Permintaan energi rumah tangga di pulau Jawa

Gratis

1
6
85
2 years ago
Preview
Full text
PERMINTAAN ENERGI RUMAH TANGGA DI PULAU JAWA DIANA BHAKTI PROGRAM PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011 PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini Saya menyatakan bahwa tesis berjudul Permintan Energi Rumah Tangga di Pulau Jawa adalah karya Saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini. Bogor, Juni 2011 Diana Bhakti, SE NRP H151090174 ABSTRACT DIANA BHAKTI. Household Energy Demand in Java. Supervised under SRI HARTOYO and MUHAMMAD FIRDAUS Reducing of subsidies would increase energy prices that affect the level of energy consumption and consumer welfare. Analyze the behavior of households in Java in consuming energy was the aim of this study, this include their price elasticity, income elasticity, and cross elasticity of energy commodities. The methode of this study is the linear approximate version of the almost ideal demand system (LA-AIDS) model using data from the National Socio-Economic Survey (SUSENAS) covering the period from 2007 to 2010 for household in Java along with the kerosene’s conversion to gas program undertaken by the government. The own price elasticities of energy (except for the electricity) showed that they are elastic so the increase of their price will effectively reducing its consumption. While the cross elasticities showed that the energy comodities are substitute each other, but in very low level. The kerosene’s conversion to gas has been shifting household kerosene consumption in Java into commodities LPG, city gas, and coal. Keywords : energy demand, LA-AIDS, SUR RINGKASAN DIANA BHAKTI. Permintaan Energi Rumah Tangga di Pulau Jawa. Dibimbing oleh SRI HARTOYO dan MUHAMMAD FIRDAUS Pemerintah bertanggung jawab menentukan berbagai tindakan dan kebijakan dalam menjamin ketersediaan dan akses masyarakat terhadap energi, termasuk juga keberlangsungannya untuk jangka panjang. Salah satu bentuk kebijakan tersebut adalah subsidi terhadap harga energi. Subsidi bertujuan untuk menjamin akses masyarakat yang tidak mampu menjangkau harga keekonomian energi dan juga mendorong aktivitas industri terutama industri pada skala kecil. Selain dampak positif, subsidi juga mempunyai dampak negatif, sehingga pemerintah berupaya secara bertahap menghapus atau mengurangi subsidi. Penarikan subsidi akan mengakibatkan kenaikan harga energi sehingga memengaruhi tingkat konsumsi energi konsumen, termasuk kelompok rumah tangga. Akibat kenaikan harga suatu komoditi energi, diduga rumah tangga akan mengurangi konsumsi energi tersebut. Penurunan konsumsi suatu komoditi energi akan dialihkan pada komoditi energi lainnya yang merupakan substitusi dari komoditi terkait. Perubahan-perubahan konsumsi rumah tangga terhadap suatu komoditi ini juga ditentukan oleh proporsi perubahan pendapatannya. Informasi mengenai perilaku konsumsi energi rumah tangga ini akan tergambar melalui fungsi permintaannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perilaku rumah tangga di Pulau Jawa dalam mengkonsumsi energi. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mendapatkan parameter permintaan energi, seperti elastisitas harga, elastisitas pendapatan, dan elastisitas silang komoditi-komoditi energi. Permintaan energi rumah tangga di Pulau Jawa dan nilai-nilai elastisitas permintaan tersebut akan dilihat perbandingannya antara desa dan kota serta perkembangannya selama dilaksanakannya konversi minyak tanah ke gas, sejak tahun 2007 hingga tahun 2010. Penelitian ini menggunakan data yang mencakup rumah tangga di Pulau Jawa yang menjadi sampel Susenas periode pencacahan bulan Maret, tahun 2007 – 2010. Rumah tangga sampel tersebut dibedakan menurut daerah perkotaan dan perdesaan. Alat analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis ekonometrika dengan menggunakan model LA-AIDS (Linear approximation – Almost Ideal Demand System). Adapun kelompok komoditi yang digunakan dalam analisis ada enam kelompok, yakni kelompok komoditi energi (terdiri atas energi listrik; LPG, gas kota, dan briket/batu bara; minyak tanah; bensin, dan solar), kelompok komoditi makanan, dan kelompok komoditi non makanan lainnya. Berdasarkan nilai elastisitas permintaan yang diperoleh untuk rumah tangga di Pulau Jawa pada tahun 2007 – 2010 (total), akan dilakukan simulasi dengan beberapa skenario. Skenario pertama adalah kenaikan harga bbm (bensin dan solar) sebesar 11 persen dan harga listrik sebesar 15 persen. Skenario yang kedua adalah kenaikan harga yang sama untuk bbm dan listrik seperti pada skenario pertama, namun diiringi dengan peningkatan pendapatan rumah tangga sebesar 4 persen. Kebutuhan energi rata-rata rumah tangga di wilayah perkotaan lebih besar dibandingkan dengan kebutuhan rumah tangga di wilayah perdesaan. Hal ini terlihat dari proporsi pengeluaran rumah tangga rata-rata untuk kelompok komoditi energi di perdesaan yang lebih rendah dibanding dengan proporsi pengeluaran rumah tangga rata-rata untuk kelompok komoditi energi di wilayah perkotaan. Selain itu, dilihat dari peningkatan proporsi pengeluaran komoditi energi selama tahun 2007 – 2010 mengindikasikan tingkat kebutuhan energi ataupun tingkat harga kelompok komoditi energi yang mengalami peningkatan. Menurut perkembangannya selama tahun 2007 – 2010, bisa dilihat bahwa proporsi pengeluaran rata-rata sub kelompok komoditi lpg, gas kota, dan batu bara baik di perdesaan, perkotaan, ataupun secara total, terus mengalami peningkatan sedangkan proporsi pengeluaran rata-rata sub kelompok komoditi minyak tanah terus menurun. Hal ini sejalan dengan adanya program konversi minyak tanah ke lpg yang dilakukan oleh pemerintah. Berdasarkan hasil pengolahan, nilai adjusted R-square model AIDS adalah 79,86 persen. P-value menunjukkan bahwa semua variabel bebas (harga masing-masing kelompok komoditi, pengeluaran rumah tangga dummy wilayah, dan tren tahun, mempunyai pengaruh yang sangat nyata terhadap variabel proporsi pengeluaran kelompok komoditi ((Pr>|t|) < 0,01). Hasil elastisitas permintaan harga sendiri menunjukkan bahwa selama tahun 2007-2010 nilai elastisitas listrik merupakan barang yang bersifat elastis unit di semua wilayah di Pulau Jawa. Nilai elastisitas untuk komoditi energi lainnya menunjukkan bahwa komoditi-komoditi tersebut termasuk barang elastis untuk rumah tangga di Pulau Jawa. Adapun komoditi lpg, gas kota, dan batu bara merupakan komoditas yang paling elastis. Jika dilihat perkembangannya selama tahun 2007 hingga tahun 2010, elastisitas permintaan karena perubahan harga sendiri untuk kelompok komoditi makanan, listrik, bensin dan solar, serta kelompok komoditi non makanan lainnya relatif tidak mengalami perubahan yang besar. Hal ini terkait dengan masih banyaknya rumah tangga di Indonesia yang belum mendapat akses akan listrik dan juga harga jual energi yang diatur oleh pemerintah. Berbeda dengan kelompok komoditi lpg, gas kota, dan batu bara. Nilai mutlak elastisitas harga sendiri untuk kelompok komoditi ini cenderung menurun. Sebaliknya untuk komoditi minyak tanah, nilai mutlak elastisitas harga sendirinya meningkat dari tahun 2007 hingga tahun 2010. Hal ini disebabkan jumlah konsumsi untuk kelompok komoditi lpg, gas kota, dan batu bara pada jangka waktu tersebut cenderung mengalami peningkatan seiring program konversi minyak tanah ke gas yang dilakukan oleh pemerintah. Sehingga perubahan harga lpg, gas kota, dan batu bara yang terjadi memberikan dampak yang semakin kecil pada perubahan konsumsi komoditi tersebut. Kondisi sebaliknya berlaku untuk komoditi minyak tanah. Elastisitas silang antar sub kelompok dalam kelompok komoditi energi bernilai positif (substitusi), namun nilainya relatif tidak terlalu besar. Jika dilihat dari besarannya, tingkat substitusi listrik dengan komoditi lainnya sangat kecil. Jika dilihat dari nilai elastisitas pendapatannya, semua komoditi energi termasuk kelompok barang mewah, sedangkan kelompok komoditi makanan dan komoditi non makanan lainnya termasuk barang kebutuhan pokok (nilai elastisitas pendapatan kelompok komoditi makanan relatif mendekati 1). Nilai elastisitas pendapatan untuk kelompok komoditi bensin dan solar relatif besar, (eiI>2) sedangkan nilai elastisitas pendapatan kelompok komoditi energi yang lain kurang dari dua, kecuali untuk lpg, gas kota, dan batu bara di perdesaan. Hasil pengolahan juga menunjukkan bahwa semakin tinggi kelompok pendapatannya besaran elastisitas harga untuk komoditi bensin dan solar semakin kecil (semakin inelastis), namun besarnya masih lebih dari satu. Begitu juga elastisitas pendapatan (pengeluaran) untuk komoditi bensin dan solar, nilainya semakin kecil pada tingkat/kelompok pendapatan yang semakin tinggi, tetapi masih merupakan barang mewah (nilainya lebih dari satu). Hasil simulasi menunjukkan bahwa pada skenario I komoditi listrik dan bensin dan solar mengalami penurunan jumlah barang yang diminta, sedangkan komoditi energi lainnya mengalami peningkatan jumlah barang yang diminta. Pada skenario I, peningkatan harga bensin dan solar sebesar 11 persen, tidak menurunkan jumlah makanan yang diminta, tetapi yang berkurang adalah jumlah barang yang diminta untuk non makanan lainnya. Konsumsi komoditi lpg, gas kota, dan batu bara serta minyak tanah mengalami sedikit peningkatan antara 0,80 hingga 2,18 persen. Peningkatan pengeluaran rumah tangga sebesar 4 persen ketika harga komoditi selain listrik serta bensin dan solar tetap, meningkatkan jumlah lpg, gas kota, dan batu bara serta minyak tanah yang diminta. Simulasi skenario II menghasilkan penurunan jumlah listrik serta bensin dan solar yang diminta. Penurunan konsumsi listrik di perdesaan lebih rendah dibandingkan dengan penurunan konsumsi listrik di perkotaan, begitu juga dengan penurunan konsumsi bensin dan solar. Komoditi energi (selain listrik) bersifat elastis, dan, baik di perdesaan maupun di perkotaan, komoditi energi masih merupakan barang mewah. Terkait dengan perkiraan pertumbuhan ekonomi dan pendapatan rumah tangga yang positif, pemerintah perlu melakukan penyesuaian harga energi untuk menekan lonjakan permintaan energi yang terjadi, dan alternatif kebijakan pembatasan pemakaian bbm bersubsidi juga bisa dikaji lebih lanjut. Komoditi-komoditi energi, baik di perdesaan maupun di perkotaan saling bersubstitusi, namun dengan tingkat substitusi yang tidak terlalu besar. Hal ini disebabkan komoditi-komoditi energi tersebut memang digunakan untuk keperluan yang berbeda-beda, untuk itu perlu dikembangkan alternatif energi yang bisa memenuhi keperluan rumah tangga baik dari sumber energi yang lain (terbarukan) maupun dari sumber energi yang sama namun dengan cara penggunaan berbeda yang lebih mudah, lebih hemat, dan lebih aman. Program konversi minyak tanah ke gas telah menggeser konsumsi minyak tanah rumah tangga di Pulau Jawa ke komoditi lpg, gas kota, dan batu bara. Akibatnya elastisitas permintaan untuk komoditi lpg, gas kota, dan batu bara, semakin inelastis, sedangkan elastisitas permintaan untuk minyak tanah semakin elastis. Penelitian dapat dilanjutkan dengan melihat dampak perubahan harga komoditi-komoditi energi terhadap variabel-variabel makro seperti inflasi, tingkat pengangguran, dan sebagainya atau mengganti dengan model permintaan lain yang dianggap bisa lebih mencerminkan pola permintaan rumah tangga di Pulau Jawa, ataupun memperluas cakupan wilayah dan rentang waktu penelitian ataupun kelompok konsumen (industri, komersial, dan lainnya), dan lain-lain. Kata kunci: permintaan energi, LA-AIDS, SUR © Hak Cipta milik IPB, tahun 2011 Hak Cipta Dilindungi Undang-undang Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB. PERMINTAN ENERGI RUMAH TANGGA DI PULAU JAWA DIANA BHAKTI Tesis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Ilmu Ekonomi SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2011 Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis: Hariadi Hadisuwarno, S.E., M.Sc., Ph.D. Judul Tesis Nama NRP : Permintan Energi Rumah Tangga di Pulau Jawa : Diana Bhakti : H151090174 Disetujui Komisi Pembimbing Dr. Ir. Sri Hartoyo, MS Ketua Muhammad Firdaus, SP, M.Si, Ph.D Anggota Diketahui Ketua Program Studi Ilmu Ekonomi Dekan Sekolah Pascasarjana Dr. Ir. Nunung Nuryartono, M.Si Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc.Agr. Tanggal Ujian: 30 Juni 2011 Tanggal Lulus: 18 Juni 2011 PRAKATA Pertama, saya ingin memanjatkan puji dan syukur kepada Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga tesis dengan judul ” Permintan Energi Rumah Tangga di Pulau Jawa” telah dapat terselesaikan. Penelitian ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Ilmu Ekonomi di Sekolah Pascasarjana IPB. Pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada berbagai pihak yang telah membantu terselesaikannya penelitian dan penulisan tesis ini. Secara khusus penulis mengucapkan terima kasih kepada, yang terhormat : 1. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menempuh pendidikan di Sekolah Pascasarjana IPB. 2. Kepala Pusdiklat BPS beserta jajarannya, yang telah membantu kelancaran administrasi selama penulis mengikuti program Tugas Belajar. 3. Kepala Direktorat Neraca Produksi BPS beserta jajarannya, yang telah mengijinkan dan membantu kelancaran administrasi kepegawaian selama Penulis menempuh pendidikan. 4. Dr. Ir. Sri Hartoyo, MS dan Muhammad Firdaus, SP, M.Si, Ph.D selaku Komisi Pembimbing, yang dengan segala kesibukannya masih meluangkan waktu untuk memberikan arahan dan bimbingan yang sangat bermanfaat dalam menyusun tesis ini. 5. Bapak Hariadi Hadisuwarno, S.E., M.Sc., Ph.D selaku Penguji Luar Komisi pada pelaksanaan Ujian Tesis. 6. Ketua Program Studi Ilmu Ekonomi Sekolah Pascasarjana IPB beserta jajarannya, yang telah membantu kelancaran proses kegiatan belajar. 7. Dr. Wiwiek Rindayati, M.Si yang telah memberi kritik dan saran perbaikan untuk thesis ini. 8. Teman-teman mahasiswa pascasarjana IPB, khususnya PS Ilmu Ekonomi. Penulis mengucapkan terima kasih yang tak terkira kepada orang tua penulis atas segala doa dan dukungan yang telah diberikan. Ucapan terima kasih juga penulis persembahkan kepada Rudi Salam, suamiku tercinta yang dengan penuh kesabaran selalu memberi dukungan, motivasi, dan semangat kepada penulis. Melalui kesempatan ini penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Mahdavikia Hanifa Salam (anak pertama penulis) atas kesabarannya karena harus sering ditinggalkan selama penulis menjalani perkuliahan. Penulis juga mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak lain yang telah membantu penyelesaian tesis ini meskipun namanya tak dapat penulis sebutkan satu persatu. Akhirnya, semoga hasil penelitian ini berguna dan memberikan kontribusi bagi semua pihak terutama pemerintah dan kalangan akademisi. Bogor, Juni 2011 Diana Bhakti, SE RIWAYAT HIDUP Kedua orang tua penulis, yakni pasangan Mochamad Munir dan Sulaikanah memberi penulis nama Diana Bhakti. Tepatnya, ketika penulis lahir di Malang pada tanggal 27 September 1982. Penulis merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Penulis dibesarkan di kota Banyuwangi, dan menyelesaikan pendidikan formal dari tingkat sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah umum di kota tersebut. Pendidikan tinggi penulis ditempuh di Sekolah Tinggi Ilmu Statistik, Jakarta dan lulus pada tahun 2004. Gelar sarjana diperoleh melalui Program Alih Jenjang pada Jurusan Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor tahun 2009. Penulis diangkat sebagai CPNS pada Badan Pusat Statistik terhitung mulai tanggal 1 Desember 2004 dan ditempatkan sebagai staf di bidang Neraca Wilayah dan Analisis Statistik BPS Provinsi Nusa Tenggara Timur. Selama kurang lebih empat tahun penulis mengabdi di sana dan sejak November 2008 sampai dengan saat ini penulis bertugas di BPS (pusat) sub direktorat Konsolidasi Neraca Produksi Regional. DAFTAR ISI DAFTAR TABEL………………………………………………………………… xv DAFTAR GAMBAR……………………………………………………………… xvi DAFTAR LAMPIRAN…………………………………………………………… xvii I. PENDAHULUAN …………………………………….……...……………… 1 1.1 Latar Belakang ……………………………………….…………..……… 1 1.2 Perumusan Masalah ………………………………….……….…….…… 3 1.3 Tujuan Penelitian …………………………………….….……….……… 8 1.4 Manfaat Penelitian ………………………………….………….………. 8 II. TINJAUAN PUSTAKA ………………………………………….………... 9 2.1 Tinjauan Teori-teori......……………………….……………….………. 9 2.1.1 Teori Permintaan.......……………………….…………....……… 9 2.1.2 Efek Substitusi dan Pendapatan….………………………….….… 12 2.1.3 Elastisitas Permintaan.................................................................... 13 2.2 Penelitian Terdahulu…..……….…………………………………….… 15 2.3 Kerangka Pemikiran……………………………………………………. 17 2.4 Hipotesis ……….……………………………………………………..… 19 III. METODOLOGI PENELITIAN…………………………………………...... 21 3.1 Jenis dan Sumber Data………………………………………………… 21 3.2 Metode Analisis………………………………………………….……… 21 3.2.1 Model LA-AIDS …………………………………………….…… 22 3.2.2 SUR (Seemingly Unrelated Regression)………………………… 24 3.3 Model Penelitian ...………………………………………………..…… 25 3.4 Cakupan Penelitian……………. ……………………………………… 26 3.5 Klasifikasi Perkotaan dan Perdesaan…………………………………… 27 3.6 Simulasi Perubahan Harga dan Pendapatan Rumah Tangga………...... IV. POLA KONSUMSI RUMAH TANGGA DI PULAU JAWA…………… 28 31 4.1 Kondisi Kependudukan dan Perekonomian Pulau Jawa………………. 31 4.2 Dinamika Pengeluaran Rumah Tangga di Pulau Jawa........................... 32 V. ELASTISITAS PERMINTAAN ENERGI RUMAH TANGGA DI PULAU JAWA…………………………………………………………...... 37 5.1 Hasil Estimasi Model….................……………………………………. 37 5.2 Elastisitas Harga…………………….………………………….……… 38 5.3 Elastisitas Silang…………..……………………………………..……… 41 5.4 Elastisitas Pendapatan (Pengeluaran)…………………………………… 45 5.5 Elastisitas Permintaan Bensin dan Solar menurut Tingkat Pendapatan. 47 5.6 Simulasi Perubahan Harga Bbm Dan Pendapatan Rumah Tangga……… 48 VI. KESIMPULAN DAN SARAN…………………........................................... 51 6.1 Kesimpulan……………………………………...................................... 51 6.2 Saran………………………………………………….………............... 52 DAFTAR PUSTAKA ………………………………………….………………… 53 LAMPIRAN........................................................................................................... 57 xiv DAFTAR TABEL Tabel 1.1 Konsumsi energi final menurut sektor tahun 2000 – 2009 (termasuk biomass) (juta BOE)…………………………………………………… 5 Tabel 4.1 Proporsi pengeluaran sebulan rumah tangga menurut kelompok komoditi dan status wilayah di Pulau Jawa tahun 2007 – 2010 (persen) 33 Tabel 4.2 Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan rumah tangga menurut kelompok komoditi dan provinsi di Pulau Jawa tahun 2007 – 2010 (ribu rupiah)............................................................................................. 35 Tabel 5.1 Hasil estimasi parameter sistem persamaan LA-AIDS........................... 37 Tabel 5.2 Elastisitas harga sendiri rumah tangga di Pulau Jawa menurut status wilayah dan komoditi tahun 2007 – 2010............................................... 38 Tabel 5.3 Elastisitas silang rumah tangga di Pulau Jawa menurut status wilayah dan komoditi tahun 2007 – 2010............................................................. 42 Tabel 5.4 Elastisitas silang rumah tangga di Pulau Jawa menurut waktu, tahun 2007 – 2010............................................................................................. 44 Tabel 5.5 Elastisitas pengeluaran rumah tangga di Pulau Jawa menurut status wilayah dan komoditi tahun 2007 – 2010............................................... 45 Tabel 5.6 Elastisitas pengeluaran rumah tangga di Pulau Jawa menurut waktu dan kelompok komoditi dari tahun 2007 – 2010.................................... 47 Tabel 5.7 Elastisitas harga dan pengeluaran komoditi bensin dan solar menurut kelompok pendapatan rumah tangga di Pulau Jawa tahun 2007-2010... 48 Tabel 5.8 Proporsi perubahan jumlah yang diminta berdasarkan hasil simulasi menurut komoditi dan karakteristik wilayah rumah tangga di Pulau Jawa (persen)........................................................................................... 49 xv DAFTAR GAMBAR Gambar 1.1 Permintaan energi primer dunia dalam skenario kebijakan baru tahun 1980 – 2035……..….............................................................. 1 Gambar 1.2 Intensitas konsumsi energi final perkapita Indonesia tahun 2000 – 2009……...………………………………….................................. 2 Gambar 1.3 Konsumsi energi rumah tangga tahun 1990 – 2009 (termasuk biomass) ……….............................................................................. 6 Gambar 2.1 Efek substitusi dan efek pendapatan karena penurunan harga gas.. 13 Gambar 2.2 Kerangka penelitian…………..……………………………….….. 18 Gambar 4.1 Distribusi penduduk di Pulau Jawa menurut provinsi tahun 2010.. 31 Gambar 4.2 PDRB atas dasar harga berlaku menurut provinsi di Pulau Jawa tahun 2009....................................................................................... 32 xvi DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Hasil pengolahan estimasi model permintaan energi rumah tangga di Pulau Jawa dengan model LA-AIDS tahun 2007 – 2010……………………………………………......................... 55 xvii Halaman ini sengaja dikosongkan. xviii I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peranan penting energi berpengaruh besar dalam pencapaian tujuan sosial, ekonomi, dan lingkungan untuk pembangunan berkelanjutan sebagai pendukung bagi kegiatan ekonomi nasional. Seiring dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk, meningkatnya kebutuhan untuk mengurangi tingkat pengangguran dan kemiskinan, serta meningkatnya aktivitas ekonomi, permintaan dan konsumsi energi juga cenderung mengalami peningkatan. Sebuah paparan oleh Nobuo Tanaka dalam acara peluncuran buku World Energy Outlook 2010 di Jakarta pada 22 November 2010 menggambarkan bahwa negara-negara di dunia pada umumnya masih memiliki fenomena seperti ini, begitu juga dengan Indonesia. Gambar 1.1 berikut menunjukkan kecenderungan dan proyeksi permintaan energi primer dunia, baik energi yang terbarukan maupun energi yang tidak terbarukan. Pada Gambar 1.1 bisa dilihat bahwa secara keseluruhan maupun parsial, kecenderungan dan proyeksi permintaan energi dunia terus mengalami peningkatan. konsumsi energi tahun Sumber: Paparan World Energy Outlook 2010, Jakarta 22 November 2010 Gambar 1.1 Permintaan energi primer dunia dalam skenario kebijakan baru tahun 1980 – 2035 Selama tahun 2000 – 2009, di Indonesia, intensitas konsumsi energi final perkapitanya mempunyai kecenderungan meningkat (Gambar 1.2). Sebagai negara berkembang dengan jumlah penduduk yang sangat besar, cukup wajar jika 2 penggunaan energi di Indonesia terus mengalami peningkatan sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan penduduk yang ada. konsumsi perkapita (SBM) tahun Sumber: Handbook of Energy and Economic Statistics of Indonesia 2010 Gambar 1.2 Intensitas konsumsi energi final perkapita Indonesia tahun 2000-2009 Terkait sifat strategis energi ini, industri energi di Indonesia, sebagian besar masih merupakan industri monopoli yang dikuasai oleh pemerintah. Peran besar pemerintah ini diharapkan mampu menjaga ketahanan energi nasional dan menjamin ketersediaan serta akses energi untuk seluruh lapisan masyarakat. Kebijakan energi lainnya yang ditetapkan pemerintah mengenai harga keekonomian energi yang dianggap belum terjangkau oleh sebagian besar masyarakat Indonesia sehingga harga jual energi kepada konsumen/masyarakat ditetapkan di bawah harga pasar. Selisih harga tersebut disubsidi oleh pemerintah. Kecenderungan permintaan energi yang terus meningkat menyebabkan beban subsidi yang semakin berat. Pada tahun 2011 saat ini besar subsidi energi yang dianggarkan (pagu APBN 2011) adalah sebesar 40,7 triliun rupiah. Sampai dengan April 2011, realisasi subsidi energi telah mencapai 38,8 triliun rupiah atau 28,4 persen dari pagu APBN 2011 (www.antaranews.com). Beban subsidi menjadi semakin berat terutama ketika harga energi dunia mengalami kenaikan, biaya produksi energi meningkat, dan juga pola konsumsi yang relatif boros karena harganya dianggap cukup/relatif murah. Subsidi energi juga secara tidak langsung menghambat laju perkembangan energi terbarukan. 3 Selain adanya permasalahan ekonomi dan kelangkaan, masalah energi yang juga sudah cukup lama menjadi perhatian dunia adalah tingkat polusi (emisi karbon) yang semakin tinggi. Dampak lingkungan yang ditimbulkan telah begitu meluas dan dikhawatirkan akan menjadi bom waktu yang akan mengganggu keseimbangan alam dan kehidupan mahluk yang ada di bumi. Masyarakat dunia yang peduli dengan masalah ini, menekankan pentingnya pengurangan emisi karbon yang salah satu caranya adalah dengan beralih pada penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan, terlebih pada sumber energi yang terbarukan. Kesepakatan dan diskusi mengenai masalah lingkungan ini banyak dibahas pada pertemuan tingkat dunia yang salah satunya tertuang pada Kyoto Protocol. Pada tahun 2007 pemerintah Indonesia telah memulai melakukan program konversi minyak tanah ke lpg. Hal ini dilakukan karena harga minyak tanah yang melambung sehingga beban subsidinya menjadi semakin berat dan juga keunggulan lpg dibanding beberapa komoditi energi alternatif lainnya (misalnya batu bara), terutama dari sisi dampak negatif terhadap lingkungan, efisiensi, serta cadangan gas di Indonesia yang relatif melimpah. Energi yang masih banyak digunakan sampai saat ini seperti bahan bakar minyak, gas, dan batubara merupakan sumber daya alam yang tidak terbarukan. Sebagai input produksi, sebagaimana diungkapkan Malthus bahwa sifatnya adalah terbatas, dan pada suatu ketika akan mengalami kelangkaan bahkan tidak mampu lagi menyangga tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi terus menerus, karena pertumbuhan penyediaannya lebih lambat dibandingkan dengan pertumbuhan permintaan dan konsumsi sumber daya tersebut. Mengingat pola permintaan yang masih akan terus meningkat dan pola penyediaan yang belum sepenuhnya bisa mengejar laju permintaan energi, maka penghematan (peningkatan efisiensi) dan peningkatan teknologi penggunaan sumber energi terbarukan adalah hal mendesak yang harus dilakukan. 1.2 Perumusan Masalah Energi mempunyai peranan penting dan strategis dalam kehidupan (perekonomian). Energi adalah komoditi yang banyak dikonsumsi langsung oleh konsumen/masyarakat untuk berbagai kebutuhan dan dalam berbagai aktivitas 4 kehidupan. Hal ini mengandung konsekuensi bahwa kuantitas dan harga energi akan berpengaruh pada tingkat kesejahteraan masyarakat (Yusgiantoro, 2000). Sebagai salah satu barang publik (UU No. 25 Tahun 2009), energi bersifat penting dan strategis sehingga pemerintah melakukan banyak intervensi melalui berbagai instrumen. Intervensi-intervensi yang dilakukan mulai dari pengaturan masalah eksplorasi, produksi, distribusi, dan juga pengaturan harga energi. Pemerintah bertanggung jawab menentukan berbagai tindakan dan kebijakan dalam menjamin ketersediaan dan akses masyarakat terhadap energi, termasuk juga keberlangsungannya dalam jangka panjang. Salah satu bentuk intervensi tersebut adalah subsidi terhadap harga energi. Spencer dan Amos, Jr., dalam bukunya yang berjudul Contemporary Economics, 1993, menyebutkan definisi subsidi sebagai pembayaran yang dilakukan pemerintah kepada perusahaan atau rumah tangga untuk mencapai tujuan tertentu yang membuat mereka dapat memproduksi atau mengkonsumsi suatu produk dalam kuantitas yang lebih besar atau pada harga yang lebih murah. Secara ekonomi, tujuan subsidi adalah untuk mengurangi harga atau menambah keluaran (output). Subsidi diberikan untuk menjamin akses masyarakat yang tidak mampu menjangkau harga keekonomian energi dan juga mendorong aktivitas industri terutama industri pada skala kecil. Namun, subsidi dianggap tidak mendidik masyarakat untuk menghemat penggunaan energi yang semakin lama cadangannya semakin menipis. Subsidi energi juga menghambat laju perkembangan energi terbarukan. Saat ini elastisitas energi kita masih di kisaran 1,6, belum mencapai target 1,3 yang diharapkan bisa dicapai pada tahun 2015 (www.migas.esdm.go.id). Pemerintah juga sudah lama menyadari bahwa pemberian subsidi bbm tidak menjangkau sasaran yang tepat, bahkan telah menciptakan kesempatan terjadinya pemalsuan dan penyelundupan bbm ke luar negeri dikarenakan harga di Indonesia jauh lebih murah dari harga di luar negeri, terutama apabila dibandingkan dengan harga di kawasan Asia Tenggara, seperti harga di Singapura (Petrominer No. 10 15 Oktober 2000 dalam Hartono, 2004). Selain itu, sebagai negara net importir minyak, ketika harga minyak dunia kian melambung, maka beban subsidi terhadap APBN akan semakin berat. 5 Olivia dan Gibson (2008) melakukan penelitian menggunakan data Susenas modul konsumsi tahun 1999 untuk rumah tangga di Pulau Jawa. Penelitian ini mengungkapkan bahwa meskipun bukan suatu kebijakan yang populer, masih ada ruang untuk melakukan pengurangan subsidi yang cukup besar untuk minyak tanah. Pemerintah telah melakukan berbagai kebijakan terkait dengan harga energi, yakni dengan menaikkan harga jual energi ataupun mengurangi subsidi. Sebagai variabel yang sangat terkait dengan tingkat permintaan, perubahan harga energi akan memengaruhi tingkat permintaan energi konsumen baik dari kelompok rumah tangga, industri, transportasi, komersial, dan lainnya. Kenaikan harga ataupun pengurangan subsidi biasanya dilakukan berbeda antar kelompok konsumen dan dalam kelompok konsumen itu sendiri (sesuai strata pendapatannya). Pada saat ini, pemerintah sedang mempertimbangkan untuk melakukan pembatasan penggunaan bahan bakar minyak bersubsidi (premium) terutama untuk kalangan menengah ke atas (pemilik kendaraan mewah/mobil pribadi), karena subsidi memang ditujukan untuk kalangan yang layak menerima. Selain itu, beban APBN untuk mensubsidi bahan bakar minyak semakin besar. Tabel 1. 1 berikut menggambarkan konsumsi energi final menurut sektor. Bisa dilihat pada Tabel 1.1, sektor rumah tangga (di luar konsumsi bensin dan solar) menempati urutan pertama dari kelima sektor yang ada. Tabel 1.1 Konsumsi energi final menurut sektor tahun 2000 – 2009 (termasuk biomass) (juta BOE) Tahun Industri Rumah Tangga Komersial Transportasi*) Lainnya (1) (2) (3) (4) (5) (6) 2000 252,90 296,57 20,67 139,18 29,21 2001 252,16 301,35 21,45 148,26 30,59 2002 245,11 303,03 21,75 151,50 30,00 2003 275,31 309,05 22,40 156,23 28,44 2004 263,29 314,11 25,41 178,37 31,69 2005 262,69 313,77 26,23 178,45 29,10 2006 280,19 312,72 26,19 170,13 25,94 2007 300,68 319,33 27,90 179,14 24,91 2008 261,64 316,80 29,01 191,26 24,84 2009 295,63 314,76 30,47 226,58 26,31 Keterangan: *) termasuk konsumsi bensin dan solar untuk keperluan transportasi kendaraan pribadi yang dilakukan oleh kelompok konsumen rumah tangga. Sumber: Handbook of Energy and Economic Statistics of Indonesia 2010 6 Hal ini menunjukkan tingginya tingkat kebutuhan energi sektor rumah tangga di Indonesia. Mengingat laju pertumbuhan penduduk Indonesia yang masih positif (1,49 persen untuk sepuluh tahun terakhir (BPS)), Pemerintah Indonesia perlu mempelajari dan menganalisa perilaku konsumsi rumah tangga agar bisa merencanakan kebijakan energi nasional dengan tepat. Perkembangan tingkat konsumsi energi rumah tangga bisa dilihat pada Gambar 1.3. Pada gambar tersebut nampak bahwa konsumsi energi kelompok rumah tangga dari tahun 1990 hingga tahun 2009 cenderung meningkat. konsumsi energi (juta SBM) 310 300 290 280 270 260 250 240 230 220 tahun 1990 1995 2000 2005 2009 Sumber: Handbook of Energy and Economic Statistics of Indonesia (beberapa edisi) Gambar 1.3 Konsumsi energi rumah tangga tahun 1990 – 2009 (termasuk biomass) Di sisi lain, rumah tangga adalah sektor non produktif, dengan kata lain kelompok ini menggunakan energi sebagai konsumsi akhir, bukan sebagai input untuk proses produksi lebih lanjut. Jika harga energi yang ditetapkan terlalu murah, dikhawatirkan mereka akan terlalu boros dalam menggunakan energi. Padahal, dari penggunaan energi tersebut tidak dihasilkan suatu ‘nilai tambah’ (output lainnya). Kelompok rumah tangga dianggap sebagai kelompok yang cukup rentan terhadap kenaikan harga energi, karena masih banyak kelompok rumah tangga yang kurang mampu menjangkau harga energi yang relatif tinggi. Nuryanti dan Herdinie (2007) mengungkapkan bahwa terdapat dominasi rumah tangga kaya dalam konsumsi energi komersial di Indonesia. Hal ini menyebabkan perlakuan subsidi yang merata akan lebih banyak dinikmati oleh kelompok rumah tangga 7 yang bisa jadi tidak layak menerima subsidi. Pada sisi lain, jika subsidi dicabut atau harga energi naik, maka rumah tangga yang kurang mampu akan semakin berkurang kemampuan akses/daya belinya terhadap energi tersebut, baik akibat kenaikan harga energi itu sendiri maupun penurunan daya beli akibat inflasi yang dipicunya. Subsidi memang mempunyai beberapa dampak negatif. Akan tetapi pemerintah tidak bisa mencabut subsidi begitu saja, mengingat masih banyak masyarakat Indonesia yang belum mampu menjangkau harga keekonomian energi. Selain itu, kenaikan/lonjakan harga energi juga memicu inflasi dan berbagai kemunduran dalam perekonomian seperti peningkatan biaya produksi, peningkatan pengangguran, dan lain-lain. Pemerintah, dalam menetapkan kebijakan harga energi, perlu mengetahui informasi mengenai perilaku konsumsi energi, yang dalam penelitian ini dikhususkan pada kelompok konsumen rumah tangga. Penelitian ini membatasi ruang lingkup pada rumah tangga yang tinggal di Pulau Jawa. Menurut hasil Sensus Penduduk tahun 2010 sebanyak 57,49 persen penduduk Indonesia atau lebih dari 136 juta jiwa tinggal di Pulau Jawa. Lebih dari separuh penduduk Indonesia ini menguasai 58,12 persen perekonomian/PDB Indonesia (BPS). Seberapa besar harga energi akan berpengaruh terhadap tingkat konsumsinya (elastisitas harga). Selain itu, untuk mendapatkan tingkat subsidi yang tepat terkait dengan daya beli rumah tangga yang berbeda-beda, perlu diketahui seberapa pengaruh perubahan pendapatan rumah tangga terhadap konsumsi energi (elastisitas pendapatan). Keduanya adalah parameter permintaan yang sangat penting untuk analisis ekonomi mengenai perilaku permintaan energi rumah tangga. Terkait konversi minyak tanah ke gas yang mulai dilakukan oleh pemerintah sejak tahun 2007, rumah tangga adalah kelompok yang mendapat dampak yang sangat besar dalam pola konsumsinya. Penelitian ini menganalisis bagaimana hal ini memengaruhi pola konsumsi rumah tangga sejak tahun 2007, pada saat program ini mulai digulirkan, hingga tahun 2010. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: 8 1. Bagaimana perilaku permintaan energi rumah tangga di Pulau Jawa? 2. Berapakah pengaruh perubahan harga energi pada perubahan permintaan energi rumah tangga di Pulau Jawa? 3. Berapakah pengaruh perubahan pendapatan rumah tangga terhadap perubahan permintaan energi rumah tangga di Pulau Jawa? 4. Untuk tingkat pendapatan yang berbeda, apakah pengaruh perubahan harga energi dan perubahan pendapatan terhadap perubahan permintaan listrik serta bensin dan solar semakin kecil? 5. Apakah ada perbedaan pola permintaan energi rumah tangga di perdesaan dan di perkotaan Pulau Jawa? 6. Bagaimanakah perkembangan pola konsumsi dan elastisitas energi rumah tangga di Pulau Jawa sejak diberlakukannya konversi minyak tanah ke gas? 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan Penelitian ini adalah untuk menganalisis perilaku rumah tangga di Pulau Jawa dalam mengkonsumsi energi. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mendapatkan parameter permintaan energi, seperti elastisitas harga, elastisitas pendapatan, dan elastisitas silang komoditi-komoditi energi. Khusus untuk bensin dan solar, akan dilihat perilaku permintaan tersebut menurut beberapa kelompok pendapatan. Permintaan energi rumah tangga di Pulau Jawa dan nilai-nilai elastisitas permintaan tersebut akan dilihat perbandingannya antara desa dan kota serta perkembangannya selama dilaksanakannya konversi minyak tanah ke gas, sejak tahun 2007 hingga tahun 2010. 1.4 Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai pola perilaku permintaan energi rumah tangga di Pulau Jawa, terkait dengan harga energi dan pendapatan rumah tangga. Bagi pemerintah, menjadi masukan dalam menentukan kebijakan yang akan diambil, khususnya dalam kebijakan energi. Bagi penulis, penelitian ini diharapkan dapat memperdalam ilmu dan memperluas wawasan di bidang perekonomian. Bagi pembaca, penelitian ini dapat dijadikan bahan atau acuan untuk penelitian selanjutnya. II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Teori-Teori 2.1.1 Teori Permintaan Permintaan menunjukkan jumlah barang dan jasa yang akan dibeli konsumen pada periode waktu dan keadaan tertentu. Hubungan antara jumlah barang yang diminta dengan berbagai faktor yang menentukan/memengaruhi keputusan membeli biasa digambarkan dalam suatu persamaan matematika yang disebut dengan fungsi permintaan. Dalam analisa permintaan, praktisnya, fungsi permintaan seringkali dihubungkan dengan harga komoditi saja, sementara faktorfaktor lain yang juga memengaruhi permintaan, dianggap homogen atau tetap (ceteris paribus). Hal ini dilakukan untuk memungkinkan permintaan digambarkan dalam grafik dua dimensi. Ada dua cara mendapatkan fungsi permintaan, yang pertama adalah fungsi permintaan yang diderivasi dari fungsi utilitas. Fungsi permintaan ini disebut fungsi permintaan Marshallian, dalam hal ini komoditi merupakan barang konsumsi akhir. Fungsi permintaan Marshallian disebut juga dengan istilah Marshallian demand equation (money-income held constant) (Clements et al., 1996), atau consumer’s ordinary demand function (Henderson dan Quant, 1988 ; McLaren, 1982 ; Hanemann, 1991). Fungsi permintaan Marshallian dapat diperoleh dari derivasi maksimisasi utilitas dengan pembatas atau kendala (constraint) pendapatan konsumen (Christensen et al., 1975 ; Chambers dan Kenneth E.M, 1983 ; Cooper dan McLaren, 1992 ; Clements et al., 1996). Perilaku ini adalah rasionalitas pada perilaku konsumen. Berikutnya adalah fungsi permintaan Hicksian (Hicksian demand function) yang dari minimisasi pengeluaran pada tingkat utilitas tertentu (konstan). Selain faktor harga komoditi itu sendiri, dalam perkembangan teori permintaan, disebutkan permintaan juga dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti harga barang lain, pendapatan, selera, distribusi pendapatan, jumlah penduduk, kemakmuran konsumen, ketersediaan kredit, kebijakan pemerintah, tingkat permintaan masa lampau, dan tingkat pendapatan masa lampau. Tujuan teori permintaan adalah untuk menentukan berbagai faktor yang memengaruhi 10 permintaan. Permintaan mempunyai hubungan multivariat yang ditentukan oleh banyak faktor secara simultan (Koutsoyiannis, 1994). Bentuk matematis kedua fungsi tersebut adalah sebagai berikut: XM = f(Px, Py, I)……………………....fungsi permintaan Marshalian (2.1) keterangan: XM = jumlah barang X yang diminta Px = harga barang X Py = harga barang Y I = pendapatan dan XH = f(Px, Py, U)……………………..….fungsi permintaan Hicksian (2.2) keterangan: XH = jumlah barang X yang diminta Px = harga barang X Py = harga barang Y U = utilitas Permintaan yang dianalisa dalam penelitian ini adalah permintaan rumah tangga untuk energi final. Sebagai barang konsumsi, fungsi permintaan yang digunakan adalah fungsi permintaan Marshallian yang diperoleh dari derivasi maksimisasi utilitas konsumen dengan memperhatikan kendala pendapatan konsumen energi rumah tangga. Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh suatu fungsi permintaan (Varian, 1992), yaitu: 1. Aditivitas Suatu syarat yang menunjukkan bahwa total pengeluaran pada fungsi permintaan sama dengan total pendapatan. Secara matematis bisa dituliskan sebagai berikut: Σi piqi = I ………………………………………………(2.3) keterangan: pi = harga komoditas ke-i qi = kuantitas komoditas ke-i I = pendapatan 2. Homogenitas Persyaratan yang menyebutkan bahwa jika pendapatan dan harga berubah dalam proporsi yang sama, maka permintaan terhadap suatu komoditas tidak akan berubah. Hal ini merupakan implikasi dari sifat 11 fungsi permintaan yang homogen berderajat nolterhadap harga dan permintaan. Bentuk matematisnya adalah sebagai berikut: Σiεij + eiI = 0 ………………………………………..…(2.4) keterangan: εij = elastisitas harga silang komoditas ke-i terhadap harga komoditas-j eiI = elastisitas pendapatan komoditas ke-i 3. Agregasi Engel Agregasi Engel menunjukkan bahwa jumlah tertimbang dari elastisitas pendapatan untuk seluruh komoditas yang dikonsumsi sama dengan satu, ini merupakan cerminan dampak perubahan pendapatan terhadap permintaan. Secara matematis bisa dituliskan sebagai berikut: Σi wi eiI = 1 …………………………………..…(2.5) keterangan: wi = proporsi pengeluaran komoditas ke-i eiI = elastisitas pendapatan komoditas ke-i Hal ini menunjukkan bahwa seluruh anggaran yang tersedia habis dibelanjakan, dan jika terjadi kenaikan pendapatan maka akan dialokasikan secara proporsional pada seluruh komoditas yang dikonsumsi. 4. Agregasi Cournot Syarat ini mencerminkan dampak perubahan harga terhadap permintaan. Agregasi Cournot menunjukkan bahwa perubahan harga pada salah satu komoditas yang dikonsumsi (komoditas j) sementara harga komoditas lainnya tetap, akan berdampak pada re-alokasi anggaran belanja sehingga permintaan terhadap komoditas-komoditas akan berubah. Bentuk matematisnya adalah sebagai beikut: Σi wiεij = - wj ………………………………….…(2.6) keterangan: wi = proporsi pengeluaran komoditas ke-i wj = proporsi pengeluaran komoditas ke-j εij = elastisitas harga silang komoditas ke-i terhadap harga komoditas-j 12 5. Syarat negativitas dan simetri Slutsky Perubahan harga akan menyebabkan perubahan pendapatan riil. Dampak perubahan ini bisa dipisahkan atas pengaruh substitusi (substitution effect) dan pengaruh pendapatan (income effect). Pengaruh substitusi merupakan pengaruh negatif, yang merupakan syarat negativitas Slutsky. Syarat simetri Slutky menyatakan bahwa apabila pendapatan riil konstan, pengaruh substitusi akibat perubahan harga komoditas ke-j terhadap permintaan komoditas ke-i sama dengan pengaruh substitusi akibat perubahan harga komoditas i terhadap permintaan komoditas j. Efek substitusi dari komoditas i dan j tersebut bersifat simetri, dan kondisi simetri dapat ditulis sebagai berikut : wi(εij + wjeiI) = wj(εji + wiejI) …………………..(2.7) keterangan: wi = proporsi pengeluaran komoditas ke-i wj = proporsi pengeluaran komoditas ke-j εij = elastisitas harga silang komoditas ke-i terhadap harga komoditas-j eiI = elastisitas pendapatan komoditas ke-i ejI = elastisitas pendapatan komoditas ke-j 2.1.2 Efek Substitusi dan Pendapatan Pengaruh perubahan harga akan menimbulkan dua efek, yaitu efek substitusi dan efek pendapatan (Sugiarto et al., 2005). Hipotesis maksimisasi utilitas untuk barang normal adalah turunnya harga barang akan meningkatkan jumlah barang yang dibeli, karena 1) efek substitusi menyebabkan jumlah barang yang dibeli akan lebih banyak sehingga utilitas konsumen bergerak sepanjang kurva indiferen, 2) efek pendapatan menyebabkan jumlah barang yang dibeli lebih banyak karena harga menurun sehingga meningkatkan daya beli. Sehingga utilitas konsumen bergerak ke kurva indiferen yang lebih tinggi (Nicholson, 2005). 13 Minyak tanah (Y) Y1 A Y11 C U2 B U1 I2 I1 Gas (X) X 1 X B X 11 Sumber: Nicholson, 2005. Gambar 2.1 Efek substitusi dan efek pendapatan karena penurunan harga gas Pada Gambar 2.1, awalnya konsumen memperoleh utilitas maksimum dengan mengkonsumsi gas sebanyak X1 dan minyak tanah sebanyak Y1 pada tingkat pendapatan I1 dan utilitas U1. Turunnya harga gas menyebabkan, pada tingkat utilitas dan harga barang minyak tanah yang sama/tetap, konsumen mampu mengkonsumsi lebih banyak minyak tanah (dari X1 menjadi XB, dengan X1< XB), inilah yang disebut sebagai efek substitusi. Pada sisi lain, turunnya harga gas, mengakibatkan seolah-olah pendapatan konsumen menjadi meningkat, karena ia mampu membeli lebih banyak barang sehingga bisa mencapai tingkat utilitas yang lebih tinggi (U2, dengan U1< U2). Efek inilah yang disebut dengan efek pendapatan (dari XB ke X11,dengan XB< X11). 2.1.3 Elastisitas Permintaan Elastisitas didefinisikan sebagai ukuran persentase perubahan pada suatu variabel yang disebabkan oleh perubahan satu persen variabel yang lain. Elastisitas permintaan menunjukkan persentase perubahan jumlah barang yang diminta akibat perubahan satu persen variabel yang memengaruhinya, sementara kondisi lainnya diasumsikan tidak berubah. Jika dilihat dari penyebab perubahan permintaan, elastisitas bisa dibagi menjadi elastisitas harga, elastisitas silang, dan elastisitas pendapatan (Salvatore, 1994 ; Henderson dan Quant, 1988). 14 Elastisitas dapat diturunkan dari fungsi permintaan. Elastisitas yang diturunkan dari fungsi permintaan Marshallian disebut sebagai elastisitas tidak terkompensasi (uncompensated elasticities). Sedangkan elastisitas yang didapatkan dari fungsi permintaan Hicksian disebut sebagai elastisitas terkompensasi (compensated elasticities). Elastisitas harga, merupakan persentase kenaikan/penurunan jumlah barang yang diminta akibat perubahan harga barang itu sendiri. Sesuai dengan hukum permintaan, kenaikan harga menyebabkan turunnya jumlah barang yang diminta. Sebaliknya, turunnya harga barang tersebut akan menyebabkan kenaikan kenaikan jumlah barang yang diminta. Sehingga, elastisitas harga mempunyai tanda negatif. Nilai elastisitas harga dapat dipergunakan untuk mengelompokkan suatu barang apakah termasuk barang elastis, elastisitas unit, atau barang inelastis. Nilai elastisitas dapat membedakan barang menjadi: |ε| < 1, barang tersebut termasuk barang inelastis, |ε| = 1, barang tersebut termasuk barang yang memiliki elastisitas unit, dan |ε| > 1, barang tersebut termasuk elastis. Elastisitas silang menunjukkan perubahan jumlah barang yang diminta (dalam persen) disebabkan oleh perubahan harga barang lain (dalam persen). Nilai elastisitas silang tergantung pada hubungan kedua barang tersebut, apakah barang pelengkap (komplementer) dengan nilai elastisitas < 0, barang pengganti (substitusi) dengan nilai elastisitas > 0, atau tidak ada hubungan kegunaan pada kedua barang tersebut (netral), nilai elastisitasnya = 0. Elastisitas yang ketiga adalah elastisitas pendapatan. Elastisitas pendapatan menunjukkan ukuran respon permintaan konsumen terhadap suatu komoditas akibat adanya perubahan pendapatan konsumen. Nilai elastisitas pendapatan dapat dipergunakan untuk mengelompokkan suatu barang apakah termasuk barang inferior, barang normal, atau barang mewah. Nilai elastisitas dapat dibedakan menjadi: ε < 0, barang tersebut termasuk barang inferior, 0 < ε<1, barang tersebut termasuk barang normal atau pokok, dan ε> 1, barang tersebut termasuk barang mewah. 15 Beberapa faktor yang memengaruhi tingkat elastisitas harga (Hartono, 2002) adalah : 1. Tingkat substitusi. Semakin sulit mencari substitusi suatu barang, permintaan terhadap barang tersebut semakin inelastis dan sebaliknya. 2. Jumlah pemakai. Semakin banyak jumlah pemakai, permintaan terhadap suatu barang semakin inelastis, dan sebaliknya. 3. Proporsi kenaikan harga terhadap pendapatan konsumen. Bila proporsi tersebut besar, maka permintaan cenderung lebih elastis. 4. Jangka waktu. Hal ini berkaitan dengan dimensi waktu, elastisitas jangka pendek adalah untuk jangka waktu kurang dari satu tahun dan elastisitas jangka panjang untuk jangka waktu lebih dari satu tahun. Untuk barangbarang yang habis dipakai dalam waktu kurang dari satu tahun (tidak tahan lama atau non durable goods), permintaan lebih elastis dalam jangka panjang dibanding jangka pendek. Sebaliknya untuk barang yang masa konsumsinya lebih dar

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Analisis Permintaan kWh Listrik rumah tangga Tarif R1, Kelurahan Siti Rejo III, Kecamatan Medan Amplas, Kota Medan.
2
33
100
Kajian yuridis tentang tindak kekerasan dalam rumah tangga khususnya terhadap isteri
0
3
72
Kekerasan rumah tangga terhadap anak dalam prespektif islam
7
71
74
Peran suami dalam membina rumah tangga yang sakinah
0
7
93
Hubungan dukungan sosial dengan herga diri pembantu rumah tangga di komplek Bintaro Jaya Sektor 3 RW. 008
0
5
87
Penyelesaian perceraian dalam perkara kekerasan dalam rumah tangga (analisis terhadap putusan perkara nomor.607/pdt. G/PA Depok Jawa Barat)
1
14
106
Peranan majelis ta'lim al-huda dalam meningkatkan pendidikan agama islam ibu-ibu rumah tangga di Kec.Cibuaya
3
9
83
Pengaruh orientasi peran jender terhadap sikap suami pada pekerjaan rumah tangga
1
31
81
Faktor ekonomi rumah tangga sebagai alasan perceraian: studi analisis putusan No. 676/Pdt.G/PA.Tng
0
3
113
Analisis pengelolaan sampah rumah tangga di kelurahan Kayumanis Kec.Tanah Sareal kota Bogor
2
21
148
Studi komparasi beberapa strategi pengontrolan peralatan elektronik rumah tangga secara nirkabel
0
5
1
Studi komparasi beberapa strategi pengontrolan peralatan elektronik rumah tangga secara nirkabel
0
2
1
View of Perilaku menabung rumah tangga di program pembinaan kesejahteraan keluarga berbasis minat
0
0
16
NASKAH PUBLIKASI - Analisis ketahanan pangan rumah tangga miskin di Kecamatan Imogiri Kabupaten Bantul
1
2
6
Peranan wanita tani dalam sistem nafkah rumah tangga petani di Kecamatan Karanganyar
0
0
110
Show more