Pemanfaatan Spektrofotometri Derivatif untuk Penetapan Kadar Campuran Pseudoefedrin Hidroklorida dan Triprolidin Hidroklorida dalam Sediaan Tablet

Gratis

9
86
152
2 years ago
Preview
Full text

KATA PENGANTAR

  Kurva overlapping serapan derivat pertama dari triprolidin HCl 12,5 mcg/ml, pseudoefedrin HCl 300 mcg/ml, dan campuran yang di dalamnya terdapat triprolidin HCl 12,5mcg/ml dan pseudoefedrin HCl 300 mcg/ml ........................ Kurva overlapping serapan derivat kedua dari triprolidin HCl 12,5 mcg/ml, pseudoefedrin HCl 300 mcg/ml, dan campuran yang di dalamnya terdapattriprolidin HCl 12,5 mcg/ml dengan pseudoefedrin HCl 300 mcg/ml ..........................................................................

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  Persyaratan kadar untuk sediaan tablet campuran pseudoefedrin HCl dan triprolidin HCl menurut USP(United States Pharmacopoeia) XXX ( 2007 ) yaitu mengandung triprolidin HCl dan pseudoefedrin HCl tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0% darijumlah yang tertera pada etiket. Apakah campuran pseudoefedrin HCl dan triprolidin HCl dalam sediaan tablet dapat ditetapkan kadarnya secara simultan dengan menggunakanspektrofotometri derivatif pada panjang gelombang zero crossing dan apakah metode yang digunakan memenuhi syarat validasi metode ?

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Uraian Bahan

2.1.1 Pseudoefedrin Hidroklorida

  Pseudoefedrin HCl adalah salah satu obat simpatomimetik yang bekerja dengan cara langsung terhadap reseptor di otot polos dan jantung dan juga secaratak langsung dapat membebaskan noradrenalin. Pseudoefedrin HCl dapat ditetapkan kadarnya dengan beberapa cara yaitu spektrofotometri ultraviolet pada panjang gelombang 257 nm (A 1%, 1 cm dalam larutan asam = 11,9a), kromatografi gas, dan dengan kromatografi cair kinerjatinggi (Moffat, 2007).

2.1.2 Triprolidin Hidroklorida

  H 2 O; berat molekul = 332,87; pemerian : serbuk hablur putih, ringan, berbau tidak enak, larutan o bersifat basa terhadap lakmus, melebur pada suhu lebih kurang 115 C; kelarutan: larut dalam air, dalam etanol dan dalam kloroform, tidak larut dalam eter; pKa = 6,5 (Ditjen POM, 1995; Moffat, 2007). Triprolidin HCl dapat ditetapkan kadarnya dengan beberapa metode antara lain dengan spektrofotometri ultraviolet pada panjang gelombang maksimum 290nm (A 1%, 1 cm dalam larutan asam = 347a), dengan kromatografi cair kinerja tinggi, dengan densitometri dan dengan kromatografi gas (Moffat, 2007).

2.2 Spektrofotometri Infra Merah (IR)

  Karena setiap ikatan yang berbeda memiliki frekuensi getaran yang berbeda dan ikatan yang sama dari dua senyawa yang berbeda berada dalam Radiasi elektromagnetik InfraMerah bila dilewatkan pada suatu sampel maka akan diserap oleh ikatan – ikatan molekul di dalam sampel sehinggamolekul tersebut akan mengalami gerakan vibrasi regangan dan vibrasi bengkokan. Vibrasi regangan terjadipada bilangan gelombang yang lebih besar (panjang gelombang yang lebih kecil) sedangkan vibrasi bengkokan terjadi pada bilangan gelombang yang lebih kecil(panjang gelombang yang lebih besar) (Pavia, et al., 1979; Watson, 2005).

2.3 Spektrofotometri Ultraviolet

  Kedua pernyataan ini dapat dijadikan satu dalam Hukum Lambert-Beer, sehingga diperoleh bahwa serapan berbanding lurus terhadap konsentrasi dan ketebalan sel, yang dapat ditulis dengan persamaan : A= a.b.c (g/liter) atau A= ε. Spektrofotometer merupakanpenggabungan dari dua fungsi alat yang terdiri dari spektrometer yang menghasilkan sinar dari spektrum dengan panjang gelombang tertentu danfotometer sebagai alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau yang diabsorpsi.

2.4 Spektrofotometri Derivatif

2.4.1 Pengertian Spektrofotometri Derivatif

  Spektofotometri deivatif bersangkutan dengan transformasi spektrum serapan menjadi spektrum derivatif pertama, kedua atau spektrum derivatifdengan order yang lebih tinggi Spektrum derivat pertama dibuat dengan memplotkan dA/dλ dengan panjang gelombang (Ditjen POM, 1995). 2.4.3 Penggunaan Spektrofotometri DerivatifSpektrofotometri derivatif banyak digunakan untuk zat-zat dalam suatu campuran yang spektrumnya saling mengganggu atau tumpang tindih (overlapping) dimana zat-zat tersebut dapat larut dalam pelarut yang sama serta gliserilguaiakolat dalam sediaan tablet dan sirup obat batuk, campuran tetrasiklin dan oksitetrasiklin, penetapan kadar teofilin dan efedrin HCl dalam sediaan tablet,penetapan kadar campuran vitamin B kompleks (Hayun,2006).

2.4.4 Komponen Spektrofotometer Derivatif

  Komponen-komponen pada spektrofotometer UV/Vis biasa sama dengan komponen pada spektrofotometer derivatif. Biasanya spektrofotometer telah mempunyaisoftware untuk mengolah data yang dapat dioperasikan malalui komputer yang telah terhubung dengan spektrofotometer (Moffat, 2007).

2.5 Validasi Metode Analisis

  Keterulangan dilakukan dengan caramenganalisis sampel yang sama oleh analis yang sama menggunakan instrumen 2.5.3 Spesifisitas Spesifisitas adalah kemampuan untuk mengukur analit yang dituju secara tepat dan spesifik dengan adanya komponen lain dalam matriks sampel sepertiketidakmurnian, produk degradatif dan komponen matriks. 2.5.5 Linearitas Linieritas adalah kemampuan suatu metode untuk memperoleh hasil uji yang secara langsung proposional dengan konsentrasi analit pada kisaran yang Untuk prosedur analitik, CDER (Center for Drug Evaluation and Research, USFDA) merekomendasikan bahwa kriteria linieritasnya pada tingkat koefisien korelasi tidak lebih kecil dari 0,999 (Épshtein, 2004).

BAB II I METODOLOGI PENELITIAN

  3.2 Alat Alat – alat yang digunakan dalam penelitian adalah spektrofotometer IR(Shimadzu), spektrofotometer ultraviolet (UV -1800 Shimadzu) double beam yang dilengkapi dengan komputer, sonikator (Branson 1510), neraca analitik(Mettler Toledo), kuvet, lumpang dan alu, alat-alat gelas dan alat-alat lainnya yang diperlukan dalam penyiapan sampel dan larutan. 3.3 Bahan Bahan – bahan yang digunakan dalam penelitian adalah HCl 0,1 N v (diencerkan 8,3 ml HCl 37% ( / v ) dengan akuades secara kuantitatif dalam labu tentukur 1 L), akuades (Laboratorium Kimia Farmasi Kuantitatif), triprolidin HCl ® baku (BPFI), pseudoefedrin HCl baku (BPFI), tablet merek dagang Tremenza ® (Sanbe) dan Trifed (Interbat).

3.5 Prosedur Penelitian

3.5.1 Uji Identifikasi Baku Pseudoefedrin HCl dan Triprolidin HCl dengan Spektrofotometer IR Uji identifikasi baku pseudoefedrin HCl dan triprolidin HCl dilakuka n dengan menggunakan spektrofotometer FTIR, yaitu dengan cara: masing-masingditimbang 10 mg, lalu dicampur dengan 100 mg serbuk KBr dalam lumpang, digerus hingga halus dan homogen, dan dianalisis pada bilangan gelombang 4000-

3.5.2 Pembuatan Larutan Induk Baku

  3.5.2.1 Pembuatan Larutan Induk Baku Triprolidin HCl Ditimbang 50 mg triprolidin HCl BPFI, dimasukkan ke dalam labu tentukur 50 ml, ditambahkan HCl 0,1 N, dikocok hingga larut, lalu dicukupkansampai garis tanda dengan HCl 0,1 N sehingga diperoleh larutan dengan konsentrasi 1000 mcg/ml, larutan ini disebut larutan induk baku I (LIB I). 3.5.2.2 Pembuatan Larutan Induk Baku Pseudoefedrin HCl Ditimbang 50 mg pseudoefedrin HCl BPFI, dimasukkan ke dalam labu tentukur 25 ml, ditambahkan HCl 0,1 N, dikocok hingga larut, lalu dicukupkansampai garis tanda dengan HCL 0,1 N sehingga diperoleh larutan dengan konsentrasi 2000 mcg/ml, larutan ini disebut larutan induk baku I (LIB I).

3.5.3 Pembuatann Spektrum Serapan Maksimum

  3.5.3.1 Pembuatan Spektrum Serapan Maksimum Pseudoefedrin HCl Dipipet 1,85 ml Larutan Induk Baku II (LIB II) pseudoefedrin HCl(konsentrasi = 1000 mcg/ml), dimasukkan ke dalam labu tentukur 25 ml, diencerkan dengan HCl 0,1 N hingga garis tanda, lalu dikocok sampai homogensehingga diperoleh larutan dengan konsentrasi 370 mcg/ml, kemudian diukur serapan pada panjang gelombang 200 – 400 nm. 3.5.3.2 Pembuatan Spektrum Serapan Maksimum Triprolidin HCl Dipipet 1,25 ml Larutan Induk Baku II (LIB II) triprolidin HCl(konsentrasi = 250 mcg/ml), dimasukkan ke dalam labu tentukur 25 ml, diencerkan dengan HCl 0,1 N hingga garis tanda, lalu dikocok sampai homogensehingga diperoleh larutan dengan konsentrasi 12,5 mcg/ml, kemudian diukur serapan pada panjang gelombang 200 – 400 nm.

3.5.4. Pembuatan Spektrum Serapan Derivatif

3.5.4.1 Pembuatan Spektrum Serapan Derivatif Pseudoefedrin HCl

3.5.4.2 Pembuatan Spektrum Serapan derivatif Triprolidin HCl

  Kemudian dibuat spektrum serapan biasa (tanpa diderivatkan), spektrum serapan derivat pertama dan derivatkedua pada panjang gelombang 200-400 nm dengan ∆λ = 10 nm. Kemudian dibuat spektrum serapan biasa (tanpa diderivatkan), spektrum serapan derivat pertama dan derivat kedua pada panjang gelombang 200-400 nmdengan ∆λ = 10 nm.

3.5.5 Penentuan Zero Crossing

3.5.6 Penentuan Panjang Gelombang

  (λ)Analisis Dibuat larutan pseudoefedrin HCl dengan konsentrasi 300 mcg/ml, triprolidin HCl dengan konsentrasi 12,5 mcg/ml, dan larutan campuran kedua zatitu sehingga di dalamnya terdapat pseudoefedrin HCl dengan konsentrasi 300 mcg/ml dan triprolidin HCl dengan konsentrasi 12,5 mcg/ml. Yang dipilih untuk menjadi panjang gelombang analisis adalahpada saat serapan senyawa pasangannya nol dan serapan maksimum zat itu dan campurannya hampir sama atau persis sama, karena pada panjang gelombang tersebut dapat secara selektif mengukur serapan zat tersebut.

3.5.7 Pembuatan dan Penentuan Linieritas Kurva Kalibrasi

  Untuk menentukan batas deteksi (LOD) dan batas kuntitasi (LOQ) dapat digunakan rumus :2( Y Yi ) −∑ SB=n 2 − 3 x SB LOD= Slope 10 x SB LOQ= Slope Keterangan :SB = Simpangan Baku LOD = Batas Deteksi LOQ = Batas Kuantitasi 3.5.7.2 Pembuatan dan Penentuan Linearitas Kurva Kalibrasi Triprolidin HCl Dipipet Larutan Induk Baku II triprolidin HCl (250 mcg/ml) sebanyak 0,5 ml; 1 ml; 1,5 ml; 2 ml; dan 2,5 ml. 3.5.8 Penentuan Kadar Pseudoefedrin HCl dan Triprolidin HCl dalam Sediaan Tablet Dua puluh tablet merek dagang yang mengandung pseudoefedrin HCl 60 mg dan triprolidin HCl 2,5 mg ditimbang, lalu digerus dalam lumpang sampaihalus dan homogen.

3.5.10 Analisis Data Statistik

  Analisis data secara statistik menggunakan uji t. Untuk mengetahui apakah data diterima atau ditolak digunakan rumus seperti di bawah ini : X X− t = hitungSD / n Dasar penolakan data jika t hitung tabel dan t hitung tabel .

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Uji Identifikasi Menggunakan Spektrofotometer FTIR

  Data bilangan gelombang hasil identifikasi gugus fungsi dan ikatan dari pseudoefedrin HClGugus fungsi dan ikatan Literatur Baku ParasetamolC −H Aromatis 3020 – 3100 cm Benzen 1500 dan 1600 cm dan 1334,74 cm 1552,7 dan 1587,42 cm C=C 1650 cm 1681,93 cm C=N 1030 cm dan 1320 cm 1035,77 cm Gambar 6. Spektrum inframerah triprolidin HCl BPFI Dari hasil penelitian diperoleh bentuk spektrum triprolidin HCl BPFI hampir sama dengan bentuk spektrum yang terdapat pada literatur dan padasertifikat BPFI.

4.2 Pembuatan Kurva Serapan Maksimum

  Pengukuran dilakukan pada konsentrasi 370 mcg/ml untuk pseudoefedrin HCl dan pada konsentrasi 12,5 mcg/ml untuk triprolidin HCl. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh panjang gelombang maksimum pada λ = 257 nm untuk pseudoefedrin HCl ( gambar 5 ) dan pada λ = 290 nm untuk triprolidin HCl ( gambar 6).

4.3 Pembuatan Kurva Serapan Biasa

  Kurva serapan biasa dibuat dengan membuat larutan pseudoefedrin HCl dengan konsentrasi 100; 200; 300; 400; dan 500 mcg/ml dan larutan triprolidinHCl dengan konsentrasi 5; 10; 15; 20; dan 25 mcg/ml. Kurva serapan biasa untuk triprolidin HCl dapat dilihat pada gambar 9 – gambar 14, dankurva serapan biasa pseudoefedrin HCl dapat dilihat pada gambar 15 – gambar 20.

4.4 Pembuatan Kurva Serapan Derivat Pertama

  Kurva serapan derivat pertama dibuat dengan terlebih dahulu membuat kurva serapan biasa dari larutan pseudoefedrin HCl dengan konsentrasi 100; 200;300; 400; dan 500 mcg/ml dan larutan triprolidin HCl dengan konsentrasi 5; 10;15; 20; dan 25 mcg/ml pada panjang gelombang 200-400 nm. Kurva serapan derivat pertama untuk triprolidin HCl dapat dilihat pada gambar 21 –gambar 26, dan kurva serapan derivat pertama pseudoefedrin HCl dapat dilihat pada gambar 27 – gambar 32.

4.5 Penentuan Zero Crossing pada Serapan Derivat Pertama

  Zero crossing triprolidin HCl pada kurva serapan derivat pertama dapat dilihat pada gambar 33 –gambar 35. Zero crossing pseudoefedrin HCl pada kurva serapan derivat pertama dapat dilihat pada gambar 36 dan gambar 37.

4.6 Pembuatan Kurva Serapan Derivat Kedua

  Kurva serapan derivat kedua dibuat dengan terlebih dahulu membuat kurva serapan biasa dari larutan pseudoefedrin HCl dengan konsentrasi 100; 200;300; 400; dan 500 mcg/ml dan larutan triprolidin HCl dengan konsentrasi 5; 10;15; 20; dan 25 mcg/ml pada panjang gelombang 200-400 nm. Kurva serapan derivat kedua untuk triprolidin HCl dapat dilihat pada gambar 38 –gambar 43, dan kurva serapan derivat kedua pseudoefedrin HCl dapat dilihat pada gambar 44 – gambar 49.

4.7 Penentuan Zero Crossing pada Serapan Derivat Kedua

  Zero crossing triprolidin HCl pada kurva serapan derivat kedua dapat dilihat pada gambar 50 –gambar 54. Zero crossing pseudoefedrin HCl pada kurva serapan derivat kedua dapat dilihat pada gambar 55 - gambar 57.

4.8 Penentuan Panjang Gelombang Analisis

  Penentuan panjang gelombang analisis dilakukan dengan cara membuat larutan pseudoefedrin HCl dengan konsentrasi 300 mcg/ml, triprolidin HCldengan konsentrasi 12,5 mcg/ml, dan larutan campuran kedua zat itu sehingga di dalamnya terdapat pseudoefedrin HCl dengan konsentrasi 300 mcg/ml dantriprolidin HCl dengan konsentrasi 12,5 mcg/ml. Kurva overlapping serapan derivat kedua dari triprolidin HCl 12,5mcg/ml, pseudoefedrin HCl 300 mcg/ml, dan campuran yang di dalamnya terdapat triprolidin HCl 12,5 mcg/ml denganpseudoefedrin HCl 300 mcg/ml.

4.9 Pembuatan dan Penentuan Linearitas Kurva Kalibrasi

  4.10 Penentuan Kadar Pseudoefedrin HCl dan Triprolidin HCl dalam Sediaan Tablet Penetapan kadar pseudoefedrin HCl dan triprolidin HCl dilakukan dengan menggunakan tablet merek dagang yang mengandung pseudoefedrin HCl 60 mgdan triprolidin HCl 2,5 mg. Tremenza® 99,99±0,49 99,82±0,30Kadar pseudoefedrin HCl dan triprolidin HCl pada kedua sediaan memenuhi persyaratan menurut USP (United States Pharmacopoeia) XXX tahun 2007 yaitu mengandung triprolidin HCl dan pseudoefedrin HCl tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0% dari jumlah yang tertera pada etiket.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

  Kadar campuran pseudoefedrin HCl dan triprolidin HCl dalam bentuk sediaan tablet yang beredar di pasaran dapat ditetapkan secara simultan denganmenggunakan spektrofotometri derivatif pada kurva serapan derivat/order kedua pada panjang gelombang zero crossing, yaitu pada panjang gelombang 271 nmuntuk analisis pseudoefedrin HCl (zero crossing dari triprolidin HCl) dan pada panjang gelombang 318 nm untuk analisis triprolidin HCl (zero crossing daripseudoefedrin HCl). Kadar kedua sampel ini memenuhi persyaratan kadar untuk Pharmacopoeia) XXX tahun 2007 yaitu mengandung triprolidin HCl dan pseudoefedrin HCl tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0% dari jumlah yang tertera pada etiket.

5.2 Saran

Disarankan untuk penelitian berikutnya untuk menetapkan kadar campuran pseudoefedrin HCl dan triprolidin HCl menggunakan spektrofotometriderivatif dengan aplikasi peak to peak dan multivarians.

DAFTAR PUSTAKA

  Konsentrasi pseudoefedrin HCl = = 300 mcg/mlKonsentrasi triprolidin HCl = = 12,5 mcg/ml Misalnya berat yang ditimbang adalah 0,1329 g, maka terlebih dahulu dihitung kesetaraan dengan pseudoefedrin HCl dan triprolidin HCl. Kesetaraan dengan Pseudoefedrin HCl = x ( 20 x 60 mg) = 50,25 mgKonsentrasi = x 1000 mcg = 1001,5 mcg/mlKonsentrasi akhir teoritis pseudoefedrin HCl = = 301,5 mcg/mlKesetaraan dengan triprolidin HCl = x ( 20 x 2,5 mg) = 2,09 mgKonsentrasi = x 1000 mcg = 41,8 mcg/mlKonsentrasi akhir teoritis triprolidin HCl = = 12,54 mcg/mlAbsorbansi pseudoefedrin HCl pada derivat/order kedua pada panjang gelombang 271 nm adalah 0,00272.

30 Baku pseudoefedrin HCl %=

x 40 mg 12 mg= 100 Jumlah triprolidin HCl dalam serbuk analit yang ditimbang: , 0741 g = 20 x 2 , 5 mg( ) 3 , 1737 g =1,1674 mgBaku triprolidin HCl yang ditambahkan : 30 40 mg  2 , 5 mg 10060 mg   = 0,5 mgPersen perolehan kembali: A B− % Recovery x 100 % =C Dimana: A = Jumlah sampel yang diperoleh setelah penambahan bahan bakuB = jumlah sampel sebelum penambahan bahan bakuC = Jumlah baku yang ditambahkanPersen perolehan kembali pseudoefedrin HCl A ( 28 mg ) x ( 99 , 77 %)−x 100 % =( 12 mg ) x ( 99 , 54 mg ) A 27 , 9356 mg−x 100 % =11 , 9448 mg Perolehan kembali Triprolidin HCl: A ( 1 , 1674 mg ) x ( 99 , 71 %)−x 100 % =( , 5 mg ) x ( 99 , 87 mg ) A 1 , 1640 mg−x 100 % =, 4994 mg Perolehan 100% 100 Pseudoefedrin HCl = x 50 mg 50 mg= 100 70 Analit pseudoefedrin HCl 70% = x 50 mg 35 mg= 100 Penimbangan serbuk analit setara 35 mg pseudoefedrin HCl 35 mg Sampel yang ditimbang = x 3 , 1737 g , 0926 g= 20 x 60 mg 30 Baku pseudoefedrin HCl 30% = x 50 mg 15 mg= 100 Jumlah triprolidin HCl dalam serbuk analit: , 0926 g = 20 x 2 , 5 mg( ) 3 , 1737 g =1,4589 mg A ( 35 mg ) x ( 99 , 77 %)−x 100 % =( 15 mg ) x ( 99 , 54 mg ) A 34 , 9195 mg−x 100 % =14 , 9310 mg Perolehan kembali triprolidin HCl: A ( 1 , 4589 mg ) x ( 99 , 71 %)−x 100 % =( , 625 mg ) x ( 99 , 87 mg ) A 1 , 4547 mg−x 100 % =, 6242 mg Perolehan 120% 120 Pseudoefedrin HCl = x 50 mg 60 mg= 100

70 Analit pseudoefedrin HCl % =

  Perhitungan Rata-Rata, Standar Deviasi dan Relatif Standar deviasi Perolehan Kembali Pseudoefedrin HCl pada TabletTremenza® No Kadar PerolehanKembali [X] (%) Xi - X (Xi – X) 2 1. Perhitungan Rata-Rata, Standar Deviasi dan Relatif Standar deviasi Perolehan Kembali Triprolidin HCl pada TabletTremenza® No Kadar PerolehanKembali [X] (%) Xi - X (Xi – X) 2 1.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Penetapan Kadar Campuran Parasetamol Dan Ibuprofen Pada Sediaan Tablet Secara Spektrofotometri Derivatif Dengan Zero Crossing
46
386
149
Penetapan Kadar Klopidogrel dalam Sediaan Tablet secara Spektrofotometri Sinar Tampak
2
45
71
Penetapan Kadar Pirazinamida Dengan Metode Spektrofotometri Ultraviolet dalam Sediaan Tablet
1
48
79
Penetapan Kadar Piridoksin Hidroklorida Secara Spektrofotometri Ultra Violet
106
393
30
Studi Perbandingan Penetapan Kadar Etambutol Hidroklorida Dalam Tablet Etambutol Secara Titrasi Bebas Air Dan Spektrofotometri Sinar Tampak.
13
84
73
Pemanfaatan Spektrofotometri Derivatif untuk Penetapan Kadar Campuran Pseudoefedrin Hidroklorida dan Triprolidin Hidroklorida dalam Sediaan Tablet
9
86
152
Penetapan Kadar Rifampisin dan Isoniazid dalam Sediaan Tablet Secara Multikomponen dengan Metode Spektrofotometri Ultraviolet
41
268
123
Penetapan Kadar Pirantel Pamoat dalam Sediaan Tablet Secara Spektrofotometri Ultraviolet
11
121
76
Penetapan Kadar Ketoprofen Dalam Sediaan Tablet Secara Spektrofotometri Ultraviolet
45
207
65
Penetapan Kadar Kaptropril Dalam Sediaan Tablet Secara Spektrofotometri Ultraviolet
44
190
77
Optimasi dan Penetapan kadar pada Betametason dan Deksklorfeniramin maleat dengan Metode Spektrofotometri Derivatif dalam Campuran Tablet
8
48
142
Uji Validasi Metode Zero Crossing Spektrofotometri Derivatif Pada Penetapan Kadar Kafein dan Parasetamol Dalam Sediaan Tablet
17
124
138
Penetapan Kadar Campuran Parasetamol Dan Ibuprofen Pada Sediaan Tablet Secara Spektrofotometri Derivatif Dengan Zero Crossing
1
1
66
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Obat - Penetapan Kadar Campuran Parasetamol Dan Ibuprofen Pada Sediaan Tablet Secara Spektrofotometri Derivatif Dengan Zero Crossing
0
1
14
Penetapan Kadar Klopidogrel dalam Sediaan Tablet secara Spektrofotometri Sinar Tampak
0
0
23
Show more