Penanggulangan dan Perlindungan Hukum Terhadap Anak Sebagai Korban Eksploitasi Seks Komersial Anak (ESKA)

 3  66  104  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document

RIWAYAT HIDUP

  101 ABSTRAKAnak-anak adalah masa depan yang bukan hanya untuk dirinya sendiri dan keluarganya, tetapi juga untuk komunitas bangsa dan Negara, untuk itu kualitas hidupanak penting untuk diperhatikan, namun banyak juga anak-anak yang justru tidak hidup secara seimbang atau bahkan terjerat sebagai korban ESKA (eksploitasi sekskomersial anak). Alasan penggunaanpenelitian hukum normatif yang bersifat kualitatif yang didasarkan pada paradigma hubungan dinamis antara teori, konsep-konsep data yang merupakan umpan balikatau modifikasi yang tetap dari teori dan konsep yang didasarkan pada data yang dikumpulkan.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Anak-anak adalah masa depan bukan hanya untuk dirinya sendiri dan

  Hasil yang dilaporkan pada tahun 2006menunjukkan bahwa kekerasan terhadap anak adalah masalah global, di semua negara yang terlibat, anak-anak mengalami berbagai bentuk kekerasan seperti hukuman fisik,pemaksaan kerja atau eksploitasi dalam berbagai pekerjaan yang berbahaya(pertambangan, sampah, seks komersial, perdagangan narkoba, dan lain- lain),3 diskriminasi, perkawinan dini, dan pornografi. Berdasarkan hasil penelitian pendahuluan yang dilakukan peneliti tepatnya padaPusat Kajian Perlindungan Anak bahwa banyak anak yang baru duduk di bangku SMA yang setiap hari harusnya menghabiskan banyak waktu untuk belajar dan menikmati masaremajanya justru lebih memilih menyisihkan waktunya untuk mencari uang saku, dengan berbekal lipstic, bedak, dan kondom serta tubuh yang molek menjadi aset panting bagianak remaja yang berkomitmen untuk mendapat uang demi materi semata.

B. Perumusan Masalah

  Keaslian Penelitian Berdasarkan informasi dan penelusuran yang telah dilakukan oleh penulis di perpustakaan Universitas Sumatera Utara maka diketahui bahwa belum adapenelitian yang serupa dengan apa yang menjadi bidang dan ruang lingkup penelitian ini, yaitu mengenai Penanggulangan Dan Perlindungan Hukum Terhadap Anak YangDieksploitasi Secara Seksual Sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK). Secara tertulis hukum dibuat untuk menciptakan dan melahirkan generasi muda yang taat terhadap aturan akan tetapi dengan adanya penyakit sosial atau penyakitmasyarakat karena gejala sosial mengakibatkan timbulnya Juveni Le Delinquency ialah perilaku jahat (dursila) atau kejahatan/kenakalan anak-anak muda yang mungkin salahsatu bentuk pengabaian sosial sehingga mereka mengembangkan bentuk tingkah laku menyimpang.

a. Kebijakan Di luar Hukum Pidana (Non-Penal Policy)

  Secara universal dalam hal penanggulangan kejahatan, pada Kongres PBB ke-8 tahun 1990 tentang the Prevention of Crime and the Treatment of Offenders yang belangsung di Havana, Cuba, menekankan pentingnya aspek sosial dari kebijakan pembangunan yang merupakan suatu faktor penting dalam pencapaian strategi pencegahan kejahatan dan peradilan pidana, oleh karena aspek-aspek sosial dalamkonteks pembangunan ini harus mendapat prioritas utama. Lebih dari itu sekolah harus melibatkan diri dalampenanggulangan kejahatan mulai dari tahun-tahun ajaran baru dengan cara mendata secara komprehensif informasi tentang siswa, baik berupa identitas dan latar belakangkehidupan mereka, dengan demikian diharapkan sekolah dapat merumuskan kebijakan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan siswanya.

b. Kebijakan Hukum Pidana (Penal Policy)

  Mulder mengemukakan secara rinci tentang ruang lingkup politik hukum pidana yang menurutnya bahwa politik hukum pidana adalah garis kebijakan untuk19 menentukan:a) Seberapa jauh ketentuan-ketentuan pidana yang berlaku perlu dilakukan perubahan atau diperbaharui;b) Apa yang dapat diperbuat untuk mencegah terjadinya kejahatan; c) Cara bagaimana penyidikan, penuntutan, peradilan dan pelaksanaan pidana harus dilaksanakan. Pentingnya defenisi operasional adalah untukmenghindarkan perbedaan pengertian atau penafsiran mendua (dubius) dari suatu istilah yang dipakai, oleh karena itu, dalam penelitian ini di defenisikan beberapa konsep dasarsupaya secara operasional diperoleh hasil penelitian yang sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan, yaitu: penanggulangan, perlindungan hukum, anak, eksploitasi, eksploitasiseksual, eksploitasi seksual komersial anak.

G. Metode Penelitian

  Penelitian merupakan sarana pokok dalam pengembangan ilmu pengetahuan maupun tekhnologi, hal ini disebabkan karena penelitian bertujuan untukmengungkapkan kebenaran secara sistematis, metodologi dan konsisten. Penelitian merupakan suatu sarana ilmiah bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, maka metodologi penelitian yang diterapkan harus23 senantiasa disesuaikan dengan ilmu pengetahuan yang menjadi induknya.

1. Jenis Penelitian

  Jenis penelitian yang dilakukan dalam penyusunan tesis ini adalah penelitian yuridis normatif yaitu penelitian yang difokuskan untuk mengkaji penerapan kaedah-kaedah atau norma-norma hukum positif, dan yuridis empiris adalah penelitian yang dilakukan dengan meninjau masalah yang diteliti dari segi ilmu hukum denganmelihat serta mengaitkan dengan kenyataan yang ada di dalam implementasinya yang bertujuan untuk mendeskripsikan kegiatan/peristiwa alamiah dalam praktek sehari-24 hari. Mengambil istilah Ronald Dworkin, penelitian semacam ini juga disebut dengan istilah penelitian doktrinal (doctrinal research), yaitu peneltian yang menganalisishukum baik yang tertulis di dalam buku (law at it is written in the book), maupun hukum yang diputuskan oleh hakim melalui proses pengadilan (law as it decided by25 the jungle through judicial process).

2. Sumber Data

  Bahan Hukum SekunderBahan hukum sekunder adalah bahan hukum yang terdiri atas buku-buku teks yang ditulis oleh ahli hukum yang berpengaruh, jurnal-jurnal hukum, pendapatpara sarjana, kasus-kasus hukum, yurisprudensi, dan hasil-hasil simposium27 mutakhir yang berkaitan dengan topik penelitian. Tekhnik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (Library Research) yaitu melalui penelusuran dokumen-dokumen maupun buku-buku ilmiah untuk mendapatkan landasan teoritis berupa bahan30 hukum positif yang sesuai dengan objek yang akan diteliti.

BAB II FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA EKSPLOITASI SEKSUAL KOMERSIAL ANAK Perdagangan dan eksploitasi seksual pada anak, khususnya perdagangan anak

  6 Tahun 2004 tentang Penghapusan Perdagangan Perempuaan dan Anak bahwa Eksploitasi adalahtindakan berupa penindasan, pemerasan dan pemanfaatan fisik, seksual, tenaga dan atau kemampuan seseorang oleh pihak lain yang dilakukan dengan cara sewenang-wenang33 atau penipuan untuk mendapatkan keuntungan baik material maupun non material Terjadinya eksploitasi anak sebagai korban ESKA dapat terjadi karena adanya faktor-faktor penyebab. Adanya ekses pola hidup mewah yang dapat menimbulkan kejahatanFaktor-faktor diatas mempengaruhi perkembangan dan perubahan yang menuntut modernisasi dalam pemenuhan kebutuhan ditentukan oleh konteks perjuangan kelompok-kelompok manusia yang berubah secara konstant, lalu dimanifestasikan melalui serangkaian kegiatan sosial manusia yang terorganisir secara sosial pula.

A. Sejarah Singkat Tentang Industri Seks di Indonesia

  Beberapacontoh dalam hal pelayanan seks diperlakukan sebagai komoditas semata, namun tidak terbatas kepada praktik pergundikan yang umum dijalankan oleh sejumlah kerajaan diJawa dan Bali yaitu seorang raja mempunyai hak untuk menikmati layanan seks dari janda berkasta rendah. Di seluruh wilayah Indonesia ada sejumlah tempat yang diaturpemerintah atau kompleks rumah bordil (lokalisasi) yang menempatkan kerja seks di satu lokasi yang sudah secara khusus disediakan untuk tujuan tersebut, yang dikelola olehpemerintah daerah/provinsi dan di bawah wewenang Dinas Sosial.

B. Bentuk-Bentuk Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA)

  Praktek kejahatan ini merupakan sebuah bentuk pemaksaan dan kekerasan terhadap anak dan mengarah pada bentuk-bentuk kerja paksa serta perbudakan modern.47 Berikut adalah bentuk-bentuk ESKA, yaitu: 1) Prostitusi anak yaitu: pelayanan seks anak yang dilakukan oleh baik agen penjaja seks atau anak sendiri untuk mendapatkan keuntungan atau imbalan dari aktifitas seksualyang dilakukan. Dalam banyak kasus, penjual minuman ringan dibawah umur terikat dengan agen karena utang yang dibuat oleh orangtuanya dan mereka tidak mampumelunasi utang tanpa melakukan kerja seks.5) Pelayan di tempat perhentian truk dan warung: ada beberapa lokasi seperti kios yang menjajakan minuman keras atau warung di pinggir jalan, yang melayani supir trukantarkota dimana mungkin tersedia perempuan dan gadis muda yang dapat dipandangi, diraba-raba dan diajak melakukan hubungan seks.

C. Faktor-faktor yang menyebabkan eksploitasi seksual komersial anak (ESKA)

  Proses modernisasi yang tumbuh subur di negara-negara terutamadi negara berkembang demikian giatnya menciptakan (dari yang tidak ada menjadi ada, dari yang baik menjadi yang lebih baik dan dari yang baik menjadi lebih terbaik)kebutuhan dari berbagai jenis tekhnologi, ketrampilan, dll untuk mengelola lingkungannya sebagai akibat proses modernisasi, maka cara-cara mengusahai danmengelola lingkungannya berubah secara historis. Anak-anak tanpa pengasuhan orangtua seperti anak yatim-piatu dan anak-anak yang terpisah dengan orangtua mereka yaitu anak yang tinggal sendiri, anak-anakyang tinggal dengan keluarga angkat atau anak-anak yang tinggal dalam institusi menghadap bahaya yang besar karena kurangnya dukungan dan perlindunganorangtua dan masyarkat 2.

BAB II I PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP ANAK SEBAGAI KORBAN EKSPLOITASI SEKSUAL KOMERSIAL ANAK (ESKA) Anak yang menjadi korban ESKA harus mendapat perhatian khusus

  Pada Pasal 21 dalam hal penghormatan dan penjaminan hak asasi anak maka Negara dan pemerintah secara wajib dan bertanggung jawab menghormati dan menjamin hakasasi setiap anak tanpa membedakan suku, agama, ras golongan, jenis kelamin, etnik budaya dan bahasa, status hukum anak dan kondisi fisik dan/atau mental. Mengembangkan serta memperkuat dan melaksanakan undang-undang, kebijakan dan program-program untuk melindungi anak-anak dan melarang eksploitasiseksual komersial anak-anak, dengan mengingat bahwa tipe-tipe pelaku yang berbeda-beda, dan usia serta keadaan korban mensyaratkan tanggapan hukum danprogram yang berbeda 2.

1. Perlindungan hukum berdasarkan hukum nasional

  Mengingat rumitnya dan sulitnya permasalahan ini, makamerupakan suatu kemutlakan untuk memperhatikan, memahami dan menghayati hukum yang berkaitan dengan perlindungan anak ini, demi pengembangan65 kebenaran, keadilan dan kesejahteraan anak. Pengetahuan hukum yang tepat dan merata dapat membantu mempercepat adanya peraturan perundang-undangan yangmerupakan perwujudan hukum perlindungan anak pendidikan dan penyuluhan hukum sebaiknya sudah dimulai sedini mungkin di berbagai bidang kehidupanberkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

2. Perlindungan Hukum Berdasarkan Hukum Internasional

  Konvensi-konvensi Internasional banyak mengatur mengenai perlindungan anak secara hukum yaitu Protocol Opsional Konvensi Hak-Hak Anak tentangPenjualan Anak, Pelacuran Anak dan Pornografi Anak pada tahun 2000 mengatur tentang perlindungan anak yang mewajibkan Negara untuk menjamin bahwa hukumdalam negeri tidak memperbolehkan pelibatan anak-anak, dengan alas an apapun, dalam pelacuran, atau pornografi. Sedangkan perlindungan adalah segala kegiatan untuk menjaga agar anak dapat tumbuh dengan wajar secara lahir dan batin serta bebas dari segala bentuk ancaman,73 hambatan dan gangguan.

B. Bentuk-Bentuk Perlindungan Anak sebagai Korban ESKA

  Bertambahnya jumlah penelantaran anak dan perlakuan salah anak oleh orang dan kelompok-kelompok, yang tidak bertanggung jawab sehingga merekamenjadi korban penderitaan mental, fisik dan social dalam berbagai bidang kehidupan dan penghidupan Wawasan (visi) usaha-usaha perlindungan anak dalam masyarakat yang adil dan makmur ialah setiap warga negara berkedudukan sama dalam hukum, masing-masing bertanggung jawab sesuai kemampuan terhadap sesamanya manusia. Perdagangan anak, melaksanakan undang-undang atau kebijakan-kebijakan nasional untuk melindungi anak-anak dari perdagangan anak di dalam atau lintas batas negara,dan menghukum pelaku, dalam situasi lintas-batas memperlakukan anak-anak ini secara manusiawi sesuai dengan undang-undang imigrasi nasional, dan rumusanperjanjian pemulangan mereka untuk menjamin pengembalian yang aman ke negara asal dengan didampingi oleh pelayanan pendukung 5.

1. Perlindungan Anak Langsung

  Pengadaan suatu usaha pencegahan yang melindungi dan menyelamatkan anak dari berbagai macam ancaman yang memungkinkan anak menjadi korban mental,fisik, dan sosial 2. Pengadaan pengawasan positif terhadap anak agar yang bersangkutan tumbuh dan berkembang dengan baik 3.

2. Perlindungan Anak Tidak Langsung

  pihak yang terlibat mencegah anak kelaparan, mengusahakan kesehatan dan sebagainya dengan berbagai cara dan menyediakan sarana mengembangkandiri anak dan sebagainya 4. Selain itu, para anak yang menjadi korban juga harus ikut serta dalam mengatasi permasalahannya sendiri sesuai dengankemampuan, situasi dan kondisi masing-masing (keadaan fisik, usia dan sebagainya), tujuannya agar mandiri dalam melindungi diri sendiri dan oranglain.

BAB IV UPAYA PENANGGULANGAN TINDAK PIDANA EKSPLOITASI SEKSUAL KOMERSIAL ANAK Penanggulangan kejahatan dapat dilakukan dengan kebijakan kriminal (Criminal Policy). Kebijakan penanggulangan kejahatan dapat dilakukan melalui dua pendekatan

A. Penerapan Hukum Pidana (Penal Policy)

  Berdasarkan hasil wawancara dengan aparat penegak hukum, yaitu polisi dalam tahap penyidikan yaitu penyidikan yang bernuansakekeluargaan sehingga anak tersebut dapat lebih terbuka dan merasa percaya diri untuk menuturkan segala hal yang berhubungan dengan masalah hukum yang dihadapi, danaparat keplisian sudah menerapkan aturan yang ada salah satunya dengan menggunakan undang-undang perlindungan anak No. Aparat penegak hukum lainnya yaitu hakim yang menjadi tonggak utama dalam pencarian keadilan sangat berperan dalam penerapan hukum, dalam hal ini hakim harusmelakukan pendekatan secara filosofis terhadap maksud pengaturan pengadilan anak dalam undang-undang tersendiri, perspektif hakim dalam mewujudkan prinsip terbaikbagi anak dalam proses persidangan dan pemidanan, dan pemberian putusan yang peduli terhadap kepentingan dan masa depan anak.

1. Analisis Putusan Nomor: 1944/Pid.B/2006/PN. Mdn

  Pengadilan Negeri Medan yang memeriksa dan mengadili perkara Pidana pada tingkat pertama dengan acara pemeriksaan secara biasa / singkat menjatuhkan putusansebagai berikut dalam perkara terdakwa yang bernama Fauziah Als Ifo, yang bertempat tanggal lahir di Kisaran 14 Mei 1972, berjenis kelamin perempuan, berkebangsaanIndonesia, bertempat tinggal di Jl. Yang berdasarkan kronologi sebagai berikut: Pada akhir bulan Desember 2005 sekira pukul 14.00 WIB, terdakwa menghubungi seorang laki-laki turunan cina yangbernama Akong melalui HP dan berkata kepada Akong “ Bang ada cewek yang butuh uang dan mau disetubuhi dan sudah tidak perawan lagi”, kalau abang mau datanglah keJl.

2. Analisis Putusan Nomor: 2960 / Pid. B / 2008 / PN.Mdn

  Pengadilan Negeri Medan yang memeriksa dan mengadili perkara Pidana pada tingkat pertama dengan acara pemeriksaan secara biasa / singkat menjatuhkan putusansebagai berikut dalam perkara terdakwa yang bernama Nurhayati Nasution Als Nur, bertempat di Binjai, usia 36 tahun, berjenis kelamin perempuan, berkebangsaanIndonesiam beragama Islam, bertempat tinggal di Bumi Serdang Damai Jl. Medan Area, dan menanyakan apakah Lona mau dinikahkan dengan pria kewarganegaraan Malaysia untuk dijadikan istri kedua dan segala keperluannya akandipenuhi, dan korbanpun menjawab “mau”.

b. Putusan Hakim

  Sebagai orang yang melakukan, menyuruh melakukan atau turut melakukan perbuatan ituMenimbang, bahwa adanya fakta-fakta yuridis tersebut dipertimbangkan dalam relevansinya dengan unsur-unsur pasal tersebut, sebagai berikut bahwa Terdakwa telahterbukti melakukan tindak pidana Turut melakukan memberikan atau memasukkan keterangan palsu pada Dokumen Negara atau dokumen Lain atau memalsukan dokumenNegara atau dokumen lain untuk mempermudah terjadinya tindak pidana perdagangan orang. Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan hukum tersebut diatas, maka terdakwa haruslah dinyatakan telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalahmelakukan tindak pidana sebagaimana yang didakwakan dalam Dakwaan Kedua, Menimbang, bahwa sebelum Terdakwa dijatuhi pidana perlu terlebih dahulu dipertimbangkan hal-hal yang memberatkan dan meringankan bagi diri Terdakwa.

c. Analisis Putusan

  Berdasarkan adanya putusan yang diberikan hakim terkait dengan permasalahan di atas, penulis berpendapat bahwa hukuman yang dijatuhkan kepada terdakwa sudahcukup tepat sesuai dengan Pasal 19 Undang-Undang RI No. Pada kasus ini hakim memberi hukuman penjara selam 6tahun dan menurut saya hukuman tersebut sudah cukup berat dan sesuai.

B. Penerapan Di Luar Hukum Pidana (Non Penal Policy)

  Segera memperkuat strategi dan tindakan komprehensif, lintas sektoral,dan integrasi, sehingga pada tahun 2000 ada agenda aksi nasional dan indikatorkemajuannya, dengan tujuan dan jangka waktu implementasi yang pasti, yang ditargetkan untuk mengurangi jumlah anak yang rentan terhadap eksploitasiseksual komersial, dan untuk mengembangkan lingkungan, sikap dan praktek-praktek yang tanggap terhadap hak anak. Mengambil tindakan efektif untuk mencegah dan menghapuskan stigmatisasi sosial pada anak-anak yang menjadi korban dan anak-anak mereka, memfasilitasipenyembuhan dan penyatuan kembali anak-anak yang menjadi korban ke dalam komunitas dan keluarga, dan jika perlu untuk menempatkan anak tersebut dalamsituasi institusi, menjamin agar hal itu dilakukan sesingkat mungkin sesuai dengan kepentingan terbaik si anak 5.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

  Perlindungan hukum terhadap anak sebagai korban eksploitasi seks komersial anak dapat dilakukan berdasarkan hukum nasional dan hukum internasional. 13 tahun 2003 tentangKetenagakerjaan, sedangkan perlindungan hukum berdasarkan hukum internasional meliputi dengan adanya Protocol Opsional Konvensi Hak-Hak Anak tentangPenjualan Anak, Pelacuran Anak dan Pornografi Anak tahun 2000, ProtocolPalermo, dan Konvensi ILO pada tahun 1999 tentang Larangan dan Tindakan Segera untuk Penghapusan Bentuk-Bentuk Pekerjaan Terburuk Untuk Anak.

B. Saran

Keadaan yang dilihat penulis selama melakukan penelitian dan selama melakukan pembahasan, maka penulis merasa perlu memberi saran bagi beberapa pihaksebagai sumbangsih pemikiran yang dapat mengajak para pihak sekaligus membantu para pihak dalam melakukan pencegahan, penanggulangan, dan perbaikan dan pengawasanterhadap tindakan perdagangan anak sebagai PSK yaitu: b) Pemerintah selayaknya memberi perhatian yang lebih terhadap tindakan perdagangan anak sebagai PSKc) Penjatuhan hukuman terhadap pelaku eksploitasi seks komersial anak sebaiknya diperberat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. d) Pada aparat kepolisian khususnya, sebaiknya operasi razia terhadap pekerja seks komersial (PSK) sebaiknya dilakukan secara rutin dan sistematis dan lebih maksimalsehingga dapat memberikan dampak yang signifikan guna menanggulangi kegiatan eksploitasi seks komersial anak (ESKA).

DAFTAR PUSTAKA

A. Buku-Buku

  Kansil.,1995, Pengantar Hukum dan Tata Ilmu Hukum Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta Darwin, Muhadjir, 2005, MobilitasLintas Batas danEksploitasiSeksual, UGM, BandungECPAT, 2006, MelindungiAnak-Anak Dari eksploitasiSeksual,Restu Printing, MedanECPAT, 2008, MemerangiPariwisata Sex Anak,KoalisiNasionalPenghapusan ESKA, SUMUT Ediwarman., Lely Asni., 1998, Kriminologi, FH UISU, Medan. 6 Tahun 2004 tentang Penghapusan Perdagangan Anak dan Perempuan   C.

18 Februari 2003)

  PKPA, 2004, Laporan Pengembangan Indikator Penghapusan Eksploitasi Seksual Komersial Anak, PKPA. Laporan Konferensi Upaya Memerangi Perdagangan Orang Untuk Tujuan Eksploitasi Seksual Komersial Anak, 2004, Batam.

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

Penanggulangan dan Perlindungan Hukum Terhada..

Gratis

Feedback