Feedback

Negative Externalities and Optimal Extraction of Iron Sand Mining at Tasikmalaya Regency

Informasi dokumen
EKS STERNA ALITAS NEGATIF N F DAN LA AJU EKS STRAKSII OPTIM MAL PEN NAMBAN NGAN PA ASIR BESI DII KABUP PATEN TASIKMA T ALAYA ZUL L IKMAR EDWARD D SEKOL LAH PASC CASARJAN NA INSTITU UT PERTA ANIAN BOG GOR BOGO OR 2012 2 i    PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Eksternalitas Negatif dan Laju Ekstraksi Optimal Penambangan Pasir Besi di Kabupaten Tasikmalaya adalah karya saya dengan arahan komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini. Bogor, September 2012 Zul Ikmar Edward NRP H351100051 iii    ABSTRACT EDWARD. Negative Externalities and Optimal Extraction of Iron Sand Mining at Tasikmalaya Regency. Under direction of EKA INTAN KUMALA PUTRI and ZUZY ANNA Exhaustible resources get special attention in the economics literature. Rapid demand is responsible for unsustainable extraction of iron sand mining at Tasikmalaya Regengcy. Iron sand mining effects at the stream river mining resulted in channel degradation and erosion increased turbidity, stream bank erosion and sedimentation of riffle areas. All these changes adversely affect fish and other aquatic organisms either directly by damage to organisms or through habitat degradation or indirectly through disruption of food web. This situation has implification to fisherman income because of decreasing fish production at Tasikmalaya Regency. Further, effects on disturbing road function at overloaded truck hauling which increase the travel time and fuel consumption. This study is an attempt to estimate the negative externalities and also estimate Pigouvian tax and path of optimal extraction iron sand mining along Tasikmalaya Regency. The total of negative externality in area of sand mining per 5 years Rp 3.674.811.431,9. It is suggested to impose a Pigouvian tax of Rp 9.579 on each sand tonnage truck load in order to compensate the fisherman and road user for loss incurred due to iron sand mining. This paper also tests Hotelling’s prediction that level of extraction period for a iron sand mining with and without negative externalities was included at cost function. The result are, the optimality with negative externalities period extraction 28 years and optimality without externalities 27 years. Keywords: negative externalities, tax, optimal extraction v    RINGKASAN ZUL IKMAR EDWARD. Eksternalitas Negatif Dan Laju Ekstraksi Optimal Penambangan Pasir Besi di Kabupaten Tasikmalaya. Dibimbing oleh EKA INTAN KUMALA PUTRI dan ZUZY ANNA Kegiatan penambangan untuk mengambil bahan galian dari lapisan bumi telah berlangsung sejak lama. Mekanisasi peralatan telah menyebabkan skala penambangan semakin menjadi besar.Hal ini menyebabkan kegiatan penambangan menimbulkan dampak lingkungan yang sangat besar dan bersifat penting. Dalam industri pertambangan, pengorbanan yang diperhitungkan seringkali belum mencakup biaya oportunitas, termasuk di dalamnya biaya kerusakan lingkungan. Jawa Barat merupakan provinsi dengan cadangan sumberdaya tambang pasir besi cukup besar di Indonesia. Potensi ini tentunya akan menarik minat banyak investor untuk melakukan eksploitasi pasir besi yang akan sangat bermanfaat untuk kepentingan perusahaan dan meningkatkan pendapatan asli daerah. Kegiatan eksploitasi ini ternyata juga berdampak pada kerusakan dan pencemaran lingkungan. Proses pengangkutan pasir besi menuju pelabuhan Cilacap Jawa Tengah yang melintasi jalanan umum menyebabkan rusaknya akses jalan mencapai puluhan kilometer. Kondisi ini menyebabkan terjadinya percepatan kerusakan jalan umum yang tidak hanya dimanfaatkan untuk kegiatan penambangan tetapi juga oleh masyarakat umum. Pada bagian hulu dengan adanya penambangan pasir besi ini juga telah menurunkan pendapatan nelayan tangkap dengan perubahan jumlah tangkapan setiap tahunnya. Proses pencucian dan pemurnian pasir besi ini menyebabkan peningkatan kadar bahan berbahaya diperairan pantai dan sungai. Nilai kerugian ekonomi yang ditanggung oleh pihak diluar perusahaan penambangan pasir besi tersebut belum terkuantifikasi dengan baik, sehingga dibutuhkan penelitian berapa nilai kerugian (eksternalitas negatif) yang ditimbulkan aktivitas penambangan pasir besi. Valuasi ekonomi kerusakan lingkungan adalah salah satu metode paling tepat untuk memperkirakan beban kerusakan yang ditanggung oleh pihak diluar perusahaan penambangan pasir besi. Untuk itu dalam tulisan ini akan dipaparkan empat tujuan penelitian mengenai kondisi kerusakan lingkungan yang menyebabkan perubahan produktivitas pada sektor perikanan dan gangguan kinerja ruas jalan di Kabupaten Tasikmalaya, yaitu: (1) Mengkaji pola ekstraksi dan biaya produksi aktual penambangan pasir besi, (2) Mengestimasi nilai kerusakan jalan, pendapatan nelayan akibat penambangan pasir besi akibat pengangkutan pasir besi, (3) Menentukan laju ekstraksi optimal tanpa dan dengan eksternalitas, yang paling menguntungkan dari usaha penambangan pasir besi, (4) Mengestimasi nilai pajak yang harus dibayarkan pada setiap output pasir besi dengan mempertimbangkan eksternalitas negatifnya. vii    Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Cipatujah Kabupaten Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi ini disebabkan karena potensi cadangan pasir besi di Kabupaten Tasikmalaya telah dieksploitasi cukup besar, namun proses penambangannya masih banyak menimbulkan masalah lingkungan (eksternalitas negatif). Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari-April 2012.Data yang dikumpulkan dalam penelitian berupa data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui pengamatan langsung dan wawancara dengan responden dengan menggunakan daftar pertanyaan (kuesioner). Responden yang diamati yaitu nelayan, masyarakat pengguna jalan dengan kendaraan roda 2 dan 4. Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling, yaitu metode pengambilan sampel yang dipilih secara sengaja berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Kondisi perikanan tangkap di Kecamatan Cipatujah pada tahun 2007 2011 menunjukkan fluktuasi. Beberapa spesies yang ditangkap dengan alat tangkap tertentu mengalami penurunan produktivitas. Hasil perhitungan nilai kerugian ekonomi menggunakan pendekatan perubahan produktivitas didapatkan total kerugian sebesar Rp. 305 juta. Eksternalitas negatif yang berhubungan gangguan fungsi jalan ruas Cipatujah-Kalapagenep difokuskan terhadap kehilangan waktu tempuh dan peningkatan konsumsi BBM kendaraan bermotor. Nilai kerusakan jalan ini menimbulkan kerugian ekonomi bagi pengguna jalan sebesar Rp.3,36 milyar. Total nilai kerusakan jalan ditambah dengan penurunan produktivitas perikanan adalah Rp. 3,67 milyar. Penggabungan nilai eksternalitas kedalam biaya produksi penambangan pasir besi menghasilkan umur laju ekstraksi selama 28 tahun. Periode ini lebih lama dibandingkan dengan umur laju ekstraksi tanpa mempertimbangkan biaya eksternalitas yaitu selama 27 tahun. Jika dibandingkan dengan laju ekstraksi aktual, menunjukkan hasil optimasi memiliki volume ekstraksi yang lebih berlanjut (sustainable), serta lebih merata sepanjang periode dengan kecenderungan volume ekstraksi menurun terhadap jumlah cadangan. Hasil perhitungan kerugian terhadap dua aspek yaitu sarana dan prasarana jalan dan kerugian disektor perikanan dijadikan sebagai proxy nilai pajak lingkungan.Nilai besaran pajak lingkungan yang harus dibayarkan untuk setiap tonase pasir besi sebesar Rp. 9.579. Selama ini, pajak tersebut tidak dihitung sebagai biaya produksi perusahaan, sehingga menjadi bagian tanggungan yang harus diterima oleh masyarakat pengguna jalan dan nelayan. Kata Kunci : eksternalitas negatif, laju ekstraksi optimal, pajak lingkungan ©Hak Cipta milik IPB, tahun 2009 Hak Cipta dilindungi Undang-Undang Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB ix    EKSTERNALITAS NEGATIF DAN LAJU EKSTRAKSI OPTIMAL PENAMBANGAN PASIR BESI DI KABUPATEN TASIKMALAYA ZUL IKMAR EDWARD Tesis Salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 xi    Penguji Luar Komisi Pada Ujian Tesis: Dr. Ir. M. Parulian Hutagaol, M.Sc Judul Tesis : Eksternalitas Negatif Dan Laju Ekstraksi Optimal Penambangan Pasir Besi di Kabupaten Tasikmalaya Nama : Zul Ikmar Edward NRP : H351100051 Disetujui Komisi Pembimbing Dr. Ir. Eka Intan Kumala Putri, MS Ketua Dr. Dra. Zuzy Anna, M.Si Anggota Diketahui Ketua Program Studi Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan Prof. Dr. Ir. Akhmad Fauzi, M.Sc Tanggal Ujian : 25 Juli 2012 Dekan Sekolah Pascasarjana Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc, Agr Tanggal Lulus : xiii    PRAKATA Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karuniaNya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Judul dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Februari 2012 ini adalah Eksternalitas Negatif dan Laju Ekstraksi Optimal Penambangan Pasir Besi Di Kabupaten Tasikmalaya. Terimakasih penulis ucapkan kepada: 1. Ibu Dr. Ir. Eka Intan Kumala Putri, MS, ketua komisi pembimbing yang telah banyak memberi saran dan arahan. 2. Dr. Dra. Zuzy Anna M.Si, anggota komisi pembimbing yang telah banyak memberi saran dan arahan serta akses dalam penelitian ini. 3. Ibu, kakak, istri dan seluruh keluarga penulis yang telah membantu penyelesaian tugas akhir ini atas semua doa dan bantuan lainnya. 4. Seluruh Bapak-Bapak Tasikmalaya, UPTD dan Dinas Ibu-Ibu di Dinas Pertambangan Perikanan Kabupaten Kabupaten Tasikmalaya, masyarakat Kecamatan Cipatujah dan lainnya yang tidak sempat disebutkan disini. 5. Teman-teman ESL, ESK, EPN angkatan 2010. 6. Semua pihak yang telah membantu penyelesaian tugas akhir ini disadari atau tidak disadari. 7. Teman-teman dan adik-adik di Perguruan Merpati Putih yang luar biasa dengan selalu penuh kerendahatian, kesederhanaan dan keikhlasan, tapi penuh nyali. Sungguh menginspirasi. Terakhir, penulis juga mohon maaf jika ada pihak-pihak yang merasa terbebani dan terganggu dengan proses pembuatan dan hasil tugas akhir ini. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat untuk kebaikan yang benar, amin. Bogor, September 2012 ZiE.. xv    DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL .......................................................................................... xix DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... xxi DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xxiii I. PENDAHULUAN .................................................................................... 1.1 Latar Belakang .......................................................................................... 1.2 Perumusan Masalah ................................................................................... 1.3 Tujuan dan Manfaat ................................................................................. 1.4 Ruang Lingkup Penelitian .......................................................................... 1 1 4 7 7 II. TINJAUAN PUSTAKA .......................................................................... 2.1 Kegiatan Penambangan Pasir Besi ............................................................. 2.2 Eksternalitas ............................................................................................... 2.3 Jenis-Jenis Eksternalitas ............................................................................. 2.4 Solusi Eksternalitas .................................................................................... 2.5Teori Pemanfaatan Sumberdaya Secara Optimal ........................................ 2.6 Pajak Sebagai Instrumen Ekonomi Pengelolaan ........................................ 2.7 Tinjauan Penelitian Sejenis Terdahulu ...................................................... 9 9 13 14 17 17 21 23 III. KERANGKA PEMIKIRAN ................................................................... 27 IV. METODE PENELITIAN........................................................................ 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian .................................................................. 4.2 Jenis dan Sumber Data .............................................................................. 4.3 Metode Pengumpulan Data ....................................................................... 4.4 Analisis Data ............................................................................................. 4.4.1 Pola Ekstraksi Aktual ............................................................................. 4.4.2 Analisia Kerusakan Lingkungan ............................................................ 4.4.3 Analisa Tingkat Ekstraksi Optimal Pasir Besi Dengan dan Tanpa Adanya Eksternalits Negatif .................................................................. 4.4.4 Analisis Tingkat Pajak Lingkungan ....................................................... 4.5 Batasan dan Pengukuran ........................................................................... 4.6 Asumsi Penelitian ..................................................................................... 29 29 29 29 32 32 32 V. GAMBARAN UMUM ............................................................................. 5.1 Kondisi Umum Wilayah Penelitian .......................................................... 5.2 Sosio Demografi Wilayah Penelitian ........................................................ 5.3 Gambaran Umum Kegiatan Penambangan Kecamatan Cipatujah ........... 5.4 Karakteristik Responden ........................................................................... 39 39 41 42 47 34 35 36 36 xvii    VI. POLA EKSTRAKSI AKTUAL DAN ANALISA EKONOMI PENAMBANGAN PASIR BESI ............................................................ 6.1 Pola Ekstraksi Aktual Pasir Besi Kabupaten Tasikmalaya ....................... 6.2 Analisis Ekonomi Penambangan Pasir Besi ............................................... 51 51 60 VII. EKSTERNALITAS, LAJU EKSTRAKSI OPTIMAL DAN PAJAK LINGKUNGAN PENAMBANGAN PASIR BESI ............................... 7.1 Penurunan Produksi PerikananTangkap ..................................................... 7.2 Kerugian Akibat Kerusakan Jalan .............................................................. 7.3 Laju Ekstraksi Optimal Penambangan Pasir Besi ...................................... 7.4 Solusi Eksternalitas Dengan Nilai Pajak Lingkungan ................................ 7.5 Implementasi Pajak Lingkungan ............................................................... 65 65 73 83 88 93 VIII. SIMPULAN DAN SARAN ................................................................... 8.1 Simpulan ..................................................................................................... 8.2 Saran ........................................................................................................... 95 95 96 DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 97 LAMPIRAN .................................................................................................... 100 DAFTAR TABEL Halaman 1. Tabulasi perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu ........... 2. Rincian Sampel Informan ................................................................... 3. Matriks Rencana Penelitian.................................................................. 4. Panjang Kerusakan Kondisi Jalan Ruas Cipatujah Kalapagenep 2011 5. Tingkat Pendidikan Penduduk Kecamatan Cipatujah .......................... 6. Jenis Kelamin, Pendidikan Responden ................................................ 7. Tingkat Umur Responden ................................................................... 8. Jenis Pekerjaan Responden Pengguna Jalan ........................................ 9. Klasifikasi Pendapatan Responden Dalam Rupiah .............................. 10. Karakteristik Responden Nelayan ...................................................... 11. Hasil Pengukuran Beberapa Variabel Kualitas Air ............................. 12. Volume Angkut Pasir Besi Per Ritase ............................................... 13. Rincian Biaya Penambangan Pasir Besi .............................................. 14. Perkembangan Harga & Penerimaan dari Penambangan Pasir Besi ... 15. Sumber Pertumbuhan PDRB Kabupaten Tasikmalaya Menurut Lapangan Usaha ................................................................................... 16. Jenis Alat Tangkap Nelayan Kecamatan Cipatujah ............................. 17. Jumlah Produksi Perikanan Tangkap TPI Pamayang Sari ................... 18. Kehilangan Produktivitas Perikanan Peralat Tangkap ......................... 19. Kondisi Jalan Menurut Responden ...................................................... 20. Penyebab Kerusakan Jalan Menurut Responden ................................. 21. Statistik Kinerja Jalan dan Pendapatan Responden ................................ 22. Nilai Kerugian Akibat Peningkatan Waktu Tempuh Kendaraan Roda 2 ................................................................................ 23. Nilai Kerugian Akibat Peningkatan Waktu Tempuh Kendaraan Roda 4 ................................................................................ 24. Nilai Kerugian Akibat Peningkatan Konsumsi BBM Kendaraan Roda 2 ............................................................................... 25. Nilai Kerugian Akibat Peningkatan Konsumsi BBM Kendaraan Roda 4 ................................................................................ 26. Kerugian Kerusakan Jalan Akibat Penambangan Pasir Besi ............... 27. Jumlah Produksi Pasir Besi .................................................................. 26 30 31 41 42 48 49 49 50 50 57 59 61 62 65 67 69 73 74 75 76 78 80 81 82 82 84 xix    DAFTAR GAMBAR Halaman 1. Eksternalitas Negatif Pada Penambangan Pasir Besi .......................... 2. Eksternalitas Negatif Dengan Pajak ..................................................... 3. Kerangka Penelitian Eksternalitas Negatif Dan Laju Ekstraksi Optimal Penambangan Pasir Besi ........................................................ 4. Peta Lokasi Kabupaten Tasikmalaya ................................................ 5. Proses Penambangan Pasir Besi Yang Menyebabkan Eksternalitas 6. Ilustrasi Kondisi Gumuk Pasir Penambangan Pasir Besi Kabupaten Tasikmalaya ......................................................................................... 7. Proses Pemurnian Pasir Besi ................................................................ 8. Jalan Rusak di Cipatujah ................................................................... 9. Truk Pengangkut Pasir Besi ................................................................. 10. Suasana Pelelangan di TPI Pamayangsari ........................................... 11. Alat Tangkap Gillnet ............................................................................ 12. Perahu Ukuran 1 GT ............................................................................ 13. Jumlah Produksi Perikanan Tangkap TPI Pamayangsari..................... 14. Perkembangan Produksi Alat Tangkap Jaring ..................................... 15. Perkembangan Produksi Alat Tangkap Pancing .................................. 16. Perkembangan Produksi Alat Tangkap Gillnet .................................... 17. Laju Ekstraksi Optimal Pasir Besi Dengan dan Tanpa Eksternalitas .. 18. Kurva Eksternalitas penambangan terhadap jumlah produksi ............. 19. Kurva Total Biaya Penambangan Besi Terhadap Jumlah Produksi..... 20. Kurva Total Penerimaan Terhadap Jumlah Produksi........................... 21. Kurva pergeseran produksi dengan adanya eksternalitas.................... 14 22 28 40 54 55 58 59 59 67 68 68 69 70 71 72 87 88 89 90 92 xxi    DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Perusahaan pasir besi yang beroperasi di Kecamatan Cipatujah ......... Harga ikan perjenis di TPI Pamayangsari ............................................ Jumlah produksi ikan dan alat tangkap yang digunakan ...................... Perubahan produktivitas alat tangkap .................................................. Biaya produksi penambangan pasir besi .............................................. Total penerimaan penjualan pasir besi ................................................. Hasil regresi biaya variabel penambangan dengan jumlah produksi pasir besi ............................................................................................. 8. Kerugian total akibat penambangan pasir besi..................................... 9. Regresi nilai eksternalitas dengan jumlah produksi pasir besi............. 10. Laju ekstraksi optimal dengan dan tanpa eksternalitas ........................ 11. Hasil olah data perhitungan tingkat pajak ............................................ 12. Hasil interpolasi kehilangan kecepatan ................................................ 13. Hasil interpolasi kehilangan waktu tempuh ......................................... 14. Perbandingan UMK pertahun dengan pendapatan responden ............. 103 103 104 104 105 105 106 106 106 107 108 109 109 109 xxiii    BABI PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kegiatan penambangan untuk mengambil bahan galian dari lapisan bumi telah berlangsung sejak lama. Selama kurun waktu 50 tahun, konsep dasar ekstraksi relatif tidak berubah, namun yang berubah adalah skala kegiatannya. Mekanisasi peralatan penambangan telah menyebabkan skala penambangan menjadisemakin besar. Perkembangan teknologi pertambangan menyebabkan ekstraksi bahan tambang menjadi lebih ekonomis, sehingga semakin luas dan dalam lapisan bumi yang harus di gali. Hal ini menyebabkan kegiatan tambang menimbulkan dampak lingkungan yang sangat besar dan bersifat penting (Bapedal2001). Penambangan selalu mempunyai dua sisi yang saling berlawanan, yaitu sebagai sumber kemakmuran, sekaligus perusak lingkungan yang sangat potensial. Sebagai sumber kemakmuran, sudah tidak diragukan lagi bahwa sektor ini menyokong pendapatan negara selama bertahun-tahun. Sebagai perusak lingkungan, terutama penambangan terbuka (open pit mining) dapat merubah pola iklim dan tanah akibat seluruh lapisan tanah di atas deposit bahan tambang disingkirkan. Pertumbuhan industri yang cukup tinggi di Indonesia disatu sisi memberikan kontribusi positif terhadap ekonomi Indonesia melalui penerimaan negara berupa pajak, royalti dan pungutan lainnya. Disisi lain indikasi terjadi peningkatan kebutuhan bahan baku mineral logam dimasa mendatang sehingga mendorong eksploitasi besar-besaran terhadap sumberdaya alam. Kondisi ini diperparah oleh sistem otonomi daerah yang berorientasi pada peningkatan pendapatan asli daerah (PAD). Implikasinya kewenangan daerah dalam memberikan izin dalam penambangan relatif lebih mudah dengan semangat peningkatan PAD, sehingga ekstraksi sumberdaya tambang menjadi tidak terkendali. Hal ini justru menimbulkan masalah yang sangat memprihatinkan berlebihan justru menjadi bumerang yang dimana eksploitasi yang menyebabkan peningkatan kesejahteraan bersifat semu, artinya secara riil dengan semakin meningkatnya ekstraksi sumberdaya alam namun tidak terjadi peningkatan kesejahteraan yang 1   nyata, bahkan lingkungan disekitar pemanfaatan sumberdaya alam menjadi rusak dan tercemar. Pada industri pertambangan, pengorbanan yang diperhitungkan seringkali belum mencakup biaya oportunitas, termasuk di dalamnya biaya kerusakan lingkungan. Beberapa dampak negatif akibat penambangan menyebabkan kerusakan lahan perkebunan dan pertanian, dan terbukanya kawasan hutan. Dalam jangka panjang, penambangan adalah penyumbang terbesar lahan sangat kritis yang susah dikembalikan lagi sesuai fungsi awalnya, serta mencemari tanah, air maupun udara. Pencemaran lainnya dapat berupa debu, gas beracun, bunyi, kerusakan tambak dan terumbu karang di pesisir yang menyebabkan berkurang dan lenyapnya sebagian keanekaragaman hayati sehingga mengganggu mata pencaharian nelayan. Air tambang asam yang beracun jika dialirkan ke sungai yang akhirnya ke laut akan merusak ekosistem dan sumber daya pesisir dan laut, serta menyebabkan berbagai penyakit dan mengganggu kesehatan, selain itu sarana dan prasarana seperti jalan juga dapat rusak berat pada saat pengangkutan bahan tambang (Noviana 2011). Salah satu penambangan mineral yang sangat penting adalah penambangan bahan dasar pembuatan besi, seperti pasir besi dan biji besi. Keberadaan pasir besi di Indonesia cukup melimpah. Cadangan pasir besi dalam bentuk biji Indonesia sekitar 1.014 milyar ton (Ishlah2009). Cadangan ini tersebar di beberapa provinsi diantaranya Provinsi Jawa Barat sekitar 59 juta ton (BKPM 2010). Potensi ini masih perlu dibuktikan agar cadangan yang tersedia terukur dengan jelas. Umumnya semua lokasi penambangan pasir besi yang ada di Indonesia dilakukan eksploitasi secara terbuka (open pit mining) dan berada pada wilayah pesisir pantai (Miswanto et al.2008). Jawa Barat merupakan provinsi dengan cadangan pasir besi cukup besar di Indonesia, dengan cadangan terbukti sebesar hingga 59 juta ton yang tersebar di beberapa kabupaten. Potensi ini tentunya akan menarik minat banyak investor untuk melakukan eksploitasi pasir besi yang akan sangat bermanfaat untuk meningkatkan pendapatan asli daerah. Disisi lain, eksploitasi pasir besi jika tidak terkelola dengan baik dapat menjadi bumerang terhadap kerusakan lingkungan dan penurunan kesejahteraan masyarakat. Dampak negatif yang banyak dirasakan 2    oleh masyarakat adalah meningkatnya kerusakan jalan akibat pengangkutan hasil tambang melalui jalan umum. Kerusakan jalan merupakan permasalahan serius yang dihadapi oleh hampir seluruh negara di dunia. Kerusakan jalan ini disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya disebabkan oleh beban muatan kendaraan yang melintas overcapacity. Kemampuan jalan sebesar (muatan sumbu terberat) MST 8 ton dan MST 10 ton, dilalui oleh kendaraan dengan MST hingga 20 ton. Pada tahun 2010 Kerusakan jalan di Indosesia terbesar berada pada jalan kabupaten/kota. Jumlah total panjang jalan 288.185 km,sekitar 31,14% jalan rusak ringan, kondisi baik hanya 22,46% nya dan sisanya rusak cukup berat. Jalan provinsi dengan panjang total 48.681 km kondisinya baik hanya sekitar 5,85%, sedangkan dari 39.310 km jalan nasional sebanyak 13,34% dalam kondisi rusak ringan, dan 49,67% dalam kondisi baik serta sisanya rusak berat. 1 Ini termasuk jalan strategis seperti jalur Lintas Timur Sumatera dan Pantai Utara Jawa. Diperkirakan ongkos sosial dan ekonomi yang ditanggung masyarakat pengguna jalan sekitar 200 triliun rupiah per tahun, sangat besar apabila dibandingkan dengan investasi pemerintah yang 3-6 triliun rupiah pertahun (Widjonarko 2007). Kawasan pesisir merupakan daerah pengembangan perekonomian yang dapat mengalami degradasi serta penurunan produktivitas. Degradasi dapat disebabkan oleh adanya abrasi pantai, pencemaran dan perusakan hutan pantai. Abrasi ini selain dipicu oleh naiknya muka air laut juga disebabkan penambangan pasir didaerah pesisir. Indonesia dengan 17.508 pulau mempunyai panjang garis pantai 95.000 km dan 20% garis pantai di Indonesia mengalami kerusakan akibat abrasi yang mengalami peningkatan setiap tahun (pu.go.id 2010). Diantara banyak kegiatan yang mengakibatkan penurunan kualitas pesisir adalah penambangan bahan galian C (pasir pantai), penebangan liar hutan pantai, tekanan gelombang pada saat pasang yang mengakibatkan abrasi pantai (Sumartin 2011). Beberapa pantai mengalami pencemaran yang cukup parah akibat berbagai kegiatan yang dilakukan dipesisirnya. Kasus yang terjadi di daerah Balikpapan, dimana pada tahun 2004 tercemar oleh limbah minyak. Contoh lain adalah kasus                                                              1 Seperti yang dinyatakan dalam judul “Sebagian Besar Jalan di Indonesia Kondisi Rusak”,  www.poskota.co.id,  Desember 2011    3   yang terjadi di sekitar Teluk Jakarta. Berbagai jenis limbah dan ribuan ton sampah yang mengalir melalui 13 kali di Jakarta berdampak pada kerusakan pantai Taman Nasional Kepulauan Seribu. Pada tahun 2006, kerusakan terumbu karang dan ekosistem Taman Nasional itu diperkirakan mencapai 75 km. Kerusakan itu salah satunya berdampak terhadap hasil perikanan tangkap (Sumartin 2011). Hal serupa juga dapat terjadi pada penambangan pasir besi didaerah pantai, proses penambangan dan pencucian pasir besi akan mencemari perairan dan menurunkan kualitas air bagi kehidupan hewan air serta rusaknya terumbu karang. 1.2 Perumusan Masalah Permasalahan umum yang terjadi di pantai Selatan Jawa Barat adalah terjadinya, abrasi, akresi, intrusi air laut, kerusakan mangrove dan terumbu karang, serta alih fungsi lahan untuk kegiatan penambangan pasir besi. Penambangan ini juga didorong oleh cadangan pasir besi yang cukup tinggi di Jawa barat, dan posisi geografis lebih dekat dengan jalur pemasaran pelabuhan Cilacap. Tercatat 25 perusahaan penambangan pasir besi, baik berskala menengah maupun kecil yang memiliki izin. Keberadaan perusahaan tersebut menyebabkan terjadi eksploitasi besar-besaran terhadap sumberdaya pasir besi di Kabupaten Tasikmalaya. Besarnya eksploitasi saat ini tentunya akan mengurangi ketersediaan pasir besi pada masa mendatang. Eksploitasi yang berlebihan juga menyebabkan kerusakan dan pencemaran lingkungan. Proses pengangkutan pasir besi menuju pelabuhan Cilacap Jawa Tengah yang melintasi jalanan umum menyebabkan rusaknya akses jalan hingga puluhan kilometer. Berdasarkan data Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Tasikmalaya, panjang jalan kabupaten yang kondisinya rusak sepanjang 421,8 kilometer atau 32,3 persen dari total panjang jalan kabupaten sepanjang 1.303,3 kilometer yang beberapa ruas diantaranya dijadikan ruas jalan pengangkutan pasir besi. 2 Kondisi ini menyebabkan terjadinya percepatan kerusakan jalan umum yang tidak hanya dimanfaatkan untuk kegiatan penambangan tetapi juga oleh masyarakat umum. Kerugian bisa berupa semakin lamanya waktu tempuh dan                                                              2 Seperti yang dinyatakan dalam judul “32 Persen Jalan Tasikmalaya Rusak”,  www.KOMPAS.com, Januari 2012     4    peningkatan konsumsi bahan bakar minyak kendaraan. Pengangkutan menuju Cilacap yang melewati jalur Tasik Selatan yaitu ruas Cipatujah - Cikalong Cimerak - Cilacap menempuh jarak sekitar 150 Km. Jarak tersebut harus ditempuh 6 - 7 jam, padahal kondisi jalan pantura dengan jarak yang sama dapat ditempuh dengan waktu 3 jam. Pada dasarnya pengangkutan melalui jalan umum sangat sulit dihindari, namun kondisi berupa kerusakan jalan seperti berlubang, retak akibat kegiatan pengangkutan seharusnya dapat dibebankan kepada perusahaan penambangan pasir besi. Beban pemeliharaan jalan tidak harus diserahkan pada pemerintah yang tidak selalu memiliki dana yang cukup untuk melakukan pemeliharaan jalan. Pada bagian hulu dengan adanya penambangan pasir besijuga telah menurunkan pendapatan nelayan tangkap karena perubahan jumlah tangkapan setiap tahunnya yang cenderung menurun. Proses pencucian dilakukan hanya beberapa meter dari bibir pantai dan sempadan. Proses ini dilanjutkandengan segregasi biji dari pasir melalui proses fisika dengan menggunakan magnetic separator. Proses segregasi untuk pemurnian pasir besi ini menyebabkan peningkatan kadar sulfur didaerah pantai dan sungai, ini terjadi karena air buangan dalam proses pemisahan langsung dibuang tanpa perlakuan apapun. Kadar sulfur tersebut membuat air laut dipantai menjadi asam sehingga dapat merusak terumbu karang. Penggunaan pelumas dan bahan bakar untuk peralatan mesin dan bengkel ditepi pantai juga menyebabkan pencemaran perairan disekitar pesisir pantai Kabupaten Tasikmalaya. Pencemaran oleh limbah pencucian pasir besi ini telah menuai protes berupa demonstrasi oleh masyarakat nelayan di Kabupaten Tasikmalaya. Aspek fisik lingkungan yang diabaikan membuat perusahaan pemegang izin eksploitasi dapat menekan biaya produksi menjadi sangat rendah sehingga mendorong eksploitasi berlebihan, ditambah lagi dengan relatif mudahnya izin penambangan dari tangan bupati di era otonomi daerah ini. Merujuk pada Undang-Undang nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan dimana setiap kegiatan usaha harus melakukan pelestarian lingkungan, maka Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat wajib melakukan penilaian menggunakan instrumen ekonomi lingkungan, sehingga pemerintah 5   Kabupaten Tasikmalaya moratorium untuk sebagai memberikan pemangku waktu kepentingan penelaahan mengeluarkan mendalam mengenai 3 penambangan pasir besi . Berapa nilai kerugian ekonomi yang disebabkan oleh kerusakan jalan (eksternalitas) dan turunnya produksi perikanan oleh kegiatan penambangan pasir besi di Kabupaten Tasikmalaya belum dikuantifikasi dengan baik. Oleh sebab itu diperlukan perhitungan nilai eksternalitas negatif menggunakan instrumen ekonomi lingkungan yang tepat dan nantinya dapat diterapkan dalam bentuk kebijakan fiskal berupa penetapan jumlah pajak terhadap setiap output pasir besi. Hal ini bertujuan agar rente dari penambangan dapat menginternalkan eksternalitas negatif dalam bentuk pajak lingkungan. Diharapkan dengan telah dihitungnya eksternalitas negatif tersebut dapat ditentukan estimasi semua biaya yang harus dikeluarkan untuk kompensasi gangguan fungsi jalan dan menurunnya pendapatan nelayan, agar masyarakat yang terkena dampak negatif akibat penambangan pasir besi tidak merasa dirugikan. Penghitungan nilai eksternalitas ini akan memperkecil nilai rente penambangan pasir besi karena meningkatnya biaya produksi yang harus ditanggung oleh perusahaan akibat internalisasi ekstenalitas negatif dalam bentuk pajak. Sebagaimana setiap produk mineral pada umumnya, pasir besi mempunyai karakteristik yang tidak jauh berbeda dengan mineral lain, yaitu ketersediaannya terbatas dan akan habis (exhaustible resource) serta tidak dapat diperbaharui lagi (non-renewable resource). Kabupaten Tasikmalaya dengan potensi pasir besi cukup besar dapat kehilangan potensi penerimaan manfaat optimal untuk kesejahteraan penduduknya. Kesejahteraan penduduk juga akan menurun akibat kerusakan lingkungan. Memperhatikan kondisi ini maka dibutuhkan penilaian yang tepat terhadap besaran nilai tingkat kerusakan yang ditimbulkan oleh penambangan pasir besi, sehingga dapat ditentukan tingkat pajak yang harus diberlakukan terhadap perusahaan penambangan pasir besi. Pada tahap selanjutnya ditambahkan dengan biaya pengambilan yang merupakan opportunity                                                              3 Seperti yang dinyatakan dalam judul “Gubernur Keluarkan Surat Edaran Moratorium Pasir  Besi”,www.antarajawabarat.com, Januari 2011    6    costdari pengambilan pasir besi saat ini,agar dapat diperkirakan alokasi penambangan pasir besi yang paling optimal. Dari uraian diatas dapat dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut : 1. Bagaiman pola ekstraksi dan biaya produksi aktual penambangan pasir besi? 2. Berapa nilai kerusakan jalan dan pendapatan nelayan akibat penambangan pasir besi ? 3. Berapa tingkat ekstraksi optimal dengan dan tanpa mempertimbangkan eksternalitas negatif pada penambangan pasir besi? 4. Berapa nilai pajak akibat eksternalitas negatif yang muncul dari usaha penambangan pasir besi? 1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian Berdasarkan perumusan masalah diatas dapat dirinci tujuan penelitian sebagai berikut : 1. Mengkaji pola ekstraksi dan biaya produksi aktual penambangan pasir besi. 2. Mengestimasi nilai kerusakan jalan dan pendapatan nelayan akibat penambangan pasir besi akibat pengangkutan pasir besi. 3. Menentukan laju ekstraksi optimal dengan dan tanpa eksternalitas negatif, yang paling menguntungkan dari usaha penambangan pasir besi. 4. Mengestimasi nilai pajak yang harus dibayarkan pada setiap output pasir besi dengan mempertimbangkan eksternalitas negatifnya. Adapun manfaat penelitian ini adalah memberikan informasi mengenai pengelolaan dan pemanfaatan bidang penambangan terutama pasir besi sehingga dapat memaksimalkan pendapatan asli daerah dan meminimalkan kerugian. Untuk penambang akan sangat bermanfaat dalam rangka mencegah tuntutan pidana karena pengelolaan penambangan yang merugikan lingkungan hidup, sedangkan bagi masyarakat Tasikmalaya implementasi penelitian ini akan meningkatkan kesejahteraan dalam pemanfaatan pasir besi. 1.4 Ruang Lingkup Penelitian Ruang penelitian adalah menganalisis eksploitasi penambangan pasir besi di wilayah pesisir Kabupaten Tasikmalaya. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji bagaimana pola eksploitasi pasir besi selama ini sehingga menimbulkan 7   dampak-dampak yang merugikan. Dalam penelitian ini diharapkan pembangunan ekonomi berbasis lingkungan dapat berjalan dengan baik, sehingga pemanfaatan sumberdaya tidak pulih dapat memberikan hasil optimal. Analisis sumberdaya pasir besi dilakukan dengan valuasi ekonomi eksternalitas negatif untuk mengetahui hubungan interaksi antara perikanan, gangguan fungsi jalan dan penambangan. Dalam penelitian ini dampak eksternalitas negatif difokuskan pada tiga bagian dampak yang sangat mempengaruhi kehidupan sosial ekonomi masyarakat, pertama dampak kerusakan jalan pada proses pengangkutan yang melalui jalan umum terhadap kehilangan waktu kerja, kedua dampak peningkatan konsumsi bahan bakar bagi pengguna kendaraan bermotor, ketiga terpengaruhnya produksi perikanan disekitar pantai dekat penambangan pasir besi, ketiga dampak ini dipilih karena merupakan dampak yang paling dominan pada penambangan pasir besi di Kabupaten Tasikmalaya dengan menganggap faktor lain bersifat tetap. Dasar hukum pajak lingkungan adalah undang – undang nomor 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Pajak disini dimaksudkan beban tambahan yang harus dikeluarkan perusahaan penambangan untuk setiap satu-satuan output yang dihasilkan. Pada penentuan laju ekstraksi optimal, modelHotelling digunakan untuk mengetahui tingkat ekstraksi optimal (Q*), tingkat keuntungan maksimal ( *) dan pada tahun berapa cadangan akan habis (T*) yang kemudian dibandingkan dengan lama izin konsesi rata- rata penambangan pasir besi pada pasar bersaing secara sempurna. Dalam model sederhana ini diasumsikan tidak ditemukan cadangan baru. 8    BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kegiatan Penambangan Pasir Besi 2.1.1 Sumberdaya Pasir Besi Besi merupakan logam kedua yang paling banyak di bumi ini. Karakter dari endapan besi ini bisa berupa endapan logam yang berdiri sendiri namun seringkali ditemukan berasosiasi dengan mineral logam lainnya. Kadang besi terdapat sebagai kandungan logam tanah (residual), namun jarang yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Endapan besi yang ekonomis umumnya berupa Magnetite, Hematite, Limonite dan Siderite. Kadang kala dapat berupa mineral: Pyrite, Pyrhotite, Marcasite, dan Chamosite. Pasir besi sebagai salah satu bahan baku utama dalam industri baja dan industri alat berat lainnya di Indonesia, keberadaannya akhir-akhir ini memiliki peranan yang sangat penting. Permintaan dari berbagai pihak meningkat cukup tajam. Berdasarkan kejadiannya endapan besi dapat dikelompokan menjadi tiga jenis. Pertama endapan besi primer, terjadi karena proses hidrotermal, kedua endapan besi laterit terbentuk akibat proses pelapukan, dan ketiga endapan pasir besi terbentuk karena proses rombakan dan sedimentasi secara kimia dan fisika. Beberapa jenis mineral-mineral biji besi, magnetit adalah mineral dengan kandungan Fe paling tinggi, tetapi terdapat dalam jumlah kecil, sementara hematit merupakan mineral biji utama yang dibutuhkan dalam industri besi(Bambang 2007). 2.1.2 Proses Penambangan Pasir Besi Pasir besi merupakan mineral yang mengendap di sekitar pantai, rawa dan muara sungai, endapannya terdapat pada permukaan sampai ke kedalaman 15 meter. Proses pengambilan pasir besi dilakukan dengan cara membongkar dan mengangkut endapan ke alat pemisah yang bersifat magnet untuk memisahkan pasir besi dari komponen ikutan non logam seperti pasir, tanah dan batuan. Proses pemisahan ini biasa disebut pekerja tambang sebagai processing magnet separator. Magnet separator berkerja memurnikan pasir besi berdasarkan sifat logam yang dimiliki. Bahan galian yang di masukan ke dalam processing akan terpisah menjadi 4 bagian, batu coral, air bersama pasir dan tanah ke 3 bagian ini dibuang dalam bentuk limbah cair dan padat. Pasir besi akan menempel pada 9   magnet akan diambil dan selanjutnya dengan eskalator lalu ditimbun ke penyimpanan atau gudang. Dari gudang pasir besi (stockpile) akan diangkut ke loading area di pelabuhan untuk selanjut dibawa ke tempat pembeli. 2.1.3 DampakNegatif Penambangan Pasir Besi Dalam pandangan fisik aktivitas ekstraksi mineral logam ini terlihat sederhana, tapi tidak demikian dengan daya rusak sesungguhannya. Kerusakan lingkungan yang diakibatkan ekstraksi pasir besi dapat dikelompokan menjadi 2 golongan, pertama kehancuran fisik, kerusakan pada fisik lingkungan yang dapat langsung terlihat terbagi menjadi beberapa bentuk kehancuran berdasarkan tahapan aktivitas ekstraksi 4 : a. Pengerukan Bahan Galian Endapan pasir besi ini terdapat pada sekitar tepian pulau di sekitar muara sungai, rawa dan sempadan pantai, proses pengerukan akan membuat kawasan lindung sempadan pantai yang biasanya dalam bentuk hutan mangrove dan cemara akan terbabat habis. Masyarakat yang melihat kondisi pantai ketika tambang beroperasi atau pasca tambang tanpa melihat kondisi pulau sebelum tambang beroperasi, tidak akan dapat melihat perubahan ekstrem yang terjadi pada kawasan ini. Berbeda dengan pandangan mata kepala masyarakat di sekitar tambang yang dapat membandingkan perubahan pantai sebelum dan sesudah tambang beroperasi. Masyarakat yang melihat dengan dua kondisi berbeda ini akan menyadari bahwa sebenarnya proses pengerukan kawasan terluar pulau ini telah menyebabkan pengurangan yang luar biasa terhadap luas pulau tempat tambang pasir besi beroperasi. Pengerukan pasir besi selain memangkas bagian terluas pulau, secara fisik juga merubah bentang alam kawasan rawa dan hutan mangrove serta habitat dan tempat pemijahan ikan, kepiting dan udang. b. Pemisahan Pasir Besi Pemisahaan pasir besi yang menggunakan sistem magnetik yang boros air, untuk memisahkan 50.000 m3 pasir besi dibutuhkan air sebanyak 20.000 m3. Untuk memenuhi kebutuhan air ini, perusahaan akan membendung muara sungai                                                              4  Seperti yang dinyatakan dalam judul “ Pencemaran Lingkungan Akibat Aktifitas Pertambangan Dan UUD Tentang Pencemaran”. 2011. www.rahmatbkhant.blogspot.com    10    dan mengalihkan aliran sungai menuju lokasi proccesing melalui pipa besar atau menggunakan pompa. Proses pembendungan sungai ini akan menyebabkan luapan air menggenangi kawasan pertanian, pemukiman dan sentra aktivitas warga lainnya. Dampak lainnya akibat pembendungan ini adalah kerusakan ekosistem yang tidak kasat mata tetapi akan terasa oleh nelayan sekitar. Pemusnahan masal terhadap kekayaan biodiversity yang siklus sidupnya tergolong katadromus, yaitu jenis ikan dan arthopoda yang siklus regenerasinya membutuhkan 2 ekosistem. Ekosistem air tawar dan ekosistem air laut, seperti ikan sidat yang akan mati setelah bertelur di gugusan terumbu karang dalam laut, dan setelah menetas anakannya akan melanjutkan siklus hidup induknya untuk tumbuh dan hidup di ekosistem sungai. Pembendungan sungai akan membuat jenis katadromus ini tidak bisa kembali ke sungai untuk memijah. Pada proses pemurnian pasir besi, bahan yang terambil adalah dalam bentuk butiran pasir besi dan titanium, juga silicon dan magnesium. Jumlah limbah sebagai buangan sisa-sisa pemurnian yang dibuang tergantung dari berapa kadar pasir besi di wilayah endapan yang diambil. Misalnya wilayah Pesisir Barat Bengkulu, dari setiap 50.000 meter persegi pasir besi, akan membuang limbah padat dalam bentuk lumpur pasir dan koral sebanyak 126.000 m3. Deposit pasir besi dan mineral lain yang digali merupakan sedimentasi dari proses geomorfologi jutaan tahun yang lalu, pembongkaran endapan ini akan mengakibatkan stabilitas ikatan komponen kimia yang mengendap terlepas. Proses pengambilan pasir besi oleh magnet separator tidak sepenuhnya dapat mengambil semua pasir besi dan mineral logam lain. Senyawa kimia yang dibongkar dan terikut dalam prosesing dan bukan berunsur logam, akan terlepas bebas ke air dan lingkungan tempat pembuangan limbah. Ikan yang hidup disungai dan pantai sekitar pembuangan limbah ini biasanya akan mati serentak dalam jumlah yang besar, kalaupun ada yang tersisa ikannya ditemukan dalam kondisi kudisan yang memiliki benjolan disekitar badannya. Kementerian lingkungan hidup RI sudah mencoba mengeleminir resiko dari proses ini dengan mengeluarkan permen LH no 21 tahun 2010 tentang ambang batas mutu air pertambangan biji besi. Sayangnya peraturan ini tidak cukup menjamin 11   keselamatan ekosistem sekitar kegiatan penambangan, karena tidak menjangkau identifikasi berbagai jenis komponen kimia yang dilepas,selain itu peraturan ini lebih bersifat pengaturan prosedural fisik. c. Pengangkutan Pasir Besi Dalam pengangkutan hasil produksi menuju konsumen, pengangkutan pasir besi biasanya pemanfaatan infrastruktur umum seperti jalan. Pengangkutan dilakukan menggunakan truk – truk pasir berbobot tinggi dan cenderung melebihi kapasitas angkut dan daya dukung jalan. Hal ini menyebabkan kerusakan jalan tidak dapat dihindarkan, akibatnya berdampak pada terganggunya fungsi jalan sebagai barang publik dalam melayani masyarakat pengguna jalan. Jaringan jalan raya merupakan prasarana transportasi darat yang memegang peranan sangatpenting dalam sektor perhubungan, terutama untuk kesinambungan distribusi barang dan jasa. Keberadaan jalan raya sangat diperlukan untuk menunjang laju pertumbuhan ekonomi seiring dengan meningkatnya kebutuhan sarana transportasi yang dapat menjangkau daerah-daerah terpencil. Selain pertumbuhan ekonomi, transportasi jalan juga sering menimbulkan permasalahan dibidang pemeliharaannya. Kenaikan volume kendaraan (trailer, truk, bus, and kendaraan lainnya) yang melebihi kapasitas daya angkutnya juga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan jalan relatif cepat rusak sebelum mencapai umur pelayanan jalan yang telah direncanakan. Peningkatan arus lalu lintas kendaraan khususnya kendaraan berat, yang pada umumnya mengangkut bahan mentah seperti kayu dan sawit (yang dilakukan oleh perusahaan – perusahaan industri) sangat berpengaruh besar terjadinya kerusakan jalan. Terlepas dari mutu komponen perkerasan dan pelaksanaan pekerjaan yang mungkin kurang baik, faktor lain yang sangat berpengaruh dan menentukan umur perkerasan jalan adalah perbedaan antara beban rencana as kendaraan dengan beban aktual yang melewati jalan tersebut (Mudjiatko 2006). UNESCAP (2005) menyoroti pentingnya infrastruktur jalan dalam perekonomian wilayah, jalan sebagai salah satu komponen infrastruktur berpengaruh secara signifikan terhadap iklim investasi. Jalan merupakan penghubung antara kegiatan produksi dan distribusi, sehingga ketersediaan jaringan jalan yang baik akan sangat menentukan proses produksi dan distribusi. 12    2.2 Eksternalitas Masalah lingkungan banyak disebabkan oleh kegagalan pasar dan tidak adanya hak kepemilikan. Konsumsi terhadap barang publik sering menimbulkan apa yang disebut eksternalitas. Eksternalitas diartikan sebagai setiap pengaruh samping dari produksi atau konsumsi yang dirasakan oleh pihak ketiga di luar pasar. Menurut teori ekonomi mikro harga merupakan mekanisme sinyal penting dalam proses pasar. Harga keseimbangan menunjukkan nilai marjinal yang diberikan oleh konsumen dari pemakaian barang dan biaya marjinal yang harus ditanggung oleh perusahaan dalam memproduksikan barang dimaksud. Dalam keadaan biasa, teori ini dapat memprediksi realitas pasar dengan baik. Namun terdapat banyak keadaan di mana harga gagal merefleksikan semua manfaat dan biaya yang terkait dengan transaksi pasar. Kegagalan pasar ini muncul ketika pihak ketiga dipengaruhi oleh produksi atau konsumsi satu barang. Apabila pengaruh kepada pihak ketiga ini mengakibatkan timbulnya biaya, maka pengaruh ini disebut eksternalitas negatif, sedangkan pengaruh kepada pihak ketiga yang bermanfaat disebut eksternalitas positif (Mangkoesoebroto 1993). Kerusakan lingkungan akibat aktivitas orang lain merupakan suatu eksternalitas. Eksternalitas terjadi jika suatu kegiatan menimbulkan manfaat ataubiaya bagi kegiatan atau pihak di luar pelaksana kegiatan tersebut. Eksternalitas ditambah dengan biaya swasta disebut sebagai biaya sosial. Biaya social berkaitan dengan kerusakan lingkungan hidup yang dapat dianggap biaya pembangunan ekonomi (Randal 1987). Masalah utamanya adalah siapa yang harus menanggung biaya sosial tersebut, apakah biaya itu harus ditanggung oleh pihak yang menimbulkan korban atau pihak yang dirugikan, atau pemerintah. Para ekonom menyetujui agar pihak yang menimbulkan kerugian harus dikenai kewajiban untuk mencegah pencemaran atau diwajibkan membayar pajak sebesar kerugian yang ditimbulkannya atau sumber pencemar dipindahkan keluar daerah yang mengalami pencemaran (Suparmoko 1997). Secara grafis terjadinya eksternalitas dapat dilihat pada Gambar1, dimana produksi optimum akan didapatkan pada saat polusi telah diperhitungkan sebagai biaya sosial yang harus dibayarkan dalam penambangan sehingga mengurangi 13   jumlah produksi berdasarkan harga pasar. Dengan kondisi ini tidak ada pihak yang dirugikan dalam sebuah aktivitas penambangan. Gambar 1 Eksternalitas negatif pada penambangan pasir besi Sumber :Disesuaikan dengan Kahn (1998) 2.3 Jenis – Jenis Eksternalitas Eksternalitas lingkungan dapat dikelompokkan berdasarkan pengaruhnya terhadap individu dan wilayah. Pencemaran lingkungan atau kerusakan lingkungan dapat dikelompokkan sebagai eksternalitas daerah/lokal seperti terjadi kerusakan air danau, kerusakan tanah, dan polusi udara. Polusi di daerah menjadi kesulitan bagi penduduk daerah tersebut jika memiliki dua karakteristik, yaitunon-rivalry and non-exclusion. Adapun polusi dari sungai besar dan kerusakan ekosistem gunung mungkin akan mempengaruhi sejumlah wilayah. Emisi gas rumah kaca merupakan masalah penduduk dunia tanpa memperhatikan dari mana polusi berasal, emisi menyeluruh berdampak kepada semua orang di dunia dan ekosistem secara keseluruhan. Pengelompokkan eksternalitas penting berkenaan dengan masalah otoritas mana yang akan membawahi masalah polusi dan atau kerusakan tersebut (Sankar 2008). Putri et al. (2010) membagi eksternalitas berdasarkan sebab dan dampak yang dimunculkannya serta interaksi agen ekonomi. Eksternalitas berdasarkan interaksi agen ekonomi misalnya adalah sebagai berikut: a. Dampak Produsen Terhadap Produsen Lain Suatu kegiatan produksi dikatakan mempunyai dampak eksternal terhadap produsen lain jika kegiatannya itu mengakibatkan terjadinya perubahan atau penggeseran fungsi produksi dari produsen lain. Contoh dampak atau efek yang termasuk dalam kategori ini misalnya suatu proses produksi pengolahan ikan 14    sardine menghasilkan limbah produk yang dimasukkan ke dalam aliran sungai, sehingga produsen ikan yang menggunakan air dari aliran sungai tersebut akan dirugikan karena produksinya akan menurun. b. Dampak Produsen Terhadap Konsumen Suatu produsen dikatakan mempunyai dampak terhadap konsumen, jika aktivitasnya merubah atau menggeser fungsi utilitas rumah tangga (konsumen). Contoh kategori dampak ini adalah pencemaran atau polusi. Kategori ini meliputi polusi suara (noise), berkurangnya fasilitas daya tarik alam (amenity) karena pertambangan, serta polusi air, yang semuanya mempengaruhi kenyamanan konsumen atau masyarakat luas. Misalnya adalah dampak penciuman (bau) dari produsen pembuat ikan asin terhadap masyarakat sekitar, atau polusi udara dari produsen pengasapan ikan kepada masyarakat sekitar. c. Dampak Konsumen Terhadap Konsumen Lain Dampak konsumen terhadap konsumen yang lain terjadi jika aktivitas seseorang atau kelompok tertentu mempengaruhi atau menggangu fungsi utilitas konsumen yang lain. Dampak atau efek dari kegiatan suatu seorang konsumen yang lain dapat terjadi dalam berbagai bentuk. Misalnya, bisingnya suara alat pemotong rumput tetangga, kebisingan bunyi radio atau musik dari tetangga, asap rokok seseorang terhadap orang sekitarnya dan sebagainya. d. Dampak Konsumen Terhadap Produsen Dampak konsumen terhadap produsen terjadi jika aktivitas konsumen mengganggu fungsi produksi suatu produsen atau kelompok produsen tertentu. Dampak jenis ini misalnya terjadi ketika limbah rumah tangga terbuang ke aliran sungai dan mencemarinya sehingga menganggu perusahaan tertentu yang memanfaatkan air seperti nelayan atau perusahaan yang memanfaatkan air bersih. Soemarno (2008) membagi eksternalitas berdasarkan sebab dan dampak yang dimunculkannya adalah sebagai berikut: a. Eksternalitas Pecuniary Eksternalitas pecuniary atau eksternalitas istimewa terjadi karena perubahan harga dari beberapa input maupun output. Dengan kata lain, eksternalitas ini terjadi manakala aktivitas ekonomi seseorang mempengaruhi kondisi finansial pihak lain. Misalkan pada saat memutuskan apakah membeli atau tidak membeli 15   sesuatu barang, seseorang biasanya akan mempertimbangkan kebutuhannya sendiri akan barang tersebut, harganya, dan situasi anggarannya. Jarang sekali, dan umumnya hanya dalam kasus monopsoni saja, individu mempertimbangkan bahwa keputusannya untuk membeli barang/jasa dapat berkontribusi terhadap peningkatan kebutuhan produk tersebut dan oleh karena itu menyebabkan harganya meningkat. Biasanya, pengabaian ini dibenarkan, karena pembelian individual atas suatu komoditi merupakan fraksi yang demikian kecilnya dari total jumlah barang yang dijual, sehingga keputusan individu mempunyai dampak yang dapat diabaikan terhadap harga. Bagaimanapun keputusan individual mempengaruhi harga, bukan hanya seseorang, tetapi juga semua pembeli lainnya, akan mengakibatkan penurunan atau kenaikan harga. Perubahan harga, yang disebabkan oleh keputusan-keputusan individu, disebut sebagai eksternalitas istimewa. Kalau keputusan individu menyebabkan harga naik (kasus yang lazimnya berhubungan dengan peningkatan kebutuhan) maka fenomenanya merupakan suatu eksternal disekonomi yang pecuniary bagi konsumen lainnya. Apabila keputusan individu menyebabkan harga turun (seperti yang dilukiskan dengan keputusan untuk menggabungkan kelompok perjalanan travel yang masih belum mencapai kapasitas penuh) fenomenanya disebut eksternal ekonomi yang pecuniary bagi konsumen lainnyaefisien. Secara simetri, eksternalitas dis-ekonomi yang pecuniar bagi konsumen merupakan eksternalitas yang pecuniar bagi produsen dan eksternalitas ekonomis yang pecuniar bagi konsumen akan merupakan eksternalitas dis-ekonomi bagi produsen. Hal penting yang harus diperhatikan ialah bahwa eksternalitas pecuniar, apakah ekonomis atau disekonomis, tidak menimbulkan problem bagi ekonomi pasar. Berubahnya kebutuhan menyebabkan harga naik atau turun fluktuasi ini menyediakan pertanda esensial bagi tempat-pasar untuk merotasikan barang dan jasa secara efisien (Soemarno 2008). b. Eksternalitas banyak arah (Multidirectional externality) Ekstenalitas banyak arah adalah eksternalitas yang disebabkan oleh suatu/ sejumlah pihak yang mengakibatkan terganggunya suatu/ sejumlah pihak lain. 16    2.4 Solusi Eksternalitas Fauzi (2010) mengemukakan model dasar untuk membangun prinsip kebijakan ekonomi dalam memecahkan masalah eksternalitas. Ia mengemukakan contoh hubungan ekonomi antara perusahaan penambang emas dengan usaha perikanan. Meski tidak ada hubungan keputusan ekonomi dari dua unit usaha tersebut, namun keduanya menjadi terkait karena adanya sungai sebagai barang publik. Penambang emas tersebut membuang limbahnya berupa zat merkuri ke dalam sungai yang menjadi sumber mata pencaharian. Pada dasarnya Fauzi (2010) menyatakan untuk meredam eksternalitas negatif, tidak terkecuali dalam kegiatan penambangan terdapat tiga alternatif kebijakan yang dapat digunakan : internalisasi, perpajakan dan memfungsikan pasar. Nicholson (1999) menjelaskan dua pemecahan tradisional terhadap eksternalitas. Yaitu perpajakan dan internalisasi biaya. Dalam menggunakan perpajakan sebagai penyelesaian eksternalitas, Nicholson (1999) berpendapat bahwa pemerintah dapat mengenakan pajak cukai yang sesuai terhadap perusahaan yang menghasilkan disekonomi eksternal. Pajak ini dapat dianggap keluaran atau produk yang dihasilkan oleh sebuah perusahaan menjadi berkurang. Pemecahan klasik terhadap masalah eksternalitas ini pertama kali diajukan oleh A.C. Pigou pada dasawarsa 1920-an. Walaupun telah sedikit dimodifikasi, solusi ini tetap merupakan jawaban standar untuk masalah eksternalitas yang dibuat oleh ahli ekonomi. Masalah utama bagi regulator adalah mendapatkan informasi empiris yang memadai sehingga pajak yang tepat dapat dikenakan secara langsung kepada perusahaan yang menyebabkan polusi. Pemecahan tradisional kedua adalah internalisasi, merupakan upaya untuk “menginternalkan” dampak yang ditimbulkan dengan cara menyatukan proses pengambilan keputusan dalam satu unit usaha. 2.5 Teori Pemanfaatan Sumberdaya Secara Optimal Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar pengambilan sumberdaya alam yang tidak dapat diperbaharui menjadi lebih optimal. Syarat pertama yang harus dipenuhi adalah terdapatnya pasar persaingan sempurna dengan tercapai suatu tingkat efisiensi yang optimum pada saat harga barang sama dengan biaya 17   marginalnya. Pada kasus sumberdaya alam yang tidak dapat diperbaharui, efisiensi optimum akan dicapai apabila harga barang sumberdaya sama dengan biaya marginal ditambah biaya alternatif. Biaya alternatif adalah kelebihan nilai yang bersedia dibayarkan oleh konsumen dengan nilai lebih besar daripada biaya marginal untuk menghasilkan barang sumberdaya tersebut. Biaya alternatif ini juga disebut manfaat sosial bersih, rent, atau royalty. Syarat kedua dari pengambilan sumberdaya secara optimal menyangkut tingkah laku dari biaya alternatif atau royalty itu sepanjang waktu. Biaya alternatif harus selalu meningkat sebesar tingkat bunga yang berlaku dari waktu kewaktu, atau dengan kata lain bila royalty itu dinyatakan dengan nilai sekarang (present value), maka ia tidak akan berubah sepanjang waktu. Syarat terakhir adalah ekstraksi sumberdaya alam tidak dapat diperbaharui sangat tergantung pada kendala stok yang terbatas. Sebagai dasar dari teori ekstraksi sumberdaya alam tidak terbaharui yang optimal adalah model Hotelling yang dikembangkan oleh Harold Hotelling pada 1931 (Fauzi 2010). Tujuan perusahaan dalam pemanfaatan sumber daya minerba adalah memaksimumkan keuntungan.Tujuan ini dicapai dengan memilih tingkat ekstraksi optimal selama masa izin. Jika ada komponen biaya yang dapat dihindari atau dapat dibebankan kepada pihak lain, maka tanpa regulasi yang efektif komponen biaya tersebut tidak akan ditanggung oleh perusahaan. Hal seperti ini dapat menghasilkan kondisi dimana pemanfaatan sumber daya minerba menguntungkan secara finansial tetapi merugikan secara ekonomi. Untuk sederhananya, jika present value dari penjualan hasil tambang adalah S dan present value dari biaya eksplorasi, eksploitasi, dan reklamasi adalah C, maka present value dari pemanfaatan sumber daya minerba adalah W = S –C Jika W > 0, maka pemanfaatan sumber daya minerba secara finansial layak atau menguntungkan bagi pelakunya.Tetapi apakah hal ini juga menguntungkan secara sosial masih perlu dikaji lebih jauh karena biaya yang diperhitungkan masih belum tentu mencakup seluruh biaya yang ditimbulkan oleh pemanfaatan sumber daya minerba tersebut. Seperti umum terjadi, pemanfaatan sumber daya minerba sering menimbulkan dampak lingkungan, khususnya yang bersifat negatif. 18    Pemerintah sebagai wakil rakyat mempunyai kewajiban untuk memperhitungkan biaya lingkungan dari setiap keputusannya (Soemarno 2008). 2.5.1 Teori Optimasi Sumberdaya Tidak Terbarukan Pada tahun 1970-an adalah suatu periode intensif, dimana kekhawatiran publik terhadap kelangkaan sumberdaya alam. Dipicu dari laporan klub roma mengenai “limits to growth” oleh Deniss Meadows. Ia memprediksi konsekuensi katastropik pada awal abad 21 kecuali jika pertumbuhan ekonomi ditunda, ditambah lagi kondisi menjelang tahun 1973 dengan adanya embargo minyak yang akhirnya menyebabkan krisis. Pada saat itu para ekonom bersiap untuk menerapkan kerangka kerja yang dimulai oleh Hotelling tahun 1931(Gaudet 2007). Cadangan sumberdaya alam adalah sama dengan cadangan kapital fisik yang merupakan aset bagi pemiliknya. Dalam ekonomi pasar, nilai dari aset ini, seperti beberapa aset modal sangat bergantung kepada tingkat pengembalian hasil yang dapat diperoleh pemiliknya. Secara khas, tingkat pengembalian dari aset kapital dapat diuraikan pada tiga komponen : 1. Komponen pertama disebabkan oleh aliran dari produk yang dihasilkan oleh marginal unit dari aset. Ini disebut tingkat dari marginal produktivitas atau tingkat dividen. 2. Komponen kedua disebabkan oleh fakta bahwa karakteristik aset fisik dapat berubah sepanjang waktu. 3. Komponen ketiga adalah tingkat dimana nilai pasar aset dapat berubah sepanjang waktu. Nilai ini mungkin saja negatif, sepanjang nilai ini lebih dari komponen positif lainnya terhadap tingkat pengembalian. Agar pasar aset berada dalam keadaan equilibrium, tingkat pengembalian harus sama dengan tingkat pengembalian yang diharapkan oleh pemilik sumberdaya jika aset tersebut diinvestasikan ditempat lain. Pada contoh aset fisik seperti bangunan, mesin dan peralatan, komponen pertama yang digunakan adalah produk marginal yang diturunkan dari penggunaan setiap masukan dalam proses produksi. Komponen kedua berasal dari depresiasi fisik aset, yang akan mengurangi tingkat pengembalian. Komponen ketiga, adalah pendapatan modal yang dapat diterima dengan menahan aset (Gaudet 2007). 19   Seandainya sekarang aset adalah sumberdaya tidak terbarukan, seperti deposit mineral atau cadangan minyak dalam tanah. Beberapa aset tidak dapat diproduksi kembali, dimana jumlah cadangan sekarang tidak dapat meningkat sepanjang waktu. Keputusan menahan aset tersebut tidak akan mendapatkan hasil selama aset tersebut berada dalam tanah, yang berarti tidak produktif, berbeda dengan mesin atau peralatan, yang dapat menghasilkan aliran jasa. Oleh sebab itu komponen pertama identik dengan nilai nol. Seperti komponen kedua, dimana tidak ada padanan yang tepat pada kasus cadangan sumberdaya, dalam artian kekacauan tidak akan terjadi dari menahan aset didalam tanah. Ini sebabnyalebih baik menahan marginal unit dari aset yang ditempatkan dalam tanah daripada mengekstraksi untuk menjaga kualitas merata dari cadangan yang tersisa dari keadaan memburuk. Komponen kedua ini mencatat tingkat pengembalian yang lebih positif, daripada negatif. Jika p (t) adalah harga sekarang dimana sumberdaya dapat berada dalam pasar segera setelah diekstraksi dan c(t) adalah biaya marginal ekstraksi sumberdaya pada tahun t, maka nilai marginal dalam tanah seharusnya: π (t) = p (t) − c(t), yang mewakili harga aset dari sumberdaya. Jika tingkat bunga adalah r, dan aset keseimbangan pasar mensyaratkan: Ini adalah rumus Hotelling yang terkenal, yang menyatakan bahwa harga bersih dari sumberdaya alam-harga aset sumberdaya alam-harus naik sama dengan tingkat bunga. Jika biaya marginal dari ekstraksi sumberdaya bebas dari tingkat ekstraksi dan tidak berubah sepanjang waktu, dan hal ini menghasilkan prediksi sebagai perilaku dari nilai pasar sepanjang waktu, yaitu: Jika fungsi diatas benar-benar dapat mewakili kenyataan, kita dapat mengamati harga sumberdaya tidak terbarukan akan meningkat sesuai tingkat bunga sebagai bagian dari biaya dalam harga yang semakin kecil dan semakin kecil sepanjang waktu dan rente kelangkaan semakin tinggi sepanjang waktu (Gaudet 2007). 20    2.6 Pajak Sebagai Instrumen Ekonomi Pengelolaan Pajak merupakan salah satu instrumen ekonomi pengelolaan lingkungan, namun bukan instrumen untuk melegalisasi pencemaran atau perusakan lingkungan. Pajak lingkungan merupakan salah satu instrumen yang berbasis pasar diantara berbagai instrumen yang tersedia. Di Indonesia, pajak lingkungan telah diatur dalam UU No 32 Tahun 2009 tentang Pengelolaan dan Perlindungan Lingkungan Hidup. Sayangnya implementasi belum banyak dilakukan sehingga pengelolaan lingkungan di Indonesia lebih mengutamakan pendekatan commandand-control (Suedomo 2009). Ketika pajak digunakan sebagai alat internalisasi eksternalitas akan membuat pemerintah kehilangan ketegasan dihadapan masyarakat. Ini disebabkan kehidupan yang tenang tanpa ada gangguan dari adanya eksternalitas negatif adalah hak setiap orang, sementara bagi pasar hal ini adalah peluang untuk melakukan lobi dan transaksi. Analisis cost-benefit menjadi penting dalam hal ini, menimbang mana yang lebih penting antara tujuan dari tiap aspek yang dibahas dengan opportunity cost yang harus dikeluarkan. Misalkan antara kesehatan/lingkungan dengan sisi perkembangan ekonomi dan kesejahteraan materi masyarakat. Mekanisme Pajak Pigovian bisa menjadi alternatif karena memang dianggap mampu menekan laju peningkatan biaya sosial dimasa depan sementara mekanisme pengendalian langsung bisa diterapkan jika memang sumber penerimaan negeri sudah tangguh dan mandiri (Eirik dan Ronnie 1999). Pajak pada bads akan memberi insentif kepada pembangkit dampak negatif untuk mencari dan menggunakan teknologi yang dapat mengurangi dampak negatif pada lingkungan. Kelemahan utama Pajak Pigou pada barang adalah bahwa pajak ini hanya dapat dikenakan ketika proses produksi tambang masih berjalan, padahal dampak lingkungan dapat berlangsung meskipun tambang telah berhenti. Oleh karena itu, pajak Pigou hanya menangkap kerugian lingkungan yang terjadi selama proses penambangan berlangsung (Suedomo 2009). Para ahli menyarankan untuk menerapkan pajak terhadap pencemaran dan kerusakan, agar tercapai kualitas lingkungan yang diharapkan. Nilai pajak harus sesuai dengan tingkat optimal sosial degradasi (dan tidak mengeliminasi polusi secara menyeluruh). Menerapkan pajak kepada pencemar adalah metode paling 21   tepat untuk mengatasi masalah lingkungan, karena akan mengubah prilaku pencemar secara tidak langsung untuk menaati peraturan pengelolaan limbahnya. Akibatnya jumlah output perusahaan tidak lagi pada tingkat yang mengeluarkan eksternalitas terlalu tinggi, dibandingkan output yang ada dipasar (market equilibrium). Solusi berbasis insentif diusulkan oleh Pigou, yang menyarankan pemberlakuan pajak pada entitas yang membuat eksternalitas (Kahn 1998). Pengendalian produksi dengan sistem pajak merupakan perilaku respon terhadap adanya eksternalitas. Pengendalian produksi dilakukan dengan memperhitungkan biaya lingkungan dan menerapkan kepastian hak. Pengaturan produksi seharusnya dirumuskan, ditetapkan dan diimplementasikan secara bersama-sama oleh para pihak. Situasi ini akan mendorong tumbuh dan berkembangnya komitmen untuk tidak melakukan eksploitasi berlebihan (Suhaeri 2005). Pencemar akan berfikir untuk mengurangi kewajiban pajak mereka, sehingga biaya kerusakan lingkungan dibebankan kepada masyarakat. Ilustrasi dapat dilihat pada Gambar 2 dan diasumsikan biaya pencemaran telah ditentukan. Analisis ini membutuhkan informasi substansial mengenai prosedur pengurangan (abatement) dan teknologi yang dipakai. Marginal damage cost (S) adalah representasi dari beban yang ditanggung oleh masyarakat. Marginal control cost (MC’) adalah atribut yang dilakukan pencemar untuk mengurangi pencemaran. Pada jumlah produksi yang optimumdengan mempertimbangkan pajak tingkat produksi akan berkurang menuju keseimbangan jumlah produksi baru yang lebih kecil, karena biaya produksi mengalami peningkatan dengan penetapan pajak sejumlah tertentu. Gambar 2 Eksternalitas dengan pajak Sumber : Kahn (1998) 22    Kebijakan pemerintah menetapkan tax, sebagai unit yang dibebankan terhadap polusi yang dibuat pencemar, menyebabkan pencemar akan mengurangi emisi dengan mengurangi jumlah produksi mereka dari x1 ke x2. Dana yang dipungut dari pajak tersebut, dapat dimanfaatkan pemerintah untuk memperbaiki kondisi lingkungan. Pajak pencemaran ini berdasarkan atas prinsip pembayaran oleh pencemar (Kahn 1998). 2.7 Tinjauan Penelitian Sejenis Terdahulu Penelitian mengenai eksternalitas dan laju ekstraksi optimal pada sumberdaya pertambangan pasir besi masih jarang ditemukan.Beberapa penelitian mengenai eksternalitas memang pernah dilakukan oleh peneliti–peneliti sebelumnya. Syaefuddin (2010) menghitung dampak pengangkutan batu bara melalui jalur sungai di Sungai Barito Kalimantan Selatan. Pengangkutan batubara melalui sungai menggunakan perahu tongkang melalui jalur Sungai Barito di wilayah Kabupaten Batola, ditengarai merusak ekosistem perairan, menimbulkan masalah sosial ekonomi dan pencemaran lingkungan serta memperparah abrasi di perairan sungai tersebut. Penelitian ini menggunakan metode valuasi ekonomi Damage Cost Analysis. Dalam penelitian ini dampak yang ditimbulkan oleh adanya tansportasi tongkang batubara yaitu penurunan jumlah tangkapan nelayan jaring insang hanyut yang berakibat pada penurunan pendapatan nelayan. Jumlah keramba dan KJA dari tahun 2007 sampai 2008 mengalami penurunan yang drastis. Jumlah Produksi keramba turun sebesar 86 % dan produksi KJA turun sebesar 73%. Kecelakaan berdampak pada besarnya kerugian material, seperti kerusakan dermaga dan perahu. Kerugian immaterial agak sulit dihitung, karena terkait dengan emosi dan perasaan manusia. Kerugian immaterial terutama terkait dengan kehilangan jiwa. Dalam penelitian ini kehilangan jiwa, dampak berupa perasaan kehilangan, tertekan,sedih dan sebagainya tidak dinilai karena masih sulit diterapkan. Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Perhubungan Barito Kuala tahun 2009, diperoleh jumlah keluar masuk tongkang batubara menunjukkan bahwa total batubara yang diangkut/keluar selama tahun 2009, baik melalui Rute Banjarmasin-Kelanis maupun Banjarmasin-Teweh sebesar 36.344.000 ton. Menggunakan dasar perhitungan tahun 2009 diperoleh nilai total kerugian akibat 23   pengangkutan batubara adalah Rp. 5.516.800.000. Nilai total tersebut terdiri dari kerugian pada sektor perikanan Rp. 5.335.800.000 dan kerugian karena kecelakaan Rp. 181.000.000. Nilai ini dikaitkan dengan jumlah batubara yang diangkut, yang jumlahnya mencapai 36.344.000 ton per tahun maka dapat ditetapkan nilai kompensasi sebesar Rp. 152 (seratus lima puluh dua rupiah) per ton batubara. Noviana (2011) meneliti tentang dampak penambangan pasir besi di Kabupaten Kaur Sumatera Selatan. Tujuannya mengidentifikasi semua dampak penambangan pasir besi. Diantaranya menyebabkan menurunnya kualitas udara, disebabkan mobilisasi alat berat pada tahap pra konstruksi yang meningkatkan kadar debu dan kebisingan di areal tambang dan pemukiman masyarakat di jalan Way Hawang Sukamenanti. Kondisi wilayah penambangan yang merupakan perairan Sungai Air Numan (Danau Kembar) dengan luasan awal 16,02 hektar dan daratan seluas 163,34 hektar. Kegiatan penggalian akan memperluas bentuk dan struktur danau hingga meluas kira – kira menjadi sebesar 28 hektar. Hal ini sangat membahayakan warga, karena debit air juga akan mengalami perubahan struktur, sehingga ancaman terhadap kekeringan dan banjir meningkat. Aktifitas penambangan juga akan mempengaruhi struktur pantai Way Hawang. Ancaman akan meningkat khususnya pada saat air laut pasang dan gelombang besar serta tinggi, yang akan membuat bentuk pantai berubah. Kegiatan penambangan juga dipastikan akan menurunkan kualitas air tanah (sumur) dan kualitas air permukaan Danau Kembar serta Air Way Hawang. Pengolahan pasir besi membutuhkan banyak air untuk diolah di Magnetic Separator. Dalam proses pengolahan, selain menghasilkan pasir besi juga menghasilkan limbah. Demikian juga dengan kegiatan perawatan alat berat tambang pasir besi dipastikan menghasilkan sisa-sisa pelumas dan oli bekas. Sisa oli bekas ini yang tidak dikelola dengan baik akan mencemari danau kembar dan sumur warga, serta air laut di lingkungan tambang. Pada tahap pengangkutan hasil pemurnian pasir besi, rute jalur angkut perusahaan meliputi jalan Raya Desa Sukamenanti, Desa Way Hawang hingga Pelabuhan Linau. Jalan ini merupakan jalan negara dengan spesifikasi III A atau dapat dilalui kendaraan dengan muatan maksimal 8 ton. Kendaraan pasir besi dari awal konstruksi hingga pengangkutan 24    memiliki rata-rata beban melebihi 8 ton sehingga dipastikan akan merusak jalan. Kegiatan penambangan juga merubah tipe vegetasi seluas 46,03 hektar (total) dari vegetasi daratan seluas 16,02 hektar dan perairan Danau Kembar seluas 30,01 hektar kehilangan vegetasi penutup sehingga dipastikan dapat menimbulkan abrasi. Disamping itu pendapatan masyarakat dari berkebun, seperti kelapa, kelapa sawit, tanaman padi juga ikut hilang. Dampak terhadap biota air merupakan dampak tak langsung akibat kegiatan tambang pasir besi. Sumber dampak berasal dari perubahan kulitas air akibat limbah pengolahan pasir. Sumber lainnya adalah karena tirisan penumpukan pasir besi, air limbah bekas pelumas dari kegiatan bengkel. Indeks keanekaragaman Danau Kembar akan menurun dari kondisi awal 0,8 s/d 2, 48 untuk plankton dan 1,90 s/d 2,98 untuk biota benthos. Kondisi ini akan menurunkan jumlah ikan, udang, kepiting, yang merupakan mata pencaharian tambahan bagi masyarakat selain bertani. Parluhutan (2005) melakukan penelitian mengenai Dampak Penambangan Pasir Laut Terhadap Perikanan Rajungan di Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang. Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak penambangan pasir laut terhadap perikanan rajungan.Uji T digunakan untuk membandingkan produksi rajungan sebelum dan setelah adanya penambangan pasir laut. Analisis regresi digunakan untuk mengetahui hubungan antara produksi pasir laut dengan produksi rajungan. Aspek ekonomi dinilai dengan valuasi ekonomi melalui metode perubahan surplus produsen. Hasil penelitian menunjukan bahwa produksi rajungan menurun secara signifikan setelah adanya penambangan pasir laut. Lebar karapas dan bobot tubuh juga menurun setelah adanya penambangan pasir laut. Analisis regresi menunjukan bahwa setiap kenaikan produksi pasir laut akan menurunkan produksi rajungan. Terdapat perubahan surplus produsen sebesar Rp.10.046.625.000 setiap tahun. Penambangan pasir laut juga telah berdampak terhadap pola penangkapan nelayan rajungan. 25   Tabel 1Tabulasi Perbedaan Penelitian Ini Dengan Penelitian Terdahulu Peneliti Judul Tujuan Metode Output Syaefuddin (2010) Penentuan Besarnya Kompensasi untuk Pemulihan Lingkungan Akibat Angkutan Batubara di Sungai Barito, Kabupaten Barito Kuala - Kalimantan Selatan DAMPAK NEGATIF PENAMBANGAN PASIR BESI (Studi kasus Dermaga Linau Kecamatan Maje Kabupaten Kaur) Analisis dampak penambangan pasir laut Terhadap perikanan rajungan Di kecamatan tirtayasa kabupaten serang Menghitung kompensasi dampak pengangkutan batu bara melewati Sungai Barito Damage cost Analysis Nilai kompensasi persatuan berat batubara Mengidentifikasi dampak – dampak penambangan Pasir Besi di Kabupaten Kaur Sumsel Deskriptif analisis Dampak – dampak penambangan diberbagai sektor Menganalisis perbedaan jumlah produksi rajungan sebelum dan sesudah penambangan pasir laut. Dan menganalisis perubahan kesejahteraan nelayan dengan menggunakan surplus konsumen. Mengkaji pola ekstraksi aktual dan biaya ekstraksi. Mengestimasi nilai eksternalitas gangguan perikanan dan fungsi jalan, menetapkan nilai pajak dan laju ekstraksi optimal Uji perbedaan produksi dan surplus produsen Tingkat pengaruh pertambangan terhadap morfologi rajungan dan produktivitas nelayan Valuasi ekonomi, keseimbanga n marginal, maksimisasi keuntungan bersih saat ini Nilai eksternalitas, nilai pajak, volume ekstraksi optimal dengan dan tanpa eksternalitas Noviana (2011) Parluhutan (2005) Edward (2012) Eksternalitas negatif dan laju ekstraksi penambangan pasir besi di Kabupaten Tasikmalaya Pada penelitian ini adalah perluasan dari penelitian yang dilakukan oleh Noviana (2011), Parluhutan (2005) dan Syaefuddin (2010). Penelitian ini menghitung secara ekonomi dampak kerusakan jalan dari lalu lintas kendaraan pengangkutan pasir , perubahan tangkapan nelayan akibat pencemarani. Penelitian ini juga menentukan tingkat pajak yang harus dikeluarkan perusahaan penambangan. Pajak ini kemudian dijadikan internalisasi biaya produksi dalam rangka menentukan laju ekstraki optimal dalam penambangan. 26    BAB III KERANGKA PEMIKIRAN Eksploitasi sumber daya alam hampir selalu menimbulkan dampak lingkungan.Undang-Undang nomor 32 tahun 2009 yang menyatakan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah wajib mengembangkan dan menerapkan instrumen ekonomi lingkungan hidup dalam rangka menerapkan fungsi lingkungan hidup termasuk untuk mengatasi eksternalitas negatif. Dalam Tahapan awal penelitian ini adalahmengkaji bagaimana pola ekstraksi penambangan pasir besi selama ini. Kajian ini dilakukan untuk melihat apakah ekstraksi selama ini telah memasukkan instrumen ekonomi dalam menetapkan kuota produksi dalam usaha penambangan. Sebagai sektor yang berbasis sumberdaya, maka pengambilan pasir besi sering mengalami permasalahan berupa kerusakan sumberdaya itu sendiri. Oleh karena itu, agar pemanfaatan ekonomi penambangan pasir besi dapat optimal, maka perlu diperhitungkan dampak kerusakan sumberdaya yang terjadi akibat eksploitasi sumberdaya tersebut. Fungsi eksternalitas diperkirakan dengan penerapan metoda valuasi ekonomi terhadap kerusakan sarana infrastruktur jalan akibat proses pengangkutan pasir besi. Penilaian kerusakan dinilai dari biaya peningkatan waktu tempuh dan konsumsi bahan bakar minyak kendaraan roda 2 dan 4 yang melalui jalan disepanjang pengangkutan pasir besi. Kehilangan produksi pada nelayan dinilai dengan metoda efek produktivitas nelayan akibat adanya penambangan pasir besi selama 5 tahun terakhir, dimana asumsi yang dibangun bahwa penurunan produktivitas perikanan disebabkan oleh penambangan pasir besi.Semua nilai eksternalitas tersebut nantinya dijadikan sebagai proxy fungsi eksternalitas terhadap kuantitas produksi pasir besi. Untuk memperkirakan fungsi biaya dari penambangan pasir besi di Kabupaten Tasikmalaya, menggunakan analisis regresi menggunakan data cross sectionperusahaan penambangan pasir besi. Laju ekstraksi optimal dengan mempertimbangkan eksternalitas diperkirakan dengan analisis maksimisasi net revenue present value (NRPV). Pengertian optimal di sini adalah tingkat ekstraksi dari waktu ke waktu yang memaksimumkan nilai sekarang dari total keuntungan bersih kegiatan ekstraksi 27   pasir besi. Proses mengestimasi hubungan antara laju ekstraksi dan ekstraksi kumulatif dengan dampak lingkungan, bukanlah pekerjaan yang mudah. Setiap alternatif harus menyajikan manfaat biaya eksploitasi (tetap dan variabel), serta biaya lingkungan. Terakhir berdasarkan nilai eksternalitas yang disebabkan oleh penambangan pasir besi, maka dapat ditentukan pajak lingkungan dengan analisis keseimbangan marginal antara manfaat sosial dan biaya privat serta biaya sosial.Kerangka penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 3. Gambar 3 Kerangka Penelitian Eksternalitas Negatif Dan Laju Ekstraksi Optimal Penambangan Pasir Besi 28    BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Cipatujah Kabupaten Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi ini disebabkan karena potensi cadangan pasir besi di Kabupaten Tasikmalaya telah dieksploitasi cukup besar, namun proses penambangannya masih banyak menimbulkan masalah lingkungan (eksternalitas negatif). Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Februari-April 2012. 4.2 Jenis dan Sumber Data Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui pengamatan langsung dan wawancara dengan responden menggunakan daftar pertanyaan (kuesioner). Responden yang diamati yaitu nelayan, masyarakat pengguna jalan yaitu kendaraan roda 2 dan 4.Data yang diperoleh dari nelayan adalah biaya produksi dan jumlah produksi serta jumlah effort. Masyarakat pengguna jalan menggunakan kendaraan diwawancarai untuk mendapatkan data tambahan waktu tempuh akibat jalan rusak. Data sekunder diperoleh dari studi literaturdan data-data statistik yang berasal dari instansi-instansi terkait seperti Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Tasikmalaya, dan perusahaan pasir besi. Studi literatur dibutuhkan untuk membandingkan kecepatan aktual dan konsumsi BBM kendaraan roda dua dan empat pada jalan kondisi normal. 4.3 Metode Pengumpulan Data Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode purposivesampling, yaitu metode pengambilan sampel yang dipilih secara sengaja berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Elemen utama sampel dalam penelitian ini terdiri atas dua kelompok responden. Kelompok responden pertama adalah nelayan, kelompok responden kedua adalah masyarakat pengguna jalan dengan menggunakan sepeda motor dan kendaran roda empat yang ditemui di lokasi penelitian. Analisa struktur biaya produksi diambil 5 perusahaan pasir besi yang memiliki izin usaha pertambangan yang ada di Kecamatan Cipatujah. 29   Analisa kerusakan jalan, sampel adalah ruas jalan yang dilalui dari Kecamatan Cipatujah-Kalapagenep. Sektor perikanan sampel adalah nelayan perikanan tangkap yang berdomisili di Kecamatan Cipatujah. Pengumpulan data primer menggunakan teknik wawancara yang dipandu dengan menggunakan kuesioner.Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 2 dibawah. Pengambilan data primer melalui kuisioner terhadap 67 kendaraan pengguna jalan (56 sepeda motor dan 11 mobil penumpang). Wawancara mendalam juga dilakukan untuk mendapatkan informasi dari 3 orang informan kunci yang memiliki kompetensi untuk menjelaskan mengenai keberadaan penambangan pasir besi di Kabupaten Tasikmalaya, dan 5 orang nelayan untuk mendapatkan struktur biaya perikanan tangkap secara umum. Tabel 2 Rincian Informan dan Sampel No 1 2 3 4 5 Informan Kunci dan Sampel Pejabat Dinas Perikanan Pejabat Dinas ESDM Pejabat Dinas PU dan Pengairan Nelayan Cipatujah Masyarakat Pengguna Jalan Sepeda Motor Mobil penumpang Jumlah Jumlah (org) 1 1 1 5 56 11 75 Data sekunder penelitian ini digunakan berupa data urut waktu (time series) yang meliputi data landing produksi perikanan tangkap, harga ikan per kilogram per tahun dan indeks harga konsumen (consumers price index), biaya dan jumlah produksi perusahaan penambangan pasir besi, kondisi ekonomi lokal dan regional di wilayah studi, dan tulisan di media massa mengenai eksternalitas penambangan pasir besi. Dalam memperkirakan nilai kerusakan jalan yang berakibat pada meningkatnya biaya bahan bakar, dibutuhkan data pemakaian bahan bakar ratarata kendaraan roda dua dan empat. Kerugian peningkatan waktu tempuh dibutuhkan data series upah minimum Kabupaten Tasikmalaya sebagai proxy pendapatan responden pengguna jalan dengan kendaraan pada tahun 2007-2010. 30    Tabel 3 Matriks Penelitian No 1 Tujuan Mengkaji pola ekstraksi aktual dan biaya produksi aktual Mengestimasi nilai eksternalitas negatif akibat penambangan pasir besi terhadap kerusakan jalan dan perikanan. Metoda Analisis Deskriptif Jenis Data Produksi Aktual penambangan Sumber Data Laporan produksi perusahaan Penilaian ekonomi kerusakan jalan efek dalam produktivitas pengguna jalan dan efek dalam produktivitas perikanan Data primer &sekunder 1. Jumlah kendaraan yang melintas pada masing -masing kelas jalan dalam kondisi jalan yang layak (Lv) 2. Harga bahan bakar minyak (Pbbm) 3. Jumlah rata – rata kendaraan pertahun (Lv mean) 4. Kecepatan kendaraan pada kelas jalan dalam kondisi layak (Vg) 5. Jumlah kendaraan yang melintas pada kondisi jalan rusak (nLv) 6. Kecepatan kendaraan pada kelas jalan pada kondisi rusak (Vb) 7. Biaya rata –rata bahan bakar pada kecepatan normal (ACg) 8. Biaya rata – rata bahan bakar pada kondis jalan rusak (ACb) 9. Waktu tempuh pada kondisi jalan layak (tg) 10. Waktu tempuh pada kondisi jalan rusak (tb) 11. Pendapatan pengguna jalan (roda 2 & 4) 12. Jumlah produksi perikanan tangkap PPI Pamayangsari 13. Harga rata – rata produk perikanan, IHK tasikmalaya Dinas pekerjaan umum, dinas lalu lintas, bina marga, studi literatur, kuisioner, tally sheet,DKP,BPSKab.Tasikmalaya 3 Menentukan laju ekstraksi optimal dengan memperhitungkan eksternalitas. Hotelling rule (NPV) Dinas ESDM, Perusahaan pasir besi 4 Mengestimasi nilai pajak untuk setiap output pasir besi Persamaan garis linier dua titik Data sekunder 1. Cadangan terbukti pasir besi tahun (S) 2. Jumlah ekstraksi tahunan (Qt) 3. Harga jual pasir besi rata –rata (P) 4. Lama rata – rata Izin konsesi pasir besi (T) 5. Biaya produksi rata – rata perton pasir besi (C ) Data dikaitkan dengan hasil perhitungan eksternalitas tujuan dua 2 31 31   4.4 Analisis Data Untuk menjawab pertanyaan penelitian ini, beberapa analisis yang digunakan adalah sebagai berikut : 4.4.1 Pola Ekstraksi Aktual Kajian mengenai ekstraksi aktual yang ada selama ini menggunakan data laporan produksi beberapa tahun terakhir, sehingga dapat dilihat penyimpangan apa saja yang terjadi dalam ekstraksi pasir besi. Hasil kajian tersebut digunakan untuk melihat kecenderungan jumlah produksi dibandingkan dengan pola ekstraksi optimal. 4.4.2 Analisis Kerusakan Lingkungan a. Nilai Kerusakan Jalan Metode valuasi ekonomi yang digunakan adalah pendekatan valuasi ekonomi berdasarkan biaya (cost–basedvaluation), dengan menghitung peningkatan biaya bahan bakar dan peningkatan waktu tempuh akibat kerusakan jalan.Valuasi diterapkan terhadap peningkatan waktu tempuh rata-rata dua jenis kendaraan yaitu kendaraan roda empat dan sepeda motor. Kehilangan waktu tempuh ini akan berkaitan langsung dengan kehilangan kecepatan kendaraan dijalan yang secara tidak langsung berasosiasi dengan peningkatan konsumsi BBM karena kendaraan berjalan lebih lambat. Nilai kerusakan dihitung dengan nilai yang hilang akibat kondisi jalan yang tidak baik, yaitu nilai tambahan waktu perjalanan, dan biaya penambahan konsumsi BBM berdasarkan rumus sebagai berikut: ∑ ...……….………….(1) Cjln = Nilai kerusakan jalan (Rp) WTn = Waktu tempuh pada jalur pengangkutan pasir besi saat jalan rusak WT0 = Waktu tempuh pada jalur pengangkutan pasir besi saat jalan tidakrusak BTn = Konsumsi BBM kendaraan seharusnya BTo = Konsumsi BBM kendaraan saat penelitian I = pendapatan rata-rata responden E = damage factor kontribusi truk pasir besi terhadap kerusakan jalan (i,j adalahmobil penumpang, sepeda motor), Firdaus (1999) dalam Mudjiatko (2006) menerangkan Damage factor adalah nilai daya rusak kendaraan terhadap jalan yang diakibatkan oleh beban 32    sumbu kendaraan yang melaluinya. Nilai daya rusak ini sebanding dengan pangkat empat sampaidengan pangkat lima dari beban itu sendiri. Untuk nilai damage factor dari keberadaan kendaraan pengangkutan pasir besi terhadap kerusakan jalan didapatkan dengan dengan rumus LIDDLE sebagai berikut : . Dimana : …………………………………………(2) L = Beban Sumbu Kendaraan (ton) k = 1 : untuk sumbu tunggal k = 0.086 : untuk sumbu tandem k = 0.021 : untuk sumbu triple Rumus diatas mengindikasikan bahwa samakin berat suatu kendaraan yang lewat makaakan semakin besar tingkat kerusakan yang diakibatkannya terhadap konstruksi jalan. b. Nilai Perubahan Produktivitas Perikanan Teknik pengukuran perubahan produktivitas inidihitung berdasarkan jumlah perubahan output perikanan akibat adanya penambangan pasir besi didaerah pantai.Formula perhitungan menggunakan rumus (Fauzi dan Anna 2005): ………………………………………(3) Keterangan: DNP = Perubahan Nilai Produksi pada periode t (Rp) NOt = Nilai Output pada Periode t (Rp) Xt = Output pada periode t (Kg) DW = Perubahan Produktivitas (Kg) Perubahan produktivitas diukur berdasarkan rumus (4) dan (5) berikut: ∑ – …………………………………………..(4) …………………………………………..(5) adalah produktivitas rata-rata dari tahun ke 1 sampai tahun basis (Tb ), tahun basis adalah tahun dimana perubahan produktivitas terjadi, n adalah jumlah tahun pengamatan. 33    4.3 Analisis Laju Ekstraksi Optimal Pasir Besi Tanpa Dan Dengan Adanya Eksternalitas Negatif Laju ekstraksi optimal tanpa adanya eksternalitas didapatkan dengan teknik memaksimisasi keuntungan menggunakan rumus Hotelling. Langkah pertama kita harus menghitung fungsi biaya a. Menentukan fungsi biaya ( penambangan pasir besi dilakukan dengan analisa regresi ; …………………………………………….(6) Fungsi penerimaan (TR) didapatkan dari regresi jumlah produksi Qt dengan total penerimaan penjualan. b. Maksimisasi fungsi f( p, , Max PVNR = ∑ TR , ………………………………………..(7) ,Ct) adalah ………………………….…(8) Dengan kendala S 0 > 0 ρ adalah tingkat diskonto, T adalah tahun izin pertambangan hasil optimasi. Penentuan tingkat diskonto dalam model ini menggunakan tingkat bunga ratarata lima tahun (2007-2011) suku bunga Bank Indonesia. Permasalahan maksimisasi dengan kendala diatas disusun dalam suatu ekspresi Persamaan Langrangian. Persamaan Langrangian kemudian digunakan untuk memecahkan persoalan optimasi dinamik dalam bentuk diskrit. Model yang akan dibangun berusaha memaksimumkan nilai sekarang dari total keuntungan bersih yang diterima di masa yang akan datang. Manfaat bersih didefinisikan sebagai pendapatan dari kegiatan eksploitasi dikurangi biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan dan biaya yang secara tidak langsung ditanggung oleh masyarakat. Disini akandidapatkan laju ekstraksi optimal pada setiap periode ekstraksi. Persamaan 8 diatas akan menghasilkan estimasi laju ekstraksi tanpa pertimbangan eksternalitas, selanjutnya persamaan 8 diatas dapat dimodifikasi untuk mendapatkan berapa lama laju ekstraksi dengan mempertimbangkan eksternalitas dalam fungsi biaya sebuah perusahaan penambangan. Langkah pertama adalah menjumlahkan kembali fungsi biaya perusahaan menjadi biaya produksi (Ct) eksternalitasnya (Ceks) sehingga fungsi biaya total: 34    ………………………………………. (9) Proses maksimisasi dengan pertimbangan eksternalitas harus menggunakan persamaan 9 yang telah dimodifikasi menjadi Max PVNR = ∑ TR ………………….…(10) Dengan kendala S >0 4.4.4 Analisis Tingkat Pajak Lingkungan Pajak yang tepat akibat eksternalitas negatif yang ditimbulkan oleh kegiatan penambangan pasir besi diperkirakan dari keseimbangan sosial antara fungsi permintaan dan penawaran pasir besi. Fungsi penawaran (Qs) diestimasi dari kurva biaya marginal (MC) yang berada diatas biaya variabel rata-rata (AVC). Kurva permintaan (Qd) diestimasi dari kurva penerimaan marginal (MR). Fungsi penawaran ……………………………………..(11) Fungsi permintaan …………………………………….….(12) Penyelesaian fungsi permintaan dan penawaran tersebut akan menghasilkan nilai perkiraan tingkat pajak yang optimum pada saat jumlah produksipasir besi dengan mempertimbangkan eksternalitas memenuhi: ………………………………………...(13) ……………………………………….(14) Dimana: MB = marginal benefit MC = Marginal privat cost, MSC = Marginal social cost MD=marginaleksternalitas/kerusakaan. 35    4.5 Batasan dan Pengukuran 1. Dampak penambangan pasir besi yang dinilai hanya pada dua sektor, yaitu jalan dan perikanan. 2. Dampak lingkungan kerusakan jalan dinilai dari perubahan waktu tempuh dan peningkatan konsumsi BBM, sedangkan dampak lain seperti pencemaran udara, kesehatan masyarakat, biaya perawatan jalan, dan perawatan kendaraan belum tercakup dalam penelitian ini. 3. Jumlah tangkapan adalah jumlah berat tangkapan untuk semua jenis tangkapan di PPI Pamayangsari oleh perahu dibawah 1 GT tanpa membedakan perjenis spesies tangkapan. 4. Harga pasir besi adalah harga jual dalam bentuk konsentrat pasir atau magnetic degree (MD). 5. Stok atau cadangan terbukti adalah stok awal saat perizinan perusahaan tambang tanpa ada penambahan stok. 6. Laju ekstraksi optimal dengan eksternalitas disini adalah kondisi rente pengambilan pasir besi dengan adanya pajak lingkungan sama dengan tingkat diskonto. 7. Tingkat suku bunga yang digunakan adalah tingkat suku bunga nominal Bank Indonesia tahun 2007 – 2011. 8. Untuk mengurangi dampak depresiasi nilai mata uang, semua nilai dalam penelitian ini telah dikonversi kedalam nilai riil. 4.6 Asumsi Penelitian 1. Nilai eksternalitas yang dihitung saat penelitian diasumsikan menjadi nilai eksternalitas untuk tahun 2011, dan dijadikan sebagai dasar estimasi dalam interpolasi nilai eksternalitas tahun 2007-2010. 2. Kurva biaya diasumsikan bersifat polinomial kuadratik bahwa biaya ekstraksi dipengaruhi oleh jumlah produksi (Q). Turunan pertama variabel total biaya (C terhadap tingkat produksi Q positif (C > O), kemudian variabel total biaya (C terhadap tingkat produksi Q(C> 0). Asumsipertama dan kedua menggambarkan bahwa bentuk fungsi biaya terhadap tingkat produksi adalah convex. Asumsi ini menjelaskan bahwa semakin besar jumlah cadangan pasir besi, maka total biaya cenderung mengecil dan sebaliknya, semakin kecil 36    jumlah cadangan yang tersisa, maka biaya ekstraksi perunitnya semakin besar. Justifikasi dari asumsi ketiga ini mengacu pada idenya Ricardo(1817) dalam Halimatusadiah (2000) yang menyatakan bahwa deposit exhaustible resources dengan kualitas yang lebih tinggi (yang berarti memerlukan biaya yang lebih rendah) akan digarap terlebih dahulu dibanding deposit dengan kualitas rendah. Hal ini sama dengan yang tejadi pada tanah pertanian (Fisher1981:24) dalam Halimatusadiah (2004). Fungsi biaya ini diestimasi dengan menggunakan metode OLS (Ordinary Least Square) 3. Kondisi pasar dalam membentuk fungsi biaya adalah pasar persaingan sempurna. 4. Dampak yang ditimbulkan pada jalan, dan perubahan produktivitas perikanan diasumsikan disebabkan hanya oleh penambangan pasir besi. 5. Kurva eksternalitas bersifat non linier positif, dimana peningkatan produksi pasir besi menyebabkan peningkatan nilai kerusakan lingkungan. 37    38    BAB V GAMBARAN UMUM 5.1 Kondisi Umum Wilayah Penelitian Kabupaten Tasikmalaya secara geografis terletak di antara 7º02’-7º50’ lintang selatan dan 109º97’-108º25’ bujur timur (BT). Batas-batas wilayah di sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Ciamis dan Kota Tasikmalaya, sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Ciamis, sebelah Selatan berbatasan dengan Samudra Indonesia, dan di sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Garut. Luas wilayah Kabupaten Tasikmalaya adalah 271.252 hektar dan 220.045 hektar diantaranya dipergunakan sebagai lahan pertanian dan 51.207 hektar merupakan lahan bukan pertanian. Kabupaten Tasikmalaya terdiri atas 39 kecamatan yang dibagi lagi atas 351desa dan kelurahan. Sebagian besar wilayah Kabupaten Tasikmalaya merupakan daerah perbukitan, khususnya di daerah Timur kabupaten. Beberapa berupa pegunungan, seperti yang terletak di bagian barat laut dimana terdapat pegunungan Galunggung.Ketinggian rata-rata dari kabupaten ini adalah 200 hingga 500 meter dpl.Hanya 13,05% bagian dari kabupaten yang terletak di dataran rendah dengan ketinggian dari 0 hingga 200 meter diatas permukaan laut (DPL). Sisanya menjulang hingga ketinggian puncak Gunung Galunggung 2.168 meter. Perekonomian Tasikmalaya umumnya bertumpu pada sektor pertanian, peternakan, dan perikananserta sektor pertambangan, seperti pasir Galunggung yang memiliki kualitas cukup baik bagi bahan bangunan, industri, dan perdagangan. Komoditi unggulan Kabupaten Tasikmalaya sektor pertambangan lainnya adalah emas, andesit, batu gamping, bentonit, bijih besi, pasir besi. Pada sub sektor perkebunan komoditi yang diunggulkan berupa kakao, kopi, kelapa, karet, cengkeh, lada, nilam dan teh. Pada sektor pariwisata didominasi oleh wisata alam, wisata adat dan budaya. 39    Gambar 4 Peta lokasi Kabupaten Tasikmalaya Wilayah Kecamatan Cipatujah berjarak sekitar 75 Km dari Ibukota Kabupaten Singaparna.Akses menuju Kecamatan Cipatujah tersedia transportasi umum menyusuri jalan beraspal yang cukup lebar dari Kota Tasikmalaya atau Singaparna. Kecamatan Cipatujah terdiri dari tanah darat, tanah sawah, hutan, sungai serta pegunungan, dengan luas 24.465,450 Ha. Kecamatan Cipatujah merupakan kecamatan yang terluas di Kabupaten Tasikmalaya. Topografi Kecamatan Cipatujah terdiri dari 2 bagian, yaitu dataran sepanjang daerah timur hingga selatan dan perbukitan landai tinggi sepanjang daerah utara hingga barat yang terdiri dari 15 desa. Keadaan tanah umumnya berupa pasir yang mengandung pasir besi, terutama dibagian garis pantai selatan sedangkan daerah utara, tanahnya merupakan tanah biasa yang banyak dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian. Kondisi geografis yang beragam memunculkan pemanfaatan yang beragam pula. Pada dataran rendah, terdapat banyak pohon kelapa, albasiah dan padi tadah hujan. Pada daerah tepi pantai, terdapat kegiatan pengerukan pasir besi seperti dibagian Barat Desa Ciheras, Ciandum dan CikawungAding. Kondisi sarana jalan umum pada desa yang ada di Kecamatan Cipatujah kurang dari memuaskan.Kondisi jalan terparah adalah jalur menuju Desa Ciandum, Ciheras, Pamayang, dan Cikawungading yang mengalami kerusakan hingga Desa Kalapagenep.Dapat kita lihat pada Tabel 4, ruas jalan CipatujahKalapagenep dengan total panjang 33,74 Km hanya 1,2 Km yang baik pada tahun 2011. Selebihnya dalam kondisi rusak sedang, rusak ringan dan rusak berat.Ini menunjukkan kondisi dimana, keberadaan jalan tidak akan mampu melayani aktivitas masyarakat. 40    Tabel 4 Panjang Kerusakan Kondisi Jalan Ruas Cipatujah Kalapagenep 2011 Ruas Jalan Kondisi Panjang (Km) Cipatujah - Kalapagenap Panjang 33,740 Km Lebar (4,5 - 5 M) Baik Sedang Rusak Ringan Rusak Berat Jumlah Sumber : Dinas Bina Marga Prov. Jabar (2012) Kondisi 1,2 5,95 17,24 9,35 33,74 jalan lebih sulit lagi dan nyaris tak bisa dijangkau pada saat hujan.Kerusakan ini diakibatkan olehbanyaknya kegiatan penambangan terutama penambangan pasir besi di Kecamatan Cipatujah beberapa tahun terakhir. 5.2 Sosio Demografi Wilayah Penelitian 5.2.1 Jumlah Penduduk dan Mata Pencaharian Kecamatan Cipatujah adalah yang terluas di Kabupaten Tasikmalaya. Mayoritas penduduknya adalah etnis sunda priyangan. Jumlah penduduk pada tahun 2011 adalah sebanyak 61.631 jiwa dengan rincian laki-laki 30.865 jiwa, perempuan 30.766 jiwa. Penduduk tersebut terdiri dari 17.163 kepala keluarga dengan kepadatan penduduk adalah 370 Jiwa/ Ha. Mayoritas penduduk bermata pencaharian sebagai petani, diikuti pedagang dan nelayan dengan jumlah persentase petani 45%, pedagang 25%, Nelayan 11%, PNS/ TNI/ Polri 7%, Peternak 7 %, swasta 4 %, pensiunan 1 %. Dibidang ekonomi, komoditas pertanian yang biasa ditemukan adalah padi, gula merah dari kelapa, pisang, kelapa, kayu albasiah. Pola tanam lahan pertanian terutama tanaman padi tidak beraturan tanpa ada irigasi sehingga pengairan untuk sawah umumnya adalah tadah hujan. Pada sektor peternakan, jenis ternak yang dominan dipelihara adalah sapi, kambing, dan bebek. Pola ternak peternak dilakukan secara konvensional, yaitu ternak dibiarkan merumput di lapang atau diberi makan di kandangnya. Pakan bagi ternak berupa rumput alami, ampas tahu, dan konsentrat.Pada bidang perikanan, perikanan tangkap adalah salah satu penggerak ekonomi masyarakat Kecamatan Cipatujah. Pola melaut para nelayan yang diterapkan selama ini adalah menjala, memancing dan kemudian hasil tangkapan dijual kepasar domestik seperti Kota Cirebon dan Tasikmalaya serta ekspor ke beberapa negara tetangga. 41    5.2.2 Pendidikan Dibidang pendidikan, institusi pendidikan yang berada di Kecamatan Cipatujah terdiri dari jenjang TK hingga SMAyang baru beberapa tahun terakhir berdiri dipusat kecamatan. Pendidikan lain yang terselenggara adalah sekolah diniyah untuk anak sekolah dasar. Sarana pendidikan di Kecamatan Cipatujah yaitu terdapat empat SD negeri, satu MI, dan satu SMP, satu SMA. Sarana pendidikan tersebut adalah SDN Ciheras, SDN Datarkihiang, SDN Cisanggar, SDN Cipari, MI Al-Hasanah, dan SMPN 3 Cipatujah dan SMA Kecamatan Cipatujah. Keberadaan sarana pendidikan tersebut sangat minim, sehingga menyebabkan banyak penduduk Kecamatan Cipatujah yang tidak bisa melanjutkan sekolah, kecuali bagi penduduk yang memiliki kemampuan untuk bersekolah diluar kecamatan. Hal ini tergambar dengan tingkat pendidikan Kecamatan Cipatujah pada Tabel 5 berikut ini. Tabel 5 Tingkat Pendidikan Penduduk Kecamatan Cipatujah Tingkat Pendidikan Formal Jumlah (jiwa) % 28635 46% SD dan SMP 31224 SLTA/ Aliyah 1374 Perguruan Tinggi 398 Jumlah 61631 Sumber : Kecamatan Cipatujah Dalam Angka (2011) 51% 2% 1% 100% Tidak Tamat SD Sebanyak 46% penduduk tidak dapat menamatkan pendidikan dasar, dan 51% penduduk hanya menamatkan pendidikan dasar dan SMP. Bahkan penduduk yang berhasil menamatkan pendidikan hingga jenjang SLTA dan perguruan tinggi masing-masing hanya sekitar 2 dan 1%. Keadaan ini mengindikasikan bahwa sektor pendidikan perlu mendapat perhatian lebih dari semua pihak. 5.3 Gambaran Umum Kegiatan Penambangan Kecamatan Cipatujah 5.3.1 Morfologi Bebatuan Pembentuk Pasir Besi di Lokasi Penelitian Endapan pasir yang terdapat didaerah Kabupaten Tasikmalaya adalah endapan Placer Mekanisa dengan mineral utama adalah magnetic( Fe3O4), Hematite (Fe2O3), dan Ilmenit (FeTiO3). Batuan asal dari endapan ini diperkirakan adalah batuan andesit dan breccia yang terdapat dipegunungan- 42    pegunungan sebelah utara Pantai Selatan Pulau Jawa. Andesit ini merupakan batuan beku dari lelehan magma diorite yang umumnya berwarna kelabu. Akibat proses pelapukan dan erosi, maka batuan andesit tersebut akan lapuk dan hancur, kemudian dibawa kearah pantai melalui aliran sungai. Selama ditransformasikan juga terjadi proses pemisahan antara mineral berat dan mineral ringan. Daerah ini mempunyai topografi dengan elevasi berkisar 0-25 meter diatas permukaan laut. Arus laut yang kuat menyebabkan mineral-mineral tersebut akan terhempas kepantai dan terakumulasi membentuk endapan pasir besi. 5.3.2Institusional Penambangan Pasir Besi Penambangan pasir besi sebenarnya telah dimulai semenjak awal tahun 2000an. Pada awalnya penambangan hanya bersifat tambang rakyat dan sekedar memenuhi permintaan bahan bangunan. Kondisi ini berubah, dan puncaknya pada tahun 2011 isu penambangan pasir besi di Kabupaten Tasikmalaya sudah menjadi isu nasional akibat dari kerusakan lingkungan dan kerusakan infrastruktur jalan. Beberapa permasalahan mencuat akibat kegiatan penambangan pasir besi. Turunnya daya dukung lingkungan akibat rendahnya kesadaran pengelolaan lingkungan. Hal ini tercermin pada kegiatan reklamasi dan rehabilitasi lahan bekas tambang belum dilakukan secara optimal dan tidak memperhatikan ketentuan yang tertuang dalam dokumen lingkungan (AMDAL/UKL – UPL). Pada tahapan penambangan banyak kegiatan penambangan yang dilakukan di kawasan yang tidak diperbolehkan (kawasan lindung) seperti sempadan pantai dan sungai. Praktek seperti ini sangat tidak sesuai dengan kaidah-kaidah penambangan yang baik dan benar. Sistem pengangkutan dengan memanfaatkan jalan umum, juga menyebabkan terjadinya kerusakan infrastruktur jalan akibat pengangkutan hasil tambang yang melebihi batas tonase angkutan yang diperbolehkan. Secara administrasi para pemegang IUP operasi produksi tidak menyampaikan pelaporan-pelaporan dan dokumen yang diperlukan yang menjadi kewajibannya. Hal ini menyebabkan proses penambangan tidak terawasi oleh pemerintah, baik secara operasional maupun administrasi. Akibatnya banyak terjadi penyimpangan yang menyebabkan beragam tuntutan oleh masyarakat mengharapkan ditutupnya kegiatan penambangan pasir besi. Dewan perwakilan rakyat Kabupaten Tasikmalaya menanggapi permasalahan ini dengan 43    mengeluarkan surat dari Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Tasikmalaya Nomor 170/1600/DPRD tanggal 27 Juni 2011 perihal Pernyataan Sikap DPRD Kabupaten Tasikmalaya yang mendorong Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya agar segera menertibkan kegiatan pertambangan pasir besi. Suratini isinya berkaitan dengan : • • • • Penataan ulang proses perizinan pertambangan, kegiatan penambangan, wilayah pertambangan. Penghentian sementara pemrosesan perizinan pertambangan mineral logam baik baru maupun perpanjangan. Perencanaan pembangunan instalasi pengolahan dan pemurnian. Penertiban dan penghentian kegiatan penambangan pasir besi tanpa izin (Ilegal Mining). Kemudian di tingkat provinsi juga dikeluarkannya Peraturan Gubernur Nomor 31 Tahun 2011 Tentang Pedoman Pengelolaan Pertambangan Mineral Logam Besi yang berisi : • • • • • • Sebagai pengganti Peraturan Gubernur Nomor 19 Tahun 2006, yang disesuaikan dengan peraturan perundang-undangan terbaru (UU No. 4/2009, PP 22 dan 23 Tahun 2010); Perubahan penamaan dari “pasir besi” menjadi “mineral logam besi”. Kewajiban penyiapan instalasi pengolahan dan pemurnian; Pelarangan kegiatan penambangan pada :sempadan pantai, sempadan sungai, lepas pantai/bawah permukaan laut Pengaturan tentang pengangkutan dan penjualan terutama yang menggunakan infrastruktur pemerintah provinsi. Pemegang IUP wajib berperan serta melaksanakan pemeliharaan jalan provinsi, jalan kabupaten/kota dan jalan desa yang dilalui. Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya berupaya melakukan pembenahan tata kelola kegiatan pertambangan pasir besi di Kabupaten Tasikmalaya. Kebijakan tersebut diantaranya menerbitkan moratorium (penghentian sementara) berupa penghentianpemrosesan dan penerbitan Izin Usaha Pertambangan (IUP) Eksplorasi dan Operasi Produksi melalui Instruksi Bupati Tasikmalaya Nomor 2 Tahun 2011 tanggal 10 Mei 2011 tentang Penangguhan Penerbitan Izin Usaha Pertambangan (IUP) di wilayah Kabupaten Tasikmalaya. Penghentian sementara tersebut meliputi kegiatan konstruksi, penambangan, pengangkutan dan penjualan. Pencabutan/pembatalan IUP terhadap IUP-IUP yang bermasalah baik secara 44    administrasi, teknis dan termasuk IUP yang dokumen lingkungannya dinyatakan tidak berlaku/kadaluarsa dan rekomendasi lingkungannya dicabut. Tindakan tegas juga dilakukan berupa penertiban dan penindakan hukum terhadap para penambang tanpa izin (PETI). 5.3.3 Dampak Ekonomi Penambangan Pasir Besi a. Serapan Tenaga Kerja Keberadaan suatu aktivitas ekonomi tentunya akan berdampak pada terbukanya lapangan pekerjaan baru. Penambangan pasir besi selain berdampak negatif juga berdampak positif terhadap penyerapan tenaga kerja di Kecamatan Cipatujah. Proses penambangan dan pencucian pasir besi yang sederhana menyebabkan pekerjaan tidak harus dikerjakan oleh pekerja dengan keahlian khusus. Secara garis besar pada tahap penambangan pasir besi membutuhkan 1015 orang/ hari pekerja kasar untuk menambang hingga 100-130 m3. Pada proses pencucian pasir besi juga membutuhkan 8-10 orang tenaga buruh kasar/hari. Pada umumnya pekerja ini dibayar sebanyak Rp.40.000-50.000/ hari. b. Pajak Desa Biaya yang dibayarkan untuk kas desa adalah rutin untuk setiap tonase pasir besi yang dihasilkan. Besarnya pajak yang diterima oleh desa sangat tergantung kepada negosiasi antara kepala desa dengan perusahaan penambangan pada saat kontrak awal dilakukan. Sebagai contoh di Desa Cikawungading, perusahaan pasir besi harus membayar uang pembangunan desa sebesar Rp.50.000 untuk setiap tonase pasir besi yang dihasilkan. 5.3.4 Dampak Lingkungan Keberadaan kegiatan penambangan tidak akan pernah luput dari kerusakan lingkungan yang diakibatkannya. Begitu juga dengan kegiatan penambangan pasir besi di Kecamatan Cipatujah. Pada setiap tahapan penambangan sebenarnya telah ada standar operasional yang harus diterapkan agar kerusakan lingkungan dapat diminimalisasi. Akan tetapi penyimpangan dalam praktek dilapangan sering terjadi karena kurangnya kesadaran dan pengawasan pihak berwenang. Misalnya, pada tahapan pengupasan tanah pucuk, dimana tanah yang mengandung humus tinggi harus ditempatkan pada bidang lahan yang aman dari erosi dan ditanami tanaman penutup. Kenyataannya perusahaan penambangan tidak melakukan 45    prosedur seperti ini, sehingga proses erosi tanah humus ini tidak terhindarkan saat hujan terjadi. Ini berdampak terhadap pendangkalan sungai dan hilangnya sumber tanah saat pasca tambang. Proses pencucian pasir besi yang tidak berada pada lokasi penambangan, menyebabkan adanya tahapan pengangkutan pasir besi menuju washing plant yang melalui jalan umum. Proses pengangkutan melalui jalan umum juga dilakukan pada saat penjualan hasil tambang. Pengangkutan ini menyebabkan rusaknya ruas jalan dan meningkatnya volume debu akibat lalu lintas truk pengangkut pasir besi. Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak puskesmas Kecamatan Cipatujah saat penelitian, lalu lintas truk meningkatkan masyarakat penderita penyakit gangguan saluran pernafasan dan iritasi mata. Pada proses pencucian yang membutuhkan banyak air, mengharuskan perusahaan melakukan pembendungan sungai untuk menjamin pencucian pasir besi berjalan lancar. Pembendungan sungai ini akan menyebabkan beberapa lahan pertanian akan kekurangan air terutama pada musim kemarau. Kegiatan pencucian pasir besi juga tidak dilengkapi dengan proses pengolahan limbah yang benar, seperti menyediakan instalasi pengolahan air limbah maupun kolam pengendapan. Hasilnya, limbah hasil pencucian dibuang langsung ke sungai maupun laut sehingga menyebabkan perairan tercemar dan terganggunya kehidupan biota perairan sungai maupun laut. Pada tahap akhir penambangan, beberapa perusahaan tidak melakukan kegiatan reklamasi, sehingga lubang-lubang bekas galian dibiarkan menganga. Lubang-lubang ini pada saat hujan akan menggenang dan memicu bersarangnya nyamuk. Jika tidak segera ditutup maka perkembangan sarang nyamuk tersebut menyebabkan berbagai penyakit seperti malaria dan cikungunya. Tentunya kondisi ini sangat membahayakan kesehatan masyarakat, terutama yang mereka yang tinggal dekat dengan lokasi penambangan. Dalam jangka panjang kegiatan penambangan pasir besi dikawasan pesisir juga dapat merubah struktur gumuk pasir disepanjang pantai. Struktur gumuk pasir yang labil karena hilangnya penyangga alami dapat menimbulkan potensi abrasi yang lebih besar bahkan memicu dampak tsunami yang lebih dahsyat. Semakin meningkatnya luas penambangan pada daerah berhutan dan lahan 46    pertanian juga berakibat pada menurunnya keanekaragaman hayati dan berkurangnya ketahanan pangan masyarakat. 5.3.5 Dampak Sosial Pada umumnya disetiap daerah pertambangan terjadinya konflik antara perusahaan pertambangan dengan pihak disekitarnya adalah hal hampir tidak dapat dihindari. Apalagi kegiatan penambangan pasir besi di Kabupaten Tasikmalaya telah menyebabkan kerusakan pada fasilitas umum seperti jalan dan gangguan pada sektor perikanan. Berdasarkan pengamatan saat penelitian, walaupun tidak terjadi konflik yang anarkis, namun telah terjadi beberapa aksi demonstrasi masyarakat nelayan menuntut ditutupnya kegiatan penambangan pasir besi. Tuntutan ini menyusul berkurangnya tangkapan nelayan akibat air laut yang tercemar limbah pencucian pasir besi. Aksi demonstrasi lainnya adalah ketidakpuasan masyarakat akibat rusaknya ruas jalan akibat truk pengangkut pasir besi yang melebihi daya dukung jalan. Konflik lainnya berhubungan dengan penyerobotan lahan yang mengandung mineral pasir besi. Hal ini terutama terjadi pada izin usaha pertambangan lahan milik perhutani. Banyaknya kelompok-kelompok preman yang mem-backing perusahaan penambangan pasir besi, menyebabkan kegiatan penambangan dapat terus beroperasi walaupun status kepemilikan lahan belum jelas, keadaan ini disebabkan lemahnya penegakan hukum oleh aparat. Konflik lahan juga sulit dicegah pada pertambangan yang dilakukan oleh rakyat. Biasanya masyarakat melakukan penambangan pasir besi secara ilegal pada lahan milik perhutani dan sempadan sungai. Pengawasan penambangan ilegal ini sulit dilakukan karena masyarakat menebang beberapa sisi hutan dan lahan secara berkelompok dan berpencar. 5.4 Karakteristik Responden 5.4.1 Pengguna Jalan Dalam menilai kerusakan jalan yang mengakibatkan bertambahnya waktu tempuh dan konsumsi BBM kendaraan telah dilakukan pengamatan terhadap 67 orang sampel pengguna jalan. Komposisinya 11 pengendara kendaraan roda 4 dan 56 pengendara roda 2. Beberapa variabel yang diamati diantaranya, jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, jarak yang ditempuh, lama waktu tempuh, frekuensi 47    menggunakan jalan dalam sebulan serta pendapatan responden untuk kendaraan roda dua maupun roda empat. Sebaran jumlah jenis kelamin responden dan tingkat pendidikan menurut jenis kendaraan dapat dilihat pada Tabel 6. Sebagian besar responden yang diwawancarai adalah berjenis kelamin laki-laki karena memang pada kenyataanya yang lebih banyak mengendarai kendaraan didaerah Cipatujah adalah laki-laki. Persentase pengendara laki – laki dengan perempuan adalah 94% berbanding 6%. Tabel 6 Jenis Kelamin, Pendidikan Responden Jenis Kendaraan Kategori Roda 2 Roda 4 Jenis Kelamin Laki - Laki Perempuan Pendidikan Pendidikan tertinggi pendidikan terendah ≤ SMP SMA ≥ DIII Sumber : Data primer (2012) % 52 4 11 0 94% 6% D III SD 32 18 6 S1 SD 4 3 4 54% 31% 15% Tingkat pendidikan responden dikelompokkan menjadi tiga kelas tingkatan. Kelas pendidikan SMP kebawah, SMA dan DIII keatas. Rata-rata responden berpendidikan SMP kebawah dengan persentase 54%, dan SMA 31 % dan lebih dari DIII sebanyak 15 %. Dapat disimpulkan bahwa pendidikan responden relatif rendah. Rendahnya pendidikan responden di Kecamatan Cipatujah salah satunya disebabkan kurangnya lembaga sekolah, seperti SMA baru didirikan beberapa tahun terakhir dan lokasinyapun berada di ibukota kecamatan sehingga sulit diakses oleh responden. Pengakuan beberapa responden bahwa banyak penduduk tidak sanggup melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi dari SMP, ini juga disebabkan faktor ekonomi yang kurang memadai sehingga memaksa banyak responden harus putus sekolah. Variabel usia juga diamati pada responden pengguna jalan. Secara umum usia responden masih berada pada usia produktif dan dewasa. Tabel 7 menunjukkan usia, dimana rata-rata usia responden adalah 36 tahun untuk responden pengendara kendaraan roda dua dan 42 tahun untuk responden kendaraan roda empat. Tingginya usia produktif tentunya menunjukkan semakin 48    tinggi nilai kehilangan waktu tempuh dalam perjalanan yang dialami oleh responden. Tabel 7 Tingkat Umur Responden Jenis Kendaraan Roda 4 Roda 2 Kategori Umur Rata - Rata Umur tertua (tahun) Umur termuda (tahun) Jumlah Responden Sumber : Data primer (2012) 42 50 32 36 49 21 56 11 Jenis pekerjaan, responden pengguna jalan cukup bervariasi penyebarannya dapat dilihat pada Tabel 8. Ini menandakan pemanfaatan jalan ini sangat vital untuk beragam kegiatan masyarakat. Pekerjaan responden pengguna jalan di Kecamatan Cipatujah antara lain pengusaha, pedagang, PNS/ swasta, petani padi sawah, penyadap kelapa, nelayan, buruh, tukang ojeg dan lain-lain. Tabel 8 Jenis Pekerjaan Responden Pengguna Jalan Jenis Kendaraan Kategori Roda 2 Roda 4 Pengusaha/ Pedagang PNS/ Swasta Petani/Penyadap kelapa Nelayan Buruh Supir/ T. ojeg Lain - Lain Jumlah Responden Sumber : Data primer (2012) 1 7 15 11 5 4 13 56 3 4 0 0 0 4 0 11 % 6% 16% 22% 16% 7% 12% 19% 100% Berdasarkan hasil survei pekerjaan terbanyak adalah petani dan penyadap kelapa dengan persentase sebanyak 22%, selanjutnya nelayan 16%, pegawai negeri dan pegawai swasta sebanyak 16% sedangkan supir dan tukang ojeg sebanyak 12% dan yang berprofesi sebagai pengusaha serta masing-masing sebanyak 6%. Tingkat pendapatan dapat dilihat dari Tabel 9 berikut ini, dengan membagi pada tiga kelas tingkat pendapatan. Pendapatan responden sebagian besar masih kurang dari Rp.1.500.000/ bulan atau bisa dikategorikan rendah. Nilai ini terutama untuk responden pengendara sepeda motor dengan jumlah mencapai 50%. Responden yang memiliki pendapatan sedang dengan nilai Rp. 1.500.000- 49    2.500.000/bulan sebanyak 30%. Terakhir, responden yang berpendapatan tinggi diatas 2.500.000/ bulan sebanyak 19% dan didominasi oleh pengendara kendaraan roda empat. Pendapatan yang lebih tinggi untuk pengendara kendaraan roda empat sangat lazim, karena harga dan perawatan kendaraan roda empat relatif lebih tinggi sehingga hanya responden berpendapatan cukup tinggi yang dapat memiliki kendaraan roda empat. Responden pengendara kendaraan roda empat memiliki rata-rata pendapatan Rp. 2.913.000/bulan atau dapat dikatakan responden yang memiliki tingkat kehidupan lebih mapan, dibandingkan dengan pengendara kendaraan roda dua dengan pendapatan Rp.1.360.000/ bulan. Tabel 9 Klasifikasi Pendapatan Responden Pengguna Jalan Dalam Rupiah Kategori 500000 – 1500000 1500000 – 2500000 >2500000 Jumlah Responden Sumber : Data primer (2012) Tingkat Pendapatan Rendah Sedang Tinggi Jenis Kendaraan Roda 2 Roda 4 34 0 15 5 7 6 56 11 5.4.2 Nelayan Berdasarkan pengamatan dan wawancara yang dilakukan di PPI Pamayangsari kecamatan Cipatujah, diperoleh karakteristik sosial ekonomi responden nelayan seperti tertera pada Tabel 10 berikut. Tabel 10 Karakteristik Responden Nelayan Inisial Responden Umur (Tahun) A B C D E Jumlah Responden 27 47 40 45 30 5 Pendidikan SMP SD SD SD SMP Sumber : Data primer (2012) Responden rata-rata masih pada kisaran umur produktif, dimana umur tertua adalah 47 tahun dan termuda 27 tahun. Tingkat pendidikan responden secara umum adalahrendah, dan mayoritas berpendidikan sekolah dasar. Dari kelima responden, responden yang berprofesi sebagai nelayan tangkap tidak memiliki pekerjaan lain selain nelayan. Hal ini disebabkan karena pekerjaan sebagai nelayan tangkap membutuhkan waktu satu malam untuk melaut. 50    BAB VI POLA EKSTRAKSI AKTUAL DAN ANALISA EKONOMI PENAMBANGAN PASIR BESI 6. 1 Pola Ekstraksi Aktual Pasir Besi Kabupaten Tasikmalaya Kegiatan eksplorasi dan eksploitasi pasir besi di Kabupaten Tasikmalaya berada di sejumlah titik, antara lain di Desa Ciheras dan Cikawungading, Kecamatan Cipatujah, serta Desa Kalapagenep dan Cimanuk, Kecamatan Cikalong. Kegiatan eksploitasi pasir besi sebenarnya sudah ada sejak tahun 2000 di Desa Cimanuk yang hanya berupa tambang rakyat untuk memenuhi kebutuhan bahan bangunan. Baru pada tahun 2007 penambangan dengan melibatkan perusahaan atau badan usaha mulai diizinkan. Sebagian besar pengusahaan pertambangan pasir besi di wilayah Kabupaten Tasikmalaya merupakan IUP operasi produksi Pasir Besi yang diberikan kepada badan usaha, melalui Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Tasikmalaya.Disamping penambangan berizin juga terdapat 44 kelompok usaha pertambangan pasir besi tanpa izin dengan luasan dibawah 1.000 m2, dimana setiap kelompok terdiri dari rata-rata 10 orang. Izin penambangan pasir besi hingga saat ini telah dikeluarkan terhadap 25 perusahaan.Sebanyak 25 perusahaan tersebut tidak semuanya aktif beroperasi, beberapa perusahaan berhenti beroperasi setelah cadangan habis walaupun izin pertambangan belum berakhir. Sebagian perusahaan hanya aktif pada beberapa tahap penambangan, dan menyerahkan beberapa tahapan operasional lainnya kepada pihak lain. Hal ini menyalahi status izin usaha pertambangan yang dikeluarkan dinas kabupaten. Pelanggaran tersebut seperti pada kegiatan penambangan dilakukan oleh pihak lain, namun kegiatan pengolahan dan pencucian pasir besi dilakukan sendiri oleh perusahaan pemegang izin. 6.1.2 Tahapan Kegiatan Ekstraksi Pasir Besi Kegiatan penambangan pasir besi memiliki beberapa tahapan, tahap persiapan, meliputi perizinan (aspek legalitas), kegiatan eksplorasi, penyusunan dokumen AMDAL/UKL-UPL, kajian kelayakan tambang (feasibility study) perekrutan personil/pegawai,perencanaan tambang (mine plan design). Tahap 51    kegiatan penambangan/operasi produksi, meliputi mobilisasi peralatan, pembuatan sarana pendukung, pembersihan lahan (land clearing), pengupasan lapisan tanah pucuk dan tanah penutup (overburden), penggalian (digging), pengangkutan ke stockpile dan pengolahan (sorting, reduksi, pencucian dan pemurnian), pengangkutan (hauling) dari lokasi stockpile ataupun dari lokasi pengolahan ketempat pemasaran. Tahap penutupan/pasca tambang, perencanaan pengelolaan lingkungan, perencanaan kegiatan reklamasi yang meliputi rehabilitasi, revegetasi. 6.1.3 Sistem Tata Cara Penambangan Sistem penambangan yang digunakan dalam penambangan pasir besi di area Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi Produksi yang ada di Kabupaten Tasikmalaya adalah tambang terbuka (Open Pit Mining/Surface Mining). Pertimbangan yang mendasari adalah yaitu kondisi endapan pasir besi meliputi penyebaran lapisan endapan yang berbentuk relatif datar karena ciri khas dari sifat pengendapan mineral tersebut yang berupa endapan placer. Biaya produksi untuk operasional tambang terbuka relatif lebih murah namun memiliki dampak lingkungan yang lebih besar dibandingkan tambang bawah tanah. Dari segi teknologi tambang terbuka lebih mudah dalam meningkatkan produksi pasir besi. Penambangan terbuka ini dilakukan dengan sistem gali (digging) dan menimbun bekas galian (back filling) pada area bekas bukaan tambang untuk mengurangi penyempitan area. Pengupasan lapisan tanah penutup, baik top soil, overburden maupun interburden dilakukan secara bertahap dan dibuang pada disposal area atau ditimbun kembali pada area yang sudah digali. 6.1.4 Tahapan Kegiatan Penambangan a. Persiapan Kegiatan ini merupakan kegiatan tambahan yang bertujuan mendukung kelancaran kegiatan penambangan. Pada dasarnya pemegang IUP di Kabupaten Tasikmalaya melakukan aktivitas pembangunan sarana dan prasarana seperti jalan tambang dan stockpile penampungan sementara hasil konsentrat pasir besi. Kegiatan penambangan endapan pasir besi pada area IUP dimulai dari satu front penambangan pada setiap pit dan dilanjutkan ke pit yang lain pada setiap blok penambangan. 52    b. Pembersihan Lahan (Land Clearing) Pembersihan lapangan (land clearing) dimaksudkan untuk membersihkan daerah yang akan ditambang dari semak-semak, pepohonan dan tanah maupun bongkah-bongkah batu yang menghalangi pekerjaan-pekerjaan selanjutnya. Pembersihan lapangan ini dapat dilakukan menggunakan tenaga manusia dengan menggunaan peralatan manual seperti kapak, gergaji, cangkul dan lain-lain, maupun dengan peralatan mekanis seperti bucket wheel excavator (bwe), cutting head excavator dan penggaru (ripper) c. Pengupasan Tanah Pucuk Tanah pucuk merupakan tanah yang memiliki kandungan unsur organik yang tinggi untuk tanaman. Kegiatan pengupasan harus dilakukan dengan hatihati dan hasil pengupasan tanah pucuk seharusnya terpisah dengan tanah galian lainnya. Tanah pucuk yang subur (humus) harus ditimbun ditempat tertentu, lalu ditanami rerumputan dan semak-semak untuk mengurangi erosi, sehingga nantinya dapat digunakan lagi untuk reklamasi lahan bekas tambang. Tanah pucuk biasanya disebarkan kembali setelah pit ditimbun dengan tanah penutup. Keadaan aktual beberapa perusahaan penambangan pasir besi tidak memperlakukan tanah pucuk sebagaimana mestinya. Tanah pucuk ditumpuk dibiarkan saja tanpa ditanami kacang-kacangan atau tanaman penutup, sehingga sebagian tererosi pada saat hujan dan menyebabkan kandungan unsur haranya diperkirakan juga banyak yang hanyut saat hujan. Pada akhirnya saat blok penambangan telah selesai ditambang, menyebabkan kekurangan tanah penutup dan tanah pucuk. Kondisi ini menyebabkan sebagian lubang dibiarkan menganga setelah penambangan berakhir. d. Pengupasan Tanah Penutup (Stripping Overburden) Pengupasan tanah penutup (stripping overburden) dilakukan pada bawah lereng dengan arah ke lereng yang lebih dalam sampai batas lapisan pasir besi dengan mengikuti kontur daerah penambangan. Penggalian tanah penutup ini dilakukan tergantung kedalaman sumberdaya pasir besi. Rata-rata kedalaman tanah penutup hanya sampai 2 meter. Setelah dikupas tanah pucuk dipindah kelokasi yang tidak mengandung pasir besi untuk dijadikan material backfilling setelah penambangan berakhir. 53    Gambar 5 Proses penambangan pasir besi yang menyebabkan eksternalitas e. Proses Penambangan Pasir Besi Idealnya lokasi aktivitas penambangan dan pengolahan dilakukan berada jauh dari sempadan pantai/ sungai serta pemukiman penduduk. Aktivitas penambangan pasir besi dilakukan secara mekanis menggunakan alat berat berupa excavator. Pada dasarnya cara penambangan yang berwawasan lingkungan (good mining practice), hasuslah efisien dan mengikuti kaidah – kaidah konservasi. Salah satunya pola penambangan seharusnya dilakukan pada gumuk pasir yang berada dibelakang garis pesisir (back dune) yang memiliki lebar 200-400 meter, sedangkan diarea front dune yang mengarah kelaut dibiarkan tidak dilakukan penambangan karena akan merusak lingkungan.Kegiatan penambangan seharusnya juga tidak dilakukan pada area konservasi. Ilustrasi penambangan yang tidak mengikuti kaidah konservasi terutama pada daerah sempadan pantai dapat dilihat pada Gambar 6. 54    Gambar 6 Ilustrasi kondisi gumuk pasir penambangan pasir besi Kabupaten Tasikmalaya Pada Gambar 6 bagian atas adalah kondisi stabil, jika ditambang akan merubah struktur pantai menjadi Gambar 6 bagian bawah. Akibatnya kerusakan dapat berupa abrasi dan hilangnya fungsi sempadan pantai sebagai penahan abrasi. Hal ini juga sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku bahwa area pantai yang berjarak 100 meter dari titik pasang tertinggi harus dicadangkan untuk kegiatan konservasi. Tetapi kenyataannya pada saat penelitian kegiatan penambangan dan proses pencucian material pasir besi hanya beberapa meter dari bibir pantai, selain menyalahi aturan yang berlaku, kenyataan ini sangat berbahaya bagi kelestarian ekosistem perikanan dan keselamatan daerah pantai Kabupaten Tasikmalaya yang rawan terjadi gelombang tsunami. f. Penanganan Material (Material Handling) Penanganan materian merupakan satuan operasi yang tercakup dalam penggalian atau pemindahan tanah/batuan selama penambangan. Pada siklus operasi penambangan, terdapat dua operasi utama yaitu pemuatan (loading) dan pengangkutan/transportasi (Hauling). Penanganan material pada tambang sangat tergantung pada pemilihan dan jenis alat pemuatan dan pengangkutan yang akan digunakan. Pemuatan (Loading) merupakan kegiatan atau pekerjaan yang dilakukan untuk mengambil dan memuat material ke dalam alat angkut, atau ke suatu tempat penampungan material (stockpile) ataupun ke dalam suatu alat pengatur aliran material (hopper, bin, feeder). Alat muat yang dipakai backhoe dengan kapasitas bucket Heaped 0,8 m3 atau kapasitas munjung 1,2 m3. 55    g. Pengangkutan (Hauling) Serangkaian pekerjaan yang dilakukan untuk mengangkut material dari tempat penggalian ke tempat penimbunan (stockpile) dan pemurnian, alat yang digunakan adalah truk jungkit (dump truck) dengan kapasitas 5-6 m3 dengan tahapan pemuatan-pengangkutan-penuangan-kembali kosong. Beberapa lokasi penambangan tidak secara langsung merupakan lokasi pemurnian, tapi berjarak sekitar 500 meter hingga 2 km ketempat pencucian yang pada umumnya berada ditepi pantai atau sungai. h. Reklamasi dan Rehabilitasi Lahan Perencanaan kegiatan reklamasi lahan bekas tambang seharusnya dimulai dari tahap awal operasi penambangan, sehingga kegiatan pengupasan lahan atau pengambilan pasir dapat terkait dengan sistem reklamasi. Dimana pada tahap ini telah harus dilakukan pemisahan lapisan tanah pucuk (top soil) dengan kedalaman sekitar 0 -30 Cm dan lapisan bawah permukaan (sub soil) kedalaman 30 – 200 cm. Tanah lapisan top soil disimpan pada lokasi sementara karena akan digunakan pada untuk menutup lubang-lubang bekas galian saat reklamasi. Penutupan kembali menggunakan tanah (top soil) yang telah dipersiapkan yaitu tanah pindahan saat awal kegiatan pengupasan lapisan pucuk. Manfaatnya disamping tetap menjaga tingkat kesuburan tanah, juga memperbaiki tingkat kemiringan tanah sehingga dapat normal kembali sesuai kestabilan lereng. Sayangnya pada saat implementasi terjadi beberapa penyimpangan dalam kegiatan ekstraksi pasir besi oleh pemegang IUP Kabupaten Tasikmalaya. Penyimpangan itu terjadi pada beberapa tahap kegiatan ekstrasi pasir besi, diantaranya adalah seperti ulasan berikut ini : a. Pengolahan dan Pemurnian Proses pengolahan dan pemurnianpasir besi menghasilkan endapan lumpur bercampur dengan air laut yang akan menimbulkan padatan terlarut. Penambangan pasir besi yang diikuti dengan pemurnian skala besar dan terus menerus dalam periode waktu yang cukup lama akan berdampak nyata terhadap perubahan kualitas lingkungan terutama lingkungan perairan. Penurunan kualitas lingkungan perairan yang cepat juga dipicu oleh aktivitas yang menyalahi aturan serta proses pemulihan kembali kondisi lahan dan lingkungan bekas penggalian 56    pasir besi yang buruk. Hal ini berdampak kepada lingkungan fisik perairan yang keruh dan mengalami pendangkalan sehinggamempengaruhi biota perairan dan habitatnya. Beberapa parameter hasil uji kualitas air di area produksi perusahaan penambangan pasir besi dapat dilihat pada Tabel 11 berikut ini. Tabel 11 Hasil Pengukuran Beberapa Variabel Kualitas Air No Parameter Satuan Baku Mutu Lokasi PT P Fisika 1 Suhu Celcius < 30 25,7 < 50 1100 2 TSS mg/l 21,8 3 TDS mg/l Kimia 0,06 > > > > > > > > > > > > 108    Lampiran 12. Interpolasi Kehilangan Kecepatan Tahun 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Roda 4 Roda 2 Kk aktual (Km/jam) Kk sejak pb (Km/Jam) Kk aktual (Km/jam) Kk sejak pb (Km/Jam) 18,7 15,4 18,8 0,1 15,5 0,1 19,8 1,1 17,0 1,6 22,5 3,8 21,0 5,6 23,8 5,1 23,0 7,6 33,5 14,8 37,2 21,8 Kk: kehilangan kecepatan; pb: pasir besi Sumber: data primer diolah (2012) Lampiran 13. Interpolasi Tambahan waktu tempuh Tahun 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Roda 4 Wt aktual (menit) Wt sejak pb (menit) 4,5 6,6 2,1 7,7 3,2 10,6 6,2 12,1 7,6 22,6 18,1 Roda 2 Wt aktual (menit) Wt sejak pb (menit) 3,8 3,9 0,1 4,8 1,0 7,5 3,7 8,7 4,9 18,0 14,2 Wt: waktu tempuh; pb: pasir besi Sumber: data primer diolah (2012) Lampiran 14. Perbandingan UMK pertahun dengan pendapatan responden Pendapatan rata- rata/bln (Rp) roda 4 roda 2 Pendpt rata-rata/jam (Rp) roda 4 roda 2 Tahun 2007 UMK (Rp) 600.000 2.032.744,2 948.837,2 11.549,7 5.391,1 2008 621.000 2.103.890,2 982.046,5 11.953,9 5.579,8 2009 705.000 2.388.474,4 1.114.883,7 13.570,9 6.334,6 2010 775.000 2.625.627,9 14.918,3 6.963,5 2011 860.000 1.225.581,4 1.360.000,0 16.554,5 7.727,3 Perbandingan rata2 pendapatan dengan UMK 2.913.600,0 3,39 1,58 Sumber: data primer & sekunder diolah (2012) 109    ABSTRACT EDWARD. Negative Externalities and Optimal Extraction of Iron Sand Mining at Tasikmalaya Regency. Under direction of EKA INTAN KUMALA PUTRI and ZUZY ANNA Exhaustible resources get special attention in the economics literature. Rapid demand is responsible for unsustainable extraction of iron sand mining at Tasikmalaya Regengcy. Iron sand mining effects at the stream river mining resulted in channel degradation and erosion increased turbidity, stream bank erosion and sedimentation of riffle areas. All these changes adversely affect fish and other aquatic organisms either directly by damage to organisms or through habitat degradation or indirectly through disruption of food web. This situation has implification to fisherman income because of decreasing fish production at Tasikmalaya Regency. Further, effects on disturbing road function at overloaded truck hauling which increase the travel time and fuel consumption. This study is an attempt to estimate the negative externalities and also estimate Pigouvian tax and path of optimal extraction iron sand mining along Tasikmalaya Regency. The total of negative externality in area of sand mining per 5 years Rp 3.674.811.431,9. It is suggested to impose a Pigouvian tax of Rp 9.579 on each sand tonnage truck load in order to compensate the fisherman and road user for loss incurred due to iron sand mining. This paper also tests Hotelling’s prediction that level of extraction period for a iron sand mining with and without negative externalities was included at cost function. The result are, the optimality with negative externalities period extraction 28 years and optimality without externalities 27 years. Keywords: negative externalities, tax, optimal extraction v    RINGKASAN ZUL IKMAR EDWARD. Eksternalitas Negatif Dan Laju Ekstraksi Optimal Penambangan Pasir Besi di Kabupaten Tasikmalaya. Dibimbing oleh EKA INTAN KUMALA PUTRI dan ZUZY ANNA Kegiatan penambangan untuk mengambil bahan galian dari lapisan bumi telah berlangsung sejak lama. Mekanisasi peralatan telah menyebabkan skala penambangan semakin menjadi besar.Hal ini menyebabkan kegiatan penambangan menimbulkan dampak lingkungan yang sangat besar dan bersifat penting. Dalam industri pertambangan, pengorbanan yang diperhitungkan seringkali belum mencakup biaya oportunitas, termasuk di dalamnya biaya kerusakan lingkungan. Jawa Barat merupakan provinsi dengan cadangan sumberdaya tambang pasir besi cukup besar di Indonesia. Potensi ini tentunya akan menarik minat banyak investor untuk melakukan eksploitasi pasir besi yang akan sangat bermanfaat untuk kepentingan perusahaan dan meningkatkan pendapatan asli daerah. Kegiatan eksploitasi ini ternyata juga berdampak pada kerusakan dan pencemaran lingkungan. Proses pengangkutan pasir besi menuju pelabuhan Cilacap Jawa Tengah yang melintasi jalanan umum menyebabkan rusaknya akses jalan mencapai puluhan kilometer. Kondisi ini menyebabkan terjadinya percepatan kerusakan jalan umum yang tidak hanya dimanfaatkan untuk kegiatan penambangan tetapi juga oleh masyarakat umum. Pada bagian hulu dengan adanya penambangan pasir besi ini juga telah menurunkan pendapatan nelayan tangkap dengan perubahan jumlah tangkapan setiap tahunnya. Proses pencucian dan pemurnian pasir besi ini menyebabkan peningkatan kadar bahan berbahaya diperairan pantai dan sungai. Nilai kerugian ekonomi yang ditanggung oleh pihak diluar perusahaan penambangan pasir besi tersebut belum terkuantifikasi dengan baik, sehingga dibutuhkan penelitian berapa nilai kerugian (eksternalitas negatif) yang ditimbulkan aktivitas penambangan pasir besi. Valuasi ekonomi kerusakan lingkungan adalah salah satu metode paling tepat untuk memperkirakan beban kerusakan yang ditanggung oleh pihak diluar perusahaan penambangan pasir besi. Untuk itu dalam tulisan ini akan dipaparkan empat tujuan penelitian mengenai kondisi kerusakan lingkungan yang menyebabkan perubahan produktivitas pada sektor perikanan dan gangguan kinerja ruas jalan di Kabupaten Tasikmalaya, yaitu: (1) Mengkaji pola ekstraksi dan biaya produksi aktual penambangan pasir besi, (2) Mengestimasi nilai kerusakan jalan, pendapatan nelayan akibat penambangan pasir besi akibat pengangkutan pasir besi, (3) Menentukan laju ekstraksi optimal tanpa dan dengan eksternalitas, yang paling menguntungkan dari usaha penambangan pasir besi, (4) Mengestimasi nilai pajak yang harus dibayarkan pada setiap output pasir besi dengan mempertimbangkan eksternalitas negatifnya. vii    Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Cipatujah Kabupaten Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi ini disebabkan karena potensi cadangan pasir besi di Kabupaten Tasikmalaya telah dieksploitasi cukup besar, namun proses penambangannya masih banyak menimbulkan masalah lingkungan (eksternalitas negatif). Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari-April 2012.Data yang dikumpulkan dalam penelitian berupa data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui pengamatan langsung dan wawancara dengan responden dengan menggunakan daftar pertanyaan (kuesioner). Responden yang diamati yaitu nelayan, masyarakat pengguna jalan dengan kendaraan roda 2 dan 4. Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling, yaitu metode pengambilan sampel yang dipilih secara sengaja berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Kondisi perikanan tangkap di Kecamatan Cipatujah pada tahun 2007 2011 menunjukkan fluktuasi. Beberapa spesies yang ditangkap dengan alat tangkap tertentu mengalami penurunan produktivitas. Hasil perhitungan nilai kerugian ekonomi menggunakan pendekatan perubahan produktivitas didapatkan total kerugian sebesar Rp. 305 juta. Eksternalitas negatif yang berhubungan gangguan fungsi jalan ruas Cipatujah-Kalapagenep difokuskan terhadap kehilangan waktu tempuh dan peningkatan konsumsi BBM kendaraan bermotor. Nilai kerusakan jalan ini menimbulkan kerugian ekonomi bagi pengguna jalan sebesar Rp.3,36 milyar. Total nilai kerusakan jalan ditambah dengan penurunan produktivitas perikanan adalah Rp. 3,67 milyar. Penggabungan nilai eksternalitas kedalam biaya produksi penambangan pasir besi menghasilkan umur laju ekstraksi selama 28 tahun. Periode ini lebih lama dibandingkan dengan umur laju ekstraksi tanpa mempertimbangkan biaya eksternalitas yaitu selama 27 tahun. Jika dibandingkan dengan laju ekstraksi aktual, menunjukkan hasil optimasi memiliki volume ekstraksi yang lebih berlanjut (sustainable), serta lebih merata sepanjang periode dengan kecenderungan volume ekstraksi menurun terhadap jumlah cadangan. Hasil perhitungan kerugian terhadap dua aspek yaitu sarana dan prasarana jalan dan kerugian disektor perikanan dijadikan sebagai proxy nilai pajak lingkungan.Nilai besaran pajak lingkungan yang harus dibayarkan untuk setiap tonase pasir besi sebesar Rp. 9.579. Selama ini, pajak tersebut tidak dihitung sebagai biaya produksi perusahaan, sehingga menjadi bagian tanggungan yang harus diterima oleh masyarakat pengguna jalan dan nelayan. Kata Kunci : eksternalitas negatif, laju ekstraksi optimal, pajak lingkungan BABI PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kegiatan penambangan untuk mengambil bahan galian dari lapisan bumi telah berlangsung sejak lama. Selama kurun waktu 50 tahun, konsep dasar ekstraksi relatif tidak berubah, namun yang berubah adalah skala kegiatannya. Mekanisasi peralatan penambangan telah menyebabkan skala penambangan menjadisemakin besar. Perkembangan teknologi pertambangan menyebabkan ekstraksi bahan tambang menjadi lebih ekonomis, sehingga semakin luas dan dalam lapisan bumi yang harus di gali. Hal ini menyebabkan kegiatan tambang menimbulkan dampak lingkungan yang sangat besar dan bersifat penting (Bapedal2001). Penambangan selalu mempunyai dua sisi yang saling berlawanan, yaitu sebagai sumber kemakmuran, sekaligus perusak lingkungan yang sangat potensial. Sebagai sumber kemakmuran, sudah tidak diragukan lagi bahwa sektor ini menyokong pendapatan negara selama bertahun-tahun. Sebagai perusak lingkungan, terutama penambangan terbuka (open pit mining) dapat merubah pola iklim dan tanah akibat seluruh lapisan tanah di atas deposit bahan tambang disingkirkan. Pertumbuhan industri yang cukup tinggi di Indonesia disatu sisi memberikan kontribusi positif terhadap ekonomi Indonesia melalui penerimaan negara berupa pajak, royalti dan pungutan lainnya. Disisi lain indikasi terjadi peningkatan kebutuhan bahan baku mineral logam dimasa mendatang sehingga mendorong eksploitasi besar-besaran terhadap sumberdaya alam. Kondisi ini diperparah oleh sistem otonomi daerah yang berorientasi pada peningkatan pendapatan asli daerah (PAD). Implikasinya kewenangan daerah dalam memberikan izin dalam penambangan relatif lebih mudah dengan semangat peningkatan PAD, sehingga ekstraksi sumberdaya tambang menjadi tidak terkendali. Hal ini justru menimbulkan masalah yang sangat memprihatinkan berlebihan justru menjadi bumerang yang dimana eksploitasi yang menyebabkan peningkatan kesejahteraan bersifat semu, artinya secara riil dengan semakin meningkatnya ekstraksi sumberdaya alam namun tidak terjadi peningkatan kesejahteraan yang 1   nyata, bahkan lingkungan disekitar pemanfaatan sumberdaya alam menjadi rusak dan tercemar. Pada industri pertambangan, pengorbanan yang diperhitungkan seringkali belum mencakup biaya oportunitas, termasuk di dalamnya biaya kerusakan lingkungan. Beberapa dampak negatif akibat penambangan menyebabkan kerusakan lahan perkebunan dan pertanian, dan terbukanya kawasan hutan. Dalam jangka panjang, penambangan adalah penyumbang terbesar lahan sangat kritis yang susah dikembalikan lagi sesuai fungsi awalnya, serta mencemari tanah, air maupun udara. Pencemaran lainnya dapat berupa debu, gas beracun, bunyi, kerusakan tambak dan terumbu karang di pesisir yang menyebabkan berkurang dan lenyapnya sebagian keanekaragaman hayati sehingga mengganggu mata pencaharian nelayan. Air tambang asam yang beracun jika dialirkan ke sungai yang akhirnya ke laut akan merusak ekosistem dan sumber daya pesisir dan laut, serta menyebabkan berbagai penyakit dan mengganggu kesehatan, selain itu sarana dan prasarana seperti jalan juga dapat rusak berat pada saat pengangkutan bahan tambang (Noviana 2011). Salah satu penambangan mineral yang sangat penting adalah penambangan bahan dasar pembuatan besi, seperti pasir besi dan biji besi. Keberadaan pasir besi di Indonesia cukup melimpah. Cadangan pasir besi dalam bentuk biji Indonesia sekitar 1.014 milyar ton (Ishlah2009). Cadangan ini tersebar di beberapa provinsi diantaranya Provinsi Jawa Barat sekitar 59 juta ton (BKPM 2010). Potensi ini masih perlu dibuktikan agar cadangan yang tersedia terukur dengan jelas. Umumnya semua lokasi penambangan pasir besi yang ada di Indonesia dilakukan eksploitasi secara terbuka (open pit mining) dan berada pada wilayah pesisir pantai (Miswanto et al.2008). Jawa Barat merupakan provinsi dengan cadangan pasir besi cukup besar di Indonesia, dengan cadangan terbukti sebesar hingga 59 juta ton yang tersebar di beberapa kabupaten. Potensi ini tentunya akan menarik minat banyak investor untuk melakukan eksploitasi pasir besi yang akan sangat bermanfaat untuk meningkatkan pendapatan asli daerah. Disisi lain, eksploitasi pasir besi jika tidak terkelola dengan baik dapat menjadi bumerang terhadap kerusakan lingkungan dan penurunan kesejahteraan masyarakat. Dampak negatif yang banyak dirasakan 2    oleh masyarakat adalah meningkatnya kerusakan jalan akibat pengangkutan hasil tambang melalui jalan umum. Kerusakan jalan merupakan permasalahan serius yang dihadapi oleh hampir seluruh negara di dunia. Kerusakan jalan ini disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya disebabkan oleh beban muatan kendaraan yang melintas overcapacity. Kemampuan jalan sebesar (muatan sumbu terberat) MST 8 ton dan MST 10 ton, dilalui oleh kendaraan dengan MST hingga 20 ton. Pada tahun 2010 Kerusakan jalan di Indosesia terbesar berada pada jalan kabupaten/kota. Jumlah total panjang jalan 288.185 km,sekitar 31,14% jalan rusak ringan, kondisi baik hanya 22,46% nya dan sisanya rusak cukup berat. Jalan provinsi dengan panjang total 48.681 km kondisinya baik hanya sekitar 5,85%, sedangkan dari 39.310 km jalan nasional sebanyak 13,34% dalam kondisi rusak ringan, dan 49,67% dalam kondisi baik serta sisanya rusak berat. 1 Ini termasuk jalan strategis seperti jalur Lintas Timur Sumatera dan Pantai Utara Jawa. Diperkirakan ongkos sosial dan ekonomi yang ditanggung masyarakat pengguna jalan sekitar 200 triliun rupiah per tahun, sangat besar apabila dibandingkan dengan investasi pemerintah yang 3-6 triliun rupiah pertahun (Widjonarko 2007). Kawasan pesisir merupakan daerah pengembangan perekonomian yang dapat mengalami degradasi serta penurunan produktivitas. Degradasi dapat disebabkan oleh adanya abrasi pantai, pencemaran dan perusakan hutan pantai. Abrasi ini selain dipicu oleh naiknya muka air laut juga disebabkan penambangan pasir didaerah pesisir. Indonesia dengan 17.508 pulau mempunyai panjang garis pantai 95.000 km dan 20% garis pantai di Indonesia mengalami kerusakan akibat abrasi yang mengalami peningkatan setiap tahun (pu.go.id 2010). Diantara banyak kegiatan yang mengakibatkan penurunan kualitas pesisir adalah penambangan bahan galian C (pasir pantai), penebangan liar hutan pantai, tekanan gelombang pada saat pasang yang mengakibatkan abrasi pantai (Sumartin 2011). Beberapa pantai mengalami pencemaran yang cukup parah akibat berbagai kegiatan yang dilakukan dipesisirnya. Kasus yang terjadi di daerah Balikpapan, dimana pada tahun 2004 tercemar oleh limbah minyak. Contoh lain adalah kasus                                                              1 Seperti yang dinyatakan dalam judul “Sebagian Besar Jalan di Indonesia Kondisi Rusak”,  www.poskota.co.id,  Desember 2011    3   yang terjadi di sekitar Teluk Jakarta. Berbagai jenis limbah dan ribuan ton sampah yang mengalir melalui 13 kali di Jakarta berdampak pada kerusakan pantai Taman Nasional Kepulauan Seribu. Pada tahun 2006, kerusakan terumbu karang dan ekosistem Taman Nasional itu diperkirakan mencapai 75 km. Kerusakan itu salah satunya berdampak terhadap hasil perikanan tangkap (Sumartin 2011). Hal serupa juga dapat terjadi pada penambangan pasir besi didaerah pantai, proses penambangan dan pencucian pasir besi akan mencemari perairan dan menurunkan kualitas air bagi kehidupan hewan air serta rusaknya terumbu karang. 1.2 Perumusan Masalah Permasalahan umum yang terjadi di pantai Selatan Jawa Barat adalah terjadinya, abrasi, akresi, intrusi air laut, kerusakan mangrove dan terumbu karang, serta alih fungsi lahan untuk kegiatan penambangan pasir besi. Penambangan ini juga didorong oleh cadangan pasir besi yang cukup tinggi di Jawa barat, dan posisi geografis lebih dekat dengan jalur pemasaran pelabuhan Cilacap. Tercatat 25 perusahaan penambangan pasir besi, baik berskala menengah maupun kecil yang memiliki izin. Keberadaan perusahaan tersebut menyebabkan terjadi eksploitasi besar-besaran terhadap sumberdaya pasir besi di Kabupaten Tasikmalaya. Besarnya eksploitasi saat ini tentunya akan mengurangi ketersediaan pasir besi pada masa mendatang. Eksploitasi yang berlebihan juga menyebabkan kerusakan dan pencemaran lingkungan. Proses pengangkutan pasir besi menuju pelabuhan Cilacap Jawa Tengah yang melintasi jalanan umum menyebabkan rusaknya akses jalan hingga puluhan kilometer. Berdasarkan data Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Tasikmalaya, panjang jalan kabupaten yang kondisinya rusak sepanjang 421,8 kilometer atau 32,3 persen dari total panjang jalan kabupaten sepanjang 1.303,3 kilometer yang beberapa ruas diantaranya dijadikan ruas jalan pengangkutan pasir besi. 2 Kondisi ini menyebabkan terjadinya percepatan kerusakan jalan umum yang tidak hanya dimanfaatkan untuk kegiatan penambangan tetapi juga oleh masyarakat umum. Kerugian bisa berupa semakin lamanya waktu tempuh dan                                                              2 Seperti yang dinyatakan dalam judul “32 Persen Jalan Tasikmalaya Rusak”,  www.KOMPAS.com, Januari 2012     4    peningkatan konsumsi bahan bakar minyak kendaraan. Pengangkutan menuju Cilacap yang melewati jalur Tasik Selatan yaitu ruas Cipatujah - Cikalong Cimerak - Cilacap menempuh jarak sekitar 150 Km. Jarak tersebut harus ditempuh 6 - 7 jam, padahal kondisi jalan pantura dengan jarak yang sama dapat ditempuh dengan waktu 3 jam. Pada dasarnya pengangkutan melalui jalan umum sangat sulit dihindari, namun kondisi berupa kerusakan jalan seperti berlubang, retak akibat kegiatan pengangkutan seharusnya dapat dibebankan kepada perusahaan penambangan pasir besi. Beban pemeliharaan jalan tidak harus diserahkan pada pemerintah yang tidak selalu memiliki dana yang cukup untuk melakukan pemeliharaan jalan. Pada bagian hulu dengan adanya penambangan pasir besijuga telah menurunkan pendapatan nelayan tangkap karena perubahan jumlah tangkapan setiap tahunnya yang cenderung menurun. Proses pencucian dilakukan hanya beberapa meter dari bibir pantai dan sempadan. Proses ini dilanjutkandengan segregasi biji dari pasir melalui proses fisika dengan menggunakan magnetic separator. Proses segregasi untuk pemurnian pasir besi ini menyebabkan peningkatan kadar sulfur didaerah pantai dan sungai, ini terjadi karena air buangan dalam proses pemisahan langsung dibuang tanpa perlakuan apapun. Kadar sulfur tersebut membuat air laut dipantai menjadi asam sehingga dapat merusak terumbu karang. Penggunaan pelumas dan bahan bakar untuk peralatan mesin dan bengkel ditepi pantai juga menyebabkan pencemaran perairan disekitar pesisir pantai Kabupaten Tasikmalaya. Pencemaran oleh limbah pencucian pasir besi ini telah menuai protes berupa demonstrasi oleh masyarakat nelayan di Kabupaten Tasikmalaya. Aspek fisik lingkungan yang diabaikan membuat perusahaan pemegang izin eksploitasi dapat menekan biaya produksi menjadi sangat rendah sehingga mendorong eksploitasi berlebihan, ditambah lagi dengan relatif mudahnya izin penambangan dari tangan bupati di era otonomi daerah ini. Merujuk pada Undang-Undang nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan dimana setiap kegiatan usaha harus melakukan pelestarian lingkungan, maka Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat wajib melakukan penilaian menggunakan instrumen ekonomi lingkungan, sehingga pemerintah 5   Kabupaten Tasikmalaya moratorium untuk sebagai memberikan pemangku waktu kepentingan penelaahan mengeluarkan mendalam mengenai 3 penambangan pasir besi . Berapa nilai kerugian ekonomi yang disebabkan oleh kerusakan jalan (eksternalitas) dan turunnya produksi perikanan oleh kegiatan penambangan pasir besi di Kabupaten Tasikmalaya belum dikuantifikasi dengan baik. Oleh sebab itu diperlukan perhitungan nilai eksternalitas negatif menggunakan instrumen ekonomi lingkungan yang tepat dan nantinya dapat diterapkan dalam bentuk kebijakan fiskal berupa penetapan jumlah pajak terhadap setiap output pasir besi. Hal ini bertujuan agar rente dari penambangan dapat menginternalkan eksternalitas negatif dalam bentuk pajak lingkungan. Diharapkan dengan telah dihitungnya eksternalitas negatif tersebut dapat ditentukan estimasi semua biaya yang harus dikeluarkan untuk kompensasi gangguan fungsi jalan dan menurunnya pendapatan nelayan, agar masyarakat yang terkena dampak negatif akibat penambangan pasir besi tidak merasa dirugikan. Penghitungan nilai eksternalitas ini akan memperkecil nilai rente penambangan pasir besi karena meningkatnya biaya produksi yang harus ditanggung oleh perusahaan akibat internalisasi ekstenalitas negatif dalam bentuk pajak. Sebagaimana setiap produk mineral pada umumnya, pasir besi mempunyai karakteristik yang tidak jauh berbeda dengan mineral lain, yaitu ketersediaannya terbatas dan akan habis (exhaustible resource) serta tidak dapat diperbaharui lagi (non-renewable resource). Kabupaten Tasikmalaya dengan potensi pasir besi cukup besar dapat kehilangan potensi penerimaan manfaat optimal untuk kesejahteraan penduduknya. Kesejahteraan penduduk juga akan menurun akibat kerusakan lingkungan. Memperhatikan kondisi ini maka dibutuhkan penilaian yang tepat terhadap besaran nilai tingkat kerusakan yang ditimbulkan oleh penambangan pasir besi, sehingga dapat ditentukan tingkat pajak yang harus diberlakukan terhadap perusahaan penambangan pasir besi. Pada tahap selanjutnya ditambahkan dengan biaya pengambilan yang merupakan opportunity                                                              3 Seperti yang dinyatakan dalam judul “Gubernur Keluarkan Surat Edaran Moratorium Pasir  Besi”,www.antarajawabarat.com, Januari 2011    6    costdari pengambilan pasir besi saat ini,agar dapat diperkirakan alokasi penambangan pasir besi yang paling optimal. Dari uraian diatas dapat dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut : 1. Bagaiman pola ekstraksi dan biaya produksi aktual penambangan pasir besi? 2. Berapa nilai kerusakan jalan dan pendapatan nelayan akibat penambangan pasir besi ? 3. Berapa tingkat ekstraksi optimal dengan dan tanpa mempertimbangkan eksternalitas negatif pada penambangan pasir besi? 4. Berapa nilai pajak akibat eksternalitas negatif yang muncul dari usaha penambangan pasir besi? 1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian Berdasarkan perumusan masalah diatas dapat dirinci tujuan penelitian sebagai berikut : 1. Mengkaji pola ekstraksi dan biaya produksi aktual penambangan pasir besi. 2. Mengestimasi nilai kerusakan jalan dan pendapatan nelayan akibat penambangan pasir besi akibat pengangkutan pasir besi. 3. Menentukan laju ekstraksi optimal dengan dan tanpa eksternalitas negatif, yang paling menguntungkan dari usaha penambangan pasir besi. 4. Mengestimasi nilai pajak yang harus dibayarkan pada setiap output pasir besi dengan mempertimbangkan eksternalitas negatifnya. Adapun manfaat penelitian ini adalah memberikan informasi mengenai pengelolaan dan pemanfaatan bidang penambangan terutama pasir besi sehingga dapat memaksimalkan pendapatan asli daerah dan meminimalkan kerugian. Untuk penambang akan sangat bermanfaat dalam rangka mencegah tuntutan pidana karena pengelolaan penambangan yang merugikan lingkungan hidup, sedangkan bagi masyarakat Tasikmalaya implementasi penelitian ini akan meningkatkan kesejahteraan dalam pemanfaatan pasir besi. 1.4 Ruang Lingkup Penelitian Ruang penelitian adalah menganalisis eksploitasi penambangan pasir besi di wilayah pesisir Kabupaten Tasikmalaya. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji bagaimana pola eksploitasi pasir besi selama ini sehingga menimbulkan 7   dampak-dampak yang merugikan. Dalam penelitian ini diharapkan pembangunan ekonomi berbasis lingkungan dapat berjalan dengan baik, sehingga pemanfaatan sumberdaya tidak pulih dapat memberikan hasil optimal. Analisis sumberdaya pasir besi dilakukan dengan valuasi ekonomi eksternalitas negatif untuk mengetahui hubungan interaksi antara perikanan, gangguan fungsi jalan dan penambangan. Dalam penelitian ini dampak eksternalitas negatif difokuskan pada tiga bagian dampak yang sangat mempengaruhi kehidupan sosial ekonomi masyarakat, pertama dampak kerusakan jalan pada proses pengangkutan yang melalui jalan umum terhadap kehilangan waktu kerja, kedua dampak peningkatan konsumsi bahan bakar bagi pengguna kendaraan bermotor, ketiga terpengaruhnya produksi perikanan disekitar pantai dekat penambangan pasir besi, ketiga dampak ini dipilih karena merupakan dampak yang paling dominan pada penambangan pasir besi di Kabupaten Tasikmalaya dengan menganggap faktor lain bersifat tetap. Dasar hukum pajak lingkungan adalah undang – undang nomor 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Pajak disini dimaksudkan beban tambahan yang harus dikeluarkan perusahaan penambangan untuk setiap satu-satuan output yang dihasilkan. Pada penentuan laju ekstraksi optimal, modelHotelling digunakan untuk mengetahui tingkat ekstraksi optimal (Q*), tingkat keuntungan maksimal ( *) dan pada tahun berapa cadangan akan habis (T*) yang kemudian dibandingkan dengan lama izin konsesi rata- rata penambangan pasir besi pada pasar bersaing secara sempurna. Dalam model sederhana ini diasumsikan tidak ditemukan cadangan baru. 8    BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kegiatan Penambangan Pasir Besi 2.1.1 Sumberdaya Pasir Besi Besi merupakan logam kedua yang paling banyak di bumi ini. Karakter dari endapan besi ini bisa berupa endapan logam yang berdiri sendiri namun seringkali ditemukan berasosiasi dengan mineral logam lainnya. Kadang besi terdapat sebagai kandungan logam tanah (residual), namun jarang yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Endapan besi yang ekonomis umumnya berupa Magnetite, Hematite, Limonite dan Siderite. Kadang kala dapat berupa mineral: Pyrite, Pyrhotite, Marcasite, dan Chamosite. Pasir besi sebagai salah satu bahan baku utama dalam industri baja dan industri alat berat lainnya di Indonesia, keberadaannya akhir-akhir ini memiliki peranan yang sangat penting. Permintaan dari berbagai pihak meningkat cukup tajam. Berdasarkan kejadiannya endapan besi dapat dikelompokan menjadi tiga jenis. Pertama endapan besi primer, terjadi karena proses hidrotermal, kedua endapan besi laterit terbentuk akibat proses pelapukan, dan ketiga endapan pasir besi terbentuk karena proses rombakan dan sedimentasi secara kimia dan fisika. Beberapa jenis mineral-mineral biji besi, magnetit adalah mineral dengan kandungan Fe paling tinggi, tetapi terdapat dalam jumlah kecil, sementara hematit merupakan mineral biji utama yang dibutuhkan dalam industri besi(Bambang 2007). 2.1.2 Proses Penambangan Pasir Besi Pasir besi merupakan mineral yang mengendap di sekitar pantai, rawa dan muara sungai, endapannya terdapat pada permukaan sampai ke kedalaman 15 meter. Proses pengambilan pasir besi dilakukan dengan cara membongkar dan mengangkut endapan ke alat pemisah yang bersifat magnet untuk memisahkan pasir besi dari komponen ikutan non logam seperti pasir, tanah dan batuan. Proses pemisahan ini biasa disebut pekerja tambang sebagai processing magnet separator. Magnet separator berkerja memurnikan pasir besi berdasarkan sifat logam yang dimiliki. Bahan galian yang di masukan ke dalam processing akan terpisah menjadi 4 bagian, batu coral, air bersama pasir dan tanah ke 3 bagian ini dibuang dalam bentuk limbah cair dan padat. Pasir besi akan menempel pada 9   magnet akan diambil dan selanjutnya dengan eskalator lalu ditimbun ke penyimpanan atau gudang. Dari gudang pasir besi (stockpile) akan diangkut ke loading area di pelabuhan untuk selanjut dibawa ke tempat pembeli. 2.1.3 DampakNegatif Penambangan Pasir Besi Dalam pandangan fisik aktivitas ekstraksi mineral logam ini terlihat sederhana, tapi tidak demikian dengan daya rusak sesungguhannya. Kerusakan lingkungan yang diakibatkan ekstraksi pasir besi dapat dikelompokan menjadi 2 golongan, pertama kehancuran fisik, kerusakan pada fisik lingkungan yang dapat langsung terlihat terbagi menjadi beberapa bentuk kehancuran berdasarkan tahapan aktivitas ekstraksi 4 : a. Pengerukan Bahan Galian Endapan pasir besi ini terdapat pada sekitar tepian pulau di sekitar muara sungai, rawa dan sempadan pantai, proses pengerukan akan membuat kawasan lindung sempadan pantai yang biasanya dalam bentuk hutan mangrove dan cemara akan terbabat habis. Masyarakat yang melihat kondisi pantai ketika tambang beroperasi atau pasca tambang tanpa melihat kondisi pulau sebelum tambang beroperasi, tidak akan dapat melihat perubahan ekstrem yang terjadi pada kawasan ini. Berbeda dengan pandangan mata kepala masyarakat di sekitar tambang yang dapat membandingkan perubahan pantai sebelum dan sesudah tambang beroperasi. Masyarakat yang melihat dengan dua kondisi berbeda ini akan menyadari bahwa sebenarnya proses pengerukan kawasan terluar pulau ini telah menyebabkan pengurangan yang luar biasa terhadap luas pulau tempat tambang pasir besi beroperasi. Pengerukan pasir besi selain memangkas bagian terluas pulau, secara fisik juga merubah bentang alam kawasan rawa dan hutan mangrove serta habitat dan tempat pemijahan ikan, kepiting dan udang. b. Pemisahan Pasir Besi Pemisahaan pasir besi yang menggunakan sistem magnetik yang boros air, untuk memisahkan 50.000 m3 pasir besi dibutuhkan air sebanyak 20.000 m3. Untuk memenuhi kebutuhan air ini, perusahaan akan membendung muara sungai                                                              4  Seperti yang dinyatakan dalam judul “ Pencemaran Lingkungan Akibat Aktifitas Pertambangan Dan UUD Tentang Pencemaran”. 2011. www.rahmatbkhant.blogspot.com    10    dan mengalihkan aliran sungai menuju lokasi proccesing melalui pipa besar atau menggunakan pompa. Proses pembendungan sungai ini akan menyebabkan luapan air menggenangi kawasan pertanian, pemukiman dan sentra aktivitas warga lainnya. Dampak lainnya akibat pembendungan ini adalah kerusakan ekosistem yang tidak kasat mata tetapi akan terasa oleh nelayan sekitar. Pemusnahan masal terhadap kekayaan biodiversity yang siklus sidupnya tergolong katadromus, yaitu jenis ikan dan arthopoda yang siklus regenerasinya membutuhkan 2 ekosistem. Ekosistem air tawar dan ekosistem air laut, seperti ikan sidat yang akan mati setelah bertelur di gugusan terumbu karang dalam laut, dan setelah menetas anakannya akan melanjutkan siklus hidup induknya untuk tumbuh dan hidup di ekosistem sungai. Pembendungan sungai akan membuat jenis katadromus ini tidak bisa kembali ke sungai untuk memijah. Pada proses pemurnian pasir besi, bahan yang terambil adalah dalam bentuk butiran pasir besi dan titanium, juga silicon dan magnesium. Jumlah limbah sebagai buangan sisa-sisa pemurnian yang dibuang tergantung dari berapa kadar pasir besi di wilayah endapan yang diambil. Misalnya wilayah Pesisir Barat Bengkulu, dari setiap 50.000 meter persegi pasir besi, akan membuang limbah padat dalam bentuk lumpur pasir dan koral sebanyak 126.000 m3. Deposit pasir besi dan mineral lain yang digali merupakan sedimentasi dari proses geomorfologi jutaan tahun yang lalu, pembongkaran endapan ini akan mengakibatkan stabilitas ikatan komponen kimia yang mengendap terlepas. Proses pengambilan pasir besi oleh magnet separator tidak sepenuhnya dapat mengambil semua pasir besi dan mineral logam lain. Senyawa kimia yang dibongkar dan terikut dalam prosesing dan bukan berunsur logam, akan terlepas bebas ke air dan lingkungan tempat pembuangan limbah. Ikan yang hidup disungai dan pantai sekitar pembuangan limbah ini biasanya akan mati serentak dalam jumlah yang besar, kalaupun ada yang tersisa ikannya ditemukan dalam kondisi kudisan yang memiliki benjolan disekitar badannya. Kementerian lingkungan hidup RI sudah mencoba mengeleminir resiko dari proses ini dengan mengeluarkan permen LH no 21 tahun 2010 tentang ambang batas mutu air pertambangan biji besi. Sayangnya peraturan ini tidak cukup menjamin 11   keselamatan ekosistem sekitar kegiatan penambangan, karena tidak menjangkau identifikasi berbagai jenis komponen kimia yang dilepas,selain itu peraturan ini lebih bersifat pengaturan prosedural fisik. c. Pengangkutan Pasir Besi Dalam pengangkutan hasil produksi menuju konsumen, pengangkutan pasir besi biasanya pemanfaatan infrastruktur umum seperti jalan. Pengangkutan dilakukan menggunakan truk – truk pasir berbobot tinggi dan cenderung melebihi kapasitas angkut dan daya dukung jalan. Hal ini menyebabkan kerusakan jalan tidak dapat dihindarkan, akibatnya berdampak pada terganggunya fungsi jalan sebagai barang publik dalam melayani masyarakat pengguna jalan. Jaringan jalan raya merupakan prasarana transportasi darat yang memegang peranan sangatpenting dalam sektor perhubungan, terutama untuk kesinambungan distribusi barang dan jasa. Keberadaan jalan raya sangat diperlukan untuk menunjang laju pertumbuhan ekonomi seiring dengan meningkatnya kebutuhan sarana transportasi yang dapat menjangkau daerah-daerah terpencil. Selain pertumbuhan ekonomi, transportasi jalan juga sering menimbulkan permasalahan dibidang pemeliharaannya. Kenaikan volume kendaraan (trailer, truk, bus, and kendaraan lainnya) yang melebihi kapasitas daya angkutnya juga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan jalan relatif cepat rusak sebelum mencapai umur pelayanan jalan yang telah direncanakan. Peningkatan arus lalu lintas kendaraan khususnya kendaraan berat, yang pada umumnya mengangkut bahan mentah seperti kayu dan sawit (yang dilakukan oleh perusahaan – perusahaan industri) sangat berpengaruh besar terjadinya kerusakan jalan. Terlepas dari mutu komponen perkerasan dan pelaksanaan pekerjaan yang mungkin kurang baik, faktor lain yang sangat berpengaruh dan menentukan umur perkerasan jalan adalah perbedaan antara beban rencana as kendaraan dengan beban aktual yang melewati jalan tersebut (Mudjiatko 2006). UNESCAP (2005) menyoroti pentingnya infrastruktur jalan dalam perekonomian wilayah, jalan sebagai salah satu komponen infrastruktur berpengaruh secara signifikan terhadap iklim investasi. Jalan merupakan penghubung antara kegiatan produksi dan distribusi, sehingga ketersediaan jaringan jalan yang baik akan sangat menentukan proses produksi dan distribusi. 12    2.2 Eksternalitas Masalah lingkungan banyak disebabkan oleh kegagalan pasar dan tidak adanya hak kepemilikan. Konsumsi terhadap barang publik sering menimbulkan apa yang disebut eksternalitas. Eksternalitas diartikan sebagai setiap pengaruh samping dari produksi atau konsumsi yang dirasakan oleh pihak ketiga di luar pasar. Menurut teori ekonomi mikro harga merupakan mekanisme sinyal penting dalam proses pasar. Harga keseimbangan menunjukkan nilai marjinal yang diberikan oleh konsumen dari pemakaian barang dan biaya marjinal yang harus ditanggung oleh perusahaan dalam memproduksikan barang dimaksud. Dalam keadaan biasa, teori ini dapat memprediksi realitas pasar dengan baik. Namun terdapat banyak keadaan di mana harga gagal merefleksikan semua manfaat dan biaya yang terkait dengan transaksi pasar. Kegagalan pasar ini muncul ketika pihak ketiga dipengaruhi oleh produksi atau konsumsi satu barang. Apabila pengaruh kepada pihak ketiga ini mengakibatkan timbulnya biaya, maka pengaruh ini disebut eksternalitas negatif, sedangkan pengaruh kepada pihak ketiga yang bermanfaat disebut eksternalitas positif (Mangkoesoebroto 1993). Kerusakan lingkungan akibat aktivitas orang lain merupakan suatu eksternalitas. Eksternalitas terjadi jika suatu kegiatan menimbulkan manfaat ataubiaya bagi kegiatan atau pihak di luar pelaksana kegiatan tersebut. Eksternalitas ditambah dengan biaya swasta disebut sebagai biaya sosial. Biaya social berkaitan dengan kerusakan lingkungan hidup yang dapat dianggap biaya pembangunan ekonomi (Randal 1987). Masalah utamanya adalah siapa yang harus menanggung biaya sosial tersebut, apakah biaya itu harus ditanggung oleh pihak yang menimbulkan korban atau pihak yang dirugikan, atau pemerintah. Para ekonom menyetujui agar pihak yang menimbulkan kerugian harus dikenai kewajiban untuk mencegah pencemaran atau diwajibkan membayar pajak sebesar kerugian yang ditimbulkannya atau sumber pencemar dipindahkan keluar daerah yang mengalami pencemaran (Suparmoko 1997). Secara grafis terjadinya eksternalitas dapat dilihat pada Gambar1, dimana produksi optimum akan didapatkan pada saat polusi telah diperhitungkan sebagai biaya sosial yang harus dibayarkan dalam penambangan sehingga mengurangi 13   jumlah produksi berdasarkan harga pasar. Dengan kondisi ini tidak ada pihak yang dirugikan dalam sebuah aktivitas penambangan. Gambar 1 Eksternalitas negatif pada penambangan pasir besi Sumber :Disesuaikan dengan Kahn (1998) 2.3 Jenis – Jenis Eksternalitas Eksternalitas lingkungan dapat dikelompokkan berdasarkan pengaruhnya terhadap individu dan wilayah. Pencemaran lingkungan atau kerusakan lingkungan dapat dikelompokkan sebagai eksternalitas daerah/lokal seperti terjadi kerusakan air danau, kerusakan tanah, dan polusi udara. Polusi di daerah menjadi kesulitan bagi penduduk daerah tersebut jika memiliki dua karakteristik, yaitunon-rivalry and non-exclusion. Adapun polusi dari sungai besar dan kerusakan ekosistem gunung mungkin akan mempengaruhi sejumlah wilayah. Emisi gas rumah kaca merupakan masalah penduduk dunia tanpa memperhatikan dari mana polusi berasal, emisi menyeluruh berdampak kepada semua orang di dunia dan ekosistem secara keseluruhan. Pengelompokkan eksternalitas penting berkenaan dengan masalah otoritas mana yang akan membawahi masalah polusi dan atau kerusakan tersebut (Sankar 2008). Putri et al. (2010) membagi eksternalitas berdasarkan sebab dan dampak yang dimunculkannya serta interaksi agen ekonomi. Eksternalitas berdasarkan interaksi agen ekonomi misalnya adalah sebagai berikut: a. Dampak Produsen Terhadap Produsen Lain Suatu kegiatan produksi dikatakan mempunyai dampak eksternal terhadap produsen lain jika kegiatannya itu mengakibatkan terjadinya perubahan atau penggeseran fungsi produksi dari produsen lain. Contoh dampak atau efek yang termasuk dalam kategori ini misalnya suatu proses produksi pengolahan ikan 14    sardine menghasilkan limbah produk yang dimasukkan ke dalam aliran sungai, sehingga produsen ikan yang menggunakan air dari aliran sungai tersebut akan dirugikan karena produksinya akan menurun. b. Dampak Produsen Terhadap Konsumen Suatu produsen dikatakan mempunyai dampak terhadap konsumen, jika aktivitasnya merubah atau menggeser fungsi utilitas rumah tangga (konsumen). Contoh kategori dampak ini adalah pencemaran atau polusi. Kategori ini meliputi polusi suara (noise), berkurangnya fasilitas daya tarik alam (amenity) karena pertambangan, serta polusi air, yang semuanya mempengaruhi kenyamanan konsumen atau masyarakat luas. Misalnya adalah dampak penciuman (bau) dari produsen pembuat ikan asin terhadap masyarakat sekitar, atau polusi udara dari produsen pengasapan ikan kepada masyarakat sekitar. c. Dampak Konsumen Terhadap Konsumen Lain Dampak konsumen terhadap konsumen yang lain terjadi jika aktivitas seseorang atau kelompok tertentu mempengaruhi atau menggangu fungsi utilitas konsumen yang lain. Dampak atau efek dari kegiatan suatu seorang konsumen yang lain dapat terjadi dalam berbagai bentuk. Misalnya, bisingnya suara alat pemotong rumput tetangga, kebisingan bunyi radio atau musik dari tetangga, asap rokok seseorang terhadap orang sekitarnya dan sebagainya. d. Dampak Konsumen Terhadap Produsen Dampak konsumen terhadap produsen terjadi jika aktivitas konsumen mengganggu fungsi produksi suatu produsen atau kelompok produsen tertentu. Dampak jenis ini misalnya terjadi ketika limbah rumah tangga terbuang ke aliran sungai dan mencemarinya sehingga menganggu perusahaan tertentu yang memanfaatkan air seperti nelayan atau perusahaan yang memanfaatkan air bersih. Soemarno (2008) membagi eksternalitas berdasarkan sebab dan dampak yang dimunculkannya adalah sebagai berikut: a. Eksternalitas Pecuniary Eksternalitas pecuniary atau eksternalitas istimewa terjadi karena perubahan harga dari beberapa input maupun output. Dengan kata lain, eksternalitas ini terjadi manakala aktivitas ekonomi seseorang mempengaruhi kondisi finansial pihak lain. Misalkan pada saat memutuskan apakah membeli atau tidak membeli 15   sesuatu barang, seseorang biasanya akan mempertimbangkan kebutuhannya sendiri akan barang tersebut, harganya, dan situasi anggarannya. Jarang sekali, dan umumnya hanya dalam kasus monopsoni saja, individu mempertimbangkan bahwa keputusannya untuk membeli barang/jasa dapat berkontribusi terhadap peningkatan kebutuhan produk tersebut dan oleh karena itu menyebabkan harganya meningkat. Biasanya, pengabaian ini dibenarkan, karena pembelian individual atas suatu komoditi merupakan fraksi yang demikian kecilnya dari total jumlah barang yang dijual, sehingga keputusan individu mempunyai dampak yang dapat diabaikan terhadap harga. Bagaimanapun keputusan individual mempengaruhi harga, bukan hanya seseorang, tetapi juga semua pembeli lainnya, akan mengakibatkan penurunan atau kenaikan harga. Perubahan harga, yang disebabkan oleh keputusan-keputusan individu, disebut sebagai eksternalitas istimewa. Kalau keputusan individu menyebabkan harga naik (kasus yang lazimnya berhubungan dengan peningkatan kebutuhan) maka fenomenanya merupakan suatu eksternal disekonomi yang pecuniary bagi konsumen lainnya. Apabila keputusan individu menyebabkan harga turun (seperti yang dilukiskan dengan keputusan untuk menggabungkan kelompok perjalanan travel yang masih belum mencapai kapasitas penuh) fenomenanya disebut eksternal ekonomi yang pecuniary bagi konsumen lainnyaefisien. Secara simetri, eksternalitas dis-ekonomi yang pecuniar bagi konsumen merupakan eksternalitas yang pecuniar bagi produsen dan eksternalitas ekonomis yang pecuniar bagi konsumen akan merupakan eksternalitas dis-ekonomi bagi produsen. Hal penting yang harus diperhatikan ialah bahwa eksternalitas pecuniar, apakah ekonomis atau disekonomis, tidak menimbulkan problem bagi ekonomi pasar. Berubahnya kebutuhan menyebabkan harga naik atau turun fluktuasi ini menyediakan pertanda esensial bagi tempat-pasar untuk merotasikan barang dan jasa secara efisien (Soemarno 2008). b. Eksternalitas banyak arah (Multidirectional externality) Ekstenalitas banyak arah adalah eksternalitas yang disebabkan oleh suatu/ sejumlah pihak yang mengakibatkan terganggunya suatu/ sejumlah pihak lain. 16    2.4 Solusi Eksternalitas Fauzi (2010) mengemukakan model dasar untuk membangun prinsip kebijakan ekonomi dalam memecahkan masalah eksternalitas. Ia mengemukakan contoh hubungan ekonomi antara perusahaan penambang emas dengan usaha perikanan. Meski tidak ada hubungan keputusan ekonomi dari dua unit usaha tersebut, namun keduanya menjadi terkait karena adanya sungai sebagai barang publik. Penambang emas tersebut membuang limbahnya berupa zat merkuri ke dalam sungai yang menjadi sumber mata pencaharian. Pada dasarnya Fauzi (2010) menyatakan untuk meredam eksternalitas negatif, tidak terkecuali dalam kegiatan penambangan terdapat tiga alternatif kebijakan yang dapat digunakan : internalisasi, perpajakan dan memfungsikan pasar. Nicholson (1999) menjelaskan dua pemecahan tradisional terhadap eksternalitas. Yaitu perpajakan dan internalisasi biaya. Dalam menggunakan perpajakan sebagai penyelesaian eksternalitas, Nicholson (1999) berpendapat bahwa pemerintah dapat mengenakan pajak cukai yang sesuai terhadap perusahaan yang menghasilkan disekonomi eksternal. Pajak ini dapat dianggap keluaran atau produk yang dihasilkan oleh sebuah perusahaan menjadi berkurang. Pemecahan klasik terhadap masalah eksternalitas ini pertama kali diajukan oleh A.C. Pigou pada dasawarsa 1920-an. Walaupun telah sedikit dimodifikasi, solusi ini tetap merupakan jawaban standar untuk masalah eksternalitas yang dibuat oleh ahli ekonomi. Masalah utama bagi regulator adalah mendapatkan informasi empiris yang memadai sehingga pajak yang tepat dapat dikenakan secara langsung kepada perusahaan yang menyebabkan polusi. Pemecahan tradisional kedua adalah internalisasi, merupakan upaya untuk “menginternalkan” dampak yang ditimbulkan dengan cara menyatukan proses pengambilan keputusan dalam satu unit usaha. 2.5 Teori Pemanfaatan Sumberdaya Secara Optimal Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar pengambilan sumberdaya alam yang tidak dapat diperbaharui menjadi lebih optimal. Syarat pertama yang harus dipenuhi adalah terdapatnya pasar persaingan sempurna dengan tercapai suatu tingkat efisiensi yang optimum pada saat harga barang sama dengan biaya 17   marginalnya. Pada kasus sumberdaya alam yang tidak dapat diperbaharui, efisiensi optimum akan dicapai apabila harga barang sumberdaya sama dengan biaya marginal ditambah biaya alternatif. Biaya alternatif adalah kelebihan nilai yang bersedia dibayarkan oleh konsumen dengan nilai lebih besar daripada biaya marginal untuk menghasilkan barang sumberdaya tersebut. Biaya alternatif ini juga disebut manfaat sosial bersih, rent, atau royalty. Syarat kedua dari pengambilan sumberdaya secara optimal menyangkut tingkah laku dari biaya alternatif atau royalty itu sepanjang waktu. Biaya alternatif harus selalu meningkat sebesar tingkat bunga yang berlaku dari waktu kewaktu, atau dengan kata lain bila royalty itu dinyatakan dengan nilai sekarang (present value), maka ia tidak akan berubah sepanjang waktu. Syarat terakhir adalah ekstraksi sumberdaya alam tidak dapat diperbaharui sangat tergantung pada kendala stok yang terbatas. Sebagai dasar dari teori ekstraksi sumberdaya alam tidak terbaharui yang optimal adalah model Hotelling yang dikembangkan oleh Harold Hotelling pada 1931 (Fauzi 2010). Tujuan perusahaan dalam pemanfaatan sumber daya minerba adalah memaksimumkan keuntungan.Tujuan ini dicapai dengan memilih tingkat ekstraksi optimal selama masa izin. Jika ada komponen biaya yang dapat dihindari atau dapat dibebankan kepada pihak lain, maka tanpa regulasi yang efektif komponen biaya tersebut tidak akan ditanggung oleh perusahaan. Hal seperti ini dapat menghasilkan kondisi dimana pemanfaatan sumber daya minerba menguntungkan secara finansial tetapi merugikan secara ekonomi. Untuk sederhananya, jika present value dari penjualan hasil tambang adalah S dan present value dari biaya eksplorasi, eksploitasi, dan reklamasi adalah C, maka present value dari pemanfaatan sumber daya minerba adalah W = S –C Jika W > 0, maka pemanfaatan sumber daya minerba secara finansial layak atau menguntungkan bagi pelakunya.Tetapi apakah hal ini juga menguntungkan secara sosial masih perlu dikaji lebih jauh karena biaya yang diperhitungkan masih belum tentu mencakup seluruh biaya yang ditimbulkan oleh pemanfaatan sumber daya minerba tersebut. Seperti umum terjadi, pemanfaatan sumber daya minerba sering menimbulkan dampak lingkungan, khususnya yang bersifat negatif. 18    Pemerintah sebagai wakil rakyat mempunyai kewajiban untuk memperhitungkan biaya lingkungan dari setiap keputusannya (Soemarno 2008). 2.5.1 Teori Optimasi Sumberdaya Tidak Terbarukan Pada tahun 1970-an adalah suatu periode intensif, dimana kekhawatiran publik terhadap kelangkaan sumberdaya alam. Dipicu dari laporan klub roma mengenai “limits to growth” oleh Deniss Meadows. Ia memprediksi konsekuensi katastropik pada awal abad 21 kecuali jika pertumbuhan ekonomi ditunda, ditambah lagi kondisi menjelang tahun 1973 dengan adanya embargo minyak yang akhirnya menyebabkan krisis. Pada saat itu para ekonom bersiap untuk menerapkan kerangka kerja yang dimulai oleh Hotelling tahun 1931(Gaudet 2007). Cadangan sumberdaya alam adalah sama dengan cadangan kapital fisik yang merupakan aset bagi pemiliknya. Dalam ekonomi pasar, nilai dari aset ini, seperti beberapa aset modal sangat bergantung kepada tingkat pengembalian hasil yang dapat diperoleh pemiliknya. Secara khas, tingkat pengembalian dari aset kapital dapat diuraikan pada tiga komponen : 1. Komponen pertama disebabkan oleh aliran dari produk yang dihasilkan oleh marginal unit dari aset. Ini disebut tingkat dari marginal produktivitas atau tingkat dividen. 2. Komponen kedua disebabkan oleh fakta bahwa karakteristik aset fisik dapat berubah sepanjang waktu. 3. Komponen ketiga adalah tingkat dimana nilai pasar aset dapat berubah sepanjang waktu. Nilai ini mungkin saja negatif, sepanjang nilai ini lebih dari komponen positif lainnya terhadap tingkat pengembalian. Agar pasar aset berada dalam keadaan equilibrium, tingkat pengembalian harus sama dengan tingkat pengembalian yang diharapkan oleh pemilik sumberdaya jika aset tersebut diinvestasikan ditempat lain. Pada contoh aset fisik seperti bangunan, mesin dan peralatan, komponen pertama yang digunakan adalah produk marginal yang diturunkan dari penggunaan setiap masukan dalam proses produksi. Komponen kedua berasal dari depresiasi fisik aset, yang akan mengurangi tingkat pengembalian. Komponen ketiga, adalah pendapatan modal yang dapat diterima dengan menahan aset (Gaudet 2007). 19   Seandainya sekarang aset adalah sumberdaya tidak terbarukan, seperti deposit mineral atau cadangan minyak dalam tanah. Beberapa aset tidak dapat diproduksi kembali, dimana jumlah cadangan sekarang tidak dapat meningkat sepanjang waktu. Keputusan menahan aset tersebut tidak akan mendapatkan hasil selama aset tersebut berada dalam tanah, yang berarti tidak produktif, berbeda dengan mesin atau peralatan, yang dapat menghasilkan aliran jasa. Oleh sebab itu komponen pertama identik dengan nilai nol. Seperti komponen kedua, dimana tidak ada padanan yang tepat pada kasus cadangan sumberdaya, dalam artian kekacauan tidak akan terjadi dari menahan aset didalam tanah. Ini sebabnyalebih baik menahan marginal unit dari aset yang ditempatkan dalam tanah daripada mengekstraksi untuk menjaga kualitas merata dari cadangan yang tersisa dari keadaan memburuk. Komponen kedua ini mencatat tingkat pengembalian yang lebih positif, daripada negatif. Jika p (t) adalah harga sekarang dimana sumberdaya dapat berada dalam pasar segera setelah diekstraksi dan c(t) adalah biaya marginal ekstraksi sumberdaya pada tahun t, maka nilai marginal dalam tanah seharusnya: π (t) = p (t) − c(t), yang mewakili harga aset dari sumberdaya. Jika tingkat bunga adalah r, dan aset keseimbangan pasar mensyaratkan: Ini adalah rumus Hotelling yang terkenal, yang menyatakan bahwa harga bersih dari sumberdaya alam-harga aset sumberdaya alam-harus naik sama dengan tingkat bunga. Jika biaya marginal dari ekstraksi sumberdaya bebas dari tingkat ekstraksi dan tidak berubah sepanjang waktu, dan hal ini menghasilkan prediksi sebagai perilaku dari nilai pasar sepanjang waktu, yaitu: Jika fungsi diatas benar-benar dapat mewakili kenyataan, kita dapat mengamati harga sumberdaya tidak terbarukan akan meningkat sesuai tingkat bunga sebagai bagian dari biaya dalam harga yang semakin kecil dan semakin kecil sepanjang waktu dan rente kelangkaan semakin tinggi sepanjang waktu (Gaudet 2007). 20    2.6 Pajak Sebagai Instrumen Ekonomi Pengelolaan Pajak merupakan salah satu instrumen ekonomi pengelolaan lingkungan, namun bukan instrumen untuk melegalisasi pencemaran atau perusakan lingkungan. Pajak lingkungan merupakan salah satu instrumen yang berbasis pasar diantara berbagai instrumen yang tersedia. Di Indonesia, pajak lingkungan telah diatur dalam UU No 32 Tahun 2009 tentang Pengelolaan dan Perlindungan Lingkungan Hidup. Sayangnya implementasi belum banyak dilakukan sehingga pengelolaan lingkungan di Indonesia lebih mengutamakan pendekatan commandand-control (Suedomo 2009). Ketika pajak digunakan sebagai alat internalisasi eksternalitas akan membuat pemerintah kehilangan ketegasan dihadapan masyarakat. Ini disebabkan kehidupan yang tenang tanpa ada gangguan dari adanya eksternalitas negatif adalah hak setiap orang, sementara bagi pasar hal ini adalah peluang untuk melakukan lobi dan transaksi. Analisis cost-benefit menjadi penting dalam hal ini, menimbang mana yang lebih penting antara tujuan dari tiap aspek yang dibahas dengan opportunity cost yang harus dikeluarkan. Misalkan antara kesehatan/lingkungan dengan sisi perkembangan ekonomi dan kesejahteraan materi masyarakat. Mekanisme Pajak Pigovian bisa menjadi alternatif karena memang dianggap mampu menekan laju peningkatan biaya sosial dimasa depan sementara mekanisme pengendalian langsung bisa diterapkan jika memang sumber penerimaan negeri sudah tangguh dan mandiri (Eirik dan Ronnie 1999). Pajak pada bads akan memberi insentif kepada pembangkit dampak negatif untuk mencari dan menggunakan teknologi yang dapat mengurangi dampak negatif pada lingkungan. Kelemahan utama Pajak Pigou pada barang adalah bahwa pajak ini hanya dapat dikenakan ketika proses produksi tambang masih berjalan, padahal dampak lingkungan dapat berlangsung meskipun tambang telah berhenti. Oleh karena itu, pajak Pigou hanya menangkap kerugian lingkungan yang terjadi selama proses penambangan berlangsung (Suedomo 2009). Para ahli menyarankan untuk menerapkan pajak terhadap pencemaran dan kerusakan, agar tercapai kualitas lingkungan yang diharapkan. Nilai pajak harus sesuai dengan tingkat optimal sosial degradasi (dan tidak mengeliminasi polusi secara menyeluruh). Menerapkan pajak kepada pencemar adalah metode paling 21   tepat untuk mengatasi masalah lingkungan, karena akan mengubah prilaku pencemar secara tidak langsung untuk menaati peraturan pengelolaan limbahnya. Akibatnya jumlah output perusahaan tidak lagi pada tingkat yang mengeluarkan eksternalitas terlalu tinggi, dibandingkan output yang ada dipasar (market equilibrium). Solusi berbasis insentif diusulkan oleh Pigou, yang menyarankan pemberlakuan pajak pada entitas yang membuat eksternalitas (Kahn 1998). Pengendalian produksi dengan sistem pajak merupakan perilaku respon terhadap adanya eksternalitas. Pengendalian produksi dilakukan dengan memperhitungkan biaya lingkungan dan menerapkan kepastian hak. Pengaturan produksi seharusnya dirumuskan, ditetapkan dan diimplementasikan secara bersama-sama oleh para pihak. Situasi ini akan mendorong tumbuh dan berkembangnya komitmen untuk tidak melakukan eksploitasi berlebihan (Suhaeri 2005). Pencemar akan berfikir untuk mengurangi kewajiban pajak mereka, sehingga biaya kerusakan lingkungan dibebankan kepada masyarakat. Ilustrasi dapat dilihat pada Gambar 2 dan diasumsikan biaya pencemaran telah ditentukan. Analisis ini membutuhkan informasi substansial mengenai prosedur pengurangan (abatement) dan teknologi yang dipakai. Marginal damage cost (S) adalah representasi dari beban yang ditanggung oleh masyarakat. Marginal control cost (MC’) adalah atribut yang dilakukan pencemar untuk mengurangi pencemaran. Pada jumlah produksi yang optimumdengan mempertimbangkan pajak tingkat produksi akan berkurang menuju keseimbangan jumlah produksi baru yang lebih kecil, karena biaya produksi mengalami peningkatan dengan penetapan pajak sejumlah tertentu. Gambar 2 Eksternalitas dengan pajak Sumber : Kahn (1998) 22    Kebijakan pemerintah menetapkan tax, sebagai unit yang dibebankan terhadap polusi yang dibuat pencemar, menyebabkan pencemar akan mengurangi emisi dengan mengurangi jumlah produksi mereka dari x1 ke x2. Dana yang dipungut dari pajak tersebut, dapat dimanfaatkan pemerintah untuk memperbaiki kondisi lingkungan. Pajak pencemaran ini berdasarkan atas prinsip pembayaran oleh pencemar (Kahn 1998). 2.7 Tinjauan Penelitian Sejenis Terdahulu Penelitian mengenai eksternalitas dan laju ekstraksi optimal pada sumberdaya pertambangan pasir besi masih jarang ditemukan.Beberapa penelitian mengenai eksternalitas memang pernah dilakukan oleh peneliti–peneliti sebelumnya. Syaefuddin (2010) menghitung dampak pengangkutan batu bara melalui jalur sungai di Sungai Barito Kalimantan Selatan. Pengangkutan batubara melalui sungai menggunakan perahu tongkang melalui jalur Sungai Barito di wilayah Kabupaten Batola, ditengarai merusak ekosistem perairan, menimbulkan masalah sosial ekonomi dan pencemaran lingkungan serta memperparah abrasi di perairan sungai tersebut. Penelitian ini menggunakan metode valuasi ekonomi Damage Cost Analysis. Dalam penelitian ini dampak yang ditimbulkan oleh adanya tansportasi tongkang batubara yaitu penurunan jumlah tangkapan nelayan jaring insang hanyut yang berakibat pada penurunan pendapatan nelayan. Jumlah keramba dan KJA dari tahun 2007 sampai 2008 mengalami penurunan yang drastis. Jumlah Produksi keramba turun sebesar 86 % dan produksi KJA turun sebesar 73%. Kecelakaan berdampak pada besarnya kerugian material, seperti kerusakan dermaga dan perahu. Kerugian immaterial agak sulit dihitung, karena terkait dengan emosi dan perasaan manusia. Kerugian immaterial terutama terkait dengan kehilangan jiwa. Dalam penelitian ini kehilangan jiwa, dampak berupa perasaan kehilangan, tertekan,sedih dan sebagainya tidak dinilai karena masih sulit diterapkan. Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Perhubungan Barito Kuala tahun 2009, diperoleh jumlah keluar masuk tongkang batubara menunjukkan bahwa total batubara yang diangkut/keluar selama tahun 2009, baik melalui Rute Banjarmasin-Kelanis maupun Banjarmasin-Teweh sebesar 36.344.000 ton. Menggunakan dasar perhitungan tahun 2009 diperoleh nilai total kerugian akibat 23   pengangkutan batubara adalah Rp. 5.516.800.000. Nilai total tersebut terdiri dari kerugian pada sektor perikanan Rp. 5.335.800.000 dan kerugian karena kecelakaan Rp. 181.000.000. Nilai ini dikaitkan dengan jumlah batubara yang diangkut, yang jumlahnya mencapai 36.344.000 ton per tahun maka dapat ditetapkan nilai kompensasi sebesar Rp. 152 (seratus lima puluh dua rupiah) per ton batubara. Noviana (2011) meneliti tentang dampak penambangan pasir besi di Kabupaten Kaur Sumatera Selatan. Tujuannya mengidentifikasi semua dampak penambangan pasir besi. Diantaranya menyebabkan menurunnya kualitas udara, disebabkan mobilisasi alat berat pada tahap pra konstruksi yang meningkatkan kadar debu dan kebisingan di areal tambang dan pemukiman masyarakat di jalan Way Hawang Sukamenanti. Kondisi wilayah penambangan yang merupakan perairan Sungai Air Numan (Danau Kembar) dengan luasan awal 16,02 hektar dan daratan seluas 163,34 hektar. Kegiatan penggalian akan memperluas bentuk dan struktur danau hingga meluas kira – kira menjadi sebesar 28 hektar. Hal ini sangat membahayakan warga, karena debit air juga akan mengalami perubahan struktur, sehingga ancaman terhadap kekeringan dan banjir meningkat. Aktifitas penambangan juga akan mempengaruhi struktur pantai Way Hawang. Ancaman akan meningkat khususnya pada saat air laut pasang dan gelombang besar serta tinggi, yang akan membuat bentuk pantai berubah. Kegiatan penambangan juga dipastikan akan menurunkan kualitas air tanah (sumur) dan kualitas air permukaan Danau Kembar serta Air Way Hawang. Pengolahan pasir besi membutuhkan banyak air untuk diolah di Magnetic Separator. Dalam proses pengolahan, selain menghasilkan pasir besi juga menghasilkan limbah. Demikian juga dengan kegiatan perawatan alat berat tambang pasir besi dipastikan menghasilkan sisa-sisa pelumas dan oli bekas. Sisa oli bekas ini yang tidak dikelola dengan baik akan mencemari danau kembar dan sumur warga, serta air laut di lingkungan tambang. Pada tahap pengangkutan hasil pemurnian pasir besi, rute jalur angkut perusahaan meliputi jalan Raya Desa Sukamenanti, Desa Way Hawang hingga Pelabuhan Linau. Jalan ini merupakan jalan negara dengan spesifikasi III A atau dapat dilalui kendaraan dengan muatan maksimal 8 ton. Kendaraan pasir besi dari awal konstruksi hingga pengangkutan 24    memiliki rata-rata beban melebihi 8 ton sehingga dipastikan akan merusak jalan. Kegiatan penambangan juga merubah tipe vegetasi seluas 46,03 hektar (total) dari vegetasi daratan seluas 16,02 hektar dan perairan Danau Kembar seluas 30,01 hektar kehilangan vegetasi penutup sehingga dipastikan dapat menimbulkan abrasi. Disamping itu pendapatan masyarakat dari berkebun, seperti kelapa, kelapa sawit, tanaman padi juga ikut hilang. Dampak terhadap biota air merupakan dampak tak langsung akibat kegiatan tambang pasir besi. Sumber dampak berasal dari perubahan kulitas air akibat limbah pengolahan pasir. Sumber lainnya adalah karena tirisan penumpukan pasir besi, air limbah bekas pelumas dari kegiatan bengkel. Indeks keanekaragaman Danau Kembar akan menurun dari kondisi awal 0,8 s/d 2, 48 untuk plankton dan 1,90 s/d 2,98 untuk biota benthos. Kondisi ini akan menurunkan jumlah ikan, udang, kepiting, yang merupakan mata pencaharian tambahan bagi masyarakat selain bertani. Parluhutan (2005) melakukan penelitian mengenai Dampak Penambangan Pasir Laut Terhadap Perikanan Rajungan di Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang. Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak penambangan pasir laut terhadap perikanan rajungan.Uji T digunakan untuk membandingkan produksi rajungan sebelum dan setelah adanya penambangan pasir laut. Analisis regresi digunakan untuk mengetahui hubungan antara produksi pasir laut dengan produksi rajungan. Aspek ekonomi dinilai dengan valuasi ekonomi melalui metode perubahan surplus produsen. Hasil penelitian menunjukan bahwa produksi rajungan menurun secara signifikan setelah adanya penambangan pasir laut. Lebar karapas dan bobot tubuh juga menurun setelah adanya penambangan pasir laut. Analisis regresi menunjukan bahwa setiap kenaikan produksi pasir laut akan menurunkan produksi rajungan. Terdapat perubahan surplus produsen sebesar Rp.10.046.625.000 setiap tahun. Penambangan pasir laut juga telah berdampak terhadap pola penangkapan nelayan rajungan. 25   Tabel 1Tabulasi Perbedaan Penelitian Ini Dengan Penelitian Terdahulu Peneliti Judul Tujuan Metode Output Syaefuddin (2010) Penentuan Besarnya Kompensasi untuk Pemulihan Lingkungan Akibat Angkutan Batubara di Sungai Barito, Kabupaten Barito Kuala - Kalimantan Selatan DAMPAK NEGATIF PENAMBANGAN PASIR BESI (Studi kasus Dermaga Linau Kecamatan Maje Kabupaten Kaur) Analisis dampak penambangan pasir laut Terhadap perikanan rajungan Di kecamatan tirtayasa kabupaten serang Menghitung kompensasi dampak pengangkutan batu bara melewati Sungai Barito Damage cost Analysis Nilai kompensasi persatuan berat batubara Mengidentifikasi dampak – dampak penambangan Pasir Besi di Kabupaten Kaur Sumsel Deskriptif analisis Dampak – dampak penambangan diberbagai sektor Menganalisis perbedaan jumlah produksi rajungan sebelum dan sesudah penambangan pasir laut. Dan menganalisis perubahan kesejahteraan nelayan dengan menggunakan surplus konsumen. Mengkaji pola ekstraksi aktual dan biaya ekstraksi. Mengestimasi nilai eksternalitas gangguan perikanan dan fungsi jalan, menetapkan nilai pajak dan laju ekstraksi optimal Uji perbedaan produksi dan surplus produsen Tingkat pengaruh pertambangan terhadap morfologi rajungan dan produktivitas nelayan Valuasi ekonomi, keseimbanga n marginal, maksimisasi keuntungan bersih saat ini Nilai eksternalitas, nilai pajak, volume ekstraksi optimal dengan dan tanpa eksternalitas Noviana (2011) Parluhutan (2005) Edward (2012) Eksternalitas negatif dan laju ekstraksi penambangan pasir besi di Kabupaten Tasikmalaya Pada penelitian ini adalah perluasan dari penelitian yang dilakukan oleh Noviana (2011), Parluhutan (2005) dan Syaefuddin (2010). Penelitian ini menghitung secara ekonomi dampak kerusakan jalan dari lalu lintas kendaraan pengangkutan pasir , perubahan tangkapan nelayan akibat pencemarani. Penelitian ini juga menentukan tingkat pajak yang harus dikeluarkan perusahaan penambangan. Pajak ini kemudian dijadikan internalisasi biaya produksi dalam rangka menentukan laju ekstraki optimal dalam penambangan. 26    BAB III KERANGKA PEMIKIRAN Eksploitasi sumber daya alam hampir selalu menimbulkan dampak lingkungan.Undang-Undang nomor 32 tahun 2009 yang menyatakan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah wajib mengembangkan dan menerapkan instrumen ekonomi lingkungan hidup dalam rangka menerapkan fungsi lingkungan hidup termasuk untuk mengatasi eksternalitas negatif. Dalam Tahapan awal penelitian ini adalahmengkaji bagaimana pola ekstraksi penambangan pasir besi selama ini. Kajian ini dilakukan untuk melihat apakah ekstraksi selama ini telah memasukkan instrumen ekonomi dalam menetapkan kuota produksi dalam usaha penambangan. Sebagai sektor yang berbasis sumberdaya, maka pengambilan pasir besi sering mengalami permasalahan berupa kerusakan sumberdaya itu sendiri. Oleh karena itu, agar pemanfaatan ekonomi penambangan pasir besi dapat optimal, maka perlu diperhitungkan dampak kerusakan sumberdaya yang terjadi akibat eksploitasi sumberdaya tersebut. Fungsi eksternalitas diperkirakan dengan penerapan metoda valuasi ekonomi terhadap kerusakan sarana infrastruktur jalan akibat proses pengangkutan pasir besi. Penilaian kerusakan dinilai dari biaya peningkatan waktu tempuh dan konsumsi bahan bakar minyak kendaraan roda 2 dan 4 yang melalui jalan disepanjang pengangkutan pasir besi. Kehilangan produksi pada nelayan dinilai dengan metoda efek produktivitas nelayan akibat adanya penambangan pasir besi selama 5 tahun terakhir, dimana asumsi yang dibangun bahwa penurunan produktivitas perikanan disebabkan oleh penambangan pasir besi.Semua nilai eksternalitas tersebut nantinya dijadikan sebagai proxy fungsi eksternalitas terhadap kuantitas produksi pasir besi. Untuk memperkirakan fungsi biaya dari penambangan pasir besi di Kabupaten Tasikmalaya, menggunakan analisis regresi menggunakan data cross sectionperusahaan penambangan pasir besi. Laju ekstraksi optimal dengan mempertimbangkan eksternalitas diperkirakan dengan analisis maksimisasi net revenue present value (NRPV). Pengertian optimal di sini adalah tingkat ekstraksi dari waktu ke waktu yang memaksimumkan nilai sekarang dari total keuntungan bersih kegiatan ekstraksi 27   pasir besi. Proses mengestimasi hubungan antara laju ekstraksi dan ekstraksi kumulatif dengan dampak lingkungan, bukanlah pekerjaan yang mudah. Setiap alternatif harus menyajikan manfaat biaya eksploitasi (tetap dan variabel), serta biaya lingkungan. Terakhir berdasarkan nilai eksternalitas yang disebabkan oleh penambangan pasir besi, maka dapat ditentukan pajak lingkungan dengan analisis keseimbangan marginal antara manfaat sosial dan biaya privat serta biaya sosial.Kerangka penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 3. Gambar 3 Kerangka Penelitian Eksternalitas Negatif Dan Laju Ekstraksi Optimal Penambangan Pasir Besi 28    BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Cipatujah Kabupaten Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi ini disebabkan karena potensi cadangan pasir besi di Kabupaten Tasikmalaya telah dieksploitasi cukup besar, namun proses penambangannya masih banyak menimbulkan masalah lingkungan (eksternalitas negatif). Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Februari-April 2012. 4.2 Jenis dan Sumber Data Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui pengamatan langsung dan wawancara dengan responden menggunakan daftar pertanyaan (kuesioner). Responden yang diamati yaitu nelayan, masyarakat pengguna jalan yaitu kendaraan roda 2 dan 4.Data yang diperoleh dari nelayan adalah biaya produksi dan jumlah produksi serta jumlah effort. Masyarakat pengguna jalan menggunakan kendaraan diwawancarai untuk mendapatkan data tambahan waktu tempuh akibat jalan rusak. Data sekunder diperoleh dari studi literaturdan data-data statistik yang berasal dari instansi-instansi terkait seperti Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Tasikmalaya, dan perusahaan pasir besi. Studi literatur dibutuhkan untuk membandingkan kecepatan aktual dan konsumsi BBM kendaraan roda dua dan empat pada jalan kondisi normal. 4.3 Metode Pengumpulan Data Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode purposivesampling, yaitu metode pengambilan sampel yang dipilih secara sengaja berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Elemen utama sampel dalam penelitian ini terdiri atas dua kelompok responden. Kelompok responden pertama adalah nelayan, kelompok responden kedua adalah masyarakat pengguna jalan dengan menggunakan sepeda motor dan kendaran roda empat yang ditemui di lokasi penelitian. Analisa struktur biaya produksi diambil 5 perusahaan pasir besi yang memiliki izin usaha pertambangan yang ada di Kecamatan Cipatujah. 29   Analisa kerusakan jalan, sampel adalah ruas jalan yang dilalui dari Kecamatan Cipatujah-Kalapagenep. Sektor perikanan sampel adalah nelayan perikanan tangkap yang berdomisili di Kecamatan Cipatujah. Pengumpulan data primer menggunakan teknik wawancara yang dipandu dengan menggunakan kuesioner.Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 2 dibawah. Pengambilan data primer melalui kuisioner terhadap 67 kendaraan pengguna jalan (56 sepeda motor dan 11 mobil penumpang). Wawancara mendalam juga dilakukan untuk mendapatkan informasi dari 3 orang informan kunci yang memiliki kompetensi untuk menjelaskan mengenai keberadaan penambangan pasir besi di Kabupaten Tasikmalaya, dan 5 orang nelayan untuk mendapatkan struktur biaya perikanan tangkap secara umum. Tabel 2 Rincian Informan dan Sampel No 1 2 3 4 5 Informan Kunci dan Sampel Pejabat Dinas Perikanan Pejabat Dinas ESDM Pejabat Dinas PU dan Pengairan Nelayan Cipatujah Masyarakat Pengguna Jalan Sepeda Motor Mobil penumpang Jumlah Jumlah (org) 1 1 1 5 56 11 75 Data sekunder penelitian ini digunakan berupa data urut waktu (time series) yang meliputi data landing produksi perikanan tangkap, harga ikan per kilogram per tahun dan indeks harga konsumen (consumers price index), biaya dan jumlah produksi perusahaan penambangan pasir besi, kondisi ekonomi lokal dan regional di wilayah studi, dan tulisan di media massa mengenai eksternalitas penambangan pasir besi. Dalam memperkirakan nilai kerusakan jalan yang berakibat pada meningkatnya biaya bahan bakar, dibutuhkan data pemakaian bahan bakar ratarata kendaraan roda dua dan empat. Kerugian peningkatan waktu tempuh dibutuhkan data series upah minimum Kabupaten Tasikmalaya sebagai proxy pendapatan responden pengguna jalan dengan kendaraan pada tahun 2007-2010. 30    Tabel 3 Matriks Penelitian No 1 Tujuan Mengkaji pola ekstraksi aktual dan biaya produksi aktual Mengestimasi nilai eksternalitas negatif akibat penambangan pasir besi terhadap kerusakan jalan dan perikanan. Metoda Analisis Deskriptif Jenis Data Produksi Aktual penambangan Sumber Data Laporan produksi perusahaan Penilaian ekonomi kerusakan jalan efek dalam produktivitas pengguna jalan dan efek dalam produktivitas perikanan Data primer &sekunder 1. Jumlah kendaraan yang melintas pada masing -masing kelas jalan dalam kondisi jalan yang layak (Lv) 2. Harga bahan bakar minyak (Pbbm) 3. Jumlah rata – rata kendaraan pertahun (Lv mean) 4. Kecepatan kendaraan pada kelas jalan dalam kondisi layak (Vg) 5. Jumlah kendaraan yang melintas pada kondisi jalan rusak (nLv) 6. Kecepatan kendaraan pada kelas jalan pada kondisi rusak (Vb) 7. Biaya rata –rata bahan bakar pada kecepatan normal (ACg) 8. Biaya rata – rata bahan bakar pada kondis jalan rusak (ACb) 9. Waktu tempuh pada kondisi jalan layak (tg) 10. Waktu tempuh pada kondisi jalan rusak (tb) 11. Pendapatan pengguna jalan (roda 2 & 4) 12. Jumlah produksi perikanan tangkap PPI Pamayangsari 13. Harga rata – rata produk perikanan, IHK tasikmalaya Dinas pekerjaan umum, dinas lalu lintas, bina marga, studi literatur, kuisioner, tally sheet,DKP,BPSKab.Tasikmalaya 3 Menentukan laju ekstraksi optimal dengan memperhitungkan eksternalitas. Hotelling rule (NPV) Dinas ESDM, Perusahaan pasir besi 4 Mengestimasi nilai pajak untuk setiap output pasir besi Persamaan garis linier dua titik Data sekunder 1. Cadangan terbukti pasir besi tahun (S) 2. Jumlah ekstraksi tahunan (Qt) 3. Harga jual pasir besi rata –rata (P) 4. Lama rata – rata Izin konsesi pasir besi (T) 5. Biaya produksi rata – rata perton pasir besi (C ) Data dikaitkan dengan hasil perhitungan eksternalitas tujuan dua 2 31 31   4.4 Analisis Data Untuk menjawab pertanyaan penelitian ini, beberapa analisis yang digunakan adalah sebagai berikut : 4.4.1 Pola Ekstraksi Aktual Kajian mengenai ekstraksi aktual yang ada selama ini menggunakan data laporan produksi beberapa tahun terakhir, sehingga dapat dilihat penyimpangan apa saja yang terjadi dalam ekstraksi pasir besi. Hasil kajian tersebut digunakan untuk melihat kecenderungan jumlah produksi dibandingkan dengan pola ekstraksi optimal. 4.4.2 Analisis Kerusakan Lingkungan a. Nilai Kerusakan Jalan Metode valuasi ekonomi yang digunakan adalah pendekatan valuasi ekonomi berdasarkan biaya (cost–basedvaluation), dengan menghitung peningkatan biaya bahan bakar dan peningkatan waktu tempuh akibat kerusakan jalan.Valuasi diterapkan terhadap peningkatan waktu tempuh rata-rata dua jenis kendaraan yaitu kendaraan roda empat dan sepeda motor. Kehilangan waktu tempuh ini akan berkaitan langsung dengan kehilangan kecepatan kendaraan dijalan yang secara tidak langsung berasosiasi dengan peningkatan konsumsi BBM karena kendaraan berjalan lebih lambat. Nilai kerusakan dihitung dengan nilai yang hilang akibat kondisi jalan yang tidak baik, yaitu nilai tambahan waktu perjalanan, dan biaya penambahan konsumsi BBM berdasarkan rumus sebagai berikut: ∑ ...……….………….(1) Cjln = Nilai kerusakan jalan (Rp) WTn = Waktu tempuh pada jalur pengangkutan pasir besi saat jalan rusak WT0 = Waktu tempuh pada jalur pengangkutan pasir besi saat jalan tidakrusak BTn = Konsumsi BBM kendaraan seharusnya BTo = Konsumsi BBM kendaraan saat penelitian I = pendapatan rata-rata responden E = damage factor kontribusi truk pasir besi terhadap kerusakan jalan (i,j adalahmobil penumpang, sepeda motor), Firdaus (1999) dalam Mudjiatko (2006) menerangkan Damage factor adalah nilai daya rusak kendaraan terhadap jalan yang diakibatkan oleh beban 32    sumbu kendaraan yang melaluinya. Nilai daya rusak ini sebanding dengan pangkat empat sampaidengan pangkat lima dari beban itu sendiri. Untuk nilai damage factor dari keberadaan kendaraan pengangkutan pasir besi terhadap kerusakan jalan didapatkan dengan dengan rumus LIDDLE sebagai berikut : . Dimana : …………………………………………(2) L = Beban Sumbu Kendaraan (ton) k = 1 : untuk sumbu tunggal k = 0.086 : untuk sumbu tandem k = 0.021 : untuk sumbu triple Rumus diatas mengindikasikan bahwa samakin berat suatu kendaraan yang lewat makaakan semakin besar tingkat kerusakan yang diakibatkannya terhadap konstruksi jalan. b. Nilai Perubahan Produktivitas Perikanan Teknik pengukuran perubahan produktivitas inidihitung berdasarkan jumlah perubahan output perikanan akibat adanya penambangan pasir besi didaerah pantai.Formula perhitungan menggunakan rumus (Fauzi dan Anna 2005): ………………………………………(3) Keterangan: DNP = Perubahan Nilai Produksi pada periode t (Rp) NOt = Nilai Output pada Periode t (Rp) Xt = Output pada periode t (Kg) DW = Perubahan Produktivitas (Kg) Perubahan produktivitas diukur berdasarkan rumus (4) dan (5) berikut: ∑ – …………………………………………..(4) …………………………………………..(5) adalah produktivitas rata-rata dari tahun ke 1 sampai tahun basis (Tb ), tahun basis adalah tahun dimana perubahan produktivitas terjadi, n adalah jumlah tahun pengamatan. 33    4.3 Analisis Laju Ekstraksi Optimal Pasir Besi Tanpa Dan Dengan Adanya Eksternalitas Negatif Laju ekstraksi optimal tanpa adanya eksternalitas didapatkan dengan teknik memaksimisasi keuntungan menggunakan rumus Hotelling. Langkah pertama kita harus menghitung fungsi biaya a. Menentukan fungsi biaya ( penambangan pasir besi dilakukan dengan analisa regresi ; …………………………………………….(6) Fungsi penerimaan (TR) didapatkan dari regresi jumlah produksi Qt dengan total penerimaan penjualan. b. Maksimisasi fungsi f( p, , Max PVNR = ∑ TR , ………………………………………..(7) ,Ct) adalah ………………………….…(8) Dengan kendala S 0 > 0 ρ adalah tingkat diskonto, T adalah tahun izin pertambangan hasil optimasi. Penentuan tingkat diskonto dalam model ini menggunakan tingkat bunga ratarata lima tahun (2007-2011) suku bunga Bank Indonesia. Permasalahan maksimisasi dengan kendala diatas disusun dalam suatu ekspresi Persamaan Langrangian. Persamaan Langrangian kemudian digunakan untuk memecahkan persoalan optimasi dinamik dalam bentuk diskrit. Model yang akan dibangun berusaha memaksimumkan nilai sekarang dari total keuntungan bersih yang diterima di masa yang akan datang. Manfaat bersih didefinisikan sebagai pendapatan dari kegiatan eksploitasi dikurangi biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan dan biaya yang secara tidak langsung ditanggung oleh masyarakat. Disini akandidapatkan laju ekstraksi optimal pada setiap periode ekstraksi. Persamaan 8 diatas akan menghasilkan estimasi laju ekstraksi tanpa pertimbangan eksternalitas, selanjutnya persamaan 8 diatas dapat dimodifikasi untuk mendapatkan berapa lama laju ekstraksi dengan mempertimbangkan eksternalitas dalam fungsi biaya sebuah perusahaan penambangan. Langkah pertama adalah menjumlahkan kembali fungsi biaya perusahaan menjadi biaya produksi (Ct) eksternalitasnya (Ceks) sehingga fungsi biaya total: 34    ………………………………………. (9) Proses maksimisasi dengan pertimbangan eksternalitas harus menggunakan persamaan 9 yang telah dimodifikasi menjadi Max PVNR = ∑ TR ………………….…(10) Dengan kendala S >0 4.4.4 Analisis Tingkat Pajak Lingkungan Pajak yang tepat akibat eksternalitas negatif yang ditimbulkan oleh kegiatan penambangan pasir besi diperkirakan dari keseimbangan sosial antara fungsi permintaan dan penawaran pasir besi. Fungsi penawaran (Qs) diestimasi dari kurva biaya marginal (MC) yang berada diatas biaya variabel rata-rata (AVC). Kurva permintaan (Qd) diestimasi dari kurva penerimaan marginal (MR). Fungsi penawaran ……………………………………..(11) Fungsi permintaan …………………………………….….(12) Penyelesaian fungsi permintaan dan penawaran tersebut akan menghasilkan nilai perkiraan tingkat pajak yang optimum pada saat jumlah produksipasir besi dengan mempertimbangkan eksternalitas memenuhi: ………………………………………...(13) ……………………………………….(14) Dimana: MB = marginal benefit MC = Marginal privat cost, MSC = Marginal social cost MD=marginaleksternalitas/kerusakaan. 35    4.5 Batasan dan Pengukuran 1. Dampak penambangan pasir besi yang dinilai hanya pada dua sektor, yaitu jalan dan perikanan. 2. Dampak lingkungan kerusakan jalan dinilai dari perubahan waktu tempuh dan peningkatan konsumsi BBM, sedangkan dampak lain seperti pencemaran udara, kesehatan masyarakat, biaya perawatan jalan, dan perawatan kendaraan belum tercakup dalam penelitian ini. 3. Jumlah tangkapan adalah jumlah berat tangkapan untuk semua jenis tangkapan di PPI Pamayangsari oleh perahu dibawah 1 GT tanpa membedakan perjenis spesies tangkapan. 4. Harga pasir besi adalah harga jual dalam bentuk konsentrat pasir atau magnetic degree (MD). 5. Stok atau cadangan terbukti adalah stok awal saat perizinan perusahaan tambang tanpa ada penambahan stok. 6. Laju ekstraksi optimal dengan eksternalitas disini adalah kondisi rente pengambilan pasir besi dengan adanya pajak lingkungan sama dengan tingkat diskonto. 7. Tingkat suku bunga yang digunakan adalah tingkat suku bunga nominal Bank Indonesia tahun 2007 – 2011. 8. Untuk mengurangi dampak depresiasi nilai mata uang, semua nilai dalam penelitian ini telah dikonversi kedalam nilai riil. 4.6 Asumsi Penelitian 1. Nilai eksternalitas yang dihitung saat penelitian diasumsikan menjadi nilai eksternalitas untuk tahun 2011, dan dijadikan sebagai dasar estimasi dalam interpolasi nilai eksternalitas tahun 2007-2010. 2. Kurva biaya diasumsikan bersifat polinomial kuadratik bahwa biaya ekstraksi dipengaruhi oleh jumlah produksi (Q). Turunan pertama variabel total biaya (C terhadap tingkat produksi Q positif (C > O), kemudian variabel total biaya (C terhadap tingkat produksi Q(C> 0). Asumsipertama dan kedua menggambarkan bahwa bentuk fungsi biaya terhadap tingkat produksi adalah convex. Asumsi ini menjelaskan bahwa semakin besar jumlah cadangan pasir besi, maka total biaya cenderung mengecil dan sebaliknya, semakin kecil 36    jumlah cadangan yang tersisa, maka biaya ekstraksi perunitnya semakin besar. Justifikasi dari asumsi ketiga ini mengacu pada idenya Ricardo(1817) dalam Halimatusadiah (2000) yang menyatakan bahwa deposit exhaustible resources dengan kualitas yang lebih tinggi (yang berarti memerlukan biaya yang lebih rendah) akan digarap terlebih dahulu dibanding deposit dengan kualitas rendah. Hal ini sama dengan yang tejadi pada tanah pertanian (Fisher1981:24) dalam Halimatusadiah (2004). Fungsi biaya ini diestimasi dengan menggunakan metode OLS (Ordinary Least Square) 3. Kondisi pasar dalam membentuk fungsi biaya adalah pasar persaingan sempurna. 4. Dampak yang ditimbulkan pada jalan, dan perubahan produktivitas perikanan diasumsikan disebabkan hanya oleh penambangan pasir besi. 5. Kurva eksternalitas bersifat non linier positif, dimana peningkatan produksi pasir besi menyebabkan peningkatan nilai kerusakan lingkungan. 37    BAB V GAMBARAN UMUM 5.1 Kondisi Umum Wilayah Penelitian Kabupaten Tasikmalaya secara geografis terletak di antara 7º02’-7º50’ lintang selatan dan 109º97’-108º25’ bujur timur (BT). Batas-batas wilayah di sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Ciamis dan Kota Tasikmalaya, sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Ciamis, sebelah Selatan berbatasan dengan Samudra Indonesia, dan di sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Garut. Luas wilayah Kabupaten Tasikmalaya adalah 271.252 hektar dan 220.045 hektar diantaranya dipergunakan sebagai lahan pertanian dan 51.207 hektar merupakan lahan bukan pertanian. Kabupaten Tasikmalaya terdiri atas 39 kecamatan yang dibagi lagi atas 351desa dan kelurahan. Sebagian besar wilayah Kabupaten Tasikmalaya merupakan daerah perbukitan, khususnya di daerah Timur kabupaten. Beberapa berupa pegunungan, seperti yang terletak di bagian barat laut dimana terdapat pegunungan Galunggung.Ketinggian rata-rata dari kabupaten ini adalah 200 hingga 500 meter dpl.Hanya 13,05% bagian dari kabupaten yang terletak di dataran rendah dengan ketinggian dari 0 hingga 200 meter diatas permukaan laut (DPL). Sisanya menjulang hingga ketinggian puncak Gunung Galunggung 2.168 meter. Perekonomian Tasikmalaya umumnya bertumpu pada sektor pertanian, peternakan, dan perikananserta sektor pertambangan, seperti pasir Galunggung yang memiliki kualitas cukup baik bagi bahan bangunan, industri, dan perdagangan. Komoditi unggulan Kabupaten Tasikmalaya sektor pertambangan lainnya adalah emas, andesit, batu gamping, bentonit, bijih besi, pasir besi. Pada sub sektor perkebunan komoditi yang diunggulkan berupa kakao, kopi, kelapa, karet, cengkeh, lada, nilam dan teh. Pada sektor pariwisata didominasi oleh wisata alam, wisata adat dan budaya. 39    Gambar 4 Peta lokasi Kabupaten Tasikmalaya Wilayah Kecamatan Cipatujah berjarak sekitar 75 Km dari Ibukota Kabupaten Singaparna.Akses menuju Kecamatan Cipatujah tersedia transportasi umum menyusuri jalan beraspal yang cukup lebar dari Kota Tasikmalaya atau Singaparna. Kecamatan Cipatujah terdiri dari tanah darat, tanah sawah, hutan, sungai serta pegunungan, dengan luas 24.465,450 Ha. Kecamatan Cipatujah merupakan kecamatan yang terluas di Kabupaten Tasikmalaya. Topografi Kecamatan Cipatujah terdiri dari 2 bagian, yaitu dataran sepanjang daerah timur hingga selatan dan perbukitan landai tinggi sepanjang daerah utara hingga barat yang terdiri dari 15 desa. Keadaan tanah umumnya berupa pasir yang mengandung pasir besi, terutama dibagian garis pantai selatan sedangkan daerah utara, tanahnya merupakan tanah biasa yang banyak dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian. Kondisi geografis yang beragam memunculkan pemanfaatan yang beragam pula. Pada dataran rendah, terdapat banyak pohon kelapa, albasiah dan padi tadah hujan. Pada daerah tepi pantai, terdapat kegiatan pengerukan pasir besi seperti dibagian Barat Desa Ciheras, Ciandum dan CikawungAding. Kondisi sarana jalan umum pada desa yang ada di Kecamatan Cipatujah kurang dari memuaskan.Kondisi jalan terparah adalah jalur menuju Desa Ciandum, Ciheras, Pamayang, dan Cikawungading yang mengalami kerusakan hingga Desa Kalapagenep.Dapat kita lihat pada Tabel 4, ruas jalan CipatujahKalapagenep dengan total panjang 33,74 Km hanya 1,2 Km yang baik pada tahun 2011. Selebihnya dalam kondisi rusak sedang, rusak ringan dan rusak berat.Ini menunjukkan kondisi dimana, keberadaan jalan tidak akan mampu melayani aktivitas masyarakat. 40    Tabel 4 Panjang Kerusakan Kondisi Jalan Ruas Cipatujah Kalapagenep 2011 Ruas Jalan Kondisi Panjang (Km) Cipatujah - Kalapagenap Panjang 33,740 Km Lebar (4,5 - 5 M) Baik Sedang Rusak Ringan Rusak Berat Jumlah Sumber : Dinas Bina Marga Prov. Jabar (2012) Kondisi 1,2 5,95 17,24 9,35 33,74 jalan lebih sulit lagi dan nyaris tak bisa dijangkau pada saat hujan.Kerusakan ini diakibatkan olehbanyaknya kegiatan penambangan terutama penambangan pasir besi di Kecamatan Cipatujah beberapa tahun terakhir. 5.2 Sosio Demografi Wilayah Penelitian 5.2.1 Jumlah Penduduk dan Mata Pencaharian Kecamatan Cipatujah adalah yang terluas di Kabupaten Tasikmalaya. Mayoritas penduduknya adalah etnis sunda priyangan. Jumlah penduduk pada tahun 2011 adalah sebanyak 61.631 jiwa dengan rincian laki-laki 30.865 jiwa, perempuan 30.766 jiwa. Penduduk tersebut terdiri dari 17.163 kepala keluarga dengan kepadatan penduduk adalah 370 Jiwa/ Ha. Mayoritas penduduk bermata pencaharian sebagai petani, diikuti pedagang dan nelayan dengan jumlah persentase petani 45%, pedagang 25%, Nelayan 11%, PNS/ TNI/ Polri 7%, Peternak 7 %, swasta 4 %, pensiunan 1 %. Dibidang ekonomi, komoditas pertanian yang biasa ditemukan adalah padi, gula merah dari kelapa, pisang, kelapa, kayu albasiah. Pola tanam lahan pertanian terutama tanaman padi tidak beraturan tanpa ada irigasi sehingga pengairan untuk sawah umumnya adalah tadah hujan. Pada sektor peternakan, jenis ternak yang dominan dipelihara adalah sapi, kambing, dan bebek. Pola ternak peternak dilakukan secara konvensional, yaitu ternak dibiarkan merumput di lapang atau diberi makan di kandangnya. Pakan bagi ternak berupa rumput alami, ampas tahu, dan konsentrat.Pada bidang perikanan, perikanan tangkap adalah salah satu penggerak ekonomi masyarakat Kecamatan Cipatujah. Pola melaut para nelayan yang diterapkan selama ini adalah menjala, memancing dan kemudian hasil tangkapan dijual kepasar domestik seperti Kota Cirebon dan Tasikmalaya serta ekspor ke beberapa negara tetangga. 41    5.2.2 Pendidikan Dibidang pendidikan, institusi pendidikan yang berada di Kecamatan Cipatujah terdiri dari jenjang TK hingga SMAyang baru beberapa tahun terakhir berdiri dipusat kecamatan. Pendidikan lain yang terselenggara adalah sekolah diniyah untuk anak sekolah dasar. Sarana pendidikan di Kecamatan Cipatujah yaitu terdapat empat SD negeri, satu MI, dan satu SMP, satu SMA. Sarana pendidikan tersebut adalah SDN Ciheras, SDN Datarkihiang, SDN Cisanggar, SDN Cipari, MI Al-Hasanah, dan SMPN 3 Cipatujah dan SMA Kecamatan Cipatujah. Keberadaan sarana pendidikan tersebut sangat minim, sehingga menyebabkan banyak penduduk Kecamatan Cipatujah yang tidak bisa melanjutkan sekolah, kecuali bagi penduduk yang memiliki kemampuan untuk bersekolah diluar kecamatan. Hal ini tergambar dengan tingkat pendidikan Kecamatan Cipatujah pada Tabel 5 berikut ini. Tabel 5 Tingkat Pendidikan Penduduk Kecamatan Cipatujah Tingkat Pendidikan Formal Jumlah (jiwa) % 28635 46% SD dan SMP 31224 SLTA/ Aliyah 1374 Perguruan Tinggi 398 Jumlah 61631 Sumber : Kecamatan Cipatujah Dalam Angka (2011) 51% 2% 1% 100% Tidak Tamat SD Sebanyak 46% penduduk tidak dapat menamatkan pendidikan dasar, dan 51% penduduk hanya menamatkan pendidikan dasar dan SMP. Bahkan penduduk yang berhasil menamatkan pendidikan hingga jenjang SLTA dan perguruan tinggi masing-masing hanya sekitar 2 dan 1%. Keadaan ini mengindikasikan bahwa sektor pendidikan perlu mendapat perhatian lebih dari semua pihak. 5.3 Gambaran Umum Kegiatan Penambangan Kecamatan Cipatujah 5.3.1 Morfologi Bebatuan Pembentuk Pasir Besi di Lokasi Penelitian Endapan pasir yang terdapat didaerah Kabupaten Tasikmalaya adalah endapan Placer Mekanisa dengan mineral utama adalah magnetic( Fe3O4), Hematite (Fe2O3), dan Ilmenit (FeTiO3). Batuan asal dari endapan ini diperkirakan adalah batuan andesit dan breccia yang terdapat dipegunungan- 42    pegunungan sebelah utara Pantai Selatan Pulau Jawa. Andesit ini merupakan batuan beku dari lelehan magma diorite yang umumnya berwarna kelabu. Akibat proses pelapukan dan erosi, maka batuan andesit tersebut akan lapuk dan hancur, kemudian dibawa kearah pantai melalui aliran sungai. Selama ditransformasikan juga terjadi proses pemisahan antara mineral berat dan mineral ringan. Daerah ini mempunyai topografi dengan elevasi berkisar 0-25 meter diatas permukaan laut. Arus laut yang kuat menyebabkan mineral-mineral tersebut akan terhempas kepantai dan terakumulasi membentuk endapan pasir besi. 5.3.2Institusional Penambangan Pasir Besi Penambangan pasir besi sebenarnya telah dimulai semenjak awal tahun 2000an. Pada awalnya penambangan hanya bersifat tambang rakyat dan sekedar memenuhi permintaan bahan bangunan. Kondisi ini berubah, dan puncaknya pada tahun 2011 isu penambangan pasir besi di Kabupaten Tasikmalaya sudah menjadi isu nasional akibat dari kerusakan lingkungan dan kerusakan infrastruktur jalan. Beberapa permasalahan mencuat akibat kegiatan penambangan pasir besi. Turunnya daya dukung lingkungan akibat rendahnya kesadaran pengelolaan lingkungan. Hal ini tercermin pada kegiatan reklamasi dan rehabilitasi lahan bekas tambang belum dilakukan secara optimal dan tidak memperhatikan ketentuan yang tertuang dalam dokumen lingkungan (AMDAL/UKL – UPL). Pada tahapan penambangan banyak kegiatan penambangan yang dilakukan di kawasan yang tidak diperbolehkan (kawasan lindung) seperti sempadan pantai dan sungai. Praktek seperti ini sangat tidak sesuai dengan kaidah-kaidah penambangan yang baik dan benar. Sistem pengangkutan dengan memanfaatkan jalan umum, juga menyebabkan terjadinya kerusakan infrastruktur jalan akibat pengangkutan hasil tambang yang melebihi batas tonase angkutan yang diperbolehkan. Secara administrasi para pemegang IUP operasi produksi tidak menyampaikan pelaporan-pelaporan dan dokumen yang diperlukan yang menjadi kewajibannya. Hal ini menyebabkan proses penambangan tidak terawasi oleh pemerintah, baik secara operasional maupun administrasi. Akibatnya banyak terjadi penyimpangan yang menyebabkan beragam tuntutan oleh masyarakat mengharapkan ditutupnya kegiatan penambangan pasir besi. Dewan perwakilan rakyat Kabupaten Tasikmalaya menanggapi permasalahan ini dengan 43    mengeluarkan surat dari Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Tasikmalaya Nomor 170/1600/DPRD tanggal 27 Juni 2011 perihal Pernyataan Sikap DPRD Kabupaten Tasikmalaya yang mendorong Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya agar segera menertibkan kegiatan pertambangan pasir besi. Suratini isinya berkaitan dengan : • • • • Penataan ulang proses perizinan pertambangan, kegiatan penambangan, wilayah pertambangan. Penghentian sementara pemrosesan perizinan pertambangan mineral logam baik baru maupun perpanjangan. Perencanaan pembangunan instalasi pengolahan dan pemurnian. Penertiban dan penghentian kegiatan penambangan pasir besi tanpa izin (Ilegal Mining). Kemudian di tingkat provinsi juga dikeluarkannya Peraturan Gubernur Nomor 31 Tahun 2011 Tentang Pedoman Pengelolaan Pertambangan Mineral Logam Besi yang berisi : • • • • • • Sebagai pengganti Peraturan Gubernur Nomor 19 Tahun 2006, yang disesuaikan dengan peraturan perundang-undangan terbaru (UU No. 4/2009, PP 22 dan 23 Tahun 2010); Perubahan penamaan dari “pasir besi” menjadi “mineral logam besi”. Kewajiban penyiapan instalasi pengolahan dan pemurnian; Pelarangan kegiatan penambangan pada :sempadan pantai, sempadan sungai, lepas pantai/bawah permukaan laut Pengaturan tentang pengangkutan dan penjualan terutama yang menggunakan infrastruktur pemerintah provinsi. Pemegang IUP wajib berperan serta melaksanakan pemeliharaan jalan provinsi, jalan kabupaten/kota dan jalan desa yang dilalui. Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya berupaya melakukan pembenahan tata kelola kegiatan pertambangan pasir besi di Kabupaten Tasikmalaya. Kebijakan tersebut diantaranya menerbitkan moratorium (penghentian sementara) berupa penghentianpemrosesan dan penerbitan Izin Usaha Pertambangan (IUP) Eksplorasi dan Operasi Produksi melalui Instruksi Bupati Tasikmalaya Nomor 2 Tahun 2011 tanggal 10 Mei 2011 tentang Penangguhan Penerbitan Izin Usaha Pertambangan (IUP) di wilayah Kabupaten Tasikmalaya. Penghentian sementara tersebut meliputi kegiatan konstruksi, penambangan, pengangkutan dan penjualan. Pencabutan/pembatalan IUP terhadap IUP-IUP yang bermasalah baik secara 44    administrasi, teknis dan termasuk IUP yang dokumen lingkungannya dinyatakan tidak berlaku/kadaluarsa dan rekomendasi lingkungannya dicabut. Tindakan tegas juga dilakukan berupa penertiban dan penindakan hukum terhadap para penambang tanpa izin (PETI). 5.3.3 Dampak Ekonomi Penambangan Pasir Besi a. Serapan Tenaga Kerja Keberadaan suatu aktivitas ekonomi tentunya akan berdampak pada terbukanya lapangan pekerjaan baru. Penambangan pasir besi selain berdampak negatif juga berdampak positif terhadap penyerapan tenaga kerja di Kecamatan Cipatujah. Proses penambangan dan pencucian pasir besi yang sederhana menyebabkan pekerjaan tidak harus dikerjakan oleh pekerja dengan keahlian khusus. Secara garis besar pada tahap penambangan pasir besi membutuhkan 1015 orang/ hari pekerja kasar untuk menambang hingga 100-130 m3. Pada proses pencucian pasir besi juga membutuhkan 8-10 orang tenaga buruh kasar/hari. Pada umumnya pekerja ini dibayar sebanyak Rp.40.000-50.000/ hari. b. Pajak Desa Biaya yang dibayarkan untuk kas desa adalah rutin untuk setiap tonase pasir besi yang dihasilkan. Besarnya pajak yang diterima oleh desa sangat tergantung kepada negosiasi antara kepala desa dengan perusahaan penambangan pada saat kontrak awal dilakukan. Sebagai contoh di Desa Cikawungading, perusahaan pasir besi harus membayar uang pembangunan desa sebesar Rp.50.000 untuk setiap tonase pasir besi yang dihasilkan. 5.3.4 Dampak Lingkungan Keberadaan kegiatan penambangan tidak akan pernah luput dari kerusakan lingkungan yang diakibatkannya. Begitu juga dengan kegiatan penambangan pasir besi di Kecamatan Cipatujah. Pada setiap tahapan penambangan sebenarnya telah ada standar operasional yang harus diterapkan agar kerusakan lingkungan dapat diminimalisasi. Akan tetapi penyimpangan dalam praktek dilapangan sering terjadi karena kurangnya kesadaran dan pengawasan pihak berwenang. Misalnya, pada tahapan pengupasan tanah pucuk, dimana tanah yang mengandung humus tinggi harus ditempatkan pada bidang lahan yang aman dari erosi dan ditanami tanaman penutup. Kenyataannya perusahaan penambangan tidak melakukan 45    prosedur seperti ini, sehingga proses erosi tanah humus ini tidak terhindarkan saat hujan terjadi. Ini berdampak terhadap pendangkalan sungai dan hilangnya sumber tanah saat pasca tambang. Proses pencucian pasir besi yang tidak berada pada lokasi penambangan, menyebabkan adanya tahapan pengangkutan pasir besi menuju washing plant yang melalui jalan umum. Proses pengangkutan melalui jalan umum juga dilakukan pada saat penjualan hasil tambang. Pengangkutan ini menyebabkan rusaknya ruas jalan dan meningkatnya volume debu akibat lalu lintas truk pengangkut pasir besi. Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak puskesmas Kecamatan Cipatujah saat penelitian, lalu lintas truk meningkatkan masyarakat penderita penyakit gangguan saluran pernafasan dan iritasi mata. Pada proses pencucian yang membutuhkan banyak air, mengharuskan perusahaan melakukan pembendungan sungai untuk menjamin pencucian pasir besi berjalan lancar. Pembendungan sungai ini akan menyebabkan beberapa lahan pertanian akan kekurangan air terutama pada musim kemarau. Kegiatan pencucian pasir besi juga tidak dilengkapi dengan proses pengolahan limbah yang benar, seperti menyediakan instalasi pengolahan air limbah maupun kolam pengendapan. Hasilnya, limbah hasil pencucian dibuang langsung ke sungai maupun laut sehingga menyebabkan perairan tercemar dan terganggunya kehidupan biota perairan sungai maupun laut. Pada tahap akhir penambangan, beberapa perusahaan tidak melakukan kegiatan reklamasi, sehingga lubang-lubang bekas galian dibiarkan menganga. Lubang-lubang ini pada saat hujan akan menggenang dan memicu bersarangnya nyamuk. Jika tidak segera ditutup maka perkembangan sarang nyamuk tersebut menyebabkan berbagai penyakit seperti malaria dan cikungunya. Tentunya kondisi ini sangat membahayakan kesehatan masyarakat, terutama yang mereka yang tinggal dekat dengan lokasi penambangan. Dalam jangka panjang kegiatan penambangan pasir besi dikawasan pesisir juga dapat merubah struktur gumuk pasir disepanjang pantai. Struktur gumuk pasir yang labil karena hilangnya penyangga alami dapat menimbulkan potensi abrasi yang lebih besar bahkan memicu dampak tsunami yang lebih dahsyat. Semakin meningkatnya luas penambangan pada daerah berhutan dan lahan 46    pertanian juga berakibat pada menurunnya keanekaragaman hayati dan berkurangnya ketahanan pangan masyarakat. 5.3.5 Dampak Sosial Pada umumnya disetiap daerah pertambangan terjadinya konflik antara perusahaan pertambangan dengan pihak disekitarnya adalah hal hampir tidak dapat dihindari. Apalagi kegiatan penambangan pasir besi di Kabupaten Tasikmalaya telah menyebabkan kerusakan pada fasilitas umum seperti jalan dan gangguan pada sektor perikanan. Berdasarkan pengamatan saat penelitian, walaupun tidak terjadi konflik yang anarkis, namun telah terjadi beberapa aksi demonstrasi masyarakat nelayan menuntut ditutupnya kegiatan penambangan pasir besi. Tuntutan ini menyusul berkurangnya tangkapan nelayan akibat air laut yang tercemar limbah pencucian pasir besi. Aksi demonstrasi lainnya adalah ketidakpuasan masyarakat akibat rusaknya ruas jalan akibat truk pengangkut pasir besi yang melebihi daya dukung jalan. Konflik lainnya berhubungan dengan penyerobotan lahan yang mengandung mineral pasir besi. Hal ini terutama terjadi pada izin usaha pertambangan lahan milik perhutani. Banyaknya kelompok-kelompok preman yang mem-backing perusahaan penambangan pasir besi, menyebabkan kegiatan penambangan dapat terus beroperasi walaupun status kepemilikan lahan belum jelas, keadaan ini disebabkan lemahnya penegakan hukum oleh aparat. Konflik lahan juga sulit dicegah pada pertambangan yang dilakukan oleh rakyat. Biasanya masyarakat melakukan penambangan pasir besi secara ilegal pada lahan milik perhutani dan sempadan sungai. Pengawasan penambangan ilegal ini sulit dilakukan karena masyarakat menebang beberapa sisi hutan dan lahan secara berkelompok dan berpencar. 5.4 Karakteristik Responden 5.4.1 Pengguna Jalan Dalam menilai kerusakan jalan yang mengakibatkan bertambahnya waktu tempuh dan konsumsi BBM kendaraan telah dilakukan pengamatan terhadap 67 orang sampel pengguna jalan. Komposisinya 11 pengendara kendaraan roda 4 dan 56 pengendara roda 2. Beberapa variabel yang diamati diantaranya, jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, jarak yang ditempuh, lama waktu tempuh, frekuensi 47    menggunakan jalan dalam sebulan serta pendapatan responden untuk kendaraan roda dua maupun roda empat. Sebaran jumlah jenis kelamin responden dan tingkat pendidikan menurut jenis kendaraan dapat dilihat pada Tabel 6. Sebagian besar responden yang diwawancarai adalah berjenis kelamin laki-laki karena memang pada kenyataanya yang lebih banyak mengendarai kendaraan didaerah Cipatujah adalah laki-laki. Persentase pengendara laki – laki dengan perempuan adalah 94% berbanding 6%. Tabel 6 Jenis Kelamin, Pendidikan Responden Jenis Kendaraan Kategori Roda 2 Roda 4 Jenis Kelamin Laki - Laki Perempuan Pendidikan Pendidikan tertinggi pendidikan terendah ≤ SMP SMA ≥ DIII Sumber : Data primer (2012) % 52 4 11 0 94% 6% D III SD 32 18 6 S1 SD 4 3 4 54% 31% 15% Tingkat pendidikan responden dikelompokkan menjadi tiga kelas tingkatan. Kelas pendidikan SMP kebawah, SMA dan DIII keatas. Rata-rata responden berpendidikan SMP kebawah dengan persentase 54%, dan SMA 31 % dan lebih dari DIII sebanyak 15 %. Dapat disimpulkan bahwa pendidikan responden relatif rendah. Rendahnya pendidikan responden di Kecamatan Cipatujah salah satunya disebabkan kurangnya lembaga sekolah, seperti SMA baru didirikan beberapa tahun terakhir dan lokasinyapun berada di ibukota kecamatan sehingga sulit diakses oleh responden. Pengakuan beberapa responden bahwa banyak penduduk tidak sanggup melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi dari SMP, ini juga disebabkan faktor ekonomi yang kurang memadai sehingga memaksa banyak responden harus putus sekolah. Variabel usia juga diamati pada responden pengguna jalan. Secara umum usia responden masih berada pada usia produktif dan dewasa. Tabel 7 menunjukkan usia, dimana rata-rata usia responden adalah 36 tahun untuk responden pengendara kendaraan roda dua dan 42 tahun untuk responden kendaraan roda empat. Tingginya usia produktif tentunya menunjukkan semakin 48    tinggi nilai kehilangan waktu tempuh dalam perjalanan yang dialami oleh responden. Tabel 7 Tingkat Umur Responden Jenis Kendaraan Roda 4 Roda 2 Kategori Umur Rata - Rata Umur tertua (tahun) Umur termuda (tahun) Jumlah Responden Sumber : Data primer (2012) 42 50 32 36 49 21 56 11 Jenis pekerjaan, responden pengguna jalan cukup bervariasi penyebarannya dapat dilihat pada Tabel 8. Ini menandakan pemanfaatan jalan ini sangat vital untuk beragam kegiatan masyarakat. Pekerjaan responden pengguna jalan di Kecamatan Cipatujah antara lain pengusaha, pedagang, PNS/ swasta, petani padi sawah, penyadap kelapa, nelayan, buruh, tukang ojeg dan lain-lain. Tabel 8 Jenis Pekerjaan Responden Pengguna Jalan Jenis Kendaraan Kategori Roda 2 Roda 4 Pengusaha/ Pedagang PNS/ Swasta Petani/Penyadap kelapa Nelayan Buruh Supir/ T. ojeg Lain - Lain Jumlah Responden Sumber : Data primer (2012) 1 7 15 11 5 4 13 56 3 4 0 0 0 4 0 11 % 6% 16% 22% 16% 7% 12% 19% 100% Berdasarkan hasil survei pekerjaan terbanyak adalah petani dan penyadap kelapa dengan persentase sebanyak 22%, selanjutnya nelayan 16%, pegawai negeri dan pegawai swasta sebanyak 16% sedangkan supir dan tukang ojeg sebanyak 12% dan yang berprofesi sebagai pengusaha serta masing-masing sebanyak 6%. Tingkat pendapatan dapat dilihat dari Tabel 9 berikut ini, dengan membagi pada tiga kelas tingkat pendapatan. Pendapatan responden sebagian besar masih kurang dari Rp.1.500.000/ bulan atau bisa dikategorikan rendah. Nilai ini terutama untuk responden pengendara sepeda motor dengan jumlah mencapai 50%. Responden yang memiliki pendapatan sedang dengan nilai Rp. 1.500.000- 49    2.500.000/bulan sebanyak 30%. Terakhir, responden yang berpendapatan tinggi diatas 2.500.000/ bulan sebanyak 19% dan didominasi oleh pengendara kendaraan roda empat. Pendapatan yang lebih tinggi untuk pengendara kendaraan roda empat sangat lazim, karena harga dan perawatan kendaraan roda empat relatif lebih tinggi sehingga hanya responden berpendapatan cukup tinggi yang dapat memiliki kendaraan roda empat. Responden pengendara kendaraan roda empat memiliki rata-rata pendapatan Rp. 2.913.000/bulan atau dapat dikatakan responden yang memiliki tingkat kehidupan lebih mapan, dibandingkan dengan pengendara kendaraan roda dua dengan pendapatan Rp.1.360.000/ bulan. Tabel 9 Klasifikasi Pendapatan Responden Pengguna Jalan Dalam Rupiah Kategori 500000 – 1500000 1500000 – 2500000 >2500000 Jumlah Responden Sumber : Data primer (2012) Tingkat Pendapatan Rendah Sedang Tinggi Jenis Kendaraan Roda 2 Roda 4 34 0 15 5 7 6 56 11 5.4.2 Nelayan Berdasarkan pengamatan dan wawancara yang dilakukan di PPI Pamayangsari kecamatan Cipatujah, diperoleh karakteristik sosial ekonomi responden nelayan seperti tertera pada Tabel 10 berikut. Tabel 10 Karakteristik Responden Nelayan Inisial Responden Umur (Tahun) A B C D E Jumlah Responden 27 47 40 45 30 5 Pendidikan SMP SD SD SD SMP Sumber : Data primer (2012) Responden rata-rata masih pada kisaran umur produktif, dimana umur tertua adalah 47 tahun dan termuda 27 tahun. Tingkat pendidikan responden secara umum adalahrendah, dan mayoritas berpendidikan sekolah dasar. Dari kelima responden, responden yang berprofesi sebagai nelayan tangkap tidak memiliki pekerjaan lain selain nelayan. Hal ini disebabkan karena pekerjaan sebagai nelayan tangkap membutuhkan waktu satu malam untuk melaut. 50    BAB VI POLA EKSTRAKSI AKTUAL DAN ANALISA EKONOMI PENAMBANGAN PASIR BESI 6. 1 Pola Ekstraksi Aktual Pasir Besi Kabupaten Tasikmalaya Kegiatan eksplorasi dan eksploitasi pasir besi di Kabupaten Tasikmalaya berada di sejumlah titik, antara lain di Desa Ciheras dan Cikawungading, Kecamatan Cipatujah, serta Desa Kalapagenep dan Cimanuk, Kecamatan Cikalong. Kegiatan eksploitasi pasir besi sebenarnya sudah ada sejak tahun 2000 di Desa Cimanuk yang hanya berupa tambang rakyat untuk memenuhi kebutuhan bahan bangunan. Baru pada tahun 2007 penambangan dengan melibatkan perusahaan atau badan usaha mulai diizinkan. Sebagian besar pengusahaan pertambangan pasir besi di wilayah Kabupaten Tasikmalaya merupakan IUP operasi produksi Pasir Besi yang diberikan kepada badan usaha, melalui Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Tasikmalaya.Disamping penambangan berizin juga terdapat 44 kelompok usaha pertambangan pasir besi tanpa izin dengan luasan dibawah 1.000 m2, dimana setiap kelompok terdiri dari rata-rata 10 orang. Izin penambangan pasir besi hingga saat ini telah dikeluarkan terhadap 25 perusahaan.Sebanyak 25 perusahaan tersebut tidak semuanya aktif beroperasi, beberapa perusahaan berhenti beroperasi setelah cadangan habis walaupun izin pertambangan belum berakhir. Sebagian perusahaan hanya aktif pada beberapa tahap penambangan, dan menyerahkan beberapa tahapan operasional lainnya kepada pihak lain. Hal ini menyalahi status izin usaha pertambangan yang dikeluarkan dinas kabupaten. Pelanggaran tersebut seperti pada kegiatan penambangan dilakukan oleh pihak lain, namun kegiatan pengolahan dan pencucian pasir besi dilakukan sendiri oleh perusahaan pemegang izin. 6.1.2 Tahapan Kegiatan Ekstraksi Pasir Besi Kegiatan penambangan pasir besi memiliki beberapa tahapan, tahap persiapan, meliputi perizinan (aspek legalitas), kegiatan eksplorasi, penyusunan dokumen AMDAL/UKL-UPL, kajian kelayakan tambang (feasibility study) perekrutan personil/pegawai,perencanaan tambang (mine plan design). Tahap 51    kegiatan penambangan/operasi produksi, meliputi mobilisasi peralatan, pembuatan sarana pendukung, pembersihan lahan (land clearing), pengupasan lapisan tanah pucuk dan tanah penutup (overburden), penggalian (digging), pengangkutan ke stockpile dan pengolahan (sorting, reduksi, pencucian dan pemurnian), pengangkutan (hauling) dari lokasi stockpile ataupun dari lokasi pengolahan ketempat pemasaran. Tahap penutupan/pasca tambang, perencanaan pengelolaan lingkungan, perencanaan kegiatan reklamasi yang meliputi rehabilitasi, revegetasi. 6.1.3 Sistem Tata Cara Penambangan Sistem penambangan yang digunakan dalam penambangan pasir besi di area Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi Produksi yang ada di Kabupaten Tasikmalaya adalah tambang terbuka (Open Pit Mining/Surface Mining). Pertimbangan yang mendasari adalah yaitu kondisi endapan pasir besi meliputi penyebaran lapisan endapan yang berbentuk relatif datar karena ciri khas dari sifat pengendapan mineral tersebut yang berupa endapan placer. Biaya produksi untuk operasional tambang terbuka relatif lebih murah namun memiliki dampak lingkungan yang lebih besar dibandingkan tambang bawah tanah. Dari segi teknologi tambang terbuka lebih mudah dalam meningkatkan produksi pasir besi. Penambangan terbuka ini dilakukan dengan sistem gali (digging) dan menimbun bekas galian (back filling) pada area bekas bukaan tambang untuk mengurangi penyempitan area. Pengupasan lapisan tanah penutup, baik top soil, overburden maupun interburden dilakukan secara bertahap dan dibuang pada disposal area atau ditimbun kembali pada area yang sudah digali. 6.1.4 Tahapan Kegiatan Penambangan a. Persiapan Kegiatan ini merupakan kegiatan tambahan yang bertujuan mendukung kelancaran kegiatan penambangan. Pada dasarnya pemegang IUP di Kabupaten Tasikmalaya melakukan aktivitas pembangunan sarana dan prasarana seperti jalan tambang dan stockpile penampungan sementara hasil konsentrat pasir besi. Kegiatan penambangan endapan pasir besi pada area IUP dimulai dari satu front penambangan pada setiap pit dan dilanjutkan ke pit yang lain pada setiap blok penambangan. 52    b. Pembersihan Lahan (Land Clearing) Pembersihan lapangan (land clearing) dimaksudkan untuk membersihkan daerah yang akan ditambang dari semak-semak, pepohonan dan tanah maupun bongkah-bongkah batu yang menghalangi pekerjaan-pekerjaan selanjutnya. Pembersihan lapangan ini dapat dilakukan menggunakan tenaga manusia dengan menggunaan peralatan manual seperti kapak, gergaji, cangkul dan lain-lain, maupun dengan peralatan mekanis seperti bucket wheel excavator (bwe), cutting head excavator dan penggaru (ripper) c. Pengupasan Tanah Pucuk Tanah pucuk merupakan tanah yang memiliki kandungan unsur organik yang tinggi untuk tanaman. Kegiatan pengupasan harus dilakukan dengan hatihati dan hasil pengupasan tanah pucuk seharusnya terpisah dengan tanah galian lainnya. Tanah pucuk yang subur (humus) harus ditimbun ditempat tertentu, lalu ditanami rerumputan dan semak-semak untuk mengurangi erosi, sehingga nantinya dapat digunakan lagi untuk reklamasi lahan bekas tambang. Tanah pucuk biasanya disebarkan kembali setelah pit ditimbun dengan tanah penutup. Keadaan aktual beberapa perusahaan penambangan pasir besi tidak memperlakukan tanah pucuk sebagaimana mestinya. Tanah pucuk ditumpuk dibiarkan saja tanpa ditanami kacang-kacangan atau tanaman penutup, sehingga sebagian tererosi pada saat hujan dan menyebabkan kandungan unsur haranya diperkirakan juga banyak yang hanyut saat hujan. Pada akhirnya saat blok penambangan telah selesai ditambang, menyebabkan kekurangan tanah penutup dan tanah pucuk. Kondisi ini menyebabkan sebagian lubang dibiarkan menganga setelah penambangan berakhir. d. Pengupasan Tanah Penutup (Stripping Overburden) Pengupasan tanah penutup (stripping overburden) dilakukan pada bawah lereng dengan arah ke lereng yang lebih dalam sampai batas lapisan pasir besi dengan mengikuti kontur daerah penambangan. Penggalian tanah penutup ini dilakukan tergantung kedalaman sumberdaya pasir besi. Rata-rata kedalaman tanah penutup hanya sampai 2 meter. Setelah dikupas tanah pucuk dipindah kelokasi yang tidak mengandung pasir besi untuk dijadikan material backfilling setelah penambangan berakhir. 53    Gambar 5 Proses penambangan pasir besi yang menyebabkan eksternalitas e. Proses Penambangan Pasir Besi Idealnya lokasi aktivitas penambangan dan pengolahan dilakukan berada jauh dari sempadan pantai/ sungai serta pemukiman penduduk. Aktivitas penambangan pasir besi dilakukan secara mekanis menggunakan alat berat berupa excavator. Pada dasarnya cara penambangan yang berwawasan lingkungan (good mining practice), hasuslah efisien dan mengikuti kaidah – kaidah konservasi. Salah satunya pola penambangan seharusnya dilakukan pada gumuk pasir yang berada dibelakang garis pesisir (back dune) yang memiliki lebar 200-400 meter, sedangkan diarea front dune yang mengarah kelaut dibiarkan tidak dilakukan penambangan karena akan merusak lingkungan.Kegiatan penambangan seharusnya juga tidak dilakukan pada area konservasi. Ilustrasi penambangan yang tidak mengikuti kaidah konservasi terutama pada daerah sempadan pantai dapat dilihat pada Gambar 6. 54    Gambar 6 Ilustrasi kondisi gumuk pasir penambangan pasir besi Kabupaten Tasikmalaya Pada Gambar 6 bagian atas adalah kondisi stabil, jika ditambang akan merubah struktur pantai menjadi Gambar 6 bagian bawah. Akibatnya kerusakan dapat berupa abrasi dan hilangnya fungsi sempadan pantai sebagai penahan abrasi. Hal ini juga sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku bahwa area pantai yang berjarak 100 meter dari titik pasang tertinggi harus dicadangkan untuk kegiatan konservasi. Tetapi kenyataannya pada saat penelitian kegiatan penambangan dan proses pencucian material pasir besi hanya beberapa meter dari bibir pantai, selain menyalahi aturan yang berlaku, kenyataan ini sangat berbahaya bagi kelestarian ekosistem perikanan dan keselamatan daerah pantai Kabupaten Tasikmalaya yang rawan terjadi gelombang tsunami. f. Penanganan Material (Material Handling) Penanganan materian merupakan satuan operasi yang tercakup dalam penggalian atau pemindahan tanah/batuan selama penambangan. Pada siklus operasi penambangan, terdapat dua operasi utama yaitu pemuatan (loading) dan pengangkutan/transportasi (Hauling). Penanganan material pada tambang sangat tergantung pada pemilihan dan jenis alat pemuatan dan pengangkutan yang akan digunakan. Pemuatan (Loading) merupakan kegiatan atau pekerjaan yang dilakukan untuk mengambil dan memuat material ke dalam alat angkut, atau ke suatu tempat penampungan material (stockpile) ataupun ke dalam suatu alat pengatur aliran material (hopper, bin, feeder). Alat muat yang dipakai backhoe dengan kapasitas bucket Heaped 0,8 m3 atau kapasitas munjung 1,2 m3. 55    g. Pengangkutan (Hauling) Serangkaian pekerjaan yang dilakukan untuk mengangkut material dari tempat penggalian ke tempat penimbunan (stockpile) dan pemurnian, alat yang digunakan adalah truk jungkit (dump truck) dengan kapasitas 5-6 m3 dengan tahapan pemuatan-pengangkutan-penuangan-kembali kosong. Beberapa lokasi penambangan tidak secara langsung merupakan lokasi pemurnian, tapi berjarak sekitar 500 meter hingga 2 km ketempat pencucian yang pada umumnya berada ditepi pantai atau sungai. h. Reklamasi dan Rehabilitasi Lahan Perencanaan kegiatan reklamasi lahan bekas tambang seharusnya dimulai dari tahap awal operasi penambangan, sehingga kegiatan pengupasan lahan atau pengambilan pasir dapat terkait dengan sistem reklamasi. Dimana pada tahap ini telah harus dilakukan pemisahan lapisan tanah pucuk (top soil) dengan kedalaman sekitar 0 -30 Cm dan lapisan bawah permukaan (sub soil) kedalaman 30 – 200 cm. Tanah lapisan top soil disimpan pada lokasi sementara karena akan digunakan pada untuk menutup lubang-lubang bekas galian saat reklamasi. Penutupan kembali menggunakan tanah (top soil) yang telah dipersiapkan yaitu tanah pindahan saat awal kegiatan pengupasan lapisan pucuk. Manfaatnya disamping tetap menjaga tingkat kesuburan tanah, juga memperbaiki tingkat kemiringan tanah sehingga dapat normal kembali sesuai kestabilan lereng. Sayangnya pada saat implementasi terjadi beberapa penyimpangan dalam kegiatan ekstraksi pasir besi oleh pemegang IUP Kabupaten Tasikmalaya. Penyimpangan itu terjadi pada beberapa tahap kegiatan ekstrasi pasir besi, diantaranya adalah seperti ulasan berikut ini : a. Pengolahan dan Pemurnian Proses pengolahan dan pemurnianpasir besi menghasilkan endapan lumpur bercampur dengan air laut yang akan menimbulkan padatan terlarut. Penambangan pasir besi yang diikuti dengan pemurnian skala besar dan terus menerus dalam periode waktu yang cukup lama akan berdampak nyata terhadap perubahan kualitas lingkungan terutama lingkungan perairan. Penurunan kualitas lingkungan perairan yang cepat juga dipicu oleh aktivitas yang menyalahi aturan serta proses pemulihan kembali kondisi lahan dan lingkungan bekas penggalian 56    pasir besi yang buruk. Hal ini berdampak kepada lingkungan fisik perairan yang keruh dan mengalami pendangkalan sehinggamempengaruhi biota perairan dan habitatnya. Beberapa parameter hasil uji kualitas air di area produksi perusahaan penambangan pasir besi dapat dilihat pada Tabel 11 berikut ini. Tabel 11 Hasil Pengukuran Beberapa Variabel Kualitas Air No Parameter Satuan Baku Mutu Lokasi PT P Fisika 1 Suhu Celcius < 30 25,7 < 50 1100 2 TSS mg/l 21,8 3 TDS mg/l Kimia 0,06 > > > > > > > > > > > > 108    Lampiran 12. Interpolasi Kehilangan Kecepatan Tahun 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Roda 4 Roda 2 Kk aktual (Km/jam) Kk sejak pb (Km/Jam) Kk aktual (Km/jam) Kk sejak pb (Km/Jam) 18,7 15,4 18,8 0,1 15,5 0,1 19,8 1,1 17,0 1,6 22,5 3,8 21,0 5,6 23,8 5,1 23,0 7,6 33,5 14,8 37,2 21,8 Kk: kehilangan kecepatan; pb: pasir besi Sumber: data primer diolah (2012) Lampiran 13. Interpolasi Tambahan waktu tempuh Tahun 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Roda 4 Wt aktual (menit) Wt sejak pb (menit) 4,5 6,6 2,1 7,7 3,2 10,6 6,2 12,1 7,6 22,6 18,1 Roda 2 Wt aktual (menit) Wt sejak pb (menit) 3,8 3,9 0,1 4,8 1,0 7,5 3,7 8,7 4,9 18,0 14,2 Wt: waktu tempuh; pb: pasir besi Sumber: data primer diolah (2012) Lampiran 14. Perbandingan UMK pertahun dengan pendapatan responden Pendapatan rata- rata/bln (Rp) roda 4 roda 2 Pendpt rata-rata/jam (Rp) roda 4 roda 2 Tahun 2007 UMK (Rp) 600.000 2.032.744,2 948.837,2 11.549,7 5.391,1 2008 621.000 2.103.890,2 982.046,5 11.953,9 5.579,8 2009 705.000 2.388.474,4 1.114.883,7 13.570,9 6.334,6 2010 775.000 2.625.627,9 14.918,3 6.963,5 2011 860.000 1.225.581,4 1.360.000,0 16.554,5 7.727,3 Perbandingan rata2 pendapatan dengan UMK 2.913.600,0 3,39 1,58 Sumber: data primer & sekunder diolah (2012) 109   
Negative Externalities and Optimal Extraction of Iron Sand Mining at Tasikmalaya Regency Analisis Data Nilai Kerusakan Jalan Analisis Laju Ekstraksi Optimal Pasir Besi Tanpa Dan Dengan Adanya Eksternalitas Negatif Batasan dan Pengukuran Negative Externalities and Optimal Extraction of Iron Sand Mining at Tasikmalaya Regency EKSTERNALITAS, LAJU EKSTRAKSI OPTIMAL DAN PAJAK Eksternalitas Negative Externalities and Optimal Extraction of Iron Sand Mining at Tasikmalaya Regency GAMBARAN UMUM Asumsi Penelitian Gillnet Negative Externalities and Optimal Extraction of Iron Sand Mining at Tasikmalaya Regency Jaring Negative Externalities and Optimal Extraction of Iron Sand Mining at Tasikmalaya Regency Jenis – Jenis Eksternalitas Negative Externalities and Optimal Extraction of Iron Sand Mining at Tasikmalaya Regency Kegiatan Penambangan Pasir Besi .1 Sumberdaya Pasir Besi KERANGKA PEMIKIRAN Tinjauan Penelitian Sejenis Terdahulu Kerugian Akibat Kerusakan Jalan .1 Nilai Kehilangan Waktu Tempuh Kerusakan Lingkungan Negative Externalities and Optimal Extraction of Iron Sand Mining at Tasikmalaya Regency Kondisi Umum Wilayah Penelitian Latar Belakang Negative Externalities and Optimal Extraction of Iron Sand Mining at Tasikmalaya Regency Lokasi dan Waktu Penelitian Metode Pengumpulan Data Nilai Perubahan Produktivitas Perikanan Pajak Sebagai Instrumen Ekonomi Pengelolaan Pancing Rawe Negative Externalities and Optimal Extraction of Iron Sand Mining at Tasikmalaya Regency Pemisahan Pasir Besi Negative Externalities and Optimal Extraction of Iron Sand Mining at Tasikmalaya Regency Penanganan Material Negative Externalities and Optimal Extraction of Iron Sand Mining at Tasikmalaya Regency Penanganan Material Pengangkutan Pengolahan dan Pemurnian Pengangkutan Hasil Tambang Negative Externalities and Optimal Extraction of Iron Sand Mining at Tasikmalaya Regency Pengangkutan Pasir Besi Negative Externalities and Optimal Extraction of Iron Sand Mining at Tasikmalaya Regency Pengangkutan Pengolahan dan Pemurnian Pengerukan Bahan Galian Negative Externalities and Optimal Extraction of Iron Sand Mining at Tasikmalaya Regency Pengupasan Negative Externalities and Optimal Extraction of Iron Sand Mining at Tasikmalaya Regency Perumusan Masalah Negative Externalities and Optimal Extraction of Iron Sand Mining at Tasikmalaya Regency Proses Penambangan Pasir Besi Saran Negative Externalities and Optimal Extraction of Iron Sand Mining at Tasikmalaya Regency Simpulan Negative Externalities and Optimal Extraction of Iron Sand Mining at Tasikmalaya Regency Solusi Eksternalitas Dengan Nilai Pajak Lingkungan Solusi Eksternalitas Teori Pemanfaatan Sumberdaya Secara Optimal Sosio Demografi Wilayah Penelitian .1 Jumlah Penduduk dan Mata Pencaharian Tahapan Kegiatan Penambangan a. TINJAUAN PUSTAKA Ruang Lingkup Penelitian Tujuan dan Manfaat Penelitian
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Tags
Upload teratas

Negative Externalities and Optimal Extraction of Iron Sand Mining at Tasikmalaya Regency

Gratis