Feedback

Penanggulangan dan Perlindungan Hukum Terhadap Anak Sebagai Korban Eksploitasi Seks Komersial Anak (ESKA)

Informasi dokumen
PENANGGULANGAN DAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP ANAK SEBAGAI KORBAN EKSPLOITASI SEKS KOMERSIAL ANAK (ESKA) TESIS Oleh : NANCI YOSEPIN SIMBOLON 097005097 PROGRAM MAGISTER ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara PENANGGULANGAN DAN PERLINDUNGAN HUKM TERHADAP ANK SEBAGAI KORBAN EKSPLOITASI SEKS KOMERSIAL ANAK (ESKA) TESIS Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister Hukum dalam Program Magister Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Oleh NANCI YOSEPIN SIMBOLON 097005097/HK PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara JUDUL TESIS NAMA MAHASISWA NOMOR POKOK PROGRAM STUDI : PENANGGULANGAN DAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP ANAK SEBAGAI KORBAN EKSPLOITASI SEKS KOMERSIAL ANAK (ESKA) : Nanci Yosepin Simbolon : 097005097 : Ilmu Hukum Menyetujui Komisi Pembimbing (Prof. Dr. Syafruddin Kalo, SH, M.Hum) Ketua (Dr. Mahmud Mulyadi, SH, M.Hum) Anggota (Dr. Marlina, SH, M.Hum) Anggota Ketua Program Studi Dekan (Prof. Dr. Suhaidi, SH, MH) Tanggal Lulus : 12 Agustus 2011 (Prof. Dr. Runtung, SH, M.Hum) Universitas Sumatera Utara Telah diuji pada Tanggal 12 Agustus 2011 PANITIA PENGUJI TESIS Ketua Anggota : Prof. Dr. Syafruddin Kalo, SH, M.Hum : 1. Dr. Mahmud Mulyadi, SH, M.Hum 2. Dr. Marlina, SH, M.Hum 3. Dr. Madiasa Ablisar, SH, MS 4. Dr. Idha Aprilyana, SH, M.Hum Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Anak-anak adalah masa depan yang bukan hanya untuk dirinya sendiri dan keluarganya, tetapi juga untuk komunitas bangsa dan Negara, untuk itu kualitas hidup anak penting untuk diperhatikan, namun banyak juga anak-anak yang justru tidak hidup secara seimbang atau bahkan terjerat sebagai korban ESKA (eksploitasi seks komersial anak). Perumusan masalah dalam penulisan tesis ini adalah mengenai faktor penyebab terjadinya ESKA, perlindungan hukum terhadap anak sebagai korban ESKA dan upaya penanggulangan tindak pidana terhadap anak korban ESKA. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian ini adalah penelitian yuridis normative dan penelitian yuridis empiris. Alasan penggunaan penelitian hukum normatif yang bersifat kualitatif yang didasarkan pada paradigma hubungan dinamis antara teori, konsep-konsep data yang merupakan umpan balik atau modifikasi yang tetap dari teori dan konsep yang didasarkan pada data yang dikumpulkan. Hasil penelitian yang mengacu pada faktor penyebab terjadinya ESKA adalah adanya faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi perasaan ingin bebas, perasaan egois, dan keingintahuan, selain itu juga disebabkan oleh adanya faktor eksternal yang meliputi keadaan ekonomi, pengaruh lingkungan, pendidikan, moral dan keluarga, dan penegakan hukum yang masih belum tegas, dank arena faktor teknologi. Perlindungan hukum terhadap anak sebagai korban ESKA dapat dilakukan berdasarkan hukum nasional dan hukum internasional. Berdasarkan hukum nasional telah ditetapkan aturan-aturan yang meliputi Undang-Undang RI No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Undang-Undang RI No. 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, dan Undang-Undang RI No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, sedangkan perlindungan hukum berdasarkan hukum internasional meliputi adanya Protocol Opsional Konvensi Hak-Hak Anak tahun 2000 tentang Penjualan Anak, Pelacuran Anak, dan Pornografi Anak, Protocol Palermo, dan Konvensi ILO tahun 1999 tentang Larangan dan Tindakan Segera untuk Penghapusan Bentuk-Bentuk Pekerjaan Terburuk untuk anak. Upaya penanggulangan terhadap tindak pidana ESKA dilakukan dengan 2 pendekatan yaitu pendekatan melalui hukum pidana dan pendekatan di luar hukum pidana. Pendekatan melalui hukum pidana yaitu melalui upaya pemberian hukum pidana yang sesuai dengan aturan yang ada mengacu pada Undang-Undang RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak pada Pasal 59, Pasal 66, Undang-Undang No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Perdagangan Orang pada Pasal 45, Pasal 46, Pasal 51, Pasal 52, dan Pasal 54, serta Undang-Undang RI No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjan pada Pasal 74. Pemberian hukuman juga diperberat karena menyangkut hak-hak anak seperti yang terdapat pada Putusan Nomor: 1944/Pid.B/2006/PN.Mdn yaitu terbukti bahwa terdakwa tersebut telah memperniagakan perempuan yang belum dewasa atau Mucikari sebagaimana dimaksud dalam pasal 297 Jo 506 KUHPidana Jo. Pasal 83 UU RI No. 23 tahun 2002 Universitas Sumatera Utara ABSTRACT Children are the future not only for themselves and their family but also for their people and country, for that reason, children’s quality of life needs to be paid attention. Yet, most children do not live an equal life they are even trapped as the victims of child commercial sexual exploitation. The research problems in this study are the factors that cause the incident of child commercial sexual exploitation, the protection for the children as the victims of child commercial sexual exploitation, and the attempts to overcome the criminal act done to the children. This study employed the normative juridical and empirical juridical methods. The reason to employ the qualitative normative juridical study was based on the paradigm of dynamic relationship between theories and concepts of data as the feedback or fixed modification of the theories and concepts based on the data collected. The result of this study showed that the causal factors of the incident of child commercial sexual exploitation referred to the internal and external factors. The internal factor included several feelings such as wanting to be free, egoistic, and curiosity, while the external factor includes economic condition, environmental influence, education, morality and family, indecisive law enforcement, and technology. Legal protection for children as the victims of child commercial sexual exploitation can be done based on national and international laws. Based on the national law, it is regulated in Law No.23/2002 on Child Protection, Law No. 21/2007 on Elimination of Human Trafficking, and Law No.13/2003 on Manpower Affairs, while legal protection is based on the international law including the Optional Convention Protocol on Child’s Rights 2000 on Child Trafficking, Child Prostitution, and Child Pornography, Palermo Protocol, and ILO Convention 1999 on Prohibition and Immediate Action for the Elimination of the Worst Occupation for Children. The attempts to cope with the criminal act of child commercial sexual exploitation were done based on two approaches, namely, criminal-law and noncriminal-law based approaches. The criminal-law based approach refers to Article 59 and Article 66 of Law No.23/2002 on Child protection; Articles 45, 46, 51, 52, and 54 of Law No.21/2007 on Elimination of Human Trafficking; and Article 74 of Law No.13/2003 on Manpower Affairs. The sentence given is also heavier because this is related to the rights of children as found in the Decision No: 1944?Pid.B/2006/PN.Mdn in which the defendant has been proven to have traded young girl (the minor) or acted as a pimp as meant in Article 297 in connection with Article 506 of the Indonesian Criminal Codes. In accordance with Article 83 of Law No.23/2002 on Child Protection, the defendant was sentenced to 2 (two) years imprisonment. Based on the decision, in my opinion, the decision made by the judge was not adequate because the punishment was too easy, while Article 82 of Law No. KATA PENGANTAR Universitas Sumatera Utara Puji dan syukur penulis haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena hanya dengan rahmat dan kasihNya, saya sebagai penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis yang berjudul Penanggulangan dan Perlindungan Hukum Terhadap Anak Sebagai Korban Eksploitasi Seks Komersial Anak (ESKA). Tesis ini merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi untuk menyelesaikan Program Studi Magister Ilmu Hukum Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara. Penulisan tesis ini masih kurang sempurna, dan dengan segala keterbatasan, penulis berharap kiranya penelitian ini dapat bermanfaat bagi penulis dan bagi pembaca sekalian. Ucapan adalah refleksi dari pikiran, dan tulisan adalah refleksi dari ucapan, namun tulisan memiliki keterbatasan menyampaikan pesan yang seharusya diucapkan. Ungkapan tersebut menyadarkan bahwa tulisan adalah sebuah karya yang tidak mampu mewakili keseluruhan pesan penulis yang seharusnya diketahui oleh pembaca. Atas dasar realita tersebut, oleh karenanya penulis dengan senang hati menerima saran dan kritikan yang bersifat konstruktif dan edukatif demi kesempurnaan penulisan tesis ini. Di dalam hal pembuatan tesis ini penulis yakin tidak akan terselesaikan begitu saja tanpa adanya arahan, bimbingan, dan motivasi dari setiap insan terkasih yang ada disekitar penulis, baik yang bersifat moril maupun materil. Oleh karena itu pada kesempatan yang baik ini, perkenankanlah dengan segala kerendahan hati penulis menghaturkan rasa terima kasih secara khusus kepada: 1. Bapak, Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, MSc, (CTM), SP.A(K), selaku Rektor atas kesempatan menjadi mahasiswa pada Program Studi Magister Ilmu Hukum Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara. Universitas Sumatera Utara 2. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH, MH, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara atas kesempatan menjadi mahasiswa pada Program Studi Magister Ilmu Hukum Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara. 3. Bapak Prof. Dr. Suhaidi, SH, MH, selaku Direktur Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara dan sekaligus sebagai Komisi Penguji penulis atas kesempatan yang telah diberikan untuk menyelesaikan pendidikan Program Studi Magister Ilmu Hukum Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara. 4. Bapak Prof. Dr. Syafruddin Kalo, SH, M.Hum, selaku Komisi Pembimbing Utama Penulis. 5. Bapak Dr. Mahmud Mulyadi, SH, M. Hum selaku Komisi Pembimbing Kedua Penulis. 6. Ibu Dr. Marlina, SH, M. Hum selaku Komisi Pembimbing Ketiga penulis. 7. Bapak Dr. Madiasa Ablisar, SH, MS selaku Komisi Penguji Penulis. 8. Ibu Dr. Idha Aprilyana, SH, M.Hum selaku Komisi Penguji Penulis 9. Pusat Kajian Perlindungan Anak (PKPA) 10. Rekan-rekan mahasiswa seperjuangan pada Program Studi magister Ilmu Hukum Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara. 11. Seluruh staf dan karyawan Sekretariat Magister Ilmu Hukum, dan 12. Semua Pihak yang tak dapat penulis sebutkan satu persatu Selanjutnya penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Ayahanda tercinta S. Simbolon, SH, MH dan Ibunda termulia R Sinurat. Dengan segenap jiwa dan lembut kasih sayangnya yang telah mengimaniku dengan kasihNya, mengajarkanku setiap hal terbaik, memberiku sepatu terkuat dan jiwa yang besar saatku jatuh lalu berdiri tegar, dan menuntunku menyongsong masa depan yang lebih Universitas Sumatera Utara baik. Merekalah yang telah menghantarkan penulis dalam usaha mencapai kemantapan hidup guna menjadi putri kebanggaan. Oleh karena itu penulis berdoa semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa memberikan perlindunganNya, memberikan kebahagiaan, kesehatan serta umur yang panjang. 2. Kakak- kakak tercinta Meriance listya Simbolon, SST dan Riris Taruli Simbolon, Am.Kep dan adik-adik tercinta Gomgoman Halomoan Simbolon, SH dan Pantun Marojahan Simbolon yang telah mendoakan penulis dalam menyelesaikan studi pada Program Studi Magister Ilmu Hukum, semoga senantiasa dalam lindungan Tuhan Yang Maha Kuasa dan senantiasa dimudahkan segala cita-citanya. Atas segala bantuan yang diberikan, penulis berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar para pembimbing dan para penguji senantiasa mendapat lindungan dan rahmat kasihNya serta mendapatkan kebahagiaan di dunia dalam menjalani kehidupan serta pengabdian tugasnya sebagai kalangan akademisi dan di akhirat kelak. Demikianlah kata pengantar dari penulis ini. Akhir kata dengan segala kekurangan dan keterbatasan, penulis berharap semoga tesis ini bermanfaat bagi pembaca sekalian guna meluaskan dan mencerdaskan wawasan keilmuan. Medan, Agustus 2011 Penulis Nanci Yosepin Simbolon Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara RIWAYAT HIDUP Nama : Nanci Yosepin Simbolon Tempat/Tanggal Lahir : Medan, 19 Juni 1987 Jenis kelamin : Wanita Agama : Kristen Protestan Pendidikan : - SD METHODIST-7 Medan ( Lulus tahun 1999 ) - SMP Katholik BUDI MURNI-3 Medan ( Lulus tahun 2002 ) - SMA METHODIST-1 Medan ( Lulus tahun 2005 ) - Fakultas hukum Universitas Islam Sumatera Utara ( Lulus tahun 2009 ) - Program Studi Magister Ilmu Hukum ( Lulus Tahun 2011) Universitas Sumatera Utara                                     Universitas Sumatera Utara   DAFTAR ISI Halaman : ABSTRAK. i ABSTRACT. iii KATA PENGANTAR. v RIWAYAT HIDUP. ix DAFTAR ISI. x BAB I PENDAHULUAN. 1 A. Latar Belakang. B. Perumusan Masalah . C. Tujuan Penelitian. D. Manfaat Penelitian. E. Keaslian Penelitian . F. Kerangka Teori dan Konsepsional. 1. Kerangka Teori . 1 5 5 6 7 8 8 2. Konsepsional. 13 G. Metode Penelitian. 14 1. Jenis Penelitian. 15 2. Sumber Data. 16 3. Teknik Pengumpulan Data . . 17 4. Analisis Data. 17 BAB II FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA EKSPLOITASI Universitas Sumatera Utara SEKSUAL KOMERSIAL ANAK(ESKA). A. Sejarah Singkat tentang Industri Seks di Indonesia. B. Bentuk-Bentuk Eksploitasi Seks Komersial Anak . C. Faktor-Faktor yang Menyebabkan ESKA . 19 28 29 33 BAB III PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP ANAK SEBAGAI KORBAN EKSPLOITASI SEKSUAL KOMERSIAL ANAK . 48 A. Perlindungan Hukum Terhadap Anak sebagai Korban ESKA 52 B. Bentuk-Bentuk Perlindungan Anak sebagai Korban ESKA . 62 BAB IV UPAYA PENANGGULANGAN TINDAK PIDANA TERHADAP ANAK YANG DIEKSPLOITASI SECARA SEKSUAL. 73 A. Penerapan Hukum Pidana (Pendekatan Penal). B. Penerapan di Luar Hukum Pidana (Pendekatan Non Penal). 73 85 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN . 98 A. Kesimpulan . B. Saran . 98 100 DAFTAR PUSTAKA. 101 Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Anak-anak adalah masa depan yang bukan hanya untuk dirinya sendiri dan keluarganya, tetapi juga untuk komunitas bangsa dan Negara, untuk itu kualitas hidup anak penting untuk diperhatikan, namun banyak juga anak-anak yang justru tidak hidup secara seimbang atau bahkan terjerat sebagai korban ESKA (eksploitasi seks komersial anak). Perumusan masalah dalam penulisan tesis ini adalah mengenai faktor penyebab terjadinya ESKA, perlindungan hukum terhadap anak sebagai korban ESKA dan upaya penanggulangan tindak pidana terhadap anak korban ESKA. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian ini adalah penelitian yuridis normative dan penelitian yuridis empiris. Alasan penggunaan penelitian hukum normatif yang bersifat kualitatif yang didasarkan pada paradigma hubungan dinamis antara teori, konsep-konsep data yang merupakan umpan balik atau modifikasi yang tetap dari teori dan konsep yang didasarkan pada data yang dikumpulkan. Hasil penelitian yang mengacu pada faktor penyebab terjadinya ESKA adalah adanya faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi perasaan ingin bebas, perasaan egois, dan keingintahuan, selain itu juga disebabkan oleh adanya faktor eksternal yang meliputi keadaan ekonomi, pengaruh lingkungan, pendidikan, moral dan keluarga, dan penegakan hukum yang masih belum tegas, dank arena faktor teknologi. Perlindungan hukum terhadap anak sebagai korban ESKA dapat dilakukan berdasarkan hukum nasional dan hukum internasional. Berdasarkan hukum nasional telah ditetapkan aturan-aturan yang meliputi Undang-Undang RI No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Undang-Undang RI No. 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, dan Undang-Undang RI No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, sedangkan perlindungan hukum berdasarkan hukum internasional meliputi adanya Protocol Opsional Konvensi Hak-Hak Anak bermakna.61 Bencana juga merupakan salah satu faktor besar yang dapat menghambat lajunya pembangunan nasional. Dalam pembangunan terdapat fungsi-fungsi pembangunan dimana fungsi tersebut mempunyai tugas yang harus dilaksanakan yaitu peningkatan pertumbuhan ekonomi (economic growth), perawatan masyarakat (community care) dan pengembangan manusia (human development).62Semua fungsi pembangunan tersebut dapat terhambat atau bahkan hilang apabila terjadi suatu bencana.Bencana juga merupakan salah satu faktor penyebab menurunnnya tingkat kesejahteraan masyarakat.Untuk itu, berbagai 60Natalia Yeti Puspita, Op. Cit., hal 4. 61 Nani Nurrachman, Op. Cit., hal 4. 62 Edi Suharto, Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat: Kajian Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial & Pekerjaan Sosial, (Bandung: Refika Aditama, 2005), hal 5. Universitas Sumatera Utara 57 unsur terkait harus menjadikan pengurangan resiko bencana sebagai prioritas pembangunan nasional, sehingga bencana dapat dicegah atau paling tidak dapat dikurangi dampaknya. C. Manajemen Penanggulangan Bencana (Disaster Management) Bencana telah secara negatif mempengaruhi manusia sejak awal keberadaan manusia.Dalam menanggapinya, individu-individu dan masyarakat sama-sama telah melakukan banyak percobaan untuk mengurangi kerentanan mereka terhadap konsekuensi dari bencana-bencana ini, mengembangkan langkah-langkah untuk mengatasi dampak awal, serta tanggap pasca-bencana dan kebutuhan pemulihan. Terlepas dari pendekatan yang diterapkan, keseluruhan upaya ini memiliki tujuan yang sama: manajemen bencana.63 Konsep yang mendorong yang mempedomani manajemen bencana tersebut, yaitu pengurangan bahaya terhadap kehidupan, properti, dan lingkungan, sebagian besar sama di seluruh dunia. Namun, kemampuan untuk melaksanakan misi ini tidak berarti seragam. Baik karena alasan politik, kebudayaan, ekonomi, atau alasan-alasan lainnya, realitas yang disayangkan adalah bahwa beberapa negara dan beberapa daerah lebih mampu daripada negara atau daerah yang lain untuk mengatasi masalah tersebut. Tetapi, tidak ada satu bangsa pun, terlepas dari kemakmuran atau pengaruhnya, yang sejauh ini terdepan seperti menjadi kebal secara penuh dari pengaruh negatif bencana.Terlebih lagi, munculnya ekonomi 63 Damon P. Coppola, Op. Cit., hal 1. Universitas Sumatera Utara 58 global membuatnya lebih dan lebih sulit lagi untuk menahan konsekuensi dari bencana apapun dalam batas-batas suatu negara.64 Mengelola bencana tidak bisa dilakukan hanya dengan cara dadakan atau insidentil, tetapi harus dilakukan secara terencana dengan manajemen yang baik, jauh sebelum suatu bencana terjadi melalui suatu proses yang disebut manajemen bencana. Penyelenggaraan penanggulangan bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijaksanaan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana, kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat, dan rehabilitasi.65 Manajemen bencana membahas tentang bagaimana mengelola resiko bencana.Meliputi persiapan, pemberian dukungan dan pembangunan kembali masyarakat ketika bencana terjadi. Manajemen bencana adalah sebuah proses yang berkelanjutan dimana setiap individu, kelompok dan masyarakat mengelola bahaya dalam sebuah usaha untuk menghindari dan mengatasi pengaruh bencana sebagai akibat dari bencana tersebut. Manajemen bencana adalah sebuah proses yang terus-menerus dimana pemerintah, dunia usaha dan masyarakat sipil merencanakan dan mengurangi pengaruh bencana, mengambil tindakan segera setelah bencana terjadi dan mengambil langkah-langkah untuk pemulihan. Prinsip manajemen bencana adalah bagaimana mengatasi keterbatasan manusia dalam memprediksi dan menghadapi bencana, yang kemudian dituangkan dalam strategi dan kebijakan dalam mengantisipasi, mencegah dan menangani bencana melalui tahapan penanggulangan bencana.66 64 Ibid. 65 Soehatman Ramli, Op. Cit., hal 27. 66 A. B. Susanto, Op. Cit., hal 10. Universitas Sumatera Utara 59 Menurut UU No. 24 Tahun 2007, manajemen bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana, kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi. Manajemen bencana pada dasarnya dapat dibagi atas tiga tingkatan yaitu pada tingkat lokasi, tingkat unit atau daerah dan tingkat nasional atau korporat.Untuk tingkat lokasi disebut manajemen insiden (incident management), pada tingkat daerah atau unit disebut manajemen darurat (emergency management) dan pada tingkat yang lebih tinggi disebut manajemen krisis (crisis management).67 Manajemen insiden (incident management) yaitu penanggulangan kejadian di lokasi atau langsung di tempat kejadian. Biasanya dilakukan oleh tim tanggap darurat yang dibentuk oleh petugas-petugas lapangan sesuai dengan keahliannya masing-masing. Penanggulangan bencana pada tingkat ini bersifat teknis.Manajemen darurat (emergency management) yaitu upaya penanggulangan bencana di tingkat yang leih tinggi yang mengkoordinir lokasi kejadian.Manajemen krisis (crisis management) berada di tingkat yang lebih tinggi misalnya tingkat nasional atau tingkat korporat bagi suatu perusahaan yang mengalami bencana.Perbedaan tugas dan tanggung jawab pada ketiga tingkatan ini adalah berdasarkan fungsinya yaitu taktis (tactic) dan strategis (strategic). Pada tingkat manajemen insiden, tugas dan tanggung jawab lebih banyak bersifat taktis, dan semakin ke atas tugasnya akan lebih banyak menangani hal-hal yang 67 Soehatman Ramli, Op. Cit., hal 28. Universitas Sumatera Utara 60 strategis.68Salah satu hal yang sangat penting dalam pengelolaan bencana adalah penegakan hukum (law enforcement).Peraturan perundangan telah banyak diterbitkan, namun pada implementasinya sering dilanggar.Pelanggaran tidak diikuti dengan sanksi maupun hukuman yang tegas walaupun sudah dinyatakan dalam aturan.Sehingga ada istilah yaitu low law enforcement.69 Manajemen bencana merupakan suatu proses terencana yang dilakukan untuk mengelola bencana dengan baik dan aman melalui 3 (tiga) tahapan sebagai berikut:70 1. Pra Bencana Tahapan manajemen bencana pada kondisi sebelum kejadian atau pra bencana meliputi: a. Kesiagaan Kesiagaan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat guna dan berdaya guna. Membangun kesiagaan adalah unsur penting, namun tidak mudah dilakukan karena menyangkut sikap mental dan budaya serta disiplin di tengah masyarakat.Kesiagaan adalah tahapan yang paling strategis karena sangat menentukan ketahanan anggota masyarakat dalam menghadapi datangnya suatu bencana. b. Peringatan dini 68Ibid., hal 28-29. 69Robert J. Kodoatie dan Roestam Sjarief, Op. Cit., hal 93. 70Disadur dari Soehatman Ramli, Op. Cit., hal 31-38. Universitas Sumatera Utara 61 Langkah lainnya yang perlu dipersiapkan sebelum bencana terjadi adalah peringatan dini. Langkah ini diperlukan untuk memberi peringatan kepada masyarakat tentang bencana yang akan terjadi sebelum kejadian seperti banjir, gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, atau badai. Peringatan dini disampaikan dengan segera kepada semua pihak, khususnya mereka yang potensi terkena bencana akan kemungkinan datangnya suatu bencana di daerahnya masing-masing. Peringatan didasarkan berbagai informasi teknis dan ilmiah yang dimiliki, diolah atau diterima dari pihak berwenang mengenai kemungkinan akan datangnya suatu bencana. c. Mitigasi bencana Mitigasi bencana adalah upaya untuk mencegah atau mengurangi dampak yang ditimbulkan akibat suatu bencana.Dari batasan ini sangat jelas bahwa mitigasi bersifat pencegahan sebelum kejadian. Mitigasi bencana harus dilakukan secara terencana dan komprehensif melalui berbagai upaya dan pendekatan antara lain: 1. Pendekatan teknis Secara teknis mitigasi bencana dilakukan untuk mengurangi dampak suatu bencana. 2. Pendekatan manusia Pendekatan secara manusia ditujukan untuk membentuk manusia yang paham dan sadar mengenai bahaya bencana. 3. Pendekatan administratif Universitas Sumatera Utara 62 Pemerintah atau pimpinan organisasi dapat melakukan pendekatan administratif dalam manajemen bencana, khususnya di tahap mitigasi. 4. Pendekatan kultural Masih ada anggapan dikalangan masyarakat bahwa bencana itu adalah takdir sehingga harus diterima apa adanya. Hal ini tidak sepenuhnya benar, karena dengan kemampuan berpikir dan berbuat, manusia dapat berupaya menjauhkan diri dari bencana dan sekaligus mengurangi keparahannya.Oleh karena itu, diperlukan pendekatan kultural untuk meningkatkan kesadaran mengenai bencana.Melalui pendekatan kultural, pencegahan bencana disesuaikan dengan kearifan masyarakat lokal yang telah membudaya sejak lama. 2. Saat bencana Tahapan paling krusial dalam sistem manajemen bencana adalah saat bencana sesungguhnya terjadi.Oleh karena itu diperlukan langkah-langkah seperti tanggap darurat untuk dapat mengatasi dampak bencana dengan cepat dan tepat agar jumlah korban atau kerugian dapat tujuan tersebut, paling tidak terdapat dua tujuan dalam program reintegrasi yaitu untuk mengfasilitasi reintegrasi korban ke dalam keluarga atau komunitas mereka dan untuk mengembangkan alternatif pemukiman bagi anak yang tidak bisa atau tidak ingin kembali ke keluarganya. Untuk merealisasikan tujuan tersebut, strategi yang dipilih adalah : a. Promosi reuni keluarga b. Eksplorasi alternatif lainnya, misalnya manajemen penanganan resettlement c. Bantuan penempatan kerja d. Pengembangan sistem dukungan masyarakat e. Monitoring dan follow up Dari kelima strategi tersebut, ternyata reuni keluarga harus menjadi prioritas. Prinsip reuni keluarga yang dipakai adalah penyatuan anak ke dalam keluarga. Beberapa aktivitas yang bisa dikembangkan, antara lain adalah melalui pelacakan keluarga, penilaian dan konseling keluarga, dukungan terhadap reintegrasi anak ke dalam keluarganya, serta pemberian kredir keluarga atau income generating. Namun demikian, ketika anak tidak mungkin atau tidak ingin pulang ke rumah, harus dicarikan alternatif pola penanganan lain yang sesuai dengan kepentingan terbaik anak. Salah satu alternatif yang bisa dikembangkan adalah dengan mengunjungi keluarga besar dari si anak untuk melihat apakah mereka dapat diberi tanggung jawab mengurus si anak atau tidak. Apabila dukungan tidak diperoleh dari keluarga Universitas Sumatera Utara besar korban, perlu dijajaki kemungkinan dari keluarga asuh sesuai dengan keinginan si anak. C. Kerjasama antar Penegak Hukum dalam Penanganan Kasus Perdagangan Orang Koordinasi dan kerjasama antar penegak hukum sangat menentukan keberhasilan tugas terutama dalam menegakkan hukum dan keadilan serta melindungi sekaligus menyelesaikan masalah yang dihadapi korban perdagangan orang. Dari perspektif penegak hukum, koordinasi ini tidak hanya terbatas pada sesama penegak hukum melainkan juga dengan organisasi/instansi yang bergerak di bidang pendampingan korban. Kerjasama ini berangkat dari beberapa kebutuhan antara lain : 1. Tempat aman dan akomodasi bagi korban yang baru diselamatkan. Oleh karena itu, sesegera mungkin memindahkan korban dari tempatmya dieskploitasi ke fasilitas aman yang disediakan sebagai penampungan korban untuk sementara. 2. Pemulihan bagi korban secara fisik maupun mental, yang nantinya akan membantu polisi mengungkap kasus perdagangan orang dengan cara memberikan kesaksian di sidang pengadilan. 3. Memberikan penindakan hukum yang setimpal bagi pelaku dan membantu korban mendapatkan hak atas restitusi atau kompensasi dari kerugian yang dideritanya. 4. Kebutuhan untuk menjalin kerjasama antar sesama penyidik yang berada di daerah. Universitas Sumatera Utara 5. Pada tahap penuntutan, kebutuhan untuk membangun jejaring dengan stakeholder yang bisa memberikan bantuan sosial maupun hukum bagi korban. Universitas Sumatera Utara BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Masalah perlindungan anak (Trafficking) yang terjadi dengan alasan dan tujuan apapun, tetap merupakan suatu bentuk pelanggaran hak asasi manusia. Negara Indonesia sebagai anggota PBB mengembang tanggung jawab moral dan hukum untuk menjamin keberadaan harkat dan martabat yang dimiliki oleh seorang manusia. Untuk itu, berikut ini merupakan kesimpulan atas penulisan skripsi saya ini, yaitu : 1. Permasalahan Trafficking belum dapat tersosialisasi secara menyeluruh, khusunya ke pelosok-pelosok pedesaan yang rentan sekali menjadi korban dari perdagangan anak, dimana salah satu alasan yang sangat kuat menyebabkan terjadinya perdagangan anak adalah karena faktor ekonomi (kemiskinan). Pada umumnya hal tersebut tidak disadari oleh mereka mengenai dampak atas terjadinya perdagangan orang, khususnya terhadap seorang anak, dimana keadaan tersebut dapat menyebabkan seseorang anak trauma dan akan membekas pada diri seorang anak. Padahal seorang anak seharusnya untuk tumbuh dan berkemanganya tidak boleh ada tekanan maupun paksaan. 2. Rumusan perdagangan orang, khususnya perdagangan perempuan dan anak (Trafficking) terdapat dalam Protocol to Prevent, Suppress and Punish Trafficking in Persons, Especially Woman and Children (2000). Protokol ini Universitas Sumatera Utara dimaksudkan untuk mencegah, menekan dan menghukum pelaku perdagangan orang. Di dalam Protokol disebutkan bahwa yang dimaksudkan dengan Trafficking adalah perekrutan, pengangkutan, pemindahan, penyembunyian atau penerimaan seseorang melalui penggunaan ancaman atau tekanan atau bentuk-bentuk lain dari kekerasan, penculikan, penipuan, kecurangan, penyalahgunaan kekuasaan, atau posisi rentan atau memberi/menerima pembayaran atau memperoleh keuntungan sehingga mendapatkan persetujuan dari seseorang yang memegang kendali atas orang lain tersebut untuk tujuan eksploitasi. 3. Secara umum penegakan hukum terhadap perdagangan manusia dapat dilakukan dengan cara : a) Pencegahan (prevention) yaitu dengan cara mengambil langkah-langkah seperti pendidikan masyarakat dalam rangka mencegah perdagangan, misalnya meningkatkan pengetahuan masyarakat, menciptakan lapangan kerja, dan sebagainya. b) Perlindungan (protection) yaitu dimana pemerintah melindungi dan memberikan bantuan kepada korban perdagangan dan memastikan korban tidak dipidana secara tidak semestinya, misalnya membuat panti rehabilitasi terhadap korban perdagangan anak. c) Penindakan hukum (prosecution) yakni dimana pemerintah dengan sungguh-sungguh menyelidiki dan menindak kegiata-kegiatan perdagangan anak di wilayahnya, mengekstradisi tertuduh pelaku Universitas Sumatera Utara perdagangan anak, misalnya menghukum dengan tegas pelaku perdagangan anak. B. Saran 1. Dalam menghadapi kasus perdagangan anak yang dirasakan semakin lama, semakin kompleks (melibatkan setiap negara, setiap aparatur pemerintahan dalam satu negara dan peran aktif masyarakat) meskipun telah ada peraturan yang mengkriminalisasinya. Masyarakat sangat diharapkan dapat membantu pemerintah dalam mencegah terjadinya tindak pidana perdagangan anak, misalnya dengan memberikan informasi secepatnya terhadap setiap peristiwa anak, misalnya dengan memberikan informasi secepatnya terhadap setiap peristiwa perdagangan anak di lingkungannya kepada aparat negara. 2. Peraturan yang diatur dan dibuat baik di Indonesia maupun secara internasional merupakan untuk masa depan. Oleh karena itu, sebaiknya tidak terpaku pada peraturan serta kebijaksanaan atau kebiasaan yang kini berlaku di Indonesia saja, yang sudah tidak sesuai dengan kepentingan anak. Sudah saatnya mulai dilakukan harmonisasi berbagai peraturan, yang kini berlaku, yang menyangkut anak. Dalam merumuskan peraturan yang akan dilakukan dengan harmonisasi dengan Konvensi Internasional. Universitas Sumatera Utara DAFTAR PUSTAKA Referensi Buku-Buku: Agusmidah, Dinamika Hukum Ketenagakerjaan Indonesia, Medan, 2010. Arif Gosita, dkk, Perlindungan Terhadap Anak Korban Kekerasan, Lembaga Adokasi Anak Indonesia, Medan, 2001. Boer Maulana, Hukum Internasional, Pengertian Peranan dan Fungsi dalam Era Dinamika Global, Edisi ke-2, Alumni, Bandung, 2005. Chairul Bariah, Aturan-Aturan Hukum Trafficking,USU Press, Medan, 2005. Darwan Prinst, Hukum Anak Indonesia,Citra Aditya Bakti, Bandung, 2003. F.A Whisnu Situni, Identifikasi dan Reformasi Sumber-Sumber Hukum Internasional, Mandar Maju, Bandung, 1989. GEMPITA (Gerakan Masyarakat untuk Penghapusan Traffficking), diterbitkan oleh Yayasan Pusaka Indonesia, bekerjasama dengan ICMC (International Catholic Migration Commission) dan ACILS (American Center for International Labour Solidarity), Edisi II/Juli 2003. Irma Setyowati Soemitro, Aspek Hukum Perlindungan Anak, Bumi Aksara, 1990. Joni, Muhammad da Zulchaina Z. Tanamas, Aspek Perlindungan Anak, Bandung : Citra Aditya Bakti, 1999. Mochtar Kusumaatmadja, Etty R. Agoes, Pengantar Hukum Internasional, Edisi Kedua, Cetakan ke-1, Alumni, Bandung, 2003. Muhammad Joni, Programme Officer LAAI, Perlindungan Anak dan Konvensi Hak Anak di Lapangan, Konvensi, Volume III No. 3 April 1999. Rachmat Syafaat, Dagang Manusia- Kajian Trafficking Terhadap Per€empuan dan Anak di Jawa Timur, Lapper Pustaka Utama, Yogyakarta, 2002. Siswanto Sunarso, Ekstradisi dan Bantuan Timbal Balik dalam Masalah Pidana: Instrumen Penegakan Hukum Pidana Internasional, Rineka Cipta, Jakarta 2009. Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, Rajawali, Jakarta, 1994. Universitas Sumatera Utara Wasito, Konvensi-konvensi Wina tentang Hubungan Diplomatik, Hubungan Konsuler dan Hukum Perjanjian/Traktat, Andi Offset, Yogyakarta, 1984. Peraturan Perundang-Undangan: 1. Undang‐undang No 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak.  2. Undang‐Undang  Nomor  21  Tahun  2007  tentang  Pemberantasan  Tindak  Pidana  Perdagangan Orang ( UU‐PTPPO).  3. Konvensi Kerja Paksa ILO Nomor 105 Tahun 1957  Situs-Situs: http://eprints.undip.ac.id http;//www.hukumonline.com http://mekar-sinurat.blogspot.com http://www.legalitas.org http://www.cifor.cgiar.org/ilea Universitas Sumatera Utara
Penanggulangan dan Perlindungan Hukum Terhadap Anak Sebagai Korban Eksploitasi Seks Komersial Anak (ESKA) Bentuk-Bentuk Eksploitasi Seksual Komersial Anak ESKA Bentuk-Bentuk Perlindungan Anak sebagai Korban ESKA Faktor-faktor yang menyebabkan eksploitasi seksual komersial anak ESKA Keaslian Penelitian Metode Penelitian Kebijakan Di luar Hukum Pidana Non-Penal Policy Kerangka Konsepsional Kebijakan Hukum Pidana Penal Policy Kesimpulan KESIMPULAN DAN SARAN Kronologis Kasus Penerapan Hukum Pidana Penal Policy Penerapan Di Luar Hukum Pidana Non Penal Policy Perlindungan Hukum Terhadap Anak Sebagai Korban Eksploitasi Seksual Perumusan Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Putusan Hakim Kronologis Kasus Putusan Hakim Penerapan Hukum Pidana Penal Policy Saran Buku-Buku KESIMPULAN DAN SARAN Sejarah Singkat Tentang Industri Seks di Indonesia
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Penanggulangan dan Perlindungan Hukum Terhadap Anak Sebagai Korban Eksploitasi Seks Komersial Anak (ESKA)

Gratis