Feedback

Analysis of farmer’s perceptions and strategies in smallholder timber plantation business (case studies of smallholder timber plantations at Gunungkidul District, Special Province of Yogyakarta and Tanah Laut District, Province of South Kalimantan)

Informasi dokumen
ANALISIS PERSEPSI DAN STRATEGI PETANI DALAM USAHA TANAMAN KAYU RAKYAT (STUDI KASUS USAHA TANAMAN KAYU RAKYAT DI KABUPATEN GUNUNGKIDUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA DAN KABUPATEN TANAH LAUT, PROVINSI KALIMANTAN SELATAN) DEDE ROHADI SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi yang berjudul “Analisis Persepsi dan Strategi Petani dalam Usaha Tanaman Kayu Rakyat (Studi Kasus Usaha Tanaman Kayu Rakyat di Kabupaten Gunungkidul Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan) adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini. Bogor, Februari 2012 Dede Rohadi NIM. E. 061 060 121 ABSTRACT DEDE ROHADI. Analysis of Farmer’s Perceptions and Strategies in Smallholder Timber Plantation Business (Case studies of Smallholder Timber Plantations at Gunungkidul District, Special Province of Yogyakarta and Tanah Laut District, Province of South Kalimantan). Under direction of HARIADI KARTODIHARDJO, BRAMASTO NUGROHO and DUDUNG DARUSMAN. Smallholder timber plantations play strategic roles in forestry development in Indonesia, particularly on improving farmers’ livelihood at rural areas, supplying wood materials for forest industries and supporting forest rehabilitation program. The potential for developing smallholder timber plantations in Indonesia is huge, given the vast areas of critical land in Indonesia as well as high demand for wood. The facts however showed that the development of smallholder timber plantations in Indonesia only concentrates in Java. This dissertation aims to identify alternatives on policy intervention to support the development of smallholder timber plantations in Indonesia through better understanding on farmer’s perceptions and strategies on timber plantation practices. The study was conducted through case studies of smallholder timber plantations at Gunungkidul district, the province of Yogyakarta and Tanah Laut district, the province of South Kalimantan. Data was collected through household surveys, interviews with key informants, focus group discussions, inventory of smallholder timber plantation plots, and by collecting secondary publication materials at the two case study sites. The results showed that timber plantations play major roles as household saving accounts and as farmers’ safety net. Farmer’s investment of timber plantations management depends on the relative benefits of timber plantations as compared to other farming options. Access to markets and timber selling price are the main driving factors for farmers to invest more on their timber plantations. The availability of land area ownership and production-input capital are also important factors. Governments need to develop policies that strengthen farmers' access to timber markets, such as through institutional strengthening of farmer groups on timber marketing collective action, developing micro credit facilities for farmers and simplifying timber transport document regulations. Governments are also advised to strengthen farmers’ capacity on timber value-added activities and building business partnership with timber industries. Keywords: smallholder timber plantations, institution intervention, Gunungkidul, Tanah Laut. analyses, policy RINGKASAN DEDE ROHADI. Analisis Persepsi dan Strategi Petani dalam Usaha Tanaman Kayu Rakyat (Studi Kasus Usaha Tanaman Kayu Rakyat di Kabupaten Gunungkidul Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan). Dibimbing oleh HARIADI KARTODIHARDJO, BRAMASTO NUGROHO dan DUDUNG DARUSMAN. Tanaman kayu rakyat memiliki peran yang sangat strategis dalam pembangunan kehutanan di Indonesia, khususnya dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat petani di pedesaan, penyediaan bahan baku kayu bagi industri kehutanan dan rehabilitasi sumber daya hutan. Potensi pengembangan tanaman kayu rakyat di Indonesia sangat besar mengingat luasnya areal lahan kritis di Indonesia serta tingginya permintaan terhadap bahan baku kayu. Namun demikian, fakta sejauh ini menunjukkan bahwa pengembangan tanaman kayu rakyat di Indonesia lebih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Diperlukan intervensi kebijakan yang lebih baik agar pertumbuhan tanaman kayu rakyat di Indonesia dapat lebih ditingkatkan. Disertasi ini bertujuan untuk memahami persepsi dan strategi petani di dalam usaha tanaman kayu rakyat. Pemahaman tersebut penting untuk mengidentifikasi pilihan-pilihan intervensi kebijakan yang lebih sesuai dengan kondisi petani, sehingga lebih efektif dalam memotivasi petani untuk menanamkan investasi di dalam usaha tanaman kayu rakyat. Pendekatan analisa dan pengembangan kelembagaan digunakan di dalam disertasi ini untuk memahami proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh petani sebagai aktor utama di dalam sistem usaha tanaman kayu rakyat. Data dan informasi yang digunakan di dalam analisa ini didasarkan atas studi kasus tanaman kayu rakyat di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan. Pada kedua lokasi studi kasus tersebut, dilakukan pengamatan tanaman kayu rakyat melalui inventarisasi tanaman kayu petani, survey rumah tangga terhadap sejumlah responden petani, diskusi kelompok terfokus atau Focus Group Discussion (FGD), wawancara dengan sejumlah tokoh masyarakat dan aparat instansi pemerintah dan pengumpulan data sekunder dari bahan-bahan publikasi yang tersedia. Hasil penelitian disertasi ini memperlihatkan bahwa pada umumnya petani memandang usaha tanaman kayu sebagai salah satu upaya dalam meragamkan (diversifikasi) sumber pendapatan keluarga. Tanaman kayu dianggap mempunyai peranan penting sebagai tabungan keluarga. Persepsi lainnya dari petani terhadap usaha tanaman kayu sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal yang berkaitan dengan kondisi setempat (site specific). Di Kabupaten Gunungkidul, budaya masyarakat yang telah lama berkembang (sejak tahun 1960 an) dalam penanaman kayu jati pada umumnya diwariskan kepada para petani generasi kini. Masyarakat di Gunungkidul yang pernah mengalami dampak dari kondisi lingkungan yang gersang (tutupan hutan hanya sekitar 3% dari luas wilayah) turut membangun apresiasi petani atas manfaat tanaman kayu bagi perbaikan lingkungan. Akses pasar yang relatif mudah serta nilai jual kayu jati yang cukup menguntungkan membentuk perspektif ekonomi yang positif oleh petani atas tanaman kayu jati. Disamping itu dukungan pihak luar, baik dari pihak pemerintah daerah maupun berbagai lembaga swadaya masyarakat turut meningkatkan motivasi petani di dalam usaha budidaya tanaman jati rakyat. Persepsi yang positif terhadap usaha penanaman kayu jati di Gunungkidul dijumpai secara merata pada seluruh petani. Di Kabupaten Tanah Laut persepsi petani terhadap usaha tanaman kayu lebih didominasi oleh aspek ekonomi. Para petani memandang usaha tersebut mempunyai prospek yang baik dalam upaya diversifikasi pendapatan keluarga, terutama karena pengaruh intervensi pihak luar, yaitu perusahaan yang menjanjikan akan menampung kayu hasil tanaman (pada kasus di Desa Asam Jaya) dan pemerintah daerah (Dinas Kehutanan dan instansi kehutanan lainnya) dalam rangka program pengembangan hutan rakyat (pada kasus di Desa Ranggang). Namun demikian, pandangan positif terhadap usaha tanaman kayu di Kabupaten Tanah Laut tersebut hanya terbatas pada sebagian kecil petani. Strategi yang diterapkan petani di dalam sistem usaha tanaman kayu berbeda antara Kabupaten Gunungkidul dan Tanah Laut. Di Kabupaten Gunungkidul, karena keterbatasan luas kepemilikan lahan, sementara prospek ekonomis kayu jati yang cukup baik, para petani menerapkan strategi subsisten (coping strategy) dan diversifikasi (diversified strategy) sumber pendapatan. Fokus usaha tani masih terletak pada produksi tanaman pangan untuk kebutuhan sendiri untuk menimbulkan rasa aman terhadap ancaman kekurangan pangan (safety first), sedangkan tanaman jati berfungsi sebagai tabungan keluarga yang mudah diuangkan apabila petani dihadapkan kepada kebutuhan mendesak akan uang tunai. Pola budidaya tanaman jati dilakukan secara tumpang sari (pola agroforestri) dengan umur tanaman yang beragam untuk mengoptimalkan penggunaan lahan dengan luas yang terbatas dalam rangka memenuhi kedua tujuan di atas. Strategi pemanenan kayu lebih dikaitkan dengan saat petani membutuhkan uang tunai (tebang butuh) daripada rencana pemanenan dengan rotasi tebang tertentu. Di Kabupaten Tanah Laut, strategi petani dalam usaha tanaman kayu lebih bersifat diversifikasi pendapatan dengan pola budidaya yang lebih spesialis (specialized strategy), dalam pengertian penanaman kayu dilakukan secara monokultur dan umur tegakan seragam dan dengan target rotasi tebang tertentu. Faktor pasar merupakan hambatan utama yang secara umum dijumpai di dalam sistem usaha tanaman kayu rakyat di kedua kabupaten yang diteliti, walaupun dalam konteks dan tingkat kesulitan yang berbeda. Di Kabupaten Gunungkidul, akses pasar dan permintaan terhadap kayu jati rakyat sudah relatif baik. Namun demikian, para petani masih memiliki posisi tawar yang rendah dalam transaksi jual beli kayu, sehingga mereka lebih condong berada pada posisi penerima harga (price takers). Berbagai aturan dalam tata niaga kayu jati rakyat, khususnya kewajiban atas kelengkapan dokumen transportasi kayu dalam bentuk Surat Izin Tebang (SIT) dan Surat Keterangan Asal Usul kayu (SKAU) menjadi kendala pasar (market barriers) bagi petani untuk memanfaatkan peluang memasarkan kayu secara langsung ke industri. Aturan tersebut juga menyebabkan biaya transaksi yang tinggi bagi para pedagang kayu, sehingga memaksa mereka untuk menekan harga beli di tingkat petani. Keterbatasan luas kepemilikan lahan juga menjadi kendala bagi upaya ekspansi tanaman kayu jati rakyat di Kabupaten Gunungkidul. Di Kabupaten Tanah Laut, keterbatasan pasar (thin market) menjadi faktor hambatan utama dalam usaha tanaman kayu rakyat. Keterbatasan pasar menyebabkan harga jual kayu yang rendah dan kurang kondusif untuk memotivasi investasi petani di dalam usaha tanaman kayu. Hasil penelitian disertasi ini memberikan beberapa implikasi kebijakan yang perlu dilakukan pemerintah dalam rangka mendorong perkembangan usaha tanaman kayu rakyat di Indonesia. Kebijakan pemerintah dalam rangka pengembangan usaha tanaman kayu rakyat perlu dilakukan dengan memperhatikan permasalahan-permsalahan pada kondisi lokal. Secara umum kebijakan pemerintah perlu diarahkan untuk memperkuat akses pasar dan posisi tawar petani di dalam pemasaran hasil tanaman kayu mereka. Penguatan kelembagaan kelompok tani dalam upaya pemasaran kayu secara bersama merupakan salah satu program yang perlu dilakukan secara intensif oleh pemerintah daerah. Upaya pemasaran kayu secara bersama tersebut dapat diintegrasikan dengan penyediaan kredit mikro bagi petani untuk mencegah penebangan kayu yang terlalu dini (premature harvesting) sehingga belum mencapai nilai jual optimal. Penguatan kelembagaan kelompok tani dalam rangka pemasaran bersama dapat menjadi batu loncatan untuk mengembangkan kontrak kerjasama penjualan kayu antara kelompok tani dengan industri pengolahan kayu atau industri hutan tanaman. Pemerintah (pusat dan daerah) juga perlu menghilangkan aturan tata niaga kayu (SIT dan SKAU) yang cenderung menjadi kendala pemasaran kayu rakyat serta menimbulkan biaya transaksi tinggi. Pemerintah juga disarankan untuk meningkatkan kapasitas petani di dalam proses pengolahan kayu, agar petani memiliki peluang untuk terlibat di dalam aktivitas peningkatan nilai tambah bahan baku kayu menjadi produk-produk olahan setengah jadi. Kata kunci: tanaman kayu rakyat, analisa kelembagaan, persepsi petani, strategi petani, Gunungkidul, Tanah Laut. © Hak Cipta milik IPB, tahun 2012 Hak Cipta dilindungi Undang-undang 1. 2. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB. ANALISIS PERSEPSI DAN STRATEGI PETANI DALAM USAHA TANAMAN KAYU RAKYAT (STUDI KASUS USAHA TANAMAN KAYU RAKYAT DI KABUPATEN GUNUNGKIDUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA DAN KABUPATEN TANAH LAUT, PROVINSI KALIMANTAN SELATAN) DEDE ROHADI Disertasi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor pada Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 Penguji pada Ujian Tertutup : Dr. Ir.Nurheni Wijayanto, MS. Dr. Ir. Sudarsono Soedomo, MS. Penguji pada Ujian Terbuka : Dr. Ir. Hariyatno Dwi Prabowo, MSc. Dr. Ir. Supriyanto Judul Disertasi : Analisis Persepsi dan Strategi Petani Dalam Usaha Tanaman Kayu Rakyat (Studi Kasus Usaha Tanaman Kayu Rakyat di Kabupaten Gunungkidul Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan) Nama : Dede Rohadi NIM : E. 061 060 121 Program Studi : Ilmu Pengetahuan Kehutanan Disetujui, Komisi Pembimbing Prof. Dr. Ir. Hariadi Kartodihardjo, MS. Ketua Dr. Ir. Bramasto Nugroho, MS. Anggota Prof. Dr. Ir. Dudung Darusman, MA. Anggota Diketahui, Ketua Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan Dekan Sekolah Pascasarjana Dr. Naresworo Nugroho, MS. Dr. Ir. Dahrul Syah, Msc.Agr. Tanggal Ujian : 31 Januari 2012 Tanggal Lulus: PRAKATA Segala puji bagi Allah SWT atas segala karuniaNya sehingga disertasi yang berjudul “Analisis Persepsi dan Strategi Petani Dalam Usaha Tanaman Kayu Rakyat (Studi Kasus Usaha Tanaman Kayu Rakyat di Kabupaten Gunungkidul Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan)” ini dapat diselesaikan. Disertasi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor pada Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Penelitian dalam rangka disertasi ini telah dilakukan pada tahun 2007 sampai 2010. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Prof. Dr. Ir. Hariadi Kartodihardjo, MS., selaku Ketua Komisi Pembimbing, Bapak Dr. Ir. Bramasto Nugroho, MS dan Bapak Prof. Dr. Ir. Dudung Darusman, MA., selaku anggota komisi, atas segala bimbingan dan arahannya. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Ir. Nurheni Wijayanto, MS dan Bapak Dr. Ir. Sudarsono Soedomo, MS. yang telah berkenan menjadi Penguji Luar Komisi pada Ujian Tertutup dan kepada Bapak Dr. Ir. Hariyatno Dwiprabowo, MSc. serta Dr. Ir. Supriyanto selaku Penguji Luar Komisi pada Ujian Terbuka. Penulis juga menyadari bahwa disertasi ini tidak mungkin dapat diselesaikan tanpa dukungan yang diberikan dari segenap jajaran pimpinan IPB, khususnya Rektor IPB, Dekan Sekolah Pascasarjana IPB, Dekan Fakultas Kehutanan IPB, Ketua Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan, dan Ketua Departemen Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan IPB. Penulis menyampaikan terima kasih kepada Center for International Forestry Research dan Australian Center for International Agricultural Research yang telah memberikan dukungan dan bantuan yang sangat berarti di dalam pelaksanaan penelitian disertasi ini. Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan dan Kepala Pusat Litbang Perubahan Iklim dan Kebijakan atas dukungan yang diberikan selama penulis melaksanakan pendidikan doktor ini. Ungkapan terima kasih juga disampaikan dengan setulus-tulusnya kepada isteri, anak, ibu, ayah (alm) dan sanak saudara yang telah memberikan do’a dan kasih sayangnya kepada penulis selama menjalani pendidikan ini. Kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan dan bantuan kepada penulis, namun tidak dapat disebutkan satu persatu, penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya dan semoga Allah Yang Maha Pemurah jua lah yang akan berkenan membalas kebaikan Ibu/Bapak/Saudara tersebut. Akhirnya penulis berharap agar disertasi ini dapat memberikan manfaat bagi upaya pengembangan ilmu serta program pembangunan kehutanan di Indonesia. Bogor, Februari 2012 Dede Rohadi RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Cirebon, Jawa Barat pada tanggal 22 Maret 1959, merupakan anak kelima dari sepuluh bersaudara dari pasangan Sambas Adiwidjaja (alm) dan Ilis Idah. Penulis menyelesaikan pendidikan Sarjana S1 pada Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 1982. Pada tahun 1991 penulis menyelesaikan pendidikan S2 (Master in Forestry Science) pada The University of Melbourne, Australia dengan dukungan beasiswa dari Australian International Development Assistance Bureau (AIDAB). Penulis menempuh program pendididikan S3 Pascasarjana IPB sejak September tahun 2006. Saat ini penulis bekerja sebagai Staf Peneliti pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Penulis memulai karir Pegawai Negeri Sipil dengan bekerja sebagai peneliti pada Pusat Penelitian Hasil Hutan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Penulis pernah ditugaskan sebagai Kepala Balai Penelitian Kehutanan di Makassar dan Pematang Siantar, serta sebagai Kepala Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Ciheuleut Bogor. Penulis pernah diperbantukan sebagai Seconded Scientist pada lembaga penelitian Center for International Forestry Research (CIFOR) pada tahun 1999 sampai 2001 dan sebagai Project Leader pada proyek penelitian “Improving Economic Outcomes for Smallholders Growing Teak in Agroforestry Systems in Indonesia” pada lembaga yang sama pada tahun 2007 sampai 2011. Penulis telah menyusun beberapa publikasi ilmiah yang terkait dengan topik kebijakan dan pengelolaan hutan berbasis masyarakat, baik dalam bentuk tulisan pada jurnal ilmiah, bagian dari buku, makalah seminar atau poster. Diantara publikasi ilmiah tersebut ada yang telah diterbitkan di dalam jurnal internasional, sebagai bagian dari buku yang diterbitkan oleh CIFOR atau berupa makalahmakalah seminar internasional. DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ........................................................................................... xvi DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... xviii DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... xx I. PENDAHULUAN ................................................................................... 1.1. Latar belakang ................................................................................... 1.2. Perumusan Masalah .......................................................................... 1.3. Tujuan penelitian ............................................................................... 1.4. Ruang lingkup Penelitian .................................................................. 1.5. Manfaat Hasil Penelitian ................................................................... 1.6. Kebaruan ........................................................................................... 1 1 3 5 6 6 7 II. TINJAUAN PUSTAKA .......................................................................... 2.1. Tanaman Kayu Rakyat pada Skala Global ....................................... 2.2. Perkembangan Tanaman Kayu Rakyat di Indonesia ........................ 2.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Tanaman Kayu Rakyat ............................................................................................... 2.4. Kerangka Analisa Kelembagaan dalam Konteks Persepsi dan Strategi Petani dalam Pengusahaan Tanaman Kayu Rakyat .............. 9 9 16 24 29 III. METODE PENELITIAN.......................................................................... 3.1. Pendekatan dan Kerangka Analisa Penelitian ................................... 3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ............................................................ 3.3. Jenis dan Cara Pengumpulan Data .................................................... 3.4. Analisa Data ...................................................................................... 37 37 38 41 47 IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN .................................... 4.1. Kabupaten Gunungkidul ................................................................... 4.2. Kabupaten Tanah Laut ...................................................................... 49 49 52 V. HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................................ 5.1. Tanaman Jati Rakyat di Kabupaten Gunungkidul ............................. 5.1.1. Faktor-faktor Eksternal yang Mempengaruhi Sistem Pengusahaan Tanaman Jati Rakyat ........................................ 5.1.2. Praktek Pengusahaan Tanaman Jati Rakyat .................... 5.1.3. Analisa Kelembagaan: Konsepsi dan Strategi Petani Dalam Pengusahaan Tanaman Jati Rakyat ........................................ 5.1.4. Permasalahan dan Peluang Petani Dalam Pengembangan Usaha Tanaman Kayu Rakyat ................................................ 5.2. Tanaman Kayu Rakyat di Kabupaten Tanah Laut ............................. 5.2.1. Faktor-Faktor Eksternal Yang Mempengaruhi Sistem Pengusahaan Tanaman Kayu Rakyat .................................... 59 59 59 62 69 74 77 77 5.2.2. Praktek Pengusahaan Tanaman Kayu Rakyat ................. 5.2.3. Analisa Kelembagaan: Persepsi dan Strategi Petani Dalam Pengusahaan Tanaman Kayu Rakyat .................................... 5.2.4. Permasalahan dan Peluang Petani Dalam Pengusahaan Tanaman Kayu Rakyat .......................................................... 5.3. Pembelajaran dan Implikasi Kebijakan ............................................. VI. 80 91 97 99 KESIMPULAN DAN SARAN ..................................................................... 105 6.1. Kesimpulan ........................................................................................... 105 6.2. Saran .................................................................................................. 108 DAFTAR PUSTAKA .............................................................................. 111 LAMPIRAN ............................................................................................. 119 DAFTAR TABEL Halaman 1. Tipologi tanaman kayu rakyat pada berbagai tempat di dunia ................ 14 2. Cadangan tegakan dan potensi produksi tujuh jenis kayu hutan rakyat di Indonesia berdasarkan hasil sensus pada tahun 2003 (Pusat Inventarisasi dan Statistik Kehutanan 2004) ................................ 23 Lokasi penelitian di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta ............................................................................................... 39 Komposisi jumlah petani responden pada survey rumah tangga di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta ..................... 43 3. 4. 5. Kriteria yang digunakan dalam teknik ranking kesejahteraan keluarga di Desa Ranggang ..................................................................... 6. 43 Distribusi penggunaan lahan di Desa Asam Jaya, Kecamatan, Jorong Kabupaten Tanah Laut ................................................................ 58 Harga kayu bulat jati di tingkat pedagang kayu desa pada berbagai kelas kualitas ............................................................................................ 60 Jumlah tanaman jati pada berbagai tipe penggunaan lahan petani di Kabupaten Gunungkidul ...................................................................... 63 Analisa finansial usaha tani rakyat berbasis tanaman jati ....................... 68 10. Komponen biaya input dan pendapatan usaha tani kitren dan tegalan ...................................................................................................... 68 11. Persepsi dan strategi petani kayu di dalam sistem pengusahaan tanaman jati rakyat ................................................................................... 73 12. Luas kawasan hutan berdasarkan fungsinya di Provinsi Kalimantan Selatan ..................................................................................................... 79 13. Ringkasan strategi petani dalam sistem pengusahaan tanaman kayu rakyat di Kabupaten Tanah Laut ..................................................... 96 14. Perincian harga kayu yang diterima pabrik PT. Navatani Persada untuk bahan baku kayu lapis “film face” ..................................... 98 7. 8. 9. DAFTAR GAMBAR Halaman 1. Kegiatan penanaman hutan rakyat di Indonesia....................................... 22 2. Produksi kayu bulat Indonesia ................................................................. 23 3. Kerangka analisa kelembagaan (Ostrom, 2006)....................................... 30 4. Peta lokasi penelitian di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta................................................................................ 40 Peta lokasi penelitian di Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan .................................................................................. 41 6. Berbagai pola penanaman jati rakyat di Kabupaten Gunungkidul .......... 62 7. Alasan petani menanam jati berdasarkan hasil survey rumah tangga di Kabupaten Gunungkidul ...................................................................... 64 Distribusi luas kepemilikan lahan petani jati rakyat di Kabupaten Gunungkidul ............................................................................................ 65 Alokasi penggunaan lahan petani jati rakyat di Kabupaten Gunungkidul ............................................................................................ 65 10. Struktur pendapatan petani jati rakyat di Kabupaten Gunungkidul ......... 67 11. Distribusi luas kepemilikan lahan petani responden penanam kayu di Desa Ranggang ..................................................................................... 81 12. Distribusi luas kepemilikan lahan petani responden non penanam kayu di Desa Ranggang ............................................................................ 82 13. Alokasi penggunaan lahan petani responden penanam kayu di Desa Ranggang ........................................................................................ 83 14. Alokasi lahan petani responden non penanam kayu di Desa Ranggang .. 83 15. Sumber pendapatan keluarga petani responden di Desa Ranggang.......... 84 16. Alasan petani menanam beberapa jenis komoditas usaha tani di Kabupaten Tanah laut .............................................................................. 85 17. Ilustrasi tanaman mahoni rakyat di Desa Ranggang................................. 87 18. Distribusi luas kepemilikan lahan petani responden di Desa Asam Jaya................................................................................................. 87 19. Alokasi penggunaan lahan petani responden di Desa Asam Jaya ........... 88 20. Sumber pendapatan keluarga petani responden di Desa Asam Jaya ....... 89 21. Ilustrasi tanaman jabon rakyat di Desa Asam Jaya .................................. 89 22. Tanaman akasia model kemitraan antara PT. Hutan Rindang Banua dengan masyarakat di Kecamatan Jorong ................................................ 90 5. 8. 9. 23. Tanaman jabon rakyat yang ditebang oleh pemiliknya karena akan diganti dengan kayu karet .......................................................................... 91 DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1. Data kepemilikan lahan petani responden di Kabupaten Gunungkidul ... 119 2. Data kepemilikan lahan petani responden di Kabupaten Tanah Laut ...... 126 3. Alasan penanaman kayu menurut respon petani di lokasi penelitian ...... 131 4. Rangkuman hasil Focus Group Discussion (FGD) tentang manfaat tanaman jati bagi keluarga petani (Wonosari, 2 Desember 2007) ........... 132 5. Hasil inventarisasi tanaman jati rakyat pada lahan petani responden di Kabupaten Gunungkidul .......................................................................... 135 Hasil inventarisasi tanaman kayu pada lahan petani responden di Kabupaten Tanah Laut ............................................................................. 142 Analisa biaya manfaat usaha tanaman jati rakyat di Kabupaten Gunungkidul ............................................................................................ 147 Ilustrasi transaksi pembelian dan penjualan kayu jati rakyat di Kabupaten Gunungkidul .......................................................................... 149 Analisa biaya manfaat usaha tanaman kayu jabon di Kabupaten Tanah Laut ............................................................................................... 150 10. Analisa biaya manfaat usaha tanaman karet di Desa Asam Jaya, Kabupaten Tanah Laut ............................................................................. 152 6. 7. 8. 9. I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tanaman kayu rakyat (smallholder timber plantations) secara umum dapat diartikan sebagai tanaman kayu yang ditanam dalam bentuk kebun atau sistem agroforestry, yang dibangun dan atau dikelola oleh rakyat, baik secara individu maupun berkelompok dan terutama bertujuan untuk memproduksi kayu. Tanaman kayu rakyat di dalam pengertian ini khususnya mencakup Hutan Rakyat atau Hutan Hak menurut Undang-undang (UU) No. 41 Tahun 1999 dan Peraturan Menteri Kehutanan (Permenhut) No 3 Tahun 2004; Hutan Tanaman Rakyat (HTR) menurut batasan Peraturan Pemerintah (PP) No. 6 Tahun 2007 atau Permenhut No. 23 Tahun 2007; Hutan Kemasyarakatan (HKm) menurut Permenhut No. P.37/Menhut-II/2007.serta bentuk-bentuk tanaman kayu lainnya yang menempatkan rakyat di tingkat pedesaan sebagai pelaku utama di dalam kegiatan penanaman dan atau pengelolaannya. Tanaman kayu rakyat dapat dibedakan dengan Hutan Tanaman Industri (HTI) terutama dari aspek pengelolanya dan skala operasionalnya. Dibandingkan dengan HTI, tanaman kayu rakyat dikelola oleh masyarakat pada tingkat rumah tangga dengan skala luasan yang relatif kecil. Tanaman kayu rakyat di Indonesia memiliki peran yang sangat penting di dalam pembangunan kehutanan. Tanaman kayu rakyat berperan sebagai sarana pelaksanaan program rehabilitasi hutan dan lahan, pemasok bahan baku kayu bagi industri perkayuan dan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya yang tinggal di wilayah pedesaan. Walaupun belum banyak data yang tersedia tentang potensi kayu dari areal tanaman kayu rakyat, hasil sensus tahun 2003 mencatat bahwa potensi produksi kayu yang berasal dari areal hutan rakyat di Indonesia adalah sekitar 68.5 juta pohon atau setara dengan 14 juta1 m3, sementara jumlah cadangan tegakan mencapai lebih dari 226 juta pohon atau setara dengan 45 juta m3 (Pusat Inventarisasi dan Statistik Kehutanan 2004). Angka-angka tersebut hanya memperhitungkan tujuh jenis tanaman hutan rakyat yang paling dominan ditanam oleh masyarakat di seluruh wilayah Indonesia, namun belum mencakup berbagai jenis lainnya yang lebih spesifik ditanam di wilayah-wilayah 1 Dengan asumsi bahwa 1 m3 setara dengan 5 pohon yang siap tebang. 2 tertentu di Indonesia. Potensi tersebut relatif sangat besar apabila bila dibandingkan dengan kemampuan pasokan kayu berdasarkan Jatah Penebangan Tahunan (JPT) nasional tahun 2009, yang hanya mencapai 9.1 juta m3 (SK. Dirjen BPK No SK.432/VI-BPHA/2008). Mengingat peranannya yang cukup nyata dalam pembangunan kehutanan, berbagai dukungan kebijakan telah dilakukan pemerintah dalam upaya pengembangan tanaman kayu rakyat di Indonesia. Kebijakan-kebijakan tersebut bertujuan untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat luas di dalam upaya penanaman kayu. Diawali dengan Instruksi Presiden (INPRES) No. 8 pada tahun 1976, kegiatan tanaman kayu rakyat telah digalakkan di Indonesia melalui program penghijauan dan reboisasi. Pada tahun 2003 pemerintah bahkan telah menjadikan “perhutanan sosial” (social forestry) sebagai payung dalam pembangunan kehutanan (Rusli 2003) yang pada intinya menempatkan masyarakat sebagai elemen penting di dalam pengelolaan hutan, termasuk dalam kegiatan penanaman kayu. Setelah itu berbagai program pemerintah diluncurkan, seperti Program Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL dan kemudian menjadi GERHAN), Hutan Kemasyarakatan (HKm), Hutan Tanaman Rakyat (HTR), hutan desa dan baru-baru ini program One Man One Tree (OMOT) dan One Billion Indonesian Trees (OBIT). Namun demikian, fakta menunjukkan bahwa luas total areal tanaman kayu rakyat di Indonesia dewasa ini baru mencapai sekitar 3.7 juta ha yang sebagian besar berupa hutan rakyat (3.5 juta ha) dan sisanya merupakan gabungan dari HKm, hutan desa dan HTR (Pusat Humas Kemenhut 2011). Dari jumlah tersebut, sebagian besar tanaman berupa hutan rakyat yang terkonsentrasi di Jawa, di mana ketersediaan lahan sangat terbatas. Sementara itu areal lahan kritis di Indonesia yang berpotensi untuk pengembangan tanaman kayu rakyat kini telah mencapai sekitar 42 juta ha (Hindra 2006). Nampaknya berbagai dukungan kebijakan yang telah dilakukan pemerintah masih belum cukup efektif untuk meningkatkan motivasi masyarakat luas di dalam usaha penanaman kayu rakyat. Oleh karena itu berbagai upaya masih perlu dilakukan agar kebijakan-kebijakan yang diterapkan lebih tepat sasaran dalam memotivasi masyarakat luas di dalam usaha penanaman kayu. 3 1.2. Perumusan Masalah Pengalaman di berbagai belahan dunia menunjukkan banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan tanaman kayu rakyat. Zhang dan Owiredu (2007) melaporkan bahwa harga jual kayu merupakan faktor pendorong bagi perkembangan tanaman kayu rakyat di Ghana. Permintaan yang tinggi atas kayu serta keterbatasan pasokan kayu dari areal hutan alam telah mendorong perkembangan hutan tanaman, termasuk tanaman kayu jati rakyat di Laos (Midgley et al. 2007). Demikian pula di Filipina, perkembangan tanaman kayu rakyat dipicu oleh permintaan atas kayu yang meningkat serta harga kayu yang menguntungkan (Bertomeu 2006). Intensitas kebijakan pemerintah yang tinggi, khususnya yang mendukung perkembangan hutan tanaman memiliki korelasi yang kuat dengan pertumbuhan hutan tanaman pada skala global (Rudel 2009). Manfaat ekonomis usaha tanaman kayu rakyat dilaporkan secara kontradiktif oleh berbagai penulis. Pada kasus di Costa Rica, Kishor dan Constantino (1993) melaporkan bahwa usaha tanaman kayu rakyat lebih menguntungkan dibandingkan dengan usaha tanaman pertanian lainnya, apabila tingkat suku bunga cukup rendah Akan tetapi beberapa kasus yang lain menunjukkan hasil yang sebaliknya (van Bodegom et al. 2008). Bahkan di negara maju seperti Jepang, agar usaha tanaman kayu rakyat cukup menarik petani, kadang-kadang subsidi pemerintah masih diperlukan (Ota 2001). Hasil penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa usaha tanaman kayu rakyat hanya memberikan keuntungan finansial yang marjinal (Race et al. 2009), sementara Siregar et al. (2007) melaporkan kasus tanaman sengon di Kediri yang ditanam dengan berbagai pilihan tanaman pertanian memberikan keuntungan pada tingkat suku bunga yang cukup tinggi (17.53%). Usaha tanaman kayu rakyat pada umumya berperan hanya sebagai usaha sampingan para petani dan belum menjadi sumber pendapatan utama (Darusman dan Hardjanto 2006; Lubis 2010; Sitanggang 2009). Beberapa hal masih menjadi hambatan dalam upaya pengembangan tanamanan kayu rakyat, seperti masa tunggu yang lama, keengganan para petani untuk melakukan penjarangan tegakan dan keterbatasan akses mereka terhadap bibit tanaman yang berkualitas (Midgley et al. 2007). Kebijakan pemerintah yang kurang kondusif, seperti penetapan pajak eksploitasi kayu yang terlalu rendah 4 dapat menyebabkan usaha tanaman kayu rakyat kurang kompetitif dengan harga kayu dari hutan alam (Herbohn 2001). Di Kanada, dimana sebagian besar sumber daya hutan dikuasai negara dan perusahaan besar, kebijakan-kebijakan atas tanaman kayu sering lebih berpihak kepada perusahaan-perusahaan besar tersebut dan menyediakan sedikit ruang bagi tanaman kayu rakyat untuk berkembang (Mitchell-Banks 2001). Berdasarkan uraian di atas, diperlukan pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana sistem usaha tanaman kayu rakyat berlangsung. Mempertimbangkan bahwa petani kayu merupakan aktor utama di dalam usaha tanaman kayu rakyat tersebut, maka diperlukan pemahaman yang lebih baik terhadap proses pengambilan keputusan oleh petani di dalam usaha tanaman kayu rakyat. Pemahaman tersebut akan sangat bermanfaat dalam perumusan kebijakan yang lebih tepat untuk mendorong perkembangan tanaman kayu rakyat di Indonesia. Armstrong di dalam Clement (2007) menyatakan bahwa proses pengambilan keputusan dipengaruhi oleh persepsi pembuat keputusan tersebut. Persepsi biasanya sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan karena persepsi didasarkan atas informasi yang diperoleh langsung dari subyek yang diamati, dan lebih kuat pengaruhnya daripada informasi yang disampaikan secara tidak langsung oleh pihak lain. Persepsi, menurut kamus bahasa (http://kamusbahasaindonesia.org/persepsi# ixzz1j QA00R3g, diakses tanggal 14 Januari 2012; http://dictionary.reference.com/ browse/ perception, diakses tanggal 12 Januari 2012) dapat diartikan sebagai perolehan pengetahuan melalui indra atau pikiran. Persepsi dibedakan dengan sekedar “tahu” atau “awareness”. Persepsi mengandung pengertian bahwa informasi yang diketahui mempunyai relevansi dengan kebutuhan subyeknya sehingga memberi pengaruh kepada perilaku subyek. Perilaku petani akan berubah apabila awareness dan persepsi berkaitan atau berasosiasi (Oladele dan Fawole 2007). Blaikie dalam Clement (2007) menyatakan bahwa persepsi terhadap suatu realitas (biofisik) tergantung kepada representasi bentuk sosial yang terbentuk dari beberapa tahap. Yang pertama adalah bahwa persepsi berubah melalui pengalaman dan yang kedua melalui proses interpretasi atas fakta-fakta ilmiah. 5 Dalam konteks fakta ilmiah tersebut, Searle dalam Clement (2007) menegaskan perlunya membedakan antara fakta-fakta alamiah (brute facts) dan fakta-fakta kelembagaan (institutional facts). Fakta alamiah relatif bersifat netral karena merupakan penjelasan atau deskripsi dasar atas suatu realitas biofisik, sedangkan fakta kelembagaan sarat dengan nilai dimana nilai-nilai tersebut tidak harus sama di antara kelompok-kelompok sosial yang berinteraksi. Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka pemahaman atas persepsi petani di dalam usaha tanaman kayu perlu dilakukan melalui pengumpulan informasi atas pandangan petani terhadap usaha tersebut, serta dengan menganalisa faktafakta alamiah dan kelembagaan yang dapat menjelaskan proses pengambilan keputusan oleh petani. Selanjutnya, melalui pengamatan atas fakta-fakta di lapangan, penelitian ini mencoba memahami strategi petani di dalam menjalankan usaha tanaman kayu rakyat tersebut pada kondisi realitas kehidupan yang mereka hadapi. Hasil analisa atas persepsi dan strategi petani tersebut selanjutnya digunakan untuk mencari pilihan intervensi kebijakan yang lebih efektif untuk mendorong investasi masyarakat di dalam usaha penanaman kayu rakyat. 1.3. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi dan menganalisa persepsi dan strategi petani di dalam usaha tanaman kayu rakyat dalam rangka penentuan pilihan-pilihan kebijakan yang dapat digunakan untuk meningkatkan kinerja pengusahaan tanaman kayu rakyat di Indonesia. Pertanyaan pokok penelitian yang ingin dijawab melalui penelitian ini adalah: a. Bagaimanakah persepsi petani terhadap usaha tanaman kayu rakyat dan faktor-faktor apakah yang mempengaruhi persepsi petani tersebut? b. Bagaimanakan strategi petani di dalam menjalankan usaha tanaman kayu rakyat tersebut pada kondisi realitas kehidupam yang mereka alami? c. Apakah kendala-kendala yang dihadapi oleh para petani dan peluang-peluang yang tersedia bagi mereka untuk meningkatkan manfaat tanaman kayu rakyat bagi mereka? 6 d. Apakah pilihan-pilihan intervensi kebijakan yang dapat dilakukan untuk mendorong upaya peningkatan kinerja pengusahaan tanaman kayu rakyat di Indonesia? 1.4. Ruang Lingkup Penelitian Tanaman kayu rakyat yang dikaji di dalam penelitian ini difokuskan pada hutan rakyat pada lahan-lahan milik petani. Beberapa informasi yang berkaitan dengan bentuk tanaman kayu rakyat lainnya, seperti HKm dan HTR digunakan sebagai pelengkap bahan kajian. Analisa didalam penelitian didasarkan atas kasus-kasus pengusahaan tanaman kayu rakyat yang terdapat di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan. Analisa atas persepsi dan strategi di dalam pengusahaan tanaman kayu rakyat difokuskan kepada para petani sebagai aktor utama di dalam usaha ini. Persepsi dari para aktor lainnya yang terlibat di dalam sistem ini digunakan dalam konteks untuk menjelaskan persepsi dan strategi petani tersebut. Analisa terhadap persepsi didasarkan atas respon langsung para petani responden atas pertanyaan yang disampaikan melalui wawancara dan atau survey rumah tangga serta dengan mengamati perilaku mereka di dalam tatacara pengusahaan tanaman kayu rakyat. 1.5. Manfaat Hasil Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat bagi para pemangku kepentingan (stakeholders) di dalam sistem pengusahaan tanaman kayu rakyat, terutama kepada: a. Para pengambil keputusan, khususnya para pengambil kebijakan di tingkat pusat dan kabupaten: Penelitian ini menyajikan informasi yang menjelaskan bagaimana persepsi petani atas usaha tanaman kayu rakyat dipengaruhi oleh faktor-faktor internal dan eksternal mereka serta mempengaruhi strategi petani di dalam menjalankan usaha tanaman kayu rakyat tersebut. Informasi tersebut sangat berguna sebagai bahan pertimbangan untuk merumuskan intervensi kebijakan yang lebih adaptif dengan pola pikir para petani sebagai aktor utama di dalam usaha tanaman kayu rakyat. b. Kaum akademisi: Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan rujukan di dalam penelitian bidang ilmu-ilmu sosial, khususnya bagi penelitian yang 7 akan mendalami perilaku petani di dalam usaha penanaman kayu sebagai respon atas kondisi lingkungan dan berbagai pengaruh lainnya. c. Agen-agen pembangunan: Hasil penelitian ini memberikan informasi dan pembelajaran dari studi kasus sistem usaha tanaman kayu rakyat di Jawa dan luar Jawa, khusunya tentang hambatan yang dihadapi dan peluang intervensi yang tersedia dalam rangka pengembangan usaha tanaman kayu rakyat tersebut. d. Masyarakat, khususnya para petani penanam kayu rakyat: Penelitian memberikan manfaat secara tidak langsung kepada masyarakat melalui adopsi hasil-hasil penelitian oleh para pengambil kebijakan di dalam merumuskan kebijakan yang baru yang lebih kondusif bagi pengembangan usaha tanaman kayu rakyat. e. Para pengusaha atau penanam modal, khususnya perusahaan-perusahaan kehutanan: Penelitian ini memberikan informasi dan pembelajaran tentang potensi dan cara-cara untuk menjalin kemitraan yang berkesinambungan dengan para kelompok petani tanaman kayu rakyat. 1. 6. Kebaruan Kebaruan yang dihasilkan dari penelitian ini terletak pada penggunaan kerangka analisa kelembagaan untuk memahami hubungan sebab akibat antara strategi petani di dalam sistem pengusahaan tanaman kayu rakyat dengan persepsi petani atas usaha tersebut serta faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi persepsi dan strategi petani tersebut. Pada tataran operasional, penelitian ini juga menghasilkan beberapa pilihan intervensi kebijakan yang dapat dipertimbangkan di dalam upaya pengembangan usaha tanaman kayu rakyat. 8 9 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tanaman Kayu Rakyat pada Skala Global Pada skala global, tanaman kayu rakyat dijumpai dalam beragam tipe, baik dalam konteks peristilahan, kepemilikan, luasan, tujuan serta tatacara pengelolaannya (Harrison et al. 2002). Di Amerika Serikat, istilah yang paling sering digunakan adalah Non Industrial Private Forest (NIPF) dan pada umumnya diartikan sebagai kawasan hutan yang dimiliki oleh petani, perseorangan atau perusahaan yang tidak memiliki pabrik pengolahan kayu. Terdapat berbagai istilah lain yang biasa digunakan namun dengan frekuensi yang lebih jarang. Luas total areal NIPF mencakup hampir 60% dari keseluruhan tanaman kayu di Amerika Serikat dan memasok sekitar 50% dari produksi kayu nasional mereka. Areal NIPF dimiliki oleh sekitar 7 juta perorangan dimana sekitar 600,000 pemilik mengelola areal lebih dari 40 ha (Harrison et al. 2002). Zhang et al. (2009) melaporkan bahwa perkembangan tanaman kayu rakyat di Amerika Serikat pada akhir-akhir ini cenderung meningkat. Dengan luas total areal hutan sekitar 248 juta ha, sekitar 2/3 atau 157 juta ha kini dimiliki secara pribadi. Sekitar 2/3 dari areal hutan milik tersebut kini dikelola oleh lebih dari 10 juta individu keluarga. Eropa, dengan luas total areal hutan sekitar 215 juta ha atau sekitar 30% dari luas total lahan (tidak termasuk bekas negara-negara yang tergabung dalam Uni Sovyet Socialist Republic/USSR), areal hutannya terkonsentrasi di negara-negara Eropa Utara (Nordic countries), daerah Balkan (Baltic countries) dan di beberapa bagian di Eropa Tengah. Swedia dan Finlandia, yang termasuk ke dalam Nordic countries, memiliki lebih dari 50 juta ha areal hutan (Hyttinen 2001). Di negaranegara Eropa Utara (Finlandia, Swedia dan Norwegia) telah lama dikenal istilah ”Family Forestry”. Individu masyarakat mengelola hutan disamping aktivitas ekonomi lainnya seperti usaha tani dan kegiatan non usaha tani. Di negara-negara ini hutan yang dimiliki individu masyarakat mencakup sekitar 60%-70% dari luas hutan total. Di Finlandia sendiri terdapat lebih dari 600,000 pemilik hutan yang menguasai 62% dari total luas hutan (Harrison et al. 2002). Luas kepemilikan lahan hutan adalah antara 25 – 40 ha per keluarga (Harrison et al. 2002), namun 10 cukup banyak individu keluarga (36% di Swedia dan 14% di Finlandia) yang mengelola hutan dengan luas lebih dari 50 ha (Hyttinen 2001). Inggris dan Belanda termasuk negara-negara yang hanya sedikit memiliki sumber daya hutan. Di Inggris, luas total areal hutan hanya sekitar 2.5 juta ha (Harrison et al. 2002), sementara di Belanda luas kepemilikan hutan hanya sekitar 0.2 ha per keluarga (Hyttinen 2001). Sekalipun luas hutannya tergolong kecil, istilah “farm woodlands”, “farm forest” dan “privately owned forests” sudah lama digunakan di Inggris. Di negara ini, sekitar 2/3 dari areal hutannya dimiliki oleh individu atau perusahaan (Harrison et al. 2002). Di Perancis dan Belgia, lebih dari 90% kepemilikan mempunya luas kurang dari 5 ha. Di negara-negara yang berbahasa Jerman (Jerman, Austria dan Swiss) luas kepemilikan hutan bervariasi, dimana sebagian besar (36%) kurang dari 5 ha, namun sekitar 29% pemilik mengelola lebih dari 1,000 ha (Hyttinen 2001). Di Eropa bagian timur, sebagian besar areal hutan dimiliki publik, walaupun proses privatisasi kini sedang terjadi, khususnya di negara-negara bekas pemerintahan sosialis atau USSR. Pada sebagian besar negara, kepemilikan hutan dipegang oleh sejumlah besar individu dengan unit pengelolaan yang relatif kecil. Saat ini luas hutan milik di beberapa negara Eropa Timur masih sangat bervariasi, sebagai contoh di Rumania dan Republik Czechnya, areal hutan yang dimiliki secara pribadi masing-masing adalah 6% dan hampir 60%. Secara umum, kepemilikan lahan hutan secara individu berkisar antara 2-3 ha per keluarga. Dengan proses privatisasi yang sekarang sedang terjadi, diperkirakan sekitar 3540% dari seluruh areal hutan akan dimiliki secara pribadi (Harrison et al. 2002). Pada umumnya di negara-negara Eropa, para pemilik hutan telah terorganisasi dengan baik dalam bentuk berbagai asosiasi yang mengedepankan praktek-praktek pengelolaan hutan secara lestari. Organisasi-organisasi tersebut berperan sebagai sarana penghubung di antara pemilik hutan dan menjadi perwakilan mereka di dalam proses penentuan kebijakan, termasuk memberikan pelayanan dalam pemasaran hasil kayunya dan praktek-praktek silvikultur dalam pengelolaan hutan. Pada tingkat wilayah Eropa, salah satu asosiasi yang menjadi payung berbagai organisasi pada tingkat nasional tesebut dikenal sebagai The Confederation of European Forest Owners (CEPF) (Hyttinen 2001). 11 Di Jepang, hutan rakyat sudah mempunyai sejarah panjang sejak lebih dari tiga abad yang lalu. Dengan luas total areal hutan sebesar 2.51 juta ha atau sekitar 66.5% dari luas total wilayah daratan, seluas 14.6 juta ha merupakan hutan milik yang dikelola oleh individu keluarga, perusahaan atau kelompok masyarakat. Terdapat sekitar 2.5 juta individu keluarga pemilik hutan yang sebagian besar (60%) mengelola hutan dengan luasan kurang dari 1 ha. Selebihnya mengelola areal hutan dengan luasan antara 1 – 5 ha per keluarga. Perusahaan dan kelompok masyarakat mengelola areal hutan dengan luasan yang juga relatif kecil, yaitu masing-masing sekitar 34.6 dan 19.3 ha. Hutan tanaman rakyat di Jepang didominasi oleh dua jenis kayu, yaitu Sugi (Cryptomeria japonica) dan Hinoki (Chamaecyparis obtusa) (Ota 2001). Jepang merupakan negara pengimpor kayu yang sangat besar dimana selama kurun waktu tahun 1990an jumlah kayu yang diimpor sekitar 3 sampai 4 kali produksi kayu domestik. Usaha tanaman kayu rakyat kurang dapat bersaing dengan harga kayu impor yang relatif lebih murah, sehingga banyak areal hutan tanaman yang diterlantarkan karena alasan ketidak-layakan ekonomi. Keberadaan hutan milik di Jepang dapat bertahan karena subsidi pemerintah, antara lain melalui bantuan sampai 68% atas biaya pengadaan tanaman hutan dan penjarangan komersil pertama. Bantuan juga diberikan setiap tahun dalam bentuk biaya pemeliharaan jalan dan sumbangan mesin-mesin bagi pembangunan pedesaan. Peluang di masa depan untuk mempertahankan keberadan tanaman kayu rakyat di Jepang adalah dengan kebijakan pemerintah yang akan mendukung fungsi hutan sebagai penghasil jasa lingkungan serta dengan program sertifikasi hutan rakyat untuk memperoleh harga kayu yang tinggi (premium price) di pasar internasional (Ota 2001). Di Australia. hutan milik dapat dibagi menjadi tiga kategori besar, yaitu hutan tanaman industri berskala besar, hutan tanaman skala kecil dan tanaman untuk konservasi. Sesuai dengan namanya, hutan tanaman industri bertujuan untuk produksi kayu dan dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar atau melalui program kemitraan antara masyarakat dengan perusahaan atau pemerintah. Tanaman konservasi pada umumnya dilakukan di areal-areal yang memiliki sensitifitas lingkungan yang tinggi, seperti sepanjang aliran sungai. 12 Tanaman konservasi terutama bertujuan untuk mencegah erosi sepanjang aliran sungai dan mencegah peningkatan permukaan air tanah (water tables) yang menyebabkan salinitas tinggi. Upaya penanaman untuk konservasi ini khususnya didukung oleh program pemerintah yang disebut “landcare” (Herbohn 2001). Hutan tanaman skala kecil lebih umum disebut sebagai “farm forestry” yang mencakup kebun kayu (woodlots), tanaman pelindung angin (windbreaks), tanaman penaung (shelterbelts), agroforestry atau tanaman sekat terasering (slope break plantings). Kadang-kadang isitlah farm forestry juga diterapkan pada tanaman kayu hasil program kemitraan antara individu masyarakat dengan perusahaan hutan tanaman industri. Di luar program kemitraan tersebut, diperkirakan luas areal hutan tanaman skala kecil di Australia mencapai sekitar 76, 250 ha yang terkonsentrasi di negara-negara bagian Victoria, New South Wales, Western Australia dan Tasmania. Di India, terdapat berbagai istilah untuk menggambarkan tanaman kayu rakyat. Hobley (1996) menggolongkannya ke dalam lima kelompok, yaitu Social Forestry, Farm Forestry, Community Forestry, Joint Forest Management (JFM) dan Rural Development Forestry (RDF). Social Forestry dalam konteks ini didefinisikan sebagai hutan tanaman yang pembangunannya disponsori oleh pemerintah (Departemen Kehutanan) pada areal-areal lahan tidur seperti lahanlahan untuk penggembalaan ternak masyarakat, lahan-lahan milik negara, pinggiran jalan dan sungai. Social Forestry pertama kali diperkenalkan pada tahun 1970 an dan pembangunannya dilakukan dengan berbagai tingkatan keterlibatan masyarakat. Farm Forestry adalah hutan tanaman yang dibangun oleh masyarakat pada lahan-lahan milik dengan subsidi bibit dari pemerintah, baik secara cumacuma atau dengan harga yang rendah. Community Forestry mempunyai pengertian yang luas, mencakup sistem pengelolaan hutan oleh masyarakat adat atau hutan tanaman yang dibangun melalui program pemerintah dengan partisipasi masyarakat. Joint Forest Management sering digolongkan juga ke dalam kelompok ini. Joint Forest Management adalah sistem pengelolaan hutan bersama antara masyarakat dengan pemerintah dengan model pembagian hasil, tanggung jawab, pengawasan dan pengambilan keputusan dan diikat dalam bentuk kontrak. Rural Development Forestry adalah hutan yang dibangun dengan dukungan 13 pemerintah, namun model pengelolaan tanaman dan pengembilan keputusan dalam pengelolaan terutama dilakukan oleh pengguna tanaman, baik secara individu maupun kelompok. Menurut Harrison et al. (2002) unit pengelolaan tanaman kayu rakyat di India relatif kecil, yaitu sekitar 0.1 ha. Kadang-kadang tanaman kayu hanya ditanam sepanjang batas pagar atau pinggiran sungai atau saluran air. Di Filipina, tanaman kayu rakyat diawali dengan program pemerintah dalam rehabilitasi hutan oleh Biro Pengelolaan Hutan Filipina (Forest Management Bureau of the Department of Environment and Natural Resources). Pada mulanya program ini terkonsentrasi kepada tanaman hutan industri, namun belakangan lebih mengarah kepada pengembangan hutan kemasyarakatan. Istilah yang sering digunakan adalah “Community Based Forest Managament (CBFM)” dan lebih umum lagi adalah “Community Based Resource Management (CBRM)”. Program ini biasanya diterapkan dalam bentuk penanaman kayu pada lahan-lahan komunal atau lahan-lahan milik masyarakat untuk tujuan produksi, konservasi lahan atau kombinasinya. Penanaman pada lahan-lahan milik masyarakat (farm forestry) umumnya dalam bentuk agroforestry (Harrison et al. 2002). Keragaman dalam bentuk dan model pengelolaan tanaman kayu rakyat akan bertambah apabila memperhatikan di berbagai belahan dunia lainnya seperti di Cina dan Afrika. Namun demikian, dari paparan seperti dijelaskan di atas terdapat gambaran umum tentang bentuk-bentuk dan model pengelolaan tanaman kayu rakyat pada skala global. Tabel 1 di bawah ini merangkum berbagai tipologi pengelolaan tanaman kayu rakyat tersebut. Penelusuran literatur tentang berbagai model tanaman kayu rakyat di berbagai belahan dunia seperti dipaparkan di atas, serta rangkumannya yang disajikan pada Tabel 1 memberikan gambaran bahwa model tanaman kayu rakyat sangat bervariasi di beberapa tempat. Nampaknya akan sulit untuk menarik model yang bersifat umum dan kecocokan model untuk pengembangannya harus lebih banyak disesuaikan dengan konteks lokal. Di negara-negara maju, hutan atau tanaman kayu rakyat cenderung telah dikelola oleh individu masyarakat yang mandiri. Pengelolaan tanaman kayu rakyat sudah lebih berorientasi bisnis. Organisasi pemilik hutan sudah berjalan lebih baik dan memiliki pengaruh yang 14 cukup kuat terhadap kebijakan pemerintahnya yang berkaitan dengan hutan. Namun demikian, dukungan pemerintah dalam bentuk subsidi kadang-kadang masih diperlukan, seperti yang diperlihatkan oleh kasus di Jepang. Kasus di Australia menunjukkan bahwa insentif yang cukup perlu tersedia di dalam usaha tanaman kayu apabila ingin usaha ini menarik bagi masyarakat luas. Tabel 1 Tipologi tanaman kayu rakyat pada berbagai tempat di dunia2 No. Negara/ Wilayah 2 1 USA 2 Eropa 3 Jepang Terminologi tanaman kayu rakyat  NIPF;  Farm Forestry;  Family Forestry;  Private Forestry;  Private Forest Landholders (PFL).  Non-Industrial Forestry;  Privately Owned Forest;  Family Forest;  Small-scale Farm Forest;  Farm Woodland;  Farm Forest. Family Owned Forest Kepemilikan  Perorangan  Perusahaan  Perorangan  Marga  Perorangan  Keluarga Ukuran unit pengelolaan Tujuan pengelolaan  Mulai beberapa hektar sampai mencapai 1,000 ha.  Pada umumnya kurang dari 40 ha. Bervariasi di antara negaranegara Eropa:  Nordic countries: 25 40 ha;  Western countries: 30 2,600 UD 22-28 1,600 UP 16-19 1,000 DL 8-15 500 Piton >7 300 Pemerintah Kabupaten Gunungkidul tergolong sangat aktif dalam melaksanakan kegiatan pembangunan di sektor kehutanan. Pengembangan tanaman kayu rakyat merupakan prioritas utama di dalam pembangunan di sektor kehutanan tersebut. Salah satu kebijakan di lingkup kabupaten yang telah dilakukan adalah dengan membentuk Kelompok Kerja Hutan Rakyat Lestari (Pokja HRL) pada tahun 2005 (SK Bupati Nomor 95/Kpts/2005 tanggal 20 September 2005). Pokja tersebut bekerja bersama berbagai pemangku kepentingan yang menaruh minat terhadap perkembangan hutan rakyat di Gunungkidul dengan anggota pokja yang berasal dari lintas instansi di lingkup kabupaten, kalangan akademisi, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan sektor swasta. Di dalam pelaksanaan kegiatannya Pokja HRL menerapkan konsep pemberdayaan masyarakat melalui tiga kelola yaitu kelola lahan, kelola lembaga dan kelola usaha. Kelola lahan dilaksanakan dengan cara memberikan bimbingan teknis dalam rangka pemanfaatan lahan sesuai kondisi dan jenis tanah, pemilihan jenis tanaman yang sesuai dengan kondisi wilayah, teknik budidaya tanaman dan teknik–teknik pemanfaatan lahan di bawah tegakan hutan. Kelola lembaga dilaksanaan melalui pemberian bimbingan dan pendampingan kepada masyarakat 61 dalam membentuk dan mengembangkan kelembagaan kelompok yang kuat, sedangkan kelola usaha dilakukan dengan pemberian bimbingan kepada masyarakat agar dapat meningkatkan kemampuannya dalam membuka lapangan pekerjaan di sektor kehutanan, membuka peluang pasar dan industri yang berbasis kehutanan. Program-program pembangunan kehutanan yang berkaitan dengan pengembangan tanaman kayu rakyat di Kabupaten Gunungkidul menurut paparan Bupati Gunungkidul (Soeharto 2008) meliputi antara lain : a. Pengelolaan hutan rakyat Pengembangan dan pengkayaan hutan rakyat dilakukan setiap tahun dengan menggunakan dana APBN maupun APBD. Kabupaten Gunungkidul telah memiliki 3 desa (Desa Girisekar Kecamatan Panggang, Desa Dengok Kecamatan Paliyan dan Desa Kedungkeris Kecamatan Nglipar) yang telah mendapatkan sertifikat pengelolaan hutan berbasis masyarakat lestari (PHBML) menurut skema Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI). b. Pengembangan Hutan Kemasyarakatan (HKm) Pada tahun 2003 Bupati Gunungkidul telah memberikan Surat Keputusan tentang Izin Pengelolaan HKm kepada 35 kelompok tani serta mengeluarkan SK Bupati Nomor 213/Kpts/2003 tentang Pengelolaan Hutan Kemasyarakatan. Mulai saat itu pendampingan, pembinaan dan pemberdayaan terhadap kelompok tani HKm terus dilakukan secara intensif sampai akhirnya terbit SK Bupati Gunungkidul tentang Pemberian Izin Usaha Pengelolaan Hutan Kemasyarakatan (IUPHKm) kepada 35 kelompok tani dengan luas lahan 1087,5 Ha selama 35 tahun. c. Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL/GERHAN) Kegiatan GERHAN telah dilaksanakan dengan menanami sekitar 6,000 ha areal hutan rakyat dengan jumlah bibit yang telah didistribusikan sekitar 1.75 juta batang. Jenis-jenis yang dikembangkan meliputi jati, petai, mangga, melinjo dan sukun. d. Pembuatan Hutan Tanaman Rakyat (HTR) Pemerintah Kabupaten Gunungkidul telah mengalokasikan lahan seluas 500 Ha yang merupakan tanah AB (Hutan Produksi Tetap) untuk pengembangan HTR. 62 Perkembangan terkini (2009) melaporkan bahwa kabupaten ini telah memperoleh SK Pencadangan HTR dari Menteri Kehutanan seluas 327.73 ha dan izin pengelolaan (IUPHHK-HTR) seluas 84.4 ha. e. Pembentukan dan Pembinaan Kelompok Tani Pemerintah kabupaten telah menetapkan kelompok tani hutan sejumlah 1,445 kelompok dan melaksanakan program pendampingan kelompok oleh para penyuluh kehutanan yang ditempatkan di desa-desa. 5.1.2. Praktek Pengusahaan Tanaman Jati Rakyat Petani di Gunungkidul memandang tanaman jati sebagai jenis kayu yang penting dalam kehidupan mereka. Hampir semua petani yang memiliki lahan di wilayah ini dapat dikatakan memiliki tanaman jati pada lahan-lahan mereka. Hasil pengamatan lapangan menunjukkan bahwa masyarakat menanam pohon jati dengan pola tumpang sari pada berbagai tipe penggunaan lahan milik mereka, seperti pekarangan, tegalan dan kitren. Pekarangan adalah lahan yang bergabung dengan rumah tempat tinggal petani. Tegalan adalah lahan usaha tani yang terutama ditujukan untuk memproduksi tanaman pangan, sedangkan kitren adalah lahan yang didominasi tanaman kayu, khususnya jati. Ilustrasi penanaman jati rakyat pada ketiga pola penggunaan lahan tersebut terlihat pada Gambar 6. (a) Pekarangan (b) Tegalan (c) Kitren Gambar 6 Berbagai pola penanaman jati rakyat di Kabupaten Gunungkidul. Berdasarkan hasil inventarisasi yang dilakukan terhadap 227 petak lahan milik petani (Lampiran 5), jumlah rata-rata tanaman jati per hektar adalah seperti terlihat pada Tabel 8. Kitren merupakan bentuk tipe penggunaan lahan dengan kerapatan pohon jati tertinggi, yaitu sebesar 485 pohon per ha. Pekarangan dan tegalan juga ditanami jati dengan kerapatan yang relatif lebih rendah, yaitu masing-masing 344 dan 435 pohon per ha. Tanaman jati bahkan juga dijumpai di lahan-lahan sawah, sekalipun hanya berupa tanaman batas dengan kerapatan 63 tanaman sebesar 81 pohon per ha. Hasil inventarisasi lahan tersebut menunjukkan bahwa tanaman jati merupakan jenis yang dianggap penting di dalam sistem usaha tani petani di Kabupaten Gunungkidul. Tabel 8 Jumlah tanaman jati pada berbagai tipe penggunaan lahan petani di Kabupaten Gunungkidul Tipe penggunaan lahan Jumlah pohon jati per ha Tegalan 435 Pekarangan 344 Kitren 485 Sawah 81 Survey rumah tangga yang menanyakan langsung alasan petani dalam penanaman jati pada lahan milik mereka menyimpulkan dua alasan terbesar yang disampaikan responden petani, yaitu sebagai tabungan keluarga dan sumber uang tunai pada kondisi darurat (52%); dan karena tanaman jati merupakan warisan orang tua dan sudah menjadi tradisi/warisan budaya (37%), seperti terlihat pada Gambar 7. Alasan pertama apabila dirinci lebih jauh terdiri dari tujuan sebagai tabungan keluarga (40%), yaitu untuk penyediaan biaya sekolah anak-anak mereka atau biaya untuk penyelenggaraan perhelatan keluarga seperti acara pernikahan anak; sedangkan untuk tujuan kondisi darurat (12%), misalnya digunakan untuk membiayai anggota keluarga yang menderita sakit atau saat menghadapi masa paceklik karena gagal panen. Alasan tradisi terdiri dari kebiasaan menanam jati yang sudah menjadi tradisi keluarga (21%) dan karena memperoleh warisan lahan dari orang tua yang sudah memiliki tanaman jati (16%). Prosentase responden yang menyampaikan alasan karena pengaruh pasar seperti permintaan dan harga kayu yang tinggi ternyata hanya sekitar 5%, sedangkan sisanya menanam kayu karena berbagai alasan lain (5%) atau pengaruh lingkungan masyarakat di sekitarnya (2%). 64 60 50 40 30 20 10 0 Tabungan Tradisi/warisan keluarga dan budaya sumber tunai pada kondisi darurat Pengaruh pasar Alasan lainnya Pengaruh lingkungan Gambar 7 Alasan petani menanam jati berdasarkan hasil survey rumah tangga di Kabupaten Gunungkidul. Rumusan FGD yang telah dilakukan (Lampiran 4) memperkuat hasil survey rumah tangga di atas. Alasan penanaman jati sebagai tabungan keluarga dan sumber uang tunai pada kondisi mendesak disampaikan oleh seluruh kelompok peserta diskusi. Alasan lainnya yang dikemukakan oleh peserta diskusi adalah karena tanaman jati baik untuk perbaikan lingkungan, seperti mencegah erosi, perbaikan iklim mikro/tidak gersang, menggemburkan tanah, memperbaiki sumber air, disamping cocok untuk pemanfaatan lahan kosong yang kurang subur untuk komoditi pertanian. Para petani di Kabupaten Gunungkidul pada umumnya mengelola lahan usaha tani dengan luasan yang relatif sempit. Hasil survey rumah tangga menunjukkan bahwa kepemilikan lahan petani jati sebagian besar (62%) berada di bawah luasan 1 ha per KK, bahkan sekitar 37% keluarga petani hanya memiliki lahan di bawah 0.5 ha (Gambar 8). Luas kepemilikan lahan rata-rata dari seluruh responden adalah sebesar 1 ha per keluarga. 65 1 < 0.5 ha 5 6 10 .5 - < 1.0 ha 37 1.0 - < 1.5 ha 16 1.5 - < 2.0 ha 2.0 - < 2.5 ha 25 2.5 - < 3.0 ha > 3.0 ha Gambar 8 Distribusi luas kepemilikan lahan petani jati rakyat di Kabupaten Gunungkidul. Produksi tanaman pangan merupakan prioritas pertama dalam sistem usaha tani petani. Para petani mengalokasikan rata-rata sebesar 66% dari lahan mereka untuk sistem tegalan yang memiliki tujuan utama untuk memproduksi tanaman pangan. Dengan kepemilikan lahan yang relatif rendah tersebut, para petani ratarata masih mengalokasikan sekitar 9% lahan mereka untuk penanaman jati dalam bentuk kitren (lihat Gambar 9). Fenomena tersebut juga mengindikasikan pentingnya tanaman jati di dalam sistem usaha tani masyarakat di Kabupaten Gunungkidul. 100% 90% 0 9 8 11 15 2 8 9 80% Tanah kosong 70% 60% Tanah hutan 66 50% Kolam Kebun 40% Kitren 30% Tegalan 20% 8 10% 15 Sawah 0% Pekarangan < 0.5 .5 - < 1.0 - 1.5 - 2.0 - 2.5 - > 3.0 Total 1.0 < 1.5 < 2.0 < 2.5 < 3.0 Gambar 9 Alokasi penggunaan lahan petani jati rakyat di Kabupaten Gunungkidul. 66 Hasil survey rumah tangga menunjukkan bahwa total pendapatan keluarga petani dalam bentuk uang tunai sangat bervariasi dari keluarga yang nyaris tidak berpenghasilan sampai total pendapatan sekitar Rp 58 juta per tahun. Nilai rataan tingkat pendapatan keluarga petani adalah sekitar Rp 10 juta per tahun. Pendapatan rumah tangga tersebut berasal dari berbagai sumber seperti diperlihatkan pada Gambar 10. Pada gambar tersebut terlihat bahwa hasil pangan dan palawija memberikan kontribusi pendapatan terbesar, yaitu sekitar 26%. Pendapatan dari non usaha tani seperti bekerja sebagai buruh, memberikan jasa, berdagang dan usaha rumah tangga lainnya bersama-sama memberikan kontribusi sekitar 59%. Hasil penjualan kayu jati memberikan kontribusi sekitar 13% terhadap pendapatan keluarga, jauh di atas hasil penjualan ternak (2%) yang diusahakan petani. Karakteristik budidaya tanaman jati rakyat bersifat tidak intensif. Data inventarisaisi lahan menunjukkan bahwa setengah dari tanaman jati rakyat berasal dari regenerasi alam (khususnya pada areal kitren). Sebagian besar petani masih menggantungkan benih atau bibit jati dari anakan alam. Hanya sebagian kecil petani (12%) yang telah menggunakan bibit jati unggul. Pada umumnya petani tidak menggunakan pupuk pada tanaman jati, terkecuali pada pohon-pohon jati yang ditanam pada areal tegalan di dalam sistem tumpangsari. Sebagian besar petani tidak menerapkan pola penjarangan dan pemangkasan cabang atas tegakan jati mereka untuk menghasilkan kualitas kayu yang baik. Penjarangan pada prakteknya dilakukan saat pemanenan kayu dengan pola tebang butuh. Pemangkasan cabang dilakukan terutama untuk memperoleh kayu bakar dan tidak untuk memperbaiki kualitas batang jati, sehingga sering dilakukan secara keliru dengan menyisakan sisa cabang yang akan menjadi cacat mata kayu (Rohadi et al. 2011). 67 Gambar 10 Struktur pendapatan petani jati rakyat di Kabupaten Gunungkidul. Analisa finansial dengan menghitung biaya input dan output dari usaha tanaman jati rakyat menunjukkan bahwa usaha tanaman kayu jati dalam bentuk kitren sebenarnya memberikan marjin keuntungan yang lebih besar dari usaha tanaman pangan dalam bentuk tegalan (lihat Tabel 9). Dalam satuan hektar usaha tani kitren lebih menguntungkan karena input biaya yang jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan usaha tani tegalan. Marjin keuntungan usaha tani kitren jauh lebih menguntungkan daripada usaha tani tegalan apabila dihitung per satuan hektar. Namun demikian pada kondisi kepemilikan lahan petani yang relatif kecil, marjin keuntungan tersebut tidak berbeda secara nyata. Pada Tabel 10 terlihat bahwa komponen biaya input terbesar dari sistem usaha tani, baik kitren maupun tegalan adalah curahan tenaga kerja. Komponen curahan tenaga kerja pada usaha tani tegalan lebih besar dari usaha tani kitren. Hal ini berarti bahwa usaha tani tegalan lebih banyak memberikan peluang pekerjaan bagi petani di lahan milik mereka. Pola pemanenan jati rakyat di Kabupaten Gunungkidul dikenal dengan istilah “tebang butuh” (slash for cash). Pola pemanenan tersebut berarti bahwa petani tidak menerapkan umur rotasi tebang tertentu untuk tanaman jati mereka. Pohon jati ditebang pada saat petani membutuhkan uang tunai. Dengan pola pemanenan seperti itu, para petani umumnya akan memelihara pohon jati mereka sampai mencapai umur maksimal apabila mereka tidak mempunyai kepentingan 68 akan uang tunai, atau apabila petani masih mempunyai aset keluarga lainnya yang dapat diuangkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut, seperti dari penjualan hasil palawija atau hewan ternak. Tabel 9 Analisa finansial usaha tani rakyat berbasis tanaman jati No Komponen biaya 1 Pendapatan per KK (Rp) 2 Biaya input (Rp) per KK 3 Margin KK 4 Pendapatan per ha (Rp) 5 Biaya input per ha (Rp) 6 Margin per ha (Rp) (Rp) per Tipe penggunaan lahan Kitren1) Tegalan2) Taraf nyata Kitren Tegalan Taraf nyata Kitren Tegalan Taraf nyata Kitren Tegalan Taraf nyata Kitren Tegalan Taraf nyata Kitren Tegalan Taraf nyata Jumlah responden 29 27 29 29 29 27 29 27 29 29 29 27 Nilai rataan Galat contoh 2,827,976 704,386 3,751,204 785,370 0.067 530,720 113,089 1,938,056 243,799 0.007** 2,297,256 670,834 1,698,369 663,655 0.062 19,516,099 12,119,384 13,542,895 2,681,746 0.007** 1,859,916 354,710 10,015,327 2,054,893 0.001** 17,656,184 11,935,474 3,639,578 2,415,694 0.007** Keterangan: 1) 2) 3) Analisa biaya kitren didasarkan atas nilai rataan usaha kitren tahun 2003 sd 2007 Analisa biaya tegalan didasarkan atas nilai rataan usaha tegalan tahun 2007 ** = berbeda sangat nyata berdasarkan uji statistik t-student Tabel 10 Komponen biaya input dan pendapatan usaha tani kitren dan tegalan Komponen biaya input Curahan tenaga kerja Bahan Peralatan Lain-lain Total Kitren (%) 58.1 Tegalan (%) 61.6 22.7 31.1 12.8 6.4 2.5 4.8 100 100 Komponen pendapatan Kayu jati Tanaman hutan non jati Kayu bakar Hijauan Makanan Ternak (HMT) Tanaman pangan Total Kitren (%) 30.7 Tegalan (%) 3.1 17.6 1.4 33.5 13.5 3.6 6.5 4.7 85.4 100 100 69 Survey pasar yang dilakukan (Kurniawan et al. 2008) melaporkan bahwa 80% petani memanen kayu jati mereka karena desakan kebutuhan akan uang tunai. Alasan kebutuhan tersebut pada umumnya antara lain adalah untuk perayaan lebaran (akhir bulan Ramadhan), untuk menyekolahkan anak ke tempat yang baru, perayaan keluarga dan untuk menanggulangi masa gagal panen tanaman pangan. Petani mulai menjual jati saat umur pohon mencapai 10 tahun. Hanya sedikit (14%) petani yang menjual kayu jati setelah tanaman mencapai masak tebang optimal, yaitu di atas umur 30 tahun. Sebagian besar petani menjual kayu jati mereka dalam bentuk tegakan kepada para pedagang pengumpul atau pengepul kayu di desa. Para pengepul pada umumnya adalah para petani juga yang tingkat ekonominya relatif sudah lebih maju. Jumlah pengepul di tingkat desa adalah antara 2- 5 orang (Kurniawan et al. 2008). Transaksi jual beli kayu biasanya dilakukan langsung di lahan tempat pohon yang akan ditebang. Pengepul menaksir harga kayu dengan mengukur lilit batang pada posisi tertinggi yang dapat dicapai saat berdiri. Pada umumnya para petani lebih bersifat sebagai penerima harga (price takers) di dalam proses transaksi tersebut. 5.1.3. Analisa Kelembagaan: Persepsi Pengusahaan Tanaman Jati Rakyat dan Strategi Petani Dalam Polski dan Ostrom (1999) mengemukakan bahwa inti dari analisa kelembagaan menjelaskan hubungan sebab akibat di dalam konsepsi arena aksi. Analisa tersebut mempunyai tiga tujuan utama, yaitu untuk mengidentifikasi faktor-faktor eksternal (pada aspek-aspek kondisi fisik atau materi dari obyek yang diteliti, atribut-atribut masyarakat dan aturan main yang berlaku) yang mempengaruhi perilaku individu atau kelompok di dalam arena aksi, mengidentifikasi dan mengevaluasi pola-pola interaksi yang logis yang berkaitan dengan perilaku aktor di dalam arena aksi dan mengevaluasi luaran atau kinerja dari proses interaksi tersebut. Terdapat dua unsur arena aksi yang saling berinteraksi, yaitu situasi aksi dan karakteristik dari aktor-aktor yang terlibat di dalam proses interaksi tersebut. Di dalam kerangka analisa ini, petani kayu jati rakyat merupakan figur sentral yang ingin dianalisa, khususnya untuk memahami pola-pola pengambilan keputusan yang mereka lakukan di dalam menjalankan usaha tanaman kayu jati 70 rakyat tersebut. Petani memiliki cara pandang tersendiri terhadap usaha tanaman kayu yang mereka lakukan. Petani melakukan tindakan atau keputusan di dalam menjalankan usaha tanaman kayu mereka karena didorong oleh cara pandang tersebut dan dengan mempertimbangkan berbagai faktor, seperti sumber daya yang mereka kuasai serta situasi dan kondisi yang mereka hadapi. Fakta kelembagaan pertama yang dapat dipahami dari fakta-fakta alamiah (Searle dalam Clement 2007) didalam usaha tanaman jati rakyat adalah bahwa tanaman jati sudah menjadi bagian yang penting di dalam sistem usaha tani masyarakat desa di Kabupaten Gunungkidul. Hal tersebut jelas terlihat dari hasil pengamatan lapangan serta hasil inventarisasi lahan petani yang telah dilakukan. Tanaman jati mudah dijumpai pada berbagai tipe penggunaan lahan yang ada, seperti pekarangan, tegalan atau kitren dalam sistem tumpang sari atau yang juga dikenal dengan sistem agroforestry. Secara fisik, tanaman jati memang cocok dengan kondisi wilayah di Kabupaten Gunungkidul. Wilayah tersebut memiliki curah hujan yang cukup, musim kemarau yang cukup nyata setiap tahun dan memiliki jenis tanah yang banyak mengandung zat kapur. Kondisi alam tersebut merupakan tempat yang cocok bagi habitat pertumbuhan tanaman jati menurut Martawijaya et al. (2005). Sejarah Kabupaten Gunungkidul yang pernah mengalami kondisi lingkungan yang rusak karena rendahnya luas tutupan hutan (Filius 1997; Awang 2001; Maarif Institute 2007) telah mempengaruhi pandangan masyarakat atas peran penting tanaman kayu jati bagi perbaikan lingkungan. Para petani terdahulu merespon kondisi lingkungan yang gersang tersebut dengan penanaman kayu. Menurut Rudel (2009), respon tersebut merupakan pengaruh faktor ekologi manusia yang juga terjadi pada berbagai tempat di dunia. Perkembangan selanjutnya, budidaya tanaman jati tersebut kemudian membudaya dan diwariskan kepada generasi-generasi berikutnya. Pengaruh pasar atau faktor ekonomis masuk ke dalam pertimbangan masyarakat petani generasi kemudian setelah ternyata kayu jati mampu memberikan kontribusi yang cukup nyata terhadap pendapatan keluarga. Respon petani yang positif terhadap pengaruh pasar tersebut bersifat logis dan juga terjadi di berbagai wilayah lainnya di dunia, seperti dilaporkan 71 antara lain oleh Zhang dan Owiredu (2007), Midgley et al. (2007) dan Bertomeu (2006). Fakta kelembagaan kedua yang dapat dipahami adalah bahwa usaha tanaman jati rakyat menjadi strategi usaha tani dalam rangka meragamkan sumber pendapatan keluarga petani. Strategi diversifikasi tersebut jelas terlihat dari struktur pendapatan keluarga serta model alokasi penggunaan lahan petani. Struktur pendapatan petani seperti yang dijelaskan pada Gambar 10 menunjukkan bahwa petani jati rakyat di Kabupaten Gunungkidul lebih didominasi oleh karakter mereka sebagai peasant di dalam perspektif antropologi ekonomi (Abar, 2002). Pertimbangan safety first atau jaminan keamanan keluarga serta nilai-nilai moral (seperti karena meneruskan tradisi keluarga dan untuk perbaikan lingkungan) menjadi faktor yang sangat penting dalam pengambilan keputusan petani dalam melakukan kegiatan usaha tani. Karakter peasant tersebut mendorong petani untuk memfokuskan usaha tani merka bagi produksi tanaman pangan, karena komoditi tersebut secara langsung berkaitan dengan kebutuhan dasar petani. Menurut Belcher dan Kusters (2004), strategi petani kayu jati rakyat di Kabupaten Gunungkidul dapat digolongkan ke dalam coping strategy atau diversified strategy, tergantung kepada besaran kontribusi finansial tanaman kayu jati terhadap pendapatan tunai keluarga. Secara umum, dengan kontribusi pendapatan rata-rata sebesar 13% terhadap pendapatan keluarga, strategi usaha tani tanaman jati rakyat tersebut tergolong kepada strategi diversifikasi pendapatan. Analisa finansial usaha tani menunjukkan bahwa sebenarnya tanaman jati memberikan marjin keuntungan per hektar yang lebih besar dibandingkan dengan usaha tanaman pangan (lihat Tabel 9). Namun demikian, kepemilikan lahan yang relatif terbatas menahan petani untuk melakukan ekspansi tanaman jati pada lahan-lahan usaha tani mereka. Pendapatan riil petani pada kondisi luas lahan yang mereka miliki relatif sama antara usaha kitren dan tegalan. Usaha tani tegalan lebih banyak memberikan kesempatan bagi petani untuk bekerja di lahan sendiri karena komponen terbesar dari biaya input produksi adalah curahan tenaga kerja, seperti yang diperlihatkan oleh Tabel 10. 72 Budidaya tanaman jati rakyat yang dipraktekkan petani terintegrasi dengan usaha tani lainnya (tanaman pangan dan ternak). Pola tumpang sari menjadi pilihan yang terbaik bagi petani di dalam melakukan usaha tanaman jati. Petani tidak menerapkan teknik silvikultur yang intensif terhadap tanaman jati mereka karena fokus usaha tani masih terletak pada produksi tanaman pangan. Karena peranan utama tanaman kayu jati sebagai tabungan keluarga dan sumber uang tunai pada kondisi darurat, maka strategi pemanenan atau pemasaran kayu yang diterapkan petani pada umumnya adalah pola tebang butuh dan memasarkan kayu jati mereka melalui para pedagang kayu atau pengepul di tingkat desa. Pola tebang butuh tersebut sebenarnya melemahkan posisi tawar petani saat bertransaksi dengan para pengepul. Namun demikian pola pemanenan tersebut sangat cocok dengan kondisi petani karena berbagai faktor. Pertama, pada umumnya petani menjual kayu jati hanya dalam jumlah yang kecil (satu atau beberapa pohon saja), sehingga tidak cukup ekonomis untuk mencari alternatif cara pemasaran yang lain, misalnya dengan cara menjual langsung ke industri pengolahan kayu. Kedua, petani pada umumnya tidak memiliki keterampilan, sarana dan pengetahuan yang memadai untuk melaksanakan penebangan kayu secara sendiri. Ketiga, aturan tata niaga kayu mewajibkan para pedagang kayu untuk melengkapi dokumen surat izin tebang (SIT) dan surat keterangan sahnya hasil hutan (SKSHH) yang perlu diurus di kantor desa dan Dinas Kehutanan Kabupaten. Pengurusan dokumen-dokumen tersebut memerlukan pengetahuan yang khusus serta biaya transaksi yang terlalu tinggi untuk ditanggung secara individu oleh petani. Terakhir, memasarkan kayu kepada pengepul sangat mudah dan praktis karena para pengepul biasanya juga adalah anggota masyarakat yang telah dikenal dengan baik. Rangkuman persepsi dan strategi petani di dalam usaha tanaman kayu jati rakyat berdasarkan hasil analisa kelembagaan seperti diuraikan diatas disajikan pada Tabel 11. Kinerja yang telah dicapai Kabupaten Gunungkidul di dalam pengembangan hutan rakyat dianggap cukup mengesankan karena telah berhasil mengubah bentang alam dari kondisi gersang pada tahun 1950an dan kini menjadi jauh lebih hijau. Secara khusus Menteri Kehutanan telah menjadikan Kabupaten 73 Gunungkidul sebagai model percontohan untuk pengembangan hutan rakyat (Suryanto 2009). Pertumbuhan luas tutupan hutan dari hanya 3% menjadi 29% (42 ribu ha) dalam kurun waktu 50 tahun - apabila dianggap inisiatif penanaman kayu oleh masyarakat dimulai pada tahun 1960an menurut versi Awang (2001) menunjukkan bahwa pertambahan luas tutupan hutan rata-rata adalah sekitar 750 ha per tahun. Perkembangam luas tutupan hutan tersebut telah membawa perbaikan lingkugan yang sangat nyata. Dulu kabupaten ini dikenal sebagai tempat yang sering dilanda kekeringan dan kekurangan pangan, namun kini bentang alam wilayah relatif hijau dan kesejahteraan ekonomi masyarakat relatif meningkat. Tabel 11 Persepsi dan strategi petani kayu di dalam sistem pengusahaan tanaman jati rakyat No. Aspek Uraian Persepsi petani terhadap pengusahaan tanaman kayu jati rakyat Tanaman jati dipandang memiliki peran yang sangat penting di dalam sistem usaha tani. Peranan utama tanaman jati adalah sebagai tabungan keluarga dan sumber uang tunai pada kondisi darurat. Tanaman jati cocok dengan kondisi lingkungan setempat dan budidaya tanaman jati sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat. Strategi usaha tanaman kayu jati rakyat Usaha tanaman kayu jati rakyat merupakan bagian dari strategi diversifikasi pendapatan keluarga. Praktek budidaya tanaman jati dilakukan secara tumpang sari (agroforestry) di dalam sistem usaha tani untuk produksi tanaman pangan. Strategi pemanenan dan pemasaran kayu jati rakyat Strategi pemanenan dan pemasaran kayu dilakukan berdasarkan pola tebang butuh (tidak berdasarkan rotasi tebang tertentu) dan dipasarkan melalui pengepul kayu. Kegiatan penanaman jati di Kabupaten Gunungkidul kini sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat. Usaha tanaman jati sudah terintegrasi di dalam usaha tani dengan penerapan pola agroforestri. Usaha tanaman jati telah memberikan kontribusi yang cukup nyata (13%) terhadap pendapatan total keluarga dan menjadi sumber pendapatan kedua setelah tanaman pangan di dalam 74 sistem usah tani keluarga. Sekalipun demikian, teknik budidaya tanaman jati rakyat masih belum menerapkan teknik-teknik silvikultur tanaman yang ideal. Di dalam sistem pemasaran kayu, para petani kayu jati juga masih berada pada posisi penerima harga. 5.1.4. Permasalahan dan Peluang Petani Dalam Pengembangan Usaha Tanaman Jati Rakyat Walaupun secara umum perkembangan tanaman jati rakyat di Gunungkidul sudah relatif baik dan mendapat pengakuan dari berbagai pihak, berbagai permasalahan masih dihadapi petani dalam rangka pengembangan usaha tanaman jati lebih lanjut. Kendala pertama berkaitan dengan keterbatasan kepemilikan lahan petani. Dengan rata-rata luas lahan 1 ha per KK, maka tidak banyak yang dapat dilakukan petani untuk melakukan ekspansi tanaman kayu jati karena akan berkompetisi dengan kebutuhan lahan untuk produksi tanaman pangan. Dua hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi kendala ini, yaitu pertama melalui pemberian akses lahan kepada petani atas areal kawasan hutan negara yang kini masih tersisa sekitar 13,000 ha yang berupa kawasan lindung dan areal kurang produktif (Soeharto 2008). Pilihan lainnya adalah melalui peningkatan produktivitas tanaman kayu jati rakyat melalui perbaikan dalam teknik silvikultur. Pemberian akses kawasan negara kepada petani telah dilaksanakan pemerintah daerah (Dinas Kehutanan di tingkat provinsi dan kabupaten) melalui program pengembangan HKm dan HTR. Berdasarkan hasil wawancara dengan salah seorang pengurus kelompok tani yang sudah mendapat izin HKm (Bapak Ngabdani10 15 Jan 2011, komunikasi pribadi), program ini mempunyai potensi keberhasilan yang besar karena animo msyarakat Gunungkidul yang tinggi terhadap kesempatan mereka untuk memperoleh akses lahan. Selain untuk pengembangan tanaman kayu jati, akses lahan tersebut bagi petani juga berarti menambah kesempatan untuk meningkatkan produksi pangan melalui penerapan pola tumpang sari di dalam tegakan hutan. Evaluasi atas pelaksanaan programprogram tersebut perlu dilakukan sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah daerah setempat untuk lebih banyak mengalokasikan areal kawasan hutan negara yang tersisa bagi pengembangan hutan rakyat. 10 Bapak Ngabdani adalah Ketua Kelompok Tani HKm “Tani Manunggal” di Desa Bleberan, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul. 75 Dalam konteks peningkatan produksi kayu, upaya yang dapat dilakukan adalah meningkatkan kualitas teknik budidaya tanaman jati rakyat dengan penerapan teknologi-teknologi silvikultur yang sesuai dengan kondisi petani. Peningkatan teknik silvikultur tersebut antara lain dapat dilakukan melalui penggunaan bibit jati unggul, teknik pemangkasan yang benar, penerapan penjarangan pada tegakan yang terlalu rapat serta pemeliharaan trubusan melalui penunggalan (singling) pada tanaman jati regenerasi alam. Khusus untuk aspek penjarangan dan pemeliharaan trubusan, adopsi petani sangat lambat karena sistem tersebut belum cukup meyakinkan petani atas manfaatnya. Pembuatan demplot-demplot percontohan akan membantu meyakinkan petani karena dapat melihat langsung pengaruh penerapan teknik-tenik silvikultur tersebut terhadap produktivitas tanaman jati mereka (Rohadi et al. 2011). Tebang butuh merupakan praktek pemanenan kayu yang dapat mendukung pelestarian hutan rakyat jati, karena pada umumnya praktek penebangan pohon dilakukan secara selektif (berdasarkan ukuran yang sesuai dengan nilai jual yang dibutuhkan petani) dan umumnya dalam jumlah yang terbatas (satu sampai hanya beberapa pohon). Apabila petani tidak didesak oleh kebutuhan uang tunai, mereka cenderung menunda pemanenan kayu jati mereka sampai umur tebang yang optimal (sekitar 30 tahun atau setelah diameter pohon mencapai ukuran kelas kualitas utama). Pada kenyataannya, sebagian besar petani sering berada dalam kesulitan uang tunai sehingga memaksa mereka untuk melakukan penebangan kayu secara dini (premature harvesting) sebelum pohon jati mereka mencapai umur optimal. Kebiasaan tersebut berpotensi merugikan petani karena menutup peluang untuk memperoleh nilai jual kayu jati yang lebih tinggi. Para petani sebenarnya telah memiliki cara tersendiri untuk mengatasi kebutuhan yang mendesak tersebut, yaitu melalui pengembangan kelembagaan simpan pinjam didalam kelompok tani. Namun demikian, pada umumnya kemampuan lembaga simpan pinjam tersebut dalam penyediaan dana masih relatif terbatas. Kemudahan akses petani terhadap pinjaman uang tunai, seperti melalui pengembangan lembaga kredit mikro di dalam kelompok tani merupakan alternatif upaya yang perlu dikembangkan (Rohadi et al. 2011). 76 Pada aspek pemasaran kayu, para petani jati rakyat cenderung masih pada posisi sebagai penerima harga (price takers) yang mengindikasikan lemahnya posisi tawar mereka di dalam negosiasi harga dengan para pedagang. Potensi kerugian petani terjadi karena berbagai sebab, seperti kesalahan dalam penaksiran volume pohon oleh pedagang, kurangnya penghargaan pedagang terhadap kualitas kayu dan keterbatasan informasi tentang pasar dan harga kayu. Namun demikian akar permasalahannya adalah karena petani tidak mempunyai pilihan lain selain menjual kayu mereka kepada para pengepul tersebut. Pada sisi lain, para pengepul kayu, yang pada umumnya juga dari kalangan petani itu sendiri, juga mempunyai berbagai keterbatasan untuk meningkatkan harga beli kayu dari petani. Biaya transaksi yang tinggi di dalam pemasaran kayu (lihat Lampiran 8) serta berbagai resiko kerugian yang menjadi beban pengepul (Kurniawan et al. 2008), mendorong mereka untuk menerapkan strategi safety first dalam bentuk penetapan harga beli yang rendah. Peningkatan akses petani terhadap pasar, misalnya melalui pemasaran secara kolektif dan pengembangan kerjasama pasokan kayu dengan industri merupakan salah satu alternatif yang dapat meningkatkan posisi tawar petani di dalam pemasaran kayu jati. Kerja sama tersebut perlu menggali peluang untuk peningkatan nilai tambah kayu jati yang dihasilkan masyarakat. Petani kayu jati misalnya perlu diberikan keterampilan untuk mengolah kayu menjadi bahan-bahan mebel setengah jadi yang kemudian dapat ditampung oleh industri mebel di wilayah sekitarnya. Di Kabupaten Gunungkidul, potensi ini tersedia karena pemerintah daerah sudah memfasilitasi upaya kerjasama tersebut dengan beberapa perusahaan mebel di Yogyakarta. Diperlukan fasilitasi yang lebih intensif kepada kelompok-kelompok masyarakat agar upaya yang telah dirancang di tingkat kabupaten tersebut dapat dilaksanaan di tingkat operasional di desa. Biaya transaksi yang cukup tinggi dalam pemasaran kayu jati rakyat merupakan dampak dari penerapan aturan tata niaga kayu rakyat yang bersifat disinsentif bagi upaya pengembangan tanaman kayu rakyat. Kewajiban kelengkapan dokumen SIT dan SKSHH dalam perdagangan kayu jati rakyat menyebabkan peningkatan biaya transaksi pemasaran sampai 32% (Lampiran 8). Para pedagang kayu pada umumnya memasukkan biaya pengurusan dokumen 77 tersebut ke dalam biaya pemasaran yang mendorong mereka untuk menetapkan harga beli yang lebih rendah terhadap para petani. Kewajiban untuk memiliki dokumen-dokumen tersebut juga membuka peluang kepada oknum aparat untuk melakukan berbagai pungutan liar selama perjalanan transportasi kayu. Untuk kasus di Gunungkidul dimana legalitas kayu rakyat sudah terjamin dan pengawasan kawasan hutan mudah dilaksanakan, aturan tata niaga kayu rakyat tersebut perlu ditinjau ulang untuk mengurangi biaya transaksi dalam pemasaran kayu rakyat. 5.2. Tanaman kayu rakyat di Kabupaten Tanah Laut 5.2.1. Faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi sistem pengusahaan tanaman kayu rakyat Informasi umum tentang Kabupaten Tanah Laut telah diuraikan di dalam Bab IV. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa peluang bagi pengembangan usaha tanaman kayu rakyat di kabupaten ini cukup terbuka. Beberapa hal yang menjadi dasar kesimpulan tersebut adalah karena secara geografis Kabupaten Tanah Laut memiliki wilayah yang luas dengan kondisi iklim dan tanah yang cukup kondusif bagi pengembangan tanaman kayu. Posisi geografis kabupaten ini yang berdekatan dengan ibu kota provinsi Banjarmasin sebagai pusat kegiatan ekonomi di wilayah tersebut sangat menguntungkan bila dibandingkan dengan lokasi kabupaten lainnya yang lebih jauh di pedalaman. Kabupaten Tanah Laut juga memiliki berbagai potensi sumber daya alam yang mencakup bidang pertanian, perkebunan, pertambangan, perikanan dan kehutanan yang dapat memberikan peluang usaha sumber mata pencaharian bagi penduduk setempat. Seperti telah dijelaskan di dalam Bab IV, intervensi pihak luar cukup nyata mempengaruhi perkembangan tanaman kayu rakyat di kedua desa yang menjadi lokasi penelitian. Pada kasus di Desa Ranggang, intervensi dari instansi pemerintah di sektor kehutanan (Dinas Kehutanan lingkup provinsi dan kabupaten serta Unit-unit Pelayanan Teknis Kementerian Kehutanan) telah memicu penanaman mahoni oleh sebagian masyarakat di desa tersebut secara intensif, walaupun secara sporadis kegiatan penanaman tersebut telah dimulai sejak tahun 1970an oleh para pendatang dari Jawa. Pada kasus di Desa Asam Jaya, pemicu 78 kegiatan penanaman kayu dari pihak luar berasal dari perusahaan kayu lapis yang berencana untuk menampung kayu yang akan dihasilkan. Desa Ranggang yang terletak lebih dekat dengan ibukota kabupaten Pelaihari bila dibandingkan dengan Desa Asam Jaya, memiliki keuntungan untuk akses pasar yang lebih baik bagi hasil usaha tani masyarakat, termasuk kayu dari hasil budidaya. Bagi Desa Asam Jaya, akses terhadap pasar relatif lebih sulit, walaupun infrastruktur jalan sudah cukup baik. Di sekitar wilayah Desa Asam Jaya juga terdapat sebuah perusahaan kayu lapis (PT. Navatani Persada) yang memproduksi “film face plywood” yang biasa digunakan untuk pembuatan beton pra cetak. Keberadaan industri tersebut menjadi salah satu peluang bagi pemasaran hasil tanaman kayu masyarakat. Informasi dari pihak manajer perusahaan (Bapak I Made Suarta11, komunikasi pribadi), saat ini pihak perusahaan sebagian besar menggunakan kayu karet sebagai bahan baku pabrik dengan standar harga yang diterima sekitar Rp 425,000/m3 untuk kakyu bulat karet. Tingkat harga tersebut menjadi patokan harga beli perusahaan terhadap kayu jabon yang diusahakan oleh masyarakat. Berbagai permasalahan di tingkat provinsi, khususnya di sektor kehutanan akan turut mempengaruhi prospek pengembangan tanaman kayu rakyat di wilayah desa lokasi penelitian. Berbagai isu di tingkat provinsi tersebut terutama berkaitan dengan permasalahan tenurial dan kelangkaan bahan baku kayu bagi industri kehutanan (Suhardi12 19 Okt 2010, komunikasi pribadi). Pada aspek tenurial, permasalahan utama adalah banyaknya konflik lahan yang menyangkut areal kawasan hutan. Luas kawasan hutan berdasarkan fungsinya di Provinsi Kalimantan Selatan adalah seperti terlihat pada Tabel 12. Sebagian besar dari areal kawasan hutan tersebut, berdasarkan citra satelit pada kenyataannya sudah tidak berupa hutan karena kondisi tutupan hutan yang sudah terbuka. Luas areal kawasan hutan yang pada kenyataannya sudah “bukan hutan” tersebut mencapai sekitar 800,000 ha atau sekitar 45% dari luas total kawasan hutan. Kawasankawasan hutan yang terbuka tersebut merepresentasikan daerah konflik lahan 11 Bapak I Made Suarta adalah manajer PT. Navatani Persada di Kecamatan Jorong, Kabupaten Tanah Laut. 12 Bapak Suhardi adalah Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan saat wawancara dilakukan pada tanggal 19 Mei 2008, bertempat di kantor Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan. 79 yang sekarang terjadi. Konflik areal terutama juga dipicu oleh perkembangan perkebunan kelapa sawit dan karet, karena kedua komoditi tersebut mempunyai permintaan pasar yang tinggi. Provinsi Kalimantan Selatan kini mengalami kelangkaan bahan baku untuk menunjang industri perkayuan yang telah ada. Dari 14 industri kayu lapis yang kini masih beroperasi, hanya 5 industri yang masih dapat digolongkan beroperasi dengan baik. Produksi kayu di tingkat provinsi menurun drastis dari sekitar 120,000 m3 pada tahun 2000 menjadi hanya sekitar 10,000 m3 di tahun 2007. Di dalam konteks ini, produksi kayu dari hutan rakyat sangat prospektif. Tabel 12. Luas kawasan hutan berdasarkan fungsinya di Provinsi Kalimantan Selatan Kabupaten Banjar Barito Kuala Hulu Sungai Selatan Hulu Sungai Tengah Hulu Sungai Utara Kotabaru Tabalong Tanah Laut Tapin Jumlah Kawasan lindung (Ha) 148,609 2,555 21,550 Terbatas 29,869 - Tetap 27,175 13,928 Konversi 20,531 - 205,653 23,086 35,478 39,357 - 4,464 - 43,821 40,008 26,518 11,435 22,094 100,055 391,873 75,767 27,870 3,663 751,252 93,694 54,953 4,862 2,281 212,177 397,642 97,569 69,487 5,972 627,672 25,277 67,902 908,486 228,289 102,219 11,916 1,659,003 Hutan Produksi (Ha) Jumlah (ha) Sumber: Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan (2007). Provinsi Kalimantan Selatan termasuk cukup responsif di dalam menyambut program pengembangan HTR yang digagas Kementerian Kehutanan. Data tahun 2010 menunjukkan bahwa luas total pencadangan HTR yang telah mendapat pesetujuan Menteri Kehutanan adalah sebesar 29,758 ha. Alokasi pencadangan areal HTR untuk Kabupaten Tanah Laut adalah sebesar 5,355 ha. Namun demikian, sampai tahun 2010 belum terdapat izin usaha HTR yang telah dikeluarkan oleh pemerintah di tingkat kabupaten. Permasalahan utama keterlambatan ini adalah karena permasalahan koordinasi antara pemerintah pusat 80 dengan daerah yang belum lancar di dalam implementasi program HTR tersebut (Herawati 2011). Hasil wawancara dengan salah satu pengusul izin HTR di Kecamatan Jorong (Bapak Djoko13 29 Okt 2010) melaporkan bahwa pada kenyataannya waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh izin HTR sangat lama dan prosesnya panjang. Usulan permohonan izin yang disampaikan sudah lebih dari satu tahun namun belum juga mendapat keputusan. Informasi dari Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Tanah Laut (Bapak Aan Purnama 27 Okt 2010, komunikasi pribadi) menjelaskan bahwa proses yang lama tersebut terjadi karena adanya konflik lahan atas usulan lokasi HTR yang disampaikan oleh pengusul (Koperasi Akar Perjuangan). Konflik lahan terjadi karena sebanyak 600 ha areal yang diusulkan oleh koperasi tumpang tindih dengan lokasi uji coba penanaman akasia yang terdapat di bawah izin Hak Pengusahaan Hutan PT. HRB. Di atas areal yang dipermasalahkan tersebut telah beridiri tegakan akasia hasil uji coba yang kondisi fisiknya sudah siap tebang. Pihak perusahaan menghendaki agar areal tersebut dikeluarkan terlebih dahulu dan tegakan akasia yang sudah dibangun diizinkan untuk dimanfaatkan oleh perusahaan. Opsi penyelesaian konflik telah disampaikan kepada pihak yang terlibat, yaitu melalui pembentukan kerjasama pemanfaatan kayu di areal tersebut antara pihak HRB dengan koperasi pengusul HTR, namun opsi tersebut masih dalam proses pembicaraan. 5.2.2. Praktek Pengusahaan Tanaman Kayu Rakyat Desa Ranggang Hasil survey rumah tangga menunjukkan bahwa dari 9914 KK petani yang disurvey, rata-rata luas kepemilikan lahan petani responden adalah 2.06 ha. Jumlah petani pemilik tanaman mahoni adalah sebanyak 45 KK atau sekitar 6% dari jumlah KK yang tinggal di desa, lebih banyak dari informasi semula yang diperoleh dari wawancara dengan beberapa tokoh masyarakat pada saat pemilihan responden dilaksanakan. Seperti telah disampaikan sebelumnya, seluruh petani 13 14 Bapak Djoko adalah Ketua Koperasi “Akar Perjuangan”, bertempat di Jalan Poros PelaiharaiBatulicin, Desa Asam-asam, Kecamatan Jorong, Kabupayen Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan. Hasil survey rumah tangga didasarkan atas 99 KK karena 2 KK petani responden tidak mempunyai kelengkapan data sehingga dikeluarkan dari daftar responden. 81 penanam mahoni tersebut terkonsentrasi pada 2 RT dari 10 RT yang ada di desa, yaitu di RT 6 dan 7 yang keduanya didominasi oleh penduduk dari etnis Jawa. Para petani kayu mahoni pada umumnya memiliki lahan yang lebih luas dengan luas kepemilikan rata-rata sebesar 3.22 ha per KK. Setengah dari jumlah KK tersebut memiliki lahan dengan luas di atas 3 ha per KK (lihat Gambar 11). Petani responden non penanam kayu rata-rata memiliki lahan dengan luas 1 ha per KK. Sebagian besar dari mereka memiliki lahan di bawah 1 ha per KK (Gambar 12). Hasil survey rumah tangga tersebut sesuai dengan laporan Profil Desa Tahun 2007 (Pemerintah Kabupaten Tanah Laut Kecamatan Takisung Desa Ranggang 2007) yang mencatat bahwa sebagian besar penduduk desa (93%) hanya memiliki lahan di bawah 1 ha per KK. 4 4 < 0.5 ha 11 .5 - < 1.0 ha 7 51 11 11 1.0 - < 1.5 ha 1.5 - < 2.0 ha 2.0 - < 2.5 ha 2.5 - < 3.0 ha > 3.0 ha Gambar 11 Distribusi luas kepemilikan lahan petani responden penanam kayu di Desa Ranggang. 82 2 < 0.5 ha 13 7 41 4 .5 - < 1.0 ha 1.0 - < 1.5 ha 1.5 - < 2.0 ha 17 17 2.0 - < 2.5 ha 2.5 - < 3.0 ha > 3.0 ha Gambar 12 Distribusi luas kepemilikan lahan petani responden non penanam kayu di Desa Ranggang. Para petani kayu pada umumnya mengalokasikan sebagian besar (33%) lahan mereka untuk produksi tanaman pangan dalam bentuk sawah dan tegalan (Gambar 13). Tanaman kayu rata-rata mencakup 26% dari luas lahan yang mereka miliki dan sebagian dari mereka memiliki kebun karet sebesar 13% dari total luas lahan yang dimiliki. Para petani non penanam kayu mengalokasikan sebagian besar lahan mereka (55%) untuk produksi tanaman pangan dalam bentuk sawah dan tegalan (Gambar 14). Beberapa dari mereka juga memiliki kebun karet yang rata-rata mencakup 13% dari luas lahan yang mereka miliki. Sesuai dengan gambaran yang diberikan oleh sistem alokasi penggunaan lahan, sumber mata pencaharian keluarga petani di Desa Ranggang adalah usaha tani tanaman pangan (55%). Bidang usaha lainnya adalah pada kegiatan non usaha tani, yaitu sebagai buruh (13%), karyawan tetap di perusahaan (9%) dan pedagang kebutuhan pokok (7%), seperti terlihat pada Gambar 15. Tanaman kayu dan karet belum memberikan kontribusi terhadap pendapatan keluarga petani karena umur tanaman yang relatif masih muda. 83 120 100 5 13 80 26 60 Lainnya Kebun karet Kebun kayu 40 29 20 14 13 0 Tegalan Sawah Pekarangan < 0.5 .5 - < 1.0 - < 1.5 - < 2.0 - < 2.5 - < > 3.0 Total 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0 Gambar 13 Alokasi penggunaan lahan petani responden penanam kayu di Desa Ranggang. 120 100 6 13 5 18 80 60 Lainnya Kebun karet Kebun sawit 40 37 Tegalan Sawah 20 20 0 Pekarangan < 0.5 .5 - < 1.0 - < 1.5 - < 2.0 - < 2.5 - < > 3.0 Total 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0 Gambar 14 Alokasi lahan petani responden non penanam kayu di Desa Ranggang. 84 60 55 50 Tanaman Pangan Buruh non usaha tani 40 Karyawan tetap Pedagang 30 Buruh usaha tani Industri RT 20 Jasa 13 10 9 7 Ternak 7 4 4 1 0 Gambar 15 Sumber pendapatan keluarga petani responden di Desa Ranggang. Seperti disampaikan oleh beberapa tokoh masyarakat di Desa Ranggang, kegiatan penanaman mahoni secara intensif terjadi sejak tahun 2003, yang dipicu oleh program rehabilitasi hutan dan lahan yang dilaksanakan oleh pemerintah, khususnya Dinas Kehutanan tingkat provinsi dan kabupaten serta Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Kalimantan Selatan. Melalui proyek-proyek pembangunan yang dilaksanakan oleh instansi tersebut, pemerintah memberikan bantuan kepada masyarakat berupa bibit, upah kerja dan bantuan teknis lainnya pada kegiatan penanaman kayu di kawasan hutan negara dan lahan-lahan masyarakat. Masyarakat di Desa Ranggang, khususnya di RT 6 dan 7 secara aktif menyambut program pemerintah tersebut karena merasa terbantu dengan berbagai bantuan yang ditawarkan pemerintah. Informasi dari petugas penyuluh kehutanan lapangan menyatakan bahwa respon petani di desa Ranggang terhadap program pemerintah dalam pengembangan tanaman kayu rakyat tidak merata. Petani di wilayah RT 6 dan 7 yang didominasi oleh petani dari etnis Jawa lebih bersemangat dan konsisten dalam mengikuti kegiatan-kegiatan pendampingan yang dilaksanakan oleh Dinas Kehutanan. Sebagai akibatnya, para petugas lapangan pun lebih suka menempatkan proyek-proyek bantuan dan kegiatan-kegiatan pendampingan mereka pada kedua RT tersebut. Namun demikian, hasil survey rumah tangga juga menunjukkan bahwa sebagian besar alasan yang disampaikan oleh para petani 85 responden non penanam kayu adalah karena keterbatasan lahan yang mereka miliki. Masyarakat memilih jenis kayu mahoni untuk ditanam pada lahan-lahan mereka, sebagian besar karena pertimbangan ekonomi. Tanaman mahoni diyakini memiliki pangsa pasar yang baik dan akan laku dijual dengan harga yang cukup menarik. Para petani juga telah mengetahui bahwa di wilayah tetangga mereka (Kecamatan Jorong) telah ada perusahaan tanaman industri yang melakukan penanaman kayu mahoni (PT. Emida) secara intensif untuk memasok pabrik mebel mereka di Jawa. Para petani berharap bahwa keberadaan perusahaan tersebut akan menjadi salah satu peluang akses pasar atas kayu mahoni mereka. Hasil survey rumah tangga yang menanyakan langsung alasan petani atas penanaman mahoni adalah seperti terlihat pada Gambar 16. Disamping untuk dijual, kayu mahoni dapat juga dimanfaatkan untuk keperluan sendiri, antara lain untuk renovasi rumah tinggal mereka atau untuk membuat berbagai perabotan rumah tangga. 100% 90% 80% 70% 60% Lainnya 50% Sosial 40% 30% 20% 10% Lingkungan Konsumsi sendiri Ekonomi 0% Gambar 16 Alasan petani menanam beberapa jenis komoditas usaha tani di Kabupaten Tanah laut. Praktek penanaman mahoni umumnya dilakukan secara monokultur dengan jarak tanam antara 4X4 m, 4X5 m atau 5X5 m. Pada umumnya lahan bawah tegakan mahoni ditanami rumput untuk pakan ternak, walaupun sebagian dari petani ada juga yang memanfaatkannya untuk penanaman palawija, seperti jagung, kacang tanah atau singkong. Petani pada umumnya merawat tanaman 86 mahoni mereka dengan baik, seperti melakukan penyiangan untuk pembersihan lahan, pemupukan dan pemangkasan batang. Penjarangan belum dilakukan karena tanaman masih relatif muda dan jarak tanam sudah cukup lebar. Hasil inventarisasi atas 77 petak tanaman mahoni (luas total 95.75 ha) yang dimiliki oleh 24 petani mahoni menunjukkan bahwa 65% tegakan mereka berada pada kondisi baik, 22% tegakan pada kondisi sedang dan sisanya pada kondisi buruk. Kondisi baik artinya tanaman mahoni rata-rata memiliki batang yang baik sebagai bahan untuk kayu pertukangan. Kondisi sedang berarti bahwa tanaman mahoni memiliki batang pohon yang mengandung cacat, namun secara umum masih dapat dimanfaatkan untuk kayu pertukangan. Kondisi buruk berarti bahwa sebagian besar tanaman mahoni mengandung cacat yang terlalu banyak sehingga kurang cocok untuk bahan kayu pertukangan. Rata-rata potensi volume untuk masing-masing kondisi tersebut adalah 13.6 m3/ha, 11.1 m3/ha dan 2.3 m3/ha. Ilustrasi tanaman mahoni rakyat di desa ini terlihat pada Gambar 17. Desa Asam Jaya Hasil survey rumah tangga terhadap 52 petani responden menunjukkan bahwa luas kepemilikan lahan rata-rata per KK adalah 2.56 ha. Sebanyak 60% petani responden memiliki lahan di atas 2 ha dan hanya sekitar 13% responden yang mengelola lahan di bawah 1 ha per KK (lihat Gambar 18). Sebanyak 44 KK dari responden yang disurvey adalah para petani penanam kayu jabon, dan sebagian di antaranya juga memiliki tanaman kayu akasia. Pada kasus di Desa Asam Jaya, distribusi kepemilikan lahan antara petani penanam kayu dan non penanam kayu relatif seragam. Para petani responden pada umumnya mengalokasikan sebagian besar lahan mereka untuk tanaman kayu dan kebun karet (Gambar 19). Alokasi lahan untuk sawah dan tegalan relatif kecil (total = 24%) yang menunjukkan bahwa usaha tanaman pangan bukan merupakan jenis usaha tani yang dominan. Tanaman karet cukup dominan di dalam penggunaan lahan. Sebagian besar petani responden non penanam kayu mengatakan bahwa mereka lebih memilih tanaman karet dari pada tanaman jabon karena lebih menguntungkan sebagai sumber pendapatan keluarga. 87 Gambar 17 Ilustrasi tanaman mahoni rakyat di Desa Ranggang. 4 25 < 0.5 10 17 .5 - < 1.0 1.0 - < 1.5 10 10 25 1.5 - < 2.0 2.0 - < 2.5 2.5 - < 3.0 > 3.0 Gambar 18 Distribusi luas kepemilikan lahan petani responden di Desa Asam Jaya. 88 100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% 10 22 Lainnya 29 Kebun karet Kebun kayu 18 6 14 Tegalan Sawah Pekarangan < 0.5 .5 - < 1.0 - 1.5 - 2.0 - 2.5 - > 3.0 Total 1.0 < 1.5 < 2.0 < 2.5 < 3.0 Gambar 19 Alokasi penggunaan lahan petani responden di Desa Asam Jaya. Sebagian besar (69%) petani responden di desa ini berprofesi sebagai pekerja di luar bidang usaha tani, yaitu sebagai buruh non usaha tani (33%), karyawan tetap (sebagai Pegawai Negeri Sipil atau bekerja di berbagai perusahaan) dan pedagang barang-barang kebutuhan pokok (12%). Kegiatan usaha tani sebagai sumber mata pencaharian utama keluarga dipraktekkan oleh relatif sejumlah kecil petani responden (18%) terutama dalam bentuk usaha tanaman pangan (12%). Tanaman kayu maupun kebun karet yang mereka miliki belum memberikan kontribusi terhadap pendapatan keluarga (lihat Gambar 20). Penanaman jabon pada umumnya dilakukan secara monokultur dengan jarak tanam pada umumnya 4X4 m. Hasil inventarisasi atas 92 plot tanaman jabon milik petani menunjukkan bahwa sekitar 42% tegakan berada pada kondisi baik, 28% pada kondisi sedang dan 13% pada kondisi buruk. Potensi volume tegakan pada masing-masing kondisi tersebut adalah 51 m3, 28 m3, dan 20 m3 per ha. Ilustrasi tanaman jabon rakyat tersebut terlihat pada Gambar 21. Selain tanaman jabon, beberapa keluarga petani juga memiliki tanaman akasia yang dibangun melalui kontrak kerjasama dengan perusahaan hutan tanaman industri, yaitu PT. HRB. Kontrak dilakukan pada tahun 2003 dengan perusahaan tersebut oleh sekitar 25 KK melalui Koperasi Unit Desa (KUD) Tani Jaya Murni. Di dalam kerjasama tersebut pada prinsipnya petani hanya menyediakan areal lahan karena seluruh aktivitas penanaman dilakukan oleh perusahaan. Menurut penuturan staf PT. HRB di lokasi (Bapak Andri 89 Jatiatmana15, komunikasi pribadi) tujuan penanaman akasia tersebut adalah untuk memasok industri serpih dengan rotasi tebang antara 6 sampai 7 tahun. Sistem pembagian hasil antara perusahaan dengan pemilik lahan adalah 60:40 dari harga jual kayu yang disepakati setelah dikurangi biaya produksi. Ilustrasi tanaman akasia pola kemitraan tersebut terlihat pada Gambar 22. 35 33 30 25 Buruh non usaha tani Karyawan tetap 24 Pedagang 20 15 Buruh usaha tani Tanaman Pangan 12 12 12 Ternak 10 5 Jasa 4 Kayu 2 2 0 Gambar 20 Sumber pendapatan keluarga petani responden di Desa Asam Jaya. Gambar 21 Ilustrasi tanaman jabon rakyat di Desa Asam Jaya. 15 Bapak Andri Jatiatmana adalah perwakilan PT. Hutan Rindang Banua, beralamat di Jl. Sei Baru RT 06 RW 04, Desa Asam-Asam, Kecamatan Jorong, Kabupaten Tanah Laut. 90 Gambar 22 Tanaman akasia model kemitraan antara PT. Hutan Rindang Banua dengan masyarakat di Kecamatan Jorong. Sebagaimana telah dijelaskan, penanaman kayu jabon di desa ini dipicu oleh tawaran dari PT. Hendratna, sebuah perusahan kayu lapis yang memiliki pabrik di Banjarmasin. Sebagian besar petani (65%) menerima tawaran tersebut karena menganggap bahwa tanaman jabon akan menjadi sumber pendapatan (tabungan) keluarga yang cukup menjanjikan. Tujuan ekonomi merupakan motif utama penanaman kayu seperti diperlihatkan oleh Gambar 16. Jaminan kepastian pasar juga menjadi isu penting yang berkembang di kalangan para petani kayu jabon pada akhir-akhir ini. Pada saat investasi penanaman dilakukan, para petani merasa yakin bahwa tanaman jabon mereka akan ditampung oleh perusahaan kayu lapis yang memberikan bibit secara cumacuma. Namun demikian perusahaan tersebut kini mengalami kebangkrutan dan sudah tidak beroperasi sehingga mengganggu harapan petani. Beberapa petani yang diwawancarai kini kurang menaruh perhatian terhadap tanaman jabon mereka dan mulai mengurangi intensitas pemeliharaan tegakan jabon mereka. Pada beberapa kasus bahkan dijumpai petani yang telah mengganti tanaman jabon mereka dengan tanaman karet yang dianggap memiliki prospek pasar yang lebih menjanjikan (lihat Gambar 23). 91 Gambar 23 Tanaman jabon rakyat yang ditebang oleh pemiliknya karena akan diganti dengan kayu karet. Hasil FGD yang dilakukan bersama beberapa perwakilan tokoh masyarakat dan petani di Desa Asam Jaya menunjukkan bahwa kegiatan pendampingan dari instansi pemerintah di sektor kehutanan relatif masih terbatas, sehingga para petani belum memperoleh banyak kesempatan untuk terlibat di dalam programprogram pengembangan tanaman kayu rakyat. Kecamatan Jorong sebenarnya telah memperoleh alokasi lahan untuk pengembangan HTR, namun masyarakat di Desa Asam Jaya belum mengetahui tentang program tersebut. 5.2.3. Analisa Kelembagaan: Persepsi dan Strategi Petani dalam Pengusahaan Tanaman Kayu Rakyat Petani melihat usaha tanaman kayu rakyat sebagai sebuah peluang untuk memperoleh tambahan pendapatan. Kemiripan antara kasus di kedua desa penelitian adalah, bahwa pemicu minat masyarakat terhadap usaha tanaman kayu tersebut berasal dari pihak luar. Pada kasus di Desa Ranggang, petani melihat berbagai manfaat yang dapat diperoleh dengan terlibat pada program pengembangan tanaman kayu yang digagas instansi pemerintah. Selain petani memandang bahwa kayu mahoni memiliki prospek ekonomi yang baik, keterlibatan tersebut juga akan menjadi akses mereka terhadap berbagai bantuan 92 yang disediakan oleh pemerintah16. Pemilihan jenis mahoni sebagai jenis yang dikembangkan merupakan pilihan rasional petani, karena disamping jenis kayu tersebut mempunyai harga jual yang tinggi, kayu tersebut juga dapat digunakan untuk keperluan sendiri. Di berbagai negara, khususnya di Asia Tenggara, program-program dan kebijakan yang diberikan pemerintah berpengaruh positif terhadap ekspansi tanaman kayu (Rudel 2009). Secara ekologis, kayu mahoni juga cocok dengan kondisi lingkungan di Kabupaten Tanah Laut yang memiliki wilayah dengan ketinggian antara 0 – 1000 m dpl. dan curah hujan yag beriklim tropis basah. Kayu mahoni cocok dengan kondisi tersebut dan toleran terhadap berbagai jenis tanah (Whitmore dalam Krisnawati et al. 2011b; Lamb dalam Krisnawati et al. 2011b; Martawijaya et al. 2005). Tidak diketahui dengan pasti apakah petani di Desa Ranggang telah memiliki pengetahuan tentang kesesuaian tempat tumbuh jenis kayu tersebut. Namun demikian pemilihan atas jenis kayu tersebut merupakan keputusan yang cukup strategis. Petani tidak memilih kayu jati, yang mungkin mempunyai nilai ekonomi yang lebih tinggi dari mahoni karena kayu jati kurang begitu cocok dengan kondisi lingkungan setempat. Wilayah Kabupaten Tanah Laut tidak memiliki musim kemarau yang nyata dan jenis tanah yang kurang mengandung kapur yang biasa dibutuhkan tanaman jati. Kayu karet tidak menjadi pilihan petani karena jenis ini tidak termasuk ke dalam jenis yang ditawarkan oleh pemerintah. Jenis kayu karet baru termasuk ke dalam jenis tanaman kehutanan sejak diperkenalkan program HTR yang relatif baru. Para petani di desa Asam Jaya melihat tanaman jabon sebagai salah satu peluang karena mereka umumnya memiliki lahan yang cukup luas. Sementara itu latar belakang sebagai warga transmigran yang relatif baru menempati desa tersebut (tahun 1991), menyebabkan mata pencaharian petani belum terfokus kepada usaha tani. Sebagian besar petani masih memanfaatkan peluang bekerja di luar bidang usaha tani seperti yang tergambar di dalam struktur sumber pendapatan petani (Gambar 20). Kondisi wilayah di kecamatan Jorong yang 16 Motivasi seperti ini juga dijumpai pada sebagian petani di Desa Asam Jaya bedasarkan penuturan Bapak Sanawiri, Bapak Ata dan Bapak Kasmadi pada saat pelaksanaan survey rumah tangga. Mereka mengatakan bahwa salah satu alasan mereka untuk bergabung dengan program penanaman jabon adalah karena pihak perusahaan menjanjikan akan memberikan bantuan pupuk dan obat-obatan untuk pemeliharaan tanaman jabon mereka. 93 sedang berkembang, dengan adanya perusahaan hutan tanaman dan pertambangan, menyediakan peluang pekerjaan bagi masyarakat di sekitar Desa Asam Jaya. Para petani kayu jabon pada umumnya juga mengusahakan tanaman karet. Namun untuk membangun kebun laret juga diperlukan modal usaha yang cukup besar. Hasil analisa finansial usaha tanaman karet memperkirakan biaya pembangunan tanaman karet sebesarRp 6.8 juta per ha dan biaya pemeliharaan sekitar Rp 2 juta sampai Rp 9 per tahun (lihat Lampiran 10), sebelum tanaman tersebut mulai menghasilkan getah pada sekitar tahun ke 5. Pilihan untuk menanam kayu jabon merupakan pilihan yang cukup strategis karena relatif tidak memerlukan biaya yang besar di dalam pembangunan dan pemeliharaan tegakannya. Secara ekologis tanaman jabon cocok dengan kondisi setempat karena jabon termasuk jenis pionir dan tahan terhadap tempat terbuka (Krisnawati et al. 2011a). Tanaman jabon juga termasuk jenis cepat tumbuh sehingga relatif cepat akan memberikan hasil. Namun demikian, faktor utama yang mempengaruhi motivasi petani untuk menanam jabon adalah karena adanya jaminan pemasaran dari perusahaan yang mendukung program penanaman tersebut. Setelah kemudian jaminan tersebut menjadi tidak pasti karena perusahaan pendukungnya sudah tidak beroperasi, motivasi petani untuk memelihara tanaman jabon mulai berkurang. Dari pendapat para responden selama pelaksanaan survey rumah tangga terungkap bahwa kini mereka tidak terlalu mencurahkan sumber dayanya (tenaga kerja, pupuk, obat-obatan) untuk memelihara tegakan jabon. Harga pasar yang rendah (Rp 125,000 per m3 dalam bentuk tegakan) menjadi salah satu sumber demotivasi bagi petani untuk terus merawat tegakan jabon mereka. Perilaku petani tersebut di atas dapat dipandang sebgai perilaku rasional namun juga oportunis seperti disebutkan di dalam konsep teori aktor menurut Ostrom (2006). Sebagian petani jabon juga menunjukkan sikap fallable learners dengan mengganti tanaman jabon mereka dengan tanaman karet yang dianggap lebih prospektif. Bagi mereka keputusan untuk menanam jabon dianggap sebagai keputusan yang keliru dan dapat diduga bahwa mereka akan lebih berhati-hati untuk melakukan investasi di bidang usaha tanaman kayu di masa depan. 94 Faktor lain yang mempengaruhi persepsi terhadap usaha tanaman kayu kemungkinan adalah faktor budaya. Fakta bahwa para penanam kayu sebagian besar berasosiasi dengan etnis Jawa mengindikasikan adanya pengaruh budaya Jawa yang dibawa ke daerah baru di Tanah Laut. Penduduk Jawa, khususnya para transmigran merantau ke luar Jawa karena didorong keinginan untuk memperoleh lahan garapan bagi usaha tani mereka. Oleh karena itu masyarakat Jawa lebih responsif didalam menyambut berbagai program pembanguan yang berkaitan dengan usaha tani berbasis lahan yang ditawarkan pemerintah, seperti yang tercermin pada masyarakat di Desa Ranggang. Fakta bahwa hanya sebagian kecil dari petani di Desa Asam Jaya yang menyambut tawaran untuk penanaman jabon, kemungkinan disebabkan oleh proses sosialisasi yang belum intensif dilakukan oleh perusahaan pendukung (PT. Hendratna). Beberapa responden survey rumah tangga mengatakan bahwa mereka tidak sempat memperoleh bibit yang dibagikan dari perusahaan tersebut sehingga tidak melakukan penanaman jabon di lahan milik mereka. Berdasarkan struktur pendapatan keluarga (Gambar 15 dan 20), para petani kayu di kedua desa studi nampak melakukan strategi diversifikasi sumber pendapatan (Belcher dan Kusters 2004). Di dalam pelaksanaan strategi tersebut, para petani di Desa Ranggang memfokuskan kegiatan usaha tani mereka pada produksi tanaman pangan. Perilaku mereka menyerupai petani dalam artian peasant dalam perspektif antropologi ekonomi petani (Abar 2002). Petani Jawa di Desa Ranggang relatif sudah lebih lama menghuni desa tersebut (sejak tahun 1970an) sehingga sudah membentuk budaya yang mirip dengan budaya asal mereka di Jawa. Perilaku peasant di Desa Ranggang tersebut juga dicirikan dengan lebih banyaknya petani yang melakukan pola tumpang sari di dalam tegakan mahoni mereka. Fokus pada tanaman pangan tersebut merupakan penerapan strategi subsisten (coping strategy) petani di desa ini. Di desa Asam Jaya perilaku tersebut jarang dijumpai karena lahan bawah tegakan jabon pada umumnya ditumbuhi rumput-rumputan. Pada teknik budidaya tanaman, para petani di Desa Asam Jaya nampak menerapkan strategi yang berorientasi pasar atau specialized strategy menurut Belcher dan Kuster (2004). Penanaman kayu sudah dilakukan menyerupai 95 tanaman kayu industri dengan penerapan jarak tanam yang teratur dan umur pohon yang seragam. Pada awal pertumbuhan tanaman, petani juga melaksanakan perawatan yang cukup intensif, seperti melakukan kegiatan pembersihan gulma (penyiangan), pemupukan dan penyemprotan hama dengan obat-obatan. Dari aspek kondisi lingkungan, pola tanaman industri tersebut juga relatif mudah dilakukan karena kondisi medan yang landai dan tanah yang relatif homogen. Para petani, baik di Desa Ranggang maupun di Asam Jaya sampai saat ini belum melakukan pemanenan atas tanaman kayu mereka karena umur tanaman yang reatif masih muda. Akan tetapi dari pola budidaya yang mereka lakukan nampaknya strategi tebang habis akan menjadi pilihan petani, khususnya bagi para petani di Desa Asam Jaya. Model pemasaran yang tidak seperti di Jawa, dimana di setiap desa mudah dijumpai para pengepul kayu, juga turut mendorong pola pemanenan tebang habis tersebut. Pasar nampaknya akan menjadi fakor kunci yang akan menentukan pola pemanenan kayu oleh petani. Jenis kayu jabon mempunyai tujuan penggunaan yang lebih berorientasi kepada industri besar (seperti industri serpih atau kayu lapis), sehingga juga cenderung membentuk pola pemanenan tebang habis tersebut. Akan tetapi pada jenis mahoni, peluang untuk model tebang pilih seperti yang dipraktekkan oleh para petani jati rakyat masih sangat memungkinkan, karena nilai per satuan volume kayu yang lebih tinggi dan potensi penggunaan kayu yang lebih beragam. Ringkasan analisa atas persepsi dan strategi petani di dalam sistem pengusahaan tanaman kayu rakyat di Kabupaten Tanah Laut disajikan pada Tabel 13. Persepsi dan staregi petani di dalam pengusahaan tanaman kayu rakyat di Kabupaten Tanah Laut telah menghasilkan kinerja yang bervariasi. Di Desa Ranggang, prospek pengusahaan tanaman kayu cenderung baik karena motivasi petani masih tinggi di dalam menjalankan usaha tersebut. Kesimpulan ini tercermin dari hasil inventarisasi tanaman kayu mereka dimana sebagian besar tegakan mahoni masih berada dalam kondisi yang baik. Kegiatan penanaman baru juga masih berlangsung dan pembinaan dari pihak pemerintah terhadap kelompok petani di desa ini masih cukup intensif. Salah satu bukti minat yang masih tinggi tersebut, di Desa Ranggang sudah terdapat areal-areal pembibitan tanaman kayu 96 yang menyediakan bibit tanaman untuk kegiatan penanaman kayu di wilayah sendiri serta untuk wilayah-wilayah tetangga desa tersebut. Tabel 13 Ringkasan strategi petani dalam sistem pengusahaan tanaman kayu rakyat di Kabupaten Tanah Laut No. Aspek Ranggang Asam Jaya 1 Persepsi petani terhadap pengusahaan tanaman kayu Usaha tanaman kayu merupakan alternatif sumber pendapatan keluarga. Petani tertarik kepada usaha ini karena memanfaatkan peluang yang tersedia dari program pengembangan tanaman kayu rakyat oleh pemerintah. Usaha tanaman kayu merupakan alternatif sumber pendapatan keluarga. Petani tertarik kepada usaha ini karena memanfaatkan peluang yang tersedia dari program pengembangan tanaman kayu rakyat oleh industri kayu. Sebagian petani telah memandang usaha mereka sebagai keputusan yang keliru karena perkembangan pasar yang tidak pasti. 2 Strategi usaha tanaman kayu rakyat Petani menjadikan usaha tanaman kayu sebagai bagian dari strategi diversifikasi sumber pendapatan. Usaha tanaman kayu terintegrasi di dalam sistem usaha tani dengan fokus usaha masih pada produksi tanaman pangan (coping and diversified strategy) Petani menjadikan usaha tanaman kayu sebagai bagian dari strategi diversifikasi sumber pendapatan. Usaha tanaman kayu lebih condong ke arah spesialisai pasar (spesialized strategy). 3 Strategi pemanenan Prospek pemanenan dan dan pemasaran pemasaran kayu lebih kayu rakyat bersifat fleksibel antara tebang habis atau tebang pilih, tergantung kepada perkembangan pasar. Prospek pemanenan dan pemasaran kayu cenderung tebang habis. Tidak demikian halnya dengan kondisi di Desa Asam Jaya, prospek usaha tanaman kayu jabon di wilayah ini kurang menentu karena ketidakjelasan pasar. 97 Sebagian besar petani masih memelihara tanaman jabon mereka, namun dengan intensitas perawatan yang jauh berkurang. Sebagian besar petani masih berharap bahwa perkembangan pasar di masa depan untuk tanaman jabon mereka akan lebih baik. 5.2.4. Permasalahan dan Peluang Petani dalam Pengusahaan Tanaman Kayu Rakyat Permasalahan yang dihadapapi petani di Kabupaten Tanah Laut dalam menjalankan usaha tanaman kayu mereka bervariasi di antara kedua desa penelitian. Di Desa Ranggang, permasalahan utama yang dirasakan oleh sebagian petani adalah keterbatasan kepemilikan lahan untuk pengembangan tanaman kayu. Alasan tersebut banyak diungkapkan oleh para petani responden non penanam kayu. Pemerintah Kabupaten Tanah Laut telah mencanangkan program pengembangan HTR di Kecamatan Jorong. Namun demikian peluang ini mungkin bukan solusi yang cocok untuk petani di desa Ranggang karena jarak yang terlalu jauh. Diperlukan inventarisasi lahan lebih lanjut untuk mengetahui potensi lahan yang masih kurang produktif yang dapat dimanfaatkan di sekitar wilayah Desa Ranggang untuk pengembangan tanaman kayu tersebut. Bagi petani penanam kayu, upaya lain yang dapat dilakukan adalah menerapkan teknik silvikultur yang baik terhadap tegakan mahoni mereka. Informasi untuk melakukan hal tersebut sudah tersedia (Krisnawati et al. 2011b) dan sebagian telah dipraktekkan oleh masyarakat. Peran penyuluh kehutanan di dalam mensosialisasikan informasi tersebut menjadi sangat penting. Di Desa Asam Jaya, akses terhadap pasar dan harga jual yang rendah menjadi permasalahan utama. Bertolak-belakang dengan kondisi kekurangan bahan baku kayu yang dihadapi berbagai industri di Provinsi Kalimantan Selatan, akses pasar para petani jabon di Desa Asam Jaya sangat terbatas. Sementara itu harga beli kayu yang berlaku di perusahaan kayu lapis (film face) PT. Navatani yang letaknya berdekatan dengan desa Asam Jaya masih tergolong rendah (lihat Tabel 14). Dengan asumsi riap tahunan sebesar 10m3 per ha (Krisnawati et al. 2011a), maka nilai tegakan jabon masyarakat pada tahun 2013 adalah sekitar Rp 12,500,00017 per ha. Dengan beberapa asumsi harga-harga input produksi yang 17 Diasumsikan potensial volume kayu yang dihasilkan adalah 10 m3 X 10 tahun = 100 m3 98 didasarkan atas hasil wawancara dengan beberapa petani responden (Lampiran 9), maka manfaat finansial tanaman jabon pada tahun ke 10 (2013) tersebut menghasilkan Net Present Value (NPV) sebesar Rp 184,376. Manfaat finansial tersebut sangat jauh bila dibandingkan dengan potensi manfaat finansial dari usaha tanaman alternatif lainnya seperti karet dengan nilai NPV pada tahun ke 10 sebesar Rp 74 juta (Lampiran 10). Tabel 14 Perincian harga kayu yang diterima pabrik PT. Navatani Persada untuk bahan baku kayu lapis “film face” No. Rincian biaya/harga Harga kayu (Rp/ m3) 1 Harga tegakan (stumpage value) 125,000 2 Biaya tebang, potong dan muat ke truk 125,000 3 Biaya pengurusan izin (Surat Izin Tebang/SIT, dll) 4 Biaya angkutan dan lain-lain 135,000 5 Harga kayu diterima di pabrik 425,000 40,000 Potensi permasalahan lainnya bagi upaya pengembangan tanaman kayu rakyat adalah biaya transaksi yang cukup tinggi yang diakibatkan oleh kewajiban tata niaga kayu rakyat berupa kelengkapan dokumen SIT dan SKAU. Seperti terlihat pada Tabel 14, komponen biaya yang disebabkan oleh pengurusan SIT adalah sebesar 32% dari harga jual tegakan. Diperlukan mekanisma kontrol tata niaga kayu yang lebih murah namun efektif untuk menanggulangi biaya transaksi tinggi dari sistem tata niaga kayu rakyat yang berlaku sekarang. Pada aspek teknik budidaya, petani kayu di Desa Asam Jaya sudah menerapkan tenik silvikuktur yang cukup baik, seperti diindikasikan dengan penyiapan lahan, penerapan jarak tanam yang teratur, pemupukan dan penyiangan, khususnya pada tahun-tahun pertama setelah penanaman. Sekalipun demikian, hasil inventarisasi tegakan menunjukkan bahwa potensi volume tegakan per ha bervariasi antara 20 m3/ha dan 51 m3/ha pada berbagai kondisi tegakan. Hasil tersebut tergolong rendah apabila dibandingkan dengan riap tanaman jabon di berbagai tempat lain yang dilaporkan beberapa literatur (Sapulete dan Kapisa 1994; Krisnawati et al. 2011a). Beberapa perbaikan dalam teknik silvikultur, 99 seperti waktu yang tepat dalam pemberian pupuk dapat diupayakan untuk meningkatkan produktivitas tegakan, namun hal tersebut baru dapat dilakukan apabila tersedia insentif yang jelas yang diberikan pasar atas upaya tersebut (Kallio et al. 2011). 5.3. Pembelajaran dan implikasi kebijakan Hasil analisa terhadap persepsi dan strategi petani di dalam pengusahaan tanaman kayu rakyat dengan menggunakan kerangka analisa kelembagaan (Ostrom 2006) memberikan beberapa pembelajaran yang perlu dipahami oleh para pengambil keputusan. Di dalam pelaksanaan pembangunan kehutanan di Indonesia, sering terjadi keputusan-keputusan yang ditetapkan dan membawa dampak kepada kalangan masyarakat luas terlalu bersifat terpusat (sentralistik) dan linier, berdasarkan logika umum para pembuat keputusan tersebut (Herawati 2011). Hasil penelitian ini memberikan beberapa pembelajaran bahwa intervensi kebijakan yang dilakukan akan lebih tepat apabila para pengambil keputusan lebih memahami alam pikiran masyarakat yang menjadi obyek keputusan mereka. Dalam konteks pengembangan tanaman kayu rakyat, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pembelajaran kepada para pengambil kebijakan agar memandang petani bukan sebagai obyek, namun lebih sebagai subyek yang memiliki berbagai pilihan dan strategi di dalam menjalankan usaha mereka. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa persepsi dan strategi petani di dalam pengusahaan tanaman kayu rakyat dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktorfaktor tersebut berkaitan dengan aspek internal maupun eksternal dari petani itu sendiri. Kedua contoh kasus yang dibahas di dalam studi memperlihatkan perbedaan pada persepsi dan strategi petani di dalam menjalankan usaha tanaman kayu rakyat. Di Kabupaten Gunungkidul, masyarakat telah memandang usaha tanaman jati sebagai bagian dari kehidupan mereka sehingga usaha tanaman kayu sudah terintegrasi ke dalam sistem usaha tani mereka. Persepsi masyarakat yang telah terbentuk tersebut menjadi modal yang sangat besar bagi keberhasilan pengembangan hutan rakyat jati di Kabupaten Gunungkidul. Dukungan yang perlu diberikan pemerintah kepada masyarakat penanam kayu jati di Kabupaten Gunungkidul tidak lagi pada tingkatan peningkatan kesadaran atau penyuluhan teknis mengenai budidaya tanaman jati, namun perlu lebih jauh menggarap aspek 100 bisnis dari usaha tanaman tersebut. Tidak demikian halnya di Kabupaten Tanah Laut, sebagian besar masyarakat memandang usaha tanaman kayu sebagai peluang yang baik bagi upaya diversifikasi pendapatan. Namun demikian, usaha tersebut belum cukup membudaya sehingga prospek perkembangannya masih sangat dipengaruhi oleh intervensi luar seperti dukungan program-program pemerintah atau usaha kemitraan yang dikembangkan perusahaan swasta. Pasar menjadi peluang sekaligus permasalahan pada semua kasus yang dipelajari. Sekalipun demikian, tingkat dan keberadaan (nature)nya berbeda. Di Kabupaten Gunungkidul, pasar telah terbentuk dengan baik dan memudahkan petani untuk memasarkan hasil tanaman jati mereka. Akan tetapi sistem pasar yang terbentuk masih menyebabkan petani kayu berada pada posisi tawar yang lemah. Petani di Kabupaten Gunungkidul sering berada pada posisi kesulitan keuangan dan menyebabkan petani harus menebang lebih dini kayu jati mereka. Kebiasaan tebang butuh yang “terpaksa” tersebut menyebabkan petani kehilangan potensi keuntungan yang lebih besar dari alternatif lainnya, yaitu menunggu tanaman kayu mereka sampai mencapai ukuran optimal dan harga yang jauh lebih baik. Kebijakan yang dapat menolong petani dari situasi terdesak karena kebutuhan uang tunai dapat menyelamatkan petani dari kondisi keterpaksaan tersebut. Kebijakan operasional seperti pengembangan pelayanan kredit mikro bagi petani merupakan alternatif yang perlu dipertimbangkan. Di Kabupaten Tanah Laut, khususnya di Desa Asam Jaya, permasalahan pasar merupakan isu utama, yaitu akses pasar yang belum jelas atas hasil tanaman kayu mereka. Informasi pasar yang tidak jelas tersebut menjadikan usaha tanaman kayu kurang prospektif, walaupun pada kenyataannya permintaan terhadap bahan baku kayu di wilayah provinsi sebenarnya sangat tinggi. Pemerintah perlu turun tangan untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat tentang potensi pasar yang tersedia dan mengembangkan jaringan pasar antara petani kayu takyat dengan pihak industri yang selama ini mengeluh karena kekurangan pasokan bahan baku. Aspek lain dari pasar yang perlu dipertimbangkan adalah kekhususan penggunaan hasil tanaman kayu. Pada kasus di Kabupaten Tanah Laut, kayu mahoni memiliki fleksibilitas yang lebih tinggi terhadap pasar dibandingkan dengan kayu jabon. Usaha penanaman kayu dengan tujuan yang lebih spesifik, 101 seperti kayu jabon dengan demikian sangat perlu memperhatikan prospek pasarnya terlebih dahulu. Aturan tataniaga kayu seper SIT, SKAU dan SKSHH bagi petani kayu rakyat pada kedua lokasi studi cenderung hanya menyebabkan biaya transaksi tinggi dan berpotensi menjadi kendala pemasaran kayu (market barrier). Dari sisi konsepsi, aturan ini juga sebenarnya tidak cocok diterapkan pada kayu rakyat karena kayu tersebut merupakan hasil budidaya pada lahan milik. Di Kabupaten Gunungkidul khususnya, atau lebih luas lagi di Jawa, dimana perkembangan hutan rakyat sudah sangat pesat dan pengawasan terhadap kawasan hutan negara relatif jauh lebih mudah, aturan tata niaga tersebut sudah tidak layak lagi karena dari sisi manfaat dan fungsinya tidak sebanding dengan dampak negatif yang ditimbulkan. Pemerintah pusat dan daerah perlu mempertimbangkan penghapusan aturan ini dengan mencari mekanisme kontrol tata niaga kayu yang jauh lebih sederhana, sehingga bisa memangkas biaya transaksi dalam pemasaran kayu rakyat. Keterbatasan kepemilikan lahan menjadi kendala bagi sebagian petani di dalam pengembangan usaha tanaman kayu mereka. Namun demikian penyediaan lahan perlu memperhatikan kelayakan usaha tanaman kayu tersebut. Sebagai contoh, program HTR yang telah dicanangkan di wilayah Kecamatan Jorong belum menjadi solusi yang cocok bagi petani di Desa Ranggang karena jarak yang terlalu jauh. Diperlukan inventarisasi lahan lebih lanjut untuk mengetahui potensi lahan yang masih kurang produktif yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman kayu di desa ini. Di Kabupaten Gunungkidul, keterbatasan lahan petani menjadi kendala bagi perluasan tanaman kayu rakyat. Pemerintah perlu mempertimbangkan untuk memberikan akses yang lebih luas kepada petani untuk mengelola kawasan hutan negara, seperti melalui pengembangan program HKm dan HTR secara lebih intensif. Pada tataran akademis, penelitian ini memberikan contoh konkrit bahwa konsepsi pilihan moral (moral choice) dan pilihan rasional (rational choice) sebenarnya terjadi secara besamaan pada diri petani kayu. Tidak ada batasan yang bersifat ekstrim atas konsep tersebut yang diterapkan di dalam perilaku petani. Di dalam menerapkan pilihan moral, keputusan-keptusan petani juga sebenarnya 102 didasarkan atas sifat rasional, karena keputusan tersebut didasari oleh persepsi yang telah terbentuk serta oleh kondisi lingkungan yang mereka hadapi. Beberapa implikasi kebijakan pada tataran operasional yang dapat dipetik dari hasil penelitian ini antara lain adalah: a. Perlunya penyempurnaan di dalam perencanaan dan pelaksanan program kegiatan dalam rangka pengembangan tanaman kayu rakyat. Para pembuat keputusan di tingkat operasional perlu lebih memahami keinginan, pandangan dan perilaku petani di dalam menjalankan usaha tanaman kayu rakyat. Sistem pelaksanaan kegiatan yang lebih fleksibel dan disesuaikan dengan kondisi khusus daerah perlu lebih diakomodir oleh para pembuat kebijakan di tingkat yang lebih tinggi. Intervensi perlu dilakukan secara teliti dan diprioritaskan pada permasalahan-permasalahan yang sedang dihadapi petani kayu. b. Program-program pendampingan masyarakat, seperti kegiatan penyuluhan perlu difokuskan kepada aspek bisnis dari usaha tanaman kayu rakyat sebelum menyentuh aspek-aspek yang lebih teknis. Petani kayu pada prinsipnya adalah insan yang rasional, namun karakter mereka bisa beragam tergantung kepada latar belakang budaya, pengetahuan dan pengalaman. Para petugas pendamping, seperti penyuluh perlu dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan yang cukup untuk mengembangkan aspek bisnis dari usaha tanaman kayu rakyat. c. Persoalan-persoalan pasar, seperti akses terhadap pasar, harga jual dan posisi tawar petani di dalam pemasaran kayu merupakan persoalan-persoalan prioritas yang perlu dikemas di dalam program-program penyuluhan kehutanan di masa depan. Intervensi yang tepat bagi petani tidak selalu harus berada di sektor kehutanan, namun pemahaman persoalan dari sudut pandang kehutanan dapat membantu dalam rangka penyempurnaan kebijakan yang lebih terintegrasi di lintas sektor di tingkat daerah, seperti tingkatan kabupaten. Pemerintah perlu lebih memprioritaskan kegiatan pendampingan untuk memfasilitasi penguatan kelembagaan kelompok tani dan pengembangan upaya kemitraan antara kelompok tani dengan perusahaan-perusahaan tanaman industri atau industri kayu. 103 d. Perlu inovasi untuk meningkatkan nilai tambah tanaman kayu bagi petani. Peningkatan nilai tambah tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara. Pada tahapan produksi kayu, peningkatan nilai tambah tersebut dapat dilakukan melalui sosialisasi sistem pengelompokan kualitas dan harga kayu (grading) yang berlaku di industri kayu dan berbagai upaya penerapan teknik silvikultur yang sesuai dengan kondisi petani. Pada tingkatan yang lebih jauh, para petani kayu perlu dilibatkan di dalam proses pengolahan kayu yang sesuai dengan kemampuan petani. e. Pemerintah perlu bersikap lebih kritis atas kebijakan-kebijakan yang cenderung kontra produktif bagi upaya pengembangan usaha tanaman kayu rakyat. Kebijakan yang mengatur tata niaga kayu rakyat yang berlaku saat ini cenderung menimbulkan biaya transaksi tinggi dan menjadi hambatan di dalam proses pemasaran kayu rakyat. Kebijakan tersebut perlu direvisi dengan mekanisme yang lebih sederhana dan murah dan disesuaikan dengan kondisi daerah setempat. 104 105 VI. KESIMPULAN DAN SARAN 6. 1. Kesimpulan Penelitian ini memfokuskan kepada upaya untuk memahami persepsi dan strategi petani di dalam menjalankan usaha tanaman kayu rakyat. Pemahaman terhadap aspek-aspek tersebut bertujuan agar intervensi kebijakan yang diterapkan pemerintah atau pihak-pihak lain dalam upaya pengembangan usaha tanaman kayu rakyat lebih sesuai dengan kebutuhan petani dan lebih tepat dalam mengantisipasi keputusan-keputusan yang akan diterapkan oleh petani. Penelitian ini mendukung pandangan yang menyatakan bahwa kebijakan-kebijakan yang diarahkan untuk pengembangan usaha tanaman kayu rakyat harus menempatkan petani lebih sebagai subyek di dalam menjalankan usaha tanaman kayu daripada sebagai obyek dari suatu kebijakan. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa persepsi petani terhadap usaha tanaman kayu sangat dipengaruhi oleh faktor budaya, pengetahuan dan pengalaman mereka serta kondisi lingkungan setempat. Persepsi petani yang berbeda atas usaha tanaman kayu sangat dimungkinkan apabila variabel-variabel tersebut juga berbeda. Karena persepsi menentukan strategi petani di dalam menjalankan usaha tanaman kayu, maka intervensi yang diterapkan di suatu tempat belum tentu akan direspon secara seragam oleh petani dengan latar belakang yang berbeda. Pemahaman yang mendalam atas fenomena ini penting untuk dimiliki oleh para pembuat kebijakan, agar kebijakan yang dibuat lebih efektif. Bagi masyarakat di Kabupaten Gunungkidul, usaha tanaman kayu (jati) sudah dipandang sebagai bagian dari budaya mereka. Tanaman jati dipandang memiliki peran yang sangat penting di dalam sistem usaha tani. Peranan utama tanaman jati bagi mereka adalah sebagai tabungan keluarga dan sumber uang tunai pada kondisi darurat. Usaha tanaman jati sangat cocok dengan perspektif petani yang mengutamakan keselamatan dari kemungkinan kesulitan ekonomi. Bagi sebagian masyarakat di Kabupaten Tanah Laut, usaha tanaman kayu (jabon dan mahoni) dipandang sebagai peluang yang baik di dalam rangka meragamkan sumber pendapatan. Respon petani di wilayah tersebut terhadap keberlangsungan usaha tanaman kayu masih sangat tergantung kepada dinamika pasar atas tanaman 106 kayu yang mereka usahakan. Secara umum, petani lebih menonjokan perspektif ekonomi di dalam menjalankan usaha tanaman kayu rakyat. Pada umumnya petani memilih usaha tanaman kayu sebagai bagian dari strategi diversifikasi pendapatan keluarga. Strategi tersebut dijumpai, baik pada petani kayu jati di Kabupaten Gunungkidul maupun petani kayu di Kabupaten Tanah Laut. Namun demikian, strategi yang dipilih petani di dalam menjalankan usahanya tidak persis sama di antara kedua lokasi tersebut. Petani di Kabupaten Gunungkidul dan di Desa Ranggang KabupatenTanah Laut menjalankan usaha tanaman kayu secara terintegrasi di dalam sistem usaha tani mereka. Kayu ditanam pada lahan-lahan produktif yang mereka gunakan untuk memproduksi tanaman pangan. Usaha tani tanaman pangan masih menjadi fokus usaha, sedangkan usaha tanaman kayu menjadi sumber tambahan pendapatan atau tabungan keluarga (coping and diversified strategy). Tidak demikian halnya dengan petani di Desa Asam Jaya Kabupaten Tanah Laut. Petani di desa tersebut menjalankan usaha tanaman kayu cenderung sepenuhnya untuk tujuan komersial dengan spesialisasi pasar (specialized strategy). Strategi tersebut juga tercermin dari model pemanenan kayu yang diterapkan. Petani di Kabupaten Gunungkidul menerapkan pola tebang pilih atau tebang butuh di dalam sistem pemanenan kayunya, sementara petani di Desa Asam Jaya cenderung mengarah kepada sistem tebang habis. Isu-isu yang berkaitan dengan pasar dan pemasaran kayu, seperti keterbatasan akses dan informasi pasar, harga jual kayu dan posisi tawar petani yang rendah serta biaya transaksi tinggi dalam pemasaran kayu merupakan permasalahan-permasalahan utama di dalam upaya pengembangan usaha tanaman kayu rakyat. Permasalahan-permasalahan tersebut perlu menjadi prioritas utama di dalam agenda program pengembangan tanaman kayu rakyat. Keterbatasan kepemilikan lahan juga menjadi kendala bagi upaya pengembangan tanaman kayu rakyat, khususnya bagi petani yang berada di wilayah padat penduduk seperti di Kabupaten Gunungkidul. Pemberian akses yang lebih luas kepada petani untuk memanfaatkan kawasan hutan negara dapat menjadi insentif yang sangat berarti bagi petani. Namun demikian di dalam pemberian akses terhadap penggunaan lahan tersebut perlu juga dipertimbangkan kelayakan usahanya. Jarak yang terlalu 107 jauh atau infrastruktur jalan yang telalu sulit akan menjadi kendala bagi petani untuk memanfaatkan lahan tersebut secara menguntungkan. Peningkatan teknik budidaya melalui penerapan silvikultur yang cocok dengan kondisi petani, merupakan upaya lain untuk mengatasi keterbatasan lahan melalui peningkatan produktivitas lahan. Namun demikian, penerapan teknologi tersebut akan berjalan efektif apabila pasar memberikan respon yang positif terhadap investasi yang dikeluarkan petani. Hasil penelitian ini merekomendasikan beberapa pilihan kebijakan dalam rangka pengembangan usaha tanaman kayu rakyat, sebagai berikut: a. Menyempurnakan sistem perencanaan dan pelaksanan program pengembangan tanaman kayu rakyat agar lebih fleksibel dan sesuai dengan kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi petani serta mempertimbangkan kondisi khusus daerah. Implikasinya, para perancang program kegiatan perlu lebih memahami persepsi dan strategi petani di dalam menjalan usaha tanaman kayu rakyat tersebut. Kebijakan-kebijakan yang diterapkan perlu memandang petani lebih sebagai subyek pelaksana program dan bukan obyek dari suatu kebijakan. b. Memfokuskan program-program pendampingan masyarakat kepada aspek bisnis usaha tanaman kayu rakyat, sebelum menyentuh aspek-aspek yang lebih teknis. Implikasinya, para petugas pendamping, seperti penyuluh perlu dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan yang cukup untuk mengembangkan aspek bisnis dari usaha tanaman kayu rakyat. c. Menyusun program-program kegiatan untuk memecahkan persoalan-persoalan pasar, seperti memperluas akses pasar bagi produk kayu rakyat, meningkatkan posisi tawar petani dan memangkas biaya-biaya transaksi dalam pemasaran kayu melalui penyederhanaan aturan tata niaga kayu rakyat. Disamping itu perlu ditingkatkan kegiatan pendampingan untuk memfasilitasi penguatan kelembagaan kelompok tani dalam rangka pemasaran kayu secara bersama dan pengembangan kemitraan antara kelompok tani dengan perusahaan-perusahaan tanaman industri atau industri kayu. d. Meningkatkan nilai tambah tanaman kayu rakyat melalui peningkatan kualitas kayu rakyat yang memenuhi persyaratan industri kayu dan melibatkan petani kayu di dalam proses pengolahan kayu yang sesuai dengan kemampuan petani. 108 e. Mengembangkan program kredit mikro bagi petani untuk membantu mereka mengatasi kesulitan ekonomi pada kondisi darurat sehingga mencegah praktek penebangan kayu sebelum umur optimal tegakan tercapai. Implikasinya, pemerintah juga perlu melakukan penguatan kelembagaan kelompok tani agar mampu mengelola kredit mikro tersebut secara lestari. f. Meningkatkan pelayanan untuk mempermudah akses petani atas kawasan hutan negara, tidak hanya terbatas kepada program-program yang berskala besar seperti HKm dan HTR. 6. 2. Saran Penelitian ini memfokuskan kepada upaya pemahaman terhadap persepsi dan strategi petani yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan mereka di dalam menjalankan usaha tanaman kayu rakyat. Pemahaman terhadap alam pikiran petani tersebut sangat penting untuk dimiliki oleh para pembuat kebijakan agar intervensi yang mereka lakukan lebih efektif. Studi yang sama disarankan untuk dilakukan terhadap para pembuat kebijakan untuk memahami persepsi dan strategi mereka di dalam upaya pengembangan usaha tanaman kayu rakyat tersebut. Studi tersebut diharapkan akan menjadi pelengkap bagi rekomendasi yang lebih komprehensif terhadap upaya-upaya yang perlu dilakukan dalam rangka pengembangan usaha tanaman kayu rakyat di Indonesia. Hasil penelitian ini merekomendasikan pemerintah untuk mengembangkan pemasaran kayu secara bersama oleh petani melalui penguatan kelembagaan kelompok tani. Teori-teori yang berkaitan dengan aksi bersama (collective action) sudah banyak berkembang. Untuk itu disarankan studi lebih lanjut untuk mempelajari aplikasi dari teori-teori tersebut dalam rangka penguatan kelembagaan kelompok tani agar mampu melakukan aksi kolektif yang efektif di dalam pemasaran kayu rakyat. Kegiatan lain yang disarankan untuk dilakukan adalah studi dalam rangka pengembangan kerjasama kemitraan antara kelompok tani dengan industri kayu. Cukup banyak contoh implementasi kemitraan yang pada akhirnya hanya menguntungkan pihak yang lebih kuat (pengusaha) atau sebaliknya hanya bersifat belas kasihan (charity). Diperlukan model kemitraan yang lebih efektif yang saling menguntungkan kedua belah pihak di dalam sistem bisnis yang sehat. 109 Hasil penelitian ini merekomendasikan penghapusan atau penyederhanaan aturan tata niaga kayu rakyat yang saat ini cenderung menimbulkan biaya transaksi tinggi. Namun demikian, penghapusan kebijakan tersebut juga berpotensi membawa implikasi lain yang tidak terduga. Untuk itu disarankan melakukan kajian untuk mengidentifikasi pilihan-pilihan mekanisme kontrol tata niaga kayu yang lebih sederhana namun cukup efektif dalam melindungi kawasan hutan negara. 110 111 DAFTAR PUSTAKA Abar AZ. 2002. Petani dalam perspektif antropologi ekonomi. Agro Ekonomi IX (1): 36-50. Awang SA. 2001. Gurat Hutan Rakyat di Kapur Selatan. Yogyakarta: Debut Press. Aziz ASR. 2003. Memahami fenomena sosial melalui studi kasus. Di dalam: Bungin B, editor. Analisis Data Penelitian Kualitatif. Jakarta: Divisi Buku Perguruan Tinggi. PT. Raja Grafindo Persada. hlm. 18-34. Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Kesejahteraan Sosial Kabupaten Tanah Laut. 2007. Profil Desa Asam Jaya. Asam Jaya. Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia. 2008. Hasil pemeriksaan semester II tahun anggaran 2007 atas kegiatan pembangunan hutan tanaman industri tahun anggaran 2003 s.d 2007 yang dibiayai dari dana reboisasi pada Departemen Kehutanan serta instansi terkait lainnya di DKI Jakarta, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. http://www.environmentalauditing.org/portals/0/auditfiles/audit%20of%20%20commodity%20plants%20 forest.pdfjakarta [19 feb 2012]. Badan Pusat Statistik Kabupaten Gunungkidul. 2008. Gunungkidul Dalam Angka 2008. Wonosari. Belcher B, Kusters K. 2004. Non-timber forest product commercialisation: Development and conservation lessons. Di dalam: Belcher B, Kusters K, editors. Forest Products, Livelihoods and Conservation Vol. 1 Asia. Bogor: Center for International Forestry Research. hlm. 3-6. Bertomeu M. 2006. Financial evaluation of smallholder timber-based agroforestry systems in Claveria, Northern Mindanao, The Philippines. Small-scale Forest Economics, Management and Policy 5(1): 57-82. Chambers R. 1993. Challenging the Professions: Frontiers for Rural Development. London. Intermediate Technology Publications Ltd. Chomitz KM. 2007. At Loggerheads? Agricultural Expansion, Poverty Reduction, and Environment in the Tropical Forests. Washington. World Bank Policy Research Report. hlm. 7. 112 Clement F, Amezaga JM. 2008. Linking reforestation policies with land use change in northern Vietnam: Why local factors matter. Geoforum 39: 265–277. Clement F. 2007. How do farmers make decisions in a land degradation context? A case study from Northern Vietnam. Di dalam: Gebbie L, Glendinning A, Lefroy-Braun R, Victor M, editors. Proceedings of the International Conference on Sustainable Sloping Lands and Watershed Management: Linking research to strengthen upland policies and practices. Vientiane: NAFRI. hlm 528-550. Colchester. 2002. Bridging the gap: Challenges to community forestry networking In indonesia. Bogor. CIFOR. hlm. 12. Darusman D, Hardjanto. 2006. Tinjauan ekonomi hutan rakyat. Prosiding Seminar Hasil Penelitian Hasil Hutan. Bogor: Pusat Litbang Hasil Hutan. hlm: 4-13. Departemen Kehutanan. 2009. Statistik Kehutanan Indonesia 2008. Jakarta: Departemen Kehutanan. Dinas Kehutanan Kabupaten Tanah Laut dan Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Lambung Mangkurat. 2008. Laporan akhir inventarisasi dan pemetaan hutan rakyat di Kabupaten Tanah Laut Provinsi Kalimantan Selatan Tahun Anggaran 2007. Pelaihari. Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan. 2007. Data dan Fakta Pembangunan Kehutanan di Kalimantan Selatan. Banjarbaru. Emila dan Suwito. 2007. Hutan Tanaman Rakyat: Agenda baru untuk pengentasan kemiskinan? Info Kebijakan. Warta Tenure No. 4. FAO. 2007. State of The World Forests. Asia and The Pacific. Rome. Fathoni T. 2003. Tiga Menko bentuk Tim Koordinasi Perbaikan Lingkungan melalui rehabilitasi dan reboisasi. Siaran Pers No. 561/II/PIK-1/2003. Jakarta: Pusat Informasi Kehutanan, Departemen Kehutanan. Filius AM. 1997. Factors changing farmers’ willingness to grow trees in GunungKidul (Java, Indonesia). Netherlands Journal of Agricultural Science 45: 329-345. Gunungkidul Regency. 2005. ATLAS Gunungkidul Regency. Wonosari: Gunungkidul Regency in cooperation with Regional Development and Poverty Reduction Program, Department of Settlements and Regional Infrastructure. 113 Hardjanto. 2003. Keragaan dan pengembangan usaha kayu rakyat di Pulau Jawa [Disertasi]. Bogor: Program Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor. Harrison S, Herbohn J, Niskanen A. 2002. Non industrial, smallholder, smallscale and family forestry: What's in a name? Small-scale Forest Economics, Management and Policy 1(1): 1-11. Herawati T. 2011. Hutan tanaman rakyat : Analisis proses perumusan kebijakan dan rancang bangun model konseptual kebijakan [Disertasi]. Bogor: Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Herbohn J, Harrison S. 2004. The evolving nature of small-scale forestry in Australia. Journal of Forestry January/February: 42-47. Herbohn J. 2001. Prospects for small-scale forestry in Australia. Di dalam: Niskanen A. Väyrynen J, editors. Economic Sustainability of Small-scale Forestry, International IUFRO 3.08.00 Symposium; Joensuu-Finland, 20-26 March 2001. Finland: EFI. Hindra B. 2005. Indonesia Community Forestry 2005. Community Forestry Status Report. Jakarta: Ministry of Forestry of Indonesia. Hobley M. 1996. Participatory Forestry: The process of change in India and Nepal. London. Overseas Development Institute. Hyttinen P. 2001. Prospects for small-scale forestry in Europe. Di dalam: Niskanen A. Väyrynen J, editors. Economic Sustainability of Small-scale Forestry, International IUFRO 3.08.00 Symposium; Joensuu-Finland, 20-26 March 2001. Finland: EFI. hlm. 21-27. Kallio MH, Krisnawati H, Rohadi D, Kaninnen M. 2011. Mahogany and kadam planting farmers in South Kalimantan: The link between silvicultural activity and stand quality. Small-scale Forestry 10:115–132. Kishor NM, Constantino LF. 1993. Forest management and competing land uses: An economic analysis for Costa Rica. LATEN Dissemination Note # 7. Washintgton: The World Bank Latin America Technical Department, Environment Division. Krisnawati H, Kallio M, Kaninnen M. 2011a. Anthocephalus cadamba Miq. Ekologi, Silvikultur dan Produktivitas. Bogor: CIFOR. 114 Krisnawati H, Kallio M, Kaninnen M. 2011b. Swietenia macrophylla King. Ecology, Silviculture and Productivity. Bogor: CIFOR. Kurniawan I, Roshetko J, Anggakusuma D. 2008. Community teak wood marketing in Gunungkidul district, Yogyakarta province: Current practice, problems and opportunities. ACIAR Project Report. Bogor: The World Agroforestry Center. Lubis SU. 2010. Manfaat Ekonomi Sistem Pengelolaan Hutan Rakyat di Sekitar Taman Nasional Batang Gadis (Studi Kasus: Desa Hutarimbaru Dan Desa Tolang, Kecamatan Ulu Pungkut, Kabupaten Mandailing Natal) [Skripsi]. Medan: Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara. Maarif Institute. 2007. Studi awal kemiskinan di Gunungkidul. http://www.maarifinstitute.org/downloads/ [20 Feb 2012]. Martawijaya A, Kartasujana I, Kadir K, Prawira SA. 2005. ATLAS Kayu Indonesia Jilid I. Bogor: Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Departemen Kehutanan. hlm 42-47. Midgley S, Blyth M, Mounlamai K, Midgley D, Brown A. 2007. Towards improving profitability of teak in integrated smallholder farming systems in northern Laos. ACIAR Technical Reports No. 64. Canberra: ACIAR, 95p. Mitchell-Banks P. 2001. Small-scale forestry in Canada or mammals living amongst governments and dinosaurs. Di dalam: Niskanen A, Väyrynen J, editors. Economic Sustainability of Small-scale Forestry, International IUFRO 3.08.00 Symposium; Joensuu-Finland, 20-26 March 2001. Finland: EFI. Nair CTS. 2007. Scale, markets and economics: Small-scale enterprise in a globalizing environment. Unasylva 228 Vol. 58: 3-10. Oakerson RJ. 1992. Analyzing the commons: A framework. Di dalam: Bromley DW, editor. Making The Commons Work. San Fransisco: California. Institute for Contemporary Studies. hlm. 41-59 Oladele OI, Fawole OP. 2007. Farmers perception of the relevance of agriculture technologies in South-Western Nigeria. J. Hum. Ecol. 21(3): 191-194. 115 Ostrom E. 2006. The institutional analysis and development framework in historical perspective. Presentation paper. Workshop in Political Theory and Policy Analysis. Bloomington: Indiana University. Ota I. 2001. The economic situation of small-scale forestry in Japan. Di dalam: Niskanen A, Väyrynen J, editors. Economic Sustainability of Small-scale Forestry, International IUFRO 3.08.00 Symposium; Joensuu-Finland, 20-26 March 2001. Finland: EFI. 29-39. Pasaribu HS. 2003. Social forestry. Majalah Kehutanan Indonesia, Edisi Juni. Pemerintah Daerah Kabupaten Tanah Laut Kecamatan Takisung Desa Ranggang. 2007. Profil Desa Tahun 2007. Ranggang. Pemerintah Daerah Kabupaten Tanah Laut. 2012. Situs Resmi Pemerintah Kabupaten Tanah Laut. http://www.tanahlautkab.go.id/ [19 Feb 2012]. Polski MM, Ostrom E. 1999. An Institutional Framework for Policy Analysis and Design. Working Paper W98-27. Workshop in Political Theory and Policy Analysis. Center for the Study of Institutions, Population, and Environmental Change. Department of Political Science. Indiana University. Pusat Humas Kemenhut. 2011. Executive Summary Jumpa Pers Menteri Kehutanan Akhir Tahun 2011. Jakarta: Kementerian Kehutanan. Pusat Inventarisasi dan Statistik Kehutanan. 2004. Potensi Hutan Rakyat Indonesia 2003. Jakarta: Departemen Kehutanan. Race D et al. 2009. Partnership for involving small-scale growers in commercial forestry: Lessons from Australia and Indonesia. International Forestry Review Vol. 11 (1). Rifa’i IA. 2011. Respon pelaku usaha hutan rakyat terhadap kebijakan surat keterangan asal usul kayu [skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Rohadi D et al. 2011. Improving Economic Outcomes for Smallholders Growing Teak in Agroforestry System in Indonesia. ACIAR Project Final Report. Bogor: CIFOR. Rudel TK. 2009. Tree farms: Driving forces and regional patterns in the global expansion of forest plantation. Land Use Policy 26: 545-550. 116 Rusli Y. 2003. The policy of the Ministry of Forestry on social forestry. Conference paper. International Conference on Rural Livelihoods, Forest and Biodiversity. Bonn. Sapulete E, Kapisa N. 1994. Informasi teknis tanaman jabon (Anthocephalus cadamba Miq). Buletin Penelitian Kehutanan 10 (3). Pematang Siantar: BPK Pematang Siantar. Hlm 183-195. Siregar UJ, Rachmi A, Massijaya MY, Ishibashi N, Ando K. 2007. Economic analysis of sengon (Paraserianthes falcataria) community forest plantation, a fast growing species in East Java, Indonesia. Forest Policy and Economics 9: 822–829. Sitanggang PH. 2009. Manfaat Ekonomi Sistm Pengelolaan Hutan Rakyat (Studi Kasus: Dusun Marubun Pane Kecamatan Tigarunggu Kabupaten Simalungun) [Skripsi]. Medan: Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara. Soeharto. 2008. Pembangunan kehutanan menuju pengelolaan hutan lestari Kabupaten Gunungkidul. Paparan Bupati Gunungkidul pada Acara Penilaian Lomba PKAN Tahun 2008 Tingkat Nasional Kategori Kabupaten Peduli Kehutanan. Wonosari. Soy SK. 1997. The case study as a research method. Unpublished paper, University of Texas at Austin. http://www.gslis.utexas.edu/~ssoy/usesusers/ l391d1b.htm, [1 Januari 2012]. Subarudi. 2000. PMDH: Konsepsi dan aktualisasi. Info Sosial Ekonomi Vol. I No. 1. Suryanto. 2009. Menhut: Hutan di Gunungkidul menjadi percontohan. Antara News.com. http://www1.antaranews.com/ [22 Feb 2012]. Sutarpan. 2005. Pengalaman penanaman jati. Prosiding Workshop Nasional Jati 29 Mei 2003. Yogyakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. hlm 23-26. van Bodegom AJ, van den Berg J, van der Meer P. 2008. Forest plantations for sustainable production in the tropics: key issues for decision-makers. The Netherlands: Wageningen University & Research Centre. 117 Wardoyo W. 2003. Empowering communities to manage forest: Social forestry in Indonesia. Keynote speech of the Government of Indonesia on the International Conference on Rural Livelihoods, Forest and Biodiversity. Bonn. Zhang D, Owiredu EA. 2007. Land tenure, market, and the establishment of forest plantations in Ghana. Forest Policy and Economics 9: 602– 610. Zhang Y, Liao X, Butler BJ, Schelhas J. 2009. The increasing importance of small-scale forestry: Evidence from family forest ownership patterns in the United. States. Small-scale Forestry (8): pp. 1-14. 118 LAMPIRAN 119 Lampiran 1 Data kepemilikan lahan petani responden di Kabupaten Gunungkidul No. Kode respond en 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 101 102 103 104 105 106 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 Luas lahan (m2) 5,725 15,540 14,500 1,750 15,000 1,600 3,750 5,200 3,525 9,321 3,000 6,012 8,000 3,000 4,700 17,000 12,000 13,000 23,500 6,500 920 6,600 1,700 1,200 11,000 7,300 30,000 20,900 19,689 7,500 7,772 4,000 7,200 6,500 6,625 17,450 5,200 3,800 4,250 2,000 5,000 4,900 11,000 3,500 5,250 Alokasi penggunaan lahan (ha) Pekar angan 0.023 0.054 0.500 0.000 0.250 0.000 0.250 0.120 0.153 0.707 0.200 0.300 0.500 0.150 0.100 1.500 0.000 0.150 0.600 0.250 0.070 0.060 0.060 0.060 1.000 0.100 0.500 0.150 0.539 0.200 0.306 0.400 0.020 0.100 0.275 0.095 0.170 0.100 0.200 0.040 0.275 0.200 0.100 0.050 0.025 Sawah Tegalan Kitren Kebun Kolam 0.000 0.000 0.000 0.050 0.250 0.000 0.125 0.400 0.000 0.140 0.100 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.800 0.000 0.250 0.000 0.000 0.300 0.000 0.000 0.000 0.100 0.000 0.300 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.300 0.113 0.150 0.000 0.060 0.100 0.060 0.225 0.290 0.500 0.100 0.000 0.000 0.500 0.200 0.125 0.750 0.070 0.000 0.000 0.200 0.085 0.000 0.301 0.300 0.150 0.370 0.200 0.400 1.150 1.000 0.400 0.022 0.300 0.110 0.060 0.100 0.030 2.500 1.640 0.805 0.150 0.471 0.000 0.700 0.250 0.000 1.500 0.350 0.220 0.125 0.100 0.000 0.000 0.500 0.200 0.500 0.150 1.000 0.750 0.000 0.250 0.040 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.500 0.000 0.000 0.625 0.400 0.000 0.000 0.000 0.000 0.275 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.400 0.000 0.000 0.000 0.000 0.050 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.500 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 Tanah hutan 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 Tanah kosong 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 120 Lampiran 1 (lanjutan) No. 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 Kode respond en 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 301 302 303 304 305 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 Luas lahan (m2) 750 12,400 11,700 9,100 2,500 17,850 11,100 4,150 7,318 14,300 17,000 15,300 1,500 11,600 900 15,700 2,800 11,875 3,900 3,000 3,150 7,300 5,900 4,915 4,500 1,800 6,720 4,700 6,500 9,812 9,605 3,300 300 10,550 10,300 5,400 12,800 1,300 8,200 5,500 4,000 2,167 9,500 3,500 14,000 Alokasi penggunaan lahan (ha) Pekar angan 0.025 0.240 0.020 0.060 0.030 0.385 0.100 0.025 0.402 0.270 0.700 0.020 0.150 0.660 0.090 0.150 0.070 0.138 0.090 0.150 0.060 0.320 0.070 0.068 0.000 0.000 0.020 0.050 0.380 0.435 0.000 0.120 0.030 0.400 0.020 0.200 0.020 0.050 0.070 0.050 0.100 0.030 0.300 0.000 0.000 Sawah Tegalan Kitren Kebun Kolam 0.000 0.500 0.000 0.200 0.000 0.800 0.060 0.030 0.250 0.100 0.000 0.010 0.000 0.000 0.000 0.200 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.120 0.219 0.000 0.000 0.034 0.050 0.070 0.279 0.000 0.000 0.000 0.000 0.010 0.000 0.000 0.000 0.075 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.050 0.500 1.150 0.200 0.220 0.600 0.150 0.020 0.080 1.060 1.000 1.500 0.000 0.250 0.000 1.220 0.210 0.200 0.300 0.150 0.255 0.410 0.200 0.180 0.450 0.060 0.618 0.100 0.200 0.267 0.950 0.210 0.000 0.395 1.000 0.340 1.060 0.080 0.075 0.500 0.300 0.077 0.650 0.250 0.900 0.000 0.000 0.000 0.450 0.000 0.000 0.800 0.030 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.250 0.000 0.000 0.000 0.850 0.000 0.000 0.000 0.000 0.140 0.025 0.000 0.120 0.000 0.270 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.260 0.000 0.000 0.200 0.000 0.600 0.000 0.000 0.110 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.250 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.060 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.011 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.100 0.500 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.060 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 Tanah hutan 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 Tanah kosong 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 121 Lampiran 1 (lanjutan) No. 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 Kode respond en 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 356 357 358 359 360 361 362 363 364 366 367 368 369 370 371 Luas lahan (m2) 1,600 1,950 12,597 16,800 8,150 9,998 4,056 2,875 18,050 2,700 3,700 2,030 23,194 3,110 5,700 3,550 8,600 18,850 4,789 9,500 4,200 2,000 3,400 4,867 5,914 18,976 10,659 7,800 10,000 6,416 2,450 3,611 3,200 900 6,500 13,342 2,900 4,650 1,725 2,100 500 2,200 4,000 7,100 3,025 Alokasi penggunaan lahan (ha) Pekar angan 0.030 0.045 0.250 0.800 0.250 0.215 0.046 0.088 0.100 0.070 0.060 0.090 0.290 0.154 0.000 0.000 0.060 0.115 0.103 0.200 0.375 0.100 0.340 0.100 0.012 0.658 0.110 0.600 0.000 0.000 0.060 0.240 0.090 0.030 0.650 0.116 0.260 0.040 0.038 0.080 0.000 0.020 0.000 0.360 0.120 Sawah Tegalan Kitren Kebun Kolam 0.070 0.050 0.000 0.000 0.000 0.000 0.060 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.600 0.142 0.000 0.000 0.045 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.180 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.133 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.080 0.030 0.100 0.120 0.330 0.390 0.435 0.300 0.200 0.975 0.200 0.150 0.113 2.029 0.000 0.540 0.280 0.200 0.129 0.376 0.250 0.000 0.100 0.000 0.387 0.500 1.000 0.956 0.000 1.000 0.642 0.185 0.121 0.230 0.060 0.000 1.076 0.030 0.123 0.135 0.110 0.050 0.000 0.400 0.350 0.093 0.030 0.000 0.000 0.000 0.175 0.150 0.000 0.000 0.730 0.000 0.160 0.000 0.000 0.158 0.000 0.000 0.000 1.500 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.079 0.240 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.143 0.000 0.050 0.000 0.020 0.000 0.200 0.000 0.000 0.010 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.200 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.030 0.075 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.120 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 Tanah hutan 0.000 0.000 0.890 0.550 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.500 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 Tanah kosong 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 122 Lampiran 1 (lanjutan) No. 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 Kode respond en 372 373 374 375 376 377 378 379 380 381 401 402 403 404 405 406 407 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 427 428 429 430 431 501 502 503 504 Luas lahan (m2) 2,760 15,450 11,700 4,350 6,103 2,500 2,997 11,500 10,551 25,400 4,700 750 140 17,840 1,800 4,200 3,660 4,200 6,250 5,800 7,500 3,925 30,000 4,305 5,700 7,300 4,780 7,800 5,800 22,800 4,293 8,300 2,435 1,450 4,800 9,000 7,000 9,425 12,950 12,000 26,500 18,700 10,000 12,000 9,203 Alokasi penggunaan lahan (ha) Pekar angan 0.024 0.005 0.020 0.025 0.257 0.005 0.059 0.000 0.087 0.390 0.250 0.075 0.002 0.200 0.060 0.000 0.074 0.150 0.125 0.150 0.000 0.025 0.500 0.000 0.030 0.000 0.198 0.050 0.180 0.160 0.069 0.060 0.036 0.045 0.060 0.250 0.200 0.500 0.535 0.500 0.150 0.000 0.000 0.100 0.080 Sawah Tegalan Kitren Kebun Kolam 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.058 0.000 0.000 0.000 0.140 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.090 0.180 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.300 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.060 0.293 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.252 1.540 1.150 0.400 0.295 0.000 0.103 0.900 0.600 2.000 0.080 0.000 0.012 0.580 0.120 0.420 0.153 0.040 0.000 0.430 0.750 0.225 2.500 0.431 0.540 0.650 0.000 0.430 0.400 2.120 0.120 0.120 0.108 0.100 0.420 0.500 0.440 0.000 0.060 0.400 2.500 1.370 1.000 1.100 0.840 0.000 0.000 0.000 0.010 0.058 0.245 0.080 0.000 0.368 0.150 0.000 0.000 0.000 1.004 0.000 0.000 0.050 0.050 0.500 0.000 0.000 0.143 0.000 0.000 0.000 0.000 0.080 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.100 0.000 0.000 0.150 0.000 0.150 0.000 0.000 0.000 0.500 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.250 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.080 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.700 0.300 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 Tanah hutan 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.200 0.000 0.000 0.000 0.240 0.650 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 Tanah kosong 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 123 Lampiran 1 (lanjutan) No. 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 Kode respond en 505 506 507 508 509 510 511 512 513 514 515 516 517 518 519 520 521 522 523 524 525 526 527 528 529 530 531 532 533 534 535 536 537 538 601 602 603 604 605 606 607 608 609 610 611 Luas lahan (m2) 20,120 3,000 6,400 19,500 4,100 10,000 5,000 23,100 800 2,000 1,350 2,530 560 21,300 50,000 10,200 10,484 9,200 40,100 8,333 2,500 10,162 9,608 10,750 7,515 3,497 5,900 894 6,500 2,225 2,500 6,000 9,500 11,400 52,500 620 750 1,100 10,250 20,490 17,500 5,000 57,500 10,000 3,770 Alokasi penggunaan lahan (ha) Pekar angan 0.090 0.050 0.090 0.200 0.130 1.000 0.000 0.060 0.030 0.050 0.015 0.003 0.050 0.130 1.000 0.020 0.048 0.020 0.010 0.000 0.000 0.000 0.000 0.075 0.002 0.007 0.090 0.014 0.060 0.023 0.050 0.100 0.000 0.210 0.250 0.002 0.025 0.015 0.200 0.049 0.000 0.000 0.000 0.000 0.002 Sawah Tegalan Kitren Kebun Kolam 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 2.000 0.050 0.100 0.000 0.000 0.000 2.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.093 0.000 0.000 0.000 0.100 0.100 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.500 0.000 0.000 1.850 0.250 0.550 1.750 0.280 0.000 0.500 0.250 0.000 0.050 0.120 0.000 0.006 0.000 4.000 1.000 1.000 0.900 4.000 0.833 0.250 1.000 0.950 1.000 0.750 0.000 0.500 0.075 0.590 0.100 0.100 0.500 0.950 0.930 3.000 0.060 0.050 0.095 0.825 2.000 1.750 0.500 4.550 1.000 0.375 0.072 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.250 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.250 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 2.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.700 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.016 0.011 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 Tanah hutan 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 Tanah kosong 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 124 Lampiran 1 (lanjutan) No. 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 Kode respond en 612 613 614 615 616 617 618 619 620 621 622 623 624 625 626 627 628 629 630 631 632 633 634 635 636 637 638 701 702 703 704 705 706 707 708 709 710 711 712 713 714 715 716 717 718 Luas lahan (m2) 11,692 12,540 30,000 12,653 20,920 15,270 20,100 4,500 4,060 15,850 10,600 12,500 12,010 7,596 1,900 50,280 24,500 66,250 55,000 18,816 9,560 33,000 4,930 46,100 20,900 15,000 24,600 5,100 18,000 5,700 15,100 1,500 46,400 8,708 2,800 18,695 6,300 1,700 27,270 15,000 21,100 8,600 11,430 7,700 19,350 Alokasi penggunaan lahan (ha) Pekar angan 0.000 0.004 0.000 0.000 0.050 0.027 0.010 0.200 0.056 0.120 0.000 0.500 0.001 0.010 0.000 0.479 0.200 1.500 1.000 0.002 0.056 0.000 0.013 0.110 0.050 0.000 0.120 0.010 0.200 0.075 0.150 0.020 0.140 0.121 0.030 0.100 0.050 0.060 0.010 0.500 0.030 0.050 0.050 0.020 0.069 Sawah Tegalan Kitren Kebun Kolam 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.525 0.000 0.000 0.000 0.500 0.000 0.000 0.750 0.000 0.250 0.005 0.000 0.000 0.000 2.000 2.040 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.030 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 1.000 1.000 3.000 1.250 2.042 1.500 2.000 0.250 0.350 0.320 1.060 0.750 0.000 0.000 0.190 3.232 1.500 5.125 4.250 1.500 0.900 3.300 0.480 2.000 0.000 1.500 2.340 0.500 1.000 0.320 1.360 0.040 4.500 0.750 0.150 1.770 0.580 0.110 2.717 1.000 2.080 0.810 1.093 0.750 1.866 0.000 0.250 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.620 0.000 0.000 1.200 0.250 0.000 1.318 0.000 0.000 0.000 0.250 0.000 0.000 0.000 0.500 0.000 0.000 0.000 0.000 0.300 0.175 0.000 0.060 0.000 0.000 0.100 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.169 0.000 0.000 0.015 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.125 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 Tanah hutan 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 Tanah kosong 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.300 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 125 Lampiran 1 (lanjutan) No. 271 272 273 274 275 Kode respond en 719 720 721 722 723 Luas lahan (m2) 10,000 20,000 3,400 20,500 9,790 Alokasi penggunaan lahan (ha) Pekar angan 0.000 0.000 0.000 0.000 0.024 Sawah Tegalan Kitren Kebun Kolam 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 1.000 2.000 0.340 2.050 0.955 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 Tanah hutan 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 Tanah kosong 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 126 Lampiran 2 Data kepemilikan lahan petani responden di Kabupaten Tanah Laut No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 Kode responden Luas lahan (m2) 1032 1039 1005 1025 1044 1049 1050 1001 1007 1024 1051 1034 1027 1033 1043 1045 1036 1040 1041 1035 1048 1004 1014 1018 1019 1022 1026 1028 1029 1046 1047 1002 1012 1042 0.13 0.25 0.50 0.75 0.75 0.75 0.75 1.00 1.00 1.00 1.00 1.13 1.25 1.25 1.25 1.25 1.50 1.50 1.50 1.75 1.75 2.00 2.00 2.00 2.00 2.00 2.00 2.00 2.00 2.00 2.00 2.25 2.25 2.25 Alokasi penggunaan lahan (ha) Pekarangan 0.13 0.25 0.50 0.25 0.75 0.25 0.75 0.25 0.25 0.25 1.00 0.13 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.75 0.75 Sawah Tegalan Kebun sawit Kebun karet Lainnya 0.50 0.50 0.75 0.75 0.75 1.00 1.00 1.00 1.00 1.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.75 Kebun kayu 0.25 1.00 0.25 0.75 0.75 0.75 1.75 0.75 1.00 0.75 1.00 0.75 0.75 1.00 0.75 1.00 0.75 0.75 0.75 1.00 1.00 1.00 0.75 1.00 0.75 0.75 1.00 1.00 1.00 1.00 0.25 0.75 1.75 0.75 127 Lampiran 2 (lanjutan) No. 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Kode responden Luas lahan (m2) 1006 2.50 1038 2.50 1015 2.75 1052 2.75 1016 2.92 1010 3.50 1003 3.60 1020 3.75 1009 4.00 1021 4.00 1023 4.00 1008 4.25 1031 5.25 1037 5.25 1030 6.50 1017 7.00 1013 7.50 1011 12.50 2012 0.01 2025 0.02 2016 0.03 2003 0.04 2007 0.04 2021 0.04 2098 0.05 2097 0.06 2102 0.10 2101 0.11 2014 0.13 2065 0.14 2015 0.15 2033 0.19 2100 0.25 2064 0.26 2035 0.29 2066 0.29 2096 0.34 2005 0.35 Pekarangan 0.25 0.75 0.25 0.25 1.25 0.25 0.75 0.25 0.25 0.25 0.50 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.01 0.02 0.03 0.04 0.04 0.04 0.05 0.06 0.01 0.05 0.01 0.14 0.06 0.17 0.25 0.03 0.29 0.20 0.06 Alokasi penggunaan lahan (ha) Kebun Kebun Kebun Sawah Tegalan kayu sawit karet 2.25 1.00 1.75 2.50 0.25 0.75 0.75 2.00 0.75 2.25 1.00 0.75 4.50 2.25 0.75 0.75 0.50 1.00 1.75 0.75 2.75 1.00 0.75 2.00 1.50 1.00 8.75 0.09 0.06 0.12 0.09 0.02 0.23 0.29 0.14 0.29 Lainnya 1.17 1.25 1.00 0.75 0.25 0.75 0.75 2.25 2.25 2.50 2.25 0.75 1.75 3.50 0.10 2.00 2.00 2.50 4.00 128 Lampiran 2 (lanjutan) No. Kode responden Luas lahan (m2) 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 2073 2094 2017 2095 2022 2020 2067 2068 2013 2051 2063 2004 2006 2032 2092 2002 2027 2069 2090 2009 2023 2093 2018 2083 2060 2053 2001 2049 2039 2030 2085 2058 2042 2077 2072 2037 2019 2011 0.37 0.40 0.47 0.47 0.50 0.58 0.58 0.59 0.65 0.69 0.70 0.75 0.75 0.78 0.88 1.00 1.00 1.00 1.02 1.03 1.14 1.14 1.18 1.20 1.21 1.30 1.32 1.36 1.41 1.56 1.64 1.72 1.97 1.97 2.00 2.02 2.04 2.08 Pekarangan Alokasi penggunaan lahan (ha) Kebun Kebun Kebun Sawah Tegalan kayu sawit karet Lainnya 0.37 0.11 0.01 0.04 0.01 0.58 0.06 0.01 0.01 0.03 0.12 0.03 0.03 0.17 0.03 0.29 0.29 0.43 0.49 0.17 0.35 0.58 0.64 0.17 0.43 0.23 0.29 0.43 0.72 0.29 0.29 0.20 0.71 0.58 0.43 0.54 1.00 1.00 1.02 0.03 0.14 0.04 1.00 0.35 0.29 0.03 0.22 1.00 0.69 0.26 0.43 0.09 0.52 1.00 1.00 0.57 1.00 0.57 0.14 0.20 0.43 0.43 0.29 0.14 0.29 0.26 1.00 1.00 0.12 0.61 1.38 0.29 1.50 0.04 0.08 0.43 0.58 2.00 1.00 1.16 1.45 0.50 2.02 1.00 1.00 0.72 129 Lampiran 2 (lanjutan) No. Kode responden Luas lahan (m2) 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 2091 2046 2080 2057 2075 2040 2050 2059 2043 2074 2055 2031 2052 2079 2038 2008 2026 2045 2062 2010 2061 2048 2070 2028 2071 2084 2082 2044 2088 2056 2078 2047 2034 2087 2081 2086 2041 2036 2.09 2.10 2.22 2.23 2.23 2.50 2.58 2.72 2.76 2.89 2.93 3.00 3.00 3.00 3.01 3.04 3.14 3.16 3.17 3.19 3.33 3.34 3.46 3.50 3.50 3.57 3.96 4.07 4.33 4.37 4.50 4.69 4.72 4.93 5.00 5.17 5.29 5.72 Pekarangan 0.09 0.23 0.35 0.23 0.23 0.50 0.58 0.29 1.46 0.17 0.14 2.00 1.00 0.04 2.00 0.17 0.03 0.17 0.29 0.50 1.50 0.06 0.29 0.55 1.20 Alokasi penggunaan lahan (ha) Kebun Kebun Kebun Sawah Tegalan kayu sawit karet 1.00 1.00 1.00 Lainnya 1.00 0.87 0.87 1.00 1.00 2.00 1.00 0.43 1.01 2.00 2.00 1.14 0.58 1.50 1.16 1.00 0.29 0.50 0.78 3.90 1.00 0.72 0.29 0.72 1.00 1.00 2.00 1.00 1.50 1.29 2.00 1.00 1.00 3.00 1.01 1.00 1.00 0.29 0.58 1.71 1.50 2.00 1.04 1.14 2.16 1.72 2.03 3.50 0.29 2.50 1.29 2.78 0.78 1.00 2.00 2.45 4.50 0.29 0.17 0.26 0.72 0.72 2.40 0.29 4.74 1.45 4.04 2.00 0.72 4.00 0.43 3.00 5.29 2.00 3.00 130 Lampiran 2 (lanjutan) No. 97 98 99 Kode responden Luas lahan (m2) 2054 5.93 2076 7.00 2089 12.81 Pekarangan 1.00 2.00 2.31 Alokasi penggunaan lahan (ha) Kebun Kebun Kebun Sawah Tegalan kayu sawit karet 0.29 0.14 3.00 4.50 2.50 2.00 6.00 Lainnya 2.00 Keterangan: Kode Responden yang dimulai dengan angka 1 berlokasi di Desa Ranggang, selebihnya di Desa Asam Jaya 131 Lampiran 3 Alasan penanaman kayu menurut respon petani di lokasi penelitian a. Kabupaten Gunungkidul No . 1 2 3 4 Alasan penanaman kayu Frekuensi Tabungan Tradisi keluarga Warisan keluarga Sumber tunai dalam keadaan darurat 5 Lainnya 6 Harga kayu jati tinggi 7 Biaya sekolah/hajatan 8 Permintaan pasar tinggi 9 Ikut petani lainnya Total Penggabungan 1 Tabungan keluarga dan sumber uang tunai pada kondisi darurat 2 Tradisi/warisan budaya 3 Pengaruh pasar 4 Pengaruh lainnya 5 Engaruh lingkungan Total % 103 59 43 33 38 22 16 12 13 9 6 4 4 274 5 3 2 1 1 100 142 52 102 13 13 4 274 37 5 5 1 100 b. Kabupaten Tanah Laut Jenis tanaman Jabon Mahoni Karet Akasia Kelapa MPTS Palawija Padi Sawit Tanaman lain Total Subsisten 1 4 12 0 21 25 21 48 0 8 Komersial 12 20 57 5 5 11 21 4 1 1 140 137 Sosial Lingkungan Lainnya 3 1 0 0 2 1 2 0 1 0 2 0 1 0 0 0 2 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 8 8 2 Total 17 27 72 7 27 38 43 52 2 10 295 132 Lampiran 4 Rangkuman hasil Focus Group Discussion (FGD) tentang manfaat tanaman jati bagi keluarga petani (Wonosari, 2 Desember 2007) No. Kelompok Rangkuman diskusi “Manfaat tanaman jai bagi keluarga petani”. 1 Linggis A  Tanaman jati sebagai tabungan masa pensiun, (dipresentasikan  Tanaman jati berfungsi untuk melindungi erosi, oleh Bapak  Tanaman jati berperan sebagai sumber pendapatan Sugito) keluarga dan untuk menopang kebutuhan hidup keluarga,  Tanaman jati dipilih karena banyak diminati pasaran, nilainyas lebih baik dari jenis kayu yanglain serta mudah perwatannya.  Tanaman jati merupakan warisan budaya Linggis B  Tanaman jati berfungsi untuk mencegah erosi, (Dipresentasikan  Tanaman jati berperan sebagai sumber pendapatan, oleh Bapak  Tanaman jati berperan sebagai tabungan jangka Sumijo) panjang dan untuk membantu kebutuhan yang mendesak,  Tanaman jati mempunyai produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis tanaman kayu lainnya. Koret A  Tanaman jati dapat mencegah erosi dan tanah longsor, (Dipresentasikan  Tanaman jati dapat menopang ekonomi keluarga, oleh Bapak  Tanaman jati merupakan warisan bagi anak cucu, Sobirin)  Kayu jati memiliki harga yang paling tinggi di antara jenis kayu lainnya.  Tanaman jati berfungsi untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak. Koret B  Tanaman jati dapat menunjang kebutuhan ekonomi, (Dipresentasikan  Tanaman jati merupakan tabungan untuk masa tua, oleh Bapak  Tanaman jati berfungsi untuk mencegah erosi dan Margono, Desa memperbaiki lingkugan (tidak gersang) Giripurwo)  Kayu jati mempunyai harga jual yang cukup tinggi,  Tanaman jati berfungsi untuk memenuhi kebutuhan yang mendadak (apabila sudah tidak ada lagi pilihan lain untuk menyediakan uang tunai). 133 Lampiran 4 (lanjutan) No. Kelompok Koret C (Dipresentasik an oleh Bapak Warijan, Desa Giripanggung) Gancu A (Dipresentasik an oleh Bapak Samintoyo, Desa Katongan) Gancu B (Dipresentasik an oleh Bapak Sudiyono, Desa Candirejo) Rangkuman diskusi “Manfaat tanaman jai bagi keluarga petani”.  Tanaman jati berfungsi untuk tabungan masa depan,  Tanaman jati dapat tumbuh pada lahan yang kurang subur yang kurang cocok untuk tanaman pangan  Tanaman jati cocok untuk penghijauan areal yang kosong.  Kayu jati mempunyai harga yang tinggi,  Tanaman jati berfungsi sebagai cadangan untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak.  Tanaman jati berfungsi untuk tabungan jangka panjang,  Tanaman jati berfungsi untuk memperbaiki lingkungan, seperti mencegah erosi, penggemburan tanah dan cadangan air,  Kayu jati mempunyai harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis kayu yang lain dan penjualannya mudah dan cepat karena permintaan terhadap oleh industri tinggi  Tanaman jati berfungsi untuk cadangan terahir apabila terdapat kebutuhan keluarga yang mendesak.  Tanaman jati sesuai dengan kondisi lahan di Gunungkidul,  Nilai jual kayu jati lebih tinggi bandingkan dengan jenis pohon lainnya,  Pengelolaan tanaman jati mudah,  Tanaman jati dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan uang tunai yang cukup besar (Rp. 1juta – 3 juta ),  Tanaman jati berfungsi untuk tabungan masa depan,  Tanaman dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga,  Tanaman jati cocok dengan kondisi tanah berbatu seperti di Gunungkidul dan pertumbuhannya relatif lebih cepat dibandingkan dengan jenis tanaman lain,  Tanaman jati merupakan pohon serbaguna, daunnya dapat dijual untuk pembungkus makanan (tahu tempe), kayu limbah dan rantingnya untuk kayu bakar dan mulsanya cocok untuk pupuk kompos,  Tanaman jati dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak. 134 Lampiran 4 (lanjutan) Rangkuman diskusi “Manfaat tanaman jai bagi keluarga petani”. Bodem A  Tanaman jati beguna untuk penghijauan dan pemulihan (Dipresentasik lahan kritis, anoleh Bapak  Harga kayu jati lebih tinggi dari jenis kayu lainnya, Kasiranto)  Tanaman jati berfungsi sebagai tabungan jangka panjang,  Tanaman jati berguna untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak. Bodem B  Tanaman jati cocok pada lahan-lahan yang kurang subur (Dipresentasik yang tidak dapat ditanami tanaman pangan, an oleh Bapak  Tanaman jati berfungsi untuk mencegah erosi lahan Giyono kritis, Saputro  Tanaman jati berfungsi sebagai tabungan jangka panjang,  Harga kayu jati relatif tinggi,  Kayu jati mudah dijual,  Tanaman jati mudah dibudidayakan  Tanamanjati berfungsi sebagai cadangan terakhir keluarga untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak. Catatan: Diskusi diikuti oleh 60 peserta yang terdiri dari petani, pedagang kayu, penyuluh kehutanan dan beberapa staf Dinas Kehutanan Kabupaten Gunungkidul. No. Kelompok 135 Lampiran 5 Hasil inventarisasi tanaman jati rakyat pada lahan petani responden di Kabupaten Gunungkidul Nomor Jumlah responden jati 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 9 24 239 184 101 11 60 246 207 61 35 21 116 82 157 45 152 7 8 6 19 25 15 37 25 15 5 32 40 92 132 61 221 Tipe lahan Luas lahan (m2) 1 4 34 3 1 2 2 3 1 1 1 3 34 13 3 3 3 4 3 1 1 3 3 3 3 1 1 3 3 23 3 24 3 225 10000 3000 5000 4500 1250 4000 2000 4850 3816 7500 1500 800 15000 837 3000 10000 1000 414 600 600 300 1365 1619 1000 5393 2130 3592 3375 1700 200 500 5000 Luas petak pengamatan (m2) 225 1200 3000 5000 800 1250 4000 2000 4850 3816 7500 1500 800 1600 837 3000 10000 1000 414 600 600 300 1365 1619 1000 800 2130 3592 3375 1700 200 500 5000 Konversi jumlah jati per luas lahan Konversi jumlah jati per ha 9 3 239 184 18 11 60 246 207 61 35 21 116 9 157 45 152 7 8 6 19 25 15 37 25 2 5 32 40 92 132 61 221 400 24 797 368 224 88 150 1230 427 160 47 140 1450 55 1876 150 152 70 193 100 317 833 110 229 250 28 23 89 119 541 6600 1220 442 136 Lampiran 5 (lanjutan) Nomor Jumlah responden jati 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 18 184 16 16 69 48 28 24 38 202 59 76 132 39 63 56 259 60 24 118 124 48 98 91 8 251 103 239 107 25 36 69 7 130 75 153 138 56 Tipe lahan Luas lahan (m2) 23 3 23 4 3 4 34 4 4 3 1 14 123 1 1 34 1 1 3 3 3 3 4 3 2 3 3 13 3 1 1 4 1 1 3 4 3 13 1000 250 5000 3000 10000 1500 2500 3000 1100 17112 900 3850 3619 1000 250 10600 3018 3200 1800 2794 1284 1380 1800 2000 1707 2300 1104 896 1250 2728 2000 800 400 3358 3000 780 2820 2862 Luas petak pengamatan (m2) 1000 250 5000 400 10000 400 400 3000 1100 17112 900 3850 3619 1000 250 10600 3018 3200 1800 2794 1284 1380 400 2000 1707 2300 1104 896 1250 2728 2000 800 400 3358 3000 780 2820 2862 Konversi Konversi jumlah jati jumlah per luas jati per lahan ha 18 180 184 7360 16 32 2 53 69 69 13 320 4 112 24 80 38 345 202 118 59 656 76 197 132 365 39 390 63 2520 56 53 259 858 60 188 24 133 118 422 124 966 48 348 22 544 91 455 8 47 251 1091 103 933 239 2667 107 856 25 92 36 180 69 863 7 175 130 387 75 250 153 1962 138 489 56 196 137 Lampiran 5 (lanjutan) Nomor Jumlah responden jati 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 61 30 68 94 69 76 71 72 31 42 61 237 72 3 42 67 42 51 172 226 160 89 66 95 134 27 26 64 39 103 180 6 4 74 7 53 84 57 Tipe lahan 15 3 3 4 4 3 134 34 3 4 1 3 1 1 3 2 134 34 1 134 4 4 13 4 13 3 1 4 1 134 4 2 1 4 1 4 34 1 Luas lahan (m2) 5000 1229 1000 720 768 1000 2148 4000 2000 1066 1390 6065 1535 1046 800 6000 862 3992 3765 6750 1500 1010 1650 1760 6083 200 606 1211 900 300 889 1325 375 1100 800 2000 1000 3600 Luas petak pengamatan (m2) 5000 1229 1000 400 400 1000 2148 4000 2000 1066 1390 6065 1535 1046 800 6000 862 400 3765 6750 1500 400 1650 1760 6083 200 606 1211 900 300 400 1325 375 400 800 400 1000 3600 Konversi jumlah jati per luas lahan 61 30 68 52 36 76 71 72 31 42 61 237 72 3 42 67 42 5 172 226 160 35 66 95 134 27 26 64 39 103 81 6 4 27 7 11 84 57 Konversi jumlah jati per ha 122 244 680 1306 898 760 331 180 155 394 439 391 469 29 525 112 487 128 457 335 1067 881 400 540 220 1350 429 528 433 3433 2025 45 107 673 88 265 840 158 138 Lampiran 5 (lanjutan) Nomor Jumlah responden jati 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 52 206 44 40 52 19 60 115 40 52 6 67 8 16 9 234 3 29 109 92 110 56 44 89 71 73 84 58 28 62 30 43 117 157 168 84 60 63 Tipe lahan 3 3 1 3 4 3 3 4 1 3 3 4 3 3 14 23 1 3 34 1 3 3 1 3 1 34 34 3 3 4 3 1 34 35 3 3 4 3 Luas lahan (m2) 400 4000 2354 1278 750 499 1380 1635 1200 800 463 3000 1200 1956 572 1800 649 2500 1200 5000 2000 1050 986 1252 1800 2000 1200 1088 825 1500 2450 1953 4558 9221 5000 2500 4000 3403 Luas petak pengamatan (m2) 400 4000 2354 1278 400 499 1380 1635 1200 400 463 400 1200 1956 572 1800 649 400 1200 5000 2000 1050 986 1252 1800 400 400 1088 400 400 400 1953 800 1200 5000 2500 4000 3403 Konversi jumlah jati per luas lahan 52 206 44 40 28 19 60 115 40 26 6 9 8 16 9 234 3 5 109 92 110 56 44 89 71 15 28 58 14 17 5 43 21 20 168 84 60 63 Konversi jumlah jati per ha 1300 515 187 313 693 381 435 703 333 650 130 223 67 82 157 1300 46 116 908 184 550 533 446 711 394 365 700 533 339 413 122 220 257 170 336 336 150 185 139 Lampiran 5 (lanjutan) Nomor Jumlah responden jati 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 92 62 4 47 79 168 17 109 271 47 209 177 161 30 38 37 28 55 37 147 4 103 37 43 111 24 28 68 58 48 527 40 144 311 95 198 51 48 Tipe lahan Luas lahan (m2) 4 1 1 14 4 3 1 3 3 3 3 4 23 3 3 3 1 34 3 3 3 4 4 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 34 3 3 3 9000 500 2000 1500 5950 20000 500 7430 20000 2500 20000 6224 4000 4702 5000 5000 1200 3200 2500 2500 5000 8300 527 11090 10000 2500 4200 8400 5305 3200 7500 1250 6825 5000 6664 3671 6760 14039 Luas petak pengamatan (m2) 1200 500 2000 400 800 2000 500 800 2000 2500 20000 800 4000 800 5000 5000 400 400 2500 2500 800 1200 527 1200 1200 2500 4200 1200 800 400 7500 1250 6825 5000 800 3671 800 1600 Konversi jumlah jati per luas lahan 12 62 4 13 11 17 17 12 27 47 209 23 161 5 38 37 9 7 37 147 1 15 37 5 13 24 28 10 9 6 527 40 144 311 11 198 6 5 Konversi jumlah jati per ha 102 1240 20 313 133 84 340 147 136 188 105 284 403 64 76 74 233 172 148 588 8 124 702 39 111 96 67 81 109 150 703 320 211 622 143 539 75 34 140 Lampiran 5 (lanjutan) Nomor Jumlah responden jati 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 45 50 12 64 54 78 80 86 28 118 82 25 118 249 44 35 25 23 44 75 70 60 94 44 46 45 43 49 53 47 23 31 174 46 88 21 6 67 Tipe lahan Luas lahan (m2) 3 3 4 3 3 14 4 3 3 34 14 1 3 1 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 1 2 3 3 1 3 1 3 3 5100 2500 5000 5000 6000 1318 4816 3500 3200 4558 1012 1440 5160 14158 6000 2108 4250 1500 4500 6000 12000 12100 6953 7800 3788 2500 6680 8200 13550 1000 5000 600 10070 3719 8700 500 3000 2860 Luas petak pengamatan (m2) 800 800 800 800 800 400 800 800 400 800 400 1440 800 1600 800 400 800 400 800 800 1200 1600 800 800 400 2500 6680 1200 1600 400 5000 600 1200 3719 1200 500 400 2860 Konversi jumlah jati per luas lahan 7 16 2 10 7 24 13 20 4 21 32 25 18 28 6 7 5 6 8 10 7 8 11 5 5 45 43 7 6 19 23 31 21 46 12 21 1 67 Konversi jumlah jati per ha 88 200 24 128 90 592 166 246 88 259 810 174 229 176 73 166 59 153 98 125 58 50 135 56 121 180 64 60 39 470 46 517 173 124 101 420 20 234 141 Lampiran 5 (lanjutan) Nomor Jumlah responden jati 224 225 226 227 21 113 92 23 Tipe lahan Luas lahan (m2) 3 4 3 3 7710 10800 15000 6237 Luas petak pengamatan (m2) 7710 1200 15000 800 Konversi jumlah jati per luas lahan 21 13 92 3 Konversi jumlah jati per ha 27 105 61 37 142 Lampiran 6 Hasil inventarisasi tanaman kayu pada lahan petani responden di Kabupaten Tanah Laut No plot Desa Luas plot (m2) Thn tanam Jarak tanam Jenis kayu Jumlah pohon hidup Luas bidang dasar per ha (m2) Volume per ha (m3) 1 Ranggang 360 2003 3x6 Mahoni 20 6.6000 28.2674 2 Ranggang 540 2003 3x9 Mahoni 21 3.4272 13.0364 3 Ranggang 400 2003 4x5 Mahoni 22 5.2055 21.4211 4 Ranggang 400 2003 4x5 Mahoni 23 11.3745 18.6462 5 Ranggang 240 2003 2x6 Mahoni 19 9.7284 41.9956 6 Ranggang 256 2003 2 x 6.4 Mahoni 18 6.8439 27.6875 7 Ranggang 508 2003 5.4 x 4.7 Mahoni 21 2.4859 6.6946 8 Ranggang 500 2006 5x5 Jati 25 0.3825 0.7908 9 Ranggang 500 2006 5x5 Jati 25 0.3301 0.6447 10 Ranggang 546 2003 2.1 x 13 Mahoni 21 4.2986 18.1553 11 Ranggang 400 2003 4x5 Mahoni 21 4.2853 17.0018 12 Ranggang 400 2003 4x5 Mahoni 27 5.3724 21.1551 13 Ranggang 400 2003 4x5 Mahoni 25 7.6001 31.2357 14 Ranggang 400 2003 4x5 Mahoni 26 7.6504 32.3826 15 Ranggang 320 2003 4x4 Mahoni 22 4.3229 15.6489 16 Ranggang 320 2003 4x4 Mahoni 21 4.8592 18.8458 17 Ranggang 400 2003 4x5 Mahoni 24 7.8009 33.9320 18 Ranggang 400 2003 4x5 Mahoni 26 5.9634 24.1037 19 Ranggang 400 2003 4x5 Mahoni 29 7.5741 32.1208 20 Ranggang 400 2003 4x5 Mahoni 30 6.9455 28.1169 21 Ranggang 400 2003 4x5 Mahoni 21 4.2960 17.1458 22 Ranggang 400 2003 4x5 Mahoni 19 6.0904 26.2944 23 Ranggang 400 2003 4x5 Mahoni 18 4.5042 19.0844 24 Ranggang 500 2005 5x5 Mahoni 16 0.6858 1.3839 25 Ranggang 500 2005 5x5 Mahoni 19 0.9620 2.2794 26 Ranggang 500 2005 5x5 Mahoni 20 0.7584 1.3965 27 Ranggang 500 2005 5x5 Mahoni 26 0.9498 1.8610 28 Ranggang 320 2005 4x4 Mahoni 22 2.8677 7.4018 29 Ranggang 320 2005 4x4 Mahoni 21 1.4930 3.1787 30 Ranggang 320 2005 4x4 Mahoni 20 2.5635 6.5478 31 Ranggang 320 2005 4x4 Mahoni 21 2.5289 6.3416 32 Ranggang 405 2005 4.5 x 4.5 Mahoni 18 1.0091 2.0698 33 Ranggang 320 2005 4x4 Mahoni 23 1.5070 3.0339 143 Lampiran 6 (lanjutan) No plot 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 Desa Luas plot (m2) Thn tanam Ranggang 320 2005 4x4 Mahoni Ranggang 320 2005 4x4 Mahoni Ranggang 320 2005 4x4 Mahoni Ranggang 405 2005 4.5 x 4.5 Mahoni Ranggang 405 2005 4.5 x 4.5 Mahoni Ranggang 500 2004 5x5 Mahoni Ranggang 500 2004 5x5 Mahoni Ranggang 500 2004 5x5 Mahoni Ranggang 500 2004 5x5 Mahoni Ranggang 500 2004 5x5 Mahoni Ranggang 500 2004 5x5 Mahoni Ranggang 500 2004 5x5 Mahoni Ranggang 2004 5x5 Mahoni 2004 5x5 Mahoni 2004 5x5 Mahoni Ranggang 500 500 500 500 2004 5x5 Mahoni Ranggang 405 2005 4.5 x 4.5 Ranggang Ranggang Ranggang Ranggang Ranggang Ranggang Ranggang Ranggang Ranggang Ranggang 1.3224 3.0239 Mahoni 24 1.4802 3.2555 Mahoni 17 25 28 17 21 24 19 22 21 19 14 15 22 25 23 21 14 1.0935 0.9338 0.9225 0.3112 1.0166 5.8274 5.3470 3.8347 7.1474 4.0007 4.8659 4.7455 3.5959 3.7720 4.7868 2.2060 0.7886 2.4560 2.0998 1.8901 0.5013 2.3609 25.6634 23.4280 14.5252 30.4872 16.0540 21.2777 19.7073 13.7152 14.8424 18.5308 7.6805 2.4185 Mahoni 5x5 Mahoni 2004 5x5 Mahoni 2004 5x5 Mahoni 2003 4x4 Mahoni 2003 4.5 x 4.5 Mahoni 2003 3.5 x 4 Mahoni 2003 3.5 x 4 Mahoni 2003 5 X 3.5 Mahoni 2003 5 X 3.5 Mahoni 2003 4 x 4.5 Mahoni 2004 5x5 Mahoni 2004 5x5 Mahoni 2005 Ranggang 20 4.5 x 4.5 405 500 500 495 405 500 500 500 320 405 280 280 350 350 360 500 500 Ranggang Mahoni 2004 53 55 56 57 58 59 60 62 65 66 68 69 70 71 72 75 76 Ranggang 4.8548 3.8728 2.7505 0.8803 1.4620 11.0094 9.2381 9.3613 8.9513 10.1486 6.5175 12.1287 15.2413 13.9274 15.1544 14.0359 2.1540 2005 2005 Ranggang 2.0967 1.8019 1.2973 0.4881 0.6946 3.0474 2.6739 2.6940 2.6178 2.8690 2.0108 3.2323 3.9726 3.6029 3.9531 3.7401 1.0973 Mahoni 405 Ranggang Mahoni 26 22 21 19 17 20 21 20 21 21 20 19 22 21 21 21 22 4.5 x 5.5 52 Ranggang Ranggang Volume per ha (m3) 2005 2005 Ranggang Luas bidang dasar per ha (m2) 2005 405 Ranggang Jenis kayu 4.5 x 4.5 4.5 x 4.5 4.5 x 4.5 5x5 5x5 51 Ranggang Ranggang Jarak tanam 2005 Mahoni Mahoni Jumlah pohon hidup 144 77 Ranggang 500 Lampiran 6 (lanjutan) No plot Desa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 2004 5x5 Jarak tanam Mahoni Jenis kayu 25 0.6660 1.5515 Jumlah pohon hidup Luas bidang dasar per ha (m2) Volume per ha (m3) Luas plot (m2) Thn tanam Asam Jaya 320 2003 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2003 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2003 4x4 Jabon 21 Asam Jaya 320 2003 4x4 Jabon 22 Asam Jaya 160 2003 2x4 Jabon 22 Asam Jaya 320 2003 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 240 2003 4x3 Jabon 29 Asam Jaya 320 2003 4x4 Jabon 22 Asam Jaya 320 2003 4x4 Jabon 22 Asam Jaya 320 2003 4x4 Jabon 22 Asam Jaya 320 2003 4x4 Jabon 22 Asam Jaya 360 2003 4 x 4.5 Jabon 22 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 240 2004 4x3 Jabon 29 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 22 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 22 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 21 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 23 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 22 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 22 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 22 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 22 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 25 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 23 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 23 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 23 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 23 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 25 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 23 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 500 2004 5x5 Jabon 22 Asam Jaya 500 2004 5x5 Jabon 18 12.7285 68.7850 9.7930 46.9076 9.3393 48.6392 5.1731 18.4022 17.1588 74.2406 6.7134 27.3884 9.6661 37.1572 6.9902 27.4094 7.5878 30.7886 5.7101 20.7403 7.5834 24.4096 5.3040 19.4294 6.9121 25.2551 11.0440 50.0591 8.7271 35.6892 7.2350 27.4627 9.9540 39.2545 9.3856 41.8485 8.3661 36.9167 10.3139 51.9330 6.9262 25.7370 4.5058 13.7500 7.1329 27.1231 6.9498 26.2043 9.2351 38.8533 10.2539 46.6082 12.5354 60.3030 12.0529 57.8410 15.9167 110.7692 13.7998 89.7820 10.7400 62.8993 2.4123 5.9095 8.7951 46.0497 5.5552 17.8431 5.0754 15.9662 5.3041 17.2290 3.6106 11.7224 2.4189 7.4206 145 Lampiran 6 (lanjutan) No plot Desa Luas plot (m2) Thn tanam 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 Jarak tanam Asam Jaya 400 2004 5x4 Asam Jaya 320 2004 Asam Jaya 320 Asam Jaya Jenis kayu Jumlah pohon hidup Luas bidang dasar per ha (m2) Volume per ha (m3) Jabon 20 4x4 Jabon 25 2004 4x4 Jabon 24 320 2004 4x4 Jabon 23 Asam Jaya 405 2004 4.5 x 4.5 Jabon 24 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 23 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 21 Asam Jaya 240 2004 4x3 Jabon 21 Asam Jaya 280 2004 4 x 3.5 Jabon 22 Asam Jaya 280 2004 4 x 3.5 Jabon 23 Asam Jaya 320 2005 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2005 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2005 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2003 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2003 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2003 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 25 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 26 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 25 Asam Jaya 400 2004 4x5 Jabon 22 Asam Jaya 400 2004 4x5 Jabon 24 Asam Jaya 400 2004 4x5 Jabon 22 Asam Jaya 400 2004 4x5 Jabon 23 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 19 Asam Jaya 240 2004 3x4 Jabon 20 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 25 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 24 7.5637 7.9532 9.2296 3.4894 7.4758 4.3842 13.6417 7.7643 7.2673 12.1529 10.9048 11.9446 11.4341 13.1312 13.4806 11.4138 14.4802 14.7730 13.2382 14.8299 13.3825 9.4902 4.5431 8.5292 9.2572 12.6429 6.1537 8.4881 6.8507 9.5711 10.0241 7.1417 7.8001 11.2003 12.5371 6.7427 6.0106 23.2090 24.3550 34.4367 11.2454 29.8400 12.7246 93.4830 24.7802 24.5655 57.6195 46.9464 58.4586 51.2876 62.1330 62.8368 50.2365 57.8665 57.1233 48.6925 53.4617 45.0309 26.0857 10.1496 28.7138 33.6827 51.2890 18.3807 34.5418 24.3755 45.2656 47.6621 28.6943 29.4510 59.4997 73.3158 24.4779 22.6238 146 Lampiran 6 (lanjutan) No plot Desa Luas plot (m2) Thn tanam 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 Jarak tanam Asam Jaya 320 2005 4x4 Asam Jaya 320 2005 Asam Jaya 400 Asam Jaya Jenis kayu Jumlah pohon hidup Luas bidang dasar per ha (m2) Volume per ha (m3) Jabon 19 4x4 Jabon 24 2004 4x5 Jabon 22 400 2004 4x5 Jabon 22 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 18 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 21 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 25 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 25 Asam Jaya 320 2005 4x4 Jabon 22 Asam Jaya 320 2005 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 23 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 23 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 20 5.4164 5.1082 6.1891 5.3228 3.7548 3.2029 4.7297 5.8928 8.7860 5.5706 10.0558 8.8334 12.1887 10.1857 10.0449 7.8713 1.8847 18.1738 16.1585 21.1263 20.0377 11.1022 9.6046 14.7115 19.6600 34.6214 18.8418 49.3948 42.1354 65.3782 51.2563 48.6177 26.6203 4.7352 147 Lampiran 7 Analisa biaya manfaat usaha tanaman jati rakyat di Kabupaten Gunungkidul Kode respon den 201 220 223 230 234 304 308 326 334 336 343 378 381 404 429 501 516 603 609 621 627 635 703 706 708 1000 1004 1005 1006 Kitren Kitren Kitren Kitren Kitren Kitren Kitren Kitren Kitren Kitren Kitren Kitren Kitren Kitren Kitren Kitren Kitren Kitren Kitren Kitren Kitren Kitren Kitren Kitren Kitren Kitren Kitren Kitren Kitren 201 220 223 230 234 304 326 334 343 378 404 429 Tegalan Tegalan Tegalan Tegalan Tegalan Tegalan Tegalan Tegalan Tegalan Tegalan Tegalan Tegalan Tipe lahan Luas lahan (m2) 4,000 4,500 8,000 2,500 8,500 827 4,700 300 1,500 1,066 1,357 309 1,200 10,040 2,000 7,000 1,000 2,500 10,000 2,500 6,500 1,370 3,000 1,500 7,500 1,500 5,000 15,000 1,000 1500 2000 1500 2500 2000 2759 1400 1734 5800 600 6000 2500 Pendapatan (Rp) Biaya (Rp) Margin (Rp) Pendapatan per ha (Rp) Biaya per ha (Rp) 11,750,000 1,475,000 2,150,000 3,200,000 63,030,000 69,000 3,570,000 2,700,000 0 39,000 130,000 1,720,000 2,550,000 10,900,000 14,425,000 75,000 519,000 16,150,000 960,000 500,000 75,000 2,850,000 435,000 850,000 3,600,000 350,000 2,550,000 11,675,000 1,150,000 800,000 275,000 1,400,000 4,656,000 14,000,000 5,862,500 1,525,000 2,000,000 1,022,500 275,000 1,050,000 1,875,000 236,250 569,133 1,234,000 250,800 2,073,250 525,333 801,807 544,400 85,147 16,083 101,040 272,600 506,500 1,712,500 1,204,000 205,000 77,350 993,000 1,322,625 268,031 420,333 953,125 451,400 266,120 590,000 86,684 478,950 2,735,000 201,600 223,750 532,500 518,500 1,572,250 4,645,000 1,257,000 1,345,000 939,000 1,837,000 1,285,500 2,022,500 1,194,500 11,513,750 905,867 916,000 2,949,200 60,956,750 -456,333 2,768,193 2,155,600 -85,147 22,917 28,960 1,447,400 2,043,500 9,187,500 13,221,000 -130,000 441,650 15,157,000 -362,625 231,969 -345,333 1,896,875 -16,400 583,880 3,010,000 263,316 2,071,050 8,940,000 948,400 576,250 -257,500 881,500 3,083,750 9,355,000 4,605,500 180,000 1,061,000 -814,500 -1,010,500 -972,500 680,500 29,375,000 3,277,778 2,687,500 12,800,000 74,152,941 834,341 7,595,745 90,000,000 0 365,854 957,996 55,663,430 21,250,000 10,856,574 72,125,000 107,143 5,190,000 64,600,000 960,000 2,000,000 115,385 20,802,920 1,450,000 5,666,667 4,800,000 2,333,333 5,100,000 7,783,333 11,500,000 5,333,333 1,375,000 9,333,333 18,624,000 70,000,000 21,248,641 10,892,857 11,534,025 1,762,931 4,583,333 1,750,000 7,500,000 590,625 1,264,741 1,542,500 1,003,200 2,439,118 6,352,277 1,705,973 18,146,667 567,644 150,876 744,584 8,822,006 4,220,833 1,705,677 6,020,000 292,857 773,500 3,972,000 1,322,625 1,072,125 646,667 6,957,117 1,504,667 1,774,133 786,667 577,891 957,900 1,823,333 2,016,000 1,491,667 2,662,500 3,456,667 6,289,000 23,225,000 4,555,999 9,607,143 5,415,225 3,167,241 21,425,000 3,370,833 4,778,000 Margin per ha (Rp) 28,784,375 2,013,037 1,145,000 11,796,800 71,713,824 -5,517,936 5,889,772 71,853,333 -567,644 214,978 213,412 46,841,424 17,029,167 9,150,896 66,105,000 -185,714 4,416,500 60,628,000 -362,625 927,875 -531,282 13,845,803 -54,667 3,892,533 4,013,333 1,755,443 4,142,100 5,960,000 9,484,000 3,841,667 -1,287,500 5,876,667 12,335,000 46,775,000 16,692,642 1,285,714 6,118,800 -1,404,310 -16,841,667 -1,620,833 2,722,000 148 Lampiran 7 (lanjutan) Kode respon den 501 505 516 603 609 621 627 635 703 706 708 1,002 1,004 1,005 1,006 Tipe lahan Tegalan Tegalan Tegalan Tegalan Tegalan Tegalan Tegalan Tegalan Tegalan Tegalan Tegalan Tegalan Tegalan Tegalan Tegalan Luas lahan (m2) 10000 5000 5250 5500 4100 1000 2770 500 1000 2500 15000 1000 2500 15000 2500 Pendapatan (Rp) Biaya (Rp) Margin (Rp) Pendapatan per ha (Rp) Biaya per ha (Rp) 1,850,000 9,676,000 3,534,000 6,900,000 3,350,000 3,402,500 2,450,000 1,343,500 1,960,000 1,298,000 5,482,000 1,881,000 4,069,500 17,275,000 2,070,000 2,634,000 1,976,000 4,323,700 1,692,750 1,915,000 2,423,425 3,306,000 2,167,000 627,400 2,264,500 1,415,200 3,955,000 2,690,825 5,212,750 1,450,500 -784,000 7,700,000 -789,700 5,207,250 1,435,000 979,075 -856,000 -823,500 1,332,600 -966,500 4,066,800 -2,074,000 1,378,675 12,062,250 619,500 1,850,000 19,352,000 6,731,429 12,545,455 8,170,732 34,025,000 8,844,765 26,870,000 19,600,000 5,192,000 3,654,667 18,810,000 16,278,000 11,516,667 8,280,000 2,634,000 3,952,000 8,235,619 3,077,727 4,670,732 24,234,250 11,935,018 43,340,000 6,274,000 9,058,000 943,467 39,550,000 10,763,300 3,475,167 5,802,000 Margin per ha (Rp) -784,000 15,400,000 -1,504,190 9,467,727 3,500,000 9,790,750 -3,090,253 -16,470,000 13,326,000 -3,866,000 2,711,200 -20,740,000 5,514,700 8,041,500 2,478,000 149 Lampiran 8 Ilustrasi transaksi pembelian dan penjualan kayu jati rakyat di Kabupaten Gunungkidul Jumlah pohon yang dibeli: 8 batang Harga beli total (Rp): 975,000 Hasil penjualan kayu: Harga Volume Harga Kelas diameter lokal per (m3) total (Rp) m3 (Rp) UGD 0 2,600,000 348,400 UD 1 1,600,000 1,140,800 UP 0 1,000,000 333,000 DL 0 500,000 177,500 Piton 0 350,000 21,000 Total 2 2,020,700 Biaya operasional pedagang: Jenis biaya Jumlah pemakaian Satuan Surat izin tebang 1 lembar SKSKB 1 lembar Pekerja chainsaw 1 orang Sewa chainsaw 1 unit Pekerja angkut 7 orang Langsir kayu 1 paket Total Marjin keuntungan: Harga beli kayu (Rp) Biaya operasional (Rp) Harga jual kayu (Rp) Keuntungan (Rp) Keuntungan dari modal (%) Biaya transasksi dokumen (Rp) Biaya transaksi dokumen dari modal (%) Biaya transaksi dokumen (% biaya pemasaran) Biaya (Rp) 20,000 230,000 40,000 180,000 210,000 100,000 780,000 975,000 780,000 2,020,700 265,700 15 250,000 14 32 150 Lampiran 9 Analisa biaya manfaat usaha tanaman kayu jabon di Kabupaten Tanah Laut Beberapa asumsi: Faktor diskonto/Discounted rate (%) Harga pupuk rata-rata per kg (Rp) Harga herbisida rata-rata per liter (Rp) Upah buruh harian/HOK (Rp) Harga bibit jabon per batang (Rp) Harga kayu jabon (stumpage value) per m3 (Rp) Densiti pohon per hektar Tingkat penyulaman bibit (%) Keterangan: Satuan biaya dalam Rupiah No. Deskripsi Biaya/Penerimaan A 1 PEMBIAYAAN Penyiapan lahan: Biaya upah tenaga kerja: Curahan tenaga kerja, meliputi penyemprotan dan pembersihan lahan (HOK) Biaya bahan Pemakaian pupuk (kg) Biaya bahan pupuk Pemaikaian herbisida, round up (liter) Biaya herbisida Biaya Peralatan Penanaman: Biaya upah tenaga kerja: Curahan tenaga kerja meliputi penyiapan lubang tanam dan penanaman @ Rp 1000/batang, dikonversi menjadi 10 HOK @ Rp 50,000 Pemakaian pupuk (kg) Biaya bahan pupuk Pemakaian bibit tanaman (batang) Biaya bibit Pemeliharaan: Biaya upah tenaga kerja: Curahan tenaga kerja meliputi penyemprotan, pembersihan lahan dan pemupukan, dilakukan 2 X per tahun sampai tahun ke 3, setelah itu hanya pembersihan lahan dan pemupukan setelah thinning (umur 16 tahun) (HOK) Biaya bahan Pemakaian pupuk (kg) Biaya bahan pupuk 2 3 11 2,000 100,000 50,000 500 125,000 500 5 Tahun 1 700,000 200,000 2 3 10 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 10 50 100,000 525 262,500 1,150,000 400,000 0 0 0 0 0 1,150,000 400,000 0 0 0 0 0 1,150,000 400,000 0 0 0 0 0 0 0 8 750,000 125 250,000 8 750,000 125 250,000 8 750,000 125 250,000 0 0 0 0 4 500,000 0 0 5 500,000 0 862,500 500,000 151 Lampiran 9 (lanjutan) No. 4 B Deskripsi Biaya/Penerimaan Pemakaian herbisida (liter) Biaya herbisida Pemanenan: Biaya upah tenaga kerja: Curahan tenaga kerja (HOK) Biaya Peralatan TOTAL BIAYA PRODUKSI PENDAPATAN Hasil penjualan kayu (berdasarkan harga stumpage value) Produksi kayu TOTAL PENDAPATAN Nilai manfaat tahun berjalan Nilai biaya tahun berjalan Selisih manfaat-biaya tahun berjalan Nilai manfaat tahun berjalan terdiskonto Nilai biaya tahun berjalan terdiskonto Selisih manfaat-biaya tahun berjalan terdiskonto Nilai kini bersih (NPV) Nilai manfaat terdiskonto kumulatif Nilai biaya terdiskonto kumulatif Rasio manfaat/biaya Tahun 1 2 3 10 5 500,000 0 0 0 0 2,712,500 5 500,000 0 0 0 0 1,150,000 5 500,000 0 0 0 0 1,150,000 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 12,500,000 100 12,500,000 0 2,712,500 -2,712,500 0 2,443,694 0 1,150,000 -1,150,000 0 933,366 0 1,150,000 -1,150,000 0 840,870 12,500,000 0 12,500,000 4,402,306 0 -2,443,694 -2,443,694 0 2,443,694 0.00 -933,366 -3,377,059 0 3,377,059 0.00 -840,870 -4,217,930 0 4,217,930 0.00 4,402,306 184,376 4,402,306 4,217,930 1.04 152 Lampiran 10 Analisa biaya manfaat usaha tanaman karet di Desa Asam Jaya, Kabupaten Tanah Laut Beberapa asumsi: Faktor diskonto/Discounted rate (%) Harga pupuk rata-rata per kg (Rp) Harga herbisida rata-rata per liter (Rp) Upah buruh harian/HOK (Rp) Harga bibit karet per batang (Rp) Harga getah karet per kg (Rp) Harga kayu karet per m3 (Rp) Densiti pohon per hektar Tingkat penyulaman bibit (%) Keterangan: Satuan biaya dalam Rupiah No. A 1 2 3 4 Deskripsi Biaya/Penerimaan PEMBIAYAAN Penyiapan lahan: Biaya upah tenaga kerja: Curahan tenaga kerja (HOK) Biaya bahan Pemakaian pupuk (kg) Biaya bahan pupuk Pemaikaian herbisida (liter) Biaya herbisida Biaya Peralatan Penanaman: Biaya upah tenaga kerja: Curahan tenaga kerja (HOK) Biaya bahan Pemakaian pupuk (kg) Biaya bahan pupuk Pemakaian bibit tanaman (batang) Biaya bibit Pemeliharaan: Biaya upah tenaga kerja: Curahan tenaga kerja (HOK) Biaya bahan Pemakaian pupuk (kg) Biaya bahan pupuk Pemaikaian herbisida (liter) Biaya herbisida Pemanenan: Biaya upah tenaga kerja: Curahan tenaga kerja (HOK) Biaya Peralatan TOTAL BIAYA PRODUKSI 11 2,000 100,000 50,000 3,500 9,000 125,000 625 5 Tahun 1 1,450,000 350,000 7 600,000 0 0 6 600,000 500,000 2,846,875 450,000 9 2,396,875 50 100,000 656 2,296,875 2,500,000 1,400,000 28 500,000 100 200,000 4 400,000 0 0 0 0 6,796,875 2 3 10 0 0 0 0 500,000 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2,500,000 1,400,000 28 500,000 100 200,000 4 400,000 0 0 0 0 2,500,000 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2,500,000 1,400,000 28 500,000 100 200,000 4 400,000 0 0 0 0 2,500,000 500,000 0 0 0 0 0 0 0 0 2,500,000 1,400,000 28 500,000 100 200,000 4 400,000 6,000,000 6,000,000 120 0 9,000,000 153 Lampiran 10 (lanjutan) No. B 1 2 Deskripsi Biaya/Penerimaan PENDAPATAN Getah Produksi getah (kg) Kayu Produksi kayu (m3) TOTAL PENDAPATAN Nilai manfaat tahun berjalan Nilai biaya tahun berjalan Selisih manfaat-biaya tahun berjalan Nilai manfaat tahun berjalan terdiskonto Nilai biaya tahun berjalan terdiskonto Selisih manfaat-biaya tahun berjalan terdiskonto Nilai kini bersih (NPV) Nilai manfaat terdiskonto kumulatif Nilai biaya terdiskonto kumulatif Rasio manfaat/biaya Tahun 1 2 3 10 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 43,200,000 4,800 0 0 43,200,000 0 6,796,875 6,796,875 0 6,123,311 6,123,311 6,123,311 0 6,123,311 0.00 0 2,500,000 2,500,000 0 2,029,056 2,029,056 8,152,367 0 8,152,367 0.00 0 2,500,000 2,500,000 0 1,827,978 1,827,978 9,980,345 0 9,980,345 0.00 43,200,000 9,000,000 34,200,000 15,214,369 3,169,660 12,044,709 73,895,199 114,684,915 40,789,716 2.81 154 ABSTRACT DEDE ROHADI. Analysis of Farmer’s Perceptions and Strategies in Smallholder Timber Plantation Business (Case studies of Smallholder Timber Plantations at Gunungkidul District, Special Province of Yogyakarta and Tanah Laut District, Province of South Kalimantan). Under direction of HARIADI KARTODIHARDJO, BRAMASTO NUGROHO and DUDUNG DARUSMAN. Smallholder timber plantations play strategic roles in forestry development in Indonesia, particularly on improving farmers’ livelihood at rural areas, supplying wood materials for forest industries and supporting forest rehabilitation program. The potential for developing smallholder timber plantations in Indonesia is huge, given the vast areas of critical land in Indonesia as well as high demand for wood. The facts however showed that the development of smallholder timber plantations in Indonesia only concentrates in Java. This dissertation aims to identify alternatives on policy intervention to support the development of smallholder timber plantations in Indonesia through better understanding on farmer’s perceptions and strategies on timber plantation practices. The study was conducted through case studies of smallholder timber plantations at Gunungkidul district, the province of Yogyakarta and Tanah Laut district, the province of South Kalimantan. Data was collected through household surveys, interviews with key informants, focus group discussions, inventory of smallholder timber plantation plots, and by collecting secondary publication materials at the two case study sites. The results showed that timber plantations play major roles as household saving accounts and as farmers’ safety net. Farmer’s investment of timber plantations management depends on the relative benefits of timber plantations as compared to other farming options. Access to markets and timber selling price are the main driving factors for farmers to invest more on their timber plantations. The availability of land area ownership and production-input capital are also important factors. Governments need to develop policies that strengthen farmers' access to timber markets, such as through institutional strengthening of farmer groups on timber marketing collective action, developing micro credit facilities for farmers and simplifying timber transport document regulations. Governments are also advised to strengthen farmers’ capacity on timber value-added activities and building business partnership with timber industries. Keywords: smallholder timber plantations, institution intervention, Gunungkidul, Tanah Laut. analyses, policy I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tanaman kayu rakyat (smallholder timber plantations) secara umum dapat diartikan sebagai tanaman kayu yang ditanam dalam bentuk kebun atau sistem agroforestry, yang dibangun dan atau dikelola oleh rakyat, baik secara individu maupun berkelompok dan terutama bertujuan untuk memproduksi kayu. Tanaman kayu rakyat di dalam pengertian ini khususnya mencakup Hutan Rakyat atau Hutan Hak menurut Undang-undang (UU) No. 41 Tahun 1999 dan Peraturan Menteri Kehutanan (Permenhut) No 3 Tahun 2004; Hutan Tanaman Rakyat (HTR) menurut batasan Peraturan Pemerintah (PP) No. 6 Tahun 2007 atau Permenhut No. 23 Tahun 2007; Hutan Kemasyarakatan (HKm) menurut Permenhut No. P.37/Menhut-II/2007.serta bentuk-bentuk tanaman kayu lainnya yang menempatkan rakyat di tingkat pedesaan sebagai pelaku utama di dalam kegiatan penanaman dan atau pengelolaannya. Tanaman kayu rakyat dapat dibedakan dengan Hutan Tanaman Industri (HTI) terutama dari aspek pengelolanya dan skala operasionalnya. Dibandingkan dengan HTI, tanaman kayu rakyat dikelola oleh masyarakat pada tingkat rumah tangga dengan skala luasan yang relatif kecil. Tanaman kayu rakyat di Indonesia memiliki peran yang sangat penting di dalam pembangunan kehutanan. Tanaman kayu rakyat berperan sebagai sarana pelaksanaan program rehabilitasi hutan dan lahan, pemasok bahan baku kayu bagi industri perkayuan dan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya yang tinggal di wilayah pedesaan. Walaupun belum banyak data yang tersedia tentang potensi kayu dari areal tanaman kayu rakyat, hasil sensus tahun 2003 mencatat bahwa potensi produksi kayu yang berasal dari areal hutan rakyat di Indonesia adalah sekitar 68.5 juta pohon atau setara dengan 14 juta1 m3, sementara jumlah cadangan tegakan mencapai lebih dari 226 juta pohon atau setara dengan 45 juta m3 (Pusat Inventarisasi dan Statistik Kehutanan 2004). Angka-angka tersebut hanya memperhitungkan tujuh jenis tanaman hutan rakyat yang paling dominan ditanam oleh masyarakat di seluruh wilayah Indonesia, namun belum mencakup berbagai jenis lainnya yang lebih spesifik ditanam di wilayah-wilayah 1 Dengan asumsi bahwa 1 m3 setara dengan 5 pohon yang siap tebang. 2 tertentu di Indonesia. Potensi tersebut relatif sangat besar apabila bila dibandingkan dengan kemampuan pasokan kayu berdasarkan Jatah Penebangan Tahunan (JPT) nasional tahun 2009, yang hanya mencapai 9.1 juta m3 (SK. Dirjen BPK No SK.432/VI-BPHA/2008). Mengingat peranannya yang cukup nyata dalam pembangunan kehutanan, berbagai dukungan kebijakan telah dilakukan pemerintah dalam upaya pengembangan tanaman kayu rakyat di Indonesia. Kebijakan-kebijakan tersebut bertujuan untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat luas di dalam upaya penanaman kayu. Diawali dengan Instruksi Presiden (INPRES) No. 8 pada tahun 1976, kegiatan tanaman kayu rakyat telah digalakkan di Indonesia melalui program penghijauan dan reboisasi. Pada tahun 2003 pemerintah bahkan telah menjadikan “perhutanan sosial” (social forestry) sebagai payung dalam pembangunan kehutanan (Rusli 2003) yang pada intinya menempatkan masyarakat sebagai elemen penting di dalam pengelolaan hutan, termasuk dalam kegiatan penanaman kayu. Setelah itu berbagai program pemerintah diluncurkan, seperti Program Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL dan kemudian menjadi GERHAN), Hutan Kemasyarakatan (HKm), Hutan Tanaman Rakyat (HTR), hutan desa dan baru-baru ini program One Man One Tree (OMOT) dan One Billion Indonesian Trees (OBIT). Namun demikian, fakta menunjukkan bahwa luas total areal tanaman kayu rakyat di Indonesia dewasa ini baru mencapai sekitar 3.7 juta ha yang sebagian besar berupa hutan rakyat (3.5 juta ha) dan sisanya merupakan gabungan dari HKm, hutan desa dan HTR (Pusat Humas Kemenhut 2011). Dari jumlah tersebut, sebagian besar tanaman berupa hutan rakyat yang terkonsentrasi di Jawa, di mana ketersediaan lahan sangat terbatas. Sementara itu areal lahan kritis di Indonesia yang berpotensi untuk pengembangan tanaman kayu rakyat kini telah mencapai sekitar 42 juta ha (Hindra 2006). Nampaknya berbagai dukungan kebijakan yang telah dilakukan pemerintah masih belum cukup efektif untuk meningkatkan motivasi masyarakat luas di dalam usaha penanaman kayu rakyat. Oleh karena itu berbagai upaya masih perlu dilakukan agar kebijakan-kebijakan yang diterapkan lebih tepat sasaran dalam memotivasi masyarakat luas di dalam usaha penanaman kayu. 3 1.2. Perumusan Masalah Pengalaman di berbagai belahan dunia menunjukkan banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan tanaman kayu rakyat. Zhang dan Owiredu (2007) melaporkan bahwa harga jual kayu merupakan faktor pendorong bagi perkembangan tanaman kayu rakyat di Ghana. Permintaan yang tinggi atas kayu serta keterbatasan pasokan kayu dari areal hutan alam telah mendorong perkembangan hutan tanaman, termasuk tanaman kayu jati rakyat di Laos (Midgley et al. 2007). Demikian pula di Filipina, perkembangan tanaman kayu rakyat dipicu oleh permintaan atas kayu yang meningkat serta harga kayu yang menguntungkan (Bertomeu 2006). Intensitas kebijakan pemerintah yang tinggi, khususnya yang mendukung perkembangan hutan tanaman memiliki korelasi yang kuat dengan pertumbuhan hutan tanaman pada skala global (Rudel 2009). Manfaat ekonomis usaha tanaman kayu rakyat dilaporkan secara kontradiktif oleh berbagai penulis. Pada kasus di Costa Rica, Kishor dan Constantino (1993) melaporkan bahwa usaha tanaman kayu rakyat lebih menguntungkan dibandingkan dengan usaha tanaman pertanian lainnya, apabila tingkat suku bunga cukup rendah Akan tetapi beberapa kasus yang lain menunjukkan hasil yang sebaliknya (van Bodegom et al. 2008). Bahkan di negara maju seperti Jepang, agar usaha tanaman kayu rakyat cukup menarik petani, kadang-kadang subsidi pemerintah masih diperlukan (Ota 2001). Hasil penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa usaha tanaman kayu rakyat hanya memberikan keuntungan finansial yang marjinal (Race et al. 2009), sementara Siregar et al. (2007) melaporkan kasus tanaman sengon di Kediri yang ditanam dengan berbagai pilihan tanaman pertanian memberikan keuntungan pada tingkat suku bunga yang cukup tinggi (17.53%). Usaha tanaman kayu rakyat pada umumya berperan hanya sebagai usaha sampingan para petani dan belum menjadi sumber pendapatan utama (Darusman dan Hardjanto 2006; Lubis 2010; Sitanggang 2009). Beberapa hal masih menjadi hambatan dalam upaya pengembangan tanamanan kayu rakyat, seperti masa tunggu yang lama, keengganan para petani untuk melakukan penjarangan tegakan dan keterbatasan akses mereka terhadap bibit tanaman yang berkualitas (Midgley et al. 2007). Kebijakan pemerintah yang kurang kondusif, seperti penetapan pajak eksploitasi kayu yang terlalu rendah 4 dapat menyebabkan usaha tanaman kayu rakyat kurang kompetitif dengan harga kayu dari hutan alam (Herbohn 2001). Di Kanada, dimana sebagian besar sumber daya hutan dikuasai negara dan perusahaan besar, kebijakan-kebijakan atas tanaman kayu sering lebih berpihak kepada perusahaan-perusahaan besar tersebut dan menyediakan sedikit ruang bagi tanaman kayu rakyat untuk berkembang (Mitchell-Banks 2001). Berdasarkan uraian di atas, diperlukan pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana sistem usaha tanaman kayu rakyat berlangsung. Mempertimbangkan bahwa petani kayu merupakan aktor utama di dalam usaha tanaman kayu rakyat tersebut, maka diperlukan pemahaman yang lebih baik terhadap proses pengambilan keputusan oleh petani di dalam usaha tanaman kayu rakyat. Pemahaman tersebut akan sangat bermanfaat dalam perumusan kebijakan yang lebih tepat untuk mendorong perkembangan tanaman kayu rakyat di Indonesia. Armstrong di dalam Clement (2007) menyatakan bahwa proses pengambilan keputusan dipengaruhi oleh persepsi pembuat keputusan tersebut. Persepsi biasanya sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan karena persepsi didasarkan atas informasi yang diperoleh langsung dari subyek yang diamati, dan lebih kuat pengaruhnya daripada informasi yang disampaikan secara tidak langsung oleh pihak lain. Persepsi, menurut kamus bahasa (http://kamusbahasaindonesia.org/persepsi# ixzz1j QA00R3g, diakses tanggal 14 Januari 2012; http://dictionary.reference.com/ browse/ perception, diakses tanggal 12 Januari 2012) dapat diartikan sebagai perolehan pengetahuan melalui indra atau pikiran. Persepsi dibedakan dengan sekedar “tahu” atau “awareness”. Persepsi mengandung pengertian bahwa informasi yang diketahui mempunyai relevansi dengan kebutuhan subyeknya sehingga memberi pengaruh kepada perilaku subyek. Perilaku petani akan berubah apabila awareness dan persepsi berkaitan atau berasosiasi (Oladele dan Fawole 2007). Blaikie dalam Clement (2007) menyatakan bahwa persepsi terhadap suatu realitas (biofisik) tergantung kepada representasi bentuk sosial yang terbentuk dari beberapa tahap. Yang pertama adalah bahwa persepsi berubah melalui pengalaman dan yang kedua melalui proses interpretasi atas fakta-fakta ilmiah. 5 Dalam konteks fakta ilmiah tersebut, Searle dalam Clement (2007) menegaskan perlunya membedakan antara fakta-fakta alamiah (brute facts) dan fakta-fakta kelembagaan (institutional facts). Fakta alamiah relatif bersifat netral karena merupakan penjelasan atau deskripsi dasar atas suatu realitas biofisik, sedangkan fakta kelembagaan sarat dengan nilai dimana nilai-nilai tersebut tidak harus sama di antara kelompok-kelompok sosial yang berinteraksi. Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka pemahaman atas persepsi petani di dalam usaha tanaman kayu perlu dilakukan melalui pengumpulan informasi atas pandangan petani terhadap usaha tersebut, serta dengan menganalisa faktafakta alamiah dan kelembagaan yang dapat menjelaskan proses pengambilan keputusan oleh petani. Selanjutnya, melalui pengamatan atas fakta-fakta di lapangan, penelitian ini mencoba memahami strategi petani di dalam menjalankan usaha tanaman kayu rakyat tersebut pada kondisi realitas kehidupan yang mereka hadapi. Hasil analisa atas persepsi dan strategi petani tersebut selanjutnya digunakan untuk mencari pilihan intervensi kebijakan yang lebih efektif untuk mendorong investasi masyarakat di dalam usaha penanaman kayu rakyat. 1.3. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi dan menganalisa persepsi dan strategi petani di dalam usaha tanaman kayu rakyat dalam rangka penentuan pilihan-pilihan kebijakan yang dapat digunakan untuk meningkatkan kinerja pengusahaan tanaman kayu rakyat di Indonesia. Pertanyaan pokok penelitian yang ingin dijawab melalui penelitian ini adalah: a. Bagaimanakah persepsi petani terhadap usaha tanaman kayu rakyat dan faktor-faktor apakah yang mempengaruhi persepsi petani tersebut? b. Bagaimanakan strategi petani di dalam menjalankan usaha tanaman kayu rakyat tersebut pada kondisi realitas kehidupam yang mereka alami? c. Apakah kendala-kendala yang dihadapi oleh para petani dan peluang-peluang yang tersedia bagi mereka untuk meningkatkan manfaat tanaman kayu rakyat bagi mereka? 6 d. Apakah pilihan-pilihan intervensi kebijakan yang dapat dilakukan untuk mendorong upaya peningkatan kinerja pengusahaan tanaman kayu rakyat di Indonesia? 1.4. Ruang Lingkup Penelitian Tanaman kayu rakyat yang dikaji di dalam penelitian ini difokuskan pada hutan rakyat pada lahan-lahan milik petani. Beberapa informasi yang berkaitan dengan bentuk tanaman kayu rakyat lainnya, seperti HKm dan HTR digunakan sebagai pelengkap bahan kajian. Analisa didalam penelitian didasarkan atas kasus-kasus pengusahaan tanaman kayu rakyat yang terdapat di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan. Analisa atas persepsi dan strategi di dalam pengusahaan tanaman kayu rakyat difokuskan kepada para petani sebagai aktor utama di dalam usaha ini. Persepsi dari para aktor lainnya yang terlibat di dalam sistem ini digunakan dalam konteks untuk menjelaskan persepsi dan strategi petani tersebut. Analisa terhadap persepsi didasarkan atas respon langsung para petani responden atas pertanyaan yang disampaikan melalui wawancara dan atau survey rumah tangga serta dengan mengamati perilaku mereka di dalam tatacara pengusahaan tanaman kayu rakyat. 1.5. Manfaat Hasil Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat bagi para pemangku kepentingan (stakeholders) di dalam sistem pengusahaan tanaman kayu rakyat, terutama kepada: a. Para pengambil keputusan, khususnya para pengambil kebijakan di tingkat pusat dan kabupaten: Penelitian ini menyajikan informasi yang menjelaskan bagaimana persepsi petani atas usaha tanaman kayu rakyat dipengaruhi oleh faktor-faktor internal dan eksternal mereka serta mempengaruhi strategi petani di dalam menjalankan usaha tanaman kayu rakyat tersebut. Informasi tersebut sangat berguna sebagai bahan pertimbangan untuk merumuskan intervensi kebijakan yang lebih adaptif dengan pola pikir para petani sebagai aktor utama di dalam usaha tanaman kayu rakyat. b. Kaum akademisi: Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan rujukan di dalam penelitian bidang ilmu-ilmu sosial, khususnya bagi penelitian yang 7 akan mendalami perilaku petani di dalam usaha penanaman kayu sebagai respon atas kondisi lingkungan dan berbagai pengaruh lainnya. c. Agen-agen pembangunan: Hasil penelitian ini memberikan informasi dan pembelajaran dari studi kasus sistem usaha tanaman kayu rakyat di Jawa dan luar Jawa, khusunya tentang hambatan yang dihadapi dan peluang intervensi yang tersedia dalam rangka pengembangan usaha tanaman kayu rakyat tersebut. d. Masyarakat, khususnya para petani penanam kayu rakyat: Penelitian memberikan manfaat secara tidak langsung kepada masyarakat melalui adopsi hasil-hasil penelitian oleh para pengambil kebijakan di dalam merumuskan kebijakan yang baru yang lebih kondusif bagi pengembangan usaha tanaman kayu rakyat. e. Para pengusaha atau penanam modal, khususnya perusahaan-perusahaan kehutanan: Penelitian ini memberikan informasi dan pembelajaran tentang potensi dan cara-cara untuk menjalin kemitraan yang berkesinambungan dengan para kelompok petani tanaman kayu rakyat. 1. 6. Kebaruan Kebaruan yang dihasilkan dari penelitian ini terletak pada penggunaan kerangka analisa kelembagaan untuk memahami hubungan sebab akibat antara strategi petani di dalam sistem pengusahaan tanaman kayu rakyat dengan persepsi petani atas usaha tersebut serta faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi persepsi dan strategi petani tersebut. Pada tataran operasional, penelitian ini juga menghasilkan beberapa pilihan intervensi kebijakan yang dapat dipertimbangkan di dalam upaya pengembangan usaha tanaman kayu rakyat. 9 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tanaman Kayu Rakyat pada Skala Global Pada skala global, tanaman kayu rakyat dijumpai dalam beragam tipe, baik dalam konteks peristilahan, kepemilikan, luasan, tujuan serta tatacara pengelolaannya (Harrison et al. 2002). Di Amerika Serikat, istilah yang paling sering digunakan adalah Non Industrial Private Forest (NIPF) dan pada umumnya diartikan sebagai kawasan hutan yang dimiliki oleh petani, perseorangan atau perusahaan yang tidak memiliki pabrik pengolahan kayu. Terdapat berbagai istilah lain yang biasa digunakan namun dengan frekuensi yang lebih jarang. Luas total areal NIPF mencakup hampir 60% dari keseluruhan tanaman kayu di Amerika Serikat dan memasok sekitar 50% dari produksi kayu nasional mereka. Areal NIPF dimiliki oleh sekitar 7 juta perorangan dimana sekitar 600,000 pemilik mengelola areal lebih dari 40 ha (Harrison et al. 2002). Zhang et al. (2009) melaporkan bahwa perkembangan tanaman kayu rakyat di Amerika Serikat pada akhir-akhir ini cenderung meningkat. Dengan luas total areal hutan sekitar 248 juta ha, sekitar 2/3 atau 157 juta ha kini dimiliki secara pribadi. Sekitar 2/3 dari areal hutan milik tersebut kini dikelola oleh lebih dari 10 juta individu keluarga. Eropa, dengan luas total areal hutan sekitar 215 juta ha atau sekitar 30% dari luas total lahan (tidak termasuk bekas negara-negara yang tergabung dalam Uni Sovyet Socialist Republic/USSR), areal hutannya terkonsentrasi di negara-negara Eropa Utara (Nordic countries), daerah Balkan (Baltic countries) dan di beberapa bagian di Eropa Tengah. Swedia dan Finlandia, yang termasuk ke dalam Nordic countries, memiliki lebih dari 50 juta ha areal hutan (Hyttinen 2001). Di negaranegara Eropa Utara (Finlandia, Swedia dan Norwegia) telah lama dikenal istilah ”Family Forestry”. Individu masyarakat mengelola hutan disamping aktivitas ekonomi lainnya seperti usaha tani dan kegiatan non usaha tani. Di negara-negara ini hutan yang dimiliki individu masyarakat mencakup sekitar 60%-70% dari luas hutan total. Di Finlandia sendiri terdapat lebih dari 600,000 pemilik hutan yang menguasai 62% dari total luas hutan (Harrison et al. 2002). Luas kepemilikan lahan hutan adalah antara 25 – 40 ha per keluarga (Harrison et al. 2002), namun 10 cukup banyak individu keluarga (36% di Swedia dan 14% di Finlandia) yang mengelola hutan dengan luas lebih dari 50 ha (Hyttinen 2001). Inggris dan Belanda termasuk negara-negara yang hanya sedikit memiliki sumber daya hutan. Di Inggris, luas total areal hutan hanya sekitar 2.5 juta ha (Harrison et al. 2002), sementara di Belanda luas kepemilikan hutan hanya sekitar 0.2 ha per keluarga (Hyttinen 2001). Sekalipun luas hutannya tergolong kecil, istilah “farm woodlands”, “farm forest” dan “privately owned forests” sudah lama digunakan di Inggris. Di negara ini, sekitar 2/3 dari areal hutannya dimiliki oleh individu atau perusahaan (Harrison et al. 2002). Di Perancis dan Belgia, lebih dari 90% kepemilikan mempunya luas kurang dari 5 ha. Di negara-negara yang berbahasa Jerman (Jerman, Austria dan Swiss) luas kepemilikan hutan bervariasi, dimana sebagian besar (36%) kurang dari 5 ha, namun sekitar 29% pemilik mengelola lebih dari 1,000 ha (Hyttinen 2001). Di Eropa bagian timur, sebagian besar areal hutan dimiliki publik, walaupun proses privatisasi kini sedang terjadi, khususnya di negara-negara bekas pemerintahan sosialis atau USSR. Pada sebagian besar negara, kepemilikan hutan dipegang oleh sejumlah besar individu dengan unit pengelolaan yang relatif kecil. Saat ini luas hutan milik di beberapa negara Eropa Timur masih sangat bervariasi, sebagai contoh di Rumania dan Republik Czechnya, areal hutan yang dimiliki secara pribadi masing-masing adalah 6% dan hampir 60%. Secara umum, kepemilikan lahan hutan secara individu berkisar antara 2-3 ha per keluarga. Dengan proses privatisasi yang sekarang sedang terjadi, diperkirakan sekitar 3540% dari seluruh areal hutan akan dimiliki secara pribadi (Harrison et al. 2002). Pada umumnya di negara-negara Eropa, para pemilik hutan telah terorganisasi dengan baik dalam bentuk berbagai asosiasi yang mengedepankan praktek-praktek pengelolaan hutan secara lestari. Organisasi-organisasi tersebut berperan sebagai sarana penghubung di antara pemilik hutan dan menjadi perwakilan mereka di dalam proses penentuan kebijakan, termasuk memberikan pelayanan dalam pemasaran hasil kayunya dan praktek-praktek silvikultur dalam pengelolaan hutan. Pada tingkat wilayah Eropa, salah satu asosiasi yang menjadi payung berbagai organisasi pada tingkat nasional tesebut dikenal sebagai The Confederation of European Forest Owners (CEPF) (Hyttinen 2001). 11 Di Jepang, hutan rakyat sudah mempunyai sejarah panjang sejak lebih dari tiga abad yang lalu. Dengan luas total areal hutan sebesar 2.51 juta ha atau sekitar 66.5% dari luas total wilayah daratan, seluas 14.6 juta ha merupakan hutan milik yang dikelola oleh individu keluarga, perusahaan atau kelompok masyarakat. Terdapat sekitar 2.5 juta individu keluarga pemilik hutan yang sebagian besar (60%) mengelola hutan dengan luasan kurang dari 1 ha. Selebihnya mengelola areal hutan dengan luasan antara 1 – 5 ha per keluarga. Perusahaan dan kelompok masyarakat mengelola areal hutan dengan luasan yang juga relatif kecil, yaitu masing-masing sekitar 34.6 dan 19.3 ha. Hutan tanaman rakyat di Jepang didominasi oleh dua jenis kayu, yaitu Sugi (Cryptomeria japonica) dan Hinoki (Chamaecyparis obtusa) (Ota 2001). Jepang merupakan negara pengimpor kayu yang sangat besar dimana selama kurun waktu tahun 1990an jumlah kayu yang diimpor sekitar 3 sampai 4 kali produksi kayu domestik. Usaha tanaman kayu rakyat kurang dapat bersaing dengan harga kayu impor yang relatif lebih murah, sehingga banyak areal hutan tanaman yang diterlantarkan karena alasan ketidak-layakan ekonomi. Keberadaan hutan milik di Jepang dapat bertahan karena subsidi pemerintah, antara lain melalui bantuan sampai 68% atas biaya pengadaan tanaman hutan dan penjarangan komersil pertama. Bantuan juga diberikan setiap tahun dalam bentuk biaya pemeliharaan jalan dan sumbangan mesin-mesin bagi pembangunan pedesaan. Peluang di masa depan untuk mempertahankan keberadan tanaman kayu rakyat di Jepang adalah dengan kebijakan pemerintah yang akan mendukung fungsi hutan sebagai penghasil jasa lingkungan serta dengan program sertifikasi hutan rakyat untuk memperoleh harga kayu yang tinggi (premium price) di pasar internasional (Ota 2001). Di Australia. hutan milik dapat dibagi menjadi tiga kategori besar, yaitu hutan tanaman industri berskala besar, hutan tanaman skala kecil dan tanaman untuk konservasi. Sesuai dengan namanya, hutan tanaman industri bertujuan untuk produksi kayu dan dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar atau melalui program kemitraan antara masyarakat dengan perusahaan atau pemerintah. Tanaman konservasi pada umumnya dilakukan di areal-areal yang memiliki sensitifitas lingkungan yang tinggi, seperti sepanjang aliran sungai. 12 Tanaman konservasi terutama bertujuan untuk mencegah erosi sepanjang aliran sungai dan mencegah peningkatan permukaan air tanah (water tables) yang menyebabkan salinitas tinggi. Upaya penanaman untuk konservasi ini khususnya didukung oleh program pemerintah yang disebut “landcare” (Herbohn 2001). Hutan tanaman skala kecil lebih umum disebut sebagai “farm forestry” yang mencakup kebun kayu (woodlots), tanaman pelindung angin (windbreaks), tanaman penaung (shelterbelts), agroforestry atau tanaman sekat terasering (slope break plantings). Kadang-kadang isitlah farm forestry juga diterapkan pada tanaman kayu hasil program kemitraan antara individu masyarakat dengan perusahaan hutan tanaman industri. Di luar program kemitraan tersebut, diperkirakan luas areal hutan tanaman skala kecil di Australia mencapai sekitar 76, 250 ha yang terkonsentrasi di negara-negara bagian Victoria, New South Wales, Western Australia dan Tasmania. Di India, terdapat berbagai istilah untuk menggambarkan tanaman kayu rakyat. Hobley (1996) menggolongkannya ke dalam lima kelompok, yaitu Social Forestry, Farm Forestry, Community Forestry, Joint Forest Management (JFM) dan Rural Development Forestry (RDF). Social Forestry dalam konteks ini didefinisikan sebagai hutan tanaman yang pembangunannya disponsori oleh pemerintah (Departemen Kehutanan) pada areal-areal lahan tidur seperti lahanlahan untuk penggembalaan ternak masyarakat, lahan-lahan milik negara, pinggiran jalan dan sungai. Social Forestry pertama kali diperkenalkan pada tahun 1970 an dan pembangunannya dilakukan dengan berbagai tingkatan keterlibatan masyarakat. Farm Forestry adalah hutan tanaman yang dibangun oleh masyarakat pada lahan-lahan milik dengan subsidi bibit dari pemerintah, baik secara cumacuma atau dengan harga yang rendah. Community Forestry mempunyai pengertian yang luas, mencakup sistem pengelolaan hutan oleh masyarakat adat atau hutan tanaman yang dibangun melalui program pemerintah dengan partisipasi masyarakat. Joint Forest Management sering digolongkan juga ke dalam kelompok ini. Joint Forest Management adalah sistem pengelolaan hutan bersama antara masyarakat dengan pemerintah dengan model pembagian hasil, tanggung jawab, pengawasan dan pengambilan keputusan dan diikat dalam bentuk kontrak. Rural Development Forestry adalah hutan yang dibangun dengan dukungan 13 pemerintah, namun model pengelolaan tanaman dan pengembilan keputusan dalam pengelolaan terutama dilakukan oleh pengguna tanaman, baik secara individu maupun kelompok. Menurut Harrison et al. (2002) unit pengelolaan tanaman kayu rakyat di India relatif kecil, yaitu sekitar 0.1 ha. Kadang-kadang tanaman kayu hanya ditanam sepanjang batas pagar atau pinggiran sungai atau saluran air. Di Filipina, tanaman kayu rakyat diawali dengan program pemerintah dalam rehabilitasi hutan oleh Biro Pengelolaan Hutan Filipina (Forest Management Bureau of the Department of Environment and Natural Resources). Pada mulanya program ini terkonsentrasi kepada tanaman hutan industri, namun belakangan lebih mengarah kepada pengembangan hutan kemasyarakatan. Istilah yang sering digunakan adalah “Community Based Forest Managament (CBFM)” dan lebih umum lagi adalah “Community Based Resource Management (CBRM)”. Program ini biasanya diterapkan dalam bentuk penanaman kayu pada lahan-lahan komunal atau lahan-lahan milik masyarakat untuk tujuan produksi, konservasi lahan atau kombinasinya. Penanaman pada lahan-lahan milik masyarakat (farm forestry) umumnya dalam bentuk agroforestry (Harrison et al. 2002). Keragaman dalam bentuk dan model pengelolaan tanaman kayu rakyat akan bertambah apabila memperhatikan di berbagai belahan dunia lainnya seperti di Cina dan Afrika. Namun demikian, dari paparan seperti dijelaskan di atas terdapat gambaran umum tentang bentuk-bentuk dan model pengelolaan tanaman kayu rakyat pada skala global. Tabel 1 di bawah ini merangkum berbagai tipologi pengelolaan tanaman kayu rakyat tersebut. Penelusuran literatur tentang berbagai model tanaman kayu rakyat di berbagai belahan dunia seperti dipaparkan di atas, serta rangkumannya yang disajikan pada Tabel 1 memberikan gambaran bahwa model tanaman kayu rakyat sangat bervariasi di beberapa tempat. Nampaknya akan sulit untuk menarik model yang bersifat umum dan kecocokan model untuk pengembangannya harus lebih banyak disesuaikan dengan konteks lokal. Di negara-negara maju, hutan atau tanaman kayu rakyat cenderung telah dikelola oleh individu masyarakat yang mandiri. Pengelolaan tanaman kayu rakyat sudah lebih berorientasi bisnis. Organisasi pemilik hutan sudah berjalan lebih baik dan memiliki pengaruh yang 14 cukup kuat terhadap kebijakan pemerintahnya yang berkaitan dengan hutan. Namun demikian, dukungan pemerintah dalam bentuk subsidi kadang-kadang masih diperlukan, seperti yang diperlihatkan oleh kasus di Jepang. Kasus di Australia menunjukkan bahwa insentif yang cukup perlu tersedia di dalam usaha tanaman kayu apabila ingin usaha ini menarik bagi masyarakat luas. Tabel 1 Tipologi tanaman kayu rakyat pada berbagai tempat di dunia2 No. Negara/ Wilayah 2 1 USA 2 Eropa 3 Jepang Terminologi tanaman kayu rakyat  NIPF;  Farm Forestry;  Family Forestry;  Private Forestry;  Private Forest Landholders (PFL).  Non-Industrial Forestry;  Privately Owned Forest;  Family Forest;  Small-scale Farm Forest;  Farm Woodland;  Farm Forest. Family Owned Forest Kepemilikan  Perorangan  Perusahaan  Perorangan  Marga  Perorangan  Keluarga Ukuran unit pengelolaan Tujuan pengelolaan  Mulai beberapa hektar sampai mencapai 1,000 ha.  Pada umumnya kurang dari 40 ha. Bervariasi di antara negaranegara Eropa:  Nordic countries: 25 40 ha;  Western countries: 30 2,600 UD 22-28 1,600 UP 16-19 1,000 DL 8-15 500 Piton >7 300 Pemerintah Kabupaten Gunungkidul tergolong sangat aktif dalam melaksanakan kegiatan pembangunan di sektor kehutanan. Pengembangan tanaman kayu rakyat merupakan prioritas utama di dalam pembangunan di sektor kehutanan tersebut. Salah satu kebijakan di lingkup kabupaten yang telah dilakukan adalah dengan membentuk Kelompok Kerja Hutan Rakyat Lestari (Pokja HRL) pada tahun 2005 (SK Bupati Nomor 95/Kpts/2005 tanggal 20 September 2005). Pokja tersebut bekerja bersama berbagai pemangku kepentingan yang menaruh minat terhadap perkembangan hutan rakyat di Gunungkidul dengan anggota pokja yang berasal dari lintas instansi di lingkup kabupaten, kalangan akademisi, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan sektor swasta. Di dalam pelaksanaan kegiatannya Pokja HRL menerapkan konsep pemberdayaan masyarakat melalui tiga kelola yaitu kelola lahan, kelola lembaga dan kelola usaha. Kelola lahan dilaksanakan dengan cara memberikan bimbingan teknis dalam rangka pemanfaatan lahan sesuai kondisi dan jenis tanah, pemilihan jenis tanaman yang sesuai dengan kondisi wilayah, teknik budidaya tanaman dan teknik–teknik pemanfaatan lahan di bawah tegakan hutan. Kelola lembaga dilaksanaan melalui pemberian bimbingan dan pendampingan kepada masyarakat 61 dalam membentuk dan mengembangkan kelembagaan kelompok yang kuat, sedangkan kelola usaha dilakukan dengan pemberian bimbingan kepada masyarakat agar dapat meningkatkan kemampuannya dalam membuka lapangan pekerjaan di sektor kehutanan, membuka peluang pasar dan industri yang berbasis kehutanan. Program-program pembangunan kehutanan yang berkaitan dengan pengembangan tanaman kayu rakyat di Kabupaten Gunungkidul menurut paparan Bupati Gunungkidul (Soeharto 2008) meliputi antara lain : a. Pengelolaan hutan rakyat Pengembangan dan pengkayaan hutan rakyat dilakukan setiap tahun dengan menggunakan dana APBN maupun APBD. Kabupaten Gunungkidul telah memiliki 3 desa (Desa Girisekar Kecamatan Panggang, Desa Dengok Kecamatan Paliyan dan Desa Kedungkeris Kecamatan Nglipar) yang telah mendapatkan sertifikat pengelolaan hutan berbasis masyarakat lestari (PHBML) menurut skema Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI). b. Pengembangan Hutan Kemasyarakatan (HKm) Pada tahun 2003 Bupati Gunungkidul telah memberikan Surat Keputusan tentang Izin Pengelolaan HKm kepada 35 kelompok tani serta mengeluarkan SK Bupati Nomor 213/Kpts/2003 tentang Pengelolaan Hutan Kemasyarakatan. Mulai saat itu pendampingan, pembinaan dan pemberdayaan terhadap kelompok tani HKm terus dilakukan secara intensif sampai akhirnya terbit SK Bupati Gunungkidul tentang Pemberian Izin Usaha Pengelolaan Hutan Kemasyarakatan (IUPHKm) kepada 35 kelompok tani dengan luas lahan 1087,5 Ha selama 35 tahun. c. Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL/GERHAN) Kegiatan GERHAN telah dilaksanakan dengan menanami sekitar 6,000 ha areal hutan rakyat dengan jumlah bibit yang telah didistribusikan sekitar 1.75 juta batang. Jenis-jenis yang dikembangkan meliputi jati, petai, mangga, melinjo dan sukun. d. Pembuatan Hutan Tanaman Rakyat (HTR) Pemerintah Kabupaten Gunungkidul telah mengalokasikan lahan seluas 500 Ha yang merupakan tanah AB (Hutan Produksi Tetap) untuk pengembangan HTR. 62 Perkembangan terkini (2009) melaporkan bahwa kabupaten ini telah memperoleh SK Pencadangan HTR dari Menteri Kehutanan seluas 327.73 ha dan izin pengelolaan (IUPHHK-HTR) seluas 84.4 ha. e. Pembentukan dan Pembinaan Kelompok Tani Pemerintah kabupaten telah menetapkan kelompok tani hutan sejumlah 1,445 kelompok dan melaksanakan program pendampingan kelompok oleh para penyuluh kehutanan yang ditempatkan di desa-desa. 5.1.2. Praktek Pengusahaan Tanaman Jati Rakyat Petani di Gunungkidul memandang tanaman jati sebagai jenis kayu yang penting dalam kehidupan mereka. Hampir semua petani yang memiliki lahan di wilayah ini dapat dikatakan memiliki tanaman jati pada lahan-lahan mereka. Hasil pengamatan lapangan menunjukkan bahwa masyarakat menanam pohon jati dengan pola tumpang sari pada berbagai tipe penggunaan lahan milik mereka, seperti pekarangan, tegalan dan kitren. Pekarangan adalah lahan yang bergabung dengan rumah tempat tinggal petani. Tegalan adalah lahan usaha tani yang terutama ditujukan untuk memproduksi tanaman pangan, sedangkan kitren adalah lahan yang didominasi tanaman kayu, khususnya jati. Ilustrasi penanaman jati rakyat pada ketiga pola penggunaan lahan tersebut terlihat pada Gambar 6. (a) Pekarangan (b) Tegalan (c) Kitren Gambar 6 Berbagai pola penanaman jati rakyat di Kabupaten Gunungkidul. Berdasarkan hasil inventarisasi yang dilakukan terhadap 227 petak lahan milik petani (Lampiran 5), jumlah rata-rata tanaman jati per hektar adalah seperti terlihat pada Tabel 8. Kitren merupakan bentuk tipe penggunaan lahan dengan kerapatan pohon jati tertinggi, yaitu sebesar 485 pohon per ha. Pekarangan dan tegalan juga ditanami jati dengan kerapatan yang relatif lebih rendah, yaitu masing-masing 344 dan 435 pohon per ha. Tanaman jati bahkan juga dijumpai di lahan-lahan sawah, sekalipun hanya berupa tanaman batas dengan kerapatan 63 tanaman sebesar 81 pohon per ha. Hasil inventarisasi lahan tersebut menunjukkan bahwa tanaman jati merupakan jenis yang dianggap penting di dalam sistem usaha tani petani di Kabupaten Gunungkidul. Tabel 8 Jumlah tanaman jati pada berbagai tipe penggunaan lahan petani di Kabupaten Gunungkidul Tipe penggunaan lahan Jumlah pohon jati per ha Tegalan 435 Pekarangan 344 Kitren 485 Sawah 81 Survey rumah tangga yang menanyakan langsung alasan petani dalam penanaman jati pada lahan milik mereka menyimpulkan dua alasan terbesar yang disampaikan responden petani, yaitu sebagai tabungan keluarga dan sumber uang tunai pada kondisi darurat (52%); dan karena tanaman jati merupakan warisan orang tua dan sudah menjadi tradisi/warisan budaya (37%), seperti terlihat pada Gambar 7. Alasan pertama apabila dirinci lebih jauh terdiri dari tujuan sebagai tabungan keluarga (40%), yaitu untuk penyediaan biaya sekolah anak-anak mereka atau biaya untuk penyelenggaraan perhelatan keluarga seperti acara pernikahan anak; sedangkan untuk tujuan kondisi darurat (12%), misalnya digunakan untuk membiayai anggota keluarga yang menderita sakit atau saat menghadapi masa paceklik karena gagal panen. Alasan tradisi terdiri dari kebiasaan menanam jati yang sudah menjadi tradisi keluarga (21%) dan karena memperoleh warisan lahan dari orang tua yang sudah memiliki tanaman jati (16%). Prosentase responden yang menyampaikan alasan karena pengaruh pasar seperti permintaan dan harga kayu yang tinggi ternyata hanya sekitar 5%, sedangkan sisanya menanam kayu karena berbagai alasan lain (5%) atau pengaruh lingkungan masyarakat di sekitarnya (2%). 64 60 50 40 30 20 10 0 Tabungan Tradisi/warisan keluarga dan budaya sumber tunai pada kondisi darurat Pengaruh pasar Alasan lainnya Pengaruh lingkungan Gambar 7 Alasan petani menanam jati berdasarkan hasil survey rumah tangga di Kabupaten Gunungkidul. Rumusan FGD yang telah dilakukan (Lampiran 4) memperkuat hasil survey rumah tangga di atas. Alasan penanaman jati sebagai tabungan keluarga dan sumber uang tunai pada kondisi mendesak disampaikan oleh seluruh kelompok peserta diskusi. Alasan lainnya yang dikemukakan oleh peserta diskusi adalah karena tanaman jati baik untuk perbaikan lingkungan, seperti mencegah erosi, perbaikan iklim mikro/tidak gersang, menggemburkan tanah, memperbaiki sumber air, disamping cocok untuk pemanfaatan lahan kosong yang kurang subur untuk komoditi pertanian. Para petani di Kabupaten Gunungkidul pada umumnya mengelola lahan usaha tani dengan luasan yang relatif sempit. Hasil survey rumah tangga menunjukkan bahwa kepemilikan lahan petani jati sebagian besar (62%) berada di bawah luasan 1 ha per KK, bahkan sekitar 37% keluarga petani hanya memiliki lahan di bawah 0.5 ha (Gambar 8). Luas kepemilikan lahan rata-rata dari seluruh responden adalah sebesar 1 ha per keluarga. 65 1 < 0.5 ha 5 6 10 .5 - < 1.0 ha 37 1.0 - < 1.5 ha 16 1.5 - < 2.0 ha 2.0 - < 2.5 ha 25 2.5 - < 3.0 ha > 3.0 ha Gambar 8 Distribusi luas kepemilikan lahan petani jati rakyat di Kabupaten Gunungkidul. Produksi tanaman pangan merupakan prioritas pertama dalam sistem usaha tani petani. Para petani mengalokasikan rata-rata sebesar 66% dari lahan mereka untuk sistem tegalan yang memiliki tujuan utama untuk memproduksi tanaman pangan. Dengan kepemilikan lahan yang relatif rendah tersebut, para petani ratarata masih mengalokasikan sekitar 9% lahan mereka untuk penanaman jati dalam bentuk kitren (lihat Gambar 9). Fenomena tersebut juga mengindikasikan pentingnya tanaman jati di dalam sistem usaha tani masyarakat di Kabupaten Gunungkidul. 100% 90% 0 9 8 11 15 2 8 9 80% Tanah kosong 70% 60% Tanah hutan 66 50% Kolam Kebun 40% Kitren 30% Tegalan 20% 8 10% 15 Sawah 0% Pekarangan < 0.5 .5 - < 1.0 - 1.5 - 2.0 - 2.5 - > 3.0 Total 1.0 < 1.5 < 2.0 < 2.5 < 3.0 Gambar 9 Alokasi penggunaan lahan petani jati rakyat di Kabupaten Gunungkidul. 66 Hasil survey rumah tangga menunjukkan bahwa total pendapatan keluarga petani dalam bentuk uang tunai sangat bervariasi dari keluarga yang nyaris tidak berpenghasilan sampai total pendapatan sekitar Rp 58 juta per tahun. Nilai rataan tingkat pendapatan keluarga petani adalah sekitar Rp 10 juta per tahun. Pendapatan rumah tangga tersebut berasal dari berbagai sumber seperti diperlihatkan pada Gambar 10. Pada gambar tersebut terlihat bahwa hasil pangan dan palawija memberikan kontribusi pendapatan terbesar, yaitu sekitar 26%. Pendapatan dari non usaha tani seperti bekerja sebagai buruh, memberikan jasa, berdagang dan usaha rumah tangga lainnya bersama-sama memberikan kontribusi sekitar 59%. Hasil penjualan kayu jati memberikan kontribusi sekitar 13% terhadap pendapatan keluarga, jauh di atas hasil penjualan ternak (2%) yang diusahakan petani. Karakteristik budidaya tanaman jati rakyat bersifat tidak intensif. Data inventarisaisi lahan menunjukkan bahwa setengah dari tanaman jati rakyat berasal dari regenerasi alam (khususnya pada areal kitren). Sebagian besar petani masih menggantungkan benih atau bibit jati dari anakan alam. Hanya sebagian kecil petani (12%) yang telah menggunakan bibit jati unggul. Pada umumnya petani tidak menggunakan pupuk pada tanaman jati, terkecuali pada pohon-pohon jati yang ditanam pada areal tegalan di dalam sistem tumpangsari. Sebagian besar petani tidak menerapkan pola penjarangan dan pemangkasan cabang atas tegakan jati mereka untuk menghasilkan kualitas kayu yang baik. Penjarangan pada prakteknya dilakukan saat pemanenan kayu dengan pola tebang butuh. Pemangkasan cabang dilakukan terutama untuk memperoleh kayu bakar dan tidak untuk memperbaiki kualitas batang jati, sehingga sering dilakukan secara keliru dengan menyisakan sisa cabang yang akan menjadi cacat mata kayu (Rohadi et al. 2011). 67 Gambar 10 Struktur pendapatan petani jati rakyat di Kabupaten Gunungkidul. Analisa finansial dengan menghitung biaya input dan output dari usaha tanaman jati rakyat menunjukkan bahwa usaha tanaman kayu jati dalam bentuk kitren sebenarnya memberikan marjin keuntungan yang lebih besar dari usaha tanaman pangan dalam bentuk tegalan (lihat Tabel 9). Dalam satuan hektar usaha tani kitren lebih menguntungkan karena input biaya yang jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan usaha tani tegalan. Marjin keuntungan usaha tani kitren jauh lebih menguntungkan daripada usaha tani tegalan apabila dihitung per satuan hektar. Namun demikian pada kondisi kepemilikan lahan petani yang relatif kecil, marjin keuntungan tersebut tidak berbeda secara nyata. Pada Tabel 10 terlihat bahwa komponen biaya input terbesar dari sistem usaha tani, baik kitren maupun tegalan adalah curahan tenaga kerja. Komponen curahan tenaga kerja pada usaha tani tegalan lebih besar dari usaha tani kitren. Hal ini berarti bahwa usaha tani tegalan lebih banyak memberikan peluang pekerjaan bagi petani di lahan milik mereka. Pola pemanenan jati rakyat di Kabupaten Gunungkidul dikenal dengan istilah “tebang butuh” (slash for cash). Pola pemanenan tersebut berarti bahwa petani tidak menerapkan umur rotasi tebang tertentu untuk tanaman jati mereka. Pohon jati ditebang pada saat petani membutuhkan uang tunai. Dengan pola pemanenan seperti itu, para petani umumnya akan memelihara pohon jati mereka sampai mencapai umur maksimal apabila mereka tidak mempunyai kepentingan 68 akan uang tunai, atau apabila petani masih mempunyai aset keluarga lainnya yang dapat diuangkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut, seperti dari penjualan hasil palawija atau hewan ternak. Tabel 9 Analisa finansial usaha tani rakyat berbasis tanaman jati No Komponen biaya 1 Pendapatan per KK (Rp) 2 Biaya input (Rp) per KK 3 Margin KK 4 Pendapatan per ha (Rp) 5 Biaya input per ha (Rp) 6 Margin per ha (Rp) (Rp) per Tipe penggunaan lahan Kitren1) Tegalan2) Taraf nyata Kitren Tegalan Taraf nyata Kitren Tegalan Taraf nyata Kitren Tegalan Taraf nyata Kitren Tegalan Taraf nyata Kitren Tegalan Taraf nyata Jumlah responden 29 27 29 29 29 27 29 27 29 29 29 27 Nilai rataan Galat contoh 2,827,976 704,386 3,751,204 785,370 0.067 530,720 113,089 1,938,056 243,799 0.007** 2,297,256 670,834 1,698,369 663,655 0.062 19,516,099 12,119,384 13,542,895 2,681,746 0.007** 1,859,916 354,710 10,015,327 2,054,893 0.001** 17,656,184 11,935,474 3,639,578 2,415,694 0.007** Keterangan: 1) 2) 3) Analisa biaya kitren didasarkan atas nilai rataan usaha kitren tahun 2003 sd 2007 Analisa biaya tegalan didasarkan atas nilai rataan usaha tegalan tahun 2007 ** = berbeda sangat nyata berdasarkan uji statistik t-student Tabel 10 Komponen biaya input dan pendapatan usaha tani kitren dan tegalan Komponen biaya input Curahan tenaga kerja Bahan Peralatan Lain-lain Total Kitren (%) 58.1 Tegalan (%) 61.6 22.7 31.1 12.8 6.4 2.5 4.8 100 100 Komponen pendapatan Kayu jati Tanaman hutan non jati Kayu bakar Hijauan Makanan Ternak (HMT) Tanaman pangan Total Kitren (%) 30.7 Tegalan (%) 3.1 17.6 1.4 33.5 13.5 3.6 6.5 4.7 85.4 100 100 69 Survey pasar yang dilakukan (Kurniawan et al. 2008) melaporkan bahwa 80% petani memanen kayu jati mereka karena desakan kebutuhan akan uang tunai. Alasan kebutuhan tersebut pada umumnya antara lain adalah untuk perayaan lebaran (akhir bulan Ramadhan), untuk menyekolahkan anak ke tempat yang baru, perayaan keluarga dan untuk menanggulangi masa gagal panen tanaman pangan. Petani mulai menjual jati saat umur pohon mencapai 10 tahun. Hanya sedikit (14%) petani yang menjual kayu jati setelah tanaman mencapai masak tebang optimal, yaitu di atas umur 30 tahun. Sebagian besar petani menjual kayu jati mereka dalam bentuk tegakan kepada para pedagang pengumpul atau pengepul kayu di desa. Para pengepul pada umumnya adalah para petani juga yang tingkat ekonominya relatif sudah lebih maju. Jumlah pengepul di tingkat desa adalah antara 2- 5 orang (Kurniawan et al. 2008). Transaksi jual beli kayu biasanya dilakukan langsung di lahan tempat pohon yang akan ditebang. Pengepul menaksir harga kayu dengan mengukur lilit batang pada posisi tertinggi yang dapat dicapai saat berdiri. Pada umumnya para petani lebih bersifat sebagai penerima harga (price takers) di dalam proses transaksi tersebut. 5.1.3. Analisa Kelembagaan: Persepsi Pengusahaan Tanaman Jati Rakyat dan Strategi Petani Dalam Polski dan Ostrom (1999) mengemukakan bahwa inti dari analisa kelembagaan menjelaskan hubungan sebab akibat di dalam konsepsi arena aksi. Analisa tersebut mempunyai tiga tujuan utama, yaitu untuk mengidentifikasi faktor-faktor eksternal (pada aspek-aspek kondisi fisik atau materi dari obyek yang diteliti, atribut-atribut masyarakat dan aturan main yang berlaku) yang mempengaruhi perilaku individu atau kelompok di dalam arena aksi, mengidentifikasi dan mengevaluasi pola-pola interaksi yang logis yang berkaitan dengan perilaku aktor di dalam arena aksi dan mengevaluasi luaran atau kinerja dari proses interaksi tersebut. Terdapat dua unsur arena aksi yang saling berinteraksi, yaitu situasi aksi dan karakteristik dari aktor-aktor yang terlibat di dalam proses interaksi tersebut. Di dalam kerangka analisa ini, petani kayu jati rakyat merupakan figur sentral yang ingin dianalisa, khususnya untuk memahami pola-pola pengambilan keputusan yang mereka lakukan di dalam menjalankan usaha tanaman kayu jati 70 rakyat tersebut. Petani memiliki cara pandang tersendiri terhadap usaha tanaman kayu yang mereka lakukan. Petani melakukan tindakan atau keputusan di dalam menjalankan usaha tanaman kayu mereka karena didorong oleh cara pandang tersebut dan dengan mempertimbangkan berbagai faktor, seperti sumber daya yang mereka kuasai serta situasi dan kondisi yang mereka hadapi. Fakta kelembagaan pertama yang dapat dipahami dari fakta-fakta alamiah (Searle dalam Clement 2007) didalam usaha tanaman jati rakyat adalah bahwa tanaman jati sudah menjadi bagian yang penting di dalam sistem usaha tani masyarakat desa di Kabupaten Gunungkidul. Hal tersebut jelas terlihat dari hasil pengamatan lapangan serta hasil inventarisasi lahan petani yang telah dilakukan. Tanaman jati mudah dijumpai pada berbagai tipe penggunaan lahan yang ada, seperti pekarangan, tegalan atau kitren dalam sistem tumpang sari atau yang juga dikenal dengan sistem agroforestry. Secara fisik, tanaman jati memang cocok dengan kondisi wilayah di Kabupaten Gunungkidul. Wilayah tersebut memiliki curah hujan yang cukup, musim kemarau yang cukup nyata setiap tahun dan memiliki jenis tanah yang banyak mengandung zat kapur. Kondisi alam tersebut merupakan tempat yang cocok bagi habitat pertumbuhan tanaman jati menurut Martawijaya et al. (2005). Sejarah Kabupaten Gunungkidul yang pernah mengalami kondisi lingkungan yang rusak karena rendahnya luas tutupan hutan (Filius 1997; Awang 2001; Maarif Institute 2007) telah mempengaruhi pandangan masyarakat atas peran penting tanaman kayu jati bagi perbaikan lingkungan. Para petani terdahulu merespon kondisi lingkungan yang gersang tersebut dengan penanaman kayu. Menurut Rudel (2009), respon tersebut merupakan pengaruh faktor ekologi manusia yang juga terjadi pada berbagai tempat di dunia. Perkembangan selanjutnya, budidaya tanaman jati tersebut kemudian membudaya dan diwariskan kepada generasi-generasi berikutnya. Pengaruh pasar atau faktor ekonomis masuk ke dalam pertimbangan masyarakat petani generasi kemudian setelah ternyata kayu jati mampu memberikan kontribusi yang cukup nyata terhadap pendapatan keluarga. Respon petani yang positif terhadap pengaruh pasar tersebut bersifat logis dan juga terjadi di berbagai wilayah lainnya di dunia, seperti dilaporkan 71 antara lain oleh Zhang dan Owiredu (2007), Midgley et al. (2007) dan Bertomeu (2006). Fakta kelembagaan kedua yang dapat dipahami adalah bahwa usaha tanaman jati rakyat menjadi strategi usaha tani dalam rangka meragamkan sumber pendapatan keluarga petani. Strategi diversifikasi tersebut jelas terlihat dari struktur pendapatan keluarga serta model alokasi penggunaan lahan petani. Struktur pendapatan petani seperti yang dijelaskan pada Gambar 10 menunjukkan bahwa petani jati rakyat di Kabupaten Gunungkidul lebih didominasi oleh karakter mereka sebagai peasant di dalam perspektif antropologi ekonomi (Abar, 2002). Pertimbangan safety first atau jaminan keamanan keluarga serta nilai-nilai moral (seperti karena meneruskan tradisi keluarga dan untuk perbaikan lingkungan) menjadi faktor yang sangat penting dalam pengambilan keputusan petani dalam melakukan kegiatan usaha tani. Karakter peasant tersebut mendorong petani untuk memfokuskan usaha tani merka bagi produksi tanaman pangan, karena komoditi tersebut secara langsung berkaitan dengan kebutuhan dasar petani. Menurut Belcher dan Kusters (2004), strategi petani kayu jati rakyat di Kabupaten Gunungkidul dapat digolongkan ke dalam coping strategy atau diversified strategy, tergantung kepada besaran kontribusi finansial tanaman kayu jati terhadap pendapatan tunai keluarga. Secara umum, dengan kontribusi pendapatan rata-rata sebesar 13% terhadap pendapatan keluarga, strategi usaha tani tanaman jati rakyat tersebut tergolong kepada strategi diversifikasi pendapatan. Analisa finansial usaha tani menunjukkan bahwa sebenarnya tanaman jati memberikan marjin keuntungan per hektar yang lebih besar dibandingkan dengan usaha tanaman pangan (lihat Tabel 9). Namun demikian, kepemilikan lahan yang relatif terbatas menahan petani untuk melakukan ekspansi tanaman jati pada lahan-lahan usaha tani mereka. Pendapatan riil petani pada kondisi luas lahan yang mereka miliki relatif sama antara usaha kitren dan tegalan. Usaha tani tegalan lebih banyak memberikan kesempatan bagi petani untuk bekerja di lahan sendiri karena komponen terbesar dari biaya input produksi adalah curahan tenaga kerja, seperti yang diperlihatkan oleh Tabel 10. 72 Budidaya tanaman jati rakyat yang dipraktekkan petani terintegrasi dengan usaha tani lainnya (tanaman pangan dan ternak). Pola tumpang sari menjadi pilihan yang terbaik bagi petani di dalam melakukan usaha tanaman jati. Petani tidak menerapkan teknik silvikultur yang intensif terhadap tanaman jati mereka karena fokus usaha tani masih terletak pada produksi tanaman pangan. Karena peranan utama tanaman kayu jati sebagai tabungan keluarga dan sumber uang tunai pada kondisi darurat, maka strategi pemanenan atau pemasaran kayu yang diterapkan petani pada umumnya adalah pola tebang butuh dan memasarkan kayu jati mereka melalui para pedagang kayu atau pengepul di tingkat desa. Pola tebang butuh tersebut sebenarnya melemahkan posisi tawar petani saat bertransaksi dengan para pengepul. Namun demikian pola pemanenan tersebut sangat cocok dengan kondisi petani karena berbagai faktor. Pertama, pada umumnya petani menjual kayu jati hanya dalam jumlah yang kecil (satu atau beberapa pohon saja), sehingga tidak cukup ekonomis untuk mencari alternatif cara pemasaran yang lain, misalnya dengan cara menjual langsung ke industri pengolahan kayu. Kedua, petani pada umumnya tidak memiliki keterampilan, sarana dan pengetahuan yang memadai untuk melaksanakan penebangan kayu secara sendiri. Ketiga, aturan tata niaga kayu mewajibkan para pedagang kayu untuk melengkapi dokumen surat izin tebang (SIT) dan surat keterangan sahnya hasil hutan (SKSHH) yang perlu diurus di kantor desa dan Dinas Kehutanan Kabupaten. Pengurusan dokumen-dokumen tersebut memerlukan pengetahuan yang khusus serta biaya transaksi yang terlalu tinggi untuk ditanggung secara individu oleh petani. Terakhir, memasarkan kayu kepada pengepul sangat mudah dan praktis karena para pengepul biasanya juga adalah anggota masyarakat yang telah dikenal dengan baik. Rangkuman persepsi dan strategi petani di dalam usaha tanaman kayu jati rakyat berdasarkan hasil analisa kelembagaan seperti diuraikan diatas disajikan pada Tabel 11. Kinerja yang telah dicapai Kabupaten Gunungkidul di dalam pengembangan hutan rakyat dianggap cukup mengesankan karena telah berhasil mengubah bentang alam dari kondisi gersang pada tahun 1950an dan kini menjadi jauh lebih hijau. Secara khusus Menteri Kehutanan telah menjadikan Kabupaten 73 Gunungkidul sebagai model percontohan untuk pengembangan hutan rakyat (Suryanto 2009). Pertumbuhan luas tutupan hutan dari hanya 3% menjadi 29% (42 ribu ha) dalam kurun waktu 50 tahun - apabila dianggap inisiatif penanaman kayu oleh masyarakat dimulai pada tahun 1960an menurut versi Awang (2001) menunjukkan bahwa pertambahan luas tutupan hutan rata-rata adalah sekitar 750 ha per tahun. Perkembangam luas tutupan hutan tersebut telah membawa perbaikan lingkugan yang sangat nyata. Dulu kabupaten ini dikenal sebagai tempat yang sering dilanda kekeringan dan kekurangan pangan, namun kini bentang alam wilayah relatif hijau dan kesejahteraan ekonomi masyarakat relatif meningkat. Tabel 11 Persepsi dan strategi petani kayu di dalam sistem pengusahaan tanaman jati rakyat No. Aspek Uraian Persepsi petani terhadap pengusahaan tanaman kayu jati rakyat Tanaman jati dipandang memiliki peran yang sangat penting di dalam sistem usaha tani. Peranan utama tanaman jati adalah sebagai tabungan keluarga dan sumber uang tunai pada kondisi darurat. Tanaman jati cocok dengan kondisi lingkungan setempat dan budidaya tanaman jati sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat. Strategi usaha tanaman kayu jati rakyat Usaha tanaman kayu jati rakyat merupakan bagian dari strategi diversifikasi pendapatan keluarga. Praktek budidaya tanaman jati dilakukan secara tumpang sari (agroforestry) di dalam sistem usaha tani untuk produksi tanaman pangan. Strategi pemanenan dan pemasaran kayu jati rakyat Strategi pemanenan dan pemasaran kayu dilakukan berdasarkan pola tebang butuh (tidak berdasarkan rotasi tebang tertentu) dan dipasarkan melalui pengepul kayu. Kegiatan penanaman jati di Kabupaten Gunungkidul kini sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat. Usaha tanaman jati sudah terintegrasi di dalam usaha tani dengan penerapan pola agroforestri. Usaha tanaman jati telah memberikan kontribusi yang cukup nyata (13%) terhadap pendapatan total keluarga dan menjadi sumber pendapatan kedua setelah tanaman pangan di dalam 74 sistem usah tani keluarga. Sekalipun demikian, teknik budidaya tanaman jati rakyat masih belum menerapkan teknik-teknik silvikultur tanaman yang ideal. Di dalam sistem pemasaran kayu, para petani kayu jati juga masih berada pada posisi penerima harga. 5.1.4. Permasalahan dan Peluang Petani Dalam Pengembangan Usaha Tanaman Jati Rakyat Walaupun secara umum perkembangan tanaman jati rakyat di Gunungkidul sudah relatif baik dan mendapat pengakuan dari berbagai pihak, berbagai permasalahan masih dihadapi petani dalam rangka pengembangan usaha tanaman jati lebih lanjut. Kendala pertama berkaitan dengan keterbatasan kepemilikan lahan petani. Dengan rata-rata luas lahan 1 ha per KK, maka tidak banyak yang dapat dilakukan petani untuk melakukan ekspansi tanaman kayu jati karena akan berkompetisi dengan kebutuhan lahan untuk produksi tanaman pangan. Dua hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi kendala ini, yaitu pertama melalui pemberian akses lahan kepada petani atas areal kawasan hutan negara yang kini masih tersisa sekitar 13,000 ha yang berupa kawasan lindung dan areal kurang produktif (Soeharto 2008). Pilihan lainnya adalah melalui peningkatan produktivitas tanaman kayu jati rakyat melalui perbaikan dalam teknik silvikultur. Pemberian akses kawasan negara kepada petani telah dilaksanakan pemerintah daerah (Dinas Kehutanan di tingkat provinsi dan kabupaten) melalui program pengembangan HKm dan HTR. Berdasarkan hasil wawancara dengan salah seorang pengurus kelompok tani yang sudah mendapat izin HKm (Bapak Ngabdani10 15 Jan 2011, komunikasi pribadi), program ini mempunyai potensi keberhasilan yang besar karena animo msyarakat Gunungkidul yang tinggi terhadap kesempatan mereka untuk memperoleh akses lahan. Selain untuk pengembangan tanaman kayu jati, akses lahan tersebut bagi petani juga berarti menambah kesempatan untuk meningkatkan produksi pangan melalui penerapan pola tumpang sari di dalam tegakan hutan. Evaluasi atas pelaksanaan programprogram tersebut perlu dilakukan sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah daerah setempat untuk lebih banyak mengalokasikan areal kawasan hutan negara yang tersisa bagi pengembangan hutan rakyat. 10 Bapak Ngabdani adalah Ketua Kelompok Tani HKm “Tani Manunggal” di Desa Bleberan, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul. 75 Dalam konteks peningkatan produksi kayu, upaya yang dapat dilakukan adalah meningkatkan kualitas teknik budidaya tanaman jati rakyat dengan penerapan teknologi-teknologi silvikultur yang sesuai dengan kondisi petani. Peningkatan teknik silvikultur tersebut antara lain dapat dilakukan melalui penggunaan bibit jati unggul, teknik pemangkasan yang benar, penerapan penjarangan pada tegakan yang terlalu rapat serta pemeliharaan trubusan melalui penunggalan (singling) pada tanaman jati regenerasi alam. Khusus untuk aspek penjarangan dan pemeliharaan trubusan, adopsi petani sangat lambat karena sistem tersebut belum cukup meyakinkan petani atas manfaatnya. Pembuatan demplot-demplot percontohan akan membantu meyakinkan petani karena dapat melihat langsung pengaruh penerapan teknik-tenik silvikultur tersebut terhadap produktivitas tanaman jati mereka (Rohadi et al. 2011). Tebang butuh merupakan praktek pemanenan kayu yang dapat mendukung pelestarian hutan rakyat jati, karena pada umumnya praktek penebangan pohon dilakukan secara selektif (berdasarkan ukuran yang sesuai dengan nilai jual yang dibutuhkan petani) dan umumnya dalam jumlah yang terbatas (satu sampai hanya beberapa pohon). Apabila petani tidak didesak oleh kebutuhan uang tunai, mereka cenderung menunda pemanenan kayu jati mereka sampai umur tebang yang optimal (sekitar 30 tahun atau setelah diameter pohon mencapai ukuran kelas kualitas utama). Pada kenyataannya, sebagian besar petani sering berada dalam kesulitan uang tunai sehingga memaksa mereka untuk melakukan penebangan kayu secara dini (premature harvesting) sebelum pohon jati mereka mencapai umur optimal. Kebiasaan tersebut berpotensi merugikan petani karena menutup peluang untuk memperoleh nilai jual kayu jati yang lebih tinggi. Para petani sebenarnya telah memiliki cara tersendiri untuk mengatasi kebutuhan yang mendesak tersebut, yaitu melalui pengembangan kelembagaan simpan pinjam didalam kelompok tani. Namun demikian, pada umumnya kemampuan lembaga simpan pinjam tersebut dalam penyediaan dana masih relatif terbatas. Kemudahan akses petani terhadap pinjaman uang tunai, seperti melalui pengembangan lembaga kredit mikro di dalam kelompok tani merupakan alternatif upaya yang perlu dikembangkan (Rohadi et al. 2011). 76 Pada aspek pemasaran kayu, para petani jati rakyat cenderung masih pada posisi sebagai penerima harga (price takers) yang mengindikasikan lemahnya posisi tawar mereka di dalam negosiasi harga dengan para pedagang. Potensi kerugian petani terjadi karena berbagai sebab, seperti kesalahan dalam penaksiran volume pohon oleh pedagang, kurangnya penghargaan pedagang terhadap kualitas kayu dan keterbatasan informasi tentang pasar dan harga kayu. Namun demikian akar permasalahannya adalah karena petani tidak mempunyai pilihan lain selain menjual kayu mereka kepada para pengepul tersebut. Pada sisi lain, para pengepul kayu, yang pada umumnya juga dari kalangan petani itu sendiri, juga mempunyai berbagai keterbatasan untuk meningkatkan harga beli kayu dari petani. Biaya transaksi yang tinggi di dalam pemasaran kayu (lihat Lampiran 8) serta berbagai resiko kerugian yang menjadi beban pengepul (Kurniawan et al. 2008), mendorong mereka untuk menerapkan strategi safety first dalam bentuk penetapan harga beli yang rendah. Peningkatan akses petani terhadap pasar, misalnya melalui pemasaran secara kolektif dan pengembangan kerjasama pasokan kayu dengan industri merupakan salah satu alternatif yang dapat meningkatkan posisi tawar petani di dalam pemasaran kayu jati. Kerja sama tersebut perlu menggali peluang untuk peningkatan nilai tambah kayu jati yang dihasilkan masyarakat. Petani kayu jati misalnya perlu diberikan keterampilan untuk mengolah kayu menjadi bahan-bahan mebel setengah jadi yang kemudian dapat ditampung oleh industri mebel di wilayah sekitarnya. Di Kabupaten Gunungkidul, potensi ini tersedia karena pemerintah daerah sudah memfasilitasi upaya kerjasama tersebut dengan beberapa perusahaan mebel di Yogyakarta. Diperlukan fasilitasi yang lebih intensif kepada kelompok-kelompok masyarakat agar upaya yang telah dirancang di tingkat kabupaten tersebut dapat dilaksanaan di tingkat operasional di desa. Biaya transaksi yang cukup tinggi dalam pemasaran kayu jati rakyat merupakan dampak dari penerapan aturan tata niaga kayu rakyat yang bersifat disinsentif bagi upaya pengembangan tanaman kayu rakyat. Kewajiban kelengkapan dokumen SIT dan SKSHH dalam perdagangan kayu jati rakyat menyebabkan peningkatan biaya transaksi pemasaran sampai 32% (Lampiran 8). Para pedagang kayu pada umumnya memasukkan biaya pengurusan dokumen 77 tersebut ke dalam biaya pemasaran yang mendorong mereka untuk menetapkan harga beli yang lebih rendah terhadap para petani. Kewajiban untuk memiliki dokumen-dokumen tersebut juga membuka peluang kepada oknum aparat untuk melakukan berbagai pungutan liar selama perjalanan transportasi kayu. Untuk kasus di Gunungkidul dimana legalitas kayu rakyat sudah terjamin dan pengawasan kawasan hutan mudah dilaksanakan, aturan tata niaga kayu rakyat tersebut perlu ditinjau ulang untuk mengurangi biaya transaksi dalam pemasaran kayu rakyat. 5.2. Tanaman kayu rakyat di Kabupaten Tanah Laut 5.2.1. Faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi sistem pengusahaan tanaman kayu rakyat Informasi umum tentang Kabupaten Tanah Laut telah diuraikan di dalam Bab IV. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa peluang bagi pengembangan usaha tanaman kayu rakyat di kabupaten ini cukup terbuka. Beberapa hal yang menjadi dasar kesimpulan tersebut adalah karena secara geografis Kabupaten Tanah Laut memiliki wilayah yang luas dengan kondisi iklim dan tanah yang cukup kondusif bagi pengembangan tanaman kayu. Posisi geografis kabupaten ini yang berdekatan dengan ibu kota provinsi Banjarmasin sebagai pusat kegiatan ekonomi di wilayah tersebut sangat menguntungkan bila dibandingkan dengan lokasi kabupaten lainnya yang lebih jauh di pedalaman. Kabupaten Tanah Laut juga memiliki berbagai potensi sumber daya alam yang mencakup bidang pertanian, perkebunan, pertambangan, perikanan dan kehutanan yang dapat memberikan peluang usaha sumber mata pencaharian bagi penduduk setempat. Seperti telah dijelaskan di dalam Bab IV, intervensi pihak luar cukup nyata mempengaruhi perkembangan tanaman kayu rakyat di kedua desa yang menjadi lokasi penelitian. Pada kasus di Desa Ranggang, intervensi dari instansi pemerintah di sektor kehutanan (Dinas Kehutanan lingkup provinsi dan kabupaten serta Unit-unit Pelayanan Teknis Kementerian Kehutanan) telah memicu penanaman mahoni oleh sebagian masyarakat di desa tersebut secara intensif, walaupun secara sporadis kegiatan penanaman tersebut telah dimulai sejak tahun 1970an oleh para pendatang dari Jawa. Pada kasus di Desa Asam Jaya, pemicu 78 kegiatan penanaman kayu dari pihak luar berasal dari perusahaan kayu lapis yang berencana untuk menampung kayu yang akan dihasilkan. Desa Ranggang yang terletak lebih dekat dengan ibukota kabupaten Pelaihari bila dibandingkan dengan Desa Asam Jaya, memiliki keuntungan untuk akses pasar yang lebih baik bagi hasil usaha tani masyarakat, termasuk kayu dari hasil budidaya. Bagi Desa Asam Jaya, akses terhadap pasar relatif lebih sulit, walaupun infrastruktur jalan sudah cukup baik. Di sekitar wilayah Desa Asam Jaya juga terdapat sebuah perusahaan kayu lapis (PT. Navatani Persada) yang memproduksi “film face plywood” yang biasa digunakan untuk pembuatan beton pra cetak. Keberadaan industri tersebut menjadi salah satu peluang bagi pemasaran hasil tanaman kayu masyarakat. Informasi dari pihak manajer perusahaan (Bapak I Made Suarta11, komunikasi pribadi), saat ini pihak perusahaan sebagian besar menggunakan kayu karet sebagai bahan baku pabrik dengan standar harga yang diterima sekitar Rp 425,000/m3 untuk kakyu bulat karet. Tingkat harga tersebut menjadi patokan harga beli perusahaan terhadap kayu jabon yang diusahakan oleh masyarakat. Berbagai permasalahan di tingkat provinsi, khususnya di sektor kehutanan akan turut mempengaruhi prospek pengembangan tanaman kayu rakyat di wilayah desa lokasi penelitian. Berbagai isu di tingkat provinsi tersebut terutama berkaitan dengan permasalahan tenurial dan kelangkaan bahan baku kayu bagi industri kehutanan (Suhardi12 19 Okt 2010, komunikasi pribadi). Pada aspek tenurial, permasalahan utama adalah banyaknya konflik lahan yang menyangkut areal kawasan hutan. Luas kawasan hutan berdasarkan fungsinya di Provinsi Kalimantan Selatan adalah seperti terlihat pada Tabel 12. Sebagian besar dari areal kawasan hutan tersebut, berdasarkan citra satelit pada kenyataannya sudah tidak berupa hutan karena kondisi tutupan hutan yang sudah terbuka. Luas areal kawasan hutan yang pada kenyataannya sudah “bukan hutan” tersebut mencapai sekitar 800,000 ha atau sekitar 45% dari luas total kawasan hutan. Kawasankawasan hutan yang terbuka tersebut merepresentasikan daerah konflik lahan 11 Bapak I Made Suarta adalah manajer PT. Navatani Persada di Kecamatan Jorong, Kabupaten Tanah Laut. 12 Bapak Suhardi adalah Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan saat wawancara dilakukan pada tanggal 19 Mei 2008, bertempat di kantor Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan. 79 yang sekarang terjadi. Konflik areal terutama juga dipicu oleh perkembangan perkebunan kelapa sawit dan karet, karena kedua komoditi tersebut mempunyai permintaan pasar yang tinggi. Provinsi Kalimantan Selatan kini mengalami kelangkaan bahan baku untuk menunjang industri perkayuan yang telah ada. Dari 14 industri kayu lapis yang kini masih beroperasi, hanya 5 industri yang masih dapat digolongkan beroperasi dengan baik. Produksi kayu di tingkat provinsi menurun drastis dari sekitar 120,000 m3 pada tahun 2000 menjadi hanya sekitar 10,000 m3 di tahun 2007. Di dalam konteks ini, produksi kayu dari hutan rakyat sangat prospektif. Tabel 12. Luas kawasan hutan berdasarkan fungsinya di Provinsi Kalimantan Selatan Kabupaten Banjar Barito Kuala Hulu Sungai Selatan Hulu Sungai Tengah Hulu Sungai Utara Kotabaru Tabalong Tanah Laut Tapin Jumlah Kawasan lindung (Ha) 148,609 2,555 21,550 Terbatas 29,869 - Tetap 27,175 13,928 Konversi 20,531 - 205,653 23,086 35,478 39,357 - 4,464 - 43,821 40,008 26,518 11,435 22,094 100,055 391,873 75,767 27,870 3,663 751,252 93,694 54,953 4,862 2,281 212,177 397,642 97,569 69,487 5,972 627,672 25,277 67,902 908,486 228,289 102,219 11,916 1,659,003 Hutan Produksi (Ha) Jumlah (ha) Sumber: Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan (2007). Provinsi Kalimantan Selatan termasuk cukup responsif di dalam menyambut program pengembangan HTR yang digagas Kementerian Kehutanan. Data tahun 2010 menunjukkan bahwa luas total pencadangan HTR yang telah mendapat pesetujuan Menteri Kehutanan adalah sebesar 29,758 ha. Alokasi pencadangan areal HTR untuk Kabupaten Tanah Laut adalah sebesar 5,355 ha. Namun demikian, sampai tahun 2010 belum terdapat izin usaha HTR yang telah dikeluarkan oleh pemerintah di tingkat kabupaten. Permasalahan utama keterlambatan ini adalah karena permasalahan koordinasi antara pemerintah pusat 80 dengan daerah yang belum lancar di dalam implementasi program HTR tersebut (Herawati 2011). Hasil wawancara dengan salah satu pengusul izin HTR di Kecamatan Jorong (Bapak Djoko13 29 Okt 2010) melaporkan bahwa pada kenyataannya waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh izin HTR sangat lama dan prosesnya panjang. Usulan permohonan izin yang disampaikan sudah lebih dari satu tahun namun belum juga mendapat keputusan. Informasi dari Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Tanah Laut (Bapak Aan Purnama 27 Okt 2010, komunikasi pribadi) menjelaskan bahwa proses yang lama tersebut terjadi karena adanya konflik lahan atas usulan lokasi HTR yang disampaikan oleh pengusul (Koperasi Akar Perjuangan). Konflik lahan terjadi karena sebanyak 600 ha areal yang diusulkan oleh koperasi tumpang tindih dengan lokasi uji coba penanaman akasia yang terdapat di bawah izin Hak Pengusahaan Hutan PT. HRB. Di atas areal yang dipermasalahkan tersebut telah beridiri tegakan akasia hasil uji coba yang kondisi fisiknya sudah siap tebang. Pihak perusahaan menghendaki agar areal tersebut dikeluarkan terlebih dahulu dan tegakan akasia yang sudah dibangun diizinkan untuk dimanfaatkan oleh perusahaan. Opsi penyelesaian konflik telah disampaikan kepada pihak yang terlibat, yaitu melalui pembentukan kerjasama pemanfaatan kayu di areal tersebut antara pihak HRB dengan koperasi pengusul HTR, namun opsi tersebut masih dalam proses pembicaraan. 5.2.2. Praktek Pengusahaan Tanaman Kayu Rakyat Desa Ranggang Hasil survey rumah tangga menunjukkan bahwa dari 9914 KK petani yang disurvey, rata-rata luas kepemilikan lahan petani responden adalah 2.06 ha. Jumlah petani pemilik tanaman mahoni adalah sebanyak 45 KK atau sekitar 6% dari jumlah KK yang tinggal di desa, lebih banyak dari informasi semula yang diperoleh dari wawancara dengan beberapa tokoh masyarakat pada saat pemilihan responden dilaksanakan. Seperti telah disampaikan sebelumnya, seluruh petani 13 14 Bapak Djoko adalah Ketua Koperasi “Akar Perjuangan”, bertempat di Jalan Poros PelaiharaiBatulicin, Desa Asam-asam, Kecamatan Jorong, Kabupayen Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan. Hasil survey rumah tangga didasarkan atas 99 KK karena 2 KK petani responden tidak mempunyai kelengkapan data sehingga dikeluarkan dari daftar responden. 81 penanam mahoni tersebut terkonsentrasi pada 2 RT dari 10 RT yang ada di desa, yaitu di RT 6 dan 7 yang keduanya didominasi oleh penduduk dari etnis Jawa. Para petani kayu mahoni pada umumnya memiliki lahan yang lebih luas dengan luas kepemilikan rata-rata sebesar 3.22 ha per KK. Setengah dari jumlah KK tersebut memiliki lahan dengan luas di atas 3 ha per KK (lihat Gambar 11). Petani responden non penanam kayu rata-rata memiliki lahan dengan luas 1 ha per KK. Sebagian besar dari mereka memiliki lahan di bawah 1 ha per KK (Gambar 12). Hasil survey rumah tangga tersebut sesuai dengan laporan Profil Desa Tahun 2007 (Pemerintah Kabupaten Tanah Laut Kecamatan Takisung Desa Ranggang 2007) yang mencatat bahwa sebagian besar penduduk desa (93%) hanya memiliki lahan di bawah 1 ha per KK. 4 4 < 0.5 ha 11 .5 - < 1.0 ha 7 51 11 11 1.0 - < 1.5 ha 1.5 - < 2.0 ha 2.0 - < 2.5 ha 2.5 - < 3.0 ha > 3.0 ha Gambar 11 Distribusi luas kepemilikan lahan petani responden penanam kayu di Desa Ranggang. 82 2 < 0.5 ha 13 7 41 4 .5 - < 1.0 ha 1.0 - < 1.5 ha 1.5 - < 2.0 ha 17 17 2.0 - < 2.5 ha 2.5 - < 3.0 ha > 3.0 ha Gambar 12 Distribusi luas kepemilikan lahan petani responden non penanam kayu di Desa Ranggang. Para petani kayu pada umumnya mengalokasikan sebagian besar (33%) lahan mereka untuk produksi tanaman pangan dalam bentuk sawah dan tegalan (Gambar 13). Tanaman kayu rata-rata mencakup 26% dari luas lahan yang mereka miliki dan sebagian dari mereka memiliki kebun karet sebesar 13% dari total luas lahan yang dimiliki. Para petani non penanam kayu mengalokasikan sebagian besar lahan mereka (55%) untuk produksi tanaman pangan dalam bentuk sawah dan tegalan (Gambar 14). Beberapa dari mereka juga memiliki kebun karet yang rata-rata mencakup 13% dari luas lahan yang mereka miliki. Sesuai dengan gambaran yang diberikan oleh sistem alokasi penggunaan lahan, sumber mata pencaharian keluarga petani di Desa Ranggang adalah usaha tani tanaman pangan (55%). Bidang usaha lainnya adalah pada kegiatan non usaha tani, yaitu sebagai buruh (13%), karyawan tetap di perusahaan (9%) dan pedagang kebutuhan pokok (7%), seperti terlihat pada Gambar 15. Tanaman kayu dan karet belum memberikan kontribusi terhadap pendapatan keluarga petani karena umur tanaman yang relatif masih muda. 83 120 100 5 13 80 26 60 Lainnya Kebun karet Kebun kayu 40 29 20 14 13 0 Tegalan Sawah Pekarangan < 0.5 .5 - < 1.0 - < 1.5 - < 2.0 - < 2.5 - < > 3.0 Total 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0 Gambar 13 Alokasi penggunaan lahan petani responden penanam kayu di Desa Ranggang. 120 100 6 13 5 18 80 60 Lainnya Kebun karet Kebun sawit 40 37 Tegalan Sawah 20 20 0 Pekarangan < 0.5 .5 - < 1.0 - < 1.5 - < 2.0 - < 2.5 - < > 3.0 Total 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0 Gambar 14 Alokasi lahan petani responden non penanam kayu di Desa Ranggang. 84 60 55 50 Tanaman Pangan Buruh non usaha tani 40 Karyawan tetap Pedagang 30 Buruh usaha tani Industri RT 20 Jasa 13 10 9 7 Ternak 7 4 4 1 0 Gambar 15 Sumber pendapatan keluarga petani responden di Desa Ranggang. Seperti disampaikan oleh beberapa tokoh masyarakat di Desa Ranggang, kegiatan penanaman mahoni secara intensif terjadi sejak tahun 2003, yang dipicu oleh program rehabilitasi hutan dan lahan yang dilaksanakan oleh pemerintah, khususnya Dinas Kehutanan tingkat provinsi dan kabupaten serta Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Kalimantan Selatan. Melalui proyek-proyek pembangunan yang dilaksanakan oleh instansi tersebut, pemerintah memberikan bantuan kepada masyarakat berupa bibit, upah kerja dan bantuan teknis lainnya pada kegiatan penanaman kayu di kawasan hutan negara dan lahan-lahan masyarakat. Masyarakat di Desa Ranggang, khususnya di RT 6 dan 7 secara aktif menyambut program pemerintah tersebut karena merasa terbantu dengan berbagai bantuan yang ditawarkan pemerintah. Informasi dari petugas penyuluh kehutanan lapangan menyatakan bahwa respon petani di desa Ranggang terhadap program pemerintah dalam pengembangan tanaman kayu rakyat tidak merata. Petani di wilayah RT 6 dan 7 yang didominasi oleh petani dari etnis Jawa lebih bersemangat dan konsisten dalam mengikuti kegiatan-kegiatan pendampingan yang dilaksanakan oleh Dinas Kehutanan. Sebagai akibatnya, para petugas lapangan pun lebih suka menempatkan proyek-proyek bantuan dan kegiatan-kegiatan pendampingan mereka pada kedua RT tersebut. Namun demikian, hasil survey rumah tangga juga menunjukkan bahwa sebagian besar alasan yang disampaikan oleh para petani 85 responden non penanam kayu adalah karena keterbatasan lahan yang mereka miliki. Masyarakat memilih jenis kayu mahoni untuk ditanam pada lahan-lahan mereka, sebagian besar karena pertimbangan ekonomi. Tanaman mahoni diyakini memiliki pangsa pasar yang baik dan akan laku dijual dengan harga yang cukup menarik. Para petani juga telah mengetahui bahwa di wilayah tetangga mereka (Kecamatan Jorong) telah ada perusahaan tanaman industri yang melakukan penanaman kayu mahoni (PT. Emida) secara intensif untuk memasok pabrik mebel mereka di Jawa. Para petani berharap bahwa keberadaan perusahaan tersebut akan menjadi salah satu peluang akses pasar atas kayu mahoni mereka. Hasil survey rumah tangga yang menanyakan langsung alasan petani atas penanaman mahoni adalah seperti terlihat pada Gambar 16. Disamping untuk dijual, kayu mahoni dapat juga dimanfaatkan untuk keperluan sendiri, antara lain untuk renovasi rumah tinggal mereka atau untuk membuat berbagai perabotan rumah tangga. 100% 90% 80% 70% 60% Lainnya 50% Sosial 40% 30% 20% 10% Lingkungan Konsumsi sendiri Ekonomi 0% Gambar 16 Alasan petani menanam beberapa jenis komoditas usaha tani di Kabupaten Tanah laut. Praktek penanaman mahoni umumnya dilakukan secara monokultur dengan jarak tanam antara 4X4 m, 4X5 m atau 5X5 m. Pada umumnya lahan bawah tegakan mahoni ditanami rumput untuk pakan ternak, walaupun sebagian dari petani ada juga yang memanfaatkannya untuk penanaman palawija, seperti jagung, kacang tanah atau singkong. Petani pada umumnya merawat tanaman 86 mahoni mereka dengan baik, seperti melakukan penyiangan untuk pembersihan lahan, pemupukan dan pemangkasan batang. Penjarangan belum dilakukan karena tanaman masih relatif muda dan jarak tanam sudah cukup lebar. Hasil inventarisasi atas 77 petak tanaman mahoni (luas total 95.75 ha) yang dimiliki oleh 24 petani mahoni menunjukkan bahwa 65% tegakan mereka berada pada kondisi baik, 22% tegakan pada kondisi sedang dan sisanya pada kondisi buruk. Kondisi baik artinya tanaman mahoni rata-rata memiliki batang yang baik sebagai bahan untuk kayu pertukangan. Kondisi sedang berarti bahwa tanaman mahoni memiliki batang pohon yang mengandung cacat, namun secara umum masih dapat dimanfaatkan untuk kayu pertukangan. Kondisi buruk berarti bahwa sebagian besar tanaman mahoni mengandung cacat yang terlalu banyak sehingga kurang cocok untuk bahan kayu pertukangan. Rata-rata potensi volume untuk masing-masing kondisi tersebut adalah 13.6 m3/ha, 11.1 m3/ha dan 2.3 m3/ha. Ilustrasi tanaman mahoni rakyat di desa ini terlihat pada Gambar 17. Desa Asam Jaya Hasil survey rumah tangga terhadap 52 petani responden menunjukkan bahwa luas kepemilikan lahan rata-rata per KK adalah 2.56 ha. Sebanyak 60% petani responden memiliki lahan di atas 2 ha dan hanya sekitar 13% responden yang mengelola lahan di bawah 1 ha per KK (lihat Gambar 18). Sebanyak 44 KK dari responden yang disurvey adalah para petani penanam kayu jabon, dan sebagian di antaranya juga memiliki tanaman kayu akasia. Pada kasus di Desa Asam Jaya, distribusi kepemilikan lahan antara petani penanam kayu dan non penanam kayu relatif seragam. Para petani responden pada umumnya mengalokasikan sebagian besar lahan mereka untuk tanaman kayu dan kebun karet (Gambar 19). Alokasi lahan untuk sawah dan tegalan relatif kecil (total = 24%) yang menunjukkan bahwa usaha tanaman pangan bukan merupakan jenis usaha tani yang dominan. Tanaman karet cukup dominan di dalam penggunaan lahan. Sebagian besar petani responden non penanam kayu mengatakan bahwa mereka lebih memilih tanaman karet dari pada tanaman jabon karena lebih menguntungkan sebagai sumber pendapatan keluarga. 87 Gambar 17 Ilustrasi tanaman mahoni rakyat di Desa Ranggang. 4 25 < 0.5 10 17 .5 - < 1.0 1.0 - < 1.5 10 10 25 1.5 - < 2.0 2.0 - < 2.5 2.5 - < 3.0 > 3.0 Gambar 18 Distribusi luas kepemilikan lahan petani responden di Desa Asam Jaya. 88 100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% 10 22 Lainnya 29 Kebun karet Kebun kayu 18 6 14 Tegalan Sawah Pekarangan < 0.5 .5 - < 1.0 - 1.5 - 2.0 - 2.5 - > 3.0 Total 1.0 < 1.5 < 2.0 < 2.5 < 3.0 Gambar 19 Alokasi penggunaan lahan petani responden di Desa Asam Jaya. Sebagian besar (69%) petani responden di desa ini berprofesi sebagai pekerja di luar bidang usaha tani, yaitu sebagai buruh non usaha tani (33%), karyawan tetap (sebagai Pegawai Negeri Sipil atau bekerja di berbagai perusahaan) dan pedagang barang-barang kebutuhan pokok (12%). Kegiatan usaha tani sebagai sumber mata pencaharian utama keluarga dipraktekkan oleh relatif sejumlah kecil petani responden (18%) terutama dalam bentuk usaha tanaman pangan (12%). Tanaman kayu maupun kebun karet yang mereka miliki belum memberikan kontribusi terhadap pendapatan keluarga (lihat Gambar 20). Penanaman jabon pada umumnya dilakukan secara monokultur dengan jarak tanam pada umumnya 4X4 m. Hasil inventarisasi atas 92 plot tanaman jabon milik petani menunjukkan bahwa sekitar 42% tegakan berada pada kondisi baik, 28% pada kondisi sedang dan 13% pada kondisi buruk. Potensi volume tegakan pada masing-masing kondisi tersebut adalah 51 m3, 28 m3, dan 20 m3 per ha. Ilustrasi tanaman jabon rakyat tersebut terlihat pada Gambar 21. Selain tanaman jabon, beberapa keluarga petani juga memiliki tanaman akasia yang dibangun melalui kontrak kerjasama dengan perusahaan hutan tanaman industri, yaitu PT. HRB. Kontrak dilakukan pada tahun 2003 dengan perusahaan tersebut oleh sekitar 25 KK melalui Koperasi Unit Desa (KUD) Tani Jaya Murni. Di dalam kerjasama tersebut pada prinsipnya petani hanya menyediakan areal lahan karena seluruh aktivitas penanaman dilakukan oleh perusahaan. Menurut penuturan staf PT. HRB di lokasi (Bapak Andri 89 Jatiatmana15, komunikasi pribadi) tujuan penanaman akasia tersebut adalah untuk memasok industri serpih dengan rotasi tebang antara 6 sampai 7 tahun. Sistem pembagian hasil antara perusahaan dengan pemilik lahan adalah 60:40 dari harga jual kayu yang disepakati setelah dikurangi biaya produksi. Ilustrasi tanaman akasia pola kemitraan tersebut terlihat pada Gambar 22. 35 33 30 25 Buruh non usaha tani Karyawan tetap 24 Pedagang 20 15 Buruh usaha tani Tanaman Pangan 12 12 12 Ternak 10 5 Jasa 4 Kayu 2 2 0 Gambar 20 Sumber pendapatan keluarga petani responden di Desa Asam Jaya. Gambar 21 Ilustrasi tanaman jabon rakyat di Desa Asam Jaya. 15 Bapak Andri Jatiatmana adalah perwakilan PT. Hutan Rindang Banua, beralamat di Jl. Sei Baru RT 06 RW 04, Desa Asam-Asam, Kecamatan Jorong, Kabupaten Tanah Laut. 90 Gambar 22 Tanaman akasia model kemitraan antara PT. Hutan Rindang Banua dengan masyarakat di Kecamatan Jorong. Sebagaimana telah dijelaskan, penanaman kayu jabon di desa ini dipicu oleh tawaran dari PT. Hendratna, sebuah perusahan kayu lapis yang memiliki pabrik di Banjarmasin. Sebagian besar petani (65%) menerima tawaran tersebut karena menganggap bahwa tanaman jabon akan menjadi sumber pendapatan (tabungan) keluarga yang cukup menjanjikan. Tujuan ekonomi merupakan motif utama penanaman kayu seperti diperlihatkan oleh Gambar 16. Jaminan kepastian pasar juga menjadi isu penting yang berkembang di kalangan para petani kayu jabon pada akhir-akhir ini. Pada saat investasi penanaman dilakukan, para petani merasa yakin bahwa tanaman jabon mereka akan ditampung oleh perusahaan kayu lapis yang memberikan bibit secara cumacuma. Namun demikian perusahaan tersebut kini mengalami kebangkrutan dan sudah tidak beroperasi sehingga mengganggu harapan petani. Beberapa petani yang diwawancarai kini kurang menaruh perhatian terhadap tanaman jabon mereka dan mulai mengurangi intensitas pemeliharaan tegakan jabon mereka. Pada beberapa kasus bahkan dijumpai petani yang telah mengganti tanaman jabon mereka dengan tanaman karet yang dianggap memiliki prospek pasar yang lebih menjanjikan (lihat Gambar 23). 91 Gambar 23 Tanaman jabon rakyat yang ditebang oleh pemiliknya karena akan diganti dengan kayu karet. Hasil FGD yang dilakukan bersama beberapa perwakilan tokoh masyarakat dan petani di Desa Asam Jaya menunjukkan bahwa kegiatan pendampingan dari instansi pemerintah di sektor kehutanan relatif masih terbatas, sehingga para petani belum memperoleh banyak kesempatan untuk terlibat di dalam programprogram pengembangan tanaman kayu rakyat. Kecamatan Jorong sebenarnya telah memperoleh alokasi lahan untuk pengembangan HTR, namun masyarakat di Desa Asam Jaya belum mengetahui tentang program tersebut. 5.2.3. Analisa Kelembagaan: Persepsi dan Strategi Petani dalam Pengusahaan Tanaman Kayu Rakyat Petani melihat usaha tanaman kayu rakyat sebagai sebuah peluang untuk memperoleh tambahan pendapatan. Kemiripan antara kasus di kedua desa penelitian adalah, bahwa pemicu minat masyarakat terhadap usaha tanaman kayu tersebut berasal dari pihak luar. Pada kasus di Desa Ranggang, petani melihat berbagai manfaat yang dapat diperoleh dengan terlibat pada program pengembangan tanaman kayu yang digagas instansi pemerintah. Selain petani memandang bahwa kayu mahoni memiliki prospek ekonomi yang baik, keterlibatan tersebut juga akan menjadi akses mereka terhadap berbagai bantuan 92 yang disediakan oleh pemerintah16. Pemilihan jenis mahoni sebagai jenis yang dikembangkan merupakan pilihan rasional petani, karena disamping jenis kayu tersebut mempunyai harga jual yang tinggi, kayu tersebut juga dapat digunakan untuk keperluan sendiri. Di berbagai negara, khususnya di Asia Tenggara, program-program dan kebijakan yang diberikan pemerintah berpengaruh positif terhadap ekspansi tanaman kayu (Rudel 2009). Secara ekologis, kayu mahoni juga cocok dengan kondisi lingkungan di Kabupaten Tanah Laut yang memiliki wilayah dengan ketinggian antara 0 – 1000 m dpl. dan curah hujan yag beriklim tropis basah. Kayu mahoni cocok dengan kondisi tersebut dan toleran terhadap berbagai jenis tanah (Whitmore dalam Krisnawati et al. 2011b; Lamb dalam Krisnawati et al. 2011b; Martawijaya et al. 2005). Tidak diketahui dengan pasti apakah petani di Desa Ranggang telah memiliki pengetahuan tentang kesesuaian tempat tumbuh jenis kayu tersebut. Namun demikian pemilihan atas jenis kayu tersebut merupakan keputusan yang cukup strategis. Petani tidak memilih kayu jati, yang mungkin mempunyai nilai ekonomi yang lebih tinggi dari mahoni karena kayu jati kurang begitu cocok dengan kondisi lingkungan setempat. Wilayah Kabupaten Tanah Laut tidak memiliki musim kemarau yang nyata dan jenis tanah yang kurang mengandung kapur yang biasa dibutuhkan tanaman jati. Kayu karet tidak menjadi pilihan petani karena jenis ini tidak termasuk ke dalam jenis yang ditawarkan oleh pemerintah. Jenis kayu karet baru termasuk ke dalam jenis tanaman kehutanan sejak diperkenalkan program HTR yang relatif baru. Para petani di desa Asam Jaya melihat tanaman jabon sebagai salah satu peluang karena mereka umumnya memiliki lahan yang cukup luas. Sementara itu latar belakang sebagai warga transmigran yang relatif baru menempati desa tersebut (tahun 1991), menyebabkan mata pencaharian petani belum terfokus kepada usaha tani. Sebagian besar petani masih memanfaatkan peluang bekerja di luar bidang usaha tani seperti yang tergambar di dalam struktur sumber pendapatan petani (Gambar 20). Kondisi wilayah di kecamatan Jorong yang 16 Motivasi seperti ini juga dijumpai pada sebagian petani di Desa Asam Jaya bedasarkan penuturan Bapak Sanawiri, Bapak Ata dan Bapak Kasmadi pada saat pelaksanaan survey rumah tangga. Mereka mengatakan bahwa salah satu alasan mereka untuk bergabung dengan program penanaman jabon adalah karena pihak perusahaan menjanjikan akan memberikan bantuan pupuk dan obat-obatan untuk pemeliharaan tanaman jabon mereka. 93 sedang berkembang, dengan adanya perusahaan hutan tanaman dan pertambangan, menyediakan peluang pekerjaan bagi masyarakat di sekitar Desa Asam Jaya. Para petani kayu jabon pada umumnya juga mengusahakan tanaman karet. Namun untuk membangun kebun laret juga diperlukan modal usaha yang cukup besar. Hasil analisa finansial usaha tanaman karet memperkirakan biaya pembangunan tanaman karet sebesarRp 6.8 juta per ha dan biaya pemeliharaan sekitar Rp 2 juta sampai Rp 9 per tahun (lihat Lampiran 10), sebelum tanaman tersebut mulai menghasilkan getah pada sekitar tahun ke 5. Pilihan untuk menanam kayu jabon merupakan pilihan yang cukup strategis karena relatif tidak memerlukan biaya yang besar di dalam pembangunan dan pemeliharaan tegakannya. Secara ekologis tanaman jabon cocok dengan kondisi setempat karena jabon termasuk jenis pionir dan tahan terhadap tempat terbuka (Krisnawati et al. 2011a). Tanaman jabon juga termasuk jenis cepat tumbuh sehingga relatif cepat akan memberikan hasil. Namun demikian, faktor utama yang mempengaruhi motivasi petani untuk menanam jabon adalah karena adanya jaminan pemasaran dari perusahaan yang mendukung program penanaman tersebut. Setelah kemudian jaminan tersebut menjadi tidak pasti karena perusahaan pendukungnya sudah tidak beroperasi, motivasi petani untuk memelihara tanaman jabon mulai berkurang. Dari pendapat para responden selama pelaksanaan survey rumah tangga terungkap bahwa kini mereka tidak terlalu mencurahkan sumber dayanya (tenaga kerja, pupuk, obat-obatan) untuk memelihara tegakan jabon. Harga pasar yang rendah (Rp 125,000 per m3 dalam bentuk tegakan) menjadi salah satu sumber demotivasi bagi petani untuk terus merawat tegakan jabon mereka. Perilaku petani tersebut di atas dapat dipandang sebgai perilaku rasional namun juga oportunis seperti disebutkan di dalam konsep teori aktor menurut Ostrom (2006). Sebagian petani jabon juga menunjukkan sikap fallable learners dengan mengganti tanaman jabon mereka dengan tanaman karet yang dianggap lebih prospektif. Bagi mereka keputusan untuk menanam jabon dianggap sebagai keputusan yang keliru dan dapat diduga bahwa mereka akan lebih berhati-hati untuk melakukan investasi di bidang usaha tanaman kayu di masa depan. 94 Faktor lain yang mempengaruhi persepsi terhadap usaha tanaman kayu kemungkinan adalah faktor budaya. Fakta bahwa para penanam kayu sebagian besar berasosiasi dengan etnis Jawa mengindikasikan adanya pengaruh budaya Jawa yang dibawa ke daerah baru di Tanah Laut. Penduduk Jawa, khususnya para transmigran merantau ke luar Jawa karena didorong keinginan untuk memperoleh lahan garapan bagi usaha tani mereka. Oleh karena itu masyarakat Jawa lebih responsif didalam menyambut berbagai program pembanguan yang berkaitan dengan usaha tani berbasis lahan yang ditawarkan pemerintah, seperti yang tercermin pada masyarakat di Desa Ranggang. Fakta bahwa hanya sebagian kecil dari petani di Desa Asam Jaya yang menyambut tawaran untuk penanaman jabon, kemungkinan disebabkan oleh proses sosialisasi yang belum intensif dilakukan oleh perusahaan pendukung (PT. Hendratna). Beberapa responden survey rumah tangga mengatakan bahwa mereka tidak sempat memperoleh bibit yang dibagikan dari perusahaan tersebut sehingga tidak melakukan penanaman jabon di lahan milik mereka. Berdasarkan struktur pendapatan keluarga (Gambar 15 dan 20), para petani kayu di kedua desa studi nampak melakukan strategi diversifikasi sumber pendapatan (Belcher dan Kusters 2004). Di dalam pelaksanaan strategi tersebut, para petani di Desa Ranggang memfokuskan kegiatan usaha tani mereka pada produksi tanaman pangan. Perilaku mereka menyerupai petani dalam artian peasant dalam perspektif antropologi ekonomi petani (Abar 2002). Petani Jawa di Desa Ranggang relatif sudah lebih lama menghuni desa tersebut (sejak tahun 1970an) sehingga sudah membentuk budaya yang mirip dengan budaya asal mereka di Jawa. Perilaku peasant di Desa Ranggang tersebut juga dicirikan dengan lebih banyaknya petani yang melakukan pola tumpang sari di dalam tegakan mahoni mereka. Fokus pada tanaman pangan tersebut merupakan penerapan strategi subsisten (coping strategy) petani di desa ini. Di desa Asam Jaya perilaku tersebut jarang dijumpai karena lahan bawah tegakan jabon pada umumnya ditumbuhi rumput-rumputan. Pada teknik budidaya tanaman, para petani di Desa Asam Jaya nampak menerapkan strategi yang berorientasi pasar atau specialized strategy menurut Belcher dan Kuster (2004). Penanaman kayu sudah dilakukan menyerupai 95 tanaman kayu industri dengan penerapan jarak tanam yang teratur dan umur pohon yang seragam. Pada awal pertumbuhan tanaman, petani juga melaksanakan perawatan yang cukup intensif, seperti melakukan kegiatan pembersihan gulma (penyiangan), pemupukan dan penyemprotan hama dengan obat-obatan. Dari aspek kondisi lingkungan, pola tanaman industri tersebut juga relatif mudah dilakukan karena kondisi medan yang landai dan tanah yang relatif homogen. Para petani, baik di Desa Ranggang maupun di Asam Jaya sampai saat ini belum melakukan pemanenan atas tanaman kayu mereka karena umur tanaman yang reatif masih muda. Akan tetapi dari pola budidaya yang mereka lakukan nampaknya strategi tebang habis akan menjadi pilihan petani, khususnya bagi para petani di Desa Asam Jaya. Model pemasaran yang tidak seperti di Jawa, dimana di setiap desa mudah dijumpai para pengepul kayu, juga turut mendorong pola pemanenan tebang habis tersebut. Pasar nampaknya akan menjadi fakor kunci yang akan menentukan pola pemanenan kayu oleh petani. Jenis kayu jabon mempunyai tujuan penggunaan yang lebih berorientasi kepada industri besar (seperti industri serpih atau kayu lapis), sehingga juga cenderung membentuk pola pemanenan tebang habis tersebut. Akan tetapi pada jenis mahoni, peluang untuk model tebang pilih seperti yang dipraktekkan oleh para petani jati rakyat masih sangat memungkinkan, karena nilai per satuan volume kayu yang lebih tinggi dan potensi penggunaan kayu yang lebih beragam. Ringkasan analisa atas persepsi dan strategi petani di dalam sistem pengusahaan tanaman kayu rakyat di Kabupaten Tanah Laut disajikan pada Tabel 13. Persepsi dan staregi petani di dalam pengusahaan tanaman kayu rakyat di Kabupaten Tanah Laut telah menghasilkan kinerja yang bervariasi. Di Desa Ranggang, prospek pengusahaan tanaman kayu cenderung baik karena motivasi petani masih tinggi di dalam menjalankan usaha tersebut. Kesimpulan ini tercermin dari hasil inventarisasi tanaman kayu mereka dimana sebagian besar tegakan mahoni masih berada dalam kondisi yang baik. Kegiatan penanaman baru juga masih berlangsung dan pembinaan dari pihak pemerintah terhadap kelompok petani di desa ini masih cukup intensif. Salah satu bukti minat yang masih tinggi tersebut, di Desa Ranggang sudah terdapat areal-areal pembibitan tanaman kayu 96 yang menyediakan bibit tanaman untuk kegiatan penanaman kayu di wilayah sendiri serta untuk wilayah-wilayah tetangga desa tersebut. Tabel 13 Ringkasan strategi petani dalam sistem pengusahaan tanaman kayu rakyat di Kabupaten Tanah Laut No. Aspek Ranggang Asam Jaya 1 Persepsi petani terhadap pengusahaan tanaman kayu Usaha tanaman kayu merupakan alternatif sumber pendapatan keluarga. Petani tertarik kepada usaha ini karena memanfaatkan peluang yang tersedia dari program pengembangan tanaman kayu rakyat oleh pemerintah. Usaha tanaman kayu merupakan alternatif sumber pendapatan keluarga. Petani tertarik kepada usaha ini karena memanfaatkan peluang yang tersedia dari program pengembangan tanaman kayu rakyat oleh industri kayu. Sebagian petani telah memandang usaha mereka sebagai keputusan yang keliru karena perkembangan pasar yang tidak pasti. 2 Strategi usaha tanaman kayu rakyat Petani menjadikan usaha tanaman kayu sebagai bagian dari strategi diversifikasi sumber pendapatan. Usaha tanaman kayu terintegrasi di dalam sistem usaha tani dengan fokus usaha masih pada produksi tanaman pangan (coping and diversified strategy) Petani menjadikan usaha tanaman kayu sebagai bagian dari strategi diversifikasi sumber pendapatan. Usaha tanaman kayu lebih condong ke arah spesialisai pasar (spesialized strategy). 3 Strategi pemanenan Prospek pemanenan dan dan pemasaran pemasaran kayu lebih kayu rakyat bersifat fleksibel antara tebang habis atau tebang pilih, tergantung kepada perkembangan pasar. Prospek pemanenan dan pemasaran kayu cenderung tebang habis. Tidak demikian halnya dengan kondisi di Desa Asam Jaya, prospek usaha tanaman kayu jabon di wilayah ini kurang menentu karena ketidakjelasan pasar. 97 Sebagian besar petani masih memelihara tanaman jabon mereka, namun dengan intensitas perawatan yang jauh berkurang. Sebagian besar petani masih berharap bahwa perkembangan pasar di masa depan untuk tanaman jabon mereka akan lebih baik. 5.2.4. Permasalahan dan Peluang Petani dalam Pengusahaan Tanaman Kayu Rakyat Permasalahan yang dihadapapi petani di Kabupaten Tanah Laut dalam menjalankan usaha tanaman kayu mereka bervariasi di antara kedua desa penelitian. Di Desa Ranggang, permasalahan utama yang dirasakan oleh sebagian petani adalah keterbatasan kepemilikan lahan untuk pengembangan tanaman kayu. Alasan tersebut banyak diungkapkan oleh para petani responden non penanam kayu. Pemerintah Kabupaten Tanah Laut telah mencanangkan program pengembangan HTR di Kecamatan Jorong. Namun demikian peluang ini mungkin bukan solusi yang cocok untuk petani di desa Ranggang karena jarak yang terlalu jauh. Diperlukan inventarisasi lahan lebih lanjut untuk mengetahui potensi lahan yang masih kurang produktif yang dapat dimanfaatkan di sekitar wilayah Desa Ranggang untuk pengembangan tanaman kayu tersebut. Bagi petani penanam kayu, upaya lain yang dapat dilakukan adalah menerapkan teknik silvikultur yang baik terhadap tegakan mahoni mereka. Informasi untuk melakukan hal tersebut sudah tersedia (Krisnawati et al. 2011b) dan sebagian telah dipraktekkan oleh masyarakat. Peran penyuluh kehutanan di dalam mensosialisasikan informasi tersebut menjadi sangat penting. Di Desa Asam Jaya, akses terhadap pasar dan harga jual yang rendah menjadi permasalahan utama. Bertolak-belakang dengan kondisi kekurangan bahan baku kayu yang dihadapi berbagai industri di Provinsi Kalimantan Selatan, akses pasar para petani jabon di Desa Asam Jaya sangat terbatas. Sementara itu harga beli kayu yang berlaku di perusahaan kayu lapis (film face) PT. Navatani yang letaknya berdekatan dengan desa Asam Jaya masih tergolong rendah (lihat Tabel 14). Dengan asumsi riap tahunan sebesar 10m3 per ha (Krisnawati et al. 2011a), maka nilai tegakan jabon masyarakat pada tahun 2013 adalah sekitar Rp 12,500,00017 per ha. Dengan beberapa asumsi harga-harga input produksi yang 17 Diasumsikan potensial volume kayu yang dihasilkan adalah 10 m3 X 10 tahun = 100 m3 98 didasarkan atas hasil wawancara dengan beberapa petani responden (Lampiran 9), maka manfaat finansial tanaman jabon pada tahun ke 10 (2013) tersebut menghasilkan Net Present Value (NPV) sebesar Rp 184,376. Manfaat finansial tersebut sangat jauh bila dibandingkan dengan potensi manfaat finansial dari usaha tanaman alternatif lainnya seperti karet dengan nilai NPV pada tahun ke 10 sebesar Rp 74 juta (Lampiran 10). Tabel 14 Perincian harga kayu yang diterima pabrik PT. Navatani Persada untuk bahan baku kayu lapis “film face” No. Rincian biaya/harga Harga kayu (Rp/ m3) 1 Harga tegakan (stumpage value) 125,000 2 Biaya tebang, potong dan muat ke truk 125,000 3 Biaya pengurusan izin (Surat Izin Tebang/SIT, dll) 4 Biaya angkutan dan lain-lain 135,000 5 Harga kayu diterima di pabrik 425,000 40,000 Potensi permasalahan lainnya bagi upaya pengembangan tanaman kayu rakyat adalah biaya transaksi yang cukup tinggi yang diakibatkan oleh kewajiban tata niaga kayu rakyat berupa kelengkapan dokumen SIT dan SKAU. Seperti terlihat pada Tabel 14, komponen biaya yang disebabkan oleh pengurusan SIT adalah sebesar 32% dari harga jual tegakan. Diperlukan mekanisma kontrol tata niaga kayu yang lebih murah namun efektif untuk menanggulangi biaya transaksi tinggi dari sistem tata niaga kayu rakyat yang berlaku sekarang. Pada aspek teknik budidaya, petani kayu di Desa Asam Jaya sudah menerapkan tenik silvikuktur yang cukup baik, seperti diindikasikan dengan penyiapan lahan, penerapan jarak tanam yang teratur, pemupukan dan penyiangan, khususnya pada tahun-tahun pertama setelah penanaman. Sekalipun demikian, hasil inventarisasi tegakan menunjukkan bahwa potensi volume tegakan per ha bervariasi antara 20 m3/ha dan 51 m3/ha pada berbagai kondisi tegakan. Hasil tersebut tergolong rendah apabila dibandingkan dengan riap tanaman jabon di berbagai tempat lain yang dilaporkan beberapa literatur (Sapulete dan Kapisa 1994; Krisnawati et al. 2011a). Beberapa perbaikan dalam teknik silvikultur, 99 seperti waktu yang tepat dalam pemberian pupuk dapat diupayakan untuk meningkatkan produktivitas tegakan, namun hal tersebut baru dapat dilakukan apabila tersedia insentif yang jelas yang diberikan pasar atas upaya tersebut (Kallio et al. 2011). 5.3. Pembelajaran dan implikasi kebijakan Hasil analisa terhadap persepsi dan strategi petani di dalam pengusahaan tanaman kayu rakyat dengan menggunakan kerangka analisa kelembagaan (Ostrom 2006) memberikan beberapa pembelajaran yang perlu dipahami oleh para pengambil keputusan. Di dalam pelaksanaan pembangunan kehutanan di Indonesia, sering terjadi keputusan-keputusan yang ditetapkan dan membawa dampak kepada kalangan masyarakat luas terlalu bersifat terpusat (sentralistik) dan linier, berdasarkan logika umum para pembuat keputusan tersebut (Herawati 2011). Hasil penelitian ini memberikan beberapa pembelajaran bahwa intervensi kebijakan yang dilakukan akan lebih tepat apabila para pengambil keputusan lebih memahami alam pikiran masyarakat yang menjadi obyek keputusan mereka. Dalam konteks pengembangan tanaman kayu rakyat, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pembelajaran kepada para pengambil kebijakan agar memandang petani bukan sebagai obyek, namun lebih sebagai subyek yang memiliki berbagai pilihan dan strategi di dalam menjalankan usaha mereka. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa persepsi dan strategi petani di dalam pengusahaan tanaman kayu rakyat dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktorfaktor tersebut berkaitan dengan aspek internal maupun eksternal dari petani itu sendiri. Kedua contoh kasus yang dibahas di dalam studi memperlihatkan perbedaan pada persepsi dan strategi petani di dalam menjalankan usaha tanaman kayu rakyat. Di Kabupaten Gunungkidul, masyarakat telah memandang usaha tanaman jati sebagai bagian dari kehidupan mereka sehingga usaha tanaman kayu sudah terintegrasi ke dalam sistem usaha tani mereka. Persepsi masyarakat yang telah terbentuk tersebut menjadi modal yang sangat besar bagi keberhasilan pengembangan hutan rakyat jati di Kabupaten Gunungkidul. Dukungan yang perlu diberikan pemerintah kepada masyarakat penanam kayu jati di Kabupaten Gunungkidul tidak lagi pada tingkatan peningkatan kesadaran atau penyuluhan teknis mengenai budidaya tanaman jati, namun perlu lebih jauh menggarap aspek 100 bisnis dari usaha tanaman tersebut. Tidak demikian halnya di Kabupaten Tanah Laut, sebagian besar masyarakat memandang usaha tanaman kayu sebagai peluang yang baik bagi upaya diversifikasi pendapatan. Namun demikian, usaha tersebut belum cukup membudaya sehingga prospek perkembangannya masih sangat dipengaruhi oleh intervensi luar seperti dukungan program-program pemerintah atau usaha kemitraan yang dikembangkan perusahaan swasta. Pasar menjadi peluang sekaligus permasalahan pada semua kasus yang dipelajari. Sekalipun demikian, tingkat dan keberadaan (nature)nya berbeda. Di Kabupaten Gunungkidul, pasar telah terbentuk dengan baik dan memudahkan petani untuk memasarkan hasil tanaman jati mereka. Akan tetapi sistem pasar yang terbentuk masih menyebabkan petani kayu berada pada posisi tawar yang lemah. Petani di Kabupaten Gunungkidul sering berada pada posisi kesulitan keuangan dan menyebabkan petani harus menebang lebih dini kayu jati mereka. Kebiasaan tebang butuh yang “terpaksa” tersebut menyebabkan petani kehilangan potensi keuntungan yang lebih besar dari alternatif lainnya, yaitu menunggu tanaman kayu mereka sampai mencapai ukuran optimal dan harga yang jauh lebih baik. Kebijakan yang dapat menolong petani dari situasi terdesak karena kebutuhan uang tunai dapat menyelamatkan petani dari kondisi keterpaksaan tersebut. Kebijakan operasional seperti pengembangan pelayanan kredit mikro bagi petani merupakan alternatif yang perlu dipertimbangkan. Di Kabupaten Tanah Laut, khususnya di Desa Asam Jaya, permasalahan pasar merupakan isu utama, yaitu akses pasar yang belum jelas atas hasil tanaman kayu mereka. Informasi pasar yang tidak jelas tersebut menjadikan usaha tanaman kayu kurang prospektif, walaupun pada kenyataannya permintaan terhadap bahan baku kayu di wilayah provinsi sebenarnya sangat tinggi. Pemerintah perlu turun tangan untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat tentang potensi pasar yang tersedia dan mengembangkan jaringan pasar antara petani kayu takyat dengan pihak industri yang selama ini mengeluh karena kekurangan pasokan bahan baku. Aspek lain dari pasar yang perlu dipertimbangkan adalah kekhususan penggunaan hasil tanaman kayu. Pada kasus di Kabupaten Tanah Laut, kayu mahoni memiliki fleksibilitas yang lebih tinggi terhadap pasar dibandingkan dengan kayu jabon. Usaha penanaman kayu dengan tujuan yang lebih spesifik, 101 seperti kayu jabon dengan demikian sangat perlu memperhatikan prospek pasarnya terlebih dahulu. Aturan tataniaga kayu seper SIT, SKAU dan SKSHH bagi petani kayu rakyat pada kedua lokasi studi cenderung hanya menyebabkan biaya transaksi tinggi dan berpotensi menjadi kendala pemasaran kayu (market barrier). Dari sisi konsepsi, aturan ini juga sebenarnya tidak cocok diterapkan pada kayu rakyat karena kayu tersebut merupakan hasil budidaya pada lahan milik. Di Kabupaten Gunungkidul khususnya, atau lebih luas lagi di Jawa, dimana perkembangan hutan rakyat sudah sangat pesat dan pengawasan terhadap kawasan hutan negara relatif jauh lebih mudah, aturan tata niaga tersebut sudah tidak layak lagi karena dari sisi manfaat dan fungsinya tidak sebanding dengan dampak negatif yang ditimbulkan. Pemerintah pusat dan daerah perlu mempertimbangkan penghapusan aturan ini dengan mencari mekanisme kontrol tata niaga kayu yang jauh lebih sederhana, sehingga bisa memangkas biaya transaksi dalam pemasaran kayu rakyat. Keterbatasan kepemilikan lahan menjadi kendala bagi sebagian petani di dalam pengembangan usaha tanaman kayu mereka. Namun demikian penyediaan lahan perlu memperhatikan kelayakan usaha tanaman kayu tersebut. Sebagai contoh, program HTR yang telah dicanangkan di wilayah Kecamatan Jorong belum menjadi solusi yang cocok bagi petani di Desa Ranggang karena jarak yang terlalu jauh. Diperlukan inventarisasi lahan lebih lanjut untuk mengetahui potensi lahan yang masih kurang produktif yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman kayu di desa ini. Di Kabupaten Gunungkidul, keterbatasan lahan petani menjadi kendala bagi perluasan tanaman kayu rakyat. Pemerintah perlu mempertimbangkan untuk memberikan akses yang lebih luas kepada petani untuk mengelola kawasan hutan negara, seperti melalui pengembangan program HKm dan HTR secara lebih intensif. Pada tataran akademis, penelitian ini memberikan contoh konkrit bahwa konsepsi pilihan moral (moral choice) dan pilihan rasional (rational choice) sebenarnya terjadi secara besamaan pada diri petani kayu. Tidak ada batasan yang bersifat ekstrim atas konsep tersebut yang diterapkan di dalam perilaku petani. Di dalam menerapkan pilihan moral, keputusan-keptusan petani juga sebenarnya 102 didasarkan atas sifat rasional, karena keputusan tersebut didasari oleh persepsi yang telah terbentuk serta oleh kondisi lingkungan yang mereka hadapi. Beberapa implikasi kebijakan pada tataran operasional yang dapat dipetik dari hasil penelitian ini antara lain adalah: a. Perlunya penyempurnaan di dalam perencanaan dan pelaksanan program kegiatan dalam rangka pengembangan tanaman kayu rakyat. Para pembuat keputusan di tingkat operasional perlu lebih memahami keinginan, pandangan dan perilaku petani di dalam menjalankan usaha tanaman kayu rakyat. Sistem pelaksanaan kegiatan yang lebih fleksibel dan disesuaikan dengan kondisi khusus daerah perlu lebih diakomodir oleh para pembuat kebijakan di tingkat yang lebih tinggi. Intervensi perlu dilakukan secara teliti dan diprioritaskan pada permasalahan-permasalahan yang sedang dihadapi petani kayu. b. Program-program pendampingan masyarakat, seperti kegiatan penyuluhan perlu difokuskan kepada aspek bisnis dari usaha tanaman kayu rakyat sebelum menyentuh aspek-aspek yang lebih teknis. Petani kayu pada prinsipnya adalah insan yang rasional, namun karakter mereka bisa beragam tergantung kepada latar belakang budaya, pengetahuan dan pengalaman. Para petugas pendamping, seperti penyuluh perlu dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan yang cukup untuk mengembangkan aspek bisnis dari usaha tanaman kayu rakyat. c. Persoalan-persoalan pasar, seperti akses terhadap pasar, harga jual dan posisi tawar petani di dalam pemasaran kayu merupakan persoalan-persoalan prioritas yang perlu dikemas di dalam program-program penyuluhan kehutanan di masa depan. Intervensi yang tepat bagi petani tidak selalu harus berada di sektor kehutanan, namun pemahaman persoalan dari sudut pandang kehutanan dapat membantu dalam rangka penyempurnaan kebijakan yang lebih terintegrasi di lintas sektor di tingkat daerah, seperti tingkatan kabupaten. Pemerintah perlu lebih memprioritaskan kegiatan pendampingan untuk memfasilitasi penguatan kelembagaan kelompok tani dan pengembangan upaya kemitraan antara kelompok tani dengan perusahaan-perusahaan tanaman industri atau industri kayu. 103 d. Perlu inovasi untuk meningkatkan nilai tambah tanaman kayu bagi petani. Peningkatan nilai tambah tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara. Pada tahapan produksi kayu, peningkatan nilai tambah tersebut dapat dilakukan melalui sosialisasi sistem pengelompokan kualitas dan harga kayu (grading) yang berlaku di industri kayu dan berbagai upaya penerapan teknik silvikultur yang sesuai dengan kondisi petani. Pada tingkatan yang lebih jauh, para petani kayu perlu dilibatkan di dalam proses pengolahan kayu yang sesuai dengan kemampuan petani. e. Pemerintah perlu bersikap lebih kritis atas kebijakan-kebijakan yang cenderung kontra produktif bagi upaya pengembangan usaha tanaman kayu rakyat. Kebijakan yang mengatur tata niaga kayu rakyat yang berlaku saat ini cenderung menimbulkan biaya transaksi tinggi dan menjadi hambatan di dalam proses pemasaran kayu rakyat. Kebijakan tersebut perlu direvisi dengan mekanisme yang lebih sederhana dan murah dan disesuaikan dengan kondisi daerah setempat. 105 VI. KESIMPULAN DAN SARAN 6. 1. Kesimpulan Penelitian ini memfokuskan kepada upaya untuk memahami persepsi dan strategi petani di dalam menjalankan usaha tanaman kayu rakyat. Pemahaman terhadap aspek-aspek tersebut bertujuan agar intervensi kebijakan yang diterapkan pemerintah atau pihak-pihak lain dalam upaya pengembangan usaha tanaman kayu rakyat lebih sesuai dengan kebutuhan petani dan lebih tepat dalam mengantisipasi keputusan-keputusan yang akan diterapkan oleh petani. Penelitian ini mendukung pandangan yang menyatakan bahwa kebijakan-kebijakan yang diarahkan untuk pengembangan usaha tanaman kayu rakyat harus menempatkan petani lebih sebagai subyek di dalam menjalankan usaha tanaman kayu daripada sebagai obyek dari suatu kebijakan. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa persepsi petani terhadap usaha tanaman kayu sangat dipengaruhi oleh faktor budaya, pengetahuan dan pengalaman mereka serta kondisi lingkungan setempat. Persepsi petani yang berbeda atas usaha tanaman kayu sangat dimungkinkan apabila variabel-variabel tersebut juga berbeda. Karena persepsi menentukan strategi petani di dalam menjalankan usaha tanaman kayu, maka intervensi yang diterapkan di suatu tempat belum tentu akan direspon secara seragam oleh petani dengan latar belakang yang berbeda. Pemahaman yang mendalam atas fenomena ini penting untuk dimiliki oleh para pembuat kebijakan, agar kebijakan yang dibuat lebih efektif. Bagi masyarakat di Kabupaten Gunungkidul, usaha tanaman kayu (jati) sudah dipandang sebagai bagian dari budaya mereka. Tanaman jati dipandang memiliki peran yang sangat penting di dalam sistem usaha tani. Peranan utama tanaman jati bagi mereka adalah sebagai tabungan keluarga dan sumber uang tunai pada kondisi darurat. Usaha tanaman jati sangat cocok dengan perspektif petani yang mengutamakan keselamatan dari kemungkinan kesulitan ekonomi. Bagi sebagian masyarakat di Kabupaten Tanah Laut, usaha tanaman kayu (jabon dan mahoni) dipandang sebagai peluang yang baik di dalam rangka meragamkan sumber pendapatan. Respon petani di wilayah tersebut terhadap keberlangsungan usaha tanaman kayu masih sangat tergantung kepada dinamika pasar atas tanaman 106 kayu yang mereka usahakan. Secara umum, petani lebih menonjokan perspektif ekonomi di dalam menjalankan usaha tanaman kayu rakyat. Pada umumnya petani memilih usaha tanaman kayu sebagai bagian dari strategi diversifikasi pendapatan keluarga. Strategi tersebut dijumpai, baik pada petani kayu jati di Kabupaten Gunungkidul maupun petani kayu di Kabupaten Tanah Laut. Namun demikian, strategi yang dipilih petani di dalam menjalankan usahanya tidak persis sama di antara kedua lokasi tersebut. Petani di Kabupaten Gunungkidul dan di Desa Ranggang KabupatenTanah Laut menjalankan usaha tanaman kayu secara terintegrasi di dalam sistem usaha tani mereka. Kayu ditanam pada lahan-lahan produktif yang mereka gunakan untuk memproduksi tanaman pangan. Usaha tani tanaman pangan masih menjadi fokus usaha, sedangkan usaha tanaman kayu menjadi sumber tambahan pendapatan atau tabungan keluarga (coping and diversified strategy). Tidak demikian halnya dengan petani di Desa Asam Jaya Kabupaten Tanah Laut. Petani di desa tersebut menjalankan usaha tanaman kayu cenderung sepenuhnya untuk tujuan komersial dengan spesialisasi pasar (specialized strategy). Strategi tersebut juga tercermin dari model pemanenan kayu yang diterapkan. Petani di Kabupaten Gunungkidul menerapkan pola tebang pilih atau tebang butuh di dalam sistem pemanenan kayunya, sementara petani di Desa Asam Jaya cenderung mengarah kepada sistem tebang habis. Isu-isu yang berkaitan dengan pasar dan pemasaran kayu, seperti keterbatasan akses dan informasi pasar, harga jual kayu dan posisi tawar petani yang rendah serta biaya transaksi tinggi dalam pemasaran kayu merupakan permasalahan-permasalahan utama di dalam upaya pengembangan usaha tanaman kayu rakyat. Permasalahan-permasalahan tersebut perlu menjadi prioritas utama di dalam agenda program pengembangan tanaman kayu rakyat. Keterbatasan kepemilikan lahan juga menjadi kendala bagi upaya pengembangan tanaman kayu rakyat, khususnya bagi petani yang berada di wilayah padat penduduk seperti di Kabupaten Gunungkidul. Pemberian akses yang lebih luas kepada petani untuk memanfaatkan kawasan hutan negara dapat menjadi insentif yang sangat berarti bagi petani. Namun demikian di dalam pemberian akses terhadap penggunaan lahan tersebut perlu juga dipertimbangkan kelayakan usahanya. Jarak yang terlalu 107 jauh atau infrastruktur jalan yang telalu sulit akan menjadi kendala bagi petani untuk memanfaatkan lahan tersebut secara menguntungkan. Peningkatan teknik budidaya melalui penerapan silvikultur yang cocok dengan kondisi petani, merupakan upaya lain untuk mengatasi keterbatasan lahan melalui peningkatan produktivitas lahan. Namun demikian, penerapan teknologi tersebut akan berjalan efektif apabila pasar memberikan respon yang positif terhadap investasi yang dikeluarkan petani. Hasil penelitian ini merekomendasikan beberapa pilihan kebijakan dalam rangka pengembangan usaha tanaman kayu rakyat, sebagai berikut: a. Menyempurnakan sistem perencanaan dan pelaksanan program pengembangan tanaman kayu rakyat agar lebih fleksibel dan sesuai dengan kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi petani serta mempertimbangkan kondisi khusus daerah. Implikasinya, para perancang program kegiatan perlu lebih memahami persepsi dan strategi petani di dalam menjalan usaha tanaman kayu rakyat tersebut. Kebijakan-kebijakan yang diterapkan perlu memandang petani lebih sebagai subyek pelaksana program dan bukan obyek dari suatu kebijakan. b. Memfokuskan program-program pendampingan masyarakat kepada aspek bisnis usaha tanaman kayu rakyat, sebelum menyentuh aspek-aspek yang lebih teknis. Implikasinya, para petugas pendamping, seperti penyuluh perlu dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan yang cukup untuk mengembangkan aspek bisnis dari usaha tanaman kayu rakyat. c. Menyusun program-program kegiatan untuk memecahkan persoalan-persoalan pasar, seperti memperluas akses pasar bagi produk kayu rakyat, meningkatkan posisi tawar petani dan memangkas biaya-biaya transaksi dalam pemasaran kayu melalui penyederhanaan aturan tata niaga kayu rakyat. Disamping itu perlu ditingkatkan kegiatan pendampingan untuk memfasilitasi penguatan kelembagaan kelompok tani dalam rangka pemasaran kayu secara bersama dan pengembangan kemitraan antara kelompok tani dengan perusahaan-perusahaan tanaman industri atau industri kayu. d. Meningkatkan nilai tambah tanaman kayu rakyat melalui peningkatan kualitas kayu rakyat yang memenuhi persyaratan industri kayu dan melibatkan petani kayu di dalam proses pengolahan kayu yang sesuai dengan kemampuan petani. 108 e. Mengembangkan program kredit mikro bagi petani untuk membantu mereka mengatasi kesulitan ekonomi pada kondisi darurat sehingga mencegah praktek penebangan kayu sebelum umur optimal tegakan tercapai. Implikasinya, pemerintah juga perlu melakukan penguatan kelembagaan kelompok tani agar mampu mengelola kredit mikro tersebut secara lestari. f. Meningkatkan pelayanan untuk mempermudah akses petani atas kawasan hutan negara, tidak hanya terbatas kepada program-program yang berskala besar seperti HKm dan HTR. 6. 2. Saran Penelitian ini memfokuskan kepada upaya pemahaman terhadap persepsi dan strategi petani yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan mereka di dalam menjalankan usaha tanaman kayu rakyat. Pemahaman terhadap alam pikiran petani tersebut sangat penting untuk dimiliki oleh para pembuat kebijakan agar intervensi yang mereka lakukan lebih efektif. Studi yang sama disarankan untuk dilakukan terhadap para pembuat kebijakan untuk memahami persepsi dan strategi mereka di dalam upaya pengembangan usaha tanaman kayu rakyat tersebut. Studi tersebut diharapkan akan menjadi pelengkap bagi rekomendasi yang lebih komprehensif terhadap upaya-upaya yang perlu dilakukan dalam rangka pengembangan usaha tanaman kayu rakyat di Indonesia. Hasil penelitian ini merekomendasikan pemerintah untuk mengembangkan pemasaran kayu secara bersama oleh petani melalui penguatan kelembagaan kelompok tani. Teori-teori yang berkaitan dengan aksi bersama (collective action) sudah banyak berkembang. Untuk itu disarankan studi lebih lanjut untuk mempelajari aplikasi dari teori-teori tersebut dalam rangka penguatan kelembagaan kelompok tani agar mampu melakukan aksi kolektif yang efektif di dalam pemasaran kayu rakyat. Kegiatan lain yang disarankan untuk dilakukan adalah studi dalam rangka pengembangan kerjasama kemitraan antara kelompok tani dengan industri kayu. Cukup banyak contoh implementasi kemitraan yang pada akhirnya hanya menguntungkan pihak yang lebih kuat (pengusaha) atau sebaliknya hanya bersifat belas kasihan (charity). Diperlukan model kemitraan yang lebih efektif yang saling menguntungkan kedua belah pihak di dalam sistem bisnis yang sehat. 109 Hasil penelitian ini merekomendasikan penghapusan atau penyederhanaan aturan tata niaga kayu rakyat yang saat ini cenderung menimbulkan biaya transaksi tinggi. Namun demikian, penghapusan kebijakan tersebut juga berpotensi membawa implikasi lain yang tidak terduga. Untuk itu disarankan melakukan kajian untuk mengidentifikasi pilihan-pilihan mekanisme kontrol tata niaga kayu yang lebih sederhana namun cukup efektif dalam melindungi kawasan hutan negara. ANALISIS PERSEPSI DAN STRATEGI PETANI DALAM USAHA TANAMAN KAYU RAKYAT (STUDI KASUS USAHA TANAMAN KAYU RAKYAT DI KABUPATEN GUNUNGKIDUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA DAN KABUPATEN TANAH LAUT, PROVINSI KALIMANTAN SELATAN) DEDE ROHADI SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 111 DAFTAR PUSTAKA Abar AZ. 2002. Petani dalam perspektif antropologi ekonomi. Agro Ekonomi IX (1): 36-50. Awang SA. 2001. Gurat Hutan Rakyat di Kapur Selatan. Yogyakarta: Debut Press. Aziz ASR. 2003. Memahami fenomena sosial melalui studi kasus. Di dalam: Bungin B, editor. Analisis Data Penelitian Kualitatif. Jakarta: Divisi Buku Perguruan Tinggi. PT. Raja Grafindo Persada. hlm. 18-34. Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Kesejahteraan Sosial Kabupaten Tanah Laut. 2007. Profil Desa Asam Jaya. Asam Jaya. Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia. 2008. Hasil pemeriksaan semester II tahun anggaran 2007 atas kegiatan pembangunan hutan tanaman industri tahun anggaran 2003 s.d 2007 yang dibiayai dari dana reboisasi pada Departemen Kehutanan serta instansi terkait lainnya di DKI Jakarta, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. http://www.environmentalauditing.org/portals/0/auditfiles/audit%20of%20%20commodity%20plants%20 forest.pdfjakarta [19 feb 2012]. Badan Pusat Statistik Kabupaten Gunungkidul. 2008. Gunungkidul Dalam Angka 2008. Wonosari. Belcher B, Kusters K. 2004. Non-timber forest product commercialisation: Development and conservation lessons. Di dalam: Belcher B, Kusters K, editors. Forest Products, Livelihoods and Conservation Vol. 1 Asia. Bogor: Center for International Forestry Research. hlm. 3-6. Bertomeu M. 2006. Financial evaluation of smallholder timber-based agroforestry systems in Claveria, Northern Mindanao, The Philippines. Small-scale Forest Economics, Management and Policy 5(1): 57-82. Chambers R. 1993. Challenging the Professions: Frontiers for Rural Development. London. Intermediate Technology Publications Ltd. Chomitz KM. 2007. At Loggerheads? Agricultural Expansion, Poverty Reduction, and Environment in the Tropical Forests. Washington. World Bank Policy Research Report. hlm. 7. 112 Clement F, Amezaga JM. 2008. Linking reforestation policies with land use change in northern Vietnam: Why local factors matter. Geoforum 39: 265–277. Clement F. 2007. How do farmers make decisions in a land degradation context? A case study from Northern Vietnam. Di dalam: Gebbie L, Glendinning A, Lefroy-Braun R, Victor M, editors. Proceedings of the International Conference on Sustainable Sloping Lands and Watershed Management: Linking research to strengthen upland policies and practices. Vientiane: NAFRI. hlm 528-550. Colchester. 2002. Bridging the gap: Challenges to community forestry networking In indonesia. Bogor. CIFOR. hlm. 12. Darusman D, Hardjanto. 2006. Tinjauan ekonomi hutan rakyat. Prosiding Seminar Hasil Penelitian Hasil Hutan. Bogor: Pusat Litbang Hasil Hutan. hlm: 4-13. Departemen Kehutanan. 2009. Statistik Kehutanan Indonesia 2008. Jakarta: Departemen Kehutanan. Dinas Kehutanan Kabupaten Tanah Laut dan Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Lambung Mangkurat. 2008. Laporan akhir inventarisasi dan pemetaan hutan rakyat di Kabupaten Tanah Laut Provinsi Kalimantan Selatan Tahun Anggaran 2007. Pelaihari. Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan. 2007. Data dan Fakta Pembangunan Kehutanan di Kalimantan Selatan. Banjarbaru. Emila dan Suwito. 2007. Hutan Tanaman Rakyat: Agenda baru untuk pengentasan kemiskinan? Info Kebijakan. Warta Tenure No. 4. FAO. 2007. State of The World Forests. Asia and The Pacific. Rome. Fathoni T. 2003. Tiga Menko bentuk Tim Koordinasi Perbaikan Lingkungan melalui rehabilitasi dan reboisasi. Siaran Pers No. 561/II/PIK-1/2003. Jakarta: Pusat Informasi Kehutanan, Departemen Kehutanan. Filius AM. 1997. Factors changing farmers’ willingness to grow trees in GunungKidul (Java, Indonesia). Netherlands Journal of Agricultural Science 45: 329-345. Gunungkidul Regency. 2005. ATLAS Gunungkidul Regency. Wonosari: Gunungkidul Regency in cooperation with Regional Development and Poverty Reduction Program, Department of Settlements and Regional Infrastructure. 113 Hardjanto. 2003. Keragaan dan pengembangan usaha kayu rakyat di Pulau Jawa [Disertasi]. Bogor: Program Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor. Harrison S, Herbohn J, Niskanen A. 2002. Non industrial, smallholder, smallscale and family forestry: What's in a name? Small-scale Forest Economics, Management and Policy 1(1): 1-11. Herawati T. 2011. Hutan tanaman rakyat : Analisis proses perumusan kebijakan dan rancang bangun model konseptual kebijakan [Disertasi]. Bogor: Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Herbohn J, Harrison S. 2004. The evolving nature of small-scale forestry in Australia. Journal of Forestry January/February: 42-47. Herbohn J. 2001. Prospects for small-scale forestry in Australia. Di dalam: Niskanen A. Väyrynen J, editors. Economic Sustainability of Small-scale Forestry, International IUFRO 3.08.00 Symposium; Joensuu-Finland, 20-26 March 2001. Finland: EFI. Hindra B. 2005. Indonesia Community Forestry 2005. Community Forestry Status Report. Jakarta: Ministry of Forestry of Indonesia. Hobley M. 1996. Participatory Forestry: The process of change in India and Nepal. London. Overseas Development Institute. Hyttinen P. 2001. Prospects for small-scale forestry in Europe. Di dalam: Niskanen A. Väyrynen J, editors. Economic Sustainability of Small-scale Forestry, International IUFRO 3.08.00 Symposium; Joensuu-Finland, 20-26 March 2001. Finland: EFI. hlm. 21-27. Kallio MH, Krisnawati H, Rohadi D, Kaninnen M. 2011. Mahogany and kadam planting farmers in South Kalimantan: The link between silvicultural activity and stand quality. Small-scale Forestry 10:115–132. Kishor NM, Constantino LF. 1993. Forest management and competing land uses: An economic analysis for Costa Rica. LATEN Dissemination Note # 7. Washintgton: The World Bank Latin America Technical Department, Environment Division. Krisnawati H, Kallio M, Kaninnen M. 2011a. Anthocephalus cadamba Miq. Ekologi, Silvikultur dan Produktivitas. Bogor: CIFOR. 114 Krisnawati H, Kallio M, Kaninnen M. 2011b. Swietenia macrophylla King. Ecology, Silviculture and Productivity. Bogor: CIFOR. Kurniawan I, Roshetko J, Anggakusuma D. 2008. Community teak wood marketing in Gunungkidul district, Yogyakarta province: Current practice, problems and opportunities. ACIAR Project Report. Bogor: The World Agroforestry Center. Lubis SU. 2010. Manfaat Ekonomi Sistem Pengelolaan Hutan Rakyat di Sekitar Taman Nasional Batang Gadis (Studi Kasus: Desa Hutarimbaru Dan Desa Tolang, Kecamatan Ulu Pungkut, Kabupaten Mandailing Natal) [Skripsi]. Medan: Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara. Maarif Institute. 2007. Studi awal kemiskinan di Gunungkidul. http://www.maarifinstitute.org/downloads/ [20 Feb 2012]. Martawijaya A, Kartasujana I, Kadir K, Prawira SA. 2005. ATLAS Kayu Indonesia Jilid I. Bogor: Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Departemen Kehutanan. hlm 42-47. Midgley S, Blyth M, Mounlamai K, Midgley D, Brown A. 2007. Towards improving profitability of teak in integrated smallholder farming systems in northern Laos. ACIAR Technical Reports No. 64. Canberra: ACIAR, 95p. Mitchell-Banks P. 2001. Small-scale forestry in Canada or mammals living amongst governments and dinosaurs. Di dalam: Niskanen A, Väyrynen J, editors. Economic Sustainability of Small-scale Forestry, International IUFRO 3.08.00 Symposium; Joensuu-Finland, 20-26 March 2001. Finland: EFI. Nair CTS. 2007. Scale, markets and economics: Small-scale enterprise in a globalizing environment. Unasylva 228 Vol. 58: 3-10. Oakerson RJ. 1992. Analyzing the commons: A framework. Di dalam: Bromley DW, editor. Making The Commons Work. San Fransisco: California. Institute for Contemporary Studies. hlm. 41-59 Oladele OI, Fawole OP. 2007. Farmers perception of the relevance of agriculture technologies in South-Western Nigeria. J. Hum. Ecol. 21(3): 191-194. 115 Ostrom E. 2006. The institutional analysis and development framework in historical perspective. Presentation paper. Workshop in Political Theory and Policy Analysis. Bloomington: Indiana University. Ota I. 2001. The economic situation of small-scale forestry in Japan. Di dalam: Niskanen A, Väyrynen J, editors. Economic Sustainability of Small-scale Forestry, International IUFRO 3.08.00 Symposium; Joensuu-Finland, 20-26 March 2001. Finland: EFI. 29-39. Pasaribu HS. 2003. Social forestry. Majalah Kehutanan Indonesia, Edisi Juni. Pemerintah Daerah Kabupaten Tanah Laut Kecamatan Takisung Desa Ranggang. 2007. Profil Desa Tahun 2007. Ranggang. Pemerintah Daerah Kabupaten Tanah Laut. 2012. Situs Resmi Pemerintah Kabupaten Tanah Laut. http://www.tanahlautkab.go.id/ [19 Feb 2012]. Polski MM, Ostrom E. 1999. An Institutional Framework for Policy Analysis and Design. Working Paper W98-27. Workshop in Political Theory and Policy Analysis. Center for the Study of Institutions, Population, and Environmental Change. Department of Political Science. Indiana University. Pusat Humas Kemenhut. 2011. Executive Summary Jumpa Pers Menteri Kehutanan Akhir Tahun 2011. Jakarta: Kementerian Kehutanan. Pusat Inventarisasi dan Statistik Kehutanan. 2004. Potensi Hutan Rakyat Indonesia 2003. Jakarta: Departemen Kehutanan. Race D et al. 2009. Partnership for involving small-scale growers in commercial forestry: Lessons from Australia and Indonesia. International Forestry Review Vol. 11 (1). Rifa’i IA. 2011. Respon pelaku usaha hutan rakyat terhadap kebijakan surat keterangan asal usul kayu [skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Rohadi D et al. 2011. Improving Economic Outcomes for Smallholders Growing Teak in Agroforestry System in Indonesia. ACIAR Project Final Report. Bogor: CIFOR. Rudel TK. 2009. Tree farms: Driving forces and regional patterns in the global expansion of forest plantation. Land Use Policy 26: 545-550. 116 Rusli Y. 2003. The policy of the Ministry of Forestry on social forestry. Conference paper. International Conference on Rural Livelihoods, Forest and Biodiversity. Bonn. Sapulete E, Kapisa N. 1994. Informasi teknis tanaman jabon (Anthocephalus cadamba Miq). Buletin Penelitian Kehutanan 10 (3). Pematang Siantar: BPK Pematang Siantar. Hlm 183-195. Siregar UJ, Rachmi A, Massijaya MY, Ishibashi N, Ando K. 2007. Economic analysis of sengon (Paraserianthes falcataria) community forest plantation, a fast growing species in East Java, Indonesia. Forest Policy and Economics 9: 822–829. Sitanggang PH. 2009. Manfaat Ekonomi Sistm Pengelolaan Hutan Rakyat (Studi Kasus: Dusun Marubun Pane Kecamatan Tigarunggu Kabupaten Simalungun) [Skripsi]. Medan: Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara. Soeharto. 2008. Pembangunan kehutanan menuju pengelolaan hutan lestari Kabupaten Gunungkidul. Paparan Bupati Gunungkidul pada Acara Penilaian Lomba PKAN Tahun 2008 Tingkat Nasional Kategori Kabupaten Peduli Kehutanan. Wonosari. Soy SK. 1997. The case study as a research method. Unpublished paper, University of Texas at Austin. http://www.gslis.utexas.edu/~ssoy/usesusers/ l391d1b.htm, [1 Januari 2012]. Subarudi. 2000. PMDH: Konsepsi dan aktualisasi. Info Sosial Ekonomi Vol. I No. 1. Suryanto. 2009. Menhut: Hutan di Gunungkidul menjadi percontohan. Antara News.com. http://www1.antaranews.com/ [22 Feb 2012]. Sutarpan. 2005. Pengalaman penanaman jati. Prosiding Workshop Nasional Jati 29 Mei 2003. Yogyakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. hlm 23-26. van Bodegom AJ, van den Berg J, van der Meer P. 2008. Forest plantations for sustainable production in the tropics: key issues for decision-makers. The Netherlands: Wageningen University & Research Centre. 117 Wardoyo W. 2003. Empowering communities to manage forest: Social forestry in Indonesia. Keynote speech of the Government of Indonesia on the International Conference on Rural Livelihoods, Forest and Biodiversity. Bonn. Zhang D, Owiredu EA. 2007. Land tenure, market, and the establishment of forest plantations in Ghana. Forest Policy and Economics 9: 602– 610. Zhang Y, Liao X, Butler BJ, Schelhas J. 2009. The increasing importance of small-scale forestry: Evidence from family forest ownership patterns in the United. States. Small-scale Forestry (8): pp. 1-14. 118 LAMPIRAN 119 Lampiran 1 Data kepemilikan lahan petani responden di Kabupaten Gunungkidul No. Kode respond en 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 101 102 103 104 105 106 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 Luas lahan (m2) 5,725 15,540 14,500 1,750 15,000 1,600 3,750 5,200 3,525 9,321 3,000 6,012 8,000 3,000 4,700 17,000 12,000 13,000 23,500 6,500 920 6,600 1,700 1,200 11,000 7,300 30,000 20,900 19,689 7,500 7,772 4,000 7,200 6,500 6,625 17,450 5,200 3,800 4,250 2,000 5,000 4,900 11,000 3,500 5,250 Alokasi penggunaan lahan (ha) Pekar angan 0.023 0.054 0.500 0.000 0.250 0.000 0.250 0.120 0.153 0.707 0.200 0.300 0.500 0.150 0.100 1.500 0.000 0.150 0.600 0.250 0.070 0.060 0.060 0.060 1.000 0.100 0.500 0.150 0.539 0.200 0.306 0.400 0.020 0.100 0.275 0.095 0.170 0.100 0.200 0.040 0.275 0.200 0.100 0.050 0.025 Sawah Tegalan Kitren Kebun Kolam 0.000 0.000 0.000 0.050 0.250 0.000 0.125 0.400 0.000 0.140 0.100 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.800 0.000 0.250 0.000 0.000 0.300 0.000 0.000 0.000 0.100 0.000 0.300 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.300 0.113 0.150 0.000 0.060 0.100 0.060 0.225 0.290 0.500 0.100 0.000 0.000 0.500 0.200 0.125 0.750 0.070 0.000 0.000 0.200 0.085 0.000 0.301 0.300 0.150 0.370 0.200 0.400 1.150 1.000 0.400 0.022 0.300 0.110 0.060 0.100 0.030 2.500 1.640 0.805 0.150 0.471 0.000 0.700 0.250 0.000 1.500 0.350 0.220 0.125 0.100 0.000 0.000 0.500 0.200 0.500 0.150 1.000 0.750 0.000 0.250 0.040 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.500 0.000 0.000 0.625 0.400 0.000 0.000 0.000 0.000 0.275 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.400 0.000 0.000 0.000 0.000 0.050 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.500 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 Tanah hutan 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 Tanah kosong 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 120 Lampiran 1 (lanjutan) No. 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 Kode respond en 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 301 302 303 304 305 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 Luas lahan (m2) 750 12,400 11,700 9,100 2,500 17,850 11,100 4,150 7,318 14,300 17,000 15,300 1,500 11,600 900 15,700 2,800 11,875 3,900 3,000 3,150 7,300 5,900 4,915 4,500 1,800 6,720 4,700 6,500 9,812 9,605 3,300 300 10,550 10,300 5,400 12,800 1,300 8,200 5,500 4,000 2,167 9,500 3,500 14,000 Alokasi penggunaan lahan (ha) Pekar angan 0.025 0.240 0.020 0.060 0.030 0.385 0.100 0.025 0.402 0.270 0.700 0.020 0.150 0.660 0.090 0.150 0.070 0.138 0.090 0.150 0.060 0.320 0.070 0.068 0.000 0.000 0.020 0.050 0.380 0.435 0.000 0.120 0.030 0.400 0.020 0.200 0.020 0.050 0.070 0.050 0.100 0.030 0.300 0.000 0.000 Sawah Tegalan Kitren Kebun Kolam 0.000 0.500 0.000 0.200 0.000 0.800 0.060 0.030 0.250 0.100 0.000 0.010 0.000 0.000 0.000 0.200 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.120 0.219 0.000 0.000 0.034 0.050 0.070 0.279 0.000 0.000 0.000 0.000 0.010 0.000 0.000 0.000 0.075 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.050 0.500 1.150 0.200 0.220 0.600 0.150 0.020 0.080 1.060 1.000 1.500 0.000 0.250 0.000 1.220 0.210 0.200 0.300 0.150 0.255 0.410 0.200 0.180 0.450 0.060 0.618 0.100 0.200 0.267 0.950 0.210 0.000 0.395 1.000 0.340 1.060 0.080 0.075 0.500 0.300 0.077 0.650 0.250 0.900 0.000 0.000 0.000 0.450 0.000 0.000 0.800 0.030 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.250 0.000 0.000 0.000 0.850 0.000 0.000 0.000 0.000 0.140 0.025 0.000 0.120 0.000 0.270 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.260 0.000 0.000 0.200 0.000 0.600 0.000 0.000 0.110 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.250 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.060 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.011 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.100 0.500 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.060 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 Tanah hutan 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 Tanah kosong 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 121 Lampiran 1 (lanjutan) No. 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 Kode respond en 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 356 357 358 359 360 361 362 363 364 366 367 368 369 370 371 Luas lahan (m2) 1,600 1,950 12,597 16,800 8,150 9,998 4,056 2,875 18,050 2,700 3,700 2,030 23,194 3,110 5,700 3,550 8,600 18,850 4,789 9,500 4,200 2,000 3,400 4,867 5,914 18,976 10,659 7,800 10,000 6,416 2,450 3,611 3,200 900 6,500 13,342 2,900 4,650 1,725 2,100 500 2,200 4,000 7,100 3,025 Alokasi penggunaan lahan (ha) Pekar angan 0.030 0.045 0.250 0.800 0.250 0.215 0.046 0.088 0.100 0.070 0.060 0.090 0.290 0.154 0.000 0.000 0.060 0.115 0.103 0.200 0.375 0.100 0.340 0.100 0.012 0.658 0.110 0.600 0.000 0.000 0.060 0.240 0.090 0.030 0.650 0.116 0.260 0.040 0.038 0.080 0.000 0.020 0.000 0.360 0.120 Sawah Tegalan Kitren Kebun Kolam 0.070 0.050 0.000 0.000 0.000 0.000 0.060 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.600 0.142 0.000 0.000 0.045 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.180 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.133 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.080 0.030 0.100 0.120 0.330 0.390 0.435 0.300 0.200 0.975 0.200 0.150 0.113 2.029 0.000 0.540 0.280 0.200 0.129 0.376 0.250 0.000 0.100 0.000 0.387 0.500 1.000 0.956 0.000 1.000 0.642 0.185 0.121 0.230 0.060 0.000 1.076 0.030 0.123 0.135 0.110 0.050 0.000 0.400 0.350 0.093 0.030 0.000 0.000 0.000 0.175 0.150 0.000 0.000 0.730 0.000 0.160 0.000 0.000 0.158 0.000 0.000 0.000 1.500 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.079 0.240 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.143 0.000 0.050 0.000 0.020 0.000 0.200 0.000 0.000 0.010 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.200 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.030 0.075 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.120 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 Tanah hutan 0.000 0.000 0.890 0.550 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.500 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 Tanah kosong 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 122 Lampiran 1 (lanjutan) No. 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 Kode respond en 372 373 374 375 376 377 378 379 380 381 401 402 403 404 405 406 407 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 427 428 429 430 431 501 502 503 504 Luas lahan (m2) 2,760 15,450 11,700 4,350 6,103 2,500 2,997 11,500 10,551 25,400 4,700 750 140 17,840 1,800 4,200 3,660 4,200 6,250 5,800 7,500 3,925 30,000 4,305 5,700 7,300 4,780 7,800 5,800 22,800 4,293 8,300 2,435 1,450 4,800 9,000 7,000 9,425 12,950 12,000 26,500 18,700 10,000 12,000 9,203 Alokasi penggunaan lahan (ha) Pekar angan 0.024 0.005 0.020 0.025 0.257 0.005 0.059 0.000 0.087 0.390 0.250 0.075 0.002 0.200 0.060 0.000 0.074 0.150 0.125 0.150 0.000 0.025 0.500 0.000 0.030 0.000 0.198 0.050 0.180 0.160 0.069 0.060 0.036 0.045 0.060 0.250 0.200 0.500 0.535 0.500 0.150 0.000 0.000 0.100 0.080 Sawah Tegalan Kitren Kebun Kolam 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.058 0.000 0.000 0.000 0.140 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.090 0.180 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.300 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.060 0.293 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.252 1.540 1.150 0.400 0.295 0.000 0.103 0.900 0.600 2.000 0.080 0.000 0.012 0.580 0.120 0.420 0.153 0.040 0.000 0.430 0.750 0.225 2.500 0.431 0.540 0.650 0.000 0.430 0.400 2.120 0.120 0.120 0.108 0.100 0.420 0.500 0.440 0.000 0.060 0.400 2.500 1.370 1.000 1.100 0.840 0.000 0.000 0.000 0.010 0.058 0.245 0.080 0.000 0.368 0.150 0.000 0.000 0.000 1.004 0.000 0.000 0.050 0.050 0.500 0.000 0.000 0.143 0.000 0.000 0.000 0.000 0.080 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.100 0.000 0.000 0.150 0.000 0.150 0.000 0.000 0.000 0.500 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.250 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.080 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.700 0.300 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 Tanah hutan 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.200 0.000 0.000 0.000 0.240 0.650 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 Tanah kosong 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 123 Lampiran 1 (lanjutan) No. 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 Kode respond en 505 506 507 508 509 510 511 512 513 514 515 516 517 518 519 520 521 522 523 524 525 526 527 528 529 530 531 532 533 534 535 536 537 538 601 602 603 604 605 606 607 608 609 610 611 Luas lahan (m2) 20,120 3,000 6,400 19,500 4,100 10,000 5,000 23,100 800 2,000 1,350 2,530 560 21,300 50,000 10,200 10,484 9,200 40,100 8,333 2,500 10,162 9,608 10,750 7,515 3,497 5,900 894 6,500 2,225 2,500 6,000 9,500 11,400 52,500 620 750 1,100 10,250 20,490 17,500 5,000 57,500 10,000 3,770 Alokasi penggunaan lahan (ha) Pekar angan 0.090 0.050 0.090 0.200 0.130 1.000 0.000 0.060 0.030 0.050 0.015 0.003 0.050 0.130 1.000 0.020 0.048 0.020 0.010 0.000 0.000 0.000 0.000 0.075 0.002 0.007 0.090 0.014 0.060 0.023 0.050 0.100 0.000 0.210 0.250 0.002 0.025 0.015 0.200 0.049 0.000 0.000 0.000 0.000 0.002 Sawah Tegalan Kitren Kebun Kolam 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 2.000 0.050 0.100 0.000 0.000 0.000 2.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.093 0.000 0.000 0.000 0.100 0.100 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.500 0.000 0.000 1.850 0.250 0.550 1.750 0.280 0.000 0.500 0.250 0.000 0.050 0.120 0.000 0.006 0.000 4.000 1.000 1.000 0.900 4.000 0.833 0.250 1.000 0.950 1.000 0.750 0.000 0.500 0.075 0.590 0.100 0.100 0.500 0.950 0.930 3.000 0.060 0.050 0.095 0.825 2.000 1.750 0.500 4.550 1.000 0.375 0.072 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.250 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.250 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 2.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.700 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.016 0.011 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 Tanah hutan 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 Tanah kosong 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 124 Lampiran 1 (lanjutan) No. 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 Kode respond en 612 613 614 615 616 617 618 619 620 621 622 623 624 625 626 627 628 629 630 631 632 633 634 635 636 637 638 701 702 703 704 705 706 707 708 709 710 711 712 713 714 715 716 717 718 Luas lahan (m2) 11,692 12,540 30,000 12,653 20,920 15,270 20,100 4,500 4,060 15,850 10,600 12,500 12,010 7,596 1,900 50,280 24,500 66,250 55,000 18,816 9,560 33,000 4,930 46,100 20,900 15,000 24,600 5,100 18,000 5,700 15,100 1,500 46,400 8,708 2,800 18,695 6,300 1,700 27,270 15,000 21,100 8,600 11,430 7,700 19,350 Alokasi penggunaan lahan (ha) Pekar angan 0.000 0.004 0.000 0.000 0.050 0.027 0.010 0.200 0.056 0.120 0.000 0.500 0.001 0.010 0.000 0.479 0.200 1.500 1.000 0.002 0.056 0.000 0.013 0.110 0.050 0.000 0.120 0.010 0.200 0.075 0.150 0.020 0.140 0.121 0.030 0.100 0.050 0.060 0.010 0.500 0.030 0.050 0.050 0.020 0.069 Sawah Tegalan Kitren Kebun Kolam 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.525 0.000 0.000 0.000 0.500 0.000 0.000 0.750 0.000 0.250 0.005 0.000 0.000 0.000 2.000 2.040 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.030 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 1.000 1.000 3.000 1.250 2.042 1.500 2.000 0.250 0.350 0.320 1.060 0.750 0.000 0.000 0.190 3.232 1.500 5.125 4.250 1.500 0.900 3.300 0.480 2.000 0.000 1.500 2.340 0.500 1.000 0.320 1.360 0.040 4.500 0.750 0.150 1.770 0.580 0.110 2.717 1.000 2.080 0.810 1.093 0.750 1.866 0.000 0.250 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.620 0.000 0.000 1.200 0.250 0.000 1.318 0.000 0.000 0.000 0.250 0.000 0.000 0.000 0.500 0.000 0.000 0.000 0.000 0.300 0.175 0.000 0.060 0.000 0.000 0.100 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.169 0.000 0.000 0.015 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.125 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 Tanah hutan 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 Tanah kosong 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.300 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 125 Lampiran 1 (lanjutan) No. 271 272 273 274 275 Kode respond en 719 720 721 722 723 Luas lahan (m2) 10,000 20,000 3,400 20,500 9,790 Alokasi penggunaan lahan (ha) Pekar angan 0.000 0.000 0.000 0.000 0.024 Sawah Tegalan Kitren Kebun Kolam 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 1.000 2.000 0.340 2.050 0.955 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 Tanah hutan 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 Tanah kosong 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 126 Lampiran 2 Data kepemilikan lahan petani responden di Kabupaten Tanah Laut No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 Kode responden Luas lahan (m2) 1032 1039 1005 1025 1044 1049 1050 1001 1007 1024 1051 1034 1027 1033 1043 1045 1036 1040 1041 1035 1048 1004 1014 1018 1019 1022 1026 1028 1029 1046 1047 1002 1012 1042 0.13 0.25 0.50 0.75 0.75 0.75 0.75 1.00 1.00 1.00 1.00 1.13 1.25 1.25 1.25 1.25 1.50 1.50 1.50 1.75 1.75 2.00 2.00 2.00 2.00 2.00 2.00 2.00 2.00 2.00 2.00 2.25 2.25 2.25 Alokasi penggunaan lahan (ha) Pekarangan 0.13 0.25 0.50 0.25 0.75 0.25 0.75 0.25 0.25 0.25 1.00 0.13 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.75 0.75 Sawah Tegalan Kebun sawit Kebun karet Lainnya 0.50 0.50 0.75 0.75 0.75 1.00 1.00 1.00 1.00 1.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.75 Kebun kayu 0.25 1.00 0.25 0.75 0.75 0.75 1.75 0.75 1.00 0.75 1.00 0.75 0.75 1.00 0.75 1.00 0.75 0.75 0.75 1.00 1.00 1.00 0.75 1.00 0.75 0.75 1.00 1.00 1.00 1.00 0.25 0.75 1.75 0.75 127 Lampiran 2 (lanjutan) No. 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Kode responden Luas lahan (m2) 1006 2.50 1038 2.50 1015 2.75 1052 2.75 1016 2.92 1010 3.50 1003 3.60 1020 3.75 1009 4.00 1021 4.00 1023 4.00 1008 4.25 1031 5.25 1037 5.25 1030 6.50 1017 7.00 1013 7.50 1011 12.50 2012 0.01 2025 0.02 2016 0.03 2003 0.04 2007 0.04 2021 0.04 2098 0.05 2097 0.06 2102 0.10 2101 0.11 2014 0.13 2065 0.14 2015 0.15 2033 0.19 2100 0.25 2064 0.26 2035 0.29 2066 0.29 2096 0.34 2005 0.35 Pekarangan 0.25 0.75 0.25 0.25 1.25 0.25 0.75 0.25 0.25 0.25 0.50 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.01 0.02 0.03 0.04 0.04 0.04 0.05 0.06 0.01 0.05 0.01 0.14 0.06 0.17 0.25 0.03 0.29 0.20 0.06 Alokasi penggunaan lahan (ha) Kebun Kebun Kebun Sawah Tegalan kayu sawit karet 2.25 1.00 1.75 2.50 0.25 0.75 0.75 2.00 0.75 2.25 1.00 0.75 4.50 2.25 0.75 0.75 0.50 1.00 1.75 0.75 2.75 1.00 0.75 2.00 1.50 1.00 8.75 0.09 0.06 0.12 0.09 0.02 0.23 0.29 0.14 0.29 Lainnya 1.17 1.25 1.00 0.75 0.25 0.75 0.75 2.25 2.25 2.50 2.25 0.75 1.75 3.50 0.10 2.00 2.00 2.50 4.00 128 Lampiran 2 (lanjutan) No. Kode responden Luas lahan (m2) 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 2073 2094 2017 2095 2022 2020 2067 2068 2013 2051 2063 2004 2006 2032 2092 2002 2027 2069 2090 2009 2023 2093 2018 2083 2060 2053 2001 2049 2039 2030 2085 2058 2042 2077 2072 2037 2019 2011 0.37 0.40 0.47 0.47 0.50 0.58 0.58 0.59 0.65 0.69 0.70 0.75 0.75 0.78 0.88 1.00 1.00 1.00 1.02 1.03 1.14 1.14 1.18 1.20 1.21 1.30 1.32 1.36 1.41 1.56 1.64 1.72 1.97 1.97 2.00 2.02 2.04 2.08 Pekarangan Alokasi penggunaan lahan (ha) Kebun Kebun Kebun Sawah Tegalan kayu sawit karet Lainnya 0.37 0.11 0.01 0.04 0.01 0.58 0.06 0.01 0.01 0.03 0.12 0.03 0.03 0.17 0.03 0.29 0.29 0.43 0.49 0.17 0.35 0.58 0.64 0.17 0.43 0.23 0.29 0.43 0.72 0.29 0.29 0.20 0.71 0.58 0.43 0.54 1.00 1.00 1.02 0.03 0.14 0.04 1.00 0.35 0.29 0.03 0.22 1.00 0.69 0.26 0.43 0.09 0.52 1.00 1.00 0.57 1.00 0.57 0.14 0.20 0.43 0.43 0.29 0.14 0.29 0.26 1.00 1.00 0.12 0.61 1.38 0.29 1.50 0.04 0.08 0.43 0.58 2.00 1.00 1.16 1.45 0.50 2.02 1.00 1.00 0.72 129 Lampiran 2 (lanjutan) No. Kode responden Luas lahan (m2) 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 2091 2046 2080 2057 2075 2040 2050 2059 2043 2074 2055 2031 2052 2079 2038 2008 2026 2045 2062 2010 2061 2048 2070 2028 2071 2084 2082 2044 2088 2056 2078 2047 2034 2087 2081 2086 2041 2036 2.09 2.10 2.22 2.23 2.23 2.50 2.58 2.72 2.76 2.89 2.93 3.00 3.00 3.00 3.01 3.04 3.14 3.16 3.17 3.19 3.33 3.34 3.46 3.50 3.50 3.57 3.96 4.07 4.33 4.37 4.50 4.69 4.72 4.93 5.00 5.17 5.29 5.72 Pekarangan 0.09 0.23 0.35 0.23 0.23 0.50 0.58 0.29 1.46 0.17 0.14 2.00 1.00 0.04 2.00 0.17 0.03 0.17 0.29 0.50 1.50 0.06 0.29 0.55 1.20 Alokasi penggunaan lahan (ha) Kebun Kebun Kebun Sawah Tegalan kayu sawit karet 1.00 1.00 1.00 Lainnya 1.00 0.87 0.87 1.00 1.00 2.00 1.00 0.43 1.01 2.00 2.00 1.14 0.58 1.50 1.16 1.00 0.29 0.50 0.78 3.90 1.00 0.72 0.29 0.72 1.00 1.00 2.00 1.00 1.50 1.29 2.00 1.00 1.00 3.00 1.01 1.00 1.00 0.29 0.58 1.71 1.50 2.00 1.04 1.14 2.16 1.72 2.03 3.50 0.29 2.50 1.29 2.78 0.78 1.00 2.00 2.45 4.50 0.29 0.17 0.26 0.72 0.72 2.40 0.29 4.74 1.45 4.04 2.00 0.72 4.00 0.43 3.00 5.29 2.00 3.00 130 Lampiran 2 (lanjutan) No. 97 98 99 Kode responden Luas lahan (m2) 2054 5.93 2076 7.00 2089 12.81 Pekarangan 1.00 2.00 2.31 Alokasi penggunaan lahan (ha) Kebun Kebun Kebun Sawah Tegalan kayu sawit karet 0.29 0.14 3.00 4.50 2.50 2.00 6.00 Lainnya 2.00 Keterangan: Kode Responden yang dimulai dengan angka 1 berlokasi di Desa Ranggang, selebihnya di Desa Asam Jaya 131 Lampiran 3 Alasan penanaman kayu menurut respon petani di lokasi penelitian a. Kabupaten Gunungkidul No . 1 2 3 4 Alasan penanaman kayu Frekuensi Tabungan Tradisi keluarga Warisan keluarga Sumber tunai dalam keadaan darurat 5 Lainnya 6 Harga kayu jati tinggi 7 Biaya sekolah/hajatan 8 Permintaan pasar tinggi 9 Ikut petani lainnya Total Penggabungan 1 Tabungan keluarga dan sumber uang tunai pada kondisi darurat 2 Tradisi/warisan budaya 3 Pengaruh pasar 4 Pengaruh lainnya 5 Engaruh lingkungan Total % 103 59 43 33 38 22 16 12 13 9 6 4 4 274 5 3 2 1 1 100 142 52 102 13 13 4 274 37 5 5 1 100 b. Kabupaten Tanah Laut Jenis tanaman Jabon Mahoni Karet Akasia Kelapa MPTS Palawija Padi Sawit Tanaman lain Total Subsisten 1 4 12 0 21 25 21 48 0 8 Komersial 12 20 57 5 5 11 21 4 1 1 140 137 Sosial Lingkungan Lainnya 3 1 0 0 2 1 2 0 1 0 2 0 1 0 0 0 2 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 8 8 2 Total 17 27 72 7 27 38 43 52 2 10 295 132 Lampiran 4 Rangkuman hasil Focus Group Discussion (FGD) tentang manfaat tanaman jati bagi keluarga petani (Wonosari, 2 Desember 2007) No. Kelompok Rangkuman diskusi “Manfaat tanaman jai bagi keluarga petani”. 1 Linggis A  Tanaman jati sebagai tabungan masa pensiun, (dipresentasikan  Tanaman jati berfungsi untuk melindungi erosi, oleh Bapak  Tanaman jati berperan sebagai sumber pendapatan Sugito) keluarga dan untuk menopang kebutuhan hidup keluarga,  Tanaman jati dipilih karena banyak diminati pasaran, nilainyas lebih baik dari jenis kayu yanglain serta mudah perwatannya.  Tanaman jati merupakan warisan budaya Linggis B  Tanaman jati berfungsi untuk mencegah erosi, (Dipresentasikan  Tanaman jati berperan sebagai sumber pendapatan, oleh Bapak  Tanaman jati berperan sebagai tabungan jangka Sumijo) panjang dan untuk membantu kebutuhan yang mendesak,  Tanaman jati mempunyai produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis tanaman kayu lainnya. Koret A  Tanaman jati dapat mencegah erosi dan tanah longsor, (Dipresentasikan  Tanaman jati dapat menopang ekonomi keluarga, oleh Bapak  Tanaman jati merupakan warisan bagi anak cucu, Sobirin)  Kayu jati memiliki harga yang paling tinggi di antara jenis kayu lainnya.  Tanaman jati berfungsi untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak. Koret B  Tanaman jati dapat menunjang kebutuhan ekonomi, (Dipresentasikan  Tanaman jati merupakan tabungan untuk masa tua, oleh Bapak  Tanaman jati berfungsi untuk mencegah erosi dan Margono, Desa memperbaiki lingkugan (tidak gersang) Giripurwo)  Kayu jati mempunyai harga jual yang cukup tinggi,  Tanaman jati berfungsi untuk memenuhi kebutuhan yang mendadak (apabila sudah tidak ada lagi pilihan lain untuk menyediakan uang tunai). 133 Lampiran 4 (lanjutan) No. Kelompok Koret C (Dipresentasik an oleh Bapak Warijan, Desa Giripanggung) Gancu A (Dipresentasik an oleh Bapak Samintoyo, Desa Katongan) Gancu B (Dipresentasik an oleh Bapak Sudiyono, Desa Candirejo) Rangkuman diskusi “Manfaat tanaman jai bagi keluarga petani”.  Tanaman jati berfungsi untuk tabungan masa depan,  Tanaman jati dapat tumbuh pada lahan yang kurang subur yang kurang cocok untuk tanaman pangan  Tanaman jati cocok untuk penghijauan areal yang kosong.  Kayu jati mempunyai harga yang tinggi,  Tanaman jati berfungsi sebagai cadangan untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak.  Tanaman jati berfungsi untuk tabungan jangka panjang,  Tanaman jati berfungsi untuk memperbaiki lingkungan, seperti mencegah erosi, penggemburan tanah dan cadangan air,  Kayu jati mempunyai harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis kayu yang lain dan penjualannya mudah dan cepat karena permintaan terhadap oleh industri tinggi  Tanaman jati berfungsi untuk cadangan terahir apabila terdapat kebutuhan keluarga yang mendesak.  Tanaman jati sesuai dengan kondisi lahan di Gunungkidul,  Nilai jual kayu jati lebih tinggi bandingkan dengan jenis pohon lainnya,  Pengelolaan tanaman jati mudah,  Tanaman jati dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan uang tunai yang cukup besar (Rp. 1juta – 3 juta ),  Tanaman jati berfungsi untuk tabungan masa depan,  Tanaman dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga,  Tanaman jati cocok dengan kondisi tanah berbatu seperti di Gunungkidul dan pertumbuhannya relatif lebih cepat dibandingkan dengan jenis tanaman lain,  Tanaman jati merupakan pohon serbaguna, daunnya dapat dijual untuk pembungkus makanan (tahu tempe), kayu limbah dan rantingnya untuk kayu bakar dan mulsanya cocok untuk pupuk kompos,  Tanaman jati dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak. 134 Lampiran 4 (lanjutan) Rangkuman diskusi “Manfaat tanaman jai bagi keluarga petani”. Bodem A  Tanaman jati beguna untuk penghijauan dan pemulihan (Dipresentasik lahan kritis, anoleh Bapak  Harga kayu jati lebih tinggi dari jenis kayu lainnya, Kasiranto)  Tanaman jati berfungsi sebagai tabungan jangka panjang,  Tanaman jati berguna untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak. Bodem B  Tanaman jati cocok pada lahan-lahan yang kurang subur (Dipresentasik yang tidak dapat ditanami tanaman pangan, an oleh Bapak  Tanaman jati berfungsi untuk mencegah erosi lahan Giyono kritis, Saputro  Tanaman jati berfungsi sebagai tabungan jangka panjang,  Harga kayu jati relatif tinggi,  Kayu jati mudah dijual,  Tanaman jati mudah dibudidayakan  Tanamanjati berfungsi sebagai cadangan terakhir keluarga untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak. Catatan: Diskusi diikuti oleh 60 peserta yang terdiri dari petani, pedagang kayu, penyuluh kehutanan dan beberapa staf Dinas Kehutanan Kabupaten Gunungkidul. No. Kelompok 135 Lampiran 5 Hasil inventarisasi tanaman jati rakyat pada lahan petani responden di Kabupaten Gunungkidul Nomor Jumlah responden jati 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 9 24 239 184 101 11 60 246 207 61 35 21 116 82 157 45 152 7 8 6 19 25 15 37 25 15 5 32 40 92 132 61 221 Tipe lahan Luas lahan (m2) 1 4 34 3 1 2 2 3 1 1 1 3 34 13 3 3 3 4 3 1 1 3 3 3 3 1 1 3 3 23 3 24 3 225 10000 3000 5000 4500 1250 4000 2000 4850 3816 7500 1500 800 15000 837 3000 10000 1000 414 600 600 300 1365 1619 1000 5393 2130 3592 3375 1700 200 500 5000 Luas petak pengamatan (m2) 225 1200 3000 5000 800 1250 4000 2000 4850 3816 7500 1500 800 1600 837 3000 10000 1000 414 600 600 300 1365 1619 1000 800 2130 3592 3375 1700 200 500 5000 Konversi jumlah jati per luas lahan Konversi jumlah jati per ha 9 3 239 184 18 11 60 246 207 61 35 21 116 9 157 45 152 7 8 6 19 25 15 37 25 2 5 32 40 92 132 61 221 400 24 797 368 224 88 150 1230 427 160 47 140 1450 55 1876 150 152 70 193 100 317 833 110 229 250 28 23 89 119 541 6600 1220 442 136 Lampiran 5 (lanjutan) Nomor Jumlah responden jati 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 18 184 16 16 69 48 28 24 38 202 59 76 132 39 63 56 259 60 24 118 124 48 98 91 8 251 103 239 107 25 36 69 7 130 75 153 138 56 Tipe lahan Luas lahan (m2) 23 3 23 4 3 4 34 4 4 3 1 14 123 1 1 34 1 1 3 3 3 3 4 3 2 3 3 13 3 1 1 4 1 1 3 4 3 13 1000 250 5000 3000 10000 1500 2500 3000 1100 17112 900 3850 3619 1000 250 10600 3018 3200 1800 2794 1284 1380 1800 2000 1707 2300 1104 896 1250 2728 2000 800 400 3358 3000 780 2820 2862 Luas petak pengamatan (m2) 1000 250 5000 400 10000 400 400 3000 1100 17112 900 3850 3619 1000 250 10600 3018 3200 1800 2794 1284 1380 400 2000 1707 2300 1104 896 1250 2728 2000 800 400 3358 3000 780 2820 2862 Konversi Konversi jumlah jati jumlah per luas jati per lahan ha 18 180 184 7360 16 32 2 53 69 69 13 320 4 112 24 80 38 345 202 118 59 656 76 197 132 365 39 390 63 2520 56 53 259 858 60 188 24 133 118 422 124 966 48 348 22 544 91 455 8 47 251 1091 103 933 239 2667 107 856 25 92 36 180 69 863 7 175 130 387 75 250 153 1962 138 489 56 196 137 Lampiran 5 (lanjutan) Nomor Jumlah responden jati 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 61 30 68 94 69 76 71 72 31 42 61 237 72 3 42 67 42 51 172 226 160 89 66 95 134 27 26 64 39 103 180 6 4 74 7 53 84 57 Tipe lahan 15 3 3 4 4 3 134 34 3 4 1 3 1 1 3 2 134 34 1 134 4 4 13 4 13 3 1 4 1 134 4 2 1 4 1 4 34 1 Luas lahan (m2) 5000 1229 1000 720 768 1000 2148 4000 2000 1066 1390 6065 1535 1046 800 6000 862 3992 3765 6750 1500 1010 1650 1760 6083 200 606 1211 900 300 889 1325 375 1100 800 2000 1000 3600 Luas petak pengamatan (m2) 5000 1229 1000 400 400 1000 2148 4000 2000 1066 1390 6065 1535 1046 800 6000 862 400 3765 6750 1500 400 1650 1760 6083 200 606 1211 900 300 400 1325 375 400 800 400 1000 3600 Konversi jumlah jati per luas lahan 61 30 68 52 36 76 71 72 31 42 61 237 72 3 42 67 42 5 172 226 160 35 66 95 134 27 26 64 39 103 81 6 4 27 7 11 84 57 Konversi jumlah jati per ha 122 244 680 1306 898 760 331 180 155 394 439 391 469 29 525 112 487 128 457 335 1067 881 400 540 220 1350 429 528 433 3433 2025 45 107 673 88 265 840 158 138 Lampiran 5 (lanjutan) Nomor Jumlah responden jati 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 52 206 44 40 52 19 60 115 40 52 6 67 8 16 9 234 3 29 109 92 110 56 44 89 71 73 84 58 28 62 30 43 117 157 168 84 60 63 Tipe lahan 3 3 1 3 4 3 3 4 1 3 3 4 3 3 14 23 1 3 34 1 3 3 1 3 1 34 34 3 3 4 3 1 34 35 3 3 4 3 Luas lahan (m2) 400 4000 2354 1278 750 499 1380 1635 1200 800 463 3000 1200 1956 572 1800 649 2500 1200 5000 2000 1050 986 1252 1800 2000 1200 1088 825 1500 2450 1953 4558 9221 5000 2500 4000 3403 Luas petak pengamatan (m2) 400 4000 2354 1278 400 499 1380 1635 1200 400 463 400 1200 1956 572 1800 649 400 1200 5000 2000 1050 986 1252 1800 400 400 1088 400 400 400 1953 800 1200 5000 2500 4000 3403 Konversi jumlah jati per luas lahan 52 206 44 40 28 19 60 115 40 26 6 9 8 16 9 234 3 5 109 92 110 56 44 89 71 15 28 58 14 17 5 43 21 20 168 84 60 63 Konversi jumlah jati per ha 1300 515 187 313 693 381 435 703 333 650 130 223 67 82 157 1300 46 116 908 184 550 533 446 711 394 365 700 533 339 413 122 220 257 170 336 336 150 185 139 Lampiran 5 (lanjutan) Nomor Jumlah responden jati 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 92 62 4 47 79 168 17 109 271 47 209 177 161 30 38 37 28 55 37 147 4 103 37 43 111 24 28 68 58 48 527 40 144 311 95 198 51 48 Tipe lahan Luas lahan (m2) 4 1 1 14 4 3 1 3 3 3 3 4 23 3 3 3 1 34 3 3 3 4 4 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 34 3 3 3 9000 500 2000 1500 5950 20000 500 7430 20000 2500 20000 6224 4000 4702 5000 5000 1200 3200 2500 2500 5000 8300 527 11090 10000 2500 4200 8400 5305 3200 7500 1250 6825 5000 6664 3671 6760 14039 Luas petak pengamatan (m2) 1200 500 2000 400 800 2000 500 800 2000 2500 20000 800 4000 800 5000 5000 400 400 2500 2500 800 1200 527 1200 1200 2500 4200 1200 800 400 7500 1250 6825 5000 800 3671 800 1600 Konversi jumlah jati per luas lahan 12 62 4 13 11 17 17 12 27 47 209 23 161 5 38 37 9 7 37 147 1 15 37 5 13 24 28 10 9 6 527 40 144 311 11 198 6 5 Konversi jumlah jati per ha 102 1240 20 313 133 84 340 147 136 188 105 284 403 64 76 74 233 172 148 588 8 124 702 39 111 96 67 81 109 150 703 320 211 622 143 539 75 34 140 Lampiran 5 (lanjutan) Nomor Jumlah responden jati 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 45 50 12 64 54 78 80 86 28 118 82 25 118 249 44 35 25 23 44 75 70 60 94 44 46 45 43 49 53 47 23 31 174 46 88 21 6 67 Tipe lahan Luas lahan (m2) 3 3 4 3 3 14 4 3 3 34 14 1 3 1 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 1 2 3 3 1 3 1 3 3 5100 2500 5000 5000 6000 1318 4816 3500 3200 4558 1012 1440 5160 14158 6000 2108 4250 1500 4500 6000 12000 12100 6953 7800 3788 2500 6680 8200 13550 1000 5000 600 10070 3719 8700 500 3000 2860 Luas petak pengamatan (m2) 800 800 800 800 800 400 800 800 400 800 400 1440 800 1600 800 400 800 400 800 800 1200 1600 800 800 400 2500 6680 1200 1600 400 5000 600 1200 3719 1200 500 400 2860 Konversi jumlah jati per luas lahan 7 16 2 10 7 24 13 20 4 21 32 25 18 28 6 7 5 6 8 10 7 8 11 5 5 45 43 7 6 19 23 31 21 46 12 21 1 67 Konversi jumlah jati per ha 88 200 24 128 90 592 166 246 88 259 810 174 229 176 73 166 59 153 98 125 58 50 135 56 121 180 64 60 39 470 46 517 173 124 101 420 20 234 141 Lampiran 5 (lanjutan) Nomor Jumlah responden jati 224 225 226 227 21 113 92 23 Tipe lahan Luas lahan (m2) 3 4 3 3 7710 10800 15000 6237 Luas petak pengamatan (m2) 7710 1200 15000 800 Konversi jumlah jati per luas lahan 21 13 92 3 Konversi jumlah jati per ha 27 105 61 37 142 Lampiran 6 Hasil inventarisasi tanaman kayu pada lahan petani responden di Kabupaten Tanah Laut No plot Desa Luas plot (m2) Thn tanam Jarak tanam Jenis kayu Jumlah pohon hidup Luas bidang dasar per ha (m2) Volume per ha (m3) 1 Ranggang 360 2003 3x6 Mahoni 20 6.6000 28.2674 2 Ranggang 540 2003 3x9 Mahoni 21 3.4272 13.0364 3 Ranggang 400 2003 4x5 Mahoni 22 5.2055 21.4211 4 Ranggang 400 2003 4x5 Mahoni 23 11.3745 18.6462 5 Ranggang 240 2003 2x6 Mahoni 19 9.7284 41.9956 6 Ranggang 256 2003 2 x 6.4 Mahoni 18 6.8439 27.6875 7 Ranggang 508 2003 5.4 x 4.7 Mahoni 21 2.4859 6.6946 8 Ranggang 500 2006 5x5 Jati 25 0.3825 0.7908 9 Ranggang 500 2006 5x5 Jati 25 0.3301 0.6447 10 Ranggang 546 2003 2.1 x 13 Mahoni 21 4.2986 18.1553 11 Ranggang 400 2003 4x5 Mahoni 21 4.2853 17.0018 12 Ranggang 400 2003 4x5 Mahoni 27 5.3724 21.1551 13 Ranggang 400 2003 4x5 Mahoni 25 7.6001 31.2357 14 Ranggang 400 2003 4x5 Mahoni 26 7.6504 32.3826 15 Ranggang 320 2003 4x4 Mahoni 22 4.3229 15.6489 16 Ranggang 320 2003 4x4 Mahoni 21 4.8592 18.8458 17 Ranggang 400 2003 4x5 Mahoni 24 7.8009 33.9320 18 Ranggang 400 2003 4x5 Mahoni 26 5.9634 24.1037 19 Ranggang 400 2003 4x5 Mahoni 29 7.5741 32.1208 20 Ranggang 400 2003 4x5 Mahoni 30 6.9455 28.1169 21 Ranggang 400 2003 4x5 Mahoni 21 4.2960 17.1458 22 Ranggang 400 2003 4x5 Mahoni 19 6.0904 26.2944 23 Ranggang 400 2003 4x5 Mahoni 18 4.5042 19.0844 24 Ranggang 500 2005 5x5 Mahoni 16 0.6858 1.3839 25 Ranggang 500 2005 5x5 Mahoni 19 0.9620 2.2794 26 Ranggang 500 2005 5x5 Mahoni 20 0.7584 1.3965 27 Ranggang 500 2005 5x5 Mahoni 26 0.9498 1.8610 28 Ranggang 320 2005 4x4 Mahoni 22 2.8677 7.4018 29 Ranggang 320 2005 4x4 Mahoni 21 1.4930 3.1787 30 Ranggang 320 2005 4x4 Mahoni 20 2.5635 6.5478 31 Ranggang 320 2005 4x4 Mahoni 21 2.5289 6.3416 32 Ranggang 405 2005 4.5 x 4.5 Mahoni 18 1.0091 2.0698 33 Ranggang 320 2005 4x4 Mahoni 23 1.5070 3.0339 143 Lampiran 6 (lanjutan) No plot 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 Desa Luas plot (m2) Thn tanam Ranggang 320 2005 4x4 Mahoni Ranggang 320 2005 4x4 Mahoni Ranggang 320 2005 4x4 Mahoni Ranggang 405 2005 4.5 x 4.5 Mahoni Ranggang 405 2005 4.5 x 4.5 Mahoni Ranggang 500 2004 5x5 Mahoni Ranggang 500 2004 5x5 Mahoni Ranggang 500 2004 5x5 Mahoni Ranggang 500 2004 5x5 Mahoni Ranggang 500 2004 5x5 Mahoni Ranggang 500 2004 5x5 Mahoni Ranggang 500 2004 5x5 Mahoni Ranggang 2004 5x5 Mahoni 2004 5x5 Mahoni 2004 5x5 Mahoni Ranggang 500 500 500 500 2004 5x5 Mahoni Ranggang 405 2005 4.5 x 4.5 Ranggang Ranggang Ranggang Ranggang Ranggang Ranggang Ranggang Ranggang Ranggang Ranggang 1.3224 3.0239 Mahoni 24 1.4802 3.2555 Mahoni 17 25 28 17 21 24 19 22 21 19 14 15 22 25 23 21 14 1.0935 0.9338 0.9225 0.3112 1.0166 5.8274 5.3470 3.8347 7.1474 4.0007 4.8659 4.7455 3.5959 3.7720 4.7868 2.2060 0.7886 2.4560 2.0998 1.8901 0.5013 2.3609 25.6634 23.4280 14.5252 30.4872 16.0540 21.2777 19.7073 13.7152 14.8424 18.5308 7.6805 2.4185 Mahoni 5x5 Mahoni 2004 5x5 Mahoni 2004 5x5 Mahoni 2003 4x4 Mahoni 2003 4.5 x 4.5 Mahoni 2003 3.5 x 4 Mahoni 2003 3.5 x 4 Mahoni 2003 5 X 3.5 Mahoni 2003 5 X 3.5 Mahoni 2003 4 x 4.5 Mahoni 2004 5x5 Mahoni 2004 5x5 Mahoni 2005 Ranggang 20 4.5 x 4.5 405 500 500 495 405 500 500 500 320 405 280 280 350 350 360 500 500 Ranggang Mahoni 2004 53 55 56 57 58 59 60 62 65 66 68 69 70 71 72 75 76 Ranggang 4.8548 3.8728 2.7505 0.8803 1.4620 11.0094 9.2381 9.3613 8.9513 10.1486 6.5175 12.1287 15.2413 13.9274 15.1544 14.0359 2.1540 2005 2005 Ranggang 2.0967 1.8019 1.2973 0.4881 0.6946 3.0474 2.6739 2.6940 2.6178 2.8690 2.0108 3.2323 3.9726 3.6029 3.9531 3.7401 1.0973 Mahoni 405 Ranggang Mahoni 26 22 21 19 17 20 21 20 21 21 20 19 22 21 21 21 22 4.5 x 5.5 52 Ranggang Ranggang Volume per ha (m3) 2005 2005 Ranggang Luas bidang dasar per ha (m2) 2005 405 Ranggang Jenis kayu 4.5 x 4.5 4.5 x 4.5 4.5 x 4.5 5x5 5x5 51 Ranggang Ranggang Jarak tanam 2005 Mahoni Mahoni Jumlah pohon hidup 144 77 Ranggang 500 Lampiran 6 (lanjutan) No plot Desa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 2004 5x5 Jarak tanam Mahoni Jenis kayu 25 0.6660 1.5515 Jumlah pohon hidup Luas bidang dasar per ha (m2) Volume per ha (m3) Luas plot (m2) Thn tanam Asam Jaya 320 2003 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2003 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2003 4x4 Jabon 21 Asam Jaya 320 2003 4x4 Jabon 22 Asam Jaya 160 2003 2x4 Jabon 22 Asam Jaya 320 2003 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 240 2003 4x3 Jabon 29 Asam Jaya 320 2003 4x4 Jabon 22 Asam Jaya 320 2003 4x4 Jabon 22 Asam Jaya 320 2003 4x4 Jabon 22 Asam Jaya 320 2003 4x4 Jabon 22 Asam Jaya 360 2003 4 x 4.5 Jabon 22 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 240 2004 4x3 Jabon 29 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 22 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 22 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 21 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 23 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 22 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 22 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 22 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 22 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 25 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 23 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 23 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 23 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 23 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 25 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 23 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 500 2004 5x5 Jabon 22 Asam Jaya 500 2004 5x5 Jabon 18 12.7285 68.7850 9.7930 46.9076 9.3393 48.6392 5.1731 18.4022 17.1588 74.2406 6.7134 27.3884 9.6661 37.1572 6.9902 27.4094 7.5878 30.7886 5.7101 20.7403 7.5834 24.4096 5.3040 19.4294 6.9121 25.2551 11.0440 50.0591 8.7271 35.6892 7.2350 27.4627 9.9540 39.2545 9.3856 41.8485 8.3661 36.9167 10.3139 51.9330 6.9262 25.7370 4.5058 13.7500 7.1329 27.1231 6.9498 26.2043 9.2351 38.8533 10.2539 46.6082 12.5354 60.3030 12.0529 57.8410 15.9167 110.7692 13.7998 89.7820 10.7400 62.8993 2.4123 5.9095 8.7951 46.0497 5.5552 17.8431 5.0754 15.9662 5.3041 17.2290 3.6106 11.7224 2.4189 7.4206 145 Lampiran 6 (lanjutan) No plot Desa Luas plot (m2) Thn tanam 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 Jarak tanam Asam Jaya 400 2004 5x4 Asam Jaya 320 2004 Asam Jaya 320 Asam Jaya Jenis kayu Jumlah pohon hidup Luas bidang dasar per ha (m2) Volume per ha (m3) Jabon 20 4x4 Jabon 25 2004 4x4 Jabon 24 320 2004 4x4 Jabon 23 Asam Jaya 405 2004 4.5 x 4.5 Jabon 24 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 23 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 21 Asam Jaya 240 2004 4x3 Jabon 21 Asam Jaya 280 2004 4 x 3.5 Jabon 22 Asam Jaya 280 2004 4 x 3.5 Jabon 23 Asam Jaya 320 2005 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2005 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2005 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2003 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2003 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2003 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 25 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 26 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 25 Asam Jaya 400 2004 4x5 Jabon 22 Asam Jaya 400 2004 4x5 Jabon 24 Asam Jaya 400 2004 4x5 Jabon 22 Asam Jaya 400 2004 4x5 Jabon 23 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 19 Asam Jaya 240 2004 3x4 Jabon 20 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 25 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 24 7.5637 7.9532 9.2296 3.4894 7.4758 4.3842 13.6417 7.7643 7.2673 12.1529 10.9048 11.9446 11.4341 13.1312 13.4806 11.4138 14.4802 14.7730 13.2382 14.8299 13.3825 9.4902 4.5431 8.5292 9.2572 12.6429 6.1537 8.4881 6.8507 9.5711 10.0241 7.1417 7.8001 11.2003 12.5371 6.7427 6.0106 23.2090 24.3550 34.4367 11.2454 29.8400 12.7246 93.4830 24.7802 24.5655 57.6195 46.9464 58.4586 51.2876 62.1330 62.8368 50.2365 57.8665 57.1233 48.6925 53.4617 45.0309 26.0857 10.1496 28.7138 33.6827 51.2890 18.3807 34.5418 24.3755 45.2656 47.6621 28.6943 29.4510 59.4997 73.3158 24.4779 22.6238 146 Lampiran 6 (lanjutan) No plot Desa Luas plot (m2) Thn tanam 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 Jarak tanam Asam Jaya 320 2005 4x4 Asam Jaya 320 2005 Asam Jaya 400 Asam Jaya Jenis kayu Jumlah pohon hidup Luas bidang dasar per ha (m2) Volume per ha (m3) Jabon 19 4x4 Jabon 24 2004 4x5 Jabon 22 400 2004 4x5 Jabon 22 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 18 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 21 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 25 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 25 Asam Jaya 320 2005 4x4 Jabon 22 Asam Jaya 320 2005 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 23 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 23 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 24 Asam Jaya 320 2004 4x4 Jabon 20 5.4164 5.1082 6.1891 5.3228 3.7548 3.2029 4.7297 5.8928 8.7860 5.5706 10.0558 8.8334 12.1887 10.1857 10.0449 7.8713 1.8847 18.1738 16.1585 21.1263 20.0377 11.1022 9.6046 14.7115 19.6600 34.6214 18.8418 49.3948 42.1354 65.3782 51.2563 48.6177 26.6203 4.7352 147 Lampiran 7 Analisa biaya manfaat usaha tanaman jati rakyat di Kabupaten Gunungkidul Kode respon den 201 220 223 230 234 304 308 326 334 336 343 378 381 404 429 501 516 603 609 621 627 635 703 706 708 1000 1004 1005 1006 Kitren Kitren Kitren Kitren Kitren Kitren Kitren Kitren Kitren Kitren Kitren Kitren Kitren Kitren Kitren Kitren Kitren Kitren Kitren Kitren Kitren Kitren Kitren Kitren Kitren Kitren Kitren Kitren Kitren 201 220 223 230 234 304 326 334 343 378 404 429 Tegalan Tegalan Tegalan Tegalan Tegalan Tegalan Tegalan Tegalan Tegalan Tegalan Tegalan Tegalan Tipe lahan Luas lahan (m2) 4,000 4,500 8,000 2,500 8,500 827 4,700 300 1,500 1,066 1,357 309 1,200 10,040 2,000 7,000 1,000 2,500 10,000 2,500 6,500 1,370 3,000 1,500 7,500 1,500 5,000 15,000 1,000 1500 2000 1500 2500 2000 2759 1400 1734 5800 600 6000 2500 Pendapatan (Rp) Biaya (Rp) Margin (Rp) Pendapatan per ha (Rp) Biaya per ha (Rp) 11,750,000 1,475,000 2,150,000 3,200,000 63,030,000 69,000 3,570,000 2,700,000 0 39,000 130,000 1,720,000 2,550,000 10,900,000 14,425,000 75,000 519,000 16,150,000 960,000 500,000 75,000 2,850,000 435,000 850,000 3,600,000 350,000 2,550,000 11,675,000 1,150,000 800,000 275,000 1,400,000 4,656,000 14,000,000 5,862,500 1,525,000 2,000,000 1,022,500 275,000 1,050,000 1,875,000 236,250 569,133 1,234,000 250,800 2,073,250 525,333 801,807 544,400 85,147 16,083 101,040 272,600 506,500 1,712,500 1,204,000 205,000 77,350 993,000 1,322,625 268,031 420,333 953,125 451,400 266,120 590,000 86,684 478,950 2,735,000 201,600 223,750 532,500 518,500 1,572,250 4,645,000 1,257,000 1,345,000 939,000 1,837,000 1,285,500 2,022,500 1,194,500 11,513,750 905,867 916,000 2,949,200 60,956,750 -456,333 2,768,193 2,155,600 -85,147 22,917 28,960 1,447,400 2,043,500 9,187,500 13,221,000 -130,000 441,650 15,157,000 -362,625 231,969 -345,333 1,896,875 -16,400 583,880 3,010,000 263,316 2,071,050 8,940,000 948,400 576,250 -257,500 881,500 3,083,750 9,355,000 4,605,500 180,000 1,061,000 -814,500 -1,010,500 -972,500 680,500 29,375,000 3,277,778 2,687,500 12,800,000 74,152,941 834,341 7,595,745 90,000,000 0 365,854 957,996 55,663,430 21,250,000 10,856,574 72,125,000 107,143 5,190,000 64,600,000 960,000 2,000,000 115,385 20,802,920 1,450,000 5,666,667 4,800,000 2,333,333 5,100,000 7,783,333 11,500,000 5,333,333 1,375,000 9,333,333 18,624,000 70,000,000 21,248,641 10,892,857 11,534,025 1,762,931 4,583,333 1,750,000 7,500,000 590,625 1,264,741 1,542,500 1,003,200 2,439,118 6,352,277 1,705,973 18,146,667 567,644 150,876 744,584 8,822,006 4,220,833 1,705,677 6,020,000 292,857 773,500 3,972,000 1,322,625 1,072,125 646,667 6,957,117 1,504,667 1,774,133 786,667 577,891 957,900 1,823,333 2,016,000 1,491,667 2,662,500 3,456,667 6,289,000 23,225,000 4,555,999 9,607,143 5,415,225 3,167,241 21,425,000 3,370,833 4,778,000 Margin per ha (Rp) 28,784,375 2,013,037 1,145,000 11,796,800 71,713,824 -5,517,936 5,889,772 71,853,333 -567,644 214,978 213,412 46,841,424 17,029,167 9,150,896 66,105,000 -185,714 4,416,500 60,628,000 -362,625 927,875 -531,282 13,845,803 -54,667 3,892,533 4,013,333 1,755,443 4,142,100 5,960,000 9,484,000 3,841,667 -1,287,500 5,876,667 12,335,000 46,775,000 16,692,642 1,285,714 6,118,800 -1,404,310 -16,841,667 -1,620,833 2,722,000 148 Lampiran 7 (lanjutan) Kode respon den 501 505 516 603 609 621 627 635 703 706 708 1,002 1,004 1,005 1,006 Tipe lahan Tegalan Tegalan Tegalan Tegalan Tegalan Tegalan Tegalan Tegalan Tegalan Tegalan Tegalan Tegalan Tegalan Tegalan Tegalan Luas lahan (m2) 10000 5000 5250 5500 4100 1000 2770 500 1000 2500 15000 1000 2500 15000 2500 Pendapatan (Rp) Biaya (Rp) Margin (Rp) Pendapatan per ha (Rp) Biaya per ha (Rp) 1,850,000 9,676,000 3,534,000 6,900,000 3,350,000 3,402,500 2,450,000 1,343,500 1,960,000 1,298,000 5,482,000 1,881,000 4,069,500 17,275,000 2,070,000 2,634,000 1,976,000 4,323,700 1,692,750 1,915,000 2,423,425 3,306,000 2,167,000 627,400 2,264,500 1,415,200 3,955,000 2,690,825 5,212,750 1,450,500 -784,000 7,700,000 -789,700 5,207,250 1,435,000 979,075 -856,000 -823,500 1,332,600 -966,500 4,066,800 -2,074,000 1,378,675 12,062,250 619,500 1,850,000 19,352,000 6,731,429 12,545,455 8,170,732 34,025,000 8,844,765 26,870,000 19,600,000 5,192,000 3,654,667 18,810,000 16,278,000 11,516,667 8,280,000 2,634,000 3,952,000 8,235,619 3,077,727 4,670,732 24,234,250 11,935,018 43,340,000 6,274,000 9,058,000 943,467 39,550,000 10,763,300 3,475,167 5,802,000 Margin per ha (Rp) -784,000 15,400,000 -1,504,190 9,467,727 3,500,000 9,790,750 -3,090,253 -16,470,000 13,326,000 -3,866,000 2,711,200 -20,740,000 5,514,700 8,041,500 2,478,000 149 Lampiran 8 Ilustrasi transaksi pembelian dan penjualan kayu jati rakyat di Kabupaten Gunungkidul Jumlah pohon yang dibeli: 8 batang Harga beli total (Rp): 975,000 Hasil penjualan kayu: Harga Volume Harga Kelas diameter lokal per (m3) total (Rp) m3 (Rp) UGD 0 2,600,000 348,400 UD 1 1,600,000 1,140,800 UP 0 1,000,000 333,000 DL 0 500,000 177,500 Piton 0 350,000 21,000 Total 2 2,020,700 Biaya operasional pedagang: Jenis biaya Jumlah pemakaian Satuan Surat izin tebang 1 lembar SKSKB 1 lembar Pekerja chainsaw 1 orang Sewa chainsaw 1 unit Pekerja angkut 7 orang Langsir kayu 1 paket Total Marjin keuntungan: Harga beli kayu (Rp) Biaya operasional (Rp) Harga jual kayu (Rp) Keuntungan (Rp) Keuntungan dari modal (%) Biaya transasksi dokumen (Rp) Biaya transaksi dokumen dari modal (%) Biaya transaksi dokumen (% biaya pemasaran) Biaya (Rp) 20,000 230,000 40,000 180,000 210,000 100,000 780,000 975,000 780,000 2,020,700 265,700 15 250,000 14 32 150 Lampiran 9 Analisa biaya manfaat usaha tanaman kayu jabon di Kabupaten Tanah Laut Beberapa asumsi: Faktor diskonto/Discounted rate (%) Harga pupuk rata-rata per kg (Rp) Harga herbisida rata-rata per liter (Rp) Upah buruh harian/HOK (Rp) Harga bibit jabon per batang (Rp) Harga kayu jabon (stumpage value) per m3 (Rp) Densiti pohon per hektar Tingkat penyulaman bibit (%) Keterangan: Satuan biaya dalam Rupiah No. Deskripsi Biaya/Penerimaan A 1 PEMBIAYAAN Penyiapan lahan: Biaya upah tenaga kerja: Curahan tenaga kerja, meliputi penyemprotan dan pembersihan lahan (HOK) Biaya bahan Pemakaian pupuk (kg) Biaya bahan pupuk Pemaikaian herbisida, round up (liter) Biaya herbisida Biaya Peralatan Penanaman: Biaya upah tenaga kerja: Curahan tenaga kerja meliputi penyiapan lubang tanam dan penanaman @ Rp 1000/batang, dikonversi menjadi 10 HOK @ Rp 50,000 Pemakaian pupuk (kg) Biaya bahan pupuk Pemakaian bibit tanaman (batang) Biaya bibit Pemeliharaan: Biaya upah tenaga kerja: Curahan tenaga kerja meliputi penyemprotan, pembersihan lahan dan pemupukan, dilakukan 2 X per tahun sampai tahun ke 3, setelah itu hanya pembersihan lahan dan pemupukan setelah thinning (umur 16 tahun) (HOK) Biaya bahan Pemakaian pupuk (kg) Biaya bahan pupuk 2 3 11 2,000 100,000 50,000 500 125,000 500 5 Tahun 1 700,000 200,000 2 3 10 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 10 50 100,000 525 262,500 1,150,000 400,000 0 0 0 0 0 1,150,000 400,000 0 0 0 0 0 1,150,000 400,000 0 0 0 0 0 0 0 8 750,000 125 250,000 8 750,000 125 250,000 8 750,000 125 250,000 0 0 0 0 4 500,000 0 0 5 500,000 0 862,500 500,000 151 Lampiran 9 (lanjutan) No. 4 B Deskripsi Biaya/Penerimaan Pemakaian herbisida (liter) Biaya herbisida Pemanenan: Biaya upah tenaga kerja: Curahan tenaga kerja (HOK) Biaya Peralatan TOTAL BIAYA PRODUKSI PENDAPATAN Hasil penjualan kayu (berdasarkan harga stumpage value) Produksi kayu TOTAL PENDAPATAN Nilai manfaat tahun berjalan Nilai biaya tahun berjalan Selisih manfaat-biaya tahun berjalan Nilai manfaat tahun berjalan terdiskonto Nilai biaya tahun berjalan terdiskonto Selisih manfaat-biaya tahun berjalan terdiskonto Nilai kini bersih (NPV) Nilai manfaat terdiskonto kumulatif Nilai biaya terdiskonto kumulatif Rasio manfaat/biaya Tahun 1 2 3 10 5 500,000 0 0 0 0 2,712,500 5 500,000 0 0 0 0 1,150,000 5 500,000 0 0 0 0 1,150,000 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 12,500,000 100 12,500,000 0 2,712,500 -2,712,500 0 2,443,694 0 1,150,000 -1,150,000 0 933,366 0 1,150,000 -1,150,000 0 840,870 12,500,000 0 12,500,000 4,402,306 0 -2,443,694 -2,443,694 0 2,443,694 0.00 -933,366 -3,377,059 0 3,377,059 0.00 -840,870 -4,217,930 0 4,217,930 0.00 4,402,306 184,376 4,402,306 4,217,930 1.04 152 Lampiran 10 Analisa biaya manfaat usaha tanaman karet di Desa Asam Jaya, Kabupaten Tanah Laut Beberapa asumsi: Faktor diskonto/Discounted rate (%) Harga pupuk rata-rata per kg (Rp) Harga herbisida rata-rata per liter (Rp) Upah buruh harian/HOK (Rp) Harga bibit karet per batang (Rp) Harga getah karet per kg (Rp) Harga kayu karet per m3 (Rp) Densiti pohon per hektar Tingkat penyulaman bibit (%) Keterangan: Satuan biaya dalam Rupiah No. A 1 2 3 4 Deskripsi Biaya/Penerimaan PEMBIAYAAN Penyiapan lahan: Biaya upah tenaga kerja: Curahan tenaga kerja (HOK) Biaya bahan Pemakaian pupuk (kg) Biaya bahan pupuk Pemaikaian herbisida (liter) Biaya herbisida Biaya Peralatan Penanaman: Biaya upah tenaga kerja: Curahan tenaga kerja (HOK) Biaya bahan Pemakaian pupuk (kg) Biaya bahan pupuk Pemakaian bibit tanaman (batang) Biaya bibit Pemeliharaan: Biaya upah tenaga kerja: Curahan tenaga kerja (HOK) Biaya bahan Pemakaian pupuk (kg) Biaya bahan pupuk Pemaikaian herbisida (liter) Biaya herbisida Pemanenan: Biaya upah tenaga kerja: Curahan tenaga kerja (HOK) Biaya Peralatan TOTAL BIAYA PRODUKSI 11 2,000 100,000 50,000 3,500 9,000 125,000 625 5 Tahun 1 1,450,000 350,000 7 600,000 0 0 6 600,000 500,000 2,846,875 450,000 9 2,396,875 50 100,000 656 2,296,875 2,500,000 1,400,000 28 500,000 100 200,000 4 400,000 0 0 0 0 6,796,875 2 3 10 0 0 0 0 500,000 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2,500,000 1,400,000 28 500,000 100 200,000 4 400,000 0 0 0 0 2,500,000 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2,500,000 1,400,000 28 500,000 100 200,000 4 400,000 0 0 0 0 2,500,000 500,000 0 0 0 0 0 0 0 0 2,500,000 1,400,000 28 500,000 100 200,000 4 400,000 6,000,000 6,000,000 120 0 9,000,000 153 Lampiran 10 (lanjutan) No. B 1 2 Deskripsi Biaya/Penerimaan PENDAPATAN Getah Produksi getah (kg) Kayu Produksi kayu (m3) TOTAL PENDAPATAN Nilai manfaat tahun berjalan Nilai biaya tahun berjalan Selisih manfaat-biaya tahun berjalan Nilai manfaat tahun berjalan terdiskonto Nilai biaya tahun berjalan terdiskonto Selisih manfaat-biaya tahun berjalan terdiskonto Nilai kini bersih (NPV) Nilai manfaat terdiskonto kumulatif Nilai biaya terdiskonto kumulatif Rasio manfaat/biaya Tahun 1 2 3 10 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 43,200,000 4,800 0 0 43,200,000 0 6,796,875 6,796,875 0 6,123,311 6,123,311 6,123,311 0 6,123,311 0.00 0 2,500,000 2,500,000 0 2,029,056 2,029,056 8,152,367 0 8,152,367 0.00 0 2,500,000 2,500,000 0 1,827,978 1,827,978 9,980,345 0 9,980,345 0.00 43,200,000 9,000,000 34,200,000 15,214,369 3,169,660 12,044,709 73,895,199 114,684,915 40,789,716 2.81
Analysis of farmer’s perceptions and strategies in smallholder timber plantation business (case studies of smallholder timber plantations at Gunungkidul District, Special Province of Yogyakarta and Tanah Laut District, Province of South Kalimantan) 6. Kebaruan Manfaat Hasil Penelitian Tanaman Kayu Rakyat pada Skala Global Perkembangan Tanaman Kayu Rakyat di Indonesia Kerangka Analisa Kelembagaan dalam Konteks Persepsi dan Strategi METODOLOGI PENELITIAN Analysis of farmer’s perceptions and strategies in smallholder timber plantation business (case studies of smallholder timber plantations at Gunungkidul District, Special Province of Yogyakarta and Tanah Laut District, Province of So GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN Tanaman jati rakyat di Kabupaten Gunungkidul Tanaman kayu rakyat di Kabupaten Tanah Laut - 2.0 ha 2.0 - 2.5 ha - 3.0 ha 3.0 ha Pembelajaran dan implikasi kebijakan KESIMPULAN DAN SARAN Analysis of farmer’s perceptions and strategies in smallholder timber plantation business (case studies of smallholder timber plantations at Gunungkidul District, Special Province of Yogyakarta and Tanah Laut District, Province of Sou Ruang Lingkup Penelitian PENDAHULUAN - 2.0 ha 2.0 - 2.5 ha HASIL DAN PEMBAHASAN - 3.0 ha 3.0 ha HASIL DAN PEMBAHASAN
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Analysis of farmer’s perceptions and strategies in smallholder timber plantation business (case studies of smallholder timber plantations at Gunungkidul District, Special Province of Yogyakarta and Tanah Laut District, Province of South Kalimantan)

Gratis