pada satu bulan pertama adalah sebagai kerja harian lepas (KHL). Penulis melaksanakan kegiatan di lapangan sesuai dengan aktivitas kebun yaitu, pemupukan, pengendalian gulma, kastrasi, penunasan, pengimpusan, pengendalian hama penyakit, aplikasi limbah pabrik, perawatan jalan dan jembatan, sensus pohon dan pemanenan. Kegiatan yang dilakukan penulis selain kegiatan lapang KHL adalah survei lapang untuk aspek khusus terkait dengan status gulma. Perbedaan gulma pada tingkat kanopi berbeda pada tanaman sawit 7   8   digunakan untuk membandingkan dominansi gulma yang ada di tanaman sawit pada tahun tanam yang berbeda (umur tanaman) ataupun menganalisis faktor yang mempengaruhi serangan gulma pada agroekologi yang berbeda. Selain itu, penulis meneliti efektivitas pengendalian gulma Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. dan Centotheca lappacea (L.) Desv., serta efisiensi upah perawatan KHL. Bulan kedua, penulis melaksanakan kegiatan sebagai pendamping mandor dalam melaksanakan aspek manajerial. Pada saat menjadi pendamping mandor, penulis turut bertugas memberikan pengarahan kerja kepada karyawan, mengatur dan mengawasi pekerjaan karyawan, melakukan check roll dan mengisi buku kerja mandor (BKM). Selain melakukan kerja mandor penulis juga membuat laporan. Pada saat menjadi mandor, penulis juga melakukan grading buah di TPH (Tempat Pengumpulan Hasil), pengecekan APD (Alat Pelindung Diri), kalibrasi alat penyemprotan, dan juga pemetaan tapal batas. Pada bulan ketiga, penulis melakukan kegiatan sebagai pendamping asisten, dengan tugas melakukan kontrol lapangan, mempelajari aspek manajerial dan administrasi tingkat divisi dan kebun, serta mengisi buku harian asisten. Penulis melakukan pengamatan ke pabrik dan mempelajari cara memperoleh rendemen maupun ALB (Asam Lemak Bebas) di laboratorium. Selain kegiatan utama, penulis juga melakukan kegiatan untuk melengkapi kelengkapan data magang seperti, analisis vegetasi, pengendalian Asystasia intrusa dan menghitung efektivitas penyemprotan. Kegiatan khusus magang adalah melakukan studi pengelolaan gulma, menganalisis vegetasi gulma, menganalisis faktor yang mempengaruhi serangan gulma, menganalisis efisiensi upah pemeliharaan gulma serta melakukan pengamatan pada gulma Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. dan Centotheca lappacea (L.) Desv. Kegiatan studi pengelolaan gulma dilakukan dengan melakukan kerja di lapangan, wawancara dan menganalisis RKT (Rencana Kerja Tahunan) serta laporan kerja harian. Sampel gulma diambil secara acak dari 15 afdeling. Setiap afdeling diambil 3 blok, dan pada masing-masing blok diambil 6 petak contoh. Pengambilan petak contoh ini berdasarkan tahun tanam kelapa sawit. Pengamatan Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. dan Centotheca lappacea (L.) Desv. dilakukan dengan 8   9   mengamati tingkat kematian dan pertumbuhan kembali gulma-gulma tersebut setelah penyemprotan. Pengamatan dan Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan oleh penulis secara langsung (primer) maupun tidak langsung (sekunder). Data secara langsung diperoleh melalui pengamatan pada saat bekerja di lapangan melalui prinsip 5 tepat pengendalian gulma (dosis, waktu, jenis, cara, dan konsentrasi). Pengamatan tersebut mengamati 5 penyemprot dan juga kalibrasi alat semprot. Selanjutnya, penilaian efektivitas pengendalian dilakukan dengan cara pengambilan sampel gulma. Sampel gulma diambil secara sampling bertingkat pada blok berdasarkan tahun tanam. Pengambilan sampel gulma menggunakan kuadran 1 m x 1 m yang diambil pada gawangan mati. Jumlah sampel yang diambil 264 buah sampel. Data sebaran pengambilan sampel gulma ditampilkan pada Tabel 1. Peta blok pengambilan sampel gulma ditampilkan pada Gambar 1. Warna Tahun Tanam 2002 2003 1999 2004 1997 1998 1995 2006 2005 1996 1991 1990 Gambar 1. Peta posisi pengambilan gulma di Tambusai Estate 9   10   Tabel 1. Sebaran pengambilan sampel gulma di Tambusai Estate Tahun Tanam Blok Luas Lahan (ha) 10% Luas lahan (ha) Jumlah Sampel 1990 1991 F E E F G B C F B C E G I K L M N U R S T U P V G O Q N T M R S O V K X 24.90 23.48 23.19 23.47 25.02 35.94 63.65 60.61 39.22 29.14 27.66 92.49 30.18 61.46 27.20 25.73 34.26 30.48 28.17 39.89 30.70 29.14 53.75 27.75 16.75 52.49 28.03 27.62 29.66 27.19 37.87 29.70 32.39 29.85 27.21 24.09 2.49 2.35 2.32 2.35 2.50 3.59 6.37 6.06 3.92 2.91 2.77 9.25 3.02 6.15 2.72 2.57 3.43 3.05 2.82 3.99 3.07 2.91 5.38 2.78 1.68 5.25 2.80 2.76 2.97 2.72 3.79 2.97 3.24 2.99 2.72 2.41 6 6 6 6 6 6 12 12 12 6 6 18 6 12 6 6 6 6 6 6 6 6 12 6 6 12 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 1995 1996 1997 1998 1999 2002 2003 2004 2005 2006 Jumlah Sampel Blok 1 1 1 1 1 1 2 2 2 1 1 3 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Analisis Data Analisis dilakukan secara analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dilakukan dengan cara melakukan pengamatan terhadap kematian dan tumbuh kembalinya (regrowth) gulma Asystasia intrusa dan Centotheca 10   11   lappacea. Analisis kuantitatif yang dilakukan disajikan dengan statistika sederhana yaitu rataan dan persentase. Data gulma diolah untuk memperoleh NJD (Nisbah Jumlah Dominan) atau summed dominance ratio (SDR). Nilai SDR menunjukan dominansi suatu gulma yang ada. Jika nilai SDR gulma tinggi maka dominansi gulma di areal tersebut tinggi, begitupula sebaliknya makin rendah SDR dominansi gulma semakin rendah. Data juga diolah dengan metode skoring dan diuji dengan multivariate cluster analysis untuk mengetahui pengelompokan gulma. Adapun rumus perhitungan SDR menurut Moenandir (1993) adalah: • Kerapatan mutlak (KM) KM : • Jumlah individu spesies gulma tertentu dalam petak contoh. Kerapatan nisbi (KN) KN : KM spesies tertentu x 100% Jumlah KM semua spesies • Bahan kering mutlak (BKM) BKM : Berat kering total spesies tertentu dalam petak contoh, diperoleh dengan cara dioven • Berat kering nisbi (BKN) BKN : Berat Spesies tertentu x 100% Total BKM semua spesies • Frekuensi mutlak (FM) FM : • Jumlah petak contoh yang berisi spesies tertentu Frekuensi nisbi (FN) FN : FM spesies tertentu x 100% Total FM semua spesies • Nilai penting (NP) NP : • KN + BKN + FN Nisbah jumlah dominansi (NJD) NJD : KN + BKN + FN 11   12   KEADAAN UMUM Letak Wilayah Administratif Tambusai Estate terletak di antara 1000 37’ - 1000 24’ Bujur Timur dan 10 04’ - 10 14’ Lintang Utara yang terletak di Desa Tambusai Utara, Kecamatan Tambusai Utara, Kabupaten Rokan Hulu, Riau. Sebelah utara Tambusai Estate berbatasan dengan sungai Air Hitam Simpang Kanan dan sungai Merah, sebelah selatan berbatasan Desa Kepenuhan Barat, areal SAH Estate, dan Desa Kepenuhan Tengah. Sebelah barat Tambusai Estate berbatasan Desa Tambusai Timur, areal PT. Torganda, dan Desa Tambusai Timur, sebelah timur berbatasan dengan Desa Kepenuhan Timur dan Sungai Air Hitam Simpang Kiri. Peta kebun disajikan pada Lampiran 1. Keadaan Iklim dan Tanah Curah hujan rata - rata di Tambusai Estate dalam kurun waktu 10 tahun terakhir (2001 - 2011) adalah 1,918 mm dengan jumlah hari hujan rata - rata 117 hari. Data curah hujan dapat dilihat pada Lampiran 5. Curah hujan tertinggi umumnya terjadi pada bulan April (rata - rata 302 mm), sedangkan curah hujan terendah terjadi pada bulan Mei dengan rata - rata curah hujan sebesar 100 mm. Menurut kelas iklim Schmidth - Ferguson, keadaan iklim di Tambusai Estate termasuk dalam tipe iklim A, yaitu daerah sangat basah dengan vegetasi hutan hujan tropika. Tanah di Tambusai Estate tergolong ke dalam ordo entisol. Tanah tersebut merupakan endapan sungai dan diklasifikasikan menjadi empat subgrup yaitu: 1). Typic haplosaprist, 2). Typic endoaquent, 3). Humic dystrudepts, dan 4). Typic dystrudepts. Sub grup typic haplosaprist memiliki regim kelembaban udic (tidak pernah kering selama 90 hari kumulatif pada kedalaman 10 – 90 cm dari permukaan tanah) dan pada kedalaman > 120 cm terdapat muka air tanah, drainase terhambat, masam, kapasitas tukar kation rendah, kejenuhan basa sangat rendah. Jenis sub grup typic haplosaprist mencakup areal seluas 3% dari total 11 914.40 Ha luas lahan. 12   13   Ciri-ciri typic endoaqouent memiliki regim kelembaban udic (tidak pernah kering selama 90 hari kumulatif setiap tahun pada kedalaman 10 – 40 cm dari permukaan tanah) dan pada kedalaman > 30 cm terdapat muka air tanah dangkal, drainase terhambat, masam, kapasitas tukar kation sangat rendah, kejenuhan basa sangat rendah. Typic endoaquent mencakup areal seluas 125 Ha atau 1% total luas lahan yang ada di Tambusai Estate. Subgrup humic dystrudept memiliki ciri-ciri rejim kelembaban udic (tidak pernah kering selama 90 hari kumulatif setiap tahun). Tanah ini mempunyai epipedon umbrik. Horizon umbrik secara kasat mata berwarna hitam, dan mempunyai kejenuhan basa kurang dari 50%. Jenis sub grup humic dystrudept memiliki cakupan seluas 5,719 Ha atau 48% dari total luas lahan yang ada di Tambusai Estate. Subgrup typic dystrudepts memiliki ciri rejim kelembaban udic (tidak pernah kering selama 90 hari kumulatif setiap tahun). Tanah memiliki kejenuhan basa yang rendah yakni kurang dari 50%. Jenis sub grup typic dystrudepts memiliki cakupan seluas 5,596 Ha atau 46% total luas lahan yang ada di Tambusai Estate. Areal Tambusai Estate memiliki kondisi topografi yang bervariasi yaitu kemiringan 1 - 3% seluas 11,803 Ha. Derajat kemasaman tanah (pH) 4.65 - 5.30, dengan ketinggian tempat 12 m di atas permukaan laut (dpl) dan suhu rata-rata tahunan berkisar antara 28°C – 31oC. Berdasarkan kelas kesesuaian lahan untuk kelapa sawit, Tambusai Estate tergolong ke dalam kelas S2 (sesuai/suitable). Peta kesesuaian jenis lahan dapat dilihat pada Lampiran 6. Areal Konsesi dan Tata Guna Lahan Luas hak guna usaha (HGU) Tambusai Estate adalah sebesar 11,914.40 ha. Luas lahan yang digunakan untuk areal penanaman adalah 11,028.66 ha untuk tanaman menghasilkan (TM) tidak termasuk wilayah KKPA. Selanjutnya, 827.21 ha digunakan jalan (Main and collection road), untuk bangunan atau emplasement 26.60 ha, dan areal pabrik seluas 31.93 ha. Luas areal Tambusai Estate dapat dilihat pada Tabel 2.   13   14   Tabel 2. Luas areal kebun di Tambusai Estate Nama KEBUN INTI Afdeling 1 Afdeling 2 Afdeling 3 Afdeling 4 Afdeling 5 Afdeling 6 Afdeling 7 Afdeling 8 Afdeling 9 Afdeling 10 Afdeling 11 Afdeling 12 Afdeling 13 Afdeling 14 Afdeling 15 Sub total PLASMA KKPA Bunga Tanjung 1 KKPA Bunga Tanjung 2 KKPA Pekan Tebih Total Luas areal (ha) 719.22 700.95 740.83 722.16 779.78 795.87 729.91 798.27 824.17 684.12 759.06 750.23 713.16 560.66 750.27 11,028.66 801.00 801.66 700.00 13,331.32 Sumber: Kantor Pusat Kebun, Tambusai Estate (April, 2012) Keadaan Tanaman dan Produksi Tanaman kelapa sawit yang dibudidayakan di Tambusai Estate adalah varietas tenera (dura x pisifera), yang terdiri dari tenera Papua New Guinea (PNG), tenera Socfindo dan tenera Marihat (PPKS). Jarak tanam yang digunakan adalah jarak tanam segitiga sama sisi 9.3 x 9.3 x 9.3 m dengan jarak dalam barisan 9.35 m dan jarak antar barisan 8.097 m serta populasi 132 tanaman/ha. Namun, berdasarkan kondisi yang terdapat di lapangan, populasi tanaman per hektar bisa lebih tinggi ataupun lebih rendah daripada populasi yang seharusnya. Hal tersebut disebabkan oleh adanya penyisipan tanaman, penebangan pohon pisifera yang merupakan pohon kelapa sawit jantan untuk perangsang pertumbuhan pohon tenera dan pohon mati, jarak tanam yang tidak teratur, dan tumbang. Populasi 14   15   tanaman kelapa sawit berdasarkan tahun tanam yang ada di Tambusai Estate dapat dilihat pada Tabel 3. Menurut RKAP areal statement tahun 2012, tanaman kelapa sawit di Tambusai Estate ditanam pada beberapa tahun tanam, yaitu dari tahun 1990 hingga tahun 2006. Produksi dan produktivitas Tambusai Estate tahun 2004 - 2009 disajikan pada Tabel 4. Tabel 3. Populasi tanaman kelapa sawit berdasarkan tahun tanam di Tambusai Estate Tahun Tanam Kebun Inti Tahun Kebun KKPA Luas (ha) Jumlah Populasi Tanam Luas (ha) Jumlah Populasi Tanaman /ha Tanaman /ha 1990 200.64 22,504 132 2007 773.84 103,056 132 1991 248.71 31,126 132 2008 435.80 57,655 132 1995 446.37 58,477 132 2009 811.72 23,405 132 1996 1,246.12 156,723 132 1997 4,030.23 509,897 132 1998 1,540.42 198,440 132 1999 359.40 48,186 132 2002 476.22 63,173 132 2003 658.68 86,222 132 2004 492.88 64,484 132 2005 1,003.51 130,449 132 2006 326.46 38,245 132 Sub total 11,029.64 1,407,926 2,021.36 184,116 Sumber: Kantor pusat kebun, Tambusai Estate (April, 2012) Tabel 4. Produksi dan produktivitas Tambusai Estate Tahun Produksi TBS (ton) Produktivitas TBS (ton/ha) 2007 226,511.20 20.45 2008 257,617.58 23.26 2009 272,981.51 24.69 2010 282,810.64 25.78 2011 305,942.04 27.88 Sumber: Kantor pusat kebun, Tambusai Estate (April, 2012) Berat Janjang Rata-rata (kg) 12.93 12.22 13.14 14.82 17.35 15   16   Pada tahun 2004 telah dibangun pabrik kelapa sawit di Tambusai Estate, dan mulai beroperasi pada pertengahan tahun 2005 dengan kapasitas terpasang 45 ton TBS/jam. Pembangunan pabrik tahap pertama dilakukan oleh kontraktor PT. Eka Cipta Bina Karya. Pertambahan produksi TBS yang berasal dari afdeling dan KKPA (17 afdeling) membuat produksi TBS menjadi 1,100 ton TBS/hari. Untuk mengantisipasi lonjakan produksi, kapasitas pabrik dinaikkan menjadi 90 ton/jam, pembangunan tahap II dilakukan kontraktor PT. Wijaya Karya pada tahun 2008. Pada saat ini, Tambusai Estate dapat menghasilkan ± 7 ton CPO /ha/tahun atau dapat menghasilkan 31 ton TBS/ha/tahun. Tambusai Estate sedang menjalankan program sertifikasi SMK3 (Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja) / OHSAS (Occupational Health and Safety Assessment Series), ICC (International Carbon Certification) dan telah mendapatkan sertifikasi (International Organization for Standardization) ISO: 14001: 2008 untuk manajemen lingkungan dan ISO: 9001: 2005 untuk sertifikasi manajemen mutu produksi. Struktur Organisasi Perusahaan dan Ketenagakerjaan Tambusai Estate dipimpin oleh seorang general manager yang bertugas memberikan pengarahan kepada bawahan yang menjadi tanggung jawabnya dalam mempersiapkan rencana kerja anggaran kebun, dan menyusun rencana kerja operasional pabrik. General manager memiliki wewenang untuk mengambil kebijakan operasional kebun dan pabrik dalam rangka melaksanakan rencana kerja, juga menandatangani surat, dokumen, dan perjanjian kerja. Seorang general manager dalam melaksanakan kinerjanya dibantu oleh deputy general manager, field manager, field assistant, dan kepala seksi (kasi) administrasi. Deputy general manager atau wakil general manager bertugas membantu tugas-tugas general manager dalam melaksanakan kegiatan operasional dalam mencapai target produksi TBS dan CPO sesuai yang ditetapkan oleh manajemen. Kepala tata usaha (KTU) bertanggungjawab merencanakan, mengkoordinasikan, mengawasi dan mengendalikan kegiatan administrasi kebun agar berjalan dengan baik serta “ up to date”. Status karyawan di Tambusai Estate terdiri atas karyawan staf dan karyawan non staf. Karyawan staf meliputi general manager, deputy 16   17   general manager, mill manager, KTU, kasi administrasi, field manager, dan field assistant, sedangkan karyawan non staf meliputi karyawan kantor pusat kebun, karyawan traksi, karyawan afdeling, karyawan harian tetap, dan pegawai bulanan tetap (Tabel 5). Field manager disebut asisten kepala (askep) bertugas memimpin kegiatan operasional bidang tanaman dan non tanaman di rayon (tempat kegiatan field manager dan memiliki tanggung jawab atas 3 - 4 afdeling). Tugas lainnya yaitu mengendalikan biaya yang berpedoman kepada anggaran yang telah ditetapkan oleh manajemen. Selain itu, askep juga menjadi penanggungjawab kebun sementara apabila deputy general manager dinas luar. Field assistant (asisten lapang) bertugas untuk menyusun rencana anggaran kerja afdeling (harian, bulanan, dan tahunan). Dalam melaksanakan pekerjaannya, seorang field assistant dibantu oleh para mandor dan kerani afdeling. Mandor panen, mandor perawatan, bertugas dalam pengawasan kegiatan pemeliharaan dan perawatan agar sesuai dengan standar mutu dan norma yang telah ditentukan perusahaan, sedangkan kerani afdeling bertugas membantu field assistant dalam penyusunan dan pelaporan setiap hasil pekerjaan di lapangan serta administrasi afdeling. Struktur organisasi Tambusai Estate dapat dilihat pada Gambar 2 dan Gambar 3, serta komposisi karyawan pada Tabel 5. 17   18   Tabel 5. Jumlah karyawan staf dan non-staf di Tambusai Estate tahun 2012 No. 1. Jabatan Jumlah Staf * General manager 1 * Deputy general manager 2 * Mill manager 1 * Kepala administrasi 1 * Kepala tata usaha 1 * Kepala personalia 1 * Kepala timbangan 1 * Asisten sortasi 1 * Asisten proses 2 * Asisten kepala PKS 1 * Asisten laboratorium 1 * Asisten kepala 6 * Asisten maintenance 1 * Asisten tehnik sipil 1 * Asisten kebun 18 * Assisten aplikasi tankos/LA 1 2. PBT (Pekerja Bulanan Tetap) 112 3. KHT (Karyawan Harian Tetap) 718 4. KHL (Karyawan Harian Lepas) 80 Jumlah 951 Sumber: Bagian personalia (HRD) Tambusai Estate, (April, 2012) 18   19   Gambar 2. Struktur organisasi di Tambusai Estate 19 19   20   Gambar 3. Struktur organisasi tingkat afdeling VIII di Tambusai Estate 20 20   21   ASPEK MANAJERIAL Selama magang penulis melaksanakan aspek manajerial di Afdeling VIII Tambusai Estate. Penulis selama mengikuti aspek majerial berperan sebagai pendamping mandor dan pendamping asisten. Penulis menjadi pendamping mandor selama 3 minggu dan menjadi pendamping asisten selama 6 minggu. Selama menjadi pendamping mandor dan pendamping asisten afdeling, penulis mengikuti kegiatan meliputi pengawasan di lapangan dan administrasi di kantor afdeling. Pendamping Mandor Selama menjadi pendamping mandor, penulis mengikuti pengawasan di lapangan dan kegiatan manajerial terkait administrasi afdeling dengan mendampingi kerani panen dan kerani afdeling. Mandor Panen Mandor panen bertanggung jawab: 1). Membagi pemanen ke dalam hanca panen sesuai dengan angka kerapatan panen (AKP), 2). Mengawasi panen agar pemanen tidak memotong buah mentah dan juga brondolan diketiak pohon, piringan, pasar pikul dan gawangan bersih dikutip, 3). Mengontrol (mengecek) hanca pemanen dari losses (kehilangan buah), 4). Mencatat jumlah perhitungan AKP dan melaporkannya kepada asisten afdeling, 5). Koordinasi dengan kerani panen untuk pengecekan buah, 6). Mengecek peralatan panen, dan 7). Mengorganisasikan karyawan menggunakan APD dan Zero Accident. Administrasi dan laporan yang menjadi kewajiban mandor panen yaitu: Mengisi LHM (Laporan Harian Mandor) yang dilaporkan setiap hari/sore hari dan Mengisi BKM (Buku Kegiatan Mandor). Penulis ikut berperan dalam mengontrol hanca pemanen (losses), melakukan perhitungan angka kerapatan panen, melakukan taksasi panen harian, melakukan koordinasi dengan kerani panen untuk pengecekan mutu buah dan APD, serta mengawasi pekerjaan pemanen. 21   22   Mandor Pupuk Mandor pupuk berkewajiban: 1). Membuat bon permintaan barang (pupuk), 2). Menyiapkan alat/bahan untuk pemupukan (takaran, pikulan, pupuk, dan lain-lain), 3). Mengawasi penguntilan pupuk, 4). Mengawasi ecer pupuk di lokasi (blok) yang telah ditentukan, 5). Membagi hanca karyawan sesuai lokasi yang akan dikerjakan, 6). Mengawasi pelaksanaan pemupukan sesuai rencana yang telah ditentukan, 7). Mengecek pekerjaan yang telah dilaksanakan, 8). Melaksanakan pengembalian sampel daun sesuai petunjuk perusahaan, 9). Mengecek jumlah pengembalian karung pupuk yang dikembalikan ke gudang afdeling, dan 10). Memastikan semua pekerja menggunakan alat pelindung diri (APD). Pengawasan pemupukan dilakukan oleh mandor pupuk berkoordinasi dengan asisten afdeling dan kepala asisten afdeling. Saat melakukan pengawasan pada pekerja pupuk, penulis mengawasi mulai dari penguntilan, bongkar muat, pelangsiran, hingga proses penaburan pupuk. Mandor Perawatan Mandor perawatan bertanggung jawab: 1). Membagi hanca karyawan sesuai lokasi yang akan dikerjakan, 2). Mengontrol dan mengawasi pekerjaan karyawan, 3). Melaporkan hasil kerja dan HK, dan 4). Memastikan semua alat yang akan digunakan dalam kondisi baik atau siap pakai dan bertanggung jawab terhadap alat-alat yang digunakan karyawan bila terjadi kerusakan. Administrasi dan laporan yang menjadi kewajiban Mandor Chemist/ perawatan yaitu mengisi LHM (Laporan Harian Mandor) yang dilaporkan setiap sore hari dan mengisi rencana kerja harian (RKH) semprot dan realisasi kerja setiap hari. Selama menjadi pendamping mandor, penulis ikut mendampingi kegiatan mandor perawatan saat melaksanakan kegiatan aspek manajerial. Penulis ikut serta mengawasi karyawan yang melakukan rawat jalan, pembersihan piringan manual, pruning, babat gawangan, pemberian FeSO4. 22   23   Kerani Afdeling Kerani afdeling adalah bagian dari anggota kebun yang bertugas mengurus bagian administrasi tingkat afdeling. Kerani afdeling berkewajiban: 1). Mengisi papan rencana kerja harian, mingguan atau bulanan untuk memonitoring pengiriman TBS ke PKS, 2). Realisasi pemupukan, 3). Monitoring stok di gudang, 4). Memeriksa BKM dan mencatat ke buku prestasi kerja, 5). Membuat absensi tahap I, II, dan III, 6). Merekapitulasi daftar absensi pertahapan dan pengangkutan janjang kosong, 7). Menyampaikan laporan pagi dan sore afdeling meliputi: laporan produksi, pemupukan, penyisipan, 8). Membantu memberikan beras, 9). Membantu pembayaran gajian kecil dan besar serta membuat permintaan dana operasional, 10). Membuat BPB (Bon Permintaan Barang), 11). Mengisi data curah hujan, dan 12). Membuat arsip surat keluar dan masuk. Penulis ikut berperan dalam mengisi papan rencana kerja harian, mingguan, dan bulanan untuk monitoring pengiriman TBS ke PKS, realisasi pemupukan, penyemprotan, infus akar. Monitoring stok gudang, membuat laporan harian asisten (LHA), dan mencatat angka curah hujan yang diambil dari ombrometer (alat pengukur curah hujan) setiap harinya. Kerani Panen (I dan II) Kerani panen berkewajiban: 1). Melakukan grading buah di setiap TPH setiap hari dan memeriksa stempel pemanen sebelum diangkut ke PKS, 2). Mencatat hasil pemeriksaan buah di TPH ke dalam BPBh (buku penerimaan buah), 3). Mengawasi pengangkutan TBS dan TPH sampai ke loading ramp di PKS agar terangkut dengan baik sehingga tidak ada yang restan (tertinggal) di lapangan, 4). Mengawasi pengangkutan brondolan agar bersih dari sampah, pasir, kerikil, dan tidak ada yang tertinggal atau tercecer. Kerani panen merekapitulasi laporan potong buah dan output janjang, mencatat kesalahan dan denda pemanen, koordinasi dengan mandor panen jika dalam pemeriksaan ditemukan buah mentah, dan membuat laporan produksi dan penulis ikut serta dalam kegiatan tersebut. 23   24   Pendamping Asisten Afdeling Selama menjadi pendamping asisten afdeling penulis mengikuti beberapa kegiatan dan tugas dari asisten. Asisten afdeling bertugas: 1). Menyusun dan menyerahkan rencana anggaran kerja (RAK) kepada atasan untuk dievaluasi, 2). Menyusun rencana produksi, perawatan dan taksasi produksi harian, bulanan dan tahunan dibantu oleh kerani afdeling, 3). Memberikan pemakaian rencana alat berat dan kendaraan bekerjasama dengan traksi, 4). Mengawasi program pemupukan, perawatan dan pengendalian hama dan penyakit, 5). Mengawasi pelaksanaan panen dilapangan atau mengecek kerja kerani panen dan mandor panen agar tidak ada buah tinggal / restan, buah mentah, maupun brondolan yang tertinggal serta ketersediaan sarana panen (TPH, titi panen, pasar pikul, dodos, egrek, dan angkong), 6). Mengawasi keadaan jalan di afdeling baik atau tidaknya untuk transportasi buah dan pupuk), 7) Memeriksa setiap laporan kegiatan afdeling seperti: buku mandor, buku asisten, laporan pemakaian kendaraan, alat berat, permintaan dan pengeluaran bahan kimia atau barang dari gudang sebelum ditandatangani. 24   25   ASPEK TEKNIS Pengendalian Gulma Organisasi Pengendalian Gulma Pengendalian gulma di Tambusai Estate menggunakan sistem borongan. Setiap rombongan memiliki satu kepala rombongan dan diawasi oleh satu mandor yang bertugas merencanakan dosis, rotasi, dan hanca yang di semprot. Pengendalian gulma secara manual di Tambusai Estate meliputi, babat gawangan manual dan DAK (Dongkel Anak Kayu). Pengendalian gulma secara kimia dilakukan pada pasar pikul, piringan, TPH, dan wipping. Pengendalian gulma secara kimia pada afdeling VIII menggunakan 5 HK untuk pasar pikul, piringan maupun long bad, 3 HK untuk babat gawangan, 3 HK untuk DAK (Dongkel Anak Kayu), 1 HK untuk chemis TPH, 4 HK untuk wipping. Pelaksanaan seluruh kegiatan pengendalian gulma sesuai dengan panduan penyusunan budget pengendalian gulma di Tambusai Estate pada Tabel 6 dan Tabel 7. Tabel 6. Daftar premi perawatan tanaman di Tambusai Estate No. Jenis Pekerjaan 1. Mandor pupuk 2. Mandor pemeliharaan - Premi penyelesaiaan Pemeliharaan piringan - Premi pemeliharaan pasar Pikul - Premi pemeliharaan TPH - Premi pemeliharaan gawangan - Premi pemeliharaan tunas - Premi pemeliharaan wipping Lalang - Premi pemeliharaan hama penyakit - Premi pemeliharaan penyisipan - Premi pemeliharaan spot lalang Sumber: Surat Edaran, Tambusai Estate 2011 Satuan Kg Ha Premi Rp 8/Kg Rp 1,500/ha Ha Rp 500/ha Ha Ha Ha Ha Rp 500/ha Rp 1,500/ha Rp 1,000/ha Rp 100/ha Ha Ha Ha Rp 150/ha Rp 100/ha Rp 100/ha 25   26   Tabel 7. Daftar penyesuaian harga perawatan No. Uraian 1. Chemis piringan 2. Chemis pasar pikul 3. Babat gawangan manual - T.T 1990-1999 - T.T 2000-2006 4. Dongkel anak kayu sawit - T.T 1990-1999 - T.T 2000-2006 5. 6. 7. Satuan (Rp/ha) Garuk piringan manual T.T 1990-2006 Tunas kelapa sawit - T.T 1990-1991 - T.T 1995-2006 Pemupukan manual - Dosis 0-1.49 kg/pohon - M/B pupuk - Until pupuk - Dosis > 1.49/kg/pohon Sumber: SE, Tambusai Estate 2011 14,000 35,000 35,000 40,000 45,000 50,000 60,000 650 550 12,000 7 17 15,000 Pengendalian Gulma Secara Manual Babat gawangan secara manual digunakan untuk mengendalikan gulma Nephrolepsis bisserata (Sw.) Schott., Mikania micranta (H. B. K) RM. King., Asystasia intrusa (Forssk.) Blume., Stenochlaena palustris Bedd., Lygodium palmatum (Bernh.) Swartz., dan berbagai macam gulma yang terdapat pada gawangan dengan tinggi babatan maksimum 20 - 30 cm dari permukaan tanah. Alat yang digunakan pada babat gawangan adalah parang babat yang tajam dan parang pincuk. Kegiatan babat gawangan dapat dilihat pada Gambar 4. Gambar 4. Babat gawangan di Tambusai Estate 26   27   Tenaga kerja babat juga termasuk sistem borongan. Seorang pembabat biasanya dapat menyelesaikan 1.5 ha - 2 ha/hari. Upah tenaga babat gawangan adalah Rp 35,000/ha. Pekerja juga tidak memperoleh premi karena yang bersangkutan menggunakan sistem borongan. Semua semak yang ada di gawangan dibabat menggunakan parang babat. Dongkel anak kayu merupakan kegiatan pengendalian gulma dengan cara mendongkel atau mencabut sampai ke akarnya. Jenis gulma yang didongkel adalah gulma daun lebar berkayu seperti: Melastoma affine D. Don, Foterandia L., Merremia umbellata (L.) Hallier f., Chromolaena odorata (L.) King and H.E.Robins., Clidemia hirta (L.) D. Don., dan tukulan (anak sawit liar) (Gambar 5a) yang terdapat pada gawangan, pasar pikul serta pada piringan kelapa sawit. Dongkel anak kayu dapat dilakukan dengan menggunakan alat dongkel, parang, atau langsung dicabut dengan tangan, gulma yang telah dicabut diletakan di anjang-anjang yang terletak di pinggir blok atau jalan (Gambar 5b). (a) (b) Gambar 5. Kegiatan dongkel anakan sawit di Tambusai Estate: a). Kegiatan dongkel anak kayu (Tukulan), b). Tempat anak kayu diletakan setelah di dongkel (anjang-anjang) Upah untuk tenaga kerja dongkel anak kayu adalah Rp 45,000/ha. Jenis pekerjaan ini juga termasuk pekerjaan sistem borongan, jadi tidak ada premi yang diperoleh oleh tenaga pendongkel. Tenaga pendongkel dapat menyelesaikan 1 - 1.5 ha/hari. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di Afdeling VIII, terdapat beberapa orang pendongkel yang hanya mampu menyelesaikan setengah hektar per hari. Menurunnya kemampuan tersebut disebabkan oleh faktor usia tenaga pendongkel yang berusia lanjut. 27   28   Pengendalian Gulma Secara Kimia Pengendalian gulma secara kimia merupakan pengendalian gulma yang dilakukan dengan cara menyemprot langsung pada gulma (Gambar 6 b) dengan menggunakan herbisida (Gambar 6 a). Pengendalian gulma secara kimia di Tambusai Estate diaplikasikan pada piringan, TPH, pasar pikul dan “long bad” kelapa sawit. (a) (b) Gambar 6. Bahan dan kegiatan pengendalian gulma secara kimiawi: a). Bahan herbisida amiron + metil metsulfuron, b). Kegiatan penyemprotan di pinggir collection road. Jenis herbisida yang digunakan adalah herbisida sistemik berbahan aktif glifosat dan metil metafuron dengan merek dagang Rapid® 20 WG, Bionasa® 480 As, Basta® 150 WSC, Ally® 20 WDG, Amiron-M® 20 WG dan Bravoxone® 276 SL. Bahan aktif herbisida di atas berturut-turut yaitu Isopropilamina glifosat (Rapid®, Bionasa® dan Basta®) dan Metil metsulfuron (Ally® dan Amiron-M®). Herbisida sistemik lebih cocok digunakan untuk mengendalikan gulma berdaun sempit seperti Axonopus compresus (Sw.) P. Beauv., Centotheca lappacea (L.) Desv., Cynodon dactylon (L.) Pers., Cyrtococcum accresens (Poac.)., Digitaria adscendens (H.B.K) Henr., dan Eleusine indica (L.) Gaertn., dan gulma berdaun lebar lunak yang tidak berkayu seperti Asystasia intrusa (Forssk.) Blume., Ageratum conyzoides L., Cleome rutidosperma D.C., dan Euphorbia hirta L. Penyemprotan herbisida dilakukan di piringan, TPH dan pasar pikul. Gulma yang dominan di piringan kelapa sawit adalah gulma berdaun lebar 28   29   yaitu Asystasia intrusa (Forssk.) Blume., sedangkan di pasar pikul adalah Centotecha lappacea (L.) Desv. Larutan herbisida dicampur dengan air terlebih dahulu di gudang pupuk sebelum dibawa ke lapang atau ke afdeling. Hal ini dilakukan untuk menghindari pencurian atau penjualan bahan aktif. Perbandingan campuran glifosat dengan air adalah 1:1, artinya untuk 1 liter bahan aktif diencerkan dengan 1 liter air. Dosis herbisida yang digunakan untuk penyemprotan piringan, TPH, dan pasar pikul di Afdeling VIII umumnya menggunakan dosis yang sama. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di Afdeling VIII, dosis untuk glifosat adalah 60 cc/tangki dan amiron 5 g/tangki. Dari pengamatan yang dilakukan terhadap lima orang penyemprot didapat jumlah pohon rata – rata yang disemprot untuk satu tangki adalah 61 pohon dengan ukuran tangki 15 liter, sehingga dosis per hektarnya adalah sebagai berikut : Luas efektif piringan yang disemprot/ha luas lahan = πr2 x 132 = 3.14 x (2.5 m)2 x 132 = 2,590. 5 m2 Jika 1 tangki digunakan untuk semprot 61 pohon, maka dosis per hektarnya adalah : = 15/ (3.14 x (2.5 m)2 x 61) x 10,000 = 125.300 l/ ha atau = 8 tangki/ ha Dosis anjuran = 450 cc/ ha luas efektif = 30 tangki Biaya pengendalian secara kimiawi contoh perhitungannya dibagi menjadi biaya pengendalian kimiawi di piringan dan pasar pikul. Contoh perhitungan biaya per hektar pada piringan di blok L24 (luas = 21.14 ha, jumlah HK = 5 HK, Jumlah kebutuhan rapid = 211 g dan amiphosate = 4.20 liter) yaitu: 1). Mencari jumlah upah terlebih dahulu yang didapat dari luasan efektif x upah/ha, didapatkan (21.14 ha x Rp 14,000/ha = Rp 295,960), 2). Menentukan biaya bahan dari (jumlah rapid x harga rapid) + (jumlah amiphosate x harga amiphosate), perhitungannya (211 x 150) + (4.20 x 22,100) = Rp 124,470, 3). Menghitung 29   30   biaya/ha = biaya bahan/luas efektif (Rp 124,470/ 21.14 ha = Rp 5,888/ha), 4). Mencari jumlah biaya/ha (no. 1 + no.2)/luasan efektif (Rp 295,960 + Rp 124,470)/ 21.14 ha = Rp 19,887.8/ha). Contoh perhitungan pengendalian secara kimiawi pada pasar pikul pada blok L25 dengan luas = 10.68 ha, jumlah HK = 5 HK, upah = Rp 7,000 / ha, jumlah rapid = 53 g dengan harga satuan Rp 150, dan Amiphosate 1 liter dengan harga Rp 22,100) yaitu: 1). Mencari jumlah upah = luasan efektif x upah/ha (10.68 ha x Rp 7,000/ha = Rp 74,760), 2). Menentukan biaya rapid dan amiphosat berturut-turut yaitu (53 g x Rp 150 = Rp 7,950 dan 1 liter x Rp 22,100), 3). perhitungan biaya bahan (Rp 7,950 + Rp 22,100 = Rp 30,050), dan 4). Biaya bahan/ha = Rp 30,050/10.68 ha = Rp 2,814/ha. Dari perhitungan di atas dapat dilihat bahwa dosis yang digunakan belum sesuai dengan anjuran. Oleh sebab itu, kematian gulma yang disemprot di piringan membutuhkan waktu yang lebih lama dari waktu yang diharapkan. Mengacu pada buku saku Tambusai Estate rekomendasi pencampuran herbisida baru bahan aktif glifosat dan metil metafuron 1.5 liter + 7.5 g/ha dengan perbandingan 1 liter : 5 kg. dan rekomendasi tangki solo 450 l/ha = 450/15 = 30 tangki/ha sehingga 1,500 cc dengan anjuran volume semprot 450 l/ha mendapatkan dosis 1 tangki = 50 cc/tangki. Waktu Pengendalian Gulma Waktu yang dianjurkan untuk melakukan penyemprotan yaitu sekitar jam 07.00 pagi dimana stomata masih terbuka sehingga memudahkan penyerapan herbisida ke gulma yang dikendalikan. Penyemprotan juga tidak dilakukan pada saat turun hujan maupun sebelum hujan, karena dapat mengakibatkan hilangnya herbisida sebelum sempat terserap ke dalam gulma. Rotasi pengendalian gulma penyemprotan pada piringan 3 bulan sekali sedangkan babat gawangan dan DAK (Dongkel Anak Kayu) 2 bulan sekali. Teknis Pengendalian Gulma dan Dosis Pelaksanaan teknis penyemprotan dimulai dengan pembagian regu semprot. Setiap regu terdiri dari 4 - 5 regu tergantung dari jumlah borongan 30   31   dimana semuanya sebagai penyemprot. Alat semprot yang digunakan adalah knapsack SOLO yang berkapasitas 15 liter dan nozzle yang digunakan adalah nozzle berwarna hitam (nozel kipas) dengan lebar 2.5 cm. Dosis campuran glifosat dan metil metafuron untuk dosis penyemprotan piringan 0.2 l/ha dan pasar pikul 0.4 l/ha (asumsi 80% tidak tertutupi gulma) sehingga konsentrasinya 1.3 ml/l dan 2.6 ml/l tanpa pengenceran. Pengisian larutan menggunakan alat takar yang telah di kalibrasi dengan ukuran 120 ml dengan tujuan untuk menghemat waktu dan memudahkan cara pengisian. Hal ini sesuai dengan dosis yang digunakan untuk setiap satu tangki knapsack SOLO yaitu, 120 ml larutan campuran setelah diencerkan (60 ml larutan campuran tanpa pengenceran) per satu knapsack. Pencampuran larutan herbisida dilakukan di dalam knapsack . Air yang digunakan untuk pengenceran adalah air parit maupun air genangan dalam blok, akibatnya nozzle sering tersumbat oleh kotoran. Selain itu, air kotor dan keruh yang digunakan untuk pengenceran dapat mengurangi kinerja herbisida. Penyemprot mulai menyemprot dari arah luar gawangan menuju ke dalam blok yang mana penyemprot mendapatkan areal penyemprotan 1 pasar untuk 1 orang. Setiap penyemprot menyemprot saling berdekatan untuk memudahkan pengawasan pasar yang telah tersemprot. Pada Tambusai Estate terdapat 5 Hk penyemprot, sehingga herbisida yang di dalam tangki di geser setiap 5 pasar. Cara kerja penyemprotan di dalam blok dapat dilihat pada Gambar 7. Gambar 7. Cara kerja penyemprotan dalam blok Penyemprot gulma dilakukan oleh pekerja yang sudah terlatih, karena dalam menyemprot gulma perlu diperhitungkan kecepatan jalan, kekuatan 31   32   memompa, dan menyemprotkan herbisida secara merata agar penggunaan herbisida lebih efektif. Kegiatan pengendalian gulma ini menggunakan sistem borongan (SPKL) yang mana diketuai oleh satu ketua rombongan yang mendapatkan Rp 1,000 - 2,000/ha dari tiap pekerja. Terdapat beberapa hal yang menjadi perhatian perusahaan agar kegiatan penyemprotan berjalan dengan baik, diantaranya adalah kondisi alat semprot yang terdiri atas knapsack sprayer dan nozzle. Kedua bagian alat semprot ini berpengaruh pada kelancaran pekerjaan dan penggunaan herbisida. Berdasarkan pengamatan di lapangan, sering dijumpai knapsack bocor yang disebabkan oleh karet klep yang sudah aus. Sering dijumpai juga kondisi nozel yang tidak standar. Knapsack yang bocor akan menyebabkan herbisida terbuang sia-sia, sedangkan nozzle yang tidak sesuai standar akan mempengaruhi ketepatan volume semprot. APD (alat pelindung diri) (Gambar 8a dan b) yang diperlukan dalam kegiatan penyemprot, biasanya baru didistribusikan pada minggu akhir bulan Januari. (a)  (b) Gambar 8. Tim pengendalian gulma secara kimia yang dilengkapi dengan APD: a). Penggunaan APD (alat pelindung diri) b). Sarung tangan dan sepatu alat yang wajib digunakan Permasalahan lain yang sering timbul di lapangan adalah masalah kondisi lahan. Kegiatan penyemprotan tidak bisa dilaksanakan pada lahan yang mengalami banjir atau tergenang akibat hujan malam sebelumnya. Mandor mengantisipasi permasalahan dengan terlebih dahulu melihat kondisi lahan sebelum kegiatan, jika lahan tidak memungkinkan untuk melakukan kegiatan 32   33   biasanya dialihkan ke blok sebelahnya dengan waktu pengendalian yang berdekatan. Gulma Bermanfaat Gulma di samping merugikan juga memberi manfaat bagi perkebunan kelapa sawit. Tambusai Estate memanfaatkan gulma Tunera subulata, Antigonon leftopus, Euphorbia heterophylla, Cassia tora, Ageratum conyzoides, Urena lobata, dan Erechtites valerianifolia (Gambar 9 a - g) sebagai inang alternatif musuh alami (parasitoid dan predator) dan hama UPDKS (ulat pemakan daun kelapa sawit). Gulma bermanfaat diupayakan keberadaannya di areal perkebunan karena peranannya dalam mendukung perkembangan agensia pengendali hayati UPDKS. UPDKS merupakan hama yang berasal dari Ordo Lepidoptera, yang terdiri dari ulat api (Limacodidae) dan ulat kantong (Psychidae). Namun, yang sering menyerang tanaman kelapa sawit adalah ulat api jenis Setothesa asigna dan Setora nitens (Gambar 9 h dan i). Tanda - tanda serangannya berupa daun - daun berlubang, adanya daun yang hamper berlubang (terlihat transparan), dan ada pelepah yang tinggal lidi. Gulma bermanfaat ini ditanam di pinggir CR (Collection Road), MR (Main Road), atau di tempat terbuka. Gulma Turnera subulata, Antigonon leftopus dan Casia tora ditanam selain di pinggir blok sepanjang jalan kebun dan daerah yang kosong dalam blok. Perbanyakan tanaman bermanfaat tersebut bisa dilakukan dengan cara stek atau dengan biji. Apabila Turnera subulata atau Casia tora telah mencapai tinggi 75 cm dilakukan pemangkasan menjadi 50 cm dari permukaan tanah. Casia tora yang telah tua diremajakan kembali dengan penanaman bibit yang baru. Tanaman berguna lainnya biasanya tumbuh secara alami di dalam blok. Pemangkasan atau babat dilakukan apabila tanaman mengganggu pertumbuhan kelapa sawit. 33   34   (a) (b) (c) (d) (e) (f) (g) (h) (i) Gambar 9. Gulma bermanfaat pada tanaman kelapa sawit dan hama UPDKS: a). Antigonon leftopus, b). Casia tora, c). Turnera subulata, d). Erechtites valerianifolia, e). Euphorbia heterophylla, f). Ageratum conyzoides, g). Urena lobata, dan hama UPDKS: h). Sentothesa asigna, dan i) Setora nitens 34   35   Pemupukan Kegiatan pemupukan di Tambusai Estate terdiri dari pemupukan organik dan juga anorganik. Pemupukan anorganik dilakukan dengan mengaplikasikan pupuk urea, MOP (Muriate of Potash), kieserite, RPH (Rock Phosphate), HGFB (high grade fertilizer borax) (Gambar 10a). Pemupukan organik terdiri dari aplikasi janjang press (Gambar 10b) dan LA (Land Application) atau effluent. (a) (b) Gambar 10. Jenis pupuk yang diaplikasikan di Tambusai Estate: a). Pupuk anorganik (RPH), dan b). Pupuk organik (janjang press) Pemeliharaan tanaman sawit terutama pemupukan sangat di perhatikan di Tambusai Estate, agar tanaman dapat menghasilkan produksi yang optimum. Selain itu, pemupukan berguna dalam memperbaiki tanah sehingga seluruh unsur hara berada dalam kondisi yang setimbang. Sebelum melakukan pemupukan mandor membuat RUP (Rencana Usulan Pekerjaan), rencana ini dibuat satu hari sebelum pengaplikasian pemupukan. Di dalam RUP akan ditentukan target jumlah pupuk yang dibutuhkan tanaman kelapa sawit per-blok. Kemudian, seorang asisten akan membuat UPH (Usulan Pekerjaan Harga). UPH ditandatangani asisten, diketahui kasi, dan disetujui deputy yang selanjutnya dibawa ke gudang untuk di tandatangani kepala gudang. Setelah itu, UPH masuk ke gudang central yang terdapat di PKS kemudian masuk ke gudang afdeling. Sebelum melakukan penguntilan di gudang afdeling, UPH terlebih dahulu diisi kartu gudang. Penguntilan di Afdeling VIII dilakukan di gudang PKS karena dekat dengan PKS. 35   36   Organisasi Pemupukan Dalam kegiatan pemupukan terdiri dari tim kecil yang mana dinamakan kelompok kecil pemupukan (KKP). Pemupukan menggunakan sistem borongan dengan satu kepala rombongan. Jumlah tenaga pupuk bergantung tonase pemupukan pada saat aplikasi. Jika tonase pupuk lebih besar dari 5 ton, maka jumlah tenaga pupuk yang digunakan 9 orang yaitu 6 orang sebagai penabur dan 3 orang pelangsir dengan perbandingan 1 : 2 (1 orang pelangsir pupuk 2 orang sebagai penabur dalam 1 pasar). Jika tonase kurang dari 5 ton jumlah tenaga pupuk yang digunakan 6 orang yaitu 4 orang sebagai penabur dan 2 orang sebagai pelangsir. Organisasi pemupukan di Tambusai Estate terdiri atas organisasi kerja penguntilan, organisasi kerja pelangsiran, organisasi kerja pengeceran, dan organisasi kerja penaburan. Organisasi pemupukan di Tambusai Estate seperti di atas dapat dilihat pada Gambar 11. (a) (b) (c) (d) Gambar 11. Organisasi pemupukan di Tambusai Estate: a). Organisasi penguntilan, b). Organisasi pelangsiran, c). Organisasi pengeceran dan d). Organisasi penaburan 36   37   Pupuk yang akan diaplikasikan di lahan, dimobilisasi dari gudang pupuk yang berada di kantor kebun untuk dibawa ke afdeling. Organisasi kerja penguntilan pupuk di Afdeling VIII (Gambar 12) dilakukan di gudang pupuk dikarenakan jarak antara afdeling VIII dan kantor kebun yang dekat. Pupuk diuntil untuk 6 pohon dengan tujuan untuk lebih mengakuratkan dosis per pohon tanaman dan memudahkan pekerja untuk membawa pupuk. (a) (b) (c) (d) Gambar 12. Organisasi penguntilan di Tambusai Estate: a). Pembokaran muatan di gudang pupuk, b). Peralatan di gunakan saat penguntilan, c). Penimbangan pupuk per-untilan sesuai dangan takaran, d). Untilan pupuk Sebelum dilaksanakan pemupukan, pupuk terlebih dahulu diuntil di gudang PKS (pabrik kelapa sawit). Pupuk yang menggumpal dihancurkan sebelum diuntil. Berat setiap untilan disesuaikan dengan dosis dan jumlah pohon per until (disesuaikan dengan dosis kg/pohon). Cara menghitung banyaknya untilan misalnya untuk blok L23 dengan luasan 29.53 ha dan dosis pupuk MOP 1.5 kg/pohon adalah: 1). Menghitung jumlah pohon terlebih dahulu 29.53 ha x 132 pohon/ha = 3,897.96 pohon, 2). Jumlah pohon dikalikan dosis MOP/pohon 37   38   untuk mencari kebutuhan pupuk (3,897.96 pohon x 1.5 kg/pohon = 5,846.94 kg). Hasilnya didapatkan tonase pupuk blok L23 = 5,846 kg ( lebih besar dari 5 ton), karena lebih besar dari 5 ton maka di dalam pengaplikasian menggunakan tenaga pupuk 9 HK. Bobot atau takaran satu until dengan dosis 1.5 kg/pohon adalah 9 kg, sehingga banyaknya jumlah untilan yang di perlukan di blok L23 adalah = 5,846 kg/9 kg = 650 untilan. Tabel 8 menunjukkan rekomendasi takaran pupuk sesuai dengan dosis kg/pohon dan Tabel 9 rekomendasi dosis pupuk berdasarkan jumlah until. Tabel 8. Rekomendasi takaran pupuk sesuai dosis kg/pohon Dosis Pupuk Takaran Pupuk/ Until (Kg/ Pohon) 6 Kg 7.5 Kg 9 Kg 10.5 Kg 0.50 √ 0.75 √ 1.00 1.25 √ 1.50 √ 1.75 √ 2.00 Sumber: SOP Pemupukan Tambusai Estate 2011 12 Kg √ √ Tabel 9. Rekomendasi dosis pupuk berdasarkan jumlah untilan Dosis Pupuk (kg/pohon) Jumlah Pohon (kg/ until) 6 (Kg) 9 (Kg) 0.50 3.0 0.75 4.5 1.00 6.0 1.25 7.5 1.50 9.0 1.75 10.5 2.00 12.0 Sumber: SOP Pemupukan Tambusai Estate 2011 12 (Kg) 6 9 12 Pada (Tabel 9) rekomendasi pupuk berdasarkan jumlah untilan dengan tujuan memudahkan perhitungan pemupuk dalam menguntil berdasarkan jumlah rekomendasi pohon yang dipupuk setiap satu untilan. Apabila dosis pupuk 0.5 kg/pohon dan rekomendasi 1 untilan untuk 6 pohon, maka di dalam 1 untilan atau 1 ember terdapat 3 kg pupuk dengan dosis 0.5 kg/pohon untuk ditaburkan ke 6 pohon. Pupuk yang telah diuntil dilangsir dengan truk untuk diecer ke tepi jalan 38   39   blok sesuai “supply point” yang ditentukan. Pada blok dengan parit disebelahnya, pupuk diecer di bawah pohon. Rekomendasi penentuan “supply point” yang di tetapkan oleh Tambusai Estate dapat dilihat pada Tabel 10 dan Gambar 13. Tabel 10. Rekomendasi supply point Dosis Pupuk (Kg/ Pohon) 0.50 0.75 1.00 1.25 1.50 1.75 2.00 Jmlh Untilan Juml per ah Kg/ Jumlah Pasar 2 3 Until Untilan / Pasar Pasar Blok Pikul Pikul 3,960 1,980 6.0 330 60 11 3,960 2,970 9.0 330 60 11 3,960 3,960 12.0 330 60 11 3,960 4,950 7.5 330 60 22 3,960 5,940 9.0 330 60 33 3,960 6,930 10.5 330 60 33 3,960 7,920 12.0 330 60 33 Sumber: SOP Pemupukan Tambusai Estate 2011 Kebutuh Jmlh an Pupuk Pohon (Kg) Pohon ke- Per until 12 12 12 6 6 6 6 Gambar 13. Pola distribusi pupuk menurut Hidayat (2012) Supply point ini dibuat agar mudah dalam kegiatan pelangsiran dan pengeceran pupuk, sesuai dengan SOP pemupukan yang telah ditetapkan suatu perusahaan. SOP pemupukan antara lain: 1). Areal yang akan di pupuk, 2). Dosis kg/pohon, 3). Tonase, 4). Jumlah untilan, 5). Peletakan untilan dalam pasar harus tepat, 6). Penabur mengambil pupuk yang sudah dilangsir, dan 7). Pupuk menabur ke dalam piringan dengan jarak 1.5 m dari pohon sawit. Penabur mengambil pupuk dari pelangsir dan menaburkannya, 1.5 kg/pohon untuk pupuk MOP setiap 1 pohon 1 untilan di gunakan untuk 6 pohon 39   40   tidak lebih ataupun kurang sesuai rekomendasi perusahaan. Perusahaan menetapkan 1 until untuk 6 pohon dengan alasan yaitu: memudahkan penabur membawa pupuk, sesuai takaran ember 12 liter, dan pekerjaannya menjadi efektif. Tenaga pelangsir pupuk bertugas melayani tenaga tabur di pasar pikul dengan meletakan untilan pupuk pada pasar pikul kedua pohon yang sudah ditentukan sesuai dosis kg/pohon. Untilan tersebut diletakan di pohon ke 7 karena 1 until biasanya dihabiskan untuk 6 pohon sesuai ketetapan. Cara mengetahui berapa kebutuhan until dalam 1 pasar L23 dengan luasan 29.53 ha, jumlah pohon 3,897.96 pohon, dosis/pohon 1.5 kg/pohon dan jumlah untilan 650 untilan dengan tonase 5,850 kg adalah 650/59 pasar = 11 until/pasar sebanyak 59 pasar di dapat dari pembagian luasan dan 2 pasar (1 ha), sedangkan tenaga penabur pupuk bertugas mengambil pupuk yang sudah dilangsir di pohon yang akan di tabur. Selanjutnya, tenaga tabur menabur pupuk di dalam piringan secara merata dan tipis agar tidak terjadi gumpalan dan memudahkan proses peresapan ke dalam tanah. Penaburan di mulai dari tepi blok dari selatan menuju utara blok dan harus tembus dalam 1 hari, 1 pohon di tabur di tiga titik dan 3 mangkok dimana 1 mangkok memuat 500 g pupuk jika dosis per pohon 1.5 kg/pohon. Takaran pemupuk ini disesuaikan dengan dosis pupuk dan seragam untuk setiap pemupuk. Pohon di dalam satu blok di pupuk semua, tetapi pohon paling pinggir dekat parit tidak di pupuk keliling pohon tetapi hanya berbentuk huruf “U”. Piringan yang mengarah ke parit ini tidak dipupuk karena apabila dipupuk akan mencemarkan parit oleh limbah dari pemupukan. SOP ini dibuat karena Tambusai Estate telah menerapkan system ISO 14001:2008 mengenai manajemen lingkungan. Setelah selesai memupuk, goni bekas untilan dikumpulkan, dan digulung dengan rapi per 10 karung dalam satu ikatan kemudian di bawa ke afdeling gudang VIII. Karung goni dicuci di tempat pencucian karung dan pemupuk mencuci badan di tempat pencucian yang telah disediakan. Jenis Pupuk Kegiatan pemupukan selain harus tepat cara, pupuk yang diaplikasikan di lapangan harus tepat jenis. Pupuk yang biasa diaplikasikan di perkebunan kelapa sawit yaitu pupuk organik dan pupuk non organik. Pupuk anorganik yang 40   41   digunakan adalah pupuk makro dan pupuk mikro. Tanaman kelapa sawit yang ada di Tambusai Estate adalah tanaman menghasilkan. Pupuk mikro yang digunakan di Tambusai Estate adalah pupuk FeSO4 dan Borate. Pupuk makro yang digunakan adalah pupuk Urea, MOP, KCl, Rock phospat, dan Kieserit. Pupuk organik yang digunakan adalah pupuk yang berasal dari janjang kosong yang telah di pres disebut janjang pres (jampres) dan limbah hasil pengolahan kelapa sawit (Effluent). Limbah pengolahan kelapa sawit dikembalikan ke tanaman selain untuk memberikan hara ke tanaman juga untuk menjaga lingkungan agar tidak tercemar. Aplikasi janjang press di lapangan berguna untuk menambah bahan organik bagi tanah. Hal tersebut akan meningkatkan penyerapan air oleh tanah, memperbaiki struktur tanah, dan memacu pertumbuhan akar. Janjang kosong diangkut dari pabrik menggunakan dump truck pengangkut TBS pada pagi hari dan diletakan di collection road afdeling VII oleh mobil kebun yang mengangkut janjang press. Aplikasi janjang press ini menggunakan sistem borong surat perintah kerja lapang (SPKL), janjang press dilangsir dari PKS dan di tumpuk di tepi jalan kemudian dilangsir ke dalam blok dan diaplikasikan dari utara ke selatan. Janjang press ini disusun dengan rapi membentuk empat persegi berbentuk petak dengan ukuran 2.1 m x 2.5 m setara dengan 9 janjangan x 10 dan peletakannya tidak dibenarkan lebih dari satu lapis. Pupuk organik selain janjang press adalah effluent (land application). Effluent merupakan limbah cair dari pengolahan kelapa sawit di pabrik yang berasal dari sludge. Effluent di pabrik berasal dari air condesat rebusan dari mesin decanter yang berbentuk heavy phase. Effluent dari kolam pengolahan limbah dialirkan ke kebun menggunakan pipa. Pipa induk dari PKS ke blok berukuran 8 inci, 6 inci pipa yang masuk ke dalam blok, dan pipa ke flat bad berukuran 4 inci. Blok tempat pengaplikasian effluent terdapat flatbad yang berukuran panjang 280 m, lebar 1.5 m dan kedalaman 0.8 m. Dalam 1 blok terdiri dari 60 “long bad” dan volume “long bad” = 336 m3/long bad. Satu blok terdiri dari 60 “long bad” dan tiap 1 jam rata-rata mengeluarkan 65 m2. Satu hari mengeluarkan 650 sampai dengan 715 m3 limbah cair/4 “long bad”. PKS memiliki kolam penampungan Effluent 1 dan 2, yang mana kolam 1 dibagi ke kolam 3,4,5,6 dan kolam 2 ke 41   42   7,8,9,10 kemudian setelah itu baru siap diaplikasikan ke lapangan. Tambusai Estate memiliki 6 blok land application (LA) yaitu: M17, M18, L17, L18, L19 dan L20, pembukaan keran dimulai pukul 07.00 - 17.00 wib. Infus Akar Menggunakan FeSO4 Infus akar merupakan pemberian pupuk anorganik ke pohon yang mengalami defisiensi Fe, melalui penyerapan cairan pada akar yang tidak bercabang atau akar utama. Aplikasi FeSO4 dilakukan melalui pemberian infus ke dalam akar dan melalui penaburan menggunakan pupuk chelat. Dosis chelat yang digunakan yaitu 150 g/pohon dan dosis iron 15 g/titik. Pencampuran pengimpusan FeSO4 yaitu 300 g iron dalam bentuk kristal dan 20 g asam sitrat ditambah air hingga mencapai 1 liter. Satu pohon ada 3 titik sehingga ada 45 g/3 titik/pohon. Jumlah tenaga untuk pengimpusan ada 4 HK, 2 orang sebagai pembuat lubang tanam dan pengimpusan, 1 orang sensus pohon, dan 1 orang sebagai penabur chelat. Tenaga kerja pengimpusan di Tambusai Estate menggunakan sistem borongan (SPKL). Aplikasi Fe dengan infus dilakukan dengan cara mencari akar primer aktif, kemudian dipotong dengan panjang akar sesuai dengan panjang plastik untuk media Fe. Selanjutnya, ditutup dengan rumputan atau daun kering jangan ditimbun dengan tanah karena akan menyulitkan pengecekan kembali setelah 2 minggu aplikasi. Jumlah infus yang diberikan ke pohon yang terserang, tergantung pada tingkatan kerusakannya melalui sensus pohon Fe. Sensus pohon yang terserang defisiensi ini dilakukan untuk mendata jumlah pohon kelapa sawit yang mengalami defisiensi Fe. Pohon yang terserang diberi tanda dengan cara menggunakan cat merah yang dituliskan di pohon yang terdiri dari tanggal aplikasi dan tingkat terserang Fe. Hasil sensus defisiensi Fe digolongkan menjadi tiga tingkat golongan (Gambar 14) yaitu: 1. Ringan : Ditandai dengan daun tombak / pucuk menguning 2. Sedang : Ditandai dari daun tombak hingga daun ke-9 menguning 3. Berat : Ditandai dari daun tombak hingga daun ke-17 atau daun ke-25 menguning. 42   43   Untuk pemulihan kembali akibat defisiensi Fe, aplikasi dilakukan dengan rincian: 1. Ringan : Infus akar dosis 60 cc/600 ml air/1 titik ditambah penaburan pupuk Fe-Chelate 150 g/pohon. 2. Sedang : Infus akar dosis 60 cc/600 ml air/2 titik ditambah penaburan pupuk Fe-Chelate 150 g/pohon. 3. Berat : Infus akar dosis 60 cc/600ml/3 titik ditambah penaburan pupuk Fe-Chelate 150 g/pohon. Kenyataannya, di Afdeling VIII ketiga kategori akibat defisiensi Fe di infus pada 3 titik. Penginfusan 3 titik digunakan untuk meminimalisir kesalahan pada saat sensus. Apabila terlalu banyak cahaya yang masuk, daun yang berwarna hijau terang bisa terlihat seperti hijau gelap jika dilihat dari bawah pohon. Hal ini dapat mengakibatkan kesalahan dalam penentuan defisiensi Fe. Kesalahan penentuan defisiensi Fe dapat berakibat kurangnya dosis yang diberikan, sehingga tiap pohon yang terserang defisiensi Fe baik kategori sedang, ringan atau berat diberikan dosis maksimal. Rotasi pengimpusan dilakukan 1 x 2 bulan, bila pohon yang terserang berat defisiensi hara Fe. Apabila tidak segera diaplikasikan, selang 3 bulan kemudian tanaman akan mengalami patah pada pelepah pucuk pohon (Gambar 14). Kegiatan pengimpusan dapat dilihat pada Gambar 15. (a) (b) (c) Gambar 14. Kondisi tanaman kekurangan Fe: a). Tingkat defisiensi Fe rendah, b). Tingkat defisiensi sedang, dan c). Tingkat defisiensi berat. Panah merupakan tanda-tanda untuk menunjukkan kekurangan Fe 43   44   Gambar 15. (a) (b) (c) (d) (e) (f) Kegiatan pengimpusan kelapa sawit: a. Alat mencampurkan pupuk, b). Chelat yang ditaburkan di piringan, c). Kegiatan mencari akar aktif dengan menggunakan dodos, d). Akar aktif, e). Pengisian FeSO4 ke dalam plastik pembungkus akar, dan f). Penimbunan dengan serasah Dosis Pupuk Dosis pupuk yang diberikan pada tanaman tergantung kebutuhan hara yang dibutuhkan oleh tanaman itu sendiri. Dalam menentukan jumlah hara yang dibutuhkan tanaman dapat dilakukan dengan analisis tanah atau analisis daun. 44   45   Semakin tua umur tanaman maka semakin besar jumlah hara yang dibutuhkan tanaman, sehingga semakin besar pula dosis pupuk yang diberikan. Dosis pupuk yang diaplikasikan di Afdeling VIII di Tambusai Estate adalah 2 kg urea/pohon, 1.5 kg KCl, 1.25 kg RPH, dan 1.5 kg MOP. Dosis ini di aplikasikan ke semua blok kecuali di blok L17 - L22, hal ini disebabkan blok L17 - L22 telah diberikan pupuk organik berupa limbah cair dari pengolahan kelapa sawit. Dosis yang diaplikasikan di blok L17 - L22 adalah 750 m3 untuk 3 x rotasi. Lahan yang diaplikasi dengan limbah dapat mengurangi dosis pupuk anorganik pada tanaman kelapa sawit karena di dalam limbah cair hasil pengolahan kelapa sawit ini terkandung unsur-unsur yang juga terdapat pada pupuk anorganik. Unsur-unsur hara yang terdapat di janjang ini dapat dilihat pada Tabel 11. Tabel 11. Persentase kandungan hara janjang kosong tiap ton Hara utama Rata-rata N 0.37 P 0.04 K 0.97 Mg 0.08 Sumber: Pahan,2006 Pohon/ ton jjk 8 Kg Urea 2.9 Kg RP 18.3 Kg MOP 5.6 Kg Kieserite Persentase hara utama N = P2O5 = K2 O = MgO = 46.0% 29.7% 60.0% 27.0% Dosis aplikasi janjang pres adalah 30 ton/ha/tahun sedangkan dosis yang diaplikasikan ke lahan adalah 227 kg per titik. Jika 1 ha = 132 pohon. Satu angkong berisi lebih kurang 75 kg, jadi untuk satu titik diberikan tiga angkong. Pupuk diberikan di gawangan diantara dua pohon. Cara Pemupukan Waktu pemupukan menentukan keefektivan penyerapan hara pada tanaman. Menurut Pahan (2008) waktu dan frekuensi pemupukan ditentukan oleh iklim (terutama curah hujan), sifat fisik tanah, logistik (pengadaan) pupuk, umur serta adanya sifat sinergis dan antagonis antar unsur hara. Curah hujan bulanan yang baik untuk pemupukan adalah 100 - 200 mm. Penentuan frekuensi dan pengaturan pemupukan sangat penting karena berkaitan dengan sifat sinergis dan 45   46   antagonis dari hara yang terkandung. Secara umum, sifat sinergis unsur hara antara N dan K, sedangkan sifat antagonis antar unsur hara yaitu, N - P, N - Mg, dan K - Mg (Pahan, 2008). Hal ini menyebabkan rotasi pemupukan harus diperhatikan agar tanaman dapat memperoleh hara optimal. Jarak waktu aplikasi pupuk Kiserit ke MOP di Tambusai Estate diberi selang 3 minggu, MOP ke RPH diberi selang 2 minggu, dan Urea ke RPH diberi selang 3 minggu. Urea dan MOP diaplikasikan dua kali dalam setahun, sedangkan Kieserit dan RPH diaplikasikan satu tahun sekali. Pupuk organik janjang press rotasinya 1 x setahun sedangkan effluent 3 x setahun. Pemupukan di Tambusai Estate dilakukan dengan cara manual dan teknis, tetapi yang paling banyak digunakan adalah dengan cara manual. Pupuk yang sudah diuntil dilangsir tepat pada titik-titik penempatan pupuk atau disebut supply point. Dari supply point pupuk dilangsir ke dalam satu until setiap 6 pohon dengan menggunakan angkong. Penebar pupuk memupuk dengan cara menuangkan pupuk yang sudah diuntil ke dalam ember yang digendong. Pupuk ditabur sekeliling pohon dengan jarak 1.5 - 2 m dari pohon. Pohon yang terdapat di pinggir parit tidak sekelilingnya dipupuk agar pupuk tidak jatuh ke parit sehingga dapat mencemarkan lingkungan. Standar ini diterapkan karena Tambusai Estate telah menerapkan ISO 9001 : 2005 yaitu tentang manajemen mutu dan ISO 14001 : 2008 tentang lingkungan. Alat yang digunakan untuk pemupukan yaitu, ember, angkong, karung goni, dan mangkok takaran pupuk, selain itu juga APD yang wajib dikenakan pelangsir adalah sepatu APD dan sarung tangan sedangkan untuk penabur ditambah masker dan kacamata. Pemupukan dengan cara mekanis hanya dilakukan pada afdeling II dengan menggunakan “sprader”. Cara pemupukan dengan “sprader” yaitu: pupuk di masukan ke dalam corong tempat penampungan pupuk, kemudian mesin dihidupkan, selanjutnya pupuk akan keluar dari bawah dan menyemprotkan ke kanan dan kiri pohon. “Sprader” dijalankan oleh operator sedangkan pupuk dimasukan ke dalam tempat “sprader” oleh dua orang pemuat pupuk. 46   47   Tenaga dan Upah Memupuk Pemupukan di Tambusai Estate menggunakan sistem borongan. Tenaga kerja yang digunakan tergantung tonase pupuk yang diaplikasikan. Jika pupuk yang diaplikasikan kurang dari 5 ton, tenaga yang dibutuhkan adalah 6 orang, 2 orang pelangsir dan 4 orang penebar. Apabila pupuk yang diaplikasikan lebih dari 5 ton, tenaga yang digunakan adalah 9 orang, yaitu 3 pelangsir dan 6 penebar. Selain itu, tenaga pemupuk ini dibawahi oleh ketua borongan yang mana ketua borongan dibawahi oleh mandor pupuk. Mandor pupuk merupakan karyawan bulanan tetap (KBT). Tenaga pemupuk ini juga bekerja sebagai penguntil dan pemuat pupuk sekaligus. Upah penguntil pupuk sebesar Rp 17 /kg, sedangkan upah tenaga pemupuk tergantung dosis yang diaplikasikan per pohon. Dosis 0 - 1.49 kg upah yang diberikan kepada tenaga pemupuk sebesar Rp 12,000 /ha, sedangkan untuk dosis lebih dari 1.49 kg upahnya Rp 15,000 /ha. Tenaga kerja pemupuk tidak mendapatkan premi dikarenakan pekerja merupakan pekerja borongan. Upah diserahkan kepada kepala rombongan, upah yang diberikan kepada tenaga pemupuk tergantung pada kepala rombongan. Berdasarkan hasil wawancara dengan pemupuk di Afdeling VIII, pemupuk memperoleh harga Rp 10,500/ha dari Rp 12,000, dan Rp 13,500 dari Rp 15,000 karena 12.5%/ha diambil oleh ketua rombongan. Pemupukan ada secara manual dan mekanis, untuk perhitungan secara manual pada blok L23 dengan luas 29.53 ha dengan dosis 1.5 kg/pohon dan jumlah pupuk 5,846 kg, jumlah pohon 3,898 pohon tahun tanam 1997. Total biaya per-ha pemupukan blok L23 secara manual yaitu, (1) Upah pemupukan : Rp 15,000 (dosis lebih besar 1.49) x 29.53 ha : Rp 442,950 (2) Upah until : Rp 17/ kg x 5,846 kg : Rp 99,382 (3) Muat bongkar : Rp 7 x 5,846 kg : Rp 40,922 (4) Premi mandor : Rp 8 x 5,846 kg 47   48   : Rp 46,768 (5) Harga pupuk : Rp 3,050 x 5 846 kg : Rp 17,830 300 Total biaya per-ha, dengan harga pupuk adalah: :442,950 + 99,382 + 40,992 + 46,768 + 17,830,300 = Rp 625,140.26/ha 29.53 Total biaya per ha, tanpa harga pupuk adalah: : 442,950 + 99,382 + 40,992 + 46,768 = Rp 21,337.35/ha 29.53 Total biaya per-ha pemupukan mekanis diasumsikan menggunakan sprader dengan kapasitas deck fertilizer = 400 kg. (1) Upah pemupukan : a). Pemuat Rp. 20/ kg Biaya : 5,846 kg x Rp.20 : Rp 116,920 b). Operator Rp. 4/ kg Biaya : 5,846 kg x Rp. 4 : Rp 23,384 (2) Harga pupuk : 5,846 kg x Rp 3,050 : Rp 17,830,300 (3) Premi mandor : Rp 8 x 5,846 kg : Rp 46,768 (4) Muat bongkar : Rp 2 x 5,846 kg : Rp 11,692 (untuk supir) (5) Alokasi spreader : 1 JKT (jam kerja traktor) x Rp 77,000 Jika hari ini 3 jam kerja : 3 Jkt x Rp 77,000 : Rp 231,000 Total biaya per-ha dengan harga pupuk adalah: : 116,920 + 23,384 + 17,830,300 + 46,768 + 11,692 + 231,000 29.53 : Rp 618,356.38/ Ha Total biaya per-ha tanpa harga pupuk adalah: : 116,920 + 23,384 + 46,768 + 11,692 + 231,000 29.53 : Rp 14,553.47 48   49   Pemupukan dengan “spreader” kecepatannya dipertahankan stabil 25 km/jam agar tidak terjadi penumpukan pupuk. Operator terampil menguasai lapangan begitu juga pemuat harus terlatih. Tetapi, tidak semua hancak dan jenis pupuk dapat diaplikasikan dengan alat “sprader” ini. Pupuk yang tidak dapat diaplikasikan dengan sprader yaitu pupuk RPH (Rock Phosphate) karena butiran terlalu halus. Hancak yang tidak dapat diaplikasikan RPH adalah hancak yang memiliki kemiringan > 45º. Perhitungan pemupukan organik berupa janjang press per-ha aplikasi dengan mengacu harga pupuk anorganik pada bulan Maret 2011 (Tabel 12). Tabel 12. Harga pupuk, Maret 2011 Jenis Harga Pupuk Urea : Rp 3,747.90 / Kg Pupuk Mg : Rp 2,425.76 / Kg Pupuk P : Rp 1,087/Kg Pupuk Kalium : Rp 3,597.43/Kg Sumber: SE Tambusai Estate, 2011 Tenaga kerja yang digunakan untuk memupuk pohon dengan jampres yaitu 40 Hk, komponen biaya tangkos atau jampres sebagai berikut; (a) Premi mandor tankos : Rp 8,000/ha (b) Upah pemupukan tankos : Rp 450,000/ha (c) Urea : 1 ton janjang kosong (JJK) terdapat 8 kg urea Dosis : 30 ton JJK/ha Urea : 30 ton JJK /ha x 8 kg Urea : 240 kg Urea Biaya urea : Kandungan urea dalam 30 ton JJK x harga pupuk Urea : 240 kg x Rp 3,747.90 : Rp 899,496 (c) Kalium : 1 ton JJK terdapat 18.3 kg Kalium 49   50   Dosis : 30 ton JJK/ha Kalium : 30 ton JJK/ha x 18.3 Kalium : 549 kg Kalium Biaya Kalium : Kandungan Kalium dalam 30 ton JJK x harga Kalium : 549 kg x Rp 3,597.43 : Rp 1,974,989.07 (d) Phospor : 1 ton JJK, terdapat 2.9 kg P Dosis : 30 ton JJK/ha Phospor : 30 ton JJK/ ha x 2.9 kg P Biaya phosphor : Kandungan phosphor dalam 30 ton JJK x harga Phospor : 87 kg x Rp 1,087 : Rp 94,569 (e) Magnesium : 1 ton JJK, terdapat 5.6 kg Mg Dosis : 30 ton JJK / ha Magnesium : 30 ton JJK/ha x 5.6 kg Mg : 168 kg Mg Biaya Mg : Kandungan Mg dalam 30 ton JJK x harga Mg : 168 kg x Rp 2,425.76 : Rp 407,527.6 Jadi, biaya pemupukan tankos per-hektar: = Harga urea + Harga Kalium + Harga P + Harga Mg + Premi Mandor + Upah pemupukan tangkos = Rp 899,496 + Rp 1,974.98 + Rp 94,569 + Rp 407,527.68 + Rp 8,000 + Rp 450,000 = Rp 3,834 581.78 /ha 50   51   Panen Panen adalah kegiatan yang meliputi persiapan panen, peralatan panen, rotasi panen, organisasi potong buah, administrasi potong buah, kriteria matang, kualitas buah, sistem basis (siap borong), dan premi serta sanksi dan denda pemanen. Dalam pemanenan, pekerjaan pemotong buah merupakan pekerjaan yang penting untuk diperiksa, karena bagus atau tidaknya rendemen CPO (Crude Palm Oil) dan PKO (Palm Kernel Oil) bergantung dengan standar pemanenan yaitu kriteria matang panen. Jika tidak sesuai standar, buah mentah dan janjang kosong dapat masuk ke dalam pengolahan dan menurunkan rendemen. Persiapan Panen Persiapan panen dimulai dari kegiatan apel pagi (check roll) pada pukul 5.30 pagi - 6.00 pagi. “Check roll” ini dilakukan di collection road tempat hancak yang akan di panen, saat “check roll” pemanen diwajibkan memakai APD langsung, “check roll” ini dipimpin oleh seorang FA (Field Assisten) dan 2 Mandor panen (Gambar 16a). (a) (b) Gambar 16. Tim panen yang sedang melakukan persiapan di Tambusai Estate: a). Check roll dipimpin oleh asisten, dan b). Pembagian hanca panen oleh mandor panen FA bertugas memberikan pengarahan-pengarahan mengenai peraturanperaturan selama memanen dan juga denda apabila tidak memakai APD. Mandor panen bertugas membagi hanca panen yang akan dipanen dan juga mengingatkan 51   52   pemanen mengenai peraturan-perturan yang telah di dijelaskan oleh FA (Field Assisten) (Gambar 16 b). Sehari sebelum apel pagi, mandor panen harus membagi seksi panen dan menyiapkan kebutuhan pemanen untuk panen selanjutnya. Sebelum mendapatkan kebutuhan pemanen dan kebutuhan dump truck, mandor harus mengecek angka kerapatan panen blok yang akan di panen hari berikutnya. Angka kerapatan panen (AKP) adalah angka yang menunjukan buah matang panen dihitung 1 hari sebelum pelaksanaan panen. AKP (Angka Kerapatan Panen) maksimal diambil 10% dari luasan dan minimal 3% dari luasan. Sehingga, AKP untuk kaveld E 5 blok dengan luasan 143.45 adalah 14 ha/5 pasar per blok atau minimal 4.3 ha/2 pasar per blok. Kemudian, untuk mencari BJR (Berat Janjang Rata-rata) per hari menggunakan rumus = kg PKS/ jumlah janjang panen yang diterima. Biasanya mandor menggunakan BJR (Berat Janjang Ratarata) afdeling yaitu 21. AKP yang di dapat digunakan untuk mencari taksasi, kebutuhan pemanen dan kebutuhan dump truck. Rumus mencari taksasi untuk hari berikutnya yaitu, luas x jumlah pohon/ha x BJR/AKP atau taksasi hari ini : Taksasi atau kg yang telah ditetapkan (mengikuti sensus buah). Taksasi produksi ini dilakukan agar pemakaian tenaga kerja efektif dengan hasil panen yang didapatkan. Perhitungan output panen menggunakan pembagian jumlah kg TBS : jumlah HK dan persen efisiensi yaitu jumlah kg dibagi taksasi kg, sedangkan rumus untuk mencari HK pemanen yaitu: Kebutuhan Pemanen: Luas x Jumlah pohon/ha x BJR : Kapasitas Pemanen AKP (Angka Kerapatan Panen) Contoh perhitungan kaveld E (O18, O 19, O22, O23, dan P18) dengan luas panen 143.45 Ha, BJR 21 dan AKP 1:7 sehingga kebutuhan tenaga panen yang diperlukan untuk memanen kavel E adalah: 143.45 Ha x 132 pohon/ha x 21 : 3,000 = 18.9 HK 7 Kebutuhan dump truck untuk mengangkut buah kaveld E adalah: Kebutuhan dump truck :Tandan yang dipanen/ luasan panen:Kemampuan afdeling Bobot buah yang dapat diangkut dump truck 52   53   Pada kaveld E afdeling VIII pada tanggal 16 maret 2011, luasan panennya 143.45 Ha, tandan yang dihasilkan sebanyak 56,806.22 tandan, bobot buah yang diangkut dump truck 5.5 ton satu kali pengangkutan (trip), dan kemampuan ratarata pengangkutan TBS ke pabrik sebanyak 8 trip/unit. Sehingga kebutuhan dump truck afdeling VIII pada tanggal 16 maret 2011 : 56,806.22 / 5,500 kg/trip = 10.32 Trip/8 trip = 1 dump truck. Potong Buah Potong buah adalah aktivitas memotong buah oleh karyawan sampai buah diletakkan di TPH (Gambar 17 b). Pemanen memeriksa buah sebelum dipanen dan memastikan bahwa buah tersebut sudah matang, karena apabila buah kurang matang masuk ke dalam pabrik akan mengurangi nilai rendemen. Buah matang yang akan dipanen memiliki kriteria 40 brondolan di piringan atau 2 butir/kg dengan BJR Tambusai Estate 20 baik yang berwarna merah tua, orange ataupun kuning tergantung varietas. Setelah dipanen brondolan dihitung 1:4 dari tandan yang dipanen atau 8% x 20 = 160 butir brondolan setelah panen/ tandan Kriteria buah berdasarkan brondolan di Tambusai Estate ditampilkan pada Tabel 13. Tabel 13. Kriteria buah matang berdasarkan brondolan Golongan Kriteria Warna Mentah ungu kehitaman Kurang matang orange kemerah-merahan Matang orange kemerah-merahan Terlalu matang merah gelap Berondolan tidak memiliki berondolan < 2 berondolan/kg TBS 2 berondolan/kg TBS 50 % berondolan lepas > 10 berodolan masih lekat pada tandan Janjang kosong > 90 % berondolan lepas Sumber: Surat Edaran Tambusai Estate 2011 Standar panjang tangkai buah saat dipanen adalah 2 cm dari pangkal buah, jika pemanen melanggar akan dikenakan denda. Pemakaian alat perlindung diri (APD) wajib dipakai pemanen saat memanen buah yaitu sepatu AP, sarung egrek, kacamata dan sarung tangan (Gambar 17 a dan c). Hal tersebut dikarenakan pohon 53   54   sudah tinggi (TM 15 tahun tanam 1997) yang berisiko tinggi bagi pemanen. Denda pemanen dapat dilihat di Tabel 14. Tabel 14. Daftar perhitungan denda pemanen, mandor panen, dan kerani panen No . 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Kriteria Pemanen Rp/TBS 500/ TBS Mandor panen Rp/TBS 750/TBS TBS matang tidak dipanen TBS matang tidak diangkut 500/TBS 1,000/TBS di TPH TBS mentah terpanen 1,000/TBS 1,000/TBS TBS tangkai panjang 500/TBS 500/TBS Brondolan tidak dikutip 1,500/TBS 1,500/TBS TBS tidak diangkut dari TPH Brondolan tidak diangkut dari TPH Pencatatan data kualitas TBS Brondolan tidak benar Sumber: Surat Edaran Tambusai Estate, 2011 Krani produksi (Rp) 750/TBS 1,500/TBS 1,500/TBS 1,500/TBS 1,500/TBS Apabila pemanen melanggar aturan berkali-kali, yang bersangkutan akan dikenakan SP (surat peringatan) ataupun dikenakan mutasi ke PT atau afdeling lain. Denda pemanen ini dibuat untuk mendisiplinkan karena para tidak memotong tangkai TBS, tidak memotong pelepah menjadi dua dan tidak menaruhnya di gawangan mati. Istilah mencuri buah yaitu memotong TBS tanpa memotong pelepah penyangganya, “helper” tidak memungut brondolan di piringan maupun membenamkan brondolan di dalam tanah sehingga dapat menjadi gulma, juga akan terkena denda (Tabel 14). 54   55   (a) (b) (c) Gambar 17. Cara pemanenan yang benar menggunakan APD dengan baik: a). Pemotongan TBS dengan menggunakan egrek b). Pelangsiran dan penimbunan TBS di TPH, dan c). Pemanenan menggunakan APD. Rotasi Panen Rotasi panen adalah waktu yang diperlukan antara panen terakhir dengan panen berikutnya dalam areal panen atau ancak yang sama. Sistem rotasi di Tambusai Estate adalah 6/7, yaitu terdapat 6 seksi panen dengan interval waktu panen dalam satu seksi 7 hari. Namun pada pelaksanaan di lapangan sering terkendala oleh kondisi medan blok yang sulit khususnya daerah rendahan (Gambar 18d) sehingga rotasi panen 6/7 tidak sepenuhnya dapat dilakukan. Rotasi panen tidak setiap hari 6/7 ada juga yang 5/7, hal ini dilakukan guna mempertahankan agar rotasi panen tidak melewati 7 atau buah yang kelewat matang karena tidak dipanen pada hari minggu (libur). Jumlah seksi buah disusun menjadi 6 seksi yang terdiri 6 Kaveld (A, B, C, D, E dan F), dimana 1 kaveld terdiri dari 5 - 6 blok panen dapat dilihat pada Tabel 15. Seksi panen diatur 55   56   sedemikian rupa sehingga satu seksi selesai dalam satu hari dan mempermudah perpindahan hanca dari satu blok ke blok lain. Tabel 15. Peta kaveld panen afdeling VIII di Tambusai Estate Kaveld Blok A B C D E F Luas M23 166.62 Ha M24 N22 N23 N24 L21 188.46 Ha L22 L23 L24 L25 L17 118.18 Ha L18 L19 L20 M17 147.41 Ha M18 M19 M20 M21 N17 149.85 Ha N18 N19 N20 N21 O18 147.75 Ha O19 O22 O23 P18 Sumber: Afdeling VIII, Tambusai Estate 2008 Pohon 15,368 pohon 15,376 pohon 16,075 pohon 19,687 pohon 19,796 pohon 19,355 pohon Sistem Panen Tambusai Estate menerapkan sistem panen hancak giring tetap yang merupakan sistem hancak panen yang dilakukan dengan pemberian hancak tertentu kepada pemanen setiap hari tetapi perpindahan dari hancak satu ke yang 56   57   lain dilakukan giring. Apabila buah pada hari panen sangat sedikit diterapkan sistem sorong panen yang digunakan untuk menutupi mencapai target 3,000 Kg setiap pemanen. Tambusai Estate menggunakan sistem Division of Labor- 1(DOL). Sistem DOL – 1 merupakan sistem panen dimana di dalam satu kelompok pemanen terdiri dari 1 orang, yaitu pemanen. Pada afdeling VII, terjadi juga sistem family cover yaitu, pemanen ada yang memiliki 1, 2 atau 3 helper. Helper pemanen di bayar oleh pemanen sendiri bukan dari perusahaan tergantung kesepakatan di kedua belah pihak, rata-rata helper mendapatkan Rp 300,000 / bulan. Helper digunakan untuk mengutip brondolan dan mengangkat TBS dari dalam hancak ke TPH, sehingga pekerjaan lebih cepat selesai dan mendapatkan pendapat lebih baik, pemanen sering menggunakan 2 helper. Banyak atau sedikitnya hancak yang diberikan ke pemanen disesuaikan dengan jumlah helper, sehingga posisi pemanen sejajar dan penyelesaian hanca bersamaan. Peralatan Panen Alat - alat kerja potong buah yang digunakan di Tambusai Estate disesuaikan dengan kebutuhan, seperti alat potong buah disesuaikan dengan tinggi tanaman. Alat - alat yang digunakan dalam pemanenan disajikan pada Tabel 16. 57   58   Tabel 16. Deskripsi alat-alat panen Nama Alat Dodos Kegunaan Memotong TBS umur 3-8 tahun Harvesting pole Gagang untuk pisau egrek Pisau egrek Alat untuk memotong TBS Angkong Alat untuk mengangkut TBS dari pohon ke TPH Wadah untuk mengumpulkan brondolan sebelum diangkut ke PKS Alat untuk mengangkat TBS dari pohon ke pasar rintis Alat untuk memotong gagang panjang dari Karung pupuk Gancu Kapak Ember Tojok TBS Alat untuk menampung brondolan sebelum dikumpulkan menjadi satu di dalam karung Untuk memuat TBS dari TPH ke PKS Keterangan Berbentuk tembilang, lebar mata 8-14 cm dan panjang mata 8-12 cm Sepotong besi alumunium dengan panjang 6-12 meter Berbentuk seperti pisau arit dengan panjang pangkal 20 cm, panjangnya 45 cm dan sudut lengkung 135º Kereta sorong beroda satu yang terbuat dari besi bermerek Artco® Wadah untuk mengumpulkan brondolan sebelum diangkut ke PKS Besi beton berdiameter 3/8 inchi dan panjang 0.5 meter Besi beton bermata tembilang dengan diameter dan panjang besi sesuai dengan kebutuhan Umumnya ukuran sedang berwarna hitam 12 liter Pipa galvanis/besi dengan ujung besi beton berbentuk lancip dengan panjang sekitar 1-1.5 meter Sumber: SOP Tambusai Estate 2011 Basis dan Premi Panen Pemanen memperoleh upah berdasarkan prestasi kerjanya. Tambusai Estate menetapkan basis borong berdasarkan bobot panenan. Basis borong adalah jumlah bobot panen yang harus diperoleh setiap hari kerja oleh setiap pemanen. Basis borong dibedakan berdasarkan tahun tanam. Semakin tua tanaman semakin besar basis borongnya, hal ini disebabkan bobot TBS yang semakin berat. Brondolan juga menjadi bagian penting dalam pendapatan pemanen. Setiap kilogram brondolan dihargai Rp 120 kg untuk 10% dari kg TBS selebihnya masuk 58   59   premi terakhir. Hal ini dikarenakan 25% TBS berondolan sebelum panen dan 50% setelah panen. Cara menghitung harga brondolan sampai premi terakhir bila panen menghasilkan 3,000 kg dengan brondolan 400 kg yaitu: (1) Premi = 3,000 – 1,000 (Basis Pemanen) – 400 = 1,600 kg (2) Brondolan = 10% x 3,000 x Rp 120 = 300 x Rp 120 = RP 36,000 (3) Premi panen : Lebih basis 1 = 500 x 25 Lebih basis 2 = 500 x 30 Lebih basis 3 = 600 + sisa brondolan (100) x 35 (4) Premi panen : Rp 12,500 + Rp 15,000 + Rp 4,100 + Rp 36,000 : Rp 67,600 Sehingga pendapatan total pemanen pada saat menghasilkan tandan 3,000 kg dan 400 kg brondolan adalah Rp 67,600. Semakin banyak berondolan dikutip semakin tinggi pendapatan pemanen. Daftar premi panen dapat dilihat pada Tabel 17. Tabel 17. Daftar premi pemanen Jenis Pekerjaan No. 1. 2. Satuan Rp/Satuan 500 Kg 500 Kg > 2,000 Kg Tanpa basis 3,000 kg 2.75 1.2 500 Kg 500 Kg > 2,000 Kg Tanpa basis 3,000 kg 2.75 1.2 TM 7 - TM 11 Lebih basis 1 Lebih Basis 2 Kg/Hari Kg/Hari 22 27 Lebih Basis 3 Kg/Hari 32 Hari Libur Kg/Hari 40 TM 12, dst Lebih basis 1 Lebih basis 2 Kg/Hari Kg/Hari 25 30 Lebih basis 3 Kg/Hari 35 Hari Libur Kg/Hari 40 Sumber: SE, Tambusai Estate 2012 Basis Target Premi minimal Krani / Hari Produksi 59   60   Transportasi TBS Transportasi TBS yang tidak cukup, tidak efisien, terlambat, dan tidak teratur berakibat buah restan di lapangan. Hal ini akan berpengaruh terhadap mutu CPO (FFA akan naik). Disiplin pemanen menjadi rusak karena tidak teraturnya transportasi. Kekacauan transportasi akan menyebabkan buah menjadi diangkut sebelum diperiksa, tidak semua brondolan di TPH terangkut semua, output potong rendah karena rotasi panen terlambat, kemungkinan terjadinya manipulasi atas buah restan dan seksi potong buah menjadi tidak teratur. Transportasi TBS dan brondolan harus sudah terkirim ke PKS < 24 jam untuk menjaga mutu TBS dan brondolan. Oleh karena itu, diperlukan pengaturan transportasi oleh mandor untuk alokasi pembagian tenaga angkut TBS dan brondolan (kenek). Pada daerah rendahan dan banjir di Tambusai Estate transportasi pemanen dilakukan menggunakan rakit. Peralatan yang digunakan untuk transpotasi TBS adalah “tojok” (sejenis tombak) dan gancu di daerah rendahan dan pohon rendah (Gambar 18 d), sedangkan untuk brondolan digunakan garuk dan karung pupuk. Pada saat transportasi buah, kerani chek menggunakan tojok untuk mengecek warna dan kematangan buah. Buah yang kurang matang tidak diangkut ke PKS biasanya di biarkan membrondol di TPH. Pemanen diwajibkan memanen pukul 06.00 pagi dan pada jam 07.00 pagi, buah sudah tersusun rapi di TPH dan siap di kirim ke PKS dengan menggunakan dump truck. Premi supir disesuaikan dengan jarak tempuh, sedangkan premi pemuat basis pertama 1,667 x Rp 3.5, basis kedua 1,667 x Rp 5 dan sisanya dikali Rp 6. Ketika memasuki PKS sopir dumptruck wajib memakai APD seperti helm, hal tersebut dikarenakan Tambusai Estate telah menerapkan SMK3 (sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja). Setelah melewati penimbangan otomatis, buah di bawa ke loader (tempat penerimaan buah sementara). 60   61   (a) (c) (b) (d) Gambar 18. Sistem transportasi TBS di Tambusai Estate: a). Dump truck b). Pengangkutan TBS dari TPH dengan menggunakan “tojok” c). Looder, dan d). Rakit (alternatif transportasi TBS dalam hanca di daerah banjir dan rendahan) Losses pemanen Losses panen merupakan pengecekan brondolan yang tertinggal di dalam hancak. Pencarian losses di dalam satu blok biasanya diperiksa setiap selang 5 pasar dari awal pasar. Dari 5 pasar yang ada di losses, misalnya diperoleh jumlah tandan yang dipanen 20 tandan, brondolan yang tertinggal di ketiak ada 30 butir, pasar pikul ada 20 butir, piringan ada 50 butir dan buah matang tidak di panen ada 1 tandan (Gambar 19 a). Rumus mencari losses yaitu, 20 tandan x 20 kg (BJR) = 400 kg, brondolan tinggal 100 butir / 90 butir per kg = 1.1 kg. Untuk 1 tandan dengan BJR 20 kg = 20 kg beratnya, sehingga 400 kg + 1.1 kg + 20 kg = 421.1 kg sehingga efisiensi = 400 kg/ 421.1 kg x 100% = 94.98 % dan lossesnya 100% - 94.98% = 5.01%. Sedangkan rekomendasi kebun losses maksimal harus 0.16 kg atau 15 butir (15/90 kg = 0.16 kg). 61   62   (a) (b) Gambar 19. Kehilangan panen TBS (losses) yang ditemukan di Tambusai Estate: a). Losses TBS di gawangan mati dan b). Losses TBS di parit collection road Apabila mobil yang masuk sedikit biasanya menggunakan grading 100. Selain tergantung banyaknya mobil yang masuk, jumlah tenaga kerja juga mempengaruhi tingkatan grading tersebut. Grading 50 dilakukan grading setiap 2 mobil/afdeling masuk, sedangkan grading 100 dilakukan setelah 80 ton TBS atau 13 mobil dari 6 afdeling masuk. Grading dilakukan untuk menyeleksi TBS yang akan masuk ke loading ramp sesuai dengan standar mutu perusahaan. Buah kurang matang, mentah dan tandan kosong disisihkan di pinggir pheron sesuai dengan afdeling masingmasing. Apabila hari hujan, banyak sekali mobil yang tidak dapat mengangkut buah sehingga mangakibatkan buah tidak dapat terangkut ke PKS (restan). Tandan buah segar (TBS) yang tidak dapat terangkut akan diangkut pada keesokan harinya tetapi tidak melalui proses grading tetapi langsung di dorong ke loading ramp dengan menggunakan loader. Setiap 1 pintu ramp diisi dengan 3 mobil yang membawa ± 5 ton dalam 1 trip, setiap lori di dalam loading ramp dapat menampung TBS sebanyak 5.5 ton. TBS yang ada di dalam lori dibersihkan dari pasir dan kotoran lainnya dengan cara disiram air dari atas sebelum masuk ke dalam stasiun perebusan. Cara ini dilakukan untuk menjaga mutu dan alat - alat pengolahan. 62   63   Pengolahan Minyak Kelapa Sawit Penimbangan dan Sortasi Pengangkutan TBS dari kebun ke pabrik menggunakan mobil yang dinamakan dump truck dengan muatan tiap dump truck ± 6 ton. Setiap dump truck yang tiba di pabrik harus ditimbang di timbangan otomatis seperti pada Gambar 20 a dan Gambar 20 b. (a) (b) Gambar 20. Proses pemasukan TBS ke pabrik PKS: a). Timbangan otomatis di PKS dan b). Dump truck yang berisi TBS ditimbang Dump truck ditimbang bobotnya saat memuat TBS (brutto) dan ditimbang kembali setelah menurunkan atau membongkar muatan (tarra) di tempat penampungan sementara atau tempat sortasi (pheron) yang mana selisih timbangan berisi dan kosong merupakan berat TBS yang akan diolah. Pabrik kelapa sawit mempunyai dua timbangan otomatis yang mana timbangan sebelah kiri biasanya digunakan untuk menimbang TBS maupun janjang press yang menggunakan dump truck sedangkan sebelah kanan merupakan timbangan CPO yang dimuat menggunakan mobil tangki. Timbangan otomatis dapat menimbang berat maksimal ± 60 ton untuk TBS maupun CPO. Selisih timbangan berisi dan kosong merupakan berat TBS yang akan diolah. Tandan buah segar (TBS) yang telah ditimbang kemudian ditimbun di tempat penampungan sementara TBS (pheron atau stasiun sortasi) sebelum memasuki stasiun loading ramp. Pada pheron, TBS yang ditumpuk sesuai afdeling masing-masing dan digrading sesuai kebutuhan tergantung banyaknya buah yang masuk, ada yang dinamakan grading 50 (grading menggunakan 50 63   64   tandan sebagai sampel) dan ada juga grading 100 (grading keseluruhan tandan). Apabila mobil yang masuk mencapai 30 mobil hanya dilakukan grading 50 sedangkan apabila mobil yang masuk sedikit biasanya menggunakan grading 100. Selain itu tergantung banyaknya mobil yang masuk, jumlah tenaga kerja juga mempengaruhi tingkat grading tersebut. Grading 50 dilakukan setiap 2 mobil/afdeling, sedangkan grading 100 dilakukan setelah 80 ton TBS atau 13 mobil dari 6 afdeling masuk. Grading dilakukan untuk menyeleksi TBS yang akan masuk ke loading ramp sesuai dengan standar mutu perusahaan. Buah kurang matang, mentah dan tandan kosong disisihkan di pinggir pheron sesuai dengan afdeling masingmasing. Apabila hari hujan, mobil banyak yang tidak dapat mengangkut buah sehingga mengakibatkan buah tidak dapat terangkut ke PKS (restan). Tandan buah segar (TBS) yang tidak terangkut akan diangkut pada keesokan harinya langsung dicurahkan ke loading ramp dengan menggunakan loader tanpa melalui proses grading. Setiap 1 pintu ramp diisi dengan 3 mobil yang membawa ± 5 ton dalam 1 trip, setiap lori di dalam loading ramp dapat menampung TBS sebanyak 5.5 ton. TBS yang ada di dalam lori dibersihkan dari pasir dan kotoran lainnya dengan cara disiram air dari atas sebelum masuk ke dalam stasiun perebusan. Cara ini dilakukan untuk menjaga mutu dan pengolahan Perebusan (Sterilisasi) Perebusan merupakan proses pengolahan mekanis terhadap tandan buah sawit. Tandan yang berada di dalam lori (Gambar 22), dipanaskan di ketel (Gambar 21) menggunakan uap jenuh (saturated steam) dengan tekanan 2.8 kg/cm² pada suhu 135º C selama 90 menit hingga tandan tersebut matang. TBS yang telah matang di keluarkan dari perebusan (Gambar 23) yang selanjutnya masuk pada proses pencacahan. 64   65   Gambar 21. TBS di dalam lori dimasukan ke dalam ketel Gambar 22. Ketel tempat merebus TBS Gambar 23. TBS yang telah matang dikeluarkan Lori yang dimasukan ke dalam ketel rebusan (sterilizer) ditarik dengan bantuan loco penarik. Setiap ketel dapat berisi 9 lori, 3 lori sebagai pendorong yang berkapasitas 45 ton TBS, stelah dimasukan pintu ketel ditutup rapat. Perebusan ini memiliki 3 puncak tahapan (triple peak) artinya, tiga kali menaikkan tekanan dan dua kali membuang kondensat selama proses perebusan berlangsung. Pada puncak pertama dilakukan selama 20 menit dengan tekanan 0 - 23 psi, puncak kedua dilakukan selama 30 menit dengan tekanan 30 - 33 psi dan puncak terakhir dilakukan selama 40 menit dengan tekanan 40 - 43 psi. Keuntungan menggunakan sistem tiga puncak ini di antaranya persentase buah 65   66   membrondol lebih kecil, kehilangan minyak dalam ampas kecil, dan proses klarifikasi minyak lebih baik. Pengaturan waktu 20, 30, 40 menit dapat dilihat pada mesin kontrol CVM sterilizer (Gambar 24 a) yang dapat dilihat di dalam jam simulasi yang terbuat dari kertas seperti Gambar 24 b. (a) (b) Gambar 24. Alat yang digunakan dalam proses perebusan: a). CVM (alat control sterilisasi b). Pencatat waktu perebusan Masaknya buah biasanya ditentukan oleh stasiun boiler karena steam untuk perebusan diatur oleh stasiun boiler. Apabila dari pheron banyak buah yang membrondol dari tandan, tekanan akan dikurangi sedangkan jika buah banyak yang mentah sedikit membrondol, maka tekanan ditambah agar buah tidak terlalu matang. Tujuan dari sterilisasi atau perebusan TBS adalah untuk mematikan enzim yang merupakan katalisator dalam reaksi penguraian minyak menjadi asam lemak bebas dan gliserol, melunakan daging buah untuk mempermudah pengadukan, memudahkan buah lepas dari tandan saat proses pencacahan, dan merenggangkan inti sawit dari cangkangnya untuk memudahkan pemecahan biji di cracker. Suhu dan lamanya perebusan tergantung pada mutu tandan yang akan diolah. Jika TBS relatif matang, waktu perebusan akan menjadi lebih singkat. Sebaliknya, jika TBS relatif mentah, waktu perebusan akan lebih lama bila berlangsung pada suhu yang sama. Setelah melalui tahap perebusan, lori membawa TBS yang telah matang ke dalam pusingan (clipper). Di dalam clipper setiap lori membutuhkan waktu 6 - 7 menit setelah itu melalui bunch conveyor menuju stasiun pemipilan (stripper). 66   67   Pemipilan dan Pencacahan (stripper dan threshing) Pemipilan tandan bertujuan untuk memisahkan buah dari janjangan. Buah dirontokkan di dalam drum silinder yang dilengkapi batang logam yang berputar dengan kecepatan 2 rpm dengan kapasitas thresher 15 ton satu kali putaran. Mesin threser yang digunakan ada 4 buah untuk mengefisienkan waktu, mesin threser yang digunakan dapat dilihat pada Gambar 25. Gambar 25. Mesin pencacahan dan pemipilan (thresher) Mekanisme pengangkutan TBS dari perebusan ke stasiun pemipilan yaitu, TBS berikut lori yang telah direbus dikirim ke alat pemipilan (thresher) dengan bantuan hosting crane atau transfer carriage. Proses pemipilan terjadi akibat tromol berputar pada sumbu mendatar yang membawa TBS ikut berputar sehingga membanting-banting TBS tersebut dan brondolan lepas dari tandannya. Pada bagian dalam dari pemipil, dipasang batang-batang kisi - kisi yang memungkinkan brondolan keluar dari pemipil. Brondolan yang keluar dari bagian bawah pemipil dan ditampung oleh screw conveyor dikirim ke bagian conveyor dan elevator yang akan dibawa ke digester feed conveyor. Sementara, tandan (janjang) kosong yang keluar dari bagian pemipil ditampung oleh elevator dan dikirim ke hopper untuk dijadikan pupuk janjang kosong dan apabila berlebih akan diteruskan ke incinerator untuk dibakar dan dijadikan pupuk janjang dan mulching (serasah atau bahan organik penutup piringan tanaman). Saat proses pemipilan sering ditemukan adanya buah yang masih melekat pada tandan kosong. Hal tersebut dapat disebabkan karena buah tidak normal sehingga yang sukar membrondol, waktu perebusan terlalu singkat, atau adanya buah mentah. 67   68   Pengadukan (digesting) Buah yang telah membrondol dari mesin pemipil (thresher) kemudian dimasukkan ke dalam mesin pengaduk atau pencacahan (digester). Kapasitas dari mesin pencacahan adalah 15 ton dengan putaran pengaduk 23 rpm, selama 12 - 15 menit pada suhu 95ºC. Alat digester berupa sebuah tangki vertikal yang dilengkapi dengan lengan pencacah pada bagian dalamnya. Lengan pencacah ini diputar oleh motor listrik yang dipasang dibagian atas alat pencacah Gambar 26. Gambar 26. Mesin pengaduk (digester) Tujuan dari proses disgesting yaitu mempersiapkan daging buah untuk pengempaan (pressing) sehingga minyak dengan mudah dapat dipisahkan dari daging buah. Brondolan yang telah mengalami pencacahan dan keluar melalui bagian bawah digester telah menjadi bubur buah. Hasil pencacahan tersebut masuk ke dalam alat pengempaan yang berada persis dibagian bawah digester. Pengempaan (presser) Pengempaan bertujuan untuk mengambil minyak dari buah secara bertahap dengan bantuan pisau pelempar dari mesin pengaduk. Alat yang digunakan dalam proses ini disebut screw press (Gambar 27), yakni alat penekan yang berputar berlawanan arah. Massa buah akan tertekan ke ujung screw dan minyak akan keluar melalui dinding silinder yang berlubang. 68   69   Gambar 27. Alat pengempaan TBS (screw press) Selama proses pengempaan berlangsung, air panas ditambahkan ke dalam screw press. Hal ini bertujuan untuk pengenceran (dillution) sehingga massa bubur buah yang dikempa tidak terlalu rapat. Jika massa bubur buah terlalu rapat maka akan dihasilkan cairan dengan viskositas tinggi. Tingginya viskositas tersebut akan menyulitkan proses pemisahan sehingga mempertinggi kehilangan minyak. Jumlah penambahan air berkisar 10 - 15% dengan suhu air sekitar 90ºC. Proses pengempaan akan menghasilkan minyak kasar dengan kadar 50% minyak, 42% air, dan 8% zat padat. Alat pengempaan yang biasa digunakan dengan kapasitas pengolahan 90 ton TBS/jam adalah screw press dengan kapasitas olah 15 - 17 ton TBS per jam per unit dengan putaran screw 11 - 12 rpm. Minyak hasil pengempaan ini ditampung di sebuah talang (crude oil tank) melalui saringan getar (vibrating screen) (Gambar 28) dan dipompakan ke stasiun pemurnian (clarifier). Biji dan serabut yang berbentuk gumpalan diteruskan ke cake breaker converyor dan dipisahkan di depericarper. Biji dikirim ke tempat penampungan biji (nut silo) (Gambar 29) yang sebelumnya masuk ke polishing drum untuk menghilangkan serabut. Serabut (fibre) dikirim ke ketel uap (boiler) sebagai bahan bakar. 69   70   Gambar 28. Crude oil tank dan Vibrating screen Gambar 29. Nut silo sebagai tempat penampungan biji sementara Biji yang telah dikeringkan akan masuk ke dalam nut grading screen melalui conveyor untuk dipisahkan menurut diameternya. Hasil pemisahan tersebut akan masuk ke dalam alat pemecah biji (nut cracker) yang merupakan alat centrifuge yang memiliki rotor berputar dengan kecepatan 950 - 100 rpm. Dalam rotor berputar, biji - biji tersebut akan terlempar kuat ke dinding creaker dan pecah, sehingga inti lepas dari cangkang. Pemisahan inti dan cangkang dilakukan pada suatu corong yang disebut separating colom atau pemisahan basah dengan menggunakan clay bath. Pemisahan inti berlangsung secara pneumatic berdasarkan gaya sentrifugal menggunakan blower hisap dan perbedaan berat, di dalam clay bath digunakan air kalsium yang bertujuan sebagai pemisah cangkang dan kernel dengan berat jenis 1.1 dan 1.2 dapat dilihat pada Gambar 30. 70   71   Gambar 30. Clay bath sebagai tempat air kalsium untuk memisahkan cangkang dan kernel Takaran yang digunakan di dalam kalsium harus sesuai, apabila berat jenis abu terlalu banyak akan menghasilkan kotoran sedangkan apabila kalsium terlalu banyak akan mengakibatkan terjadinya kehilangan kernel. Cangkang dan kotoran halus akan terisap oleh blower dan akan ditampung di shell cyclone sebagai bahan bakar. Sementara itu, inti dan biji yang tidak pecah atau pecah sebagian masuk ke vibrating grade. Dalam vibrating grade terjadi pemisahaan antara inti, biji utuh, dan biji setengah pecah berdasarkan beratnya. Biji utuh dan biji setengah pecah dikembalikan ke nut grading screen untuk dipecahkan kembali, sedangkan inti dimasukkan ke pengeringan melalui kernel elevator. Pengeringan inti dilakukan dalam suatu alat yang disebut kernel silo dapat dilihat pada Gambar 31 a. Alat ini berfungsi untuk mengeringkan inti yang telah terpisah dari cangkangnya menggunakan udara panas atau uap yang dihembuskan oleh blower. Suhu di bagian atas kernel silo sekitar 40ºC, di bagian tengah 60ºC, dan di bagian bawah 80ºC. Pengeringan ini berlangsung selama 12 - 14 jam. Setelah pengeringan selesai, inti yang sudah kering diturunkan menuju polishing drum (Gambar 31 b). Penurunan inti diatur oleh shaking grade. Alat polishing drum berfungsi untuk membuang ampas yang masih terdapat di inti. Ampas akan terisap ke dust cyclone. Inti yang kotor dan biji yang tidak pecah akan dikembalikan ke pemecah biji, sedangkan inti yang bersih akan masuk ke karung goni. 71   72   Gambar 31. Alat proses pengolahan kernel (inti sawit): a. Alat pengering inti (kernel silo) dan b. Polishing drum. Pemurnian (clarifier) Pemurnian yaitu pengolahan di PKS yang bertujuan untuk melakukan pemurnian minyak kelapa sawit dari kotoran-kotoran seperti padatan (solid), lumpur (sludge), dan air. Tujuan dari pemurnian yaitu, agar diperoleh minyak dengan kualitas sebaik mungkin dan dapat dipasarkan dengan harga yang layak. Minyak kasar yang diperoleh dari hasil pengempaan dialirkan menuju saringan getar (vibrating screen) untuk disaring agar kotoran berupa serabut kasar tersebut dialirkan ke tangki penampung minyak kasar (crude oil tank). Minyak kasar yang terkumpul di COT dipanaskan hingga mencapai 95 - 100ºC. Menaikkan suhu minyak kasar sangat penting untuk memperbesar perbedaan berat jenis antara minyak, air dan sludge sehingga sangat membantu dalam proses pengendapan. Selanjutnya, minyak dari COT dikirim ke tangki pengendapan (continous settling tank atau clarifier tank). Pada clarifier tank, minyak kasar terpisah menjadi minyak dan sludge karena proses pengendapan. Minyak dari clarifier selanjutnya dikirim ke oil tank, sedangkan sludge dikirim ke sludge tank. Sludge merupakan fasa campuran yang masih mengandung minyak. Di PKS, sludge diolah ulang untuk memeras kembali minyak yang masih terkandung di dalamnya. Pengolahn sludge umumnya menggunakan alat yang disebut decanter yang menghasilkan 3 fase, yaitu light phase, heavy phase, dan solid phase. Light 72   73   phase merupakan fase cairan dengan kandungan minyak yang cukup tinggi sehingga pada fase ini harus segera dikembalikan ke COT dan siap untuk diproses kembali. Heavy phase merupakan fase cairan dengan sedikit kandungan minyak sehingga fase ini dikirim ke bak fat pit untuk kemudian diteruskan ke kolam limbah. Akumulasi heavy phase yang tertampung pada fat pit, juga masih dapat menghasilkan minyak. Minyak yang diperoleh dari pemrosesan ulang dikirim ke COT untuk diproses kembali. Solid merupakan padatan dengan kadar minyak maksimum 3.5% dari berat sampel. Solid yang dihasilkan ini selanjutnya diaplikasikan ke kebun pupuk melalui land application. 73   74   ASPEK KHUSUS Evaluasi Pengendalian Gulma Pengendalian gulma di Tambusai Estate merupakan kegiatan pemeliharaan yang selalu dilaksanakan. Hal ini dikarenakan apabila areal pada tanaman menghasilkan tidak dikendalikan, akan menurunkan produksi kelapa sawit sampai 20% (Mangoensoekarjo dan Semangun, 2003). Selain itu, keberadaan gulma akan menyulitkan pemanen untuk memanen buah karena tidak terlihatnya brondolan yang jatuh dari pohon dan mengakibatkan brondolan menjadi tukulan. Hal tersebut yang menjadikan pengendalian gulma di Tambusai Estate harus dilakukan dengan prinsip lima tepat, yaitu: tepat jenis, dosis, cara, konsentrasi, dan waktu (Tabel 18). Tabel 18. Evaluasi lima tepat metode pengendalian gulma Tepat Dosis Waktu Jenis Cara Konsentrasi Kegiatan DAK (dongkel anak kayu) - X - √ - Babat gawangan - √ - √ - X √ Ο √ √ Penyemprotan TPH √ √ √ √ √ Pengendalian hama - Ο √ √ √ Penyemprotan piringan dan pasar pikul Keterangan: - = Tidak ada, x = Tidak sesuai, o = Kurang sesuai, √ = Sesuai Pada kegiatan DAK (dongkel anak kayu), waktu yang digunakan dalam pengendalian belum sesuai. Menurut Pahan (2010) rotasi pengendalian gulma secara manual dilakukan 3 kali setahun atau 4 bulan sekali untuk tahun tanam yang telah berumur lebih dari 6 tahun. Namun, Tambusai Estate yang memiliki kelapa sawit dengan umur tanaman lebih dari 6 tahun, pengendalian DAK dilaksanakan 2 bulan sekali atau 6 kali dalam setahun. Tidak sesuainya waktu pengendalian ini dikarenakan jumlah pekerja yang sedikit dan umur pekerja diatas 50 tahun sehingga waktu pengerjaan lambat, tetapi rotasi dipercepat 2 bulan 74   75   sekali. Pada penyemprotan di pasar pikul dan piringan, penulis mengamati dosis yang digunakan belum sesuai rekomendasi. Standar dosis herbisisda yang diberikan perusahaan yaitu untuk dosis 120 cc dalam 1 tangki biasanya digunakan untuk 30 pohon saja tetapi pada kenyataannya penyemprot dengan dosis 120 cc dalam satu tangki dihabiskan untuk 61 pohon, sehingga waktu kematian gulma menjadi lebih lama. Hal itu dapat terjadi karena kalibrasi kecepatan jalan penyemprotan belum dilakukan dengan baik. Hasil kalibrasi alat dan waktu penyemprotan yang di lakukan penulis terdapat pada Tabel 19 dan Tabel 20. Selain dosis dan cara, jenis herbisida juga kurang sesuai dengan dominansi gulma yang ada, sehingga banyak gulma yang tidak dapat dikendalikan. Kebijakan di Tambusai Estate disesuaikan dengan ISO 14001 : 2008 mengenai manajemen lingkungan yang melarang pemakaian herbisida kontak yang merupakan herbisida keras yang dapat mencemarkan lingkungan, akibatnya gulma tahan herbisida sistemik seperti gulma Stenochlena palustris dan Ficus elastica (gulma noxious) di Tambusai Estate masih tetap merajalela. Kalibrasi Alat Semprot dan Waktu Penyemprotan Pengendalian secara kimiawi merupakan praktek yang paling umum diterapkan di perkebunan kelapa sawit karena memberikan efektivitas pengendalian yang tinggi. Menurut Pahan (2010) untuk memperoleh hasil penyemprotan yang efektif dan efisien, sebelum dilakukan penyemprotan herbisida, perlu dilakukan kalibrasi alat. Tujuannya agar diperoleh dosis dan konsentrasi yang tepat sesuai dengan rekomendasi. Kalibrasi yang dilakukan di Tambusai Estate meliputi kalibrasi alat dan kalibrasi penyemprotan. Alasan dilakukannya kalibrasi yaitu volume semprot sangat dipengaruhi oleh kecepatan jalan penyemprotan, oleh kondisi areal yang disemprot dan juga kualitas alat terutama nozel. Pompa dan nozzle yang tidak bekerja dengan baik akan mempengaruhi flowrate dan pembentukan droplet. 75   76   Tabel 19. Kalibrasi alat penyemprotan Tambusai Estate afdeling VIII No Tangki 2. Ulangan 1. 2. 3. Nama Penyemprot Nurma Ukuran Nosel Nosel Kipas (2.5 cm) Total 5. 1. 2. 3. Merina Nosel Kipas (2.5 cm) Total 1. 1. 2. 3. Ringan Hati Nosel Kipas (2.5 cm) Total 4. 1. 2. 3. Ucok Nosel Kipas (2.5 cm) Total 3. 1. 2. 3. Sumiar Nosel Kipas (2.5 cm) Total Output nozzel (flowrate) (l/menit) 0.92 0.96 1.10 0.99 1.10 1.34 1.48 1.30 1.56 1.48 1.42 1.48 1.85 1.85 1.72 1.82 1.67 1.78 1.67 1.7 Lebar semprot (m)/ tinggi semprot 30 - 40 cm 1.05 1.05 1.50 1.50 1.73 1.73 1.67 1.67 Kecepatan (m2/menit) Volume Semprot l/ha 31.5 33.0 265.78 32.25 25.00 30.00 25.56 25.00 25.28 25.14 32.00 33.85 265.78 343.09 343.09 340.29 340.09 331.05 1.53 32.92 38 39.9 332.05 285.266 1.53 38.95 285.266 Sumber: Hasil pengamatan penulis, 2012 76   77   Pada pengamatan kalibrasi alat semprot, kelima penyemprot memiliki output nozzle yang berbeda-beda walaupun alat yang digunakan sama. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh beberapa hal yaitu: umur dan jenis kelamin tenaga kerja penyemprotan, keadaan alat semprot, tekanan pompa, dan kesehatan pekerja. Perbedaan umur pekerja dan jenis kelamin dapat menjadi penyebab perbedaan besarnya output nozzle yang dikeluarkan. Pada Tabel 19 dapat dilihat bahwa penyemprot dengan nomor tangki 4 dan 3 memiliki output nozzle yang lebih tinggi dari nomor tangki 1, 2, dan 5, yaitu 1.82 l/menit dan 1.7 l/menit. Penyemprot nomor tangki 4 dan 3, berumur 18 dan 21 tahun dengan jenis kelamin laki-laki sedangkan nomor tangki 1, 2, dan 5 memiliki umur rata-rata 40 - 45 tahun dengan jenis kelamin perempuan, sehingga kekuatan kecepatan jalan dan tekanan tuas pompa menjadi berbeda. Akibatnya, hal tersebut berpengaruh pada semprotan yang dihasilkan. Semakin cepat tuas dipompa, semakin besar tekanan udara yang diberikan pada knapsack Solo sehingga di dalam tangki timbul tekanan udara yang tinggi. Udara yang bertekanan tinggi tersebut akan mendorong air dalam tangki sehingga memancar keluar dengan kecepatan yang tinggi. Selain itu, kualitas alat semprot juga berpengaruh terhadap kapasitas output nozzle, apabila alat yang rusak dapat merubah output nozzle sehingga volume semprot juga dapat berubah. Selain faktor umur, kesehatan pekerja akan berpengaruh pada kekuatan tekanan pompa dan kecepatan jalan. Dengan demikian, apabila tenaga kurang sehat tekanan dan kecepatan jalan akan berkurang, pada gilirannya dapat berpengaruh pada output nozzle. Faktor lain yang juga penting diperhatikan dalam penyemprotan herbisida adalah kapasitas lebar semprot. Pengamatan lebar semprot tidak dipengaruhi oleh tenaga kerja penyemprotan tetapi lebih dipengaruhi oleh alat semprot utamanya nozzle. Dapat dilihat pada Tabel 19, tangki nomor 3 yang menghasilkan output nozzle 1.8 l/ menit, lebar semprot yang dihasilkan adalah 1.67 m, sedangkan penyemprot dengan tangki nomor 1 yang menghasilkan flowrate 1.43 l/menit memiliki lebar semprot 1.73 m lebih. Menurut Djojosumarto (2008) nozzle dapat mengalami keausan sehingga lubangnya membesar. Dengan demikian, nozzle yang telah aus akan mengakibatkan perubahan curah flowrate, curahan cairan menjadi lebih 77   78   besar, lebar semprot meningkat, dan perubahan pola semprotan. Kebersihan nozzle juga perlu dijaga. Air yang digunakan perlu disaring dengan baik karena kotoran yang masuk dapat menyumbat nozzle, mendistorsi pola semprotan serta mengubah flowrate. Berdasarkan pengamatan kalibrasi penyemprotan pada piringan, diperoleh data terkait ketepatan dosis yang digunakan, jumlah pohon, dan waktu yang diperlukan penyemprot untuk menghabiskan herbisida per tangki kapasitas volume 15 l. Dari Tabel 20 dapat dilihat bahwa penyemprotan blok N20 dengan bahan herbisida campuran Amiphosat dan Rapid dan dosis/tangki canpuran 120 cc/tangki dapat digunakan untuk menyemprot rata-rata 61 pohon. Dari perhitungan, dengan dosis herbisida 120 cc/tangki, akan dapat digunakan untuk menyemprot 30 pohon. Tetapi kenyataannya, penyemprot mengaplikasikan pada areal dengan luas setara 2 kali lipat dari anjuran yang ada. Dapat dilihat perhitungannya dengan merujuk ke pocket guide Tambusai Estate, rekomendasi penggunaan herbisida Dupont 1 liter glifosat + 50 g metil matsulfuron dengan volume semprot tangki solo adalah 450 l/ha. Untuk volume 1 tangki 15 liter, rekomendasi total tangki adalah 450 l/ha : 15 liter = 30 tangki/ha. Perhitungan ketepatan dosis dan banyaknya pohon yang disemprot dihitung mengacu pada pocket guide Tambusai Estate. Penjelasan dalam pocket guide adalah sebagai berikut: apabila anjuran penggunaan herbisida 1 liter + 50 g = 1,500 cc, selanjutnya dosis per tangki adalah 1,500 cc : 30 tangki = 50 cc/tangki. Misalnya, pada piringan, Sdr. Simbolon menyemprot dengan jarak semprotan 2.5 cm dari pangkal batang sawit. Luas bidang semprot dihitung dengan cara 2.52 x 3.14 x 61 pohon = 1,197.13 m2. Setelah itu, kebutuhan per ha, dihitung dengan membagi 15 liter (dari 1 tangki) : 1,197.13 m2 luasan yang disemprot dikali 1 ha (10,000 m2) menghasilkan 125.29 l/ha. Volume tersebut selanjutnya dibagi 1 tangki (15 liter) = 8 tangki/ha. Sehingga dosis yang digunakan untuk menyemprot 61 pohon yaitu 1,500 cc : 13 tangki/ha = 116 cc/tangki apabila herbisidanya murni belum ditambahkan air. Jika herbisida sudah diencerkan kebutuhan menjadi 232.27 cc/tangki untuk jumlah pohon yang sama. Mengingat formula dalam penentuan dosis per tangki relatif kompleks, maka peran mandor perawatan sangat dibutuhkan. Namun demikian, di Tambusai 78   79   Estate peran mandor perawatan masih perlu ditingkatkan dalam perhitungan dosis. Praktek yang sering dilakukan adalah volume per tangki disamakan sesuai standar baku, padahal tidak semua penyemprot sama dosisnya. Idealnya penyemprot berpatokan pada tinggi semprotan dan banyaknya gulma di dalam piringan. Pada kondisi gulma di piringan sedikit, para penyemprot tidak perlu menyemprot secara berkeliling pohon tetapi cukup di pasar pikul saja. Demikian pula sebaliknya pada kondisi gulma banyak, penyemprot harus menyemprot pada semua piringan tidak hanya pada pasar pikul saja. Perlunya pemberlakuan dosis semprot secara riil lapangan didasarkan pada berbagai faktor seperti kapasitas penyemprot. Dapat dilihat pada Tabel 20 setiap penyemprot memiliki tinggi semprotan, kecepatan jalan dan tekanan pompa yang berbeda. Pengawasan yang lemah Pengawasan yang lemah oleh mandor perawatan dapat menyebabkan cara penyemprotan yang kurang baik. Penyemprot sering beranggapan apabila gulma sudah terkena semprotan artinya kerja mereka sudah baik. Faktanya, akibat dari tidak tepatnya dosis dan cara dapat membuat para penyemprot harus kerja dua kali dan mengulangi penyemprotan gulma yang belum mati. 79   80   Tabel 20. Kalibrasi waktu penyemprotan pada piringan Nama Blok Penyemprot N20 N20 Pohon/ tangki Waktu 1 pasar (Jam) Lebar semprot piringan (m) 2.5 Dosis Dosis Tinggi seharusnya seharusnya Semprotan (murni (campuran (cm) (cc/tangki) (cc/tangki) 40 166.0 332.0 Bahan Dosis/tangki (cc) Ringan Amiphosat 120 56 0.37 Hati dan Rapid Simbolon Amiphosat 120 61 0.34 2.5 35 187.0 374.0 120 61 0.34 2.5 40 187.0 374.0 120 58 0.35 2.5 30 187.5 375.0 120 65 0.31 2.5 40 214.2 428.4 dan Rapid N20 Sumiar Amiphosat dan Rapid N20 Merina Amiphosat dan Rapid N20 Ucok Amiphosat dan Rapid Sumber: Hasil pengamatan penulis, 2012 80   81   Penyebaran Infestasi Gulma Penilaian penyebaran infestasi atau serangan gulma yang ada di Tambusai Estate menggunakan data hasil analisis vegetasi pada saat di lapang melalui distribusi petak contoh sampling bertingkat. Pengamatan ini mendata semua lokasi yang ada di Tambusai Estate. Lokasi Pola penyebaran gulma yang ada di Tambusai Estate terdapat pada Tabel 21. Dari hasil analisis vegetasi terdapat 46 gulma yang menyebar di Tambusai Estate. Jenis gulma yang terdapat di tambusai Estate adalah Ageratum conyzoides L., Asystasia intrusa (Forssk.) Blume., Axonopus compresus (Sw.) P. Beauv., Borreria alata (Aubl.) D C., Borreria laevis (Lam.) Griseb., Caladium tuberosum (S. Moore) Bogner M., Calopogonium mucunoides Desv., Centotheca lappacea (L.) Desv., Chromolaena odorata (L.) King and H.E.Robins.., Cleome rutidosperma DC., Clidemia hirta (L.) D. Don., Cyclosorus aridus (Don.) Ching., Cynodon dactylon (L.) Pers., Cyrtococcum accrescens (Poac.)., Cyperus iria L., Cyperus kyllingia Endl., Cyperus rotundus L. Dicranopteris linearis (Burm. f. Underw)., Digitaria adscendens (H.B.K) Henr., Echinochloa colonum (L.) Link., Eleusine indica (L. ) Gaertn., Euphorbia hirta L., Foterandia L., Gleichenia linearis (Burm. F.) C. B. Clarke., Imperata cylindrica (L.) Beauv., Leptochloa chinensis (L.) Ness., Lygodium palmatum (Bernh.) Swartz., Melastoma affine D. Don., Merremia umbellata (L.) Hallier f., Mikania micrantha (H. B. K) RM. King., Mimosa invisa Mar., Mimosa pigra L., Nephrolepsis biserrata (Sw.)Schott., Ottochloa nodosa (Kunth) Dandy., Paspalum commersonii Lam., Paspalum conjugatum P.J. Berg., Passiflora foetida L., Pennisetum polystachion (L.) Schult., Pteridium aquilinum (L.) Kuhn., Pteris longifolia L., Pylanthus niruri L., Scleria sumatranensis Retz., Sida rhombifolia L., Stachytarpheta indica Vahl., Stenotaphrum secundatum (Waltz.) Kuntze., dan Stenochlaena palustris Bedd. Dari hasil perhitungan SDR (Summed dominate ratio), gulma yang mendominansi di Tambusai Estate adalah gulma Stenochlaena palutris Bedd., Neprolepsis bisserata (Sw.) Schott., Asystasia intrusa (Forssk.) Blume., dan anakan sawit (kentosan), karena Tambusai Estate memiliki daerah rendahan dan lahan darat dengan topografi kemiringan 1 - 3%. 81   82   Tabel 21. Lokasi Penyebaran Gulma di Tambusai Estate  Σ Plot Nama Spesies Lokasi Penyebaran (Plot) Ageratum conyzoides L. G47, E47, I25, K25, N20, T13, R4, Q12, P6, O8, N12 F46, G47, F47, C40, E46, E47, B32, C35, G35, F35, F36, B31, C31, E29, G29, G30, G20, K18, I25, N20, L21, M21, S15, R19, T13, U11, U12, V12, T6, R4, S4, X5, V5, Q12, O12, P12, O5, P6, O8, K16, M16, N12 F36, B31, C31, K18, N20, S15, R19, U12, T6, X5, P12 G29, O5, O8 G47, E29, U12, U11, V12, T6, R4, S4 E46 11 Frekuensi Mutlak( %) 4.2 42 15.9 11 4.2 3 8 1 1.1 3.0 0.4 C31, U12 O8, P6, P12, Q12, S4, R4, T6, U11, T13, S15, M21, L21, N20, I25, K25, K18, G20, E29, C31, B31, F36, G35, B35, B32, E47, C40, F47, G47, F46, G29, S4, M16 2 29 0.8 11.0 3 1.1 V12, R4, N20 F46, F47, G47, C40, E46, B35, C31, T13, Q12 F46, F47, C40, E47, C35, G35, F35, F36, G20, L21, M21, U12, V12, T6, R4, S4, V5, Q12, O12, P12, O5, P6, O8, M16 N20, K25 F46, B32, G35, F35, F36, B31, C31, E29, G20, K25, I25, N20, L21, M21, S15, R19, T13, U12, U11, T6, S4, X5, V5 S15 N20, V12, T6 X5, L21 G47, F46, E47, G35, B31, C31, G29, G30, K18, T13, T6, R4, S4, O12, P12, O5, O8 3 9 1.1 3.4 24 9.1 2 23 0.8 8.7 1 3 2 17 0.4 1.1 0.8 6.4 Asystasia intrusa (Forssk.) Blume Axonopus compresus (Sw.) P. Beauv Borreria alata (Aubl.) D C Borreria laevis (Lam.) Griseb Caladium tuberosum (S. Moore) Bogner M Calopogonium mucunoides Desv Centotheca lappacea (L.) Desv Chromolaena odorata (L.) King and H.E.Robins. Cleome rutidosperma DC. Clidemia hirta (L.) D. Don Cyclosorus aridus (Don.) Ching Cynodon dactylon (L.) Pers Cyrtococcum accrescens (Poac.) Cyperus iria L. Cyperus kyllingia Endl. Cyperus rotundus L. Dicranopteris linearis (Burm. f. Underw) 82   83   Tabel 21. Lokasi Penyebaran Gulma di Tambusai Estate (Lanjutan) Σ Plot Nama Spesies Lokasi Penyebaran (Plot) Digitaria adscendens (H.B.K) Henr. Echinochloa colonum (L.) Link Eleusine indica (L. ) Gaertn. Euphorbia hirta L. Foterandia L. O12, V5 O8 F36, B31 R4, S15, N20, F46, R29, Q12 O8, P12, C31, C40, G47, F46, C35, T6 N12, T13, V12 2 1 2 6 8 Frekuensi Mutlak (%) 0.8 0.4 0.8 2.3 3.0 3 1.1 O8 N12, K16, P6, Q12, R4, G29, F36 P6, O5, O12, Q12, S4, R4, T6, R19, M21, N20, I25, K25, G20, G29, C31, B35, E47, C40, G47 M16, O8, P6, P12, Q12, X5, R4, V12, U12, G30, G29, C31, B31, C35, E47, E46, C40, G47 O12, G29 K16, O8, P6, O5, P12, O12, X5, S4, R4, T6, R19, S15, M21, L21, N20, I25, K25, F36, C35, E47, C40 F36 N12, Q12 F46, G47, F47, C40, E46, E47, B32, C35, G35, F35, F36, B31, C31, E29, G29, G30, K18,K25, I25, N20, L21, M21, S15, R19, T13, U11, U12, V12, T6, R4, S4, X5, V5, Q12, O12, P12, O5, P6, O8, K16, M16, N12 P6, Q12, E29, B32, M16 E47, T13, V5, O8, N12 F36, B31 B31, C31, G30, K18, S4 G29 G47 N12, O8, Q12, V5, S4, R4, T6, U11, T13, S15, L21, E29, B35,F35, B32, E46, C40, F47, F46, G47, E47 E29 G47, C40, E46, E47, B35, E29, G29, R19, T13, U12, T6, S4, X5 O5 M16, P6 T6 1 7 19 0.4 2.7 7.2 18 6.8 2 21 0.8 8.0 1 2 42 0.4 0.8 15.9 5 5 2 5 1 1 21 1.9 1.9 0.8 1.9 0.4 0.4 8.0 1 13 0.4 4.9 1 2 1 0.4 0.8 0.4 N12 , K16, O8, P6, P12, O12, Q12, V5, X5, S4, R4, T6, V12, U11, U12, T13, M21, L21, N20, I25, K25, F36, F35, G35, B35, E47, E46, C40, F47, G47, F46 31 11.7 Gleichenia linearis (Burm. F.) C. B. Clarke Imperata cylindrica (L.) Beauv Leptochloa chinensis (L.) Ness. Lygodium palmatum (Bernh.) Swartz. Melastoma affine D. Don Merremia umbellata (L.) Hallier f Mikania micrantha (H. B. K) RM. King Mimosa invisa Mar. Mimosa pigra L. Nephrolepsis biserrata (Sw.)Schott Ottochloa nodosa (Kunth) Dandy Paspalum commersonii Lam. Paspalum conjugatum P.J. Berg. Passiflora foetida L. Pennisetum polystachion (L.) Schult. Pteridium aquilinum (L.) Kuhn. Pteris longifolia L. Pylanthus niruri L. Scleria sumatranensis Retz. Sida rhombifolia L. Stachytarpheta indica Vahl. Stenotaphrum secundatum (Waltz.) Kuntze. Stenochlaena palustris Bedd.           83   84   Hasil analisis vegetasi yang diambil dilapangan kemudian diuji menggunakan culter analisis multivariate, data 46 gulma yang menyerang perkebunan dilakukan pengelompokan dengan metode skoring (penilaian) yang dikembangkan oleh Hiebert dan Stubbendieck (1992), dan disempurnakan oleh Tjitrosoedirdjo (2010). Metode skoring yang digunakan penulis lebih dimodifikasi kriterianya sesuai dengan kebutuhan pengamatan. Kriteria penulis menggunakan kriteria subyektif terhadap Indeks tingkat mengganggu dan infestasi gulma di perkebunan kelapa sawit. Skoring menggunakan 11 kriteria penilaian untuk masing-masing gulma dengan melihat tingkat mengganggu dan infestasi gulma terhadap perkebunan kelapa sawit (Tabel 22). Tabel 23 mengilustrasikan bahwa dari hasil perhitungan 11 kriteria gulma yang mendapatkan nilai 30 dari 46, memiliki derajat mengganggu atau infestasi gulma terhadap perkebunan kelapa sawit yang cukup besar dan memberikan dampak yang signifikan sehingga memerlukan pengendalian yang baik. Penentuan skor ‘0’ adalah sifat yang diharapkan sedangkan skor ‘1’ adalah sifat gulma dimana perlu intervensi khusus dalam program pengendalian. Skoring tersebut ditentukan secara subyektif oleh penulis. Tabel 22. Indeks tingkat mengganggu dan infestasi gulma di perkebunan kelapa sawit No Kriteria 1. Distribusi gulma 2. 3. 4. Kemudahan dikendalikan Tahan terhadap cekaman kekeringan Tahan terhadap genangan 5. Regrowth gulma 6. Kemudahan propagul terbawa oleh perkerja/ alat Potensi gulma sebagai inang (HPT) Cara perbanyakan gulma 7. 8. 9. 10. 11. Pilihan 0 1 Frekuensi sempit (< 30% Frekuensi umum (> 30% plot contoh) plot contoh) Mudah (herbisida) Sulit (manual) Tidak tahan (< 15 hari Tahan ( > 15 hari kekeringan) kekeringan) Tidak tahan (< 15 hari lahan Tahan (> 15 hari lahan tidak tidak pernah kering) pernah kering) Sulit (> 15 hari gulma Mudah (< 15 hari gulma tumbuh kembali) tumbuh kembali) Sulit (< 20% propagul atau Mudah (> 20% propagul) biji) Tidak ada Ada Terbatasi (vegetatif atau generatif saja) Tidak merusak ( < 20 %) Daya kerusakan terhadap kelapa sawit Mengganggu bagi pekerja Tidak (bentuk morfologi) panen Bobot biaya pengendalian Murah ( herbisida) Ket : 0 = Sifat yang diharapkan, 1= Sifat tidak diharapkan Masal ( vegetatif dan generatif) Merusak ( > 20%) Ya (bentuk morfologi) Mahal (manual) 84   85   Pada Tabel 23 menunjukkan hasil tingkat kriteria gulma yang menginfestasi perkebunan kelapa sawit di Tambusai Estate. Hasil kriteria gulma yang memiliki serangan tertinggi adalah gulma yang memiliki kriteria perbanyakan secara masal (tidak terbatasi) pada perbedaan agroekologi manapun dengan skoring 38 skor. Menurut widiyanto (2012) pola penyebaran gulma erat kaitannya dengan karakteristik botani gulma, seperti mekanisme perbanyakan dan cara penyebarannya. Mekanisme perbanyakan gulma secara vegetatif dan generatif. Organ perbanyakan secara vegetatif umumnya menyebar tidak jauh dari tubuh inangnya kecuali dibantu oleh manusia, contoh gulma menggunakan organ vegetatif adalah Melastoma affine D. Don., Stachytarpheta indica Vahl., dan Clidemia hirta (L.) D. Don. Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. Namun demikian gulma dengan perbanyakan vegetative cenderung memiliki kemampuan pertumbuhan yang cepat, sehingga mampu mendominansi areal di perkebunan. Menurut Tijtrosoedirdjo (2011) gulma Asystasia intrusa (Forssk.) Blume., menimbulkan banyak masalah di perkebunan kelapa sawit. Gulma Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. dapat menginvansi suatu tempat dengan cepat, membentuk belukar sangat tebal yang dapat mengalahkan tumbuhan lain. Gulma ini merupakan gulma musiman dengan organ perbanyakan ganda. Pada saat Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. tumbuh dibawah tanaman perkebunan dengan naungan > 50%, gulma akan tumbuh menjalar menghasilkan masa vegetatif yang cukup melimpah dan memerlukan upaya pengendalian yang intensif. Gulma ini juga mudah beradaptasi baik ditempat ternaungi maupun ditempat terbuka. Kriteria kedua adalah kriteria gulma dengan propagul yang ringan sehingga mudah terbawa oleh pekerja maupun alat - alat pertanian. Contoh gulma yang memiliki kriteria ini adalah jenis gulma berdaun sempit, teki maupun berdaun lebar seperti Centotheca lappacea  (L.) Desv., Imperata cylindrica (L.) Beauv, Cyperus rotundus L., dan Ageratum conyzoides L. Menurut Sukman dan Yakup (2002) spesies gulma yang tumbuh cepat, berhabitat besar, dan memiliki metabolisme efisien akan menjadi gulma berbahaya. Spesies yang memiliki ciri tersebut adalah gulma yang tergolong tumbuhan berjalur fotosintesis C4 adalah family Gramineae (Imperata cylindrica (L.) Beauv.), Cyperaceae (Cyperus rotundus L. gulma teki) dan Amaranthaceae (bayam duri). 85   86   Tabel 23.Hasil evaluasi indeks kriteria infestasi gulma di Tambusai Estate No . 1. 2. 3. Spesies Ageratum conyzoides L. Asystasia intrusa (Forssk.) Blume Axonopus compresus (Sw.) P. Beauv 4. Borreria alata (Aubl.) D C 5. Borreria laevis (Lam.) Griseb 6. Caladium tuberosum (S. Moore) Bogner M 7. Calopogonium mucunoides Desv 8. Centotheca lappacea (L.) Desv 9. Chromolaena odorata (L.) King and H.E.Robins. 10. Cleome rutidosperma DC. 11. Clidemia hirta (L.) D. Don 12. Cyclosorus aridus (Don.) Ching 13. Cynodon dactylon (L.) Pers 14. Cyrtococcum accrescens (Poac.) 15. Cyperus iria L. 16. Cyperus kyllingia Endl. 17. Cyperus rotundus L. 18. Dicranopteris linearis (Burm. f. Underw) 19. Digitaria adscendens (H.B.K) Henr. 20. Echinochloa colonum (L.) Link 21. Eleusine indica (L. ) Gaertn. 22. Euphorbia hirta L. 23. Foterandia L. 24. Gleichenia linearis (Burm. F.) C. B. Clarke 25. Imperata cylindrica (L.) Beauv 26. Leptochloa chinensis (L.) Ness. 27. Lygodium palmatum (Bernh.) Swartz. 28. Melastoma affine D. Don 29. Merremia umbellata (L.) Hallier f 30. Mikania micrantha (H. B. K) RM. King 31. Mimosa invisa Mar. 32. Mimosa pigra L. 33. Nephrolepsis biserrata (Sw.)Schott 34. Ottochloa nodosa (Kunth) Dandy 35. Paspalum commersonii Lam. 36. Paspalum conjugatum P.J. Berg. 37. Passiflora foetida L. 38. Pennisetum polystachion (L.) Schult. 39. Pteridium aquilinum (L.) Kuhn. 40. Pteris longifolia L. 41. Pylanthus niruri L. 42. Scleria sumatranensis Retz. 43. Sida rhombifolia L. 44. Stachytarpheta indica Vahl. 45. Stenotaphrum secundatum (Waltz.) Kuntze. 46. Stenochlaena palustris Bedd. Jumlah Kriteria 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 1 1 1 0 1 0 0 1 1 1 0 0 0 10 11 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 1 1 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 1 0 1 1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 0 0 1 1 1 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 0 1 0 1 0 0 0 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 1 0 1 0 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 0 1 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 0 0 0 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 0 1 1 0 1 1 0 0 0 1 1 1 0 0 1 1 0 0 1 1 1 0 0 0 1 0 1 1 0 0 1 1 1 1 0 1 1 0 1 0 1 0 0 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 0 0 0 1 0 0 1 0 0 1 0 1 0 1 1 0 1 1 1 0 0 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 1 0 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 0 1 0 1 0 0 0 0 0 1 0 1 1 0 1 0 1 1 1 1 0 1 0 0 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 4 1 23 0 21 1 34 1 33 1 37 0 14 1 38 1 17 1 30 1 23 86   87   Nilai dari masing - masing kriteria ini kemudian diolah menggunakan SPSS 20 menggunakan metode ward dan jarak Euclidean untuk melihat pengelompokan kriteria gulma yang menginfestasi suatu lokasi (Gambar 32). Hasil analisis pengelompokkan menggunakan SPSS 20 menunjukkan adanya tingkat kemiripan sebelas kriteria gulma yang menyerang perkebunan di Tambusai Estate (Tabel 24). Tabel 24. Hasil analisis pengelompokan berdasarkan tingkat kemiripan 11 variabel berupa kriteria gulma yang menginfestasi perkebunan Langkah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Tingkat Kemiripan (%) 98.00 90.80 83.20 75.08 66.79 57.49 48.18 38.70 24.00 12.00 Tingkat Jarak 0.500 2.303 4.239 6.239 8.301 10.626 12.953 15.323 19.058 22.963 Kelompok Tergabung 2 5 3 4 1 1 4 2 1 1 11 6 10 8 9 7 5 3 2 4 Kelompok baru 8 7 8 7 6 9 10 9 10 0 Pada Tabel 24 hasil analisis menunjukkan kriteria gulma yang memiliki tingkat kemiripan tertinggi dalam menyerang suatu lokasi adalah kriteria gulma yang sulit dikendalikan dengan herbisida dan pengendaliannya mahal dengan koefisien kemiripan 98%. Gulma yang termasuk ke dalam kriteria tersebut adalah gulma kayu - kayuan yang pengendaliannya menggunakan cara manual, sebagai contoh gulma Melastoma affine D. Don, Stachytarpheta indica Vahl., Chromolaena odorata (L.) King and H.E.Robins., dan Borreria alata (Aubl.) D C. Kriteria kedua yang memiliki tingkat kemiripan 90.8% adalah kriteria karakteristik gulma yang memiliki propagul yang ringan dan mudah tersebar dengan bantuan angin, manusia maupun hewan dan pertumbuhan gulma secara cepat setelah mengalami proses seleksi seperti kebakaran. Gulma yang masuk ke dalam kelompok ini sebagian besar merupakan golongan gulma rumput - rumputan maupun gulma daun lebar dengan organ penyebaran secara generatif baik melalui biji maupun spora. Gulma yang memiliki kriteria ini adalah 87   88   gulma Cleome rutidosperma DC., Centotheca lappacea (L.) Desv., dan Cyclosorus aridus (Don.) Ching. Hasil dari analisis pengelompokkan sebelas kriteria karakteristik gulma dari 46 gulma yang menyerang perkebunan, diolah menggunakan SPSS 20 dan ditampilkan dalam bentuk dendogram (Gambar 32). A B C Gambar 32. Dendogram pengelompokkan karakteristik gulma yang menyerang perkebunan kelapa sawit 88   89   Pada Gambar 32 menunjukkan sebelas kriteria gulma yang menyerang perkebunan dibagi menjadi tiga grup yaitu grup A, B, dan C. Grup A cenderung mengelompok berdasarkan karakteristik morfologi gulma seperti duri, akar maupun batang gulma. Grup B mengelompok berdasarkan karakteristik gulma yang memiliki sifat merusak bagi tanaman kelapa sawit dan Grup C mengelompok berdasarkan karakteristik botani gulma tersebut. Dendogram kemudian dibagi lagi kedalam sub grup berdasarkan tingkat kemiripan 55%, menghasilkan 6 sub grup yaitu subgrup A1, A2, B1, B2, C1, dan C2. Sub grup A1 memiliki 2 karakteristik yaitu 1) Karakteristik sulitnya pengendalian gulma menggunakan herbisida dan 2) Biaya pengendalian mahal. Gulma yang termasuk ke dalam sub grup ini adalah gulma Melastoma affine D. Don, Stachytarpheta indica Vahl., dan Chromolaena odorata (L.) King and H.E.Robins. Sub grup A2 adalah sub grup dengan karakteristik: 1) Ketahanan terhadap kekeringan dan 2) Mengganggu bagi pekerja panen, dengan contoh gulma Mimosa invisa Mar., Mimosa pigra L. dan Passiflora foetida L. Sub grup B1 memiliki 2 karakteristik berupa distribusi gulma yang luas dan dapat merusak tanaman budidaya dengn jenis gulma Asystasia intrusa (Forssk.) Blume., Nephrolepsis biserrata (Sw.) Schott., dan Stenochlaena palustris Bedd. Menurut Zaman (2006) pada musim penghujan, populasi gulma Stenochlaena palustris Bedd. mengalami peningkatan populasi yang signifikan sehingga berdampak pada meningkatnya biaya pengendalian maupun dalam biaya pemanenan di tanah mineral. Karakteristik gulma yang memiliki potensi sebagai inang HPT merupakan karakteristik subgrup B2 dengan contoh gulma Paspalum conjugatum P. J. Berg., Leptochloa chinensis (L.) Ness., dan Euphorbia hirta L. Menurut Titrosoedirdjo et al. (1984) gulma yang berfungsi sebagai penyebaran virus atau hama (alternative host) di daerah perkebunan adalah Ageratum conyzoides L. sebagai inang kepik putih. Selanjutnya karakteristik untuk subgrup C1 adalah karakteristik pertumbuhan gulma yang cepat “ regrowth” atau suksesi yang cepat dan memiliki karakteristik propagul yang mudah terbawa oleh pekerja panen. Dicranopteris linearis (Burm. f. Underw)., Centotheca lappacea (L.) Desv., Gleichenia linearis (Burm. F.) C. B. Clarke., dan Imperata cylindrica (L.) Beauv., Menurut Lubis (1992) gulma alang-alang Imperata cylindrica (L.) merupakan gulma yang dapat menekan pertumbuhan dan dapat menurunkan produksi tanaman perkebunan serta 89   90   sulit untuk dikendalikan karena daya adaptasinya yang tinggi. Menurut Zaman (2006) gulma Imperata cylindrica (L.) merupakan gulma dominan di tanaman kelapa sawit belum menghasilkan yang memiliki intensitas cahaya yang tinggi. Menurut Lubis (1992) pakis atau paku kadal (Cyclosorus aridus (Don.) Ching.) dan pakis kawat (Gleichenia linearis (Burm. F.) C. B. Clarke.) memilik kemampuan bersaing dengan kelapa sawit yang baik dalam mengambil unsur hara maupun air. Pada perkebunan, paku kadal ini dapat membentuk “sheet“ baik pada tanaman sawit muda maupun tanaman tua dan menyukai tanah yang agak basah, tanah yang ternaungi serta berkembang dengan spora dan rimpang. Paku kawat berkembangbiak dengan spora dan rimpang, memiliki akar rimpang yang tajamtajam sehingga dapat mengganggu pekerja. Disamping itu, pada musim kemarau paku kawat mudah terbakar. Subgrup C2 adalah karakteristik gulma yang tahan terhadap genangan dan memiliki perbanyakan missal. Contoh gulma yang termasuk ke dalam subgrup ini adalah gulma Caladium tuberosum (S. Moore) Bogner M., Chromolaena odorata (L.) King and H.E.Robins., Clidemia hirta (L.) D. Don., Eleusine indica (L. ) Gaertn., dan Pteridium aquilinum (L.) Kuhn. Menurut Hoshizaki (1975) tumbuhan paku menyukai tempat lembab (higrofit). Tumbuhan paku (Pteridophyta) juga dapat digolongkan sebagai tumbuhan tingkat rendah karena meskipun tubuhnya sudah jelas memiliki kormus serta memiliki sistem pembuluh, alat perkembangbiaknya yang utama yaitu spora. Pada perkebunan dengan tajuk tanaman sawit tinggi, sering dijumpai tumbuhan paku mendominasi areal, membentuk belukar yang luas dan menekan tumbuhan yang lain. Inventarisasi dan pengelompokan gulma menggunakan dendogram bertujuan untuk mengetahui penyebaran pengelompokkan karakteristik gulma yang menyerang perkebunan di Tambusai Estate. Pengelompokan gulma pada pengamatan di Tambusai Estate maupun analisis vegetasi memiliki pengaruh yang positif terhadap biaya pengendalian gulma dan kualitas maupun kuantitas hasil panen. Melalui inventarisasi gulma oleh mandor pemeliharaan maupun asisten, kebun dapat mengetahui dominansi dan karakteristik yang mempengaruhi pola penyebaran gulma sehingga dapat ditentukan bahan dan cara pengendalian gulma yang tepat. Selain pengelompokan berdasarkan pada sifat biologi dan ekologi, gulma - gulma juga dikaji berdasarkan lokasi tumbuhnya. Dinamika populasi gulma berdasarkan agroekologi berupa subgrup tanah dapat dilihat pada Tabel 25 dan penyebaran gulmanya dapat dilihat pada Tabel 26. 90   91   Tabel 25. Perbedaan agroekologi berupa sub grup tanah. Sub grup tanah ordo entisol Kriteria agroekosistem Keadaan lahan Regim kelembaban Kedalaman tanah Struktur tanah Drainase tanah KTK tanah Kejenuhan basa tanah pH tanah Kelas lahan Suhu udara Kelembaban udara Intensitas cahaya Persentase penutupan kanopi sawit Proporsi dari luas lahan Kemiringan Tanaman pokok Typic Haplosaprist Typic Endoaqouent Typic Dystrudept Humic Dystrudept Kering Udic Sangat dalam Halus Terhambat Tergenang Udic Kering Udic Lembab Udic Dalam Halus Baik Dalam Halus Baik Rendah Dangkal Halus Terhambat Sangat rendah Rendah Rendah 5.3-5 S2 32°C 81% 1000 lux Rendah 5.3-5 S2 32°C 75% 400 lux Rendah Sangat rendah 4.80-4.65 S2 29°C 80% 600 lux Sangat rendah 4.80-4.65 S2 28°C 73% 100 lux 20% 50% 45% 55% 3% 0-1% Kelapa sawit TM 7-9 1% 1-3% Kelapa sawit TM 6-8 46% 1-3% Kelapa sawit TM 7-15 48% 1-3% Kelapa sawit TM 12-15 Lahan perkebunan di Tambusai Estate merupakan lahan mineral dengan ordo entisol yang mana berasal dari bekas endapan sungai, dengan derajat kemasaman 4,5 - 5,6 yang tergolong tanah mineral masam. Tanah ini memiliki empat sub grup tanah yang mana masing - masing memiliki unsur yang berbeda sehingga gulma yang tumbuh diatasnya juga dapat berbeda dan agroekologinya juga berbeda. Setelah diketahui perbedaan agroekologi berupa subgrup tanah di perkebunan Tambusai Estate. Dibuat pengelompokkan karakteristik gulma tersebut berdasarkan subgrup tanah yang ada, sehingga dapat mengetahui penyebaran gulma yang ada di kebun. 91   92   T abel 26. Penyebaran gulma berdasarkan karateristik gulma dan perbedaan agroekologi Jenis Gulma Pengelompokkan Karakteristik Gulma Kelompok Dendogram (Subgrup) Jenis Subgrup Lahan Melastoma affine D. Don, Stachytarpheta indica Vahl Chromolaena odorata (L.) King and H.E.Robins Borreria alata (Aubl.) D C Pteris longifolia L. Borreria laevis (Lam.) Griseb Foterandia L. Sida rhombifolia L. Mimosa invisa Mar., Mimosa pigra L Pennisetum polystachion (L.) Schult. Passiflora foetida L Cyrtococcum accrescens (Poac.) Cyperus kyllingia Endl. Asystasia intrusa (Forssk.) Blume., Nephrolepsis biserrata (Sw.)Schott., Stenochlaena palustris Bedd Ottochloa nodosa (Kunth) Dandy Paspalum commersonii Lam. Paspalum conjugatum P.J. Berg. Euphorbia hirta L. Leptochloa chinensis (L.) Ness. Cynodon dactylon (L.) Pers Cleome rutidosperma DC. Cyperus iria L. Kemudahan dikendalikan dengan herbisida dan Biaya pengendalian mahal A1 Ketahanan terhadap cekaman kekeringan dan Menggaanggu bagi pekerja panen A2 Distribusi luas dan Daya kerusakan terhadap kelapa sawit B1 Potensi sebagai inang HPT B2 Typic Dystrudept Typic Haplosaprit Humic Dystrudept Typic Dystrudept 92   93   Tabel 26. Penyebaran gulma berdasarkan karateristik gulma dan perbedaan agroekologi (Lanjutan) Jenis Gulma Dicranopteris linearis (Burm. f. Underw). Centotheca lappacea (L.) Desv., Merremia umbellata (L.) Hallier f Gleichenia linearis (Burm. F.) C. B. Clarke. Mikania micrantha (H. B. K) RM. King Imperata cylindrica (L.) Beauv., Axonopus compresus (Sw.) P. Beauv Pylanthus niruri L. Calopogonium mucunoides Desv Ageratum conyzoides L. Lygodium palmatum (Bernh.) Swartz. Digitaria adscendens (H.B.K) Henr. Caladium tuberosum (S. Moore) Bogner M Clidemia hirta (L.) D. Don. Eleusine indica (L. ) Gaertn. Pteridium aquilinum (L.) Kuhn. Cyclosorus aridus (Don.) Ching Cyperus rotundus L. Echinochloa colonum (L.) Link Scleria sumatranensis Retz. Stenotaphrum secundatum (Waltz.) Kuntze. Pengelompokkan Karakteristik Gulma Regrowth (Pertumbuhan yang cepat) dan Kemudahan propagul terbawa pekerja Ketahanan terhadap genangan dan cara perbanyakan Kelompok Dendogram (Subgrup) C1 C2 Jenis Subgrup Lahan Humic Dystrudept Typic Endoaqent Dapat dilihat dari Tabel 25 dan 26, sub grup humic dystrudept merupakan sebaran tanah yang dominan dibandingkan dengan subgrup tanah yang lain yaitu 48% dari luasan tanah di Tambusai Estate. Tanah humic dystrudept ini memiliki tingkat ternaungi sebesar 55% dengan intensitas cahaya 100 lux menyebabkan tanah yang ada dibawahnya dalam keadaan lembab. Kondisi tanah seperti itu merupakan tempat yang optimum bagi gulma Asystasia intrusa 93   94   (Forssk.) Blume., Nephrolepsis bisserata (Sw.) Schott., dan berbagai jenis tumbuhan paku lainnya. Hal ini yang menyebabkan gulma diatas menjadi gulma dominan dengan NJD rata - rata sebesar 23% setelah dilakukan inventarisasi gulma di wilayah Tambusai Estate. NJD (Nisbah Jumlah Dominansi) Menurut Nasution (1981) jenis gulma yang tumbuh di suatu tempat berbeda-beda. Faktor utama yang menyebabkan perbedaan komunitas gulma yang tumbuh antara satu daerah ekologi gulma yaitu struktur tanah, curah hujan, altitude, dan pola kultur teknis. Pengendalian gulma di Tambusai Estate menggunakan herbisida biasanya tidak melalui analisis vegetasi gulma. Akibatnya, pada saat pengendalian dengan herbisida dilakukan tidak semua gulma yang ada dapat dikendalikan. Hal inilah yang membuat penulis melakukan invetarisasi jenis gulma yang ditemui di areal pertanaman kelapa sawit Tambusai Estate. Inventarisasi gulma ini bertujuan untuk mencatat gulma penting dan mempelajari pola komunitas gulma di kawasan tersebut. Tambusai Estate memiliki daerah rendahan dan lahan darat dengan topografi kemiringan 1 - 3%. Daerah lahan darat adalah daerah dengan media tumbuh tanah mineral dengan gulma dominan Stenochlaena palutris Bedd., Neprolepsis bisserata (Sw.) Schott., Asystasia intrusa (Forssk.) Blume., dan anakan sawit (kentosan). Daerah rendahan yang ada di Tambusai Estate merupakan daerah dataran yang memiliki topografi lebih rendah dari dataran lain sehingga membentuk cekungan, selama musim hujan dataran ini tergenang setinggi 2 m. Dataran ini terdapat di Afdeling XII blok X5, dengan gulma dominan pada musim hujan Scleria sumatrensis Retz. dan pada saat musim kering Asystasia intrusa (Forssk.) Blume., Nephrolepsis bisserata (Sw.) Schott., dan Stenochlena palustris Bedd. Secara lebih spesifik, NJD dianalisis pada blok N20 dan blok X5. Hasil inventarisasi gulma (analisis vegetasi gulma) yang ada di blok N20 afdeling VIII Tahun tanam 1997 dan di blok X5 afdeling XII tahun tanam 2006. Tabel 27 menunjukkan merupakan nilai kerapatan, berat kering, NJD dan frekuensi gulma pada blok N20 (afdeling VIII Tambusai Estate) dengan “metode kuadrat“ dan 94   95   Tabel 28 merupakan nilai kerapatan, berat kering, NJD dan frekuensi gulma pada blok X5. Tabel 27. Nilai kerapatan, bobot kering, NJD, dan frekuensi gulma pada blok N20 afdeling VIII Tambusai Estate. Spesies Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. Nephrolepsis biserrata (Sw.) Schott. Stenochlaena Palustris Bedd. Cyrtoccocum acrescens (Poac). Centotecha lapacea (L.) Desv. Ageratum conyzoides L. Mikania micranta (H. B. K) RM. King. Lygodium palmatum (Bernh.) Swartz. Cynodon dactylon (L.) Pers. Axonopus compresuss (Sw.) P. Beauv. Euphorbia hirta L. Cyperus kyllingia L. Cleome rutidospermae D.C. Kerapatan KM KN Bobot Kering Frekuensi BKM BKN FM FN NJD (%) 380 53.0 298.0 59.0 6 20 43.87 84 12.0 98.5 19.0 3 10 13.70 36 5.0 36.0 7.0 2 7 7.27 14 2.0 4.5 1.0 1 3 6.57 38 14 5.0 2.0 16.0 6.5 3.0 1.0 4 2 13 7 6.27 6.17 45 6.0 17.5 3.0 3 10 3.30 11 2.0 6.0 1.0 2 7 3.13 12 2.0 2.0 0.4 1 3 2.50 59 4 20 8.0 1.0 3.0 18.5 1.5 2.0 4.0 0.3 0.4 2 2 1 7 7 3 2.17 2.07 1.80 1 718 0.1 0.5 507.5 0.1 1 30 3 1.20 Nilai NJD kemudian disusun berturut-turut dari yang terbesar sampai yang terkecil (Tabel 27) untuk blok N20 afdeling VIII dan (Tabel 28) untuk blok X5 Afdeling XII. Besarnya NJD menunjukkan dominansi gulma yang ada pada areal petak contoh. 95   96   Tabel 28. Nilai kerapatan, bobot berat kering, NJD, dan frekuensi gulma pada blok X5 afdeling XII tahun tanam 2006 Spesies Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. Nephrolepsis biserrata(Sw.) Schott. Mikania micranta (H. B. K) RM. King. Cyperus rotundus L. Cyrtoccocum acrescens (Poac). Stenochlaena palustris Bedd. Scleria sumatrensis Retz. Melastoma affine D. Don. Axonopus compresuss (Sw.) P. Beauv. KM KN BKM BKN FM FN NJD 130 36.7 133.3 44 4 21.0 33.93 89 25.1 64.0 21 2 10.0 18.93 3 3 0.8 0.8 3.0 1.0 0.9 0.3 1 1 5.2 5.2 15.20 11.87 31 8.8 15.8 5.2 2 10.0 8.17 51 26 10 0.14 7.3 2.8 46.8 21.8 14.3 15.4 7.1 4.7 3 4 1 15.7 21.0 5.2 4.27 3.13 2.37 11 354 3.1 3.0 302.8 0.9 1 19 5.2 2.13 100 Tabel 27 menunjukkan gulma Asystasia intrusa merupakan gulma yang paling dominan pada lahan mineral afdeling VIII blok N20 pada tahun tanam 1997. Gulma tersebut memiliki nisbah jumlah dominansi (NJD) sebesar 43.87% diikuti oleh gulma Nephrolepsis bisserata (Sw.)Schott. (NJD = 13.70%), dan Chentotheca lappacea (L.) Desv. (NJD = 7.27%). Pada Tabel 28, blok X5 afdeling XII gulma yang paling dominan adalah Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. (NJD = 33.93%), Nephrolepsis bisserata (Sw.) Schott. (NJD = 18.93%), dan Stenochlaena palustris Bedd. (NJD = 15.20%). Pada saat musim penghujan gulma yang paling dominan pada blok daerah rendahan ini adalah gulma Scleria sumatrensis Retz. Menurut Perdana (2009) daerah rendahan yang umumnya sangat lembab di BPE (Bukit Pinang Estate) didominansi oleh gulma Scleria sumatranensis Retz., Chromolaena odorata (L.) King and H.E.Robins., Dicranopteris linearis (Burm. f. Underw)., dan Clidemia hirta (L.) D. Don., sedangkan daerah mineral didominansi oleh gulma Ageratum conyzoides L. dan Paspalum conjugatum P. J. Berg. Di Tambusai Estate jenis gulma di daerah dataran yang tidak tergenang dan tergenang memiliki perbedaan. Jenis gulma di daerah tergenang didominansi oleh gulma Scleria sumatrensis Retz., sedangkan di daerah lahan mineral yang 96   97   kering didominansi oleh gulma Asystasia intrusa (Forssk.) Blume., Nephrolepsis bisserata (Sw.) Schott., dan Stenochlaena palustris Bedd. Menurut Sastroutomo (1990) menyatakan bahwa komunitas gulma adalah kumpulan individu gulma yang tumbuh di suatu areal dengan luasan tertentu. Suatu komunitas gulma dapat terdiri dari dua jenis atau lebih gulma. Komunitas gulma tersebar pada lokasi dan jarak yang berbeda-beda. Kedua agroekologi yang berbeda tersebut menunjukkan adanya perbedaan komunitas gulma. Penyebaran komunitas gulma dipengaruhi oleh lingkungan, kultur teknis, dan tanaman. Faktor lingkungan mempengaruhi komunitas gulma yang tumbuh adalah iklim, tanah, dan organisme biotik. Iklim merupakan faktor yang paling dominan dalam menentukan jenis tumbuhan, tanaman atau gulma yang dominan di daerah tersebut. Misalnya, daerah yang memiliki curah hujan yang tinggi akan berpengaruh pada kerapatan gulma, kecepatan pertumbuhan, dan keragaman yang tinggi dibandingkan dengan daerah yang bercurah hujan rendah. Kultur teknis meliputi pengolahan tanah, pemupukan, rotasi tanaman sebelumnya, dan pengendalian gulma sebelumnya akan menentukan keberadaan seed bank. Jenis pola tanam yang diterapkan juga mempengaruhi komunitas gulma yang tumbuh. Pola tanam umumnya berkaitan dengan umur tanaman, lebar penutupan tajuk (adanya naungan) dan ruang hidup. Dominansi gulma menurut umur tanaman (tahun tanaman ditanam) dapat dilihat pada Tabel 29 dan data analisis vegetasi gulma secara keseluruhan terdapat pada Lampiran 7 dan Lampiran 8. 97   98   Tabel 29. Gulma yang tumbuh dominan di Tambusai Estate No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Spesies 1990 Tahun tanam 1995 1996 1997 1998 1999 2002 2003 2004 2005 ……………………………………………………..%..................................................... 14.5*) 8.8*) 24.2*) 37.9*) 21.9*) 26.2*) 22.3*) 24.6*) 26.3*) 21.6*) 1991 4.3 Asystasia intrusa (Forssk.)Blume 23.0*) 14.1*) 26.6*) 13.2*) 12.8*) 22.5*) 22.3*) Nephrolepsis biserrata (Sw.) Schott. 41.3*) 37.1*) 18.6*) 25.4*) 4.9 5.9*) 16.7*) Stenochlaena palustris Bedd. 2.3 6.7*) 9.1*) 3.9 7.7*) 15.8*) Cyclosorrus aridus (Don.) Ching. Pteris longifolia L. 7.4*) 17.2*) 7.0*) 9.9*) 2.4 3.7 0.7 Centotecha lapacea (L.) 2.3 6.0*) 4.4 8.5*) 3.3 3.8 Desv. Melastoma affine D.Don. 9.3*) 4.0 1.5 1.3 2.7 2.0 3.3 1.3 9.5*) 8.4*) 0.7 Cyrtoccocum acrescens (Poac.) 5.5*) 2.4 5.9*) 0.9 1.1 Dicranopteris linearis (Burm.f. Underw) 1.3 0.7 2.8 2.8 0.6 Lygodium palmatum (Bernh.) Swartz. Mikania micranta (H. B. 1.7 1.2 2.0 7.3*) 3.2 K) RM. King. Keterangan : *) Gulma dominan di perkebunan kelapa sawit pada tahun tanam tersebut 28.9*) 17.3*) 16*) 18.3*) 31.1*) 30.7*) 3.5 8.2*) 20.5*) 5.1*) 12.9*) 4.9 3.9 4.3 24.7*) 0.6 4.9 5.0*) 1.9 0.9 5.4*) 4.9 1.4 0.7 1.0 3.6 2.1 5.7*) 5.9*) 0.9 1.6 10.4*) 2.6 5.5*) 1.5 3.2 2.4 1.7 2.9 5.3*) 4.7 98 98   2006 99   Secara umum, komunitas gulma yang tumbuh dominan di Tambusai Estate digolongkan menjadi gulma berdaun lebar dan gulma rumput. Gulma berdaun lebar tumbuh dominan pada areal yang kurang ternaungi yaitu pada areal yang baru ditanami dengan tahun tanam kelapa sawit 2002 - 2005 dan pada areal yang telah lama ditanam atau produktivitas tinggi yaitu pada tahun tanam 1990 - 1995. Gulma rumput tumbuh dominan pada areal yang ternaungi yang merupakan areal yang telah lama ditanami. Gulma daun lebar yang tumbuh dominan di Tambusai Estate adalah Asystasia intrusa (Forssk.) Blume., Nephrolepsis bisserata (Sw.) Schott., Stenochlaena palustris Bedd., Cyclosorus arridus (Don.) Ching., Pteris longifolia L., Dicranopteris linearis (Burm. f. Underw)., Lygodium palmatum (Bernh.) Swartz., dan Mikania micranta. Gulma daun lebar tumbuh dominan pada tahun tanam 1997 - 1999. Gulma Asystasia intrusa (Forssk.) Blume., Nephrolepsis bisserata (Sw.) Schott., dan Stenochlaena palustris Bedd. tergolong gulma dominan pada tahun tanam kelapa sawit 1990 - 2006, sedangkan gulma Mikania micranta (H. B. K) RM. King. tumbuh hanya pada tahun 1998. Gulma berdaun lebar yang tumbuh dominan di Tambusai Estate ditampilkan pada Gambar 33, gulma daun lebar jenis paku - pakuan dapat dilihat pada Gambar 34. 40 35 30 25 Asystasia intrusa  (Forssk.)Blume.  NJD (%) 20 Melastoma affine D.Don. 15 10 Mikania micranta (H. B. K)  RM. King. 5 2006 2005 2004 2003 2002 1999 1998 1997 1996 1995 1991 1990 0 Tahun Tanam Gambar 33. Gulma daun lebar yang dominan di Tambusai Estate 99   100   45 40 35 30 25 NJD (%) 20 15 10 5 0 Nephrolepsis biserrata  (Sw.) Schott. Stenochlaena palustris  Bedd. Cyclosorrus aridus (Don.)  Ching. 2006 2005 2004 2003 2002 1999 1998 1997 1996 1995 1991 1990 Pteris longifolia L. Tahun Tanam Dicranopteris linearis  (Burm.f. Underw) Lygodium palmatum  (Bernh.) Swartz. Gambar 34. Gulma paku-pakuan yang dominan di Tambusai Estate Gulma rumput yang tumbuh dominan di Tambusai Estate adalah Centotheca lappacea (L.) Desv. dan Cyrtococcum acrescens (Poac.). Gulma rumput tumbuh dominan pada tahun 1995 - 1998, dan 2005 - 2006. Gulma Centotheca lappace (L.) Desv. tumbuh dominan pada tahun 1995, 1998, dan 2004, sedangkan gulma Cyrtococcum acrescens (Poac.) tumbuh dominan pada tahun tanam kelapa sawit 1998 dan 2006. Gulma rumput yang dominan di Tambusai Estate ditunjukkan pada Gambar 35. 12 10 8 6 Centotecha lapacea (L.)  Desv. NJD (%) 4 Cyrtoccocum acrescens  (Poac.) 2 2006 2005 2004 2003 2002 1999 1998 1997 1996 1995 1991 ‐2 1990 0 Tahun Tanam Gambar 35. Gulma rumput yang tumbuh dominan di Tambusai Estate 100   101   Centotecha lappacea (L.) Desv. dan Cyrtoccocum acresscens (Poac.) memiliki nilai NJD semakin besar dengan bertambahnya usia tanaman kelapa sawit, sehingga dominansinya bertambah seiring dengan ternaunginya kebun. Asystasia intrusa (Forssk.) Blume., Nephrolepsis bisserata (Sw.) Schott., dan Lygodium palmatum (Bernh.) Swartz., memiliki nilai NJD besar pada tanaman kelapa sawit muda dan semakin kecil pada kelapa sawit dengan tahun tanam yang lebih awal. Sebaran gulma yang tumbuh dominan Tambusai Estate ditampilkan pada Gambar 36. 101   102   102 102   103   Stenochlaena Gulma Asystasia intrusa Nephrolepsis bisserata palustris Warna SDR (%) Tahun Tanam 22.3 24.6 26.2 26.3 37.9 22.5 26.6 30.7 31.1 25.4 37.1 41.3 2002 2003 1999 2004 1997 1998 1995 2006 2005 1996 1991 1990 Gambar 36. Pola penyebaran dominansi gulma di Tambusai Estate menurut tahun tanam Tabel 29 menunjukkan bahwa komposisi gulma yang tumbuh dominan pada setiap tahun tanamannya mengalami perubahan. Gulma yang tumbuh dominan pada tahun tanam 1990 - 2006 (TM 3 - 19) adalah gulma Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. dan Nephrolepsis bisserata (Sw.) Schott. dengan nilai NJD berubah setiap tahunnya. Gulma yang tumbuh dominan pada tahun tanam 1990-1996 (TM 15 - 19) adalah Stenochlaena palustris Bedd., Pteris longifolia L., Cyclossorus aridus (Don.) Ching., Centhoteca lappacea (L.) Desv., Dicranopteris linearis (Burm. f. Underw)., dan Nephrolepsis bisserata (Sw.) Schott. Gulma dominan pada tahun tanam 1997 - 1999 (TM 14 - 18) dan 2002 - 2006 (TM 3 - 7) adalah Asystasia intrusa (Forssk.) Blume., Nephrolepsis bisserata (Sw.) Schott., Cyclossorus aridus (Don.) Ching., Centotheca lappacea., Pteris longifolia L., Stenoclena palustris Bedd., Dicranopteris linearis (Burm. f. Underw)., dan Lygodium palmatum (Bernh.) Swartz. Centotheca lappacea (L.) Desv. dan Cyrtoccocum acrescens (Poac.) merupakan gulma yang tumbuh dominan pada tahun tanam 1997 - 1998 (TM 14 - 15) dengan nilai NJD (nisbah jumlah dominansi) tertinggi 8.5% dan 9.5% pada tahun tanam 1997 (TM 14). Hal ini disebabkan kedua gulma tergolong tumbuhan C3 yang resisten terhadap naungan. Menurut Soerjandono (2004) jenis gulma berdaun sempit memiliki perakaran yang melekat kuat pada tanah dan sangat kompetitif dan efisien dalam menyerap unsur hara dibandingkan jenis gulma berdaun lebar. Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. dan Nephrolepsis bisserata (Sw.) Schott. adalah gulma yang tumbuh dominan pada tahun tanam 103   104   1990-2006 (TM 3 - 19) dengan nilai NJD tertinggi 37.9% dan 31.1% pada tahun tanam 1997 (TM 14) untuk gulma Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. dan tahun tanam 2006 (TM 3) untuk gulma Nephrolepsis bisserata (Sw.) Schott. Menurut Prawirosukarto et al. (2005) Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. yang tumbuh pada areal terbuka akan lebih banyak menghasilkan organ vegetatif. Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. berkembang biak melalui biji dan tunas pada ruas batang. Menurut Lee (1984) Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. tergolong jenis gulma ganas (noxius weed) karena setelah populasi terbangun pada suatu lokasi akan sulit dikendalikan karena kemampuannya menghasilkan biji dalam jumlah banyak. Pengendalian Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. dan suksesi Cleome rutidospermae D.C. Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. sering dinamakan dengan rumput johor barat, Israel, dan syaitan. Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. merupakan gulma yang berbatang lunak, tingginya dapat mencapai 1.5 m. Letak daun berpasangan, berbentuk lonjong, dan ujungnya runcing. Bunganya berukuran kecil berwarna putih dengan pola kebiruan. Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. dapat dikendalikan secara manual dan dilanjutkan dengan pembakaran gulma. Penulis mengamati kematian dan pertumbuhan kembali Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. pada piringan setelah penyemprotan dengan herbisida campuran. Pengamatan dilakukan pada dua rintis piringan yang berada di dalam hancak dan di pinggir hancak. Dosis herbisida yang digunakan 120 cc/tangki dengan campuran Amiphosat dan Rapid. Knapsack sprayer yang digunakan untuk kegiatan penyemprotan adalah jenis knapsack sprayer punggung yang dipompa secara terus menerus dengan volume 16 liter. Nozel yang digunakan adalah full cone jenis VLV dengan volume semprot 20 l/ha, dan lebar semprot 1 m. Data lapangan menunjukkan bahwa Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. mengalami kematian dengan ciri-ciri tanaman menjadi layu yaitu pada 7 hari setelah penyemprotan. Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. tidak tumbuh kembali setelah 5 MSA (minggu setelah aplikasi). Pada pengamatan 5 MSA gulma Cleome rutidosperma D.C. tumbuh dominan menggantikan Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. Tumbuhnya gulma Cleome rutidosperma D.C. diakibatkan oleh keadaan 104   105   lingkungan yang sesuai bagi pertumbuhan biji Cleome rutidosperma D.C. yang dorman di dalam tanah. Namun demikian, seed bank gulma Cleome rutidosperma D.C. tidak diamati dalam pengamatan ini. Pengamatan kematian dan pertumbuhan kembali gulma lain selain Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. dapat dilihat pada Gambar 37 dan 38 dan Tabel 30. Pengamatan Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. sebagai bagian dalam kajian dinamika populasi, regrowth Cleome rutidosperma D.C. tidak dapat dilepaskan dari faktor edafik, lingkungan dan kultur teknis. Pengamatan yang dilakukan selama magang ini baik dari sisi pelaksanaan pengendalian, normanorma pengendalian, analisis vegetasi dan kajian populasi gulma merupakan bagian penting dalam program pengendalian gulma yang seharusnya menjadi informasi penting bagi Tambusai Estate. Hasil dari kajian di Tambusai Estate juga dapat diaplikasikan pada perkebunan kelapa sawit di tempat lain melalui penyesuaian – penyesuaian sesuai dengan karakteristik laham wilayah tersebut. 105   106   Tabel 30. Pengamatan pengendalian Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. dan Centotheca lappacea DC. pada Blok N20 Ulangan Bahan Aktif (Merk Dagang) Dosis /tangki Gulma yang diamati Ciri fisik Kesegaran U1 Hari-1 % Segar 100 Hijau 100 Warna Glifosat ( Amiphosat dan Rapid) 120 cc/ tangki (campuran) Asystasia intrusa Segar 100 Kesegaran U1 Segar Layu Hijau Kuning 30 70 30 70 Segar 15 Layu Kering Hijau Kuning Coklat Layu % 40 60 10 50 40 30 3 MSA Kering Mengkerut Hijau Kuning Coklat Kering % 80 20 5 35 60 10 Layu 85 Kering 70 Mengkerut 90 100 Hijau Kuning 30 70 Hijau Kuning Coklat 5 45 50 Kuning Coklat 45 55 Segar 100 100 20 80 80 15 Layu Kering Kuning Coklat 10 90 Hijau Segar Layu Kuning Coklat Kering Mengkerut Coklat 100 Segar Layu Kuning Coklat 15 85 95 5 Layu Kering Kuning Cuklat Kering Mengkerut Kuning Coklat 10 90 10 90 Warna Centothec a lapacea 2MSA Hijau Warna 120 cc/ tangki (campuran) % 4MSA % Kering Mengkerut Coklat Hitam 5 95 40 60 Mengkerut 100 5 MSA % Mengkerut 100 Hitam 100 Mengkerut 100 Kesegaran U2 Warna Segar 100 Hijau 100 15 % Tumbuh Cleome rutidospermae Tumbuh Cleome rutidospermae Kesegaran U2 Glifosat ( Amiphosat dan Rapid) 1MSA Coklat Hitam 30 70 Hitam 100 Mengkerut 100 Mengkerut 100 Hitam 100 Hitam 100 Mengkerut 100 Mengkerut 100 Hitam 100 80 5 95 20 80 Coklat Hitam 70 30 106 106   20 20 107   a) 1 HSA d) 3 MSA b) 1 MSA e) 4 MSA c) 2 MSA f) 5 MSA Gambar 37. Kematian gulma Chentotecha lappacea (L.) Desv. setelah aplikasi (penyemprotan) herbisida: a). Kematian gulma setelah 1 hari aplikasi, b). Kematian gulma setelah 1 minggu aplikasi, c). Setelah 2 minggu aplikasi, d). Setelah 3 minggu aplikasi, e). Setelah 4 minggu aplikasi, dan f). Setelah 5 minggu aplikasi 107 107   108   a) 1 HSA d) 3 MSA b) 1 MSA e) 4 MSA c) 2 M MSA f) 5 M MSA Su uksesi Cleomee rutidosperm mae g) 5 MSA Gambar 38. Kematian gulma Asystasiia intrusa (Forssk.) Blume. settelah aplikasi (p penyemprotan) herbisida h dan suuksesi Cleome rutidosperm ma DC: a). Kem matian gulma seteelah 1 hari aplik kasi, b). Kematiaan gulma setelah h 1 minggu aplikkasi, c). Setelah 2 minggu aplikasi, d). Seetelah 3 minggu u aplikasi, e). Setelah 4 minggu u aplikasi, f). Setelah S 5 mingggu aplikasi, g). Bersamaann dengan kematian gulma Asystasia intrusa muncul m gulma baaru Cleome ruttidospermae seteelah 5 minggu aplikasi 108 108   109   KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Kegiatan magang telah meningkatkan keterampilan penulis dalam melakukan proses kerja yang nyata di lapangan seperti dalam kegiatan teknik budidaya khususnya pengendalian gulma. 2. Manajemen pengelolaan gulma di Tambusai Estate masih perlu ditingkatkan sehingga target produksi perusahaan dapat dicapai dengan baik. 3. Metode pengendalian dengan menggunakan manual dipadukan dengan kimiawi merupakan metode yang paling efisien untuk mengendalikan gulma yang mendominasi Tambusai Estate. 4. Faktor agroekologi tanah di Tambusai Estate juga mempengaruhi sebaran serangan gulma. 5. Kondisi tanah lembab merupakan tempat yang optimum bagi gulma Asystasia intrusa (Forssk.) Blume., Nephrolepsis bisserata (Sw.) Schott., dan berbagai jenis tumbuhan paku lainnya yang merupakan gulma dominan di Tambusai Estate. 6. Serangan gulma pada perkebunan kelapa sawit menyebar berdasarkan sifat morfologi, botani dan sifat merusak bagi tanaman kelapa sawit serta perbedaan agoekologi berupa subgrup tanah Saran 1. Perlu ada perbaikan inventarisasi gulma di perusahaan Tambusai Estate, agar bahan-bahan pengendalian gulma seperti herbisida dapat diaplikasikan secara tepat waktu, jenis, dan tempat. 2. Perlu dilakukan peningkatan pengetahuan mengenai penggunaan alat pengendalian gulma secara kimia bagi mandor pemeliharaan maupun petugas semprot. 3. Perlu diadakan penelitian lanjutan pola penyebaran dan dominansi gulma pada perkebunan di tanah gambut dan tanah mineral kaitannya dengan metode pengendalian yang paling efektif. 109   110    DAFTAR PUSTAKA Barchia, M. F. 2006. Gambut Agroekosistem dan Transformasi Karbon. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. 196 hal. Direktorat Jenderal Perkebunan. 2012. Luas Areal dan Produksi Kelapa Sawit, Menurut Pengusahaan 1967-2010. http://ditjenbun.deptan.go.id/ [4 Juli 2012]. Djojosumarto, P. 2008. Teknik Aplikasi Pestisida. Kanisius. Yogyakarta. 211 hal. First Resousces Research Centre, Tambusai Estate. 2008. Analisis Tanah. First Resousces Research Centre. Rokan Hulu. 5 hal. Ginting, K., E. S. Sutarta, dan R. Y. Purba 2004. Teknik infus akar untuk pengendalian gulma epifit pada pohon kelapa sawit. Warta Bursa Komoditi. 12 :2 - 3. Hero, P. F. 2011. Perkembang Ekspor Kelapa Sawit (CPO) Indonesia dalam Perdagangan Dunia. http://pphp.deptan.go.id.[5 Juli 2012]. Hakim, M. 2007. Kelapa Sawit Teknis Agronomis dan Manajemennya. Lembaga Pupuk Indonesia. Jakarta. 163 hal Hidayat, W. 2012. Manajemen Pemupukan pada Perkebunan Kelapa Sawit di PT. Panca Surya Agrindo, Firs Resources Ltd, Kab. Rokan Hulu, Riau. Skripsi. Program Sarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 69 hal. Hoshizaki, B.J. 1975. Fern Growers Manual. Alferd A. Knopf Publ. Co.Inc. New York. 256 p. Lee, S. A. 1984. Control of Asystasia Intrusa (BI). In pineapple with emphasis on new technique. Paper presented at the Seminar and Discussion on the weed Asystasia, West Johore Agric. Dev. Project. Pontianak. 16 p. Lubis, A.U. 1992. Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Indonesia. Pusat Penelitian Perkebunan Marihat Bandar Kuala. 435 hal. Mangoensoekarjo S dan H. Semangun. 2003. Manajemen Agrobisnis Kelapa Sawit. Gadjah Mada University Press. 605 hal. Moenandir, J. 1993. Pengantar Ilmu dan Gulma. Edisi 1. Rajawali. Jakarta. 122 hal. Nasution, U. 1986. Gulma dan Pengendaliannya di Perkebunan Karet Sumatera Utara dan Aceh. P4TM. Tanjung Morawa. 269 hal. 110   111    Pahan, I. 2010. Panduan Lengkap Kelapa Sawit Manajemen Agribisnis dari Hulu Hingga Hilir. Penebar Swadaya. Jakarta. 411 hal. Prawirosukarto, S., Syamsuddin, E., Darmosarkoro, W., dan Purba, A. 2005. Tanaman Penutup Tanah dan Gulma pada Kebun Kelapa Sawit. PPKS. Medan. 74 hal. Perdana, E. 2009. Pengendalian Gulma Kelapa Sawit di Kebun Bukit Pinang, PT. Bina Sains Cemerlang, Minamas Plantation. Skripsi. Program sarjana, Institut Pertanian Bogor. Bogor. 70 hal. Rambe, T. D., L. Pane, Sudharto, dan Caliman. 2010. Pengelolaan Gulma pada Perkebunan Kelapa Sawit di PT. Smart Tbk. Jakarta. 152 hal. Sastrosayono, S.2006. Budidaya Kelapa Sawit. Agromedia Pustaka. Jakarta. 60 hal. Sastroutomo, S. S. 1990. Ekologi Gulma. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 85 hal. SEAMEO. 2011. Invansive Alien Species. http://www.biotrop.org/database.php. [20 Juli 2012]. Sembodo, D. R. J. 2010. Gulma dan Pengelolaannya. Graha Ilmu. Yogyakarta. 176 hal. Soerjandono, B.N. dan Noerizal. 2004. Teknik pelaksanaan percobaan pengaruh aplikasi pupuk N terhadap populasi tiga jenis gulma. Bul. Teknik Pertanian. 9:76 - 78. Stubbendieck, J., C.H. Butterfield, and T.R. Flessner. 1992. An Assesment of Exotic Plant Species at Pipestone National Monument and Wilson’s Creek National Batterfield. U.S. Department of The Inferior National Park Service. Colorado. Sunarko. 2009. Budidaya dan Pengelolaan Kebun Kelapa Sawit dengan Sistem Kemitraan. Agromedia Pustaka. Jakarta. 178 hal. Sukman, Y. dan Yakup. 2002. Gulma dan Teknik Pengendaliannya. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.157 hal. Tjitrosoedirdjo, S.S. 2010. Konsep .Gulma dan Tumbuhan Invansif. Jurnal Gulma dan Tumbuhan Invansif Tropika 2(1): 89 – 100. Tjitrosoedirdjo, S.S. 2011. Identifikasi Asystasia gangetica (L.) T. Aderson subsp. Micrantha (Nees) Ensermu. Jurnal Gulma dan Tumbuhan Invasif Tropika 2(1):39 - 40. 111   112    Tjitrosoedirdjo, S.S., I. H.Utomo, dan J. Wiroatmodjo. 1984. Pengelolaan Gulma di Perkebunan. PT. Gramedia. Jakarta. 207 hal. Wibawanti, R. 2012. Pengelolaan Gulma Pada Perkebunan Kelapa Sawit. http://ditjenbun.deptan.go.id/perlindungan/index.php?option=com_content& view=article&id=108:pengelolaan-gulma-pada-perkebunan-kelapa sawit&catid=15:home. [6 Juli 2012]. Widiyanto, G. 2012. Identifikasi dan Karakterisasi Gulma – Gulma Ruderal Invansif di Kebun Raya Bogor. 92 hal. Zaman, F.F.S. 2006. Manajemen Pengendalian Gulma pada Tanaman Belum Menghasilkan di Perkebunan Kelapa Sawit, PT. Sentosa Mulia Bahagia, Musi Banyu Asin, Sumatra Selatan. Skripsi. Program Sarjana, Institut Pertanian Bogor. Bogor. 57 hal. 112   113    LAMPIRAN 113   114    Lampiran 1. Peta Perkebunan Tambusai Estate 114 114   115    Lampiran 2. Jurnal harian kegiatan magang sebagai karyawan harian lepas di Tambusai Estate, Desa Tambusai Utara, Kecamatan Tambusai Utara, Kabupaten Rokan Hulu, Riau Tanggal Uraian Kegiatan 13/02/2012 Membantu administrasi di kebun Pengambilan data sekunder 14/02/2012 Simulasi pemupukan MOP 1.5 kg Simulasi penguntilan pupuk MOP 9 kg/until Pemupukan MOP 1.5 kg/pohon Penyemprotan piringan Pertemuan kepala Direksi Umum Pengimpusan Libur Penyemprotan pasar pikul Analisis vegetasi gulma afdeling 8 Analisis vegetasi gulma afdeling 9 Pengendalian hama gajah Anveg gulma Afdeling 9 Penandaan pengamatan panen 100 batang Membantu administrasi kebun 15/02/2012 16/02/2012 17/02/2012 18/02/2012 19/02/2012 20/02/2012 21/02/2012 22/02/2012 23/02/2012 Prestasi Kerja Penulis - Karyawan - Lokasi Standar - Afdeling VIII Afdeling VIII M24 - - - 9 kg 481 kg 300 kg 10 until 92 until - 9 kg 555 kg 300 kg 0.5 ha - 3.46 ha - - L21 KCK 12 pohon 0.5 ha 3 blok 21 pohon 6 ha - 30 pohon - N17 2 blok - - L21 N22M22-L22 S15-T13 1 blok 2 blok 7 pasar - - T14 R14-S19 N20 - - - Gudang PKS N23-N24 24/02/2012 Pengangkutan buah 12 ton 30 ton 16 ton 25/02/2012 7 pasar - - 17 TPH 0.5 ha 2 Pohon 7 pasar 17 TPH 2 ha 2 Pohon - 2 ha - PKS L17-L20 Afd VIII N17-N18 O18 N20 02/03/2012 Menghitung lossis dan AKP 100 tanaman contoh Masukin gulma ke oven Pengamatan TPH Membantu administrasi Pembabatan, DAK Pengamatan FeSO4 Pengamatan tanaman contoh,TPH Melakukan analisis vegetasi Afdeling VIII BlokPabrik N20 6 blok - - 03/03/2012 04/03/2012 Lossis tanaman contoh Mengoven gulma 7 pasar - - - 26/02/2012 27/02/2012 28/02/2012 29/02/2012 01/03/2012 Afd. 10 dan 12 N20 PKS 115   116    Lampiran 3. Jurnal harian kegiatan magang sebagai pendamping mandor/mandor besar di Tambusai Estate, Desa Tambusai Utara, Kecamatan Tambusai Utara,Kabupaten Rokan Hulu, Riau Prestasi Kerja Penulis Uraian Kegiatan Tanggal Jml HK yang Diawasi (orang) Luas Areal yang Diawasi (ha) Lama Kegiat an (Jam) Lokasi 05/03/2012 Pengawasan APD dan AKP 38 59.84 7 M19M20 06/03/2012 Kalibrasi waktu pemanen dan AKP 100 Pohon 5 6 7 N20 07/03/2012 Pengawasan chemis dan pemupukan 14 29.37 5 L24L25/M23 08/03/2012 Pengawasan TPH dan panen - 22.5 4 O23 Kalibrasi penyemprotan dan losses 7 3.5 7 O22 Pengamatan persentase kematian gulma - 0.5 0.5 N20 09/03/2012 10/03/2012 11/03/2012 Pengamatan anveg gulma afdeling 10 dan 12 - - 6 U12U11V2/X5V5 Belajar administrasi kebun - - 7 Kantor AFD 8 Identifikasi gulma dan mengoven - - 5 Labor pks 116   117    Lampiran 3. Jurnal harian kegiatan magang sebagai pendamping mandor/mandor besar di Tambusai Estate, Desa Tambusai Utara, Kecamatan Tambusai Utara,Kabupaten Rokan Hulu, Riau (Lanjutan) Tanggal Uraian Kegiatan 12/03/2012 Membenahi kantor 13/03/2012 Pengawasan panen dan simulasi pemanenan 14/03/2012 Pengawasan panen dan AKP   Pengamatan 100 tanaman contoh 15/03/2012 Pengawasan panen dan AKP   Pengamatan persentase kematian gulma Pengamatan 16/03/2012 anveg gulma afdeling 11 Pengawasan 17/03/2012 panen dan AKP 18/03/2012 Libur Dongkel anak 19/03/2012 kayu Rapat dan 20/03/2012 merekap data Grading buah di 21/03/2012 TPH dan losses Pengamatan 100 22/03/2012 tanaman contoh Pengamatan persentase   kematian gulma 23/03/2012 Libur 24/03/2012 Libur 25/03/2012 Libur Prestasi Kerja Penulis Jml HK yang Luas Areal yang Diawasi Diawasi (orang) (ha) 3 0.001 2 1.5 Lama Kegiatan (Jam) 2 Lokasi Kantor AFD8 3 M17-M19 2 4 7 - 3.5 1 2 4 3 - 0.5 0.5 N19-20, O18-19, P18 N20 L23 N20 - - 3 T6,R4,S3 2 10 7 2 0.5   3 - - 7 - 8.5 7 - 3.5 1 - 0.5 0.5 L23-M24/ N22 M23 kantor Afd. 8 N17-18,018 N20 N20 - - - - 117   118    Lampiran 4. Jurnal harian kegiatan magang sebagai pendamping asisten/ kepala afdeling di Tambusai Estate, Desa Tambusai Utara, Kecamatan Tambusai Utara,Kabupaten Rokan HuLu, Riau Prestasi Kerja Penulis Tanggal 26/03/2012 27/03/2012 28/03/2012 29/03/2012 30/03/2012 Uraian Kegiatan Pengawasan chemis pasar pikul Pengawasan pemupukan Pengawasan jampres Analisis vegetasi gulma 05/04/2012 Pengamatan persentase kerusakan gulma Administrasi di kantor Oven gulma Administrasi di afdeling Kunjungan area HCV Pemeriksaan losses pemanen Analisis vegetasi gulma 06/04/2012 Kalibrasi alat semprot 07/04/2012 08/04/2012 09/04/2012 12/04/2012 13/04/2012 Identifikasi gulma Mengoven gulma Pengenalan pengolahan di PKS (sortasi, lori, perebusan) Pengenalan pengolahan di PKS (rail track, thraser, press, clarification, jampres, kernel, boiler, gudang PKS) Gudang kebun, timbangan Supervisi dosen Analisis vegetasi gulma 14/04/2012 Mempelajari analisis labor Identifikasi gulma 15/04/2012 Mengoven gulma 31/03/2012 01/04/2012 02/04/2012 03/04/2012 04/04/2012 10/04/2012 11/04/2012 Jumlah Luas Lama Mandor yang Areal yang Kegiatan Diawasi Diawasi (jam) (orang) (ha) 1 25.73 4 jam M21 1 1 26.37 7 jam 7 jam M23 PKS Afd I -Afd IV N20 2 8 4 jam Lokasi Afd VIII PKS Afd VIII X5 L17- L19 Afd II, III dan V Logging M20 1 3 jam 3 7 jam PKS PKS 8 7 jam PKS 2 7 jam KCK 5 jam KCK Afd 14 dan 15 PKS PKS 118   119    Lampiran 4. Jurnal harian kegiatan magang sebagai pendamping asisten/ kepala afdeling di Tambusai Estate, Desa Tambusai Utara, Kecamatan Tambusai Utara,Kabupaten Rokan HuLu, Riau (Lanjutan) Tanggal Uraian Kegiatan 16/04/2012 Administrasi di kantor afdeling 17/04/2012 Membantu administrasi afadeling 18/04/2012 Mendampingi audit melihat tapal batas 19/04/2012 Analisis vegetasi gulma Menguntil chelat untuk   Fe 20/04/2012 Go to block Pemupukan Fe   21/04/2012 Administrasi di afdeling Penempelan pamflet   SMK3 22/04/2012 Mengoven gulma 23/04/2012 Administrasi di kantor afdeling 24/04/2012 Mengolah data laporan 25/04/2012 Mengolah data Laporan 26/04/2012 Membantu pembuatan tapal batas 27/04/2012 Membantu pembuatan tapal batas 28/04/2012 Membuat laporan 29/04/2012 Membuat laporan 30/04/2012 Membuat laporan 01/05/2012 Menyiapkan persentasi 02/05/2012 Menyiapkan persentasi 03/05/2012 Menyiapkan persentasi 04/05/2012 Persentasi 05/05/2012 Memperbaiki Laporan 06/05/2012 Memperbaiki Laporan 07/05/2012 Menyerahkan Laporan perbaikan 08/05/2012 Perpisahan di kantor Afdeling 09/05/2012 Perpisahan di kantor kebun 10/05/2012 Perpisahan pelepasan 11/05/2012 Libur 12/05/2012 Kembali ke Bogor Prestasi Kerja Penulis Jumlah Luas Lama Mandor yang Areal yang Kegiatan Diawasi Diawasi (jam) (orang) (ha)         Lokasi Afd VIII       Afd VIII     4 jam Afd XI       2 jam Afd VI Afd VIII 1 27,2     6 jam 2 jam     Afd II L21 Afd VIII Afd VIII   4   PKS     6 jam 2       6 jam 2   6 jam                 3 jam           4 jam     5 jam     3 jam     Afd VIII KKPA B. Tanjung KKPA B. Tanjung KCK   Afdeling VIII PKS Rumah PKS 119   120    Lampiran 5. Curah hujan rata-rata di Tambusai Estate TAHUN Bulan 2001 2002 M HH M 16 237 3 45 5 85 9 106 2 16 5 58 5 39 2 7 9 117 4 29 4 39 15 139 HH MM Januari Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember 9 4 3 9 2 3 6 5 10 14 13 8 233 119 75 109 16 58 169 47 174 255 169 654 Total 86 2 078 79 Rata-rata BB BK 7 173 7 2003 2004 2006 2007 2008 2009 2010 MM HH MM HH MM HH MM HH MM HH MM HH MM HH MM HH 11 11 17 15 5 3 9 6 14 6 15 74 182 124 215 122 114 32 195 74 217 80 280 6 5 8 7 4 5 7 2 7 12 14 35 95 121 86 51 44 13 90 132 182 9 1 5 5 5 6 2 5 7 12 6 80 10 59 46 68 5 28 69 84 124 61 3 8 7 7 8 9 5 5 12 11 15 17 41 111 91 103 117 186 76.5 88.5 134.9 142.4 270.9 531 12 12 8 14 14 7 12 6 10 17 13 14 224.1 132.6 111.2 308.7 300.5 158.8 195.7 55.1 201.3 432.3 129.9 177.7 12 10 18 15 7 11 12 8 14 15 11 17 224.5 150 315.6 238.1 153.9 269.8 175.7 224.8 207.1 142.2 209.3 310.7 16 10 16 10 7 8 5 15 9 8 13 20 273.7 283.5 375.5 199.7 77.3 58.1 67.9 303.6 207.7 270,4 171.6 343.7 14 12 7 10 7 12 9 5 13 8 13 10 199,4 232 215,6 302,2 49,8 258,8 206,6 59,3 236,5 188,7 189,2 290,6 18 3 9 12 9 6 6 9 11 13 17 18 917 186 1.641 71 849 63 634 107 1 893 139 2 428 150 2 622 137 2 632.7 120 2.428,7 131 76 16 137 6 71 5 53 9 158 12 202 11 1 13 218 11 219 10 202 10 2 11 CH : Curah hujan BK : Bulan kering (< 60 mm) 1 4 8 1 BB : Bulan basah (>100 mm) HH : Hari hujan 12 0 9 1 Rata-rata MM HH 234,5 129 152,6 133,9 143,6 85 77,4 175,6 182,6 236,8 436 631,6 2.618, 6 218 9 0 Q= Rataan BK (0) x 100% = 0% Rataan BB (9)   Berdasarkan klasifikasi Schmidth-Ferguson   120 Termasuk tipe iklim A (Sangat basah) Tipe iklim A = 0% - 14.3%, iklim B = 14.3% 33.3%, C = 33.3% - 60.3%   2011 HH 8 4 8 3 3 7 2 4 Sumber : Kantor central Tambusai Estate (April, 2012) Keterangan: 2005 120 11,3 7,4 9,2 10, 6,4 7,1 7,4 6,3 9,9 10 13 19 117 9,7 MM 178,5 130,1 165,1 159,5 100,6 129,3 113,8 106,2 160,0 177,3 195,5 302,4 1918, 8 159,9 121    Lampiran 6. Peta kesesuaian jenis lahan di Tambusai Estate 121 121   122    Lampiran 7. Summed dominance ratio (SDR) gulma dominan di perkebunan kelapa sawit di Tambusai Estate Tahun tanam No Spesies 1990 1991 1995 1996 1997 1998 1999 2002 2003 2004 2005 2006 ……………………………………………………..%..................................................... 1. Asystasia intrusa 4.30 14.50 8.77 2. Nephrolepsis biserrata 23.00 14.10 26.60 13.23 12.83 22.53 22.30 17.30 16.00 18.27 31.13 30.70 3. Stenochlaena palustris 41.30 37.10 18.60 25.43 4.90 5.97 16.70 3.53 8.23 20.47 5.07 4. Cyclosorrus aridus 2.30 6.73 9.10 3.90 7.73 15.83 4.97 3.87 4.30 24.73 5. Pteris longifolia 7.40 6.97 9.87 2.40 3.67 0.73 0.60 5.00 0.90 6. Centotecha lapacea 2.30 6.00 4.43 8.47 3.30 3.83 4.90 1.93 5.40 7. Melastoma avine 3.97 1.47 1.33 2.70 2.03 4.90 1.40 1.00 8. Cyrtoccocum acrescens 3.30 1.33 9.53 8.43 0.77 0.70 3.63 9. Dicranopteris linearis 5.50 5.87 0.97 1.10 5.73 5.87 0.97 1.60 2.63 5.53 1.50 2.43 1.67 17.20 9.30 24.17 37.97 21.90 26.17 22.33 24.60 26.27 21.57 28.97 2.43 10. Lygodium palmatum 1.33 0.73 2.83 2.80 0.63 10.43 11. Mikania micranta 1.73 1.17 1.97 7.30 3.20 3.17 Total 89.50 92.30 2.07 12.90 2.97 5.33 4.67 83.13 90.93 92.00 87.30 93.30 77.87 70.23 89.17 89.34 85.53 122 122   123    Lampiran 7. Summed dominance ratio (SDR) gulma dominan di perkebunan kelapa sawit di Tambusai Estate (lanjutan). No 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. Spesies Scleretina sumatranensis Paspalum comersonii Leptochloa chinensis Ottochloa nodosa Clidemia hirta Axonopus compresus Borreria laevis Ageratum conyzoides Euphorbia hirta Fortedia sp. Borreria alata Chromolaena odorata Pteridium aquilinum Gleichenia linearis Paspalum conjugatum Pennisetum polystachyon Caladium tuberosum Stachytarpheta indica Cyperus kyllingia Cleome rutidospermae 1990 3.30 5.30 1.90 Tahun tanam 1991 1995 1996 1997 1998 1999 2002 2003 2004 ……………………………..%..................................................... 2.40 4.20 0.67 0.17 1.67 1.97 2.70 2.17 2.77 1.37 1.27 9.26 3.17 1.00 1.33 4.17 1.30 1.43 0.60 10.10 0.87 3.10 3.80 0.90 0.17 1.47 0.40 1.20 2.83 0.60 1.63 0.60 0.70 2.03 0.53 0.90 1.70 1.17 0.73 0.60 1.13 1.60 0.30 1.03 0.77 0.70 0.17 1.07 0.57 0.57 2.27 2.03 2.30 3.10 1.73 1.53 0.57 0.60 2.37 2.30 0.93 1.23 0.27 0.50 0.13 0.50 2005 2006 8.10 2.93 2.03 3.07 2.03 1.27 1.23 1.33 123 123   124    Lampiran 7. Summed dominance ratio (SDR) gulma dominan di perkebunan kelapa sawit di Tambusai Estate (lanjutan). Tahun tanam 1990 1991 No.   32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. 45. 46. Spesies Echinochloa colonum Cyperus rotundus Imperata cylindrical Sida romboidea Passiflora foetida Meremia umbellate Eleusin indica Digitaria adscendens Euphorbia hirta Mimosa pigra Calopogonium muncunoides Cyperus iria Stenotaphrum secundatum Mimosa invisa Cynodon dactylon Total 1995 1996 1997 1998 1999 2002 2003 2004 2005 2006 ……………………………..%.....................................................                            1.93    0.34 1.47 1.73 1.70 0.60 0.97 0.40 1.03 0.93 0.37 0.77 0.57 0.57 0.77 1.13 0.27 0.43 0.63 0.47 0.33 0.30 10.60 7.73 16.93 9.03 8.14 12.90 6.77 22.17 29.86 10.83 10.63 14.53 124 124   125    Lampiran 8. Data iklim Kabupaten Rokan Hulu, Riau 2005-2010 Tahun 2005 2006 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Rata-rata Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Rata-rata Suhu (°C) 26.90 27.90 27.90 27.90 27.70 27.80 27.20 27.50 27.80 27.20 26.90 27.00 27.48 27.60 27.10 27.40 29.10 27.10 27.50 26.80 26.30 27.40 Kelembaban (%) 81.00 78.00 79.00 81.00 83.00 79.00 82.00 80.00 80.00 83.00 84.00 82.00 81.00 82.00 80.00 79.00 79.00 80.00 80.00 82.00 85.00 81.00 Kecepatan Angin (Km/jam) 9.26 7.41 9.26 11.11 9.26 11.11 7.41 9.26 11.11 9.26 9.26 11.11 9.57 8.15 13.70 10.37 10.37 11.30 8.70 7.96 7.22 9.72 PenyinaranMatahari (%) 17.50 51.20 26.50 31.70 125 125   126    Lampiran 8. Data iklim Kabupaten Rokan Hulu, Riau 2005-2010 (Lanjutan) Tahun Bulan 2007 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Rata-rata 2008 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Rata-rata Suhu (°C) 26.80 26.60 27.30 27.40 27.50 27.90 26.80 27.00 27.00 - Kelembaban (%) 82.00 82.00 79.00 81.00 84.00 79.00 82.00 81.00 82.00 82.00 82.00 - Kecepatan Angin (Km/jam) 6.85 4.63 8.89 9.45 11.11 9.07 7.41 9.82 8.15 10.74 9.26 PenyinaranMatahari (%) 39.20 49.00 65.10 65.00 0.00 68.00 55.20 55.50 35.30 53.00 49.90 - 26.80 26.80 26.50 27.40 28.00 27.50 27.10 27.30 29.70 27.40 27.50 26.90 27.40 82.00 79.00 84.00 82.00 79.00 81.00 79.00 78.00 79.00 83.00 77.00 79.00 80.00 8.89 7.78 7.78 7.96 8.89 9.45 10.37 10.37 11.11 8.33 8.15 9.07 42.70 47.30 42.70 44.20 42.70 44.20 42.70 42.70 58.00 50.30 32.10 35.80 43.80 126 126   127    Lampiran 8. Data iklim Kabupaten Rokan Hulu, Riau 2005-2010 (Lanjutan) Tahun Bulan 2009 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Rata-rata 2010 Rata-rata Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Suhu (°C) 26.60 27.20 27.20 28.10 28.90 42.60 33.50 27.70 28.00 27.50 27.20 26.90 29.30 27.80 28.40 28.70 28.30 29.00 28.30 27.50 23.80 27.60 28.20 27.50 26.80 27.60 Kelembaban (%) 78.00 77.00 78.00 77.00 75.00 75.00 72.00 76.00 76.00 74.00 78.00 79.00 75.00 78.00 74.00 74.00 74.00 75.00 71.00 75.00 74.00 74.00 69.00 74.00 73.00 74.00 Kecepatan Angin (Km/jam) 6.85 7.59 8.15 7.41 8.33 10.00 10.19 9.63 12.22 8.33 8.52 8.33 8.80 8.70 7.78 7.04 10.19 4.26 7.04 8.15 8.70 7.96 9.82 7.22 11.67 8.21 Penyinaran Matahari (%) 40.8 37.5 55.9 60.4 65.9 55.1 59.0 63.5 56.5 50.3 32.1 35.8 43.8 2.50 2.50 4.50 4.50 4.50 4.50 4.70 4.30 0.30 0.20 127 127   128    Lampiran 9. Efisiensi upah tenaga kerja dan PK SPKL di Afdeling VIII Tambusai Estate Jenis Pekerjaan Penyemprotan - Long bad - Pasar pikul - Piringan DAK (Dongkel Anak Kayu) Babat Gawangan Garuk piringan Wipping lalang /Spot lalang Pengendalian hama rayap Tunas kelapa sawit Pengimpusan - Iron - Chelat HK PK Upah HK Realisasi (Rp) Keterangan Upah Realisasi /Hk Tingkat UMR Keefisienan (Satuan/Hk) Standar (Rp/ha) 5 5 5 36.04 ha/hk 60.06 ha/hk 57.35 ha/hk 12,000/ha 7,000/ha 14,000/ha 2,160,240 2,100,210 4,014,220 432,048 420,042 802,844 1.20 3 21.35 ha/hk 45,000/ha 2,881,800 960,600 0.70 5 2 4 91.62 ha/hk 59.44 ha/hk 48.03 ha/hk 35,000/ha 60,000/ha 5,000/ha 9,620,100 3,556,400 960,600 1 1,712 pohon/hk 750/pohon 1,284,000 428,000 0.31 4 6,642 pohon/hk 550/pohon 7,306,200 1,826,550 1.32 4 6,469 pohon/hk 1,500 9,703,500 2,425,875 2.34 4 290 kg 6,469 pohon/hk 971 kg 500 3,234,500 808,625 (%) 1,924,020 1,185,467 SPKL (Borongan) 320,200 1.39 0.86 0.23 1,382,000/ Bulan 128 128   129    Lampiran 10. Areal konsesi dan jumlah pohon Tambusai Estate Tahun 2012 Kebun Luas (Ha) Jumlah Pohon Inti Total Area 11,914.4 Tanam 11,028.66 1,419,126 KKPA 2,383.11 2,303.11 299,404 Total 14,297.51 13,331.77 1,718,530 Sumber : Kantor central Tambusai Estate(April, 2012) Lampiran 11. Rekapitulasi produksi, produktivitas TBS, CPO, dan kernel Oil 273,785 Produktivitas (Ton/ha) 22.98 Produktivitas CPO (Ton) 66,346.310 Rendemen CPO (%) 24.24 Rendemen Kernel Oil (%) 5.53 2010 291,656 24.48 70,472.545 24.16 5.56 2011 325,506 27.32 78,389.449 24.12 5.61 Tahun Produksi (Ton) 2009 Sumber : Kantor central Tambusai Estate(April, 2012) 129 129   130    Lampiran 12. Potensi tandan buah segar PPKS, Marihat Umur 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 TBS (Ton/ha) 9.0 15.0 18.0 21.1 26.0 30.0 31.0 31.0 31.0 31.0 31.0 30.0 27.9 27.1 26.0 24.9 24.1 23.1 21.1 19.8 18.9 18.1 17.1 S1 BJR Jumlah Tandan (Kg) 3.2 21.6 6.0 19.2 7.5 18.5 10.0 16.2 12.5 16.0 15.1 15.3 17.0 14.0 18.5 12.9 19.6 12.2 20.5 11.6 21.1 11.3 22.5 10.3 23.0 9.3 24.5 8.5 25.0 8.0 26.0 7.4 27.5 6.7 28.5 6.2 29.0 5.8 30.0 5.1 30.5 4.8 31.9 4.4 32.4 3.9 TBS (Ton/ha) 7.3 13.5 16.0 18.5 23.0 25.5 28.0 28.0 28.0 28.0 27.0 26.0 25.5 24.5 23.5 23.5 22.5 21.5 21.0 19.0 18.0 17.0 16.0 S2 BJR (Kg) 3.1 5.9 7.1 9.4 11.8 13.2 16.5 17.5 18.5 19.5 20.0 20.5 21.8 23.1 24.1 25.2 26.4 27.8 28.6 29.4 30.1 31.0 32.0 Jumlah Tandan 18.1 17.6 17.3 15.1 15.0 14.9 13.1 12.3 11.6 11.0 10.8 10.1 9.2 8.5 7.8 7.2 6.6 5.9 5.6 5.0 4.6 4.2 3.8 TBS (Ton/ha) 6.2 12.0 14.5 17.0 22.0 24.5 26.0 26.0 26.0 26.0 26.0 25.0 24.5 23.5 22.0 21.0 20.0 19.0 18.0 17.0 16.0 15.0 14.0 S3 BJR (Kg) 3.0 5.3 6.7 8.5 10.0 12.7 15.5 16.0 17.4 18.5 19.5 20.0 20.6 21.1 23.0 24.0 25.5 26.6 27.4 28.4 29.4 30.4 31.2 Jumlah Tandan 15.9 17.4 16.6 15.4 15.7 14.8 12.9 12.5 11.5 10.8 10.3 9.6 9.3 8.3 7.4 6.7 6.0 5.5 5.1 4.6 4.2 3.8 3.6 Sumber: PPKS MARIHAT, Medan 130 130   Infestasi Gulma pada Agroekologi yang Berbeda di Perkebunan Kelapa Sawit Tambusai Estate, PT. Panca Surya Agrindo, Kab. Rokan Hulu, RIAU Weeds infestations on Different Agroecologi of Oil Palm Plantations Tambusai Estate (Elaeis guieensis Jacq.), PT. Panca Surya Agrindo, Rokan Hulu Distric, Riau Ratih Larasati1, Edi Santosa2 1 2 Mahasiswa Departemen Agronomi dan Hortikultura Faperta IPB Staff Pengajar Departemen Agronomi dan Hortikultura Faperta IPB Abstract Weed control in oil palm plantation can improve the productivity of oil palm trees. This in was carried out internship Tambusai Estate, Rokan Hulu, Riau, from February to May 2012. The objective of this apprentice was to improve the knowledge, skills, work experience and analyze factors that affect weed dynamic in different agroecological areal at oil palm plantation. Data were collected by direct method for primary data and indirect method for secondary data. Data of weed were collected using vegetation analysis of 1 m x 1m kuadran. The number of samples were 264. Weed were scored and tested using cluster analysis and shown as a dendogram. The results showed that agro-ecological factors, especially soil subgroup determined weed population and dominance in Tambusai Estate. Weed invasion on palm oil plantation spread based on the nature of the morphology, botany, and nature of damage to plants as well as palm oil is the difference in the form agroekologi subgroup of land. The humid soil conditions is an optimum for weeds Asystasia intrusa (Forssk.) Blume., Nephrolepsis bisserata (Sw.) Schott, and various kinds of other ferns which is the dominant weeds in Tambusai Estate. Key words: Agroecological, sum of dominance ratio, weed analysis, weed control   RINGKASAN RATIH LARASATI. Infestasi Gulma pada Agroekologi yang Berbeda di Perkebunan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Tambusai Estate, Kab. Rokan Hulu, Riau (Dibimbing oleh EDI SANTOSA). Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) merupakan salah satu komoditas perkebunan yang memiliki prospek agrobisnis yang sangat cerah. Selain itu, komoditas ini merupakan salah satu penyumbang devisa terbesar di Indonesia. Luas pertanaman dan produksi perkebunan kelapa sawit di Indonesia meningkat setiap tahunnya. Pada perkebunan kelapa sawit, kegiatan pemeliharaan penting untuk mempertahankan produksi dan kualitas produk kelapa sawit yang dihasilkan. Salah satu kegiatan pemeliharaan adalah pengendalian gulma. Pengendalian gulma pada perkebunan kelapa sawit bertujuan untuk menekan populasi pesaing tanaman budidaya dan memudahkan dalam pekerjaan pemanenan hasil tanaman budidaya. Kegiatan magang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan melatih keterampilan mengenai teknik budidaya kelapa sawit, menambah pengalaman kerja, serta mendalami proses kerja secara nyata di perkebunan. Penulis secara lebih khusus dapat meningkatkan pemahaman dan keterampilan teknis tentang pemeliharaan tanaman kelapa sawit terutama di dalam pengendalian gulma kelapa sawit serta menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi infestasi dan dominansi gulma di perkebunan kelapa sawit. Pada pelaksanaannya, pengumpulan data dilakukan dengan metode langsung (primer) maupun tidak langsung (sekunder). Data secara langsung diperoleh melalui pengamatan pada saat bekerja di lapangan. Data yang diamati yaitu: 1). Evaluasi pengendalian gulma dengan prinsip 5 tepat (tepat dosis, waktu, jenis, cara, dan konsentrasi), 2). Kalibrasi alat semprot, 3). Kalibrasi waktu penyemprotan gulma, dan 4). Pola penyebaran gulma. Pengambilan data gulma di Tambusai Estate dilakukan dengan cara pengambilan sampel gulma (inventarisasi gulma). Sampel gulma diambil secara acak pada tiap 15 afdeling. Setiap afdeling diambil 3 blok, dan pada masingmasing blok diambil 6 petak contoh. Pengambilan peta contoh ini berdasarkan ii   tahun tanam kelapa sawit dengan menggunakan kuadran 1m x 1m, sehingga sampel yang diambil menjadi 264 buah sampel. Kegiatan pemeliharaan di Tambusai Estate sudah cukup terorganisasi dengan baik. Namun demikian, perlu ditingkatkan pengawasan pemeliharaan terutama agar sesuai dengan standar pemeliharaan gulma yang telah ditetapkan perusahaan. Perbaikan tersebut meliputi peningkatan skill mandor maupun peningkatan kemampuan pekerja penyemprotan dalam memahami SOP penyemprotan. SOP penyemprotan di Tambusai Estate meliputi: 1). Penyemprotan herbisida di dalam piringan radius 2.5 cm, 2). Tinggi semprotan 30-40 cm dan tinggi babat gawangan 10 cm, 3). Dosis yang digunakan sesuai dengan rekomendasi riset, 4). Penggunaan alat semprot harus sesuai dengan rotasi, dosis, dan kerapatan gulma yang ada, dan 5). Tidak menyemprot areal tapal batas sungai (radius 2 m dari bibir sungai). Perbaikan kedua meliputi kalibrasi alat sebelum melakukan penyemprotan, dan ketiga adalah meningkatkan ketersediaan tenaga kerja sesuai dengan kebutuhan pekerjaan pemeliharaan. Berdasarkan pengamatan di Tambusai Estate, gulma yang dominan adalah gulma Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. dan Nephrolepsis bisserata (Sw.) Schott. Gulma yang memiliki dominansi tertinggi adalah gulma pakis-pakisan, gulma ini memiliki adaptasi yang tinggi terhadap ekologi, distribusi luas, pertumbuhan kembali (regrowth) yang sangat cepat, dan dapat tumbuh di lokasi dengan intensitas cahaya tinggi maupun rendah. Gulma pakis-pakisan yang menempel pada pohon sawit walau tidak terlalu berbahaya, tetapi perlu di dikendalikan karena dapat menahan berondolan sehingga tidak terlihat. Hasil analisis menunjukkan sebelas kriteria gulma yang menyerang perkebunan dibagi menjadi tiga grup yaitu grup A, B, dan C. Grup A cenderung mengelompok berdasarkan karakteristik morfologi gulma. Grup B mengelompok berdasarkan karakteristik gulma yang memiliki sifat merusak bagi tanaman kelapa sawit dan Grup C mengelompok berdasarkan karakteristik botani gulma tersebut. Pada kemiripan 55%, terdapat 6 sub grup gulma yaitu subgrup A1, A2, B1, B2, C1, dan C2. Sub grup A1 memiliki 2 karakteristik yaitu 1) Karakteristik sulitnya pengendalian gulma menggunakan herbisida dan 2) Biaya pengendalian mahal. Gulma yang termasuk ke dalam sub grup ini adalah gulma Melastoma affine D. iii   Don, Stachytarpheta indica Vahl.,dan Chromolaena odorata (L.) King and H.E.Robins. Sub grup A2 adalah sub grup dengan karakteristik: 1) Ketahanan terhadap kekeringan dan 2) Mengganggu bagi pekerja panen, dengan contoh gulma Mimosa invisa Mar., Mimosa pigra L. dan Passiflora foetida L. Sub grup B1 memiliki 2 karakteristik berupa distribusi gulma yang luas dan dapat merusak tanaman budidaya dengn jenis gulma Asystasia intrusa (Forssk.) Blume., Nephrolepsis biserrata (Sw.) Schott., dan Stenochlaena palustris Bedd. Karakteristik gulma yang memiliki potensi sebagai inang HPT merupakan karakteristik subgrup B2 dengan contoh gulma Paspalum conjugatum P.J. Berg., Leptochloa chinensis (L.) Ness., dan Euphorbia hirta L. Selanjutnya karakteristik untuk subgrup C1 adalah karakteristik pertumbuhan gulma yang cepat “ regrowth” atau suksesi yang cepat dan memiliki karakteristik propagul yang mudah terbawa oleh pekerja panen. Dicranopteris linearis (Burm. f. Underw)., Centotheca lappacea (L.) Desv., Gleichenia linearis (Burm. F.) C. B. Clarke., dan Imperata cylindrica (L.) Beauv., Subgrup C2 adalah karakteristik gulma yang tahan terhadap genangan dan memiliki perbanyakan masal. Contoh gulma yang termasuk ke dalam subgrup ini adalah gulma Caladium tuberosum (S. Moore) Bogner M., Chromolaena odorata (L.) King and H.E.Robins., Clidemia hirta (L.) D. Don., Eleusine indica (L. ) Gaertn., dan Pteridium aquilinum (L.) Kuhn. Faktor agroekologi tanah di Tambusai Estate juga mempengaruhi sebaran serangan gulma. Kondisi tanah lembab merupakan tempat yang optimum bagi gulma Asystasia intrusa (Forssk.) Blume., Nephrolepsis bisserata (Sw.) Schott., dan berbagai jenis tumbuhan paku lainnya. Hal ini yang menyebabkan gulma diatas menjadi gulma dominan dengan NJD rata-rata sebesar 23% setelah dilakukan inventarisasi gulma di wilayah Tambusai Estate. iv   1   PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Permintaan ekspor dari berbagai negara meningkat tajam seiring dengan perkembangan konsumsi minyak kelapa sawit (CPO) dunia. Pertumbuhan akan permintaan CPO dunia dalam 5 (lima) tahun terakhir sebesar 10%, dengan negara pengkonsumsi CPO terbanyak yaitu China dan Uni Eropa (Hero, 2011). Peluang industri pengolah kelapa sawit (PKS) masih sangat besar untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam dan luar negeri terutama dengan meningkatnya harga minyak mentah dunia dapat menjadikan CPO sebagai pilihan untuk bahan baku pembuatan bioenergi. Masa depan agrobisnis kelapa sawit menunjukkan perannya yang penting bagi ekonomi Indonesia. Perkembangan luas dan produksi perkebunan kelapa sawit di Indonesia selama sepuluh tahun terakhir telah meningkat dari 4.2 juta ha pada tahun 2000 menjadi 7.8 juta ha pada tahun 2010 atau meningkat rata-rata sebesar 6% setiap tahunnya (Ditjenbun, 2012). Produksi juga meningkat dari 7 juta ton pada tahun 2000 menjadi 19 juta ton pada tahun 2010 atau meningkat rata-rata sebesar 9% setiap tahunnya (Ditjenbun, 2012) dengan luasan 7.8 juta ha. Hal ini menjadikan Indonesia merupakan produsen minyak sawit terbesar di dunia. Namun demikian, produktivitas minyak kelapa sawit di perkebunan di Indonesia masih tergolong rendah. Produktivitas per ha tahun 2010 mencapai 2.5 ton CPO/ha, meningkat produktivitasnya menjadi 2.97 ton CPO/ha/tahun pada tahun 2011, dibandingkan dengan Malaysia yang memiliki produktivitas 4.7 CPO ton/ha/tahun (Hero, 2011). Rendahnya produktivitas kelapa sawit di Indonesia dapat disebabkan oleh teknis agronomis yang tidak dijalankan sesuai dengan rekomendasi, khususnya dalam pemeliharaan tanaman kelapa sawit (Barchia, 2006). Kegiatan pemeliharaan kelapa sawit salah satunya adalah pengendalian gulma. Pengolahan lahan terlalu intensif akan memacu perkecambahan biji gulma, terutama biji yang terdapat di dalam tanah (Sastroutomo, 1990). Masalah gulma pada perkebunan kelapa sawit perlu dikendalikan. Menurut Pahan (2010) 1   2   kehadiran gulma dapat menurunkan produksi kelapa sawit karena adanya persaingan dalam pengambilan air, hara, sinar matahari, dan ruang hidup. Gulma juga dapat menurunkan mutu dan produksi, menjadi inang bagi hama, dan meningkatkan biaya pemeliharaan. Selanjutnya, menurut Hakim (2007) kelapa sawit akan mempunyai masalah gulma yang serius jika jarak tanam lebar, karena cahaya matahari leluasa mencapai permukaan tanah yang kaya dengan potensi gulma. Pengendalian gulma ini merupakan tahapan penting dalam pemeliharaan kelapa sawit untuk meningkatkan produktivitas hasil tanaman kelapa sawit dan juga mempelancar tata guna air ataupun drainase pada lahan gambut maupun mineral. Pahan (2010) menyatakan terdapat tiga jenis gulma yang harus dikendalikan, yaitu ilalang di piringan dan gawangan, rumput di piringan, dan anak kayu di gawangan. Ilalang di gawangan dan piringan efektif dikendalikan secara kimia dengan teknik sesuai populasi ilalang yang ada. Gulma rumput di piringan dapat dikendalikan baik secara manual maupun kimia, dan gulma berkayu dapat dikendalikan dengan dongkel anak kayu. Tujuan Kegiatan magang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan melatih keterampilan mengenai teknik budidaya kelapa sawit, menambah pengalaman kerja dan mendalami proses kerja secara nyata di perkebunan. Penulis secara lebih khusus dapat meningkatkan pemahaman dan keterampilan teknis tentang pemeliharaan kelapa sawit terutama di dalam pengendalian gulma pada tanaman kelapa sawit. Selain itu, menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas pengendalian gulma, melihat dinamika populasi, dan infestasi gulma di perkebunan yang dipengaruhi oleh faktor agroekologi yang berbeda. 2   3   Hipotesis Hipotesis yang diajukan pada kegiatan magang ini adalah: 1. Perbedaan agroekologi akan mempengaruhi dinamika populasi dan infestasi gulma pada tanaman kelapa sawit. 2. Terdapat perbedaan dominansi gulma yang menginfestasi tanaman kelapa sawit pada agroekologi yang berbeda. 3   4   TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit Tanaman kelapa sawit menurut Pahan (2010) termasuk divisi Embryophyta siphonagama, kelas Angiospermae, ordo Monocotyledonae, famili Arecaceae, subfamili Cocoideae, dan genus Elaeis. Kelapa sawit memiliki spesies Elaeis guineensis Jacq., Elaeis oleifera (H. B. K.) Cortes., dan Elaeis odora. Tanaman kelapa sawit pada umumnya berasal dari Afrika dan Amerika Selatan, tepatnya Brasilia. Kelapa sawit yang termasuk dalam subfamili Cocoideae merupakan tanaman asli Amerika Selatan seperti spesies Elaeis oleifera dan Elaeis odora. Menurut Pahan (2010) Elaeis guineensis berasal dari Afrika. Kelapa sawit berkembang biak dengan biji. Biji sawit yang telah matang embrionya akan berkecambah menghasilkan tunas (plumula) dan bakal akar (radikula). Kecambah kelapa sawit yang baru tumbuh memiliki akar tunggang, tetapi akar tersebut mudah mati dan segera diganti dengan akar serabut. Kelapa sawit yang sudah dewasa memiliki akar serabut yang membentuk anyaman rapat dan tebal. Sebagian akar serabut tumbuh lurus ke bawah atau vertikal dengan diameter 6 - 10 mm dan sebagian lagi tumbuh menyebar ke arah samping atau horizontal dengan diameter 2 - 4 mm (Sastrosayono, 2006). Umur produktif kelapa sawit rata - rata adalah 20 - 25 tahun. Pada tiga tahun pertama disebut kelapa sawit muda, hal ini dikarenakan kelapa sawit tersebut belum menghasilkan buah. Kelapa sawit mulai berbuah pada usia 4 - 6 tahun. Pada usia 7 - 10 tahun disebut sebagai periode matang (the mature periode) dimana pada periode ini menghasilkan buah tandan segar (fresh fruit bunch) yang optimum. Tanaman kelapa sawit pada usia 11 - 20 tahun mulai mengalami penurunan produksi dan tanaman mulai diremajakan setelah 25 - 30 tahun (Pahan, 2010). Buah muda berwarna hijau pucat, semakin tua berubah menjadi hijau hitam hingga kuning. Buah sawit yang masih mentah masih berwarna hitam (nigrescens), dan buah matang berwarna merah kuning (orange). Buah terlalu matang akan rontok (brondol), sebagai tanda bahwa tandan kelapa sawit sudah 4   5   siap panen. Biasanya tandan buah dipanen berdasarkan jumlah jatuhnya brondolan, yakni minimal 1 - 2 buah per TBS (Sunarko, 2009). Syarat Tumbuh Curah hujan yang baik untuk pertumbuhan dan produksi tanaman kelapa sawit adalah di atas 2,000 mm dan merata sepanjang tahun. Kekeringan selama 3 bulan menyebabkan pertumbuhan kuncup daun terhambat (anak daun tidak dapat memecah). Kondisi tersebut juga banyak berpengaruh terhadap produksi buah, karena buah yang sudah cukup umur tidak mau brondol. Hujan yang terlalu banyak tidak menghambat produksi buah kelapa sawit, asalkan drainase tanah dan penyinaran matahari cukup baik. Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh dengan baik di banyak jenis tanah, asal tersedia air pada musim hujan dan drainase baik. Akar akan busuk, jika tanaman tergenang untuk waktu lama (Sastrosayono, 2006). Tanaman kelapa sawit termasuk heliofil atau menyukai cahaya matahari. Penyinaran matahari sangat berpengaruh terhadap perkembangan buah kelapa sawit. Tanaman yang ternaungi karena jarak tanam yang sempit misalnya, akan terhambat pertumbuhannya. Gulma Gulma adalah tumbuhan yang mengganggu atau merugikan kepentingan manusia (Sembodo, 2010). Kehadiran gulma menjadi pesaing tanaman kelapa sawit yang kuat atau kompetitif dalam memperolah air, cahaya, CO2, dan ruang tumbuh. Kerugian akibat gulma dapat bersifat langsung maupun tidak langsung. Kerugian langsung misalnya menjadi kontaminan produk pertanian, melukai petani, menaikkan biaya produksi, menyita waktu petani atau merusak alat-alat pertanian. Kerugian tidak langsung misalnya menurunkan hasil pertanian (Sembodo, 2010), sebagai inang dari penyakit atau parasit tanaman, mengurangi mutu hasil, menghambat kelancaran aktivitas pertanian (Sastroutomo, 1990), dapat mengeluarkan senyawa alelopati, dan mengganggu tata guna air, sehingga akan meningkatkan biaya usaha tani (Pahan, 2010). 5   6   Menurut Rambe et al. (2010) gulma Mikania micrantha (H. B. K) RM. King. dapat menurunkan produksi tandan buah segar (TBS) sebesar 20%. Pada tahun 2010, di Provinsi Jambi tercatat kerugian hasil pada komoditi kelapa sawit yang disebabkan oleh Mikania micrantha (H. B. K) RM. King. sebesar Rp 38 juta dengan luas serangan 757.5 Ha, Imperata cylindrica (L.) Beauv. sebesar Rp 60 juta dengan luas serangan 1,086 Ha, dan Paspalum conjugatum P.J. Berg. sebesar Rp 43 juta dengan luas serangan 1,150 Ha. Metode pengendalian gulma yang dilakukan pada awal penyemaian adalah kultur teknis. Implementasi kultur teknis dilakukan dengan menanam kacang - kacangan untuk menyaingi pertumbuhan gulma pada saat awal tanaman kelapa sawit belum menghasilkan (TBM). Pengendalian gulma yang lain adalah secara biologis, manual, dan kimiawi. Pengendalian biologis dilakukan dengan musuh alami gulma. Tumbuhan liar berperan sebagai inang dari predator atau parasitoid terhadap ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS). Pengendalian kimia dilakukan khususnya area piringan, jalan pikul, dan tempat pemungutan hasil (TPH) berdasarkan kriteria penutupan gulma. Herbisida yang digunakan yaitu paraquat (Wibawanti, 2011). 6   7   BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Kegiatan magang ini dilaksanakan selama tiga bulan dari 13 Februari hingga 13 Mei 2012 bertempat di Tambusai Estate, Kec. Tambusai Utara, Kab. Rokan Hulu, Riau. Tambusai Estate merupakan salah satu anak perkebunan dari group First Resources. Perkebunan ini milik swasta asing asal Singapura. First Resources didirikan tahun 1992 dengan 9 perkebunan di Indonesia, dan terdaftar di bursa efek Singapura pada tahun 2007. First Resources merupakan salah satu perusahaan produsen kelapa sawit yang memiliki perkembangan tercepat di Asia Pasifik. Kegiatan utama yang dilakukan di perkebunan Tambusai Estate yaitu kegiatan agronomis meliputi pemeliharaan (pengendalian gulma, dan hama penyakit), pemupukan, pemanenan, dan pemeliharaan jalan. Peta perkebunan Tambusai Estate dapat dilihat pada Lampiran 1. Metode Pelaksanaan Selama magang, penulis turut aktif dalam pelaksanaan kegiatan teknis lapangan dibimbing asisten divisi, serta wawancara dan diskusi terkait pengelolaan kebun. Data pendukung berupa laporan bulanan, laporan tahunan, dan arsip kebun diperoleh dengan meminta izin manajer kebun. Penulis melaksanakan aspek teknis dan manajerial pada berbagai tingkat pekerjaan. Kegiatan yang dilakuan di lapang adalah menjadi kerja harian lepas (KHL), pendamping mandor, dan pendamping asisten. Jurnal kegiatan selama magang dapat dilihat di Lampiran 2, 3, dan 4. Kegiatan penulis pada satu bulan pertama adalah sebagai kerja harian lepas (KHL). Penulis melaksanakan kegiatan di lapangan sesuai dengan aktivitas kebun yaitu, pemupukan, pengendalian gulma, kastrasi, penunasan, pengimpusan, pengendalian hama penyakit, aplikasi limbah pabrik, perawatan jalan dan jembatan, sensus pohon dan pemanenan. Kegiatan yang dilakukan penulis selain kegiatan lapang KHL adalah survei lapang untuk aspek khusus terkait dengan status gulma. Perbedaan gulma pada tingkat kanopi berbeda pada tanaman sawit 7   8   digunakan untuk membandingkan dominansi gulma yang ada di tanaman sawit pada tahun tanam yang berbeda (umur tanaman) ataupun menganalisis faktor yang mempengaruhi serangan gulma pada agroekologi yang berbeda. Selain itu, penulis meneliti efektivitas pengendalian gulma Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. dan Centotheca lappacea (L.) Desv., serta efisiensi upah perawatan KHL. Bulan kedua, penulis melaksanakan kegiatan sebagai pendamping mandor dalam melaksanakan aspek manajerial. Pada saat menjadi pendamping mandor, penulis turut bertugas memberikan pengarahan kerja kepada karyawan, mengatur dan mengawasi pekerjaan karyawan, melakukan check roll dan mengisi buku kerja mandor (BKM). Selain melakukan kerja mandor penulis juga membuat laporan. Pada saat menjadi mandor, penulis juga melakukan grading buah di TPH (Tempat Pengumpulan Hasil), pengecekan APD (Alat Pelindung Diri), kalibrasi alat penyemprotan, dan juga pemetaan tapal batas. Pada bulan ketiga, penulis melakukan kegiatan sebagai pendamping asisten, dengan tugas melakukan kontrol lapangan, mempelajari aspek manajerial dan administrasi tingkat divisi dan kebun, serta mengisi buku harian asisten. Penulis melakukan pengamatan ke pabrik dan mempelajari cara memperoleh rendemen maupun ALB (Asam Lemak Bebas) di laboratorium. Selain kegiatan utama, penulis juga melakukan kegiatan untuk melengkapi kelengkapan data magang seperti, analisis vegetasi, pengendalian Asystasia intrusa dan menghitung efektivitas penyemprotan. Kegiatan khusus magang adalah melakukan studi pengelolaan gulma, menganalisis vegetasi gulma, menganalisis faktor yang mempengaruhi serangan gulma, menganalisis efisiensi upah pemeliharaan gulma serta melakukan pengamatan pada gulma Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. dan Centotheca lappacea (L.) Desv. Kegiatan studi pengelolaan gulma dilakukan dengan melakukan kerja di lapangan, wawancara dan menganalisis RKT (Rencana Kerja Tahunan) serta laporan kerja harian. Sampel gulma diambil secara acak dari 15 afdeling. Setiap afdeling diambil 3 blok, dan pada masing-masing blok diambil 6 petak contoh. Pengambilan petak contoh ini berdasarkan tahun tanam kelapa sawit. Pengamatan Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. dan Centotheca lappacea (L.) Desv. dilakukan dengan 8   9   mengamati tingkat kematian dan pertumbuhan kembali gulma-gulma tersebut setelah penyemprotan. Pengamatan dan Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan oleh penulis secara langsung (primer) maupun tidak langsung (sekunder). Data secara langsung diperoleh melalui pengamatan pada saat bekerja di lapangan melalui prinsip 5 tepat pengendalian gulma (dosis, waktu, jenis, cara, dan konsentrasi). Pengamatan tersebut mengamati 5 penyemprot dan juga kalibrasi alat semprot. Selanjutnya, penilaian efektivitas pengendalian dilakukan dengan cara pengambilan sampel gulma. Sampel gulma diambil secara sampling bertingkat pada blok berdasarkan tahun tanam. Pengambilan sampel gulma menggunakan kuadran 1 m x 1 m yang diambil pada gawangan mati. Jumlah sampel yang diambil 264 buah sampel. Data sebaran pengambilan sampel gulma ditampilkan pada Tabel 1. Peta blok pengambilan sampel gulma ditampilkan pada Gambar 1. Warna Tahun Tanam 2002 2003 1999 2004 1997 1998 1995 2006 2005 1996 1991 1990 Gambar 1. Peta posisi pengambilan gulma di Tambusai Estate 9   10   Tabel 1. Sebaran pengambilan sampel gulma di Tambusai Estate Tahun Tanam Blok Luas Lahan (ha) 10% Luas lahan (ha) Jumlah Sampel 1990 1991 F E E F G B C F B C E G I K L M N U R S T U P V G O Q N T M R S O V K X 24.90 23.48 23.19 23.47 25.02 35.94 63.65 60.61 39.22 29.14 27.66 92.49 30.18 61.46 27.20 25.73 34.26 30.48 28.17 39.89 30.70 29.14 53.75 27.75 16.75 52.49 28.03 27.62 29.66 27.19 37.87 29.70 32.39 29.85 27.21 24.09 2.49 2.35 2.32 2.35 2.50 3.59 6.37 6.06 3.92 2.91 2.77 9.25 3.02 6.15 2.72 2.57 3.43 3.05 2.82 3.99 3.07 2.91 5.38 2.78 1.68 5.25 2.80 2.76 2.97 2.72 3.79 2.97 3.24 2.99 2.72 2.41 6 6 6 6 6 6 12 12 12 6 6 18 6 12 6 6 6 6 6 6 6 6 12 6 6 12 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 1995 1996 1997 1998 1999 2002 2003 2004 2005 2006 Jumlah Sampel Blok 1 1 1 1 1 1 2 2 2 1 1 3 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Analisis Data Analisis dilakukan secara analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dilakukan dengan cara melakukan pengamatan terhadap kematian dan tumbuh kembalinya (regrowth) gulma Asystasia intrusa dan Centotheca 10   11   lappacea. Analisis kuantitatif yang dilakukan disajikan dengan statistika sederhana yaitu rataan dan persentase. Data gulma diolah untuk memperoleh NJD (Nisbah Jumlah Dominan) atau summed dominance ratio (SDR). Nilai SDR menunjukan dominansi suatu gulma yang ada. Jika nilai SDR gulma tinggi maka dominansi gulma di areal tersebut tinggi, begitupula sebaliknya makin rendah SDR dominansi gulma semakin rendah. Data juga diolah dengan metode skoring dan diuji dengan multivariate cluster analysis untuk mengetahui pengelompokan gulma. Adapun rumus perhitungan SDR menurut Moenandir (1993) adalah: • Kerapatan mutlak (KM) KM : • Jumlah individu spesies gulma tertentu dalam petak contoh. Kerapatan nisbi (KN) KN : KM spesies tertentu x 100% Jumlah KM semua spesies • Bahan kering mutlak (BKM) BKM : Berat kering total spesies tertentu dalam petak contoh, diperoleh dengan cara dioven • Berat kering nisbi (BKN) BKN : Berat Spesies tertentu x 100% Total BKM semua spesies • Frekuensi mutlak (FM) FM : • Jumlah petak contoh yang berisi spesies tertentu Frekuensi nisbi (FN) FN : FM spesies tertentu x 100% Total FM semua spesies • Nilai penting (NP) NP : • KN + BKN + FN Nisbah jumlah dominansi (NJD) NJD : KN + BKN + FN 11   12   KEADAAN UMUM Letak Wilayah Administratif Tambusai Estate terletak di antara 1000 37’ - 1000 24’ Bujur Timur dan 10 04’ - 10 14’ Lintang Utara yang terletak di Desa Tambusai Utara, Kecamatan Tambusai Utara, Kabupaten Rokan Hulu, Riau. Sebelah utara Tambusai Estate berbatasan dengan sungai Air Hitam Simpang Kanan dan sungai Merah, sebelah selatan berbatasan Desa Kepenuhan Barat, areal SAH Estate, dan Desa Kepenuhan Tengah. Sebelah barat Tambusai Estate berbatasan Desa Tambusai Timur, areal PT. Torganda, dan Desa Tambusai Timur, sebelah timur berbatasan dengan Desa Kepenuhan Timur dan Sungai Air Hitam Simpang Kiri. Peta kebun disajikan pada Lampiran 1. Keadaan Iklim dan Tanah Curah hujan rata - rata di Tambusai Estate dalam kurun waktu 10 tahun terakhir (2001 - 2011) adalah 1,918 mm dengan jumlah hari hujan rata - rata 117 hari. Data curah hujan dapat dilihat pada Lampiran 5. Curah hujan tertinggi umumnya terjadi pada bulan April (rata - rata 302 mm), sedangkan curah hujan terendah terjadi pada bulan Mei dengan rata - rata curah hujan sebesar 100 mm. Menurut kelas iklim Schmidth - Ferguson, keadaan iklim di Tambusai Estate termasuk dalam tipe iklim A, yaitu daerah sangat basah dengan vegetasi hutan hujan tropika. Tanah di Tambusai Estate tergolong ke dalam ordo entisol. Tanah tersebut merupakan endapan sungai dan diklasifikasikan menjadi empat subgrup yaitu: 1). Typic haplosaprist, 2). Typic endoaquent, 3). Humic dystrudepts, dan 4). Typic dystrudepts. Sub grup typic haplosaprist memiliki regim kelembaban udic (tidak pernah kering selama 90 hari kumulatif pada kedalaman 10 – 90 cm dari permukaan tanah) dan pada kedalaman > 120 cm terdapat muka air tanah, drainase terhambat, masam, kapasitas tukar kation rendah, kejenuhan basa sangat rendah. Jenis sub grup typic haplosaprist mencakup areal seluas 3% dari total 11 914.40 Ha luas lahan. 12   13   Ciri-ciri typic endoaqouent memiliki regim kelembaban udic (tidak pernah kering selama 90 hari kumulatif setiap tahun pada kedalaman 10 – 40 cm dari permukaan tanah) dan pada kedalaman > 30 cm terdapat muka air tanah dangkal, drainase terhambat, masam, kapasitas tukar kation sangat rendah, kejenuhan basa sangat rendah. Typic endoaquent mencakup areal seluas 125 Ha atau 1% total luas lahan yang ada di Tambusai Estate. Subgrup humic dystrudept memiliki ciri-ciri rejim kelembaban udic (tidak pernah kering selama 90 hari kumulatif setiap tahun). Tanah ini mempunyai epipedon umbrik. Horizon umbrik secara kasat mata berwarna hitam, dan mempunyai kejenuhan basa kurang dari 50%. Jenis sub grup humic dystrudept memiliki cakupan seluas 5,719 Ha atau 48% dari total luas lahan yang ada di Tambusai Estate. Subgrup typic dystrudepts memiliki ciri rejim kelembaban udic (tidak pernah kering selama 90 hari kumulatif setiap tahun). Tanah memiliki kejenuhan basa yang rendah yakni kurang dari 50%. Jenis sub grup typic dystrudepts memiliki cakupan seluas 5,596 Ha atau 46% total luas lahan yang ada di Tambusai Estate. Areal Tambusai Estate memiliki kondisi topografi yang bervariasi yaitu kemiringan 1 - 3% seluas 11,803 Ha. Derajat kemasaman tanah (pH) 4.65 - 5.30, dengan ketinggian tempat 12 m di atas permukaan laut (dpl) dan suhu rata-rata tahunan berkisar antara 28°C – 31oC. Berdasarkan kelas kesesuaian lahan untuk kelapa sawit, Tambusai Estate tergolong ke dalam kelas S2 (sesuai/suitable). Peta kesesuaian jenis lahan dapat dilihat pada Lampiran 6. Areal Konsesi dan Tata Guna Lahan Luas hak guna usaha (HGU) Tambusai Estate adalah sebesar 11,914.40 ha. Luas lahan yang digunakan untuk areal penanaman adalah 11,028.66 ha untuk tanaman menghasilkan (TM) tidak termasuk wilayah KKPA. Selanjutnya, 827.21 ha digunakan jalan (Main and collection road), untuk bangunan atau emplasement 26.60 ha, dan areal pabrik seluas 31.93 ha. Luas areal Tambusai Estate dapat dilihat pada Tabel 2.   13   14   Tabel 2. Luas areal kebun di Tambusai Estate Nama KEBUN INTI Afdeling 1 Afdeling 2 Afdeling 3 Afdeling 4 Afdeling 5 Afdeling 6 Afdeling 7 Afdeling 8 Afdeling 9 Afdeling 10 Afdeling 11 Afdeling 12 Afdeling 13 Afdeling 14 Afdeling 15 Sub total PLASMA KKPA Bunga Tanjung 1 KKPA Bunga Tanjung 2 KKPA Pekan Tebih Total Luas areal (ha) 719.22 700.95 740.83 722.16 779.78 795.87 729.91 798.27 824.17 684.12 759.06 750.23 713.16 560.66 750.27 11,028.66 801.00 801.66 700.00 13,331.32 Sumber: Kantor Pusat Kebun, Tambusai Estate (April, 2012) Keadaan Tanaman dan Produksi Tanaman kelapa sawit yang dibudidayakan di Tambusai Estate adalah varietas tenera (dura x pisifera), yang terdiri dari tenera Papua New Guinea (PNG), tenera Socfindo dan tenera Marihat (PPKS). Jarak tanam yang digunakan adalah jarak tanam segitiga sama sisi 9.3 x 9.3 x 9.3 m dengan jarak dalam barisan 9.35 m dan jarak antar barisan 8.097 m serta populasi 132 tanaman/ha. Namun, berdasarkan kondisi yang terdapat di lapangan, populasi tanaman per hektar bisa lebih tinggi ataupun lebih rendah daripada populasi yang seharusnya. Hal tersebut disebabkan oleh adanya penyisipan tanaman, penebangan pohon pisifera yang merupakan pohon kelapa sawit jantan untuk perangsang pertumbuhan pohon tenera dan pohon mati, jarak tanam yang tidak teratur, dan tumbang. Populasi 14   15   tanaman kelapa sawit berdasarkan tahun tanam yang ada di Tambusai Estate dapat dilihat pada Tabel 3. Menurut RKAP areal statement tahun 2012, tanaman kelapa sawit di Tambusai Estate ditanam pada beberapa tahun tanam, yaitu dari tahun 1990 hingga tahun 2006. Produksi dan produktivitas Tambusai Estate tahun 2004 - 2009 disajikan pada Tabel 4. Tabel 3. Populasi tanaman kelapa sawit berdasarkan tahun tanam di Tambusai Estate Tahun Tanam Kebun Inti Tahun Kebun KKPA Luas (ha) Jumlah Populasi Tanam Luas (ha) Jumlah Populasi Tanaman /ha Tanaman /ha 1990 200.64 22,504 132 2007 773.84 103,056 132 1991 248.71 31,126 132 2008 435.80 57,655 132 1995 446.37 58,477 132 2009 811.72 23,405 132 1996 1,246.12 156,723 132 1997 4,030.23 509,897 132 1998 1,540.42 198,440 132 1999 359.40 48,186 132 2002 476.22 63,173 132 2003 658.68 86,222 132 2004 492.88 64,484 132 2005 1,003.51 130,449 132 2006 326.46 38,245 132 Sub total 11,029.64 1,407,926 2,021.36 184,116 Sumber: Kantor pusat kebun, Tambusai Estate (April, 2012) Tabel 4. Produksi dan produktivitas Tambusai Estate Tahun Produksi TBS (ton) Produktivitas TBS (ton/ha) 2007 226,511.20 20.45 2008 257,617.58 23.26 2009 272,981.51 24.69 2010 282,810.64 25.78 2011 305,942.04 27.88 Sumber: Kantor pusat kebun, Tambusai Estate (April, 2012) Berat Janjang Rata-rata (kg) 12.93 12.22 13.14 14.82 17.35 15   16   Pada tahun 2004 telah dibangun pabrik kelapa sawit di Tambusai Estate, dan mulai beroperasi pada pertengahan tahun 2005 dengan kapasitas terpasang 45 ton TBS/jam. Pembangunan pabrik tahap pertama dilakukan oleh kontraktor PT. Eka Cipta Bina Karya. Pertambahan produksi TBS yang berasal dari afdeling dan KKPA (17 afdeling) membuat produksi TBS menjadi 1,100 ton TBS/hari. Untuk mengantisipasi lonjakan produksi, kapasitas pabrik dinaikkan menjadi 90 ton/jam, pembangunan tahap II dilakukan kontraktor PT. Wijaya Karya pada tahun 2008. Pada saat ini, Tambusai Estate dapat menghasilkan ± 7 ton CPO /ha/tahun atau dapat menghasilkan 31 ton TBS/ha/tahun. Tambusai Estate sedang menjalankan program sertifikasi SMK3 (Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja) / OHSAS (Occupational Health and Safety Assessment Series), ICC (International Carbon Certification) dan telah mendapatkan sertifikasi (International Organization for Standardization) ISO: 14001: 2008 untuk manajemen lingkungan dan ISO: 9001: 2005 untuk sertifikasi manajemen mutu produksi. Struktur Organisasi Perusahaan dan Ketenagakerjaan Tambusai Estate dipimpin oleh seorang general manager yang bertugas memberikan pengarahan kepada bawahan yang menjadi tanggung jawabnya dalam mempersiapkan rencana kerja anggaran kebun, dan menyusun rencana kerja operasional pabrik. General manager memiliki wewenang untuk mengambil kebijakan operasional kebun dan pabrik dalam rangka melaksanakan rencana kerja, juga menandatangani surat, dokumen, dan perjanjian kerja. Seorang general manager dalam melaksanakan kinerjanya dibantu oleh deputy general manager, field manager, field assistant, dan kepala seksi (kasi) administrasi. Deputy general manager atau wakil general manager bertugas membantu tugas-tugas general manager dalam melaksanakan kegiatan operasional dalam mencapai target produksi TBS dan CPO sesuai yang ditetapkan oleh manajemen. Kepala tata usaha (KTU) bertanggungjawab merencanakan, mengkoordinasikan, mengawasi dan mengendalikan kegiatan administrasi kebun agar berjalan dengan baik serta “ up to date”. Status karyawan di Tambusai Estate terdiri atas karyawan staf dan karyawan non staf. Karyawan staf meliputi general manager, deputy 16   17   general manager, mill manager, KTU, kasi administrasi, field manager, dan field assistant, sedangkan karyawan non staf meliputi karyawan kantor pusat kebun, karyawan traksi, karyawan afdeling, karyawan harian tetap, dan pegawai bulanan tetap (Tabel 5). Field manager disebut asisten kepala (askep) bertugas memimpin kegiatan operasional bidang tanaman dan non tanaman di rayon (tempat kegiatan field manager dan memiliki tanggung jawab atas 3 - 4 afdeling). Tugas lainnya yaitu mengendalikan biaya yang berpedoman kepada anggaran yang telah ditetapkan oleh manajemen. Selain itu, askep juga menjadi penanggungjawab kebun sementara apabila deputy general manager dinas luar. Field assistant (asisten lapang) bertugas untuk menyusun rencana anggaran kerja afdeling (harian, bulanan, dan tahunan). Dalam melaksanakan pekerjaannya, seorang field assistant dibantu oleh para mandor dan kerani afdeling. Mandor panen, mandor perawatan, bertugas dalam pengawasan kegiatan pemeliharaan dan perawatan agar sesuai dengan standar mutu dan norma yang telah ditentukan perusahaan, sedangkan kerani afdeling bertugas membantu field assistant dalam penyusunan dan pelaporan setiap hasil pekerjaan di lapangan serta administrasi afdeling. Struktur organisasi Tambusai Estate dapat dilihat pada Gambar 2 dan Gambar 3, serta komposisi karyawan pada Tabel 5. 17   18   Tabel 5. Jumlah karyawan staf dan non-staf di Tambusai Estate tahun 2012 No. 1. Jabatan Jumlah Staf * General manager 1 * Deputy general manager 2 * Mill manager 1 * Kepala administrasi 1 * Kepala tata usaha 1 * Kepala personalia 1 * Kepala timbangan 1 * Asisten sortasi 1 * Asisten proses 2 * Asisten kepala PKS 1 * Asisten laboratorium 1 * Asisten kepala 6 * Asisten maintenance 1 * Asisten tehnik sipil 1 * Asisten kebun 18 * Assisten aplikasi tankos/LA 1 2. PBT (Pekerja Bulanan Tetap) 112 3. KHT (Karyawan Harian Tetap) 718 4. KHL (Karyawan Harian Lepas) 80 Jumlah 951 Sumber: Bagian personalia (HRD) Tambusai Estate, (April, 2012) 18   19   Gambar 2. Struktur organisasi di Tambusai Estate 19 19   20   Gambar 3. Struktur organisasi tingkat afdeling VIII di Tambusai Estate 20 20   21   ASPEK MANAJERIAL Selama magang penulis melaksanakan aspek manajerial di Afdeling VIII Tambusai Estate. Penulis selama mengikuti aspek majerial berperan sebagai pendamping mandor dan pendamping asisten. Penulis menjadi pendamping mandor selama 3 minggu dan menjadi pendamping asisten selama 6 minggu. Selama menjadi pendamping mandor dan pendamping asisten afdeling, penulis mengikuti kegiatan meliputi pengawasan di lapangan dan administrasi di kantor afdeling. Pendamping Mandor Selama menjadi pendamping mandor, penulis mengikuti pengawasan di lapangan dan kegiatan manajerial terkait administrasi afdeling dengan mendampingi kerani panen dan kerani afdeling. Mandor Panen Mandor panen bertanggung jawab: 1). Membagi pemanen ke dalam hanca panen sesuai dengan angka kerapatan panen (AKP), 2). Mengawasi panen agar pemanen tidak memotong buah mentah dan juga brondolan diketiak pohon, piringan, pasar pikul dan gawangan bersih dikutip, 3). Mengontrol (mengecek) hanca pemanen dari losses (kehilangan buah), 4). Mencatat jumlah perhitungan AKP dan melaporkannya kepada asisten afdeling, 5). Koordinasi dengan kerani panen untuk pengecekan buah, 6). Mengecek peralatan panen, dan 7). Mengorganisasikan karyawan menggunakan APD dan Zero Accident. Administrasi dan laporan yang menjadi kewajiban mandor panen yaitu: Mengisi LHM (Laporan Harian Mandor) yang dilaporkan setiap hari/sore hari dan Mengisi BKM (Buku Kegiatan Mandor). Penulis ikut berperan dalam mengontrol hanca pemanen (losses), melakukan perhitungan angka kerapatan panen, melakukan taksasi panen harian, melakukan koordinasi dengan kerani panen untuk pengecekan mutu buah dan APD, serta mengawasi pekerjaan pemanen. 21   22   Mandor Pupuk Mandor pupuk berkewajiban: 1). Membuat bon permintaan barang (pupuk), 2). Menyiapkan alat/bahan untuk pemupukan (takaran, pikulan, pupuk, dan lain-lain), 3). Mengawasi penguntilan pupuk, 4). Mengawasi ecer pupuk di lokasi (blok) yang telah ditentukan, 5). Membagi hanca karyawan sesuai lokasi yang akan dikerjakan, 6). Mengawasi pelaksanaan pemupukan sesuai rencana yang telah ditentukan, 7). Mengecek pekerjaan yang telah dilaksanakan, 8). Melaksanakan pengembalian sampel daun sesuai petunjuk perusahaan, 9). Mengecek jumlah pengembalian karung pupuk yang dikembalikan ke gudang afdeling, dan 10). Memastikan semua pekerja menggunakan alat pelindung diri (APD). Pengawasan pemupukan dilakukan oleh mandor pupuk berkoordinasi dengan asisten afdeling dan kepala asisten afdeling. Saat melakukan pengawasan pada pekerja pupuk, penulis mengawasi mulai dari penguntilan, bongkar muat, pelangsiran, hingga proses penaburan pupuk. Mandor Perawatan Mandor perawatan bertanggung jawab: 1). Membagi hanca karyawan sesuai lokasi yang akan dikerjakan, 2). Mengontrol dan mengawasi pekerjaan karyawan, 3). Melaporkan hasil kerja dan HK, dan 4). Memastikan semua alat yang akan digunakan dalam kondisi baik atau siap pakai dan bertanggung jawab terhadap alat-alat yang digunakan karyawan bila terjadi kerusakan. Administrasi dan laporan yang menjadi kewajiban Mandor Chemist/ perawatan yaitu mengisi LHM (Laporan Harian Mandor) yang dilaporkan setiap sore hari dan mengisi rencana kerja harian (RKH) semprot dan realisasi kerja setiap hari. Selama menjadi pendamping mandor, penulis ikut mendampingi kegiatan mandor perawatan saat melaksanakan kegiatan aspek manajerial. Penulis ikut serta mengawasi karyawan yang melakukan rawat jalan, pembersihan piringan manual, pruning, babat gawangan, pemberian FeSO4. 22   23   Kerani Afdeling Kerani afdeling adalah bagian dari anggota kebun yang bertugas mengurus bagian administrasi tingkat afdeling. Kerani afdeling berkewajiban: 1). Mengisi papan rencana kerja harian, mingguan atau bulanan untuk memonitoring pengiriman TBS ke PKS, 2). Realisasi pemupukan, 3). Monitoring stok di gudang, 4). Memeriksa BKM dan mencatat ke buku prestasi kerja, 5). Membuat absensi tahap I, II, dan III, 6). Merekapitulasi daftar absensi pertahapan dan pengangkutan janjang kosong, 7). Menyampaikan laporan pagi dan sore afdeling meliputi: laporan produksi, pemupukan, penyisipan, 8). Membantu memberikan beras, 9). Membantu pembayaran gajian kecil dan besar serta membuat permintaan dana operasional, 10). Membuat BPB (Bon Permintaan Barang), 11). Mengisi data curah hujan, dan 12). Membuat arsip surat keluar dan masuk. Penulis ikut berperan dalam mengisi papan rencana kerja harian, mingguan, dan bulanan untuk monitoring pengiriman TBS ke PKS, realisasi pemupukan, penyemprotan, infus akar. Monitoring stok gudang, membuat laporan harian asisten (LHA), dan mencatat angka curah hujan yang diambil dari ombrometer (alat pengukur curah hujan) setiap harinya. Kerani Panen (I dan II) Kerani panen berkewajiban: 1). Melakukan grading buah di setiap TPH setiap hari dan memeriksa stempel pemanen sebelum diangkut ke PKS, 2). Mencatat hasil pemeriksaan buah di TPH ke dalam BPBh (buku penerimaan buah), 3). Mengawasi pengangkutan TBS dan TPH sampai ke loading ramp di PKS agar terangkut dengan baik sehingga tidak ada yang restan (tertinggal) di lapangan, 4). Mengawasi pengangkutan brondolan agar bersih dari sampah, pasir, kerikil, dan tidak ada yang tertinggal atau tercecer. Kerani panen merekapitulasi laporan potong buah dan output janjang, mencatat kesalahan dan denda pemanen, koordinasi dengan mandor panen jika dalam pemeriksaan ditemukan buah mentah, dan membuat laporan produksi dan penulis ikut serta dalam kegiatan tersebut. 23   24   Pendamping Asisten Afdeling Selama menjadi pendamping asisten afdeling penulis mengikuti beberapa kegiatan dan tugas dari asisten. Asisten afdeling bertugas: 1). Menyusun dan menyerahkan rencana anggaran kerja (RAK) kepada atasan untuk dievaluasi, 2). Menyusun rencana produksi, perawatan dan taksasi produksi harian, bulanan dan tahunan dibantu oleh kerani afdeling, 3). Memberikan pemakaian rencana alat berat dan kendaraan bekerjasama dengan traksi, 4). Mengawasi program pemupukan, perawatan dan pengendalian hama dan penyakit, 5). Mengawasi pelaksanaan panen dilapangan atau mengecek kerja kerani panen dan mandor panen agar tidak ada buah tinggal / restan, buah mentah, maupun brondolan yang tertinggal serta ketersediaan sarana panen (TPH, titi panen, pasar pikul, dodos, egrek, dan angkong), 6). Mengawasi keadaan jalan di afdeling baik atau tidaknya untuk transportasi buah dan pupuk), 7) Memeriksa setiap laporan kegiatan afdeling seperti: buku mandor, buku asisten, laporan pemakaian kendaraan, alat berat, permintaan dan pengeluaran bahan kimia atau barang dari gudang sebelum ditandatangani. 24   25   ASPEK TEKNIS Pengendalian Gulma Organisasi Pengendalian Gulma Pengendalian gulma di Tambusai Estate menggunakan sistem borongan. Setiap rombongan memiliki satu kepala rombongan dan diawasi oleh satu mandor yang bertugas merencanakan dosis, rotasi, dan hanca yang di semprot. Pengendalian gulma secara manual di Tambusai Estate meliputi, babat gawangan manual dan DAK (Dongkel Anak Kayu). Pengendalian gulma secara kimia dilakukan pada pasar pikul, piringan, TPH, dan wipping. Pengendalian gulma secara kimia pada afdeling VIII menggunakan 5 HK untuk pasar pikul, piringan maupun long bad, 3 HK untuk babat gawangan, 3 HK untuk DAK (Dongkel Anak Kayu), 1 HK untuk chemis TPH, 4 HK untuk wipping. Pelaksanaan seluruh kegiatan pengendalian gulma sesuai dengan panduan penyusunan budget pengendalian gulma di Tambusai Estate pada Tabel 6 dan Tabel 7. Tabel 6. Daftar premi perawatan tanaman di Tambusai Estate No. Jenis Pekerjaan 1. Mandor pupuk 2. Mandor pemeliharaan - Premi penyelesaiaan Pemeliharaan piringan - Premi pemeliharaan pasar Pikul - Premi pemeliharaan TPH - Premi pemeliharaan gawangan - Premi pemeliharaan tunas - Premi pemeliharaan wipping Lalang - Premi pemeliharaan hama penyakit - Premi pemeliharaan penyisipan - Premi pemeliharaan spot lalang Sumber: Surat Edaran, Tambusai Estate 2011 Satuan Kg Ha Premi Rp 8/Kg Rp 1,500/ha Ha Rp 500/ha Ha Ha Ha Ha Rp 500/ha Rp 1,500/ha Rp 1,000/ha Rp 100/ha Ha Ha Ha Rp 150/ha Rp 100/ha Rp 100/ha 25   26   Tabel 7. Daftar penyesuaian harga perawatan No. Uraian 1. Chemis piringan 2. Chemis pasar pikul 3. Babat gawangan manual - T.T 1990-1999 - T.T 2000-2006 4. Dongkel anak kayu sawit - T.T 1990-1999 - T.T 2000-2006 5. 6. 7. Satuan (Rp/ha) Garuk piringan manual T.T 1990-2006 Tunas kelapa sawit - T.T 1990-1991 - T.T 1995-2006 Pemupukan manual - Dosis 0-1.49 kg/pohon - M/B pupuk - Until pupuk - Dosis > 1.49/kg/pohon Sumber: SE, Tambusai Estate 2011 14,000 35,000 35,000 40,000 45,000 50,000 60,000 650 550 12,000 7 17 15,000 Pengendalian Gulma Secara Manual Babat gawangan secara manual digunakan untuk mengendalikan gulma Nephrolepsis bisserata (Sw.) Schott., Mikania micranta (H. B. K) RM. King., Asystasia intrusa (Forssk.) Blume., Stenochlaena palustris Bedd., Lygodium palmatum (Bernh.) Swartz., dan berbagai macam gulma yang terdapat pada gawangan dengan tinggi babatan maksimum 20 - 30 cm dari permukaan tanah. Alat yang digunakan pada babat gawangan adalah parang babat yang tajam dan parang pincuk. Kegiatan babat gawangan dapat dilihat pada Gambar 4. Gambar 4. Babat gawangan di Tambusai Estate 26   27   Tenaga kerja babat juga termasuk sistem borongan. Seorang pembabat biasanya dapat menyelesaikan 1.5 ha - 2 ha/hari. Upah tenaga babat gawangan adalah Rp 35,000/ha. Pekerja juga tidak memperoleh premi karena yang bersangkutan menggunakan sistem borongan. Semua semak yang ada di gawangan dibabat menggunakan parang babat. Dongkel anak kayu merupakan kegiatan pengendalian gulma dengan cara mendongkel atau mencabut sampai ke akarnya. Jenis gulma yang didongkel adalah gulma daun lebar berkayu seperti: Melastoma affine D. Don, Foterandia L., Merremia umbellata (L.) Hallier f., Chromolaena odorata (L.) King and H.E.Robins., Clidemia hirta (L.) D. Don., dan tukulan (anak sawit liar) (Gambar 5a) yang terdapat pada gawangan, pasar pikul serta pada piringan kelapa sawit. Dongkel anak kayu dapat dilakukan dengan menggunakan alat dongkel, parang, atau langsung dicabut dengan tangan, gulma yang telah dicabut diletakan di anjang-anjang yang terletak di pinggir blok atau jalan (Gambar 5b). (a) (b) Gambar 5. Kegiatan dongkel anakan sawit di Tambusai Estate: a). Kegiatan dongkel anak kayu (Tukulan), b). Tempat anak kayu diletakan setelah di dongkel (anjang-anjang) Upah untuk tenaga kerja dongkel anak kayu adalah Rp 45,000/ha. Jenis pekerjaan ini juga termasuk pekerjaan sistem borongan, jadi tidak ada premi yang diperoleh oleh tenaga pendongkel. Tenaga pendongkel dapat menyelesaikan 1 - 1.5 ha/hari. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di Afdeling VIII, terdapat beberapa orang pendongkel yang hanya mampu menyelesaikan setengah hektar per hari. Menurunnya kemampuan tersebut disebabkan oleh faktor usia tenaga pendongkel yang berusia lanjut. 27   28   Pengendalian Gulma Secara Kimia Pengendalian gulma secara kimia merupakan pengendalian gulma yang dilakukan dengan cara menyemprot langsung pada gulma (Gambar 6 b) dengan menggunakan herbisida (Gambar 6 a). Pengendalian gulma secara kimia di Tambusai Estate diaplikasikan pada piringan, TPH, pasar pikul dan “long bad” kelapa sawit. (a) (b) Gambar 6. Bahan dan kegiatan pengendalian gulma secara kimiawi: a). Bahan herbisida amiron + metil metsulfuron, b). Kegiatan penyemprotan di pinggir collection road. Jenis herbisida yang digunakan adalah herbisida sistemik berbahan aktif glifosat dan metil metafuron dengan merek dagang Rapid® 20 WG, Bionasa® 480 As, Basta® 150 WSC, Ally® 20 WDG, Amiron-M® 20 WG dan Bravoxone® 276 SL. Bahan aktif herbisida di atas berturut-turut yaitu Isopropilamina glifosat (Rapid®, Bionasa® dan Basta®) dan Metil metsulfuron (Ally® dan Amiron-M®). Herbisida sistemik lebih cocok digunakan untuk mengendalikan gulma berdaun sempit seperti Axonopus compresus (Sw.) P. Beauv., Centotheca lappacea (L.) Desv., Cynodon dactylon (L.) Pers., Cyrtococcum accresens (Poac.)., Digitaria adscendens (H.B.K) Henr., dan Eleusine indica (L.) Gaertn., dan gulma berdaun lebar lunak yang tidak berkayu seperti Asystasia intrusa (Forssk.) Blume., Ageratum conyzoides L., Cleome rutidosperma D.C., dan Euphorbia hirta L. Penyemprotan herbisida dilakukan di piringan, TPH dan pasar pikul. Gulma yang dominan di piringan kelapa sawit adalah gulma berdaun lebar 28   29   yaitu Asystasia intrusa (Forssk.) Blume., sedangkan di pasar pikul adalah Centotecha lappacea (L.) Desv. Larutan herbisida dicampur dengan air terlebih dahulu di gudang pupuk sebelum dibawa ke lapang atau ke afdeling. Hal ini dilakukan untuk menghindari pencurian atau penjualan bahan aktif. Perbandingan campuran glifosat dengan air adalah 1:1, artinya untuk 1 liter bahan aktif diencerkan dengan 1 liter air. Dosis herbisida yang digunakan untuk penyemprotan piringan, TPH, dan pasar pikul di Afdeling VIII umumnya menggunakan dosis yang sama. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di Afdeling VIII, dosis untuk glifosat adalah 60 cc/tangki dan amiron 5 g/tangki. Dari pengamatan yang dilakukan terhadap lima orang penyemprot didapat jumlah pohon rata – rata yang disemprot untuk satu tangki adalah 61 pohon dengan ukuran tangki 15 liter, sehingga dosis per hektarnya adalah sebagai berikut : Luas efektif piringan yang disemprot/ha luas lahan = πr2 x 132 = 3.14 x (2.5 m)2 x 132 = 2,590. 5 m2 Jika 1 tangki digunakan untuk semprot 61 pohon, maka dosis per hektarnya adalah : = 15/ (3.14 x (2.5 m)2 x 61) x 10,000 = 125.300 l/ ha atau = 8 tangki/ ha Dosis anjuran = 450 cc/ ha luas efektif = 30 tangki Biaya pengendalian secara kimiawi contoh perhitungannya dibagi menjadi biaya pengendalian kimiawi di piringan dan pasar pikul. Contoh perhitungan biaya per hektar pada piringan di blok L24 (luas = 21.14 ha, jumlah HK = 5 HK, Jumlah kebutuhan rapid = 211 g dan amiphosate = 4.20 liter) yaitu: 1). Mencari jumlah upah terlebih dahulu yang didapat dari luasan efektif x upah/ha, didapatkan (21.14 ha x Rp 14,000/ha = Rp 295,960), 2). Menentukan biaya bahan dari (jumlah rapid x harga rapid) + (jumlah amiphosate x harga amiphosate), perhitungannya (211 x 150) + (4.20 x 22,100) = Rp 124,470, 3). Menghitung 29   30   biaya/ha = biaya bahan/luas efektif (Rp 124,470/ 21.14 ha = Rp 5,888/ha), 4). Mencari jumlah biaya/ha (no. 1 + no.2)/luasan efektif (Rp 295,960 + Rp 124,470)/ 21.14 ha = Rp 19,887.8/ha). Contoh perhitungan pengendalian secara kimiawi pada pasar pikul pada blok L25 dengan luas = 10.68 ha, jumlah HK = 5 HK, upah = Rp 7,000 / ha, jumlah rapid = 53 g dengan harga satuan Rp 150, dan Amiphosate 1 liter dengan harga Rp 22,100) yaitu: 1). Mencari jumlah upah = luasan efektif x upah/ha (10.68 ha x Rp 7,000/ha = Rp 74,760), 2). Menentukan biaya rapid dan amiphosat berturut-turut yaitu (53 g x Rp 150 = Rp 7,950 dan 1 liter x Rp 22,100), 3). perhitungan biaya bahan (Rp 7,950 + Rp 22,100 = Rp 30,050), dan 4). Biaya bahan/ha = Rp 30,050/10.68 ha = Rp 2,814/ha. Dari perhitungan di atas dapat dilihat bahwa dosis yang digunakan belum sesuai dengan anjuran. Oleh sebab itu, kematian gulma yang disemprot di piringan membutuhkan waktu yang lebih lama dari waktu yang diharapkan. Mengacu pada buku saku Tambusai Estate rekomendasi pencampuran herbisida baru bahan aktif glifosat dan metil metafuron 1.5 liter + 7.5 g/ha dengan perbandingan 1 liter : 5 kg. dan rekomendasi tangki solo 450 l/ha = 450/15 = 30 tangki/ha sehingga 1,500 cc dengan anjuran volume semprot 450 l/ha mendapatkan dosis 1 tangki = 50 cc/tangki. Waktu Pengendalian Gulma Waktu yang dianjurkan untuk melakukan penyemprotan yaitu sekitar jam 07.00 pagi dimana stomata masih terbuka sehingga memudahkan penyerapan herbisida ke gulma yang dikendalikan. Penyemprotan juga tidak dilakukan pada saat turun hujan maupun sebelum hujan, karena dapat mengakibatkan hilangnya herbisida sebelum sempat terserap ke dalam gulma. Rotasi pengendalian gulma penyemprotan pada piringan 3 bulan sekali sedangkan babat gawangan dan DAK (Dongkel Anak Kayu) 2 bulan sekali. Teknis Pengendalian Gulma dan Dosis Pelaksanaan teknis penyemprotan dimulai dengan pembagian regu semprot. Setiap regu terdiri dari 4 - 5 regu tergantung dari jumlah borongan 30   31   dimana semuanya sebagai penyemprot. Alat semprot yang digunakan adalah knapsack SOLO yang berkapasitas 15 liter dan nozzle yang digunakan adalah nozzle berwarna hitam (nozel kipas) dengan lebar 2.5 cm. Dosis campuran glifosat dan metil metafuron untuk dosis penyemprotan piringan 0.2 l/ha dan pasar pikul 0.4 l/ha (asumsi 80% tidak tertutupi gulma) sehingga konsentrasinya 1.3 ml/l dan 2.6 ml/l tanpa pengenceran. Pengisian larutan menggunakan alat takar yang telah di kalibrasi dengan ukuran 120 ml dengan tujuan untuk menghemat waktu dan memudahkan cara pengisian. Hal ini sesuai dengan dosis yang digunakan untuk setiap satu tangki knapsack SOLO yaitu, 120 ml larutan campuran setelah diencerkan (60 ml larutan campuran tanpa pengenceran) per satu knapsack. Pencampuran larutan herbisida dilakukan di dalam knapsack . Air yang digunakan untuk pengenceran adalah air parit maupun air genangan dalam blok, akibatnya nozzle sering tersumbat oleh kotoran. Selain itu, air kotor dan keruh yang digunakan untuk pengenceran dapat mengurangi kinerja herbisida. Penyemprot mulai menyemprot dari arah luar gawangan menuju ke dalam blok yang mana penyemprot mendapatkan areal penyemprotan 1 pasar untuk 1 orang. Setiap penyemprot menyemprot saling berdekatan untuk memudahkan pengawasan pasar yang telah tersemprot. Pada Tambusai Estate terdapat 5 Hk penyemprot, sehingga herbisida yang di dalam tangki di geser setiap 5 pasar. Cara kerja penyemprotan di dalam blok dapat dilihat pada Gambar 7. Gambar 7. Cara kerja penyemprotan dalam blok Penyemprot gulma dilakukan oleh pekerja yang sudah terlatih, karena dalam menyemprot gulma perlu diperhitungkan kecepatan jalan, kekuatan 31   32   memompa, dan menyemprotkan herbisida secara merata agar penggunaan herbisida lebih efektif. Kegiatan pengendalian gulma ini menggunakan sistem borongan (SPKL) yang mana diketuai oleh satu ketua rombongan yang mendapatkan Rp 1,000 - 2,000/ha dari tiap pekerja. Terdapat beberapa hal yang menjadi perhatian perusahaan agar kegiatan penyemprotan berjalan dengan baik, diantaranya adalah kondisi alat semprot yang terdiri atas knapsack sprayer dan nozzle. Kedua bagian alat semprot ini berpengaruh pada kelancaran pekerjaan dan penggunaan herbisida. Berdasarkan pengamatan di lapangan, sering dijumpai knapsack bocor yang disebabkan oleh karet klep yang sudah aus. Sering dijumpai juga kondisi nozel yang tidak standar. Knapsack yang bocor akan menyebabkan herbisida terbuang sia-sia, sedangkan nozzle yang tidak sesuai standar akan mempengaruhi ketepatan volume semprot. APD (alat pelindung diri) (Gambar 8a dan b) yang diperlukan dalam kegiatan penyemprot, biasanya baru didistribusikan pada minggu akhir bulan Januari. (a)  (b) Gambar 8. Tim pengendalian gulma secara kimia yang dilengkapi dengan APD: a). Penggunaan APD (alat pelindung diri) b). Sarung tangan dan sepatu alat yang wajib digunakan Permasalahan lain yang sering timbul di lapangan adalah masalah kondisi lahan. Kegiatan penyemprotan tidak bisa dilaksanakan pada lahan yang mengalami banjir atau tergenang akibat hujan malam sebelumnya. Mandor mengantisipasi permasalahan dengan terlebih dahulu melihat kondisi lahan sebelum kegiatan, jika lahan tidak memungkinkan untuk melakukan kegiatan 32   33   biasanya dialihkan ke blok sebelahnya dengan waktu pengendalian yang berdekatan. Gulma Bermanfaat Gulma di samping merugikan juga memberi manfaat bagi perkebunan kelapa sawit. Tambusai Estate memanfaatkan gulma Tunera subulata, Antigonon leftopus, Euphorbia heterophylla, Cassia tora, Ageratum conyzoides, Urena lobata, dan Erechtites valerianifolia (Gambar 9 a - g) sebagai inang alternatif musuh alami (parasitoid dan predator) dan hama UPDKS (ulat pemakan daun kelapa sawit). Gulma bermanfaat diupayakan keberadaannya di areal perkebunan karena peranannya dalam mendukung perkembangan agensia pengendali hayati UPDKS. UPDKS merupakan hama yang berasal dari Ordo Lepidoptera, yang terdiri dari ulat api (Limacodidae) dan ulat kantong (Psychidae). Namun, yang sering menyerang tanaman kelapa sawit adalah ulat api jenis Setothesa asigna dan Setora nitens (Gambar 9 h dan i). Tanda - tanda serangannya berupa daun - daun berlubang, adanya daun yang hamper berlubang (terlihat transparan), dan ada pelepah yang tinggal lidi. Gulma bermanfaat ini ditanam di pinggir CR (Collection Road), MR (Main Road), atau di tempat terbuka. Gulma Turnera subulata, Antigonon leftopus dan Casia tora ditanam selain di pinggir blok sepanjang jalan kebun dan daerah yang kosong dalam blok. Perbanyakan tanaman bermanfaat tersebut bisa dilakukan dengan cara stek atau dengan biji. Apabila Turnera subulata atau Casia tora telah mencapai tinggi 75 cm dilakukan pemangkasan menjadi 50 cm dari permukaan tanah. Casia tora yang telah tua diremajakan kembali dengan penanaman bibit yang baru. Tanaman berguna lainnya biasanya tumbuh secara alami di dalam blok. Pemangkasan atau babat dilakukan apabila tanaman mengganggu pertumbuhan kelapa sawit. 33   34   (a) (b) (c) (d) (e) (f) (g) (h) (i) Gambar 9. Gulma bermanfaat pada tanaman kelapa sawit dan hama UPDKS: a). Antigonon leftopus, b). Casia tora, c). Turnera subulata, d). Erechtites valerianifolia, e). Euphorbia heterophylla, f). Ageratum conyzoides, g). Urena lobata, dan hama UPDKS: h). Sentothesa asigna, dan i) Setora nitens 34   35   Pemupukan Kegiatan pemupukan di Tambusai Estate terdiri dari pemupukan organik dan juga anorganik. Pemupukan anorganik dilakukan dengan mengaplikasikan pupuk urea, MOP (Muriate of Potash), kieserite, RPH (Rock Phosphate), HGFB (high grade fertilizer borax) (Gambar 10a). Pemupukan organik terdiri dari aplikasi janjang press (Gambar 10b) dan LA (Land Application) atau effluent. (a) (b) Gambar 10. Jenis pupuk yang diaplikasikan di Tambusai Estate: a). Pupuk anorganik (RPH), dan b). Pupuk organik (janjang press) Pemeliharaan tanaman sawit terutama pemupukan sangat di perhatikan di Tambusai Estate, agar tanaman dapat menghasilkan produksi yang optimum. Selain itu, pemupukan berguna dalam memperbaiki tanah sehingga seluruh unsur hara berada dalam kondisi yang setimbang. Sebelum melakukan pemupukan mandor membuat RUP (Rencana Usulan Pekerjaan), rencana ini dibuat satu hari sebelum pengaplikasian pemupukan. Di dalam RUP akan ditentukan target jumlah pupuk yang dibutuhkan tanaman kelapa sawit per-blok. Kemudian, seorang asisten akan membuat UPH (Usulan Pekerjaan Harga). UPH ditandatangani asisten, diketahui kasi, dan disetujui deputy yang selanjutnya dibawa ke gudang untuk di tandatangani kepala gudang. Setelah itu, UPH masuk ke gudang central yang terdapat di PKS kemudian masuk ke gudang afdeling. Sebelum melakukan penguntilan di gudang afdeling, UPH terlebih dahulu diisi kartu gudang. Penguntilan di Afdeling VIII dilakukan di gudang PKS karena dekat dengan PKS. 35   36   Organisasi Pemupukan Dalam kegiatan pemupukan terdiri dari tim kecil yang mana dinamakan kelompok kecil pemupukan (KKP). Pemupukan menggunakan sistem borongan dengan satu kepala rombongan. Jumlah tenaga pupuk bergantung tonase pemupukan pada saat aplikasi. Jika tonase pupuk lebih besar dari 5 ton, maka jumlah tenaga pupuk yang digunakan 9 orang yaitu 6 orang sebagai penabur dan 3 orang pelangsir dengan perbandingan 1 : 2 (1 orang pelangsir pupuk 2 orang sebagai penabur dalam 1 pasar). Jika tonase kurang dari 5 ton jumlah tenaga pupuk yang digunakan 6 orang yaitu 4 orang sebagai penabur dan 2 orang sebagai pelangsir. Organisasi pemupukan di Tambusai Estate terdiri atas organisasi kerja penguntilan, organisasi kerja pelangsiran, organisasi kerja pengeceran, dan organisasi kerja penaburan. Organisasi pemupukan di Tambusai Estate seperti di atas dapat dilihat pada Gambar 11. (a) (b) (c) (d) Gambar 11. Organisasi pemupukan di Tambusai Estate: a). Organisasi penguntilan, b). Organisasi pelangsiran, c). Organisasi pengeceran dan d). Organisasi penaburan 36   37   Pupuk yang akan diaplikasikan di lahan, dimobilisasi dari gudang pupuk yang berada di kantor kebun untuk dibawa ke afdeling. Organisasi kerja penguntilan pupuk di Afdeling VIII (Gambar 12) dilakukan di gudang pupuk dikarenakan jarak antara afdeling VIII dan kantor kebun yang dekat. Pupuk diuntil untuk 6 pohon dengan tujuan untuk lebih mengakuratkan dosis per pohon tanaman dan memudahkan pekerja untuk membawa pupuk. (a) (b) (c) (d) Gambar 12. Organisasi penguntilan di Tambusai Estate: a). Pembokaran muatan di gudang pupuk, b). Peralatan di gunakan saat penguntilan, c). Penimbangan pupuk per-untilan sesuai dangan takaran, d). Untilan pupuk Sebelum dilaksanakan pemupukan, pupuk terlebih dahulu diuntil di gudang PKS (pabrik kelapa sawit). Pupuk yang menggumpal dihancurkan sebelum diuntil. Berat setiap untilan disesuaikan dengan dosis dan jumlah pohon per until (disesuaikan dengan dosis kg/pohon). Cara menghitung banyaknya untilan misalnya untuk blok L23 dengan luasan 29.53 ha dan dosis pupuk MOP 1.5 kg/pohon adalah: 1). Menghitung jumlah pohon terlebih dahulu 29.53 ha x 132 pohon/ha = 3,897.96 pohon, 2). Jumlah pohon dikalikan dosis MOP/pohon 37   38   untuk mencari kebutuhan pupuk (3,897.96 pohon x 1.5 kg/pohon = 5,846.94 kg). Hasilnya didapatkan tonase pupuk blok L23 = 5,846 kg ( lebih besar dari 5 ton), karena lebih besar dari 5 ton maka di dalam pengaplikasian menggunakan tenaga pupuk 9 HK. Bobot atau takaran satu until dengan dosis 1.5 kg/pohon adalah 9 kg, sehingga banyaknya jumlah untilan yang di perlukan di blok L23 adalah = 5,846 kg/9 kg = 650 untilan. Tabel 8 menunjukkan rekomendasi takaran pupuk sesuai dengan dosis kg/pohon dan Tabel 9 rekomendasi dosis pupuk berdasarkan jumlah until. Tabel 8. Rekomendasi takaran pupuk sesuai dosis kg/pohon Dosis Pupuk Takaran Pupuk/ Until (Kg/ Pohon) 6 Kg 7.5 Kg 9 Kg 10.5 Kg 0.50 √ 0.75 √ 1.00 1.25 √ 1.50 √ 1.75 √ 2.00 Sumber: SOP Pemupukan Tambusai Estate 2011 12 Kg √ √ Tabel 9. Rekomendasi dosis pupuk berdasarkan jumlah untilan Dosis Pupuk (kg/pohon) Jumlah Pohon (kg/ until) 6 (Kg) 9 (Kg) 0.50 3.0 0.75 4.5 1.00 6.0 1.25 7.5 1.50 9.0 1.75 10.5 2.00 12.0 Sumber: SOP Pemupukan Tambusai Estate 2011 12 (Kg) 6 9 12 Pada (Tabel 9) rekomendasi pupuk berdasarkan jumlah untilan dengan tujuan memudahkan perhitungan pemupuk dalam menguntil berdasarkan jumlah rekomendasi pohon yang dipupuk setiap satu untilan. Apabila dosis pupuk 0.5 kg/pohon dan rekomendasi 1 untilan untuk 6 pohon, maka di dalam 1 untilan atau 1 ember terdapat 3 kg pupuk dengan dosis 0.5 kg/pohon untuk ditaburkan ke 6 pohon. Pupuk yang telah diuntil dilangsir dengan truk untuk diecer ke tepi jalan 38   39   blok sesuai “supply point” yang ditentukan. Pada blok dengan parit disebelahnya, pupuk diecer di bawah pohon. Rekomendasi penentuan “supply point” yang di tetapkan oleh Tambusai Estate dapat dilihat pada Tabel 10 dan Gambar 13. Tabel 10. Rekomendasi supply point Dosis Pupuk (Kg/ Pohon) 0.50 0.75 1.00 1.25 1.50 1.75 2.00 Jmlh Untilan Juml per ah Kg/ Jumlah Pasar 2 3 Until Untilan / Pasar Pasar Blok Pikul Pikul 3,960 1,980 6.0 330 60 11 3,960 2,970 9.0 330 60 11 3,960 3,960 12.0 330 60 11 3,960 4,950 7.5 330 60 22 3,960 5,940 9.0 330 60 33 3,960 6,930 10.5 330 60 33 3,960 7,920 12.0 330 60 33 Sumber: SOP Pemupukan Tambusai Estate 2011 Kebutuh Jmlh an Pupuk Pohon (Kg) Pohon ke- Per until 12 12 12 6 6 6 6 Gambar 13. Pola distribusi pupuk menurut Hidayat (2012) Supply point ini dibuat agar mudah dalam kegiatan pelangsiran dan pengeceran pupuk, sesuai dengan SOP pemupukan yang telah ditetapkan suatu perusahaan. SOP pemupukan antara lain: 1). Areal yang akan di pupuk, 2). Dosis kg/pohon, 3). Tonase, 4). Jumlah untilan, 5). Peletakan untilan dalam pasar harus tepat, 6). Penabur mengambil pupuk yang sudah dilangsir, dan 7). Pupuk menabur ke dalam piringan dengan jarak 1.5 m dari pohon sawit. Penabur mengambil pupuk dari pelangsir dan menaburkannya, 1.5 kg/pohon untuk pupuk MOP setiap 1 pohon 1 untilan di gunakan untuk 6 pohon 39   40   tidak lebih ataupun kurang sesuai rekomendasi perusahaan. Perusahaan menetapkan 1 until untuk 6 pohon dengan alasan yaitu: memudahkan penabur membawa pupuk, sesuai takaran ember 12 liter, dan pekerjaannya menjadi efektif. Tenaga pelangsir pupuk bertugas melayani tenaga tabur di pasar pikul dengan meletakan untilan pupuk pada pasar pikul kedua pohon yang sudah ditentukan sesuai dosis kg/pohon. Untilan tersebut diletakan di pohon ke 7 karena 1 until biasanya dihabiskan untuk 6 pohon sesuai ketetapan. Cara mengetahui berapa kebutuhan until dalam 1 pasar L23 dengan luasan 29.53 ha, jumlah pohon 3,897.96 pohon, dosis/pohon 1.5 kg/pohon dan jumlah untilan 650 untilan dengan tonase 5,850 kg adalah 650/59 pasar = 11 until/pasar sebanyak 59 pasar di dapat dari pembagian luasan dan 2 pasar (1 ha), sedangkan tenaga penabur pupuk bertugas mengambil pupuk yang sudah dilangsir di pohon yang akan di tabur. Selanjutnya, tenaga tabur menabur pupuk di dalam piringan secara merata dan tipis agar tidak terjadi gumpalan dan memudahkan proses peresapan ke dalam tanah. Penaburan di mulai dari tepi blok dari selatan menuju utara blok dan harus tembus dalam 1 hari, 1 pohon di tabur di tiga titik dan 3 mangkok dimana 1 mangkok memuat 500 g pupuk jika dosis per pohon 1.5 kg/pohon. Takaran pemupuk ini disesuaikan dengan dosis pupuk dan seragam untuk setiap pemupuk. Pohon di dalam satu blok di pupuk semua, tetapi pohon paling pinggir dekat parit tidak di pupuk keliling pohon tetapi hanya berbentuk huruf “U”. Piringan yang mengarah ke parit ini tidak dipupuk karena apabila dipupuk akan mencemarkan parit oleh limbah dari pemupukan. SOP ini dibuat karena Tambusai Estate telah menerapkan system ISO 14001:2008 mengenai manajemen lingkungan. Setelah selesai memupuk, goni bekas untilan dikumpulkan, dan digulung dengan rapi per 10 karung dalam satu ikatan kemudian di bawa ke afdeling gudang VIII. Karung goni dicuci di tempat pencucian karung dan pemupuk mencuci badan di tempat pencucian yang telah disediakan. Jenis Pupuk Kegiatan pemupukan selain harus tepat cara, pupuk yang diaplikasikan di lapangan harus tepat jenis. Pupuk yang biasa diaplikasikan di perkebunan kelapa sawit yaitu pupuk organik dan pupuk non organik. Pupuk anorganik yang 40   41   digunakan adalah pupuk makro dan pupuk mikro. Tanaman kelapa sawit yang ada di Tambusai Estate adalah tanaman menghasilkan. Pupuk mikro yang digunakan di Tambusai Estate adalah pupuk FeSO4 dan Borate. Pupuk makro yang digunakan adalah pupuk Urea, MOP, KCl, Rock phospat, dan Kieserit. Pupuk organik yang digunakan adalah pupuk yang berasal dari janjang kosong yang telah di pres disebut janjang pres (jampres) dan limbah hasil pengolahan kelapa sawit (Effluent). Limbah pengolahan kelapa sawit dikembalikan ke tanaman selain untuk memberikan hara ke tanaman juga untuk menjaga lingkungan agar tidak tercemar. Aplikasi janjang press di lapangan berguna untuk menambah bahan organik bagi tanah. Hal tersebut akan meningkatkan penyerapan air oleh tanah, memperbaiki struktur tanah, dan memacu pertumbuhan akar. Janjang kosong diangkut dari pabrik menggunakan dump truck pengangkut TBS pada pagi hari dan diletakan di collection road afdeling VII oleh mobil kebun yang mengangkut janjang press. Aplikasi janjang press ini menggunakan sistem borong surat perintah kerja lapang (SPKL), janjang press dilangsir dari PKS dan di tumpuk di tepi jalan kemudian dilangsir ke dalam blok dan diaplikasikan dari utara ke selatan. Janjang press ini disusun dengan rapi membentuk empat persegi berbentuk petak dengan ukuran 2.1 m x 2.5 m setara dengan 9 janjangan x 10 dan peletakannya tidak dibenarkan lebih dari satu lapis. Pupuk organik selain janjang press adalah effluent (land application). Effluent merupakan limbah cair dari pengolahan kelapa sawit di pabrik yang berasal dari sludge. Effluent di pabrik berasal dari air condesat rebusan dari mesin decanter yang berbentuk heavy phase. Effluent dari kolam pengolahan limbah dialirkan ke kebun menggunakan pipa. Pipa induk dari PKS ke blok berukuran 8 inci, 6 inci pipa yang masuk ke dalam blok, dan pipa ke flat bad berukuran 4 inci. Blok tempat pengaplikasian effluent terdapat flatbad yang berukuran panjang 280 m, lebar 1.5 m dan kedalaman 0.8 m. Dalam 1 blok terdiri dari 60 “long bad” dan volume “long bad” = 336 m3/long bad. Satu blok terdiri dari 60 “long bad” dan tiap 1 jam rata-rata mengeluarkan 65 m2. Satu hari mengeluarkan 650 sampai dengan 715 m3 limbah cair/4 “long bad”. PKS memiliki kolam penampungan Effluent 1 dan 2, yang mana kolam 1 dibagi ke kolam 3,4,5,6 dan kolam 2 ke 41   42   7,8,9,10 kemudian setelah itu baru siap diaplikasikan ke lapangan. Tambusai Estate memiliki 6 blok land application (LA) yaitu: M17, M18, L17, L18, L19 dan L20, pembukaan keran dimulai pukul 07.00 - 17.00 wib. Infus Akar Menggunakan FeSO4 Infus akar merupakan pemberian pupuk anorganik ke pohon yang mengalami defisiensi Fe, melalui penyerapan cairan pada akar yang tidak bercabang atau akar utama. Aplikasi FeSO4 dilakukan melalui pemberian infus ke dalam akar dan melalui penaburan menggunakan pupuk chelat. Dosis chelat yang digunakan yaitu 150 g/pohon dan dosis iron 15 g/titik. Pencampuran pengimpusan FeSO4 yaitu 300 g iron dalam bentuk kristal dan 20 g asam sitrat ditambah air hingga mencapai 1 liter. Satu pohon ada 3 titik sehingga ada 45 g/3 titik/pohon. Jumlah tenaga untuk pengimpusan ada 4 HK, 2 orang sebagai pembuat lubang tanam dan pengimpusan, 1 orang sensus pohon, dan 1 orang sebagai penabur chelat. Tenaga kerja pengimpusan di Tambusai Estate menggunakan sistem borongan (SPKL). Aplikasi Fe dengan infus dilakukan dengan cara mencari akar primer aktif, kemudian dipotong dengan panjang akar sesuai dengan panjang plastik untuk media Fe. Selanjutnya, ditutup dengan rumputan atau daun kering jangan ditimbun dengan tanah karena akan menyulitkan pengecekan kembali setelah 2 minggu aplikasi. Jumlah infus yang diberikan ke pohon yang terserang, tergantung pada tingkatan kerusakannya melalui sensus pohon Fe. Sensus pohon yang terserang defisiensi ini dilakukan untuk mendata jumlah pohon kelapa sawit yang mengalami defisiensi Fe. Pohon yang terserang diberi tanda dengan cara menggunakan cat merah yang dituliskan di pohon yang terdiri dari tanggal aplikasi dan tingkat terserang Fe. Hasil sensus defisiensi Fe digolongkan menjadi tiga tingkat golongan (Gambar 14) yaitu: 1. Ringan : Ditandai dengan daun tombak / pucuk menguning 2. Sedang : Ditandai dari daun tombak hingga daun ke-9 menguning 3. Berat : Ditandai dari daun tombak hingga daun ke-17 atau daun ke-25 menguning. 42   43   Untuk pemulihan kembali akibat defisiensi Fe, aplikasi dilakukan dengan rincian: 1. Ringan : Infus akar dosis 60 cc/600 ml air/1 titik ditambah penaburan pupuk Fe-Chelate 150 g/pohon. 2. Sedang : Infus akar dosis 60 cc/600 ml air/2 titik ditambah penaburan pupuk Fe-Chelate 150 g/pohon. 3. Berat : Infus akar dosis 60 cc/600ml/3 titik ditambah penaburan pupuk Fe-Chelate 150 g/pohon. Kenyataannya, di Afdeling VIII ketiga kategori akibat defisiensi Fe di infus pada 3 titik. Penginfusan 3 titik digunakan untuk meminimalisir kesalahan pada saat sensus. Apabila terlalu banyak cahaya yang masuk, daun yang berwarna hijau terang bisa terlihat seperti hijau gelap jika dilihat dari bawah pohon. Hal ini dapat mengakibatkan kesalahan dalam penentuan defisiensi Fe. Kesalahan penentuan defisiensi Fe dapat berakibat kurangnya dosis yang diberikan, sehingga tiap pohon yang terserang defisiensi Fe baik kategori sedang, ringan atau berat diberikan dosis maksimal. Rotasi pengimpusan dilakukan 1 x 2 bulan, bila pohon yang terserang berat defisiensi hara Fe. Apabila tidak segera diaplikasikan, selang 3 bulan kemudian tanaman akan mengalami patah pada pelepah pucuk pohon (Gambar 14). Kegiatan pengimpusan dapat dilihat pada Gambar 15. (a) (b) (c) Gambar 14. Kondisi tanaman kekurangan Fe: a). Tingkat defisiensi Fe rendah, b). Tingkat defisiensi sedang, dan c). Tingkat defisiensi berat. Panah merupakan tanda-tanda untuk menunjukkan kekurangan Fe 43   44   Gambar 15. (a) (b) (c) (d) (e) (f) Kegiatan pengimpusan kelapa sawit: a. Alat mencampurkan pupuk, b). Chelat yang ditaburkan di piringan, c). Kegiatan mencari akar aktif dengan menggunakan dodos, d). Akar aktif, e). Pengisian FeSO4 ke dalam plastik pembungkus akar, dan f). Penimbunan dengan serasah Dosis Pupuk Dosis pupuk yang diberikan pada tanaman tergantung kebutuhan hara yang dibutuhkan oleh tanaman itu sendiri. Dalam menentukan jumlah hara yang dibutuhkan tanaman dapat dilakukan dengan analisis tanah atau analisis daun. 44   45   Semakin tua umur tanaman maka semakin besar jumlah hara yang dibutuhkan tanaman, sehingga semakin besar pula dosis pupuk yang diberikan. Dosis pupuk yang diaplikasikan di Afdeling VIII di Tambusai Estate adalah 2 kg urea/pohon, 1.5 kg KCl, 1.25 kg RPH, dan 1.5 kg MOP. Dosis ini di aplikasikan ke semua blok kecuali di blok L17 - L22, hal ini disebabkan blok L17 - L22 telah diberikan pupuk organik berupa limbah cair dari pengolahan kelapa sawit. Dosis yang diaplikasikan di blok L17 - L22 adalah 750 m3 untuk 3 x rotasi. Lahan yang diaplikasi dengan limbah dapat mengurangi dosis pupuk anorganik pada tanaman kelapa sawit karena di dalam limbah cair hasil pengolahan kelapa sawit ini terkandung unsur-unsur yang juga terdapat pada pupuk anorganik. Unsur-unsur hara yang terdapat di janjang ini dapat dilihat pada Tabel 11. Tabel 11. Persentase kandungan hara janjang kosong tiap ton Hara utama Rata-rata N 0.37 P 0.04 K 0.97 Mg 0.08 Sumber: Pahan,2006 Pohon/ ton jjk 8 Kg Urea 2.9 Kg RP 18.3 Kg MOP 5.6 Kg Kieserite Persentase hara utama N = P2O5 = K2 O = MgO = 46.0% 29.7% 60.0% 27.0% Dosis aplikasi janjang pres adalah 30 ton/ha/tahun sedangkan dosis yang diaplikasikan ke lahan adalah 227 kg per titik. Jika 1 ha = 132 pohon. Satu angkong berisi lebih kurang 75 kg, jadi untuk satu titik diberikan tiga angkong. Pupuk diberikan di gawangan diantara dua pohon. Cara Pemupukan Waktu pemupukan menentukan keefektivan penyerapan hara pada tanaman. Menurut Pahan (2008) waktu dan frekuensi pemupukan ditentukan oleh iklim (terutama curah hujan), sifat fisik tanah, logistik (pengadaan) pupuk, umur serta adanya sifat sinergis dan antagonis antar unsur hara. Curah hujan bulanan yang baik untuk pemupukan adalah 100 - 200 mm. Penentuan frekuensi dan pengaturan pemupukan sangat penting karena berkaitan dengan sifat sinergis dan 45   46   antagonis dari hara yang terkandung. Secara umum, sifat sinergis unsur hara antara N dan K, sedangkan sifat antagonis antar unsur hara yaitu, N - P, N - Mg, dan K - Mg (Pahan, 2008). Hal ini menyebabkan rotasi pemupukan harus diperhatikan agar tanaman dapat memperoleh hara optimal. Jarak waktu aplikasi pupuk Kiserit ke MOP di Tambusai Estate diberi selang 3 minggu, MOP ke RPH diberi selang 2 minggu, dan Urea ke RPH diberi selang 3 minggu. Urea dan MOP diaplikasikan dua kali dalam setahun, sedangkan Kieserit dan RPH diaplikasikan satu tahun sekali. Pupuk organik janjang press rotasinya 1 x setahun sedangkan effluent 3 x setahun. Pemupukan di Tambusai Estate dilakukan dengan cara manual dan teknis, tetapi yang paling banyak digunakan adalah dengan cara manual. Pupuk yang sudah diuntil dilangsir tepat pada titik-titik penempatan pupuk atau disebut supply point. Dari supply point pupuk dilangsir ke dalam satu until setiap 6 pohon dengan menggunakan angkong. Penebar pupuk memupuk dengan cara menuangkan pupuk yang sudah diuntil ke dalam ember yang digendong. Pupuk ditabur sekeliling pohon dengan jarak 1.5 - 2 m dari pohon. Pohon yang terdapat di pinggir parit tidak sekelilingnya dipupuk agar pupuk tidak jatuh ke parit sehingga dapat mencemarkan lingkungan. Standar ini diterapkan karena Tambusai Estate telah menerapkan ISO 9001 : 2005 yaitu tentang manajemen mutu dan ISO 14001 : 2008 tentang lingkungan. Alat yang digunakan untuk pemupukan yaitu, ember, angkong, karung goni, dan mangkok takaran pupuk, selain itu juga APD yang wajib dikenakan pelangsir adalah sepatu APD dan sarung tangan sedangkan untuk penabur ditambah masker dan kacamata. Pemupukan dengan cara mekanis hanya dilakukan pada afdeling II dengan menggunakan “sprader”. Cara pemupukan dengan “sprader” yaitu: pupuk di masukan ke dalam corong tempat penampungan pupuk, kemudian mesin dihidupkan, selanjutnya pupuk akan keluar dari bawah dan menyemprotkan ke kanan dan kiri pohon. “Sprader” dijalankan oleh operator sedangkan pupuk dimasukan ke dalam tempat “sprader” oleh dua orang pemuat pupuk. 46   47   Tenaga dan Upah Memupuk Pemupukan di Tambusai Estate menggunakan sistem borongan. Tenaga kerja yang digunakan tergantung tonase pupuk yang diaplikasikan. Jika pupuk yang diaplikasikan kurang dari 5 ton, tenaga yang dibutuhkan adalah 6 orang, 2 orang pelangsir dan 4 orang penebar. Apabila pupuk yang diaplikasikan lebih dari 5 ton, tenaga yang digunakan adalah 9 orang, yaitu 3 pelangsir dan 6 penebar. Selain itu, tenaga pemupuk ini dibawahi oleh ketua borongan yang mana ketua borongan dibawahi oleh mandor pupuk. Mandor pupuk merupakan karyawan bulanan tetap (KBT). Tenaga pemupuk ini juga bekerja sebagai penguntil dan pemuat pupuk sekaligus. Upah penguntil pupuk sebesar Rp 17 /kg, sedangkan upah tenaga pemupuk tergantung dosis yang diaplikasikan per pohon. Dosis 0 - 1.49 kg upah yang diberikan kepada tenaga pemupuk sebesar Rp 12,000 /ha, sedangkan untuk dosis lebih dari 1.49 kg upahnya Rp 15,000 /ha. Tenaga kerja pemupuk tidak mendapatkan premi dikarenakan pekerja merupakan pekerja borongan. Upah diserahkan kepada kepala rombongan, upah yang diberikan kepada tenaga pemupuk tergantung pada kepala rombongan. Berdasarkan hasil wawancara dengan pemupuk di Afdeling VIII, pemupuk memperoleh harga Rp 10,500/ha dari Rp 12,000, dan Rp 13,500 dari Rp 15,000 karena 12.5%/ha diambil oleh ketua rombongan. Pemupukan ada secara manual dan mekanis, untuk perhitungan secara manual pada blok L23 dengan luas 29.53 ha dengan dosis 1.5 kg/pohon dan jumlah pupuk 5,846 kg, jumlah pohon 3,898 pohon tahun tanam 1997. Total biaya per-ha pemupukan blok L23 secara manual yaitu, (1) Upah pemupukan : Rp 15,000 (dosis lebih besar 1.49) x 29.53 ha : Rp 442,950 (2) Upah until : Rp 17/ kg x 5,846 kg : Rp 99,382 (3) Muat bongkar : Rp 7 x 5,846 kg : Rp 40,922 (4) Premi mandor : Rp 8 x 5,846 kg 47   48   : Rp 46,768 (5) Harga pupuk : Rp 3,050 x 5 846 kg : Rp 17,830 300 Total biaya per-ha, dengan harga pupuk adalah: :442,950 + 99,382 + 40,992 + 46,768 + 17,830,300 = Rp 625,140.26/ha 29.53 Total biaya per ha, tanpa harga pupuk adalah: : 442,950 + 99,382 + 40,992 + 46,768 = Rp 21,337.35/ha 29.53 Total biaya per-ha pemupukan mekanis diasumsikan menggunakan sprader dengan kapasitas deck fertilizer = 400 kg. (1) Upah pemupukan : a). Pemuat Rp. 20/ kg Biaya : 5,846 kg x Rp.20 : Rp 116,920 b). Operator Rp. 4/ kg Biaya : 5,846 kg x Rp. 4 : Rp 23,384 (2) Harga pupuk : 5,846 kg x Rp 3,050 : Rp 17,830,300 (3) Premi mandor : Rp 8 x 5,846 kg : Rp 46,768 (4) Muat bongkar : Rp 2 x 5,846 kg : Rp 11,692 (untuk supir) (5) Alokasi spreader : 1 JKT (jam kerja traktor) x Rp 77,000 Jika hari ini 3 jam kerja : 3 Jkt x Rp 77,000 : Rp 231,000 Total biaya per-ha dengan harga pupuk adalah: : 116,920 + 23,384 + 17,830,300 + 46,768 + 11,692 + 231,000 29.53 : Rp 618,356.38/ Ha Total biaya per-ha tanpa harga pupuk adalah: : 116,920 + 23,384 + 46,768 + 11,692 + 231,000 29.53 : Rp 14,553.47 48   49   Pemupukan dengan “spreader” kecepatannya dipertahankan stabil 25 km/jam agar tidak terjadi penumpukan pupuk. Operator terampil menguasai lapangan begitu juga pemuat harus terlatih. Tetapi, tidak semua hancak dan jenis pupuk dapat diaplikasikan dengan alat “sprader” ini. Pupuk yang tidak dapat diaplikasikan dengan sprader yaitu pupuk RPH (Rock Phosphate) karena butiran terlalu halus. Hancak yang tidak dapat diaplikasikan RPH adalah hancak yang memiliki kemiringan > 45º. Perhitungan pemupukan organik berupa janjang press per-ha aplikasi dengan mengacu harga pupuk anorganik pada bulan Maret 2011 (Tabel 12). Tabel 12. Harga pupuk, Maret 2011 Jenis Harga Pupuk Urea : Rp 3,747.90 / Kg Pupuk Mg : Rp 2,425.76 / Kg Pupuk P : Rp 1,087/Kg Pupuk Kalium : Rp 3,597.43/Kg Sumber: SE Tambusai Estate, 2011 Tenaga kerja yang digunakan untuk memupuk pohon dengan jampres yaitu 40 Hk, komponen biaya tangkos atau jampres sebagai berikut; (a) Premi mandor tankos : Rp 8,000/ha (b) Upah pemupukan tankos : Rp 450,000/ha (c) Urea : 1 ton janjang kosong (JJK) terdapat 8 kg urea Dosis : 30 ton JJK/ha Urea : 30 ton JJK /ha x 8 kg Urea : 240 kg Urea Biaya urea : Kandungan urea dalam 30 ton JJK x harga pupuk Urea : 240 kg x Rp 3,747.90 : Rp 899,496 (c) Kalium : 1 ton JJK terdapat 18.3 kg Kalium 49   50   Dosis : 30 ton JJK/ha Kalium : 30 ton JJK/ha x 18.3 Kalium : 549 kg Kalium Biaya Kalium : Kandungan Kalium dalam 30 ton JJK x harga Kalium : 549 kg x Rp 3,597.43 : Rp 1,974,989.07 (d) Phospor : 1 ton JJK, terdapat 2.9 kg P Dosis : 30 ton JJK/ha Phospor : 30 ton JJK/ ha x 2.9 kg P Biaya phosphor : Kandungan phosphor dalam 30 ton JJK x harga Phospor : 87 kg x Rp 1,087 : Rp 94,569 (e) Magnesium : 1 ton JJK, terdapat 5.6 kg Mg Dosis : 30 ton JJK / ha Magnesium : 30 ton JJK/ha x 5.6 kg Mg : 168 kg Mg Biaya Mg : Kandungan Mg dalam 30 ton JJK x harga Mg : 168 kg x Rp 2,425.76 : Rp 407,527.6 Jadi, biaya pemupukan tankos per-hektar: = Harga urea + Harga Kalium + Harga P + Harga Mg + Premi Mandor + Upah pemupukan tangkos = Rp 899,496 + Rp 1,974.98 + Rp 94,569 + Rp 407,527.68 + Rp 8,000 + Rp 450,000 = Rp 3,834 581.78 /ha 50   51   Panen Panen adalah kegiatan yang meliputi persiapan panen, peralatan panen, rotasi panen, organisasi potong buah, administrasi potong buah, kriteria matang, kualitas buah, sistem basis (siap borong), dan premi serta sanksi dan denda pemanen. Dalam pemanenan, pekerjaan pemotong buah merupakan pekerjaan yang penting untuk diperiksa, karena bagus atau tidaknya rendemen CPO (Crude Palm Oil) dan PKO (Palm Kernel Oil) bergantung dengan standar pemanenan yaitu kriteria matang panen. Jika tidak sesuai standar, buah mentah dan janjang kosong dapat masuk ke dalam pengolahan dan menurunkan rendemen. Persiapan Panen Persiapan panen dimulai dari kegiatan apel pagi (check roll) pada pukul 5.30 pagi - 6.00 pagi. “Check roll” ini dilakukan di collection road tempat hancak yang akan di panen, saat “check roll” pemanen diwajibkan memakai APD langsung, “check roll” ini dipimpin oleh seorang FA (Field Assisten) dan 2 Mandor panen (Gambar 16a). (a) (b) Gambar 16. Tim panen yang sedang melakukan persiapan di Tambusai Estate: a). Check roll dipimpin oleh asisten, dan b). Pembagian hanca panen oleh mandor panen FA bertugas memberikan pengarahan-pengarahan mengenai peraturanperaturan selama memanen dan juga denda apabila tidak memakai APD. Mandor panen bertugas membagi hanca panen yang akan dipanen dan juga mengingatkan 51   52   pemanen mengenai peraturan-perturan yang telah di dijelaskan oleh FA (Field Assisten) (Gambar 16 b). Sehari sebelum apel pagi, mandor panen harus membagi seksi panen dan menyiapkan kebutuhan pemanen untuk panen selanjutnya. Sebelum mendapatkan kebutuhan pemanen dan kebutuhan dump truck, mandor harus mengecek angka kerapatan panen blok yang akan di panen hari berikutnya. Angka kerapatan panen (AKP) adalah angka yang menunjukan buah matang panen dihitung 1 hari sebelum pelaksanaan panen. AKP (Angka Kerapatan Panen) maksimal diambil 10% dari luasan dan minimal 3% dari luasan. Sehingga, AKP untuk kaveld E 5 blok dengan luasan 143.45 adalah 14 ha/5 pasar per blok atau minimal 4.3 ha/2 pasar per blok. Kemudian, untuk mencari BJR (Berat Janjang Rata-rata) per hari menggunakan rumus = kg PKS/ jumlah janjang panen yang diterima. Biasanya mandor menggunakan BJR (Berat Janjang Ratarata) afdeling yaitu 21. AKP yang di dapat digunakan untuk mencari taksasi, kebutuhan pemanen dan kebutuhan dump truck. Rumus mencari taksasi untuk hari berikutnya yaitu, luas x jumlah pohon/ha x BJR/AKP atau taksasi hari ini : Taksasi atau kg yang telah ditetapkan (mengikuti sensus buah). Taksasi produksi ini dilakukan agar pemakaian tenaga kerja efektif dengan hasil panen yang didapatkan. Perhitungan output panen menggunakan pembagian jumlah kg TBS : jumlah HK dan persen efisiensi yaitu jumlah kg dibagi taksasi kg, sedangkan rumus untuk mencari HK pemanen yaitu: Kebutuhan Pemanen: Luas x Jumlah pohon/ha x BJR : Kapasitas Pemanen AKP (Angka Kerapatan Panen) Contoh perhitungan kaveld E (O18, O 19, O22, O23, dan P18) dengan luas panen 143.45 Ha, BJR 21 dan AKP 1:7 sehingga kebutuhan tenaga panen yang diperlukan untuk memanen kavel E adalah: 143.45 Ha x 132 pohon/ha x 21 : 3,000 = 18.9 HK 7 Kebutuhan dump truck untuk mengangkut buah kaveld E adalah: Kebutuhan dump truck :Tandan yang dipanen/ luasan panen:Kemampuan afdeling Bobot buah yang dapat diangkut dump truck 52   53   Pada kaveld E afdeling VIII pada tanggal 16 maret 2011, luasan panennya 143.45 Ha, tandan yang dihasilkan sebanyak 56,806.22 tandan, bobot buah yang diangkut dump truck 5.5 ton satu kali pengangkutan (trip), dan kemampuan ratarata pengangkutan TBS ke pabrik sebanyak 8 trip/unit. Sehingga kebutuhan dump truck afdeling VIII pada tanggal 16 maret 2011 : 56,806.22 / 5,500 kg/trip = 10.32 Trip/8 trip = 1 dump truck. Potong Buah Potong buah adalah aktivitas memotong buah oleh karyawan sampai buah diletakkan di TPH (Gambar 17 b). Pemanen memeriksa buah sebelum dipanen dan memastikan bahwa buah tersebut sudah matang, karena apabila buah kurang matang masuk ke dalam pabrik akan mengurangi nilai rendemen. Buah matang yang akan dipanen memiliki kriteria 40 brondolan di piringan atau 2 butir/kg dengan BJR Tambusai Estate 20 baik yang berwarna merah tua, orange ataupun kuning tergantung varietas. Setelah dipanen brondolan dihitung 1:4 dari tandan yang dipanen atau 8% x 20 = 160 butir brondolan setelah panen/ tandan Kriteria buah berdasarkan brondolan di Tambusai Estate ditampilkan pada Tabel 13. Tabel 13. Kriteria buah matang berdasarkan brondolan Golongan Kriteria Warna Mentah ungu kehitaman Kurang matang orange kemerah-merahan Matang orange kemerah-merahan Terlalu matang merah gelap Berondolan tidak memiliki berondolan < 2 berondolan/kg TBS 2 berondolan/kg TBS 50 % berondolan lepas > 10 berodolan masih lekat pada tandan Janjang kosong > 90 % berondolan lepas Sumber: Surat Edaran Tambusai Estate 2011 Standar panjang tangkai buah saat dipanen adalah 2 cm dari pangkal buah, jika pemanen melanggar akan dikenakan denda. Pemakaian alat perlindung diri (APD) wajib dipakai pemanen saat memanen buah yaitu sepatu AP, sarung egrek, kacamata dan sarung tangan (Gambar 17 a dan c). Hal tersebut dikarenakan pohon 53   54   sudah tinggi (TM 15 tahun tanam 1997) yang berisiko tinggi bagi pemanen. Denda pemanen dapat dilihat di Tabel 14. Tabel 14. Daftar perhitungan denda pemanen, mandor panen, dan kerani panen No . 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Kriteria Pemanen Rp/TBS 500/ TBS Mandor panen Rp/TBS 750/TBS TBS matang tidak dipanen TBS matang tidak diangkut 500/TBS 1,000/TBS di TPH TBS mentah terpanen 1,000/TBS 1,000/TBS TBS tangkai panjang 500/TBS 500/TBS Brondolan tidak dikutip 1,500/TBS 1,500/TBS TBS tidak diangkut dari TPH Brondolan tidak diangkut dari TPH Pencatatan data kualitas TBS Brondolan tidak benar Sumber: Surat Edaran Tambusai Estate, 2011 Krani produksi (Rp) 750/TBS 1,500/TBS 1,500/TBS 1,500/TBS 1,500/TBS Apabila pemanen melanggar aturan berkali-kali, yang bersangkutan akan dikenakan SP (surat peringatan) ataupun dikenakan mutasi ke PT atau afdeling lain. Denda pemanen ini dibuat untuk mendisiplinkan karena para tidak memotong tangkai TBS, tidak memotong pelepah menjadi dua dan tidak menaruhnya di gawangan mati. Istilah mencuri buah yaitu memotong TBS tanpa memotong pelepah penyangganya, “helper” tidak memungut brondolan di piringan maupun membenamkan brondolan di dalam tanah sehingga dapat menjadi gulma, juga akan terkena denda (Tabel 14). 54   55   (a) (b) (c) Gambar 17. Cara pemanenan yang benar menggunakan APD dengan baik: a). Pemotongan TBS dengan menggunakan egrek b). Pelangsiran dan penimbunan TBS di TPH, dan c). Pemanenan menggunakan APD. Rotasi Panen Rotasi panen adalah waktu yang diperlukan antara panen terakhir dengan panen berikutnya dalam areal panen atau ancak yang sama. Sistem rotasi di Tambusai Estate adalah 6/7, yaitu terdapat 6 seksi panen dengan interval waktu panen dalam satu seksi 7 hari. Namun pada pelaksanaan di lapangan sering terkendala oleh kondisi medan blok yang sulit khususnya daerah rendahan (Gambar 18d) sehingga rotasi panen 6/7 tidak sepenuhnya dapat dilakukan. Rotasi panen tidak setiap hari 6/7 ada juga yang 5/7, hal ini dilakukan guna mempertahankan agar rotasi panen tidak melewati 7 atau buah yang kelewat matang karena tidak dipanen pada hari minggu (libur). Jumlah seksi buah disusun menjadi 6 seksi yang terdiri 6 Kaveld (A, B, C, D, E dan F), dimana 1 kaveld terdiri dari 5 - 6 blok panen dapat dilihat pada Tabel 15. Seksi panen diatur 55   56   sedemikian rupa sehingga satu seksi selesai dalam satu hari dan mempermudah perpindahan hanca dari satu blok ke blok lain. Tabel 15. Peta kaveld panen afdeling VIII di Tambusai Estate Kaveld Blok A B C D E F Luas M23 166.62 Ha M24 N22 N23 N24 L21 188.46 Ha L22 L23 L24 L25 L17 118.18 Ha L18 L19 L20 M17 147.41 Ha M18 M19 M20 M21 N17 149.85 Ha N18 N19 N20 N21 O18 147.75 Ha O19 O22 O23 P18 Sumber: Afdeling VIII, Tambusai Estate 2008 Pohon 15,368 pohon 15,376 pohon 16,075 pohon 19,687 pohon 19,796 pohon 19,355 pohon Sistem Panen Tambusai Estate menerapkan sistem panen hancak giring tetap yang merupakan sistem hancak panen yang dilakukan dengan pemberian hancak tertentu kepada pemanen setiap hari tetapi perpindahan dari hancak satu ke yang 56   57   lain dilakukan giring. Apabila buah pada hari panen sangat sedikit diterapkan sistem sorong panen yang digunakan untuk menutupi mencapai target 3,000 Kg setiap pemanen. Tambusai Estate menggunakan sistem Division of Labor- 1(DOL). Sistem DOL – 1 merupakan sistem panen dimana di dalam satu kelompok pemanen terdiri dari 1 orang, yaitu pemanen. Pada afdeling VII, terjadi juga sistem family cover yaitu, pemanen ada yang memiliki 1, 2 atau 3 helper. Helper pemanen di bayar oleh pemanen sendiri bukan dari perusahaan tergantung kesepakatan di kedua belah pihak, rata-rata helper mendapatkan Rp 300,000 / bulan. Helper digunakan untuk mengutip brondolan dan mengangkat TBS dari dalam hancak ke TPH, sehingga pekerjaan lebih cepat selesai dan mendapatkan pendapat lebih baik, pemanen sering menggunakan 2 helper. Banyak atau sedikitnya hancak yang diberikan ke pemanen disesuaikan dengan jumlah helper, sehingga posisi pemanen sejajar dan penyelesaian hanca bersamaan. Peralatan Panen Alat - alat kerja potong buah yang digunakan di Tambusai Estate disesuaikan dengan kebutuhan, seperti alat potong buah disesuaikan dengan tinggi tanaman. Alat - alat yang digunakan dalam pemanenan disajikan pada Tabel 16. 57   58   Tabel 16. Deskripsi alat-alat panen Nama Alat Dodos Kegunaan Memotong TBS umur 3-8 tahun Harvesting pole Gagang untuk pisau egrek Pisau egrek Alat untuk memotong TBS Angkong Alat untuk mengangkut TBS dari pohon ke TPH Wadah untuk mengumpulkan brondolan sebelum diangkut ke PKS Alat untuk mengangkat TBS dari pohon ke pasar rintis Alat untuk memotong gagang panjang dari Karung pupuk Gancu Kapak Ember Tojok TBS Alat untuk menampung brondolan sebelum dikumpulkan menjadi satu di dalam karung Untuk memuat TBS dari TPH ke PKS Keterangan Berbentuk tembilang, lebar mata 8-14 cm dan panjang mata 8-12 cm Sepotong besi alumunium dengan panjang 6-12 meter Berbentuk seperti pisau arit dengan panjang pangkal 20 cm, panjangnya 45 cm dan sudut lengkung 135º Kereta sorong beroda satu yang terbuat dari besi bermerek Artco® Wadah untuk mengumpulkan brondolan sebelum diangkut ke PKS Besi beton berdiameter 3/8 inchi dan panjang 0.5 meter Besi beton bermata tembilang dengan diameter dan panjang besi sesuai dengan kebutuhan Umumnya ukuran sedang berwarna hitam 12 liter Pipa galvanis/besi dengan ujung besi beton berbentuk lancip dengan panjang sekitar 1-1.5 meter Sumber: SOP Tambusai Estate 2011 Basis dan Premi Panen Pemanen memperoleh upah berdasarkan prestasi kerjanya. Tambusai Estate menetapkan basis borong berdasarkan bobot panenan. Basis borong adalah jumlah bobot panen yang harus diperoleh setiap hari kerja oleh setiap pemanen. Basis borong dibedakan berdasarkan tahun tanam. Semakin tua tanaman semakin besar basis borongnya, hal ini disebabkan bobot TBS yang semakin berat. Brondolan juga menjadi bagian penting dalam pendapatan pemanen. Setiap kilogram brondolan dihargai Rp 120 kg untuk 10% dari kg TBS selebihnya masuk 58   59   premi terakhir. Hal ini dikarenakan 25% TBS berondolan sebelum panen dan 50% setelah panen. Cara menghitung harga brondolan sampai premi terakhir bila panen menghasilkan 3,000 kg dengan brondolan 400 kg yaitu: (1) Premi = 3,000 – 1,000 (Basis Pemanen) – 400 = 1,600 kg (2) Brondolan = 10% x 3,000 x Rp 120 = 300 x Rp 120 = RP 36,000 (3) Premi panen : Lebih basis 1 = 500 x 25 Lebih basis 2 = 500 x 30 Lebih basis 3 = 600 + sisa brondolan (100) x 35 (4) Premi panen : Rp 12,500 + Rp 15,000 + Rp 4,100 + Rp 36,000 : Rp 67,600 Sehingga pendapatan total pemanen pada saat menghasilkan tandan 3,000 kg dan 400 kg brondolan adalah Rp 67,600. Semakin banyak berondolan dikutip semakin tinggi pendapatan pemanen. Daftar premi panen dapat dilihat pada Tabel 17. Tabel 17. Daftar premi pemanen Jenis Pekerjaan No. 1. 2. Satuan Rp/Satuan 500 Kg 500 Kg > 2,000 Kg Tanpa basis 3,000 kg 2.75 1.2 500 Kg 500 Kg > 2,000 Kg Tanpa basis 3,000 kg 2.75 1.2 TM 7 - TM 11 Lebih basis 1 Lebih Basis 2 Kg/Hari Kg/Hari 22 27 Lebih Basis 3 Kg/Hari 32 Hari Libur Kg/Hari 40 TM 12, dst Lebih basis 1 Lebih basis 2 Kg/Hari Kg/Hari 25 30 Lebih basis 3 Kg/Hari 35 Hari Libur Kg/Hari 40 Sumber: SE, Tambusai Estate 2012 Basis Target Premi minimal Krani / Hari Produksi 59   60   Transportasi TBS Transportasi TBS yang tidak cukup, tidak efisien, terlambat, dan tidak teratur berakibat buah restan di lapangan. Hal ini akan berpengaruh terhadap mutu CPO (FFA akan naik). Disiplin pemanen menjadi rusak karena tidak teraturnya transportasi. Kekacauan transportasi akan menyebabkan buah menjadi diangkut sebelum diperiksa, tidak semua brondolan di TPH terangkut semua, output potong rendah karena rotasi panen terlambat, kemungkinan terjadinya manipulasi atas buah restan dan seksi potong buah menjadi tidak teratur. Transportasi TBS dan brondolan harus sudah terkirim ke PKS < 24 jam untuk menjaga mutu TBS dan brondolan. Oleh karena itu, diperlukan pengaturan transportasi oleh mandor untuk alokasi pembagian tenaga angkut TBS dan brondolan (kenek). Pada daerah rendahan dan banjir di Tambusai Estate transportasi pemanen dilakukan menggunakan rakit. Peralatan yang digunakan untuk transpotasi TBS adalah “tojok” (sejenis tombak) dan gancu di daerah rendahan dan pohon rendah (Gambar 18 d), sedangkan untuk brondolan digunakan garuk dan karung pupuk. Pada saat transportasi buah, kerani chek menggunakan tojok untuk mengecek warna dan kematangan buah. Buah yang kurang matang tidak diangkut ke PKS biasanya di biarkan membrondol di TPH. Pemanen diwajibkan memanen pukul 06.00 pagi dan pada jam 07.00 pagi, buah sudah tersusun rapi di TPH dan siap di kirim ke PKS dengan menggunakan dump truck. Premi supir disesuaikan dengan jarak tempuh, sedangkan premi pemuat basis pertama 1,667 x Rp 3.5, basis kedua 1,667 x Rp 5 dan sisanya dikali Rp 6. Ketika memasuki PKS sopir dumptruck wajib memakai APD seperti helm, hal tersebut dikarenakan Tambusai Estate telah menerapkan SMK3 (sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja). Setelah melewati penimbangan otomatis, buah di bawa ke loader (tempat penerimaan buah sementara). 60   61   (a) (c) (b) (d) Gambar 18. Sistem transportasi TBS di Tambusai Estate: a). Dump truck b). Pengangkutan TBS dari TPH dengan menggunakan “tojok” c). Looder, dan d). Rakit (alternatif transportasi TBS dalam hanca di daerah banjir dan rendahan) Losses pemanen Losses panen merupakan pengecekan brondolan yang tertinggal di dalam hancak. Pencarian losses di dalam satu blok biasanya diperiksa setiap selang 5 pasar dari awal pasar. Dari 5 pasar yang ada di losses, misalnya diperoleh jumlah tandan yang dipanen 20 tandan, brondolan yang tertinggal di ketiak ada 30 butir, pasar pikul ada 20 butir, piringan ada 50 butir dan buah matang tidak di panen ada 1 tandan (Gambar 19 a). Rumus mencari losses yaitu, 20 tandan x 20 kg (BJR) = 400 kg, brondolan tinggal 100 butir / 90 butir per kg = 1.1 kg. Untuk 1 tandan dengan BJR 20 kg = 20 kg beratnya, sehingga 400 kg + 1.1 kg + 20 kg = 421.1 kg sehingga efisiensi = 400 kg/ 421.1 kg x 100% = 94.98 % dan lossesnya 100% - 94.98% = 5.01%. Sedangkan rekomendasi kebun losses maksimal harus 0.16 kg atau 15 butir (15/90 kg = 0.16 kg). 61   62   (a) (b) Gambar 19. Kehilangan panen TBS (losses) yang ditemukan di Tambusai Estate: a). Losses TBS di gawangan mati dan b). Losses TBS di parit collection road Apabila mobil yang masuk sedikit biasanya menggunakan grading 100. Selain tergantung banyaknya mobil yang masuk, jumlah tenaga kerja juga mempengaruhi tingkatan grading tersebut. Grading 50 dilakukan grading setiap 2 mobil/afdeling masuk, sedangkan grading 100 dilakukan setelah 80 ton TBS atau 13 mobil dari 6 afdeling masuk. Grading dilakukan untuk menyeleksi TBS yang akan masuk ke loading ramp sesuai dengan standar mutu perusahaan. Buah kurang matang, mentah dan tandan kosong disisihkan di pinggir pheron sesuai dengan afdeling masingmasing. Apabila hari hujan, banyak sekali mobil yang tidak dapat mengangkut buah sehingga mangakibatkan buah tidak dapat terangkut ke PKS (restan). Tandan buah segar (TBS) yang tidak dapat terangkut akan diangkut pada keesokan harinya tetapi tidak melalui proses grading tetapi langsung di dorong ke loading ramp dengan menggunakan loader. Setiap 1 pintu ramp diisi dengan 3 mobil yang membawa ± 5 ton dalam 1 trip, setiap lori di dalam loading ramp dapat menampung TBS sebanyak 5.5 ton. TBS yang ada di dalam lori dibersihkan dari pasir dan kotoran lainnya dengan cara disiram air dari atas sebelum masuk ke dalam stasiun perebusan. Cara ini dilakukan untuk menjaga mutu dan alat - alat pengolahan. 62   63   Pengolahan Minyak Kelapa Sawit Penimbangan dan Sortasi Pengangkutan TBS dari kebun ke pabrik menggunakan mobil yang dinamakan dump truck dengan muatan tiap dump truck ± 6 ton. Setiap dump truck yang tiba di pabrik harus ditimbang di timbangan otomatis seperti pada Gambar 20 a dan Gambar 20 b. (a) (b) Gambar 20. Proses pemasukan TBS ke pabrik PKS: a). Timbangan otomatis di PKS dan b). Dump truck yang berisi TBS ditimbang Dump truck ditimbang bobotnya saat memuat TBS (brutto) dan ditimbang kembali setelah menurunkan atau membongkar muatan (tarra) di tempat penampungan sementara atau tempat sortasi (pheron) yang mana selisih timbangan berisi dan kosong merupakan berat TBS yang akan diolah. Pabrik kelapa sawit mempunyai dua timbangan otomatis yang mana timbangan sebelah kiri biasanya digunakan untuk menimbang TBS maupun janjang press yang menggunakan dump truck sedangkan sebelah kanan merupakan timbangan CPO yang dimuat menggunakan mobil tangki. Timbangan otomatis dapat menimbang berat maksimal ± 60 ton untuk TBS maupun CPO. Selisih timbangan berisi dan kosong merupakan berat TBS yang akan diolah. Tandan buah segar (TBS) yang telah ditimbang kemudian ditimbun di tempat penampungan sementara TBS (pheron atau stasiun sortasi) sebelum memasuki stasiun loading ramp. Pada pheron, TBS yang ditumpuk sesuai afdeling masing-masing dan digrading sesuai kebutuhan tergantung banyaknya buah yang masuk, ada yang dinamakan grading 50 (grading menggunakan 50 63   64   tandan sebagai sampel) dan ada juga grading 100 (grading keseluruhan tandan). Apabila mobil yang masuk mencapai 30 mobil hanya dilakukan grading 50 sedangkan apabila mobil yang masuk sedikit biasanya menggunakan grading 100. Selain itu tergantung banyaknya mobil yang masuk, jumlah tenaga kerja juga mempengaruhi tingkat grading tersebut. Grading 50 dilakukan setiap 2 mobil/afdeling, sedangkan grading 100 dilakukan setelah 80 ton TBS atau 13 mobil dari 6 afdeling masuk. Grading dilakukan untuk menyeleksi TBS yang akan masuk ke loading ramp sesuai dengan standar mutu perusahaan. Buah kurang matang, mentah dan tandan kosong disisihkan di pinggir pheron sesuai dengan afdeling masingmasing. Apabila hari hujan, mobil banyak yang tidak dapat mengangkut buah sehingga mengakibatkan buah tidak dapat terangkut ke PKS (restan). Tandan buah segar (TBS) yang tidak terangkut akan diangkut pada keesokan harinya langsung dicurahkan ke loading ramp dengan menggunakan loader tanpa melalui proses grading. Setiap 1 pintu ramp diisi dengan 3 mobil yang membawa ± 5 ton dalam 1 trip, setiap lori di dalam loading ramp dapat menampung TBS sebanyak 5.5 ton. TBS yang ada di dalam lori dibersihkan dari pasir dan kotoran lainnya dengan cara disiram air dari atas sebelum masuk ke dalam stasiun perebusan. Cara ini dilakukan untuk menjaga mutu dan pengolahan Perebusan (Sterilisasi) Perebusan merupakan proses pengolahan mekanis terhadap tandan buah sawit. Tandan yang berada di dalam lori (Gambar 22), dipanaskan di ketel (Gambar 21) menggunakan uap jenuh (saturated steam) dengan tekanan 2.8 kg/cm² pada suhu 135º C selama 90 menit hingga tandan tersebut matang. TBS yang telah matang di keluarkan dari perebusan (Gambar 23) yang selanjutnya masuk pada proses pencacahan. 64   65   Gambar 21. TBS di dalam lori dimasukan ke dalam ketel Gambar 22. Ketel tempat merebus TBS Gambar 23. TBS yang telah matang dikeluarkan Lori yang dimasukan ke dalam ketel rebusan (sterilizer) ditarik dengan bantuan loco penarik. Setiap ketel dapat berisi 9 lori, 3 lori sebagai pendorong yang berkapasitas 45 ton TBS, stelah dimasukan pintu ketel ditutup rapat. Perebusan ini memiliki 3 puncak tahapan (triple peak) artinya, tiga kali menaikkan tekanan dan dua kali membuang kondensat selama proses perebusan berlangsung. Pada puncak pertama dilakukan selama 20 menit dengan tekanan 0 - 23 psi, puncak kedua dilakukan selama 30 menit dengan tekanan 30 - 33 psi dan puncak terakhir dilakukan selama 40 menit dengan tekanan 40 - 43 psi. Keuntungan menggunakan sistem tiga puncak ini di antaranya persentase buah 65   66   membrondol lebih kecil, kehilangan minyak dalam ampas kecil, dan proses klarifikasi minyak lebih baik. Pengaturan waktu 20, 30, 40 menit dapat dilihat pada mesin kontrol CVM sterilizer (Gambar 24 a) yang dapat dilihat di dalam jam simulasi yang terbuat dari kertas seperti Gambar 24 b. (a) (b) Gambar 24. Alat yang digunakan dalam proses perebusan: a). CVM (alat control sterilisasi b). Pencatat waktu perebusan Masaknya buah biasanya ditentukan oleh stasiun boiler karena steam untuk perebusan diatur oleh stasiun boiler. Apabila dari pheron banyak buah yang membrondol dari tandan, tekanan akan dikurangi sedangkan jika buah banyak yang mentah sedikit membrondol, maka tekanan ditambah agar buah tidak terlalu matang. Tujuan dari sterilisasi atau perebusan TBS adalah untuk mematikan enzim yang merupakan katalisator dalam reaksi penguraian minyak menjadi asam lemak bebas dan gliserol, melunakan daging buah untuk mempermudah pengadukan, memudahkan buah lepas dari tandan saat proses pencacahan, dan merenggangkan inti sawit dari cangkangnya untuk memudahkan pemecahan biji di cracker. Suhu dan lamanya perebusan tergantung pada mutu tandan yang akan diolah. Jika TBS relatif matang, waktu perebusan akan menjadi lebih singkat. Sebaliknya, jika TBS relatif mentah, waktu perebusan akan lebih lama bila berlangsung pada suhu yang sama. Setelah melalui tahap perebusan, lori membawa TBS yang telah matang ke dalam pusingan (clipper). Di dalam clipper setiap lori membutuhkan waktu 6 - 7 menit setelah itu melalui bunch conveyor menuju stasiun pemipilan (stripper). 66   67   Pemipilan dan Pencacahan (stripper dan threshing) Pemipilan tandan bertujuan untuk memisahkan buah dari janjangan. Buah dirontokkan di dalam drum silinder yang dilengkapi batang logam yang berputar dengan kecepatan 2 rpm dengan kapasitas thresher 15 ton satu kali putaran. Mesin threser yang digunakan ada 4 buah untuk mengefisienkan waktu, mesin threser yang digunakan dapat dilihat pada Gambar 25. Gambar 25. Mesin pencacahan dan pemipilan (thresher) Mekanisme pengangkutan TBS dari perebusan ke stasiun pemipilan yaitu, TBS berikut lori yang telah direbus dikirim ke alat pemipilan (thresher) dengan bantuan hosting crane atau transfer carriage. Proses pemipilan terjadi akibat tromol berputar pada sumbu mendatar yang membawa TBS ikut berputar sehingga membanting-banting TBS tersebut dan brondolan lepas dari tandannya. Pada bagian dalam dari pemipil, dipasang batang-batang kisi - kisi yang memungkinkan brondolan keluar dari pemipil. Brondolan yang keluar dari bagian bawah pemipil dan ditampung oleh screw conveyor dikirim ke bagian conveyor dan elevator yang akan dibawa ke digester feed conveyor. Sementara, tandan (janjang) kosong yang keluar dari bagian pemipil ditampung oleh elevator dan dikirim ke hopper untuk dijadikan pupuk janjang kosong dan apabila berlebih akan diteruskan ke incinerator untuk dibakar dan dijadikan pupuk janjang dan mulching (serasah atau bahan organik penutup piringan tanaman). Saat proses pemipilan sering ditemukan adanya buah yang masih melekat pada tandan kosong. Hal tersebut dapat disebabkan karena buah tidak normal sehingga yang sukar membrondol, waktu perebusan terlalu singkat, atau adanya buah mentah. 67   68   Pengadukan (digesting) Buah yang telah membrondol dari mesin pemipil (thresher) kemudian dimasukkan ke dalam mesin pengaduk atau pencacahan (digester). Kapasitas dari mesin pencacahan adalah 15 ton dengan putaran pengaduk 23 rpm, selama 12 - 15 menit pada suhu 95ºC. Alat digester berupa sebuah tangki vertikal yang dilengkapi dengan lengan pencacah pada bagian dalamnya. Lengan pencacah ini diputar oleh motor listrik yang dipasang dibagian atas alat pencacah Gambar 26. Gambar 26. Mesin pengaduk (digester) Tujuan dari proses disgesting yaitu mempersiapkan daging buah untuk pengempaan (pressing) sehingga minyak dengan mudah dapat dipisahkan dari daging buah. Brondolan yang telah mengalami pencacahan dan keluar melalui bagian bawah digester telah menjadi bubur buah. Hasil pencacahan tersebut masuk ke dalam alat pengempaan yang berada persis dibagian bawah digester. Pengempaan (presser) Pengempaan bertujuan untuk mengambil minyak dari buah secara bertahap dengan bantuan pisau pelempar dari mesin pengaduk. Alat yang digunakan dalam proses ini disebut screw press (Gambar 27), yakni alat penekan yang berputar berlawanan arah. Massa buah akan tertekan ke ujung screw dan minyak akan keluar melalui dinding silinder yang berlubang. 68   69   Gambar 27. Alat pengempaan TBS (screw press) Selama proses pengempaan berlangsung, air panas ditambahkan ke dalam screw press. Hal ini bertujuan untuk pengenceran (dillution) sehingga massa bubur buah yang dikempa tidak terlalu rapat. Jika massa bubur buah terlalu rapat maka akan dihasilkan cairan dengan viskositas tinggi. Tingginya viskositas tersebut akan menyulitkan proses pemisahan sehingga mempertinggi kehilangan minyak. Jumlah penambahan air berkisar 10 - 15% dengan suhu air sekitar 90ºC. Proses pengempaan akan menghasilkan minyak kasar dengan kadar 50% minyak, 42% air, dan 8% zat padat. Alat pengempaan yang biasa digunakan dengan kapasitas pengolahan 90 ton TBS/jam adalah screw press dengan kapasitas olah 15 - 17 ton TBS per jam per unit dengan putaran screw 11 - 12 rpm. Minyak hasil pengempaan ini ditampung di sebuah talang (crude oil tank) melalui saringan getar (vibrating screen) (Gambar 28) dan dipompakan ke stasiun pemurnian (clarifier). Biji dan serabut yang berbentuk gumpalan diteruskan ke cake breaker converyor dan dipisahkan di depericarper. Biji dikirim ke tempat penampungan biji (nut silo) (Gambar 29) yang sebelumnya masuk ke polishing drum untuk menghilangkan serabut. Serabut (fibre) dikirim ke ketel uap (boiler) sebagai bahan bakar. 69   70   Gambar 28. Crude oil tank dan Vibrating screen Gambar 29. Nut silo sebagai tempat penampungan biji sementara Biji yang telah dikeringkan akan masuk ke dalam nut grading screen melalui conveyor untuk dipisahkan menurut diameternya. Hasil pemisahan tersebut akan masuk ke dalam alat pemecah biji (nut cracker) yang merupakan alat centrifuge yang memiliki rotor berputar dengan kecepatan 950 - 100 rpm. Dalam rotor berputar, biji - biji tersebut akan terlempar kuat ke dinding creaker dan pecah, sehingga inti lepas dari cangkang. Pemisahan inti dan cangkang dilakukan pada suatu corong yang disebut separating colom atau pemisahan basah dengan menggunakan clay bath. Pemisahan inti berlangsung secara pneumatic berdasarkan gaya sentrifugal menggunakan blower hisap dan perbedaan berat, di dalam clay bath digunakan air kalsium yang bertujuan sebagai pemisah cangkang dan kernel dengan berat jenis 1.1 dan 1.2 dapat dilihat pada Gambar 30. 70   71   Gambar 30. Clay bath sebagai tempat air kalsium untuk memisahkan cangkang dan kernel Takaran yang digunakan di dalam kalsium harus sesuai, apabila berat jenis abu terlalu banyak akan menghasilkan kotoran sedangkan apabila kalsium terlalu banyak akan mengakibatkan terjadinya kehilangan kernel. Cangkang dan kotoran halus akan terisap oleh blower dan akan ditampung di shell cyclone sebagai bahan bakar. Sementara itu, inti dan biji yang tidak pecah atau pecah sebagian masuk ke vibrating grade. Dalam vibrating grade terjadi pemisahaan antara inti, biji utuh, dan biji setengah pecah berdasarkan beratnya. Biji utuh dan biji setengah pecah dikembalikan ke nut grading screen untuk dipecahkan kembali, sedangkan inti dimasukkan ke pengeringan melalui kernel elevator. Pengeringan inti dilakukan dalam suatu alat yang disebut kernel silo dapat dilihat pada Gambar 31 a. Alat ini berfungsi untuk mengeringkan inti yang telah terpisah dari cangkangnya menggunakan udara panas atau uap yang dihembuskan oleh blower. Suhu di bagian atas kernel silo sekitar 40ºC, di bagian tengah 60ºC, dan di bagian bawah 80ºC. Pengeringan ini berlangsung selama 12 - 14 jam. Setelah pengeringan selesai, inti yang sudah kering diturunkan menuju polishing drum (Gambar 31 b). Penurunan inti diatur oleh shaking grade. Alat polishing drum berfungsi untuk membuang ampas yang masih terdapat di inti. Ampas akan terisap ke dust cyclone. Inti yang kotor dan biji yang tidak pecah akan dikembalikan ke pemecah biji, sedangkan inti yang bersih akan masuk ke karung goni. 71   72   Gambar 31. Alat proses pengolahan kernel (inti sawit): a. Alat pengering inti (kernel silo) dan b. Polishing drum. Pemurnian (clarifier) Pemurnian yaitu pengolahan di PKS yang bertujuan untuk melakukan pemurnian minyak kelapa sawit dari kotoran-kotoran seperti padatan (solid), lumpur (sludge), dan air. Tujuan dari pemurnian yaitu, agar diperoleh minyak dengan kualitas sebaik mungkin dan dapat dipasarkan dengan harga yang layak. Minyak kasar yang diperoleh dari hasil pengempaan dialirkan menuju saringan getar (vibrating screen) untuk disaring agar kotoran berupa serabut kasar tersebut dialirkan ke tangki penampung minyak kasar (crude oil tank). Minyak kasar yang terkumpul di COT dipanaskan hingga mencapai 95 - 100ºC. Menaikkan suhu minyak kasar sangat penting untuk memperbesar perbedaan berat jenis antara minyak, air dan sludge sehingga sangat membantu dalam proses pengendapan. Selanjutnya, minyak dari COT dikirim ke tangki pengendapan (continous settling tank atau clarifier tank). Pada clarifier tank, minyak kasar terpisah menjadi minyak dan sludge karena proses pengendapan. Minyak dari clarifier selanjutnya dikirim ke oil tank, sedangkan sludge dikirim ke sludge tank. Sludge merupakan fasa campuran yang masih mengandung minyak. Di PKS, sludge diolah ulang untuk memeras kembali minyak yang masih terkandung di dalamnya. Pengolahn sludge umumnya menggunakan alat yang disebut decanter yang menghasilkan 3 fase, yaitu light phase, heavy phase, dan solid phase. Light 72   73   phase merupakan fase cairan dengan kandungan minyak yang cukup tinggi sehingga pada fase ini harus segera dikembalikan ke COT dan siap untuk diproses kembali. Heavy phase merupakan fase cairan dengan sedikit kandungan minyak sehingga fase ini dikirim ke bak fat pit untuk kemudian diteruskan ke kolam limbah. Akumulasi heavy phase yang tertampung pada fat pit, juga masih dapat menghasilkan minyak. Minyak yang diperoleh dari pemrosesan ulang dikirim ke COT untuk diproses kembali. Solid merupakan padatan dengan kadar minyak maksimum 3.5% dari berat sampel. Solid yang dihasilkan ini selanjutnya diaplikasikan ke kebun pupuk melalui land application. 73   74   ASPEK KHUSUS Evaluasi Pengendalian Gulma Pengendalian gulma di Tambusai Estate merupakan kegiatan pemeliharaan yang selalu dilaksanakan. Hal ini dikarenakan apabila areal pada tanaman menghasilkan tidak dikendalikan, akan menurunkan produksi kelapa sawit sampai 20% (Mangoensoekarjo dan Semangun, 2003). Selain itu, keberadaan gulma akan menyulitkan pemanen untuk memanen buah karena tidak terlihatnya brondolan yang jatuh dari pohon dan mengakibatkan brondolan menjadi tukulan. Hal tersebut yang menjadikan pengendalian gulma di Tambusai Estate harus dilakukan dengan prinsip lima tepat, yaitu: tepat jenis, dosis, cara, konsentrasi, dan waktu (Tabel 18). Tabel 18. Evaluasi lima tepat metode pengendalian gulma Tepat Dosis Waktu Jenis Cara Konsentrasi Kegiatan DAK (dongkel anak kayu) - X - √ - Babat gawangan - √ - √ - X √ Ο √ √ Penyemprotan TPH √ √ √ √ √ Pengendalian hama - Ο √ √ √ Penyemprotan piringan dan pasar pikul Keterangan: - = Tidak ada, x = Tidak sesuai, o = Kurang sesuai, √ = Sesuai Pada kegiatan DAK (dongkel anak kayu), waktu yang digunakan dalam pengendalian belum sesuai. Menurut Pahan (2010) rotasi pengendalian gulma secara manual dilakukan 3 kali setahun atau 4 bulan sekali untuk tahun tanam yang telah berumur lebih dari 6 tahun. Namun, Tambusai Estate yang memiliki kelapa sawit dengan umur tanaman lebih dari 6 tahun, pengendalian DAK dilaksanakan 2 bulan sekali atau 6 kali dalam setahun. Tidak sesuainya waktu pengendalian ini dikarenakan jumlah pekerja yang sedikit dan umur pekerja diatas 50 tahun sehingga waktu pengerjaan lambat, tetapi rotasi dipercepat 2 bulan 74   75   sekali. Pada penyemprotan di pasar pikul dan piringan, penulis mengamati dosis yang digunakan belum sesuai rekomendasi. Standar dosis herbisisda yang diberikan perusahaan yaitu untuk dosis 120 cc dalam 1 tangki biasanya digunakan untuk 30 pohon saja tetapi pada kenyataannya penyemprot dengan dosis 120 cc dalam satu tangki dihabiskan untuk 61 pohon, sehingga waktu kematian gulma menjadi lebih lama. Hal itu dapat terjadi karena kalibrasi kecepatan jalan penyemprotan belum dilakukan dengan baik. Hasil kalibrasi alat dan waktu penyemprotan yang di lakukan penulis terdapat pada Tabel 19 dan Tabel 20. Selain dosis dan cara, jenis herbisida juga kurang sesuai dengan dominansi gulma yang ada, sehingga banyak gulma yang tidak dapat dikendalikan. Kebijakan di Tambusai Estate disesuaikan dengan ISO 14001 : 2008 mengenai manajemen lingkungan yang melarang pemakaian herbisida kontak yang merupakan herbisida keras yang dapat mencemarkan lingkungan, akibatnya gulma tahan herbisida sistemik seperti gulma Stenochlena palustris dan Ficus elastica (gulma noxious) di Tambusai Estate masih tetap merajalela. Kalibrasi Alat Semprot dan Waktu Penyemprotan Pengendalian secara kimiawi merupakan praktek yang paling umum diterapkan di perkebunan kelapa sawit karena memberikan efektivitas pengendalian yang tinggi. Menurut Pahan (2010) untuk memperoleh hasil penyemprotan yang efektif dan efisien, sebelum dilakukan penyemprotan herbisida, perlu dilakukan kalibrasi alat. Tujuannya agar diperoleh dosis dan konsentrasi yang tepat sesuai dengan rekomendasi. Kalibrasi yang dilakukan di Tambusai Estate meliputi kalibrasi alat dan kalibrasi penyemprotan. Alasan dilakukannya kalibrasi yaitu volume semprot sangat dipengaruhi oleh kecepatan jalan penyemprotan, oleh kondisi areal yang disemprot dan juga kualitas alat terutama nozel. Pompa dan nozzle yang tidak bekerja dengan baik akan mempengaruhi flowrate dan pembentukan droplet. 75   76   Tabel 19. Kalibrasi alat penyemprotan Tambusai Estate afdeling VIII No Tangki 2. Ulangan 1. 2. 3. Nama Penyemprot Nurma Ukuran Nosel Nosel Kipas (2.5 cm) Total 5. 1. 2. 3. Merina Nosel Kipas (2.5 cm) Total 1. 1. 2. 3. Ringan Hati Nosel Kipas (2.5 cm) Total 4. 1. 2. 3. Ucok Nosel Kipas (2.5 cm) Total 3. 1. 2. 3. Sumiar Nosel Kipas (2.5 cm) Total Output nozzel (flowrate) (l/menit) 0.92 0.96 1.10 0.99 1.10 1.34 1.48 1.30 1.56 1.48 1.42 1.48 1.85 1.85 1.72 1.82 1.67 1.78 1.67 1.7 Lebar semprot (m)/ tinggi semprot 30 - 40 cm 1.05 1.05 1.50 1.50 1.73 1.73 1.67 1.67 Kecepatan (m2/menit) Volume Semprot l/ha 31.5 33.0 265.78 32.25 25.00 30.00 25.56 25.00 25.28 25.14 32.00 33.85 265.78 343.09 343.09 340.29 340.09 331.05 1.53 32.92 38 39.9 332.05 285.266 1.53 38.95 285.266 Sumber: Hasil pengamatan penulis, 2012 76   77   Pada pengamatan kalibrasi alat semprot, kelima penyemprot memiliki output nozzle yang berbeda-beda walaupun alat yang digunakan sama. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh beberapa hal yaitu: umur dan jenis kelamin tenaga kerja penyemprotan, keadaan alat semprot, tekanan pompa, dan kesehatan pekerja. Perbedaan umur pekerja dan jenis kelamin dapat menjadi penyebab perbedaan besarnya output nozzle yang dikeluarkan. Pada Tabel 19 dapat dilihat bahwa penyemprot dengan nomor tangki 4 dan 3 memiliki output nozzle yang lebih tinggi dari nomor tangki 1, 2, dan 5, yaitu 1.82 l/menit dan 1.7 l/menit. Penyemprot nomor tangki 4 dan 3, berumur 18 dan 21 tahun dengan jenis kelamin laki-laki sedangkan nomor tangki 1, 2, dan 5 memiliki umur rata-rata 40 - 45 tahun dengan jenis kelamin perempuan, sehingga kekuatan kecepatan jalan dan tekanan tuas pompa menjadi berbeda. Akibatnya, hal tersebut berpengaruh pada semprotan yang dihasilkan. Semakin cepat tuas dipompa, semakin besar tekanan udara yang diberikan pada knapsack Solo sehingga di dalam tangki timbul tekanan udara yang tinggi. Udara yang bertekanan tinggi tersebut akan mendorong air dalam tangki sehingga memancar keluar dengan kecepatan yang tinggi. Selain itu, kualitas alat semprot juga berpengaruh terhadap kapasitas output nozzle, apabila alat yang rusak dapat merubah output nozzle sehingga volume semprot juga dapat berubah. Selain faktor umur, kesehatan pekerja akan berpengaruh pada kekuatan tekanan pompa dan kecepatan jalan. Dengan demikian, apabila tenaga kurang sehat tekanan dan kecepatan jalan akan berkurang, pada gilirannya dapat berpengaruh pada output nozzle. Faktor lain yang juga penting diperhatikan dalam penyemprotan herbisida adalah kapasitas lebar semprot. Pengamatan lebar semprot tidak dipengaruhi oleh tenaga kerja penyemprotan tetapi lebih dipengaruhi oleh alat semprot utamanya nozzle. Dapat dilihat pada Tabel 19, tangki nomor 3 yang menghasilkan output nozzle 1.8 l/ menit, lebar semprot yang dihasilkan adalah 1.67 m, sedangkan penyemprot dengan tangki nomor 1 yang menghasilkan flowrate 1.43 l/menit memiliki lebar semprot 1.73 m lebih. Menurut Djojosumarto (2008) nozzle dapat mengalami keausan sehingga lubangnya membesar. Dengan demikian, nozzle yang telah aus akan mengakibatkan perubahan curah flowrate, curahan cairan menjadi lebih 77   78   besar, lebar semprot meningkat, dan perubahan pola semprotan. Kebersihan nozzle juga perlu dijaga. Air yang digunakan perlu disaring dengan baik karena kotoran yang masuk dapat menyumbat nozzle, mendistorsi pola semprotan serta mengubah flowrate. Berdasarkan pengamatan kalibrasi penyemprotan pada piringan, diperoleh data terkait ketepatan dosis yang digunakan, jumlah pohon, dan waktu yang diperlukan penyemprot untuk menghabiskan herbisida per tangki kapasitas volume 15 l. Dari Tabel 20 dapat dilihat bahwa penyemprotan blok N20 dengan bahan herbisida campuran Amiphosat dan Rapid dan dosis/tangki canpuran 120 cc/tangki dapat digunakan untuk menyemprot rata-rata 61 pohon. Dari perhitungan, dengan dosis herbisida 120 cc/tangki, akan dapat digunakan untuk menyemprot 30 pohon. Tetapi kenyataannya, penyemprot mengaplikasikan pada areal dengan luas setara 2 kali lipat dari anjuran yang ada. Dapat dilihat perhitungannya dengan merujuk ke pocket guide Tambusai Estate, rekomendasi penggunaan herbisida Dupont 1 liter glifosat + 50 g metil matsulfuron dengan volume semprot tangki solo adalah 450 l/ha. Untuk volume 1 tangki 15 liter, rekomendasi total tangki adalah 450 l/ha : 15 liter = 30 tangki/ha. Perhitungan ketepatan dosis dan banyaknya pohon yang disemprot dihitung mengacu pada pocket guide Tambusai Estate. Penjelasan dalam pocket guide adalah sebagai berikut: apabila anjuran penggunaan herbisida 1 liter + 50 g = 1,500 cc, selanjutnya dosis per tangki adalah 1,500 cc : 30 tangki = 50 cc/tangki. Misalnya, pada piringan, Sdr. Simbolon menyemprot dengan jarak semprotan 2.5 cm dari pangkal batang sawit. Luas bidang semprot dihitung dengan cara 2.52 x 3.14 x 61 pohon = 1,197.13 m2. Setelah itu, kebutuhan per ha, dihitung dengan membagi 15 liter (dari 1 tangki) : 1,197.13 m2 luasan yang disemprot dikali 1 ha (10,000 m2) menghasilkan 125.29 l/ha. Volume tersebut selanjutnya dibagi 1 tangki (15 liter) = 8 tangki/ha. Sehingga dosis yang digunakan untuk menyemprot 61 pohon yaitu 1,500 cc : 13 tangki/ha = 116 cc/tangki apabila herbisidanya murni belum ditambahkan air. Jika herbisida sudah diencerkan kebutuhan menjadi 232.27 cc/tangki untuk jumlah pohon yang sama. Mengingat formula dalam penentuan dosis per tangki relatif kompleks, maka peran mandor perawatan sangat dibutuhkan. Namun demikian, di Tambusai 78   79   Estate peran mandor perawatan masih perlu ditingkatkan dalam perhitungan dosis. Praktek yang sering dilakukan adalah volume per tangki disamakan sesuai standar baku, padahal tidak semua penyemprot sama dosisnya. Idealnya penyemprot berpatokan pada tinggi semprotan dan banyaknya gulma di dalam piringan. Pada kondisi gulma di piringan sedikit, para penyemprot tidak perlu menyemprot secara berkeliling pohon tetapi cukup di pasar pikul saja. Demikian pula sebaliknya pada kondisi gulma banyak, penyemprot harus menyemprot pada semua piringan tidak hanya pada pasar pikul saja. Perlunya pemberlakuan dosis semprot secara riil lapangan didasarkan pada berbagai faktor seperti kapasitas penyemprot. Dapat dilihat pada Tabel 20 setiap penyemprot memiliki tinggi semprotan, kecepatan jalan dan tekanan pompa yang berbeda. Pengawasan yang lemah Pengawasan yang lemah oleh mandor perawatan dapat menyebabkan cara penyemprotan yang kurang baik. Penyemprot sering beranggapan apabila gulma sudah terkena semprotan artinya kerja mereka sudah baik. Faktanya, akibat dari tidak tepatnya dosis dan cara dapat membuat para penyemprot harus kerja dua kali dan mengulangi penyemprotan gulma yang belum mati. 79   80   Tabel 20. Kalibrasi waktu penyemprotan pada piringan Nama Blok Penyemprot N20 N20 Pohon/ tangki Waktu 1 pasar (Jam) Lebar semprot piringan (m) 2.5 Dosis Dosis Tinggi seharusnya seharusnya Semprotan (murni (campuran (cm) (cc/tangki) (cc/tangki) 40 166.0 332.0 Bahan Dosis/tangki (cc) Ringan Amiphosat 120 56 0.37 Hati dan Rapid Simbolon Amiphosat 120 61 0.34 2.5 35 187.0 374.0 120 61 0.34 2.5 40 187.0 374.0 120 58 0.35 2.5 30 187.5 375.0 120 65 0.31 2.5 40 214.2 428.4 dan Rapid N20 Sumiar Amiphosat dan Rapid N20 Merina Amiphosat dan Rapid N20 Ucok Amiphosat dan Rapid Sumber: Hasil pengamatan penulis, 2012 80   81   Penyebaran Infestasi Gulma Penilaian penyebaran infestasi atau serangan gulma yang ada di Tambusai Estate menggunakan data hasil analisis vegetasi pada saat di lapang melalui distribusi petak contoh sampling bertingkat. Pengamatan ini mendata semua lokasi yang ada di Tambusai Estate. Lokasi Pola penyebaran gulma yang ada di Tambusai Estate terdapat pada Tabel 21. Dari hasil analisis vegetasi terdapat 46 gulma yang menyebar di Tambusai Estate. Jenis gulma yang terdapat di tambusai Estate adalah Ageratum conyzoides L., Asystasia intrusa (Forssk.) Blume., Axonopus compresus (Sw.) P. Beauv., Borreria alata (Aubl.) D C., Borreria laevis (Lam.) Griseb., Caladium tuberosum (S. Moore) Bogner M., Calopogonium mucunoides Desv., Centotheca lappacea (L.) Desv., Chromolaena odorata (L.) King and H.E.Robins.., Cleome rutidosperma DC., Clidemia hirta (L.) D. Don., Cyclosorus aridus (Don.) Ching., Cynodon dactylon (L.) Pers., Cyrtococcum accrescens (Poac.)., Cyperus iria L., Cyperus kyllingia Endl., Cyperus rotundus L. Dicranopteris linearis (Burm. f. Underw)., Digitaria adscendens (H.B.K) Henr., Echinochloa colonum (L.) Link., Eleusine indica (L. ) Gaertn., Euphorbia hirta L., Foterandia L., Gleichenia linearis (Burm. F.) C. B. Clarke., Imperata cylindrica (L.) Beauv., Leptochloa chinensis (L.) Ness., Lygodium palmatum (Bernh.) Swartz., Melastoma affine D. Don., Merremia umbellata (L.) Hallier f., Mikania micrantha (H. B. K) RM. King., Mimosa invisa Mar., Mimosa pigra L., Nephrolepsis biserrata (Sw.)Schott., Ottochloa nodosa (Kunth) Dandy., Paspalum commersonii Lam., Paspalum conjugatum P.J. Berg., Passiflora foetida L., Pennisetum polystachion (L.) Schult., Pteridium aquilinum (L.) Kuhn., Pteris longifolia L., Pylanthus niruri L., Scleria sumatranensis Retz., Sida rhombifolia L., Stachytarpheta indica Vahl., Stenotaphrum secundatum (Waltz.) Kuntze., dan Stenochlaena palustris Bedd. Dari hasil perhitungan SDR (Summed dominate ratio), gulma yang mendominansi di Tambusai Estate adalah gulma Stenochlaena palutris Bedd., Neprolepsis bisserata (Sw.) Schott., Asystasia intrusa (Forssk.) Blume., dan anakan sawit (kentosan), karena Tambusai Estate memiliki daerah rendahan dan lahan darat dengan topografi kemiringan 1 - 3%. 81   82   Tabel 21. Lokasi Penyebaran Gulma di Tambusai Estate  Σ Plot Nama Spesies Lokasi Penyebaran (Plot) Ageratum conyzoides L. G47, E47, I25, K25, N20, T13, R4, Q12, P6, O8, N12 F46, G47, F47, C40, E46, E47, B32, C35, G35, F35, F36, B31, C31, E29, G29, G30, G20, K18, I25, N20, L21, M21, S15, R19, T13, U11, U12, V12, T6, R4, S4, X5, V5, Q12, O12, P12, O5, P6, O8, K16, M16, N12 F36, B31, C31, K18, N20, S15, R19, U12, T6, X5, P12 G29, O5, O8 G47, E29, U12, U11, V12, T6, R4, S4 E46 11 Frekuensi Mutlak( %) 4.2 42 15.9 11 4.2 3 8 1 1.1 3.0 0.4 C31, U12 O8, P6, P12, Q12, S4, R4, T6, U11, T13, S15, M21, L21, N20, I25, K25, K18, G20, E29, C31, B31, F36, G35, B35, B32, E47, C40, F47, G47, F46, G29, S4, M16 2 29 0.8 11.0 3 1.1 V12, R4, N20 F46, F47, G47, C40, E46, B35, C31, T13, Q12 F46, F47, C40, E47, C35, G35, F35, F36, G20, L21, M21, U12, V12, T6, R4, S4, V5, Q12, O12, P12, O5, P6, O8, M16 N20, K25 F46, B32, G35, F35, F36, B31, C31, E29, G20, K25, I25, N20, L21, M21, S15, R19, T13, U12, U11, T6, S4, X5, V5 S15 N20, V12, T6 X5, L21 G47, F46, E47, G35, B31, C31, G29, G30, K18, T13, T6, R4, S4, O12, P12, O5, O8 3 9 1.1 3.4 24 9.1 2 23 0.8 8.7 1 3 2 17 0.4 1.1 0.8 6.4 Asystasia intrusa (Forssk.) Blume Axonopus compresus (Sw.) P. Beauv Borreria alata (Aubl.) D C Borreria laevis (Lam.) Griseb Caladium tuberosum (S. Moore) Bogner M Calopogonium mucunoides Desv Centotheca lappacea (L.) Desv Chromolaena odorata (L.) King and H.E.Robins. Cleome rutidosperma DC. Clidemia hirta (L.) D. Don Cyclosorus aridus (Don.) Ching Cynodon dactylon (L.) Pers Cyrtococcum accrescens (Poac.) Cyperus iria L. Cyperus kyllingia Endl. Cyperus rotundus L. Dicranopteris linearis (Burm. f. Underw) 82   83   Tabel 21. Lokasi Penyebaran Gulma di Tambusai Estate (Lanjutan) Σ Plot Nama Spesies Lokasi Penyebaran (Plot) Digitaria adscendens (H.B.K) Henr. Echinochloa colonum (L.) Link Eleusine indica (L. ) Gaertn. Euphorbia hirta L. Foterandia L. O12, V5 O8 F36, B31 R4, S15, N20, F46, R29, Q12 O8, P12, C31, C40, G47, F46, C35, T6 N12, T13, V12 2 1 2 6 8 Frekuensi Mutlak (%) 0.8 0.4 0.8 2.3 3.0 3 1.1 O8 N12, K16, P6, Q12, R4, G29, F36 P6, O5, O12, Q12, S4, R4, T6, R19, M21, N20, I25, K25, G20, G29, C31, B35, E47, C40, G47 M16, O8, P6, P12, Q12, X5, R4, V12, U12, G30, G29, C31, B31, C35, E47, E46, C40, G47 O12, G29 K16, O8, P6, O5, P12, O12, X5, S4, R4, T6, R19, S15, M21, L21, N20, I25, K25, F36, C35, E47, C40 F36 N12, Q12 F46, G47, F47, C40, E46, E47, B32, C35, G35, F35, F36, B31, C31, E29, G29, G30, K18,K25, I25, N20, L21, M21, S15, R19, T13, U11, U12, V12, T6, R4, S4, X5, V5, Q12, O12, P12, O5, P6, O8, K16, M16, N12 P6, Q12, E29, B32, M16 E47, T13, V5, O8, N12 F36, B31 B31, C31, G30, K18, S4 G29 G47 N12, O8, Q12, V5, S4, R4, T6, U11, T13, S15, L21, E29, B35,F35, B32, E46, C40, F47, F46, G47, E47 E29 G47, C40, E46, E47, B35, E29, G29, R19, T13, U12, T6, S4, X5 O5 M16, P6 T6 1 7 19 0.4 2.7 7.2 18 6.8 2 21 0.8 8.0 1 2 42 0.4 0.8 15.9 5 5 2 5 1 1 21 1.9 1.9 0.8 1.9 0.4 0.4 8.0 1 13 0.4 4.9 1 2 1 0.4 0.8 0.4 N12 , K16, O8, P6, P12, O12, Q12, V5, X5, S4, R4, T6, V12, U11, U12, T13, M21, L21, N20, I25, K25, F36, F35, G35, B35, E47, E46, C40, F47, G47, F46 31 11.7 Gleichenia linearis (Burm. F.) C. B. Clarke Imperata cylindrica (L.) Beauv Leptochloa chinensis (L.) Ness. Lygodium palmatum (Bernh.) Swartz. Melastoma affine D. Don Merremia umbellata (L.) Hallier f Mikania micrantha (H. B. K) RM. King Mimosa invisa Mar. Mimosa pigra L. Nephrolepsis biserrata (Sw.)Schott Ottochloa nodosa (Kunth) Dandy Paspalum commersonii Lam. Paspalum conjugatum P.J. Berg. Passiflora foetida L. Pennisetum polystachion (L.) Schult. Pteridium aquilinum (L.) Kuhn. Pteris longifolia L. Pylanthus niruri L. Scleria sumatranensis Retz. Sida rhombifolia L. Stachytarpheta indica Vahl. Stenotaphrum secundatum (Waltz.) Kuntze. Stenochlaena palustris Bedd.           83   84   Hasil analisis vegetasi yang diambil dilapangan kemudian diuji menggunakan culter analisis multivariate, data 46 gulma yang menyerang perkebunan dilakukan pengelompokan dengan metode skoring (penilaian) yang dikembangkan oleh Hiebert dan Stubbendieck (1992), dan disempurnakan oleh Tjitrosoedirdjo (2010). Metode skoring yang digunakan penulis lebih dimodifikasi kriterianya sesuai dengan kebutuhan pengamatan. Kriteria penulis menggunakan kriteria subyektif terhadap Indeks tingkat mengganggu dan infestasi gulma di perkebunan kelapa sawit. Skoring menggunakan 11 kriteria penilaian untuk masing-masing gulma dengan melihat tingkat mengganggu dan infestasi gulma terhadap perkebunan kelapa sawit (Tabel 22). Tabel 23 mengilustrasikan bahwa dari hasil perhitungan 11 kriteria gulma yang mendapatkan nilai 30 dari 46, memiliki derajat mengganggu atau infestasi gulma terhadap perkebunan kelapa sawit yang cukup besar dan memberikan dampak yang signifikan sehingga memerlukan pengendalian yang baik. Penentuan skor ‘0’ adalah sifat yang diharapkan sedangkan skor ‘1’ adalah sifat gulma dimana perlu intervensi khusus dalam program pengendalian. Skoring tersebut ditentukan secara subyektif oleh penulis. Tabel 22. Indeks tingkat mengganggu dan infestasi gulma di perkebunan kelapa sawit No Kriteria 1. Distribusi gulma 2. 3. 4. Kemudahan dikendalikan Tahan terhadap cekaman kekeringan Tahan terhadap genangan 5. Regrowth gulma 6. Kemudahan propagul terbawa oleh perkerja/ alat Potensi gulma sebagai inang (HPT) Cara perbanyakan gulma 7. 8. 9. 10. 11. Pilihan 0 1 Frekuensi sempit (< 30% Frekuensi umum (> 30% plot contoh) plot contoh) Mudah (herbisida) Sulit (manual) Tidak tahan (< 15 hari Tahan ( > 15 hari kekeringan) kekeringan) Tidak tahan (< 15 hari lahan Tahan (> 15 hari lahan tidak tidak pernah kering) pernah kering) Sulit (> 15 hari gulma Mudah (< 15 hari gulma tumbuh kembali) tumbuh kembali) Sulit (< 20% propagul atau Mudah (> 20% propagul) biji) Tidak ada Ada Terbatasi (vegetatif atau generatif saja) Tidak merusak ( < 20 %) Daya kerusakan terhadap kelapa sawit Mengganggu bagi pekerja Tidak (bentuk morfologi) panen Bobot biaya pengendalian Murah ( herbisida) Ket : 0 = Sifat yang diharapkan, 1= Sifat tidak diharapkan Masal ( vegetatif dan generatif) Merusak ( > 20%) Ya (bentuk morfologi) Mahal (manual) 84   85   Pada Tabel 23 menunjukkan hasil tingkat kriteria gulma yang menginfestasi perkebunan kelapa sawit di Tambusai Estate. Hasil kriteria gulma yang memiliki serangan tertinggi adalah gulma yang memiliki kriteria perbanyakan secara masal (tidak terbatasi) pada perbedaan agroekologi manapun dengan skoring 38 skor. Menurut widiyanto (2012) pola penyebaran gulma erat kaitannya dengan karakteristik botani gulma, seperti mekanisme perbanyakan dan cara penyebarannya. Mekanisme perbanyakan gulma secara vegetatif dan generatif. Organ perbanyakan secara vegetatif umumnya menyebar tidak jauh dari tubuh inangnya kecuali dibantu oleh manusia, contoh gulma menggunakan organ vegetatif adalah Melastoma affine D. Don., Stachytarpheta indica Vahl., dan Clidemia hirta (L.) D. Don. Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. Namun demikian gulma dengan perbanyakan vegetative cenderung memiliki kemampuan pertumbuhan yang cepat, sehingga mampu mendominansi areal di perkebunan. Menurut Tijtrosoedirdjo (2011) gulma Asystasia intrusa (Forssk.) Blume., menimbulkan banyak masalah di perkebunan kelapa sawit. Gulma Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. dapat menginvansi suatu tempat dengan cepat, membentuk belukar sangat tebal yang dapat mengalahkan tumbuhan lain. Gulma ini merupakan gulma musiman dengan organ perbanyakan ganda. Pada saat Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. tumbuh dibawah tanaman perkebunan dengan naungan > 50%, gulma akan tumbuh menjalar menghasilkan masa vegetatif yang cukup melimpah dan memerlukan upaya pengendalian yang intensif. Gulma ini juga mudah beradaptasi baik ditempat ternaungi maupun ditempat terbuka. Kriteria kedua adalah kriteria gulma dengan propagul yang ringan sehingga mudah terbawa oleh pekerja maupun alat - alat pertanian. Contoh gulma yang memiliki kriteria ini adalah jenis gulma berdaun sempit, teki maupun berdaun lebar seperti Centotheca lappacea  (L.) Desv., Imperata cylindrica (L.) Beauv, Cyperus rotundus L., dan Ageratum conyzoides L. Menurut Sukman dan Yakup (2002) spesies gulma yang tumbuh cepat, berhabitat besar, dan memiliki metabolisme efisien akan menjadi gulma berbahaya. Spesies yang memiliki ciri tersebut adalah gulma yang tergolong tumbuhan berjalur fotosintesis C4 adalah family Gramineae (Imperata cylindrica (L.) Beauv.), Cyperaceae (Cyperus rotundus L. gulma teki) dan Amaranthaceae (bayam duri). 85   86   Tabel 23.Hasil evaluasi indeks kriteria infestasi gulma di Tambusai Estate No . 1. 2. 3. Spesies Ageratum conyzoides L. Asystasia intrusa (Forssk.) Blume Axonopus compresus (Sw.) P. Beauv 4. Borreria alata (Aubl.) D C 5. Borreria laevis (Lam.) Griseb 6. Caladium tuberosum (S. Moore) Bogner M 7. Calopogonium mucunoides Desv 8. Centotheca lappacea (L.) Desv 9. Chromolaena odorata (L.) King and H.E.Robins. 10. Cleome rutidosperma DC. 11. Clidemia hirta (L.) D. Don 12. Cyclosorus aridus (Don.) Ching 13. Cynodon dactylon (L.) Pers 14. Cyrtococcum accrescens (Poac.) 15. Cyperus iria L. 16. Cyperus kyllingia Endl. 17. Cyperus rotundus L. 18. Dicranopteris linearis (Burm. f. Underw) 19. Digitaria adscendens (H.B.K) Henr. 20. Echinochloa colonum (L.) Link 21. Eleusine indica (L. ) Gaertn. 22. Euphorbia hirta L. 23. Foterandia L. 24. Gleichenia linearis (Burm. F.) C. B. Clarke 25. Imperata cylindrica (L.) Beauv 26. Leptochloa chinensis (L.) Ness. 27. Lygodium palmatum (Bernh.) Swartz. 28. Melastoma affine D. Don 29. Merremia umbellata (L.) Hallier f 30. Mikania micrantha (H. B. K) RM. King 31. Mimosa invisa Mar. 32. Mimosa pigra L. 33. Nephrolepsis biserrata (Sw.)Schott 34. Ottochloa nodosa (Kunth) Dandy 35. Paspalum commersonii Lam. 36. Paspalum conjugatum P.J. Berg. 37. Passiflora foetida L. 38. Pennisetum polystachion (L.) Schult. 39. Pteridium aquilinum (L.) Kuhn. 40. Pteris longifolia L. 41. Pylanthus niruri L. 42. Scleria sumatranensis Retz. 43. Sida rhombifolia L. 44. Stachytarpheta indica Vahl. 45. Stenotaphrum secundatum (Waltz.) Kuntze. 46. Stenochlaena palustris Bedd. Jumlah Kriteria 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 1 1 1 0 1 0 0 1 1 1 0 0 0 10 11 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 1 1 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 1 0 1 1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 0 0 1 1 1 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 0 1 0 1 0 0 0 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 1 0 1 0 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 0 1 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 0 0 0 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 0 1 1 0 1 1 0 0 0 1 1 1 0 0 1 1 0 0 1 1 1 0 0 0 1 0 1 1 0 0 1 1 1 1 0 1 1 0 1 0 1 0 0 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 0 0 0 1 0 0 1 0 0 1 0 1 0 1 1 0 1 1 1 0 0 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 1 0 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 0 1 0 1 0 0 0 0 0 1 0 1 1 0 1 0 1 1 1 1 0 1 0 0 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 4 1 23 0 21 1 34 1 33 1 37 0 14 1 38 1 17 1 30 1 23 86   87   Nilai dari masing - masing kriteria ini kemudian diolah menggunakan SPSS 20 menggunakan metode ward dan jarak Euclidean untuk melihat pengelompokan kriteria gulma yang menginfestasi suatu lokasi (Gambar 32). Hasil analisis pengelompokkan menggunakan SPSS 20 menunjukkan adanya tingkat kemiripan sebelas kriteria gulma yang menyerang perkebunan di Tambusai Estate (Tabel 24). Tabel 24. Hasil analisis pengelompokan berdasarkan tingkat kemiripan 11 variabel berupa kriteria gulma yang menginfestasi perkebunan Langkah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Tingkat Kemiripan (%) 98.00 90.80 83.20 75.08 66.79 57.49 48.18 38.70 24.00 12.00 Tingkat Jarak 0.500 2.303 4.239 6.239 8.301 10.626 12.953 15.323 19.058 22.963 Kelompok Tergabung 2 5 3 4 1 1 4 2 1 1 11 6 10 8 9 7 5 3 2 4 Kelompok baru 8 7 8 7 6 9 10 9 10 0 Pada Tabel 24 hasil analisis menunjukkan kriteria gulma yang memiliki tingkat kemiripan tertinggi dalam menyerang suatu lokasi adalah kriteria gulma yang sulit dikendalikan dengan herbisida dan pengendaliannya mahal dengan koefisien kemiripan 98%. Gulma yang termasuk ke dalam kriteria tersebut adalah gulma kayu - kayuan yang pengendaliannya menggunakan cara manual, sebagai contoh gulma Melastoma affine D. Don, Stachytarpheta indica Vahl., Chromolaena odorata (L.) King and H.E.Robins., dan Borreria alata (Aubl.) D C. Kriteria kedua yang memiliki tingkat kemiripan 90.8% adalah kriteria karakteristik gulma yang memiliki propagul yang ringan dan mudah tersebar dengan bantuan angin, manusia maupun hewan dan pertumbuhan gulma secara cepat setelah mengalami proses seleksi seperti kebakaran. Gulma yang masuk ke dalam kelompok ini sebagian besar merupakan golongan gulma rumput - rumputan maupun gulma daun lebar dengan organ penyebaran secara generatif baik melalui biji maupun spora. Gulma yang memiliki kriteria ini adalah 87   88   gulma Cleome rutidosperma DC., Centotheca lappacea (L.) Desv., dan Cyclosorus aridus (Don.) Ching. Hasil dari analisis pengelompokkan sebelas kriteria karakteristik gulma dari 46 gulma yang menyerang perkebunan, diolah menggunakan SPSS 20 dan ditampilkan dalam bentuk dendogram (Gambar 32). A B C Gambar 32. Dendogram pengelompokkan karakteristik gulma yang menyerang perkebunan kelapa sawit 88   89   Pada Gambar 32 menunjukkan sebelas kriteria gulma yang menyerang perkebunan dibagi menjadi tiga grup yaitu grup A, B, dan C. Grup A cenderung mengelompok berdasarkan karakteristik morfologi gulma seperti duri, akar maupun batang gulma. Grup B mengelompok berdasarkan karakteristik gulma yang memiliki sifat merusak bagi tanaman kelapa sawit dan Grup C mengelompok berdasarkan karakteristik botani gulma tersebut. Dendogram kemudian dibagi lagi kedalam sub grup berdasarkan tingkat kemiripan 55%, menghasilkan 6 sub grup yaitu subgrup A1, A2, B1, B2, C1, dan C2. Sub grup A1 memiliki 2 karakteristik yaitu 1) Karakteristik sulitnya pengendalian gulma menggunakan herbisida dan 2) Biaya pengendalian mahal. Gulma yang termasuk ke dalam sub grup ini adalah gulma Melastoma affine D. Don, Stachytarpheta indica Vahl., dan Chromolaena odorata (L.) King and H.E.Robins. Sub grup A2 adalah sub grup dengan karakteristik: 1) Ketahanan terhadap kekeringan dan 2) Mengganggu bagi pekerja panen, dengan contoh gulma Mimosa invisa Mar., Mimosa pigra L. dan Passiflora foetida L. Sub grup B1 memiliki 2 karakteristik berupa distribusi gulma yang luas dan dapat merusak tanaman budidaya dengn jenis gulma Asystasia intrusa (Forssk.) Blume., Nephrolepsis biserrata (Sw.) Schott., dan Stenochlaena palustris Bedd. Menurut Zaman (2006) pada musim penghujan, populasi gulma Stenochlaena palustris Bedd. mengalami peningkatan populasi yang signifikan sehingga berdampak pada meningkatnya biaya pengendalian maupun dalam biaya pemanenan di tanah mineral. Karakteristik gulma yang memiliki potensi sebagai inang HPT merupakan karakteristik subgrup B2 dengan contoh gulma Paspalum conjugatum P. J. Berg., Leptochloa chinensis (L.) Ness., dan Euphorbia hirta L. Menurut Titrosoedirdjo et al. (1984) gulma yang berfungsi sebagai penyebaran virus atau hama (alternative host) di daerah perkebunan adalah Ageratum conyzoides L. sebagai inang kepik putih. Selanjutnya karakteristik untuk subgrup C1 adalah karakteristik pertumbuhan gulma yang cepat “ regrowth” atau suksesi yang cepat dan memiliki karakteristik propagul yang mudah terbawa oleh pekerja panen. Dicranopteris linearis (Burm. f. Underw)., Centotheca lappacea (L.) Desv., Gleichenia linearis (Burm. F.) C. B. Clarke., dan Imperata cylindrica (L.) Beauv., Menurut Lubis (1992) gulma alang-alang Imperata cylindrica (L.) merupakan gulma yang dapat menekan pertumbuhan dan dapat menurunkan produksi tanaman perkebunan serta 89   90   sulit untuk dikendalikan karena daya adaptasinya yang tinggi. Menurut Zaman (2006) gulma Imperata cylindrica (L.) merupakan gulma dominan di tanaman kelapa sawit belum menghasilkan yang memiliki intensitas cahaya yang tinggi. Menurut Lubis (1992) pakis atau paku kadal (Cyclosorus aridus (Don.) Ching.) dan pakis kawat (Gleichenia linearis (Burm. F.) C. B. Clarke.) memilik kemampuan bersaing dengan kelapa sawit yang baik dalam mengambil unsur hara maupun air. Pada perkebunan, paku kadal ini dapat membentuk “sheet“ baik pada tanaman sawit muda maupun tanaman tua dan menyukai tanah yang agak basah, tanah yang ternaungi serta berkembang dengan spora dan rimpang. Paku kawat berkembangbiak dengan spora dan rimpang, memiliki akar rimpang yang tajamtajam sehingga dapat mengganggu pekerja. Disamping itu, pada musim kemarau paku kawat mudah terbakar. Subgrup C2 adalah karakteristik gulma yang tahan terhadap genangan dan memiliki perbanyakan missal. Contoh gulma yang termasuk ke dalam subgrup ini adalah gulma Caladium tuberosum (S. Moore) Bogner M., Chromolaena odorata (L.) King and H.E.Robins., Clidemia hirta (L.) D. Don., Eleusine indica (L. ) Gaertn., dan Pteridium aquilinum (L.) Kuhn. Menurut Hoshizaki (1975) tumbuhan paku menyukai tempat lembab (higrofit). Tumbuhan paku (Pteridophyta) juga dapat digolongkan sebagai tumbuhan tingkat rendah karena meskipun tubuhnya sudah jelas memiliki kormus serta memiliki sistem pembuluh, alat perkembangbiaknya yang utama yaitu spora. Pada perkebunan dengan tajuk tanaman sawit tinggi, sering dijumpai tumbuhan paku mendominasi areal, membentuk belukar yang luas dan menekan tumbuhan yang lain. Inventarisasi dan pengelompokan gulma menggunakan dendogram bertujuan untuk mengetahui penyebaran pengelompokkan karakteristik gulma yang menyerang perkebunan di Tambusai Estate. Pengelompokan gulma pada pengamatan di Tambusai Estate maupun analisis vegetasi memiliki pengaruh yang positif terhadap biaya pengendalian gulma dan kualitas maupun kuantitas hasil panen. Melalui inventarisasi gulma oleh mandor pemeliharaan maupun asisten, kebun dapat mengetahui dominansi dan karakteristik yang mempengaruhi pola penyebaran gulma sehingga dapat ditentukan bahan dan cara pengendalian gulma yang tepat. Selain pengelompokan berdasarkan pada sifat biologi dan ekologi, gulma - gulma juga dikaji berdasarkan lokasi tumbuhnya. Dinamika populasi gulma berdasarkan agroekologi berupa subgrup tanah dapat dilihat pada Tabel 25 dan penyebaran gulmanya dapat dilihat pada Tabel 26. 90   91   Tabel 25. Perbedaan agroekologi berupa sub grup tanah. Sub grup tanah ordo entisol Kriteria agroekosistem Keadaan lahan Regim kelembaban Kedalaman tanah Struktur tanah Drainase tanah KTK tanah Kejenuhan basa tanah pH tanah Kelas lahan Suhu udara Kelembaban udara Intensitas cahaya Persentase penutupan kanopi sawit Proporsi dari luas lahan Kemiringan Tanaman pokok Typic Haplosaprist Typic Endoaqouent Typic Dystrudept Humic Dystrudept Kering Udic Sangat dalam Halus Terhambat Tergenang Udic Kering Udic Lembab Udic Dalam Halus Baik Dalam Halus Baik Rendah Dangkal Halus Terhambat Sangat rendah Rendah Rendah 5.3-5 S2 32°C 81% 1000 lux Rendah 5.3-5 S2 32°C 75% 400 lux Rendah Sangat rendah 4.80-4.65 S2 29°C 80% 600 lux Sangat rendah 4.80-4.65 S2 28°C 73% 100 lux 20% 50% 45% 55% 3% 0-1% Kelapa sawit TM 7-9 1% 1-3% Kelapa sawit TM 6-8 46% 1-3% Kelapa sawit TM 7-15 48% 1-3% Kelapa sawit TM 12-15 Lahan perkebunan di Tambusai Estate merupakan lahan mineral dengan ordo entisol yang mana berasal dari bekas endapan sungai, dengan derajat kemasaman 4,5 - 5,6 yang tergolong tanah mineral masam. Tanah ini memiliki empat sub grup tanah yang mana masing - masing memiliki unsur yang berbeda sehingga gulma yang tumbuh diatasnya juga dapat berbeda dan agroekologinya juga berbeda. Setelah diketahui perbedaan agroekologi berupa subgrup tanah di perkebunan Tambusai Estate. Dibuat pengelompokkan karakteristik gulma tersebut berdasarkan subgrup tanah yang ada, sehingga dapat mengetahui penyebaran gulma yang ada di kebun. 91   92   T abel 26. Penyebaran gulma berdasarkan karateristik gulma dan perbedaan agroekologi Jenis Gulma Pengelompokkan Karakteristik Gulma Kelompok Dendogram (Subgrup) Jenis Subgrup Lahan Melastoma affine D. Don, Stachytarpheta indica Vahl Chromolaena odorata (L.) King and H.E.Robins Borreria alata (Aubl.) D C Pteris longifolia L. Borreria laevis (Lam.) Griseb Foterandia L. Sida rhombifolia L. Mimosa invisa Mar., Mimosa pigra L Pennisetum polystachion (L.) Schult. Passiflora foetida L Cyrtococcum accrescens (Poac.) Cyperus kyllingia Endl. Asystasia intrusa (Forssk.) Blume., Nephrolepsis biserrata (Sw.)Schott., Stenochlaena palustris Bedd Ottochloa nodosa (Kunth) Dandy Paspalum commersonii Lam. Paspalum conjugatum P.J. Berg. Euphorbia hirta L. Leptochloa chinensis (L.) Ness. Cynodon dactylon (L.) Pers Cleome rutidosperma DC. Cyperus iria L. Kemudahan dikendalikan dengan herbisida dan Biaya pengendalian mahal A1 Ketahanan terhadap cekaman kekeringan dan Menggaanggu bagi pekerja panen A2 Distribusi luas dan Daya kerusakan terhadap kelapa sawit B1 Potensi sebagai inang HPT B2 Typic Dystrudept Typic Haplosaprit Humic Dystrudept Typic Dystrudept 92   93   Tabel 26. Penyebaran gulma berdasarkan karateristik gulma dan perbedaan agroekologi (Lanjutan) Jenis Gulma Dicranopteris linearis (Burm. f. Underw). Centotheca lappacea (L.) Desv., Merremia umbellata (L.) Hallier f Gleichenia linearis (Burm. F.) C. B. Clarke. Mikania micrantha (H. B. K) RM. King Imperata cylindrica (L.) Beauv., Axonopus compresus (Sw.) P. Beauv Pylanthus niruri L. Calopogonium mucunoides Desv Ageratum conyzoides L. Lygodium palmatum (Bernh.) Swartz. Digitaria adscendens (H.B.K) Henr. Caladium tuberosum (S. Moore) Bogner M Clidemia hirta (L.) D. Don. Eleusine indica (L. ) Gaertn. Pteridium aquilinum (L.) Kuhn. Cyclosorus aridus (Don.) Ching Cyperus rotundus L. Echinochloa colonum (L.) Link Scleria sumatranensis Retz. Stenotaphrum secundatum (Waltz.) Kuntze. Pengelompokkan Karakteristik Gulma Regrowth (Pertumbuhan yang cepat) dan Kemudahan propagul terbawa pekerja Ketahanan terhadap genangan dan cara perbanyakan Kelompok Dendogram (Subgrup) C1 C2 Jenis Subgrup Lahan Humic Dystrudept Typic Endoaqent Dapat dilihat dari Tabel 25 dan 26, sub grup humic dystrudept merupakan sebaran tanah yang dominan dibandingkan dengan subgrup tanah yang lain yaitu 48% dari luasan tanah di Tambusai Estate. Tanah humic dystrudept ini memiliki tingkat ternaungi sebesar 55% dengan intensitas cahaya 100 lux menyebabkan tanah yang ada dibawahnya dalam keadaan lembab. Kondisi tanah seperti itu merupakan tempat yang optimum bagi gulma Asystasia intrusa 93   94   (Forssk.) Blume., Nephrolepsis bisserata (Sw.) Schott., dan berbagai jenis tumbuhan paku lainnya. Hal ini yang menyebabkan gulma diatas menjadi gulma dominan dengan NJD rata - rata sebesar 23% setelah dilakukan inventarisasi gulma di wilayah Tambusai Estate. NJD (Nisbah Jumlah Dominansi) Menurut Nasution (1981) jenis gulma yang tumbuh di suatu tempat berbeda-beda. Faktor utama yang menyebabkan perbedaan komunitas gulma yang tumbuh antara satu daerah ekologi gulma yaitu struktur tanah, curah hujan, altitude, dan pola kultur teknis. Pengendalian gulma di Tambusai Estate menggunakan herbisida biasanya tidak melalui analisis vegetasi gulma. Akibatnya, pada saat pengendalian dengan herbisida dilakukan tidak semua gulma yang ada dapat dikendalikan. Hal inilah yang membuat penulis melakukan invetarisasi jenis gulma yang ditemui di areal pertanaman kelapa sawit Tambusai Estate. Inventarisasi gulma ini bertujuan untuk mencatat gulma penting dan mempelajari pola komunitas gulma di kawasan tersebut. Tambusai Estate memiliki daerah rendahan dan lahan darat dengan topografi kemiringan 1 - 3%. Daerah lahan darat adalah daerah dengan media tumbuh tanah mineral dengan gulma dominan Stenochlaena palutris Bedd., Neprolepsis bisserata (Sw.) Schott., Asystasia intrusa (Forssk.) Blume., dan anakan sawit (kentosan). Daerah rendahan yang ada di Tambusai Estate merupakan daerah dataran yang memiliki topografi lebih rendah dari dataran lain sehingga membentuk cekungan, selama musim hujan dataran ini tergenang setinggi 2 m. Dataran ini terdapat di Afdeling XII blok X5, dengan gulma dominan pada musim hujan Scleria sumatrensis Retz. dan pada saat musim kering Asystasia intrusa (Forssk.) Blume., Nephrolepsis bisserata (Sw.) Schott., dan Stenochlena palustris Bedd. Secara lebih spesifik, NJD dianalisis pada blok N20 dan blok X5. Hasil inventarisasi gulma (analisis vegetasi gulma) yang ada di blok N20 afdeling VIII Tahun tanam 1997 dan di blok X5 afdeling XII tahun tanam 2006. Tabel 27 menunjukkan merupakan nilai kerapatan, berat kering, NJD dan frekuensi gulma pada blok N20 (afdeling VIII Tambusai Estate) dengan “metode kuadrat“ dan 94   95   Tabel 28 merupakan nilai kerapatan, berat kering, NJD dan frekuensi gulma pada blok X5. Tabel 27. Nilai kerapatan, bobot kering, NJD, dan frekuensi gulma pada blok N20 afdeling VIII Tambusai Estate. Spesies Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. Nephrolepsis biserrata (Sw.) Schott. Stenochlaena Palustris Bedd. Cyrtoccocum acrescens (Poac). Centotecha lapacea (L.) Desv. Ageratum conyzoides L. Mikania micranta (H. B. K) RM. King. Lygodium palmatum (Bernh.) Swartz. Cynodon dactylon (L.) Pers. Axonopus compresuss (Sw.) P. Beauv. Euphorbia hirta L. Cyperus kyllingia L. Cleome rutidospermae D.C. Kerapatan KM KN Bobot Kering Frekuensi BKM BKN FM FN NJD (%) 380 53.0 298.0 59.0 6 20 43.87 84 12.0 98.5 19.0 3 10 13.70 36 5.0 36.0 7.0 2 7 7.27 14 2.0 4.5 1.0 1 3 6.57 38 14 5.0 2.0 16.0 6.5 3.0 1.0 4 2 13 7 6.27 6.17 45 6.0 17.5 3.0 3 10 3.30 11 2.0 6.0 1.0 2 7 3.13 12 2.0 2.0 0.4 1 3 2.50 59 4 20 8.0 1.0 3.0 18.5 1.5 2.0 4.0 0.3 0.4 2 2 1 7 7 3 2.17 2.07 1.80 1 718 0.1 0.5 507.5 0.1 1 30 3 1.20 Nilai NJD kemudian disusun berturut-turut dari yang terbesar sampai yang terkecil (Tabel 27) untuk blok N20 afdeling VIII dan (Tabel 28) untuk blok X5 Afdeling XII. Besarnya NJD menunjukkan dominansi gulma yang ada pada areal petak contoh. 95   96   Tabel 28. Nilai kerapatan, bobot berat kering, NJD, dan frekuensi gulma pada blok X5 afdeling XII tahun tanam 2006 Spesies Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. Nephrolepsis biserrata(Sw.) Schott. Mikania micranta (H. B. K) RM. King. Cyperus rotundus L. Cyrtoccocum acrescens (Poac). Stenochlaena palustris Bedd. Scleria sumatrensis Retz. Melastoma affine D. Don. Axonopus compresuss (Sw.) P. Beauv. KM KN BKM BKN FM FN NJD 130 36.7 133.3 44 4 21.0 33.93 89 25.1 64.0 21 2 10.0 18.93 3 3 0.8 0.8 3.0 1.0 0.9 0.3 1 1 5.2 5.2 15.20 11.87 31 8.8 15.8 5.2 2 10.0 8.17 51 26 10 0.14 7.3 2.8 46.8 21.8 14.3 15.4 7.1 4.7 3 4 1 15.7 21.0 5.2 4.27 3.13 2.37 11 354 3.1 3.0 302.8 0.9 1 19 5.2 2.13 100 Tabel 27 menunjukkan gulma Asystasia intrusa merupakan gulma yang paling dominan pada lahan mineral afdeling VIII blok N20 pada tahun tanam 1997. Gulma tersebut memiliki nisbah jumlah dominansi (NJD) sebesar 43.87% diikuti oleh gulma Nephrolepsis bisserata (Sw.)Schott. (NJD = 13.70%), dan Chentotheca lappacea (L.) Desv. (NJD = 7.27%). Pada Tabel 28, blok X5 afdeling XII gulma yang paling dominan adalah Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. (NJD = 33.93%), Nephrolepsis bisserata (Sw.) Schott. (NJD = 18.93%), dan Stenochlaena palustris Bedd. (NJD = 15.20%). Pada saat musim penghujan gulma yang paling dominan pada blok daerah rendahan ini adalah gulma Scleria sumatrensis Retz. Menurut Perdana (2009) daerah rendahan yang umumnya sangat lembab di BPE (Bukit Pinang Estate) didominansi oleh gulma Scleria sumatranensis Retz., Chromolaena odorata (L.) King and H.E.Robins., Dicranopteris linearis (Burm. f. Underw)., dan Clidemia hirta (L.) D. Don., sedangkan daerah mineral didominansi oleh gulma Ageratum conyzoides L. dan Paspalum conjugatum P. J. Berg. Di Tambusai Estate jenis gulma di daerah dataran yang tidak tergenang dan tergenang memiliki perbedaan. Jenis gulma di daerah tergenang didominansi oleh gulma Scleria sumatrensis Retz., sedangkan di daerah lahan mineral yang 96   97   kering didominansi oleh gulma Asystasia intrusa (Forssk.) Blume., Nephrolepsis bisserata (Sw.) Schott., dan Stenochlaena palustris Bedd. Menurut Sastroutomo (1990) menyatakan bahwa komunitas gulma adalah kumpulan individu gulma yang tumbuh di suatu areal dengan luasan tertentu. Suatu komunitas gulma dapat terdiri dari dua jenis atau lebih gulma. Komunitas gulma tersebar pada lokasi dan jarak yang berbeda-beda. Kedua agroekologi yang berbeda tersebut menunjukkan adanya perbedaan komunitas gulma. Penyebaran komunitas gulma dipengaruhi oleh lingkungan, kultur teknis, dan tanaman. Faktor lingkungan mempengaruhi komunitas gulma yang tumbuh adalah iklim, tanah, dan organisme biotik. Iklim merupakan faktor yang paling dominan dalam menentukan jenis tumbuhan, tanaman atau gulma yang dominan di daerah tersebut. Misalnya, daerah yang memiliki curah hujan yang tinggi akan berpengaruh pada kerapatan gulma, kecepatan pertumbuhan, dan keragaman yang tinggi dibandingkan dengan daerah yang bercurah hujan rendah. Kultur teknis meliputi pengolahan tanah, pemupukan, rotasi tanaman sebelumnya, dan pengendalian gulma sebelumnya akan menentukan keberadaan seed bank. Jenis pola tanam yang diterapkan juga mempengaruhi komunitas gulma yang tumbuh. Pola tanam umumnya berkaitan dengan umur tanaman, lebar penutupan tajuk (adanya naungan) dan ruang hidup. Dominansi gulma menurut umur tanaman (tahun tanaman ditanam) dapat dilihat pada Tabel 29 dan data analisis vegetasi gulma secara keseluruhan terdapat pada Lampiran 7 dan Lampiran 8. 97   98   Tabel 29. Gulma yang tumbuh dominan di Tambusai Estate No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Spesies 1990 Tahun tanam 1995 1996 1997 1998 1999 2002 2003 2004 2005 ……………………………………………………..%..................................................... 14.5*) 8.8*) 24.2*) 37.9*) 21.9*) 26.2*) 22.3*) 24.6*) 26.3*) 21.6*) 1991 4.3 Asystasia intrusa (Forssk.)Blume 23.0*) 14.1*) 26.6*) 13.2*) 12.8*) 22.5*) 22.3*) Nephrolepsis biserrata (Sw.) Schott. 41.3*) 37.1*) 18.6*) 25.4*) 4.9 5.9*) 16.7*) Stenochlaena palustris Bedd. 2.3 6.7*) 9.1*) 3.9 7.7*) 15.8*) Cyclosorrus aridus (Don.) Ching. Pteris longifolia L. 7.4*) 17.2*) 7.0*) 9.9*) 2.4 3.7 0.7 Centotecha lapacea (L.) 2.3 6.0*) 4.4 8.5*) 3.3 3.8 Desv. Melastoma affine D.Don. 9.3*) 4.0 1.5 1.3 2.7 2.0 3.3 1.3 9.5*) 8.4*) 0.7 Cyrtoccocum acrescens (Poac.) 5.5*) 2.4 5.9*) 0.9 1.1 Dicranopteris linearis (Burm.f. Underw) 1.3 0.7 2.8 2.8 0.6 Lygodium palmatum (Bernh.) Swartz. Mikania micranta (H. B. 1.7 1.2 2.0 7.3*) 3.2 K) RM. King. Keterangan : *) Gulma dominan di perkebunan kelapa sawit pada tahun tanam tersebut 28.9*) 17.3*) 16*) 18.3*) 31.1*) 30.7*) 3.5 8.2*) 20.5*) 5.1*) 12.9*) 4.9 3.9 4.3 24.7*) 0.6 4.9 5.0*) 1.9 0.9 5.4*) 4.9 1.4 0.7 1.0 3.6 2.1 5.7*) 5.9*) 0.9 1.6 10.4*) 2.6 5.5*) 1.5 3.2 2.4 1.7 2.9 5.3*) 4.7 98 98   2006 99   Secara umum, komunitas gulma yang tumbuh dominan di Tambusai Estate digolongkan menjadi gulma berdaun lebar dan gulma rumput. Gulma berdaun lebar tumbuh dominan pada areal yang kurang ternaungi yaitu pada areal yang baru ditanami dengan tahun tanam kelapa sawit 2002 - 2005 dan pada areal yang telah lama ditanam atau produktivitas tinggi yaitu pada tahun tanam 1990 - 1995. Gulma rumput tumbuh dominan pada areal yang ternaungi yang merupakan areal yang telah lama ditanami. Gulma daun lebar yang tumbuh dominan di Tambusai Estate adalah Asystasia intrusa (Forssk.) Blume., Nephrolepsis bisserata (Sw.) Schott., Stenochlaena palustris Bedd., Cyclosorus arridus (Don.) Ching., Pteris longifolia L., Dicranopteris linearis (Burm. f. Underw)., Lygodium palmatum (Bernh.) Swartz., dan Mikania micranta. Gulma daun lebar tumbuh dominan pada tahun tanam 1997 - 1999. Gulma Asystasia intrusa (Forssk.) Blume., Nephrolepsis bisserata (Sw.) Schott., dan Stenochlaena palustris Bedd. tergolong gulma dominan pada tahun tanam kelapa sawit 1990 - 2006, sedangkan gulma Mikania micranta (H. B. K) RM. King. tumbuh hanya pada tahun 1998. Gulma berdaun lebar yang tumbuh dominan di Tambusai Estate ditampilkan pada Gambar 33, gulma daun lebar jenis paku - pakuan dapat dilihat pada Gambar 34. 40 35 30 25 Asystasia intrusa  (Forssk.)Blume.  NJD (%) 20 Melastoma affine D.Don. 15 10 Mikania micranta (H. B. K)  RM. King. 5 2006 2005 2004 2003 2002 1999 1998 1997 1996 1995 1991 1990 0 Tahun Tanam Gambar 33. Gulma daun lebar yang dominan di Tambusai Estate 99   100   45 40 35 30 25 NJD (%) 20 15 10 5 0 Nephrolepsis biserrata  (Sw.) Schott. Stenochlaena palustris  Bedd. Cyclosorrus aridus (Don.)  Ching. 2006 2005 2004 2003 2002 1999 1998 1997 1996 1995 1991 1990 Pteris longifolia L. Tahun Tanam Dicranopteris linearis  (Burm.f. Underw) Lygodium palmatum  (Bernh.) Swartz. Gambar 34. Gulma paku-pakuan yang dominan di Tambusai Estate Gulma rumput yang tumbuh dominan di Tambusai Estate adalah Centotheca lappacea (L.) Desv. dan Cyrtococcum acrescens (Poac.). Gulma rumput tumbuh dominan pada tahun 1995 - 1998, dan 2005 - 2006. Gulma Centotheca lappace (L.) Desv. tumbuh dominan pada tahun 1995, 1998, dan 2004, sedangkan gulma Cyrtococcum acrescens (Poac.) tumbuh dominan pada tahun tanam kelapa sawit 1998 dan 2006. Gulma rumput yang dominan di Tambusai Estate ditunjukkan pada Gambar 35. 12 10 8 6 Centotecha lapacea (L.)  Desv. NJD (%) 4 Cyrtoccocum acrescens  (Poac.) 2 2006 2005 2004 2003 2002 1999 1998 1997 1996 1995 1991 ‐2 1990 0 Tahun Tanam Gambar 35. Gulma rumput yang tumbuh dominan di Tambusai Estate 100   101   Centotecha lappacea (L.) Desv. dan Cyrtoccocum acresscens (Poac.) memiliki nilai NJD semakin besar dengan bertambahnya usia tanaman kelapa sawit, sehingga dominansinya bertambah seiring dengan ternaunginya kebun. Asystasia intrusa (Forssk.) Blume., Nephrolepsis bisserata (Sw.) Schott., dan Lygodium palmatum (Bernh.) Swartz., memiliki nilai NJD besar pada tanaman kelapa sawit muda dan semakin kecil pada kelapa sawit dengan tahun tanam yang lebih awal. Sebaran gulma yang tumbuh dominan Tambusai Estate ditampilkan pada Gambar 36. 101   102   102 102   103   Stenochlaena Gulma Asystasia intrusa Nephrolepsis bisserata palustris Warna SDR (%) Tahun Tanam 22.3 24.6 26.2 26.3 37.9 22.5 26.6 30.7 31.1 25.4 37.1 41.3 2002 2003 1999 2004 1997 1998 1995 2006 2005 1996 1991 1990 Gambar 36. Pola penyebaran dominansi gulma di Tambusai Estate menurut tahun tanam Tabel 29 menunjukkan bahwa komposisi gulma yang tumbuh dominan pada setiap tahun tanamannya mengalami perubahan. Gulma yang tumbuh dominan pada tahun tanam 1990 - 2006 (TM 3 - 19) adalah gulma Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. dan Nephrolepsis bisserata (Sw.) Schott. dengan nilai NJD berubah setiap tahunnya. Gulma yang tumbuh dominan pada tahun tanam 1990-1996 (TM 15 - 19) adalah Stenochlaena palustris Bedd., Pteris longifolia L., Cyclossorus aridus (Don.) Ching., Centhoteca lappacea (L.) Desv., Dicranopteris linearis (Burm. f. Underw)., dan Nephrolepsis bisserata (Sw.) Schott. Gulma dominan pada tahun tanam 1997 - 1999 (TM 14 - 18) dan 2002 - 2006 (TM 3 - 7) adalah Asystasia intrusa (Forssk.) Blume., Nephrolepsis bisserata (Sw.) Schott., Cyclossorus aridus (Don.) Ching., Centotheca lappacea., Pteris longifolia L., Stenoclena palustris Bedd., Dicranopteris linearis (Burm. f. Underw)., dan Lygodium palmatum (Bernh.) Swartz. Centotheca lappacea (L.) Desv. dan Cyrtoccocum acrescens (Poac.) merupakan gulma yang tumbuh dominan pada tahun tanam 1997 - 1998 (TM 14 - 15) dengan nilai NJD (nisbah jumlah dominansi) tertinggi 8.5% dan 9.5% pada tahun tanam 1997 (TM 14). Hal ini disebabkan kedua gulma tergolong tumbuhan C3 yang resisten terhadap naungan. Menurut Soerjandono (2004) jenis gulma berdaun sempit memiliki perakaran yang melekat kuat pada tanah dan sangat kompetitif dan efisien dalam menyerap unsur hara dibandingkan jenis gulma berdaun lebar. Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. dan Nephrolepsis bisserata (Sw.) Schott. adalah gulma yang tumbuh dominan pada tahun tanam 103   104   1990-2006 (TM 3 - 19) dengan nilai NJD tertinggi 37.9% dan 31.1% pada tahun tanam 1997 (TM 14) untuk gulma Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. dan tahun tanam 2006 (TM 3) untuk gulma Nephrolepsis bisserata (Sw.) Schott. Menurut Prawirosukarto et al. (2005) Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. yang tumbuh pada areal terbuka akan lebih banyak menghasilkan organ vegetatif. Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. berkembang biak melalui biji dan tunas pada ruas batang. Menurut Lee (1984) Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. tergolong jenis gulma ganas (noxius weed) karena setelah populasi terbangun pada suatu lokasi akan sulit dikendalikan karena kemampuannya menghasilkan biji dalam jumlah banyak. Pengendalian Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. dan suksesi Cleome rutidospermae D.C. Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. sering dinamakan dengan rumput johor barat, Israel, dan syaitan. Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. merupakan gulma yang berbatang lunak, tingginya dapat mencapai 1.5 m. Letak daun berpasangan, berbentuk lonjong, dan ujungnya runcing. Bunganya berukuran kecil berwarna putih dengan pola kebiruan. Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. dapat dikendalikan secara manual dan dilanjutkan dengan pembakaran gulma. Penulis mengamati kematian dan pertumbuhan kembali Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. pada piringan setelah penyemprotan dengan herbisida campuran. Pengamatan dilakukan pada dua rintis piringan yang berada di dalam hancak dan di pinggir hancak. Dosis herbisida yang digunakan 120 cc/tangki dengan campuran Amiphosat dan Rapid. Knapsack sprayer yang digunakan untuk kegiatan penyemprotan adalah jenis knapsack sprayer punggung yang dipompa secara terus menerus dengan volume 16 liter. Nozel yang digunakan adalah full cone jenis VLV dengan volume semprot 20 l/ha, dan lebar semprot 1 m. Data lapangan menunjukkan bahwa Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. mengalami kematian dengan ciri-ciri tanaman menjadi layu yaitu pada 7 hari setelah penyemprotan. Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. tidak tumbuh kembali setelah 5 MSA (minggu setelah aplikasi). Pada pengamatan 5 MSA gulma Cleome rutidosperma D.C. tumbuh dominan menggantikan Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. Tumbuhnya gulma Cleome rutidosperma D.C. diakibatkan oleh keadaan 104   105   lingkungan yang sesuai bagi pertumbuhan biji Cleome rutidosperma D.C. yang dorman di dalam tanah. Namun demikian, seed bank gulma Cleome rutidosperma D.C. tidak diamati dalam pengamatan ini. Pengamatan kematian dan pertumbuhan kembali gulma lain selain Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. dapat dilihat pada Gambar 37 dan 38 dan Tabel 30. Pengamatan Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. sebagai bagian dalam kajian dinamika populasi, regrowth Cleome rutidosperma D.C. tidak dapat dilepaskan dari faktor edafik, lingkungan dan kultur teknis. Pengamatan yang dilakukan selama magang ini baik dari sisi pelaksanaan pengendalian, normanorma pengendalian, analisis vegetasi dan kajian populasi gulma merupakan bagian penting dalam program pengendalian gulma yang seharusnya menjadi informasi penting bagi Tambusai Estate. Hasil dari kajian di Tambusai Estate juga dapat diaplikasikan pada perkebunan kelapa sawit di tempat lain melalui penyesuaian – penyesuaian sesuai dengan karakteristik laham wilayah tersebut. 105   106   Tabel 30. Pengamatan pengendalian Asystasia intrusa (Forssk.) Blume. dan Centotheca lappacea DC. pada Blok N20 Ulangan Bahan Aktif (Merk Dagang) Dosis /tangki Gulma yang diamati Ciri fisik Kesegaran U1 Hari-1 % Segar 100 Hijau 100 Warna Glifosat ( Amiphosat dan Rapid) 120 cc/ tangki (campuran) Asystasia intrusa Segar 100 Kesegaran U1 Segar Layu Hijau Kuning 30 70 30 70 Segar 15 Layu Kering Hijau Kuning Coklat Layu % 40 60 10 50 40 30 3 MSA Kering Mengkerut Hijau Kuning Coklat Kering % 80 20 5 35 60 10 Layu 85 Kering 70 Mengkerut 90 100 Hijau Kuning 30 70 Hijau Kuning Coklat 5 45 50 Kuning Coklat 45 55 Segar 100 100 20 80 80 15 Layu Kering Kuning Coklat 10 90 Hijau Segar Layu Kuning Coklat Kering Mengkerut Coklat 100 Segar Layu Kuning Coklat 15 85 95 5 Layu Kering Kuning Cuklat Kering Mengkerut Kuning Coklat 10 90 10 90 Warna Centothec a lapacea 2MSA Hijau Warna 120 cc/ tangki (campuran) % 4MSA % Kering Mengkerut Coklat Hitam 5 95 40 60 Mengkerut 100 5 MSA % Mengkerut 100 Hitam 100 Mengkerut 100 Kesegaran U2 Warna Segar 100 Hijau 100 15 % Tumbuh Cleome rutidospermae Tumbuh Cleome rutidospermae Kesegaran U2 Glifosat ( Amiphosat dan Rapid) 1MSA Coklat Hitam 30 70 Hitam 100 Mengkerut 100 Mengkerut 100 Hitam 100 Hitam 100 Mengkerut 100 Mengkerut 100 Hitam 100 80 5 95 20 80 Coklat Hitam 70 30 106 106   20 20 107   a) 1 HSA d) 3 MSA b) 1 MSA e) 4 MSA c) 2 MSA f) 5 MSA Gambar 37. Kematian gulma Chentotecha lappacea (L.) Desv. setelah aplikasi (penyemprotan) herbisida: a). Kematian gulma setelah 1 hari aplikasi, b). Kematian gulma setelah 1 minggu aplikasi, c). Setelah 2 minggu aplikasi, d). Setelah 3 minggu aplikasi, e). Setelah 4 minggu aplikasi, dan f). Setelah 5 minggu aplikasi 107 107   108   a) 1 HSA d) 3 MSA b) 1 MSA e) 4 MSA c) 2 M MSA f) 5 M MSA Su uksesi Cleomee rutidosperm mae g) 5 MSA Gambar 38. Kematian gulma Asystasiia intrusa (Forssk.) Blume. settelah aplikasi (p penyemprotan) herbisida h dan suuksesi Cleome rutidosperm ma DC: a). Kem matian gulma seteelah 1 hari aplik kasi, b). Kematiaan gulma setelah h 1 minggu aplikkasi, c). Setelah 2 minggu aplikasi, d). Seetelah 3 minggu u aplikasi, e). Setelah 4 minggu u aplikasi, f). Setelah S 5 mingggu aplikasi, g). Bersamaann dengan kematian gulma Asystasia intrusa muncul m gulma baaru Cleome ruttidospermae seteelah 5 minggu aplikasi 108 108   109   KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Kegiatan magang telah meningkatkan keterampilan penulis dalam melakukan proses kerja yang nyata di lapangan seperti dalam kegiatan teknik budidaya khususnya pengendalian gulma. 2. Manajemen pengelolaan gulma di Tambusai Estate masih perlu ditingkatkan sehingga target produksi perusahaan dapat dicapai dengan baik. 3. Metode pengendalian dengan menggunakan manual dipadukan dengan kimiawi merupakan metode yang paling efisien untuk mengendalikan gulma yang mendominasi Tambusai Estate. 4. Faktor agroekologi tanah di Tambusai Estate juga mempengaruhi sebaran serangan gulma. 5. Kondisi tanah lembab merupakan tempat yang optimum bagi gulma Asystasia intrusa (Forssk.) Blume., Nephrolepsis bisserata (Sw.) Schott., dan berbagai jenis tumbuhan paku lainnya yang merupakan gulma dominan di Tambusai Estate. 6. Serangan gulma pada perkebunan kelapa sawit menyebar berdasarkan sifat morfologi, botani dan sifat merusak bagi tanaman kelapa sawit serta perbedaan agoekologi berupa subgrup tanah Saran 1. Perlu ada perbaikan inventarisasi gulma di perusahaan Tambusai Estate, agar bahan-bahan pengendalian gulma seperti herbisida dapat diaplikasikan secara tepat waktu, jenis, dan tempat. 2. Perlu dilakukan peningkatan pengetahuan mengenai penggunaan alat pengendalian gulma secara kimia bagi mandor pemeliharaan maupun petugas semprot. 3. Perlu diadakan penelitian lanjutan pola penyebaran dan dominansi gulma pada perkebunan di tanah gambut dan tanah mineral kaitannya dengan metode pengendalian yang paling efektif. 109   i    INFESTASI GULMA PADA AGROEKOLOGI YANG BERBEDA DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT TAMBUSAI ESTATE, PT. PANCA SURYA AGRINDO, KAB. ROKAN HULU, RIAU RATIH LARASATI A24080149 DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012 110    DAFTAR PUSTAKA Barchia, M. F. 2006. Gambut Agroekosistem dan Transformasi Karbon. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. 196 hal. Direktorat Jenderal Perkebunan. 2012. Luas Areal dan Produksi Kelapa Sawit, Menurut Pengusahaan 1967-2010. http://ditjenbun.deptan.go.id/ [4 Juli 2012]. Djojosumarto, P. 2008. Teknik Aplikasi Pestisida. Kanisius. Yogyakarta. 211 hal. First Resousces Research Centre, Tambusai Estate. 2008. Analisis Tanah. First Resousces Research Centre. Rokan Hulu. 5 hal. Ginting, K., E. S. Sutarta, dan R. Y. Purba 2004. Teknik infus akar untuk pengendalian gulma epifit pada pohon kelapa sawit. Warta Bursa Komoditi. 12 :2 - 3. Hero, P. F. 2011. Perkembang Ekspor Kelapa Sawit (CPO) Indonesia dalam Perdagangan Dunia. http://pphp.deptan.go.id.[5 Juli 2012]. Hakim, M. 2007. Kelapa Sawit Teknis Agronomis dan Manajemennya. Lembaga Pupuk Indonesia. Jakarta. 163 hal Hidayat, W. 2012. Manajemen Pemupukan pada Perkebunan Kelapa Sawit di PT. Panca Surya Agrindo, Firs Resources Ltd, Kab. Rokan Hulu, Riau. Skripsi. Program Sarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 69 hal. Hoshizaki, B.J. 1975. Fern Growers Manual. Alferd A. Knopf Publ. Co.Inc. New York. 256 p. Lee, S. A. 1984. Control of Asystasia Intrusa (BI). In pineapple with emphasis on new technique. Paper presented at the Seminar and Discussion on the weed Asystasia, West Johore Agric. Dev. Project. Pontianak. 16 p. Lubis, A.U. 1992. Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Indonesia. Pusat Penelitian Perkebunan Marihat Bandar Kuala. 435 hal. Mangoensoekarjo S dan H. Semangun. 2003. Manajemen Agrobisnis Kelapa Sawit. Gadjah Mada University Press. 605 hal. Moenandir, J. 1993. Pengantar Ilmu dan Gulma. Edisi 1. Rajawali. Jakarta. 122 hal. Nasution, U. 1986. Gulma dan Pengendaliannya di Perkebunan Karet Sumatera Utara dan Aceh. P4TM. Tanjung Morawa. 269 hal. 110   111    Pahan, I. 2010. Panduan Lengkap Kelapa Sawit Manajemen Agribisnis dari Hulu Hingga Hilir. Penebar Swadaya. Jakarta. 411 hal. Prawirosukarto, S., Syamsuddin, E., Darmosarkoro, W., dan Purba, A. 2005. Tanaman Penutup Tanah dan Gulma pada Kebun Kelapa Sawit. PPKS. Medan. 74 hal. Perdana, E. 2009. Pengendalian Gulma Kelapa Sawit di Kebun Bukit Pinang, PT. Bina Sains Cemerlang, Minamas Plantation. Skripsi. Program sarjana, Institut Pertanian Bogor. Bogor. 70 hal. Rambe, T. D., L. Pane, Sudharto, dan Caliman. 2010. Pengelolaan Gulma pada Perkebunan Kelapa Sawit di PT. Smart Tbk. Jakarta. 152 hal. Sastrosayono, S.2006. Budidaya Kelapa Sawit. Agromedia Pustaka. Jakarta. 60 hal. Sastroutomo, S. S. 1990. Ekologi Gulma. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 85 hal. SEAMEO. 2011. Invansive Alien Species. http://www.biotrop.org/database.php. [20 Juli 2012]. Sembodo, D. R. J. 2010. Gulma dan Pengelolaannya. Graha Ilmu. Yogyakarta. 176 hal. Soerjandono, B.N. dan Noerizal. 2004. Teknik pelaksanaan percobaan pengaruh aplikasi pupuk N terhadap populasi tiga jenis gulma. Bul. Teknik Pertanian. 9:76 - 78. Stubbendieck, J., C.H. Butterfield, and T.R. Flessner. 1992. An Assesment of Exotic Plant Species at Pipestone National Monument and Wilson’s Creek National Batterfield. U.S. Department of The Inferior National Park Service. Colorado. Sunarko. 2009. Budidaya dan Pengelolaan Kebun Kelapa Sawit dengan Sistem Kemitraan. Agromedia Pustaka. Jakarta. 178 hal. Sukman, Y. dan Yakup. 2002. Gulma dan Teknik Pengendaliannya. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.157 hal. Tjitrosoedirdjo, S.S. 2010. Konsep .Gulma dan Tumbuhan Invansif. Jurnal Gulma dan Tumbuhan Invansif Tropika 2(1): 89 – 100. Tjitrosoedirdjo, S.S. 2011. Identifikasi Asystasia gangetica (L.) T. Aderson subsp. Micrantha (Nees) Ensermu. Jurnal Gulma dan Tumbuhan Invasif Tropika 2(1):39 - 40. 111   112    Tjitrosoedirdjo, S.S., I. H.Utomo, dan J. Wiroatmodjo. 1984. Pengelolaan Gulma di Perkebunan. PT. Gramedia. Jakarta. 207 hal. Wibawanti, R. 2012. Pengelolaan Gulma Pada Perkebunan Kelapa Sawit. http://ditjenbun.deptan.go.id/perlindungan/index.php?option=com_content& view=article&id=108:pengelolaan-gulma-pada-perkebunan-kelapa sawit&catid=15:home. [6 Juli 2012]. Widiyanto, G. 2012. Identifikasi dan Karakterisasi Gulma – Gulma Ruderal Invansif di Kebun Raya Bogor. 92 hal. Zaman, F.F.S. 2006. Manajemen Pengendalian Gulma pada Tanaman Belum Menghasilkan di Perkebunan Kelapa Sawit, PT. Sentosa Mulia Bahagia, Musi Banyu Asin, Sumatra Selatan. Skripsi. Program Sarjana, Institut Pertanian Bogor. Bogor. 57 hal. 112   113    LAMPIRAN 113   114    Lampiran 1. Peta Perkebunan Tambusai Estate 114 114   115    Lampiran 2. Jurnal harian kegiatan magang sebagai karyawan harian lepas di Tambusai Estate, Desa Tambusai Utara, Kecamatan Tambusai Utara, Kabupaten Rokan Hulu, Riau Tanggal Uraian Kegiatan 13/02/2012 Membantu administrasi di kebun Pengambilan data sekunder 14/02/2012 Simulasi pemupukan MOP 1.5 kg Simulasi penguntilan pupuk MOP 9 kg/until Pemupukan MOP 1.5 kg/pohon Penyemprotan piringan Pertemuan kepala Direksi Umum Pengimpusan Libur Penyemprotan pasar pikul Analisis vegetasi gulma afdeling 8 Analisis vegetasi gulma afdeling 9 Pengendalian hama gajah Anveg gulma Afdeling 9 Penandaan pengamatan panen 100 batang Membantu administrasi kebun 15/02/2012 16/02/2012 17/02/2012 18/02/2012 19/02/2012 20/02/2012 21/02/2012 22/02/2012 23/02/2012 Prestasi Kerja Penulis - Karyawan - Lokasi Standar - Afdeling VIII Afdeling VIII M24 - - - 9 kg 481 kg 300 kg 10 until 92 until - 9 kg 555 kg 300 kg 0.5 ha - 3.46 ha - - L21 KCK 12 pohon 0.5 ha 3 blok 21 pohon 6 ha - 30 pohon - N17 2 blok - - L21 N22M22-L22 S15-T13 1 blok 2 blok 7 pasar - - T14 R14-S19 N20 - - - Gudang PKS N23-N24 24/02/2012 Pengangkutan buah 12 ton 30 ton 16 ton 25/02/2012 7 pasar - - 17 TPH 0.5 ha 2 Pohon 7 pasar 17 TPH 2 ha 2 Pohon - 2 ha - PKS L17-L20 Afd VIII N17-N18 O18 N20 02/03/2012 Menghitung lossis dan AKP 100 tanaman contoh Masukin gulma ke oven Pengamatan TPH Membantu administrasi Pembabatan, DAK Pengamatan FeSO4 Pengamatan tanaman contoh,TPH Melakukan analisis vegetasi Afdeling VIII BlokPabrik N20 6 blok - - 03/03/2012 04/03/2012 Lossis tanaman contoh Mengoven gulma 7 pasar - - - 26/02/2012 27/02/2012 28/02/2012 29/02/2012 01/03/2012 Afd. 10 dan 12 N20 PKS 115   116    Lampiran 3. Jurnal harian kegiatan magang sebagai pendamping mandor/mandor besar di Tambusai Estate, Desa Tambusai Utara, Kecamatan Tambusai Utara,Kabupaten Rokan Hulu, Riau Prestasi Kerja Penulis Uraian Kegiatan Tanggal Jml HK yang Diawasi (orang) Luas Areal yang Diawasi (ha) Lama Kegiat an (Jam) Lokasi 05/03/2012 Pengawasan APD dan AKP 38 59.84 7 M19M20 06/03/2012 Kalibrasi waktu pemanen dan AKP 100 Pohon 5 6 7 N20 07/03/2012 Pengawasan chemis dan pemupukan 14 29.37 5 L24L25/M23 08/03/2012 Pengawasan TPH dan panen - 22.5 4 O23 Kalibrasi penyemprotan dan losses 7 3.5 7 O22 Pengamatan persentase kematian gulma - 0.5 0.5 N20 09/03/2012 10/03/2012 11/03/2012 Pengamatan anveg gulma afdeling 10 dan 12 - - 6 U12U11V2/X5V5 Belajar administrasi kebun - - 7 Kantor AFD 8 Identifikasi gulma dan mengoven - - 5 Labor pks 116   117    Lampiran 3. Jurnal harian kegiatan magang sebagai pendamping mandor/mandor besar di Tambusai Estate, Desa Tambusai Utara, Kecamatan Tambusai Utara,Kabupaten Rokan Hulu, Riau (Lanjutan) Tanggal Uraian Kegiatan 12/03/2012 Membenahi kantor 13/03/2012 Pengawasan panen dan simulasi pemanenan 14/03/2012 Pengawasan panen dan AKP   Pengamatan 100 tanaman contoh 15/03/2012 Pengawasan panen dan AKP   Pengamatan persentase kematian gulma Pengamatan 16/03/2012 anveg gulma afdeling 11 Pengawasan 17/03/2012 panen dan AKP 18/03/2012 Libur Dongkel anak 19/03/2012 kayu Rapat dan 20/03/2012 merekap data Grading buah di 21/03/2012 TPH dan losses Pengamatan 100 22/03/2012 tanaman contoh Pengamatan persentase   kematian gulma 23/03/2012 Libur 24/03/2012 Libur 25/03/2012 Libur Prestasi Kerja Penulis Jml HK yang Luas Areal yang Diawasi Diawasi (orang) (ha) 3 0.001 2 1.5 Lama Kegiatan (Jam) 2 Lokasi Kantor AFD8 3 M17-M19 2 4 7 - 3.5 1 2 4 3 - 0.5 0.5 N19-20, O18-19, P18 N20 L23 N20 - - 3 T6,R4,S3 2 10 7 2 0.5   3 - - 7 - 8.5 7 - 3.5 1 - 0.5 0.5 L23-M24/ N22 M23 kantor Afd. 8 N17-18,018 N20 N20 - - - - 117   118    Lampiran 4. Jurnal harian kegiatan magang sebagai pendamping asisten/ kepala afdeling di Tambusai Estate, Desa Tambusai Utara, Kecamatan Tambusai Utara,Kabupaten Rokan HuLu, Riau Prestasi Kerja Penulis Tanggal 26/03/2012 27/03/2012 28/03/2012 29/03/2012 30/03/2012 Uraian Kegiatan Pengawasan chemis pasar pikul Pengawasan pemupukan Pengawasan jampres Analisis vegetasi gulma 05/04/2012 Pengamatan persentase kerusakan gulma Administrasi di kantor Oven gulma Administrasi di afdeling Kunjungan area HCV Pemeriksaan losses pemanen Analisis vegetasi gulma 06/04/2012 Kalibrasi alat semprot 07/04/2012 08/04/2012 09/04/2012 12/04/2012 13/04/2012 Identifikasi gulma Mengoven gulma Pengenalan pengolahan di PKS (sortasi, lori, perebusan) Pengenalan pengolahan di PKS (rail track, thraser, press, clarification, jampres, kernel, boiler, gudang PKS) Gudang kebun, timbangan Supervisi dosen Analisis vegetasi gulma 14/04/2012 Mempelajari analisis labor Identifikasi gulma 15/04/2012 Mengoven gulma 31/03/2012 01/04/2012 02/04/2012 03/04/2012 04/04/2012 10/04/2012 11/04/2012 Jumlah Luas Lama Mandor yang Areal yang Kegiatan Diawasi Diawasi (jam) (orang) (ha) 1 25.73 4 jam M21 1 1 26.37 7 jam 7 jam M23 PKS Afd I -Afd IV N20 2 8 4 jam Lokasi Afd VIII PKS Afd VIII X5 L17- L19 Afd II, III dan V Logging M20 1 3 jam 3 7 jam PKS PKS 8 7 jam PKS 2 7 jam KCK 5 jam KCK Afd 14 dan 15 PKS PKS 118   119    Lampiran 4. Jurnal harian kegiatan magang sebagai pendamping asisten/ kepala afdeling di Tambusai Estate, Desa Tambusai Utara, Kecamatan Tambusai Utara,Kabupaten Rokan HuLu, Riau (Lanjutan) Tanggal Uraian Kegiatan 16/04/2012 Administrasi di kantor afdeling 17/04/2012 Membantu administrasi afadeling 18/04/2012 Mendampingi audit melihat tapal batas 19/04/2012 Analisis vegetasi gulma Menguntil chelat untuk   Fe 20/04/2012 Go to block Pemupukan Fe   21/04/2012 Administrasi di afdeling Penempelan pamflet   SMK3 22/04/2012 Mengoven gulma 23/04/2012 Administrasi di kantor afdeling 24/04/2012 Mengolah data laporan 25/04/2012 Mengolah data Laporan 26/04/2012 Membantu pembuatan tapal batas 27/04/2012 Membantu pembuatan tapal batas 28/04/2012 Membuat laporan 29/04/2012 Membuat laporan 30/04/2012 Membuat laporan 01/05/2012 Menyiapkan persentasi 02/05/2012 Menyiapkan persentasi 03/05/2012 Menyiapkan persentasi 04/05/2012 Persentasi 05/05/2012 Memperbaiki Laporan 06/05/2012 Memperbaiki Laporan 07/05/2012 Menyerahkan Laporan perbaikan 08/05/2012 Perpisahan di kantor Afdeling 09/05/2012 Perpisahan di kantor kebun 10/05/2012 Perpisahan pelepasan 11/05/2012 Libur 12/05/2012 Kembali ke Bogor Prestasi Kerja Penulis Jumlah Luas Lama Mandor yang Areal yang Kegiatan Diawasi Diawasi (jam) (orang) (ha)         Lokasi Afd VIII       Afd VIII     4 jam Afd XI       2 jam Afd VI Afd VIII 1 27,2     6 jam 2 jam     Afd II L21 Afd VIII Afd VIII   4   PKS     6 jam 2       6 jam 2   6 jam                 3 jam           4 jam     5 jam     3 jam     Afd VIII KKPA B. Tanjung KKPA B. Tanjung KCK   Afdeling VIII PKS Rumah PKS 119   120    Lampiran 5. Curah hujan rata-rata di Tambusai Estate TAHUN Bulan 2001 2002 M HH M 16 237 3 45 5 85 9 106 2 16 5 58 5 39 2 7 9 117 4 29 4 39 15 139 HH MM Januari Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember 9 4 3 9 2 3 6 5 10 14 13 8 233 119 75 109 16 58 169 47 174 255 169 654 Total 86 2 078 79 Rata-rata BB BK 7 173 7 2003 2004 2006 2007 2008 2009 2010 MM HH MM HH MM HH MM HH MM HH MM HH MM HH MM HH 11 11 17 15 5 3 9 6 14 6 15 74 182 124 215 122 114 32 195 74 217 80 280 6 5 8 7 4 5 7 2 7 12 14 35 95 121 86 51 44 13 90 132 182 9 1 5 5 5 6 2 5 7 12 6 80 10 59 46 68 5 28 69 84 124 61 3 8 7 7 8 9 5 5 12 11 15 17 41 111 91 103 117 186 76.5 88.5 134.9 142.4 270.9 531 12 12 8 14 14 7 12 6 10 17 13 14 224.1 132.6 111.2 308.7 300.5 158.8 195.7 55.1 201.3 432.3 129.9 177.7 12 10 18 15 7 11 12 8 14 15 11 17 224.5 150 315.6 238.1 153.9 269.8 175.7 224.8 207.1 142.2 209.3 310.7 16 10 16 10 7 8 5 15 9 8 13 20 273.7 283.5 375.5 199.7 77.3 58.1 67.9 303.6 207.7 270,4 171.6 343.7 14 12 7 10 7 12 9 5 13 8 13 10 199,4 232 215,6 302,2 49,8 258,8 206,6 59,3 236,5 188,7 189,2 290,6 18 3 9 12 9 6 6 9 11 13 17 18 917 186 1.641 71 849 63 634 107 1 893 139 2 428 150 2 622 137 2 632.7 120 2.428,7 131 76 16 137 6 71 5 53 9 158 12 202 11 1 13 218 11 219 10 202 10 2 11 CH : Curah hujan BK : Bulan kering (< 60 mm) 1 4 8 1 BB : Bulan basah (>100 mm) HH : Hari hujan 12 0 9 1 Rata-rata MM HH 234,5 129 152,6 133,9 143,6 85 77,4 175,6 182,6 236,8 436 631,6 2.618, 6 218 9 0 Q= Rataan BK (0) x 100% = 0% Rataan BB (9)   Berdasarkan klasifikasi Schmidth-Ferguson   120 Termasuk tipe iklim A (Sangat basah) Tipe iklim A = 0% - 14.3%, iklim B = 14.3% 33.3%, C = 33.3% - 60.3%   2011 HH 8 4 8 3 3 7 2 4 Sumber : Kantor central Tambusai Estate (April, 2012) Keterangan: 2005 120 11,3 7,4 9,2 10, 6,4 7,1 7,4 6,3 9,9 10 13 19 117 9,7 MM 178,5 130,1 165,1 159,5 100,6 129,3 113,8 106,2 160,0 177,3 195,5 302,4 1918, 8 159,9 121    Lampiran 6. Peta kesesuaian jenis lahan di Tambusai Estate 121 121   122    Lampiran 7. Summed dominance ratio (SDR) gulma dominan di perkebunan kelapa sawit di Tambusai Estate Tahun tanam No Spesies 1990 1991 1995 1996 1997 1998 1999 2002 2003 2004 2005 2006 ……………………………………………………..%..................................................... 1. Asystasia intrusa 4.30 14.50 8.77 2. Nephrolepsis biserrata 23.00 14.10 26.60 13.23 12.83 22.53 22.30 17.30 16.00 18.27 31.13 30.70 3. Stenochlaena palustris 41.30 37.10 18.60 25.43 4.90 5.97 16.70 3.53 8.23 20.47 5.07 4. Cyclosorrus aridus 2.30 6.73 9.10 3.90 7.73 15.83 4.97 3.87 4.30 24.73 5. Pteris longifolia 7.40 6.97 9.87 2.40 3.67 0.73 0.60 5.00 0.90 6. Centotecha lapacea 2.30 6.00 4.43 8.47 3.30 3.83 4.90 1.93 5.40 7. Melastoma avine 3.97 1.47 1.33 2.70 2.03 4.90 1.40 1.00 8. Cyrtoccocum acrescens 3.30 1.33 9.53 8.43 0.77 0.70 3.63 9. Dicranopteris linearis 5.50 5.87 0.97 1.10 5.73 5.87 0.97 1.60 2.63 5.53 1.50 2.43 1.67 17.20 9.30 24.17 37.97 21.90 26.17 22.33 24.60 26.27 21.57 28.97 2.43 10. Lygodium palmatum 1.33 0.73 2.83 2.80 0.63 10.43 11. Mikania micranta 1.73 1.17 1.97 7.30 3.20 3.17 Total 89.50 92.30 2.07 12.90 2.97 5.33 4.67 83.13 90.93 92.00 87.30 93.30 77.87 70.23 89.17 89.34 85.53 122 122   123    Lampiran 7. Summed dominance ratio (SDR) gulma dominan di perkebunan kelapa sawit di Tambusai Estate (lanjutan). No 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. Spesies Scleretina sumatranensis Paspalum comersonii Leptochloa chinensis Ottochloa nodosa Clidemia hirta Axonopus compresus Borreria laevis Ageratum conyzoides Euphorbia hirta Fortedia sp. Borreria alata Chromolaena odorata Pteridium aquilinum Gleichenia linearis Paspalum conjugatum Pennisetum polystachyon Caladium tuberosum Stachytarpheta indica Cyperus kyllingia Cleome rutidospermae 1990 3.30 5.30 1.90 Tahun tanam 1991 1995 1996 1997 1998 1999 2002 2003 2004 ……………………………..%..................................................... 2.40 4.20 0.67 0.17 1.67 1.97 2.70 2.17 2.77 1.37 1.27 9.26 3.17 1.00 1.33 4.17 1.30 1.43 0.60 10.10 0.87 3.10 3.80 0.90 0.17 1.47 0.40 1.20 2.83 0.60 1.63 0.60 0.70 2.03 0.53 0.90 1.70 1.17 0.73 0.60 1.13 1.60 0.30 1.03 0.77 0.70 0.17 1.07 0.57 0.57 2.27 2.03 2.30 3.10 1.73 1.53 0.57 0.60 2.37 2.30 0.93 1.23 0.27 0.50 0.13 0.50 2005 2006 8.10 2.93 2.03 3.07 2.03 1.27 1.23 1.33 123 123   124    Lampiran 7. Summed dominance ratio (SDR) gulma dominan di perkebunan kelapa sawit di Tambusai Estate (lanjutan). Tahun tanam 1990 1991 No.   32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. 45. 46. Spesies Echinochloa colonum Cyperus rotundus Imperata cylindrical Sida romboidea Passiflora foetida Meremia umbellate Eleusin indica Digitaria adscendens Euphorbia hirta Mimosa pigra Calopogonium muncunoides Cyperus iria Stenotaphrum secundatum Mimosa invisa Cynodon dactylon Total 1995 1996 1997 1998 1999 2002 2003 2004 2005 2006 ……………………………..%.....................................................                            1.93    0.34 1.47 1.73 1.70 0.60 0.97 0.40 1.03 0.93 0.37 0.77 0.57 0.57 0.77 1.13 0.27 0.43 0.63 0.47 0.33 0.30 10.60 7.73 16.93 9.03 8.14 12.90 6.77 22.17 29.86 10.83 10.63 14.53 124 124   125    Lampiran 8. Data iklim Kabupaten Rokan Hulu, Riau 2005-2010 Tahun 2005 2006 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Rata-rata Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Rata-rata Suhu (°C) 26.90 27.90 27.90 27.90 27.70 27.80 27.20 27.50 27.80 27.20 26.90 27.00 27.48 27.60 27.10 27.40 29.10 27.10 27.50 26.80 26.30 27.40 Kelembaban (%) 81.00 78.00 79.00 81.00 83.00 79.00 82.00 80.00 80.00 83.00 84.00 82.00 81.00 82.00 80.00 79.00 79.00 80.00 80.00 82.00 85.00 81.00 Kecepatan Angin (Km/jam) 9.26 7.41 9.26 11.11 9.26 11.11 7.41 9.26 11.11 9.26 9.26 11.11 9.57 8.15 13.70 10.37 10.37 11.30 8.70 7.96 7.22 9.72 PenyinaranMatahari (%) 17.50 51.20 26.50 31.70 125 125   126    Lampiran 8. Data iklim Kabupaten Rokan Hulu, Riau 2005-2010 (Lanjutan) Tahun Bulan 2007 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Rata-rata 2008 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Rata-rata Suhu (°C) 26.80 26.60 27.30 27.40 27.50 27.90 26.80 27.00 27.00 - Kelembaban (%) 82.00 82.00 79.00 81.00 84.00 79.00 82.00 81.00 82.00 82.00 82.00 - Kecepatan Angin (Km/jam) 6.85 4.63 8.89 9.45 11.11 9.07 7.41 9.82 8.15 10.74 9.26 PenyinaranMatahari (%) 39.20 49.00 65.10 65.00 0.00 68.00 55.20 55.50 35.30 53.00 49.90 - 26.80 26.80 26.50 27.40 28.00 27.50 27.10 27.30 29.70 27.40 27.50 26.90 27.40 82.00 79.00 84.00 82.00 79.00 81.00 79.00 78.00 79.00 83.00 77.00 79.00 80.00 8.89 7.78 7.78 7.96 8.89 9.45 10.37 10.37 11.11 8.33 8.15 9.07 42.70 47.30 42.70 44.20 42.70 44.20 42.70 42.70 58.00 50.30 32.10 35.80 43.80 126 126   127    Lampiran 8. Data iklim Kabupaten Rokan Hulu, Riau 2005-2010 (Lanjutan) Tahun Bulan 2009 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Rata-rata 2010 Rata-rata Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Suhu (°C) 26.60 27.20 27.20 28.10 28.90 42.60 33.50 27.70 28.00 27.50 27.20 26.90 29.30 27.80 28.40 28.70 28.30 29.00 28.30 27.50 23.80 27.60 28.20 27.50 26.80 27.60 Kelembaban (%) 78.00 77.00 78.00 77.00 75.00 75.00 72.00 76.00 76.00 74.00 78.00 79.00 75.00 78.00 74.00 74.00 74.00 75.00 71.00 75.00 74.00 74.00 69.00 74.00 73.00 74.00 Kecepatan Angin (Km/jam) 6.85 7.59 8.15 7.41 8.33 10.00 10.19 9.63 12.22 8.33 8.52 8.33 8.80 8.70 7.78 7.04 10.19 4.26 7.04 8.15 8.70 7.96 9.82 7.22 11.67 8.21 Penyinaran Matahari (%) 40.8 37.5 55.9 60.4 65.9 55.1 59.0 63.5 56.5 50.3 32.1 35.8 43.8 2.50 2.50 4.50 4.50 4.50 4.50 4.70 4.30 0.30 0.20 127 127   128    Lampiran 9. Efisiensi upah tenaga kerja dan PK SPKL di Afdeling VIII Tambusai Estate Jenis Pekerjaan Penyemprotan - Long bad - Pasar pikul - Piringan DAK (Dongkel Anak Kayu) Babat Gawangan Garuk piringan Wipping lalang /Spot lalang Pengendalian hama rayap Tunas kelapa sawit Pengimpusan - Iron - Chelat HK PK Upah HK Realisasi (Rp) Keterangan Upah Realisasi /Hk Tingkat UMR Keefisienan (Satuan/Hk) Standar (Rp/ha) 5 5 5 36.04 ha/hk 60.06 ha/hk 57.35 ha/hk 12,000/ha 7,000/ha 14,000/ha 2,160,240 2,100,210 4,014,220 432,048 420,042 802,844 1.20 3 21.35 ha/hk 45,000/ha 2,881,800 960,600 0.70 5 2 4 91.62 ha/hk 59.44 ha/hk 48.03 ha/hk 35,000/ha 60,000/ha 5,000/ha 9,620,100 3,556,400 960,600 1 1,712 pohon/hk 750/pohon 1,284,000 428,000 0.31 4 6,642 pohon/hk 550/pohon 7,306,200 1,826,550 1.32 4 6,469 pohon/hk 1,500 9,703,500 2,425,875 2.34 4 290 kg 6,469 pohon/hk 971 kg 500 3,234,500 808,625 (%) 1,924,020 1,185,467 SPKL (Borongan) 320,200 1.39 0.86 0.23 1,382,000/ Bulan 128 128   129    Lampiran 10. Areal konsesi dan jumlah pohon Tambusai Estate Tahun 2012 Kebun Luas (Ha) Jumlah Pohon Inti Total Area 11,914.4 Tanam 11,028.66 1,419,126 KKPA 2,383.11 2,303.11 299,404 Total 14,297.51 13,331.77 1,718,530 Sumber : Kantor central Tambusai Estate(April, 2012) Lampiran 11. Rekapitulasi produksi, produktivitas TBS, CPO, dan kernel Oil 273,785 Produktivitas (Ton/ha) 22.98 Produktivitas CPO (Ton) 66,346.310 Rendemen CPO (%) 24.24 Rendemen Kernel Oil (%) 5.53 2010 291,656 24.48 70,472.545 24.16 5.56 2011 325,506 27.32 78,389.449 24.12 5.61 Tahun Produksi (Ton) 2009 Sumber : Kantor central Tambusai Estate(April, 2012) 129 129   130    Lampiran 12. Potensi tandan buah segar PPKS, Marihat Umur 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 TBS (Ton/ha) 9.0 15.0 18.0 21.1 26.0 30.0 31.0 31.0 31.0 31.0 31.0 30.0 27.9 27.1 26.0 24.9 24.1 23.1 21.1 19.8 18.9 18.1 17.1 S1 BJR Jumlah Tandan (Kg) 3.2 21.6 6.0 19.2 7.5 18.5 10.0 16.2 12.5 16.0 15.1 15.3 17.0 14.0 18.5 12.9 19.6 12.2 20.5 11.6 21.1 11.3 22.5 10.3 23.0 9.3 24.5 8.5 25.0 8.0 26.0 7.4 27.5 6.7 28.5 6.2 29.0 5.8 30.0 5.1 30.5 4.8 31.9 4.4 32.4 3.9 TBS (Ton/ha) 7.3 13.5 16.0 18.5 23.0 25.5 28.0 28.0 28.0 28.0 27.0 26.0 25.5 24.5 23.5 23.5 22.5 21.5 21.0 19.0 18.0 17.0 16.0 S2 BJR (Kg) 3.1 5.9 7.1 9.4 11.8 13.2 16.5 17.5 18.5 19.5 20.0 20.5 21.8 23.1 24.1 25.2 26.4 27.8 28.6 29.4 30.1 31.0 32.0 Jumlah Tandan 18.1 17.6 17.3 15.1 15.0 14.9 13.1 12.3 11.6 11.0 10.8 10.1 9.2 8.5 7.8 7.2 6.6 5.9 5.6 5.0 4.6 4.2 3.8 TBS (Ton/ha) 6.2 12.0 14.5 17.0 22.0 24.5 26.0 26.0 26.0 26.0 26.0 25.0 24.5 23.5 22.0 21.0 20.0 19.0 18.0 17.0 16.0 15.0 14.0 S3 BJR (Kg) 3.0 5.3 6.7 8.5 10.0 12.7 15.5 16.0 17.4 18.5 19.5 20.0 20.6 21.1 23.0 24.0 25.5 26.6 27.4 28.4 29.4 30.4 31.2 Jumlah Tandan 15.9 17.4 16.6 15.4 15.7 14.8 12.9 12.5 11.5 10.8 10.3 9.6 9.3 8.3 7.4 6.7 6.0 5.5 5.1 4.6 4.2 3.8 3.6 Sumber: PPKS MARIHAT, Medan 130 130  
Infestasi Gulma pada Agroekologi yang Berbeda di Perkebunan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Tambusai Estate, Kab. Rokan Hulu, Riau
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Tags
Upload teratas

Infestasi Gulma pada Agroekologi yang Berbeda di Perkebunan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Tambusai Estate, Kab. Rokan Hulu, Riau

Gratis